-->

Wisang Geni Bab 15 : Limabelas Purnama

Bab 15 : Limabelas Purnama

Lembu Agra duduk semedi. Dua tangan terentang ke samping. Kepalanya tengadah. Nafasnya lembut, nyaris tak ada suara sedikit pun. Dari ubun-ubun kepala tampak uap tipis. Uap tipis itu melingkar-lingkar dan melayang di atas kepalakemudian lenyap. Uap tipis itu bermunculan lagi, demikian seterusnya.

Dia lelaki berusia separuh abad, tampan dan agak kurus. Wajahnya bulat telur, sepasang matanya cekung dan sipit. Rambutnya panjang dikuncir. Kumisnya tipis tercetak di bawah hidung yang agak bangir dan mulut yang berbibir tebal.

Dia bersemedi di salah satu kamar dalam lingkungan keraton Kediri Kamar yang indah dan tertata rapi. Dua gadis, muda dan cantik, duduk di pojok kamar. Keduanya dayang yang siap melayani semua kemauan Lembu Agra.

Lelaki itu menggerakkan tangan. Posisi tangannya berubah menjadi terentang ke depan. Sesaat kemudian wajahnya berubah merah seperti kepiting direbus. Uap tipis semakin banyak dan tebal keluar dari mulut dan hidungnya.

Tak lama kemudian wajahnya berubah lagi dari merah menjadi hijau lantas kelabu dan beralih ke pucat Dia sedang melatih tenaga dalam tingkat tinggi bagian dari ilmu Pitu Sopakara. Sudah dua bulan dia memperdalam latihan semedinya. Sejak matahari terbit sampai terbenam Seharian ia bersemedi. Menjelang malam Lembu Agra membuka matanya. Ia telah menyelesaikan latihannya.

Setelah pertarungan di hutan ketika ia membunuh Walang Wulan, ia berlatih keras. Ia tahu bahwa Wisang Geni sangat perkasa. Ilmu Pitu Sopakara tingkat lima yang dikuasainya, masih kalah. Hari ini tepat dua bulan sejak peristiwa di hutan itu, ia menyelesaikan tenaga Pitu Sopakara tingkat enam.

Hanya tinggal satu tangga lagi menuju tingkat tujuh yakni kesempurnaan tenaga dengan sebelas jurus Pitu Sopakara. Ilmu Pitu Sopakara pada tingkatan awal membutuhkan waktu sampai dua tahun untuk mendalaminya. Pada tingkat dua sampai empat, pencerahan ilmu semakin pelik sehingga bagi orang yang cerdas dengan bakat istimewa diperlukan waktu sembilan tahun. Pada tingkat lima dibutuhkan waktu lebih lama lagi, lima tahun.

Pada tingkat berikutnya waktu yang diperlukan sangat singkat karena hanya merupakan pendalaman dan penyempurnaan apa yang sudah diperoleh pada tingkat sebelumnya. Tingkat enam, pendalaman tenaga inti dan meleburkannya ke sebelas jurus, bisa diperoleh dalam waktu sekitar dua bulan. Pada tingkat tujuh, tingkat penyempurnaan diperlukan waktu sekitar empatbelas sampai duapuluh hari.

Untuk sampai pada penyempurnaan tingkat tujuh diperlukan persyaratan berat Selama tujuh hari pertama, harus dilakukan semedi melatih tenaga batin terus menerus tanpa henti. Tak boleh diganggu, bahkan makan dan minum pun harus dilupakan. Lulus dari tahapan sulit ini, boleh istirahat dan boleh melakukan apa saja. Tahap berikutnya mempersiapkan diri memasuki latihan yang paling sulit.

Tahapan akhir, menggunakan tenaga batin menerapkan daya magis dan sihir ke dalam setiap jurus Pitu Sopakara. Pada tahapan ini seseorang bisa berhasil menguasai ilmu ini dengan sempurna, tetapi jika gagal maka dia bisa gila bahkan bisa kehilangan nyawa, karena tenaga inti yang sudah dikuasainya pada enam tingkatan sebelumnya akan berbalik menghantam diri sendiri.

Lembu Agra tahu persis bahaya ini, tetapi dia telah memutuskan menempuh jalan nekad. Dia yakin jika telah menguasai tingkat tujuh, bukan hanya Wisang Geni yang bisa dihadapinya, dia bahkan tak akan menemukan tandingan di rimba persilatan. Dan untuk mimpi besar seperti itu layak jika ia mempertaruhkan nyawa. Begitu yang pernah dituturkan ayahnya ketika menurunkan ilmu ini secara lisan saat dia masih berusia sepuluh tahun.

Selama satu tahun dia harus menghafal Pitu Sopakara. Ayahnya, ketua partai Tur angga, juga pewaris tunggal ilmu Pitu Sopakara. Ilmu ini memang hanya diturunkan secara turun-temurun. Dari kakek sampai ke ayahnya dan kini dia satu-satunya pewaris.

Lembu Agra sadar bahwa jika dia gagal di tingkat tujuh, bukan hanya nyawanya yang melayang bahkan mungkin saja ilmu Pitu Sopakara ikut terkubur bersamanya. Tetapi dendam itu telah membakar dirinya sepanjang hidup, sejak masih kecil ketika menyaksikan ayah dan keluarganya serta hampir seluruh murid Turangga mati mengenaskan. Selama ini dia hidup hanya karena dendam. Tidur, makan dan berlatih silat dibakar dendam. Dendam itu menjadi kawannya paling setia, menjadi bagian dari hidupnya, seperti bayangan dirinya.

Peristiwa tragis itu terjadi ketika ia berusia duabelas tahun.

Orang-orang Lemah Tulis dan beberapa pendekar tangguh dari perdikan lain datang meluruk dan menghancurkan perguruan Turangga. Alasannya, Turangga adalah perguruan sesat, murid-muridnya banyak melakukan kejahatan.

Ayahnya mati di tangan Rama Balawan, ketua Lemah Tulis.

Paman, ibu serta beberapa selir ayahnya mati dalam tarung dengan Bergawa dan kawan-kawannya. Dia masih ingat sebelum ajal, ayahnya memberi wejangan yang selalu diingatnya. "Anakku, aku mati lantaran malas berlatih, aku hanya sampai di tingkat lima. Maka kau harus berlatih keras, jika menyelesaikan tingkat tujuh, kau tidak akan menemukan tandingan, kau akan menjadi pendekar nomor satu" Partai Turangga punah. Semua murid-muridnya mati atau lari cerai berai. Sedikit yang berhasil meloloskan diri. Seorang di antaranya yang lolos, Lembu Agra. Dua lainnya saudara perguruan ayahnya, Jaran Dawuk dan Cakarwa juga lolos.

