-->

Delapan Dewa Iblis (Kwi Sian Pat) Jilid 1

Jilid 1

Lembah Sungai Huang sebelah utara kota Yinchuan musim semi tahun itu amatlah indah, bunga-bunga bermekaran menebarkan aroma harum semerbak, nun jauh ke arah puncak terdapat rerimbunan hutan yang cukup lebat, daerah memang jarang didatangi manusia, karena hutanya yang belukar, dan juga lima tahun terakhir tersebar berita bahwa hutan itu dihuni hantu.

Awal isu dimulai oleh hilangnya tiga orang pemburu yang ketika itu memasuki hutan, sebulan kemudian dua orang pemburu katanya memasuki hutan tersebut dan naasnya keduanya pun hilang raib, keluarga korban sama-sama memastikan bahwa keluarga mereka dipastikan hilang di dalam hutan, dari itu para wargapun menamakan hutan itu dengan Hutan hantu bayangan, karena katanya pernah sebuah piuawkiok melewati pinggir hutan, mereka melihat banyak bayangan berkelabat sangat cepat.

Dan sejak saat itu tidak ada seorangpun yang berani mendekati hutan itu, Dan fakta sebenarnya benar bahwa hutan itu ada penghuninya, hanya saja bukan hantu melainkan seorang manusia sakti yang sudah sepuluh tahun bertapa dalam sebuah goa jauh didalam hutan.

Orang tersebut adalah lelaki berumur enam puluh tahun yang hanya memiliki satu lengan karena lengan kirinya sudah buntung, sepuluh tahun silam ia adalah seorang pimpinan rampok yang memiliki anak buah yang banyak, namanya Ma-tin-bouw, sejaka ia merasa terhina oleh Im-yang-sin-taihap, Ma-tin-bouw melenyapkan diri untuk mendawamkan ilmunya.

Empat belas tahun yang silam ia memasuki hutan dan menemukan goa yang dihuni oleh tengkorak, dan dari buku peninggalan mereka, diketahui bahwa dulu ratusan tahun yang silam, keduanya adalah sepasang suami istri dengan julukan sepasang iblis akhirat, dan juga musuh bebuyutan mereka adalah she-taihap generasi kedua, cucu dari Kim-khong- taihap,

Dari buku peninggalan sepasang iblis akhirat Ma-tin-bouw memperoleh ilmu pedang yang bernama”kwi-ban-lui-kong-kiam” (pedang kilat selaksa iblis) ilmu pedang ini dilatih selama tujuh tahun, dan sebelumnya melatih ilmu pernafasan selama lima tahun, setelah dua belas tahun berada didalam goa, Ma-tin-bouw keluar dan menawan lima orang pemburu untuk dijadikan pelayan, lima pelayan itu dilatih sedemikian rupa sehingga memiliki kesaktian yang hebat.

Lima pelayan itu sering muncul dipinggir hutan, dan karena gerakan mereka yang luar biasa cepat laksana bayang-bayang pada pandangan orang awam, lima pelayan itu memenuhi segala kebutuhan Ma-tin-bouw baik hal makanan, dan pengumpulan ramuan- ramuan untuk membuat racun, Ma-tin-bouw memilki senjata rahasia berupa daun yang sudah dilumuri racun ganas, dan ilmu melempar senjata rahasia ini diberi nama”beng- toat-hio” (daun pencabut nyawa) tubuh yang tertancap senjata daun ini seketika akan muntah darah kental kehitaman.

Ditempat lain tepatnya”krisan-hoa-Kok” (lembah bunga krisan) dilembah sungai Yang-tze, ditengah lembah berdiri sebuah pondok kayu, pondok itu dihuni lelaki tua berumur enam puluh tahun, dia adalah Bu-leng-ma yang dulunya adalah pasukan rampok yang dipimpin Ma-tin-bouw, sejak mereka berpisah di kota Bao, Bu-leng-ma bertapa di lembah ini, dan mendalami ilmu yang didapatinya dalam sebuah bokor.

Ketika itu Bu-leng-ma hendak menyeberangi sungai Yang-tze, dan malangnya sungai Yang-tze tiba-tiba banjir dan menghantam perahunya hingga pecah dan tenggelam, Bu- leng-ma berjuang mati-matian melawan pusaran yang kuat, tangannya menggapai untuk keluar dari pusaran, ketika rasa dadanya hendak meledak, tubuhnya terlempar keluar pusaran, dan kepalanya terantuk pada sebuah bokor yang juga sedang berpusing hebat didasar sungai.

Bu-leng-ma secara reflek memegang kepalanya yang luka dan tepat kebetulan menangkap bokor yang berpusing kuat hendak menghantam mukanya untuk kedua kalinya, dengan erat bokor itu di pegangnya, dan dengan susah payah Bu-leng-ma berusaha mencul kepermukaan, dan usahanya berhasil, lega rasa Bu-leng-ma saat menghirup udara mengisi kembali paru-parunya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Bu-leng-ma berusaha mencapai tepian sungai, selama hampir setengah hari Bu-leng-ma betarung dengan maut, dan akhirnya tangannya dapat meraih sebuah akar pohon yang menonjol di pinggir sungai, dengan sekuat tenaga Bu- leng-ma menarik tubuhnya kedarat, sesampai didarat Bu-leng-ma tergeletak dengan terlentang untuk memudahkan pernafasannya yang sesak karena lelah dan degupan jantungnya yang kencang.

Bu-leng-ma tetap telentang sampai tengah malam, keesokan paginya saat mentari menyapa bumi dari ufuk sebelah timur, cahayanya yang gemilang menghangat tubuh Bu- leng-ma yang lusuh dan kumal, Bu-leng-ma bangun, dan rasa lelahnya telah hilang serta degupan jantungnya sudah tenang, hanya sekarang perutnya merasakan lapar.

Bu-leng-ma melihat keadaan disekitarnya dan bokor yang ada dtangannya mulai menarik perhatiannya, namun rasa laparnya lebih hebat memepengaruhinya, Bu-leng-ma meletakkan bokor dibawah pohon dan berdiri lalu berjalan untuk mencari makanan, serumpun buah jambu berwarna hijau menerbitkan liur Bu-leng-ma, lalu dia mengambil ranting kayu, lalu melempat buah jambu, lemparan itu tepat dan menjatuhkan rumpun buah jambu.

Dengan lahap Bu-leng-ma memakan buah jambu yang ternyata mengandung air yang banyak, setelah merasa kenyang, Bu-leng-ma kembali kepinggir sungai dan duduk sambil mengambil kembali bokor yang didapatinya, Bokor tersebut berbentuk kendi dengan leher yang yang panjang dan bagian bawah oval pipih, Bu-leng-ma membolak-balik bokor tersebut, sambil meraba dan memutar-mutar leher bokor, bagian bawah bokor juga diraba dan diputar, lalu Bu-leng-ma menemukan pada bagian bawah ada semacam lingkaran cembung sebesar koin.

Bu-leng-ma menekan-nekan bagian tersebut, dan kadang mencoba memutarnya, dan tiba-tiba terdengar suara”klik” dan salah satu sisi bokor terbuka, isi bokor ternyata sebuah kitab dan sebuah hauwce, Bu-leng-ma membuka kitab tersebut yang berisi pelajaran ilmu pernafasan dan ilmu silat hauwce, dan pemilik ilmu tersebut dulunya bernama Tang-san- mo, seorang bangsawan pada zaman dinasti tang.

Bu-leng-ma dengan rasa suka cita menyimak gerakan pernafasan dan silat yang terkandung pada kitab tersebut, kemudian saat hari sudah siang, Bu-leng-ma mencari binatang buruan untuk pengisi perut, kemudian setelah menghabiskan seekor panggang kelinci Bu-leng-ma mencari tempat yang nyaman untuk memulai pelajarannya.

Selanjutnya dibagian lain disebuah puncak sebuah bukit sebelah selatan kota Yiming yang dikenal dengan sebutan”Liong-teng” (puncak naga) dihuni seorang lelaki tua berumur lebih enam puluh tahun, dia adalah suma-xiau salah seorang rekan Ma-tin-bouw, suma-xiau sudah berada selama sepuluh tahun menghuni liong-teng.

Lima belas tahun yang lalu Suma-xiau memasuki kota Yiming, saat ia sedang makan di likoan, seorang lelaki kumal datang mendekati rumah makan

“heh..! enyah kamu dari sini!” bentak pelayan

“heh..pelayan, jaga mulutmu!” balas pengemis itu membentak, pelayan itu terperangah

“kamu disini pelayan dan aku jadi tamu, jadi cepat hidangkan makanan enak serta seguci arak untukku.”

“tidak bisa! kamu ini pengemis, kamu pasti tidak akan sanggup membayar.”

“heh..pelayan, kamu jangan menilai penampilan luar saya, saya ini dari perjalanan jauh, pakaian saya memang kumal dan lusuh, tapi saya ini bukan pengemis.”

“saya tidak percaya sampai engkau menunjukkan bahwa engkau memiliki uang untuk membayar.”

“pelayan tidak tahu diri! plak..” bentak lelaki itu sambil melayangkan tamparan, pelayan itu undur kebelakang sambil mengusap pipinya yang merah, pemilik likoan datang

“maaf..maaf tuan, silahkanlah duduk, heh..A-tung cepat bawakan pesan tuan ini!” ujar pemilik likoan.

A-tung dengan hati mengkal melangkah kebelakang untuk mengambil pesanan lelaki kumal itu, setelah makanan dihidangkan, lelaki itu pun makan dengan lahap dan demikian menikmati makan siangnya, setelah kenyang dan puas minum arak, lelaki itu meninggalkan tempat tanpa membayar, pemilik likoan buru-buru mengejar lelaki itu.

“tuan! jangan pergi dulu, tuan belum bayara.”

“heh…apa kamu tidak lihat diatas meja.” sahut lelaki itu, pemilik likoan segera melihat keatas meja dimana lelaki itu makan, dan ternyata sekeping uang perak tertancap di permukaan meja

“maaf…maaf.. tuan, baiklah kalau begitu, silahkan tuan melanjutkan perjalanan.” ujar pemilik likoan, lelaki itupun meninggalkan likoan. Suma-xiau mengikuti lelaki itu, hingga sampai disebuah gang yang sepi, lelaki itu duduk diemperan sebuah toko yang tertutup.

“kenapa kamu dari tadi mengikuti saya.” ujar lelaki itu

“haha..haha…lagakmu boleh juga, aku adalah suma-xiau, dan ingin kenal dengan manusia lagak sepertimu.”

