-->

Wisang Geni Bab 17 : Menunggang Angin

Bab 17 : Menunggang Angin

Siang itu Wisang Geni tiba di desa Karangplosos, dekat pusat kerajaan Tumapel. Desa ini merupakan jalan masuk yang paling dekat menuju pusat kerajaan. Tidak heran jika desa ini ramai, banyak warung dan rumah penginapan.

Penduduknya padat, jumlah para pendatang yang umumnya pedagang pun cukup banyak. Di antara penduduk terdapat para punggawa kerajaan yang menyusup dalam penyamaran. Perang dingin antara kerajaan Tumapel dengan Kediri sudah bukan rahasia, itu sebab mata-mata kerajaan Tumapel disebar di desa ini, untuk menangkap siapa saja orang yang mencurigakan. Tangkap dulu baru diperiksa.

Ketika memasuki desa, Wisang Geni mengetahui ada orang yang mengikuti langkahnya. Geni pura-pura tak tahu, dia masuk warung dan memesan makanan. Ada tiga orang yang mengikutinya. Satu di antaranya pergi, dipastikan melapor ke atasannya. Dua rekannya tetap tinggal. Sampai saat itu Geni belum menemukan cara yang tepat untuk menemui permaisuri WaningHyun. Mungkin dua mata-mata itu bisa dimanfaatkan. Berpikir demikian selesai makan Geni menghampiri pemilik warung. "Pak, saya ingin masuk ke keraton, bagaimana caranya, bapak bisa membantu saya?"

Pemilik warung memandang curiga, dia belum pernah melihat wajah Geni. Dia bergumam dalam hati, "Pasti dia orang asing, jangan-jangan orang Kediri, wah bisa celaka aku." Matanya memberi isyarat kepada dua mata-mata kerajaan itu, lalu berkata kepada Wisang Geni. "Orang muda, sampean punya keperluan penting di keraton?"

Terlintas bayangan Trini dan Ekadasa, pendekar ketiga dan kesebelas dari delapan belas pengawal keraton Tumapel. "Ah Bapak, jangan curiga, aku mau menjenguk kekasihku, dia salah seorang dari pendekar pengawal keraton Tumapel." Dua orang mata-mata itu sudah berada di dekat Geni. "Tuan, jika memang mau ketemu pendekar Tumapel, mari ikut kami."

Geni mengikuti dua lelaki itu. Keduanya bertubuh tegap, langkahnya ringan. Pandangan mata dingin, wajah serius yang sulit diajak senyum. Tiba di perbatasan desa, mereka menempuh jalan setapak. Samar-samar tampak pagar tinggi. Di balik pagar itulah keraton dan pusat pemerintahan kerajaan Tumapel.

Dari arah pintu gerbang, beberapa orang berlari ke arah Geni. Mereka berhenti di depan Geni. Jumlahnya tujuh orang. Ternyata mereka kawan dari kedua mata-mata itu. Kepala rombongan, seorang lelaki tinggi kekar bercambang dan rambut gondrong maju ke depan. "Siapa sampean, maksud dan tujuan apa mau ketemu dengan punggawa Tumapel?"

"Maaf, aku cuma mau ketemu pendekar Tumapel yang bernama Trini dan Ekadasa, bawa dua orang itu kemari, maka semuanya akan jelas, dan sampean tak perlu terlalu sibuk"

"Tuturkan dulu maksud tujuan sampean"

Geni bergumam lirih tetapi bisa didengar semua orang. "Kalian cerewet macam nenek-nenek tua, maaf aku tidak punya banyak waktu, dan waktuku sudah terbuang percuma di sini."

Berkata demikian Geni melangkah ke depan. Tentu saja sembilan orang itu marah. "Lancang sekali, berani berlagak di depan keraton Tumapel, kamu pasti orang Kediri!"

Geni tetap melangkah. Tiga lelaki yang berada di depan langsung menyerang. Sekali bergerak Geni langsung menggunakan ringan tubuh yang paling hebat dari Waringin Sungsang. Tubuhnya bagaikan lenyap dari pandangan mata. Geni berkelebat ke pintu gerbang. Sembilan orang itu mengejar. Di depan gerbang para pengawal menanti, semua menggenggam senjata di tangan. Pagar dan pintu gerbang sangat tinggi, tak mungkin bisa diterobos apalagi dihadang puluhan orang bersenjata. Geni merasa serba sulit. Tadinya dia berpikir, mudah menerobos keraton dan keputren.

Ternyata tidak mudah. Jika menggunakan kekerasan pasti akan jatuh banyak korban. Tetapi tampaknya tidak ada jalan lain. Geni mempersiapkan tenaga Wiwaha dan berkata lantang, "Mana pemimpin kalian?"

Seorang berkumis lebat maju. "Siapa kamu, nyalimu besar berani meluruk keraton Tumapel. Kamu punya nyawa rangkap berapa? Hayo ladeni aku, Nanggolo." Lelaki itu menyerang dengan keris terhunus. Ada hawa panas menyembur dari tusukan kerisnya. Jurus yang digunakan juga ganas, menebar hawa kematian. Tetapi ilmu silat Geni sudah mencapai tingkat tinggi Serangan itu tak ada artinya. Geni membiarkan keris menusuk dadanya. Nanggolo ragu-ragu, ia heran mengapa Geni tidak mengelak.

Geni memang tidak mengelak. Begitu ujung keris terpaut satu jengkal dari dadanya, Geni menggerakkan tubuh, tenaga Wiwaha menyedot tenaga lawan. Nanggolo terkejut merasa menusuk ruang hampa, ia hendak menarik serangan, terlambat. Tangannya tergetar hebat, rasa dingin menerobos lewat tangannya merasuk dadanya. Geni menggerakkan tangan, merebut keris dan mendorong. Nanggolo terhuyung mundur empat langkah. Dia hanya limbung. Geni memang tidak berniat melukai punggawa itu.

Pada saat itu bayangan gesit menerobos menyerang Geni. "Siapa kamu berani jual lagak di Tumapel." Lelaki itu menyerang dengan pukulan beruntun. Geni santai menangkis serangan lawan dengan tamparan. Terjadi bentrokan tangan. Tiga kali bentrok, lelaki itu mundur. Dia kesakitan, kedua tangannya merah bengkak. Lelaki itu kecil kurus dengan rambut gondrong. Dia menatap Geni dengan marah. Dia hendak mencabut keris ketika muncul dua punggawa mencegahnya. "Hentikan, dimas."

Dua lelaki yang baru datang, menatap Geni dengan pandangan menyelidik. "Siapa Tuan ? Apakah sampean sadar bahwa telah berbuat makar, memberontak terhadap kerajaan Tumapel?"

"Wah sampean semua sudah melampaui batas. Aku ini datang ke Tumapel ingin ketemu Trini dan Ekadasa, bukannya dipermudah oleh anak buahmu, malah aku dikeroyok Setelah aku dikeroyok, kini kamu menuduh aku makar, memberontak. Rupanya kalian memaksa aku untuk berlaku kasar. Tadi aku tidak mau melukai orang, tetapi jangan menyesal jika sekarang ada yang terluka atau mari"

"Sampean terlalu menganggap rendah Tumapel, aku ingin lihat sampai di mana kepandaian sampean sehingga begitu sombong." Dia menghunus pedang di tangan kanan, tangan kiri memegang sarungnya. Tanpa basa basi, dia menyerang. Sekali gebrak pedangnya menusuk tujuh titik, sarung pedang ikut menghantam kepala.

Geni kesal namun masih mengendalikan diri untuk tidak membunuh. Tetapi untuk mempersingkat tarung, ia memainkan juruss Prabhawa dari Penakluk Raja. Hanya satu gebrakan saja ia sudah nerampas pedang dan sarung lawan. Semua orang terkejut. Lelaki itu, Patwelas, seorang dari delapanbelas punggawa Tumapel, terkesima. Dia tak mengerti cara yang digunakan Geni merebut pedangnya. "Ilmu sihir," gumamnya.

Geni tertawa. "Ya, ini memang ilmu sihir, awas, aku sihir pedang ini menjadi elang raksasa." Sambil Geni melempar pedang dan sarung ke atas. Semua orang terpancing memandang ke atas. Pada saat itu Geni melesat dengan Waringin Sungsang, tangannya bergerak cepat, menyentil pelipis para serdadu dan punggawa. Geni tidak menggunakan tenaga besar, cukup membuat mereka pingsan.

Pedang dan sarung jatuh ke tanah. Tidak terjadi apa-apa.

Sesaat kemudian orang-orang itu sadar sebagian kawan mereka tergeletak. Mereka geger, memeriksa rekannya. Ternyata hanya pingsan.