Usai tragedi berdarah itu, ia mendatangi Lemah Tulis. Ia menyamar sebagai anak yang tak punya orangtua dan diterima sebagai murid Dia berlatih ilmu andalan Garudamukha namun diam-diam juga berlatih Pitu Sopakara. Belasan tahun, tak seorang pun di Lemah Tulis yang curiga. Sampai hari itu, ia mulai melancarkan balas dendam. Ia menabur racun pelemas tulang ke dalam kendi-kendi air minum

Racun itu membuat para tokoh Lemah Tulis dan semua muridnya keracunan sehingga mudah menjadi korban serangan pasukan dari keraton Ken Arok Tetapi ia belum puas, karena tidak semua orang Lemah Tulis mati. Belakangan orang Lemah Tulis mengetahui siapa dia sebenarnya, tetapi ia tak peduli. Sekarang ia tak perlu sembunyi lagi.

Dua tahun belakangan ini Lemah Tulis menjadi kuat kembali. Semua murid-muridnyayang dulunya cerai berai kembali ke perdikan Wisang Geni diangkat menjadi ketua. Di perdikan itu juga masih ada dua u >koh sepuh yang ilmunya tak kalah dari Wisang Geni, yakni Padeksa dan Gajah Watu. Dan masih banyak murid angkatan kedua, yakni murid Bergawa, Branjangan, Padeksa dan Gajah Watu.

Tujuan hidup Lembu Agra, hanya balas dendam. Dia telah bersumpah akan menumpas habis Lemah Tulis sampai lenyap dari muka bumi Tak boleh ada yang tersisa. Kematian ayahnya, ibunya, kakak-kakaknya harus dibalas. Matinya Bergawa dan Branjangan serta sebagian besar murid utamanya, belum cukup. Lemah Tulis masih berdiri bahkan sekarang ini makin megah dan kuat. Ratusan murid berlatih silat di perdikan itu. Sekarang ini Lemah Tulis bersama Mahameru dan Brantas disebut sebagai tiga perdikan besar di Tanah Jawa.

Dendamnya bahkan lebih besar ketimbang cinta dan nafsunya terhadap Wulan, perempuan yang bertahun-tahun dicintainya. Dia begitu mencintai Walang Wulan, tetapi ketika perempuan itu memutuskan menjadi isteri Wisang Geni, perasaan cintanya berubah menjadi kebencian.

Dendam semakin membara. Sebagian dendam terlampiaskan ketika dia menikmati saat-saat membunuh Wulan sekaligus melukai batin Wisang Geni. Tetapi itu belum cukup, dia berjanji akan membunuh lebih banyak lagi murid Lemah Tulis.

Lembu Agra tertawa puas. "Hari ini aku selesai dengan tingkat enam. Aku butuh duapuluh hari untuk menyempurnakan tingkat akhir, jika gagal pun aku tak menyesal. Gila atau mati pun aku tak menyesal. Aku hanya mengharap arwah ayah, ibu dan saudaraku membantuku. Setelah itu hanya waktu dan nasib yang akan menjadikan aku pendekar nomor satu tanah Jawa."

Dia memberi isyarat kepada dua pelayan wanita, minta dipijat. Seorang memijat pundaknya, seorang lainnya di bagian betis dan telapak kaki. Tak hanya memijat, pelayan itu merangkap budak seks. Lembu Agra bebas memilih dan meniduri semua pelayan di bagian keraton itu.

Malamku berlangsung jamuan makan di bangunan sebelah kanan keraton, bangunan mewah dan cukup besar, tempat tinggal Lembu Ampai Sebagai mapatih, kekuasaan dan kewenangannya sangat besar. Dia orang kedua yang paling dipercaya Raja Kediri Panji Tohjaya. Orang pertama adalah penasehat raja, Mahamenteri Pranaraja, tokoh sakti yang jarang muncul di depan umum

Di ruangan dalam di meja utama yang terletak di pojok bagian dalam, Lembu Ampai, Lembu Agra dan Kalandara sedang bersantap.

Di meja lain di bagian tengah ruangan, duduk tiga murid Kalandara yakni Kemara, Dumilah dan Manohara. Empat lelaki menemaninya. Dua di antaranya berusia lebih dari separuh abad adalah paman guru Lembu Agra yakni Jaran Dawuk dan Cakarwa Dua lainnya, kepala pasukan elit keraton Kediri, Patlikur Sinelir. Ketuanya adalah seorang lelaki berusia empatpuluhan, Senopati Samba, julukannya si Pedang Hitam. Ia duduk berdampingan dengan wakilnya, Hanggada, julukannya si Kera Sakti. Di serambi depan sekitar tigapuluh orang berjaga-jaga

Sambil menikmati santapan yang lezat, Lembu Ampai bertanya kepada Kalandara dan Lembu Agra, siapa saja tokoh silat yang bisa diajak kerjasama mengabdi kepada Raja Kediri. Setelah bertukar-pikiran akhirnya dicapai kesepakatan bersama. Tujuh pendekar utama yang dipastikan mau bergabung.

Karta dijuluki Si Gila dari Ujung Kulon, pendekar aneh yang suka mabuk-mabukan terkenal dengan senjata cemeti beracun. Pendekar Ujung Kulon ini diharap datang bersama dua saudara perguruannya yang sama hebat, Parma dan Sakerah. Seorang lainnya, pendekar yang tidak dikenal namanya, tetapi lebih dikenal dengan julukan Belut Putih, hebat tenaga dalam dan ilmu gulatnya. Dua nenek kembar dari Segoro Kidul, Prameswari dan Kameswari, yang memiliki ilmu tampar dan permainan keris bersatu-padu. Bayangan Hantu, pendekar baju hitam yang terkenal ilmu ringan tubuhnya sehingga dijuluki bayangan, senjatanya pedang tipis dan serbuk pasir beracun.

"Kita tak perlu mengajak mereka bergabung ke Keraton Kediri karena belum pasti mereka bersedia. Tetapi mereka mau gabung jika kita bangkitkan dendam amarah dan rasa permusuhan terhadap Lemah Tulis dan Mahameru," kata Kalandara tertawa

"Sambil menanti orang-orang itu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Lembu Agra

Kalandara menyingsingkan lengan baju. Ia melonjorkan lengannya yang putih mulus. Tanpa menyentuh apa pun, sepotong paha ayam yang berada di ujung meja tersedot ke tangannya "Aku akan memulai perang dengan Lemah Tulis, membunuh setiap murid Lemah Tulis yang kujumpai di tengah jalan, mengirim mayatnya ke sana. Selain itu aku akan mengutus muridku menyelidiki keberadaan Wisang Geni, sampai hari ini aku tak mendengar sesuatu pun tentang pendekar itu, ia seperi lenyap ditelan bumi."

Lembu Ampai memberi hormat kepada Kalandara. "Nyi Kalandara, jika engkau sudah memulai perang, maka aku akan sangat berterimakasih. Sementara ini aku dan adik Lembu Agra akan tetap di keraton, menanti kedatangan para tamu Jangan lupa, setiap waktu kau bisa datang ke rumahku ini."

Usai jamuan makan, Kalandara bersama tiga muridnya diantar ke kamar masing-masing. Lembu Agra berkata kepada Lembu Ampai. "Kangmas Ampai, aku minta bantuanmu, aku akan mengunci diri selama duapuluh hari, tak boleh ada gangguan, apa pun yang terjadi di kamarku tak boleh ada orang yang masuk."