“hahaha….hahaha… anda jual saya beli, anda mau menjajal saya hadapi.” “sebutkan siapa namamu, aku tidak akan menghajar orang tidak bernama.” “hahaha..hahha… anda begitu percaya diri, camkan! namaku adalah Limudan

“baik, sekarang terimalah seranganku!” ujar Suma-xiau sambil menyerang, Limudan dengan gesit menghindar dan membalas serangan dengan tidak kalah hebatnya.

Suma-xiau terkejut merasakan betapa kuatnya tenaga lawannya, setelah berkali-kali beradu pukulan, suma-xiau mulai terpapar dan kuda-kudanya ambrol, dan desakan Limudan kian gencar, pertempuran sudah berjalan lima puluh jurus, dan posisi suma-xiau makin terpuruk dan tersudut, dan pada satu kesempatan sebuah tendangan menghantam lambung suma-xiau, sehingga ia terlempar dan ambruk.

“hahaha..hahha.. bagaimana apa kamu masih mau melawan.” “sudah..aku mengaku kalah, dan mengakui keunggulanmu.” “nah..begitu lebih baik, sekarang enyah dari hadapanku.” “tunggu dulu twako..” sahut suma-xiau

“hmh..apa lagi, apa kamu mau saya hajar sampai mampus!?”

“tidak tuan Limudan…saya sudah kalah, dan saya harap tuan-limudan menjadi teman saya.”

“hehehe..hehehe teman…..hmh..boleh juga.”

“marilah kita duduk twako, untuk kenal lebih jauh” ujar suma-xiau gembira “sebenarnya darimana asal twako?”

“aku ini orang Hui, dan kamu tentunya orang Han, kan?”

“benar twako, saya berasal dari wilayah timur tepatnya dikota Hailar “wah jauh sekali, lalu untuk apa hingga sampai kewilayah barat ini?”

“saya sedang berkelana twako untuk menambah pengalaman dalam hal ilmu silat.” “Ilmu mu lumayan tinggi suma-te.”

“tapi bila dibandingkan dengan twako, saya tidak ada apa-apanya.” “kamau jangan berkecil hati suma-te, aku akan mengajarimu.” “ah…terimaksih twako, aku senang sekali.” sahut suma-xiau.

Suma-xiau dan Limudan menjadi akrab, dan sejak itu Limudan mengajari suma-xiau, dan dalam jangka dua tahun ilmu suma-xiau meningkat pesat, Limudan sangat gembira melihat kemajuan suma-xiau, Limudan orangnya sangat polos dan jujur, selama dua tahun tinggal di kota Yimeng, Li-mudan telah membentuk piauwkiok yang bernama”Hui-to” (golok terbang) dengan anggota tiga puluh orang.

Setelah tiga tahun belajar dengan Limudan, Suma-xiau sudah mampu mengimbangi Limudan, ilmu istimewa Limudan adalah ilmu cicak, dengan pengerahan sin-kang dia dapat merayap diatas dinding, dan ilmu ini juga diajarkan Limudan pada suma-xiau, dan bahkan ilmu melempar golok juga telah dikuasai baik oleh suma-xiau.

Suatu hari keluarga song-ma-kun mendatangi piauwkiok Hui-to “silahkan masuk song-loya, apa yang bisa kami Bantu?” ujar Limudan

“Limudan-sicu, kami hendak memakai jasa pengawalan Hu-to untuk membawa barang ke kota lhasa.”

“ohh, dengan senang hati akan kami lakukan song-loya, kapan loya akan mengirimkan barang tersebut.

“barang tersebut berupa satu peti untuk yang akan diserahkan pada dalai lama di lhasa, dan kalau bisa sudah berangkat besok lusa.”

“baiklah loya, jangan khwatir, kami akan menjaga barang kiriman loya dan selamat sampai tujuan.”

“baiklah Limudan-sicu, karena kita sudah sepakat saya permisi dulu, dan besok lusa saya akan membawa barang itu kesini.”

“baik loya, akan kami tunggu disini.” sahut Limudan

Pada hari kesepakatan, song-loya datang membawa peti yang lumayan besar, peti tersebut segera dimasukkan kedalam gerobak, setelah administrasinya selesai, piauwkiok Hui-to berangkat, karena medan yang ditempuh daerah sulit berupa sahara yang luas, maka rombongan itu dipimpin langsung oleh Limudan dan Suma-xiau.

Setelah tiga hari perjalanan, rombongan istirahat disebuah hutan, para piauwsu mendirikan beberapa tenda untuk melewatkan malam,

“twako.. saya dengar bahwa song-loya memiliki hubungan dekat dengan dalai lama di Lhasa, tentunya barang yang kita bawa ini adalah benda-benda berharga milik dalai- lama.”

“mungkin saja Suma-te, hal itu tidak perlulah membuat kita penasaran, yang penting kita laksanakan tugas dengan baik, dan bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan orang lain.”

“benar twako, saya hanya mencari topik pembicaraan, jadi tidak usah dipikirkan” sahut Suma-xiau,

Suma-xiau, sejak menyempurnakan ilmu yang diajarkan Limudan, masih merasa kurang, dan sikap arogan sebagai bekas rampok memenuhi benaknya, dan lintasan prilaku sesat itu semakin menjadi dipicu oleh rasa penasaran akan isi peti yang berhubungan dekat dengan dalai lama yang diketahui gudangnya ilmu.

Ketika larut malam, Suma-xiau mendekati peti, dan diam-diam ia membuka paksa kunci peti, peti itu dibuka, dan nampaklah beberapa kitab sastra dan sejarah, Suma-xiau membalik-balik kitab tersebut, dan pada tumpukan paling bawah, ada sebuah kitab yang berjudul”thian-sian-jio” (tombak dewa langit), ketika kitab itu dibalik-balik, dua orang anggota bangun dari tidurnya.

“pangcu….apa yang pangcu lakukan!?” tegur anak buahnya, Suma-xiau terkejut, dan spontan ia mengirimkan pukulan jarak jauh, seorang dari anak buahnya masih sempat menjerit sebelum tewas, dan suara itu cukup membangunkan Limudan.

Limudan keluar dari tendanya, dan melihat Suma-xiau memegang sebuah kitab, dan peti sudah terbuka.

“apa yang kamu lakukan Suma-te!?” bentak Limudan, Suma-xiau yang kepalang basah menyerang Limudan, LImudan berkelit, dan membalas serangan Suma-xiau, pertempuran sengit pun terjadi, lima belas anak buah merasa bingung melihat pertempuran seru antara kedua pimpinannya.

“manusia rendah yang tidak tahu diri, menyalahi kepercayaan orang lain dan bertindak serakah,” bentak Limudan marah, karena perlawanan Suma-xiau demikian hebat dan terkesan berusaha menjatuhkannya, semua kemampuan sudah dikerahkan, dan sampai saat itu keadaan masih seimbang, area pertempuran sudah porak-poranda laksana dihantam angina topan,

Karena Limudan dikauasi amarah dan kecewa pada perilaku sahabatnya ini, membuat Li- mudan melemah, dan nafsu membunuh Suma-xiau makin berkobar sehingga tenaga dan gerakannya makin dahsyar, akhirnya Limudan terjerembab ketika kakinya digunting oleh Suma-xiau, dan dengan cekatan Suma-xiau berjumpalitan dengan diiringi sebuah pukulan sakti dan telak mengenai punggungung Limudan, LImudan memuntahkan darah segar, sesaat ia megap-megap dan kemudian tewas.

“jika kalian ingin menuntut balas sekarang majulah, tapi jika tidak, kalian boleh pergi.” tantang Suma-xiau, lima anak buah itu tidak ada yang berani menentang Suma-xiau, karena semuanya tertunduk, Suma-xiau meninggalkan tempat itu, para piawsu setelah menguburkan jasad Limudan, tidak ada yang berani pulang ke Yinming, akhirnya piauwkiok Hui-to ditutup. Suma-xiau terus berlari mencari tempat yang dirasa baik untuk tempat mempelajari kitab yang dicurinya.

Dan dua bulan kemudian Suma-xiau mendapatkan tempat yang aman yaitu Liong-teng, karena mmeiliki jurang-jurang curam dan berbahaya, di puncak itu Suma-xiau mulai mempelajari ilmu tombak milik dalai lama, dan dalam kitab itu juga termaktub tenaga sin- kang dan gin-kang.

Dengan tekun Suma-xiau mempelajari semua isi kitab, dan hasilnya sungguh luar biasa, ilmu bertarungnya makin maju pesat, dalam latihan Suma-xiau menggunakan bambu runcing, sudah sepuluh tahun ia melatih ilmunya, dan sudah mencapai tarap sempurna.

Kota Taiyuan daerah yang subur dan hijau dengan luasnya lahan pertanian, masyarakatnya rata-rata hidup dengan bertani, kotanya juga demikian asri dan sejuk dipandang, didalam kota yang indah itu ada sebuah bukoan yang bernama”sian-siang- bukoan” (perguruan Dewa kembar).

Kauwsu dari sian-siang-bukoan adalah dua orang lelaki kembar berumur enam puluh tahun, keduanya berambut lurus panjang dan sudah putih oleh uban, yang tua bernama Gu-siang dan adiknya bernama Gu-liang, keduanya merupakan tokoh sakti dengan kepandaian luar biasa.

Mereka menetap dikota Taiyuan sudah hampir lima belas tahun, dan perguruan yang mereka dirikan sudah berumur enam tahun, saat pertama keduanya memasuki kota Taiyuan keduanya adalah merupakan bekas rampok dibawah pimpinan Ma-tin-bouw, dan karena sumpah yang mereka ikrarakan bersama untuk mencari ilmu, maka sikembar itu berkelana untuk mencari ilmu, dan langkah membawa mereka kekota Taiyuan.

Saat itu disebuah liokoan mereka saedang istirahat, ruangan itu riuh rendah oleh pembicaraan para tamu, para pelayan yang hilir mudik untuk melayani para tamu, disamping keduanya ada dua orang tamu yang juga sedang makan dengan lahap sambil bercerita.

“San-twako, kemarin ketika aku lewat hutan sebelah timur kota, rubah berekor buntung itu melintas didepan saya.”

“ah yang benar, lalu apakah kamu ikuti A-jin!?”

“tidak twako, rubah itu larinya cepat memasuki hutan, karena waktu itu sudah sore, dan aku hanya sendirian, jadi aku takut.”