Punggawa yang tadi datang bersama Patwelas, adalah Panca, pendekar nomor lima dari delapanbelas punggawa Tumapel. Dia menggamit rekannya Patwelas. Keduanya tahu persis bahwa ilmu silat Wisang Geni sangat tinggi, tak mungkin bisa dilawan. Keduanya bingung, tak tahu harus berbuat apa.

Geni mengirim suara keras sampai menggema ke dalam keraton, "Hei bawa keluar Trini dan Ekadasa, sebelum lebih banyak orang yang terluka." Belum juga gema suaranya hilang, lima bayangan berkelebat masuk arena. Seorang di antaranya, Ekadasa, punggawa Tumapel nomor sebelas.

Geni mengenal gadis cantik itu. "Nah ini dia, Ekadasa, kekasihku. Hei kenapa kamu tidak cepat datang."

Wajah Ekadasa merah saking malu. "Aku bukan kekasihmu, eh, kenapa kau berbuat onar dan melukai banyak orang."

"Kalau kamu cepat keluar mungkin urusan tidak sampai rumit begini. Tetapi tak usah khawatir, tak ada yang terluka, tak ada yang mati," sambil menunjuk punggawa yang tergeletak di tanah. "Mereka ini hanya pingsan untuk beberapa saat saja, tidak lama lagi mereka akan sadar. Hayo sekarang antar aku ke dalam."

Ketika Geni hendak bergerak maju, empat punggawa melapis di depan Ekadasa, menghadang gerak maju Geni. Ekadasa berbisik kepada salah seorang rekannya. "Dia adalah Wisang Geni, paduka permaisuri dan paduka raja sengaja mengundangnya. Dan ini rahasia, tak boleh diketahui banyak orang." Ekadasa memberi hormat "Silahkan masuk, tetapi perkataanmu tadi bahwa aku ini kekasihmu, tolong kamu ralat, soalnya itu menyangkut kehormatan diriku."

"Baik, aku minta maaf," katanya sambil tertawa. Kepada orang-orang di sekitar, Geni berkata, "Nona Ekadasa ini tak ada hubungannya dengan aku. Tadi aku cuma main-main, ia bukan kekasihku." Sambil mendekati Ekadasa, Geni bergumam, pelan dan hanya bisa didengar gadis itu sendiri. "Apa perlu aku remas bokongmu lagi?"

Secara naluriah, tangan Ekadasa bergerak melindungi bokongnya. Geni melangkah terus, tak peduli. "Kau kurang ajar," gerutu si gadis. Tetapi dalam benaknya, Ekadasa bertanya-tanya, apakah Geni punya perhatian khusus kepadanya atau hanya iseng.

Wisang Geni dikawal Ekadasa, Panca, Patwelas dan Nanggolo memasuki balairung. Beberapa orang tampak sedang menanti. Antaranya beberapa dari delapan belas pengawal kerajaan. Seorang lelaki separuh baya tampil ke depan. "Ki Wisang Geni, ketua Lemah Tulis, selamat datang di Tumapel. Sudah lama kita tidak bertemu, aku prihatin dan belasungkawa atas kematian isterimu."

Geni membalas hormat. "Terimakasih atas perhatianmu, Ki Pamegat Aku datang karena dipanggil permaisuri, eh iya aku harus memanggil apa kepada permaisuri?"

Belum sempat Pamegat menjawab, datang seorang utusan dari keputren. Gadis pelayan itu memberi hormat kepada Pamegat. "Mohon maaf paduka tuan, hamba diutus yang dipertuan gusti permaisuri, menjemput tamu yang bernama Ki Wisang Geni bersama paduka tuan Ki Pamegat"

Pamegat dan Wisang Geni berjalan di belakang gadis pelayan itu menuju keputren. Begitu masuk ke keputren, Geni mencium wewangian yang harum Ruangan besar dipenuhi warna warni tirai dan selendang. Beberapa dayang yang terdiri dari gadis-gadis remaja, cantik dan bersih, menyiapkan makanan di meja besar. Gadis-gadis tampak sibuk, meski sekali-sekali berhenti memberi hormat kepada Geni dan Pamegat.

Dua gadis pelayan mempersilahkan dua tetamu itu duduk di kursi besar. "Silahkan duduk paduka tuan, tak lama lagi gusti permaisuri dan baginda raja akan masuk ruangan."

Tak lama kemudian, para dayang memberi hormat sambil jongkok sembah sungkem Sepasang pria dan wanita muncul dari ruangan dalam Pamegat dan Geni berdiri. Geni mengenali, Waning Hyun dan Ranggawuni.

Pamegat jongkok sembah sungkem. Geni serba salah. Selama ini ia belum pernah berjongkok sembah sungkem kepada seseorang. Secara naluri ia membungkuk memberi hormat dengan merangkap diia tangannya Geni merasa sudah melakukan sesuatu yang benar. Dia tidak berjongkok sungkem tapi telah memberi penghormatan yang layak kepada raja dan permaisuri.

Waning Hyun tersenyum. Perempuan ini cantik luar biasa, aura kecantikan dan wibawa menyatu dalam tubuh mungil yang dibungkus busana kerajaan warna warni. Di sampingnya Ranggawuni, kini Raja Tumapel bergelar Wisnuwardhana.

Suara Ranggawuni terdengar wibawa meskipun Raja ini berusaha ramah semampunya. "Kangmas Wisang Geni, tak perlu basa basi, duduklah. Kamu datang saja sudah merupakan tanda kamu tidak melupakan persahabatan kita yang tak pernah hilang. Paman Pamegat, duduklah, ada yang perlu kita bicarakan."

Geni tetap saja merasa rikuh. "Aku tidak biasa basa-basi apalagi pakai tata krama keraton," gumamnya pelan.

Permaisuri tersenyum "Kangmas Geni, kami mengerti kamu tidak terbiasa dengan tata-krama keraton, maka silahkan kita bercakap dalam bahasa pendekar seperti pergaulan kita di masa lalu."

Ranggawuni menyela, "Kangmas Geni, aku dan Hyun berdukacita mendengar tragedi kematian mbakyu Wulan." Meski terdengar wibawanya, namun suara itu mengandung duka.

Geni menghela nafas, teringat akan isterinya. Selama ini dia telah berusaha mengatasi rasa duka dan kehilangannya, namun kerapkali rasa duka datang seperti tusukan pedang ke jantungnya. "Aku akan membalas hutang nyawa ini, Lembu Agra si pengkhianat dan Lembu Ampai si punggawa Kediri, aku akan memburu mereka sampai ke neraka pun." Suara Geni terdengar parau. Orang yang mendengarnya merasa seram.

Suasana hening. Geni memecah kesunyian "Hamba sungguh merasa rikuh, hamba tidak terbiasa tinggal di istana, bahkan memanggil paduka tuan berdua pun hamba tidak tahu. Paduka Raja dan Permaisuri, maafkan hamba yang tak punya tatakrama ini."

"Kangmas, jangan berkata begitu. Dulu kau panggil aku Hyun, sekarang ini boleh saja kau panggil aku dengan panggilan itu. Aku bersama kakang prabu sangat senang kau bersedia datang ke sini, ternyata kau masih ingat janjimu dulu."

"Memang benar, hamba datang karena janji, hamba tak boleh ingkar janji, mohon maaf, apa gerangan yang raja dan permaisuri inginkan dari hamba."

Waning Hyun menghela nafas. "Kangmas, sekarang ini aku sebagai adik perguruanmu minta tolong kepadamu sebagai kakak perguruanku, aku bukan menagih janji, tetapi lebih tepat adalah aku minta tolong padamu"

"Katakan permaisuri, jika aku sanggup pasti akan kubantu." "Ini urusan keraton Kediri yang berniat menyerang Tumapel. Sekarang ini menurut mata-mata yang bisa dipercaya, Kediri sudah menghimpun orang-orang hebat dari dunia persilatan. Mereka pasti menyerang Tumapel tetapi menurut kabar mereka akan menghabisi Mahameru dan Lemah Tulis terlebih dahulu."

Wisang Geni mengerut kening "Aku tak pernah tahu bahwa Keraton Kediri memusuhi Lemah Tulis dan Mahameru"

Pamegat yang dari tadi berdiam diri, bicara. "Bisa ditebak, Lembu Agra tak hanya dendam terhadap Lemah Tulis, juga berkeinginan partainya, Turangga menguasai dunia ilmu silat. Itu bisa dicapai jika Mahameru dan Lemah Tulis hancur. Maka ia dibantu Lembu Ampai yang punya kekuasaan, menghimpun tokoh silat yang mendendam Mahameru dan Lemah Tulis."

Geni tersenyum pahit. "Oh jadi Lembu Agra sudah bergabung ke pihak Kediri. Baru sekarang aku tahu di mana dia sembunyi."

