-->

Delapan Dewa Iblis (Kwi Sian Pat) Jilid 8 TAMAT

Jilid 8 (Tamat)

“kamu siapa, kami hanya berurusan dengan dua pimpinan pulau kura-kura.” ujar suma- xiau

“tenyata kwi-sian-pat yang datang.” sahut Coa-san-kui yang tiba-tiba keluar dan tidak berapa lama disusul oleh LI-tan-hua dan Yo-seng, tiga murid itu pun mendur menjauh, enam kwi-sian-pat heran dengan kehadiran dua orang asing disamping kedua pimpinan pat-hong-heng-te.

“apakah maksud kalian kali ini!?” tanya Coa-san-tung dengan tenang penuh charisma, enam kwi-sian-pat saling pandang dan kelihatan ragu

“kita masih punya urusan she-taihap, kedua rekan kami telah tewas.”

“kalian ini asal bicara saja, nafsu saja yang diperturutkan sehingga bicarapun tidak logis, katakan saja kalian kembali menantang kami untuk duel.” sahut Coa-san-tung

“ya….kami menantang kalian untuk duel.” sahut suma-xiau

“baik, bagaimana formasi duel yang kalian inginkan, kami ada empat orang sekarang.” tantang Coa-san-tung.

“siapakah diantara kalian yang mau maju duluan untuk menghadapi saya, saya adalah yo-seng putra dari Ui-hai-liong-siang yang tentunya kalian sudah kenal.” Sela Yo-seng sambil melangkah kedepan, mendengar perkataan Yo-seng enam kwi-sian-pat terkejut dan tidak sadar munduru dua langkah

“saya yang akan maju!” teriak Tan-lou-pang dengan gerakan cepat menyerang Yo-seng, Yo-seng berkelit sedikit dan serangan Tan-lou-pang pun luput, nyatalah kecepatan Tan- lou-pang masih dubawah Yo-seng, terbukti sampai tiga puluh jurus, Yo-seng seperti mempermainkan Tan-lou-pang, karena tidak pernah membalas serangan, kecuali hanya mengelak dengan rangakian jurus Im-yang-bun-sin-im-hoat, gerakan melukis diudara yang demikian unik telah membuat Tan-lou-pang bingung, dan bebrapa peluang selalu dibuang Yo-seng, sehingga membuat panas perut Tan-lou-pang

Gerakan Yo-seng membuat lima rekan Tan-lou-pang terkesima dan takjub

“perhatikan cianpwe aku kan membalas!” seru Yo-seng sambil mengeluarkan dua moupit dari dalam bajunya, mendengar itu Tan-lou-pang semakin marah dan menyerang dengan segala kekuatan dan kemampuan, Yo-seng mulai dengan langkah-langkah yang luar biasa seiring gerak tangan menulis kalimat, perubahan dan gerakan unik itu membuat Tan-lou-pang bingung dan terdesak, dengan kekuatan dan kegesitannya ia coba membendung serangan yang unik dari Yo-seng, namun hanya dalam dua puluh jurus

“tuk….tuk…aghhh….” dua buah tusukan telah menghantam punggung dan dan lambung tan-lou-pang, Tan-laou-pang menjerit dan berusaha melompat untuk menjauh, tulang punggungnya terasa ngilu dan lambungnya bergetar membuat perutnya mual, dengan muka mengerinyit kesakitan dia memandang Yo-seng, melihat keadaan Tan-lou-pang yang kesakitan, Yang-ma-kui dan Zhang-kui-lan menyerang dengan golok mereka, dengan kecepatan luar biasa mengurung Yo-seng, namun Yo-seng tanpa sedikitpun gugup meladeni dengan jurus luar biasanya, Tan-lou-pang kembali terjun untuk mengeroyok Yo-seng, namun dia harus menghindar berjumpalitan karena serangannya disambut oleh Li-tan-hua.

