-->

Delapan Dewa Iblis (Kwi Sian Pat) Jilid 2

Jilid 2

Seorang dari lawannya saja hanya seimbang dengannya, dan kali ini dia dikeroyok, rasa kecewa dan marah membuat Gak-sui berusaha keras mempertahankan diri, Zhang-kui- lan dan Yang-ma-kui dengan segenap kemampuan mendesak Gak-sui, wakapun pertempuran itu tidak seimbang, namun tetap alot, sehingga saat matahari muncul diufuk timur, barulah Gak-sui dapat dilumpuhkan, leher Gak-sui robek besar dibacok pedang Zhang-kui-lan, sementara pedang Yang-ma-kui menusuk ulu hati, Gak-sui ambruk bersimbah darah.

Yang-ma-kui menggeladah tubuh Gak-sui dan mengambil gulungan kertas peta, dengan menunggang kuda milik kedua korban, Zhang-kui-lan dan Yang-ma-kui meninggalkan kota xining menuju wilayah barat, perjalanan penuh tantangan itu dengan medan yang sulit sepasang kekasih itu lalui.

Enam bulan kemudian mereka sampai di kota Golmud yang dingin, keduanya mencari tempat sesuai dalam gambar, dan ternyata gunung itu bernama”sian-san” (gunung dewa) hamparan dibawah gunung merupakan telaga yang membeku dan memantulkan bola matahari diatasnya, kemudian menurut peta, mereka akan mengikuti aliran sungai es, sehari perjalanan mereka sampai pada areal hutan persik, dan dari hutan itu mereka mendaki sebuah bukit dan dlereng bagian timur mereka menemukan sebuah goa dengan lorong yang panjang, dalam jangaka dua jam perjalanan barulah mereka sampai pada sebuah ruangan dengan altar yang megah, patung dewi Kwan-im duduk anggun diatas altar, disisi dinding ruangan itu bolong sehingga ruangan itu terang.

Disamping patung dewi kwan-im terdapat dua buah peti yang lumayan besar, Yang-ma- kui membuka peti dan isinya memang emas dan benda berharga dalam berbagai bentuk, “hahah,,hahha kita memang berbasib mujur Lan-moi, kita akan menjadi orang kaya.” teriak Yang-ma-kui dengan gembira sambil meraup emas dalam peti, Zhang-kui-lan membuka peti satunya dan isinya ternyata kitab dan dua buah golok dengan gagang yang unik, gagang golok pertama sedikit melengkung dan ada tulisan berukir golok jantan, dan gagang golok yang lain lurus tapi pada bagian tengah sedikit melebar dan pada gagang golok itu terdapat tulisan golok betina.

“golok ini sepasang jantan dan betina Kui-ko.”

“coba kita lihat isi kitabnya.” sahut Yang-ma-kui, keduanya melihat tulisan pada sampul dalam,”see-tung-sianli-to-siang-hoat” (ilmu sepasang golok dewi timur barat)

“isinya ilmu silat Lan-moi.”

“benar, dan kita akan mempelajarinya sampai sempurna.” sahut Zhang-kui-lan penuh semangat. Sejak itu merekapun berdiam didalam goad an memepelajari isi kitab, yang terdiri dari ilmu pernafasan untuk pembentukan tenaga sin-kang dan gin-kang, dan ilmu golok yang mereka pelajari bernama”tung-sian-sin-hoat” (silat sakti dewa timur) dan see-sianli-sin- hoat” (silat sakti dewi timur).

Dengan tanpa menegnal lelah keduanya terus berlatih, hingga dua belas tahun mereka sudah mentempurnakan seluruh ilmu yang mereka pelajari, dan efek dari ilmu yang mereka pelajari, setiap mereka selesai memadu kasih, petemuan mesra itu berakhir dengan pertempuran dahsyat, dan setelah salah seorang terluka oleh golok barulah keduanya berhenti sambil menangis, dan uniknya walapun mereka sudah demikian tua, hubungan sanggama mereka layaknya sepasang kekasih yang lagi dipuncak daya sexual.

Hari itu mereka sedang menjalin asmara di tepi aliran sungai es, jalinan itu demikian berkobar, dan ketika selesai, mereka kembali mengenakan pakaian, kenapa kamu kurang bergairah?” tanya Yang-ma-kui

“sial dangkalan, aku sudah ngos-ngosan masih dibilang kurang, awas kamu, ciat…ciat..” pertempuran pun berlansung dengan sengit, hutan persik laksana dilanda topan hingga porak-poranda, serengah hari mereka bertempur akhirnya sebuah sabetan merobek paha Zhang-kui-lan, dan melihat itu menagislah Yang-ma-kui sambil mengerung seperti anak kehilangan mainan, Zhang-kui-lan pun menangis merintihkan lukanya, lalu keduanya saling berpelukan.

Yang-ma-kui mengobati dan membalut luka kekasihnya, setelah itu mereka kembali berkejar-kejaran disepanjang sungai hingga sampai ke lereng sian-san, keduanya saling melempar bola salju persis seperti dua anak kecil yang sedang bermain, sesampai di lereng keduanya menjatuhkan diri dihamparan salju sambil tertawa-tawa, saat matahari hendak turun keperaduannya, keduanya duduk berpelukan sambil menikmati pemandangan yang luar biasa indah itu.

Kota Guangdong daerah padat penduduk dengan mata pencaharian rata-rata berdagang, kesibukan kota demikian riuh dan hiruk pikuk, seorang lelaki tua berumur lima puluh delapan tahun dengan jenggot tipis beruban, sementara rambutnya masih lebat dengan dua warma diikat kebelakang meninjolkan wajah yang minyisakan garis ketampanan dimasa mudanya, bajunya yang bersih dan rapi menunjukkan bahwa ia lelaki tua parlente yang tua-tua keladi semakin tua semakin jadi, dengan mengibaskan kipas berwarna hitam dengan gagang warna emas ia memasuki likoan, dipinggangnya terselip sebuah suling perak warna putih berukir naga.

Lelaki pamogaran itu adalah Tan-lou-pang seorang jawara tidak terkalahkan di kota Guandong dan sekitarnya, Tan-lou-pang bertempat di”Heng-sing-kok” (lembah awan berarak) di sebelah utara kota Guangdong, semua orang kenal dengannya karena kegarangannya yang tidak kenal ampun.

Dulu lima belas tahun yang silam, suhengnya Ma-tin-bouw membubarkan kelompok mereka dan mereka berjanji akan membalas Im-yang-sin-taihap, diantara mereka berdelapan Tan-lou-pang yang paling muda, setelah mereka berpencar dikota Bao, Tan- lou-pang menuju wilayah timur dan memasuki wilayah selatan. Selama empat bulan perjalanan, Tan-lou-pang sampai dikota Jangxi, ditengah kerumunan orang seorang lelaki tua terkapar karena kelaparan, orang lalu lalang tidak mengacuhkan lelaki tua itu, Tan-lou-pang mendekatinya

“orangtua apakah kamu kelaparan?”

“benar, sudah tiga hari saya tidak makan, tolonglah saya.”

“kamu darimana? tampaknya kamu bukan orang sini, karena tidak ada pun orang yang lalu lalang ini memperhatikanmu.” ujar Tan-lou-pang, lelaki tua itu terdiam dengan wajah meringis

“baiklah orang tua, mari saya traktir makan bubur ayam dikedai itu.” ujar Tan-lou-pang sambil memapah orang tua itu kedalam kedai

“pelayan cepat sediakan bubur ayam dan seguci arak.”

“baik tuan, silahkan duduk.” sahut pelayan, tidak lama kemudian bubur ayam pun datang, dengan lahap orang tua itu menghabiskan semangkok bubur ayam.”

“terimakasih saudara muda, kamu telah menyelamatkan saya.”

“tidak apa orang tua, jadi kamu darimana sebenarnya?” tanya Tan-lou-pang sambil meminum arak.

“saya dari Hanzhong hendak ke kota Fujian.”

“perjalananmu jauh juga orangtua, dengan sendirian berjalan dengan umurmu yang lanjut tentu sulit dan berbahaya.”

“ketika berangkat dari Han-zhong saya bersama rombongan piauwkiok, namun ditengah jalan kami dirampok dan seluruh piauwsu tewas dibantai perampok, dan barang milikku dirampas.”

“bagaimana kamu bisa selama dari kebrutalan perampok itu?”

“sewaktu mereka sedang berkelahi aku menyapukan darah yang bersimbah dari para piauwsu, dan berpura-pura mati, dan mereka mengira aku juga sudah tewas.”

“lalu kenapa kamu tidak kembali ke Hanzhong tapi malah melanjutkan perjalanan?”

“di Han-zhong aku tidak punya siapa-siapa, dan kekayanku habis dirampok, karena harapanku satu-satunya adalah cucuku yang berada di Fujian.”

“jadi perjalananmu itu berniat untuk pindah.”

“benar saudara muda, tapi ternyata beginilah yang saya hadapi dan jalani.” “apakah cucumu itu tahu bahwa engakau hendak pindah ke Fujian?” “tidak, dia tidak tahu, andainya dari awal aku memberi tahu, tentu dia akan mengirim orang menjemputku.”

“keluhan banyak orang tua, kalau memang nasib lagi apes, mau diapain juga tetap apes, tapi hari kamu beruntung karena saya menolong dan mentraktirmu makan.”

“benar saudara muda, dan saya ucapkan terimakasih.”

“sudahlah tidak perlu basa-basi, saya juga sedang dalam perjalanan.” “hendak kemanakah kamu saudara muda?”

“saya tidak punya tujuan, saya berkelana untuk belajar ilmu silat, beberapa perguruan sudah saya datangi, namun semuanya masih kalah dengan ilmu saya.”

“oo, begitu, dulu ketika saya baru menikah, mertua saya pernah bercerita tentang sebuah pulau yang disebut pulau naga, banyak orang sakti yang mencarinya untuk menambah ilmu.”

“dimanakah tempat itu orangtua?”

“persisnya saya tidak tahu, kata mertuaku disebuah selat diseputar laut.” “laut mana dan dikota mana daerah pantainya?.”