Pamegat menyebut nama tokoh persilatan yang bergabung dengan Keraton Kediri, Kalandara dan tiga muridnya, Si Gila dari Ujung Kulon bersama dua saudaranya Parma dan Sakerah, Pendekar Belut Putih, Nenek Kembar dari Segoro Kidul Prameswari dan Kameswari, Pendekar Bayangan Hantu, Lembu Ampai, Lembu Agra bahkan penasehat Raja Tohjaya yang jarang tampil, Pranaraja yang sakti ikut membantu.

Kabar terakhir, penyerangan ke Lemah Tulis dan Mahameru akan dilancarkan dalam waktu satu purnama ke depan. Hanya belum jelas, perguruan mana yang akan diserang duluan.

Geni terkejut. Tak disangka marabahaya sudah di depan hidung sementara Lemah Tulis belum mengetahuinya. Tetapi ia tak begitu khawatir, sistem pertahanan Lemah Tulis sudah ditata rapi. Ia ingat ketika Trini dan Ekadasa berkunjung ke Lemah Tulis yang menimbulkan keributan, hampir semua murid sudah berada pada posisi yang sudah direncanakan. Geni yakin adanya Padeksa dan Gajah Watu serta murid lapis atas yang sudah terlatih, Lemah Tulis tidak mudah diporakporanda. Namun banyak kejadian di luar perkiraan. Maka tak boleh lengah. Pengalaman mengajarkan, duapuluh lima tahun lalu Lemah Tulis dihancurkan gerombolan yang meminjam kekuasaan Ken Arok

Geni teringat percakapannya dengan Gajah Watu dan Padeksa.

Persengketaan antara Kediri dan Tumapel, perselisihan antar keluarga sendiri, tidak jelas siapa salah siapa benar. Yang jelas, keduanya memperebutkan kekuasaan. Itu sebab Geni sepakat tidak mau ikut campur apalagi menyeret Lemah Tulis masuk dalam kancah pertarungan kekuasaan itu. Geni hanya akan menghadapi tokoh silat di kubu Kediri lantaran mereka berniat menghancurkan Lemah Tulis.

Waning Hyun gembira ketika Wisang Geni berjanji membantu keraton Tumapel. Hanya saja Geni menyatakan tidak mau terlibat dalam perang, jika memang terjadi perang antara dua kerajaan itu. "Hamba akan menghadapi orang- orang Kediri terutama tokoh silat yang memusuhi Lemah Tulis. Khususnya dua orang itu, Lembu Agra dan Lembu Ampai akan mendapat bagiannya."

Ranggawuni, Waning Hyun dan Pamegat gembira mendengar janji Geni namun ada keraguan. Mungkinkah Geni sanggup menghadapi banyak musuh yang memiliki kepandaian silat mumpuni. Pamegat lantas menawarkan bantuan tenaga.

Tetapi sebelum Geni menjawab, seorang lelaki muda memasuki ruangan. Tanpa memberi hormat layaknya seorang hamba atau bawahan, pertanda ia memiliki kedudukan tinggi. Dia Mahisa Campaka, saudara seayah Waning Hyun dan ipar sang raja. Ranggawuni berdiri dan merangkul iparnya. "Dimas, kamu baru datang dari perjalanan jauh, kakang Wisang Geni sudah berjanji akan menghadapi para pendekar yang membela keraton Kediri."

Mahisa Campaka tertawa, menyalami Geni. "Sudah lama kita tidak berjumpa kangmas Geni. Aku lihat kepandaianmu makin dahsyat. Beberapa hari lalu aku menyaksikan pertarunganmu di desa Bangsal, kau tidak cuma mengalahkan Kalandara dan tiga muridnya tetapi juga telah mempermalukan mereka."

Usai makan malam permaisuri memerintah seorang punggawa mengantar Geni ke kamar tamu. Di tengah jalan menuju kamar tamu yang letaknya di kebun bunga, Geni melihat Ekadasa mendatanginya.

Pendekar ini sudah ganti busana, tidak lagi mengenakan seragam pengawal, melainkan pakaian biasa. Ia tampak cantik. Ekadasa memerintah punggawa itu pergi. "Biar aku yang mengantar pendekar tamu ini melihat-lihat pemandangan kebun," katanya sambil melirik Geni.

Geni tersenyum "Kamu tidak takut ketemu dengan aku, Ekadasa? Tidak takut kuremas bokongmu lagi" Geni tertawa kecil.

Gadis itu menantang mata Geni. "Kalau memang kamu gemas dengan bokongku, jangan di depan umum, aku malu, Geni."

Dari gelagat dan tingkah laku gadis itu yang agak genit, Geni tahu bahwa Ekadasa membuka peluang yang mengarah ke hubungan intim "Kamu tampak cantik. Sebenarnya aku masih mau ngobrol denganmu tetapi aku sudah ngantuk. Eh, katamu, kamu mau antar aku ke kamarku. Di mana?"

Kamar tamu itu letaknya di pojokan kebun bunga. Tidak ada obor, tetapi cahaya bulan purnama sedikit menerangi kebun. Sampai di depan pintu, Geni masuk sambil menarik tangan Ekadasa yang terlempar ke pelukannya. Di belakang pintu Geni memeluk perempuan cantik itu. Tangan Geni meremas bokong, satu lainnya menyusup dalam kebaya, meraba buah dada yang montok kenyal. Geni mencium dengan liar. Ekadasa terengah-engah.

Ia bicara dengan nafas memburu, "Geni, kamu menyukai aku? Jangan di sini, tidak boleh. Tengah malam nanti kamu kutunggu di kamarku, kamarku di seberang sana, di depannya ada pohon mangga, satu-satunya pohon mangga di keputren ini." Geni masih memeluk, menciumi leher dan mulurnya.

Ekadasa susah payah melepaskan diri, kabur ke kamarnya dengan hati berbunga-bunga.

Tengah malam itu Geni nyelinap ke kamar Ekadasa.

Perempuan itu sudah menantinya dengan hanya sepotong kain melilit tubuhnya. Ekadasa memburu dan melompat ke dalam pelukan Geni. "Kamu datang juga, kekasihku. Jika kamu memang gemas dan menyukai aku, mengapa tak mengejar aku ketika di Lemah Tulis waktu itu."

Semalaman sampai pagi, sepasang anak manusia itu bercinta. Geni menikmati tubuh molek Ekadasa sepuasnya. Namun ia merasa aneh, wajah Gayatri membayang terus. Ia melihat wajah Gayatri yang marah, cemberut dan tertawa. Semalaman ia meniduri Ekadasa namun waj ah Gayatri membayang terus. Keduanya lelap, berpelukan dalam keadaan bugil, sampai fajar menyingsing.

Esok pagi hari saat Geni hendak berangkat, gadis itu memeluknya. Ekadasa masih setengah bugil. "Geni kamu mau pergi? Aku masih belum puas. Lagipula kau bisa istirahat di kamar ini beberapa hari, tak ada orang yang tahu. Aku akan melayani kamu sepuasnya."

Lagi, Geni terangsang melihat tubuh molek wanita itu. Montok dan segar meski agak gemuk Geni menggumuli Ekadasa. Keduanya bercinta lagi. Seharian itu Ekadasa melayani Geni, makan, minum dan bercinta. Perempuan itu mengerahkan seluruh pesona dirinya untuk memikat cinta Geni. Ia menggumam betapa lelaki itu kuat dan liar. "Aku tak mau kehilangan kamu, Geni, apa pun yang terjadi," desisnya di antara deru nafsu birahinya.

Esok paginya Geni melakukan perjalanan cepat menuju desa Gondang, memenuhi janji bertemu Gayatri. Dua malam kemarin ia puas menikmati tubuh Ekadasa. Tetapi sekarang, mengingat akan segera bertemu Gayatri, ia merasa bersemangat dan gairahnya bangkit.

Di tengah jalan ketika memasuki hutan di batas desa Prigen, Geni merasa ada sesuatu yang aneh di sekitarnya, ada seseorang membuntutinya. Namun setiap dia menoleh ke belakang, tak ada siapa pun. Dia memasang telinga, tak ada suara. Tak ada siapa pun, tetapi ia merasa ada orang di dekatnya. Tanpa sadar bulu kuduknya berdiri. Saat itu matahari masih di atas kepala, cukup menerangi kepadatan hutan. Namun hutan itu senyap. Tiba-tiba ia merasa desir angin, seseorang menyerang dari belakang.

Geni menoleh ke belakang. Terlambat, serangan itu datang sangat cepat. Dia berkelit, menangkis. Sia-sia, tamparan lawan menerpa kepalanya. Anehnya tamparan itu bagai usapan, lembut, lunak dan tak bertenaga. Geni melihat bayangan itu bergerak sangat pesat. Dia mengejar, sia-sia. Geni mengerahkan Waringin Sungsang tingkat paling tinggi, tetap saja sia-sia. Orang itu tak terkejar, dari jauh hanya tampak bayangan seseorang berjubah putih. Geni berteriak, "Hei siapa kamu, berhenti, hadapi aku secara jantan."

