-->

Biang Ilmu Hitam (Hek Hoat Bo) Jilid 2

Jilid 2

―sam-soso sudah berada di pulau kura-kura dan dari mereka berita kami dengarkan , berita yang luar biasa tentang keberadaan pah-sim-sai-jin yang sanggup mengalahkan tiga saudara kita bahkan menghabisi tiga ratus lima puluh pasukan yang dibentuk tiga saudara kita ― , ―memang kami mendengar bahwa ada gerakan besar di barat untuk menundukkan pah- sim-sai-jin , namun bagaimana kelanjutannya kami tidak tahu jelas ― sahut an-bun . ―wah… tiga ratus lima puluh nyawa sadis luar biasa itu gan-ko , apakah tidak ada hati didalam dada pah- sim-sai-jin !? ― guman sie-can

―terus bagaimana ji-sute !? , ―oleh karena hal itu kami berpikir bahwa beradu depan dengan orang seperti pah-sim-sai-jin akan merugikan dan itu sudah dilakukan oleh tin-ko dan ji sute di wuhan dan ternyata keluarga kita tewas , maka kami ambil trik menyusup untuk mengetahui lebih tentang siapa dan bagaimana pah-sim-sai-jin ini ― , ―pikiran tepat juga yang kui- koko dan ji sute ambil , lalu apakah itu sudah ji sute yang melakukannya !? ― , ―benar bun-ko dan kami sudah berhasil mengetahui keadaan pah-sim-sai-jin , ―hmh…lalu apakah ji-sute susah sampaikan hasilnya pada kui-ko !? ― , ―belum bun-ko , setelah keluar dari li-jiang kami memutuskan untuk mengunjungi keluarga disini dan sekaligus ketimur menemui keluarga di sinyang ―

―hmh… lalu apakah hasil penyelidikan ji-sute di lijiang !? ,

―begini bun-ko , kami tidak tahu apakah ada hubungan perguruan antara kita dengan pah-sim-sai-jin karena pah-sim- sai-jin juga berasal dari kwi-ban-san‖ , terkesiap an-bun mendengar berita itu sebab diantara she-taihap yang berhubungan langsung adalah dia dan jin-hui di sinyang karena keduanya cucu dari kwee-kim-hoan dan kwee-khong-huan ,

―hmh… hal itu bisa jadi gun-te , guman an-bun , ―apakah diantara kita pernah mendengar naman han-bu-ong , bun-ko !?

― , ―hmh.. kita tidak pernah mendengar nama itu seng-te , tapi kenapa seng-te !? ― , ―karena ilmu dari pah-sim-sai-jin adalah warisan dari han-bu-ong ― jawab lai-seng , ―kita tidak tahu , tapi orang tua kita masih masih ada di pulau kura-kura , mungkin mereka ada mendengar nama ini ― sela an-bun

―lalu apa lagi yang ji-suheng ketahui tentang pah-sim-sai-jin ― tanya kwee-gak , ―pada dasarnya ilmu dari pah-sim-sai-jin seimbang dan tidak berselisih dengan kita , namun dia punya kelebihan pada dirinya ― , ―kelebihan apakah itu seng-te‖ an-bun menyela , ―katanya tubuhnya mengeluarkan hawa yang kami juga tidak tahu hawa apa yang ia maksud namun dengan hawa itu ia akan menang dari kita dan buktinya telah kita rasakan langsung dengan apa yang dialami ketiga saudara kita di wuhan ― , semuanya terdiam , hening dengan pikiran amsing- masing , ―lalu apakah ada lagi ji-sute !? , ―dari hasil penyelidikan kami bahwa pah-sim-sai-jin bukan orang yang buru-buru , cara kerjanya bertahap ― , ―bagaiamana gun-te menyimpulkan demikian !?‖ , ―karena bun-ko , kami pancing dia untuk segera merebut gelar bengcu namun jawabannya bahwa gelar bengcu urusan kedua dan yang utama adalah pengendalian wilayah , jadi dari jawaban itu pah-sim-sai-jin akan tetap berada di wilayah barat sampai barat mutlak ada ditangannya dan memakai prinsip hidupnya ― semuanya manggut mendengar analisa dari kwee-gun , ―tahu apaka prinsip hidup yang akan di tanamakannya , bun-ko !? , ―apa itu gun-te !? ― , ―prinsip hidupnya ada empat , yakni hidup sombong , suka berbohong , suka menurutkan hawa nafsu dan suka melihat penderitaan orang ― , ―wah..wah… benar jelmaan iblis dia itu gun-te ! ― sela sie-can sambil geleng-geleng kepala mendengar prinsip hidup pah-sim-sai-jin

benar can-ko , dan juga untuk menjadikan wilayah seperti yang di inginkannya , pah-sim-sai-jin membuat satu kota yang menjadi biang kota kejahatan dan itu telah dibentuk di lijiang , kota itu sekarang disebut dengan ―see-kek-hek-te‖ (bumi hitam kutub barat) ― , ―hmh.. benar-benar trik durjana yang luar biasa ― sela sie-can , ―jadi bun-ko ! berhati-hati lah , wilayah barat sekarang sudah delapan puluh persen di tangannya dan sebentar lagi barat akan mutlak berada di genggamannya , dan tentunya dia akan memasuki utara atau selatan dan mencanangkan apa yang dia buat dibarat ― , ―hmh.. benar sekali itu gun-te , apa yang kamu sampaikan menjadi dasar

untuk bertindak jika dia memasuki wilayah utara ― sahut an-bun

, ― ya.. dan itulah salah satu tujuan kami mengunjungi bun-ko dan semua keluarga disini ― lai-seng menambahkan kwee-gun dank wee-lai-seng berada diutara selama seminggu , lalu kemudian mereka berangkat ke timur kekota sinyang , perjalana cepat dan memburu waktu , dan dua bulan berikutnya mereka sampai di-sinyang dan bertemu dengan kwee-jin-hui

,kwee-gan-liong dan kam-hong , berita duka pun disampaikan , dan hasil penyelidikan pun diuraikan , ―hmh… hawa yang dikelurkan tubuhnya itu harus kita cari tahu ji-sute , apa akibat yang ditimbulkannya sehingga dia tetap menang ― sahut jin-hui setelah mendengar uraian kwee-gun

―tentunya harus berhadapan dengan dia hui-ko !‖ ―benar ,seng- te dan itu mudah kita lakukan , karena kalau ilmunya dan ilmu keluarga kita tidak selisih , kita bisa sekedar mencobanya ― ,

―hmh… saya setuju dengan pikiran itu hui-ko dan akan kami sampaikan kepada kui-ko di pulau kura-kura ― sahut kwee-gun , kemudian merekapun istirahat setelah larut malam karena perbincangan panjang yang mereka lakukan

Seminggu kemudian kwee-gun dan dan kwee-lai-seng meninggalkan sinyang untuk kembali ke selatan dan melaporkan tugas mereka kepada kwee-san-kui di pulau kura- kura , perjalan pun tidak di tunda , keduanya bergerak berlomba dengan waktu , hingga tiga bulan kemudian mereka sudah mendarat di pulau kura-kura

―mereka disambut oleh kwee-san-kui dan enam orang tua dan semua keluarga , setelah makan malam , merekapun melaporkan tugas mereka , ―kami minta maaf kui-ko bahwa

tugas kami memakan waktu lebih setahun ― , ―memang kami disini cemas ji-sute , tapi ken-kong menyabarkan kami untuk tetap menunggu ― , ―sebenarnya kui-ko kami sudah dapat menyelesaikan tugas tujuh bulan yang lalu , hanya kami memutuskan untuk ke utara dan timur untuk menemui keluarga kita disana ― , ―oo , demikian rupanya ! tidak menagapa ji-sute , tentu ada alasan kuat dan penting sehingga kalian membuat perjalanan sepanjang dan sejauah itu , nah ..! sekarang sampaikanlah , apa yang kalian ketahui tentang pah-sim-sai-jin

― , ―kui-ko sebenarnya pah-sim-sai-jin turun dari kwi-ban-san dan mewarisi ilmu dari han-bu-ong ― kelima orang tua yang ikut mendengar terkesiap , kwee-gun yang melihat reaksi dari kelima kakek dan neneknya bertanya , ―apakah diantara kakek dan nenek pernah mendengar han-bu-ong !? ― ―diantara kami tidak pernah mendengar nama itu , tapi mungkin nenek kalian di kunleng tahu , karena yang paling dekat dengan ibu khu-gin- bi adalah in-moi , kalian harus kesana menanyakannya ― sahut kakek lun-keng

―terus bagaimana selanjutnya ji-sute !?‖ , ―kemudian benar ! bahwa tin-ko dan ji sute tewas di tangan pah-sim-sai-jin , dan kenyataanya ilmu pah-sim-sai-jin tidaklah lebih kuat dari ilmu kita , salah seorang dari kita bisa mengimbanginya , namun ada yang lebih darinya yakni tubuhnya yang katanya mengeluarkan hawa , dan itu membuat dia menang walaupun dikeroyok oleh tin-ko dan ji-sute ― , ―kalau begitu kita harus cari tahu apa efek dari hawa tubuhnya itu ― gumam san-kui , ―benar kui-ko dan hui- ko di sinyang juga berpendapat sama ― sahut kwee-gun , kemudian ia melanjutkan , ―kami juga telah memancing untuk mengetaahui rencananya kui-ko ! , ―apa rencananya itu gun-te

!? , ―pah-sim-sai-jin akan mematangkan kekuasaannya disetiap wilayah sebagaimana wilayah barat sekarang yang ditanganinya , tujuh bulan yang lalu delapan puluh persen wilayah barat telah dikuasainya dan tentunya sekarang seluruh wilayah barat mutlak ada pada kendalinya ― , ―hmh…. memang jitu rencana itu untuk menanamkan kekuasaan , sepertinya ia membuat sendiri orang-orang jahat ― , ―benar kui-ko , orang- orang yang direkrutnya adalah para penjudi dan pemadat , dia menamakan prinsip hidup pada anak buahnya dan akan disebarkan untuk dicanangkan seluruh orang di wilayah barat ―

, wah apa prinsip hidup yang ingin ditanamkannya pada semua orang itu gun-ji !? , sela kakek gan-liong , ―prinsip hidup itu kong-kong ada empat yakni , hidup sombong , suka berbohong

, suka menurutkan keinginan dan suka melihat orang lain menderita ― , ‗lah..lah…. benar-benar iblis yang mengajarinya itu ― sela kakek bun-hui

lalu kwee-gun melanjutkan , ―pah-sim-sai-jin membentuk satu kota yang isinya semua penjahat dan segala kemaksiatan ada didalamnya untuk penghuni kota itu dan dibarat kota penjahat itu adalah lijiang atau dia beri nama dengan ―see-kek-hek-te ― ,

―hmh.. jika dia sudah selesai di barat maka dia akan membentuk pak-kek-hek-te , lam-kek-hek-te dan tung-kek-hek- te ― wajah san-kui berubah tajam karena merasa gemas ,

―benar sekali kui-ko ― sahut kwee-gun , ―dia bergerak lambat tapi pasti kui-ko ― sela lai-seng , ―ya dan itu sangat mengerikan ― sahut san-kui

―itulah yang dapat kami sampaikan kui-ko ! , lalu bagaimana langkah selanjutnya !? , ―dari semua cerita ji-sute , intinya kita akan berhadapan dengan bumi yang dibentuknya , barat dengan mudah dia bentuk karena sam sute dan para hohan disana langsung berhadapan dengan pah-sim-sai-jin yang sakti dan nyaris seluruh hohan tewas hingga terjadi kekosongan kekuatan ― , ―lalu bagaimana kui-ko !? ― , ―hmh… hal yang dapat kita lakukan sebelum berhadapan lansung dengan pah-sim-sai- jin kita terlebih dahulu membentuk tandingan dari bumi yang dibentuknya sebagai pusat kekuatan ― , :‖hmh.. benar sekali kui- ko dan disamping itu semua pokoan kalau bisa kita tutup karena dari situ embrio penjahat yang dibentuknya ― sahut lai- seng , ―ya … itu sangat efektif untuk menahan langkah pah-sim- sai-jin ― sela kwee-gun ―dan saya yakin sekarang pah-sim-sai- jin sudah berada di utara dan kita harus bergerak cepat kui-ko ―

, ―benar seng-te , dan besok kita akan adakan pertemuan dengan semua murid ― sahut san-kui , lalu merekapun menutup perbincangan itu dan istirahat

keesokan harinya semua murid pat-hong-hengte sudah berkumpul di lianbhutia , lalu san-kui berbicara ―kalian semua dengarkanlah ! , bahwa kita sedang menghadapi tirani yang laur biasa dahsyat , dan saudara kita diwilayah barat telah menjadi korban ― sejenak dia mengambil nafas lalu berkata ,

―kita semua akan mengambil langkah cepat untuk mencegah menyebarnya tirani itu sembari berusaha untuk melenyapkannya , jadi sekarang kami akan membagi tugas kepada kalian murid kepala , murid tingkat satu dan dua ― ,