“bodoh kamu A-jin, kamukan tahu bahwa sarang rubah itu katanya menyimpan harta yang banyak, kalau akulah jadi kamu, akan saya masuk kehutan untuk mengikutinya, untuk mengetahui sarangnya”

“nyaliku tidak sebesar twako, tapi apa memang benar cerita itu?”

“lah..iya benar dong, karena yang mengatakan itu kan Li-taijin, karena Li-taijin adalah keturunan jendral pada dinasti sung, jadi cerita mengenai pangeran yang melarikan diri dan membawa banyak harta kerajaan sudah pasti benar.” Gu-siang dan Gu-liang sangat tertarik mendengar cerita itu “bagaimana menurut Siang-ko?”

“hal yang menarik dan patut untuk mencoba peruntungan, mana tahu kita akan menjadi orang kaya dengan mendapatkan harta tersebut.”

“saya juga sependapat dengan Siang-ko, lalu kapan kita lakukan mencari rubah itu.”

“hari kita istirahat dulu, dan besok kita akan pergi kehutan sebelah timur kota.” sahut Gu- siang, setelah selesai makan, keduanya menyewa kamar.

Setelah matahari naik tinggi keesokan harinya, dua bersaudara itu pergi kehutan sebelah timur, keduanya merambah hutan sampai jauh kedalam, namun sampai hari sudah sore, rubah yang mereka cari tidak dijumpai, lalu keduanya kembali kepenginapan

“besok pagi akan kita cari lagi.” ujar Gu-siang

“benar setidaknya seminggu kita akan terus mencari keberadaan rubah itu.” Sahut Gu- liang, lalu merekapun istirahat.

Keesokan harinya, keduanya berangkat agak pagi, dan mereka merambah bagian lain hutan sampai sore, namun rubah itu tidak kelihatan, lalu mereka kembali lagi kepenginapan, demikian juga pada hari ketiga mereka berusaha menemukan rubah berekor buntung, namun tetap hasilnya nihil, bahkan sampai seminggu mereka belum juga berhasil menemukan rubah tersebut.

“sudah satu minggu kita mencari, namun tidak adapun hasilnya.” ujar Gu-liang dengan nada kecewa.

“lebih baik kita lanjutkan perjalanan.” sahut Gu-siang, dengan rasa kecewa keduanya tidur, dan pada saat tengah malam Gu-liang terbangun, dan samara-samar ia mendengar pembicaraan disamping kamar

“pangcu, bukankah sebaiknya kita menunggui hutan itu sehingga tidak kedahuluan orang lain.”

“untuk apa kita disana, sementara bulan purnama tujuh hari lagi.” “lalu kapan kita akan kesana!?”

“kita akan kesana satu hari sebelum malam bulan purnama.” “tentunya orang-orang lain juga akan banyak berada dihutan itu.”

“tidak juga, menurut yang saya dengar, selama ini yang mencari rubah itu hanya empat perguruan dan dua piauwkiok, dan kita piuwkiok ketiga.”

Gu-liang yang mendengar dari balik dinding merasa harapannya muncul kembali. “hmh..ternyata bulan purnama baru rubah itu muncul, pantas dicari selama tujuh hari ini hanya sia-sia.” pikir Gu-liang dan kembali membaringkan badan diatas ranjang, Gu-siang masih terlena dengan tidurnya sambil mendengkur.

Keesokan harinya Gu-siang sudah berkemas dan membangunkan Gu-liang

“Liang-te cepat bangun, kita akan melanjutkan perjalanan.” teriaknya sambil menggoyang tubuh adiknya, Gu-liang membuka matanya,

“Siang-ko apa kita akan meninggalkan kota ini?” “benar..cepatlah mandi supaya kita berangkat.” “menurut saya kita disini saja dulu.”

“heh..kenapa? tidak ada yang kita dapatkan disini.”

“Siang-ko, semalam aku mendengar percakapan orang kamar disebelah.” “apa yang kamu dengar?”

“ternyata siang-ko, rubah itu muncul pada bulan purnama, nah,,bukankah baik kita menunggu disini, dan saat malam purnama kita coba lagi menemukan rubah itu!?”

“apa kamu dengar demikian?” tanya Gu-siang meragu

“benar siang-ko, dan beberapa orang akan menjadi saingan kita dalam mencari rubah tersebut.”

“oh ya lalu kenapa selama seminggu kita mencari, tidak ada pun orang dihutan itu?” “karena mereka tahu rubah itu muncul saat bulan purnama.”

“hmh..pantas kalau begitu, baiklah akan kita coba sekali lagi.”

“dan juga siang-ko, menurut orang disebelah, saingan itu empat bukoan dan tiga piuwkiok terhitung mereka.”

“baik, selama disini kita akan cari tahu tentang bukoan dan piuwkiok itu, mana tahu mereka juga menginap disini.” ujar Gu-siang, adiknya mengangguk, lalu pergi mandi, setelah itu keduanya turun untuk makan, selama lima hari mereka terus memperhatikan tamu-tamu yang datang, dan mereka mengetahui bahwa ada dua bukoan dan satu piauwkiok yang satu tujuan dengan mereka dipenginapan itu.

Piauwkiok disebelah kamar mereka sudah berancang-ancang meninggalkan penginapan untuk pergi kehutan, karena besok malam bulan purnama akan muncul, saudara kembar itu pun dengan diam-diam mengikuti piauwkiok yang terdiri dari pangcu dan tiga orang anak buahnya, keempat orang itu berlari cepat, dan dari gin-kang yang mereka miliki, pangcu tersebut bukanlah saingan yang ringan, ketika Gu-siang dan Gu-liang melewati pintu gerbang, dari sebuah gang muncul tiga orang yang juga hendak keluar dari gerbang, kedua rombongan itu tanpa, kedua saudara kembar itu mengikutinya dari belakang. Sesampai dihutan, tiga orang itu mendirikan tenda, dan mengeluarkan alat masak, Gu- siang dan Gu-liang memasuki hutan dari sisi lain, keduanya masuk jauh kedalam hutan.

“tentunya saingan yang lain juga akan menginap di hutan ini!?” ujat Gu-siang

“benar siang-ko, sebaiknya kita mencari tempat yang ada pohon yang tinggi, hingga kita dapat memantau keberadaan mereka.”

“benar, Liang-te, dan pohon yang itu sangat tinggi.” sahut Gu-siang, sambil menunjuk pohon yang ada disamping mereka, lalu keduanya duduk dibawah pohon yang tinggi tersebut.

Setelah siang hari, Gu-liang memanjat pohon dan duduk diatas dahan yang tinggi, ia menatap kearah kota Taiyuan, dan nampaklah tiga orang rombongan memasuki hutan dari sisi yang berbeda, lalu ia turun kembali

“tiga rombongan sudah memasuki hutan.” Ujarnya

“artinya sudah ada lima rombongan selain kita.” sela Gu-siang

“kalau benar perkiraan pangcu yang ada disebelah kamar, setidaknya akan ada dua rombongan lagi yang akan datang.” ujar Gu-liang sambil meminum arak yang sudah mereka persiapkan.

Pada saat malam bulan purnama muncul, aktivitas dihutan itu kelihatan, beberapa rombongan bergerak sambil membawa obor, saudara kembar itu juga mulai bergerak mencari rubah ekor buntung, satu jam setelah keduanya merambah hutan, tiba-tiba seekor rubah muncul, kedua saudara itu diam mengintai dan memperhatikan rubah yang diterangi bulan purnama, dan benar rubah itu ekornya pendek sekali.

Rubah itu bergerak mencari makanan kesana kemari, dan mendekati rombongan lain, keadaan makin sepi, dan dua rombongan yang pakai obor masih sibuk disebelah lain, rubah it uterus bergerak kearah rombongan yang membawa obor, setelah dekat rubah itu terkejut dan berlari cepat, rombongan yang menggunakan obor mematikan obor, suasana samar sekitar tempat terakhir rubah itu sebelum menerobos semak-semak.

Tiba-tiba rombongan lain yang memakai obor padam, dan gerakan rubah muncul di tempat pertama dia menghilang, kedua bersaudara itu mulai lagi mengikuti gerakan rubah tersebut, dan tentunya rombongan yang lain melakukan hal yang sama, setelah rubah mnerasa kenyang, rubah itu berlari kearah hutan sebelah barat, kelabatan bayangan para pengintai bergerak kearah larinya rubah, satu jam kemudian rubah itu berhenti dibawah pohon kayu sebesar empat pelukan lelaki dewasa, pohon itu tidak tinggi, hanya setinggi tiga tombak, rubah itu mengelilingi pohon tersebut, dan menyusup pada sebuah lobang dibawah akar pohon itu, tempat yang dipenuhi para pengintai hening beberapa saat.

“sarangnya disekitar pohon ini, mari kita cari.”

“ya..mari kita cari..” sahut yang lain, empat orang melangkah mendekati pohon itu, kemudian tiga orang muncul

“kita harus menentukan siapa yang akan menguasai area ini.” “hmh….baik jika kalian memang berani.” sahut rombongan yang pertama

“tunggu dulu, kami juga ada disini.” sela seorang dari tiga orang yang muncul, lalu rombongan yang lain muncul, sehingga jumlah orang disekitar pohon itu ada dua puluh orang yang terdiri dari tujuh rombongan.

“saya yakin masih ada diantara kita yang belum muncul, kalian keluarlah!” seru seorang bertubuh besar dan jenggot yang lebat, Gu-siang dan Gu-liang muncul.

“apa maksudnya sekarang!?” tanya pangcu disebelah kamar saudara kembar

“kita memiliki maksud yang sama untuk mendapatkan isi sarang rubah, dan sarang rubah itu ada disekitar pohon ini, jadi besok pagi kita akan mengadakan pibu untuk memperebutkan tempat ini.” sahut lelaki berjenggot lebat.

“baik, cara itu saya dukung.” sahut lelaki muda berikat kepala.

“baik kita sepakat dengan itu, jadi mari kita ambil posisi masing-masing.” sela lelaki yang memegang tongkat berkepala ular sanca, lalu masing-masing mengambil posisi dan duduk menantikan pagi.

Ketika matahari muncul semuanya sudah siap menjalani pibu.

“saya adalah Cu-tung-hai pimpinan ‘tung-kiam’ (pedang timur) piauwkiok, saya menantang salah satu dari kalian untuk pibu, dan jika saya kalah, maka kami akan meninggalkan tempat ini, dan jika saya menang, saya menunggu pemenang yang lain untuk pibu.”

