-->

Biang Ilmu Hitam (Hek Hoat Bo) Jilid 3

Jilid 3

orang di pusat kota berhamburan terkejut melihat kobaran api yang nampak merah di tiga bagian kota , mereka berlarian menuju lokasi , beberapa pusat hiburan nyaris kosong , dua jam berikutnya lima pokoan , dan tujuh tempat pelacuran tiba- tiba terbakar , sebagian orang yang berada di tempat itu berhamburan kedalam untuk memadamkan api , mereka sibuk dipokoan yang terbakar tiba-tiba pokoan lain pun tiba-tiba berkobar api , ditiap bagian kota kobaran api tidak lagi dapat dikendalikan saking banyanyaknya titik api sehingga sijago merah melalap tiap rumah

penghuni yang hampir dua ribu lima ratus orang itu berlarian keutara dan menumpuk disana ketika bagian utara dipadati orang dan saat menjelang pagi , dua puluh tiga rumah terbakar di utara akhirnya spontan mereka berhamburan keluar gerbang utara , memang dua ribu orang itu seperti tikus dipermainkan she-taihap , iringan ribuan orang dijalan besar bagian gerbang utara bergerak menuju jembatan , dan tanpa mereka sadari tebing sisi jalan dijebol oleh tiga she taihap sehingga longsor dan menutup badan jalan

kemudian she-taihap kembali kedalam kota , dan didalam kota sepi karena seribu orang lebih meninggalkan kota dari tiga gerbang kota ketika pusat kota terbakar , keganjilan itu membuat mereka ngeri , merekaa tidak bisa mengetahui siapa yang membakar ditengah kepanikan itu hingga lansung ratusan orang berhamburan lari menyelamatkan diri, api berkobar sampai sepuluh hari , dan kota xining benar-benar menjadi kota hitam oleh arang tumpukan rumah terbakar

she-taihap melanjutkan penyisiran kota-kota di utara kearah barat , hingga mereka sampai di lam-hong seluruh markas cabang di porak-porandakan she-taihap , pekerjaan menyisir kota dari yinchuan sampai ke lamhong memakan waktu hampir setahun , keadaan wilayah utara sedikit normal , wilayah barat gempar dengan kebakaran kota xining , rakyat wilayah barat mendapat secercah harapan , sementara see-kek-hek-te bersiaga penuh , penjagaan ditapal batas lijiang dengan kota lamhong diperketat , seribu pasukan ditempatkan diperbatasan

, dal hal ini membuat she-taihap berhenti di lam-hong dan membuat rencana gerilya menyerang tenda-tenda diperbatasan

, hampir setiap malam she-taihap bagai siluman melumpuhkan puluhan orang dan lalu menghilang

para pasukan yang banyak bekas penjudi yang baru saja belajar silat setidaknya dua tahun dibawah asuhan pah-sim-sai- jin bingung kehabisan akal menghadapi gerakan siluman yang hampir setiap malam puluhan orang dari mereka lumpuh dan luka-luka , selama dua bulan hal itu terjadi semakin ciut nyali pasukan see-kek-hek-te , akhirnya banyak yang meninggalkan perbatasan dan melarikan diri , dan yang bertahan hanya dua ratus orang

tiga malam berikutnya she-taihap muncul bersama dua puluh muridnya mennghadapi dua ratus orang yang sedang berkumpul disebuah tenda besar , ―hmh… kalian semua ! kenapa masih bertahan disini ! ―jin-hui membentak dengan sin- kang yang kuat membuat geger tempat itu untuk puluhan kailnya , ―serang…! ― pimpinan pasukan itu memberi aba-aba , dua ratus orang menerjang tiga she-taihap dan dua puluh muridnya , dua puluh tiga bayangan laksana rajawali menyambar menyambut serbuan see-kek-hek-te , namun bagaikan laron menerjang api , pasukan see-kek-hek-te bertumbangan susul menyusul , saat menjelang pagi hampir dua ratus orang yang tergeletak meringis dan mengeluh disana sini , sementara yang lainnya sempat mundur dan melarikan diri

, she-taihap terus bergerak menuju wilayah barat

sebulan kemudian she-taihap memasuki sebuah hutan sebelah utara kota lamhong , lalu jin-hui memerintahkan supaya istirahat sebentar , beberapa murid menyipakan tenda dan dua orang murid pergi berburu binatang untuk dimakan , keduanya masuk kedalam hutan namun sampai satu jam mereka belum mendapatkan binatang buruan , dan ketika mereka keluar dari hutan , sebuah bentakan mengejutkan mereka , lalu segera keduanya menuju tempat asal suara itu datang

setelah sampai ditempat keduanya melihat seorang lelaki sedang meludahi dua mayat yang baru saja mati , ―rasakan ! berani menantang ruanmu ― bentaknya pada dua mayat itu ,

―apa yang telah kamu lakukan saudara !‖ tegur cu-kek , lelaki itu melihat kedua orang yang baru saja muncul , ―bukan urusan kalian !‖ bentaknya , ―harap sicu tidak bermain-main dengan nyawa orang ― cu-kek kembali menegur , ―heh..! kalian siapa sehingga sok ikut campur urusan orang !‖ lagi-lagi lelaki berkata ketus

―apa yang anda lakukan ini sungguh telangas dan harus ditantang ― , ―sialan..! kalian punya kebolehan apa sehingga berani menantangku ! ― bentaknya sambil menyerang dengan gesit dan berbahaya , kedua pat-hong-heng-te mengelak dan membalas dengan tidak kalah hebatnya , cu-kek menyerang dengan dahsyat ilmu khas pat-hong-heng-te dikeluarkan dengan mantap sementara bu-ceng-bo mengangkat kedua mayat pedagang itu dan meletaknya agak jauh dari pertempuran

gerakan lelaki berumur lima puluh tahun demikian kuat dan kokoh , demikian juga gerakannya sangat lincah , cu-kek berusaha menundukkan lelaki itu tapi kenyataannya lelaki itu sungguh kosen dan luar biasa , siapakah lelaki berumur setengah abad ini ? , dia adalah turunan seorang yang terkenal di kota yangsu pada zaman kwi-ban-san-hong-houw , namanya adalah liem-houw cucu dari liem-sun dikenal dengan julukan see-thian-liong , leim bouw wajahnya lumayan tampan dan tubuhnya agak kurus berkulit kekuningan , liem-bouw mewarisi ilmu-ilmu kakeknya yang tergolong sakti dan luar biasa dan juga liem-bouw tahu bahwa kakeknya liem-sun mati ditangan she-taihap , oleh karena itu liem-bouw memeliki dendam kesumat kepada she-taihap

Liem-bouw selalu mengikuti perkembangan di dunia kangowu , sejak munculnya pah-sim-sai-jin dan membentuk see-kek-hek- te di lijiang dia merasa gembira , apalagi setelah mendengar bahwa she-taihap di wuhan telah tewas , semakin berkobar semangatnya untuk ikut membentu pah-sim-sai-jin , namun dia masih menyabarkan diri untuk melihat perkembangan selanjutnya Kemudian beberapa tahun kemudian dia mendengar she-taihap di yinchuan wilayah utara tewas ditangan pah-sim-sai-jin , maka dengan berita tersebut liem-bouw sudah yakin bahwa bergabung dengan pah-sim-sai-jin merupakan satu keuntungan besar , ilmunya yang tinggi akan bisa menjadi pembantu pah- sim-sai-jin , maka dia berencana untuk menemui pah-sim-sai-jin yang berada di utara

Liem-bouw dalam perjalanan melihat keadaan masyarakat yang tertekan , hatinya sedikit terenyuh tapi sisi lain dari hatinya berkata bahwa itu adalah resiko jika tidak punya ilmu silat , jika kita berilmu maka kita akan dapat menguasai dunia dan bisa berbuat apa saja seperti pah-sim-sai-jin dan tidak menutup kemungkinan dia juga akan bisa seperti pah-sim-sai-jin jika bergabung

Dua bulan kemudian liem-bouw memasuki kota lijiang yang penuh semarak , luar biasa hiruk pikuknya kota itu , liem-bouw tercengang melihat bangunan-bangunan yang indah dipenuhi para gadis-gadis cantik yang tertawa-tawa genit mencoba mencari perhatiannya, beberapa gadis memanggil-mannggil manja penuh ajakan mesum padanya , dan ajakan itu membuat liem-bouw tergoda dan terbetik birahinya sehingga dia masuk kedalamnya

Setelah berada didalam , gadis yang tadi melambai padanya berlari genit dan tertawa menuruni tangga dan menyambutnya dengan senyum memikat , ―ayoklah kongcu , aku akan layani kamu sepuas-puasnya , ―siapakah namamu nona !? , ― hik..hik… kongcu sayang..! aku dipanggil ang-hoa‖ , ―aku dipanggil pek-hoa ― , ―aku dipanggil jeng-hoa‖ , tiga wanita penghibur itu memperkenalkan diri dengan senyum dan gerak- gerik mengelus-elus birahi liem-bouw

―marilah ! , kalian bertiga layani aku , aku baru dari perjalanan jauh dan rasanya badanku lelah ― , ―hik..hik.. tenang kongcu , pokoknya kongcu akan merasakan kepuasan tiada tara , kami akan memijit-mijit badan kongcu yang lelah , akan kami buat kongcu merasa nyaman, hik..hik… dan semua bagian deh pokoknya akan dapat serpis memuaskan ― ketiga gadis penghibur itu bergantian menggambarkan hal-hal yang akan mereka lakukan sehingga fantasi liem-bouw semakin liar

liem-bouw meraih ketiga gadis penghibur dengan senyum sementara mukanya memerah karena degupan jantungnya yang semakin kencang , ketiga gadis penghibur tertawa cekikian dan terus menenmpel tubuh liem-bouw yang menuju kamar , harum semerbak menerpa hidung liem-bouw dan membuat liem-bouw makin blingsatan , sehingga dengan nafas memburu menciumi ketiga gadis yang tersenyum-senyum nakal dan pandangan mata genit seiring gerakan erotis mereka melangkah menuju ranjang

liem-bouw makin ganas ketika pakaian gadis-gadis itu dilepas sehingga tubuh mulus , lekuk tubuh yang menyimpan sejuta kenikmatan membuat liem-bouw semakin terpicu birahinya yang terkobar , permaianan erotis makin memabukkan , kecupan-kecupan ganaspun makin liar , elusan dan remasan pun makin nakal , rintihan dan lenguhan ketiga gadis bagaikan hembusan yang makin mengobarkan bara birahi leim-bouw

liem-bouw dan ketiga gadis makin jauh dengan permainan mereka , kuda sembrani sudah demikian siap ditunggangi , sementara joki memiliki semangat laksana angin badai menghantam semua yang akan dilewatinya , desahan , lenguhan , rintihan , remasan , gelinjangan berpadu menjadi satu seiring deru nafas yang berpacu birahi , ketiga gadis dengan gerak manja , selalu mandah dipermainkan liem-bouw dengan sikap penyerahan yang erotis

semalam suntuk liem-bouw menikmati permainan birahi yang berkobar , sehingga menjelang pagi liem-bouw terhempas lelah tertidur dipelukan tiga gadis penghibur . dan menjelang siang liem-bouw terbangun kemudian dia dimandikan dan bersihkan oleh tiga gadisnya dengan senyum memikat dengan pandangan penuh pujian , liem-bouw merasakan seakan dia berada disorga , pelayanan yang demikian memuaskan membuat liem-bouw betah berlama-lama di tempat itu , selama dua minggu liem-bouw menginap di rumah bordil dengan pelayanan yang menyenangkan dan ketika keluar sepundi kantong uangnya lepas , untungnya liem-bouw seorang yang kaya , dengan senyum puas liem-bouw keluar dari rumah bordir dan meninggalkan kota lijiang yang indah dan mengesankan

dua minggu kemudian , liem-bouw memasuki kota lamhong , liem-bouw memasuki rumah makan untuk mengisi perut , rumah makan itu agak ramai tidak seperti biasanya sepi , liem- bouw melihat tamu-tamu itu para pedagang , dan cerita hanya berkisar barang dagangan , tapi pembicaraan itu juga menyentil keadaan utara , ―jika she-taihap sudah turun tangan maka keadaan akan aman wan-sicu ― , ―benar sekali lauw-sicu ! utara pasti aman setelah she-taihap membumi hanguskan pak-kek- hek-te di xining ― , ―ya … dan itu artinnya kita dapat berdagang dengan aman , bukan begitu wan-sicu !? ― wan sicu mengangguk tersenyum dan kedua tertawa renyah

liem-bouw yang mendengar pembicaraan itu merasa tersedak karena xining dibumi hanguskan , dia merasa resah karena salah satu tujuannya keutara adalah kexining ingin merasakan nikmatnya pelayanan di xining yang tentu penghuni rumah bordirnya gadis-gadis utara namun apa yang ia dengar bahwa xining telah di bumi hanguskan oleh she-taihap , makin gemas dan jengkel hatinya terhadap she-taihap , tapi liem-bouw juga marah pada kebahagaiaan dua pedagang yang tertawa membuat hatinya panas serasa dia dicemoohkan

dua pedagang itu keluar dari rumah makan , liem-bouw segera juga menghentikan makannya dan membayar makanan , lalu liem-bouw mengikuti kedua pedagang , gerakannya yang ringan tidak membuat sedikitpun dua pedagang curiga dan merasa diikuti , ketika memasuki hutan , liem-bouw tiba-tiba- muncul , kedua pedagang itu berhenti dan terkejut

