-->

Biang Ilmu Hitam (Hek Hoat Bo) Jilid 4 TAMAT

Jilid 4 (Tamat)

tubuh pah-sim-sai-jin dilempar gelombang kearah rumpunan bakau , dua hari kemudian pah-sim-sai-jin siuman lalu dia bergerak diantara rerumpunan bakau terus kedalam hingga sampai kedarat , pah-sim-saijin berdiri dan masuk kedalam hutan , hatinya kecewa karena ilmunya yang ampuh masih punya kelemahan , tidak bisa dilancarkan ketika dalam kencah pertempuran yang seru terbukti melawan kakek bun-hui yang dekat sekali dengannya ilmunya tidak bisa dikelurkan , kemudia nenek hong-in malah menghinanya dan mengikatnya sedemikian rupa

pah-sim-sai-jin berdiri dan bergerak mengeluarkan ―thian-te-tin- hoat-chit‖ kemudian jurus pedangnya ―eng-lo-in-kiam‖ dan

―beng-cui-in-kiam‖ , pah-sim-saijin berusaha memecahkan supaya ilmunnya hek-hoat-bo tidak hanya terdiri dari satu jurus

, maka setelah dua bulan merangkai-rangkai perpaduan gerak tangan ―thian-te-tin-hoat-chit‖ dan posisi kaki menurut kedua ilmu pedanganya maka dia menemukan tujuh jurus serangan yang bisa mengeluarkan hawa pukulan mautnya

dengan semangat yang menyala-nyala dia melatih tujuh jurus serangan itu hingga mahir dan tidak terasa dia berada di hutan itu selama setahun , setelah merasa cukup lalu pah-sim-sai-jin keluar dari hutan dan menuju aliran sungai yang bermuara kelaut , sungai itu dia susuri hingga sampai kegerbang kota kaifeng sebelah barat , lalu ia memasuki kota kaifeng , siapa yang melihatnya kaget dan terperanjat , kenapa tidak ! sejak dua bulan yang lalu lam-kek-hek-te sudah bubar dan terdengar isu bahwa pah-sim-sai-jin telah tewas dilempar kelaut

namun tiba-tiba muka khas itu muncul , membuat orang pucat ketakutan , tapi pah-sim-sai-jin tidak mengobrak-abrik pasar . hanya lewat saja menuju pantai dan mengambil kapal nelayan yang sedang asik memperbaiki jalannya , pah-sim-sai-jin pada malamnya mendarat di pulau kura-kura , dan gerakan dia yang memasuki pulau telah tercium oleh lima puluh pat-hong-te , pecahlah pertempuran di pantai pulau kura-kura , ketujuh istri she-taihap beserta anak-anaknya bergerak kepantai , hanya kwaa-han-bu yang tidak ikut walaupun ia juga seorang pendekar cilik yang tidak boleh dipandang ringan , namun karena karena umurnya baru delapan tahun , ibunya menyuruhnya mempertahankan istana dan dikuatkan oleh pek- bonya tang-hui-bi , sehingga kwaa-han-bu menurut

pertempuran yang penuh-hati-hati itu membuat pah-sim-sai-jin tidak bisa segera menundukkan lima puluh pat-hong-heng-te , pat-hong-heng-te menyerang bergantia-gantian , sekali serang sepuluh orang , sehingga membuat pah-sim-sai-jin kebingungan dan harus bersabar , ketujuh istri she-taihap juga bukan tidak kalah beratnya dengan gerak formasi serangan yang dilancarkan dengan tujuh helai sabuk

pah-sim-sai-jin mengeluarkan jurus hek-hoat-bo yang baru yang terdiri dari tujuh jurus , dan pada jurus ketiga pukulan mautnya telah menghantam empat pat-hong-heng-te dan pada jurus ketujuh menghantam empat anak she-taihap , dalam tujuh jurus delapan korban telah dia dapatkan , bau apek segera menyebar , pat-hong-heng-te dan she-taihap bergerak menjauh kesisi pantai sebelah utara , dan keroyokan bergerak kembali dengan formasi yang sama ,

pat-hong-heng-te lebih hati-hati , pertempuran suda hampir menjelang pagi , dan beberapa pukulan hek-hoat-bo dilancarkan , sepuluh kelompok pengeroyok segera berpencar sehingga kadang tidak mengenai sasaran dan tekadang mengenai satu orang , kemudian pertempuran bergerak terus keutara menjauhi istana , saat matahari muncul dan pah-sim- sai-jin melancarkan hek-hoat-bo , dan dua tamparannya mengenai dua tubuh pat-hong-heng-te dan rangkum sinar hijau menerpa empat istri she-taihap hingga tewas dan pada jurus ketujuh pukulan hek-hoat-bo menghantam lima anak she-taihap

pertempuran berlanjut dan bergerak menjauh dari kumpulan mayat-mayat beracun tersebut , jurus hek-hoat-bo semakin mangis setelah menelan banyak korban , jurus yang digerakkan dengan hati sombong yang diselimuti kebohongan sihir serta keinginan nafsu menang yang memuncak dan kebahagiaan melihat banyaknya nyawa melayang , gerakan hek-hoat-bo menemukan intinya hinga dalam satu jurus menghantam sepuluh pat-hong-heng-te yang walaupun mereka berpencar , pendar hijau itu menyambar laksana kilat membuat mereka ambruk tewas seketika , sepuluh pat-hong-heng-te menyusul serangan , tapi jurus kedua hek-hoat-bo menyambut gerakan mereka sehingga mereka jatuh bergelimpangan dan lima anak she-taihap yang masih hidup menyusul gerak berikutnya dan tubuh mereka juga tidak kuasa membendung kilat cahaya jurus ketiga hek-hoat-bo

, akhirnya tersisalah sepuluh orang pat-hong-hengte , jurus keempat hek-hoat-bo berkeredapan menghantam tubuh kesepuluh pat-hong hengte tapi tubuh pahsim-saijin menerima dua puluh pukulan sakti jarak jauh , lima puluh utusan yang diperintahkan nenek-hong-in untuk menutup tung-kek-hek-te dan lam-kek-hek-te sudah mendarat pagi itu dan terkejut melihat tujuh mayat saudara-saudara mereka

mereka lalu melihat jejak yang banyak menuju utara , lalu mereka ikuti dan mendapatkan sepuluh rekan mereka dihantam pukulan menyilaukan dan spontan mereka menghantamkan pukulan jarak jauh , pah-sim-sai-jin tersenyum sinis dan bergerak melanjutkan jurus kelima , keenam dan ketuju , luar biasa memang , lima puluh pat-hong-heng-te dalam tiga gebrakan roboh dua puluh lima orang , bau apek ditempat itu tak dapat lagi dihindarkan menjebol pertahanan sin-kang pat- hong-hengte membuat mereka bangkis-bangkis dan ilmu hek- hoat-bo yang ganas berpendar menyapuh dua puluh lima tubuh pat-hong-heng-te , tubuh yang kosong karena linglung menerima pukulan maut membuat tubuh dua puluh lima pat- hong-heng-te membekuk menjadi kaca es dan kemudian meledak pah-sim-saijin menyambut ledakan itu dengan tertawa sepuas- puasnya , pulau kura-kura bergetar , ―suhu..! sekarang muridmu akan merajai dunia ― pekiknya sehingga terdengar bergema keseluruh bagian pulau , lalu pah-sim-sai-jin bergerak menuju istana , ingin mengetahui apakah masih ada yang hidup , dia heran kenapa nenek cantik itu tidak ikut kepantai meyambutnya

, sesampai di istana dia mencari kesana kemari , kemudian dia pergi kelianbhutia yang teramat besar dan luas membuat dia berdecak kagum kemudian pesanggrahan dan rumah likoan dibelakangnya , tidak ada tanda-tanda kehidupan , lalu pada malamnya dia meninggalkan pulau kura-kura yang tidak berpenghuni

setelah tiga bulan pah-sim-sai-jin mendapatkan lokyang hanya tumpukan puing-puing terbakar , jengkel benar hatinya , tapi semangatnya kembali bahwa penghalangnya tidak ada lagi , tewasnya segala yang berhubungan dengan kim-khong-taihap merupakan kemenangan mutlak seluruh wilayah , tidak ada lagi kekuatan yang akan menghalangnya untuk mewujudkan mimpinya menyemai prinsip kejahatan

pah-sim-sai-jin bergerak menuju han-zhong , di han-zhong dia mulai membuat teror , anak-anak renaja diculik wanita-wanita dipermainkan , dalam jangka setahun lam-kek-hek-te telah dibentuk di kota hanzhong , lima ratus pemuda belia dan seratus anak-anak perempuan menjadi penghuni han-zhong , selama setahun itu lima puluh murid pertamanya telah menunjukkan kekuatan dan keculasan ―cia-long ! pah-sim-sai-jin memanggil seorang pemuda berumur delapan belas tahun , , ―saya , ong ! ― segera kamu kumpulkan lima puluh rekanmu aku ingin menyampaikan sesuatu ! ― , ―baik

, ong‖ , cia-ong keluar dan satu jam kemudian lima puluh pemuda umur enam belas sampai delapan belas berkumpul ,

―bagaimana kalian harus hidup !?‖ pah-sim-sai-jin berseru lalu terdengar jawaban serempak , ―hidup sombong ! , suka berbohong ! suka menurutkan keinginan ! dan suka melihat penderitaan orang ― , ―hehehe..hahaha , bagus..bagus ― sela pah-sim-sai-jin senang 

―sekarang kalian dengar , besok saya akan meninggalkan kalian , dan han-zhong sementara kalian atur dengan baik , kalian giat melatih ilmu ―thian-te-tin-hoat-chit‖ bagian pertama yang sudah kalian pelajari , dan sekarang kalian perhatikan bagian kedua yakni ―thian-te-toan-jiauw‖ lalu pah-sim-sai-jin memperagakan jurus tersebut , setelah itu cia-long dan sepuluh rekannya bergerak meniru gerakan pah-sim-sai-jin, pah-sim- sai-jin memperhatikan dengan seksama dan tersenyum puas ,

―bagus..bagus , kalian sebelas orang sangat membuat aku bangga ― puji pah-sim-sai-jin , sepuluh orang itu menjura , nah kalian sepuluh tuntun rekanmu yang lain untuk memainkan jurus ―thian-te-toan-jiauw‖ sampai mahir dan jangan lupa melatih jurus bagian pertama ―thian-te-cio-kang‖ , baik , ong ! jawab mereka serempak

keesokan harinya pah-sim-sai-jin berangkat meninggalkan han- zhong , tujuannya adalah ke hengsan-pai , , pah-sim-sai-jin berencana untuk menundukkan delapan partai besar dan tujuan pertamanya adalah heng-san-pai , sepanjang perjalanan si wajah burik berperawakan tinggi ini dikenal belaka oleh semua orang , terlebih kalau sudah melihat gagang pedang yang berkepala tengkorak itu tersampir dipunggungnya , senyumnya yang sinis tidak pernah lepas dari bibirnya , dimana pah-sim-sai-jin singgah semua wajah menunduk , dimana likoan dia singgahi dia dilayani dengan rasa cemas dan gemetar , pelayanan kamarnya juga harus tersedia setidaknya empat wanita cantik sehingga dalam setahun kekuasaanya di selatan terbentuk pola hidup masyarakat untuk bertahan hidup sehingga menghalalkan segala cara , dimana pemiliki likoan menyewa tukang-tukang pukul untuk mendapatkan wanita- wanita jika pah-sim-sai-jin singgah diloannya , demikian pula para kungcu , untuk menyenangkan hati pah-sim-sai-jin dan keselamatan dirinya , para pengawal disuruh untuk mewujudkan pelayanan maksimal pada pah-sim-sai-jin

pajak yang tinggi pun di bebankan kepada rakyat untuk menaati aturan pah-sim-sai-jin dan semuanya harus diantar han-zhong sebagai upeti , demikianlah ketika pah-sim-sai-jin sampai di kota paoteng , pemilik likoan melayani pah-sim-sai-jin dengan menyembah-nyembah , segala makanan terbaik disediakan , para tukang pukul sudah beraksi siang itu mencari wanita- wanita cantik karena pah-sim-sai-jin akan bermalam dan menginap di likoan , para orang tua yang didatangi para tukang pukul itu hanya menagis kedalam ketika anak perempuan mereka dipaksa ikut mereka melawan tidak mampu , para tukang pukul juga jawara yang bertahan hidup ditengah kemelut tirani pah-sim-sai-jin , hingga kadang mereka tidak segan-segan memukul para orang tua yang menolak dan bertahan hingga babak belur , empat wanita cantik sudah digiring ke likoan , dan ketika pah-sim-sai- jin memasuki kamarnya empat , perempuan paksaan itu pun disuruh masuk , bagaimana sikap empat perempuan itu didalam kamar mereka tidak mau tahu , dan pah-sim-sai-jin juga tidak pernah mempermasalahkan , karena pah-sim-sai-jin sendiri sama saja menerima atau menolak wanita yang sisuguhkan tetaplah mereka jadi korban keberutalan birahi pah- sim-sai-jin , bergerak menggelinjangpun wanita yang digagahi bagi pah-sim-sai-jin menemukan kepuasan , dan sebaliknya , tidak bergerak bagai mayatpun wanita yang digagahi , pah-sim- sai-jin tetap mencapai kepuasan

malam itu empat wanita yang tidak berdaya itu melayani birahi pah-sim-sai-jin , mereka hanya menagis saat pah-sim-sai-jin mempermainkan tubuh mereka , menjeritpun tiada gunanya apalagi melawan , selama tiga hari pah-sim-sai-jin menginap dilikoan ditemani empat wanita yang melayaninya , setelah itu ia melanjutkan perjalanan ke hengsan-pai

hengsan-pai dipimpin oleh bu-ciangbujin yang berumur tujuh puluh tahun , dan dua wakilnya pouw-han-kong dan cia-ki-teng

, kemudian dibawahnya tiga murid kepala dan empat murid pertama yang menjadi pengajar dua ratus murid , hari itu bu- ciangbujin mengadakan pertemuan berasama dua wakil tiga murid kepala

―dunia kita sekarang amat memprihatinkan , entah kapan lagi akan seperti dulu , liok-lim kehilangan pegangan dengan tewasnya semua she-taihap ― , suhu..! kita mungkin tidak sehebat pat-hong-heng-te dalam ilmu silat , namun dalam kebenaran kita tetap sama teguh mempertahankannya ― sela seorang murid kepala , ―benar yang dikatakan suheng ! apapun yang terjadi prinsip kebenaran haruslah yang didahulkukan walaupun nyawa jadi taruhan ― sela yang lain menimpali

―ya… tekad itu bagus muridku dan dengan itu menjalani hidup bagaimanapun nanti akhirnya , sahut bu-ciangbujin , tiba-tiba pah-sim-sai-jin muncul ditengah pertemuan di ruang dalam hengsan-pai , ―hehehe…hahaha , omongan murah dan kosong kenapa dijadikan pegangan , manusia jenis kalian ini memang goblok ― pah-sim-sai-jin berdiri jumawa menatap enam orang pentolan heng-san-pai , ―pah-sim-sai-jin ! mana yang menurutmu omongan kosong !? ― bu-ciangbujin berdiri dan diikuti yang lainnya , ―hahha,..hehe , omongan kosong itu rela mati untuk sebuah yang dikatakan benar , kamu tahu tidak kakek bangkotan bahwa benar manusia memiliki keinginan senang , menang dan kenyang , benar bahwa manusia ada akal untuk berusaha bertahan hidup , lalu kenapa asasi manusia itu seakan mandul hanya karena sesuatu yang katanya benar , bukankah itu omong kosong !? ―pah-sim-sai-jin benar adalah sesuatu yang mutlak ― ,

