-->

Anak-anak Naga (Liong Haizi) Jilid 2

Jilid 2

Haha..hahah Yaoyan-taihap ternyata masih ingat dan mengenaliku.” Sahut orang yang ternyata “Hai-ma- kui” (siluman kuda laut) bawahan dari datuk Liang-lo-mo.

“yaoyan? aku bukan Yaoyan.” sahut Han-hung-fei heran

“benar kalian salah orang si-sicu, tidakkah kalian lihat gagang pedang dipunggungnya? beliau itu adalah Bun-liong-taihap, selamat bertemu Bun-liong-taihap, aku Li-hui dari hosan-pai” sela seorang lelaki paruh baya disebelah kiri meja Han-hung-fei “selamat berjumpa Li-taihap dan terimaksih telah menyapa.” sahut Han-hung-fei

“hahaha..orang kalau tidak tahu dalamnya tentu hanya mengenal luarnya, apakah arti aroma luar harum sementara aroma luar busuk.”

“hai-ma-kui…tolong jaga mulutmu! dan ada apa sebenarnya maksudmu?” bentak Han-hung-fei

“hahaha..hahaha…jelas aku bukan lawanmu yaoyan-taihap, aku tidak akan mampu melawanmu.” sahut Hai-ma-kui dengan tawa sinis.

“kalau kamu menyadari hal itu kenapa engkau cari masalah!?” ujar Han-hung-fei

“aku tidak mencari masalah dan aku tidak berani, hanya kami mengasihani gadis didepanmu.”

“bangsat…kamu mau bersilat lidah didepanku, plak…plak…” Han-hung-fei dengan emosi dengan kecepatan kilat telah menarik kerah baju Ha-ma-kui dan menampar muka Hai-ma-kui dua kali, kontan dua gigi Hai-ma-kui ambrol dan mulutnya bersimbah darah

“apakah kamu akan membunuhku yaoyan-taihap?” tanya hai-ma-kui meringis kesakitan

“Hai-ma-kui katakan padaku kenapa engkau memanggilku dengan Yaoyan? kebinalan apa yang kulakukan!?”

“apakah kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?” hai-ma-kui balik bertanya, keadaan diruang makan itu semakin tegang, perhatian para tamu semua tertuju pada Han-hung-fei dan hai-ma-kui, tubuh Han-hung- fei bergetar karena menahan marah, lalu ia melepaskan Hai-ma-kui

“aku benar-benar tidak tahu dan tolong jelaskan!” ujar Han-hung-fei dengan nada gemetar, Lian-kim jadi bingung dan cemas, dia menatap semua orang yang menatap kea rah mereka

“baiklah….aku akan jelaskan, rahasia musang berbulu domba, dengarlah cuwi sekalian, pemuda dengan pedang bergagang naga ini, banyak dari kalian menyebutnya Bun-liong-taihap, dan cuwi perlu tahu bahwa sebutan itu adalah bulu dombanya, kalian tidak tahu bahwa sebenarnya dia adalah musang.”

“kamu jangan menabar fitnah sicu, tidak pernah pun kami dengar bahwa bun-liong-taihap berlaku binal, sehingga ia pantas disebut yaoyan-taihap, bahkan namanya makin harum setelah membunuh dua datuk dengan merelakan nyawanya sendiri jatuh kedalam jurang.” sela Li-taihap.”

“Hehehe..hehehe..kalian tidak tahu apa yang saya ketahui, eh cuwi sekalian ketahuilah, bahwa pemuda munafik ini telah menghamili murid liang-lo-mo, murid pek-mou-hek-kwi, murid lam-sin-pek.” Semua yang mendengar terperangah, Han-hung-fei juga terkejut bagaikan disambar geledek, Lian-kim juga terkejut dan tubuhnya lemas menggigil

“yaoyan-taihap! apakah kamu akan memungkirinya, bahwa engkau telah melakukan hubungan dengan ketiga gadis yang saya sebutkan?” tanya Hai-ma-kui dengan senyum kemenangan, Han-hung-fei karena rasa terkejut yang luar biasa, ledakan rasa malu yang tidak terperikan, akhirnya Han-hung-fei pingsan.

“hahaha..hahaha..lihatlah pendekar kalian pingsan tidak berdaya, hahahaha..hahaha…” tawa hai-ma-kui sambil mengajak tiga rekannya keluar, karena huja hanya tinggal rintik-rintik, dan saat yang bersamaan tung-kim-pang muncul.

“eh..ada apa ini, kenapa semua pada tegang!? pelayan aku sangat lapar ..” ujar Tung-kim-pang, sebagian tamu juga keluar setelah membayar makanan, hingga tinggallah haya empat meja yang berisi, Lian-kim mengangkat kepala han-hung-fei

“eh..khu-siocia, hah..bun-liong-taihap, kenapa dengannya khu-siocia?” tanya tung-kim-pang, melihat yang menayapa ternyata Tung-kim-pang

“Yap-siok, syukurlah kita bertemu, dan sebaiknya kita kekamar saya saja.” ujarLian-kim “baik..siocia, mari saya yang akan bawa Han-taihap.” sahut Tung-kim-pang sambil mengangkat tubuh Han- hung-fei

“pelayan antar makananku ke kamar Khu-siocia!” ujar Tung-kim-pang lalu segera menaiki tangga dan masuk kekamar Lian-kim, Han-hung-fei dibaringkan diatas ranjang, tidak lama kemudian pelayan datang dengan makanan diatas nampan, setelah meletakkan makanan diatas meja, pelayan itu keluar, Tung-kim- pang segera duduk dan makan karena perutnya sangat lapar

“khu-siocia duduklah disini sambil minum arak.” ujar Tung-kim-pang, Lian-kim duduk dengan wajah cemas dan pucat, hatinya bingung

“apa yang terjadi khu-siocia?” tanya Tung-kimpang

“tadi ketika kami makan, Yap-siok, seorang lelaki berjulukan hai-ma-kui menyebut Han-taihap yaoyan- taihap, keduanya berbantahan, lalu hai-ma-kui menyampaikan kepada semua tamu, bahwa han-taihap telah menghamili tiga gadis murid-murid datuk, lalu Han-taihap pingsan setelah itu.” sahut Lian-kim menjelaskan

“hai-ma-kui? hai-ma-kui seorang bajak laut bawahan Liang-lo-mo, apakah orangnya yang tertawa-tawa saat saya datang?”

“benar Yap-siok, yang tertawa-tawa itulah hai-ma-kui.

“hmh….masa lalu han-taihap memang ganjil dan tidak terduga, luar biasa cerita itu memang, reputasi Han- taihap akan hancur kali ini.”

“Yap-siok apa menurutmu cerita hai-ma-kui itu benar?”

“saya juga tidak tahu Khu-siocia, tapi melihat reaksi dari berita cendrung benar, dan yang jelas Han-taihap tidak tahu bahwa wanita-wanita itu hamil.”

“kenapa Yap-siok menduga bahwa han-taihap tidak tahu wanita-wanita itu hamil?”

“kalau dia tahu hamil, dia tidak akan pingsan begini, terpaan rasa malu, lalu dihantam rasa bersalah membuat dia tumbang.” sahut Tung-kim-pang yang nama sebenarnya adalah Yap-bong

“eh-Khu-siocia bagaimana bisa bersama Han-taihap?”

“Han-taihap bekerja pada kami sebagai pengawal rumah, dan kami sekarang dalam perjalanan menuju Kaifeng.” jawab Lian-kim

“saya tidak menyangka kalau Han-taihap ternyata selamat. Walhal ia jatuh kejurang yang dalam.

“uhuk..uhukkk..” suara batuk Han-hung-fei terdengar, Yap-bong segera mendekati ranjang, sementara Lian-kim hanya berdiri agak jauh, hatinya jadi sedikit tawar setelah mendengar analisa Yap-bong tentang kebenaraan cerita itu

“oh…kepalaku pusing sekali.” Keluhnya sambil menatap sekelilingnya “ternyata Yap-taihap.”

“benar Han-taihap, sekarang minumlah dulu.” sahut Yap-bong

“hmh….Kim-moi dimana?” tanya Hung-fei lirih dan lemah dan ia berusaha bangkit, Yap-bong membantu mengangkat bahu Hung-fei

“aku disini?” sahut Lian-kim sambil melangkah mendekati ranjang, Hung-fei menatap wajah Lian-kim yang masih nampak kebingungan

“termakasih Yap-taihap.” ujar Hung-fei.

“sama-sama taihap, oh-ya aku hendak kebawah dulu, untuk menjumpai pelayan menyiapkan kamar untukku.” sahut Yap-bong dengan senyum, Yap-bong memang sengaja hendak memberikan kesempatan pada keduanya, Yap-bong hanya heran ketika melihat kebingungan khu-lian-kim, namun setelah hung-fei memanggil Khu-lian-kim dengan panggilan Kim-moi, ia langsung mengerti bahwa Hung-fei dan Lian-kim ada hubungan istimewa, tentunya masa lalu ini harus dibicarakan keduanya, Yap-bhong keluar dan menutup pintu kamar.

“Kim-moi kamu sudah mendengar betepa memalukannya diriku.” ujar Hung-fei sambil menunduk, Lian-kim menatap hung-fei yang duduk bersandar menundukkan kepala, ia ingin menayakan kebenaran analisa Yap-bong

“apakah kamu tidak tahu bahwa mereka hamil?” tanya Lian-kim dengan hati bergetar, Hung-fei masih dengan menunduk

“benar, sama sekali aku tidak tahu.” jawab Hung-fei lemah, Lian-kim memejamkan matanya, hatinya hancur berkeping-keping, air matanya berderai karena sesak dadanya yang meletupkan rasa pedih.

“maafkan aku siocia, aku memang kotor dan nista.” ujar Hung-fei “hmh…lalu apa yang akan kamu perbuat selanjutnya?” tanya Lian-kim

“sebenarnya aku pantas tewas didasar jurang, namun Thian berkehendak lain, mungkin sudah tepat aku hidup di hutan sebagaimana yang kulakukan setelah selamat, jadi aku akan kembali kesana.”

“kenapa engkau tidak menikahi mereka malah melarikan diri?” tanya Lian-kim

“mereka tidak mencintaiku, jika ake menikahi mereka dan salah satu dari mereka maka aku jadi mayat hidup yang menjadi budak mereka.”

