-->

Wisang Geni Bab 09 : Nyawa Bayar Nyawa

Bab 09 : Nyawa Bayar Nyawa

Pagi itu embun masih bergayut di udara. Hawa dingin pegunungan menusuk sampai tulang sumsum. Di lapangan terbuka di depan pintu gerbang perguruan Mahameru di situ tersehat puluhan tenda tempat nginap para tamu undangan. Bahkan mereka yang tak diundang, asalkan punya nama yang cukup dikenal akan diberi tempat nginap di tenda.

Puluhan tenda diatur dalam lingkaran berlapis. Di tengah lingkai.m sebuah tanah lapang dikosongkan, untuk arena tarung. Tenda-tenda yang berada di lingkaran dalam, di pinggir arena tarung disediakan bagi perguruan besar dan pendekar perorangan yang punya nama besar. Tenda-tenda itu terdiri tiga macam ukuran, yang paling bcsa i untuk rombongan yang anggotanya banyak. Tenda ukuran sedang untuk rombongan yang sedikit anggotanya. Selain itu disediakan tenda kecil untuk satu atau dua pendekar perorangan.

Pagi itu semua tenda sudah terisi. Suasana sunyi dan sepi. Para pendekar duduk di luar tenda menghadap gelanggang. Mereka memperlihatkan wajah yang tegang. Tak ada yang bicara apalagi tertawa. Kalaupun ada yang bicara dengan rekannya, dilakukan dengan suara rendah dan bisik-bisik.

Terdengar suara trompet tanduk. Semua mata memandang ke pintu utama perguruan Mahameru. Dari situ keluar beberapa orang dengan langkah tegas menuju sebuah tenda paling besar dan yang mencolok warnanya. Itu tenda tuan rumah, perguruan Mahameru yang terkenal.

Seorang bertubuh tinggi besar berjalan paling depan.

Dialah ketua perguruan Mahameru, pendeta Macukunda yang kesohor. Empat pengawal dengan langkah jumawa mengiringi dari belakang. Mereka saudara perguruan sang ketua, Antasena, Rawaja, Bragalba dan Matangkis. Di belakang empat orang ini, delapanbelas murid angkatan pertama melangkah dalam barisan yang tidak teratur. Begitu tiba di depan tendanya Macukunda memberi hormat kepada semua tamu kemudian duduk di kursi yang disediakan. "Selamat datang semua tamu. Maaf kalau beberapa hari ini sampean semua tidak dilayani dengan baik. Maklum banyak orang yang hadir, melebihi perkiraan, dan kami tak punya makanan. Sekali lagi aku mohon maaf, jika ada kekurangan selama berada di Mahameru. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan begini banyak pendekar yang sudi berkunjung atas undangan aku yang rendah."

Ia berhenti sejenak, memandang semua tamu, tatapannya berwibawa. "Semua pendekar di tanah Jawa mengetahui adanya tantangan dari para pendekar daratan Cina. Mereka nantang adu ilmu silat, lima jago Cina lawan lima jago tanah Jawa. Nah, untuk itulah aku mengundang sampean semua, untuk sama-sama kita memilih lima jago kita yang akan mewakili gengsi tanah Jawa menghadapi pendekar Cina."

Suara pendeta Mahameru tidak keras namun semua mendengarnya jelas. Bisa menjangkau jarak jauh namun tidak memantulkan suara Wisang Geni berbisik pada Wulan dan Sekar yang duduk di sampingnya "Hebat tenaga dalam pendeta itu."

Terdengar suara tertawa "Sudah jelas, salah satu dari lima jago adalah pendeta Macukunda. Siapa sanggup menghadapi jurus Brahmanagrha hanya bisa dihitung dengan jari. Setelah Lemah Tulis tak terdengar lagi, perguruan Mahameru boleh dibilang kini tak ada tandingan. Aku pastikan pendeta Macukunda sudah terpilih, tetapi sisa yang empat orang harus diadu! Siapa paling jago, dia boleh mewakili tanah Jawa!"

Semua orang memandang lelaki pembicara itu. Dia lelaki kekar bercambang, baju dan ikat kepalanya serba merah.

Sesaat kemudian seorang lelaki botak berteriak, "Aku tak setuju dengan Jayawikata Aku tidak ragu akan kehebatan pendeta Macukunda, tetapi lebih adil jika semua orang ikut tarung. Lebih banyak peserta kan lebih seru!" Di sana sini terdengar suara bisik-bisik. Rupanya orang terpancing untuk memilih satu dari dua usulan tadi. "Tidak usah khawatir, dan memang supaya adil, aku setuju dengan usul Ki Sawung, kebetulan aku sudah lama ingin mendapat lawan tarung," tukas Macukunda.

Seorang wanita tua bangkit dari duduk. "Sebelum adu ilmu silat dimulai sebaiknya kita tentukan aturan mainnya. Aku usul, seorang pendekar yang sudah memenangkan pertandingan maka dia memperoleh hak istirahat. Ia boleh istirahat atau jika ia mau boleh saja tarung terus. Sebab tidak mungkin seorang itu bertarung terus, lagipula lawan bisa memanfaatkan tenaganya yang sudah terkuras dan lelah."

"Bagus, bagus aku setuju usul Nyi Pujawati. Itu usul bagus.

Kutambahkan lagi, pertarungan harus satu lawan satu dan bebas. Siapa terbunuh tidak perlu disesali, hitung-hitung ilmu silatnya yang dangkal."

Wulan berbisik kepada Geni, "Dia itu Sempani!" Mendengar itu Geni mengepal tinjunya. Sudah dua lawan yang dipergokinya di sini, Jayawikata dan Sempani. Dua orang ini bertanggungjawab atas pembantaian di Lemah Tulis. Hutang nyawa bayar nyawa!

Peraturan tarung telah disepakati bersama. Tarung bebas dengan menggunakan senjata apa saja, tak ada batasan.

Keroyokan pun boleh jika lawan tidak keberatan. Siapa menang, ia boleh istirahat. Lawan yang kalah dan meninggalkan gelanggang tidak boleh dikejar. Lawan yang sudah menyerah tak boleh dibunuh. Harus memilih lawan sepadan, seangkatan dan sederajad. Dan untuk menyingkat waktu agar tidak sembarang orang masuk arena maka hanya pendekar undangan yang boleh masuk arena menantang.

Sebagai pimpinan pertemuan, Macukunda berhak menghentikan pertarungan apabila dianggap perlu.

Seorang lelaki berusia empatpuluh tahun lompat ke tengah arena, ia memutar sepasang pedang pendek. "Aku Sindu dari Ujung Pangkah, aku menantang Kalabendana si licik dari kuburan Gondomayu Hayo Kalabendana keluar kamu, jangan sembunyi di balik jubah gurilmu. Hayo keluar, hadapi aku!"

Terdengar tertawa keras. Sesosok bayangan berkelebat masuk arena, "Sindu kamu cari mati! Dulu kamu kulepas agar usiamu panjang tetapi kamu sendiri yang memperpendek ilmumu." Tanpa basa-basi Sindu menyerbu Kalabendana.

Keduanya bertarung rapat. Sindu bersenjata pedang pendek. Kalabendana menghadapinya dengan keris luk tujuh.

Pertarungan imbang. Sampai jurus limapuluh Sindu di atas angin. Kalabendana keteter. Pundaknya berdarah kena sabet pedang pendek. Beberapa jurus berikut paha Kalabendana tertusuk. Kalabenda kritis. Gerakannya tidak leluasa, ia pincang di lengah serangan gencar Sindu. Mendadak Sindu limbung. Permainan pedangnya kacau. Mendadak Macukunda berseru, "Kalayawana hentikan ilmu Begananta itu, kamu telah berbuat curang!"

Ketika itu di tengah gelanggang terjadi perubahan besar.

Sindu melepas pedangnya dan membekap telinganya. Keadaannya aneh. la bukan hanya terdesak bahkan jiwanya terancam. Meski pincang namun keris Kalabendana sigap mencari lubang kematian di tubuh Sindu. Tiga tusukan makin membuat pendekar Ujung Pangkah itu limbung. Tusukan keempat, Sindu jatuh terduduk. Tubuhnya bersimbah darah. Macukunda meledak marahnya. "Kalayawana! Kamu berani mengaco pertemuan yang kuselenggarakan!"

Terdengar suara tawa yang datang dari kemah yang berada di lingkaran dua. Seorang lelaki tua kurus kering dan tirus. Dia Kalayawana! "Ah Macukunda, tak perlu sampai marah. Aku tak melanggar aturan, tadi aku cuma tertawa dan kebetulan ilmu Begananta keluar begitu saja. Lagi pula kan tak ada aturan yang melarang orang tertawa, iya kan?"

Macukunda terdiam. Kalayawana benar, memang tak ada aturan yang melarang seseorang dari luar gelanggang membantu rekannya yang sedang tarung. Tak ada aturan melarang ia membantu muridnya dengan tertawa dari luar gelanggang. Dua anak murid Mahameru melompat ke dalam arena menggotong mayat pendekar Ujung Pangkah itu.

Kalabendana melompat keluar arena sambil berseru, "Aku mau istirahat dulu."