“aku juga tidak tahu, karena aku tidak begitu tertarik, aku tidak mau mendengar lagi.” “sudahlah orangtua, terus apa sekarang rencanamu?”

“aku tidak tahu, aku tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali mengemis?” “hmh… kalau begitu aku permisi dulu, orangtua.”

“baiklah dan terimakasih.” sahut lelaki tua itu, Tan-lou-pang meninggalkan kota Jangxi.

Sebulan kemudian Tan-lou-pang sampai disebuah hutan di pinggir kota Haizaang, dua orang gadis petani menapaki jalan hendak pulang ke arah kota Haizaang, mereka terkejut ketika melihat Tan-lou-pang, duduk dipinggir jalan, keduanya terdiam dan cemas ketakutan.

“kalian kenapa berdiri disitu?” tanya Tan-lou-pang, kedua gadis itu tanpa menjawab berlari mellewati Tan-lou-pang, Tan-lou-pang senyum sinis

“ketika kedua gadis itu sampai ditikungan jalan, Tan-lou-pang sudah berada didepan mereka, mereka terpaku dengan wajah pucat.

“hehehe..hahaha…. gadis petani tentu sangat lugu, dan mungkin rasanya laksana madu.” ujar Tan-lou-pang sambil pringas-pringis, mendengar kata-kata itu, kedua gadis itu berlari kebelakang, namun baru tiga tindak, Tan-lou-pang sudah melompat dan mendarat didepan keduanya. “aouww…aouwww, toloooong…” teriak keduanya dengan gelisah dan ketakutan.

“diam kalian! kalau tidak aku akan membunuh kalian, mau saya bunuh!?” bentak Tan-lou- pang, kedua gadis itu menggigil sambil berpelukan.

“tuan..jangan aniaya kami, kami hanya anak petani yang lemah.” ujar seorang dari mereka dengan nada bergetar ketakutan.

“hehehe..hehehe…. kalau tidak mau dianiaya, harus turut perintahku!” “tuan.. kami akan menurut, tapi jangan hina dan membunuh kami.”

“heheh..hehhe… aku tidak akan menghina kalian tapi sebaliknya akan mencintai kalian dan lamunan kemearaan.”

“tuan…kasihanilah kami…” ujar keduanya sambil berlutut memohon

“sial..kalian ini mau dikasih enak malah menolak.” bentak Tan-lou-pang sambil mencengkram kedua bahu gadis itu dan menotok keduanya hingga kaku, keduanya dipondong ketengah hutan.

Tan-lou-pang menuntaskan nafsu syetanya pada tubuh kedua gadis itu, sejak sore sampai pada keesokan harinya, Tan-lou-pang mempermainkan kedua gadis itu, keduanya sudah lemah, dan kerongkongan mereka kering tak sanggup lagi berteriak kecuali gerengan tersumbat dikerongkongan, kedua gadis itu pingsan direrumputan, dibiarkan Tan-lou-pang yang sudah meninggalkan keduanya dengan tubuh telanjang, ketika keluar dari hutan, serombongan orang berjalan terburu-buru

“saudara apa kamu melihat dua anak gadis lewat jalan ini?”

“tidak ada, saya tidak melihatnya.” sahut Tan-lou-pang sambil lalu.” “heh..tunggu dulu, sepertinya kamu bukan orang sini.” Tegur yang lain “lalu maksudmu apa?” tantang Tan-lou-pang

“mungkin kamu yang telah mencelakai kedua gadis putri paman ini.” “kalau mau selamat jangan berurusan dengan saya.”

“mari kita ringkus orang asing ini!” teriak mereka serempak, lalu tujuh orang itu mengurung Tan-lou-pang, namun dengan empat kali gebrakan tujuh orang itu terpelanting dihajar Tan-lou-pang, setelah tujuh orang itu tidak dapat bangkit karena luka dan patah tulang, Tan-lou-pang meninggalkan mereka sambil tertawa jumawa.

Ditepi sebuah jurang seratus tombak dari pintu gerbang kota Haizaang, Tan-lou-pang melihat seorang lelaki tua dengan sebuah keranjang sedang mencongkel-congkel batu,

Tan-lou-pang mendekati lelaki tua itu

“orang tua kamu sedang melakukan apa?” tanya Tan-lou-pang, lelaki tua itu menoleh. “aku sedang mencari kelabang hitam.” “untuk apa mencari kelabang hitam?” “untuk diramu jadi obat.”

“apakah kamu seorang tabib?”

“benar…aku seorang tabib, dan kamu kenapa kesini?”

“aku hanya sedang lewat dan tertarik dengan apa yang kamu yang sedang mencongkel- congkel batu.”

“maukah kamu membantu aku mencari kelabang hitam?”

“ah..aku masih harus melanjutkan perjalanan, teruskan saja usahamu mencari kelabang hitam itu, aku mau pergi.” sahut Tan-lou-pang.

“sudah kalau begitu.” ujar tabib itu sambil melangkah menuruni jalan curam dan terus measuk ke dalam hutan dibawah, Tan-lou-pang menurun jalan yang dilalui sitabib, entah apa yang ada dipikiran bekas rampok ini.

Tabib itu memasuki pondok miliknya, yang berada ditengah hutan, ketika ia hendak keluar lagi, Tan-lou-pang sudah berada dihalaman pondok.

“ada apa sicu, kenapa kamu mengikuti saya.” “saya mau menanyakan hal pengobatan padamu.”

“sudahlah sicu, kamu pergilah jangan ganggu aku, aku mau pergi mencari obat-obatan.”

“orang tua jangan macam-macam denganku, aku dengan mudah dapat membunuhmu.” ancam Tan-lou-pang, tabib itu terkejut.”

“apakah kamu tidak punya aturan seenaknya mengancam orang!?” sahut tabib itu dengan nada marah.

“kamu kira aku hanya bicara kosong pak tua.” ujar Tan-lou-pang sambil menyerang si tabib, sitabib tanpa mampu mengelak terpukul dadanya dan terlempar dan melabrak pintu rumahnya hingga hancur, tubuhnya tergeletak dilantai pondoknya dengan darah meleleh dari mulutnya karena luka dalam, nafasnya tersengal-sengal, Tan-lou-pang masuk kedalam pondok dan menendang tubuh renta itu hingga menjebol dinding, dan tubuhnya ambruk kebelakang pondok dengan nyawa putus.

Tan-lou-pang mengobrak-abrik peralatan si tabib, dan dibawah dipan tempat tidur Tan- lou-pang menemukan sebuah peti berukir indah, lalu ia membukanya dan didalam peti Tan-lou-pang mengambil kitab berisi pengobatan, banyak cara-cara pengobatan dan jenis ramuan yang tercatat didalamnya, demikian juga gambar titik akupuntur manusia, dan pada halaman tengah kitab tebal itu, Tan-lou-pang membaca tentang pulau naga yang tempat tumbuhnya akar yang disebut herbal naga, dan tempat pulau itu ternyata berada di shanghai.

Tan-lou-pang membawa kitab itu dan meninggalkan pondok yang sudah ditinggal tewas penghuninya, dengan semangat bernyala-nyala Tan-lou-pang berlari memasuki kota Haizaang, selama dua hari ia berada dikota Haizaang, dan kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju kota shanghai, sepanjang perjalanan Tan-lou-pang asyik mempelajari buku catatan sitabib, dan dua bulan kemudian ia sampai di kota Shanghai.

Kota shanghai adalah kota padat yang dihuni oleh bangsa Han sebegai pribumi, ada juga bangsa jepang, korea dan orang asing barambut perak, hari datangnya Tan-luo-pang, para bukoan dalam kota shanghai sedang melakukan pibu tiga tahunan, pibu itu selalu menarik hati warga untuk menonton, sehingga warga banyak tumpah ditengah alu-alun kota.

“Tan-lou-pang terseret arus warga yang menuju alun-alun kota, sepanjang perjalanan peserta pibu menampilkan permainan baronsai menuju alun-alun kota, sesampai dialun- alun kota bendera perguruan di pajang di pinggir panggung, dari jumlah bendera yang terpajang ada enam belas perguruan yang mengikuti pibu.

“menurut perkiraan saya, pemenangnya tetap perguruan”Tiat-ciang” (tangan besi) sebagaaimana tiga tahun lalu.” Ujar seorang lelaki pada rekannya

“belum tentu, karena saya dengar perguruan pek-lek-twi” (tendangan halilintar) semakin diminati karena kejadian dua tahun lalu, dimana seorang penantang asing mendatangi lima bukoan, dan penantang itu mengaku kalah saat melawan pek-lek-twi.”

“sudahlah, kita saksikan saja, tuh acara akan dimulai.” sela rekannya yang lain, semuanya menatap keatas panggung, Kao-tao sebagai pimpinan polisi kota menjadi pembawa acara, dengan senyum rama ia melangkah ketengah panggung

“selamat kepada para sicu sekalian yang telah ikut hadir pada perayaan tiga tahunan, sebagaimana kita ketahui, bahwa kontes ini salah satu ajang mempererat hubungan antar perguruan, baiklah kita sambut Kungcu kita untuk memberi sambutan sekaligus membuka pibu antar perguruan.” ujar Kao-tao lantang dan penuh semangat, tepuk sorai pun bergema menyambut Liu-kungcu yang melangkah ketengah panggung.

“para warga shanghai, saya ucapkan terimakasih atas rasa antusias dalam merayakan kegiatan ini dengan aman, tertib dan terkendali, peserta pibu tahun ini sebanyak enam belas perguruan, dan tentunya berusaha untuk meraih kemenangan, namun satu hal yang penting bahwa semua peserta tidak mendahulukan kemenangan dan melupakan etika dan wibawa moral, karena inti dari pibu ini adalah mempererat hubungan antar perguruan, jadi tidak ada satupun dari peserta yang patut untuk dicurangi dan tidak ada satupun hak dari peserta untuk berbuat curang.”

