-->

Wisang Geni Bab 26 : Tarung Untuk Cinta (Tamat)

Bab 26 : Tarung Untuk Cinta (Tamat)

Malam hari waktu Geni dan Sekar nginap di desa Pandan, saat bersamaan Gayatri bersama Susmita dan Ayeshak pergi menemui nakhoda perahu. Mereka mendengar kabar perahu akan berangkat besok siang, padahal menurut perhitungan Gayatri, paling cepat Wisang Geni baru akan tiba satu hari kemudian. "Kita harus memberi uang tambahan sebagai penggembira kepada nakhoda, agar mau menunda keberangkatan perahu sekitar dua hari," kata Susmita dalam perjalanan. Tetapi tiga perempuan itu lupa membawa uang.

Mendadak Gayatri teringat kalung emasnya, ia meraba lehernya. Kepada sang nakhoda, Gayatri menyodorkan kalung emas dengan liontin bergambar garuda, hadiah perkawinannya dari permaisuri Tumapel, Waning Hyun. "Ini sebagai jaminan, kamu simpan, nanti besok siang akan aku tebus. Tolong tunda keberangkatan kapalmu dua hari, aku menanti seseorang. Dia akan menemuiku di sini dua hari lagi" Nakhoda itu tersenyum Ia berlaku ramah dan sopan. "Tentu orang yang ditunggu itu sangat penting buat nona- nona."

"Ya dia suamiku, aku harus ketemu dia dulu"

"Maafkan saya, nona, kalau boleh tahu, kalung ini milik keraton Tumapel. Boleh aku tahu siapa nona?" Ia bertanya sopan sambil menolak menyentuh kalung itu.

"Kalung ini hadiah perkawinanku dari permaisuri Waning Hyun, dan supaya kamu tahu, suamiku Wisang Geni punya hubungan erat dengan keraton Tumapel."

"Benar juga perkiraanku, nona pasti orang penting, nama suami nona sangat terkenal di seluruh tanah Jawa. Untuk dia, untuk nona saya akan kerjakan permintaan nona, tetapi maaf saya tidak berasi menyentuh kalung emas itu."

Ia mengantar tiga perempuan itu sampai ke tempat yang aman. "Saya masih hulubalang keraton Tumapel, bagi kami para hulubalang melihat kalung tersebut sama seperti berhadapan dengan yang mulia permaisuri. Sehingga permintaan nona sama dengan perintah keraton yang harus saya patuhi. Perahu ini akan berangkat sesuai permintaan nona yang muka."

"Gila, hebat sekali suamimu itu, bagaimana mungkin dia bisa bersahabat dengan permaisuri raja, eh Gayatri, kamu musti ngajak kita berdua mengunjungi keraton," tukas Ayeshak gembira. Dua kakak ipar makin kagum ketika Gayatri menjelaskan bahwa Wisang Geni adalah kakak seperguruan dari permaisuri Waning Hyun.

Esok harinya, semua penumpang menerima pengumuman, penundaan jadwal berangkat Ditunda selama dua hari, kata nakhoda ada sedikit perbaikan di lambung perahu. Bagi para pedagang, penundaan sudah merupakan hal yang biasa dan sering terjadi. Sepanjang hari Gayatri hanya menunggu kedatangan kekasihnya. Sewaktu malam tiba Gayatri mulai diserang perasaan ragu. Apakah Geni akan datang menjemputnya? Bagaimana kalau dia tidak datang? Bagaimana kalau dia mendapat halangan yang tak mampu dia atasi sehingga terlambat tiba di sini?

Keesokan pagi, nakhoda datang menemuinya. Ia memohon maaf, tak bisa lagi menunda keberangkatan, karena khawatir ketemu topan di tengah lautan. Ia hanya bisa menunda satu hari, sehingga sesuai perhitungan angin, maka siang hari, perahu sudah harus berangkat "Maafkan saya, nona yang mulia."

Matahari sangat terik. Udara panas. Pelabuhan sangat sibuk. Banyak pedagang dan pekerja pelabuhan lalu lalang naik turun perahu. Awak kapal sudah mempersiapkan layar. Gayatri duduk bertopang dagu di buritan, memandang jauh ke daratan, mengharap munculnya Wisang Geni. Ibunya dan dua kakak iparnya, ikut-ikutan gelisah. Tiga perempuan itu terkadang ragu akan kesetiaan Wisang Geni. "Apakah dia akan datang, demi wanita yang dicintainya? Apakah dia benar- benar mencintai Gayatri?"

Empat perempuan itu tidak mengetahui ketika itu Yudistira sudah berdiri di belakang mereka. Suaranya terdengar lirih, "Dia pasti akan datang, tak ada seorang laki-laki pun yang bodoh dan gila yang mau melepas isterinya yang cantik pergi ke tanah seberang tanpa dia berusaha mencegahnya. Kata- kataku berlaku jikalau dia sangat mencintai isterinya. Jikalau cintanya cepat luntur, maka dia tidak akan menyusul Gayatri ke Jedung."

Yudistira menepuk pundak putrinya. "Tetapi ayah punya firasat bahwa dia tak akan melepaskan engkau, jika dia terlambat karena sesuatu sebab, dia pasti akan menyusul mencarimu ke Himalaya. Percayalah pada ayahmu Sebenarnya aku ingin sekali berjumpa Pendekar Nomor Satu Tanah Jawa ini. Aku ingin menjajal ilmu silatnya, juga ingin tahu jurus apa yang dia gunakan sehingga bisa menaklukkan kekerasan hati Gayatri putriku yang cantik ini."

Mendengar itu, tangis Gayatri semakin menjadi-jadi. Satyawati memeluk putrinya, mengelus-elus kepalanya. Hatinya terguncang menyaksikan kesedihan putri belahan jiwanya.

Saat itu perahu layar sudah bergerak melaut. "Tak ada harapan lagi, suamiku sudah melupakan aku" Gayatri merasa tubuhnya lemas. Airmata sudah memenuhi sepasang mata coklatnya membual pandangannya kabur.

Samar-samar, karena terhalang butiran airmata, sepertinya ia melihat sepasang kuda sedang berlari kencang menuju ke arah perahu. Gayatri masih seperti orang linglung, tanpa sadar dia menggumam, suaranya lirih dan memelas, "Itu kudaku si Putih, dan di depannya itu si Hitam, siapa penunggangnya, apakah dia suamiku Wisang Geni?"

Rupanya suara batinnya itu mendapat jawaban. Saat itu terdengar suara siulan khas Wisang Geni. Nyaring, memekakkan telinga. Suara siul itu panjang.

Bagai tersentak dari alam khayal Gayatri kembali berpijak di alam nyata. Gayatri berseru, "Itu suamiku, Geni oh akhirnya kamu datang juga, kekasihku." Suaranya lirih tetapi padat nada gembira dan bahagia.

Mendadak saja siulan panjang itu terhenti, sesaat laut sunyi senyap. Lalu terdengar suara mengumandang, "Gayatri, isteriku, kekasihku, aku datang."

Gayatri mengucak matanya, menghapus airmatanya, kini ia bisa melihat nyata. Ia melihat Geni melompat turun dari punggung si Hitam yang sedang berlari kencang. Lelaki itu berlari pesat di samping kudanya. Ia bahkan melewati kecepatan kuda. Debu dan dedaunan tersibak diterjang angin puyuh kecepatan Geni. Tidak hanya sendirian, di belakang Geni, seorang wanita berlari kencang. Dia Sekar.