Seorang lelaki botak, Tongkat Besi dari Gunung Limas menerobos arena menantang Kebo Bantala. Pertarungan berlangsung imbang dan ketat, tongkat besi lawan golok. Setelah tarung puluhan jurus, Kebo Bantala berhasil melukai dada lawan Darah mengucur dan lukanya tetapi Tongkat Besi tak mau menyerah. Makin lama k makin melemah, di pihak lain Kebo Bantala tak mau turun tangan kejam. Akhirnya Macukunda memerintah adik perguruannya melerai perkelahian.

Pertarungan berlanjut. Ada perkelahian lantaran dendam, ada yang memang ingin adu kepandaian semata. Waktu berjalan cepat. Matahari makin condong ke barat dan para pendekar yang masuk gelanggang makin lihai. Pendekar yang bertarung makin terpilih dan makin sedikit.

Dari tadi Wisang Geni duduk terpaku. Tanpa disadarinya matanya sering memandang ke dua tempat, tenda Jayawikata dan Sempani. Dilihamya seorang lelaki menghampri Sempani. Meski agak jauh tetapi Wisang Geni bisa mengenalinya. Dia Lembu Agra, rupanya murid pengkhianat itu baru muncul.

Sekonyong-konyong Sempani masuk gelanggang. Ia bertolak pinggang. Suaranya bening dan lantang. "Aku Sempani dari Tanjung Ligit, aku punya hutang piutang darah dengan Padeksa, maka aku menantang Padeksa dari Lemah Tulis, ayo cepat keluar, kita bikin perhitungan, kamu atau aku yang mati!"

Wisang Geni berkata lirih, "Bangsat, pasti pengkhianat itu yang memberitahu keadaan guru yang belum sehat." Lalu kepada Padeksa ia berkata dengan nada khawatir. "Guru, kamu tak boleh masuk, biar aku saja, sekalian kulunasi hutang darah Lemah Tulis."

Suara Sempani terdengar lagi. "Mana Padeksa? Kenapa tidak berani keluar, apa kamu sudah tak punya kehormatan lagi?"

Wisang Geni dan rombongan, serba salah. Tak mungkin Padeksa masuk gelangang dalam keadaan tubuh belum pulih, sama dengan mengantar nyawa percuma. Waning Hyun menghampiri Geni, ia berbisik halus. "Kalau aku menolongmu sekarang ini, apa terhitung kamu berhutang budi padaku, suatu saat aku akan minta tolong padamu maka kau harus bersedia, ya atau tidak?"

Wisang Geni memandang Waning Hyun dengan penuh tanda tanya. Tetapi ia tak punya pilihan. Geni mengangguk. Waning Hyun bertanya lagi, "Kamu yakin bisa mengatasi Sempani?" Sekali lagi, Geni mengangguk mantap.

Tak ayal lagi Waning Hyun berteriak. Suaranya nyaring namun cukup jelas didengar semua orang. "Hai Sempani, kamu belum berharga untuk menantang Ki Padeksa. Semua orang tahu kamu adalah penjahat cabul, pemerkosa, mana bisa disejajarkan dengan Ki Padeksa. Satu syarat dan aturan tarung di sini adalah sepadan. Kau tidak sepadan dengan Ki Padeksa. Kamu orang jahat, penjahat cabul, dan entah apalagi kejahatanmu. Sedang Ki Padeksa adalah orang jujur yang selalu menjaga kehormatannya."

Orang-orang yang mendengar ucapan Hyun tertawa keras. Riuh tawa itu membuat Sempani meluap amarahnya. "Jangan banyak bacot, bilang saja Padeksa takut. Itu saja yang aku perlukan bahwa Padeksa tidak punya kehormatan. Biar semua orang tahu kini bahwa Lemah Tulis memang sudah tak punya kehormatan lagi. Ayo Padeksa, keluar kau!"

Waning Hyun berteriak lagi, "Sempani goblok, aku sudah katakan bahwa Ki Padeksa itu tidak sepadan dengan kamu. bukan karena takut tetapi ia merasa jijik berhadapan denganmu Begini saja, biar muridnya saja yang tarung lawan kamu. Sebenarnya ia juga tidak sepadan dengan kamu, ia masih perjaka dan belum kawin, tetapi kamu, toh semua orang tahu kelakuan penjahat cabul macam Sempani si pendekar gadungan."

Bagaikan kebakaran jenggot saking marahnya, Sempani berteriak, "Mana dia, biar muridnya dulu yang kupatahkan batang lehernya, nanti baru menyusul gurunya. Mana dia?"

Waning Hyun tertawa nyaring. "Jangan-jangan tangan dan kakimu yang patah."

Sempani teriak lagi, suaranya mengguntur. "Mana dia?"

Wisang Geni berdiri. Ia melirik Wulan dan Sekar. Ia mengucap terimakasih kepada Waning Hyun. Tak lupa ia mohon diri pada Padeksa. Dua perempuan itu, Wulan dan Sekar hampir berbareng mengingatkan agar hati-hati.

Pada saat itu sesosok bayangan berkelebat. Orang hanya merasa kesiuran angin, tahu-tahu di tengah gelanggang telah berdiri seorang lelaki jangkung dan tampan dengan jubah hijaunya bergerai ditiup angin. Dialah Manjangan Puguh. Ia memberi hormat kepada Macukunda. "Maaf, aku terlambat datang karena ada yang harus kukerjakan."

Macukunda berdiri membalas hormat. "Ho, ho, ho, kau sudah datang, merupakan kehormatan bagiku, Ki Manjangan Puguh, silahkan kamu istirahat dulu." Sambil ia memerintah dua anak muridnya untuk mengantar Manjangan Puguh.

Manjangan Puguh menoleh pada Sempani. "Maaf Ki Macukunda, sudah bertahun-tahun aku mencari orang ini yang namanya Sempani, ia tak boleh tarung dengan siapa pun , ia harus membayar hutang darah padaku!"

Berkata demikian Manjangan Puguh langsung menyerbu Sempani dibuat kalang kabut menangkis. Dalam gelanggang tarung terjadi perkelahian sengit. Macukunda berteriak keras. "Ki Manjangan kuharap dengan segala hormat, pandanglah mukaku, jangan merusak jamuanku, semua pertarungan harus ada tata kramanya. Hentikan dulu amarahmu Ki."

Bersamaan dengan itu empat pendekar yang dari tadi berdiri di belakang Macukunda melesat ke dalam gelanggang. "Tahan!"

Manjangan Puguh menghentikan serangannya Tadi orang hanya melihat bayangan berkelebat mengurung Sempani.

Tahu-tahu bayangan itu hilang dan Manjangan Puguh terlihat berdiri tenang lima tombak dari Sempani yang masih kalang kabut menangkis. Hebat gerakan Manjangan Puguh. Sebagian orang meleletkan lidah, kagum, melihat ilmu ringan tubuh yang begitu tinggi

"Benar-benar nama Manjangan Puguh bukan nama kosong." Hanya itu yang diucapkan empat pendekar Mahameru itu. Selanjutnya mereka diam menanti perintah Macukunda.

"Apa maksudmu Ki Macukunda? Bukankah jamuan ini kau selenggarakan untuk pertarungan. Nah aku sudah memilih Sempani sebagai lawan, kenapa kamu mengatakan aku mengaco jamuanmu?"

Macukunda tertawa. "Kau terlambat datang makanya kamu tidak tahu bahwa Sempani sudah menantang Ki Padeksa dari Lemah Tulis. Kubu Ki Padeksa menganggap Sempani tidak sepadan dan menyodorkan murid Padeksa untuk menghadapi Sempani. Maka pertarungan ini sudah resmi, tak bisa diubah lagi kecuali memang Ki Sempani mau tarung denganmu lebih dahulu tapi kulihat Ki Sempani sudah kewalahan melawanmu tadi, mana berani dia menerima tantanganmu." Macukunda tertawa geli "Eh Ki Sempani apakah kamu mau berganti musuh, kini menghadapi Ki Manjangan Puguh?" Sempani tertawa keras. "Manjangan Puguh boleh menanti giliran. Sebenarnya aku ingin juga menjajal ilmu dari perguruan Merapi, tetapi sekarang biar kuminum darah murid Padeksa itu, aku memang sedang haus, hayo mana dia orangnya, keluar kamu."

Wisang Geni melangkah lebar memasuki gelanggang. Ia tidak menggunakan ilmu ringan tubuh, tetapi mengerahkan tenaga Wiwaha di setiap langkahnya. Setiap ia melangkah, tanah bergetar dibuatnya. Begitu sampai di dekat Manjangan Puguh, ia berlutut menyentuh ujung kaki gurunya. Tentu saja sang guru terkejut, "Geni mengapa kamu yang maju?"

"Tidak usah khawatir, guru, aku bisa menjaga diri." Sambil berkata Geni mengerahkan tenaga maha dingin melalui ujung kaki Manjangan Puguh. Gurunya terkejut ketika ada tenaga maha dingin merembes kuat dari kakinya. Ia tak mengerti dari mana Geni memperoleh tenaga dalam sehebat itu. Jelas itulah tenaga dalam pendekar kelas satu. Manjangan Puguh tak bisa berbuat sesuatu pun. Itu pertarungan resmi. Ia hanya bisa berpesan agar muridnya hati-hati dan waspada.

