-->

Anak-anak Naga (Liong Haizi) Jilid 6

Jilid 6

“eh.ah..bagaimana yah..” sela Fei-lun kikuk dan merasa malu.” mendengar suara bernada kikuk itu semakin mebuat Yang-sian bersemu malau, lalu ia mundur sambil tetap membelakangi sungai, matanya dipejamkan, namun degupan jantungya makin bertalu-talu

“sudah sampai disitu saja aku sudah dapat menjangkau.” ujar Fei-lun, lalu Yang-sian mengulurkan baju Fei-lun, setelah baju itu diterima Fei-lun, Yang-sian kembali bergeser kedepan.

Han-fei-lun segera memakai bajunya sambil menatap mesra punggung Yang-sian yang mebelakanginya “aku sudah memakai baju sian-moi.” ujar Fei-lun,

Yang-sian berdiri dan berbalik, mukanya senyum dan tertunduk, lalu ia memungut baju Fei-lun yang kotor. dan kemudian mencucinya bersama bajunya yang kotor

“kita harus mengeringkan baju ini koko, baru melanjutkan perjalanan.” ujar Yang-sian

“ya…nanti kita jemur baju itu di lembah itu, disini mataharinya redup karena lebatnya hutan.” sahut Fei-lun, setelah Yang-sian selesai mencici baju mereka berjalan kearah lembah, dan sebuah batu besar baju itu dijemut Yang-sian.

Keduanya duduk dibawah sebuah pokok kayu, suara hembusan angin berhembus sepoi-sepoi. “Lun-ko! bagaimanakah perasaanmu?” tanya Yang-hui lembut

“hmh..aku mearasa senang sian-moi, kamu bagaimana?”

“sejak aku ikut denganmu koko, aku sudah senang dan bahagia koko”

“sian-moi aku akan membawamu ke kaifeng bertemu dengan ibu dan kongkong.”

“aku akan ikut kemana saja koko, aku sudah merasa bahwa aku ini milikmu, aku merasa nyaman dan aman bersamamu koko” “hmh..aku merasa sayang padamu sian-moi, aku mungkin telah jatuh cinta padamu.” sahut Fei-lun menatap mata bening Yang-sian dengan mesra, tiba-tiba mata itu terpejam, dan sebutir air mata keluar dan jatuh kepipinya yang memerah.

“lun-ko..! ah..aku sangat bahagia mendengarnya lun-ko, cinta yang kurasakan sejak di pintu gerbag kota sinyang makin menggelora, bahagia ini tidak terperi koko.” desah Yang-sian, Fei-lun meraih jemari Yang- sian dan meremasnya lembut, lalu menarik Yang-hui hingga jatuh pada pelukannya sambil ia membaringkan tubuh, menggeletar tubuh Yang-sian, hatinya berdegup kencang, tubuhnya menggigil ketika pipinya dicium Fei-lun, yang-sian yang berada diatas membalas mencium mata Fei-lun dengan mesra, ciuman itu makin melebar hingga mereka saling melumat, nikmatnya luar biasa, pendar birahi memercik, ciuman itu makin panas seiring pelukan gemas, keduanya berhenti dengan nafas memburu, Yang-sian dengan senyum bahagia membenamkan wajahnya dileher Fei-lun.

Keduanya hening menikmati pendar cinta dalam posisi yang saling berpelukan, cinta mereka lebih kuat ketimbang hentakan birahi yang sempat muncul, kepuasan mereka dapatkan dalam ciuman-ciuman yang tadi mereka lakukan, rasa bahagia membenamkan diri mereka dalam kenikmatan rasa cinta, tidak terasa karena nyaman mereka tertidur dalam hangatnya pelukan.

Saat hari sudah siang Fei-lun bangun.

“sian-moi!” serunya lembut sambil mencium kening Yang-sian, Yang-sian terbangun dan bangkit “sudah siang koko.” ujar Yang-sian

“benar kita harus melanjutkan perjalanan.” sahut Fei-lun, Yang-hui segera berdiri dan mengambil baju meereka yang sudah kering, Yang-sian melipat baju dan memasukkannya kedalam buntalan, Yang-sian menyatukan buntalannya dengan buntalan pakaian Fei-lun

“Kita berangkat koko.” ujar Yang-sian

“hei…hi..hi…hi...” Yang-sian terkejut dan tertawa bahagia karena Fei-lun telah menyambarnya dan berlari dengan cepat

“enakkah menggendongku koko?’ “yah..sangat enak sian-moi.”

“tapi aku yang merasa paling enak, bahkan sangat bahagia, aku sangat dimanja kalau terus begini, hihi..hihi..”

“aku juga bahagia kalau kamu merasa bahagia sian-moi.” sahut Fei-lun mesra. Yang-sian mengeratkan pelukannya pada punggung kekasihnya, rasa nyaman dan aman meliputi seluruh relung batinnya.

Sesampai dikota Hehat, Fei-lun dan Yang-sian istirahat disebuah likoan. Ketika mereka masuk dan duduk disebuah meja, seorang le,laki paruh baya yang tampan selalu menatap wajah Yang-sian, sekali Yang- sain beradu pandang, lelaki itu langsung senyum dan mengedipkan matanya, Yang-sian tertunduk dan merasa tidak senang, karena Yang-sian tidak lagi mau menatapnya, lelaki itu nekat bangkit dan mendekati meja Yang-sian

“hehehe..nona cantik, sungguh pesonamu bagai besi semberani, membuat siapa saja yang memandang akan terpana dan terpukau.” ujarnya merayu, dua orang tamu melihatnya heran, lelaki itu juga melirik kedua orang yang memandangnya, sambil tertawa ia bersyair

“bunga ditaman semerbak mewangi, aromanya menggoda sikumbang jati, sastrawan datang mencium memuji, karena hoa-jai-siucai sedang beraksi, tiada boleh orang iri”

Lalu tangannya mengibas kearah dua orang itu, dan dua buah senjata rahasi berbentuk bunga, yang terbuat dari besi meluncur pesat, dan tiba-tiba hoa-jai0-siucai terkejut, karena dua senjata tahasianya tiba- tiba berhenti dan mengambang diawang, dua orang itu segera bangkit dan menghindar, dan para tamu yang sudah kenal sastarwan genit ini segera menyingkir. Hoa-jai-siucai melonggo memperhatikan senjata rahasianya, dengan penasaran ia menyentuh senjatanya, lalu dia berniat mencomotnya, namun ada kekuatan yang menahannnya, sehingg dicomot dan ditarik bagaimanapun, senjata rahasia itu tidak bergerak.

Hia-jai-siaucai menegrahkan tenaganya

“brak..” tidak terkendali tubuhnya terbanting melabrak meja, karena tiba-tiba senjata yang menggantung itu dilepas tenaga yang memegangnya

“aduh…pinggangku!” keluhnya sambil meringis, dia melirik Yang-sian yang sedikit tersenyum menatapnya, Hoa-jai-siucai melirik orang-orang yang masih ada diruangan, yang ada cuam lima meja yang berisi, yang satu mejanya, kemudian meja Fei-lun dan Yang-sian, yang ketiga meja seorang lelaki tua berumur enma puluh tahun, dan yang keempat meja dua orang lelaki paruh baya berumur empat puluh tahun, dan meja seorang wanita paruh baya yang cantik.

Lelaki tua itu adalah pesilat golongan tua aliran hek-to, dia adalah Hai-ma-kui, dan wanita paruh baya itu adalah lao-liok, dan dua lelaki berumur empat puluh tahun adalah khu-san dan Ma-hung sute dari Si- ciangbujin dari butongpai keduanya didunia persilatan dijuluki “butong-ji-loheng” (dua orang tua butong) “bangsat! siapa yang bermain-main dengan saya, hah..!?” teriaknya sambil melihat orang-orang yang didalam ruangan.

Yang menyelamatkan kedua tamu tadi adalah Fei-lun yang menahan dua senjata rahasia itu dengan sin- kangnya yang tinggi, pengerahan sing-kang itu dilakukan Fei-lun dari sumpit yang ia pegang, sehingga tidak kentara, dan tidak ada yang menduga, dan ketika sumpitnya ia turunkan, sin-kang yang menahan kedua senjata itu kosong sehingga membuat siaucai terbantung oleh tenaganya sendiri.

hai-ma-kui dan Lao-liok saling berpandangan, sementara butong-ji-loheng menatap pada siucai yang berteriak

“eh siucai tampan kamu sendiri yang terjatuh kenapa marah-marah?” sela Lao-liok “jadi kamu yang mempermainkan saya!?”

“heh.. goblok! kamu tadi mau berurusan dengan siapa?” bentak Lao-liok, dibentak begitu siucai melihat ke arah Yang-sian dan Fei-lun

“kamu kenapa pula negok kami sicu? apa kamu tadi mau berurusan dengan kami?” sela Fei-lun

“hehehe..kenapa hoa-jai-siucai bingung sendiri? ada bunga depan mata kok nggak dicium?” sela Hai-ma- kui, siucai duduk kembali kemejanya

“siapapun dari kalian yang telah mempermainkan saya harus mengakui!” “bagaimana kalau tidak ada yang mengakui?” tanya Khu-san

“kalau tidak, aku akan menghajar kalian semua!”

“hahaha..hahaha….aneh sekali kamu siucai, sudah kelabakan dipencundangi orang tanpa kamu duga, malah masih mengancam, itu namanya tidak tahu diri siucai” sahut Ma-hung, muka siucai merah karena marah, lalu menerjang Ma-hung.

Ma-hung berkelit dan membalas menyerang dengan tidak kalah berbahayanya, dua orang hampir sebaya itu saling serang dengan megerahkan jurus-jurus ampuh dan mematikan, serangan Ma-hung semakin lama semakin gencar mendesak Hoa-ji-siucai, akhirnya pada jurus ketujuh puluh

“buk…brak…” pukulan Ma-hung menghantam lambung hoa-ji-siucai, sehingga ia terpapar dan terbanting menimpa kursi sehingga hancur, Ma-hung kembali duduk, Hoa-ji-siucai merayap dan meraih kursi untuk bangkit, lalu duduk dengan nafas memburu.

