-->

Delapan Dewa Iblis (Kwi Sian Pat) Jilid 3

Jilid 3

“iya…karena pemandangan indah ini akan terasa hambar jika ditinggalkan seperti ini.” “memangnya apa yang menyebabkan pemandangan ini bisa hambar?”

“karena hatiku yang berbunga-bunga tidak mekar karena mendung yang tiba-tiba.”

“ohh..begitu lihatlah…” sahut Kwaa-thian-eng sambil senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, senyuman indah yang membuat mata lelaki terpana.” “hahaha..hahaha alangkah beruntungnya aku thian…”

“hik..hik..sudah ah suheng, kamu membuat aku semakin rikuh, aku tahu cintamu besar padaku, namun kata-kata romantismu itu membuat aku lemas lunglai, hik..hik..” sahut Kwaa-thian-eng, dan ia pun berkelabat dari tempat itu, Yo-seng dengan senyum bahagia menyusul sumoinya.

Ketika mereka memasuki gerbang kota Han-zhong, keduanya berpapasan dengan seorang lelaki tampan dan kaya, karena pemuda itu memakai pakaian yang indah dari sutra dan bersamanya ada sepuluh orang pengawal dengan seragam biru-putih

“aha…cantik laksana bidadari, gemulai laksana pohon yang liu, mata laksana zamrud dari turki, pipi ranum, bibir basah amboi cantiknya.”

Kwaa-thian-eng berhenti memandang pemuda tampan, lalu tersenyum “sungguh hebat pujianmu tuan muda, siapakah yang kamu puji?”

“tentulah gadis hebat didepanku, kamu memang luar biasa cantik nona, siapakah namamu?”

“namaku Kwaa-thian-eng, hanya gadis pengelana, dan ini suhengku.”

“salam jumpa tuan muda, senang bertemu dengan tuan, namun maaf kami buru-buru, karena hari hendak menjelang malam.”

“tunggu dulu…kalau kalian adalah pengelana, dengan senang hati aku mengundang kalian untuk menginap dirumah kami, kenalkan namaku adalah Lie-hong-bun”

“ah…bukankah itu merepotkan Lie-kongcu.”

“tidak saudara, tidak merepotkan, apalagi untuk gadis secantik sumoi mu ini.”

“apakah karena aku cantik maka Lie-kongcu menawarkan tempat bermalam?” sela Kwaa- thian-eng.

“eh..ah..hmh…” Lie-hong-bun gelagapan mendengar pertanyaan yang tidak diduga itu, terlebih datangnya dari gadis yang membuat dia terkesima dan berdebar.”

“jawablah aku tuan muda, bagaimana jika seandainya aku jelek?”

“ah…janganlah dianggap serius tentang itu, aku benar-benar suka dan ingin membantu nona.”

“terimakasih tuan-muda, kami tidak ingin merepotkan, marilah suheng!” sahut Kwaa-thian- eng dengan senyum ramah, dan tiba-tiba suheng dan sumoi itu menghilang

“iih..hantau danau!” teriak sebagian para pengawal. “kalian bodoh, mereka adalah pendekar dengan kesaktian gin-kang luar biasa, hmh….nona she-kwaa itu semakin menggemaskan hatiku.” pikir Lie-kongcu

“kalian tiga orang cari tahu dimana mereka menginap, dan yang lain mari kita pulang.” ujar Lie-kongcu, lalu merekapun memasuki gerbang kota.

“paman, kami hendak menyewa dua buah kamar, apakah masih ada?” tanya Yo-seng pada pemilik sebuah likoan yang mereka datangi.

“masih ada tuan muda, A-lui, cepat antara kedua tamu kita kekamar!” sahut pemilik likoan dengan senyum ramah sambil memanggil pelayannya.

“mari tuan dan nona, kita ketingkat atas.” ujar A-lui membungkuk, Yo-seng dan Kwaa- thian-eng mengikuti A-lui.

“sumoi, setelah mandi dan ganti pakaian kita makan dibawah.” ujar Yo-seng ketika Kwaa- thian-eng hendak memasuki kamar yang ditunjuk A-lui.

“baik suheng..” sahut Kwaa-thian-eng

“nah yang ini kamar tuan..” ujar A-lui dengan senyum ramah

“terimakasih paman.” sahut Yo-seng dan memasuki kamar yang cukup bagus.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Yo-seng keluar, dan tidak lama kemudian Kwaa- thian-eng juga keluar dari kamarnya, lalu keduanya turun kebawah dan memesan makanan, tamu yang makan malam saat itu lumayan banyak, terdengar hiruk pikuk suara tamu dan para pelayan yang sibuk melayani tamu, dan tiba-tiba didepan likoan terjadi huru hara, seorang lelaki tua dengan baju compang-camping mengamuk dan melemparkan seorang lelaki besar sehingga melabrak meja pengawal didepan likoan hingga hancur, para tamu keluar melihat apa yang terjadi, tapi apes kerumunan orang didepan pintu likoan tiba-tiba telempar kembali kedalam dan memporak-porandakan meja dan kursi.

Lelaki tua penuh uban dan pakaian compang-camping itu memasuki likoan, orang-orang yang ada didekatnya diam dan gemetar ketakutan

“hehehe.hehehhe….aku mau makan….hidangkan makanan terlezat untukku, cepaat.” teriaknya sambil duduk di kursi

“pemilik likoan panik dan segera menyuruh pelayan menyiapkan makanan untuk kakek tua itu

“kakek tua siapakah kamu? kenapa melakukan pemaksaan pada orang lemah.” tegur Yo- seng

“sialan… jangan ikut campur urusanku, jika kamu masih sayang nyawa!” bentak kakek tua itu. “kakek tua, kamu ini sudah amat tua, apakah kamu tidak merasa malu berbuat hal seperti ini?” tegur Yo-seng dengan nada sabar

“hahaha..hahaha..pemuda bau kencur, kalau sudah tahu aku ini tua, bukankah kamu harus menghormatiku?”

“benar orang tua, namun sikapmu ini orang tua tidak menyayangi yang muda, lalu bagaimana kakek tua mengharapkan hormat dari yang muda.”

“hahaha..hahaha.. pemuda sialan, kamu jangan berdebat dengan saya, sekali pukul kamu akan celaka, apa kamu tidak kenal pada saya?”

“tidak kenal kakek tua, siapakah kamu?”

“hahaha..hahaha… seluruh kota ini mengenal saya, saya adalah pemilik kota Hanzhong.”

“sudahlah tuan muda, biarkan ia makan, setelah kenyang dia akan pergi.” bisik pemilik likoan.”

“oo, begitu, kalau boleh tahu siapakah kakek itu paman?”

“dulu mereka ada tiga orang, dan dikenal dengan nama”Hanzhong-koai-sam” (tiga siluman dari Hanzhong, mereka bertiga memang menguasai kota ini dan menjadi momok menakutkan bagi seluruh warga kota dan sekitarnya.”

“lalu sekarang, kenapa dia bisa seperti itu.”

“kami juga tidak tahu penyebab perubahan tersebut.” “sejak kapan kakek tua itu seperti itu?”

“sejak dua belas tahun yang silam, tiba-tiba ketiga orang menakutkan itu menjadi gila, dan tidak memperdulikan keadaan.”

“hmh… kalau dua belas tahun yang silam mereka berubah, dan sebelumya mereka adalah momok menakutkan, apakah mereka anak buah pah-sim-sai-jin?”

“hahaha..hahaha… pah-sim-sai-jin…dimanakah kamu bengcu, bagaimana misi harus dijalankan, kami tidak tahu!” teriak kakek tua itu dengan pandangan mata liar, dan melotot pada Yo-seng.

“kakek tua, ternyata kamu adalah korban pemilihan bengcu di kota Sinyang.”

“heh..apa maksudmu anak kecil!?,,brak…” bentak kakek tua itu sambil memukul meja hingga hancur.

“sudahlah kakek tua, karena kamu sudah kenyang pergilah, dan jika ada kesempatan besok kita bertemu lagi.”

“sialan..anak bau kencur, aku bunuh kamu, berani menantang Hanzhong-koai-sam, duta yang mulia Pah-sim-sai-jin.” teriak kakek itu dan menyerang Yo-seng, Yo-seng dengan gerakan luar biasa melompat ke atas dan dengan tukikan gesit dan samar oleh mata menotok kakek tua itu, kakek itu menggulingkan badan seperti trenggilimg, dan ketika dia hendak berdiri tototokan Yo-seng sudah mengarah lehernya, sikakek terkejut dan tidak menduga bahwa usaha menjauhkan diri ternyata gagal, karena ternyata lawan lebih gesit mengejarnya, dia berusaha mengkis, namun

“wuuut…. tuk…” tangkisannya menegnai angin kosong, entah bagaaimana tangan yang hendak ditangkis itu meliuk dan berhasil menotoknya hingga lemas.

Orang semua melonggo, melihat anak muda bersahaja itu telaah melumpuhkan kakek menakutkan yang selama ini dalam tiga gebrakan.

“sebaiknya kakek ini diikat dan dijaga oleh pengawal paman, besok aku juga ingin melihat perkembangannya.” ujar Yo-seng

“baik tuan muda, akan kami laksanakan.” sahut pemilik likoan, lalu ia memerintahkan empat pengawalnya untuk mengikat sikakek tua.

