Tunggul Bintoro Jilid 20

 
JILID XX

MAKA ketika akhirnya ia turun juga. Ia turun didalam kalangan pertempuran Mintaraga dan patih Udara.

Mintaraga dapat melihat kelebatnya bayangan orang, ia menyangka kalau yang berkelebat itu adalah musuhnya. Maka tanpa menanti sampai orang itu sempat meletakkan kakinya diatas tanah, ia lalu mempergunakan ketika yang baik itu untuk melancarkan ilmu pukulannya.

“Celaka.” Seru patih Udara ketika melihat serangan musuhnya itu. Dengan terpaksa patih luar dari Jipang Panolan itu melompat untuk menangkis. Tangan kirinya diulurkan untuk menarik tubuh Mandaraka. Dengan demikian maka tertolonglah nyawa tokoh ketiga dari jago-jago Jipang Panolan itu.

Akan tetapi akibat dari bentrokan kedua pukulan itu amat hebat sekali. Karena patih Udara menangkis sambil melompat, tubuhnya seperti juga berada diudara. Sewaktu melompat, otomatis kedua kakinyapun terangkat. Sedangkan dipihak Mintaraga pada waktu itu sedang kuat-kuatnya memasang kuda-kudanya. Karena itulah kedudukannya lebih kuat dan menguntungkan sekali.

Begitu bentrokan terjadi maka patih Udara lalu mengeluarkan sebuah teriakan yang tertahan. Ia terpental keras hingga punggungnya membentur tembok yang berada dibelakangnya. Ketika itu tubuhnya hanya terpisah tiga atau empat langkah saja dari tembok.

Kalau ki Rikmo Dowo menyangka tentu habis sudah riwayat dari patih luar Jipang Panolan itu, maka dugaannya ini terlalu pagi untuk dikeluarkan Ario Penangsang tak akan mau mngangkat seorang patih yang tak mempunyai kepandaian tinggi. Dan memang benar-benar dalam hal ini Ario Penangsang yang sedang mbalelo kerajaan Demak Bintoro ini tak salah untuk mengangkat Udara sebagai patih luarnya. Sebab ketika tubuhnya bentrok dengan tembok, ia masih sempat memasang kedua tangannya. Ia dapat mempergunakan kedua tangannya, karena pada waktu itu tubuh Mandaraka telah dilepaskannya. Dengan kedua belah tangannya ia menempel pada tembok dan segera mengerahkan tenaga dalamnya. Dengan  

tenaganya itu ia lalu menolak tembok tadi. Hingga dengan demikian

bukannya tubuhnya yang menjadi gepeng, akan tetapi ia malah dapat memental balik kearah lawannya yang tadi membuat dirinya terpental.

“Lihat tanganku.” Serunya sambil menyerang-nyerang dengan sekuat tenaganya.

Hati Mintaraga tergetar ketika melihat serang itu. Tergetar bukan karena kaget, akan tetapi karena girang. Perjaka ini tahu kalau tanpa mempergunakan ilmu simpanannya, ilmu pukulan Braholo Meta maka sukarlah ia untuk merobohkan patih Udara yang sakti itu. Akan tetapi untuk melancarkan pukulan itu, ia harus mempunyai ketika yang baik. Justru ketika inilah yang sulit sekali dicarinya. Hal itu disebabkan karena kedua jari kelingking Patih Udara telah ditabas kutung oleh pemiliknya sendiri. Sekian lamanya ia mencari jalan dan menanti, namun tetap tak mendapatkan hasil atau ketika. Akan tetapi sekarang jago besar dari Jipang Panolan ini menyerang dengan hebat sekali, tak nantilah ia harus main gertak pula. Maka inilah saat yang ditunggu-tunggunya.

Untuk menyingkir dari keras lawan keras seperti tadi, Mintaraga selalu menanti sampai serangan sudah tiba. Mendadak saja ia menjadi keget sekali, sambil menangkis ia lalu menggerakkan kedua kakinya, yang satu kedepan yang lainnya kebelakang. Dengan demikian maka ia dapat menerobos selakangan musuhnya.

Suatu hal terlihat dengan tegas sekali. Patih Udara menyerang dengan hebat, walaupun begitu tampaklah kalau kelincahannya sangat berkurang sekali. Hal ini tak dapat dilihat oleh orang lain, yang tahu hanyalah Patih Jipang Panolan itu sendiri. Itulah disebabkan karena tadi ketika ia terpental dan tubuhnya mengenai tembok. Biarpun bagaimana saktinya Patih Udara tetap menderita luka dalam. Namun biarpun demikian, serangan kali inipun tak kurang dahsyatnya. Maka patih ini kaget bukan main ketika mengetahui kalau kinipun ia menyerang tempat kosong saja. Dengan demikian maka mau tak mau tubuhnya terjerunuk maju kedepan. Didalam keadaan yang seperti ini tak dapat ia menahan dirinya.

Karena itulah tak ampun lagi kembali ia menerjang tembok yang berada didepannya. Karena patih Udara ini mempergunakan kedua tangannya, maka tembok tebal itu gempur dan berlubang dengan seketika.

Mintaraga terperanjat saking kagumnya ketika melihat kesaktian musuhnya itu. Pemuda ini jadi memikir, bagaimana akibatnya kalau tadi serangan itu mengenai dirinya.

Patih Udara tak berhenti sampai disitu saja, begitu kedua kakinya menginjak tanah, ia segera memutar tubuhnya untuk berbalik. Perputaran tubuhnya ini begitu cepat hingga ia sempat pula menghadapi musuhnya itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi ia kembali mempergunakan tangannya untuk menghantam Mintaraga. Kali ini ki Patih Udara yang terkenal sakti  

mandraguna itu telah dikuasai oleh hawa nafsu amarahnya. Ia melompat

sambil berseru : “Huaaah!”

“Hebat...!” Keluh Mintaraga. “Tak ada jalan lain. ”

Tapi kali ini justru ketika yang sangat baik itu, ketika yang sangat ia nanti-nantikan. Dengan memasang kuda-kudanya ia lalu menyambut serangan lawannya yang telah nekat itu.

Peraduan keempat buah tangan orang-orang sakti ini menimbulkan suara yang sangat keras, bahkan menggelegar bagaikan guntur yang hendak menyobek langit biru. Disatu pihak menyerang bagaikan terbang dan orang yang diserang menjaga diri bagaikan banteng. Namun kesudahannya inipun sangat mengejutkan Mintaraga sendiri.

Begitu dua pasang tangan beradu, begitu juga tubuh Patih Udara mental balik. Malahan luar biasa sekali, sebab tubuh yang mental itu dapat menerobos lubang tembok yang tadi dibuatnya sendiri. Patih Udara roboh diluar tembok dalam keadaan terbanting.

Namun keterkejutan Mintaraga itu tak berjalan lama, segera ia sadar dan melompat keluar melalui lubang tembok itu pula. Menyusul lawannya. Sebab pemuda ini mempunyai pikiran :

‘Jika orang ini tak dihabiskan sama sekali maka besuk, dikelak kemudian hari akan bakal menjadi akibat bencana lagi bagi orang-orang Demak Bintoro atau Pajang yang berdaulat dimasa kini.’

Karena pikirannya inilah maka Mintaraga lalu mengejar lawannya dan akan memberikan hajaran yang terakhir.

Akan tetapi ketika ia sampai diluar tembok maka ia menyaksikan hal yang membuatnya menjadi heran. Diatas tanah ia tak melihat tubuh patih Udara yang tengah rebah, hanya tubuh yang telah rebah itu terlihat tengah terapung-apung ditengah udara Tergantung diantara masing-masing sebuah kaki burung-burung Garudanya. Rupa-rupanya burung-burung itupun tahu kalau majikannya sedang mengalami cedera dan berusaha membawanya lari sejauh mungkin dari tangan Mintaraga yang sedang mengintai-intai nyawa majikannya.

Melihat hal ini maka Mintaraga hanya dapat mengeluh dan menghela napas panjang :

‘Hebat sekali burung patih Udara ini.’ Pikirnya. ‘Mereka dapat menolong majikan mereka.... ah,benar-benar patih Udara ini akan menjadi biang bencana dikelak kemudian harinya ’

Selagi pemuda ini seperti melamun, mendadak saja mendengar suara berisik dipintu sebelah depan. Ternyata Bagaspati yang menyaksikan kekalahan patih Udara ini hendak mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan dirinya. Begitupun dengan kawan-kawannya. Jalan satu- satunya yang dapat diambil adalah menerjang pintu depan. Namun  

sebaliknya, Kembang Arum dan yang lain-lain merasa tak puas hingga

merekapun lalu mengambil tindakan pula. Mengejar mereka.

“Setan alas...” Seru Mintaraga yang terus melompat kearah pintu. Pemuda inipun segera menerjang kearah sisa-sisa pasukan Jipang Panolan yang tadi datang dipimpin langsung oleh maha patihnya. Sebagai kesudahannya segera ia mendengar beradunya senjata-senjata tajam. Dengan sekali terjang saja pemuda sakti ini dapat membabat kutung empat atau lima buah senjata lawannya.

Candra Wulan yang sejak tadi telah marah itu sudah menyerang dengan hebat sekali kearah jago Jipang Panolan yang kesebelas. Dengan sekali serang saja ia telah dapat melukai musuhnya itu. Ketika ia menyerang untuk yang kedua kalinya lawannya itu segera mengeluarkan jeritan panjang. Jeritan misterius bagaikan lolongan srigala dan.... melayanglah nyawa orang kesebelas dari dua puluh satu jago-jago Jipang Panolan itu.

Mintaragapun menyerang terus dengan hebat sekali. Ia menjadi panas pula hatinya, sebab ia tahu kalau jago-jago Jipang Panolan ini telah banyak membunuh orang-orang yang tak berdosa, dan terlebih-lebih telah sering membuat keonaran dan kekacauan dimanapun mereka berada.

Dua saudara kembar dari Jipang ini, yaitu Watu Gunung dan Watu Padas yang mempergunakan tombak pendek ini telah nekat dan akan membuka jalan darah. Seperti yang lain-lain, merekapun ingin meloloskan diri. Dengan kaburnya patih Udara itu maka habislah harapan mereka untuk menang. Akan tetapi mereka itu dirintangi oleh Mintaraga. Dengan terpaksa mereka itu melawan dengan mati-matian. Namun kali ini Mintaraga tak mau memberi hati lagi, ia lalu menyerang dengan hebat sekali.

Baru dari beberapa jurus saja, tombak senjata kedua orang kembar itu telah dipaksa untuk lepas dari tangan-tangan mereka. Sedangkan orangnya telah dipaksa pula untuk mencium tanah.

“Bagus...!” Seru Wirapati yang berada didekat mereka. Lalu dengan goloknya yang berkilau-kilauan itu, kakak dari Kembang Arum berhasil menyita kedua nyawa orang kembar tersebut.

Sesaat kemudian dari kejadian ini, saking hebatnya pertempuran atau lebih tepatnya pembasmian ini. Berhentilah orang-orang yang telah mengadu nyawanya. Jago-jago Jipang Panolan telah banyak yang terbasmi, kecuali lima orang yang berhasil meloloskan dirinya. Diantara yang dapat meloloskan dirinya adalah Bagaspati. Julung Pujut dan Mandaraka. Sedangkan para korban kebanyakan adalah korban jiwa, atau paling sedikit adalah cacat tubuhnya.

Orang-orang dari alas pegunungan Tangkuban Prau itu menjadi kagum sekali kepada rombongan Mintaraga itu. Terutama kepada Mintaraga sendiri.  

Ateng    Jagalawa    segera    memerintahkan    anak    buahnya    untuk

menyingkirkan mayat-mayat itu dan menyuruh pula mengatur meja serta mengeluarkan hidangan-hidangan yang lezat. Mintaraga berlima diundang untuk makan-makan dan dipersilahkan duduk ditempat tamu kehormatan. Kemudian Langkir beramai-ramai diminta duduk dan mengambil tempat urutan mereka masing-masing. Dan ketika perjamuan itu dimulai, sambil berdiri dan wajah yang berseri-seri Ateng Jagalawa lalu membuka suaranya.

*

* *

“Telah kukatakan saudara-saudara.” Demikian katanya. “Patih Udara adalah orang yang paling tak dapat dipercaya dan bahkan kita harus menghajar mereka. Akan tetapi baru sekarang dia memperoleh bagiannya. Sekarang juga kita baru dapat membuktikan kalau ki Mintaraga adalah seorang pendekar besar yang patut kita hormati dan kagumi. Bahkan seorang diri ki Mintaraga telah dapat mengusir para hantu itu. Bukankah dengan demikian maka wilayah kita sekarang ini menjadi aman dan tentram? Kurasa sudah selayaknya kalau kini aku atas nama para penduduk di gunung Tangkuban Prau ini menyatakan rasa terima kasihnya kepada ki Mintaraga itu.”

Setelah berkata demikian maka Ateng Jagalawa lalu menganggukkan tubuhnya dalam-dalam kearah Mintaraga. Bahkan bukan hanya kepada Mintaraga seorang akan tetapi kepada mereka berlima.

‘Orang ini licik, dia tak dapat menjadi pemimpin dari orang-orang yang tinggal disekitar gunung Tangkuban Prau ini.’ Pikir Mintaraga.

Candra Wulan sebaliknya. Gadis jenaka ini lalu tertawa geli. Bahkan segera ia mementang mulutnya yang usil :

“Ateng Jagalawa, bagus kata-katamu! Tak kecewalah kau menjadi wakilnya para semua kerabat disini.”

Akan tetapi Sandung Lamur berpikir lain.

“Ateng Jagalawa, kau adalah pengkhianat diantara kawan-kawan kita semua ini.” Katanya dengan nyaring. “Ketika Patih Udara belum kalah kau mengakuinya sebagai ayah angkatmu. Sekarang setelah dia kalah maka kau menamakannya sebagai hantu. Dengan lagakmu ini maka mana tepat kalau kau ini menjadi wakil kami?”

Mendengar perkataan Sandung Lamur ini muka Ateng Jagalawa menjadi merah seluruhnya. Merah bagaikan kepiting direbus.

“Sandung Lamur, kuharapkan agar kau dapat mengendalikan sedikit perkataanmu itu. Ingatlah perkataan itu dapat lebih tajam dari pada sebuah pedang pusaka.” Seru Ateng Jagalawa dengan jengah.  

“Bukan hanya kau yang menjadi pengkhianat kawan.” Kata Sandung

Lamur dengan tersenyum. Namun senyum sinis. Tanpa mengambil pusing perkataan Ateng Jagalawa tadi, Sandung Lamur terus meneruskan perkataannya :

“Sulaiman. Diapun sekarang telah terbuka kedoknya. Bahkan setiap orang sekarang akan dapat mengenal wajahnya yang asli. Bagaimana dengan hatinya yang palsu itu...” Setelah berkata demikian ia lalu berpaling kearah orang-orang Tangkuban Prau lainnya. Setelah itu kembalilah Sandung Lamur meneruskan perkataannya, bahkan kali ini dikatakan dengan nyaring dan jelas sekali.

“Saudara-saudaraku sekalian, untuk menghadapi pengkhianat diantara kita sendiri ini. Kita telah mempunyai aturan. Bagaimanakah kalau kita memutuskan dengan peraturan kita selama ini?”

Semua orang menyetujui suara Sandung Lamur ini. Bukankah dari mulut Patih Udara sendiri mereka telah dengar yang Ateng Jagalawa dan Sulaiman itu adalah antek-antek orang Jipang Panolan. Bukankah mereka itu telah melihat dengan matanya sendiri, bagaimana sikap mereka itu didalam pertempuran besar yang barusan tadi?!

Ateng Jagalawa menjadi nekat karena desekan Sandung Lamur itu.

Karena itu ia tertawa lebar dan lama sekali.

“Sandung Lamur, lalu kau ini menghendaki apakah?” Tanyanya dengan suara keras dan menggeledek. “Sangat, mengherankan sekali kalau kau kini akan membangkitkan sebuah perang saudara!”

Setelah berkata demikian, ia lalu mengambil sebuah barang dari saku salah satu pengiringnya. Setelah itu ia lalu meletakkan diatas meja dan berkata dengan keras.

“Ki sanak sekalian, aku Ateng Jagalawa ini bukannya hanya menjadi kepala diantara orang-orang yang tinggal di Tangkuban Prau ini saja. Akupun sangat tepat menjadi seorang raja yang memerintah seluruh tanah Jawa. Seorang raja yang gung binatara. Kukira kalian semua tak buta, coba lihat apakah yang kubawa ini.”

Setelah berkata demikian ia lalu tertawa terbahak-bahak dan mukanya menunjukkan kesombongannya.

Semua mata tertuju kepada benda yang dibawa oleh Ateng Jagalawa itu dan mereka tahu kalau yang dibawa oleh Ateng ini adalah sebuah kotak. Kotak terkenal yang berisikan Tunggui Tirto Ayu yang kini sedang menjadi perebutan orang-orang diseluruh tanah Jawa.

Melihat ini merahlah muka Liman Karto.

“Ateng Jagalawa manusia busuk, darimanakah kau curi benda mustika itu?” Tanyanya dengan sengit.

Ateng Jagalawa tak menjadi marah ketika ditanya dengan suara yang kasar itu. Bahkan raksasa ini malahan tertawa dengan berkakakan.  

“Boleh mencuri?” Katanya. “Huahaaa.... Huahaaaa.... Huahaa     Biariah

aku omong terus terang kepada kalian. Ki sanak sekalian mustika ini adalah kepunyaan kerajaan Demak Bintoro.Pusaka lambang kerajaan yang turun temurun. Dan siapa yang memegang pusaka ini berarti dialah yang berhak menduduki singgasana kerajaan Bintoro. Benda ini pula yang sedang diperebutkan oleh Ario Penangsang dan Jaka Tingkir atau Hadiwijaya itu.” Katanya dengan sombong. Setelah menarik napas panjang kembalilah ia meneruskan perkataannya. “Kalian ingin tahu bagaimana aku mendapatkannya??” Kembali ia berhenti, dan memandang kearah kawan- kawannya setelah tak melihat reaksi apa-apa kembali ia meneruskan lagi :

“Aku mendapat dari tangan ki Mintaraga. Yah ki Mintaraga ini. Dia adalah putra dari ki Darmakusuma dan menjadi cucu dari Tumenggung Malangyudo. Dan keluarga dari Mintaraga inilah yang dulu memberi pesan supaya menyerahkan Tunggul Tirto Ayu ini kepada salah seorang yang bijaksana. Orang yang diberi Tunggul Tirto Ayu ini akan diangkat menjadi raja yang gung binatara. Heh Sandung Lamur, apakah kau tak mengetahui tentang Tunggul ini?”

Bukan main girangnya orang yang bernama Ateng Jagalawa ini yang menganggap kalau orang yang telah memegang Tunggul Tirto Ayu itu lalu berhak menjadi raja besar. Diapun lalu berpaling kearah Mintaraga kemudian bertanya :

“Ki Mintaraga bukankah perkataanku ini bukannya sebuah obrolan saja?!”

Mintaraga hanya menganggukkan kepalanya.

Sulaiman setelah menyaksikan keadaan menjadi semakin buruk, maka ia telah mempunyai niat untuk menyingkir dari tempat yang dianggapnya berbahaya itu dengan secara diam-diam. Akan tetapi setelah ia melihat sikap Mintaraga yng sangat tenang itu, maka ia mengambil lain keputusan dan segera berpikir.

