-->

Anak-anak Naga (Liong Haizi) Jilid 7

Jilid 7

Setelah dua ratus jurus berlalu, dan malampun merambat, dan pertempuran disinari banyak lampu sehingga tempat itu terang benderang, para tamu yang hendak pulang dilepas oleh Liu-sian dan mantunya, para pejabat sudah pulang sejak hari mulai sore, , sebagian kecil tetangga dan warga juga pulang, dan dari kalangan pendekar tidak seorangpun yang beranjak dari tempat dudukknya, semua terpaku pada pertempuran yang berlangsung, didalam rumah induk liu-sian dan Yang-sian menanti dengan cemas, bersama khu-lian-kim dan para ibu-ibu tetangga.

Karena merasa ilmu tangan kosong tidak bisa menekan pertahanan Fei-lun, para datuk mengeluarkan senjata, empat pedang berkilat menyambar, untungnya Fei-lun dalam keadaan waspada dan siap dengan segala kemungkinan, tiga gebrakan cecaran serangan senjata tidak juga dapat melukai Fei-lun empat datuk merasa marah, mereka kerahkan segala kekuatan dan kegesitan menyerang Fei-lun yang masih bertangan kosong, hal ini membuat para cianpwe cemas dan khawtir, Fei-lun mencoba menghadapi empat kilat pendar pedang ini dengan ilmu “bun-lie-hoat” yang dipadu dengan “liang-hok-bun-hoat”

Tapi hanya sampai tujuh puluh jurus kembali Fei-lun di desak sambaran empat pedang yang bergerak lincah dengan ilmu-ilmu luar biasa dari empat datuk, semua cianpwe khawatir, lalu pek-gan berbisik pada kim-siauw-sin-siucai, pa-sian bersenjata kipas, lemparkanlah kipasmu siucai!” ujar pek-gan, kim-siuaw- siucai melemparkan kipasnya

“siauw-taihap terimalah kipasku!” teriak kim-siauw-sin-siucai, fei-lun dengan tangkas menerima kipas itu, dan langsung mengerahkan ilmu “kwi-hut-san-sian” gerakan luar biasa ini menahan empat pedang, empat datuk merasa terbentur dengan gerakan Fei-lun, dan bahkan sudah kembali mengancam tubuh mereka, ilmu yang dikerahkan fei-lun mereka tahu, karena pernah menghadapinya dulu, namun yang menggerakkan ilmu ini bukan pak-sian, akan tetapi fei-lun dengan “bun-sian-sin-kang” dan “Bun-in-hong” dan tentunya kehebatannya berlipat ganda dari apa yang dimainkan pak-sian.

“tuk..trangg..tranng…” sebuah ketukan tidak bisa dihindarkan liang-lo-mo ketika menghantam lengannya, pedangnya langsung jatuh, namun pedang itu disentil pedang lam-sin-pek, dan liang-lo-mo segera menyambar dengan tangan kirinya, dan serangan kembali menggulung Fei-lun, Fei-lun mengerahkan seluruh teknik yang dikuasainya dalam jurus kipas ini, namun ketika menginjak jurus keseratus dua puluh, kipasnya robek disambar pedang see-hui-kui, dan disaat desakan semakin gencar, fei-lun mengeluarkan “minling-xie-bun-sian” jurus Hung-fei ketika menghadapinya, semua terkejut melihat jurus yang unik itu, terlebih Hung-fei terperangan heran dan takjub, jurus itu demikian sempurna dan kegesitan dan kekuatannya menggeletar menggetarkan arena pertempuran, perpaduan sin-kang, gin-kang dengan jurus minling-xie-bun-hoat, seakan suhu dari han-hui-lun dan liu-sin muncul pada saat itu, empat datuk terdesak hebat luar biasa. jurus kedelapan dari bun-sian-pat-hoat yang dikeluarkan Fei-lun membuat empat datuk kalang kabut.

“duk…hegh..trak..…prok…” dada pek-mou-hek-kwi bergetar dihantam pada saat menulis “hong” hingga dia terhempas memuntahkan darah, untungnya sin-kangnya masih mempu menahan, sehingga ia hanya luka ringan, namun kepala see-hui kui menerima jurus saat menulis “pek” dan tidak ayal kepala see-kui remuk dan otaknya terburai, See-hui-kui tewas seketika, empat lao bekat menyerang dan ingi memperkuat dua datuk setelah pek-mou-hek-kwi dan see-hui-kui jatuh.

Han-fei-lun masih dengan jurus jiplakannya dari Hung-fei, bergerak dengan serangan luar biasa dan baru tujuh gebrakan

“tuk..hegh….hoak..” dada lao-ji dihantam totolan jari Fei-lun yang menulis “in” tak pelak tenaganya tidak kuasa menerima tekanan sin-kang Fei-lun dadanya hancur dan jantung pecah, Lao-ji ambruk tewas dengan mata melotot mengeluarkan darah, melihat itu dua datuk langsung melompat melarikan diri, tiga lao juga segera berkelabat, pek-mou-hek-kwi di sambar lao-liok dan melarikan diri.

Pertempuran seru dan luar biasa itu berakhir, para taihap berseru gembira, suara ucapan selamat gegep gempita menyambut kemenangan siauw-taihap, pek-gan duduk bersimpuh, dan sikap ini langsung diikuti oleh para pendekar

“ah..aduh..cianpwe jangan begitu .! sela Fei-lun bingung dan riskan. “kami hanya bersyukur pada thian ternyata kaki telah diberikan seorang pimpinan yang melebih gambaran kami.” ujar Pek-gan-taihap.

“iya, tapi berdirilah cianpwe dan hohan semua, aku jadi riskan dan tidak patut.” sahut Fei-lun, lalu semua pendekar berdiri dengan rasa puas dan bangga.

Han-hung-fei muncul, dan Fei-lun bersujud

“maafkan saya Han-taihap, aku telah menggunakan ilmu han-taihap.”

“aku tidak tahu bagaimana kamu bisa menirunya, padahal baru sekali kita berhadapan dan aku menggunakan jurus minling-xie-bun-hoat, namun apa yang kulihat malam ini, berkat sin-kang dan ginkangmu yang luar biasa, mebuat jurus itu amat luar biasa, dan jauh keampuhannya dari yang kumiliki.” ujar Han-hung-fei

“han-taihap terlalu memuji, jika tidak tertekan kilatan pedang, tidak akan terpaksa mengeluarkan jurus han- taihap.”

“tidak mengapa, jika seandainya ada yang bersenjata mouwpit, tentunya Pek-gan akan melemparkannya padamu.” ujar Han-hung-fei, lalu dengan gembira mereka menggiring Fei-lun kerumah induk, mereka disambut Liu-sian dan mantunya, pesta pernikahan yang luar biasa, pengantin laki-laki bertarung nyawa menjalani pertempuran luar biasa setelah perhelatan pernikahan, sementara pengantin wanita dag-dig menghawatirkan suaminya.

“bawalah istrimu kekamar lun-ji, dan istirahatlah!” ujar Liu-sian, para cianpwe juga mengangguk setuju dibarengi senyum dan tawa renyah para pendekar, Han-fei-lun dan Yang-sian memasuki kamar pengantin, malam itu dengan mesra Yang-sian melayani suaminya, banyak hal yang dilakukannya sebelum suaminya memasukinya, membuat rasa nyaman pada Fei-lun, dari mengganti baju, melap keringat, memberikan minum, sampai memijit lembut tubuh suaminya hingga tertidur, dan menjelang pagi Han-fei-lun terbangun dan mencumbu istrinya dengan mesra, Yang-sian tersentak merasakan cumbuan dan helaan nafas suaminya, Yang-sian dengan agresif mengimbangi cumbuan suaminya, akhirnya kedua mempelai itu melakukan malam pengantin di penghujung malam yang dingin.

Pagi itu dihutan sebelah timur kota Kaifeng Lam-sin-pek dan rekan-rekannya berhenti, lao-liok menurunkan suhunya yang terluka

“bagaimana keadaanmu pek-mou?” tanya Liang-lomo

“aku tidak apa-apa dan hanya sedikit penyumbatan pada dadaku, sehingga dalam tiga hari ini saya tidak bisa mengerahkan sin-kang.” sahut pek-mou-hek-kwi

“hmh….pemuda itu benar-benar luar biasa.” gumam lam-sin-pek

“tapi bagaimana ia bisa memiliki ilmu si yaoyan!? apakah siuaw-taihap adalah murid si yaoyan?” sela liang- lomo

“tidak mungkin cianpwe, karena kita sudah mendengar dari hung-fei sendiri, bahwa ia kalah dari siauw- taihap.”

“harapan kita satu-satunya adalah sam-cu.” ujar pek-mou-hek-kwi

“tapi kalau siuaw-taihap sendiri menguasai ilmu si yaoyan, sam-cu juga bisa kalah.” sela lao-si

“tapi sepertinya siauw-taihap tidak memiliki ilmu pedang, dan itu peluang sam-cu untuk membunuhnya.” sahut Lam-sin-pek

“pemuda itu aneh, janya mengandalkan ilmu tangan kosong, kipas dia tidak punya, mouwpit juga tidak dia miliki, walhal dia mempelajari ilmu ji-sian.” sela Liang-lomo

“mari kita lanjutkan, kita harus cepat sampai ke huangsan.” sela pek-mou-hek-kwi, lalu rekanan hek-to itu bergerak meninggalkan hutan tersebut. Kwi-ong, Ok-liang dan Sai-ku telah menyelesaikan pelajaran mereka, ilmu tangan kosong bun-sian-pat- hoat dan bun-liong-sian-kiam telah dikuasai dengan baik, selama dua tahun ketiga saudara itu menekuni kitab luar biasa itu, ini kwi-ong sudah berumur dua puluh dua tahun, ok-liang berusia dua puluh tahun dan sai-ku tujuh belas tahun, hari itu ok-liang diuji oleh tiga datuk, pertempuran seru dan luar biasa gesit berlangsung, tiga datuk menyerang dengan cecaran pedang yang luar biasa, tapi ketiga datuk hanya dalam seratus barisan keroyokan tiga datuk sudah kalang kabut dan terdesak hebat, sehingga lima jurus kemudian tiga datuk susul menyusul terluka kena sambar pedang ok-liang yang menngunakan jurus bun- liong-sian-kiam.

“hahaha..hahaha..luar biasa, kalian bertiga kini telah menjadi tiga petarung tanpa tanding, dan kami bangga sekali sam-cu.” ujar Liang-lomo.

“lalu bagaimana dengan fei-lun kongkong? apakah seorang dari kami telah mampu mengalahkannya?” sela sai-ku

“hal itu kalian tidak usah ragukan, dua dari kalian pasti akan dapat menewaskannya.” sahut Liang-lomo “jadi artinya kami masih kalah jika berhadapan satu lawan satu dengan Fei-lun?”