“suheng…sepertinya engkau memahami apa yang terjadi pada kakek tua itu.”

“hmh…paham benar tidak sumoi, namun aku boleh dikatakan salah seorang yang mengetahui apa yang terjadi lima belas tahun yang lalu.”

“bagaimana ceritanya suheng, bagaimana kamu bisa tahu?”

“hal ini aku ketahui dari perjalanan ayah yang membawa aku dalam misi penyelamatan para pendekar akibat ilmu hitam Pah-sim-sai-jin, kata ayah, para pendekar mengadakan pemilihan bengcu di kota Sinyang, namun hal menyedihkan terjadi dimana Pah-sim-sai-jin yang luar biasa menguasai pikir para pendekar dengan ilmu hitamnya.”

“lalu apa yang terjadi suheng!?”

“seluruh pendekar yanga ada dipertemuan itu manut dan takluk pada perintah Pah-sim- sai-jin, mereka membuat onar-onar disegala tempat, dan oleh ayah dan ibu berusaha untuk menumpas mereka, dan saya yang ketika itu berumur enam tahun dikut sertakan sehingga bertemu dengan subu Kao-hong-li, dari pembicaraan merekalah aku tahu bahwa para pendekar itu dikauasai ilmu hitam dan tidak menyadari apa yang mereka lakukan, mereka bertindak serunut perintah Pah-sim-sai-jin.

“selanjutnya bagaimana suheng?”

“selanjutnya ayah, ibu dan subo, bertemu dengan seorang tabib, dan kata tabib mereka dapat disembuhkan dengan pengobatan.”

“lalu apa yang terjadi?”

“karena ramuan obat itu sulit didapat, maka ayah, ibu, subo dan tabib berpencar, ayah dan ibu berangkat ke pulau neraka, kakek tabib berangkat ke Tibet, saya dan subo ketempat suhu, dan bertemu denganmu yang masih berumur dua tahun.” “hmh…apakah para pendekar itu dapat disembuhkan?”

“dari cerita ayah saat datang ketempat suhu, berhasil hanya dengan pengobatan jamur linzi”

“ditilik dari cerita suheng, kakek itu berubah karena kematian pah-sim-sai-jin.”

“benar sekali somoi, pengaruh iblis itu hilang dengan sendirinya, namun bekas pengaruh menjadikan orang itu gila sebagaimana yang dialami para pendekar yang diobati suhu dan ayah.

“kalau kita dapatkan jamur linzi tentu kita dapat mengobati kakek tua itu suheng.”

“mungkin juga sumoi, tapi kita lihat bagaimana perkembangannya kakek tua itu, karena ini sudah berlangsung selama dua belas tahun, tentunya lebih parah.”

“benar juga suheng.” sahut Kwaa-thian-eng

“hmh..marilah kita istirahat..” ujar Yo-seng sambil bangkit dari duduknya, Kwaa-thian-eng juga bangkit dan naik ketingkat atas untuk tidur.

Keesokan harinya, Yo-seng dan Kwaa-thian-eng mendatangi kakek tua yang mereka ikat sedang mengumpat

“bangsat sialan, siapa yang berani mengikat aku seperti ini!?” teriaknya, empat orang pengawa likoan diam tidak menggubris, ketika Yo-seng muncul, empat pengawal itu menjura

“selamat pagi she-taihap.” sapa mereka serempak “selamat pagi sicu, bagaimana keadaan kakek itu?” “dia baru sadar, dan langsung maraj-marah.”

“heh..pemuda kencur, beraninya kamu mengikatku seperti ini.” “kakek tua, itu demi kebaikanmu.” sahut Yo-seng

“hehehe…hehe.. pemuda kemaren sore ngomong kebaikan didepanku, cih…” “menurutmu apakah kamu lebih tahu tentang kebaaikan daripadaku?”

“tentu saja..hahaha..hahaha….”

“kenapa demikian, katakanlah kakek tua.”

“karena aku lebih duluan dan lebih lama hidup daripadamu.”

“tapi nyatanya kakek berbuat kejahatan selama ini, menindas orang banyak, membunuh sudah entah berapa banyak, kamu terpedaya pah-sim-sai-jin.” “pah-sim-sai-jin bengcu kami yang mulia, eh…apakah kamu pernah bertemu dengan bengcu kami?”

“tidak pernah bertemu, tapi aku tahu dimana dia sekarang.” “heh…dimanakah bengcu pah-sim-sai-jin sekarang?”

“Pah-sim-sai-jin sudah mati.”

“bohong…tidak mungkij pah-sim-sai-jin mati, dia adalah manusia dewa yang luar biasa.”

“meracau kamu orant tua, kebaikan selalulah mengalahkan kejahatan, betapapun hebatnya pah-sim-sai-jin, tapi yang namanya penjahat thian tidak perkenankan untuk langgeng dimuka bumi ini, dan lewat perantaraan orang-orang baik telah menewaskan pah-sim-sai-jin”

“Thian… siapakah thian dan dimanakah ia?”

“Thian yang memiliki alam raya ini, yang memiliki seluruh jiwa yang ada, termasuk jiwa kamu kakek tua. dan keberadaannya tidak kasat mata.”

“apakah thian yang telah menewaskan bengcu pah-sim-sai-jin?”

“benar, Thian telah mempertemukan pah-sim-sai-jin dengan orang yang lebih sakti darinya.”

“siapakah yang lebih sakti dari Pah-sim-sai-jin?”

“hahaha..hahaha… kakek tua katamu kamu lebih duluan dan lama hidup, tapi bagaimana orang yang lebih hebat dari pah-sim-sai-jin kamu tidak tahu, kamu memang pembual kakek tua.”

“heh…ah…. tapi aku tidak ingat.”

“benar kamu kakek tua tidak ingat, dan saya yakin namamu saja kamu tidak ingat, hahaha..hahaha… benar-benar kamu menyedihkan kakek tua.” ujar Yo-seng, mendengar kata-kata menghina dan merendahkan itu membuat si kakek tua memjamkan mata mencoba keras mengingat-ingat masa lalunya, demi untuk membantah penilaian anak muda didepannya.

Melihat si kakek terdiam, Yo-seng yang memang sengaja megeluarkan kata-kata pedas merasa gembira karena sedikit banyaknya memahami kejiwaan kakek tua itu, dan dari kedut muka kakek tua itu menunjukkan ia berpikir keras untuk mengingat masa lalunya.

“bagaimana kakek tua, apakah kamu ingat siapa namamu, siapa orang hebat yang melebihi pah-sim-sai-jin, bagaimana kamu sampai terlantar seperti ini tidak ingat apa- apa?”

“heh…aku tidak tahu, lalu apakah kamu tahu siapa saya? siapa orang yang paling hebat dari pah-sim-sai-jin, dan bagaimana saya bisa seperti ini?” “pertanyaan pertama saya tidak jawab, karena kamu kakek tua sudah lupa dengan kamu, apalagilah saya yang masih muda ini dan kita tidak pernah jumpa selama ini, tapi pertanyaan kedua dan ketiga dapat keberitahu.”

“hmh… siapakah orang yang paling hebat dari pah-sim-sai-jin?”

“orang yang paling hebat, mungkin kakek kenal ketika kakek masih normal, yaitu she- taihap dari pulau kura-kura, atau yang dijuluki Im-yang-sin-taihap.” jawab Yo-seng, si kakek tua terdiam dan memejamkan mata untuk mengingat nama itu

“hmh…aku tidak kenal dengan julukan itu, lalu jawaban yang ketiga apa?”

“kakek menjadi seperti ini karena kalian berasama ratusan pendekar ketika berada di kota sinyang untuk memilih bengcu telah dikuasai ilmu jahat pah-sim-sai-jin, makanya sampai hari ini hanya Pah-sim-sai-jin yang kakek ingat dan melupakan nama sendiri.”

“hmh…. tidak mungkin demikian?”

“terserah mau percaya atau tidak, yang jelas kakek melupakan nama sendiri dan hanya pah-sim-sai-jin yang anda ingat, apakah itu patut dan wajar kakek tua?” tandas Yo-seng, kakek itu terdiam

Pemilik likoan tiba-tiba muncul

”She-taihap dua orang gila yang lain datang dan membuat onar didepan toko obat, trangis sekali dua pedagang suda mati ditangan mereka.” ujar pemilik likoan, Yo-seng dan Kwaa- thian-eng segera ketempat kejadian, dua orang kekek gila sedang mengamuk menghancurkan tenda-tenda pedagang jalanan, dan toko obat juga porak-poranda.

Yo-seng dan Kwaa-thian-eng segera bertindak, dengan lompatan dan tukikan dahsyat keduanya menyerang dua kakek gila itu, kedua kakek gila itu mengelak, namun keduanya tidak mampu melepaskan diri karena serangan susulan juga datangnya demikian cepat, kedua kakek itu berusaha melawan melepaskan diri dari kejaran lawan, namun dalam empat gebrakan keduanya lemas tidak berdaya, perubahan-perubahan tangan kedua lawannya sungguh cepat dan tidak terduga sehingga mereka harus menerima totokan yang membuat mereka lemas.