―kami siap sam-suhu ― jawab mereka serempak

tugas pertama untuk empat orang murid kepala , berangkatlah kalian ketimur dan utara , berikan suratku kepada kauwsu kalian disinyang dan di yinchuan , pesan ini sesegera mungkin sampai kesana , jadi kalian harus memburu waktu ― semuanya hening dan tertunduk , ―nah..! sekarang , kam-hui-bhok , phang- liu-ta kalian berdua mendekatlah ― kedua orang yang dipanggil segera berdiri dan mendekati san-kui , ―ini surat bawa ke utara , kalian berjalan dari timur keutara , sekarang kemasi persedian kalian dan berangkatlah ― san-kui memberikan sepucuk surat yang sudah dia tulis semalam didalam kamarnya

―kemudian sie-hang dan pouw-teng ― kedua murid yang dipanggil mendekat , ―kalian bawa surat ini ke sinyang di timur ―

, baik suhu ! apakah kami juga berangkat hari ini !? , ―ya … berkemas dan berangkatlah , kedua murid itupun keluar , lalu san-kui berkata , ―kepasa enam murid kepala yang tinggal dan murid pertama dan kedua , kalian berangkat kedaratan besar , sampaikan undangan lisan dari ku kepada seluruh kauwsu dan pangcu serta taihap di wilayah selatan untuk berkumpul pada je-it dua bulan akan datang disini , dan perihalnya adalah tindakan penaggulangan tirani pah-sim-sai-jin ― , ―siap sam-

kauwsu ! , ―baik sekarang kalian bubar , dan enam murid kepala mendekatlah kesini ― enam murid kepala itu mendekat , ―kalian berenam ! selain dari tugas tadi kalian juga harus sampaikan surat ini kepada tiga kuncu di kaifeng , dua kungcu di hopei dan satu kungcu di paoteng ― ―baik suhu ― lalu merekapun keluar

kwee-lai-seng keesokan harinya juga keluar dari pulau kura- kura dia hendak ke kun-leng menemui nenek kwee-hong-in , perjalanan yang ringan dan cepat tidak membuat ia lama memakan waktu , dan dalam sepuluh hari dia sudah sampai di kun-leng dirumah kwaa-san-lun dan berketepatan istri kwaa- san-lun yakni kam-siang-lan melaahirkan anak keempatnya bayi laki-laki sehat dan mungil , kedatangan lai-seng dan lahirnya anak keempatnya membuat keluarga itu senang dan semarak

―seng-suheng ! langkahmu ini sungguh luar biasa , hmh… bagaimana kabar keluarga di pulau kura-kura ! , ―keadaan semuanya baik-baik lun-te ― sahut lai-seng , ―hmh… sepertinya ada yang mengganjal hatimu seng-ji !? ― sela nenek hong-in yang sudah berumur tujuh puluh dua tahun itu , ―benar kong-bo

― , ―apa itu seng-ji ! ― , ―pertama saya ingin menyampaikan bahwa keluarga kita di wuhan telah dipanggil thian satu setengah tahun yang lalu , dan sam soso sekarang berada di pulau kura-kura , ―hmh… tentu ini berhubungan dengan pah- sim-sai-jin yang ada dibarat !? , ―benar kong-bo ― , ―lalu apa yang kedua !? ― , ―yang kedua tentang pah-sim-sai-jin sendiri kong-bo !, ― hmh… maksudmu bagaimana seng-ji !? ―

―pah-sai-jin ini sangat sakti dan telah mewaskan tin-ko dan ji- su-te dan bahkan hampir lima raus hohan di barat , saya dan gun-ko telah menyelidiki ke lijiang akan keadaan pah-sim-sai-jin dengan menyamar ― , ―lalu ..!? ― , ―dan kami dapatkan hasil bahwa pah-sim-sai-jin turun dari kwi-ban-san dan mewarisi ilmu dari han-bu-ong ― , kening nenek hong berkerinyit , ―kami tanya kelima kakek dan nenek di pulau kura-kura , tidak ada yang pernah dengar nama han-bu-ong ini , dank eng-kong menyuruh saya untuk menanyakan kepada kong-bo ― , ―hmh…. kalau dia mewarisi han-bu-ong itu artinya ada hubungan perguruan dengan kita melalui ibu khu-gin-bi ― lalu menurut kong-bo , bagaimana kita bisa menundukkan ilmunya yang sakti tentang hawa tubuhnya , ―hawa tubuh !? , maksudnya bagaiman seng-ji

!? , ―kong-bo , ilmu kita dan ilmu pah-sim-sai-jin itu imbang , tidak berada disebelah ilmu kita , namun dia bisa mengalahkan tiga keroyokan tin-ko dan ji-sute karena hawa tubuhnya ― sahut lai-seng , tiba-tiba terdengar petikan yangkim dan kemudian terdengarlah nyanyian

hawa busuk menyebar jauhkan diri mamfaatkan ilmu sijahat sendiri yang disempurnakan pendekar sejati setidaknya itu mempertahankan diri sebelum tiba kiprah tiga generasi

han-bu-ong memang penjahat sejati berkubang nista dan lupa akan diri bertabur dendam iri hati dan dengki mewariskan ilmu puncak dari tirani suhu dan subo sering menasehati kelakuan sute yang tidak manusiawi namun apalah daya kita manusia ini bukankah thian? membolak balik hati

―terimakasih supek atas petunjuknya ― ,nenek hong-in segera berlutut dan menjura kearah datangnya suara , lalu terdengar jawaban ―hehehe… in-ji yang mungil jagalah diri ― setelah itu suasana hening

lalu nenek hong-in bangkit dan duduk kembali kekursinya ,

―siapakah tadi kong-bo !? Tanya kwaa san-lun , ―ya.. siapakah tadi kong-bo !? ― sela lai-seng , ―dia adalah pek-kong-couw kalian ―koai-lojin‖ (orang tua aneh) kam-han-ki , beliau adalah murid bukek-siansu jadi suheng dari kong-couw kalian kim- khong-taihap‖ jawab hong-in dan kedua cucunya manggut- manggut

sekarang mari kita simak petunjuk supek dalam nyanyian tadi ! , coba apa tadi bait pertama !? ― hong in menatap kedua cucunya

, lalu san-lun mencoba mengulangnya

hawa busuk menyebar jauhkan diri mamfaatkan ilmu sijahat sendiri yang disempurnakan pendekar sejati setidaknya itu mempertahankan diri sebelum tiba kiprah tiga generasi yang lahir juga pada hari ini ―hmh… pah-sim-sai-jin mengeluarkan hawa busuk melawannya menjauahkan diri dengan menggunakan ilmu sijahat yang disempurnakan pendekar sejati ― sejenak hong-in diam dan berpikir , lalu kemudian nenek hong-in manggut-manggut ,

―bagaimana kong-bo apakah kong-bo dapat mengambil hikmah dari bait nyanyian itu !? ― tanya lai-seng , ―ya nenek sudah dapatkan seng-ji ,‖ jawab nenek hong-in , ―apakah hikmahnya kong-bo!? ― , ―hikmahnya adalah untuk bertahan dari hawa pah- sim-sai-jin , kita harus menggunakan ilmu dasar dari ibu bonita yang mewarisi ilmu dari salah satu delapan jahat di kwi-ban-san

, dan oleh ayah telah disempurnakan dan diberi nama ―in-hong- sin-kin‖

lalu baris terakhir pada bait itu kong-bo !? , yakni sebelum tiba kiprah tiga generasi

―hmh… artinya kita tidak akan dapat mengalahkannya kecuali kita hanya dapat bertahan dan yang mengalahkannya … ada seseorang tapi tidak tahu siapa , mungkin orangnya sudah ada atau mungkin belum ada

―lalu bait selanjutnya begini kong-bo ! , lai-seng mengambil nafas

han-bu-ong memang penjahat sejati berkubang nista dan lupa akan diri bertabur dendam iri hati dan dengki mewariskan ilmu puncak dari tirani suhu dan subo sering menasehati kelakuan sute yang tidak manusiawi namun apalah daya kita manusia ini bukankah thian? membolak balik hati

―han-bu-ong adalah sute dari su-kong bukek-siansu ― , kedua cucunya manggut-manggut , ―pantaslah kalau begitu pah-sim- sai-jin sakti dan tidak berselisih dengan ilmu kita , namun dia lebih dengan hawa yang dikeluarkan tubuhnya ― ujar lai seng , kemudian mereka mengehentikan percakapan dan makan siang , lai-seng dua minggu di-kunleng , bayi laki-laki yang baru lahir buyut dalam hong-in diberi nama oleh ayahnya kwaa-Han- bu

selanjutnya mari kita lihat keadaan pah-sim-sai-jin atau lu-koai , prestasinya dalam membina kejahatan memang handal ,dalam jangka dua tahun seluruh wilayah barat mutlak pada genggaman pah-sim-sai-jin , kedudukanya di lijiang atau see- kek-hek-te sangat kuat , pasukan yang dibentuknya sudah mencapai dua ribu orang , hartanya melimpah menggunung dan terus bertambah karena setiap kungcu yang ada diseluruh barat wajib menyetorkan bagian kekota lijiang , kota lijiang adalah kota hitam yang semarak dengan kumpulan penjahat , pokoan dan tempat pelacuran tersedia disana untuk kesenangan seluruh penjahat didalamnya , kota lijiang tidak ada penindasan yang ada hanyalah kesenangan , kemesuman

, kota lijiang indah gemerlap , meriah dan semarak , kota yang hidup dua puluh empat jam diperuntukkan untuk semua penghuninya ,

malam itu pah-sim-sai-jin mengumpulkan dua puluh orang murid kepala , ―kami sudah berkumpul semua ―thian-te-ong‖ (raja jagad) dan siap menerima perintah ― dua puluh orang itu duduk sambil menunduk dihadapan lu-koai yang duduk dikursi singasananya , oleh para pasukannya ia dia panggil dengan

―thian-te-ong‖ , lu-koai tersenyum , ―kalian semua dengarlah , besok aku akan keutara dan akan menguasainya , jadi sementara saya diutara kalian dua puluh yang jadi pimpinan sementara disini , tetap jaga upeti berjalan dengan lancar , lakukan pelawatan keseluruh kota untuk memupuk tumbuhnya kejahatan , lakukan terus teror untuk membuat penduduk terpuruk keputus asaan sehingga terbentuk rasa ingin bertahan hidup dan menghalalkan segala cara untuk mewujudkannya‖ ,

―baik thian-te-ong ― pesan ong akan kami perhatikan ― jawab mereka serempak

Kota lam-hong kota perbatasan sebelah dalam utara , kesibukan berjalan normal dan siang itu pah-sim-sai-jin memasuki sebuah rumah makan , perawakannya yang kekar tinggi dan mukanya burik dengan kepala gagang berbentuk tengkorak membuat beberapa orang dalam rumah makan bergetar pucat , mereka buru-buru menyelesaikan makannya , bahkan ada dua orang tamu tidak sempat menghabiskan makannya sudah segera menyingkir , hal itu menjadi perhatian beberapa orang dan pah-sim-sai-jin juga merasakan kejanggalan itu , ketika seorang hendak keluar , tiba-tiba tubuhnya kaku dan berdiri mematung di depan pintu masuk

―cuh… ! ― pah-sim-sai-jin meludah dan membuat orang menatap dan mencibir , dua orang yang beradu pandang dengan pah-sim-saijin tiba-tiba menjerit menutup matanya dan mengenaskannya dari jemari yang menutup mata bersimbah darah menandakan bahwa mata luka , pah-sim-sai-jin tersenyum sini setelah melempar butiran nasi sehingga memecahkan bola bata kedua orang itu , karena jeritan setinggi langit itu membuat orang berdiri dan gempar dan berlari keluar rumah makan , namun mereka ambruk didepan pintu dengan keadaan kaku , orang yang masih didalam cemas takut dan gemetaran

pah-sim-sai-jin dengan senyum jumawa menatap orang berdiri ketakutan ―kalian mendekat kesini !‖ bentak pah-sim-sai-jin kepada dua orang yang berada didepannya , dua orang itu mendekat , ―katakan ! bukoan mana yang paling hebat di lam- hong ini , ―ngo-heng-bukoan‖ (perguruan lima unsur), tu…tuan ― jawab salah seorang dengan terbata-bata , ―hmh dimana

tempatnya ! ― , ―di sebelah barat kota tuan ― , ―dengar kalian semua ! , aku pah-sim-sai-jin dan saat ini aku penguasa wilayah barat dan akan juga menguasai kalian diutara ini , hahaha…hahahha…. ― pah-sim-sai-jin tiba-tiba menghilang , tidak lama dia sudah berada di depan bu-kauwsu yang sedang berbicara dengan anak dan anak gadisnya yang berumur sembilan belas tahun ketiga orang itu terkejut bukan main , bu-kauwsu membentak ,