"Ah itu perkara gampang, aku akan perintahkan orang- orang kuat untuk mengawal kamarmu Dinas."

Lembu Agra menyendiri di kamar. Lembu Ampai menyusup ke kamar Kalandara. Senopati Samba ke kamar Dumilah.

Hanggada di kamar Kernara. Hanya Manohara si perawan cantik itu tidur bersama dua murid wanita. Kalandara memang menjaga ketat murid perawan ini yang sebenarnya adalah putri pungutnya. Ia memaksakan agar kamar Manohara bersebelahan dengan kamarnya.

---ooo0dw0ooo---

Keraton Tumapel sedang berpesta. Raja Sri Jayawisnuwadhana Sang Mapanji Seminingrat yang nama kecilnya Ranggawuni hatinya sedang berbunga-bunga. Karena tujuh hari lalu dia baru saja dikaruniai seorang bayi lelaki Seorang putra mahkota. Sudah tujuh hari tujuh malam Ranggawuni menggelar pesta rakyat dan membagi-bagi hadiah kepada seluruh rakyatnya. Hampir separuh dari seluruh beras yang bertumpuk di gudang keraton, dibagikan kepada rakyat. Dan orang yang dipercaya untuk melaksanakan amanah itu adalah Narasing amurti alias Mahisa Campaka, iparnya yang setia.

Di dalam keraton, di keputren kamar permaisuri, Waning Hyun sedang dilayani beberapa pelayan. Minum jamu, pijat khusus, sampai pesolekan mempercantik diri dikerjakan dayang-dayang yang semuanya masih muda-muda dan cantik. Tiga dayang yang menjadi pimpinan berusia sekitar empatpuluhan.

Bagi dayang-dayang itu menjadi abdi dalem yang khusus melayani permaisuri adalah kebanggaan dan kehormatan.

Apalagi junjungan mereka, sang permaisuri, telah melahirkan seorang putra mahkota. Semua dayang-dayang itu mendapat hadiah dari permaisuri.

Waning Hyun, perempuan muda yang cantik. Tidak ada tanda-tanda ia baru melahirkan. Tubuhnya yang dibungkus kulit putih mulus masih tampak indah. Wajahnya cantik bersinar-sinar memancarkan makna kebahagiaan. Seperti umumnya, permaisuri raja akan sangat bahagia dan merasa aman jika anak pertamanya adalah laki-laki. Dapat dipastikan anak itu akan menjadi putra mahkota. Itu artinya kedudukan permaisuri akan aman sepanjang usianya. Apalagi jika saatnya tiba, putranya menjadi raja.

Santapan malam sudah siap di meja besar. Raja Sang Mapanji Serniningrat duduk berdua permaisuri. Tampak sekali pasangan nomor satu keraton Tumapel berada di puncak kebahagiaan. Tetapi dalam rasa bahagianya, Ranggawuni tampak sedikit kesal.

Waning Hyun mengetahui ada sesuatu yang mengganggu pikiran suaminya. Sudah lima tahun dia mengenal watak dan sikap Ranggawuni meski baru satu tahun ini menjadi isterinya. Sejak petualangan mereka ketika dikejar-kejar orang bayaran Panji Tohjaya sampai saat-saat menjadi Yang Dipertuan Agung di keraton Tumapel ia selalu mendampingi kekasihnya itu. "Ada apa Mas, kamu kelihatan kesal, pasti ada urusan besar."

Memang selama ini Waning Hyun jika hanya berduaan dengan suaminya tak pernah menggunakan bahasa keraton. Mereka lebih suka berbahasa kasar sebagaimana di dunia kependekaran. "Gila benar, Lembu Ampai orang kepercayaan Panji Tohjaya semakin gila. Dia kini mengundang banyak tokoh silat kelas utama ke istana Kediri, sepertinya dia menyusun kekuatan. Terus terang aku merasa khawatir."

"Sumber berita itu dari mana, Mas?"

"Tentu saja sumber yang pasti kebenarannya, kangmas Mahisa Campaka yang menceritakan. Dia punya mata-mata di kalangan istana Kediri."

Waning Hyun terkejut mendengar berita itu. Apalagi suaminya menceritakan tidak lama lagi orang-orang itu sudah berkumpul di istana Kediri. Semuanya pendekar kelas utama. Sudah pasti Pranaraja, penasehat keraton yang terkenal cerdas dan menguasai ilmu silat tingkat tinggi berada di balik rencana itu. Juga ada Lembu Ampai, mapatih yang ilmu silatnya tinggi Para pendekar undangan itu antara lain Lembu Agra, Kalandara, Si Gila Ujung Kulon dan dua saudaranya,

Belut Putih, Nenek Kembar dari Segoro Kidul, Bayangan Hantu

"Kelihatannya kekuatan Kediri bukan main-main, sekarang apa rencanamu, Mas?"

"Aku berbincang dengan Dimas Mahisa Campaka dan paman Pamegat, kita juga akan menghimpun para pendekar kelas utama sahabat kita. Tetapi itu hal yang tidak mudah mengingat biasanya mereka tak mau terlibat pertarungan kekuasaan macam ini. Aku bingung." Waning Hyun tersenyum, teringat seseorang. "Ada orang yang pasti mau membantu kita. Dia Wisang Geni, kakak perguruanku. Mungkin juga sebagian murid utama Lemah Tulis, juga guru Gajah Watu dan paman Padeksa."

"Mana mau Wisang Geni membantu, sejak dulu ia sudah pasang jarak dengan keraton Tumapel. Kau ingat kan dia selalu kaku. Kita juga tak tahu bagaimana keadaannya setelah isterinya terbunuh dua bulan lalu. Aku dengar dia bertapa menyendiri, entah di mana."

"Aku tahu dia di mana, dia tidak pergi ke mana-mana, dia tetap di Lemah Tulis hanya tak mau ditemui orang. Dia pasti mau membantu kita."

"Diajeng, aku sedang berpikir apakah perlu minta bantuan dari perdikan Mahameru dan Brantas, selama ini hubunganku dengan dua perguruan itu berjalan baik."

"Begitu pun bagus, pasti Mahameru dan Brantas mau membantu karena setahuku para pendekar yang bergabung ke Kediri punya hutang piutang darah dengan Mahameru dan Brantas. Tetapi tentang Wisang Geni, kau tak usah khawatir, suamiku. Kau tahu, Wisang Geni itu masih punya hutang janji padaku. Aku boleh minta apa saja dan akan dia laksanakan, itu janjinya padaku. Sekarang ini aku akan menagihnya, dia pasti mau. Lagipula hitung-hitung dia itu kakak perguruanku, wajib baginya membantu kesulitan adiknya."

Ranggawuni meninggalkan keputren. Ia memanggil iparnya, Mahisa Campaka dan pembantu setianya Panji Patipati alias Sang Pamegat. Dia menuturkan pembicaraannya dengan isterinya. Terutama perihal minta bantuan dari Wisang Geni, Mahameru dan Brantas. Dua pembantunya sangat setuju terutama jika bisa memperoleh bantuan Wisang Geni.

