-->

Wisang Geni Bab 05 : Lembah Cemara

Bab 05 : Lembah Cemara

Keduanya melakukan perjalanan cepat ke Lembah Cemara.

Sekar sebagai penunjuk jalan berpatokan pada matahari. Mereka beristirahat hanya waktu siang untuk makan. Sekar menangkap ayam hutan dan memanggang. Keduanya makan lahap. Tanpa istirahat lagi mereka melanjutkan perjalanan.

Hari sudah senja, mereka tiba di bagian hutan pepohonan jati Ketika Sekar sedang mencari-cari tempat yang layak untuk bermalam, dia mendengar suara keluhan. Ia menoleh, ternyata Geni sudah terbaring di tanah. Lelaki itu terjatuh dari kudanya. Dia terkesiap mendapatkan Geni menggigil hebat. Ia menghampiri. "Geni kenapa kamu?"

Geni tak kuasa menjawab. Bibirnya gemetar. Butiran keringat membasahi wajahnya yang pucat pasi Tampak ia sangat kesakitan. Sekar ingat akan ancaman Kumara. "Rupanya racun ular salju mulai bekerja," kata gadis itu.

Sekar hendak menolong, tetapi mendadak saja ia merasa seperti ribuan semut merambat dalam tubuhnya. Rasa dingin itu datang menusuk sampai ke tulang, ia menggigil hebat Rasa sakit juga datang berbarengan. Nyeri dan ngilu. Sekar berguling-guling di tanah, dari mulurnya keluar rintihan lirih.

Racun ular salju mulai bekerja. Seperti yang dikatakan Kumara dan Malini, racun mulai bekerja satu hari kemudian. Serangan racun di tubuh Sekar tidak begitu lama, hanya sepenanakan nasi. Ketika serangan di tubuh Sekar sudah reda, Geni masih menderita sakit. Geni memang lebih parah disebabkan selain keracunan dia juga mengalami luka dalam akibat pukulan Kalayawana. Serangan sudah mereda, namun Geni masih merasa dingin. "Aku kedinginan."

Sekar yang sudah normal kembali, memeluk Geni. Ia mengharap panas tubuhnya bisa menghangatkan tubuh lelaki itu. "Geni, kamu harus bertahan, besok kita akan tiba di rumah nenek."

Lelaki itu masih menggigil. Sekar memeluk lebih erat, mencium mulut lelaki yang dicintai itu. "Geni, jangan mati, aku mencintaimu"

Tak lama kemudian Geni merasa normal kembali. Sekar bangkit. "Tunggu di sini." Ia pergi mengikat kuda di pohon. Tak lama dia kembali menenteng dua ekor ayam hutan. "Aku sudah menemukan tempat yang bagus untuk bermalam. Ayo kita ke sana."

Geni hanya kehilangan tenaga dalam namun masih punya tenaga macam lelaki biasa. Dia membantu Sekar membersihkan tempat bermalam kemudian mengumpulkan ranting dan kayu untuk membuat api. Keduanya duduk bersanding berdampingan sambil menikmati ayam panggang. Selesai makan, Sekar berbisik, "Geni, lukamu tampaknya lebih parah."

"Aku luka dalam, kena pukulan Kalayawana dan juga racun ular salju. Kalau menurut ucapan Kumara pada hari ketujuh, racun akan membunuhku. Tapi melihat parahnya luka, aku yakin kematianku akan lebih cepat, mungkin pada hari keempat. Celakanya serangan rasa sakit lebih cepat datangnya, mungkin besok siang racun akan menyerangku lagi, begitu seterusnya. Serangan berikut mungkin besoknya di pagi hari."

"Kalau aku, bagaimana? Parah juga?"

"Kamu tak begitu parah, racun akan menyerangmu pada senja hari, sama seperti sekarang ini. Kau masih bisa hidup sampai hari kemjuh seperti ancaman Kumara."

Keduanya berpelukan. Geni mencium leher si gadis. "Sekar, tadi kau berkata, kau mencintaiku, benarkah?"

Gadis itu tertawa kecil. "Memang benar, dan aku tidak perlu malu mengatakan mencintaimu Aku memang mencintaimu sejak kita makan di warung itu, kau lelaki berbudi mulia dan bermoral baik."

"Dari mana kau tahu? Kau baru saja mengenalku."

"Kau berbudi muka, karena kau tidak jijik malah menolong gadis buruk rupa bekas penderita cacar yang mengalami kesulitan. Kamu bermoral, karena mau jujur mengatakan kamu sudah punyakekasih, kau tidak membohongi aku. Eh, siapa nama gadis kekasihmu itu?"

"Wulan. Walang Wulan. Aku mencintainya, aku berduka karena aku bakal mati tanpa bertemu lagi dengan dia."

"Apakah dia mencintaimu?"

"Ya dia mencintaiku seperti aku mencintainya." "Lalu, kenapa dia meninggalkan kamu?"

"Bagaimana kamu tahu dia yang pergi meninggalkan aku bukan sebaliknya?"

Sekar tertawa, suaranya merdu "Aku menerka asalan saja, kenapa dia pergi, apa katanya?" "Ia ingin sendiri, katanya dia ingin memikirkan hubungannya dengan aku."

"Perempuan bodoh."

"Eh, kau jangan mengatainya bodoh, dia gadis yang cerdas sama seperti kamu"

"Boleh saja dia cerdas, tetapi dia tetap bodoh, karena apa? Karena melepas sesuatu yang sudah dalam genggaman. Kalau dia sudah yakin bahwa kamu mencintainya dan dia tahu bahwa dia juga mencintaimu, lantas apalagi yang harus dia pikirkan."

Geni termenung. "Usianya lebih tua, ia kakak perguruanku, gurunya dan guruku sama-sama seperguruan. Ia juga bibiku, sebab ayahku dan ibuku adalah kakak seperguruannya. Jadi ia takut ditertawai orang."

Sekar tertawa kecil. "Memang bodoh. Semua itu apa urusannya? Yang penting kamu bukan ayahnya, dia bukan ibumu dan kamu bukan anaknya atau saudara kandungnya. Lagipula di dunia persilatan orang tidak membicarakan hal-hal seperti itu. Seperti aku, begitu aku menyukaimu dan kamu menyukaiku, itu sudah alasan kuat bagiku membiarkan kamu merenggut perawanku Jangan harap aku mau bercinta dengan laki-laki yang tidak kukenal atau yang tidak kusukai. Kita berada dalam dunia persilatan yang penuh dengan orang- orang kasar dan yang sulit dipercaya."

Geni meneliti gadis di hadapannya. "Dia ini cerdas, dan jalan pikirannya terarah dan terpola. Jika bekas cacar itu sembuh dan lenyap, dia menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan cerdas," pikirnya.

Timbul keinginan menggodanya. "Bagaimana kamu begitu yakin aku akan setia menjadi kekasihmu? Bagaimana kalau suatu waktu nanti aku pergi, kabur bersama perempuan lain?" Matanya berbinar-binar. "Aku akan mengejarmu, bahkan sampai ke neraka pun. Aku tak akan membiarkan laki-laki yang kucintai pergi begitu saja, apalagi dia telah memerawani aku"

"Maksudmu, kamu akan membunuh aku?"

Sekar menggeleng. "Buat apa membunuhmu? Kamu enak, langsung mati, tetapi aku? Aku akan merana kesepian mengenang dirimu."

"Kamu akan membunuh perempuan itu?"

Sekar menggeleng. "Membunuh perempuanmu adalah langkah terakhir. Pertama-tama, aku akan nyelinap masuk kamar tidurmu, membawa seember air yang sudah aku campur dengan lombok yang pedas, aku siramkan air itu ke tubuh kalian berdua," dia tertawa cekikan.

Geni merasa lucu. "Kenapa kamu tertawa?"

"Aku membayangkan kamu dan perempuanmu saking terkejutnya lari bertelanjang bulat." Dia tertawa geli. Geni ikut tertawa.

"Sekar, kamu tak boleh lakukan itu pada Wulan. Karena dia yang lebih awal mendapatkan cintaku."

"Iya aku tahu, Wulan yang pertama, aku yang kedua, mungkin saja akan ada yang ketiga dan keempat. Tapi aku tak peduli berapa perempuan yang kamu rayu dan kamu tiduri, selama kamu tetap mencintai aku dan tak bosan bercinta dengan aku, itu sudah cukup bagiku."