“jadi bagaimana siucai? apakah bunga yang mekar dan harum akan dibiarkan saja?” tanya Hai-ma-kui “sudahlah, saat ini aku memang dipermalukan.” sahut siucai geram “hehehe..hehehe..mau tahu saran saya hoa-jai-siucai?” ujar Hai-ma-kui “apa maksudmu kakek tua?” tanya hoa-jai-siucai

“supaya kamu jadi kumbang jati kamu harus lebih banyak belajar, bukankah begitu lao-liok?” jawab Hai- ma-kui sambil menatap dengan senyum pada Lao-liok, Fei-lun yang dari tadi mengenal wajah wanita itu, baru tahu bahwa perempuan ini adalah Lao-liok.

“hmh….wajahnya siucai memang tampan Hai-ma-kui, tiga sampai satu minggu tentu bisa jadi teman yang memuaskan.”

“sayang sekali jika ada seorang ibu sedemikian tidak bermalunya menunjukan karakter mesumnya didepan orang banyak.”

“hihi..hihi…pemuda tampan, dari tadi aku gemas amat melihatmu, jika malu maka tidak dapat yang dimau, untuk apa hidup seperti itu?”

“jika malu sidah hilang, maka cara hidup akan seperti binatang.” sela Khu-san

“pandangan setiap orang berbeda-beda, lalu kenapa saudara sesumbar mencela.” sela Hai-mau-kui.

“jika orang tua yang sudah bau tanah tidak peduli, pantaslah generasi tidak tahu diri, berbuat semaunya tanpa dipikiri, orang lain dizalimi, diri tidak sadar sebentar lagi mau mati.” sela Fei-lun

“hehehe..hahaha..anak muda! selagi hidup untuk apa menahan diri, sebab kalau sudah mati anda akan menyesali, karena kepuasan tidak pernah dijalani.” sahut Hai-ma-kui

“orang tua! apakah nafsu akan mengenal puas? faktanya nafsu laksana meminum laut yang luas, semakin diminum lidah kesat tenggorokan diperas, ini namanya menjebak diri pada hal yang tidak pantas.

“hahaha..hehehe…anak muda kamu pandai berdebat, tapi sayang semua pengertian hanya dosa dan pahala yang mengikat, dan itu hanya sebuah kalimat.”

“orang tua! dosa dan pahala berkutat dalam perasaan, karena dosa adalah kegelisahan, sementara pahala adalah kebahagiaan, tolong anda orangtua jeli mamahamkan”

“Hai-ma-kui, untuk apa berdebat membuang tenaga dan hanya capek yang didapat.” sela Lao-liok “hehehe..hehehe..kamu benar lao-liok, tapi kamu tadi dinilai sepihak oleh anak muda yang tampan itu.” “biarkan ia menilai, ia sendiri bersama wanita yang saya yakin bukan istrinya”

“hehehe..menurutmu apakah hubungan keduanya, lao-liok?”

“tentunya kemesuman yang tersembunyi, dasar munafik tidak tahu diri, hihihihi…” sahut Lao-liok Yang-sian yang mendengar itu terasa panas mukanya dan menatap tajam pada lao-liok

“jangan menuduh sembarangan bibi, han-taihap tidak pernah berpikir seperti cara bibi berpikir yang isinya hanya kemesuman.” ujar Yang-sian

“eh..kamu tahu apa tentang laki-laki, mereka hanya pikirkan apa yang ada dibalik bajumu, bukankah begitu siucai? hhihihih..hnihihhi…” sahut Lao-liok

“sudah sian-moi, berdebat orang tidak bermalu, bahkan bangga dengan dirinya yang tidak bermalu, kita akan malu sendiri akhirnya.” sela Fei-lun

“hihihihi….eh Han-taihap takut memperpanjang karena memang memikirkan yang dibalik bajumu nona.” “tuh, tidakkah kamu dengar sendiri, sian-moi? karena dia tidak bermalu, maka semua orang dianggap tidak bermalu

“siauw-taihap, sungguh kami senang, ternyata dapat berjumpa dengan siauw-taihap.” sela khu-san dan Ma-hung sambil berdiri dan merangkap tangan menghormat pada Fei-lun, Fei-lun berdiri dan membalas menghormat

“dengan siapakah saya sedang berhadapan cianpwe?” tanya Fei-lun

“saya adalah khu-san dan ini sute saya Ma-hung, kami adalah butong-ji-loheng, sute dari Si-ciangbujin butong-pai

“oh salemat bertemu Ji-loheng, hari itu kita tidak bertemu, saya adalah Han-fei-lun, dan ini adalah Sian- moi, she-Yang.” sahut Fei-lun.

“selamat bertemu Yan-siocia.” sela Ji-loheng merangkap tangan dan menghormat pada Yang-sian. “selamat bertemu ji-loheng.” sahut Yang-sian membalas dengan senyum

“hehehe…ternyata siauw-taihap itu kamulah orangnya anak muda.” sela Hai-ma-kui, Lao-liok yang mendengar bahwa pemuda itu adalah siauw-taihap, hatinya takut dan nyalinya ciut

“benar, bagaimana orang tua tahu bahwa saya adalah pimpinan pek-to?” tanya Fei-lun “hehehe…aku hanya mendengar cerita, tapi aku kasihan padamu siauw-taihap.” “kenapa hai-ma-kui kasiahan pada siauw-taihap?” sela Khu-san

“hehehe…hehehe….” tawa Hai-ma-kui sambil menoleh pada lao-liok, Lao-liok tidak menjawab, bahkan dia berdiri hendak meninggalkan likoan,

“eh..mau kemana lao-liok!?” tanya Hai-ma-kui heran

“aku buru-buru hendak melanjutkan perjalanan.” sahut Lao-liok “hehehe…hai-ma-kui, lao-liok tentu takut berlama-lama disini.” sela Ma-hung

“takut!?” aku tidak takut sama siapa saja!” sahut Lao-liok dengan keras sambil duduk kembali. “iya tidak mungkin Lao-liok takut, lagian takut sama siapa ji-loheng?”

“sudah ji-loheng, tidak usah dilanjutkan, jika lao-liok mau pergi, kenapa pula ditahan.” sela Fei-lun

“bukan aku yang menahan siauw-taihap, rekannya sendiri hai-ma-kui yang menahannya, hai-ma-kui makin heran dan menoleh pada lao-liok

“lao-liok takut sama siapa?” tanya Hai-ma-kui

“diam kamu hai-ma-kui!” bentak Lao-liok, Hai-ma-kui terperangah. Karena tidak menduga akan dibentak Lao-liok

“sebaiknya pergiilah kalian Hai-ma-kui.” sela Khu-san.”

“aku tidak mau pergi, kamu kira aku takut sama siauw-taihap!?”

“ooh..maaf kalau begitu, kira saya tadi takut, karena teringat cerita kematian dua Lao di shijazuang.” sahut Ma-hung

”dua lao mati!?” bagaimana bisa?” sela Hai-ma-kui terkejut

“makanya aku juga bingung, bagaimana engkau kasihan pada siauw-taihap.” sahut Khu-san “sudahlah, mari sian-moi, kita lanjutkan perjalanan!” sela Fei-lun “apakah siauw-taihap hendak pergi?” tanya Ma-hung

“benar Ma-loheng.” sahut Fei-lun sambil melangkah ke meja kasir dan membayar makanan “hendak kemanakah tujuan siauw-taihap?” tanya Ma-hung

“saya hendak kembali ke kaifeng.”

“apakah siuwa-taihap tidak membawa kuda?” “tidak Ma-loheng, kenapa?” tanya Fei-lun “apakah siauw-taihap tidak memerlukan kuda?” “hmh..sepertinya sih memerlukan Ma-loheng.” “kalau begitu siauw-taihap bawalah kuda kami.” “loh, lalu bagaimana dengan ji-loheng?”

“kami tiga hari lagi disini, dan saat kembali ke Butong, kami akan beli kuda “wah….saya jadi tidak enak hati Ji-loheng.”

“siauw-taihap jangan sungkan, perjalanan siauw-taihap bersama calon siauw-hujin akan lebih terasa nyaman.” bisik Ma-hung senyum, Fei-lun merasa pipinya panas karena malu.

“hehehe…bagaimana Ma-loheng dapat menduga?”

“hehehe..aku tahu saja siauw-taihap, dan semoga jalinan itu terwujud dan tentu kami akan mudah mencari siauw-taihap.”

“hahaha..hehehe..Ma-loheng bisa saja.” sahut Fei-lun makin jengah “marilah siauw-taihap, kuda kami di iikat dikandang kuda.”

“baiklah kalau begitu.” sahut Fei-lun, lalu bergegas keluar

“kami duluan Lao-liok! Hai-ma-kui.” ujar Fei-lun, Lao-liok memandang dan tidak menjawab, tinggallah tiga orang diruangan itu, tidak lama Lao-liok pergi, lalu Hai-ma-kui, Hoa-ji-siucai mengelus dada, ternyata ia beraksi didepan orang-orang kenamaan, dan untung dia tidak melanjutkan niatnya, kalau tidak dia akan dihajar oleh siauw-taihap yang baru-baru ini muncul dan dikenal sebagai pimpinan pek-to.

Han-fei-lun dan Yang-sian meninggalkan kota Hehat dengan menunggang kuda pemberian Ji-loheng “apa yang kalian bisikkan tadi Lun-ko?” tanya Yang-sian

“oooh, Ma-loheng membisikan bahwa kamu membutuhkan kuda ini.”

