Wisang Geni Bab 18 : Pertarungan Argowayang

Bab 18 : Pertarungan Argowayang

Setelah berpisah dengan Gayatri, Wisang Geni melanjutkan perjalanan ke Lemah Tulis. Dia ingat janjinya mengajak Prawesti ke gunung Argowayang. Bulan Cakra masih menyisakan enam hari, dia melakukan perjalanan cepat ke Lemah Tulis. Dari Lemah Tulis ke gunung Argowayang bisa dicapai tiga atau empat hari. Senja itu ia tiba di Lemah Tulis. Dia tampak letih. Tanpa istirahat lebih dahulu diamenemui Padeksa dan Gajah Watu. Tetapi dia tidak menceritakan pertemuannya dengan Eyang Sepuh.

Gajah Watu menceritakan bahwa tadi pagi rombongan Prastawana beserta lima murid berangkat ke Argowayang. "Mereka takut terlambat, juga mengira kamu langsung ke Argowayang. Baiknya kamu istirahat dulu, besok pagi baru berangkat," kata Gajah Watu.

Dia cepat menuju rumahnya. Dia tidak menemukan Prawesti. Rasa letih dan kantuk membawa Geni cepat pulas. Malam hari, Geni terbangun. Ada orang yang mengguncang tubuhnya. Ternyata Prawesti. "Ketua bangun, makanan sudah siap, makan dulu."

"Kamu tidak ikut rombongan ke Argowayang?"

Prawesti menggeleng kepala. "Tidak. Aku menunggu ketua."

"Siapa saja yang menyertai Prastawana?" "Selain paman Prastawana dan Dyah Mekar, ada Gajah Lengar, Daraka, Kebo Lanang dan juga paman Jayasatru Ketua kapan kita berangkat?"

"Besok pagi, tetapi aku pergi sendiri, kau tunggu aku di rumah."

Prawesti menggeleng kepalanya. "Aku ikut, kamu sudah berjanji mengajak aku."

Geni memeluk gadis itu dan mencium rambutnya "Aku hanya guyon, besok kita pergii berdua. Tetapi di sana, kamu harus hati-hati, ada kemungkinan kita ketemu musuh, pasti terjadi pertarungan." Geni meraih tubuh Prawesti. Memeluk dan mencumbu.

Prawesti tak kalah bernafsunya. "Ketua, aku rindu, padamu."

Malam itu dilalui dua insan dengan permainan cinta.

Ketika Prawesti pulas di sampingnya, Geni menatap si gadis yang tidur lelap. Malam gelap, tetapi dia bisa mengamati jelas tubuh Prawesti yang bugil. Tanpa sadar ia membuat perbandingan di antara tiga kekasihnya. Ketiganya cantik dan memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Gayatri sangat cantik, kecantikan seorang wanita asing yang berbeda dengan kecantikan perempuan Jawa, potongan tubuhnya indah.

Prawesti kalah segala-galanya, kecantikan wajah dan tubuh, termasuk hubungan seks, Gayatri lebih merangsang.

Dibanding Sekar? Sekar menang segala-galanya.

Perempuan yang satu ini sangat luar biasa. Ia cantik dengan potongan tubuh sangat molek. Ia langsing, pinggang, bokong dan buah dada yang sangat padu dan imbang. Perpaduan antara kecantikan wajah dan kemolekan tubuh menampilkan perwujudan Sekar bagai seorang dewi dalam dongeng. Ia hangat dalam pendekatan, panas dalam hubungan seks, lebih dari itu ia selalu mengutamakan kepentingan Geni di atas kenikmatan dirinya. Geni tahu persis ia sangat mencintai Sekar. Dia teringat, ketika nyawanya berada di ujung tanduk, Sekar berani melawan Kalayawana tanpa menghiraukan keselamatan jiwanya. Saat itu Sekar rela berkorban jiwa untuknya. Mendadak Geni merindukan Sekar, tubuhnya, ketawanya dan cintanya yang begitu hangat dan panas. "Di mana kamu Sekar, apakah kamu masih seperti Sekar yang dulu, yang mencintai aku, yang membuat aku tergila-gila padamu?"

Keesokan paginya Geni dan Prawesti berangkat ke Argowayang. Kegiatan di Lemah Tulis berjalan seperti biasa, dipimpin Padeksa dan Gajah Watu serta murid lapis atas. Di tengah jalan Geni sering melamun, membayangkan wajah Gayatri juga Sekar. "Aku sudah rindu pada Sekar dan aku sudah berjanji mengawini Gayatri, tetapi aku harus temukan cara mendamaikan dua perempuan itu, keduanya sudah tarung meski pun belum saling kenal, celakanya lagi aku tak bisa meninggalkan salah seorang dari keduanya," gumamnya.

---oo0dw0ooo---

Gayatri bersama dua pembantunya tiba di desa Limo tiga hari sebelum akhir bulan Cakra. Suasana desa sangat sepi, sebagian penduduk sudah meninggalkan rumah, mengungsi. Sebagian lain sedang bersiap siap akan meninggalkan desa. Gayatri heran.

Seorang penduduk, perempuan tengah baya menuturkan penduduk lakui karena widali sakti sudah menelan banyak korban. Sudah empat kali terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, setiap akhir bulan Caitra, semua penduduk desa Limo mengungsi menjauh dari malapetaka. Sebelum itu banyak penduduk menjadi korban. Tidak terhitung lagi jumlahnya termasuk juga para pendekar pendatang.

Cerita mengenai para pendekar yang memburu widali, memang benar. Hari-hari mendatang, puncaknya di malam menjelang pergantian bulan Caitra ke bulan Waisaka, banyak pendekar akan hadir. Niat mereka membunuh widali tak pernah surut meski tahu sudah banyak korban berjatuhan.

Bahkan sebagian orang percaya widali itu mustahil bisa dibunuh. "Widali itu sakti, ia muncul tiba-tiba dan menghilang cepat setelah membunuh korban. Sebaiknya kalian pergi," kata perempuan tua itu kepada Gayatri bertiga.

Tetapi tiga perempuan itu memutuskan tetap di desa, ingin nonton keramaian. Meskipun heran kenekatan tamunya, perempuan itu dengan sukarela meminjamkan rumahnya pada Gayatri. Ia bersama tujuh anggota keluarga, anak dan cucunya, berangkat dengan pedati yang ditarik lembu.

Widali itu peranakan musang jantan liar dengan kucing betina berbulu lima warna. Perkawinan yang tidak lazim itu melahirkan widali yang konon darahnya berkhasiat membangkitkan tenaga dalam membuat seseorang menjadi sakti mandraguna. Cerita ini berasal dari pendekar peramal Ki Panarupan tigapuluh tahun lalu. Cerita kemudian berkembang, konon dia sering bertualang mencari korban di tempat lain.

Khusus di Argowayang, ia muncul tiga tahun sekali dan tepat di ujung bulan Caitra, seakan ia menantang seluruh pendekar tanah Jawa. Ia muncul mendadak, menggigit leher dan menghirup darah korban dengan satu isapan kuat dalam sekejap mata. Kecepatan geraknya luar biasa. Ia selalu muncul menjelang tengah malam dan menghilang sebelum fajar. Dia muncul hanya untuk membunuh atau dibunuh, setelah itu jika masih hidup dia akan menghilang dan bertualang ke tempat lain. Ia akan muncul lagi tiga tahun berikut.

Rumah yang ditempati Gayatri berada di tempat tinggi, menghadap ke jalan setapak di lereng gunung. Dari rumah itu Gayatri bisa mengawasi para pendatang. Selama dua hari ia bersama dua pengawalnya berlatih tenaga dalam. Mereka merencanakan siasat menghadapi para pendekar. "Kita jangan menggunakan jurus andalan Himalaya, kecuali jika sudah terpaksa. Aku mau sekali digunakan di depan umum, jurus itu bisa mengalahkan Wisang Geni.”

Urmila dan Shamita mengangguk. Jurus itu memang mematikan, Atehai Zaminepar Kabehiyeh Chande Sitare (Kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi) jika digelar biasanya memakan korban. Jurus ini bisa dimainkan seorang diri, bisa oleh dua orang. Bahkan jika tiga orang bekerjasama maka kehebatan jurus ini diumpamakan seperti kekuatan menarik bulan dan bintang turun ke bumi

Hari itu, dua hari menjelang berakhirnya bulan Caitra, matahari siang sangat terik, tetapi udara sejuk pegunungan membuat suasana sepi desa Limo semakin sepi. Rasanya orang ingin tidur. Gayatri semedi di dalam rumah, ia terbangun ketika mendengar bisikan Shamita. "Putri, ada rombongan datang, mereka kelompok Cina yang ketemu kita di pelabuhan Jedung. Jumlahnya tigabelas orang, rupanya ada tambahan dua orang lagi. Tadi hanya empat orang wanita, sekarang ada lima wanita, juga seorang lelaki jangkung yang melihat tampangnya pasti pendekar negeri ini."

Rombongan yang dipimpin Ciu Tian memang mendapat tambahan Manjangan Puguh dan Mei Hwa. Rombongan itu melewati rumah Gayatri. Melihat dua perempuan yang duduk di serambi rumah, Ciu Tian dan rombongan tidak begitu peduli. Mereka mengenali, dua perempuan itu pendekar asal Himalaya.

Sejenak mereka heran mendapatkan desa itu kosong.

Semua rumah kosong, tak ada penghuni. Manjangan Puguh menjelaskan bahwa semua penduduk sudah mengungsi. Tidak lama, mereka akhirnya menemukan sebuah rumah kosong yang cukup besar, cocok untuk tempat tinggal sementara.