"Sesederhana itu?"

Sekar mengangguk. "Iya sederhana saja. Itu sebab aku katakan keputusan gadis yang pergi meninggalkan lelaki yang dia cintai dan mencintai dia, adalah tindakan bodoh. Aku jadi ingin ketemu dengan gadis bodoh yang bernama Wulan itu."

"Kau jangan mengatai dia bodoh." Sekar tertawa. "Baiklah aku berjanji tidak akan mengatainya bodoh lagi."

"Lantas mau apa kamu ketemu dia?"

"Mau menasehati dia supaya berpikir cerdas, berpikir sederhana saja dan jangan berpikir njelimet. Eh, kau tadi mengatakan ia lebih tua dari kamu, tentu ia cantik."

"Ia memang lebih tua usia, tetapi ilmu yang dipelajarinya membuat ia tampak muda, sama seperti gadis remaja. Dan sangat cantik."

"Kamu sudah menidurinya?"

Geni mengangguk. "Berulang-ulang, tak pernah bosan." "Geni, coba kau bayangkan, seandainya wajah dan tubuhku

bersih dan mulus tanpa ada bercak cacar, apakah aku secantik Wulan?"

Geni memandang Sekar di keremangan cahaya api unggun yang makin meredup. "Kamu cantik, Sekar. Tetapi aku mencintai Wulan."

Sekar menelungkup di atas tubuh Geni. "Kamu teruslah mencintai Wulan, aku tak akan menghalangimu Aku tetap mencintaimu dan aku sudah bahagia jika kau mencintaiku walau hanya semalam atau separuh malam. Pada saat kau terangsang birahi dan meniduriku, saat saat seperti itu bagiku adalah cinta. Bagiku, cinta sama dengan nafsu birahi. Tak ada nafsu, tak mungkin ada cinta. Tak ada cinta, bisa saja ada nafsu. Buktinya, kamu sendiri, kamu mencintai Wulan, tetapi kamu terangsang birahi dan meniduriku dengan gairah."

Api unggun semakin kecil. Redup. Akhirnya padam. Malam menjadi kelam Geni menggeluti tubuh Sekar. Apa yang dikatakan Sekar semuanya benar. Ia tidak mencintai Sekar, tetapi rangsangan birahi lebih berperan Ia tergila-gila akan tubuh molek Sekar dan cara gadis itu mencintainya. Di tengah pergumulan, gadis itu berbisik merdu di telinganya. "Aku mau diobati nenek, supaya aku tampak cantik, supaya kamu tak akan bisa melupakan aku. Aku tak ingin kamu mencintaiku, yang aku inginkan adalah kamu selalu merindukan aku, merindukan tubuh dan semua kenikmatan yang kuberikan padamu Geni, aku sendiri hanya akan mencintaimu seorang, tak akan ada lelaki lain dalam hidupku, hari ini, besok dan hari-hari di masa datang."

Keesokan pagi mereka melanjutkan perjalanan, menempuh jalan pintas lewat hutan. Selain menghindari perjumpaan dengan orang, Sekar memperkirakan senja atau malam hari akan tiba di Lembah Cemara Ia tahu keadaan kritis terutama racun ganas yang menyerang Wisang Geni. Siang itu seusai makan, racun ular salju menyerang Geni. Kali ini rasa sakit hampir tak tertahan. Geni mengerang. Rasa sakit dan dingin seperti akan membunuhnya. Sekar memeluk, menciumi Geni. Ia menangis melihat penderitaan kekasihnya. "Geni, jangan mati, nanti malam kita akan tiba, kekasihku kau harus bisa bertahan!"

Ketika serangan racun itu mereda, Geni seperti orang kehabisan tenaga Ia bahkan tak sanggup mengangkat tangannya. Sekar masih memeluknya, airmata si gadis membasahi pipinya. "Oh Geni, kamu sangat menderita, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menolongmu"

Geni memandang si gadis dengan senyum dipaksa. "Dua kali serangan lagi, aku pasti akan mati. Sekar, tak ada obatnya, lebih baik kamu tinggalkan aku sendiri di sini, kamu pulang ke rumah nenekmu, pergilah Sekar."

Sekar menggeleng, menjawab sambil menangis, "Tidak, kamu tak boleh mati, tidak kuijinkan kamu mati. Sekarang juga kita berangkat ke Lembah Cemara"

Dia membantu Geni, susah payah ia menaikkan Geni ke atas punggung kuda. Ia melompat di belakang kekasihnya, satu tangan memeluk Geni, tangan lainnya memegang kekang kuda. Mereka menunggang satu kuda, kuda lainnya dituntun di belakang dengan tali yang agak panjang

Sekar memacu kudanya, memburu waktu, ia harus tiba secepatnya sebelum racun ular itu menyerang lagi. Perjalanan jauh. Ketika matahari mulai tergelincir ke barat, Sekar berteriak gembira. Ia memeluk kekasihnya, "Geni, kamu lihat, itu dia Lembah Cemara. Sebaiknya kita ganti kuda, supaya bisa lebih cepat"

Sekar melompat turun. Tetapi berbarengan saat itu racun menyerangnya, ia jatuh bergulingan. Ia menjerit. Geni terkejut, melompat dari kuda ingin menolong Sekar.

Tetapi lantaran tak lagi punya tenaga yang cukup, Geni pun jatuh bergulingan

Geni merangkak mendekati Sekar. Ia memeluk gadis itu yang berontak kesakitan. Tak tahu harus berbuat apa, Geni menyodorkan tangan ke mulut Sekar. Tanpa sadar Sekar menggigit tangan Geni, ia menggigit sekeras-kerasnya. Geni meringis kesakitan, tetapi ia diam tak bersuara. Ternyata dengan menggigit itu Sekar bisa bertahan dari rasa sakit.

Tidak lama kemudian gadis itu sadar, sakitnya mereda dan lenyap. Geni memandangnya dengan pandangan aneh. Sekar baru sadar bahwa mulurnya sedang menggigit tangan kekasihnya. Agak lemas, ia bangkit, memegang tangan Geni. Tampak bekas gigi yang dalam di tangan Geni, sejengkal di bawah siku. Bekas gigitan itu merah dan masih mengeluarkan darah. "Aku tidak sadar, tetapi mengapa kamu membiarkan tanganmu kugigit?"

Geni mencium gadis itu. "Aku ingin meringankan penderitaanmu, tak ada artinya tangan ini dibanding apa yang telah kau berikan padaku."

Sekar memeluknya erat. "Aku tidak salah mencintai orang." Ia cepat sadar ketika matanya tak melihat kudanya. "Kemana kuda itu pergi?" Ia bersiul. Tetapi kuda-kuda itu sudah lari jauh, lari menuju kebebasan. Keduanya saling membimbing, melangkah pelan-pelan menuju Lembah Cemara. Senja semakin mendekati malam Hutan cemara semakin dekat.

Ketika keduanya tiba di batas Lembah Cemara, matahari sudah hampir tenggelam seluruhnya, ketika itulah racun menyerang Geni. Kali ini serangan semakin ganas. Keringat membasahi sekujur tubuhnya tapi ia pantang bersuara. Ia tak mau membuat Sekar kelewat sedih. Rasa sakit yang menusuk tulang membuat seluruh syaraf dan ototnya menjerit, rasa dingin membuat ia menggigil, seluruh tubuhnya gemetar.

Geni hanya memikirkan mati atau pingsan sajalah yang bisa membuat ia melupakan sakitnya. Tetapi keinginan untuk pingsan pun tidak terpenuhi. Ia seperti harus menjalani rasa sakit ini. Sekar menangis, memeluk Geni dengan erat, ia takut kehilangan lelaki yang dicintainya itu.

Sekar berusaha segala daya, membuka baju Geni, membuka bajunya sendiri, menempelkan dadanya ke dada Geni. Sekar masih memiliki tenaga dalam meskipun sudah banyak berkurang, namun dengan memaksa diri dia memindahkan panas tubuhnya ke tubuh kekasihnya. Geni antara sadar dan pingsan mengigau. "Bunuhlah aku, bebaskan aku dari sakit ini, bunuhlah aku, tolong, kau bunuhlah aku!"

Sekar semakin panik. Ia memeluk dan mencium mulut Geni. Mulut itu dingin, tubuh Geni dingin dan gemetaran. Dalam kepanikan, Sekar teringat neneknya. "Semoga nenek bisa mendengar siulanku." Sambil tetap memeluk Geni, ia menghirup nafas panjang kemudian mengeluarkan siulan.