“tapi kenapa Lun-ko ketawa?” tanya Yang-sian sambil senyum menatap Fei-lun “orang tua itu tajam sekali penglihatannya, dia tahu saja menduga hubungan kita.” “oh..begitu.” sela Yang-sian menunduk malu

“kamu tahu apa sebutannya tadi padamu, sian-moi?” “apa sebutannya padaku Lun-ko?” “hehehe…orang tua itu bisa saja, dia menyebutmu dengan calon siauw-hujin.”

“hmh…enak didengar lun-ko, dan bukankah itu julukan yang diberikan mereka padamu?” ujar Yang-sian, Fei-lun mengangguk, lalu memacu kuda agak cepat, Yang-sian juga memacu kudanya.

Sebulan kemudian saat sore hari Han-fei-lun sampai kekota Datong, lalu Fei-lun menyewa dua kamar, masing-masing diantar pelayan kekamar masing-masing, Yang-sian segera mandi dan berganti pakaian, tubuhnya terasa segar dan nyaman.

“sian-moi!” seru Fei-lun dari luar

“iya Lun-ko!” sahut Yang-sian dan segera membuka pintu kamar, wajah Fei-lun nampak segar setelah mandi

“mari kita kebawah untuk makan sian-moi.” ajak Fei-lun, Yang-sian mengangguk, lalu keluar dan menutup pintu kamar, keduanya turun keruang bawah dan menuju ruang makan.

Beberapa tamu yang menginap, juga turun untuk makan, saat mereka duduk, dua orang lelaki berumur tigap puluh tahun lebih mendekat dan menyapa

“selamat bertemu siauw-taihap.”

“selamat bejumpa jiwi sicu! siapakah gerangan jiwi-sicu

“saya Coa-gan dan ini suheng saya Toan-bu, saat pertemuan di sihijazhuang saya hadir siauw-taihap.” “oo…terimakasih Coa-sicu telah menyapa, dan ini adalah Yang-sian

“selamat bertemu siauw-hujin.” sapa Coa-gan dengan senyum ramah, mendengar sebutan itu membuat Yang-sian gugup dan tertunduk malu, mukanya merah dan panas, Fei-lun merasakan hal yang sama.

“kami belum lagi menikah jiwi-sicu.” sela Fei-lun

“jika belum, kami tidak sabar menunggu undangannya siuaw-taihap.” “hehehe…jiwi-sicu bisa saja, tapi kita doakan saja semoga harapan ini terwujud.

“benar siauw-taihap, tidak ada cela kami nampak, laksana bunga dengan tangkainya.” “hehehe..bagaimana menurutmu sian-moi.”

“jika jiwi-sicu berpandangan demikian, semogalah kira tetap seperti itu, mendampingi milik orang banyak, tentu akan memiliki ceritanya sendiri, semoga aku jadi penyegar dalam setiap kepenatannya, menjadi hiburan dalam kelelahannya.” ujar Yang-sian.

“Yang-siocia sungguh pandai berkata-kata, lebih tidak melimpah, sedikit tidak kurang.” sela Coa-gan

“benar apa yang dikatakan gan-sute, dan kami senang dengan apa yang kami dengar Yang-siocia, pengertianmu yang dalam melegakan kami, sungkan kami akan lepas dan arah kami akan jelas.” sela Toan-bu

“hehehe..terimakasih atas dukungan jiwi sicu.” sela Fei-lun, tiba-tiba dua orang berlari kedalam likoan dengan wajah pucat menghadap Yo-liang, pemilik likoan

“anggota pak-hiang makin ganas, Bao-loya dan Tio-loya sudah menyerah, mereka sekarang hendak kemari.”

“sebaiknya Yo-loya segera pergi dan sembunyi.”

“ada apa loya, sepertinya ada masalah.” tanya Fei-lun “tiga hari yang lalu, kami tiga hartawan di panggil menemui “mo-jiauw” (si cakar setan) pimpinan pak-hiang, dalam pertemuan itu mo-jiauw memberikan waktu tiga hari pada kami untuk membagi empat puluh persen hasil usaha kami pada pak-hiang, dan sekarang ia datang dengan kekerasan.” sahut Yo-loya

“cepatlah loya, nanti keburu mereka datang.” sela dua orang pelayannya

“Yo-loya tidak usah meneyembunyikan diri, jika mereka datang,aku akan coba bicara dengan mereka.” ujar Fe-lun.

Tidak berapa lama dua puluh orang gerombolan Pak-hiang datang, suasana didepan likoan ribut karena teriakan dari anak buah Pak-hiang yang mengancam Yo-loya, Fei-lun keluar bersama Yo-loya dan dibelakangnya berjalan Coa-gan dan suhengnya, hanya Yang-sian yang masih duduk ditempatnya, dan menatap keluar.

“Yo-loya, kalau kamu tidak menyetujui apa yang telah kukatakan, maka kamu akan bernasib sama dengan dua temanmu.”

“apa yang kamu lakukan pada Ba-loya dan Tio-loya?” sela Fei-lun

“hehehe..hhahaha..hartanya sudah saya kuras, salah sendiri aku hanya minta empat puluh persen, tahu rasalah keduanya, semua hartanya kusita, hahaha…hahaha..” sahut mo-jiauw, dan disambut tawa dua puluh anak buahnya.

“kenapa kamu lakukan itu, kenapa tiga loya harus ikut perkataanmu!?”

“heh..! kamu siapa anak muda, jangan ikut campur kalau tidak mau babak belur.”

“plak..plak…” mo-jiauw tidak menduga kedua pipinya sudah ditampar, pedasnya luar biasa, kepalanya pening, muka meringis kesakitan

“sekali lagi dengar kamu menyombongkan dirimu aku patahkan seluruh tulang-tulangmu!” ancam Fei-lun, mo-jiauw terdiam karena rasa denyut dipipinya sangat nyeri, dan peningnya juga belum hilang, sementara anak buahnya terkejut melihat pimpinan mereka ditampar layak anak kecil oleh pemuda itu, namun mereka tidak bergerak karena pimpinan mereka tidak memberi aba-aba menyerang., tapi malah nampak sangat kesakitan.

“cepat jawab, kenapa tiga loya harus mengikuti kemauanmnu.!?” bentak Fei-lun

“se..sebab ji..jika mereka ti..tidak mau akan aku paksa me..mereka se..seperti hari ini.” sahut mo-jiauw terbata-bata dan nyali yang sudah ciut

“sekarang kamu sudah bertemu dengan saya, lalu apa yang akan kamu lakukan?!” sela Fei-lun dengan pandangan tajam

“sa..saya akan kembalikan harta mereka taihap.”

“bagus kalau begitu, suruh anak buahmu mengembalikannya, cepat..!” sahut Fei-lun dengan tegas, mo- jiauw terkejut dan langsung memerintahkan sepuluh anak buahnya mengembalikan harta Tio-loya dan Bao-loya.

“sekarang katakana! apakah kalian ini ada hubungan dengan empat datuk atao lao?” “be,,benar taihap, kami bagian dari kumpulan yang dinaungi empat datuk.”

“atasan kalian siapa diwilayah ini?”

“atasan kami ada di sinyang.” sahut mo-jiauw “apakah maksudmu Pak-tok?” tanya Fei-lun “be..benar taihap, pimpinan kami adalah Pak-tok.” “Pak-tok sudah bertemu dengan saya, dan dia mungkin masih baring karena lukanya.” “ampunkan kami taihap.” ujar mo-Jiauw dengan nada memelas.

‘kali ini akan aku ampunkan, namun bagaimana lain kali, tentunya kamu akan berjumawa lagi dengan orang-orang lemah disekitarmu.”

“tidak akan taihap, aku tidak akan melakukannya lagi.

“tidak mungkin, karena kamu dibawah kendali pimpinan mu, dan akan menyuruh kamu ini dan itu, yang pastinya akan banyak perbuatan yang akan menganiaya orang lain.”

“aku bersumpah, tidak akan berbuat aniaya pada orang lain.”

“sumpah tidak bisa aku yakini, tapi katakan bagaimana kamu tidak akan menganiaya orang lain sementara kamu harus taat pada atasanmu bukan?”

“aku akan berhenti dan tidak akan berhubungan dengan aliran lagi.

“bagaimana bisa? apakah kamu akan dibiarkan hidup oleh mereka?” tanya Fei-lun, mo-jiauw diam dan wajahnya pucat.

“bagaimana mo-jiauw, tentunya kamu lebih takut pada empat datuk dari padaku bukan?” “tolonglah aku diberi kesempatan taihap.”

“hmh..baiklah, karena kamu telah mengembalikan apa yang telah ambil paksa, maka kesempatan akan kuberikan.”

“terimakasih taihap.” sahut mo-jiauw

“sama-sama, dan juga aku ingin tahu bagaimana hirarki dari aliran hek-to dibawah pimpinan empat datuk, bisa kamu katakana padaku?”

“baiklah taihap, hirarki aliran hek-to, empat datuk sebagai pimpinan tertinggi, kemudian dibawahnya ada pat-lao, lalu dibawah pat-lao ada si-ki, dan dibawah si-ki ada si-hiang, si-hiang salah satunya adalah aku, yang berkedudukan di Datong, tiga rekanku yang lain ada di Beijing, changcun dan yinchuan, dan masing- masing Ki membawahi empat hiang diwilayah itu masing-masing.” sahut mo-jiauw.

“untuk wilyah selatan, dikota-kota mana kedudukan hiang?”

“untuk wilayah selatan pimpinan Ki berada di wuhan, dan hiang berada di nancao, guiyang, kunming dan Guangdong, untuk wilayah barat,kedudukan Ki berada di chengdu, dan hiang berada di lijiang, Lhasa, Golmud dan xining, lalu untuk wilayah timur, kedududukan Ki berada di lokyang, dan hiang berada di Nanjing, shijazhuang, qingdao dan Shanghai.” sahut mo-jiauw.

