-->

Wisang Geni Bab 04 : Perpisahan

Bab 04 : Perpisahan

Desa Gadang cukup ramai. Kebanyakan pendatang adalah para pedagang yang singgah bermalam sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya. Siang hari itu di warung makan Mbok Lemu dipenuhi pengunjung. Semua bangku dan kursi sudah terisi. Bahkan sebagian orang rela berdiri menunggu giliran tempat kosong. Masakan Mbok Lemu memang terkenal enak dan murah.

Wisang Geni dan Sari beruntung. Datang lebih pagi sehingga mendapat tempat di dekat jendela menghadap sungai. Warung itu tidak jauh dari sungai di mana banyak perahu ditambat. Sudah tiga hari mereka menyantap makanan seadanya, kini ada masakan lezat, tak heran mereka makan dengan lahap. Mendadak Geni menunda makannya. Ia menatap lama ke sungai. Melihat lagak kekasihnya, Sari ikut memandang ke arah sungai.

Terlihat pemandangan ganjil. Seorang lelaki tinggi besar dengan tongkat panjang melompat-lompat dari satu perahu ke perahu lain. Ia memburu seorang gadis. Lucu. Setiap hampir kena hantaman tongkat, gadis itu melompat dengan pesat.

Tongkat menghantam angin Saat itu si gadis kurus berlari pesat ke arah warung makan. Ia menerobos dan menyelinap di antara kursi dan meja. Geraknya sangat pesat. Pengejarnya seorang lelaki tinggi besar. Tampaknya si pengejar itu sangat marah, dia mendorong dan menabrak pengunjung sambil berteriak-teriak murka.

Geni memuji akal cerdik si gadis. Pasti sulit menangkap gadis itu di antara begitu banyak orang, kursi dan meja.

Pengejar itu pasti kewalahan. Benar! Seorang lelaki pengunjung yang didorong dengan kasar, memaki maki. "Kamu pendekar macam apa, tingkahmu kasar dan biadab."

Belum sempat orang itu melanjutkan makiannya, tongkat lelaki itu menghantam kepalanya. Batok kepalanya pecah.

Orang-orang geger, serabutan lari menghindar. Seketika saja warung makan itu sunyi sepi. Gadis kurus ikut menghilang.

Di warung hanya tinggal beberapa orang termasuk Geni dan Sari. Lelaki itu memandang berkliling. Ia tinggi besar dengan perut gendut, tampangnya buruk. Sorot matanya tajam menatap dua sejoli itu. Sari merasa rikuh ditatap.

Tatapan yang kurang ajar. "Ini pasti pendekar gadungan," pikir Sari.

Lelaki berwajah buruk itu menghampiri meja Geni. Ia tersenyum kepada Sari. Tampak giginya yang hitam dan jarang. "Eh wong ayu, kamu lihat gadis kurus yang tadi masuk warung ini?"

Sari enggan menjawab. Geni menjawab. "Dia lari ke sungai!"

Lelaki itu menggebrak tongkat ke tanah. "Aku tidak tanya kamu, aku tanya wong ayu itu."

Belum sempat Geni atau Sari menjawab, dari arah sungai si gadis kurus datang berlari. "Hei Tambapreto, pendekar cabul, pemerkosa perempuan, aku ada di sini, dasar orang jelek, goblok, ayo kejar aku, Tambapreto jelek, gendut, bangkotan."

Lelaki yang bernama Tambapreto sangat murka Ia berteriak keras saking murkanya. "Aku bunuh kamu, bangsat kurus." Sambil menyumpah serapah ia melompati jendela dan mengejar si gadis kurus. Tubuhnya besar tetapi gerakannya gesit. Ilmu ringan tubuhnya tinggi Jelas dia bukan orang sembarangan. Sepasang mata Geni bersinar. Sari sempat menangkap sorot mata kekasihnya. "Sari kamu tunggu di sini, aku ada urusan dengan bajingan Tambapreto itu."

Wisang Geni melompat jendela mengejar Tambapreto. Sari tidak membuang waktu, ikut mengejar setelah sebelumnya melempar uang logam ke meja Mbok Lemu Terjadi kejar- kejaran, menuju ke hutan. Gadis kurus itu paling depan, di belakangnya berurutan Tambapreto, disusul Wisang Geni dan Sari.

Tiba di hutan pinggir desa. Gadis kurus berhenti.

Tambapreto menyerbu langsung mengemplang dengan tongkat. Tidak mirip tongkat, karena ukurannya lebih besar dari tongkat biasa. Di ujungnya ada ukiran kepala ular, terbuat dari logam Gadis itu mengelak gesit sambil memaki, "Tambapreto, hari ini ajalmu tiba, bersiaplah untuk mati"

"Kamu bangsat mulut lancang, siapa kamu sebenarnya? Aju urusanmu dengan aku? Katakan sebelum kuhancurkan kepalamu!"

"Kamu pendekar cabul. Sudah banyak anak gadis dan isteri orang yang kamu perkosa dan kamu hancurkan hidup mereka. Kamu juga ikut dalam rombongan yang menghancurkan Lemah Tulis. Dosamu sudah bertumpuk, cuma bisa dicuci dalam neraka jahanam!"

"Ha... ha... ha... jadi kamu sisa-sisa orang Lemah Tulis.

Kebetulan aku memang sudah bersumpah membasmi semua orang Lemah Tulis. Tetapi aku tak perlu cepat-cepat membunuhmu, aku memang lagi mencari gadis kurus untuk jadi selirku"

"Bangsat mulut busuk!" Keduanya langsung tarung.

Tambapreto menyerang ganas dengan tongkat kepala ularnya. Si gadis dengan gesit melompat mundur sambil menghunus kerisnya. Keris itu mengeluarkan cahaya warna warni dan mengkilat dijilat sinar matahari. Itu keris pusaka! Wisang Geni terkesiap mendengar dialog keras dua seteru itu. Tak disangkanya si gadis berasal dari Lemah Tulis. "Siapa dia, murid siapa? Tak peduli siapa dia, aku harus membantunya. Tanpa alasan itu pun, aku harus membunuh Tambapreto, hutang nyawa bayar nyawa. Dia telah membunuh paman Gubar Baleman," gumamnya.

Hanya sejenak Tambapreto tertegun. Agak gentar ia melihat keris pusaka itu. "Tetapi apa hebatnya keris itu di tangan anak ingusan, tak lama lagi keris itu akan menjadi milikku." Berpikir demikian ia maju menggebrak dengan tongkat mautnya.

Pertarungan berlangsung seru Tambapreto menyerang ganas, memanfaatkan tongkatnya yang panjang, berat serta dikendalikan tenaga dalam yang sudah dilatih puluhan tahun. Gadis kurus mengandalkan ringan tubuh dan keris pusakanya. Tambapreto tidak leluasa memainkan jurus tongkatnya karena dia harus menghindari benturan senjata. Tahu gelagat, gadis itu menyerang makin gencar mengandalkan kehebatan kerisnya. Tetapi lambat laun kelihatan Tambapreto masih lebih lihai. Seandainya tak ada keris pusaka itu sudah dari tadi gadis kurus itu kena hajar.

Wisang Geni melompat masuk arena. "Tambapreto kamu hutang darah orang-orang Lemah Tulis, hari ini kamu harus mati!"

Tambapreto dan juga gadis itu terkejut. Dari tadi mereka sudah melihat adanya dua pendatang, Wisang Geni dan Sari. Kalau Tambapreto menyumpah serapah, si gadis justru girang dengan datangnya bantuan. Pertarungan kian seru.

Tambapreto bukan pendekar sembarangan. Ia memang segan akan keampuhan keris pusaka di tangan si gadis. Tetapi terhadap Geni yang bertangan kosong, ia tak segan segan menyerang dengan jurus maut andalannya Saraslamba (Tangkai Panah). Tongkat bergerat ibarat ular hidup. Kadang mematuk dan menyodok kemudian menyabet dan mengemplang. Ia tetap saja menghindari benturan dengan keris si gadis. Setiap diserang si gadis, Tambapreto menghindar sambil tetap menyerang Geni dengan gencar.

Lambat laun, Geni tampak terdesak dan terancam.

Rupanya si gadis tak mengerti siasat tarung Tambapreto. Semakin ia menekan Tambapreto, semakin besar serangan Tambapreto mengarah Geni. Karuan saja Geni kalang kabut. Geni mengeluh, "Gadis ini tak kenal terimakasih, sudah kubantu malah ia ikut menekanku." 

Tambapreto berseru, "Sebut namamu sebelum kepalamu pecah berantakan!" Tongkatnya mematuk dan mengemplang ke arah kepala dan pundak Geni.

Wisang Geni tak menjawab. Ia memusatkan perhatian pada serangan lawan. Masuk ke dalam pertarungan tanpa persiapan, itu kesalahannya yang membuatnya terdesak hebat. Kini ia cuma bisa bertahan sambil menanti kesempatan memperbaiki posisi. Akhirnya kesempatan itu pun datang.

Tongkat mengemplang dari atas ke bawah. Ia berlaku nekad. Ia menanti sampai tongkat hanya berjarak satu jengkal dari kepalanya. Sari terkejut. Tanpa sadar ia menjerit. Tidak cuma menjerit, ia bergerak cepat menerobos pertarungan.

