-->

Delapan Dewa Iblis (Kwi Sian Pat) Jilid 6

Jilid 6

pertempuran luar biasa hebat terjadi dilembah yang kuat hembusan anginnya, riap-riapan rambut dan pakaian mereka berkibar, gerakan see-sin-kiam mender hebat mengancam nyawa lawannya, kilatan pedangnya demikian menggiriskan disertai kemilau pedang yang sangat tajam, pertempuran itu nampaknya seimbang sampai sekian lama, dan setelah siang mulai redup mendapatkan sore, enam lawannya semakin kacau dan kalang kabut.

Hebat memang see-sin-kiam dengan pedangnya yang tajam dan kuat, dan suatu ketika cambuk song-bun lepas karena tangannya kembali terluka, lalu disusul kipas kui-tao dari perguruan”pek-bian” (kipas putih) lepas karena pergelangannya luka kena sabetan pedang 

“hahaha..hahaha..apa kalian kira akan dapat mengalahkan see-sin-kiam walaupun dikeroyok? hahaa..hahaha..” teriak See-sin-kiam.

Tiba-tiba Kun-bao menerjang dan memapaki sebuah pukulan sin-kang yang akan menghabisi nyawa lauw-leng

“plak..dhuar..” see-sin-kiam terlempar dua tombak dengan tubuh menggigil, matanya melotot ketika melihat pemuda dengan tenang berdiri dengan tenang.

“para cianpwe, maaf saya ikut campur, untuk mencegah kematian yang sia-sia, see-sin- kiam memang punya kehandalan lebih dari para cianpwe.” “siapa kamu anak muda, sehingga begitu lancang ikut campur

“see-sin-kiam saya adalah Kwaa-kun-bao, pibu ini tidak sepatutnya menghilangkan nyawa.”

“hahah..hahha..apakah para orang tua ini akan mengandalkan pemuda ingusan ini?”

“cianpwe adik saya tolong diberi petunjuk!” sela Sin-liong yang sudah berdiri dibelakangnya,

“kun-bao.., sin-liong jangan gegabah, biarkan kami menghadapinya!” sela Bao-yu-ping “tidak menagapa cianpwe, sekarang para cianpwe istirahat saja dulu.” Sahut Kun-bao.

“hahaha..hahaha.. apa yang kamu miliki sehingga begitu percaya diri!?” teriak see-sin- kiam jengkel

“see-sin-kiam, mulailah, aku minta petunjuk sebagaiaman kata saudara saya.” tantang Kun-bao

“bangsat haram jadah..rasakan …!” teriak see-sin-kiam dengan serangan ganas, pedangnya berkilat menyambar tujuh jalan darah mematikan, namun sampai dua puluh jurus Kun-bao masih berkelit, ginkang see-sin-kiam ketemu tanding, sehingga amarahnya memuncak.

Ilmu pedangnya yang luar biasa di mainkan dengan kekuatan dan kecepatan penuh,

“tringg..trangg..” dua mouwpit kun-bao telah berada dilengannya, jurus im-yang-bun-sin- im-hoat dikeluarkan, gerakan indah tangan yang melukis mebuat see-sin-kiam terpapar kesamping, dia terkejut melihat daya serang dua mouwpit yang seperti melukis seiring dengan lukisan dibawa membentuk kuda-kuda aneh, namun semua gerakan itu sangat menekan semua serangannya.

Enam orang kauwsu juga terkesima melihat pertarungan luar biasa itu, suara gemerisik disetiap gerakan melukis itu amat harmoni dengan langkah-langkah lukisan kaki, sesaat see-sin-kiam tercenung dan fatal baginya sebuah totolan mengenai lambungnya, untungnya tenaga saktinya bergerak otomatis melindungi bagian dalam tubuhnya, see- sin-kiam merangsak maju membalas serangan dengan bertubi-tubi, namun daya pertahanan im-yang-bun-sin-im-hoat amat luar biasa, disamping kekokohanya tersimpan gerak tidak terduga yang membuat see-sin-kiam kecele dan terpaksa mundur, bahkan dapat kalang kabut dengan serangan susulan yang luar biasa unik dan berbahaya.

Baru kali ini she-taihap mendapat lawan yang bisa dikatakan seimbang, pertarungan ini memakan waktu yang lama sehingga tembus setengah hari lebih, di saksikan senja temaram see-sin-kiam mengalami hari naas, dimana gerakan jitu im-yang-bun-sin-im-hoat menotol pinggang dan punggunya, akibatnya pinggangnya sebelah kanan remuk dan tulang punggungnya patah, see-sin-kiam batuk darah menandakan luka serius dalam tubuhnya,dia jaatuh terbungkuk, Kun-bao menghentikan serangan.

“siapakah kamu anak muda?” tanya see-sin-kiam lemah “saya adalah kun-bao she-kwaa.”

“apakah ada hubungan dengan she-taihap Im-yang-sin-taihap?”

‘beliau adalah ayah kami.” Jawab Kun-bao, enam kauwsu terkesima, hati mereka sedikit sudah menduga akan ungkapan she-kwaa ini, namun tidak begitu yakin, dan setelah pengakuan kun-bao, mereka baru yakin dan sangat takjub menyaksikan ilmu yang ditampilkan kun-bao.

“luar biasa she-taihap, nama leluhur kalian memang bukan nama kosong, kesaktian kalian amat menggetarkan dunia ratusan tahun.”

“cianpwe selanjutnya bagaiamana sekarang?” sela sin-liong

“see-sin-kiam telah mendapat pelajaran dari she-taihap, aku akan kembali mengasingkan diri dengan cacat ini.”

“luar biasa see-sin-kiam, badan boleh cacat namun hati janganlah sampai cacat.” “apakah itu ajaran ayah kalian?”

“demikianlah cianpwe.”

“hmh…kepongahan memang merugikan, diatas langit masih ada langit, maaf para kauwsu aku telah menjadi hamba nafsu saat menantang kalian.”

“cianpwe kebaikan luar biasa saat salah lalu sadar dan cepat bertaubat.”

“hehehe..hahaha..baiklah..aku pergi.” sahut see-sin-kiam, dan meninggalkan tempat itu masuk jauh kedalam hutan.

“sungguh saya tidak menyangka bahwa tamu saya adalah she-taihap.”

“Bao-cianpwe…. sudahlah, mari kita kembali kekota!” sahut sin-liong, kemudian merekapun bangkit dan meninggalkan hong-kok yang hampir gelap diselimuti sang raja malam.

Dikediaman Bao-yu-ping, Bao-ci-lan sebagaimana biasa menikmati indahnya aneka maca bunga ditaman belakang rumahnya, sepasang kupu-kupu bermain gembira diantara rumpun bunga, Bao-ci-lan tersenyum sendiri karena dilamun oleh pikirannya, namun dia tersentak ketika sebuah suara menyapanya

“Bao-siocia ternyata, sedang menikmati indahnya bunga-bunga yang sedang mekar yah?” “eh..ah…iya, Kwaa-twako, ada apa?”

“ah..tidak ada apa-apa, saya hanya sedang lewat hendak kembali kedalam kamar.” “ooh..begitu, duduklah Kwaa-twako!” “hmh…apakah Bao-siocia yang merawat aneka bunga ditaman ini?” “benar dan dibantu ah-ling pelayan saya, apakah Kwaa-twako suka?”

“taman bunga tentulah umumnya orang suka, terlebih jika bunga tumbuh dengan perawatan yang telaten.”

“kemanakah Kwaa-twako yang lain?”

“sepertinya kedua saudaraku keluar untuk mengurus sesuatu, apakah Bao-siocia melihat ciciku?”

“Kwaa-cici sedang istirahat di kamar, oh ya kawaa-twako kemanakah sebenarnya tujuan kalian?”

“kami tidak punya tujuan, karena kami hanya menyusuri wilayah tionggoan dan akan kembali kerumah di Kunleng.”

“kwaa-twako! apakah Kwaa-cici pernah cerita tentang aku pada twako?” “ah..tidak….Mei-cici tidak pernah cerita, memang cerita apa?”

“ah…tidak..tidak ada Kwaa-twako.” sela Bao-ci-lan cepat dengan menunduk malu.”

“Bao-siocia, keluarga kalian sungguh baik hati dan ramah, kami empat bersaudara sangat bersyukur bertemu dengan Bao-cianpwe dan sudah menampung kami dirumah ini”

“ah..twako terlalu memuji, rasanya biasa-biasa saja, Kwaa-twako..! besok mungkin kalian akan pergi, kira-kira apakah kwaa-twako akan ingat kepada kami?”

“orang baik sangat sulit untuk melupakanya, terlebih keramahan yang ditunjukkan amat menggugah hati, kami akan ingat pada keluarga Bao-cianpwe.”

“Kwaa-twako kalau kamu pergi, aku akan merasa kehilangan.” ujar Bao-ci-lan mencoba mengungkapkan perasaannya.

“janganlah sampai demikian Bao-siocia, berpisah dan bertemu sudah merupakan garisan hidup, besok mungkin kita akan berpisah, tapi dilain waktu bisa jadi akan bertemu kembali.”

“memang benar twako, tapi ada sebagian orang mungkin karena hati keduanya bertaut, sehingga mereka merasa sedih jika berpisah.”

“apapun pertautan antara keduanya, jika keduanya menyadari bahwa langkah,pertemuan, rezeki dan maut merupakan garis mutlak dari yang maha mengatur, maka kesedihan menjadi sesuatu yang janggal.”

“hmh…pendapat twako itu masih asing pada pemahaman saya, sebagaimana aku juga merasa aneh dengan pertanyaan Kwaa-cici.” “apakah pertanyaan Mei-cici?”

“dia bertanya, jika sekiranya Peng-twako sudah mempunyai istri, bagaimana perasaan saya?”

“saya berharap sekiranya Bao-siocia dapat menjawabnya, namun pertanyaan itu bukan kewajiban untuk dijawab, dan tidak seharusnya ia menjadi beban pikiran.”

“saya jadi bingung twako.”

“sudahlah, jangan dipikirkan lagi pertanyaan mei-cici, tidak semestinya Bao-siocia membuang energi untuk memikirkan jawabannya, mari kita masuk kembali kedalam!”

“tapi peng-twako..!”

“sudahlah, mari hari sudah sangat sore, kemungkinan Bao-cianpwe sebentar lagi akan kembali.”

Keduanya meninggalkan taman bunga, Bao-ci-lan bergegas mandi dan mengganti pakaian, dia menatap wajahnya didepan cermin sambil merias muka dan menata rambutnya yang indah, wajah cantik itu sedikit muram, karena gejolak hatinya yang tidak gembira.