“memang benar, jadi oleh karena itu segeralah kalian membuat rencana untuk melenyapkannya.” sahut Lam-sin-pek

“lalu bagaimana dengan si Yaoyan?” tanya Kwi-ong

“siyaoyan bukan lagi target kalian, dan dia tidak bisa lagi macam-macam dengan kalian, musuh besar kalian sekarang adalah siuaw-taihap atau Fei-lun.” jawab pek-mou-hek-kwi

“kemana kami harus mencari siauw-taihap?” tanya Ok-liang

“dia berada di Kaifeng, tinggal bersama istri dan ibunya.” Jawab liang-lomo

“sejak hari ini dipundak kalian kami serahkan mengurus hek-to, dan jika kalian perlu dengan kami, maka datanglah kesini, karena sejak hari ini kami akan berdiam disini.” ujar Lam-sin-pek

“dari sini kalian kembalilah ke Huangsan, temui ibu-ibu kalian, dari mereka kalian mungkin akan mendapatkan apa-apa yang harus kalian lakukan!” sela pek-mou-hek-kwi

“baiklah kong-kong, kami akan segera menemui ibu dihuangsan.” sahut kwi-ong, lalu ketiga anak naga itu kembali menuruni kong-san, dua tahun yang lalu saja ketiga anak naga ini sudah sangat sakti, terlebih sekarang mereka sudah menguasai ilmu yang membuat kongkong mereka seperti kebakaran jenggot.

Sebulan kemudian mereka sampai di Huangsan dan disambut lao yang tersisa tiga orang lagi, yakni ibu- ibu mereka,

“kalian telah tahu bahwa sekarang dipundak kalian tampuk pimpinan hek-to, jadi berusaha keraslah untuk mempertahankan dan memajukannya.” ujar Lao-si

“kata kongkong musuh kita sekarang adalah siauw-taihap atau si fei-lun.” sela Sai-ku

“benar ku-ji, dendam aliran ini akan tertumpah semua kepadanya, karena paman-pamanmu para lao banyak yang tewas ditangannya.” sahut Lao-si

“dan bahkah kongkong kalian see-hui-kui setahun yang lalu tewas ditangannya.” sela Lao-ngo

“baik dan kalian dengarlah, kongkong kalian telah bersepakat untuk tinggal di kong-san, jika kalian memerlukan ketiganya, kalian tinggal pergi kesana, dan demikian juga kami para ibu kalian, sepakat untuk tinggal disini dan mebesarkan adik-adik kalian.” ujar Lao-liok

“dan juga kalian perlu tahu, bahwa empat wilayah masih ditangan kita, Si-ki dan si-hiang dimasing-masing wilayah masih eksis dan ditakuti oleh kalangan persilatan.” ujar Lao-ngo “menurut ibu apakah kami lansung menemui siauw-taihap dikaifeng atau bagaimana?” tanya Ok-liang

“kalian tidak perlu menemui siauw-taihap, kalian tunggu saja, sebab sudah pasti Ia akan menemui kalian, karena ia adalah pimpinan pek-to, yang jelas kalian harus tetap bersama, hanya dengan bersama kalian bisa mengalahkan siauw-taihap.” sahut Lao-ngo

Sam-cu meninggalkan huangsan setelah seminggu bersama ibu-ibu mereka, kini mereka sedang bverlomba dengan lari cepat melintasi hutan sebelah utara Huangsan, ketiga bayangan laksana kilat itu berpacu saling mendahului hingga siang berganti malam, ketiganya berhenti disebuah lembah, Ok-liang membuat api sementara kwi-ong mencari binatang buruan, tidak lama kwi-ong sudah mendapatkan seekor ular besar, daging ular itu dibakar, aromanya daging bakar menyeruang dibawa hembusan angin malam.

“menurutmu apa yang harus kita lakukan kwi-ong?” tanya Ok-liang “kita harus membuka pusat baru aliran kita.” sahut Kwi-ong

“saya setuju, karena selama ini pusat hek-to ada dihuangsan, dan huangsan didiami ibu-ibu kita, sebaiknya kita membentuk pusat aliran disebuah tempat.” sela Sai-ku

“jika demikian daerah mana yang cocok kita ambil alih?” tanya Ok-liang

“hmh….melihat kedudukan Si-ki, dimana tung-ki berada di Lokyang, lam-ki berada di wuhan, pak-ki di Sinyang, dan see-ki berada di cengdu maka tempat yang tepat di Chang-an.” sahut Kwi-ong, kedua saudaranya mengangguk setuju.

Perayaan tahun baru disambut meriah oleh para warga, anak-nak dan ibu-ibu membanjiri pasar untuk mebeli baju baru dan makanan, serta hiasan maupun petasan, disebuah rumah megah ditengah pasar yang ramai, beberapa pemuda memasang hiasan dihalaman rumah dan gapura pagar rumah, dua orang naik menggantung beberapa petasan, diatas gapura terpampang plakat “kang-jiu-bukoan” (perguruan tangan baja).

Kang-jui bukoan adalah milik seorang kauwsu ternama dikota Chang-an yang bernama Tan-lun dengan julukan “kang-jiu-hiap” (pendekar tangan baja), Tan-lun lelaki tua berumur lima puluh lima tahun, didalam rumahnya yang besar ia hanya ditemani tiga putrinya yang cantik-cantik, disamping seorang menantu dan dua orang keponakannya, kemudian dua pelayan laki-laki dan empat orang pelayan perempuan.

Tan-lun memiliki lima puluh orang murid, Ketiga putri Tan-lun sudah dewasa, yang sulung adalah tan-hwa berumur dua puluh satu tahun, dan sudah menikah dengan murid utamanya Zhang-kin, yang kedua Tan- bwee berumur sembilan belas tahun, dan yang bungsu Tan-siang berumur tujuh belas tahun, istri Tan-lun sudah meninggal lima tahun yang lalu, ketiga putri Tan-lun merias rumah mereka dengan aneka bunga kertas berwarna-warni, sebagai tanda suka cita masuknya tahun baru, Tan-lun sendiri sibuk diruang pustakanya membaca buku, setelah lewat siang, pekerjaan merekapun selesai, empat pelayan sudah menghidangkan makan siang, dan Tan-lun juga sudah memasuki ruang makan, lalu merekapun makan siang

“apa kerja kalian sudah slesai!?” tanya Tan-lun

“sudah ayah, dan beberapa makanan khas juga sudah dipersiapkan untuk para tetangga dan kerabat yang akan berkunjung.” sahut Tan-hwa

“nanti malam kan ada acara pasar malam ditaman kota, kami ingin menyaksikan keramaian dan hiburan yang ada disana, bolehkan ayah?” sela Tan-bwee

“boleh, tapi pulangnya jangan larut malam, ya!?” sahut Tan-lun, Tan-bwee dan Tan-siang tersenyum dan mengangguk.

Malam itu taman kota luar biasa ramainya, berbagai macam hiburan dipertontonkan, dari anak-anak sampai orang dewasa tumpah menyaksikan keramaian ditaman kota, Tan-bwee dan Tan-siang sedang menyaksikan pementasan sandiwara, dua orang kongcu sejak tadi menempel terus disamping kedua dara cantik itu, seorang diantara kedua pemuda itu adalah Gak-tung pacar Tan-bwee, Gak-tung adalah putra Gak-kauwsu pemilik “sin-ho-jiauw-bukoan” (perguruan cakar bangau sakti), sementara sepasang kekasih itu asiyk mengobrol tentang mereka, Tan-siang di rayu habis-habisan can-kongcu.

“besok malam mau kan, kalau saya ajak jalan-jalan?” tanya Can-kongcu dengan senyum manis “nggak tahu, tamu kami besok mungkin banyak, kapan-kapan saja yah.”

“hmh…boleh, tapi kapannya kapan?” “ya, aku tidak bisa pastikan.” “bagaimana kalau minggu depan.”

“hmh….baiklah akan aku usahakan minta izin ayah.” sahut Tan-siang, Can-kongcu merasa lega dan gembira.

Kedua gadis itu pulang kerumah setelah pementasan selesai, di sepanjang perjalanan kedua saudara itu saling menggoda

“can-kongcu minggu depan mau mengajak aku jalan-jalan bwee-cici.”

“hihihi…asyik dong, kalau begitu.” goda Tan-bwee dengan senyum dan kerlingan nakal “iih…aku jadi deg-degkan tahu…!” sela Tan-siang malau

“iya deh, lalu kamu jawab apa sama can-kongcu?” “aku jawab iya, tapi aku belum kenal betul dengan dia.”

“biasa aja lagi, dengan sering bertemu kamu kan bisa menjajaki hatinya.” sahut Tan-bwee.

Ketika kedua dara itu memasuki pusat pasar, keduanya berpapasan dengan sam-cu yang baru memasuki kota Chang-an dan sedang menuju sebuah likoan, ketiga sam-cu menatap dua dara cantik yang tertunduk malu, kwi-ong terpana melihat wajah Tan-bwee, kedua dara itu segera buru-buru masuk kehalaman rumah mereka, Kwi-ong menatap rumah dan melihat plakat yang terpampang di atas gapura, kemudian mereka masuk kedalam likoan persis seberang jalan rumah Tan-kauwsu, seorang pelayan menyambut dan mempersilahkan ketiga tamunya duduk, lalu segera menghidangkan pesanan.

“pelayan, pemilik kang-jiu-bukoan didepan itu siapa?” tanya Kwi-ong “oo, itu bukoan milik Tan-kauwsu, kongcu.” jawab pelayan

“ada pikiran apa sehingga menanya bukoan didepan?” sela Ok-liang

“dua gadis itu masuk ke sana, dan bukoan itu nampaknya besar dan tepat untuk kita kuasai dan ambil alih.”

“tepatnya dimana kwi-ong?” sela Sai-ku

“bukoan ini ditengah pasar, ada likoan dan pokoan yang juga bisa kita ambil alih.”

“hmh..benar juga, bukoan jadi tempat tinggal kita, sementara pokoan, likoan menjadi usaha kita, terlebih nampaknya ada beberapa bangunan yang lumayan besar dan bagus untuk dijadikan rumah bordil.” sela Ok-liang.