“apakah itu merupakan pembelaan dari rasa bersalahmu?”

“siocia, perkataanmu luar biasa tajam menusuk hatiku, tapi kim-moi sayangku, aku sadar bahwa pantas untuk menerima tikaman ini, aku tidak akan membantahmu, cukuplah aku bersimpuh dihadapan cintamu, jika cintamu sudah memponis demikian maka benarlah itu,” sahut Hang-hung-fei dengan hati berdarah.

“hiks…hiks…uuu..uuuu…uuuu…, Han…ko..han-ko….maafkan lah aku sayang.” isak jerit tangis lian-kim sambil berlari memeluk kekasihnya,

“han-ko…peluk aku sayang uuu..uu…, peluk aku dengan erat kasihku….aku adalah hidupmu, tapi oh.. han-ko ku sayang sebaris perkataanku telah meluluh lantakkan hatimu, uuuu…uu….oh…lian-kim apa yang telah kamu perbuat? uuuu..uuu…” jerit ratap Lian-kim, kedua muda mudi itu menangis tersedu-sedu sambil berpekukan erat

“hiks…sudahlah sayang, jangan merasa bersalah begitu, benar engkau adalah hidupku,dan sebaliknya aku adalah hidupmu, Thian telah mempertemukan kita, rasa malu akan tetap mengikutiku, apakah kita akan mampu menjalaninya? luapan cintamu telah memberikan jawaban padaku sayang, pintu maafmu padaku, demikian luas kurasakan pada setiap hentakan nafasmu dalam pekukan ini.”

“hiks….han-ko aku cinta padamu, aku hanya akan hidup disampingmu.”

“demikian juga aku kim-moi sayang.” sahut Hung-fei sambil mengeratkan pelukannya, karena hangat dan besarnya luapan cinta yang berpendar, tubuh mereka lemas dan terlelap, jalinan nafas yang menyatu laksana irama yang menghanyuttkan mereka kelembah kelegaan yang tiada bertepi, keduanya terlelap yaman dalam pelukan, sehingga mengantarkan keduanya kemahligai tidur yang memulaskan.

Keduanya terbangun, ternyata siang sudah berganti malam Han-ko ternyata sudah malam.” bisik Lian-kim

“apakah kamau lapar sayang?”

“tidak, aku malas bangun, sebaiknya kita tidur lagi.” sahut Lian-kim sambil menggelas selimut dan kembali memeluk tubuh Hung-fei, Hung-fei juga membalas pelukan dan kedua sejoli itu kembali tidur dengan pelukan dibawah hangatnya selimut.

Han-hung-fei dan Khu-Lian-kim turun untuk makan, keduanya akan melanjutkan perjalanan setelah makan, Yap-bong dengan senyum menyambut mereka dibawah.

“bagaimana keadaanmu Han-taihap?” tanya Yap-bong “aku sudah pulih Yap-taihap.” sahut Hung-fei “syukurlah kalau begitu, dan khu-siocia bagaimana?” “aku juga baik-baik saja Yap-siok.”

“hehehe..hehehe..kalau begitu marilah kita makan bersama.”

“marilah Yap-taihap.” sahut Hung-fei, lalu merekapun makan sambil bercakap-cakap “Yap-siok darimana dan mau kemanakah?” tanya Lian-kim

“aku dari kaifeng hendak menjenguk si Lu-piauw, ah..ternyata pondoknya kosong.” “oh..kami bertemu dengan Lu-taihap di kota Lokyang.” ujar Hung-fei “hmh..memang orang tua itu tidak mau diam.” gerutu Yap-bong

“lalu yap-taihap mau kemana?” tanya Hung-fei

“aku mau ketaiyuan.” jawab Yap-bong, sambil menyelesaikan makannya dengan minumk air teh, setelah mereka selesai makan, lalu mereka berpisah, Han-hung-fei dan Lian-kim berangkat ke kota Kaifeng.

Empat hari kemudian mereka sampai dikota Kaifeng, Lian-kim mengajak hung-fei langsung menuju likoan yang dikelola oleh Liu-gan, keduanya disamput seorang pelayan

“Selamat berjumpa Khu-siocia .” sapa pelayan “selamat berjumpa paman A-kiu, apakah Liu-siok ada?”

“Liu-loya sedang sakit, jadi Loya telah menyiapkan uang sewa likoan dan menitipkan kepada Lauw-loya, marilah saya antar keatas siocia.” sahut A-kiu, lalu mengantar Lian-kim dan Hung-fei keruang atas

“hahaha..selamat datang Khu-siocia, maaf saya terlambat menyambut kedatangan siocia.” sapa Lauw-loya

“ah..tidak apa-apa Lauw-siok, kenalkan ini han-ko teman saya.” sahut Lian-kim, Hung-fei langsung memberi hormat dan dibalas Lauw-loya

“lauw-siok apa Liu-siok sakit?”

“benar siocia, hanya kelelahan mungkin, dan uang sewa likoan sudah dititp kepada saya.” sahut Lauw-loya

“Baiklah kalau begitu Lauw-siok, persiapkan saja karena besok kami akan segera kembali ke Bicu, dan sekarang kami pamid dulu untuk menemui penyewa dua rumah yang disebelah timur.”

“baiklah siocia, kami akan siapkan kamar untuk siocia dan Han-taihap.” sahut Lauw-loya

Lian-kim dan Hung-fei pergi ke bagian timur kota untuk menagih sewa bangunan dua rumah, setelah itu mereka melewatkan hari, berjalan-jalan disekitar taman kota sambil menikmati keramaian, menjelang sore para kongcu dan pemuda sastrawan hilir mudik sambil bercengkrama, Hung-fei dan Lian-kim kembali ke likoan milik keluarga Lian-kim untuk menginap, bekas jiangzhou memang sangat tepat dijadikan sebagai likoan, karena bangunan tiga tingkat itu memiliki banyak kamar dan bagian-bagian bangunan yang berdiri disekitarnya juga dijadikan beberapa kamar. Keesokan harinya Lian-kim dan hung-fei meninggalkan kota dengan sekantong uang emas dari tagihan sewa, perjalanan kembali ke Bicu lebih cepat daripada waktu mereka berangkat dari Bicu, dan hal ini karena perjalanan kembali sangat lancar tanpa aral melintang, setibanya mereka di Bicu, Khu-hujin menyambut kedatangan putrinya dengan rasa lega dan gembira, karena ini merupakan perjalanan kedua putrinya mengerjakan tugas yang sama, awalnya perjalanan Lian-kim setahun yang lalu memakan waktu lebih dari sebulan, namun kali ini kurang dari sebulan Lian-kim sudah kembali.

Tiga hari kemudian Lian-kim menemukan ibunya dikamar

“ibu! aku ingin menyampaikan sesuatu.” ujar Lian-kim dengan nada bergetar, ibunya heran mendengar nada suara yang bergetar itu, sejak kepulangan putrinya, putrinya nampak demikian cerah dan gembira, lalu kenapa putrinya sepertinya cemas dan ketakutan

“ada apa Kim-ji, sepertinya ada yang kamu cemaskan?” sahut ibunya lembut, kepala Lian-kim makin menunduk

“ibu..apakah aku sudah layak berumah tangga?” tanya Lian-kim semakin sumbang, ibunya tiba-tiba tersenyum

“sudah Kim-ji, umurmu sebentar lagi akan mencapai dua puluh satu tahun, dan itu sudah tepat dan layak berumah tangga, apakah akan ada pemuda yang kamu suka dan cintai akan datang kesini melamarmu?”

“apakah ibu akan suka jika ia datang?” sahut Lian-kim bergetar

“hi..hi..hi… tentu kim-ji, kalau kamu memang suka, bagaimana ibu tidak suka, hanya kita berdua anakku dalam hal ini, hikss.hiks…ayahmu sudah tiada.” Sahut ibunya iba pada anaknya, melihat ibunya menangis Lian-kim jadi ikut menangis, keduanya teringat suami dan ayah.

“ibu bagaimana menurut ibu tentang Han-taihap?”

“hmh…han-taihap? seorang pemuda berumur dan matang, dan juga menurut ibu sangat sopan dan baik, apakah Han-taihap yang menjadi pilihanmu Kim-ji?” sahut ibunya, Lian-kim mengangguk.

“jikalah ia orangnya, tiadalah ibu meragukannya, lalu bagaimana rencana kalian?” “aku akan menyampaiakan hal ini padanya, supaya ia menemui ibu.”

“baiklah ibu akan menerimanya, dan ibu akan tunggu dia diruang tengah.” ujar Khu-hujin, kemudian keduanya keluar kamar, Lian-kim pergi ke paviliun dibelakang rumah, dimana Hung-fei menantinya, hal ini memang belum diketahui oleh Hung-fei, Hung-fei menunggu dipaviliun karena sudah dua malam mereka bertemu dipaviliun.

“kamu sudah datang Kim-moi?” sapa Hung-fei dengan senyum lembut “sudah lamakah han-ko menungguku?”

“hehehe..hehehe..tiadalah istilah menunggu bagiku sayang, karena aku dan kamu berada didalam satu atap.”

“han-ko bagaimanakah menurutmu, apa yang kita lakukan selanjutnya?” “aku akan melamarmu pada hujin kim-moi?

“kapan kamu akan melamarku han-ko?” “kalau bisa secepatnya kim-moi.”

“saya lihat ibu sendirian diruang tengah Han-ko.”

“oh ya, kalau begitu aku akan menemuinya sekarang, sudah dua malam aku menanti kesempatan ini.” ujar Hung-fei “kamu tunggulah besok, keputusan yang akan kita terima dari hujin.” ujar Hung-fei dengan nada semangat, lalu keduanya meninggalkan paviliun, lian-kim kembali kekamarnya dan Hung-fei menuju ruang tengah.

Khu-hujin melihat Hung-fei datang menghentikan sulamannya “ada apa Han-taihap?” tanya Khu-hujin

“Hujin…aku ingin menyampaikan sesuatu, dapatkah?”

