Tunggul Bintoro Jilid 18

 
JILID XVIII

MINTARAGA girang mendapat undangan ini, memang inilah yang ia harapkan. Diam-diam ia melirik kearah kembang Arum dan Candra Wulan untuk memberi tanda. Akan tetapi ia tak segera menerima baik undangan itu.  

“Terima kasih...!” Katanya dengan pura-pura menolak.

Ateng Jagalawa telah segera membujuk. Memang orang ini telah mengandung maksud sendiri. Ateng Jagalawa bersikap manis dan ramah sekali kepada mereka seakan-akan melupakan begitu saja pertempuran barusan itu.

“Baiklah.” Akhirnya Mintaraga menganggukkan kepalanya. Pemuda ini menerima dengan berlagak terpaksa.

Melihat anggukan ini maka Ateng Jagalawa menjadi girang bukan main.

Didalam hatinya ia bersorak karena kegirangan.

“Pergilah pulang dahulu untuk membuat persiapan untuk menyambut kedatangan tamu kita.” Perintahnya kepada Bereum bertiga.

Ateng Jagalawa memerintahkan kepada pahlawannya itu dengan tak tahu kalau Bereum dan Marakacan, dengan cara yang sebat luar biasa sudah ditotok bebas oleh Mintaraga, sedangkan dengan kaburnya Dudung Kertadrya itupun tadi tak diketahuinya pula. Ia menyangka kalau ketiga orang pahlawannya tentu berkumpul disitu semuanya. Begitu ia memberikan perintahnya, maka segera ketiga orang itu pergi.

Ketika itu matahari telah mulai naik, karena itulah maka hawa panas sedikit demi sedikit telah mulai menggerayangi lagi pada tubuh mereka.

“Ki Sanak sekalian marilah.” Seru Ateng Jagalawa mempersilahkan para tetamunya sambil tertawa-tawa.

“Baik.” Jawab Mintaraga.

Anak muda itu baru berjalan beberapa tindak, mendadak saja ia berhenti, segera berpaling kearah Baskara sambil berkata :

“Baskara, sungguh baik sekali kepala suku sini. Ia telah mengundang kita sebagai tetamunya. Karena itulah kau pulang dahulu ke penginapan untuk mengambil barang-barang kita.”

Baskara menjadi heran hingga ia melengak, akan tetapi keheranannya ini hanya berjalan sekejap saja. Begitu ia melihat biji mata Mintaraga yang bermain-main ini maka mengertilah dia.

Segera saja Baskara si tangan panjang ini menjawab dengan hormat : “Baiklah aku akan segera pergi dan akan kuusahakan supaya segera

dapat kembali lagi.”

“Tahukah kau akan rumah gedung ketua ini?”

“Itupun gampang sekali, sebab aku akan dapat bertanya kepada setiap orang yang kujumpai.”

“Eh...!” Tiba-tiba Mintaraga berkata pula sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah muka Baskara. “Mukamu begini kotor, mana dapat kau bertemu dengan orang?” Ia bertindak mendekati, untuk mengusap muka kawannya itu. Diwaktu mereka berbuat demikian, karena muka mereka itu berdekatan satu sama lainnya, ia lalu memesan beberapa kata tanpa  

diketahui oleh Ateng Jagalawa, kemudian barulah ia berkata dengan keras-

keras :

“Nah lekas kau pergi dan segera pula kembali.”

Baskara segera memberi hormat dan setelah itu berkelebatlah untuk kembali kekota.

“Pengiringmu itu hebat sekali ki sanak.” Seru Ateng Jagalawa kepada Mntaraga.

“Akan tetapi dia kalah jauh kalau dibandingkan dengan ketiga orang pahlawanmu itu.” Jawab Mintaraga sambil tertawa lebar.

“Ah... bagaimana aku dapat berlaku sedemikian sembrononya.” Seru Ateng Jagalawa kemudian. “Kita telah omong-omongan sedemikian lama akan tetapi mengapa kita belum juga berkenalan dengan kalian... Bolehkah aku mengetahui nama besar kalian semua?”

“Tentu saja boleh.” jawab Mintaraga dengan tertawa, malahan ia terus memperkenalkan dirinya. Ia menyebut dirinya sebagai Mintanjawa dan Wirapati diberinya nama Samber Gelap. Sedangkan Kembang Arum dan Candra Wulanpun mendapat nama palsu pula. Sedangkan perguruan mereka ini mereka lalu menyebutkan nama perguruan Argopuro di puncak Retawu.

