-->

Delapan Dewa Iblis (Kwi Sian Pat) Jilid 5

Jilid 5

Hari itu empat she-taihap memasuki kota khangsi, mereka istirahat disebuah likoan yang cukup ramai, dan sepertinya kota ini banyak dimasuki para pendatang yang terdiri dari orang-orang persilatan, seorang pelayan menghidangkan makanan yang dipesan empat she-taihap

“lopek, sepertinya banyak orang persilatan memasuki kota ini, ada hal apakah?” tanya Kwaa-kun-bao

“oo, tuan tidak tahu yah?”

“benar kami tidak tahu, bisa kasih tahu lopek?”

“begini tuan muda, para ahli silat ini sedang menuju kota Guangdong.” “ada apa dikota guang-dong? sela Kwaa-yun-peng

“putri gubernur Guangdong adalah seorang ahli silat tinggi, dan juga terkenal cantik rupawan, jadi gubernur mengadakan acara syembara mencari jodoh putrinya itu.”

“oo begitu rupanya, terimakasih lopek atas informasinya.”

“hehee..hehehe sama tuan muda, tuan muda apa tidak tertarik?” tanya pelayan sambil tertawa.”

“mungkin kami akan kesana hanya untuk menonton keramaian.” sahut Kwaa-sin-liong, lalu merekapun makan

“apakah kita akan ke Guangdong cici?” tanya Yun-peng

“tentu kita akan kesana peng-te, dan disana kita akan banyak bertemu para ahli persilatan.” Jawan Kwaa-hoa-mei

Kota Guangdong adalah kota yang sangat besar, gebernur Lie sebagai pimpinan pemerintahan memiliki pasukan tentara yang banyak, dibawah empat ciangkun yang terkenal gagah dan sakti, namun yang menjadi buah bibir dikalangan umum gubernur Lie mempunyai seorang putri yang canti bernama Lie-bi-hong, disamping kecantiakannya dia juga seorang pesilat tingkat tinggi.

Seminggu sebelum hari pertemuan, kota sudah dihiasi dengan aneka kertas warna-warni, sebuah panggung yang sangat besar dan tinggi telah dibangun di alun-alun kota, beberapa likoan sudah disewa gubernur untuk istirahat para tamu, para pengawal berseragam disiapakan diempat pintu gerbang kota untuk menyambut para tamu, demikian juga puluhan polisi disiapkan di setiap likoan tempat para tamu.

Kota Guangdong dibanjiri para pendatang yang terdiri dari pemuda bangsawan dan ahli silat, para tamu di arahkan ke likoan-likoan yang yang sudah disediakan, disebuah bukit disebelah gerbang selatan, empat she-taihap berjalan santai sambil menikmati sejuknya hembusan angin saat menjelang siang, dua bayangan lain dengan gerakan cepat datang dari arah belakang.

Dua orang pemuda tampan mendekat, namun seorang dari mereka melewati empat she- taihap, dan seorang pemuda berhenti menyapa mereka “salam ketemu sicu…!” sapanya ramah “salam jumpa sicu..” sahut Kwaa-sin-liong

“apakah si-sicu hendak menghadiri pertemuan dikota Guangdong?” “benar sicu, kami ingin menonton keramaian.” jawab Sin-liong. “kebetulan saya juga hendak kesana, kenalkan nama saya Kam-ci-lung.”

“oh-ya kami empat saudara dari kun-leng, nama saya Sin-liong, dan ini cici kami Hoa-mei, dan kedua adik saya kun-bao dan yun-peng, kami she-kwaa.

“hahaha..hahhaa… sungguh tidak dinyana saya akan bertemu dengan she-taihap yang terkenal kehebatan dan kearifannya.

“twako sungguh berlebihan, janganlah terlalu memuji kami.”

“maaf she-taihap, namun sungguh aku merasa bahagia dengan pertemuan ini.” “kami juga twako, darimanakah asal twako?”

“saya dari kota nancao she-taihap.”

“siapakah suhu dari twako kalau kami boleh tahu?” sela Kun-bao

“aha..she-taihap, saya hanya murid seorang tosu yang dijuluki”soan-hong-kun” (pukulan angin puyuh).”

“janganlah terlalu merendah Kam-twako, bukankah twako akan ikut syembara yang diadakan gubernur?”

“rencana begitu, namun lihat situasinya dulu, kalau memungkinkan akan ikut, lalu apakah she-taihap tidak akan ikut?”

“kami hanya ingin menonton kam-twako”

“wah…sayang sekali, saya yakin jika salah satu dari she-taihap ikut pastilah syembara akan dimenangkan she-taihap.”

“ah…twako terlalu melebihkan.” sahut Kwaa-sin-liong.

Saat mereka sampai dipintu gerbang mereka disambut empat orang polisi

“selamat datang para taihap dan terimakasih telah sudi meramaikan pertemuan akbar diadakan Lie-taijin.”

“selamat bertemu ciangkun, kami juga ucapkan terimakasih atas penyambutan yang baik ini.” sahut Kwaa-sin-liong, lalu mereka dibawa kesebuah likoan, seorang pelayan mengantarkan mereka kekamar masing-masing, tempat hiruk pikuk karena banyaknya tamu yang menginap ditempat itu.

Rata-rata tamu itu berumur dua puluh tahun sampai tiga puluh tahun, dan sungguh luar biasa biaya sang gubernur dalam jamuan akbar itu, susul menyusul tamu yang diantarkan para petugas pemerintahan, dan pada hari pertemuan, semua tamu keluar dari likoan menuju alun-alun dimana panggung besar dan megah berdiri setinggi sepuluh kaki, dibagian belakang panggung disusun kursi-kuris yang indah, dan dibagian bawah disekitar panggung dibangun tempat pelantaran lebih rendah tiga kaki dari permukaan panggung, area pelantaran itu luas mengelilingi panggung, para peserta dan penonton menduduki kursi yang sudah disediakanpada area tersebut.

Dibagian belakang panggung duduk Lie-taijin dan para staf pemerintahan dan juga para sesepuh kota, seorang yang ditugaskan sebagai pembawa acara maju ketengah panggung dengan senyum ramah menjura ke empat penjuru.

“selamat datang kami ucapkan kepada para peserta syembara dan juga pada para tamu pengunjung yang berhadir pada kesempatan ini, perkenankan saya Can-sai-sung menginformasikan acara yang akan kita lalui pada perhelatan akbar Lie-taijin selaku gubernur kota Guandong.” Suara tepuk tangan menyambut perkataan Can-sai-sung.

“Dari tamu yang berkunjung kami dapatkan jumlah tiga ratus orang, sementara yang mendaftarkan diri sebagai peserta syembara sebanyak seratus orang, sungguh suatu minat yang luar biasa dari para kontestan.” kembali suara gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai menyambut jumlah para kontestan, sehingga Can-sai-sung berhenti sejenak.

“baiklah, sebelum saya melanjutkan informasi yang berhubungan dengan syembara, mari kita sambut Lie-taijin untuk mennyampaikan sepatah dua patah kata sekaligus membuka syembara yang akan dilakukan.” suara sorak-sirai menyambut berdirinya Lie-taijin

“salam jumpa pada sekalian tamu yang terhormat, satu kebanggan bagi kami dengan hadirnya para tamu sekalian, dan hal yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa syembara ini adalah untuk mencari jodoh putri kami yang manja Lie-bi-hong, putri kami ini memiliki niat bahwa yang menjadi calon suaminya adalah kalangan pendekar yang mampu mengalahkannya, jadi kami sebagai orang tua hanya memfasilitasi keinginan tersebut, dan kiranya syembara ini akan berjalan tertib dan lancar dan kami juga merasa puas dengan hasilnya nanti, demikian saya buka syembara ini dan saya ucapkan selamat kepada seluruh kontestan.” ujar Lie-taijin dan disambut tepuk meriah dari seluruh tamu.

“baiklah para tamu sekalian, tiba sekarang saya akan menyampaikan hal ihwal syembara yang akan kita lakukan, yang pertama bahwa syembara ini tidak dibenarkan membunuh lawan pada pertarungan, jadi jika kontestan jatuh dalam pertarungan maka dinyatakan kalah, lalu yang kedua tahapan syembara akan diadakan tiga tahapan, adapaun tahapan pertama kita akan menyaksikan lima pertarungan sekaligus yang terdiri dari dua sesi, kemudian tahapan kedua lima pertarungan sekaligus yang terdiri dari satu sesi, dan tahapan ketiga merupakan babak penentu dan juga pertarungan antara pemenang dengan nona Lie-bi-hong.” ujar Can-sai-sung, tepuk meriah pun bergema.

“sekarang kami panggilkan sepuluh kontestan untuk naik kepanggung!” seru Can-sai- sung, sepuluh orang pun menaiki panggung, Kao-ciangkun sebagai kepala kemanan ikut berdiri yang ditugaskan sebagai juri “dilapangan panggung yang luas ini kalian akan bertarung dengan lawan masing-masing, tidak diperbolehkan mengambil alih lawan lain, mengerti!”

“mengerti ciangkun.” Sahut mereka serempak, lalu Kao-ciangkun memberi aba-aba dan pertandingan pun berlangsung ramai, para kontestan berusaha meraih kemenangan, jurus-jurus simpanan pun dikeluarkan, kembang juruspun dimaksimalkan untuk tipuan dan pancingan.

Selama empat jam sesi pertama ini pun usai, sehingga didapatkan lima puluh peserta yang ikut sesi kedua, sepuluh kontestan pun mulai bertanding, persaingan pada sesi ini sangat alot, namun yang memiliki ilmu yang tinggilah yang akan jadi juara, sesi ini memakan waktu tiga jam dan hasil yang didapatkan sebanyak dua puluh orang, karena ada lima pasang yang seri.