“hmh…duduklah han-taihap dan tuangkan teh untukmu!“ perintah Khu-hujin, Hung-fei merasa degup jantungnya semakin kencang, lalu dengan sikap hormat ia duduk

“katakanlah Han-taihap, apa yang ingin kamu sampaikan!” perintah Khu-hujin, hung-fei tiba-tiba merasa kerongkongannya kering, jakunnya naik turun, hal itu tidak luput dari perhatian Khu-hujin, Hung-fei segera menuangkan air minum dan mereguknya dengan pelan, kerongkongannya basah, semangatnya muncul kembali, ia tidak menduga bahwa akan begini sulitnya menyampaikan lamaran pada orang tua gadis yang mau dilamarnya, terlebih dahulu menelan air ludah Hung-fei mencoba menatap calon ibu mertuanya

“hujin.. aku membaranikan diri menghadap hujin karena niat yang kuat untuk melamar Kim-moi untuk menjadi istri saya.” plong rasa hati Hung-fei setelah kalimat lamaran ini keluar, Khu-hujin terdiam dan menatap Hung-fei, hal ini membuat Hung-fei cemas dan kikuk

“sampaiakan sekali lagi Han-taihap!?” perintah Khu-hujin dengan nada lembut, keringat Hung-fei tiba-tiba terbit dari pori-porinya, lengan dan keningnya basah

“a..aku hendak melamar Kim-moi jadi istriku, hujin.” sahut Hung-fei sedikit terbata-bata

“Han-taihap Kim-ji satu-satunya anak yang kumiliki, kami ini keluarga yang ditinggal mati oleh pimpinan keluarga, apakah kamu siap menerima beban keluarga ini?”

“aku telah menyiapkan diri untuk semua hal yang akan tertanggung padaku hujin.”

“baiklah Han-taihap, persetujuanku akan kamu dapatkan besok, aku mau menanyakan hal lamaranmu ini pada Lian-kim.”

“baiklah hujin dan aku akan menunggu besok, dan sekarang aku mohon pamit” sahut Hung-fei, Khu-hujin mengangguk sambil tersenyum.

Keesokan harinya Hung-fei dipanggil Khu-hujin, dengan harap-harap cemas Hung-fei datang menghadap “Fei-ji, saya sudah bicarakan hal ini dengan Lian-kim, dan sepertinya ia setuju dengan lamaranmu, jadi ibu juga tidak keberatan jika kalian memang ingin menikah.” ujar Khu-hujin, Hung-fei merasakan gelora dihatinya, hati menjeritkan bahagia yang tidak terlukiskan

“terimakasih ibu, aku merasa restu ibu ini berkah yang luar biasa bagiku, sekali lagi terimakasih ibu.” ujar Hung-fei dengan gembira.

“baiklah, nanti siang kumpulkanlah semua penghuni rumah, kira akan bagi-bagi tugas untuk pelaksanaan hari pernikahan kalian.” ujar Khu-hujin

“baik ibu, aku mohon pamit.” sahut Hung-fei dengan rasa gembira yang luar biasa.

Seminggu kemudian Han-hung-fei dan Lian-kim menikah, pesta diadakan dengan meriah, para tetangga diundang semua, para pejabat kota berkenan juga untuk hadir, keluarga Khu walaupun baru dua tahun lebih berada di Bicu, namun janda itu kaya itu amat baik dan dermawan, ratusan penduduk Bicu merasa gembira menghadiri pesta pernikahan Han-hung-fei dan Khu-lian-kim, dan tentunya kedua pengantin lebih gembira dan bahagia, saat malam kian larut para tamu undangan sudah hampir pulang, keduanya pun masuk kamar pengantin, luapan bahagia, cinta dan birahipun memancar dari kepundan jiwa kedua mempelai yang menyatu dalam pelukan hangat malam pengantin.

Sejak itu Han-hung-fei menjadi kepala rumah tangga di rumah megah she-khu, semua perencanaan dan sumber pendapatan dalam kendali Hung-fei, dan dalam hal ini Hung-fei memang amanah dan cekatan, setahun kemudian anak pertama Hung-fei lahir, seorang bayi perempuan yang cantik menambah kebahagian suami istri itu, oleh Hung-fei putrinya diberi nama Han-bi-goat, setahun kemudian karena melihat sebagian penduduk kota Bicu mata pencahariannya berdagang maka Hung-fei mendirikan piauwkiok di kota Bicu, piuwkiok hung-fei satu-satunya dikota Bicu, dan selama ini para pedagang atau keluarga yang membutuhkan jasa pengawalan menunggu ekpedisi yang lewat dikota mereka, dan kota Bicu biasanya ada empat ekpedisi yang lewat, yaitu hek-ma-piauwkiok (ekpedisi kuda hitam), “tung-tiuw- piuawkiok” (ekpedisi rajawali timur), “lam-hong-piuawkiok” (ekpedisi angin selatan) dan “hui-liong- piauwkiok” (ekpedisi naga terbang)

Nama piuawkiok yang didirikan Hung-fei adalah “Han-piawkiok” (ekpedisi Han), Han-hung-fei melatih bela diri pada dua puluh orang pemuda dan mempekerjakannya dalam ekpedisi yang didirikannya, disamping dapat melancarkan penagihan sewa kekota Kaifeng, jasa ekpedisi juga menjadi sumber pendapatan yang lumayan bagi keluarga Hung-fei.

“Fei-lun….! Fei-lun……!” suara panggilan itu terdengar parau, seorang lelaki paruh tua melangkah memasuki rumah yang tergolong besar dikawasan utara kota Kaifeng, lelaki paruh baya itu adalah Liu-gan yang baru pulang dari tempat kerjanya, seorang wanita cantik menyambutnya

“ayah sudah datang!” serunya dari pintu depan

“hehehe…sian-ji       mana        cucuku        Fei-lun?”        tanyanya        pada        putrinya        Liu-sian “dia dibelakang sedang latihan ayah.”

“ooh…aku akan melihatnya kebelakang, dan ambil ini.” sahut Liu-gan sambil memberikan barang bawaannya pada putrinya.

Liu-gan menuju taman belakang, sorang anak laki-laki berumur tujuh tahun sedang berlatih silat, tubuhnya yang berotot basah oleh keringat, dia bergerak dengan luwes dan gesit, sorot matanya yang tajam demikian awas dalam setiap gerakannya yang cekatan, Liu-gan bersedekap menonton cucunya yang serius dan fokus dengan latihannya, seulas senyum tidak lekang dari bibirnya, ia merasa bangga dengan cucunya yang baik dan cerdas.

Fei-lun adalah anak yang lahir dari hubungan Liu-sian dengan Han-hung-fei diluar nikah, oleh karena itu Fei-lun adalah she-han, Liu-sian tidak mau menikah lagi walaupun banyak lamaran yang datang padanya sejak Fei-lun berumur tiga tahun, hati dan tubuhnya adalah milik Han-hung-fei, walaupun Han-hung-fei tidak mencintainya, baginya suaminya dalam kehidupan ini adalah Han-hung-fei, terlebih belahan jiwa dan kejora matanya Fei-lun lahir dan tumbuh makin besar, dia bahagia dengan buah cintanya, dan dalam hal ini Liu-gan pernah membujuk putrinya untuk menikah lagi, saat itu seorang pendekar dari hoasan-pai melamarnya

“Sian-ji! Yap-taihap dari hoasan-pai menyampaikan niatnya padaku untuk mempersuntingmu, dan aku lihat Yap-taihap itu orang yang sangat baik dan serasi denganmu.”

“ayah…maafkanlah anakmu ini ayah, aku sudah punya in-kong, diriku ini sudah milik in-kong, dan aku tidak ada lagi hasrat untuk menikah.”

“tapi nak, kamu jangan lupa kenyataan yang kita terima, bahwa Han-taihap tidak menikahimu.”

“benar ayah, kenyataan ini memang pahit bagiku dan bagi ayah, tapi bagiku ayah, aku adalah milik in-kong selamanya, in-kong tidak mencintaiku adalah benar, in-kong tidak menikahiku adalah benar, dan in-kong memberikan aku anak juga adalah benar, dua kebenaran yang amat pahit itu telah dilenyapkan manisnya satu kebenaran yang kumiliki, aku lebih dari siap dalam kesendirianku bersama anakku ayah.” sahut Liu- sian, Liu-gan menitikkan air mata mendengar ungkapan anaknya

“jika demikian keputusanmu anakku, ayah tidak akan lagi mengungkit masalah pernikahan padamu, dan ayah akan tetap mendukung keputusanmu.” sahut Liu-gan, Liu-sian menangis sambil memeluk ayahnya, dan sejak itu, setiap orang yang datang melamar putrinya, Liu-gan sudah memberikan jawaban mutlak.

Han-fei-lun lahir di jiangzhou yang dibentuk oleh Khu-ciangkun, dan sekarang oleh Khu-hujin dijadikan likoan yang besar dan megah, dan karena Liu-gan seorang juru masak yang handal, Khu-hujin menyuruh Liu-gan untuk mengelola likoan tersebut, Khu-likoan sangat diminati para pengunjung, baik penduduk lokal maupun pengelana yang lewat, karena disamping tempatnya yang apik dan asri, juga makanannya terkenal enak dan beraneka macam.

Selama tiga tahun, Liu-gan sudah dapat memiliki rumah lumayan besar, dari hasil likoan yang dikelolanya, Liu-gan mempekerjakan dua puluh pelayan dan sepuluh juru masak, dan dia juga dibantu seorang wakil dalam urusan administrasi yaitu Lauw-ma, setiap sore ia selalu pulang dengan hati gembira, karena kelelahannya akan lenyap saat ia disambut cucunya Fei-lun, Fei-lun menutup gerakannya dan mengatur nafasnya yang sedikit memburu, Fei-lun melihat kakeknya yang berdiri bersedekap

“kakek sudah kembali!?” serunya sambil berlari mendapatkan kakeknya

“sudah Lun-ji, latihanmu maju pesat, kedudukan kuda-kudamu sudah tepat dan kokoh.” “kongkong, kuda-kuda dari pak-sian suhu lebih rumit dari kuda-kuda Lam-sian-suhu.” ujar Fei-lun

“benar, karena kuda-kuda suhumu Pak-sian adalah Pat-kwa sedang suhumu Lam-sian sam-kwa dan Hun- kwa, dan kuda-kuda kedua suhumu ini memiliki kelebihan masing-masing.