Beberapa saat kemudian banyak orang berdatangan. Ada yang datang sendiri, berdua bahkan rombongan. Yang paling menyolok adalah rombongan keraton Kediri yang terdiri dari tigapuluh lima orang dipimpin Mapatih Lembu Ampai

Rombongan Lemah Tulis berjumlah enam orang. Murid perguruan Mahameru juga datang, dipimpin Bragalba adik seperguruan Macukunda, bersama empat murid angkatan pertama, Narapati, Aryaka, Matangga dan Ayu Rahayu. Dari perguruan Rrantas sepuluh orang dipimpin langsung ketuanya Warok Sampang, isteri-isterinya dan enam murid utama termasuk kepala murid Prabowo dan Santiyaki

Rombongan Tumapel datang berjumlah tujuh orang dipimpin

Panji Patipati alias pendekar Pamegat dengan enam pendekar keraton, Dwi, Trini, Catur, Panca, Sapta dan Ekadasa. Selain rombongan terkenal itu, banyak pendekar dari berbagai aliran dan bermacam tingkat kepandaian ikut berjudi dengan nasib, mendapatkan darah widali yang berkhasiat atau mati dibunuh bintang sakti itu.

Urmila dan Shamita menghitung pendatang, jumlahnya mencapai seratus orang lebih. "Luar biasa jumlah sebanyak ini, jika terjadi kekacauan dalam perburuan widali bisa dibayangkan hiruk pikuknya. Pasti ramai dan seru," tukas Urmila.

"Kamu belum melihat lelaki itu?" tanya Gayatri.

”Lelaki yang mana Putri, di sini banyak laki-laki, hampir semuanya laki-laki, aku tidak tahu yang mana yang dimaksud tuan Putri," goda Urmila.

"Urmila, kau tahu siapa yang kumaksud, dia sudah datang, belum?"

Urmila tak berani menggoda lagi. "Belum, aku belum melihatnya. Tetapi tunggu dulu, oh itu dia, dia datang bersama seorang gadis." Dari bawah lereng gunung tampak Wisang Geni berlari kencang, tangannya menggandeng Prawesti. Keduanya seperti terbang. Geni tidak melihat Urmila dan Shamita yang berada di beranda rumah di pinggir jalan. Geni memang sangat bergegas, khawatir terlambat.

Dari jendela rumah Gayatri melihat Geni. "Kurangajar, dia membawa perempuan kekasihnya."

Gayatri bergerak pesat, menerobos jendela, mengeluarkan senjata bor maut. Tanpa basa-basi ia menerjang dengan senjata mautnya. Wisang Geni terkejut. "Gayatri, tunggu dulu, tahan."

Geni senang menemukan Gayatri namun ia harus mengelak dari serangan bor maut. Saat yang sama Urmila dan Shamita menyerang Prawesti. Dua pembantu ini mengira ilmu silat Prawesti sama hebat dengan Wisang Geni. Karenanya mereka menyerang bersamaan dengan jurus paling handal. Tetapi mereka keliru, ilmu Prawesti tidak sehebat perkiraan.

Prawesti berupaya mengelak dan membalas menyerang dengan pukulan keras Garudamukha Prasidha. Tetapi menghadapi seorang Urmila saja mungkin Prawesti tidak ungkulan, apalagi ditambah keroyokan Shamita. Dalam lima jurus, Prawesti sudah kelabakan. Geni melihat Prawesti terancam. Khawatir Prawesti luka, Geni berniat menerjang dua pembantu itu. Tetapi mana mau Gayatri melepas Geni. Dia menyerang gencar.

"Hayo, keluarkan jurusmu yang paling hebat, jika tidak, nyawamu akan hilang percuma," seru Gayatri yang tampak sangat marah.

"Kamu ini galak sekali, sedikit-sedikit mengancam membunuh aku, kamu sama dengan Malini dan suaminya yang suka membunuh orang tak berdosa, di desa Gondang kamu sudah membunuh tiga orang."

"Mereka kurang ajar, kamu membela mereka?" "Aku kan tidak ingkar janji, kita sudah ketemu di Gondang, juga janjiku bertemu di sini, mengapa kamu marah begini?"

Saat itu Gayatri sedang kesal, cemburu melihat Geni menggandeng Prawesti yang cantik. Tetapi keduanya terus bercakap sambil tarung. Dalam duapuluh jurus tampak keduanya seperti berlatih, serangan memang ganas tapi saat kritis serangan ditahan. Mereka tak mau saling melukai.

"Kamu tega mempermainkan aku, Ambara, kamu jahat.

Apakah kamu lupa malam itu di desa Gondang, kamu mengatakan mencintaiku." Gayatri makin kesal melihat Geni sering melirik Prawesti. Padahal Geni hanya tak mau Prawesti celaka, ia takut dua pembantu Gayatri menurunkan tangan jahat

"Aku tidak mempermainkan kamu, aku mencintaimu, buru- buru aku mengejarmu kemari karena tak tahan menahan rindu."

Gayatri gembira, dia tersenyum, "Benarkah, kamu merindukan aku?" Keduanya terus bertempur, seperti sedang berlatih.

Hal ini tidak luput dari lirikan Urmila, Shamita dan Prawesti.

Gadis Lemah Tulis ini bergumam, "Rupanya mereka sudah saling mengenal."

Melihat majikannya aman, Urmila dan Shamita juga tidak berniat melukai Prawesti. Cukup melumpuhkan gadis itu. Pada jurus duapuluh, pukulan Urmila mengena pundak Prawesti yang jatuh duduk. Geni terkesiap, namun lega mengetahui gadis itu hanya ditotok jalan darahnya.

"Tahan dulu Gayatri, aku perlu cepat menolong anak buahku, jiwa mereka terancam."

Gayatri tertawa, menggoda. "Baik, kamu boleh pergi, tetapi perempuan itu tetap di sini, sebagai jaminan supaya kamu tidak lari lagi." Ia tertawa senang. ---ooo0dw0ooo---

Agak jauh ke dalam desa, rombongan Lemah Tulis sedang istirahat di rumah kosong salah seorang penduduk. Mereka dipimpin Prastawana.

Sekonyong-konyong terderigar suara keras dan lantang dari luar rumah. "Hai orang-orang Lemah Tulis, keluar kalian semua untuk menerima kematian." Suara itu menggema di lereng gunung sampai ke hutan di kaki gunung. Pertanda orang itu memiliki tenaga dalam yang sangat kuat

Tidak sempat berembuk enam murid Lemah Tulis keluar. Di depan rumah berdiri sekelompok orang. Seorang di antaranya, Lembu Agra. Sekilas Prastawana mencium adanya bahaya.

Padeksa dan Gajah Watu pernah berpesan agar menjauhi Lembu Agra. "Ia berbahaya, ilmunya tinggi, ganas dan keji. Jangan melayani dia. Hanya ketuamu, Wisang Geni yang bisa menandinginya."

Prastawana ingat pesan ini, dia juga tak mau mencelakakan adik-adiknya. "Kalian jangan ikut bicara, biar aku yang tangani, paman Padeksa sudah memberi wejangan padaku sebelum berangkat, jangan membantah perintahku!"

Prastawana memberi hormat. "Rupanya Lembu Agra, pendekar kesohor yang membelot dari Lemah Tulis. Ada urusan apa?"

"Aku bukan Lembu Agra, aku Jaranan ketua partai Turangga, aku akan membunuh semua murid Lemah Tulis, tanpa kecuali."

"Lembu Agra, kamu pernah menjadi murid paman Bergawa, sedang aku murid bapak Branjangan, kita sesungguhnya pernah saudara seperguruan. Tetapi kamu sudah membunuh saudara kita, Walang Wulan, artinya kamu bukan murid Lemah Tulis lagi, kita tak punya urusan.  Sekarang apa urusannya kamu mencari murid Lemah Tulis, kebetulan kami memang sedang mencari kamu. Tetapi kami masih menunggu ketua Wisang Geni yang sedang dalam perjalanan kemari. Sebaiknya kamu pergi, mumpung masih punya waktu untuk lari!"

Lembu Agra tertawa keras. "Kau banyak bacot, Prastawana, maut sudah di ujung hidung masih buka mulut besar. Terimalah ajalmu," tegasnya sambil melancarkan dua pukulan jurus Pitu Sopakara.

Pukulan itu membawa angin keras dan bau bacin.

Prastawana tak berani menangkis, ia menghindar. Tanpa ragu sedikit pun Prastawana memainkan jurus Prasidha. Meski pernah berguru di Lemah Tulis tetapi Lembu Agra belum sempat mempelajari Prasidha. Karenanya untuk sementara pertarungan imbang.

Setelah memperoleh bimbingan langsung dari Wisang Geni dan berlatih di air terjun, Prastawana sudah hampir sempurna menguasai Prasidha. Dia mengelak dengan cekatan, jika terpaksa dia mengalihkan tenaga serangan lawan ke tempat lain. Duapuluh jurus berlalu. Agra tertawa, "Hanya ini kehebatan Prasidha, kini terimalah Pitu Sopakara tingkat tujuh."

Terdengar bunyi otot di sekujur tubuh Agra, wajah lelaki ini berubah merah berganti hijau. Pada saat itu sekonyong- konyong terdengar suara tertawa keras Wisang Geni. Tertawa itu menggema di seluruh gunung. Semua pendekar yang masih istirahat di dalam rumah, keluar saking terkejut. Mereka menuju ke pusat keramaian.

Belum habis pantulan gema suara, tampak Wisang Geni berlari dengan kecepatan luar biasa. Kecepatan larinya membawa serta angin keras, debu dan daun-daun kering. Sesaat kemudian Gayatri datang, bersama dua pembantunya. Urmila menggandeng Prawesti. Begitu tiba di tempat tarung, Geni mendorong Prastawana. Ia menatap Lembu Agra. "Hutang nyawa bayar nyawa. Kamu membunuh isteriku, sekarang aku menagihnya. Aku akan membunuhmu, sudah banyak dosamu terhadap Lemah Tulis."

Rombongan Lemah Tulis gembira. "Ketua datang." Saat berikut Jayasatru berteriak, "Hei itu Prawesti."