Can-sai-sung mengehentikan acara, untuk jedah, para tamu pun makan siang, setelah rehat selama dua jam Cai-sai-sung kembali membuka acara dan memasuki tahapan kedua, sepuluh kontestan mengadakan adu tanding yang luarbiasa cepat dan dahsyat, dan hal itu mengundang sorak sorai penonton menyaksikan serunya pertarungan para kontestan, akhirnya tahapan ini selesai saat menjelang malam, Can-sai-sung menutup acara dengan pengumuman sepuluh kontestan yang akan berlaga esok harinya, semua tamu pun meninggalkan alun-alun kembali kepenginapan masing-masing.

Dipenginapan para tamu saling menomentari pertandingan yang berlansung seharian itu, salah satu kontestan yang akan berlaga besok adalah Kam-ci-lung, dengan senyum ia mendekati empat she-taihap yang sedang makan malam

“selamat Kam-twako, dapat memasuki tahap akhir besok.” ujar Sin-liong “hmh…terimakasih she-taihap, dan tentunya saingan besok adalah orang-orang handal.”

“bukankah sebaiknya anda mengalah kam-sicu?” sela seorang lelaki tampan yang bernama Cu-lai-seng salah seorang kontestan yang juga ikut berlaga besok, dan kebetulan mejanya berdekatan disebelah kiri meja she-taihap

“hahaha….hahaa… sebelum bertanding aku tidak akan menyerah Cu-sicu.”“dan nona siapakah?” sela seorang lagi dari arah depan meja she-taihap.

“heheh..hehehe….Kao-bun, aku juga ingin kenal dengan nona yang cantik ini, dan rasanya kecantikannya tidak akan kalah dengan nona Lie-bi-hong.” sahut Cu-lai-seng

“saya kwaa-hoa-mei, selamat kalian bertiga memasuki tahapan akhir syembara.” sahut Kwaa-hoa-mei

“dan ketiga saudara ini adalah adik-adik kwaa-socia.” sela Kam-ci-lung. “benar, nama saya sin-liong, dan kedua adik saya ini Kun-bao dan Yun-peng.” “salam jumpa kwaa-sicu, oh ya kenapa kalian tidak ikut syembara?”

“tidak.. kami tidak tertarik dengan cara mendapatkan istri dengan syembara,” “kenapa demikian liong-sicu?” tanya Kao-bun

“pernikahan adalah sesuatu yang besar, dan termasuk urusan hati.”

“hehehe..hahaha… memang benar liong-sicu, saya mengikuti syembara karena hati saya sudah terpaut pada lie-soicia.”

“apakah kamu sudah pernah melihat Lei-siocia Cu-sicu?” sela Kam-ci-lung “sudah dan wajahnya benar-benar cantik.” sahut Cu-lai-seng

“saya sependapat dengan kwaa-sicu tentang pernikahan.” sela seorang lelaki tampan rupawan.

“siapakah sicu?“ tanya Kwaa-kun-bao, Kwaa-hoa-mei yang ikut menoleh pada lelaki itu berdesir darahnya.

“maaf kwaa-siocia, dan kwaa-sicu, saya ikut nimbrung pembicaraan, tiga kontestan kita sungguh luar biasa dan selamat saya ucapkan atas keberhasilannya melewati dua tahapan, nama saya Kwee-jun-bao dari Wuhan.”

“terimakasih Kwee-sicu, dan walaupun benar nikah adalah urusan hati, tapi syembara ini juga tentunya melibatkan hati.”

“benar kao-sicu, Jika hati itu tidak dirusak oleh rasa bangga akan kemenangan dan munculnya pandangan pada Lie-siocia sebagai hadiah dari usaha besar yang kalian lakukan, dan serela apakah Lie-siocia bertahan dengan lelaki yang telah mendapatkannya? syukur-syukur lelaki yang menang menawan hati Lie-siocia saat pandangan pertama.”

“apakah menurut Kwee-sicu syembara ini salah?” sela Kam-ci-lung “syembara untuk mencari suami menurut saya salah Kam-sicu.”

“hehehe..hehee… tergantung cara pandang masing-masing, kalau menurut saya, terlebih kita hidup di rimba persilatan, syembara seperti itu lumrah dilakukan”

“saya sependapat dengan Cu-sicu, dunia persilatan adau kemampuan adalah hal tidak terbantahkan untuk menjawab setiap masalah.” sela Kao-bun

“eh..kalian sudah dengar tidak tentang undangan Kwi-sian-pat?” tanya Kam-ci-lung

“sudah, dan dua dari suheng saya sudah berangkat untuk memenuhi undangan tersebut.” sahut Kao-kun-bao

“bukankah Kwi-sian-pat adalah nama baru didunia persilatan?” tanya Kwaa-yun-peng

“oh-ya maaf saudara-saudara, saya ingin istirahat, jadi saya permisi dulu.” Sela Kwaa- hoa-mei “oh..silahkan kwaa-siocia.” sahut Kwee-jun-bao sambil berdiri, Kwaa-hoa-mei tersenyum melihat keramahan Jun-bao, lalu dia meninggalkan mereka

“benar kwaa-sicu, namun menurut yang saya dengar bahwa mereka itu adalah tokoh senior” jawab Cu-lai-seng

“artinya mereka itu tokoh yang sudah berumur kalau begitu.” Sela Kam-ci-lung

“benar Kam-sicu, menurut seorang pendekar yang saya temui mereka itu berumur enam puluh tahun lebih.”

“dimanakah kediaman mereka?” tanya Kwee-jun-bao

“katanya mereka tinggal di kota Bao, dan daerah pertemuan itu dekat dengan kota Bao namanya Jim-kok.” Jawab Cu-lai-seng, tiga she-taihap terheyak sesaat karena Jim-kok adalah nama yang tidak asing bagi mereka, karena seorang dari ibu mereka Can-hang-bi ibu kandung dari Kwaa-yun-peng bertempat dan dimakamkan disana.

“tapi anehnya pertemuan itu hanya untuk menyaksikan pertarungan antara kwi-sian-pat dengan para pimpinan partai besar.” ujar Kwee-jun-bao

“intinya memang demikian, namun menurut saya itu hanya tujuan jangka pendek.” “maksudnya bagaimana Cu-sicu?” tanya Kam-ci-lung

“maksudnya tujuan dari kwi-sian-pat adalah menguasai rimba persilatan, kalau mereka mampu mengalahkan delapan pimpinan partai sepertiga rimba persilatan akan mereka kuasai.”

“apakah menurut cu-sicu, kwi-sian-pat akan mengadakan pibu lagi setelah berhasil memenangkan delapan ciangbujin?” tanya Kwaa-sin-liong

“benar, setelah itu saya yakin mereka akan menundukkan pendekar-pendekar senior seperti Ui-hai-liong-siang,”See-sin-kiam” (pedang sakti dari barat)”Han-lohap” (pertapa tua Han) dan”thian-san-bi” (sicantik dari gunung thian)”

“wah Cu-sicu ternyata banyak tahu dengan rimba persilatan, dan perkiraan itu sangat masuk akal” puji Kam-ci-lung

“dan bahkan menurut saya tujuan dari Kwi-sian-pat adalah membungkam pulau kura-kura dan mengalahkan Im-yang-sin-taihap sebagai jago dan turunan yang melegenda selama ini.”

“hmh…benar, kalao mau menguasai dunia tentunya harus berhadapan dengan she- taihap.” sela Kao-bun, ketiga she-taihap saling pandang

“sudahlah saya juga mau istirahat, karena besok adalah hari melelahkan.” sela Kam-ci- lung, Kao-kun-bao juga permisi, dan akhirnya mereka pun bubar. Malam para pengawal meronda disekeliling kota, empat likoan dijaga ketat untuk kenyamanan para tamu, namun sebuah bayangan laksana siluman mengendap-endap di atap sebuah likoan, orang itu memakai pakaian serba hitam dan memakai topeng, dia memsuki sebuah kamar yang dihuni lelaki tampan peserta syembara, dengan gerakan luar biasa cepat ia menotok jalan darah pemuda yang sedang pulas tidurnya, lalu korbannya di bawa keluar dan setelah itu ia laksana terbang menuju sebuah kuil tua di pinggir kota, didalam kuil sudah ada tujuh orang lelaki tampan yang masih pingsan dijaga empat orang bertopeng.

“tinggal tiga orang lagi, kalian tunggu disini saya kelikoan yang satu lagi untuk mengambil mereka.”

“baik sianli!” jawab mereka serempak, dari suaranya emapat orang itu adalah perempuan termasuk sipenyusup sendiri yang dipanggil dengan sianli.

Sianli tidak lain adalah thian-san-bi, thian-san-bi sebagai wanita amat tertarik dengan syembara itu, karena akan berkumpul lelaki muda tamnpan sekaligus berkepandaian tinggi, oleh karena itu dia menjadi tamu pada syembara itu, setelah pertandingan seharian dan sepuluh pemuda tampan keluar sebagai pemenang, thian-san-bi tidak membuang kesempatan, ia berencana untuk menculik sepuluh kontestan yang demikian memenuhi seleranya.

“malam itu ia bergerak bagai siluman menculik para kontestan, dan tujuh orang sudah dalam genggamannya, tingga tiga kontestan yang berada di likoan dimana she-taihap menginap, dengan gerakan gesit Thian-san-bi mengintai kamar-kamar dari atas atap, ketika ia sedang membuka genteng, sebuah bayangan tiba-tiba muncul

“apa yang hendak kamu lakukan!?” tegur orang itu, thian-san-bi terkejut karena ia tidak menduga akan kepergok, dia melihat seorang wanita muda cantik berdiri tenang dihadapannya,

“jangan ikut campur!” sahutnya sambil menyerang, namun wanita cantik dihadapannya dengan tenang mengelak, thian-san-bi terus menyerang dengan luar biasa cepat, namun lawan mudanya itu tidak sedikitpun gugup dan berkelit dengan demikian mudah dan gesit, thian-san-bi makin jengkel, lalu menyerang dengan kekuatan penuh dan jurus-jurus mematikan, sampai dua puluh jurus lawannya masih berkelit

“sialan ayok lawan aku jangan cuma menghindar!” tantangnya dengan emosi, lawan mudanya itu adalah Kwaa-hoa-mei, karena gerakan mencurigakan diatas kamarnya telah membuat ia bangun dan keluar dari kamar untuk meringkus penyusup.