Tetapi itulah tenaga terakhir, sisa-sisa tenaga yang masih ada pada Sekar. Siulan itu seperti bisikan lemah. Tak mungkin bisa didengar orang. Sekar pingsan. Letih, sedih dan putus asa. Ia pingsan di atas tubuh Geni yang masih menggigil kedinginan. Dua insan itu lama tidak bergerak Malam merangkak semakin kelam Geni mulai sadar, sakitnya sudah mereda. Tetapi ia tak mau bangkit atau bergerak ia tahu Sekar pingsan dengan telungkup di atas tubuhnya. Geni memeluk gadis itu Ia merasakan tubuh Sekar yang lunak. Gadis itu sedang tidur.

Tadinya pingsan kini malahan tidur, dimungkinkan jika seseorang terlampau sedih, kecewa dan ketakutan.

Tengah malam, embun mulai turun, Sekar terjaga Ia kaget merasa tangan Geni memeluknya. "Di mana kita, Geni, kamu masih hidup?"

Geni menciumnya. Tak terkirakan gembiranya, Sekar memeluk dan mencium kekasihnya. Dua anak manusia itu bergumul dalam kenikmatan nafsu di gelapnya malam. Bulan bersembunyi di balik mendung seakan malu menyaksikan dua kekasih yang bugil di alam terbuka.

Matahari pagi mulai mengintip dari arah timur, Sekar mencubit lengan kekasihnya. "Aku sudah bilang, tak kuijinkan kamu mau, kita sudah sampai di rumahku, nenek pasti bisa mengobatimu, jika dia tak sanggup maka tak seorang pun di kolong langit ini yang bisa menyembuhkanmu"

Keduanya bergegas mengenakan pakaian, kemudian melangkah masuk ke dalam pepohonan cemara. Sekar melangkah hati-hati, tangannya menuntun tangan Geni dan menghitung langkahnya. Ia melangkah ke kiri, sebentar ke kanan Terkadang mundur lantas maju lagi. Terkadang berhenti, berpikir sejenak lalu melangkah lagi.

Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tua di tengah hutan cemara. Rumah berada di tengah empang yang airnya kehijauan dihiasi banyak bunga teratai. Tak ada jembatan

Terdengar suara dari dalam rumah. "Bocah nakal, akhirnya kamu pulang juga, siapa yang kamu bawa?"

"Namanya Wisang Geni, kami berdua kena racun ganas, racun ular salju." Sekar belum selesai bicara ketika racun itu menyerang. Ia jatuh terbanting ke tanah, bergulingan di tanah. Geni bergerak hendak menolong, tetapi ia kalah cepat. Dari dalam rumah berkelebat sebuah bayangan. Bagai terbang ia melayang menggunakan bunga teratai sebagai batu loncatan melewati empang. Gerakannya sulit diikuti mata telanjang. Cepat sekali ia menyambar tubuh Sekar, menotok dada, memeriksa nadi, lalu mengurut dada dan punggung. Serangan racun mereda.

Dia perempuan tua. Dia memakai semacam jubah yang longgar dan panjang, di dalamnya dia mengenakan baju lengan panjang dan celana sebatas mata kaki. Rambutnya disanggul rapi di atas kepala. Matanya tajam seperti hendak menelan Wisang Geni.

Dia melesat ke dalam rumah, kemudian kembali. Ia menggenggam seikat rumput warna warni. Tangannya bergerak cepat ke seluruh tubuh Sekar. Ia memijit dada, menepuk pelan punggung bagian atas gadis itu.

"Huuuaaahhh!" Sekar muntahkan darah hitam yang berkilat kena sinar matahari. Nenek tua itu menjejalkan seikat kecil rumput ke mulut Sekar, mengambil air empang dan meminumkan pada cucunya.

"Ini racun ganas! Racun ini membunuh secara perlahan setelah sebelumnya si korban mengalami penderitaan sakit yang panjang. Orang itu sungguh kurang ajar, tetapi mana mungkin aku kalah, dalam tempo dua hari racun itu akan kupunahkan."

Sekar tertawa. "Kamu memang hebat, Nek, kalau tidak, mana mungkin kamu dijuluki Dewi Obat." Ia menatap neneknya dengan mimik manja. "Nek, kamu tolong kawanku ini, ia orang baik, ia menolong aku tanpa pamrih, ia tak pernah menghinaku, kamu harus menolongnya Nek, lukanya parah." Dewi Obat bersungut-sungut. Ia menarik Sekar menjauh dari Geni, "Nduk, kamu tahu aku sudah tak pernah menolong orang luar, mengapa kamu membawa orang luar ke rumah kita, apakah dia tahu jalan masuk?"

Sekar memeluk neneknya. Tidak dia tidak akan hafal jalannya. ”Nek kamu harus tolong dia, kau tahu Nek, Wisang Geni itu murid Lemah Tulis. Dia dihajar Kalayawana, dalam keadaan luka parah dia dipaksa telan racun ular salju. Orang Himalaya itu mengejek bahwa tak ada orang di negeri Jawa ini yang bisa menolong Geni. Kurang ajar, dia menghina, aku saja merasa terhina."

Nenek itu memandang cucunya dengan mimik Jenaka. "Aku tahu kau sengaja memanasi aku, ternyata berhasil, aku jadi penasaran, apa benar tidak bisa menyembuhkannya. Sekar, kau harus jujur, kau pasti sudah kehilangan perawanmu, dia yang menidurimu?"

Sekar memeluk dan mencium leher neneknya, berbisik. "Memang dia! Beberapa kali, aku mencintainya Nek!"

Sang nenek mendengus lirih. "Laki-laki semua sama, mana bisa dipercaya!"

Dia menghampiri Geni, memukul pelan, Geni jatuh pingsan.

Sekar berteriak, terkejut. Dewi Obat tertawa, "Dia cuma pingsan supaya aku leluasa memeriksa." Dia meraba nadi, dada dan punggung. Wajahnya memucat

Ia menjauh dari Geni. Ia kembali mendekat, memeriksa mata, telinga, hidung dan mulut Geni. "Gila, ini tak mungkin!" Ia menempelkan telinga di dada Geni. Matanya berkejap- kejap, menatap langit. Ia menggeleng kepala. "Mana bisa ada kejadian seperti ini. Dia sudah kehilangan seluruh tenaga cadangan, tapi aneh dia tidak mati!"

Setelah memeriksa, Dewi Obat menyadarkan Geni, menanyakan asal kejadiannya mendapat luka separah itu. Geni menceritakan seluruhnya. Dewi Obat diam tak bersuara, keningnya berkerut. Ia berpikir keras. Dalam hati, ia tidak yakin bisa menyembuhkan Geni.

"Akan kutolong sebisanya, kelihatannya lukamu sangat parah. Kamu dihantam pukulan dingin yang merasuk sampai di bagian paling dalam tubuhmu. Sulit disembuhkan karena pukulan itu menyerangmu pada saat tenagamu kosong, tenaga cadangan pun tak ada. Racun ular itu tak bisa membunuhmu Aku heran, kenapa kamu bisa bertahan sampai tiga-empat hari. Biasanya luka macam ini, orang hanya bisa bertahan satu hari. Aku yakin darahmu punya penolak racun."

Nenek itu berhenti bicara, dia menoleh memandang Sekar yang tak sadar mencengkeram lengan neneknya. Geni teringat gurunya, Waragang yang telah membentuk kekuatan menolak racun dalam tubuhnya. Dia berterimakasih pada guru Waragang.

Nenek menatap tajam Geni kemudian melanjutkan, "Darahmu mampu menolak racun tetapi sifat dingin racun telah menambah bobot dingin pukulan Kalayawana. Aku bisa mengusir racun ular, karena sebagian besar bisanya sudah dilumpuhkan kekuatan darahmu Tapi rasa dingin dalam tubuhmu tidak bisa disembuhkan, dingin itu akan menetap terus di tubuhmu, kamu akan kedinginan makin hari makin parah sampai. " Dia menoleh memandang Sekar yang

menangis terisak-isak.

Geni mengeluarkan nafas. "Terimakasih Nek, atas pertolonganmu, berapa lama aku masih bisa hidup?"