Ateng Jagalawa tersenyum didalam hatinya ia berkata :

‘Baiklah hendak kulihat berapa lama kau dapat berpura-pura. Sekarang aku akan berlaku amat manis kepada kalian, akan tetapi diam-diam aku akan memberikan kisikan kepada jago-jago Jipang Panolan supaya segera membekukmu. Dengan demikian maka aku akan mendapatkan Tunggul Tirto Ayu ’

Mintaraga menjadi senang ketika melihat Ateng Jagalawa ini menjadi tersenyum-senyum. Akan tetapi diam-diam iapun mengerdipkan matanya untuk memberi peringatan kepada Kembang Arum, Candra Wulan dan juga Wirapati.

Mereka berjalan terus hingga sampailah mereka itu disebuah bangunan yang besar dan mentereng. Temboknya merah karena terbuat dari batu bata merah yang tak disemen, sedangkan gentingnya hijau. Modelnya mirip dengan model istana kerajaan Demak Bintoro. Sedangkan pilarnya terbuat dari batu marmer yang indah dan diukir dengan gambaran-gambaran burung garuda pokoknya binatang-binatang bersayap dan binatang-binatang yang berkaki empat. Ukirannya inipun indah dan halus. Sedangkan dimuka pintu berdirilah sederet barisan penjaga yang memegang tombak dan golok telanjang. Mereka lalu memberi hormat ketika tetamu itu datang.

‘Angker juga Ateng Jagalawa ini.’ Pikir Mintaraga. ‘Pantas saja kalau ia disebut pula sebagai raja setempat. Mungkin sekali ia berusaha memeras rakyat setempat.’  

Mereka masuk terus hingga sampai diruang besar. Disana Bereum

bertiga telah menantikan. Mereka menyambut dengan hormat sambil memberitahukan kalau ruangan belakang telah diatur dan dibersihkan dengan amat bersih. Siap untuk bersantap.

Ateng Jagalawa memperdengarkan suara kalau ia telah mengerti. Terus saja ia mempersiapkan dan langsung mempersilahkan tamunya masuk kedalam ruang belakang. Untuk itu mereka harus melewati tiga ruang besar, lalu mereka melewati sebuah pekarangan yang luas dan penuh dengan pohon-pohon bunga-bungaan, pekarangan ini mirip dengan tamansari kerajaan Jipang tempat Ario Penangsang. Lalu mereka harus lewat pula disebuah lorong panjang yang makin lama menjadi semakin sempit. Setelah tiba diujung lorong mereka melihat sebuah ruangan besar yang lebar dan besar sekali. Begitu mereka masuk kesitu semuanya segera merasakan udara yang dingin dan segar sekali. Kiranya yang dinamakan ruang belakang ini adalah ruangan dibawah tanah yang dalamnya belasan meter.

“Tangkuban Prau ini dinamakan juga daerah Api Panas. Ini disebabkan karena kutukan para dewa kepada nenek moyang kami yang bernama SANGKURIANG. Sebab-sebab kutukan itu ialah, dahulu kala Sangkuriang telah berani mencintai ibu kandungnya sendiri yang bernama Dewi Dahyang Sumbi yang cantik jelita. Karena cintanya yang berkobar-kobar penuh bakaran asmara maka dewa mengutuknya kalau daerah ini menjadi daerah yang panas. Panas dan berkobar-kobar bagaikan cinta Sangkuriang kepada Dahyang Sumbi ibunya. Inilah kutukan turun temurun dari dewi Wayungyang yang mengatakan kalau dunia ini adalah tempat para bidadari berjinah dan membuang anaknya. Karena perkataan Dewi Wayungyang inilah maka ia dikutuk menjadi seekor babi wanita, yang kemudian bernama babi (celeng) Wayungyang. Karena Dewi Wayungyang ini minum air kencing yang mengandung benih-benih keturunan dari Prabangkara maka Dewi Sumbi yang kemudian kawin dengan Tumang anjing kesayangan baginda Purbangkara. Tumang inipun sebenarnya seorang dewa yang dikutuk oleh yang Maha Agung. Dalam perkawinannya antara Tumang dan Dahyang Sumbi ini maka lahirlah Sangkuriang. Dan Sangkuriang inilah yang menjadi nenek moyang kami. Dengan begitu maka kami tak malu-malu untuk mengatakan kalau suku kami ini adalah keturunan dari para dewa dan dewi di suarga loka.” Seru Ateng Jagalawa memberi keterangan. “Akan tetapi kepanasan ini hanya diluar saja, kalau didalam ruanganku maka huahaaaa... huahaaa.. huahaa... ruanganku adalah sebaliknya. Inilah sebuah ruangan yang paling nyaman dan indah didaerah ini.”

