-->

Anak-anak Naga (Liong Haizi) Jilid 1

Jilid 1

Dinasti Xin, Rezim Dihuang akhirnya kalah dan istana dikuasai oleh Liu-xuan, Liu-xuan diangkat oleh pendukungnya ang-bi-tin menjadi kaisar, dengan gelar kaisar Gengshi (23-25 M), tentunya pada awal pemerintahan ini masing-masing merasa punya kontribusi dalam keberhasilan penggulingan dinasti xin, situasi akibat perang masih sangat terasa oleh rakyat jelata, kenyataannya penderitaan rakyat belumlah berakhir, rasa aman belumlah kembali akibat konflik perang, masa peralihan kepemimpinan menemui jalan buntu, kaisar gengshi yang tadinya didukung oleh laskar “ang-bi-tin” berubah menentang kaisar sendiri, konflik kepentingan ini semakin memanas.

Kaisar Gengshi akhirnya melunak dan atas pengaruh zhao-meng bagi-bagi gelar pun dilakukan, hal ini didengar oleh adik kaisar yang bernama Liu-xiu yang sedang berada di timur laut melawan Wang-lang sisa dari rezim Dihuang, merasa tidak setuju sehingga menyatakan perang dengan laskar ang-bi-tin, Liu-xiu dan pasukannya mendapat dukungan rakyat, karena selama masa perang penggulingan dinasti xin, Liu- xiu dan pasukannya memiliki moral yang tinggi, sikap mereka yang mengayomi rakyat saat perang menerbitkan simpati rakyat.

Laskar Ang-bi-tin terpukul mundur dari istana, kaisar gengshi dibawa lari oleh pejabat istana untuk menyelamatkan diri, namun ditengah perjalanan, karena kaisar Gengshi tidak lagi dapat diharapkan maka kaisar Gengshi diserahkan kepada Ang-bi-tin, dan oleh Ang-bi-tin kaisar dicekik sampai mati.

Liu-xiu mendirikan dinasti Han-timur (25-57 M), ia dinobatkan menjadi kaisar dengan gelar kaisar Guangwu, kota raja dipindahkan dari Chang-an ke Lokyang, Kaisar yang memang mendapat simpati rakyat atas moralnya yang tinggi, mendapat dukungan penuh, sehingga awal pemerintahannya stabil dan kokoh, Liu Xiu membantu membangun kembali perekonomian yang hancur dengan menurunkan pajak, dan kemudian menghapuskan hukum-hukum yang tidak pantas dan tidak berpihak pada rakyat, lalu membangun kembali infrastruktur yang rusak, menggalakkan pembangunan diberbagai bidang, terlebih membagun kembali irigasi untuk memulihkan kembali bidang pertanian, selain itu kaisar Guangwu juga mendisiplinkan keluarganya baik anak-anaknya maupun anak-anak dari kakaknya Liu-xuan, semua itu dalam rangka menstabilkan aturan dan membentuk kwalitas kaisar masa depan.

Sebatang tubuh itu meluncur cepat menuju dasar jurang, dia adalah Han-hung-fei atau Bun-liong-taihap yang didesak empat lawannya dari atas jurang, sesaat pikirannya pasrah untuk menerima kematian terhempas didasar jurang, namun ketika matanya menatap sebuah cabang pohon yang melintang dibawahnya, terbit kembali usaha untuk menyelamatkan diri, dengan pedang dewa naga sastra Han-hun- fei menebas cabang pohon yang melintang dibawahnya, dengan bertumpu pada hentakan tebasan, han- hung-fei bersalto ke atas dan mendarat ringan di atas potongan cabang yang terkutung, Han-hung-fei merapat kedinding jurang dan melihat kedasar jurang yang terdiri dari hamparan batu padas hitam, lalu dia melihat ke atas dan memperkirakan kedudukannya di atas cabang, ternyata kebawah lebih dekat dari ke atas

“aku harus kebawah.” pikirnya dalam hati, sambil melihat dan membaca medan Han-hung-fei diam berpikir, sudah dua jam ia tidak mendapatkan cara untuk menuruni tebing, tebing dia bersandar hanya batu padas hitam yang licin, saat dia berpikir sesuatu jatuh dari bawah, dan setelah diperhatikan ternyata tubuh manusia, tubuh itu menghantam dasar jurang yang merupakan hamparan batu, Han-hung-fei melihat kembali ke atas

“itu mungkin mayat yang terguling dari atas.” pikirnya, namun hatinya terkejut ketika sebuah mayat lagi meluncur dari atas dan jatuh menimpa mayat yang pertama

“para datuk mungkin melempari mayat kedalam jurang.” Pikirnya lagi, sesaat hatinya tergerak, ada ide yang muncul dalam benaknya, lalu dengan sigap dan siap ia mengerahkan gin-kang menunggu sesuatu dari atas.

Jasad yang ditunggunya pun muncul, saat lewat didepannya, Han-hung-fei meloncat dan mendarat diatas jasad itu, tubuhnya meluncur bersama mayat dibawah kakinya, dan saat akan mencapai dasar jurang, Han-hung-fei melompat bersalto dari atas jasad tersebut, dan dengan gin-kangnya yang luar biasa Han- hung-fei mendarat mulus di dasar jurang, sekejap ia melihat tiga mayat yang ternyata mayat para tentara, lalu Han-hung-fei menelusuri dasar jurang, sehingga ia sampai pada sebuah lembah hutan.

Han-hung-fei melewatkan malam di tebing lembah, dan keesokan harinya ia memasuki hutan untuk mencari binatang buruan, seekor ular sebesar lengan orang dewasa ia tangkap, lalu membakarnya serta memakannya dengan lahap, han-hung-fei merasa nyaman berada dihutan belantara yang lebat itu, sehingga ia memutuskan untuk berdiam dalam hutan itu, setiap hari ia giat melatih ilmu-ilmunya yang luar biasa, didalam hutan itu ia tidak kekuarangan makan, karena banyak binatang buruan yang bisa dimakan, namun setelah dua tahun berlalu timbul keinginan untuk hidup ditengah-tengah orang banyak, sehingga Han-hung-fei memtuskan untuk keluar hutan memasuki dunia ramai.

Pagi itu sambil bernyanyi punai didahan dan melantunkan syair bahagia yang ia hafalkan dari seorang tusu tua, Han-hung-fei merambah hutan mencari jalan keluar, berhari-hari ia menelusuri hutan, namun hutan itu seakan tidak bertepi, memang hutan itu sangat lebat dan luas, tanpa putus asa Han-hung-fei terus menelusuri hutan, kadang untuk mengusir rasa sepi ia menyanyikan lagu punai didahan dan syair bahagia.

Akhirnya setelah dua bulan berkutat didalam hutan, Han-hung-fei menemukan daerah persawahan, itu artinya dia sudah dekat dengan perkampungan, Han-hung-fei menelusuri pematang sawah, sehingga ia menemukan jalan setapak, lalu tanpa mengenal lelah Han-hung-fei menapaki jalan setapak hingga bertemu jalan besar, dan kira-kira dua li Han-hung-fei memasuki sebuah kota kecil,

Pakaian Han-hung-fei yang kumal dan compang camping menjadi pusat perhatian orang yang lalu lalang, Han-hung-fei measuki restoran, uang yang di punya tinggal dua tail perak, untuk makan tiga hari cukuplan dengan duit itu, seorang pelayan menghidangkan makanan yang dipesannya

“twako…apa nama kota ini?” tanya Han-hung-fei

“ini kota bicu, sicu, anda darimana?” sahut pelayan sambil balik bertanya

“saya dari Chang-an twako.” jawab Han-hung-fei, lalu setelah pelayan meninggalkannya, Han-hung-fei melahap makanannya, setelah selesai dan pelayan itu kembali membersihkan mejanya

“twako saya butuh pekerjaan, kira-kira twako tahu tidak orang yang butuh pekerja.” “kamu bisa apa sicu?” tanya pelayan

“apa saja selagi memang mampu akan saya lakukan, cuci piring, buruh bangunan atau buruh barang pun aku akan lakukan, yang penting halal untuk memenuhi kebutuhan makan saya.”

“siapa namamu sicu? tanya pelayan

“nama saya Han-hung-fei.” jawab Han-hung-fei

“melihat engkau bawa pedang yang bagus pastinya sicu dari kalangan rimba persilatan.” ujar pelayan,

Han-hung-fei mengangguk

“saya ada tahu sebuah pekerjaan yang cocok untukmu sicu.”

“benarkah twako, pekerjaan apakah itu?” tanya Han-hung-fei dengan wajah antusias dan gembira. “pekerjaannya jadi pengawal rumah.” sahut pelayan

“pengawal rumah? siapakah yang membutuhkan pengawal rumah?”

“ada seorang janda kaya yang baru pindah kesini setahun yang lalu, dia membutuhkan pengawal rumah.” sahut si pelayan “apakah kira-kira mereka masih membutuhkan ya?” gumam Han-hung-fei

“tentu saja sicu, karena belum ada seorangpun yang lulus melewati persyaratannya.” “memangnya apa persyaratannya twako?”

“syaratnya harus dapat mengalahkan putri janda itu, dan sampai sekarang sudah ada lima yang mengajukan diri, namun semuanya gagal.” sahut pelayan.

“hmh…dimanakah rumah janda itu twako, aku hendak mencobanya, mana tahu aku lulus dan bisa bekerja disana.” ujar Han-hung-fei

“rumahnya disebelah timur kota, rumah yang paling besar dan gerbang rumahnya ada gapura singa.” sahut si pelayan

“terimakasih twako, segera saya akan kesana.”

“baiklah han-sicu semoga berhasil.” sahut pelayan, Han-hung-fei keluar dari restoran dan menuju ke arah timur kota.

Han-hung-fei berdiri didepan gerbang rumah yang memang megah dan besar, han-hung-fei memberanikan diri memasuki halaman, seorang tukang kebun sedang menyapu halaman, lelaki berumur lima puluh tahun itu berhenti dan berjalan mendekati Han-hung-fei

“anak muda. Kenapa datang kesini?” tanya situkang kebun “paman, saya dengar pemilik rumah ini butuh pengawal.” “ooh, benar, apakah kamu ingin mengajukan diri?”

“benar paman, bagaimanakah caranya?”