Pada saat itu Geni merasakan angin tongkat menerpa kepalanya mendatangkan rasa pedih. Tenaga dalam Tambapreto ternyata kuat melebihi perkiraannya. Tindakan nekad itu dilakukan Geni dengan perhitungan matang. Ia tahu melawan Tambapreto yang ilmunya demikian tinggi, salah hitung sedikit saja, kepala bisa pecah. Geni membuat gerakan setengah jungkir ke belakang sambil memutar tubuh, itulah jurus indah Sumpetitut (Jungkir dan Berputar) dari Garudamukha.

Gerakan yang cukup berani, salah hitung sedikit kepala bisa pecah berantakan. Tongkat itu menerpa angin. Wisang Geni lolos. Gerakan itu telah memisahkan Geni dari lawannya sekitar satu tombak.

Tak buang waktu lagi, Geni merentang dua tangan ke samping, mirip burung garuda mengepak sayap, mirip juga gerak penari. Kaku dan luwes. Dua sifat yang bertentangan tetapi dirangkum dalam satu gerak, jurus Makanjaran (Menari dengan Lengan Terkembang) dari Garudamukha.

Saat bersamaan Sari ikut menyerang Tambapreto, membokong dari belakang. Tambapreto merasa kesiuran angin keras mengancam punggungnya. Serangan keris si gadis kurus itu mengincar empat titik mati di tubuh bagian kirinya. Tambapreto terkesiap. Dua gadis itu menyerang dengan jurus mematikan. Terpaksa untuk selamat ia harus menarik tongkatnya yang tadi luput menghantam kepala Geni. Ia menarik tongkat sambil memutar badan dan menyodok pangkal tongkat ke arah Sari. Sementara tubuhnya melangkah ke kanan, melayangkan tendangan ke pergelangan tangan gadis kurus yang menggenggam keris.

Kini Wisang Geni yang terkejut. Dari mana Sari mempelajari Warayangungas (Anak Panah Tembus) jurus bersahaja dari Garudamukha yang unik dan punya banyak perubahan. Jurus itu ampuh. Sodokan dua tangan bergantian ibarat patokan paruh garuda, mengeluarkan tenaga yang saling mendukung.

"Ini rame, seru, sungguh rame, ayo mari kita mainkan jurus Garudamukha bersama-sama," seru gadis kurus itu. Seruan yang mengejutkan Sari dan Geni, namun keduanya tidak berpikir lama untuk menyatakan kesepakatan dalam gerak.

Dua tangan Wisang Geni tidak berhenti, ia memainkan jurus Makanjaran (Menari dengan Lengan Terkembang), menyerang dengan amarah dan kebencian membuat tenaganya berlipat ganda.

Gadis kurus tidak tinggal diam, kerisnya menyerang bagai patok garuda dalam jurus Dekungpulir (Berputar dan Bengkok Tak Beraturan), mengarah tujuh titik kematian lawan. Saat itu juga Sari setelah mengelak dari serangan tongkat lawan, mengulang lagi jurus Warayangungas mengarah dua kaki lawan.

Tambapreto tak pernah menyangka akan mengalami hari senaas itu dalam hidupnya. Umu silat tiga anak muda itu jauh di bawah kepandaiannya. Kalau satu lawan satu tak sampai limapuluh jurus, ia sudah akan memukul remukkepala mereka. Itu sebab ia setengah main-main menghadapi si gadis kurus. Tetapi apa yang dialaminya sekarang sungguh luar biasa.

Tiga anak muda itu pun tak pernah menyangka bahwa jurus Garudamukha yang dimainkan bersama ternyata sangat ampuh.

Serangan gabungan itu ternyata telah mengunci semua jalan keluar Tambapreto.

Tetapi Tambapreto bukan pendekar sembarangan. Ia sudah malang melintang puluhan tahun di dunia kependekaran, sering menghadapi ancaman bahaya yang tak terbilang banyaknya. Ia mengemplang kepala Sari, sambil memutar tubuh ia melayangkan sapuan tongkat ke gadis kurus dan tendangan berantai ke dada Geni. Ia memunahkan serangan dengan serangan.

Dalam satu gebrakan ia sudah melayangkan serangan ke tiga penjuru Tambapreto hebat. Tetapi Sari tak kurang lihainya. Ia tak menarik serangan. Agaknya tongkat akan menghantam kepalanya, ternyata tidak. Sari mengubah kedudukan jongkok menjadi merata tanah, ketika tongkat lewat di kepalanya. Ia melenting, memburu dan menghajar selangkangan lawan. Itu jurus Manusup (Masuk Nyelinap) digabung Sumpetutit (Jungkir dan Berputar).

Tambapreto terkesiap. "Celaka!" serunya. Memang ia celaka. Serangan Sari membuatnya terkejut sehingga serangannya ke gadis kurus tertahan. Si gadis dengan jurus Mangapeksa (Menanti) berhasil menebas tongkat dan terus menikam dada. Geni mematahkan tendangan berantainya, balas menghantam pundaknya.

Tambapreo tak sempat mengelak. Perut dan dadanya robek di tiga tempat oleh tusukan keris. Pundaknya patah dihajar Geni. Dia bisa menyelamatkan selangkangannya tetapi serangan susulan Sari mengena telak tulang punggungnya. Ia menjerit. Lengkingnya mendirikan bulu roma. Ia melempar diri, ingin menghindar dari serangan susulan. Tetapi gerakannya sudah lamban. Tubuhnya tak lagi mau menurut perintah.

Tiga anak muda itu seperti mengikuti satu perintah, serempak memburu lawan. Tendangan Geni, pukulan Sari dan tusukan keris gadis kurus itu susul menyusul menerpa tubuh Tambapreto. Tubuh lelaki tinggi besar itu jatuh berdebum di tanah. Darah muncrat dari mulut dan luka-lukanya. Matanya melotot, memandang tiga anak muda itu dengan penuh sesal. "Kenapa tidak sejak awal aku berlaku telengas dan bersungguh-sungguh mungkin tak senaas ini nasibku." Tetapi sesal kemudian tak berguna. Saat berikut rubuhnya mengejang, seluruh urat tubuhnya mencuat. Ia mati penasaran.

Sesaat tiga pendekar itu memandang mayat Tambapreto.

Gadis kurus itu menghela nafas. Seakan baru sadar, Sari memandang Geni dan gadis kurus itu bergantian. "Kita pasti satu perguruan, sama-sama dari Lemah Tulis. Siapa guru kalian?"

Gadis kurus tertawa, suaranya merdu. "Kau yang bertanya, maka kamu yang harus memperkenalkan diri lebih dahulu."

Sari dengan wajah kemerahan memandang tajam kekasihnya. "Ambara, siapa gurumu yang sesungguhnya, kamu tak bisa mengelabui aku sebab setahuku tak ada pendekar Lemah Tulis yang bernama Waragang." Wisang Geni tersenyum Ia merasa lucu melihat wajah Sari tampak serius dan tegang. "Pesan guru, aku harus hati-hati sebab Lemah Tulis banyak musuhnya, maaf terpaksa aku menggunakan nama Ambara, itu pun tidak sengaja."

Saat itu lima bayangan berkelebat dan berdiri di depan tiga anak muda itu. Mereka memberi hormat kepada si gadis. "Maaf kami terlambat, tuan putri."

Gadis kurus itu tertawa, ia memberi hormat kepada Geni dan Sari. "Maaf aku tak banyak waktu, lain kali saja kita berkenalan." Ia melenggang pergi diikuti lima orang itu. Dua muda mudi itu tak sempat mencegah. Keduanya saling pandang. Wisang Geni tersenyum senang. "Maafkan aku, Sari, jika selama ini aku tidak berterusterang. Tetapi Waragang memang salah seorang guruku, ia mengajari aku ilmu pengobatan. Namaku Wisang Geni."

Sari memotong penuturan Geni. "Oh jadi kamu putranya kakang Gajah Kuning dan mbak Sukesih. Kamu yang ditolong kakakku Manjangan Puguh dari keraton duapuluh lima tahun lalu itu!"

"Tetapi kamu sendiri murid siapa, Sari?"

Sari tertawa. Tak urung ia malu, wajahnya kemerahan. "Namaku bukan Sari, namaku Walang Wulan, adik perguruan ayahmu, jadi aku ini bibi gurumu." Tiba-tiba saja gadis itu terkejut. Ia mengucapkan kata "bibi" dengan nada biasa.

Tetapi ketika mendengar ucapannya sendiri, ia terkejut. Ada sesuatu yang terbang dari sanubarinya. "Jika aku bibinya, berarti ia keponakan muridku, bagaimana mungkin bisa ada hubungan cinta di antara kita?"

Berpikir demikian, tiba-tiba Wulan memutar tubuh dan berlari sambil mendekap wajahnya. Geni terkejut. Karuan saja ia lantas mengejar. "Sari, tunggu, tunggu dulu." Walang Wulan berhenti. Ia menoleh dan memandang Geni dengan wajah bersimbah air mata. "Jangan panggil aku Sari, aku Wulan, aku bibimu, panggil aku bibi, bibi Wulan."

Geni bingung. Ia tidak tahu mengapa Wulan menangis.

Apakah sebab ia menggunakan nama samaran Ambara. Tetapi Wulan juga menyamar dengan nama Sari. "Baiklah Sari, aku memang bersalah menggunakan nama Ambara. Tetapi kamu juga menyembunyikan nama aslimu, sebenarnya kita impas.