―aih , sicu ! kamu mengejutkan kami ― kata she-wan lembut ,

―phuah… kalian cecunguk busuk tinggalkan buntalan kalian ! ― bentak liem-bouw , ―ah… jangan…. kalau mau kami akan bayar pajak pengamanan dihutan ini ― sela she-wan membujuk ,

―heh..! tidak ada tawaran , aku hanya ingin buntalan kalian , cepat tinggalkan kalau kalian masih sayang nyawa ― bentak liem-bouw mengancam , dua pedagang itu saling memandang dan lalu sama-sama menerjang liem-bouw , tapi sekali gebrak tubuh mereka terlempar dan tewas sebelum ambruk ke tanah , lalu dia meludahi kedua mayat itu saat cu-kek dan bu-ceng-bo tiba ditempat itu

pertempuran antara cu-kek dan liem-bouw semakin seru , liem- bouw sudah mengeluarkan hauwce yang merupakan senjata dari kakeknya see-thian-liong , cu-kek terdesak hebat hingga suatu saat cu-kek tidak mampu mengelak dari ketukan hauwce dikepalanya , cu-kek tewas dengan tengkorak remuk , bu-ceng- bo menerjang liem-bouw , liem-bouw walaupun sudah tiga jam bertempur dengan cu-kek , gerakannya masih mantap dan serangannya masih berbahaya , bu-ceng-bo berusaha untuk mempertahankan diri namun liem-bouw tidak memberi kesempatan lagi , sehingga ketika ujung hauwcenya telak menghantam tengkuk bu-ceng-bo , seketika saja bu-ceng-bo jatuh tengkurap dan tewas

namun serangkum pukulan sakti menerpanya , dan dengan cekatan liem-bouw berpoksai sehingga tidak terjerembab , liem- bouw dengan amarah meledak menyerang dua orang yang menyerangnya , untuk ketiga kalianya liem-bouw terlibat pertempuran , dan kali ini dia ngos-ngosan merasakan tekanan dua penyerangnya , dua dari pat-hong-heng-te disuruh jin-hui untuk menacari cu-kek-dan bu-ceng-bo yang sudah lama tidak kembali , namun mereka juga terlambat karena dua nyawa saudaranya sudah tewas saat mereka datang

li-peng dan pouw-han mengeroyok liem-bouw , liem-bouw masih ulet untuk bertahan dari gencarnya serangan dua pat- hong-heng-te , tapi karena pertempurannya yang dua kali sudah menguras tenaga membuat dia lemah , sehingga pada jurus ke dua ratus pedang pouw-han merobek pahanya , liem- bouw melompat dan berguling laksana terggiling dan berusaha menyingkir

pouw-han dan li-peng membawa empat mayat itu dimana mereka istirahat , ―suhu ji-sute tewas ketika menghadapi seorang lelaki berumur , mungkin hendak menolong dua mayat ini ― pouw-han berkata dengan nada sedih , ―hmh… sebaiknya kita kuburkan dulu mereka ini ― sela jin-hui , lalu segera empat orang menggali kuburan , dan dalam dua puluh menit empat lobang sudah selesai , lalu empat mayat itu dikubur

―sekarang ceritakan tentang lelaki yang telah menewaskan saudara kalian !‖ , ―ketika kami lewat disebelah hutan sebelah barat kami mendengar pertempuran , lalu kami segera ketempat tersebut , dan kami lihat seorang lelaki telah menewaskan ji-sute , lalu kami menyerang saat bo-sute ambruk

, lelakai itu sekitar setengah abad umurnya , dan dia bersenjata hauwce ― , ―hmh.. terus apakah kalian mengetahui namanya !? ,

―tidak suhu ! katrena sebelum kami tanyai dia sudah melarikan diri dengan luka dipahanya jawab pouw-han , ―siapakah dia menurut ji-sute ?‖ jin-hui memandang lai-seng dan kam-hong , namun keduanya diam karena tidak sedikitpun dari she-taihap yang mengetahui tentang liem-bouw

keesokan harinya she-taihap dan rombongan memasuki kota lam-hong , selama dua hari mereka disana sambil menyelidiki liem-bouw namun tidak ada jejak yang mereka dapatkan ,

―sudahlah … kalau hari ini kita tidak bertemu orang itu , mungkin satu saat nanti kita akan bertemu ― kata jin-hui , ―lalu sekarang bagaimana hui-ko !?‖ , ―kita akan lanjutkan misi kita hong-te membumi hanguskan see-kek-hek-te‖ sahut jin-hui , lalu hari itu juga mereka meninggalkan lam-hong dan menuju lijiang

di-lijiang she-taihap melakukan strategi yang sama membakar kota sehingga membuat panik penduduk , banyak yang keluar kota menyelamatkan diri dan kemudian she-taihap mengadakan pertempuran terbuka dengan liam ratus penjahat yang berada diadalam kota , pertempuran terjadi dengan seru sampai larut malam , pasukan see-kek-hek-te tidak dapat membendung kekuatan dan kesaktian dua puluh satu suhu dan murid itu , seratus orang melarikan diri , hampir dua ratus orang tewas dan yang lainnya luka-luka tidak berdaya sementara enam orang pat-hong-heng-te tewas

―kalian paksakan diri kalian untuk keluar kota ini dan bawa masing-masing satu mayat dan menguburkannya , karena kota ini akan kami bumi hanguskan ! ― teriak san-kui dengan lantang

, semua yang luka memaksa berdiri dan menyeeret mayat teman mereka keluar kota , kemudian enam mayat pat-hong- heng-te dibawa kegerbang selatan untuk di kubur , setelah itu pat-hong-heng-te menambah titik api sehingga kota lijiang menjadi lautan api

she-taihap terus bergerak menelusuri kota demi kota dan menggulung markas cabang see-kek-hek-te , penyusuran ini agak berjalan lancar , karena markas-markas cabang itu telah ditinggal lari oleh penghuninya setelah mendengar bahwa lijiang telah matang oleh api dibakar she-taihap , penyusuran kota-kota dibarat sampai keselatan makan waktu sepuluh bulan

, she-taihap memasuki wilayah selatan , pasukan pendekar dan pat-hong-heng-te yang berkedudukan di nancao menyambut she-tai-hap dengan gembira , mendengar cerita penyusuran wilayah utara dan barat yang boleh dikatakan sangat berhasil membuat para pendekar lega , sehingga dua minggu kemudian she-taihap dan para pendekar meninggalkan nancao dan kembali ketempat mereka masing-masing , she-taihap dan pat- hong-heng-te menyeberang ke pulau kura-kura

lima kakek nenek dan keluarga she-taihap lainnya menyambut kedatangan mereka dengan hangat , namun tang-hui-bi istri san-kui , dan liem-siu-bi istri kwee-gun cemas bercampur rindu karena suami mereka yang tinggal di yinchuan dan entah bagaimana kabar beritanya , namun kakek- dan nenek itu menghibur bahwa jika mereka mendengar bahwa xining dan lijiang telah dibumi hanguskan tentunya mereka akan pulang , kedua istri yang dirundung rindu menyabarkan diri kwee-san-kui , kwee-gun dan kwee-thian sejak berada di yinchuan terus meneyelidiki keberadaan pah-sim-sai-jin , namun pah-sim-sai-jin seperti di telan bumi , hingga delapan bulan kemudian mereka mendengar bahwa kota xining terbakar

, dan san-kui yakin itu adalah hasil perbuatan dari ketiga adiknya ,:‖bagaimana sekarang kui-ko ! , kita sudah sepuluh bulan disini namun pah-sim-sai-jin tidak ada jejak ― tanya kwee- gun , ―sepertinya hui-te sudah berhasil menguasai utara, dan itu sangat menggembirakan , jadi kita genapkan setahun disini dan setelah itu kita kembali ketimur ― sahut san-kui

Keberadaan empat she-taihap yang berada di yinchuan menjadi perhatian para kungcu , lalu satu saat mereka diundang oleh tan-kung-cu , keempat she-taihap memenuhi undangan tersebut , sesampai di rumah kungcu mereka disambut hangat oleh tan-kungcu dan keluarga dan dijamu dengan baik

―she-taihap , terus terang keberadaan she-taihap di yinchuan ini membuat hati kami lega walaupun kami tidak sepi dari kecemasan menghadapi hari-hari berikutnya ― , ―tan-taijin yang mulia , sudah tugas dan kewajiban kita selaku manusia untuk mengekang munculnya tirani , dan itu sedang kita usahakan sekuat kemampuan kita ― sahut san-kui , ―benar she-taihap , dan tentunya tiga she-taihap bertahan di sini ada alas an kuat !‖

, ―ya.. kami bertahan di yinchuan ini karena hilangnya jejak pah- sim-sai-jin di kota ini , jadi kami terpaksa berbagi , tiga saudara saya melanjutkan penelusuran ke kota-kota lainnya dan hingga ke wilayah barat sementara kami berwanti-wanti disini jika sekiranya pah-sim-sai-jin berada di kota ini ― tan-tai-jin manggut-manggut

―hmh.. lalu bagaimanakah perkembangan sekarang yang kami rasakan bahwa sudah sepuluh bulan tidak pun terdengar sepak terjang pah-sim-sai-jin dan terlebih kami merasa tercengang bahwa kota xining telah dibumi hanguskan ― , ―tentunya kita harap momok yang menghantui selama ini akan hilang , memang apa yang terjadi di xining adalah hasil usaha dari saudara kami , namun pah-sim-sai-jin kita tidak tahu rimbanya ― sela san-kui dengan sedikit termenung

―artinya kita belum bisa pastikan bahwa malapetaka ini telah berakhir sebelum tahu jelas lenyapnya pah-sim-sai-jin !‖ ,

―benar sekali tan-taijin ― sahut san-kui , ―lalu ! bagaimana rencana she-taihap !? ― , ―kami akan menunggu disini selama dua bulan lagi , jika setelah itu kami tidak mendengar berita tentang pah-sim-sai-jin maka kami akan kembali ketimur dan selatan ― sahut san-kui

―she-taihap , apa yang telah she-taihap lakukan , kami sangat berterimakasih , jadi tolong selama dua bulan ini tiga she-tai- hap berada di rumah kami ini sebagai rasa syukur dan terimakasih kami khusunya rakyat yinchuan , keluarga she- taihap telah banyak berkorban terlebih kalau diingat semua keluarga she-taihap yang berada di yinchuan tewas dalam menantang tirani pah-sim-sai-jin ― kata tang-taijin dengan segenap pengharapan , san-kui menatap kedua saudaranya , tapi sepertinya kwee-gun dan kwee-thian dan kwee-ming diam dan menyerahkan padanya

―baiklah tan-tai-jin ! kami akan penuhi dan kami sangat berterimaksih atas perhatian tan-tai-jin ini ― jawab san-kui , lalu empat she-taihap pergi kerumah saudara mereka kwee-bun-an yang sudah kosong dimana selama delapan bulan ini mereka tinggal untuk mengambil pakaian , setelah itu mereka kembali ke rumah tan-tai-jin dan oleh tan-tai-jin membawa empat she- taihap kekamar masing-masing

sementara tan-tajin mengantar empat tamunya di kamar lain putri dari tan-tai-jin yang bernama tan-cui-sian berumur dua puluh tahun mengalami debaran lain dihatinya , keluarga she- taihap memiliki tempat khusus dihatinya , syair kim-khong- taihap yang menjadi lagu nina bobok yang dilagukan ibunya sangat membekas dalam sanuabarinya , darahnya tersirap ketika ayahnya mengundang keluarga unggulan itu , ketika tadi dia ikut menyambut empat tamu ayahnya membuat hatinya tidak karuan , matanya yang menatap kwee-thian yang berumur empat puluh tujuh tahun tapi demikian berkharisma membuat jantungnya melompat-lompat , empat she-taihap yang ada dihadapannya ini tidak ada cacatnya , semuanya tampan rupawan dan matang penuh wibawa , namun matanya tersandung pada kwee-thian

malam itu tan-cui-sian tidak bisa tidur , hingga dia keluar kamar menuju taman bunga di belakang rumah , angin malam yang sejuk dengan aroma bunga harum menerpa kegalauan dan kegelisahannya sesaat dia terhempas pada kekosongan akan hembusan angin sejuk yang menebar aroma bunga , lalu dia duduk menatap bunga-bunga yang kuncup dan bayangan kwee-thian menari dipelupuk matanya , senyumamnya yang ramah , pembawaannya yang bersahaja , matanya yang tajam , hidungnya yang mancung , kumis yang tipis dan jenggotnya

bak lebah tergantung rapi dan terawat indah , semuanya sangat jelas bagi tan-cui-san menambah hangat pusaran cinta yang melandanya

tapi kemudian ia tersentak ketika terhempas pada kenyataan bahwa kwee-thian bukan pemuda lajang , akan tetapi lelaki berumur yang sudah punya istri dan anak , kwee-thian adalah tingkat paman baginya , terasa sesak dadanya menyadari kenyataan ini , hingga naik sedu sedannya , iba pada dirinya yang tidak memilki harapan dan tidak terasa matanya berkaca- kaca dan bitiran air matapun menetes didesak sedu sedannya

tiba-tiba ayahnya muncul , ―sian-ji ..loh… kenapa malam-mala disini dan kamu belum tidur !? , tegur tan-taijin heran , cui-sian terkejut dan segera mengusap pipinya yang basah air mata dan berusaha menutupi keadaan dirinya lalu berkata , ―ah… didalam kamar terasa panas ayah , jadi aku keluar untuk menghilangkan kegerahan , sebentar lagi aku akan masuk ayah ― , ―hmh.. baiklah kalau begitu jangan lama-lama nanti kamu masuk angin sian-ji !‖ sahut tan-tai-jin dan meninggalkan putrinya dua malam berikutnya tan-cui-sian kembali ketaman , hatinya makin menjeritkan cinta , suasana hatinya makin berpendar sayang ketika makan siang dihidangkan pelayan , empat tamunya makan semeja bersama mereka , makan siang itu teriring dengan penuh keramahan dan keakraban , cui-sian melirik dari sudut matanya saat kwee-thian menyuap dan mengunyah makanannya yang tepat berhadapan dengannya , semuanya nampak indah , tangan yang berbulu halus dan kekar yang memegang mangkok dan menggerakkan sumpit , geraham yang mengunyah , bibir yang basah , membuat cui- sian terlena sayang