Ateng Jagalawa memang tak omong terlalu besar atau meniup-niup dirinya sendiri. Perkataannya ini memang cocok sekali dengan kenyataan. Hanya orang ini tak mengetahui bagaimana caranya ruangan ini dapat dibuat sedemikian dinginnya.  

Ateng Jagalawa mengundang seluruh tamunya untuk duduk dan

mencoba hidangan yang telah disiapkan. Segera saja Ateng Jagalawa ini mengangkat sebuah poci tuak yang terbuat dari perak yang putih dan diukir indah.

“Tangkuban Prau ini mempunyai hasil reramuan tuak, hingga disini terdapat tuak istimewa yang tak ada bandingannya dimanapun ki sanak berada.” Katanya. “Tuak kami harum dan enak rasanya. Sebagai tetamu jauh tak dapat tuan-tuan tak meminumnya. Di daerah Jawa Tengah kukira tak ada tuak yang sedemikian enaknya ini.”

Ia lalu mengisi gelasnya, kemudian ia memanggil seorang pelayan dan kepadanya ia lalu menyerahkan poci itu. Seorang pelayan lainnya segera datang dengan membawa sebuah loyang yang terbuat dari perunggu.

“Ini adalah kebiasaan orang-orang pribumi sini, sebelum kami makan kami harus mencuci tangan terlebih dahulu.” Kata Ateng Jagalawa sambil tertawa-tawa. “Karena itu harap ki sanak sekalian tak berkecil hati.”

Segera saja pelayan yang memegangi poci tuak tadi menuangkan kearah tangan Ateng Jagalawa untuk membersihkan tangannya, sedangkan pelayan yang memegangi loyang tadi segera menadahi sisa tuangan tuak yang akan jatuh kelantai. Karena itulah bau tuak segera ngabar kemana-mana.

Setelah itu barulah Ateng Jagalawa menyilahkan tetamunya itu mencuci tangannya juga.

Candra Wulan tak berkenan dihatinya ketika melihat tingkah laku kepala suku ini. Sediak ia memasuki daerah Tangkuban Prau ini ia melihat penghidupan penduduk sangat sengsara, boleh dikatakan mereka itu hanya dapat memasak pagi akan tetapi sorenya tidak. Akan tetapi ketua ini demikian royalnya. Maka itu sambil tersenyum ia lalu berkata :

“Ki Ateng Jagalawa, kami orang Jawa Tengah mempunyai sebuah ujar- ujar. Ujar-ujar itu berbunyi demikian ‘didalam gedung tuak dan daging dapat membusuk, akan tetapi dijalan besar tulang-tulang mati kedinginan’, entah ujar-ujar itu tepat atau tidak kalau ditempat sini.”

Sambil berkata demikian ia lalu menampik cangkir tuak itu dan Candra Wulan tak sudi meminumnya.

Air muka Ateng Jagalawa berubah, segera saja ia menepuk tangan kepada salah seorang pahlawannya dan lalu mengerdipkan matanya.

‘Nah datanglah waktunya.’ Pikir Mintaraga. Ia segera mempersiapkan dirinya. Karena ia khawatir kalau barang hidangan ini dicampuri dengan racun, iapun mengerdipkan matanya kearah kawan-kawannya supaya jangan mu kalau disuruh minum ataupun makan.

Ateng Jagalawa mendorong poci tuak itu kedepan Kembang Arum, sambil tertawa-tawa ia lalu berkata :  

“Gadis itu tak sudi memberi muka, sedangkan nona Tali Sukmo gagah

sekali, maukah kau memberi muka kepadaku?” Ia lalu mengangkat tangannya, seperti hendak menuangkan tuak.