“sebentar kalau begitu, saya akan panggil Khu-siocia.” ujar situkang kebun, lalau pergi masuk kedalam rumah, tidak berapa lama situkang kebun keluar bersama seorang gadis cantik berumur dua puluh tahun, telaga mata bening, wajahnya yang oval bulat membuat tidak jemu mata memandang, tubuhnya yang sintal padat membuat lelaki berdecak kagum, kulitnya putih halus dan mulus, lehernya yang jenjang, mulutnya yang sedikit tebal nampak demikian lunak dan ranum, hidungnya yang mancung dengan cupu hidung yang bangir, rambutnya yang indah digelung keatas nampak rapi dengan tusuk rambut kemala putih, pantas memang nona ini putrid seorang bangsawan kaya.

Han-hung-fei melonggo melihat raut indah didepannya, gadis itu menyorot tajam karena cara memandang Han-hung-fei padanya terasa berlbihan, namun dalam hatinya ada sedikit terbit rasa senang, melihat lelaki demikian mengaguminya sehingga ketika sorot mata gadis itu tajam, seiring pipinya juga sedikir merona merah.

“siapakah namamu taihap?” tanya si gadis, sebutan taihap itu keluar karena melihat pedang yang tersampir dipunggung Han-hung-fei

“eh…namaku Han-hung-fei social?” jawab Han-hung-fei

“apakah taihap hendak mengajukan diri untuk jadi pengawal rumah kami?” “benar siocia, aku akan bekerja dengan penuh tanggung jawab.”

“apakah taihap tahu persyaratannya untuk diterima sebagai pengawal?” “benar siocia, aku tahu, aku akan mencoba menjalani syaratnya.”

“bagus kalau begitu, aku adalah Khu-lian-kim yang akan menjajal kemampuanmu.” ujar sigadis yang ternyata she-khu, dan sebenarnya keluarga ini adalah keluarga Khu-ciangkun pimpinan jiangzhou yang tewas di In-san, setelah suaminya tewas, Khu-hujin pindah kekota kecil Bicu, harta peninggalan Khu- ciangkun tergolong cukup besar, walaupun harta itu sudah digunakan untuk biaya pembentukan jiangzhou, dan biaya rangsum semasa perang terjadi, dan sisanya masih lebih dari cukup untuk dimamfaatkan istri dan putri semata wayangnya yang sekarang berdiam di kota Bicu.

“baiklah khu-siocia aku sudah siap.” sahut Han-hung-fei, lalu Lian-kim memasang kuda-kuda dan menyerang han-hung-fei, bagi pandangan Han-hung-fei yang luar biasa sakti, gerakan Lian-kim ini sangat lambat, namun ia tidak ingin berlebihan didepan pengujinya, Han-hung-fei bergerak seakan-akan ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, sesekali ia menerima pukulan Lian-kim dan terdesak sedemikian rupa, namun akhirnya dia harus memenangkan ujian ini untuk pekerjaannya, dengan gerakan kilat, jurus “in-touw-so-bun-sian” (dewa sastra menenun mega) jurus kelima dari “Bun-sian-pat-hoat” mendesak Lian- kim dengan hebat, Lian-kim mencabut pedangnya dan mencoba mengurangi tekanan Han-hung-fei, namun dengan pandainya Han-hung-fei mengkendorkan desakannya, namun setelah lima puluh jurus, kembali Han-hung-fei mendesak Lian-kim.

“cukup taihap…!” teriak Lian-kim sambil melompat menjauh, dan saat berdiri ditanah nafas Lian-kim sudah senin-kamis

“terimakasih khu-siocia, telah banyak mengalah padaku.

“hmh…han-taihap akan diterima bekerja disini, coa-pek, bawalah han-taihap kekamarnya dan berikan pakaian yang layak untuknya, dan setelah malan malam, Han-taihap akan saya tunggu diruang tengah.” ujar Lian-kim

“baik siocia..” sahut si tukang kebun

“terimakasih sekali lagi Khu-siocia.” sela Han-hung-fei, Khu-lian-kim mengangguk dan berbalik masuk kedalam rumah.

Malam harinya, Han-hung-fei menemui masuk keruang tengah, dan disana telah menunggu Khu-lian-kim dan ibunya yang berumur lima puluh lima tahun, garis kecantikan masa mudanya masih jelas kelihatan diwajah yang mulai keriput, Khu-lian-kim sedikit terpesona saat melihat Han-hung-fei dengan penampilannya yang baru, ketampanannya yang meruntuhkan banyak wanita demikian cemerlang, sehingga Khu-lian-kim terpesona, namun dengan rasa jengah ia menepis kekagumanya

“silahkan duduk han-taihap!” ujar Khu-lian-kim.

“terimakasih khu-sicia dan khu-hujin.” sahut Han-hung-fei dan duduk dikursi “inikah taihap yang lulus dari persyaratanmu kim-ji?” tanya ibunya

“benar ibu, namanya Han-hung-fei.” jawab Lian-kim

“benar Khu-hujin nama saya Han-hung-fei.” sela Han-hung-fei sambil menjura hormat pada Khu-hujin. “berapakah usiamu Han-taihap?” tanya Khu-hujin

“saat ini usiaku genap dua puluh enam tahun hujin.” Jawab Han-hung-fei “apakah kamu sudah berkeluarga?”

“belum, saya belum berkeluatga hujin.”

“ooh, saya kira sudah, sebab kalau sudah sebaiknya keluargamu dibawa kesini.” ujar Khu-hujin

“saya belum berkeluarga hujin.” sahut Han-hung-fei sedikit risih dan sekilas melirik Lian-kim, dan wajah Lian-kim sedikit menunduk karena mungkin juga jengah akan pertanyaan ibunya, seorang ibu gadis menanyakan umur seorang lelaki, tentunya akan timbul pikiran lain.

“hmh…baiklah han-taihap, penghuni rumah ini semuanya ada dua belas orang termasuk dirimu, empat pembantu wanita, tiga orang tukang kebun dan dua orang juru masak.” ujar Khu-hujin, Han-hung-fei mendengarkan dengan seksama. “tugas Han-taihap mengendalikan kemanan dirumah ini, dan juga setiap tahun Han-taihap akan mengawal kim-ji kekota Kaifeng untuk membantunya menagih sewa bangunan di sana.” ujar Khu-hujin

“baiklah hujin, saya akan berusaha sebaik mungkin menjalankan tugas dan tanggung jawabku.” sahut Han-hung-fei.

“baguslah itu taihap, dan itu juga harapan kami, sekarang Han-taihap boleh meninggalkan kami.” ujar Khu- hujin, Han-hung-fei bangkit

“permisi hujin , Khu-siocia.” ujar Han-hung-fei sambil menjura, lalu Han-hung-fei keluar dari ruang tengah dan kembali kedalam kamarnya yang rapid an bersih, kenyamanan dalam rumah membuat Han-hung-fei merasa betah didalam rumah. Hubungannya dengan lima pembantu laki-laki terjalin baik.

Suatu hari setelah Han-hung-fei dua bulan bekerja, Lian-kim sedang berbelanja ke pasar, dia bersama seorang pelayannya yang dipanggil Ah-lin, Lian-kim sedang sibuk menawar beberapa stel pakaian untuknya, dan kecantikannya menarik perhatian dua orang lelaki paruh baya yang baru memasuki kota, kedua orang itu bukan orang sembarangan, mereka adalah tee-tok-siang bao-lam dan bu-lim

“hehehe…kau lihat tidak gadis itu suheng?” ujar Bu-lim “gadis yang mana?” tanya Bao-lam

“itu..tuh yang sedang menawar pakaian di toko itu.” sahut Bu-lim, Bao-lam mengarahkan pandangannya kea rah yang ditunjuk sutenya

“wah…luar biasa, gadis yang sangat cantik, sayang jika dilewatkan sute.” ujar Bao-lam dengan sorot mata melotot dan bibir dibasah-basahkan dengan ujung lidahnya.

“kita intai suheng, dan menunggu kesempatan datang.” ujar Bu-lim, lalu merekapun berputar-putar disekitar pasar sambil mengintai Lian-kim jangan sampai hilang,

“sudah semuanya siocia?” tanya Ah-lin

“sudah Ah-lin, sekarang mari kita pulang!” sahut Lian-kim, lalu merekapun meninggalkan pasar, tee-tok- siang mengikutinya dari belakang, dan saat Lian-kim memasuki sebuah gang yang berkebetulan bebrapa toko tutup sehingga membuat gang itu sunyi, tee-tok-siang beraksi, keduanya muncul tiba-tiba dan mencegat Lian-kim dan Ah-lin

“kalian mau apa!?” bentak Lian-kim

“hehehe..hahaha….kami hanya menginginkan cantik, sudah dua bulan dalam perjalanan aku tidak merasakan hangatnya tubuh wanita, dan kamu demikian mempesona, hehehe..hehehe..” sahut Bao-lam dengan pandangan nakal

“enyahlah…sebelum aku menghajar kalian!” ancam Lian-kim

“hahaha.. hahaha.. kamu mau menghajar kami cantik? ini kesini hajarlah aku!” sahut Bu-lim sambil mendoyongkan wajahnya sambil terus melangkah mendekati Lian-kim, Lian-kim jengkel, lalu ia bergerak menyerang

“wut..wut…plak…” dua kali serangan Lian-kim luput dan terakhir tangannya ditangkap Bu-lim “hehehe..hehehe ternyata sicantik denok pandai juga bersilat.” ujar Bu-lim sambil tertawa

“sialan..! lepaskan tanganku!” teriak Lian-kim sambil menedang, namun Bu-lim bersalto dan sekalian menarik Lian-kim, sehingga Lian-kim ikut melayang, sambil berposai Lian-kim mencoba memukul kepala Bu-lim, namun kalah cepat, karena tangannya ditangkap, sehingga kedua tangannya dipegang Bu-lim sambil cengegesan.