―silahkan ditambah makannya she-taihap ! tan-taijin menatap kwee-thian dengan senyum , ayo sian-ji angsurkan nasi dan lauknya kedekat she-taihap ! ― cui-sian yang mendengar perintah itu dengan senyum penuh arti dibalik denyar sukmanya yang dipacu darahnya yang tersirap sedikit mengangkat tubuhnya dari kursi dan mengangkat mangkok nasi dan lauk kedekat kwee-thian , ―marilah ditambah makannya she-taihap !‖ sepontah mukanya merona merah ,

cui-sian tidak tahu bagaimana nada suaranya saat mengatakan itu , yang dia rasakan hanya malu dan sayang yang berpadu , kwee-thian memandang wajah yang cantik bujur telur cui-sian dan dengan senyuman kwee-thian berkata , ―aih… terimakasih sian-siocia ― kwee-thian menggerakkan sumpitnya mengambil nasi yang yang dimangkok yang sedang diangkat cui-sian dan dipindahkan kemangkok di tangannya , saat itu cui-sian merasa bahagia entah darimana munculnya , tekanan sumpit yang mebuat tangannya ikut bergerak seiring detak jantungnya yang bergetar mesra dan sayang

setelah makan siang selesai , dan ketika sore hari cui-sian yang baru selesai mandi , tiba-tiba didatangi ibunya , ―sian-ji !‖ , ―iya bu !‖ cui-sian yang sedang menyisir rambutnya yang panjang

tergerai menatap ibunya , ―sian-ji ! , ibu melihat sesuatu yang aneh darimu saat makan siang tadi ― tan-hujin menatap dalam kemata anaknya , ―apa yang aneh bu !? , tidak… tidak ada

yang aneh ― cui-sian mencoba membantah ibunya , ―sian-ji ! , hati ibu berkata lain bahwa kamu menyimpan sesuatu pada she-taihap kwee-thian ― tan-hujin langsung menodongkan apa yang dirasakannya akan kelakuan putrinya , cui-sian terdiam dan tertunduk merasa tertusuk telak dengan todongan kata- kata ibunya , ―benarkah apa yang ibu rasakan itu sian-ji !? , cui- sian menatap ibunya lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan air matanyanya pun mengalir seiring sesak dadanya , tan-hujin mendekati anaknya

―sian-ji ! apa yang kamu rasakan itu bisa melanda siapa saja , namun anakku jangan perasaan berakibat rasa malu ,

kenyataan adalah diatas segala impian ― tan-hujin merasa terenyuh dengan apa yang dialami putrinya , ―ibu..! aku

menyadari kenyataan , namun gejolak yang melanda hati ini demikian memabukkan , lalu aku harus bagaimana ibu !? ― keluh cui-sian menatap ibunya , dan kemudian muncul tan-hujin yang sedang mencari istrinya karena tidak ada dikamar ―apa hal kalian bicarakan niocu !? ― ah.. tidak ada ayah .. kami tidak membicarakan apa-apa ― sela cui-sian , namun tan-taijin menatap istrinya dan menatap heran putrinya , kemudian tan- taijin tersenyum , ―jika anak gadis berbicara kasak-kusuk dengan ibunya dan siayah bertanya pada istrinya tapi dijawab oleh putrinya , itu artinya tiada lain perkara hati ― , tan-hujin

berdiri dari duduknya , ―sudahlah suamiku ! mari..! kenapa koko mencariku !? ― , tan-hujin menarik rengan suminya dan keluar dari kamar cui-sian , tan-cui-sian setelah agak lama ibunya pergi dia keluar dan coba mendengar hal yang jelas dibicarakan tentang dirinya

cui-sian masuk keruang pustaka ayahnya dan menempelkan telinganya kedinding karena ruang pustaka bersebelahan dengan kamar ayahnya , ―ada apa nioucu ! sepertinya urusan hati putri kita ada yang tidak benar ― , ―hmh…. memang demikianlah suamiku , sian-ji tidak berdaya dengan perasaanya

, dia menyukai she-taihap kwee-thian , dan tentunya hal itu memalukan bukan ?! , ―hmh… memalukan bagaimana maksudmu nioucu !? , ―koko ! she-taihap adalah orang agung , pribudi mereka luar biasa cemerlang , turunan kim-khong-taihap sang bengcu yang budiman dan kwee-thian sudah berumur dan yang jelas sudah menikah dan punya anak ― sahut tan-hujin

―niocu ! benar yang kamu katakan , tapi nioucu urusan jodoh ditangan thian , kita akan melarang jika cinta itu tidak benar dan seimbang , bukankah kim-khong-taihap bengcu yang budiaman memahamkan satu falsafah bahwa hakikat cinta adalah benar dan seimbang , dan faktanya tidak ada halangan bagi kim- khong-taihap memiliki sembilan istri , ―hmh… entahlah koko ! , saya kasihan dengan sian-ji ― , ―ya… memang kasihan dia , mematahkan hatinya tidak tepat , jadi kita akan mengawal dia agar tetap ingat jangan sampai berbuat nekad ― sahut tan-tai-jin

tan-cui-sian keluar dari pustaka , pembicaraan ayah ibunya menerbitkan harapan pada dirinya , tidak ada halangan bagi kim-khong-taihap memiliki sembilan istri , oleh karena itu malamnya dia kembali kedalam taman menikmati gejolak hatinya yang semakin menjeritkan cinta dan sayang , ketika dia dipanggil untuk makan malam , hatinya semakin syahdu bahwa dia akan kembali mencuri pandang pada wajah yang dirindukannya

dua minggu kemudian gerak gerik cinta itu makin mencuat dan tidak terkendali , bagi empat she-taihap bukan mereka tidak mengetahui gelagat , mereka itu adalah pendekar-pendekar sakti yang sarat dengan hikmah yang di tularkan buyut mereka , bagi kwee-thian apa yang dirasakan oleh tan-cui-sian sudah diketahui terlebih pembicaraan dirumah itu apa yang mereka tidak ketahui , sedu sedan tan-cui-sian di taman belakang jelas bagi mereka

hingga malam itu saat tan-cui-sian mendesis lirih , ―thian-ko ! oh.. thian-ko , apakah kamu merasakan apa yang aku rasakan

?‖ , tiba-tiba terdengar jawaban dimana kwee-thian muncul ,

―benar sian-moi , aku merasakan dan tahu apa yang kamu rasakan ― tan-cui-sian terkesiap memandang kearah suara , lelaki impiannya itu berdiri didapannya , mukanya merona merah , darahnya tersirap menghentak dalam kepalanya membuat dia limbung lemas tidak berdaya ―ah… thian-ko ..‖ desisnya lirih tanpa tenaga , ―hmh… sian-moi , aku juga suka dan cinta padamu , jika perpaduan ini memang kehendak thian

, maka aku akan melamarmu kepada taijin ― kwee-thian duduk didekat cui-sian , cui-sian yang mendengar pernyataan itu bergetar bahagia , dia menapa wajah lelaki berumur didekatnya

, lelaki yang menghiasi relung sukmanya , ―thian-ko ! aku tidak tahu sejauh mana hakikat cinta yang difahamkan kim-khong- taihap tapi yang jelas mendapat tempat sedikit dari cintamu aku sungguh merasa bahagia ― , kwee-thian tersenyum , ―jika cintamu tidak sedikitpun terbersit untuk merebutku dari istriku maka cintamu itu benar dan itu bagian dari hakikat cinta ― cui- sian tertunduk merasakan nikmat saat kwee-thian membelai jemarinya

keesokan harinya , kwee-thian dan saudaranya menghadap tan-tai-jin , ―taijin yang mulia , saya membawa tiga saudara saya menghadap pagi ini adalah untuk menyampaikan lamaran saya kepada tan-tajin , jika sekiranya sudi untuk menikahkah sian-moi dengan saya ― kwee-thian menyampaikan lamaran itu dengan tegas dengan tenang , mendengar lamaran yang tidak diduga itu membuat tan-taijin terperangah , tapi hanya sesaat dan lalu tan-taijin menjawab , ―she-taihap ! , jika memang anak kami menempati kriteria tepat untuk she-taihap hati kami merasa senang , dan terlebih jika memang anak kami berkenan maka kami orangtua akan mendukungnya dan dengan lapang dada menerimanya ― , ―terimakasih atas kepercayaan tan-taijin kepada kami dan merestui adik kami kwee-thian untuk menikahi sian-moi , dan tentunya kami sebagai saudara-saudara dari kwee-thian akan selalu berusaha mendukung dan mengingat adik kami untuk mewujudkan kepercayaan yang diembankan kepada adik kami ― sela san-kui dengana bijak , tan-tai-jin yang mendengarnya merasa bangga dan bahagia akan jalinan yang akan diikatkan itu

seminggu kemudian pernikahan kwee-thian dan sian-moi pun dilangsungkan , undangan tidaklah banyak ditengah suasana yang mencekam walaupun gerakan dari pah-sim-sai-jin dan anak buahnya tidak ada , yang dundang hanya para tetangga dan para stap tan-taijin , cui-sian merasa bahagia yang tidak terlukiskan bahwa dia dapat dipersunting oleh kwee-thian lelaki yang menempati segala hasrat lahiriah maupun batinnya , mendapatkan bagian tempat dihati kwee-thian membuatnya nyaman tidak terperikan

selama tiga minggu kedua sejoli mengecap asamara madu pernikahan , namun disela kebahagiaan keluarga tan , terselip musiabah dimana kakek dari tan-cui-sian yakni tan-an-kui meninggal dunia maka ketika saat bahwa empat she-taihap akan kembali ketimur karena keberadaan pah-sim-sai-jin sudah tidak ada selama setahun , empat she-taihap pun berkemas hendak berangkat , namun tan-taijin meminta dengan sangat kepada menantunya kwee-thian supaya cui-sian tidak dibawa dulu ke timur setidaknya enam bulan setelah meninggalnya tan- an-kui , oleh empat she-taihap hal itu disetujui , dan sebelum berangkat kwee-thian mengajak istrinya kekamar dan meninggalkan buntalannya

keempat she-taihap melakukan perjalanan kembali ketimur dengan cepat , dua sebulan kemudian mereka sampai dikota sin-bun , empat she-taihap singgah disebuah likoan beberapa tamu menyambut mendekati mereka dan menjura hormat dan seorang dari mereka berkata , ―she-taihap yang budiman , kami nerasa berterimakasih atas penanggulangan tirani pah-sim-sai- jin di wilayah ini ― , keempat she-taihap membalas menjura ,

―berkat doa para sicu untuk sementara keadaan dapat terkendali , namun kita harus tetap waspada karena bisa saja satu hari nanti pah-sim-sai-jin muncul kembali ― sahut san-kui , ― she-taihap ! apakah pah-sim-sai-jin belum tewas !? , ―belum sicu dia hanya menyembunyikan diri , oleh karena itu tetaplah berhati-hati , dan kami juga akan tetap siap untuk ikut dengan para sicu menghadapi semua ini ― , empat orang itu mengangguk haru

diantara para tamu itu ada seorang wanita tua dan tiga gadis cantik yang dengan serius memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan itu , setelah empat orang itu meninggalkan likoan

, nenek tua itu melihat tajam pada empat she-taihap , lalu dia mendengus , ―huh… jika tidak dikeroyok mana mungkin pah- sim-sai-jin melarikan diri ― semua orang spontan melihat kearah nenek tua itu , empat she-taihap juga menatap meja dimana nenek itu berada dan tiga orang gadis cantik ―siapakah engakau lo-bo !? apakah engkau pengikut pah-sim- sai-jin !?‖ tanya san-kui , ―cih… siapa pengikut pah-sim-sai-jin , kami adalah tirani kedua yang akan merintis hek-to-ki di dunia kangowo ― spontan seorang gadis berdiri dan menjawab dengan ketus , lalu kedua gadis lainnya berdiri , ―sungguh niat yang menyimpang dari gadis muda seperti kalian ini , entah kenapa ada niat untuk melenyapkan kebaikan dan menumbuhkan kejahatan ― , ―heh..! she-taihap simpan pengertian kalian tentang kebaikan dan kejahatan ― sela gadis yang berdiri pertama sekali

siapakah nenek dan ketiga gadis cantik itu , untuk mengetahuinya marilah kita melihat ke wilayah timur