“hidup…Liu-kungcu….benar…Liu-kungcu..” gemuruh suara menyambut sambutan dari Liu-kungcu.

“baik, mari kita mulai kontes ini dan terimakasih.” ujar Liu-kungcu dan kembali ketempat duduknya. Kao-tao pun kembali ketengah panggung

“baiklah para sicu sekalian, sekedar mengingatkan peraturan pibu akan saya sampaikan, yang pertama masing-masing perguruan hanya diwakili satu peserta, dan tidak boleh ada pergantian peserta setelah mendaftarkan diri, kemudian peserta yang jatuh sampai tiga kali diatas panggung dinyatakan kalah, dan jika jatuh kebawah panggung walaupun sekali juga dinyatakan kalah, dan terakhir bagi setiap peserta tidak diperbolehkan menyerang bagian bawah perut.”

Gemuruh tepuk tangan pun terdengar mendukung peraturan yang disampaikan.

“baik, kita mulai kontes ini dan kepada dewan juri kami serahkan memimpin pibu ini.” ujar Kao-tao dan kembali duduk, sorak sorai dan tepuk tangan dari para penonton mengawali pemangilan para peserta pertama oleh dewan juri.

Pibu pun berlangsung dengan seru dan menegangkan, para peserta dengan semangat mengerahkan segala kemampuan dalam menjalani pibu, akhirnya setelah masing-masing peserta melakukan pibu, maka didapati delapan peserta untuk ikut pada tahapan berikutnya, persaingan pada tahap ini semakin seru dan menegangkan, dan akhirnya tahapan ini pun selesai, dan peserta tinggal empat peserta yakni, Lauw-leng dari Peng- jiauw-bukoan (perguruan cakara garuda), Bao-yu-ping dari pek-lek-twi” (tendangan halilintar), Song-bun dari Tiat-ciang” (tangan besi) dan Coa-gin-ma dari”coa-ciang” (telapak ular).

Pada pertandingan pertama Bao-yu-ping bertemu dengan Song-bun, kedua peserta ini bertarung hebat, Bao-yu-ping mengerahkan ilmu tendangan yang beruntun, namun dengan tangan besi dari Song-bun menghalau berbagai trik tendangan, pertarungan yang indah dan mendebarkan, kedua muda itu saling serang, pergerakan tangan dan kaki dari masing-masing petarung menyuguhkan gaya silat yang memukau penonton.

Gerakan tendangan Bao-yu-ping sangat cekatan dan kokoh, beradunya kaki dan tangan yang sama diisi sin-kang, faktanya tangan tidak sekokoh kaki, akhirnya sebuah tendangan telak menghantam dada song-bun dan dia terlempar ke bawah panggung, dan dinyatakan kalah.

Lalu pada pertempuran antara Lauw-leng dan Coa-gin-ma juga tidak kalah seru dan mendebarkan, cakar garuda dan telapak ular saling beradu, Lauw-leng yang mangambil sikap serangan garuda lebih dominan bermain diatas, saling tangkis dan pukul dua petarung itu memainkan kembang silat yang amat indah, tak obahnya perteempran guruda dan ular, liukan tangan dan patokan tangan Coa-ma-gin demikian luwes, sementara hentakan, kibasan dan cakaran Lauw-leng demikian gesit dan kokoh.

Pada pertandingan ini dimenangkan oleh Lauw-leng, setelah itu Bao-yu-ping dan Lauw- leng berhadapan untuk menentukan kemenangan, pertarungan final ini sangat mencekam hati penonton, dua jawara perguruan dengan kembang gerakan yang jitu dan kuat saling mengerahkan segenap kemampuan, pertepuran berlangsung alot dan mendebarkan, pertempuran penentu ini berlansung lama, hingga menjelang sore keadaan di atas panggung masih mencekam oleh gerak dua petarung yang berusaha saling merubuhkan.

Akhirnya Lauw-leng harus terhempas saat tendangan Bao-yu-ping menghantam lambungnya, saat dia bangkit dan siap bertarung dengan tidak terduga, serangan tendangan berantai membuat dia undur dan hampir ketepi pangung, ia berusaha untuk tidak jatuh, namun serangan susulan dengan sebuah pukulan kilat menghantam dadanya, hingga ia hilang keseimbangan dan jatuh kebawah.

Pibu itu dimenangkan oleh Bao-yu-ping, perguruan tendangan halilintar bersorak gembira menyambut duta mereka pada pibu itu, dan sebuah patung budha yang terbuat dari giok berwarna putih diserahkan Liu-kungcu pada Bao-yu-ping, warga kembali ketempat masing-masing, Tan-lou-pang mencari penginapan untuk bermalam.

Keesokan harinya Tan-lou-pang menuju pantai, seorang lelaki tua sedang sibuk memperbaiki jala dibawah balai-balai

“lopek…sebelah manakah pulau naga?”

“pulau naga!? saya tidak pernah dengar nama itu.” “apakah lopek bukan dari asli penduduk tempat ini?”

“bukan…saya dari Haizaang, tapi nelayan itu yang sedang menjaring ikan penduduk asli sini.” sahut lelaki tua itu sambil menunjuk dua orang yang sedang menarik jala.

“kapan dia akan naik kepanta?”

“nanti sore, dia turun sejak dinihari.” Sahut lelaki tua itu “selain dia apa ada lagi penduduk tempatan?”

“masih, dibelakang hutan bakau itu ada setumpuk rumah nelayan, rumah anak beranak itu pun disana.”

“baiklah lopek, saya aka kesana.” ujar Tan-lou-pang sambil melangkah ke arah hutan bakau yang ditunjuk nelayan.

Sebuah kedai dan beberapa orang sedang minum arak dan makan bubur, Tan-lou-pang memasuki kedai

“mau minum apa tuan?” tanya pemilik kedai “minuman apa saja yang ada?”

“arak ada, teh panas ada, kopi ada dan juga minuman herbal ginseng ada.”

“sediakan sepoci arak.” ujar Tan-lou-pang, pemilik kedai segera menghidangkan arak. “lopek, kamu asli orang sini kah?”

“benar tuan, kenapa tuan bertanya?”

“saya hendak ke pulau naga, apakah lopek tahu pulau naga.” “wah pulau itu jauh ditengah lautan tuan, dan juga selatnya sangat dalam yang dipenuhi ikan-ikan pembunuh.”

“hmh…tapi tahukah lopek arah tempatnya?”

“arahnya, tuan naik perahu dari sini sampai kesebuah karang budha.” “karang budha, apa karang itu seperti budha?”

“benar tuan, dan dari karang itu, tuan mengarah kekanan sehingga sampai pada sebuah muara sungai, dari muara sungai kearah kanan sampai pada sebuah selat, tuan masuki selat tersebut, nah diujung selat itulah pulau naga.”

“apakah ada orang yang pergi kesana?”

“dulu banyak orang yang mencoba kesana, namun hampir semuanya mati dimakan ikan ganas didalam selat.”

“baik dan terimakasih atas informasinya, dan araknya satu guci.” ujar Tan-lou-pang sambil mengansurkan dua tahil tembaga, Tan-lou-pang meninggalkan perkampungan dan kembali ketempat sinelayan yang sedang memperbaiki jala.

Tan-lou-pang mengitari kampung nelayan tersebut, dia mengintai rumah-rumah yang dilewatinya, dan ketika melewati sebuah rumah, wajahnya tersenyum karena ia melihat dua ekor biri-biri, dengan cekatan dua ekor biri-biri itu dilempar dengan batu, dan tepat mengenai kepala, dua ekor biri-biri itu tergeletak mati dengan tengkorak kepala pecah.

Tan-lou-pang segera mengambil dua ekor biri-biri dan cepat keluar dari kampung,

“lopek, saya beli perahumu dan ini uangnya.” ujar Tan-lou-pang sambil memberikan dua tahil perak, lalu melangkah kesebuah perahu, bankai dua ekor biri-biri di letakkannya.

“tuan saya tidak menjual perahu.”

“aku tidak peduli, saya butuh perahu, dan anda masih untung, karena saya mau bayar.” “tapi tuan..!?”

tidak ada tapi-tapi…kamu mau mampus!?” ancam Tan-lou-pang, nelayan itu pucat pias, sikap urakan pendatang ini sangat mengejutkannya, dalam hati ia merasa kesal.

Tan-lou-pang tanpa menggubris lagi si nelayan mendayung perahu milik sinelayan, dan dengan dua kali dayung perahu meluncur cepat ketengah laut, sinelayan terbelalalak melihat laju perahunya yang didayung pendatang kurangajar itu, dengan hati berdebar sinelayan kembali kerumahnya, takut dan kecewa akan sikap si pendatang, jika dibayar empat tahil perak masih impas, tapi hanya dua tahil perak, jelas ia rugi dan akan kehilangan alat mata pencaharian.

Setelah empat hari Tan-lou-pang mendayaung dengan kecepatan luar biasa barulah ia melihat karang budha, dari karang budha ia mengarah kekanan, dan dua hari kemudian ia sampai pada muara sungai, dan dari muara ia mengarah kekanan dan menelusuri pinggiran hutan bakau, selama satu hari ia menelusuri pinggiran bakau, sampailah pada sebuah selat.

Baru setengah hari ia memasuki selat, perahunya tiba-tiba bergoyang, dengan gigih ia berusaha mempertahankan keseimbangan perahu, perahunya terpaksa berhenti dipermainkan ombak, selama dua jam ia berkutat mempertahankan keseimbangan perahu, dan ia berhasil, karena saat laut tenang perahunya tidak terbalik atau karam, namun Tan-lou-pang belum bisa bernafas lega, karena serombongan ikan hiu datang mendekatinya.

Ada delapan ekor hiu yang mengelilingi perahunya, siripnya yang tajam muncul dipermukaan seakan siap untuk menunggu dan memangsa korbannya diatas perahu, Tan-lou-pang dengan sikap waspada di dan berkat keuletannya perahunya masih dapat dipertahankannya.namun ombak diselat itu amat besar.