Kwaa-hoa-mei, mulai membalas serangan Thian-san-bi, adu jotos pun berlansung seru dibagian belakang likoan, tiga saudaranya sudah muncul pula ditempat itu, bahkan Kwee- jun-bao juga sudah berdiri menonton pertarungan luar biasa cepat dan menegangkan, thian-san-bi mengerahkan ilmu tarian iblisnya yang luar biasa, namun sampai puluhan jurus sepertinya terbentur ilmu im-yang-sian-sin-lie, untungnya Kwaa-hoa-mei tidak menyandang sabuk, sehingga thian-san-bi masih mampu bertahan sampai sekian jurus.

Pada jurus ke tujuh puluh, suara generisik sari gerakan Kwaa-hoa-mei telah membuat gerakan thian-san-bi kacau balau sehingga dua pukulan susul menyusul menghantam perut dan pundaknya, thian-san-bi terlempar, namun ia masih dapat menguasai diri hingga tidak jatuh, namun dua pukulan itu membuat nafasnya sesak, lalu dengan lompatan jauh ia melarikan diri, Kwaa-hoa-mei tidak mengejar, namun Kwaa-Yun-peng bergerak mengejar menyusul thian-san-bi, thian-san-bi terus berlari dan tidak menyadari gerakan halus dibelakangnya.

“sianli bagimana?” sapa seorang anak buahnya. “sial…seorang tamu perempuan menggagalkan pekerjaanku.” “lalu bagaimana sian-li..?”

“sudah tujuh pemuda itu saja kita bawa.” sahut Thian-san-bi kesal

“tunggu dulu, kalian ini kenapa mencuri para pemuda?” tegur suara, dan Yun-peng pun muncul

“kamu siapa anak muda, hik..hik..duh tampannya.” sahut Thian-san-bi

“siapa saya tidak perlu kalian ketahui, cepat lepaskan para pemuda yang kalian culik.”

“hik..hik… bagaimana kamu hendak melepaskan mereka kalau kamu sendiri saya akan ringkus.” tantang thian-san-bi

“oo..begitukah, nah coba ringkus aku!” sahut Kwaa-yun-peng sambil menyerang thian- san-bi, thian-san-bi berusaha mengelak, namun hawa pukulan menyempret bahunya sehingga ia limbung kesamping, dan suara gemerisik terdengar.

“sialan ternyata kamu kawan perempuan berengsek itu!” teriak thian-san-bi, kemudian dengan mengerahkan seluruh kemampuannya melawan jurus-jurus kwaa-yun-peng yang luar biasa, empat anak buahnya hanya diam karena mencampuri pertempuran dahsyat itu akan berakibat fatal bagi mereka, majikan mereka saja sudah kewalahan dan terdesak hebat, dan dalam lima puluh jurus sebuah tamparan pada punggungnya sudah membuat memuntahkan darah segar.

tanpa mempedulikan lukanya, thian-san-bi melarikan diri, empat anak buahnya segera menyusul, namun lompatan kwaa-yun-peng laksana cakar garuda memegang tengkuk dua orang dari mereka, yang dua lagi dibiarkan lolos, kwaa-yun-peng membawa mereka kedalam kuil, dan tujuh orang pemuda tergeletak pingsan didalam kuil, Kwaa-yun-peng menarik topeng keduanya

“ternyata dugaan saya benar, kalian adalah perempuan, siapa kalian dan kenapa kalian menculik para pemuda?”

“kami dari thian-san, kami hanya bawahan taihap.” “hmh…siapakah nama majikan kalian tadi?” “majikan kami Thian-san-bi.”

“untuk apa ia menculik para pemuda?” “majikan kami biasa melakukannya pada pemuda-pemuda yang ia sukai.” “terus kenapa mereka ini pingsan?”

“mereka telah dibius taihap.”

“kalau begitu cepat berikan obat penawarnya!” “obatnya ada pada majikan kami.”

“apa ada cara lain untuk menyadarkan mereka?”

“setahu saya tidak ada taihap, namun mereka akan sadar dua jam lagi.” Jawab keduanya, lalu Kwaa-yun-peng berkata

“liong-te, ada tujuh pemuda dikul sebelah barat, laporkan pada pihak kemanan untuk menjemput mereka kesini.” suara itu bergema dan luar biasanya she-taihap di likoan mendengar panggilan itu, Kwaa-yun-peng telah menggunakan satu dari ilmu turunan mereka yang bernama”hun-kong-coan-im” (kirim suara menyibak cahaya)

“heh..ternyata perempuan itu penculik, cepat laporkan bao-te kepada para pengawal, dan kita segera menyusul kesana.” ujar Kwaa-hoa-mei, Kwaa-kun-bao segera keluar dan turun menemui pengawal diluar likoan, kemudian kepala pengawal membawa sepuluh anggota mengikuti Kwaa-kun-bao, sesampai di kuil, kwaa-hoa-mei dan Kwaa-sin-liong sudah berada didalam kuil

“bukankah mereka ini peserta yang keluar sebagai pemenang?” seru kepala pengawal

“benar ciangkun dan mereka telah diculik seorang wanita yang bernama thian-san-bi, untungnya cici ku menggagalkannya saat ingin menculik pemuda lain di likoan tempat kami menginap.”

“tapi mereka ini tidak sadarkan diri.”

“benar dan kata dua perempuan ini tidak berapa lama lagi mereka akan sadar.”

“hmh…tangkap kedua wanita ini dan angkat tujuh pemuda ini!” perintah kepala pengawal, tujuh orang itu pun di angkat tujuh pengawal, dan tiga orang mengikat dua wanita anak buah thian-san-bi.

Keesokan harinya berita itu jadi heboh dilikoan tempat she-taihap menginap, Kwee-jun- bao mendekati sin-liong.

“apa yang terjadi Kwaa-sicu?”

“ada orang yang hendak menculik sepuluh kontestan.” “lalu bagaimana?”

“mereka sudah selamat dan tentunya syembara akan berlanjut.” “siapa yang menculik mereka?” “katanya thian-san-bi.”

“thian-san-bi memang kelakuannya seperti itu, dia sangat membutuhkan pemuda-pemuda perjaka untuk bersenang-senang.” sela Cu-lai-seng

“kalau mereka itu tujuh kontestan, mungkin lelaki selanjutnya adalah kita cu-sicu, karena saya dengar penculik itu datang kesini, dan untungnya digagalkan para pengawal.” sela Kao-bun

“apakah para pengawal mampu menahan thian-san-bi? saya tidak percaya.” sahut Cu-lai- seng

“kalau begitu siapa yang menggagalkan gerak thian-san-bi di likoan ini?” “tentunya orang sakti dan lebih hebat dari thian-san-bi.” jawab kam-ci-lun tiba-tiba “apa kamu tahu siapakah orang sakti itu Kam-sicu?”

“tentunya she-taihap yang disamping kita ini.”

“heh..aduh maaf kwaa-sicu, kami tidak menyangka bahwa teman bicara adalah she- taihap.” ujar Kao-bun

“ah…tidak ada yang perlu dimaafkan, dan juga janganlah terlalu menyanjung kami.” sahut Kwaa-sin-liong.

“oh ya she-taihap yang lain kemana?”

“mereka sedang dikamar dan sebentar lagi keluar, marilah kita makan, karena sebentar lagi acara akan dibuka.” sahut Kwaa-sin-liong, lalu merekapun menuju ruang makan, orang hiruk pikuk menceritakan peristiwa semalam, Kwaa-hoa-mei dan kedua adiknya turun dan mengambil tempat agak jauh dari kumpulan kwaa-sin-liong dan empat pemuda lainnya.

Setelah matahari naik, acara pun dibuka kembali Can-sai-sung

“maaf kami haturkan kepada para tamu kami yang berada di dua likoan tidak merasa nyaman akibat gangguan seorang penculik, namun kejadian itu telah dapat diselesaikan dan penculiknya sudah ditangkap oleh pengawal kota, sekarang kami akan memanggil sepuluh kontestan.” ujar can-sai-sung dan disambut sorak-sorai dan tepuk tangan gemuruh, kemudian pertandingan pun dimulai, masing-masing kontestan mengerahkan segala kemampuan utuk mengalahkan lawan, selama dua jam pertemouran akhirnya empat orang pemenang keluar, yaitu Cu-lai-seng, Gak-sang. Lu-tang-kui dan Ma-hong- bu.

Kemudian pertarungan tunggal diadakan antara cu-lai-seng dan Ma-hong-bu, karena pertandingan ini tunggal maka semua penonton semakin antusias menyaksikan pibu yang berlangsung dahsyat dan menegangkan itu, akhirnya setelah satu jam berlangsung, Cu- lai-seng memenagkan pertandingan, kemudian dua peserta lain naik, Gak-sang dan Lu- tang-kui adu jotos dengan kecepatan gerakan yang luar biasa, suara sin-kang menderu pada setiap gerakan mereka, membuat takjub para penonton.

Setelah melalui pertempuran yang cukup lama, Lu-tang-kui mendesak Gak-sang, dan dalam sepuluh jurus kemudian Gak-sang terpental dan terhempas dilantai panggung, dengan demikian dinyatakan Lu-tang-kui memenangkan pertarungan, setelah jedah bebarapa saat, Lie-bi-hong pun keluar dan duduk disamping ayahnya, semua penonton berdecak kagum, karena wajah itu cantik luar biasa, hidungnya mancung menggemaskan, bibirnya ranum menggetarkan, matanya lentik dengan kerling penuh daya pikat, tubuhnya tinggi semampai dan kulitnya putih halus bak pualam.

Dua kontestan pun maju kembali untuk pertarungan penentu siapa diantara mereka yang akan menjadi suami Li-bi-hong, dua kontestan dengan sikap gagah memulai pertarungan, serangan-serangan kilat dan taktik akurat dikeluarkan, sin-kang dan gin-kang dikerahkan sepenuhnya, kembang pancingan digunakan disetiap peluang dan kesempatan, duel yang amat seru dan menegangkan berlangsung sampai sekian lama.