Bao-yu-ping dan dua she-taihap sudah sampai ke rumah, mereka disambut anggota keluarga dengan gembira, terlebih malam itu Bao-yu-ping menjamu empat she-taihap karena ungkapan rasa terimakasih dan rasa takluk setelah mengetahui bahwa empat pemuda tamunya adalah anak-anak Im-yang-sin-taihap yang sangat terkenal diseluruh penjuru.

Keesokan harinya empat she-taihap pun melanjutkan perjalanan, mereka dilepas oleh keluarga Bao-yu-ping dengan wajah ramah bertabur pujian dalam hati, namun sebuah hati lembut dari seorang dara jelita telah hilang, keceriannya sirna, degupan jantungnya berirama sendu dan terbitnya kegundahan karena seorang she-taihap akan jauh dari pandangannya, rasa hampa muncul bertabur gelegak rindu akan wajah taruna yang telah mengisi relung sukmanya.

“ayah bagaimana pendapat ayah tentang she-taihap?” “hmh…kenapa kamu tanyakan hal itu lan-ji?”

“karena semalam ayah demikian salut dan gembira menyatakan bahwa mereka she- taihap, sejauh apakah ayah mengenal mereka?”

“hahaha..hehehe…mereka adalah keluarga luar biasa, dari leluhur mereka telah menjadi icon dunia persilatan.”

“apa maksudnya ayah?”

“leluhur mereka bahkan sampai kepada empat she-taihap itu adalah kekuatan dunia, karena mereka memiliki kebijakan luar biasa dan ilmu silat yang tinggi mandraguna, sehingga setiap hati bangga pada mereka, karena mereka adalah rasa nyaman disetiap musibah yang menimpa, Lan-ji! sekiranya ada pertalian kita dengan mereka, maka kita telah mendapat anugrah luar biasa besar.”

“ih..apa ayah ingin aku masuk pada keluarga mereka?” ujar Bao-ci-lan dengan muka bersemu merah

“hehehe..hehe….jika jodoh kenapa tidak, apalagi melihat raut wajahmu yang kehilangan gairah hidup” sahut Bao-yu-ping, sehingga membuat Bao-ci-lan semakin menunduk

“kalau ayah tahu, lalu kenapa ayah tidak menahan mereka dan membicarakan hal itu?”

“hahaha..hehehe… pertalian dengan keluarga she-taihap membutuhkan kesiapan mental luar biasa dan pemahaman wawasan hidup yang luas, jika hal itu ada pada dirimu maka tanpa dibicarakan pun pertalian itupun akan tersambung sendiri.”

“hmh…apakah itu artinya saya belum siap mental dan kurang wawasan sehingga she- taihap tidak sedikitpun memandang padaku selama disini?”

“boleh dikatakan demikianlah anakku, namun waktumu masih panjang untuk memahami hal-hal unik pada she-taihap, kalau ayah boleh tahu, siapakah diantara mereka yang telah memikat hatimu?”

“a..a..aku tidak tahu.” jawab Bao-ci-lan sambil berlaari meninggalkan ayahnya, ayahnya terkesima dan kemudian senyum sendiri melihat tingkah putrinya.

“Jim-kok” yang biasanya sepi dan sunyi, pagi itu dibanjiri banyak orang dari kalangan persilatan, mereka menuju sebuah lapangan rumput yang luas dan hijau, hingga siang orang-orang terus berdatangan, delapan ciangbujin telah duduk bersila ditengah-tengah lapangan, Liang-song dari shaolin, Tang-kuang dari gobipai, Liu-ceng dari kunlunpai, Lie- jin dari Hoasanpai, Li-yuan dari thaisanpai, Bu-yang dari hengsanpai, Niu-liem daru kotongpai dan Sim-lao-cin dari Butongpai

.

Dipinggir lapangan banyak dikelilingi para pangcu dan kauwsu, para pendekar dunia persilatan, ketika matahari sudah berada dipuncak, delapan orang yang menyebut dirinya kwi-sian-pat muncul

“hahaha..hahhaa…ternyata delapan ciangbujin sudah hadir memenuhi tantangan kami, itu berarti delapan ciangbujin memiliki harga diri didepan para kalangan lioklim umumnya dan ratusan pendekar yang berhadir saat ini.” ujar Ma-tin-bow

“julukan kalian yang luar biasa baru muncul didunia persilatan, jadi tentu membuat penasaran, jadi oleh sebab itu kami pun ingin belajar kenal.” sahut Lie-jin tenang dan penuh tantangan balik.

“hahaha..hahaha..anda memang mempunyai nyali besar.”

“demi sebuah tanggung jawab, tantangan kalian ini harus kami jawab, jadi kiranya kalian bisa mengerti akan hal ini.” sela Li-yuan “hahaha..hahaha..benar..benar sekali ciangbujin, jadi sebelum pibu ini kita laksanakan, kami akan bersulang segelas arak.” ujar Ma-tin-bouw, lalu delapan mangkok dilemparkan keatas, dan ketika sejajar dengan dadanya delapan mangkok itu terapung, lalu Ma-tin- bouw menuang arak dari sebuah seguci, hingg delapan mangkok itu berisi, atraksi itu membuat semuan penonton terkesima, lalu Ma-tin-bouw mengibaskan tangannya, delapan mangkok berisi arak laksana pelor melesat kearah delapan ciangbujin.

Delapan ciangbujin dengan sikap waspada dan pengerahan tenaga sin-kang menerima masing-masing mangkok

“terimakasih atas suguhan araknya, namun arak tidak cocok untuk saya, jadi tolong dimaafkan.” Liang-song sambil menerima mangkok dan menelungkupkanya diatas tanah, namun luarbiasanya air itu tidak tumpah karena sudah membeku didalam mangkok

“demikian juga saya, arak tidak baik untuk tubuh tua seperti saya.” sela Tang-kuang, dan berbuat hal yang sama dengan Liang-song

Sementara enam ciangbujin yang lain menerima, dan kemudian meminumnya, namun air arak sudah membeku dan melekat kuat pada mangkok

“sepertinya arak ini kelihatannya enak dan harum, namun sebaiknya tuan rumah yang duluan meminumnya.” sahut Liu-ceng, dan mereka melempar kembali kearah Ma-tin- bouw, Ma-tin-bouw menerima enam mangkok dengan jentikan jemari, sehingga enam mangkok berjejer keatas dengan jarak satu jengkal, lalu berturut-turut Ma-tin-bouw meminum enam mangkok arak.

Semua yang hadir berdecak kagum melihat atraksi luar biasa dari Ma-tin-bouw

“selanjutnya mari kita lakukan pibu dengan ketentuan siapa yang menang tidak boleh digantikan yang lain, dan dari pihak kami…”

“biar saya twako yang pertama.” sela Suma-xiau

“baik, Suma-xiau dari pihak kami akan maju terlebih dahulu.” sahut Ma-tin-bouw. Suma- xiau melangkah ketengah lapangan

“siapa diantara ciangbujin yang akan menjajal saya!?” tanyanya dengan nada menantang.

“saya yang akan menjajal anda!” sahut Sim-lao-cin dari Butongpai sambil maju ketengah arena

“hmh..silahkan anda membuka serangan.”

“baik lihat serangan!” sahut Sim-lao-cin sambil menerjang dengan jurus cengkraman yang luar biasa cepat, Suma-xiau tidak berkelit namun memukul lengan Sim-lou-cin dari samping

“des…” dua lengan beradu, tangan sim-lou-cin mengibas dan membelit, namun dipatahkan Suma-xiau dengan gerakan lengan cengkraman pada bahu dengan gesit, dan “bretttt..” baju bagian bahu itu robek dan meninggalkan bilur merah dikulit, Sim-lou-cin mencoba membalas dengan pukulan kearah dada Suma-xiau,

“plak…” pukulan itu dihadang telapak tangan Suma-xiau dan dengan dengan spontan memelintir kepalan Sim-lou-cin dan disusul

“tuk..” sebuah totolan menghantam siku Sim-lou-cin.

Sim-lou-cin berusaha melepaskan plintiran dengan mendorong tubuh suma-xia sambil kakinya mengait kuda-kuda suma-xiau, namun suma-xiau dengan gesit melompat keudara dan mengayun tubuh sim-lou-cin sehingga terlempar, Sim-lou-cin dengan ferakan poksai mendarat selamat diatas tanah, suma-xiau dengan pukulan jarak jauh menyusulkan serangan

“dhuar…” dua tenaga sakti beradu menimbulkan ledakan dahsyat, akibatnya Sim-lou-cin terlempar dua tombak karena posisi kuda-kudanya yang masih labil, kemudian Sim-lou- cin bangkit dan memakai serangan susulan suma-xiau, pertempuran jarak dekat dengan penggunaan sin-kang tingkat tinggi sangat mumukau.

Dua cianpwe bergerak saling melintir dan dorong, penjegalan kuda-kuda silih berganti, namun setiap serangan dari suma-xiau membuat sim-lou-cin bergetar dan terdesak, dari pertempuran selama seratus jurus nampaklah suma-xiau tidak mengerahkan seluruh kemampuannya, karena baik tenaga dan kecepatan, suma-xia berada dua tingkat diatas sim-lou-cin, nafas sim-lou-cin sudah sesak karena setiap benturan dia selalu kalah dan sering mendapat totolan dan tamparan dari suma-xiau, sehingga dua puluh jurus berikutnya sebuah pukulan masuk kedada sim-luo-cin, sehingga tubuhnya terpapar tiga tindak dan ambruk sambil memuntahkan darah karena luka dalam.

Kemudian Niu-liem maju menggantikan sim-lou-cin yang sudah tidak berdaya, serangan yang bagaikan naga terbang dan cebgkraman yang kuat mengarah pada suma-xiau, suma-xiau tidak gugup, bahkan melawan keras dengan keras, dua cengkraman saling bertemu, dan keduanya mengerahkan sin-kang untuk meremas jemari lawan, dengan senyum sinis suma-xiau melemparkan Niu-liem, Niu-liem dengan poksai berbalik menyerang dan menukik dari atas, sesaat suma-xiau tidak menduga sehingga ia melompat kebelakang, dan dengan cepat berbalik menyerang, sebuag tendangan melingkar mengarah punggung Niu-liem, Niu-liem tidak sempat mengelak sehingga dengan mengerahkan sin-kang pada punggungnya menerima tendangan

“buk…” Niu-liem berguling ketanah untuk membuat jarak dan menyusun kembali serangan.

