-->

Delapan Dewa Iblis (Kwi Sian Pat) Jilid 4

Jilid 4

“kalau begitu aku juga tidak peduli, kami sangat lapar segera hidangkan seguci arak dan makanan lezat!” sahutnya, lalu kedua orang kembar itu memasuki likoan, tiba-tiba dua helai daun meluncur kearah keduanya dengan kecepatan tinggi, namun kedua orang kembar itu spontan mengelak dan kedua daun itu pun luput.

Lalu sebuah bayangan turun dari tingkat atas dan hendak menyerang sikembar, namun serangannya ditunda setelah melihat dua orang kembar didepannya.

“hmh…ternyata kalian Gu-siang dan Gu-liang.”

“heh..ternyata Ma-twako..kapan sampai kesini?” tanya Gu-siang “barusan, dan kalian bagaimana?” “kamai sudah dua minggu disini?” “lalu yang lain apakah sudah datang?”

“sepertinya belum Ma-twako, apa yang twako lakukan dilikoan ini?

“kita akan berkumpul di likoan ini.” jawab Ma-tin-bouw, lalu ketiganya makan bersama, setelah pelayan menambah hidangan.

Kesokan harinya Suma-xiau muncul, dan sebelum Kam-bun menegur “biarkan dia masuk, masuklah Suma-xiau!”

“siapa kamu yang berhak perintah ini dan itu pada saya!?”

“hahaha..hahhaa, naik saja keatas.” sahut suara itu, Suma-xiau pun naik ketingkat atas, dan ketika melihat tiga orang yang ia kenal, senyumnya muncul

“ternyata Ma-twako, dan sikembar, kapan kalian datang?”

“kami sudah dua minggu disini, tapi Ma-twako baru semalam” Jawab Gu-lian “kamu sendiri apakah baru hari datang?” sela Ma-tin-bouw.

“saya sebulan yang lalu sudah datang, namun seminggu aku disini dan belum juga ada yang datang jadi aku pergi”Beng-kok” (puncak terang)

“ada apa di beng-kok sehingga kamu kesana?”

“Beng-kok adalah tempat seorang perempuan cantik yang dijuluki”Thian-san-bi” (si cantik dari thiansan), anggotanya banyak dan terdiri dari wanita-wanita cantik”

“lalu apa yang kamu kerjakan disana?”

“ah..kamu pura-pura tidak tahu, aku kesana untuk bersenang-senang.”

“baiklah, sambil menunggu yang lain-kita akan menguasai tempat-tempat strategis seperti kediaman kungcu dan kediaman para hartawan.”

“demikian juga bagaus Ma-twako.” sahut ketiga rekannya serempak.

Dua hari kemudian empat orang kosen itu mendatangi kediaman Pang-kungcu “berhenti, kalian mau apa datang kesini!?” tanya dua orang penjaga “sampaikan pada kungcu, kami mengambil alih kediamannya.”

“hah…bangsat kalian mau mengacau ternyata!” bentak penjaga, lalu keduanya menyerang, namun mereka bukan lawan senior rimba hujau itu, dengan satu kibasan tangan Suma-xiau sudah melempar tubuh keduanya hingga ambruk dan tewas.

Beberapa penjaga yang bertugas diluar segera mendekati empat lelaki tua itu dan dengan mengacungkan senjata mereka menyerang empat kakek itu, tapi mereka hanya mengantarkan nyawa, Suma-xiau tidak tedeng aling-aling, dengan kekuatan dahsyat memukul dan menampari para penjaga, dan setiap jeritan yang terdengar merupakan suara kematian.

Melihat kesadisan salah seorang dari empat lelaki tua itu, puluhan pengawal undur ketakutan, ketika Pang-taijin sejak terjadi huru hara sudah melarikan diri dan keluarganya dikawal penjaga lewat sebuah pintu rahasia, sisa pengawal berlutut menyerah pada empat kakek itu.

“saya butuh sepuluh orang untuk mengurus rumah tanggam, karena kami mau tinggal disini, jadi katakan siapa yang mengurus rumah tangga selama ini.”

“saya yang mengurus rumah tangga kungcu selama ini.” ujar seorang lelaki berumur lima puluh tahun.”

“siapa namamu?” “Gan-lung-ma tuan.”

“baik, kamu tentukan sembilan orang dari mereka ini untuk menjadi bawahanmu mengurus rumah tangga.” ujar Ma-tin-bouw, lalu Gan-lung-ma memilih sembilan orang dari tiga puluh orang pengawal yang menyerah.

Kemudian sisanya di suruh keluar dari kota Bao, kejadian pengambilan alih kediaman Pang-kungcu menggemparkan warga kota kecil itu, dan tiga hari kemudian Ma-tin-bouw mengirim surat undangan pada tujuh hartawan yang dibarengi ancaman bahwa siapa yang tidak memenuhi akan tewas binasa, tujuh hartawan itu tentu tidak mau mengambil resiko kematian, lalu merekapun datang

Di ruang pertemuan tujuh hartawan sudah hadir, dibagian depan berupa panggung dengan lima buah anak tangga dari lantai dibawah ada delapan kursi, dan empat kursi sudah duduk empat kakek tua itu dengan wajah agung, lalu Gan-lung-ma sebagai pimpinan rumah tangga yang duduk dikursi dekat panggung berdiri.

“tuan-tuan para hartawan kota Bao, terimakasih kalian sudah datang memenuhi undangan empat tuan kami, dan sebenarnya tuan-tuan kami ini akan ada delapan orang nantinya jadi kalian harus menyebutnya”Pat-loya” (delapan tuan besar), dan kehadiran kalian hari ini menunjukan bahwa tuan-tuan hartawan dapat diajak kerjasama.”

“sesungguhnya apakah yang akan dibicarakan pada pertemuan ini tuan-Gan?” tanya salah seorang hartawan.

“Lai-wangwe dan para wangwe sekalian, kalian tentu tahu bahwa selama ini peraturan datang dari dalam rumah ini, dan karena kota Bao sudah dikuasai oleh empat tuan kami yang mulia, maka kami ingin menyampaikan peraturan kepada kalian.” “bukankah peraturan telah ditetapkan oleh raja?”

“hehehe…hehehe… Lou-wangwe jangan pura-pura tidak tahu, bahwa kota Bao tidak ada kaitan dengan raja.”

“hmh..kalau begitu apa yang harus kami dengar dan tahu?”

“Cu-wangwe dan para wangwe sekalian, adapun peraturan yang akan kami sampaikan mestilah ditaati, dan saya yakin para wangwe sekalian tidak akan mengambil resiko yang tidak diinginkan.”

“baiklah tuan Gan, sebutkanlah apa peraturan yang harus kami taati.”

“pertama kepada para wangwe di wajibkan untuk memberikan upeti sebanyak setengah dari pendapatan yang diserahkan setiap bulannya, kemudian yang kedua, para wangwe setiap musim cun harus memberi hadiah sebanyak delapan tahil emas, dan delapan gulung kain sutra.” ujar Gan-lung-ma, ketujuh hartawan terdiam dan saling memandang, dalam hati mereka aturan itu sangat berat dan merugikan, namun dibandingkan resiko kehilangan nyawa, mengikuti aturan satu-satunya pilihan.

“saya tidak akan menanyakan apa pendapat kalian, jadi karena kalian adalah tamu di rumah ini, maka empat tuan kami mempersilahkan kalian mencicipi makanan dan minuman.” ujar Gan-lung-ma, lalu merekapun makan dan minum, setalah selesai ketujuh hartawan itu pun pulang kembali kerumah masing-masing.

Sejak saat itu empat kakek itu hidup mewah di kota bao, dan oleh warga kota menyebut mereka dengan sebutan Pat-loya sebagaimana diberitahukan pada pertemuan dengan para hartawan, imbas dari peratauran pada tujuh hartawan, adalah masyarakat kecil, karena para hartawan berlomba-lomba untuk meningkatkan pendapatan supaya setengah bagian pendapatan itu dapat mencapai nilai sebagaimana biasanya sebelum ada peraturan dari Pat-loya.

“para pekerja bawahan mereka di paksa bekerja melebihi waktu biasanya, sewa-sewa tanah dan rumah dinaikkan, bunga-bunga utang juga dinaikan, masyarakat kecil kota Bao merasakan tekanan berat luar biasa disamping kebutuhan hidup yang mencekik, jerit dan tangis ketidak berdayaan menghiasi kehidupan warga kota Bao.

Hari itu sepasang kakek dan nenek memasuki kota Bao, keduanya memasuki sebuah likoan, ketika keduanya selesai makan, seorang pelayan sedang berbantah dengan seorang tamu

“tuan harus bayar lima ketip.”

“heh..kenapa begitu mahal, dikota lain saya berdagang saya makan hanya dua ketip.” “itu dikota lain tuan, tapi ini kota Bao, jadi harus anda bayar lima ketip.”

“boleh tahu kenapa demikian mahal!?”

“harga-harga bahan makanan naik tuan, sewa toko dan yang lain-lain juga naik.” “tapi dikota lain tidak seperti ini, kenapa dengan kota Bao?” tanya lelaki itu kecewa

“saya tidak mau berdebat, lebih baik anda bayar daripada saya panggilkan tukang pukul untuk memaksamu.” ancam si pelayan, lelaki itu dengan hati kesal membayar makanannya, dan lalu pergi, si pelayan dengan senyum mendekati meja kasir dan menyerahkan uang yang diterimanya.

“kami sudah selesai makan, dan saya tidak mau bayar.” teriak si kakek, dua orang tukang pukul yang duduk dihalaman likoan berdiri dan memasuki likoan

“siapa tadi yang berteriak tidak mau bayar!?” “saya…memangnya kenapa?” tantang si kakek “kalian ini siapa dan jangan coba macam-macam!”

“hehehehe…hehehe… Kui-ko cecunguk ini bau benar, plak…” sela sinenek dan dengan tidak diduga telah menampar muka si tukang pukul hingga tergeletak dengan nyawa putus, kawannya mundur dengan wajah pucat.

