-->

Wisang Geni Bab 01 : Peristiwa Ganter

Bab 01 : Peristiwa Ganter

Tahun 1222 situasi keamanan di tanah Jawa memanas. 

Dua pihak yang bertentangan sama-sama menghimpun kekuatan. Di satu pihak, kerajaan Kediri yang diperintah raja Kertajaya nama lain dari raja Dandang Gendhis. Di pihak lain, Tumapel, daerah bawahan Kediri yang diperintah Ken Arok Perang besar sudah di depan mata. Tidak hanya melibatkan ribuan prajurit tapi juga para pendekar yang berilmu tinggi.

Hampir seluruh pendekar ternama di tanah Jawa ikut terlibat dengan bermacam alasan. Ada yang karena kesetiaan dan keyakinan. Ada yang terpikat janji dan iming-iming materi.

Waktu itu banyak penduduk dan pemimpin agama dari Kediri menyeberang dan mengabdi ke Tumapel. Sebagian mereka tidak puas terhadap kebijakan Dandang Gendhis, sebagian lain melihat masa depan yang lebih menjanjikan di Tumapel. Dandang Gendhis marah-marah. Ken Arok tertawa senang. Amarah Dandang Gendhis makin menjadi mendengar berita Ken Arok telah menobatkan diri sebagai raja Tumapel dengan gelar Rajasa Sang Amurwabumi. Itu pembangkangan atau pemberontakan terhadap kerajaan Kediri.

Dandang Gendhis merencanakan serangan besar menghancurkan Tumapel. Tapi kemudian membatalkan rencana tersebut karena mendengar laporan mata-mata bahwa pasukan Ken Arok sudah siap-siap melurukke Kediri. Dandang Gendhis memutuskan untuk menanti serangan lawan. Dia mempersiapkan pasukannya lebih matang dan rencana untuk menjebak lawan. Keputusan ini tidak banyak menguras kekayaan kerajaan dan juga tidak menguras tenaga pasukannya. Di pihak Tumapel, Ken Arok juga sudah menyusun rencana.

Dia memang akan menyerang Kediri, bahkan sengaja membocorkan rencana tersebut. Tetapi ada rencana rahasia yang dipersiapkan dengan matang. Dia mengirim pasukan khusus yang terdiri dari sekelompok pendekar silat kenamaan tanah Jawa, dengan tujuan menyerang dan membumihanguskan Lemah Tulis, perguruan yang merupakan pemasok hulubalang sakti yang setia pada kerajaan Kediri.

Hancurnya Lemah Tulis secara langsung akan melumpuhkan separuh kekuatan Kediri. Selain itu juga mendatangkan rasa takut dan waswas di kalangan prajurit dan hulubalang Kediri. Dia yakin Lemah Tulis akan mudah diserang dan ditaklukkan karena saat itu sebagian besar murid utama perguruan itu berada di keraton dalam persiapan menyambut serangan Tumapel.

Sore itu seorang pemuda bernama Suta sedang istirahat bersandar di pangkal pohon ketika ekor matanya melihat serombongan besar orang mengindap-indap di hutan. Dia curiga bahkan firasatnya mencium ada bahaya yang mengancam dirinya. Matanya memandang sekeliling mencari- cari tempat persembunyian. Di dekatnya ada kubangan lumpur, satu-satunya tempat paling aman.

Dia tiarap di kubangan lumpur. Tidak bergerak, dia mengatur nafas agar tidak terdengar orang. Dia takut keberadaannya diketahui rombongan itu, nyawanya pasti melayang. Rombongan melewati jalan tidak jauh dari persembunyiannya. Karenanya dia bisa mendengar dengan jelas sebagian pembicaraan orang-orang itu. Mendengar pembicaraan itu dia menggigil ketakutan.

Tak lama setelah rombongan menjauh, pelan-pelan dia bangkit, melangkah hati-hati Rombongan menuju ke Trowulan. Dia juga menuju perdikan Lemah Tulis yang tak jauh dari desa Trowulan, satu hari perjalanan dari tempatnya tadi. Dia memilih jalan lain, menghindari kemungkinan berpapasan dengan rombongan itu.

Hutan belantara itu gelap dan senyap. Cahaya rembulan tak mampu menembus kerimbunan pepohonan.

Samar-samar tampak enam buah tenda darurat. Di salah satu tenda, tujuh pendekar sedang istirahat. Ada yang duduk, ada yang berbaring. Tetapi semuanya melek, tak ada yang tidur. Rombongan Tumapel itu dipimpin Bango Samparan, pendekar kepercayaan Ken Arok. Dia lelaki bertubuh tegap dan berusia sekitar tigapuluhan.

"Besok pagi kita menuju Trowulan, supaya tidak menyolok, kita berpencar dalam sepuluh kelompok, kita berjalan kaki sebagaimana orang awam. Sore hari kita akan tiba di hutan di luar desa. Kita istirahat. Sekitar tengah malam menjelang fajar kita akan menyerang. Agar bisa saling mengenal satu sama lain, kita semua menggunakan ikat kepala warna putih," kata Bango Samparan kepada kawan-kawannya.

Kalayawana, pendekar sakti yang dijuluki Penguasa Kegelapan dari Gondomayu, berkata lirih namun jelas. "Bagaimana dengan rencanamu, apakah murid Lemah Tulis itu bersedia meracuni air minum perguruannya?" Kalayawana, berusia di penghujung tiga-puluhan, kurus, wajahnya buruk dan tampak kejam. Dia bertelanjang dada dengan celana sebatas lutut dan jubah hitam panjang yang penuh dengan tambalan.

Bango Samparan tersenyum licik.

"Dia pasti akan melakukan itu, dia telah kubekali racun pelemas tulang yang reaksinya cepat. Jika dia menabur bubuk itu di sore hari kemungkinan besar sebagian mereka sudah mulai keracunan di waktu malam. Biasanya mereka akan ngantuk dan tidur. Selama mereka tidak berlatih silat, mereka tidak akan sadar tubuhnya sudah keracunan. Pada dini hari saat kita menyerang, barulah mereka merasakan tubuhnya lemas. Saat itu sudah terlambat untuk suatu penyembuhan. Ya, rencana ini membuat kita tak perlu membuang banyak tenaga."

Semua orang yang mendengar tertawa senang. Mendadak terdengar suara protes, nadanya ketus. "Itu bukan ksatria, itu perilaku pengecut, aku tidak setuju rencana itu. Mengapa harus pakai cara meracuni lawan dengan pelemas tulang, aku sendiri mampu mengalahkan orang-orang Lemah Tulis, termasuk ketuanya Ki Bergawa dan adik-adiknya itu."

Lelaki itu berusia separuh abad, dia pendekar asing asal dari pegunungan Himalaya, negeri India. Namanya Lahagawe. Tubuhnya tinggi kekar, agak kehitaman, wajahnya tampan dengan hidung mancung. Dia orang kepercayaan berkedudukan sebagai penasehat Ken Arok, pendapatnya selalu didengar sang Rajasa.

Semua orang diam. Bango Samparan meskipun tidak menyukai protes Lahagawe, ikut diam. Agaknya dia menaruh hormat bahkan agakkeder terhadap Lahagawe. Namun tidak demikian dengan lelaki gembrot berkepala botak, Tambapreto. Pendekar ini merasa cemburu melihat Lahagawe disanjung dan dihormati semua orang Tumapel. "Huh, orang Himalaya itu makin lama makin sombong, apakah memang benar cerita orang bahwa ilmu silatnya itu mumpuni, huh tanganku jadi gatal aku ingin jajal," gumamnya dalam hati.

Tak bisa bersabar lagi Tambapreto berkala lantang. "Tuan pendekar Himalaya memang berilmu tinggi, sampai

di mana bebatnya aku sendiri belum melihat, apakah benar

sampean bisa mengalahkan Bergawa dan adik-adiknya, hal itu masih perlu sampean buktikan. Tetapi sekarang ini kita dalam situasi perang, rencana meracuni air minum orang Lemah Tulis sangat bagus. Rencana itu untuk menghemat tenaga kita semua sehingga masih segar saat berperang lawan pasukan Kediri. Aku setuju dan mendukung rencana itu!" Lahagawe tidak menjawab. Dia melonjorkan kaki dan rebah telentang di tanah. Saat berikut tubuhnya terangkat sejengkal dari tanah. Lahagawe sengaja pamer tenaga dalamnya yang tinggi dan hanya pendekar kelas satu yang bisa melakukannya. Tambapreto dan pendekar lain, diam-diam merasa kagum dan jeri.

Suta bergegas. Setelah merasa tak ada orang yang melihatnya, dia lalu berlari menggunakan ilmu ringan tubuh. Meskipun hari gelap tetapi dia bisa bergerak cepat karena mengenal benar liku-liku jalan yang dilaluinya. Dia ingin secepatnya tiba di perguruannya dan melapor pada gurunya. Dia mencium adanya semacam bahaya maut yang mengancam Lemah Tulis.

"Aku harus cepat memberitahu guru Rombongan itu pasti beristirahat di hutan karena tidak mungkin menempuh perjalanan malam. Jadi aku punya banyak waktu mendahului mereka," katanya dalam hati.