Keesokan harinya pasar para warga tumpah keluar rumah menyaksikan arak-arakan, suara petasan susul menyusul membuat riuh dan semarak suasana tahun baru, Sam-cu dari tingkat atas likoan menatap kebawah melihat iring-iringan yang penuh suara bunyi-bunyian yang berpadu dengan suara petasan, Kwi- ong menatap tiga orang perempuan dan tiga orang laki-laki didepan kang-jiu-bukoan, wajah segar Tan- bwee makin mempesona pandangan Kwi-ong. Menjelang siang, para tetangga dan kerabat Tan-kauwsu datang berkunjung kerumahnya, suasana dirumah sangat ramai dan meriah, makan dan minuman dihidangkan, ampau untuk anak-anak juga sudah dipersiapkan Tan-kauwsu, suasana gembira menyelimuti rumah Tan-kauwsu, setelah lewat siang tamu- tamu Tan-kauwsu kembali, dan tidak berapa lama Gak-kauwsu beserta istri dan anaknya dating

“hahaha…selamat tahun baru can-kauwsu!” sapa Tan-kauwsu ramah dan gembira menyambut kedatangan can-kauwsu dihalaman rumahnya

“selamat tahun baru Tan-kauwsu.” sahut Gak-kauwsu

“mari…mari kita kedalam dan mencicipi hidangan kami.” ujar Tan-kauwsu, mereka masuk kedalam, Tan- bwee malu-malu tapi sangat gembira dengan kedatangan keluarga kekasihnya.

“Tan-kauwsu disamping kunjungan tahun baru ini, kami juga punya niat lain yang sangat penting untuk kami sampaikan pada Tan-kauwsu

“oh..ya, ha penting apakah itu gak-kauwsu, katakanlah!”

“hehehe..ini perihal Gak-tung yang sudah berumur dua puluh satu tahun, dan saya lihat bwee-ji juga sangat dekat dengannya, jadi alangkah bagusnya jika keduanya dirangkapkan dalam ikatan pernikahan.” ujar Gak-kauwsu, mendengar bahwa kedatangan keluarga kekasihnya bertujuan melamarnya, Tan-bwee segera meninggalkan ruangan tersebut, kedua orang tua itu saling tertawa renyah.

“paman! bolehkan aku menemui bwee-moi?” sela Gak-tung

“hehehe…silahkan tung-ji, sebaiknya memang demikian.” sahut Tan-kauwsu, Gak-tung segera bangkit dan pergi kedalam, dia sudah sudah disambut hangat Tan-bwee di depan kamarnya, Tan-bwee mengajak Gak- tung ke halaman belakang rumahnya, keduanya saling pandang dan saling senyum.

“Gak-kauwsu niatmu merangkapkan jodoh anakmu dengan putriku, hal yang sangat bagus dan tentunya kita sudah tahu bagaimana hubungan kedua muda-mudi itu selama ini, dan Gak-kauwsu telah menyampaikan maksud baik, maka saya juga tidak akan menolaknya.”

“hehehe…aku dan istri sangat senang dengan disambut baiknya niat kami.” ujar Gak-kauwsu, lalu kedua orang tua itu membicarakan hari baik untuk pernikahan, dan kemudian hal-hal untuk persiapan pernikahan, dan kedua keluarga itu sepakat akan melaksanakan pernikahan putra putrinya dua bulan didepan.

Setelah lewat malam Gak-kauwsu dan keluarganya meninggalkan rumah Tan-kauwsu, rumah itu kembali sepi setelah seharian dikunjungi para tamu, keluarga she-Tan masuk kekamar masing-masing untuk tidur, ditengah kelarutan malam, sam-cu dengan gerakan ringan dan gesit memasuki rumah Tan-lun, Kwi-ong memasuki kamar Tan-bwee, ok-liang memasuki kamar tan-lun, sementara Sai-ku memasuki kamar zhang- kin dan istirinya.

Zhang-kin yang sedang bermesraan dengan istrinya terkejut ketika tiba-tiba melihat kemunculan Ok-liang. “kurangajar! pencuri sialan!” teriak Zhang-kin sambil menerjang Ok-liang,

“wut..plak..plak…buk…hegk..brak..” pukulan zhang-kin luput dan bahkan menerima dua tamparan diwajahnya dan sebuah pukulan pada dadanya yang naasnya mengakhiri hidup zhang-kin, zhang-kin ambruk menimpa meja hingga hancur, organ dadanya ringsek dan hancur sehingga jantungnya pecah akibat pukulan telak Ok-liang yang mengandung sin-kang luar biasa, tanpa bersambat zhang-kin tewas seketika, darah meleleh dari telinga dan matanya, Tan-hwa menjerit histeris dan menyerang Ok-lian, namun dengan gesit OK-liang menangkap tangannya dan menotoknya hingga lemas, Ok-liang yang melihat tan-hwa yang setengah telanjang karena sebelumnya sedang bermesraan dengan suaminya, membuat Ok-liang terbetik birahinya, dengan brutal Ok-liang mlampiaskan nafsunya pada nyonya muda itu, Tan-hwa mengerang beruruai air mata dibawah deru nafas Ok-liang yang menderu dan memburu.

Sementara di kamar Tan-bwee, Kwi-ong dengan mudah menotok keduanya hingga lemas, Tan-bwee tidak berdaya dipermainkan kwi-ong dengan bringas dan gemas, lain hal yang terjadi dikamar Tan-lun, Tan-lun terkejut ketika matanya menangkap bayangan berdiri di samping ranjangnya, dengan sigap ia bangun “buk..hegk..plak..prok…” Tan-lun yang bangkit disambar pukulan sai-ku yang menghantam dadanya hingga ia terhempas kembali keranjanganya dengan nafas sesak, bahkan sebuah tamparan kilat menyambar pipinya dan disusul pada pukulan dikeningnya sehingga Tan-lun tewas seketika dengan otak memburai karena kepalanya pecah.

Rumah she-tan malam itu benar-benar ditimpa bencana yang mngenaskan, Sai-ku setelah membunuh Tan-lun keluar kamar dan menuju ruang tengah, dia duduk dengan santai menunggu dua saudaranya yang masih dalam kamar, saat menjelang pagi sorang keponakan Tan-lun keluar, dia ama terkejut ketika melihat orang asing diruang tamu, namun ketekejutannya hanya sesaat karena sebuah pukulan jarak jauh telah melanda tubuhnya, tubuhnya melabrak tiang besar dan menggeloso kebawah dengan nyawa melayang, lalu Sai-ku memasuki kamar dan tanpa bersambat membunuh kepoanakan kedua tan-lun, kemudian Sai-ku masuk kekamar Tan-siang yang pada saat itu bangun, Tan-siang langsung mlompat dan mengambil pedangnya

“siapa kamu!” bentak Tan-siang

“hehehe..cantik aku adalah pangeranmu.” sahut Sai-ku, Tan-siang dengan amarah mengayunkan pedangnya, namun

“plak..auuhhh…trang…” pedang ditangan tan-siang jatuh kelantai, karena tanganya ditangkap Sai-ku dan diremas sehingga Tan-siang melenguh kesakitan dan melepaskan pedang, Sai-ku dengan senyum melempar Tan-siang ke ranjang dan menerkamnya dengan bringas

“tolooongg…hup…” Tan-siang menjerit namun dibungkam Sai-ku

“sekali kamu menjerit kuhabisi nyawamu!” ancam Sai-ku, Tan-siang pucat ketakutan, dan dia kembali menjerit.

“ti..tidak,,ja..jangan…plak…” teriak Tan-siang berusaha melawan, namun tamparan dipipinya membuat ia pening, Sai-ku merobek-robek baju Tan-siang, lalu dengan seringai birahi setannya mencium dan merejang tubuh Tan-siang, Tan-siang tidak kuasa lagi melawan kecuali hanya pasrah disela-sela isak tangisnya yang pilu, keadaan Tan-siang itu tidak membuat Sai-ku iba, tapi malah makin gemas penuh birahi menggigit dan melumat tubuh Tan-siang.

Saat pagi tiba Ok-liang keluar dari kamar, Tan-hwa dengan hati hancur dan putus asa ditinggal OK-liang segera mndapatkan suaminya yang terbujur tewas, dia menjerit histeris sambil memeluk suaminya, karena putus asa dengan apa yang menimpanya, Tan-hwa membunuh dirinya dengan menusukkan pedang kedadanya, ia pun tewas diatas jasad suaminya.

Kwi-ong menyuruh Tan-bwee memakai baju, lalu menariknya keluar dari kamar, dengan wajah pucat Tan- bwee melihat tumpukan mayat diruang tengah, ayah, kakak dan kakak iparnya, dan dua sepupunya terbujur kaku, Tan-bwee menjerit histeris dan pingsan, satu jam kemudian ia siuman dan melihat adiknya Tan-siang bersimpuh disampingnya, lalu kedua adik beradik itu berpelukan dan menangis iba.

“kalian sudah kehilangan semua keluarga, dan hanya satu pilihan kalian yakni mengikuti keinginan kami.” “si..siapakah kalian yang begini tega membunuhi kelurga kami?” tanya Tan-bwee

“hahaha..hahaha….kami ini adalah sam-cu, aku tidak membunuhmu karena aku suka denganmu.” sahut Kwi-ong

“bunuh saja kami!” teriak Tan-siang

“tidak, kamu tidak boleh mati, karena kamu harus mendampingi saya.” sela Sai-ku.

“kalian dengar, sebaiknya kalian ikuti keinginan kami, sebab kalau tidak kalian akan terus kami siksa.” Ujar kwi-ong, kedua adik itu terdiam penuh rasa iba dan takut, dan sepertinya mereka tidak bisa berbuat apa- apa kecuali menuruti keinginan sam-cu, lalu suasana pembantaian itu di habarkan pada tetangga dengan dalih keluarga She-tan dirampok dan dibunuh, lima peti mati dijejer didepan altar, para tetangga, teman dan kerabat She-tan datang melayat, can-kauwsu dan putranya datang untuk menghibur Tan-bwee

“apakah kamu tidak mengenal atau melihat pembunuhnya bwee-ji!?” tanya Can-kauwsu “saya tidak mengenalnya paman.” sahut Tan-bwee sambil terisak “baik, kamu tenang saja bwee-ji, kami akan balaskan dendam keluargamu, dan sebaiknya apa yang telah kami sepakati semalam dengan ayahmu, sebaiknya kamu dengan adikmu setelah pemakaman tinggallah dirumah kami” ujar Can-kauwsu

“tidak paman, aku tidak bisa.” sahut Tan-bwee

“kenapa bwee-ji, kamilah sekarang keluargamu, ayahmu sudah sepakat untuk menikahkanmu dengan anakku, dan kamu juga cinta padanya.”

“tapi paman aku tidak bisa, kami telah teraniaya.” sahut Tan-bwee sambil melirik ke pada sam-cu yang berada di antara para pelayat diruangan altar, mendengar kata-kata teraniaya, Can-kawusu terdiam, dia agak menduga bahwa calon memantunya ini telah ditimpa hal yang memalukan.

“baiklah, jika demikian kami tidak memaksa lagi.” sahut Can-kauwsu, lalu kembali keruang altar, menjelang keluarga she-tan pun di makamkan.