Dewi Obat melangkah menuju empang. Ia menoleh kepada dua muda-mudi itu. "Sekar kau bawa dia, ke gubuk di sebelah timur. Aku akan persiapkan obatnya." Tak lama kemudian dia kembali membawa kotak kecil, mengeluarkan delapan mangkuk berbagai ukuran. Dia bekerja cepat, mengurut, menotok dan melekatkan mulut mangkuk ke beberapa bagian punggung. Saat bersamaan Sekar mempersiapkan tungku api dan tempayan besar berisi air. Geni kemudian berendam.

Api makin lama makin besar sampai titik didih yang mana Geni tak mampu bertahan. Geni melompat keluar. Dia berendam lagi, demikian berulang-ulang sampai delapan mangkuk itu lepas dengan sendirinya.

Dewi Obat memegang dan meraba nadi Geni. "Lumayan, sekarang tenaga cadanganmu mulai timbul Ada harapan kau bisa disembuhkan. Hanya aku belum yakin," katanya. Ia menotok beberapa jalan darah di perut dan dada. Selang sesaat Geni muntah darah kental, hitam dan berkilat, Tiga kali muntah.

Pagi hari itu udara dingin terasa menusuk tulang. Embun dan kabut menyelimuti gubuk kecil. Wisang Geni tampak sedang semedi. Ia sudah tiga hari menetap di gubuk menjalani pengobatan. Anehnya selama itu ia tak melihat Sekar. Meskipun hatinya bertanya-tanya namun dia agak segan menanyakan pada si nenek. Sepanjang hari Geni berlatih semedi dan berendam air panas.

Keesokan siang harinya, Dewi Obat berdua Sekar menemui Geni di gubuknya. Sekar menjinjing makanan. "Aku masak makanan enak buai kamu," katanya. Dia tampak gembira "Tiga hari aku menjalani pengobatan, sekarang ini aku sudah sembuh."

Dewi Obat batuk-batuk kecil, "Benar kata orang, di atas langit masih ada langit lain, kupikir dengan ilmu pengobatanku tidak ada suatu penyakit pun yang tak bisa kutaklukkan. Tapi hari ini aku harus mengakui kenyataan pahit, aku tak mampu menyembuhkan lukamu, aku cuma bisa memperpanjang usiamu

Sekar menyela, "Nek "

Dewi Obat mengangkat tangan. "Sekar jangan potong bicaraku Semua yang terjadi sudah terjadi, aku juga manusia biasa, kemampuanku terbatas. Racun ular salju sudah punah, tetapi luka dingin pukulan Kalayawana masih menguasai jalan darah bahkan merasuk sampai ke tulang. Tak ada lagi daya yang bisa kukerjakan untuk menolongmu, anak muda. Racun dingin Kalayawana itu sudah merasuk jauh ke seluruh bagian tubuhmu, dengan ramuan yang kuberikan nanti, kamu bisa bertahan hidup sampai satu bulan lagi."

Selama empat hari di Lembah Cemara, Geni merasa banyak baikan. Ia kini lebih kuat "Dewi Obat, aku berhutang budi padamu, tadinya usiaku hanya tinggal satu hari tapi kamu telah memberi tambahan satu bulan, mungkin dalam satu bulan itu aku bisa menemukan cara penyembuhannya. Aku rasa tak ada gunanya lagi aku berdiam di sini, lebih baik aku pamit sekarang."

Sekar cepat memotong. "Geni sebaiknya besok pagi, sekarang hari sudah mendekati senja."

Dewi Obat mengiyakan. "Wisang Geni, kamu bisa sembuh apabila ada dua pendekar yang memiliki tenaga dalam tinggi, yang seorang menguasai tenaga dingin, orang lainnya tenaga panas. Lalu keduanya membantumu dengan menyalurkan tenaganya ke dalam tubuhmu"

Menatap mata Sekar yang berkaca-kaca, Geni tersenyum dan menjawab akan berangkat esok pagi. Seketika mata Sekar berbinar, gembira Dewi Obat hendak beranjak meninggalkan muda-mudi itu tetapi ia berhenti sejenak. "Geni, aku ingin bertanya, tetapi kuharap kau tidak curiga Sesungguhnya aku masih punya ikatan keluarga dengan Lemah Tulis, dan aku tahu kamu murid Lemah Tulis."

Geni merasa tubuhnya mengejang. Ia menjadi waspada. Dia tidak menyahut, menanti Dewi Obat menatap mata Geni. "Kau pernah mendengar bukit Lejar di kaki gunung Batuk?

Ratusan tahun lalu di salah satu bagian bukit pernah hidup seorang perempuan pertapa tua, dia suka berkeliling daerah sekitarnya dan menolong penduduk, kau tahu siapa dia?" Geni terperanjat. Tidak sembarang orang mengetahui cerita itu, bahkan tidak semua murid Lemah Tulis mengetahuinya.

Geni sendiri mendengar rahasia ini dari gurunya, Padeksa. Seketika ia sadar bahwa Dewi Obat adalah teman sendiri. Geni menjawab tegas, "Nenek pertapa itu dijuluki Nenek Panitikan!"

Dewi Obat menghela nafas. Ia gembira berbareng duka.

Gembira karena aldairnya menemukan orang yang dicari selama ini, murid Lemah Tulis yang sudah mewarisi ilmu Prasidha. Tetapi dia berduka lantaran mengetahui pendeknya usia Geni. Suaranya agak gundah, "Ceritanya panjang, aku bukan dari perguruan Lemah Tulis. Tetapi keluargaku turun temurun kerabat dekat Lemah Tulis. Aku turunan nenek Panitikan!"

Wisang Geni terkejut. Dicari-cari tidak ketemu Tidak dicari justru jumpa. Belasan tahun berdua Padeksa, dia mencari keturunan Nenek Panitikan, bahkan pernah mencarinya di bukit Lejar. Siapa nyana justru sekarang ia sendiri yang menemukan. "Ini pertemuan aneh. Bertahun-tahun aku dan guruku Padeksa mencari tetapi tak berjodoh denganmu, Nek!"

Sekar yang dari tadi diam, menyela, "Mengapa kamu tidak gembira bertemu nenek."

"Aku gembira, tetapi apakah usiaku masih cukup untuk mempelajari Garudamukha Prasidha dan apakah ada gunanya menguasai jurus luar biasa itu."

Dewi Obat menghela nafas. "Semua yang kita peroleh, mungkin tidak bermanfaat pada saat itu, tetapi bisa berguna di saat lain. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi besok atau satu bulan ke depan."

"Terimakasih atas nasihatmu, Nek, sekarang aku mohon kau perlihatkan padaku Kinanti Prasidha itu."

Dewi Obat makin yakin, tak salah orang. Tidak ada orang luar yang tahu tentang Kinanti Prasidha itu, bahkan hanya murid Lemah Tulis yang sangat dipercaya dan murid pilihan yang diberi tugas kepercayaan mencari Kinanti Prasidha. Tapi ia masih menguji. "Aku tak mengerti apa itu Kinanti Prasidha."

"Sebenarnya aku tak usah peduli, sebab usiaku tinggal sebulan, tetapi tugas tetaplah tugas yang harus kulaksanakan. Kau pasti tahu Kinanti Prasidha karena tugasmu menuntun murid Lemah Tulis mempelajari separuh jurus Garudamukha Prasidha yang tersembunyi dalam kinanti itu. Ilmu ini sengaja dibagi dua untuk mencegah dicuri orang luar. Bagian separuh diwariskan kepada murid yang dipercaya, kebetulan orangnya adalah aku. Separuh lain disembunyikan dalam tari kinanti yang dijaga turun temurun oleh keturunan Nenek Panitikan.

Kamu masih tak percaya padaku, Nek?"

Senang hati Dewi Obat dan Sekar. Tak disangkal lagi, Geni- lah orangnya. "Aku percaya sekarang, tetapi tari kinanti tak ada padaku, itu ada pada kakak kandungku dan putrinya.

Mereka kini ada di bukit Lejar."

"Bagaimana aku bisa menemukan mereka?"