Keesokan siang dia tiba di Lemah Tulis. Seorang murid di pintu gerbang menyapanya, tetapi dia nyaris tak bisa bicara lantaran nafasnya yang sengal-sengaL Di pekarangan dia bertemu seorang murid lain yang menghadang jalannya. "Hai, Suta, kamu habis mandi lumpur, ada apa? Kelihatannya kamu habis berlari jauh, apakah ada kejadian penting?"

"Gawat! Celaka, paman Agra. Aku tadi bertemu serombongan pendekar, tampaknya mereka punya niatan menyerang perguruan kita, aku mendengar pembicaraan di antara mereka."

Lembu Agra, usia tigapuluh tahun, tampan dengan kumis tipis, berewokan, rambut panjang digelung di atas kepala, tegap dan kekar. "Jumlahnya banyak? Dimana kamu bertemu dan apakah kamu mengenal mereka?" Mimik Lembu Agra sangat serius memberondong keponakan muridnya dengan pertanyaan beruntun. ”Aku melihat mereka di hutan dekat desa Tumbas, satu hari jalan kaki dari sini. Jumlahnya lima puluhan, dan semuanya dan golongan pendekar. Aku mendengar diantara mereka ada yang dipanggil Kalayawana, Bango Samparan, lambapreto, hanya itu yang kuingat”

Lembu Agra mengibas tangannya. ”Kamu cepat-cepat menghadap romo guru, ceritakan semua yang kamu ketahui, aku akan memeriksa sekitar perguruan.”

Lembu Agra menoleh sekeliling, tak ada orang yang memerhatikan. Dia berbalik arah menuju gudang tempat penyimpanan air minum dan bahan makanan. Ada beberapa guci besar penuh berisi air minum. Hati-hati ia membuka tutup guci dan menabur bubuk. Semua guci dan kendi sudah dicampurnya dengan racun pelemas.

”Sekarang masih sore jika diminum saat makan malam maka racun akan bereaksi tengah malam. Nah, rasakan balas dendam atas kematian keluargaku”, gumamnya disertai senyum licik.

Hari masih pagi matahari baru saja terbit. Embun dan kabut masih bergayut di pekarangan bagian belakang keraton Kediri, Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh limaan sedang bermain-main dengan anak laki-laki yang berusia sekitar delapan tahun. Lelaki itu, Manjangan Puguh pendekar yang memiliki ilmu ringan tubuh paling hebat di dunia persilatan.

Puguh adalah murid tunggal pendekar gunung Merapi Sagotra yang di rimba persilatan tidak tertandingi ilmu ringan tubuhnya.

Manjangan Puguh tidak hanya terkenal ilmu ringan tubuh Waringin Sungsang tapi juga ketampanannya. Tubuhnya jangkung, tegap meskipun agak kurus sangat padu dengan wajahnya yang bulat telur dan rambutnya yang panjang.

Saat itu muncul ibu Wisang Geni, Sukesih, wanita cantik seksi berusia tigapuluhan. Dia tidak tinggi, dada montok dan rambut panjang ikal terurai di bahunya yang kuning sawo. Kecantikannya sungguh menggoda hasrat lelaki. Dia mengenakan celana longgar sebatas lutut memperlihatkan betisnya yang memadi bunting dan kebaya ketat tanpa lengan menonjolkan kemontokan lengan dan buah dadanya.

Sambil tertawa kecil Sukesih ikut bermain dan mengejar putranya yang berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Puguh pun ikut mengejar. Geni berlari sambil tertawa. Setelah merasa cukup bermain ketiganya berhenti.

"Geni, ayahmu sudah menunggumu uniuk latihan tenaga dalam, pergilah."

Berkata demikian dia melirik dan tersenyum pada Manjangan Puguh.

Sepeninggal putranya, Sukesih melangkah genit menghampiri lelaki itu. Perempuan itu mengulum senyum menggoda. Dia menatap lelaki itu. Keduanya bertatapan. Manjangan Puguh melihat keliling, sepi tak ada orang. Ia memegang tangan wanita. "Kesih, hari-hari belakangan ini aku melihat kamu semakin cantik."

Sukesih menengadah menatap lelaki itu yang lebih jangkung. Sepasang mata wanita itu berkedip-kedip dan berbinar macam kemilau bintang di malam purnama. "Benarkah aku cantik, Mas?"

Laki-laki itu tak menjawab, dia gugup. Sekali lagi dia melihat sekeliling. Mendadak dia menggenggam tangan wanita itu. Keduanya berkelebat melompati pagar keraton. Mereka menuju hutan yang berada tidak jauh di arah timur keraton.

Mereka tiba di goa tersembunyi yang berada di balik pohon besar. Setelah menyingkirkan batu dan ranting pohon yang menutup pintu, mereka masuk. Goa itu bersih, tampaknya sering dibersihkan karena selama ini menjadi tempat pertemuan kedua kekasih itu memadu cinta. Keduanya tak kuasa menahan birahi lagi, mereka bergumul dengan liar, panas dan bernafsu. Cinta terlarang memang penuh nafsu yang panasnya selalu membara dan menimbulkan rasa ketagihan.

Pada saat bersamaan di halaman belakang dekat pendopo, Gajah Kuning sedang melatih Wisang Geni. Dia berusia empatpuluhan. Tetapi kesannya tampak lebih tua.

Cambangnya hitam lebat, rambutnya yang panjang dikonde di atas kepala. Ia mengenakan celana sebatas lutut, tubuh bagian atas telanjang. "Anakku, jurus Garudamukha itu semakin dahsyat jika kamu menguasai tenaga dalam yang sangat mumpuni. Itu sebab kamu harus melatih tenaga batinmu lebih rajin lagi."

Mereka berlatih semedi dari pagi hari sampai matahari berada di titik palingtinggi. Udara panas. Keringat membasahi tubuh keduanya. Gajah Kuning membuka matanya ketika merasa tangan yang lembut mengusap keringat di dahinya.

Dia melihat isterinya. Sukesih duduk di sampingnya.

Gajah Kuning berkata pada putranya, "Geni, sudah cukup latihan hari ini, pergilah istirahat ke kamarmu"

Dia kemudian merangkul pundak isterinya. "Tubuhmu panas dan keringatan, kamu dari mana, sejak pagi aku tidak melihatmu?"

Isterinya mengangguk, memeluk dan mencium leher suaminya yang masih berkeringat. "Aku tadi berlatih kejar- kejaran sejenak dengan Geni kemudian pergi berkeliling ke desa, mencari-cari udara segar."

Gajah Kuning melonjorkan kaki. Dia menarik nafas panjang. "Kesih, hari-hari belakangan ini hatiku tidak tenteram, aku memikirkan Geni. Aku kawatir mimpiku itu menjadi nyata." Dia memandang isterinya dengan penuh rasa cinta. Keduanya berpelukan. "Aku kawatir akan nasib Geni, jika sampai kita kalah atau kita mati terbunuh dalam perang." "Kangmas, kita tidak mungkin kalah. Sehebat apa pun pasukan Tumapel, kita tetap akan memenangkan perang," tukas wanita itu dengan semangat berapi-api.

Dia mengerutkan kening dan menatap isterinya. "Dalam perang apa saja bisa terjadi. Sulit meramalkan siapa lebih kuat dan siapa bakal menang. Terkadang pasukan yang menang pun banyak kehilangan prajurit dan punggawa. Jika kita kalah perang, kamu harus pergi meninggalkan medan perang, selamatkan dirimu dan kembalilah ke keraton menyelamatkan Geni. Jangan biarkan dia terluka atau menjadi tawanan musuh."

Sukesih merenggangkan tubuhnya, memandang mesra suaminya. Matanya bersinar cinta. "Aku sudah bersumpah setia. Hidup dan mati selalu bersamamu. Mas, jika aku mati dalam perang, maka kau yang harus selamatkan dirimu, pergi ke keraton dan selamatkan anak kita. Tetapi jika kamu yang mati maka aku ikut mati bersamamu, membela suami adalah darma kesetiaan dan kehormatanku sebagai isteri."

"Kesih kekasihku, aku tidak mungkin melarikan diri dari medan perang," tegas laki-laki itu.

Mendadak Sukesih ingat seseorang, ia tersenyum "Kenapa kamu tidak meminta kangmas Puguh menolong Geni. Di antara semua pendekar yang berkumpul di sini, dialah yang paling tinggi ilmu ringan tubuhnya. Amat mudah baginya meloloskan diri untuk kembali ke keraton menyelamatkan Geni."

"Dia laki-laki sejati, dia tidak akan mau lari dari medan perang." Mendadak laki-laki itu tersenyum, dia teringat sesuatu. Sambil memeluk isterinya dia berbisik. "Tetapi Puguh pasti mau melakukan itu jika kamu yang membujuknya. Aku rasa tak akan ada seorang laki-laki pun yang bisa menolak permintaanmu apalagi jika kau membujuk dan merayunya."

Dia mencubit suaminya. "Termasuk kamu, Mas?" Gajah Kuning mengangguk.