Dua kelompok pertarungan pun berlangsung, suma-xiau membantu Tan-lou-pang, namun dia kecele karena ujung sabuk menghalangi gerakannya, Kwaa-sin-liong menggerakkan sabuk dalam rangkaian jurus”Im-yang-sian-sin-lie” dalam sepuluh gebrakan

“plak;;ughkk..” suma-xiau mendapat hantaman ujung sabuk pada dadanya hingga nafasnya nyaris berhenti, dia undur bebrapa langkah untuk menstabilkan nafasnya yang sesak dan menguasai jantung yang menggelepar bergetar, Bu-leng-ma melompat menyerang Kwaa-sin-liong, dan tidak lama kemudian suma-xiau maju mengeroyok Kwaa- sin-liong.

Gu-liang tidak mau tinggal diam, dan memasuki pertempuran Kwaa-sin-loing, namun dia sebelum maksudnya tercapai, Coa-san-tung sudah mencegatnya dengan sebuah pukulan sakti, Gu-liang tidak dapat tidak harus mengimbangi pukulan itu

“dhuar…” suara ledakan beradunya pukulan terdengar ditengah pagi dengan curahan sinar mentari pagi.

Kedatangan Kwi-sian-pat kali ini benar-benar sial, harapan dan perkiraan mereka meleset jauh, ketika matahari sudah naik tinggi, mereka semua terdesak hebat, Tan-lou-pang sudah jatuh bangun dihantam pukulan-pukulan Li-tan-hua dalam rangkaian jurus”pat- hong-sin-tai-hong” hal ini karena dua pukulan dari Yo-seng telah membuat stamina tan- lou-pang menjadi rapuh.

Dan kemudian yang jatuh bangun adalah pasangan kekasih yang-ma-kui dan Zhang-kui- pan oleh sodokan-sodokon maoupit Yo-seng, bahkan Zhang-kui-lan sudah dua kali memuntahkan darah, lalu suma-xiau dan Bu-leng-ma juga mengalami hal yang sama, ujung sabuk Kwaa-sin-liong demikian gesit dan memiliki perubahan luar biasa, baik jurus im-yang-bun-sim-im-hoat maupun Im-yang-sian-sin-lie menegeluarkan suara gemerisik yang mempengaruhi keenam lawan, sehingga mereka tidak konsentrasi, dan tak pelak pada seluruh kelompok pertempuran mereka kalang kabut dan jatuh bangun.

Tan-lou-pang akhirnya ambruk dengan sebuah pukulan sakti yang mendarat di ulu hatinya, Tan-lou-pang terhempas dengan bersimbah darah karena muntahannya, lalu zhang-kui-lan tidak kuasa mengelak ketika sebuah tusukan menghantam pangkal lehernya, zhang-kui tanpa bersuara ambruk dengan mata medelik tewas seketika, serangan itu tidak mampu dia tahan lagi karena daya kekuatannya sudah pudar karena sudah du kali muntah darah dan beberapa sodokan yang sudah diterima tubuhnya. Yang- ma-kui menjerit histeris dan menyerang Yo-seng dengan membabi buta dan emosi yang menggelegak karena melihat pasanganya diam tidak bergerak.

Namun jeritan itu merupakan jeritan terakhir karena dua tusukan yang datangnya bersamaan menghantam pelipis dan samping lehernya, Yang-ma-kui menggelepar sebentar karena tulang tengkoraknya hancur dan darah meleleh dari telingan dan matanya, sementara tulang lehernya juga remuk, dan kemudian Bu-leng-ma terlempar hingga menabrak pohon siong di samping pintu gerbang hingga tumbang, Bu-leng-ma tergeletak dan darah muncrat-muncrat dari mulutnya, nafasnya memburu dan matanya mendelik, lalu kemudian ia pun tewas.

Suma-xiau juga akhirnya ambruk dengan luka dalam yang parah kepreten ujung sabuk yang mengenai pinggulnya mengakhiri perlawanannya karena tulang pinggul itu hancur, untungnya walaupun disamping patah pinggul dan luka dalam pada bagian dada dan perutnya, ia masih hidup dan tidak mati, lain hal dengan Gu-liang, dua tendangan berantaia yang luar biasa empat kali susul menyusul mengahntam dadanya hingga remuk redam hancur luluh lantak, Gu-liang juga tewas seketika.