“Setuju... setuju...!” Katanya kemudian. “Kalau ki Ateng Jagalawa ini menjadi raja gung binatara maka kita akan terangkat juga. Kalau tak menjadi panglima perang tentu paling sedikitnya kita akan diangkat sebagai tumenggung. Kita semua ini sama haknya dan sama pula bagiannya.” Setelah berkata demikian maka Sulaiman lalu tersenyum. Namun tak lama kemudian ia meneruskan perkataannya. “Bukankah dengan demikian keadaan kita akan menjadi semakin baik?!”

“Memang bagus.” Seru Ateng Jagalawa dengan tertawa lebar. “Kita orang dari gunung Tangkuban Prau atau tepatnya persatuan Sangkuriang Sakti harus bersatu padu, kemudian menggabungkan tentaranya untuk melanda daerah Demak Bintoro yang sekarang sedang kacau balau. Disana kita akan mengusir orang-orang Jipang yang selalu membuat rusuh. Aku adalah utusan dewa yang sejati, maka rakyat tentu akan merasa bahagia dan  

senang menyambut kedatanganku ini. Kalau aku telah menjadi raja gung

binatara di Demak Bintoro maka aku mengangkat kalian ini sebagai panglima perangku dan juga sebagai tumenggung-tumenggung yang menjadi pagernya kerajaan kita.”

Mata Liman Katto tetap merah. Ia benar-benar iri sekali dengan keberuntungan kawannya itu.

“Apakah aku tak pantas menjadi seorang raja yang gung binatara?” katanya dengan nada yang sangat dingin. Mendadak saja ia melompat bangun dan tangannya menyambar kearah Tunggul Tirto Ayu.

“Apa?” Teriak Ateng Jagalawa yang terus menyabetkan cambuknya untuk melilit tangan Liman Karto. Namun dengan cepat Liman Karto menarik tangannya dan dipakai untuk mencabut goloknya.

“Sabar.” Seru Mintaraga sambil tertawa setelah melihat kedua orang tokoh gunung Tangkuban Prau itu mau mengadu kepandaian lagi. Pemuda ini segera bangkit dan tangannya diulurkan. Begitu Tunggut Tirto Ayu berada ditangannya maka... PRAKKK... sekali remat Tunggul Pusaka dan kotaknya menjadi hancur berantakan.

Semua orang kaget dan tercengang melihat kelakuan Mintaraga ini. “Mintaraga, apakah kau telah gendeng?” Teriak Ateng Jagalawa dengan

gusar, akan tetapi juga tak mengerti maksud dari pemuda sakti ini.

Mintaraga hanya tertawa dengan lebar, kemudian katanya :

“Gusti sinuwun, baiklah paduka ketahui.” Serunya dengan nyaring. “Tunggul Tirto Ayu ini adalah sebuah Tunggul yang palsu. Akan tetapi

kalau andika tak percaya maka lihatlah ini.”

Ateng Jagalawa masih penasaran, segera ia meraup semua pecahan dari kotak berikut isinya.

“Bangsat gila, bagaimana ini dapat terjadi??” Teriaknya dengan tak mengerti Ateng Jagalawa benar-benar penasaran setelah melihat kalau barang pusaka itu memang benar-benar palsu adanya.

“Sebenarnya tak ada hal yang aneh ataupun ajaib.” Jawab Mintaraga yang masih tetap tenang. Setenang air telaga. “Jika aku tak membuat Tunggul palsu ini maka aku yakin kalau kau tak akan mau duduk dengan tenang kalau melihat aku akan menghajar orang-orang dari Jipang Panolan tadi.”

Setelah berkata demikian Mintaraga lalu menunjuk kearah Hasto Piguno dan menambahkan. “Inilah orang yang ahli dalam membuat barang-barang tiruan. Orang ini ditanah jawa tak akan ada tandingannya dalam membuat barang-barang tiruan. Sayang kau ini disebut ahli akan tetapi tak dapat membedakan mana yang tulen. Baik aku akan menjelaskan kepadamu. Tunggul Tirto Ayu yang asli itu terdapat didalam sebuah kotak yang ujungnya cacat sebuah. Tunggul itu sekarang berada di Banten, dan justru perjalananku ini adalah akan mencari Tunggul itu. Ateng Jagalawa, kalau  

kau ingin menjadi raja jadilah diimpian saja dan aku tak akan merintangi.

Akan tetapi jangan kau sebut-sebut tentang kerajaan Demak Bintoro. Biarpun kerajaan Demak sekarang ini telah lemah, akan tetapi masih ada sebuah kerajaan yang amat kuat, kerajaan tersebut adalah kerajaan Pajang. Dan kuberi tahu pula kalau kepandaianmu ini dibandingkan dengan kepandaian kanjeng sultan Hadiwijaya maka tak akan ada artinya. Jauh sekali perbedaannya.”

Muka Ateng Jagalawa menjadi merah. Ia benar-benar marah sekali. Akan tetapi kalau ia mengingat akan sepak terjang orang yang bernama Mintaraga ini maka hatinya menjadi jeri. Karena itulah ia hanya dapat berdiam diri saja tanpa mengerti apa yang patut dilakukannya.

Sandung Lamur menjadi sebaliknya, ia tertawa berkakakan mengejek kearah rekannya itu.

Sementara itu Mintaraga berpikir dengan cepat.

‘Terang sekali kalau orang-orang dari gunung Tangkuban Prau ini tak bersatu. Maka dengan demikian, maka Himpunan Sangkuriang Sakti inipun tak kokoh. Mereka itu satu sama lainnya tak mau saling ada pengertian. Ini bahaya. Memang pada waktu ini patih Udara telah kalah, akan tetapi siapakah yang memastikan kalau orang Jipang itu tak akan kemari lagi? Karena itu perlu aku menyatukan mereka. Mengompakkan mereka dalam suatu ikatan yang benar-benar erat. Hingga kalau mereka bersatu maka orang Jipang tak akan mudah menjerat mereka. Kalau ini dapat dilakukan maka suatu hal yang menguntungkan pula bagi kerajaan Pajang yang ditunjuk sebagai penerus generasi Demak Bintoro. Didalam hal ini hanya ki Rikmo Dowo yang dapat diserahi tanggung jawab...’ Setelah berpikir demikian Mintaraga lalu bangkit berdiri dan berkata :

“Ki sanak sekalian, setelah mendengar suara ki Ateng Jagalawa ini dapatlah kuketahui kalau kalian semuanya ini tak mempunyai persatuan yang erat. Karena itu kalian kuharapkan memilih salah seorang rekan-rekan kalian ini untuk diangkat menjadi pemimpin kalian, hingga dengan demikian diantara kalian terdapat tali pengikat yang erat. Selain itu keamanan kalianpun akan lebih terjamin. Bukankah pendapatku ini benar adanya?”

Pertanyaan ini dengan serempak mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan hati Mintaraga.

“Ya !”

Bahkan terdengar pula suara pengaduan dari salah satu orang-orang itu  

:

“Memang karena soal itulah maka diantara kami sering terjadi perang-

perangan sendiri. Sudah berpuluh tahun akan tetapi masih pula kita tak tahu dan tak dapat menetapkan siapakah yang patut menjadi pemimpin ikatan kami ini. Karena itu ki Mintaraga kita semuanya ini minta pendapat dan

nasehatmu.”

“Maaf... maaf...” Seru Mintaraga dengan cepat. “Bukannya aku ini orang usilan yang suka mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi sekarang ini dunia sedang kacau maka kita perlu persatuan dan kesatuan yang kokoh. Ingatlah kalau ada perpecahan maka akan mudah orang memasuki dan menghasutnya. Orang-orang Jipang yang hendak runtuh itu kini mulai bergerak dan menyebarkan hasutan serta fitnahan hingga diantara kita ini bertempur sendiri. Setelah kita lemah maka ia akan mempergunakan sisa- sisa pasukannya untuk menindih kita dan memperalat kita untuk kepentingan-kepentingannya sendiri. Patih Udara sendiri telah mulai turun tangan untuk pinjam pasukan. Bukankah ini sebuah gambaran yang jelas dan gamblang? Karena itu ki sanak, baiknya kalian ini memilih salah seorang untuk memimpin pasukan kalian yang kuat ini. Tapi pilihlah orang yang mencinta negara dan bangsa. Hingga dengan demikian dikelak kemudian hari kalian tak akan menyesal setelah memilihnya. Nah sekarang silahkan ki sanak sekalian memikirkan apa yang kukatakan tadi. Kalau benar ya jalankan kalau tidak ya tak apa-apa.”

Ternyata pendapat Mintaraga ini sangat cocok dan sesuai sekali dengan pendapat orang-orang Tangkuban Prau ini. Tentu saja kecuali Sulaiman dan Ateng Jagalawa. Namun mendung tebal dan suasana buruk telah menghantui keadaan. Mereka tak berani membantah, dan hanya dapat memberikan keputusan. Memang merekapun dapat melihat kalau orang- orang Jipang Panolan itu tak mungkin dapat mengalahkan Pajang yang menjadi gudangnya orang sakti dan kandangnya orang kebal. Hal ini ternyata dan terbukti kalau Mintaraga berlima saja telah dapat mengalahkan orang-orang kepercayaan dari Ario Penangsang yang mbaurekso Jipang Panolan.

Segera setelah itu ada pertanyaan bagaimana caranya memilih ketua ikatan Sangkuriang ini, apakah mesti ditempuh dengan cara lama, yaitu mengadu kekuatan.

“Kulihat begini saja.” Seru Langkir yang telah mengagumi Mintaraga itu. “Baiknya untuk memilih ketua ikatan ini kita serahkan saja kepada pendekar besar Mintaraga, dan kita tak perlu mengadu tenaga yang tak akan ada artinya itu.”

“Ini aku tak berani.” Seru Mintaraga dengan cepat. “Jika ki sanak sekalian sudi mendengar, aku hanya akan mengutarakan sebuah pendapat entah bagaimana dengan pendapat-pendapat ki sanak sekalian. ”

“Silahkan ki Mintaraga.... silahkan kau uraikan pendapatmu itu.” Seru mereka dengan serempak.

Sejenak Mintaraga mengawasi kearah semua hadirin.  

“Disini terdapat enam tokoh besar. Siapapun juga berhak dipilih untuk

menjadi ketua ikatan tersebut.” katanya. “Tapipun sama benarnya kalau ki sanak sekalian telah mengetahui siapakah yang akan tepat menduduki lowongan ketua ikatan tersebut. Ketua ini harus seorang yang gagah dan mempunyai jiwa menentang setiap penjajahan. Karena itu tak perlu diambil syarat seberapa luas daerahnya, berapa banyak rakyatnya. Yang paling penting ialah dia harus dihargai oleh setiap orang dari himpunan Sangkuriang Sakti ini.” Setelah berkata demikian maka putra ki Darmakusuma lalu berhenti sebentar. Namun tak lama kemudian Mintaraga lalu melanjutkan kembali perkataannya. “Semua hadirin disini kujelaskan, berhak dipilih dan berhak pula memilih. Hal ini tak mengecualikan pahlawan, atau serdadu ataupun rakyat biasa. Cara pemilihannya hendaknya kuatur secara begini :

‘Disini terdapat enam gentong besar dan masing-masing ditulis nama para tokoh dan nanti terserah bagi pemilih untuk memilih siapa saja. Orang boleh memilih dengan bebas dan rahasia. Memilih orang yang disetujuinya. Pemilih itu harus memasukkan kacang kedalam gentong orang yang dipilihnya dan setiap orang hanya diperkenankan membawa sebutir kacang saja. Dan yang mendapat kacang paling banyak dialah yang akan diangkat menjadi ketua ikatan. Bukankah dengan demikian,kita telah berlaku adil? Tapi entahlah kalau ki sanak mempunyai pendapat yang lain?!'

Ketika itu orang-orang Tangkuban Prau telah memandang Mintaraga bagaikan Malaikat utusan Dewa. Karena itu apa yang diucapkan akan didengar dan dilaksanakan dengan baik. Tak seorangpun yang berani menyangkal.

“Kupinta kalian mengingat baik-baik.” Seru Mintaraga lagi. “Didalam pemilihan ini, jangan kalian berat sebelah. Juga jangan kalian takut-takut, jangan takut sekalipun dengan pemimpinmu sendiri. Tegasnya kalian harus memilih seperti apa yang diucapkan oleh hati kecilmu. Bebas rahasia. Ini dilakukan untuk keselamatan dan kebahagiaan kalian sendiri. Nah sekarang kalian boleh mulai memilih siapakah yang patut menjadi ketua ikatan didalam keluarga Sangkuriang Sakti ini.”

Setelah berkata demikian Mintaraga menyuruh Hasto Piguno untuk memasang layar dan didalamnya berisi enam buah gentong besar yang masing-masing ditulisi dengan nama enam orang tokoh disitu. Setelah itu setiap orang dipersilahkan masuk untuk memilih siapakah yang dikehendaki menjadi ketua ikatan Sangkuriang Sakti itu. Dengan cara demikian maka orang akan bebas menentukan pilihannya tanpa ada yang mengontrol dan melihat siapa yang akan dipilihnya.

Untuk menjaga kecurangan-kecurangan. Mintaraga sendiri mengawasi setiap orang yang masuk untuk memilih. Supaya tak ada yang berani memindahkan kacang-kacang dari gentong yang satu ketempat yang lain.  

Demikianlah pemilihan telah terjadi kira-kira sepenanak nasi lamanya.

Setelah selesai Hasto Piguno menyingkirkan layar penutupnya dan menggotong semua gentong besar itu. Menurut aturan semua kacang harus diperiksa, akan tetapi kali ini tidak. Semua gentong dituangkan dan ditumpuk isinya. Ternyata yang paling tinggi tumpukannya adalah kepunyaan Ki Rikmo Dowo. Bahkan bukan hanya banyak, melainkan dapat dikatakan tiga perempat dari seluruh kacang telah masuk kedalam gentong ki Rikmo Dowo. Karena itulah dengan sendirinya orang dari Kalisari inilah yang terpilih menjadi ketua ikatan dari himpunan Sangkuriang Sakti itu.

‘Dasar pri keadilan itu berada didalam hati sanubari orang-orang itu sendiri. Hingga dengan tepat sekali orang-orang ini telah memilih ki Rikmo Dowo sebagai pemimpinnya.’ Seru Mintaraga didalam hati. Pemuda ini menjadi lega sekali, bahkan girang dengan sendirinya. Segera saja Mintaraga mengangkat gelasnya dan berkata kepada ki Rikmo Dowo :

“Ki sanak dari kalisari, kau telah terpilih menjadi ketua dari ikatan Himpunan Sangkuriang Sakti ini. Nah aku Mintaraga mengucapkan selamat kepadamu.”

“Hidup ki Rikmo Dowo... Hidup pemimpin dari ikatan Sangkuriang Sakti. Hidup ketua kita yang bijaksana...!” Seru rakyat dengan gemuruh.

Kecuali ki Ateng Jagalawa, Langkir dan yang lain-lain telah menduga kalau ki Rikmo Dowo tentunya akan terpilih menjadi ketua. Ki Rikmo Dowo memang seorang yang gagah perkasa dan selalu dicintai oleh rakyat setempat. Memang orang-orang yang tinggal didaerah Kalisari itulah yang dahulunya paling menderita karena kekejaman orang-orang Jipang Panolan. Sebab orang-orang Kalisari inilah yang selalu menentang kekejaman dan kelaliman Jipang Panolan. Karena itu merekapun lalu memberi selamat kepada rekannya itu.

Ateng Jagalawapun ikut memberi selamat kepada ki Rikmo Dowo, meskipun kelihatan kalau sikapnya tak puas. Ia tak berani menentang kemauan dari sekian banyak orang-orang sakti.

Mintaraga menjadi lebih girang sekali setelah melihat kesudahan dari pemilihan umum ini. Ia segera minta diri kepada ki Rikmo Dowo dan yang lain-lain untuk meneruskan perjalanannya menuju ke Banten. Bahkan ia akan berangkat hari itu juga dengan keempat orang kawannya.

Ki Rikmo Dowo beramai-ramai tak dapat menahan kepergian Mintaraga. Ki Rikmo Dowo bersama Sandung Lamur lalu mengajak beberapa orang pengikutnya mengantarkan sampai jauh diperbatasan. Bahkan ki Rikmo Dowo telah mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan dari Mintaraga. Gajah, tenda dan air. Saking haru dan beratnya perpisahan ini maka ki Rikmo Dowo lalu menjabat tangan Mintaraga dengan erat-erat.  

“Ki Mintaraga, aku hendak mengantarkanmu sampai keperbatasan dan

kalau mungkin sampai masuk daerah Priangan.” Katanya. “Sandung Lamur, pulanglah kau dahulu  ”

Mintaraga tertawa.

“Kau baru saja menjadi ketua, maka tugas-tugas baru sangat menumpuk ki Rikmo.” Katanya. “Dengan pergi ke Priangan maka perjalanan akan memakan waktu yang sangat lama. Kau tak akan dapat kembali dalam waktu dua atau tiga hari. Karena itu silahkan kau kembali saja ki Rikmo Dowo. Kau ingatlah kepada sebuah ujar-ujar kuno. Walaupun kau mengantar sampai ribuan kilo akan tetapi akhirnya toh akan berpisah juga. Dari pada kau berpisah besuk lebih baik sekarang saja. Aku sangat terima kasih atas kebaikanmu ini. Sudahlah sekarang kau pulang dahulu untuk mengurus segala tugas-tugasmu.”

“Dengan pergi ke Banten ini, ditengah jalan akan banyak sekali mengalami gangguan-gangguan dari orang liar.” Kata ki Rikmo Dowo. “Sebab ki Mintaraga harus melewati lembah Soga Honya. Suatu lembah yang mempunyai penduduk galak-galak. Karena ki Mintaraga adalah orang Jawa Tengah yang halus maka anda akan mengalami banyak kepusingan- kepusingan, akan tetapi andaikata aku ikut serta maka kepusingan itu akan sedikit berkurang. Kalau aku tak boleh mengantarkan sampai ke Priangan, baiklah aku akan mengantarkan saja sampai di Soga Honya.

Mintaraga tak dapat menerima kebaikan hati itu, pemuda ini tetap saja menolak maksud baik dari ki Rikmo Dowo.

Melihat kekerasan hati pemuda ini maka ki Rikmo Dowo menjadi sangat kewalahan sekali.

“Baik...  baiklah...!”  Katanya kemudian. Karena   ki Mintaraga tetap menolak saja maka aku menyerah. Nanti aku akan menghaturkan kepadamu serupa  barang. Dengan  mengandalkan benda itu  maka ki Mintaraga beramai-ramai akan dapat melalui daerah itu dengan aman dan tak akan ada yang berani mengganggumu.” Ia lalu merogoh kedalam sakunya. Akan tetapi tiba-tiba saja ia menjerit, lalu berdiri melongo. Tetapi segera ia berseru : “Pasti ini perbuatan Ateng Jagalawa.  Sungguh tak tahu malu!

Bagaimana dia berani mencuri barangku?!”

Muka ketua himpunan Sangkuriang ini menjadi merah, lalu ia memutar tubuhnya untuk mencari Ateng Jagalawa.

“Tunggu dulu.” Teriak Hasto Piguno. Ia lalu bertanya macam apakah barang itu.

Ki Rikmo Dowo segera memberikan keterangannya. Barang itu adalah semacam lambang dari emas.

Mendadak saja raja pencopet ini tertawa bergelak-gelak. Segera saja ia mengeluarkan serupa barang dari dalam sakunya. Barang itu berkilau- kilauan setelah tertimpa sinar sang surya.  

“Ki Rikmo Dowo, apakah ini barangmu?” Tanyanya sambil tertawa

pula.

Ki Rikmo Dowo memandang, dan hatinya menjadi heran sekali. “Memang ini.” Jawabnya. “Mengapa lambang ini berada ditanganmu?”

Tanyanya dengan penuh keheranan.