"Aku pun selalu tak berdaya jika dihadapkan pada kecantikanmu" Dia berbisik sambil lidahnya menggelitik telinga isterinya. "Kesih, lakukan itu, kau bujuk dia, lakukan sebelum perang ini terjadi, lebih cepat lebih baik. Jika Puguh sudah berjanji, dia pasti akan menepatinya dan itu artinya keselamatan anak kita sudah terjamin."

"Apa maksudmu, kangmas?" Dalam hati Sukesih menebak- nebak apakah suaminya sudah mengetahui perselingkuhannya selama ini dengan Manjangan Puguh.

"Demi kepentingan anak kita, lakukan itu Kesih, bujuk dan rayu dia supaya mau berjanji menolong Wisang Geni seandainya kita kalah perang atau jika kita berdua mati di medan perang. Pada saat itu dia harus kembali ke keraton dan menyelamatkan Geni meskipun untuk itu dia harus lari dari medan perang." Dia masih mendekap isterinya, menyembunyikan wajahnya di leher wanita itu.

Sukesih terkesiap. Hatinya berbunga memperoleh kesempatan itu, tapi ia berpura-pura. "Tetapi aku hanya membujuk, bicara dengannya, tidak lebih dari itu, Mas. Meskipun begitu aku butuh waktu satu atau dua hari membujuknya. Dan belum tentu aku akan berhasil."

"Ini demi keselamatan anak kita, demi anakmu Lagipula Puguh adalah kekasihmu yang pertama, aku melihat bahwa dia masih mencintaimu bahkan sangat kasmaran. Makanya aku yakin Puguh akan mengabulkan permohonanmu, apa saja yang kau minta."

"Mas, kamu suamiku, hanya padamu aku mengabdi dan jiwa ragaku kepunyaanmu semata. Manjangan Puguh itu milik masa lalu, tapi Gajah Kuning dan Wisang Geni adalah masa depanku. Aku sangat mencintaimu, Gajah Kuning," bisiknya separuh mendesis. Sukesih merasa dia benar-benar mencintai suaminya. Tetapi di dalam hati, dia tak bisa memungkiri bahwa dia juga mencintai Manjangan Puguh.

Mereka masih berangkulan. Lantas Gajah Kuning meregangkan tubuh, memandang wajah jelita isterinya. Dia mencium mulut Sukesih. Dia tak pernah tahu, pagi tadi mulut itu sudah dilumat habis-habisan oleh Puguh.

Di salah satu kamar di bagian keraton, Wisang Geni sedang menekuni lembaran kulit tipis yang bertuliskan aksara Jawa kuno dan Sansekerta. Kamar itu diterangi obor dinding.

Seorang lelaki berusia tiga puluhan sedang mengawasi. Dialah Ki Waragang, tokoh muda yang terkenal sebagai tabib sakti dan juga ahli racun. Dia merupakan tabib istana yang menjadi orang kepercayaan Mahisa Walutigan, adik kandung baginda raja Dandang Gendhis.

Mahisa Walungan menyukai Wisang Geni karena menganggap anak itu punya bakat luar biasa bagusnya untuk menjadi pendekar besar. Itu sebabnya, dia ikut melatih Geni. Bahkan dia minta Ki Waragang melatih dan mempersiapkan Geni menjadi pendekar yang menguasai sastra, obat-obatan, bahkan juga racun. Sedang untuk ilmu silat, dia berempat Gajah Kuning, Gubar Baleman dan Manjangan Puguh akan mendidiknya serius.

"Geni, ini aksara kuno yang digunakan orang di jaman dulu, sekitar seratusan tahun lebih pada saat raja Erlangga masih memerintah. Kamu perlu mengetahui ini semua, pasti suatu waktu ilmu sastra ini akan berguna bagimu." Waragang tak bosan-bosan memberi petunjuk. Lelaki itu mengelus-elus kepala Geni. "Dua tahun sudah aku mendidikmu, sebenarnya kamu sudah lulus. Besok mungkin aku tak perlu lagi menemanimu Kamu sudah pandai membaca menulis, mengerti sastra, menguasai ilmuketabiban serta yang paling penting, darahmu kini punya daya tolak terhadap segala macam racun. Kamu sudah kebal terhadap racun. Mungkin ada beberapa jenis racun yang bisa menerobos daya tahan tubuhmu, tetapi tidak banyak."

Lemah Tulis suatu perdikan besar. Sudah menjadi tradisi turun temurun sejak cikal bakal Mpu Baradha mendirikan perguruan itu di jaman raja Erlangga, Lemah Tulis selalu mengirim anak muridnya untuk mengabdi keraton. Dalam beberapa kejadian, murid-murid Lemah Tulis ini menjadi punggawa kerajaan tidak resmi yang setiap saat siap membela keraton dari ancaman luar.

Tanah perdikan Lemah Tulis cukup luas. Di rimba kependekaran tanah Jawa, Lemah Tulis tergolong perguruan paling berpengaruh dan disegani orang. Murid yang berguru di perguruan itu mencapai seratus limapuluhan. Sebagian di antaranya mengabdi di keraton Kediri. Dalam situasi panas membara dan perang sudah bergayut di depan mata, sekitar lima puluh murid Lemah Tulis berada di keraton. Siap membela keraton. Sebagian lainnya masih tinggal di perguruan namun sudah siap-siap berangkat membela kerajaan.

Sore menjelang malam Ketua Lemah Tulis, Bergawa, duduk bersama adik seperguruannya, Branjangan. Dua tokoh itu hampir sebaya, sekitar empat puluhan. Duduk di hadapan keduanya, seorang cucu murid, Suta yang adalah murid Gubar Baleman. Suta sejak tiba siang tadi belum istirahat. Dia membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya yang penuh lumpur, kemudian menghadap dua kakek gurunya itu.

Suta menceritakan kejadian yang dialaminya di hutan kemarin sore. Bergawa berpikir sejenak, keningnya berkerut. Dia kemudian memerintah Suta memanggil enambelas murid lain yang namanya disebut satu-satu. Mereka semua adalah murid paling tangguh yang berada di perguruan saat itu.

Selang sesaat sepeninggal Suta, seorang murid perempuan masuk dengan nampan berisi makanan dan beberapa kendi air minum Dua tokoh itu makan dan minum sambil membincang kekuatan lawan. "Jumlahnya sekitar limapuluh pendekar di antaranya Kalayawana, Tambapreto, Bango Samparan.

Mereka semua pendekar kenamaan yang memiliki ilmu silat kelas satu. Pasti ini bagian dari strategi perang Tumapel.

Pertama, lumpuhkan Lemah Tulis, setelah itu baru menyerang keraton Kediri," kata Bergawa.

Tak lama kemudian tujuhbelas murid termasuk Suta duduk menghadap. Ada beberapa murid yang meskipun masih muda usia namun sudah memiliki ilmu silat mumpuni. Di antaranya tiga murid Bergawa yakni Ranggaseta murid kedua, Lembu Agra murid kelima dan Walang Wulan murid ketujuh. Empat murid Bergawa lainnya saat itu sedang berada di keraton.

Gubar Baleman yang tertua dan sudah mewarisi semua ilmu silat gurunya. Gajah Kuning murid ketiga, Kebo Jawa murid keempat dan Sukesih murid keenam

Bergawa menceritakan adanya bahaya yang sudah di depan mata. Musuh dengan kekuatan besar akan menyerang dan menghancurkan Lemah Tulis.

"Keadaan ini sangat menentukan mati hidupnya Lemah Tulis. Kita di sini akan diserang dan yang menyerang adalah pendekar berilmu tinggi yang menjadi bagian kekuatan pasukan Tumapel. Di Kediri, saudara kalian akan berperang membela keraton, dan kita tidak tahu bagaimana nasib mereka dalam perang nanti. Tetapi satu hal penting harus kalian ingat, ilmu Lemah Tulis ini tak boleh lenyap dari muka bumi. Jika keadaan terdesak dan kita tak mungkin bertahan lebih lama, kalian harus lari, selamatkan diri masing-masing, berlatihlah dengan rajin, pelihara dan lestarikan jurus-jurus Garudamukha, aku yakin suatu hari nanti akan muncul seorang ketua baru dari angkatan muda untuk memimpin Lemah Tulis. Camkan ini”

Selanjutnya Bergawa dan Branjangau mengatur semua muridnya untuk bersiap menanti serangan lawan. Tujuhbelas murid itu menjadi pemimpin kelompok yang bertanggungjawab di pos-pos tertentu.

Ketika semua murid sudah keluar ruangan, Branjangan dengan wajah muram berkata kepada kakak perguruannya, "Tumapel rupanya sangat siap berperang. Aku kawatir dengan apa yang bakal terjadi. Kangmas, sebaiknya kita bertarung di dekat kamar rahasia. Sebagai ketua kamu bertanggungjawab menjaga dan meneruskan ilmu silat kita, karenanya kamu harus selamat, begitu kita kalah, kamu harus masuk kamar rahasia, aku yakin Dimas Padeksa dan Gajah Watu akan datang, kamu harus bertahan hidup dan menunggu mereka, kamu harus berjanji padaku, Mas"

Dua tokoh itu kemudian bersemedi mengatur tenaga dalam. Keduanya terkejut karena tenaga dalam tak bisa disalurkan. Ada sesuatu dalam tubuh yang menghalangi mengalirnya tenaga batin. Semakin dilawan semakin tubuh merasa lemas. Tanpa sadar Branjangan berkata sambil menatap kakaknya, "Ada apa dengan tenagaku?"