“baiklah, sekarang kamu boleh pergi!” ujar Fei-lun, lalu mo-jiauw segera meninggalkan likoan

“coa-sicu! kota-kota tempat kedudukan hiang meruapakan kota rawan, jadi kota-kota tersebut akan menjadi perhatian kita.” ujar Fei-lun

“benar taihap, dan aku akan menuliskan peta kota-kota tersebut, tunggulah sebentar taihap.” sela Toan-bu, Toan-bu meminta perangkat tulis pada Yo-loya, dan diapun membuat gambar empat bagian wilayah, dan menempatkan titik-titik dan nama kota yang disebut. 

Toan-bu menyelesaikan petanya dan menunjukkan pada Fei-lun

“luar biasa peta yang ada gambar Toan-sicu, disamping kota, toan-sicu juga menggambarkan beberapa pegunungan di masing-masing wilayah.”

“ini berkat suhu yang sering berkelana dan membawa kami sejak ikut beliau.” ‘siapakah cianpwe yang menjadi suhu jiwi-sicu?”

“suhu kami adalah “ui-hai-sin-peng” (garuda sakti dari laut kuning).” jawab Toan-bu. “peta ini saya serahkan pada siauw-taihap, semoga bermamfaat.”

“terimakasih toan-sicu, dengan peta ini, maka akan mudah mengatur langkah kita dalam mengantisipasi daerah-daerah rawan kejahatan.” sahut Fei-lun.

Keesokan harinya Kedua saudara perguruan itu pamit pada Han-fei-lun untuk melanjutkan perjalanan, sementera Han-fei-lun dan Yang-sian masih tinggal di Datong sampai tiga hari, hal ini untuk meyakinkan reaksi dari mo-jiauw, selama tiga hari itu, Yang-sian merasa takdir hidupnya akan bertemu dengan Fei-lun merubah dunianya, awalnya dia adalah seorang gadis yang berwawasan seputar rumah yang ia tinggali, tapi sejak ia ikut Fei-lun, wawasannya terjun pada dunia kangowu, dia bukan pesilat, namun karena penolong yang sekarang menjadi kekasihnya ini ternyata tidak hanya sekedar pendekar besar, namun juga sebagai pimpinan orang-orang yang bergelimang di dunia persilatan.

Markas besar Hek-to di kediaman pek-mou-hek-kwi, didatangi para pimpinan hirarki, namun pertemuan itu tidak seramai pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, yang hadir hanya empat datuk, empat lao, tiga Ki dan lima belas hiang, empat lao tiga telah tewas, satu menghilang, dari empat ki, pak-ki tidak bisa datang, dari enam belas hiang, mo-jiauw tidak datang.

“setahun setelah siauw-taihap memimpin Pak-to, pamor kita sudah suram, dan hal ini tidak bagus bagi aliran kita.” ujar pek-mou-hek-kwi

“kita harus melakukan langkah-langkah strategis untuk memperbaiki keadaan ini.” sela see-hui-kui “apa langkah-langkah yang akan kita ambil menurutmu hui-kui?” tanya lam-sin-pek

“sam-cu baru setahun lebih mempelajari kitam bun-liong-sian-kiam, setidaknya setahun lagi mereka tentunya sudah menguasai seluruh isi kitab itu.” sela Liang-lo-mo

“kita menduga yang jadi ancaman adalah si yaoyan, akan tetapi ternyata seorang pemuda yang memiliki kemampuan melebihi si yaoyan, siapakah diantara kita yang mengenal latar belakang pemuda ini?” sela see-hui-kui.

“yang saya tahu bahwa siauw-taihap ini adalah kenalan baik dari keluarga istri hung-fei “apakah ia she-khu?” sela liang-lo-mo

“buka, dia bukan she-khu, yang saya dengar siauw-taihap ini satu she dengan si yaoyan, yaitu she-han.” sela lao-ji

“apakah mungkin mereka berhubungan?” sela Lam-sin-pek

“kemungkinan itu saya kira ada, melihat siyaoyan pada masa mudanya.” sela pek-mou-hek-kwi.

“tapi kemungkinan besar tidak ada hubungan, karena ketika hung-fei saya minta membuat ia tapadaksa, ia akan melakukanya.” sela Lao-si

“bisa saja si hung-fei tidak tahu bahwa si fei-lun itu anaknya.” sela lao-liok, semuanya tercenung.

“tapi jika benar dugaanmu lao-liok, bagaimana ibu dari Fei-lun tidak memberi tahu hung-fei, sementara ibu fei-lun ini tahu keberadaan hung-fei?”

“hal itu bisa saja lao-si, karena ibu fei-lun dan istri hung-fei dekat, jadi ibu fei-lun tidak mau merusak keluarga she-khu yang merupakan teman dekatnya.”

“hmh..tapi apakah perempuan itu akan serela itu?” gumam lao-si

“hmh..sudah, yang jelas dari pembicaraan ini kita tahu bahwa siuaw-taihap kenalan dekat dari istri si yaoyan, jadi langkah   pertama   kita   adalah   menagkap   ibu   siauw-taihap.”   ujar   see-hui-kui “apakah kita akan sanggup menagkapnya jika siauw-taihap bersama ibunya?” sela pek-mou-hek-kwi.

“kita harus melihat situasinya, dan kita menangkap ibunya jika ia tidak ada.” sahut see-hui-kui “bukankah itu akan membinasakan kita hui-kui?” sela lam-sin-pek

“kita hanya menyembunyikannya, sehingga siauw-taihap tidak macam-macam dengan kita.”

“saya setuju dengan idemu see-hui-kui, jika kita berhasil dan mengancam siauw-taihap, maka ruang gerak kita akan kembali normal, bahkan bila perlu, jika dia coba-coba untuk mencegah langkah kita maka ibunya akan mati.” sela Liang-lo-mo

“benar..itu satu langkah jitu, saya setuju sekali.” sela pek-mou-hek-kwi.

“jika kita sepakat, siapa yang akan ke kaifeng untuk menangkap ibu siauw-taihap?” sela Lam-sin-pek “saya kira urusan ini kita serahkan pada tiga murid wanita kita.” sela pek-mou-hek-kwi.

“saya setuju, jika hal itu diserahkan pada kami.” sahut lao-si, lao-ngo dan lao-liok mengangguk setuju.

“baik, langkah ini kita usahakan kalau bisa dalam waktu yang lama, jika tidak bisa setidaknya harus berhasil sampai setahun, dan saat itu sam-cu sudah bisa kita andalkan untuk melenyapkan siauw-taihap.” ujar see-hui-kui

“benar, saya yakin jika sam-cu dan ditambah kita berempat, apa mungkin kita masih kalah? saya bahkan yakin, kita akan dapat membunuhnya dalam waktu yang tidak lama.” sela Liang-lo-mo.

“lalu bagaimana dengan si yaoyan?” sela lao-ji

“hung-fei sudah ada dalam genggaman kita, ancaman bahwa anak-anaknya akan diserahkan padanya menjadi batu sandungan padanya untuk menentang kita.” sela lao-si.

“benar dia tidak lagi ancaman bagi kita, setelah dia menyerahkan kitabnya pada kita.” sela lao-ngo

“kalau begitu kita konsentrasi pada siuaw-taihap.” sela lam-sin-pek, kemudian pertemuan itu berakhir dengan perjamuan makan dan minum.

Keesokan harinya tiga lao berangkat kekaifeng, disebuah hutan mereka istirahat sambil membakar binatang buruan

“bagaimana kamu lihat siauw-taihap, lao-liok?” tanya Lao-si

“seorang lelaki muda yang tampan, dan kelihatannya tidak seperti pesilat, karena tidak ada sepucuk senjata pun ia bawa.” sahut Lao-liok

“hal ini sangat mengherankan, bagaimana dia bisa merobohkan keroyokan dua cu dengan tangan kosong.” sela Yang-lian.

“saat saya bertemu dengannya, hoa-jai-siucai hendak menggoda gadis yang bersama siauw-taihap, dan ketika Hoa-jai-siucai menyerang orang yang memandanginya, entah bagaimana senjata rahasia jai-hoa- siucai mengambang diudara, bahkan hoa-jai-siucai, tidak dapat mengambil kembali senjatanya, tidak ada satupun yang mengetahui siapa yang melakukannya.” ujar Lao-liok

“tentunya siauw-taihap yang melakukannya.” sela Yang-lian setelah tahu bahwa pemuda itu adalah siauw- taihap, aku juga meyakini dia yang melakukannya.”

“gadis itu siapa lao-liok?” sela lao-si

“mungkin calon istrinya, dan calon istrinya itu tidak pandai silat.” “bagaimana kamu tahu gadis itu tidak pandai silat?” “gadis itu lugu, halus dan anggun.”

“sudah mari kita lanjutkan perjalanan!” sela Lao-si. Ketiganyapun berkelabat dari dalam hutan.

Dua minggu kemudian ketiga lao sampai dikota Kaifeng, ketiganya dengan mudah mengetahui kediaman Liu-sian, saat ketiga lao memasuki halaman seorang pelayan menyambut mereka

“samwi-hujin siapa dan hendak bertemu siapakah?” “kami hendak menemui liu-hujin.”

“sebentar saya panggilkan.” sahut pelayan, namun baru saja ia berbalik, Liu-sian sudah keluar dari dalam rumah.”

“oh ada tamu rupanya, maaf siapakah samwi yang berkunjung kerumah ku?” “apa kamu Liu-sian?” tanya Lao-si

“benar, kalian ini siapakah?” pertanyaan tidak dijawab, dan tiba-tiba Yang-lian melompat dan hendak meringkus Liu-sian, dan Liu-sian berkelit, namun gerakan selanjutnya membuat Liu-sian terpaksa mundur dan bergulingan

“hmh…ternyata ada isi juga.” ujar Lao-ngo dengan senyum sinis dan hendak bergerak. “tunggu dulu, katakana siapa kalian dan kenapa menyerangku?”