Geni menoleh ke Gayatri. "Gayatri tolong bebaskan gadis itu."

Seperti kena sihir Gayatri mengikuti perintah Geni. Dalam bahasa India dia memerintah Urmila mengantar Prawesti ke rombongan Lemah Tulis. Gayatri masih diliputi teka-teki diri Wisang Geni. "Siapa Ambara ini, dari perguruan mana dia, tenaga yang dipamerkan lewat tertawa tadi sangat tinggi.

Orang dengan tenaga seperti dia hanya ayah dan kakek yang bisa mengimbangi," katanya dalam hati.

Terdengar suara Lembu Agra. "Sudah tiba saatnya kamu mati, Wisang Geni!"

Saking terkejutnya Gayatri berdiri terkesima mendengar Lembu Agra menyebut nama lelaki itu, Wisang Geni. "Mengapa Ambara dipanggil Wisang Geni? Apakah dia benar- benar Wisang Geni, orang yang kucari-cari selama ini?" gumamnya dalam hati.

Lembu Agra melanjutkan dengan suara yang cukup keras, ada warna jumawa dalam suaranya. "Wisang Geni, sudah suratan dewa kita harus tarung mati atau hidup, kamu juga punya dosa padaku. Tidak ada tempat di bumi ini bagi kamu Bersiaplah ke neraka menemui isteri pelacurmu itu."

Wisang Geni tertawa sinis. "Jangan marah, tenang saja," katanya dalam hati "Semakin tenang, semakin kamu bisa menguasai angin, menunggang angin dan menjadi angin."

Sekonyong-konyong Gayatri menyela di antara dua pendekar itu. Dia mendekat, berhadap-hadapan, menantang mata Geni. "Kamu ini Wisang Geni? Mengapa kamu membohongi aku? Mengapa kamu tidak mengaku dirimu sebenarnya Wisang Geni."

Meskipun kata-kata Gayatri diucapkan perlahan, namun telinga Lembu Agra yang peka mendengarnya. "Betul nona, Wisang Geni ini pembohong, sudah banyak gadis yang dia nodai, dulu calon istriku pun dia rebut dan bawa kabur, dia memang pantas mati"

Gayatri menoleh. Dia kesal dan marah mendengar Wisang Geni punya banyak perempuan. Bahkan dia sudah melihat buktinya, ketika Geni menggandeng Prawesti. "Siapa kamu berani campuri urusanku, belum tentu moralmu lebih baik dari moralnya?"

Lembu Agra jengkel, tangannya mengibas. "Persetan perempuan asing." Maksudnya membuat Gayatri terpental. Tetapi dia kecele. Gayatri membalas dengan tamparan selendang. Agra terkejut, gesit ia menghindar. Ia lolos tetapi dipaksa mundur satu langkah.

Geni memegang lengan Gayatri, berbisik dengan nada halus dan rendah. "Gayatri, maafkan aku, jika aku mengatakan terus terang siapa aku, kamu pasti akan memusuhi aku, dan itu aku tidak mau. Karena aku mencintaimu sejak pertama memandangmu. Dan setelah malam itu kamu sudah menjadi isteriku, aku makin mencintaimu. Sekarang kamu mundur dulu, aku mau tarung. Urusan itu nanti aku minta maaf padamu."

Gayatri menatap mata Geni. Dari sinar matanya memancar rasa khawatir dan ragu. "Urusanmu dengan aku akan kita bereskan nanti, tetapi sekarang ini apakah kau memerlukan bantuanku?"

Lelaki itu menggeleng. "Aku bisa hadapi orang ini, kamu hati-hati dan waspada, di sekitarmu banyak orang licik dan jahat" Sambil menghentakkan kakinya Gayatri berkata kesal. "Kamu lebih jahat dan lebih licik!" Ia menepi, berdiri bersama dua pembantunya.

Lembu Agra berseru keras, "Wisang Geni, nyawa sudah di ujung hidung, masih juga mesra-mesraan, hari ini kuantar kamu ke neraka menemui isterimu."

Geni mengangkat tangannya. "Tunggu dulu Jaranan, aku ketua Lemah Tulis, kamu ketua Turangga, kita tarung sampai mati. Tak boleh ada yang lari, semua orang menjadi saksi, sampean berani?"

"Aku memang mencari kesempatan seperti hari ini, bagus, tidak boleh ada yang lari. Terimalah kematianmu, anak sundal."

Agra mengerahkan tenaga Pitu Sopakara tingkat tujuh, suara otot dan tulangnya terdengar gemeretak, wajahnya merah berganti hijau. Dia menyerang dengan pukulan kiri, disusul cengkeraman tangan kanan. Hebatnya justru cengkeraman kanan yang sampai duluan ke sasaran. Pukulan itu membawa bau anyir dan bacin.

Tadi sebelum Agra menyerang, Geni sudah membebaskan diri dari semua ikatan, tubuhnya jadi ringan, serasa terbang di atas angin. Pikirannya bebas, tak ada rasa marah, tak ada rasa takut. Ia merasa merdeka. Ia tidak perlu menggunakan jurus untuk menghindari serangan lawan. Dia hanya mengelak begitu saja sehingga pukulan Agra menerpa ruang kosong.

Geni menandingi serbuan ganas Lembu Agra. Geni bergerak seperti angin yang merdeka, bergerak berganti-ganti arah. "Lupakan bumi, tengadah memandang langit, rasakan angin, bebaskan diri bagaikan awan. Pusatkan pikiran, tenaga dan hasrat. Pikiran harus kuat, sinambungan, tak boleh putus."

Prastawana, Prawesti dan murid Lemah Tulis lainnya bingung melihat cara Wisang Geni bersilat. Geni tidak bersilat dengan Garudamukha atau Prasidha atau Bang Bang Alum Alum, jurus yang dikenal sebagai jurus andalan sang ketua.

Prastawana tanpa sadar berkata lirih, "Ketua memainkan jurus aneh, jurus apa itu? Itu mirip jurus Kacakrawartyan dari Prasidha, tapi mengapa gerakannya terbalik, itu mirip Agniwisa tetapi mengapa bergerak mundur, ah aku tak mengerti"

Memang Geni tidak lagi bersilat dengan jurus yang dikenal.

Dia memainkan silat yang aneh. "Jurus apa ini," gumam Lembu Agra.

Tak seorang pun mengerti silat yang dimainkan Geni.

Gerakannya indah, gemulai seperti tidak bertenaga. Namun ketika menangkis, tangkisannya membuat pukulan Agra terpental. Geni seperti bergerak lamban, tetapi tangkisannya tepat waktu padahal serangan Agra sudah mendahului.

Suatu saat kepala Geni nyaris dikemplang. Pukulan hanya terpaut satu jengkal. Tetapi dengan menggeleng kepalanya Geni bisa menghindar.

Gayatri terpesona melihat silat Geni. Ia melihat betapa kaki Geni tidak lagi berpijak di bumi. Lelaki itu seperti melayang.

Sungguh ilmu ringan tubuh yang sulit dicari bandingnya. "Pantas saja jika Kumara dan Malini kalah dari orang ini, aku pun belum tentu bisa mengimbanginya." Kepada dua pembantunya Gayatri berkata dalam bahasa India, "Lelaki itu ilmunya sangat tinggi."

Shamita menggoda majikannya. "Maksudmu lelaki yang namanya Wisang Geni? Ia tak cuma hebat dalam bercinta juga dalam tarung ia sangat tangguh."

Urmila menyambung, "Ilmu ringan tubuhnya seperti ahli yoga kelas utama, tetapi ahli yoga hanya bisa melayang, belum tentu bisa melayang sambil tarung. Putri, kamu juga tak mungkin bisa mengalahkan dia, bisa-bisa kamu ditaklukkan luar dan dalam." Pipinya memerah saking malu perasaannya bisa ditebak dua pengawalnya. "Kamu bicara ngaco. Apa maksudmu?"

Shamita tertawa menggoda, "Dalam silat kamu kalah, dalam cinta kamu juga kalah."

Wajah Gayatri merengut. "Siapa bilang aku jatuh cinta, kupikir kamu berdua ini sudah gila. Dia telah menipu aku, akan kubunuh dia, kalian lihat saja nanti!"

Urmila berbisik, "Malam itu, apa yang terjadi di kamarmu?

Dia datang dan mengambil sesuatu milikmu, barang milikmuyang paling berharga, benar?"

Gayatri memukul bokong Urmila. "Awas kamu buka rahasia!"

Limapuluh jurus berlalu. Lembu Agra sudah memainkan Pitu Sopakara tingkat tujuh sampai selesai, namun jangankan memukul, menyentuh kulit Geni pun tidak. "Kamu cuma main kucing-kucingan dengan ilmu siluman, kalau jantan hayo layani pukulanku, layani Pitu Sopakara ini," sambil berkata Agra mempersiapkan jurus Wangwang Kamayan (Silaunya siluman) dan Cumangkrama Wisa (Main-main dengan racun). Inilah jurus Pitu Sopakara tingkat tujuh yang paling diandalkan, dalam gerakannya ada kandungan sihir dan racun ganas. Lawan akan kena sihir, dan begitu kena hantaman maka racun ganas itu langsung bereaksi merusak tubuh bagian dalam. Lawan pasti mati.

Geni sudah menguasai ilmu barunya itu dengan sempurna. Tak ada lagi hambatan dalam pikiran dan gerak. "Kamu hanya perlu menyerang jika memang ingin menyerang tergantung pandanganmu saat melihat gerak lawan. Jika dia mengelak ke kiri, ke arah itu kamu menyerang. Jika dia menyerangmu, kamu mengelak atau menangkis sesuai apa yang kamu pikirkan."