Tan-bwee-dan Tan-siang kembali kerumah, sam-cu dengan berada diantara para pelayat tidak dicurigai teman-teman she-tan, ketiganya mengawasi gerak-grik dua gadis putri Tan-lun, kdua adik bradik itu bingung, ssampainya dirumah, namun kmunculan sam-cu mmbuat mereka tegang dan ketakutan

“bagus! kalian berdua sejauh ini mengikuti arahan kami, dan sejak hari ini, kita akan tinggal serumah, hehehe…” ujar Kwi-ong sambil menarik Tan-bwee kekamar

“siang-moi suruh pelayan menghidangkan makanan untuk kami!” ujar Sai-ku, Tan-siang pergi kedapur dan mmrintahkan dua pelayan menyiapkan makanan.

Kehidupan dua kakak beradik itu penuh kesuraman, walaupun mereka diperlakukan layak sebagai istri atau selir, dan ironisnya pada bulan kedua Ok-liang juga menggauli dua adik beradik itu, bahkan keduanya digilir sam-cu, Tan-bwe dan Tan-siang tidak bisa menolak dan terpaksa melayani nafsu sam-cu dengan hati hancur, para pelayan mrasakan kejanggalan itu, karena pernah merekan melihat sai-ku yang kluar dari kamar Tan-bwee, ok-liang dari kamar tan-siang, kadang mlihat kwi-ong keluar dari kamar tan-siang, sai-ku keluar dari kamar tan-bwe

Tiga bulan kemudian kota chang-an gempar, likoan, pokoan dan rumah bordir, bukoan dan piauwkiok didatangi sam-cu, pemiliknya diancam untuk memberikan tiga perempat pendapatan mereka pada Sam- cu, beberapa bukoan yang menentang terkapar tewas dan harta bendanya disita, dalam tiga bulan itu Chang-an berubah jadi kota yang menakutkan, dua bulan kemudian sam-cu sudah menjadi raja di chang- an, kini rumah she-tan dipenuhi banyak wanita cantik yang dijadikan pemuas nafsu sam-cu, Tan-bwee dan Tan-siang menjadi ratu dirumah mereka sendiri, terlebih tan-bwee dan Tan-siang sudah hamil empat bulan, dan sepertinya ayah kedua anak itu masih jelas, yakni kwi-ong dan sai-ku.

Kadaan kota chang-an menjadi buah bibir kalangan bui-lim, nama ketiga sam-cu merbak keseantoro dunia persilatan, si-ki dan si-hiang menyambut gembira gebrakan tiga pimpinan mereka yang benar-benar menguasai Chang-an, sehingga sebulan kemudian tiga pimpinan Ki dan dua belas pimpinan hiang menemui sam-cu di chang-an, pimpinan Kid an hiang di wilayah utara tidak ada yang datang, karena sejak pak-tok di pecundangi siauw-taihap, pak-ki sudah jera dan mengundurkan diri, demikian juga empat pimpinan hiang di wilayah utara.

Kota Kaifeng sejak pernikahan siauw-taihap cendrung jadi tempat yang aman dan nyaman, dengan tetapnya siauw-taihap di kaifeng membuat kota itu ramai dikunjungi para pendekar, terlebih setelah sebulan menikah, Fei-lun mendirikan bukoan, dan acara peresmian bukoan tersebut dihadiri banyak para pendekar aliran pek-to, para cianpwe juga tidak melewatkan peresmian bukoan tersebut, pada bulan keempat peresmian itu dilaksanakan, hati Fei-lun sangat bahagia, karena saat peresmian bukoan, istrinya Yang-sian telah positif hamil.

Bukoan yang didirikan siauw-taihap diberi nama ”sin-siucai-bukoan” (perguruan sastrawan sakti) murid siauw-taihap pada saat peresmian berjumlah sepuluh orang, antara umur tujuh tahun sampai dua belas tahun, seleksi murid siauw-taihap sangat ketat, karena minat dan bakat para murid mesti komplit, yakni disamping cendrung pada BU harus juga memiliki minat dan bakat dibidang BUN, sertaus lebih pendekar menghadiri prsmian “sin-siucai-bukoan” “terimakasih saya sampaikan kepada para loncianpwe, hohan dan taihap semua yang berkenan hadir pada peresmian bukoan yang saya dirikan, tujuan saya mendirikan bukoan ini ada dua, yakni pertama sebagai sarana pengembangan ilmu yang saya miliki dan yang kedua sebagai perpanjangan tangan akan amanah yang loncianpwe dan para hohan bebankan pada saya, dengan adanya murid-murid saya, maka dengan sendirinya amanah ini akan maksimal dapat saya emban, dan juga sekaligus bukoan ini akan berfungsi untuk menjadi ajang pertemuan bagi kita.” ujar Fei-lun, para pendekar menyambut dengan tepuk tangan gemuruh.

“nama bukoan ini adalah “sin-siucai-bukoan” dan tentunya dari nama ini jelas, saya mengharapkan bahwa taruna yang ada disini akan menguasai bun dan bu, dua keahlian ini memang akan sangat jarang dimiliki oleh seorang individu, namun pada intinya seorang manusia haruslah seimbang, disamping diajarkan kemampuan lahirnya mesti juga diajarkan ketajaman pikir dan wawasannya untuk menguatkan batinnya.” ujar siauw-taihap, tepuk gemuruh menyambut penyampaian siauw-taihap.

“saya harap pada peresmian ini para loncianpwe atau para hohan dapat memberikan sepatah dua patah kata,” ujar Fei-lun sambil menjura pada para tamu, setelah siauw-taihap membuka acara, Kim-san-sin- siucai tampil kedepan dan disambut tepuk meriah para undangan.

“loncinapwe, sicu dan taihap yang saya hormati, terlebih pada pimpinan pek-to yang mulia, kita semua merasa senang dan bahagia, karena pimpinan kita siauw-taihap meresmikan bukoan yang unik dan luar biasa, saya katakan unik karena nama bukoan ini jarang ada dudunia persilatan, bukoan siauw-taihap akan menggodok para taruna dengan dua keahlian, yakni kekuatan pikir dan kekuatan fisik, kekuatan nurani dan jasmani, tentunya banyak yang kita harapkan, bahwa akan lahir generasi-generasi tangguh dari bukoan luar biasa ini.” ujar kim-san-sin-siucai sambil bertepuk tangan dan disambut para hadirin dengan tepuk tangan riuh gegap gempita.

Setelah itu pembukaan tirai plakat bukoanpun diadakan, dengan suara tepuk tangan yang riuh dan bercampur suara petasan yang meledak-ledak, seiring taburan bunga yang lepas dari ikatan saat penarikan tirai, lalu para tamu pun di suguhkan makanan dan minuman, persmian yang sangat meriah berjalan sampai sore hari.

Setelah peresmian bukoan para cianpwe dan beberapa pendekar masih menginap dirumah siauw-taihap, mereka beranjangsana hal-hal dunia persilatan sampai jauh malam, keesokan harinya para cianpwe dan pendekar itu mohon pamit, sejak itu hampir setiap bulan para pendekar bermunculan dikota itu, Han-fei-lun yang menjadi batu penjuru pek-to kerap dikunjungi para pendekar untuk beranjangsana hal-hal dunia persilatan, bahkan hal yang paling dikejar para pendekar itu adalah berpibu dengan pimpinan mereka disela-sela pertemuan tersebut.

Setahun kemudian, berita tentang kota Chang-an sampai kekota Kaifeng, Im-kan-kiam-taihap dan tiga orang pendekar lainnya menyampaikan berita itu kehadapan siauw-taihap, sore itu siauw-taihap sedang menggendong anaknya Han-liang-jin yang baru berumur dua bulan, sementara murid-muridnya sedang membaca buku-buku di perpustakaan setelah selesai latihan silat dan membersihkan diri, kedatangan empat orang pendekar itu disambut hangat oleh Fei-lun, Yang-sian segera mengambil anaknya dari gendongan suaminya, dan membawa kedalam, dan juga segera menyuruh pelayan menyuguhkan makanan kecil dan minuman.

“bagaimana keadaan kalian si-sicu?” sapa Fei-lun

“kedaan kami baik-baik saja siauw-taihap, dan bagaimana dengan siauw-taihap dan keluarga?” sahut im- kan-kiam-taihap

“kedaanku dan keluarga baik-baik jug a im-kan-kiam-taihap.”

“syukurlah kalau begitu, kedatangan kami ingin menyampaikan hal yang memprihatinkan siuaw-taihap?” “hal apakah itu sicu?”

“hal kota chang-an yang diliputi tirani dari sam-cu, warga disana sangat memprihatinkan siauw-taihap” “hmh…sam-cu, berarti tiga pemuda anak-anak lao.” “demikianlah siauw-taihap, jadi apa yang harus kita lakukan, saya dengar sam-cu ini sangat luar biasa, dan melebihi para datuk.

“hal itu memang benar im-kan-kiam-taihap, tiga pemuda ini sangat luar biasa, saat kemunculan pertama mereka saja mereka sudah sangat hebat, apalagi sekarang.”

“lalu bagaimana taihap? apa tindakan kita untuk melenyapkan tirani yang menggayut dikota chang-an?” “sepertinya saya harus kesana Im-kan-kiam-taihap.” sahut Fei-lun

“kalau begitu kami merasa lega, jika siauw-taihap akan kesana, apakah kami akan mengiringi siauw- taihap.”

“saya kira tidak perlu, namun si-taihap saya harapkan untuk mengumpulkan para pendekar dan berkumpul di lokyang.”

“apa yang kami lakukan disana siauw-taihap?”

“kedudukan tung-ki berada dilokyang, dan kota itu juga harus kita amankan dari antek-antek datuk.” jawab Fei-lun

“baiklah kalau begitu siauw-taihap, kami pamid dulu, dan kami akan menemui siauw-taihap di lokyang secpatnya.” sahut Im-kan-kiam-taihap, Fei-lun mengangguk, lalu empat pendekar itu meninggalkan rumah siauw-taihap.

Sementara dikota Bicu, Han-hung-fei mendapat laporan bahwa han-piauwkiok di kota Chang-an mendapat masalah serius

“sam-cu di Chang-an telah bertindak sewenang-wenang suhu, ouw-suheng saya dengar telah tewas ditangan sam-cu karena menolak tawaran sam-cu

“sam-cu ini mereka siapa?” tanya han-hung-fei

“saya dengar sam-cu ini bagian dari hek-to yang dipimpin para datuk, ketiganya masih muda suhu.” Sahut muridnya.

“hmh…saya akan kesana untuk minta pertanggung jawaban sam-cu.” ujar Han-hung-fei, kemudian muridnya pergi.

Keesokan harinya diruang tengah, Han-hung-fei mmbicarakannya dengan istrinya. “keaadaan piuawkiok kita di chang-an sangat serius, jadi besok saya harus kesana.”