Keduanya bertarung dengan cepat, sehingga keduanya hanya nampak bayangan samara, dentuman-dentuman beradunya dua pukulan sakti mebuat tempat itu bergetar, dan setelah lebih seratus jurus, Niu-liem semakin terdesak, kecepatan serangan Suma- xiau laksana ombak menggulung tubuh Niu-liem

“buk..des…agh…” sebuah pukulan menghantam perut dan tendangan pada lambung membuat Niu-liem terhempas mencium tanah, nafasnya sesak dan pandangannya berkunang-kunang. Lalu Bu-yang dari Hengsanpai maju dengan dua buah pedang, gerakan pedang yang sangat dahsyat dan berbahaya, Suma-xiau dengan tenang berkelit dan mengimbangi serangan senjata sampai empat puluh jurus, semua serangan Bu-yang luput karena kecepatan suma-xiau masih diatasnya, tapi Bu-yang dengan telaten berusaha mendesak suma-xiau yang tidak dapat membalas karena pedangnya laksana kincir melindungi tubuhnya.

Suma-xia mengeluarkan senjatanya berupa tombak bertunas dua

“trang..trang..” dua kali ujung tombak beradu dengan pedang, membuat Bu-yang merasa kesemutan, pertarungan dengan senjata berlangsung hebat, sabetan kedua pedang Bu- yang mengauang mencecar tubuh suma-xiau, namun putaran tombak dan tusukan suma- xiau membendung semua serangan.

Seratus jurus kemudian gulungan tombak suma-xiau makin menggiriskan, celah pertahanan Bu-yang makin lemah karena benturan tenaga sakti, sehingga

“tuk..cret…agh..:” pangkal tombak menotol perut Bu-yang sehingga perutnya bergetar mual, dan disuusl mata tombak berbalik menggores pahanya sehingga darahnya mengucur, Bu-yang terduduk sambil meringis kesakitan, dan akhirnya ia muntahkan isi perutnya dan menggeloso lemah ditanah.

Tiga orang ciangbujin sudah dikalahkan suma-xiau, para penonton merasa takjub akan kekosenan suma-xiau, melawan tiga ciangbujin berturut-turut merupakan hal yang luar biasa, kesaktian suma-xiau menurut para penonton sudah tidak terukur lagi, mata mereka makin tidak berkedip saat Li-yuan maju dengan sebuah pedang bersinar merah, serangan bertubi-tubi dikerahkan dengan dorongan sin-kang dan gin-kang, namun lawan kali ini adalah suma-xiau yang kosen luar biasa, tombaknya diputar sedemikian rupa membendung gulungan pedang Li-yuan.

Siang sudah berganti malam, pertempuran kedua orang sakti itu semakin dahsyat dan seru, para penonton membuat api unggun sehingga tempat itu menjadi terang benderang, para penonton melihat berapa Li-yuan sangat terdesak oleh permainan tombak Suma- xiau.

“’breett..crak…aghhh… desss…“ sebuah sambaran mata tombak merobek baju bagian dada, dan dengan luar biasa mata pedang menyayat bahu Li-yuan dan lalu disusul sebuah pukulan sakti menghantam ulu hati Li-yuan, Li-yuan terhempas ketanah setelah terlempar lima tindak, pertarungan pun berhenti

“hahaha..hahha…. ternyata Suma-xiau telah menguasai arena pertempuran, empat ciangbujin berturut-turut.” ujar Ma-tin-bouw

“sungguh Kwi-sian-pat membuat takjub, baru salah seorang darinya sudah merupakan tokoh kosen yang tak tertandingi.” sela seorang penonton berumur lima puluh tahun, ia adalah seorang kauwsu dari Lokyang.

“dan untuk lebih serunya pibu ini, dua dari kami akan menantang empat ciangbujin.” ujar Ma-tin-bouw sambil melangkah maju, dan disisinya maju rekannya Bu-leng, empat ciangbujin saling pandang “kehebatan kwi-sian-pat memang mengejutkan, dan kami berempat juga ingin meminta petunjuk.” sahut Liang-song, lalu empat ciangbujin maju, dan Bu-leng langsung menyerang Tan-kuang dan Lie-jin, sementara Ma-tin-bouw berhadapan dengan Liang- song dan Liu-ceng, dua kelompok pertarunganpun berlangsung sangat ramai dan menegangkan.

Rosario Liang-song menderu mendesak kedudukan Ma-tin-bouw sementara Liu-ceng dengan tongkatnya menyerang dari sisi lain, Ma-tin-bouw mengimbangi kedua serangan itu dengan pedangnya dalam rangkaian jurus”kwi-ban-luikong-kiam” (pedang kilat selaksa iblis) gerakannya demikian cepat dan menggiriskan, suara beradunya senjata membuat suara berdentang dan percikan bunga api, Bu-leng dengan hauwcenya yang menyala menghadapi dua bilah pedang dari Tan-kuang dan Lie-jin.

Semakin larut, pertarungan itu semakin gencar dan seru, suara deru pukulan-pukulan sakti telah membuat areal itu laksana dihantam badai, beberapa pohon dipinggit area telah tumbang kena sasaran pukulan dari enam orang sakti itu, bahkan rerumputan disekitarnya menjadi gundul atau rebah laksana baru dilanda angina putting beliung.

Ternyata menjelang pagi kedua rekanan kwi-sian-pat telah berada diatas angina, masing- masing kedua lawan mereka dapat didesak dengan hebat, Tan-kuan terpaksa menggeloso ditanah saat sebuah ketukan hauwce Bu-leng menghantam dadanya, dan tidak berapa lama Lie-jin terlempar karena dorongan pukulan sakti yang menghantam lambungnya, baru lima belas menit Bu-leng menghentinkan pertarungan, Liu-cen menjerit karena tangannya putus ditebas pedang Ma-tin-bouw, dan disusul tubuh Liang-song melabrak sebuah pohon sehingga tumbang karena menerima pukulan hebat pada perutnya.

Decak kagum terdengar demikian riuh, para penonton benar-benar terkseima akan kekosenan kwi-sian-pat, sehingga ketika matahari naik diufuk timur, dan pertempuran pun sudah tidak ada lagi, maka mereka hendak bubar.

“tunggu dulu para pendekar dan hohan semua, pibu ini telah kalian saksikan, dan tentunya ada hal yang harus kalian fahami.” sela Ma-tin-bouw

“apa yang harus kami ketahui!?” tanya Li-yuan

“dari pibu ini kami ingin menyatakan bahwa saat ini dunia persilatan ada dalam genggaman kami.”

“mungkin anda salah, karena menundukkan kami delapan partai besar bukan kunci menguasai liok-lim, karena bukan kami mercusuar liok-lim.” sahut Li-yuan

“hahaha..hahaha….benar, tapi kekalahan kalian adalah bukti betapa kami pantas menjagoi delapan penjuru angin.”

“kekalahan kami tidaklah akan memuaskan rasa ingin ketenaran kwi-sian-pat, kalau memang hebat pulau kura-kura dengan Pat-hong-heng-te yang menjadi mercusuar, harus dapat kalian kalahkan.” “hehehe..hehehe… tidak berapa lama lagi kalian akan mendengar betapa pulau kura-kura akan kami gilas habis.” sela Tan-lou-pang

“kami akan menunggu berita menggemparkan itu.” sela para penonton dengan suara bergemuruh, lalu orang-orang itu pun bersamaan meninggalkan jim-kok, dan dalam sekejap tempat itu sepi dan sunyi.

Sejak itu seantoro rimba hijau mengenal keberadaan Kwi-sian-pat, kalahnya delapan ciangbujin menjadi buah bibir dan berita hangat disetiap pelosok desa dan kota, dan hal itu sebagian besar para kalangan rimba hijau menjadi cemas, dan juga tidak sedikit yang memuji kekosenan kwi-sian-pat, terlebih mereka dari kalangan hek-to, janji Kwi-sian-pat yang akan menggilas pulau kura-kura menjadi sebuah impian menyenangkan bagi mereka.

Kwi-sian-pat mulai mengadakan perjalanan kewilayah utra, dua bulan kemudian mereka sudah sampai di kota Hehat, mereka memasuki sebuah likoan yang cukup ramai, kedatangan delapan orang tua itu membuat para tamu merasa was-was, karena kabar munculnya kwi-sian-pat yang terdiri dari delapan orang lanjut usia telah menggemparkan seluruih wilayah timur.

Kwi-sian-pat dengan santai melahap makanan yang disediakan, berbagai aneka makanan yang dipesan tandas dalam perut mereka, empat guci arak juga mereka habiskan

“kita sebaiknya menginap dua hari disini sebelum melanjutkan perjalanan.” ujar Ma-tin- bouw.

“demikian juga bagus Ma-twako, dan saya juga ingin rilek di rumah bordil, hehehe..hehehe..” sela Suma-xiau

“pelayan….” seru Bu-leng-ma “iya tuan..”

“sediakan tujuh kamar untuk kami!”

“baik….mari saya antar keatas tuan!” sahut pelayan, lelu merekapn naik ketingkat atas dan memasuki kamar masing-masing, Yang-ma-kui dan Zhang-kui-lan satu kamar, keduanya langsung bergumul mesra diatas ranjang, sementara yang lain membersihkan diri dang anti baju.

Saat malam tiba, enam dari kwi-sian-pat keluar mendatangi rumah bordil, kedatangan mereka membuat para gadis penghibur berduyun-duyiun mendekati, bibi lou sibuk memuji-muji gadis-gadisnya didepan enam lelaki tua itu.

“gadis-gadis disini cantik dan pandai menghibur tuan, ditanggung tuan-tuan tidak akan kecewa.

“baguslah kalau begitu, suruhlah mereka kesini!” sahut Suma-xiau, lalu degan lenggang- lenggok menggoda bibi-lou meneriaki gadis-gadisnya, dua puluh gadis muda dan cantik- cantik keluar dengan senyum dan tawa cekikikan. “kalian layani tuan-tuan ini, jangan buat mereka kecewa!” perintah bibi-lou, dua puluh gadis itu menegerubuti enam lelaki tua itu dengan senyum memikat.

Gu-siang dengan begitu bernafsu mengambil tiga gadis dan membawanya kemeja lain, dengan senyum penuh birahi ia memeluk dan meremas-remas tiga gadis tersebut yang menjerit-jerit nakal sambil cekikikan, mereka berpesta sambil minum-minum, setelah itu mereka memasuki kamar untuk pesta lebih lanjut, sementara di penginapan Yang-mai-kui dan Zhang-kui-lan mereguk nikmatnya birahi, namun setelah keduanya tuntas penyakit keduanya kumat, diatas ranjang mereka bertempur sehingga ranjang tersebut ambrol.