―hehehe..hahah , phuah..! bagi saya benar tapi bagi kalian salah , lalu mana kebenaran mutlak itu ?, hahahah ― sela pah- sim-sai-jin benar tetawa jumawa , ― heh..! orang hengsan-pai aku kesini untuk mencari bibit manusia yang semangat dalam mewujudkan mimpinya , keingiananya dan yang bangga atas dirinya ― , ―niatmu sungguh menyesatkan pah-sim-sai-jin ! ― tegur bu-ciangbujin , ―hahah..heheh , tua bangkotan apa kamu akan sanggup menghalangiku !? ― , ―untuk mempertahankan hidup dan prinsipnya aku akan melupakan kebodohanku menghadapimu ! ― , ―hahha,… hehehe, kalau begitu matilah kamu kakek bangkotan ! pah-sim-sai-jin melepas pukulan sakti dan ditangkis bu-ciangbujin , hingga tubuhnya terlempar dan memuntahkan darah segar , sementara pah-sim-sai-jin senyum sinis sambil berkacak pinggang , lima murid menerjang bersama , pertempuranpun terjadi dengan seru

keributan disebelah dalam mengundang para murid mendekat dan berkumpul dihalaman , empat murid pertama bersiaga disekitar pertempuran dimana suhu dan lima suheng mereka mengeroyok manusia yang amat dikenal dengan sebutan pah- sim-sai-jin , dalam lima puluh jurus keenam orang tua heng- san-pai itu terjungkal tidak berdaya dan tiga diantaranya tewas dengana isi dada ambrol tidak kuasa menahan jurus ―thian-te- cio-kang‖ dan tiga yang lain terluka parah dan tanpa diduga kepala ketiga pentolan hengsan-pai itu pecah di hantam pukulan pah-sim-sai-jin , hingga ketiganya tewas seketika empat murid utama dan dua ratus murid segera menyerang , namun bagi pah-sim-sai-jin mereka itu selunak tahun , empat kali pukulan saktinya menghantam telah menewaskan lima puluh murid , sehingga yang lain undur ketakutan , ―kalian tentu tahu dengan aku ! aku adalah pah-sim-sai-jin orang paling bahagia dengan dirinya , semua keingianku tercapai segala hasratku terpenuhi , jika kalian mau mengikuti akan aku berikan kesenangan hidup pada kalian ― , ― cih … manusia murka , simpan tawaranmu yang tiada guna itu , sela seorang murid utama dan langsung menyerang diikuti murid-murid yang lain ,

―hahhaha..hehehe , memilih mati , terimalah ini ! ― pah-sim-sai- jin bergerak gesit menghantam pukulan-pukulan mematikan , kadang memukul , kadang mencakar , kadang menotok , kadang menendang , semua rangkaian gerak itu adalah ilmu

―thian-te-tin-hoat-chit‖ yang sakti dan hasilnya dalam lima puluh jurus seratus orang ambruk tewas , sehingga tersisa tiga puluh orang dan dua murid utama

―bagaimana !? apakah kalian lebih memilih mati hanya untuk sesuatu yang hanya omong kosong !?‖ , dua murid utama dan tigapuluh murid itu berlutut menyerah , ―baik..! kalian telah membuat pilihan tepat , jadi tinggalkan perguruan ini dan berangkat ke hanzhong , kalian bergabung dengan murid- muridku disana ! ― tiga puluh orang itu segera turun gunung bersama pah-sim-sai-jin , pelajaran pertama yang ditanamkan pah-sim-sai-jin bahwa manusia yang sudah mati biarkan tergelatak dan alam yang akan mengursunya , mungkin melalaui pembusukan atau jadi santapan binatang buas , seratus lebih mayat teronggok di hengsanpai dibiarkan begitu saja , murid-murid rekrutannya menuju han-zhong sementara pah-sim-sai-jin menuju khoting-pai

perjalanan berlanjut , pah-sim-sai-jin menatap dunia dalam genggamannya , disetiap kota dia dilayani , perempuan- perempuan menjadi tumpahan birahinya disediakan , perjalanannya lancar menuju khotong-pai , niatnya untuk merekrut bibit dari kedelapan partai dilakukan dengan telaten penuh percaya diri dan bangga akan dirinya

khotong-pai dipuncak indah diselatan kota nanning dimana empat murid kepala sedang melatih seratus murid , gerakan mereka demikian kokoh dan kuat , mereka bergerak sesuai aba-aba murid kepala , khotong-pai di asuh oleh sim-ciangbujin yang berumur delapan puluh tahun dibantu wakilnya lou-ji dan lima orang senior yang disebut ―ngo-heng-lojin ― orang tua lima unsur

suasana hikmat latihan para murid terganggu ketika pah-sim- sai-jin muncul ditempat itu , ―suruh keluar ciangbujin untuk bertemu pah-sim-sai-jin ! , gema suara belum hilang , pah-sim- sai-jin sudah muncul , tiga murid kepala bersiapa hendak menyerang , tapi ngoheng-lojin yang berada di tempat lansung menyerang pah-sim-sai-jin , lima senior itu bergerak cepat dan teratur rapi membentuk ngo-heng-tin , pah-sim-sai-jin meludah dan tersenyum sinis , ilmu gin-kangnya ―thian-te-hun-lek-lie‖ yang luar biasa cepat berusaha menembus pertahanan ngo- hen-tin , dan dalam waktu yang tidak lama barisan sakti itupun ambrol dan porak-poranda , serangan jitu berubah menjadi pertahahanan namun tetap terdesak dan akhirnya dua diantara ngo-heng-lojin terjungkal memuntahkan darah , sesaat tubuh mereka menggeliat dan lalu mati

tiga rekannya berusaha membangun serangan dengan serangan sendiri-sendiri , namun bagi pah-sim-sai-jin serangan itu tiada arti , dalam lima gebrakan ketiga orang senior itu ambruk tewas , sim-ciang-bujin dan lou-ji muncul , ―sungguh luarbiasa kejam tanganmu pah-sim-sai-jin !? ― tegur sim- ciangbujin , ―hahahah..hahaha , lalu kamu mau apa kakek bangkotan ! ― , sim-ciang-bujin langsung menyerang dengan dahsyat setelah mendengar tantangan bernada hinaan itu , pertempuran seru dan dahsyat pun berlangsung , pah-sim-sai- jin yang jumawa tersenyum sinis menghadapi kakek sim , dan pada jurus ketiga puluh pah-sim-sai-jin mendesak sim- ciangbujin , lalu lou-ji bergerak membatu suhunya , pah-sim-sai- jin dikeroyok habis-habisan oleh ciangbijin dan wakilnya

Pah-sim-sai-jin dengan tenang tanpa meninggalkan seyum sinisnya menghadapi keroyokan itu , dan pada satu kesempatan , pukulannya menghantam punggung lou-ji hingga terhempas ketanah , dan disusul tendangan menghantam lambungnya sehingga ia terlempar dan ambruk kebumi dan tewas seketika , sim-ciang-bujin dengan gigih menghadapi pah- sim-sai-jin , dan tiga murid kepala datang membantu namun dua gebrakan ketiganya terlempar dengan luka parah , dan

sim-ciangbujin tidak dapat menghindar ketika tendangan pah- sim sai-jin menghantam selengkangannya , sim-ciang bujin tewas seketika

Para murid menerjang , pah-sim-sai-jin membagi-bagi pukulan seperti orang dewasa membagi-bagi peremen pada anak-anak

, dan dalam sepuluh gebrakan , lima puluh orang terluka parah dan sebagian besar tewas , ―siapa diantara kalian yang ingin hidup senang , keinginana terpeniuhi , hidup tanpa ikatan !? serunya kepada lima puluh orang murid yang undur ketakutan , semuanya diam , ―baik .. ! kalau kalian tidak menjawab matilah kalian ! ― pas-sim-sai-jin hendak melanxarkan pukulan , namun lima puluh orang itu berlutut menyembah-nyembah , dan mau menuruti keinginan pah-sim-sai-jin

Oleh pah-sim-sai-jin kelima puluh orang itu disuruh ke han- zhong sementara ia melanjutkan perjalanan menuju hoasan-pai

, pah-sim-sai-jin dengan senyum jumawanya melangkah melengang memasuki kota lengkok , disebelah barat kota puncak hoasan sudah kelihatan ,, hari itu pah-sim-saijin menginap dirumah ouw-kungcu , dengan mewah pah-sim-sai- jin di layani , lima wanita sudah disediakan untuk menghibur pah-sim-sai-jin

Dengan hati puas dan gembira pah-sim-saijin menerima suguhan dan hiburan yang menyenangkan hatinya , seminggu pah-sim-saijin membuat sibuk ouw-kungcu , walaupun sibuk dia tidak bisa mengeluh , mau bagaimana mengeluh sementara hatinya kabat-kebit tidak karuan , takut-takut membuat pah-sim- saijin marah yang bisa jadi akhir dari hidupnya , para pengawal pun tidak bisa berkutik , selama raja hitam itu berada di rumah kungcu mereka hanya siap menerima perintah untuk menyenangkan hati pah-sim-sai-jin

Hoasan-pai hari itu sedang mengadakan persidangan kepada dua orang tosu yang melakukan pelanggaran , li-tosu diserahkan oleh liem-tosu untuk mengadil perkara dan menjatuhkan hukuman , liem-tosu dan empat tosu murid kepala sudah hadir , demikian juga seratus murid yang mondok di puncak hoasan , dua pesakitan yang cu-tosu dan in-tosu sudah berlutut di tengah ruangan

―kalian berdua didakwa she-bu yang berdiam didesa kaki bukit hoasan bahwa kalian berbuat hal tidak senonoh pada anak gadisnya ! , bagaimana dan apa pembelaan kalian ! ― li-tosu membuka persidangan , ―suheng ! kami menyatakan bahwa kami tidak bersalah , dan bukti tidak ada yang menyatakan kami bersalah ― jawab cu-tosu , ―hmh… bagaimana bu-sicu !? , apa dasar bu-sicu menjatuhkan dakwaan pada kedua murid hoasan-pai ?‖ , ―tojin yang terhormat ! , buktinya adalah kancing baju salah seorang dari dua terdakwa yang sempat direnggut oleh anak gadis kami ― orang she-bu itu menunjukkan sebuah kancing baju , ―apakah ini kancing baju salah seorang dari kalian !? , dua orang itu melihat kancing baju itu , sesaat keduanya pucat namun tiba-tiba in-tosu berkata , ―suheng…!

Apa yang bisa dibuktikan dengan kancing baju , kancing baju itu milik siapa saja dan menurut saya ini hanya usaha untuk mencoreng nama kita ― ―hmh… bu-sicu selain kancing baju ini adakah hal lain yang lebih kuat membuktikan dua murid hoasanpai ini salah !? ―,

―tojin yang terhormat ! , kedua terdakwa kenal dengan kami dan anak gadis kami juga kenal mereka , dan anak saya tidak mungkin menjatuhkan fitnah untuk hal yang memalukan ini , namun walaupun begitu , tolong tojin minta kepada keduanya untuk menunjukkan baju yang mereka pakai seminggu yang lalu yang mana she-in itu memakai baju warna putih , sementara she-cu itu memekai baju warna kuning ― , kedua

tosu itu langsung menyela , ―she-bu ! jangan membuat fitnah ― ,

―kalian diam dan berbicara jika ditanya ! ― , tegur li-tosu tajam ,

―coba kalian liang-sute ambil baju kedua tosu ini yang berwarna putih dan kuning !‖ perintah li-tosu pada salah satu murid kepala , liang tosu pun keluar , setengah jam kemudian tujuh helai baju dibawa , empat helai baju dua warna putih dan dua warna kuning milik cu-tosu dan tiga helai baju satu warna putih dan dua warna kuning milik in-tosu

lalu diperiksalah ketujuh helai baju itu , dan ternyata salah satu baju warna kuning milik in-tosu kancingnya hilang satu , dan kancing yang ditunjukkan oleh she-bu di cocokkan dengan dua kancing yang melekat dibaju warna kuning itu dan ternyata sama , kedua pesakitan berubah jadi pucat , memang benarlah mereka seminggu yang lalu ketika memasuki desa dibawah kaki hoasan untuk membeli sayuran dan rempah di toko she-bu mereka yang sudah lama menyimpan rasa mesum kepada bu- ling putri she-bu , keduanya mendapat kesempatan ketika hendak kembali ke puncak , mereka melihat bu-ling sedang berjalan mendaki dari sumber air dibawa badan jalan setapak

lalu mereka segera turun mendekati bu-ling , ―baru selesaia mencuci bu-siocia !? tanya in-tosu , ―benar twako ! jawab bu-lin meragu karena merasakan pandangan kedua orang tosu ini melenajanginya , , sesaat kedua tosu saling pandang , lalu in- tosu menyergap tubuh bu-siocia sehingga keduanya berguling sampai kebawah dipinggir sumber air , dengan dengus nafas memburu in-hong melepas pakaian bu-ling , bu-ling menjerit- jerit minta tolong , namun karena keadaan sunyi tidak ada yang mendengar jeritan itu , in-tosu yang panik mendengar jeritan itu segera menampar mulut bu-ling hingga berdarah , dengan tangis pilu bu-ling dipermainkan in-tosu , setela itu in-tosu digantikan oleh cu-tosu , hampir mendekati malam keduanya selesai dan meninggalkan bu-ling yang meringis kesakitan

ayah bu-ling cemas , ketika malam sudah tiba anak gadisnya yang oleh istrinya dikatakan pergi mencuci pakaian , maka dia dengan dua pelayan tokonya pergi kesumber air dan mendapatkan putrinya tergeletak lemas dalam keadaan telanjang dipinggir sumber air itu , meldak amarah dan rasa sedih akan malapaetaka yang menimpa putrinya , maka setelah anaknya dibawa dan dirawat beberapa hari maka she-bu naik kepuncak hoasan untuk menuntut keadilan

muka li-tosu berubah merah ketika bukti tidak terbantah itu membuktikan kedua murid itu bersalah , maka li-tosu berkata ,

―kalian berdua , apakah kalian akan menyangkal bukti ini !? , ―kedua tosu pucat dan gemetar terdiam didera takut dan sesal , karena tidak ada jawaban maka li-tosu melanjutkan dengan nada lantang ―karena kedua murid hoasan-pai telah terbukti bersalah dan ini sudah merupakan tanggung jawab hoasan-pai

, kesalahan ini mencoreng dan memalukan nama hoasanpai maka hukumannya adalah mati‖ suasana hening dan tegang , lalu li-tosu berkata , ―karena hal memalukan ini tesangkut dengan bu-sicu sebagai korban , maka kami ingin menanyakan apakah hukuman hoasanpai ini sesuai tuntutan bu-sicu ? ― ,

―saya setuju dengan hukuman hoasan pai ― jawab she-bu

tiba-tiba terdengar ketawa dan pah-sim-sai-jin muncul , semua terkejut , liem-ciang-bujin segera berdiri , ―hmh… apakah kami berhadapan dengan pah-sim-sai-jin !? , ―hahaha..heheh , benar sekali ciangbujin ― jawan pah-sim-sai-jin, ―apa maksud anda datang kemari !?‖ , ―saya suka dengan kedua orang ini , dan

tidak ada yang boleh menghukumnya ― pah-sim-sai-jin menunjuk in-tosu dan cu-tosu , ―hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan anda ― jawan liem-ciangbujin , ―hahaha..hahah

, ―heh..! tosu bau , aku datang kesini tidak hanya mencampuri sidang yang penuh omong kosong ini , tapi juga akan mengajak kalian semua meraih kesenangan hidup ― , ―apa maksudmu pah-sim-sai-jin !? , bentak liem-ciangbujin