“hahaha..hahaha….siapa lagi yang mau minta bayaran!? ayo datang kesini mumpung istriku hatinya sedang baik untuk memberikan bayaran.” ujar sikakek, sepasang kakasih yang sudah usia lanjut itu adalah Yang-ma-kui dan Zhang-kui-lan

“kakek…jika tidak mau bayar tidak apa-apa? silahkanlah meninggalkan likoan.” ujar pemilik likoan sambil menjura mencoba ramah.

“heh kamu… siapa namamu!?” tanya kui-lan “saya Gao-lun tuan.” Jawab pemilik likoan.

“hmh…memang nampaknya kota Bao berbeda, harga-harganya katanya mahal, jawab kenapa demikian?”

“maaf nyonya, kami ini orang kecil, sewa likoan ini sangat tinggi dibebankan oleh pemilik pada kami, dan juga harga pangan sangat mahal, jadi namanya dagang, tentu tidak mau merugi, jadi kami harus naikkan harga makanan.”

“oo..begitu, suka-suka kamulah, tapi katakan siapa yang mendapat keuntungan dari semua permainan harga ini.”

“yang paling beruntung adalah Pat-loya.” “siapa dan dimana kediaman Pat-loya?”

“mereka ada empat orang seumur nyonya, dan memang aneh karena mereka hanya empat orang tapi dipanggil Pat-loya.”

“hahaha..hahaha… dimana tempat Pat-loya itu vepat katakan!” sela Ma-kui “kediaman mereka ada di sebelah selatan kota, rumah paling mewah dan megah, karena dulunya itu kediaman kungcu.”

“lan-moi, hehehe..hahaha…tentu kamu dapat menebak siapa mereka.”

“tentu Kui-ko, marilah kita kesana, tidak sabar rasanya ingin tahu siapa empat orang itu.” sahut Kui-lan, lalu keduanya berkelabat dari tempat itu, gerakan keduanya yang luar biasa membuat semua tamu yang melihat melonggo.

“heiii….pat-loya keluar kalian, kenapa tidak menyambut kami!?” teriak Ma-kui

“hahaha..hahaha ternyata Ma-kui dan istrinya Kui-lan.” Sahut suara, kemudian muncul Suma-xiau.

“heh..hahah..hahhaa ternyata kamu she-suma.”

“benar she-zhang, marilah kita kedalam.” ajak Suma-xiau, lalu merekapun masuk

“selamat datang Yang-ma-kui dan Zhang-kui-lan.” sapa tiga orang kakek yang duduk santai.

“hahaha..hahah..hehehe..heheh…. Ma-twako ternyata, dan sikembar Gu.” “benar she-zhang, apa kalian baru datang hari ini?” sahut Gu-siang “benar she-Gu, dan kalian sudah berapa lama disini?”

“kami sudah empat bulan disini, cepatlah kalian mandi dan mengganti pakaian, dan kamar kalian sudah disiapkan.”

“oh..ya, sudah terima beres dong kalau begitu, hehehe..hehehe..” sela Kui-lan

“memang demikian, tapi kalian butuh satu kamar atau dua kamar, hahaha..hahahah….” tanya Gu-liang, karena pertanyaan itu terkesan lucu dan menggoda sehingga lima kakek itu tertawa.

“beuh….siapa yang mau satu kamar dengan si tua ini, aku punya kamar sendiri.” sahut zhang-kui-lan ketus.

“jangan begitu dong sayang, dulu saja kita sekamar, terlebih sekarang kita sudah tua, mala sama tetangga tua-tua kok pisah.” bujuk Yang-ma-kui.

“tidak…aku mau kamarku sendiri.” teriak Zhang-kui-lan

“aih…kalau kamu sendiri dikamar tentu kamu akan kedinginan, lalu siapa yang kelonin?” “benar…aku jelas tidak mau..hahaha..hahaha…” sela suma-xiau

“she-suma jelek siapa pula yang mau dikelonin sama kamu.” sahut Zhang-kui-lan ketus dan marah, lalu dengan gesit ia sudah menerjang Suma-xiau, pertempuran tidak dapat dielakkan, empat kakek yang lain tertawa-tawa menonton pertarungan seru itu.

Saat keduanya beradu tenaga, keduanya terlempar empat tindak dengana nafas sesak. “sialan kamu Suma jelek, ilmumu tinggi sekali.”

“kamu juga nenek peot, tenagamu luar biasa.” sahut Suma-xiau “heheh..hehehe..sudahlah soal kamar terserah Kui-lan saja.” sela Ma-tin-bouw

“baiklah, saya akan pergi dulu.” sahut Zhang-kui-lan sambil melangkah diikuti oleh seorang pelayan bawahan Gan-lun-ma, kemudian disusul oleh Yang-ma-kui di iringi pembantu yang lain.

Malam itu kediaman Pat-loya mengadakan pesta dengan kedatangan dua rekan mereka Yang-ma-kui dan Zhang-kui-lan, gelak tawa tua terdengar memenuhi ruangan, sepuluh pelayan urusan rumah tangga berbaris disamping dan siap selalu untuk memenuhi panggilan atau menyiapkan hidangan.

“Ma-twako apakah kalian sudah membicarakan rencana selanjutnya?” tanya Yang-ma-kui “belum lagi Ma-kui, kita harus lengkap untuk membicarakan langkah-langkah selanjutnya.”

“apakah Bu-leng-ma dan Tan-lou-pang akan datang, sampai hari ini sudah hampir tujuh belas tahun sejak kita berpisah.”

“saya yakin keduanya pasti akan muncul.” sahut Ma-tin-bouw

“benar dan saya sudah sampai disini Ma-twako.” sahut sebuah suara dan tiba-tiba muncul lelaki tua berwajah tampan dengan kumis yang melintang rapi, sebuah kipas dikembangkan didepan dadanya sambil tersenyum

“hahaha..haha… pesta ini semakin semarak dengan kemunculan mu Tan-lou-pang.” sahut Ma-tin-bouw senang, yang lain juga merasa bersuka cita dengan muncul orang termuda diantara mereka.

“selamat bertemu kembali rekan-rekan sekalian, ternyata aku terlambat dua tahun.” ujar Tan-lou-pang.”

“duduklah Luo-pang, kita semua terlambat, karena kita berkumpul kembali baru empat bulan ini.”

“ooh..begitukah?”

“benar she-tan, kami saja baru tadi siang datang.” sela Zhang-kui-lan

“baiklah mari kita lanjutlan pesta, dan mudah-mudahan Bu-leng-ma tidak lama lagi akan datang.” sela Ma-tin-bouw, merekapun kembali saling bersulang, dan pesta sampai menjelang pagi. Seminggu kemudian Suma-xiau mengajak Gu-liang ke Beng-kok, dari kota Bao ke tempat itu memakan waktu dua hari perjalanan dengan menunggang kuda, namun bagi kedua lelaki berumur itu hanya perlu waktu satu hari, sesampai di puncak, memang tempat itu mempunyai pemandangan yang indah, lembah yang landai dibawah puncak tumbuh bungan seruni, areal puncak nampak demikian cemerlang dibawah langit biru.

Suma-xiau dan Gu-liang disambut ramah oleh thian-san-bi

“selamat datang suma-loya, akhir-akhir ini suma loya jarang datang ketempat ini.” sapa thian-san-bi, thian-san-bi seorang wanita paruh baya yang luar biasa cantik, Thian-san-bi bernama Toan-bi-lian, dia adalah putri dari sepasang ahli silat tinggi yang dikenal dengan julukan”beng-kok-mo-siang” (sepasang setan puncak terang)

Pasangan ini dulunya adalah anggota Hek-te wilayah timur yang dipimpin oleh im-kan- kok-sianli-sam” bekas guru dari ketiga istri she-taihap, saat Im-yang-sin-taihap mendesak ngo-ok-hengcia dari selatan, sepasang suami istri ini segera meninggalkan pimpinan mereka dan berkelana untuk mencari ilmu, putri mereka Toan-bi-lan dibawa serta, sehingga mereka sampai di Beng-kok dan bertemu dengan seorang rahib yang bernama Ouw-ti yang bertapa di puncak itu.

Kemudian suami istri itu mengabdi dan berguru pada Ouw-ti, setelah tujuh tahun belajar, ilmu keduanya meningkat pesat, demikian juga Toan-bi-lian ikut belajar dibawah asuhan Ouw-ti, Ouw-ti sangat memanjakan Toan-bi-lan, sehingga kadang ketika selesai belajar, Bi-lan bermanja dikamar suhunya, Ouw-ti melihat secara dekat bungan yang hendak mekar itu, dan mekarnya tubuh dan kecantikan Toan-bi-lian membuat Ouw-ti tergoda.

Toan-bi-lian yang saat itu berumur dua puluh tahun yang tahu bahwa suhunya sering memperhatikan dirinya dan juga merasakan tangan nakal suhunya yang memegang- megang tubuhnya saat dia masuh berumur sepuluh tahun, awalnya Bi-lian tidak memikirkan kelakuan suhunya, namun seiring perkembangan tubuhnya dan pemikirannya, dia pun menyadari bahwa suhunya tertarik dan birahi padanya, namun suhunya tidak lagi menunjukkan sikap seperti itu ketika ia berumur tujuh belas tahun, sepertinya suhunya sudah dapat mengendalikan dirinya.

Ketika suhunya bercerita tentang sebuah kitab dari suhengnya, baik Bi-lian maupun orangtuanya diam-diam tertarik, sering ayah ibunya membujuk suhunya untuk memberikan kitab itu pada mereka, namun Ouw-ti menolak keras, dan ide menundukkan suhunya muncul dengan memamfaatkan kecantikannya muncul saat ia berumur dua puluh tahun.

Suatu malam setelah Toan-bi-lian selesai mandi dan berganti baju ia mendatangi kamar suhunya

“suhu…malam ini nampak indah sekali, dihiasi bulan purnama.”

“benar sekali bulan itu cantik sekali, namun tidak secantik dan seindah dirimu bi-lan.”