Wisang Geni menatap Sempani. Wajah lelaki itu dipenuhi bintik warna hitam Ketika ia tertawa tampak giginya jarang dan kuning.

Rambutnya jarang tetapi panjang bergerai sampai pundak sehingga tampak lucu. Wajah yang buruk.

Pendekar buruk rupa itu tertawa keras. "Ini caranya Padeksa dari Lemah Tulis menghindar dari tantangan. Dia takut menerima tantanganku sampai rela mengorbankan muridnyayang masih begini muda dan berbau kencur."

Geni tertawa keras. Lebih keras dari tawa Sempani.

Tertawa khas yang dipelajarinya di lembah kera Tawa itu dikerahkan dengan tenaga Wiwaha tingkat paling tinggi. Suara tawa itu mengalun dan bergelombang, panjang dan mendirikan bulu roma yang mendengarnya Itu memang tawa khas kera apabila sedang marah.

Tertawa Sempani terhenti. Ia mendelong menatap Geni. Ia cukup terkejut mendengar pameran tawa Geni yang begitu menakjubkan. Bahkan hampir semua orang di situ tercengang akan tenaga dalam Geni. Hampir tak masuk akal ada seorang muda yang memiliki tenaga dalam setinggi itu. Kalau muridnya saja sudah begitu jago, bagaimana lagi dengan Padeksa gurunya, gumam sebagian orang.

Sempani menatap wajah anak muda di depannya Ia melihat sinar mata yang tenang, bening dan sangat dalam. Tiba-tiba ia sadar, anak muda ini memiliki kepandaian yang sulit diukur tingginya Melihat dari sinar matanya maka pameran tenaga dalam lewat tertawa tadi itu bukan isapan jempol belaka. Ada rasa enggan menyeruak dalam sanubarinya, ia merasa gentar. Sempani cepat mengusir dan mengubur perasaan enggan dan takut itu. "Aku harus waspada, tak boleh main-main, kalau perlu satu tak kemplang, ia modar, itu lebih baik!"

Berpikir demikian, ia merogoh senjata dari balik jubahnya yang longgar. Sebatang tongkat dihiasi kepala burung elang. Mulut elang itu terbuka, mengkilap ditimpa sinar matahari siang. "Hayo keluarkan senjatamu, bocah jelek, sebelum ku- kepruk kepalamu!"

"Guruku memerintah aku agar bertarung dengan tangan kosong, jika hanya melawanmu saja aku harus menggunakan senjata maka itu akan mengurangi harga diri dan kehormatan Lemah Tulis." Kata-kata Geni sengaja diucapkan keras agar didengar semua orang. Tentu saja orang-orang yang hadir di situ geger, ucapan Geni itu agak sombong, namun melihat tenaga clalamnya ketika tertawa tadi, jelas Geni punya ilmu silat yang sangat mumpuni.

Sempani tersenyum dingin. Ia tahu anak muda itu memancing dia agar kalap. Itu siasat kuno sebab orang kalap akan kehilangan banyak tenaga dan berkurang konsentrasinya Sempani tak banyak omong. Langsung menyerang ke bagian tubuh yang mematikan. Dalam beberapa gebrakan awal, Geni bisa mengukur kehebatan lawan. Tak begitu hebat, masih bisa diatasi, begitu pikirnya.

Geni tak ragu lagi, mengeluarkan jurus Bang Bang Alum Alum bergantian Garudamukha dengan ilmu ringan tubuh Waringin Sungsang dan tenaga Wiwaha, semuanya jurus andalan. Dua puluh jurus berlalu, tongkat pendek Sempani tak bisa mendesak Geni. Bahkan dilihat lebih teliti, sedikit demi sedikit Geni mulai menguasai pertarungan. Sempani sendiri terkejut. Tak disangkanya ilmu silat Geni setinggi itu Ia sadar kini ia dalam kesulitan. Ini pertarungan paling berbahaya seumur hidupnya. Ketika bertarung dalam perang Genter maupun ketika menyerbu memorakporanda Lemah Tulis, ia tak sendirian. Banyak kawan. Tetapi sekarang ini ia harus bertarung sendirian. Dan lawan yang dihadapi meski muda usia namun ilmu silat dan tenaga dalamnya sangat tinggi.

Tiba-tiba Wisang Geni menarik diri, melompat mundur agak jauh ke belakang. Bukan hanya Sempani yang kaget, semua yang hadir merasa heran. Tidak biasanya seorang yang sudah unggul dan berada atas angin melompat mundur memberi kesempatan lawan berbenah diri. Ada apa?

Sambil memandang sekeliling, Geni menengadah langit dan berkata dengan pengerahan tenaga Wiwaha, kedengarannya seram "Hari ini satu lagi dari musuh Lemah Tulis akan kukirim ke kuburan. Kamu Sempani, kamu bertanggungjawab atas kematian orangtuaku dan ikut menyerbu Lemah Tulis. Kamu akan mati hari ini, hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa!"

Suara Geni terdengar menyeramkan. Sempani merasa keder. Untuk mengatasi rasa takutnya, ia berteriak. "Kamu siapa? Apa kamu pikir kamu sudah mengalahkan aku?" Geni berkata keras, nada dingin. "Namaku Wisang Geni, ayahku adalah Gajah Kuning, ibuku Sukesih. Hari ini kamu harus mati, hutang nyawa bayar nyawa!"

Perasaan keder itu kembali menghantuinya, untuk mengatasinya Sempani berteriak keras. "Bukan aku yang mati, tetapi kau yang akan kukirim ke neraka, anak bangsat!"

Geni menyerbu dengan jurus Gongkrodha. Hawa panas keluar dari sepasang tangannya. Sempani terkejut, mundur dengan menggelinding ke belakang. Orang-orang terkejut melihat Sempani begitu terdesak. Hebat anak muda ini, begitu gumam penonton.

Pukulan Geni tegas mengarah kepala Sempani yang mau tidak mau harus menangkis dengan tongkat. Sempani mengeluh, karena kalah tenaga. Sedang Geni merasa senang dan yakin akan segera menghabisi lawannya. Ia tak tahu bahwa Sempani sedang memasang perangkap. Ketika terjadi benturan tangan dengan tongkat, kaki Sempani naik ke atas. Ia bukan menendang, tetapi menyaruk tanah dengan kaki dan menghantamkannya ke wajah Geni. Sementara tangan yang memegang tongkat mengemplang kepala Geni.

Dalam sekejap saja, dari posisi terdesak, Sempani berubah menjadi unggul mutlak. Kini posisi berbalik. Geni dalam bahaya. Matanya terancam buta, kepalanya bisa remuk! Geni sendiri tak menyangka keadaan bisa berbalik seperti itu. Tapi ia tidak gugup. Ia mengerahkan tenaga Wiwaha dan meniup keras tanah yang mengarah wajahnya. Tangan menyampok menangkis tongkat lawan. Tetapi serangan Sempani masih berlanjut. Saat tongkatnya ditangkis, ia sengaja menghentak ujung tongkat. Mulut elang di ujung tongkat itu seperti menghembus asap halus. Itu bubuk racun! Sempani berteriak, "Mampus kamu!"

Geni terkesiap. Tongkat hanya sejengkal dari wajahnya.

Tak ada ruang untuk mengelak. Apalagi Sempani masih menyusul dengan serangan lain, tendangan mematikan ke selangkangan dan pukulan tangan mengancam dada Geni.

Geni berlaku nekad. Ia yakin tenaga Wiwaha bisa mengendalikan asap racun itu, seganas apa pun racun itu. Tiga gerakan dilakukan Geni berbarengan. Ia meniup sekuat tenaga membuyarkan asap beracun, mengangkat kaki kiri menangkis tendangan dan dua tangannya berputar di depan dada. Itulah jurus Nyakra Manggilingan (Berputar seperti kincir) dari Bang Bang Alum Alum. Ada lagi gerak lanjut Geni dan yang sangat mengejutkan Sempani.

Setelah meniup satu kali, Geni masih menambah lagi tiupan susulan yang lebih bertenaga. Asap racun bergerak dengan tenaga besar ke wajah lawan. Sempani bukannya takut akan asap racun itu, karena ia tadi sudah menelan pemunahnya.

Tetapi ia terkejut karena tak menyangka Geni dalam keadaan tarung, masih bisa meniup dengan tenaga besar. Hampir tak masuk akal.

Bagi lain orang mungkin tak masuk akal dan mustahil, tetapi bagi Geni yang telah menguasai Wiwaha hal itu tak terlalu sulit. Semua berlangsung ringkas dan cepat. Tiga gerakan Geni itu bukan cuma meloloskan diri dari ancaman bahaya, malahan berbaik mencelakakan Sempani.

Terdengar teriakan Sempani. Tangannya seperti masuk ke dalam pusaran berkekuatan tenaga dahsyat. Ia lak berdaya mengatasinya. Tulang tangannya patah di beberapa bagian.

Tetapi itu belum semua! Tangan Geni yang berputar mendadak diluruskan ke depan. Sekali lagi Sempani berteriak. Beberapa tulang dadanya remuk.