Begitu sampai di ujung dermaga, Geni melompat dan melayang ke laut sambil meneriakkan tertawa khas dari lembah kera. Ia tak lagi bersiul. Suara tawanya mengumandang di laut lepas, menimbulkan suasana magis yang seram. Dia berlari di atas permukaan laut, di antara kecipak ombak. Mendekati perahu, ia melempar sepotong papan ke permukaan laut. Kakinya menjejak papan dan saat berikut ia melayang turun di geladak perahu. Selang beberapa saat kemudian Sekar juga melayang turun berpijak di geladak.

"Suamiku, akhirnya kamu datang juga," kata Gayatri di tengah kekaguman semua orang yang menyaksikan sepak terjang Geni termasuk para pedagang dan awak kapal.

Nakhoda itu sempat berkomentar, "Rupanya dialah orang yang ditunggu-tunggu si nona Gayatri, inikah Wisang Geni yang berjuluk Pendekar Tanah Jawa itu, wuah hebat sekali ilmu silatnya."

Geni menyahut seruan Gayatri dengan gairah. "Ke mana pun kamu pergi Gayatri, aku akan mengejarmu, ke Himalaya pun aku akan mengejarmu" Lelaki itu berdiri tidak jauh dari Gayatri. Ia melihat isterinya dikelilingi orang-orang yang wajahnya hampir mirip satu sama lain. Geni membungkuk memberi hormat tetapi tidak bergerak mendekat. Dia berhati- hati.

Gayatri hendak berlari ke arah Geni tetapi tangan ibunya menggenggam erat. "Jangan, jangan begitu, sabar dulu anakku," bisiknya perlahan. Dia membatalkan niatnya, dia memandang suaminya dengan pandangan penuh cinta dan bahagia. Gundah, gelisah dan ketakutan sudah sirna dari wajah cantiknya. "Suamiku akan membereskan semua persoalanku," katanya dalam hati. Yudistira dan semua keluarga memerhatikan lelaki itu.

Dilihatnya Wisang Geni sosok lelaki biasa, cukup tampan tetapi aura kelaki-lakiannya lebih menonjol. Rambutnya beruban, panjang, putih keperakan, tubuhnya sawo matang dan kekar. Dari sepak terjangnya, terlihat jelas tingkat ilmu silatnya yang tinggi. Satu tombak di belakang Geni, seorang perempuan cantik jelita berdiri dengan siaga dan kuda-kuda mantap.

Menyaksikan ilmu ringan tubuh ketika Wisang Geni lari membelah ombak dan siulannya yang bertenaga, diam-diam Yudistira merasa kagum. Itulah kepandaian pendekar kelas utama. Ketika Geni menginjak kakinya di geladak perahu, tak ada bunyi suara. Ia mendarat seringan kupu-kupu tetapi geladak kapal seperti bergetar.

Pada saat berbarengan, Geni merasa ada orang menyerang dirinya.

Ia ingat janjinya pada Gayatri. Sesaat dia diam, tidak melawan. Saat berikutnya dia merasa hawa pukulan itu ganas dan bisa menewaskannya. Dia tak bisa diam begitu saja menanti maut. Dia bereaksi melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga Wiwaha dan dua tangannya menangkis sekaligus menolak pukulan yang mengarah dada dan kepalanya.

"Dessss! Dessss!" Tangan dua pendekar itu beradu di udara.

Wisang Geni tidak menduga, ilmu silat lawan cukup aneh. Jurus pukulan lawan itu bergelombang, saat tangan bentrok saat berikut pukulan lawan menerobos masuk dan menghantam pundak Geni. Karena pukulan lawan itu adalah pukulan susulan maka tenaganya tidak lagi penuh. Namun tetap saja Wisang Geni terdorong tiga tindak ke belakang, jatuh dan terduduk di geladak.

Gayatri berteriak, "Geni, kenapa kamu diam." Pada saat yang sama, Sekar berkelebat dan menghadang di depan Geni, sambil teriak keras, "Kamu curang, pengecut, kamu membokong!"

Orang itu, ternyata Wasudeva Tanpa merasa malu dia melanjutkan serangan, dia ingin menghabisi Wisang Geni. Tetapi Sekar menghadapinya dengan gesit dan terampil. Dia heran melihat gadis cantik jelita tetapi punya ilmu silat yang tinggi. Dalam beberapa jurus Sekar berhasil menghalau semua serangan Wasudeva

Masih dalam posisi duduk bersila di geladak, Geni mengerahkan pernapasan Wiwaha. Tenaga dinginnya berganti panas, dalam porsi paling maksimal berputar-putar dan menyembuhkan luka di pundaknya

Gayatri berseru, suaranya serak tanpa gelisah. "Geni, mengapa kamu tidak melawan?"

"Aku sudah berjanji padamu aku tidak akan tarung melawan keluargamu, ayah atau kakakmu." Geni batuk-batuk, darah meleleh dari sudut mulutnya. Tampaknya memang agak parah, namun sebenarnya luka Geni sudah lebih membaik setelah pengerahan tenaga Wiwaha itu. 

Gayatri berteriak, suaranya keras bercampur kemarahan. "Geni kamu terluka. Dia bukan keluargaku, dia Wasudeva, dia akan membunuhmu"

Mendengar itu Geni sadar dan mengerti mengapa serangan orang itu demikian ganas dan keji. Jika tidak memiliki tenaga Wiwaha dipastikan dia sekarang sudah tewas tergeletak di geladak kapal "Aku tak boleh diam dan manda dipukul," pikirnya Dia melejit dan berdiri tegar di atas geladak. Dia berkata pada isterinya, "Sekar, kamu mundur, aku akan bereskan binatang ini."

Sekar mundur ke belakang Geni. Dia mendengar Gayatri memanggilnya, "Mbakyu, kemari dekat aku." Dua lelaki itu berhadapan.

Wajah Wasudeva tampak beringas. Mana mau dia melepas korbannya. Dia mengetahui lawannya terluka, karena pukulannya tadi mengena telak. Meskipun ada semacam tenaga tolakan dari tubuh Geni, tetapi dia yakin lawannya itu sudah terluka Dia melihat Wisang Geni ibarat ikan sudah masuk jaringnya. Dia tak mau menyia-siakan kesempatan yang ada. Dia bahkan tak peduli apakah perbuatannya membokong itu mendatangkan cela dan aib, dia tak bisa berpikir lain kecuali rasa cemburu dan kebenciannya harus dia lampiaskan. Dia harus membunuh Wisang Geni, karena laki- laki itu telah merebut Gayatri dari tangannya dan telah menikmati keindahan dan kecantikan Gayatri.

Peluang sudah di depan mata, sekarang atau tidak sama sekali, berpikir demikian Wasudeva merancang serangan berantai yang dahsyat Jurus Arjapura ini belum pernah ia peragakan karena selama ini semua lawannya rontok lewat jurus-jurus ringan.

Melihat jurus itu Yudistira terkesiap, ia mengenal jurus maut Sapno Tasafar Haimeri Dilka Yeh Bhawarhai (Inilah perjalanan impian, inilah pusaran tujuan hatiku). Jurus ini pernah dipakai sahabatnya, Arjapura, tarung dan membunuh belasan perampok gurun yang tangguh.