“hik…hik..suhu bisa saja, tapi suhu apalah arti kecantikanku kalau aku tidak bisa menjaga diri, tentu satu saat akan ada yang mengalahkanku dan membuat celaka padaku.”

“tidak…bi-lan, dengan ilmu yang sekarang, sungguh sulit mencari tandinganmu.” “suhu bohong, buktinya ayah ibuku tidak dapat aku kalahkan.” rajuk Bi-lian manja “hehehe….hehe… apakah kamu ingin sekali mengalahkan kedua orang tuamu?”

“benar suhu, kalau aku dapat mengalahkan keduanya, barulah aku yakin bahwa tidak akan ada yang mampu mencelakaiku.”

“kalau kamu banyak latihan dan ilmumu semakin matang, tentu kamu akan dapat mengalahkan orang tuamu, karena hanya kamu yang dapat menyempurnakan jurus”im- swat-kiam” (pedang inti salju).” hingga tiga puluh dua jurus

“tapi suhu bukankah kitab supek ada pada suhu, kenapa suhu tidak ajarkan padaku?” “itu tidak boleh bi-lan.”

“kenapa suhu, kenapa aku tidak boleh mempelajarinya?”

“karena kitab itu bukan aliran kami, dan suheng mendapatkan kitab itu karena mencuri.” “jadi suhu juga tidak mempelajarinya?”

“tidak…karena pantangan saya mempelajarinya.” “lalu kenapa suhu masih menyimpannya?”

“itu karena ketika supekmu memberikan buntalan kitab kepada saya, kitab itu termasuk didalamnya.”

Toan-bi-lian dengan sikap manjanya duduk diranjang suhunya “suhu…kalau memang bukan untuk dipelajari kenapa kita tidak bakar saja.” “hmh….ide yang bagus juga, baiklah besok akan aku bakar.”

“suhu bolehkah aku melihat kitabnya sebelum suhu bakar.”

“tunggu sebentar, aku akan ambilkan.” sahut Ouw-tin sambil melangkah kedekat ranjang dan membuka lemari kecil di samping ranjangnya.

Ouw-ti mengambil kitab dan menyerahkan kitab itu pada Bi-lian, Bi-lian membaca sampul kitab bertuliskan,”kwi-lie-hoat” (ilmu tarian iblis), Bi-lian tengkurap membuka-buka lembaran kitab, Ouw-ti memejamkan mata melihat buah pinggul yang ranum didepannya.

“sudah kamu lihat kan dan sekarang kembalikanlah.”

“sebentar suhu, aku bolak balik dulu.” sahut bi-lian manja, dan berbalik, dan gerakan itu menyinkap bajunya dan mempertontonkan betisnya yang putih mulus, makin tidak karuan rasa hati Ouw-ti. Hendak menyuruh Bi-lian pergi dia merasa sayang dan hangat menyudahi apa yang dilihatnya, birahinya terpancing

“suhu…!” seru bi-lian tiba-tiba meletakkan kitab dan menoleh suhunya yang sedang menikmati betis telanjangnya, dia tersenyum melihat suhunya salah tingkah

“ada apa bi-lian?”

“suhu… duduklah disini.” ujar Bi-lian manja, suhunya pun duduk ditepi ranjang “kamu sudah besar dan sangat cantik bi-lian.” gumam Ouw-ti

“besarpun aku, aku kan muridmu yang manja suhu.” sahut Bi-lian makin membuat suhunya bergetar

“suhu aku ingin suhu mengelus-elus kakiku sebagaimana dulu waktu aku kecil.” “bi-lian…dulu kamu masih kecil, tapi sekarang…”

“tidak bedanya suhu….” sahut Bi-lian sambil meraih tangan suhunya dan meletakkan tepat diatas selengkangannya, bagaikan tersengat listrik degupan hati Ouw-ti.

“bi-lian..” seru Ouw-ti meremas bagian paling sensitive muridnya yang cantik menawan itu, dada bi-lian terangkat karena desakan nafasnya yang memburu, Ouw-ti pun menjadi lupa diri dan terperangkap birahinya yang mesum, dengan tangan genetar Ouw-ti menyingkap pakaian Bi-lian, sehingga nampaklah dua buah paha mulus dan selengkangan yang tertutup pakaian dalam warna merah muda, tangan Ouw-ti dengan liar meraba dan mengelus bagaian bawah Bi-lian, melihat bi-lian pasrah dan memejamkan mata, Ouw-ti larut dengan nafsunya, dengan nafas memburu Bi-lian dicumbunya, dan Bi- lian juga dengan panas menyambut kecupan-kecupan suhunya yang sudah berumur lanjut itu, namun saat keduanya bergumul dalam keadaan telanjang bulat, Ouw-ti sudah meledak dan terhempas kenikmatan.

Saat Ouw-ti masih terlelap dalam kenikmatan, ibu Bi-lian muncul.

“suhu..aduh apa yang kalian lakukan!?” tegur ibu bi-lian dengan muka terkejut, Ouw-tin yang melihat ibu bi-lian tersedak, kikuk dan didera rasa malu, dan saat itu juga sebuah pukulan telak menghantam tengkuknya hingga tulang lehernya patah, Bi-lian ternyata memukul suhunya hingga tewas pada saat suhunya lemah karena gentingnya rasa hati akibat deraan malu yang suhunya rasakan.

Ouw-ti tewas seketika, ibu dan anak itu melempar mayat Ouw-ti kedalam jurang, ternyata semua siasat itu adalah rancangan anak beranak tersebut, lalu kitab itu pun dipelajari oleh keluarga tidak tahu balas budi itu, empat tahun setelah mempelajari kitab, ternyata efek ilmu dalam kitab itu membuat bi-lian menjadi awet muda dan semakin cantik menarik, sementara ibunya tidak mengalami hal yang sama, dan penyebabnya karena Bi-lian mempelajari ilmu itu masih perawan.

Ironisnya ilmu itu butuh pelampiasan, sementara ditempat itu lawan jenis Bi-lian hanya ayahnya, terus daya pikat bi-lian membuat ayahnya mabuk kepayang dan mencintai putrinya yang luar biasa cantik, dan dari sini keadaan keluarga itu makin berantakan, ibu  bi-lian sering memergoki suaminya berbuat mesum dengan anaknya sendiri, ingin ia berontak tapi ia tidak kuat melawan suami dan putrinya, akhirnya dua tahun kemudian ayah dan ibu bi-lian bertengkar sengit yang akhirnya menewaskan ibu bi-lian, dan ayah dan anak itu semakin leluasa melakukan dosa menjijikkan itu.

Tiga tahun kemudian ayah Bi-lian tewas karena tubuhnya semakin kurus dan lemah akibat setiap berhubungan dengan bi-lian hawa sakti dan hawa sumsumnya dihisap melalui persetubuhan itu, bagi Bi-lian hal itu menguntungkan karena hawa saktinya makin bertambah dan juga keawetan dirinya makin nyata.

Setelah ayahnya meninggal, Bi-lian menculik para pemuda untuk dijadikan teman mesum dan diambil hawa sumsumnya, dan disamping itu juga Bi-lian mengumpulkan harta yang banyak dengan mencuri sehingga ia dapat membangun tempatnya sekarang, kemudian ia mengumpulkan wanita-wanita cantik untuk dijadikan pelayan sekaligus wanita penghibur, sehingga banyaklah lelaki hidung belang dan berkantong berkunjung ketempat yang menyenangkan dan indah itu, disamping uang yang terus berdatangan, bi-lian juga mendapat lelaki yang disukainya untuk dijadikan tumbal ilmunya, sehingga selama enam tahun sudah banyak lelaki yang tewas kekeringan dibawah tubuh Bi-lian.

Suma-xiau karena sudah tua luput dari incaran bi-lian saat pertama datang, sehingga suma-lian hanya bersenang-senang dengan para wanita penghibur, demikian juga Gu-lian saat dibawa oleh suma-xiau.

Kenapa jarang datang suma-loya?” tanya Bi-lian

“ada kesibukan yang tidak bisa ditinggal.” Jawab suma-xiau

“suma-loya, saya dengar kota Bao dikuasai”pat-loya”, benarkah itu?” “benar thian-san-bi, dan kami dua orang diantaranya.” “ah…benarkah? sungguh aku tidak mengira.”

“hahha..hahaha.. hal itu cukuplah, sekarang kami ingin bersenang-senang semalam suntuk.”

“hmh..baiklah silahkan pilih, dan bersenang-senang aku mau kekamarku.” Sahut Bi-lian, kedua lelaki tua itu pun berpesta semalam suntuk bersama dua wanita penghibur.

Keesokan harinya setelah memberikan bayaran keduanya turun dan kembali ke kota Bao, ditengah jalan keduanya bercakap-cakap sambil berlari cepat

“she-suma, kenapa kamu tidak mengambil thian-san-bi?”

“dia itu parasit yang cantik, jadi lebih baik tidak mengambil resiko.” “maksud apa she-suma?”

“she-Gu, jangan coba berpikir untuk menyetubuhi thian-sab-bi, karena berhubungan dengan dia akan berkaibat kematian.” “heh..apakah dia akan menghisap hawa tubuh kita saat bersetubuh?” “hebat kamu langsung mengerti, demikianlah memang perempuan satu itu.” “darimana kamu ketahui she-suma!?”

“sewaktu saya pertama datang saya mengintip dia sedang bersetubuh dengan lelaki muda yang tampan tapi nampaknya sakit-sakitan, setelah dua hari saya berada ditempat itu lelaki yang katanya suami thian-san-bi itu tewas, lalu untuk meyakinkan apa yang saya lihat dari tubuh suaminya saat bersetubuh, iseng saya tanyakan wanita yang menemani saya.”

“apa yang kamu tanyakan she-suma?”

“saya menayakan pada wanita itu sudah berapa suami thian-san-bi, dan jawabannya sudah tidak terhitung sejak enam tahun silam.”

“ih…untung kamu cepat tanggap dengan keadaan she-suma.”