“dua ekor biri-biri yang dibawanya sudah membusuk, lalu Tan-lou-pang melemparkan bangkai biri-biri ketengah laut, dan suara benda jatuh kepermukaan laut mengundang perhatian hiu, delapan ekor hiu itu berenang kearah dua ekor bangkai dan menjauhi perahu Tan-lou-pang, melihat hiu dapat dialihkan, Tan-lou-pang dengan tenaga sin-kang mendayung perahunya, perahu pun melaju melejit melintas permukaan laut.

Didepannya sudah nampak daratan memanjang dan bentuknya persisis seperi naga, Tan- lou-pang semakin mengerahkan seluruh tenaga untuk mendayung, tiba-tiba dari dalam laut ikan terbang muncul menyerang Tan-lou-pang, secuil daging dipunggungnya disantap ikan tersebut, luka bekas gigitan terasa perih, Tan-lou-pang tetap mendayung, beberapa ikan laksana anak panah melintasi tubuhnya yang melajut diatas perahu.

Sesampai di pantai, tubuh Tan-lou-pang sudah bersimbah darah, karena luka bekas gigitan ikan terbang, dan untungnya Tan-lou-pang masih selamat tiba dipantai, keadaan Tan-lou-pang lemah, ia merebahkan diri untuk memulihkan diri, semalaman Tan-lou-pang tidak bangkit, dan baru keesokan harinya ia merangkak memasuki hutan, dengan langkah gontai Tan-lou-pang berjalan sambil berpegangan pada pepohonan, disamping rasa nyeri, ia juga merasa lapar.

Tan-lou-pang mencabut dan memakan beberapa ginseng yang banyak tumbuh didalam hutan, tubuhnya merasa panas, dia menggelepar seperti ayam disembelih, dan disaat itu seekor ular warna kuning mematuk kakinya karena terkejut, tiba-tiba tubuh Tan-lou-pang diam dan kaku tidak sadarkan diri, selama dua hari ia pingsan dan saat sadarkan diri ia merasa tubuhnya tidak merasakan nyeri dan namun lemas karena rasa lapar.

Luka ditubuh Tan-lou-pang sembuh tidak berbekas, ia bersandar disebuah pohon, rasa laparnya luarbiasa, dan ketika seekor tikus lewat, dengan sisa tenaga yang ada, ia melempar dengan pedangnya, namun luput, Tan-lou-pang merangkak mengambil pedangnya, dan dibalik semak ia mendapatkan telur ular, dengan lahap ia memakan telur- telur itu, dengan terisinya perut yang kelaparan, maka ia kembali bertenaga.

Dengan tenaga yang masih lemah, Tan-lou-pang melangkah lebih dalam memasuki hutan, ketika ia melihat seekor kera, ia melemparnya dengan pedang, kera itu jatuh, lalu dengan rakus ia mamakan daging kera itu mentah-mentah, setelah daging mentah itu tandas, ia merasakan kekuatannya pulih, sehingga ia sudah bisa melangkah cepat dan berlari, selama sebulan ia merambah hutan ia tidak mendapatkan satu tanda pun hal yang ia harapkan sebagaimana cerita si pengemis tua, timbul rasa sesal telah membuang tenaga dan waktu mendatangi tempat berbahaya ini.

Saat menyesali diri, tiba-tiba hujan lebat turun berbareng dengan sambaran kilat dan gemuruh petir, Tan-lou-pang diam bersandar membiarkan dirinya diguyur hujan, ia memejamkan mata dan mengosongkan pikiran, hatinya sudah lemah dan pasrah, lalu tiga kali ledakan terdengar disusul tumbangnya pepohonan, Tan-lou-pang membuka mata dan duduk, tiga pohon disamping kanannya tumbang disambar petir, kemudian ia kembali rebah dan memjamkan mata, suara-suara keras dan derunya hujan ia abaikan.

Hujanpun reda setelah pagi harinya, Tan-lou-pang bengkit dan merasa heran melihat pada beberapa pohon yang tumbang, menyebabkan longsor dan dibawah bekaas longsoran ia melihat mulut goa, dengan rasa penasaran Tan-lou-pang menuruni tempat longsoran dan memasuki mulut goa.

Goa yang memiliki lorong yang panjang dan berliku, Tan-lou-pang terus menyusuri lorong dan sepertinya liku-liku lorong selalu menurun, selama dua hari Tan-lou-pang baru sampai kesebuah bagian bawah tanah itu yang dimasuki cahaya, dan ketika diperhatikan berupa mulut goa juga disebuah dinding tebing, dibawah tebing ada ada aliran sungai yang jernih.

Tanpa pikir panjang Tan-lou-pang melompat kebawah

“byuarrr…” tubuhnya masuk kedalam air, rasa segar menerpa tubuhnya yang gerah kotor dan kumal karena selama dua hari menerobos lorong, setelah membersihkan diri dengan tubuh lemah ia keluar dari air, ditepi sungai itu banyak sekali pepohonan yang memiliki buah, dengan sebatang kayu Tan-lou-pang menjolok buah hingga jatuh dan kemudian memakannya dengan lahap.

Hutan itu banyak sekali buah dengan aneka warna, semerbak aromanya juga sangat segar, selam tiga hari Tan-lou-pang menjelajahi hutan penuh buah itu, dan akhirnya ia menemukan sebuah bangunan kuno dan dipennya ada patung naga, Tan-lou-pang memasuki bangunan tersebut, dan didalam hanya ada altar dan diatasnya ada peti berukir naga, bagian-bagian dalam rumah itu sudah hancur berantakan dan perabotannya juga sudah kosong.

Tan-lou-pang membuka isi peti dan didalamnya ada gulungan kertas, Tan-lou-pang membuka gulungan dan membaca tulisan didalamnya

‘hidup berdua dipulau naga mengayom kasih dan rasa cinta namun kenapa kami tidak bahagia coba tanyakan pada para dewa akhir hayat mencari jawabannya dewa naga pun mati binasa

dewi bunga menghabisi nyawa meninggalkan hidup yang terasa hampa dibawah patung naga tersimpan rahasia’ Setelah selesai membaca, Tan-lou-pang keluar dan memperhatikan patung naga di depan bangunan, ia memasang kuda-kuda, dengan mengerahkan seluruh tenaga sin- kang, laku ia pun mendorong kearah ubin tempat berdirinya patung

“dhuarr..” ubin itu hancur dan patung naga itu tumbang, dibawah ubin ada loba empat persegi sepanjang lengan orang dewasa, Tan-lou-pang mengeluarkan tiga benda dari dalam lobang tesebut, yakni dua buah kitab tebal, sebuah seruling perak berukir naga dan sebuah kipas hitam dengan gagang perak.

Disampul depan kitab tertulis” Sin-liong-siauw-sian” (Dewa suling naga sakti) dan”Sin- bian-bi-sianli” (Dewi cantik kipas sakti), dengan suka cita Tan-lou-pang mulai mempelajari isi kedua kitab, dengan semangat yang menggebu ia melalap setiap bab teori ilmu silat yang ada didalamnya, latihan sin-kang dan gin-kang yang termuat didalamnya tanpa kenal lelah dilatihnya.

Dan tidak terasa dua belas tahun sudah ia tinggal didalam bangunan kuno, dua kitab sudah ia kuasai, ilmu silatnya amat dahsyat dan luar biasa, Tan-lou-pang meninggalkan hutan menuju pantai bagian belakang pulau dari arah dia datang dua belas tahun yang lalu, dengan dua bilah papan yang diikatkan di bawah kakinya, Tan-lou-pang menjejak permukaan laut dan berlari cepat dan melompati ombak, larinya sungguh luar biasa cepat, jika Tan-lou-pang merasa lelah dia duduk istirahat sambil makan buah yang sudah dipersiapkannya, karena giin-kang dan sin-kangnya yang sudah amat tinggi dan sempurna, ia laksana duduk dipermukaan tanah, setelah keadaannya pulih kembali ia melanjutkan perjalanannya yang unik dan menakjubkan itu.

Tiga hari kemudian ia sampai kedaratan besar, dengan rasa lega Tan-lou-pang memasuki hutan, setelah seminggu menjelajahi hutan, Tan-lou-pang sampai pada sebuah lembah yang indah dan sangat terang, sebuah bagunan megah berdiri ditengah lembah.

Seorang perempuan cantik berumur tiga puluh tahun sedang duduk menikmati indahnya taman.

“hai nyonya cantik..” sapa Tan-lou-pang, wanita itu terkejut dan spontan berdiri dan mundur

“si…siapa kamu!?” tanya nya terbata-bata “heheh..alangkah cantik dan anggunya engkau nyonya.” “apa maumu, pergilah jangan ganggu aku.”

“tidak bisa nyonya, aku suka dengan wajahmu yang lembut dan anggun itu.” “tidak…tolong jangan ganggu saya, kalau mau harta akan saya berikan.”

“saya tidak akan mengganggu nyonya, bahkan saya akan mendampingi nyonya.” “tidak bisa, aku sudah punya suami.”

“hehehe..hehehe, kalau sudah ada aku, maka nyonya tidak akan memiliki suami lagi.” “tolong..tolong…. ada penyusup..!” teriak perempaun itu. empat orang laki-laki muncul, namun sekali gebrak, empat orang itu langsung tewas dengan tubuh kaku, makin gelisah dan takut perempuan cantik itu.

“nyonya, demi keselamatanmu kamu harus menerimaku hidup disampingmu, marilah kita masuk kedalam, dan bicarakan dengan hati tenang.” ujar Tan-lou-pang, dan entah kapan bergeraknya, perempuan itu telah digendongnya mesra, dan masuk kedalam rumah.

Empat orang pelayan perempuan terkejut dan muka pucat melihat majikan mereka digendong orang asing,

“kalian sediakan makanan, saya dan nyonya kalian hendak makan.” perintah Tan-lou- pang, empat pelayan itu tidak berani membantah, dan segera menyediakan makanan dan menghidangkannya.

“hahaha..hahha, sungguh lezat sayang, makan siang kita hari ini.” ujar Tan-lou-pang, perempuan itu dengan rasa takut menemani Tan-lou-pang makan makin menunduk.