Suasana pagi di ―Im-kan-kok‖ (lembah ahirat) di kota hailar , sungguh luar biasa indah , hamparan permukaan laut sebelah utara lembah berwarna kuning keemasan dtimpa cahaya matahari yang sedang terbit , hembusan angin pagi yang semilir mengelus bunga-bunga dan rerumputan di lembah yang laindai , menari bergoyang menambah pesona pemandangan alam

Pagi itu tiga orang gadis cantik sedang bersemedi bermandi cahaya matahari pagi didepan sebuah pondok kayu , wajah mereka demikian cantik mempesona sangat cemerlang , setalah matahari agak tinggi ketiga gadis muda itu lalu berdiri dan melakukan latihan , gerakan mereka sangat cepat luar biasa , dan saking cepatnya , ketiganya hanya berbentuk bayangan , hawa sakti yang keluar dari setiap pukulan yang meraka lakukan membuat rerumputan disekitar mereka laksana dilandai badai puting beliung , setelah puas dengan ilmu tangan kosong , ketiganya mengeluarkan senjata masing-masing , ketiganya memiliki senjata yang berbeda , wanita yang pertama bernama lou-si-san meloloskan sabuk warna hijau yang melilit dipinggangnya , kemudian gadis yang kedua bernama li-ceng-si mencabut peadangnya dan gadis ketiga yang bernama lu-eng- hwa meloloskan cambuk yang melilit dipinggangnya , gerakan merekan begitu mahir dan mantap sekaligus berbahaya

Ketiga gadis cantik itu menghentikan latihan setelah siang hari , waktu ketiganya sedang duduk melap keringat , tiba-tiba seorang nenek berumur lebih enam puluh tahun keluar dari dalam pondok , ―kalian mendekatlah kemari ! ― kata nenek itu dengan suara serak dan parau , ketiganya dengan sigap mendekati nenek tua itu dan segera berlutut dan menjura

Nenek itu adalah subo dari ketiga gadis cantik bernama ji-goat , dia adalah anak dari cia-caili salah seorang dari eng-hong-bi- kwi-ji , ayahnya tidak jelas , karena mungkin ia janin dari butek- giamlo atau toat-beng-jai-hwa-cat , dua rekan ibunya dalam kejahatan , ji-goat ditinggal di in-tek-san oleh ibunya saat bergabung dengan kwi-ban-san-hong-houw , setelah dia tahu bahwa ibunya tewas ditangan she-taihap dengan api dendam yang berkobar ji-goat memepelajari kitab-kitab dari tiga su- kongnya giamlo-ong , im-kan-si-ci dan mo-bin-kwi-bo , setelah merasa kuat , ji-goat turun dari in-tek-san ketika berumur dua puluh lima tahun , namun malang apa yang dipelajarinya dari ketiga su-kongnya tidak berdaya ketika dia berhadapan dengan kwee-hung ayah dari kwee-jin-hui , sehingga harus kembali ke in-tek-san dengan kekalahan yang menyakitkan , selanjutnya ji- goat memperdalam ilmunya dibawah asuhan seorang pertapa di im-kan-kok

Untuk menambah kekuatannya saat tiba masanya dia akan kembali kedunia ramai ia mengambil tiga murid yang Ji-goat dididik sejak umur empat tahun dan sekarang tiga murid itu sudah berumur dua puluh dua tahun dan sedang berlutut dihadapannya yang sudah sangat siap membantu mewujudkan mimpinya membalaskan dendam dan sakit hatinya kepada she- taihap

―hari ini kalian sudah menamatkan pelajaran dan tiba sekarang kita harus keluar dari lembah ini untuk menjalankan tugas penting untuk mewujudkan cita-cita pendahulu kita ! ― , ―kami siap su-bo menjalankan apa yang subo perintahkan ― ,

―bagus… ! tugas kita ini sangat berat dan butuh kesiapan , karena yang kita hadapi adalah keluarga yang sangat dikenal kesaktian dengan berjuta kebaikan dan berjuta kebijakan ― , ketiga gadis cantik itu tertunduk mendengar betapa subo mereka berkata dengan nada jerih

―tapi walaupun demikian dengan jika kita berempat turun bersama maka keluarga itu akan merasakan api pembalasan yang akan menagih sekaligus dengan bunga-bunganya !― ji- goat berkata dengan nada geram dan gemas ― , ―subo ! , kalau boleh kami tahu keluarga siapa dan bagaimana keadaan keluarga ini , sehingga subo kelihatan jerih dengan mereka‖ tanya lu-eng-hwa , ji-goat tersenyum mendengar komentar muridnya yang menunjukkan ketidak senangan akan kejerihan yang jelas pada ungkapannya diawal , dan itu artinya muridnya ini memiliki rasa percaya dengan kepandaian sendiri

―baik dan dengarkan ! , aku akan menggambarkan keadaan musuh kita sehingga dengan lebih mengenal musuh maka kita tahu bagaimana langkah-langkah untuk mencapai kemenangan

―, ji-goat menarik nafas dan melihat ketiga muridnya yang juga memandangnya , ―musuh kita dikenal dengan sebutan she- taihap karena mereka itu adalah keturunan dari kim-khong- taihap bengcu dua ratus tahun yang lalu , semasa kim-khong- taihap menjadi bengcu , semuanya tunduk kepadanya , hek-to- ki hilang dari liok-lim , yang ada hanya kebaikan dan bahkan sampai sekarang walaupun bengcu itu sudah tertanam seraatus tahun , tetap hek-to-ki belum mampu muncul kepermukaan oleh karena keberadaan keturunan bengcu yang disebut she-taihap‖ , ―jadi su-bo ! keluarnya kita dari im-kan-kok memiliki dua tujuan yakni melenyapkan she-taihap dan mendirikan hek-to-ki ― sela lo-si-san , ―benar sekali san-ji ― sahut ji-goat

―kalau demikian subo ! cita-cita ini tidak lagi ditunda , marilah kita keluar untuk mewujudkannya !‖ sela li-ceng-si , ―ya benar subo ! kami siap membantu subo mewujudkan mimpi para pendahulu kita ― sahut si-san dan eng-hwa bersamaan , ji-goat tersenyum bangga , melihat hasil usahanya menanamkan kecintaan pada kejahatan terhadap ketiga muridnya

―Baik … dan sekarang berkemaslah malam ini sehingga besok kita akan berangkat ― , ketiga muridnya berdiri dan masuk kedalam pondok untuk membersihkan diri dan mempersipakan perbekalan untuk perjalanan besok , semua itu tidak luput dari pandangan ji-goat sehingga hatinya merasa bangga dan merasa hangat dengan cita-citanya

keesokan harinya empat bayangan gesit keluar dari im-kan-kok

, sebulan kemudian mereka sampai di qihar , dan disebuah likoan mereka beristirahat untuk makan , di meja yang ada dibelakang mereka terdengan obrolan yang membuat mereka sangat tertarik

―kita semua sangat bersyukur ji-sute bahwa she-taihap telah mengambil tidakan penanggulangan yang cepat , sehingga apa yang terjadi di barat dan utara tidak memasuki wilayah kita ― ,

―benar suheng ! dan saya dengar pah-sim-sa-jin terpukul mundur dipeng-bun sehingga melarikan diri terus kearah barat ―

, ―ya ..! ji-sute semoga saja utara dapat normal kembali ―

―memang kalau dipikir sungguh menyeramkan apa yang menjadi prinsip hidup pah-sim-sai-jin ― memangnya apa yang menjadi prisnsip hidup dari pah-sim-sai-jin suheng !? ― kata she- taihap ketika mengadakan pertemuan di sinyang bahwa prinsip yang akan ditanamakan oleh pah-sim-sai-jin pada semua orang adalah hidup dengan sombong , suka berbohong , suka menurutkan keinginan dan suka melihat penderitaan orang ― sahut si suheng , kedua sutenya bengong melonggo , ―aneh….. dan sungguh sangat keluar dari norma yang kita ketahui selama ini suheng ! ― , ―benar sekali ji-sute , oleh karena itu kita patut untuk mendukung gerakan yang dibuat she-taihap ― kedua sutenya mengannguk dan lalu mereka melanjutkan makan dengan kecamuk pikiran masing-masing

ji-goat dan ketiga muridnya saling pandang , ―su-bo !? apakah subo tidak pernah mendengar nama pah-sim-sai-jin !? ― ji-goat menatap lo-si-san yang bertanya , ―aku dan kalian tidak pernah keluar dari im-kan-kok , tapi jika benar apa yang kita dengar tentang prinsip pah-sim-sai-jin , orang ini patut kita dukung dan baik diajak kerjasama untuk mewujudkan hek-to-ki ― , ―subo ! memang prinsip itu luar biasa dan sangat tepat dengan hek-to- ki , namun alangkah baiknya jika kita lebih banyak tahu tentang sepak terjang pah-sim-sai-jin ― , ―benar hwa-ji , jadi coba kamu korek keterangan lebih jelas apa yang telah dilakukan oleh pah- sim-sai-jin dan apa yang berlaku di barat dan utara ― , ―baik su- bo malam ini akan ku korek informasi dari ketiga sauadara seperguruan itu ― jawab eng-hwa

malam itu eng-hwa mengendap-endap di atas kamar tiga saudara seperguruan itu , eng-hwa melihat ketiganya sedang mempersiapkan diri untuk tidur dilantai karena mereka hanya menyewa satu kamar dengan satu ranjang , jadi si suheng akan tidur di atas ranjang sementara kedua sutenya tidur dilantai , dan baru hendak mebaringkan diri ketiganya terkejut melihat seorang gadis luar biasa cantik berdiri didepan mereka , ―kamu siapa ! ― ketiga saudara seperguruan itu segera berdiri dengan cekatan , ―hik..hik… tidak perlu kalian tahu siapa aku !‖ eng-hwa tertawa tapi kemudian membentak membuat ketiganya makin berhati-hati

―saya ingin menukar informasi dengan nyawa kalian , jadi kalian harus menjawab apa yang ingi kuketahui ― , ―huh..! siapa kamu yang dengan seenak perutmu mau memaksa kami ! sahut si suheng dengan lantang , ―hik…. hik.. hmh.. apakah kalian merasa mampu mengalahkan aku !? ― eng-hwa tertawa dengan sombong , si-suheng menerjang dan diikuti kedua sutenya , namun entah bagaimana ketiganya malah terlempar dengan

tubuh kaku , ―hik..hik… kalian belum kenal aku tapi sudah berani menantangku , aku dengan mudah membunuh kalian , tapi tidak karena aku ingin mendapatkan informasi dari kalian ― a..apa .. yang ingin kamu ketahui ?!‖ , ― bagus..! sekarang jawab pertanyaanku jika kalian masih sayang nyawa ! ― bentak

eng-hwa sehingga membuat ketiga orang itu gemetar ketakutan

―nah..sekarang ! kamu ceritakan tentang sepak terjang pah-sim- sai-jin ! ― eng-hwa menatap tajam pada si suheng , ―kami tidak tahu banyak tentang pah-sim-sai-jin karena dia baru muncul lima tahun yang lalu ― , ―apa yang dilakukanya dibarat dan utara

― , kembali eng-hwa bertanya , ―dia..dia telah menguasai barat dan utara dan membunuh semua pendekar serta mendirikan see-kek-hek-te dan pak-hek-te ― , ―apa itu see-kek-hek-te !?‖ ,

―kumpulan orang-orang jahat yang dibina oleh pah-sim-sai-jin dari kalangan penjudi dan pemadat dalam satu kota yang khusus , untuk wilayah utara kota yang di gunakan sebagai kumpulan itu adalah xining disebut dengan pak-kek-hek-te , semntara dibarat adalah kota lijiang yang disebut dengan see- kek-hek-te , ―hmh.. kalian tahu dimana sekarang pah-sim-sai-jin

!? ― , ―tidak .. kami tidak tahu , terakhir kami dengar dia dip eng- bun tapi sudah melarikan diri karena bertemu dengan she-

taihap ―

―hmh.. baik , karena kalian telah memberikan informasi yang saya butuhkan maka kali ini saya ampuni nyawa kalian ― eng- hwa tiba-tiba hilang membuat ketiga orang itu makin merinding ketakutan , eng-hwa kembali ke kamar mereka dan menemui subonya