Sempani terlempar ke tanah. Darah keluar dari mulutnya.

Matanya melotot memandang tak percaya kepada Wisang Geni. Mulutnya serasa terkunci. Dia sudah malang melintang di dunia persilatan selama bertahun-tahun dan telah mengalami banyak pertarungan dahsyat, tapi kini terbaring sekarat. Ia memandang tak percaya.

Geni tertawa sinis. "Kamu tadi mengatakan ingin menjajal ilmu dari gunung Merapi. Itu salah satu jurus dari Bang Bang Alum Alum. Kau juga mengatakan Lemah Tulis tak punya kehormatan lagi, asal kamu tahu itu tadi jurus Garudamukha. Pergilah ke neraka, Sempani. Aku sudah melunasi hutang nyawa orangtuaku!"

Sempani membuka mulut. Suaranya pelan tapi terdengar jelas, karena ketika itu suasana lengang, tak ada suara.

Semua orang terdiam

"Bunuh aku, bunuh aku, jangan biarkan aku begini!"

Wisang Geni menggelengkan kepala. "Aku tak bisa membunuh lawan yang sudah tak berdaya. Lagi pula kau tidak punya kehormatan lagi untuk meminta sesuatu dari murid Lemah Tulis!"

Saat itu dua murid Mahameru melompat ke arena. Mereka menghampiri dan akan menggotong Sempani keluar arena. "Jangan, jangan angkat aku. Bunuhlah aku, bunuh aku!"

Suara Sempani memelas. Ia lebih ingin mati di dalam arena daripada digotong keluar sebagai pecundang. Dua murid Mahameru itu memandang kepada Macukunda. Melihat ketua Mahameru manggut, seorang diantaranya menunduk dan menekan dada Sempani. Pendekar itu mati!

Semua mata memandang Wisang Geni dengan kagum Orang tak pernah menyangka ia bisa menang. Pertarungan berlangsung singkat tapi begitu mencekam dan dipenuhi saat- saat berbahaya. Bahkan disebut yang paling seru dan bahaya sejak tadi pagi.

Wisang Geni memandang ke tenda Kalayawana. Dilihatnya lelaki itu, kurus kering bertelanjang dada dan bercelana hitam sebatas lutut. Kalayawana duduk dengan pongah. Tiga muridnya berdiri di dekatnya. Amarah Geni meluap.

"Kalayawana, keluar kau, hayo kita jajal siapa lebih jago!" Tantangan Geni itu menggema ke mana-mana. Semua mata memandang bergantian, dari Wisang Geni ke arah Kalayawana.

Tapi Kalayawana duduk tenang, ia meludah ke tanah. "Puuii! Kau pikir dengan mengalahkan Sempani pendekar goblok itu, kau sudah bisa melawanku? Aku malas meladenimu!"

Murid Kalayawana yang paling tua, Kalabendana, berseru lantang. "Hei, dulu aku tendang pantatmu, kau lari terkencing- kencing. Sekarang tak tahu diri menantang guruku."

Murid yang kedua, Kalajudha ikut nimbrung. "Kau belum pantas melawan guruku. Biar kami bertiga yang memperkosamu. Atau kau tak punya nyali menghadapi kami bertiga?"

"Sudah jangan banyak bacot, turunlah kalian bertiga. Hari ini akan kubayar lunas, darah orangtuaku! Ayah dan Ibu, saksikan hari ini hutang nyawa ini kutagih sekaligus bersama bunganya!"

Tiga murid Kalayawana memasuki arena dengan sikap pongah dan takabur. "Heh, heh, heh, ternyata dia ini anak Sukesih si bahenol itu. Sayang waktu itu aku tak sempat mencicipi tubuhnya, dia terlalu cepat mati di Ganter, sungguh sayang!"

Suara Kalamasura itu mengiang di telinga Wisang Geni. Kata-kata itu merasuk sampai ke otak dan membangkitkan kemarahan yang luar biasa. Wisang Geni melesat, menggunakan Waringin Sungsang dan jurus Manusup (Masuk nyelinap) dari Garudamukha. Pukulannya mengarah pelipis dan dada Kalamasura. Kalabendana dan Kalajudha menyergap dari samping.

Keduanya menggunakan Pangrahata (Cara untuk memperoleh jasa) satu dari sebelas jurus ilmu Ghandarwapati. Sekejap saja terjadi pertarungan seru, satu lawan tiga. Pertarungan berjalan imbang.

Meski menghadapi tiga lawan, tetapi dengan keunggulan ilmu ringan tubuh dan tenaga dalamnya, Geni memberikan perlawanan hebat. Dalam duapuluh jurus terlihat tiga murid Kalayawana itu selalu menghindari bentrokan tangan. Tahu rupanya kalah dalam tenaga, tiga orang itu secara diam-diam menguras tenaga Geni. Mereka mengurung rapat dan secara cerdik bergantian menyerang. Dengan cara ini Geni menjadi tidak berdaya, setiap ia menyerang lawan, dua lainnya menyerang secara bebarengan.

Lambat laun Wisang Geni mulai keteter. Ia mulai frustasi.

Ia tak pernah bisa menyerang tuntas. Karena dalam menyerang sesaat kemudian ia menjadi yang diserang. "Kalau begini terus, aku akan cepat lelah. Dan ini berbahaya."

Sambil bertarung Geni berpikir. Tapi sampai limapuluh jurus, ia belum juga menemukan cara bertarung yang terbaik untuk mengatasi keroyokan tiga lawan. Orang mulai melihat Geni jatuh di bawah angin Wisang Geni tak lagi bisa menyerang. Ia hanya bisa menangkis dan bertahan rapat dari serangan lawan.

Mendadak terlihat perubahan drastis. Geni yang cuma bisa bertahan semakin kewalahan. Gerakan Geni mendadak kacau. Tiga pukulan telak mengena tubuhnya, paha, punggung, dan pundak. Hanya sebab dilapisi tenaga Wiwaha Geni masih bisa mengatasi pukulan tersebut. Tetapi itu saja sudah pertanda bahaya lebih besar sedang mengancam murid Lemah Tulis itu.

Wulan dan Sekar, tampaknya paling panik di kubu Lemah Tulis. Begitu juga Padeksa, Manjangan Puguh, Waning Hyun dan rombongannya. Geni tampaknya bertarung tidak wajar. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran lelaki itu. Apa itu? Wulan melihat-lihat ke sekeliling. Matanya menetap di tenda Kalayawana. Ia melihat iblis tua itu sedang memejamkan mata dengan duduk bersila. Wulan berbisik pada Manjangan Puguh yang duduk di sampingnya. "Kakang, kau lihat Kalayawana! Aku yakin ia sedang mengirim ilmu jarak jauh untuk mengacau pikiran Geni. Seperti kecurangan yang ia lakukan kepada Sindu pendekar Ujung Pangkah itu."

Bukan saja Wulan dan Manjangan Puguh, tetapi Padeksa, Gajah Watu dan rombongan Ranggawuni juga bisa membaca ketidakberesan yang sedang mengganggu Geni. Tiba-tiba Waning Hyun berkata kepada tokoh separuh baya yang dari tadi berdiam diri. "Paman Pamegat, berbuatlah sesuatu, tarung itu tidak adil!"

Sang Pamegat, tokoh misterius itu menjawab dengan menggumam. "Tak usah khawatir, aku pikir tak lama lagi Wisang Geni akan tertawa keras yang pasti akan melenyapkan pengaruh sihir kuburan Gondomayu."

Suara yang seperti bergumam itu hanya didengar oleh Wulan dan orang sekitarnya. Orang lain tidak mendengar karena suaranya cukup lirih. Tetapi anehnya, suara itu mampu menerobos telinga Wisang Geni. Pemuda ini mendengar ucapan Sang Pamegat. Ia sadar kini, rupanya Kalayawana telah main gila.

Iblis Gondomayu itu menggunakan Angampuhan, ilmu menguasai gelombang aliran udara dalam radius tertentu. Dan Kalayawana hanya perlu mempengaruhi udara sekitar Wisang Geni. Hal ini yang menyebabkan Geni tak bisa menguasai pendengaran dengan baik. Akibatnya ia tak lagi bisa membaca atau mendengar serangan dari belakang dan samping yang memang tidak bisa dilihatnya.

Mendadak orang mendengar "Wisang Geni berkata, "Terimakasih tuan atas petunjukmu!" Orang-orang tak tahu kepada siapa ucapan terimakasih itu ditujukan. Orang juga tak tahu bagaimana caranya, mendadak terjadi perubahan di gelanggang tarung. Wisang Geni tiba-tiba berteriak keras. Teriakan seperti kera sedang marah. Lalu tampak pemandangan unik Geni memainkan jurus sambil berteriak, terkadang ia tertawa di lain saat dia marah.

Pertarungan berubah. Kali ini Geni kembali mengimbangi lawan-lawannya.

Sambil teriak dan tertawa menirukan kera, pikiran Geni mencari jalan keluar. Keadaaan seperti ini tak boleh tanpa perubahan. Ia harus menemukan cara secepatnya sebelum keletihan membelit tubuhnya "Kalau saja aku bisa mainkan Garudamukha Prasidha pasti lain keadaannya"

Tiba-tiba seberkas cahaya melintas dibenaknya belakangan ini, setiap ia memikirkan Prasidha selalu cahaya itu seperti berkelebat dibenaknya. Apa itu?