“kelebihannya apa kong-kong?” tanya Fei-lun antusias

“kuda-kuda patkwa dalam serangan mampu mengurung dan menyudutkan lawan, dan dalam bertahan sangat kuat dan sulit ditembus, sementara samkwa yang digabung dengan hunkwa, dalam serangan akan membingungkan lawan karena kecepatan gerak yang tidak terduga, dan dalam bertahan sangat gesit dan sulit untuk di intimidasi

“kamu tadi sedang melatih “tee-tong-pak-sian” milik suhumu pak-sian, kongkong sempat terkesima melihatnya.” ujar Liu-gan

“benarkah kong-kong?” tanya Fei-lun gembira

“benar Lun-ji, dan akan mengagumkan jika ilmu itu mendarah daging.”

“aku akan berlatih dengan giat kong-kong, supaya setiap ilmu dari jiwi-suhu dapat mendarah daging.” “benar Lun-ji dan kamu harus buat kedua suhumu bangga.” sahut Liu-gan

Han-fei-lung setelah lahir sudah mempunya dua suhu yaitu Pak-sian dan Lam-sian, dua datuk terkenal dirimba persilatan, kedua suhunya tewas ditangan Han-hung-fei yang jiwanya labil dan penuh kekelaman saat itu, empat kitab warisan Ji-sian dipelajari Fei-lun sejak umur lima tahun

“Lun-ji! saatnya kamu belajar ilmu Bu disamping ilmu Bun.” ujar Liu-gan, kemudian Liu-gan meletakkan empat kitab di depan mereka

“apakah ini kitab-kita ilmu silat yang akan saya pelajari kongkong?”

“benar Lun-ji, empat kitab ini adalah amanah dua cianpwe yang menjadi suhumu pada kongkong.” “siapakah kedua suhuku kongkong?”

“kedua suhumu adalah Lam-sian dan Pak-sian, saat engkau lahir Lun-ji, kedua suhumu menyambut dan menggendongmu, lalu mewariskan empat kitab ini padamu.” sahut Liu-gan

“sekarang kedua suhuku dimanakah kongkong?”

“kedua suhumu saat kamu lahir sudah sangat tua, dan sekarang keduanya sudah meninggal, jadi kamu belajar atas arahan kongkong atau ibumu.” sahut Liu-gan, Fei-lun dengan hati semangat mulai menerima pelajaran-pelajaran Bu dari warisan Ji-sian, empat kitab terdiri lima ilmu disamping ilmu gin-kang dan sin- kang, lima ilmu itu terdiri dari dua ilmu tangan kosong dan tiga ilmu menggunakan senjata.

Ilmu dari kitab Pak-sian adalah “tee-tong-pak-sian” (dewa utara menggetarkan bumi) dan “kwi-hut-san- sian” (dewa kipas mengusir iblis), sementara ilmu dari kitab Lam-sian adalah “lam-liong-sin-ciang” (telapak sakti naga selatan), kemudian “in-hua-bun-pit” (pena sastra melukis mega) dan “giok-tan-sian-kin” (sabuk dewa menjerat kemala).

Han-Fei-lun memiliki bakat yang luar biasa dan pemikiran yang cerdas, sehingga dalam satu tahun tiga jenis kuda-kuda dasar dari kedua suhunya yakni pat-kwa, sam-kwa dan hun-kwa dalam satu tahun kemudia Fei-lun sudah menguasai sin-kang dan gin-kang kedua suhunya walaupun masih jauh dari matang, hal itu karena umurnya yang masih muda, dan dia baru empat bulan mempelajari “tee-tong-pak- sian” yang luar biasa dan kaya dengan kombinasi tendangan yang luar biasa.

“Lun-ji.. mandilah! sebentar lagi malam akan tiba.” sela suara Liu-sian yang datang melihat ayah dan anaknya

“benar Lun-ji, sekarang pergilah mandi, dan kongkong juga mau mandi.” ujar Liu-gan, lalu Fei-lun segera menuju tempat pemandian, malamnya mereka makan bersama, dalam benak Fei-lun ada satu hal yang belum tahu jawabannya, hal itu sering mengusik pikirannya saat makan, yakni perihal ayahnya, karena meja makan itu sepertinya tidak lengkap, dan figur yang kurang ini menggantung terus dalam benaknya.

Setelah selesai makan, Fei-lun membaca buku-buku yang disediakan kongkongnya, yang terdiri dari buku- buku militer dan sastra, setiap kata yang tidak dimengerti ia selalu menayai kongkongnya atau ibunya, Liu- gan bukanlah orang awam, Liu-gan adalah seorang yang kreatif dan cerdik, pengalaman hidupnya segudang yang akan diserap oleh cucunya yang tampan dan cerdas ini, ketelatenan ayah dan anak itu mengasuh Fei-lun memberikan kematangan jiwa padanya, hal ini sesuai dengan pesan kedua suhu Fei- lun, sehingga walaupun Fei-lun baaru berusia tujuh tahun, namun dia sangat fasih dan hati-hati dalam setiap tindakan, pertanyaan yang menggantung dibenaknya belum ia tanyakan karena dia harus memilih waktu yang tepat dari situasi ibunya.

Setelah dia belajar sastra, dia hendak keluar menjernihkan kembali pikirannya yang dipenuhi makna- makna sastra yang ia baca, dan juga melegakan matanya yang panas akibat memelototi buku yang ia baca, ia melihat ibunya diruang depan sedang bersantai di kursi goyang sambil menimati cahaya bulan dan keindahan bunga krisan yang tumbuh dihalaman rumah

“ibu…belum tidur rupanya.” sela Fei-lun mendekati ibunya dan dengan lembut memijit bahu ibunya, Liu- sian merasakan lega dan nyaman oleh pijitan putra tercintanya

“belum Lun-ji, apakah kamu sudah selesai belajarnya?” sahut ibunya dan bertanya

“sudah bu dan aku hendak keluar untuk menyejukkan mataku yang panas dan kaku, dan ternyata ibu disini, jadi sekalian saja aku akan menemani ibu.” sahut Fei-lun, Liu-sian menepuk lengan anaknya sambil tersenyum, hatinya lapang dan bahagia.

“apa kongkong sudah tidur ibu?” tanya Fei-lun sambil terus mimujit bahu ibunya “iya, kongkong tentu lelah seharian ditempat kerja.” jawab Liu-sian

“oh ya ibu, fei-lun ada pertanyaan yang mengganjal akhir-akhir ini, dan kiranya ibu dapat melegakan hal ini dari pemikiranku.”

“hal apa yang mengganjal hatimu Lun-ji?” tanya ibunya lembut

“yang mengganjal hatiku ibu adalah prihal ayahku, kenapa ayah tidak bersama kita?” tanya Fei-lun hati- hati, Liu-sian memejamkan matanya, hal ini akan tiba saatnya, anaknya akan menanyakan keberadaan ayahnya.

“Lun-ji ayahmu masih hidup, dan tugasmu nanti yang akan menemuinya jika kamu sudah cukup umur dan kuat.”

“siapakah ayahku ibu dan dimana ia sekaraang?”

“ayahmu adalah Han-hung-fei, dia seorang yang baik dan dia dimana ibu juga tidak tahu, oleh karena itu jangan kau lupa harapan ibu, bahwa kamu akan menemukannya.” sahut Liu-sian

“lalu kenapa ayah tidak bersama kita ibu?” “Lun-ji, suatu saat kamu akan mengerti kenapa ayahmu tidak bersama kita, sanggupkah dirimu nak untuk menunggu pengertian itu datang?”

“tentu ibu, jika memang harus seperti itu, dan sepertinya berbeda dengan kawan-kawan yang lain.”

“itulah kenyataan yang harus engkau terima anakku, kamu memang berbeda dengan kawan-kawanmu, dan perbedaanmu itu amat pahit anakku, namun Thian telah memberimu kehidupan, dan ibu sangat bahagia dengan itu, jadi kamu dan ibu mestilah bersyukur akan nikmat yang kita dapatkan.

“baiklah ibu, hal yang mengganjal hatiku sedikit telah terjawab, dan aku akan menunaikan pesan ibu jika saatnya sudah tiba, lalu apa yang kulakukan jika sudah menemukan ayah?”

“jika kamu bertemu ayahmu, kamu harus hormat dan berbakti padanya, kamu cintai ayahmu sebagaimana engkau mencintai ibu.”

“apakah aku tidak membawa ayah pada ibu?”

“tidak perlu anakku, kenapa tidak? bukankah kamu sudah sanggup untuk menunggu pengertian itu datang?” sahut Liu-sian, Fei-lun mengangguk, disambut senyum ibunya yang lembut.

Keesokan harinya aktivitas penduduk kaifeng berjalan sepertia biasa, Liu-gan berangkat dilepas putri dan cucunya, hari itu cuaca cerah, Fei-lun membantu ibunya membelah kayu bakar disamping rumah, ketika fei-lun sedang istirahat

“fei-lun..!” panggil sebuah suara, Fei-lun menoleh

“ada apa ki-bun?” tanya Fei-lun sambil berdiri dan mendapatkan anak laki-laki sebayanya “jadi tidak kita mancingnya?”

“oh iya, baik dan tunggu sebentar aku akan ambil pancingku dan minta izin ibuku.” sahut Fei-lun sambil berlari kedalam rumah

“ibu aku aku hendak pergi memancing bersama si ki-bun, boleh ya bu?”

“boleh, dan siang harus kembali, karena kamu sore hari kamu akan berlatih bukan?”

“baiklah ibu , siang aku akan kembali.” sahut Fe-lun, Fei-lun sefera mengambil pancing dikamarnya dan keluar menemui Ki-bun.