Untuk menemui Wisang Geni, diutuslah dua pendekar wanita, anggota dari delapanbelas pasukan elit Tumapel. Trini pendekar nomor tiga dan Ekadasa pendekar kesebelas. Keduanya membawa tusuk konde permaisuri. Jika benda itu diperlihatkan kepada Wisang Geni, pasti dia akan mengabulkan permintaan permaisuri. Untuk menemui ketua perdikan Mahameru dan Brantas, juga diutus masing-masing dua anggota pasukan istana Tumapel. Diharapkan dalam waktu satu bulan sudah ada kabar kepastiannya.

Perahu layar itu merapat di pelabuhan Jedung, di muara sungai Porong. Ukurannya yang besar tampak mencolok dibanding semua perahu layar yang berlabuh di pelabuhan. Kapal itu datang dari Kuangchou, singgah di Pucet dan Malaka. Pelayaran ditempuh ligapuluh hari lebih sejak dari Kuangchou. Semua penumpang adalah pedagang asing, dari Cina, India, Melayu, Gujarat.

Pelabuhan tampak ramai. Kuli-kuli memanggul barang dagangan memindahkan ke perahu-perahu kecil. Sebagian pedagang memilih jalan sungai Porong untuk mencapai desa tujuan. Sebagian lain menggunakan kereta kuda, tergantung letak desa yang dituju.

Seorang lelaki berewok bertubuh tambun berdiri di jembatan kecil yang menghubungkan kapal dengan dermaga. Dia mempersilahkan semua penumpang untuk makan siang. Dia memberikan potongan kulit yang sudah diberi tanda sebagai alat bayar makan gratis di warung makan di dermaga yang berada tidak jauh dari kapal.

Serombongan orang asing, jumlahnya empatbelas orang memasuki rumah makan. Sebelas di antaranya, tujuh lelaki dan empat wanita, berpakaian celana longgar dan baju lengan panjang longgar, warnanya aneka macam. Dari dandanannya membedakan mereka datang dari daratan Cina. Tiga orang lainnya, wanita semua, pakaian serta dandanan sangat beda. Mereka mengenakan celana longgar. Bagian atas hanya dililit kain panjang sebatas perut, sehingga bagian sekitar pusar terbuka. Ketiganya berambut panjang dibiarkan terurai melewati bahu. Salah seorang mengenakan pakaian warna hitam, sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Dua temannya sama berbusana warna hijau. Mereka datang dari India.

Dua rombongan itu duduk di meja berdekatan. Rombongan dari Kuangchou berkumpul di satu meja. Kelompok tiga wanita tadi ditempatkan di meja panjang bersama lima pedagang yang dari tampang serta pakaiannya adalah penduduk setempat. Salah seorang dari lima pedagang itu, memperlihatkan sikap genit. Tampaknya dia pemimpin rombongan. Empat orang lainnya adalah anak bualan ya. Dia menatap gadis berbaju hitam dengan penuh kagum. "Aduh cantiknya, aku mau satu malam bersamanya ditukar dengan separuh barang dagangan yang aku bawa."

Temannya yang berewok dengan golok panjang di dekatnya, tertawa kecil. "Pak Lurah, tahu persis barang bagus. Nanti aku yang menjadi mak comblangnya, tapi aku mau pakai bahasa apa, dia datang dari mana ya, dari Malaka ya?"

Temannya yang seorang, kurus jangkung dengan kumis tebal, ikut tertawa. "Wah, kalau aku, aku mau sama perempuan kawannya yang berbaju hijau di ujung sana, lihatlah, dia tak kalah cantiknya."

Orang-orang itu terkejut ketika wanita cantik yang berbaju hijau itu berkata sinis, "Kau mau tahu harga sewa majikanku, harganya sama dengan nyawamu"

Berkata demikian, wanita itu menggerakkan tangannya.

Pada saat sama, lelaki berewok menyambar goloknya. Tetapi sebelum dia sempat menggerakkan senjatanya, seutas tali tipis menyambar tangannya. Lelaki berewok itu merasa tangannya kesemutan. Goloknya terlepas melayang ke wanita itu yang dengan sekali menggerakkan jari tangan, golok patah dua.

Tidak berhenti di situ, tali tipis itu bagaikan ular menyambar dan mematok mulut lelaki pemimpin itu. Tak sempat menangkis, lelaki itu berteriak. Mulurnya berdarah, enam gigi bagian depan, copot.

Lelaki itu tak sempat berdiri. Empat temannya pun tertegun di kursi. Mereka takjub. Tanpa berdiri dari duduknya, tanpa dia menggerakkan tubuh, hanya dengan sebelah tangan memainkan seutas tali tipis, wanita itu telah mempecundang dua lelaki perkasa.

Wanita berbaju hitam mengangkat tangannya memberi tanda menghentikan kawannya. Dia tertawa sinis. "Tak perlu heran, sam tahun kami belajar bahasa negeri ini. Aku belum mau membunuh. Aku akan melepas kalian, tetapi kalian harus keluar dari warung ini dengan jalan merangkak."

Kelima lelaki itu berdiri dan masih seperti orang bingung. Terdengar bentakan wanita baju hitam. "Cepat atau "

Lima lelaki itu cepat menjatuhkan diri, merangkak keluar warung.

Seorang dari rombongan Kuangchou, berdiri dan memberi hormat. "Pertunjukan ilmu yang hebat, nona-nona juga tak perlu heran, kami juga belajar bahasa negeri ini. Rupanya kita sama-sama mempersiapkan diri dengan baik. Kalau boleh tanya apa tujuan nona datang ke tanah Jawa ini?"

Wanita baju hitam masih tetap duduk, membalas hormat, "Sejak kami naik dari pelabuhan Malaka, aku sudah tahu bahwa kalian adalah pendekar kelas utama dari Cina. Kami datang dan India, memang ada tujuan, tetapi tidak sopan jika aku harus memberitahukan apa tujuanku, lagipula aku tidak akan bertanya apa tujuan kalian. Kita tak perlu berkenalan."

Lelaki Kuangchou itu memegang gelas berisi tuak, menawarkan minuman dengan membungkuk. "Nona terimalah hormatku, mari bersulang."

Gelas itu melayang ke nona baju hitam. Si nona baju hitam mengulurkan tangan, menyambut. Tetapi gelas itu pecah persis saat di sentuh jemarinya. Tuak di dalam gelas muncrat. Gadis baju hitam menggetarkan tubuh membuat tetes tuak menjauh darinya. Bajunya tidak terkena walau setetes pun.

Pendekar Cina, sengaja memperlihatkan tenaga dalam yang tinggi. Tetapi gadis India juga memperagakan kekuatan tenaga dalam yang mumpuni. Nona baju hitam tidak bereaksi. Tidak marah. Dia menggamit dua anak buahnya. "Di sini tidak nyaman lagi, banyak orang iseng, ayo kita pergi melancong."