―dengarlah kalian semua ! aku ini adalah pah-sim-sai-jin sebagai thian-te-ong mengajak siapa saja yang ingin hidup sesuai dengan keinginan dan dapat meraih segala hasrat , dan siapa yang tidak setuju dan manut kepada saya maka nyawanya harus dicabut hari ini ― mendengar ancaman itu semakin geger ruang sidang itu , ―jangan kamu menyebar kebuskanmu pah-sim-sai-jin !‖ bentak liem-ciangbujin ,

―hahha..heheh cih ,..! kamu tosu bau sebagai pembuka jalan ― pah-sim-sai-jin bergerak dan menyerang liem-ciangbujin , liem- ciangbujin mengelak dan membalas , pertempuran segit berlangsung , li-tosu dan empat murid kepala bersiaga

pada jurus ke tujuh puluh liem-ciangbujin terdesak hebat dan tujuh jurus berikutnya sebuah cakaran dari pah-sim-saijin memutuskan usus liem-ciangbujin dan disusul sebuah tendangan yang menghantam kaki hingga patah , leim-ciang- bujin menggeliat dan tewas , li-tosu dan empat murid kepala menyerbu , dengan senyum sinis pah-sim-sai-jin menghadapi keroyokan pentolan hoasan-pai , tapi memang dasar jumawa , pah-sim-sai-jin ingin menunjukkan kehebatannya di depan seratus tosu maka ilmu hek-hoat-bo dilancarkan , dalam satu jurus cahay hijau gemilang berpendar menghantam lima pentolan hoasan-pai , dan akibatnya , empat murid kepala membeku berubah jadi kaca es lalu meledak , sementara li-tosu tergeletak tidak bernyawa dengan tubuh menghijau

sebagian besar tosu bergerak menyerang , tamparan dan bunyi tengkorak pecah terdengar susul menyusul , dalam sepuluh gebrakan tiga puluh tosu tergelimpang tidak bernyawa , yang lain undur ketakutan dan rasa ngeri , ―heheh..hahaha , apakah kalian lebih memilih mati dari pada menjalani hidup penuh kesenangan !? ― bentak pah-sim-sai-jin , tujub puluh tosu tidak berkutik dan akhirnya menyerah dan tunduk pada pah-sim-sa- jin , ―bagus… sekarang tinggalkan tempat ini dan bergabung ke hanzhong disanalah surga dunia kalian ― kata pah-siim sai-jin dengan sinis , tujuh puluh tosu muda bergerak turun dari puncak hoasan-pai menuju kota hanzhong

Pah-sim-sai-jin melanjutkan perjalanan kebarat dan ketika sampai yinchang , kota itu diteror habis-habisan dan para pemuda belianya serta anak wanitanya diambil paksa , kota yinchang menjerit kemelut maut , yang sempat lari maka melarikan diri , akhirnya kota yinchang hanya dihuni oleh binaan pah-sim-sai-jin , pembentukan see-kek-hek-te untuk kali keduanyapun dimulai , jumlah anak asuh pah-sim-saijin saat pembentukan berjumlah tujuh puluh orang yang terdiri dari tiga puluh pemuda belia dan empat puluh anak remaja putri , dan sisanya adalah gadis dewasa dan setengah baya yang berwajah lumayan sebanyak seratus orang

wilayah barat yang baru saja hendak bangkit dari keterpurukan terlindas lagi , kemabali para kungcu tidak berdaya dan kembali menjalankan upeti yang dulunya di antar ke lijiang sekarang kekota yinchang , para pemuda belia dan anak remaja putri serta perempuan-perempuan yang layak digelandang ke kota lijiang , dan dalam jangka setahun enam ratus murid , dan tiga ratus perembuan dewasa dan sebaya menjadi penghuni see- kek-hek-te

Kembali pahsim-sai-jin menitipkan see-kek-hek-te kepada murid-murid utamanya dan kali ini pah-sim-sai-jin hendak ke gobipai , perjalanan dilakukan cepat ke gunung gobi, ketika memasuki hutan gobi , pah-sim-sai-jin bertemu seorang pertapa yang sedang berlatih , pah-sim-sai-jin tersenyum sinis , pertapa itu berhenti ketika melihat kemunculan pah-sim-sai-jin

―anak muda kenapa lancang memasuki tempat ini !‖ tegur lelaki berumur enam puluh tahun yang berwajah putih dan jenggot panjang sampai kedada , ―hahah…heheh , kakek bau untuk apa kamu bertapa disini menjauhi dunia !‖ , ―hmh.. anak muda lancang siapa kamu yang tidak hanya lancang tapi juga usil dengan urusan orang ! , segera kamu tinggalkan tempat ini !? ,

―bagaimana kalau aku tidak mau tinggalkan tempat ini , apa yang bisa kamu lakukan !? ― tantang pah-sim-sai-jin

kakek itu mendelik heran dan kesal , ―hmh… anak muda ! sepertinya kamu seorang yang sombong dan tidak tahu sopan santun ― , ―hahaha..hahaha … kakek bau yang pucat , karena kamu telah menyiksa diri dan keinginan kamu disini hingga tidak meneganal aku , dan itu sangat salah maka kamu harus diberi hukuman ― , terperangah kakek pertapa itu mendengarnya , ―memang kamu harus dikasih ajar supaya tahu menghormat orang dan tidak berlaku sombong !‖ kakek itu bergerak hendak menampar kepala pah-sim-sai-jin , namun alangkah terkejutnya ia ketika tubuh pah-sim-saijin mengelak dengan mudah , lalu kakek itu menyusul serangannya dan dielak lagi oleh pah-sim-sai-jin

kakek itu terlalu memnadang remeh pada pah-sim-sai-jin , setelah menyadari keadaan kakek itu bergerak dengan gesit menyerang , pah-sim-sai-jin merasa kecelik ketika perubahan gerak yang luar biasa menyerangnya sehingga dia tidak sempat mengelak dan bajunya robek kena cengkram tangan yang kurus dan lembut itu , pah-sim-sai-jin membalas dan terjadilah pertempuran luar biasa hebat , sampai dua ratus jurus pertempuran tangan kosong keduanya seimbang , bahkan ketika pah-sim-sai-jin mengeluarkan pedangnya menerjang kakek pertapa , kakek itu mengeluarkan tongkat kayunya , pertempuran senjata itu berlangsung dengan cepat dan seru , angin berkesiuran membuat tempat itu porak-poranda

pah-sim-sai-jin mengerahkan kekuatan ilmu ―eng-lo-in-kiam‖ dan ketika menginjak jurus ke lima ratus , kakek itu mulai terdesak , pah-sim-sai-jin semakin semangat mendesak sehingga pada satu kesempatan kakek itu tidak berdaya mempertahan tongkatnya ketika sebuat sabetan pedang menggores urat nadinya , darah menyembur dan tongkat itu jatuh , dan tiba-tiba pah-sim-sai-jin menggerakkan pedangnya dan menempel ditenggorokan kakek pertapa itu ,

―hehehe..hahah , kalau aku inginkan nyawamu kakek bau maka akan mudah bagiku mencabutnya dari tubuh keropsmu ini ! ― pah-sim-sai-jin tertawa dan senyum sinis , ―lalu kenapa kamu

tidak lakukan ! tantang kakek pertapa itu, ―cih… jangan berlaku gagah-gagahan didepanku kakek bau ― sela pah-sim-sai-jin sambil meludah , ―siapa yang gagah-gagahan , aku sudah siap mati ditanganmu !‖ tantang kakek itu , ―ooh , demikiankah kakek bau !? ― pah-sim-sai-jin melototkan matanya mengancam , ―baik ! aku akan kuliti kamu biar kamu rasakan sakit setiap inci tubuhmu ― lanjut pah-sim-sai-jin mengancam

kakek itu terbelalak , ―heheh..hahah , apa kamu takut kakek bau !?‖ pah-sim-sai-jin mendapat angin setelah melihat mata sikakek yang terbelalak , ―kenapa kamu sekejam itu !?‖ tanya si kakek , ―aku ini pah-sim-sai-jin , kamu tentu tidak kenal aku , namun orang sejagat kenal aku di luar sana , akulah penguasa dunia , kamu tahu kakek bau , seluruh keluarga kim-khong- taihap telah kubasmi sampai keakar-akarnya ― sahut pah-sim- sa-jin jumawa

kakek itu terperanjat dengan rasa tidak percaya , ―lalu kenapa kamu ceritakan hal itu padaku pah-sim-sai-jin !? ― , ―kamu luar biasa kakek tua , ilmumu lumayan , dan aku ingin mencari pembantu yang kuat seperti kamu , jadi jika kamu mau maka kamu akan selamat tapi jika tidak pengulitanmu akan kumulai ― ,

―membantumu dalam hal apa !? ―, ―membantuku menyukseskan tujuan hidup ! ― , ―apa tujuan hidup itu !?‖ , ―hidup sombong suka berbohong , suka menurutkan keinginan dan suka melihat penderitaan orang ― si kakek melonggo mendengar empat tujuan hidup yang diutarakan pah-sim-sai-jin

―mungkin kamu tidak sudi karena sudah bertapa disini puluhan tahun , namun kesakitan yang akan kamu alami sebentar lagi apakah tidak bisa merobah cara berpikirmu !? ― kakek itu terdiam sampai lama , mati tidak mengapa , tapi kesakitan saat kulitnya akan dibeset mengerikan hatinya , pikir punya pikir akhirnya pertahanannya jebol , ―baiklah , aku sudah kalah dan akan ikut perintahmu ― , hahah..heheh …bagus kakek tua , siapakah namamu !? ― , ―aku lu-tiok..‖ , ―hahah..hahha , kebetulan sekali kita satu she .. aku juga she-lu dan namaku koai ― sela pah-sim-sai-jin senang , ―malam ini kita bermalam di pondokmu untuk melanjutkan perjalanan besok ― lalu keduanya memasuki pondok karena hari sudah malam

―bagaimana bisa kamu mengalahkan she-taihap lu-koai !? ― tanya lu-tiok , ―jangan panggil aku lu-koai , tapi panggil aku thian-te-ong ― tegur pah-sim-sai-jin , mendengar teguran dingin itu membuat lu-tiok meremang , , ―baik… bagaimana thian-te- ong bisa mengalahkan she-taihap sementara mereka itu adalah keturunan kim-khong-taihap !? , ―heheh..hahah , mereka boleh sakti didepan orang tapi didepan thian-te-ong mereka itu jadi pecundang , ―kamu tahu bahwa aku pewaris dari han-bu-ong sute dari bukek-siansu ― sahut pah-sim-sai-jin sambil tertawa sombong , lu-tiok terperangah , pantas kalau begitu pikirnya ,

―lalu apa rencana yang akan dikerjakan besok !? , ―saya ingin menaklukkan pertapa-pertapa di puncak gobi ini sebelum mendatangi gobi-pai ! ― tentu kamu tahu tempat-tempat mereka bukan !? ― , lu-tiok manggut-manggut , ―yang aku tahu ada beberapa tempat , tapi aku tidak tahu apakah masih dihuni atau sudah ditinggalkan ―, ― ―hmh .. besok kita datangi tempat-tempat itu ― sela pah-sim-sai-jin , lalu keduanya istirahat

keesokan harinya pah-sim-sai-jin dan lu-tiok menuju tempat- tempat pertapaan yang lain , dan dalam jangka sebulan mereka mendatangi tempat-tempat itu , pah-sim-sai-jin dapat menaklukkan empat pertapa sakti sementara sepuluh yang lain lebih baik menyabung nyawa daripada harus tunduk , adapun empat pertapa yang tunduk pada pah-sim-sai-jin adalah phang- keng , ouw-gin , toan-sin dan in-kokcu , rata-rata umur mereka enam puluh tahun sepantaran dengan lu-tiok

―besok kita akan ke gobipai , dan malam ini kalian akan kuikat sumpah setia padaku ― kata pah-sim-sai-jin tersenyum jumawa , kemudian pah-sim-sai-jin mengambil mangkok dan menyembelih serigala yang sudah ditangkapnya tadi siang ketika mereka turun dari pertapaan orang terakhir yang meregang nyawa ditangan pah-sim-sai-jin yang menguliti tubuhnya

darah serigala itu di ditampung didalam mangkok ,

―nah….sekarang kalian berlima bersumpahlah setia padaku sampai mati kemudian minumlah darah serigala ini satu teguk ― pah-sim-sai-jin memerintahkan kelima kakek itu untuk bersumpah dan minum darah serigala , setelah itu pah-sim-sai- jin menggelari mereka dengan ―ngo-ok-hengcia‖ (lima paderi jahat) . keesokan harinya pah-sim-sai-jin dan ngo-ok-hengcia berangkat menuju gobi-pai

diantara puncak yang menjulang tinggi di gobisan , perguruan gobi-pai demikian anggun kelihatan dari puncak lainnya , bagunana yang kokoh dan atapnya berwarna merah begitu menonjol dikelilingi hijaunya hutan , gobi-pai memliki seratus lebih murid yang mondok didalamnya , gobi-pai diasuh oleh tan-siansu yang berumur tujuh puluh lima tahun , ia diwakili oleh dua orang sutenya kao-losuhu dan kwaa-losuhu keduanya dijuluki ―gobisan-ji-lojin‖ (dua orang tua gunung gobi) kemudian tiga murid kepala yang membawahi semua murid dikenal dengan sebut ―gobi-liong-sam‖ (tiga naga gobi)

pagi itu gobisan-ji-lojin menghadap tan-siansu ciangbujin ,

―suheng..! keadaan wilayah barat telah kembali di pencundangi oleh pah-sim-sai-jin setelah tiga tahun aman dalam kendali she- taihap , baru-baru ini saya dengar pah-sim-sai-jin telah membentuk see-kek-hek-te di kota yinchang ― , ―hmh… pah- sim-sai-jin memang iblis berwujud manusia dengan pencanangan prisipnya ― sahut tan-siansu , ―dan satu lagi berita yang luar biasa mengejutkan suheng , bahwa wilayah selatan sudah mutlak dikuasai pah-sim-sai-jin dan she-taihap telah ditumpas habis olehnya , ―hmh… liok-lim akan gelap , dunia kangowu akan banjir maksiat , sela tan-siansu

―lalu bagaimana suheng !? ― , ―ji-sute ! thian telah

berkehendak , kita tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya bertahan untuk menyelamatkan prisnsip kebaikan dan kebenaran dari gilasan prisnsip tirani yang diusung oleh pah- sim-sai-jin ― , ―tapi suheng ! setidaknya kita bisa membuat gerakan pendam untuk mengacaukan pah-sim-sai-jin ― sela kao-losuhu , ―benar ! dan itu akan kita rencanakan sebaik dan

serapi mungkin , jadi kumpulkanlah semua , dan nanti siang kita akan bicarakan ― sahut tan-siansu

siangnya pertemuan di lianbhutiapun digelar , dan kao-losuhu pun mmebuka pertemuan , ―para murid sekalian , hari ini kita berkumpul untuk membicarakan rencana penting segubungan keadaan wilayah kita yang memprihatinkan ― semua murid hening mendengarkan , ―kita tahu bahwa kemunculan pah-sim- sai-jin delapn tahun yang lalu telah membuat geger wilayah kita ini kejahatan yang tak dapat ditakar lagi , dan ternyata pah-sim- sai-jin muncul lagi dan telah menguasai wilayah selatan dan wilayah barat ini ― kao-losuhu berhenti untuk menarik nafas dan kemudian melanjutkan

―kita juga tidak pungkiri bahwa kesaktian dari pah-sim-sai-jin melebihi kita , namun kita semua tidak takut , maka oleh karena itu pertemuan kita kali ini adalah merencanakan pasukan pendam , yang akan mengacau gerakan see-kek-hek-te yang merupakan pasukan pah-sim-sai-jin ― , semua murid dengan serius mendengarkan rencana yang akan dibuat , ―benar bahwa para kungcu tidak bisa kita suruh menghentikan upeti , namun kita dapat mencegah penganiayaan dan teror yang dilakukan see-kek-hek-te kepada masyarakat ― , ―bagaimana kita melakukan pengendalian teror yang dilakukan see-kek-hek- te suheng !? ― tanya sim-ceng salah satu dari gobi-liong-sam