Wisang Geni terkesiap. Jurus lawan itu aneh, pukulan yang mengarah ke kiri mendadak bisa berubah ke kanan, atas menjadi bawah dan sebaliknya. Saat itu Geni masih dalam pemulihan tenaga Wirvaha. Ia bergerak pesat, mengelak jika tahu diri terancam, merunduk dan melompat untuk menghindar, geraknya tidak leluasa karena tenaganya belum pulih. Tendangan Wasudeva menerpa pahanya dan jiwanya kini terancam jurus lawan yang mengarah titik kematian. Dia teringat pesan Eyang Sepuh, "jika terdesak, tangkis dan balas menyerang. Jangan bertahan, karena menyerang adalah lebih menguntungkan." Dan Geni tak lagi mengelak, ia balas menyerang. Serangan lawan dibalas serangan. Geni bergerak bagai pusaran, tangan membuat lingkaran, tubuhnya ikut berputar seperti gaya menari.

Tujuh kali terdengar bentrokan tangan. Wasudeva merasa pukulannya membentur tembok yang bersifat membal. Dia heran bagaimana mungkin seorang yang sudah terluka tenaga dalamnya masih punya tenaga sehebat itu. Hal ini membuat dia penasaran, dia memukul sambil menambah kekuatan tenaga pukulannya.

Dalam beberapa gebrakan tadi Wisang Geni telah peroleh keuntungan, tenaga pukulan lawan memancing tenaga Wiwaha bereaksi. Proses penyembuhan luka bahkan lebih cepat dari perkiraan. Inilah kelebihan tenaga dalam Wiwaha yang bagaikan mukjizat.

Bentrokan tangan yang kedelapan membuat Wasudeva mundur beberapa langkah, Wisang Geni pun mundur beberapa langkah. Keduanya kini terpisah jauh. Wisang Geni memberi hormat pada Wasudeva. "Kamukah yang bernama Wasudeva, kukira tadi kamu salah seorang anggota keluarga isteriku, itu sebabnya aku tidak melawan sehingga kamu bisa memukulku. Sebab aku sudah berjanji tidak akan bertarung dengan keluarga isteriku, apa pun alasannya."

Semua orang mendengar ucapan lelaki bernama Wisang Geni itu. Sebelum Gayatri menyahut. Yudistira berkata dengan suaranya yang serak berwibawa, "Aku ayah Gayatri, namaku Yudistira. Dia ini ibunya. Dan dua lelaki itu kakaknya, Arjun dan Shankar. Orang yang bertarung denganmu itu, Wasudeva, lelaki yang merasa jodohnya telah kamu rampas!"

Wisang Geni membungkuk memberi hormat pada Yudistira, Arjun, Shankar dan tiga wanita yang berdiri di samping Gayatri. "Aku yang rendah ini, Wisang Geni, menghatur salam hormat kepada keluarga isteriku." Dia kemudian menoleh kepada Wasudeva. "Mengapa kamu memukul dan menyerangku tanpa basa-basi sedikit pun. Itu namanya serangan gelap."

Wajah Wasudeva merah padam saking marahnya. "Jahanam busuk, hari ini aku akan mencabut nyawamu, bersiaplah untuk mati."

Gayatri berteriak, "Curang, kamu pengecut, kamu membokong orang, kemudian menantang orang yang terluka." Ia menoleh ke arah Sekar yang berdiri di sampingnya. "Mbakyu, ayo kita lawan dia."

"Sabar adik, pasti Geni bisa mengatasi dia."

Gayatri masih belum puas. Ia berseru, "Aku sudah katakan sebelumnya padamu Wasudeva, kamu tak akan bisa menang lawan suamiku."

Pada detik itu Yudistira berseru kepada nakhoda perahu, "Putar kembali perahumu ke pelabuhan, kerugian nanti aku yang tanggung, Arjun dan Shankar, jika ia tidak memutar kembali perahu layar ini, kamu patahkan kemudi dan layarnya."

Dua ibu dan anak, Satyawati dan Gayatri seperti mendengar sesuatu yang datang dari alam mimpi. Hampir tidak bisa dipercaya, mendengar Yudistira memerintahkan perahu untuk kembali ke daratan.

Keheranan semakin bertambah ketika Yudistira berkata kepada Wasudeva, "Ayahmu adalah pendekar ternama, kamu juga seorang pendekar Himalaya yang punya kehormatan.

Kamu harus memberi lawanmu itu waktu istirahat untuk memulihkan tenaganya. Dan kamu pendekar Wisang Geni, berapa lama kamu membutuhkan waktu memulihkan tenagamu?"

"Terimakasih atas kemurahan hati paduka tuan, hamba yang rendah hanya butuh sedikit waktu untuk menghilangkan capek." Dia kemudian memainkan empat posisi semedi Wiwaha. Dalam sekejap, uap tipis melayang di atas kepalanya. Hanya dalam waktu yang sangat singkat Geni sudah siap. "Pendekar Wasudeva yang terhormat, silahkan tuan memilih tempat pertarungan."

Tenaga dalam Wisang Geni sudah pulih seperti sediakala.

Ia tidak terluka parah. Hanya kena guncangan yang tidak terlalu berbahaya. Ketika pukulan menerpa pundaknya, saat itu juga tenaga Wiwaha yang melapis tubuh Geni telah memunahkan sebagian besar pukulan lawan. Itu sebab dia hanya butuh sedikit waktu untuk memulihkan diri.

Tadi ketika darah menetes dari ujung mulut Geni, tangan Gayatri dingin, basah dan berkeringat. Sekarang wanita cantik itu tampak tenang, dia percaya kekasihnya akan menyelesaikan kemelut persoalan keluarganya.

Yudistira merasa heran bercampur kagum, bagaimana mungkin setelah terluka oleh pukulan telak lawannya, Wisang Geni bisa secepat itu pulih. "Mungkin saja ia terlalu memaksa diri, padahal tenaganya belum seluruhnya pulih," gumam Yudistira dalam batin.

Kala itu, perahu sudah berbalik arah menuju pelabuhan.

Para pekerja siap-siap untuk melempar sauh. Saat yang sama Wasudeva berteriak marah, "Kamu yang seharusnya memilih tempat yang layak menjadi kuburan bagimu"

Wasudeva menyerang gencar. Pukulannya tetap saja aneh. Ia memainkan jurus andalan lainnya Is Mein Doobjana Zarasa Lamba Chupata Khwab Milgaya (Banyak waktu yang lenyap kini telah kembali)) dan Hum Samundar Ke Andaarchale (Menuju kedalaman laut samudera).

Wisang Geni tak mau memandang ringan jurus-jurus aneh lawan. Ia meladeni dengan pikiran terpusat pada gerak lawan. Ke mana arah serangan lawan datang, Geni mengelak gesit.

Ia membalas serangan dengan serangan, kakinya tak lagi memijak lantai perahu. Dia melayang dengan ringan, namun pukulannya terasa berat berbobot menimbulkan kesiuran angin panas dan dingin bergantian. Bentrokan tangan berulang kali, jerit marah Wasudeva mewarnai serangannya yang mau adu jiwa.

Limapuluh jurus berlalu, Wasudeva unggul di atas angin karena sepertinya Geni ragu-ragu. Gayatri melihat ini, ia berseru, "Geni kenapa kamu tidak memainkan jurus Leysus dan Prahara? Kamu ingatkan cerita penderitaan kakak Manisha, meskipun kakakku itu sudah mati tetapi dia tetap kakak iparmu. Serang dia!"