Saat pertempuran berlangsung seru-serunya dua orang muncul ditengah panggung dan menempeleng kedua kontestan hingga terjerembab jatuh kelantai, salah satu dari kedua orang itu adalah thian-san-bi dan orang kedua adalah lelaki separuh baya bertudung kepala, semua orang terkejut dan Li-tai-jin berdiri dengan muka masam, Can-sai-sung segera bangkit bersama Kao-ciangkun.

“apa maksud kalian mengacau disini!?” bentak Kao-ciangkun.

“saya”pak-hek-tiauw” (rajawali hitam dari utara) hendak mengikuti kontes memperebutkan Lie-siocia.”

“caramu ini tidak mengikuti aturan, kenapa tidak dari awal anda mendaftar, tapi muncul sebagai pengacau.” sahut Kao-ciangkun

“hahaha..hahaha…pertandingan semalam bagi saya pertarungan yang kekanak-kanakan dan bukan level saya, dan menjelang penentuan saya muncul dan telah mengalahkan dua kontestan.” sahut Pak-hek-tiauw, Kao-ciangkun menoleh pada Lie-taijin.

“hmh…dan kamu kenapa pula muncul disini?” tanya Kao-ciangkun pada Thian-san-bi

“hik..hik… aku hanya akan mengambil sepuluh kontestan, karena mereka akan gagal mendapatkan lie-siocia.”

“apakah kamu yang menculik tujuh kontestan?” tanya Can-sai-sung

“benar, dan kali ini saya tidak akan gagal, suit….” sahut thian-san-bi sambil bersuit, wanita cantik mengiurkan itu membuat sebagian penonton terkesima.

Empat orang melayang ke atas panggung dan dengan kecepatan kilat mereka menarik kontestan lain ketengah panggung, sehingga sepuluh kontestan tergeletak kaku karena jalan darahnya telah ditotok empat orang yang baru muncul, empat orang itu terdiri dua orang perempuan yang dikenal dengan”thian-houw” (ratu langit) dan”tee-houw” (ratu bumi) dua orang kakek yang dijuluki”siang-mo” (setan kembar) suhu dari kedua wanita paruh baya itu, yang tua bernama Ouw-cun dan yang muda bernama Ouw-cin, lima orang itu adalah sahabat-sahabat dari thian-san-bi.

Thian-san-bi bertemu dengan pak-hek-tiauw dan kedua ratu di likoan mereka menginap, tujuan kedua ratu sama intinya dengan thian-san-bi, sementara pak-hek-tiauw memang ingin mengikuti syembara, dua ratu telah menawan dua puluh kontestan yang kalah pada hari pertama, dua puluh kontestan itu dijaring saat mereka pulang diluar gerbang kota, sewaktu mereka hendak kembali kedalam kota keduanya bertemu dengan thian-san-bi yang melarikan diri

“heh..thian-san-bi kamu kenapa seperti dikejar hantu saja.” tegur tee-houw. “rencanaku gagal mendapatkan sepuluh kontestan terakhir.”

“lah…. Kok bisa gagal kenapa?” tanya thian-houw

“diantara para penonton ada yang memiliki kesaktian diatasku.” “hik..hik…siapa yang membuat thian-san-bi lari terbirit-birit.”

“ah berengsek betul, kalian harus bantu aku mendapatkan sepuluh kontestan itu.” “baik… tapi enam dari mereka bagian kami.” sahut thian-houw.

“baik, tapi kedua suhu kalian harus ikut membantu rencana ini” “rencana apa yang telah kamu susun?”

“saya ingin pertama sekali kita menjumpai pak-hek-tiuaw.” “apa urusan dengan pak-hek-tiauw?” tanya Tee-houw “ayoklah nanti saya bicarakan setelah bertemu dengannya.” “baiklah, mari kita berangkat!” sahut thian-houw

“kami hendak mengadakan pertemuan dikamar suhu.” “kalian mau bicara apa?”

“kami hendak menyusun rencana mengacau syembara bersama thian-san-bi dan pak- hek-tiuaw.”

Tidak lama kemudian thian-san-bi dan pak-hek-tiauw datang

“begini pak-hek-tiauw dan siang-houw dan cianpwe siang-mo, semalam saya telah menculik tujuh pemuda kontestan terakhir, namun ternyata gagal karena adanya dua orang muda, dan kita tahu bahwa pak-hek-tiauw akan mengambil alih penentuan untuk mendapatakan Lie-siocia.”

“lalu maksudmu bagaimana?” tanya pak-hek-tiauw.” “saya yakin kedua muda itu akan menggagalkan rencanamu, jadi jika kita bersatu melawannya, maka kita akan menang.”

“lalu bagaimana dua cianpwe juga ikut terlibat?”

“sebenarnya dua cianpwe sekedar membantu saja, karena hilangnya dua puluh kontestan akan menimbulkan kecurigaan.”

“tapi mereka kami culik diluar pintu gerbang, jadi tidak akan ada yang curiga.”

“mungkin benar, namun setelah kehebohan yang terjadi di likoan akan membuat pasukan gubernur yang berada di luar pintu gerbang menyisir areal diluar pintu gerbang.”

“lalu bagaimana rencanamu thian-san-bi?”

“jadi begini, saat pak-hek-tiauw akan mengacau babak terakhir syembara, saya akan ikut dengannya, setelah saya beri suitan kalian dan dua cianpwe muncul dan menawan sepuluh kontestan.”

“terus bagaimana dengan dua orang muda yang kamu katakan?”

“kalau kita berenam sudah diatas panggung, tidak akan ada yang berani mencoba menentang, dan sepuluh kontestan akan kita dapatkan.”

“lalu bagaimana denga Lie-siocia?”

“Lie-siocia hari ini akan pasti muncul karena babak terakhir, dan dia akan mencoba bertanding dengan calon suaminya, dan disaat itu kita muncul.”

“hmh..baiklah kalau begitu, marilah kita ke alun-alun maungkin acara sudah dimulai.” ujar Pak-hek-tiauw, lalu merekapun bergegas ke tempat syembara, dan sesampai di alun-alun ternyata sudah babak terakhir dimana Lu-tang-kui dan Cu-lai-seng bertarung, tanpa menunggu lagi, Pak-hek-tiauw dan Thian-san-bi melompat keatas panggung.

Enam orang berdiri gagah menatap para pembesar diatas panggung

“Lie-taijin, saya ingin bertanding dengan calon istri saya.” ujar Pak-hek-tiauw

“kalian telah membuat kacau syembara ini, heaat..” teriak Lie-bi-hong sambil menerjang dengan pukulan sakti yang mengeluarkan serangkum angin puyuh, namun pukulan itu disambut Pak-hek-tiauw

“plak…dhuar….” Dua pukulan sakti beradu, Lie-bi-hong terpental, dan Pak-hek-tiuaw dengan indak berjumplitan mengejar Lie-bi-hong dan dengan cekatan tangannya meraih tubuh Lie-bi-hong sehingga jatuh dalam pelukannya.

Wajah Pak-hek-tiuaw menggambarkan senyum kemenangan

“hati-hati Lie-moi.” bisik Pak-hek-tiauw dengan senyuman ramah, Lie-bi-hong dengan muka merah menjauh dari pelukan Pak-hek-tiauw “bagaimana ciangkun, bukankah saya pemenang syembara ini? dan Lie-sicia juga sudah saya kalahkan dengan kekalahan yang romantis.”

“walaupun kamu mengalahkan semua kontestan, tapi kamu tidak ikut mendaftarkan diri, jadi tetap kamu tidak sah jadi pemenang syembara ini.” ujar Kao-ciangkun

“benar…kemenangan itu tidak sah ….” sahut para penonton

“urusan tetek bengek tidak mempengaruhi inti dari tujuan syembara ini, yaitu mencari calon suami Lie-siocia yang sakti dan berkemampuan tinggi, bukankah begitu Lie-siocia?” sahut Pak-hek-tiauw, Lie-siocia terdiam, karena memang benar inti dari syembara itu adalah mencari calon suami yang sakti dan dapat mengalahkannya.

“hahaha…hahaha…. Dengan diamnya Lie-siocia, itu artinya ia menyetujui pendapatku, dan kalian tidak bisa protes karena ini syembara dirinya.” ujar Pak-hek-tiauw, semua penonton diam, Lie-taijin juga bungkam.

“urusan bagimana pendapat Lie-siocia tentang jodohnya secara pribadi sah-sah saja, namun syembara ini melibatkan banyak orang, seperangkat aturan dan keputusan yang harus berjalan diatas nilai keadilan, dan Pak-hek-tiauw telah melecehkan aturan tersebut dan menafikan nilai keadilan, jadi tetap sikap itu tidak bisa ditolerir.” sahut Kwaa-sin-liong yang tiba-tiba melompat keatas panggung.

“dan lebih ironisnya sabotase syembara ini dibarengi niat kotor rekan-rekannya untuk menawan sepuluh kontestan, dan ini merupakan tindakan sewenang-wenang yang harus dicegah.”

“benar she-taihap, Lie-siocia boleh saja merasa puas dengan Pak-hek-tiauw, namun ia telah mengikatkan diri dengan sebuah syembara, jadi aturan main tidak boleh diabaikan.” sela Kwee-jun-bao yang sudah berdiri disamping Kwaa-sin-liong

“hik..hik…hik…hik…apakah kalian berani menentang kami?” tanya Tee-houw dengan nada mengancam.