―siapa kamu lancang memasuki rumahku ! , ― heheh..hahah , putrimu cantik juga kauwsu ― pertanyaan dengan jawaban lain itu membuat bu-kauwsu jengkel namun kemunculan orang ini yang luar biasa membuat dia ngeri , ―apa maksudmu datang kesini ?‖ , ―:heheh..hahah , dan istrimu ini juga lumayan ― putri bu-kauwsu marah dan emosi , dia langsung mencabut pedang dan menusuk kearah pah-sim-sai-jin , namun tangannya kesemutan dan pedangnya jatuh sementara tubuhnya kaku terduduk dipangkuan pah-sim-sai-jin , dan putri bu-kauwsu merasa tersentak petir ketika tubuhnya diremas-remas pah-sim- sai-jin , betapa tidak terduduk kaku juga sudah membuat dia sangat malu terlebih anggota badannya diremas-remas oleh tangan jail milik lelaki berwajah burik didepan kedua orang tuanya

bu-kauwsu yang melihat putrinya di hina langsung menerjang , dan ―hughkk..braaak..‖ tubuh bu-kauwsu terlempar dan terhempas ke atas meja hingga hancur , mulutnya memuntahkan darah segar , nafasnya sesak dan satu-satu lalu tak lama kemudian bu-kauwsu tewas , melihat suaminya sekarat dan meregang nyawa bu-hu-jin pingsan sementara bu- siocia terbelalak tidak berdaya , lalu pah-sim-sai-jin merobek baju bu-siocia sampai telanjang , bu-siocia bergetar pucat ketakutan , tapi apalah dayanya didepan manusia bejat dan sakti ini , tubuhnya dipermainkan layaknya binatang , hatinya perih dan terhina , jiwanya menangis tidak terperikan tubuhnya yang sudah sakit , lemas dan ngilu tidak henti-hentinya direjang oleh iblis berwujud manusia ini

selama tiga jam tubuhnya dipermainkan baru para murid yang berada di lianbuthia menyadari keadaan ketika seorang murid kepala hendak melapor , matanya yang menyaksikan siocianya terlentang lemas telanjang sementara suhu dan subonya

tergeletak juga , ―bangsat… ! murid kepala itu menerjang namun tubuhnya terlempar menabrak tembok dan tidak ayal kepalanya pecah dan tewas seketika , pah-sim-sai-jin melangkah mendekati bu-saijin yang masih pingsan , dengan muka sinis pah-sim-sai-jin menelanjangi bu-hu-jin lalu kemesuman birahinya di tumpahkan pada tubuh telanjang itu , bu-hujin menggerakkan kepalanya ketika siuman dan alangkah terkejutnya bu-hujin ketika merasakan tubuh kekar menghimpit tubuhnya dan remasan-remasan kasar disekujur tubuhnya serta

, dia melihat wajah penuh burik menyeringai nikmat merejang tubuhnya bu-hujin kembali pingsan

dua murid kepala yang merasa rekan mereka belum keluar dari dalam maka mereka menyusul dan sesampai didalam mereka menyaksikan pemandangan yang memalukan , mereka langsung melabrak pah-sim-sai-jin yang sedang asik berlomba dengan birahinya diatas tubuh telanjang bu-hujin , namun pah- sim-sai-jin mengibaskan tangan tanpa mengehentikan aktifitasnya namun akibatnya kedua murid kepala itu terlempar lemas tidak berdaya dengan nafas sesak setelah selasai dengan nafsunya , pah-sim-hujin memakai bajunya dengan senyum sinis dan meludah , dua murid kepala dengan mata terbealalak ketakutan menatap pah-sim-saijin yang mendekat , pah-sim-sa-jin merengkuh tubuh keduanya dan berjalan kearah lianbhutia lalu melempar kearah murid- murid yang sedang istirahat , semua murid jadi gempar dan mengambil sikap siaga namun tidak ada yang berani menyerang pah-sim-sai-jin

pah-sim-sai-jin dengan jumawa berkata , ―kalian turuti

perintahku atau mati seperti suhu kalian didalam ― mendengar bahwa suhu mereka tewas mereka jadi pucat dan gemetar , kedua murid kepala yang terduduk lemas berkata , ―apakah kami berhadapan dengan pah-sim-sai-jin !? , ―hahaha…hehehe

, benar ! , yang dihadapan kalian adalah pah-sim-sai-jin ― mendengar kenyataan itu makin kecut hati murid-murid , ―cepat kalian nyatakan apakah kalian menuruti saya atau mati !‖ , enam puluh murid itu menunduk ketakutan , lalu murid kepala berkata , ―kami menyerah dan akan menurut perintah ― , ―bagus

! sekarang kalian berdua ! berapa bu-koan di kota ini dan berapa pangpiuawkiok , ―bukoan ada lima dan piauwkiok ada tiga ― , ―hmh.. baik , kalian berdua dan tiga orang lain cepat datangi kauwsu dan pangcu itu , sampaikan pah-sim-sai-jin memangil meraka malam ini supaya berkumpul disini , jika mereka membantah maka bukoan dan piauwkiok mereka beserta mereka akan saya binasakan ― pah-sim-sai-jin melangkah meninggalkan mereka dan masuk kedalam dan tidak berapa lama dua tubuh melayang dari dalam dan jatuh ketengah mereka , ternyata dua mayat , mayat suhu mereka dan murid kepala , meremang bulu roma mereka tidak beranjak dari situ

dua murid kepala segera mengajak tiga orang yang lain untuk melakukan perintah pah-sim-sai-jin , dari lima kauwsu hanya yang datang empat dan ketiga paiuwpangcu datang semuanya

, ―kuawsu mana yang menolak !? , ― , ―kauwsu pek-coa-bukoan

― , ―hmh… bawa aku kesana dan kalian tunggu disini ! ― pah- sim-sai-jin berkelabat dan seorang murid kepala dibawa terbang , sesampai di tempat pek-coa-bukoan , tempat itu kosong , ―sialan ! perkirakan kea rah mana mereka lari ! ,

―kearah barat tuan !‖ , segera pah-sim sai-jin berkelabat kearah barat sambil menjinjing tubuh murid kepala , baru setengah jam rombongan pelarian itu tersusul , tanpa bicara pah-sim-sai-jin menghabisi mereka tujuh nyawa dalam lima kali gebrakan yang tersisa hanya dua remaja putri umur dua belas dan empat belas anak coa-kauwsu

setelah mereka sampai di tempat bu-kauwsu , kedua remaja putri itu dimasukkan kedalam kamar dimana bu-hujin dan putrinya terlentang kaku dengan tubuh telanjang , kemudian pah-sim-sai-jin kembali keruang tengah , sembilan orang menanti dengan pucat dan makin bergetar ketika pah-sim-saijin datang dan duduk didepan mereka , ―aku ini tirani bagi kehidupan manusia , kalian jika ikut aku akan hidup dengan kenikmatan melimpah tapi jika tidak kalian dan keluarga kalian akan mati , dan sekarang pilih mana yang kalian inginkan ?! ― suara itu bergema tajam membuat kesembilan orang itu makin gelisah ketakutan , ―saya memilih hidup , saya juga , dan saya juga ! ― terdengar sahutan mereka susul menyusul , ―bagus ..! sekarang kalian kembali ketempat kalian , kemasi persedian sekedarnya , kita akan berangkat ke hung-cih , koknam , gunteng , singking dan xining , di xining kita akan membuat markas ― sembilan orang itu diam tertunduk dan keluar

pah-sim-sai-jin kembali kekamar dimana bu-hujin , bu-suocia dan dua remaja putri itu berada , pah-sim sai-jin semalam suntuk hingga matahari tinggi keesokan harinya melakukan kemesuman kepada empat wanita itu , sidurjana yang tiada berhati jantung ini dengan senyum sinis dan rasa nyaman melakukan semua itu , setelah birahinya tuntas keempat wanita itu ditinggalkan dengan nyawa putus karena kepala mereka remuk dengan otak terburai

dua minggu kemudian mereka sampai dikota hung-cih , piuawkiok dan bukoan disana mengalami hal yang sama disamnping pembunuhan kemesuman pah-sim-sai-jin pun bersimaharajalela , , koknam , gun-teng dan terakhir mereka sampai dixining , jumlah anggota pah-sim-sai-jin sesampai dixining lima puluh orang kauwsu dan sepuluh orang piauwpangcu , dan selama perjalanan mereka dari lam-hong ke xining yang memakan waktu sampai delapan bulan , membuat mereka juga terbuai dan terbetik nafsu melihat pah-sim-sai-jin melepaskan birahinya , dan merekapun awalnya terikut dan mencoba , dan kemesuman itu dilakukan tanpa beban membuat mereka ketagihan

dikota xining pah-sim-sai-jin setelah menyelidiki semua bukoan dan paiuwkiok akhirnya memilih mendatangi sebuah piauwkiok ternama ―pak-hong‖ (angin utara) piauwkiok itu megah , rumah liem-pangcu sangat megah , halamnnya luas dan diareal belakang ada tanah kosong yang luas , liem-kauwsu merasa sangat heran dengan kedatangan rombongan yang berjumlah enam puluh satu orang itu , lalu dia menjura , ―ada keperluan apa sehingga para sicu datang kemari ― sambutnya ramah ,

―heheh..hahah… heh..! pang-cu , aku adalah pah-sim-sai-jin , aku dan semua dan anak buahku ini akang mengambil alih

tempatmu ini !‖ , liem-pangcu terkejut dan ketakutan , nama yang menjadi momok menakutkan ini berada didepannya

―sekarang pilih mau mati atau mau hidup , dan kalian semua geladah tempat ini !‖ pah-sim-sai-jin mengancam liem pangcu dan memerintahkan anggotanya untuk bergerak , liem-kauwsu terpaksa menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika tempatnya diambil alih , untungnya ia tidak mempunyai anak perempuan , dia hanya dengan dua orang putranya dan istrinya sudah meninggal , setelah pak-hong di tempati keesokan harinya anak buah pah-sim-sai-jin yang terdiri dari pesilat- pesilat tangguh karena level kauwsu dan pangcu membuat xining gempar tujuh kauwsu dan enam pancu ditaklukkan , sehingga jumlah mereka mencapai tujuh puluh lima kemudian penyitaan harta dan perempuan layakpun di jalankan

, dua kungcu dibunuh dan hartanya dirampas dan pasukannya dibabat habis , penduduk xining kiamat , dalam jangka dua minggu kota xining ditinggalkan penduduk , dan yang tersisa adalah mereka yang jumlahnya sudah bertambah oleh para penjudi dan pemadat sehingga berjumlah seratus lima puluh orang , setelah itu perambahan kotapun terus berlanjut sampai kekota yinchuan , dan pah-sim-sai-jin mendatangi pat-hong- hengte yang sudah siap siaga menanti kedatangan mereka

dan berketepatan pulan surat dari kwee-san-kui diterima oleh kwee-an-bun semalam yang menyuruh supaya pat-hong-heng- te menggalang puasat kekuatan hohan untuk membendung gerak pah-sim-sai-jin , namun ternyata terlambat , utara sudah dikuasai dari lam-hong sampai kekota kenlung , bahkan siang itu sudah berada dihalaman pat-hong-heng-te , kwee-an-bun , kwee-gak dan sie-can keluar , kwee-an-bun menghadapi pah- sim-sai-jin dengan tenang , ―pah-sim-sai-jin sibejat tiada tandingan , siculas tiada ketulungan , simesum tiada terlukiskan

, bersiaplah aku menantangmu ! ― kata-kata pedas itu membuat pah-sim-sai-jin tercenung , sikap jantan luar biasa yang tidak ditemuinya selama perambahannya di utara , ―heheh..hahhaa , cuh..cuh….. hiat … ― pah-sim-sai-jin menerjang dan pertempuran luarbiasa segit pun terjadi

pah-sim-sai-jin kecele karena mendapat perlawanan yang luarbiasa kuatnya , tenaga berhawa ―im-yang‖ menyebar membuat dia tertahan , dia teringat tiga lawannya di lijiang yang mengunakan ilmu yang sama , sampai tiga ratus jurus perlawanan berimbang , ―hek-hoat-bo‖ terbentur dengan ―im- yang-pat-hoat‖ sebenarnya im-yang-pat-hoat lebih tinggi sedikit dari thian-te-tin-hoat-chit‖, namun pengaruh hawa tubuh pah- sim-sai-jin yang menjadikan thian-te-tin-hoat-chit‖dapat mengimbangi im-yang-pat-hoat , hawa im-yang yang merusak pembuluh darah itu tawar dengan hawa racun dalam tubuh pah-sim-sai-jin

setelah lima ratus jurus berlangsung , pah-sim-sai-jin mengeluarkan pedangnya dan mengeluarkan jurus pedangnya