―subo aku telah dapat informasi tentang pah-sim-sai-jin ― ,

―ceritakan apa yang telah kita dapat tentang pah-sim-sai-jin ― sahut ji-goat bergairah , ―pah-sim sai-jin baru muncul lima tahun dan sudah menguasai dua wilayah barat dan utara , dan dibarat pah-sim-sai-jin telah membentuk kumpulan orang yang terdiri dari penjudi dan pemadat dalam satu kota yang disebut see- kek-hek-te dan demikian juga di utara , see-kek-hek-te berada di kota lijiang dan pak-kek-hek-te berada di kota xining ―

ji-goat , si-san dan ceng-si terkejut dan takjub akan cerita yang baru saja mereka dengar , ―luar biasa sepak terjang pah-sim- sai-jin itu hwa-ji ! ― sahut ji-goat dengan nada gembira dan bangga , ―ah… sepertinya cita-cita ji-sukong dan kong-bo tidak berapa lama lagi akan terwujud dengan munculnya pah-sim- sai-jin ― , ―tapi subo ! pah-sim-sai-jin dipukul mundur oleh she- taihap dan terakhir katanya dia terpukul mundur di peng-bun ― sela eng-hwa , ―benar ! tapi kita akan ada untuk membantu

pah-sim-sai-jin ― sahut ji-goat dengan mata berbinar , lalu ji-goat berkata , ―jadi kita akan keutara dan jika dapat bertemu dengan pah-sim-sai-jin ―

keesokan harinya ji-goat membawa ketiga muridnya menuju utara dan tiga bulan kemudian mereka sampai di hehat , di likoan dimana mereka istirahat banyak sekali orang yang mereka tahu semuanya adalah kalangan pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi , ―sungguh berita baik sicu sekalian ! setelah xining dibumi hanguskan dan dua bulan yang lalu lijiang juga telah di bumi hanguskan oleh she-taihap ― teriak seorang lelaki berumur lima puluh tahun , ―banswee..banswee she-

taihap ! ― bergema suara menyambut berita suka cita itu , semua orang dengan muka gembira dan memuji-muji she- taihap

ji-goat dan ketiga muridnya itu tercenung , mereka melanjutkan makan dengan terburu-buru , lalu keluar , mereka luar biasa heran dengan keberadaan banyak para pendekar di hehat sepertinya kota itu dijadikan tempat berkumpul , dua hari kemudian ji-hoat memasuki wilayah utara dan disebuah hutan mereka istirahat dan membakar daging binatang buruan , setelah selesai melahap makanan daging panggang , ji-goat berkata , ―hmh… ini memang resiko yang dialami oleh setiap generasi hek-to , ketika dia muncul akan menghadapi orang sedunia ― , ―lalu apa yang kita akan lakukan su-bo !?‖ tanya hwa-eng , ―kita tetap akan menelusuri utara untuk mencari jejak pah-sim-sai-jin ― , ―subo !? kenapa kita harus tergantung dengan pah-sim-sai-jin !? ― tanya si-sian bernada tidak senang

ji-goat tersenyum maklum , ―heheh.. sian-ji prinsip untuk mendirikan hek-to kembali adalah kemauan dan kerjasama , jika ada rekan sehaluan yang memiliki peluang maka kita akan mendukung sepenuhnya pada rekan sehaluan itu ― , ―tapi subo ! pah-sim-sai-jin dan usahanya sudah terbentur dengan she- taihap , xining dan lijiang telah di bumi hanguskan itu artinya pah-sim-sai-jin telah kalah ― sela si-sian masih dengan nada kecewa akan berita yang mereka dengar dan gemas dengan pemikiran subonya

―san-ji ! kalian tidak melihat apa yang dapat kulihat dari semua rangkaian cerita tentang pah-sim-sai-jin ini ― , ―apa itu subo ! beritahukanlah pada kami ― sela ceng-si , ―pah-sim-sai-jin katanya mundur oleh kekuatan she-taihap , dan mundurnya itu sangat aneh menurut saya ― , ―apanya yang aneh subo !?‖ tanya eng-hwa , ―ingat..! bahwa pah-sim-sai-jin telah menguasai dua wilayah yakni barat dan utara dalam jangka lima tahun , itu prestasi besar bagi seorang perintis hek-to terlebih bahwa di dua wilayah itu ada she-taihap ― mata ji-goat berseri-seri ,

―bagimana subo! apakah menurut subo pah-sim-sai-jin belum kalah walaupun pak-kek-hek-te dan see-kek-hek-te telah dibumi hanguskan dan pah-sim-sai-jin sendiri lari terbirit-birit ? ― sela si- sian dengan nada ketus ―belum sian-ji , malahan menurut saya she-taihap yang kalah !‖

, ―ha.. !? bagaimana subo berpikiran demikian !? ketiga muridnya terperangah sehingga si-sian bertanya spontan ,

―kalian semua dengar baik-baik , di wilayah barat ada she- taihap kwee-keng dan keturnanannya sekaligus didampingi pat- hong-heng-te sementara di utara ada kwee-kong dengan keturunananya sekaligus juga pat-hong-heng-te ― ketiga muridnya mendengarkan penuh perhatian , ―jadi jika pah-sim- sai-jin berhasil dibarat dan di utara berarti she-taihap dibarat maupun diutara telah ditewaskan oleh pah-sim-sai-jin ― ketiga muridnya tercengang , ―lalu su-bo kenapa dia mundur ketika bertemu dengan she-taihap yang lain kalau dia sudah mampu menewaskan she taihap di barat dan utara !?‖ eng-hwa bertanya dengan nada bingung

―mundurnya itu bukan berarti kalah hwa-ji , ada yang janggal disini , she-taihap di barat dan utara saya yakin sudah tewas , karena pantang bagi she-taihap untuk mundur dan melarikan diri dan kalau mereka masih ada tidak mungkin kedua wilayah itu dalam genggaman pah-sim-sai-jin ― , ―hmh…. berapa bayakkah she-taihap itu subo!? , tanya si-sian penasaran ,

―sian-ji ! she-taihap itu lumayan banyak , karena mereka memiliki ibu yang banyak , istri kim-khong-taihap ada sembilan untuk menurunkan keturunananya

―kalau begitu subo menurut subo kenapa pah-sim-sai-jin mundur !?‖ , ―mundur karena mungkin dikeroyok she-taihap , dan tindakan itu sangat tidak pernah dilakukan she-taihap dan hal itu telah mereka lakukan itu berarti pah-sim-sai-jin luar biasa sakti apalagi dapat selamat dari keroyokan itu ― , ―bukankah sebaiknya kita yang membuka celah munculnya hek-to dan

pah-sim-sai-jin nantinya membantu kita ― sela si-sian , ―pikiran itu juga bagus si-sian dan aku setuju sekali ― sahut eng-hwa ,

―ya aku juga sependapat ― sela ceng-si , ji-goat memandang ketiga muridnya yang demikian bersemangat , ―baik… hal demikian juga tepat , jadi sambil menunggu jejak pah-sim-sai-jin kita akan kexining dan kita akan mengumpulkan sisa-sisa dari apa yang telah di lakukan pah-sim-sai-jin‖

kemudian ji-goat dan tiga muridnya melanjutkan perjalanan , dan bulan kemudian mereka sampai di kota sin-bun dan bertemu dengan empat she-taihap di likoan dimana mereka mendengar bahwa pah-sim-sa-jin bersembunyi sehingga membuat hati ji-goat gemas dan mengeluarkan perkataan sebagaimana diawal

―siapakah kalian yang begitu getol dengan kejahatan sehingga berusaha menyemaikannya ditengah orang banyak !?‖ san-kui masih dengan tenang menjawab gadis yang bernada ketus itu , lalu ji-goat berdiri , ― she-tai-hap ada utang harus dibayar maka sekarang utang itu harus dilunasi sekaligus dengan bunganya ―

, san-kui tersenyum , ―lo-bo !? katakana utang apa yang harus dilunasi oleh keluargaku ― , ―she-taihap aku adalah ji-goat anak dari eng-hong-bi-kwi-ji ― , ―oo.. ternyata demikian ― jawab san- kui karena nama ini pernah mereka dengar dari cerita orang tua mereka , terlebih san-kui tahu bahwa kakeknya kwee-sin-peng yang menewaskan eng-hong-bi-kwi-ji

―bagaimana kalian hendak menagih !?‖ tantang san-kui ,

―phuah….‖ si-sian gemas dengan ketenangan yang ditunjukkan she-taihap , lalu dengan gerakan indah dan cepat dia menerjang she-taihap , empat she-taihap mengelak dan melayang ke luar rumah makan , ―jangan lari pengecut ! ― teriak si-sian sambil menyusulkan serangan , namun empat she- taihap yang berada dihalaman likoan menyambut serangan yang ganas dan berbahaya , san-kui dan yang dua saudaranya membiarkan kwee-ming yang menghadapi si-sian , pertempuran dahsyatpun berlangsung seru , sampai sekian lama pertempuran berlansung belum ada yang mendesak dan terdesak , san-kui takjub bahwa gadis itu memiliki ilmu yang tidak rendah bahkan melebihi ciang-bujin

kwee-ming mengeluarkan ilmu pamungkas keluarganya , im- yang-pat-hoat dengan jurus im-yang-tiauw-hoat , dan dalam dua puluh gebrakan si-sian merasakan tekanan berat luar biasa

, gerakan yang laksana rajawali itu membuat dia kewalahan menghadapi cakaran dan kibasan tangan kwee-ming yang mengeluarkan hawa im-yang luar biasa , lalu eng-hwaa memasuki pertempuran membentu si-sian , si-sian selamat dari tekanan , dua gadis cantik itu mengeroyok kwee-ming , kisuran angin pukulan beradu bertubi-tubi , namun kwee-ming masih menguasai keadaan , dan bahkan ketika memasuki jurus kedua ratus , si-sian dan eng-hwa mulai kalang kabut , tiba-tiba ceng- si memasuki pertempuran , kwee-ming dengan tenang menghadapi keroyokan tiga gadis itu dengan ilmu puncak keturunananya , serangan ketiga gadis itu demikian dahsyat dan berbahaya , ketiga lawannya telah mengeluarkan senjata berupa pedang , sabuk dan cambuk 

kwee-ming mengeluarkan pedangnya dan menghadapi tiga senjata itu dengan ―hong-lo-im-yang-kiam‖ dan untuk mengimbangi keroyokan kwee-ming tidak kekurangan ilmu ,

―sin-tiauw-poh-chap-sha‖ digunakan dengan indah dan kokoh , hingga sampai ratusan jurus senjata ketiga gadis itu tidak dapat menyentuh kwee-ming , hal ini membuat ketiga gadis yang baru muncul kedunia ramai ini merasa terkejut dan takjub , makin ciut hati mereka bahwa mereka harus bertiga dapat mengimbangi seorang she-taihap , namun apakah pertempuran seimbang ini akan diadu dengan ketahanan daya tempur , ya tentunya harus demikian , lalu siapakah yang akan kalah , ketiga gadis itu mempergencar serangan mereka , namun luar biasa langkah-langkah kwee-ming dan juga sangat kokoh pertahanan pedang yang mengeluarkan hawa im-yang itu

lima jam pertempuran itu berlangsung , kwee-ming masih dengan stamina prima dan luar biasa , sementara ketiga gadis cantik itu sudah mandi keringat , ji-goat bergerak memasuki pertempuran namun kwee-thian menghalanginya , pertempuran tunggalpun berlangsung dengan cepat , serangan ji-goat dikerahkan , ilmu-ilmu dari suhunya di im-kan-kok dikeluarkan pertempuran itu seimbang dan luar biasa seru , namun ketika malam sudah tiba jurus yang dilalui ji-goat telah mencapai tiga ratus jurus , dan pada satu gebrakan ji-goat tidak dapat mengelak dari tendangan kaki kwee-thian yang menggunakan im-yang-ma-hoat , ―bughh….‖ perut ji-hoat rasa terpilin ususnya es membuat kepalanya pening dan mual yang tidak tertahan , dan pada gerakan selanjutnya dua pukulan berbareng yang dilancarkan oleh kwee-thian dalam rangkain jurus im-yang-ma- hoat , menghantam dada ji-hoat ―brughh ..‖ tak ayal lagi ji-hoat terlempar lima tindak dua hawa yang bersarang didadanya menjebol pertahanan hawa sakti miliknya dan memporak- porandakan peredaran darahnya hingga jantungnya berhenti berdetak , ji-goat tewas sebelum terhempas ketanah

ketiga muridnya terkejut bukan main melihat subo mereka terkapar tidak bernyawa , eng-hwa melompat dan melarikan diri disusul kedua saudara seperguruannya , she-taihap membiarkan ketiganya melarikan diri , eng-hwa dengan sisa tenaga yang ada terus berlari dan saat malam sudah sangat larut eng-hwa menggeloso rebah ditanah dan tidak lama kemudian si-sian dan ceng-si tiba dengan kondisi yang sama bahkan ceng-si muntah karena capeknya , mereka rebah terdiam suara nafas yang memburu terdengar bertalu-talu , kondisi itu berlangsung sampai pagi hari

paginya ketiganya bangkit dengan tubuh lemas namun kondisi nafas mereka sudah normal , rasa lapar mendera , mereka harus makan , lalu eng-hwa memaksa tubuhnya berdiri , ―aku akan cari buruan ― eng-hwa berkata sambil melangkah meninggalkan si-sian dan ceng-si , satu jam kemudian eng-hwa kembali dengan membawa ular besar , daging ular itu di panggang setelah matang merekapun makan dengan lahap , setelah kenyang mereka merasakan tenaga mereka pulih

―hmh… tidak dinyana bahwa kita akan dipecundangi begini ― eng-hwa berkata dengan kesal , ― kedua saudaranya diam tertunduk , eng-hwa menatap keduanya , ―kenapa kalian diam