“kamu tidak perlu tahu siapa kami.” sahut Lao-liok dan kembali menyerang dengan cepat

“tuk…hugk…” sebuah totokan mengenai lambung Liu-sian, sehingga ia ambruk lemas, karena melihat majikannya ambruk, pelayan dengan nekat menyerang, tapi kibasan tangan Lao-ngo membuat di terjungkal hingga memuntahkan darah, Lao-ngo segera mencengkram bahu Liu-sian dan menarikya berdiri.

“kenapa tiga lao memperlakukan ibuku seperti itu?” sela suara, dan Fei-lun bersama Yang-sian muncul memasuki halaman, ketiga lao terkejut, apes bagi ketiganya bertemu dengan siauw-taihap

“jangan bergerak siauw-taihap, kalau tidak mau ibumu mampus!” ancam lao-ngo sambil meletakkan tangannya diubun-ubun Liu-sian.

“hmh….apa maksud kalian samwi-lao?” tanya Fei-lun dengan nada dingin dan pandangan tajam

“hihihi…kami akan membawa ibumu, dan sejak hari ini kamu tidak boleh macam-macam pada sepak terjang aliran kami.” sahut lao-ngo

“Lun-ji, jangan dengarkan mereka, segera ringkus mereka, karena mereka ini orang-orang jahat.” sela L:iu- sian

“tutup mulutmu wanita berengsek!” bentak Lao-ngo

“kamu yang berengsek, ayok bunuhlah kalau berani!” balas Liu-sian menantang, Lao-ngo kelabakan, jika dia membunuh liu-sian maka dia juga akan mati ditangan siauw-taihap, melihat gelagat itu Fei-lun merasa posisinya dan ketiga lao imbang.

“sedikit saja ibuku terluka, maka kalian tidak akan kulepaskan, hingga kukeluarkan hati kalian yang culas itu!” ancam Fei-lun, ketiga lao cemas, ketiganya saling berpandangan

“baik kami akan lepaskan ibumu tapi kamu juga harus melepaskan kami.” sela Lao-si “baik lepaskan ibuku!” sahut Lao-si

“apakah kamu dapat dipercaya?” “aku bukan kalian, yang memiliki hati culas.” sahut Fei-lun

“lepaskan ibunya lao-ngo!” ujar Lao-si, Lao-ngo segera mengangkat tangannya dari ubun-ubun Liu-sian.

Han-fei-lun segera mendekati ibunya, ketiga Lao-hendak meninggalkan tempat itu “tunggu dulu!” teriak Fei-lun

“eh,,apakah kamu akan melanggar janjimu!?”

“aku ingiin tahu mana ibunya sai-ku yang hendak mati.” “sialan! kata siapa anakku akan mati!?” sahut Lao-si marah

“jadi ibunya sai-ku adalah lao-si, bukankah kamu sendiri yang mengatakannya?” “tidak penah aku mengatakannya!”

“hehehe…hehehe..kamu lupa apa yang kamu katakana pada ayah anakmu itu.” “eh..apa kamu sudah bertemu dengan bun-liong-taihap

“sudah, makanya aku tahu, dan tentunya kamu mengharapkan aku tewas ditangannya bukan?”

“apa kamu berkelahi dengan Han-taihap Lun-ji!??” sela Liu-sian terkejut dan sedih, Fei-lun mengangguk “Ibu! inilah ketiga wanita yang saya ceritakan sekembalinya dari huangsan.” ujar Fei-lun

“lao-si katakana padaku apa yang kamu ancamkan padanya sehingga bun-liong-taihap berusaha keras untuk membunuhku?”

“hal itu tidak perlu kamu ketahui, mari kita berangkat!” sahut Loa-si sambil mengajak dua rekannya, ketiganya segera meninggalkan rumah Liu-sian, Liu-sian menatap gadis yang dibawa oleh anaknya

“dan ini siapakah Lun-ji!?” tanya Liu-sian

“Yang-sian, ini ibuku, ibu ini Yang-sian?” sahut Fei-lun memperkenalkan namanya, Yang-sian memberi hormat dan berlutut didepan Liu-sian

“selamat berjumpa bibi, saya Yang-sian yang mendapat pertolongan hidup dari Lun-ko.” “selamat bertemu dan bangkitlah sian-ji.” sahut Liu-sian dengan senyum lembut.

Mendengar panggilan gadis cantik ini pada anaknya, membuat hati Liu-sian menduga mesra pada Yang- sian

“marilah kita masuk sian-ji!” ajak Liu-sian, lalu ketiganya masuk dan duduk diruang tengah

“ibu, kongkong dimanakah? apa kongkong masih bekerja?” tanya Fei-lun, Liu-sian tiba-tiba naik sedu sedannya dan terisak menangis

“kongkongmu sudah sepuluh bulan meninggal dunia Lun-ji.” Jawab Liu-sian disela isak tangisnya.

Han-fei-lun tersedak dan hatinya terasa sedih, ternyata kakeknya meninggal disaat ia tidak dirumah, air matanya berurai mengenang kongkongnya.

“maafkan kami sian-ji, kami anak beranak membuat kamu tidak merasa nyaman atas kemalangan kami.” sela Liu-sian

“tidak bibi, saya tidak apa-apa dan saya juga ikut bersedih dengan kemalangan ini.” sahut Yang-sian dengan mata berkaca-kaca, hatinya juga terenyuh melihat bibi dan kekasihnya menangis bersimbah air mata. Keesokan harinya Liu-sian mengajak anaknya menziarahi makam Liu-gan, Fei-lun dan Yang-sian melakukan sembahyang dan membakar dupa binting diatas makam Liu-gan, menjelang siang mereka kembali lagi kerumah, kehadiran Yang-sian membuat hati Liu-sian terhibur, Yang-sian anak yang lembut dan penurut, sebagai anak hartawan dia seorang gadis sopan dan terpelajar, sebagai anak yang terkucil dari keluarga, Yang-sian menjadi gadis yang tabah dan mandiri, ketelatenannya didapur selama ini, membuat dia tidak kikuk dan gugup melayani Han-fei-lun dan Liu-sian.

Sampai dua bulan Han-fei-lun tidak membicarakan hasratnya untuk menikahi Yang-sian pada ibunya, dia ingin supaya ibunya lebih dulu mengenal calon menantunya, Han-fei-lun melihat gelagat betapa ibunya sangat suka dan menyayangi Yang-sian yang baik hati dan ulet, selama dua bulan Liu-sian telah mengenal betul latar belakang gadis yang dibawa putranya, dan bagaimana awal putranya bertemu dengan Yang- sian, sehingga suatu hari Liu-sian mengajak putranya bicara.

“Lun-ji, tentunya hubunganmu dengan sian-ji sangat istimewa, dan ibu tahu persis hal itu, selama lebih dua bulan ini ibu sudah melihat sikap dan prilaku Sian-ji, lalu bagaimanakah selanjutnya rencanamu nak?” ujar Liu-sian

“jika ibu berkenan dan merasa suka dengan sian-moi, jadikanlah ia menantu ibu, dan saya sangat bahagia dengan itu.”

“kalau begitu, ibu akan wujudkan keinginanmu itu anakku, ibu juga akan merasa bahagia lun-ji, jika kamu merasa bahagia dan tenang disamping sian-ji.” sahut Liu-sian.” sahut Liu-sian, kemudian Yang-sian menyuruh Ah-ting pelayan rumahnya untuk memanggil Yang-sian dikamarnya.

Yang-sian datang menemui anak beranak itu dengan berlutut dan senyum yang lembut, Liu-sian menyambut Yang-sian dengan hati yang hangat

“bibi memanggilku ada apakah?” tanya Yang-sian

“duduklah disini sian-ji!” sahut Liu-sian, Yang-sian bangkit dan duduk disamping Liu-sian

“sian-ji, hubungan dengan Lun-ji sudah sangat jelas bagi ibu, walaupun kalian tidak nyata menunjukkannya pada ibu, dan ketahuilah sian-ji, aku dan anakku berkeinginan menjadikan kamu bagian dari keluarga kami, aku ingin kamu jadi menantuku dan jadi istri buat anakku Fei-lun.” ujar Liu-sian

“bibi, awalnya aku tidak punya bayangan hidup yang layak, sejak Lun-ko datang kerumah dan berkenan menyelamatkan hidupku dari kemelut hidup yang kujalani, aku sudah berniat menjadi budak yang akan melayaninya, tapi ternyata Thian demikian sayang padaku, Lun-ko menerimaku lebih dari niatku, selama perjalanan, kami jadi dua sejoli yang mencinta, para sahabat dari lun-ko juga menganggap demikian, sungguh aku merasakan bahagia yang tidak terlukiskan, dan sekarang bibi juga berkehendak menerimaaku untuk mendampingi lun-ko dalam sebuah ikatan, bibi! uuu..uuu…uuu… ka..karunia ini sungguh luar biasa, hiks..hiks…a…aku tidak tahu ba..bagaimana cara menyampaikan rasa setujuku atas menerima semua anugrah ini, bahagiaku tidak terperi, Lun-ko….hiks..hiks…….terimakasih sayang, terimakasih kekasihku..uuu..uuu…” sahut Yang-sian terisak dan menangis bahagia, Liu-sian ikut menangis dan memeluk Yang-sian

Tiga hari kemudian undangan disebar, bulan depan pernikahan Han-hung-fei dan Yang-sian akan dilaksanakan, A-cun tukang bersih Liu-sian datang ke Khu-liokoan untuk menyampaikan undangan.

“ada apa A-cun?” tanya penjaga kasir

“aku hendak mengantar undangan pernikahan kongcu Lu-twako.” “oh ya Fei-lun hendak menikah!?”