Lian-kim serta merta mengayun kedua kakinya dan mencoba menendang dada Bu-lim “buk..hahaha..hahahaha…..” dua kaki Lian-kim menghantam dada Bu-lim, namun Bu-lim tidak merasakan apa-apa, dan bahkan tertawa, Lian-kim tidak berdaya, dia terjepit antara tarikan pada kedua lengannya dan kedua kakinya yang menempel didada Bu-lim, jika dia menjatuhkan kedua kakinya maka dia akan berada dalam pelukan manusia kasar ini

“iiihhh……….hegh ” Lian-kim mengerahkan tenaga untuk menari tangannya dengan bertumpu pada

kedua kakinya yang menempel didada Bu-lim, namun tenaga Bu-lim jauh diatasnya, sementara Bao-lam sudah memegang kepalanya, sambil tertawa Bao-lam hendak menciaum Lian-kim

“buk..adouh….krek…adouwwwwhhhh…..” Bao-lam menjerit karena kepalanya kena kemplang dari belakang dan Bu-lim menjerit histeris karena kedua sikunya yang lurus menahan tubuh Lian-kim kena sentil sehingga patah.

Lian-kim terlepas, namun sebelum Lian-kim jatuh sebuah lengan telah memeluk bahunya dan mengangkatnya berdiri, Lian-kim menoleh ternyata yang menolongnya adalah Han-hung-fei yang kebetulan pulang dari restoran sipelayan yang dulunya menceritakan pekerjaan yang ia tekuni sekarang, Han-hung-fei sering kerestoran itu dan mengajak A-ping si pelayan mengobrol, demikian juga hari itu setelah minum arak dan mengobrol dengan A-ping, Han-hung-fei hendak kembali, dan ditengah perjalanan ia melihat nonanya dalam masalah, terlebih dua pengganggu itu dia kenal sebagai kaki tangan para datuk, tanpa menunda ia bergerak bagaikan kilat dan dalam dua gebrakan melumpuhkan tee-tok-siang.

Lian-kim memeluk pinggang Han-hung-fei saking cemas dan takutnya akan bahaya yang tadi mengancamnya, wajahnya pucat

“hajat mereka Han-taihap!”gumamnya lemah karena merasa haru bahwa dia dapat selamat, mendengar itu Han-hung-fei bergerak

“plak..aduh..plak..aughhh..plak..plak…plak..plak….” Han-hung-fei menampar muka tee-tok-siang, mereka sudah berusaha menghindar, namun gin-kang Han-hung-fei jauh diatas mereka, sehingga kemanapun mereka bergerak kepala mereka jadi bulan-bulanan Han-hung-fei

“ampuun…ampunnn…” teriak mereka, namun tamparan itu masih bertubi-tubi

“ampun bun-liong-taihap kami jera dan tidak lagi.” teriak Bao-lam, Han-hung-fei berhenti, tee-tok-siang duduk mendoplok dengan muka memar biru matang, mulut keduanya bengkak berdarah dan juga hidung mereka penuh kecap merah

“minta maaf sama siocia ku! kalau tidak kubunuh kalian!” ancam Han-hung-fei, sambil merangkak tee-tok- siang mendekati Lian-kim,

“maafkan kami siocia..ampunkan kami sicia…:” ujar tee-tok-siang, Lian-kim menatap wajah tee-tok-siang yang menegadah padanya merasa puas

“sudah…pergilah kalian!” ujar Lian-kim

“terimakasih siocia…terimakasih, lalu mereka dengan takut-takut menghadap Han-hung-fei “maaf bun-liong-taihap..”

“baik, lain kali kulihat kalian meremehkan wanita, maka kalian akan kuhabisi.” sahut Han-hung-fei

“baik taihap..kami jera dan tidak akan mngulanginya lagi.” sahut keduanya dan segera melarikan diri dari tempat itu.

“bagaimana siocia, kamu tidak kenapa-napa kan?” tanya Han-hung-fei dengan sinar mata cemas

“tidak han-taihap, syukurlah engakau datang, kalau tidak aku tidak sanggup bayangkan apa yang akan menimpaku.” sahut Lian-kim

“baik…mari kita pulang siocia! ujar han-hung-fei, lalu merekapun kembali kerumah, sesampai dirumah Lian-kim langsung menuju kamarnya dan langsung membaringkan diri diatas ranjangnya yang lembut, peristiwa tadi membuat hatinya takut dan ngeri, benaknya kembali mereka ulang kejadian yang menegrikan hatinya itu, wajah Han-hung-fei jelas terlukis saat menolongnya, pelukan pada bahunya, tangannya yang spontan melingkar dipinggang han-hung-fei, getaran suranya yang meminta Han-hung-fei menghajat kedua bandit, gerakan kilat luar biasa han-hung-fei yang menghajar kedua bandit sehingga mukanya babak bundas, permintaan maaf dua bandit, dan ancaman Han-hung-fei, tiba-tiba hatinya haru dan matanya berlinang berkaca-kaca, suara ancaman Han-hung-fei terngiang jelas

“kalian minta maaf pada siociaku, kalau tidak aku akan membunuh kalian!” kalimat kepemilikan itu demikian tegas dan mengharu birukan hati Lian-kim,

Sejak itu Lian-kim banyak mengurung diri dikamarnya, lintasan rasa suka pada Han-hung-fei membuat ia malu jika bertemu dengan Han-hung-fei, lebih syahdu rasanya jika ia dikamar membayangkan wajah Han- hung-fei, perobahan itu sangat terasa dihati Han-hung-fei yang memang merasa sayang pada nonanya, dengan perubahan itu, Han-hung-fei mencoba membenamkan perasaaanya di bawah gundukan kenyataan bahwa siocianya tidak pantas untuknya, betapaun dia hanyalah pembantu dirumah itu, dan harusnya ia tahu diri,

“mungkin aku telah salah ketika memeluknya waktu itu.” pikirnya bijak, dan berjanji dalam hati untuk tidak melakukannya lagi, dia harus berlaku sungkan pada nonannya.

Tiga bulan kemudian Han-hung-fei dipanggil Khu-hujin, Han-hung-fei datang menghadap. Diruang tengah Khu-hujin dan Lian-kim sudah duduk menantinya

“apa hujin memanggil saya?” tanya Han-hung-fei hormat

“benar Han-taihap, hari ini kamu dan kim-ji berangkatlah kekota kaifeng untuk menagih sewa bangunan, dan hati-hatilah kalian dijalan.” ujar Khu-hujin

“baiklah hujin, saya permisi untuk mengemasi pakaian saya.” sahut Han-hung-fei “Han-taihap, aku tunggu di pintu gerbang.” sela Lian-kim

“baik siocia, aku akan secepatnya menyusul.” sahut Han-hung-fei, hatinya sedikit gembira, karena nada suara itu tidak ketus. selama tiga bulan ini ia jarang bertemu Lian-kim, karena banyak mengurung diri dikamar

“siocia ternyata tidak marah.” pikirnya senang

“dan aku tidak akan lagi bersikap yang akan menyinggung perasaanya.” azamnya dalam hati.

Setelah membungkus pakaiannya, Han-hung-fei keluar, dan dipintu gerbang coa-pek, lou-pek dan Lian- kim menunggu dipintu gerbang dengan dua ekor kuda, saat melihat Han-hung-fei, Lian-kim langsung naik kepunggung kuda, Han-hung-fei dengan segera juga naik kepunggung kuda

“coa-pek, Lou-pek kami berangkat.” seru Han-hung-fei

“ya..hati-hati dijalan Han-taihap!” sahut keduanya sambil melambaikan tangan, Lian-kim dan Han-hung-fei menunggangi kuda dengan lambat, dan setelah keluar dari pintu gerbang timur, lari kudapun mulai dipercepat

“brugghh…brugggg….” Suara kaki kuda menghentak bumi, Han-hung-fei menunggangi kudanya dibelakang kuda Lian-kim yang melesat cepat melintasi jalan tanah.

Saat senja merah mengarak diangkasa Lian-kim dan Han-hung-fei masuk sebuah perkampungan “kita istirahat dan melewatkan malam disini Han-taihap.” ujar Lian-kim sambil turun dari kudanya, Han- hung-fei juga turun, lalu keduanya menarik kuda kesebuah kedai

“ini desa apa siocia?” tanya Han-hung-fei

“ini desa wei-bun, dan kedai itu menyediakan kamar untuk bermalam bagi pengelana yang kemalaman.” jawab Lian-kim “Gao-siok kami butuh dua kamar, apakah masih ada?”

“ooh khu-siocia rupanya, kamar? aduh kamarnya cuma tinggal satu, tiga kamar yang lain sudah berisi.” sahut Gao-siok

“tidak apa Gao-siok, satu kamar cukup untuk siociaku, aku rehat dikandang kuda saja.” sela Han-hung-fei

“aduh…” keluh gap-siok sambil garuk kepala yang tidak gatal melihat Lian-kim, Lian-kim senyum melihat raut muka Gao-siok yang lucu

“apakah kandang kudanya luas Gao-siok?” tanya Lian-kim

“hehehe…luas sih luas siocia, tapi..kan kandang kuda.” sahut Gao-sok dengan muka meringis “hi..hi… sudahlah Gao-siok.., antar saja han-taihap kesana setelah kami makan malam!” ujar Lian-kim “baiklah siocia, marilah duduk , sebentar akan kami hidangkan makan malam.” sahut Gao-siok.

Han-hung-fei dan Lian-kim duduk dan menunggu hidangan

“setelah desa ini Han-taihap kita tidak lagi menemukan desa sampai tiga hari perjalanan menunggang kuda.” ujar Lian-kim

“setelah tiga hari kita akan sampai dimana siocia?” tanya Han-hung-fei

“kita akan sampai kedesa Jin-an, dari desa Jin-an kita akan ambil jalur kiri menuju kota lokyang.” “dari Jin-an kekota lokyang berapa hari naik kuda?”

“dari Jin-an ke Lokyang perjalanan seminggu dan akan melewati tiga desa, dan dari kota Lokyang kita akan menuju kaifeng, selama sepuluh hari perjalanan.” sahut Lian-kim menggambarkan perjalanan yang akan mereka tempuh, Han-liong mengangguk mengerti.

Gao-siok dan istrinya datang menghidangkan makanan, setelah itu keduanyapun makan dengan lahap sementara diluar sudah gelap diselimuti malam, setelah selesai makan dan istirahat sebentar

“gao-siok, saya mau kekamar!” ujar Lian-kim

“oh..baik siocia, ci-moi…” sahut Gao-siok sambul memanggil istrinya, istri Gao-siok muncul dari belakang

“antar Khu-siocia kemarnya!” perintah Gao-siok pada istrinya, dan dia lalu mengajak Han-hung-fei kekandang kuda.