Pemilik likoan terkejut dan beberapa tamu yang menginap, namun mereka hanya berani berdiri di selaras ruangan, suara beradunya senjata terdebgar, bahkan barang-barang dikamar terdengar hancur remuk, Zhang-kui-lan melompat dan menrobos atap, lalu pertempuran berlanjut di atas atap,

“jangan lari..!” teriak Yang-ma-kui

“siapa yang lari, ayok kesini..!” tantang Zhang-kui-lan, keduanya melanjutkan pertarungan diatas atap, keduanya saling mengerahkan kemampuan, kadang mereka bertempur sambil lari sehingga mereka sampai di luar pintu gerbang kota.

Sampai Menjelang pagi pertempuran masih berlangsung, sehingga suatu ketika golok Zhang-kui-lan melukai kaki Yang-ma-kui, saat melihat darah kekasihnya, zhang-kui-lan melempar goloknya sambil meraung mengejar kekasihnya, Yang-ma-kui juga melempar goloknya dan duduk ditanah, dengan bersimbah air mata zhang-kui-lan membersihkan luka dikaki yang-ma-kui, pertarungan hebat itu berubah drastic menjadi ajang mencurahkan kasih sayang dan perhatian, diantara keduanya.

Setelah luka itu dibalut, keduanya kembali ke penginapan, para tamu yang melihat mereka heran dan saling berbisik, namun ketika mereka menatap mata sepasang kekasih itu mereka segera menyingkir, Zhang-kui-lan membawa kekasihnya kedalam kamar, namun kemudiian ia keluar dan meinta pelayan membereskan kamar mereka yang porak- poranda.

Menjelang siang enam rekannya kembali ke penginapan sambil tertawa-tawa, mereka mengambil tempat duduk dan memesan makanan, ketika mereka bersantap, zhang-kui- lan dan yang-ma-kui turun dan bergabung dengan enam rekannya

“hahaha..hahaha…siapa kali ini yang terluka?” goda suma-xia “apa urusannya denganmu suma jelek!?” tantang zhang-ma-kui

“hehehe..hehehe…. hubungan cinta yang unik, dimana luka bagian dari interaksi cinta diatara kalian, sudah jangan dimasukkan kedalam hati.” sela Bu-leng-ma.”

“benar aku hanya bercanda, dan kadang kalau dipikir aku iri dengan hubungan kalian yang seperti itu.” ujar Suma-xiau. “yah..sudahlah, mari kita lanjutkan makannya.” sela Tan-lou-pang, lalu merekapun makan dengan lahap, semua tamu yang diam-diam memperhatikan geleng-geleng kepala melihat keanehan delapan orang lanjut usia itu.

‘besok apa yang kita lakukan dikota ini?” tanya Bu-leng-ma

“kita mendatangi rumah kungcu dan mengundang para kauwsu untuk bertemu.” “untuk apa kita mengundang para kauwsu?” sela suma-xiau

“kita akan mengambil alih kota ini untuk mendapatkan kekayaan.” “detailnya bagaimana maksudnya Ma-twako?” tanya tan-lou-pang

“kota ini adalah kota besar dan padat, merupakan kota perdagangan antar wilayah, jadi pendapatan kota ini sangat banyak.”

“lalu apa hubungannya dengan para kauwsu?” sela Yang-ma-kui

“para kauwsu akan kita tugaskan untuk memungut pendapatan tersebut sekaligus membawanya ke kota Bao, dan disamping itu pendapatan kauwsu juga kita ambil beberapa persen”

“kalau begitu piauwkiok juga lahan bagus untuk itu.” sela Bu-leng-ma

“benar, dan kita akan mendapatkan jumlah pendapatan yang besar.” sela suma-xiau, delapan orang itu tertawa dengan gembira.

Keesokan harinya merekapun mendatangi rumah Kao-kungcu

“berhenti orang tua, ada urusan apa mendatangi kediaman taijin!?” cegat dua orang penjaga pintu gerbang

“kalian cepat sampaikan pada majikanmu, bahwa kwi-sian-pat hendak bertamu.” ujar suma-xiau dengan bibir mencibir, mendengar julukan itu kedua pengawal terkesima, julukan itu akhir-akhir ini sangat santer

“tunggu kalau begitu, akan kami sampaikan dulu pada taijin.” sahut seorang dari pengawal sambil segera berbalik dan berlari kedalam.

Kao-taijin dating bersama delapan orang pengawal pribadinya yang terdiri dari para pesilat tangguh dikota Hehat

“selamat datang kepada kwi-sian-pat, ada urusan apakah sehingga datang kekediamanku?”

“bagus taijin, anda tahu diri untuk datang menyambut kami, dan hal ini akan membuat anda selamat, namun hal ini akan berkelanjutan jika anda menuruti keinginan kami.” sahut Ma-tin-bouw “hmh….apakah isebenarnya maksud kedatangan kalian!?” tanya Kao-taijin dengan muka merah

“hehehe..hehehe….jangan kamu berlagak didepan kami taijin, kami datang hendak menguasai kota Hehat, dan jika anda mau bekerjasama, maka anda akan selamat, tapi sebaliknya jika tidak kamu dan seluruh keluargamu akan kami kirim kea lam maut.” sahut Ma-tin-bouw, mendengar itu delapan orang pengawal Kao-tai-jin mencabut pedang dan bersikap siap menyerang

“hahaha..hahaha…. sekali kau salah mengambil keputusan maka nyawamu akan lenyap.” ancam Ma-tin-bouw, Kao-taijin meragu untuk menyuruh pengawalnya melawan, julukan kwi-sian-pat sangat menggegerkan, tapi dia ingin tahu sampai dimana kekuatan orang yang hendak menindasnya ini.

“aku tidak akan ikuti kemauan kalian tapi dengan syarat.” “hik..hik…apa syaratmu itu taijin!?” sela Zhang-kui-lan

“jika seorang dari kalian mampu mengalahkan delapan pengawalku ini, maka aku akan menuruti kalian.”

“hik..hik…boleh, heh..! kalian semua majulah, dan siap menerima hajaranku.” sahut Zhang-kui-lan maju tiga langkah, delapan pengawal pribadi taijin maju serempak melangkah kedepan, wajah delapan orang itu penuh amarah karena diremehkan nenek yang masih kelihatan cantik ini.

“apakah kalian sudah siap!?” tantang Zhang-kui-lan

“sialan…lihat serangan!” teriak seorang lelaki berbadan tinggi besar dan rambut dikucir, dengan sebuah tendangan ia menyerang Zhang-kui-lan, zhang-kui-lan mengelak kesamping

“wuut..wuut…buk….aghh…” Zhang-kui-lan memukul kaki tersebut dari samping namun kaki itu cepat berlipat, kemudian zhang-kui-lan menyusulkan pukulan kedada, namun lelaki itu menghindar kesamping, dan tanpa diduga tendangan kiri zhang-kui-lan bergerak menghantam perut, melihat kawan mereka membungkuk sambil memegangi perut hanya dengan tiga tindakan, lalu berbareng mereka menyerang.

Zhang-kui-lan bergerak cepat dan gesit, gerakannya yang luar biasa membuat pengeroyoknya kalang kabut, dan dalam dua puluh jurus delapan orrang itu ambruk bergedebuk ketanah dengan wajah memelas kesakitan sambil memegangi bagian tubuh mereka yang kena pukulan dan tendangan zhang-kui.

“bagaimana taijin, apakah syarat anda terpenuhi!?”

“baiklah, aku akan menuruti kemauan kalian.” sahut Kao-taijin dengan muka pucat dan terkesima dengan apa yang ia saksikan, delapan pengawalnya adalah jago-jago kota Hehat, namun dengan waktu singkat mereka di robohkan seorang dari kwi-sian-pat.

“bagus, sekarang kita masuk kedalam dan akan membicarakan rencana lebih lanjut.” sela Ma-tin-bouw, lalu merekapun memasuki rumah dan duduk diruang tengah yang luas “taijin….sebagaimana saya katakana tadi bahwa kota Hehat kami ambil alih, jadi sebelum kita bahas hal lainnya, suruh pengawalmu untuk menyampaikan undangan kepada pimpinan bukoan dan piauwkiok, untuk bertemu dengan kami disini nanti malam.”

“baiklah kalau begitu, saya akan suruh pengawal saya menemui mereka.” sahut Kao- taijin, lalu sepuluh orang pengawal disuruh menemui orang-orang yang dimaksud

“sediakan kamar dan beberapa pelayan untuk melayani kami.” ujar Ma-tin-bouw, kao-taijin mengangguk dan memerintahkan enam orang pelayan wanita untuk melayani keperluan kwi-sian-pat, kemudian merekapn bersantai dikamar masing-masing sambil menunggu malam.

Ketika enam kauwsu dan empat pangcu dating, pertemuan diruang tengah pun digelar “kalian tentu heran kenapa kami undang kesini.” tanya Ma-tin-bouw

“benar cianpwe, ada apakah gerangan sehingga cianpwe mengundang kami?” “kamu siapa?”

“saya adalah Cu-lu-kang, seorang kauwsu.”

“Cu-lu-kang dan kalian semua jika ingin selamat harus menuruti kemauan kami, dan siapa yang enggan silahkan berdiri untuk saya cabut nyawanya.” sahut Ma-tin-bouw dengan tengas, sepuluh orang itu terkejut dan merinding ketakutan.

“apa yang harus kami lakukan cianpwe!?”

“bagus itu tandanya kalian setuju dan mau bekerjasama, nah..dengarlah oleh kalian, kota Hehat ada dalam genggaman kami, dan saya minta setengah dari pendapatan kota adalah bagian kami, dan seperempat dari pendapatan kalian diberikan kepada kami, apa kalian mengerti!?” ujar Ma-tin-bouw

“kami mengerti, apakah cianpwe akan berdiam di kota ini?” tanya seorang dari mereka

“tidak..kami tidak berdiam disini, jadi semua pendapatan tadi setiap bulan kalian sepuluh bertanggung jawab untuk mengirimkannya kekediaman kami dikota Bao.”

“baiklah, jika memang demikian.” sahut Cu-lu-kang.