―kita akan berbaur dengan masyarakat dan ketika pasukan itu beraksi , lalu kita menentang mereka dan memancing mereka kesatu tempat yang sudah disepakati dan ditempat itu kita akan tundukkan pasukan itu ― sahut kao-losuhu , saat orang mencerna strategi dari kao-losuhu , tiba-tiba

―hahahaha..heheheh..hahahha , tidak usah capek-capek berpikir rencana ! hari ini gobi-pai akan berakhir ! , semua hadirin berdiri siaga , dan muncullah pah-sim-sai-jin dan ngo- ok-hengcia

―pah-sim-sai-jin ! tentu niatmu datang kesini umtuk membuat kami tunduk pada prinsipmu , maka sebelum kamu lanjutkan maka hadapilah pinto dulu !‖ tan-siansu bergerak cepat namun serangan itu ditepis oleh pah-sim-sai-jin sehingga tubuh tan- siansu bergetar , ―kamu hadapi kakek bau tanah ini phang- hengcia ! ― pah-sim-sai-jin menyuruh phang-keng untuk menghadapi tan-siansu , phang-keng pun bergerak melayani serangan tan-siansu , pertempuran dahsyat berlansung seru , deru angina pukulan memekakkan telinga , dua senior lioklim saling mengerahkan kesaktiannya , dan mereka seimbang ,

―lama sekali , kalian tuntaskan cepat ! ― kata pah-sim-sai-jin kepada ngo-ok-hengcia , toan-sin melompat memasuki pertempuran , dan hal itu tidak dibiarkan oleh gobisan-ji-lojin , mereka menyambut terjangan toan-sin , namun ouw-gin masuk gingga pertempuran terbagi tiga

dua jam kemudian gobisan-ji-lojin terdesak berat dan akhirnya terkapar , kao-losuhu retak kepalanya oleh ketukan hauwce dari toan-sin sementara kwaa-losuhu jantungnya ditusuk pedang ouw-gin , lalu toan-sin menerjang tan-siansu , dan membuat tan-siansu makin repot , sementara gobi-liong-sam menerjang ouw-gin , lalu in-kokcu dan lu-tiok memasuki pertempuran dan malang bagi tan-siansu , hanya dua puluh gebrakan dia dikeroyok oleh dua dari ngok-ok-hengcia rosario dari phang-kek telah menghantam lehernya sehingga tulang leher itu patah dan ditambah lagi totokan hauwce dari toan-sin menghantam ulu hatinya , tan-siansu tewas seketika

gobi-liong-sam juga tidak berdaya digempur musush setingkat ciangbujin mereka ini akhirnya merekapun tewas diujung senjata tiga lawannya , tongkat , pedang dan cambuk besi , semua murid bergerak menyerang ngo-ok-hengcia , namun mereka terjungkal bertaburan tumbang dihantam lima senjata ditangan ngo-ok-hengcia , dalam waktu kurang dari satu jam , seratus murid gobipai tewas , yang tersisanya hanya dua puluh

keduapuluh murid itu menyerah dan terpaksa ikut perintah pah- sim-sai-jin , dan disuruh bergabung dengan see-kek-hek-te di yinchang , kedua puluh murid bergerak ke yinchang , sementara pah-sim-sai-jin dan ngo-ok-hengcia bergerak menuju utara , dalam perjalanan itu ngo-ok-hengcia dimabuk birahi , mereka dilayani para wanita-wanita yang disediakan oleh kungcu dimana mereka singgah dan menginap

di utara pah-sim-sai-jin membentuk pak-kek-hek-te di kota yuguan , karena dibantu oleh ngo-ok-hengcia , pemebntukan itu berjalan cepat , pengumpulan calon-calon manusia bejat tidak memakan waktu lama , hanya dalam setengah tahun pak-kek- hek-te sudah mulai beroperasi , namun tetap pah-sim-sai-jin membina dua ratus muridnya sampai setahun , setelah itu baru dia meninggalkanya untuk melanjutkan tugasnya mebentuk kembali tung-kek-hek-te , namun sebelum pah-sim-sai-jin memasuki wilayah timur , pah-sim-sai-jin mengajak ngo-ok- hengcia untuk mendatangi siauwlimpai pah-sim-sai-jin dan ngok-ok-hengcia sampai di siauwlimpai ketika siauwlimpai berkabung atas meninggalnya bhok-kiangsi ciang-bujin , tujuh sesepuh siawlimpai yang dikenal dengan

―hohan-lo-chit‖ (tujuh orang tua gagah) menyambut mereka

―salam bertemu liok-sicu ! ― , ― hmh… phuah.. siapakah yang meninggal losuhu !? :‖ tanya pah-sim-sai-jin sinis dan meludah , melihat hal yang tidak sopan itu seorang dari mereka berkata

tegas , ―apa urusan boleh diselesaikan setelah masa berkabung dan tolong jangan membuat kacau !‖ ,

―hahahah..heheheh ..hahahah , pah-sim-sai-jin suka membawa kehendak hati , siapa yang coba melarang itu artinya cari mati ― mendengar suara tertawa yang luar biasa kuat dan dahsyat itu membuat semua orang terperangah apalagi setelah mendengar bahwa yang orang yang bicara adalah pah-sim-sai-jin

―hohan-lo-chit ― bergerak menyerang pah-sim-sai-jin , dan dengan luarbiasa dan cekatan pah-sim-sai-jin menghadapi keroyokan dengan formasi luar biasa tersebut , setelah seratus jurus barulah pah-sim-sai-jin dapat memecahkan gerakan pormasi dari hohan-lo-chit , dengan pedang bianglalanya dia mulai menekan dan mendesak , ilmu ―eng-lo-in-kiam‖ yang gaungnya saja membuat tubuh merinding dan sukma melayang membuat kalang kabut hohan-lo-chit akhirnya seratus jurus kemudian dua dari hohan-lo-chit terjungkal tewas lalu sepuluh jurus kemudian dua orang lagi ambruk tiada berkutik dan dua puluh jurus kemudian hohan-lo-chit sudah tinggal nama saja dua puluh murid kepala langsung menerjang pah-sim-sai-jin , dan ngo-ok-hengcia bergerak maju ikut berpesta maut bersama pah-sim-sai-jin , hanya sepuluh gebrakan dua puluh murid kepala tewas , dan serbuan murid-murid pun membanjir , namun bagi pah-sim-sai-jin , banjir serangan itu dihadapi dengan jumawa dan culas , terdengar terikan dan jerit kematian sambung menyambung serta disusulnya bergelimpangan tubuh yang ambruk , dua jam pesta maut itu berlangsung , tiga ratus nyawa murid siauwlimpai gugur , yang tersisa hanya sepuluh orang dan melarikan diri ditengah sibuknya pah-sim-sai-jin dan ngo-ok-hengcia

Pah-sim-sai-jin meningalkan siaulimpai yang menjadi banjir darah , ―kemana lagi thian-te-ong !? , tanya lu-tiok , ―kita akan ke kunlun-pai dan setelah itu baru masuk kewilayah timur ― sahut pah-sim-sai-jin dengan senyum sinis dan jumawa , perjalanan menuju kunlun-pai dilakukan dengan santai sambil bersenang-senang dengan kenikmatan yang memabukkan

Pegunungan kunlun diamana berdiri kokoh kun-lunpai yang menjadi sumber para pendekar yang bijak dan pembela kebenaran , sedang merayakan pernikahan cia-peng putra dari cia-han ciangbujin , cia-peng sudah sejak umur sepuluh tahun di ikat pertunangan dengan tang-siu-lan putri dari tang-kuan-cin ciangbujin dari thaisan-pai di wilayah timur , sekarang cia-peng sudah berumur dua puluh tiga tahun sementara tang-siu-lan berumur dua puluh tahun Pernikahan sudah dilaksanakan di thai-san-pai , hanya karena rasa gembira akan hadirnya menantunya cia-han mengadakan pesta , dua wakilnya yang dijuluki ―swat-liong-ji‖ (dua naga salju) menjadi ketua panitia pesta , dan empat murid utama yang dijuliki ―kunlun-hiap-si‖ ( empat pendekar kunlun) menata ruang untuk tempat pesta , pesta untuk kalangan sendiri itu berlansung meriah

Namun malang tidak ditolak untung tak dapat diraih , pesta yang seharusnya menyenangkan dan membahagiakan itu akan menjadi ajang keluh jerit nyawa yang melayang , karena tiba- tiba pah-sim-sai-jin dan ngo-ok-hengcia muncul pada pesta tersebut , perwakan pah-sim-sai-jin yang sudah demikian khas dengan wajah buriknya dan ujung gagang berbentuk tengkorak cia-han sudah langsung kenal

―apa urusan pah-sim-sai-jin datang kesini !? ― cia-han menegur lantang , ―heheh…hahah , pesta yang menyenangkan , dan mempelai wanitanya laksana bidadari ― jawaban yang tidak menyambung itu membuat cia-han marah , ―jangan kurangajar pah-sim-sai-jin ! , jangan dikira kami takut kepadamu ― ,

―hahha..heheh , anda takut atau tidak , bukan urusan dengan saya , hari saya sangat senang melihat bidadari ini !‖ pah-sim- sai-jin melayang kearah tang-siu-lan , spontan swat-liong-ji bergerak untuk menghalangi sementara cia-peng dan tang-siu- lan bergerak menghindar , namun yang akan mereka hadapi itu adalah pah-sim-sai-jin yang kemencer melihat tang-siu-lan , swat-liong-ji tergetar dan terjengkang ketika dua tangan pah- sim-sai-jin mengibaskan tangan sementara tubuhnya tersu melayang menyusul gerakan menghindar kedua mempelai dan tangan pah-sim-sai-jin dapat mencengkram baju tang-siu-lam ,

―breet… desss‖ baju tang-siu-lan robek dan tangan pah-sim-sai- jin di pukul oleh cia-peng

namun yang meringis kesakitan adalah cia-peng seakan memukul baja licin , cia-peng dan siu-lan bersiaga namun pah- sim-sai-jin sudah sibuk bertempur dengan cia-han yang bergerak cepat ketika kedua muridnya terjengkang , luar biasa pertemouran tingkat tinggi yang terjadi , angina berkesiran merobohkan dan memporak-porandakan kursi dan meja , dan malangnya bagi kunlun-pai , ngo-ok-hengcia bergerak juga menyerang swat-liong-ji , dan hal itu tidak dibiarkan kunlun- hiapsi , semakin ramai pertempuran yang terjadi , khu-lan-eng , istri cia-han menarik anaknya kebelakang dan menyuruh keduanya melarikan diri ke thai-san-pai , ―tidak ibu ! aku harus membantu ayah menghadapi pah-sim-sai-jin ― cia-peng bersikeras , ―peng-ji ..! ibu tidak mau dibantah , bawa istrimu ke thaisan-pai ― mendengar suara ibunya yang tegas cia-peng tidak lagi menolak , segera keduanya turun dari kunlusan sementara cia-hujin keluar dan membantu suaminya

bantuan dari cia-hujin yang juga kosen itu membuat pah-sim- sai-jin sibuk , namun pah-sim-sai-jin bukan orang sembarangan

, dia adalah sutit dari bukek siansu karena ia mewarisi kitab pusaka dari han-bu-ong , satu jam setelah cia-hujin membantu suaminya mulailah kedua suami istri itu terdesak , sementara swat-liong dan kunlun-hiap-si sudah jadi bulan-bulanan ngo-ok- hengcia , dan pada satu kesempatan kelima ngo-ok-hengcia bersamaan menumbangkan lima dari lawan mereka , sehingga yang tersisa adalah seorang dari swat-liong-ji , tapi dia juga tidak lama sudah menyusul rekanya yang lain di penggal pedang ouw-gin

cia-han akhirnya terjungkal muntah darah ketika pukulan tendangan pah-sim-sai-jin bersarang di perutnya hingga hancur

, cia-han menggeliat dengan nafas satu-satu dan tewas , cia- hujin nekat menyerang namun tangannya ditangkap dan tubuhnya ditotok hingga kaku , pah-sim-sai-jin menggendong cia-hujin yang pucat kedalam kamar , cia-hujin berumur lima puluh dua namun rias kecantikannya masih jelas , pah-sim-sai- jin dengan birahi meletup-letup menciumi cia-hujin , cia-hujin tidak berdaya , tubuhnya kaku dan mulutnya bisu , air matanya berderai ketika bajunya dirobek-robek pah-sim-sai-jin

pah-sim-sai-jin dengan brutal merejang tubuh wanita yang menjelang tua itu , selama dua jam pah-sim-sai-jin menumpahkan nafsu binatangnya seiring rasa sakit dan nyeri yang tidak terperikan bertalu-talu mendera hati cia-hujin , ia ingin mati saja menyusul suaminya , namun tidak ada kesempatan baginya , setelah pah-sim-sai-jin selesai ia ditinggalkan teronggok telanjang di atas ranjang , cia-hu-jin berusaha melepas totokan itu , namun alangkah sulitnya , namun usahanya sedikit berhasil karena tubuhnya yang kaku dapat bergerak kembali , namun saat itu lu-tiok mendatanginya , dengana segenap kekuatan dia menghantam dada lu-tiok yang gregetan meremas-remas dadanya

lu-tiok terjungkal muntah darah , namun dia berditi lagi dengan mata gelap dia meraih tubuh telanjang itu dan melemparkannya ke tembok ―prak… ― kepala cia-hujin pecah dan tewas seketika terhempas kelantai , lu-tiok keluar dari kamar masih memuntahkan darah , pah-sim-sa-jin yang melihatnya heran ,

―kamu kenapa tiok !? ― tanya phang-keng , ―perempuan sial itu tiada diduga memukul ― , ―lalu dia dimana !? ― , ―sudah mati kulemparkan kedinding ―

―sudah , dibanyak tempat kita masih punya wanita ― sela pah- sim-sai-jin menghibur , lalu kemudian mereka turun dari kunlun- san meninggalkan seluruh murid kunlun-pai tewas dan ada beberapa otang yang melarikan diri ,pah-sim-sai-jin bergerak cepat untuk mengejar kedua mempelai , namun sampai mereka sampai kekota terdekat kedua memoelai itu tidak dijumpai , akhirnya pah-sim-sai-jin istirahat disebuah likoan dengan pelayanan tamu istimewa untuknya dan ngo-ok-hengcia

cia-peng dan tang-siulan melarikan diri tidak menuju kw wilayah timur tapi kedua suami istri itu tetap berada di sebuah dusun dikaki bukit , setelah dua minggu suami istri itu kembali kepuncak kunlunsan , dan alangkah ngeri hati keduanya ketika melihat pemandangan didalam rumahnya , mayat-mayat busuk bergelimpangan dan hati cia-peng lebih hancur ketika meleihat mayat ibunya yang telanjang , selama empat hari cia-peng dan istrinya menyelesaikan penguburan semua mayat , setelah dua minggu keduanya turun dari kunlun-pai , cia-peng mengajak istrinya ke yinchuan dan menetap disana

kondisi wilayah utara yang dibawah cengkaraman pak-kek-hek- te membuat cia-han memelih bekerja sebagai pedagang rempah daripada membuka bukoan atau piauwkiok , dan pekerjaan itu membuat hidup pasangan itu lebih aman , tiga bulan kemudian tang-siul-lan hamil , membuat pasutri itu merasa gembira , cia-han yang akan menjadi ayah merasa berdebar akan terlebih tang-siu-lan yang merasakan langsung pertumbuhan janin suaminya dalam rahimnya , akhirnya hamil tang-siulan genap sembilan bulan dan buah hati sibiran tulang itu pun lahir

seorang bayi perempuan yang mungil dan sehat , cia-han dengan suka menyambut kelahiran putrinya , tidak jemu ia menegcupi istrinya yang juga merasa bahagia , dukun beranak menyerahkan bayi mungil itu kepada cia-han setelah membersihkannya , cia-han menerima bayi itu dengan gemetar bahagia , oleh cia-han putrinya diberi nama cia-sian-li