―beng-cui-in-kiam‖ , kwee-an-bun pun mencabut pedangnya dan mengeluarkan jurus ―hong-lo-im-yang-kiam‖ , pertempuran senjatapun berlansung , suasana makin tegang di kesenjaan yang sudah temaram , dan satu ketika , kwee-an-bun mendapat kesempatan menyabet bahu pah-sim-sai-jin sehingga merobek dan menyayat dagingnya hingga lepas , dan pada kesempatan yang sama , hawa apek merebak , dan ini membuat kwee-an- bun pening dan bangkis , dan tidak ayal gerakan dahsyat

―beng-cui-in-kiam‖ menggulung tubuh kwee-an-bung dan cras..crass .. cep.. ― dua tebasan menghantam bahu dan paha hingga putus dan tusukan menembus perut , kejadian luar biasa cepat membuat she-taihap terkejut , hal ini memang dapat dimaklumi , karena gerakan sebelumnya pah-sim-sai-jin terdesak dan menerima luka dipundak dan tida menyangka akan berbalik demikian fatal menewaskan kwee an-bun , sie- can dank wee-gak tanpa dikomando menerjang dua pedang mencincang tubuh pah-sim-saijin sehingga dadanya luka robek besar , pahannya luka menganga , perutnya tembus menyemprotkan darah lehernya robek menganga namun pah- sai-jin tidak mengeluh ataupun menjerit kesakitan malah membuat serangan berbahaya yang tidak terduga pedangnya balas menyerang sementara dua she-taihap mabuk dengan bau apek membuat mereka linglung dan bangkis sementara gulungan pedang yang tidak kendur daya serangnya dari pah- sim-sai-jin balas membabat kedua tubuh she-taihap hingga keduanya tersebelih robek hingga tewas

dua ratus pat-hong-heng-te bergerak menyerang dan di dua ratus kauwsu dan pangcu , ketiga istri she-taihap juga masuk kekencah pertempuran , pah-sai-jin yang bau apeknya ngengat menyebar membuat lawan yang mengerubutinya linglung dan bangkis-bangkis , sementara pada kesempatan itu pah-sim- saijin dengan kecepatan dan kedahsayatan serangannya membabat pat-hong-heng-te laksana laksana memangkas ujung ilalang , dan sebaliknya pat-hong-hengte dan ketiga istri she-taihap membabat anak buah pah-sim-sai-jin yang terdiri dari kauwsu dan pangcu

sampai malam hari pertempuran itu berlangsung , pat-hong- hengte termasuk ketiga istri she-taihap habis tewas semua , sementara di pihak pah-sim-sai-jin hanya tinggal pah-sim-saijin dan dua orang anak buahnya yang terluka parah , pah-sim-sai- jin menampar kepala kedua anak buahnya hingga tewas dan dia meninggalkan pat-hong-hengte , yang berjubel dengan mayat , tujuh anak remaja pautra-putri she-taihap juga tewas dalam keributan besar itu

pah-sim-sai-jin kembali kexining , didalam kota hanya tersisa lima puluh orang anak buahnya yang terdiri dari golongan penjudi , maka dia mengumpulkan mereka sekembalinya dari yinchuan dan menyuruh mereka memasuki pokoan untuk mengajak semua penjudi dan pemadat menempati xining , usaha itu terwujud setelah satu tahun peristiwa yinchuan , pembentukan kota pak-kek-hek-te (bumi hitam kutub utara) rampung , dan selama enam bulan dia melatih anggotanya ini menjadi pesilat kawakan untuk dijadikan pioner terror diutara , pemungutan upeti pun berlangsung , sehingga pak-kek-hek-te sama persis dengan see-kek-hek-te setelah dua tahun setengah pah-sim-sai-jin berada diutara

setelah pak-kek-hek-te mandiri dan kuat , dengan kekuatan berjumlah hampir tiga ribu orang, jumlah ini lebih besar dari pasukan barat karena anggota tidak hanya dari kalangan penjudi tapi juga para anggota bukoan dan piauwkiok yang sudah takluk pada awalnya, pasukannya dibarat dua ribu orang lebih menjalankan prinsip hidupnya dan mengamalkannya kepada seluruh rakyat dibarat demikian juga di utara , dua wilayah telah dikuasai mutlak oleh pah-sim-sai-jin ketika dia sudah berumur tiga puluh tahun dan sekarang dua puluh murid utamanya dikumpulkan dan diserahi tanggung jawab untuk menjalankan terror pada rakyat utara dan mengatur kelancaran upeti dari seluruh kungcu karena dia hendak ketimur untuk melakukan hal yang sama

diruang keluarga di istana pulau kura-kura , keluarga she-taihap berkumpul , ―sent-te bagaimana berita kong-bo di kunleng ! ― san-kui membuka percakapan , ―keadaan kon-bo dan keluarga sehat dan tidak kurang satu apapun malah berita gembira yang saya dapatkan ketika sampai disana dengan kelahiran kwaa- han-bu anak keempat dari lun-te ― sahut lai-seng berseri , ―lalu bagaimana pendapat in-moi tentang han-bu-ong !?‖ tanya nenek liu-bwee , ―han-bu-ong memang terhubung dengan kita melalui kong-bo-couw khu-gin-bi bahkan lebih dari itu kong-bo !

― , ―hmh.. maksudmu lebih bagaimana seng-ji !? ― sela kakek gan-liong , ―kong-kong ! ketika kami membicarakan hal han-bu- ong , seseorang melintas dan bernyanyi dan orangnya tidak saya ketahui namun in-kong-bo berlutut dan bercakap dengan beliau ! ― , ―hmh,, apakah supek koa-lojin yang melintas !? ― seru kakek lun-keng , ―benar kong-kong ! kalau boleh kami tahu pernahkah kong-kong bertemu dengan supek-kong-couw koai- lojin yang menurut hitungan saya sudah berumur dua ratus

tahun lebih malah mungkin mencapai tiga ratus ―

―seng-ji dan kalian semua turunan kami dengarlah , koai-lojin itu adalah supek kami dan dia tiga kali mengunjungi kita disini , pertama saat peng-ko berumur tujuh tahun , kemudian saat meninggalnya ibu swat-hong dan ketika in-moi menikah ― semua keluarga muda she-taihap manggut-manggut lalu lai- seng melanjutkan ―kong-kong dan kong-bu ! dan keluargaku semua , nyanyian supek-kong-couw koai lojin berbunyi seperti ini

hawa busuk menyebar jauhkan diri mamfaatkan ilmu sijahat sendiri yang disempurnakan pendekar sejati setidaknya itu mempertahankan diri sebelum tiba kiprah tiga generasi

han-bu-ong memang penjahat sejati berkubang nista dan lupa akan diri bertabur dendam iri hati dan dengki mewariskan ilmu puncak dari tirani

suhu dan subo sering menasehati kelakuan sute yang tidak manusiawi namun apalah daya kita manusia ini bukankah thian? membolak balik hati

semuanya tercenung meresapi kata-kata nyanyian itu , kemudian lai-seng berkata , ―in-kong-bo telah memahamkan isi nyanyian itu kepada kami bahwa , kita tidak akan mampu mengalahkan pah-sim-sai-jin kecuali hanya mempertahankan diri , dan untuk menghadapi hawa yang dikeluarkan pah-sim- sai-jin maka kita dapat bertahan dengan menggunakan ilmu ―in- hong-sin-kin‖ , sejenak lai-seng berhenti dan kemudian melanjutkan , ―dan juga menurut in-kong-bo bahwa akan ada yang meredam tirani dari pah-sim-sai-jin oleh orang yang disebut sebagai tiga generasi ― , ―benar apa yang difahamkan oleh in-moi dan tahulah kita sekarang bahwa han-bu-ong adalah sute dari su-kong bukek siansu ― sahut kakek bun-hui

tapi aneh ya !? nama anak lun-te yang baru lahir agak mirip dengan han-bu-ong ini , bukankah namanya kwaa-han-bu !? ― sela tang-hui-bi istri san-kui , semuanya terdiam dan sesaat terkesiap namun nenek hwa-mei berkata , ―ah.. itu hanya kebetulan saja tidak usah kita kaitkan ― , ―benar kata kong-bo bi- moi itu hanya kebetulan !‖ timpal san-kui , lalu percakapan itu dihentikan dan beralih kepercakapan masalah rencana kedepan dan setelah larut malam she-taihap bubar dan istirahat

dua bulan kemudian pulau kura-kura di banjiri undangan yang telah disebar dengan lisan oleh san-kui , jumlah undangan yang hadir mencapai dua ratus orang lebih yang terdiri dari seratus dua puluh kauwsu , tujuh puluh pangcu , dua puluh pendekar dan dua belas kungcu , kwee-san-kui berdiri dari kursinya untuk membuka pertemuan

―terimakasih kami sampaikan kepada taijin , hohan , tai-hap , sicu sekalian yang berkenan hadir memenuhi undangan kami yang walaupun berupa lisan , hal ini kami lakukan karena terbentur keadaan dan darurat waktu , sekarang mari kita mulai membicarakan inti permasalahan yang kita hadapi saat ini ! ― kwee-san-kui duduk kembali dan kemudian berkata

―sicu hohan semua , keadaan barat telah berselimut tirani yang ditancapkan oleh pah-sim-sai-jin , saya akui bahwa pah-sim- sai-jin adalah momok luar biasa pintar , sakti dan brutal‖ sesaat san-kui menarik nafas dan lalu melanjutkan , ―saudara kita dibarat bukan tidak bereaksi saat kemunculan pah-sim-saijin , mereka telah berbuat bahkan telah berkorban nyawa untuk itu hingga lima ratus hohan di wilayah barat gugur ditangan pah- sim-sai-jin ― semuanya hening dan menunduk terenyuh akan kenyataan yang menyedihkan sekaligus mnegerikan , ― kami sudah menyelidiki ke lijiang yang sekarang disebut dengan see- kek-hek-te untuk menegnal lebih dekat musuh kita ini , maka hasil yang kami dapatkan adalah bahwa pah-sim-sai-jin turun dari kwi-ban-san mewarisi ilmu dari han-bu-ong sute dari bukek siansu ― semuanya terperangah mendengar penjelasan san-kui yang terhubung dengan bukek-siansu si manusia dewa yang legendaris

―tentunya dari penyampaian saya kita dapat menyimpulkan bahwa tingkat musuh kita ini luar biasa , namun walaupun demikian kita tidak undur untuk mempertahankan diri dan norma yang kita yakini , san-kui berhenti dan menarik nafas sejenak lalu melanjutkan , ―mempertahankan diri disini maksudnya adalah mengimbangi dan mendahului gerakan pah- sim-sai-jin sebelum memasuki wilayah kita , karena dari hasil penyelidikan kami bahwa pah-sim-sai-jin melahirkan kejahatan bukan mengumpulkan orang-orang jahat karena memang nyaris tidak ada penjahat sejak kemunculan bengcu kim-khong- taihap dua ratus tahun yang silam ― setelah berhenti sejenak dan menarik nafas san-kui melanjutkan , ―dan adapun cara

pah-sim-sai-jin melahirkan kejahatan adalah dengan mengumpulkan orang-orang malas , penghayal serta berbatin lemah dan itu dia dapatkan di pokoan dan pelacuran , orang- orang ini dibina di satu kota , dan dari sini makar dan penindasan rakyat dimulai , dan dibarat kota berpenghuni penjahat ini ada di lijiang dengan sebutan see-kek-hek-te dan operasinya adalah menindas rakyat dan memeras kungcu dengan upeti ― san-kui menarik nafas dan melanjutkan

―dan adapaun cara kita menanggulanginya adalah , mari kita galang persatuan kita dengan berkumpul disatu tempat sebagai pusat pertahanan , dan saat pah-sim-sai-jin muncul maka kita serempak masuk kota pusat pertahanan itu , sehingga ketika pah-sim-sai-jin memasuki kota-kota kita dia tidak dapat memamfaatkan kita dengan kesaktiannya ― semua orang masih hening mendengarkan uraian panjang san-kui yang demikian lugas dan terang mebuat tahap pembicaraannya

―dan disamping itu juga kita berusaha menutup pokoan dan pelacuran untuk menutup gerak pah-sim-sai-jin melahirkan penjahat dan membentuk kota hitam di wilayah kita , dan hal ini kami juga mengharapkan dukungan para taijin untuk menutup izin operasional tempat tersebut ― dua penanggulangan itu demikian jitu dan efektif sehingga membuat para peserta manggu-mangut

―dan selanjutnya sicu , taijin dan hohan semua ! , adapun maksud saya dengan mempertahankan norma yang kita yakini , perlu kita ketahui semua bahwa dari hasil penyelidikan kami bahwa prinsip yang akan ditanamkan oleh pah-sim-sai-jin pada semua orang ada empat macam yakni , hidup sombong , suka berbohong , suka menurutkan keinginan dan suka melihat penderitaan orang ― semua undangan yang hadir melonggo dan tercenung mendengar prisnsip hidup itu , hati mereka mengkirik ngeri jika seandainya hal itu sudah jadi kenyataan didaerah mereka