"Jika kau berjodoh dengan ilmu dahsyat itu, kau akan temukan mereka di pesta akhir bulan Cakra nanti. Ada pesta gunung, banyak orang dan keramaian. Pesta akan berlangsung tujuh malam Di salah satu tenda, kakak dan keponakanku akan menembang tari Kinanti Prasidha. Kami sekeluarga sudah tak sabar menanti selesainya tugas yang diemban orangtua kami. Sejak belasan tahun lalu dalam setiap pesta gunung di bulan Caitra kami selalu mementaskan drama dan tari Kinanti Prasidha itu. Kau tak perlu khawatir tidak menemukan mereka, tenda mereka mudah dikenali karena tempat lalulintas pengunjung, dan setiap malam mereka hadir dari awal malam sampai dini hari. Wisang Geni, aku mengharap kamu akan memperoleh keajaiban dan sembuh dari penyakitmu, besok pagi jika kau pergi, tak perlu pamitan padaku. Aku cuma berpesan padamu, jika umurmu panjang jangan kamu sia-siakan cinta Sekar." Berkata demikian Dewi Obat berkelebat menghilang dari pandangan dua muda-mudi itu.

Kala itu sinar matahari senja sudah hampir memasuki peraduan. Sinarnya tak mampu menembus lebarnya pepohonan cemara Agak gelap, tetapi sinar mata Sekar berkilat tajam Ia tampak cantik, bekas cacarnya hampir tak terlihat, tertutup sinar senja yang redup. Geni terpesona.

Sesaat kemudian airmata menetes dari sepasang mata indah itu. Ia terisak. "Geni, besok kamu pergi, mungkin kamu akan melupakan aku, tetapi aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu, sampai kapan pun."

Geni menghapus airmata Sekar, menciumnya dengan lembut. "Sekar, jangan berkata demikian, aku tak akan melupakan kamu, betapa bodoh dan gilanya aku jika sampai melupakan kamu"

Sekar memegang tangan Geni dan menuntunnya ke buah dadanya. Geni merasakan payudara yang kenyal dan montok. Geni mulai terangsang, ia memeluk dan mencium mulutnya.

Mendadak Sekar mencubit pahanya dan tertawa menggoda. "Jangan sekarang sayangku, kamu tunggu di sini, aku akan membawakan makanan untuk kita berdua dan kita akan berdua saja, hanya kau dan aku, sepanjang malam." Ia pergi sambil tertawa cekikikan, berlari dan melompat ke seberang empang, menghilang di balik pepohonan rimbun.

Hari sudah gelap. Di gubuk itu Geni berdua Sekar. Makan berdua. Duduk bersanding memandang pucuk cemara yang bersinar diterangi cahaya rembulan. "Geni, aku yakin kamu masih berusia panjang, tapi ingat suatu waktu aku pasti akan mencari kamu, aku tidak peduli di sisimu ada Wulan atau wanita lain, aku mendatangimu, mengingatkan kamu bahwa di kolong langit ini masih ada Sekar, gadis buruk rupa yang sangat mencintaimu, yang mau berkorban apa saja untuk membuat kamu bahagia." "Kamu tidak takut dihina dan dipermalukan sainganmu?" "Jika saatnya tiba, wajahku sudah bersih dan cantik, aku

juga membekali diri dengan ilmu silatyang lumayan. Kamu

belum melihat kemampuan silatku, karena belum kuperlihatkan. Dalam waktu enam bulan ini nenek akan menyembuhkan bekas cacar dan melatih kepandaian silatku. Nantinya tidak sembarang orang bisa mengalahkan aku."

"Kalau aku, bagaimana?"

Sekar tertawa, mencubit lengan kekasihnya. "Tak mungkin aku berani melawanmu, aku pelayanmu dan juga kekasihmu!" Dia menyandar ke dada Geni. "Tetapi aku mau lebih dari itu, aku mau menjadi ampil, selir atau isteri. Aku tahu banyak wanita yang menyukaimu dan kau pasti akan terpikat rayuan mereka, tetapi aku berani bersaing, aku yakin kau selalu akan tergila-gila padaku, kau akan selalu ingat cara aku melayanimu, kau akan selalu ingat tubuhku dan cintaku. Geni, aku ingin kau menjawab jujur, apakah kau tahu aku mencintaimu?"

Geni mengangguk. "Aku tahu!" Dia mengelus punggung dan perut mulus itu. Kulitnya halus, tubuhnya lunak.

Sekar menggeliat. "Geni, jika aku menemukanmu dan kau sedang dalam pelukan perempuan lain, Wulan atau siapa saja, apakah kau masih mau mengenalku?"

"Tentu saja, tak mungkin aku bisa melupakan hari-hari indah yang telah kita lalui bersama. Jika mau jujur, sebenarnya aku tak tahu bagaimana perasaanku padamu, berada di sampingmu membuat aku sangat bernafsu"

"Geni, aku akan membuatmu bahagia sepanjang malam ini, membuat kamu mengenang dan mengingat tubuh dan cintaku. Akan mengingat kesegaran cintaku meskipun seandainya kamu berada dalam pelukan dan cumbu rayu perempuan lain. Kamu akan sampai pada kesimpulan bahwa Sekar adalah perempuan yang tak bisa kaulupakan begitu saja."

Malam terasa pendek. Sepasang kekasih itu berbisik-bisik mesra diselingi peluk cium penuh birahi. Sekar menangis dan tertawa, ia bahagia berbareng sedih. Malam ini mungkin terakhir ia melayani Geni, tak ada lagi malam-malam panjang yang penuh nafsu dan cinta. Sekar menangis, ia mendengar bisik Geni di telinganya. "Kekasihku, besok aku pergi, entah apakah akan bertemu lagi denganmu, aku pun tak tahu apakah masih akan hidup lanjut, tetapi jika aku masih hidup aku pasti akan mencari kamu."

"Bagaimana dengan Wulan atau perempuan lain?"

"Kita hidup bersama, bertiga, aku, kamu dan Wulan. Aku yakin Wulan akan bersedia, kamu mau?"

Sekar mengangguk. Ia mencium Geni. Lelaki itu menggeluti tubuhnya, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tak ada sejengkal lekuk tubuh molek itu yang tidak dijamah tangan dan ciuman Geni. Mereka tak mau memejamkan mata.

Sepanjang malam. Sampai esok pagi ketika burung berkicau dan ayam berkokok, keduanya masih bugil berpelukan. Ketika pagi datang, terompet perpisahan sudah harus ditiup. Kini berpisah, tak tahu apakah bisa bertemu lagi.

Sekar mengantar kekasihnya dengan berurai air mata.

Mendekati batas hutan cemara, Sekar memeluk kekasihnya. "Geni, jangan lupakan aku."

"Tak mungkin melupakan kamu, Sekar. Kau terlalu hebat untuk bisa kulupakan, tetapi aku tak berani menjanjikan apa- apa."

"Setelah sembuh dari bekas cacar ini, aku akan mencarimu.

Jika kamu mati, pasti cintaku ikut terkubur, tak ada laki-laki lain bagiku." Geni memeluk gadis itu. Gadis yang sangat mencintainya. Ia mencium penuh nafsu, tangannya merambah ke belahan celana dan meremas bokong gadis itu. Sekar menggeliat. Dua kakinya terangkat melingkar ke pinggang Geni. Keduanya hilang keseimbangan, jatuh terguling dalam posisi berpelukan. Ciuman makin liar dan panjang. Burung burung menjadi saksi saat sepasang kekasih melepas pakaian dan bersatu dalam kenikmatan batin dan raga yang makin lama makin memuncak.

Ditengah deru nafsunya yang panas Geni berbisik,"Sekar jikalau saja aku bisa hidup bersamamu selamanya di Lembah Cemara ini, aku puas. Namun aku harus pergi, aku harus hidup, aku tidak mau mati! Tetapi seandainya mati aku akan membawamu dalam kenangan terakhirku.''

Sekar menggeliat penuh nafsu. "Percayalah Geni, itu tandanya kau mencintai aku, oh, aku bahagia."

"Aku tak tahu apakah ini yang disebut cinta, tetapi kalau benar ini adalah cinta, maka pohon pohon cemara dan seisi mahluk hutan menjadi saksi bahwa aku Wisang Geni sangat mencintai Sekar."

"Aku bahagia kekasihku," bisik Sekar yang menjerit lirih. Ia mendaki puncak kenikmatan. Tengah hari ketika matahari berada di titik tertinggi Geni dengan langkah berat akhirnya meninggalkan Sekar yang mengantarnya dengan berurai air mata.

