-->

Wisang Geni Bab 24 : Bunga Talasari

Bab 24 : Bunga Talasari

Pertarungan sudah usai. Beberapa hari berkumpul di desa Bangsal, akhirnya para pendekar Cina mengambil jalan masing-masing. Kim Mei, janda muda yang cantik itu, pergi pada hari pertama, tidak lama setelah pertarungan usai.

Tampak seperti tergesa-gesa Kim Mei pamitan kepada semua rekannya. Dia mampir sejenak di rumah mengambil bungkusan pakaian dan kudanya, kemudian pergi. Dia tidak memberitahu tujuannya.

Ciu Tan berusaha mencegah, tetapi Kim Mei menolak. Sio Lan berusaha membujuk, "Kakak Mei, ayah mencintaimu, hanya ayah malu mengakuinya. Tadi dia minta aku menyampaikan lamaran. Ia melamar kamu untuk menjadi isterinya."

Kim Mei memeluk Sio Lan. "Aku hanya kagum saja pada ayahmu, perasaanku padanya tidak lebih dari itu, sampaikan maaf padanya aku tidak bisa menerima lamarannya. Sekarang ini aku harus pergi mencari jalan hidupku sendiri."

"Apakah kamu pergi bertemu dengan pendekar bernama Pamegat itu?"

Kim Mei tidak menjawab langsung. Ia bercerita, beberapa waktu lalu ketika terjadi pertarungan Wisang Geni dengan Kalandara dan tiga muridnya di hutan tepi desa Bangsal. "Saat itu aku bertemu dengan dia. Pertemuan kedua terjadi satu pekan kemudian di desa Dayu, itu semua kebetulan. Aku dikeroyok penjahat lalu ia muncul menolongku. Kupikir semuanya kebetulan tetapi bisa saja itu menjadi awal perjodohanku. Aku ingin membereskan ini, aku ingin kepastian baik diriku maupun lelaki itu. Perkawinan ineinei lukau kejujuran pada awal dan harus dipertahankan ke depan dan hari ke hari. Aku mencari cinta yang jujur."

Tetapi Kim Mei tidak menceritakan secara rinci kejadian di desa Dayu Pertemuan itu, merupakan awal dari babak baru kehidupan Kim Mei. Kematangan dan perlindungan, yang diperlihatkan Sang Pamegat berhasil menguak pintu hatinya yang sudah lama tertutup.

Kim Mei memeluk Sio Lan mengucap selamat tinggal. Ia melecut kudanya menuju desa Ngoro, satu hari perjalanan dari Bangsal. Ia baru memasuki gerbang desa, lelaki itu sudah menjemputnya.

Pertemuan itu mulanya agak kaku, lantas mencair saat keduanya menceritakan pengalaman diri masing-masing. Pamegat mengakui ia masih punya isteri dan anak, keluarganya menetap di lingkungan istana Tumapel. Lelaki berusia separuh baya itu menjelaskan bahwa di tanah Jawa merupakan hal biasa seorang lelaki memiliki lebih dari seorang isteri. Ia bahkan punya dua isteri dan lima selir.

Pada mulanya Kim Mei terkejut namun bisa menerimanya. Di Cina pun seorang lelaki bisa punya isteri dan selir. Hal yang tak bisa diterimanya adalah ketidakjujuran. Suaminya terdahulu sering mengumbar janji dan kata cinta, namun kemudian mengkhianatinya dengan perbuatan yang tak bisa dia maafkan.

Menggenggam tangan Kim Mei, dengan suara lirih namun tegas, lelaki itu berkata, "Hari ini aku melamarmu menjadi isteriku, isteri utama, mungkin terlalu cepat, tetapi keputusan ini sudah kupikir matang dan tak perlu lagi menanti waktu untuk mengutarakannya. Tetapi kalau kamu sendiri belum siap untuk menjawab, aku akan menanti jawabanmu sambil sementara ini kita berteman dulu, aku akan menemanimu pesiar dan melihat-lihat keramaian di pusat kerajaan Tumapel."

Kim Mei punya kesan baik terhadap Sang Pamegat.

Perasaannya mengatakan itu. Tidak urung ia mengaku dirinya seorang janda muda tetapi belum punya anak. Ia pergi meninggalkan suaminya setelah tiga bulan kawin Dia menceritakan pengalaman pahitnya lima tahun lalu ketika suaminya berlaku serong, memerkosa adiknya. Lantaran sayang dan takut terhadap kakaknya, adik Kim Mei itu menyimpan rahasia.

Tetapi suatu malam, Kim Mei memergoki cinta rahasia itu.

Sang adik memohon ampun, bercerita terus terang bahwa pertama kalinya dia diperkosa. Kemudian kejadian itu berulang dan berulang. Lambat laun, hal itu menjadi hubungan suka sama suka. Adiknya mengakui telah jatuh cinta dan bersedia melakukan hubungan itu berulangkah sampai hamil. Pada mulanya Kim Mei sangat marah, tetapi rasa sayangnya kepada adiknya membuat dia tak berdaya. Dia tidak membunuh dua sejoli itu melainkan pergi meninggalkan suaminya dan adiknya. Sejak itu dia tak pernah percaya pada lelaki.

Sudah banyak lelaki melamar dirinya, tetapi sampai saat ini ia belum tertarik seorang pun. Akan halnya Sang Pamegat, Kim Mei menerima lamarannya dan kawin satu tahun kemudian. Ia hidup bahagia, dimanjakan sang suami. Sesuai janji Sang Pamegat, dia memang menjadi isteri utama dan tinggal di lingkungan keraton. Sang Pamegat semakin menyintainya apalagi setelah Kim Mei melahirkan dua putra dan seorang putri.

Para pendekar Cina lainnya juga menjalani hidup masing- masing. Dua bersaudara Mok Kong dan Mok Tang setelah mengantongi bayaran beberapa potong emas dari Ciu Tan, pulang ke Cina. Keduanya membeli barang-barang berharga dari tanah Jawa dan menjualnya di Cina. Mereka mendirikan perusahaan dagang dan ekspedisi mengantar barang dan manusia.

Ciu Tan mengambil pelajaran dari kekalahannya. Dia tidak lagi merasa ilmu silatnya paling hebat, dia melihat bahwa ilmu silat dan manusia tak punya batasan. Pepatah Cina, di atas langit masih ada langit, benar-benar ckyakininya sekarang. Ciu Tan benar-benar berubah, dia telah membuang sikap sombong dan takabur. Dia pulang ke Cina, melangsungkan pernikahan Sio Lan dengan Siauw Tong, kemudian hidup menyepi di gunung Wu Tang memperdalam ilmu silat Terkadang dia turun gunung menengok anak dan cucunya sambil menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Pendekar Pedang dari Gurun Gobi, Sian Hwa, memilih menetap di tanah Jawa. Ia menyepi di rumah kecil di samping kediaman sang menantu Manjangan Puguh dan putrinya. Ia bahagia, setiap hari ia bermain dan mengurus tiga orang cucu, memberinya pelajaran dasar ilmu silat. Sian Hwa tidak berniat kembali ke Cina. Ia telah menemukan ketenteraman dan kebahagiaan di hari tua. Dia selalu ingat kata-kata Wisang Geni, usai pertarungan dahsyat itu. "Damai itu indah, dan kehidupan itu memang indah karenanya harus dinikmati.''

Li Moy dan Sin Thong saling jatuh cinta, mereka kawin dalam upacara sederhana disaksikan teman-teman dekat. Pasangan ini pada mulanya hanya niat bertualang mencari benda-benda berharga untuk dibawa pulang dan dijual di Cina. Namun lama kelamaan, keduanya semakin betah. Pada akhirnya mereka menetap di negeri Jawa, apalagi setelah Li Moy melahirkan seorang putri.

Liong Kam memilih menetap di desa Bangsal, berdagang dan membuka warung makan. Ia seringkali bertualang berupaya menemukan jejak keris Gandring. Pada akhirnya ia memperoleh kabar, keris sakti itu masih disimpan di keraton. Namun tidak ada seorang pun yang bisa memastikan di istana Tumapel ataukah istana Kediri. Dan menyaksikan penjagaan dan pengawalan istana yang begitu angker, niatnya mencuri keris Gandring memudar dan akhirnya lenyap. Ia mendengar cerita banyaknya pendekar yang mengantar nyawa karena ingin menerobos istana mencuri keris. Setelah bertualang selama dua tahun, akhirnya Liong Kam pulang ke tanah Cina.

---ooo0dw0ooo---

Besok adalah hari pertama dari bulan Asadha. Hari itu, hari terakhir bulan Iyestha, tigapuluh hari setelah pertarungan di desa Bangsal. Sebuah perahu layar besar merapat di pelabuhan Jedung. Kebanyakan penumpang adalah pedagang yang membawa barang dagangan dari Gujarat, Malaka, Cina dan India. Kesibukan merambah seputar pelabuhan. Kuli pengangkut barang, para pedagang kuda dan kereta, tukang jaja makanan, semua sibuk menawarkan jasa.

Di antara banyak manusia yang lalu lalang, serombongan orang asing menuruni tangga. Di depan sekali, seorang lelaki bertubuh kekar, tinggi jangkung dengan raut wajah keras, ia ketua perguruan Yudistira dari lereng Himalaya. Lelaki separuh baya itu dijuluki Tangan Besi, nama aslinya Yudistira. Dalam kisah Mahabrata, Yudistira adalah tokoh welas asih, bijaksana serta pemimpin dan kakak tertua dari Pandawa Lima bersaudara.