!?‖ , ―menyesali kekalahan tiada gunanya dan lebih baik kita memikirkan langkah selanjutnya ― sahut si-sian , ―hmh… baik…si-sian apa langkah kita selanjutnya !? ― , ―menurut saya benar apa yang dikatakan subo , dan subo tidak berlebihan jika mengagumi pah-sim-sai-jin ― , ―maksudmu kita akan mendukung jika pah-sim-sai-jin muncul kembali !? ― , ―benar sekali , dan itu peluang kita untuk melanjutkan cita-cita subo ― ,

―ya ..! aku juga sependapat dengan si-sian , dan saya makin kagum dengan pah-sim-sai-jin yang tentunya lebih sakti dari kita , terlebih kalau benar empat she-taihap itu harus mengeroyoknya jika berhadapan ― sela ceng-si

―benar … pah-sim-sai-jin memang sakti , untuk mengimbangi seorang she-taihap saja kita bertiga harus mengeroyoknya dan untuk menghadapi pah-sim-saijin empat she-taihap harus mengeroyoknya , suatu yang sangat luar biasa ― kata si-sian menimpali , ―hmh.. hal itu juga dapat aku rasakan , namun kemana kita dapar menemui pah-sim-sai-jin !? ― , ―kita tidak usah mencarinya , lebih baik kita menunggu , tentu kalau dia muncul akan membuat gempar dan saat itu kita datang menemuinya ― sahut si-sian , ketiganya terdiam dengan pikiran masing-masing tentang pah-sim-sai-jin

She-taihap melanjutkan perjalanan menuju timur dan sebulan kemudian kemudian mereka sudah sampai di hehat dan bergabung dengan pasukan , karena sudah merasa aman lalu mereka kembali ketempat masing-masing , berita sepak terjang she-taihap diutara membuat para pendekar , kauwsu dan pangcu merasa bersyukur dan terenyuh , lebih dua ratus tahun keluarga ini menjadi ujung tombak liok-lim , tanggung jawab yang turun temurun yang tidak dapat disangkal oleh siapa saja

kwee-san-kui dank wee-gun kembali keselatan setelah seminggu berada di sinyang dan lima bulan kemudian mereka sudah sampai di pulau kura-kura setelah jin-hui berada sebulan di pulau kura-kura , pertemuan itu sungguh membuat bahagia , terlebih kedua istri san-kui dan kwee-gun , namun kebahagiaan itu berganti dengan musibah dimana kakek kwee-lun-keng yang berumur delapan puluh lima tahun meninggal dunia , beberapa pendekar dan kauwsu datang menghadiri kemalangan itu tidak terkecuali nenek-hong-in dan keluarganya

setelah sebulan kwee-jin-hui dan kam-hong kembali ketimur , mereka mengadakan perjalanan cepat sehingga lima bulan kemudian mereka sudah sampai di sinyang , istri tercinta menyambut mereka dengan segenap bahagia dan rindu , namun tiga hari kemudian ketika keluarga she-taihap beserta dua ratus pat-hong-hengte mengadakan jamuan syukur atas kedatangan kwee-jin-hui dan kam-hong , tiba-tiba seorang lelaki berwajah burik muncul , empat she-taihap berdiri dan para murid pat-hong-heng-te bersiaga menunggu perintah , empat istri she-taihap yang juga jebolan pat-hong-heng-te bersiap menghadapi segala kemungkinan

―hehehe..hahaha…hahaha , luar biasa memang keluarga kim- khong-taihap ― suara yang mengandung sin-kang-itu menggetarkan sukma , namun untungya penghuni pat-hong- heng-te adalah turunan bengcu kawakan sehingga suara itu tidak demikian berpengaruh walaupun beberapa orang dari pat- hong-hengte harus duduk kembali bersila memusatkan

perhatian , ―hentikan pah-sim-sai-jin ..! ― seru jin-hui dan sekejap suara tawa itu berhenti berganti dengaan seyum sinis yang didahului dengan meludah

pah-sim-sai-jin setelah lebih dua tahun menyempurnakan ilmu gabungannya yan menghasilkan pukulan luar biasa dahsyat bahkan hawa ditubuhnya dapat membonceng luncuran pukulan yang keluar dari telapaknya membuat pukulan itu bukan saja dahsyat bahkan amat mengerikan , setelah merasa sangat matang ilmu barunya dia beri nama dengan ―hek-hoat-bo‖ (biang ilmu hitam) , pah-sim-sai-jin keluar dari hutan yang gelap lagi lebat dan masuk kembali ke yinchuan , kehidupan masyarakat yang kembali normal demikian terasa terbukti kota sibuk dengan berbagai urusan , likoan dan rumah makan marak

, para pedagang asongan memadati jalan-jalan kota

pah-sim-sai-jin memasuki likoan dan kehadirannya itu membuat orang terheyak , hampir dua tahun keadaan normal dirasakan masyarakat yinchuan tapi dengan munculnya momok yang sangat dikenal perawakannya ini membuat terbang semangat orang yang melihat pah-sim-sai-jin dan kenyataannya semangat hidup itu makin terhempas saat pah-sim-sai-jin memporak-porandakan likoan dan menyebar maut yang mengerikan , dan pasar yang tadinya normal dengan kesibukan

, gempar dan hiruk pikuk dan pasar sekejap sunyi karena orang berusaha menyelamatkan diri , pah-sim-sai-jin dengan senyum sinis dan jumawa meninggalkan kota yinchuan dan menuju ketimur dan disetiap kota pah-sim-sai-jin menunjukkan kebrutalannya terlebih ketika dia mendengar bahwa dua kota hitam yang dibentuknya di xining dan lijiang telang di bumi hanguskan

tangannya makin ganas menebar maut disetiap kota hingga ia memsuki wilayah timur dan tiga bulan kemudian pah-sim-sai-jin memasuki sinyang , di rumah makan pah-sim-sa-jin sedang bersantap , beberapa orang memperhatikan pah-sim-sai-jin dengan tatapan curiga , pah-sim-sai-jin menampar seorang pelayan hingga tewas dan menangkap orang yang menatapnya curiga , ―kamu kenal aku !?‖ , ―ti….tidak ― , ―cih… aku adalah mautmu ,‖prak…‖ kepala orang itu pecah ditampar pah-sim-sai- jin hingga tewas seketika

beberapa orang menerjang , namun sekali kibas tangannya telah melemparkan tubuh empat orang yang hendak menyerangnya dan sadisnya tubuh orang itu menghijau ,

―hahaha..heheh .. aku adalah pah-sim-sai-jin , cepat kalian katakan dimana tempat keturunan kim-khong-taihap !‖ semua orang tertunduk dan bergetar ketakutan , dan seseorang melayang kearahnya , ―kamu katakan dimana keturunan kim- khong-taihap !‖ , ―di..di.. barat kota tuan ― , ―huh..! ,, prak..‖ sambil mendengus pah-sim-saijin menampar orang itu tewas dan berkelabat dari tempat itu , semua orang berhamburan menyelamatkan diri kembali kerumah masing-masing , dalam waktu yang tidak berapa lama pasar gempar dan beberapa murid kauwsu dan pangcu yang berada dipasar segera melapor akan kemunculan pah-sim-sai-jin yang mencari tempat she- taihap

beberapa kauwsu dan pangcu segera berangkat berduyun- duyun ke tempat pat-hong-heng-te , sementara pah-sim-sai-jin berdiri jumawa dihadapan she-taihap , ―kalian telah membumi hanguskan kekuatanku di utara dan barat , sekarang bersiaplah kalian semua , ke empat she-taihap sudah meloloskan sabuk mereka dan memasang kuda-kuda , pah-sim-sai-jin bergerak menyerang dengan ―thian-te-tin-hoat-chit‖ , gerakan im-yang- pat-hoat diiringi meluncurnya sabuk dengan jurus ―in-hong-sin- kin‖ menyambut serangan pah-sim-sai-jin , pertempuran seru dan luar biasa cepat berlangsung , ketiga ujung sabuk bergerak demikian indah bagai empat naga mengurung tubuh pah-sim- sai-jin

semua murid pat-hong-heng-te siaga demikian juga empat istri she-taihap sementara anak-anak mereka sudah disuruh masuk kedalam dibawa dua orang pelayan , pada jurus keseratus pah- sim saijin berhasil menangkap sabuk kam-hong , namun saat keduanya saling membetot tiga ujung sabuk dari kwee-thian dan jin-hui menghantam siku dan perut dan lambung , sehingga pah-sim-sai-jin melepaskan kembali sabuk kam-hong dan kembali empat sabuk itu mengurungnya , pah-sim-sai-jin tersenyum jumawa dan kemudian meludah , hehehe.. apakah kalian akan mengira aku akan terus kelabakan oleh ilmu sabuk kalian ini , nah… sekarang kalian rasakan ini ― pah-sim-saijin memutar tangan kananya yang tepaknya menghadap lawannya semntara tangan kirinya bersikap menyembah dengan posisi kuda-kuda rapat sejejar mulutnya berkomat kamit sambil menarik nafas mengepos tenaga lalu ilmu barunya ―hek-hoat- bo‖ berkeredapan menghantam empat she-taihap dan hasilnya empat tubuh itu melayang bagai layangan putus dan ambruk ditanah dengan tubuh menghijau dan bau apek menyebar membuat empat istri she-taihap yang berada didekat empat mayat itu dan celakanya mereka mendekati suami masing- masing dan keempat istri she-taihap bangkis-bangkis dan linglung karena keracunan yang luar biasa tidak lama empat istri she-taihap ambruk diatas suami masing-masing dalam keadaan tewas menghijau , dua puluh pat-hong-heng-te menerjang , namun gerakan pedang bianglala pah-sim-sai-jin memapaki semua serangan

bau apek yang membuat mereka bangkis-bangkis jadi sasaran lunak pedang pah-sim-sai-jin , pembantaianpun nyawapun berlangsung , gerakan ganas ―beng-cui-in-kiam‖ dalam sekejap menghantar sepuluh nyawa pat-hong-heng-te , ketiga istri she- taihap jatuh pingsan tak kuasa menahan keracunan yang mereka alami karena bau apek ketiga mayat suami mereka yang terhempas didepan mereka , dalam dua jam , pat-hong- heng-te telah delapan puluh yang tewas , pah-sim-sai-jin tersenyum sinis dan menyarungkan pedangnya , dan dia ingin melihat bagaimana hasil ilmu barunya bila dihadapakan kepada keroyokan yang mengurungnya , dengan gerakan khas hek- hoat-bo mulai menderu menghantam puluhan pat-hong-heng-te

, dan hasilnya enam orang melayang dan ambruk dengan tubuh menghijau dan bau apek dari sembilan mayat makin membuat porak poranda barisan pat-hong heng-te yang tinggal empat puluh orang dan kembali pedang pah-sim-sai-jin berpesta nyawa

beberapa kauwsu datang menyerbu dan membantu , namuan mereka terbentur bahkan menghantar nyawa dalam dua gebrakan jurus pedang luar biasa dari pah-sim-sai-jin , dan dalam satu jam empat puluh pat-hong-heng-te terjunkal tewas , dua belas rombongan kauwsu bergerak menerjang , namun mereka tiba-tiba dihantam pukulan aneh yang membuat tenaga meraka hilang pikiran mereka kosong , darah mereka sessat beku dan dan tiba-tiba darah mereka mendidih membuat tubuh mereka serasa bengkak , ilmu hek-hoat-bo untuk ketiga kalinya dikeluarkan pah-sim-saijin , hasilnya tubuh kedua belas kauwsu menjadi kaca es dan tiba-tiba meledak bau apek pun menyebar

memprihatinkan nasib she-taihap , perjamuan rasa syukur itu ternyata merupakan akhir kehidupan mereka , dua ratus pat- hong-heng-te , empat she-taihap beserta istri dan puluhan kauwsu dan pangcu tergeletak bergelimpangan berserakan di lianbhutia pat-hong-heng-te , hanya empat jam huru hara pertempuran itu berlangsung dan sekarang sepi , sunyi mencekam dan mengerikan , pah-sim-sai-jin memasuki rumah lima orang anak-anak she-taihap yang berada dikamar bersama dua pelayan digorok pah-sim-sai-jin sambil tersenyum sinis

kekejaman luar biasa dari seorang anak manusia , pah-sim-sai- jin meninggalkan pat-hong-heng-te saat malam tiba setelah kediaman she-taihap dibakar dan semua mayat dilemparkan kedalam , kota sinyang gempar , pembantaian sadis di pat- hong-heng-te membuat semua hati ngeri dan ketakutan , pah- sim-sai-jin masih berada di sinyang ,kantor kediaman sim- kungcu didatangi , semua pengawal ditebas oleh pedangnya yang berhawa dingin , sim-kungcu di bunuh dan anak istrinya dipermainkan

dalam jangka tiga hari hari sinyang telah sunyi sepi di tinggal mengungsi oleh penduduknya , pah-sim-sai-jin mulai dengan pembentukan kota hitam yang baru , bukoan dan piauwkiok yang berada kota-kota berdekatan didatangi dan mereka digelandang kekota sinyang , pah-sim-sai-jin menanamkan prinsip hidup yang harus diterapkan bebrapa orang yang awalnya terpaksa lama kelamaan jadi biasa dan merasa suka , dalam jangka satu tahun kota tung-kek-hek-te terbentuk , wilayah timur dilanda badai hitam , pemerasan , pemerkosaan , teror dan penganiayaan berlaku setiap hari bahkan pah-sim-sai-jin memerintahkan dua ratus anak buahnya merekrut dan menculik para pemuda belia umur empat belas sampai tujuh belas , hingga dalam jangka setahun itu lebih seratus pemuda belia dibina pah-sim-sai-jin di kota sinyang , pemuda-pemuda itu disuguhkan kemesuman dan kenikmatan birahi , setelah setahun membina ratusan pemuda belia dengan ilmu dan perinsip hidup maka pah-sim-sai-jin meninggalkan sinyang berangkat menuju selatan