Duapuluh hari telah berlalu sejak meninggalkan Lembah Cemara, Wisang Geni menjalani hari-hari yang kosong, tak ada arti. Dia tidak langsung menuju bukit Lejar, ia merantau tanpa tujuan. Akhirnya ia tiba juga di bukit Lejar tepat pesta gunung memasuki hari keenam. Itulah hari terakhir bulan Caitra, puncak keramaian pesta. Jika menurut hitungan Dewi Obat, dia masih bisa hidup tujuh hari lagi sebelum kematian menjemputnya. Dia mendaki bukit Lejar, tenggelam di antara banyaknya pengunjung. Dia dalam keadaan bimbang. Pikirannya tak menentu, kalut. Dalam hati dia mengakui sebenarnya dia takut mati Ada bedanya, mati dalam perkelahian, seseorang tidak perlu menanti kematian menjemput. Ia mati dibunuh lawan.

Dan selesai. Jika menang, ia tidak akan terbunuh, musuhnya yang mati. Tetapi keadaannya kini berbeda, ia justru menanti saat maut datang menjemputnya. Tujuh atau enam atau lima hari, ia tidak tahu pasti kapan saatnya ajal itu datang menerkamnya. Geni semakin bingung. Ia seperti linglung, mendaki bukit mengikuti ke mana langkah membawanya.

Menunaikan tugas perguruan menemukan Kinanti Prasidha dan mempelajari ilmu pusaka Garudamukha Prasidha. Tetapi buat apa? Berhasil menemukan dan mempelajarinya tak akan banyak gunanya, ia akan mati membawa ilmu itu ke dalam kubur. Pikiran ini menghantuinya sejak pergi meninggalkan Lembah Cemara. Ia tak lagi mengurus dirinya, tak pernah mandi, pakaiannya compang camping, wajahnya lusuh dengan cambang, kumis serta rambut panjang riap-riapan. Geni menyerupai pengemis butut yang dekil.

Hari itu sangat ramai. Geni terbawa arus pengunjung.

Orang-orang itu percaya jika berada di bukit Lejar pada hari terakhir bulan Caitra, apa saja yang diinginkan akan terkabul.

Konon di bukit Lejar ini, di suatu tempat yang tidak diketahui, dewa-dewa mengadakan pertemuan membincangkan urusan dunia. Sebagian pengunjung mencari jodoh, yang lain minta kekayaan dan kekuasaan. Para pendekar mengincar buku silat yang konon milik para dewa yang tercecer di bukit ini Para pedagang tidak ketinggalan, datang menjajakan jualan. Semua orang datang mencari peruntungan. Makin larut malam, lereng bukit semakin padat, penuh sesak. Nyaris tak ada tempat kosong sepanjang lereng. Di sana sini ada keramaian. Wisang Geni melangkah gontai. Pakaiannya compang camping tampak kontras dengan pengunjung sekitarnya. Semua orang mengenakan pakaian mewah mentereng. Di satu pojok keramaian, bagian yang tidak banyak dikunjungi orang terdengar suara lelaki bercerita. "Siapa sangka cinta dua anak manusia itu mendapat rintangan besar. Ksiti Sundari menangis. Ia berduka menangisi nasib dan kisah cintanya.

Prabu Baladewa tidak setuju, apa alasannya?"

Langkah Wisang Geni terhenti. Ia diam Terbayang wajah Wulan. Wajah perempuan yang dicintainya. Ia merasa senasib dengan tokoh yang diceritakan itu. Ia ingin mendengar lebih lanjut. Ia memilih sebuah pohon besar tidak jauh dari tenda yang menggelar cerita wayang itu, bersandar dan memasang telinga. Beberapa saat mendengar, ia lantas tahu cerita yang dibawakan Ki Dalang adalah Ghatotkamsraya karya mpu Panuluh. Dia mempelajarinya dari guru Waragang. Cerita yang digandrungi banyak orang.

Sesaat Geni lupa segalanya. Ia larut dalam kisah itu. Bagian di mana Ksiti Sundari, putri tunggal prabhu Kresna, raja Dwarati bertemu Abhimanyu, putra Arjuna, keduanya saling mengutarakan cinta. Berjanji sehidup semati Ksiti Sundari memberi cupu berisi "burat" sebagai tanda setia. Cinta diam- diam dan tersembunyi lantaran takut akan murka sang prabhu Baladewa, kakak Kresna. Karena resminya Baladewa telah menjodohkan Sundari dengan Laskmana, putra tunggal prabhu Duryudhana.

Meskipun sudah mengetahui isi cerita, namun Geni masih tetap terpesona akan kisah itu. Terutama ketika Ki Dalang memasuki bagian Sundari kasmaran di taman. Membayangkan kekasihnya, Abhimanyu, yang jauh di rantau, Sundari menumpahkan segenap isi hati dalam tari. Seorang gadis cantik dengan busana kerajaan yang mewah, naik panggung. Ia menari lemah gemulai, indah dan mengundang pesona.

Penonton bertepuk tangan. Jantung Geni seakan terhenti. Ia terkejut. Matanya melotot.

Ia seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Jari-jari tangan gadis itu meliuk-liuk seperti paruh burung, siap memangsa korban di kanan kiri. Geni tahu itulah gerak pembukaan jurus Prasidha. Sejak kecil gurunya Padeksa mengajarinya berulang- ulang sehingga Geni sudah sangat hafal dan menguasai jurus pembukaan itu.

Saat berikut terdengar suara si gadis melantunkan kidung, suaranya mendayu-dayu. Kidung rindu seorang gadis yang mabuk cinta. Berbagai rasa bergalau di dalamnya, sedih, gembira, cinta, birahi, rindu, berontak, ingin mati, ingin selamat. Geni melihat kidung itu dilantunkan sesuai gerak tarinya. Adakalanya ia gemulai. Kadangkala kakinya menghentak lantai. Sekali-sekali ia menggoyang pinggul mengundang fantasi, mengguncang buah dadanya memancing birahi Sepintas orang hanya melihat gerak tari seorang penari yang dinamis. Tetapi Wisang Geni terpukau bukan sebab tari yang sensual melainkan setiap detil gerakannya menyerupai jurus silat. Geni memusatkan pikiran pada gerak tari itu yang ternyata sangat akrab dengan apa yang telah dipelajarinya, mirip Prasidha ajaran Padeksa.

Seperti orang edan, mulut Geni komat-kamit. "Itu kan jurus Sanakanilamatra (Sebesar Angin yang Terkecil), itu Agniwisa (Bisa Api) dan itu Silmujug Tundaghata (Menukikke Bawah dan Menyerang dengan Patuk). Hebat, ternyata kelanjutan jurus itu demikian adanya. Itu Parasada Atishasha (Menara Bukan Main) dan Akivatnatyana (Biarkan Akuyang membunuh), tak kusangka kelengkapan jurusnya begitu, luar biasa! Itu Kacakrawatyan (Penguasaan Dunia) dan Sikbtviriya (Cintaku Kepadanya), tapi mengapa Sikhmriya diletakkan paling buntut, seharusnya paling awal? Tarian ini pasti jurus pusaka Kinanti Prasidbayang kucari selama ini."

Seluruhnya ada tujuh jurus dan yang diulang-ulang sampai tiga kali putaran. Ketika penari itu mengulang pada putaran kedua, Geni mulai bingung. Tujuh jurus yang tadi digelar tak lagi berurutan. Pada putaran ketiga, urutannya kembali tidak sama. Tetapi Geni mulai mengerti. Pada setiap hendak mengawali satu putaran, penari itu mendendang syair Parahwanta Angentasana Dukharnaipa (Hendaknya Aku Menjadi Perahilmu untuk Menyeberangi Lautan Kesusahan). Apa maksud syair itu? Pasti bukan bagian ungkapan Ksiti Sundari, sementara syair lainnya tak pernah diulang-ulang. Tetapi kalimat ini justru diulang sampai tiga kali. Ini pasti bagian paling penting. Tapi apa artinya?

Meskipun berpikir keras Geni tetap merekam semua yang dilihatnya. Tak ada yang luput dari pengamatan sekecil apa pun. Ia tak tahu berapa lama si gadis menari. Waktu terasa begitu singkat ketika Geni melihat gadis penari itu undur diri. Suara Ki Dalang terdengar lagi melanjutkan kisahnya. Tetapi Geni tak lagi tertarik. Benaknya sudah dipenuhi gerak tarian tadi.