“sepakat, saya Lou-can pangcu”L:iong-thin” (naga langit) piauwkiok menantang Lou- pangcu.” sela pangcu yang sepenginapan dengan si saudara kembar.

“baik, terimalah seranganku!” sahut Cu-pangcu dengan gerakan gesit menyerang.

Pertempuran tangan kosongpun terjadi, keduanya dengan gerakan-gerakan cepat dan kuat berusaha saling merubuhkan, setelah tujuh puluh jurus, Cu-pang-cu mengeluarkan cambuk dan menyerang Lou-pangcu, Lou-pangcu juga tidak mau kalah, maka tongkat berkepala naga dilempar anak buahnya, pertempuran kian berlangsung seru, Lou-pangcu memutar tongkatnya membendung senjata panjang dan lemas dari lawan, dan pada satu kesempatan cambuk membelit kepala tongkat, dan dengan satu hentakan Lou-pangcu membuat Cu-pangcu limbung karena kalah tenaga, lalu tiba-tiba satu sodokan mengenai ulu hati Cu-pangcu.

Cu-pangcu merasa langit berputar, nafasnya sesak lalu terduduk, setelah beberapa saat, mukanya yang tadi pucat berangsur-angsur memerah

“saya mengaku kalah.” serunya sambil berdiri dan mundur meninggalkan area tersebut.

“saya Coa-leng kauwsu”Sanca-Coa-tung” ( tongkat ular sanca) menantang salah satu dari kalian.” ujar lelaki tua bertongkat ular sanca. “baik, saya Kui-lo-meng kauwsu”Lam-hong-kiam” (pedang angin selatan) akan meladeni anda.” Sahut lelaki separuh baya dan bertudung petani.

Kemudian keduanya mulai bertempur dengan seru, gerakan keduanya luar biasa cepat, tongkat Coa-leng menderu mencecar tubuh lawannya, namun Kui-lo-meng tidak undur bahkan membalas dengan tidak kalah gencarnya dengan gelombang kilatan pedangnya yang menggiriskan.

Pada saat memsuki jurus ke seratus, tongkat Coa-leng menghantam pundak Kui-lo-meng, hingga pundaknya patah dan kemudian batang tombak menghantam dari bawah mengenai siku, sehingga Kui-lo-meng menjerit dan pedangnya lepas, lalu dia pun mundur dan tanpa bicara meninggalkan tempat dengan dua orang muridnya.

Enam orang sudah meninggalkan tempat, lalu lelaki muda berikat kepala itu maju “saya Can-kui pangcu”Hui-kiam” pedang terbang piauwkiok mengajukan tantangan.”

“saya Lie-tan kauwsu”sin-tiauw” (rajawali sakti) akan mencoba melayani.” Sahutnya sambil melangkah ketengah gelanggang.

“silahkan yang tua duluan menyerang.” ujar Can-kui

“anda yang menantang, silahkan duluan menyerang.” sahut Lie-tan

“baik..terimalah..!” sahut Can-kui sambil membuka serangan, keduanya memulai duel dengan tangan kosong, tenaga Can-kui amatlah kuat dan cepat, Lie-tan dengan tenang mengimbangi serangan, dan juga membangun serangan yang tidak kalah bahayanya, trik dan pancingan dikerahkan, namun sampai seratus jurus keduanya imbang.

Setelah keduanya tidak ada yang menang, lalu pedang merekapun diadu, suara beradunya pedang dan percikan bunga api membuat pertempuran itu amat menakjubkan dan menegangkan, kilatan-kilatan pedang saling mengurung lawan, dan seratus juruspun berlalu, namun keduanya masih imbang dan sulit menentukan kemenangan, akhirnya lima puluh jurus kemudian, Can-kui harus mengakui bahwa daya tempur Lie-tan lama dibandingkan dengan dirinya, dia sudah merasa lelah, dan hal itu dimamfaatkan baik oleh Lie-tan, sehingga Can-kui terdesak hebat, dan akhirnya pedangnya jatuh karena lengannya kena gores pedang Lie-tan, Can-kui dan anak buahnya meninggalkan tempat.

“Sekarang tinggal dua rombongan, saya Tio-dang kauwsu”coa-san-kok” (lembah bukit ular)” ujarnya sambil melihat dua orang kembar.”

“saya terima tanyangan anda.” sahut Gu-liang, sambil melangkah ketengah gelanggang, keduanya saling tatap dan mengukur keadaan, lalu secara bersamaan mereka saling menyerang, pertempran dahsyatpun berlangsung seru, ilmu tangan kosong bekas rampok ini adalah ilmu-ilmu pah-sim-sai-jin yang diturunkan Ma-tin-bouw, dan daya serangnya amat cepat dan ganas, hingga dalam waktu lima puluh jurus, Tio-dang sudah terpuruk dan terdesak, untungnya Tio-dang menyadari keadaan dan menghindar dengan menjauhkan diri

“saya mengaku kalah.” serunya dengan nafas memburu, karena pengakuan itu Gu-liang berhenti, dan menyimpan kembali tenaga yang sudah siap menewaskan Tio-dang dengan pukulan”thian-te-cio-kang”

Setelah Tio-dang meninggalkan hutan, tinggal empat rombongan, lalu Coa-leng maju. “siapakah diantara kalian yang akan melawan saya.”

“saya yang akan meladeni anda.” sahut Lou-pangcu, lalu keduanya pun mulai bertempur, dua tongkat dengan kepala ular saling beradu dan mengaung, semakin lama peretempuran itu makin gencar dan menegangkan, keduanya sama-sama cekatan memainkan tongkatnya, saling hantam dan saling sodok, namun keduanya sama-sama punya pertahanan yang kuat.

Pertempuran sudah berlangsung sangat lama, dan tidak terasa senja sore mulai datang, namun pertempuran masih berkutat ulet, tiba-tiba Gu-liang menyerang Lie-tan,

“waktu kita hemat, marilah kita bertanding.” Serunya.

Lie-tan yang sejak awal waspada, tidak gugup, dengan serangan ayunan pedang, dia menyambut Gu-liang, Gu-liang dengan gerakannya yang lincah dan ganas mendesak Lie- tan, namun Lie-tan dengan alot bertahan dan mengerahkan ilmu pedang rajawalinya yang luarbiasa,namun lawannya ini boleh dikatakan adalah cucu murid dari Pah-sim-sai-jin, dan kali ini ilmu ganas”thian-te-cio-kang” mengambil nyawa, pada jurus kelima puluh, pukulan yang mengarah perut tidak bisa dielakkan, karena sentilan Gu-liang pada siku Lie-tan membuat tangan itu mati rasa, dan pedangnya jatuh, dan sebuah pukulan dahsyat menghantam perutnya hingga pecah, tanpa bersambat Lie-tan tewas seketika.

Lou-pang-cu dan Coa-leng terkesima, dan lebih terkejut dua saudara kembar itu menyerang keduanya, mereka yang sudah kepayahan, berusaha mengelak, namun dalam lima gebrakan pukulan dahsyat warisan Pah-sim-sai-jin menghantam kepala mereka dan otak mereka berhamburan, para anak buah tiga rombongan segera menyerang, namun dua kali hentakan, anak buah dan murid itu terlempar dengan nyawa melayang.

Matahari pun tenggelam, hari yang suram seakan ikut menyatakan tragisnya pembunuhan didalam hutan tersebut, dua saudara kembar itu melemparkan sepuluh mayat itu kesebuah lembah dua tombak di sebelah pohon besar, dan kemudian mereka bersandar istirahat pada pohon.

“besok kita lanjutkan pencarian sarang rubah itu.” ujar Gu-siang sambil melorot merebahkan diri, Gu-liang mengangguk dan merebahkan badan

“aku lapar, kita cari buruan Siang-ko.”

“untuk apa capek-capek, buntalan she-lie itu ada dua panggang ayam, marilah kita makan.” sahut Gu-siang, lalu keduanya melahap ayam panggang milik Lie-tan.

Keesokan harinya, keduanya mulai mengorek-ngorek liang dibawah akar pohon besar, tiba-tiba tangan Gu-siang mendapatkan tali dari dalam liang, lalu dengan sekali hentakan tali ditarik dan ternyata tali itu mengarah pada sebuah semak, dan dibawah semak itu ada sebuah batu yang runcing, lalu Gu-siang menarik batu, dan kemudian semak itu amblas kebawah sedalam dua meter.

“Gu-liang menggali rerutuhan tanah yang amblas, dan akhirnya keduanya mendapatkan sebuah peti seukuran setengah peti mayat, dengan wajah gembira Gu-liang membuka peti, dan tiba-tiba, dua batang anak panah meluncur kearah perutnya, dengan gerakan cepat Gu-liang menyamping, sehingga anak panah lewat didepan perutnya yang hanya satu inci.

Setelah peti terbuka, kilauan emas permata berkilau ditimpa cahaya mentari, Gu-liang mengangkat peti dan diterima Gu-siang, keduanya bersandar sambil memperhatikan tumpukan emas permata yang memenuhu peti, Gu-liang meraup benda itu dengan senyum dan tawa gembira.

“eh ada apa dibawa tumpukan emas ini.” gumam Gu-siang, lalu dengan cepat ia meraup lebih dalam dan ternyata sebuah kitab ilmu silat yang pada sampulnya tertulis”thian-te- liong-kun-hoat” (ilmu pukulan naga jagad) dan”liong-Ban-Hai-hoat” (ilmu kibas seribu naga)

“hahaha..hahaha…liang-te, nasib kita sungguh mujur, disamping mendapatkan harta kita juga mendapatkan kitab ilmu silat.”

“benar sekali Siang-ko..hahaha..hahaha.” sahut Gu-liang “bagaimana menurutmu Liang-te, apa selanjutnya yang kita perbuat.”

“bukankah lebih baik kita menikmati kemewahan dan mempelajari kitab ini, jadi kita kembali ke Taiyuan dan hidup mewah sambil mempelajari kitab ini.”

“hmh…demikian sangat tepat liang-te, mari kita kembali ke dalam kota.” sahut Gu-siang, lalu keduanyapun meninggalkan hutan dan memasuki kota Taiyuan, dalam jangka sebulan mereka sudah menjadi orang kaya yang hidup berkecukupan dalam sebuah rumah yang besar dan mewah.