“apakah murid-muridmu tidak bisa menaggulangi kadaan fei-ko, sehingga kamu harus turun tangan?” “sepertinya tidak kim-moi, karena saya dengar Ouw-ji telah tewas ditangan penjahat itu.”

“mereka itu siapakah fei-ko?”

“mereka digelar dengan sam-cu, dan mereka masih muda.”

“hmh….apakah mungkin orang ini juga penjahat yang mengacau piauwkiok di kaifeng?” sela lian-kim.” diingat perkara kaifeng, hati Hung-fei bergetar.

“apakah sam-cu ini adalah pengacau di kaifeng? kalau benar, berarti sam-cu ini adalah ketiga anakku.” pikir Hung-fei

“bagaimana menurutmu fei-ko?” tanya lian-kim

“hmh..mungkin juga ia, jadi sebaiknya akan aku pastikan.” sahut Hung-fei “kalau benar mereka fei-ko, kamu harus tindak mereka dengan keras, supaya tidak macam-macam lagi dengan piauwkiok kita.” ujar Lian-kim gemas

Keesokan harinya Hung-fei meninggalkan kota Bicu, Hung-fei memacu kudanya dengan cepat, sehingga tiga hari kemudian, ketika sedang menyusuri jalan menuju kota Chang-an, Han-hung-fei melihat segerombolan orang yang hendak melewatkan malam ditepi hutan, mereka adalah gerombolan See-ki yang diketuai oleh wanita paruh baya yang berjulukan siang-mou-bi-kwi, Siang-mou-kwi sedang istirahat didalam sebuah tenda diantara tiga buah tenda yang didirikan.

Gerombolan yang dipimpin oleh See-ki ini sedang menuju kota Chang-an, karena Seluruh Ki dan hiang diundang oleh Sam-cu ke Chang-an, oleh karena itu siang-mou-bi-kwi selaku pimpinan membawa empat pimpinan dan wakil hiang yang ada diwilayahnya, kemudian disamping empat hiang, siang-mou-bi-kwi juga membawa sepuluh anak buahnya yang setarap dengan empat pimpinan hiang, sesuai dengan permintaan sam-cu dalam undangan.

Sembilan belas orang itu sudah seminggu meninggalkan kota Chengdu sebagai pusat See-ki, kemunculan Han-hung-fei yang sedang menelusuri jalan besar ditepi hutan menjadi bahan perhatian bagi gerombolan tersebut, terlebih ketika mereka melihat gagang pedang yang mencuat dibalik punggung Han-hung-fei, Siang-mou-bi-kwi yang mendapat laporan kemunculan Han-hung-fi segera keluar dari dalam tendanya.

“selamat bertemu bun-liong-taihap!” sapa siang-mou-bi-kwi dengan senyum manis dan ramah “selamat berjumpa kouwnio, maaf dengan siapakah saya berhadapan?”

“hihihi…bun-liong-taihap, mungkin tidak mengenal kami, namun bun-liong-taihap adalah ayah dari pimpinan kami, tidak enak rasanya kalau tidak berlaku hormat.”

“apa maksudmu kouwnio?”

“bun-liong-taihap, saya adalah siang-mou-bi-kwi, pimpinan See-ki, atasan saya adalah sam-cu, anak-anak dari bun-liong-taihap.”

“sam-cu adalah anak-anaku? aku tidak mengerti kouwnio apa yang kamu bicarakan.”

“hihi..hihihi…., bun-liong-taihap, sam-cu adalah Han-kwi-ong anak lao-liok, Han-ok-liang anak dari lao-ngo, lalu Han-sai-ku anak dari lao-si, siapakah ayah mereka kalau bukan bun-liong-taihap?” jawab siang-mou- bi-kwi, Han-hung-fei tercenung, tujuannya adalah untuk menemui sam-cu, dan ternyata sam-cu adalah anak-anaknya dari ketiga lao, Hung-fei menjadi bingung

“Han-taihap, karena malam akan tiba sebentar lagi, alangkah bagusnya jika taihap bergabung dengan kami untuk melewatkan malam” sela seorang pimpinan hiang, Han-hung-fei meragu, kenyataan bahwa ia adalah ayah dari sam-cu, bukanlah rahasia dikalangan hek-to, dan sungguh tidak tepat jika ia menafikan kenyataan dengan menolak tawaran tersebut, sebab akan menimbulkan pemikiran bahwa ia memusuhi anak-anaknya karena bagaimanapun gerombolan ini adalah bawahan anak-anaknya.

“hmh..baiklah dan terimakasih telah berlaku ramah kepada saya.” sahut Han-hung-fei

“hihihi…bun-liong-taihap tidak usah sungkan kepada kami.” sela siang-mou-bi-kwi, lalu Han-hung-fei diajak masuk kedalam tenda dan dijamu meriah oleh gerombolan See-ki

“kalian ini hendak kemanakah?” tanya Han-hung-fei

“kami hendak kekota Chang-an untuk memenuhi undangan sam-cu.” jawab siang-mou-bi-kwi

“putra-putra taihap memang luar biasa, kemampuan ketiganya sungguh tidak ada bandingnya lagi, terlebih setelah taihap mewariskan kitab taihap kepada ketiganya.” sela seorang pimpinan hiang

“bagaimana kalian tahu bahwa aku mewariskan ilmuku pada ketiganya?”

“tentulah kami tahu dari ketiga lao yang menjadi ibu mereka.” sela siang-mou-bi-kwi. Han-hung-fei semakin merasa telanjang dihadapan gerombolan See-ki, yang demikian banyak tahu tentang dirinya, kesuraman masa mudanya laksana buku terbuka dikalangan hek-to, dan kenyataan bahwa ia mewariskan ilmunya pada ketiga putranya, menjadikan ia terjebak pada dilema yang rumit, satu sisi ia membenci apa yang dilakukan anak-anaknya, namun ironisnya bahwa ia mewariskan ilmunya pada anak-anaknya ternyata telah menjadi bumerang baginya, karena kalangan hek-to telah memandangnya sebagai kalangan sendiri, dan tentunya sikap ramah See-ki ini dilatar belakangi oleh hal tersebut.

Memikirkan dilema yang membingungkan ini membuat wajah Han-hung-fei kelihatan pucat dan gelisah,

Siang-mou-bi-kwi dapat menyelami perasaan yang mengganjal dalam hati Hung-fei “taihap, kamu kelihatan gelisah, ada apakah?”

“ah..tidak apa-apa kouwnio.” sahut Hung-fei cepat

“taihap mungkin kelelahan, sebaiknya taihap istirahat didalam tenda saya saja.” ujar Siang-mou-bi-kwi. “ti..tidak usah, saya istirahat di luar saja.”

“tidak demikian taihap, kenyamanan taihap menjadi tanggung jawab kami, kami akan merasa bersalah kepada sam-cu, jika kami tidak melayani taihap sebegaimana mestinya.” sahut siang-mou-bi-kwi, Han- hung-fei tercenung dan bingung, sikap ramah ini membuat ia serba salah oleh karena dilema yang ia hadapi.

“baiklah kalau begitu, maaf cuwi sekalian saya duluan istirahat.” ujar Han-hung-fei, karena memang merasa tubuhnya lemas dan mendadak kepalanya pusing memikirkan keadaannya, Siang-mou-bi-kwi membawanya kedalam tenda, saat memasuki tenda, aroma harum semerbak menerpa penciumannya, dan aroma itu melegakannya, siang-mou-bi-kwi adalah seorang wanita cantik berumur tiga puluh delapan tahun, dan sesuai dengan julukannya, dia adalah pecinta dan seorang perempuan yang romantis.

Ketampanan dan kegagahan Bun-liong-taihap menerbitkan seleranya, namun ia tahu bahwa pendekar ini akan sulit menundukkannya, sehingga awalnya ia tidak berniat apa-apa, tapi saat kegalauan yang ia lihat di wajah Bun-liong-taihap, dan tawarannya diterima untuk tidur ditendanya, membuat siang-mou-bi-kwi merasa mendapatkan peluang, rasa romantis menghangatkan hatinya

“aku akan berbuat apa adanya dengan memamfaatkan kegalauan hati bun-liong-taihap.” pikirnya dengan hati berdebar.

“aroma dalam tendamu sangat harum kouwnio.” puji han-hung-fei “hihi…taihap terlalu memuji, apakah aromanya mebuat taihap pusing?”

“ti..tidak, bahkan amat membuat nyaman dan terasa lega.” sahut Hung-fei, hati siang-mou makin berdebar, lalu dengan sikap penuh perhatian, siang-mou-bi-kwi menyiapkan tempat tidur bun-liong-taihap

“taihap, baringlah disini dan istirahatlah!” serunya dengan nada sedikit bergetar dan membuat gerakan menunduk dan pipinya bersemu merah.

“hmh…baik dan terimakasih kownio.” sahut Han-hung-fei, lalu mendekati alas tempat tidur yang agak tebal dan membaringkan tubuhnya.

Dengan sikap malu tapi mau siang-mou-bi-kwi berdiri dan mengambilkan selimut yang memang disengaja belum diambil dari tumpukan bajunya, aroma wangi yang membuat nyaman membuat han-hung-fei terlelap, dia menatap wanita cantik yang berdiri di sampingnya dan sedang membuka lipatan selimut

“siapakah namamu kouwnio?”

“namaku Li-cing taihap.” jawabnya dengan senyum manis, sambil menghamparkan selimut untuk mnyelimuti bun-liong-taihap.

Dengan pandainya Li-cing sambil geser sana-sini tepi selimut, ia bergerak diatas tubuh Han-hung-fei, dan aroma kewanitaan Li-cing yang dipicu oleh birahinya yang terpendam dan tersalur lewat desahan nafasnya membuat han-hung-fei bergetar, dengan lembut Li-cing memandang wajah Han-hung-fei yang tampan dan gagah.

“bagaimana taihap? apakah kamu sudah merasa baikan?” tanya LI-cing dengan tatapan penuh kasih dan senyuman lembut, tatapan itu membuat hung-fei terpana, bahkan darahnya tersirap saat merasakan remasan lembut jemari Li-cing pada lengannya.

“LI-cing, dimanakah nantinya kamu tidur?” tanya Han-hung-fei dengan nada sedikit bergetar, Li-cing menatap dalam ke dalam bola mata hung-fei, lalu tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya kewajah hung-fei

“taihap, bolehkan aku tidur disampingmu?” bisik Li-cing dengan desahan nafas yang penuh aroma birahi yang manja

“ah..a..aku takut tak kuasa mengendalikan diri dan berlaku tidak pantas padamu.”