Bagai orang linglung dia melangkah di antara orang berlalu- lalang. Dia lupa keadaan sekeliling. Bahkan lupa akan diri sendiri. Ia mulai mengingat ulang jurus Prasidha yang diajarkan kakek Padeksa kepadanya. Lalu menggabungkannya dengan gerak tari tadi. Satu demi satu ia rangkai dalam benaknya. Tanpa sadar ia memeragakan di tengah keramaian. Orang-orang tertawa melihatnya, dikiranya pengemis gila itu sedang menari, tari yang kacau. Mendadak Geni melompat kegirangan. "Aku dapat!" teriaknya berulang-ulang.

Itulah jodoh. Wisang Geni tak pernah tahu bahwa dia salah satu murid Lemah Tulis paling beruntung sepanjang lima dekade akhir. Pendekar Lemah Tulis terakhir yang mewarisi Garudamukha Prasidha tidak lain adalah Eyang Sepuh Suryajagad yang keberadaannya sekarang masih misterius.

Ia masih mengingat-ingat jurus dahsyat itu yang kini sudah lengkap dan sempurna dalam benaknya, mendadak ia terpental terbanting ke tanah. Punggungnya sakit terbentur batu. Capingnya mental. Ia menengadah, memandang lelaki yang membenturnya. Mata lelaki itu melotot memandangnya. "Pengemis buduk, mata kamu buta beraninya nabrak aku."

Geni hendak melawan tetapi ia ingat keadaannya sekarang seperti orang awam, tak punya kepandaian silat dan tak punya tenaga Jika melawan, itu hanya mencari gebuk saja. Lebih baik diam, mengalah. Seorang gadis mendekati lelaki itu. "Ayo kangmas, kita jalan terus."

Lelaki itu manda digandeng si gadis. Keduanya pergi. Geni diam terpaku, bibirnya gemetar menyebut nama seseorang, "Sari!" Ia merasa telah berteriak, ternyata tidak, suaranya terdengar sayup-sayup. Anehnya gadis itu mendengar namanya disebut orang. Ia menoleh mencari-cari. Sepintas ia melihat pengemis terbaring di tanah. Tetapi ia tak mengenal Geni. "Aneh," gumam si gadis.

Terdengar suara lelaki itu, suara yang berat dan agak parau. "Apa yang aneh, Wulan?"

Gadis itu menyahut sembarangan. "Aku seperti mendengar suara yang memanggil namaku."

"Aku WisajigGeni yang memanggilmu," dia teriak dengan suaranyya hanya terdengar macam orang ngorok. Ketika Geni sadar sepenuhnya, Wulan sudah menghilang di dalam kerilmunan orang. "Apakah aku bermimpi?" Geni menampar pipinya. Sakit. "Aku tidak mimpi, benar-benar tadi aku melihat Wulan tetapi mengapa dia tak mengenalku? Siapa lelaki itu?"

Geni merasa ada sesuatu menusuk hatinya. Sakit dan perih. Ia cemburu. Ia bangkit, punggung dan pundaknya masih sakit namun hatinya lebih sakit lagi. Ketika itu ada tangan perempuan menyodor sekeping uang tembaga kepadanya. Ia menengadah menatap wanita itu. Wajah cantik itu tersenyum ramah. "Pak Tua itu uang untuk makan dan beli pakaian."

Geni seperti ingat wajah cantik itu. Mendadak ia mengenalnya. "Dia Rorowangi!" Tetapi saat itu Rorowangi sudah menghilang bersama lelaki yang mendampinginya. Geni merasa heran. "Rorowangi dan lelaki itu Setawastra, tetapi mengapa dia tidak mengenalku, malah menyebut aku Pak Tua." Tangan Geni meraba wajahnya. Mendadak ia tertawa keras. Ia sadar wajahnya dipenuhi berewok, cambang dan kumis serta rambut panjang tak terurus, pakaian rombeng, pantas orang tak mengenalnya.

Ia teringat lelaki yang bersama-sama Wulan Siapa dia, mengapa tampak begitu mesra, bergandeng tangan. Geni marah. "Apakah Wulan sudah melupakannya, begitu mudah berganti kekasih semudah berganti pakaian?" Pertanyaan itu ibarat pisau tajam menusuk hatinya. Ia melangkah gontai.

Pertanyaan itu memburunya terus. Geni memegang kepala, mencoba memikirkan jurus Garudamukha Prasidha tetapi gagal. Bayangan Wulan dan lelaki itu terus menghantuinya.

Geni melihat sebuah warung penjual tuak. Di samping warung di sebuah pokok pohon, ia duduk bersandar. Pemilik warung menegurnya, namun sebelum orang itu memaki, Geni mendahuluinya. "Ini uang, bawakan aku tuak sebanyak- banyaknya." Pemilik warung melayani macam seorang pangeran. Geni menenggak tuak. Lima tabung. Ia mulai pusing. Sepuluh tabung. Geni rubuh.

Saat itu fajar menyingsing, matahari mengintip di ufuk timur. Pemilik warung mengusirnya, "Hei bangun pengemis buduk, pergi kamu, jangan mengotori tempatku."

Geni menyahut. "Biarkan aku bermimpi, kalau aku tidur, aku tak akan bangun lagi. Jika aku bangun, aku tak akan tidur lagi, mati sekarang atau mati besok, sama saja." Geni melangkah gontai, ke mana langkah membawa lubuknya.

Tanpa sadar ia berjalan ke arah ketinggian. Ia berjalan lerus. Tubuhnya kian melemah. Matahari mulai tenggelam, Geni jatuh tertidur. Bangun dari tidur, dia berjalan lagi. Ia tak tahu berapa lama ia mendaki, siang berganti malam, malam berganti siang. Ia berjalan terus. Ia tak tahu berapa hari lagi sisa hidupnya. Racun dingin lebih sering menyerang, ia menggigil gemetaran.

Siang itu ia terbaring menggigil, wajah dan tubuh Wulan muncul di benaknya. Wajah cantik dan tubuh molek.

Pelukannya yang hangat, bibirnya yang panas membara Geni mengigau menyebut nama Wulan. Lalu muncul wajah Sekar, wajahnya cantik, tak ada lagi bercak hitam bekas cacar. Wajah dan tubuh Sekar yang indah ranum Ia masih bisa membayangkan kenikmatan cinta yang diberikan Sekar yang membuatnya bahagia. Geni memanggil nama Sekar berulang- ulang. Dalam benaknya ia membandingkan dua perempuan itu. Ada perbedaan. Saat mengingat Wulan ia ingin mati lantaran cemburu. Saat merindukan Sekar, ia ingin hidup. Ia ingat janjinya pada gadis itu, "Aku akan sembuh dan aku akan mencarimu." Ia merasakan birahi setiap membayangkan dua perempuan itu tetapi ia tak bisa memutuskan siapa yang lebih ia cintai. "Aku akan sangat bahagia jika bisa mendapatkan keduanya sebagai isteriku."

Siang sangat terik, namun udara sejuk. Bagian lereng itu sepi. Tak ada mahluk hidup. Sepi dan lengang. Ia haus.

Tenggorokan kering. Ia tak ingat lagi, kapan terakhir ia makan atau minum. Tetapi haus cuma bagian kecil dari penderitaannya. Ia tak kuat lagi melangkah. Tenaganya habis. Setengah menyeret kaki ia sampai di bagian sisi yang terjal.

Jauh di ujung jalan ia melihat timbunan pohon bambukecil. Biasanya dalam ruas bambu tersimpan air. Ia memaksa diri melangkah mendaki jalan setapak. Di kiri tebing gunung menjulang tegaklurus. Di sisi kanan jurang mengangayang dasarnya tak terlihat Jatuh bangun ia sampai juga di pepohonan bambu.

Persoalan lain muncul. Ia tak punya pisau untuk memotong, tidak juga tenaga. Ia memandang bambu itu dengan gundah. "Bambu pun tak bersahabat denganku. Inilah akhir perjalanan hidup murid Lemah Tulis bernama Wisang Geni!" Menggumam demikian ia menerawang berusaha mengingat wajah orangtuanya. Samar-samar terbayang wajah Gajah Kuning dan Sukesih. Ia bahkan belum membalas kematian orangtuanya. Teringat bayangan guru-gurunya Mahisa Walungan, Waragang, Gubar Baleman, Manjangan Puguh, Padeksa.

la ing.H kala kala Padeksa, "Bila sedang kacau, kembalilah ke kehidupan. Pikirkan tentang hidup. Ada nafas ada kehidupan, tak ada nafas hidup pun tak ada." Tadinya tak mengerti maknanya tetapi kini ia mengerti maksudnya. Ia duduk bersila merasakan desah nafasnya. Ia tak mau memikirkan hal lain kecuali bernafas. Ia tahu begitu nafasnya berhenti, ia terbebas dari derita. Ia rela jika saat itu ia harus mati. Ia tak punya siapa pun.