―dan prinsip ini telah tumbuh di wilayah barat dengan berdirinya see-kek-hek-te dan rakyat akan terus di tindas , diteror , dianiaya , dibunuh sehingga tentunya lambat laun ditengah keterpurukan dan keputus asaan , rakyatpun akan memakai prinsip itu untuk bertahan hidup , dan dapat kita bayangkan bagaimana kehidupan jika itu terjadi di wilayah kita ― semua orang menunduk tertengun

―nah…! sicu yang terhormat , taijin yang mulia dan para hohan yang baik , demikian yang dapat saya sampaikan sebagai bahan pemikiran bagi kita untuk menyepakati rencana kita selanjutnya ― san-kui berhenti dan menghirup teh didepannya

―she.. taihap ! apa yang barusan she-taihap ungkapkan membuat kami merinding , dan kami sangat berterimakasih atas usaha she-taihap yang telah menyelidiki keadaan ini dengan demikian detail dan jelas bagi kami ― gak-kauwsu seorang lelaki berumur lima puluh tahun menanggapi dan kemudian melanjutkan tanggapannya , ―dan apa yang she- taihap rencanakan dengan pebentukan pusat kekuatan sungguh ide yang handal dan patut kita lakukan dan juga tentang penutupan pokoan dan pelacuran saya pribadi mendukung dan sangat setuju ― semua undangan pun menyambut dengan setuju sehingga ruang lian-bhutia yang luas itu bergema

―kami juga para kung-cu akan melakukan harapan dari she- taihap , dan akan kami sebar surat berantai kepada semua para kungcu yang ada diwilayah selatan ini ― sela phang- kungcu dengan lantang disambut tepuk tangan para hadirin

―she-taihap jika kita sudah membentuk kota pusat kekuatan , apakah jika pah-sim-sai-jin memasuki kota tersebut kita dapat merintanginya ? , seorang kauwsu berkepala botak menyela ,

―sicu kauwsu dan hadirin sekalian jika pah-sim-sai-jin memasuki kota pusat kekuatan tentu akan kita halau sehingga dia keluar dan meninggalkan kita ― sebagian orang terkesima dengan jawaban san-kui sehingga banyak dari mereka hendak bicara namun yang suara terlantang yang mewakilinya , yakni suara seorang pendekar bermata cipit yang dikenal dengan ―sin-kun

taihap‖ (pendekat kepalan sakti) berkata , ―she-taihap , kenapa dia meninggalkan kita , kenapa dia tidak tewas dihadapan kita terlebih dengan keberadaan she-taihap yang kami akui semua bahwa she-taihap dan pat-hong-heng-te adalah pendekar pilihan , maaf she-taihap hal ini membuat penasaran ― ,

―sin-kun-taihap yang baik , penasaran para taihap, sicu dan hohan semua kami maklumi ,dan memang perkataan kami terkesan bahwa pah-sim-sai-jin tidak bisa kita tewaskan dan hal itu memang benar ― semua orang terkejut dan terkesima ! , lalu san-kui melanjutkan , kenapa pah-sim-sai-jin tidak bisa dikalahkan ? , tentunya itu pertanyaan sicu semua , ketahuilah sicu semua dari hasil penyelidikan kami dan apa yang telah dialami oleh keluarga kami dan pat-hong-heng-te di wuhan , pah-sim-sai-jin memiliki hawa yang keluar dari tubuhnya bahkan dari petunjuk yang kami terima dari supek-kong-couw kami koai lojin sepertinya pah-sim-sai-jin tidak boleh terluka ― jawaban san-kui ini membuat undangan terbelalak heran , kemudian san-kui melanjutkan

―jadi pah-sim-sai-jin boleh saja tidak bisa kita tewaskan , namun setidaknya kita dapat bertahan dan tidak kalah sehingga jadi korban ― semuanya manggut-manggut membenarkan , ―she- taihap ! jika memang demikian , dan rencana she-taihap akan kita sepakati , maka dimana kita akan menjadikan kota pusat kekuatan itu ? ― seorang pang-piauwsu bertanya , ―sicu pangcu dan hohan semua , kota pusat kekuatan kita akan ada didua kota , yaitu di hanzhong kota perbatasan selatan dan timur dan yang kedua adalah kota nancao kota perbatasan selatan dengan barat ― sejenak san-kui diam lalu melanjutkan , ―adapun dasar penempatan pada dua kota tersebut adalah kekuatan di nancao akan mengantisipasi serangan dari see-kek-hekte , dan kota hanzhong untuk mengantisipasi jika wilayah timur telah dikuasai oleh pah-sim-sai-jin ― semua undangan mengangguk membenarkan dan menyetujui

―semoga saja gerakan kami tidak terlambat kepada keluarga kami di timur dan utara karena dua bulan yang lalu kami telah menuliskan surat untuk melakukan hal yang sama seperti kita ini ― ujar san-kui dengan harap , kemudian pertemuan itu dilanjutkan dengan makan dan minum kemudian mereka membagi kerja terlebih penutupan pokoan dan pelacuran serta pembagian kekuatan didua kota , setelah itu pertemuan bubar dan para undangan istirahat di pesanggrahan pulau kura-kura

dan dua bulan kemudian ditimur oleh kwee-jin-hui juga melakukan tindakan yang sama karena jin-hui telah menerima surat dari san-kui , jin-hui memusatkan kekuatan di kota hehat perbatasan timur dengan utara dan juga menutup pokoan dan pelacuran , dan enam bulan kemudian she-taihap di timur berkabung mendengar bahwa she-taihap di yinchuan telah tewas binasa oleh pah-sim-sai-jin , beritapun disampaikan keselatan oleh kam-hong

kam-hong memburu perjalanan cepat menuju selatan , ketika sampai di kota han-zhong , tiga she-taihap berada di kota itu ,

―hong-te ..! bagaimana kabar kelaurga di yinchuan !? tanya san-kui , ―kabar keluarga di timur baik-baik kui-ko , dan surat

dari kui-ko telah kami terima dan telah melakukan rencana yang kui-ko canangkan enam bulan yang lalu ― , ―hmh.. baguslah kalau demikian hong-te , ―dan juga kui-ko saya membawa berita duka ― , tiga she-taihap berubah tegang , ―berita duka apakah itu hong-te !? , ―berita tentang keluarga kita di yinchuan yang telah tewas di tangan pah-sim-sai-jin ― ketiga she-taihap memajamkan mata menahan sedih dan sedu sedan , ―dan tidak dari keluarga disana yang tersisa dan dapat menyelamatkan

diri , dua ratus pat-hong-te tewas berperang dengan para kauwsu dan pangcu yang dimamfaatkan oleh pah-sim-sai-jin ― , semakin tergetar hati ketiga she-taihap mendengar cerita itu dan tidak terasa air mata mereka bercucuran

kam-hong berada di han-zhong selama tiga hari , dan kam- hong kembali ke-sinyang bersama tiga she-taihap yang ingin memperkuat kedudukan di timur setelah utara jatuh ketangan pah-sim-sai-jin , sebulan kemudian empat she-taihap sampai ke-sinyang dan mereka disambut hangat oleh keluarga

―hmh.. alangkah senang dan bahagianya kami kui-ko dan ji- sute dengan kunjungan ini , ―demikian juga kami hui-te , selain dari kunjungan keluarga ini hui-sute kami juga ingin

memperkuat kedudukan disini , :‖hmh… tentu kui-ko melakukan hal ini memiliki dasar yang amat kuat sehingga meninggalkan selatan ― , ―benar hui-te , alasannya adalah selatan merupakan pintu terakhir dari misi pah-sim-sai-jin dan sekarang timur berhadapan langsung dengan pah-sim-sai-jin ― , ―dan tentu kata memeperkuat ada sesuatu yang harus kami ketahui kui-ko !? ,

―benar hui-te ! karena perlu si-te dan semua keluarga ketahui bahwa pah-sim-sai-jin ada hubungan dekat dengan perguruan kita tidak hanya melalui kong-bo-couw khu-gin-bi tapi juga melalui sumber ilmu keluarga kita bukek-siansu ―, ―maksudnya bagaimana kui-ko !? ― , ―maksudnya begini si-sute ! , pah-sim- sai-jin mewarisi ilmu dari han-bu-ong , dan han-bu-ong ini adalah sute dari bukek-siansu , jadi termasuk susiok dari kong- couw kita kim-khong-taihap ― semua keluarga mengengguk- angguk ―dan juga si –sute perlu ketahui bahwa menurut petunjuk dari supek-kong-couw koai lojin bahwa sepertinya kita tidak bisa menewaskan pah-sim-sai-jin dan hanya mampu bertahan itupun dengan ilmu ―in-hong-sin-kin‖ dan menurut yang saya pahami jika hanya dengan in-hong-sin-kin kita dapat bertahan dari hawa tubuh pah-sim-sai-jin itu artinya pah-sim-sai-jin tidak boleh terluka ― , ―hmh.. luar biasa kalau begitu pah-sim-sin-jin ini

― sela kwee-ming ― benar ming-te , lalu bagaimana rencana kui- ko selanjutnya ? , ―saya dan ji sute mempunyai pemikiran , jika kita dapat menghalau pah-sim-sin-jin dengan ―in-hong-sin-kin‖ kita akan dapat merebut utara kembali dan menekan dia kembali kebarat setidaknya menempatkan dia hanya bertahan dilijiang sudah merupakan hasil cemerlang bagi usaha kita menatalisir keadaan ― , ―hmh… tepat dan bagus sekali pemikiran itu kui-ko , jadi kapan kita berangkat ― sahut jin-hui bersemangat

―kita akan berangkat keutara setelah memilih anak buah disamping pat-hong-heng-te , ―itu bisa kita lakukan dengan membawa seluruh kauwsu dan taihap kui-ko ! ― , ―ya.. itu benar

, jadi besok kita akan ketempat di pusat kota yang hui-te bentuk dan membicarakan hal itu disana ― hmh… ya.. baiklah kalau begitu kui-ko ― sahut jin-hui dan kemudian percakapan diarahkan kehal lain yang lebih kekeluatgaan lalu setelah agak larut she-taihap beristirahat

kungcu kota pengbun yakni song-peng-in sedang mengadakan pesta pernikahan putranya dengan putri sim-wangwe , pesta diadakan di rumah sim-wangwe , undangan pesta itu tidaklah banyak hanya sekitar tujuh puluh orang yang terdiri dari tetangga dan aparat bawahan kungcu , keadaan itu memang dimaklumi karena kondisi yang mereka alami yang dibawah tekanan tirani pah-sim-sai-jin yang anggotanya selalu membuat terror pada kehidupan mereka

ketika lie-suhu dari kelenteng selatan kota sedang memimpin upacara dua terdengar deru lari kuda mengarah ke tempat pesta , para undangan jadi panik dan kacau suara derap lari kuda itu sudah menjadikan ciri khas kemunculan pasukan pak- sek-hek-te , dan memang kecemasan itu beralasan , rombongan berkuda yang muncul tanpa turun dari kuda memporak-porandakan pesta , para undangan yang tidak sempat bersembunyi terduduk dengan gemetar , diantar mereka itu lie-suhu , kedua mempelai dan beberapa tamu undangan

―hahaha…hahaha…. Mempelai wanitanya boleh juga twako ― ,

―hmh… kalau lumayan angkat ! sahut yang dipanggil twako sambil meraih panggang ayaam diatas meja dari kudanya , dengan rakus panggang ayam itu di lahapnya sehingga mulutnya belepotan minyak dan gajih panggang dan bumbu , mempelai laki-laki yang mendengar bahwa iastrinya akan di ciduk dia nekad berdiri , ―pergi kalian ! jangan ganggu kami ! ― , hahaha..hahaha , wah nekad juga laki-lakinya twako ! , ―ya , tentulah ia nekad karena malam pertamanya kita yang gantikan

! heheheh … hahaha …‖ ―nah ..! ini akibat jika kamu berlaku nekad menentang pak-kek- hek-te !‖ orang itu membentak sembari pedangnya bergerak cepat hendak menebas kepala mempelai laki-laki ,