Sesaat Bergawa sadar, ia berseru, "Dimas, jangan kerahkan tenaga, ini racun pelemas tulang, makin kita lawan makin kita keracunan."

Ranggaseta, laki-laki muda bertubuh kekar masuk menghadap dengan tergesa-gesa. Dia melapor beberapa murid tak bisa melakukan semedi. Ada gangguan dalam tubuh yang menghambat pengerahan tenaga dalam Tapi dia sendiri tidak keracunan.

Bergawa memanggil semua murid berkumpul. Dia menanyakan siapa saja yang kena racun. Sebagian murid melangkah ke depan Hampir separuh dari mereka, keracunan. "Racun itu dicampur dalam makanan dan minuman, bagi murid yang belum keracunan, sekarang ini jangan makan dan minum," tegas Bergawa. Tadi dia dan Branjangan telah memeriksa murid pembawa nampan. Dari pengakuannya, seperti biasanya dia masuk gudang bersama empat murid lain, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Bergawa memastikan bahwa lima murid tersebut tidak bersalah. Dia berkata pada Branjangan. "Orang itu tak mungkin dari luar sebab tak mungkin dia bisa menyusup masuk. Pasti dia orang dalam, seorang murid pengkhianat. Tetapi sebaiknya hal ini tak perlu kita bincangkan dengan para murid, aku khawatir akan timbul perpecahan karena saling curiga mencurigai padahal saat ini semua harus bersatupadu."

Situasi kritis itu harus disikapi dengan bijak Bergawa memutuskan murid yang keracunan harus pergi meninggalkan perguruan. Mereka tak mungkin bisa bertarung karena hanya membuang nyawa percuma. Murid yang tidak keracunan, boleh tetap di sini dan bertarung mati hidup. "Aku, Branjangan dan Ranggaseta tetap di sini, kami masih sanggup bertarung," tegasnya.

Walang Wulan, murid Bergawa paling bontot, usia tujuhbelas tahun, jangkung, cantik keibuan dengan kulit kuning sawo. Dia menangis ketika kepalanya dielus sang guru "Kamu tak boleh di sini, kamu harus hidup dan ikut menjaga ilmu silat kita. Kamu cari pamanmu Padeksa, berlatihlah bersama dia. Adapun pamanmu, Gajah Watu, terserah padamu apakah kau maafkan dia atau tidak. Dia tidak pantas menjadi paman gurumu Wulan, bawalah pesanku, muridku yang paling layak menggantikan aku sebagai ketua, adalah kakakmu Gubar Baleman, urutan berikutnya Gajah Kuning.

Semoga para dewa melindungi dua kakakmu itu. Ingat ini, jika dua kakakmu itu gugur dalam perang, maka kamu lebih layak menjadi ketua dibanding Lembu Agra, camkan itu! Karena itu Wulan, berlatihlah lebih rajin. Sekarang pergilah, Wulan, sebelum terlambat," katanya sambil menghapus airmata di wajah cantik muridnya. Malam itu menjadi malam perpisahan yang tak mungkin dilupakan para murid, baik mereka yang pergi maupun yang menetap. Jumlah yang memilih bertarung sampai mati, hanya empatpuluhan murid. Dipimpin Ranggaseta, mereka bersiap- siap di beberapa tempat Para murid yang harus pergi meninggalkan perguruan, pergi dengan isak tangis. Tidak pernah terpikirkan bahwa situasi perguruan bisa seburuk itu. Mereka pergi dengan isak tangis bercampur dendam membara, tetapi masa depan yang gelap menanti sekelam malam yang gulita. Apakah Lemah Tulis akan sirna dari tanah Jawa?

Bergawa teringat pesan gurunya, Rama Balawan, cara unik mengembalikan tenaga yang hilang akibat racun pelemas tulang. Cara itu hanya bisa dilakukan jika yang kena racun adalah dua orang yang tidak terpaut jauh tenaga dalamnya. Kenyataannya dua tokoh murid Rama Balawan itu, tenaga dalamnya sama imbang.

Tidak ayal lagi Bergawa dan Branjangan lantas memainkan jurus Gongkrodha (Kemarahan Luar Biasa) dari ilmu Garudamukha yang merupakan ilmu silat andalan Lemah Tulis. Selama dua gurunya berlatih, Ranggseta setia berjaga-jaga

Benturan tapak tangan dua tokoh itu mulanya perlahan, makin lama semakin keras, dan tiada henti. Lama kemudian, keduanya berhenti sejenak. Branjangan tampak gembira. "Kangmas, sebagian besar tenagaku sudah pulih." Dia melanjutkan dengan lirih. "Romo Guru Balawan, meski sudah lama mati namun masih bisa juga menolong dua muridnya yang goblok ini."

Malam makin larut, bulan sembunyi di balik awan mendung. Guruh dan kilat bersambung mengiringi hujan gerimis. Bergawa dan Branjangan tekun bersemedi. Keduanya bersama semua murid mengenakan pakaian warna putih dan ikat kepala warna hitam.

Gerimis masih menyiram bumi. Malam makin larut. Dingin mencekam. Mendadak langit terang benderang, panah api dan obor menyala melayang di udara masuk ke dalam pekarangan perguruan. Lalu terdengar suara gedubrak keras ketika pendekar Himalaya, Lahagawe memukul pintu gerbang. Beberapa kali terdengar bunyi keras, saat berikut pintu hancur. Terdengar suara hiruk pikuk, puluhan orang menyerbu masuk, mereka menggunakan ikat kepala warna putih. Pertarungan satu lawan satu atau keroyokan terjadi di mana-mana. Banyak korban berjatuhan. Ada yang mati, ada yang luka parah. Suara jerit kematian dan kesakitan bercampur dengan makian dan sumpah serapah mewarnai gelapnya malam yang masih disiram gerimis kecil. Kalah dalam jumlah, satu demi satu murid Lemah Tulis mulai gugur. Di pihak lawan juga banyak yang mati Murid-murid Lemah Tulis makin terdesak dan tidak punya peluang untuk mempertahankan tanah perdikannya.

Di suatu sisi pertarungan tampak Bergawa sedang melawan Lahagawe, Branjangan dikeroyok Bango Samparan dan Tambapreto, dan Ranggaseta bertarung mati hidup dengan Kalayawana. Tiga pendekar Lemah Tulis terdesak mundur sampai ke dekat kamar rahasia.

Lahagawe mendesak, menggunakan jurus-jurus Himalaya yang aneh tapi mumpuni.

"Huh hanya sebegini saja jurus Lemah Tulis, tak ada apa- apanya yang bisa dibanggakan!"

Bergawa tertawa keras. "Jurus silatmu biasa tapi racun pelemas tulangmu hebat. Tak kusangka pendekar berilmu tinggi macam kamu hanya pengecut yang mahir meracuni lawan dengan diam-diam. Dasar licik, pengecut tidak tahu malu!"

Lahagawe murka. Ia menggeram Tarung makin dahsyat.

Pukulan Lahagawe mengena pundak dan perut Bergawa yang kontan terlempar. Lahagawe mengejar. Ranggaseta meninggalkan lawannya, dia mengejar Lahagawe. Dia memotong jalan dan menghadang di depan langkah pendekar Himalaya itu. Ranggaseta berteriakk, "Guru, cepat masuk!"

Bergawa ragu-ragu. Lahagawe menggerakkan kaki dan tangan, menyerang Ranggaseta. Tetapi murid Bergawa ini tak mau menghindar dari jalan. Saking kesalnya, Lahagawe menggelar jurus-jurus mematikan. Dalam beberapa jurus berikut pukulannya menerpa kepala Ranggaseta. Murid setia ini terpelanting dan mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah!

Tetapi tidak sia-sia pengorbanannya. Dia telah memberikan waktu yang cukup bagi gurunya untuk berpikir dan mengambil sikap. Kejadian berlangsung cepat. Branjangan menyaksikan kematian Rmggaseta. Dia berteriak, "Kangmas, cepat masuk! Jika terlambat masuk, kamu jadi orang paling berdosa bagi perguruan kita, cepat!"

Bergawa sempat memandang berkeliling. Hampir tak ada lagi murid Lemah Tulis yang bertarung. Semua mati! Terakhir yang mati, adalah muridnya yang setia, Ranggaseta. Dia melihat Branjangan bertarung dengan gagah berani. Adiknya itu sudah luka parah tapi tetap berdiri dan bertarung menghadang siapa saja yang ingin mendekati Bergawa.