Rombongan dari Cina itu tidak menyangka tiga gadis India itu mau mengalah dan pergi begitu saja. Mereka diam, memandang kepergian tiga gadis. Mendadak terdengar suara gemeretak, ternyata meja dan kursi yang tadi diduduki tiga gadis India itu patah berantakan. Itu pertunjukan tenaga dalam hebat. Meja kursi sudah dirusak tetapi masih berdiri tegar. Selang beberapa saat baru rubuh berantakan. Di ambang pintu, nona baju hitam berkata kepada lima pedagang lokal tadi. "Kalian bayar ganti rugi meja kursi itu, jika masih sayang nyawamu." Lima pedagang itu hanya bisa manggut.

---ooo0dw0ooo---

Prawesti mengerti mengapa Geni menyuruhnya mengintai gerak-gerik dua kakak perguruannya, Raditin dan Kirana.

Keduanya mendapat tugas berat, mengawasi perdikan. Itu sebab ketua ingin memastikan dua perempuan itu melaksanakan tugas dengan baik.

Siang itu Prawesti pergi ke bilik Kirana, tetapi justru berjumpa Raditin di ujung jalan. "Kangmbok, mau ke mana, aku ikut ya."

"Aku mau ke gerbang, katanya ada dua tamu yang memaksa ingin ketemu ketua, lagaknya memaksa."

Di pintu gerbang tampak dua tamu perempuan sedang berdebat dengan murid penjaga. Melihat dua murid wanita datang, dua tamu itu memberi hormat. "Kami datang dari jauh, aku Trini dan dia ini adikku Ekadasa. Kami mau jumpa Ki Wisang Geni."

"Maaf, apa perlunya menemui ketua kami?"

Trini memandang adiknya. Ekadasa menjawab dengan nada kesal. "Tadi sudah kami beritahu kepada penjaga ini bahwa tujuan kami ini rahasia dan hanya bisa kami ceritakan pada Ki Wisang Geni."

Raditin dan Prawesti memerhatikan dua wanita pendatang itu. Trini berusia sekitar empat puluhan, langkah dan geraknya sigap. Wajahnya tampak kaku dan dingin. Ekadasa, berusia duapuluhan, cantik jelita, suka senyum mempertontonkan giginya yang putih dan mulutnya yang menarik. Ada kesan genit.

Raditin tertegun, menduga-duga apakah tetamu ini kenalan dekat ketua. Dia khawatir berlaku kasar yang nantinya malah ditegur sang ketua. Lain halnya Prawesti yang mendongkol melihat lagak genit Ekadasa. Prawesti menduga mungkin perempuan genit ini punya hubungan masa lalu dengan Wisang Geni, hal ini membuat dia makin mendongkol Cemburu

Tidak bisa menahan sabar lagi, Prawesti menegur dengan suara tegas. "Di sini ada aturan, siapa pun tetamu yang bertamu harus menjelaskan asal-usul dan keperluannya, harap kalian berdua mengikuti aturan."

Ekadasa naik darah. Di keraton Tumapel dia ditakuti dan dihormati para bawahan. Dia biasa dimanja dan dipuji para atasan karena kecantikannya. Tidak biasa dia menerima perlakuan kasar, Ekadasa menyahut ketus, "Kau siapa kok lagakmu macam nyonya besar, kulihat-lihat kau masih remaja bau kencur." "Tamu kurangajar!" Prawesti bergerak cepat, mendadak dia sudah berada di depan Ekadasa. Tangannya bergerak menampar mulut Ekadasa.

Ekadasa tidak berdiam diri. Dia berkelit sambil menendang selangkangan dan meninju wajah Prawesti. Dalam sekejap dua perempuan ini terlibat pertarungan sengit. Trini dan Raditin diam di tempat. Salah tingkah, ingin memisah namun khawatir dikira melakukan pengeroyokan. Keduanya saling pandang, siap siaga. Berjaga-jaga jika rekannya terancam bahaya.

Raditin terheran-heran melihat sepak terjang Prawesti. Dia tak mengira ilmu silat gadis itu setinggi itu. Tetapi begitu mengingat hubungan Prawesti dengan ketua, dia tidak heran lagi. "Tentu saja, karena ketua sendiri yang melatihnya langsung."

Prawesti dengan gesit memainkan jurus-jurus Garudamukha. Karena kesal maka Prawesti tak segan memainkan jurus telengas. Serangan gencar ini membuat Ekadasa terdesak mundur. Meski sudah berupaya keras meladeni, dua pukulan Prawesti mengena pundak dan lengan Ekadasa. Ekadasa terpukul mundur dua langkah. Sebelum serangan Prawesti datang lagi, Ekadasa mencabut pedang dari pinggangnya. "Aku terbiasa menggunakan pedang, silahkan kamu ambil senjatamu."

"Menghadapi keledai macam kamu, aku tidak perlu senjata."

Ekadasa benar-benar marah, disebut keledai. "Kamu cari mati." Ia menerjang dengan jurus pedang Bianglala. Kilatan pedang dan suara desir angin membuat Prawesti terkejut. Gadis Lemah Tulis ini belum punya pengalaman bertempur, apalagi tangan kosong menghadapi pedang. Pertarungan baru berlangsung beberapa jurus, Prawesti sudah kedodoran.

Pedang itu seperti punya mata, memburu Prawesti ke mana dia berkelit. Suatu saat pedang itu mengincar perut dan dada, Prawesti nekad menggunakan jurus Manusup (Menyelinap) dan Gongkrodha (Kemarahan luar biasa). Jurus Prawesti itu akan menghantam selangkangan dan dada lawan, sementara pedang lawan akan mengenai perutnya. Prawesti memang nekad tetapi punya perhitungan, bahwa pada saatnya nanti dia akan bergerak menyamping sehingga pedang hanya akan merobek kulitnya. Meskipun demikian, tetap saja resikonya maut. Kedua perempuan itu terancam maut.

Raditin dan Triniyang berdiri agak jauh, terkesiap.

Keduanya ingin bergerak, tetapi sudah terlambat. Pada saat kritis itu, mendadak datang angin kencang membuat debu beterbangan. Terdengar suara jeritan dua perempuan ku.

Seorang lelaki separuh baya muncul, Padeksa. "Jika diteruskan kalian berdua akan sama terluka, bisa-bisa luka parah."

Padeksa datang tepat pada saat kritis. Ia memukul dengan tangan kosong menggunakan tenaga dalam yang tinggi. Ia berhasil mendorong tebasan pedang sekaligus merampas senjata itu, sedang tangan kirinya mementahkan pukulan Prawesti. Tentu saja gerakan Padeksa membuat Ekadasa dan Prawesti terpental beberapa langkah mundur.

Raditin dan Prawesti membungkuk memberi hormat.

Raditin memanggil orangtua itu dengan sebutan guru sedang Prawesti menyebut kakek. Mendengar itu Trini dan Ekadasa memastikan orangtua itu pasti tokoh sepuh perdikan.