“fei-ko, a..aku tidak butuh apa-apa kecuali aku hanya ingin tidur disampingmu, lakukanlah padaku apa yang mendesak dalam hatimu, aku juga menginginkan perlakuan itu untuk melewatkan malam yang dingin ini,” bisik Li-cing dan wajahnya semakin dekat dan tangannya sudah menarik tusuk rambutnya, sehingga rambutnya yang gemuk dan panjang jatuh diwajah hung-fei, aroma rambutnya yang harum membuat Hung-fei lupa daratan, birahinya menggelegar, nafasnya kian memburu, dengan sigap tangannya meraih kepala Li-cing dan menariknya kewajahnya, sehingga bibir keduanya bertemu, entah siapa yang mulai, bibir itu saling lumat dan pagut seiring nafas yang memburu.

Li-cing mengelus wajah Hung-fei sambil terus melumat dan menggigit mesra bibir hung-fei, tangan hung- fei meremas punggung Li-cing, dengan deru nafas yang memburu

“fei-ko..oh aku tidak tahan lagi.ah..hmh..” rintih Li-cing dan segera membuka kancing bajunya dan melapaskan baju dan anak baju berwarna pink yang dikenakannya, sikap dan rintihan itu memebuat Hung- fei makin terbakar, Li-cing meremas buah dadanya dan mengarahkan putingnya kemulut hung-fei sambil merintih penuh birahi, bergantian Li-cing mengarahkan puting susunya kemulut hung-fei sambil merintihkan keinginan-keinginan disela nafasnya yang memburu.

Han-hung-fei makin binal dan gemas, wanita yang harum ini sangat pandai membakar dirinya, perlakuan dan rintihannya yang meracau membuat birahi Han-hung-fei bergolak laksana kawah merapi, permainan cinta yang belum pernah ia alami di tunjukkan LI-cing dengan begitu romatisnya, Han-hung-fei lupa segalanya, yang ada hanya tubuh telanjang yang harum dalam pelukannya, malam itu Han-hung-fei mengarungi nikmatnya persanggamaan dengan li-cing yang luar biasa, setiap desahan, gerak permainan dalam ayuana birahi tiada lain hanyalah kenikmatan yang bertubi-tubi dirasakan Han-hung-fei.

Keduanya tidak tidur sampai menjelang pagi, kepuasan nampak dari wajah keduanya, saat Hung-fei terjempas kenikmatan untuk kesekian kalinya, Li-cing bangun sambil memperbaiki rambutnya,

“fei-ko berangkatlah pagi ini, malam yang kita lewati biar tinggal sebagai kenangan saja.” Ujarnya sambil meraih buntalan pakaian Hung-fei

“kenapa engkau menyuruhku pergi cing-moi?” tanya Hung-fei heran sambil duduk

“aku tidak ingin engkau merasa menyesal dan sungkan dengan dirimu diantara anak-anak buahku.” sahut Li-cing sambil memakaiakan baju Hung-fei laksana anak kecil, sesaat Hung-fei tercenung mendengar jawaban Li-cing itu, dan dia merasakan kebenaran kata-kata itu setelah pikirannya kembali pada kenyataan

“bagaimana cing-moi tahu apa yang saya rasakan saat ini?”

“fei-ko sayang, kamu adalah lelaki yang sudah menikah, jadi sedikit banyaknya status itu akan menghantam perasaanmu, dan aku tidak ingin engkau larut dengan penilaian-penilaian yang akan kamu buat pada dirimu, jadi anggap saja hubungan kita semalam hanya kenangan, jadikan ia laksana mimpi, hubungan kita hanya bunga tidur sayang.” sahut Li-cing

“tapi apa yang saya rasakan semalaman ini membuat aku tidak bisa melupakanmu, cing-moi” “hihi..hihi…fei-ko sayang, aku juga tidak bisa melupakan yang kita lakukan semalam, ini adalah mimpi yang tidak terlupakan.”

“ti..tidak cing-moi, bagaimana aku bisa menganggap mimpi, jika aku merasakan kenyataan betapa nikmatnya percintaan kita semalam.”

“fei-ko sayang, aku hanya minta engkau menganggap hubungan kita hanya sekedar mimpi, dan jika koko ingin lagi, dan rindu bercinta denganku, maka datanglah padaku sayang.”

“dimana aku dapat menemuimu cing-moi?”

“aku berada di cengdu, dan dihutan sebelah utara cengdu aku memiliki sebuah rumah paviliun yang disebut paviliun bunga seruni.”

“hmh..baiklah, aku pasti akan kesana menemuimu.”

“aku akan menunggumu Fei-ko sayang, sekarang berangkatlah!” sahut Li-cing dengan senyum lembut sambil mngecup bibir Hung-fei, Hung-fei dipagi buta itu meninggalkan hutan dilepas oleh Li-cing dengan senyum manis lambaian hangat, Hung-fei berlari cepat dan bayangan Li-cing memenuhi pikirannya, sungguh hubungan yang ganjil, namun membuat hati hung-fei ringan dan tidak ada sedikitpun rasa bersalah, hanya saat teringat istrinya baru muncul sekilas sesal, namun kenikmatan luar biasa yang disuguhkan Li-cing membuat rasa sesal itu tawar sektika.

Hal ini sebenarnya dipicu kelamahan jiwa Hung-fei, sejak dia berumah tangga dengan Khu-lian-kim, hakikatnya jiwanya belumlah stabil, ini adalah efek cinta pertama, bak kata orang cinta pertama sangat sulit untuk dilupakan, ibaratnya hujan setahun hendak dikeringkan matahari sehari, tentu bumi tidaklah akan kering, Khu-lian-kim bukan cinta pertama baginya, cinta pertamanya adalah Wan-lin, dan ironisnya sebelum ia meraih cinta pertama itu, ia sudah terjebak pada hubungan kelamin dengan tiga lawan jenisnya, dan walaupun tidak ada cinta dalam hubungan itu, tetap saja membekas, terlebih faktanya hubungan itu membuahkan janin.

Pernikahannya dengan Khu-lian-kim ibarat siang sehari, kondisi jiwanya belum stabil, dan parahnya kejiwaan itu goyah saat dia kembali melakukan hubungan dengan tiga lao, terjadinya hubungan kembali dengan tiga lao, dikarenakan bangkitnya perasaan bahwa ketiga lao pada intinya adalah ibu-anak- anaknya, nah ikatan ini menerbitkan rasa wajar pada orang berjiwa lemah untuk melakukan hubungan dengan wanita yang pernah melahirkan anak-anaknya, dan sejak itu kejiwaan Hung-fei rapuh dan mudah terperangkap dalam hubungan mesum, sehingga kejatuhannya pada pelukan Li-cing membuat hati Hung- fei anteng dan ringan, dan bahkan sudah muncul keinginan untuk melakukannya lagi, terlebih ada sesuatu yang istimewa pada diri Li-cing, yakni permainan cinta yang tidak ia temukan baik pada istrinya maupun pada tiga lao, dan juga sikap dan cara pandang Li-cing tentang hubungan yang mereka lakukan, demikian lepas dan merdeka tanpa beban, laksana hanya sekedar mimpi, bunga tidur yang melelapkan.

Han-hung-fei dengan cepat memacu kudanya, pikirannya saat itu bimbang dan bahkan tidak tahu harus bagaimana ia nantinya jika bertemu dengan anak-anaknya, dengan hati tawar ia memacu kudanya menuju kota Chang-an, tiga hari kemudian Han-hung-fei istirahat ditepi sungai didalam sebuah hutan sambil makan daging ular untuk mengganjal perutnya, dan tiba-tiba tiga lao muncul dihadapannya

“fei-ko!” seru suara itu lembut, Hung-fei terkesima karena tidak menduga akan bertemu dengan tiga lao “kalian rupanya, kalian hendak kemana?”

“hihihi…kami hendak menemui anak kita di chang-an, tapi dibelakang kami mndapatkan rombongan see-ki yang dipimpin oleh siang-mou-bi-kwi, dan dari dia kami tahu bahwa koko juga menuju Chang-an.” sahut Lao-si senyum, sambil duduk manja dihadapan Hung-fei.

“jadi artinya kalian mau menyusulku, begitu?”

“benar fei-ko sayang, dan kami hendak mendampingimu ke chang-an, bukankah koko hendak ke Chang- an?” sela Lao-liok

“hmh..benar, aku memang hendak kekota Chang-an “ada urusan apakah apakah sehingga fei-ko ke chang-an?” tanya Lao-ngo “aku hendak menemui ketiga sam-cu yang ternyata ketiga anakku.”

“hihi…hihi…apakah fei-ko akan memberitahu mereka bahwa kamu adalah ayah mereka dan mengajak mereka ke Bicu?” tanya Lao-liok

“tidak, aku tidak akan memberi tahu pada mereka, aku hanya ingin memperingatkan mereka untuk tidak megacau Han-piauwkiok.”

“kamu harus mengalah fei-ko, kota chang-an milik keriga putra kita, dan seluruh yang menantang harus memang dibungkam.” sela Lao-si

“tapi muridku yang memimpin cabang Han-piauwkiok di chang-an dibunuh.”

“hmh…kalau seandainya mereka tahu bahwa Han-piuawkiok adalah milik ayah mereka, tentunya mereka tidak akan setelengas itu membunuh muridmu.” sahut Lao-ngo

“lalu menurut kalian apa yang harus saya lakukan!?” tanya Hung-fei bingung

“kamu tenang saja fei-ko sayang, biar urusan han-piauwkiok nanti kami akan sampaikan pada ketiga anak kita.” sela Lao-si

“apa yang hendak kamu katakana pada mereka lin-moi?”

“hihihihi…aku akan tetap menjaga rahasiamu didepan mereka, aku akan katakan dimanapun Han-piuwkiok berada supaya tidak boleh di ganggu.”

“jika mereka bertanya alasanya? apa yang akan kamu katakan?”

“anak kita tidak akan menanyakan alasan, jika perintah itu datang dari kami, Fei-ko sayang” sela Lao-ngo dengan senyum sambil membuka bajunya dan turun kedalam sungai

“fei-ko airnya sangat sejuk, apakah koko tidak mau menemaniku mandi?” ajak Lao-ngo dengan senyum nakal dan manja, sebelum Hung-fei menjawab

“Fei-ko marilah kita turun untuk mandi!” sela Lao-si dan segera membuka bajunya didepan Hung-fei, birahi Hung-fei mengglepar nikmat, lao-liok memeluknya dari belakang

“temanilah kami mandi sayang!” bisiknya mesra, bisikan itu amat menggelitik dan membuat darah Hung-fei semakin cepat mengalir, sekali lagi Hung-fei diselimuti birahinya yang tidak terkendali, terlebih kediamannya dengan gelepar birahi membuat Lao-liok semakin berani mengelus selengkangan dan pahanya, bagai tersengat listrik tubuh Hung-fei bergetar penuh birahi, dia langsung membalik tubuh dan mengecup bibir lao-liok, lao-liok yang kegatalan menyambut tidak kalah panasnya, Lao-si yang telanjang dengan nafas memburu menarik celana Hung-fei, dan mencumbu bagian tubuh vagian bawah Hung-fei.