―crook…adooouh‖ terdengar jeritan anak buah pak-kek-hek-te yang hendak menebas batang leher mempelai laki-laki namun yang tertebas malah kakinya sendiri karena sebelum mengenai leher mempelai laki-laki tiba-tiba pedang itu melenceng kebawah dan membabat kakinya , reka-rekannya pada terkejut akan kejadian itu namun tidak belalu lama dua orang muncul dengan sikap keren keduanya adalah san-kui dan jin-hui

she-taihap sudah sampai di kota pengbun setelah hasil rapat di hehat diputuskan bahwa sebaiknya mereka tidak berombongan besar kalau cuma menyisir daerah dan mengahalau pah-sim- sai-jin supaya menjauhi timur , oleh tujuh she-taihap hal itu diterima , maka dua minggu kemudian mereka meninggalkan hehat beserta dua puluh pat-hong-heng-te , perjalanan dilakukan dengan lambat disetiap desa dan kota yang dilewati rombongan she-taihap setidaknya tiga hari singgah baru kemudian melanjutkan perjalanan

sehingga enam bulan kemudian she-taihap sampai dikota pengbun kota ke lima dari tapal batas utara dan timur , she- taihap sudah dua hari di kota itu dan ketika san-kui dan jin-hui sedang bejalan-jalan melihat keadaan tiba-tiba terdengar seruan panik , ―pak-kek-hek-te…‖ mendengar teriakan itu semua orang belarian menyembunyikan diri , dua she-taihap juga bersembunyi , tidak berapa lama dua puluh rombongan berkuda dengan kecepatan tinggi memasuki kota , jalan raya besar itu sepi dan kosong , tanpa memperlambat lari kuda rombongan pak-kek-hek-te melintas pasar sambil tertwa-tawa iseng merobohkan tenda-tenda pedagang jalanan

dua she-taihap mengikuti pak-kek-hek-te hingga sampai di tempat pesta pernikahan putra song-kungcu dan ketika seorang pak-kek-hek-te hendak menebas batang leher mempelai-laki-lai

, jin-hui mengibaskan tangannya sehingga serangkum sin-kang melencengkan pedang dan menebas kakinya sesndiri yang bergantung disisi kuda , ―bangsat… orang darimana yang tidak tahu berhadapan dengan siapa !? , ―hmh… untuk apa mengenal orang yang tidak tahu diri ― balas san-kui , dua puluh penjahat itu mendelik marah , hingga lima dari mereka menerjang dua she-taihap , namun hanya segebrakan lima orang itu melayang dan terhempas dengan nafas sesak dan meringis memegang perut yang mual dan sakit

melihat lima rekan mereka ambruk lalu mereka semua menerjang , namun tiga gebrakan dua she-taihap telah merobohkan mereka semua , tidak ada yang mampu berdiri karena perut yang sakit perih dan mual , semua undangan yang bersembunyi disekitar tempat pseta keluar , sim-wangwe dan istrinya serta song-kungcu dan istrinya juga keluar , dua keluarga itu menjura , ―terimakasih jiwi-in-kong ! anak kami

telah diselamatkan ― , ―sama-sama taijin !, silahkan dilanjutkan pestanya dan kami juga ingin menyaksikan pernikahan ini ― , mendengar itu sim-kungcu menyuruh pengawalnya untuk mendirikan kursi-kursi yang berserakan , dam tamu yang masih ada hanya tinggal empat puluh , pesta kembali berlangsung sampai makan dan minum , sementara dua puluh pengacau dikumpul dan dijemur jin-hui di terik matarahari empat meter dari lokasi pesta

setelah pesta selaesai dan para tamu kembali kerumah masing- masing , dua she-taihap juga mohon pamit , ―jiwi-in-kong jika boleh menginaplah dirumah kami barang sehari dua hari dirumah saya , karena sebagai kungcu saya merasa perlu berbicara dengan orang yang kiranya bisa membantu keadaan memprihatinkan kota kami ini ― , ―taijin yang mulia , tentu undangan itu akan kami terima , baiklah kami akan menginap dirumah taijin malam ini ― sahut san-kui

setelah kedua puluh orang anak buah pah-sim-sai-jin diikat dan digelandang pengawal kepenjara song-taijin membawa dua she-taihap kerumahnya dan dijamu baik malam itu di rumahnya

, ―kalau boleh kami tahu !? , darimana dan hendak kemanakah jiwi-taihap !?, ―kami dari timur taijin dan hendak menyusuri kondisi utara ini dari makar pah-sim-sai-jin ! ― oooh.. demikiankah jiwi-taihap , ah… senadainya tirani pah-sim-sai-jin dapat dilenyapkan tentulah kehidupan di wilayah utara ini akan normal kembali ― , ―hal itu patut kita usahakan semua taijin , karena tanggung jawab kita sebagai manusia untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan kita ― sahut san-kui

―jiwi-taihap ! orang-orang seperti jiwi taihap sudah tidak ada lagi di wilayah utara ini , sejak malapetaka yang terjadi di yinchuan dimana keluarga she-taihap di habisi oleh pah-sim-sai-jin , yang namanya pendekar sebagai tulang punggung kekuatan masyarakat pudar dan hilang dan meneyedihkannya kejahatan tumbuh dimana-mana , penindasan bersimaharajalela ― keluh song-taijin

―ya..! kami juga taijin ikut memprihatinkan keadaan diutara dan dibarat yang dilanda tirani pah-sim-sai-jin , semoga saja dengan usaha-usaha kita bersama tirani ini dapat kita atasi dan

tanggulangi ― , ―semoga saja jiwi-taihap‖ demikian pembicaraan keluh kesah tentang situasi memprihatinkan dan malam itu berlalu dengan tidak ada kejadian

Keesokan harinya ketika dua she-taihap sedang makan pagi beserta keluarga , seorang pengawal datang menghadap dengan wajah pucat , ―taijin … celaka ! , ―ada apa ! cepat

katakan ! ― song-taijin yang melihat pengawal yang ditempatkan di rumah sim-wangwe datang dengan kondisi pucat seperti itu cemas membayangkan sesuatu yang buruk terjadi dengan

putranya , ―celaka .. taijin , siauw-kongcu dan istrinya hilang dan kami tahu baru pagi ini ‗ song-taijin yang mendengar berita itu langsung berdiri dan memerintahkan pengawal untuk berangkat kerumah besannya

―song-taijin ! , kami juga akan kesana untuk menyelidiki keadaan ! ― dua she-taihap bergerak cepat sgera ketempat sim- wangwe dan istri yang panik , ―loya ! apakah tidak ada yang mencurigakan semalam yang bisa dibuat petunjuk untuk mengetahui apa yang terjadi !? ― san-kui bertanya pada sim- wangwe , ―tidak ada jiwi-taihap , semalam dua puluh pengawal bersiaga di sekitar rumah ini dan tahunya pagi ini putri dan menantu kami tidak ada lagi dikamarnya ― , hmh… san-kui beralih kepada dua puluh pengawal yang juga berada disitu berkumpul setelah kedatangan dua she-taihap

―bagaimana dengan para sicu semua , apakah tidak ada merasa hal yang mencurigakan ! semalam !? ― , ―tidak ada

taihap yang kami rasa mencurigakan semalam ― jawab mereka serempak ― , ―apakah kalian juga tidak ada merasa sesuatu yang janggal terjadi pada diri kalian !? ― jin-hui kembali bertanya

, kedua puluh orang itu saling pandang , lalu seorang dari mereka berkata , kami semua seringkali menguap malam itu , namun taihap kami tidak tertidur dan selalu menjalankan tugas kami berkeliling disekitar rumah ― , ―siapa diantara kalian yang paling tahan begadang !? ― , ―saya taihap ! , ―sicu berapa kali menguap semalam !? ― ―hal itu memang ganjil taihap! saya ini jarang menguap tapi semalam saya rasa ada puluhan kali saya menguap ― jawab pengawal itu

:‖hmh… jika begitu ! adakah diantara sicu yang tahu dimana sarang gerombolan pengacau semalam !? , ―tidak ada yang tahu taihap ― ―kalau begitu bawa kesini salah seorang dari mereka dan kita coba korek keterangan darinya ― dua orang pengawal segera pergi kepenjara yang letaknya sebelah

selatan kota , namun sesampai disana lima belas petugas jaga masih tertidur dan semua tahanan telah lenyap , setelah semuanya dibangunkan merekapun panik mengetahui tahahan hilang bahkan pucat gemetar melihat mayat siauw-kongcu tergeletak tidak bernyawa dengan kepala pecah otak terburai

dua she-taihap yang diberi tahu juga termenung , ―:kalau begitu segera kita menyebar mencarinya , segeralah kalian lakukan , dan kami juga akan melakukannya ! ― seru san-kui dan kedua she-taihap itu berkelabat dari tempat itu menuju likoan dimana rombongan she-taihap menginap

sesampai dilikoan dan bertemu dengan rombongan san-kui menceritakan pengalaman mereka , dan memrintahkan dua puluh pat-hong heng-te bersama kwee-thian berjaga di pintu gerbang sebelah timur sementara san-kui bersama kwee-gun dan jin-hui bersama kwee-ming lalu lai-seng dan kam-hong menyebar ketiga pintu gerbang kota lainnya

apa sebenarnya yang terjadi dengan kedua mempelai dan para tawananan ? , kejadian malam itu memang perbuatan pah-sim- sai-jin , setelah pah-sim sai-jin menyerahkan penanggung jawab pak-kek-hek-te kepada dua puluh murid utamanya , maka dia meninggalkan xining berangkat menuju wilayah timur

, disetiap kota yang dia lalui selalu singgah di markas cabang pak-kek-hek-te yang tempatnya tidak didalam kota akan tetapi di luar kota dihutan atau digunung

ketika pah-sim-sai-jin sampai dimarkas pak-kek-hek-te yang beroperasi di kota pengbun dia hanya menemui sepuluh orang anak buahnya , dengan sikap hormat sepuluh orang itu menjura

―kami siap menerima perintah thian-te-ong ― , ―hmh…. dimana yang lain !? , ―sedang menjalankan tugas didalam menngacau pesta pernikahan di selatan kota thian-te-ong‖ , ―baiklah kalian temui aku setelah mereka datang , lalu dia memasuki pondok dan memasuki sebuah kamar yang disediakan untuknya , namun sampai larut malam dua puluh anak buahnya tidak kembali maka pah-sim-sai-jin keluar dari markas dan memasuki kota pengbun dan langsung keselatan kota , rumah sim- wangwe yang masih nampak bekas pesta siang tadi dan para pengawal hilir mudik disekitar rumah , pah-sim-sai-jin senyum sinis , lalu pah-sim-sai-jin merapal sesuatu dari ilmunya ―toat- beng--hoat-sut‖ lalu diapun menguap , kejadian anehpun terjadi semua pengawal menguap dan pah-sim-saijin segera masuk kedalam kamar pengantin dan kedua mempelai tertidur pulas dimana kedua pengantin masih berbaju lengkap

pah-sim-sai-jin memondong keduanya dan menghilang dari tempat itu , semuanya terjadi dengan cepat sementara keduaa puluh pengawal hanya asik menguap dan menguap karena disaat menguap pikiran kosong gerakan-gerakan samar dan cepat disangka hanya perubahan pandangan karena munculnya kaca air pada mata akibat menguap

pah-sim-sai-jin membawa mempelai ke gerbang barat dan meletakkan didalam hutan , kemudian mengetuk kepala mempelai laki-laki sehingga seketika sadar , siauw kongcu terkejut dan ketakutan melihat mereka berada dihutan dan dihadapannya seorang lelaki tinggi berwajah burik , ―siapa

kau..!? ― spontan dia bertanya dalam kebingungan , ―kamu yang jawab pertanyan saya , kemana anak buah saya yang dua puluh orang yang mendatangi pestamu tadi siang ― , ―a..aku

tidak tahu , ―plak…‖ jawaban siauw-kongcu dibalas tamparan hingga mulutnya berdarah dan giginya ambrol ,

―me..me..mereka dibawa kepenjara di selatan kota ― jawabnya terbata-bata , lalu dia terkejut tubuhnya melayang dibawa terbang

pah-sim-sai-jin membawa siauw-kongcu keselatan kota dimana penjara itu berada , sesampai di depan penjara lima belas penjaga semua disirep oleh pah-sim-sai-jin hingga tertidur , lalu mengambil kunci penjara dan melepaskan anak buahnya , melihat kehadiran raja mereka , kedua puluh orang itu merasa gembira , setelah mereka keluar siuaw-kongcu dilemparkan kedalam oleh pah-sim-sai-jin dengan kepala sudah pecah berantakan tewas

pah-sim-sai-jin dan kedua puluh anak buahnya kembali kemarkas dan tubuh sim-eng putri sim-wangwe yang masih tidak sadar di dalam hutan dibawa kemarkas , sesampai dimarkas , ―kalian ini kenapa !? kenapa kalian sampai dipenjara

! ― bentak pah-sim-sai-jin , ― , ―thian-te-ong , kami tidak berkutik menghadapi dua orang yang tiba-tiba muncul ― ,jawab pimpinan markas cabang ―kalian tahu siapa kedua orang itu !?‖ , ―kami tidak tahu thian-te-ong tapi kelihatannya mereka itu pendekar dari wilayah timur , karena selama ini kami tidak mengetahui ada pendekar di kota ini maupun kota lainnya yang mengarah ketimur ― , ―sudah kalau begitu , aku akan menemui mereka besok ― pah-sim-sai-jin kembali kekamarnya dimana sim-eng tergeletak tidak sadarkan diri , pah-sim-sai-jin malam itu mereguk kenikmatan birahinya diatas tubuh sim-eng yang tidak berdaya

keesokan harinya pah-sim-sai-jin terbangun saat mendengar keluhan sim-eng , sim-eng menyadari keadaan dirinya saat bangun pagi itu , tubuhnya yang telanjang sesaat membuat dia merona bersemu malu karena dia ingat semalam di digendong suaminya keranjang pengantin , kemudian dia menatap lelaki yang tertidur disampingnya dan betapa terkejutnya sim-eng bahwa lelaki itu bukan suaminya sehingga ia mengeluh dan menjerit ketakutan dan itu sudah lebih dari cukup menyadarkan pah-sim-sai-jin , sim-eng semakin ketakutan dan menutupi ketelanjangannya dengan selimut , dan hal ini membakar kembali birahi pah-sim-sai-jin sehingga dia menarik selimut dan berusaha dipertahankan sim-eng sambil menjerit ,