Lantas mengapa kamu menangis, tidak perlu sakit hati, Sari eh Wulan." Geni tertawa.

Pelan-pelan Wulan berhasil menguasai diri. Ia memandang Geni. Dilihatnya Geni biasa-biasa saja, artinya lelaki itu tak terpengaruh adanya fakta hubungan bibi guru dan murid keponakan. Diam-diam wulan merasa heran. Penasaran dan aga kkecewa, dia menatap Geni. "Kamu tak tahu ataukah pura-pura tidak tahu, atau kamu tak peduli karena kamu tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Kamu tidak tahu apa yang kurasakan sekarang ini."

Kini Wisang Geni sungguh-sungguh bingung. "Ada apa? Apa salahku. Kenapa kamu marah?" Geni melangkah dan memegang lengan Wulan

Wulan menarik lengannya. Tetapi Geni memegangnya erat Wulan berontak tetapi ia tak berdaya ketika Geni menarik tubuhnya dan memeluknya. Wulan berkata dengan terisak. "Geni, tak boleh, kamu tak boleh memeluk aku, aku ini bibi guru, kamu bahkan tak boleh memegang tanganku, kamu tak boleh meniduriku lagi."

Geni mendesah, "Tidak ada aturan seperti itu." Geni memegang kepala Wulan dan menciumi wajah kekasihnya itu. Ia menjilati air mata dan mencium mulurnya. Wulan membalas ciuman dengan bernafsu. Ia terengah-engah. "Geni, tidak boleh begini, tidak boleh, aku ini bibimu" Geni menjawab dengan suara bergetar. Ada sedikit ketakutan akan kehilangan perempuan yang dicintainya ini. "Perasaanmu itu tidak benar, aku murid Padeksa, kamu murid paman Bergawa. Kita setara sesama saudara seperguruan.

Kamu juga bukan bibiku, bukan saudara orangtuaku, kita tak ada hubungan apa-apa."

"Aku lebih tua!"

"Sudah kukatakan berulangkali, bahwa aku tak peduli masalah usia, lagi pula kamu lebih cantik dan lebih muda dibanding gadis remaja. Sudahlah Wulan, ayo kita cari tempat nginap, hari sudah senja, tak lama lagi malam tiba."

Wulan merasa bangga dan senang. Ia bangga akan keteguhan cinta Geni. Ia senang Geni sungguh-sungguh mencintanya. Tetapi bagaimana tanggapan orang terhadap hubungan ini, percintaan bibi guru dengan keponakan murid? Wulan berkata dengan nada getir. "Geni, adat melarang kita untuk bercinta, bibi guru tak boleh menjadi isteri keponakan muridnya. Ini sudah kodrat dewata."

Sambil melangkah masuk desa dia menggandeng lengan Wulan "Kenapa kamu keras kepala. Kita saudara seperguruan, Wulan, kamu kakak seperguruan, aku adik, cuma itu. Tak ada hubungan apa-apa, tak ada hubungan bibi guru dan keponakan murid Mengapa kamu masih ngotot soal bibi dan keponakan." Geni berhenti, memegang dua lengan Wulan, menatap mata gadis itu. "Apakah kamu tidak mencintaiku lagi? Coba, katakan kamu tidak mencintaiku lagi."

Wulan menggeleng kepala. "Aku mencintaimu, Geni." Ia terisak, menangis lagi. "Mengapa kau bukan Ambara, benar- benar Ambara yang sudah meniduri aku, Ambara yang mencintaiku dari malam sampai pagi di atas perahu. Mengapa tiba-tiba kamu beralih menjadi Wisang Geni putra kakang Gajah Kuning dan mbak Sukesih?" Geni memeluk kekasihnya. "Supaya aku lebih mencintaimu, menjaga dan melindungimu sampai hari tua."

Dua sejoli itu bermalam di desa. Pembicaraan masih berkisar pada keraguan Walang Wulan akan hubungan bibi guru dan keponakan mund. Ia masih merasa bahwa percintaan ini salah. Namun di malam hari ia tak kuasa menolak ketika Geni memeluk, melucuti pakaian dan menciumi sekujur tubuhnya. Ia tak kuasa menahan gejolak birahi dan api cintanya yang membara.

Esok paginya, masih di kamar penginapan, Walang Wulan sambil memeluk Geni, berbisik di telinga "Geni, kita berpisah untuk sementara. Biarkan aku berpikir sendirian, beri aku kesempatan memikirkan bagaimana tanggapan orang terutama sesama murid Lemah Tulis, tentang hubungan kita ini. Kita pasti akan bertemu lagi."

Wajah Geni berubah. "Bagaimana mungkin aku harus berpisah dengan kamu Wulan, aku tak sanggup berpisah denganmu, jangan Wulan, jangan lakukan itu, mengapa kamu harus peduli dengan tanggapan orang, tidak, aku tak mau berpisah." Geni memeluk erat tubuh kekasihnya "Wulan, sebaiknya kita berdua mencari guruku, Padeksa, minta dia mengawinkan kita."

Wulan menciumi leher Geni. "Kita berpisah untuk sementara, biarkan aku sendiri, kita akan jumpa lagi. Tentang perkawinan, aku pasti mau jika sudah tiba saatnya. Geni, ijinkan aku pergi, tidak lama lagi kita akan berjumpa di Mahameru"

'Wulan, kamu harus tahu, tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghentikan aku mencintaimu Aku tahu kamu juga mencintaiku, jadi aku akan mencarimu, aku akan mengawini kamu, menjadikan kamu isteriku. Ingat itu Wulan," ujar Geni Wulan menjawab lirih, "Aku ingat, akan selalu kuingat." Pagi itu Walang Wulan pergi. Ia tidak memberitahu tujuannya Wisang Geni sangat terpukul. Dia tak pernah membayangkan kejadian seperti itu. Beberapa hari hidup bersama di dalam goa air terjun di kaki gunung Arjuna, kemudian bercinta berkasih mesra di atas perahu. Pada saat- saat itu rasanya Wulan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Lalu mendadak saja perempuan itu pergi, rasanya seperti ada bagian tubuhnya yang hilang terbawa pergi bersama Wulan.

Sepanjang hidupnya, Geni tak pernah mendapat perhatian seorang perempuan, apalagi dicintai. Bahkan kasih sayang ibu pun hanya mengelusnya di masa kecil. Dan ketika nasib mempertemukan dia dengan perempuan yang begitu memerhatikan dan mencintainya, ia merasa dialah lelaki paling bahagia di kolong langit. Dicintai dan mencintai. Tak ada yang lebih bahagia dari itu.

Sepanjang perjalanan berperahu ia sangat bahagia. Mendadak saja kebahagiaan itu sirna begitu saja. Hanya lantaran Sari perempuan yang dicintai dan mencintainya itu adalah Walang Wulan, adik perguruan dari ayah dan ibunya. Akal sehatnya mengakui Walang Wulan sebagai bibi guru, tetapi kekerasan hati dan dahaganya akan kasih sayang dan cinta seorang perempuan membuatnya tidak bisa menerima kejadian itu dengan wajar. Ia menolak kenyataan itu!

"Itu tidak adil! Tidak bisa! Kau bukan bibi guruku, Wulan, kau adalah Sari kekasihku!" Wisang Geni berteriak sambil berlari. Ia berlari terus, berlari dan berlari.

Ketika senja berubah menjadi malam. Ketika hutan menjadi pekat ditelan gelapnya malam, dia berhenti di tengah hutan.

Ia tidak tahu berada di mana. Tetapi Geni tak peduli. Karena sebenarnya dia hanya ingin lari menjauh dari persoalan yang begitu meng goncang hatinya. "Mengapa kita harus berpisah, Wulan?"

Malamnya dia tidur di atas pohon. Dia berpikir dan merenung. Terjadi pertentangan dalam dirinya. Di satu sisi dia mengakui Wulan adalah bibi guru, di sisi lain dia menolak keras.

"Memang Wulan adalah adik perguruan ayah dan ibuku.

Wulan juga adik dari guruku Manjangan Puguh. Dari dua alasan ini, benarlah Wulan adalah bibi guru Tetapi setahuku tak ada aturan yang melarang perkawinan antara keponakan murid dengan bibi guru Hanya memang aneh dan janggal apalagi jika usia bibi guru lebih tua beberapa tahun. Dan itu tidak seluruhnya benar, guruku adalah Padeksa, sedang guru Wulan adalah Bergawa, maka jelas aku dan Wulan adalah saudara seperguruan. Jadi sebenarnya tak ada sesuatu yang menjadi hambatan, lalu mengapa tiba-tiba Wulan begitu panik dan memutuskan untuk pergi meskipun hanya sementara. Dia pergi hanya sementara waktu, sampai aku menemuinya nanti di pertemuan Mahameru"

Di atas pohon itu, Geni tidak bisa tidur. Wajah Sari alias Wulan terbayang-bayang. Tubuhnya yang molek, bibirnya yang basah dan cintanya yang hangat membara, membuat Geni hampir gila. Tetapi diam-diam Geni merasa kagum. Ilmu tenaga dalam Karma Amamadang membuat Wulan awet muda, tubuhnya masih sintal seperti gadis remaja. Padahal menurut pengakuannya usianya sekitar empatpuluh dua tahun. Ilmu apa itu, yang bisa membuat dia begitu awet muda?