Diantara enam rekanan kwi-sian-pat hanya Tan-lou-pang dan Suma-xiau yang hidup, namun keduanya sudah tidak mampu lagi berdiri, bahkan Tan-lou-pang masih belum sadarkan diri, Coa-san-tung menyuruh beberapa murid membawa enam kwi-sian-pat yang tidak berdaya ketepi pantai, empat kwi-sian-pat di kuburkan di tepi hutan bakau, sementara Tan-lou-pang dan suma-xiau diletakkan diatas perahu mereka.

Sekali lagi empat she-taihap meluncurkan perahu kwi-sian-pat ketengah samudra, luncuran perahu tanpa pengemudi itu melesat luar biasa cepat melintasi permukaan laut, dua rekanan kwi-sian-pat tergeletak tidak berdaya, yang satu masih pingsan, sementara yang satu mukanya pucat menahan sakit akibat luka dalam yang ia derita, empat she- taihap beserta murid-murid kembali ketengah pulau.

Kota Sinyang tiba-tiba diguyur hujan lebat, warga yang lalu lalang berlarian untuk berteduh diemperan toko atau masuk penginapan, termasuk seorang pemuda tampan yang baru memasuki kota dari gerbang kota sebelah utara, ia berlari-lari kecil menuju sebuah restoran, sambil mengibaskan bajunya yang basah ia memasuki restoran, pemuda itu adalah Kwee-jun-bao

“pelayan! tolong sepoci arak.” seru Jun-bao, pelayan dengan ramah mengangguk dan segera menyiapkan pesanan.

Beberapa jam kemudian hujan pun reda, orang-orang pun mulai melanjutkan aktivitasnya yang tertunda, Kwee-jun-bao juga keluar dari restoran dan menuju kediaman Yo-taihap, didepan toko yang menjual rempah-rempah kwee-jun-bao berdiri, dua orang lelaki paruh baya yang sibuk mengatur dagangan menatapnya

“tuan mau beli apa?” tanya A-cang salah satu pegawai Yo-taihap “saya hendak bertemu dengan Yo-hujin.” “ooh, ternyata tamu, sebentar kalau begitu, saya akan sampaikan pada nyonya.” sahut A- cang, kemudian ia keluar dan masuk kerumah induk.

Tidak lama kemudian ia kelaur bersama Yo-hujin, dengan senyum ramah Yo-hujin menyambut

“maaf sicu, siapakah sicu? dan ada keperluan apakah?”

“maaf Yo-kouwnio, saya Kwee-jun-bao datang dari Wuhan, saya kesini karena ada janji dengan kwee-lihap, sekalian menyampaikan salam Yo-taihap dalam keadaan sehat saat bertemu dikota Lijiang.”

“ooh..kalau begitu silahkan masuk!”

“terimakasih kouwnio.” sahut Kwee-jun-bao dan masuk kedalam rumah “silahkan duduk Kwee-sicu, lalu apakah suamiku ada pesan lain?”

“Yo-taihap hanya menyampaikan salam tersebut, dan kemungkinan besar beliau akan menuju pulau kura-kura.”

“kenapa kemungkinan besar sicu? apakah suamiku tidak mengatakan sendiri?”

“tidak kouwnio, itu hanya perkiraan saya karena dari cerita Yo-taihap bahwa ia sedang menyusuri jejak kwi-sian-pat, sementara kwi-sian-pat kemungkinan besar akan mendatangi pulau kura-kura.”

“ooh, begitu rupanya.”

“benar Kouwnio, oh-ya apakah kwee-lihap ada disini?”

“ada, sebentar akan aku panggilkan dia.” sahut Thian-eng, lalu ia meninggalkan Kwee- jun-bao pergi kehalaman belakang.