Hasto Piguno hanya tersenyum. Akan tetapi Candra Wulan segera tertawa lebar. Gadis ini ingat ketika Hasto Piguno ini bertempur melawan Marakacan, Hasto Piguno telah menghadiahkan serenteng mutiara palsu. Akan tetapi bersama dengan itu Hasto Pigunopun telah mencopet lambang dari Marakacan. Waktu itu ia tak tahu lambang ini mempunyai arti apa. Ia hanya menganggap kalau barang itu adalah sebuah barang yang mahal harganya. Akan tetapi siapakah yang tahu kalau barang itu adalah sebuah pas jalan yang sukar didapatkan. Selain sukar juga sangat berguna sekali. Karena itulah ia lalu berkata :

“Ki Rikmo Dowo, saudaraku ini mempunyai kepandaian yang hebat sekali. Ia tak mengerti lain kecuali dalam hal mencopet, Ateng Jagalawa telah mencuri darimu, setelah itu ada orang lain yang mencurinya dari tangan Ateng Jagalawa, setelah itu barulah saudaraku ini yang turun tangan untuk mengamankan benda ini. Kuharapkan ki sanak dapat memaafkan saudaraku ini.”  

Mendengar keterangan ini lenyaplah keheranan dari Rikmo Dowo. Dan juga yang lain-lainnya.

“Ki sanak, kau benar-benar hebat.” Seru Ki Rikmo Dowo dengan menarik napas panjang. “Kaupun membikin Ateng Jagalawa percaya penuh kalau Tunggul itu adalah tunggul yang tulen bukan Tunggul yang palsu. Padahal dia adalah orang yang mempunyai kegemaran mengumpulkan barang-barang kuno yang aneh.

Mintaraga hanya tersenyum. Ia segera menerima lambang itu dan memandangnya dengan seksama. Ia melihat ukiran sebuah burung garuda yang bagus sekali. Didalamnya diukir serentetan huruf-huruf yang tak diketahuinya. Setelah itu ia lalu mengucapkan terima kasih dan menyimpan lambang itu dengan baik-baik didalam sakunya.

Sampai disitu maka kedua belah pihak lalu berpisahan.

Mintaraga dan kawan-kawannya menuju keselatan kemudian menikung kebarat. Mereka akan memasuki lembah Soga Honya. Di sini keadaan sunyi senyap, hingga hal ini akan dapat menciutkan bagi mereka yang mempunyai keberanian kecil. Malam itu mereka lewatkan dengan membangun dua buah tenda dan memasang api unggun. Sebelum tidur mereka duduk berkumpul mengitari api. Mereka mulai omong-omong-omong untuk melewatkan malam yang sepi itu.

Tepat ketika ada angin menghembus Mintaraga memberi tanda. “Lekas sembunyi, ada orang.” Katanya. Hasto Piguno dengan cepat memadamkan api. Segera ia melompat

menyingkir. Begitupun dengan empat orang kawan-kawannya, mereka lalu mencari tempat persembunyiannya itu, mereka tetap memasang mata dengan tajam-tajam.

Segera mereka melihat serombongan orang yang memakai pakaian serba putih mulus. Mereka datang sambil berlari, sedangkan mulutnya memperdengarkan omongan-omongan yang tak dimengerti oleh mereka berlima. Orang-orang yang memakai pakaian serba putih mulus itupun telah menghunus senjatanya. Setelah dekat maka tampaklah dengan jelas kalau pakaian mereka putih, namun muka-mukanya hitam legam. Sedangkan kepalanya diikat dengan sebuah kain yang berwarna hijau. Matanya sangat tajam.

Kembang Arum sangat khawatir. Segera ia meraba kearah goloknya. Akan tetapi tiba-tiba ia merasakan kalau ada tangan hangat yang merabanya.

“Kau cemas?” Begitu ia mendengar suara disampingnya.

Dyah Kembang Arum mengangukkan kepalanya. Gadis ini telah kenal akan suara itu. Inilah suara Mintaraga kekasihnya.

Mintaraga hanya tersenyum ketika melihat kelakuan Dyah Kembang Arum itu. Lalu pemuda ini meneruskan pekerjaannya. Mengusap-usap punggung Kembang Arum dengan segala perasaan cinta kasihnya.

“Mungkin mereka ini adalah orang-orang Soga Honya yang dikatakan oleh ki Rikmo Dowo itu.” Seru Mintaraga. “Akan tetapi kita lihat saja apakah yang akan dilakukannya.”

Orang-orang yang berpakaian serba putih itu terus tertawa ketika melihat dua ekor gajah. Dua diantara mereka terus mengulurkan tangannya dan menarik putus tali les gajah itu.

“Hebat...!” Desis Mintaraga. Segera pemuda ini mengambil dua buah batu kerikil. Dengan cepat ia menyentil kedua buah batu itu dan... tepat mengenai jalan darah. Hingga dengan demikian maka kedua orang yang baru memutuskan tali les tadi berdiri kaku bagaikan patung.

Semua orang terkejut melihat kejadian ini, maka muncullah seorang yang bertubuh besar, yang rupa-rupanya menjadi pemimpin mereka. Dia lalu menggoyang-goyangkan tubuh kedua orang rekannya itu. Akan tetapi sedikitpun orang itu tak bergeming. Melihat kejadian ini segera saja pemimpin orang-orang yang berpakaian serba putih ini menjadi marah. Saking marahnya hampir saja ia memukul kedua orang yang telah kaku itu. Akan tetapi sebeium ia turun tangan, tiba-tiba saja terdengar suara terompet dari kejauhan. Dia kelihatan kaget dan wajahnyapun segera berubah. Terus saja ia menjerit dan goloknya diangkat naik.

Contoh ini dituruti oleh para kawan-kawannya. Ternyata rombongan ini terdiri dali duapuluhan orang. Dan kalau melihat sikapnya ini terang kalau mereka sedang bersiap-siap untuk bertempur.  

“Ada lagi orang yang datang.” Seru Mintaraga.

Mendengar perkataan kekasihnya ini, Kembang Arum hanya melemaskan tubuhnya dan kemudian duduk menyender pada dada Mintaraga yang bidang.

“Mengapa kau ini tahu kalau mereka itu manusia kakang? Apakah mereka itu bukannya sebangsa hantu-hantu gentayangan yang akan mengacau manusia saja?!”

Mintaraga tak sempat menjawab pertanyaan Kembang Arum. Mereka lalu melihat datangannya serombongan orang lain, orang-orang ini mirip setengah manusia dan setengah setan. Mereka itu meniup seruling sambil berlari dan juga berlompatan. Pakaian mereka ini serba hijau dan senjatanya golok. Setelah mereka datang mendekat ketuanya segera berseru :

“Eh... orang-orang Kera Putih, kalian dapat merampas gajah, bagilah kami separuh. Berikan kepada kami separuh.” Kini jelaslah kalau mereka itu bicara dalam bahasa Sunda yang telah bercampur dengan bahasa di Indramayu.

Orang-orang yang berpakaian putih sebagai Kera Putih itu tampak marah sekali. Yang menjadi ketuanya terus saja menjawab.

“He... Monyet Hijau, kami dapat merampas sendiri. Kalian tak mempunyai hak dalam hasilku ini.” Inipun dijawab dengan bahasa Indramayu.

“Baiklah.” Seru ketua dari orang-orang yang menamakan dirinya Monyet Hijau. “Marilah kita berantem, siapakah diantara kita yang lebih kuat dan lebih gagah.”

Begitu mendengar tantangan orang-orang Monyet Hijau ini maka kepala orang yang menamakan dirinya Kera Putih itu lalu menggesekkan dua buah batu untuk membuat api. Sekejap saja ilalang sekitar terbakar dan keadaan berubah menjadi terang benderang. Padahal dibawah alang-alang itu adalah sebuah kubakan.

Mintaraga sangat heran sekali setelah melihat kalau ada sebuah kubakan dapat terbakar dengan sedemikian mudahnya. Benar-benar aneh wilayah asing ini, akan tetapi pemuda ini tak sempat untuk berpikir lebih lanjut. Sebab begitu keadaan terang maka kedua kelompok manusia-manusia aneh itu telah bertempur.

Pertempuran mereka itu biasa saja. Yang mengherankan ialah kelincahan kedua belah pihak. Mereka hanya berlari cepat, asal saja kedua kakinya menjejak tanah maka tubuhnya telah melesat dua langkah jauhnya.

Tak lama kemudian kelihatanlah kalau pihak Kera Putih mulai keteter dan pihak Monyet Hijau kelihatan berada diatas angin. Namum dikedua belah pihak sama-sama banyak yang menderita luka-luka. Pihak Monjet Hijau menang gesit kalau dibandingkan dengan pihak lawannya. Namun kekalahan pikak Putih ini dapat ditutup dengan kekuatan pihaknya.  

“Lepaskan anak panah!” Teriak kepala orang-orang Kera  Putih yang

telah menjadi marah setelah melihat pasukannya menjadi keteter.

Mendengar aba-aba dari pemimpinnya ini maka Kera Putih lalu memasukkan tangannya keujung baju mereka, mereka lalu mengeluarkan sebatang pipa yang mirip dengan seruling. Setelah pipa itu keluar mereka lalu memasukkan kedalam mulutnya dan meniup-niup dengan pengerahan tenaga dalamnya. Begitu pipa ditiup maka keluarlah tiga buah anak panah yang mengejar kearah lawan. Ternyata yang dikatakan panah oleh orang- orang Kera Putih ini adalah sumpitan.

Begitu penyerangan dengan mempergunakan sumpitan ini dilakukan maka keadaan berubah menjadi berimbang kembali. Rupa-rupanya orang- orang dari Monyet Hijau ini sangat menakuti senjata-senjata lawannya yang berupa sumpitan ini.

Sewaktu mereka sedang saling serang menyerang, tiba-tiba saja terdengar ringkian kuda yang tadi berada didekat gajah-gajah itu. Tahu-tahu kuda itu telah roboh setelah kena anak panah yang keluar dari sumpitan mereka. Memang anak panah itu tajam dan beracun, hingga sekali kena saja maka jiwa kuda-kuda itu tak mendapat pengampunan hyang pencabut nyawa.

Lain halnya dengan gajah yang mempunyai kulit tebal. Biarpun mereka banyak dan sering kena serang anak panah akan tetapi tetap saja ia dapat berdiri dengan tegak dan gagah.

Mintaraga kaget ketika mendengar suara ringkikan dari kudanya. Sambil berteriak “Celaka”. Pemuda ini lalu melompat keluar. Maksudnya hendak menolong kuda-kudanya dari bahaya sumpitan itu, akan tetapi ternyata gerakannya telah terlambat. Kuda-kudanya telah roboh binasa dibawah pengaruh racun yang dipasang dianak panah tersebut.

Sebaliknya orang-orang Monyet Hijau dan Kera Putih itu menjadi terkejut sekali setelah melihat kalau ada orang asing yang berani memasuki daerahnya. Hampir dengan serentak mereka itu membalik dan menyerang kearah orang asing yang berani dengan lancang memasuki daerahnya. Mereka menyerang sambil bersorak-sorak.

Mintaraga menjadi sangat heran sekali setelah melihat sikap kedua gerombolan ini. Ia tentu saja tak tahu kalau Monyet Hijau dan Kera Putih itu adalah penduduk-penduduk dari Soga Honya yang hidup bergerombol dan pekerjaannya hanya melakukan pembegalan dan perampokan melulu. Mereka ini selalu merampok dan membegal orang-orang yang berani lewat didaerahnya. Bahkan orang-orang dari Kera Putih ini memang telah beberapa hari mengintai perjalanan Mintaraga bersana kawan-kawannya. Karena itulah mereka dapat muncul sewaktu Mintaraga dan kawan- kawannya sedang istirahat.  

Merekapun   tak   mengira   kalau   didalam   perampokannya   itu   akan

bertemu dengan saingannya, Monyet Hijau. Hingga dengan demikian maka mereka menjadi bentrok sendiri. Akan tetapi begitu melihat Mintaraga muncul, maka mereka segera kompak untuk bekerja sama.

“Kalian telah membunuh kuda kami. Lalu bagaimanakah kami harus membawa barang-barangku untuk menyeberangi daerah yang pepat ini?” Seru Mintaraga bertanya.

“Siapapun juga yang berani melintasi daerahku ini.” Seru pimpinan dari Monyet Hijau. “Jangankan manusia, dewa sekalipun harus mampus. Huahaaa... Huahaaa... Huahaa... jangan lagi hanya kuda.”

Mintaraga menjadi marah, segera tangannya bergerak menyambar.

Biasanya jika orang biasa maka sambarannya ini tak akan dapat diloloskan. Akan tetapi kali ini menghadapi ketua dari Monyet Hijau ini sambaran Mintaraga hanya mengenai angin kosong saja. Orang ini benar- benar sangat lincah, bahkan berani pula menangkis serangan Mintaraga dan melompat kesamping pemuda itu.

Ketika itu Kembang Arum, Candra Wulan, Wirapati dan Hasto Piguno telah berlompatan keluar. Setelah menghunus senjatanya merekapun lalu melabrak kedalam kancah pertempuran. Tepat pada waktu itu lima atau enam orang dari Monyet Hijau ini menyerbu kedalam tenda. Candra Wulan yang dapat melihat mereka itu terus saja menjadi mendongkol sekali.

“Apa?” Serunya sambil melompat mengejar. Dengan segera tiga orang lawan dapat dirobohkan dan yang lainnya diserang dari kejauhan.

Diantara orang-orang dari Kera Putih ada yang mengeluarkan supitannya, akan tetapi begitu Mintaraga melihat adanya bahaya terus saja tangannya dikibas-kibaskan kesana kemari untuk memukul jatuh setiap anak panah yang mengancam. Bersama dengan itu tangannya terus bekerja, menjambak kesana dan kemari lalu melemparkan korbannya.

Didalam hal ini Mintaraga tak mempedulikan, musuh-musuhnya itu dari orang-orang yang berbaju hijau atau putih. Akan tetapi akibatnya pihak Kera Putih telah kehilangan anggotanya lebih dari separuh. Hal ini disebabkan karena pihak Monyet Hijau lebih gesit kalau dibandingkan dengan pihak orang-orang yang mengenakan pakaian serba putih.

Kembang Arum tengah mengamuk dengan hebat. Akan tetapi tiba-tiba saja ia menjadi terkejut sekali setelah merasakan kalau punggungnya ada yang memegang. Bahkan bukan hanya memegang, membanting hingga gadis perkasa itu jadi roboh. Inilah perbuatan dari kepala orang-orang yang memakai pakaian serba hijau. Dengan gesit pimpinan orang-orang Monyet Hijau ini menyerang kearah Kembang Arum hingga gadis itu tak sempat lagi untuk mengelak. Begitu jatuh terus ditindih oleh pimpinan orang-orang Monyet Hijau itu. Tentu saja dengan demikian Kembang Arum mengendus bau yang sangat ledis, bau keringat dari orang berbaju hijau itu. Karena bau  

yang tak enak itu, hampir saja Kembang Arum muntah-muntah. Maksudnya

gadis itu akan berontak, akan tetapi betapa terkejutnya setelah merasakan kalau ia tak dapat menggerakkan tenaganya. Hal ini disebabkan karena ia roboh diatas tanah berpasir. Hingga kalau Kembang Arum mengerahkan tenaganya maka pasir-pasir itu akan berserakan dan tenaganya musnah tanpa lari.

Kepala orang-orang yang berpakaian hijau ini adalah seorang yang bengis sekali. Bahkan dapat dikatakan orang liar. Begitu ia berhasil menjatuhkan Kembang Arum dan menindihnya, segera ia mencabut golok kecilnya dan menikamkannya kearah gadis yang malang itu.

Melihat berkelebat golok itu Kembang Arum hanya dapat menjerit.

Menjerit dengan penuh kengerian.

Akan tetapi bersama dengan itu terdengarlah sebuah bunyi yang nyaring sekali. Bersama dengan terdengarnya bunyi nyaring itu, golok kepala orang-orang yang mengenakan pakaian serba hijau itu menjadi terpental dari tangannya.

“Totok jalan darahnya.” Tiba-tiba saja Kembang Arum mendengar suara Mintaraga.

Kembang Arum tersadar. Ia mengenal benar-benar akan suara kekasihnya itu. Dengan segera ia menggerakkan tangannya. Begitu ia menggerakkan tangannya maka terdengarlah orang yang mengenakan pakaian serba hijau itu menjerit dengan keras. Bersama dengan jeritannya itu maka tubuhnyapun ikut terguling roboh diatas tanah. Begitu tubuh lawannya roboh maka Kembang Arum melompat berdiri.

Sampai disitu berhentilah sebuah pertempuran hebat diantara lelaki kasar itu melawan Dyah Kembang Arum yang cantik jelita itu. Kembang Arum melihat orang-orang yang berpakaian putih itu telah roboh tak berdaya. Semuanya terluka atau tertotok jalan darahnya. Diantara sekian banyaknya itu terdapat pula orang-orang yang mengenakan pakaian serba hijau. Akan tetapi sekarang ini telah banyak yang lolos sebab orang berpakaian hijau itu lebih lincah.

Wirapati sangat marah, maka ia mengayunkan goloknya kearah pimpinan orang-orang yang mengenakan pakaian serba hijau.

“Tahan dulu.” Seru Mintaraga. Setelah berkata demikian Mintaraga lalu lari menghampiri ketua orang-orang Monyet Hijau itu dan memberikan sebuah totokan. Begitu kena totok orang Monyet Hijau itu dapat berdiri.

“Siapa namamu?” Tanyanya..

“Aku bernama Bojong Papak.” Jawab orang itu dengan tegas. “Apakah kau akan membunuhku? Bunuhlah!”

“Sungguh tak kuduga kalau kau ini seorang yang keras kepala.” Seru Mintaraga. “Aku tak mempunyai niat untuk membunuhmu.”  

“Kalau kau tak mempunyai maksud untuk membunuhku, mengapa kau

kini menahanku?” Tanya Bojong Papak dengan tetap bengis. “Lepaskan tanganmu.”

Mintaraga hanya tertawa.

“Kau turutlah kami melintasi lembah dan hutan ini, setelah kami sampai keseberang barulah aku akan melepaskanmu.” Katanya. “Sekarang ini belum waktunya kami melepaskanmu. Setelah berkata demikian maka kembalilah Mintaraga menotok jalan darahnya. Dan pemuda itupun menyambung lagi :

“Apakah kau ingin melarikan diri?” Bersama dengan itu Mintaraga lalu melepaskan tangannya dan membiarkan orang itu berdiri sendirian.

Tanpa diperintah untuk yang kedua kalinya. Bojong Papak ingin melarikan dirinya. Akan tetapi begitu ia mengerahkan untuk tenaganya lari. Tanah yang diinjaknya itu seperti melekat dengan telapak kakinya, hingga sedikitpun ia tak dapat menggerakkan kakinya. Sampai lama ia berdiam diri saking herannya. Mengapa tiba-tiba saja ia tak dapat membuka kakinya.

“Kakang Mintaraga kau lepaskanlah dia, biar dia pergi. Aku tak senang melihatnya itu.” Seru Kembang Arum dengan perlahan.

“Kita disini masih asing, baiknya kita tahan saja orang ini untuk tanggungan nyawa kita didalam daerah yang masih liar ini.” Jawab Mintaraga. Keduanya bicara dalam bahasa Jawa yang halus. (bahasa Jawa yang halus - bahasa Jawa basa kromo inggil). “Dengan dia turut bersama kita mungkin kita akan memperoleh keleluasaan. Dan aku ingin membuatnya benar-benar takluk kepada kita. Dia pandai dalam hal lari, mungkin akan ada gunanya bagi kita dikelak kemudian hari.”