“disini banyak nyamuk loh taihap, apakah taihap akan tahan?” ujar Gao-siok

“tidak mengapa Gao-siok.” sahut Han-hung-fei, lalu Gao-siok meninggalkan Han-hung-fei dikandang kuda, “oh ya taihap kalau taihap mau mandi atau cuci muka, dibelakang rumah ada sumur.” ujar Gao-siok

“baik, terimakasih gao-siok.” sahut Han-hung-fei, setelah Gao-siok pergi, Han-hungfeimembaringkan tubuhnya, dengan bertilam jerami ia baring dan menatap langit penuh bintang dari atap kandang kuda yang banyak terbuka disana-sini, Han-hung-fei memejamkan mata, wajah Lian-kim yang cantik terlintas, bibirnya tersenyum bahwa siocianya dapat tidur dengan hangat dan nyenyak, hatinya sangat bahagia dapat mendahulukan siocianya dan tidak membuat susah.

Khu-lian-kim keluar dari kamarnya dan duduk diselaras lantai dua menikmati malam penuh bintang, baru sesaat ia tenggelam akan keindahan angkasa raya,

“maaf siocia bolehkah aku duduk sebentar sambil menikmati pemandangan bintang malam?” sela sebuah suara, Khu-lian-kim menoleh dan melihat pemuda tampan berumur dua puluh tiga tahun “oh..silahkan taihap, bukankah taihap juga tamu disini?” sahut Lian-kim

“benar siocia, kenalkan namaku Cia-hui-san.” ujar Cia-hui-san memperkenalkan diri “saya Khu-lian-kim, darimana dan hendak kemakah Cia taihap?”

“saya dari Chang-an hendak ke Lokyang.” sahut Cia-hui-san

“bagaimana keadaan chang-an setelah kota raja dipindahkan ke Lokyang?” tanya Lian-kim

“keadaannya sudah aman, sejak kaisar Guangwu memegang tampuk pimpinan, dan berjuang bersama beliau melawan ang-bi-tin merupakan sebuah kehormtan.”

“wah…jadi Cia-taihap terlibat perebutan istana oleh kaisar?”

“benar, saya ikut membantu beliau ditimur laut, dan juga ketika beliau membawa pasukan untuk menindak ang-bin-tin yang berlaku arogan, saya juga ikut mendampinginya.” sahut Cia-hui-san

“luar biasa cia-taihap, dari perguruan manakah Cia-taihap?” “aku murid kedua dari suhu Lu-peng-jin, ciangbujin Butong-pai.”

“pantas kalau begitu, Butong-pai terkenal dengan pendekar-pendekarnya yang sakti.” puji LIan-kim, Cia- hui-san makin merasa mekar dengan pujian gadis secantik Lian-kim

“ah…khu-siocia terlalu memuji, aku yang tidak apa-apanya ini dijuluki kalangan rimba persilatan dengan julukan “kim-houw-jiauw” (cakar harimau emas)” sahut Cia-hui-san dengan senyum penuh arti sambil menatap wajah cantik Lian-kim

“Khu-siocia darimana dan hendak kemana?” tanya Hui-san

“aku dari kota kecil Bicu, dan hendak ke kaifeng, dan besok pagi-pagi kami akan berangkat.” sahut Lian- kim

“kami? apakah khu-siocia bersama seseorang?”

“benar cia-taihap, aku bersama seorang pengawalku, dia tidur dikandang kuda.”

“ooh..begitu, kalau saya mungkin agak siangan baru melanjutkan perjalanan.” ujar Cia-taihap.

“baiklah Cia-taihap, aku permisi dulu untuk masuk kekamar, saya harus tidur cepat karena akan berangkat pagi-pagi.” ujar Lian-kim

“baiklah khu-siocia.” sahut Cia-taihap dengan senyum lembut, Lian-kim melangkah memasuki kamarnya untuk tidur, dan sebentar saja dia sudah pulas dibawah selimutnya yang hangat.

Keesokan harinya Han-hung-fei bangun dan segera bangkit dan melangkah kebelakang rumah untuk mencuci muka, namun ketika hendak memasuki belakang rumah, ia spontan melompat dan kembali kekandang kuda, Han-hung-fei terkejut karena matanya melihat punggung putih mulus milik siocianya, siocianya lagi mandi dengan telanjang, punggung putih dan buah pinggul yang dialiri air jelas terpampang, Han-hung-fei duduk diatas jerami, bayangan tubuh lian-kim muncul, lalu spontan Han-hung-fei menepisnya dan menatap kuda yang sedang merumput, bayangan itu hilang, tidak ada gairah atau birahi yang terbit, yang muncul bahkan rasa malu dan tidak patut, sungguh luar biasa, jika dibandingkan han-hung-fei lima tahun yang lalu, tidak ada niat untuk mengintip kembali walaupun itu mudah ia lakukan.

Han-hung-fei menggosok kuda tunggangan mereka, tiba-tiba Lian-kim yang cantik muncul, wajahnya segar sangat mempesona, pipinya yang putih nampak kemerah merahan, sinom rambutnya melambai dihembus angin sepoi-sepoi pagi yang sejuk, dia datang bersama Gao-siok

“Han-taihap kenapa belum ganti baju?” tanya Lian-kim “baik siocia, aku cuci muka dulu, dimana tempat cuci muka yah?” sahut Han-gung-fei

“eh..taihap lupa yah, kan aku sudah katakan dibelakang rumah ada sumur untuk cuci muka dan mandi.” sela Gao-siok

“hehehe..aku lupa gao-siok, baik aku akan segera kesana untuk cuci muka.” sahut Han-hung-fei

“jangan hanya cuci muka Han-taihap, tapi mandilah sekalian, aku akan menunggu didalam, lalu kita sarapan.” sela Lian-kim

“baiklah siocia..” sahut Han-hung-fei, Han-hung-fei pun mandi, air yang dingin membuat tubuhnya terasa segar.

Setelah berganti pakaian, Han-hung-fei masuk kedalam kedai, senyum Lian-kim yang aduhai menyambutnya

“marilah kita sarapan han-taihap.” ajak Lian-kim

“mari siocia.” sahut Han-hung-fei, lalu merekapun sarapan dengan nikmat

“hendak beraangkat hari ini khu-siocia?” tanya Hui-san yang tiba-tiba muncul dan menuruni tangga “benar Cia-taihap, bukankah Cia taihap akan melanjutkan perjalanan nanti siang?”

“aku berubah pikiran Khu-siocia, aku juga hendak berangkat pagi ini, dan mungkin kita bisa berjalan bersama setidaknya sampai kota Lokyang” jawab Cia-taihap.

“kenalkan cia-taihap, ini adalah Han-taihap, pengawal saya.” ujar Lian-kim, Han-hung-fei berdiri dan menjura

“selamat berjumpa Cia-taihap, senang bertemu dengan anda.” “sudah tidak perlu basa-basi…”

“Han-hung-fei, taihap?” sela Han-hung-fei

“ya…han-hung-fei.” lanjut Cia-taihap, Cia-taihap sedikit tidak puas karena Khu-lian-kim ternyata memiliki pengawal yang sangat tampan, hatinya yang kebat-kebit pada Lian-kim menjadi terusik, sehingga ia harus memunculkan kelebihannya sebagai pendekar yang tentunya lebih dari seorang pengawal, dan sebutan Han-taihap tidak cocok karena akan menyainginya.

Han-taihap, Cia taihap ini adalah murid dari ciangbujin Butong-pai Lu-peng-jin, dan julukannya Kim-houw- jiauw.” ujar Lian-kim

“wah..sungguh aku tidak mengira akan bertemu dengan pendekar kenamaan dari butong-pai murid cianpwe Lu-peng-jin, untuk itu aku bersulang untuk taihap” sahut Han-hung-fei sambil menuang arak dan meminumnya, Cia-hui-san hanya tersenyum dengan bangga, namun hatinya sedikit tidak nyaman karena Lian-kim masih memanggilnya dengan sebutan taihap.

“kalau han-taihap dari perguruan manakah, dan apakah julukan taihap?” tanya Hui-san

“ah…aku tidak apa-apanya dibanding Cia-taihap, aku hanya belajar sana-sini, dan juga julukanku, hehehe..hehehe..bagaimana pesilat picisan seperti aku akan dikenal orang.” sahut Han-hung-fei, Lian-kim heran dan melirik Cia-taihap yang tersenyum,

“hmh..kenapa Hung-fei tidak menyebutkan julukannya, mungkin kalau perguruan benar mungkin tidak ada kalau belajarnya sana-sini, namun tetap saha hung-fei punya julukan, dan faktanya dua bandit sakti yang hendak mempermalukannya dihajar babak bundas tanpa perlawanan dari dua bandit, dan juga dua bandit itu sepertinya mengenal baik akan Hung-fei bahkan mereka terkaing-kaing meneriakkan julukannya apa yah..? oh… Bun-liong-taihap.” pikir Lian-kim, Lian-kim menatap wajah Hung-fei, dan hung-fei tersenyum padanya  “hmh…biarlah, mungkin ia ingin merahasiakan dirinya.” pikir Lian-kim

“bagaimana Khu-siocia, tentunya kita dapat berjalan bersama, setidaknya sampai ke Lokyang?” tanya Hui- san

“kalau tidak merepotkan, tidak apalah.” sahut Lian-kim, Hui-san tersenyum senang sambil mereguk bubur sarapannya

“bagaimana Khu-siocia, kita berangkat!?” tanya Hui-san

“baik, marilah Cia-taihap.” sahut Lian-kim, lalu setelah membayar makan dan sewa pada Gao-siok, mereka melanjutkan perjalanan, Hui-san memacu kudanya disamping Lian-kim, sementara Han-hung-fei mengikuti dibelakang mereka.

Dua hari kemudian mereka istirahat disebuah hutan,

“tunggulah disini Khu-siocia aku akan mencari buruan untuk makan siang kita.” ujar Hui-san, mendengar itu Han-hung-fei mengumpulkan ranting-ranting untuk membuat api, Lian-kim memandang punggung Han- hung-fei yang sedang menyalakan api, dia merasa memang Cia-hui-san ada hati padanya.