Tahu dirinya tak lagi bisa berbuat, Bergawa cepat menerobos masuk kamar. Pintu serta merta tertutup. Bergawa muntah darah dan jatuh tertelungkup. Gelap. Semua gelap. Di luar kamar, Bango Samparan beserta teman-temannya berupaya membuka pintu, tetapi tak berhasil. Pintu itu tak akan bisa dibuka siapa pun dari luar. Hanya ketua Lemah Tulis seorang yang tahu rahasia membuka pintu kamar rahasia itu.

Kabar buruk itu berjalan cepat, bahkan sangat cepat. Pada dini hari, Lemah Tulis porakporanda. Sore harinya, kabar buruk itu sudah sampai di keraton Kediri. Semua murid Lemah Tulis yang berada di keraton, menangis mendengar berita semua rekan seperguruan mati termasuk ketua Bergawa dan Branjangan. Hanya sedikit murid yang lolos. Batin mereka terpukul. Apalagi mereka yang masih memiliki hubungan saudara, bahkan isteri atau suami. Mereka tak tahu apakah sanak kerabatnya itu mati atau berhasil meloloskan diri.

Sore itu di pendopo, tampak Gubar Baleman, Gajah Kuning, Kebo Jawa, Sukesih, Manjangan Puguh dan Mahisa Walungan duduk bersama. Wajah-wajah itu tampak murung dan lesu.

Mereka terpukul oleh kabar buruk dari Lemah Tulis.

Tiga dayang silih berganti masuk pendopo sambil membungkuk hormat membawa nampan penuh berisi hidangan. Mahisa Walungan mempersilahkan makan.

"Itu berita buruk, suatu pukulan berat buat kita semua.

Tetapi pukulan itu semakin merusak semangat tarung jika kita membiarkan diri larut dalam kesedihan. Ingat tak lama lagi kita sudah masuk ke medan perang. Ayo, makan, biar semangat dan tenaga pulih, kita akan membalas kekalahan di Lemah Tulis!"

Sambil menyantap ayam bakar, Mahisa Walungan bertanya pada Sukesih. "Mana Wisang Geni?"

Wajah Sukesih masih murung. "Kangmas Walung, Geni sudah tidur mungkin letih karena seharian berlatih."

Mahisa Walungan menoleh ke Gajah Kuning. "Dimas, aku yakin suatu hari nanti, anakmu itu akan jadi pendekar tangguh. Sayang sampai hari ini aku belum sempat mewariskan jurus Nagapasa padanya."

"Terimakasih kangmas, dia pasti akan lebih digjaya sebab jurus Nagapasa ciptaanmu itu hebat dan ampuh."

Selesai bersantap, Mahisa Walungan agak gugup berkata, "Maaf, aku ingin bicara dengan dimas Puguh, tidak lama, kalian tunggu di sini"

Keduanya melompat dan menghilang di kegelapan malam.

Di suatu tempat di sudut keraton mereka jalan berendeng. "Dimas ceritakan tentang puteriku itu, apakah dia ikut terbunuh di Lemah Tulis?"

Manjangan Puguh menggeleng kepala. "Tidak! Itu yang pertama-tama kuselidiki, aku bertemu seorang murid yang lolos yang kukenal. Ternyata Ki Bergawa telah memerintahkan beberapa murid yang sudah terkena racun untuk pergi meninggalkan perguruan mencari selamat agar ilmu Lemah Tulis tetap bisa diajarkan. Dan Walang Wulan berada di antara mereka yang lolos."

"Bagaimana keadaannya, ilmu silatnya? Apakah dia cantik?

Kapan terakhir kamu ketemu dengannya?"

"Belum lama, sekitar dua purnama lalu. Walang Wulan itu hebat, dia muda, cantik jelita persis seperti ibunya, Ki Bergawa sangat menyayanginya."

"Apakah sudah kamu ajarkan jurus Nagapasa?" "Belum!"

"Kalau begitu kamu tak boleh ikut ke medan perang, kamu tak boleh mati, sebab kamu masih punya hutang padaku, kamu harus mengajarkan Nagapasa pada Walang Wulan."

Manjangan Puguh membelalak. Dalam hatinya ia tertawa. Dia mau menyabung nyawa di medan perang karena cintanya pada Sukesih. Dia akan membela dan melindungi wanita itu, meskipun harus berkorban nyawa.

"Tidak, kangmas. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu, aku sudah ikrar akan tarung di medan perang, tak bisa kamu mengubah pendirianku itu"

Mahisa Walungan menatap mata kawannya. Dia melihat sinar mata yang mantap. Dia menghela napas, keputusan Puguh tak bisa berubah. Mendadak dia ingat sesuatu. "Puguh, aku pernah menawarkan padamu untuk menyunting Wulan jadi isterimu, kau belum menjawab." "Sejak Wulan masih kecil dia sudah mempercayai aku adalah kakak kandungnya. Aku menganggapnya sebagai adik sendiri. Ketika aku titipkan Wulan ke Lemah Tulis, aku berbohong pada Bergawa bahwa aku adalah kakak kandungnya. Kangmas, putrimu itu cantik jelita, tetapi aku tidak mungkin memperisterinya."

"Dimas Puguh, siapa saja yang mengetahui rahasia bahwa Wulan adalah putriku?"

"Hanya dua orang, guruku dan Nyi Pancasona. Tidak ada lain orang lagi"

Tengah malam di kebun bagian belakang keraton, Manjangan Puguh sedang berlatih, ia duduk semedi di atas pohon. Ia berbaring di dahan kecil, tubuhnya berayun kian kemari dalam kerimbunan daun. Mendadak seorang bertopeng melesat ke atas pohon, menyerang Puguh. Keduanya tarung keras. Manjangan Puguh membentak, "Siapa kamu, berani menyatroni keraton!"

Dalam beberapa jurus Manjangan Puguh bisa membaca siapa lawannya itu. Jurus Garudamukba cuma bisa dimainkan oleh murid Lemah Tulis. Dan melihat potongan tubuhnya yang langsing, dia mengenali Sukesih. "Kesih berhenti, mau apa kamu?"

Tiba-tiba Sukesih limbung, tubuhnya doyong ke samping.

Manjangan Puguh cepat meraih pinggangnya. Sukesih membuka topengnya, ia mengibas rambutnya yang tadinya diikat. Puguh hendak melepas pelukannya, tetapi Sukesih justru memeluknya. Lelaki itu tak bisa menguasai diri, ia memeluk, menciumi leher dan mulut wanita yang dia cintai itu.

Terengah-engah, Sukesih mendesah. "Lemah Tulis porak poranda, semua hancur, banyak yang mati, guruku mati, malam ini aku sangat sedih, Gajah Kuning tak bisa menghiburku, ia juga sedang berduka. Puguh, hibur aku, cintai aku, Mas" Suara Sukesih sendu, ada isak di dalamnya. Puguh merasa iba, tetapi suara memelas dan tubuh montok itu telah merangsang nafsu birahinya. "Aku mencintaimu, Kesih, kamu wanita satu-satunya yang kucintai, tak ada wanita lain." Dia melihat sekeliling kemudian membopong perempuan itu ke goa di hutan.

Sukesih, pada usia limabelas, berkenalan dengan Manjangan Puguh. Pertama kali dia mengenal lelaki dan kehilangan perawan. Percintaan yang penuh nafsu birahi Mereka bercinta dari satu tempat ke tempat lain. Mereka kasmaran satu sama lain. Dua tahun bercinta, Puguh lupa amanat gurunya, Sagotra. Suatu waktu sang guru mendampratnya, karena tidak serius berlatih. Sagotra membawa muridnya kembali ke gunung Merapi Puguh pergi tanpa sempat memberitahu kekasihnya. Dia seperti lenyap ditelan bumi.

Sepeninggal Manjangan Puguh, Sukesih patah hati. Kakak seperguruannya, Gajah Kuning yang sudah lama mencintainya, merayunya. Satu tahun tanpa kabar berita dari Manjangan Puguh, dia yakin kekasihnya itu mati Dia tak punya pilihan lain, gurunya mendesak agar menerima lamaran Gajah Kuning. Dia berusaha mencintai Gajah Kuning, tetapi bayangan Puguh tetap melekat di hatinya.

Sepuluh tahun berguru di Merapi, Manjangan Puguh turun gunung mencari kekasihnya namun Sukesih sudah menjadi isteri Gajah Kuning dan telah melahirkan Wisang Geni. Tapi Puguh tak bisa melupakan kekasihnya. Begitu juga Sukesih. Setelah mengetahui latar belakang menghilangnya Puguh sepuluh tahun lalu, cinta Sukesih bersemi lagi Dia tak bisa melupakan kenangan manis masa lalu. Terlebih-lebih Puguh punya banyak kelebihan dibanding suaminya. Maka terjadilah perselingkuhan itu. Puguh sangat kasmaran pada kekasihnya. Sukesih masih mencintai Puguh dan selalu merindukan belaian dan cintanya yang panas. Kepada dirinya, Sukesih sering berkata pada dirinya, "Drupadi mencintai lima suaminya, Pandawa Lima, dan tak pernah bisa menjawab siapa yang paling dia cintai, apakah Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula atau Sadewa? Tetapi aku hanya mencintai dua laki-laki."