Keduanya yakin yang datang itu bukanlah Wisang Geni, karena menurut kabar ketua Lemah Tulis seorang muda tampan dan berilmu tinggi.

Mau tidak mau Trini dan Ekadasa memberi hormat. Trini bertutur dengan basa-basi, "Kami tak punya maksud cari keributan di sini, tetapi salah faham telah terjadi, jadi harap maafkan adik saya." Padeksa tertawa. "Nona mau jumpa ketua kami, apakah nona pernah mengenal ketua kami, dan apa maksud kedatangan nona?"

"Kami membawa pesan rahasia dari seorang kenalan karib ketua Lemah Tulis, kami ingin menyampaikan langsung kepada Ki Wisang Geni, harap bapak bisa membantu mempertemukan kami dengan beliau."

Padeksa menugaskan Raditin dan Prawesti mengantar dua tamunya ke bilik penerima tamu Dia sendiri menuju ke bilik Wisang Geni. Tak lama menunggu, Trini dan Ekadasa melihat Padeksa datang bersama Geni.

Trini dan Ekadasa hampir tak percaya melihat tampang Wisang Geni. Lelaki itu tampak muda. Meskipun rambutnya beruban seluruhnya, tetapi Ekadasa menaksir usia Geni sekitar tigapuluhan. Padahal menurut permaisuri Waning Hyun, usia ketua Lemah Tulis sekitar tigapuluh lima. Tubuh Geni yang tegap dan berotot, wajah yang tampan, kulit tubuh sawo matang agak gelap membuat jantung Ekadasa berdegup keras. Perempuan cantik ini berusaha tersenyum semanis mungkin.

Raditin dan Prawesti masih berada di ruangan itu. Prawesti memerhatikan gelagat Ekadasa, tanpa sadar gadis ini berbisik pelan namun bisa didengar Ekadasa. "Huh, tidak punya malu."

Ekadasa merasa wajahnya panas. Marah dan malu. Tetapi dia tak membalas sindiran itu. Apalagi saat itu Trini memberi hormat. "Kami berdua utusan keraton Tumapel, aku Trini dan ini adikku Ekadasa, apakah kami berhadapan dengan Ki Wisang Geni?"

"Ya, aku Wisang Geni, ada keperluan apa?"

Trini menoleh ke kiri dan kanan, agak ragu-ragu. Geni merasa geli. "Kau katakan saja apa tujuanmu, semua yang berada di ruangan ini orang kepercayaanku." "Kami membawa benda kiriman dari permaisuri keraton Tumapel, paduka yang mulia Waning Hyun, kata beliau, benda ini berikan langsung kepada Ki Wisang Geni, nanti tunggu apa pesan dia untuk aku." Trini merogoh benda dari kantung bajunya, tetapi mendadak saja benda itu melompat ke tangan ketua Lemah Tulis.

Trini terkejut. Ekadasa lebih kaget lagi. Dia tahu batas kepandaian kangmbok-nya, di Tumapel Trini sangat disegani. Jabatan sebagai orang ketiga di pasukan elit Tumapel tidak diperoleh begitu saja, tetapi melalui penghargaan atas kepandaiannya.

Wisang Geni menimang-nimang tusuk konde emas berhias berlian itu. Dia tertawa. "Aku sudah lupa benda ini, tapi Waning Hyun belum lupa. Akhirnya datang juga saatnya aku membayar hutang. Katakan kepada permaisuri junjunganmu, aku akan datang menemuinya secepat mungkin."

Ekadasa berusaha menarik perhatian Wisang Geni, dia menyela sebelum Trini. "Kalau boleh bertanya, kapan kira-kira sampean datang ke istana, supaya kami bisa menjemput di gerbang, apakah boleh kami meminta benda tadi, akan kami kembalikan ke istana."

Wisang Geni tertawa. "Tak perlu repot-repot menjemput aku, aku bisa mengubah diri menjadi burung dan bisa masuk langsung ke keputren. Dan benda ini akan kusimpan, atau kalau kalian mau ambil silahkan mengambil dari tanganku."

Trini diam bahkan tegang. Tidak demikian Ekadasa yang memang berniat berkenalan dan menarik perhatian Wisang Geni. "Ayo kangmbok, kita ambil."

Ekadasa menyerbu ke depan. Trini yang memang sedikit penasaran dan agak tidak percaya bahwa Geni yang kelihatan muda usia itu bisa dijuluki jago nomor satu tanah Jawa ikut menerjang. Geni tertawa. Ia memang ingin menguji ilmu Prasidha dan Penakluk Raja yang baru dipelajarinya. Ia memainkan dengan rasa gembira, karena memang hanya ingin bersenang-senang. Geni tidak menggunakan tenaga berlebihan, takut melukai dua perempuan itu. Tangan kirinya menerima tenaga pukulan Ekadasa, memutar tubuh dan memegang bokong perempuan itu, kemudian mendorongnya ke arah Trini. Dua perempuan itu nyaris bertubrukan.

Ekadasa merah wajahnya, malu karena pantarnya ditepuk dan diremas. Tetapi diam-diam dia girang, paling tidak dia tahu lelaki itu punya perhatian padanya. Ia tahu dari bagian tubuhnya yang selalu menarik perhatian lelaki adalah wajahnya yang cantik, lingkar pinggangnya yang kecil dan bokongnya yang semok. "Suatu waktu kamu pasti akan mencari aku," gumamnya dalam hati

Trini juga serba salah. Maju lagi, tak mungkin, ilmu lelaki itu jauh di atas kemampuannya. Tidak bisa tidak, suka atau tidak suka, Trini memaksa senyum dan memberi hormat. "Terimakasih atas pelajaran ketua, kami mohon diri."

---ooo0dw0ooo---

Tebing karang itu tinggi di atas permukaan air laut. Sekar duduk termenung. Ia menengadah ke langit menatap awan putih yang berarak menutupi matahari siang. Jauh di bawah tampak debur ombak Segoro Kidul yang menghantam kaki tebing. Sekar sering duduk di situ menyaksikan dan mempelajari gemuruh ombak.

Sifat dan gerak ombak menjadi inti pelajaran tenaga batin.

Ombak datang dari tengah laut, gelombang di belakang mendorong yang di depan, bergulung-gulung dan bertumpuk menghasilkan kekuatan dahsyat yang menghantam tebing karang seakan hendak melumat dan meruntuhkannya. Limabelas purnama silam, pertama kali menginjak tebing curam yang tinggi itu, neneknya membeber inti kekuatan tenaga dalam. "Kamu akan memiliki tenaga dalam mumpuni, menyerang seperti terjangan ombak dan gelombang Segoro Kidul, bertahan bagaikan tebing yang tegar. Kamu lihat tebing itu, dia tidak goyah meski begitu hebatnya terjangan ombak."