Kembang Arum menganggap kalau jalan pikiran kawannya ini benar.

Karena itulah ia tak memaksa kehendaknyya sendiri untuk dituruti.

Setelah mereka beristirahat sejenak maka fajarpun menyingsing. Begitu langit telah terang dan matahari kembali menduduki tahta menggantikan sang bulan, maka Mintaraga lalu memamerkan kepandaiannya kepada kedua orang pemimpin perampok-perampok itu. Dengan cepat ia menyadarkan semua orang yang kena totoknnya. Bahkan Mintaragapun menolong mereka yang terluka. Hal ini dilakukan dengan cepat hingga membuat kaget semua orang yang baru saja disadarkan. Bahkan dengan demikian maka Mintaraga bukan dianggap manusia lagi. Entah mereka menganggap setan, iblis atau dewa. Yang terang begitu sadar mereka terus lari menjauhkan diri saking takutnya.

Sampai saat ini api yang tadi malam dibuat oleh orang-orang berbaju putih itu masih tetap nyala. Candra Wulan menjadi sangat heran hingga diam-diam gadis itu mendekat untuk memeriksanya.

Bojong Papak yang melihat kelakuan Candra Wulan ini terus saja tertawa dengan lebar :  

“Itulah minyak api.” Katanya dengan sinis. “Dimana-mana didaerah

Soga Honya ini mengandung bahan-bahan minyak. Bukankah hal ini dapat membuat hatimu menjadi heran?!”

Setelah mendengar perkataan Bojong Papak ini barulah mereka berlima tahu kalau tanah disitu mengandung bahan-bahan minyak tanah. Penduduk situ masih belum mengenal minyak tanah karena itulah mereka menamakannya minyak api. Sebab minyak itu dapat disulut menyala dan dijadikan api penerangan. Tadinya sumber itu muncrat kecil-kecil akan tetapi setelah digali maka menjadi sebuah kobakan dan penduduk setempat selalu mengambil minyak itu untuk menyalakan sesuatu. (Daerah Soga Honya ini dikelak kemudian hari dikenal sebagai daerah minyak yang sangat besar, dan lambat laun nama Soga Honya berubah menjadi Bongas, kurang lebih  km dari Cirebon).

“Minyak api ini ada kegunaannya, baiklah kita membawanya sedikit.” Seru Mintaraga. Mendengar perkataan Mintaraga ini maka tanpa diperintah lagi Hasto Piguno lalu mengambil dan dimasukkan kedalam kantung yang tadinya berisi air.

Setelah itu kembali Hasto Piguno bekerja dengan cepat membongkar tenda. Setelah semuanya selesai maka mereka lalu melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Bojong Papak dibawanya serta.

“Jalan.” Seru Mintaraga yang mengiring berandal itu.

Bojong Papak menjadi heran sekali, bahkan saking herannya menjadi kagum kepada Mintaraga. Pemuda ini dapat membuatnya bebas dan tak bebas menurut sekehendak hatinya. Karena itulah ia suka turut kepada rombongan itu.

Karena kuda-kuda mereka telah mati maka mereka melanjutkan perjalanannya dengan naik gajah. Sedangkan tenda yang mereka bawa itu banyak, maka gajah-gajah itu tak dapat membawa semua barang-barangnya. Karena itulah terpaksa orang-orangnya itu membawa sebagian barang- barang itu.

Setengah harian mereka berjalan, akan tetapi masih tetap saja mereka berada didalam semak belukar. Didaerah itu tak ada rumah. Dan Hasto Piguno merasakan perjalanan ini amat berat juga, sebab pensiunan maling ini membawa barang-barang cukup banyak dan berat.

“Sayang disini tak ada gajah liar.” Katanya dengan melamun. “Kalau ada kita akan dapat menawan beberapa diantaranya ”

“Binatang bukannya tak ada, akan tetapi yang sangat kukhawatirkan adalah kalau kau tak berani menangkapnya.”

Hasto Piguno menjadi girang gekali mendengar jawaban ini.

“Dimana adanya gajah itu?” Tanyanya dengan cepat. “Lekas kau antar kita pergi kesana. Jangankan lagi gajah yang bermata sipit, biarpun harimau  

galak ataupun ular naga yang beracun kami akan berani menangkapnya. Kau

tak tahu kalau tuanku ini akan dapat menaklukkan segalanya.”

“Sombong, jangan kau membual.” Seru Bojong Papak yang masih penasaran. Ia tetap berada dibawah pengaruh Mintaraga, disamping kekagumannya iapun masih mengandung perasaan penasaran juga. “Tak ada soal untukku untuk mengantarkan kalian kelembah gajah liar. Hanya sayang sekali kalau akhirnya kalian akan mengubur tulang-tulang kalian sendiri ditempat itu. Ketahuilah hai kawan-kawan kalau untuk menangkap gajah kita memerlukan tenaga-tenaga yang banyak dan peralatan yang cukup lengkap. Jangan kau mimpi kalau akan dapat menangkap gajah liar hanya dengan tangan kosong belaka. Jangan pula kau menganggap pekerjaan ini sangat mudah dilakukan.”

Mendengar perkataan Bojong Papak ini Mintaraga hanya memperdengarkan suara tawanya saja.

“Bojong Papak, hanya kau antarkan kami kesana.” Serunya mendahului Hasto Piguno.

Didalam hati Bojong Papak berkata :

‘Kalau kalian ini pergi kesana, maka artinya kalian akan membunuh diri. Kalau kalian mampus semuanya maka aku akan mendapatkan kemerdekaanku kembali. Ini sangat bagus.” Setelah mendapat pikiran yang demikian ini maka Bojong Papak lalu memimpin mereka kesana.

Lama mereka itu berjalan, kemudian tibalah mereka itu disebuah lembah yang sangat rungkut dan ditumbuhi oleh pohon-pohon besar. Seakan akan pohon-pohon itu adalah raksasa-raksasa yang sedang menjaga pintu gerbang istana maha raja Iman-imantaka, prabu Nirwatakawaca.

Tiba-tiba saja kuping mereka itu mendengar sebuah bunyi yang kemrosakan. Suara itu makin lama makin keras dan banyak pohon-pohon tumbang setelah kena terjangan gajah-gajah yang sedang berbaris.

“Memang sulit sekali untuk melayani mereka.” pikir Mintaraga. “Bagaimanakah caranya untuk memisahkan dua atau tiga ekor diantaranya dari rombongan itu.”

“Nah itulah dia.” Seru Bojong Papak dengan perlahan. “Pergilah kalian membekuknya.”

Ternyata berandal itu hatinya hanya segede hati tikus. Begitu habis berkata lalu pergi memanjat keatas sebuah pohon yang besar dan kokoh. Rupa-rupanya ia telah menginsyafi akan bahaya yang mengancamnya.

Mintaraga memandang lembah itu. Dan dia mendapatkan kalau hanya ada sebuah mulut saja untuk dapat memasukinya. Setelah sesaat ia lalu berbisik kearah Hasto Piguno.

“Baik.” Kata kawannya itu Hasto Piguno segera bertindak kemulut lembah itu. Sesampainya disana ia membuat sebuah garis lempang dan menuangkan minyak. Sedangkan Mintaraga sendiri mengeluarkan tali yang  

dibuat dari urat kerbau. Dengan membawa tali itu ia lalu masuk kedalam

mulut lembah. Begitu sampai didalam mulut lembah lalu pemuda ini mengeluarkan sebuah siulan yang nyaring.

Ternyata gajah-gajah yang mempunyai mata sipit itu dapat mendengar dan melihat kalau daerahnya kemasukan orang asing. Dengan serempak mereka belok dan mengejar. Melihat itu segera lari keluar. Namun itu rupa- rupanya gajah-gajah itu tak kenal kompromi, dan mereka tetap mengejar terus.

Tiga gajah yang terdepan sudah lantas keluar dari mulut lembah itu.

Dibelakang mereka itu terdapat puluhan ekor lainnya. “Nyalakan api.” Seru Mintaraga setelah melihat saatnya tiba.

Hasto Piguno sudah siap sedia, begitu ia mendapat pertanda, segera raja pencopet ini menyalakan minyaknya. Dengan cepat api berkobar mengikuti garis yang tadi dibuatnya. Dengan demikian maka gajah-gajah yang lari belakangan lalu terhalang oleh api. Sudah terang gajah-gajah itu tak berani menerjang api yang sedang berkobar-kobar itu.

Mereka itu hanya dapat mengitari dan memekik-mekik didekat api. Api adalah sebuah benda yang sangat ditakuti oleh gajah-gajah.

Mintaraga sadar kalau api yang dibuatnya itu tak mungkin dapat bekerja lama, karena itulah iapun harus membanting tenaga dan mengerahkan segala kemampuannya untuk dapat dengan waktu singkat mengalahkan gajah-gajahnya itu. Ia segera lari menghampiri seekor gajah, sudah dekat ia lalu mengerahkan tenaganya untuk menggebuk kempol gajah itu.  

Gajah itu memekik dan memutar tubuhnya. Gajah itu terus mengejar. Akan tetapi kali ini Mintaraga tak lari. Ia menanti sampai binatang itu mendekat. Mendadak saja ia mengelak kesamping, tangan kanannya melayang kearah leher sedangkan tangan kirinya membabatkan belalai gajah itu. Kakinya yang telah penuh berisi tenaga dalam yang hebat itu digerakkan dengan cepat.

“Roboh.”

Hebat sekali tenaga anak muda ini, tak peduli binatang itu sangat kuat dan berat. Hanya dengan sekali gerak saja ia telah benar-benar dapat membanting gajah itu hingga terguling. Begitu sang gajah terbanting, tanpa membuang-buang waktu lagi Mintaraga menusukkan pedangnya kearah gading-gading yang berada dimulutnya. Hingga terdengar suara... Trang... Trang. dan bersama dengan itu copotlah gading gajah tadi.

“Bagus....! Seru Candra Wulan saking kagum dan girangnya. “Apakah dia telah jinak sekarang?”

Mintaraga segera mengalungkan tali yang tadi dibawanya dan setelah binatang itu terikat lehernya, Mintaraga lalu melemparkan ujung talinya kearah Candra Wulan. “Tuntun, dan ajaklah lari berputaran.” Serunya dengan keras. “Makin

cepat makin baik adi Candra Wulan.”

Sudah terang kalau gajah itu mengamuk, ia lari kesana kemari dan memukul-mukulkan belalainya. Akan tetapi Candra Wulan yang terus mengerahkan tenaga dalamnya dan juga selalu menyambut pukulan belalainya itu dengan ilmu pukulannya yang disebut Braholo Meta. Hingga dengan demikian kedua makhluk itu seperti sedang mengadu pukulan- pukulannya.

Karena Candra Wulan mempergunakan ilmu pukulan Braholo Meta yang hebatnya sangat nggegirisi itu maka makin lama gajah itu merasakan kalau belalainya makin bertambah sakit. Sedangkan Candra Wulan masih terus menariknya dengan kencang dan gadis itupun larinya belok-belok. Selain belok-belok Candra Wulan yang bersifat jenaka itupun lalu berlompatan sambil terus melayani pukulan-pukulan sang gajah.

Mintaraga telah menyerang gajah yang lain, sambil melayani gajah lain Mintaraga masih sempat berkata kepada adik angkatnya :

“Buatlah ia lelah dan kesakitan adi, maka kalau ia lelah dan merasa sakit maka ia akan dapat jinak dengan sendirinya.

Candra Wulan menuruti perkataan Mintaraga ini, semakin lama ia menjadi semakin cepat larinya dan semakin hebat pula pukulan-pukulan ilmu Braholo Meta yang dilepaskannya.

Mintaraga bekerja dengan sangat cepat, hingga binatang keduapun dapat ditaklukkan. Setelah itu ia lalu menyerahkan ujung talinya kearah Kembang Arum dan berkata :

“Lakukanlah apa yang diperbuat oleh adi Candra Wulan.”

Setelah itu Mintaraga lalu menghampiri gajah yang ketiga. Kembali pemuda itu bertempur mati-matian dengan binatang-binatang yang dapat dikatakan penguasa rimba belantara itu. Makin lama makin banyak pohon- pohon yang tumbang karena amukan gajah-gajah itu. 

Kembang Arum lebih lunak sikapnya kalau dibandingkan dengan Candra Wulan, dan karena ia tak dapat mempergunakan ilmu pukulan Braholo Meta maka Kembang Arum lalu memakai caranya sendiri untuk menghadapi gajah liar itu. Ia telah mempersiapkan goloknya dan selalu menangkis pukulan belalai gajah itu dengan goloknya. Ia memilih belalai yang bagian dalam karena dibagian itulah kulit gajah agak tipis. Sedikit saja kena samplokan golok tentu sang gajah akan merasa. Akan tetapi karena sikapnya yang agak lunak inilah ia hampir saja menjadi korban kemarahan sang gajah. Mendadak saja gajah itu menyeruduk hendak membenturkan kepalanya kearah perut si gadis.

Mintaraga sangat kaget sekali melihat hal itu, dengan segera ia melupakan binatang yang sedang dihadapinya dan melompat kearah gajah  

yang tengah menyerang Kembang Arum. Dengan cepat Mintaraga menarik

ekor gajah itu. Hingga serangan gajah itu dapat dibatalkan.

“Kakang Mintaraga, awas       !” Teriak Wirapati dengan lantang.

Wirapati segera berteriak setelah melihat gajah liar yang hendak menubruk kawannya itu dari belakang.

Mintaraga telah menyadari akan datangnya bahaya itu. Sewaktu gajah yang didepannya itu ditahan, tanpa menoleh lagi ia lalu mengayunkan tangannya kebelakang. Dengan begitu maka kepalannya lalu bertemu dengan gajah yang berada dibelakangnya itu. Pukulan Mintaraga ini bukanlah sembarang pukulan. Sebab Mintaraga telah mengerahkan seluruh tenaganya dan ditambari pula dengan ilmu pukulannya yang paling dahsyat. ‘Braholo Meta’.

Begitu pukulan Mintaraga bertemu dengan kepala gajah liar itu, maka terdengar suara keras yang mengguntur diudara. Bersama dengan itu pula maka keempat kaki gajah itupun menjadi lemah. Roboh tak bernyawa lagi. Gajah liar itu mati dan kepalanya hancur.

Mintaraga menjadi tercengang sendiri. Biarpun ia dapat memukul gajah itu hingga mati, akan tetapi dirinya sendiri tak yakin kalau ia mempunyai tenaga besar itu. Dahulunya ia merasa heran sekali ketika melihat Adipati Hadiwijaya dapat memukul pecah kepala kerbau ndanu yang sedang ngamuk. Akan tetapi kini ia telah mampu memecahkan kepala gajah yang sedang ngamuk. Sungguh tak disangka dan tak dinyana.

Bojong Papak diatas pohon menjadi menjublek, dengan sendirinya ia menjadi mandi keringat dingin. Sungguh tak pernah disangkanya kalau Mintaraga mempunyai kesaktian yang sedemikian hebatnya. Hingga diam- diam ia berkata didalam hatinya :

‘Orang Bintoro ini benar-benar bagaikan malaikat yang turun diatas mayapada, Mungkin dia adalah penitisan dari salah seorang kuat.” Belum pernah ia mendengar cerita kalau ada seorang yang dapat memecahkan kepala gajah dengan sekali pukul saja. Akan tetapi sekarang mau tak mau ia harus percaya penuh setelah menyaksikan sendiri kalau ada orang yang sanggup memecahkan kepala seekor gajah liar yang sedang mengamuk dengan sekali pukul saja.’

Ketika itu Kembang Arum telah menyontoh apa yang diperbuat oleh Candra Wulan. Ia mengajak gajah itu lari-larian. Akan tetapi rupa-rupanya gajah ini licin juga. Sewaktu-waktu ia berhenti dan kemudian menyerang Kembang Arum. Hingga berkali-kali gadis perkasa itu hampir kena terkam kalau tidak segera mengelak.

Setelah dua kali menghadapi keganasan dari binatang itu maka hati Kembang Arumpun menjadi panas. Dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya ia lalu menarik gajah itu dengan sekuat tenaganya. Hingga dengan demikian  

maka mau tak mau gajah itu lalu mengikuti terus, hingga akhirnya ia lelah

dengan sendirinya.

“Bagus!” Seru Hasto Piguno sambil bersorak memuji Kembang Arum.

Hampir bersama dengan itu Candra Wulan telah menuntun gajahnya yang baru dipermainkan. Kini gajah yang dituntun oleh Candra Wulan telah menjadi jinak. Dari mulut gajah itu telah keluar busa yang mengental. Sekejap saja hilanglah sifat keliaran dari gajah itu.

“Bagus.” Seru Mintaraga dengan girang. “Kita telah cukup mendapatkan dua ekor untuk tambahan membawa beban kita itu.”

Bersamna dengan Hasto Piguno, Mintaraga lalu mulai memuatkan barang-barangnya keatas punggung kedua ekor gajah yang baru saja dijinakkan itu. Setelah itu barulah mereka dapat menuntun dengan enak.

“Bojong Papak, apakah kau masih tak mau turun?” Seru Hasto Piguno memanggil si berandal itu.

Bojong Papak melompat turun, terus menghampiri Mintaraga dan kemudian menjatuhkan dirinya untuk bersembah. Sekarang berandal ini benar-benar takluk sekali kepada pemuda yang gagah perkasa itu.

“Sudahlah.” Seru Mintaraga terus mencegah. Akan tetapi pemuda inipun belum mau melepaskan jalan darah dari berandal ini, sebab Mintaraga belum yakin kalau berandal ini telah takluk benar-benar kepadanya.

Perjalanan lalu dilanjutkan menuju kebarat. Akhirnya mereka lewat juga melintasi lembah Soga Honya. Namun demikian bukannya mereka itu tak bertemu dengan para penduduk yang liar. Akan tetapi setelah mereka berjalan Bojong Papak maka mereka tak mendapat gangguan dari mereka.

Pernah Mintaraga berpikir untuk mengeluarkan lencana yang diberi oleh Ki Rikmo Dowo. Akan tetapi setiap kali ia akan mengeluarkan lalu mencoba dahulu mengandalkan kepada Bojong Papak. Hingga dengan demikian maka ia tak pernah mengeluarkan lencana itu. Malahan Mintaraga tahu apa kasiat serta kegunaan lencana itu dari mulut Bojong Papak.

Pernah ki Rikmo Dowo merantau keselatan dengan mengajak dua belas orang anak buahnya. Di selatan ini ia membuat nama yang besar dan menjunjung tinggi peri kemanusiaan hingga ia terkenal sebaai seorang pendekar yang budiman. Bahkan ki Rikmo Dowo ini telah pula menaklukkan orang-orang liar setempat. Dari orang-orang liar inilah ia mendapat hadiah sebuah lencana sebagai kenang-kenangan. Tanda penghormatan sekaligus dianggapnya sebagai pemimpin mereka. Karena itulah lencana itu didaerah selatan dianggapnya sebagai Ki Rikmo Dowo sendiri.

Delapan hari kemudian mereka itu dapat melepaskan diri dari daerah- daerah yang liar. Segera mereka masuk kesebuah daerah yang mempunyai pemandangan yang indah. Bahkan disitu terdapat sebuah telaga yang permai, inilah telaga Bodas. Sebuah telaga yang terletak didaerah Garut.  

Namun mereka tak lama tinggal disitu. Segera mereka meneruskan

perjalanannya. Kembalilah mereka memasuki daerah yang tak bertuan.