Wisang Geni sibuk menghindar dan menangkis serangan gencar lawan. Mendadak suara Wasudeva seakan memecah gendang telinganya. Itu gema suara yang aneh. Geni mendengarnya sangat keras, hampir memecahkan gendang telinganya, sedang bagi telinga orang lain terdengar normal. Teriakan Wasudeva itu mengandung sihir dan magis tingkat tinggi.

Yudistira tahu jurus apa itu! Arjapura pernah menceritakan kepadanya tentang hebatya jurus Bahutzara Hashtato Tothodasa Pagal Chaknahai (Tertawa terus dan kamu akan seperti orang gila).

"Tidak lama lagi kamu akan gila, kamu mati, lalu isterimu akan menjadi isteriku, Yudistira tak bisa menghalangi karena sudah bersumpah merestui jodohku dengan Gayatri. Aku akan meniduri isterimu yang montok itu setiap pagi, setiap siang dan setiap malam. Tetapi aku juga akan memukulinya setiap hari lantaran sudah berani mengkhianati cintaku," suara Wasudeva itu mendengung dan menusuk serta menggelitik telinga Wisang Geni.

Geni limbung, pikirannya terganggu. Tetapi bayangan Gayatri ditiduri dan disiksa lelaki itu memancing amarah Geni. Memang ungkapan dan suara Wasudeva yang dikemas dengan kekuatan tenaga sihir itu bertujuan membangkitkan amarah dan membuyarkan konsentrasi Geni sehingga mudah dihancurkan.

Memang benar adanya, pikiran Wisang Geni terganggu. Beberapa jurus berikutnya, dua pukulan menerpa dada dan pundaknya. Wasudeva berteriak, "Mampus kamu" Wasudeva menambah bobot serangan sambil berkata tajam, "Gayatri akan kupaksa melahirkan anak-anakku, ia kuperkosa dengan kasar setiap hari, tak pernah berhenti dan kamu akan menyaksikan itu dari dalam kuburanmu" Teringat akan sifat angin yang bisa melenyapkan suara apa saja, Geni sadar bahwa dia tidak boleh membiarkan tenaga suara lawan mengganggunya. Dia kemudian meredam suara keras di telinganya dengan mendengarkan desir angin sepoi, "dengarlah suara angin, suara keindahan alam, suara dari alam kemerdekaan."

Dia berhasil menetralisir tekanan dan magis sihir suara lawannya. Meskipun demikian dia tetap menangkap kata-kata tajam Wasudeva yang menghina isterinya. Ungkapan jorok dan kasar lawannya itu telah mendorong amarahnya melewati puncak kesabaran.

Dalam marahnya secara spontan Geni memutar tubuh bagai gasing, gerakan itu telah menciptakan pusaran angin dingin yang keras, dua tangannya membuat putaran lingkaran kecil dan besar. Geni memukul, menggunakan segenap tenaga Wiwaha yang bagai air bah menerpa apa saja yang menghadang di depannya. Wasudeva pun memukul dengan seluruh kekuatan, dia yakin pukulannya akan menghancurkan tenaga Wisang Geni. Terdengar suara keras. Dua tangan bentrok, beradunya dua tenaga dahsyat. Keduanya terpental. Geni mundur dua langkah, dia berjongkok, siaga untuk adu pukulan lagi. Wasudeva terlempar empat langkah, dia menggeliat di lantai, matanya melotot penuh kebencian. Dua tangannya patah begitu pun dadanya yang melesak ke dalam. Darah meleleh tak hentinya dari mulut, hidung, mata dan telinga. Saat berikut dia mati tanpa bersuara.

Wisang Geni memperlihatkan jurus hebatnyayang mengandalkan "sifat angin" dengan tenaga Wiwaha yang sempurna. Jurus itu telah menampung seluruh tenaga pukulan lawan dan mengembalikannya dalam sekejap mata menjadi satu pukulan dengan tenaga berlipat ganda yang tidak mungkin bisa diterima oleh kekuatan Wasudeva.

Pertarungan itu dahsyat. Semua terpesona. Saking leganya karena lepas dari ketegangan, Satyawati lupa memegang tangan putrinya. Gayatri melepaskan diri dari pegangan ibunya. Dia melompat dan memeluk suaminya. "Kamu luka?"

Geni berkata lirih, "Aku tidak terluka. Sebenarnya aku tak ingin membunuh, tetapi laki-laki itu tak akan mau berhenti. Aku tak punya pilihan lain. Gayatri, tadi aku jatuh dan muntah darah karena terlalu letih. Kamu tahu, aku melakukan perjalanan lima hari tanpa istirahat dari gunung Bromo ke Welirang dan langsung menuju Jedung. Aku seperti orang gila mendengar kabar kamu dibawa pulang ke Himalaya. Apa saja akan aku lakukan untukmu Gayatri. Apa pun yang terjadi aku tak pernah menyesal kawin denganmu, bahkan aku sangat bahagia. Dan kamu tahu kebahagiaan ini begitu indah sehingga layak jika harus kutukar dengan jiwaku yang tak berarti ini."

"Wasudeva pantas mati, perbuatannya yang membuat kakak Manisha mati, pantas untuk dibayar dengan jiwanya. Terimakasih kamu lelah membalaskan sakit hati Manisha." Gayatri bicara sambil tetap memeluk suaminya. Dia tidak malu-malu melakukan itu di depan orangtua dan kakak- kakaknya.

Sambil memeluk dan mengelus kepala Gayatri, dia berkata lirih, "Sesungguhnya aku sudah bosan dengan perkelahian, pertarungan, tak pernah ada habisnya. Dendam tak pernah akan habis. Jika kalah mati, jika menang selalu ada orang yang menuntut balas. Tidak akan pernah selesai. Tidak lama lagi, mungkin keluarga Wasudeva akan mencari aku menuntut balas, hutang nyawa bayar nyawa."

Yudistira mendengar semua perkataan Geni, ia tak begitu heran. Sesungguhnya dia tak pernah mengira Geni bisa mengalahkan Wasudeva. Bukankah tadi, beberapa pukulan Wasudeva telak menerpa tubuhnya. Dia masih terpukau dengan jurus yang dimainkan Wisang Geni, jurus yang mampu menciptakan pusaran angin topan dingin dan yang terasa sampai radius beberapa tombak.

Ayah Gayatri ini merasa kagum "Ilmu silat anak muda ini biasa saja, tetapi tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat kelas utama. Bagaimana mungkin seorang yang masih muda bisa memiliki tenaga dalam setinggi itu. Waktu aku seusia dia, tenaga dalamku tak sehebat dia," katanya dalam hati.

Pada waktu itu, sang nakhoda perahu menghampiri Gayatri yang masih duduk di sisi suaminya. Ia membungkuk memberi hormat.

"Nona yang mulia, kami sudah terdesak waktu, harus berangkai secepatnya demi menghindari angin topan di laut dekat Malaka. Jika tidak berangkat hari ini, kami harus menunda tujuh hari dan semua pedagang ini akan menderita rugi besar. Mohon petunjuk nona." Nakhoda itu berkata dengan sopan dan ramah.

Gayatri bingung. Namun Yudistira dan Satyawati lebih bingung menyaksikan betapa nakhoda itu tunduk dan patuh pada Gayatri. Memecah kesunyian, Satyawati berkata pada suaminya, "Aku akan sangat gembira jika kita menunda keberangkatan, suamiku."

Yudistira bertanya pada nakhoda, adakah perahu besar menuju Malaka atau Puchet dalam waktu dekat ini. Nakhoda menjawab hormat "Ada perahu besar datang dari Kuangchou sekitar sepuluh hari lagi, biasanya berlabuh di Jedung sekitar empatbelas hari."