Dia tak pernah membayangkan ada kejadian seperti itu. Ilmu silatnya sudah tergolong kelas utama di tanah Jawa, mustahil ada orang bisa mempermainkan dirinya. Tetapi nyatanya, kepalanya sempat dielus lawan. Bagaimana seandainya orang itu bermaksud jahat, kepalanya bisa pecah. Dia tetap mengejar, tetapi orang itu tak bisa dikejar, jelas ilmu ringan tubuh lawan sangat luar biasa. Orang itu sengaja main- main. Sesekali bayangan itu bergerak pesat dan hilang dari pandangan mata. Saat berikutnya dia muncul lagi di kejauhan. Dia membelakangi Geni, wajahnya tak terlihat. Geni berteriak, "Tuan pendekar, aku mohon petunjuk."

Bayangan itu, dalam keadaan berlari, tanpa menghentikan langkah, memutar tubuh, lalu berbalik arah berlari kencang menuju Geni. Gerakan itu mustahil bisa dilakukan di tengah udara. Jelas orang itu memiliki kepandaian silat yang tidak terukur tingginya. Kini lawan itu menuju ke arahnya, menyerang! Wisang Geni terkesiap. Ia segera pasang kuda- kuda, mengerahkan segenap tenaga Wiwaha.

Bayangan itu berlari mendatangi Geni, gerakannya membawa serta angin kencang. Semakin mendekat, semakin besar angin yang dibawanya. Debu, daun-daun kering bahkan ranting patah pun ikut terbawa. Geni tak bisa melihat lawannya karena tertutup kepulan debu Tetapi dia tahu persis di balik kepulan debu bercampur daun dan ranting, orang itu melancarkan serangan dahsyat.

Geni mengerahkan tenaga Wiwaha siap dengan jurus Prasidha paling handal dengan sikap jiwa Hayu (Selamat). Angin keras itu menghantam Geni, bermuatan debu, daun- daun dan ranting kering. Geni menghantam sekeras mungkin, adu tenaga. Tetapi tak ada reaksi, pukulan Geni bablas ke ruang kosong.

Ketika angin reda dan debu lenyap. Tak ada siapa pun di depan Geni. Ke mana orang itu? Geni menoleh ke belakang. Ia terperanjat. Orang itu ada di depannya, hanya terpaut satu langkah. "Dia tak bermaksud buruk, jika mau dia bisa saja menghantam aku. Tak mungkin aku bisa selamat,"

Berpikir demikian, Geni tidak bereaksi, diam. Orang itu, kakek berjubah putih, rambut, jenggot dan kumisnya putih seperti kapas. Matanya bening, lembut dan damai. Mendadak Geni ingat seseorang. Tidak mungkin keliru "Eyang Sepuh!" Geni menjatuhkan diri, duduk di tanah, sungkem Kakek itu ikut duduk. Keduanya duduk berhadap-hadapan. "Kamu sudah lama kepingin ketemu Eyangmu ini?" Lalu kakek itu tertawa geli. Geni teringat mimik dan gaya tertawa kekasihnya Sekar, jika tertawa menggoda.

Geni manggut. "Aku sudah lama kangen dan rindu bertemu Eyang, hari ini Eyang sudah mau memperlihatkan diri, cucumu sangat berbahagia, mati pun cucumu ini rela."

"Wisang Geni, putra Gajah Kuning, cucu murid Bergawa, murid Padeksa, kamu bocah nakal. Buat apa kamu mati, kalau kamu mati banyak perempuan yang nangis," katanya sambil tersenyum Kakek itu melanjutkan. "Prawesti cucu Gubar Baleman itu dan gadis dari Hirnalaya itu, juga si cantik Sekar, semua perempuan itu akan menangis. Kamu memang bocah nakal! Aku muncul di depanmu ini tidak untuk menghukum kamu, apalagi hanya soal-soal sepele itu."

Geni terkesiap. Ia heran Eyang Sepuh bisa mengetahui semua kisahnya. "Ampun Eyang, aku memang bersalah, ampuni aku."

"Lho, salah apa. Eyangmu ini waktu masih muda dulu lebih nakal, jumlah istri dan selirku tidak bisa kuhitung, sangat banyak," katanya dengan mimik jenaka, menggoda.

Ada keramahan dan keakraban dalam suara Eyang Suryajagad membuat Geni berani menatap mata orangtua itu. Dia melihat sepasang mau keripui yang hampir leriuiup alis putihnya yang panjang dan lembut bagai kapas. Tetapi mata itu seperti matahari senja, bercahaya terang tetapi tidak panas melainkan sejuk. Kakek itu tersenyum "Tetapi semua perempuan itu tak boleh menjadi penghalang bagimu dalam pencapaian ilmu silat. Maka kamu harus bisa menguasai Raga (Birahi), mengatur Kamuka (Cinta) dan menahan Matirta (Hawa nafsu). Harus bisa, karena jalan utama menuju tahapan tertinggi adalah pengaturan Nenggah (Menahan nafas). Cucuku, kamu masih menyinta istrimu, Wulan yang mati itu?" Geni diam, ragu-ragu. Ia tak tahu ke mana tujuan pertanyaan Eyang Sepuh. Namun ia menjawab jujur. "Tadinya sangat menyintai, sekarang semakin lama semakin aku mulai bisa melupakan."

"Bagus, cucuku. Semua itu, cinta, dendam adalah bagian dari hidup. Berlatih silat juga bagian dari hidup. Semua itu bisa mempermudah hidup tetapi bisa juga mempersulit hidup kita. Hidup ini perbudakan. Kita menjadi budak, diperbudak berbagai macam keinginan. Kamu lihat awan, dia bergerak mengikuti angin. Lihat angin yang begitu merdeka, bergerak semaunya. Dan hebatnya lagi dia berganti-ganti arah sesuka dia. Di dunia tak ada suatu kekuatan pun yang bisa menghentikan pergerakan angin. Coba pikirkan seandainya kamu bisa menaklukkan angin, atau paling tidak meniru persis sifat dan kelakuan si angin itu, pasti hebat ya?"

Geni merenung, pikiran menerawang mengikuti ajaran Eyang. "Cucuku, jadilah seperti angin Bajra, dia bisa semilir Sirir membuat orang ngantuk dan nyaman, tetapi pada saat yang sama dia bisa hamuk macam Lesyus, Nilapraconda dan Bajrapati menghancurkan apa saja yang dilewati Jadilah seperti angin yang merdeka, maka kamu bisa bergerak mengikuti angin, bahkan bisa lebih cepat dan lebih ringan dari angin. Sekarang ikuti Eyangmu. Kosongkan pikiranmu, rasakan angin di sekelilingmu. Angin itu ada, kamu juga ada."

Geni memandang Eyang Sepuh. Kakek itu duduk bersila, perlahan sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat dari tanah. Dia berdiri. Gerakan dari duduk ke berdiri dilakukan tanpa kakinya menginjak tanah. Dia bersilat, juga tanpa berpijak di bumi Geni mencoba tapi gagaL Eyang Sepuh membimbing tangan Geni.

"Jangan rasakan bumi, lupakan bumi, tengadah memandang langit, rasakan angin, bebaskan diri macam awan. Rasakan angin di bawah kakimu. Pusatkan pikiran, tenaga dan hasratmu" Ketika kakek itu melepas tangannya, Geni tak lagi berpikir sesuatu pun, pikiran bebas, kaki tak berpijak di bumi Geni melayang, tetapi begitu dia merasa gembira karena berhasil, saat itu juga kakinya menginjak tanah. Eyang Suryajagad melatihnya berulang kali. "Pikiran harus kuat, sinambungan tidak boleh putus."

Malam hari kakek itu tidur dalam semedi, sementara Geni berlatih tanpa henti. Semalaman Geni berlatih menguasai angin.

Esok paginya Geni sudah mampu duduk, sila dan berjalan tanpa kakinya memijak tanah. Tahapan berikut, bersilat dan bertarung tanpa kaki memijak bumi. "Cucuku, lupakan semua jurusmu, lupakan Garudamukha, lupakan Prasidha, lupakan Wiwaha, lupakan semua, karena semuanya itu sudah ada dalam tubuhmu, sudah ada dalam gerakmu. Kau hanya perlu bergerak terus seperti angin, merunduk, berdiri, menyamping, memukul, menangkis, menghentak, ikuti apa saja yang diperintah pikiranmu, pusatkan pikiranmu terus, jangan putus, inilah inti dari dari merdeka, bebas dan tidak terikat.

Nikmatilah kebebasan, maka kamu akan menguasai angin."