*

* *

Mereka berjalan lagi beberapa hari. Setelah itu mereka tak pernah bertemu lagi dengan manusia. Bahkan binatang buruanpun tak mereka lihat. Yang tampak dimana-mana adalah sebuah lapangan yang luas dan berpasir. Bahkan pasir itu kelihatan kekuning-kuningan. Paling-paling mereka hanya menemui dua ekor burung-burung besar yang kelaparan dan mencari makan disekitar situ. Inilah daerah Cigedug yang terletak dikaki gunung Cikurai.

Pernah disuatu hari rombongan Mintaraga ini diserbu oleh dua ekor burung besar yang kelaparan, akan tetapi setelah terjadi pertempuran yang agak hebat diantara kedua golongan makhluk Tuhan itu. Maka burung- burung itupun lalu kabur dengan mendongkol. Maklum mereka tak tahu kalau Allah telah mengkaruniai manusia sebuah senjata yang maha ampuh. Akal Budi. Dengan akal budi inilah maka manusia menjadi makhluk yang tercerdik dialam raya.

Candra Wulan adalah seorang gadis yang tak sabaran. Segera ia mengerutkan kening dan berkata dengan tak menentu.

“Kakang Mintaraga, kalau kita harus berjalan selambat ini maka kapankah kita akan dapat melintasi daerah pasir yang gersang ini?”

“Siapakah yang tahu? Jawab Mintaraga dengan tertawa. “Coba kau tanyakan kepadanya.” Serunya sambil menunjuk kearah Bojong Papak.

Setelah hidup bersama Mintaraga beberapa hari, maka sifat berandal itu telah banyak berubah. Ia benar-benar takluk dan mengagumi Mintaraga. Tadinya ia hanya tahu kalau pemuda ini adalah seorang yang sakti mandraguna dan bengis. Namun setelah hidup beberapa hari disampingnya, iapun tahu kalau dibalik kebengisan Mintaraga ini terdapat sebuah kelembutan budi. Juga Kembang Arum, Candra Wulan dan Wirapatipun bersikap ramah kepadanya. Terutanta dengan Hasto Piguno ia bersahabat erat sekali. Bahkan Hasto Piguno ini telah menceritakan kepadanya tentang diri Mintaraga dan jago-jago silat di Jawa Tengah. Mintaraga telah dapat merobohkan orang-orang yang menamakan dirinya jago-jago Jipang Panolan dan telah dapat mengorat-arit orang-orang yang akan mengacau di laut timur.

Pula dia menunjukkan kalau iapun mempunyai kepandaian untuk mencopet. Hingga di Jawa tengah ia dijuluki sebagai raja pencopet, namun setelah berkumpul dengan Mintaraga ia mendapat julukan baru, yaitu Hasto Piguno. Sebab rombongan Mintaraga ini tak menghendaki dia mencopet lagi kalau tak benar-benar keadaan memaksa.  

Karena kelembutan-kelembutan mereka ini maka Bojong Papak lalu

melupakan masa silamnya, dan lagi iapun tak ingin kembali kelembah Soga Honya. Bahkan iapun mulai belajar bahasa Jawa.

Asyik sekali Bojong Papak bercakap-cakap dengan Hasto Piguno. Hingga dengan demikian maka ia tak mengambil pusing akan apa yang dikatakan oleh Mintaraga kepada Candra Wulan. Dengan demikian maka Candra Wulanpun menjadi kurang senang.

“Eh... Bojong Papak.” Serunya menegur. “Kau ini enak-enak ngobrol saja hingga tak memperhatikan orang lain.”

Mendengar teguran ini maka melengaklah orang liar itu.

“Apa?” Tanyanya. Hanya sejenak ia seperti baru saja tersadar. Lalu ia tertawa dengan keras.

“Bukankah kalian ini berkata tentang dapatnya keluar dari gurun pasir ini bukan?!” Serunya sambil menekuk-nekuk jari tangannya. “Kalau kita berjalan seperti sekarang ini maka kita masih akan membutuhkan waktu selama dua puluh satu hari lagi. ”

Candra Wulan menjadi terdiam. Gadis ini benar-benar sangat masygul sekali. Siang jalan dalam kesepian sedangkan kalau malam tidur dalam kesunyian. Sungguh perjalanan kali ini sangat tak mengenakkan. Pula disini tak ada pertempuran atau keonaran.

Mintaraga berdiam diri. Diam-diam pemuda ini ngasah otaknya. “Bojong Papak.” Tanyanya kemudian. “Tahukah kau dimana jalan yang

terlebih pendek. Jalan yang aman, hingga kita tak perlu bentrok dengan penduduk setempat?!”

Orang yang ditanya itu menjawab apa yang diketahuinya.

Sedangkan Mintaraga mengingat baik-baik keterangan yang diberikan oleh Bojong Papak itu.

“Bojong Papak.” Katanya kemudian. “Aku telah berjanji, begitu kami telah melewati lembah Soga Honya maka aku akan membebaskanmu, maka sekarang...” Mendadak saja ia menepuk punggung berandal itu, untuk membebaskan dari totokan, lalu ia meneruskan lagi perkataannya.

“Sekarang aku membebaskanmu kita bukan saja telah melintasi lembah itu, bahkan kita telah sampai digurun pasir ini. Bojong Papak, kau telah membantu kepada kami. Karena itu aku atas nama para kawan-kawanku ini mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadamu. Sekarang kau telah bebas kembali.”

Setelah beberapa hari jalan darahnya tertutup, sekarang ia bebas. Bojong Papak menjadi girang sekali. Ia merasakan kalau tubuhnya menjadi ringan. Mendadak saja ia melompat dan berjumpalitan beberapa kali, terus lari berputaran. Dengan cara seperti ini ia membuat darahnya berjalan seperti biasa.  

Setelah itu dengan sekonyong-konyong saja ia lari kearah utara, hingga

sekejap saja ia telah tinggal bayangannya saja. Karena kencangnya larinya itu maka sebentar saja ia telah menghilang dibalik tumpukan pasir yang tinggi.

“Benarkah dia akan menghilang terus?” Tanya Kembang Arum.

“Kukira dia akan segera kembali lagi.” Seru Wirapati. “Masakah dia akan begitu mudah saja dapat meninggalkan Hasto Piguno yang telah menjadi sahabat baiknya itu.”

Hasto Piguno melihat kearah mana Bojong Papak menghilang.

“Cocok sekali dugaanmu.” Katanya kemudian sambil bertepuk tangan. “Lihatlah dia telah kembali.”

Semua orang segera menoleh. Menoleh dengan tercengang. Memang mereka semua dapat melihat kalau orang liar dari lembah Soga Honya ini telah lari kembali kearahnya.

“Aneh.... aneh....” Demikianiah suara yang dikeluarkan oleh Bojong Papak setelah ia sampai didekat mereka.

“Bojong Papak, mengapa kau tak pulang?” Tanya Mintaraga kepada orang liar itu. “Mengapa kau harus balik kemari? Apakah kau tak rindu lagi kepada kampung halamanmu?!”

“Ki Mintaraga.” Jawab Bojong Papak dengan tenang. “Setelah beberapa hari aku berkumpul denganmu maka aku telah mengenal sedikit kehidupan yang wajar. Aku menyenangi kehidupan yang kau ambil itu. Hingga dengan demikian aku sangat senang kalau dapat bersamamu. Karena itulah aku tak ingin kembali ke kampungku yang masih liar itu. Kuharapkan kau jangan menyebut-nyebut tentang kampung halamanku lagi. Sudikah kau?!”

Mendengar perkataan Bojong Papak ini maka Hasto Piguno lalu bertepuk tangan. Bahkan saking girangnya ia lalu melonjak-lonjak.

“Bagus... bagus sekali. !” Serunya.

Mintaragapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu saja pemuda ini senang sekali mendapat kawan yang dapat diandalkan untuk petunjuk jalan didaerah yang masih asing baginya.

“Bojong Papak, kalau kau memang ingin ikut aku menuju ke Banten maka aku akan menyambutmu dengan perasaan girang.” Katanya. “Baiklah marilah kau mengikuti kami.”

Bojong Papakpun menjadi sangat girang sekali ketika mendengar keputusan Mintaraga yang tak menolak kehendaknya itu.

“Barusan kau berkali-kali menyebutkan aneh-aneh! Apakah itu?” Tanya Kembang Arum dengan heran.

Ditanya demikian tiba-tiba saja wajah Bojong Papak menjadi berubah.

Dengan cepat ia menunjuk kearah utara.

“Ki sanak sekalian. Marilah ikut aku.” Ajaknya.

Orang-orang itu menjadi heran, akan tetapi segera mereka mengikuti.  

Setelah berjalan kurang lebih dua kiloan, selewatnya dari bukit pasir,

Bojong Papak menunjuk kearah jalanan, kepasir. Disitu tampak kaki yang berjalan dari selatan menuju keutara.

“Ada orang.” Seru Candra Wulan dengan heran. “Ini toh telapak kaki orang yang melintasi daerah ini.”

Mintaraga segera jongkok untuk meneliti telapak kaki itu. Terang sekali kalau itu adalah sebuah telapak yang baru saja dibuat oleh orang yang baru lewat. Hanya saja telapak dipasir itu dikacaukan dengan beberapa debu dan pasir yang terbawa oleh angin. Pun jelas kalau ini bukannya telapak kaki seorang saja.

“He... itu apa?! Seru Wirapati. Pemuda itu terus menunjukkan jari telunjuknya. “Bukankah itu darah?!”

Dia menunjuk kearah tapak kaki yang masih ada darahnya. Dan darah itu jelas kalau masih segar.

“Mungkin mereka adalah orang-orang setempat yang sedang bertempur dengan kawan-kawannya sendiri?!” Seru Candra Wulan yang mengutarakan dugaannya.

Mintaraga hanya menggelengkan kepalanya. Pemuda ini benar-benar heran dan sangsi sekali.

“Orang sakti.” Gerutunya. “Merekapun orang-orang sakti yang datang dari Jawa Tengah. ”

Mendengar perkataan Mintaraga ini maka semua orang menjadi semakin heran dan tak mengerti.

“Apakah artinya ini?” Tanya Candra Wulan. “Apakah dikolong langit ini masih ada orang yang setolol kita? Masakah dari Jawa Tengah yang enak- enak itu datang ketempat yang berbahaya ini. Apakah mereka akan mencicipi penderitaan pula?”

“Kalau penduduk setempat sini ini belum begitu maju peradapannya.!” Kata Mintaraga. “Mereka ini belum mengenal terompah. (terompah - sandal dijaman kuno). Jadi tak mungkin kalau ia memakai terompah. Bukankah dugaanku ini benar Bojong Papak?!”

Orang yang ditanya itu hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Candra Wulan coba kau lihat tegas-tegas.” Seru Mintaraga kepada adik angkatnya. “Lihatlah itu telapak kaki telanjang atau memakai terompah?”

Candra Wulan meneliti telapak-telapak itu tak lama kemudian gadis itupun lalu menganggukkan kepalanya.

“Kau benar kakang.” Jawabnya kemudian. “Memang ini terang kalau telapak orang yang memakai terompah, jadi bukan telapak kaki telanjang.”

“Itulah yang nomor satu.?” Seru Mintaraga. “Sekarang yang nomor dua. Telitilah dalamnya tapak itu. Inilah yang menandakan kalau orang itu sakti. Sebab kalau orang biasa saja tentunya tak dapat meninggalkan telapak sedalam tiga sampai lima senti lebih.”  

Semuanya menganggap kalau perkataan Mintaraga ini benar. Karena

itulah mereka menjadi berpikir.

‘Jika mereka itu orang-orang sakti dari Jawa Tengah, maka mengapa tindakannya dapat begini berat?’ Tanya Candra Wulan yang masih penasaran. ‘Apakah mereka itu tak mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya. Hingga dengan demikian maka tindakan mereka tak akan dapat meninggalkan bekas. Ini hanya pasir saja, jadi kalau orang Jawa Tengah mau maka dapat saja ia menghilangkan jejaknya ’

Wirapati mengawasi kekasihnya. Didalam hatinya ia berkata :

‘Heran sekali Candra Wutan, dasar ia kekanak-kanakan apakah dia tak ingat kalau dibawah telapak sepatu tadi terdapat darah? Bukankah itu berarti mereka terluka?’ Ia lalu tertawa dan mengutarakan apa yang sedang dipikirnya itu.

Pikiran Wirapati inipun ternyata mendapat persetujuan dari mereka. Candra Wulan hanya memperdengarkan suaranya :

“Hem...” Setelah berkata demikian ia lalu menunjukkan jempolnya dan kembali berkata :

“Bagus sekali kakang Wirapati, sekarang kau menjadi orang yang nomor satu. Dan aku adalah orang yang nomor dua. Akan tetapi apakah kau tahu siapakah mereka itu? Tahukah kau?!”

Wirapati tertawa.

“Mana.... mana aku dapat menerkanya?” Katanya. “Aku tak dapat meramal. Aku bukannya seorang jago ramal. ”

“Jika demikian tak perlu kau menepuk dada dan mengepul diri.” Kata Candra Wulan dengan tersenyum. “Dugaan kakang Mintaraga telah tetap, mari kita mengikutinya. Kita ikuti mereka. Hingga akhirnya kita akan menemukan dan tahu siapakah mereka itu.”

“Candra Wulan kau benar.” Seru Mintaraga sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu kembali sang perjaka melanjutkan perkataannya : “Kita tak usah main terka menerka. Marilah kita ikuti telapak kaki ini, dengan demikian tanpa menerka-nerka lagi kita akan tahu siapa sebenarnya mereka itu.”

Tanpa banyak cakap lagi rombongan Mintaraga lalu melanjutkan perjalanannya. Kini mereka berjalan mengikuti telapak kaki orang asing itu dan perjalanan menuju keutara. Kecuali tapak sepatu itu tak ada telapak lainnya. Kuda maupun gajah.

“Mereka ini adalah manusia-manusia paling tolol dijagat raya ini.” Seru Hasto Piguno dengan perlahan. Saking perlahannya sampai tak ada yang mendengar perkataan si raja pencopet itu. “Mereka melakukan perjalanan dihutan dan daerah asing yang angker ini akan tetapi mereka tak membawa gajah. Bagaimana mereka dapat membawa bekal-bekal mereka? Kalau sebentar lagi kita menemui mereka maka kita akan menemui setumpuk  

tulang-tulang yang putih... kalau bukan mati kelaparan maka mereka akan

mati kehausan.”

Mintaraga berjalan sambil berpikir. Masih saja ia belum mendapatkan dugaan yang tepat. Ia berharap-harap akan mendapatkan suatu petunjuk lain.  

Jauh mereka berjalan, sampai tujuh atau delapan kiloan. Dan merekapun mendapat kenyataan kalau darah-darah yang berceceran itu menjadi semakin banyak. Ini menandakan kalau darah si terluka itu tak henti- hentinya keluar. Pula darah itu dari yang kental menjadi yang semakin segar.

Akhirnya Hasto Piguno mengambil sesobek kain, ia memeriksa itu. “Aneh... aneh...!” Serunya.

“Apakah itu?” Tanya orang-orang yang terus berkerumun.

“Jika penglihatanku tak kabur.” Jawab Hasto Piguno. “Mereka itu tentunya serombongan pendeta, resi ataupun pedanda.” Lalu tanpa menanti sampai Candra Wulan minta keterangan. Ia mendahului menjelaskan.

Sobekan ini adalah sobekan dari ujung baju yang telah robek. Benang yang dipakai adalah benang biru. Benang inilah yang biasa dipakai untuk membuat jubah di Jawa Tengah itu. Sebab benang yang inilah yang sukar dicari dan dijadikan pakaian suci bagi para pendeta ataupun pedanda- pedanda disana.

Namun penjelasan ini masih tetap saja membuat orang masih bersangsi. Mereka masih tetap berjalan terus hingga disuatu ketika Candra Wulanpun menemukan sesuatu. Kali ini penemuan inilah yang memberikan sebuah keputusan.

Barang yang ditemukan oleh Candra Wulan ini adalah sebuah tusuk konde yang panjangnya kira-kira lima senti meter. Kalau tusuk konde seorang wanita tentunya tak sepanjang itu. Akan tetapi orang yang memakai tusuk konde ini pasti kebanyakan pendeta-pendeta atau pedanda-pedanda.

“Pendeta.!” Seru Wirapati mengulangi. “Siapakah dia?”

Mega yang menutupi kekeruhan pikiran Mintaraga telah buyar separuh. Kalau orang yang terluka ini benar-benar pendeta ataupun pedanda maka tak dapat disangkal lagi pasti mereka ini adalah rombongan resi-resi sakti dari Indrakilo. Bukankah sembilan orang resi itu pernah berjanji kalau nanti tiga bulan lagi akan bertemu kembali di Banten? Dan inilah jalan menuju ke Banten. Akan tetapi dugaan ini tak diutarakannya.

Karena itulah mereka tetap berjalan terus. Selama tiga kilo mereka tak menemukan sesuatu yang baru.

“Hee... kembali telapak kaki...” Seru Bojong Papak dengan tiba-tiba. Ia menuju kebarat.

Semua orang memandang kearah itu, akhirnya mereka berjingkrak. Tapak kaki itu kacau dan tentu saja bukan telapak kaki seorang. Ini mesti telapak kaki sebuah rombongan. “Inilah telapak kaki telanjang.” Kata Mintaraga setelah meneliti.

“Tidak salah ki Mintaraga.” Seru Bojong Papak membenarkan. “Ini adalah telapak kaki orang-orang setempat.”

Dugaan itu sangat mengejutkan.

Tapak kaki itu datangnya dari barat. Lalu membelok patah keutara. Jadi itu bersatu dan setujuan dengan telapak kaki para resi itu. Melihat ini Mintaraga hanya dapat mengerutkan keningnya.

“Benarkah orang-orang sini ini mempunyai kepandaian-kepandaian yang hebat? Masakah mereka dapat menghajar sembilan orang resi-resi sakti itu??” Tanyanya.

“Apa? Apakah mereka itu resi-resi dari Indrakilo?” Tanya Candra Wulan dengan terkejut.

Mintaraga tak menjawab pertanyaan adiknya ini. Hanya didalam hatinya kini telah mempunyai sebuah kepastian siapakah gerangan orang- orang yang berjalan kebarat ini.

“Lekas susul.” Serunya. “Marilah kita menolong para resi-resi itu. Sebab terlambat sedikit saja maka kita sendiri yang nantinya akan mengalami kesusahan.”

Sekarang ini tetaplah dugaan mereka itu. Mulanya tapak kaki itu dari selatan keutara, itu memastikan dugaan akan kesembilan resi dari Indrakilo. Hanya saja mengapa mereka itu terluka. Siapakah yang telah berhasil melukainya? Tak sempat mereka itu berpikir. Mereka lalu lari kearah utara, sedangkan orang yang berada didepan sendiri adalah Mintaraga sendiri.

Belasan kilo mereka harus berlari-larian, setelah itu mereka melihat kalau ada serombongan pribumi yang sedang lari mendapatkan mereka. Mereka itu memperdengarkan suara berisik.

“Itulah penduduk sini.” Seru Bojong Papak. “Kita hantam dia atau jangan?”

“Coba kau tanya dulu kepada mereka. Apakah mereka itu telah membinasakan sembilan orang resi-resi Indrakilo atau tidak?!” Jawab Mintaraga dengan tak karuhan.

Bojong Papak menurut. Ia segera lari kedepan. Terus saja berandal itu mendapatkan orang-orang liar setempat. Lebih dahulu ia mementangkan kedua tangannya dan kemudian sebuah jari tengahnya diletakkan dihidungnya. Ia memberi hormat kepada orang yang memimpin orang- orang itu.

Pemimpin orang-orang liar itu membawa sebuah bendera besar yang terbuat dari bulu-bulu burung rajawali dan garuda. Diujungnya tergantung tiga buah tengkorak manusia.