Selama beberapa hari Wisang Geni melangkah tak tentu arah, tak punya tujuan yang jelas. Suatu siang ia tiba di desa kecil Tajinan. Ia mencari warung makan. Warung itu sepi saja, ketika ia masuk. Di pojok dekat pintu belakang duduk empat orang. Di meja dekat jendela duduk sepasang lelaki perempuan.

Geni tidak memerhatikan orang-orang di situ. Ia langsung memilih tempat duduk dekat jendela. Agak lama ia menanti pesanannya. Saat itu ia melihat seorang wanita muda melangkah masuk warung. Seorang lelaki pendek gemuk, rupanya pemilik warung menghentikan langkah si gadis di depan pintu "Kamu tak boleh masuk, tolong nona jangan masuk, nanti semua orang pergi takut karena penyakitmu itu bisa menular, nanti warung makan ini sepi tak ada yang makan."

"Siapa bilang aku membawa penyakit. Aku sehat," kata wanita muda itu.

Empat orang yang duduk di dekat pintu belakang, tertawa.

Salah seorang berseru. "Gadis itu cantik, sayang wajahnya burik." Temannya tertawa, lalu berseru kepada pemilik warung. "Pak Tua, biarkan gadis itu makan bersama kami, biar wajahnya burik tetapi aku kan butuh tubuhnya bukan wajahnya, ayo kemari sini, kamu dekat sama kangmas-mu ini." Lelaki itu menghampiri si gadis, tangannya terjulur hendak mencengkeram lengan.

Geni melihat itu, ia membungkuk mencari-cari batu kerikil.

Geni menjentik kerikil. Tiba-tiba laki-laki itu menjerit, batu kerikil menghantam siku tangannya. Ia menoleh ke sana kemari. Tak ada siapa-siapa. Sepasang lelaki perempuan sedang asyik ngobrol. Di dekat jendela, Geni. Ia masih hendak meneruskan niatnya ketika kerikil yang kedua menghantam dahinya yang langsung bocor darah. "Gila, pasti ada dedemit atau pendekar lihai yang melindungi gadis ini," katanya sambil melangkah kembali ke teman-temannya.

Geni melangkah mendekati gadis burik itu. "Ayo adik, makan bersamaku, kebetulan aku tak punya kawan ngobrol." Geni menatap dengan mata melotot ke pemilik warung. "Adik ini makan bersamaku, atas undanganku, kamu keberatan?"

Gadis itu masih muda. Tubuhnya langsing dengan dada yang agak menonjol. Benar kata lelaki penggoda tadi, tubuhnya cukup molek hanya wajahnya burik. Gadis itu bekas terkena penyakit cacar. Bekas cacar berupa bintik-bintik hitam menghiasi sekujur tubuh dan wajahnya. Rambutnya panjang tidak terawat. Pemilik warung itu geleng-geleng kepala.

Gadis burik itu malu-malu menatap Geni. "Tuan, terimakasih, kamu sudah menolong aku. Tetapi aku tidak pantas duduk bersama kamu, biar aku pergi saja, sekali lagi terimakasih."

Geni memegang tangan gadis itu. "Jangan, jangan pergi, makan dulu, baru kamu pergi. Ayolah."

Gadis itu memang lapar. Ia makan dengan lahap. Geni ikut terbawa suasana, juga makan dengan lahap. "Namaku Wisang Geni, kalau aku boleh tahu namamu siapa, adik?"

"Namaku Sekar."

Geni hendak bicara, tetapi batal Karena pada saat itu ia melihat tiga lelaki memasuki warung. Ia mengenal salah seorang adalah lelaki yang melukai Wulan di air terjun, Kalamasura.

Kalamasura juga mengenal Geni. "Ha... ha... ha... dicari- cari tak ketemu, tidak dicari justru bertemu Hari ini kamu harus membayar hutangmu!"

Tidak menanti sampai Kalamasura mendekat, Geni melompat keluar lewat jendela. Ia tak mau melibatkan Sekar dalam urusannya. Kalamasura ikut menerobos jendela, diikuti dua temannya. Tak jauh berlari, Geni berhenti. Karena ia memang tak berniat melarikan diri. Ia tertawa. "Hari itu kamu merengek minta ampun, jadi kubiarkan kau pergi, sekarang kamu malah mencari aku minta digebuk"

Olok-olok Geni itu menyulut amarah Kalamasura. Ia menggeram hebat sambil menerjang dan melepas pukulan yang mendatangkan angin kencang. Geni menghindar.

Kalamasura mendesak hebat. Tetapi Geni dengan Waringin Sungsangmudah. saja mengelak. Ia juga tidak manda diserang, mulai membalas. Tanpa terasa puluhan jurus berlalu. Kalamasura makin berang karena semua jurusnya dengan mudah bisa dikelit. Malahan serangan balik Geni mulai mempersulitnya. Melihat posisi Kalamasura terdesak, dua temannya ikut mengepung dan mengeroyok Geni. "Dimas Sura, hayo kita hajar rame-rame."

Karuan saja Geni kewalahan. "Hei mana ada aturan begini, main keroyokan."

Tetap mengepung dengan serangan terarah, salah seorang kawan Kalamasura berseru, "Kita bertiga selalu bersatu, tak peduli lawan hanya satu orang atau sepuluh orang. Kamu siap-siap saja mati di tangan kami."

Perlawanan Geni hampir tak ada artinya. Di antara tiga lawan itu, Kalamasura adalah yang paling rendah ilmu silatnya. Tak heran hanya dalam beberapa jurus saja, Geni sudah jatuh di bawah angin. Geni mencium bahaya. Harus ada jalan keluar. Kabur! Itu perbuatan rendah. Tetapi kalau tidak kabur, ia bisa mati.

Ia bimbang. Perhatian terpecah. Akibatnya fatal! Pukulan lawan telak menghajar pundaknya. Dalam keadaan sempoyongan Geni melihat tendangan Kalamasura mengancam pinggangnya. Lawan lain memukul batang lehernya. Geni mengelak. Sikunya ditekan di samping pinggang, menangkis tendangan. Kepala ditekuk sampai rapat ke dada. Tangan kanan melingkar ke belakang leher. Dua kakinya merentang rapat di tanah. Tanpa sadar Geni telah memainkan jurus Nanawidha (Beraneka Warna) dari Bang Bang Alum Alum yang digabung dengan jurus Mangapeksa (Menanti) dari Garudamukha.

Memainkan dua jurus dari dua ilmuyang berlainan ini sebelumnya tak pernah dipelajari Geni. Namun dalam keadaan darurat di mana jiwanya terancam ia justru memainkannya dengan sempurna. Terjadi benturan, siku tangan Geni bergetar menerima tendangan Kalamasura. Sikap "menanti" dari jurus Mangapeksa berhasil meredam tendangan lawan, lalu meminjam tenaga lawan, tangan Geni menyampok lutut lawan. Kalamasura menjerit. Masih untung bagi Kalamasura, tenaga Geni telah hilang sebagian akibat benturan di siku.

Kalau tidak, lututnya bisa remuk

Saat berikut dua kaki Geni yang merentang rata di tanah, membuat posisi tubuhnya turun sehingga tebasan lawan ke leher tidak mengena. Tetapi lawan yang ketiga yang tadi memukul dadanya kembali berhasil menggampar punggung Geni.

"Duuukkk!" Geni terlempar. Darah dalam tubuhnya bergolak. Mulut berasa asin. Keadaannya kritis, karena dua lawannya memburu dengan sengit.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi. Tiga ekor kuda berlari cepat menuju arena pertarungan. Ketiga kuda dalam formasi berjajar, kuda yang di tengah ditunggangi Sekar si gadis berwajah burik tadi. Gadis itu berseru, "Cepat lompat!"

Geni tak membuang waktu lagi, dengan Waringin Sungsang ia melontarkan diri ke atas punggung kuda. Semua serba cepat, sukar diikuti mata. Lari kuda sangat cepat, tetapi gerak Wisang Geni tak kalah cepatnya. Begitu duduk di punggung kuda, Geni muntah darah. Tetapi ia tetap bertahan di punggung kuda. Ia terkejut melihat penolongnya tak lain adalah Sekar.

"Tak salah dugaanku kau pasti dari kalangan pendekar," kata Geni. Ketika menyaksikan Geni dikeroyok tiga orang, Sekar tahu gelagat tidak menguntungkan bagi pemuda itu. Diam-diam ia menyelinap ke istal di belakang warung dan mencuri tiga ekor kuda. Sigap ia menggiring tiga ekor kuda itu ke arena pertarungan. Dan ia tiba pada saat yang tepat. Kalamasura tergeletak di tanah. Lututnya parah, nyaris remuk Dua kawannya hendak mengejar Geni dan Sekar, namun urung karena memikirkan Kalamasura. Tiga orang ini memandang kepergian Geni dengan mendongkol. Tampaknya memang Geni dan Sekar akan lolos. Tetapi belum jauh berkuda, mendadak Sekar berteriak, "Hei minggir, pak tua, minggir!"

Geni melihat seorang tua kurus menyeberang jalan. Karena begitu mendadak, kuda-kuda itu tak bisa dikendalikan.