Pagi berganti malam. Semalaman Geni berlatih. Esok paginya, ia berlatih tarung lawan si kakek. Kaki mereka tak memijak bumi. "Lupakan semua jurus, tidak ada lagi jurus. Kamu menyerang jika ingin menyerang. Dan seranganmu tergantung pikiran, keinginan dan pandanganmu saat melihat gerak lawan. Jika dia mengelak ke kiri, ke situ kamu menyerang. Jika ia menyerang, kamu mengelak atau menangkis sesuai yang kamu pikir. Semua sudah ada dalam dirimu, kamu hanya perlu bersikap seperti angin, bergerak ke mana saja. Bagaikan awan yang bergerak ketika ditabrak angin. Seperti halilintar menyambar apa saja tanpa hambatan. Bergerak bebas tanpa dibuat-buat. Bebas, merdeka. Bumi pun tak lagi mengikat, kaki tak perlu memijak bumi. Bebas, tak ada lagi perbudakan." Siang itu Eyang Sepuh duduk bersila, Geni duduk di hadapannya. "Pelajaran sudah usai. Kau hanya perlu melatih pikiranmu saja. Pikiran harus cepat, sangat cepat, karena hanya pikiran saja yang lusa mendahului kecepatan angin.

Semua sudah ada dalam dirimu, jurus, lenaga dalam, semua ada padamu Tugasku sudah rampung, semuanya sudah kuajarkan padamu, kamu akan menjadi pendekar yang tak ada tandingannya, tetapi jangan sombong, jangan takabur, jangan pernah memandang rendah apa pun meski sekecil apa pun. Kamu harus ingat, seringkali yang kecil-kecil itu bisa menjadi raksasa dan yang akan menghancurkan kita. Cucuku, Wisang Geni, setelah hari ini kamu tak perrnah lagi bertemu dengan aku, ajalku sudah dekat, tidak lama lagi aku akan moksa. Sudah saatnya, karena tugasku sudah selesai."

Eyang Sepuh melanjutkan wejangan, "Selama ini aku hanya menanti munculnya seorang murid Lemah Tulis yang mumpuni dan bisa dipercaya. Sekarang aku sudah wariskan semua ilmuku padamu" Dia menghirup udara "Sekarang tanggungjawab ada di pundakmu, Lemah Tulis harus tetap jaya, agar bisa sinambungan mengajar amal kebajikan dan menolong manusia. Jadilah angin, cucuku, memberi kesejukan dan kenyamanan pada umat manusia, jadilah angin topan, guruh dan halilintar jika diperlukan untuk membasmi angkara murka."

Geni memeluk kaki Eyang Sepuh, mencium lututnya, mencium dua tangannya. "Empat hari bersama Eyang serasa bertahun-tahun hidup di swargaloka, aku bahagia, Eyang apa nama ilmu ini?"

"Cucuku, para pendiri Lemah Tulis hanya mewariskan jurus Garudamukha dan Garudamukha Prasidha. Tak ada yang lain. Apa yang kudapat ini adalah pengembangan dari dua ilmu dahsyat itu. Terus terang, tidak ada jurus yang namanya Jurus Penakluk Raja, kau sendiri sudah tahu, kau sudah menemukan intinya. Apa nama jurus ini, Jurus Angin atau Jurus Langit atau Jurus Awan, terserah padamu namanya. Jurus itu kosong, jadi namanya pun kosong. Eh, aku hampir lupa sesuatu yang penting, apa pendapatmu tentang Sekar, apa kau sungguh- sungguh mencintainya?"

Pertanyaan itu mendadak dan tak pernah disangka. Wisang Geni terkejut tetapi hanya sesaat. Ia menjawab mantap, "Eyang, aku mencintai Sekar. Ia paling cantik, tubuhnya molek, ia perlihatkan bahwa ia mencintai aku, tergila-gila padaku, selalu mendahulukan kepentinganku, membuat aku puas dan bahagia. Dia perempuan nomor satu dalam hidupku." Geni heran akan jawabannya yang begitu mantap dan pasti. "Eyang, aku memang mencintai Sekar, meski banyak perempuan lain di sampingku, tetapi hanya gadis itu yang aku cintai. Tetapi di mana dia sekarang? Eyang pasti tahu dia berada di mana?" sambungnya lagi.

"Kamu pasti akan bertemu dengannya, tidak lama lagi.

Camkan ini, Geni, jangan kamu sia-siakan dia!" "Kenapa Eyang? Ada apa dengan Sekar?"

"Dia itu cucuku, putri dari anakku! Aku titip cucuku itu padamu, Geni. Aku tak minta apa pun dari kamu, hanya tolong kamu jangan sia-siakan dia, kasihani dan cintailah Sekar. Dan sekarang Geni, selamat tinggal!"

Wisang Geni menatap bayangan Eyang Sepuh sampai menghilang di kerimbunan hutan. Tanpa terasa air mata menitik. Geni menangisi Eyang Sepuh. "Jadi Sekar adalah cucu Eyang. Itu artinya nenek Tongkat Sapu Lidi adalah isteri Eyang. Apa yang terjadi pada diri Eyang? Mengapa Eyang memilih hidup sendiri, mengapa tidak berdiam di Lemah Tulis berkumpul bersama murid dan teman. Atau hidup bersama isterinya itu?"

Akhirnya Geni mengetahui, justru dalam kesendirian itu Eyang Sepuh menemukan dan mendalami ilmu silat bebas merdeka bagaikan angin dan awan. Tanpa merasa kesendirian, seseorang tidak akan menemukan kebebasan dan kemerdekaan. "Aku rasa, aku tak mungkin bisa hidup sendiri, aku tak perlu mengasingkan diri. Cukup jika aku bebas dan merdeka dalam setiap langkah. Tidak terikat, tidak terkekang oleh siapa pun. Mungkin lebih baik jika aku tinggal di suatu tempat sunyi berdua isteriku Sekar."

---ooo0dw0ooo---

Gayatri tiba di desa Gondang dua hari setelah pertemuan di hutan. Dia menunggu selama tujuh hari tetapi lelaki yang dinanti tak juga muncul. Ia uring-uringan, merasa dipermainkan. Siang itu Gayatri bertiga duduk di warung makan. Ia tampak kesal, ia menggerutu kepada dua pembantunya. "Lelaki itu mempermainkan aku, tujuh hari aku sudah menunggu di desa ini. Apakah harus menunggu sampai aku tua. Dia benar-benar kurang ajar, akan aku hajar dia, kubuat dia menyesal pernah dilahirkan di dunia."

Dua pembantunya, Urmila dan Shamita, menghiburnya bergantian. "Kami akan membalas dendam sakit hatimu."

"Kalian berdua, tak boleh ikut campur soal ini. Kamu ingat itu, lelaki itu urusanku sendiri, mengerti ?!"

Dua gadis itu diam, tak berani buka mulut lagi. Mereka tahu persis jika Gayatri sedang kesal dan marah-marah, lebih selamat jika mereka diam

Tidak lama kemudian amarah gadis itu reda, dia bertanya dengan kesal, "Ke mana aku harus mencari lelaki itu?"

Urmila memberanikan diri. "Putri, di desa tadi aku mendengar cerita adanya binatang sakti wisah yang akan muncul di akhir bulan Cakra di gunung Argowayang. Kata orang, darah binatang itu berkhasiat menyempurnakan tenaga dalam. Sebaiknya kita pergi ke sana, kata orang itu hampir semua pendekar tanah Jawa akan datang ke Argowayang, mungkin lelaki yang kau cari akan datang juga. Jadi kalau kita mau ketemu dia, kita ke sana!"

Gayatri setuju. Sepuluh hari lagi, adalah hari akhir bulan Cakra. Masih ada waktu untuk sampai di gunung itu.

Perjalanan biasa dari desa Gondang ke Argowa yang diperkirakan enam hari. Jika jalan cepat biasa empat hari. Teringat Geni, dia merasa sangat kesal. "Dia membodohi aku, menunggu di sini membuat aku seperti orang bodoh, dasar lelaki bangsat, nanti kuhajar dia."

Pada hari itu kekesalannya mencapai puncak karena Geni belum juga muncul. Ia sedang dalam suasana hati marah.

Kebetulan tiga lelaki iseng menggodanya dengan kata-kata kotor. Gayatri yang sedang kesal menemukan sasaran pelampiasan amarahnya.

Tiga lelaki iseng itu adalah pedagang yang hanya mengerti ilmu silat sekadar membela diri dari gangguan pejahat. Mereka mengira gadis India itu tidak mengerti bahasa Jawa. Tidak dinyana, Gayatri mengerti semua olok-olok kotor yang mereka bincangkan. Kemarahan Gayatri terhadap Geni, tumpah habis atas tiga orang pedagang itu. Senjata bornya melayang menghantam batok kepala lawan. Tiga orang itu mati

Terdengar suara sinis, "Huh perempuan asing berani jual lagak di sini, beraninya membunuh orang yang tak punya kepandaian."

Gayatri menoleh. Seseorang memakai caping sehingga wajahnya tidak tampak. Orang itu duduk di pojok warung makan. Gayatri menjawab ketus. "Kamu siapa, mengapa ikut campur urusanku, tiga orang itu kurangajar, mereka menghina aku!"