Hari-hari demi hari mereka mempelajari isi kitab, hingga tidak terasa sembilan tahun ilmu dalam kitab itu sempurna mereka kuasai, dan kemudian untuk menambah kekuatan dan kewibawaan mereka dikota Taiyuan, kakak beradik itu membuka bukoan yang bernama”sian-siang-bukoan”

Dalam menerima murid, keduanya sangat seleksi, mereka hanya menerima murid-murid yang berbakat dan bertulang baik, dan dalam jangka enam tahun, mereka hanya memiliki seratus orang murid, yang kesemuanya menjadi murid-murid yang luarbiasa, masyarakat Taiyuan sangat takut dengan perguruan ini, karena disamping murid-muridnya yang hebat dan sakti, mereka juga sangat arogan dan mau menang sendiri, tidak ada yang dapat menentang mereka, murid-murid dengan bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan, main judi atau main sudah merupakan kebiasaan mereka.

“Swat-san-kok” (lembah bukit salju) terletak di kota Golmud wilayah barat, daerah bersalju dan berhawa dingin, sepasang kakek dan nenek sedang kejar-kejaran menuju puncak bukit, hawa dingin seakan tidak mereka rasakan, keduanya adalah sepasang kekasih pada dua puluh tahun yang silam, keduanya aktif menjadi rampok dibawah pimpinan Ma- tin-bouw.

Setelah Ma-tin-bouw membubarkan kelompoknya, Yang-ma-kiu menuju wilayah barat bersama kekasihnya Zhang-kui-lan, tujuan dari sepasang kelana tersebut adalah untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi untuk membalas dendam pada she-taihap.

Hubungan sepasang kekasih seratus persen bersatu hati, namun tidak dengan tubuh, tubuh mereka boleh meraih kenikmatan dengan lain pasangan, yang penting jika ada rasa suka, masing-masing dapat melampiaskan keinginan nafsu badani mereka, pasangan itu sangat serasi, karena zhang-kui-lan adalah perempuan yang berwajah cantik, dengan tubuh yang sintal padat menggairahkan, sementara Yang-ma-kiu adalah lelaki tampan dengan tubuh kekar dan gagah.

Setelah tiga bulan perjalanan, keduanya sampai dikota xining, ketika mereka sedang berjalan-jalan menikmati suasana kota pada sore hari, keduanya berpapasan dengan seorang koncu muda dan tiga rekannya yang juga sedang berjalan-jalan menikmati susana sore, Zhang-kui-lan mengerling pemuda dengan senyum memikat, si kongcu merasa jantungnya berdegup, kerlingan manja itu laksana gunting memutuskan tali jantungnya sehingga darahnya berdesir menyesakkan dadanya.

Dengan gugup ia berhenti karena terpana akan wajah yang telah menggodanya

“kongcu! sedang menikmati suasana sore?” sapa Zhang-kui-lan dengan senyum semanis madu, makin bergetar hati si kongcu

“benar nona, nona sedang melakukan hal yang sama juga, bukan?” “benar kongcu, suasana kota xining sangat nyaman dikala sore hari.” “kenalkan nona saya adalah Phang-bouw-lam.”

“hik..hik… saya Zhang-kui-lan.” sahut Zhang-kui-lan sambil tertawa dengan menutup bibirnya yang ranum basah, gerakan manja itu semakin membuat phang-kongcu blingsatan.

“lalu tuan ini siapakah?” tanya Phang-kongcu pada Yang-ma-kiu “saya adalah Yang-ma-kiu, suhengnya.”

“kalau begitu kalian tentunya adalah pesilat-pesilat tangguh.”

“hmh….begitulah, dan kami sedang berkelana dan kebetulan lewat kota xining.” “wah..alangkah bagusnya nona menginap dirumah kami.”

“ah…tentu itu merepotkan Phang-kongcu.” tolak Zhang-kui dengan nada manja “tidak merepotkan lan-moi.”

“hik..hikk… apakah aku tepat menjadi adikmu!?” “tentu, aku ini sudah berumur dua puluh tiga, sementara kamu setidaknya setahun lebih muda dari saya.”

“hik..hik…baiklah lam-koko.” sahut Zhang-kui-lan merasa lucu, tebakan Phang-kongcu tentang umurnya sangat salah, karena umurnya sudah menginjak empat puluh tiga tahun.

“bagaimana suheng, apakah kita sebaiknya menginap ditempat kongcu yang tampan ini?” “kalau tidak merepokan terserah kamu sajalah.”

“baiklah Lam-koko, kami akan ikut kamu.”

“kalau begitu marilah, rumah kami di sebelah selatan kota.” sahut Phang-kongcu dengan wajah gembira

Kedatangan Phang-kongcu dan kedua temannya disambut para pengawal, Phang-kongcu membawa kedua teman barunya keruang tengah, diruang tengah, Phang-loya dan Phang-hujin sedang duduk beserta seorang lelaki dan dua orang perempuan lain, kedua perempuan itu adalah adik dan kakak perempuan Phang-kongcu.

“siapa yang kamu bawa ini Lam-ji!?”

“kenalkan ayah, ibu, kedua temanku ini ahli silat, yang ini Yang-ma-kiu, dan yang ini Zhang-kui-lan.

“oo… kalau begitu silahkan duduk.” ujar Phang-loya

“ya…marilah duduk Lan-moi, ini kedua ayahku, dan ini kakaku Phang-liu-cai dan ini suami kakaku Sim-hak-lun, dan ini adik perempuanku namanya phang-lan-hui.” ujar Phang- kongcu memperkenalkan keluarganya.

Yang-ma-kui dan Zhang-kui-lan duduk sambil melempar senyum ramah. “darimanakah asal kalian dan benarkah kalian ahli silat!?” tanya Phang-loya “kami dari wilayah timur dan memang kami ahli silat.” Jawab Yang-ma-kui. “ayah…bukankah ayah cari ahli silat untuk mengawal rumah kita ini.” “benar, tapi apakah dua kawanmu ini mau bekerja dengan kita.”

“tentu mau, mau kan Lan-moi!?” sela Phang-kongcu sambil menatap wajah Zhang-kui-lan. “baiklah kalau keluarga Phang membutuhkan ahli, kami akan senang menerimanya.”

“hahah..hahaha… bagus, aku gembira sekali ayah, Lan-moi sudah setuju.” sela Phang- kongcu.

“sudah kalau begitu, marilah kita makan dulu, dan baru kita bicarakan hal selanjutnya.” ujar Phang-loya, lalu mereka menuju ruang makan, Phang-kongcu demikian gembira dan semangat, karena kehadiran Zhang-kui-lan yang telah menaklukkan hatinya.

Setelah selaesai makan, mereka kembali keruang tengah

“nona zhang, dan tuan Yan, rumah kami ini beberapa hari yang lalu didatangi pencuri, dan mengambil barang antik berupa patung dewi kwam-im yang terbuat dari giok batu bintang, patung itu warisan leluhur kami, dan kami sangat berharap patung itu didapatkan kembali.”

“apakah maksud loya, kami bertugas mencari patung itu?” tanya Yang-ma-kui “benar dan sambil menjaga rumah kami dari niat jahat pencuri.”

“baiklah loya, kami berunding dulu, apakah pekerjaan ini akan sanggupi atau tidak, dan besok akan kami ber jawaban.” sahut Zhang-kui-lan.”

“baiklah kalau begitu, dan sekarang silahkanlah istirahat, pelayan antara kedua pendekar ini kekamarnya.” ujar Phang-loya.

“Lan-moi, mari…saya antar kekamar.” tawar Phang-kongcu dengan semangat, Zhang-kui- lan tersenyum dan lalu mengikuti Phang-kongcu.

Pada malam harinya, dikamar Zhang-kui-lan, sepasang kekasih itu berembuk

“kalau hanya untuk melapiaskan birahi, untuk apa kita capek-capek bekerja pada mereka.” tegur Yang-ma-kui

“tidak mengapa, nanti kalau saya sudah bosan, kita tinggal pergi saja.”

“kalau begitu benar, dan saya juga akan memangsa adiknya yang berwajah imut itu.” “hik..hik.. tentunya permainan kita ini sangat memuaskan.”

“kalau begitu, pergilah ke ruang pustaka, nampaknya pemuda yang sudah birahi itu ada disitu.”

“nanti sajalah, malam ini aku ingin kita berdua memadu kasih diatas ranjang empuk ini.”

“hmh…nanti tengah malam saya akan mendatangimu.” sahut Yang-ma-kui, sambil meremas buah dada sambil melumat bibir Zhang-kui-lan, kemudian ia keluar dengan senyum hangat.

Keesokan harinya, Zhang-kui-lan dan Yang-ma-kui menghadap Phang-loya

“Phang-loya, kami sudah berembuk dan sepakat untuk menyanggupi tugas tersebut.” ujar Yang-ma-kui

“baiklah kalau brgitu, kami senang mendengarnya.” sahut Phang-loya “hari ini kami ingin bicara dengan segenap pengawal maupun pelayan, untuk membicarakan pencurian tersebut.”

“demikian juga bagus, silahkanlah kalau begitu.” sahut Phang-loya, lalu sepasang kekasih itu pun menemui semua pengawal, dan tidak ketinggalan phang-kongcu dan adik perempuannya yang berumur delapan belas tahun ikut dalam pertemuan itu, Phang-lan- hui juga tertarik pada Yang-ma-kui, hanya karena Yang-ma-kui lebih tua darinya sehingga ia masih dapat mengendalikan diri, tidak seperti kakaknya Phang-bouw-lam.

“tiga hari yang lalu rumah loya kedatangan pencuri, dan kami disini akan coba mengusut kasus tersebut, jadi kepada semua yang hadir kami minta informasi dari orang yang mungkin melihat pencuri tersebut.”

“baiklah tuan Yang, ada tiga orang dari kami yang sempat melihat pencuri itu.” “ceritakanlah!”

“malam itu kami sedang berada dibelakang bagian pustaka, dan kami melihat jendela pustaka sedikit terbuka, ketika kami melihat kedalam dua orang sedang menobrak-abrik ruangan, lalu salah satu dari kami memukul kentungan sambil berteriak, kedua pencuri itu panik dan keluar dari jendela, lalu kami menyerang keduanya dan berusaha melumpuhkannya, tapi dua orang itu sangat kuat dan gesit, sehingga kami tidak berdaya, beberapa kawan juga yang sudah mendatangi tempat itu, lumpuh dan tidak berdaya.”

“apakah lopek mengenali wajahnya?”

“kami tidak kenal, karena keduanya pakai topeng

“lalu apakah ada cirri-ciri pada tubuh keduanya yang kalian ingat?” “ada tuan yang, seorang dari mereka tanda hitam dilambungnya.” “bagaimana kamu dapat melihat tanda itu?”