Goa itu gelap, keduanya berdiri saling pandang. Sukesih mengangkat dua tangannya merapikan tatanan rambutnya. Gerakan itu memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang montok dan indah. Tangan lelaki itu meraba pinggangnya yang ramping, menarik wanita itu merapat. Laki-laki itu merunduk dan mencium bibirnya.

Bulan purnama keluar dari balik awan.Malam semakin larut, dua kekasih itu masih bergumul penuh nafsu. Saat mentari mulai ngiinip dari ufuk Timur, dua anak manusia itu masih berenang di lautan birahi cinta terlarang yang indah dan mempesona.

" Kangmas Puguh, mengapa kamu tidak mencari perempuan yang bisa mendampingimu sepanjang hari, dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi. Aku tidak bisa mendampingimu seperti itu. Aku harus mengikuti, Gajah Kuning. Dia suamiku yang resmi."

"Tidak Kesih, aku tidak bisa melupakanmu. Hanya ajal saja yang bisa membuat aku lupa padamu"

"Puguh tadi malam kamu sudah berjanji padaku, apa pun yang kuminta akan kamu kabulkan, seandainya aku meminta kamu mati, kamu bersedia?"

"Aku rela mati untukmu, asalkan mati dalam pelukanmu, mati dengan mulutmu menempel di mulutku, mati pada saat kamu mencintaiku."

"Kalau aku minta kamu tidak boleh mati, kamu bersedia juga kan?"

"Tentu saja! Selama hidupku aku akan selalu mencintaimu" "Mas, jika suamiku gugur dalam perang nanti, aku ikut mati bersamanya, itulah puncak darma dan pengabdian seorang isteri. Jika kami berdua mati dalam perang, kamu harus pergi meninggalkan medan perang, kembali ke keraton dan menolong Geni. Jadi kamu tak boleh mati Kamu harus membesarkan dan mendidik Geni, jangan biarkan dia terbunuh atau menjadi tawanan pasukan Arok. Janji, berjanjilah padaku, kekasihku. Sekarang ini aku akan lucnernanimu sampai siang hari, aku akan memberimu kepuasan sehingga kamu tak akan pernah melupakan saat- saat ini."

"Kesih, aku sungguh tak berdaya dalam perangkap pesonamu, aku mencintai, kasmaran padamu, mencium kakimu pun aku rela. Aku ingin mati bersamamu, tapi aku tahu itu tak mungkin, Gajah Kuning ada di sampingmu Aku janji akan menolong Geni, tak akan kubiarkan selembar rambutnya diusik orang. Kesih, aku ingin memelukmu seharian penuh bahkan kalau bisa sepanjang hidupku, betapa aku mencintamu"

"Aku juga mencintaimu, Puguh. Kamu jantan, kamu memberiku kepuasan yang tak bisa diberikan Gajah Kuning. Aku merasa berdosa pada suamiku, tapi aku tak berdaya karena aku tak bisa melupakanmu Puguh, ingat janjimu, kamu tak boleh mati di medan perang, kamu harus menyelamatkan Geni, didik dan besarkan anakku itu. Aku ingin jika nanti dilahirkan kembali, aku menjadi isterimu dan melahirkan banyak anak untukmu sesuatu yang tak bisa kuberikan padamu sekarang ini."

Malam itu, Mahisa Walungan meneruskan perintah kakaknya, baginda raja Kertajaya. Seluruh pasukan siap untuk berangkat esok pagi, menuju desa Ganter. Mereka akan mencegat pasukan Tumapel di hutan dekat Ganter. Mereka akan menyusun jebakan dan siasat yang akan melumpuhkan dan menghancurkan pasukan Tumapel. Di dalam kamar, Gajah Kuning menggumuli tubuh isterinya. Dia tergila-gila akan kecantikan wajah dan tubuh isterinya. Dia sudah tahu, istrinya selingkuh dan memadu cinta terlarang dengan Manjangan Puguh. Tapi dia tak sanggup mencegah.

Dia takut, isterinya akan memilih. Dia yakin isterinya pasti akan memilih Puguh. Dia tak sanggup berpisah dari Sukesih.

Sukesih mengelus kepala suaminya. Dia sering merasa iba pada suaminya. Laki-laki itu sangat kasmaran padanya. Dia tahu, suaminya itu lebih tergila-gila pada tubuhnya ketimbang mencintainya. Laki-laki itu menyukai bagian tubuhnya, mengelus dan menjilati buah dada, ketiak, paha dan betis bahkan sering menciumi telapak dan tumit kakinya.

Sulit dipercaya bahwa Gajah Kuning yang terkenal sebagai pendekar berilmu tinggi dan jago tarung yang amat tega membunuh lawan serta ditakuti lawan dan disegani kawan, ternyata tidak berdaya menghadapi pesona tubuh dan kecantikan liar seorang perempuan bernama Sukesih.

"Kesih aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku," suara Gajah Kuning memelas sambil dia menciumi ketiak isterinya. Laki-laki itu sudah tak berdaya lagi. Tiga kali dia mencapai orgasme. Sedangkan Sukesih tak sekalipun, namun seperti biasa, perempuan cantik ini berpura-pura merasakan kenikmatan orgasme.

Perempuan itu mengumpulkan segenap kekuatan batinnya.

Suaranya agak parau. "Mas, besok kita tarung di medan perang, mungkin kita akan mati, itu sebab aku harus berterus terang padamu tentang aku dan Puguh."

"Kesih, aku sudah tahu semuanya, kalian berdua saling menyinta dan kalian sering bercinta," sambil mengelus payudara dan mencium leher isterinya, Gajah Kuning melanjutkan. "Aku tahu semuanya. Tidak perlu kamu ceritakan padaku." "Mas, kamu sudah tahu aku selingkuh dan bercinta dengan Puguh tetapi kamu diam saja, mengapa?"

"Sebab aku yakin kamu akan memilih Puguh jika aku mendesakmu, dan itu aku tak mau, aku tak mau berpisah denganmu Kesih, jangan tinggalkan aku!"

Mendadak rasa iba dan kasihan mendorong dirinya untuk memeluk dan menciumi wajah suaminya. "Tidak mas, aku tak akan meninggalkanmu Besok, kita berdua akan berdampingan melawan musuh. Mati hidup kita bersama-sama. Aku tak akan berpisah darimu, walau sejengkal pun."

Perang Ganter melibatkan ribuan serdadu di kedua pihak, Kediri dan Tumapel. Adu strategi dan siasat. Pihak Kediri mempersiapkan jebakan yang jika terlaksana akan menghancurkan pasukan Tumapel. Sayang ada pengkhianat yang membocorkan rahasia ini. Jebakan Kediri itu akhirnya menjadi kuburan bagi pasukan Kediri.

Semula diperkirakan jumlah pasukan Kediri lebih banyak dan menggentarkan lawan. Kenyataan sebaliknya jumlah pasukan Tumapel lebih banyak karena pada saat-saat terakhir sebagian pasukan keraton membelot dan bergabung dengan Tumapel. Tak heran dalam perang bubat itu, satu per satu prajurit dan hulubalang Kediri gugur bersimbah darah. Tapi mereka pantang menyerah terutama orang-orang Lemah Tulis. Para pendekar Lemah Tulis itu merasa kematian sudah di ujung rambut, namun tak seorang pun yang melarikan diri. Lebih baik mati ketimbang lari dari medan perang.

"Kami boleh mati tapi tidak boleh terhina. Jika harus mati, kami akan menyeret banyak korban dari pihak lawan."

Di tengah arena perang Mahisa Walungan dan para pendekar kepercayaan keraton, bertarung mendampingi baginda raja Dandang Gendhis. Seratus lebih prajurit dan hulubalang Tumapel mengepung raja Kediri itu. Di antara kelompok pengepung itu, beberapa pendekar berilmu tinggi seperti Bango Samparan, Mpu Palot, Sempani, Jayawikata, dan Bajul Ijo telah menutup ruang bagi Dandang Gendhis untuk lolos.

Tidak jauh dari tempat itu, Gajah Kuning berdua isterinya bahu membahu bersama Kebo Jawa adu jiwa menghadapi Kalayawana, Penguasa Kegelapan dari Gondomayu, yang dibantu Sepasang Iblis Sapikerep dan belasan pendekar tangguh lainnya.

Di satu sudut medan Manjangan Puguh dan Gubar Baleman terdesak oleh Lahagawe, pendekar Himalaya yang kosen itu. Jurus-jurus silat Lahagawe sangat aneh. Ditambah lagi dengan tenaga dalamnya yang begitu besar, tak heran jika Manjangan Puguh dan Gubar Baleman terdesak hebat. Padahal dua pendekar itu tergolong pendekar kelas utama tanah Jawa.

Manjangan Puguh, murid tunggal Ki Sagotra, dari gunung Merapi. Ia memiliki ilmu ringan tubuh Waringin Sungsang yang kesohor kehebatannya serta jurus Bang Bang Alum Alum.

Sedangkan Gubar Baleman, murid pertama Bergawa yang sudah mewarisi seluruh ilmu gurunya, ketua Lemah Tulis, mumpuni dalam jurus-jurus Garudamukha yang kondang.