“bagus, kami akan berada disini sampai pada pengiriman pertama kekota Bao, dan selanjutnya kalian sepuluh yang mengurus beserta taijin.” ujar Ma-tin-bouw, merekapn mengangguk bersamaan.

“kalian boleh pulang!” ujar Ma-tin-bouw, dan kesepuluh oarng itu pun meninggalkan kediaman taijin, kediaman kao-taijin menjadi tempat nyaman bagi kwi-sian-pat

Sebulan kemudian pengiriman upeti pertama kekota Bao pun dilakukan, tiga ratus tahil emas dan seribu tahil perak menjadi bagian kwi-sian-pat, dua hari setelah piauwkiok yang bertugas membawa upeti tersebut berangkat, kwi-sian-pat pun meninggalkan kota Hehat untuk melanjutkan perjalanan.

Kwi-sian-pat memasuki kota Sinyang setelah enam bulan kemudian, kehaadiran mereka yang banyak dikenal setelah pibu di jim-kok membuat warga cemas dan ketakutan, sepak terjang kwi-sian-pat cendrung menindas terlebih mereka mengakui akan menghabisi pulau kura-kura yang merupakan ikon kebaikan dunia saat itu.

Kwi-sian-pat menuju tempat kediaman Ui-hai-liong-siang, dua orang pembantu Ui-hai- liong-siang sedang sibuk melayani para pembeli rempah-rempah, kedatangan delapan orang itu membuat dua pelayan dan pembeli heran

“selamat siang cianpwe, apakah yang dapat saya Bantu cianpwe?” sapa seorang dari pembantu tersebut

“apakah Ui-hai-liong-siang ada!?” tanya Ma-tin-bouw

“oh…tuan besar ada, tunggu sebentar.” sahut pembantu, kemudian ia keluar dari toko dan masuk kerumah induk.

Tidak lama kemudian ia keluar bersama Yo-hun, saat itu hanya Yo-hun dan istrinya yang berada dirumah, sementara putra dan mantunya sedang melawat ke Kun-leng setelah cucunya Yo-han berumur tiga tahun

“selamat siang, ada urusan apakah sehingga para sicu datang ketempat kami?” sapa Yo- hun

“hmh…kedatangan kami bukan hal yang baik bagi Ui-hai-liong-siang.” sahut Ma-tin-bouw “maksudnya bagaimana sicu dan siapakah kalian?”

“kami adalah kwi-sian-pat, dan maksud kami hendak menjajal kemampuan Ui-hai-liong- siang.”

“ooh..demikian rupanya, saya juga mendengar kekalahan delapan ciangbujin ditangan kalian.”

“bagus kalau begitu, dan juga sudah saatnya Ui-hai-liong-siang keluar dari dunia persilatan.”

“hehehe..hehe…kalau kami keluar, apa yang hendak kalian perbuat?”

“tentunya menguasai seluruh Tionggoan, jadi bersiaplah untuk menerima tantangan kami.”

“siapa mereka ini Hun-ko?” tanya Siangkoan-lui-kim yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.

“mereka kwi-sian-pat hendak menantang kita.” sahut Yo-hun “nah..! Ui-hai-liong-siang sudah ada dihadapan kita, jadi mari kita gasak.” sela Yang-ma- kui sambil menerjang kearah Yo-hun, dan kekasihnya Zhang-kui-lan menyerang siangkoan-lui-kim, para pembeli yang ada diareal samping rumah induk melihat dan menyaksikan pertarungan luar biasa dari dua pasang tokoh tua.

Dua pasang tokoh tua itu bertarung secara bersamaan, gerakan masing-masing pasangan saling mendukung, Ui-hai-liong-siang dengan dua bilah pedang sementara sepasang kekasih itu dua bilah golok, saling serang dan saling jegal berlangsung seru, pukulan-pukulan berhawa sakti dikeluarkan, gerakan senjata yang cepat dan gesit saling menyambar.

Arena pertempuran itu bergetar akibat pukulan sakti yang beradu dan juga hangar bingar karena deru dan dentangan senjata yang beradu, serangan Ui-hai-liong-siang dalam rangakaian thian-te-it-kiam bertubi-tubi dan saling susul menyusul memapaki serangan sepasang golok dari rekanan kwi-sian-pat, gerakan yang lincah dan gesit membuat empat petarung itu sukar untuk diikuti mata telanjang penonton yang awam, hanya enam rekanan kwi-sian-pat yang dapat mengikuti pertarungan tersebut.

Dua ratus jurus kemudian ui-hai-liong-siang dapat mendesak pasangan kekasih tersebut, gabungan ilmu Ui-hai-liong-siang memang amat kokoh dan dahsyat, Yang-ma-kui berusaha memisahkan diri, sehingga pertarungan jadi dua kelompok, trik ini merupakan usaha untuk membendung desakan dari suami istri kosen tersebut, namun celakanya trik ini bukan menguntungkan tapi sangat berbahaya, karena satu-lawan satu ternyata Yo-hun dan Siangkoan-lui-kim lebih luas perkembangan jurus-jurusnya.

Dan baru tiga jurus setelah memisahkan diri, yang-ma-kui menjerit karena sebuah pukulan pek-lek-jiu mendarat telak diperutnya, ia terlempar dengan perut terasa mual, untungnya tenaga saktinya cepat melindungi organ dalamnya sehingga ia hanya mendapat luka ringan, dan tidak lama kemudian zhang-kui-lan mundur dengan berpoksai karena lengannya tergores berdarah akibat sabetan jitu dari soangkoan-lui-kim.

Pertempuran sesaat terhenti, lalu Yang-ma-kui dan Zhang-kui-lan kembali bersamaan membangun serangan, dan pertempuran kembali menyatu, Ui-hai-liong-siang dengan tenang melayani format permainan sepasang lawannya, dan dua puluh jurus kemudian kembali Ui-hai-liong-siang mendesak pasangan rekanan kwi-sian-pat, sehingga pada satu kesempatan Ui-hai-liong-siang menembus pertahanan zhang-kui-lan dan Yang-ma-kui

“breeet….cep….brettt..buk…” pedang siangkoan-lui-kim merobek bahu yang-ma-kui, dan disusul tusukan pada paha kiri zhang-kui-lan, sementara pedang Yo-hun merobek lambung zhang-ma-kui dan disusul pukulan saktinya mengenai perut yang-ma-kui, yang- ma-kui terlempar lima tindak dan ambruk, sementara zhang-kui-lan berguling ketanah sambil meringis kesakitan, dua lukanya bersimbah darah.

“luar biasa, ternyata Ui-hai-liong-siang bukan nama kosong.” ujar Tan-lou-pang, kemudian ia menerjang Yo-hun dan suma-xiau menyerang siangkoan-lui-kim, pertarungan kembali berlangsung dalam dua kelompok, Tan-lou-pang dengan dua senjatanya suling dan kipas menghadapi ilmu thian-te-it-kiam dari Yo-hun, trik-trik berbahaya dikeluarkan, kembang jurus digunakan untuk menipu lawan, pertempuran antara yo-hun dan tan-lou-pang sangat alot dan dahsyat. Seratus jurus segera berlalu, pertarungan dua lelaki kosen itu semakin seru dan cepat, sampai sekian lama pertempuran keduanya seimbang, lain halnya dengan pertarungan Ma-tin-bouw dengan siangkoan-lui-kim, menginjak jurus keseratus lima puluh, Ma-tin- bouw terdesak hebat, dua luka di bagian bahu dan lengannya sudah membuat ia lemah, sehingga ketika pukulan pek-lek-jiu dari siangkoan-lui-kim telak mendarat dipunggungnya, sehingga membuat Ma-tin-bouw jatuh tengkurap dan meluncur diatas tanah hingga dua tombak.

Ma-tin-bouw memuntahkan darah segar, dia harus mengakui keunggulan siangkoan-lui- kim, tiba-tiba dua kakek kembar Gu-siang dan Gu-liang maju mengeroyok siangkoan-lui- kim, siangkoan-lui-kim menghindar dan menjauh

“apakah kwi-sian-pat tidak malu mengeroyok?” tegur siangkoan-lui-kim

“hehehe..hehhee…seharusnya kami berdelapan mengeroyok kalian berdua, ini hanya kami berdua melawan kamu seorang, apakah kamu takut?” sahut Gu-siang

“hik..hik…diri sendiri yang pengecut mangatakan orang takut..cih…” tantang siangkoan- lui-kim.

Gu-siang dan Gu-liang tanpa komentar langsung menyerang siangkoan-lui-kim, hari sudah sangat sore, pertempuran antara yo-hun dan tan-lou-pang semakin pada puncaknya, tiga ratus jurus sudah berlalu, Tan-lou-pang yang merupakan orang tersakti diantara kwi-sian-pat mulai terdesak, serangan Yo-hun semakin dipergencar, sehingga tan-lou-pang tersudut dan berusaha berguling menghindar, namun laksana naga marah karena melihat istrinya dikeroyok, yo-hun tidak memberi kesempatan dan dengan serangan susulan pedangnya mengejar dan

“craat…trang…” punggung tan-lou-pang tergores pedang dan sulingnya untung masih dapat menagkis sabetan pedang pada pinggangnya.

Yo-hun melihat tan-loupang terdiam dengan nafas sesak langsung melompat ke arah istrinya, namun Suma-xia dan Bu-leng-ma melompat dan menyerangnya, Yo-hun terpaksa menunda untuk membantu istrinya, dan menghadapi dua lawan segar ini, Yo- hun yang sudah mengalami pertempuran lama dengan tan-lou-pang berusaha untuk mengimbangi dua serangan dahsyat dari suma-xiau dan Bu-leng-ma, sampai seratus jurus ia masih dapat menguasai keadaan, walaupun malam sudah merambat pertempuran masih berlangsung, halaman kediaman Ui-hai-liong-siang yang luas sudah porak-poranda.

Pertarungan antara sikakek kembar dengan siangkoan-lui-kim masih berlangsung seru dan menegangkan, kenyataannya sikembar dan siangkoan-lui-kim seimbang, para tetangga sedari sore hari melihat dengan harap-harap cemas akan pertarungan yang luar biasa seru dan menegangkan itu, tapi Ui-hai-liong-siang memang patut dipuji akan kekosenannya menghadapi tindasan kwi-sian-pat yang berusaha merobohkan mereka.