“janganlah merasa takut, aku akan melindungimu dan mencintaimu sepenuhnya, percayalah.” bujuk Tan-lou-pang

“benarkah engkau akan mencintaiku dan melindungiku?” “benar..percayalah kata-kataku, dan siapakah namamu istriku yang cantik.”

“namaku tang-bian-bi, dan kita belum menikah, kenapa menyebutku istrimu?”

“hahaha…heheh… sebentar lagi kamu akan kunikahi, suamimu ini bernama Tan-lou- pang, kamu akan merasa aman dan nyaman berada disampingku.”

“Tuan Tan, aku ini selir bangsawan Ceng-yuan dari kerajaan Qin, dan suamiku besok malam akan datang kesini.”

“hahaha..hahha biarkan ia datang, dan ia akan menyerahkan kamu padaku.” sahut Tan- lou-pang, sikap tan-lou-pang itu dilatar belakangi oleh pengaruh suasana lingkungan dimana ia belajar, bayang masa lalu kedua suhunya yang saling mencinta lewat kedua ilmu dan taman hutan buah mempengaruhi jiwanya, sehingga melahirkan sikap romatisme dalam hatinya dan takpelak manusia pertama yang ia jumpai adalah Tang- bian-bi, maka membuncahlah rasa cinta dan romantis pada Tang-bian-bi.

Malam harinya, Tang-bian-bi terpaksa melayani Tan-lou-pang, curahan cinta lelaki berumur hampir enam puluh tahun itu sangat menggugah perasaan Tang-bian-bi, remasan dan rabaan lembut pada tubuhnya tak dapat tidak membuat Tang-bian-bi ikut terlelap dalam permainan cinta yang menggebu, boleh dikatakan rasa yang tadinya terpaksa berubah menjadi kerelaan penuh dan rasa suka menerima segala curahan cinta dari Tan-lou-pang.

Keesokan harinya dengan senyum dikulum Tang-bian-bi meninggalkan Tan-lou-pang diranjang dan pergi mandi, setelah berganti baju dan berdandan dengan cantik, ia mendekati ranjang dan membangunkan Tan-lou-pang “Tan-koko..bangunlah, pergilah mandi!” rabaan lembut dan suara bernada manja itu membangunkan Tan-lou-pang, ia membuka matanya dengan senyum bahagia,

“sudah pagi rupanya, duh cantik nian wajahmu istriku.”

“sudah…pergilah mandi.” sahut Tang-bian-bi dengan wajah merona merah.

Tan-lou-pang pun segera turun dari ranjang dan pergi mandi, bangunan besar itu hanya ada empat pelayan wanita dan empat pengawal laki-laki yang sudah tewas, Tang-bian-bi sedang berliburan dari kota raja kerumah pribadi yang merupakan hadiah dari suaminya, tempat itu bernama”Heng-sing-kok” mereka suda satu minggu di tempat itu, hari ia bertemu dengan Tan-lou-pang, suaminya sedang ada kunjungan ke kota Guangdong.

Ketika Ceng-yuan kembali bersama lima puluh orang pengawalnya, dan mendapatkan selirnya bersama lelaki tua sedang duduk ditaman, membuat ia marah besar

“selamat datang ditempat kami tuan.” ujar Tan-lou-pang

“laki-laki tua kurangajar, sejak kapan tempat ini menjadi milikmu!?” “sejak kemarin saat aku datang kesini, apakah kamu Ceng-yuan?”

“benar dan tempat ini adalah miliku, dan apa yang kamu kerjakan disini?”

“heheh..hehehe… sekarang tempat ini adalah milikku, dan aku sedang berbulan madu dengan istriku.”

“siapa istrimu!?” tanya Ceng-yuan heran dan jengkel “ini aadalah istriku, namanya Tang-bian-bi.”

“bangsaat….tangkap pengacau ini!” teriak Ceng-yuan, namun tiba-tiba Tan-lou-pang bergerak luar biasa cepat diatara barisan pengawal, lima puluh orang kontan kaku karena sudah ditotok oleh Tan-lou-pang.

Ceng-yuan terbeliak dan cemas, tidak menyangka orang asing didepannya bergerak seperti siluman

“Ceng-yuan, hatiku lagi bahagia, jadi saran saya tinggalkan tempat ini bersama pengawalmu ini dan jangan lagi pernah bertemu dengan saya.”

“ta..tapi… selirku.” sahut Ceng-yuan terbata-bata dengan wajah pucat “sekali lagi kamu membantah, maka nyawamu melayang.”

“ba..baik.. aku akan meninggalkan kalian.”

“bagus….sekarang pergilah kalian.” ujar Tan-lou-pang dan dalam sekejap lima puluh orang itu dapat bergerak kembali, lalu Cang-yuan dan para pengawalnya meninggalkan heng-sing-kok. Sejak itu penguasa lembah mutlak ditangan Tan-lou-pang, dan selama tiga bulan pertama, Tan-lou-pang menggemparkan Guangdong, seluruh ahli silat di Guandong baik bukoan maupun piauwkiok ditantang pibu, dan tidak ada satupun yang dapat menandinginya, bahkan dalam jangka setahun ahli silat di Guangdong, guangxi dan fujian ditaklukkan, dan seluruh bukoan dan piauwkiok di tiga propinsi itu memberikan upeti pada Tan-lou-pang.

Suatu hari, Tan-lou-pang mengumpulkan seluruh penghuni rumahnya yang terdiri sepuluh murid, enam pembantu perempuan dan empat pembantu laki-laki, disamping kursi kebesarannya duduk dengan anggun istrinya yang cantin Tang-biab-bi

“hari ini aku akan berjalan jauh menuju wilayah timur, dan selama saya tidak ada kalian harus lebih mengutamakan kemanan dan kenyamanan istri saya, mengerti kalian!?”

“mengerti suhu, saya dan adik-adik akan melakukannya sekuat daya.” sahut Coa-lui, murid tertua Tan-lou-pang.

“bagus…saya senang, jadi baik-baiklah selama saya pergi.”

Tan-lou-pang pun meninggalkan heng-sing-kok dan sore harinya ia sudah berada di sebuah likoan.

“Tan-wangwe, silahkan! apa yang hendak dipesan!?” sambut pemilik likoan dengan ramah

“sediakan panggang bebek dan sup kaki ayam, oh ya suguci arak jangan lupa.”

“baik, segera akan kami hidangkan.” sahut pemilik likoan, kemudian tidak berapa lama pesanan pun dihidangkan, Tan-lou-pang makan dengan nikmat, seluruh tamu yang ada diruang makan semuanya menunduk takluk pada tokoh kaliber tinggi ini.

Kota Kunleng, tepatnya di rumah she-taihap, sedang sibuk mempersiapkan sebuah pesta, seluruh bagian rumah dihias kertas warna warni, dua hari lagi pesta pernikahan akan diadakan yakni pesta pernikahan murid tertua Im-yang sin-taihap Yo-seng yang berumur dua puluh empat tahun dan Kwaa-thian-eng putri tertua Im-yang-sin-taihap yang sudah berumur sembilan belas tahun.

Sejak kembalinya Im-yang-sin-taihap dan Ui-hai-liong-siang ke Kun-leng lima belas tahun yang lalu mereka disambut Lauw-bi-hong dan Khu-hong-in kedua istri im-yang-sin-taihap, berita meninggalnya Cia-sian-li membuat dua madunya itu bersedih dan merasa kehilangan, namun juga dengan kehadiran Kao-hong-li dan Can-hang-bi resmi sebagai bagian dari mereka, mereka sambut dengan suka cita.

Dua hari kemudian seluruh keluarga berkumpul diruang tengah, termasuk Ui-hai-liong- siang

“She-taihap, mungkin besok kami akan kembali ke kota Sinyang.” ujar Yo-hun

“baiklah twako dan soso, dan perihal Yo-seng biarkanlah ia bersama saya, saya ingin mewariskan apa yang saya miliki padanya.” “terimakasih she-taihap, jika sudah selesai, lepaslah ia kekota Sinyang.” “baik twako, hal itu akan saya ingat.”

“yo-seng ucapkan terimaksih pada suhumu!” ujar Yo-hun, Yoseng yang berumur delapan tahun sujud tiga kali didepan suhunya.

“suhu terimalah hormat dari tecu.”

“bangkitlah Yo-seng, saya bangga denganmu, dan jagalah kepercayaan orangtuamu.” sahut Kwaa-han-bu.

Sejak itu Yo-seng belajar pada Im-yang-sin-taihap, selama belajar, yo-hun telah menunjukkan tanda-tanda kearifan yang diwariskan dari ayahnya, ia memiliki tulang yang baik dan kecerdasan yang tingii, setelah empat tahun, Yo-seng sudah menguasai ilmu kuda-kuda diajarkan Kwaa-han-bu, disamping ketekunannya yang membuat Kwaa-han-bu senang, Yo-hun juga sangat perhatian dengan kelima adik-adiknya yang merupakan anak-anak suhunya.

Kwaa-han-bu setiap tahun meninggalkan kota kun-leng pergi bersama salah seorang istrinya kewilayah timur ketempat Can-hang-bi, dan pada pada tahun kelima Kwaa-han-bu hendak berkunjung ke Jim-kok, dan kali ini ia membawa Khu-hong-in, ini kali kedua Khu- hong-in berkunjung, dan untuk memperhatikan pelajaran murid dan anak-anaknya digantikan oleh Kwee-kim-in.

Perjalanan suami istri itu dilakukan dengan cepat, dan lima bulan kemudian sampailah mereka di Jim-kok, mereka disambut penuh hangat oleh keluarganya, Can-hangbi yang sudah berumur lima puluh tahun memang sudah sakit-sakitan selama sebulan, namun kedatangan suami tercinta mendatangakan kekuatan yang luarbiasa.

Khu-hong-in dengan telaten menghibur dan menemani madunya ini. “bagaimana kabar cici dan moi-moi serta anak-anak di Kun-leng?”

“kedaan mereka baik-baik saja Can-moi, kamu jangan banyak berpikir, demi kesehatanmu.”