Tampaknya kuda akan menabrak si orangtua. Namun ketika kuda-kuda itu hanya terpaut tiga tombak, orangtua membalik tubuhnya Dua tangannya terkembang macam burung membentang sayap.

Debu beterbangan di depan Sekar dan Geni. Kuda kuda itu seperti menabrak tenaga misterius. Kaki-kakinya tertekuk.

Sesaat kemudian tiga kuda tersuruk Sekar dan Geni terpelanting. Dalam keadaan luka parah dan tidak siap, Geni tak mampu menguasai tubuhnya sehingga terbanting keras ke tanah. Sekar bersalto dengan lincah dan mendarat dalam posisi berdiri.

"Ha... ha... ha...," Orangtua itu tertawa Suaranya kering, nyaring dan bergelombang seperti ringkik kuda. Ia memandang Geni dan Sekar dengan mimik aneh. "Kamu anak ingusan, tetapi kamu bisa lolos dari tiga muridku, artinya kamu cukup jago. Siapa kamu, sebut gurumu supaya aku tidak kesalahan membunuh orang."

Pada saat itu terdengar teriakan. "Guru!" Ternyata Kalamasura dan dua temannya sudah tiba di situ.

Geni mengeluh. "Celaka, tiga muridnya saja aku tak ungkulan, apalagi ditambah gurunya Mungkin sudah takdir dewata, aku harus mati di sini." Tahu dirinya tak bakal lolos dari maut, Geni berdiri tegap. Lukanya tak lagi dirasakan.

Kalau memang harus mati, matilah sebagai laki laki. Dia menatap orangtua kurus itu. Tak ada rasa gentar sedikit pun. Orangtua itu kurus kering seperti tengkorak hidup.

Pakaiannya serba hitam, celana sebatas lutut, telanjang dada dengan jubah longgar yang terjulai sampai batas lutut memperlihatkan tubuhnya yang kurus tinggal tulang dibalut kulit. Rambutnya panjang riap-riapan. Wajahnya tiris dihiasi kumis dan jengot jarang. Sebelah matanya hanya tinggal kelopak tanpa bola mata Tampangnya seram dan tak enak dipandang.

Geni berkata lantang, "Semua ini urusanku sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan temanku ini." Ia menoleh memandang Sekar dan mendorong gadis itu pergi, "pergilah kamu"

Orangtua itu tertawa "Baru hari ini kutemui orang yang berani memerintah di hadapanku Bocah gila, kamu belum tahu bahwa semua orang yang pernah ketemu aku, hanya boleh pergi jika kusuruh dia pergi."

Di luar dugaan Sekar bukannya pergi malah tertawa mengejek. "Huh Kalayawana yang hebat, Penguasa Kegelapan dari Gondomayu yang kesohor dan ditakuti, ternyata cuma cacing kurus yang tak punya malu, beraninya cuma menghina orang muda yang tak punya nama. Kamu memalukan, Kalayawana sebaiknya kau pulang ke Gondomayu dan kubur namamu yang hebat itu."

Semua orang terkejut. Wisang Geni terkesiap lantaran tidak menyangka ketemu Kalayawana pembunuh dua orangtuanya. "Kau pembunuh orangtuaku, kau punya hutang pada Lemah Tulis, kamu harus mati di tanganku!"

Kalayawana dan tiga muridnya terkejut. Rupanya pemuda itu orang Lemah Tulis. Dan si gadis punya nyali harimau, berani mengolok-olok meski sudah tahu hebatnya Kalayawana. Ejekan itu membangkitkan amarah Kalayawana yang menghentak kakinya ke tanah. Tanah bergetar bagai dilanda gempa. Itulah pameran tenaga dalam yang dahsyat. "Kamu mulut lancang, dan kamu orang Lemah Tulis, harus kupelintir batang lehermu, biar mampus."

Kalayawana mengangkat tangan hendak mencengkeram Sekar, tetapi tangannya terhenti di udara. Sekar tertawa. "Benar kataku, Kalayawana itu pengecut, hanya berani tarung lawan orang kecil, kalau memang jago kamu cari lawan yang sepadan."

Kalayawana kalap. "Gadis mulut busuk, coba siapa pendekar yang kau hadapkan padaku, panggil kakek moyangmu, panggil gurumu, biar kupecahkan batok kepalanya, ayo bawa dia kemari."

"Huh, kamu pintar dan licik, sudah tahu aku sendirian, kamu gembor-gembor nantang guruku, jangan-jangan matamu yang tinggal sebelah akan copot lagi atau kepalamu yang kecil kayak kepala udang itu pecah berantakan digebuk guruku." Sekar mengejek dengan pemikiran Kalayawana akan malu turun tangan dan membiarkan mereka pergi. Tetapi ejekannya kelewat batas.

Kalayawana tak bisa menahan diri lagi Selama ini tak ada orang berani menghina dirinya sepertiyang dilakukan Sekar. Ia marah dan berteriak keras, tubuhnya melayang ke arah Sekar.

Pada saat itu Wisang Geni sudah memutuskan akan adu jiwa. Orang ini adalah musuh utamanya yang membunuh orangtuanya. Hutang nyawa bayar nyawa. Ia tak memikirkan lagi keselamatan diri. Juga tak peduli ilmu silat musuh lebih tinggi di atasnya. Dalam keadaan terluka, Geni menggigit lidahnya sendiri. Itu cara menghimpun seantero tenaga dalam. Tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Sikap ini sangat berbahaya. Hampir sama dengan bunuh diri. Tak ada tenaga cadangan dalam tubuh, akibatnya fatal. Jika terluka, sulit untuk sembuh. Geni memang nekad, "Kamu mati atau aku yang mati," teriaknya sambil menyerang dengan jurus Shuhdrawa (Hancur Luluh) dari Garudamukha. Sekar sejak awal sudah menggenggam pasir di tangannya.

Ketika datang serangan Kalayawana, ia mengelak sambil melempar wajah lawan dengan pasir.

Kalayawana terkesiap. Serangan dua anak muda itu cukup berbahaya. Tetapi dasar dia memang lihai. Ia menggerakkan tangan kiri menolak serangan Geni, adu tenaga. Tangan kanan mengibas pasir mengembalikan kepada Sekar. Ia bergerak seperti ayal-ayalan tetapi akibatnya luar biasa. Pasir itu kembali menyerang Sekar yang terpaksa bergulingan.

Sebagian pasir menerpa tubuhnya, rasanya panas. Geni menerima akibat yang jauh lebih parah. Adu tenaga itu berat sebelah. Tenaga dingin Kalayawana menghantam telak Geni, menerobos sampai ke tulang sumsum. Mata Geni melotot. Ia muntah darah, tiga kali. Tubuhnya bergetar kedinginan.

"Kalian akan mati dengan perlahan-lahan, karena aku tadi hanya menggunakan sebagian tenaga saja." Ia lalu tertawa keras, lengking suaranya bergelombang, nyaring tajam dan kering. Suara ku menusuk telinga Sekar dan Geni. Itulah tertawa Begananta yang bisa membuat lawan hilang ingatan atau mati Dalam keadaan sehat pun belum tentu Sekar dan Geni bisa mengatasi tertawa iblis apalagi dalam kondisi luka parah. Sesaat kemudian jantung mereka berdegup kencang, wajah kemerahan karena sedikit demi sedikit darah mulai berkumpul di kepala.

Wajah Sekar merah membara, keringat membasahi tubuhnya. Dari mata mengalir air. Pada puncaknya nanti, bukan air yang keluar dari pori dan lubang tubuh melainkan darah. Wisang Geni lebih sengsara, ia rubuh. Ia merasa ribuan semut menggerogoti tubuh terutama kepala. Ia memusatkan pikiran, kalau harus mati maka matilah sebagai laki-laki.

Jangan menjerit, jangan mengeluh dan jangan mengemis kepada lawan.

Pada saat kritis itu terdengar suara perempuan tertawa. Tawa itu menindih tawa Kalayawana, terdengar merdu dan meringankan penderitaan Geni dan Sekar. "Memang hebat tertawa Begananta dari kuburan Gondomayu, mana bisa dua orang muda itu melawanmu," seru perempuan itu.

Suasana mendadak lengang. Kalayawana menghentikan tawanya. Sepasang lelaki dan perempuan mendatangi. Geni mengenalnya sebagai dua orang yang duduk di warung makan tadi. Kalayawana bercekat hatinya. Tawa perempuan itu telah mampu menerobos dan mengganggu lengkingnya. Itu saja sudah hebat. Apalagi itu dilakukan dari jarak jauh. Tak disangkal menilik ukuran tenaga dalamnya, orang itu jelas pendekar dari kalangan atas.

"Siapa sampean?"

Kalabendana dan Kalayuda tadinya hendak memaki dan menghajar perempuan itu. Tetapi mendengar nada pertanyaan sang guru, mereka urung. Kalau gurunya sampai peduli siapa orang itu, artinya cuma satu, ilmu silat orang itu cukup tinggi.

"Selamat bertemu Kalayawana, aku Malini dan ini suamiku Kumara. Kami orang asing di tanah Jawa ini, sengaja kami datang untuk berkenalan dengan para pendekar tanah Jawa."

Dua orang asing itu melangkah santai. Langkahnya ringan namun geraknya pesat. Saat berikut mereka sudah berdiri dua tombak dari Kalayawana. Ilmu ringan tubuh mereka nyaris sempurna. Malini berusia sekitar tigapuluh, suaminya mungkin lima tahun lebih tua.