“hehehe..hehehe… jadi kita harus bermain aman, walaupun wanita itu mengiurkan dan dapat kita taklukkan dengan ilmu kita.” sahut Suma-xiau, lalu mempercepat kembali larinya, dan saat keduanya memasuki gerbang kota sebuah banyangan mengikuti mereka, diatas atap ketiga bayangan itu bergerak gesit dan cepat, lalu suma-xiau dan Gu- liang berhenti sehingga bayangan dibelakang mereka ikut juga berhenti, tiga orang tua itu berhadapan.

“siapa kamu yang lancang mengikuti kami.” tegur Suma-xiau

“heh..apakah kamu she-suma!? dan kamu sikembar Gu!?” tanya kakek yang mengejar mereka

“heh..kamukah itu she-bu?”

“hahaha..hahha…benar sekali she-suma.” sahut bu-leng-ma lalu ketiganya tertawa terbahak-bahak

“ah kalau begitu marilah kita kemarkas!” sela Gu-liang “markas..? apa kita sudah punya markas?”

“sudah, dan semuanya sudah kumpul, tinggal menunggi kamu saja.” sahut Suma-xiau.

Dengan kemunculan Bu-leng-ma lengkaplah pat-loya, pertemuan antara delapan orang itu penuh kecerian dan rasa suka cita, untuk kesekian kalinya pesta pun digelar, Gan-lun- ma kembali sibuk mengatur bawahannya untuk mempersiapkan kebutuhan pesta.

“marilah kita bersulang, dengan kemunculan Bu-leng-ma.” seru Ma-tin-bouw, lalu merekapun sama-sama minum

“Ma-twako kita sudah lengkap lalu apa rencana kita selanjutnya?” tanya Gu-siang “Hal yang pertama kita lakukan setelah kita semua berkumpul adalah menjajaki apa yang telah kita miliki selama ini.”

“kapan hal itu lakukan Ma-twako?” besok kita sama-sama kehutan sebelah gerbang barat.” jawab Ma-tin-bouw, ketujuh rekannya mengangguk, dan pesta pun berlanjut, para pemusik dan penari pun tampil sehingga suasana pesta pun semakin semarak.

Keesokan harinya pat-loya pun meninggalkan rumah menuju hutan sebelah gerbang barat, hutan itu lebat dan juga banyak batu-batu besar disana-sini, dan disisi lain terdapat sebuah jurang yang terjal

“bagaimana cara kita menjajaki kemampuan kita Ma-twako, apakah kita adakan pibu?”

“kita tidak perlu mengadakan pibu, cukup kita menguji tiga empat hal dalam ilmu silat, yakni gwa-kang, sin-kang, gin-kang dan kembang gerakan.”

“saya setuju dengan Ma-twako.” sahut Bu-leng-ma, dan merekapun sepakat menjajaki kemampuan dengan empat hal tesebut.

“baik kalau begitu, Yang pertama adalah mengangkat batu itu dengan tenaga luar, kemudian mengangkat batu itu dari jarak lima tombak, setelah itu kita berlomba dari sini ke seberang jurang yang ada disisi hutan, dan yang terakhir kita akan memperagakan kembang gerak ilmu yang kita miliki baik tangan kosong maupun senjata.”

“siapa yang pertama Ma-twako?” sela Suma-xiau

“yang pertama kamu saja, karena kamu yang duluan datang ke kota Bao.”

“baiklah kalau begitu Ma-twako.” sahut Suma-xiau, lalu ia pun mendekati batu sebesar kerbau jantan, Suma-xiau memakai dua tangannya dan mengangkat hingga sampai diatas kepalanya, setelah itu dari jarak lima tombak, Suma-xiau mengerahkan sin- kangnya sehingga batu itu terangkat tiga kaki dari tanah, kemudian giliran Gu-siang, gwa- kang nya juga sama dengan suma-xiau, demikian juga sin-kangnya, lalu tiba giliran Gu- liang juga sama dengan saudara kembarnya.

Lalu Ma-tin-bouw mendekati batu dan mengangkat dengan tenaga luar hingga sampai diatas kepalanya, namun tenaga sin-kangnya berada dibawa tiga rekannya, karena batu itu hanya terangkat dua kaki dari tanah, setelah itu Yang-ma-kui mengangkat batu, dan luar biasanya dengan satu tangan batu itu diangkat sampai diatas kepala, rekan-rekannya yang lain bertepuk tangan, lalu pada pengerahan tenaga sin-kang batu itu terangkat tujuh kaki dari permukaan tanah, tepuk rekan-rekannya semakin riuh, lalu Zhang-kui-lan mampu melakaukan hal yang sama seperti kekasihnya Yang-ma-kui, hanya bedanya sin- kangnya sedikit lebih rendah, karena batu itu terangkat enam kaki.

Kemudian Tan-lou-pang mendekati batu batu dan dengan satu tangan ia berhasil mengangkat batu hingga keatas kepala, lalu dengan sin-kang dari jarak lima tombak batu itu dapat terangkat sampai sepuluh kaki, semua rekannya terpana takjub dan kontan bertepuk tangan, kemudian yang terakhir Bu-leng-ma, ia sama dengan Ma-tin-bouw sama-sama dua kaki mampu mengangkat batu dengan sin-kang. Dari dua dasar ini diakui bahwa Tan-lou-pang lebih tinggi dari ketujuh rekannya, kemudian mereka bersiap untuk berlomba lari, delapan bayangan dengan lari cepat mengarah kesisi hutan dimana sebuah jurang dalam menganga, delapan bayangan itu laksana kilat sehingga tubuh mereka hanya nampak samar, dan kedelapan bayangan itu sama-sama melompat menyeberangi jurang yang jaraknya dengan tebing diseberang sepanjang sepuluh tombak, dengan dua kali genjotan dengan mememfaatkan sebuah benda seperti kayu, batu bahkan pedang atau tombak mereka mendarat di atas tanah, dan pada bagian ini Bu-leng-ma lebih unggul, kemudian Tan-lou-pang, suma-xiau, Ma-tin-bouw,yang-ma- kui,zhang-kui-lan, Gu-liang dan yang terakhir Gu-siang, dan perbedaan itu tidaklah menyolok.

Setelah itu mereka kembali kedalam hutan, lalu suma-xiau memperagakan ilmu tangan kosongnya yang bernama”liong-ciang” (telapak naga) ilmu yang ia ciptakan sendiri dengan menggabung ilmunya dengan ilmu cicak dari Limudan, gerakan yang kokoh luar biasa dengan tenaga sin-kang yang hebat, setelah itu ia menggunakan tombak bertunas dua dan memperagakan ilmu yang ia dapatkan dari kitab dalai lama yang bernama”Thian- sian-jio” setelah Suma-xiau memperagakan ilmunya, lalu dua saudara kembar itu maju dan memperagakan ilmu tangan kosong mereka yang bernama thian-te-liong-kun-hoat dan ilmu kipas yang bernama liong-ban-hai-hoat (ilmu kipas seribu naga) gerakan keduanya laksana gelombang laut yang menderu sehingga membuat tempat itu laksana diterpa badai.

“kemudian Ma-tin-bouw maju dan memperagakan ilmu silat tangan kosong yang bernama”kwi-ban-ciang” (telapak selaksa iblis) dan ilmu pedang yang bernama”Kwi-ban- luikong-kiam” dua ilmu yang diperagakan Ma-tin-bouw membuat rekan-rekannya berdecak kagum dan nanar dengan gerakan yang penuh dengan tipu-tipu berbahaya, setelah itu sepasang kekasih dari Pat-loya pun maju, keduanya memperagakan ilmu tangan kosong yang mereka ciptakan dengan nama sian-siang-ciang” (telapak sepasang dewa) dan ilmu golok yang bernama”tung-sian-sin-hoat” (silat sakti dewa timur) dan see- sianli-sin-hoat” (silat sakti dewi barat). gerakan dua golok itu saling mengisi dan serasi, hingga kalau di ukur tidak ada satu pun dari rekannya yang akan dapat mengimbangi pasangan itu, selain Tan-lou-pang, karena ilmu yang diperagakan Tan-lou-pang amat menakjubkan, ilmu tangan kosongnya yang ia ciptakan sendiri selama dua tahun di lembah kediamannya yang ia beri nama dengan”leng-sim-ciang” (telapak hati suci) lalu makin memukau ilmu yang diperagakannya ketika mengeluar dua senjatanya dalam gerakan ilmu”sin-liong-siauw-sian” dan”sin-bian-bi-sianli”.

Dan yang terkahir adalah Bu-leng-ma, Bu-leng-ma memperagakan ilmu tangan kosong yang ia dapatkan dalam kitab dalam bokor yang bernama”twi-thai-lek-kun-lui-kong” (pukulan kilat tendangan halilintar) gerakan menakjubkan penuh kekuatan dan kecepatan luar biasa, dan gerakan Bu-leng-ma semakin menggiriskan ketika hauwcenya dikeluarkan dengan tampilan ilmu”hong-sing-bong-sian” (dewa huncwe menyebar pelangi).

Akhirnya sampai tengah malam penjajakan kemampuan itupun selesai, Pat-loya kembali ke markas untuk istirahat, seminggu kemudian, diruang pertemuan dikediaman Pat-loya, delapan orang tua duduk dengan bangganya, sepuluh orang pelayan sibuk menyiapkan hidangan.

“hari ini kita semua yang berada dihadapan Im-yang-sin-taihap tujuh belas tahun yang lalu sudah berkumpul, dan sekarang kita sudah bisa membuat langkah selanjutnya.” ujar Ma- tin-bouw membuka pertemuan. “dan saya juga merasa bangga bahwa kita berdelapan dapat meraih keinginan kita untuk mencari ilmu, dan kita sekarang berkumpul bukan lagi kita yang tujuh belas tahun lalu yang seenaknya di hina oleh”im-yang-sin-taihap.”