Yudistira menghela napas. Semua anggota keluarga, termasuk Gayatri dan Geni memandang wajah lelaki itu, menanti perinlah yang keluar dari mulutnya "Kita tunda keberangkatan. Barang dagangan yang mudah busuk, kita jual pada mereka." Ia menunjuk para pedagang yang sejak awal nonton dari pinggiran. "Kita turun kedarat," berkata demikian ia melangkah menuruni tangga perahu.

Nakhoda memberanikan diri bertanya, "Tuan yang mulia, bagaimana dengan mayat orang ini?"

"Dia mati dalam pertarungan secara terhormat, dia mati di atas lautan, maka tolong makamkan dia di tengah laut dengan penuh kehormatan, berapa biayanya minta pada isteriku." Yudistira melangkah menuruni tangga.

Arjun, Shankar dan isterinya mengatur penjualan barang dagangan serta memerintah pembantu dan pekerja kapal memindahkan barang lainnya ke darat. Tidak lama kemudian perahu itu melaut.

Pelabuhan Jedung mulai sepi, tinggal rombongan Yudistira yang sedang berteduh dari sengatan matahari siang yang terik. Mereka berteduh di sekitar pohon beringin. Yudistira jalan mondar-mandir. Semua mata mengikuti gerak geriknya. "Aku tak punya pilihan, hukuman tetap harus dijalani, Gayatri telah melakukan kesalahan besar, ia tetap harus dihukum"

Semua orang diam Wisang Geni memberi hormat pada Yudistira, "Salam hormatku untuk paduka yang mulia, pendekar Yudistira."

Yudistira menegur dengan suara datar, "Mengapa kamu memanggil aku paduka yang mulia, aku bukan raja, jangan panggil aku dengan sebutan itu." "Maaf, aku menyebut paduka yang mulia, karena tuan adalah raja bagi Gayatri, raja yang memegang kekuasaan mati dan hidupnya Gayatri. Dan Gayatri adalah isteriku, maka aku harus menyebut tuan dengan sebutan itu, paduka yang mulia Aku belum berani memanggil ayah mertua, kecuali ada perintah dari tuan."

Melihat Yudistira diam, Wisang Geni melanjutkan bicara, "Paduka tuan adalah ayah dari perempuan paling istimewa yang pernah kutemui dalam hidupku, aku mencintainya sepenuh hati, dan aku sangat berbahagia lantaran dia telah memberi aku, hari-hari penuh warna cinta." Dia melanjutkan setelah menelan ludah. Rasa gugupnya sudah hilang. "Aku patut berterimakasih padamu, karenanya layak memberimu sesuatu paling berharga milikku, yakni nyawaku. Bunuhlah aku, ini pemberian tulus yang menyelesaikan semua persoalan paduka tuan dan putri tuan serta semua orang di dunia persilatan, ambillah."

Yudistira berkata dingin, "Kamu pintar bicara, apakah kamu sungguh-sungguh mau berkorban jiwa untuk isterimu?"

"Aku bersungguh-sungguh, aku tak akan melawan, seharusnya aku bunuh diri tetapi aku enggan melakukan perbuatan kaum pengecut. Aku bukan pengecut, aku laki-laki sejati. Inilah jalan yang kupilih, sebagai tanda cintaku kepada putrimu Tetapi sebagai permohonan terakhir aku minta isteriku dibebaskan dari hukuman, sayangilah dia, cintailah dia." Wisang Geni tersenyum pahit.

Satyawati dan seluruh keluarga diam terpaku. Keringat dingin. Yudistira menoleh pada putrinya.

"Kamu mau bicara, bicaralah."

Perempuan itu duduk bersanding suaminya, dia merangkul erat lengan suaminya. "Ayah, ibu dan kakak juga kakak ipar, aku ibarat Sawitri yang mencintai suaminya tanpa pamrih.

Dalam hidup ini hanya satu kali aku dipilih dan memilih. Aku sudah tentukan pilihanku, dan aku tidak akan bergeser dari pilihanku. Jadi jika ayah membunuh suamiku, maka harus membunuh aku juga, bunuhlah kami bertiga kalau memang ayah tetap berpegang pada tradisi dan hukum itu." Dia tak sanggup menahan tangisnya lagi. Sementara Geni di sampingnya telah mematikan seluruh perasaannya, dia sudah tak peduli lagi dengan harapan ataukah ancaman.

"Bukan bertiga, tetapi berlima." Sekar mendekat duduk di samping Gayatri. Tangannya merangkul pundak Gayatri.

"Apa maksudmu, bertiga tadi? Maksudmu lima, siapa lagi?" Suara Yudistira agak ragu-ragu.

"Dia ada dalam kandunganku, dia anakku berdua Wisang Geni. Dan putrimu juga hamil, semua kami di sini lima nyawa. Satu di antaranya adalah cucumu sendiri itu pun jika kamu mau mengakuinya." Nada suara Sekar datar, tidak ada getaran rasa ragu dan takut.

"Jadi cerita itu benar, bahwa kalian berdua hamil, dan Gayatri putriku juga hamil?" Sepasang mata Yudistira menyelidik wajah putrinya, ingin menemukan tanda kebohongan di situ.

Tak ada kebohongan, Gayatri sudah berurai airmata.

Matanya basah, kerongkongannya kering, ia tak bisa bersuara. Ia manggut-manggut. "Benar ayah, aku hamil. Inilah akhir hidupku, hilang harapan membahagiakan suamiku dengan memberinya seorang anak. Ke mana perginya kebahagiaanku itu?"

Lelaki itu mengembangkan tangannya yang kekar. "Kemari Gayatri, mendekatlah pada ayahmu" Tetapi putrinya menggeleng kepala. Suaranya serak, patah-patah. "Aku tetap dengan suamiku, tak mau berpisah dengannya, bunuhlah kami, cepat lakukan ayah supaya aku tidak merasa sakit lagi."

Semua anggota keluarga tertegun. Drama itu sangat mengiris hati. Arjun dan Shankar protes, "Ini tidak adil, semuanya ulah Wasudeva tetapi kita sekeluarga yang menanggung deritanya. Ayah, kau pikirkan dulu, mereka tidak bersalah."

Satyawati, Susmita dan Ayeshak saling peluk dengan tangis. Ketiganya tak mau menyaksikan drama gila itu. Terdengar suara Yudistira, "Kemarilah Gayatri, anak bodoh. Kamu kira selama ini aku buta dan tuli? Aku tak pernah berpikir akan menghukum kamu, apalagi membunuh atau menyuruh kamu bunuh diri."

Ucapan itu mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Wajah Gayatri menengadah menatap ayahnya. Dia sepertinya tak percaya mendengar ucapan ayahnya. "Benarkah ayah tidak menghukum aku?"

Sekali lagi Yudistira mengembangkan dua tangan, kemudian dia mengerahkan tenaga dalamnya. Mendadak ada pusaran angin besar membetot tubuh Gayatri. Dia menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan. Tangannya yang besar mengelus kepala dan rambut Gayatri, menengadahkan wajah putrinya lalu menciumi pipi dan keningnya. "Tidak, aku tidak akan menghukum kamu atau pun suamimu."

Gayatri masih menangis. "Apakah karena aku sedang hamil?"