Kwaa-hoa-mei sedang bersama Yo-han yang sudah berumur hampir lima tahun, Yo-han sedang bersilat didepan bibinya, gerakannya tangkas, Kwaa-hoa-mei melempari keponakannya dengan bunga-bunga kecil

“ibu bagamana gerakanku!?” teriak Yo-han ketika melihat ibunya mendekat

“lumayan juga, sudah dulu latihannya, bibimu kedatangan tamu.” sahut Kwaa-thian-eng “tamu!? tamu siapa cici?” tanya Kwaa-hoa-mei heran

“katanya ingin bertemu denganmu dan kalian sudah ada janji.” sahut Kwaa-thian-eng dengan senyum sedikit menggoda adiknya, Kwaa-hoa-mei terdiam sesaat, hatinya bergetar mengingat apakah pemuda yang datang adalah pemuda dijumpainya di Guangdong

“apakah orangnya she-kwee cici?” “hik..hik…nggak tahu, pergilah jumpai sendiri.” goda Thian-eng

“aih..cici jangan begitu dong, masa tamu sendiri nggak ditanya siapa orangnya?”

“hi..hi…hi…maaf ya moi ku yang cantik, itu bukan tamuku, tapi tamu mu sendiri.” sahut Thian-eng makin menggoda adiknya, wajah Hoa-mei makin bersemu merah

“cepat sana temui dulu, entar dia pulang ke wuhan.”

“Wuhan….!?” sela Hoa-mei dengan nada bergetar, dan wajahnya makin bersemu merah karena melihat senyum nakal cicinya.

Kwaa-hoa-mei meninggalkan menuju ruang tengah, pemuda tampan duduk tenang sambil melihat-lihat keadaan sekeliling

“Kwee-sicu, ternyata kamu rupanya.” sapa Kwaa-hoa-mei

“ah..be..benar Kwee-lihap, aku datang sesuai janji yang kita buat, walaupun kami katakan waktu itu menunggu suratku, namun aku merasa lebih baik jika aku sendiri yang datang, maafkan aku Kwaa-lihap”

“tidak mengapa Kwee-koko, aku bahkan merasa senang jika kamu yang datang.”

“aih…be…benarkah Mei-mo..moi.” sahut Kwee-jun-bao dengan hati berdegup kencang, karena mendengar perubahan panggilan itu, dan itu sudah merupakan jawaban dari penantiannya selama setahun lebih.

Kwaa-hoa-mei menunduk dengan wajah mendengar perubahan panggilan Kwee-jun-bao yang tanggap dengan isyaratnya.

“Hoa-mei..apakah keadaanmu sehat dan baik saja!?”

“aku baik saja Kwaa-koko, dan kamu bagaimana selama ini, apakah kemu baik saja?” “aku juga baik Hoa-mei.”

“lalu bagaimana perjalanan koko sampai kesini?” “diperjalanan saya bertemu dengan Yo-taihap.’ “ooh, apakah koko bertemu dengan Liong-te?”

“tidak Hoa-mei, apakah Kwaa-taihap berbalik ke utara?”

“benar, karena ia hendak mengikuti Yo-suheng.” jawab Hoa-mei, sesaat mereka terdiam

“Mei-moi, selama setahun ini aku merenungkan makna ketertarikanku padamu, segala efek dari perpisahan kita, rasa dan harapanku kepadamu, aku meyakini bahwa jawaban dari semua gejolak yang timbul dalam hatiku hanya satu yakni, aku merasa tepat jika membina hubungan keluarga denganmu, aku ingin menikahimu Mei-moi.” ujar Kwee-jun- bao dengan sepenuh hati

“Kwee-koko, aku juga sebagaimana halnya koko, sebagai perempuan ungkapan koko itu merupakan hal yang menyenangkan dan menenangkan gejolak hatiku, terbit kebahagian direlung batinku mendengar ungkapan hati koko, namun cinta tidaklah cukup, kita masih butuh restu daripada orang tua.”

“benar Mei-moi, dan restu ini akan kita dapatkan ketika suhuku menemui kata sepakat dengan taisu she-taihap di kun-leng.”