Tidak demikian dengan Yudistira dari lereng Himalaya ini. Dia lelaki yang terlalu keras kepala dan selalu ngotot dalam hal prinsip dan harga diri. Ia tampak kasar dan kejam Air mukanyakeras, jarang senyum bahkan mungkin sudah lupa bagaimana cara tersenyum Kumisnya tebal, rambut panjang digelung di atas kepala, kulitnya sawo matang kemerahan dibakar matahari. Ia mengenakan baju luar panjang warna hitam, dengan baju dalam lengan pendek warna hijau. Ikat pinggangnya lebar dari kulit rusa.

Berjalan di belakangnya, isterinya, Satyawati yang dijuluki Bunga Salju. Dalam sastra Mahabrata, nama Satyawati adalah isteri setia raja Santanuyang menjadi nenek para Kurawa dan Pandawa. Tinggi langsing, tubuhnya berisi, kulitnya putih.

Meskipun ada kesan tua pada wajahnya namun harus diakui ia sangat cantik. Ia mengenakan busana jubah panjang warna hijau yang menutup hampir seluruh tubuhnya.

Di belakangnya, seorang lelaki muda, tinggi besar, kulit sawo matang dengan kumis dan brewok, rambut panjang dibiarkan terurai. Wajahnya tampak tegang dan kejam, dia Wasudeva, putra tunggal ketua perguruan Arjapura. Di belakangnya putra tertua Yudistira, Arjun dan isterinya Susmita. Diikuti putra kedua, Shankar bersama Ayeshak, isterinya. Arjun dan Shankar, lelaki muda, tubuh mirip ayah dengan wajah tampan mirip sang ibu Keduanya mirip satu sama lain dengan kulit sawo matang. Dua isteri itu, baik Ayeshak maupun Susmita, memiliki kecantikan perempuan Himalaya. Ayeshak sedikit lebih gemuk sedang Susmita tampak lebih langsing. Di belakang mereka, sepasang suami isteri yang adalah murid utama Yudistira. Urutan paling akhir adalah suami isteri yang merupakan pembantu dan juru masak keluarga. Tampak dari gerak langkah dan keseimbangan tubuh, sebelas orang itu semuanya pendekar kelas atas. Jembatan papan itu bergerak berayun-ayun, tetapi kaki mereka seperti melekat pada pijakannya. Kecuali Yudistira dan isterinya, mereka yang lain semuanya membawa bungkusan yang gemblok di punggungnya. Selain itu beberapa peti kayu ukuran cukup besar, yang semuanya berisi barang dagangan.

Mereka masuki warung makan yang tidak banyak pengunjungnya. Dua pembantu itu ikut nimbrung ke dapur, sehingga pesanan ayam dan ikan bakar serta minuman tersaji dengan cepat Selain khawatir makanan diracun, dua pembantu itu mencampur masakan dengan bumbu masak khas Himalaya yang dibawanya. Mereka menyantap hidangan dengan lahap.

Empat murid perguruan Brantas menawarkan diri menjadi penunjuk jalan sekaligus menyewakan kereta kuda untuk barang-barang dagangan itu, dengan imbalan jasa.

Sebenarnya semua anggota rombongan mengerti bahasa Jawa, tetapi karena Susmita yang paling mahir maka peremuan ini bertindak sebagai juru bahasa. "Baik, kalian berempat menjadi penunjuk jalan kami"

Dalam perjalanan Susmita menanyakan pada murid Brantas itu, pernahkah melihat tiga gadis India yang tiba dengan perahu layar sekitar tiga atau empat bulan lalu. "Aku tahu, memang sudah cukup lama, sudah tiga bulan berlalu, mungkin kalian lupa tetapi coba tolong diingat-ingat," kata Susmita.

"Akhir akhir ini banyak orang asing yang dalang ke negeri ini, jadinya aku tak bisa mengenal dan mengingat semua orang yang sudah datang. Lagipula aku tidak selalu berada di sini. Tetapi kalau yang kamu cari itu pendekar silat, aku tahu ke mana harus mencarinya," jawab salah seorang murid Brantas.

Dia menyebut desa Bangsal, karena tigapuluh hari lalu di desa itu berlangsung pertarungan pendekar negeri Jawa lawan pendekar Cina. "Mungkin temanmu ikut tarung atau sebagai penonton, maka lebih baik kita ke sana mencari keterangan dari penduduk setempat" 

Tetapi Yudistira memutuskan terlebih dahulu pergi ke pusat kerajaan Tumapel menjual barang dagangan yang dibawanya. "Di sepanjang jalan kita bisa mencari berita tentang Gayatri.

Nanti, selesai urusan dagang, baru kita mencari putriku," tukasnya.

Perjalanan dari pelabuhan Jedung menuju desa Karangplosos, pusat kerajaan Tumapel, diperkirakan memakan waktu enam hari. Perjalanan memang tak bisa cepat lantaran barang-barang harus diangkut dengan kereta kuda. Mereka menunggang kuda termasuk empat penunjuk jalan dari perguruan Brantas. Di tengah jalan dua kali mereka dicegat perampok namun dengan ilmu silatnya yang tinggi rombongan pendekar asing itu dengan mudah bisa mengatasi.

Dari luar tampaknya anggota rombongan akur satu sama lainnya tetapi sebenarnya ada masalah ibarat api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa meletup. Persoalan tak lain disebabkan ulah Wasudeva yang urakan. Lelaki itu terbiasa selalu memperoleh keinginannya karena sejak masa kecil semua permintaannya selalu dikabulkan ayahnya.

Selama duapuluh hari perjalanan darat sejak dari lereng Himalaya sampai ke pelabuhan Puchet, dia minta diperlakukan istimewa. Tingkah lakunya kasar. Dia sering memaki. Dia memerintah kedua pembantu itu bahkan juga terhadap Arjun dan Shankar, seperti perintah seorang majikan kepada budak. Ucapannya kasar, sering membentak dan memaki. Ketika Arjun melapor kepada ayahnya, Yudistira tak menjawab langsung, hanya menjelaskan Wasudeva itu tamu kehormatan dan titipan sahabatnya, Arjapura. Ketika isterinya, Satyawati bicara tentang perilaku buruk Wasudeva, jawaban Yudistira sama, ia tamu kehormatan dan putra seorang sahabat

Selama perjalanan dari Himalaya menuju Puchet, saat rombongan bermalam di desa, sering kali Wasudeva menyelinap keluar rumah di malam hari. Suatu malam, Shankar dan Arjun membuntutinya.

Ternyata Wasudeva memerkosa wanita dan membunuh suaminya.

Dua bersaudara itu melapor ke ibunya. Kini mereka mengerti alasan Gayatri menolak perjodohan dan lari ke tanah Jawa. "Mungkin Gayatri mengetahui kelakuan Wasudeva, atau barangkah dia pernah digoda atau diganggu. Jika memang Wasudeva pernah mengganggu Gayatri, sunguh aku akan membunuhnya," kata Shankar kepada ibunya.

"Kamu jangan ngaco, jangan gegabah, semua harus pakai pikiran jernih. Kamu harus tahu, dia selalu benar dan terhormat di mata ayahmu Jadi sementara waktu ini kalian sama sekali tidak boleh bentrok dengan Wasudeva Tunggu sampai ayahmu sadar," katanya.

Tiga orang itu, ibu dan dua putranya, kesal dan kecewa mengapa Yudistira mengajak Wasudeva ikut dalam rombongan. Waktu itu ayah mereka beralasan. "Ia harus ikut untuk memperjelas status perjodohan, jika Gayatri setuju maka persoalan selesai, segera kita kawinkan mereka. Jika Gayatri menolak maka dia harus dihukum, aku sendiri yang menghukum," kata Yudistira pada isterinya saat hendak berangkat.

Satyawati, tidak cuma setia namun patuh dan taat kepada suami sebagaimana perempuan Himalaya umumnya. Tetapi khusus soal Wasudeva, ia punya sikap tersendiri. Ia membenci Wasudeva karena secara tidak langsung Manisha, putrinya, mati disebabkan perbuatan Wasudeva. Dia mengetahui semuanya dari cerita Manisha sebelum putrinya itu bunuh diri. Wasudeva menghamili Manisha. Laki-laki itu kemudian pergi dengan janji akan kembali melamar dan mengawini Manisha. Tetapi dia ingkar janji, dia tak pernah muncul lagi di perguruan Yudistira, lari dari tanggung jawab.

Waktu itu Satyawati mengutus Gayatri ditemani dua murid Urmila dan Shamita menemui Wasudeva di Arjapura. Laki-laki itu ingkar janji bahkan menuduh Manisha dihamili lelaki lain. Mendengar itu Satyawati dan putrinya sangat marah tetapi tidak berani menceritakan semuanya kepada Yudistira. Tragedi terjadi sewaktu Yudistira menerima lamaran Mahesh, pendekar dari Himalaya Timur untuk Manisha. Dalam keadaan hamil, Manisha tak mungkin bersedia menjadi isteri Mahesh.

Agar aib tidak terbongkar, dia harus menolak lamaran. Tetapi tradisi kuno Himalaya melarang ini. Tradisi turun temurun itu mengajarkan seorang anak perempuan harus bersedia kawin dengan siapa saja lelaki yang ditentukan sang ayah. Manisha tidak punya pilihan lain, dia bunuh diri, terjun dari tebingyang curam

Bagi Satyawati dan anak-anaknya, Wasudeva adalah mimpi buruk.

Celakanya lagi, Yudistira sangat menyukai Wasudeva. Di mata Yudistira, Wasudeva tak mungkin bersalah. Perlakuan terhadap lelaki itu begitu istimewanya sehingga seringkah menimbulkan iri hati dua putranya. Satyawati pernah menanyakan pada suaminya, jawabannya hanya itu-itu saja, bahwa Wasudeva putra sahabatnya.