“aku tidak banyak berpikir, namun badan tua ini memang sudah rapuh, keadaanku membuat aku tidak dapat berbuat banyak untuk menjaga kesehatan, kerjaku hanya duduk dan tidur saja, pikiranku amat bahagia Khu-cici.”

“syukurlah kalau begitu Can-moi.” “dimanakah Bu-ko cici?”

“dia sedang dihalaman belakang bersama Peng-ji, nampaknya Bu-ko akan memulai pelajaran padanya.”

“hik..hik…alangkah beruntungnya kita Khu-cici, syukur pada Thian dengan garis nasib yang kita jalani.” “benar disela-sela kehidupan kita yang penuh kekelaman, ternyata kita berakhir dengan secercah kegemilangan hidup yang bertatahkan kebaikan dan cinta Bu-koko.”

“bagimana hari ini keadanmu Can-moi?” tanya Kwaa-han-bu yang tiba-tiba muncul “aku merasakan keadaanku makin lemah Bu-ko, namun hatiku amat bahagia” “hmh.. sabarlah Can-moi, semoga saja keadaanmu semakin membaik.”

“semoga saja Bu-ko, bagaimana dengan Peng-ji, apa saja yang kalian ayah dan anak bicarakan?”

“hahaha…peng-ji sangat antusias untuk belajar ilmu, sehingga tadi ia sangat banyak bertanya tentang ilmu silat dan dunia kangowu.”

“hal itu karena ia disuguhi cerita-cerita tentang ayahnya oleh para pembantu.” “bagaimana Can-moi, bukankah sebaiknya kita makan siang?” sela Khu-hong-in.

“benar Can-moi marilah kita makan.” ujar Kwaa-han-bu sambil memeluk dan menggendong Can-hang-bi menuju ruangan makan.

Sebulan setelah kedatangan Kwaa-han-bu, Can-hang-bi makin lemah, sehingga pada suatu malam,

“bu-ko, rasanya penyakitku ini sudah sangat parah, koko aku rasanya akan menyusul Cia- moi.”

“Can-moi, bertahanlah sayang…”

“koko, panggillah Khu-cici dan Peng-ji!” ujar Can-hang-bi lemah, Kwaa-han-bu memanggil Khu-hong-in dan Kwaa-yun-peng.

“bagaimana Can-moi, apa yang kamu rasakan, apamukah yang sakit?” sapa Khu-hong-in dengan mata berkaca-kaca

“Khu-cici, aku amat bahagia, sakit di punggung dan dadaku tidak membuat aku kesakitan, hanya tubuhku tidak mengikut apa yang hatiku rasakan, Khu-cici sampaikan salamku pada mereka di Kun-leng, dan katakana terimakasihku yang tidak terhingga pada Kwee- moi,” sahut Can-hang-bi dengan nafas tersegal-segal.

“baik akan kusampaikan Can-moi, istirahatlah dan jangan banyak bicara lagi.”

“tidak Khu-cici, aku harus menyampaikan hal yang perlu kusampaikan, Peng-ji, anakku Yun-peng, buah hati kejora mataku dekatlah kesini.” ujar Can-hang-bi, Yun-peng mendekati ibunya

“Kwaa-yun-peng anakku, mungkin ibu sebentar lagi akan pergi menyusul ibumu Cia-sian- li, jangan kamu bersedih anakku, ibumu bukan hanya aku, kamu masih banyak memiliki ibu, ayahmu telah mempersembahkan ibu-ibu yang baik padamu, berlaku hormat dan sayangilah mereka, ingatlah anakku kamu adalah she-taihap yang oleh dunia akui sebagai manusia pilihan dan unggulan sejak ratusan tahun yang lalu, menjaga nama baik leluhur tidaklah mudah anakku, jadi bercerminlah pada ayahmu.” sesaat Can-hang-bi terdiam sambil memejamkan mata dan mengelus wajah anaknya, kemudian ia membuka matanya menoleh dan menatap suaminya tercinta.

“Bu-ko, rasa syukur ku yang tidak terhingga, aku menjadi bagian dari dirimu, aku dapat melahirkan keturunanmu suamiku, mungkin sampai disini aku dapat mengiringi kehidupanmu Bu-ko, dimenjelang ajal ini bu-ko aku masih tetap merasakan hangatnya cintamu, lembutnya perhatianmu, tidak ada yang kurang koko, cukup dan aku puas koko, a..aku..aaa..ku berangkat ko…ko….” tubuh can-hang-bi pun kaku dan nyawanyapun lepas dari badan, isak tangis Khu-hong-in pun terdengar, dia memeluk tubuh madunya, diciumi muka penuh parut itu dengan sepenuh hati.

Penghuni Jim-kok pun berduka, para pembantu yang selama ini menemani Can-hang-bi merasa kehilangan, setelah pemakaman, Kwaa-han-bu masih berada di Jim-kok selama sebulan

“sicu Tang-beng, Kam-teng dan Yo-meng, besok kami akan kembali ke kun-leng, dan pemeliharaan tempat ini saya serahkan kepada kalian, ambillah semua hasil garapan kalian, dan tetaplah tinggal di rumah ini, karena sekali-kali aku mungkin akan berkunjung kesini, dan bahkan para anak-anakku juga akan datang kesini, terlebih peng-ji, rumah ini adalah peninggalan ibunya, jadi tolong dijaga.”

“tentu she-taihap, kami sudah lama bersama nyonya, dan amanat she-taihap akan kami tunaikan.” sahut Tang-beng

“terimakasih Tang-sicu dan saya mengucapkan banyak terimakasih pada kalian semua.” ujar Kwaa-han-bu.

Keesokan harinya Kwaa-han-bu, Khu-hong-in dan Kwaa-yun-peng meninggalkan Jim-kok dan kembali kekota Kun-leng, memang benar apa yang dikatakan ibu kandungnya, selama perjalanan ke kota Kun-leng Yun-peng tetap mendapatkan kasih sayang seorang ibu, yakni dari ibunya Khu-hong-in, terlebih ketika sudah sampai di rumah ayahnya, tiga ibunya yang lain memberikan perhatian yang tidak berbeda, dan bukan dia saja she- taihap yang kehilangan ibu kandung, tapi kakaknya Kwaa-sin-liong yang terlebih dahulu merasakan hal itu, karena ibunya Cia-sian-li sudah lebih duluan dan disusul oleh ibunya, sebagaimana ia dengar pada menjelang ajal ibunya.

Tidak terasa tujuh tahun sudah berlalu, sejak kedatangan Kwaa-yun-peng, Yo-seng sudah menamatkan pelajaran, kini Yo-seng sudah menjadi pemuda gagah yang tampan berumur dua puluh dua tahun, sementara Kwaa-thian-eng telah menjadi gadis yang cantik rupawan berumur tujuh belas tahun, selama dalam pembelajaran, Yo-seng tidak dapat menafikan keberadaan Kwaa-thian-eng dalam hatinya, dan Kwaa-thian-eng juga menunjukkan ketertarikan pada suhengnya yang tampan dan arif itu.

“Yo-hun kamu sudah memiliki alat untuk menjelajah dunia persilatan, jadi untuk kematangan dan pengalaman pergilah kunjungi orang tuamu di Sinyang.”

“ayah…aku akan ikut Yo-koko menemui paman di Sinyang.” sela Kwaa-thian-eng “perjalanan suhengmu sangat jauh dan sulit anakku.” “ayah, disamping Yo-koko akan menjagaku, aku juga sudah bisa menjaga diri.”

“anakku disamping musuh dari luar, musuh dari dalam sangat berbahaya dan membinasakan.” sindir Kwaa-han-bu, karena ia sangat tahu bahwa ada hubungan ketertarikan antara putrinya dengan muridnya.”

“suhu sangatlah benar, namun disamping uji pengalaman tentang dunia kangowu, kepercayaan suhu pada tecu adalah taruhan nyawa, semoga tecu dapat menauladani suhu.”

“hahaha..hahahaa.. seng-ji, sanggupkah dirimu mengemban ujian lahir batin ini?” “amanat suhu tecu junjung, terbengkalai sesaat tecu akan siap terbujur.”

“hmh… Eng-ji, apa usahamu supaya suhengmu tidak terbujur?”

“aku akan menjadi perisai batin suheng, aku mewarisi pandangan hidup ayahku dan juga mewarisi kesucian hati para ibuku.”

“marilah kita lihat, dua tahun waktu kalian harus sudah sampai disini bersama Ui-hai- liong-siang.”

“terimakasih atas restu suhu.” sahut Yo-seng, luarbiasa uji perjalanan yang akan dijalani oleh Yo-seng, dan juga luarbiasa berani Kwaa-han-bu melepas putrinya sebagai salah satu ujian hidup bagi kedua muda mudi itu.

“Yo-seng dan engkau Eng-ji, dengarkan pesanku dan ibu-ibumu, pesanku pada kalian adalah pikirkan akibat sebelum berbuat.”

“adillah dalam setiap perbuatan, ingat inti dari adil adalah baik dan seimbang.” sela Kwee- kim-in

“hiduplah dengan jujur, inti jujur adalah bermamfaat dan tidak menyalahi” ujar Lauw-bi- hong

“jangan mengabaikan hati nurani, intinya adalah kebenaran mutlak dan kegigihan.” ujar Kao-hong-li

“aturan dan keteraturan merupakan syarat karakter manusia sejati.” ujar Khu-hong-in. “petuah dari suhu dan subo akan saya junjung tinggi.” sahut Yo-seng

“pesan ayah dan ibu pusaka hidup yang akan saya patrikan dalam hati.” Sela Kwaa-thian- eng

“kalian sudah dengar lima petuah dari kami orang tua kalian, sekarang kita ke lianbhutia.” ujar Kwaa-han-bu, kemudian merekapaun memasuki lianbhutia.