“benar Ma-twako, dan mulai hari ini kita akan membuat dunia persilatan dan membuat hal-hal yang menggemparkan.” sela Gi-siang

“bicarakanlah Ma-twako, apa rencana selanjutnya.” sela Tan-lou-pang

“Seminggu yang lalu kita telah saling menjajaki ilmu yang kita peroleh, dan sungguh luar biasa apa yang kami lihat dari Tan-lou-pang, dan diantara kita bahwa kamu memiliki sedikit lebih tinggi dari kami.”

“ah…tidak selisih banyak Ma-twako, dan menurut saya hal itu tidak menjadi persaingan antara kita, karena walau bagaimanapun Ma-twako adalah pimpinan kami dan juga Ma- twako yang tertua diantara kita berdelapan.

“saya setuju dengan pendapat she-tan, hal yang pertama dalam ikrar kita tujuh belas tahun yang lalu sudah kita raih, dan sekarang Ma-twako dapat membeberkan rencana selanjutnya.” sahut Bu-leng-ma

“baiklah kalau begitu, rasa kebersamaan yang kita jalin merupakan kunci kesuksesan kita untuk berbuat yang lebih besar, dan saya merasa bangga dengan kalian semua.” sahut Ma-tin-bouw, ketujuh rekannya senyam senyum menunggu kelanjutan rencana Ma-tin- bouw 

“rekan-rekanku semua dari penjajakan ilmu yang kita lakukan minggu yang lalu, saya mendapatkan ide untuk memberikan julukan pada kita berdelapan

“apakah julukan itu Ma-twako..?” tanya Suma-xiau

“hampir kita semua mendapat ilmu dengan julukan dewa, sementara kita ini adalah golongan hek-to, jadi tepat jika kita memakai julukan”Kwi-sian-pat” (delapan dewa iblis)

“saya setuju sekali dengan julukan itu.” sela Gu-siang, dan yang lain-lain pun mengangguk setuju.

“Baik setelah kita menyetujui julukan maka kita akan bahas rencana Kwi-sian-pat untuk menggemparkan dunia, tujuan akhir kita adalah menghabisi she-taihap hingga ke akar- akarnya, namun sebelum itu langkah pertama kita adalah menundukkan delapan partai besar.”

“hmh…bagaimana kita melakukannya?” tanya Bu-leng-ma

“kita undang delapan ciang-bujin dan kita ajak pibu didepan banyak pendekar.”

“artinya kematian delapan ciangbujin didepan publik mengawali kemunculan kita.” sela Tan-lou-pang “benar sekali Lou-pang, dan itu akan membuat ui-hai-liong-siang dan she-taihap merasa ditantang.”

“baiklah kalau begiitu, saya menyetujui langkah pertama kita membunuh ciangbujin delapan partai didepan publik.” sela Yang-ma-kui, semuanya ikut mengangguk.

Pertemuan itu pun diakhiri dengan pesta meriah dan diselingi musik dan tarian penari- penari muda dan cantik,

Lima bulan kemudian delapan partai besar geger dengan datangnya undangan dari yang mengatas namakan Kwi-sian-pat, dan undangan itu merupakan tantangan mutlak, demikian juga para kauwsu dan paiuwsu diundang namun dengan isi untuk menyaksikan pibu kwi-sian-pat dan ciangbujin-pat partai besar, dan undangan ditentukan pada musim cun di jim-kok dekat kota Bao.

Suatu hari dipintu gerbang kota kicu tiga orang pemuda dan seorang wanita mamasuki kota, keempatnya adalah taruna belia yang tampan dan cantik rupawan, dan empat taruna itu bukanlah orang biasa, mereka adalah putra dari Im-yang-sin-taihap, mereka sudah dua bulan meninggalkan kediaman orang tuanya dikota kun-leng, yang termuda adalah Kwaa-yun-peng berumur tujuh belas tahun, Kwaa-kun-bao berumur delapan belas tahun, kemudian Kwaa-sin-liong berumur dua puluh satu tahun dan Kwaa-hoa-mei berumur dua puluh dua tahun.

Empat taruna itu hendak menuju pulau kura-kura atas perintah orang tua mereka, sekaligus berkelana keliling tiongkok untuk menambah pengalaman hidup, empat taruna itu menikmati ramainya kota Kicu yang sibuk, para pedagang keliling berteriak menawarkan dagangannya, para wanita-wanita lalu lalang berbelanja, empat taruna itu berhenti didepan sebuah rumah makan.

“kita istirahat dan makan disini saja sam-te!” ujar Kwaa-hoa-mei, lalu mereka memasuki rumah makan

“silahkan masuk nona dan tuan-tuan.” Sambut pelayan ramah

“terimakasih lopek, kami mau makan, jadi tolong dihidangkan makanan dan lauknya.” “baik nona, minumnya apa nona?”

“kami minum teh saja lopek.”

“baik nona dan silahkan tunggu sebentar akan kami siapkan.” sahut pelayan, Kwaa-hoa- mei mengangguk, lalu mereka duduk menunggu pesanan.

Sewaktu pelayan menghidangkan makanan, seorang lelaki parlente memasuki rumah makan, pemilik rumah makan segera menyambut dengan sikap menjilat

“silahkan Gao-kongcu, apakah pesanan seperti biasa?” “benar…hidangkan menunya seperti yang biasa.” “aha…sepertinya Gao-kongcu lagi senang dan gembira?” “hahaha….hahahaa…. benar, semalam aku menang banyak.” “Gao-kongcu memang hebat..”

“oh ya sim-lopek bagaimana, apakah Yan-niu-xi sudah menerima pesanku?”

“sudah Gao-kongcu, katanya malam ini dia akan menolak semua tamu demi Gao- kongcu.”

“hahaha..hahaha… kalau begitu aku akan ketempatnya nanti malam.”

“hahah..hahah… benar kongcu, tapi kongcu kata Jeng-ma ada barang baru dari desa liseng, dan katanya juga masih perawan.”

“aha…bagus kalao begitu, sekalian aku juga mau melihatnya.” “Aku jamin Gao-kongcu akan terpesona.”

“ah..kamu bisa aja sim-lopek, hahhaa..hahaha…” ketawa Gao-kongcu terhenti ketika matanya menyambar wajah ayu nan cantik dibagian belakang rumah makan.

“lopek…wanita itu apakah seorang pendatang?” tanya Gao-kongcu menatap lekat pada wajah cantik Kwaa-hoa-mei, pemilik rumah makan melihat sekilas

“hehehe..hahaha… mata kongcu memang tahu lakasana mata elang, dan sepertinya benar bahwa wanita itu bukan penduduk sini.”

“kalau begitu cepat tawarkan seguci arak padanya, dan katakan salam perkenalan dariku.”

“baik kongcu..” sahut pemilik rumah makan dan dua orang pelayan pun datang menghidangkan pesanan Gao-kongcu

“A-liao kamu bawakan seguci arak untuk nona dimeja sana, dan katakana salam perkenalan dari Gao-kongcu.” Perintah pemilik rumah makan makan seorang pelayannya.

A-liao membawa seguci arak kemeja Kwaa-hoa-mei dan ketiga adiknyaja, “nona ini seguci arak dari Gao-kongcu sebagai salam perkenalan.” “terimakasih, tapi maaf paman kami tidak minum arak.” sahut Kwaa-hoa-mei

“semangkok arak tidaklah membuat mabuk nona cantik.” sahut Gao-kongcu yang datang mendekat sambil megibaskan kipas didepan dadanya.

“kami bukan takut mabuk sicu yang baik, namun kami memang tidak minum arak.” “hehehe..hehehe… demi aku sudilah kiranya nona bersulang bersamaku.” Ujar Gao- kongcu sambil menuang arak kedalam gelas.

“kongcu bukan bermaksud tidak menghargai maksud baik dan keramahan sicu, sekali lagi kami tidak minum arak, mengertikan anda kongcu!?” sahut Kwaa-hoa-mei agak sedikit lantang

“hmh..baiklah nona cantik, bolehkah saya mengenal siapakah nama nona?” “untuk apakah kongcu ingin tahu namaku?”

“ah..tentu untuk diingat dan dikenang.”

“sepertinya kongcu banyak memiliki perempuan, apakah kongcu sudah menikah?” “hah…menikah, hahaha..hahhaa belum nona cantik aku masih lajang.”

“dari sekian banyak perempuan yang kongcu kenal tidak adakah yang tepat diajak untuk menikah?”

“belum ada nona.” sahut Gao-kongcu pringas pringis “bagaimana dengan nona Yan-niu-xi?”

“hahahaa..hahaha… dia itu perempuan penghibur dan tidak layak menjadi istriku.”

“peranagaimu itu tidak bagus kongcu, jadi sebaiknya kita cukupkan pembicraan sampai disini, dan kembalilah kemejamu, dan makanlah sebelum hidangan dimejamu dingin.”

“lalu siapakah namamu nona?”

“anda tidak layak untuk mengetahui namaku, cukup!?” sahut Kwaa-hoa-mei dengan nada tegas.

“tidak layak bagaimana nona cantik, aku ini putra seorang bagsawan, wajahku juga tampan dan membuat simpati setiap perempuan, dan juga aku ahli bela diri yang tidak bandingnya di kota ini.”

“kongcu…cici ku sudah menutup pembicaraan dengan anda, jadi tolong kembali kemeja anda.” sela Kwaa-yun-peng

“oo..jadi kalian ini kakak adik, hmh..tolong katakan pada cici mu, setiap gadis yang kuinginkan pasti kudapatkan.”

“baik akan aku sampaikan, tapi sebelumnya terimalah salam perkenalan dariku sebagai adiknya, plak…aouhh…buk..” sahut Kwaa-yu-peng sambil menampar muka Gao-kongcu, sehingga ia menjerit dan terlempar keluar rumah makan dan jatuh bergedebuk diatas tanah. Tubuh yang terhempas laksana nangka matang itu membuat warga yang lalu lalang terkejut dan berhenti melihat Gao-kongcu yang meringis kesakitan, dia tidak dapat melihat serangan itu, bahkan badannya yang terlatih terasa kaku, sehingga ia tidak mampu mempertahan keseimbangan tubuhnya. Para tamu yang lain juga terkesima menyaksikan peristiwa itu, Gao-kongcu adalah orang hebat di kota kicu, ahli bela diri yang tidak terkalahkan, namun siang itu ia ditampar sedemikian rupa oleh seorang pemuda belia.