"Tidak benar. Sejak berada di negeri Jawa ini, aku mempelajari semua sebab dan akibat. Aku tidak mau membuat kesalahan dua kali. Aku sudah kehilangan Manisha, putriku yang kucintai, aku tak mau lagi kehilangan kamu. Aku sudah tahu banyak tentang perilaku Wasudeva, aku tahu dia ibarat binatang sedang putriku ibarat dewi, tak akan mungkin bersatu" Dia berhenti sesaat, kemudian tertawa lirih. "Tetapi aku terikat sumpah setia persahabatan, aku tak berdaya, syukurlah suamimu telah membebaskan aku dari sumpahku, Wasudeva sudah mati. Aku berterimakasih pada Wisang Geni, kamu kemarilah menantu!" Wisang Geni berdiri dan menghampiri. Ia memberi hormat dengan menyentuh ujung kaki ayah mertuanya. Yudistira tertawa. Satyawati berdiri di sampingnya ikut tertawa. "Entah sudah berapa kali ia tertawa hari ini, perubahan yang luar biasa," gumam isterinya dalam hati.

Sebelah tangan Yudistira memeluk Gayatri, tangan lainnya merangkul Geni. Suara Gayatri terdengar riang, "Ayah, apakah suamiku sudah boleh memanggil ayah mertua kepadamu?"

Yudistira tertawa. "Wisang Geni, pergilah memberi hormat pada ibu mertua dan kakak-kakak iparmu"

Setelah memberi hormat dan menyalami keluarga isterinya, Geni menghampiri isterinya. Gayatri melompat dan merangkul suaminya. "Aku bahagia sekarang, semua beres. Tak ada lagi ganjalan dalam hatiku, tak ada gundah, tak ada ketakutan, semua sudah selesai dan sesuai keinginanku." Suara Gayatri mesra. Kemudian dia lari menghambur memeluk Sekar. "Terimakasih mbakyu, kamu sudah banyak membantu aku."

Keluarga besar itu berangkat kembali ke gunung Welirang.

Yudistira mengaku menyukai suasana di lereng gunung itu. Tetapi tujuan utama sebenarnya adalah merayakan pernikahan Wisang Geni dengan Gayatri dan Sekar. "Tetapi kami bertiga sudah menikah dalam adat Himalaya, ayah.

Lihat, aku tak pernah menanggalkan adat kampungku kan?" "Lantas siapa yang menikahkan kalian?"

Gayatri merasa terlanjur bicara. Kini ia diam. Ingat janjinya tidak akan membuka rahasia. Ayahnya pasti akan menghukum Kumara dan Malini juga Urmila dan Shamita. Sekonyong- konyong Yudistira berseru, "Hei, kalian berempat keluar dari persembunyianmu atau kuparahkan kakimu"

Dari balik rumah yang terpisah agak jauh, Kumara, Malini, Urmila dan Shamita, melangkah pelan. Ada rasa khawatir. "Hari ini aku membebaskan semua kesalahan keluarga dan muridku. Kalian ikut kita pergi ke rumah Gayatri di lereng gunung Welirang," kata Yudistira.

Di tempat agak terpisah Gayatri sedang mengelus-elus leher si Putih dan si Hitam. "Eh Geni, mana Prawesti, apakah dia menanti kita di rumah?"

Geni teringat Prawesti dan Manohara yang mungkin tak lama lagi akan tiba di Jedung. Geni memeluk isterinya, "Gayatri isteriku, aku ingin bicara padamu tentang sesuatu yang penting, tetapi kamu tak boleh marah, pelan-pelan saja."

"Apa? Kamu mau cerita bahwa kamu sudah mendapatkan tambahan selir lagi, begitu?" Matanya yang coklat menatap suaminya. Dia tersenyum geli melihat Geni serba kikuk.

Wisang Geni terkejut. "Bagaimana kamu bisa tahu persis apa yang hendak kuceritakan?"

Gayatri menunjuk ke arah Barat. Dua perempuan berjalan berdampingan dengan menuntun sepasang kuda. Geni berkata lirih. "Iya, gadis itu namanya Manohara, dia yang memberi aku bunga talasari."

Geni terpaku, ketika dua gadis itu muncul. Prawesti memeluk Gayatri, menciumi wajahnya. Gayatri tertawa. Ia menoleh pada Manohara yang berdiri terpaku di situ.

Prawesti berkata pada gadis itu, "Ayo cepat beri hormat pada kakak Gayatri."

Manohara mendekati Gayatri. "Tetapi aku rasa aku lebih tua."

Gayatri memotong, "Manohara, namamu Manohara kan?

Prawesti lebih tua dari aku, kamu juga lebih tua. Tetapi aturan dalam rumah tangga Wisang Geni harus jelas. Isteri pertama, kamu panggil dia mbakyu Sekar meskipun kamu lebih tua. Aku isteri kedua, kamu juga harus panggil kakak. Sebabnya, Sekar dan aku adalah isteri, sedang kamu dan Prawesti adalah selir yang akan membantu dan melayani, bagaimana setuju?" Tak perlu berpikir lama-lama Manohara cepat mengangguk mengiyakan. "Setuju, kakak Gayatri."

Mendadak saja muncul Yudistira dan Satyawati "Ada kejadian apa? Siapa dua gadis cantik ini?" tanya Satyawati sambil mengamati Prawesti dan Manohara. "Oh kalau kamu, aku pernah melihatmu di Welirang," sambil ia menunjuk Prawesti.

Wisang Geni diam serba salah. Manohara yang lugu dan berani, menjawab meski sedikit malu-malu, "Kami adalah selir kakangmas Geni."

Satyawati terkejut, menutup mulurnya dengan tangan. Tetapi sebelum ibu dan ayahnya mengucap sepatah kata, Gayatri berkata dalam bahasa Himalaya. "Ayah, ibu, aku setuju suamiku mengambil selir. Aku dan Sekar berdua tidak mampu melayaninya. Ayah tahu hampir setiap malam bahkan siang juga, suamiku maunya bercinta. Lagipula Geni, Sekar dan aku sudah memberitahu mereka, kami berdua adalah isteri sedang mereka berdua hanya selir atau pembantu.

Apalagi sekarang aku dan Sekar sedang hamil, sudah tentu kami bagaikan permaisuri yang harus dilayani. Sekarang ibu dan ayah mengerti?"

Satyawati mengiyakan. "Kamu cerdas, kupikir kamu bisa mengatur persoalan rumah tanggamu."

Yudistira sambil tersenyum, "Kupikir aku perlu belajar dari anak mantuku."

Satyawati mencubit lengannya. "Jangan sekali-kali belajar ilmu itu, itu ilmu sesat," katanya tertawa.

Setelah bebenah semua barang-barang bawaan, rombongan Yudistira berangkat menuju gunung Welirang. Esok harinya, di tengah perjalanan Geni berkata kepada ayah dan ibu mertuanya. "Ada Prawesti dan Manohara yang bisa menjadi penunjuk jalan, aku bersama Sekar dan Gayatri mau mengambil jalan lain, nanti kita bertemu di rumahku saja." Yudistira menggoda. "Kenapa, kamu sudah tidak tahan lagi melihat isterimu? Sudah berapa hari kamu berpisah dengannya?"

Geni mengangguk dan tersenyum pada mertuanya. "Tujuh hari dan aku sudah hampir gila memikirkan dia." Ia menggamit lengan dua isterinya. Geni melompat ke punggung si Hitam, Gayatri berdua Sekar menunggang si Putih.

Ketiganya kabur sambil tertawa-tawa. Gayatri sudah kembali kepada wataknya yang periang.