“sekarang Seng-ji perlihatkan”im-yang-bun-sin-im-hoat!” ujar Kwaa-han-bu, Yo-seng pun melangkah ketengah lapangan, dan mulai dengan tata letak kuda-kuda sambil mengerahkan sin-kang, kemudian dengan gerakan indah dan kuat Yo-seng mengeluarkan ilmu”Im-yang-bun-sin-im-hoat” dua puah moupit bergerak indah seiring suara gemerisik yang menggetarkan jantung, gerakan Yo-seng amat gesit, gerakan melukis diudara bersamaan dengan gerakan kaki demikian kuat dan kokoh serta indah dan gesit, setelah itu tiba giliran Kwa-thian-eng yang diperintah ayahnya mengeluarkan ilmu ”im-yang-sian-sin-lie”.

Kwaa-thian-eng dengan sabuk warna kuning mulai mengepos tenaga dan memainkan tarian indah menakjubkan seiring pendar suara gemerisik yang memebetot jantung, gemulainya tubuh indah Thian-eng membuat ilmu yang diperagakanya sangat asri dan harmoni, dibalik keindahan tersimpan kekuatan dahsyat, dibalik kegemulaian tersimpan kegesitan yang luar biasa.

“tiga ilmu she-taihap sudah diturunkan pada sepasang muda mudi itu, bahkan intisari dari butek-cin-keng juga sudah mendarah daging pada tubuh keduanya.

“cukup… apa yang kalian peragakan sudah memuaskan dan melegakan hati kami, dan berkemaslah untuk keberangkatan besok.” ujar Kwaa-han-bu, lalu merekapun meninggalkan lianbhutia.

Keesokan harinya berangkatlah pasangan taruna itu dilepas Kwaa-han-bu dan segenap keluarga, hari cerah itu menambah semangat keduanya melangkah menelusuri jalan menuju pintu gerbang kota, setelah berada diluar kota, keduanya mulai mengerahkan gin- kang untuk lari cepat, keduanya laksana terbang, bak burung camar yang sedang terbang, tubuh keduanya hanya merupakan bayangan yang berkelabat saking cepatnya, hutan dilintasi, lembah dilalui dan bebukitan didaki.

“bagaimana perasaanmu sumoi!?”

“aku merasa senang suheng, dunia persilatan akan terpampang didepan kita, segala karakter akan dapat kita lihat dan simak, beraneka sudut pandang manusia akan kita pelajari.”

“benar sumoi, dan kita akan dapat menguji pemahaman seluruh prinsip hidup yang diajarkan suhu, kita akan melihat kenyataan dari semua teori yang kita tahu.”

“lalu apakah hanya karena itu suheng senang?”

“tentu tidak, masih ada lagi yang tidak kalah sehingga membuat hatiku senang dan bersemangat.”

“apakah itu suheng?”

“menguji batin kita sebagaimana yang suhu katakan, dan ujian ini begitu menggembirakan sekaligus mendebarkan.”

“apakah maksud suheng rasa suka diantara kita?”

“benar sumoi, mengadakan perjalanan bersamamu membuat hatiku gembira, syahdu, berkobar penuh semangat, dan rasanya kamu adalah ujian bagiku sekaligus hadiah yang agung dan menggembirakan. “demikian juga denganku suheng, kamu juga adalah ujian bagiku sekaligus hadiah yang mendebarkan, ketulusanmu, kearifanmu, tanggung jawabmu, kewibawaanmu merupakan arena yang harus kujaga dan kuperhatikan.”

“sumoi sayang, jangan lalai dan lelap mengingatkanku, kesilapanku dan kealfaanmu akan jadi jerat kebinasaan kita berdua.”

“benar koko, tapi kenapa suheng memakai kata sayang.” “karena hati nuraniku ingin berkata demikian.”

“hik..hik… sunguh nyaman kedengaran suheng, tapi aku jadi malu.” sahut Thian-eng dengan muka bersemu merah, dan dia pun mempercepat larinya, sehingga sesaat Yo- seng tertinggal, dengan senyum dikulum Yo-seng menyusul sumoinya.

Dua hari perjalanan pasangan muda itu memasuki desa pertama yakni desa Lo-mang, desa dengan penduduk yang tergolong padat, keduanya singgah disebuah kedai bubur.

“lopek…tolong dua mangkok bubur dan sepoci teh hangat.”

“baik siauwya, sebentar akan saya suguhkan.” sahut pemilik kedai ramah, tidak lama kemudian dua mangkok buburpun disuguhkan, keduanya makan dengan santai sambil minum teh.

“tuan muda dan nona darimana?” tanya pemilik kedai berusaha ramah “kami dari kota Kunleng.” jawab Yo-seng

“oo, tempat im-yang-sin-taihap.”

“benar, apakah lopek kenal im-yang-sin-taihap?”

“semua orang kenal im-yang-sin-taihap, walaupun tidak bertemu, seandainya dia lewat tempat ini, kami bisa minta bantuan.” sahut pemilik likoan

“bantuan? bantuan apakah itu lopek?”

“kalau kalian dari Kun-leng nanti kalao kembali kesana, tolonglah laporkan padanya bahwa desa kami ini dalam keadaan genting.”

“nama lopek siapa?” sela Kwaa-thian-eng “saya dipanggil Pek-jiao.”

“hal genting apakah itu, kalau boleh kami tahu?” “kami tidak berani keluar rumah kalau sudah sore.” “kenapa demikian lopek? sela Yo-seng “warga desa ini ketakutan, karena dipinggir desa ada dua ekor macan tutul.” “apakah dua macan itu memasuki desa?”

“tidak, keduanya muncul saat sore dan hanya berkeliaran dipinggir desa.” “sudah berapa lama keberadaan macan tutul itu?

“sudah lebih setahun.” jawab Pek-jiao.

“apa tidak ada para pesilat yang mungkin lewat desa ini untuk mengusirnya?”

“sudah ada beberapa kalai, namun para pendekar itu tidak mampu mengalahkan kedua macan tutul itu.”

“apakah pendekar-pendekar itu tewas lo-pek?”

“tidak, walaupun mereka didesak kedua macan, namun mereka berhasil melarikan diri.” “kita harus membantu warga desa ini suheng.” ujar Kwaa-thian-eng.

“benar sumoi, jadi kita akan menunggu sampai sore di pinggir desa.”

“terimakasih tuan muda dan nona, jika sekiranya kedua macan itu dapat diusir atau dibunuh.”

“baiklah lo-pek karena hari baru siang, kami akan tetap disini sampai sore.” ujar Yo-seng “baiklah kalau begitu, saya akan sediakan makanan untuk kalian berdua.”

“terimakasih lopek. Jika tidak merepotkan.”

“tidak merepotkan tuan muda.” sahut pek-jiao sambil melangkah meninggalkan Yo-seng dan Kwaa-thian-eng, dan ketika makanan dihidangkan, beberapa warga mendatangi kedai, mereka terdiri dari orang tua paruh baya dan anak muda.

“pek-jiao, putramu datang menyuruh kami datang kesini untuk membicarakan tentang kedua ekor macan.” ujar seorang lelaki paruh baya bertubuh kuat.

“benar Yap-te, dua orang pendekar muda melewati desa kita, dan sepertinya ingin membantu kita mengusir atau membunuh dua macan itu.”

“yang mana kedua pendekar itu?” “kami berdua paman.” sela Yo-seng

“dua pendekar datang dari mana?” tanya Yap-ciang

“saya adalah Yo-seng dan ini sumoi saya Kwaa-thian-eng, kami dari kota Kun-leng.” jawab Yo-seng “kota kun-leng, nona Kwaa..?” apakah kalian ada hubungan dengan she-taihap di kota Kun-leng?”

“saya adalah putrinya paman.” sela Kwaa-thian-eng.

“ah..syukurlah kalau begitu, harapan kami akan terwujud, dan kedua macan itu pasti akan terbunuh atau terusir.” Ujar mereka serempak.

“semoga saja paman, kami akan usahakan.” sahut Kwaa-thian-eng.

Sore harinya Yo-seng dan Kwaa-thian-eng menuju pinggir desa, dan diikuti para warga yang berkumpul di kedai pek-jiao, dan sesampai dipinggir desa, suara gerengan macan itu pun terdengar, dan tiba-tiba sudah muncul dari balik rerimbunan semak, sebagian warga undur ketakutan dan menjauh, Yo-seng melangkah mendekati kedua ekor macan, dan tiba-tiba kedua ekor macan itu merunduk hendak menyerang.

Yo-seng makin waspada, dan ketika dua ekor itu menerjang dengan auman dahsyat menggetarkan, sebagian warga jatuh pingsan, Yo-seng dengan tenang berkelit, dan menangkap kakai kedua macan dan melemparkannya kearah pohon besar, kedua macan itu dengan gesit mendarat dengan ditanah, dan tidak melabrak pohon kayu, namun Yo- seng dengan gerakan cepat menyerang kedua ekor macan yang nampak marah, karena serangannya dipatahkan Yo-seng.

“buk..buk…” dua pukulan Yo-seng menghantam punggung kedua macan, kedua macan itu menggereng kesakitan.

“hushhh…pergilah kalian!” teriak Kwaa-thian-eng, tiba-tiba kedua macan itu tiba-tiba mundur, dan kemudian merunduk bukan untuk menyerang karena perut dan kepala keduanya menempel ketanah menghadap Kwaa-thian-eng, Kwaa-thian-eng menatap dalam kedua bola mata kedua macan, tidak ada sinar kemarahan dan kilat kebrutalan dari bola mata itu, Kwaa-thian-eng makin heran.

“kalian pergilah dan jangan ganggu warga desa ini!” ujar Kwaa-thian-eng, dan anehnya kedua macan itu tiba-tiba berdiri dan membalik tubuh dan melompat kedalam kehutan, lalu menghilang, Kwaa-thian-eng termanggu, karena ia merasakan seakan kedua ekor macan itu memehami perintahnya.

“suheng, apakah kamu tidak melihat ada kejanggalan?”

“aku melihatnya sumoi dan sungguh mengherankan, kenapa kedua macan itu memehami perintahmu, dan saat kamu mendekati keduanya seakan mereka berlutut dihadapanmu.”