Tan-lou-pang setelah beristirahat sejenak kembali maju mengeroyok Yo-hun, yo-hun yang tadinya dapat mempertahankan diri dari tekanan hebat suma-xiau dan Bu-leng-ma terpaksa bertahan sambil mundur, dan kenyataannya lagi yang-ma-kui bergerak membantu sikakek kembar mendesak siangkoan-lui-kim, kali ini ui-hai-liong-siang terdesak hebat, namun suami istri ini berusaha bertahan dan melawan. Yo-hun mundur mendekati istrinya, sehingga keduanya saling menempel bahu, dan ini trik yang jitu untuk bertahan dan melawan, enam rekanan kwi-sian-pat menyerang mebabi buta, dan kekuatan ui-hai-liong-siang semakin kokoh dalam bertahan, enam kwi-sian-pat merasa buntu menghadapi suami istri luar biasa itu, mereka terus bergerak sambil melihat celah dan peluang untuk serangan mematikan, namun hamper menjelang pagi Ui-hai- liong-siang masih dapat bertahan.

“kita serang dengan pukulan hawa sakti..” ujar Tan-lou-pang, lalu enam orang itu mengerahkan pukulan pamungkas masing-masing, dan takpelaknya zhang-kui-lan dan Ma-tin-bouw mengambil posisi dari dua sisi samping ui-hai-liong-siang, delapan pukulan hawa sakti menderu suami istri yang saling adu punggung tersebut, Ui-hai-liong-siang bersiap dengan pertahanan terakhir menyambut delapan kekuatan dahsyat dari kwi-sian- pat

“dhuar……brak…brak….brak….” suara ledakan dahsyat memakakan telinga terdengar, suma-xiau terlempar melabrak pintu rumah ui-hai-liong-siang, Ma-tin-bouw terlempar melabrak dinding pagar dan Gu-siang terlempar melabrak pagar, dan yang lainnya hanya tergeser dua sampai tiga tindak, namun hal menyedihkan bagi pasangan suami istri kosen itu, mereka amblas terbenam sampai kepinggang dengan muka pucat dan darah meleleh dari sudut bibir keduanya.

Suami istri luarbiasa itu tewas seketika dengan organ dalam hancur berantakan, keduanya tewas dalam posisi terbenam dan punggung mereka saling menempel, empat rekanan kwi-sian-pat berdiri dengan tertatih-tatih melihat suami istri itu, empat diatara mereka pingsan yakni sikakek kembar, suma-xiau dan Ma-tin-bouw, suasana sangat sepi dan mencekam, para tetangga yang menonton di serambi rumah masing-masing tidak bergerak, demikian juga dua pembantu Ui-hai-liong-siang.

Ketika matahari terbit, empat rekanan kwi-sian-pat membawa empat rekannya yang pingsan meninggalkan kediaman Ui-hai-liong-siang, setelah keadaan aman, barulah para tetangga mendekati halaman kediaman Ui-hai-liong-siang, dua pembantu Ui-hai-liong- siang meratapi kematian majikannya, dan para tetangga bersama-sama menggali tanah dan mengeluarkan suami istri itu dari dalam tanah, kemudian mereka membawanya kedalam rumah.

Sampai siang rumah Ui-hai-liong-siang semakin banyak didatangi warga yang melayat, kematian pasangan kosen itu membuat kota sinyang gempar, sementara Kwi-sian-pat langsung meninggalkan kota sinyang dan istirahat disebuah hutan, empat rekanan mereka yang pingsan diletakkan.

Dua jam kemudian suma-xiau siuman, kemudian disusul Ma-tin-bouw dan Gu-siang, lalu tidak berapa Gu-liang pun siuman, namun mereka terluka dalam, sehingga meraka hanya dapat rebah dengan muka pucat, luka-luka luar mereka diobati dan dibalut Tan-lou-pang, kemudian mereka didudukkan, suma-xiau dengan dibantu Bu-leng-ma mengerahkan sin- kang untuk mengobati luka dalamnya, demikian juga dengan Gu-siang dibantu Yang-ma- kui dan Gu-liang dibantu Zhang-kui-lan, selama tiga jam usaha pengobatan itu dilakukan, barulah keadaan tiga rekan mereka itu agak mendingan, dan muka mereka tidak pucat lagi, namun, mereka tidak bisa mengerahkan tenaga sin-kang dan harus mendawamkan minum obat pencuci darah setidaknya selama dua bulan. Yang paling parah adalah Ma-tin-bouw, karena ia tidak bisa membuka jalan darahnya,

Tan-lou-pang tidak bisa membantu pengobatan lukanya

“kita harus mencari tabib untuk memulihkan Ma-twako.” ujar Tan-lou-pang “apakah Ma-twako sangat parah?” tanya Yang-ma-kui

“benar, dia sangat lemah sehingga untuk membuka jalan darahnya ia tidak mampu.”

“kalau begitu kita harus secepatnya mendapatkan tabib untuknya, sementara itu Ma-tin- bouw tiba-tiba muntah darah untuk kesekian kalianya, nafasnya makin sesak.

Empat kwi-sian-pat segera membopong empat rekannya yang lain dan berlari cepat untuk melanjutkan perjalanan, disebuah desa kecil mereka mendapatkan seorang tabib setelaah bertanya kepada orang kampung, tabib itu dipanggil Coa-sinse dan berdiam di pinggir desa, merekapun segera ketempat si tabib.

Coa-sinse yang berumur enam puluh tahun sedang menjemur ramuan obat diatap rumahnya.

“apakah kamu Coa-since!?” tanya Tan-lou-pang “benar…kalian ini siapa dan ada keperluan apa?”

“empat teman kami sedang terluka, jadi kami butuh pengobatan segera.” Sahut Tan-lou- pang sambil merebahkan Ma-tin-bouw.

Coa-sinse segera mendekati Ma-tin-bouw dan memegang urat nadinya, kemudia dengan seksama ia memperhatikan wajah Ma-tin-bouw sambil menekan-nekan dada dan pupil matanya

“hmh….teman kalian ini lukanya sangat parah.” desahnya sangat berat “apakah dapat diobati?”

“dia bisa diobati namun saya hanya dapat meringan derita sakit yang dialaminya.” “kenapa demikian?”

“ramuan untuk luka dalamnya tidak saya miliki.”

“apa ramuan yang dapat mengobatinya sinse?” sela Bu-leng-ma

“tunggu sebentar saya akan masak obatnya dulu baru kita bicarakan.” sahut Coa-sinse dan segera masuk kedalam pondoknya.

Satu jam kemudian coa-since keluar, dua poci abat dia bawa keluar, satu poci obat berwarna merah diminumkan kepada Ma-tin-bouw, sementara poci yang lain berisi obat berwarna pucat kehijauan diminumkan kepada suma-xiau, dan sikembar, lalu mereka duduk di teras rumah coa-since setelah empat rekannya dibaringkaan didalam rumah. “siapakah kalian ini?” tanya Coa-since

“saya adalah Tan-lou-pang, tiga rekan saya ini Bu-leng-ma, Zhang-kui-lan dan Yang-ma- kui, sementara empat teman kami adalah Ma-tin-bouw yang terluka parah, dan yang tiganya suma-xiau, Gu-siang dan Gu-liang, kami di kenal dengan sebutan kwi-sian-pat.” jawab Tan-lou-pang, mendengar itu coa-sinse termenung.

“kenapa sinse terdiam!?” sela Zhang-kui-lan dengan nada tajam

“ah…tidak, hanyasanya saya tidak habis pikir bagaimana kalian golongan lioklim hidup dalam kekerasan.”

“itu sudah merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri, jadi bagaimana tentang pengobatan teman kami yang terluka parah?” sahut Zhang-kui-lan mengalihkan pembicaraan

“hmh….obat untuk teman kalian itu empedu elang laut, hati macan hitam dan bunga teratai salju.”

“dimana kami mendapatkan tiga ramuan itu?” sela Bu-leng-ma

“elang laut tentunya hanya ada di wilayah pinggiran laut, sedang macan hitam yang saya tahu ada di kwi-ban-san dekat kota Lijiang, dan teratai salju banyak terdapat dipegunungan kunlun.”

“untuk mendapatkan obat itu membutuhkan waktu yang lama, lalu bagaimana dengan daya tahan teman kami?” tanya Yang-ma-kui

“dengan obat dari saya setidaknya dia bertahan sampai enam bulan, sebelum hawa racun yang ada dalam perutnya naik keparu-paru, jika hawa ini naik maka dadanya akan berwarna hijau kehitaman, dan kalau sudah begini semuanya akan terlambat, karena satu jam setelah itu jantungnya akan meledak.” ujar coa-sinse menjelaskan, mendengar penjelasan itu empat dari kwi-sian-pat tercenung, mereka tidak habis pikir bagaimana Ma- tin-bouw yang posisinya berada disamping saat adu tenaga bisa mengalami luka sedemikian parah.

Hal ini dapat dialami Ma-tin-bouw karena diantara mereka berdelapan sin-kang Ma-tin- bouw bisa dikatakan terendah, dan ketika terjadi ledakan akibat beradunya pukulan, maka sin-kang itu berpendar kesamping dan kekuatannya menghantam pukulan sakti yang dikeluarkannya sendiri, sehingga kekuatan pendaran itu menyergap tubuhnya beserta tenaganya sendiri yang berbalik, dan ironisnya hawa sakti Ma-tin-bouw mengandung racun, dan hawa itulah yang sekarang mengendap dalam perutnya disamping organ dalam yang teraduk-aduk sehingga membuat penyumbatan yang banyak pada jalan darahnya.

“bagaimana she-bu? apa yang yang harus kita lakukan?” tanya yang-ma-kui

“menurutmu bagaimana she-tan?” sahut Bu-leng-ma mengalihkan pertanyaan pada Tan- lou-pang “kita harus bekerja ekstra cepat untuk dapat menyelamatkan Ma-twako.” “apa rencanamu she-tan?” Tanya Zhang-kui-lan

“kita harus berbagi tugas, dan terpaksa meninggalkan she-suma dan she-gun disini.” “detailnya bagaimana she-tan?” tanya Bu-leng-ma

“saya dan she-zhang akan membawa Ma-twako ke kwi-ban-san, she-bu akan mencari elang laut didaerah pinggiran laut, dan she-yang menuju kunlunsan untuk mengambil bunga teratai salju, bagaimana menurut kalian?”

“saya setuju saja, dan saya rasa itu ide itu sangat baik.” sahut Bu-leng-ma

“baik, sekarang sinse apa yang kami lakukan jika tiga ramuan itu kami dapatkan?”