Kedua kakek itu diringkus dan dibawa kehalaman belakang likoan “siapa dua orang itu? tanya sikakek yang sudah semalaman diikat “bukankah kalian yang disebut Hanzhong-koai-sam?” sahut Yo-seng “maksudnya bahwa dua orang ini adalah rekanku?”

“benar, aneh tidak bahwa kalian tidak saling kenal?”

“benar…dan hal aneh ini sungguh membingungkan.” sahut sikakek menatap kedua rekannya orang-orang banyak berkerumun dibelakang likoan menyaksikan ketiga orang gila yang selama ini mencemaskan warga

“sicu…tolong tanyakan pada penjual obat apakah ada ia menyimpan jamur linzi, atau adakah ia tahu seorang tabib yang bisa diajak membicarakan keadaan tiga orang kakek ini.” ujar Yo-seng pada empat pengawal likoan, seorang dari mereka segera berlari keluar untuk menemui pemilik toko obat.

Tidak lama kemudian pengawal itu datang bersama pemilik obat dan seorang lelaki tua yang buta.

Kedua kakek yang baru diringkus tiba-tiba sadar

“eh..kenapa aku terikat, hah…kalian ini mau membantai aku yah, heh kamu siapa hahaha..hahaha bukankah kamu teman saya yang sedang berpesta tadi?”

“hahaha..hahaha benar, tapi kenapa kita diikat begini, dan orang-orang banyak ini mau apa dari kita.” sahut sikakek satunya lagi.

“heh..dua lelaki jelek, apakah kamu kenal saya?” tanya sikakek yang pertama

“hmh…tidak..kamu siapa hahaha..hahha…orang tidak terkenal jangan menumpang kehebatan pemilik kota Han-zhong.”

“hmh…apakah kamu kenal Pah-sim-sa-jin?”

“hahaha..hahaha siapa itu pah-sim-sai-jin, aku tidak kenal.” Jawab keduanya sambil tertawa, Yo-seng yang mendengar percakapan itu merasa heran karena kedua orang itu tidak tahu dengan Pah-sim-sai-jin

“apakah kamu tahu nama tempat ini?”

“hahaha..hahaha eh apa yah nama tempat ini, yah ini tempat pesta, apakah kita akan pesta hahaha..hahha..” sahut kedua kakek itu

“hmh…mereka ini lebih parah dari kakek yang pertama.” pikir Yo-seng, dan terbersit harapan akan dapat menyembuhkan si kakek yang pertama

“she-taihap ini Ouw-cun pemilik toko obat,” ujar sipengawal memperkenalkan pemilik toko obat

“benar she-taihap saya Ouw-cun dan jamur linzi yang she taihap tanyakan tidak saya miliki, namun mungkin ayah mertua saya ini bisa membicarakan keadaan tiga orang ini, mertua saya ini adalah Toan-seng seorang tabib.”

“terimakasih Toan-kong telah menyempatkan diri datang kesini.”

“tidak mengapa she-taihap, dan seharusnya kami warga kota ini yang mengucaokan terimakasih pada she-taihap.” sahut Toan-seng

“bagaimana menurut Toan-kong mengenai ketiga kakek ini?” “bisakah saya memegang mereka mereka taihap?” tanya Toan-seng

“baik ketiganya akan saya diamkan.” ujar Yo-seng, kemudian ia mendekati ketiga kakek itu dan menotok ketiganya hingga kaku namun tetap sadar.

Toan-seng memerikda denyut nadi, meraba kepala dan memeriksa dada ketiganya

“hmh… sepertinya dua orang ini sulit untuk diobati, kecuali kita dapatkan jamur linzi seperti yang she-taihap minta, namun yang satunya lagi akan bisa kita obati walaupun memakan waktu yang lama.” ujar Toan-seng, yang diamksud toan-seng kakek yang bisa diobati adalah kakek yang pertama.

“apa yang musti kita lakukan Toan-kong?”

“saya tidak bisa lagi melakukannya she-taihap, namun dengan adanya she-taihap saya yakin orang ini dapat disembuhkan.”

“bagaimana caranya toan-kong?”

“Ouw-cun ambillah kotak jarum dirumah, kotak itu saya simpan dibawah tempat tidur.” ujar Toan-seng pada menantunya, Ouw-cun segera pergi untuk mengambil kotak yang dimaksud ayah mertuanya.

“she-taihap akan melakukan tusukan jarum pada enam titik bagian kepala, enam belas titik dibagian dada dan lima titik dibagian masing-masing kaki, dan pelepasan jarum dengan jarak jauh, saya yakin she-taihap mampu melakukannya.”

“baiklah Toan-kong, lalu apa lagi?”

“sebelum penusukan jarum dilakukan pasien harus mandi air panas dan dingin dalam jangka yang tidak bertaut lama, namun saya yakin she-taihap dikenal dengan tenaga Im- yang nya.”

“lalu apa lagi Toan-kong?”

“mandi dan penusukan jarum dilakukan setiap malam dan dilepas diatas siraman panas saat matahari terbit, dan selama tiga malam itu setiap siang dia akan diberi minum pembersih darah yang akan saya ramu, lalu pada malam keempat, dua pelipis pasien ditusuk jarum dan dicabut saat bundalan jarum berwarna merah.”

“hmh…baiklah Toan-kong akan kita mulai nanti malam.” ujar Yo-seng, warga yang berkerumun pun kembali kerumah masing-masing, dan pada malamnya pengobatan kakek pertama pun dilakukan, sikakek dimasukkan kedalam sebuah gentong besar berisi air, lalu Yo-seng mengerahkan tenaga Yang, dan dalam sekejap air menggelegak mendidih, setelah beberapa lama, lalu Yo-seng mengerahkan tenaga Im, airpun pun cepat mendingin hingga beku, Yo-seng disarankan melakukannya tiga kali perubahan, stelah itu sikakek di letakkan di atas dipan, lalu Yo-seng pun dengan gerakan lincah melempar jarum-jarum emas milik Toan-eng kearah titik yang disampaikan Ton-seng, setelah selesai, keduanya istirahat. “she-taihap darimana kamu tahu bahwa jamur linzi obat ampuh bagi mereka?”

“hal itu saya dengar dari ayah saya, yang kebetulan ikut terlibat dalam usaha penyelamatan para pendekar dari ilmu hitam pah-sim-sai-jin bersama Wan-yokong.”

“oo, pantas kalau begitu, lalu she-taihap hendak kemanakah?” “saya dan sumoi hendak mengunjungi ayah saya di kota Sinyang.” “apakah jamur linzi itu ada pada ayahmu?”

“tidak tapi diserahkan kepada Wan-sinse keponakan dari Wan-yokong di hoa-kok, apakah tabib itu masih hidup saya tidak tahu.”

“baiklah she-taihap sebaiknya kita tidur.” ujar Toan-seng. lalu merekapun tidur.

Keesokan harinya tubuh sikakek pertama di bawa keluar, dan matahari pagi pun menyinari tubuh sikakek pertama, semua jarum dicabut oleh Y-seng, siang harinya sikakek minum obat pembersih darah, lalu malamnya sikakek dimandikan lagi dan ditusuk dengan jarum, dan pada malam keempat dua buah jarum dengan bandulan bulat diserahkan Toan-seng

“tusukkan masing-masing pada pelipisnya.” ujar Toan-seng, Yo-seng menerima jarum tersebut, dan dengan pengerahan sin-kang dua buah jarum itu pun di tusukkan dari jarak jauh.

“sudah Toan-kong.” ujar Yo-seng

“kita tinggal menunggu perubahan bandulan jarum.” sahut Toan-seng, keduanya begadang menjaga sikakek pertama yang sejak pengobatan tidak sadarkan diri.

Setelah larut malam, bandulan jarum itu pun berangsur-angsur merah, setelah nyata warna merahnya Yo-seng mencabut kedua jarum itu bersamaan, tiba-tiba sikakek membuka matanya

“amitaba, siapakah kalian sicu?” serunya sambil melipat tangan “syukurlah lo-suhu kamu sudah normal kembali.” sahut Toan-seng “saya adalah toan-seng dan pemuda ini adalah she-taihap.” “siapakah nama lo-suhu?” sela Yo-seng

“saya adalah Wan-bu-sek dari shaolin, apakah yang terjadi dengan saya sicu?”

“lo-suhu mengalami pengaruh dari pah-sim-sai-jin waktu di sinyang dan mengalami hilang ingatan setelah pah-sim-sai-jin tewas ditangan im-yang-sin-taihap.”

“amitaba..sungguh she-taihap mutiara gemilang rimba persilatan, dan telah menyingkirkan tirani kehidupan, terimakasih sicu, she-taihap yang telah menolong dan menyembuhkan saya.” “sama-sama loncianpwe, oh ya losuhu dan dua rekan yang lain selama ini menguasai hanzhong.” sahut Yo-seng

“amitaba.. manusia memang tidak berdaya dihadapan garis kehidupan, siapakah dua rekan saya itu sicu?”

“mereka ada diruang belakang losuhu, marilah kita tengok.” sahut toan-seng, malam itu juga mereka menemui dua kakek yang sedang diikat.