Bojong Papak memberi tahukan kalau ia datang bersama orang-orang Jawa Tengah yang belum pernah datang kemari. Akan tetapi belum lagi Bojong Papak habis mengucapkan perkataannya. Pemimpin dari orang-  

orang liar itu telah mendorong tubuhnya. Ia lalu menunjuk empat buah

kantong air yang berada diatas gajah lalu memperdengarkan suara yang berisik.

Bojong Papak mengerti akan bahasa orang itu, segera ia mengajak bercakap-cakap. Sambil berbicara ia menggoyang-goyangkan kepalanya.

Pemimpin orang-orang liar yang baru saja datang ini tak mengambil peduli. Bahkan kelihatan dengan jelas kalau ia menjadi marah sekali. Dengan cepat ia menghunus goloknya yang besar dan membabatkan pusakanya itu kearah Bojong Papak.

Bojong Papak melompat kepinggir dan berteriak memberitahukan kepada kawannya kalau orang-orang liar ini kekurangan air dan mereka akan merampas air persediaan mereka. Karena itulah Bojong Papak lalu meminta dengan sangat supaya ada yang suka melindungi kantong-kantong air yang hendak dirampas.

Setelah gagal membacok Bojong Papak, maka pimpinan orang-orang liar itupun ialu berhadapan dengan Mintaraga. Sebab Mintaragalah orang yang kedua dan tepat berada dibelakang Bojong Papak. Kelihatannya dia mengerti akan gerak ilmu silat.

Mintaraga mengangkat kedua tangannya, ia menyamplok golok lawan hingga golok itu menjadi terpental. Tapi orang liar itu tak menjadi takut ataupun gentar. Ia tetap maju terus. Jumlah mereka itu kurang lebih empat puluhan orang. Setelah terjadi pertempuran mereka lalu memecah menjadi dua rombongan. Yang serombongan menerjang kearah Mintaraga dan yang lain lalu menyerbu kearah air.

Candra Wulan menjadi panas hatinya ketika melihat tata cara ini. Dengan cepat ia mencabut pedangnya. Sambil berseru keras sekali ia lalu menyambut datangnya serangan-serangan itu. Bahkan bukan hanya menyambut akan tetapi juga balas menyerang dan menghajarnya.

Namun orang-orang liar ini sangat gesit sekali. Gerakan mereka laksana gerakan seekor kera, cara berkelahinyapun sangat luar biasa. Karena itulah tak mudah untuk mengusirnya. Bahkan salah seorang liar itu lalu menikamkan senjatanya kearah Candra Wulan, ia menangkis dan membalas serangan itu dengan juluran pedangnya yang menikam kearah dada lawannya. Kesudahannya ia menjadi heran sekali. Dada orang pribumi ini kena tikaman Candra Wulan, akan tetapi dada itu tak apa-apa. Malahan pedangnya yang terpental. Hingga dengan demikian Candra Wulan menjadi heran sekali.

Sungguh gesit-gesit sekali gerakan mereka. Sewaktu Candra Wulan berdiam diri melompat menubruk. Hingga dengan demikian maka gadis perkasa anak angkat ki Plompong ini jadi roboh terguling.

Wirapati menjadi sangat kaget sekali ketika menyaksikan keadaan Candra Wulan. Ia bermaksud menolong kekasihnya ini. Akan tetapi sebelum  

ia sempat bergerak tahu-tahu Candra Wulan telah dapat melompat berdiri

lagi dan menendang tubuh musuhnya hingga terpental sampai jauh. Selain tendangannya yang hebat itu perempuan muda inipun telah mempergunakan ilmu pukulan Braholo Meta yang kehebatannya telah dikenal oleh seluruh lapisan dunia kependekaran. Hanya gadis ini begitu berdiri mukanya telah berubah. Ia menjadi merah padam karena marah bercampur dengan malu.

Sungguh luar biasa sekali mereka itu. Orang liar ini seperti tak mempan oleh tapak paluning pande dan sisaning gurenda. Hal ini benar-benar membuat Candra Wulan dan Wirapati menjadi kelabakan.

“Candra Wulan... Wirapati... jangan kalian berkelahi dengan cara seperti itu.” Seru Mintaraga sambil melindungi kantong airnya. “Kalian lihatlah caraku ini.”

Candra Wulan dan Wirapati lalu melompat mundur. Sejenak mereka berpaling kearah Mintaraga melihat dengan cara apakah Mintaraga menghadapi mereka. Ternyata Mintaraga menghadapi mereka hanya dengan mempergunakan ilmu totokan jalan darah saja. Hingga dengan demikian Mintaraga akan dapat mencongkel urat-urat mereka hingga salah urat ataupun menotok untuk menghentikan jalan darahnya. Dengan demikian maka tanpa banyak membuang-buang waktu lagi mereka itu telah banyak yang roboh maupun kesakitan.

Setelah menyaksikan perbuatan Mintaraga ini maka Candra Wulan dan Wirapati lalu maju lagi. Kini mereka bertempur dengan mempergunakan siasat yang dipakai oleh Mintaraga. Dan ternyata merekapun dapat berhasil. Dalam waktu yang singkat saja sebagian besar dari lawan-lawannya telah roboh. Hanya yang mengherankan ialah walaupun mereka itu tinggal berenam saja namun orang-orang liar ini masih tetap melawan.

“Hem....” Mintaraga memperdengarkan suaranya. Ia lalu memperhebat serangan-serangannya. Maka tak antara lama kemudian sisa-sisa lawannya itupun roboh semuanya.

“Hebat... mereka tak mempan akan senjata tajam......” Seru Candra Wulan sambil menyeka peluhnya.

Wirapati menyambar salah seorang lawannya, dan kemudian pemuda ini membuka baju lawannya itu. Kelihatanlah kalau lawannya itu memakai sebuah lapisan hitam yang mengkilat, hanya lapisan itu bukannya besi maupun kulit dan ketika dipegangnya terasa licin.

Akan tetapi mereka tak sempat lagi memperhatikan hal itu. Mintaraga lalu mempergunakan Bojong Papak untuk juru bahasanya dalam menanyakan pula mengapa mereka itu hendak merampas persediaan airnya. “Kita kekurangan air, sudah tentu kita harus merampasnya. Kalau kita

tak merampas maka kita akan mati kehausan.” Jawab pimpinan dengan tegas dan sedikitpun tak membayangkan perasaan takutnya.  

“Kalian ini hidup digurun pasir, sangat mengherankan sekali kalau

kalian tak memperhatikan seberapa pentingnya fungsi air itu digurun.” Seru Mintaraga bertanya. “Mengapa kau tak membekal banyak air secukupnya?!”

“Pertamanya kita memang membekal banyak air akan tetapi telah terjadi hal-hal yang dluar dugaan kami.” Kembali pemimpin orang-orang liar itu menjawab.

“Kejadian apakah itu? Coba kau terangkan.” Pemimpin itu mendelik.

“Ini bukan urusanmu.” Bentaknya. “Perlu apakah kau bertanya-tanya tentang keadaanku?”

Akan tetapi mulutnya terus komat-kamit karena kehausan. Bahkan yang lain-lainpun demikian pula. Tak antara lama kemudian mereka lalu berteriak-teriak :

“Air.... Air..... berilah kami air. Sukakah kalian membagi air itu dengan kami?!” Katanya dengan suara yang parau.

Mintaraga tertawa, ia lalu mengambil sebuah kantong air.

“Boleh saja kau minta air, asal saja kau menjawab pertanyaanku.” Kata pemuda itu sambil mempermainkan kantong airnya.

“Baiklah.” Jawab si pemimpin itu. “Berikanlah kepadaku dulu...”

“Tak mengapalah kalau hanya membagi mereka itu seorang seteguk.” Kata Mintaraga. Kemudian ia menyuruh Hasto Piguno dan Wirapati untuk menegukkan mereka yang tak dapat bergerak.

Setelah minum maka pemimpin itu mendapatkan kembali kesegerannya. Akan tetapi ia menjadi heran setelah mengetahui kalau keadaannya menjadi kaku dan ia tak dapat menggerakkan tangan dan kakinya.

Mintaraga hanya tertawa saja.

“Kau ceritakanlah dahulu kejadian apa yang diluar dugaan kalian.

Setelah itu nanti aku akan mengembalikan kemerdekaanmu.” Katanya.

“Kau ini orang aneh. Aku heran...!” Seru pemimpin itu. “Coba kau bebaskan aku terlebih dahulu, nanti aku akan menceritakannya.”

Mintaraga tertawa lagi. Akan tetapi kini ia tahu sikap apakah yang harus diambilnya. Karena itu ia lalu bergerak dengan sebat untuk membebaskan orang-orang yang tadi kena totokannya. Bahkan orang-orang yang tadinya menggereng karena salah uratpun kini telah dapat disembuhkan dengan cepat.

“Nah kau ceritalah sekarang.” Katanya. “Jangan mengimpikan kalau kalian akan dapat kabur.”

Semua orang liar ini memandang dengan heran dan kagum. Mereka hanya melihat kalau Mintaraga itu hanya lari dikelilingnya dan kemudian mereka itu mendapatkan kembali kebebasannya. Karena itulah mereka menjadi sangat girang.  

Pemimpin itu menepuk dadanya.

“Kabur?!” Katanya. “Kami orang-orang dari daerah utara tak pernah kabur dan lari dari medan perang. Aku tadi telah berjanji akan menceritakan kejadian itu. Nah sekarang kalian buka lebar-lebar telingamu aku akan mulai bercerita.” Dan mulailah ia menceritakan apa yang tengah dialaminya barusan.

Kira-kira setengah bulan yang lalu digurun ini kedatangan sembilan orang resi yang sedang bertamasya. Tentu saja mereka itu bukan lain adalah sembilan orang resi-resi sakti dari Indrakilo. Mereka akan menuju ke Banten. Di Banten mereka akan mencari Tunggul Tirto Ayu.

Mereka itu adalah orang-orang sakti, akan tetapi mereka itu tak mempunyai pengalaman yang hebat kalau sedang melakukan perjalanan didaerah gurun pasir seperti ini. Mereka itu tak mempergunakan gajah-gajah dan juga tak membawa bekal air secukupnya. Karena itulah baru sepuluh hari saja mereka telah menderita kehausan. Mulanya mereka itu masih dapat menahan kehausannya. Semakin jauh perjalanan mereka semakin keringlah leher mereka. Lama-lama tenggorokan mereka menjadi bengkak, kepala mereka pusing. Matanya menjadi kabur dan jalannya mulai merayap. Dari diam saja maka lama-kelamaan mereka menjadi menggerundel. Mereka lalu saling menyesalkan keadaannya, dan sedikit saja ada yang tersinggung maka lalu saling hantam-menghantam........

Mendengar   sampai   disitu   maka   semua   orang   menjadi   tertawa.

Mintaraga berkata didalam hatinya :

‘Kawanan resi itu hanya pandai membaca doa saja. Mereka biasa hidup senang maka mana betah sekarang hidup sengsara. Mereka menanggap kalau melalui perjalanan digurun ini akan sama saja dengan perjalanan didalam taman. Tidakkah itu lucu?’

Setelah bercerita sampai disitu, mukanya menjadi merah. Lalu ia berkaok-kaok.

“Dasar anak-anakku tak punya guna.” Katanya melanjutkan. “Celakanya mereka itu justru bertemu dengan anak-anakku. Anak-anakku memang orang-orang yang berhati haik, lalu membagi sebagian air kepada mereka. Setelah minum dan merasakan kalau badannya menjadi segar kembali maka ia lalu membalas kebaikan anak-anakku itu dengan sebuah kejahatan. Mereka berseru. Lalu mereka menerjang anak-amakku untuk merampas air.” Kembali orang itu menghela napas. Namun tak lama kemudian ia melanjutkan perkataannya :

“Terus terang saja, telah beratus-ratus tahun lamanya orang-orang kami ini selalu menjagoi daerah sini. Bahkan dari para pelancong ataupun saudagar-saudagar yang akan lewat daerah ini kami selalu mendapat tanda kenang-kenangan berupa pakaian ataupun bahan-bahan makanan. Akan tetapi siapa tahu disuatu hari yang sial ini daerah kami kedatangan sembilan  

orang resi yang galak-galak. Bahkan resi-resi itu tak mempunyai perasaan

sedikitpun juga. Kamipun yakin kalau sembilan orang resi itu tentunya tak mempunyai banyak bekal yang dibawanya. Dan kami tak akan mengganggunya. Namun dia telah menyerang kami.”

Mendengar ini maka Mintaraga dan kawan-kawannya menjadi tertawa terkekeh-kekeh. Bahkan Hasto Piguno sampai memegangi perutnya.

“Setelah bertempur dengan cepat mereka dapat merobohkan anak- anakku ini.” Seru pemimpin itu melanjutkan ceritanya. “Kehebatan mereka itu sama dengan kehebatanmu. Biarpun kami memakai pakaian lapis yang tak dapat dirobohkan dengan senjata tajam, akan tetapi tetap saja kami dapat dikalahkan dan kantong-kantong air kami dapat dirampas. Anak-anakku ada yang mati dan yang lukapun tak kurang. Yang pulang hanya empat. Ketika aku mendengar laporan mereka maka aku sangat marah sekali. Karena itulah aku lalu mengajak seluruh anak-anakku untuk pergi menuntut balas ”

“Jadi kaulah yang melukai sembilan orang resi itu?” Potong Kembang Arum yang telah tak sabar lagi.

“Sedikitpun tak salah.” Jawab pemimpin orang-orang liar itu sambil menepuk-nepuk dadanya.

Kembang Arum menjadi heran sekali. Ia menyan-ka kalau pemimpin orang-orang liar itu dapat mengalahkan sembilan resi sakti dari Indrakilo itu hingga ia mendesak untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang lanjut. “Sebelum aku dapat menyusul mereka, terlebih dulu sembilan orang resi keparat itu  telah diserang badai.” Seru pemimpin itu dengan lanjut. “Huahaa.... Huahaaa... tepat seperti apa yang kukatakan. Orang  jahat tentunya dibalas dengan kejahatan pula oleh yang membuat hidup. Orang baik tentunya dibalas baik pula. Badai digurun pasir pegunungan Cikurai ini sungguh amat ditakuti, walaupun setanpun akan berpikir-pikir dahulu kalau menghadapi hal semacam ini. Badai pasir yang dilanda angin puyuh. Walaupun kami yang telah biasa menghadapi badai itu saja masih tetap kami tak luput dari kebinasaan dan kelukaan. Hanya anehnya mereka itu telah diserang oleh badai yang hebat... jumlah mereka itu sembilan orang akan

tetapi mereka masih tetap utuh sedikitpun tak ada yang bercerai-berai.

Setelah badai mengamuk maka habislah kantong-kantong air mereka, bahkan pakaiannyapun mulai compang-camping. Mereka semua terluka. Kepala dan seluruh tubuhnya telah terbungkus oleh pasir-pasir yang ditiup oleh prahara. Mereka kelihatan rebah diatas pasir dengan tak dapat bergerak. Kusangka mereka tentunya telah lima hari lima malam tak makan dan tak minum. Disaat inilah kami akan menuntut balas. Jumlah kami kurang lebih seratusan orang. Dengan bersama-sama kami lalu menyerang.

Dengan keadaan yang terluka para resi itu terus berjuang dengan mati- matian untuk mengalahkan kami, akan tetapi disaat yang sangat kritis bagi mereka. Maka sembilan orang resi itu lalu menggabungkan diri menjadi satu.  

Kadang-kadang mereka itu berpencaran dan kemumdian saling lari berlari

untuk belakang membelakangi. Dengan cara demikian ini maka mereka dapat membuat usaha kami menjadi sia-sia saja. Padahal kita telah bertempur selama sehari semalam tanpa berhenti....

Pemimpin orang-orang liar itu kelihatan memperlihatkan wajah yang heran.

“Kalian orang-orang Jawa Tengah benar-benar aneh.” Serunya melanjutkan ceritanya itu. “Setelah sehari semalam mereka itu tak kelihatan lesu bahkan seperti tak terjadi apa-apa saja. Kami sebaliknya yang telah kehabisan air terus saja menjadi sangat lemah. Karena keadaan inilah maka kami terpaksa memberi ampun kepada mereka dan meninggalkan mereka pulang. Pulang untuk mempersiapkan perbekalan-perbekalan baru. Digurun inilah kami menjadi tuan rumah, dan tetamu jahat yang bagaimanapun akan tak dapat meloloskan diri dari kami. ”

“Kau mengepul hebat sekali...!” Seru Candra Wulan dengan nada yang sangat dingin. “Apakah kau telah berhasil meringkus mereka itu?!”

Pemimpin itu merasakan kalau mukanya menjadi panas. Kulit mukanya menjadi merah. Semerah muka perempuan yang ditantang kawin.

“Inilah anehnya.” Serunya dengan jengah. “Ini dia yang kusebut diluar dugaan. Dengan membawa cukup banyak rangsum dan air maka kami lalu pergi mencarinya lagi. Dihari-hari biasa maka hidung kami menjadi tajam bagaikan hidung-hidung anjing pemburu. Sekali mencium maka akan tahulah dimana kelinci-kelinci itu bersembunyi. Kali ini kami roboh. Untuk empat lima hari kami sia-sia saja untuk mencari mereka itu. Entah mereka itu telah bersembunyi dimana, atau mereka telah kabur kemana. Tegasnya mereka lenyap ”

“Fuiii...!” Seru Candra Wulan dengan meludah. “Sungguh kau ini orang tolol. Apakah kalian tak dapat mencari mereka itu dengan mengikuti jejak kakinya?”

“Untuk itu apakah kami harus belajar darimu? Huh! Kalau kami mencari seseorang maka kami akan selalu mencari dengan jalan mengikuti jejaknya. Yah jejak kakinya...” Ia meraba kepalanya dan kedua matanya dipentang lebar-lebar. “Kita mengikuti akan tetapi kita tak dapat menemukan mereka sia-sia saja kita mengikuti ketimur dan kebarat. Ada kalanya kita mendapatkan telapak kaki akan tetapi ternyata kita akan kembali lagi ketempat yang semula. Ini dia anehnya. Apakah mungkin mereka itu pandai mempergunakan ilmu siluman? Apakah tapak kaki itu bukan kepunyaan mezeka? Kalau bukan, kepunyaan siapa lagi?”

Kembali pemimpin itu membuka matanya lebar-lebar dan kemudian dari mulutnya ia berteriak dengan keras.

“Heran... heran. !”  

Sekarang Mintaragapun ikut merasakan keheranannya ini. Dengan

mengikuti telapak kaki, tidak ada alasan mengapa ia tak dapat menemukan orang-orang yang sedang dicarinya. Bersama dengan itu iapun lalu merasa kasihan sekali kepada resi-resi Indrakilo itu, hingga keras keinginannya untuk menolong mereka. Bukankah mereka itu tengah menderita? Bahkan mungkin juga sedang bercanda dengan maut. Hanya dimanakah mereka itu bersembunyi??

“Apakah kau masih mempunyai niat untuk mencari mereka?” Tanya Mintaraga kepada pimpinan orang liar itu.

“Itu tak usah dikatakan lagi.” Jawab pemimpin itu dengan nada yang tak puas. “Hanya mungkin mereka itu telah dicengkeram oleh burung- burung gurun lereng Cikurai ini. Kalau tidak dimanakah mereka itu bersembunyi? Mustahil ada tapak kakinya akan tetapi tak ada orangnya?!”

“Cukup sudah.” Seru Mintaraga mencegah. “Sekarang marilah kita cari mereka. Air dan barang makanan kami kalianpun berhak memakan serta minum asalkan kalian jangan main gila. Asal kalian mau dengan baik-baik saja mengikuti kami maka kamipun tak akan mengganggu kalian.”