“tentu kami berani.” sela Kwaa-yun-peng sambil melompat keatas panggung

“hmh…ini dia lelaki yang sok jadi pahlawan.” ujar Thian-san-bi jengkel sambil menoleh siang-mo,

“oo, ternyata pemuda hijau ini, mari sini saya hajar biar tahu rasa.” sahut Ouw-cin, lalu seorang dari mereka mengulurkan tangan, dan tangan itu bisa mulur melesat kearah Yun- peng, Yun-peng menagkap tangan itu, Ouw-cin merasa gembira, karena tangan yang menagkap lengannya itu akan merasakan panas bara, dan saat itu ia akan dapat menghempaskan tubuh lawan, tapi harapan gembira Ouw-cin berubah menjadi ringisan kesakitan, karena tangan yang memegang lengannya bagikan bongkahan bukit es yang menghimpit lengannya, tulangnya terasa ngilu dan rasa dinginya menyentak menyambar jantungnya. Ouw-cun terkesiap melihat adiknya meringis, lalu dia menyerang dengan pukulan sii-kang yang dahsyat kearah kepala Yun-peng, namun kibasan tangan Yun-peng menyambut tenaga sakti Ouw-cun

“dhuar…” dua pukulan sakti beradu, Ouw-cun terjengkang empat tindak, nafasnya terasa sesak, semua penonton meleletkan lidah karena takjub dengan yang dilakukan Yun-peng, Thian-houw dan Tee-houw segera menyerang Yun-peng untuk membatu kedua suhu mereka, namun Sin-liong memapaki gerakan mereka dengan dua kibasan, sehingga keduanya terdorong kebelakang, dengan amarah yang meluap kedua ratu itu melanjutkan serangan.

Pertempuran seru dan luar biasa menakjubkan berlangsung, empat orang guru dan murid itu menyerang Sin-liong dan dan Yun-peng, pertarungan itu sangat cepat, nyaris para penonton tidak dapat mengikuti pertandingan tingkat tinggi itu, Thian-san-bi tidak lagi berdiam diri, dia langsung menerjang Yun-peng, namun Kwee-jun-bao menghalangi, tiga kelompok pertempuran berlangsung, Kwee-jun-bao mengerahkan seluruh kemampuan untuk melawan Thian-san-bi, namun ia hanya mampu bertahan sampai empat puluh jurus, dan lima jurus berikutnya sebuah tendangan menghantam pahanya, sehingga ia terjatuh, dan sebuah serangan mematikan akan mengakhiri nyawanya, namun serangan itu telah dipatahkan oleh Kwaa-hoa-mei.

“turunlah Kwee-sicu, biar kami yang selesaikan.” bisiknya dengan senyum lembut, Kwee- jun-bao bergeser menjauhi pertempuran

Thian-san-bi dengan geram menyerang membabi buta, ilmu tarian iblisnya dikerahkan, namun sebagaimana pada pertempuran pertama, thian-san-bi membentur gunung thaisan, dia hanya bertahan tujuh puluh jurus, dan setelah itu ia pun terdesak hebat, melihat rekan-rekannya kalang kabut menandingi tiga lawan muda itu Pak-hek-tiauw menerjang Kwaa-hoa-mei, sehingga tiga she-taihap masing-masing dikeroyok dua.

Pertarungan yang hebat dan luar biasa, cepat dan gesit menyilaukan mata, tiga she- taihap menegluarkan jurus yang sama menghadapi dua keroyokan lawan yakni dengan jurus”im-yang-bun-sim-im-hoat” gerakan melukis diudara dengan dua moupit yang seiring dengan gerakan kaki membuat para penonton geleng-geleng kepala sembari mata tidak berkedip, keindahan gerakan yang memukau, daya serangan yang jitu serta suara gemerisik mendayu-dayu.

Enam lawan tiga she-taihap makin kacau balau, pengaruh suara telah melelapkan mereka, pertahanan mereka tidak lagi akurat, sehingga pada serangan gesit sin-liong empat totokan telah menumbangkan thian-houw dan tee-houw tanpa daya, karena dada mereka pecah berantakan sehingga rongga indra mereka mengeluarkan darah, dan nyawa keduanya putus saat memuntahkan darah segar, siang-mo yang terdesak hebat makin ciut ketika melihat kedua murid mereka telah meregang nyawa, sehingg empat totolan telak menghantam kepala dan dada keduanya, Ouw-cung tengkorak kepalanya pecah sehingg ia tewas seketika, sementara Ouw-cin rongga indranya menegluarkan darah, dan menggelepar sesaat, lalu tewas setelah memuntahkan darah segar.

Tidak lama berselanng Thian-san-bi menjerit dan terjungkal mencium tanah ketika dua totolan maoupit menghantam perut dan dadanya, nafas thian-san-bi satu-satu dan tidak kemudian pak-hek-tiuaw ambruk dengan suara seperti leher tersebelih, karena totolan moauwpit menghantam dada dan tenggorokannya, akhirnya thian-san-bi dan pak-hek- tiauw tewas.

Para penonton masih melonggo dan terkesima dengan akhir pertarungan yang luar biasa itu, Lie-bi-hong disamping tepana dengan tiga kelompok pertarungan itu, terpesona melihat wajah rupawan Kwaa-sin-liong, Kao-ciangkun dan Can-sai-sung saling pandang, lalu segera Can-sai-sung angkat bicara

“para tamu dan hadirin semua, kami sungguh meminta maaf dengan munculnya para pengacau dalam syembara ini, namun kami juga mengucapkan kepada tiga taihap yang telah mengatasi para pengacau, dan untuk itu kami harap kepada tiga pendekar supaya duduk disamping Lie-taijin.” ujar Can-sai-sung, Kwaa-hoa-mei dan kedua adiknya menduduki kursi bagian para pembesar.

“dan sebagaimana kita ketahui bahwa pertarungan akhir belum kita dapatkan siapa yang jadi pemenang, jadi sebaiknya mari kita lanjutkan.” ujar Can-sai-sung, namun banyak penonton yang meninggalkan tempat karena merasa terlalu puas melihat pertarungan she-taihap, sehingga pertarungan kontestan itu tidak lagi menyentuh minat mereka.

Para kontestan juga meninggalakan tempat kecuali Cu-lai-seng dan Lu-tang-kuinyaris hanya tinggal empat kontestan, hanya sepertiga dari penonton yang tetap ditempat termasuk Kwee-jun-bao dan Kwaa-kun-bao, Lie-bi-hong melirik Kwaa-sin-liong, namun pemuda yang dilirik sibuk berbicara dengan adiknya, Lie-bi-hong baru sadar dari lamunan hatinya yang terpikat ketika Kao-caingkun meneriakkan aba-aba memulia pertarungan antara Cu-lai-seng dan Lu-tang-kui.

Timbul pertanyaan dalam hati Lie-bi-hong kenapa pemuda sakti yang menawan itu tidak ikut serta dalam syembara, jika sekiranya akhirnya ia berhadapan dengan pemuda luar biasa itu seluruh rasa takluk dalam hatinya akan mutlak pada pemuda itu, namun sayang kenyataannya tidak demikian.

“saya harus mengalahkan pemenang syembara ini.” pikir Lie-bi-hong

Pibu antara Cu-lai-seng dan Lu-tang-kui memakan waktu satu jam, dan akhirnya dimenangkan oleh Lu-tang-kui, setelah istirahat beberapa lama, Lie-bi-hong menghadapi Lu-tang-kui

“tibalah saat keputusan, apakah Lu-tang-kui akan berhasil mempersunting nona Lie, tergantung usaha Lu-tang-kui untuk dapat mengalahkan nona Lie, kepada nona Lie dipersilahkan maju keatas panggung.” ujar Can-sai-sung, suara tepuk dan gemuruh sorak terdengar

“silahkan nona Lie..!” ujar Lu-tang-kui dengan senyum, namun bagi Lie-bi-hong senyum itu terasa hambar.

“baiklah, perhatikan serangan!” sahut Lie-bi-hong sambil menyerang dengan ayunan pedang, Lu-tang-kui berusaha berkelit, namun gerakan susulan datang demikian cepat, Lu-tang-kui terkejut, namun ia masih mampu menguasai keseimbangan, lalu dengan lompatan tinggi Lu-tang-kui menyerang dari atas, pedangnya laksana elang menyambar menyerang Lie-bi-hong, pertarungan ini sangat alot, karena Lu-tang-kui domotivasi mendapatkan Lie-bi-hong, sementara Lie-bi-hong sendiri setelah melihata wajah Sin-liong berusaha kerasa supaya Lu-tang-kui tidak mengalahkannya.

Pibu antara keduanya berlansung sampai menjelang malam, dan ternyata harapan Lie-bi- hong kandas, desakan Lu-tang-kui tidak dapat dibendung, sehingga dengan hati perih ia melepaskan pedangnya karena luka pada pergelangan tangannya dan disusul hantaman pedang Lu-tang-kui yang kuat pada pedangnya membuat ia lemas dan pedangnya pun lepas.

Suara tepuk tangan dan sorak sorai terdengar gemuruh menyambut kemenangan Lu- tang-kui, Lie-bi-hong tertunduk malu, sesaat hatinya bergetar namun muncul seiras kecewa, bahwa pemuda yang mengalahkannya adalah bukan pemuda yang duduk disamping para pembesar yang kesaktiannya jauh melebihi orang yang mengalahkannya, namun apa boleh buat nasi telah jadi bubur, mungkir akan mengakibatkan malu dan runtuhnya harga diri.

“siapakah nama kalian taihap?” tanya Lie-taijin

“kami berempat bersaudara, saya hoa-mei, dan kedua adik saya ini sin-liong dan yun- peng, dan itu adik saya juga yang melangkah kesini namanya kun-bao, kami she-kwaa.”

She-kwaa..? apakah she-kwaa she-taihap nona?” “benar ciangkun..”

“hahaha..hahhaa..pantas kalau begitu, sekali lagi kami ucapkan terimaksih she-taihap.” “benar..bagaimana kalau minta supaya malam ini she-taihap menginap dirumah kami?”

“baiklah tai-jin yang baik, kami akan menginap malam ini di rumah taijin, tapi tai-jin besok pagi kami juga harus segera berangkat, karena perjalanan kami masih jauh.”

“ya..ya..demikian pun tidak apalah Kwaa-siocia.” sahut Lie-taijin dengan senyum ramah.

Empat she-taihap kembali ke likoan bersama Kwee-jung-bao

“Kwee-twako, malam ini kami diundang taijin untuk menginap ditempatnya.” Ujar Kwaa- sin-liong.’

“hmh… berapa harikah she-taihap di sana?