Persahabatan Yudistira dengan Arjapura terbina sejak masa muda. Keduanya sangat tergila-gila menuntut ilmu silat Yudistira yang usianya dua tahun lebih muda, lebih cerdas dan berbakat sehingga lama kelamaan Yudistira lebih menonjol dan lebih terkenal di kawasan Himalaya. Diam-diam Arjapura memendam rasa iri yang makin lama makin subur menjadi kebencian terpendam.

Perkawinan Yudistira dengan Satyawati makin menambah rasa iri dan benci Arjapura karena sebenarnya ia pun menaruh hati pada Satyawati. Dua lelaki itu sama-sama mengenal Satyawati saat bersama-sama merantau ke gunung Bharwa, sebuah desa di Himalaya. Satyawati, adalah putri kepala suku Namcha, seorang pendekar tangguh di kawasan Timur Himalaya. Dua pendekar itu sama-sama melamar tetapi Satyawati yang cantik jelita menjatuhkan pilihan pada Yudistira.

Belasan tahun kedua sahabat itu tidak berjumpa. Dua tahun sebelum Gayatri lari ke tanah Jawa, Arjapura mengirim putranya, Wasudeva, agar dibimbing Yudistira. Secara rahasia, Arjapura menginginkan putranya mencuri atau mewarisi jurus hebat Yudistira Atchai Zamin Par Kabhiyeh Chand Sitare (Kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi). Jika bisa menguasai ilmu andalan itu maka Arjapura yakin sanggup mengalahkan Yudistira.

Wasudeva, lelaki mata keranjang. Tadinya ia sudah memiliki Manisha. Sang ayah sangat bersuka-cita ingin cepat melamar gadis itu. Tapi Wasudeva tergila-gila dan kasmaran akan kecantikan Gayatri. Dia menginginkan Gayatri. Dia berhasil membujuk ayahnya, untuk mengubah rencana melamar Manisha dan sebagai gantinya melamar Gayatri.

Sebenarnya Manisha sangat cantik, malahan lebih cantik dari adiknya. Tetapi di mata Wasudeva, kecantikan Gayatri lebih liar dan lebih primitif. Satu saat ketika bertandang ke perguruan Yudistira, ia pernah memergoki dua bersaudara itu basah kuyup kehujanan. Ia melihat perbedaan dua gadis itu. Manisha yang waktu itu sudah ia tiduri, kecantikannya tampak biasa. Tetapi kecantikan wajah dan tubuh Gayatri, sangat menggoda. Sejak itu Wasudeva tak pernah bisa melupakan kecantikan Gayatri. Dia tahu Gayatri menolaknya, bahkan membencinya selelah matinya Manisha. Dia tahu Gayatri kabur ke tanah Jawa, untuk menghindarinya. Tapi dia tak peduli, dia kasmaran. Dia tergila-gila ingin mengawini Gayatri, tak peduli gadis itu suka atau tidak suka.

Senja itu rombongan tiba di desa Dayu Saat makan, Shankar dan Arjun memerhatikan Wasudeva yang tak hentinya menatap tubuh gadis pelayan warung. Gadis itu adalah putri pemilik warung, cantik dan montok. Shankar memberi isyarat kepada Arjun. Malamnya, dua dua saudara itu berjaga, khawatir tingkah laku Wasudeva memancing keributan di desa. Tetapi malamku tidak terjadi sesuatu.

Esok harinya rombongan melanjutkan perjalanan. Ketika malam tiba, mereka nginap di tengah hutan. Saat itulah Wasudeva menyelinap pergi. Arjun dan Shankar terlambat menyadari lelaki itu sudah tak ada di kemah. Keduanya bergegas ke warung di desa Dayu Keduanya mengintip, ternyata Wasudeva tak ada, si gadis juga tak ada. Mereka menunggu. Menjelang fajar, Wasudeva datang membopong si gadis. Ia memberi sesuatu, si gadis tertawa senang. Shankar dan Arjun saling pandang. "Dia benar-benar gila," tukas Shankar kesal.

Karangplosos desa yang cukup besar, ramai dan menjadi pusat perdagangan. Hampir semua pedagang asing juga pedagang lokal menjual barangnya di desa ini. Pembelinya datang dari desa-desa sekitar. Kebanyakan adalah keluarga para pejabatkerajaan Tumapel.

Rombongan Yudistira membawa barang dagangan istimewa, sutera, perhiasan, permadani, kosmetika dan berbagai macam barang mewah. Mereka menyewa rumah besar selama beberapa hari, untuk tempat tinggal sementara juga untuk menjajakan dagangan yang dipajang di serambi rumah. Barang dagangan cepat laku, selain harga tidak mahal, barang yang dijual adalah barang pilihan. Para pejabat dan isteri serta penduduk yang kaya berdatangan berebut membeli barang yang diminati. Satyawati yang cantik dan anggun, memimpin menantu dan murid wanitanya melayani dengan ramah dan sabar. Namun demikian tidak semua pembeli berlaku sopan.

Hari itu tiga lelaki yang dari dandanan diduga berasal dari keluarga kaya, berbuat onar. Melihat Ayeshak cantik dan montok, seorang di antaranya menggoda, bahkan berupaya meraba bokong isteri Shankar. Tetapi Ayeshak bergerak cepat, menepis tangan jahil itu. Lelaki itu marah.

Dia berteriak sambil memegang tangannya yang tampak memar,

"Hei, kenapa kamu main tampar, kurang ajar kamu wanita asing, beraninya kamu jual lagak di sini." Suaranya keras dan didengar banyak orang. Para pembeli, sebagian ingin tahu apa yang terjadi, sebagian lain tidak peduli.

Ayeshak berkata dengan suara rendah, "Maaf, tuan. Tuan sengaja hendak meraba bagian tubuh saya. Perbuatan tuan itu tidak pantas karena saya sudah bersuami, maafkan saya."

Lelaki itu yang usianya sekitar tigapuluhan menuding wajah Ayeshak. "Kamu orang asing di sini, harus sopan, harus tahu diri apalagi kamu berdagang di desa Karangplosos, ini wilayah kerajaan Tumapel, kamu pasti mata-mata, siapa kamu?"

Shankar muncul melihat isterinya kesulitan, "Maaf tuan, dia isteri saya, kami hanya berdagang, kami mencari nafkah."

Seorang punggawa keraton bersama tiga rekannya menghampiri lelaki itu. Mereka kebetulan lewat di situ. "Ada apa?" Lelaki itu terkejut memandang empat punggawa keraton. "Dia berlaku tidak sopan, dia orang asing mungkin mata- mata."

Salah seorang punggawa, ternyata Ekadasa, menghampiri dan bertanya pada Shankar, "Kamu bisa berbahasa Jawa, ada apa?"

"Ah mungkin cuma salah f aham antara tuan itu dengan isteri saya, tetapi sudah beres, kok."

Wasudeva menyela di samping Shankar, sambil menatap Ekadasa. "Tuan itu mencoba menjamah bokong saudaraku ini, tetapi saudara perempuanku ini menangkis tangan jahilnya, lalu tuan itu marah, nah itulah cerita yang sebenarnya," kata Wasudeva tersenyum

Punggawa yang paling tua, Dwi, menuding hidung lelaki itu. "Kamu siapa? Mengapa mengganggu tetamu asing?"

Lelaki itu merah mukanya. Suaranya bernada takut. "Aku putra Ki Kamandang dari desa bagian Timur. Aku tidak mengganggu mereka. Aku mau belanja."

"Huh anak pejabat, kamu mabuk rupanya," lalu kepada anak buah di sampingnya, Dwi berkata tegas, "Bawa dia ke penjara. Panggil bapaknya menghadap aku." Ia menoleh ke Ayesakh, "Maafkan orang itu, ia mabuk, kalau ada gangguan, tuan-tuan boleh melapor kepada punggawa desa, selama tuan berada di desa ini, kamu boleh merasa aman."

Rombongan punggawa itu pergi.

Enam hari menetap di Karangplosos, semua barang dagangan habis terjual. Yudistira memutuskan istirahat beberapa hari, setelah itu baru melanjutkan perjalanan ke desa Bangsal. Dari keterangan yang dikumpulkan selama beberapa hari, semua sumber berita membenarkan di desa Bangsal telah terjadi pertarungan pendekar, akhir bulan Waisaka kemarin. Jumlah pendekar yang hadir lebih dari seratus bahkan terdapat di antaranya para pendekar asing. Tidak jelas siapa- siapa pendekar yang hadir, namun satu nama mencuat sebagai paling jago, tanpa tandingan. Dia Wisang Geni yang dijuluki Pendekar Tanah Jawa. "Untuk keterangan lebih banyak kita memang harus pergi ke desa Bangsal, mungkin saja Gayatri bertiga Urmila dan Shamita juga hadir di tempat itu," kata Yudistira

Rombongan kemudian menyewa dua tenaga penunjuk jalan, karena empat murid Brantas sudah pergi begitu mereka tiba di Karangplosos. Mereka menuju desa Bangsal. Perjalanan tidak terburu-buru dan diselingi istirahat di beberapa desa untuk membeli rempah-rempah dan benda-benda kuno yang akan dijual di Malaka dan Puchet dalam pelayaran pulang ke Himalaya nanti.

Suatu hari rombongan tiba di desa Prigen, sekitar satu hari perjalanan dari gunung Welirang. Senja itu udara dingin, mendung. Desa itu sepi dan lengang. Sebagian besar rumah kosong, tampaknya telah ditinggalkan penghuninya. Ada beberapa rumah yang masih dihuni, namun begitu melihat rombongan Yudistira, mereka menutup pintu dan jendela.

Rombongan berhenti di sebuah rumah besar yang tak ada penghuninya.

"Anak mantu Susmita, kamu bawa dua orang, kamu selidiki mengapa banyak rumah kosong, kupikir ada yang aneh di kampung ini," kata Yudistira sambil memandang sekeliling.