Ketika serangan Lembu Agra datang, sihir jurusnya ikut bekerja. Geni terpengaruh. Sesaat Geni melihat Sekar, isterinya, merentang tangan ingin memeluk. Geni merasa ragu, khawatir melukai isterinya. Pada saat dia ragu, pemusatan pikiran terputus, saat itu juga tubuhnya merosot turun, kakinya memijak bumi

Gayatri yang tak pernah melepaskan matanya dari pertarungan, tanpa sadar berteriak, "Awas!" Sebab begitu melihat kaki Geni membumi kembali, dia tahu pemikiran Geni terganggu pertanda lelaki itu dalam bahaya. Dia tak tahu apa sebab yang mengganggu pikiran Geni. Tanpa sadar Gayatri menggenggam erat senjatanya. Sekali lagi tanpa sadar dia berseru, "Hati-hati!"

Sementara itu Geni masih dalam keraguan, benarkah orang itu Sekar isterinya. Saat itu, pukulan Agra terpaut sejengkal dari dada Geni. Jika kena pukulan itu, dada Geni pasti remuk

Pada saat kritis tadi, peringatan "awas" dari Gayatri menabrak alam bawah sadar Geni. Sebagian pengaruh sihir lenyap. Teriakan berikutnya "hati-hati" telah mengembalikan pikiran normal Geni, sekaligus memancing keluar tenaga Wiwaha.

Saat itu juga pikiran Geni mengatakan itu bukan Sekar. Dia itu musuh yang memukulnya, pukulan yang akan membunuhnya. Pikirannya mengatakan dia harus mengelak dengan menjadi awan. "jadilah awan, biarkan dirimu digiring angin ke mana pun." Apa yang dipikirkan langsung diikuti gerakan karena pikiran dan gerakan Wisang Geni sudah menyatu.

Saat berikut Gayatri merasa lega, melihat kaki Geni tidak lagi memijak bumi Semuanya berlangsung dalam sesaat.

Dalam sekejap mata terjadi perubahan. Pukulan Agra nyaris menyentuh dada Geni, sepersekian jengkal dari kulit dada.

Saat itu juga Geni memutar tubuh ke kiri, membiarkan pukulan Agra lewat di sisi. Sambil tangan kirinya membuat lingkaran besar dari atas ke bawah, memukul tangan lawan. Terdengar suara tulang patah. Geni bergerak terus. Ia memutar tubuh sehingga posisinya berada di samping Agra. Tangan kanannya menghantam punggung Agra. Terdengar jeritan seram, Lembu Agra terlempar. Tangan dan punggungnya remuk. Dia sekarat. "Hutang nyawa bayar nyawa," kata Geni.

Semua penonton terdiam Sepasang mata Agra melotot, meregang nyawa, kemudian tubuh mengejang. Dia mati penasaran.

Tadi saat tangan Geni mengancam punggung Agra, saat itu juga empat bayangan berkelebat, tiga orang menyerang Geni. Jaran Dawuk, Cakarwa dan Taskara. Seorang lainnya, Salaba menolong Lembu Agra. Tetapi keempat orang ini terlambat

Mereka tak pernah berpikir, bahwa dalam keadaan Lembu Agra unggul, hanya dalam sekejap mata keadaan bisa berubah. Dari menang, bisa kalah bahkan Lembu Agra kena hantam begitu telak. Teman-teman Agra lainnya, ikut bereaksi macam-macam. Lembu Ampai tidak bergerak, dia memegang erat tangan Senopati Samba, ketua Sinelir. "Jangan! Kita bersabar dulu, lihat situasi."

Tidak demikian dengan semua rekannya, tujuh pendekar langsung meluruk menyerang Wisang Geni bersamaan dengan empat murid Turangga. Jumlahnya sebelas orang. Pendekar Ujung Kulon bersama dua adiknya menyerang dengan senjata cambuk berujung logam tajam. Si Belut Putih dengan tangan kosong. Nenek kembar Prameswari dan Kameswari, dengan ilmu tampar dan jurus keris bersatu-padu. Bayangan Hantu, bersenjata pedang.

Mereka merencanakan sejak awal. Tujuh pendekar bersama Lembu Ampai dan berserta empat murid Turangga bertugas menyerang Wisang Geni. Jika pendukung Wisang Geni membantu, akan diladeni oleh Samba dan Hanggada serta Sinelir dan punggawa Kediri lain. Dengan rencana ini, mereka yakin bisa mengalahkan Wisang Geni. Gayatri melihat semua. Dia bergerak pesat ke arena pertarungan. Prastawana ikut bergerak Manjangan Puguh melesat memotong serangan si nenek kembar. Manjangan Puguh sangat pesat, dia sampai lebih awal, menyambut serangan sepasang nenek kembar.

Terdengar suara desah Wisang Geni, pelan tetapi jelas di telinga semua orang. "Terimakasih, tetapi biar aku sendiri menyelesaikan urusan ini, mereka pantas mati karena punya niatan buruk terhadap Lemah Tulis."

Gayatri, Manjangan Puguh, Prastawana kembali ke tempat berdiri. Permintaan Wisang Geni menjelaskan bahwa dia sendiri sanggup mengatasi keroyokan lawan. Saat itu Geni sedang berada di puncak pagelaran ilmu silat, pikiran dan tubuh menyatu secara utuh.

Tidak semua serangan datang bersamaan. Tiga murid Turangga Jaran Dawuk, Cakarwa dan Taskara paling depan, serangan kilat menggunakan jurus Pitu Sopakara tingkat empat. Geni sedang merasakan kemerdekaan tubuh dan pikiran. Matanya tajam bagai mata elang, menangkap semua gerak lawan. Sulit dipercaya, Geni mengelak dan menangkis sambil menyerang balik. Apabila tadi ia bergerak lamban tetapi justru lebih cepat dari gerak lawan, kini gerakannya sangat cepat. Bersikap seperti awan yang mengikuti angin, kemudian menyerang balik bagai hamuk Leysus, Nilapracoda dan Bajrapati, angin topan yang menghancurkan apa saja yang dilewati.

Hampir semua penonton tidak melihat jelas cara Wisang Geni menghantam lawan. Yang terlihat, tiga tubuh terhuyung- huyung Jaran Dawuk, Cakarwa dan Taskara muntah darah.

Ketiganya tewas dengan darah merembes dari hidung, telinga dan mulut. Seorang lainnya, Salaba, selamat karena tidak ikut menyerang. Pada saat kritis dia balik arah, kabur turun gunung. Setelah menghantam tiga murid Turangga, Geni masih bergerak terus, tubuhnya seperti menyongsong serangan tujuh lawannya. Si Belut Putih berteriak, "Kena kamu!" Pukulannya hanya menyisir baju Geni tanpa menggores kulit dada. Geni mengibas. Pukulan dahsyat menerpa dada Si Belut Putih. Lelaki ini terpental dan tewas sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

Geni masih bergerak terus, menghindar, mengelak dan menangkis, kemudian menyerang sambil melompat. Pukulan Bayangan Hantu ditepis sambil jari tangan Geni mementil pelipis lawan. Pendekar itu terpental sambil memegang kepalanya. Tewas seketika.

Gerakan Geni masih berlanjut. Dia melayang memapak serangan Parma dan Sakerah. Dua keris lawan mengancam dada dan perutnya, Geni tidak menghiraukan ancaman keris, dua tangannya memukul dada lawan. Keduanya terpental, mundur sempoyongan sebelum kerisnya mengena tubuh Geni.

Bersamaan saat itu serangan si Gila Ujung Kulon mengancam kepala Geni. Setelah memukul Parma dan Sakerah, tubuh Geni doyong ke depan, pukulan lawan meleset. Geni meneruskan gerak, memutar tubuh. Dua kakinya membuat putaran besar di udara, mengunci pukulan susulan Si Gila Ujung Kulon, terdengar jeritan. Pendekar Ujung Kulon menjerit sambil memegang kepalanya, tubuhnya terjerembab, tewas seketika menyusul dua saudaranya.

Semua gerakan tadi bersinambungan, tak terputus, bagai angin prahara yang sangat cepat dan ganas. Dari sebelas penyerang, delapan tewas berturutan. Seorang kabur. Tinggal nenek kembar yang batal menyerang sehingga luput dari terjangan Geni.

Semua orang terpesona. Tak ada suara, hening. Semua murid Lemah Tulis heran dan takjub. Hanya satu bulan berpisah, sejak peragaan di air terjun, sekarang ilmu silat sang ketua maju sangat pesat. Mereka heran berbareng bangga. Manjangan Puguh heran. Dia pernah menyaksikan Eyang Sepuh Suryajagad tarung lawan Resi Lahagawe di perang Ganter duapuluh lima tahun silam. Ia melihat gerak silat Geni sama persis dengan yang dimainkan Eyang Sepuh Suryajagad. Mungkin Geni sudah mewarisi ilmu Eyang Sepuh? Apakah Eyang Sepuh masih hidup?

Gayatri pun heran. Dalam pertemuan pertama di hutan, dia masih bisa mengimbangi dan mempersulit Geni Namun hari ini dia melihat ilmu Geni sudah tak mungkin ditandingi. Apakah waktu itu Geni hanya pura-pura merendah. Pikiran itu membuat sepasang matanya berbinar. Ia mendengar senandung lirih Urmila kuchebi hoyaar mainto karungga tumsehi pyar, binbole sache kuche boldiya (kasihku bagaimanapun juga hanya engkau yang kucinta, simpanlah rahasia ini di hatimu).

"Kalian berdua ngaco, siapa bilang aku jatuh cinta," Gayatri tersenyum malu. Dalam hati ia sangat bimbang. Ia tahu ia sudah kasmaran akan kejantanan Geni. Apalagi setelah malam itu, ia pasrah memberikan tubuhnya. Bercinta, berulang kali.

Saat itu di gelanggang pertarungan, nenek kembar Prameswari dan Kameswari berdiri mematung. Keduanya serba salah, menyerang sama artinya dengan mengantar nyawa. Mundur, berarti nama besar mereka hancur. Wajah keduanya pucat.