“lalu bagaimana rencana koko selanjutnya?”

“karena hati kita sudah bersambut taut dalam cinta, aku akan bergegas kembali ke Wuhan dan mengajak suhu melamar ke Kun-leng.”

“jika demikian Koko istirahatlah dulu, dan berangkatlah besok, dan aku akan menunggu koko di samping ayahku.”

“apakah aku tidak mengganggu Mei-moi?” sela Thian-eng yang tiba-tiba muncul

“tidak cici, dan saya ingin minta izin pada cici, supaya Kwee-taihap dapat menginap semalam di sini.”

“ooo..begitu, tentu saja boleh adikku, lagian Kwee-taihap baru datang, memangnya Kwee- taihap kapan berangkat?”

“besok saya akan kembali ke wuhan cici.” sahut Kwee-jun-bao “hmh….sepertinya ada yang harus saya ketahui kwee-taihap.” “benar, karena sebagai cici darai Mie-moi patut untuk tahu.” “oh-ya aku siap mendengarkan, apakah itu?”

“begini cici, saya dan Mie-moi sepakat untuk meminta restu pada orangtua dikunleng sehubungan dengan jalinan diantara kami.”

“wah..berita bagus sekaligus menyenangkan.” sahut Thian-eng sambil mencolek adiknya, sehingga mebuat Hoa-me tersentak, namun ketika melihat kerlingan kakaknya dia jadi tertunduk dengan senyum dikulum.

“baiklah, sebagai cici aku jelas setuju karena adikku juga sepertinya sangat setuju, jadi Mei-moi antarlah Kwee-taihap ke kamar tamu.” ujar Thian-eng dengan wajah ceria. lalu Hoa-mei membawa Kwee-jun-bao kekamar tamu.

Keesokan harinya sepasang muda-mudi itu pun berpisah, Kwaa-hoa-mei melepas keberangkatan pemuda bersahaja yang membetot sukmanya itu dipintu gerbang sebelah utara

“jaga dirimu baik-baik koko, dan hat-hatilah dalam perjalanan.” ujar Kwaa-hoa-mei “iya..Mei-moi, kamu juga jagalah diri, semoga thian mempertemukan kita pada hari baik yang kita sepakati.” sahut Kwee-jun-bao, lalu ia pun melangkah meninggalkan kota Bao diiringi pandangan kekasih hatinya nan lembut rupawan.

Hutan sebelah selatan kota Hanzhong merupakan daerah yang terjal, terlebih hari itu hujan turun lebat sehingga membuat jalan setapak itu berlumpur dan licin, namun dua buah bayangan dengan gerakan luar biasa cepat melintasi hutan tersebut, kedua bayangan gesit itu adalah Kwaa-kun-bao dan adiknya Kwaa-yun-peng, mereka terus melintasai daerah berbahaya itu ditengah gemuruhnya hujan, kerinduan mereka untuk menemui ayah dan ibu mereka membuat mereka tidak sabar supaya segera sampai di kota kekun-leng.

Dan dua bulan kemudian merekapun sampai di kota kun-leng, keduanya memasuki halaman rumah saat senja, seorang gadis cantik sedang menyiram bunga dipekarangan rumah mereka, gadis itu adalah Li-ceng-lin, dua she-taihap saling pandang karena tidak mengenal gadis cantik yang menyirami bungan dalam pekarangan rumah mereka

:Li-ceng-lin berhenti dari pekerjaannya dan menatao dua pemuda yang melangkah memasuki halaman

“maaf siapakah kalian?” tanya Li-ceng-lin

“apakah ayah dan ibu kami kami ada?” tanya Kun-bao balik bertanya

“eh..susiok kah, aduh maaf susiok, sutitmu sudah lancanng karena tidak mengeanal susiok.” ujar Li-ceng-lin sambil menjura dalam

“hahaha..hehehe….keponakan kita cantik sekali suheng.” sela Yun-peng

“benar Peng-te, aduh… maafkan susiok sutit, susiok kamu ini juga tidak tahu diri, masa keponakan sendiri tidak dikenal, oh-ya siapakah namamu sutit?” ujar Kun-bao sambil memukul-mukul keningnya

“hi…hi….susiok bisa saja menggoda saya, nama saya Li-ceng-lin susiok” sahut Li-ceng- lin menuduk dengan wajah bersemu merah

“Bao-ji…. Peng-ji kalian sudah pulang?” seru suara dari dalam rumah, Kwee-kim-in muncul

“benar ibu, kami sudah pulang.” Jawab Kun-bao dan Yun-peng serempak sambil berlutut depan ibunya.