Lima rumah sudah dikunjungi, Susmita bertanya kepada penghuni, namun orang-orang itu diam saja, membisu.

Tampak pada wajah mereka mimik ketakutan. Di rumah keenam, penghuninya kakek dan nenek, ada dua gadis remaja dan seorang pemuda. Kakek membisu, tetapi nenek tua itu justru marah. "Kenapa kita takut, ceritakan saja kepada mereka, bagaimanapun juga kita semua pasti akan dibunuh." Nenek itu menceritakan kampungnya kedatangan beberapa lelaki jahat. Mereka datang sekitar sepuluh hari lalu.

Pemimpinnya, Ki Lawungwesi julukannya Tengkorak Putih. Begundalnya enam orang. Mereka jahat dan bejat Mereka memerkosa gadis-gadis, merampok harta benda, minum tuak dan mabuk-mabukan.

Tidak ada penduduk yang bisa meloloskan diri, usaha lolos selalu ketahuan dan yang lelaki langsung dibunuh atau disuruh kerja keras membersihkan rumah, memijit dan menyediakan makanan Yang perempuan harus mau menari, untuk kemudian ditiduri, jika tidak mau akan dipaksa, diperkosa.

Sudah tigabelas perempuan diperkosa, sudah tujuh lelaki yang dibunuh. Penduduk lainnya menanti giliran dengan tegang dan tak berdaya. "Mereka tinggal di rumah ujung sana dekat hutan," kata pemuda remaja itu. Salah seorang gadis berlutut di kaki Susmita, "Nona, tolong aku, aku takut diperkosa."

Mata Susmita berkaca-kaca, wajahnya merah. Dia menjawab dengan geram, "Tidak ada orang yang bisa memerkosamu, tidak ada orang jahat yang boleh mengganggu kamu, selama aku ada di desa ini." Dia balik dan menceritakan kepada ayah mertuanya.

Yudistira mengeluh, berkata kepada diriya sendiri. "Di mana-mana ada manusia kotor, manusia penindas, mereka pikir tidak ada orang yang sanggup menghentikan perilaku buruknya. Apa yang mereka inginkan akan mereka ambil tanpa berpikir apakah itu merugikan atau menghancurkan hidup orang lain."

Dia menggeleng-geleng kepala. "Ada manusia jahat, moralnya lebih rendah dari binatang itu pun jika binatang punya moral. Orang-orang itu tahu tindakan mereka akan menghancurkan hidup orang lain, tetapi dengan senang mereka melakukan perbuatan biadab itu. Aku tidak suka orang-orang seperti itu, orang yang tidak punya moral."

Keluarganya ikut berduka melihat mimik sedih Yudistira.

Orangtua itu menoleh kepada putra tertua, "Arjun kamu hentikan kejahatan ini." Ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Arjun memandang rumah yang ditunjuk Susmita sebagai markas si Tengkorak Putih dan enam begundalnya. Ia mengumpulkan batu yang berserak di sekitarnya. Ia meraup dan melempar ke rumah itu. Batu-batu itu beterbangan saling susul menimbulkan suara mencicit. Rumah itu bagaikan hendak runtuh, dihujani begitu banyak batu. Saat berikut beberapa orang berlarian keluar sambil teriak-teriak. "Hei bangsat kurangajar, berani kamu mengganggu tuanmu yang sedang tidur."

Tidak lama kemudian, keluar dari rumah itu, seorang lelaki tua kepala botak, bersenjata tombak. Tubuhnya masih kekar. Ia bersama begundalnya menghampiri rombongan Arjun. "Hei ada wanita cantik, wah hebat, ini namanya mendapat daging rusa enak tanpa kita perlu berburu dan memasak. Ketua, setelah kamu memilih, ganti aku yang memilih," kata lelaki yang berbadan kekar sambil menunjuk Susmita. "Aku mau dia. Tubuhnya montok."

Sepasang mata indah Susmita merah berkaca-kaca, ia tertawa sambil melangkah menghampiri lelaki itu. "Kamu mau aku, mari dekat-dekat sini."

Lelaki itu tertawa. "Wah kamu juga suka sama aku, mari sini dewi yang cantik." Ia menghampiri Susmita. Gerak tangan Susmita tak terlihat, tamparannya menerpa pipi kiri kemudian kanan. Lelaki itu kaget, ia menangkis. Tapi sia-sia. Tamparan itu berulangkah, membuat pipinya lebamdan berdarah. Ia menangkis sambil teriak-teriak. Tapi percuma. Tamparan itu bertubi sampai akhirnya ia tak sanggup membuka mulutnya yang hancur. Darah meleleh. Ia meludah dan hampir semua giginya ikut bersama lendir dan darah. "Ilmu apa itu," kata seorang rekannya. "Ilmu siluman," kata rekannya yang lain.

Dari rombongan, hanya Arjun dan Susmita yang meladeni lawan, Satyawati dan yang lain sibuk mengurusi rumah, kereta kuda dan semua barang-barangnya. Dua penunjuk jalan, terpesona dan kagum melihat sepak terjang Susmita. Wanita cantik itu kelihatan lemah gemulai, tak disangka geraknya begitu cepat dan kejam

Lelaki tua berbadan kekar dan kepala botak tahu gelagat, ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang sangat lihai. "Siapa kalian, aku adalah Lawungwesi julukanku Tengkorak Putih."

Arjun menjawab ramah dan sopan, "Kami orang asing di negeri ini, kami pedagang, kami tidak mencari musuh, tetapi kami tidak suka orang-orang jahat, kami adalah pengusir kejahatan. Kami tidak kenal tuan, tetapi kami tahu bahwa tuan orang jahat"

"Eh kamu tidak kenal Ki Lawungwesi, tetapi kamu pasti kenal muridnya yang kenamaan julukannya si Bayangan Hantu. Cepat berlutut minta ampun dan semua salahmu akan diampuni," kata lelaki lainnya.

Si Bayangan Hantu adalah pendekar yang mati di tangan Wisang Geni dalam pertarungan di Argowayang. Rupanya Lawungwesi turun gunung mencari Wisang Geni untuk menuntut balas. Ia mendengar muridnya itu mati oleh Wisang Geni.

"Aku tak perlu minta maaf, karena tak lama lagi Tengkorak Putih benar-benar akan menjadi tengkorak di dalam kuburnya," kata Arjun melangkah mendekati Lawungwesi.

Berbarengan, Susmita menghampiri enam begundalnya. Saat berikut terjadi tarung, Arjun lawan Lawungwesi yang bersenjata tombak pendek, Susmita menerjang enam begundalnya. Arjun menyerang dengan tangankosong, Lawungwesi membalas dengan tombak pendek. Pada saat sama isteri Arjun dikeroyok enam begundal, termasuk si lelaki yang mulutnya sudah nyonyor nyaris hancur. Susmita dengan leluasa bergerakke sana kemari, gerakannya cepat tangkas dan tak kenal ampun.

Dalam sepuluh jurus ia sudah melumpuhkan seorang lawan, tangan dan kakinya patah. Berturutan satu per satu lawannya terpental dengan anggota tubuh yang patah.

Empatpuluh jurus, pekerjaan Susmita selesai.

Saat yang sama jurus empatpuluh, Arjun menampar Lawungwesi, pundaknya terluka. Lima jurus berikut, paha dan lengannya kena tamparan keras, Lawungwesi tersungkur. Ia berupaya bangkit tetapi gagal. Enam begundalnya dengan tertatih bangkit berusaha menolong ketuanya. Mereka pergi dengan sumpah serapah.

Pada saat itu beberapa perempuan dan lelaki yang ditawan berhamburan keluar dari rumah, begitu juga penduduk lainnya. Semua mereka datang dan mengucap terimakasih sambil berlutut. Satyawati dan anggota rombongan menolong mereka. Beberapa perempuan bekas tawanan menangis berpelukan dengan orangtua atau suaminya. Suasana haru namun semua penduduk gembira. Malam itu para penduduk menyediakan makanan untuk tetamunya.

Dua hari menetap di desa itu. Susmita, Ayeksha dan ibu mertua sibuk membantu orang-orang itu, memberi mereka barang dagangan yang masih tersisa, bahkan sebagian pakaian dan perhiasan juga dibagi-bagikan kepada penduduk miskin itu. Para penduduk mengiringi kepergian mereka dengan tangis terimakasih.

Hari itu, tepat pada tengah hari, rombongan tiba di desa Bangsal. Penunjuk jalan itu bergerak gesit, dalam waktu singkat ia sudah mendapatkan rumah kosong untuk disewa dan warung makan. Malam hari di dalam bilik tidur, sambil memijit tubuh suaminya, Satyawati berkata lirih, "Suamiku, entah mengapa sejak tiba di Karangplosos, aku selalu bermimpi Gayatri, aku khawatir sesuatu menimpa dirinya. Sungguh baru sekarang ini selelah berpisah dengannya baru aku tahu betapa aku sangat menyintainya."

"Itu perasaan seorang ibu, tak ada apa-apa yang menimpa dirinya, ia memiliki ilmu silat tinggi, juga ada Urmila dan Shamita yang mengawalnya."

"Suamiku, hukuman apa yang akan kau berikan kepada putriku?"

"Aku belum tahu, nanti saja kita lihat apa saja kesalahannya."

"Suamiku, selama hidup aku tidak pernah membantah dan selalu patuh padamu. Kali ini aku mohon padamu, ampuni Gayatri. Dia belahan jiwaku. Jika dia mati, aku juga akan mati. Aku sangat menyintainya, aku mohon ampuni dia. Lagipula Wasudeva itu lelaki yang buruk, tidak pantas untuk Gayatri- ku."