"Mereka hanya kurang ajar dan mengolok-olok kamu, lantas kamu bunuh begitu saja, kamu memandang murah nyawa manusia!" Kendati caping itu menutupi wajahnya, namun dari perawakan tubuh dan tonjolan di dadanya, Gayatri merasa pasti dia seorang wanita. "Kenapa? Kamu mau membela mereka, kamu juga mencari mati?"

"Aku tak suka cari perkara. Aku hanya tertarik pada senjatamu, apa hubunganmu dengan perempuan bernama Malini?"

Gayatri terkejut. "Perempuan ini bukan sembarang orang.

Ia tahu tentang senjata Malini dan Kumara. Siapa dia?" katanya dalam bahasa India kepada dua pembantunya. Ia menatap tajam perempuan tak dikenal itu. "Mereka kerabat dekatku, bibi dan pamanku! Aku ulangi kata-kataku, jangan mencari perkara, apakah kamu mencari mati?"

"Urusan apa kamu datang ketanah Jawa, mau membalas dendam kekalahan Lahagawe seperti halnya Malini? Kamu mencari orang Lemah Tulis?"

Gayatri terkejut, tetapi sesaat kemudian justru gembira. "Kamu tahu banyak urusan ini, kamu pasti orang Lemah Tulis, ayo antar aku kepada Wisang Geni!"

"Mau apa kamu mencari Wisang Geni?"

"Kenapa tanya lagi, ya untuk tarung dan mengalahkan dia!"

Perempuan itu mendorong capingnya ke atas sehingga tampak wajahnya yang cantik jelita. Gayatri terkesiap. "Dia masih muda, dan cantik." Tanpa sadar dia bertanya, "Siapa kamu?"

Perempuan itu berdiri. "Namaku Sekar, aku isteri Wisang Geni!"

Sekali lagi Gayatri terkejut tetapi sesaat kemudian ia tertawa. "Kebetulan, kebetulan sekali. Kamu mewakili dosa suamimu, aku akan memaksa kamu membawa aku kepada Wisang Geni." Sekar tertawa sinis. "Kamu pikir bisa mengalahkan aku?" Sekar melompat keluar warung. Ia berdiri di jalanan. Gayatri dan dua pembantunya menyusul. Saat berikutnya dua pendekar wanita itu siap-siap tarung. Sungguh pemandangan langka, nonton dua macan betina bertarung. Semua orang menghindar, nonton dari pinggiran. Sekejap kemudian, terbentuk lingkaran luas sebagai arena tarung.

Urmila maju ke sisi Gayatri. Ia berbisik dalam bahasa India.

Gayatri mundur ke belakang. Urmila berhadapan dengan Sekar. "Untuk menghadapi orang usil macam kamu, tidak perlu majikanku yang maju."

Sekar mendengus dengan suara hidung. Ia diam saja, menanti serangan Urmila. Tanpa menunggu, pendekar India ini maju menyerang. Ia menggunakan kumpulan jurus aneh dari ilmu Teri Sanson Mein Jevan Mein Sirf Teri Kusbu Hai (Dalam hidup dan nafasku hanya ada harum cirimu).

Terjangan pukulan dan tendangan berantai datang bagai angin ribut, tetapi Sekar tidak gentar. Sekali melihat, ia tahu bahwa Urmila tidak terlalu hebat baik tenaga maupun ringan tubuhnya.

Sekar berkelebat dengan ringan tubuh Menunggang Ombak disertai gerak jurus Mawunyangken (Menyakiti hati) dan disusul Hasmaratura (Kesenangan cinta). Terjadi bentrokan tangan lima kali beruntun, Sekar masih melaju terus sedang Urmila terdesak mundur. Urmila terkejut, ia kalah tenaga. Ia berusaha menebusnya dengan pengerahan kekuatan besar serta jurus lebih tajam. Namun Sekar semakin unggul dan lebih mendesak.

Pada jurus duapuluh tangan Sekar molos dari tangkisan dan menghajar pundak Urmila. Gadis India ini mengeluh, ia mundur sambil mencabut senjatanp, bor maut. Saat itu juga Sekar melejit ke pohon kembang karet. Ia memotes ranting kecil yang banyak cabangnya. Pertarungan meningkat seru Senjata bor dikendalikan tali panjang mengincar titik kematian di tubuh Sekar. Tetapi murid Nenek Sapu Lidi tertawa sinis. "Ini bor mainan anak-anak, kamu lihat." Sambil mengelak, ia memutar dan melempar ranting ke arah tali, .sementara tangan lainnya menampar bor baja.

Tidak berhenti di situ, Sekar malahan menyerbu maju.

Ranting itu, melibat tali bor membuat simpul mati sehingga Urmila tak bisa lagi mengendalikan senjatanya. Saat berikut Sekar menampar pipi Urmila, tiga kali. Pipi gadis India itu merah bengkak. Gayatri terkejut, hendak maju. Tetapi dilihatnya Sekar mundur. "Tak usah khawatir aku tidak menggunakan tenaga, aku tidak kejam seperti kamu yang main bunuh semaunya, aku juga tak mau giginya rontok, kasihan gadis cantik seperti dia giginya ompong." Sekar tertawa geli. Dia merasa lucu melihat Urmila meraba pipi dan memeriksa mulurnya.

Saat itu tangan Sekar menggapai Gayatri, mimiknya seperti mengejek "Kamu maju, jangan cuma bisa memerintah anak buahmu saja!”

Ejekan ini memancing kemarahan Gayatri yang lantas melompat maju dengan senjata bor. Suara mencicit terdengar lebih keras, pertanda tenaga Gayatri lebih besar dari Urmila. Sekar tak mau memandang enteng. Ia mengerahkan tenaga Segoro (Samudera) dan memainkan jurus Sapwa Tanggwa yang lugas dan tegas.

Dalam beberapa jurus Sekar kewalahan menangkis dan mengelak. Ia kemudian merogoh senjatanya, sebuah sapu lidi kecil yang disembunyikan di balik punggungnya. Pertarungan jadi imbang, sapu lidi itu berkali-kali menampar pergi bor maut itu. Pertarungan imbang. Pada jurus limapuluh, Sekar melompat mundur. "Aku tak punya waktu mam-main dengan kamu, tetapi kalau hanya kepandaian semacam itu, sebaiknya jangan coba menantang Wisang Geni, kamu akan dipermalukan olehnya, dia terlalu tanggguh buat kamu lawan." Dua perempuan itu saling pandang. Ada kesan baik dari keduanya. Orang-orang melihat dua wanita yang sama-sama cantik jelita. Ketika Sekar hendak pergi, Gayatri berseru, "Tunggu! Benarkah kamu isteri Wisang Geni? Di mana aku bisa bertemu dengannya?"

"Aku pun sedang mencarinya." Sekelebatan Sekar menghilang di keramaian penonton.

Gayatri diam mematung. Ia berpikir keras. Pasti ilmu silat Wisang Geni sangat tinggi. Jika isterinya saja begitu tangguh, apalagi suaminya. "Gila! Gadis itu cantik jelita dengan ilmu silat yang tinggi, hebat juga si Wisang Geni bisa memperisteri pendekar wanita itu"

Tiga gadis Hirnalaya siap-siap berangkat ke gunung Argowayang. Tetapi mendadak Gayatri berubah pikiran. "Aku pikir sebaiknya kita tinggal di sini dua hari lagi, aku mau istirahat dan berpikir. Masih belum terlambat untuk pergi ke gunung itu."

Urmila dan Shamita tidak membantah.

Hari sudah hampir gelap ketika Wisang Geni tiba di desa Gondang. Ia menghentikan kudanya di depan warung makan. Ia memesan makan. Sambil melahap makanan, ia memanggil pelayan dan bertanya apakah pernah melihat tiga gadis asing yang cantik. Pelayan itu manggut. Setelah Geni memberinya uang receh, ia rnemberitahu di mana tiga gadis India itu nginap. Dia juga menceritakan gadis India itu telah membunuh tiga orang iseng yang menggodanya dan bertarung seru dengan seorang pendekar wanita lain.

Malam itu Geni menyatroni penginapan. Ia mengetahui Urmila dan Shamita berada dalam satu kamar. Artinya Gayatri sendirian di kamar sebelahnya. Geni membuka jendela dan menerobos masuk kamar. Ia disambut serangan tajam mengarah leher dan selangkangan. Sambil menangkis, Geni berbisik, "Ini aku, Gayatri!" Gayatri tertegun, ia mengenal suara Geni. Samar-samar lewat cahaya bulan dari jendela, ia melihat Wisang Geni berdiri di depannya. Tiba-tiba Gayatri bangkit amarahnya. "Kenapa kamu membohongi aku?" Ia memukul dada Geni.