Tanpa terasa Sekar sudah menyelesaikan seluruh pencerahan ilmu silat neneknya. Tenaga inti Segoro membuat Sekar salin rupa menjadi seorang pendekar wanita yang kekuatan tenaga dalamnya sangat mumpuni. Ilmu ringan tubuh dikuasainya setelah mahir bermain-main di atas ombak ganas Laut Kidul. Entah sudah berapa banyak air laut yang tanpa sengaja telah diteguknya ketika berlatih bersama neneknya. Neneknya memberi nama ilmu ringan tubuh ciptaannya Wimanasara mengibaratkan gerak secepat panah sakti. Setelah menguasai dua ilmu itu, barulah si nenek mewariskan ilmu Sapwa Tanggwa yang terdiri tujuhbelas jurus. Ilmu itu banyak mengandung perubahan sehingga tidak mudah dipelajari. Satu jurus dikuasai setelah pendalaman sekitar duapuluh hari. Uniknya jurus itu tidak berurutan.

Nama-nama jurusnya pun aneh dan unik bahkan tidak sesuai dengan gerakannya.

Waktu itu, ia sempat protes ketika neneknya mengajarkan jurus Cumangkrama (Menyetubuhi). Jurus itu indah tetapi dahsyat dan mematikan sebab tujuannya titik kematian lawan, hanya namanya yang agak gila. "Nek, mengapa jurus itu dinamai Cumangkrama, itu kotor dan agak gila, lebih baik diganti saja Nek."

Nenek Sapu Lidi marah. "Tidak boleh. Itu ada artinya, ada sejarahnya, tak boleh diganti, sampai kapan pun tak boleh diganti. Awas kamu, nduk. Semua jurus itu kunamai sesuai suasana hatiku pada saat menciptakan jurus itu."

Ada jurus lain yang namanya unik Manguswapujeng lantaran lutut dan belakang lutut Murni sering diciumi sang suami. Atau jurus Sasabsasab karena suaminya telah mencuri keperawanan miliknya. Atau Raganararas karena sifat suaminya yang mudah tertarik pada perempuan cantik.

Sekar merasa ada yang aneh dan tragis dalam hidup neneknya. Sedikit demi sedikit ia mengorek keterangan dari mulut neneknya sampai akhirnya ia bisa merangkum cerita kehidupan sang nenek yang nama aslinya Murni.

Murni seorang gadis lugu dan polos pada usia limabelasan, cantik dengan tubuh yang molek. Ia terpikat bujuk rajai seorang pendekar yang dijuluki orang Pendekar Matahari. Usia lelaki itu tigapuluhan, tampan dan sangat piawai ilmu silatnya. Keduanya jatuh cinta. Bagi Murni itulah cinta pertama yang berlangsung abadi sampai di hari tuanya. "Aku tak pernah mengenal lelaki lain selain dia, suamiku itu," tutur neneknya.

Pendekar Matahari malang melintang di dunia kependekaran, tak ada tandingan. Murni banyak memperoleh pencerahan ilmu silat dari suaminya, sampai suatu waktu sang suami menganjurkannya untuk menciptakan jurus sendiri yang sesuai dengan perasaan dan pikirannya. Waktu itu ia tak begitu tertarik nasehat sang suami.

Sebagai pendekar terkenal, lihai dan tampan'udak heran kalau ia punya banyak isteri. Tetapi ia tak pernah bisa melupakan Murni. Karena Murni selalu memberi kepuasaan dan kebanggaan sebagai seorang lelaki. Murni tak pernah cemburu Ia tahu, banyak gadis lain yang cantik, lebih cantik yang sanggup melarikan suaminya. Itu sebab ia mempelajari cara bercinta bermacam cara. Pemikiran ini amat membekas sehingga tigapuluh tahun kemudian ketika menciptakan ilmu Sapwa Tanggwa salah satu jurusnya ia namai Harwuda (Seratus ribu juta).

Hubungan cinta itu berlangsung duapuluh lima tahun.

Mereka tak pernah hidup bersama, namun dalam pengembaraannya si suami tak pernah bisa berlari jauh dan selalu pulang ke pelukan Murni. Murni melahirkan sepasang putra putri. Putranya kawin dengan gadis biasa, melahirkan Sekar. Putrinya masih perawan remaja ketika hari naas itu tiba. Tragedi besar menimpa Murni, seluruh keluarganya terbunuh, hanya Sekar yang lolos dari kematian.

Ia dan suaminya mencari si pembunuh, Sekar yang masih kecil dan menderita penyakit cacar dititipkan padi Kunti, adiknya yang berjuluk Dewi Obat. Tragisnya, si pembunuh ternyata salah seorang selir atau kekasih sang suami.

Pendekar Matahari tanpa ampun membunuh selirnya itu. Tetapi tragedi membawa akibat panjang. Mungkin kecewa dengan tewasnya sang putra, Pendekar Matahari menghilang, tak pernah lagi bisa ditemui.

Murni mencari dan mencari, tetapi tak pernah bisa menemukan lelaki yang dicintainya itu. Murni juga dilanda kekecewaan berat, dua anaknya mati, suami tercinta menghilang. Untuk mengatasi kekecewaan itu Murni menumpahkan semua perhatian pada penciptaan ilmu silat Duapuluh tahun kemudian ia berhasil, lahirlah tenaga batin Segoro, ilmu ringan tubuh Wimanasara dan tujuhbelas jurus Sapwa Tanggwa.

Suatu malam dalam tidur lelapnya, seseorang membelai rambut dan mencium lututnya. Ia tahu orang itu adalah suaminya, tetapi ia tak kuasa bangun. Tubuhnya lemas, tak bertenaga. Pasti perbuatan sang suami. Ia tak kuasa bicara. Tetapi ia mendengar semua perkataan suaminya.

Laki-laki itu mengaku, sejak perpisahan itu, ia tak pernah bercinta dengan wanita lagi. Seluruh waktu ia curahkan untuk ilmu silat. Ia berpesan kepada Murni agar menyempurnakan ilmu silat Sekar. Ia juga memberitahu bahwa Sekar telah menjadi isteri seorang pendekar sejati, Wisang Geni. Ia menegaskan bahwa cucu mereka, Sekar, tidak salah pilih.

Murni berusaha bergerak, duduk atau berdiri tetapi mana mampu melawan kepandaian si suami. Murni tak bisa bergerak, hanya bisa menangis. Dan lelaki itu menghapus airmata di pipi isterinya, lalu mencium kedua matanya. Ia berbisik pada isterinya, "Aku bercinta dengan banyak perempuan, tetapi aku cuma mencintai satu perempuan di dunia ini, kamu Murni."

Ia pergi begitu saja. Murni tak bisa menahan kepergiannya karena tak bisa menggerakkan tubuh bahkan jari pun. Murni kesal dan hampir gila memikirkannya. Tapi malam itu Murni mengerti, duapuluh lima tahun bercinta dan saling mencinta, sudah lebih dari cukup. Suaminya sudah memilih hidup untuk membantu orang lain. Murni harus legowo.