"Tentang Gayatri, aku akan pertimbangkan kesalahannya, aku juga sangat menyintainya, setelah kehilangan Manisha aku tidak mau kehilangan Gayatri. Kamu tenang saja, aku mau tidur."

"Wasudeva itu "

Yudistira memotong ucapan isterinya, "Aku tak mau bicara tentang Wasudeva, aku mau tidur."

---ooo0dw0ooo---

Pertarungan bergengsi di desa Bangsal itu ramai dibincangkan orang, kaum awam dan para pendekar memuji kehebatan Wisang Geni. Bahkan Macukunda pun mengaku seumur hidup ia belum pernah menyaksikan sepak-terjang dan ilmu silat sedahsyat yang diperlihatkan Wisang Geni ketika mengalahkan Ciu Tan dan Mok Tang. Jurus apa itu, macam angin puyuh yang bisa menghancurkan apa saja. Tak seorang juga yang mengetahui persis jurus yang digunakan Wisang Geni.

Manjangan Puguh, yang pernah menjadi guru Wisang Geni juga tak tahu apa-apa tentang perkembangan muridnya itu. "Jelas dia muridku, tetapi kepandaiannya sekarang sudah jauh di atas aku," kata Manjangan Puguh kepada isterinya Mei Hwa.

Bahkan para murid Lemah Tulis pun semakin takjub akan kehebatan ketuanya. "Sayang sekali, ketua sudah tak mau lagi memimpin kita," kata salah seorang murid Lemah Tulis. "Aku yakin, ketua masih mau memimpin Lemah Tulis, mungkin dia hanya marah sesaat," kata seorang lainnya.

Hari itu usai pertarungan yang mencekam, Wisang Geni sungkem pada Manjangan Puguh. "Guru, aku tak pernah melupakanmu, kau menyelamatkan aku dari perang Ganter, kau mendidik aku sejak kecil, menyuapi obat sehingga tubuhku kuat. Aku tak bisa membalas budimu, guru"

"Kamu tidak perlu membalas apa-apa, aku sudah sangat bahagia jika kamu tetap menjalankan kewajiban sebagai pendekar sejati yang berjalan di jalan benar, selalu melindungi kaum lemah dan yang memusuhi kesewenang-wenangan," kata Manjangan Puguh yang memeluk erat muridnya itu.

Geni tak lupa memberi hormat kepada Mei Hwa yang sedang terlibat pembicaraan dengan Sekar dan Gayatri. Mereka sudah berkenalan ketika sama-sama hadir di gunung Argowayang.

Wisang Geni dan rombongannya tidak tinggal lama di desa Bangsal. Dua hari setelah pertarungan, mereka pulang ke gunung Welirang. Gajah Nila dan Gajah Lengar beserta isteri memisahkan diri menuju Lemah Tulis. Mereka mau pamitan pada Padeksa dan Gajah Watu, karena akan tinggal menetap bersama Geni. Putra putri mereka sudah diangkat murid oleh Geni. Murid lain ikut Geni pulang ke Welirang, berlatih silat dan melanjutkan pembangunan beberapa rumah yang belum selesai.

Bulan Iyestha sudah berlalu Wisang Geni hidup berempat dengan Sekar, Gayatri dan Prawesti. Mereka bahagia. Hari itu tengah bulan Asadha, rumah yang dibangun sudah rampung. Rumah yang agak besar untuk Wisang Geni dan tiga isterinya.

Dua rumah agak mungil, untuk Gajah Lengar dan Gajah Nila masing-masing bersama isteri dan anak-anaknya. Gajah Nila punya seorang putra bernama Sasro berusia sekitar delapan tahun. Gajah Lengar punya sepasang, putra bernama Saty aki usia tujuh tahun dan putri bernama Sundari usia 4 tahun.

Selain itu ada beberapa rumah untuk tetamu dan murid yang datang berlatih.

Senja itu Gayatri menyendiri di biliknya. Sudah tiga hari dia gelisah. Pikirannya bimbang, apakah dia tetap merahasiakan kehamilannya atau memberitahu Geni. Dia juga merindukan ibunya yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Ia tak pernah tahu, bahwa senja itu ibu dan keluarganya tiba di desa Karangplosos. Ia tak tahu bahwa dalam beberapa hari ini ibunya juga merindukan dia. Gayatri menangis.

Prawesti menghampiri, berbaring di samping, memeluk mengelus kepalanya. Saat itu Geni berdua Sekar sedang berlatih silat di dekat danau.

"Kakak, kenapa kamu kak?" tanya Prawesti dengan lirih.

Gayatri semakin terisak. "Kenapa Kak, ada apa, ceritakan, aku pasti akan membantumu, apa saja akan kukorbankan untukmu" "Aku bingung, aku tidak tahu harus mengambil jalan yang mana, di depanku terbentang banyak jalan bercabang, aku bingung." Suara Gayatri lirih dan sendu.

"Katakan saja pada Geni." "Katakan apa?"

"Katakan bahwa kamu hamil!" "Kamu... kamu tahu?"

"Kakak Gayatri, aku tahu, aku melihat perubahan tubuhmu, kamu makin montok, makin cantik dan mulai muntah-muntah. Itu gejala orang hamil. Aku mulai curiga ketika harus membalut perutmu dengan stagen khusus waktu kamu mau tarung."

"Tetapi kamu tidak cerita pada Geni, kan?"

Prawesti menggeleng, ia duduk dan memijit-mijit paha Gayatri. "Tidak. Geni tidak tahu apa-apa, malah dia tidak curiga. Aku baha gia melihat kamu hamil, seharusnya kamu bahagia, kakak. Karena sesungguhnya Geni sangat ingin punya keturunan. Ceritakan saja padanya, kak."

"Resikonya besar. Geni pernah melihat isterinya mati dalam keadaan hamil, anaknya ikut mati Jika aku juga mati bersama anaknya yang kukandung, hatinya pasti hancur. Ia bisa kalap, ia akan ngamuk melawan siapa saj a. Dan orang yang akan dia lawan adalah ayah dan keluargaku, aku bingung dan tak berdaya."

Prawesti terharu Ia memeluk Gayatri. Keduanya bertangisan. "Tidak Kakak, kamu tak akan mati, selalu akan ada jalan keluar, kita harus percaya itu." Dalam hati Prawesti bertekad. "Aku akan korbankan diriku di depan ayahnya.

Gayatri telah memberi aku kehidupan terindah. Hidup bersama dia, Sekar dan Geni membuat aku bahagia. Kini giliranku membalas budinya, memberi dia kehidupan dan kebahagiaan." Mendadak saja Prawesti bangkit dan menepuk bokong Gayatri. "Kakak, kita tidak boleh lemah dan menyerah, kita harus berusaha. Pada saatnya nanti aku akan bongkar semua kebusukan Wasudeva di depan ayah dan ibumu, aku tidak takut meski misalnya aku dihantam mati" Prawesti memang sudah mengetahui seluruh kisah Gayatri, Manisha dan Wasudeva.

Saat itu terdengar suara Geni memanggil Gayatri dan Prawesti. Tak lama kemudian ia berdua Sekar muncul di dekat isterinya. Heran melihat mata dua perempuan itu basah dengan airmata. "Kenapa? Kenapa kalian berdua menangis?"

Prawesti menepuk pantat Gayatri. "Katakan Kak Gayatri, katakan sekarang ini, katakan, ayo ini saatnya."

Geni bingung, "Katakan apa, ada apa?" Gayatri berkata lirih, "Aku hamil."

Wisang Geni terpaku di tempat berdirinya. "Apa?" Dia mengulanginya, malu-malu, "Aku hamil, Geni."

"Hamil, kamu hamil. Sekar juga hamil." Geni melompat sambil teriak. "Dua isteriku hamil, aku akan segera punya anak, Gayatri hamil, Sekar hamil," Ia lari keluar rumah, melompat-lompat dan bersiul keras.

Ia lari menuju hutan, mengelilingi danau, menanjak tebing. Siulannya memantul tebing menjadi gema bergaung ke mana- mana. Para murid yang sedang berlatih bingung melihat kelakuan Geni. Tetapi kemudian ikut gembira mendengar kabar Sekar dan Gayatri hamil. "Ya tentu saja ia merasa sangat gembira."

Tadi waktu berlatih silat berdua Sekar, di hutan jauh dari rumah. Tiba-tiba saja Sekar merasa lemas, ia merunduk dan muntah-muntah. Geni bingung. "Kenapa? Ada apa? Kamu sakit?" Perempuan itu memeluk Geni. "Suamiku, aku semakin mencintai kamu Aku bahagia menjadi isterimu Rasanya aku akan segera memberimu seorang anak."

"Apa? Kamu hamil?"

Sekar mengangguk, "Ya kekasihku, aku hamil!"

Geni memeluk dan menciumi isterinya. Tangannya meraba, mengelus dan menciumi perut sang isteri. Ia merasakan rangsangan birahi. Sekar melayani dengan bernafsu.

Keduanya berlari mendaki tebing. Di dalam goa, terengah- engah Sekar berbisik, "Geni, suamiku. Pelan-pelan."

Itu sebab mengetahui Gayatri juga hamil, Geni gembira seperti orang kesetanan. Setelah melampiaskan rasa senangnya dengan teriak-teriak di hutan, Geni menerobos masuk bilik. Sekar dan Gayatri berangkulan. Prawesti ikut bergembira.

Wisang Geni menghampiri Gayatri dan Sekar. Ia meraba, mengelus dan menciumi perut dua isterinya, bergantian. "Ini dia anakku, kapan kamu keluar jumpa dengan bapakmu?" kata Geni sambil tertawa. Dua perempuan itu tertawa geli melihat tingkah laku Geni yang macam orang kesurupan. "Gayatri dan Sekar, sesungguhnya kapan kalian mengetahui diri hamil?"