“cia-taihap memang tampan dan menarik hati, namun aku akan melihat perkembangan perasaanku selanjutnya” pikir Lian-kim dalam hati, tidak lama kemudian Hui-san datang dengan seekor kijang muda.

“bisakah hung-fei mengulitinya?” ujar Hui-san

“baik Cia-taihap, letakkanlah biar aku kuliti.” sahut Han-hung-fei, Hui-san meletakkan kijang muda itu, lalu Han-hung-fei segera membawanya agak jauh dan mengulitinya dibalik semak-semak, kesempatan itu digunakan Hui-san untuk bercakap-cakap dengan Lian-kim, dia menceritakan perjalanannya selama tiga tahun sejak turun gunung, semua cerita seapik mungkin untuk membuat hati Lian-kim simpatik dan tertarik padanya.

Han-hung-fei kembali dari bawah semak-semak dengan kijang yang sudah bersih dikuliti dan ditusuk dengan sebatang kayu, sebelum membakarnya, Han-hung-fei membubuhkan bumbu berupa cabai, bawang dan kunyit, setelah itu dia duduk dekat aapi dan memenggang daging kijang

“aku pernah bertemu dengan murid seorang datuk.” ujar Hui-san asik dengan ceritanya didepan Lian-kim “murid seorang datuk?” siapakah itu Cia-taihap?”

“dia dikenal dengan Lao-sam, murid coa-tung-mo-kai.” “lalu apa yang terjadi Cia-taihap?”

“dia sedang mabuk disebuah likoan, dan membuat kacau.” “lalu apa yang tejadi?” tanya Lian-kim serius

“untungnya dia cepat pergi, walhal saya sudah siap menghajarnya karena merugikan likoan.” “ooh..kira saya terjadi pertumpahan darah.” sahut Lian-kim.

“aku tidak menghajarnya karena kutahu ia mabuk, kalau tidak mungkin dugaan khu-moi akan terjadi.” ujar Hui-san.

Hung-fei pura-pura tidak mendengar dan asik membolak balik daging panggang kijang, baunya sangat menerbitkan selera, tunggu-punya tunggu daging bakar itupun matang, lalu Han-hung-fei menyayat daging bagian paha dan memberikannya pada Lian-kim

“mari cia-taihap kita makan!” ajak Hung-fei, HUi-san mengambil bagian dada dan merobeknya, lalu merekapn makan dengan lahap, setelah kenyang, Han-hung-fei menyayat sisa daging yang masih banyak dan membungkusnya dengan selembar daun “apa yang kamu lakukan Han-taihap?” tanya Lian-kim

“daging sisa masih banyak siocia, jadi daripada sayang lebih baik disimpan dan dijadikan dendeng kering.” Jawab Han-hung-fei.

Perjalananpun dilanjutkan, sehingga keesokan harinya mereka sampai didesa Jin-an, mereka istirahat semalam di desa itu, lalu selanjutnya mereka ambil jalur kiri menuju kota lokyang, Cia-taihap sangat pandai bicara, seakan dia tidak habis bahan untuk dibicarakan, dan ketika mereka melintasi sebuah lereng bukit, segerombolan perampok mencegat mereka

“hehehe..hehehe tinggalkan baranng bawaan kalian dan juga wanita cantik itu.” ujar pimpinan rampok. “Kalian ini siapa!?” tanya Hui-san dengan sikap tenang dan berwibawa

“hehehe..heheh..kalian tidak kenal kami, maka kalian harus mampus!” sahut pimpinan rampok

“jangan sembarangan, sebaiknya kalian enyah dari hadapanku sebelum aku menghajar kalian satu persatu.” tantang Hui-san

“badebah sialan, kamu berani dengan “hui-houw” rasakan ini!” ujar pimpinan rampok jengkel karena balik ditantang, dia melempar tiga pisau, tiga pisau iltu melesat dengat cepat, namun bagi hui-san

“cih….permainan anak-anak.” ujar Hui-san sambil menangkap tiga pisau itu, pisau itu terjepit disela-sela jemari kanannya, dan sekali sebat tiga orang anak buah rampok menjerit histeris karena kening mereka tertancap pisau terbang pimpinannya.

“seraang…! teriak pimpinan rampok, dua puluh anak buah perampok bergerak menerjang

“khu-moi dan fei-hong tetap saja di punggung kuda, biar aaku bereskan cecunguk-cecunguk ini.” ujar Hui- san sambil melompat dari punggung kuda, diudara ia mencabut pedangnya dan dengan gerakan kilat merebak kedalam barisan pengeroyok, kemana pedangnya berkiblat, tubuh perampok bertumbangan, jerit mereka susul menyusul, aakhirnya tujuh sisa perampok undur, sementara pimpinannya bertarung habis- habisan dengan Hui-san, pimpinan permpok yang ternyata ada isi berusaha merobohkan Hui-san, namun niat itu sulit untuk dilakukan, karena sewaktu menginjak jurus keseratus, pedang Hui-san telah mengurungnya dengan ketat, dan

“crak..” pimpinan rampok menjerit saat tangannya putus sebatas pergelangan, kemudian dua gebrakan pedang Hui-san sudah menancap tepat dijantungnya, melihat pimpinan tewas, tujuh anak buahnya lari tunggang langgang.

Dengan sikap keren Hui-san menyarungkan kembali pedangnya dan naik keatas punggung kudanya “mari khu-moi kita lanjutkan perjalanan!” ujar Hui-san

“terimaksih Cia-taihap.”

“aih..Khu-moi kenapa bertermakasih, sudah merupakan kewajiban saya melindungi Khu-moi.”

“walaupun demikian cia-taihap, aku tetap berterimakasih, karena telah membantu tanggung jawab han- taihap.”

“banar Cia-taihap, Cia-taihap dengan luar biasa telaah membantu tugas saya.” sela Han-hung-fe

“hahaha…hahaha..baiklah kalau begitu, kalian jangan terlalu sungkan itu, bantuan itu belum seberapa.” sahut Hui-san

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan memacu kuda melintasi bukit dan terus masuk kelembah dan mendaki lagi, tiga hari kemudian mereka istirahat disebuah hutan, kali ini Han-hung-fei yanag pergi berburu, Hui-san dan Lian-kim menunggu ditepi hutan

“khu-moi sudah berapa lama hung-fei bekeja pada keluargamu?” “lebih kurang enam bulan san-ko.”

“apakah kamu tahu darimana asal usulya?” “memang kenapa san-ko?”

“tidak, hanya sebagai tindakan hati-hati, khu-moi.” “san-ko terlalu berlebihan.”

“tidak Khu-moi, tindakan hati bukan hal yang berlebihan.”

“Han-taihap itu baik san-ko, dia sangat penurut dan sangat menghormati kami sekeluarga.” “sykurlah kalau memang demikian Khu-moi.” sahur Hui-san, sesaat mereka diam

“Khu-moi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” “apakah itu San-ko?”

“Khu-moi sudah beberapa hari ini perasaan ini kupendam, hari ini akan kenyatakan supaya hati terasa lega.”

“hmh…aku akan mendengarkan san-ko.”

“a..aku…sejak malam itu di kedai Gao-siok, a..aku sudah terpikat dan jatuh hati padamu Khu-moi.”

“hahaha..hahaha….romatisnya.” sela suara tawa tiba-tiba, dan dua orang lelaki lumayan tampan sudah berdiri dibelakang mereka, Hui-san dan Lian-kim terkejut dan lansung berdiri menoleh kebelakang

“wao..lao-sam cantiknya gadis ini..” puji lelaki bertubuh agak gemuk itu

“luar biasa, mengkangkanginya selama seminggu aku rela tidak makan nih lao-chit, hehehe..hehehe…..” sahut lelaki kurus tinggi

“apa maksudmu datang kesini lao-sam?” tanya Hui-san marah, dia pernah bertemu dengan lelaki kurus ini sebagaimana ia ceritakan pada Lian-kim

“hehehe…kamu kenal aku!?” tanya Lao-sam

“benar kita pernah berada dalam satu tempat dan saya lihat kamu hanyalah seorang pemabuk.” “hahaha..hahaha..kalau sudah kenal cepat berlutut didepanku!” bentak Lao-sam

“tidak sudi…!” sahut Hui-san menantang.

Lao-sam cepat ringkus gadis cantik itu biar aku hajar pacarnya yang romatis ini.” ujar lao-sam, lao-chit langsung melompat, namun dicegah oleh Hui-san

“buk…ahghh..” dua pukulan bertemu, Hui-san terjengkang ambruk, dan Lao-chit melanjutkan serangannya pada Lian-kim, lian-kim menghindar dan mencabut pedangnya, dia melawan dengan gigih, lao-chit sedikit kewalahan karena dia tidak mau melukai gadis mengiurkan ini, sementara Hui-san hendak bangkit untuk membantu lian-kiam, hendak ditendang Lao-sam, Hui-san merasakan angin pukulan mengarah punggungnya, ia bergulinga kedepan dan berdiri sambil mencabut pedangnya.

Hui-san menyerang dengan ilmu silatnya yang tergolong tinggi, namun gerakan lao-sam luar biasa gesitnya, hanya dalam empat puluh jurus Hui-san sudah terdesak hebat, terlebih ketika lian-kim dapat ditangkap oleh lao-chit dengan sebuah totokan “hahaha…hahaha, lao-sam gadis denok udah siap nih.” ujar Lao-chit sambil membelai-belai pipi lian-kim, wajah lian-kim pucat pias, hatinya takut setengah mati, bayangan dia akan dipermalukan dua lelaki ini membuat hatinya menjerit cemas,

“buk..buk…” dua pukulan menghantam perut dan lambung Hui-san, ia muntah darah dengan nafas sesak, melihat Hui-san terengah-engah Lian-kim langsung menjerit

“han-koooo tolong…” jeritnya histeris ditengah kekakuan tubuhnya

“hah..!? siapa …siapa yang kamu teriaki!?”