Wisang Geni menatap keliling. "Jaranan pantas mati, hutang jiwa isteriku sudah terbalas. Mereka lainnya mampus karena punya rencana jahat menghancurkan Lemah Tulis.

Siapa pun yang membunuh murid Lemah Tulis, akan kucari sampai ke liang kubur." Geni menatap dua nenek kembar. "Kalian lebih baik pulang kampung, jangan memusuhi Lemah Tulis supaya kalian selamat, pergilah."

Tanpa mempertimbangkan rasa malu dan nama besarnya lagi, nenek kembar itu melesat ke luar gelanggang, langsung turun gunung. Di kemudian hari dua nenek itu lebih banyak diam di perkampungan, mengasingkan diri, tidak mau lagi bertualang dan melanglang dunia kependekaran.

Sekonyong-konyong Geni mendengar suara lirih memanggil namanya. Suara itu seperti dikenalnya. Dia menoleh ke arah suara. Seorang perempuan cantik memandang kepadanya.

Sepasang mata itu tidak berkedip. Geni mengenali. "Sekar!"

Geni melihat seorang lelaki jangkung usia limapuluhan berdiri di sisi Sekar, menggenggam tangan si gadis. Sekar menoleh berkata kepada lelaki itu, "Aku hanya mau mengucap kata perpisahan. Biarkan aku, kamu tahu aku tidak akan melarikan diri."

Geni mendengar apa yang dikatakan Sekar. Kenapa? Apa yang terjadi? Mengapa sikap Sekar begitu tawar padanya? Ia menatap lekat lelaki itu tetapi belum pernah mengenalnya.

Lelaki itu tampan, berdandan mewah. Dari bentuk dan warna pakaiannya, orang itu pasti dari keraton Kediri. Lelaki itu melepas genggaman membiarkan Sekar maju beberapa langkah. Sekar berhenti dalam jarak beberapa tombak dari Geni.

"Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Aneh, limabelas bulan berpisah, dan kamu tidak lari memeluk aku sebagaimana biasanya," berpikir demikian Geni diam tidak bergerak Ia menatap Sekar. Diam sesaat, dia menyapa kekasihnya. "Sudah lama kita tidak berjumpa, kamu masih cantik dan semakin cantik. Apa yang terjadi, isteriku Sekar?"

"Aku berduka mendengar kematian kangmbok Wulan.

Tetapi nasibku juga tidak beruntung. Nenek Dewi Obat dalam tawanan mereka. Aku tak bisa lari, aku harus bersedia menjadi isterinya dan dia akan membebaskan Dewi Obat." Dia berkata lirih yang hanya bisa didengar suaminya.

Geni terkejut. "Siapa orang itu? Siapa mereka?" "Dia Pranaraja, dia mahamenteri orang kepercayaan Baginda Raja Tohjaya, ia paling berkuasa, melawan dia sama dengan melawan seantero kerajaan Kediri."

"Aku tak akan melepas kau pergi, aku mencintaimu Sekar, apa pun yang terjadi aku akan menghadapi bahkan seluruh kerajaan Kediri sekali pun."

Dia memandang mesra kekasihnya. "Aku mencintaimu Geni, tetapi nasibku memang buruk Aku harus pergi, sampai jumpa." Dia membalik tubuh. Pada saat itulah dia melihat seorang nenek tua sedang melangkah terseok-seok dengan memanggul tongkat sapu lidi. Langkah nenek itu menuju rombongan punggawa Kediri. Siapa lagi kalau bukan nenek dan gurunya, Si Nenek Sapu Lidi.

Sekar mencium sesuatu bakal terjadi Neneknya pasti akan berbuat sesuatu untuk menolongnya. Dia membalik tubuh, memandang Geni dan bibirnya bergetar. Sekar mengirim suara. "Geni bersiaplah untuk tarung, nenekku sudah datang, ia pasti berbuat sesuatu!"

Saat berikut Sekar berbalik. Ia melangkah ke Pranaraja. Neneknya sudah sangat dekat dengan rombongan Kediri. Melihat nenek tua renta yang jalannya saja sudah terseok- seok, tak seorang pun curiga sehingga membiarkan si nenek mendekati rombongan. Mendadak Nenek Sapu Lidi bergerak cepat Ia menyerang dengan sapu lidi Sekar ikut menerjang. Pada saat bersamaan Geni sudah melayang.

Pranaraja dan rombongan tak menyangka. Gebrakan nenek tua itu dahsyat, beberapa punggawa terdorong mundur.

Pranaraja yang ternyata seorang sakti berusaha mencegah, namun Geni sudah sampai di dekatnya. Geni marah, mengibas dua tangan bagai menyibak air di kolam Kesiuran angin dingin menerpa Pranaraja dan orang di sekitarnya. Pada saat yang sama Sekar menerobos ke dalam rombongan. Ia bersama neneknya bertarung keras, banyak korban berjatuhan. Keributan yang terjadi memancing orang lain. Gayatri mengajak dua pembantunya membantu Geni. Meski tidak mengenal orang, namun mudah mengenali lawan, karena semua punggawa Kediri mengenakan seragam keraton. Prastawana dan lima murid Lemah Tulis ikut meluruk, ini pertarungan sang ketua artinya juga pertarungan mereka.

Hanya dalam sekejap nenek tua dan Sekar berhasil menolong Dewi Obat yang tertawan. Dua pendekar itu melindungi Dewi Obat. Gayatri dan pembantunya bertarung lawan Lembu Ampai, Samba dan Hanggada. Murid Lemah Tulis dipimpin Prastawana tarung lawan anggota Sinelir Kediri.

Di sisi lain Wisang Geni terlibat tarung hebat dengan Pranaraja. Bentrokan tangan menimbulkan suara keras dan kesiuran angin. Geni mulai menggelar ilmu silat Menunggang Angin, ia melayang sambil mencecar serangan beruntun ke Pranaraja. Orang sakti ini kewalahan dan terdesak mundur. Beberapa anggota Sinelir meninggalkan lawan mereka untuk membantu Pranaraja. Tiba-tiba Pranaraja berseru, "Berhenti!"

Suaranya keras dan terdengar wibawa. Semua orang berhenti tarung. Nenek Sapu Lidi dan Sekar menuntun Dewi Obat mendekati Wisang Geni, begitu pun Gayatri dan dua pembantunya serta murid Lemah Tulis. Dua rombongan ini saling berhadapan.

Pranaraja membusungkan dada. Ia memang terkenal cerdas dan sakti. Dua hal itu membuatnya menjadi penasehat dan orang kepercayaan Raja Tohjaya. Ia tadi melihat, pihaknya sulit menang meskipun belum tentu akan kalah.

Lawan sangat tangguh. Saat itu rombongan Tumapel dipimpin Panji Patipati belum ikut campur. Keadaan jelas tidak menguntungkan pihaknya.

"Tidak ada gunanya tarung dilanjutkan, akan jatuh banyak korban. Ini hanya salah faham Kami menawan Dewi Obat dan cucunya, karena perbuatan mereka yang menentang kerajaan. Tetapi meneliti lebih lanjut, aku melihat perbuatan mereka hanya suatu kesalahan kecil. Melihat bahwa mereka punya hubungan kerabat dengan Ki Wisang Geni dan Lemah Tulis, maka aku mewakili Baginda Raja membebaskan kalian semua dari tuduhan makar terhadap keraton Kediri."

Ia menatap Wisang Geni bergantian Sekar. Sambil menghela napas panjang, Geni mengangguk setuju. "Terimakasih atas kemurahan hati paduka mahamenteri bahwa pertarungan ini dihentikan dan kami bebas dari tuduhan makar. Tetapi kalau diperkenankan, boleh aku menanyakan suatu masalah di luar urusan ini?"

Pranaraja mengangguk. Geni berkata lirih tetapi suaranya didengar semua orang. "Paduka mahamenteri, suatu waktu sepasang suami isteri dikeroyok sepuluh orang yang ilmunya mumpuni. Si isteri mati bersama bayi dalam kandungannya. Jika sang suami membalas dendam, apakah itu bertentangan dengan peraturan umum atau peraturan kerajaan?"

Pranaraja tercenung. Dia tak tahu cerita apa di balik pertanyaan Wisang Geni. "Khusus kasus yang sampean sebut itu, maka balas dendam sang suami dianggap wajar dan tidak menyalahi peraturan."

"Terimakasih, tuan. Perkenankan aku menantang Lembu Ampai tanpa melibatkan kerajaan Kediri. Dia bertanggungjawab atas pembunuhan terhadap isteriku yang waktu itu sedang mengandung anak pertamaku." Geni menatap mata Pranaraja. Ada sinar mata memohon dalam mata Geni yang tidak luput dari pengamatan Pranaraja. "Dia memohon padaku, tetapi dia juga bisa bersikap tegas, lagi pula ini kesalahan Ampai pribadi," pikirnya.

Ia memanggil Senopati Samba. "Kamu perintahkan semua anak buahmu, tidak boleh ikut campur urusan itu. Lembu Ampai yang berbuat, maka dia harus bertanggungjawab, biar tarung ini berlangsung adil. Aku suka nonton tarung yang adil." Suasana hening. Sebagian orang mengira pertarungan sudah selesai. Mendadak Geni berseru lantang, "Lembu Ampai kamu bersama pasukanmu dan Lembu Agra mengeroyok dan membunuh isteriku, aku sudah bersumpah akan menagih hutang nyawa ini. Lembu Agra sudah mati. Kini aku menagih tanggungjawabmu."

Lembu Ampai terkesiap. Nyalinya ciut melihat keperkasaan Geni. Tetapi di depan anak buah dan atasannya Pranaraja, dia tak mau hilang muka "Aku laki-laki sejati, bertanggungjawab atas semua perbuatanku. Tetapi bagaimanapun juga sebagai hamba kerajaan aku punya orang bawahan dan juga punya atasan. Pertarunganku dengan sampean pasti akan melibatkan banyak orang kerajaan."