,kebahagiaan cia-peng dan tang-siu-lan semakin bertambah semarak dengan kehadiran cia-sian-li

Pah-sim-saijin dan ngo-ok-hengcia memasuki wilayah timur , dua bulan kemudian mereka memasuki kota ki-bun dan beristirahat disebuah likoan , pemilik likoan pucat pias ketika melihat pah-sim-sai-jin memasuki tempatnya , segera dia menyuruh empat pelayannya melayani pah-sim-sai-jin dengan rasa takut dan cemas , ―kalian sediakan makanan dan arak ― teriak lu-tiok , empat pelayan itu segera melakukan perintah dan dalam waktu yang tidak lama , puluhan lau piring dan mangkok telah berada diatas meja pah-sim-sai-jin

Pah-sim-sai-jin sengan senyum sinis mulai makan , demikian jiga ngo-ok-hengcia , mereka makan dengan lahap , ―thian-te- ong , dimanakah lam-kek-hek-te akan dibina!? , ―tanya ouw-gin

, ―kita akan membina lam-kek-hek-te disini ― jawab pah-sim-sai- jin dengan senyum , lalu seorang lelaki memasuki likoan namun ketika matanya melihat pah-sim-sai-jin hatinya bergetar , ciri khas yang dia dengar selama ini ada didepan matanya , apalagi setelah melihat gagang pedang yang tersembul dari balik belakang pah-sim-sai-jin

Liem-bouw mendekati pah-sim-sai-jin dan menjura , ―benarkah saya berhadapan dengan yang mulia pah-sim-sai-jin ― , ―hmh…. siapakah kamu !? , apa kita pernah bertemu !? ― , ―tidak pernah yang mulia !‖ , ―hahaha…..heheh.. , bagaimana kamu memanggil saya demikian akrab seakan engkau mengenal saya ― , ―siapa yang tidak kenal dengan nama pah-sim-sai-jin sejak sepuluh tahun yang lalu membuat gempar dibarat dan membina see-kek-hek-te di kota lijiang ― , ―hmh… lalu apa maksudmu menemuiku !?‖ , ―maksud saya yang mulia adalah tiada lain untuk memberikan dukungan penuh terhadap gerakan dan misi yang mulia yang telah membuat saya terkagum-kagum‖

―hmh.. penawaran yang menarik , siapakah namamu !? ― , ―saya bernama liem-bouw berasal dari kota yangsu yang mulia ― , ―heheh..hahah , saya senang dengan niatmu yang akan memberikan dukungan padaku , tapi panggil aku thian-te-ong ―

, ―baik thian-te-ong ― , ―hahaha..heheh hahhaha , jika engkau ingin membantuku tentunya engakau mempunya kebolehan yang cukup ― , ―saya siap diuji yang thian-te-ong‖ , ―hmh… baik kalau begitu , coba hadapi hadapi salah seorang pembatuku ini

― sahut pah-sim-sai-jin sambil menatap lu-tiok ―

lu-tiok mengambil secangkir air lalu mengisinya sampai melebih bibir cangkir setinggi dua jengkal namun air tetap tidak tumpah setetspun dan air yang lebih dua jengkal diatas bibir cangkir demikian lurus dan sejajar sebesar lingkaran mangkok , lalu lu- tiok memberikan cangkir itu kepada liem-bouw sambil berkata,

―karena bouw-sicu baru datang dan tentu haus , silahkan diminum barang seteguk dua teguk ― , liem-bouw senyum dan menerima cangkir diangsurkan lu-tiok dan berkata, ―terimakasih twako ! memang benar saya haus sekali dan tawaran ini sungguh melegakan dan dapat memuaskan kehausan saya ― , dan luar biasa air itu tetap dengan posisinya dan lalu diminum oleh liem-bouw ―glekkk..glekkkk..glekkk‖ terdengar suara air memasuki tenggorokan kemudian liem-bouw menyerahkan kembali cangkir yang sudah tinggal sejengkal tapi permukaannya tidak hanya bergoyang tapi malam berpusar cepat , lu-tiok menerima cangkir itu balik dan meletakkan diatas meja diaman sejengkal air itu sudah membeku jadi es

―luar biasa bouw-sicu tapi tolonglah sambung tulisan saya ini sejumlah kata yang sama ― lu-tiok mencelat keatas dan ditiang kuda-kuda atap dia menulis tanpa memegang tiang atau kusen yang ada , tulisan itu dengan telunjuk jari dengan kalimat

―keturunan bengcu telah tewas ― kemudian dia melayang dan duduk kembali kekursinya , liem-bouw sejenak berpikir lalu melompat keatas dan menulis sambungan kalimat lu-tiok .

―thian-te-ong berkuasa sangatlah pantas‖ ! liem-bouw melayang turun kembali , pah-sim-sai-jin mengannguk sambil tersenyum

―sin-kang dan gin-kang telah diuji , sekarang mari kita berolah raga sedikit ― lu-tiok melayang keluar dan menunggu liem-bouw di halaman likoan , liem-bouw mencelat dan tiba-tiba lu-tiok menyerang , dan pertempuran pun berlansung luar biasa seru , hingga seratus jurus pertempuran tangan kosong antara keduanya seimbang , lalu lu-tiok mengeluarkan tongkat kayunya dan memulai menyerang dengan ilmunya yang luar biasa , liem-bouw menegluarkan hauwcenya dan keluarkan ilmu kebanggaan kakeknya , pertempuran semakin seru dan dahsyat , sampai seratus jurus keduanya juga masih seimbang

, ―sudahlah ..! kalian berhenti dan kemarilah ! ― seru pah-sim- sai-jin , lu-tiok dan liem-bouw masuk kembali kedalam likoan

―hmh… kepandaianmu lumayan dan pantas menjadi pembantuku liem-bouw ― , ―terimakasih thian-te-ong , ―jangan berterimakasih , karena kamu pantas dan memiliki kebolehan ― sela pah-sim-sai-jin tegas , ―bouw sicu apakah kamu ada hubungan dengan see-thian-liong !? ― tanya toan-sin , ―benar

twako , saya adalah cucunya , ―pantas kalau begitu ― sahut toan-sin , , ―kenalkah kamu toan-sin dengan kakek liem-bouw ? ― tanya pah-sim-sai-jin , saya pernah mendengar cerita see- thian-liong dari suhu saya , keduanya dulu akrab karena memiliki ilmu hauwce , dan see-thian-liong makin terkenal saat dia bergabung dengan kwi-ban-san-hong-houw ― , ―hmh… kwi- ban-san-hong-houw , siapakah dia !? , tanya pah-sim-sai-jin tertarik , karena julukan itu memakai nama darimana ia turun

―kwi-ban-san-hong-houw adalah seorang wanita yang sakti dan menguasai wilayah barat , dia bercita-cita untuk mendirikan hek-to-ki diseluruh wilayah , namun cita-cita itu kandas ketika berhadapan dengan she-taihap , apalagi dengan kim-khong-

taihap yang ternyata adalah suaminya ― pah-sim-sai-jin teringat perkataan seorang nenek yang mempecundanginya di pulau kura-kura dan membuangnya kelaut bahwa sucinya adalah istri kim-khong-taihap , jadi julukan sucinya adalah kwi-ban-san- hong-houw

―baik..! sekarang kita istirahat dan besok kita kumpul di selaras ruang atas untuk membicarakan pembentukan tung-kek-hek-te di kota ini ― , ―baik thian-te-ong ― jawab mereka serempak , lalu merekapun naik keruang atas untuk beristirahat , pelayanan kamar yang mengasikkan membuat liem-bouw betah didalam kamar , dia merasa bangga dan kagum kepada pah-sim-sai-jin yang dua belas tahun tahun lebih muda darinya

keesokan harinya pah-sim-sai-jin memangil ngo-ok-hengcia dan liem-bouw , mereka berkumpul diruagan selasar atas sambil menikmati keramaian orang yang hilir mudik dijalan raya , ―nanti malam kita mulai membuat kekacauan di kota ini , dan setiap pemuda belia dan remaja putri yang diculik tempatkan disini , sementara wanita-wanita dewasa kumpulkan di rumah kungcu ―

, ngo-ok-hengcia dan liem-bouw mengaangguk-angguk , ―dan untuk menguasai rumah kungcu saya serahkan kepada liem- bouw dan menampung perempuan-perempuan yang diculik ―

,kata pah-sim-sai-jin sambil menatap liem-bouw , ―baik thian-te- ong ! ― sahut liem-bouw , pah-sim-sai-jin tersenyum dan menatap kebawah dan matanya berbinar ketika melihat tiga orang gadis cantik

―kalian lihat tiga gadis cantik itu !? ― , ―ya .. thian-te-ong !‖ , coba kamu liem-bouw paksa kesini ketiga gadis itu ! ― , liem-bouw berkelabat dan melayang kebawah lalu mencegat ketiga gadis cantik itu , ketiga gadis cantik adalah lou-si-san , li-ceng-si dan lu-eng-hwa , lou-si-san menatap tajam pada liem-bouw yang cengar-cengir didepan mereka

―kenapa kamu mencegat kami !?‖ , ―heheh…hahaha … , wajah kalian laksana bunga yang mempesona dan kumbang datang ingin mengisap madunya ― , ―hik..hik… si-san , sepertinya kumbang ini mau mati tenggelam dilautan madu dijepit sesak oleh kelopak bunga ― sela ang-hwa tertawa lepas , ― hik..hik… , benar juga , sekuat apakah gerangan kumbang yang madu yang ingin menghisapku ini , heh..! kumbang lisut ! berapa hentakan kamu mampu !‖ bentak si-san sambil senyum genit dan mata berkedip

mendengar itu liem-bouw melonggo , jawaban dan sindiran itu menunjukkan bahwa ketiga gadis ini selalu menurutkan keinginan dan biasa juga dalam permainan asmara

―hahaha..hahah , dikira bunga melati ternyata rupanya mawar berduri , tapi walaupun berduri tetaplah kumbang akan kuasai ―

, :hik..hik… si-sian coba aja setajam apa sengatan kumbang lisut ini ― sela ceng-si

―hik..hik… boleh juga , ayok kumbang lisut tunjukkan bahwa engaku pantas menjadi temanku malam ini ― si-san tiba-tiba menerjang dengan cepat , liem-bouw berkelit dan membalas dengan tidak kalah serunya , orang-orang yang berada disekitar mereka berlarian menyingkir dan menonton dari kejauahan , liem-bouw terkejut bahwa gadis ini tidak boleh dipandang ringan , serangannya sangat berbahaya dan ganas , liem-bouw mengerahkan seluruh kemampuannya , namun dia belum mampu mendesak si-sian , sementara si-sian juga makin takjub bahwa lelaki berumur setengah abad ini boleh juga

sampai dua ratus jurus pertempuran itu berlangsung , tiba-tiba dua orang kakek berumur enam puluh tahun melayang dari ruangan atas likoan , tapi di sambar oleh eng-hwa dan ceng-si sehingga pertempuran terbagi pada tiga kelompk , kedua kakek itu adalah toan-sin dan ouw-gin , pasar itu jadi ajang pertempuran luar biasa dahsyat , hawa pukulan sakti berkesiuran mengobrak-abrik tenda pasar dan tempat jualan pedagang jalanan

pah-sim-sai-jin yang menonton dari atas makin terbetik birahinya melihat kekosenan tiga gadis berumur dua puluh limaan itu , lalu pah-sim-sai-jin bergerak dan melayang kebawah dan tiba-tiba menyerang si-san yang bertempur dengan liem-bouw , liem-bouw mengundurkan diri , sehingga si- san berhadapan dengan sisan , ―toan-sin- dan kamu ouw-gin mundurlah kalian biar aku bermain-main sebentar dengan tiga mawar berduri ini ― , ―baik thian-te-ong‖ ouw-gin dan toan-sin mundur , ketiga gadis menatap kepada pah-sim-sai-jin , lalu bersamaan menerjang pah-sim-sai-jin , pertempuran itu luar biasa dan membuat pah-sim-sai-jin makin gembira , tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama , saat ketiganya mengeluarkan senjata

tiga buah senjata demikian kuat menekannya , :hmh… luar biasa , pikirnya , tapi si-san dan kedua saudaranya juga tidak kalah takjubnya bahwa lelaki burik ini demikian kosen sehingga dapat menghadapi mereka , dan karena merasa tekanan tiga senjata itu makin ketat mengurung dan menekannya , pah-sim- sai-jin mengeluarkan pedang bianglalanya , dan mengeluarkan ilmu ―beng-cui-in-kiam‖ , dan pah-sim-sai-jin baru dapat mengatasi ketiga lawannya , dan dia berada diatas angin sehingga lima puluh jurus kemudian pah-sim-sai-jin mulai mendesak , gelombang pedangnya makin gemilang , sehingga satu kesempatan pedang itu akan menusuk dada ceng-si , namun tidak dilanjutkan akan tetapi merobek kancing baju sehingga sebagaian buah dada ceng-si jelas kelihatan karena baju dalamnya yang berwarna merah juga ikut sobek

ceng-si berhenti dengan muka merah dan tersenyum genit , si- san dan eng-hwa makin gencar menyerang , tap dengan berhentinya ceng-si , pah-sim-sai-jin makin mudah menundukan keduanya , sehingga pada dua puluh jurus kemudian pedang pah-sim-sai-jin merobek kembali kancing baju , kali ini kancing baju si-san , otomatis keduanya berhenti ,

―hik..hik… boleh juga kumbang-kumbang ini eng-hwa ― ,

―siapakah kalian !? ― eng-hwa bertanya tanpa menggubris perkataan si-san dan menatap tajam pada pah-sim-sai-jin , pah- sim-saijin tersenyum sinis dan meludah

eng-hwa yang melihat gerakan meludah itu sontak marah ,

―bangsat ! ― eng-hwa menyerang sambil menyumpah , namun gerakanya tetahan oleh dorongan pukulan yang amat dahsyat hingga eng-hwa terjengkang , ―masih untung nyawa kalian kuampuni , karena kalian disamping bisa menghiburku juga bisa menjaadi pembantuku ― , eng-hwa yang sesak dadanya karena tekanan tenaga yang mendorongnya terdiam pucat

―cih.. ! siapa kamu ini sehingga kamu mengangap dirimu tinggi

!‖ sela ceng-si dengan ketus karena merasa tersinggung juga dengan sikap meludah pah-sim-sai-jin

―hahaha..hehehe …. hahahaha ― kalian mau tahu aku siapa !? , aku adalah pah-sim-sai-jin ― mendengar nama ini konta

ketiganya terperangah , ―hik..hik…selama dua tahun dicari-cari diikuti jejak seperti siluman dan taunya ketemu disini ― sela si- san sambil tertawa , ―heh..! kenapa kalian mencariku ! ― tanya pah-sim-sai-jin heran , ―mencarimu untuk menjalin kerjasama mendirikan hek-to-ki , namun ternyata kamu sudah berhasil di tiga wilayah dengan istilah hek-te ― sahut si-san senyum ―kalian siapakah dan darimana !? ― , ―kami dari im-kan-kok di kota hailar ― sahut si-san , ―hmh.. apakah ada hubungan dengan in-tek-san !?‖ sela ouw-gin , ―benar ! subo kami adalah ji-goat putri dari seorang eng-hong-bi-kwi-ji ― , ―wah… kalau begitu tepat kalian menghadap thian-te-ong ― , :‖siapa thian-te- ong ― tanya si-sian , ―saya thuan-te-ong‖ tiba-tiba pah-sim-sai-jin menjawab , ―dan saya senang dengan niat kedatangan kalian , untuk itu marilah kita kembali keatas dan kita mengadakan pesta malam ini ― pah-sim-sai-jin mencelat keatas dan disusul oleh ngo-ok-hengcia , liem-bouw dan si-san serta dua saudaranya