Gayatri memegang lengan Prawesti yang hendak beranjak dari duduknya. "Kamu jangan pergi, kamu harus temani aku." Ia tertawa kepada Geni. "Waktu pertarungan di desa Bangsal, aku mulai mual dan muntah-muntah Aku curiga mungkin aku hamil."

Prawesti ikut nimbrung. "Aku pun curiga, ketua, ketika kakak minta bantuanku membalut perutnya dengan stagen berlapis-lapis."

Dahi Geni berkerut, "Kamu sudah tahu dirimu hamil, kenapa nekad mau bertarung, bisa-bisa kamu celaka. Kamu juga Sekar, mau saja tarung Benar-benar gila." Ia teringat sesuatu, "Pantas hari-hari belakangan ini kalian berdua cepat lelah, aku lihat pinggul kalian dan juga buah dada makin montok."

Gayam tertawa. "Kamu cuma ingatyang montok-montok saja."

"Tetapi kalian terlalu nekad, mulai sekarang kalian berdua tak boleh tarung atau melakukan pekerjaan yang berat-berat."

"Waktu itu aku nekad, karena ingin membantu suamiku, itu kan kewajiban isteri. Tetapi aku tidak tahu ilmu silatmu setinggi itu, jika tahu buat apa aku berlaku nekad ikut tarung. Sekarang jawab pertanyaanku, mengapa kamu merahasiakan kepandaianmu itu?" tanya Gayatri.

"Kamu tidak bertanya padaku, lagipula sudah beberapa kali kamu bertarung denganku, kamu pasti sudah tahu kepandaianku."

"Kamu bohong, kamu tak pernah sungguh-sungguh tarung dengan aku, kamu tidak mengeluarkan seluruh kepandaianmu"

"Kau bukan musuh, kau kekasihku, mana bisa aku bertarung sungguh-sungguh dan melukai kamu," Geni memeluk Gayatri. Isterinya itu menggelinjang.

Gayatri menarik tangan Sekar dan Prawesti. "Ayo, kita keroyok dia" Ia menciumi leher suaminya. "Geni, sekarang ini setelah aku dan Sekar hamil, kamu harus pelan-pelan jangan sampai mengusik anakmu yang sedang tidur ini."

Seperti biasa kalau sedang gembira, Sekar tertawa cekikikan. "Mulai hari ini Prawesti akan lebih sering diperkosa. Oh ya Westi, kamu jangan hamil dulu, giliranmu hamil nanti setelah kami berdua melahirkan, setuju Westi?"

Sambil memeluk menciumi punggung Sekar, Prawesti menggoda, "Aku siap ikuti semua perintah mbakyu. Jadi sekarang aku harus lebih sering melayani mas Geni, ya mbak?"

Semalaman mereka berempat bercanda ria, bercinta dan bergurau Ketika fajar tiba, keempatnya tertidur pulas.

Siang hari itu setelah makan siang. Geni duduk bersama Gayatri, Sekar dan Prawesti di tepi danau. Gayatri memegang tangan suaminya. "Geni kamu harus berjanji padaku, Sekar dan Westi yang menjadi saksi, kamu berjanji bahwa kamu tidak bertarung melawan ayah, ibu dan kakakku."

"Kamu ini aneh, mana mungkin aku bertarung melawan mereka, tetapi aku mengerti kekhawatiranmu Kamu khawatir jika tiba saatnya ayah menghukummu, aku pasti membelamu, kamu khawatir aku menantang berkelahi melawan keluargamu"

Geni menepuk pipi isterinya. "Tidak Gayatri, aku hanya akan menjelaskan perihal cinta kita berdua, tentang Wasudeva yang tidak layak jadi suamimu, aku hanya akan menjelaskan. Dan aku berjanji tidak akan bertarung lawan mereka."

"Aku punya firasat, ayah dan ibu serta dua kakakku sudah tiba di negeri ini. Tak lama lagi mereka akan menemukan aku!"

"Itu cuma firasat dan rasa takutmu saja, aku tidak yakin keluargamu akan datang ke tanah Jawa, aku juga tidak yakin ayahmu lega menghukum kamu Percayalah padaku, semua persoalanmu akan selesai dengan baik."

Prawesti ikut nimbrung. "Aku punya firasat sama dengan Mas ( rt-ni, ayahmu pasti tak tega menghukum kamu, Kak." Ia berhenti sejenak kemudian melanjutkan. "Kakak, aku pikir sebaiknya jangan mengikat Mas Geni dengan janji semacam itu, bagaimana jika ayah ?i bu kakakmu memaksa dan menyerang Mas Geni, apakah dia harus diam juga dan tnanda digebuk?" Gayatri terdiam, kemudian menangis. 'Tidak, aku tidak mau suamiku dilukai, tetapi aku juga tak mau dia melukai keluargaku."

"Aku janji padamu Kakak, ilmu silatku memang cetek namun aku akan membantu dengan caraku sendiri." Prawesti menoleh ke Sekar yang menggamit lengannya. "Westi, tolong kamu pijit aku," kata Sekar sambil menggandeng Prawesti.

Belakangan ini Sekar bersama Prawesti dan Gayatri sering pijit-memijit bergantian. Keduanya berlari menuju rumah. Tinggal Geni berdua Gayatri.

Geni mengelus-elus kepala isterinya. "Kamu tak perlu ketakutan dengan apa yang belum tentu terjadi, jika ayah dan keluargamu datang biar aku yang menyelesaikan, jangan khawatir, aku tahu apa yang harus aku perbuat."

Gayatri memeluk erat suaminya. "Aku percaya dan yakin, kamu tidak akan melukai keluargaku, tetapi aku tidak yakin apakah ayah dan kakak mau untuk tidak melukai kamu Oh aku takut, Geni."

Geni tidak menjawab. Ia balas memeluk serta mengelus perut isterinya. Gayatri merasakan jari dan tapak tangan yang hangat penuh cinta dan sayang, ia berbisik, "Suamiku, kamu tahu betapa aku menyintaimu Jangan tinggalkan aku, bawalah aku bersamamu, jika kamu mati bawalah aku, aku mengikutimu ke mana kamu pergi, itu adalah kewajibanku namun lebih dari itu adalah karena aku menyintaimu"

"Aku juga sangat menyintaimu, Gayatri. Aku hampir tak punya keinginan lain kecuali hidup bersamamu. Tahukah kau bahwa saat-saat seperti ini, aku ingin memeluk dan bercinta denganmu tanpa pernah berhenti. Tetapi sekarang ini kamu sedang hamil, jadi aku harus membatasi diri."

"Geni jangan berhenti menyintaiku, karena pada saat kau berhenti menyintaiku pada saat itulah aku mati" Gayatri menangis dalam pelukan suaminya. Keduanya kembali ke rumah.

Dua hari bermalam di desa Bangsal, rombongan Yudistira sudah mengumpulkan keterangan lengkap mengenai pertarungan para pendekar itu. Di pihak negeri Jawa ada seorang wanita asing, cantik berasal dari India. Ia bisa bertarung karena ia adalah isteri dari pendekar utama negeri ini, Wisang Geni. Nama wanita itu Gayatri dan ilmunya sangat tinggi. Selama tarung Gayatri tidak terkalahkan oleh para pendekar Cina. Tetapi ilmu silat yang dimiliki Wisang Geni, yang belakangan dijuluki Pendekar Tanah Jawa dari Lemah Tulis, sangat luar biasa. Pada akhir pertarungan Wisang Geni seorang diri mengalahkan dua jago utama kubu Cina, Ciu Tan dan Mok Tang. Dan ilmu silat yang digunakan sangat luar biasa dan aneh. Cerita tentang kehebatan Wisang Geni berkembang dari mulut ke mulut ditambah bumbu penyedap apalagi julukannya sebagai Pendekar Nomor Satu Tanah Jawa.

Berita itu bagai halilintar di siang bolong, sangat mengejutkan sehingga reaksi pun bermacam-macam. Yudistira diam, tidak mau memberi keterangan sepotong pun mengenai putrinya. Wasudeva yang marah sempat berkata kasar kepada Yudistira, "Lihat putrimu, ia berani melangkahi adat istiadat Himalaya dan kawin diam-diam dengan orang luar. Dia harus dihukum berat Khusus buat lelaki yang bernama Wisang Geni itu, dia harus dibunuh."

Yudistira menggebrak meja sehingga hancur lebur. "Wasudeva, jangan sekali-kali berani menista dan menjelekkan keluargaku, urusan putriku adalah urusanku. Jika kamu masih mau menjadi menantuku, silahkan. Jika kamu tidak mau, aku juga tak peduli. Sekarang kamu pergi dari hadapanku." Itulah pertama kali dia berkata kasar dan tegas kepada Wasudeva.

Satyawati menangis semalaman. Keesokan hari, wajah cantiknya tampak sayu, matanya sembab. "Airmataku sudah habis. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membelanya, oh Gayatri mengapa kaulakukan kesalahan besar itu, kamu tak mungkin lolos dari hukuman ayahmu" Perkataan Satyawati didengar putra dan menantu. Yudistira mendengar namun tetap diam

Sekonyong-konyong Susmita menyela dengan lirih, "Maafkan aku ibu, seandainya aku pada posisi Gayatri, aku akan melakukan hal yang sama asalkan lelaki itu cocok dengan kata hatiku"

Arjun terkejut mendengar ucapan isterinya. "Susmita, kamu bicara sembarangan."

Susmita merangkap dua tangannya. "Maaf ayah dan ibu, maaf suamiku, jangan menganggap aku bicara begini karena sayangku pada Gayatri atau lantaran hubunganku sangat dekat dengan adik ipar itu. Tidak. Bukan sebab itu. Tetapi cobalah ayah, ibu, suamiku dan iparku, cobalah berpikir sederhana."