berita petaka di timur membuat selatan heboh dan gempar , berita kematian she-taihap sampai kepulau kura-kura setelah setahun , she-taihap dipulau kura-kura berkabung ditambah lagi dengan meninggalnya kwee-gan-liong , para kauwsu dan pangcu yang melayat kepulau kura-kura sambil untuk membicarakan penanggulangan bahaya yang mengancam , setelah dua minggu pemakaman kakek gan-liong tiga she- taihap dan kwaa-san-lun cucu nenek in-hong yang juga berada di pulau kura-kura melayat kakek gan-liong mengikuti misannya untuk mendukung penanggulangan akan tirani yang disebar pah-sim-sai-jin sementara neneknya hong-in dan istrinya serta empat anaknya tinggal di pulau kura-kura

she-taihap dan dua ratus pat-hong-te keluar dari pulau kura- kura untuk kedua kalinya kali ini kekuatan mereka di pusatkan di han-zhong , kota perbatasan timur dan selatan , empat she- taihap memasuki kota timur sejauh mungkin hingga sampai kekota kunming , sepertinya tidak ada markas cabang yang dibentuk pah-sim-sai-jin , penghuni tung-kek-hek-te di sinyang sangat ramping hanya berjumlah lima ratus yang terdiri dari seratus lebih pemuda belia dan tiga ratus lelaki bekas kauwsu dan pangcu beserta murid-murid yang sudah ketagihan oleh suguhan nikmat hidup oleh pah-sim-sai-jin

empat she-taihap dan seratus pat-hong-heng-te berada di kun- ming sementara seratus tetap di han-zhong beserta ratusan pendekar dari kalangan kauwsu dan pangcu , setelah empat bulan berada di kun-ming , momok yang menakukan dan tirani luar biasa olot itu pun muncul , pah-sim-sai-jin ketika masuk kota disambut empat she-taihap dan seratus pat-hong-heng-te , pah-sim-sai-jin melidah kemudian tersenyum sisnis , ―heh..! keturunan kim-khong-taihap aku sangat menikmati ketika keluargamu di sinyang kubantai dan anak-anak mereka kugorok , ― mendengar perkataan menyeramkan itu san-kui menjawab, ‗apakah kamu bangga dengan perbuatanmu itu

pah-sim-sai-jin !? ― , ―hahah , tentu aku bangga ! ― jawab pah- sim-sai-jin tertawa puas , ―gurumu han-bu-ong memang rajanya kejahatan tapi walaupun demikian tetap saja dia mati , apakah dialam sana ia dapat berbangga dengan perbuatannya selama hidup ? , jawabnya tentu tidak bahkan dia sengsara dengan perbuatannya ― , ―heheh.. omongan picisan lagi yang kamu obral , darimana kamu tahu bahwa guruku sengsara ! hah..! ? , apakah kamu sudah melihatnya dialam sana !? ― , ―tidak ..! tapi pribahasa mengatakan segala perbuatan akan dituai , perbuatan han-bu-ong adalah jahat , apakah menurutmu dia akan menuai kebaikan !? ― sahut san-kui dengan tenang ―cuh…cih … urusan sekarang ya sekarang , urusan nanti adalah nanti , hal yang tidak diketahui jelasnya mengapa harus dipaksakan supaya sesuai dengan omong kosong ― , ―ya terserah kamu saja , gurumu juga telah dinasehati oleh sukongcouw kami bu-kek-siansu namun jika hati sudah tertutup akan sulit untuk terbuka ― , ―heh… siapa itu bukek siansu !? ,

―bukek-siansu adalah suheng dari han-bu-ong gurumu , posisi kita sekarang sama , kami pewaris dari bu-kek-siansu menasehati pewaris dari han-bu-ong , dan apa yang didapati hasilnya sama-sama , bahwa suhu dan murid memang sudah hati membatu ― , ―heheh..heheh , hmh , ternyata begitu , tapi hari ini seluruh pewaris dari bukek-sian-su akan mati ditanganku !‖ pah-sim-sai-jin tertawa jumawa , , ―sekarang bersiaplah kalian , akan kukirim menemui saudara kalian yang lain ― pah-sim-sai-jin menyerang dan pertempuran segitpun terjadi , empat sabuk dari she-taihap bergerak cepat dan indah

, ―cuh… ilmu sabuk ini sudah tidak berguna lagi , kalian akan

tetap mati ditanganku ― pah-sim-sai-jin meludah dan mencela , san-kui sudah merubah taktik penyerangan , sabuk mereka tidak lagi menjeprat tubuh pah-sim-sai-jin , tetapi malah membelit dua tangan dan dua kaki pah-sim-sai-jin , dan jika sudah terbelit mereka menghantam pukulam im-yang-giok-hoat dengan kekuatan penuh

hal itu karena san-kui yakin bahwa keempat keluarganya tidak mungkin tewas kalau bukan karena pah-sim-sai-jin memiliki ilmu yang dapat menyebarkan hawa apeknya lewat pukulan , dan trik ini membuat pah-sim-sai-jin kalang kabut , berkali-kali pukulan im-yang-giok-hoat menghantam telak dadanya , hingga dadanya berguncang dan memuntahkan darah , bau apek pun menyebar namun karena pukulan itu susul menyusul mebuat hawa itu berbalik terbawa serangkum hawa pukulan menghantam pah-sim-sai-jin , pah-sim-sai-jin berusaha melepaskan diri , namun sangat sulit

darahnya sudah muncrat-muncrat dari mulutnya , dan hawa apek makin terasa menyebar jauh , dan satu ketika empat sabuk lepas dan empat she-taihap bergerak dengan sebuah pukulan yang sama yakni im-yang-sian-hoat , empat pukulan dahsyat menghantam tubuh pah-sim-sai-jin hingga terlempar sepuluh meter dan menghantam tembok rumah hingga jebol , pah-sim-sai-jin pingsan dengan isi dada remuk redam darah mengalir dari kedua matanya , hidung dan telinga , empat she- taihap menjauh dari tempat itu untuk dan segera meminum obat lalu kemudian bersemedi mengusir pengaruh hawa yang tidak demikian kuat , sementara dua puluh pat-hong-heng-te menjaga tubuh pah-sim-sai-jin yang tergeletak pingsan dari kejauhan , sampai keesokan paginya pah-sim-sai-jin masih pingsan , tidaj ada yang berani memastikan keadaan pah-sim- sai-jin , karena hawa disekitar pah-sim-saijin sangat berbahaya

, ketika matahari sudah naik tinggi , tubuh pah-sim-sai-jin bergerak dan luar biasanya dia sudah berdiri dalam kondisi yang sehat

pah-sim-sai-jin bergerak cepat menerjang dua puluh pat-hong- heng-te yang bersiaga setelah melihat pah-sim-sai-jin berdiri , pertempuran segit berlangsung pagi itu , dua puluh pat-hong- heng-te bertahan dengan gigihnya , menjelang waktu siang dua puluh pat-hong-heng-te mulai porak-poranda , dan dalam satu gebrakan jitu , tiga orang pat-hong-heng-te terjungkal ambruk oleh tusukan pedang dan serangkum sin-kang ―hek-lek-hoat‖ menghantam dua yang lainnya , ketiganya sesaat sesak dan kemudia tewas , pat-hong-heng te terus melawan dengan sekuat daya membendung iblis yang kosen dan alot ini tidak berapa lama pedangnya lagi-lagi memakan kirban , dua pat- hong heng-te , tewas seketika , saat pedang bianglala hijau pah-sim sai-jin menembusa dada keduanya

tiba-tiba empat she-taihap muncul bersama puluhan pat-hong- heng-te ; pah-sim-sai-jin yang melihat keempat she-taihap muncul langsung melancarkan pukulan terbarunya hek-hoat-bo

, srangkum cahaya hijau berkeredapan menghantam barisan pat-hong-hengte yang menegroyok , dan enam dari mereka langsung ambruk tewas dengan tubuh menghijau , empat she- taihap terpana melihat hasil pukulan luar biasa itu , dan mereka langsung menyerang dengan sabuk menghalangi pengeposan tenaga yang akan melancarkan pukulan itu untuk kedua kalinya

, dan pah-sum-sai-jin berusaha untuk mengelak dan berkelit dengan berpoksai , dan ketika kakinya menjejak tanah , posisi sudah kaki merapat dam sejajar , pengeposan tenaga dengan rapalan juga sudah dilakukan saat masih di udara , sikap kedua tangan sudah siap melancarkan pukulan , ―blaam‖ pukulan hek- hoat-bo beradu dengan im-yang-giok-hoat , pah-sam-sai-jin terlempar dengan memuntahkan darah sementara empat she- taihap linglung , segera mereka duduk bersemedi mengisir hawa apek yang jahat , namun pah-sim-sai-jin yang ganjil tubuhnya , melancarkan hek-hoat-bo dengan tenaga penuh

serangkum cahaya hijau melabrak tubuh kearah empat she- taihap , dan tidak ayal tubuh mereka bergeming dan hawa apek membuat mereka bangkis lalu ambruk dengan tubuh menghijau

, takdir empat she-taihap sudah tiba lalu merekapun menghembuskan nafas terakhir , puluhan pat-hong heng-te segera menerjang , disambut tawa sihir dari pah-sim-sai-jin , gerakan serangan tertahan , pedang pah-simn-saijin berkeredapan membantai pat-hong-heng-te , puluhan pat-hong- heng-te bukan pesilat rendahan , dengan kekuatan penuh ilmu- ilmu ciptaan kim-khong-taihap dipadukan

tapi memang dasar tubuh iblis ini menyimpan keajaiban luar biasa , tubuhnya yang tercincang pedang pat-hong heng-te lunak dan alot darah bersimbah menebar hawa apek membuat barisan pat-hong-heng-te kavau-balau sementara pedang bianglala hijau pah-sim-saijin bergerak cepat membagi bacokan

, sabetan tusukan , barisan pat-hong-heng-te susul menyusul bertumbangan amburuk ketanah , lukanya yang menaganga bersimbah darah merupakan senjata ampuh yang melemahkan seluruh daya tahan pat-hong-heng-te , akhirnya pertempuran selesai dengan kemenangan telak di pihak pah-sim-sai-jin , empat she-taihap dan seratus pat-hong-heng-te tewas , pah- sim-sai-jin tersenyum sinis dan meludahi empat mayat she- taihap kemudian pah-sim-sa-jin meninggalkan kunming dan terus menuju selatan , dan dua bulan kemudian pah-sim-sai-jin sampai ke hanzhong , pertempuran luar biasa hebat , dimana dua ratus pasukan yang terdiri dari seratus pat-hong-heng-te dan seratus pendekar , namun ilmu sihir pah-sim-sai-jin membuat kalangan pendekar saling membacok , sementara pat-hong-heng-te yang tidak seberapa berpengaruh namun membuat mereka lemah dan lengah , pah-sim-saiji laksana menuai padi menyabit rumpun demi rumpun barisan pat-hong- hengte , sampai sore pertempuran unik dan luar biasa itu , semua pat-hong-heng-te tewas dan seratus pendekar tewas saling menghantam dan yang tersisa dituntaskan oleh pah-sim- saijin

dengan tertawa jumawa pah-sim-saijin meninggalkan han- zhong , dan dikota lokyang pah-sim-sai-jin membentuk kekauatnya , bebrapa kauwsu yang masih hidup ditawan dan dibawa ke-lokyang , teror pun marak , rakyat lokyang di aniaya , hartanya dirampas dan anak wanita mereka jadi permainan , dalam jang ka tiga bulan lokyang ditinggal penduduknya , masyarakat bentukan pah-sim-sai-jin pun dibentuk , enam puluh kauwsu dan seratus murid yang dipaksa berbuat jahat akhirnya prinsip baik uang selama ini di yakini pudar berganti dengan prisnsip pah-sim-sai-jin

lalu penculikan pemuda-pemuda belia-pun di mulai , demikian juga penculikan wanita-wanita untuk dijadikan penghibur , para pemuda disuguhkan permainan mesum , dan prinsip bejat dan nista pun di hembuskan , para pemuda belia yang masih labil , dengan mudah masuk perangkap pah-sim-sai-jin , dua ratus pemuda belia selama dua tahun sejak pembentukan lokyang menjadi ―lam-kek-hek-te‖ (bumi hitam kutub selatan) wilayah selatan ambruk peradabannya , mereka terkulai di bawah tirani pah-sim-sai-jin yang unik luar biasa , seluruh wilayah selatan mutlak pada genggaman pah-sim-sai-jin kecuali pulau kura- kura

burung camar bercuitan di permukaan laut .angin laut berhebus sepoi-sepoi , riak gelombang kecil ibarat musik alam menyahut cecuitan burung camar sebuah perahu beris enam orang melaju cepat menuju pulau kura-kura , mereka adalah pah-sim- sai-jin dan lima anak buahnya gemblengannya selama dua tahun , ketika hampir kepantai sing cerah itu mendadak hujan lebat , enam orang itu melompat kepelantaran yang sunyi

sementara didalam istana keluarga she-taihap yang sudah mengetahui keadaan daratan besar telah ambruk ditangan pah- sim-sai-jin , kematian emnpat she-taihap di kunming juga sudah mereka dengar , walaupun duka nestapa muncul , namun keluarga gembelngan ini tidak larut , mereka semua besiap-siap dengan tenang untuk menghadapi segala kemungkinan bahwa akan tiba saatnya pah-sim-sai-jin akan mendatangi pulau mereka

dan hari itu kakek kwee-bun-hui , tiga nenek kwee-liu-bwee kwee-hwa-mei dank wee-hong-in sedang berada di teras istana sambil menikmati hujan , hujan yang turun lebat bercampur deru angin yang kuat serta hentakan petir yang mengkilat dan tiba-tiba berhenti , hujan itu hanya tercurah dan bergolak selama setengah jam , enam orang mendekati istana dan ditatap ke empat sesepuh pulau-kura-kura itu , kwee-bun-hui berdiri , sementara seratus pat-hong-heng-te sudah bermunculan berbaris membentangi pintus istana