Saat mereka sampai di telaga diluar gerbang kota sebelah utara mereka mulai melepas kail, sambil menunggu keduanya baring-baring sambil bercanda, tiba-tiba dua orang lelaki dewasa datang berniat hendak memancing juga

“A-ceng tempat kita sudah diserobot dua bocah.” ujar rekannya, “kami yang datang duluan ceng-twako.” sela Ki-bun

“A-liang biarkan saja mereka, kita kesebelah sana saja.” sahut A-ceng

“disebelah sana itu mana ada ikannya…..” bantah A-liang, saat itu umpan Fei-lun diserobot ikan dan cekatan Fei-lun menarik tali pancingnya, seekor ikan bujair sebesar telapak tangan orang dewas menggelepar tersangkut dimata pancing, dengan rasa gembira Fei-lun menariknya kedarat

“tuh..apa saya bilang, eh..kalian bocah-bocah minggir!” ujar A-liang sambil mengibas-ngibas tangannya. “liang twako bagaimana sih, kan kami yang duluan.” bantah Ki-bun

“sudahlah A-liang, kita sama-sama disini saja.” ujar A-ceng menahan A-liang “eh…hahaha..hehehe….aku tahu kenapa kamu mengalah A-ceng.” ujar A-liang tertawa “sudahlah kita duduk agak kesini!” sahut A-ceng sambil duduk dua tombak dari tempat Fei-lun dan Ki-bun memancing

“alahhh….disitu sebentar lagi panas A-ceng.” teriak A-liang, lalu A-liang menancapkan pancingnya didekat pancing Fei-lun yang baru diserobot ikan

“itu terlalu dekat Liang-twako.” sela Fei-lun

“masa bodo, geser..geser…tuan besar mau bersandar.” gertak A-liang, Fei-lun dan Ki-bun bergeser “hehehe…hehehe…., heh..! Fei-lun jika pancingku dan pancingmu diserobot ikan, ikannya untukku.” “mana bisa begitu Liang-twako.” bantah Fe-lun

“benar twako, jika pancing fei-lun yang dapat, ikannya milik fei-lun itu baru benar.” sela Ki-bun “hehehe..hehehe…jika mau seperti itu Fei-lun harus serumah dengan aku.”

“eh maksudnya apa Liang-twako?” tanya Ki-bun heran

“iya kan kalau kami serumah tentunya ikannya sama-sama milik kami.” sahut A-liang “bagaimana kalian bisa serumah?” tanyay Ki-bun penasaran

“itu bukan urusan anak kecil, eh Fei-lun bagimana kalau aku jadi ayahmu.” sahut A-liang dan bertanya iseng pada Fe-lun dengan senyum seperti nyengir kuda.

“aku sudah punya ayah, Liang-twako jangan keterlaluan menggodaku.” sahut Fei-lun tegas. “hehehe..hehehe…siapa ayahmu?” tanya A-liang

“ayahku Han-hung-fei.”

“heheh..hehehe…dimana ia sekarang? apakah sudah mati?”

“itu bukan urusanmu Liang-twako, tolong jangan bicara padaku lagi!” sahut Fei-lun marah.

“Fei-lun kamu jangan marah begitu, kasihan ibumu yang cantik itu, sebaiknya katakan pada ibumu supaya ia menikah lagi..”

“liang-twako! kamu jangan memandang remeh pada keluargaku.” bentak Fe-lun dengan muka merah sambil berdiri

“eh…bocah! kamu mau manantang aku yah?”

“benar karena kamu sudah keterlaluan padaku.” sahut Fei-lun sambil melangkah ke belakang pohon, karena tempatnya luas dan rata

“eh..sudahlah A-liang, kamu juga tidak patut seperti itu.” cegah A-ceng yang segera berdiri dan mendekati mereka

“A-ceng anak ini menantangku dan aku harus hajar biar tahu rasa.” sahut A-liang marah “kamunya juga sih yang keterlaluan.” ujar A-ceng

“A-ceng apa karena kamu juga suka pada ibunya, sehingga kamu juga akan menantangku? mau menarik simpatinya yah?”

“sudahlah, aku tidak mau berbantah denganmu?” sahut A-ceng dan lalu pergi dari situ “heh..Fei-lun! apa kamu masih mau melawanku!?” “Kesini kamu A-liang, jangan tahunya hanya mengancam!” tantang Fei-lun “sialan mau aku hajar rupanya! “ gerutu A-liang mengejar Fe-lun

“buk..auhhh..buk…agh…des…byuar….” Fei-lun tidak berlari malah menyambut dengan dua pukulan yang dilancarkan dengan kecepatan luar biasa sehingga menjerit ketika dua pukulan bersarang telak di perut dan didadanya yang terbuka, bahkan ketika ia sedang membungkuk merasakan sesak nafas dan perutnya yang tiba-tiba kaku, sebuah tendangan menghantam bahunya sehingga ia terguling dan tubuhnya kecebur kedalam telaga.

Apesnya A-liang belum pulih dari keram perut dan nyeri didadanya, sehingga ia tidak mampu bergerak, badannya terapung seperti bangkai mati, matanya melotot mulutnya megap-megap, Fei-lun langsung terjun dan membalik tubuh A-liang sehingga ia mendapat udara, Fei-lun menyeretnya ketepi telaga, Ki-bun yang terkejut segera membantu menariknya kedarat, A-liang dengan nafas sesak memejamkan mata, Fei- lun memandangi wajah A-liang yang pucat pias, tidak berapa lama keram diperunya hilang dan sesak didadanya sudah mulai normal, matanya terbuka dan melihat wajah Fei-lun yang sedang menatapnya dengan tenang.

A-liang kemudian berdiri dan tanpa bicara ia meninggalkan Fei-lun dan Ki-bun, setelah A-liang tidak kelihatan

“hahaha..hahahaa…hihihihih….” Ki-bun tertawa terpingkal-pingkal

“Fei-lun kamu sungguh hebat, A-liang dapat kamu robohkan dalam sekejap, sekarang tahu rasa ia seenaknya saja menghina orang mentang-mentang tubuhnya besar.”

“eh…itu pancingmu bergerak!” ujar Fe-lun, Ki-bun segera berlari dan menarik pancingnya, seekor ikan bujair didapatkan Ki-bun.

Kedua sahabat itu melanjutkan acar mancingnya, hingga tengah hari, Fei-lun mendapat lima ekor ikan bujair dan seekor lele besar, sementara Ki-bun dapat tujuh ekor ikan bujair saja, keduanya pulang dengan hati gembira, sesampainya dirumah Fei-lun menyerahkan hasil pancingannya pada ibunya

“wah…Lun-ji hari ini banyak ikan yang kamu dapat.” ujar ibunya sambil tersenyum “benar ibu, Ki-bun juga banyak dapat.”

“sudah kamu makanlah dulu, setelah itu kamu tidur dan sore hari akan ibu bangunkan.” ujar ibunya, Fei-lun pun melakukan yang diperintahkan ibunya.

Sore harinya Fei-lun berlatih sebagaaimana biasanya, dia tidak membicarakan apa yang terjadi di telaga kepada ibunya, dan saat kakeknya datang, ia baru menghentikan latihannya

“bagaimana hari kongkong?” tanya Fei-lun

“hari ini cukup sibuk, terlebih rombongan Han-piauwkiok datang untuk menagih sewa likoan.” sahut kakeknya

“Khu-hujin sangat cerdik mengembangkan modal yang ia miliki.” sela Liu-sian

“benar sian-ji, sekarang Khu-siocia tidak perlu lagi bolak-balik antara kaifeng dan Bicu, sambil jalan piuwkioknya bisa memungut tagihan.” sahut Liu-gan

“dan saya baru mendengar bahwa Khu-siocia ternyata sudah menikah, dan yang mengelola piuwkiok ini Khu-siocia bersama suaminya.” ujar Liu-gan

“kong-kong kalau namanya Han-piuwkiok, Han itu kan marga, seperti saya marga Han, lalu kenapa dijadikan nama piuwkiok? tidak seperti piuwkiok yang ada dua blok dari rumah kitam namanya “kaifeng- peng” (garuda kaifeng).” sela Fei-lun

“benar Lun-ji, mungkin suami Khu-siocia itu bermarga Han.” jawab Liu-gan “kamu apa yang kamu kerjakan hari ini Lun-ji?” tanya Liu-gan

“aku tadi memancing bersama Ki-bun, tangkapannya lumaya, aku dapat lima ekor ikan bujair dan seekor lele

“wah..kalau begitu kongkong tidak sabar ingin makan, ayoklah kongkong jadi lapar mendengar lele.” sahut Liu-gan dengan senyum penuh sayang pada cucunya, merekapun menuju ruangan makan.

Seminggu kemudian Han-hung-fei pergi lagi memancing bersama Ki-bun, tapi diluar gerbang mereka ditunggu A-liang bersama dua temannya, dua temannya itu ahli silat sebuah bukoan yang ada dikota itu

“bocah tengik hari ini kalau kamu tidak babak belur jangan panggil aku A-liang.” Gertak A-liang dengan muka merah, Fei-lun berdiri dengan tenang, sementara Ki-bun sudah pucat ketakutan

“A-liang apa tidak salah nih, kamu bermusuhan dengan anak kecil dan kami minta bantuan kami?” tanya seorang temannya yang bertubuh pendek tapi berotot kekar

“dia bisa silat A-bui, karena itu aku minta pada kalian menghajarnya sampai babak bundas.” sahut A-liang

“walaupun anak kecil pandai silat, jangakaunnya tidak selebar kita, tenaganya masih kecil, masa kamu kalah dengannya walaupun kamu tidak pandai silat?” sela rekannya yang satu lagi merasa ragu.

“sudah A-mou, kalian hajar saja, janji aku akan traktir kalian makan dan minum selama tiga hari.” sahut A- liang

“hmh..kamu saja yang hajar A-bui, tinggimu tidak jauh selisih dengan anak itu.” sahut A-mou “eh tunggu dulu, ini anak siapa, sebab nanti jadi perkara kalau anak orang penting.” sela A-bui “orang penting apa? dia hanyalah anak seorang janda ” sahut A-liang 

“janda? janda yang mana?” sela A-mou

“janda yang sering kami ikuti bersama si A-ceng jika kepasar

“oh janda itu, eh jandanya cantik denok loh A-liang dan tubuhnya sangat meng….” “tutup mulut kalian..! dan jangan mengatai ibuku.” bentak Fei-lun dengan hati marah dan perih, mendengar bentakan bertenaga itu membuat A-bui terdiam tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang hendak mengatakan menggairahkan

“heh bocah memang ibumu menggairahkan, kamu mau marah hah…? marahlah! panggil ibumu kesini biar aku kerjai sampai ibumu ngos…plak..adouh..plak…aghhh…buk..huhgg…buk…des….plak..plak…” sela A- mou, namun dengan tidak diduga, Fei-lun sudah melompat kearahnya dua tamparan pada mukanya membuat ia menjerit, kemudian disusul dua pukulan menghantam leher dan bahunya dan diakhiri sebuah tendangan kilat pada perutnya sehingga ia terjerembab, lalu Fei-lung menduduki dada A-mou dan dua tamparan dihadiahkannya lagi pada muka yang sudah bersimbah darah karena bibirnya pecah, dan dua tamparan terakhir ini membuat empat gigi A-mou tanggal dari gusinya.