Dalam benak Geni saat itu terlintas ucapan penari Kinanti bahwa ia mengucapkan kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa selalu pada saat tubuhnya seperti terdorong ke samping atau ke depan atau ke belakang.

Geni seperti menemukan jalan keluarnya, ia menemukan cahaya itu kembali, tetapi mendadak lenyap. Geni merasa frustasi. Tanpa sadar ia berhenti tertawa dan berteriak.

Akibatnya ilmu Angampuhan Kalayawana kembali mengganggu indera pendengarannya

Saat itu pertarungan memasuki jurus keseratus dan detik- detik paling genting. Kalabendana menerjang dengan hantaman keras ke pinggang kiri. Pada saatyang sama Kalajudha menyerang dari depan ke bagian bawah Geni, dua kakinya menggunting sambil tangannya memukul perut dan selangkangan. Kalamasura menghajar pelipis dan pinggang dari samping kanan. Tak ada jalan keluar lagi, Geni harus menghadapi tiga pasang kaki dan tiga pasang tangan dalam satu serangan yang serentak. Juga gangguan Ilmu Angampuhan yang mengacau keseimbangannya Geni dalam bahaya besar!

Mendadak, cahaya itu datang kembali. Pikirannya menjadi terang. Kalimat itu cuma menjelaskan bagaimana sikap jiwa yang pasrah pada saat kematian akan datang. Kalimat itu terpecahkan sudah! Terpecahkan justru pada saat Geni dalam keadaan kritis! "Hendaknya aku menjadi perahumu untuk menyeberangi lautan kesusahan ". Kalimat itu artinya sederhana sekali. Geni sadar, "menyeberangi kesusahan' artinya Menyeberangi dunia Menjalani Kematian. Dan ’Aku menjadi perahumu’ artinya sesuatu yang kosong. Sesuatu yang hampa! Ternyata kalimat itu hanya satu sikap jiwa, kunci lain yang tak kalah penting adalah gerak yang diperlihatkan penari Kinanti.

Tadi malam, penari itu menuturkan bahwa ia bergerak ke kanan karena ia sepertinya menerima tenaga dorong dari kiri. Ia bergerak ke depan juga lantaran karena adanya tenaga dorong dari belakang atau dari arah berlawanan.

Geni berlaku nekad. Ia yakin ampuhnya tenaga Wiwaha. Ia pernah merasakan bobot pukulan Kalajudha sebelumnya dan ia yakin bisa menahannya lagi apabila rencananya gagal.

Tetapi kalau ia berhasil maka itulah penemuannya yang paling penting. Geni nekad menggunakan jurus Prasidha, ia tak lagi takut tenaganya tak akan tersalur. Karena kini ia mainkan jurus Kacakrawartyan tanpa memaksakan penyaluran tenaga dalam. Satu kakinya diangkat melindungi selangkangan.

Tangan kirinya membuat lingkaran kecil ke samping menyambut pukulan Kalabendana. Tangan kanannya mendorong ke kanan. Jurus Kacakrawatyan (Menguasai dunia) digelar Geni tanpa tenaga sedikit pun!

Tanpa tenaga! Geni bersikap pasrah, tak ada paksaan untuk menggunakan tenaga melindungi tubuh atau menerima pukulan lawan. Tubuhnya kosong! Geni pasrah! Ia rela mati! Ia tahu kematian akan mengantarnya menemui ayah bundanya!

Mata Wulan membelalak. Ia melihat kekasihnya menggelar ilmu Prasidha dan ia tahu persis Geni belum mampu memainkan ilmu itu. Geni bunuh diri! Tubuh Wulan kejang, dia tahu dia tak lagi akan melihat Geni. Wulan menutup mata dan menghela napas. Habis sudah segala-galanya. Tamat!

Manjangan Puguh, Gajah Watu, Waning Hyun, dan semua orang di kubu Wisang Geni menghela napas membayangkan matinya seorang murid Lemah Tulis yang begitu penuh bakat. Tubuh mereka membeku! Perasaan mereka semua mati!

Hanya dua orang di situ yang menatap dengan harap-harap cemas, Padeksa dan Sang Pamegat!

Terdengar pekik mengerikan dari gelanggang tarung.

Kalamasura terlempar dua tombak. Darah menyembur dari mulurnya. Ia mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Apa yang terjadi?

Itulah saat di mana misteri Garudamukha Prasidha terkuak oleh Wisang Geni. Pada akhirnya terlihatlah betapa sederhananya ilmu Prasidha itu. Intinya hanya "meminjam tenaga lawan" dan mengeluarkannya kembali dengan sama besar. Bahkan bisa lebih besar lagi apabila ditambah tenaga sendiri.

Pada saat Geni dalam keadaan kritis. Tiga serangan berbarengan itu tidak datang pada saat bersamaan. Pukulan Kalabendana datang lebih dulu masuk ke dalam putaran tangan kiri Geni. Disusul serangan Kalajudha yang menghantam perut dan kaki Geni. Yang terakhir adalah pukulan Kalamasura

Jurus Kacakrawartyan telah memakan korban Kalamasura, sebab pukulan dialah yang paling terakhir mengena tubuh Geni. Ternyata jurus Garudamukha Prasidhaitu telah menyerap tenaga Kalabendana dan Kalajudha kemudian diteruskan ke Kalamasura

Kalabendana dan Kalajudha memekik dahsyat. Kalayawana yang sedang memusatkan perhatian terkejut setengah mampus. Mana mungkin di dalam keadaan di atas angin, mendadak saja Kalamasura bisa mati?

Kejadian itu begitu cepat. Semua orang terkejut. Lagi-lagi Wisang Geni memperlihatkan hasil di luar dugaan. Dalam keadaan terdesak hebat dan terancam jiwanya, bukannya dia yang mati malahan lawan yang mati. Mati secara mengerikan!

Ketika mendengar jeritan mengerikan, tanpa kontrol lagi Wulan membuka matanya Ia tahu, itu bukan suara Wisang Geni. Tapi toh matanya membelalak melihat Wisang Geni segar bugar, malahan salah satu lawannya mati.

Tanpa sadar mata Wulan basah. Ia menangis melihat keberhasilan kekasihnya "Oh Jagad Dewa Batara, akhirnya ia berhasil menembus misteri itu!"

Sekar tak mengerti perkataan Wulan. "Apa, kenapa mhakyu?"

"Dia berhasil memecahkan misteri ilmu silatnya, bahkan jurusnya menjadi dahsyat!" tutur Wulan sambil tersenyum

Di gelanggang tarung, Kalabendana dan Kalajudha tak sempat berpikir kenapa keadaan bisa berbalik seperti itu. Dari posisi unggul mendadak menjadi terpuruk bahkan saudaranya mati mengenaskan. Amarah telah menggerakkan tangan dan kaki mereka dalam serangan paling dahsyat Kalabendana menggelar jurus Bhayattaka (Hebat menakutkan) yang mengerikan. Kalajudha dengan Durghanda yang menguarkan bau busuk.

Wisang Geni masih terpesona dengan hasil yang diperolehnya. Ia melihat serangan datang. Sekali lagi ia mencoba Prasidha seakan ia tak mau membiarkan penemuannya lenyap lagi Sekarang ia mainkan jurus Ahwamatyana (Biarlah aku yang membunuh).

Sebagian dari serangan lawan itu sempat terangkis, sebagian lagi menerpa tubuh Geni. Pada saat yang hampir bersamaan, hanya terpatu sepersekian detik, tangan Geni bergerak seperti mengusir ayam. Dari tangannya keluar tenaga maha dahsyat, satu maha dingin dan satunya lagi maha panas.

Sekali lagi terlihat pemandangan mengerikan. Kalabendana dan Kalajudha terpental dua tombak. Tubuh Kalabendana menggigil hebat, dari mulut keluar darah hitam, matanya melotot. Dua tangannya rusak hebat, hampir tak ada tulang yang utuh. Tapi ia masih hidup. Jika ia masih hidup, saudaranya justru tewas. Kalajudha mati sebelum menyentuh tanah. Darah membusa dari mulurnya. Tubuhnya seperti hangus. Ia mati mengerikan!

Semua kejadian itu berlangsung cepat. Orang belum sempat berpikir jernih, ketika terdengar jeritan berbarengan. Wulan menjerit melihat Wisang Geni jatuh terduduk seperti orang kehabisan tenaga Satu jeritan lagi keluar dari mulut Kalayawana yang seperti terbang melesat memasuki arena.

Belum pernah dalam hidupnya, ia kalap seperti saat itu ketika menyaksikan tiga murid kesayangannya mati dihajar Wisang Geni. Kalayawana kalap. Ia tak mampu membendung keinginan menghancurleburkan tubuh dan jasad Wisang Geni. Ia menerjang dengan ilmu paling telengas. Jeritan Akashawakya (Suara di mana-mana) seperti menguasai delapan penjuru angin serta jurus Daitya Naraka (Raksasa dari neraka). Amuknya Kalayawana saat itu seperti sosok raksasa yang menerjang keluar dari neraka

Pada saat bersamaan tiga bayangan berkelebat Manjangan Puguh melesat dengan Waringin Sungsangyang paling handal. Macukunda dan Gajah Watu seperti terbang menggunakan Kilat Tatit, ilmu ringan tubuh yang mungkin bisa disejajarkan dengan Waringin Sungsang.