“Ah, tak usah tuan sendiri yang mencapaikan diri.” Kembang Arum menolak sambil tertawa. Ia dipanggil sebagai Tali Sukmo karena Mintaraga memperkenalkannya dengan nama Tali Sukmo. Sambil berkata demikian tangannya lalu diangkat, diarahkan kearah poci tuak itu. Diam-diam ia mengerahkan tenaganya. Waktu Ateng Jagalawa hendak menuang tuak, ia merasakan kalau ada tenaga dorongan yang berat sekali.

‘Budak ini kembali hendak bermain-main denganku.....’ Pikirnya. Maka iapun lalu mengumpulkan tenaganya, untuk menolak kembali.

“Baiklah aku sendiri yang mengisi tuakku.” Kata Kembang Arum yang kembali mengerahkan tenaganya, untuk menolak dengan lebih keras hingga poci itu, atau tepatnya tangan tuan rumah dapat tertolak mundur.

“Kau terlalu sungkan.” Seru Ateng Jagalawa yang merasa malu setelah tangannya ditolak didepan banyak mata. Ia mengerahkan tenaganya untuk menolak poci itu kembali ketempatnya semula. Dengan demikian maka mereka itu menjadi saling dorong mendorong.

Yang sangat luar biasa itu adalah poci perak itu, sebab ia tak menjadi pecah setelah didorong kesana kemari dan dihimpit oleh dua buah tenaga raksasa yang sangat hebat.

Sesaat kemudian Ateng Jagalawa lalu mengucurkan peluh deras dipunggungnya. Ia kelihatan mulai tak sanggup menahan atau melawan terlebih lama lagi.

Kembang Arum kini tak mau mengalah seperti tadi malam ketika ia mempermainkan lawannya. Oleh karena ia merasa kalau Ateng Jagalawa ini mempertahankan dengan maki-makian maka iapun lalu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Dengan demikian maka ia lalu dapat membuat lawannya menjadi kelabakan.

Mintaraga terus menonton, hingga ia lalu berkata sambil tertawa.

“Tuan rumah dan tetamunya mengapa hendak saling mengalah sedemikian rupa? Sudahlah, biar aku saja yang akan minum tuak itu.”

Ia terus mengeluarkan tangan, akan tetapi poci diantara dua orang itu, dengan muda dapat diambilnya. Sebelum ia menuangkan tuak itu terlebih dahulu diciumnya hingga ia tahu kalau didalamnya ada obat tidurnya. Hingga dengan demikian kembali Mintaraga tertawa terbahak-bahak.

“Arak disini sangat harum sekali, akan tetapi entah bagaimana tuan rumah, tuaknya kok dicampuri dengan obat tidur.”

Ateng Jagalawa menjadi menjublag, sedangkan Wirapati dan kawan- kawannya menjadi sangat kagum. Luar biasa bagi Mintaraga karena ia dapat mengambil poci yang digencet oleh dua orang tokoh sakti.  

Muka Ateng Jagalawa menjadi merah setelah rahasianya dibongkar. Ia

malu bersama dengan marah. Sebenarnya ia hendak mengumbar kemarahannya akan tetapi segera terheran-heran setelah melihat tingkah laku tetamu lelakinya ini. Sungguh diluar dugaan Mintaraga telah minum tuak itu yang tadi dikatakan telah dicampuri dengan obat tidur. Ia minum hingga tenggorokannya terdengar bergelogokan. Setelah itu ia menyeka bibirnya dengan tangan.

“Benar-benar sebuah tuak yang jempolan!” Katanya kemudian. “Ki Ateng Jagalawa banyak-banyak terima kasih kuucapkan kepadamu.”

Ateng Jagalawa, menjadi girang sekali, didalam hatinya ia berkata dengan bersorak :

‘Kau telah minum obat tidur, maka aku tak akan khawatir lagi kalau kau tak akan segera roboh. Sekali kau roboh maka yang lain akan biasa saja ilmu silatnya. Mana mereka dapat melawanku bersama dengan tiga puluh orang pengawalku? Aku akan membekukmu semua, kemudian aku akan menyerahkan kalian kepada patih Udara, dengan demikian maka aku akan mendapat pangkat kelas utama. Bukankah ini sangat menggembirakan sekali?’

Sedang ketua suku pribumi ini melamun, tiba-tiba saja terdengarlah suara nyaring dari luar :

“Tuan Mintaraga, barang-barang telah dipindahkan.

Inilah suara Baskara yang muncul dengan secara tiba-tiba. Iapun membawa beberapa tas pakaian, yang didapatkan entah dari mana.