“kenalkah loncianpwe pada keduanya? tanya Yo-seng

“amitaba mereka ini adalah”Pek-hak-lojin” dan”Liong-kiam-hiap” sungguh ironis apa yang kami alami, apakah mereka dapat disembuhkan sicu?”

“sangat sulit losuhu, tapi kita masih punya harapan seandainya kita memiliki jamur linzi.”

“jamur linzi adanya di Lhasa, tapi sicu, biarkanlah keduanya saya bawa ke shaolin dan saya akan mengusahakan pengobatannya dengan para suhu disana.”

“demikian juga bagus losuhu.” sahut Toan-seng.

Pagi itu mereka berkumpul semua di ruang makan, dengan pulihnya Wan-ciangbujin disambut gembira pemilik likoan dan para pelayan, Yo-seng. Kwaa-thian-eng, Toan-seng dan anak mantunya, jamuan kecil itu terpokus pada kemunculan Yo-seng dan Kwaa- thian-eng sebagai pelopor dari seluruh kejadian.

Keesokan harinya Wan-cianbujin membawa kedua rekannya ke shaolin sementara Yo- seng dan Kwaa-thian-eng masih ditahan oleh Toan-seng untuk bermalam dirumahnya, ketika mereka hendak meninggalkan likoan, rombongan Lie-kongcu muncul

“selamat bertemu kembali Kwaa-siocia, apakah kwaa-siocia hendak pergi?” “benar Lie-kongcu, terimaksih atas keramahanmu.”

“ah….Kwaa-siocia terlalu sungkan, sebelum meninggalkan kota marilah singgah dirumah kami.”

“terimakasih Lie-kongcu, kami akan menginap ditempat Toan-loncianpwe, setelah itu akan melanjutkan perjalanan.”

“Kwaa-siocia janganlah mengecewakan aku yang sudah demam rindu ini.” rayu Lie- kongcu, Kwaa-thian-eng merasa panas mukanya karena malu, ungkapan hati itu diucapkan didepan orang banyak.

“ketahuilah Lie-kongcu kamu memang seorang yang tampan dan kaya raya, namun tidaklah semua harapan mesti terwujud.”

“kwaa-siocia aku selalu mendapatkan yang aku inginkan.”

“apakah maksudmu kamu hendak memaksakan kehendak pada saya!?” “jika memang diperlukan, akan aku laksanakan.”

“saya mau lihat bagaimana caramu untuk memaksa saya!” tantang Kwaa-thian-eng dengan nada dingin, tiba-tiba Lie-kongcu bergerak hendak menangkap tangan Kwaa- thian-eng, namun ia kecele tangan lembut gemulai itu telah menampar pipinya, Lie- kongcu terperanjat sambil mengelus pipinya yang kemerahan bekas tamparan

“janganlah memaksakan diri, belum cukupkah hajaran itu Lie-kongcu!?” sela Yo-seng

“beuh…kalian belum kenal dengan aku, kalian harus tunduk padaku.” teriak Lie-kongcu sambil menyerang, Yo-seng hendak bergerak.

“biarkankan aku suheng yang mengurusnya.” cegah Kwaa-thian-eng sambil melompat dan menyambut serangan Li-kongcu, dalam dua gebrakan sebuah tamparan mendarat lagi dipipi Lie-kongcu, lalu disusul dua pukulan dan dua kali tendangan sehingga membuat tubuh Lie-kongcu terlempar dan ambruk.

“kongcu.., sudahlah ternyata kita tidak mengenal tahaisan didepan mata.” “apa maksudmu!?” tanya Lie-kongcu pada pengawalnya

“ternyata saya dengar dari orang-orang ini nona itu adalah putri dari Im-yang-sin-taihap.” “hah…aduh maafkan aku lihap, aku memang buta,”

“sudahlah, kamu dimaafkan pergilah dari sini.” sahut Kwaa-thian-eng, Lie-kongcu segera meninggalkan tempat dengan rasa malu dan rasa sakit akibat kemplangan wanita yang mengguncang hatinya.

Yo-seng dan Kwaa-thian-eng menginap dirumah Toan-seng dan keesokan harinya keduanya meninggalkan kota Han-zhong, dua hari kemudian disebuah hutan yang lebat kedua macan tutul itu muncul

“hik..hik….paman macan ternyata kalian sudah berada disini.” sapa Kwaa-thian-eng mesra sambil memeluk kedua ekor macan tutul, kemudian keduanya melewatkan malam didalam hutan bersama kedua macan tutul yang bercumbu agak jauh dari tempat mereka membuat api unggun dan memanggang binatang buruan.

Keesokan harinya, Kwaa-thian-eng memanggil kedua macan tutul, namun sampai tiga kali panggil kedua macan itu tidak muncul

“aneh…kenapa paman macan itu tidak muncul?” gumam Kwaa-thian-eng

“ada yang tidak beres, mungkin gerakan mencurigakan semalam.” sela Yo-seng

“coba kita jelajahi hutan ini, mana tahu kita dapat petunjuk.” ujar Kwaa-thian-eng, lalu keduanya berpencar merambah hutan dan memperhatikan gerak dan tanda mencurigakan.

Menjelang siang keduanya bertemu lagi “bagaimana suheng, apakah suheng mendapatkan hal yang mencurigakan?”

“tidak ada sumoi, tapi dibalik bukit sana ada sebuah perkampungan, dan sebaiknya kita coba melihat kesana.”

“baiklah kalau begitu suheng, marilah.” sahut Kwaa-thian-eng, lalu keduanya berkelabat menuju perkampungan yang dimaksud Yo-seng.

Perkampungan itu terdiri dari rumah-rumah kayu beratap ilalang, dan dibagian tengah areal ada sebuah bangunan induk yang lumayan besar dan bertingkat, saat itu diruang induk ada beberapa lelaki bertubuh kekar dan rata-rata berambut keriting dan pakaian mereka dari kulit harimau.

“kedua macan tutul itu merupakan tangkapan besar, dan kulitnya juga sangat bagus.”

“jadi menurut Dulhan-pangcu, apa yang akan kita lakukan pada kedua macan itu!?” tanya wakil ketua yang bernama Saiban

“menurut saya kita kembang biakkan sehingga kita memiliki banyak macan tutul untuk diambil kulitnya.”

“demikian juga bagus pangcu, terlebih nampaknya ketika kita mengincar kedua macan itu sedang kawin, jadi sebaiknya kita tunggu satu bulan.”

“benar, andaipun tidak jadi, kita akan memakai ramun kita.” sela yang lain “kalian jaga ketat kedua macan tutul itu jangan sampai lepas.” ujar Dulhan

“baik pangcu..” sahut mereka serempak, lalu mereka bubar, Yo-seng dan Kwaa-thian-eng mengintai dari pinggir perkampungan, saat mereka hendak melewati sebuah jembatan berupa sebatang kayu, tiba-tiba kayu itu berputar, keduanya dengan spontan melompat kearah pinggir jembatan atah mereka datang, namun saat mereka menginjak tanah tiba- tiba pinggir jembatan itu longsor dan sebuah jaring besar turun.

Yo-seng dan Kwaa-thian-eng melesat kearah kanan sungai kecil yang bearada dibawah karena dari arah sebelah kiri melayang perangkap jeruji bambu, tapi naasnya dibagian itu ada lobang perangkap, Yo-seng-dan Kwaa-thian-eng meluncur kebawah dan keduanya mendarat ruangan berupa sel yang bagian depannya jeruji besi tebal, dan tidak hanya itu asap berwarna merah langsung memenuhi ruangan itu, ketika kabut merah hilang Yo- seng dan Kwaa-thian-eng tidak terpengaruh, kaarena dengan ilmu siulian-liong-tin

Empat orang yang menjaga bagian peraangkap itu terheran-heran

“wah keduanya tidak pingsan, ayo kita keluarkan lagi asap biusnya.” ujar seorang dari mereka, lalu dengan menarik sebuah tuas asap kembali menyemprot dari tiga sisi dinding sel.

“coba kamu tengok apakah mereka sudah pingsan!” ujar orang yang menarik tuas, dua orang dari mereka menuruni tangga, dan mendekati sel, alamgkah terkejutnya mereka melihat dua orang korban mereka masih berdiri, lalu mereka kembali. “aneh..mereka belum pingsan, apa yanag harus kita lakukan?”

“sudah, cepat tambah bahan asap bius, kita semprot mereka sampai malam. Dan kamu cepat laporkan pada pangcu” sahut rekannya, kemudian dua orang itu turun kembali dan masuk pada sebuah pintu rahasia, disebuah tungku api mereka melempar bahan baku untuk membuat asap bius, asap pun mengepul.

Dulhan dan wakilnya yang sedang berada diruang tengah dikejutkan dengan datangnya seorang anak buahnya

“ada apa, bagaimana dengan dua penyusup itu?”

“aneh pangcu, sudah disemprot asap bius, keduanya tidak pingsan.” “lalu sekarang bagaimana?” tanya Dulhan

“twako Gayani memutuskan untuk menyemprot kedua korban sampai malam.”

“bagus…pasti keduanya tidak sanggup menagan nafas sampai begitu lama.” Sahut Dulhan.

Saat malam tiba, Gayani bingung karena kedua korbannya malah duduk siulian, menandakan keduanya tidak terpengaruh, dan berketepatan Dulhan dan wakilnya datang untuk melihat

“bagaimana Gayani? apakah korbannya sudah pingsan?”