Namun dua jago kerajaan ini terdesak hebat bahkan nyawa mereka sudah di ujung rambut. Saat itu Baleman berteriak keras mengerahkan segenap tenaga lewat dua jurus Garudamukha yang saling susul Gongkrodha (Kemarahan Luar Biasa) dan Shubdrawa (Hancur Luluh). Sehebat-hebatnya Lahagawe gebrakannya tertahan juga. Dua jurus Garudamukha itu diumbar pada saat yang tepat. Saat di mana nyawa terancam. Keampuhannya menjadi berlipat ganda.

Sementara Manjangan Puguh memanfaatkan kesempatan dengan menggelar dua jurus dahsyat dari Bang Bang Alum Alum (Semua Merah, Semua Hidup atau Semua Mari) yaitu Bhaskarogra (Panas Matahari yang Memuncak) disusul Nanawidha (Beraneka Warna). "Mas Gubar, ayo kita adu jiwa dengan dedemit ini," teriak Puguh. Gubar Baleman menggeram, Manjangan Puguh tak kalah bengisnya. Tetapi Lahagawe bukan pendekar biasa, dia sudah terbiasa dalam pertarungan tingkat tinggi Karenanya dia bukannya gentar malah merangsek maju. Dua tangannya berputar dalam lingkaran yang berbeda. Tangan kanan membuat lingkaran besar ke kanan, tangan kiri membuat lingkaran kecil ke kiri.

Tenaga dua pendekar Jawa itu tersedot diseret arus tenaga lingkaran. Keadaan kritis. Sebab begitu Lahagawe menyibak dua tangannya disusul tenaga mendorong maka tulang dada dua pendekar Jawa itu terancam berantakan. Benar saja!

Tampak jari-jari tangan Lahagawe lurus merapat, dua tangannya mengubah lingkaran menjadi gerakan seperti menyibak air. Tenaga dua pendekar Jawa terpental ke kiri dan kanan. Dua siku Lahagawe ditekuk. Keadaan kritis. Maut mengancam dua pendekar Jawa.

Sekonyong-konyong datang menyeruak bayangan serba putih, seorang pendekar usia enampuluh, rambut, jenggot, kumis dan alis semua serba putih. Kakinya tidak terlihat karena tertutup jubah pulihnya. Jubah itu menjuntai sampai ke tanah berkibar ditiup angin.

Persis dewa yang turun dan kahyangan ke bumi. Ia bagai terbang, ringan bagai kapas, sungguh ilmu ringan tubuh yang sulit diuari bandingannya. Masih dalam keadaan melayang, pendekar itu melonjor dua tangan dalam gerak berputar. Siku dibengkokkan. Jari tangan seperti meraup, kemudian tapak tangannya dihadapkan ke arah dua pendekar Jawa. "Jangan gunakan tenaga, kosongkan tubuhmu !" Suara pendekar jubah putih itu merdu dan akrab di telinga Puguh dan Baleman.

Pada saat Lahagawe meluruskan dua tangannya, memukul dahsyat ke dada dua pendekar Jawa, pada saat yang sama angin pukulan si jubah putih menerpa Baleman dan Puguh.

Dua pendekar Jawa ini tanpa rasa curiga sedikit pun mengikuti bisikan si jubah putih. Keduanya mengosongkan tubuh dan tidak menggunakan tenaga Pukulan pendekar itu mengangkat dua pendekar Jawa seperti terbang melayang beberapa depa dari sasaran pukulan Lahagawe. Pukulan Lahagawe menerpa tanah kosong. Debu berterbangan Ada semacam bebauan tanah terbakar.

Lahagawe murka melihat pukulannya mengena tempat kosong. "Siapa orang yang berani mati mencampuri urusanku

?"

Pendekar jubah putih tertawa. "Karena menyangkut gengsi dan kehormatan tanah Jawa, aku terpaksa ikut campur. Ilmu seberang tak boleh tepuk dada di tanah Jawa. Orang asing tak boleh temberang di negeri ini."

Dua pendekar itu kemudian terlibat pertarungan dahsyat Si jubah putih bertarung seperti orang tidak bertenaga Gerakannya aneh. Semua anggota tubuhnya bergerak namun aneh kakinya tidak bergerak. Memang kakinya tertutup jubah, namun bisa dilihat bahwa kakinya tidak memijak bumi Ia melayang, ujung jubahnya pun tak menyentuh tanah.

Mengetahui lawan berilmu silat tinggi, Lahagawe memukul dengan jurus mematikan. Semua pukulan tertuju ke titik kematian. Si jubah putih mengelak dan balas menyerang.

Limapuluh jurus berlalu. Lahagawe mulai terdesak, ia memutuskan menyerang dengan jurus paling mematikan Teri sanson Mein Jevati Mein Sirf teri kusbu hai (Dalam Hidup dan Nafasku Hanya Terdapat Harum Dirimu), jurus adu jiwa Lahagawe selama ini belum menemukan tandingan yang membuatnya kelewat sombong. Tapi kehebatan si jubah putih telah mengusik harga dirinya, itu sebab ia melancarkan jurus adu jiwa

Pendekar jubah putih tersenyum, seperti main-main, ia menepuk dua tangannya. Benturan tenaga terdengar. "Desss.". Tepukan itu telah membuat pukulan Lahagawe melenceng jatuh di ruang kosong. Si jubah pulih menjulurkan satu tangan ke depan bagai hendak mencengkram. Lahagawe terdesak, surut dua langkah sambil melontarkan pukulan Banjao kisi ke kisi ko aapna banalo (Jadilah Milik Seseorang dan Milikilah Seseorang).

Tapi si jubah putih tak berhenti. Tangan kiri seperti menggaruk belakang kepala. Tangan kanan ditekuk dan diputar mengarah bumi. Pinggul dihentak ke kiri dan kanan. Tangan kirinya mendorong menangkis pukulan dua tangan Lahagawe. Tangan kanannya menjulur dan menyusup ke depan menggaruk dada Lahagawe.

Lahagawe terkesiap. Ia terpental surut dua langkah.

Wajahnya pucat. Ia tak berdaya ketika si jubah putih bergerak maju. Lahagawe memasang kuda-kuda, berdiri dengan wajah pucat tetapi mata bersinar penuh amarah. Ia menggeram dan menghimpun segenap tenaga, dua tangannya membuat lingkaran besar dan kecil. Ia mengulang jurus andalan Banjao kisi ke kisi ko aapna banalo (Jadilah Milik Seseorang dan Milikilah Seseorang) dalam sikap sama-sama mati.

Mendadak pendekar jubah putih seperti menangis, lengan kiri disapukan ke matanya, tangan kanan membuat lingkaran kecil mengarah ke depan, tangan kiri menjulur ke depan.

Berbarengan tangan kanannya digentak dengan tarikan dahsyat ke dadanya. Kuda-kuda Lahagawe gempur dan tubuhnya bergetar, terombang ambing didorong dan ditarik tenaga si jubah putih. Sesaat kemudian si jubah putih berkata lirih. "Ah tidak ada gunanya membunuh kamu, pulanglah ke negerimu, jangan pernah kembali lagi ke tanah Jawa!" Dua tangannya seperti mengusir ayam, tetapi angin pukulannya membuat Lahagawe terpental ke belakang.

Pendekar Himalaya itu muntah darah. Matanya melotot, dia sungguh tak percaya bahwa dia bisa kalah dan terluka sampai muntah darah. Dia berkata lirih dalam bahasa Jawa yang fasih, "Terimakasih, tuan sudah mengampuni jiwaku. Aku akan pulang ke Himalaya, tak akan datang lagi ke tanah Jawa." Pendekar jubah putih tanpa menoleh meneruskan geraknya, melayang pergi begitu saja. Geraknya ringan seperti terbang. Hebatnya lagi, seluruh gerakan sejak awal sampai akhir, semua dalam satu gerak sinambungan yang harmonis dan mulus. Seperu tak ada paksaan dalam geraknya. Bagai terbang ia menuju ke bagian di mana Raja Kertajaya sedang dalam kepungan.

Sepak terjangnya membuat para pengepung pontang- panting, ia membelah kumpulan manusia semudah menyibak air dalam kolam. Ia menggandeng lengan Baginda Raja kemudian berdua menerobos keluar, meloloskan diri.

Semudah itu, bagaikan tak menemukan perlawanan. Ia masuk kepungan, menggandeng lengan Baginda Raja, menerobos keluar dengan mendendangkan kidung Penakluk Raja, kidung yang kemudian menjadi populer dan dibincangkan orang di dunia kependekaran.

Ilmu dari seberang, Tak boleh tepuk dada, Di Tanah Jawa ini, Dari Gunung Tejar, Jurus Penakluk Raja, Ilmu dari segala ilmu, Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur, Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan, Tak ada lawan,

Tak ada tandingan, Ilmu dari segala ilmu Gubar Baleman dan Manjangan Puguh terpesona oleh sepak terjang pendekar jubah putih itu.