Luar biasa kemarahan Fei-lun dalam serangan sekejap dan tidak terduga, A-bui baru sadar dar terkejutnya A-mou sudah pingsan muka bersimbah berdarah, lehernya memar membiru, tulang pundaknya remuk, serta perutnya terguncang, melihat keadaan rekannya A-bui pucat pias, A-liang terperangah dengan tubuh menggigil, Fei-lung mendekati A-bui

“tu..tunggu sa..saya tidak melawan, sa..saya menyerah.” ujar A-bui sambil berjongkok “plak….adouwh…plak..auh…mulutmu juga harus ditampar karena berani mengatai ibuku” ujar Fei-lung sambil menampar dua kali pipi A-bui, dan sama hal dengan A-mou, tiga gigi A-bui melesak dari gusinya, mulutnya berdarah

“ki-bun mari kita pergi!” ujar Fei-lun sambil mengambil kempali pancingnya, sorot matanya yang tajam menatap A-liang yang menggigil “sekali lagi kamu cari perkara dan berpikiran buruk pada ibuku, aku sumpah akan mengeluarkan jantungmu.”ancam Fei-lun, mendengar itu luar biasa ketakutan A-liang sampai-sampai celanannya basah terkencing-kencing.

Fei-lun dan Ki-bun menuju telaga, Ki-bun semakin kagum pada temannya ini, saat mereka sedang bersandar di bawah pohon

“Fei-lun aku tidak menduga bahwa kamu sehebat ini.” puji Ki-bun

“ah, sudahlah Ki-bun, kamu jangan memuji-muji saya, benar aku risih dan malu.” “baiklah, tapi bolehkah aku tahu dimana engakau belajar silat?”

:aku belajar silat dibawah bimbingan kakek dan ibuku.” jawab Fei-lun “berarti kakek dan ibumu ahli silat yang hebat kalau begitu.”

“aku tidak tahu ukuran hebat itu sampai dimana, sudahlah kita bicara topik yang lain saja.” sahut Fei-lun. “bagaimana kabar adikmu lan-lan? saya dengar ia sakit .”

“sudah baikan, setelah dua hari minum obat Bu-sinse.” jawab Ki-bun “lan-lan sakit apa?” tanya Fei-lun

“dia sakit perut, entah makan apa sehingga sakit begitu.” sahut Ki-bun

“eh…pancingmu diserobot lagi Ki-bun!” teriak Fei-lun, Ki-bun dengan cepat bangkit dan menarik pancingnya, seekor lele besar Ki-bun dapatkan, acara memancing terus berlanjut, kali ini agak lewat siang mereka pulang, Fei-lun dapat dua ekor lele dan empat bujair, sementara Ki-bun dapat lima ekor bujair dan seekor lele.

Sebulan kemudian, saat Fei-lun sedang latihan tiga orang datang kerumah Han-fei-lun, orang itu adalah A- mou, A-bui dan guru mereka Ma-kauwsu

“ada pakah tuan-tuan datang kemari?” tanya Liu-sian heran “kami ingin bertemu dengan putramu!” jawab Ma-kauwsu “tuan-tuan ini siapa?” tanya Liu-sian

“aku adalah Ma-kauwsu dari perguruan “peng-jiauw” (cakar gatuda) di selatan kota, dan ini kedua muridku.” Jawab Ma-kauwsu

“sebentar akan saya panggilkan putraku .” sahut Liu-sian, Liu-sian masuk kedalam, tidak lama kemudian Liu-sian datang dengan Fei-lun

“ini putraku Ma-kauwsu, hal apa yang menyebabkan kauwsu hendak bertemu dengan putraku?” tanya Liu- sian

“Kouwnio! putramu terlalu membanggakan ilmunya sehingga membuat kedua muridku ini baring hampir sebulan.” ujar Ma-kauwsu sambil menunjuk A-mou, Liu-sian terkejut

“benarkah itu Lun-ji?” tanya Liu-sian

“benar ibu, dan aku melakukannya bukan tanpa sebab.” “cih….sombongnya!” sela Ma-kauwsu mencela

“kauwsu cianpwe, maafkan aku jika dirasa sombong, namun aku harus menjaga keluargaku dari hinaan dan ancaman, jadi besikap adillah cianpwe.” sela Fei-lun mantap dan tegas, Ma-kauwsu terperangah mendengar perkataan yang harusnya keluar dari mulut orang berumur dan matang

“memang kedua muridku menghinamu,   dan   kau   telah   berlebihan   melukainya   keduanya.” “katakan padaku Ji-twako siapakah yang kau hina?” tanya Fei-lun dengan tenang sambil menatap kedua murid Ma-kauwsu

“bukankah kami hanya menghinamu!?” sahut A-mou

“dan aku sudah minta maaf, tapi engkau masih memukulku hungga tiga gigiku copot.” sela A-bui “kalian jangan bohong Ji-twako, dengarlah kauwsu-cianpwe, ji-twako ini telah menghina ibuku, jika hanya aku yang mereka hina, mungkin aku tidak akan memukul, tapi kauwsu ibukulah yang mereka hina, jika ibuku dihina sampai mati aku tidak akan terima, hiks…hiks… sekarang cianpwe sudah datang, aku akan terima semua akibat yang akan cianpwe timpakan padaku.” ujar Fei-lun dengan nada bergetar sampai ia terisak menangis, melihat itu terenyuh juga hati Ma-kauwsu

“benar apa yang dikatakannya tadi, kalian telah menghina ibunya hah!?” tanya Ma-kauwsu pada kedua muridnya, A-mou dan A-bui tertunduk diam

“heh..! kenapa kalian diam kalian benar telah menghina ibunya!?” bentak Ma-kauwsu “be,,benar suhu..” sahut A-mou

“plak..plak…murid sialan, kalian telah membuat malu cepat minta maaf pada kouwnio!” bentak Ma-kauwsu sambil menampar kepala kedua muridnya, A-mou dan A-bui berlari menunduk didepan Liu-sian yang berurai air mata

“maafkan kami kouwnio, kami telah bersalah.” ujar A-mou dengan nada memelas “benar kouwnio, tolong kami dimaafkan.” sela A-bui,

Liu-sian memeluk anaknya sambil menangis

“sudah pergilah, aku memafkan kalian.” sahut Liu-sian sambil mengusap air matanya “maafkanlah aku yang tidak bisa mendidik murid ini Kouwnio.” ujar Ma-kauwsu “hiks..hiks.. baiklah Ma-kauwsu.” sahut Liu-sian

“terimakasih cianpwe telah berlaku adil pada tecu.” sela Fei-lun sambil menjura, Ma-kauwsu undur diri dengan hati takjub luar biasa, Fei-lun mengajak ibunya masuk kedalam rumah, dan tidak berapa lama Liu- gan

“apa cucuku tidak latihan hari ini?” tanyanya dengan senyum arif melihat cucu dan anaknya yang berpelukan

“eh..kenapa matamu sian-ji? sepertinya kamu baru menagis, hah cucuku yang perkasa juga, ada apa?” tanya Liu-gan heran

“tidak apa-apa ayah.”

“tidak mungkin tidak ada apa-apa, aku ayahmu sian-ji, aku kenal benar dirimu, katakana apa yang terjadi!” “kongkong, tadi Ma-kauwsu dari selatan kota datang, perkaranya karena saya memukul kedua muridnya.” “eh…kenapa kamu main pukul Lun-ji?” tanya Liu-gan heran

“kerena kedua muridnya menghina ibu, kongkong.” “lalu apa yang diperbuat Ma-kauwsu?”

“Ma-kauwsu telah berbuat adil padaku dan kedua muridnya.” “heh..lalu apa masalahnya sehingga ibumu dan kamu menangis?”

“ayah…sudahlah.” sela Liu-sian sambil kembali memeluk anaknya dan mennciuminya dengan air mata yang berderai.

“hmh..baiklah kalau begitu, aku akan pergi mandi.” ujar Liu-gan maklum.

“eh…Lun-ji pergi jugalah mandi, masa kongkong aja yang harum kalian tidak hehehe..hehehe..” ujar Liu- gan sambil tertawa, Liu-siian dan Fei-lun tersenyum dan tertawa

“baiklah kongkong.:” sahut Fei-lun sambil bangkit dari pangkuan ibunya, Liu-sian juga bangkit dari duduknya dan mempersiapkan makan untuk ayah dan anaknya..

Waktu berjalan tidak terasa, tiba-tiba sudah tujuh tahun sudah berlalu, Fei-lun sudah berumur empat belas tahun, pelajaran dari kedua suhunya sudah dikuasai seluruhnya, hanya tinggal menyempurnakan saja sampai pada tingkat matang, dan untuk itu butuh dua tiga tahun lagi sehingga ia menyamai kedua suhunya dalam hal tehnik dan jurus, namun Fei-lun akan persis sama dengan kedua suhunya, tentu butuh waktu yang lama, karena Fei-lun harus memeiliki pengalaman tempur yang banyak untuk mematangkan reflek semua gerakan.

Bukit batu sebelah barat kota Nanchao nampak angker dan menyeramkan, tiga orang remaja laki-laki sedang berlatih dengan tekun, sementara didepan mereka empat lelaki lanjut usia memperhatikan semua gerakan ketiga remaja lelaki itu, empat orang lelaki tua itu adalah empat orang dari enam datuk dunia persilatan, yakni Lam-sin-pek, Liang-lo-mo, see-hui-kui, dan pek-mou-kwi, ketiga lelaki remaja tiada lain adalah anak-anak Han-hung-fei yang lahir diluar nikah, ketiga ibu dari tiga remaja itu adalah lao, merid- murid datuk dunia persilatan.