Manjangan Puguh sampai lebih dulu di samping Wisang Geni. Tak ada orang yang boleh mengganggu selembar pun rambut Wisang Geni, putra dari perempuan yang pernah dicintainya Kalau saja muridnya ini sampai mati, Manjangan Puguh tak akan sanggup menemui Sukesih kelak di alam baka. Apa kata Sukesih kepadanya nanti.

Hampir bersamaan Macukunda pun tiba di sisi Wisang Geni. Mau tak mau pendeta Mahameru ini memuji ilmu ringan tubuh Manjangan Puguh. Sungguh benar kata orang Waringin Sungsang ilmu ringan tubuh dari perguruan Merapi tak ada tandingannya. Bagaimana lagi kalau dimainkan oleh Ki Sagotra, pendekar Merapi yang menjadi guru Manjangan Puguh?

Gajah Watu sengaja memotong jalannya Kalayawana Pertemuan antara dua jago di tengah udara ini cukup menggemparkan. Terdengar beberapa kak bentrokan tangan dan kaki, sebelum dua jago itu memisahkan diri. Keduanya saling tatap!

"Kalayawana, kau berilmu tinggi. Anak muda itu sudah kehabisan tenaga menghadapi empat lawan!" Sambil bicara pendeta Macukunda memasang kuda-kuda

Kalayawana terdiam Matanya melotot. Ia memandang tak percaya kepada tiga muridnya. Dua sudah mati Kalabendana masih hidup tapi seperti sudah mati. Kalayawana menghampiri Kalabendana. Airmatanya berlinang melihat penderitaan muridnya. "Guru, sempurnakanlah aku. Maafkan aku, guru.

Aku belum sanggup membalas budimu. Sempurnakan aku, guru!"

Kalayawana dengan berlinang airmata menekan dada muridnya Kalabendana mati sudah! Orangtua kurus itu menatap Wisang Geni dengan sinar mata yang sulit dibaca artinya Tatapan mata itu punya arti tunggal, kematian mengerikan. Kebetulan Wisang Geni pun sedang menatapnya. Tak terhindarkan lagi bentrokan mata dua pendekar yang saling dendam! 

"Kalayawana, separuh dari hutangmu pada ayah bundaku sudah terbayar! Tinggal separuh lagi, yaitu jiwamu yang kotor!" kata Geni dengan datar dan dingin.

Kalayawana sudah berhasil mengendalikan diri. Mendadak ia melepaskan tawanya yang mengerikan yang dilapisi ilmu Angampuhan. Pekiknya terdengar dahsyat dan bergelombang serta memantulkan gema ke mana-mana. Sambil mengumandangkan teriakannya ia melangkah terus menuju tendanya. Beberapa pelayan perempuan dan beberapa murid angkatan keduanya tak berani bergerak melihat paras mengerikan sang guru.

Wisang Geni bangun berdiri. Ia terduduk tadi bukannya kehabisan tenaga tetapi disebabkan terlalu gembira akan keberhasilannya

Ia merunduk menyentuh kaki Manjangan Puguh. Gurunya menyuruhnya berdiri. Geni kemudian membungkuk ke arah Gajah Watu. Ia juga menoleh ke tenda di mana Sang Pamegat berdiri, ia tahu pendekar itulah yang memberitahu cara mengatasi pengaruh sihir Kalayawana tadi, Geni memberi hormat.

”Terimakasih atas peringatanmu tadi."

Wisang Geni kemudian menoleh dan membungkuk hormat kepada pendeta Macukunda. "Terimakasih, paman pendeta sudah bersusah payah melindungiku"

Macukunda mengelusus-elus jenggotnya. Ia heran melihat Wisang Geni sudah dalam keadaan segar seperti tak mengalami pertarungan melelahkan. Ia senang dan simpati melihat kelakuan anak muda ini yang sopan dan begitu tahu aturan dan tak memperlihatkan rasa sombong meski memiliki ilmu begitu tinggi. "Ho... ho... anak muda, kau boleh istirahat sekarang. Nanti akan datang giliranmu lagi!"

Dalam sekejap saja, gelanggang sudah kosong. Tiga mayat murid Kalayawana itu sudah digotong keluar. Pertarungan masih berlanjut dua partai lagi ketika matahari masuk ke peraduan. Macukunda mengumumkan pertarungan diistirahatkan, akan dilanjutkan esok pagi.

Malam itu, satu malam paling bahagia bagi orang-orang Lemah Tulis, Padeksa dan Gajah Watu sebagai yang paling tua dikunjungi banyak orang. Tigapuluh orang lebih mengaku murid Lemah Tulis yang lolos dari pembantaian duapuluh lima tahun silam. Selama ini mereka terpencar cerai berai, tak tahu harus ke mana. Mereka bersembunyi dan menyamar sebagai petani atau pedagang biasa yang tidak mengerti silat.

Pertemuan itu sangat menggembirakan Usia mereka masih muda ketika meloloskan diri duapuluh lima tahun lalu, kini rata-rata usianya sudah di atas empatpuluhan bahkan tidak sedikit yang berusia lebih dari separuh abad. Padeksa, Gajah Watu, Geni dan Wulan sibuk memeriksa dan melakukan tanya jawab.

Tidak sulit menentukan benar tidaknya mereka sebagai murid Lemah Tulis sebab satu sama lain di antara mereka sendiri sudah saling kenal. Bahkan semua mereka berpeluk- pelukan kangen sambil menutur pengalaman. Sangat mengharukan memang.

Mereka benar-benar murid Lemah Tulis. Empat di antaranya adalah murid Gubar Baleman, murid tertua Bergawa yang mati di medan perang Ganter. Tiga orang murid Ranggaseta, murid kedua Bergawayang gugur di Lemah Tulis. Dua orang murid Gajah Kuning, murid ketiga Bergawayang mati di Ganter. Dua orang murid Kebo Jawa, murid keempat Bergawayang gugur di Ganter. Tiga murid Bergawa lainnya, Lembu Agra, Sukesih dan Walang Wulan tidak punya murid karena waktu itu masih terlalu muda. Dua murid Gajah Kuning memeluk hangat Wisang Geni. Keduanya sudah berusia lebih dari empatpuluhan dengan perawakan sedang. Yang bercambang lebat, orangnya agak hitam, Gajah Nila. Yang seorang lag;, rambutnya jarang, bernama Gajah Lengar. Keduanya gembira bahwa putra guru mereka, sudah berangkat dewasa dengan ilmu silat yang begitu menakjubkan. Wisang Geni pun sangat senang menjumpai Gajah Nila dan Gajah Lengar yang bagaikan keluarga mendiang orangtuanya.

Ia memaksa Gajah Nila dan Gajah Lengar bercerita perihal orangtuanya. Malam itu Wisang Geni mengumpulkan kembali serpihan kenangan yang telah hilang belasan tahun silam.

Dalam hati ia bangga. Ayahnya adalah pendekar yang menjunjung kebenaran, tak mengenal takut selama hidupnya. Ibunya seorang pendekar wanita berhati singa. Mereka gugur secara jantan di Ganter. Orangtuanya itu sering menjadi penolong rakyat dalam setiap pengembaraan. Mereka tidak menyukai penindasan dan kejahatan yang dilakukan si kuat terhadap si lemah.

Di malam dingin itu, Padeksa dan Gajah Watu mengumpulkan semua murid Lemah Tulis. Sementara itu sejak tadi, rombongan Sang Pamegat, Ranggawuni, Mahisa Campaka dan delapan pendekar Tumapel sudah memisahkan diri, tak mau mencampuri urusan Lemah Tulis. Sekar juga memisahkan diri, kepada Geni ia berpesan agar menjemputnya nanti di tenda Dewi Obat.

"Sudah suratan dewa, malam ini kita bertemu di sini.

Setelah kangmas Branjangan dan ketua Bergawa meninggal, kini tinggal aku dan dimas Gajah Watu sebagai yang paling tua di Lemah Tulis. Muridku cuma seorang yaitu Wisang Geni. Dimas pun cuma punya satu murid, yakni Waning Hyun. Ada dua murid kakang Branjangan yang masih hidup, Dipta dan Prastawana. Sedang murid kakang Bergawa yang masih hidup, hanya Lembu Agra dan Walang Wulan. Kalian perlu tahu, Lembu Agra itu murid pengkhianat, dia seorang penyusup yang puluhan tahun tidak kita ketahui, malam itu dialah yang meracuni air minum kita dengan racun pelemas tulang, itu sebab kita tak berdaya ketika diserbu pasukan Arok dan para begundalnya."

"Kalau tak diracun pelemas tulang itu kangmas Bergawa dan Branjangan sulit dikalahkan. Jelas kini bahwa Lembu Agra bukan lagi orang Lemah Tulis. Nama aslinya, Ki Jaranan, dia adalah keturunan ketua partai Turangga dan kini ia ketua partai itu. Ilmunya tinggi, karenanya kalian jangan coba membenturnya."