“belum pangcu, aduh bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan.”

“luar biasa, siapakah mereka yang demikian sakti?” gumam Dulhan, mereka menunggu sampai tengah malam dan bahan baku asap bius sudah hampir habis.

“sudah hentikan bahan baku bius, berikan asap racun kulit.” perintah Dulhan, lalu enam orang turun memasuki pintu rahasia, kemudian mereka keluar membawa daun berbentuk talas namun warnanya putih karena bulu-bulu halus dipermukaan daun, dan seorang dari mereka mebawa seguci darah katak hitam, dan seorang membawa sebotol bubuk yang awalnya adalah cacing belang.

Enam orang itu memasuki pintu rahasai kebagian tungku, lalu merekapun menumpuk bahan yang mereka bawa diatas bara dalam tungku, asap warna kekuning-kuningan pun mengepul, lalu mereka kembali, alat penyemprotpun berjalan, warna asap kekuning- kuningan itupun memenuhi ruangan sel Yo-seng dan Kwaa-thian-eng

Dua jam kemudian Yo-seng merasakan kulitnya gatal

“sumoi apa kamu merasa gatal?” tanya Yo-seng dengan menngunakan ilmu mengirim suara dari lintasa hatinya, dan pertanyaan itu didengar oleh Kwaa-thian-eng

“benar suheng..” jawab Kwaa-thian-eng “kalau begitu kita gunakan ilmu”Siu-to-Po-in” ((sambut mustika menyapu awan) dan sekalian kita gunakan”goat-koan-sim-hang” (menunggang sukma menutup rembulan)” untuk menjaga segala kemungkinan yang lebih bahaya.” ujar Yo-seng, lalu keduanya mengerahkan ilmu langka tersebut, dan berangsur-angsur rasa gatal itu hilang. keduanya masih tetap dengan posisi siulian, tapi keduanya sudah merupakan bayangan sehingga tempat sel itu kelihatan kosong

Hampir paagi asap kuning itu memenuhi ruangan sel, dan semua penghuni perkampungan itu terbelalak, melihat racun mereka tidak mempengaruhi kedua korban,

Dulhan tidak habis pikir, bahwa ada yang mamapu menahan racun mereka

“kedua orang ini bukan orang sembarangan, meraka bukan saja gesit, tapi juga hebat luar biasa.”

“sudah mari kita turun, setelah kabut asap hilang, dua belas pemanah bersiap untuk membantai keduanya.” ujar Dulhan, lalu mereka pun turun, lima puluh orang berbaris didepan jeruji sel, dua belas orang sudah siap dengan panahnya, namun ketika hendak melepaskan anak panah, mereka melihat sel itu tidak ada siapa-siapa. Dua korban mereka hilang.

Dulhan dan anak buahnya melonggo dan mengkecek-kecek mata, namun tetap saja ruangan sel itu nampak kosong.

“apakah mereka itu berada diluar sel?” ujar sebagian anak buah dengan rasa takut, wajah mereka pucat dan bulu roma mereka meriinding.

“tidak mungkin, mereka pasti masih didalam, kalau mnereka menghilang dan keluar dari sel, tentu susah mereka lakukan sejak awal, mereka masih dalam sel.” ujar Dulhan menghibur anak buahnya.

“lalu bagaimana pangcu apakah kita panah juga!?”

“tambah lagi dua puluh empat orang pemanah!” perintah Dulhan, dua puluh pemanahpun mempersiapkan diri.

“dua belas orang memanah bagian bawah, dua belas orang bagian tengah dan dua belas orang bagian atas.” ujar Dulhan, setelah semua siap, tiga puluh enam anak panah melesat kedalam sel, terdengar beberapa anak panah patah dan ada juga yang melenceng.

“panah beruntun!” teriak Dulhan, tiga puluh enam pemanah dengan cekatan mebombandir ruang sel itu hingga sampai sepuluh kali lepasan, anak panah berguguran patah dan melenceng pada bagian posisi Yo-seng dan Kwaa-thian-eng.

Sampai habis anak panah dalam kantong tetap kedua korban mereka tidak muncul, namun mereka berbesar hati bahwa dua korbannya masih tetap dalam sel, tapi tiba-tiba dua rangkum cahaya silau berpendar dari dalam sel menghantam barisan panah, dan tidak ayal tiga puluh enam orang itu terlempar sambil muntah darah, dengan panik yang lain berhamburan menaiki tangga termasuk Dulhan sendiri “tutup bagian jeruji!” teriak Dulhan, lalu seorang menekan sebuah kunci rahasia dia bagian atas tangga, sebongkah batu persegi turun menutup jeruji, sehingga sel itu dikelilingi empat tembok batu, lalu para pemanah digotong kembali keruang atas, Dulhan dan Saiban saling pandang kebingungan.

“sungguh menakjubkan kedua orang itu, hitung berapa yang luka dan berapa yang tewas.” teriak Dulhan, lalu anak buahnya menghitung korban akibat pukulan dari Yo-seng dan Kwaa-thian-eng

“ada dua puluh yang luka-luka dan enam belas orang tewas.”

“sialan, siapa kedua orang itu dan kenapa menyusup kemari?” bentak Dulhan kebingungan.

“saya punya aide pangcu!” sela Saiban “apa itu cepat katakan!” sahut Dulhan

“kita buat keduanya saling birahi, dan tentu saat mereka dalam keadaan berkobar saat itu adalah saat paling lemah dan lalai, maka kita langsung panah keduanya.”

“apa bisa mereka terpengaruh sementara asap kita saja tidak ada pengaruhnya bagi mereka.” bantah Dulhan.

“racunnya kita masukkan dalam makanan, mereka tentu lapar pangcu.”

“hmh..benar juga, kalau begitu jalankan rencana tersebut.” sahut Dulhan bersemangat. lalu saat siang, dua orang mengantarkan nasi dan sepoci air kedalam sel lewat sebuah celah dibagian didinding sebelah kiri sel, Yo-seng dan Kwaa-thian-eng saling pandang dan menatap mangkok berisi nasi putih dan sepotong kaki ayam.

“orang-orang ini berniat mencelakakan kita, tentunya nasi ini juga sudah dibubuhi racun.” ujar Kwaa-thian-eng

“benar sumoi, tapi dengan mengerahkan”Siu-to-Po-in” kita akan mampu menawarkannya.” sahut Yo-seng, lalu kedua mangkok itu pun diambil, lalu keduanya makan dengan lahap, bebrapa pasang mata mengintip dari sebuah celah pada bagian atas dinding, Saiban merasa gembira dan sepuluh pasukan panah sudah siap dia bagian depan jeruji, dan siap melepakan panah jika tembok batu terangkat.

Sampai menjelang malam saiban melonggo kaarena dua korbannya tidak menunjukkan reaksi dari pengaruh raacun perangsang, Dulhan mmegang kepala kehabisan akal

“kita coba suguhkan sampai tiga hari, tidak munkin tidak perpengaruh.” ujar Saiban kesal, selama tiga hari Yo-seng dan Kwaa-thian-eng disuguhi makanan enak, dan setiap selesai makan, keduanya mengeluarkan hawa racun lewat tiupan, sehingga keduanya aman- aman saja.

Bahkan sampai seminggu sudah, harapan saiban dan Dulhan tidak terwujud “apalagi yang bisa kita perbuat pangcu?” tanya Saiban lemas “hmh…kita coba racun perangsang ini lewat aroma, pergilah kalian petik sebanyak mungkin bunga mawar, setelah itu kita bubuhi racun perangsang dan diletakkan didepaan jeruji sel.” ujar Dulhan, lalu anak buahnya beramai-ramai kelaur kampong untuk memtik bunga mawar yang tumbuh dilembah perkampungan mereka.

“orang-orang ini sepertinya bukan bangsa Han, suheng!”

“benar, sepertinya mereka suku liar yang berasal dari daerah Bhutan dan sekitarnya.” “dan juga sepertinya mereka ahli racun.” sahut Kwaa-thian-eng.

“benar somoi, dan tempat ini merupakan sel yang kuat dan kokoh, dengan dinding batu yang sangat tebal.”

“kalau pintu batu ini terbuka, kita akan coba menjebol jeruji besinya suheng.”

“benar, ide itu patut kita coba.” sahut Yo-seng, dan tiba-tiba pintu batu naik, dan aroma bunga mawarpun menyebar menerpa penciuman keduanya, keduanya heran melihat tumpukan bunga mawar merah yang aromanya demikian wangi, kali ini dua she-taihap itu terpedaya, aroma wangi mawar itu memasuki paru-paru mereka bersamaan racun perangsang, reaksinya memang lama, dan hal yang pertama degupan jantung mereka bergetar, aliran darah bertambah lancar seiring urat syarap mereka menegang, baagian bawah perut Yo-seng tiba-tipa panas dan tegang, selintas Yoseng merasa malu, dan melirik sumoinya, dan lirikan sekilas itu membakar ketgangan bagian bawah perutnya dan letupan jantungnyapun makin kuat, Kwaa-thian-eng juga menalami gejala yang sama, dimana saat urat syarag menegang, dan bagian bawah perutnya tiba-tiba basah dan timbul kontraksi pada bagian sensitifnya, kwaa-thian-eng mendesah karena timbulnya rasa gatal yang menngelikan pada bagian sensitifnya.