“benar Lu-twako, bulan depan pernikahan akan dilaksanakan.” sahut A-cun

“siapa hendak menikah!?” tanya seorang tamu, A-cun dan Lu-kong menoleh pada dua orang tamu yang sedang makan, seorang dari keduanya melangkah dan mendekati mereka, kedua orang pendekar itu adalah Hui-kiam dan Im-kan-kiam “maaf saya ada mendengar nama Fei-lun, apakah maksudnya Han-fei-lun!?” tanya Hui-kiam “benar! Han-fei-lun adalah tuan muda saya.” sahut A-cun

“dapatkah sicu membawa kami menemui siauw-taihap?” “siapa siauw-taihap?” sela Lu-kong

“Han-fei-lun adalah siauw-taihap, dan beliua adalah pimpinan kami di dunia persilatan.” Jawab Hui-kiam,

Lu-kong dan A-cun saling bertatapan

“kalau begitu, kamu bawalah taihap ini ke rumah majikanmu!” ujar Lu-kong, A-cun mengangguk, lalu Hui- kiam dan im-kan-kiam mengeikuti A-cun kerumah Fei-lun.

Liu-sian, Fei-lun sedang duduk diruang tengah sedang membicarakan sesuatu, Yang-sian menghidang minuman dan makanan kecil

“kakekmu meninggalkan harta yang lumayan, hasil kerjanya selama tujuh belas tahun, lalu apa rencanamu lun-ji dengan harta yang ditinggalkan kakekmu?” ujar Liu-sian

“harta kakek akan kita gunakan bila perlu ibu, setelah aku dan sian-moi menikah dan tetap disini bersama ibu, rumah kita ini lebih dari cukup untuk sebuah keluarga, dan aku berencana untuk menggunakan halaman belakang rumah kita yang sangat luas.”

“apa rencanamu dengan halaman belakng itu Lun-ji?”

“diatas tanah itu akan saya bangun sebuah lianbhutia, saya berencana untuk mendirikan sebuah bukoan.”

Jawab Fei-lun, tiba-tiba A-cun muncul dan melapor

“maaf hujin, kongcu, di luar ada tamu, katanya hendak menemui siauw-taihap.” “siauw-taihap!? siapakah Siauw-taihap?” sela Liu-sian heran.”

“itu aku ibu, baiklah cun-pek, bawalah tamu kita kedalam.” sahut Fei-lun.

Tidak lama kemudian Hui-kiam dan Im-kan-kiam masuk dan segera menjura hormat setelah melihat pimpinan mereka berdiri

“selama bertemu kembali siauw-taihap.” ujar keduanya

“hehehe..ternyata kalian jiwi-taihap, selamat bertemu kembali Hui-kiam-taihap dan Im-kan-kiam-taihap, silahkan duduk!” sahut Fei-lun, kedua pendekar itupun duduk

“kenalkan jiwi-taihap, ini adalah ibuku dan ini Yang-sian calon istriku.” ujar Fei-lun memperkenalkan keluarganya, kedua pendekar kembali menjura hormat pada Liu-sian dan Yang-sian.

“ada apakah jiwi-taihap datang menemuiku!?” tanya Fei-lun

“kami berkebetulan sedang makan tadi di Khu-liokoan, dan mendengar pembantu siauw-taihap menyampaikan undangan pernikahan siauw-taihap.”

“ooh..benar jiwi-taihap, dan maafkan saya atas hal ini, karena tidak tahu bagaimana cara mengundang para rekan-rekan kangowu yang menyebar, dan juga banyak yang saya tidak tahu dimana berdiamnya.”

“untuk itulah kami ingin bertemu siauw-taihap, tentunya siauw-taihap ingin juga mengundang mereka bukan?” sela im-kan-kiam

“benar im-kan-kiam taihap, apakah jiwi-taihap akan membantu saya dalam hal ini?”

“pasti siauw-taihap, pernikahan siauw-taihap merupakan berita gembira dikalangan kangowu, dan kami siap menyebarkan ini kepada teman-teman yang lain.” sahut Hui-kiam “aku sangat berterimakasih dengan bantuan jiwi-taihap, untuk menyebarkan undangan tersebut. sela Fe- lun

“Hal itu bukan bantuan kami taihap, kami patut menerima tugas itu, siauw-taihap adalah pimpinan kami, sudah jamak jika kami melakukan hal tersebut.” sela Im-kan-kiam.

“dan kami akan segera pamit siauw-taihap, untuk melaksanakan hal ini, sehingga para teman-teman dapat berita dan dapat hadir saat pernikahan dilangsingkan bulan depan.” sela Hui-kiam.

“jika demikian, berangkatlah jiwi-taihap, dan siapa-siapa yang akan diundang, saya serahkan pada jiwi- taihap.” sahut Fei-lun.

“baik siauw-taihap, kami akan laksanakan.” sela keduanya serempak, lalu keduanya pamit. “kamu pimpinan dunia kangowu Lun-ji?”

“demikianlah yang mereka inginkan ibu, para taihap ini adalah orang-orang yang berseberangan dengan empat datuk dan antek-anteknya.”

“tentunya banyak dari mereka yang pernah ada di jiangzhou Lun-ji.” sela liu-sian

“benar ibu, dan salah satu sehingga mereka gigih untuk menetapkan saya, karena peristiwa kelahiran saya di jiangzhou.”

“ah..jiwi-sian suhumu adalah kiblat mereka saat itu.” sela Liu-sian “benar ibu, dan karena itu saya tidak bisa menolaknya.” sahut Fei-lun.

“lalu bagaimana dengan bun-liong-taihap? apakah hui-kiam akan mengundangnya?” tanya Liu-sian

“saya tidak tahu ibu, kita terima saja siapa dari kalangan kangowu yang akan datang.” sahut Fei-lun menunduk, karena teringat betapa ayahnya pernah hendak membunuhnya, lalu ketiganya membicarakan biaya tambahan dengan undangan yang tentunya akan membludak.

Dua minggu kemudian, duania kangowu marak membicarakan pernikahan siuaw-taihap, selaku pimpinan pek-to, peristiwa ini tidak akan dilewatkan oleh para pendekar, empat ciangbujin bersiap menuruni gunung untuk menghadiri hari bahagia sang pimpinan ini, kim-siuaw-sin-siucai yang mendengar berita ini lansung meninggalkan kediamanya di lanzhou ikut menyebarkan undangan, para cianpwe seperti pek-gan-taihap, tung-sin-tianglo dan tiga belas orang yang lainnya yang hadir pada pertemuan di shijazhuang segera turun gunung.

Bun-liong-taihap dan keluarganya di Bicu juga mendengar akan berita ini

“putra Liu-sian lun-ji hendak menikah, sebaiknya aku juga ikut denganmu fei-ko.” ujar Khu-lian-kim pada Hung-fei.

“saya kira saya saja cukup kim-moi, dan tentunya Liu-sian maklum akan hal itu.” sahut Hung-fei

“keadaan kita bukannya sibuk sekali, anak-anak juga sudah besar-besar, dan bisa kita tinggalkan, goat-ji sudah sangat mampu menjaga rumah walaupun umurnya baru empat belas tahun, terlebih murid-muridmu juga banyak disini.” sahut Lian-kim

“hmh…baiklah kalau begitu, besok kita akan berangkat kekaifeng.” ujar Hung-fei, hatinya sebenarnya sangat cemas, sejak gagal menghajar Fei-lun, ancaman Wan-lin membuat dia lemah dan khawatir akan keutuhan rumah tangganya.

Karena berita pernikahan ini tersebar didunia kangowu, pastinya Hek-to juga mendengar akan hal ini, empat datuk berkumpul di huangsan, tiga lao dengan kecewa melaporkan kegagalan mereka untuk meringkus Liu-sian.

“kita harus ikut menghadiri pernikahan siauw-taihap.” ujar see-hui-kwi “kita mau apa kesana cianpwe?” sela lao-ngo

“tentunya kita akan mengacaukannya.” sahut Liang-lo-mo “maksudnya bagaimana cianpwe?” tanya lao-ji

“kami merasa penasaran sebelum mencoba sendiri kemampuan siuaw-taihap.” ujar see-hui-kui

“tapi saat itu para cianpwe dari aliran mereka akan banyak yang hadir, bukankah itu tindakan bunuh diri cianpwe?” sela lao-liok

“kalian juga ikut untuk membungkam mereka, yang jelas kalau bisa hari pernikahan siauw-taihap menjadi hari kematiannya.” sahut Lam-sin-pek

“betul, kita harus coba, sebab kalau tidak, kita tidak tahu benar kemampuan siauw-taihap.” sela pek-mou- hek-kwi

“jika senadainya gagal, kita akan tahu bagaimana mempersiapkan sam-cu, yang hampir menammatkan kitab bun-liong-sian-kiam.” sela see-hui-kui.

“jika demikian cianpwe, sebaiknya kita segera berangkat.” sela Lao-ji, empat datuk mengangguk, dan merekapun meninggalkan kota huangsan menuju Kaifeng.

Tiga hari sebelum hari pernikahan, kota Kaifeng dibanjiri pendatang dari kalangan kangowu, warga kota juga mengetahui benar alasan kemunculan orang-orang ini, gelar siauw-taihap merebak di kalangan warga kota kaifeng, sedikitnya mereka bangga bahwa seorang dari warga mereka ternyata seorang anutan dan pimpinan orang kalangan persilatan, dan imbasnya keberadaan siauw-taihap dikaifeng akan menjadi aura aman dan di hormati banyak kalangan, hal ini juga dirasakan para aparat pemerintahan, kao-kungcu, LI- kungcu dan Khu-kungcu, tiga pimpinan kota Kaifeng yang luas, menyempatkan diri untuk menghadiri pernikahan siauw-taihap.