“ah…hanya malam ini saja twako, karena besok pagi kami juga hendak melanjutkan perjalanan.”

“oh-ya hendak kemanakah tujuan she-taihap?”

“kami hanya berkelana menjelajahi tionggoan, twako.” sela Kun-bao “oo begitu, melakukan tradisi she-taihap turun temurun.”

“bisa dibilang demikianlah twako.” “alangkah senangnya jika she-taihap berkesempatan singgah di Wuhan.”

“jika nanti kami melewati Wuhan, kami akan usahakan singgah dirumah kwee-twako, bukankah demikian cici?” ujar Sin-liong

“demikian juga bagus.” sahut Kwaa-hoa-mei

Setelah mereka sampai di-likoan empat she-taihap membungkus pakaian, namun ketika hendak turun tangga Kwee-jun-bao muncul

“kwee-siocia bolehkah aku minta waktu sebentar?” tanya Kwee-jun-bao, Kwaa-hoa-mei tertunduk, lalu menatap ketiga adiknya

“cici..mungkin ada yang mau disampaikan kwee-twako, kami akan menunggu dibawah.” ujar Kwaa-kun-bao, ketiganya langsung turun tanpa menanti jawaban cicinya.

“ada apakah kwee-taihap?”

“Kwaa-siocia, maafkan aku jika penyampaianku nanti menyinggung perasaan kwaa- siocia.”

“Kwee-taihap terlalu sungkan, katakanlah!” sahut Kwaa-hoa-mei sambil menundukkan kepala karena matanya tidak sanggup menentang mata Kwee-jun-bao yang tajam

“Kwaa-siocia sejak pertemuan kita pertama kali, ada kehangatan dalam hatiku, keakraban diantara kita boleh dibilang sangat singkat, namun hatiku kian terpukau dan terlelap kehangatan, rasa dekat yang membuat hati ini nyaman akan kehadiranmu, kwaa-siocia, aku tak mampu membendung perasaan ini, kegelisahanku semakin memuncak jika tidak kukakatakan.”

“katakanlah taihap! aku akan mendengarkan.” sahut Kwaa-hoa-mei dengan nada bergetar karena gejolak jiwanya juga menggelora, degup jantungnya makin kencang, jemarinya terasa dingin

“kwaa-siocia aku…aku yakin bahwa aku jatuh cinta padamu.” ujar Kwee-jun-bao, lega rasa hatinya dengan keluarnya ucapan tersebut, lepas beban yang menggelisahkan hatinya.

Kwaa-hoa-mei masih terdiam bahkan memejamkan mata “maaf siocia, aku mungkin sudah berbuat lancang.”

“jangan berkata seperti itu Kwee-taihap, ungkapan hatimu yang menyatakan cinta padaku sesuatu yang sudah seharusnya, dan aku senang dan bahagia mendengarnya,apa yang kwee-taihap rasakan, jujur aku katakana bahwa aku juga merasakan, namun kami mempunyai tugas dari ayah yang harus ditunaiakan, kwee-twako, marilah kita menguji hati selama setahun, jika hati twako tetap maka kirimlah surat ke sinyang ketempat orang tua kami Ui-hai-liong-siang, dan aku akan menerima surat itu sesampai disana, dan balasannya akan segera kukirim ke wuhan.” “baiklah Kwaa-moi, ujian ini akan kujalani, dan dapatkanlah suratku nantinya di kota Sinyang.” sahut Kwee-jun-bao dengan rasa lega dan bahagia, lalu keduanya pun turun dari tingkat atas, ketiga adiknya menyambut mereka dengan senyum, sehingga membuat Kwaa-hoa-mei tertunduk bersemu malu.

“marilah sam-te, tai-jin mungkin sudah menunggu.” ujar Kwaa-hoa-mei manrik lengan Yun-peng

“Kwee-twako, kita berpisah disini, jaga dirimu dan semoga kita dapat jumpa lagi.” ujar Kun-bao

“baik she-taihap, kalian juga hati-hatilah.” sahut Kwee-jun-bao.

Dirumah Lie-taijin jamuan atas kemenagan Lu-tang-kui, para pembesar pemerintahan dan sesepuh kota sudah banyak yang hadir. empat she-taihap saat datang disambut dengan ramah, dan diantar kekamar yang telah disediakan, kemudian mereka diajak keruang jamuan, Lu-tang-kui dan Lie-bi-hong menjadi pusat perhatian, Lu-tang-kui terlihat sangat bangga dan bahagia, lain halnya dengan Lie-bi-hong, dia nampak biasa saja, dan makin suram ketika siin-liong muncul.

“Lie-taijin yang terhormat, para sicu pembesar pemerintahan kota Guandong, demikian juga para sespuh masyarakat yang hadir, dan teristimewa kepada Lu-tang-kui yang kami banggakan, dan khusus pada tamu kami she-taihap yang budiman, saya atas nama Lie- taijin menyampaikan terimakasih atas kehadirannya, dan saat bahagia ini mari kita dengar sambutan dari Lie-taijin” ujar Can-sai-sung membuka acara jamuan

“terimakasih..terimakasih kepada hadirin semua yang telah mendukung perhelan keluarga saya ini dari sejak awal, saya merasa bahagia bahwa putri saya pada syembara ini telah mendapatkan calon suaminya, yaitu Lu-tang-kui yang telah menunjukkan kemampuannya dari awal syembara. saya harap bahwa putri saya bahagia dengan cara pemilihan yang telah dilaksanakan.” ujar Lie-taijin dan kemudian kembali duduk

“Selanjutnya kami minta supaya Lu-tang-kui sebagai pemenang syembara mayampaikan sepatah dua patah kata!” ujar Can-sai-sung, Lu-tang-kui berdiri dan disambut tepuk meriah dari para hadirin

“terimakasih kepada semua hadirin, malam ini saya mersakan kebahagian yang tidak terhingga, karena malam ini saya mendapatkan anugrah kebaikan dari Lie-taijin, Lie-moi telah mengadakan syembara untuk mencari calon suami, dan nikmat yang tiada batas saya rasakan ternyata saya dapat memenangkan syembara, syukur pada thian dan terimaksih pada Lie-taijin dan segenap hadirin sekalian.”

“dan sebelum kita masuk acara hiburan maka kami harap kepada Ma-taijin sebagai hakim kota untuk memberikan kata sambutan.”

“terimaksih atas kesempatan yang telah diberikan, dan selamat atas kedua muda Lu-tan- kui dan Lie-siocia yang telah berjodoh, sebagaimana harapan dari Lie-taijin sendiri, saya juga dan kita semua umumnya mendoakan semoga kedua muda ini merasa bahagia dan sehati dalam membina hubungan yang mungkin dalam waktu dekat ini akan di langsungkan, kemudian satu hal yang tidak kalah penting ucapan terimaksih kepada she- taihap yang karena keberadaan mereka kendala yang menimpa kita dapat diatasi dengan baik, kita tahu belaka bahwa sekiranya she-taihap tidak ada syembara yang kita laksanakan akan berakhir kacau dan kebinasaan, dan untuk itu besar harapan kami supaya she-taihap dapat juga memberikan sepatah dua patah kata pada perjamuan kita ini” ujar Ma-taijin, dan disambut tepuk meriah dari para hadirin.

Can-sai-sung mempersilahkan she-taihap untuk bicara, dan dalam hal ini Kwaa-sin-liong yang berdiri

“Li-taijin yang mulia dan para ansur pemerintahan yang terhormat, dan juga para hadirin sekalian, kami juga mengucapkan terimaksih yang banyak atas undangan perjamuan ini, dan kami juga melihat betapa perhelatan akbar yang dilakukan Lie-taijin penuh dengan ketulusan memenuhi kemauan putri tercinta, dan perkara kendala yang terjadi, sudah merupakan tugas kami untuk mencegah kesewenang-wenangan dalam jangkauan kemampuan kami, satu kehormatan bagi kami bahwa kami dapat memberikan bantuan pada perhelatan akbar Lie-taijin, dan terakhir kami ucapkan selamat kepada Lu-sicu yang telah berhasil memenangkan syembara, semoga Lie-siocia dan Lu-twako dapat membina hubungan yang langgeng dikemudian hari.”

Le-bi-hong yang mendengar perkataan Sin-liong, hatinya meneriakkan kegelisahan yang bersumber dari rasa sesal beraduk dengan rasa pesona yang hangat melihat sin-liong, pemuda yang menempati segala harapan, ketampanan, kesaktian dan rasa keterpikatan hati yang jauh dari Lu-tang-kui, dan akhirnya saat Kwaa-sin-liong duduk, gejolak hati yang luar biasa itu membuat Lie-bi-hong jatuh pingsan, semua orang terkejut, Lu-tang-kui yang berada didekat Lie-bi-hong langsung menangkap dan memondong Lie-bi-hong ke dalam kamar.

Seorang tabib segera memeriksa keadaan Lie-bi-hong “bagaimana Pouw-sinse kenapa dengan anakku?” tanya Lie-taijin

“dia hanya kelelahan dan tekanan darahnya tidak normal, besok dia akan pulih kembali.” Jawab Pouw-sinshe, Li-taijin dan Lu-tang-kui merasa lega, lalu acara dilanjutkan tanpa adanya Lie-bi-hong.

Ditengah malam yang sudah larut Lie-bi-hong bangun dan keluar kamar, ia pergi ketaman belakang, pikiran berkecamuk sesal yang tidak terperikan akibat rasa cinta yang menggelora pada pemuda lain, dia terjebak pada pemahaman yang salah bahwa dia akan dapat mencintai laki-laki yang mengalahkannya, namun ternyata sebuah kenyataan menghampirinya bahwa ia jatuh cinta pada pemuda pada pandangan pertama disaat pemuda yang mengalahkannya juga muncul.

Lie-bi-hong menangis sesugukan dibalut rasa sesal, dan seorang mendekati taman menghampiri Lie-bi-hong

“Lie-moi, kamu kenapa?” tanya orang itu, Lie-bi-hong mengangkat kepala dan melihat orang yang datang, ternyata yang datang adalah Lu-tang-kui.