Gao-kongcu dengan muka merah dan marah masuk kembali ke rumah makan, dan hendak membalas memukul Kwaa-yun-peng.

“sungguh kamu tidak tahu malu kongcu, plak…aghrhh..buk…” ujar Kwaa-yun-peng menampar sekali lagi wajah Gao-kongcu, Gao-kongcu yang siap dan waspada tetap saja tidak mampu melihat datangnya tamparan pada wajahnya, dan untuk kedua kalinya ia terlempar keluar dan jatuh bergedebuk diatas tanah.

“tunggu kalian disini, aku akan membalas perbuatan ini!” teriaknya dengan amarah dan sakit hati. dengan berlari cepat ia tinggalkan rumah makan

“aduh..tuan kalian akan celaka, kalau sempat ayahnya datang atau gurunya datang kalian dalam masalah besar.”

“lopek, kamu hanya pedagang nasi atau juga mucikari yang menjajakan perempuan pada laki-laki macam kongcu itu.” sahut Kwaa-sin-liong dengan nada dingin, pemilik rumah makan gelagapan mendengar pertanyaan itu.

“ah…aa..aku..aku hanya berusaha menyenangkan hati orang.” “mengambil keuntungan diatas penderitaan orang sangat tercela lopek.”

“ah..tuan muda jangan berkata begitu, tidak ada yang dirugikan dalam hal itu.” “banyak anda rugikan, lopek.”

“hah…si..siapa yang saya rugikan, tuan mda!?”

“kongcu itu anda rugikan, perempuan yang anda tawarkan itu juga anda rugikan, dan moralitas warga kota ini juga anda rugikan.”

“hah…bagaimana samnpai seperti itu tuan?”

“lopek! tahukah anda bahwa kongcu itu menuruti hawa nafsunya karena ia sedang sakit, kongcu itu sedang sakit jiwanya, dengan datangnya anda dengan tawaran-tawaran itu semakin menambah penyakitnya, bukankah itu anda bersenang-senang diatas penderitaan orang lain? lalu perempuan yang masih perawan yang anda tawarkan, apakah menurutmu perempuan itu ingin jadi penghibur, sudahkan anda menelaahnya, bagaimana kalau karena desakan hidup atau karena dipaksa oleh orang lain, perempuan menjadi seperti itu, bukankah anda sudah mengambil keuntungan diatas penderitaan orang lain? dan warga kota ini merugi karena anda telah memicu kerusakan moral masyarakat.”

“anda anak muda terlalu membesar-besarkan masalah.” “bagaimana lopek berkata begitu? apakah merebaknya kemesuman adalah hal yang sepele, tolong katakan padaku lopek.”

“ah..tanpa aku tawarkan pun tetaplah keadaan tidak berubah, semua tahu rumah bordir adalah tempat mesum, dan tetap saja para kongcu melakukan keinginannya kesana.”

Jika lopek tidak tawarkan, itu artinya lopek telah menutup peluang kemesuman yang merugikan dan membuka satu kesempatan mencegah perbuatan nista, tapi sebaliknya jika lopek tawarkan maka lopek tidak hanya membuka pintu nista dan kemesuman tapi bahkan mendorong perbuatan mesum, tahukah lopek bahwa merebaknya kejahatan ditengah-tengah kita karena faktor orang-orang seperti lopek, yang suka mendukung keburukan.

Mendengar uraian yang panjang lebar itu, muka pemilik rumah makan merah karena malu dan marah, lalu tiba-tiba Gao-kongcu datang bersama suhunya Liu-ta

“itu pemudanya suhu!” ujar Gao-kongcu menunjuk Kwaa-yun-peng “maaf cianpwe, jika aku telah menampar muridmu.” ujar Kwaa-yun-peng.

“hah…kamu siapa sehingga begitu lancang mencampuri urusan muridku.”

“cianpwe apa tidak salah berkata demikian, murid cianpwe menggoda cici ku, apakah aku akan disebut lancing jika mencampurinya?”

“heh…pang-ji apakah benar yang dikatakan pemuda ini?” “memang benar suhu, tapi tidak seharusnya ia menamparku.”

“kongcu anda patut ditampar karena tidak tahu diri dan sombong, jelas anda telah ditolak baik-baik oleh ciciku, namun anda pasang muka badak bahkan bersombong ria dengan kekayaanmu dan keahlian bela dirimu, lalu sesumbar memastikan setiap keinginanmu akan kamu dapatkan, lalu kenapa kamu demikian cengeng menghadapi sebuah tamparan?”

“suhu pokoknya kita harus balas tamparannya padaku.” Rengeknya pada suhunya, suhunya melotot kearah Kwaa-yun-peng.

Kwaa-yun-peng dengan tenang menatap mata suhu Gao-kongcu

“apakah cianpwe juga akan menutup mata mendahulukan amarah sehingga lebih mengeruhkan masalah?”

“kamu telah menghina muridku, itu sama halnya menghinaku.” “lalu maksud ciampwe bagaimana?”

“kamu harus terima balasan dari perbuatanmu.” sahut Liu-ta sambil mengulurkan tangan hendak menampar Kwaa-yun-peng, namun Liu-ta harus menelan pahitnya malu, karena yang ditampar malah duluan menamparnya. “plak..plak…brak….” dua buah tamparan telang bersarang dikedua pipinya dan membuat tubuhnya terlempar melabrak meja hingga hancur, Liu-ta merasa kepalanya pening, dan dengan hati yang kuncup menatap empat taruna dihadapannya.

“maaf cianpwe, bukan maksud untuk bersikap kurangajar, namun cianpwe sendiri yang minta dihajar.” ujar Kwaa-yun-peng mendekati si suhu

“hmh…siapakah kalian anak muda?” “kami she-kwa dari Kun-leng.”

“hah..she-kwaa mati aku..aduh maafkan kebutaan kami she-taihap.”

“sudahlah cianpwe, bawalah muridmu, dan kiranya rasa sesumbar diri bisa dikendalikan setelah pertemuan kita ini.”

“baik dan terimakasih she-taihap, ayok pang-ji! kamu memang patut dihajar.” sahut Liu-ta membentak muridnya, lalu keduanya meninggalkan rumah makan.

Empat she-taihap keluar dari rumah makan dan mereka mencari penginapan, dan tidak berapa lama mereka mendapatkan sebuah penginapan disisi jalan sebelah utara kota

“lopek kami hendak memesan dua buah kamar.” “oo, mari nona, kamarnya ada ditingkat atas.”

“baik terimakasih lopek.” sahut Kwaa-hoa-mei, lelu mereka mengikuti pelayan

“nanti setelah mandi dan ganti baju, sam-te datang kekamarku, kita mengobrol dikamar cici.”

“baik cici..” sahut ketiga adiknya serempak, kemudian merekapun memasuki kamar yang ditunjuk pelayan

Setelah ketiga adiknya mandi dan berganti pakaian, dengan tubuh yang segar mereka mendatangi kamarnya

“hal apakah yang mau cici bicarakan?” tanya Kwaa-sin-liong

“Sam-te, sebaiknya kita menyelidiki tempat bordir itu, mana tahu kita dapat melepaskan tekanan orang-orang teraniaya disana.”

“hal itu pataut kita lakukan cici, jadi kapan kita melakukannya?” sahut Kwaa-sin-liong “malam ini juga liong-te, setelah kita makan malam”

“baiklah kalau begitu cici, saya akan coba cari alamat bordir yang dimaksud sipemilik rumah makan tadi.” sela Kwaa-kun-bao. Kwaa-jun-bao mendatangi kembali pemilik rumah makan yang sedang sibuk menghitung pendapatan hari itu, ketika dia melihat Kwaa-kun-bao memasuki tempatnya dan berjalan mendekatinya, pemilik rumah makan bernama Sim-lo-heng merasa gelisah

“ada apa kamu datang kemari lagi anak muda?”

“lopek, aku hanya ingin bertanya, dimanakah alamat rumah border yang kamu tawarkan pada Gao-kongcu?”

“untuk apa kalian tahu tempat itu, bukankah tempat itu tidak baik menurut kalian?”

“benar lopek, karena tidak baik maka tentunya banyak terjadi ketidak adilan disana, jadi kamu ingin melihat dan mengetahui secara pasti.”

“apakah kalian akan membumi hanguskan tempat itu?”

“jika memungkinkan tidak akan sampai seperti itu, jadi beritahulah lopek!” ujar Kwaa-kun- bao, Sim-lo-heng diam dan meragu

“lopek bukankah kakakku sudah mengatakan bahwa maraknya kejahatan karena banyaknya yang mendukung, dukungan timbul karena tidak membenci kejahatan itu, jika sudah tidak benci kejahatan, maka kejahatan akan tumbuh subur dimana-dimana.”

“baiklah, alamtanya disebelah barat kota, nama tempatnya”rumah seruni” jawab Sim- loheng

“terimakasih lopek, sekarang saya permisi dulu.” sahut Kwaa-kun-bao dan segera meninggalkan rumah makan, kembali ketempat penginapan

“apakah alamatnya sudah didapat Bao-te?” tanya Kwaa-sin-liong

“sudah Liong-ko, katanya disebelah barat kota dan nama tempatnya adalaha rumah seruni.”

“baiklah kalau begitu, karena sudah malam, maka marilah kita makan dulu.” sela Kwaa- hoa-me. kemudian merekapun turun untuk makan malam.

Rumah seruni adalah sebuah rumah hiburan dibawah asuhan wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Jeng-ma, wanita kurus itu bertahi lalat didagunya, dan bibirnya tipis selalu berkedut kesamping, dari perawakannya nampaknya wanita ini adalah wanita yang sadis dan cerewet.