Pemimpin itu telah menginsyafi akan kesaktian Mintaraga, sekarang mereka hendak diajak mencari musuhnya. Tentu saja mereka menerima ajakan itu dengan hati penuh kegirangan.

“Baiklah.” Katanya kemudian. Bahkan tanpa disuruh lagi mereka lalu membantu untuk menuntunkan gajah-gajah serta kuda Mintaraga.

Dengan demikian maka rombongan Mintaraga ini menjadi semakin besar. Puluhan orang mulai menjalankan tugasnya untuk mencari sembilan orang resi dari Indrakilo. Sudah setengah hari lamanya mereka itu berjalan, akan tetapi tetap saja mereka tak dapat menemukan jejak resi Giri Pragoto beserta adik-adiknya. Biarpun mereka sering mendapatkan telapak-telapak kakinya.

Waktu itu matahari telah berada ditengah kepala mereka. Mereka semua telah mandi keringat, pakaianpun telah basah kuyup.

“Sudahlah kakang Mintaraga, tak perlu kita mencarinya lagi.” Seru Candra Wulan. Ia seperti hendak menyesalkan. “Bisa jadi mereka itu membohongi kita. Mana dapat mereka itu dipercaya?!”

Pikiran Mintaraga tak dapat diubah.

“Mati atau kehidupan mereka itu tergantung oleh saat ini.” Katanya. “Adi Candra Wulan, jika kau takut letih maka tunggulah disini.”

“Siapakah yang takut letih?!” Kata gadis itu dengan marah. “Aku hanya khawatir kalau nanti kau mencapaikan diri namun tak akan ada hasilnya. Dan akhirnya kau tetap ditipu oleh mereka itu. Bukankah mereka itu telah memancing kau dan akan dibawanya entah kemana dengan cerita yang dibuat-buat tadi?!”  

“Baiknya kau jangan terlalu curiga dan mempunyai pikiran yang tidak-

tidak adi Candra Wulan.” Seru Mintaraga dengan sabar. “Aku percaya betul kalau sembilan orang pamanmu itu telah sampai digurun ini. Untuk kebaikan kita maka kita harus menemuinya dahulu.”

Candra Wulan tak mengatakan apa-apa. Hanya mulutnya saja kelihatan komat-kamit, inilah yang menandakan kalau gadis itu masih tetap tak puas dengan perkataan kakaknya itu.

Mereka itu berkata-kata dengan bahasa Jawa. Bojong Papak tak menterjemahkan maka mereka itu tak mengerti apa-apa. Dan tak tahu apa yang sedang dipercakapkan oleh kedua orang itu.

Mereka berjalan terus sampai mendadak saja Kembang Arum berseru : “Aneh, bukankah ini jalan yang tadi baru saja kita memulainya?!”

Katanya dengan penuh keheranan.

Semua orang heran dan segera mereka memandang kearah sekitarnya. Memang tempat itu adalah tempat yang sejak mereka semula tadi berangkat. Mereka lalu bersangsi.

“Kalau demikian maka tak salah lagi perkataan orang liar itu.” Seru Mintaraga. “Aku hanya sangsi kalau kesembilan orang resi sakti itu dapat mempergunakan ilmu meminjam tanah seperti yang dipunyai oleh Raden Ontorejo dalam cerita pewayangan dahulu itu. Ontorejo adalah putra Haryo Werkudoro dengan Dewi Nogogini yang dapat masuk kedalam tanah.

Wirapati menjadi penasaran. Ia lalu mencabut goloknya dan menancapkan kedalam tanah.

“Mari kita terus berjalan, golokku ini akan menjadi tanda.” Katanya dengan lantang.

Orang-orang setuju dengan pendapat ini, maka mulailah mereka itu meneruskan perjalanannya. Kali ini mereka berjalan dengan penuh perhatian. Jalannya tetap seperti semula tadi. Banyak pengkolannya. Mereka berjalan sampai melihat cahaya berkilauan yang kekuning-kuning emas.

“Ha... benar kita kembali ketempat asal.” Seru Wirapati. “Benarlah apa yang dikatakan oleh pemimpin itu.”

Cahaya berkilauan yang kekuning-kuning emas itu adalah cahaya dari golok Wirapati yang tadi ditancapkan diatas tanah.

Semua orang saling berpandangan, akan tetapi mulut mereka tetap bungkam. Tak seorangpun yang mengeluarkan perkataan.

Melihat hal ini Mintaraga menjadi masygul sekali.

“Biarlah kita bermalam disini.” Katanya kemudian. “Marilah kita mendirikan tenda. Setelah makan kita tidur, biar besuk pagi saja kita pikirkan hal ini. Besuk pagi pikiran kita akan bertambah jernih. Bukan seperti sekarang karena telah penat.”  

Dengan bantuan orang-orang liar itu maka sebentar saja dua buah tenda

besar dapat berdiri. Setelah bekerja makanan dan air lalu dibagi. Benarlah setelah makan mereka lalu tidur.

Orang-orang liar itu dengan pemimpinnya sekali membangun tenda tak sebegitu jauh. Merekapun menyalakan api unggun. Tak lama kemudian mereka lalu tidur dengan nyenyak karena kelelahan dijalan.

Mintaraga tidur disebuah tenda bersama dengan Wirapati, Hasto Piguno dan juga Bojong Papak. Pikirannya dengan keras dipakai untuk memecahkan persoalan aneh yang tengah dihadapinya itu. Ia memikirkan sembilan orang resi sakti itu. Sampai tengah malam ia masih belum dapat tidur dengan pulas karena gangguan-gangguan pikirannya itu. Karena tak dapat tidur maka ia lalu keluar dari tenda. Begitu keluar lalu memperdengarkan tiga kali suitan. Tak lama kemudian muncullah Kembang Arum.

“Apakah kau tak dapat tidur kakang?” Tanya gadis itu. “Kau?” Jawab Mintaraga yang membalas bertanya. “Kalau begitu marilah turut aku melihat-lihat kesana.”

Malam itu terang bulan dan bintang-bintangpun bertebaran diatas angkasa raya. Udara bersih dan dingin. Malam terang bulan dipadang pasirpun mempunyai keindahan tersendiri.

Dengan bergandengan tangan Mintaraga berjalan pelan-pelan diatas pasir. Angin dingin meniup mereka hingga Kembang Arum menjadi menggigil kedinginan.

“Siang panas terik, akan tetapi kalau malam dinginnya bukan buatan.

Beginilah sifat dari gurun pasir.” Seru Kembang Arum dengan perlahan.

Mintaraga tetap tenang saja. Ia tengah memusatkan pikirannya untuk memecahkan kesulitannya ini.

“Pada dua bulan yang lalu kita bergandengan tangan dan berpesiar ditempat yang indah di Jawa Tengah sana.” Kata Kembang Arum. “Akan tetapi siapakah yang menyangka kalau dua bulan kemudian kita berada disini. Ditempat yang sangat gersang dan bergandengan tangan lagi... beginikan kehidupan manusia.”

Mintaraga masih tetap menundukkan kepalanya. Hanya kakinya saja yang bergerak melangkah setindak demi setindak.

“Eh... kakang Mintaraga, mengapa kau diam saja?” Tanya Kembang Arum kemudian. “Kau... kau tak melayani aku ?”

Mendadak Mintaraga mengangkat kepalanya.

“Oh... begitu?” Katanya heran. Ia menarik keras hingga Kembang Arum menjadi terjerunuk.

“Oh... kakang Mintaraga, kau membuat apakah?” Tanyanya dengan kaget.

Mintaraga tertawa secara tiba-tiba.  

“Mari turut aku.” Katanya. Dan ia menarik pula, sampai ditempat

dimana terdapat telapak kaki. Disitu mereka jongkok lalu menyalakan api. “Kau lihat Kembang Arum, ini apa?” Katanya.

“Apa?” Tanya gadis itu dengan kurang puas. “Kau menyuruh aku melihat apakah?” Ia menyangka kalau Mintaraga tentunya akan mengajaknya mengalun asmara dan membuai kasih sayang. Tidak tahunya hanya untuk telapak kaki itu.

“Jangan kau marah Kembang Arum.” Seru Mintaraga dengan tertawa. “Kau lihatlah telapak kaki ini ada yang luar biasa atau tidak?!”

Kembang Arum adalah seorang gadis yang cerdas. Ia segera menduga sesuatu. Sikap Mintaraga memang aneh.

“Mungkin ia telah mendapatkan sesuatu.” Pikirnya. Maka iapun lalu ikut memperhatikan telapak kaki itu. Tiba-tiba saja........

“Aneh. !” Serunya.

“Apakah yang aneh?” Tanya Mintaraga dengan tertawa.

“Siapapun yang berlari dengan cepat maka ia akan memakai tenaga kaki bagian depan, bukan bagian belakangnya.” Jawab Kembang Arum. “Akan tetapi telapak kaki ini kelihatan jelas kalau didepan enteng dan dibelakangnya berat. Ah. apakah artinya ini?!”

Mintaraga menarik napas lega.

“Akhir... akhirnya aku dapat memikir.” Katanya kemudian. “Tapak kaki ini adalah tapak kaki dari resi-resi Indrakilo. Tak dapat tidak. Huahaa...

Huahaa... Huahaa.... orang-orang liar itu dapat diperdayakan dan kitapun kena terperdaya pula. Resi Giri Pragoto benar-benar hebat sekali. Dia sengaja mempergunakan telapak kaki ini. Kelihatannya ia menuju keselatan dan keutara,   akan   tetapi   sebenarnya   ia   dari   selatan   keutara.   Huahaaa...

huahaaaa.... huahaaa.... masakah kita diajaknya main petak (petak sama dengan gobak sodor bahasa jawanya).”

“Jika demikian maka orang-orang liar itu tentunya telah mengambil jalan yang bertentangan dengan kepergian sembilan orang resi itu.” Seru Kembang Arum dengan heran. “Dengan demikian kalau kita mengejar telapak kaki ini semakin lama semakin jauh jaraknya dengan orang-orang yang hendak kita cari itu.......

“Memang.” Jawab Mintaraga membenarkan. “Giri Pragoto cerdik, karena itu ia mempergunakan akal ini. Pasti seratus tahun mereka lakukan tetap saja orang-orang liar itu tak akan dapat menemukannya. Kalau nanti perbekalan air dan makanan kemanakah mereka akan pergi? Tentu mereka akan kelaparan dan kehausan sendiri. Akhirnya mereka akan mati.”

“Mengapa resi Giri Pragoto itu berbuat demikian?”

“Mereka kini sedang terluka tentu saja mereka ingin mendapatkan tempat yang aman untuk menyembuhkan luka-lukanya. Dan terang kalau mereka tak mau diganggu oleh orang-orang liar itu.”  

“Lalu bagaimanakah sekarang sikap kita? Kita tolong sembilan orang

resi itu atau kita biarkan saja mereka itu terluka?!”

“Sudah jelas kalau kita harus menolongnya. Bahkan kita harus bekerja dengan cepat, supaya sebelum fajar menyingsing kita telah mendapatkan mereka. Marilah kita berangkat berdua saja. Kita harus dapat berangkat tanpa membangunkan Candra Wulan dan yang lain-lainnya.”

“Baiklah.” Seru Kembang Arum yang terus saja menyetujuinya.

Keduanya lalu berjalan bertentangan dengan telapak-telapak kaki yang tadi diikutinya itu. Lama mereka berjalan. Akan tetapi mereka belum juga memperoleh hasil. Setelah berjalan kurang lebih dua jam, mereka lalu kehilangan jejak.

Tatkala itu fajar telah mulai menyingsing. Kembang Arum memandang kesekitarnya.

“Jangan gelisah.” Mintaraga menghibur. “Mereka tentu berada didekat- dekat sini saja.”

“Mengapa kau dapat berkata demikian?”

Mereka tak dapat berjalan terlalu jauh. Sesampainya disini mereka tentunya mencari tempat untuk bersembunyi. Mereka memerlukan istirahat. Disini mereka menghapus tapak kaki mereka, Coba lihat bukankah pasir disini ini berbeda dengan pasir-pasir yang berada ditempat lain?”

Kembang Arum lalu memandang kearah sekitar, dan benar saja apa yang dikatakan oleh Mintaraga itu. Pasir disitu tak sama dengan yang lain- lainnya.

“Sekarang marilah kita mulai mencari dengan berpencaran.” Ajak Mintaraga. “Siapa yang menemukan sesuatu ia harus bersiul dengan panjang.”

Kembang Arum menyetujui. Ia lalu pergi kearah timur dan Mintaraga sendiri berjalan kearah barat.

Setengah jam kemudian terdengarlah siulan panjang dari Mintaraga. Maka Kembang Arum lalu lari dengan bergegas-gegas menemui kekasihnya.

“Bagaimana?”

Mintaraga berdiri diatas tanjakan, kemudian menunjuk kearah selatan. “Lihat itu tempat yang bergelempang hitam kehijau-hijauan.” katanya

dengan perlahan. “Itu yang disebut daerah kesemakmuran gurun. Pasti mereka bersembunyi disana.”

Kembang Arum setuju, dan mereka segera lari kearah itu. Tak lama kemudian sampailah mereka ditempat yang dituju. Ternyata disana tumbuh belasan pohon-pohon besar. Luas tanah sekitarnya hanya beberapa hektar saja. Disekitar situ terdapat rumput yang masih menghijau. Disitupun segera terdengar rintihan orang.

Kembang Arum menjadi girang sekali.

“Benar-benar mereka bersembunyi disini.” Bisiknya.  

“Kita harus mengintai dahulu, jangan kita membuat kaget kepadanya.”

Jawab Mintaraga dengan berbisik pula.

Dengan berindap-indap mereka mulai maju. Ditepinya ada sebuah kubakan yang airnya jernih. Disana tampak ada sembilan orang resi. Ada yang duduk ada yang rebah dan lain-lainnya.

“Selewatnya hari ini kita akan menuju keselatan.” Seru resi Giri Pragoto yang sebelumnya telah menarik napas panjang. “Kita harus menahan sabar dan berlaku ulet. Paling dahulu kita harus menyingkir dari daerah iblis ini. Kemudian kita pulang kegunung kita untuk merawat diri.”

“Mana dapat kita berjalan?” Tanya resi Jlontrot Boyo yang terluka dikepalanya. Darahnya masih terus mengalir dan hanya dibalut dengan kain- kain rombeng. Ia kelihatan merintih lagi :

“Aku khawatir kalau sebelam kita berhasil keluar dari daerah ini kita telah kehilangan nyawa dengan sia-sia ”

Mintaraga melihat dengan jelas kecuali resi Giri Pragoto maka delapan orang resi lainnya semuanya telah terluka parah. Ada yang ditangannya, ada pula yang dikakinya. Itulah tanda kalau mereka habis kalah perang.....

“Emposlah semangatmu.” Seru resi Giri Pragoto dengan tak senang melihat kelemahan adiknya itu. “Dengan berdiam diri disini saja kalau kita tak bertemu dengan orang-orang iblis itu, tentunya kita akan mampus kelaparan. Paling tidak kita akan mampus karena sakit perut. Sudah tiga hari lamanya kita menahan lapar.”

Resi Giri Pragoto lalu jongkok dan tangannya mengorek-ngorek rumput. Entah apa yang didapatkan, semut ataukah bangsa undur-undur. Ia lalu mementang mulutnya dan tertawa. Ditempat seperti itu jangankan mengharap kelinci, biar semut saja sukar untuk mendapatkannya.

Mintaraga menjadi sangat terharu ketika melihat keadaan mereka.

Resi Giri Pragoto lalu menyalakan api, memanaskan sebuah batu lebar, disitu ia meletakkan segumpal semut yang didapatnya. Setelah matang maka ia lalu membagi-bagikan kepada anak buahnya. Atau tepatnya adik-adik seperguruannya.

Itulah cara hidup manusia sebelum tercatat oleh sejarah. Melihat ini muaklah perut Kembang Arum, hingga mereka lalu berpaling untuk tak melihat kejadian yang mengenaskan dan ngeri itu.

Sehabis makan Resi Giri Pragoto lalu menyeka mulutnya.

“Sudah... syukurlah   kita   tak   sampai   mati.”   Katanya. “Huahaaa....

huahaaa.... huahaa.... siapa sangka kalau kita telah mendapatkan sesuatu. Jikalau dapat kita pulang kegunung kita, maka perjalanan ini tak akan sia- sia biarpun perjalanan kita ini kita lakukan dengan penuh penderitaan.”

*

* *  

Mintaraga mendengar perkataan resi Giri Pragoto ini.

“Entah apakah yang telah mereka dapatkan itu.” Ia terus menduga-duga dan juga memasang matanya dengan tajam.

Resi Giri Pragoto memegang segumpal benda hitam, mirip bahan kayu. Ia lalu merobek itu menjadi potongan-potongan, lalu dia mengayun- ayunkan. Nyata kalau ia puas sekali.

“Adik-adikku, sungguh tak kusangka sekali kalau kita akan mendapatkan kayu besi ini.” Katanya sambil tertawa. “Kalau nanti kita dapat pulang maka kita akan memanggil seorang tukang pande dan menyuruhnya membuatkan kita baju lapis yang tak dapat ditembus dengan senjata tajam. Kulit kayu inilah yang akan kita pergunakan untuk lapisan baju kita. Setalah itu tak perlu kita takut lagi kepada orang-orang sakti di Jawa Tengah apa lagi kepada Mintaraga si anak bau itu....

Mintaraga dan Kembang Arum saling berpandangan. Mengertilah mereka sekarang. Didaerah ini ada semacam pohon yang dinamakan pohon besi. Sari-sari kulitnya inilah yang dapat dijadikan perisai oleh penduduk- penduduk setempat.

Pantas dengan memakai baju yang tak dapat ditembus dengan senjata tajam ini maka orang-orang liar itu dapat menjagoi gurun dan lereng gunung Cikurai ini.

Mendadak saja resi Giri Pragoto melompat bangun dan mukanya berubah menjadi pucat.

“Ada orang.” Katanya dengan perlahan. Ia lalu mendekam untuk memasang kupingnya ditanah. Lalu ia berteriak dengan keras :

“Celaka... orang biadab itu datang lagi. ”

Kata-kata itu membuat delapan orang resi lainnya menjadi kaget sekali. Dengan memaksakan dirinya mereka terus bangkit. Muka mereka itu pucat semuanya.

“Oh... Tuhan, benarkah kita mesti mati ditempat yang asing ini?” Keluh resi Giri Pragoto sambil mengadahkan mukanya kelangit yang biru.

Jlontrot Boyo sebaliknya terus berseru :

“Lekas atur barisan kita.”

Semua resi terus bergerak dengan serentak. Resi Giri Pragoto diam ditengah-tengah. Lalu katanya. “Adik-adikku marilah kita menggertak gigi. Kalau kita gagal maka kita tak akan dapat lolos dari pintu kematian. ”

Kembali Jlontrot Boyo berteriak : “Gunakan ilmu pukulan meleburkan hati... Gunakanlah ilmu pukulan Gundala Kurda........ Rusak dulu baju lapis mereka ”

Seperti kita ketahui kalau ilmu pukulan meremukkan hati ini adalah sebuah ilmu yang telah diturunkan kepada Candra Wulan dan kehebatannya  

pukulan ini sangat luar biasa sekali. Biarpun belum dapat menandingi

pukulan Braholo Meta.

Sewaktu kesembilan orang resi ini sedang gelisah, disana terdengar suara riuh kaki yang mendatangi. Yang datang itu benar-benar rombongan orang-orang liar yang mereka sebut orang biadab tadi. Mereka terus menyerbu sambil berteriak-teriak. Pemimpinnya maju paling depan.