“masuklah dan segera menghadap ayah kalian di ruang tengah.” ujar Kwee-kim-in dengan senyum lembut, lalau merekapan masuk dan menghadap Im-yang-sin-taihap

“ayah kami sudah kembali.” ujar mereka serempak sambil berlutut

“syukurlah kalian sudah kembali kerumah dengan selamat, tapi dimanakah cici dan koko mu?” “Mei-cici tinggal menemani Eng-cici, karena Yo-suheng sedang berpergian untuk mencari jejak kwi-sian-pat.”

“apakah Yo-seng mencari kwi-sian-pat sehubungan dengan tewasnya paman kalian?”

“benar ayah, lalu Liong-ko menyusul Yo-suheng, dan kami melanjutkan perjalanan pulang.”

“baiklah kalau begitu, sekarang kalian pergilah mandilah, sebentar lagi malam akan tiba, dan kita akan malam bersama.” ujar Kwaa-han-bu, lalu kedua anaknyapun bangkit dan melangkah menuju kamar, sementara Kwee-kim-in dan Li-ceng-lin mempersiapkan makan malam.

Setelah makan malam, mereka kembali duduk diruang tengah

“kalian tentu merasa kehilangan, karena tiga ibu kalian tidak berada di tengah-tengah kita.”

“benar ayah, apakah yang terjadi?” tanya Kao-kong-bu dengan nada bergetar, ibu kandungnya Kao-hong-li tidak lagi menyambut kedatangannya

“Bao-ji dan Peng-ji, kematian adalah satu kemutlakan dari Thian, ibu-ibu kalian meninggal dalam kondisi yang tenang, enam bulan setelah kepergian kalian, ibu kalian Lauw-bi-hong meninggal, dan setahun kemudian ibu kalian Khu-hong-in meninggal, lalu delapan bulan kemudian ibu kalian Kao-hong-li pun meninggal.”

Terjawablah keheranan mereka akan ketiga ibu mereka yang tidak ada bersama mereka, Kun-bao dan Yun-peng tidak kuasa menitikkan air mata, sesugukan halus terdengar dari relung batin mereka yang sedih

“rasa sedih adalah hal yang lumrah dan alamiah, bukti jika punya hati dan rasa, namun larut dalam kesedihan adalah sesuatu yang sia-sia anaku.” ujar Kwaa-han-bu, kedua anaknya mengusap air mata dan mengangguk membenarkan ucapan ayah mereka. “dan ini sutit kalian Li-ceng-lin putri dari suheng kalian Li-tan-hua sudah tiga bulan berada disini menemani kami, kehadirannya demikian menghibur rasa sepi ayahmu dan ibu yang ditinggal oleh ibu kalian, dan sementara kalian juga berkelana.” sela Kwee-kim-in, sesaat keadaan hening, lalu topic pembicraanpun berubah kearah cerita perjalanan mereka yang panjang.

Keesokan harinya merekapun ziarah kemakam ibu mereka Lauw-bi-hong, Khu-hong-in dan Kao-hong-li, ketiga ibu itu memiliki tempat dihati mereka, seluruh ibu mereka memiliki karakter yang lembut dan pengertian, cinta mereka pada semua anak-anak Im-yang-sin- taihap sedikit tidak kurang lebih juga tidak melimpah, ibu-ibu mereka adalah ibu-ibu yang bijak penuh cinta dan perhatian kepada mereka. ternyata lebih dua tahun perjalanan mereka, mereka hanya mendapatkan seorang lagi ibu yang menyambut mereka.