“han-ko..han-kooo…tolooong aku…” teriak Lian-kim

“celaka lao-sam dia disini..1” jerit lao-chit cemas

“tidak mungkin , dia sudah mati didasar jurang, kamu jangan bodoh.” sahut Lao-sam

“ta..tapi kita tidak melihat mayatnya lao-sam, bun-liong-taihap manusia sakti, bisa jadi ia selamat dan masih hidup walaupun jatuh kedasar jurang.” bantah lao-chit, Lian-kim yang mendengar perbantahan itu dan mendengar disebut julukan han-taihap, lalu berseru

“bun-liong-taihap…tolong aku…!” teriak Lian-kim “nah..apa kubilang dia masih hidup…” ujar Lao-chit “wah..sial! cepat bawa gadis itu..!” seru lao-sam

“berhentii…!” teriak sebuah suara dan Han-hung-fei sudah muncul sambil merenggut lian-kim dari tangan lao-chit yang sudah membopong tubuh Lian-kim, lao-chit terlempar tiga tindak karena lambungnya didorong Han-hung-fei

“lao-sam! lao-chit kalian berani mengganggu siociaku!” bentak Han-hung-fei, sambil menurunkan Lian-kim dari bopongannya, mendengar kalimat siociaku ini membuat Lian-kim terisak

“hiks…hiks…han-ko aku takut sekali.” keluh lian-kim memeluk lengan Han-hung-fei

“akan kuhajar kalian lao-bangsat!” teriak Han-hung-fei tidak tahan melihat siocianya menangis ketakutan, serangan dengan jurus ketujuh ilmu tangan kosongnya yang bernama “pai-hud-bun-sian” menyerang lao- sam dan lao-chit yang masih terkesima melihat Han-hung-fei, mereka tersadar ketika Han-hung-fei berjumpalitan diudara, mereka menghindar dan memberikan balasan serangan, gerakan putaran tubuh han-hung-fei demikian luar biasa sehingga membentuk badai putting beliung mengejar lawannya, dua lao- dengan ilmu mereka yang temasuk ilmu teratas saat itu melawan dengan pukulan-pukulan sakti, enam puluh jurus berlalu keadaan masih seimbang.

Lian-kim yang tidak kuasa melihat pertandingan luar biasa itu, Han-hung-fei merobah gerakannya dengan jurus kedelapan “minling-xiau-bun-sian” gerakan menulis dalam serangan dan bertahan membuat dua lao kelabakan, namun mereka dengan gigih bertahan dan melawan dengan tongkatnya dalam rangakaian jurus “goat-hun-mo-tung” (tongkat setan menyibak rembulan), karena dua tongkat ini pertarungan dekat sangat sulit bagi Han-hung-fei, jurus kedelapan ini tidak dapat maksimal karena lawan juga sangat cekatan membuat jarak, maka

“srat…” Han-hung-fei menarik pedang pusakanya dari sarungnya, melihat keredapan sinar hiijau, dan jumpalitan pada penutupan jurus kedelapan mendarat mulus di tanah, lalu kuda-kuda dengan khasnya yang mengesankan terbentuk, dan lansung Han-hung-fei melesat kedepan, lao-sam dan lao-chit yang sudah ciut nyalinya sudah berpikir hendak melarikan diri, sehinga mereka tidak fukos menahan serangan bun-liong-sian-kiam yang luar biasa

“srat..adoh…srat..auhhh…” punggung keduanya tergores pedang, punggung lao-chit punggung tergores pertikal sementara lao-sam punggungnya tergores melintang, namun walaupun luka mereka sudah ada kesempatan melarikan diri sekencang mungkin, Han-hung-fei tidak mengejar, dia kembali menyarungkan pedangnya dan segera melihat Hui-san yang tergeletak pingsan, Hui-san masih sadar ketika Han-hung-fei menegluarkan jurus kedelapan menghadapi dua lawan tangguh itu, dank arena rasa nyeri yang menusuk dalam perutnya membuat ia muntah untuk kedua kalinya dan ia pun pingsan.

“cia-taihap pingsan siocia.” ujar Han-hung-fei, lalu han-hung-fei bersila dan mengerahkan sin-kang untuk menobati luka dalam Hui-san, Lian-kim memperhatikan lelaki berumur didepannya, jenggotnya yang rapi dan kumis tipis yang melintang di bawah hidungnya yang mancung, menambah gagah wajah yang memang rupawan itu, terlebih ketika butiran keringat muncul dikeningnya dan mengalir melewati lehernya yang kokoh, selama satu jam Han-hung-fei mengobati luka dalam Hui-san, ketika dia menghentikannya dan mengatur nafas, Hui-san siuman

“oh..ah…kepalaku pusing sekali.” Keluhnya

“tidak apa cia-taihap, hawa yang menggerogoti perutmu sudah di lenyapkan, rasa pusing karena hanya mual, apakah cia-taihap bawa obat pencici darah atau penguat tubuh?”

“ada aku bawa obat penguat tubuh.” sahut Hui-san, Lian-kim tanpa diperintah mengambil buntalan Hui-san dipelana kuda, dan memberikannya pada Han-hung-fei, han-hung-fei membuka buntalan didepan Hui-san, dan sebotol guci kecil berisi pel berwrna hitam, Hui-san mengambil pel hitam dan memasukkan kemulutnya dan menelannya.

“terimakasih taihap telah menyelamatkan saya.” ujar Hui-san

“cia-taihap kita dalam satu perjalanan sepatutnya kita saling bantu.” sahut Han-hung-fei, lian-kim tersadar bahwa mereka belum makan, dan tiga ekor ayam hutan tergeletak tidak jauh dari tumpukan api yang dari tadi sudah dinyalakan Hui-san, dengan cekatan lian-kim membersihkan bulu ayam dan kemudian memanggangnya. Han-hung-fei menggendong Hui-san dan menyendarkannya pada sebuah pohon, matanya lian-kim yang indah melirik gerak-gerik han-hung-fei yang meletakkan hui-san, lalu han-hung-fei mendekati perapian dan coba membantu memanggang seekor ayam yang belum dipanggang,

“apakah luka cia-taihap parah han-ko!?” tanya Lian-kim. mendengar panggilan itu Han-hung-fei menatap siocianya, dan lian-kim memang sedang menatapnya, maka dua garis pandang itupun ketemu, dan hanya sebentar lian-kim mampu dan diapun tertunduk, panggilan itu sudah berkali-kali di ucapkan lian-kim, namun karena situasi genting tidak demikian diperhatikan, namun saat keduanya sedekat itu dan panggilan itu nyaris seperti bisikan membuat hati Hung-fei bergetar sayang.

“lumayan parah siocia, setidaknya sebulan cia-taihap harus istirahat total.” sahut Han-hung-fei. “siocia tidak apa-apa bukan?” tanya Han-hung-fei baru menanyakan keadaan Lian-kim

“aku tidak apa-apa.” sahut Lian-kim, ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk saat itu, mengatakan han- taihap hatinya merasa tidak rela karena terlalu formal, mengatakan han-ko hatinya merasa malu, setelah panggang ayam matang, han-hung-fei meletakkan ayam bakar lezat itu didepan cia-taihap.

“makanlah sedikit demi sedikit cia-taihap, dan kunyah sehalus-halusnya, untuk membnatu pencernaan cia- taihap yang sedang luka dan lemah.” ujar Han-hung-fei, Hui-saan memandang hung-fei dengan rasa terimakasih, namun tidak diucapkannya, lalu hui-san pun mencolek daging lembut itu dan memakannya, dia mengunyah dengan pelan dan halus baru menelannya.

“han-taihap? apakah han-taihap kenal dua orang tadi?”

“aku kenal dengan mereka cia-taihap, keduanya adalah teman saya masa kecil.” sahut Han-hung-fei. “tapi lao-sam itu murid coa-tung-kaipang han-taihap.”

“benar sekali Cia-taihap, lao-chit itu juga murid coa-tung-mo-kai “artinya Han-taihap kenal coa-tung-mo-kai?”

“ya, coa tung-mo-kai saya kenal, karena saya pernah setahun ikut mereka.”

“tidak kusangka taihap sehebat tadi, dan saya lihat mereka sangat ketakutan ketika Khu-moi meneriakkan she-mu.” ujar Hui-san “ah..sudahlah cia-taihap, jangan memndang demikian tinggi padaku, kita ini adalah teman, dan wajar sajalah.” sahut hui-san

“berapakah sekarang umur han-taihap?”

“umurku? umurku dua puluh enam tahun, kenapa?”

“aduh taihap, maafkanlah aku, dengan tidak merasa malu, aku lantang memanggil namamu padahal aku lebih muda darimu tiga tahun.”

“ah..tidak apa-apa cia-taihap, nama dibuat memang untuk dipanggil dan disebut.” sahut Hung-fei, Lian-kim yang dari tadi diam mendengarkan dengan seius percakapan dua rekan seperjalanannya itu, hatinya makin kagum akan sosok han-hung-fei yang penuh rahasia dan penuh kejutan.

Setelah makan, lalu mereka melnjutkan perjalanan, perjalanan ini sangat lambat, karena Hui-san tidak bisa menunggang kuda dengan cepat karena perutnya yang terluka, sehingga dua hari pderjalanan baru mereka sampai di desa Yinlin, desa ketiga sebelum masuk kota lokyang, seharusnya dari hutan tempat mereka bertemu lao-san-dan lao-chit, hanya setengah hari perjalanan dengan memacu kuda.

Khu-moi, aku istirahat saja didesa ini, dan kalian lanjutkanlah perjalanan.” ujar Hui-san, Lian-kim memandang han-hung-fei sinar matanya menanyakan pendapat Hung-fei, han-hung-fei yang mebatap mata bening indah itu sangat faham

“apakah itu ide yang bagus Cia-taihap?” tanya Hung-fei “itu yang paling tepat Han-taaihap.” sahut Hui-san

“baiklah cia-taihap, namun jika memang ada tabib yang bisa menampung cia-taihap didesa ini, kalau tidak ada, terpaksa cia-taihap akan tersu bersama kami sampai ke lokyang.” ujar Han-hung-fei, kalimat itu demikian tegas, Hui-san terdiam.

Han-hung-fe menanyakan tabib didesa itu, dan ternyata ada Khu-sinse yang dapat menampung dan merawat Hui-sian, dengan rasa lega Han-hung-fei dan lian-kim meninggalkan Hui-san, lalu keduanya memacu kuda meninggalkan desa Yin-lin, perjalanan kali ini demikian sepi dan sunyi, keduanya jarang mengeluarkan kata-kata, lian-kim tidak bicara karena merasa malu, han-hung-fei tidak bicara karena merasa takut, namaun bahasa isyarat lewat sinar mata diantara mereka saling menyambung.