Malam itu empat bayangan gesit berada di atas atap, empat bayangan itu berpencar melihat seluruh bagian-bagian dirumah bordir itu, Kwaa-sin-liong mendengar suara tangisan dari sebuah ruangan bagian paling belakang, dengan cekatan tangannya melepaskan genteng dan melihat kedalam, ternyata di dalam ruangan itu berupa kurungan dan didalamnya terlihat tujuh orang perempuan muda belia, dan dua orang diantaranya sedang menangis pilu.

Diruangan itu ada empat penjaga dan seorang diantaranya memegang cambuk “diam! dan jangan membuat gaduh tempat ini, pekerjaan kalian sangat menyenangkan, kenapa ditangisi.” bentak lelaki yang memegang cambuk

“lepaskanlah kami, kenapa kalian menculik dan memaksa kami berkerja sehina ini.” sahut perempuan yang paling tertua diantara tujuh perempuan itu.

“kalian jangan banyak cerewet, kalau tidak akan kuhajar dengan cambuk ini.” ancam lelaki itu sambil mengangkat cambuk dan memukulkannya dua kali.

Tiba-tiba lelaki itu terkejut dan tiga rekannya juga langsung berdiri, ketika melihat seorang lelaki sudah berdiri di hadapan sipemengang cambuk.

“si..siapa kamu…pergi dari sini!” bentaknya agak gagap

“aku tidak akan pergi sebelum kalian menjelaskan apa yang terjadi dengan tujuh wanita dalam kurungan itu.”

“bangsat.. cari mampus ya…ctarrr…!” bentak pemegang cambuk sambul mengayun cambuknya, tapi hanya sekali kibasan, cambuk sudah berpindah tangan, tiga rekannya serempak menerjang untuk membantu, namun sentilan Kwaa-sin-liong pada daun telinga mereka, membuat mereka meringis kesakitan.

“cepat kataka apa dan bagaimana sehingga tujuh orang ini dikurung disini!”

“ampunkan kami taihap, kami ini hanya bawahan yang bertugas menjaga mereka, mereka ini adalah wanita yang diculik dan hendak dijadikan wanita penghibur.”

“cepat buka dan bebaskan mereka!” bentak Kwaa-sin-liong

“baik taihap, tolong ampunkan kami!” sahut empat orang itu, dan salah seorang dari mereka membebaskan tujuh orang wanita tawanan.

Sementara Kwaa-kun-bao dalam pengintaiannya pada bagian samping ada sepuluh sedang menurunkan lima wanita muda yang sedang diikat dan disumbat mulutnya,

“hanya lima orang ini yang kalian dapatkan, Lu-ong?”

“benar Liang-loya, namun minggu depan kami akan datang lagi, karena menurut rekan kami yang menyelidiki empat desa di kota Hopei melihat banyak wanita muda yang sedang mekar.”

“baiklah kalau begitu, dan untuk lima wanita ini, terimalah bayaran dari Jeng-ma.” sahut Liang-loya sambil memberikan dua kantong uang.

“cukuplah perdagangan manusia yang kalian lakukan ini!” sela Kwaa-kun-bao dan muncul didepan mereka, mereka terkejut dan marah

“jangan ikut campur anak muda jika masih sayang nyawa!” bentak Lu-ong “Kalian yang harus mengehentikan hal tidak patut ini kalau masih sayang nyawa.”

Tantang Kwaa-kun-bao

“sialan..cari mati, serang…..” teriaknya pada sembilan anak buahnya, sepuluh orang merangsak menyerang dan mengurung Kwaa-kun-bao, tapi yang mereka hadapi taruna luar biasa yang jauh melebihi keahlian mereka, dua kali gebrakan sepuluh orang itu ambruk menggeloso diatas tanah.

Liang-loya dengan muka pucat dan tubuh menggigil berusaha lari, namun baru tiga langkah lehernya sudah dipegang Kwaa-kun-bao

“bawa aku dan lima wanita ini menemui Jeng-ma!”

“ba..baik taihap..” sahut Liang-loya dengan tubuh menggigil, saat mereka memasuki halaman bangunan induk Kwaa-kun-bao bertemu dengan Kwaa-sin-liong dengan tujuh orang wanita, lalu sebelas wanita itu dikumpul dan digiring bersama liang-loya untuk menemui Jeng-ma.

Dibagian lain Kwaa-hoa-mei mengintai disebuah ruangan dimana dalam ruangan itu ada lima laki-laki paruh baya yang sedang melelang harga seorang gadis cantik yang sudah telanjang, dan seorang wanita paruh baya duduk santai menyaksikan kelima lelaki tersebut yang sedang bertarung kekayaan untuk mendapatkan yang pertama mencicipi wanita telanjang didepan mereka.

“saya Tio-wangwe menawar harga sepuluh tahil perak untuk wanita cantik ini hehehe..heheh…”

“dua puluh tahil perak saya bayar untuk wanita ini.” sahut Ma-wangwe

“saya tiga puluh lima tahil perak.” sahut yang lain, lelaki keempat mengelus-elus jenggotnya

“hehehe..heheh… tiga puluh lima tahil masih kecil, saya bayar empat puluh tahil.” Empat saingannya melotot mendengar harga penawaran orang keempat.

“bagaimana Coa-wangwe berapa penawaranmu, apa kamu sanggup menyaingi tawaran saya, hahha..hahhaa…” tantang orang keempat

“baiklah saya orang kedua setelah Cu-wangwe, saya akan bayar empat puluh enam tahil.”

“hahaha…hahhaa….saya akan mendapatkan kamu nona cantik.” ujar Cu-wangwe semakin birahi melihat wanita telanjang yang dimenangkannya.”

“selamat Cu-wangwe anda memenangkan lelang ini, sekarang silahkan bawa dia kerumah wangwe dan bersenang-senang.” sela Jeng-ma wanita paruh baya yang duduk santai.

“tidak ada yang boleh keluar ruangan ini, dan perbuatan kalian ini sungguh tidak patut.” sela suara dan Kwaa-hoa-mei muncul ditengah ruangan sambil menarik tirai dan melemparkan ketubuh wanita telanjang itu, lima lelaki paruh baya itu terkejut, namun Cu- wangwe tersenyum nakal

“aha…luar biasa ternyata masih ada gadis yang cantiknya selangit disini jeng-ma.” ujar Cu-wangwe, Jeng-ma terdiam namun hatinya gelisah melihat kemunculan wanita yang tidak dikenalnya.

“Jeng-ma sungguh apa yang kamu perbuat ini tidak benar.” “siapakah namamu perempuan cantik?” sela Cu-wangwe

“plak…adouuhh….plak….auuhh…” dua kali tamparan diterima Cu-wangwe sebagai jawaban.

“jaga sikapmu wangwe genit!” bentak Kwaa-hoa-mei

“jeng-ma kamu sebagai pemilik tempat ini telah berbuat diluar batas.”

“jangan ikut campur urusanku!” sahut Jeng-ma, saat itu pintu ruangan terbuka, Kwaa-sin- liong dan Kwaa-kun-bao masuk beserta sebelas wanita dan liang-loya

“siapa mereka ini liong-te?” tanya Kwaa-hoa-mei

“mereka ini wanita-wanita yang baru diculik dan dijual kepada jeng-ma.” “hmh…bagaimana pertanggung jawabanmu Jeng-ma akan semua ketidak adilan ini?” “kami hanya mencari makan, saya juga keluar modal untuk ini semua.”

“cara berdagangmu telah mengina kemanusiaan, melengang ria diatas tekanan batin semua wanita yang kamu rekrut dan beli.”

“lalu kalian mau apa? tanya Jeng-ma jengkel

“dua belas wanita ini tidak ingin menjajakan tubuhnya, mereka ini kalian beli, jadi saya minta pulangkan mereka ketempat masing-masing dengan bekal ganti rugi.”

“hah…aku akan bangkrut dan rugi.” sela Jeng-ma cembrut “lebih baik rugi daripada mati bukan?” ancam Kwaa-hoa-mei “hah..apakah kamu akan membunuh saya?”

“benar kalau kamu tidak dapat diajak kompromi.”

“cici, mungkin pemasok wanita kerumah seruni perlu kita ikut sertakan untuk mempertanggung jawabkan ketidak adilan ini.” sela Kwaa-yun-peng yang tiba-tiba muncul.

“benar apa yang dikatakan Peng-te cici, dan serombongan pemasok sudah saya lumpuhkan di salah satu bagian tempat ini.” sahut Kwaa-kun-bao “begitu juga baik, nah…jeng-mo sebutkan siapa-siapa yang menjadi pemasok wanita ketempatmu ini, kami akan ringkus dan bawa kemari.” ujar Kwaa-hoa-mei, Jeng-ma agak meragu, namun celah yang diajukan itu sedikit banyaknya akan mengurangi kerugiannya.

“mereka ada tiga kelompok.” “sebutkan mereka, siapa-siapa!?”

“yang pertama rampok sungai lohan yang mengantar lima wanita, dimana mereka liang- pek!?”

“mereka sudah dilumpuhkan taihap itu.” sahut Liang-loya sambil menunjuk Kao-kun-bao

“hmh..lalu yang kedua rampok yang berada dibukit batu dan yang ketiga rampok yang berada di goa macan.”

“baik, Bao-te dan Peng-te kalian ringkus tiga pimpinan rampok itu dan bawa kemari, dan kamu jeng-ma kumpulkan semua gadis penghibur yang kamu miliki.” ujar Kwaa-hoa-mei

“lalu kami bagaimana? tanya Coa-wangwe

“kalian orang kaya dan banyak duit, masing-masing kalian keluarkan sepuluh tahil emas untuk biaya kepulangan gadis-gadis ini nantinya.”