Dengan kedatangan dua anaknya rumah she-taihap menjadi ramai, Li-ceng-lin juga merasa senang, karena kedua susioknya sangat periang dan lembut, dan merekapun sering berlatih bersama, dan dari kedekatan itu ternyata dalam hati Kun-bao dan Li-ceng- lin tumbuh bunga cinta, perasaan indah itu tumbuh subur dalam benak dua muda mudi itu, dan hubungan itu bukan hal yang tabu dalam pandangan she-taihap.

Enam bulan kemudian Kwaa-hoa-mei sampai ke kun-leng, keluarganya menyambut kedatangannya dengan suka cita, dan tiga hari setelah Kwaa-hoa-mei berada dirumah, dan setelah pulang dari ziarah kemakam ketiga ibunya bersama dua adik dan sutitnya,

Kwaa-hoa-mei menemui ibunya Kwee-kim-in

“ibu, anak datang ingin menyampaikan sesuatu pada ibu”

“apakah itu Mei-ji, katakanlah pada ibu.” sagut Kwee-kim-in lembut dan senyum “ibu..dalam waktu kedepan ini sebuah keluarga dari Wuhan akan datang.”

“oh-ya siapakah mereka itu Mei-ji?” “mereka suhu dan murid, ibu”

“tentunya mereka punya maksud baik datang kesini bukan?”

“benar ibu, pemuda itu she-kwee namanya Jun-bao, kami bertemu di Guangdong dan kami merasa sepadan, selama setahun kami telah menguji kebulatan hati kami yang mencinta, dan dia hati kami sepakat saat dia datang mengunjungi saya dirumah Eng-cici.”

“hal itu sudah patut Mei-ji, ibu akan bicara pada ayahmu perihal mereka, dan supaya kita mempersiapkan diri menyambut mereka.” ujar ibunya lembut sambil memeluk anaknya yang sudah patut berumah tangga itu

Saat hendak tidur, Kwee-kim-in sambil memeluk suaminya berkata

“Bu-ko… Mei-ji telah mengutarakan isi hatinya padaku tentang seorang pemuda.” “hmh…..syukurlah jika ketetapan itu akan menghampiri kita.”

“benar koko, mereka akan datang dari Wuhan, seorang pemuda she-kwee bernama Jun- bao.”

“syukurlah kalau begitu, semoga thian memudahkan kata sepakat diantara kita dan pihak pemuda itu.” sahut Kwaa-han-bu dengan rasa bahagia, sebahagia putrinya yang sedang dilamun cinta.

Seminggu kemudian Yo-seng dan Kwaa-sin-liong sampai kekota Kun-leng, rumah she- taihap semakin semarak, dan ketika berita kematian Lauw-han dan Sim-lok disampaikan Yo-seng, semua she-taihap dengan hati lapang dan rela menerimanya, lalu merekapun saling bercerita pengalaman masing-masing, sehingga sampai larut malam baru mereka istirahat.

Empat bulan kemudian Kwee-jun-bao dan suhunya Cia-can-kung yang lebih dikenal dengan julukan”Tiat-ci” (si jari besi), Tiat-ci berumur enam puluh dua tahun, hatinya merasa bahagia akan anugrah yang diterima oleh murid keduanya ini, yang ketika menceritakan pertemuannya dengan putri im-yang-sin-taihap, terlebih setelah muridnya kembali dari kota sinyang, dan mendengar rencana kedua muda-mudi itu, dia tahu belaka betapa luar biasanya jika mempunya hubungan keluarga dengan she-taihap, yang merupakan ikon kebijakan dan ikon kehebatan dunia persilatan.

“she-taihap yang baik, disamping kunjungan kami ini, kami juga ingin menyampaikan maksud hati kami kepada she-taihap.”