Resi Jlontrot Boyo segera turun tangan, ia menyerang si pemimpin. Akan tetapi ketika pemimpin itu menangkis maka resi tua itupun lalu terhuyung- huyung.

‘Resi Jlontrot Boyo ini mempunyai kesaktian yang boleh juga, akan tetapi ia masih tak dapat melawan. Hingga dengan demikian dapatlah dipastikan kalau luka yang dideritanyapun sangat hebat.’ Pikir Mintaraga yang terus bersembunyi dibalik pohon.

Orang-orang liar ini tak menggubris lagi tentang kehebatan barisan sembilan resi sakti itu. Mereka terus menerjang dengan berulang-ulang. Pertamanya sembilan orang resi itu masih tetap dapat bertahan. Namun lama-kelamaan merekapun terdesak juga. Ketika Blendrong kena ditubruk hingga roboh maka pecahlah barisan istimewa itu.

Resi Giri Pragoto yang hebat itu dapat merobohkan empat atau lima orang musuh. Akan tetapi ia tengah terluka, setelah habis tenaganya ia menjadi sangat letih. Ia hanya dapat memandang bagaimana Blendrong bergulat dengan orang yang merobohkannya itu. Yang lain-lainpun berkelahi sendiri-sendiri.

“Kakang Mintaraga apakah kau tak mau segera turun tangan?” Tanya Kembang Arum kepada kekasihnya.

“Sembilan orang resi itu menghendaki Tunggul Bintoro untuk kepentingan pribadi, perbuatan mereka itu sungguh tak tepat.” Seru Mintaraga. “Biarlah mereka itu merasakan penderitaan yang lebih hebat lagi. Masih ada waktu untuk kita menolongnya.”

Dan ia menonton terus.

Hebat sekali kesembilan orang resi itu yang sedang berjuang untuk mempertaruhkan kehidupannya. Akhirnya Kembang Arum tak sampai hati. Dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya.

“Resi Giri Pragoto aku datang.” Serunya.

Heran sekali sembilan orang resi itu, hingga mereka melengak. Mereka segera mengenal Kembang Arum, dan seketika itu juga mereka ingat kepada Mintaraga si pemuda yang mempunyai kepandaian hebat. Tiba-tiba saja mereka menjadi kegirangan. Kembang Arum maju, tangannya diulap- ulapkan.

“Orang-orang liar berhentilah.” Katanya. “Kalau tak mau aku tak akan sungkan-sungkan lagi.”  

Orang-orang liar itu tak mengerti akan maksud perkataan Kembang

Arum. Karena itulah ia masih tetap menyerang terus dengan hebat. Bahkan kelihatan kalau mereka itu berusaha dengan sangat untuk membunuh sembilan orang resi yang dianggapnya jahat.

Kembang Arum menyambar seorang dari manusia-manusia liar itu, setelah itu ia mengangkat dan melemparkannya hingga orang itu jatuh dan setengah mati.

Melihat ini marahlah sang pemimpin.

“Apakah kau hendak membantu musuh-musuh kami itu? Apakah kau kini akan berbalik menghajar kami?!”

Kembang Arumpun tak mengerti akan bahasa orang itu, hingga si gadis tetap saja bergerak dengan cepat dan sebat.

Seorang liar telah berlaku curang. Ia membokong Kembang Arum dari belakang. Goloknya terus diayunkan untuk membelah dua badan Kembang Arum yang ramping dan padat itu. Namun tanpa menoleh barang sedikitpun juga Kembang Arum berhasil menangkis hingga golok lawannya itu terpental dan terlepas dari tangannya. Setelah itu Kembang Arum tak mau bekerja kepalang tanggung, terus saja orang itu dipegang dan dilemparkan. Akan tetapi sungguh celaka sekali orang setengah biadab itu, begitu dilempar ia terus jatuh tepat mengenai goloknya. Hingga ia sama saja dengan disembelih. Sebentar saja ia merintih dan akhirnya berdiam untuk selamanya.

Sampai disitu Mintaragapun melompat keluar.

“Kembang Arum sabar.” Serunya. Ia segera menyerang. Sebentar saja orang-orang liar itu telah kena totokannya lagi. Hingga mereka hanya berdiri dan jatuh tertelungkup bagaikan patung-patung kaku.

Resi Giri Pragoto menahan napas yang memburu itu, bahkan dengan lengan bajunya yang panjang itu si kakek resi ini lalu menyusut peluhnya.

“Mintaraga kau datang?!” Tegurnya dengan tertawa.

“Benar, apakah kalian tak kekurangan sesuatu apa? Baik-baik saja bukan?!” Kembali Mintaraga menjawab. Kemudian ia menolong kawanan resi itu dan dibantu oleh Kembang Arum.

Ketika kedua orang itu sedang repot datanglah Candra Wulan, Wirapati dan Hasto Piguno. Bahkan Bojong Papakpun ikut bersama mereka.

Melihat kedatangan mereka ini sembilan orang resi itu menjadi heran dan juga girang sekali. Heran karena mereka tak menyangka kalau rombongan itu dapat mencari persembunyiannya. Girang karena dengan adanya mereka itu maka para resi tak perlu takut lagi kepada rombongan orang-orang liar setengah biadab itu.

Setelah terang tanah maka kesembilan orang resi itupun dapat ditolong semuanya.  

“Resi Giri Pragoto, kalian ini masih akan meneruskan perjalanan ke

Banten atau tidak?” Tanya Mintaraga dengan tertawa.

“Jangan kau kegirangan kawan.” Jawab Resi Giri Pragoto. “Setelah sembuh kami tak akan melepaskan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dan kebesaran kerajaan Demak Bintoro itu.”

Mintaraga tahu kalau mereka ini sedang berhadapan dengan orang- orang yang berkepala batu.

“Resi Giri Pragoto.” Katanya kemudian. “Kita telah berjanji untuk bertemu di Banten. Bukankah pertandingan kita yang kedua akan dilakukan disana? Bagaimana sekarang? Bukankah kalian tak dapat pergi kesana?”

“Kalau benar bagaimana?” Tanya Resi Giri Pragoto dengan sinar mata menyala.

“Kalian tak dapat pergi kesana, akan tetapi sebaliknya kami dapat pergi kesana, bukankah demikian ki resi?”

“Kalau benar pergilah.” Kembali resi Giri Pragoto berseru. Mintaraga menepuk pahanya.

“Kalau demikian aku ingin meminjam peta kalian. Kalian tunggulah sampai aku berhasil merobohkan Arya Panuju. Setelah merobohkan Arya Panuju maka aku akan mengambil Tunggul Tirto Ayu sekali. Sekembalinya aku ke Jawa Tengah maka kita nanti akan bertanding lagi. Waktu itulah kita akan mendapat kepastian siapakah yang akan memiliki Tunggul Tirto Ayu itu ”

Resi Giri Pragoto berpikir dan menimbang-nimbang. Memang tak dapat ia tak menyerahkan Tunggul Bintoro itu, hanya saja ia merasa penasaran sekali kalau harus menyerahkannya. Lama orang itu mengasah otaknya, akan tetapi belum juga mendapat kepastian yang meyakinkan.

Seperti diketahui kalau jumlah peta itu ada tiga buah. Satu dpegang oleh Arya Panuju, satu dipegang oleh Mintaraga dan yang satu lagi berada ditangan kawanan resi-resi Indrakilo ini. Akan tetapi kepunyaan Mintaraga telah diperdayakan oleh Arya Panuju hingga dengan demikian maka Arya Panuju mempunyai dua lembar.

Namun nasib baik belumlah nomplok ditangan orang Banten itu, sebab begitu ia bertemu dengan kawanan resi-resi Indrakilo maka dengan taruhan sehelai peta ia masih kalah bertanding, hingga dengan demikian kawanan para resi inilah yang mempunyai dua lembar.

Akan tetapi setelah Mintaraga sadar akan kekeliruannya, segera ia mencuri peta itu. Dengan perjuangan yang hebat dan mempertaruhkan nyawanya maka Mintaraga si anak muda yang sakti ini telah dapat merampas kembali sehelai petanya dari tangan para resi Indrakilo itu. Hingga dengan demikian maka kembalilah seorang memegang sebuah. Kembali seperti semula.

Mintaraga tertawa lalu katanya :  

“Resi Giri Pragoto, kita masih harus melakukan pertempuran yang

kedua. Akan tetapi setelah melihat keadaanmu yang begini aku tak tega dan tak sampai hati untuk menurunkan tangan jahat kepada kalian. Akan tetapi kalau kalian masih kukuh dengan pendapat-pendapatmu itu maka apa daya... terpaksa aku turun tangan untuk melawan kalian. Biarlah aku akan mencoba barisan sembilan resi sakti dari Indrakilo ”

“Sungguh kau ini seorang bocah yang tak tahu malu...” Bentak resi Jlontrot Boyo. “Apakah kau tak melihat kalau kami tengah terluka parah?”

“Paman...!” Seru Candra Wulan. “Jika kami tak datang tepat pada waktunya maka kalian bukanya hanya terluka parah saja akan tetapi. ”

Candra Wulan tak sanggup meneruskan perkataannya itu, sebab ia tak sampai hati untuk mengatakan kalau adik-adik seperguruan ayahnya ini akan mampus ditangan orang-orang setengah biadab itu. Karena pikirannya inilah ia tak meneruskan perkataannya.

Resi Giri Pragoto menyeringai. Ia merasa kalau dipihaknya serba salah. Ia tetap tak mendapatkan jalan lain. Karena itulah mau tak mau ia harus menyerahkan peta itu kepada Mintaraga. Kalau mereka dipaksa mana dapat mereka itu mempertahankan diri??

“Baiklah Mintaraga.” Katanya dengan lemah. “Akan tetapi perkataan kita ini adalah sebuah perjanjian baru.” Setelah berkata demikian maka resi Giri Pragoto lalu menyerahkan petanya.

Tanpa sungkan lagi Mintaraga lalu menyambutnya. Setelah memasukkan petanya itu ia lalu berkata :

“Janji kita telah pasti. Setelah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu aku akan segera pergi kepadepokan Indrakilo untuk menentukan siapakah yang harus memiliki Tunggul itu secara sah.”

Resi Giri Pragoto tak melayani, ia hanya menarik napas panjang. “Adik-adikku marilah, kita berangkat.” Ajaknya.

“Tunggu dulu.” Cegah Mintaraga. Ia menginsyafi kalau perjalanan pulang ini terlebih sulit lagi. Maka ia menuntun sebuah gajah dan membagi makanan serta airnya. Kemudian ia menunjuk kearah Bojong Papak dan katanya :

“Untuk pulang perjalananmu sangat bahaya ki resi. Orang ini telah mengenal seluk beluk serta lika-liku daerah ini. Dengan berkawan dengan orang ini maka kalian tak akan tersasar.”

Resi Giri Pragoto tertunduk. Ia hanya berdiam diri saja. Ia menyambut gajah dan air serta makanannya. Setelah itu ia menggeloyor pergi tanpa pamit.

Sebenarnya Bojong Papak tak sudi mengantarkannya, akan tetapi karena Mintaraga meminta dengan sangat maka tak dapatlah ia menolaknya.

Mintaraga mengawasi sampai orang itu tak kelihatan lagi.  

“Mereka memberikan peta, akan tetapi kita masih harus bertempur.”

Katanya dengan perlahan.

“Pulang pergi kita ini harus mengadu jiwa. Semuanya ini hanya untuk Tunggul Tirto Ayu.” Seru Kembang Arum.

“Semenjak dulu hingga sekarang ini telah berapa banyak darah saja yang tertuang untuk merebutkan Tunggul Tirto Ayu itu. Jadi bukan hanya darahmu saja.”

“Adi Kembang Arum kau benar.” Seru Mintaraga sambil menarik napas dalam-dalam.

“Cukup... cukuplah sudah.” Seru Candra Wulan. “Sekarang kita harus mengurus ini orang-orang liar. Bagaimanakah kakang Mintaraga?!”

Mintaraga berpikir dengan keras.

“Apa boleh buat...!” Katanya kemudian. “Kalau kita merdekakan maka ia akan menyusul resi-resi itu,lebih baik kita lenyapkan saja tenaganya supaya daerah ini menjadi lebih aman.”

Segera Mintaraga ini membebaskan orang-orang liar itu akan tetapi membebaskan sambil menotok jalan darah besar. Hingga dengan demikian maka mereka ini jadi orang-orang biasa yang tak bertenaga besar. Setelah itu mereka diijinkan pergi.

Perjalanan dilanjutkan dan dijalan Mintaraga lalu menceritakan bagaimana mereka berdua keluar dengan Kembang Arum untuk mencari resi-resi dari padepokan Indrakilo. Akan tetapi rupa-rupanya orang liar itu ada yang mengetahui maka dengan diam-diam merekapun mengikuti dan menyusul. Sedangkan Candra Wulan dan kawan-kawannya menyusul karena melihat orang-orang liar itu telah lari kearah suatu tempat.

Lebih dari sebulan mereka itu jalan digurun yang sukar dilalui. Banyak sekali penderitaan mereka. Akhirnya tibalah mereka didaerah Banten. Sebuah daerah kecil yang dahulunya ikut menjadi jajahan dari negara Pajajaran yang gagah perkasa. Sebuah daerah didekat Pakuan. Namun merekapun masih sangat sulit untuk mencari Arya Panuju. Hal ini disebabkan karena perbedaan bahasanya. Mereka mempergunakan bahasa Sunda sedangkan Mintaraga dan rombongannya biasa berbahasa Jawa. Tiga hari lamanya mereka mencari akan tetapi tak mendapatkan hasil. Tentu saja mereka ini menjadi masygul dan gelisah sekali.

“Kita tak dapat mencari Arya Panuju, mengapa kita tak mau menyuruhnya mencari kita?!” Kata Candra Wulan kemudian...

“Mencari dia begini susah, mengapa dan bagaimana caranya kita menyuruhnya mencari kita?” Tanya Mintaraga. Ia benar-benar tak dapat menerka maksud gadis cilik yang banyak akal ini.

“Tidak sulit!” Seru Candra Wulan dengan tertawa. “Arya Panuju membuat perjanjian dengan resi-resi Indrakilo, tentu saja ia sangat memperhatikan kedatangan orang-orang dari Jawa Tengah. Baiknya kita  

mencari    perhatian    disini,    misalnya    kita    membuat    kacau.    Sangat

mengherankan sekali kalau ia tak akan mau muncul menampakkan dirinya ”

“Bagus...” Seru Mintaraga yang terus mengangkat jempolnya. “Hanya kau seorang adikku yang dapat menelorkan sebuah tipu muslihat yang jenaka itu. Ah... memang kau ini seorang adikku yang manis. Tak sia-sialah ayah memelihara dan mengangkatmu sebagai putrinya.”

Siasat berandalan itu kemudian dijalankannya. Tak ada sebab tak ada lantaran mereka laiu menerbitkan perkelahian. Setiap saat mereka mengacau dirumah makan ataupun dirumah-rumah penginapan.

Ada saja yang mereka lakukan. Akan tetapi setelah mereka membuat kekacauan mereka itu mau mengganti kerugian yang diderita oleh rumah makan atau oleh penginapan itu. Merekapun berani membakar rimba dan menabuh bedug disurau-surau pokoknya mereka melakukan hal-hal yang gila. Sampai-sampai pembesar setempat mengambil tindakan untuk membekuknya, namun mereka tetap tak dapat dibekuk dengan begitu saja. Tentara-tentara yang ditugaskan untuk membekuknya malahan pulang dengan babak belur karena dihajar oleh mereka berlima. Semua kejadian itu terjadi ditempat-tempat yang ramai. Gampang menarik perhatian umum. Dengan demikian maka nama mereka berlima cepat saja menjadi terkenal sekali. Segala perbuatan mereka itu menjadi buah bibir orang.

Pada suatu hari setelah habis mengacau mereka lalu beristirahat dibawah sebuah pohon.

“Kita telah mengacau sekian lamanya dan dimana-mana, akan tetapi Arya Panuju belum juga mau muncul.” Seru Mintaraga.

“Baiklah, besuk kita akan membakar gedung panglima perang, akan kulihat orang yang menamakan dirinya Arya Panuju itu mau muncul atau tidak.” Seru Candra Wulan dengan penuh semangat.

“Jangan kita lakukan itu.” Seru Hasto Piguno mencegah. “Lebih baik nanti malam kita melakukan pencurian besar-besaran ditempat-tempat orang kaya. Kita sikat habis harta bendanya.”

Candra Wulan tertawa terbahak bahak.

“Masih saja kau tak dapat melupakan kepandaianmu itu. Inilah sebuah akal yang baik. Hanya masih ada kekurangannya...... mengapa kau tak sekalian membawa lari istri-istri mereka dan juga gundik-gundik dari para panglima perang?”

“Ya itu amat bagus sekali.” Wirapati yang terus saja menyetujui pendapat kekasihnya itu. Pasti hal ini akan menjadi sebuah peristiwa yang paling menggemparkan dan pertama kali terjadi semenjak kerajaan Banten berdiri. ”

Mereka tertawa dengan riuh.  

“Diam!” Mendadak Mintaraga berkata dengan keras. “Coba lihat apakah

itu?” Ia lalu menunjuk.

Semua mata diarahkan ketempat yang ditunjuk oleh Mintaraga. Sedikit jauh didepan mata mereka, dibukit belukar tampaklah sebuah benda yang terus bergerak-gerak. Setelah dekat maka tampaklah kalau yang bergerak- gerak itu adalah lima orang.

“Hebat   larinya sungguh cepat sekali.” Puji Kembang Arum.

“Mungkin mereka itu hendak menawan kita.” Seru Candra Wulan yang terus menyatakan dugaannya.

“Siapakah mereka itu?!” Tanya Wirapati.

Orang itu lari kearah mereka, makin lama makin dekatlah mereka dan larinya kelihatan limbung.

“Dialah Arya Panuju.” Seru Mintaraga yang paling duluan. Ia melompat bangun. Masih tetap limbung larinya Arya Panuju itu, ia seperti orang yang telah terluka. Hal ini benar-benar aneh sekali.

Lalu mereka lari untuk menyusul.

“Arya Panuju... kami disini. !” Teriak Mintaraga dengan lantang.

Arya Panuju menjadi heran dan girang sekali ketika melihat Mintaraga. Dia bermandikan darah pada mukanya,makin lama nampak kalau mukanya menjadi semakin hitam. Lalu dia lari kearah mereka ini.

“Mari... mari kita lari kedalam kampung.” Katanya, napasnya telah tersenggal-senggal. “Oh... kaupun datang.” serunya setelah melihat Candra Wulan dan kawan-kawannya.

Lima orang yang berlari tadi sekarang telah tak tampak.

Arya Panuju sekarang memimpin Mintaraga berlima untuk memasuki sebuah gubuk yang telah reyot. Untuk masuk kedalam terlebih dahulu ia harus menendang pintunya. Terlihatlah dengan tegas kalau ia sedang berada dalam ketakutan. Inilah yang sangat mengherankan Candra Wulan dan kawan-kawannya. Sekarang ini Arya Panuju telah berbeda dengan yang dulu.

Gubuk ini melarat sekali keadaannya. Perlengkapannya telah rusak dan reot. Arya Panuju longak-longok dimuka pintu, setelah itu barulah ia menutup pintu dan sebelum itu ia telah menghapus semua telapak kakinya. Kemudian ia menghajar tembok papan yang berada dipojok. Segera saja selembar papan mental. Disitu terdapat sebuah tombol rahasia. Ia lalu menekan dan kembali terdengar suara nyaring. Lalu terbukalah sebuah papan lain dan disitu terdapat pintu rahasia. Melihat ini ia tertawa dingin...........