Lelaki itu tidak mengelak. "Dess!"

Geni terpelanting, jatuh telentang di lantai. Gayatri terkejut. "Kenapa kamu tidak mengelak?"

Sambil memegangi dadanya, ia mengeluh. "Memang aku bersalah. Tetapi sebenarnya aku terlambat karena ada halangan. Di ibukota kerajaan sedang ribut, jadi semua jalan ditutup pasukan, orang tak boleh masuk keluar. Aku tertahan empat hari."

Gadis India itu luluh marahnya. Ia berlutut dan memegang dada Geni yang masih telentang di lantai. "Dadamu sakit?"

Tangan Geni memegang tangan Gayatri, menuntunnya ke bagian jantung. "Di sini sakitnya, sakit cinta. Dengarkan detak jantung orang yang mencintaimu dan yang rela mati untukmu, Gayatri."

Ia hendak menarik kembali tangannya, tetapi Geni menahannya. Geni menarik tubuh Gayatri. Tangannya memeluk, tangan satunya memegang kepala si gadis. Ia melumat bibir si gadis.

Gayatri tak berdaya, karena sebenarnya sejak ciuman pertama di hutan, gadis India itu sudah takluk. Dia merasakan tangan jahil Geni merambah ke balik baju tidurnya yang longgar. Dia terangsang, nafasnya memburu Dia berusaha mencegah tangan nakal dan mulut nakal lelaki itu. Tetapi dia tak berdaya karena dia menyukainya. Dia hanp berbisik pelan, "Jangan, jangan diteruskan, aku masih perawan, kita harus kawin dulu." Geni menggelitik telinga si gadis dengan bisikan halus, "Aku mencintaimu, aku sungguh-sungguh, aku akan mengawinimu, itu pasti."

Gayatri mulai bereaksi. Ia menjambak rambut Geni, sementara mulutnya memagut mulut Geni Ia membiarkan tangan lelaki itu melucuti pakaian tidurnya. Ia bertanya, "Siapa namamu?" Dalam hati dia merasa sudah gila, kenapa baru sekarang dia menanyakan nama lelaki itu. Tetapi dia puas, karena sudah menemukan pendekar yang pantas menjadi suaminya. "Kalaupun aku harus mati dihukum ayah, aku toh sudah merasakan kenikmatan ini," gumamnya dalam hati

"Ambara." Sekenanya Geni menyebut nama samaranyang pernah ia gunakan ketika pertama kali berkenalan dengan Wulan.

"Ambara kamu harus mengawini aku, kamu janji?"

"Aku bersumpah demi dua orangtuaku yang sudah mati, aku janji akan mengawinimu, kekasihku." Geni memeluk.

Gayatri memeluk Keduanya berpelukan dalam deru birahi. Gayatri menangis. Geni menghibur. Mereka bercinta. Sampai fajar menyingsing keduanya lelap, berpelukan dalam keadaan bugil.

Di kamar sebelah, Shamita dan Urmila saling pandang. "Dia sudah gila! Dia jatuh cinta, sampai perawannya pun ia berikan," bisik Urmila. Temannya menyahut bisik-bisik, parasnya agak ketakutan. "Gawat, guru bisa membunuh kita berdua karena dinilai gagal melindungi putrinya. Tetapi kita tak berdaya, mana berani kita membantah kemauan Gayatri."

Matahari pagi mulai muncul. Gayatri menggigit pundak Geni. "Ambara, aku percaya padamu, kamu harus mengawini aku, jangan ingkar. Kamu sudah bersumpah akan mengawiniku." "Aku akan mengawinimu, itu janjiku dan aku bersumpah demi kehormatan ayah dan ibuku aku akan mengawinimu. Kalau aku ingkar, biar aku mati digigit seribu ekor ular," kata Geni dengan penuh keyakinan.

"Seribu ekor tambah satu ekor yang paling besar. Yang satu itu adalah aku," bisik perempuan itu. Keduanya bercinta lagi.

Gayatri berbisik, "Ambara, kamu benar mencintai aku?" Geni mengangguk

Perempuan itu mengelus wajah Geni. "Begitu cepat kamu jatuh cinta? Kita baru ketemu."

"Pertemuan dan perkenalan ini aneh. Pertemuan pertama aku sudah jatuh cinta. Sepanjang jalan ke keraton, aku membayangkan wajah dan tubuhmu yang indah, itu jatuh cinta yang kedua. Dan sekarang ini aku jatuh cinta yang ketiga. Aku pikir aku harus mendapatkan kamu sebagai isteri, biar selamanya aku bisa memeluk dan mencium kamu" Wisang Geni mengutarakan dengan bisik-bisik sambil mengelus lembut wajah Gayatri.

Perempuan itu menyembunyikan wajahnya di dada Geni. "Kamu adalah laki-laki pertama yang kucintai, aku sudah serahkan cinta dan tubuhku padamu, padahal kita baru berkenalan, ini memang aneh," Gayatri menggigit pelan lengan Geni. "Ambara, jangan bohongi aku, jangan permainkan cintaku, jangan menyakiti hatiku, ya?"

Siang itu di warung makan, Shamita dan Urmila memerhatikan wajah Gayatri yang berseri-seri. Geni tersenyum. Tapi senyumnya lenyap, mendengar cerita pertarungan kemarin siang. Ada gadis cantik jelita, berilmu tinggi yang sanggup mengalahkan Urmila dan meladeni Gayatri limapuluh jurus. Gadis itu mengaku bernama Sekar dan adalah isteri Wisang Geni. Mendengar ciri-ciri si gadis, Geni merasa gembira, ia yakin gadis itu tak lain Sekar isterinya. Gayatri heran, "Kamu kelihatan gembira, kamu kenal gadis itu?"

Geni mengangguk. "Tentu saja, katamu dia isteri Wisang Geni. Nah sekarang kamu tahu, kira-kira sampai di mana tingkat kepandaian pendekar itu setelah kamu tarung dengan isterinya."

Mereka berangkat ke Argowayang. Sepanjang jalan Gayatri manja mendampingi Geni. Mereka menjauh dari Urmila dan Shamita. Malam itu mereka nginap di desa kecil. Setelah usai bercinta, Geni berbisik, "Aku mau mampir di suatu tempat rahasia lagipula perlu cepat, jadi kamu terus ke Argowayang, kita akan jumpa di sana."

Gayatri tak mau. Namun setelah dibujuk rayu, gadis itu akhirnya bersedia mengikuti rencana Geni. Ia mencium Geni. "Kamu jangan terlambat lagi, Ambara aku percaya padamu, jangan tinggalkan aku, ingat kamu sudah bersumpah."

---ooo0dw0ooo---

Lembu Ampai dan rombongan tiba di hutan batas desa Gurah dalam perjalanan menuju Argowayang. Di samping Lembu Ampai, tampak Lembu Agra dan empat pengawalnya dari perguruan Turangga. Selain itu para pendekar utama seperti Si Gila Ujung Kulon bersama dua saudaranya Parma dan Sakerah, Si Belut Putih, Nenek Kembar Segoro Kidul Prameswari dan Kameswari, Si Bayangan Hantu. Juga sepuluh anggota Patlikur Sinelir bersama duabelas punggawa pilihan. Seluruhnya, tigapuluh lima orang. Mereka menuju Argowayang, selain niat berburu binatang sakti widali juga menyerang orang Lemah Tulis. Mereka yakin para murid Lemah TuLs akan hadir, termasuk juga Wisang Geni.

"Sayang Kalandara tidak hadir. Kabar yang kudengar, Kalandara dan tiga muridnya telah dipermalukan Wisang Geni. Mungkin itu sebabnya Kalandara mengundurkan diri,'' kata Lembu Ampai.

"Sayang sekali, padahal aku ingin mengawini Manohara, muridnya yang cantik itu. Tak bisa jumpa sekarang, mungkin suatu hari nanti aku harus mengunjungi Lembah Bunga," tukas si Belut Putih.

"Jika mengunjungi Manohara, sebaiknya kamu bawa emas kawin kepala Wisang Geni, pasti dia senang," kata Lembu Agra.

"Wah mana bisa aku membunuh Wisang Geni seorang diri, jika dia bisa mengalahkan Kalandara bersama tiga muridnya, pertanda ilmu silatnya tinggi, lain hal jika kita rame-rame mengeroyok"

Lembu Ampai tertawa. "Tak perlu mengeroyok, karena adikku ini Ki Jaranan yang dulunya bernama Lembu Agra akan menantang tarung Wisang Geni. Adikku ini ketua partai Turangga."

"Kudengar Turangga punya ilmu andal Pitu Sopakara, bagaimana hebatnya kita saksikan nanti, mungkin bisa mengalahkan Wisang Geni. Aku pikir lebih baik kita keroyok saja ketua Lemah Tulis itu, habis perkara," potong Si Bayangan Hantu.