“oh..Lu-twako, kenapa belum tidur?” “aku memikirkan keadaanmu Lie-moi.” “hmh..…kasihan kamu Lu-twako.” “apa maksudmu Lie-moi?”

“bagaimanakah nanti keluarga yang akan kita bina dengan rasa hati seperti ini?”

“Lie-moi jangan takut, aku akan dapat mencintaimu sepenuhnya, sejak aku mengetahui akan kecantikanmu, hatiku sudah terpaut, niatku hanya untuk mendapatkanmu untuk kepersunting menjadi istriku.”

“aku tahu Lu-twako, dari pihakmu akau tidak meragukan itu.”

“apakah maksudmu kau tidak mempunyai sedikit pun perasaan padaku?”

“sebebarnya aku tidak lagi patut memakai perasaan setelah menyatakan syembara, namun sesuatu telah terjadi saat kekacauan yang terjadi tadi siang, aku tidak berdaya, aku terpapar rasa yang seharusnya tidak ada.” sahut Lie-bi-hong dan kembali menangis.

Lu-tang-kui terdiam setelah mengetahui hati Lie-bi-hong, seharusnya hal itu tidak dia pedulikan, namun Lie-bi-hong bukannya sembarang menginkari, terbukti Lie-bi-hong sendiri mengakui bahwa ia tidak patut memakai perasaan karena sudah menyatakan syembara yang ia lakukan, sikap Lie-bi-hong ini yang membuat Lu-tang-kui terdiam seribu basa.

“Lie-moi bolehkah kutahu siapa pemuda yang telah menerbitkan perasaan hatimu?” “pemuda itu adalah Kwaa-sin-liong.uuu..uuu..uuu…maafkan aku Lu-twako aku telah menyakiti hatimu.” sahut Lie-bi-hong sambil menangis sesugukan.

“hmh..saya dengar besok pagi-pagi she-taihap akan melanjutkan perjalanan, mungkin itu hanya gejolak sesaat.”

“apakah menurutmu kalau mereka pergi gejolak dihatiku akan padam?” “mungkin saja Lie-moi.”

“entahlah jika demikian, tapi apakah Lu-twako akan memberikan kesempatan padaku?” “kesempatan yang bagaimana Lie-moi?”

“untuk menanyakan dan berbicara dengan Kwaa-sin-liong.”

“hal itu tidak kuizinkan Lie-moi, sebab jika kalian bicara rasa yang sudah terbit itu akan merekah dan berkembang.” sahut Lu-tang-kui, Lie-bi-hong terdiam, suasana semakin hening menjelang pagi

“tapi aku bisa memberi kesempatan dengan menunda pernikahan kita dalam waktu sebulan, semoga benar bahwa perasaan itu hanya sesaat dan akan hilang dalam waktu sebulan.

“terimaksih twako akan kesempatan untuk menjajaki hati yang sedang terlena ini, saya akan coba melupakan rasa yang berkembang ini dan mengalihkan pada twako, berhasil tidaknya aku hanya pasrah pada keputusan twako.”

“baiklah demikian saja kita sepakati, marilah kita kembali kedalam.” ujar Lu-tang-kui.

Keesokan harinya empat she-taihap pun pemit meninggalkan kota Guangdong, mereka adilepas oleh Lie-taijin dan Lu-tang-kui, dan didalam kamar Lie-bi-hong mencoba mengendapkan perasaannya, namun semakin ditahan hatinya makin gelisah, perasaan untuk melihat kali terakhir demikian kuat, akhirnya ia keluar kamar dan dari atas rumahnya ia masih bisa melihat punggung sin-liong yang meninggalkan rumahnya dengan menunggang kuda pemberian ayahnya, setelah empat bayangan she-taihap hilang disebuah kelokan, Lie-bi-hong terduduk, hatinya berbuncah kerinduan yang hangat, akhirnya ia lemas sendiri terbaring dikursi panjang.

Setelah sampai diluar kota empat memacu kudanya dengan kencang, empat kuda-kuda pilihan dan kuat berlari dan berlomba, jalan tanah mengepulkan debu, empat she-taihap terus menceplak kuda-kuda mereka hingga sampai tengah hari, dan keempatnya istirahat disebuah hutan dan membuka bekal yang disediakan juru masak Lie-taijin. ditengah sejuknya hutan she-taihap pun makan siang.

Kota shanghai yang padat dan ramai sedang sibuk untuk pagelaran tahunan, pesta tahun baru dengan permainan baronsai kembali digelar, para bukoan mepersiapkan diri untuk acara pibu tahunan, setelah pesta baronsai selesai, maka tiga hari berikutnya pibu pun dilaksanakn, banyak warga lokal dan luar menuju alun-alun dimana panggung besar dan kuat telah dipersiapkan, pembesar kota shanghai yang hari itu diwakili Tan-taijin sudah hadir, demikian juga para kauwsu dan senior kalangan pendekar yang diundang, dua belas duta bukoan sudah duduk ditempat yang disediakan, areal tempat para penonton juga sudah diatur sedemikian rupa.

Empat kuda dengan langkah congklang memasuki kota shanghai, penunggangnya adalah empat she-taihap, mereka mencari-cari likoan, namun hari itu sepertinya hari libur sehingga toko dan likoan tutup, namun orang berduyun-duyun kesatu arah.

“lopek apakah kota sedang mengadakan pesta rakyat sehingga banyak toko yang tutup?” tanya Kwaa-sin-liong

“benar tuan muda, hari ini sedang dilaksanakan pibu tahunan antara dua belas bukoan yang berada di kota shanghai.”

‘ooh..begitu rupanya, dimakah pibu itu dilaksanakan?”

“di alun-alun kota, dan kami ini hendak kesana.” sahut lelaki tua itu, empat she-taihap mengikuti rombongan itu sampai ketempat pibu, ditempat itu sudah padat oleh warga yang menonton, suaranya riuh rendah ketika dua petarung saling menyerang.

Pertarungan yang didapati empat she-taihap adalah pertarungan yang ketiga dari enam pertarungan, dua petarung itu salin berusaha mendesak lawan, namun nampaknya keduanya imbang, namun setelah berjalan sekian lama pemuda yang memiliki mata sangat cipit berhasil mendesak dan menjatuhkan lawannya, lalu pertandingan keempat digelar sehingga dimenangkan salah satu utusan. Enam pertandingan pada babak pertamapun usai, enam peserta yang menang berkumpul ditengah panggung, namun sebelum babak kedua dimulai tiba-tiba muncul seorang lelaki berumur hampir enam puluh tahun, postur tubuhnya kurus tinggi, rambutnya panjang putih tegerai

“ooh..selamat datang pada See-sin-kiam yang telah sudi datang, silahkan duduk cianpwe.!” sapa lauw-gong selaku pembawa acara.

“tidak usah basa-basi, saya datang untuk memeriahkan pibu ini, jadi saya menantang enam kauwsu dari enam perguruan.

“cianpwe see-sin-kiam, pibu ini hanyalah perekat hubungan antar perguruan, dan dari dulu kita sepakat bahwa yang mengadakan pibu adalah anak murid.” sela Bao-yu-ping dari pek-lek-twi”

“hehehe..hehehe apakah kamu takut?”

“ini bukan masalah takut, tapi hanya mempertahankan tradisi pibu ini.” sela Lauw-leng dari”Peng-jiauw”

“itu hanya bualan kalian saja, aku menantang kalian berenam, mejulah dan tidak usah banyak alas an.”

“cianpwe tolong jangan membuat kacau, kalau cianpwe menantang Kauwsu silahkan dilakukan diluar acara ini.” sela Lauw-gong

”hahaha..hahaha…. baiklah, aku akan meninggalkan panggung ini jika tantanganku di jawab oleh enam kauwsu.”

“baik jika itu mau kamu, saya akan penuhi, katakana dimana kita bertemu.” tantang Song- bun dari”tiat-ciang”

“bagus, yang lain bagaimana? ingat aku menantang kalian berenam.” sahut See-sin-kiam jumawa, enam kauwsu saling pandang, lalu Bao-yu-ping berdiri

“baiklah….tantangan anda akan kami penuhi.”

“hahaha..hahhaa… bagus kalau begitu, datanglah besok ke”Hong-kok” (lembah angin).” ujar See-sin-kiam, lalu berkelabat dari atas panggung.

Kemudian acara pun dilanjutkan oleh Lauw-gong, pada babak ini enam kontestan harus memenangkan dua pertandingan, untuk maju pada babak berikutnya, para kontestan pun bertarung, dan pada babak ini muncul dua pemenang, yakni Yo-hua dari pek-lek-twi dan Zhang-bun dari sin-kun-bukoan” (perguruan kepalan sakti).

Kedua kontestan pun di hadapkan pada pibu penentuan, dua kontestan dengan segenap kemampuan saling berusaha menjatuhkan, gerakan keduanya sama-sama kokoh dan cekatan, tendangan dari Yo-hua mencecar lawan laksana puting beliung, namun Zhang- bun dengan langkah sakti menghindar dan membalas dengan pukulan-pukualan luar biasa, pertandingan yang seru dan mengangkan, para penonton dengan antusias mengikuti jalannya pibu yang berlangsung dengan seru, setelah dua ratus jurus Zhang- bun terdesak, langkah saktinya tersudut, karena gerakan Yo-hua laksana ketitiran mengepung ruang gerak Zhang-bun

“buk…des….” sebuah tendangan menghantam pundak dan disusul tendangan gunting yang luar biasa, sehingga membuat Zhang-bun terhempas kelantai.

Dengan berakhirnya pertarungan itu maka pibu dimenangkan Yo-hua asuhan dari Bao-yu- ping, para penonton pun bubar, namun enam kauwsu berunding sebentar untuk membicarakan perihal besok

“sebaiknya besok kita datang bersama-sama ke Hong-kok.” ujar Song-bun, “kalau begitu dimana kita kumpul besok?” tanya Lauw-leng

“sebaiknya ditempat Bao-yu-ping.” sahut Song-bun, dan merekapun menyetujui, kemudian merekapn bubar.