Menjelang sore, mereka memasuki kota lokyang, lalu mereka mencari penginapan

“bun-liong-taihap..!” seru seuara memanggil, han-hung-fei dan Lian-kim menoleh kearah suara, ternyata yang memanggil Han-hung-fei adalah Lu-piauw, Lu-piauw dan beberapa pendekar selamat ketika kemarahan empat datuk pada barisan Khu-ciangkun, Han-hung-fei dan Lian-kim mendekati Lu-piaw

“eh ternyata khu-siocia, apa kabar Khu-hujin siocia?” tanya Lu-piauw “hi..hi…Lu-siok, bagaimana ada disini?” tanya Lian-kim

“hehehe..hehehe…aku mana tahan menetap disatu tempat, dari muda berkelana terus dan sekarang umur sudah hampir lima puluh masih juga berkelana.” sahut Lu-piauw.

“Han-taihap, bagaimana bisa bersama Khu-siocia?” tanya Lu-piauw “hehehe..aku bekerja dirumah Khu-siocia Lu-taihap.” jawab Han-hung-fei “eh…memang dimana rumah kalian sekarang Khu-siocia?”

“kami tinggal di kota Bichu paman.” sahut Lian-kim.

“ooh..di kota bichu, kapan-kapan aku akan mengunjungi kalian disana, dan terus kalian mau kemana ini?” “kami mau kekaifeng paman, untuk menagih sewa bangunan yang ada disana.” “rumah kalian yang di kaifeng disewakan?”

“benar paman, disamping tiga buah rumah, jiangzhou juga telah kami ubah menjadi likoan yang cukup besar dan ditangani liu-siok.”

“memang liu-taihap luar biasa kalau urusan masak memasak.” sahut Lu-piauw

“ayok pesanlah makanan, kita makan bareng, aku sudah duluan tadi memesan, playan..” ujar Lu-piauw sambil menyeru pelayan, pelayan datang buru-buru, lalu Lian-kim memesan makanan untuk mereka berdua.

Pertemuan dengan Lu-piauw terasa amat menggembirakan, Lu-piauw yang periang dan banyak bicara ini berceloteh terus sambil makan

“han-taihap tentu ingat dengan wajah ayah Khu-siocia?”

“memangnya pernah bertemu dengan ayahku?” tanya Lian-kim sambil menoleh kepada Han-hung-fei, Han-hung-fei menatap mata indah penuh isyarat hangat itu,

“aku sebenarnya tidak tahu kalau khu-ciangkun adalah ayah khu-siocia, dan baru hari ini tahu setelah bertemu dengan Lu-taihap.”

“jadi pernah dan kapan?” tanya Lian-kim masih dengan isyaratnya yang lembut hangat “pernah sekali itupun dikota ini sekitar tiga tahun lalu, iya kan Lu-taihap?” sahut Han-hung-fei

“benar khu-siocia, eh tapi bagaimana caramu selamat? walhal kamu sudah masuk jurang.” sahut Lu-piauw dan menyambung lagi pertanyaannya, Lian-kiim menatap takjub pada han-hung-fei, soal jurang ini sudah didengar dari mulut kedua lao, dan sekarang pertanyaan itu akan terjawab, dengan seksama dan dengan hati hangat Lian-kim mendengar kata prakata pemuda luar biasa ini

“hmh…jika Thian memang tidak menghendaki kematian seseorang, maka tidak ada satu usaha pun yang akan membuat orang itu mati.” sahut han-hung-fei

“lalu bagaimana Thian menyelamatkanmu Han-taihap?” tanya Lu-piuaw

“saat melayang kedasar jurang, aku melihat sebuah cabang kayu menonjol dari dinding jurang, lalu aku tebas caabang kayu itu dan berusaha melompat keatas dengan menggunakan benturan tebasan, dan aku selamat menjejakkan kaki di atas potongan kayu.”

“wah…luar biasa, ditengah kekalutan hati dan pikiran, han-taihap masih memiliki kejernihan pikiran saat itu.” puji Lu-piauw

“ah…Lu-taihap telalu memuji.” sahut Han-hung-fei “hehehe..hehehe..lalu kemudian bagaimana selanjutnya Han-taihap?”

“lalu beberapa mayat melayang dari atas, saya kira empat datuk melempari mayat dari atas sana, jadi mayat ketiga jaatuh, dan aku terpaksa melompat dan menginjak mayat itu lalu tubuh saya meluncur kebawah bersama mayat itu, dan saat hampir dekat kedasar saya terpaksa lagi menginjak mayat itu untuk landasan. Nah begitulah thian menyelamatkanku.” sahut Han-hung-fei sama-sama, lian-kim terkesima mendengar cerita yang luar biasa itu.

“hehehe….untuk orang seperti kamu Han-taaihap hal itu sangat mudah, dan benar Thian telah menyelamatkanmu dengan potongan kayu dan jasad yang dilempar dari atas, sebenarnya bukan empat taihap yang melempar jasad itu, tapi anak buah tee-tok-siang, kami juga nyaris tewas saat itu, amukan empat datuk sungguh sadis dan mengenaskan, untungnya setelah semua tumbang mereka langsung pergi, saya dan tung-kim-pang dan beberapa pendekar masih selamat. Karena kami hanya pingsan saat amukan empat datuk, setelah kami sadar, kami berusaha merangkah menuruni bukit dan, ketika anak buah tee-tok-siang mengangkati mayat dari tempat mereka, kami sembunyi, kami melihat mereka membuangi banyak mayat dari tempat kediaman tee-tok-siang “beberapa bulan yang lalu, saya dan tee-tok-siang berjumpa.” ujar Han-hung-fei “dimana kalian bertemu Han-taihap?”

“bertemu di kota Bicu, saat itu mereka hendak mengganngu siocia.” “maksudmu dua orang yang dulu dipasar?” sela Lian-kim

“benar siocia.” sahut Han-hung-fei.”

“apakah kalian akan bemalam disini Khu-siocia?”

“benar paman Lu, besok baru kami akan ke Kaifeng.” jawab Khu-lian-kim, setelah beberapa lama Lu-piauw meninggalkan likoan, Han-hung-fei dan Khu-lian-kim memasuki kamar untuk istirahat.

Khu-lian-kim makin berdebar hatinya, sejak dia ditolong Ha-hung-fei dari tee-tok-siang, hati Lian-kim sudah simpatik, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan yang mereka lakukan, dan Lian-kim menemukan banyak kejutan-kejutan yang mengarah pada identitas Han-hung-fei, hatinya makin kagum, rasa nyaman disamping pemuda berumur itu sungguh ia rasakan, rasa takjub akan sosok Han-taihap semakin bertambah-tambah selama perjalanan, dan terlebih lagi, ternyata pengawalnya ini memiliki ketenaran yang luar biasa, julukannya saja membuat dua murid datuk takut setengah mati, ia terbayang kembali betapa ia berteriak minta tolong pada Han-hung-fei, baru shenya-saja dia teriakkan sudah membuat dua lao ketakutan, Lian-kim memejamkan mata dan dengan seulas senyum ia tertidur pulas.

Keesokan Harinya Han-hung-fei dan Lian-kim melanjutkan perjalanan, kuda dipacu dengan cepat, pada suatu siang mereka melintasi sebuah lembah yang indah, dilembah yang banyak ditumbuhi bunga krisan, karena hari memang terik dan panas, istirahat ditempat teduh sambil menikmati panorama alam tentulah sangat nyaman

“kita istirahat disini yah?” pinta Lian-kim sambil berhenti dan menatap wajah Han-hung-fei

“baik siocia, tempat dibawah pohon sangat teduh.” Sahut Han-hung-fei sambil menunjuk sebuah pohon

“marilah kita kesana.” ajak Lian-kim sambil menarik tali kekang kudanya mengarahkan kudanya menuju pohon yang sangat rindang, keduanya turun, Han-hung-fei menambatkan dua ekor kuda mereka pada sebuah pohon lain, kuda-kuda itu pun merumput dengan lahap.

Han-hung-fei melangkah kepohon dimana Lian-kim sudah duduk bersandar menikmati hembusan angin yang lumayan kuat, kegerahan perjalanan tadi lansung lenyap karena sejuknya hembusan angin.

“apakah siocia tidak lapar?” tanya Han-hung-fei sambil duduk di balik pohon dan menyandarkan punggungnya

“aku masih kenyang dan bagaimana denganmu?” “aku juga masih merasa kenyang siocia.”

“setelah kita mengadakan perjalanan bersama, sedikit banyaknya aku lebih mengenal dirimu.” “maksud siocia selama ini aku misterius begitu?”

“bisa dikatakan begitu, karena awalnya aku merasa bahwa kamu tidak misterius, namun hal-hal yang terjadi selama perjalanan ini menunjukkan betapa misteriusnya dirimu.”

“kenapa siocia berkata demikian?”

“pertama, saat engkau menyembunyikan julukanmu didepan Cia-taihap, dari sini aku merasa kamu penuh rahasia, lalu saat dua lao datang mengganggu, jati dirimu yang sebenarnya pun kelihatan, bahwa kamu seorang pendekar kenamaan yang memiliki kesaktian luar biasa, kenyataan itu sangat mencengangkan bagiku, jika kubandingkaan saat aku mengujimu dulu “maafkan aku siocia, aku memang salah.”

“kamu tidak salah, ketercenganku bukan hal yang membuatku marah padamu, tapi malah sebaliknya.” sahut Lian-kim, sesaat hening, lalu terdengar suara gemerisik dedaunan rindang diatas mereka dipermainkan angin.

Tahukah kamu bagaimana raut wajah lao-chit ketika aku memanggil she-mu?” “tidak tahu siocia, memang bagaimana raut wajahnya?”

“sungguh ketika aku melihat wajahnya, aku sadar betapa hanya menyebut namamu sudah merupakan penawar rasa takutku.”

“siocia terlalu berlebihan memandang dan memujiku.”