“empedu elang laut dan daun bunga teratai dimasak tanpa menggunakan air, campuran masakan dua ramuan itu akan menghasilkan air obat, sementara hati macan hitam dibakar hingga hangus menjadi arang, lalu digodok bersama air obat, lalu diminumkan kepada sisakit, hal ini dilakukan setiap pagi selama tiga hari, dan setelah tiga hari, kalian akan mendapatkan bercak merah pada perut sisakit, bercak itu harus dihilangkan, karena itu adalah darah kotor yang mengendap.”

“cara mengeluarkannya bagaimana sinse? sela Zhang-kui-lan

“bercak itu dikeluarkan dengan menusuknya dengan beberapa jarum kepala batu semberani, dan bisa kalian beli ditoko obat, jika jarum sudah ditusukkan, kalian mencabutnya setelah kepala jarum yang tadinya berwana hitam merubah menjadi merah cerah, penusukan jarum ini dilakukan dua kali siang hari dibawah terik matahari.”

“baiklah sinse, kami sudah mengerti, dan hari juga kami akan berangkat.” ujar Tan-lou- pang, lalu mereka masuk kedalam rumah dan membicarakan rencana itu pada empat rekannya

“she-suma dan she-gu, kali ini kita berpisah dulu, karena kami harus segera membawa Ma-twako ke kwi-ban-san, karena waktu yang singkat, terpaksa kalian tinggal disini untuk memulihkan diri dibawah pengobatan coa-sinse.”

“apakah lukaku sangat berbahaya?” tanya Ma-tin-bouw lemah

“benar twako, tapi twako jangan cemas karena luka itu bisa disembuhkan, hanya kita harus berpacu dengan waktu.”

“jika demikian berangkatlah she-tan, setelah pulih kami akan menyusul ke kwi-ban-san.” sela Suma-xiau, Tan-lou-pang mengangguk dan kemudian dia memondong Ma-tin-bouw.

Setelah mendapatkan ramuan obat penahan sakit untuk daya tahan Ma-tin-bouw dari coa-sinse lima dari kwi-sian-pat berangkat, mereka bergerak cepat dengan pengerahan gin-kang luar biasa, tubuh mereka laksana terbang dan hanya bayangan samara saja, dua bulan kemudian mereka sudah sampai di kota yinchang, dikota yinchang Bu-leng-ma memisahkan diri karena ia hendak menuju laut kuning, Tan-lou-pang, yang-ma-kui dan zhang-kui-lan terus bersama sampai kekota xining sebulan kemudian, dan dikota xining yang-ma-kui memisahkan diri untuk menuju pegunungan kunlun, Tan-lou-pang dan zhang-kui-lan melanjutkan perjalanan menuju kwi-ban-san.

Dua bulan kemudian Tan-lou-pang dan zhang-kui-lan sampai di kaki kwi-ban-san

“kita harus buat pondok dipinggir hutan ini, sehingga jika rekan-rekan kita datiang mudah menemukan kita.” ujar zhang-kui-lan

“benar…kita harus dirikan sebelum kita mencari macan hitam, waktu kita tinggal sebulan lagi.” sahut tan-lou-pang, lalu Ma-tin-bouw dibaringkan dibawah pohon kayu, dan keduanya memasuki hutan untuk mengambil bahan untuk pondok.

Seminggu kemudian pondok panggung itupun berdiri, dinding dan lantainya hanya kayu- kayu kecil yang diikat dan atap dari jerami yang dijalin, pondok itu terdiri dari tiga kamar dan sedikit ruang tengah, dan diluar ada sebuah teras yang lebar, keadaan Ma-tin-bouw makin lemah, dalam sehari dia bisa pingsan tiga kali, dan untuk diajak bicarapun tidak bisa lagi.

“pergilah she-tan memburu tiga ekor macan untuk diambil hatinya, dan saya akan menjaga Ma-twako.” ujar zhang-kui-lan

“baiklah, saya pergi sekarang.” sahut Tan-lou-pang.

Tan-lou-pang memasuki hutan kwi-ban-san, dia berlari cepat lebih masuk kedalam hutan yang gelap karena lebat dan belukarnya hutan tersebut, kadang dia naik keatas pohon yang tinggi untuk melihat keberadaan macan hitam, setengah hari ia menjelajahi hutan bagian lereng tidak ada ia mendapatkan tanda-tanda keberadaan macan hitam, lalu ia pindah kereleng lain.

Saat malam tiba ia dikejutkan suara gaung diudara, dengan ketajaman pandanganya ia mengetahui bahwa gaung itu ditimbulkan oleh rombongan tawon, rombongan tawon itu mengarah kepadanya, dengan spontan ia mengerahkan sin-kang dan bergerak sedemikian rupa, sehingga disekitar tubuhnya berputar angin puting beliung dan melindunginya dari serangan tawon, tawon itu tidak sanggup menembus putaran angin yang diciptakan hawa sakti Tan-lou-pang, namun rombongan tawon itu juga tidak pergi melainkan bertahan diluar pusaran angin.

“tawaon sialan…tidak juga pergi, kalau begini semalaman aku bisa mati kelemasan.” pikir Tan-lou-pang, kemudian Tan-lou-pang memukul rerimbunan hutan dengan tenaga sakti, serangkum cahaya merah meluncur kearah rerimbunan dan meledak sehingga membuat bunga api dan membakar rerimbunan hutan, Tan-lou-pang kembali memukul rerimbunan didekat nyala api, setelah dubagian api berkobar, tan-lou-pang melompat diantara dua sisi api yang menyala, dengan sikap wasapada ia memperhatikan sekelilingnya dan mengerahkan pendengarannya yang tajam sambil mengumpulkan ranting-ranting diatas nyala api, suara gaung mulai mendekat, namun rombongan tawon tertahan karena hawa panas belukar yang terbakar.

Tan-lou-pang terpaksa bertahan diaantara dua sisi api, karena suara gaung tawon masih terdengar manandakan bahwa tawon itu masih bertahan disekitar tempat itu, Tan-lou- pang mengerahkan sin-kang untuk menahan rasa panas yang mendera tubuhnya sambil menggerutu kebandelan tawon tersebut, semalaman penuh Tan-lou-pang melawan hawa panas dari kobaran api demi berlindung dari incaran tawon.

Menjelang pagi rombongan tawaon sudah pergi karena suara gaung mulai menjauh, saat matahari terbit Tan-lou-pang beranjak dari tempatnya, dan rasa lapar menyerang perutnya, Tan-lou-pang terus menjelajagi sisi lereng tersebut, dan akhirnya dia dikejutkan auman macan yang dicarinya, dua ekor macan hitam keluar dari semak-semak belukar, keduanya mengaum menunjukkan taringnya yang runcing dan tajam, Tan-lou-pang dengan tenang berdiri dihadapan dua macan yang siap menyergapnya.

Kedua macan menggenjot tubuhnya dan bersamaan menerkam kearah Tan-lou-pang, Tan-lou-pang dengan gesit menghindar kesamping, namun tidak terduga seekor macan dating dari arah dia menghindar, dengan cekatan Tan-lou-pang menggulingkan tubuhnya dan melepas pukulan sakti, serangkum tenaga dahsyat menghantam tubuh macan itu, macan itu ambruk mengauam karena tulang pinggul dan perut yang remuk.

Dua macan lain segera menyerang untuk kedua kalinya, Tan-lou-pang dengan kekuatan yang sudah siap sedia menyambut kedua macan yang berada diudara dengan dua rangkum yang tenaga dahsyat memberotot dari lengannya

“desss…aummm…” kedua macan itu ambruk dengan kepala remuk sehingga keduanya tewas seketika, dengan sebilau pisau Tan-lou-pang membelah perut ketiga macan, lalu mengambil ketiga hatinya dan menusuknya pada sebilah bambu, disamping itu ia juga mengambil beberapa sayatan besar daging macan, dan kemudian ia pun kembali ketempat belukar yang terbakar, sisa api masih menyebar disekitar tempat itu, Tan-lou- pang mengambil satu sayatan besar dari bamboo dan membakarnya, dalam sekejap aroma daging bakarpun tercium, setelah matang, tan-lou-pang menyantap daging baker dengan lahap.

Menjelang siang Tan-lou-pang kembali kepondok, zhang-kui-lan sedang arak diteras pondok, ketika melihat Tan-lou-pang ia berdiri

“apakah kamu mendapatkan hati macan itu she-tan?”

“benar…aku mendapatkan tiga hati dan juga sekalian kubawakan dagingnya untuk perbekalan kita, bagaimana keadaan Ma-twako?”

“semalaman ini ia tidak sadar diri.” “apakah mereka belum ada yang datang?”

“belum ada, dan akan tidak bagus jika sampai dua minggu lagi mereka tidak datang.” “eh….kamu dapatkan arak, darimana?”

“semalam aku kekampung dibalik lembah itu, apakah kamu mau minum?” “tentu, aku baru makan daging bakar dan belum mendapatkan air minum.”

“kalau begitu minumlah” ujar Zhang-kui-lan sambil menuangkan arak pada sebuah tempurung, Tan-lou-pang dengan tidak sabar mereguk arak hingga tandas, kemudian menuangkannya sekali lagi dan meminumnya dengan nikmat.

Tiga hari kemudian tiga orang muncul didepan pondok, ternyata ketiganya adalah suma- xiau, dan sikakek kembar

“wah..kalian sudah sampai.” sapa Tan-lou-pang yang berketepatan selesai mandi dari dalam hutan

“she-tan! bagaimana kabar kalian?” tanya suma-xiau, sebelum Tan-lou-pang menjawab zhang-kui-lan keluar dari dalam pondok

“kami baik-baik saja she-suma.” jawab Tan-lou-pang “Ma-twako bagaimana?” sela Gu-liang

“makin mencemaskan, karena pengobatan belum dapat kita mulai, karena she-yang dan she-bu belum datang dari mencari dua ramuan yang lain.” sahut Tan-lou-pang sambil menaiki tangga, ketiga rekannya mengikuti, lalu mereka menjenguk Ma-tin-bouw yang tidak sadarkan diri, setelah itu mereka kembali keluar dan duduk diteras pondok.

Dua hari kemudian Yang-ma-kui muncul dan disambut empat rekannya

“saya sudah dapatkan bungan teratai salju.” ujar Yang-ma-kui sambil membuka buntalannya yang berisi setumpuk bunga teratai berwarna putih

“apakah menurut kalian sudah cukup untuk tiga kali pemakaian?”

“saya kira sudah lebih dari cukup.” sahut zhang-kui-lan dengan tatapan rindu dan sayang.