Bao-yu-ping yang datang bersama putrinya meninggalkan alun-alun ditengah senja sore itu, dan saat ayah dan anak itu melalui kursi penonton, empat she-taihap masih duduk

“sepertinya kalian bukan dari sini.” sapa Bao-yu-ping “benar cianpwe, kami ini pengelana.” sahut Kwaa-hoa-mei “apakah kalian tidak mendapatkan tempat menginap?”

“sepertinya demikianalah cianpwe, likoan dikota ini pada tutup karena acara tahunan ini barangkali.”

“benar nona, besok baru mereka mulai buka setelah tutup selama tiga hari.” “Ooh..ternyata demikian rupanya.”

“siapakah nama kalian?”

“saya adalah hoa-mei, ini tiga adik saya sin-liong, kun-bao dan yun-peng, kami she-kwaa.” “hmh…kwee-siocia bagaimana kalau kalian menginap ditempatku?”

“hmh tidakkah merepotkan cianpwe?”

“ah..tida nona, saya adalah Bao-yu-ping dan ini putri saya Bao-ci-lan

“benar kata ayah saya kwaa-cici, sebaiknya kalian menginap dirumah kami, kami dari pek-lek-twi.” sela Bao-ci-lan sambil melirik Kwaa-yun-peng

“ooh, ternyata cianpwe kauwsu pemenang syembara.” sahut kwaa-sin-liong. “ah…hal yang tidak perlu dibesar-besatkan anak muda, marilah kita kerumah kami!” “terimakasih Bao-cianpwe, atas kebaikannya.” sahut Kwaa-hoa-mei “ya..ya..marilah..hehehe..hehehe tidak usah sungkan” ujar Bao-yu-ping, lalu mereka pun meninggalkan alun-alun menuju perguruan pek-lek-twi tempat kediaman Bao-yu-ping, Bao-ci-lan yang berumur enam belas tahun sangat ramah dan ceria, ia cepat akrab dengan Kwaa-hoa-mei

“Kwaa-cici, kalian datang darimana? dan adik-adik cici itu tiga-tiganya sangat tampan.” tanya Bao-ci-lan setelah mereka didalam kamar.

“kami dari selatan Bao-moi, dan memang ketiga adikku itu tampan-tampan.” Jawab Kwaa- hoa-mei senyum

“Kwaa-cici, adikmu yang bernama Yun-peng itu pemalu yah?” “pemalu bagaimana Bao-moi?”

“tadi sewaktu kita makan malam, ia tidak banyak bicara.”

“dia itu bukan pemalu, hanya karena diatara kami berempat dia yang paling muda, umurnya baru tujuh belas tahun.”

“oh…begitu yah..?”

“iya…kamu sepertinya perhatikan yun-peng saja, kenapa yah?” tanya Hoa-mei dengan senyum dan gerak mata menggoda,

“heh…hik..hik…hi… keliahatan jelas ya cici?” tanya Bao-ci-lan dengan bersemu merah, karena sikapnya ketahuan sama Hoa-mei.

“cici tidak akan bercerita padanya kan?”

“tidak.., cici tidak akan cerita, biar ia buta kayu padamu.” “ah…kalau dia tidak tahu, bagaimana jadinya?”

“apanya yang bagaimana Bao-moi?” “ah…tidak…hik..hik….aku jadi malu.”

“hik..hik…malu tentu ada sebabnya, dan cici sama sekali tidak mengerti.”

“ah..cici bohong, cici malah menggodaku.” sahut Bao-ci-lan tertunduk menyembunyikan senyum.

“sudahlah, mari kita tidur.” ajak Hoa-mei, lalu merekapun diam dan hening, namun tiba- tiba Bao-mei bertanya lagi

“kwaa-cici, yun-peng itu orangnya bagaimana?” “orangnya seperti yang kamu lihat.” “maksud saya yun-peng itu sudah punya pacar atau tidak, apakah ia sudah ditunangkan?”

“dia tidak punya pacar atau tunangan, memang kalau punya tunangan dan kekasih kenapa?”

“ah tidak apa-apa, marilah kita tidur.” sahut Bao-ci-lan lalu hening “cici benarkan dia belum punya kekasih?”

“bagimana kalau saya jawab dia sudah beristri?” “hah…beristri? cici bukan sedang menggoda saya bukan?”

“tidak, aku tidak menggodamu, jawablah bagaimana kalau dia sudah beristri?” “aku tidak tahu mau bagaimana?”

“kalau begitu tidak usah dipikirkan bagaimananya, karena tidak ada gunanya.” “tapi cici, aku tidak bisa berhenti memikirkannya?”

“kalau kamu dapat menjawab bagaimana kalau ia beristri, maka kamu akan berguna memikirkannya.”

“cici pertanyaan itu terasa aneh dan membingungkan saya.”

“saran saya jawaban itu mesti kamu dapatkan, dan ketahuilah bahwa yun-peng benar belum punya kekasih, tunangan apalagi istri.”

“cici kenapa aku harus dapat menjawab pertanyaan aneh itu?”

“bukan harus Bao-moi, hanya saran dari saya.” sahut Kwaa-hoa-mei, lalu keadaanpun hening kembali, Bao-ci-lan berusaha memejamkan mata, namun matanya susah untuk terpejam, bayangan Yun-peng nyata dipelupuk matanya, sekaligus pertanyaan Hoa-mei terngiang-ngiang ditelinganya.

Keesokan harinya lima kauwsu pun datang ketempat Bao-yu-ping

“silahkan kita sarapan dulu sebelum berangkat, kami telah menyajikan diatas meja, marilah.” ajak Bao-yu-ping, lalu merekapn menuju ruang makan

“mereka ini juga tamu saya.” ujar Bao-yu-ping memperkenalkan empat she-taihap

“benar cianpwe, saya hoa-mei, dan ketiga adik saya, sin-liong, kun-bao dan yun-peng, she-kwaa, kami penegalana yang dengan kebaikan Bao-cianpwe telah menampung kami.”

“apakah kalian akan berangkat juga pagi ini?” tanya Bao-yu-ping “benar Bao-cianpwe, karena perjalanan kami masih sangat panjang.” “Kwaa-cici tinggallah disini barang sehari dua hari lagi.” “bagaimana menurut pendapaatmu Peng-te?”

“hmh… sebaiknya kita berangkat besok, setelah para cianpwe menyelasaikan urusan di hong-kok.”

”benar cici, setidaknya kita tahu bahwa Bao-cianpwe dalam keadaan baik-baik saja.” sela sin-liong.”

“hmh..apakah tidak terllau merepotkan kami ini Bao-cianpwe.?”

“tidak merepotkan kwaa-siocia, terlebih putriku yang manja meminta kalian untuk tinggal.”

“baiklah kalau begitu, kami akan berangkat besok saja.” ujar Kwaa-hoa-mei, Bao-ci-lan tersenyum senang sambil menatap Yun-peng, dua pasang mata bertaut membuat Bao-ci- lan tersirap, lalu tertunduk.

“baiklah, marilah kita berangkat!” ujar Bao-yu-ping, lalu merekapun keluar dan menuju hong-kok,

“cici, kami akan mengikuti para cianpwe dan ingin menonton pibu tersebut.”

“baiklah, namun sebaiknya peng-te tinggal bersama saya disini, kalian berdua saja yang pergi.”

“begitukah cici?” tanya Yun-peng “benar adikku, bagaimana menurutmu?” “ya saya rasa juga demikian.”

“baiklah cici, dan peng-te, kami pergi dulu.” ujar sin-liong lalu keduanya mengikti para kawsu ke hong-kok.

Sesampai di hong-kok, disebuah lapangan luas see-sin-kiam sedang duduk bersiulian diatas sebuah batu besar

“kami sudah datang.” ujar Song-bun “bagus…pertarungan akan segera kita mulai.”

“sebelumnya kami ingin tahu apa maksud dari tantangan ini?” tanya Liang-han, kauwsu dari”swat-kiam-bukoan” (perguruan pedang salju)

“maksudnya adalah untuk menguasai shanghai, enam perguruan kalian telah mempunya nama besar, dan saya ingin enam perguruan menjadikan aku guru besar bukoan di shanghai.”

“setelah kamu menjadi guru besar apa yang hendak kamu perbuat?” tanya Bao-yu-ping “menikmati hidup mewah dan seluruh kebutuhanku kalian harus penuhi.” “jika demikian pibu ini akan berakibat maut bagi kedua belah pihak.”

‘terserah kalian, dan kalian akan tewas dan kepala kalian akan saya gantung di alun- alun.” sahut see-sin-kiam, song-bun dengan cepat melompat menerjang, pertempuran seru pun terjadi, selama empat puluh jurus song-bun masih mantap dengan serangannya, namun menginjak jurus ke lima puluh pedang sakti See-sin-kiam menorah luka di paha song-bun.”

“hehee..hahaha..sebaiknya kalian maju semua!” tantang see-sin-kiam jumawa.

“Coa-gin-ma dari”Coa-ciang” terjun ketengah arena dengan jurus ularnya yang kuat dan dahsyat, dia kauwsu itu dengan mengerahkan kemampuan mengurung see-sin-kiam, namun lagi-lagi keduanya terbentur kesaktian pedang lawan yang luar biasa, gerakannya yang ringan dan gesit serta ayunan pedangnya yang luar biasa menghadang keroyokoan dua lawannya, dan lama kelamaan dua kauwsu terdesak, lalu Liang-han masuk kedalam pertempuran

“hahah..hahha..sebaaiknya kalian maju semua, coba jajal kalian kemampuanku, saya memang pantas dijadikan guru besar.” ujar See-sin-kiam sambil memainkan ilmu pedangnya yang luar biasa, dua puluh jurus kemudian,

“crok..” sebuah tusukan menegani betis song-bun sehingga ia terduduk dan tiga kauwsu lain masuk mengeroyok See-sin-kiam, Bao-yu-ping dengan tendangan halilintarnya menerjang lawan, namun gin-kang see-sin-kiam amat luar biasa, lima pengeroyoknya yang sudah berilmu tinggi itu dihadapi dengan baik,