Para tetangga sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, halaman belakang yang sangat luas di sulap menjadi tempat pesta pernikahan, hal ini karena Fei-lun berpendapat, karena undangan akan banyak yang datang dari kalangan dunia persilatan, maka didalam rumah tentunya tidak akan tepat, maka diputuskan perhelatan itu di adakan diluar, dan halaman belakang warisan kakeknya memenuhi syarat untuk itu. panggung besar dibuat, dan diatasnya altar pelaminan yang dihiasi dengan umbul-umbul yang berwarna-warni, tenda-tenda besar didirikan disekeliling panggung dan diatur sedemikian rupa, dibawah tenda dibuat tempat duduk laksana tangga, rombongan kesenian sudah didatangkan, bagian seksi konsumsi juga sudah disiagakan, sehari sebelum pesta, ceng-sin-hewsio sudah tiba bersama beberapa orang muridnya, dan sorenya Liu-sian terkejut ketika Hung-fei dan istrinya muncul, kedatangan Khu-lian- kim membuatnya haru, dua wanita paruh baya itu berpelukan

“bagaimana kabarmu sian-cici.” tanya Lian-kim

“aku baik-baii saja kim-moi, kalian tentunya demikin juga kim-moi.?”

“benar sian-cici, ah tidak terasa bahwa kita tidak bertemu tujuh belas tahun lebih.” sahut Lian-kim, kemudian Lian-kim dan Hung-fei menerima hormat dari Fei-lun dan yang-sian

“marilah kita masuk Han-taihap!” ujar liu-sian, lalu mereka semua masuk kedalam rumah. “terimakasih kim-moi, han-taihap kalian sudi hadir.” ujar Liu-sian

“hihihi…tadinya fei-ko merasa cukup datang sendiri sian-cici, tap kali aku mau ikut, ingin melihat lun-ji dan calon menantu.” sahut Lian-kim sambil senyum lembut ke arah Yang-sian.

“saya dengar pernikahan ini tersebar dikalangan kangowu, apakah demikian lun-ji!?” sela Hung-fei “memang demikianlah han-taihap.” “sebagai pimpinan pek-to, hal ini memang tidak dinafikan, tapi kamu harus hati-hati, bahwa kamu tidak bisa menolak orang-orang yang datang dari kalangan hek-to.”

“perkataan han-taihap memang benar, dan aku butuh dukungan dari semua kalangan untuk ikut menyamankan pesta ini, terlebih kerjasama Han-taihap, sangat saya harapkan”

“kamu tenang saja lun-ji, pamanmu akan membantumu dalam hal itu.” sela lian-kim “terimakasih bibi, sungguh aku merasa lega mendengarnya.” sahut Fei-lun senyum

Setelah siang Hui-kiam dan Im-kan-kiam datang bersama puluhan pendekar, Fei-lun mengajak mereka duduk diatas panggung, Hung-fei juga ikut serta dalam pertemuan itu

“siauw-taihap, kami sengaja datang hari ini, untuk membantu acara esok pagi.”

“terimakasih hui-kiam-taihap, bantuan ini sungguh luar biasa, sehingga acara ini sangat semarak, saya tidak menduga akan seperti ini, dengan kesigapan dan kecekatan jiwi-taihap dan kesudian para hohan yang hadir membuat saya merasa tidak sendiri dengan ibu saya.”

“ini hal yang patut kami kerjakan siauw-taihap, siauw-taihap adalah milik kami, dan kami semua aliran pek- to adalah milik siauw-taihap.” sahut im-kan-kiam

“apa lagi yang harus kami kerjakan siauw-taihap?” sela Coa-gan yang juga ikut dalam rombongan pendekar

“coa-sicu, besok kita akan menyambut tamu, dan para hohan semua paling tahu dengan mereka dan dimana layaknya mereka duduk.” sahut Fei-lun

“benar, bebrapa dari hohan akan menjadi penyambut tamu, dan juga tidak kalah penting, pada bagian keamanan untuk menertibkan hal-hal yang tidak diduga.” sela Hung-fei

“Bun-luong-taihap benar, bagian kemanan ini sangat diperlukan, jadi kami harap bun-liong-taihap mengarahkan kami dalam bagian ini.” sela toan-bu.

“baik, penyambut tamu cukup sepuluh orang, lima didepan gapura, dan lima dialtar meja sumbangan dan hadiah, kemudian sisanya yang tiga puluh pendekar, karena tenda terdiri dari lima buah, maka disetiap tenda akan ditempatkan lima orang kemanan, dan lima orangnya lagi ditempatkan dirumah induk.” ujar Hung-fei, semuanya mengangguk, lalu masing-masing-pun ditentukan bagian mana ia bertugas.

Keesokan harinya empat ciang-bujin datang, dan disambut hangat oleh para pendekar dan, setelah menghantarkan hadiah mereka dipersilahkan duduk ditenda sebelah kanan panggung, kemudian menyusul lagi para cianpwe golongan senior, kemudian saat matahari agak tinggi pek-gan-taihap datang, kemudian bu-tong-ji-loheng, lalu sin-ci-sutay, dan tidak lama kemudian kim-siauw-sin-siucai muncul bersama beberapa pendekar, menjelang siang Li-kungcu datang bersama dua pembantunya, warga menyambut hangat, Hui-kiam yang memimpin penyambutan tamu mempersilahkan Li-kungcu duduk ditenda sebelah kiri panggung, lalu kao-kungcu pun datang bersama empat pembantunya, tidak lama kemudian Cia-kungcu juga datang dengan tiga orang stafnya, lalu menyusul tung-sin-tianglo, dan beberapa pendekar lain, akhirnya saat siang tamu yang datang laksana air mengalir itu pun berhenti, lima tenda penuh dengan para undangan.

Ceng-sin-hewsio pun memulai upacara, acara berjalan dengan hikmat, para tamu semua merasa gembira saat kedua mempelai melakukan sembah keempat penjuru, Liu-sian yang ditemani Khu-lian-kim merasa haru dan tangis bahagia membuncah saat memeluk putra dan mantunya, Khu-lian-kim juga merasa bahagia yang ikut diposisi Liu-sian menerima sembah sujud dari kedua mempelai, hanya kursi pada bagian itu tidak ada laki-laki, bun-liong-taihap ada di rumah induk untuk menjaga kemanan, dan dia pun merasa tidak perlu untuk ada di tempat itu, hanya liu-sian dan fei-lun yang merasa perlu, namun apa boleh buat, kenyataan harus disimpan dalam hati.

“para kungcu yang mulia, para cianpwe yang terhormat, para taihap dan hohan yang berbahagia, dan para jiran dan tetangga yang baik hati, saya Han-fei-lun dan keluarga mengucapkan rasa terimaksih kami yang tidak terhingga akan kehadiran pada peresmian pernikahan saya ini, saya dan istri sangat mengharapkan doa restu dari hadirin semua, semoga rumah tangga yang akan kami bina dapat langgeng sampai dikemudian hari.” ujar Han-fei-lun dengan rasa haru

“kionghi..kionghi…siauw-taihap…” sambut suara bergemuruh mengucap selamat

“terimakasih..sekali lagi terimaksih, dan kiranya kami mempelai dapat wejangan sepatah dua patah kata dari para cianpwe.” ujar Fei-lun sambil menjura pada cianpwe yang berada di tenda sebelah kanan, pek- gan-taihap berdiri dan naik ke atas panggung

Tepuk gemuruh menyambutnya dan seruan selamat

“kuncu yang mulia, para taihap dan hohan yang terhormat, cuwi sekalian yang berhadir, dan kedua mempelai yang berbahagia, izinkan saya menyampaikan separah dua patah kata pada saat yang berbahagia ini.” ujar pek-gan-taihap, suara tepuk bergemuruh

“Kungcu yang mulia dan para hohan semua, kita semua menyambut baik dan merasa senang, terlebih kita kalangan kangowu merasa bahagia akan hari ini, pimpinan kita siauw-taihap telah mengakhiri masa lajangnya, seorang ibu pimpinan bagi kita telah diberikan pada kita, tidak kurang dari setahun setelah beliau kita tetapkan di shijazhuang, dan sekarang bagi kita jelas, kita aliran pek-to kiblatnya jelas, yakni kota Kaifeng, dan disamping kota kaifeng, kita juga punya pimpinan yang berdiam di lanzhou, yakni wakil dari pimpinan kita kim-siauw-sin-siicai.” ujar Pek-gan-taihap, dan disambut gemuruh tepuk tangan.

“selanjutnya, sebagai orang tua, hal yang ingin saya sampaikan hanya satu kepada kedua mempelai, modal berumah tangga itu ada dua yakni jujur yang menerbitkan kehormatan, dan cinta yang menerbitkan pengertian, artinya suami istri itu harus saling jujur, dan suami istri itu harus saling cinta, jujur dalam kehormatan adalah kekokohan, kemulian, dan kenyamanan, tiga hal ini jika kita ibaratkan rumah, maka kekokohan ibarat tiang, kemulian ibarat dinding dan kenyamanan ibarat atap, hal inilah yang membentuk rumah, kemudian cinta dengan pengertian adalah keseimbangan, kebersamaan dan perjuangan, tiga hal ini jika saya ibaratkan dengan tangga, maka keseibangan adalah dua sisi tangga, kebersamaan adalah kumpulan anak-anak tangga, dan perjuangan adalah tingkatan anak-anak tangga.” ujar pek-gan, dan semua tamu mendengarkan dengan seksama

”suami istri dikatakan berumah tangga, jika kedua sejoli memiliki rasa cinta, yang untuk menumbuhkan pengertian, mesti ada rasa keseimbangan, rasa kebersamaan,dan memiliki tujuan yang diperjuangkan, jika demikian kedua sejoli sudah memiliki tangga, lalu jika kedua sejoli itu memiliki kejujuran, yang untuk menumbuhkan kehormatan, keduanya memeiliki ikatan yang kokoh, rasa saling memuliakan dan juga rasa saling melindungi, jika demikian suami istri itu telah memiliki rumah, siauw-taihap dan siauw-hujin hari ini kalian telah berumah tangga, maka jagalah dua hal yang sampaikan, yakni jujur dan cinta. Jika jujur dan cinta bertahan, maka selamatlah rumah tangga itu.” ujar pek-gan-taihap, lalu Pek-han-taihap kembali ketempat duduknya, diiringi tepuk tangan para undangan.