Ia mengumpulkan segenap keberanian, kemudian melanjutkan, "Gayatri, seorang gadis berilmu tinggi dan sangat cerdas. Aku tahu persis bahwa aku tergolong cerdas, tetapi Gayatri lebih cerdas, banyak akal dan sangat waspada, ia bahkan bisa menghitung sesuatu yang orang lain belum memikirkannya. Aku yakin, Gayatri punya alasan kuat, aku hanya mohon pada ayah, ibu dan kalian semua, dengarkan alasannya lebih dahulu, baru memutuskan apa kesalahannya."

Semua terdiam Yudistira memecah kesunyian, "Dengarkan, besok kita ke Lemah Tulis, kita berkunjung dengan baik-baik, karena menurut kabar, Lemah Tulis perguruan besar, banyak murid dan unggul ilmu silatnya. Lagipula kita datang ke tanah Jawa tidak untuk mencari permusuhan."

Wasudeva masuk ruangan. Ia heran melihat seluruh keluarga kumpul bersama. Ia memberi hormat kepada Yudistira. "Maaf ayah mertua. Aku sudah pikir matang. Pertama, aku akan tarung dan membunuh Wisang Geni. Setelah itu aku menikahi Gayatri. Ini keputusanku, aku mohon restumu, ayah mertua." Ia berlutut di hadapan Yudistira.

"Aku merestuimu, Wasudeva," kata Yudistira.

Semua terkejut, heran akan keputusan Wasudeva. Mereka tidak tahu niat dalam hati lelaki itu "Gayatri telah menghina aku, tetapi demi kepentingan ayah yang menginginkan jurus silat andalan Yudistira, aku rela berkorban. Tetapi aku akan ciptakan neraka untuknya, memperlakukan dia seperti binatang, meniduri ia tiap malam dan memukulinya setiap siang."

Malam harinya di bilik tidur, Satyawati berkata dengan isak tangis, "Suamiku, apa yang kaupikirkan tentang Gayatri? Dan kenapa kamu memberi restu kepada Wasudeva?"

Yudistira berkata lirih, "Istriku, biarkan persoalan ini berjalan seperti bola salju. Saat bola berhenti menggelinding, akan terungkap kejadian sebenarnya, saat itulah aku akan tetapkan keputusan yang paling bijaksana. Sekarang ini aku mau tidur."

Malam itu di bilik tidur, Wisang Geni membangunkan tiga isterinya. "Besok pagi aku akan pergi ke gunung Bromo, kalau kuhitung hitung mungkin aku akan kembali setelah enam hari."

Tiga perempuan itu heran. Geni menjelaskan, kemarin ia teringat pesan Dewi Obat beberapa waktu lalu ketika ia mengantar Wulan yang sedang hamil. Namun pesan itu kemudian menjadi tidak penting dan dilupakan, karena Wulan mati, begitu juga anak yang dikandungnya.

"Supaya kandunganmu kuat dan tidak mudah keguguran, juga memberi si bayi daya tahan tubuh yang kuat, carilah bunga talasari yang hanya terdapat di Lembah Bunga di kaki gunung Bromo. Bunga itu tidak terdapat di tempat lain," tutur Dewi Obat waktu itu. Gayatri memaksa suaminya mengajak mereka bertiga. Tetapi Wisang Geni tetap pada pendiriannya. "Dewi Obat berpesan obat itu hanya bisa dipakai jika kandungan belum mencapai tiga bulan, aku khawatir masa tiga bulan segera tiba. Karenanya aku perlu cepat. Perjalanan akan sulit dan berat sebab aku belum tahu letak Lembah Bunga dan bagaimana bentuk bunga talasari. Kalian bertiga tinggal di rumah. Sebab jika aku sendiri, aku bisa bergerak cepat Dalam waktu enam hari aku sudah kembali. Aku harus pergi karena obat ini sangat perlu untuk kalian berdua dan bayinya."

Keesokan hari setelah berpesan kepada Gajah Lengar dan Gajah Nila, ia berangkat. Ia melecut kuda jantan hitam yang tangguh itu ke arah tenggara menuju gunung Bromo. Geni tak pernah menduga bahwa pada saat yang sama, jauh sana di desa Bangsal, rombongan Yudistira bersiap-siap melakukan perjalanan menuju Lemah Tulis. Jikalau saja Geni tahu, mungkin dia tak akan berani beresiko meninggalkan Gayatri di rumah.

Rombongan Yudistira tiba di Lemah Tulis. Susmita dan Arjun mengaku sebagai saudara Gayatri ingin jumpa dengan Wisang Geni dan Gayatri. Melihat tamu datang dan bicara dengan sopan, para murid menerima dengan baik.

Prastawana, Dyah Mekar dan murid utama lainnya sama sepakat, para tamu benar-benar keluarga dari Gayatri. Apalagi melihat wajah Satyawati yang mengaku sebagai ibu, seperti pinang dibelah dua dengan Gayatri.

Itu sebab mereka tidak ragu memberitahu bahwa Geni dan isterinya sudah satu bulan lebih pindah ke hutan di lereng gunung Welirang. "Maaf, kami tidak bisa mengantar, karena kami masih punya kesibukan, aku yakin penunjuk jalan itu bisa membawa anda semuanya ke gunung Welirang," tutur Prastawana.

Tanpa istirahat lagi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju gunung Welirang. Pada saat yang sama, Wisang Geni tiba di desa kecil di batas hutan di kaki gunung Bromo. Desa kecil itu hanya dihuni beberapa keluarga. Hari masih siang, Geni bertanya kepada seorang penduduk, di mana Lembah Bunga Orang itu menunjuk ke arah hutan. "Lewat hutan itu. Tetapi lebih baik batalkan saja niat sampean, tempat itu sangat angker dan jarang didatangi manusia karena banyak dedemit."

Geni menitip kuda hitamnya di rumah penduduk yang memiliki kandang kuda. Kemudian dengan ilmu ringan tubuh, ia menerobos hutan lebat. Saking lebarnya hutan, hanya sebagian kecil sinar matahari yang bisa menerangi. Tidak sulit untuk menetapkan arah, Geni memilih jalan yang menanjak.

Beberapa saat kemudian ia sampai di suatu tempat yang luas. Sebatas mata memandang tampak hamparan ilalang setinggi tubuh manusia membentang di depan matanya Geni dengan ilmu ringan tubuhnya berjalan di atas pucuk ilalang.

Tetapi ia temukan keanehan. Tadinya ia yakin menuju ke depan, ke arah Selatan. Tetapi herannya ia bahkan tak pernah bisa sampai di tepian padang ilalang yang luas itu. Ia

berputar-putar di padang itu. Matahari sudah hampir tenggelam tetapi Geni belum juga bisa lolos dari padang ilalang. Mendadak saja sesosok bayangan berkelebat jauh di depan. Bayangan itu berhenti dan menggapai memanggilnya Geni mengejar. Begitu mendekat, ia terkejut, mengenal perempuan itu adalah Manohara, murid paling buncit dari Kalandara, si ketua Lembah Bunga "Mengapa si Manohara berada di sini?"

Pertanyaan itu tak sampai tercetus karena Geni teringat bahwa Kalandara dijuluki Dewi Lembah Bunga, artinya dia memang tinggal dan menetap di lembah ini. "Selamat jumpa Manohara, kebetulan kamu datang, mungkin kamu bisa membantu aku keluar dari padang ilalang ini."

Manohara berdiri agak jauh Tampaknya ia tidak merasa takut. "Wah, hebat sekali, Wisang Geni Pendekar Nomor Satu Tanah Jawa datang secara diam-diam ke Lembah Bunga, ia kesasar dan minta tolong padaku. Hei Geni, kamu tentu masih ingat, dulu kamu mempermalukan aku di depan orang banyak, meremas bokongku merobek celanaku sehingga sepanjang jalan aku terpaksa menutupi bokongku agar tidak terlihat orang. Kamu kurang ajar. Kenapa kamu lakukan itu?"

Wisang Geni menjawab sekenanya, "Aku gemas, melihat bokongmu yang semok?

Wajah Manohara memerah, malu, tetapi dalam hatinya ada rasa senang. "Kalau memang gemas, kamu tak perlu lakukan itu."

"Seharusnya bagaimana?"

Sekali lagi wajah pendekar cantik itu memerah "Kamu kan bisa memintanya dengan baik-baik."

Geni berpikir satu-satunya jalan, menawan Manohara, memaksa dia menjadi penunjuk jalan. Geni tersenyum "Baik, kalau begitu, sekarang aku minta ijin."

Manohara tertawa. "Kamu pura-pura merayu, mau menawan aku? Ini daerah milik perguruanku, kamu tak bisa keluar dari sini, kamu juga tak bisa menawan aku, kalau tak percaya cobalah."

Geni tidak menunggu lagi. Ia bergerak cepat, sangat cepat, melompat ke depan menjambret tangan Manohara.

Perempuan itu bergerak, namun terlambat. Geni berhasil menangkapnya Takut ia lepas, Geni memeluk erat-erat Tubuhnya terasa lunak dan menebar bau harum yang segar. Geni menekan titik jalan darah di punggung membuat perempuan itu lemas. "Sekarang tunjukkan jalan menuju Lembah Bunga."

Tubuh Manohara lemas, tak bertenaga. Tetapi lidahnya masih tajam. "Geni, kamu bodoh, daerah ini namanya Lembah Bunga, cuma sekarang ini kita berada di padang ilalang. Kamu mau ke dalam atau mau keluar?"

Geni terpaksa membopong perempuan cantik itu. "Antarkan aku ke tempat yang banyak bunganya."