Yang tertua dari ketiga remaja itu adalah Han-kwi-ong putra Han-hung-fei dengan lao-liok Yan-hui umurnya tiga belas tahun, kemudian yang kedua berumur sebelas tahun, dia adalah Han-ok-liang, putra Han-hung-fei dengan Lao-ngo Yang-lian, lalu yang ketiga adalah Han-sai-ku berumur sembilan tahun, ia putra Han-hung-fei dengan lao-si Wan-lin.

Lima tahun yang lalu, empat datuk berkumpul di huang-san tempat kediaman pek-mou-kwi, mereka terdiri dari empat datuk dan delepan lao, dan juga ikut hadir tee-tok-siang.

“ini pertemuan kita yang pertama sejak peristiwa di In-san, dan saya merasa perlu mengumpulkan kita semua disini terkait misi kita di Lanzhou, kita benar tetap menguasai bui-lim, namun kita juga tidak pungkiri bahwa bukan kita yang terhebat di dunia kangowu.” ujar pek-mou-kwi

“hehehe…hahaha…siapa yang bisa menyangi salah seorang dari kita pek-mou, untuk mencari pesaing seorang lao saja sudah sulit, apalagilah kita.” sela see-hui-kui

“saya juga berpendapat demikian hui-kui, namun ternyata pesaing kita masih hidup, yakni si yaoyan atau bun-liong-sian”

“bukankah ia sudah mati didasar jurang pek-mou?” sela lam-sin-pek

“ternyata tidak sin-pek, dia masih hidup dan telah bertemu dengan lao-sam dan lao-chit.” “hal itu benar cianpwe, bahkan kami sempat mengeroyoknya, sela lao-sam

“apa yang dikatakan oleh lao-sam adalah benar, karena kami juga telah bertemu dengannya cianpwe “dimana kalian bertemu tee-tok-siang?” sela liang-lo-mo

“kami bertemu dengannya di kota Bicu, dan sungguh menyakitkan hati, bahwa kami dipecundangi saat itu. “hmh…kalau begitu patut kita untuk memikirkan cara untuk menyingkitkannya.” sela Lam-sin-pek

“benar lam-sin-pek, dan kalian mungkin tidak lupakan bahwa kita sebuah rencana yang kita bicarakan dulu di lanzhou. “apa maksudmu tentang pembentukan mesin pembunuh?” sela see-hui-kui

“benar hui-kui, dan kita berenam saat itu telah berjanji bahwa tiga dari kita akan mewariskan ilmu kepada anak lao-liok dan anak dari lao-ngo.” ujar pek-mou-kwi

“ooh, kalau begitu perjanjian itu harus kita ralat.” sela lam-sin-pek “maksud diralat bagaimana?” sela liang-lo-mo

“perjanjian harus diralat, karena anak dari muridku juga ada, akibat ulah si yaoyan.” sahut Lam-sin-pek. “benar sekali, dan hal itu jugalah salah satu penyebab saya mengumpulkan kita disini.” sela Pek-mou-kwi. “hmh…jika memang harus diralat, lalu bagaimana menurutmu lam-sin-pek

“kita tidak membagi ilmu dari kita, namun kita semua akan mewariskan ilmu-ilmu kita kepada anak-anak dari lao-si, lao-ngo dan lao-liok.”

“pemikiran yang jitu, tapi bagimana caranya kita semua mendidik tiga anak tersebut?” sela See-hui-kui. “mungkin kita gilir, masing-masing mereka bertiga bersama kita tiga tahun.” sela pek-mou-kwi.”

“kalau menurut saya bukan demikian, untuk hasil yang maksimal, kita berempat akan hidup bersama ketiga anak itu disuatu tempat, jadi disamping menghemat waktu, kita juga dapat menamkan karakter hek- to pada diri ketiganya, hingga jika saatnya tiba mereka terjun kedunia ramai mereka memang menjadi tiga tokoh kebanggan kita dengan kesaktian tiada tara.” sela see-hui-kui.

“benar, dan juga penanaman karakter secara bersamaan pada ketiga anak itu akan lebih mengokohkan kebencian mereka pada yaoyan yang merupakan inti dari mesin pembunuh ini.” sela lam-sin-pek.

“kalau memang demikian, saya punya tempat yang cocok untuk itu.” sela Liang-lo-mo “dimana tempat yang cocok itu lo-mo?” tanya pek-mou-kwi

“kong-san” (bukit batu) di kota Nancao, saya punya tempat tinggal disana, area itu sangat rumit dan angker, namun walaupun demikian, alamnya akan membentuk karakter yang kita ingin tanamkan pada ketiga anak itu.” sahut Liang-lo-mo.

“baiklah, kita sepakati, kita akan hidup bersama ketiga anak itu di kong-san.” sela pek-mou-kwi “lin-ji bawa anakmu kesini!” perintah lam-sin-pek pada Wan-lin, Wan-lin bangkit dan meninggalkan meja pertemuan, begitu juga dengan yan-lian dan Yan-hui, ketiga anak itu dijajarkan didepan empat datuk dan dikelilingi oleh delapan lao dan tee-tok-siang

“ada apakah cianpwe sehingga memanggil saya?” tanya Han-kwi-ong yang berumur delapan tahun “hehehe…hahaha…cepat kalian berlutut dan beritahu kami nama-nama kalian!” perintah see-hui-kui “kenapa kami harus berlutut cianpwe, dan saya juga tidak kenal dengan kedua anak ini?” sela kui-ong “sama , saya juga tidak mengenal siapa kamu.” sela ok-liang

“cih…saya juga tidak mau kenal kalian berdua.” sela sai-ku “hahaha..hehhee..hahaha….” tawa empat datuk bergema

“heh…kalian bertiga dengar! kami ini adalah sukong kalian, dan kalian akan hidup dengan kami untuk menyerap ilmu yang ada pada kami, dan juga akan mewarisi ilmu dari dua sukong kalian yang sudah tewas.” ujar see-hui-kui

Ketiga anak itu saling bertatapan, dan kemudian sai-ku berlutut “tecu sai-ku bersujud pada si-sukong.” “tecu kwi-ong bersujud pasa si-sukong

“tecu ok-liang juga bersujud didepan si-sukong

“bagus….kalian lihat sepuluh orang itu?” ujar lam-sin-pek, ketiga anak itu menoleh dan memandangi satu- satu orang yang mengelilingi mereka

“dua orang itu adalah tee-tok-siang, kemudian yang delapan lagi dipanggil lao, mereka berdelapan adalah murid-murid kami, dan tiga darinya adalah ibu-ibu kalian.” ujar Lam-sin-pek.

“semua orang diruangan ini adalah orang-orang yang mesti kalian taati dan hormati, sebagaimana kalian taat dan hormat pada ibu-ibu kalian.” sela liang-lo-mo

“dan kalian bertiga hanya punya satu musuh yang wajib dibasmi bahkan sampai pada anak-anaknya, tapi itu akan kalian lakukan jika kalian sudah menguasai enam ilmu para datuk” sela pek-mou-kwi, ketiga anak itu menunduk

“ketahuilah oleh kalian bertiga, kalian dipanggil menghadap kami hari ini, karena kalian adalah tiga sosok yang akan menjadi momok dalam hidup masyarakat, dan juga merupakan kebanggan enam datuk, dan orang-orang yang sealiran dengan kalian.” Ujar see-hui-kui.

“Baik, sebelum kita berangkat, kalian temui ibu kalian, dan dengar pesan mereka!” sela lam-sin-pek, ketiganya dibawa ibu masing-masing kedalam kamar

“kwi-ong, belajarlah yang giat, kamu adalah permata hek-to yang akan mengguncang dunia, dengan ilmu yang nantinya kamu kuasai jadilah ong, raja yang menguasai kehidupan dunia kangowu.” ujar Yan-hui.

“baik ibu, aku akan mengingat pesan ibu.” sahut kwi-ong, sementara dikamar lain Yang-lian memberi pesan pada ok-liang

“liang-ji tekunlah dalam menyerap ilmu-ilmu sukongmu, kamu akan dibentuk menjadi manusia yang tidak tertandingi, dengan ilmu-ilmu jadilah liang, sehingga kamu menjadi terkenal dan pusat perhatian bui-lim

“baik ibu, saya akan perhatikan pesan ibu.” sahut ok-liang, dikamar lain

“ku-ji, enam datuk adalah merupakan enam sumber ilmu yang luar biasa, dengan menguasainya, maka kamu akan menjadi orang sakti tak terkalahkan, dan dengan ilmu itu, jadilah Ku, sehingga watakmu jadi anutan bagi penghuni rimba persilatan.

“baik ibu, saya akan menjunjung pesan ibu.”

Setelah itu ketiga anak itu pun dibawa kembali ibu masing-masing kehadapan empat datuk. “suadah!? apakah kalian sudah siap berangkat?” tanya See-hui-kui

“kami siam suhu!” jawab mereka serempak

“baik, dan kalian para lao, sementara kami di Nancao, kalian tangani keadaan aliran kita, bentuk kembali kantong-kantong kekuatan kita, dan bentuk sebuah wadah yang menaungi seluruh bidang-bidang dalam misi aliran kita.” ujar lam-sin-pek.

“baik cianpwe, titah cianpwe akan kami laksanakan!” sahut mereka serempak.

Empat datuk berangkat ke Nancao bersama tiga anak she-han, tempat yang dikatakan oleh Liang-lo-mo memang sangat berbahaya dan angker, tebing-tebing terjal penuh dengan batu licin dan padas yang atos seperti lobang-lobang maut, dilereng sebelah barat, pondok besar milik liang-lo-mo berdiri kokoh, bulan- bulan pertama ketiga anak itu sangat menderita, mereka dibiarkan oleh empat suhunya untuk belajar bagaimana bertahan hidup ditengah kegersangan bukit, mereka bertiga dilepas kesebuah lembah untuk mencari makanan, yang mana untuk menuruni lembah mereka harus berjuang diantara bayangan tebing yang menganga, batu-batu padas nan licin laksana jalan yang memacu andrenalin mereka, ketiganya menuruni lembah dengan tertatih, tangan dan kaki sudah luka berdarah karena dikoyak batu tajam nan licin, sesampai dibawah yang didapatkan hanya ular, biawak, kelabang dan kalajengking, mereka harus memilih, apakah perut lapar ataukah bertarung dengan binatang-binatang yang kaya bisa dan racun itu.