“aku suka dirimu yang ini.” ujar Lian-kim sambil senyum penuh rasa hangat dalam hatinya, untungya mereka saling memebelakangi dan dipisahkan sebatang pohon sehingga Lian-kim tidak perlu menahan senyumannya, Han-hung-fei yang mendengar pernyataan itu merasa hatinya bergetar hangat, bunga cinta yang dipendamnya selama tiga bulan ini tiba-tiba merekah, namun dia berusaha memahamkan kembali betapa kenyataan bahwa ia hanyalah pembantu.

“memangnya aku ada berapa siocia?” tanya Han-hung-fei, senyum Lian-kim makin merekah hangat “kamu memang hanya satu, tapi sikap dan prilaku tentu lebih dari satu.”

“apakah selain dari sikap tadi, siocia tidak menyukaiku?” tanya Han-hung-fei cemas. “banyak isyarat yang telah difahami antara kita, lalu menurutmu bagaimana?”

“siocia aku tidak berani menyatakannya.” sahut Han-hung-fei merasa jengah dan malu “ketidak beranianmu membuat aku merasa hampa.”

“siocia maafkanlah aku jika aku telah membuat dirimu tidak nyaman.”

“tidak mengapa, janganlah dimasukkan kehati, tidak seharusnya kenyamananku menjadi beban pikiran bagimu.”

“social..! kamu demikian sempurna, fisikmu luarbiasa mengagumkan, hatimu juga betatahkan kebaikan, bicaramu juga luwes menyenangkan, kesempurnaan dihadapan mata ini bagaimana aku berani menegadahkan pandangan.”

“ungkapan hatimu membuat aku tersanjung ke awan, tapi ironi aku kamu biarkan, seandaiya aku tahun cara turun kedaratan, tentulah akan aku lakukan.”

Tiba-tiba Lian-kim merasakan jemarinya diremas lembut, spontan ia melihat ke arah lengannya, dan Han- hung-fei sudah bergeser kesebelahnya dari balik pohon

“kim-moi….aku cinta padamu.” bisik Han-hung-fei sambil mengecup jemari Lian-kim, hati Lian-kim bergelora, rasa hangat dalam hatinya membuncah

“han-ko…isyarat cintamu demikian nyata, rasa kepemilikanmu padaku demikian kuat perkasa, pernyataan cintamu membuat hatiku bergelora, Han-ko kekasihku aku juga cinta.” ratap Lian-kim dengan linangan air mata bahagia, Han-hung-fei segera menarik Lian-kim, dia mengecup kening Lian-kim

“kim-moi kekasihku, sungguh rasa takut ini telah membuatku kaku, namun syukurlah hari ini kamu memberi kekuatan pada hatiku, sehingga berjuta harapan menghias dikalbu, sungguh kalau aku tidak meraihmu kaekasihku, bagaimana aku mampu menjalani hidupku.”

Han-hung-fei mengecup pipi Lian-kim, lalu melumat bibirnya dengan lembut, sesaat nafas mereka sesak oleh gairah, Han-hung-fei menghentikan ciumannya, lalu ia memeluk Lian-kim dari belakang, kepala Lian- kim bersandar didadanya, kedua jemari mereka saling bertaut, sambil menikmati panorama alam Han- hung-fei mengecup rambut kekasihnya.

“kim-moi sayang, sekembalinya kita ke Bicu aku sudah sangat siap untuk menikahimu, bagaimana menurutmu kim-moi?” ujar Han-hung-fei, Lian-kim dengan senyum merekah bahagia mengecup jemari Han-hung-fei

“sayang, pernyataan sangat siapmu melegakan hatiku, keyakinan pernyataanmu membuat aku tiada lagi yang kutakutkan, hanyalah kenyamanan yang aku rasakan, jika bersanding denganmu dipelaminan.”

“ohh..Thian, luar biasa anugrah yang kudapatkan, seorang pendamping sampai akhir kehidupan, kim-moi duhai pujaan entah apa yang pernah kulakukan, sehingga Thian menggariskan kamu dan aku dipertemukan.” Han-hung-fei memejamkan mata sambil memeluk erat tubuh Lian-kim, rasa hangat menjalar, luapan cinta menggelagar, rasa sayang terpancar disetiap kata yang teruar.

Han-hung-fei dan Lian-kim melewatkan malam dibawah pohon yang rindang, disinari cahaya bulan dan api anggun, mereka tertidur pulas dalam pelukan cinta dan sayang, seungguh dua sejoli yang serasi mengagumkan, dari eratnya pelukan menandakan kesamaan tekad, dari raut wajah yang pulas menandakan kesamaan jiwa yang terikat, dari seulas senyum yang terlintas menandakan kesamaan pandangan yang sekiblat.

Saat safak merah mengarak diufuk timur, Lian-kim yang pulas tertidur berbantal dada dalam pelukan Han- hung-fei terbangun, wajahnya menengadah melihat jenggot didagu Han-hung-fei, lian-kim menyubit dada Han-hung-fei, Han-hung-fei bangun menunduk menatap wajah Lian-kim yang menengadah tersenyum lembut dan cerah, sehingga menunjukkan giginya yang putih bak mutiara

“kamu sudah bangun Kim-moi?”

“sudah sayang, marilah kita mandi dan setelah itu kita akan lanjutkan perjalanan, tiga hari lagi kalau tidak ada aral melintang, kita akan sampai ke zengzhou.”

“baik marilah..” sahut Han-hung-fei, lalu bangkit, keduanya lalu menuju sebuah sungai yang ada di sebelah barat lembah.

Han-ko sayang, aku duluan mandi dan berbaliklah jangan melihatku.” ujar Lian-kim lalu menunduk, pipinya merona merah karena jengah dan malu

“baiklah kim-moi, aku akan mandi setelah kamu selesai.” sahut Han-hung-fei, lalu ia pun duduk agak jauh dan membelakangi sungai, Lian-kim segera membuka bajunya dan masuk kedalam air, Han-hung-fei dengan jiwa yang tenang menanti kekasihnya selesai mandi, tidak terlintas sedikitpun pikiran macam- macam, detakan birahi yang dulu pantang terpancing, kini mengendap bertukar dengan rasa ingin melindungi dan menjaga, luar biasa perubahan pendekar kita ini.

“han-ko!? aku sudah selesai, sekarang mandilah!” ujar Lian-kim, Han-hung-fei berdiri dan membalik tubuhnya, wajah segar lian-kim dengan taburan senyuman lembut menyambut tatapan Han-hung-fei, Lian- kim sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan sehelai sapu tangan, ketika Hung-fei membuka bajunya, Lian-kim membelakanginya sambil terus mengusap rambutnya yang tergerai sampai ke pinggulnya.

Han-hung-fei masuk kedalam sungai, airnya sejuk, Han-hung-fei menyelam beberapa kali dan menggosok seluruh bagian tubuhnya, setelah merasa cukup, Han-hung-fei menyelam lagi berkali-kali, Han-hung-fei keluar dari air sementara Lian-kim sudah menggelung rambutnya keatas dan mengikatnya dengan tusuk rambut, Hung-fei memakai baju ganti yang bersih, rambutnya yang sebahu disisirnya dengan tangan, jenggot dan kumisnya dirapikan, lalu keduanya kembali ketempat semula, dan kemudian berangkat meninggalkan lembah, kuda dipacu dengan cepat melintasi jalan berbukit.

Kota zhengzhou diguyur hujan, saat kuda Han-hung-fei dan Khu-lian-kim memasuki gerbang kota, Hung- fei dan Lian-kim buru-buru menuju sebuah likoan

“mari kongcu kudanya saya bawa kebelakang.” sambut seorang pelayan “terimakasih sicu.” sahut Hung-fei sambil menyerahkan dua tali kekang kuda, lalu keduanya masuk kedalam likoan, seorang pelayan lain menyambut mereka dan mempersilahkan duduk

“pelayan! sebelumya kami mau menyewa dua kamar.” ujar Lian-kim

“oh…begitu, baiklah mari saya antar social, kongcu.” sahut pelayan, lalu Hung-fei dan Lian-kim diantar kekamar

Kemudian Hung-fei dan Lian-kiam menukar baju yang terlanjur basah, setelah itu kembali turun kebawah dan memesan makanan, ketika mereka sedang bersantap, dari sebuah meja yang diisi empat orang terdengar celotehan

“permpuannya cantik sekali yah.” ujar seorang dari mereka

“tentulah cantik, kalau tidak cantik mana mau yaoyan-taihap menggandengnya.” Sela kawannya

“hehehe..hahaha…ma-twako memang benar, Yaoyan-taihap memang luar biasa, sampai-sampai maut pun sayang padanya.”

“eh…kira-kira yang ini korban keberapa yah?”

Celotehan itu sepintas tidak digubris oleh Hung-fei dan Lian-kim, namun ketika Lian-kim menyapu pandangan keseluruh ruangan dan melihat semua tamu, tidak seorang tamu pun yang bersama dengan seorang perempuan, kecuali Han-hung-fei.

“siapakah maksud mereka?” tanya Lian-kim dalam hati, namun setelah mendengar celotehan bahwa maut pun menyayangi si pendekar, Lian-kim memandang wajah Han-hung-fei

“Han-ko! siapakah maksud mereka “yaoyan-taihap” (pendekar binal) “aku juga tidak tahu.” jawab Han-hung-fei juga heran

“hehehe,,,hehehe…..saya yakin setidaknya itu korban ke empat puluhan.” sahut rekannya

“maaf si-sicu!? wanita mana yang kalian maksud dan siapa yaoyan-taihap?” tanya Lian-kim penasaran “hahaha..hahaha….Ma-twako siapa sih maksudmu?” sela rekannya

“hehehe..hahaha…kalau seandainya yaoyan-taihap melihat kesini tentu dia tahu siapa yang saya maksud.”

“hahaha..hahaha manalah ia berani melihat Ma-twako, kalau ia lihat berarti benar ia yauyan-taihap.” “hehehe…hahahaa…. kasihan memang wanita itu.”

“sekali lagi aku tanya sicu, siapakah wanita itu!?” tanya Lian-kim sambil berdiri

“sudahlah Kim-moi, untuk apa terlibat dengan orang yang tidak jelas.” sela Han-hung-fei meredakan Lian- kim yang emosi, lalu ia membalik tubuhnya dan menengok empat orang dibelakangnya

“oh..ternyata kamu Hai-ma-kui, kenapa mengumbar omongan dan omonganmu juga tidak jelas.” tegur Hung-fei.