“benar kami juga melihat keanehan itu Kwaa-siocia.” sahut beberapa warga.

“tapi apakah kedua macan itu akan pergi menjauh dari desa kita?” sela Yap-ciang. “tunggu sebentar, aku ad aide.” sela Yo-seng

“apa ide itu suheng?” tanya Kwaa-thian-eng penasaran “coba kamu panggil keduanya dengan ilmu mengirim suara.” “untuk apa? dan kenapa saya harus memanggilnya?”

“untuk mengetahui mereka sudah jauh atau tidak, kalau tidak berarti ada hubungan antara sumoi dengan kedua macan itu.

“maksud suheng?” tanya Kwaa-thian-eng penasaran

“sudahlah, coba saja, saya juga merasa penasaran.” sahut Yo-seng

“baiklah akan aku coba, hai dua ekor macan tutul kembaali dulu!” ujar Kwaa-han-tiong sambil menatap kearah hilangnya dua ekor macan itu, dan alangkah terkejutnya mereka karena kedua macan tutul itu datang kembali dan berlutut dihadapan Kwaa-thian-eng.

Kwaa-thian eng terpana, dan memperhatikan kedua macan tutul itu

“lalu apa yang mau kita perbuat suheng?” tanya Kwaa-thian-eng bingung “katakana bahwa keduanya boleh mengikuti kita.” sahut Yo-seng

“paman macan..! kalian boleh ikut kami.” ujar Kwaa-thian-eng meragu, kedua macan itu mengaum dan mengangguk, lalu bangkit dan bermanja dikaki Kwaa-thian-eng, melihat hal itu semakin yakin Kwaa-thian-eng

“paman macan, itu adalah yo-seng murid ayah saya, jadi dia adalah suheng saya, paman macan juga berlututulah didepannya!” ujar Kwaa-thian-eng mendapat pemikiran, kedua macan itu bangkit mendekati Yo-seng dan melakukan sikap berlutut, Yo-seng tersenyum melihat kelakuan dua macan itu.

“paman macan, apakah kalian mengenal guru saya Kwaa-han-bu?” ujar Yo-seng, kedua macan itu mengaum lalu mengangguk dan menghadap lagi kepada Kwaa-thian-eng.

“Baiklah para paman sekalian, kedua macan ini tidak akan mengacau kampong ini, dan besok kami akan meninggalkan desa ini bersama kedua ekor macan ini.”

“terimakasih Kwaa-lihap, jadi sebaiknya she-taihap berdua malam ini menginap dirumah saya.” sahut Yap-ciang

“baiklah paman, jika memang tidak merepotkan.”

“paman macan, besok kita akan melanjutkan perjalanan, jadi tungguluah kami disini.”

“auuuum…aummmmm” kedua macan itu mengaum dan tetap dengan posisinya yang berlutut dihadapan Kwaa-thian-eng

Warga kampong pun kembali kedalam kampong, mereka menjamu Yo-seng dan Kwaa- thian-eng

“suheng, kalau kedua macan itu ada hubungan dengan ayah, lalu kenapa mereka disini?” “aku juga kurang tahu bagaimananya sumoi, tapi yang jelas kedua macan itu mengenal kamu, bahkan berlutut dihadapanmu sebagai keturunan langsung dari suhu, dan bahkan ketika aku menyebut nama suhu, keduanya beralih berlutut padamu.”

“dan juga suheng, yang membuat penasaran, mereka sudah setahun disini, seakan mereka menenti sesuatu.”

“benar sekali sumoi, dan apa dan siapakah yang keduanya tunggu, menurut saya adalah suhu atau keturunannya, terbukti ketika sumoi mengatakan bahwa mereka boleh mengikuti, keduanya mengaum seakan menunjukkan kepatuhan.”

“bagaimana dan dimana ayah menemukan kedua macan tutul itu yah?”

“bagi suhu hal itu bisa saja dan lumrah, suhu adalah orang luar biasa dari segala hal.”

“terus kalau kedua ekor macan itu kita bawa, bukankah akan membuat kacau setiap pemukiman penduduk yang kita lewati?”

“melihat keberadaan mereka yang hanya berkeliaran dipinggir desa atau pemukiman, jelas kedua ekor macan itu tahu tempat, sehingga tidak pernah pun keduanya memasuki pemukiman penduduk, sebagaimana yang terjadi di desa ini.”

“jadi artinya kedua macan itu akan berada dekat kita, jika kita berada dihutan.” “mungkin demikianlah halnya sumoi.”

“sudahlah marilah kita istirhat, karena besok kita akan melanjutkan perjalanan.”

“baiklah suheng, aku juga sudah merasa ngantuk.” sahut Kwaa-thian-eng sambil berdiri dan melangkah meninggalkan Yo-seng, para warga pun satu-satu meninggalkan jamuan untuk beristirahat.

Keesokan harinya kedua she-taihap muda itu meninggalkan desa dan dilepas warga, mereka takjub ketika kedua macan itu mengajak kedua she-taihap muda untuk duduk dipunggung,

“selamat tinggal para paman sekalian!” ujar Yo-seng

“selama jalan she-taihap..” sahut mereka serempak sambil melambaikan tangan dan kedua macan itupun melompat dan menghilang dikedalaman hutan.

Kedua macan itu saling kejar-kejaran melintasi hutan, mendaki bukit dan melompati jurang, tunggangan yang luar biasa dan menakjubkan, namun untungnya tidak kedua penunggang melewati jalan yang sunyi dibalik belukar hutan, kedua sejoli penunggang macan makin banyak bersenda gurau dalam perjalanan, benih cinta yang memang sudah bertunas sejak keduanya merasa tertarik satu sama lain.

“kita istirahat didepan sana paman macan, sepertinya itu sebuah danau.” ujar Yo-seng, kedua macan itu menuju kearah yang ditunjuk Yo-seng, dan ketika sampai dibukit dan lembah dimana danau itu berada, kedua macan itu berhenti dan mengaum, lalu kemudian duduk. “eh..kenapa berhenti paman macan?” tanya Kwaa-thian-eng, macan yang ditunggangi Kwaa-thian-eng mengaum, lalu berlutut, Yo-seng dan Kwaa-thian-eng turun dari punggung macan tutul.

“mungkin kita harus turun sendiri sumoi, dan memang sepertinya di daerah lembah banyak penduduk.”

“benar juga suheng, kalau begitu marilah kita turun.” sahut Kwaa-thian-eng

“paman macan terimakasih, dan saat melanjutkan perjalanan, kami akan memanggil kalian.” ujar Kwaa-thian-eng, kedua macan itu mengaum, lalu Yo-seng dan Kwaa-thian- eng pun menuruni lembah dengan kecepatan luar biasa dipandang oleh kedua macan.

Ditepi pantai danau itu memang banyak sekali nelayan yang sedang menjaring dan memancing ikan

“lopek.. danau apakah namanya ini?” tanya Yo-seng pada seorang lelaki yang asik memancing

“ini danau xiauxi …apakah kalian juga sedang rekreasi ditempat yang indah ini?” “begitulah paman, sambil menghilangkan lelah.”

“memang kalian dari mana dan hendak kemana?”

“kami ini dua pengelana yang barun keluar perguruan, oh ya paman dimanakah tempat ini?”

“kalian ini sudah berada di wilayah Hanzhong.”

“oo, ternyata daerah Hanzhong, kota perbatasan selatan dan timur.” “benar, dan tentunya sebagai pengelana kalian tentu lapar?”

“benar paman, namun kami akan memasak daging dendeng perbekalan kami.” “oo begitu, silahkan dinikmati pemandangannya, dan aku permisi dulu,” “ooh..silahkan paman, dan hati-hati.”

Kwaa-thian-eng sudah memasak dendeng daging kijang,

“suheng! dendengnya sudah masak, marilah kita makan.” seru Kwaa-thian-eng “wah..aku kelamaan ngobrol dengan paman itu.” sahut Yo-seng

“sudahlah, tidak apa-apa suheng.” ujar Kwaa-thian-eng sambil menghidangkan masakannya, keduanya pun makan dengan lahap sambil menikmati hembusan angina yang datang dari permukaan danau xiauxi, angin yang berhembus itu terasa sejuk dan nyaman. “sungguh indah pemandangan disini, suasana yang sejuk dan semerbak aroma bunga krisan dari pinggir sana.” ujar Kwaa-thian-eng, Yo-seng hanya tersenyum

“kenapa suheng senyum!?”

“tidak mengapa sumoi, benar apa yang kamu katakana, dan dari sudut aku memandang suasana alam yang indah ini bahkan semakin indah.”

“apa sebab sehingga semakin indah?”

“hmh… apa yah? kenapa semakin indah?” gumam Yo-seng sambil berpikir, Kwaa-thian- eng semakin penasaran melihat tingkah suhengnya.

“ayo apa suheng? kenapa alam di tempat yang memang indah ini semakin indah?” tanya Kwaa-thian-eng, namun sampai lama Yo-seng tidak menjawab, bahkan merebahkan tubuhnya direrumputan yang lunak seolah berpikir namun bibirnya menunjukkan senyuman nakal.”

“suheng! phu..suheng konyol ah..” teriak Kwaa-thian-eng dengan nada gemas dan mencibir manja.”

“hahaha..hahha…jangan cembrut begitu dong sayang, tentunya pemandanagn yang indah ini semakin indah karena kamu berada disampingku.”

“ah…suheng merayu…cih…” sahut Kwaa-thian-eng membuang muka karena jengah malu dan sayang.

“suheng…katanya jika hati sedang berbunga-bunga semuanya akan terlihat lebih indah.” “tuh…sumoi tahu, bukankah keindahan ini semakin indah? hehehe..hehehe..”

“hmh… konyol ah… aku mau kembali kebukit.” sahut Kwaa-thian-eng mencibir manja. “sumoiku sayang, sebaiknya kita memasuki kota Han-zhong, dan menginap dikota ini.” “hmh…baiklah kalau begitu, marilah kita berangkat!”

“boleh tapi ada syaratnya.” “hah..syarat..kok pakai sayarat!?