"Sampean pintar dan licik, tetapi pengecut. Kamu mau melibatkan banyak orang, bahkan kalau perlu kamu mengajak seluruh otang keraton Kediri, kamu berlindung di balik pangkat kerajaan, tetapi kamu sendiri tidak berani bertanggungjawab atas perbuatan membunuh isteriku, kau mengaku sebagai lelaki sejati tetapi kamu sebenarnya seorang pengecut kerdil, kamu memalukan citra punggawa kerajaan Kediri."

Lembu Ampai naik darah. Dia mencabut senjatanya. "Itu sudah hukum alam, kalau kamu memusuhi aku itu sama saja kamu melawan kerajaan, itu artinya kamu memberontak dan hukuman bagi pemberontak adalah mati! Tangkap dia!"

Mendadak Senopati Samba berseru, "Maafkan saya, kangmas Ampai. Atas perintah Paduka Yang Mulia Mahamenteri Pranaraja, semua punggawa Kediri tak boleh ikut campur. Urusan ini adalah tanggungjawab kangmas Lembu Ampai seorang, biarkan tarung ini berlangsung adil, satu lawan satu. Aku sendiri yakin kamu akan bisa mengatasi lawanmu itu."

Para punggawa Kediri terkesima. Apa yang dikatakan Pranaraja adalah perintah atas nama Raja Kediri. Tidak seorang pun berani membangkang. Kepala Patlikur Sinelir senopati Samba telah mengumumkan perintah Pranaraja.

Semua punggawa mengambil posisi istirahat, begitu juga para punggawa Tumapel dan murid Lemah Tulis. Kejadian ini di luar perhitungan Lembu Ampai. Semua berantakan, Lembu Agra dan para pendekar sewaan mati di tangan Geni. Bahkan sekarang ini Pranaraja dan punggawa Sinelir lepas tangan, tak mau terlibat. Dia harus menghadapi Wisang Geni satu lawan satu.

Bagaimanapun juga Lembu Ampai seorang pendekar yang punya karakter dan ilmu silat mumpuni. Dalam situasi sulit dan terdesak, dia meyakinkan diri sendiri akan melawan Wisang Geni sampai titik darah penghabisan. Seorang pendekar, kalaupun harus mati, dia mati bersama kehormatan dan harga diri. "Sehebat apa pun ilmu silat Wisang Geni, ia toh belum merasakan hebatnya pukulan Gelap Ngampar, jurus Keris Tujuh Kembang dan duabelas Pisau Terbang Formasi Bunga Mawar."

Lembu Ampai melangkah ke tengah gelanggang.

Langkahnya pasti. Ada keyakinan dalam pikirannya, ilmu ilmu silat tidak berdiri sendiri tapi didukung pengalaman, kematangan, strategi licik dan licin. Semua aspek itu dibutuhkan seseorang untuk memenangkan pertarungan mati hidup.

Wisang Geni menatap Lembu Ampai yang sangat percaya diri. Matanya tajam, dalam dan dingin. "Orang ini kejam dan licik. Aku tak boleh meremehkan orang ini. Dia pernah menyerangku dengan pisau terbang, senjata itu sangat ampuh, aku harus waspada." Berpikir demikian, Geni mengembangkan dua tangannya, mengangkat sana kakinya dalam sikap menanti. "Hutang nyawa bayar nyawa, beberapa waktu lalu kamu menghalangi aku menolong isteriku. Kamu sepuluh orang mengeroyok aku dan isteriku, padahal kita tak pernah bermusuhan bahkan kita tak pernah bertemu sebelumnya."

"Wisang Geni, sampean tak perlu bicara ngalor ngidul, mencari simpati orang. Waktu itu kita belum tarung tuntas, sekarang keadaan sangat berbeda, ini tarung mati atau hidup. Terimalah tamparan dari neraka." Belum habis ucapannya, Lembu Ampai sudah menerjang dengan tamparan berantai.

Dua tangannya bagaikan saling mendahului. Angin panas terasa oleh sebagian orang dalam radius beberapa tombak. Itu jurus Gelap Ngampar.

Geni mengelak dan menangkis sambil balas menyerang dengan pukulan keras. Dalam sepuluh jurus, keduanya saling serang. Dalam pertarungan pertama beberapa bulan silam, keduanya saling pukul dan menguji tenaga dalam. Waktu itu Geni unggul tipis.

Sekarang, Lembu Ampai tarung beda strategi. Ia menyerang ganas tetapi selalu menghindari adu tenaga Lembu Ampai mengetahui nyawanya kini tergantung pada kemampuannya sendiri, tidak lagi mengharap bantuan orang lain.

Geni meladeni gempuran Gelap Ngampar lawan dengan lamban. Bergerak dan melayang seperti awan yang digiring angin, semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada ketergesaan. Geni melihat pertahanan Lembu Ampai sangat rapat. Ternyata Ampai tangguh melebihi Agra. Ada bedanya, jika Agra sangat bernafsu dan kelewat percaya diri dengan Pitu Sopakara.

Lembu Ampai lebih hati-hati karena mengetahui ilmu silat Geni sangat tinggi "Dia sudah bertarung menghadapi banyak lawan, sudah melewati seratus jurus lebih, tenaganya pasti terkuras. Aku hanya menunggu dia letih, saat itulah aku meyerang dengan pisau terbang," katanya dalam hati. Berpikir demikian, Lembu Ampai bertarung waspada, sabar dan tidak bergegas. Dia lebih banyak bertahan dan mengulur-ulur waktu. Jurus Keris Tujuh Kembang dan tamparan Gelap Ngampariidak mudah ditembus Geni.

Manusia punya keterbatasan, tenaga manusia terbatas.

Wisang Geni bukan manusia dewa. Letih mulai mengganggu geraknya. Sejak dari Gondang, melakukan perjalanan ke Lemah Tulis ia tidur semalam. Esok harinya ke Argowayang, empat hari perjalanan. Tadi siang begitu tiba dia langsung terlibat tarung lawan Lembu Agra dan begundalnya. Sejak siang sampai saat ini ketika matahari senja mulai redup, ia sudah tarung ratusan jurus.

Pertarungan memasuki jurus tujuhpuluhan. Geni mengeluh, sadar tenaganya mulai berkurang digerogoti keletihan. Pikiran dan geraknya tidak lagi menyatu. Namun Geni masih bisa berpikir jernih. Bahwa ia harus selesaikan pertarungan secepatnya, sebab makin lama ia semakin letih. Ia harus berani mengambil resiko meski pun sangat berbahaya.

Letihnya Geni tidak luput dari pengamatan Lembu Ampai. Gerak Wisang Geni tidak sehebat sebelumnya. Namun Lembu Ampai masih ragu, apakah menyerang sekarang juga atau menanti beberapa saat lagi sampai lawannya benar-benar letih.

Maka Lembu Ampai terkejut ketika Geni menerjang maju. Geni memukul dada Lembu Ampai. Diam-diam senopati Kediri ini girang. 'Tucuk dicinta ulam tiba, kesempatan akhirnya datang juga, kini saatnya aku menyerang dengan dua belas Pisau Terbang Formasi Bunga Mawar," pikir Lembu Ampai

Lembu Ampai memapas tangan Geni dengan keris, tangan lainnya memukul pelipis. Geni mengelak sambil mengibas kepala lawan. Lembu Ampai merunduk menghindari pukulan Geni sambil melepas keris, merogoh pisau di balik baju dan menghentak dua tangannya. Duabelas pisau terbang menerkam Geni. Kemudian ia menyambar kerisnya sebelum jatuh ke tanah. Lima gerakan itu dilakukan Lembu Ampai dalam sekejap mata. Sempurna. Duabelas pisau melejit dalam Formasi Bunga Mawar mengarah dua belas titik penting tubuh Geni. Terdengar jerit penonton, serangan pisau terbang itu di luar dugaan. Dalam jarak sangat dekat, terpaut hanya satu tombak, Lembu Ampai dan penonton menduga pisau akan menghunjam tubuh Wisang Geni. Serangan itu mengejutkan Geni, yang tidak mengira lawan menyerang sekaligus dengan duabelas pisau terbang. Tetapi Geni tidak panik.

Tak ada kesempatan mengelak atau pun menangkis. Geni membuat gerakan aneh, dua tangannya ditekuk di depan dada, kemudian memutar tubuh Tubuhnya berputar di atas satu kaki sebagai sumbu, gerak putarnya sangat cepat, bagai gasing. Bersikap seperti angin, bagaikan hamuk Lesyus, Nilapracoda dan Bajrapgti, angin topan yang dahsyat.

Penonton tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi, kepulan debu dan dedaunan kering yang terbawa dalam pusaran angin dahsyat telah menutup pemandangan. Wisang Geni dan Lembu Ampai seperti lenyap dalam pusaran angin. Sesaat kemudian, sebelas pisau melejit keluar dari kepulan debu dengan tenaga sambaran yang sangat kuat. Untung pisau terbang itu tidak mengenai seorang pun dari kalangan penonton.

Saat berikutnya terdengar jeritan. Perlahan-lahan pusaran angin menghilang, debu menipis. Lembu Ampai terhuyung- huyung, dua tangannya tergantung tanpa tenaga, dua kakunya lemas, kepalanya menengadah sambil mengerang kesakitan. Dia rubuh di tanah. Tubuhnya tak bergerak, tewas. Kemudian orang melihat Wisang Geni duduk bersila, sebilah pisau nancap di pundaknya.

Apa yang terjadi merupakan keajaiban, dalam keadaan tersudut dan mustahil bisa lolos dari sergapan pisau terbang, sekilas Geni menemukan jalan keluar. Putaran tubuhnya yang begitu cepat bagaikan gasing telah menyedot semua pisau ikut terbawa putaran. Hanya sebab datangnya pisau terlalu cepat, maka satu di antaranya yakni yang terdepan sempat menghunjam ke pundak Geni. Namun putaran tubuh itu telah memunahkan sebagian tenaga pisau sehingga hanya sepertiga badan pisau yang menusuk ke dalam daging pundaknya.