Lao-ngo yang melihat permainan ditepi sungai segera keluar dari sungai terjun dalam pertarungan birahi yang semakin panas, sungguh kasihan pendekar kita yang lemah hati ini, terbenam dalam lautan birahi, terlelap dan pelukan nafsu, dan gelar hek-to padanya sebagai “yaoyan-taihap” (pendekar binal) tidak dipungkiri lagi, dan faktanya memang Hung-fei tersesat dalam lembah nafsunya, lagu punai didahan tidak lagi membekas, syair bahagia sudah terlupakan, yang ada hanya hentakan dan lenguhan birahi yang semakin membara dan membakar jiwanya.

Empat anak manusia itu laksana binatang sedang musim kawin, selama seminggu Han-hung-fei marajut asmara dengan ketiga ibu anak-anaknya, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju chang-an, dan baru saja mereka keluar dari hutan, mereka berpapasan dengan Siauw-taihap Han-fei-lun, kontan wajah Han-hung-fei panas dan merah karena malu berhadapan dengan Han-fei-lun yang menatap heran pada mereka.

Han-Fei-lun yang berangkat dari Kaifeng melakukan perjalanan cepat, hingga sepuluh hari kemudian ia sampai dikota Lok-yang, Han-fei-lun menginap disebuah likoan sambil menunggu para pendekar, dan dua hari kemudian para pendekar yang berjumlah dua puluh memasuki kota Lok-yang, lalu Fei-lun membawa para pendekar memasuki kediaman Tung-ki yang diketuai oleh Ang-bin-mo, kedatangan para pendekar ini membuat seratus anak buah tung-ki terkejut, dan segera melapor pada ang-bin-mo, Ang-bin-mo yang sedang berbicara dengan empat pimpinan dan wakil hiang dan sepuluh anak buah utama, terkejut menerima laporan akan kedatangan siauw-taihap dengan puluhan pendekar.

“untuk apa mereka datang kesini!?” sela Ang-bin-mo gram, lalu bersama rekan-rekannya keluar dri dalam rumah.

“ada apa siauw-taihap, sehingga tanpa diundang kamu mendatangi tempat kami!?”

“kota chang-an telah menjadi berselimut tirani oleh ulah sam-cu pimpinan kalian, dan tentunya akan merembet kekota raja ini, dan sebelum itu terjadi, kami harus cegah dengan membubarkan kalian terlebih dahulu.” sahut siauw-taihap.

“bagsat! kamu kira bisa bertindak semaunya dihadapan kami!” bentak ang-bin-mo dengan muka merah padam

“coba saja ang-bin-mo!” sela toan-bu dengan lantang

“sialan..! serang..!” teriak ang-bin-mo sambil menerkam ke arah toan-bu, puluhan anak buah tung-ki menyerang, dua puluh pendekar menyambut dengan semangat tempur penuh.

“perang tanding hebatpun terjadi di markas besar Tung-ki, para pendekar dengan mengerahkan kemampuan membentur pasukan tung-ki yang berjumlah tujuh kali lipat dengan mereka, namun anak buah tung-ki yang banyak itu laksana disapu badai sehingga mereka kalang kabut dan ambruk tidak berdaya, siauw-taihap berhadapan dengan ang-bin-mo dan empat pimpinan hiang, namun lima orang ini bukanlah tandingan bagi siauw-taihap, hanya dua puluh jurus lima pimpinan ini terlempar dan ambruk dengan luka- luka yang amat parah, bahkan ang-bin-mo meregang nyawa setelah satu jam berkutat dengan rasa perih dan sakit yang mendera perut dan dadanya.

“dan dalam waktu satu jam itu lebih seratus anak buah tung-ki tidak ada lagi yang mampu untuk berdiri, empat puluh orang tewas dan seratus orang terluka parah dan patah tulang dari pihak tung-ki dalam perang kecil itu, sementara tiga otang tewas dari pihak pendekar

“mari kita kuburkan semua yang tewas!” perintah siauw-taihap, tujuh belas pendekar segera menggali beberapa lobang besar dihalaman belakang markas tung-ki, setelah siang berganti malam, penguburan empat puluh tiga mayat pun selesai.

“bagaimana dengan mereka siauw-taihap?” tanya Im-kan-kiam-taihap sambil menatap anak buah tung-ki yang bergelimpangan

“kita ambil alih markas ini dan urus mereka, sebagian kecil dari mereka tidak akan bertahan menjalani pengobatan, dan akan tewas.” sahut siauw-taihap, para pendekar mengangguk dengan taat

“im-kan-kiam-taihap, aku serahkan urusan disini padamu.” “baik siuaw-taihap, hendak kemakah lagi siauw-taihap?” “aku akan ke kota Chang-an untuk menemui sam-cu.”

“baiklah kalau begitu siauw-taihap, kami akan menunggu disini dan akan menanti kabar dari taihap.” sahut mereka serempak.

Keesokan harinya Han-fei-lun meninggalkan kota lok-yang untuk menuju kota chang-an, perjalanan dilakukan dengan santai sambil menikmati pemandangan alam disepanjang perjalanan, dan seminggu kemudian Han-fei-lun yang sedang berjalan santai mendengar gerakan dari pinggir hutan, lalu ia segera sembunyi untuk menmgintai, dan hatinya heran melihat ayahnya keluar bersama tiga lao dari dalam hutan, lalu Han-fei-lun keluar dan berjalan ke arah Han-hung-fei dan tiga lao.

“ternyata paman, hendak kemanakah paman?” sapa siauw-taihap “a.aku..hendak kekota chang-an.” jawab hung-fei, siauw-taihap menatap ketiga lao yang senyum sinis padanya

“ke chang-an bersama tiga lao?” gumamnya heran

“memang kenapa kalao bun-liong-taihap bersama kami ke chang-an?” sela lao-si dengan sorot mata tajam “tidak apa-apa, hanya heran saja, apakah tiga lao akan memperkenalkan ayah pada anak-anaknya?”

“tutup mulutmu fei-lun, dan jangan lancang!” bentak hung-fei marah karena malu, karena diantara golongan pek-to, hanya siauw-taihap yang tahu persis belangnya dimasa muda.

“maafkan saya Bun-liong-taihap, hanya fakta yang saya bicarakan, lalu kenapa taihap demikian marah?” “kamu tudak pantas berbicara seperti itu dihadapanku!”

“kenapa tidak pantas? apakah yang kukauatakan adalah satu kebohongan?” “sudah….untuk apa melayani pemuda ingusan ini fei-ko.” sela lao-ngo sinis “kalian pergi saja lao-ngo, dan bun-liong-taihap akan bersama saya.”

“bangsat kamu sudah kelewat lancang padaku siauw-taihap!” bentak Hung-fei dengan wajah merah padam.

“maaf bun-liong-taihap, pengaruh tiga lao tidak baik untukmu dan keluargamu.”

“siauw-taihap apa kamu tidak tahu berbicara dengan siapa? aku ini sejajar dengan ibumu, kau bisa terhitung anak bagiku, apa ibumu tidak mengajarkan sopan santun padamu!?” tegur hung-fei

“mengingat karena aku terhitung anak bagi taihap, maka aku tidak rela taihap terelelap dan melupakan kenyataan bahwa ada keluarga di kota Bicu.”

“bangsat! menurutmu apa yang kulakukan disini!? kamu tidak pantas mencurigaiku, terlebih yang bukan urusanmu.” bentak hung-fei geram

“sudah! mari kita berangkat koko!?” sela lao-liok

“tunggu dulu, aku juga hendak ke chang-an dan akan menghajar sam-cu yang telah berbuat aniaya di kota chang-an.”

“apa maksudmu mengatakan itu pada kami?” tanya Hung-fei

“aku ingin tahu, apakah aku akan berhadapan dengan bun-liong-taihap, jika melaksanakan niatku?”

“tentu saja, karena sam-cu adalah anak-anakku, dan tidak mau mereka menerima celaka.” sahut han- hung-fei.

“baik kalau begitu, aku akan menghadapi kalian semua, ayah, ibu dan anak.”

“kami sudah disini siauw-taihap, hayo hadapilah kami?” sela Lao-si menantang, dan tiga lao bergerak mengurung Fei-lun

“apakah bun-liong taihap akan membatu tiga lao?” “hehehe..hehhe…apakah kamu takut siauw-taihap?” sela lao-liok “jelas aku takut kalau bun-liong-taihap ikut mngeroyok.”

“kalau begitu kenapa tidak enyah dari hadapan kami!?” bentak lao-ngo “karena bun-liong-taihap belum menjawab pertanyaan saya.” “kenapa engkau terus bertanya padaku?” sela hung-fei genas

“karena aku tidak akan tega berhadapan denganmu, cukuplah sekali kita berhadapan.” “kenapa demikian?” tanya hung-fei heran

“karena taihap kenal dan pernah menolong ibu dan kakekku.” Jawab Fei-lun

“jika kamu tahu aku pernah menolong ibu dan kakekmu, sebaiknya kamu pergi, dan jangan mencoba berlaku lancang terhadap saya.”

“baik aku akan pergi, dan sampai bertemu kembali di kediaman sam-cu.” sahut Fei-lun sambil berkelabat dengan cepat

“sialan! kita harus cepat-cepat ke chang-an! seru lao-si sambil melompat dan berlari kearah berkelabatnya siauw-taihap, hung-fei dan dua lao menyusul, lao-si takjub, sehebat apapun kemampuannya mengejar, tubuh siauw-taihap sudah tidak kelihatan lagi, Han-hung-fei makin lemas tidak bersemangat setelah bertemu dengan siauw-taihap, siauw-taihap yang menyinggung keluarganya sedikit banyaknya membuat hung-fei harus menyelami perbuatannya yang baru-baru ini terjadi.

Tiga lao merasakan perubahan sikap hung-fei

“koko jangan memikirkan apapun yang dikatakan pemuda yang masih hijau itu, yang penting kita harus cepat sampai ke kota chang-an sebelum semuanya terlambat, ketiga anak kita tewas ditangannya.” ujar Lao-si

“aku semakin heran dengan sikap siauw-taihap yang demikian lancang padaku.” gumam hung-fei dengan nada kecewa

“makanya koko, kita harus dapat melenyapkan siauw-taihap yang tidak tahu diri itu.” sela lao-liok, lalu mereka mempercepat lari mereka.