Lembu Agra melihat sekeliling. Dia melihat pohon kayu yang batangnya sebesar dua pelukan manusia. Dia menuju ke pohon itu sambil berkata lantang, "Kalian lihat ini, jurus Pitu Sopakara”. Dia memukul. Semua orang tertegun. Mereka tidak melihat kehebatan Pitu Sopakara. Apa hebatnya? Pohon tetap tegar, tak ada perubahan balikan kulit pohon sedikit pun tidak lecet. Lembu Agra berkata kepada seorang punggawayang tubuhnya paling kurus. "Punggawa, coba kamu sentuh pohon itu."

Punggawa memegang pohon. Mendadak terdengar suara gemuruh. Pohon besar itu patah dan roboh. Semua kaget, juga Lembu Ampai. Mereka mendekat. Tampak bagian dalam pohon itu hancur. "Pukulan itu tidak merusak kulit luar, lecet pun tidak, tetapi bagian dalamnya hancur seperti bubuk, bisa dibayangkan jika menimpa tubuh manusia," kata Lembu Ampai.

Nenek kembar Prameswari tertawa senang. "Melihat hebatnya Ki Jaranan, aku yakin kita akan menyaksikan tarung hebat di gunung Argowayang, Wisang Geni hebat ilmunya tetapi masih dari cerita orang, aku belum menyaksikan dengan mata sendiri, tetapi pukulan Pitu Sopakara kuakui sungguh hebat."

Lembu Ampai menjelaskan siasat dan maksud tujuannya ke gunung Argowayang. Yang utama, berburu binatang sakti widah. Maksud lain yang tak kalah penting, menghantam dan membunuh orang Lemah Tulis terutama Wisang Geni.

---ooo0dw0ooo---

Rombongan pendekar Cina siang itu tiba di desa Bareng, sekitar tiga hari perjalanan dari desa Bangsal. Mereka menunggang kuda. Paling depan pemimpin rombongan Ciu Tian, diikuti Liong Kam berdampingan dengan sastrawan Siauw Tong, kemudian Sio Lan dan Kim Mei, Li Moy berpasangan dengan Sian Hwa, Sin Thong dengan Pak Beng, Mok Tang dengan saudaranya Mok Kong.

Ciu Tian berpesan pada rekannya. "Kita istirahat di sini, habis makan siang kita lanjutkan perjalanan, jangan lupa kita semua harus tetap kumpul dalam rombongan, jangan ada yang terpisah. Jika kita bersatu, semua kesulitan akan bisa diatasi."

Warung makan itu tidak begitu besar. Begitu sampai di pintu masuk, mendadak Sian Hwa berseru kaget, "Mei Hwa!" Di meja pojokan, sepasang lelaki dan wanita sedang makan. Keduanya terkejut. Mei Hwa menoleh, wajahnya pucat saking kaget, lalu ia berteriak girang. "Ibu," sambil berlari memeluk Sian Hwa. MeiHwa membawa ibunya ke meja, memperkenalkan lelaki itu. "Ibu, ini suamiku, Manjangan Puguh dari perguruan Merapi"

Sian Hwa kaget. Inikah sebab anaknya tidak pulang ke Cina dan memilih menetap di tanah Jawa. "Oh, jadi kamu sudah nikah."

"Iya, ibu maafkan aku. Sudah lebih satu tahun kami menikah, kami sudah punya anak, seorang putri, sekarang ini aku titipkan pada guru suamiku di pulau Sempu. Kau harus lihat cucumu, kulitnya putih, cantik, matanya sipit persis aku, cuma rambutnya ikal seperti ayahnya," kata Mei Hwa sambil melirik suaminya.

Sian Hwa memerhatikan menantunya. Manjangan Puguh, lelaki separuh baya, rambut panjang, kumis tipis dengan tubuh jangkung dan berotot. Lelaki ini tampak segar, matanya bersinar terang, pertanda tenaga dalam cukup tinggi.

Manjangan Puguh membungkuk memberi hormat "Terimalah hormat saya, ibu mertua. Maafkan saya, kalau baru sekarang kita bertemu."

Sian Hwa termenung. Sekonyong-konyong terdengar suara Ciu Tian, "Toaci, terimalah ucapan selamat dari aku dan kawan kawan, kamu telah bertemu anakmu, malahan sekarang kamu sudah punya menantu dan cucu, selamat, selamat"

Mereka mengucap selamat dengan menjura. Sian Hwa membalas. Mei Hwa salaman dengan Pak Beng, Sin Thong dan Liong Kam

"Dulu kiia penuh sama-sama, kami pulang ke Cina, tetapi kamu memilih tinggal. Kami baru tahu sekarang ternyata ada lelaki yang sudah kamu pilih, selamat Mei Hwa," tegur Liong Kam.

Sian Hwa duduk bertiga anak dan menantunya. Sedangkan Ciu Tian dan rombongan memilih meja yang agak jauh.

Tampaknya mereka sengaja menjauh dan tidak mau mengganggu pembicaraan Sian Hwa dengan anak dan menantunya.

Mei Hwa menjelaskan kepada ibunya, kematian Sam Hong, pemimpin rombongan terdahulu terjadi dalam pertarungan resmi yang disaksikan banyak orang. Tak ada yang curang.

Sam Hong mati, di lain pihak Wisang Geni terluka parah.

"Sebenarnya kami hampir menang, semua pendekar tanah Jawa sudah kalah, lalu muncul Wisang Geni dan segalanya berubah. Ia seorang diri bergantian mengalahkan Pak Beng, Sin Thong, kemudian Sam Hong. Hanya paman Liong Kam yang tak sempat menghadapi Wisang Geni, kalaupun punya kesempatan juga pasti kalah, karena dari lima orang dalam rombongan, paman Liong Kam termasuk paling rendah kepandaian silatnya."

Sian Hwa menatap Mei Hwa. "Wisang Geni itu ilmunya setinggi apa, sampai bisa mengalahkan pendekar paling dihormati di Cina, Sam Hong. Ceritamu lain dengan kabar yang dibawa Pak Beng dan Sin Thong, bahwa Sam Hong kalah dalam tarung yang tidak adil, bahwa ada yang membokong Sam Hong dengan jarum beracun."

"Tidak benar cerita itu, tak ada yang curang dalam tarung itu, Sam Hong dan Wisang Geni sesungguhnya sama kuat dan imbang, sayang salah seorang harus kalah, dan kebetulan Sam Hong yang kalah. Seharusnya tarung selesai tanpa ada yang terluka, sayang pada saat akhir Sam Hong memaksakan adu tenaga mati atau hidup," tukas Manjangan Puguh. "Ibu mertua, kalian datang kembali ke Jawa, apakah mencari Wisang Geni?" Sian Hwa menghela nafas. "Aku cuma ingin mencari anakku Mei Hwa Tetapi Ciu Tian ingin balas kematian Sam Hong. Dan Ciu Tian itu kakak seperguruan Sam Hong, selama ini dia menyepi di gunung Wuthan, dia turun gunung melanglang ke tanah Jawa karena kematian Sam Hong. Orang lain, juga ingin tarung dengan Wisang Geni. Sekarang ini aku terangsang ingin menjajal Wisang Geni, sampai di mana hebatnya dia?"

Sian Hwa melanjutkan, "Mei Hwa dan kamu menantuku, aku datang ingin menengok anakku, dan jika Mei Hwa memilih tetap tinggal di negeri ini, aku tidak keberatan begitupun jika ingin pulang ke negeri leluhur. Apapun pilihan Mei Hwa, jika pilihan itu membuatnya bahagia, aku pasti mendukung."

"Maafkan aku, ibu Aku bahagia tinggal di negeri ini, semua orang ramah. Aku bahagia bersama suami dan anak, maafkan aku, ibu"

"Tidak apa. Toh juga sewaktu di Cina, kamu tidak selalu bersama ibumu, aku sibuk menyepi memperdalam ilmu silat, sedang kamu suka bepergian. Tak apa Mei, ibu menghargai pilihanmu"

"Sekarang ini, ibu dan rombongan sedang menuju ke mana?"

"Kami sedang menuju ke gunung Argowayang, katanya ada binatang sakti widah yang akan muncul, siapa yang minum darahnya bisa memperoleh tambahan tenaga dalam, kamu berdua mau ke mana, ke Argowayang juga?"

Mei Hwa mengangguk. Mei Hwa berbisik pada ibunya, "Ibu tahu, dulu itu Wisang Geni pernah jadi murid suamiku, tapi belakangan dia memperoleh tambahan ilmu silat dari berbagai aliran, sekarang ini mungkin silatnya sudah jauh lebih unggul dari suamiku."

Sian Hwa menatap menantunya. Rasanya ingin menjajal silat anak menantunya itu. Sian Hwa menghela napas. "Aku harus membela dia, demi kebahagiaan Mei Hwa." ---ooo0dw0ooo---