“hmh…benarkah ciannpwe, jika demikian dengan kami siap mendengarnya.” sahut Kwaa- han-bu

“she-taihap yang baik, Jun-bao ini adalah muridku yang kedua, entah bagaimana disatu tempat ia bertemu dengan seorang putri taihap yang bernama Kwaa-hoa-mei, keinginannya rasanya tinggi, namun selaku orang tua, saya tidak tega jika tidak mendukung murid saya, jadi oleh karena itulah taihap yang budiman, dengan segala kekurangan kami memberanikan diri untuk mengajukan pinangan pada putri she-taihap, maafkanlah kami jika kami lancang taihap.”

“hahaha..hahaha…cianpwe terlalu sungkan, jodoh bukanlah urusan kita, kita hanya menjaga dan memotivasi anak-anak kita untuk pandai melihat dan bijak memutuskan, cianpwe putrid kami itu banyaklah kekurangannya, dan maksud cianpwe hendak menjadikan ia menjadi mantu, tunggulah sebentar aku akan coba bertanya padanya.” sahut Kwaa-han-bu, lalu menatap putrinya

“Mei-ji, pemuda ini datang dengan sebuah harapan, suhunya yang sudah boleh dibilang lanjut usia telah berusaha datang kemari untuk melamar dirimu untuk muridnya, bagimanakah menurutmu anakku?” tanya Kwaa-han-bu, Hoa-mei tertunduk dalam sambil meremas jemarinya yang dingin, dia tidak menduga akan ditanya ayahnya secara langsung.

“ayah..ibu…” jeritnya dengan rasa malu yang sangat, sambil menunduk namun tersenyum dikulum ia berlari dari ruang tengah menuju kamarnya, sikap itu membuat para orang tua tertawa, Jun-bao sendiri dengan hati berdegup menunduk dengan wajah bersemu merah.

“hahaa..hehhe….sepertinya aku juga yang harus menjawab cianpwe.” “benar taihap, kami siap mendengarkan.”

“Cia-cianpwe, satu kehormatan dan berkah bagi kami akan maksud yang disampaikan cianpwe, kami dengan hati lapang dan terbuka menyambut baik maksud cianpwe.”

“syukur pada thian, ternyata gayung kami bersambut baik taihap, lalu kami siap untuk mendengarkan hal-hal pelaksanaan hari baik calon mantu kami itu.” sahut tiat-ci dengan hati lega dan bahagia.

Kemudian merekapun melanjutkan pembicaraan sampai larut malam, dan mereka sepakat untuk menikahkan Hoa-mei dengan jun-bao dua tiga minggu kemudian, sejak itu peesiapan-persiapan pun dilakukan, undangan pun disebar, saat hari istimewa itu tiba, kedua mempelaipun disanding dihadiri para handai tolan yang dekat dan yang jauh, Li- tan-hua dan empat murid kepala menghadiri undangan tersebut, banyak juga dari kalangan pendekar, kauwsu dan pangcu yang membanjiri pesta pernikahan tersebut. Setelah pesta tersebut usai, Kwaa-han-bu menyampaikan ihwal kun-bao dan Li-ceng-lin pada keponakannya Li-tan-hua, Li-tan-hua juga berpandangan bahwa hal itu tidak janggal, sehingga tiga bulan kemudian Kun-bao dan Li-ceng-lin pun dinikahkan, pesta diadakan di pulau kura-kura, istana pulau kura-kura yang megah dibanjiri para undangan. Kedua mempelai dengan hati bahagia memasuki kamar pengantin.

Yo-seng kembali ke kota sinyang, Kwaa-hoa-mei mengikuti suaminya ke Wuhan, dan Kun-bao bersama istrinya menetap di pulau kura-kura, Kwaa-yun-peng kembali berasama orangtuanya ke kun-leng.

Demikianlah akhir cerita Kwi-sian-pat, semoga bermamfaat disamping sebagai bacaan hiburan

Rajakelana

Batam 30 Nopember 2012

Rekan-rekan pembaca yang budiman, serial kim-khong-taihap ini masih berlanjut dengan judul: Jin-Sin-taihap ( Pendekar Sakti Welas Asih )

Tamat