Lembu Ampai tidak hanya menyerang dengan duabelas pisau terbang, tetapi membarengi tusukan keris dan hantaman Gelap Ngampar ke kepala Geni. Lembu Ampai yakin, serangannya pasti menewaskan lawan. Sama sekali di luar perhitungannya, jika tubuhnya bisa ikut terbawa pusaran angin dahsyat. Bahkan ia merasa tenaga pukulan lawan menghantam pundaknya membuat kerisnya terpental dan tangan Geni menampar kepalanya. Lembu Ampai merasakan kesakitan luar biasa sebelum tubuhnya doyong lalu terhempas ke tanah.

Semua orang takjub. Lembu Ampai tewas. Padahal tadinya mereka mengira Wisang Geni yang bakal tewas. Di tengah gelanggang Geni masih bersila. Prastawana dan murid Lemah Tulis maju mengelilingi dan melindungi ketuanya. Tampaknya pertarungan Argowayang usai sudah. Sebagian besar penonton kembali ke rumah masing-masing seiring matahari senja mulai tenggelam.

Prawesti dengan wajah bingung memandang Geni. Mata lelaki itu tertutup, tetapi nafasnya seperti biasa. Prawesti mengulur tangan, hendak mencabut pisau di pundak ketuanya. Tetapi dicegah Sekar.

Gayatri juga mencegah, berseru, "Jangan, jangan kamu cabut pisaunya!"

Prawesti yang sejak bertemu sudah cemburu dan kesal terhadap Gayatri, tak mau peduli. Ia meneruskan maksudnya. Tetapi Sekar dan Manjangan Puguh yang entah kapan bergerak, sudah berada di dekat Geni, menghalangi maksud gadis itu. "Jangan dicabut, pisau itu beracun, jika dicabut racun akan lebih cepat menjalar." Gayatri mendekat, namun dihalangi Prawesti dan Gajah Lengar.

"Ketuamu kena racun ganas, aku mau memberi obat pemunah, kalian minggir," kata Gayatri.

Prawesti berkata ketus, "Obat? Obat apa? Pasti racun!"

Gadis India itu tidak marah. "Terserah kamu, tetapi buat apa aku meracuni dia, aku ingin menolong karena dia masih punya hutang padaku, supaya dia bisa cepat membayar hutangnya. Tanyakan pada ketuamu itu, mau kutolong atau tidak?"

Geni membuka mata. "Kamu selalu suka memaksa, mana obatnya. Cepat berikan, lukaku sudah mulai gatal," sambil ia membuka mulut lebar-lebar.

Gayatri tersenyum, menghampiri Geni. Prawesti menyingkir, wajahnya cemberut. Sekar berjaga jaga, takut gadis India itu menurunkan tangan jahat. Sekar ingat Gayatri pernah berkata akan menantang Geni untuk membalas dendam Lahagawe.

Sekar berkata ketus, "Jangan coba-coba membokong suamiku, akan kugorok lehermu!"

Gayatri mendengus. Ia memeriksa luka. Kulit di sekitar pundak berwarna biru kehitaman. "Ini racun ganas. Aku tidak tahu racun apa ini, tetapi jelas sangat berbahaya dan sanggup mematikan dalam waktu singkat. Darah yang keluar tidak banyak karena sudah banyak yang membeku kena racun. Jika makin banyak darah beku dan jika sudah tak ada lagi darah yang merembes keluar, maka pengobatan akan lebih sulit.

Darah beku itu harus dikeluarkan, diisap," kata Gayatri kepada Geni.

Saat itu juga Prawesti berkata, "Biar aku yang mengisap." Gadis ini mendekat sambil tangannya mendorong pergi Gayatri. Maksudnya hendak menyingkirkan Gayatri dari hadapan Geni.

Gayatri tidak meladeni. Ia hanya berkata lirih, "Itu racun ganas, mulutmu akan merasa gatal, kemudian rasa baal, lalu kesemutan, kau pasti akan keracunan. Akan lebih sulit mengobatimu dibanding luka Wisang Geni, karena mulut berhubungan langsung dengan pernafasan, racun akan cepat menjalar ke jantung."

Prawesti bersikeras dengan nada tinggi "Aku tidak takut." Ia kemudian merunduk, namun tangan Geni mencegahnya. "Tunggu Prawesti! Katakan Gayatri, bagaimana baiknya."

Saat itu Sekar mencari-cari seseorang, mana nenek Dewi Obat dan Nenek Sapu Lidi. Ia melihat neneknya sedang mengurut punggung Dewi Obat.

"Terserah padamu, aku punya obat yang bisa membasmi segala macam racun ganas. Tetapi darah beku harus dikeluarkan, setelah itu baru bisa diobati. Hanya orang yang mengisap akan terkena racun dan kalau pun bisa diobati mulut orang itu akan cacat."

Geni mengambil keputusan. "Kalau begitu biarlah, tak seorang pun yang perlu mengisap darahku ini. Apakah ada jalan lain?"

Terdengar suara lirih tetapi bisa didengar semua orang. Suara Dewi Obat agak gemetar, "Sekar, ambil bambu yang lubangnya kecil, kamu sedot darah beracun itu dengan menggunakan bambu itu, cepat lakukan!"

Sekar melesat ke pohon bambu. Sekejap ia sudah jongkok di sisi Geni. Tadinya Prawesti dan Gayatri tak mau memberi jalan. Sekar mendorong mereka. "Kalian minggir, dia suamiku, aku berhak mendampinginya."

Geni menatap kekasihnya itu. "Sekar aku rindu padamu," bisiknya. Sekar tersenyum, tanpa menunda waktu ia tempelkan bambu kecil ke luka Geni, lalu mencabut pisau yang nancap di pundak Geni.

Tiba-tiba Gayatri menyodorkan pil warna putih. "Sekar, ini pil anti racun, supaya mulutmu aman." Sekar menatap mata Gayatri.

Gadis India itu mengangguk dan tersenyum. Sekar membuka mulurnya, Gayatri menyuapi

Sekar mulai mengisap, darah beku itu tersedot tetapi sebelum masuk mulut, ia menyembur ke tanah. Ia lakukan berulang kali sampai yang keluar adalah darah merah. "Selesai," sambil berkata, Sekar membalik tubuh. Ia muntah- muntah.

Tanpa sadar Prawesti berseru, "Kamu keracunan?"

Sekar menjawab lirih, "Aku tak apa-apa, aku cuma tak tahan bau racun itu."

Gayatri merogoh sakunya, memberi Sekar sebutir pil warna biru.

"Apa ini?" tanya Sekar.

Gadis India berbisik di telinganya. "Supaya mulutmu wangi, suami kita itu suka mencium mulut, kamu tahu kan?"

Sekar memandang heran. Gayatri tertawa lirih. Ia berbisik lagi. "Perawanku sudah dia ambil, dua malam berturutan, sungguh liar dan kuat. Apa kamu marah padaku?"

Sekar menggeleng. Ia berbisik lirih di telinga Gayatri. "Dasar mata keranjang, bajingan. Mungkin Geni harus punya isteri lebih, kalau hanya seorang, isterinya bisa cepat tua dan cepat mati."

"Eh Sekar, kenapa kau percaya padaku, mau menelan pil obatku, padahal kita pernah tarung? Kamu tak takut pil itu beracun?" "Matamu jujur dan polos, tak ada sinar dendam dan amarah. Lagipula buat apa kamu meracuniku?"

Gayatri berbisik, "Kamu cerdas dan berani. Semoga kita berkawan, sebab terus terang aku tak pernah mau bermusuh denganmu."

Saat itu Prawesti sedang bingung. Tak tahu bagaimana menolong Geni. Darah merembes dari luka yang menganga. Berdua Sekar, Gayatri menghampiri Geni. Ia memberi pil putih. "Ini peluru salju dari Himalaya pembasmi semua racun ganas," ia menyuapi Geni, kemudian melanjutkan, "Sekarang, pada saat aku menekan lukamu kau harus mendorong dengan tenaga dalam, kau siap?"

Gayatri menotok beberapa titik di sekitar pundak lalu menekan daerah sekitarnya, pada saat berbarengan Geni mendorong dengan tenaga. Darah kental muncrat dari lubang luka, warnanya merah agak hitam dan bau busuk. Ketika warna darah mulai merah dan semakin merah, Gayatri berhenti.

Gayatri meremas pil salju dan melabur ke luka kemudian merogoh sesuatu di pinggangnya. Bentuknya seperti jarum dengan benang halus. "Lukamu lebar dan dalam, harus dijahit, mau kujahit?"

Geni mengangguk. Gayatri dengan cekatan menjahit luka. Sekejap saja luka sudah rapat. Hanya tampak bekas seperti goresan. Ia menatap Geni. "Racun itu racun ganas, tetapi obatku lebih hebat, kamu akan sembuh dalam sekejap. Kini tinggal urusan kita, nanti malam kamu harus temui aku, hutangmu harus kamu bayar, tak ada alasan untuk tidak datang, awas kamu"

"Terimakasih, tak kusangka kau mahir mengobati orang. Nanti malam aku pasti menemuimu" Geni memegang tangan Gayatri. Pada saat itu Pranaraja menegur Wisang Geni. "Kamu cepat pulih, bagus. Racun pisau Lembu Ampai memang ganas. Tapi ilmu silat sampean mumpuni bahkan aku pun kewalahan."

Wisang Geni memaksa berdiri. "Tidak benar itu, paduka sakti mandraguna, paduka sengaja telah mengalah dan memberi aku kesempatan hidup, terimakasih."

"Sampean berilmu tinggi, tetapi sampean sangat rendah hati, aku ingin mengikat tali persahabatan dengan sampean, aku mewakili diri pribadi dan juga keraton, mengundangmu ke keraton Kediri."