Setelah itu acara hiburan pun digelar, para seksi konsumsi sibuk menghidangkan makanan dan minuman, pada acara pentas ini para kru seniman menampilkan cerita musim semi ditelaga warna, cerita tentang seorang kelana miskin yang bertemu seorang bidadari yang ditinggal pergi oleh enam saudaranya kekayangan karena sang bidadari ingin menyelami kehidupan manusia, selagi para undangan asik menyaksikan pementasan, diluar Bun-liong-taihap mencegat kedatangan empat datuk dan empat lao.

“apa yang hendak kalian perbuat disini ciampwe!?” tanya Bun-liong-taihap “hehehe..hahaha…bun-liong-taihap siapamukah yang menikah ini?” tanya see-hui-kui

“itu bukan urusan kalian, dan saya harap kalian lebih baik pergi kalau hendak mengacau disini.”

“fei-ko! kamu telah berjanji padaku untuk membuat tapa daksa fei-lun, dan hari ini bukannya kamu tidak berhasil tapi malah jadi bagian dari pernikahan yang dilakukannya.

“lin-moi, kamu terlalu memaksakan kehendak, dan jujur aku akui bahwa aku tidak mampu mengelahkannya.” kamu ingkar akan

“kalau kamu tidak mampu bagaimana kamu ada disini?” “ingat lin-moi, keluarga fei-lun kenalan baik dari istriku.” “hihihi…memang kamu bukan saja yaoyan dan tapi juga tidak punya malu.” sela lao-ngo. “apa maksudmu Yang-lian?” tanya:Hung-fei dengan nada geram

“hihi.hihi…kamu kalah dengan siauw-taihap, demi istri kamu harus bertemu muka dan berbaik-baik dengan orang yang kamu musuhi, bukankah itu memalukan?”

“tutup mulutmu yang-liang, aku tidak memusuhi fei-lun.”

“hihihi..tapi dia musuh anak-anakmu, kamu pilih mana anak-anakmu atau siauw-taihap.” sahut Lao-ngo

“hmh..sepertinya kita harus mengembalikan anak-anak kita padanya, lagi pula anak-anak itu selalu menanyakan ayahnya, bagaimana menurutmu lao-si?” sela lao-liok.

“jangan kalian lakukan itu Yan-hui, cukuplah aku dan kalian yang tahu.”

“hihihi…fei-ko ini bagaimana? kamu yang punya anak, mereka hidup bersamamu bukankah itu satu keharusan?” sahut lao-liok

“sudahlah kalao memang si yaoyan ini memilih siauw-taihap daripada anak-anaknya kalian mau bilang apa, biarkan saja, yang jelas nanti kalian suruh ketiganya ke bicu.” sela Liang-lo-mo

“jangan cianpwe, kalian akan merusak keluargaku.”

“perkataan apa itu, anak sendiri mau diingkari!?” sela Lam-sin-pek

“bukan aku mengingkari, tapi aku tidak bisa hidup dengan ketiga anakku.”

“memang aku pikiran apa yang susahkan, kami hanya minta kamu melakukan pembelaan pada anakmu, namun nyatanya ini yang kamu lakukan, mencegah kami datang kesini sebagai bukti kecenderungan pada siau-taihap” sahut Lam-sin-pek tegas, Han-hung-fei terdiam.

“mari kita lihat peatanya!” ujar Lam-sin-pek, mereka segera berkelabat, Hung-fei tidak kuasa mencegah, dan tidak berapa lama dua orang pendekar menemuinya, untuk mengajak makan.”

“hari sudah sore, mari kita makan bun-liong-taihap!”

“baik, kalian duluanlah, sebentar aku akan menyusul.” sahut Hung-fei, lalu ia berkelabat dari tempat itu,

Saat kru pentas menutup acara, delapan orang dengan gerakan gesit melompat ke atas panggung, semua tamu terkejut, para cianpwe berdiri, demikian juga sebagian besar para pendekar, Han-fei-lun yang melihat gelagat tidak baik segera berdiri dari kursinya, tung-sin-tianglo, pek-gan-taihap dan empat cianpwe naik keatas panggung

“empat datuk dan empat lao muncul, apa maksud kedatangan kalian!?” tanya pek-gan “hehehe..hehehe…pek-gan, rupanya nyalimu sekarang sudah kuat berhadapan dengan kami.” “janganlah mengacau disini, dan segeralah pergi.”

“hehehe..hahaha…pek-gan, tutup mulutmu sebelum kuhancurkan!” sela pek-mou-hek-kwi.

“kalian datang kepestaku, tentu saya tidak menolak, dan silahkan duduk dan makan minum ala kadarnya.” sela Fei-lun, delapan orang itu beralih menatap Fei-lun

“hmh..kamukah yang bergelar siauw-taihap yang memimpin aliran pek-to?” tanya see-hui-kui “benar cianpwe, mari silahkan duduk ditenda sebelah kanan.” sahut Fei-lun tenang

“kami bukan datang untuk memeriahkan pernikahamu anak muda, kami ingin melenyapkanmu dari muka bumi ini.” tantang Liang-lo-mo “jangan sesumbar liang-lo-mo, langkahi dulu mayat kami jika hendak mennyentuh siauw-taihap.” tantang tung-sin-tianglo, enam cianpwe bersiap

“hehehe..hahaha…baik, rasakan ini!” sahut liang-lomo sambil menyerang tung-sin-tianglo, tung-sin-tianlo dengan gesit berkelit dan membalas serangan, pertempuran berlangsung cepat, gerakan liang-lo-mo yang luar biasa laksana angin menyambar menekan pertahanan tung-sin-tianglo, tung-sin-tianglo bukanlah lawan ringan bagi liang-lo-mo, selisih mereka walaupun dua tingkat, liang-lo-mo tidak akan mampu merobohkannya dalam waktu yang cepat.

Pertempuran gesit dan luar biasa membahana, angin berkesiuran membuat altar roboh porak poranda, Liu-sian sudah sejak dari tadi mengajak lian-kim dan mantunya turun dari panggung, seratus jurus sudah berlalu, tung-sin-tianglo sudah mulai terdesak, sin-kang liang-lo-mo demikian hebat menekan pertahanan Tianglo, namun tiang-lo sudah memutuskan akan membela pimpinannya dengan taruhan nyawa, walaupn ia sudah meuntahkan darah akibat pukulan telak liang-lo-mo, dia tetap bertahan dan melawan habis- habisan.

“hentikan pertempuran!” bentak Fei-lun sambil melompat dan melerai dua cianpwe, tung-sin-tianglo selamat dari tekanan liang-lo-mo, linag-lomo mundur dan melompat kembali kesamping rekan-rekannya

“empat datuk sungguh tidak menghargai saya sebagai tuan rumah, datang dengan niat buruk untuk membunuh saya, aku hendak bertanya apa yang saya pernah lakukan sehingga kalian datang mengacau hari ini?”

“siauw-taihap, anda ini masih hijau atau memang pura-pura tidak tahu.”

“bukannya aku pura-pura tidak tahu, namun cara kalian memilih waktu menantangku terllau arogan.”

“hehehe..hahaha….peduli amat dengan waktu, jika kamu memang pemimpin, kapan dan dimanapun kamu harus siap.”

“kalian memang benar-benar orang-orang tua tidak tahu aturan.” “hehehe..hahaha….taihap jika kamu memang berani kami berempat menantangmu.” “aturan apa itu, menantang dengan mengeroyok.” sela pek-gan

“hehehe…kami ini tidak mengenal aturan, lalu kenapa kalian meminta aturan.

“para cianpwe, kalian tenanglah, dan tetaplah waspada.” sela Fei-lun terhadap tamunya para cianpwe, lalu menghadap dan membuka pita pengantin yang disandangkan padanya

“empat datuk atau malah para lao juga ikut berbagga dengan sikap pengecut ini.” tantang Fei-lun, melihat sikap Fei-lun membuat empat datuk tergetar, terlebih mereka ditampar bahwa mereka telah bersikap pengecut, dan bahkan dikatakan berbangga jika empat lao ikut.”

“sialan kamu siauw-taihap, kami berempat cukup untuk membunuhmu.”

“baik majulah datuk keparat!” bentak Han-fei-lun dengan sinar mata tajam, serapah ini dikeluarkan untuk menyinggung empat datuk supaya emosi, dan itu sangat berhasil, empat datuk dengan amarah menggebu-gebu menyerang Han-fei-;lun.

Pertempuran dengan jumlah yang tidak imbang itu berlansung segit dan seru, empat datuk laksana empat rajawali mengurung seekor harimau, jurus tangan kosong warisan kedua suhunya Ji-sian dikeluarkan saling berganti-ganti, kekohan patkwa dari Pak-sian yang dibarengi bun-sian-sin-kang amat tangguh dan luar biasa, kemudian kegesitan serangan baik saat mengerahkan tee-tong-pak-sian maupun lam-liong-sin- ciang, mmebuat emapt lawannya keteteran, para cianpwe melihat jiwi-sian hidup kembali saat kedua ilmu tangan kosong itu berbarengan digunakan Fei-lun, sungguh para cianpwe takjub dan bangga.

Bagi para cianpwe dan para pendekar, tidak menduga akan sehebat ini pewaris ji-sian, kekalahan tiga lao di shijazhuang sudah membuat mereka takjub, dan kali ini pimpinan mereka menghadapi dedengkotnya aliran hek-to, dan itu bukan satu orang tapi bahkan empat orang sekaligus, dan pertempuran dihadapan mereka ini menjadi peristiwa menakjubkan bagi mereka, saat mereka melihat empat datuk dengan muka terkejut keteteran, hati mereka puas dan bangga, empat lao geleng-geleng kepala tidak habis mengerti