“saat mereka keluar dari jendela, baju orang itu sobek dibagian bawah ketiak hingga perut.”

“apakah orang itu gemuk atau besar?”

“orang itu memang besar dan baju yang dipakainya nampak kekecilan.”

“baiklah, informasi sudah merupakan awal untuk menyelidiki, dan sekarang bubarlah.” ujar Yang-ma-kui, lalu semuanya bubar, Phang-kongcu masih berdiri menatap Zhang-kui- lan.

“apakah kongcu menungguku!?”

“benar, marilah kita ke taman belakang, aku ingin bicara denganmu Lan-moi.” “baiklah, marilah.” sahut Zhang-kui, Yang-ma-kui melirik Lan-hui yang sudah keluar dari ruangan pertemuan itu.

“phang-siocia…!” seru Yang-ma-kui sambil mempercepat langkahnya “ada apa tuan yang?”

“kamu ada waktu, saya ingin membicarakan sesuatu.” “oh…apakah yang mau tuan Yang katakan?”

“sebaiknya kita duduk untuk membicarakannya.” ujar Yang-ma-kui, lalu keduanya kembali keruang pertemuan untuk duduk.

“apakah menurutmu ayahmu mempunyai musuh?” “setahu saya tidak tuan Yang.”

“apakah kamu ada hubungan dengan lelaki lain?”

“ah..saya belum memiliki pacar tuan Yang, aku masih delapan belas tahun.” jawab Phang-siocia dengan wajah bersemu merah.

“kenapa tuan Yang menanyakan hal itu?”

“wajahmu amat cantik siocia, dan tentunya banyak lelaki yang menaksir nona, jadi saya kira entah ada mungkin lamaran yang ditolak sehingga menimbulkan dendam.”

“tidak tuan yang, tidak ada orang yang datang melamarku, ayah juga belum mengungkit- ungkit masalah itu, karena Lam-ko belum juga mendapatkan istri.”

“apakah kakakmu sedang mencari calon istri?”

“tidak tahu, tapi melihat sikapnya pada nona Lan, sepertinya lam-ko sangat menyukainya, benarkan tuan Yang dan nona Lan tidak ada hubungan kecuali saudara seperguruan?”

“kami hanya saudara seperguruan, dan dia masih muda sementara saya kan sudah tua.” “tuan Yang memang sudah berumur, namun wajah tuan Yang sangat tampan.”

“ah kamu mengejek aku phang-siocia,” sahut Yang-ma-kui dengan senyum memikat, Lan- hui yang melihat senyum itu dari dekat tak dapat tidak bergetar juga hatinya.

“berapakah umurmu tuan Yang?”

“menurutmu berepakah umurku phang-siocia?” “ng…mungkin tiga puluh lima tahun.”

“hahaha..hahaha… bagaimana bisa tebakanmu tepat nona?” tanya Yang-ma-kui sambil senyum dan menatap mesra, namun dibalik itu hatinya cekikian karena umurnya sudah empat puluh lima.

“ah..itu hanya kebetulan tepat, lalu kenapa tuan Yang tidak menikah?”

“mungkin aku terlalu sibuk belajar sehingga lupa memikirkan perempuan, dan saat sudah ingin ternyata sudah terlambat, dan perempuan yang aku sukai mungkin melihat aku sudah berumur, hingga mereka menolak”

“benar, mungkin saja demikian.” gumam Phang-lan-hui.

Sementara ditaman belakang terjadi percakapan

“Lan-moi, sejak kita bertemu, aku sudah terpikat oleh kecantikanmu.” “hik…hik…kongcu sangat terbuka dan membuat aku jadi malu.”

“sungguh Lan-moi, aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku, sejak semalam aku sangat merindukanmu.”

“bagaimana yah… aku sebenarnya, ah..aku malu, sudahlah Lam-ko.” “apakah kamu takut Lan-moi!?”

“tidak, hanya aku harus mengerjakan tugasku, oh ya Lam-ko, ada berapakah bukoan dan piauwkiok di kota ini?”

“persisnya aku tidak tahu Lan-moi, hanya bukoan yang saya tahu hanya dua dan tiga piauwkiok, kenapa kamu menayakan hal itu?”

“Karena pencuri itu memiliki keahlian silat, dan karena itu bukoan dan piauwkiok patut dicurigai.”

“ah…begitu rupanya, tapi Lan-moi jika kita bicara, bisakah kamu tidak menyinggung tugasmu?”

“tapi itu sudah tugasku untuk memikirkan bagaimana cara mendapatkan patung yang dicuri.”

“memang benar Lan-moi, tapi jika kita bertemu bicaralah tentang kita.”

“Lam-ko, kamu demikian cepat mengajukan cintamu, membuat aku salah tingkah dan malu.”

“Lan-moi, perasaan cintaku padamu laksana badai yang menghantam jiwaku, aku tidak tahan, wajahmu demikian mempesona membuat aku rindu tidak terperi.”

“lam-ko…aku…aku….senang koko.”

“ah..kalau begitu kamu juga mencintaiku, lan-moi.” sela Phang-kongcu gembira sambil meraih tangan Zhang-kui-lan sehingga tubuh keduanya makin mempet, Phang-kongcu yang melihat mata Zhang-kui-lan demikian bulat menyinarkan sedikit ketakutan tapi penuh kemanjaan yang menggoda semakin tidak terkendali, bibirnya langsung menyergap bibir Zhang-kui-lan, Zhang-kui-lan sedikit meronta jual mahal, hal itu membuat Phang-kongcu semakin bernafsu

“Lam-ko sudah….malu… nanti dilihat orang.” bisik Zhang-kui-lan manja dengan desahan nafas yang memburu, Phang-kongcu melihat sekitarnya dan baru menyadari mereka di ruang terbuka

“ah…kamu sangat menggemaskan sayang.” desah Phang-kongcu sambil mencuri remasan pada buah dada Zhang-kui-lan, Zhang-kui-lan menjerit kecil dengan kerlingan marah tapi mau.

“Lam-ko aku akan kembali kekamarku.” ujar Zhang-kui-lan dengan senyum memikat, “baiklah…Lan-moi.” sahut Phang-kui dengan sejuta gejolak birahi dalam hatinya, hatinya yakin bahwa zhang-kui-lan juga menginginkanya, dengan senyum bahagia Phang-kongcu meninggalkan taman, kegembiraan sangat nyata di raut wajahnya.

“bagaimana menurutmu cerita pengawal tadi siang.” tanya Yang-ma-kui

“menurutku, kita coba menyelidiki keluar yakni ditempat-tempat bukoan dan piauwkiok, hanya untuk meyakinkan pada she-phang itu kita serius menaganinya.”

“menurut saya juga demikian.”

“lalu bagaimana dengan si kongcu?”

“si-kongcu sudah amat basah, hik..hik…”

“aku juga sudah melihat ketertarikan nona mungil itu kepadaku.”

“baiklah besok kita akan keluar setengah hari, lalu kemudian kembali kesini.” ujar Yang- ma-kui sambil berdiri meninggalkan Zhang-kui-lan.

Zhang-kui-lan memasuki kamarnya, dan membuka pakaiannya satu persatu hingga ia telanjang, lalu menaiki ranjang dan menarik selimut, dengan senyum ia memajamkan mata, hatinya meyakini bahwa phang-pangcu akan menerobos kamarnya, ia dapat merasakan api birahi yang sangat berkobar pada pandangan Phang-kongcu, ia demikian senang mempermainkan dan merasakan gejolak nakal sang kongcu.

Tepat tengah malam, Phang-kongcu melewati kamar Zhang-kui-lan, dengan hati-hati ia menempelkan telinganya didaun pintu, merasa tidak ada gerakan, dan zhang-kui-lan sepertinya sudah tidur, dengan nafsu yang meledak-ledak, ia mencoba memegang gerendel dan ternyata tidak dikunci, peluang itu membuat birahi phang-kongcu makin nanar, dengan langkah pelan ia memasuki kamar dan mendekati ranjang zhang-kui-lan.

Mata Phang-kui-lan terbeliak ketika melihat paha mulus zhang-kui-lan yang tersingkap, matanya menatap lekat pada paha putih mulus yang tepangpang, dengan tangan gemetar Phang-kongcu meraba dan mengelus paha zhang-kui-lan, terasa hangat dan lembut, phang kongcu makin berani mencoba menyingkap selimut lebih lebar, dan nafasnya berhenti ketika melihat zhang-kui-lan tidak memakai apa-apa, bagian bawahnya jelas terpangpang, Phang-kongcu tidak kuasa lagi melihat pemandangan yang membuat nafsunya menggelora, dengan hentakan nafsunya yang membludak, ia menindih tubuh dan melumat bibir Zhang-kui-lan, beban tubuh itu membangunkan zhang-kui-lan, dan dengan mata terbeliak ia menatap wajah Phang-kongcu yang memerah karena nafsu

“Lam-ko..ah…apa yang kamu lakukan?” tegurnya sedikit menolak

“ah…sayang..aku..aku tidak kuasa menahan hasratku, aku…aku ingin mencumbumu, oh lan-moi sayang, aku akan curahkan cinta dan hasratku padamu.” jawab Phang-kongcu dengan terbata-bata dan nafas yang memburu.

“apakah orang semua sudah tidur?” bisik Zhang-kui-lan, mendengar bisikan itu makin terbakar nafsu Phang-kongcu, bisikan itu berupa persetujuan terselubung dalam pendengaran Phang-kongcu, selimut yang menghalangi disingkirkan, pakainnya dibuka dengan cepat, dan dengan ketelanjangannya meraup tubuh hangat dan lembut Zhang- kui-lan dalam dekapannya.

Phang-kongcu muncumbu zhang-kui-lan dengan segenap cinta dan birahinya, Zhang-kui- lan yang sangat berpengalaman sangat pandai menyentak-nyentak birahi Phang-kongcu, Phang-kongcu semakin semangat menunggang tubuh hangat Zhang-kui-lan, dibawah Zhang-kui-lan bergerak erotis sambil melenguh dan mengerang menikmati permainan Phang-kongcu, semuanya itu membuat Phang-kongcu semakin ganas dan kuat mendaki puncak kenikmatan.

Phang-kongcu dengan birahinya yang besar sangat memuaskan Zhang-kui-lan, Phang- kongcu tuntas sebanyak tiga kali meraih puncak kenikmatan, satu pengalaman pertama yang akan terus dia ingat, rasa sayang dan cintanya pada wanita dipelukannya ini membuat hatinya bahagia dan keinginan untuk memilikinya semakin besar.