“benar, dan untuk urusan asamara jangan disini, dan sebaiknya ditepi sungai disana cocok karena melihat efek yang muncul.” sela Tan-lou-pang dengan senyum menggoda, karena isyarat mata Zhang-kui-lan begitu jelas didepan mereka, yang lain senyam- senyum, Yang-ma-kui hanya nyengir kuda, sementara zhang-kui-lan tertunduk dengan muka mencibir Tan-lou-pang

“sudah aku kesumber air dulu!” ujar zhang-kui-lan dan langsung berkelabat.

“kalian memang nakal.” tegur Yang-ma-kui, namun dia tidak menunggu komentar rekannya dia sudak berkelabat menyusul kekasihnya, empat rekannya tertawa, karena mereka tahu betul akan anehnya kedua rekan mereka itu, dari dulu ketika mereka masih jadi asuhan pah-sim-sai-jin yang-ma-kui dan zhang-kui-lan sudah seirama dalam cinta, bahkan semakin menempel setelah mereka mendapatkan ilmu baru, namun hubungan cinta yang penuh kesetiaan itu mengandung keanehan akibat ilmu baru mereka.

“menurutmu siapa nanti yang terluka diantara mereka?” tanya suma-xiau “menurut saya pasti yang-ma-kui yang terluka.” sahut Gu-siang

“mau bertaruh?” tantang suma-xiau “taruhannya apa?”

“siapa yang kalah pergi kekampung untuk mengambil arak dan beras.” “baik…siapa takut.” sahut Gu-siang, mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Menjelang sore Zhang-kui-lan digendong yang-ma-kui, zhang-kui-lan pahanya dibalut karena luka, Gu-siang tersenyum karena ternyata dia kalah.

“besok kamu berangkat she-gu, arak dan beras kita sudah habis.” ujar suma-xiau dengan senyum kemenangan, pasangan kekasih itu tidak tahu akan permaianan itu, karena semua rekannya tidak ingin menyinggung perasaan dua rekan mereka.

Keesokan harinya setelah Gu-siang berangkat, menjelang siang hari Bu-leng-ma muncul, dipundaknya ada empat ekor elang yang masih hidup.

“bagaus, kamu sudah dating she-Bu dan nanti malam kita akan dapat memulai pengobatan Ma-twako.”

“kenapa tidak siang ini saja?” sela Gu-liang

“menjelang pagi pengobatan Ma-twako dilakukan sesuai perintah Coa-sinse, jadi tengah malam kita sudah bisa menggodok obatnya dan diminumkan padanya saat pagi.” sahut Tan-lou-pang, Suma-xiau dan Gu-liang mengangguk-angguk mengerti.

Saat Tengah malam merekapun menggoidok obat, Bu-leng-ma menyembelih elang laut dan mengambil empedunya, sementara yang-ma-kui mempersiapakan tungku, lalu bunga teratai salju pun di masukkan kedalam wajan bersama sekantong empedu elang laut, terdengar letupan-letupan pada bunga teratai salju, dan mengeluarkan banyak air, air berwarna kehijauan karena kantong empedu pecah dan berbaur dengan bunga teratai.

Kemudian air itu dituang kedalam tempurung, dan hati macan hitam sudah selesai dibakar sehingga menjadi arang, lalu hati itu di masukkan kedalam cairan obat, dan diaduk, warna cairan menjadi hitam pekat, saat pagi obat itupun diminumkan kepada Ma-tin-bouw yang tidak sadarkan diri, tidak lama kemudian tiba-tiba tubuh ma-tin-bow menggigil, dan matanya terbeliak, rekan-rekannya hanya memperhatikan reaksi tersebut yang berlangsung selama satu jam, Ma-tin-bouw sudah siuman.

Pagi kedua obat pun diminumkan dan reaksi sama seperti pada pagi pertama, dan pada pagi ketiga setelah memimum obat dan reaksinya selesai, tubuh Ma-tin-bouw yang telanjang menunjukkan bercak merah disekitar perut dan paha, dan ketika siang hari tubuh Ma-tin-bouw dibawa keluar, dan dibawah terik matahari Tan-lou-pang menusukkan jarum-jarum yang sudah disediakan di atas bercak-bercak merah, dan menjelang sore warna kepala jarum berubah menjadi merah cerah, Tan-lou-pang mencabuti jarum dari perut dan paha Ma-tin-bouw, Ma-tin-bouw dibawa kembali kedalam, sejak itu wajahnya sudah tidak pucat lagi, dan sudah dapat enak diajak bicara, juga makannnya sudah lahap.

Siang hari berikutnya merupakan pengobatan terakhir, Tan-lou-pang kembali menusukkan jarum-jarum pada bercak merah yang sudah mulai memucat, dan menjelang sore kepala jarum berunag merah cerah, dan tubuh Ma-tin-bouw sudah bersih, tidak ada lagi bercak merah tersebut,

“coba..aku mau berdiri dulu.” ujar Ma-tin-bouw, Tan-lou-pang menarik Ma-tin-bouw berdiri, dan kemudian melepaskannya, sesaat Ma-tin-bouw hanya berdiri, lalu ia mencoba melangkah, dan ternyata ia sanggup dan tenanganya benar-benar pulih, rekan-rekannya mengucapkan selamat padanya dengan rasa senang

“terimaksih teman-teman, berkat usaha kalian aku masih dapat diselamatkan.” ujar Ma- tin-bouw dengan linangan air mata

“sudahlah Ma-twako, kita adalah sahabat sejak dulu, dan kita senasib seperjuangan, dan sama menanggung apa pun yang kita hadapi.” sela suma-xiau, malam itu mereka pesta di teras pondok menyambut kepulihan Ma-tin-bouw, tawa ceria dan canda diantara mereka terdengar disekitar hutan kwi-ban-san yang sepi dan mencekam.

“kemamakah kita setelah ini Ma-twako?” tanya Bu-leng-ma

“kita akan menuju pulau kura-kura, dan menoreh peristiwa menggemparkan disana.”

“ya..saya setuju sekali, jika pulau kura-kura sudah diganyang, maka dunia lioklim akan berkiblat pada kita.” sela Suma-xiau.

“kalu begitu kapan kita berangkat?” tanya Bu-leng-ma

“besok siang kita akan berangkat.” sahut Ma-tin-bouw, semuanya mengangguk menyetujui.

Keesokan harinya kwi-sian-pat meninggalkan kaki kwi-ban-san memasuki kota Lijiang, perjalanan keselatan dari wilayah barat ini dilakukan dengan santai, disetiap kota meraka singgak dua sampai tiga hari, bahkan keberadaan mereka semakin dikenal karena peristiwa pibu di jim-kok yang dihadiri banyak pendekar dari berbagai wilayah, terlebih setelah tersebar berita kematian Ui-hai-liong-siang ditangan mereka, rombongan delapan orang lanjut usia ini menjadi momok menakutkan bagi warga, sehingga siapapun yang berurusan dengan mereka terpaksa bersikap ramah dan hati-hati.

Terik panas matahari membakar kota Bao, jalanan sunyi dan berdebu, sepasang suami istri dengan seorang anak leki-laki berumur tiga tahun lebih, dalam gendongan ibunya memasuki kota, pasangan itu adalah Yo-seng dan istrinya Kwaa-thian-eng yang hendak kembali kekota Sinyang, setelah hampir sebulan berada di kota Kunleng, kediaman guru sekaligus mertuanya, suami istri itu memasuki sebuah likoan yang tidak ramai pengunjung.

“silahkan tuan dan nyonya!” sambut seorang pelayan dengan ramah “tolong segera air putih dihidangkan.” pinta Yo-seng

“baik tuan, silahkan duduk sebentar akan kami sediakan.” Sahut pelayan segera berbalik, sepoci air putih dihidangkan, Kwaa-thian-eng segera menuangkan air dan meminumkannya kepada putranya Yo-han. “pelayan kami pesan makanan dengan lauk ikan bakar dan sayur capcai.” Seru Yo-seng, pelayan mengangguk dan segera melangkah kearah dapur.

Tidak lama kemudian pesananpun dihidangkan pelayan, lalu suami istri itu makan dengan lahap, Yo-han yang sudah bisa makan sendiri juga lahap makannya, seorang pelayan tergopoh-gopoh menyambut serombongan piauwkiok berjumlah delapan orang memasuki restoran mereka

“wah..tuan-tuan tentu dari perjalanan jauh, mari silahkan duduk dan memesan makanaan dan minuman.”

“pelayan! kami pesan tiga guci arak, nasi dengan lauk ayam goreng sera sayur tumis.”

“baik pangcu, segera akan kami persiapkan.” sahut pelayan dan berjalan cepat kedapur untuk menyampaikan pesanan.

“aku tidak menyangka akan stragis itu akhir hidup Ui-hai-liong-siang.”

“Guan-twako berita itu benar apa tidak, karena walaupun kwi-sian-pat sakti, namun Ui-hai- liong-siang bukan orang sembarangan, pasangan itu pasangan kosen hamper sejajar dengan Im-yang-sin-taihap.” sela yang lain, mendengar itu Yo-seng dan istrinya terkejut,

“ada apa dengan ayah mertua Koko?” bisik Kwaa-thian-eng

“hmh…sebentar saya cari tahu.” sahut Yo-seng dan kemudian bangkit dari duduknya melangkah mendekati rombongan piauwkiok

“maaf sicu yang baik, saya tadi mendengar kalian menceritakan Ui-hai-liong-siang, dan saya adalah Yo-seng putra beliau.” ujar Yo-seng, delapan orang itu menatap Yo-seng

“aduh…Yo-taihap, darimanakah Yo-taihap?” “kami dari Kun-leng hendak pulang ke Sinyang.” “oohh…, maaf jelas taihap tidak tahu.”

“ada hal apakah dengan ayahku sicu?”

“begini taihap, sebulan yang lalu cabang piauwkiok kami dari kota chancu membawa berita dari sinyang bahwa Ui-hai-liong-siang telah meninggal ditangan kwi-sian-pat.”

“ooh…benarkah itu sicu?”

“soal kebenarannya saya juga tidak pasti, namun taihap perlu ketahui bahwa Kwi-sian-pat markasnya ada dikota ini”

“baiklah, terimaksih atas informasinya, sekarang saya permisi dulu.” ujar Yo-seng, lalu ia kembali kemejanya. “sepertinya ayah ditimpa kemalangan, dan sebaiknya kita bergegas.” ujar Yo-seng, lalu suami istri itu segera menyelesaikan makan, dan berangkat setelah membayar makanan.

Kemana kita koko?” tanya Kwaa-thian-eng