―dengar ! rencana malam ini kita tunda karena saya sangat senang dengan kehadiran kalian berempat , dan sekarang kita akan berkenalan lebih dekat ― semuanya menatap pah-sim-sai- jin terlebih ngo-ok-hengcia , ―saya adalah lu-koai , turun dari kwi-ban-san , guru saya adalah han-bu-ong sute dari bu-kek- siansu dan saya memiliki seorang suci yang berjulukan kwi- ban-san-hong-houw ― mendengar ungkapan diri yang tegas dan

jelas itu membuat semuanya melonggo menatap pah-sim-sai-jin

―luar biasa ! ternyata thian-te-ong adalah sute dari kwi-ban-san- hong-houw ― sela toan-sin takjub , ―sungguh tidak dinyana bahwa thian-te-ong adalah sute dari pimpinan sukong-bo bahkan sukong-bo-couw dalam hek-to-ki ― sela eng-hwa dengan senyum penuh arti , ―oo demikiankah eng-hwa !? ― ,

―benar sekali yang mereka katakan thian-te-ong bahwa pendahulu mereka adalah bawahan dari suci thian-te-ong ― sela ouw-gin , pah-sim-sai-jin merasa makin akrab dengan liem- bouw dan tiga gadis cantik dihadapannya

―dengan kenyataaan itu maka semakin terasa kokoh jalinan kerjasama kita ini ― sahut pah-sim-sai-jin , dan semuanya mengangguk membenarkan , lalu pah-sim-sai-jin berkata , ―dan kalian berempat kalian ketahuilah bahwa empat orang tua ini saya namakan ngo-ok-hengcia , mereka ini adalah pertapa- pertapa di puncak-puncak gobisan , yakni lu-tiok , toan-sin , phang-keng dan ouw-gin ― ngo-ok-hengcia berganti-ganti menjura ketika nama mereka disebut

pertemuan itu makin akrab ketika malam itu mereka berpesta , dan ketika larut malam pah-sim-sai-jin menggiring si-sian , ceng-si dan eng-hwa kekamarnya , dan pesta pun berlanjut tapi tidak lagi pesta minum melainkan pesta mesum , malam itu pah-sim-saijin benar-benar mendapatkan tiga wanita bangor yang membuatnya terhempas kenikmatan berkali-kali , sampai menjelang sore keesokan harinya pah-sim-sai-jin keluar dari kamarnya bersama tiga rekan wanitanya

―bagaimana thian-te-ong ! apakah rencana akan kita lakukan malam ini ? ― , Ya , kita akan kerjakan malam ini , dan tugasnya sebagaimana kemarin kita sepakati bahwa penculikan akan dilakukan oleh ngo-ok-hengcia , namun pekerjaan itu akan dibantu oleh ―im-kan-sian-li-sam‖ (tiga dewi dari lembah ahirat) ― sahut pah-sim-sai-jin , eng-hwa dan dua saudaranya tersentyum mendengar julukan spontan yang diberikan pah- sim-sai-jin kepada mereka ―dan untuk bagian penguasaan rumah kungcu tetap akan di jalankan see-kwi-liong (naga iblis dari barat) liem-bouw , liem- bouw manggut-manggut bangga dengan julukan yang diberikan pah-sim-sai-jin kepadanya karena berdekatan dengan julukan kakeknya ―dan saya sendiri akan mengosongkan likoan ini dan menunggu pemuda belia dan remaja wanita yang nantinya kalian bawa ― semuanya mengangguk dan menyatakan kesiapannya

malamnya semua sudah bergerak dan tinggallah pah-sim-sai- jin di likoan , pah-sim-sai-jin keluar dari kamar , likoan itu sebenarnya tidak ada tamu selain mereka , hanya malam itu pah-sim-sai-jin akan mencabut nyawa pemilik likoan dan keluarganya yang tinggal di belakang likoan dan enam pelayan

, pah-sim-sai-jin mendatangi enam pelayan yang berada didapur , enam pelayan itu terkejut , ―ada apa kongcu !?‖ tanya seorang pelayan setengah tua , ―kalian mau mati atau ikut perintahku ― , ancam pah-sim-sai-jin dengan mata melotot ,

―ka..kami akan ikut perintah kongcu ! , ―bagus kalau begitu , malam ini akan ada banyak pemuda belia dan remaja perempuan yang akan dibawa kesini dan kalian semua akan melayaninya ― , ―baik-kong-cu ― jawab mereka serempak

kemudian pah-sim-sai-jin meninggalkan mereka dan menuju kerumah belakang likoan , didalam rumah pemilik likoan yang tua sedang dikelonin istri mudanya , namun keasyikan itu berubah menjadi ketakutan liar biasa ketika pah-sim-sai-jin muncul dalam kamar itu , ―a..a..ada apa kongcu ?!‖ namun jawaban yang diterimanya adalah sekilas tamparan yang seketika menerbangkan nyawanya kealam lain , istri muda pemilik likoan menjerit ketakutan namun apalah dayanya didepan kebringasan dan ketelengasan pah-sim-sai-jin , wanita itu dipermainkan sampai larut malam oleh pah-sim-sai-jin dan setelah itu membunuhnya

liem-bouw dengan gerakan ringan mengendap-endap di atap rumah song-kungcu , beberapa pengawal meronda mengitari rumah memasuki halaman rumah kungcu , laksana seekor kucing see-kwee-liong masuk kedalam rumah kungcu , song- kungcu dan istrinya sedang berada di ruang tengah berbincang-bincang , dan seorang anak gadisnya yang berumur sembilan belas tahun sedang berada didalam kamar demikian juga dua putranya yang berumur lima belas dan tujuh belas berada dikamar lain

see-kwi-liong bergerak cepat turun kedalam kamar song- kungcu , ―heh…. Siapa kamu… pengawal……. ― bentak song- kungcu cemas , takut dan berteriak memanggil pengawal ,dan dalam sekejap beberapa pengawal sudah masuk memenuhi teriakan itu , namun mereka langsung menerima serangan bahaya dari see-kwi-liong sehingga empat dari mereka tumbang dengan nafas sesak dan tidak bisa bangkit karena pingsan , pengawal yang lain segera mengepung dan menerjang mengeroyok see-kwi-liong , namun bagi see-kwi- liong mereka itu tidak ada arti , gerakan yang cepat dan gesit membagi-bagi pukulan dan tendangan sehingga para pengawal terlempar dan ambruk dalam waktu satu jam seluruh pengawal yang berjumlah tiga puluh pingsan bergelim pangan dan sebagian dari mereka tewas dan sebagian yang lain luka parah , see-kwi-liong mendekati song-kungcu yang meringkuk ketakutan bersama istrinya disudut kamar , dengan senyum menyeringai see-kwi- liong menarik baju song-kungcu dan ―prakk..‖ kepala song- kung-cu ditampar hingga tewas , kemudian dengan birahi yang meletup-letup see-kwi-liong mempermainkan song-hujin

setelah tuntas dengan song-hujin , see-kwi-liong meninggalkan kamar menuju kamar anak gadis song-kungcu , tapi kamar itu kosong , lalu dia pergi kekamr dua putra song dan kamar itu juga kosong , ternyata ketiga anak song-taijin sudah melarikan diri ketika terjadi huru hara dan pertempuran , see-kwi-liong kesal dan jengkel sehingga menendangi mayat –mayat sehingga berserakan diseluruh ruangan tengah , kota ki-bun malam itu geger dengan jerit tangis pilu , beberapa keluarga yang mencoba mempertahankan diri berakhir dengan meregang nyawa , sampai menjelang pagi enam puluh pemuda belia dan dua puluh remaja putri di ambil paksa dan ditempatkan di likoan dan seratus wanita dewasa yang layak di tempatkan di rumah kungcu

Selama satu minggu teror berlangsung , membuat rakyat kibun merasa bak dineraka , mereka bersegera keluar dari ki-bun mengungsi kedesa atau kota yang lebih aman , pah-sim-sai-jin menetapkan rumah kungcu yang besar dan memiliki lapangan latihan yang luas untuk dijadikan markas , selama satu bulan kibun sudah kosong hanya dihuni pah-sim sai-jin dan sembilan rekannya , kemudian dua ratus pemuda belia , seratus remaja putri dan dua ratus wanita dewasa

―hahaha…. Tung-kek-hek-te telah terbentuk dengan calon tiga ratus generasi hitam masa depan , selanjutnya kita akan mengumpulkan biaya untuk menyokong pembiayaan kota tung- kek-hek-te , maka pembagian tugas selanjutnya ! , ngo-ok- hengcia akan mendatangi seluruh kungcu yang ada di wilayah timur ini untuk memaksa mereka mengirimkan upeti ke sini , kemudian see-kwi-liong akan melanjutkan pengumpulan generasai hek-te , dan dibantu oleh dua dari im-kan-kok-sianli- sam sementara saya akan membina tiga ratus generasi kita dibantu oleh si-san ― , ―kapan kita bergerak thian-te-ong !? , tiga hari lagi rencana dikerjakan ― semuany mengangguk lalu mereka bubar

pah-sim-sai-jin berpesta dengan im-kan-sianli-sam , ngo-ok- hengcia dan see-kwi-liong berpesta dengan beberapa wanita dewasa yang ditawan yang tentunya akan menjadi wanita penghibur nantinya , selama tiga hari itu pesta mesum berlangsung dan setelah itu rencana pun dilaksanakan , ngo- ok-hengcia keluar dari ki-bun untuk mendatangi para kungcu sementara eng-hwa , ceng-si dan liem-bouw menculik dan memaksa para pemuda belia dan remaja putri untuk di bina di kibun

Tang-kuan-cin ciangbujin dari thaisan-pai menjelang siang itu mengadakan pertemuan dengan seluruh sute dan muridnya , murid thaisanpai berjumlah seratus lebih diajar oleh tiga murid kepala , kwaa-kun , khu-peng-tek , coa-kang , ketiganya dijuliki thaisan-tiauw-sam‖ (tiga rajawali thaisan) , diatas mereka adalah tiga sute dari tang-kuan-cin yang ketiganya berumur enam puluh tahun , phang-bun , in-bouw-sin dan cu-liong-tin , phang-bun dan in-bouw dijuluki ―thaisan-sian-ji‖ dua dewa thaisan sementara cu-liong-tin berjulukan thaisan-lojin (si tua dari thaisan)

Sam-sute dan murid-murid sekalian ! , dari laporan thaisan- sian-ji bahwa keadaan kangowu telah diambang kehancuran , para ciangbujin partai besar telah gugur kebumi yang dimulai dengan gugurnya she-taihap di empat wilayah seiring tumbuhnya hek-te di tiga wilayah , dan itu semua adalah rangkaian perbuatan dari seorang yang kita kenal dengan pah- sim-sai-jin ― semuanya hening menambah suasana semakin mencekam , lalu ciangbujin melanjutkan

―usaha yang dibangun she-taihap dalam menanggulanginya hanya bertahan hampir tiga tahun dan bahkan kemunculan pah-sim-sai-jin yang kedua kali menewaskan she-taihap dan disusul tewasnya para ciangbujin ― sejenak ciangbujin berhenti kemudian melanjutkan , ―dan berita terakhir yang diperoleh bahwa pah-sim-sai-jin bercokol di wilayah ini untuk menancapkan tirani untuk kedua kalinya , jadi untuk itu hari ini kita berkumpul disini untuk mengambil tindakan yang layak dan

dapat kita lakukan ― ciangbujin diam menatap semua yang hadir

, ―adapun hal yang akan kita lakukan adalah memberikan perlawanan maksimal kepada pah-sim-sai-jin , dan dalam rencana perlawanan ini maka tin-sute kami serahkan untuk menyusun langkah dan strateginya ― ciang-bujin lalu diam dan kemudian thai-san-lojin mengambil

―ji-sute dan murid sekalian kita tahu bahwa lawan kita telah mencapai puncak prestasi luar biasa dalam kesaktian , keuletan

, perencanaan dan kebrutalan , musuh ini sakti tidak kita pungkiri , demikian juga ia ulet karena betapapun ia menghadapi rintangan dari kalangan kita yang dipimpin she- taihap dia tetap pada misinya , kemudian ia memiliki perencanaan dalam menegakkan misinya yang hasilnya kita tahu sangat mencengangkan dan terakhir ia brutal karena nyawa yang sudah tewas ditangannya hampir ribuan sejak kemunculannya dua belas tahun yang lalu ―

semuanya diam mendengarkan uraian kenyataan yang dipaparkan oleh thaisan-lojin , ―dan sekarang pah-sim-saijin berada diwilayah ini dan kita sebagai pagar yang tersisa akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dan patut kita lakukan

― , ―suhu..! apa yang akan kita lakukan dan bagimana hal itu kita lakukan, kami semua murid thaisan-pai akan menyediakan diri ― sela kwaa-kun

―kesediaan itu kun-ji sudah merupakan modal terbaik untuk kita melakukan rencana dan tindakan , nah… adapun rencana adalah seratus dari murid akan turun menyebar kepelosok wilyah timur ini , dan penyebaran itu terbagi dua puluh karena masing-masing akan kelompok terdiri dari lima orang , kemudian lima puluh orang bertahan di sini bersama suheng , kemudian thaisan-tiauw-sam satu kelompok , thaisan-sian-ji satu kelompok dan kemudian saya sendiri ― thaisan-lojin menarik nafas dan melanjutkan , ―hmh… kita semua turun dan melakukan penentangan terhadap makar dan teror yang dilakukan oleh pah-sim-sai-jin ―

―baik.. suhu , lalu kapan kita akan memulai ― , ―mulai hari ini dan besok kita sudah turun dari thaisanpai, kun-ji ― semuanya mengangguk , lalu pertemuan itupun bubar , dan oleh thaisan- tiauw-sam setelah makan siang membagi yang akan berangkat dan yang akan tinggal , dan kemudian membagi yang akan berangkat sejumlah dua puluh kelompok sehingga beberapa kelompok sudah turun gunung sore itu

thaisan tiauw-sam bergerak memasuki kota kunming disepanjang perjalanan mereka banyak melihat iring-iringan penduduk , ―lopek ! darimana dan hendak kemanakah tujuan dari rombongan penduduk ini ― tanya kwa-kun , ―kami dari kibun dan sudah sebulan menempuh perjalanan hendak ke kunming ―

, ―hmh…. ada apa di kibun lopek sehingga penduduk meninggalkan kota itu ? ―, ―aih… tak tahulah kenapa dengan negeri kita ini , kejahatan dan penindasan merajalela , kota kibun dikuasai iblis ― keluh orang tua itu , ―hmh..apakah maksud lopek pah-sim-sai-jin !?‖ orang tua itu mengannguk , thaisan- tiauw-sam mendahului rombongan itu sehingga dua kemudian mereka memasuki kota kunming , ketiganya menyewa kamar disebuah likoan dan berencana seminggu akan menetap untuk melihat keadaan , dan pada hari ketiga dua orang perempuan cantik dan seorang lelaki setengah tua memasuki kunming , mereka adalah eng-hwa , ceng-si dan liem-bouw

kota kumning adalah kota kelima yang mereka datangi untuk tugas yang diperintahkan pah-sim-sai-jin , dua minggu yang lalu mereka baru dari kota leng-kong dan sedang mengadakan aksinya pemuda belia dan remaja putri dipaksa untuk ikut mereka kemudian wanita-wanita dewasa yang layak juga tidak ketinggalan , orang tua yang menentang mereka bunuh kemudian mereka kumpulkan disebuah likoan , pada hari ketiga mereka beraksi lima orang pendekar menghalangi mereka ketika mereka memaksa dua anak perempuan cungcu bagian selatan kota dan menebas kepala cungcu tersebut