Kalayawana memandang tajam. Malini berpakaian aneh. Bagian bawah, celana longgar. Bagian atas sepertinya dililit kain sutera berlapis-lapis. Kulit tubuhnya putih pucat kontras dengan warna pakaiannya yang hijau tua. Ia cantik, hidungnya mancung, mulut agak lebar, rambut panjang disanggul rapi dan bergelung di atas pundaknya. Matanya bening dan berkilat-kilat. Suaminya yang bernama Kumara juga berdandan aneh. Celana longgar, panjang sekilas kaki. Bajunya sempit tanpa lengan dan terbuka di bagian dada memperlihatkan bulu dada yang hitam. Rambutnya hitam keriting digelung di atas kepala. Kulit tubuhnya sawo matang. Ia juga berhidung mancung, wajahnya membersit kekerasan.

Diam-diam Kalayawana mengatur pernafasannya. Kalau terjadi pertarungan, jelas dua orang itu bukan lawan ringan. Tiba-tiba ia teringat seseorang. "Apa hubungan kalian dengan Lahagawe?"

"Bagus kamu masih ingat akan paman guruku. Ia kini bertapa di kaki gunung Himalaya. Meskipun kamu mengaku kenal dengan paman guruku itu, tetapi jika kamu menyombongkan diri, tetap akan kuhajar."

Kalayawana penasaran. "Tetapi bagaimana bisa kamu mengetahui aku Kalayawana dan jurus ketawa Begananta, kamu juga bisa bahasa Jawa, sudah lama tinggal di Jawa?"

Malini tertawa melihat Kalayawana penasaran. "Aku enam bulan belajar bahasa Jawa, aku tahu semua nama pendekar kosen di negeri Jawa berikut ilmunya. Aku sudah satu tahun di tanah Jawa, nah kini kamu serahkan dua anak muda ini kepadaku, aku punya urusan dengan mereka. Serahkan, itu lebih baik bagimu"

"Tidak bisa semudah itu Anak muda perguruan Lemah Tulis ini adalah urusanku, tak ada sangkutan dengan kamu, pergilah!"

Berkata demikian Kalayawana menoleh ke Geni dan Sekar. Dua muda mudi ini dalam keadaan luka parah. Sekar berusaha mengatur pernafasan, meski pun agak sesak namun bisa berjalan lancar. Adapun Geni, luka tenaga dalamnya sangat parah. Bangkit atau bergerak pun sulit. Ia tak lagi punya tenaga. Jalan darahnya sudah tidak karuan. Menurut tata cara dan ilmu pengobatan yang dipelajarinya dari guru Waragang, ia tahu lukanya sulit untuk bisa disembuhkan. Tenaga dalamnya rusak. Awalnya tenaga dalamnya terluka kena hajar Kalayuda. Tetapi paling parah adalah pukulan Kalayawanayang menggunakan jurus Ghandarwapati pada saat Geni mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya.

Tiba-tiba Malini tertawa, lengkingnya tinggi dan nyaring.

Makin lama makin bergelombang. Udara di sekitar terasa bergetar. Itu pameran tenaga dalam tingkat tinggi.

Kalayawana terkesiap, belum tentu ia bisa mengungguli tenaga Malini. "Aku sebenarnya ingin menguji pukulan Ghandarwapati dan ketawa Begananta tetapi aku tidak yakin kamu akan bersedia, mungkin kamu letih setelah tarung dengan dua anak muda ini." Malini menghentikan tertawanya.

Tampaknya Kalayawana tersinggung, tetapi belum juga memutuskan sikap, terdengar suara Kumara. "Kalayawana si jago tua, berbaik hati kepada isteriku adalah bijaksana." Selesai kata-katanya ia merogoh saku, mengeluarkan gelang perak, melemparnya dengan asal-asalan ke udara Gelang meluncur pesat mengeluarkan suara mencicit dan tepat membelenggu seekor burung yang sedang terbang. Burung jatuh agak jauh. Kumara menggerakkan tangan, burung itu tersedot ke telapak tangannya. Ia membuka belenggu gelang kemudian melepas burung itu mengudara lagi. "Itu mainan anak-anak di kampung kami," kata Kumara dingin.

Kalayawana terdiam "Gila, mereka sengaja ingin membentur aku, tetapi terus terang belum tentu aku bisa menang meski seandainya tiga muridku ikut bertarung.

Lagipula, mereka inginkan dua anak muda itu, apa peduliku," katanya dalam hati Kalayawana menoleh ke tiga muridnya. "Ayo kita pergi, masih ada urusan lain yang lebih penting, kebetulan aku sudah tak ada kepentingan lagi dengan dua anak muda itu, Malini kamu ambillah."

Geni melotot menatap Kalayawana. "Suatu hari kelak, kau akan menyesal tidak membunuhku hari ini, karena pada hari itu aku akan membunuhmu" Orangtua yang dijuluki Iblis Gondomayu itu tertawa keras. "Kamu harus menghindar jangan sampai ketemu aku lagi.

Akan kucincang tubuhmu dan kuberikan kepada anjing. Kamu jangan mimpi melawanku, meski sepuluh tahun kamu berlatih!"

Geni melihat semua kejadian. Ia tahu ilmu silat dua pendekar asing ini telah membuat Kalayawana ciut nyalinya. Ia tidak kenal kedua suami isteri itu. "Katanya ia ada urusan dengan aku, urusan apa? Aku belum pernah jumpa dengan keduanya."

Malini menghampiri Geni. Ia berjongkok memeriksa denyut nadi. Saat berikut ia memeriksa Sekar. Geni memandang Malini. Tadi ketika wanita itu jongkok di dekatnya ia mencium aroma harum Bau tubuh perempuan. Anehnya bau itu seperti tak asing, ia merasa pernah mencium bau yang sama. Tetapi di mana, ia lupa.

"Anak muda, temanmu cuma luka ringan, tidak sulit mengobatinya. Tetapi lukamu parah, tenaga dalammu luka berat, kukira tak ada tabib yang bisa mengobatimu Kupikir kamu sudah mendekati ajalmu, kasihan, padahal kamu masih muda."

Suara Geni nadanya getir. "Aku tahu."

Kumara berkata dalam bahasa India. Suaranya ketus dan kasar. Malini membalas tak kalah sengitnya. Dua orang itu bertengkar. Sesaat kemudian keduanya diam. Malini menghampiri Geni. "Kata suamiku, ia bisa mengobati kamu'"

Wisa Geni berseri, "Terimakasih, mau menolong aku." Suami isleri itu diam. Geni heran. Suasana lengang. Tiba-

tiba Sekar memecah kesunyian. "Kamu mau menolong

kawanku, tetapi tidak secara cuma-cuma, begitu kan? Katakan apa bayarannya?" Malini senyum "Adik kecil ini cerdas. Memang kami akan minta kau menolong kami, setelah kamu sembuh nanti, kamu bersedia?"

Wisang Geni memandang Malini. Ia mengagumi kecantikannya, yang tampak makin cantik jika tersenyum Saat dia akan mengiyakan, Sekar mencegah. "Jangan sembarang janji, tanya dulu, apa yang ia maui dari kamu"

"Siapa gadis ini, apa dia isterimu?"

Geni menggeleng. "Kami hanya teman biasa. Memang begitu lebih adil, kamu katakan apa yang harus kukerjakan jika kamu sudah menyembuhkan aku."

"Baiklah!" kata Malini, mulurnya kemudian komat-kamit.

Sekar melihat Geni memerhatikan penuh perhatian. Ia hendak bersuara tetapi batal, teringat sesuatu. "Rupanya ia bicara menggunakan ilmu memendam suara, baru hari ini aku menemui orang yang menguasai ilmu hebat ini. Jelas ia hanya mau bicara dengan Geni, dia tidak mau aku mendengar."

Geni mendengarkan. "Tak usah heran aku tahu, namamu Wisang Geni, kamu murid Lemah Tulis. Kami sedang mencari tokoh sakti Lemah Tulis, Ki Suryajagad. Dia kawan karib paman guruku, Lahagawe. Ada pesan yang harus kusampaikan pada tokoh sakti Suryajagad. Kau bantu mengantar kami menemuinya, itu saja."

Hanya sekilas mendengar Geni lantas mengerti persoalannya. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Malini. Dalam hati ia tertawa, "Dia pikir bisa menipuku.

Lahagawe adalah orang yang dikalahkan Eyang Sepuh Suryajagad di perang Ganter, tak mungkin dia seorang sahabat. Ini pasti urusan dendam. Ternyata mereka adalah musuh Lemah Tulis."

Wisang Geni menjawab ia tak bisa membantu. Kontan wajah Malini berubah. Kulit mukanya yang putih berubah merah lantaran marah. Kumara menghampiri Geni. 'Jika kamu tak mau membantu maka telanlah racun ular salju ini." Ia menjejalkan satu butir obat ke mulut Geni. Malini juga menjejalkan obat serupa ke mulut Sekar. Dua anak muda ini tak kuasa menolak

Dengan logat asing, Kumara menjelaskan racun itu mulai bereaksi besok, penderitaan akan meningkat setiap hari. Pada hari ketujuh sudah tak bisa ditolong lagi dan akan mati pada hari kedelapan.