Menjelang pagi, Phang-kongcu meninggalkan kamar Zhang-kui, melewati kamar adiknya dan terus masuk kamarnya, dengan tubuh lunglai dia merebahkan diri diatas ranjang dan tertidur dengan rasa puas tergambar diwajahnya, malam itu juga terjadi hal yang sama dikamar Yang-ma-kui, dimana Phang-lan-hui, mereguk kenikmatan sanggama yang pertama dengan lelaki tampan yang matang dan penuh simpatik.

Awalnya ketika Yang-ma-kui pergi ketaman setelah meninggalkan Zhang-kui-lan, sesampai ditaman ternyata Phang-lan-hui sedang duduk sambil menikmati bulan yang berhiaskan bintang gemintang dilangit luas

“eh..phang-siocia ternyata, kenapa belum tidur?”

“tuan yang rupanya, aku…aku… kegerahan dan keluar untuk cari angin.”

“hmh….malam ini ternyata sangat indah, bulan purnama demikian cemerlang bertabur bintang.”

“apakah tuan Yang suka menikmati bulan purnama?”

“akhir-akhir ini sering saya menikmati munculnya bulan purnama, dan rasanya dapat menimbulkan suasana hati yang nyaman dan melupakan kegersangan hidup.” “tuan Yang ternyata romantis juga.”

“di usia seperti ini jujur memang aku laksana sahara yang mengharapkan turunya hujan, romantismelah satu-satunya jalan untuk melembabkan hati yang kering, terlalu sulit rasanya untuk mengembalikan waktu masa muda, namun disesalipun tiadalah guna.”

“tuan Yang! kamu amat simpatik dan memikat hati.”

“aku ini pemuda berumur, hanya Phang-siocia yang berkata demikian.” “aku sungguh-sungguh tuan-Yang.”

“hmh…simpatik dan memikat…! kalau tawar karena usia, itu sama halnya, tetaplah hati tidak pernah basah oleh curahan wanita yang mencinta.”

“masih banyak wanita yang akan mengesampingkan usianmu tuan Yang.”

“siapakah, dimanakah dan kapankah wanita itu aku jumpai? besar kemungkinan wanita seperti itu hanya ilusi.”

“tuan Yang bagaimanakah pendapatmu tentang saya?”

“Phang-siocia, tiada cacat cela yang saya temukan pada dirimu, kamu wanita muda yang penuh semangat, wajahmu cantik menarik, tutur katamu sopan sangat meneyenagkan, tubuh bagus dengan segala keindahan.” rayuan maut Yang-ma-kui mulai menguasai hati Phang-lan-hui yang baik dan polos, rasa simpatik yang ia rasakan saat bertemu dengan Yang-ma-kui berubah menjadi iba, dan rayuan penuh pujian yang barusan ia dengar membuat hatinya melambung dan senang.

“tuan Yang pandai berkata-kata.” sahutnya sambil menundukkan kepala karena jengah dengan pujian manis Yang-ma-kui.

“aku jujur mengungkapkan apa yang saya lihat dan rasakan, berbahagialah orang yang mendapat perhatian dan cinta darimu Phang-siocia, sesal yang terlambat kita bertemu dalam kondisi aku sudah berumur”

“ah..tuan Yang siapakah yang bisa menerka jodoh, bisa jadi kamu mendapatkan jodoh diusia tua.”

“kata-katamu Phang-siocia menyejukkan hatiku yang gersang kerontang, setitik harapan mencuat dari kepundan jiwaku, yah..jodoh siapakah yang dapat mengetahui?” sahut Yang-ma-kui nada mendesah, mebuat Phang-lan-hui makin iba dan sayang, pandangan usia yang mengganjal hatinya hancur menorehkan iba dan saya pada pemuda simpatik dan tampan dihadapannya.

Yang-ma-kui menghirup dalam udara malam sambil memajamkan mata, sikap itu membuat Phang-lan-hui ingin menghiburnya dan menghangat hati yang ia tahu sangat kering dan kesepian, pemuda tampan yang sudah berumur, tiba-tiba Phang-lan-hui mendekati Yang-ma-kui, Yang-ma-kui menoleh dengan tatapan harap dan memalas, semakin iba dan sayang hati Phang-lan-hui, keduanya diam saling bertatapan demikian dekat, helaan nafas Yang-ma-kui yang menerpa halus wajah Phang-lan-hui menimbulkan getaran hangat sekaligus meruntuhkan pertahanannya.

Yang-ma-kui meraih pundak Phang-lan-hui dan menariknya lebih dekat, hembusan nafas keduanya makin mmeburu, Phang-lan-hui memejamkan mata dengan degup jantung yang berguncang, dan bagaikan aliran listrik dengan tegangan tinggi, tubuh Phang-lan-hui kejang dan lemas saat merasakan hangatnya bibir Yang-ma-kui yang melumat bibirnya, pagutan-pagutan kecil yang yang ia rasakan membuat bulu romanya merinding, tapi bukan rasa takut yang muncul melainkan rasa nyaman yang luar biasa, Phang-lan-hui yang polos terlelap pada permainan seorang petualang yang sangat berpengalaman.

“rasa nyaman dalam hati Phang-lan-hui membuat ia enggan mengakhiri kemesraan yang dipersembahkan Yang-ma-kui, remasan-remasan lembut Yang-ma-kui ia nikmati sepenuhnya

“Hui-mpi aku mau kembali kekamar.” bisiknya mesra disela-sela ciuman dan remasannya yang memabukkan, Phang-lan-hui tiba-tiba memegang erta tangan Yang-ma-kui karena ia merasakan Yang-ma-kui hendak mengakhiri semua yang ia rasakan.

“bawalah aku kekamarmu, kemesraan dan kehangatan ini masih ingin kunikmati.” desahnya tanpa sadar

“Hui-moi, rasanya tidak tega untuk membuat dirimu kecewa, aku sangat mencintaimu sayang.” bisikan mesra itu membuat rasa bahagia dihati Phang-lan-hui, Yang-ma-kui dengan lembut menggendong Phang-lan-hui dan memasuki kamarnya.

Phang-hui terlalu polos dan sangat dalam terlelap akan rasa nikmat yang ia rasakan, diranjang empuk dan hangat, keduanya melanjutkan belaian-belaian erotis, Phang-lan-hui yang baru pertama hanya mendesah mengerang kenikmatan dalam permainan cinta Yang-kui yang berpengalaman, Phang-lan-hui telah lupa daratan, kenikmatan itu terlalu melelapkan, pengalaman baru itu terlalu memabukkan, dibawah tubuh Yang-ma-kui yang telanjang, Phang-lan-hui mengerang dan mendesah meraih puncak kenikmatan berkali- kali, lelaki bagor dan tampan itu memamah tubuh hangat dan lembut wanita polos yang menggelinjang menerima tekanan tubuh Yang-ma-kui disaat Yang-ma-kui terhempas pada hamparan nikmat yang melelahkan.

Keesokan harinya kedua putra putri she-pang mengalami hari-hari ceria, keduanya takluk akan apa yang mereka rasakan semalam, sementara kedua pengelana asmara sedang keluar untuk menunaikan tugas dengan niat sekedar mengelabui phang-loya, keduanya bukan menyelidiki tapi bermesraan disebuah telaga indah dipinggir hutan, sepasang kekasih itu saling berpilin di atas rerumputan, bersanggama dialam terbuka satu seni bercinta yang sering mereka lakukan.

Zhang-kui-lan dengan tubuh telanjang memasuki telaga dan mandi, Yang-ma-kui juga menyusul, dan keduanya mandi sambil bercanda, saling kejar-kejaran dan saling siram- siraman diiringi gelak tawa dan cekikan manja, setelah puas mandi dan badan terasa segar, keduanya naik ketepian dan mengeringkan tubuh.

“apa rencanamu kita selanjutnya Lan-moi!?” tanya Yang-ma-kui, dan sebelum Zhang-kui- lan menjawab. Keduanya mendengar derap kaki kuda dan dari kejauhan melihat dua bayangan yang sedang memacu kuda dengan kecepatan tinggi, keduanya meninggalkan telaga dan masuk lebih dalam kedalam hutan, lalu keduanya memanjat pohon yang tinggi untuk mengintai kedua orang penunggang kuda.

“kita istirahat sebentar, ditepi telaga, saya hendak mengisi perbekalan air.” ujar seorang dari mereka yang bertubuh besar dan kekar, keduanya turun dan melepaskan beberapa kantong kulit besar dari punggung kuda, ada tujuh kantong kulit kantong air pada masing- masing kuda.

“kita harus cepat, karena perjalanan kita masih panjang.” ujar lelaki yang kekar tapi lebih kecil dari rekannya.

“tenang saja, hanya kita yang memiliki peta, jadi hanya kita yang mengetahui tempat itu.” “kenapa kamu demikian yakin Gak-suheng?”

“saya yakin she-phang yang punya patung kwan-im tidak mengetahui bahwa ada peta didalam patung, terbukti sudah lima hari tidak ada reaksi untuk mencari patung tersebut.”

“Gak-suheng, apakah peta itu memang menyimpan benda berharga?”

“sangat yakin Lu-sute, melihat keluarga Phang adalah keturunan jenderal dinasti sung, jelas tempat dalam peta adalah penyimpanan harta, apakah kamu sudah selesai Lu- sute?”

“sudah…Gak-suheng.”

“kalau begitu mari kita berangkat!”

“tunggu dulu, kalian tidak akan pergi kemana-mana!” sela suara, dan Yang-ma-kui muncul bersama Zhang-kui-lan

“siapa kalian..! menyingkir dari hadapanku!” bentak Gak-sui sambil menyerang, Yang-ma- kui berkelit, dan serangan Gak-sui luput, namun serangan susulan tidak kalah bahayanya, sampai lima jurus Yang-ma-kui berusaha mengelak dan tidak ada peluang untuk membalas, ternyata lawannya kosen juga, hingga pada jurus ke dua puluh Yang-ma-kui masih dalam situasi terdesak, Yang-ma-kui dengan hati marah mengerahkan kemampuannya untuk mengimbangi seranga, dan dalam tiga jurus keadaan berimbang.

Yang-ma-kui berusaha kuat untuk mendesak, namun lawannya juga tidak mau kalah, pertempuran seru semakin menegangkan, Zhang-kui-lan tiba-tiba menyerang Lu-gin, namun luput karena Lu-gin juga sudah waspada, dua kelompok pertempuran berlangsung di tepi telaga, gerakan empat bayangan itu sangat gesit dan kuat, sepertinya empat orang itu memilki kemampuan yang seimbang, bahkan sampai sore pertempuran itu belum mendapat penentuan siapa yang menang, walhal pertempuran sudah menggunakan senjata.