―tidaakk..jangan…. ― namun sim-eng tidak berdaya kembali tubuhnya dipermainkan oleh pah-sim-sai-jin dan kali ini ia sadar dan merasakan semuanya dan ini lebih membuat dia merana dan menagis perih , sampai siang hari tubuhnya jadi permainan dan setelah itu pah-sim-sai-jin menyerahkan sim-eng kepada anak buahnya yang senyum cengengesan menerima tubuh telanjang sim-eng ,

pah-sim-sai-jin keluar dari markas hendak melanjutkan perjalanannya namun di tengah hutan pah sim-sai-jin bertemu dengan lai-seng dan kam-hong yang sedang memperhatikan bekas darah dan beberapa gigi yang berserakan di tanah , dan ketika merasakan gerakan lain mereka segera berdiri dan menatap kedatangan pah-sim-sai-jin , lai-seng yang sudah mengenal wajah pah-sim-sai-jin segera bersiap meloloskan sabuknya

―heh.. ! wajahmu sepertinya kukenal ― seru pah-sim-sai-jin ,

―benar kita pernah bertemu pah-sim-sai-jin , kapan dan dimana tidak perlu kita bicarakan , yang kita bicarakan sekarang kejahatan yang baru saja kamu lakukan‖ ,

―heheh..hahha…hahha , dua pendekar picisan mau menantang pah-sim-sai-jin , sungguh nekad dan minta mati ― pah-sim-sai- jin tiba-tiba menyerang , ―siuut..ctar..wuut… ctar…. ― serangan pah-sim-sai-jin disambut lencuran sabuk dan membuat pah- sim-sai-jin terkejut berkelit dan menghindar sehingga ujung sabuk menghantam tempat kosong

dua she-taihap kembali dengan kesiagaan dalam jurus ―in- hong-sin-kin‖ kemudian dua she-taihap membentuk pormasi serangan yang dahsyat sehinga membuat pah-sim-sai-jin kalang kabut , pertempuran seru berlangsung seru , keroyokan dua she-taihap selama tiga ratus jurus masih dapat diimbangi namun pada jurus selanjutnya pah-sim-sai-jin terdesak dan makin terdesak, beberapa kebutan ujung sabuk telah menghantam tubuhnya , ilmu thian-te-tin-hoat-chit‖ miliknya tidak berdaya di hadapan dua kekuataan im-yang-pat-hoat dari dua she-taihap yang memadukannya dengan jurus ―in-hong- sin-kin‖ dan tubuhnya jadi bulan-bulanan kebutan ujung sabuk yang membuat kulitnya panas

pah-sim-sai-jin marah lalu mencabut pedangnya segera membalas serangan dua sabuk dengan jurus ―beng-cui-in-kiam‖ namun jarak yang jauh membuat ilmu pedangnya tidak maksimal , sementara dua ilmu sabuk yang dimainkan kedua she-taihap luar biasa tingginya pedangnya tidak mampu memutuskan sabuk yang lembut namun cekatan meliuk menghindar tebasan pedangnya , pah-sim-sai-jin hendak menangkap sabuk namun selalu gagal karena tubuhnya selalu dihantam sabuk lainnya , mungkin kalau hanya seorang dari she-taihap pah-sim-sai-jin akan mampun menangkap ujung sabuk namun kali ini dia berhadapan dengan dua she-taihap dengan ilmu sabuk luar biasa

habis akal rasanya pah-sim-sai-jin menghadapi ilmu sabuk ini yang juga dibentengi dengan jurus luar biasa yang mengeluarkan hawa ―im-yang‖ , lalu mulutnya komat-kamit ,

―heh..! …. heh… ! kenapa kalian memegang ular ― bentaknya dengan mengunakan ilmu sihirya , sejenak dua she-taihap tercenung melihat kelabatan bahwa sabuk yang mereka pegang berubah bentuk , namun itu hanya sekejab , ilmu sihir pah-sim-sai-jin tidak berguna dihadapan dua she-taihap karena singkang ketiganya tidak jauh berbeda , dan hal yang pasti hawa ―im-yang‖ yang keluar dari jurus im-yang-pat-hoat manawarkan pengaruh jahat sihir tersebut hari sudah berganti malam , pah-sim-sai-jin makin merasa jengkel akibat bertubi-tubinya ujung sabuk mengenai tubuhnya , panas dan membuat perih , pah-sim-sai-jin melihat bahwa kedua musuhnya ini akan mudah mengalahkannya namun sin- kang dari ujung sabuk tidak demikian kuat untuk menjebol dirinya sehingga muntah darah atau bahkan membuat tubuhnya yang perih supaya berdarah , dia melihat bahwa musuhnya ini mengenal betul keadaannya

tiba-tiba pah-sim saijin melompat tinggi dan dan ―cras… wuut…

― pah-sim-sai-jin membacok tangannya dan mengayunkan tangan yang luka itu sehingga darah muncrat dan menegnai tubuh dua she-taihap dan terjadilah hal yang diluar dugan she- taihap , bau apek menyebar membuat hidung meraka gatal dan bangkis-bangkis dan saat itu serangan ―beng-cui-in-kiam‖ melanda kedua she-taihap , nyawa dua she-taihap diujung tanduk namun untung empat larik cahaya menghantam tubuh pah-sim-sai-jin hingga terlempar kuat menabrak pohon hingga tumbang , sementara lai-seng dan kam-hong yang linglung dan bangkis-bangkis dibawa lari dari oleh empat she-taihap yang tiba-tiba muncul

empat bayangan itu segera kepintu gerbang timur , sesampai mereka di gerbang timur kota pat-hong-heng-te menyambut mereka , lai-seng dan kam-hong di baringkan , wajah keduanya pucat dengan nafas sesak , san-kui segera mengeluarkan dua buah pel dan diminumkan kepada lai-seng dan kam-hong ,tidak berapa lama keduanya memuntahkan darah berwarna hijau , kemudian segera keduanya didudukkan san-kui menyalurkan hawa sakti melalu punggung kam-hong sementara jin-hui menyalurkan hawa sakti kepada lai-seng

selama tiga hari baru masa kristis lai-seng dan kam-hong lewat

, untung keluarga she-taihap ini memiliki banyak khazanah pengetahuan baik ilmu silat dan ilmu pengobatan sehingga mereka dapat cepat bertindak dan dua she-taihap tertolong nyawanya , ―hmh. ..bagaimana sekarang perasaan kalian ji-te

!? tanya san-kui , ―sudah makin membaik kui-ko ! jawab lai- seng , ―ceritakanlah bagaimana pertempuran kalia dengan pah- sim-sai-jin‖, ―saat bertemu , kami sudah siang-siang mengeluarkan ―in-hong-sin-kin‖ dan membendung serangannya yang luar biasa dahsyat namun karena perpaduan ―in-hong-sin- kin‖ dan ―im-yang-pat-hoat‖ pah-sim-sai-jin tidak dapat berbuat banyak dan ujung sabuk kami telah membuat dia jadi bulan- bulanan , karena menjaga supaya pah-sim-sai-jin jangan berdarah , maka tenaga kebutan kami batasi , harapan kami supaya dia melarikan diri karena kecapean atau gerah dengan panas kulitnya ― ,jawab lai-seng ―hmh… lalu dia membacok tangannya dan mencecarkan darahnya kepada kalian ― gumam san-kui , ―dan efek darah itu demikian sontak membuat pikiran kosong dan membuat gatal hidung sehingga bangkis-bangkis kui-ko !‖ kam-hong menambhakan ,

―sungguh berbahaya sekali kui-ko dan pantas keluarga kita di yinchuan dan wuhan tidak berdaya menghadapinya kui-ko ― sela lai-seng dengan wajah sedih dan tidak sadar menitikkan air mata , ―kamu kenapa seng-te !? tanya jin-hui , aku dapat merasakan bagaimana tin-ko , bun-ko dan keluarga kita saat linglung dan tidak berdaya itu dirobek-robek pedang hijau pah- sim-sai-jin , hui-ko ! , kengerian itu terbayang di mataku saat aku mengalami kelinglungan akibat mencium bau apek darah pah-sim-sai-jin ― , ―hmh… sudahlah seng-te , kembalikan semua pada thian , jangan hanyut permainan perasaan , semua jenis kematian adalah hantaran dari kehendak thian , saudara kita di yinchuan dan wuhan memang sudah kehendak thian , dan ji-te juga selamat karena kehendak thian ― sela san-kui mengingatkan , semuanya tertunduk hening karena pernyataan san-kui mutlak kebenarannya , lai-seng mengusap air matanya

, ―maafkan aku kui-ko !? , ―tidak mengapa adikku , tidak ada kesalahan dari apa yang kamu rasakan karena langsung merasakan keadaan keluarga kita saat menerima kematian diujung pedah pah-sim-sai-jin , ―kakakmu ini hanya

mengingatkan , jangan larut oleh permainan perasaan ― . ―baik- kui-ko ― jawab lai-seng

―lalu , bagaimana kui-ko , kita semua sudah tahu dalamnya pah-sim-sai-jin , bahkan dia juga mempunyai ilmu sihir , hawa tubuhnya yang bau apek serta darahnya yang berbau apek

juga menjadi kekuatan dahsyat untuk menundukkan lawannya ― sela jin-hui menatap san-kui , ―kita tetap dengan rencana kita hui-te , syukur kita bertemu pah-sim-sai-jin disini , itu artinya lima kota dibelakang kita akan dapat kita kendalikan ―

―tapi kui-ko sepertinya pah-sim-sai-jin mempunyai markas cabang disetiap kota ― sela kam-hong , ―bagaimana hong-te berpikiran seperti itu , ―begini kui-ko , menurut gambaran saya , kedua mempelai diambil dari tempat pesta , lalu dibawa kegerbang barat dan memaksa kongcu itu memberitahu keberadaan anak buahnya , si-kongcu membantah sehingga ditampar dan giginya berserakan , lalu dia dibawa kepenjara setelah mengakui , setelah anak buahnya dilepas kongcu itu dibunuh lalu mereka pergi kemarkas cabang yang menurut saya ada di hutan gerbang barat‖ kam-hong menguraikan gambarannya , ―hmh… bisa jadi hong-te , jadi kalau begitu sebaiknya murid-murid berpatah kebelakang mencari markas cabang pak-kek- hek-te di kota kuiting , sinbun dan kota lainnya yang sudah kita lewati ― sahut san-kui

―demikian juga tepat menurut saya kui-ko , baiklah ..! kalian semua murid-muridku ! kembalilah berpatah balik kebelakang dan disetiap kota empat dari kalian mencari markas cabang pak-kek-hek-te di kota itu dan yang lainnya juga demikian dikota-kota lainnya ― , ―baik suhu akan segera kami lakukan ― dua puluh pat-hong-heng-te menjura kemudian berkelabat dari situ laksana burung garuda terbang

―dan kita akan tetap di gerbang kota ini menjaga kemungkinan pah-sim-sai-jin lewat menuju timur , seng-te , hong-te dan thian- te , kalian tunggu disni , kami akan ke gerbang barat melihat markas itu dan kalau seandainya kita dapat memaksa pah-sim sai-jin keluar dari kota ini dan mundur kebelakang ― , ―baik kui- ko kami akan menanti disini , semoga saja pah-sim-sai-jin keluar dari sini dan kita menutupnya di gerbang utara sehingga peng-bun bisa kita netralisir ― sahut kam-hong

kemudian berangkatlah empat she-taihap kehutan sebelah gerbang barat , dan siangnya sampailah empat she-taihap di markas cabang pak-kek-hek-te , pah-sim-sai-jin dan tiga puluh anak buahnya dengan sikap siaga mengelilingi empat she-

taihap , ―cuh…‖ pah-sim-sai-jin meludah dan senyum dengan sinis , ―apakah kalian ini yang disebut keturunan kim-khong-

taihap !? , ―benar …!‖ , :‖lalu , kalian mau apa kesini !? ― , ― kami ingin supaya kamu kembali ke kwi-ban-san , karena kamu tidak layak ada di tengah masyarakat ! ― sahut san-kui dengan nada lantang , ―phuah… siapa kamu sehingga menentukan dimana aku layak berada !‖ , ―bukan aku yang menentukan pah-sim-sai- jin ! , tapi perbuatanmu yang menentukan kelayakanmu berada