"Kami menunggu di warung makan tadi, sampai malam nanti. Esok pagi kami sudah pergi jauh, jika mau memenuhi syarat, kamu boleh datang menemuiku dan akan kuobati, bukan cuma menyembuhkan racun ular salju juga luka dalammu Jika tidak datang artinya kamu memilih mati sendiri, jangan salahkan kami!"

Matahari mulai doyong ke barat. Geni dan Sekar masih terkapar di hutan. Geni memandang Sekar dengan iba. "Gadis ini tak tahu apa yang terjadi, tapi ia sudah terlibat urusanku Bahkan nyawanya kini terancam, bakal mati sengsara jika tak memperoleh obat penawar racun."

Sebenarnya Geni sudah bulat tekad tak mau menerima pertolongan dua pendekar asing itu, apalagi dengan syarat seperti itu. Itu kan sama dengan mengkhianati perguruannya. Lagipula mengemis pertolongan bukan sikap pendekar. Tetapi bagaimana dengan keselamatan Sekar yang tak berdosa?

Geni bimbang. "Biarlah aku tak perlu diobati, Sekar saja yang diberi penawar. Sebagai gantinya aku akan mengajak mereka ke suatu tempat terpencil di bukit Lejar. Dalam perjalanan mungkin aku bisa menemukan jalan lolos.

Pokoknya aku tidak akan mengkhianati perguruan, lagipula mana aku tahu di mana tempat Eyang Sepuh Suryajagad."

Berpikir demikian Geni memaksa berdiri. Sekujur tubuhnya sakit dan nyeri. Susah payah ia bisa juga berdiri meski harus bersandar di pohon. "Ayo kita jalan, tak perlu menunda-nunda waktu lagi."

"Kemana kita ?"

"Pergi menemui orang asing itu, kan mereka yang punya obat penawar." Geni tak hirau keheranan kawannya, ia berusaha berjalan meski tulang-tulangnya seakan menjerit sakit, nyeri dan ngilu. Tetapi Geni memaksa diri, ia melangkah sempoyongan.

"Pergilah sendiri, aku di sini saja," suara Sekar ketus. Geni menoleh ke belakang, dilihatnya Sekar masih tak beranjak dari duduknya. "Ayo Sekar kita ke warung tadi."

"Kamu pergi sendiri, aku tidak. Aku tak sudi mengemis pada musuh, itu tidak pernah ada dalam benakku. Bagiku mati lebih terhormat ketimbang mengemis minta ampun."

Wajah Geni merah seketika. Ia malu dan tersinggung. Ditatapnya Sekar dengan tajam. Wajah yang penuh bekas cacar itu meringis kesakitan. Geni diam-diam memuji sikap kawannya. "Aku juga tak bermaksud mengemis belas kasihan musuh. Mati bagiku urusan kecil, kehormatan buatku urusannya besar. Tetapi aku memikirkan keselamatanmu, Sekar."

"Ada apa dengan aku?"

"Kamu masih muda. Kau tak tahu urusan, kau cuma terbawa-bawa dalam urusanku karenanya aku bertanggungjawab atas keselamatanmu Kau terluka gara-gara menolongku."

"Kamu salah. Kau juga masih muda. Kita berdua luka karena ilmu silat kita yang rendah, jangan salahkan orang lain. Kamu telah berbuat baik kepadaku, orang lain biasanya jijik melihatku, tetapi kamu malah mengajak aku makan. Kamu duluan yang berbuat baik, jika setelah itu aku menolongmu, kukira itu wajar saja." Geni takjub akan sikap kawan barunya. Ia memerhatikan lebih teliti. Sekar tidak kurus. Tubuhnya berisi, dibungkus pakaian agak ketat menonjolkan potongan tubuhnya yang langsing. Wajahnya boleh dikata cantik jika saja tak ada bercak hitam bekas cacar. Hidung tak terlalu bangir. Mulut kecil berbentuk bulat dengan bibir penuh. Geni merasa kasihan, "Kalau tak ada bercak bekas cacar, pasti dia kelihatan cantik."

Sesaat dua anak manusia itu saling tatap. Ditatap demikian tajam oleh seorang lelaki, Sekar merasa darahnya mengalir cepat. Ia merunduk malu, rambutnya yang hitam lebat menutup wajahnya. "Kenapa kau memandangku begitu?" Sekar gadis yang polos. Apa yang dipikirnya, itu yang dia ucapkan. Tak ada tedeng aling-aling, dan pertanyaan itu sungguh mengena.

Tanpa pikir panjang Geni mengatakan apa yang ada di benaknya. "Kamu sebenarnya gadis yang cantik, Sekar."

Tiba-tiba saja Sekar menengadah menatap Geni dengan marah. Matanya berkilat-kilat Ia melompat bangun, kemudian menerjang Geni. "Bangsat, kamu sama saja dengan yang lain!"

Meski melihat datangnya serangan tetapi Geni tak punya tenaga untuk menangkis atau mengelak. Pukulan mendarat di bahu Geni yang dengan susah payah berhasil menangkap tangan si gadis. Ia memeluk Sekar. "Kenapa kamu marah, aku mengatakan sesuatu yang benar."

Seketika Sekar sadar. Ia memberontak, tetapi Geni tetap memeluk. Akhirnya gadis itu diam membiarkan tubuhnya dipeluk. Hari sudah malam Selama ini Sekar kenyang dihina orang karena bekas cacarnya. Ia senang berkenalan dengan Geni yang tampak tidak jijik berada di dekatnya. Geni bahkan mengajaknya makan bersama. Namun pujian Geni tadi dikiranya sindiran seperti halnya orang-orang sering mengejeknya. Suara Geni terdengar merdu di telinganya. "Sekar, aku memujimu dengan tulus, kamu memang cantik, aku sungguh- sungguh."

"Aku tahu. Tetapi Geni, apakah kamu tidak jijik memeluk aku, kamu tidak takut terjangkit cacar?"

Geni memeluk erat tubuh Sekar yang ternyata sintal dan lembut. "Tidak, aku tidak jijik. Banyak orang tidak tahu bahwa cacar yang sudah sembuh, tidak bisa menular. Dan kamu sudah sembuh total, hanya bekasnya yang tertinggal, Sekar."

Tangan Sekar melingkar ke punggung Geni. Gadis itu balas memeluk. Geni merasakan lunaknya buah dada menghimpit dadanya. Ia juga merasa nafas Sekar yang panas dan tersengal-sengal. "Geni, kita berdua akan mati oleh racun ular salju, apakah kamu benar-benar tidak jijik padaku?"

"Tidak!" Geni lalu mencium mulut si gadis, ciuman panjang.

Ia melucuti pakaian si gadis.

"Geni, aku masih perawan," Sekar berbisik setengah mendesis.

Wisang Geni sibuk menggerayangi tubuh Sekar yang ternyata montok dan sintal. Sepanjang malam dua insan itu merenangi nikmatnya bercinta di kegelapan hutan.

Ketika fajar menyingsing, matahari mulai menerangi hutan, burung dan binatang hutan lainnya bangun mulai mencari makan, dua insan itu masih tidur saling berpelukan. Sekar terjaga. Ia sadar tubuhnya bugil dan masih dalam pelukan Wisang Geni. "Hei Geni, bangun, sudah pagi!" Ia bereaksi melepas diri dari pelukan. Tetapi lelaki itu malah memeluknya lebih erat.

"Aku pikir, tenagaku sudah hilang seluruhnya, ternyata tidak, mungkin saja racun itu belum bekerja"

Geni menatap wajah Sekar, "Adik Sekar, apakah kamu menyesal dengan kejadian tadi malam?" Sekar menggeleng. "Tidak, aku tak menyesal, aku justru sangat menikmati, tapi Geni tak lama lagi hari akan terang, sebaiknya berpakaian sebelum dilihat orang, malu."

Geni tidak menyahut, ia memandangi tubuh bugil Sekar. Tidak banyak bekas cacar di tubuh molek itu, masih tampak dominasi kulit yang kuning sawo. "Kau memang cantik, Sekar. Aku mengerti ilmu pengobatan, setahuku, bekas cacarmu itu bisa hilang, ada obatnya meskipun ramuannya agak sulit diperoleh."

Sekar hendak mengenakan pakaian, Geni mencegah. Ia memeluk dan menciumi tubuh molek itu.

Sekar terengah-engah. "Geni, hari sudah siang, nanti dilihat orang."

Geni tidak peduli. Akhirnya Sekar pun ikut tidak perduli.

Keduanya bergelut di tengah matahari pagi yang mulai menerobos pepohonan lebat.

Dua anak manusia yang sedang diamuk birahi, bagaikan berenang di alam maya aldiirnya terhempas kembali ke alam nyata. Geni tertawa, Sekar tertawa. Ia memeluk Geni seperti tak mau melepas lelaki itu. "Geni, sekarang ini mati pun aku siap, tetapi aku masih mau hidup lebih lama lagi, hidup bersamamu, Geni. Alasan itu mendorong aku harus pulang ke rumah nenek."

"Mengapa pulang ke rumah nenekmu?"

"Nenek adalah pendekar wanita yang dikenal sebagai Dewi Obat, ia sudah mengundurkan diri dari dunia kependekaran. Ia mampu mengobati bekas cacar di kulit wajah dan tubuhku.