―hehehe… keluarga kim-khong-taihap memang benar-benar mengesankan , keluarga mempesona dan unggulan , tapi sayang riwayat keluarga ini akan habis sampai disini , ditangan pah-sim-sai-jin ― pah-sim-sai-jin angkat bicara menatap juma dan tersenyum sinis melihat seratus pagar betis itu tujuh perempuan istri dari she-taihap keluar dari dalam istana dengan pakaian ringkas , empat belas gadis muda dan remaja putra dan putri juga berdiri sigap dengan gagah

melihat keagungan keluarga ini sedikit banyaknya membuat pah-sim-sai-jin bergetar , kwee-bun-hui menyahut dengan senyum , ―pah-sim-sai-jin pewaris han-bu-ong siraja tirani yang melegenda , ajukanlah apa maksud kedatanganmu ke sini ! ― , pah-sim-sai-jin melihat kakek yang berbicara , ―heheh..hahah , masih berlagak tenang tiada kecemasan sikapmu kakek jelek , aku kesini akan menumpas habis keturunan kim-khong-taihap !‖

, ―luar biasa anak muda yang jumawa lagi sakit , cita-citamu mungkin hari ini akan tecapai , tapi tiadalah lama kemegahan yang kamu bina , karena kamu membina diatas kerapuhan nilai hidup laksana mendirikan binaan diatas pasir ― , ―cih..phuah… , simpan saja filsafatmu kakek peot ! pah-sim-sai-jin tidak suka omong kosong ― jawab pah-sim-sai-jin sambil meludah , ―

tiba-tiba kakek berumur delapan puluh tahun lebih itu melayang dan berdiri dihadapan pah-sim-sai-jin , ―majulah anak muda !

tubuh renta ini sudah sangat siap jadi mayat ditanganmu ― pah- sim-sai-jin langsung menyerang , dengan ringan bagai kapas tubuh kakek bun-hui mengelak dan membalas dengan tidak kalah jitunya , pertempuran berlangsung seru dan segit , ditangan kakek bun-hui sebuah kipas bergerak cepat dengan jurus ―lo-hai-san-hoat‖ sementara tangan kiri bergerak dengan kurus im-yang-sian-hoat , gerakan kipas yang menderu menerpa menahan dan mengecauakan gerak pah-sim-sai-jin dengan perubahan-perubahan yang jitu dan cepat , dalam jurus ketujuh puluh pah-sim-sai-jin terdesak hebat , hampir sepuluh tototokan gagang kipas sudah dia terima membuat tubuhnya kebas dan ngilu-ngilu

pada jurus keseratus pah-sim-sai-jin harus mengakui bahwa kakek ini sangat kosen , ilmu pedangnya mencoba membendung serangan kakek bun-hui , hanya dua puluh jurus dia bisa bertahan namun jurus berikutnya dia terdesak bahkan pedangnya terkulai dan jatuh dari tangan yang terasa sangat ngilu dan kaku , pah-sim-sai-jin berusaha menjauh namun kakek itu seperti bayangannya menotol-notol tubuhnya, untung saja tubuhnya itu ganjil , kareba jangankan totokan , luka bacokan bahkan luka dalam yang parahpun tidak akan pernah membahayakan nyawanya walaupun rasa sakit tetap ada pertempuran sudah berlansung dua jam lebih , pah-sim-sai-jin tidak kuasa menegluarkan jurus ampuhnya karena kakaek itu terus menempelnya , dia bingung bagaimana menghadapi kakek kosen yang luar biasa ini , dan parahnya lagi kakek itu tidak sedikitpun kecapean padahal sudah mapir tiga jam bergerak , tubuhnya juga sudah berkali-kali jatuh terhempas dan terjengkang , hawa apeknya sperti tidak mempengaruhi kakek kosen ini , pucat wajah pah-sim-saijin , kalau sempat kakek ini menotolnya dan mempermainkan satu harian walaupun tidak berbahaya tapi ngilu-ngilu dan kebas pada tubuhnya bisa membuat air matanya mengalir

karena merasa tidak berdaya , pah-sim-sai-jin membacok

tangannya , ―crass…‖ darah muncrat dari luka menganga itu , aroma apek pun membuat kakek bun-hui bangkis-bangkis dan linglung dan dengan mudahnya pedang bianglala hijau pah- sim-sai-jin membacok leher kakek bun-hui hingga putus , tubuh renta itu jatuh tanpa kepala , tiga orang nenek melayang dan berdiri dihadapannya , nenek hong-in mengambil jasad dan kepala kakek bun-hui dan membawanya kedalam istana

sementara dua nenek menyerang pah-sim-sai-jin dengan dua cambuk , sungguh luar biasa serangan dua nenek itu , dalam empat gebrakan tubuh pah-sim saijin sudah puluhan kali disebat membuat pah-sim-sai-jin menggeliat namun tidak ada keluhan dari mulutnya , tadi pah-sim-sai-jin tubuhnya ngilu dan kebas di totok habis oleh kakek bun-hui , sekarang tubuhnya di cambuki dan ditotok oleh kedua nenek sakti , kedua nenek itu demikian cekatan memainkan jurus ―goat-tiam-hong-pian‖ ciptaan ayah mereka kim-khong tai-hap

selama tujuh puluh jurus pah-sim jadi bulan-bulanan , dan karena pertempuran itu renggang maka pah-sim-sai-jin dapat mengeluarkan ilmu ampuhnya , segera posisi dan pengeposan tenaga dengan rapalan di lancarkan dan hentakan dahsyat serangkum cahaya hijau menghantam kedua nenek renta itu , tubuh mereka bergeming kemudia amburuk tewas dengan muka hijau

nenek hong-in sudah berdiri didepan pah-sim-sai-jin dan dengan keren dia berkata , ―pah-sim-sai-jin! tahukan engakau siapa han-bu-ong bagi kami !? ― , ―heheh.. , aku tahu bahwa suhuku sute dari sucouw kalian bukek siansu ― , lalu tahukah kamu bahwa kamu punya suci yang menjadi istri kim-khong- taihap !? ― itu adalah tetek bengek dan aku tidak akan sudi

memikirkannya !‖ , ―baiklah pah-sim-sai-jin , sepertinya keluarga saya tidak tahan dengan bau apekmu , ilmu mu sih tidak seberapa , namun bau apek mu ini memang menyebalkan ― mendengar sindiran pedas itu membuat pah-sim-sai-jin marah

pah-sim-sai-jin menyerang dengan ganas , namun nenek hong- in tiba-tiba bergerak lincah mengelak kesana kemari , makin panas hati pah-sim-saijin dikerahkan gin-kangnya untuk menangkap dan memukul nenek honng-in namun sampai dua jam dia tidak bisa menyentuh sedikitpun tubuh nenek hong-in , nenek hong-in tidak membalas hanya mencerca gerakan silat pah-sim-sa-jin , jurus yang digunakan nenek hong-in adalah ―kim-peng-hok-te-pat‖ , pah-sim-sai-jin sangat marah sehingga membuat nafasnya tersegal-segal mendengar cercaaan pada jurusnya yang tiada guna , ditengah kemarahan yang melanda dan tahu-tahu sabuk nenek hong-in mengikat kakinya

pah-sim-sai-jin hendak melepaskan sabuk yang mengikat kakinya namun tangan itu tertahan karena terbelit sabuk dan dengan gerakan luar biasa nenek-hong-in melompat sana sini dan akhirnya pah-sim-sa-jin terikat dan bergedebuk diatas , empat sabuk entah bagaimana telah membuat pah-sim-sai-jin tidak berdaya bahkan lehernya tercekik dimana tanganya memeluk lehernya karena tangan itu terikat yang mana kelanjutannya melilit kepunggungnya lalu keperutnya beberapa lilitan , lalu tangan kirinya tertarik kebawah kena telikung dan sabuk terus melilit kakinya sehingga karena tidak seimbang dia terjatuh

―kan …sudah kukatakan ! bahwa ilmumu tiada guna , jumawamu hanya modal bau saja anak goblok ! cih… tidak tahu diri ― nenek hong-in mencela dan meludahi pah-sim-sai-jin , setelah itu nenek hong-in memerintahkan lima murid untuk menyeret pah-sim-sai-jin dan membawanya kekapal kemudian menyuruh lempar ketengah laut , kelima rekannya berlutut

ketakutan , ―kalian ini sebagai apa dalam pasukan lam-kek-hek- te !?‖ , kami lima pimpinan dibawa thian-te-ong ― jawab mereka berlima , ―hmh.. baik , kalian semua kembali kedaratan dan cepat kalian bubarkan kumpulan kalian itu , aku tidak ingin mendengar ada lam-kek-hek-te diselatan ! , mengerti !? ― bentak nenek hong-in

―mengerti she-taihap !‖ , kalian cepat kembali dan lima puluh dari pat-hong-te akan mengukuti kalian , jadi jangan coba- macam-macam ― bentak nenek-hong-in kemudian nenek hong- in menghadap murid-murid , ―dan kalian anak-anakku ! lima puluh dari kalian , ikuti lima orang ini untuk membubarkan lam- kek-hehk-te , setelah itu bawa kelimanya ke sinyang untuk membubarkan tung-kek-hek-te‖ , segera semua pat-hong heng- te menjura , dan dua murid kepala memimpin misi itu ke lokyang

tiga bulan kemudian nenek hong-in jatuh sakit , dan hanya tiga hari sakit yang dia derita nenek yang kosen dan bijak ini pun menghembuskan nafas terakhir , diantara anak-anak kim- khong-taihap yang persis menyerupai kim-khong-taihap hanya dua orang dari putrinya yakni kwee-goat-lian dan anak bungsunya ini kwee-hong-in , dan diantara kwee-goat lian dengan kwee-hong-in memiliki sifat yang berbeda yang diambil dari dua sifat ayah mereka , kwee-goat-lian sangat mudah terenyuh sementara kwee-hong-in sangat periang dan tegas seperti ayahnya , lunak sangat lunak , keras sangat keras , jadi tidak heran ketika ia mempermainkan pah-sim-sai-jin dia lebih sombong lagi dari kesombongan pah-sim-sai-jin sebagaimana ayahnya dulu ketika menghadapi kesombongan para penjahat untuk menyentil kesombongan itu pekuburan she-taihap disebelah belakang istana tertata rapi , semua anak-anak kim-khong-taihap terkubur di area pemakaman itu , kuburan kim-khong-taihap sendiri didampingi ketujuh istrinya , kemudian delapan belas orang anaknya serta tiga puluh dua cucu dalamnya , setelah pemakaman nenek hong-in putri bungsu kim-khong-taihap selesai , semua keluarga dan murid kembali kedalam istana yang sekarang hanya di huni tujuh orang istri she-taihap , dua orang anak kwee-san-kui , dua orang anak kwee-tin , seorang anak kwee- gun , dua orang anak kwee-lai-seng , dua orang anak kwee-kun

, seorang anak kwee-teng , dan empat orang anak kwaa-san- lun , yang terkecil dari penghuni istana pulau kura-kura adalah kwaa-han-bu berumur tujuh tahun buyut luar dari kim-khong- taihap

disebuah muara yang payau dan warnanya yang kekuning- kuningan disekelilingnya pohon-pohon bakau nampak sosok tubuh tersangkut dipermainkan ombak , sosok itu adalah pah- sim-sai-jin yang semingg lalu di buang ketengah laut , setelah tubuh dilempar dia berusaha untuk melepaskan empat sabuk yang mengikatnya dengan kuat dan belitan yang rumit , untungnya keganjilan tubuhnya yang luar biasa walaupun sudah tiga hari terombang-ambing bahkan dibenamkan oleh gelombang laut sehingga tidak muncul seharian dia masih tetap hidup , hingga ketika tubuhnya diseret gelombang kearah muara seekor buaya mencaploknya , gigi yang tajam bak gergaji itu merobek ikatan sabuk hingga lepas , namun keika tubuh pah-sim-sa-jin berdarak oleh robekan taring buaya , tiba- tiba buaya itu menggelepar dan akhirnya kejang mati