“hah..sepuluh tahil emas!?” sela kelimanya terkejut “bagaimana kalau lima tahil emas?” tawar Cu-wangwe “dua puluh tahil emas masing-masing kalian bayarkan!” “hah…kenapa malah bertambah?” tanya Ma-wangwe “posisi kalian bukan sedang menawar tapi diwajibkan.” “baiklah sdepuluh tahil emas.” sahut Cu-wangwe

“tidak sekarang dua puluh tahil emas, cepat kalian bawakan kesini, liong-te, kawal mereka kerumah masing-masing dan ambil dua puluh tahil emas dari masing-masing mereka!” ujar Kwaa-hoa-mei

“baik cici,,” sahut Kwaa-sin-liong dan kemudian membawa lima orang hartawan itu keluar.

Seluruh wanita penghibur telah dikumpulkan sehingga jumlah mereka mencapai seratus orang

“kami adik beradik melihat ketidak adilan di rumah seruni ini, berupa jual beli wanita, pemaksaan kehendak dan pelelangan nafsu mesum, dan kami tidak bisa tinggal diam, jadi bagi kalian semua, siapa yang hendak berhenti dan kembali ketempatnya masing- masing boleh bergabung dengan dua belas wanita itu.” ujar Kwaa-hoa-mei sambil menunjuk dua belas wanita yang ia dan dua adiknya dapati. Tujuh puluh delapan orang bergabung dengan gadis yang ditunjuk Kwaa-hoa-mei, sementara sepuluh orang tetap berdiri ditempatnya

“apa kalian akan tetap ikut Jeng-ma?”

“mau kemana lagi kami lihap, sanak kerabat pun tidak ada, hidup tanpa topangan kerja akan terlunta-lunta.”

“jika karena tidak ada tempat kembali, kalian bisa menata kehidupan dengan modal yang nanti akan dibagi.”

“apakah kami akan diberi modal, lihap?” tanya seorang dari dari mereka “benar teman…bagaimana menurut kalian?”

“kalau begitu saya juga akan berhenti,” sahut mereka agak berbarengan.

“baik, sekarang Jeng-ma keluarkan semua harta kamu dan letakkan di ruangan ini, dan kalian semua boleh kembali kekamar masing-masing.” ujar Kwaa-hoa-mei, wanita-wanita itu berteriak gembira dan senyum merekah karena sebentar lagi mereka akan bebas dari belenggu Jeng-ma, esok paginya Kwaa-sin-liong datang membawa seratus tahil emas lalu digabung dengan harta Jeng-ma.

Semantara Kwaa-kun-bao dan Kwaa-yun-peng menuju sungai lohan bersama seorang anak buah yang telah dilumpuhkan di rumah seruni, esok harinya mereka sampai di sarang perampok, pimpinannya bernama Gak-lu-kai, Gak-lu-kai terpaksa bangun karena mendengar teriakan

“Gak-lu-kai keluarlah! jangan sempat rumahmu ini kami hancurkan.” Teriakan itu menembus gendang telingga, sehingga Gak-lu-kai dan puluhan anak buahnya meliompat bangun

“siapa sepagi sudah datang mengacau!?” bentak Gak-lu-kai “gak-lu-kai, kamu ikut kami dengan sukarela atau kami paksa “siapa kalian, hah..!?”

“kami adik beradik sari Kun-leng dan akan membawa kalian ke rumah seruni untuk mempertanggung jawabkan kelakuan kalian yang menculik dan menjual wanita.”

“sial apa kalian punya nyawa rangkap, serang..!” teriak Gak-lu-kai, puluhan anak buahnya menerjang maju, manun dua she-taihap lebih gesit dan bergerak diantara kerumunan pengeroyok, dalam lima gebrakan tiga puluh anggota rampok sudah tergeletak tidak berdaya termasuk Gak-lu-kai sendiri, tulang bahunya lepas dipukul Kwaa-yun-peng, dengan wajah meringis kesakitan

“ampunkan kami taihap.” ibanya kepada dua she-taihap

“baik… kalian bawa semua harta kalian, kita berangkat menuju goa macan.” ujar Kwaa- kun-bao dan Gak-lu-kai mengangguk-angguk, kemudian dua peti harta pun dikeluarkan, lalu Gak-lu-kai dan delapan anak buahnya dibawa oleh kedua she-taihap.

Menjelang siang mereka sampai di goa macan, rampok goa macan dipimpin Coa-gan-lin dengan enam puluh anggota, kedatangan dua she-taihap menghebohkan gerombolan itu, namun sama saja mereka tidak berdaya didepan she-taihap, kemudian Coa-gan-lin dengan dua belas anggotanya mengikuti dua she-taihap sambil membawa tiga peti harta menuju sarang rampok di bukit batu, kedatangan rombongan tidak terduga itu membuat ciut nyali Lu-kang selaku pimpinan, Lu-kang beserta delapan anak buahnya membawa dua peti harta mengikuti dua she-taihap ke rumah seruni.

Keesokan siangnya rombongan itu sampai di rumah seruni, dan mereka di saksikan seratus wanita yang selama ini tertekan dan teraniaya, rombongan itu disambut Kwaa- hoa-mei dan tujuh peti diletakkan bersama dua peti harta Jeng-ma.

“Liang-loya ambil setengah dari harta jeng-ma, demikian juga harta ketiga perampok ini!” ujar Kwaa-hoa-mei, liang-loya segera melakukan yang diperintahkan, setelah itu harta itu dibagikan kepada seartus wanita sehingga masing-masing dapat tiga puluh tahil emas, seratus tahil tembaga.

Seratus wanita itu dengan wajah ceria meninggalkan rumah seruni

“jengma kamu masih punya setengah dari hartamu dan juga rumah seruni, saran saya daripada membuka rumah bordil lebih baik buka penginapan sekalaigus rumah makan, dan kalian tiga pimpinan rampok, kalian juga masih memiliki setengah harta kalian, saya perintahkan supaya kalian berubah dengan hidup sebagai pedagang atau petani, atau membentuk piauwkiok, jika kalian masih merampok, suatu saat kita akan bertemu, dan kami akan menindak tegas perbuatan kalian.”

“baiklah lihap, apa kami boleh meninggalkan tempat ini?” sahut Coa-gan-lin

“boleh, dan kami juga hendak pergi, mari sam-te!” sahut Kwaa-hoa-mei, dan empat she- taihap itu menghilang, sehingga jeng-ma, Liang-loya dan gerombolan perampok melonggo tidak percaya dengan apa yang meraka saksikan.

Peristiwa yang dialami rumah seruni membuat kota Kicu gempar, pengaruhnya banyak tiga rumah bordil di kota kicu sepi pengunjung, lima wangwe yang mengalami kerugian dua puluh tahil emas membuat hartawan dan lelaki hidung belang ciut nyalinya, sebulan kemudian rumah seruni berubah menjadi likoan, dan tiga rumah bordil lain bangkrut gulung tikar.

Empat she-taihap berlabuh di pelantaran pantai pulau kura-kura, kedatangan mereka disambut hangat keluarga pulau kura-kura, diantara delapan suheng Im-yang-sin-taihap yang hidup hanya Lou-bhong yang sudah berumur tujuh puluh tahun lebih, dan yang menjadi pimpinan dipulau kura-kura adalah Coa-san-tung anak dari Coa-ban-kui dan pat- hong-heng te yang berjumlah dua ratus orang dilatih oleh Li-tan-hua anak dari Li-wan-fu, Lauw-jin anak dari Lauw-kun dan Sim-lok anak dari Sim-couw-peng.

Sementara anak-anak yang lain perempuan dan sudah menikah lalu diboyong suami masing ke daratan besar, Lou-bhong keluar dari kamarnya menyambut anak-anak sutenya, senyum gembira dan ceria nampak tergambar pada wajah tua itu “lou-pek terimalah salam hotmat kami.” sapa Kwaa-hoa-mei sambil berlutut bersama ketiga adiknya.

“bangkitlah Mei-ji, dan kalian semua para keponakanku, bagaimana kabar ayah kalian?” “ayah dan ibu dalam keadaan sehat dan baik Lou-pek

“saya sangat gembira dengan kunjungan kalian ini Mei-ji.”

“kami juga merasa senang dapat bersua dengan lou-pek dan si-suheng dan seluruh keluarga pulau kura-kura.” sahut Kwaa-sin-liong.

Tiga hari kemudian empat suhengnya mengajak melihat-lihat pat-hong-heng-te berlatih, semua murid tahu belaka empat muda belia itu adalah paman-paman mereka yang kesaktiannya melebihi dari suhu-suhu mereka, maka pada setiap kesempatan mereka meminta petunjuk pada sin-liong, kun-bao dan Yun-peng, sementara murid perempuan banyak menerima petunjuk dari Kwaa-hoa-mei.

“suheng, saya dengar dari beberapa murid bahwa empat pat-hong-heng-te mengadakan perjalanan ke wilayah timur untuk memenuhi undangan Kwi-sian-pat.”

“benar liong-te, mereka sudah empat bulan berangkat.” “siapakah Kwi-sian-pat itu coa-suheng?” tayang Kun-bao

“mereka adalah tokoh baru didunia persilatan, kita belum tahu bagaimana sepak terjang mereka ini, namun melihat niat mereka hendak mengadu pibu dengan delapan ciangbujin, mungkin cendrung mereka adalah tokoh hitam, terlebih undangan mereka pada rimba persilatan sangat sesumbar dan jumawa.”

“berarti delapan tokoh ini mesti diwaspadai, kalau begitu suheng.”

“benar Peng-te, dan kita akan tahu jika empat utusan kita sudah kembali.”

“benar, kami juga akan memperhatikan hasil pertemuan itu dalam perjalanan yang akan kami lanjutkan.” sahut Kwaa-hoa-mei

“besok kalian akan berangkat, kalian hati-hatilah diperjalanan, karena perjalanan kalian masih panjang, wilayah barat dan utara adalah medan yang sulit dengan cuaca yang ekstrim.”

“kami akan ingat pesan suheng.” sahut Kwaa-sin-liong

Keesokan harinya empat she-taihap meninggalkan pulau kura-kura, setelah selama sebulan mereka berada di pulau kura-kura, perjalanan empat she-taihap dilakukan dengan santai, karena inti tugas mereka adalah menyisir dan memantau perkembangan disetiap kota yang mereka lewati.