Mendengar desahan Kwaa-thian-eng, menambah pusaran badai birahi yang menghantam Yo-seng, Yo-seng mendekati sumoinya yang menatapnya dengan mata memelas manja dan desahan nafas yang memburu.

“sumoi kita terpedaya pengaruh racun.” bisik Yo-seng dengan nada menahan.”

“suheng..kita harus selamat dari ini, tolonglah suheng.” desah Kwaa-thian-eng, lalu ia menjauh mepet kedinding sambil memjamkan mata melawan gejolak beirahi yang berkobar, YO-seng pun segera menjauh, keringat keduanya sudah membanjir akibat penolakan pada situasi yang janggal itu.

“suheng apa pesan ayah?” tanya Kwaa-thian-eng mencoba mengalihkan pemikirannya. “pikirkan akibat sebelum berbuat.”

“apa akibat jika kita terpedaya racun ini.”

“hancurlah amanat suhu, aku pun akan mati terbujur.” “suheng apa beda kita lakukan sekarang dengan nanti.” “sekarang nikmat berakhir malu dan penyesalan, nanti merupakan nikmat yang agung dan kelegaan

“apa lagi suheng?”

“sekarang puas berdasarkan nafsu syetan, nanti puas bedasarkan perasaan

“apa ada lagi suheng!? tanya Kwaa-thian-eng dengan nafas yang sedikit teratur, karena dialog itu telah membuat pikirannya teralih dan dapat ia kendalikan

“sekarang birahi yang dipicu muslihat, nanti birahi yang dipicu cinta dan kasih sayang.” sahut Yo-seng, ia juga sudah dapat mengendalikan pikirannya, saat keduanya pada titik pengendalian pikir itu, merekapun mengerahkan siulian-liong-tin, dalam sekejap mereka pun larut dalam siulian itu, dan nafas mereka pun seteduh permukaan danau.

Dulhan dan Pasukuan panah kembali menelan kecewa, karena panah akan lepas saat keduanya saling terkam berpilin dalam pelukan, namun sampai tengah malam kedua korban itu mampu bertahan, dan bahkan pada situasi yang lengang, dan keduanya hanyut dalam siulian, dan pada tingkat seperti kedua she-taihap, posisi itu adalah posisi yang paling waspada.

Daan saat yang lengang itu tiba-tiba dua she-taihap melancarkan pukulan Im-yang-pat- sim-in-hoat” dua gelombang kekuatan super dahsyat menghantam jeruji sel, dan akibatnya jeruji itu ambrol dan melayang menghantam tangga batu hingga hancur, Dulhan dan anak buahnya terkejut, spontan mereka melarikan diri, namun terlambat jeruji besi yang melayang kearah tangga yang merak tuju ikut menghantam tubuh mereka, enam pemanah langsung ambruk, Dulhan dan Saiban berhasil melompat keatas, namun dua bayangan gesit telah menyusul mereka sebelum mereka mendarat baik dilantai.

Tengkuk mereka dipegang kedua she-taihap.

“kalian ini siapa, dan apa yang kalian lakukan dengan banyak jebakan di tempat ini!?” bentak Yo-seng

“ampun taihap..,ampun taihap, kami ini hanya sekumpulan pemburu binatang buas.” “hmh..lalu kenapa kalian begitu gigih untuk mencelakakan kami.”

“kami tidak terbiasa dengan orang luar, jadi kami harus mebunuhnya.” “kalian bangsa apa?” sela Kwaa-thian-eng

“kami campuran bangsa khitan dan bhutan.”

“kalian telah berbuat semena-mena pada binatang buas dan kemungkinan besar pada orang-orang yang kebetulan melintasi tempat ini.” ujar Yo-seng

“ampun taihap…ampun taihap…” “cepat tunjukkan dimana kalian mengurung binatang buas yang kalian dapatkan!” bentak Kwaa-thian-eng.

Dulhan dan Saiban membawa kedua she-taihap melalui lorong yang panjang menuju keatas, dan mereka sampai ke halaman belakang bangunan induk, lalu mereka menuju sebuah bagunan kokoh sebelah samping kanan bangunan induk, dan ketika masuk suara auman terdengar, didalam bangunan itu berbagai jenis binatang buas dikurung, harimau, singa, ular, rubah dan serigala, dalam satu kurungan dua ekor macan tutul mengaum saat melihat dua she-taihap.

“paman macan, kami datang.” seru Kwaa-thian-eng sambil melompat ke dekat dua macan tutul, lalu dengan sekali peras kunci kurungan itu patah, kedua macan itu keluar dan menggesek badan mereka kekaki Kwaa-thian-eng, lalu keduanya mengaum dan kemudian berlutut.

“kalian tidak boleh lagi memburu binatang dan mengoleksinya seperti ini, dan juga kalian tidak boleh lagi disini, karena kalian tidak bisa menerima orang lain sehingga membuat kalian berusaha membunuhnya.”

“baiklah taihap, ampunkan kami.” sahut Dulhan

“kalian harus meninggalkan wilayah selatan dan berangkat ke khitan atau bhutan.” sela Kwaa-thian-eng.

“baik lihap, akan kami turuti perkataan lihap.” sahut Dulhan, kemudian merekapun keluar dari bangunan itu, tengah malam itu juga Dulhan dan seluruh anak buah dan keluarga,,mengemasi barang-barang.

Keesokan harinya rombongan Dulhan meninggalkan tempat itu, dan setelah makan siang, Yo-seng melepaskan seluruh binatang buas yang terkurung didalam bangunan, dan kemudian dengan menunggang macan tutul keduanya melanjutkan perjalanan, akibat dari apa yang mereka alami di perkampungan itu, jalinan cinta dan kasih keduanya semakin semarak dan berkembang semakin semerbak wangi kasih sayang, kemanjaan Kwaa- thian-eng semakin nyata di hadapan suheng sekaligus kekasihnya ini, Yo-seng juga tidak kalah perhatian dan bujuk rayuanya dalam alunan kata-kata romatisnya terhadap belahan kalbunya ini, setiap tempat istirahat, belaian-belaian kasih sayang bertabur kemeraan dua sejoli menghiasi setiap kesempatan, hingga perjalanan itu terasa ringan, indah dan menyenangkan.

Disebuah rumah dikota sinyang, sepasang suami istri berumur lanjut sedang berceloteh didepan rumah, sementara dua orang pelayan sedang menutup kedai rempah-rempah dibagian samping, kedua pasangan tua itu adalah sepasang pendekar yang semerbak harum namanya di rimba persilatan, kota Sinyang aman dan nyaman berkat keberadaan pasangan yang sudah ubanan itu, pasangan itu adalah Ui-hai-liong-siang Yo-hun dan siangkoan-lui-kim.

“sore ini lumayan cerah, lihatlah senja merah itu demikian cemerlang.” “wah…ada angin apa sehingga kakek tua memuji senja merah.” sahut Liu-kim “angin asmara karena melihat dandanan si nenek yang menggoda.” “cih…konyol, tua-tua keladi semakin tua makin jadi.” cibir lui-kim

“heheh..hehehe… tua-tua keladi apa salahnya semakin menjadi sama istri sendiri.” “beuh…tapi aku merasa merinding kakek nakal.”

“salah siapa kenapa senja demikian indah, menimbulkan rasa ingin mengajak si nenek beramah tamah.”

“beuh…aku cubit yah kalau terus merayu.”

“aih…sinenek mengajak cubit-cubitan di depan jalan umum, malu tapi mau, hehehee..hehehe….”

“koko…sudah ah…” cibir sinenek mebuang muka manja

“aha…hahaha..sunguuh nyaman didengar panggilanmu sayang, membuat aku kepingin.” “hah..pingin apa! hayo katakan pingin apa!?”

“pingin eh..sinilah aku bisikkan..” sahut Yo-hun sembari bangkit dan masuk kedalam rumah, Lui-kim menyusul sambil senyum malu-malu, keduanya masuk kamar, Yo-hun naik keatas ranjang

“pingin apa koko sayang.” rayu Lui-kim “pingin dipijit, rasanya aku masuk angina.”

“cih….aku pijit sambil cubit yah..” sahut Lui-kim, keduanya pun saling canda diatas ranjang

“udah ah, aku sudah lapar.” ujar Yo-hun, Lui-kim bangkit dari atas tubuh suaminya, memperbaiki letak bajunya yang kusut dan tersingkap, lalu ia turun dari ranjang dan keluar kamar untuk menyuruh dua pelayan wanita menghidangkan makan malam.

Ketika keduanya hendak menyuap makanan, seorang pelayan datang dengan buru-buru “eh..ada apa A-jung, kenapa muncul tiba-tiba?” tegur Lui-kim

“anu nyonnya, didepan dua orang muda hendak bertemu tuan dan nyonya.” “apa kamu menayakan siapa dan darimana mereka?”

“katanya mereka dari selatan.”

“hah…ji-seng koko!” teriak Lui-kim. Keduanya langsung berdiri dan keluar untuk melihat tamu yang datang. Dua pasangan itu berhadapan, Yo-hun tersenyum lalu berlutut “ayah..ibu…Yo-seng sudah kembali.”