Arjun, Shankar, Ayeshak dan Susmita bertanya pada ayahnya.

Yudistira menjawab gembira, "Mereka pergi berbulan madu."

---ooo0dw0ooo---

Suatu hari di penghujung bulan Srawana, Wisang Geni, Sekar dan Gayatri duduk di tepian danau. Manohara dan Prawesti berlatih dan main-main di air terjun bersama Susmita dan Ayeshak.

Meskipun sudah makan jamu kuat talasari, namun Sekar dan Gayatri jarang berlatih silat Hari itu keduanya sudah hamil sekitar seratus hari, sudah lebih sepertiga perjalanan "Menurut hitungan ibu, aku akan melahirkan anakmu di sekitar bulan Magada, atau jika sedikit terlambat di bulan Phalguna. Sekar juga tak berselisih jauh dengan aku. Geni kamu menyukai anak perempuan atau laki-laki." Melihat suaminya diam, Gayatri melanjutkan, "Kalau di kampungku, seorang suami lebih suka jika punya anak laki-laki, bahkan ada yang sangat marah begitu mengetahui anaknya yang lahir seorang baji perempuan. Kamu sendiri bagaimana Geni?" "Aku tidak tahu, tetapi perasaanku sama saja, tidak ada bedanya anak laki-laki atau perempuan, menurutmu anak itu perempuan atau laki-laki?"

"Setelah ibu memeriksa kandunganku, katanya anak laki- laki. Sekar juga mengandung anak laki-laki."

"Ibumu punya ilmu meramal begitu?"

"Bukan meramal, di kampungku ibu sudah membantu seratus lebih ibu hamil yang melahirkan anak, bahkan sebelum lahir ibu bisa memastikan bayinya laki atau perempuan. Ibu ahli soal itu."

Geni mendekat, memeluk isterinya. "Gayatri, bilang sama ibumu, tetap saja tinggal di sini bersama kita, supaya kamu melahirkan dengan selamat."

Ada suara batuk kecil di belakang mereka. Yudistira muncul bersama Satyawati "Oh kamu mau ibu mertuamu tinggal di sini, lantas aku harus ke mana, kamu buang aku ke mana, menantu?"

"Oh tidak ayah mertua, kalau ibu mertua menetap di sini, tentu saja ayah mertua juga tinggal bersama."

"Boleh saja. Tetapi ada syaratnya. Kamu harus bisa mengalahkan aku dalam pertarungan seru, bagaimana bagus kan syaratnya?"

Geni terkejut, apalagi Gayatri. Keduanya berdiri dan memandang dua orangtua itu. "Ayah, apakah aku tidak salah dengar?"

Yudistira menjelaskan pertarungan tersebut merupakan bagian dari janjinya pada ayahnya, pendekar Himalaya, Lahagawe. Bagaimanapun juga janji itu harus disempurnakan.

"Kamu mewakili kakek gurumu, Suryajagad dan aku mewakili ayahku, Lahagawe. Kita tarung, jika kamu menang maka aku akan menetap di sini bersama istriku sampai Gayatri dan Sekar mdahirkan. Jika aku menang, aku akan tentukan apa yang kumau dan kamu sekeluarga tak boleh ingkar. Aku pikir ini cukup adil."

"Tidak bisa begitu, bagaimana mungkin aku harus tarung melawan ayah mertua sendiri, tidak mungkin."

"Kamu tidak bisa menghindar, Geni. Ini bagian dari hidup yang sudah kamu jalani, dan bagian dari hidupku juga. Kita bertarung hanya sebatas menang dan kalah, tak akan ada yang terluka atau mati. Aku juga tak mau melukai atau dilukai menantuku sendiri."

Geni bingung. Tak menyangka akan ada kejadian seperti ini. "Percuma ayah mertua, aku jelas tidak akan bisa bertarung, bahkan bergerak pun mungkin tak bisa.

Pertarungan ini aneh. Ayah mertua apakah tak bisa dihindari saja, jelas tak ada manfaat menang atau kalah."

Satyawati menengahi "Geni, pertarungan ini sudah harus terjadi sesuai janji dan sumpah ayah mertuamu Tetapi jalan terbaik sudah kami pikirkan, tidak akan menyalahi aturan pertarungan juga tidak menimbulkan ancaman bahaya cidera atau maut. Kalian bertarung di atas permukaan danau, dalam jarak sepuluh tombak. Tidak ada bentrokan tangan. Ayah mertuamu akan memainkan dua jurus andalannyayang harus kamu patahkan yaitu Atehai Zaminpar Kabbijeh Chand Sitare (Kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi) dan Likhna Hai Chandse Hokar (Aku akan menulisnya di rembulan). Senjata yang digunakan, adalah air. Siapa yang tenggelam, dia kalah. Geni, sebaiknya kau mainkan jurus paling hebat dari kakek Suryajagad dan ingat, kamu harus berupaya menang agar ibu bisa menemani Gayatri dan Sekar sampai mereka berdua melahirkan."

"Geni, kita bertarung pada senja nanti," kata Yudistira yang menggandeng isterinya kembali ke rumah. Geni dan Gayatri saling pandang. Sekilas Wisang Geni teringat percakapannya dengan Gayatri beberapa waktu lalu. Waktu itu Gayatri menjelaskan kehebatan jurus andalan perguruannya, Likhna Hai Chandse Hokar (Aku akan menulisnya di rembulan). Jurus ini memerlukan pengerahan tenaga dalam tinggi, untuk mengolah benda di sekitar tubuh kemudian melontarkannya ke arah lawan. Bisa saja debu, daun-daunan, bebatuan, ranting dan pokok kayu Itu sebab dinamai "menulisnya di rembulan".

"Jurus itu diciptakan kakek setelah dia pulang dari kekalahan lawan Ki Suryajagad. Jurus lainnya, Atehai Zaminpar Kabbiyeh Chand Sitare (Kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi), jurus yang menguras tenaga lawan, menarik dan menyalurkan ke bumi. Jurus ini sudah lama, namun belakangan mengalami perubahan sehingga berkembang kian tangguh."

Geni tukar pikiran dengan dua isterinya. Ia pernah tarung lawan Kumara dan Malini, dua tahun lampau. Ia ingat sepasang suami isteri itu menggunakan tenaga bumi. Semua pukulannya disedot dan ditarik kemudian disalurkan ke bumi.

"Itulah jurus Atehai Zaminpar Khabiyeh Chand Sitare (Kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi), namun pasti akan berlipat ganda kehebatannya jika dimainkan ayah, kamu harus hati-hati, bisa-bisa tenagamu dikuras habis membuat kamu tak mampu lagi meniduri aku," goda Gayatri sambil tertawa genit.

Perempuan itu tampak cantik luar biasa, mataya berbinar- binar dan mulutnya merah merekah. Geni tiba-tiba saja bergairah, ia memberi isyarat pada isterinya. Gayatri menggeleng. "Tak lama lagi kamu sudah harus bertarung, mana sempat lagi. Geni kamu harus bertarung sungguh- sungguh supaya ibu bisa menetap bersama kita, kamu harus menang."

"Kamu membela siapa, ayahmu atau suamimu?" "Aku membela kamu suamiku, sebab jikakamu menang, aku tidak perlu pulang ke Himalaya selama-lamanya dan ibu bisa menemani kita sampai aku dan Sekar melahirkan. Kamu tahu Geni, terkadang aku takut memikirkan saat melahirkan nanti, pasti sakit. Aku akan bahagia jika ibu ada di sampingku. Makanya kamu harus menang."