Berapa lama ia semedi, ia tak sadar. Mendadak pikirannya tergugah. Bayangan gadis penari membayang di depan matanya. Satu demi satu gambaran jurus itu muncul di benaknya. Utuh! Bagai terbius ia bangkit mengikuti gerak tari si gadis. Ia mengurut tujuh jurus tari yang sudah ia sempurnakan dengan tujuh jurus yang diajarkan Padeksa, memainkan Garudamukha Prasidha.

Ia sadar kini jurus pusaka Lemah Tulis itu sudah jadi miliknya. "Tetapi aku tak lama lagi akan mati, jurus dahsyat ini akan ikut terkubur. Ini tak boleh terjadi, aku harus berjuang hidup, selamatkan jurus ini, menemui Wulan dan Sekar, membalas kematian orangtua dan guru-guruku. Masih banyakyang harus kukerjakan, aku tak boleh mati!"

Geni berlatih terus. Matahari terbenam Lereng gunung menjadi kelam Bagai kesurupan Geni berlatih terus. Ketika ia berhenti, mendadak saja ia berteriak kaget. "Bukankah aku sudah kehabisan tenaga, lantas mengapa aku bisa bersilat sepanjang siang? Dari mana datangnya tenagaku, mungkinkah dari jurus pusaka ini." Berpikir demikian, Geni mencoba memukul. Ternyata pukulannya tak mengeluarkan tenaga besar. Sama sekali tak ada tenaga batin. Tetapi ia tak kecewa, ia bahkan gembira, lantaran merasa tubuhnya segar. "Ini pasti berkat latihan Garudamukha Prasidha tapi apa mungkin cuma setengah hari sudah mendatangkan manfaat sebesar ini." Ia ingat petuah Padeksa. "Jurus Garudamukha Prasidha menyita waktu latihan sekitar dua tahun. Itu pun jika orang itu sudah punya tenaga dalam hasil latihan sepuluh tahunan. Sementara orang awam yang tak punya tenaga batin terlatih, tak mungkin bisa menguasai jurus pusaka ini. Pada pokoknya jurus pusaka ini hanya bisa dilatih apabila kita memiliki tenaga batin mumpuni, sebab ilmu ini adalah untuk menyempurnakan dan meningkatkan tenaga batin yang sudah kira miliki."

Ia tak tahu apa yang terjadi. Ia cuma tahu tubuhnya kini segar. Ia merasa gembira Namun mendadak saja ia menggeliat. Rasa dingin yang amat sangat menusuk tulangnya, ia menggigil hebat. Tubuhnya terbanting dan terguling. Tanpa sadar ia menggelinding ke jurang terjal. Geni merasa tubuhnya melayang. Dia jatuh ke dalam jurang.

Tubuhnya menggigil tetapi ia berpikir cepat. Ingin selamat. Tangan menggapai apa yang bisa diraihnya.

Tubuhnya melayang di udara Ia melihat di bawah gelap gulita. Tetapi samar-samar di kegelapan malam ia melihat sebuah batu cadas menonjol. Tidak berpikir lagi, dia spontan bereaksi memutar tubuhnya dalam sikap Makanjaran (Menari dengan Lengan Terkembang). Di tengah udara ia menari memutar dua tangannya Aneh memang, dalam keadaan kritis itu mendadak muncul tenaga istimewa Jurus Makanjaran yang sempurna telah menyelamatkan nyawanya Ia menggerakkan tubuh sehinggakakinya menjejak tepat di atas batu cadas itu.

Kakinya sakit. Tetapi ia selamat. Anehnya rasa dingin mendadak lenyap. Geni menengadah. Ada sedikit cahaya bulan. Tempat dari mana ia jatuh, tidak terlalu tinggi. Tetapi tak mungkin bisa naik ke sana, tebing sangat terjal. Ke bawah, gelap gulita "Lebih baik aku menanti sampai matahari terbit."

Menanti terbitnya matahari, Geni duduk semedi di batu cadas yang tak terlalu luas. Ia berlatih, menggerakkan tubuh mengikuti jurus pusaka Garudamukha Prasidha untuk mengusir rasa dingin yang mengiringi turunnya embun dan kabut pegunungan. Ia tak perlu menanti lama, menyaksikan fajar mulai menyingsing. Matahari masih sembunyi di ufuk Timur namun cahayanya sudah menerangi alam sekeliling.

Kini Geni bisa melihat ke bawah. Tak tampak dasar. Embun dan kabut menutupi pandangannya. Ke atas, ia melihat tebingyang terjal dengan permukaan yang licin, mustahil ia bisa memanjat ke atas. Lagipula menuruni tebing jauh lebih mudah dan lebih ringan dibanding memanjat ke atas. Ia memutuskan menuruni tebing, mungkin di dasar jurang ada kehidupan. Ia mengamati dengan teliti dalam radius pendek ia bisa melihat jelas. Tebing di bawahnya tidak rata dan tidak licin. Tampak beberapa batu menonjol, bisa dijadikan pegangan dan pijakan.

Manusia memang aneh. Kemarin dan hari-hari sebelumnya, Geni bahkan mencari mati, tak ingin hidup. Tetapi sejak jatuh dari tebing, semangatnya untuk hidup dan menyelamatkan nyawa justru menggebu. Ia ingat nasehat Dewi Obat kepadanya berdua Sekar, "Kalian musti tabah, hidup harus diperjuangkan. Geni, jika kamu menetap di sini kamu pasti mati muda, tetapi jika pergi memperjuangkan hidup, adu peluang kamu sembuh dan hidup lanjut. Saat itu kalian bisa bertemu lagi."

Tekadnya besar, semangatnya tinggi, kemauannya keras untuk mencari selamat. Satu-satunya jalan menuruni tebing menuju dasar jurang yang jaraknya tak bisa diukur. Gagal pun tak ada yang perlu dirisaukan. Gagal berarti mati Dan soal mati, ia sudah harus mati hari-hari kemarin, mungkin juga beberapa hari ke depan. Menuruni tebing terjal yang penuh batu cadas hanya dengan tangan dan kaki sungguh penderitaan yang menyiksa. Cadas yang keras dan tajam telah merobek tangan dan kaki. Hampir sekujur tubuhnya lecet berdarah. Namun Geni pantang menyerah.

Ia memandang ke bawah, kabut menghalangi pandangan meskipun terik matahari mulai membakar. Keringat dan darah membasahi tubuh. Tulang dan ototnya meregang menjerit memohon istirahat. Geni bergerak terus. Ia seakan tak peduli apa yang akan terjadi. Ia membayangkan Sekar sedang menantinya di dasar jurang, Sekar dengan kenikmatan cintanya. Juga Wulan, perempuan montok itu tergolek di dalam goa di dasar jurang, tumit, betis dan pahanya yang indah menggodanya. Dua wanita itu sedang menanti di dasar jurang. Tetapi dasar jurang, belum juga tampak. "Mungkin aku harus menuruni jurang ini sampai ajal menjemputku tetapi apa peduliku, akan kulakukan sampai mati pun," gumamnya.

Menuruni tebing jurang ia selalu melihat ke bawah, mencari-cari batu tempat pijakan. Suatu ketika matanya menangkap sesuatu yang bergerak, di bawah. Selang sesaat ketika lebih jauh menurun ia berteriak gembira Itu pucuk pepohonan. Semangatnya bangkit. Semakin mendekati dasar jurang semakin mudah menuruni tebing.

Ketika kakinya menginjak dasar jurang, dengkulnya menggeletar hebat diikuti tubuhnya yang mengejang. Ia jatuh. Ia berbaring diam karena tahu bahwa semuanya itu disebabkan keletihan yang amat sangat. Ia tak mampu menggerakkan kaki dan tangan. Ia melirik tangannya, penuh darah. Jari-jari dan telapak tangan luka, lecet dan terkelupas. Rasanya perih, seluruh rubuhnya perih. Ia lama diam, akhirnya tertidur pulas di bawah pohon besar yang rindang.

---ooo0dw0ooo---