“yo-seng anakku..aduh…kemari..kemari anakku, biar aku peluk kamu anakku.” teriak Lui- kim seiring buncah kerinduan yang meledak mengalirkan air matanya, tangis bahagia isakan rasa hangat kemeseraan pada anak semata wayang yang muncul tiba-tiba.

Mata Yo-hun juga berkaca-kaca melihat istrinya yang meraup pelukan pada putra mereka, namun disamping putra mereka ada gadis muda yang amat cantik berlutut dihadapan mereka.

“yo-seng apakah ia sumoimu putri taisu?” “benar paman, tecu Kwaa-thia-eng.”

“oh…eng-ji, bagkitlah nak… mari temani kami makan, kebetulan kami sedang makan.” ujar Yo-hun, Lui-kim menarik tangan Thian-eng dan memeluknya, kamu sudah besar eng- ji.” bisik lui-kim ramah dan gembira.

Keduanyapun diajak kemeja makan, dan bersantap bersama, setelah selesai makan, pertemuan bahagia itu dilanjutjkan diruang tengah.

“bagaimana kabar ayahmu eng-ji?” tanya Yo-seng

“ayah dan para ibu saat kami tinggal dalam keadaan baik-baik, paman.” “tentu perjalanan kalian ini banyak tantangannya eng-ji.”

“benar paman, dan berkat doa paman, kami dapat mengatasinya.” “hehehe…hehehe…. luar biasa, dan tentunya kalian masih lelah dan juga penat.” “benar paman, saya hendak mandi dulu dan berganti pakian.”

“yah benar…marilah eng-ji ibu antar kekamar mandi sekalian kamarmu.” ujar Lui-kim, Kwaa-thian-eng bangkit dan mengikuti lui-kim.

“seng-ji… tentunya ada maksud suhumu memnyuruh kamu dan sumoimu mengadakan perjalanan bersama.”

“awalnya suhu hanya menyuruh saya saja yang berangkat, namun somoi besikeras ikut untuk mengunjungi ayah dan ibu, dan saya juga menguatkan keinginan sumoi.”

“kenapa? apakah hubungan kalian tidak hanya sekedar suheng dan sumoi?” tanya Yo- hun, dan Lui-kim tiba-tiba datang dan duduk disamping suaminya.

“hubungan kami lebih dari itu ayah, saya dan sumoi saling mencintai.” “lalu bagaimana tanggapan suhumu?” “suhu dan subo sepertinya memahami hubungan kami itu, lalu suhu menekankan satu hal yang luar biasa.”

“apa itu seng-ji?” sela Lui-kim setelah mengetahui alur pembicaraan

“suhu mengamanatkan sumoi pada dalam perjalanan ini sebagai uji kebatinan, karena kata suhu, tantangan diluar diri memang berbahaya, namun tantangan dari dalam diri lebih berbahaya lagi, dan aku ditanya tentang kesiapan mengemban amanah itu”

“apa jawabmu pada suhumu?”

“aku siap mengemban amanah itu dan siap bertarung menjalani ujian bathin itu.” “apakah kalian selamat anakku?”

“berkat restu suhu dan doa ayah dan ibu, kami selamat sampai kesini.”

“syukurlah kalau begitu seng-ji, ujian yang diberikan suhumu amat berharga untuk membina kematangan jiwamu, dan sungguh luar biasa berani taisu menjalankan ujian itu, dan untunglah teladan suhumu sangat mendarah daging pada dirimu”

“sumoi juga sangat membantu saat kami dicekoki racun perangsan oleh segerombolan orang.”

“ah…sampai demikian hal yang kalian jalani sen-ji.”

“obat perangsang tentulah amat membutakan orang yang terpengaruh, dan kalian mampu melewatinya, sungguh luar biasa.”

“lalu apakah ada lagi kata-kata suhumu yang perlu kami ketahui?”

“disamping kirim salam, suhu berpesan bahwa waktu yang diberikan pada kami hanya dua tahun, dan ketika kembali ke kun-leng suhu berkata supaya ayah dan ibu ikut ke- kunleng.”

“hahaha..hahha… besar nian peruntungan kita anakku, syukur pada thian akan anugrah yang amat besar ini.”

“maksudmu apa suamiku?” sela Lui-kim

“taisu merestui hubungan kalian, dan akan diresmikan setelah kalian kubawa kesana, dan kedatangan kami merupakan bukti bahwa kalian selamat dari segala keadaan.”

“jika demikian ayah, sungguh aku merasa bahagia.”

“kami juga anakku, amat merasa bahagia dan sekarang pergilah kamu mandi, lalu istirahat, besok kita lanjutkan lagi bincang-bincangnya.” ujar Yo-hun, Yo-seng pun bangkit dan meninggalkan kedua orang tuanya.”

“harapanku teryata dikabulkan thian, kim-moi.” “emangya apa harapanmu hun-ko?”

“sejak kita berada dirumah she-taihap dan melihat Kwaa-thian-eng dalam gendongan Kwee-kim-in terbersit harapan bahwa putrinya itu akan menjadi keluarga kita.”

“heh..ternyata sampai kesana juga pemikiran hun-ko saat itu, apakah kamu tidak kim- moi?”

“tidak pernah terlintas hal sejauh itu dalam pikiranku.”

“bagaiamana pendapatmu tentang calon mantu kita itu.” tanya Yo-hun dengan raut muka senyum bahagia yang tak terlukiskan.”

“hanya orang bodoh yang tak akan menerima Kwaa-thian-eng jadi mantu.” “eh..tapi apakah menurutmu anak kita akan meniru she-taihap berkeluarga?”

“hehehe…hehehe… she-taihap berkeluarga bukanlah sebuah tradisi istriku yang cantik, tapi she-taihap berkeluarga berlandaskan nurani yang memahami hakikat dari cinta.”

“apakah menurutmu kita tidak memahami hakikat cinta?”

“kita bila dibandingkan she-taihap, kita baru sekedar kulit, sementara mereka sudah menembus daging.”

“yah sudah kalau begitu, gendong aku kekamar.” sahut Lui-kim merasa mumet jika berdebat dengan suaminya masalah kehidupan keluarga she-taihap, sebab kalau dilanjut dia juga yang akan tersudut pada kata ego atau koukati, karena ia tidak bisa menafikan bahwa ada kaumnya yang sanggup menjalani hidup bersama dengan seorang suami atas nama cinta dan ketulusan, seperti istri-sitri she-taihap.

Keesokan harinya Yo-hun dan Lui-kim mengajak kedua muda mudi itu untuk bertarung di halaman belakang, petama yang maju adalah Yo-hun melawan anaknya, pertempuran segit dan luar biasa cepat beralngsung, Yo-hun mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendesak anaknya, namun sampai seratus jurus lebih, harapan itu tidak akan pernah terjadi dan bahkan dia sendiri yang terdesak pada gebrakan-gebrakan berikutnya, ilmu”im-yang-bun-sin-im-hoat” yang mempunyai gerakan yang kaya akan perubahan karena gerakan itu menurut pada sebuah penulisan sastra, Lui-kim sendiri terkesima melihat putranya yang bagaikan melukis dia angkasa mendesak sumianya.

Lui-kim ikut terjun kekencah pertarungan membantu suaminya untuk medesak putranya, kedua suami istri itu kembali mendapat kesempatan menyerang, perpaduan ilmu thian-te- it-kiam yang mereka kerahkan sesaat dapat mengimbangi serangan putranya yang luar biasa, namun seratus jurus kemudian, mereka kembali tertahan dan beberapa jurus kemudian mereka pun terdesak semakin hebat, dua maoupit yang digunakan putranya mengurung dan mematahkan serangan mereka, selama setengah hari pertempuran itu, akhirnya suami istri yang sudah lanjut usia itu terduduk dengan nafas memburu.

“bersykurlah pada thian dengan apa yang kamu miliki sekarang anakku.” Seru Yo-hun sambil tersenyum bahagaia. “eng-ji, sepertinya kami juga akan kalah dihadapanmu, tapi walaupun demikian aku tetap ingin menjajalmu besok.”

“terimakasih paman akan kesediaan memberi petunjuk pada tecu.” “hahaha..hahahah… sungguh taisu tidak tedeng aling-aling mewaruskan yang ia miliki.

“betul suamiku, dan walau bagaimanapun kita harus mewariska apa yang kita punya pada dua muda-mudi ini, hanya sebagai khazanah ilmu, supaya keturunan Yo-juga mencicipi apa yang telah kita usahakan sampai menyabung nyawa melintasi lautan yang ganas.”

“tentu istriku…satu kepatutan bagi kita sebagai orangtua melakukan hal itu.” sahut Yo- hun, lalu mereka masuk kembali kedalam untuk makan siang.

“hampir enam bulan Kwaa-thian-eng berada dikota sinyang, dan hari itu saatnya mereka meninggalkan kota sinyang untuk pulang kembali ke Kun-leng, perjalanan ini di dampingi oleh Ui-hai-liong-siang, perjalanan dilakukan dengan cepat, sehingga enam bulan kemudian sampailah mereka di kun-leng.