Ia memutuskan melaksanakan pesan si suami. Ia mencari Sekar di Lembah Cemara, tetapi Sekar dan Dewi Obat sudah pergi entah ke mana. Ia mendengar adanya pertarungan para pendekar tanah Jawa lawan jago-jago daratan Cina di bukit Penanggungan. Ia tiba di bukit pada hari pertarungan. Ia mengenali Dewi Obat, adiknya. Dari jauh ia memerhatikan gadis cantik yang berjalan bersama Dewi Obat Ia terperanjat ketika Dewi Obat memanggil nama gadis itu, Sekar. Dia itu Sekar, cucunya.

Sepuluh tahun lalu saat ia mengantar cucunya ke Lembah Cemara, Sekar masih gadis usia delapan tahun dengan wajah penuh totol hitam, burik. Kini ia melihat seorang gadis dewasa dengan paras cantik bersih. Tak ada lagi totol dan bercak hitam. Ia takjub dan kagum menyaksikan sepak terjang Wisang Geni. Ia gembira dan bahagia melihat besarnya cinta Wisang Geni terhadap cucunya. Ia membuntuti dari jauh dan tepat pada saatnya menolong Sekar yang akan diperkosa Lembu Agra.

Sekar terenyuh mendengar kisah neneknya. Dan ia sangat terkejut, mengetahui Pendekar Matahari itu adalah Ki Suryajagad, tokoh misterius yang menjadi legenda hidup perdikan Lemah Tulis yang ternyata adalah kakeknya. Waktu itu si nenek senyum menggoda. "Sudah suratan dewata, bahwa kamu menjadi isteri Wisang Geni, murid Lemah Tulis. Tetapi lucu juga, suamimu itu suka mencium lututmu, sama seperti Suryajagad yang selalu terangsang setiap mencium lututku, aneh ya nduk?"

Sekar terdiam, lalu mendadak ia berteriak dan melompat memeluk neneknya. Ia malu tetapi merasa geli. Neneknya ini memang aneh. "Kamu ngawur Nek, kamu ngintip ya Nek?"

Neneknya tertawa geli. Sekar menyembunyikan wajahnya di leher sang nenek. Ia berbisik. "Kamu ngintip yang di mana, Nek?"

"Aku lupa, banyak yang kuintip," katanya sambil tawa cekikan.

Kejadian itu sudah lama berselang, tetapi Sekar masih ingat akan kenakalan sang nenek. Sekar tertawa sendiri. "Kalau aku ceritakan pada Geni, bahwa nenek sering ngintip, tidak bisa kubayangkan bagaimana air mukanya," gumamnya sendiri.

Dalam kesendirian di atas tebing Sekar terbayang wajah Wisang Geni. Rasa rindu itu datang menyerbu seperti tikaman sembilu. Sekar mengeluh, betapa ia mencintai lelaki itu. Ia sungguh rindu. Tetapi ia merasa heran dirinya bisa melalui perasaan rindu itu selama limabelas purnama lebih.

Pada awalnya, perpisahan dengan suaminya membuat ia tak bisa tidur. Bayangan Geni tak pernah tanggal dari ingatannya. Hari-hari berikutnya, rasa rindu itu mulai berkurang karena neneknya mulai menderanya dengan latihan silatyang sangat berat, setiap pagi, siang bahkan malam hari. Tak pernah berhenti. Istirahat bagi Sekar hanya pada waktu tidur.

Siang itu di tebing Sekar menanti neneknya. Hari ini latihan dan pembelajaran silat selesai. Tamat! Neneknya menjanjikan ia boleh turun gunung. Dan ia akan menuju Lembah Cemara bertemu nenek Kunti. Setelah itu ia akan mencari Geni.

Muncul rasa rindu dan kasmaran akan suaminya. Rindu yang menggerogoti benaknya, membuatnya hampir gila. Tiba-tiba terdengar siulan panjang, melengking tajam mengatasi suara debur ombak dan desir angin laut. Tak lama kemudian, nenek muncul dari arah laut. Ia memanjat tebing menggunakan sapu lidi. Gerakannya cepat dan bertenaga, sekejap ia sudah berdiri di samping Sekar.

Sekar melompat menghambur ke pelukan neneknya. "Nenekku yang cantik, akhirnya kau datang juga. Aku sudah hampir mati menunggumu, ke mana kamu pergi selama dua hari."

"Aku mencari perbekalan untuk satu minggu lagi," sambil memperlihatkan bungkusan kain di tangannya. "Nduk, aku tahu akal bulusmu, kalau kamu sudah menyebutku nenek cantik, itu pasti ada permintaannya."

"Nek, kau membawa bekal untuk satu minggu, buat apa? Jangan, jangan Nek, aku tak mau lagi tinggal di sini, aku mau pulang hari ini. Kamu sudah janji. Bahkan seharusnya duapuluh hari lalu aku sudah boleh pulang, aku sudah tamat belajar."

Si nenek tidak menjawab malah tawa cekikikan. Sekar cemberut, mencubit lengan neneknya. "Kamu janji pada suamiku hanya duabelas purnama, tetapi lihat sekarang ini sudah limabelas purnama. Lagi pula aku sudah tamat belajar seluruh ilmu silatmu"

"Belum, belum semua!"

"Nenek, kamu sendiri mengatakan, semua ilmu sudah kamu wariskan padaku, jangan ingkar janji Nek!"

"Ada satu yang belum kuajarkan padamu, nduk. Dan ini yang paling penting dari semua ilmu silatku"

"Apa lagi, Nek? Semua kan sudah kauajarkan." "Sekar, jawab yang jujur, kau rindu suamimu?" "Tentu saja, aku rindu dan kasmaran memikirkan dia. Aku takut, dia lupa padaku, khawatir dia tak menginginkan aku lagi."

Nenek tua itu memandang dengan mimik serius. "Kalau itu yang terjadi, dia lupa padamu, apa yang kamu lakukan?"

Sekar tertegun. Saat berikutnya ia merunduk. "Aku tak tahu, lantas menurutmu apa yang harus kulakukan?"

"Justru ini yang akan kuajarkan padamu Pengalamanku selama duapuluh lima tahun bercinta dengan hanya satu lelaki, patut kau pelajari. Hal itu akan bermanfaat untukmu, nduk."

Sekar masih harus menunda keberangkatan satu hari. Wejangan nenek menyangkut hubungan asmara dan seni bercinta menjadi bahan pelajaran penting bagi Sekar. Ia semakin mengerti bahwa seorang perempuan ataukah dia itu isteri atau kekasih, akan membuat kesalahan besar jika berusaha menguasai dan menjajah kekasihnya. "Bukan begitu caranya! Kamu harus bisa melayani suamimu kapan saja dan di mana saja, tanpa batas. Kamu membuat kekasihmu selalu membutuhkan kamu, selalu bergantung padamu karena kamu setiap saat siap membantu dan melayani dia. Kamu ingat Sekar, jika merebut dan mendapatkan cinta kekasihmu itu sesuatu yang gampang, maka mempertahankan cinta yang sudah kamu rebut itu adalah pekerjaan yang teramat tidak gampang. Tetapi itu bisa dilaksanakan jika kamu berlaku cerdas, memberii padanya semua apa yang ia sukai, dan yang ia inginkan."

---ooo0dw0ooo---