―hentikan perbuatan keji ini ― bentak suara dan lima orang telah menyerang mereka , serangan tiba-tiba itu mereka elakkan dan memandang dengan senyum kelima pendekar yang berusaha menghalangi , ―hik..hik… cih.. apakah kalian hendak mampus ikut campur urusan kami !?‖ bentak eng-hwa , ―kalian sudah melampaui batas dan hal ini tidak boleh didiamkan ― sela seorang dari lima pendekar itu , ―hik….hik.. , dua dari kalian lumayan berharga untuk hiburan malam nanti ― ceng-si berkata tertawa genit dan seketika menyerang kelima pendekar

lima pendekar bergerak dengan mantap mengelak dan menyerang dengan tidak kurang berbahayanya , namun yang mereka hadapi adalah ceng-si yang tarap ilmunya melebihi suhunya sendiri , dalam tiga puluh gebrakan tiga orang dari pendekar sudah dibacok dan ditusuk pedang ceng-si sementara dua pendekar terjerembab di bawah ancaman pedang , ―hik..hik.. mari kita bersenang-senang malam ini ― sela eng-hwa dengan tawa genit , ―tidak baik kalian bunuh kami ― teriak seorang pendekar dan menagkap pedang ceng-si , ceng- si terkejut dengan gerakan nekad itu , lalu ia melepaskan pedangnya dan bergerak menotok pemuda itu , pemuda itu seketika kaku dan dengan senyum ceng-si mengambil pedangnya dari genggaman pemuda pendekar itu

―hik..hik.. kalau mau mati nanti saja , tampan , kita bermain- main terlebih dahulu ― ceng-si mengelus pipi pemuda ganteng itu , ―kalian ini siapa !?‖ bentak eng-hwa pada seorangnya lagi ,

―tidak perlu kalian tahu kami dari mana ― sahut pemuda itu

tegas , ―kalau kamu tidak jawab maka nyawamu akan kucabut

!― , ―baik..bunuhlah !‖ tantang pemuda itu , eng-hwa merasa panas akan ketegaran hati dua pemuda ini , ― sudah ! untuk apa dikorek darimana mereka datang , kan mereka tetap akan mati juga tapi mereka mendapat kesenangan sebelum mati ― sela liem-bouw , ―hik..hik.. see-kwi-liong merasa cemburu juga walhal sudah sebulan kita bermain-main ― sahut ceng-si , ―ah .. siapa yang cemburu , di likoan banyak wanita yang akan jadi hiburanku nanti malam ― bantah liem-sun dengan muka masam

―hik…hik… ya sudah kalau begitu , mari kita lanjutkan pekerjaan kita ― sela eng-hwa , lalu merekapun menggiring dua remaja putri dan dua pendekar menuju rumah lain , sehingga sampai sore enam belas remaja perempuan dan sepuluh pemuda belia

serta tiga wanita dewasa yang cantik mereka dapatkan dan kemudian ketika malam tiba mereka sudah sampai di likoan diaman ada lima puluh pemuda belia dan tiga puluh remaja putri dan dua belas wanita dewasa , tawanan yang baru datang itu digabungkan dan kemudian eng-hwa dan ceng-si membersihkan diri demikian pula dengan liem-bouw

eng-hwa setelah makan malam mengambil seorang dari pendekar yang kita tahu dari thai-san dan seorang lagi dibawa ceng-si kekamarnya , keduanya digelitik untuk melayani birahi kedua wanita mesum itu sementara liem-bouw membawa tiga wanita dewasa yang baru saja mereka tangkap kekamarnya , pesta maksiat itu berlangsung sampai menjelang pagi

keesokan harinya kedua pendekar sudah meregang nyawa dan dibuang kebelakang likoan , kemudian liem-bouw dan dua rekannya mengumpulkan semua tawanan dan tiga orang lelaki piauwsu yang juga berada disitu dan mereka diciduk dari tempat mereka tiga hari yang lalu , piuawkiok mereka yang sudah hampir bangkrut habis diobrak-abrik oleh ketiga durjana itu dan hanya mereka bertiga yang menyerah

―hari ini kalian bertiga giring semua tawanan ini menuju kibun dan jumpai thian-te-ong disana !‖ , ketiga lelaki itu mengangguk

, lalu semua tawanan keluar dari likoan dan berangkat meninggalkan leng-kong menuju kibun sementara liem-bouw , eng-hwa dan ceng-si bergulung-gulung di likoan yang kosong itu berpacu permainan nafsu dan saling berlomba menuju puncak kepuasan , dua hari mereka di likoan lalu mereka meninggalkan kota menuju kun-ming

―pelayan sediakan makanan dan arak ― seru liem-bouw , thaisan-tiauw-sam memperhatikan gerak-gerik ketiga tamu yang baru datang itu , dan setelah liem-bouw dan kedua rekannya keluar dari likoan , thaisan-tiauw-sam mengikutinya , namun gerakan ketiga thaisan-tiauw-sam tidak luput dari pengetahuan liem-bouw dan rekannya , akhirnya thaisan-tiauw- san kepergok di sebuah lorong , ―hik..hik… penguntit terinjak ekor ― sindir eng-hwa , thaisan-tiauw-sam berdiri tegap dan berkata , ―kejahatan merajaleala dimana-mana , sesuatu yang mencurigakan jadi perhatian demi untuk mencegah berlakunya tindakan brutal yang mungkin saja terjadi ―

―hahha..hahah .. , kalian ini siapa sehingga lancang menguntit kami karena dasar curiga !‖ sela liem-bouw geram , ―kami dari thaisanpai berusaha untuk menghalangi hal yang merugikan orang lain ― sahut kwa-kun , ―hahaha..hahha , aku ingin lihat bagaimana kalian mau menghalangi kami ― liem-bouw segera menerjang kwa-kun , kwa-kun menyambut ―plak..des..‖ dua tangan kekar beradu membuat kwaa-kun terlempar dua meter sementara liem-bouw bergeser lima langkah , liem-bouw kembali menerjang , dan disambut khu-peng-tek dan coa-kang

thaisan-tiauw-sam mengeroyok liem-bouw , pertempuran berlangsung dahsyat dan seru , gerakan thaisan-tiauw-sam sangat mantap dan saling mendukung menekan pertahanan liem-bouw , namun liem-bouw pesilat kosen dan dapat mengimbangi keroyokan thaisan-tiauw-sam , jurus demi jurus belalu hingga tiga ratus jurus sudah kedudukan masih seimbang , tapi dua puluh jurus berikutnya thaisa-tiauw-sam mulai tertekan saat hauwce dari liem-bouw menegenai pundak khu-peng-tek sehingga membuat gerakannya lambat karena nyeri , dan akibatnya gerakan susulan yang datang bertubi-tubi membuat thaisan-tiauw-sam terdesak hebat hingga pada satu gebrakan hauwce dari liem-bouw mengetuk kepala coa-kang hingga remuk dan ia tewas seketika

kwa-kun dan khu-peng-tek merangsak maju dengan sedaya upaya , namun lawan ini sangat kosen dan luar biasa , dan pada gebrakan selanjutnya hauwce dari liem-bouw menghantam dada khu-peng-tek hingga jantungnya pecah dan diapun tewas seketika , kwa-kun tetap gigih melawan sampai titik darah terakhir , saat hauwce liem-bouw hendak menghantam kepala kwaa-kun pedang ceng-si menghalangi

―heh..! ada apa ini !? kenapa si-moi menghalangi ― , ―pemuda ini sangat tampan dan kalau bisa kita ajak dia bergabung ― sahut ceng-si , namun dengan tidak diduga kwaa-kun bertindak nekat menghabisi nyawanya dengan menusuk pedangnya sendiri kejantungnya , dan kwaa-kun tewas , ―hahaha..hahaha , dia lebih mati daripada bergabung dengan kita ― liem-bouw tertawa sementara ceng-si kecewa , harapannya untuk bercinta dengan kwaa-kun pupus sudah , ―sial… pemuda goblok ! ― ceng-si menggerutu ―sudah… kita lanjutkan tugas kita , jangan kecewa si-moi kan masih ada aku , hahah,,,haha ― , ―iih… kamu ini ! barang lama ― ceng-si gemas dan langsung berkelabat pergi dan disusul liem- bouw dan ang-hwa , sehari mereka bergerak di kumming suasana sudah gempar , kekejaman pun bergulir selama empat hari , para pemuda belia dan remaja putri yang jadi buruan di kumpul dan wanita-wanita dewasa ditarik paksa dari orang tuanya maupun dari suaminya

kota changchung dirumah coa-kungcu terjadi pembantaian , seratus pengawal mengurung seorang kakek yang bergerak cepat membagi-bagi pukulan maut , kakek itu adalah lu-tiok salah satu dari ngo-ok-hengcia , mereka berlima berpencar dalam menjalankan tugasnya dan hari lu-tiok beroperasi di kota changchung , ketika lu-tiok berpesta maut , sebuah bayangan menerjangnya , bayangan itu adalah seorang kakek seumuran dengan lu-tiok ,thaisan-lojin , thaisan-lojin yang dalam perjalanannya membawa dia ke changchung dan ketika lewat rumah kungchu pembantaian itu disaksikan dari jalan raya sehingga ia pun bergerak cepat menghalangi

―hmh.. sudah tua kenapa harus berbuat yang tiada guna dan menambah dosa ― tegur thaisan-lojin , wajah lu-tiok berubah merah , ‗heh…! urusan orang kenapa usil mencampuri ― sungutnya geram , ―urusan ini bukan pribadi maka patut untuk dicampuri ― , ―phuah…! Apa kebolehan yang kamu andalakan untuk hingga berani menghalangiku ! bentak lu-tiok sambil menyerang , thaisan-lojin menyambut pukulan keras dengan keras dan ―blaam..‖ terdengar ledakan keras sehingga membuat temapt itu bergetar , keduanya sama-sama mundur tiga langkah

lalu pertempuranpun dilanjutkan , para pengawal menyingkir menjauh dan sipa dengan segala kemungkinan , pertempuran dua kakek sakti itu sangat luar biasa , cepat dan lincah , hawa pukulan berkesiuran membuat tempat itu laksana diterpa badai

, jurus-jurus sakti dikeluarkan , gerak pancingan dan tipu-tipu berbahay dikeluarkan , namun pertempuran berlangsung seimbang hingga menjelang sore , pertempuran sudah hampir lima ratus jurus namun sepertinya belum mencapai titik akhir karena pertempuran semakin luar biasa gencar

namun saat malam tiba pasukan kungcu tiba-tiba diserang oleh tiga orang pendatang , dua oraang membantai pasukan seorang membantu lu-tiok , ketiganya adalah liem-bouw , eng- hwa dan ceng-si yang ternyata sudah sampai pula dichangchung , liem-bouw dan lu-tiok mengeroyok thaisan-lojin

, dan akibat masuknya tokoh berimbang ini drastis thaisan-lojin terdesak kuat namun thaisan-lojin dengan sedaya kekuatan bertahan dari tekanan berat , tongkat dan hauwce mengintai nyawanya pada pertempuran tidak seimbang itu

akhirnya pada satu kesempatan dua senjata maut itupun mendapatkan sasaran , tongkat lu-tiok menghantam punggung thasan-lojin sementara hauwce liem-bouw menghantam perut , thaisan-lojin terduduk dengan memuntahkan darah segar , nafasnya sesak , dia memeramkan matanya untuk menyambut kematian yang sebentar lagi menjemputnya , lima belas menit kemudian , loncinpawe itupun tewas dalam posisi duduk

pasukan kungcu hanya tinggal enam orang dengan luka serius sementara coa-kungcu berlutut dengan pucat dan takut , ―coa kungcu ….. ! sekarang pilih kamu memilih mati atau tunduk pada peraturan thian-te-ong di kibun dengan mengirimkan upeti tiap tahun ― bentak lu-tiok , ―sa..sa….saya akan tunduk pada aturan thian-te-ong ― jawab coa-kungcu terbata-bata , ―bagus kalau begitu , bulan depan kamu mulai berikan upeti pertama ke kibun !‖ , ―baik .. baik , aku akan lakukan ― angguk coa- kungcu

lu-tiok dan ketiga rekannya meninggalkan kediaman kungcu dan menuju sebuah likoan , ―hmh… bagaimana urusan kalian , apa berjalan dengan baik dan lancar !?‖ tanya lu-tiok , ―urusan kami lancar dan besok kami akan memulai operasi disini ― sahut liem-bouw , ―baguslah , saya juga akan melanjutkan perjalanan kekota harbin dan qihar , dan malam ini aku bermalam disini ― lu-tiok menatap eng-hwa , eng-hwa tersenyum centil ― , ―kalau begitu ayoklah kita istirahat ― sela eng-hwa memandang kakek lu-tiok dengan kerling menggoda

lu-tiok berdiri dan mengikuti eng-hwa , keduanya memasuki kamar saling elus salin remas , permainan mesum pun berlangsung membuat kakek itu ngos-ngosan namun dasar memang kakek kosen . tidak hanya ilmu silatnya yang kosen ternyata ilmu ranjangnya juga tidak mengecewakan , eng-hwa yang umur puncak dalam birahi menggelinjang tidak karuan dikenyot sama kakek tua itu

dikota tianjin , toan-sin salah seorang dari ngo-ok-hengcia memasuki kota tian-jin dan memasuki sebuah rumah makan , tidak lama kemudian dua tamu berumur lima puluhan juga memasuki rumah makan , kedua lelaki separuh abad itu adalah thaisan-sian-ji , para tamu menikmati hidangan , suasana masih nyaman

toan-sin menyulut hauwcenya setelah selesai bersantap lalu toan-sin menggerakkan tangannya , tiba-tiba seorang pelayan yang sedang membawa nampan kosong melayang mendekat padanya , semua tamu terkejut tidak terkecuali thaisan-sian-ji ,

―beritahu aku dimana letak kediaman kungcu !‖ bentaknya ,

―a..ada disebelah utara kota ― jawab pelayan itu pucat , thaisan- sian-ji yang mendengar pertanyaan memaksa tentang kungcu timbul kecurigaan pada toan-sin , karena selama perjalanan mereka , para kungcu dipaksa untuk membayar upeti kepada tung-kek-hek-te di kibun