! ― , ―kalian tahu ! bahwa siapa yang berani menghalangi pah- sim-sai-jin akan meregang nyawa !? ― , ―soal mati dan hidup di tangan thian , bukan ditangan pah-sim-sai-jin , kamu harus camkan itu ! ― sahut san-kui dengan tenang

―sialan ..! , omongan kosong di obral , ciaat ..‖ pah-sim-sai-jin menyerang empat she-taihap , namun empat tenaga mendorongnya sekaligus empat ujungan sabuk menghantam tubuhnya yang terlempar , pah-sim-sai-jin berusaha berkelit dan memapaki empat sabuk yang mempermainkannya namun ujung sabuk itu seperti bermata , hampir mendapatkan satu ujung sabuk tiga ujung sabuk menghantamnya , ―sial..! dengus pah-sim-sai-jin , beberapa malam yang lalu ia sudah dipermainkan dan sekarang juga ia dipermainkan , panas rasa hatinya sepanas tubuhnya yang dikepret ujung sabuk

―lalu ia mencabut lagi pedangnya dan dengan cepat membacok tangannya dan menyecarkan darahnya ke arah empat she- taihap , namun ketika pah-sim-sai-jin mencabut pedang empat she-taihap sudah siaga untuk melenting menjauh mengelak cecaran darah dan mereka berhasil dan kemudian berdiri jauh , pah-sim-sai-jin menerjang dengan kecepatan penuh namun empat larik pukulan im-yang-giok-hoat menghantam sehingga tubuhnya mental kebelakang dan terduduk , keempat she- taihap dengan sabuk ditangan yang sebagian melingkar di leher berdiri keren

pah-sim-sai-jin tahu bahwa empat she-taihap tidak berani melukainya , maka dia tersenyum jumawa , ―kalian ini pengecut apa tidak mampu mengalahkanku 1‖ pah-sim-sa-jin mencoba menyinggung harga diri empat she-taihap , tapi dia kecele ketika san-kui menjawab , ―memang kamu ini manusia tidak tahu diri ! , apa kamu tidak merasa bahwa dari tadi kamu sudah kalah dan bulan-bulanan kami ― , ―bangsat ..! ayo dekat kesini biar kusemebelih kalian !‖ bentaknya marah ― kembali menerjang namun untuk kedua kalinya dia terlempar di hantam enpat pukulan sakti

lalu pah-sim sai-jin melompat dan melarikan diri , ―ming-te ! urus ketiga puluh orang itu , dan kemudian susul kami yang mengintai pah-sim-sai-jin ! , dan kamu gun-te kembali ketimur dan ajak saudara kita bergerak keutara ― san-kui berkata sementara tubuhnya sudah mencelat mengikukti pah-sim-sai-jin

, mendengar itu , kwee-ming meloncat kearah anak buah pah- sim-sai-jin sementara kwee-gun mencelat keluar hutan dan menuju ketimur dan kwee-jin-hui menyusul kwee-san-kui

pah-sim-sai-jin lari terus kebarat , dua bayangan she taihap terus bergerak mengintainya sehingga sebulan kemudian pah- sim-sai-jin memasuki kota ceng-kong dan terus menuju gerbang barat dan mendaki sebuah bukit , tiga puluh anggotanya menyambutnya , namun sambutan itu malah membuat hatinya yang jengkel semakin mengkal , baru dua hari dia dimarkas cabang kota ceng-kong dua she-taihap sudah muncul , pertempuranpun berlangsung , namun tetap pah-sim- sai-jin jadi bulan-bulanan dua she-taihap , pah-sim-sai-jin tidak lagi melukai dirinya akan tetapi lari lagi kebarat , dua she-taihap terus mengintai , hingga dua bulan kemudian pah-sim-sai-jin memasuki kota yinchuan , kali ini ia tidak kegerbang barat akan tetapi menuju sebuah hutan disebelah selatan dan sampai pada sebuah goa , didala goa ia berhenti , sementara dua she- taihap terus menuju barat dan menyelidiki markas pak-kek-hek- te

menjelang sore markas tersebutpun ditemukan , tiga puluh anngotapun di tundukkan , dan digiring kedalam kota , pah-sim- sai-jin tidak diketahui kemana perginya , akhirnya san-kui memutuskan untuk menetap di yinchuan di bekas rumah keluarga mereka kwee-an-dua minggu kemudian lima she- taihap sampai di yinchuan dan mereka berkumpul disana ―kita kehilangan jejak pah-sim-sai-jin di kota ini ― , ―lalu apa yang akan kita lakukan kui-ko ! ― tanya kwee-thian , ―kita tidak tahu pasti apakah pah-sim-sai-jin terus ke barat atau bersembunyi di kota ini , jadi kita ambil kecendrungan ke dua bahwa pah-sim- sai-jin masih berada dikota ini ― , ―terus bagaimana rencana selanjutnya kui-ko ?‖ sela lai-seng , ―kita bagi tugas ! , hui-te , seng-te dan hong-te melanjutkan penyisiiran terus kebarat , dan menetralisir setiap kota sampai kekota can-po dan berhenti disana menunggu kedua puluh murid kita datang , sementara saya dan ji-te akan berada disini memastikan keberadaan pah- sim-sai-jin ― , semua she-taihap manggut-manggut

pah-sim-sai-jin didalam goa berpikir keras, kalau begini terus dia akan kalah oleh she-taihap , hatinya gemas dan kecewa dan tidak habis pikir kenapa dia tidak bisa memenangkan she- taihap , ditengah kegundahannya pah-sim-sai-jin membolak balik kitabnya dan kembali ia membaca tulisan gurunya di kitab

―toat-beng--hoat-sut‖ , ketika pah-sim-sai-jin sampai pada kalimat ―empat jadi satu kunci kekuatan ong‖

dia mengulang-ngulang kata kunci , apa maksud kunci kekuatan , empat … jadi satu ,pikiran pah-sim-sai-jin berkecamuk sampai sebulan untuk memecahkan baris terakhir itu , sehingga satu ketika pikirannya mereka-reka , dia memiliki empat kitab , sementara pesan hidup han-bu-ong ada empat , sombong , bohong , menurutkan keinginan dan menganiaya ,

―apakah maksudnya kunci kekuatan suhu ada pada penggabungan inti ilmu keempat kitab ? ― pikir han-bu-ong , lalu dia coba mengambil bagian inti dari empat kitabnya inti dari ilmu ―thian-te-tin-hoat-chit‖ adalah ―thian-te-hang-ciang‖ dan inti dari ilmu pedangnya adalah ―eng-lo-in-kiam‖ , kemudian inti ilmu sihirnya adalah rapalan dan tarikan nafas ilmu ―toat- beng--hoat-sut‖ dan ilmu sin-kang ―hek-lek-hoat , selama tiga hari pah-sim-sai-jin memikirkan gabungan empat inti ilmunya , maka pada pada hari keempat , pah-sim-saijin , mencoba mengepos inti sin-kangnya , kemudian mencoba memasukkan rafalan ilmu sihir pada tenaga sakti , dia merasakan gelombang dingin merasuki dadanya , kemudian dia menggerakkan tangan sesuai dengan gerak tangannya sesuai thian-te-hang-ciang dengan posisi tangan kanan membuat lingkaran penuh tiga kali sementara posisi tangan kiri menyembah di depan dada , kemudian kaki mengembil gerak kuda-kuda ilmu pedang eng- lo-in-kiam yang mana terpancang rapat sejajar , maka hawa ditubuhnya makin bergelombang dingin dan kadang berubah amat panas akibat serapan kedua kaki pada inti bumi , lalu gerak tangan yang memutar tiga kali ditarik sejajar dengan tangan kiri lalu keduanya dihentakkan kedepan dengan posisi tetap sementara kaki sejajar melangkah kedepan mengiringi hentakan tangan maka sing-kang dengan dua hawa yang tersimpan membrodol keluar menghantam dinding , dinding gua bergeming lalu berubah jadi kaca es dan meledak , kemudian bau apek pun menyebar ,pah-sim-sai-jin merasa gembira akhirnya ia ketemukan jawaban setelah melihat hasil pukulannya , walaupun dadanya sesak dan membuat dia pening , dia yakin karena belum mahir sehingga masih mentah, kalau dilatih tentu akan makin matang , pikirnya pah-sim-sai-jin terpaksa keluar gua karena gua itu longsor akibat percobaannya yang pertama , di luar gua ia melatih pukulan barunya dan lama kelamaan makin ringan dan tidak kaku , semakin lama semakin spontan gerakan itu pada tubuhnya , dia mencoba pukulan digerakkan setelah beberapa kedudukan yang terdesak , dari duduk , berpoksai , berbaring , tengkurap , dan dia dapat lakukan dengan lancar

jin-hui , lai-seng dan kam-hong memasuki kota can-po , penyisiran kota yang merka lakukan memang tidak menunjukkan keberadaan pah-sim-sai-jin , sehingga tiap kota dimana markas cabang pak-kek-hek-te dapat di kalahkan dan di tundukkan dalam jangka tiga bulan , dikota can-po mereka terus kepintu barat kota dan mencari markas cabang pak-kek- hek-te , perlawanan tiga puluh orang anak buah tidak ada artinya bagi tiga she-taihap , mereka sebagian ada yang tewas dan yang lain tertwan , kemudian mereka diserahkan ke pada kungcu untuk dipenjara

di kota canpo mereka menunggu kedatangan murid-murid sebagaimana perintah san-kui , dan sebulan kemudian dua puluh pat-hong-heng-te sampai ke can-po dan bergabung dengan suhu mereka , setelah tiga hari merekapun melanjutkan perjalanan menuju xining , dua minggu kemudian disebuah hutan tiga she-taihap menyusun rencana , ―bagaimana menurut kalian ji-te , apa yang akan kita lakukan den dengan kota xining

!?‖ , ―sebelum kita menyerang xining , sebaiknya kita selidiki dulu keadaan disana ― , ―benar apa yang dikatakan hong-ko , hui-ko ! , dengan menyelidiki kekuatan dan juga membaca tempat-tempat dalam kota yang bisa menjadi kelemahan pasukan pak-kek-hek-te‖ sahut lai-seng menimpali , ―baiklah ! kita bertiga akan melakukan penyelidikan malam nanti ― disambut anggukan oleh lai-seng dan kam-hong

Malamnya tiga she-taihap bergerak kekota xining , kota hitam sebagi pusat dari pak-kek-hek-te , suasana semarak , gemerlap kota xining luar biasa menakjubkan , lampu-lampu jalan , berjejer sepanjang jalan pokoan dan pelacuran dipadati banyak orang , hingar bingar suara ketawa dan kata-kata kotor dibarengi cekikian genit dari para wanita penghibur terdengar disani sini , tiga bayangan she-taihap yang berpencar terus bergerak menyusuri membaca lokasi kota , lalu setelah larut malam mereka kembali kehutan dimana dua puluh pat-hong- heng-te menunggu

―bagaimana ji-te ! , apa yang kalian dapat dan ketahui tentang kota xining ― tanya jin-hui , ―disebelah barat kota sampai kepintu gerbang hanya rumah-rumah besar dan kuat dan demikian juga bagian selatan , ― jawan lai-seng , ―lalu hong-te bagaimana ,

―bagian utara dan timur juga demikian hui-ko , hanya diluar gerbang utara jalan yang sebelah sisinya jurang dan bahka ada jembatan layang yang lumayan panjang milintas sungai yang mengalir kedalam kota ― jawab kam-hong , ―hmh… kalau pusat kota tiada lain hanyalah tempat hiburan yang sangat banyak dan tidak pernah sepi ― , ―lalu bagaimana selanjutnya hui-ko ! ― tanya lai-seng ―kita harus membuat mereka panik dengan membakar tiga bagian kota yakni rumah-bagian timur , barat dan selatan , sehingga mereka akan mengarah keutara ― sahut san-kui , ―lalu kapan kita lakukan hui-ko !? ― , besok malam akan kita lakukan ji-te! ― sahut jin-hui , lalu merekapun membagi murid menjadi tiga bagian , dan ketika sore hari merekapun bergerak menuju kota xining , dua puluh tiga bayangan gesit mengintai kota xining , kehidupan malam kota xining berjalan sebagaimana biasa

saat malam sudah larut bayangan-bayangan she-taihap memasuki dapur setiap rumah dan mulai membakar dan dalam waktu yang bersamaan kobaran rumah di barat , selatam dan timur menyala besar , setiap bagian ada sepuluh rumah yang terbakar , orang-orang semua keluar dari dalam rumah , rumah yang terbakar itu semuanya ditinggalkan pennghuninya kepusat kota , ketika semua keluar rumah , tanpa mereka sadari dapur rumah mereka juga terbakar sehingga menambah jumlah titik api , she-taihap dengan bergerak cekatan dan rapi , gesit laksana bayangan menambah titik-titik api sehingga dalam waktu satu jam ditiap bagian kota empat puluh rumah terbakar yang kian lama nyala api kian berkobar besar