Tidak lama berselang senja pun tiba. Seluruh anggota keluarga hadir, nonton di tepian danau. Tak seorang pun ketinggalan, termasuk Gajah Lengar, Gajah Nila dan keluarga serta murid Lemah Tulis.

Yudistira melangkah santai di atas permukaan danau.

Kakinya melayang, tak tampak kecipak air, pertanda langkahnya sangat ringan Ia menanti di tengah danau. Wisang Geni masih di tepi danau sedang berpikir tarung sungguh- sungguh atau sekadar tarung untuk mengalah.

"Jika kamu tak sungguh bertarung, hukumannya akan berat, mungkin saja kalian kubawa ke Himalaya atau Gayatri sendiri yang kubawa ke Himalaya," kata si ayah mertua. "Ayo, cepat menantu, aku sudah tidak sabar lagi."

Tiba-tiba timbul kegembiraan dalam hati Geni, mengapa tidak menjajal ilmu silat ayah mertuanya. "Selama ini boleh dikata aku tak pernah kalah dalam pertarungan. Aku tak pernah dapat lawan imbang."

Berpikir begitu dia kemudian melangkah santai ke tengah danau. Sama hebatnya dengan Yudistira, langkah Geni pun tidak menyentuh permukaan air, kakinya melayang.

Tanpa menanti lebih lama lagi, Yudistira menggerakkan tangan ke bawah berputar-putar, air danau di sekitar tubuhnya bergolak. Lalu tangan itu ke atas. Bersamaan gumpalan air yang besar ikut naik. Ia memutar tangannya, air itu membentuk bola besar di tangannya, kemudian ia mendorong, "Menantu, awas!" Gumpalan air yang seperti bola, meluncur deras ke arah Wisang Geni. Di Himalaya yang sebagian daerahnya selalu tertutup salju, Yudistira biasa memainkan jurus ini dengan salju.

Terpisah sepuluh tombak Wisang Geni berdiri menatap ayah mertuanya. Ia melihat semua gerakan tadi. "Berpikir sederhana, pikiran lebih cepat dari angin, pikiran lebih kuat dari air, pikiran bisa mengalahkan serangan lawan."

Dia memutar tubuh, putaran perlahan. Dua tangan mengembang ke samping memutar dalam bentuk lingkaran besar dari arah bawah ke atas. Air di sekitar kakinya tersibak dan meluncur dalam bentuk memanjang seperti tongkatke arah Yudistira. Gumpalan air bertemu di tengah, beradu, pecah berantakan dan luluh ke danau.

Pertarungan menggunakan air berlangsung seru, makin lama makin menarik. Gumpalan air yang digunakan menyerang lawan selalu berganti-ganti bentuk. Yudistira akhirnya memainkan jurus simpanannya. "Anak mantu, tadi itu aku hanya menggunakan jurus Likhna Hai Chandse Hokar (Aku akan menulisnya di rembulan), sekarang aku menggabungnya dengan jurus Atehai Zaminpar Khabiyeh Chand Sitare (Kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi), hati-hati, kamu bisa tenggelam kena peluru air ini."

Yudistira menggerakkan dua tangan, mengangkat sebelah kakinya bergantian, terkadang melompat dan melayang di udara. Hebat.

Serangan Geni seperti ditangkap dan dikembalikan dengan kecepatan lebih dahsyat. Hebatnya lagi, air yang dikembalikan itu semakin berat dan besar. Geni terpaksa menghadapinya dengan menyalurkan segenap tenaga Wiwaha. Tetapi serangan Yudistira semakin menggila, "Awas anak mantu, ini lebih hebat lagi" Bentuk air kini menjadi lebih padat dan meluncur deras ke arah Geni. Geni kewalahan, hanya bisa bertahan. Geni memutar tubuh bagai gasing, tangannya ikut berputar, kaki sebelahnya diangkat Air di sekitar tubuhnya tersibak membentengi tubuhnya. Tenaga yang ia mainkan adalah tenaga Wiwaha, bergantian panas dan dingin.

Serangan Yudistira luruh ketika membentur dinding tembok air di seputar tubuh Geni. Akhirnya Yudistira menghentikan serangan, dia terengah-engah melangkah ke tepian.

Sementara Geni masih memainkan jurus bela dirinya. Ia bahkan tidak tahu bahwa serangan ayah mertuanya sudah berhenti.

Terdengar teriakan Gayatri, menusuk gendang telinganya. "Geni, berhenti, tarung sudah selesai, kamu bertarung sendirian."

Saat berikutnya ia sadar, serangan sang ayah mertua sudah berhenti. Ia memperlambat gerakan sampai akhirnya berhenti. Geni kehabisan nafas, letih, sangat letih. Ia tadi telah mengerahkan Seantero kekuatan batinnya, seperti pelita kehabisan bahan bakai. Geni bahkan tak kuat berdiri, ia tenggelam

Gayatri hendak menolong namun Sekar yang sudah terbiasa latihan di laut kidul, bergerak lebih cepat Sekar menyelam dan menarik suaminya ke permukaan. Nafas Geni sengal-sengal. Keduanya berenang ke tepian.

Yudistira gembira. Dia tadi sengaja menguji ilmu silat menantunya. Dia kagum akan ketangguhan Geni. Dia mencolek lengan menantunya. "Geni, kamu tadi kalah, jadi ayah akan mengajak Gayatri pulang kampung ke Himalaya."

Cepat Geni menyahut, "Tidak bisa, tadi itu aku yang menang, ayah mertua meninggalkan gelanggang lebih dahulu, itu tandanya kalah. Itu artinya ibu dan ayah mertua harus menetap di sini." "Geni, bersikaplah sebagai ksatria, kamu kalah, tadi kamu tenggelam dan kalau aku tidak berteriak memperingatkan, tentu sampai sekarang kamu masih bersilat sendirian di danau, bahkan mungkin sampai besok." Gayatri tertawa cekikikan.

"Mengapa kamu berbalik membela ayahmu, tadi kita sepakat membantu aku melawan ayah mertua." Geni menepuk bokong isterinya. Gayatri membalas mencubit lengannya. Geni menoleh pada Sekar, "Menurutmu siapa yang menang, aku kan?" Sekar mengangkat bahu, "Aku tidak ikut campur," katanya sambil tertawa.

Dari jauh terdengar suara Satyawati, "Geni, ayah mertuamu sudah mengambil keputusan akan menetap di sini. Ia ingin menyaksikan kelahiran cucunya, katanya ia akan memberi obat agar cucunya tidak beruban seperti Pendekar Tanah Jawayang bernama Wisang Geni." 

Geni tersenyum. Ia memandang dua isterinya yang tampak cantik. Sekar menjulurkan lidah, menggoda. Satu tangan Geni memeluk erat Sekar, satu lainnya menarik Gayatri merapat.

Geni tampak bernafsu. Gayatri berbisik, "Jangan di sini, aku malu banyak ikan yang nonton. Ayo kita bertiga ke Tebing Cinta, kita bercinta sepuasnya semalaman. Tidak ada yang mengganggu, tak ada Manohara, tak ada Prawesti."

"Baik, bertiga kita ke Tebing Cinta. Aku ingin bercinta dan memiliki kalian berdua malam ini dan sepanjang hidupku.

Semua manusia harus tahu betapa aku tergila-gila pada Sekar dan Gayatri, isteriku, kekasihku dan cintaku."

Selesai