Kediaman Sam-cu pagi sekali sudah didatangi oleh lam-tok dan empat belas anak buahnya , mereka disambut hangat oleh sai-ku

“apakah baru saya yang datang cu-sam?” tanya lam-tok

“benar lam-tok, marilah masuk.” sahut sai-ku sambil mengajak lima belas orang itu masuk, saat malamnya tiga datuk muncul dihadapan sam-cu dan lam-tok serta anak buahnya

“hehehe..hehe..ternyata sukong yang datang.” sela ok-liang, lalu sam-cu berlutut dihadapan tiga datuk. “hehehe..hehehe..bangkitlah sam-cu.” ujar liang-lo-mo, lalu ketiganya bangkit

“bagimana keadaan sukong selama ini?” tanya sai-ku

“keadaan kami baik-baik saja.” sahut lam-sin-pek, lalu jamuan makan dan minumpun dilanjutkan hingga tengah malam, lalu kemudian mereka tidur, keesokan harinya menjelang siang siang-mou-bi-kwi datang beserta empat belas anak buahnya, dan menjelang sore tiga lao pun datang, sam-cu segera bersujud dihadapan ibu-ibu mereka.

Han-hung-fei tidak ikut kekediaman sam-cu, tetapi menginap disebuah likoan, siang itu mereka memasuki kota chang-an

“sebaiknya aku tidak ikut langsung kesana.” ujar Hung-fei

“demikian juga bagus fei-ko, dan pesanmu akan kami sampaikan nantinya pada pertemuan yang kami adakan.” sahut Lao-si, lalu merekapaun berpisah, tiga lao menuju kediaman sam-cu, dan Han-hung-fei mencari penginapan. “silahkan masuk tuan!” sambut seorang pelayan, Hung-fei menatap para tamu, dan hatinya hambar ketika melihat Han-fei-lun sedang makan disudut ruangan, kedua mata mereka saling bertatapan, Hung-fei dibawa pelayan pada sebuah meja kosong lima meja didepan Fei-lun, hidanganpun disiapkan pelayan, Hung-fei makan dengan lahap, sesekali matanya melirik Fei-lun yang juga sedang makan, tiba-tiba empat orang lelaki kekar masuk kedalam likoan, pemilik likoan dengan buru-buru datang menyambut.

“sima-wangwe! kami datang hendak menagih bagian pendapatanmu.”

“baik lauw-sicu, tunggulah sebentar.” sahut sima-wangwe dan berbalik menuju kasir, dan diikuti oleh dua dari penagih tersebut, sima-wangwe mengambil sebuah peti dan meletakkannya diatas meja

“ini bayaran saya bulan ini lauw-sicu.” ujar sima-wangwe, Lauw-ho membuka peti, kemudian menutupnya kembali

“bayaranmu bulan ini lumayan, tapi karena bulan lalu bayaranmu sedikit, kamu harus didenda sebesar dua ratus tail.”

“bu..bulan yang lalu memang tamu saya lagi sepi, dan jika karena itu saya didenda, saya sangat keberatan lauw-sicu”

“maksudmu likoanmu akan kami ambil alih, begitu?” sahut lauw-ho dengan senyum sinis dan pandangan tajam, sima-wangwe terheyak tidak mampu bicara

“bagaimana? kamu bayar denda atau likoanmu kami ambil alih.”

“awalnya sam-cu tidak menyampaikan perihal denda ini.”

“maksudmu saya yang sedang mengada-ngada, ingat sekali lagi kamu menunjukkan rasa engganmu, maka likoan ini saya ambil!” ancam Lauw-ho

Han-fei-lun mendengar jelas perbantahan dimeja kasir itu, sehingga Han-fei-lun bangkit dan melangkah kemeja kasir

“wangwe! saya mau bayar makanan saya “ ujar Fei-lun “sebentar tuan, A-leng! berapa makanan tuan ini?”

“tujuh ketip loya!” jawab A-leng, lalu Fei-lun mengeluarkan tujuh ketip.

“jiwi sicu, wangwe ini mengumpul ketip demi ketip dari hasil usahanya, dan kalian seenaknya saja meminta bagian dari pendapatannya, dan telengasnya lagi bahkan seandainya wangwe ini rugi dalam usahanya, kalian juga tidak mau tahu, dan dengan sombongnya kalian membebankan denda padanya.” ujar Fei-lun

“kamu siapa, sehingga ikut campur urusan sam-cu.” sahut Lauw-ho dengan nada ketus

“saya adalah musuh sam-cu, jadi karena saya adalah musuhnya, tentunya saya akan ikut campur urusannya, bukan?” sahut Fei-lun, Lauw-ho terkejut memandang lekat pada Fei-lun

“orang yang begini terus terang menyatakan musuh sam-cu, tentunya bukan orang sembarangan, aku harus hati-hati.” Pikirnya

“apakah kamu sudah tahu betapa hebatnya sam-cu, atau kamu hanya mengumbar omongan besar.”

“hehehe…hehehe….begini saja, katakan pada sam-cu, bahwa sejak hari ini siuaw-taihap mengambil alih kota Chang-an, dan seluruh kewajiban para orang tertindas didaerah ini ditiadakan.”

“kalau demikian, kamu saja yang katakan pada sam-cu.” sahut Lauw-ho

“baik, jadi kalian sekarang keluar dari likoan ini, karena likoan ini tidak memerlukan tunkang pungut.” sahut Fei-lun tegas dan ketus, kedua orang itu saling pandang “apa lagi! mau aku hajar, hah!?” bentak Fei-lun sehingga keduanya terkejut dan undur

“cepat keluar!” bentak Fei-lun sekali lagi, lauw-ho melambai pada dua rekannya yang duduk dimeja untuk keluar, setelah empat orang itu keluar

“terimakasih taihap, tapi taihap sam-cu memiliki ilmu yang luar biasa.” ujar sima-wangwe dengan nada khawatir

“wangwe tidak usah khawatir, saya akan tuntaskan perkara ini dengan sam-cu.” sahut Fei-lun menyakinkan sima-wangwe, mendengar jawaban Fei-lun, sima-wangwe merasa gembira dan lega.

Han-fei-lun keluar dari likoan, sekilas ia melirik Han-hung-fei yang juga menatapnya, dia juga mendengar jelas pembicaraan pemilik likoan dengan anak buah sam-cu, hatinya tawar untuk membela ketiga anaknya, dia akan menjadi bagian aliran ini jika terus membela ketiga anaknya, yang gaya hidupnya sudah nyata menindas semua orang.

“tunggu dulu siuaw-taihap!”

“apakah bun-liong-taihap memanggil saya?” tanya Fei-lun sambil menoleh Hung-fei

“benar, kesini dan duduklah dulu, aku mau bicara!” sahut Hung-fei, Han-fei-lun melangkah mendekati meja Hung-fei dan duduk didepannya

“ada apakah bun-liong-taihap?” tanya Fei-lun “kamu mau kemana siauw-taihap?”

“setelah melihat tindakan sewenang-wenang sam-cu, maka saya hari ini harus ketempat kediaman mereka.”

“apa kamu akan membunuh mereka?”

“pertama saya akan coba peringatkan, kalau mereka dapat terima dan melepaskan cengkraman mereka pada kota ini untuk apa harus ada korban jiwa, namun jika mereka bersikeras, maka saya akan hadapi mereka dengan menyediakan selembar nyawa saya.” sahut Fei-lun.

“apakah bun-liong-taihap akan mencegah saya?” tanya Fei-lun “tidak, lakukanlah apa yang menurutmu benar.”

“apakah menurut bun-liong-taihap yang akan saya lakukan ini benar?” tanya Fei-lun, Hung-fei mengangguk

“jika benar, apakah bun-liong-taihap akan ikut bahu membahu dengan saya untuk melenyapkan tirani yang menyelubungi kota ini?”

“untuk terjun langsung saya tidak siap, dan semuanya saya serahkan pada siauw-taihap.”

“jika demikian saya tidak dapat memaksa, walaupun menurut saya tanggung jawab ini utamanya terletak dipundak bun-liong-taihap sebagai ayah dan sekaligus guru dari sam-cu, saya sih hanya membantu saja.”

“apakah maksudmu sebagai guru?”

“bukankah bun-liong-taihap telah mewariskan kitab ilmu taihap kepada sam-cu?” sahut Fei-lun, Hung-fei terdiam tidak mampu membantah

“hmh….ini memang kelalaianku, termakan kesuraman pada masa mudaku.” ujar Hung-fei dengan nada sesal “memang sungguh disayangkan bahwa untuk menutupi kesalahan dimasa lalu, dengan membuat kesalahan baru.”

“Fei-lun! cara bicaramu padaku sangat lancang, tidak usah engkau mengguruiku.”

“aku tidak menggurui taihap, aku hanya mengomentari nada sesal dari perkataan taihap.”

“walaupun begitu, seharusnya sebagai orang muda, kamu harusnya menjaga nada bicaramu pada orang tua.”

“maafkan aku jika terkesan lancang dan menggurui, permisi tahap.” “tunggu dulu, apakah ibumu bercerita semuanya tentang aku kepadamu?” “menurutku, ibuku tidak begitu mengenal taihap.”

“kenapa kamu berkata demikian?”

“ibuku mengenal taihap hanya seorang penolong saja, tidak lebih dari itu, dan bagaimana sebenarnya taihap, ibuku sangat buta kayu dan dibutakan hatinya tentang diri taihap”

“apa maksudmu dibutakan hatinya?”

“apakah taihap tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?” “hushhh..fei-lun jaga bicaramu! dan jangan memandang rendah padaku.”

“maaf, jika memang taihap tidak mengerti, itu artinya taihap juga tidak mengenal ibuku, kalian berdua memang tidak sama-sama mengenal, jadi aneh jika taihap menanyakan padaku apakah ibuku menceritakan semua tentang taihap, apakah ada yang harus diceritakan taihap?” sahut Fei-lun, Hung-fei rasa tersudut

“apakah ada yang kamu ketahui, sesuatu yang saya tidak ketahui?” “kalian adalah orang tua yang seharusnya lebih mengetahui.” “hmh…apakah sebenarnya ayahmu adalah aku fei-lun?”

“kenapa taihap berkata demikian?”

“karena she-han yang kamu pakai itu, sebenarnya adalah she-ku bukan?”

“orang she-han banyak, lalu bagaimana taihap meyakini bahwa she-han itu, adalah taihap sendiri, apakah ibuku pernah menikah dengan taihap?”

“fei-lun! kenapa kamu demikian berbelit-belit membicarakan hal ini?” “aku hanya menaati apa yang ibuku pesankan padaku.”

“maksudmu ibumu tidak ingin aku mengetahui bahwa kamu adalah anakku?”

“ibuku telah tercampak taihap, lalu apakah ia harus menghiba diri? dan juga setelah kulihat dan kuteliti secara seksama, yang awalnya aku tidak mengerti kenapa harus mengambil sikap diam, sekarang aku mengerti bahwa tindakan ibuku itu benar.”

“benar menyimpan rahasia, begitu maksudmu?”