Panji Patipati dan punggawa Tumapel terkejut dengan undangan itu. Dalam hati mereka khawatir Geni menerima undangan itu. Setelah berpikir sejenak, Geni menyahut, "Terimakasih undangan paduka, aku sulit menolak, sulit menerima, maafkan aku, selama ini aku membatasi diri dalam urusan kerajaan, maaf paduka."

Pranaraja senang. "Kata-kata sampean ibarat emas, sampean tidak ke keraton Kediri dan juga tidak ke Tumapel, itu sangat bijaksana."

Rombongan Kediri kembali ke rumahnya. Begitu juga orang-orang lain. Mereka butuh istirahat untuk menghadapi malam perburuan widali.

Wisang Geni melangkah. Tiga perempuan itu, Sekar, Gayatri dan Prawesti berebut menggandeng lengannya. Geni tersenyum kecut. "Masalah baru, tiga perempuan, tanganku cuma dua," katanya.

Tiga perempuan tertegun. Sekar membuka mulut. "Geni, suamiku, kamu harus tegas. Aku tadinya nomor dua, setelah kangmbok Wulan mati, aku harus menjadi nomor satu.

Tentang Gayatri dan Prawesti, aku tak ikut campur, kamu yang putuskan." Saat itu muncul Ekadasa. "Aku juga isterinya, kami bercinta di keraton Tumapel, dua malam tak pernah berhenti."

Prawesti menyela, "Tetapi kamu kan punggawa keraton." Ekadasa tersenyum genit. "Aku akan mundur dari keraton

Tumapel, aku lebih suka mengikuti petualangan mas Geni."

Wisang Geni mengeluh. "Ini masalah besar. Lebih berat dibanding pertarunganku tadi. Sebenarnya kalian semua sama saja, semua isteriku, tak ada bedanya."

Sekar membantah, "Tidak bisa begitu, aku tetap harus nomor satu, Geni kamu harus tegas, kamu sudah janji padaku!"

Geni menoleh keliling. Tak ada orang. Semua orang sudah bubar. Hari mulai gelap. Ia berkata dengan wibawa yang dibuat-buat "Baik, ini keputusanku, adil. Tak boleh dibantah. Sekar nomor satu, dia lebih dahulu dari kalian bertiga. Gayatri nomor dua, karena aku berjanji mengawininya. Sebenarnya Prawesti lebih duluan, tetapi aku tidak berjanji padanya.

Ekadasa juga aku tidak berjanji. Jadi Prawesti nomor tiga, Ekadasa nomor empat, semua sudah beres, tak boleh ada yang protes!"

Gayatri memotong, "Aku tidak protes, tetapi kamu sudah janji tadi akan datang ke rumahku, menyelesaikan urusan kita."

Sekar memotong, "Urusan Gayatri itu bisa ditunda. Geni harus bersamaku, aku sudah enambelas purnama berpisah."

Geni merangkul erat pinggang Sekar. "Aku rindu isteriku yang ini. Aku pergi dengannya, kalian kembali ke rumah, tengah malam nanti aku ke rumah Gayatri"

Sekar memotong, 'Tidak, jangan tengah malam, besok siang saja." Sambil ia memandang Gayatri dengan penuh arti. Gadis India itu mengangguk dengan senyum melirik Geni. "Aku tunggu kamu besok siang, Geni, tetapi kamu harus datang seorang diri."

Tak mau lama-lama lagi, Sekar mengajak Geni ke rumah terpencil dalam hutan di kaki gunung. "Sekar, kamu tahu dari mana ada gubuk tua ini." Gadis itu tak menjawab, ia menerkam Geni, rindu belasan purnama ia tumpahkan dengan tangis dan rintihan. "Kau bercinta dengan Gayatri, dengan Prawesti, dengan Ekadasa, kamu lupa daratan, lupa padaku, kamu jahat"

Geni menciumi sekujur tubuh molek itu, Sekar merintih, membisik nama Geni berulang-ulang. Geni mendapatkan Sekar yang liar, kuat dan sangat bernafsu. Keduanya bercinta seakan tak ada lagi hari esok. Semalaman. Apa yang dikatakan Sekar benar adanya, satu malam saja tidak cukup untuk membayar rindu birahinya.

Ketika fajar menyingsing, Geni lelap. Sekar bangun. Ia menatap sepuasnya kekasih pujaannya. Ia menciumi tubuh Geni. Lelaki itu terjaga. "Aku rindu padamu Geni. Enambelas purnama aku tersiksa memikirkan kamu, padahal kamu enak- enakan bercinta dengan Wulan, Prawesti, Gayatri bahkan Ekadasa juga."

"Kamu marah, cemburu?"

Sekar menggeleng. "Aku cemburu, tetapi aku mengerti apa maumu dan aku memberi kamu kebebasan. Aku senang, karena kamu lebih mementingkan aku dari yang lain.

Menurutmu siapa paling cantik, paling indah tubuhnya dan paling panas dalam bercinta?"

'Tentu saja kamu, Sekar, kekasihku."

"Kamu bohong, semua perempuan kamu puji. Di depan Gayatri kamu memuji Gayatri."

Geni mencium lehernya. "Aku sungguh-sungguh, kamu paling cantik. Matamu, mulutmu, semuanya. Kamu cantik jelita, segar dan ceria. Tubuhmu paling indah, pinggang kecil, perut rata, buah dada tegak sintal, bokong dan pinggulmu tak ada lawan, paha dan betismu indah. Tetapi jujur saja, kalau paha dan betis, mbakyu-mu Wulan lebih indah. Sekarang Wulan sudah pergi, tentu saja paha dan betis kamu yang paling indah. Dalam bercinta, kamu liar dan panas, hampir sama dengan Gayatri. Ada satu lagi yang membuat aku harus mendahulukan kamu dibanding semua perempuan lain di kolong langit ini, kamu mau tahu?"

Sekar merasa tersanjung, ia mencium mulut Geni. "Katakan kekasihku."

"Karena kakekmu, Eyang Suryajagad, sudah titip pesan padaku, jangan sia-siakan Sekar. Tanpa pesan itu saja aku sudah kasmaran dan jatuh bangun mencintai kamu, apalagi ditambah adanya pesan dari orangtua yang paling aku muliakan di muka bumi"

"Kamu ketemu kakek Suryajagad, kamu ketemu di mana?

Di mana kakek sekarang?"

"Dia sudah pergi, mungkin beliau akan moksa."

Sekar terdiam. Matanya berair. "Aku ingin ketemu kakek." "Sekar, kamu harus legowo. Kakekmu sudah menyelesaikan

tugasnya di tanah Jawa ini"

"Aku sudah rela dan pasrah. Tetapi kamu harus ingat pesan kakekku, jangan sia-siakan aku." Sekar merangkul suaminya, pahanya melingkar di paha suaminya. "Geni, katakan lagi, kamu mencintai aku, jatuh bangun mencintai aku, apakah begitu hebat kamu kasmaran padaku?"

Geni menggumam sambil menggumuli tubuh isterinya. "Aku bercinta dengan banyak perempuan, tetapi aku hanya mencintai seorang perempuan, namanya Sekar. Aku juga tersiksa memendam rindu. Aku sering mengingat percintaan kita di Lembah Cemara, itu percintaan dahsyat, aku tak pernah bisa lupa. Tetapi, tadi malam caramu bercinta lebih dahsyat lagi. Sekar, aku tadinya cemburu melihat Pranaraja memegang lenganmu, tangannya hampir nyenggol buah dadamu."

Sekar tertawa menggoda. "Ia kasmaran padaku, tetapi ia sopan, selama tiga hari bersamanya, ia tidak berani menyentuhku. Ia tahu aku akan melawan meskipun harus korban jiwa."

Sekar sebenarnya baru empatbelas hari turun gunung.

Tujuannya hanya satu yang paling penting, ia ingin menemui Wisang Geni. Ia menuju Lemah Tulis. Di tengah jalan di desa Gondang ia berjumpa bahkan tarung dengan Gayatri. Di desa itu ia mendengar berita perburuan widali di gunung Argowayang membuat ia mengubah perjalanan.

"Aku merasa pasti, kamu akan ke Argowayang. Aku lantas menuju Lembah Cemara mengajak nenek Kunti ke Argowayang. Di tengah jalan ketemu rombongan Kediri.

Mereka menggoda, terjadi tarung, senopati Hanggada kutempeleng sampai pipinya bengap. Muncul si Pranaraja, aku mampu mengimbangnya puluhan jurus. Itu sebab mungkin ia kasmaran padaku. Entah bagaimana caranya, nenek Kunti sudah ditawan. Mereka mengancam aku. Kebetulan mereka menuju Argowayang, jadi aku manda saja menjadi tawanan sambil mencari kesempatan menolong nenek Kunti.

Selanjutnya kamu sudah tahu ceritanya."

"Ilmu silatmu sekarang maju pesat, mungkin sudah lebih tinggi dari aku, repot, sebagai suami aku akan sulit memerintah kamu. Bisa-bisa kamu menjajah aku."

"Kamu ngaco, ilmu silat yang kau perlihatkan ketika membunuh Lembu Agra dan Lembu Ampai, mana bisa kulawan. Aku hanya bisa mengalahkan kamu di sini, dalam bercinta, membuat kamu kasmaran dan jatuh bangun mencintaiku." "Kamu benar Sekar, aku kasmaran dan setiap berada di dekatmu, aku terangsang. Tadi waktu pertama melihat kamu, memandang wajah dan tubuhmu, aku sudah hendak menerkam, memeluk dan bercinta denganmu." Geni mencium mulut kekasihnya. Dan Sekar menggelinjang, ketika tangan dan mulut Geni sibuk menelusuri sekujur tubuhnya. Keduanya bercinta lagi untuk kesekian kalinya.

---ooo0dw0ooo---