Pertemuan semarak dan ramah menghiasi rumah she-taihap, empat istri she-taihap menyambut lui-kim dengan mesra, Kwaa-han-bu asik berbincang-bincang dengan Yo- hun, umur antara Yu-hun dengan Kwaa-han-bu terpaut dua belas tahun, Yo-hun, siangkoan-lui-kim, kao-hong-li, khu-hong-in, dan Lauw-bi-hong sudah berumur enam puluh tahun sementara Kwaa-han-bu baru berumur empat puluh delapan tahun, apaalagi dibandingkan dengan Kwee-kim-in yang berumur tiga puluh delapan tahun.

Setelah seminggu berada di kun-leng, para orang tua itu berkumpul diruang tengah

“she-taihap, sebagaimana pesan she-taihap pada anak kami, kami pun sudah tiba disini, dan hari ini aku ingin melanjutkan keinginan yang sejak lama tersimpan didalam hati yakni, aku dan istriku datang untuk melamar Kwaa-thian-in untuk putra kami murid she- taihap Yo-seng.”

“kedatangan twako dengan niat yang demikian besar, membuat kami gembira, kupikir tidak ada celah bagiku untuk menolak, dan saya perhatikan tidak ada salah janggalnya kedua muda-mudi itu disandingkan, namun kita orang tua, patutlah saya bertanya dulu pada putriku walaupun ia seorang gadis perawan.”

“hal itu memang patut she-taihap, kami akan sabar menti jawaban.”

“eng-ji…kamu dengar paman Yo mengajukan lamaran padamu untuk anaknya suhengmu Yo-seng, bagaimanakah menurutmu anakku?” tanya Kwaa-han-bu pada Kwaa-thian-eng, thian-eng yang tidak menduga akan ditanya seperti itu oleh ayahnya langsung menunduk dan berlari, para orang tua itu itu tertawa melihat kwaa-thian-eng yang lenyap dibalik tirai, dan Yo-seng yang tiba-tiba menunduk bersemu merah.

“baiklah yo-twako, kami terima lamaran yang baik ini.”

“terimakasih she-taihap, betapa bahagianya keluarga kami atas penerimaan ini, dan adakah sebaiknya kita bicarakan tanggal baiknya?” “tentu Yo-twako, apakah Yo-twako sudah mengetahuinya.”

“kalau tidak lupa, hari ketujuh belas bulan depan tanggal yang baik untuk pernikahan.”

“jika demikian kita sepakatilah hari itu, dan segala sesuatunya akan kita penuhi bersama.” sahut Kwaa-han-bu.

Segala persiapan pestapun di adakan, dan kartu undangan pun disebar, dan dua hari sebelum hari pernikahan, para undangan pun sudah banyak yang berdatangan, warga Kun-leng menyediakan rumah dan bahkan likoan untuk menampung para undangan jauh seperti kerabat dari pulau kura-kura, sahabat-sahabat dari kalangan pendekar, bukoan dan piuawkiok, ratusan tamu dari luar kota membanjiri kota Kun-leng, patutlah karena yang menikah adalah putra dan putri   dari   dua   tokoh   terdepan   dunia   persilatan. Hari Bahagia Yo-seng dan Kwaa-thian-eng pun tiba, kedua pengantin disandingkan di tengah panggung, para rahib membacakan doa-doa, lalu Kepala rahib pun disaksikan oleh para undangan menikahkah kedua mempelai, kemudian kedua mempelai melakukan hormat kepada orang tua, lalu pesta dilanjutkan dengan makan dan nimum yang diiringi dengan hiburan.

Kedua mempelai memasuki kamar pengantin, Yo-seng dan Kwaa-thian-eng melewatkan malam pengantin dengan cumbu mesra, berpilin gairah cinta yang membara, kedua pengantin merasakan bahagia akan ketulusan jalinan yang mereka bina, pertalian yang halal lagi direstui.

Dua minggu setelah pernikahan, Yo-seng dan orang tuanya memboyong Kwaa-thian-eng ke kota Sinyang, Kwee-kim-in selaku ibu kandungnya menitikkan air mata saat perpisahan, Kwee-kim-in memeluk putrinya dengan harapan semoga keluarga yang dibina mendapat lindungan dari thian. demikian juga ketiga ibunya yang lain dan adik- adiknya.

Disebuah likoan di kota Bao, masih sepi oleh tamu, dua pelayan sedang mengobrol didepan likoan sambil melihat orang yang lalu lalang, sekedar mengisi waktu, karena tamu belum ada yang datang

“A-jiu, sepertinya pacar kamu saya lihat sedang belanja.” “ah..yang benar Kam-twako.”

“benar, tadi ketika aku mengambil sayuran.”

“kalau begitu aku lihat   sebentar.”   ujar   A-jiu bangkit dan melangkah buru-buru “eh,,,tunggu dulu! kok meninggalin kerja, nanti kalau tuan bertanya, bagaimana?”

“twako jawab saja bahwa aku lagi sedang kekamar mandi.” jawab A-jiu dan dengan cepat menghilang di belokan jalan.

Seorang lelaki tua belengan tunggal memasuki likoan tersebut, pelayan she-kam itu dengan ramah menyambut tamu pertama itu, tamu itu adalah Ma-tin-bouw yang sudah berumur enam puluh tiga tahun “silahkan masuk tuan..”

“panggil majikanmu, aku mau bicara.” ujar Ma-tin-bouw

“baik tuan, sebentar aku akan panggilkan.” sahut pelayan, tidak lama kemudian pemilik likoan yang berumur lima puluh tahun lebih mendatangi tamunya

“ada apa tuan, apa yang bisa kami bantu?”

“likoan ini tidak boleh menerima tamu selama satu minggu.” “hah…kenapa tuan, kami harus mencari nafkah.”

“kamu dengar apa yang saya katakan?, jangan membantah!” bentak Ma-tin-bouw, pemilik likoan dan pelayan menggigil ketakutan.

“sekarang sediakan makanan terlezat!” ujar Ma-tin-bouw, pemilik likoan dan pelayan segera menuju krdapur

“aduhhh.. bagkrutlah saya ini.” keluh pemilik likoan “ada apa Tan-loya?” tanya seorang juru masak

“sudahlah hari ini kita belum mendapatkan tamu, lalu tiba tamu yang ngomomg dengan seenak perutnya.” ujar Tan-loya dengan nada jengkel

“sekali lagi saya dengar kamu mengatai saya maka nyawamu akan aku cabut.” sela Ma- tin-bouw dari ruang makan, Tan-loya kontan pucat dan terdiam

“cepat makanannya bawa kesini!?” bentak Ma-tin-bouw dari kursi tempat ia duduk.

Tiiga pelayan dengan segera menyiapkan hidangan, dan dengan buru-buru menghidangkan dimeja Ma-tin-bouw

“selagi aku sedang makan, kalian berjaga di depan pintu, dan tolak siapa saja yang datang!”

“baik tuan, bagaiamana kalau dia memaksa masuk?”

“biarkan saja, artinya dia cari mampus.” jawab Ma-tin-bouw, lalu tiga pelayan itu berjaga- jaga disepan pintu.

Satu jam kemudian, dua orang pedagang merupakan pelanggan mereka hendak masuk

“maaf A-kao, A-bai, sebaiknya kalian ketempat lain saja, karena likoan ini tidak menerima tamu lagi

“heh..kenapa begitu kam-twako, bukankah masih banyak yang kosong?” “benar A-kao, tapi sudah di sewa seorang tamu yang sedang duduk dan makan diruang atas.”

“oo..baiklah kalau begitu, kami ketempat lain saja.” sahut A-kao, keduanya pun pergi, tidak lama kemudian A-jiu datang dengan wajah gembira

“kam-twako, bagaimana apakah tuan menanyakan saya?” “tidak, tapi sebaiknya kamu pulang saja!”

“heh..kenapa? dan kenapa Cu-twako dan A-teng berdiri disini? kalian kan kerja didapur?” tanya A-jiu heran.

“sudah jangan banyak tanya, sebaiknya kamu ikuti saran Kam-bun.” sahut she-Cu “ah..kalian jangan bercanda dong twako!”

“siapa yang bercanda, likoan ini telah dibajak cepat selamatkan dirimu.” bisik Kam-bun, mendengar bisikan itu makin heran A-jiu, tapi melihat mata Kam-bun yang memaksa dia supaya pergi tidak dapat ia bantah, lalu A-jiu berbalik hendak meninggalkan likoan, tapi sebuah suara terdengar

“tunggu dulu, kamu tidak boleh pergi, kamu juga harus tetap disini kalau mau selamat.” A- jiu dan rekan-rekannya terkejut cemas, A-jiu jadi pucat dan terpaksa mengikuti perintah suara yang tidak kelihatan orang yang memerintah.

Empat orang itu menjaga pintu likoan, orang yang lalu lalang memandang heran, lalu dua orang lelaki tua berwajah kembar muncul

“tuan berdua, maaf kami tidak menerima tamu, silahkan cari likoan yang lain,”

“siapa yang menghalangi langkahku mau kemana!?” sahut salah seorang dari sikembar. “maaf tuan, seorang tamu sudah menyewa tempat ini.”

“heh siapa orangnya yang menyewa tempat ini?” “kami tidak tahu tuan.”