Tetapi waktu itu aku tidak mau, aku belum bersedia. Sekarang aku mau."

"Mengapa kamu tak mau, bukankah setiap wanita ingin kelihatan cantik?" "Karena tak ada lelaki yang menyukai aku, tak ada yang bersedia menjadi kekasihku."

Geni tertawa. Ia menganggap Sekar, gadis yang aneh. Sekar seperti bisa membaca pikiran Geni. "Kamu benar, memang sulit mencari lelaki yang tidak jijik padaku. Tetapi alikirnya kan aku menemukan lelaki itu," dia menatap dengan sinar mata mencinta. Dia melanjutkan sambil memeluk Geni. "Menurutku, jika lelaki itu tidak jijik padaku, atau dia menyayangiku, tentu dia akan lebih sayang dan lebih mencintaiku jika wajah dan tubuhku sembuh dari bercak cacar ini. Itu sebabnya, aku ingin pulang secepatnya ke Lembah Cemara agar nenek menyembuhkan bekas cacar ini."

"Jauhkah Lembah Cemara?"

"Tidak jauh, jika perjalanan cepat dengan kuda bisa dua hari, jika jalan kaki dalam keadaan luka seperti sekarang mungkin bisa enam han. Geni, kita harus ke sana, nenek akan mengobati lukamu dan juga mengobatiku, kita berdua bisa menetap di sana bercinta setiap hari, oh aku akan bahagia."

Geni teringat Walang Wulan, kekasihnya itu. "Tetapi Sekar, aku sebenarnya punya kekasih, aku sedang mencarinya."

Geni heran melihat Sekar tersenyum Gadis itu memeluk Geni dan berbisik, "Aku tak akan menyuruh kamu mengusir dia, kamu tahu Geni, ayahku hidup bersama tujuh isteri. Aku tak peduli berapa perempuan yang menjadi isterimu, yang penting aku salah seorang di antara mereka." Sekar tertawa. Mendadak Sekar diam, Geni juga diam Suasana lengang.

Sesaat kemudian sayup-sayup terdengar derap kuda mendatangi. Dua muda-mudi itu bergegas mengenakan pakaian. Seperti bisa membaca pikiran masing-masing, keduanya cepat bersembunyi di belakang batu besar, berhimpitan.

Saat berikut rombongan berkuda berhenti di dekat batu besar itu. Delapan orang. Dari dandanan tampaknya mereka hulubalang keraton. Geni dan Sekar tak berani bergerak sembarangan, takut ketahuan.

"Kita istirahat di sini." Yang berkata itu seorang lelaki bertubuh tinggi kekar. Tampaknya dia pimpinan rombongan. Mereka melompat dari tunggangan Gerakannya sebat, dipastikan mereka memiliki ilmu silat yang handal. "Kangmas Dwi, apa rencanamu Sudah empat hari kita belum juga menemukan Gusti Puteri Waning Hyun Kurasa kita kehilangan jejak."

Dwi duduk tepat menghadap batu besar tempat Geni dan Sekar bersembunyi "Aku tak tahu Dimas Walu. Sebenarnya dengan ilmunya yang tinggi, puteri Hyun tak perlu terlalu dikhawatirkan, apalagi ia selalu didampingi gurunya Ki Bhojana yang aneh. Tetapi yang membuat aku was-was adalah berita duabelas anggota regu Sinelir keraton Kediri sedang bertualang di luaran." Ia menoleh ke samping kanan. "Diajeng Trini, apa pendapatmu?"

Wanita bernama Trini diam sejenak, "Kangmas, kupikir sebaiknya kita menyebar dalam dua kelompok, siapa lebih dulu menemukan Paduka Puteri atau ketemu regu Sinelir, segera memberi tanda."

Usul Trini disetujui semua kawannya. Salah seorang yang duduk berhadapan dengan Dwi dan Trini, bertanya, "Apa tanda yang kita gunakan ?" Sambil berkata ia menggores tanah di dekat kakinya. Ia menulis pesan. "Ada orang di belakangku."

Ia memang duduk paling dekat dengan batu besar tempat sembunyi Wisang Geni dan Sekar. Sekitar lima tombak. Ia mendengar desah nafas muda-mudi, namun ia tak mau gegabah. Semua kawannya membaca tulisan itu, mereka memandang Dwi. Rupanya dalam segala hal, ia yang memutuskan "Soal tanda itu, nanti saja kita tetapkan di tengah jalan. Kita tidak punya banyak waktu, ayo berangkat sekarang. Dimas Panca kamu paling depan," katanya kepada lelaki yang menulis pesan.

Semua bergerakke kuda masing-masing. Panca sambil menjawab, "Baik Mas" ia memutar tubuh, maju dua langkah, dua tangannya mendorong ke depan Tiga gerakan hampir serempak. Tenaganya membanjir keluar dan menerpa batu. Batu besar terdorong membentur Geni, dan Sekar yang terkejut karena tak menyangka akan diserang. Keduanya terjengkang kebelakang. Panca tidak berhenti sampai di situ. Ia merangkak maju. Dua tangannya mencengkeram pundak dan tengkuk Geni.

Wisang Geni merasa angin tajam mengiris kulitnya. Dalam keadaan biasa serangan itu bisa dikelitnya. Tetapi tubuhnya tak lagi menyimpan tenaga, membuat ia tak kuasa menghindar. Lehernya pasti akan patah. "Tak nyana aku mati di sini." Dalam hati Geni mengeluh. Tetapi sepasang matanya menatap lawan tanpa kedip. "Mati sekarang atau satu tahun lagi, sama saja, mengapa harus takut?"

Jari tangan Panca sudah membenam di leher Geni. Sedikit mengerahkan tenaga, leher akan patah. Mendadak ia mendorong. Geni terlempar. Ketika serangan pertamanya dengan mudah menjatuhkan lawan, Panca yakin Geni dan Sekar bukan orang dari kalangan silat Tapi ia menguji lebih lanjut. Ternyata Geni bukan saja tak mampu mengelak, bahkan tenaga menolak dari dalam pun tidak ada. Karenanya pada saat alehir Panca batal menyerang. "Kau siapa, berani mengintai kami?"

Sekar cepat menjawab. "Siapa bilang kami mengintai. Kami lebih dulu berada di sini. Kalian datang belakangan. Kami bersembunyi karena tak mau jumpa dengan orang. Lalu kalian berhenti istirahat di sini, apakah kami yang salah?"

Delapan punggawa itu mengurung Sekar dan Geni.

Perempuan yang bernama Trini mendekat dengan ketus bertanya pada Sekar. "Bocah, kau belum menjawab pertanyaan tadi, siapa kalian?" Tak kalah ketus, Sekar menjawab. "Apa perlu tahu nama kami. Kami cuma orang biasa yang tak beruntung, yang akan mati dibunuh hanya sebab tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian."

Lelaki bernama Dwi itu tertawa. "Hebat, mulutmu tak kalah tajam dari pedang. Nduk, kami tak pernah membunuh orang tak berdosa, kami tak akan membunuh kalian." Ia menoleh memandang Geni. "Sampean tampaknya luka berat, siapa namamu dan mengapa berada di sini?"

Dalam hati Geni memuji pandangan jeli lelaki itu. "Namaku Ambara, dan kawanku ini Suti, kami tidak beruntung ketemu lawan yang lebih tinggi ilmu silatnya, kami kalah dan terluka."

Dwi tertawa. "Baiklah. Siapa pun namamu, aku mohon padamu, anggap saja kalian tak pernah melihat kami, tak pernah mendengar apa yang kami bicarakan, aku yakin kalian akan penuhi permintaan ini." Ia memberi isyarat kepada kawan-kawannya. "Kita pergi."

Delapan orang itu menghilang di kejauhan. "Siapa mereka?

Tampaknya mereka pendekar kelas satu. Mereka tak mengganggu kka, kelihatannya mereka menjunjung tinggi sikap ksatria," Geni berkata lirih.

Ternyata delapan pendekar tadi para hulubalang kepercayaan raja Anusapati dari keraton Tumapel. Seluruhnya ada delapanbelas. Mereka tak lagi menggunakan nama asli atau nama julukan. Tetapi menggunakan urutan angka satu sampai delapanbelas sesuai tingkat kepandaian masing- masing Delapan hulubalang tadi, Dwi, Trini, Panca, Walu, Ekadasa, Molas, Sodasa dan Pitulas.

”Tampaknya mereka bergegas mencari puteri Waning Hyun, putri kesayangan Baginda Raja Parameswara. Ia kini sedang diburu oleh pihak keraton Kediri. Sudah bukan rahasia lagi adanya perebutan kekuasan antara keraton Kediri dengan keraton Tumapel, padahal masih sesama saudara. Tetapi itu bukan urusan kita, kita harus cepat pergi ke Lembah Cemara."

Geni kagum akan pengetahuan Sekar. "Katamu jika jalan kaki bisa sampai enam hari, mungkin kita sudah mati di tengah jalan, kata orang asing itu racun akan membunuh kita dalam tujuh hari. Buat apa ke sana?"

Sekar memandang Geni. Ia tertawa. "Kau tunggu di sini." Ia bergegas ke dalam hutan. Ia bersiul. Tak lama kemudian ia datang menunggang kuda sambil menuntun seekor lainnya.

---ooo0dw0ooo---