Di tengah-tengah pertemuan itu, Prastawana melontarkan suatu gagasan yang ternyata disambut baik semua orang. "Paman guru sudah lama kita semua, murid-murid Lemah Tulis kehilangan arah. Selama ini kita bagaikan anak ayam kehilangan induk. Kenapa paman Padeksa sebagai yang tertua tidak tampil sebagai ketua Lemah Tulis dan memimpin kami "

Padeksa menolak. "Tak bisa! Aku sudah tua lagi pula yang kalian butuhkan adalah seorang ketua yang masih punya harapan hidup lebih lama. Kakang Bergawa ketika ditunjuk sebagai ketua, pada saat itu usianya baru duapuluh delapan tahun. Aturan tak tertulis di perguruan kita menegaskan perihal ketua yang harus dipilih secara bulat adalah seorang murid setia yang masih muda dan dari generasi berikut.

Kangmas Bergawa adalah ketua lama, maka ketua baru harus murid dari angkatan di bawah kangmas Bergawa. Karenanya aku tidak layak untuk dipilih."

"Tapi paman, Lemah Tulis sekarang ini sangat butuh seorang ketua. Kita harus bisa memanfaatkan pertemuan ini yang jarang bisa terselenggara Ini jelas restu dewa semata Bagaimana kalau saat ini kita manfaatkan untuk memilih seorang ketua?" Padeksa dan Gajah Watu saling pandang kemudian menyetujuinya "Kami berdua sudah tua, kami hanya mengarahkan pemilihan ini agar berlaku adil dan bebas tanpa tekanan seseorang. Biarlah waktu saja yang menentukan!"

Terdengar kasak-kusuk. Orang membicarakan figur ketua Tapi tak ada yang lebih cocok dari Wisang Geni. Kehebatan ilmu silatnya sudah terbukti Apalagi ia sudah menguasai Garudamukha Prasidha pusaka perguruan yang paling tinggi. Sebagai putra dua pendekar Lemah Tulis tak perlu diragukan, apalagi ia dibesarkan bahkan menjadi murid tunggal Padeksa.

Keberanian Wisang Geni pun sukar dicari duanya, seperti saat ia menantang Kalayawana. Pekertinya patut jadi teladan, ia tidak sombong meski berilmu tinggi Lima syarat utama itu, berasal dari keturunan baik-baik, memiliki sifat berani, berkepandaian tinggi, muda usia dan baik budi pekertinya membuat Wisang Geni tak tersaingi. Semua murid Lemah Tulis, tanpa kecuali, sepakat memilih Wisang Geni sebagai ketua perguruan

Padeksa dan Gajah Watu gembira mengetahui semua murid memilih Wisang Geni sebagai calon tunggal Kedua tetua Lemah Tulis pun sama pendapatnya Suara bulat telah memilih Wisang Geni sebagai ketua Lemah Tulis membuat anak muda itu merasa kikuk dan malu.

Makin banyak orang mendesak, Wisang Geni makin tak mau menerima jabatan itu. "Tidak mungkin aku bisa! Kalian pilih orang lain saja! Masih banyak yang lebih pantas dari aku! Masih banyak orang yang lebih tua dan lebih pandai daripada aku!"

Namun begitu Walang Wulan, Waning Hyun, Padeksa, Gajah Watu dan Manjangan Puguh memaksanya, Wisang Geni tak bisa lagi mengelak. Malam itu Wisang Geni dengan upacara sederhana diangkat jadi ketua Lemah Tulis yang ketujuh. Wisang Geni kemudian mengucap pidato singkat "Kawan- kawan, di antara kalian ada yang lebih tua daripadaku. Hal ini membuat aku agak kikuk memimpin. Tetapi kepercayaan kalian kepadaku dan tanggungjawabku sebagai murid Lemah Tulis, aku akan berusaha mengembalikan kejayaan perguruan kita. Kawan-kawan, bantulah aku, tanpa, bantuan kalian aku tak mungkin berhasil."

Malam itu suasana meriah di kubu Lemah Tulis. Hampir tak ada seorang murid pun bisa memejamkan mata. Mereka ngobrol satu sama lain, menceritakan masa lalu dan pengalaman masing-masing. Ketika cerita bergeser kepada ketuanyayang baru, mereka menyebut nama Wisang Geni dengan rasa kagum.

Saat itu Wisang Geni duduk ngobrol dengan gurunya Manjangan Puguh. Lelaki ini tak kuasa menahan harunya, ia memeluk Geni dengan penuh perasaan. "Aku bangga padamu, Geni!"

Mendengar cerita perjalanan dan pengalaman pahit Geni sampai ia memperoleh dan mempelajari jurus Wiwaha ilmu kelas tinggi itu, Manjangan Puguh makin mengagumi keberuntungan muridnya. "Aku rasanya pernah mendengar cerita guru Sagotra, bahwa pendekar Lalawa itu sangat tinggi ilmu silatnya dan hampir tak punya tandingan, ia adalah pendekar pembela kebenaran. Banyak musuh dari golongan hitam mati di tangannya, yang masih hidup akan segera kabur bersembunyi ke mana pendekar hebat itu lewat. Kamu beruntung mewarisi ilmunya, Geni."

Malam semakin larut, Padeksa menyuruh Wisang Geni istirahat "Kau perlu mengumpulkan tenaga, besok kau akan menghadapi pertarungan yang lebih berat"

Saat itu seorang gadis cantik menghampiri Wisang Geni yang duduk bersama Padeksa, Gajah Watu dan Manjangan Puguh. Gadis itu membawa nampan berisi makanan yang masih hangat Ketika gadis itu meletakkan nampan di dekat kakinya, ia harus merunduk. Saat itu Geni sempat melihat belahan buah dada si gadis. Anak itu masih remaja namun dadanya penuh dan montok. "Kamu siapa?"

Gadis itu terkejut mendengar sapaan ketuanya. Ia gugup dan tak berani menengadah memandang wajah tampan sang ketua. "Aku, namaku Prawesti."

Padeksa tertawa. "Ketua menanyakan siapa kamu, murid siapa?"

Saat itulah, Prastawana mendekal. "Dia cucu kangmas Gubar Baleman, sejak kecil dia tinggal bersama suami isteri Jayasatru, murid Ranggaseta. Hei, Westi, beri hormat pada ketua."

Di tenda juga berkumpul murid angkatan dua, seperti Dyah Mekar putri Ranggaseta, Kebo Lanang dan Jayasatru murid pertama dan kedua Ranggaseta, kemudian Daraka dan Margana murid Gubar Baleman. Mereka adalah murid-murid yang kebetulan keracunan sehingga dipaksa Bergawa untuk meninggalkan perguruan. Wisang Geni memerhatikan gerakan bokong Prawesti ketika gadis itu beringsut mundur kemudian melangkah menjauh keluar tenda. "Gadis itu tak hanya cantik juga montok dan subur," kata Geni dalam hati.

Mendadak saja ia teringat Walang Wulan dan Sekar. Ia ingat Sekar sedang pulang ke tenda neneknya, tetapi ke mana Wulan? Ia memandang sekeliling tetapi Wulan tak terlihat. Ia keluar mencari keliling tenda. Ia melihat seorang perempuan duduk di bawah pohon. Tak salah lagi itu Wulan!

Malamku cahaya rembulan cukup terang. Wisang Geni mendekat, ia terkejut melihat air mata mengalir dari sepasang mata indah itu. "Kenapa menangis, Wulan?"

Wulan menoleh memandang Geni. Wajahnya yang cantik berbinar ditimpa cahaya rembulan. Wulan menggeleng kepala, rambutnya menyibak ke sana kemari. "Tak apa-apa. Aku hanya memikirkan kebahagiaanmu. Kau kini jadi ketua Lemah Tulis dan aku bawahanmu. Kau akan banyak disanjung orang, perempuan yang cantik-cantik dan muda-muda akan mengelilingi engkau. Aku tak tahu di mana nanti aku berdiri."

Wisang Geni memegang dagu kekasihnya. "Kau tetap berdiri di sampingku. Dengan kau di sisi, aku akan lebih kuat dan lebih tegar menantang kesulitan. Wulan, jangan berpikir yang bukan-bukan. Sekali aku mencintaimu, sampai mati pun tak akan luntur."

Terdengar suara mendehem. Manjangan Puguh tiba-tiba saja sudah berada di situ. Dua sejoli itu sama sekak tak mendengar langkah orang. Keduanya tersipu-sipu malu. "Geni dan Wulan, aku sudah tahu hubungan kalian. Ada yang perlu kusampaikan, suatu rahasia tentang dirimu, Wulan. Tak mungkin aku menyimpannya lebih lama. Wulan, kau bukan adikku!"

Perkataan itu membuat ledakan di telinga Geni dan Wulan. Dua sejoli itu kaget luar biasa. Manjangan Puguh melanjutkan. "Wulan, ayahmu seorang pendekar paling banyak musuhnya. Ia tak mau orang tahu bahwa ia punya anak, ia khawatir dendam musuh-musuhnya akan ditimpakan kepada putrinya. Itu sebabnya kau dititipkan kepadaku, ia memaksaku untuk mengakuimu sebagai adik kandung. Rahasia ini hanya aku yang tahu, kini rahasia itu menjadi milik kita bertiga!"