Bulan-bulan pertama itu ketiga anak itu sempat pingsan karena disengat ular berbisa, atu meraung kesakitan karena disengat kalajengking dan kelabang, namun semua mereka jalani dengan sekuat hati, tapi enam bulan kemudian, merekapun mulai diajarkan ilmu-ilmu siulian untuk membentuk daya tahan tubuh, sehingga lembah yang beberapa bulan yang lalu sulit untuk dituruni, lama kelamaan mereka makin lancer, karena daya tahan mereka sudah memiliki hawa, demikmian juga gerakan mereka semakin lincah, berjalan setahun, siulian mereka makin diperketat, dengan menambah aneka siulian yang sulit dan memualkan perut, namun setahun kemudian siulian yang beraneka ragam itu sudah dapat mereka kuasai.

Pada tahun kedua siulian ketiga anak itu sudah ditambah dengan penyaluran-penyaluran tenaga sakti, hal itu mereka latih sampai setahun penuh, dan efek kekuatan mereka bertambah berlipat, dan kegesitan mereka bertambah pesat, dan pada tahun ketiga, efek siulian dengan menyalurkan sin-kang dimatangkan dengan kerja berat, mereka disuruh menaikkan batu-batu yang berada dilembah ketempat kediaman mereka, ketiganya berlomba-lomba dan tidak mau kalah, kwi-ong yang merasa raja, harus lebih hebat, ok- liang, merasa hasilnya harus menjadi perhatian, sementara sai-ku harus lebih menonjol dibanding yang lain.

Motivasi itu membuat ketiganya memang menjadi orang yang ulet dan gigih, pada tahun keempat teori ilmu silatpun mulai diajarkan, teori silat yang pertama diajarkan adalah teori ilmu silat Pak-koai-lo dan Coa- tung-mo-kai, ilmu tangan kosong “kut-loh-swat-ciang” dan “im-kan-sin-ciang” enam bulan teori dia ilmu tangan kosong itu dikuasai ketiganya dengan baik, lalu ketiganya dilanjutkan dengan teori silat “in-jip-hui- kui” dari see-hui-kui dan “san-swee-pek-ciang” dari Lam-sn-pek, enam bulan berikutnya teori dua ilmu tangan kosong ini juga dikuasai, pada tahun kelima teori silat “beng-to-liang-kun” dari Liang-lo-mo dan “tee-tong-kwi-kun” dari pek-mou-hek-kwi.

Hari itu mereka sedang berlatih enam ilmu tangan kosong, diawasi oleh empat datuk, gerakan mereka luar biasa lincah, kekuatan ilmu itu sudah demikian terasa, walaupun sin-kang mereka belum mencapai tatanan sempurna, namun tata letak jurus yang mereka tampilkan sudah sangat memuaskan empat datuk, sehingga mereka tersenyum sambil mengangguk-angguk.

“bagus sam-ji, kalian telah menunjukkan bakat kalian yang luar biasa yang dimotivasi kemauan yang gigih dan ulet.” ujar see-hui-kui

“ini semua berkat didikan si-sukong.” sahut ketiganya serempak.”

“sekarang kalian akan mulai mempelajari teori silat dengan menggunakan senjata, dan hari ini dua dari ilmu kami akan kalian pelajari, yakni ilmu “goat-hun-mo-tung” dari coa-tung-mo-kai dan ilmu “im-kan-giam- siauw” dari Pak-koai-lo.” ujar Lam-sin-pek, lalu kitab kedua datuk yang sudah tewas itu dibuka kembali, dan ketiganya dengan seksama menelaah dan menirukan setiap penjelasan dalam kitab, lalu kemudian ketiganya memperaktekkan di depan keempat datuk, bagian-bagian yang lemah dan terasa janggal dari gambaran kitab, empat datuk mengarahkan untuk diperbaiki.

Sama halnya dengan ilmu tangan kosong, berkat kecerdasan dan kemauan yang luar biasa, teori ilmu itu dikuasa dalam jangka sepuluh bulan, kemudian mereka terus menerima ilmu-ilmu yang lain seperti “beng- toat-hui-kiam” dari see-hui-kui, “liong-san-kwi-kiam” dari pek-mou-hek-kwi, “beng-toat-pek-lek-kiam” dari lam-sin-pek, dan “beng-tan-liang-kin” dari Liang-lo-mo, enam teori ilmu senjata mereka kuasai dalam jangka dua tahun.

Kini umur Kwi-ong lima belas tahun, ok-liang tiga belas tahun, sai-ku sebelas tahun.

“teori semua ilmu yang dimiliki enam datuk telah kalian kuasai, dan dalam jangka dua tahun ilmu itu akan sangat matang jika kalian berlatih terus, jadi kalian latihlah semua ilmu itu dalam dua tahun ini!” perintah pek-mou-hek-kwi

“baik si-sukong.” sahut ketiganya serempak

“nah sekarang, kalian pergi kekota nancao, berbuatlah semaunya disana, tunjukkan pada orang-orang disana bahwa kalian adalah orang-orang hebat dan tidak terkalahkan, lakukan segala yang ingin kalian lakukan, ingat! jadilah momok yang menakutkan, kumpulkan harta yang banyak, intimidasi mereka dengan rasa takut, perlakukan mereka layaknya budak atau binatang.” ujar liang-lo-mo

“baik suhu, kapan kami akan berangkat.” sahut ketiganya

“kalian berangkat besok, dan kalian kembali kesini setelah dua tahun.” sela Lam-sin-pek, ketiganya mengangguk dan kembali kekamar masing-masing, pada keesokan harinya ketiga anak yang masih remaja itu turun daru kong-san, ketiganya berlomba menuruni lembah, berlari gesit diatas lempengan batu- patu padas yang runcing dan keras, setengah hari kemudian mereka memasuki hutan lebat, dan keesokan harinya mereka memasuki kota Nancao.

Ketiga anak naga itu memasuki sebuah restoran besar, mereka memandang rendah semua orang. “kalian ini siapa dan mau apa datang kesini?” tanya pelayan heran

“goblok, ini kan restoran, jadi kami kesini hendak makan, cepat hidangakan makanan untuk kami!” sergah kwi-ong, pelayan itu merasa tersinggung dan marah ia dikatain goblok.

“anak Bengal tidak tahu sopan..wut..plak..plak…” bentak si pelayan sambil menampar muka kwi-ong, namun kwi-ong dengan mudah mengelak, dan bahkan menangkap tangan sipelayan, dan menampar muka sipelayan dua kali, sipelayan mengaduh kesakitan sambil memegangi kedua pipinya yang memerah

“untung aku lapar, kalau tidak sekali tamper kamu akan mati tahu! cepat hidangkan makanan untuk kami!” bentak kwi-ong, para tamu terkejut melihat kejadian itu, dan seorang lelaki tegap berbadan kuat dengan kumis tebal melintang mendekat

“kalian anak kecil harus tahu sopan santun, apa kalian tidak pernah diajari ibu kalian!?” sela lelaki itu sambil melototkan matanya

“sialan..akan banyak basa-basi kalau tidak dikasih rasa, plak…prok…heghkk” sahut sai-ku dengan marah semabri melayang dengan cepat dan menampar muka silelaki kekar, dan akibat tamparan itu, tanpa bersambat silelaki tewas dengan kepala remuk.

Para tamu heboh dan gempar, semuanya menyingkir ketakutan, si pelayan yang masih berdiri didekat ketiga anak itu, segera berlari menjauh, wajahnya pucat pias ketika melihat lelaki kekar itu tergeletak dengan kepala pecah berantakan

“siapa lagi yang ingin bicara sopan santun!?” bentak sai-ku

“heh..! pelayan siapkan makanan untuk kami!” teriak ok-liang, pemilik likoan segera menyuruh dua pelayan untuk memenuhi permintaan tiga anak remaja itu, dengan rasa takut dua pelayan menghidangkan makanan, tiga remaja itu makan dengan lahap, ruangan itu kosong karena sudah ditinggalkan oleh para tamu.

Pelayan sediakan tiga kamar yang bagus untuk kami, kami mau istirahat!” teriak kwi-ong, lalu ketiganya dibawa keruang atas, ketiganya masing-masing memasuki kamar masing-masing, kwi-ong dengan senyum sinis menyuruh pelayan keluar, lalu ia merebahkan badan diranjang yang empuk dan harum, tidak lama ia pun tertidur, sementara ok-liang keluar dan bersantai di beranda tingkat atas menikmati keramaian kota

“liang-ko apa yang kamu lakukan disitu?” tanya sai-ku yang tiba-tiba dating

“aku sedang menikmati keramaian kota, tengok dua orang diteras bangunan itu!” ujar ok-liang sambil menunjuk seorang lelaki bersama seorang wanita sedang berpelukan

“apa yang meraka lakukan itu liang-ko?”

“tidak tahu, tapi nampaknya menyenangkan, karena lelaki itu keliahatan senang.” sahut ok-liang.

“heh..! kalian liat apa!? pergi dari sana!” teriak lelaki yang sedang bermesraan di beranda tingkat atas bangunan yang ternyata sebuah rumah border “sing…crok..” ok-lian melempar sebuah dupa binting yang tergantung di tiang, dan apes pemuda yang lagi blingsatan itu tidak menduga akan dilempar, bahkan tidak tahu apa yang dilempar oleh anak remaja itu, tahunya kepalanya bocor tertancap dupa binting, dia sempoyongan dan menggelinding dari teras dan jatuh kebawah, tubuhnya yang sudah tidak bernyawa terhempas keras dan ubin jalan raya meremukkan kepala dan tulang tengkuknya, orang yang berlalu lalang dibawah heboh dan melihat keatas diaman seorang perempuan menjerit histeris ketakutan, dua penjaga bordir segera naik keatas

“ada apa, kenapa dengan tamu yang kamu layani jatuh!?”

“a..anak itu melemparnya dengan dupa dan ihhh..kepala ma-loya tertembus dupa.” sahut perempuan itu. kedua penjaga itu melihat ke arah ok-liang dan sai-ku yang senyum dan tertawa renyah, kedua penjaga itu turun dan berlari kearah restoran, keduanya masuk dan langsung naik ke tingkat atas