Saat malam empat orang itu berhenti karena kelelahan “apa yang kalian inginkan!?” tanya Gak-sui

“kalian sedang mengincar benda berharga, dan kami juga menginginkannya.” “sial…kalian tidak akan mendapatkannya!”

“jika tidak, kita lanjutkan pertempuran sampai tuntas.” tantang Yang-ma-kui

“kami juga tidak serakah, dibagi empat, kami dapat menerima.” sela Zhang-kui-lan, sambil duduk dan mengangkan kakinya persisis didepan Lu-gin, gerakan itu mengundang perhatian, terlebih celana Zhang-kui-lan robek dibagian paha dan mempertontonkan pahanya yang mulus, keduanya melirik kearah selengkangan Zhang-kui-lan dan paha putih mulus yang sengaja digoyang.

Gerakan Zhang-kui-lan itu menggetarkan birahi Lu-gin dan Gak-sui, Zhang-kui-lan memang benar-benar pandai memamfaatkan dirinya yang cantik menggairahkan

“bagaimana apa kita tuntaskan pertempuran ini atau kita sepakat bersama-sama mencari tempat penyimpanan harta.” ujar Yang-ma-kui, keduanya tersadar dari lamunan yang ditimbulkan gerakan erotis Zhang-kui-lan,

“nampaknya mereka ingin hidup sengsara dengan luka parah atau kemungkinan tewas daripada bersenang-senang.” sela Zhang-kui-lan sambil berdiri

“apa maksudmu nona!?” tanya Lu-gin

“hik..hik…jika kalian setuju, aku akan senang melayani kalian dalam perjalanan, sehingga perjalanan kita akan terasa indah dan menyenangkan.” jawab Zhang-kui-lan sambil membasahi bibirnya yang ranum merah, Lu-gin dan Gak-sui sangat mengerti maksud perkataan itu, keduanya adalah murid yang melanggar aturan perguruan, yaitu memperkosa anak perempuan orang, dan oleh suhu keduanya mereka diserahkan ke pengadilan negeri dan ditahan dipenjara pemerintahan.

Satu tahun mereka dalam dipenjara, keduanya berusaha menjebol lantai tempat mereka ditahan, dan satu ketika keduanya sedang melanjutkan penggalian, dan menemukan sebuah peti yang berisi buku catatan didalam galian, isi catatan itu berupa nama-nama pejabat kota xining masa lampau, dan catatn kekayaannya. dan salah satunya adalah pejabat Phang, kekek buyutnya phang-loya, dalam catatn itu menceritakan bahwa patung- kwan-im milik she-phang harta termahal dan terbesar keluarga Phang.

Sebulan kemudian mereka berhasil keluar melalui galian yang mereka usakan, dengan mencuri dua stel pakaian, dan sayangnya Gak-sui terlalu besar sehingga pakainnya sempit dipakai, namun daripada tidak keduanya melancarkan aksi, mereka berhasil walaupun kepergok pengawal rumah she-Phang.

Ditempat persembunyian keduanya memperhatikan patung dewi kwan-im yang terbuat dari giok batu bintang, dua hari kemudian mereka secara tidak sengaja memutar kepala patung, dan ternyata kepala patung dapat copot, dan sebuah gulungan kertas berada dalam tubuh patung, gulungan kertas itu berupa gambar gunung dan dibawahnya hamparan bening, dan ada dua matahari, pertama dibawah hamparan dan kedua diatas gunung, kemudian disisi gunung ada gambar sungai yang berliku

“apa maksud gambar ini Gak-suheng?” tanya Lu-gin bingung. “ini adalah peta penyimpanan harta she-pang.” “tempatnya kira-kira dimana Gak-suheng..”

“jika melihat gambar ini, tempat penyimpanan harta berada ditempat yang bersalju, dan daerah bersalju adanya di wilayah barat, kita harus kesana untuk mendapatkan harta itu.” jawab Gak-sui dengan raut wajah gembira.

Keesokan harinya menyelidiki kuda-kuda yang cepat dan kuat dan mengumpulkan beberapa kantong air, setelah itu esok harinya merekapun keluar kota xining dengan memacu kuda dengan kecepatan tinggi, namun apes mereka bertemu denga Zhang-kui- lan dan Yang-ma-kui yang dengan tidak sengaja mengetahui rahasia mereka karena mendengar pembicaraan mereka saat mengisi kantong air.

Dan kenyataan pahitnya mereka seimbang, dan tawaran wanita cantik didepan mereka sangat menggugah selera, dalam benak Gak-sui timbul pemikiran, bahwa tidak ada salahnya melakukan kesepakatan, sambil mengambil kesempatan disaat kedua saingan ini lengah.

“baiklah kalau begitu, kami terima tawaran kalian, tapi dengan satu syarat, peta hanya saya yang pegang.”

“hik..hik… boleh saja, dan sepertinya adil, jika anda yang memegang, karena kalian yang langsung mendapatkan peta.” sahut Zhang-kui-lan.

“sesampai dikota terdekat sambil mencari kuda, tawaran nona akan saya tagih.”

“hik..hik…jangankan sampai dikota terdekat, ditengah hutan ini saya sudah siap melayani, terlebih hari sudah malam, aku merasa kedinginan.” sahut Zhang-kui-lan dengan senyum nakal menggoda, Lu-gin makin bergairah, Gak-sui semakin gemas

“karena kita sudah sepakat, siapakah nama kalian?” sela Yang-ma-kui “saya adalah Gak-sui dan ini sute saya Lu-gin.”

“saya Yang-ma-kui dan rekan saya yang cantik ini Zhang-kui-lan.”

“bagaimana, apa kita melanjutkan perjalanan atau seperti kata rekan saya yang cantik memikat ini kita lewatkan malam disini.”

“aku mau kita lewatkan malam disini.” sela Zhang-kui-lan sambil melirik Lu-gin dengan senyum nakal menggoda.

“baik, saya juga pikir lebih baik kita melewatkan malam disini, disini tempatnya indah dan luas mata memandang permukaan telaga.” sahut Lu-gin, lalu meraka mengambil tempat bersandar, Zhang-kui-lan merebahkan badan dengan telentang, semua gerakan Zhang- kui-lan mengandung pancingan yang memabukkan, Lu-gin tidak dapat mengendalikan diri, lalu ia berdiri dan mendekati Zhang-kui-lan yang memejamkan mata dengan seulas senyum manis pada garus bibirnya yang ranum. “nona zhang..” bisiknya sambil mengelus pipi Zhang-kui-lan dengan nafas memburu, Zhang-kui-lan membuka mata dan tersenyum hangat, ia menoleh kearah Gak-sui, lalu menatap dalam kemata Lu-gin

“gak-suheng, kami ke sana dulu.” ujar Lu-gin

“tunggu Lu-sute, saya adalah suhengmu, apakah patut menurutmu?” “suheng, siapa duluan apakah akan kita permasalahkan?”

“hik..hik…aku ini bukan perawan, jadi tidak ada keistimewan siapa yang duluan.”

“hahaha..hahaha….hahaha….benar sekali, sudahlah aku mau tidur, kamu ini memang gatal Lan-moi.” sela Yang-ma-kui sambil tertawa terbahak-bahak, Gak-sui dan Lu-gin salah tingkah.

“sudahlah, kalian pergilah.” ujar Gak-sui, Zhang-kui-lan yang sudah melangkah duluan disusul Lu-gin.

Dibalik semak agak jauh dari tepi telaga, kemesuman zhang-kui-lan sijalang yang memabukkan membuat kobaran nafsu yang menggila, rejangan Lu-gin yang setahun tidak merasakan hubungan ini menunggang Zhang-kui-lan dengan rasa gemas yang menggila, kecantikan dan runumnya tubuh Zhang-kui-lan memenuhi segala bayangan nikmat Lu-gin, Zhang-kui-lan yang mendapat perlakuan ganas demikian ulet mempermainkan gelora nafsu Lu-gin, gerakan yang erotis, erangannya yang menyentak birahi, aroma kewanitaannya yang memabukkan membuat Lu-gin lupa daratan, yang ada hanya rasa nikmat disetiap gesekan, pendakian semakin mengambang melelapkan,.

Saat Lu-gin mengalami hempasan kenikmatan, dengan pandainya Zhang-kui-lan menerbitkan kembali birahi Lu-gin yang redup karena kenikmatan, dengan ciuman-ciuman menggelitik, Lu-gin merasa dituntun kembali pada alur birahi, untuk kedua kalianya Lu-gin berpacu dengan nafsunya yang membakar, dengan senyuman puas, dan erangan nakal, Zhang-kui-lan mengimbangi rejangan Lu-gin yang semakin cepat, remasan dan gelinjang zhang-kui-lan meledakkan birahi Lu-gin yang berada dipuncak, dan saat mata Lu-gin terpejam dengan tubuh gemetar dan kaku dan tiba-tiba tubuh itu terasa lemas, sebuah pukulan telak menghantam leher Lu-gin hingga patah.

Lu-gin tewas seketika tanpa ia sadari dipuncak kelemasan tubuhnya yang rasanya semua tulangnya dilolosi karena kenikmatan, Zhang-kui-lan dengan senyum menggiriskan membalikkan badan sehingga Lu-gin terguling kesamping, Zhang-kui-lan memakai pakaiannya, hampir setengah jam ia belum beranjak dari mayat kaku Lu-gin, setelah merasa siap, ia berdiri dan kembali ke pinggir telaga.

Setelah dekat, dia melihat Gak-sui duduk gelisah, sementara Yang-ma-kui, rebah terbaring, Gak-sui cepat berdiri ketika melihat Zhang-kui-lan, dan sutenya tidak bersamanya

“kemana suteku!?” tanya nya cemas, tiba-tiba Yang-ma-kui bangun. “sudah kamu bereskan Lan-moi!?” “sudah, kamu ladeni ia sebentar, nanti aku susul.” sahut Zhang-kui-lan

“sial, kalian penipu curang..!” teriak Gak-sui, namun teriakan itu dibalas sebuah serangan dari Yang-ma-kui, pertempuran ditengah malam buta itu belangsung seru, dan pada jurus ke empat puluh, Zhang-kui-lan memasuki kencah pertempuran, Gak-sui dikeroyok habis- habisan.