"Baik, kalau itu maumu, kau tak boleh berjalan cepat, sebab harus mengikuti hitungan langkah. Tujuh langkah ke depan, kiri empat, tujuh ke depan, kanan duapuluh, tunggu dulu, aku peringatkan kamu Geni, percuma kamu menghafal hitungan langkah ini, sebab selalu berubah, jalan masuk dan jalan keluar juga berbeda, semuanya berpatokan pada posisi matahari. Dan kamu harus ingat, sekali kamu masuk, kamu tak bisa keluar jika tidak diantar. Apa yang kamu cari?"

"Kau sama sekali tidak takut, padahal sudah menjadi tawananku."

"Aku tak perlu takut, aku aman dalam pelukan lelaki perkasa yang pernah meremas bokongku. Lagipula hanya aku yang bisa menjadi penunjuk jalanmu Hei, kamu belum menjawab, apa yang kau cari di Lembah Bunga ini?"

"Ya, kamu antarkan aku mendapatkan bunga talasari." "Setahuku talasari itu bagus untuk perempuan hamil,

apakah dua isterimu hamil sampai kamu jauh-jauh datang

kemari untuk bunga obat itu. Geni, lepaskan totokanmu biar aku bisa bergerak."

Manohara berusaha berontak dari pelukan Geni. Tetapi usahanya sia-sia, tubuhnya lemas tak bertenaga.

Saat itu, mereka sudah keluar dari padang ilalang, tiba di daerah luas yang terdiri dari pepohonan kamboja. Geni memencet jalan darah di punggung Manohara, perempuan itu bisa berdiri. Geni menatap wajah gadis cantik itu. "Bagaimana kau tahu, aku sudah kawin dan punya dua isteri?"

"Aku menyaksikan pertarungan di desa Bangsal, kamu hebat, perkasa dan tampan. Gayatri dan Sekar, keduanya cantik dan ilmu silatnya tinggi. Kamu memang penakluk perempuan, aku pikir semua wanita yang mengenalmu pasti jatuh cinta padamu"

Gadis itu mengeluarkan sekuntum bunga dan mengunyahnya.

"Termasuk kau?" Geni memerhatikan mulut indah yang sedang mengunyah bunga itu.

"Ya termasuk aku. Sejak kau meremas bokongku, aku sudah jatuh cinta padamu Kebetulan sekarang ini kamu datang ke rumahku, dan kebetulan guru serta dua kakakku sedang turun gunung. Semuanya serba kebetulan. Sekarang ini kau menjadi milikku."

Berkata demikian, Manohara yang berdiri di dekatnya, bergerak cepat, merangkul leher Geni dan mencium lelaki itu. Geni terkesiap tetapi hanya sesaat, ia kemudian menikmati bibir basah dan lembut itu Keduanya larut dalam nikmat ciuman.

Mendadak Geni merasa tubuhnya lemas, kepalanya agak pusing. Ia kaget. Manohara melepas ciuman, berontak dari pelukan. Geni limbung dan jatuh terkapar di tanah. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut sakit. "Racun apa ini?"

Manohara tersenyum puas melihat Wisang Geni terkulai lemas. "Aku tahu, kamu memiliki tenaga dalam yang tinggi, kamu bisa mengusir pengaruh bunga ini, jika orang lain bisa lemas sepanjang hari, tetapi kamu pasti bisa pulih jauh lebih cepat. Aku beri kamu racun tambahan, tak usah takut, racun ini hanya membuat kamu tidak bisa mengerahkan tenaga dalam saja, kamu tidak akan mati."

Gadis itu mengambil tiga kuntum bungayang ia simpan di belahan dadanya. Ia mengunyah bunga itu, membuka paksa mulut Geni. Ia membungkuk dan mencium mulut Geni. Ia menekan hidung Geni sehingga ampas dan cairan bunga itu tertelan oleh Geni. Baunya harum, rasanya manis. Manohara tersenyum "Geni, apakah pernah terpikirkan olehmu, suatu waktu nyawamu berada di tanganku, sekarang ini kalau aku mau, aku bisa membunuhmu"

Geni berkata lirih, "Lakukan saja, kenapa harus banyak omong."

"Kamu pernah mengancamku, akan melucuti pakaianku di depan umum, mempermalukan aku. Itu kan sudah kelewatan, mengapa kamu membenciku sedemikian rupa?"

"Aku tidak membencimu, aku hanya menakut-nakuti kamu, supaya kamu jangan lagi membunuh murid Lemah Tulis yang tidak berdosa. Aku tidak punya permusuhan denganmu, lantas kenapa harus membencimu?"

"Kamu tidak membenciku? Benarkah?"

Wisang Geni menatap gadis cantik itu, menggeleng kepala. 'Tidak, aku tidak membencimu Ayo Manohara, bunuhlah aku, jika memang itu maumu, mumpung aku lagi tak berdaya."

"Aku tak pernah berpikir akan membunuhmu Apakah kau tuh, tadi aku sudah mengaku menyintaimu, bagaimana mungkin aku tega membunuhmu "

"Jika demikian bebaskan aku."

Manohara menggeleng kepalanya. "Tidak bisa, jika kubebaskan kamu akan pergi, kabur."

"Tadi katamu, sekali masuk orang tidak bisa keluar dari lembah ini jika tidak diantar, bagaimana aku bisa kabur? Lagipula aku masih membutuhkan bunga talasari."

Manohara diam sejenak. Tampak ia berpikir. Sesaat wajahnya memerah. Ia membungkuk hendak membopong tubuh Geni, membawanya ke tempat tersembunyi. Tetapi mendadak saja, tangan Geni merangkulnya. Ia terjerembab di atas tubuh Geni yang lalu menjambak rambutnya sehingga wajah Manohara tengadah. Geni mencium mulurnya. Gadis cantik itu terperanjat. Namun ia tak perlu berpikir lagi. Ia balas memeluk erat tubuh Geni Keduanya larut dalam birahi, bercinta di bawah pohon kamboja.

Manohara terengah-engah, ia menutupi tubuhnya yang telanjang. "Kamu memang lihai, bisa begitu cepat mengusir racun bunga cinta," Ia menatap Geni dengan penuh cinta dan birahi. Geni bertanya saking herannya mendapatkan wanita itu masih perawan. "Aku memang masih perawan, kenapa heran?"

Geni menjawab penuh penyesalan, "Aku salah sangka, aku pikir kamu wanita sembarangan, penggoda lelaki dan mau saja ditiduri laki-laki, maafkan aku, Manohara."

"Aku mau kau tiduri karena aku menyukaimu Sekarang apa lagi maumu?" Manohara bangkit, lari sambil memegang bajunya. Ia setengah bugil.

Geni mengejar, "Kamu jangan lari!"

Manohara lari dan berhenti di sebuah batu besar. Di balik batu itu, ada sebuah goa kecil, bagian dalamnya bersih, di pojokan ada bale untuk tidur. Manohara berbaring di bale. "Goa ini tempat aku bermain-main waktu masih kecil."

Keduanya bergelut lagi dengan bernafsu. Manohara menceritakan asal-usulnya. Ia ditemukan gurunya sejak bayi dididik, disayang seperti anak sendiri. Untuk Manohara, gurunya memelihara sapi. "Sejak bayi aku minum susu, waktu dewasa seminggu sekali aku mandi susu dicampur bunga warna-warni."

Baru sekarang Geni mengerti mengapa Manohara masih perawan dan bau keringatnya harum macam bunga.

Malamnya Geni menggeluti si gadis. Esok harinya, mereka mencari bunga talasari. Ternyata tak mudah, baru senja hari mereka temukan. Bunga talasari besarnya setengah tapak tangan, bersusun aneka warna. Sangat indah. Geni memilih sepuluh kuntum yang segar. Ia menghunus pisau, mengeluarkan tabung bambu kecil. Ia melumat sepuluh kuntum berbarengan menoreh tangannya. Darahnya menetes di atas bubuk bunga, ia menghitung sampai sebelas tetes. Aneh, darah dan bunga menggumpal menjadi satu Geni cepat memasukkan ke dalam tabung sebelum gumpalan mengeras. Selesai sudah.

Menurut Dewi Obat, gumpalan itu akan menjadi keras. Nantinya dikunyah dan ditelan Sekar dan Gayatri selama sepuluh hari. Anehnya, jika darah yang menjadi campuran itu bukan darah ayah kandung si bayi, maka obat itu tak akan bermanfaat.

Geni menatap Manohara, mengucap terimakasih. Gadis itu diam. Geni berkata ia harus pergi secepatnya sebelum waktu tiga bulan itu terlewati. "Kalau terlambat, obat ini tak bermanfaat."

Manohara memegang ujung bajunya sendiri. Ia menatap Geni. "Kamu mau pergi begitu saja? Tidak lama lagi matahari terbenam, kalau tak ada matahari aku tak punya pedoman untuk jalan keluar, tetapi apakah kau tak ingin nginap semalam lagi, berdua bersamaku Geni?" Suaranya memelas.

Geni diam, ia menghitung hari. Ia berjanji kepada Gayatri, enam hari. Sekarang baru hari keempat, jika esok pagi pulang, bisa tiba tepat di hari keenam Masih ada waktu. Geni memutuskan nginap lagi semalam di goa kecil itu.

Semalaman keduanya bercinta dan bergurau. Namun Geni tak pernah menyangka, pada malam hari saat ia menggumuli tubuh molek Manohara, pada saat yang sama di rumahnya di kaki gunung Welirang, Gayatri sedang menangis dalam dekapan sang ibu Gayatri menumpahkan segala kerinduan dan ketakutan, ia menelungkup di pangkuan ibunya. Satyawati ikut menangis. Saat-saat mengerikan yang ditakuti Gayatri, sudah tiba. ---oo0dw0ooo---