―sepertinya orang itu anak buah pah-sim-sai-jin bouw-suheng ! ― bisik phang-bun , ―benar bun-sute , ―jadi bagaimana suheng !? apakah kita langsung menghadapinya ?‖ , ―sebaiknya sute ! kita mendahuluinya ketempat kungcu dan meminta kung-cu untuk bersiap-siap menjaga diri ― in-bouw mengangguk menyetujui , lalu thaisan-sian-ji membayar makanan dan meninggalkan rumah makan dan segera kerumah kungcu ―siapa kalian dan apa maksud datang kesini !?‖ tanya dua orang pengawal jaga , ―kami datang dari thaisan , dan kedatangan kami kesini ingin memberi tahu bahwa seorang utusan pah-sim-sai-jin akan mendatangi tempat ini , jadi hati- hatilah !‖ sahut in-bouw , seorang pengawal langsung memukul kentungan sehingga para pengawal berkumpul di pintu gerbang untuk mengetahui hal apa yang terjadi

gak-kung-cu juga keluar bersama empat orang pengawal dalam

, ―ada apa pengawal !? ― tanyanya cemas , ―begini tai-jin ! kata dua saudara ini , bahwa utusan pah-sim-sai-jin ada di kota ini dan hendak menuju kemari ― , gak-kungcu menatap thaisan- sian-ji , ―apakah itu benar !? dan siapakah kalian ?‖ , ―kami dari thaisan-pai , dan benar apa yang kami katakan, utusan pah- sim-sai-jin seorang berumur enam puluh tahun dan kami juga ingin membantu menghadapi segala kemungkinan yang akan

terjadi ― sahut in-bouw

satu jam berikutnya , toan-sin memasuki gerbang kediaman gak-kungcu ,para pengawal yang melihat laki-laki seperti yang digambarkan thaisan-sian-ji segera mengurung toan-sin , sepuluh orang lansung menyambutnya dengan berbagai senjata , ―hahahah..hahaha , sepertinya kalian sudah membuat penyambutan untuk saya ― , ―segera tinggalkan tempat ini !‖ bentak kepala pengawal , ―hahaha..hahha , apa kalian dapat mengusirku !? ― toan-sin langsung menerjang sepuluh pengawal , tubuh toan-sin disambut sepuluh senjata , namun semua senjata itu terpental oleh hawa sakti yang berkesiuran ketika toan-sin hendak membagi-bagi pukulan maut pada sepuluh orang pengawal yang terjengkang dan terlempar , thaisan-sian-ji muncul menghalangi maksud keji toan-sin ,

―heh.. ada juga isinya ― dengus toan-sin dan mengerahkan jurus-jurus saktinya , thaisan-sian-ji juga tidak mau kalah , mereka mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menekan kakek kosen itu , pertempuran berimbang sampai dua jam , tapi lama kelamaan thaisan-sian-ji sudah tidak bisa membalas kecuali hanya bertahan

empat kepala pengawal terjun membantu thaisan-sian-ji , sesaat kedudukan thaisan-sian-ji kembali normal , namun tidak bertahan karena dua puluh jurus kemudian dua kepala pengawal ambruk tewas dengan kepala remuk diketuk hauwce toan-sin , kedua kepala pengawal terus merangsak maju bersama thaisan-sian-ji , sepuluh jurus kemudian dua pengawal abruk tewas menyusul dua temannya karena dada mereka dihantam hauwce toan-sin

thaisan-sian-ji kembali terdesak hebat dan akhirnya lima puluh kemudian phang-bun subuah pukulan dahsyat menghantam perutnya hingga ambruk dan pingsan , in-bouw dengan semangat tidak kendur bertahan sekuat tenaga dan sesekali nekat menyerang , namun tetap jugalah toan-sin yang sakti mengendalikan keadaan sehingga ketukan totokan hauwce dan sepuah pukulan sakti yang menghantam tubuhnya membuat dia terlempar muntah darah dan beberapa saat kemudian nyawanya pun lepas phang-bun yang pingsan ditendang toan-sin hingga jawara thaisanpai itupun tewas seketika , para pengawal bergerak serempak menyerang namun toan-sin menghantam keroyokan itu hingga porak-poranda , satu jam toan-sin keroyokan itu berhenti dengan lebih lima puluh mayat bergelimpangan , hanya dua puluh orang yang tersisa dengan wajah pucat dan gemetar ketakutan

gak-kungcu yang sembunyi di rumahnya diseret toan-sin dan melemparkannya keluar hingga kakinya patah , gak-kungcu meringis kesakitan , ―kungcu! Jika kamu mau mati hal itu mudah kulakukan tapi kalua kamu masih mau hidup maka kamu harus tunduk pada peraturan thian-te-ong untuk mengirimkan upeti ke tung-kek-hek-te di kota kibun ― ―ba..baik , aku akan turuti kehendak pah-sim-sai-jin dan akan mengirimkan upeti ke kibun ― sahutnya terbata-bata sambil menyembah- nyembah pada toan-sin , ―bagus..! bulan depan kamu harus kirimkan upeti pertama ― kata toan-sin sambil berkelabat cepat meninggalkan kediaman gak-kungcu

kota ki-bun dalam jangka hampir setahun sudah banyak menerima kiriman upeti dari kungcu , pembangunan tempat- tempat hiburan dan lampu-lampu jalan sudah dimulai, pah-sim- sai-jin yang tinggal di kibun bersama si-sian untuk membentuk dan membina para pemuda belia dan remaja putri , empat prinsip han-bu-ong ditanamkan kepada semua murid disamping diajarkan ilmu-ilmu silat , bahkan nistanya perbuatan pah-sim- sai-jin seluruh murid deperkenalkan dengan kemesuman diantara murid laki-laki dan perempuan , sehingga dalam setahun saja manusia-manusia berumur labil itupun terjebak dengan nafsunya

setelah setahun ngo-ok-hengcia , liem-bouw , ceng-si dan eng- hwa kembali kekibun , jumlah murid yang terkumpul sebanyak lima ratus orang terdiri dari tiga ratus pemuda belia dan dua ratus remaja putri sementara wanita dewasa dan matang serta layak sejumlah dua ratus orang , pembangunan kota kibun selesai para wanita calon penghiburpun di tempatkan dirumah- rumah border yang indah dan megah , pokoan-pokoan besar berdiri kokoh

pah-sim-sai-jin dan sembilan pembantunya berkumpul di istana tung-kek-hek-te , ―satu lagi tugas yang harus dikerjakan ! ,

―apakah itu thian-te-ong !?‖ tanya liem-bouw , ―tugas itu adalah menutup thaisan-pai ― sahut pah-sim-sai-jin , ―dan untuk melakukannya itu saya serahkan kepada liem-bouw dan ouw- gin ― lanjut pah-sim-sai-jin , liem-bouw dan ouw-gin menyanggupi , lalu keesokan harinya mereka berangkat menuju thaisan-pai

Tang-kuan-cin ciangbujin thaisanpai sedang melatih lima puluh murid yang tinggal hingga tengah hari , setelah itu ciang-bujin membrikan wejangan pada murid-muridnya , ―dengarlah murid- muridku semua , tetaplah kokoh memepertahankan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan walaupun apa yang terjadi , dan ketahuilah bahwa demi kebenaran maka patut nyawa disediakan sebagai tumbalnya‖ , ―suhu ! bagaimana bisa dikatakan bahwa thian mengehendaki bahwa pembunuhan seorang baik oleh penjahat !‖ sela seorang murid

―apapun yang terjadi dalam jagad raya ini adalah kehendak thian dan itu meliputi segala hal , entah itu yang kita fahami buruk maupun baik , lalu bagaimana dikatakan sesuatu yang jahat mengalahkan kebaikan dikatakan kehendak thian ? , dengarlah kalian semua ! thian itu maha baik dan pasti cendrung pada kebaikan , kalahnya kebaikan diatas kejahatan yang kita lihat saat ini pasti itu untuk sementara waktu dan keadaan sementara itu mungkin patut untuk terjadi menurut kehendak thian , kenapa patut !? , itu merupakan rahasia thian ―

―suhu ..! menurut suhu mana sisi patut dan baiknya kebaikan kalah atas kejahatan ― , ―karena hal itu merupakan rahasia thian

, dan kita hanya mampu meraba untuk memahaminya dengan olah hikmah yang dimiliki dengan membuat beberapa kemungkinan , dan jika kalian bertanya mana sisi patut dan baiknya kebaikan kalah atas kejahatan , maka jawaban yang dapat saya berikan pada taraf mungkin adalah , pertama , thian sedang memberikan ajaran kepada kita supaya mawas diri bahwa kejahatan selalu mengintai diri kita dan tidak menutup kemungkinan kita akan disergapnya sebagaimana yang kita rasakan saat ini kebaikan kalah atas kejahatan ―

―lalu yang kedua , suhu ! ― , ―kemungkinan kedua , thian hendak menguji kita sejauh mana kita mampu bertahan dikala kejahatan itu menguasai keadaan disekitar kita dan kemungkinan yang ketiga , thian hendak memahamkan kepada kita bahwa kebaikan itu tetaplah diatas dari kejahatan walaupun sesaat tenggelam oleh tirani kejahatan sehingga dengan demikian kita dapat cendrung pada kebaikan itu , hal ini dapat kita lihat dari perjalanan sejarah masa lalu , awalnya pada zaman dynasti tang sampai awal dynasti sung-selatan dimana kejahatan dan kebaikan berlaku imbang walhal pada zaman itu ada bukek-siansu , kiam-mo-taisu dan kim-siauw-eng yang terkenal sebagai pentolan kalangan pendekar tapi saat itu juga ada ratu pulau es dan anaknya , ban-pi-kocia dan thian-te-liok- koai ―semua murid mendengarkan penuh perhatian

―dan setelah pertengahan dynasti sung sampai hari ini masuknya mancuria kejahatan tidak ada , melainkan hanya kebaikan , kenyamanan dan keharmonisan yang ditenggarai oleh munculnya bengcu taisu kim-khong-taihap dan penyebaran she-taihap , dan hal itu kita rasakan hampir dua ratus tahun , walaupn dalam perjalanan itu ada muncul iblis turunan kwi-ban-san namun itu hanya sekedar percikan ― , ―lalu kesimpulannya bagaimana suhu !? ― , ―kesimpulannya adalah , munculnya tirani saat ini patut menurut thian untuk menguji apakah kecendrungan kita tetap pada kebaikan dan apakah kebaikan yang kita rasakan selama hampir dua ratus tahun ini kita mampu bertahan dengan tumbal nyawa kita jika diuji beberapa saat dengan tirani yang menguasai kita ― semua murid manggut-manggut

seminggu kemudian ketika murid sedang berlatih dibawah bimbingan ciangbujin , liem-bouw dan ouw-gin muncul , tang- ciangbujin berdiri tenang menghadapi kedua tamu tidak diundang itu , ―siapakah jiwi-sicu !?‖ , ―kami hendak menemui ciangbujin thai-san-pai !? , ―saya sendiri , ada apakah gerangan

? ― tang-ciangbujin menjawab lebut , ―hmh… hari ini thaisanpai harus ditutup dan penghuninya harus tewas ― sahut ouw-gin ketus , ―urusan nyawa itu kehendak thian ― , ―kalau begitu mampuslah ! ― bentak liem-bouw sambil menyerang dengan kuat , dan ouw-gin menerjang murid-murid dengan serangan cepat dan berbahaya , dua kelompok pertempuran terjadi , murid-murid melawan mati-matian

tapi yang mereka hadapi adalah tokoh kosen dan sakti sehingga dalam jangka satu jam saja lima puluh murid thaisanpai itu bergelimpangan tidak bernyawa , sementara pertempuran antara liem-bouw dan tang-ciangbujin masih imbang dan seru , setelah empat ratus jurus , liem-bouw terdesak , dua pukulan tang-ciangbujun sudah mengenai pundak dan lambungnya , namun saat itu muridnya telah tewas semu dan ouw-gin menerjangnya dengan cepat dan berbahaya sehingga serangan susulan yang mungkin bisa mengakhiri nyawa liem-bow tidak bisa dilanjutkan

pertempuran dengan ouw-gin berlangsung cepat , liem-bouw yang sudah dapat mengendalikan diri sudah menerjang lagi sehingga tang-ciangbujin dikeroyok oleh dua tokoh yang boleh dikatakan seimbang dengannya , dua puluh gebrakan berikutnya tang-ciang-bujin sudah sangat terdesak hingga dua pukulan dari ouw-gin dan satu ketokan hauwce liem-bouw menghantam tubuh tang-ciangbujin , namun dengan kekuatan penuh dia masih dapat mencakar lengan liem-bouw hingga tangan itu remuk , lalu cianpwe yang gagah itupun tewas

liem-bouw mencak-mencak kesakitan dan rasa hati gemas sehingga tubuh ciangbujin ditendang hingga terlempar sepuluh meter , liem-bouw memegang tangan yang berdarah dan remuk itu setidaknya lukanya itu akan sembuh dua bulan , liem-bouw dan ouw-gin meninggalkan thaisanpai yang sudah porak poranda , mayat bergelimpamgan dibiarkan begitu saja , suasa yang mencekam dan meggiriskan ulah perbuatan manusia

Sebulan kemudian pah-sim-sai-jin mengadakan pesta karena tugasnya sudah berjalan lancar , ―hahah..hahaha ..hahah … hari ini adalah puncak kegemilangan dimana seluruh impian dapat diwujudkan , hek-to telah mencapai masa jaya , kalian sembilan rekanku telang memberikan dukungan dan saya

bangga dengan kalian dan untuk itu marilah kita bersulang tiga kali untuk merayakan kemenangan ini ― seru pah-sim-sai-jin dengan bangga penuh jumawa , semua penghuni kota kibun yang merupakan tung-kek-hek-te mengangkat cangkir dan lalu minum bersama-sama

Hari ini juga aku akan membagi komando disetiap wilayah , saya sendiri akan berada di kota yuguan untuk memimpin pak- kek-hek-te , see-kwi-liong akan jadi komando see-kek-hek-te di yinchang , ngo-ok-hengcia sebagai komando lam-kek-hek-te di hanzhong dan disini tung-kek-hek-te akan dikomandoi oleh im- kan-sianli-sam ― sembilan rekan pah-sim-sai-jin merasa gembira dengan pembagian wilayah tersebut

―dan setiap tanggal satu tahun ketiga kita akan mengadakan pertemuan di yuguan untuk membicarakan tentang perkembangan hek-te diseluruh wilayah , kalian mengerti semua !?‖ mengerti thian-te-ong jawab sembilan rekannya serempak , lalu pestapun berlanjut sampai tiga hari tiga malam dengan berbagai jenis pesta dari pesta mabuk-mabukan , pesta judi dan pesta mesum

setelah pesta selesai , see-kwi-liong meninggalkan wilayah timur menuju wilayah barat , dan dua hari kemudian ngo-ok- hengcia meninggalkan wilayah timur menuju selatan sementara pah-sim-sai-jin sebulan kemudian baru meninggalkan wilayah timur karena pesta mesumnya dengan im-kan-sianli-sam seakan tidak pernah selesai dan mengenal kata puas

seluruh tionggoan dikuasai pah-sim-sai-jin saat berumur empat puluh dua tahun , runtuhnya thaisan merupakan lambang runtuhnya pula kegagahan , tionggoan yang dulunya bertatahkan kekokohan sekarang terkulai tiada kekuatan , tirani telah berada dipuncak kejayaan yang akan memuntahkan lahar nista dan kejahatan yang akan menerpa seluruh jagad tionggoan dan akan melenyapkan norma dan aturan , manusia akan saling memakan untuk menjalani neraka kehidupan , manusia terjebak lingkaran setan , penindasan akan menjadi kebiasaan , nafsu lepas tidak terkendalikan merobek nilai-nilai kemanusian Demikian berakhirlah cerita hek-hoat-bo , Semoga bermamfaat disamping menjadi hiburan

Rajakelana , 05 Mei 2012

akankah dilema kehidupan yang mengiriskan itu akan berakhir

? , benarkah pandangan tang-ciangbujin bahwa kejahatan itu hanya sementara dan tetaplah kebaikan yang menang ? siapakah bubeng siauw-cut yang akan melenyapkan tirani pah- sim-sai-jin dan antek-anteknya ? jika jawabanya benar bahwa dilema kehidupan akan berakhir , kebaikan tetaplah diatas kejahatan , lalu bagaimanakah ceritanya dan apakah maksud kam-han-ki koai-lojin dengan unkapan kiprah tiga generasi , rekan pembaca yang budiman ingin tahu ? maka nantikan serial kim-khong-taihap berikutnya dengan judul

―IM-YANG-SIN-TAIHAP‖ (PENDEKAR SAKTI IM-YANG)

Tamat