Siapa dia? Pada saat bersamaan, telinga Gubar Baleman mendengar kesiuran angin. Dia merunduk. Tombak itu lewat di atas kepalanya, dia melihat Tambapreto dan beberapa pendekar lain melur ukke arahnya. Manjangan Puguh tak tinggal diam, dia bergerak cepat bagai siluman. Itulah Waringin Sungsang tingkat paling tinggi. Tidak cuma bergerak dia juga menampar ke kanan kiri. Terdengar teriak kesakitan, tiga pendekar lawan memegang kepala kemudian roboh, mati, tanpa suara. Tapi satu mati, datang lima, mati dua muncul duapuluh. Sepertinya pasukan Tumapel tak pernah habis.

Di pihak Kediri, hanya beberapa gelintir yang masih bertahan. Gajah Kuning dan Sukesih sudah bersimbah darah, keduanya masih melawan dan membunuh beberapa lawan. Kalayawana tertawa sadis seperti ringkik kuda, membuat sepasang suami isteri makin terdesak hebat. Manjangan Puguh melayang hendak menolong. Tapi Sukesih justru berteriak keras padanya, "Puguh pergi cepat selamatkan anakku. Cepat pergi, ingat janjimu"

Pada saat itu juga sebatang tombak nancap di dada Sukesih. Mata Puguh membelalak. Perempuan itu berteriak lagi. "Pergi Mas Puguh, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah."

Manjangan Puguh melesat pergi, amarahnya meluap. Dia bagaikan terbang, menghajar siapa saja lawan yang menghadangnya. Dia melewati banyak mayat musuh, tapi dia juga menyaksikan teman-temannya mati satu per satu Mahisa Walungan, Gubar Baleman, Kebo Jawa, Gajah Kuning dan perempuan yang dicintainya. Dia meloloskan diri menuju keraton, memenuhi janji dan ikrarnya untuk menyelamatkan putra kecintaan Sukesih. Puguh berlari sambil menangis.

Tangis seorang pendekar tangguh.

---ooo0dw0ooo--- Tanah perdikan Lemah Tulis yang tadinya selalu ramai dengan latihan ilmu silat serta kegiatan bercocok tanam dan aktifitas lain, hari itu tampak porak poranda. Di sana sini mayat bergelimpangan. Tak ada sisa makhluk hidup. Kerbau, sapi, ayam, babi dan semua binatang ternak, mati Yang ada hanya burung pemakan bangkai, terbang melayang dan hinggap di sana-sini. Bau busuk mayat manusia dan bangkai binatang tercium di mana-mana.

Padeksa, adik seperguruan Bergawa menerobos masuk pekarangan. Dia mendengar berita hancurnya Lemah Tulis serta kekalahan pasukan Kediri dalam perang Ganter. Dia bergegas menuju Lemah Tulis. Dia tiba di perdikan Lemah Tulis tiga hari setelah serangan yang membumihanguskan perguruannya. Dia melihat berkeliling. Amarahnya meluap kesedihannya memuncak.

”Hancur, semua hancur, tidak ada sisa,” desisnya.

Dia berlari ke sana kemari, berteriak memanggil orang. Suasana sepi, lengang, hanya terdengar gema suaranya memantul. Tak ada orang yang menjawab panggilannya. Ia memeriksa mayat-mayat. Banyak yang dikenalnya, banyak juga yang tak dikenalnya, pasti para penyerang. Semua murid mati dalam pertarungan, bekas darah kering tercecer di mana- mana. Dia tak merasakan sengatan terik mentari. Ia lari menuju kamar Bergawa. Tertutup rapat. Tak mungkin bisa dibongkar atau dibuka dari luar. Selamanya hanya satu orang saja yang bisa membuka pintu rahasia itu dari luar, yakni ketua Lemah Tulis, tak ada orang lain. Tiba-tiba matanya melihat mayat tertelungkup agak jauh dari pintu kamar. Ia menghampiri dengan jantung berdegup kencang. Ia membalik mayatnya. Padeksa berteriak, ”Kangmas, kangmas Branjangan

!”

Dia juga menemukan mayat Ranggaseta. Dua mayat itu sudah dingin, kaku dan berbau busuk. Padeksa memeriksa di sekitarnya. Ia tak menemukan kakaknya, Bergawa. ”Kangmas pasti ada di sini, aku tahu dia tidak ikut berperang di Ganter. Ia masih di sini!” Tiba-tiba terlintas di benaknya, mungkin Bergawa masih hidup dan berada di dalam kamar rahasia. Dia mengetuk pintu dengan pengerahan tenaga dalam, mengetuk dengan isyarat rahasia, ”Kangmas, kangmas, ini aku Padeksa.”

Sesaat kemudian terdengar balasan dari dalam, ketukan yang tidak keras namun cukup jelas. Padeksa gembira, pasti orang yang di dalam itu Bergawa, tidak mungkin lain orang. Dia mengetuk lebih keras. ”Kangmas, buka pintunya.”

Pintu kamar terbuka perlahan. Padeksa mendorong. Dia menerobos masuk, mendapatkan Bergawa bersandar di dinding dekat pintu.

Padeksa memeluk Bergawa, ”Kangmas, oh, untung kamu masih hidup.” Dia merasakan tubuh Bergawa dingin. Dari luar tidak terlihat adanya luka.

”Kangmas, kau luka dalam? Kangmas Branjangan mati, perguruan hancur, banyak murid mati, perbuatan siapa kangmas, apa benar pasukan Arok?”

Bergawa luka parah, tenaga intinya musnah kena pukulan Lahagawe. Dia tak mungkin pulih bahkan ajalnya sudah merapat. Tetapi ia masih sempat menceritakan kehancuran Lemah Tulis. Ada pengkhianat dalam perguruan, semua murid dari yang rendah sampai murid utama bahkan Bergawa dan Branjangan pun terkecoh. Air minum dalam gudang diracun dengan racun pelemas tulang. Itu sebab, para penyerbu tak menemukan perlawanan berarti. Bergawa menyebut nama para penyerbu antara lain pendekar kosen dari I Iimalaya Lahagawe, Tambapreto, Sepasang Sapikerep, Sempani, Jayawikata, Palot, Kalayawana, Samparan.

”Seharusnya aku ikut tarung sampai mati, itulah kehormatan bagi seorang pendekar, tetapi Branjangan memaksa aku sembunyi di kamar rahasia ini dan sebisa mungkin bertahan hidup untuk menyampaikan tragedi ini kepada kamu dan Gajah Watu. Dia yakin kalian akan datang meskipun terlambat. Ternyata harapannya terpenuhi, kau datang tepat saat ajalku sudah dekat.”

Bergawa berpesan bahwa Padeksa harus menjabat ketua Lemah Tulis sampai metemukan seorang murid yang tepat dan layak sebagai ketua penerus. Dua tugas lain, menemukan ilmu pusaka Garudamukha Prasidha yang konon rahasianya dipegang keturunan Kanjeng Paduka Nyi Kili suci

”Kamu harus temukan murid pengkhianat iiu, selanjutnya masa depan perguruan ada di tanganmu”

Sebelum mati, Bergawa sempat memberitahu kunci kamar rahasia.

Padeksa melangkah lunglai keluar. Dia agak kaget melihat beberapa orang desa menghadang jalannya. Lalu seorang di antaranya membuka caping sambil memberi hormat. ”Paman Padeksa, terimalah hormat kami.”

Padeksa mengenalnya, dia Prastawana, murid langsung kakaknya Branjangan. Semuanya enam orang. Prastawana dan Dipta, keduanya murid Branjangan Dua pemuda murid Gajah Kuning yakni Gajah Nila dan Gajah Lengar. Dua lainnya, Jayasatru, murid Ranggaseta dan Dyah Mekar, gadis kecil putri tunggal Ranggaseta.

Prastawana menceritakan pada malam menjelang serangan mematikan itu, beberapa murid yang keracunan disuruh pergi oleh guru ketua. Sekarang ini mereka hidup berpencar dan sementara menyamar sebagai orang desa. Mereka memberanikan diri kembali ke perdikan untuk menyelidiki keadaan. ”Kami datang berniat mengubur teman-teman,” katanya sendu.

Mendadak saja, Padeksa berbisik, ”Cepat sembunyi, ada orang datang!” Terdengar suara derap kuda masuk pekarangan. Seorang laki-laki melompat turun. Manjangan Puguh dan bocah berusia delapan tahun, Wisang Geni. Padeksa mengenal Puguh, karenanya lantas keluar menemui Pertemuan cukup mengharukan, Puguh menceritakan apa yang dilihatnya di Ganter. Dan mengapa dia bisa lolos dan menyelamatkan putra Gajah Kuning.

”Aku sudah berjanji pada kedua orangtua Geni, bahwa aku harus kembali ke keraton menyelamatkan Geni sebab keraton bakal jatuh ke tangan musuh. Gajah Kuning dan Sukesih tak mau anaknya menjadi tawanan atau dibunuh musuh. Demi persaudaraan aku rela menjadi pengecut hina yang lari dari medan perang. Itu pilihan yang sulit.”

Terdengar suara Padeksa menghibur. ”Jangan menyesali apa yang sudah terjadi.”

---ooo0dw0ooo---