Wajah Wulan pucat. Ia ingin tahu siapa orang tuanya. Tetapi ia takut bertanya. Ia takut jawabannya akan tidak menggembirakan. Wisang Geni tidak bisa menahan diri. "Siapa orangtua Wulan, guru?"

Manjangan Puguh menengadah menatap bulan. "Ayahmu adalah seorang yang paling kuhormati dan kusegani. Dia, adik baginda raja Kertajaya."

Mulut Wulan terkunci. Wisang Geni bagai disambar geledek. "Maksud guru, pendekar Mahisa Walungan?"

"Ya, Wulan masih berdarah biru, darah keraton!" Wulan makin tenggelam dalam kebingungan. Selama ini Manjangan Puguh mengatakan orang tuanya telah mati sejak ia kecil. Dia ingat usianya sepuluh tahun ketika dua pendekar datang menjemput dari tangan kakeknya. Sang kakek memperkenalkan Manjangan Puguh sebagai kakak kandungnya. Pendekar yang satunya, tidak dikenal, meski tampak akrab dengan sang kakek. Sejak itu dia dipelihara oleh guru Sagotra dan Manjangan Puguh sampai kemudian diserahkan kepada pendekar Bergawa, ketua Lemah Tulis.

Dan sejak itu Wulan hanya tahu ia adalah murid Ki Bergawa dari Lemah Tulis. Wulan tak pernah tahu siapa orangtuanya, dimana ia di lahirkan. Suatu waktu ia bertanya kepada Manjangan Puguh, "Kangmas kamu kan kakakku, tentu kamu tahu siapa orangtua kita, ayo ceritakan padaku." Manjangan Puguh tidak menjawab, hanya mengatakan, "Belum saatnya kamu tahu!"

Kini sudah saatnya, begitu pikir Wulan. Namun ia tetap bingung dihadapkan pada cerita baru, cerita yang sebenarnya, tentang orangtuanya. Ia hampir tidak percaya, bahwa ia masih berdarah keraton. Ayahnya adalah Mahisa Walungan yang terkenal. Tetapi apa hebatnya, toh tak ada perubahan dalam dirinya. Ia masih saja Wulan yang kemarin. "Siapa ibuku, kakang, oh, aku harus memanggilmu apa?"

"Apa artinya panggilan, panggil aku sesuka hatimu. Wulan, ayahmu adalah sahabatku. Kami bersahabat sejak masih muda. Kamu masih ingat ketika aku dan seorang pendekar datang menjemputmu, kakekmu tampak akrab dengannya tetapi mereka tak mau memperkenalkan diri. Dialah ayahmu, kakang Mahisa Walungan."

Mahisa Walungan, adik kesayangan baginda raja Kertajaya.

Ia gemar merantau, sambil menambah kepandaian ilmu silatnya. Dia sering bertarung membela kebenaran. Ia tak suka melihat penindasan dari yang kuat terhadap si lemah, atau si kaya terhadap si miskin Tak jarang ia menghukum pejabat desa yang ketahuan menggui uk.m kekuasaan semena-mena. Ia seorang yang menyukai kebebasan dan tak suka diikat dalam adat istiadat keraton yang kaku.

Suatu saat Walungan memergoki sekelompok perampok yang menjarah desa. Desa kacau, hiruk pikuk penduduk yang hei larian dikejar penjahat. Mereka merampok binatang ternak, sapi, ayam, bebek, kambing, sapi, kerbau, babi.

Mereka menjarah harta benda Mereka juga memerkosa para wanita. Mahisa Walungan datangtepat pada saat para penjahat belum lama beraksi.

Hari itu Walungan ngamuk, hampir seluruh perampok itu tewas ditebas pedang hitamnya yang tajam luar biasa.

Perampok yang masih hidup lari serabutan ke hutan. Ia mendengar suara tangis di mana mana. Banyak perempuan menangisi suaminya yang luka sebagian bahkan tewas.

Mendadak seorang perempuan tua berlumuran darah menghampiri Walungan. "Tuan pendekar, kamu tolong putriku, ia dibawa lari penjahat, ke arah sana."

Tidak ayal lagi, Walungan berkelebat mengejar ke arah hutan yang ditunjuk perempuan tua itu. Tak berapa lama ia mendengar jeritan perempuan. Ia belum terlambat. Setelah menghajar penjahat itu sampai tewas, ia menghampiri perempuan. Ia terpesona melihat kecantikan gadis itu yang hampir telanjang lantaran pakaiannya sudah dicabik-cabik si penjahat Walungan membuka sarung yang melingkat di pinggangnya, kemudian menutupi tubuh gadis itu. Dua pasang mata saling menatap.

Pendekar penolong jatuh cinta pada gadis yang ditolong. Si gadis jatuh cinta pada sang pendekar. Walungan menetap di desa itu, kawin dan bercinta dengan gadis cantik itu.

"Ayahmu tak pernah berpisah dari ibumu, sampai ketika ibumu meninggal satu hari setelah melahirkan kamu. Sesaat sebelum maut merenggut nyawanya, ibumu memeluk kamu dan memohon pada suaminya agar memberi nama Walang Wulan," tutur Manjangan Puguh.

"Siapa nama ibu?"

"Namanya indah, Wulan Sari, nama indah seperti kecantikannya. Ayahmu memperkenalkan aku dengan ibumu, sungguh aku belum pernah melihat wanita secantik ibumu.

Dia juga wanita dan isteri yang sangat setia dan telaten melayani suaminya. Tidak heran ayahmu tak mau berpisah dengan ibumu

"Ibumu setia dan sangat mencintai suaminya. Ia tak pernah bertanya asal-usul suaminya. Ia tidak tahu bahwa lelaki yang mengawini dirinya adalah seorang pangeran, adik dari raja yang paling berkuasa pada jamannya. Pada saat hendak melahirkan ia bertanya pada suaminya dan ia tidak heran ketika mengetahui suaminya seorang pangeran. Selama itu ibumu dan penduduk desa mengenal ayahmu sebagai pendekar Nagapasa yang kesohor membela kebenaran dan pembasmi penjahat"

Wulan terpesona akan cerita itu. Ia menangis. Tapi ia tak tahu kenapa ia menangis. Ia tak pernah mengenal siapa orangtuanya.

"Wulan, ada titipan penting dari ayahmu untukmu. Ia menitipkan ilmu Nagapasa ciptaannya sendiri. Ia meramu jurus hebat itu dan seluruh pendalamannya atas semua jurus silat yang ia pelajari selama pengembaraan. Kini hanya kamu pemilik tunggal ilmu dahsyat itu, bersiaplah aku akan mengajarimu"

Pada saat itu Geni pamit diri. Dalam adat istiadat kependekaran, tabu bagi Geni ikut mendengar latihan ilmu Nagapasa.

"Ayahmu mengajarkannya kepadaku setelah aku membawamu ke Lemah Tulis. Ia memaksaku berjanji." "Apa janjimu, kangmas?"

Manjangan Puguh tersenyum "Iya, kau mau tahu apa janjiku? Aku tak boleh mati dalam perang, aku harus melindungimu sampai kau dewasa dan kawin kelak."

Walang Wulan berdiam diri. Manjangan Puguh menghela nafas. Tak sanggup membendung kenangan lamanya, ia menceritakan juga tentang cintanya kepada Sukesih, istri sahabatnya. Dan Sukesih juga meminta hal yang sama, menyuruh ia melarikan diri dari perang untuk menyelamatkan Wisang Geni

Wulan menatap lelaki itu dengan pandangan iba. "Itu sebabnya kau begitu memerhatikan Wisang Geni?"

"Kalian berdua adalah putra dan putri dari sahabatku. Aku senang mengetahui hubunganmu dengan Geni. Sekarang kamu bersiaplah, Wulan, menerima ilmu warisan dari ayahmu."

Manjangan Puguh kemudian mengajarkan ilmu Nagapasa yang seluruhnya terdiri dari 18 jurus. Inilah ilmu yang menggunakan telapak tangan sebagai senjata. Pada tingkat yang tinggi, tamparan Nagapasa bisa mematahkan pedang atau golok. Tenaga yang digunakan adalah tenaga panas.

Semalaman Wulan berlath ilmu silat dibimbing Manjangan Puguh. Pada saat yang sama, Geni berlari ke tenda Dewi Obat dan mengajak Sekar ke hutan. Semalaman Geni bercinta meluapkan birahi dan cintanya pada Sekar. Bagi Wisang Geni, Sekar adalah seorang dewi yang nyaris sempurna. Perempuan yang tubuhnya indah dan molek, membuat dia tergila-gila. Di dalam tubuh indah itu, terkumpul kesetiaan dan kepasrahan yang membuat Geni kasmaran hampir setiap saat. Sekar ibarat danau yang membuat Wisang Geni ingin berenang, menyelam dan meminum air sebanyak-banyaknya. Dan semakin banyak dia menenggak air danau itu, semakin dia ketagihan. Sekar ibarat candu bagi Geni. ---ooo0dw0ooo---