Ateng Jagalawa segera menyuruh salah seorang pengawalnya untuk menambah sebuah kursi.

“Aku hanyalah seorang pelayan, mana berani aku duduk sejajar dengan tuanku.” Kata Baskara sambil tertawa. Maka ia menghampiri Mintaraga dan kemudian berdiri disamping pemuda itu. Akan tetapi diam-diam ia mengerdipkan matanya.

Mintaraga mengangguk. Tiba-tiba ia tertawa.

“Ateng Jagalawa.” Katanya kemudian. “Poci perakmu ini rupa-rupanya adalah merupakan sebuah barang mustika. Benarkah ini?”

Ia mengangkat poci tuak itu dan kemudian memandangnya dengan seksama. Agaknya ia sangat tertarik.

Ateng Jagalawa adalah seorang penggemar barang-barang kuno, karena itulah didalam gedungnya terdapat banyak sekali peninggalan-peninggalan kuno. Ditembok tergantung pigura-pigura yang berisikan tulisan-tulisan kuno yang amat indah. Sedangkan diatas mejanya teratur rapi beberapa barang-barang berharga. Iapun memberitahukan beberapa barangz tua itu, untuk mengetahui asal-usulnya. Karena itulah ketika mendengar pertanyaan tamunya itu ia menjadi gembira sekali.  

“Jika aku memberitahu kepadamu, mungkin kau tak  akan percaya.”

Jawabnya. “Poci perak halus ini sebenarnya adalah buatan dari Kerajaan Demak Bintoro. Poci ini dibuat pada masa Raden Patah memerintah. Jadi usianya sekarang telah tua sekali. Bahkan menurut penyelidikan poci ini dibuat oleh Raden Mas Said atau yang terkenal dengan nama Sunan Kalijogo. Disini akupun punya barang-barang kuno lainnya, apakah kau mau melihatnya?”

“Itulah bagus sekali.” Jawab Mintaraga yang berlagak linglung. Linglung karena kebanyakan tuak. “Kami adalah orang-orang yang termasuk kantong nasi jambang air. Dengan demikian maka dapatlah kami membu ka mata ”

Ateng Jagalawa tersenyum lalu bertepuk tangan.

Sebentar saja telah muncul sepuluh orang pelayan yang membawa barang-barang kuno, mereka itu menggotong barang-barang itu dengan beramai-ramai. Disitu dipamerkan lukisan-lukisan indah yang sangat kuno, lalu ada pula sebuah keris pusaka yang memancarkan cahaya merah darah. Keris ini adalah keris peninggalan raja Purnawarman. Periuk emas peninggalan raja Syima dari Kalingga. Dan lain-lain barang kuno.

‘Aneh orang ini.’ Diam-diam Ateng Jagalawa berpikir. ‘Dia telah memakan obat bius melalui tuak tadi, akan tetapi mengapa sampai sekarang ia belum juga roboh?’

Sambil memberi keterangan ia mengerdipkan matanya kearah sepuluh orang pengawalnya itu, tanda bahwa mereka harus segera turun tangan setelah tamunya mabuk dan roboh.

Mintaraga menjadi tertawa hahaha hihihi seperti tingkah laku seorang yang sedang mabuk kebanyakan tuak. Setelah mulutnya mengoceh kakinyapun segera digerakan.

“Aduh... obat biusmu sungguh hebat sekali.” Kemudian ia berteriak dengan keras. “Aduh, perutku mulas......” Terus saja ia berlaku seperti orang kalap, ia menyambar barang-barang yang berada diatas meja dan melemparkannya dengan kalang kabut. Setelah itu ia mengoceh pula dan tangannyapun tetap bekerja dengan keras. Diantaranya ia merobek sebuah lukisan yang indah lalu menendang periuk emas peninggalan ratu Syima dari Kalingga.

Melihat hal ini Ateng Jagalawa menjadi kaget sekali.

“Eh, kau gila?” Tegurnya dengan marah. Ia segera mengulurkan tangannya untuk merampas akan tetapi segera ditolak oleh Mintaraga hingga ia terpental. Tentu saja ia menjadi marah hingga mukanya menjadi merah padam. Segera ia memberi komando kepada bawahnya :

“Heh gentong-gentong nasi! Mengapa kalian masih tak mau turun tangan? Apakah kalian akan menunggu sampai diundang oleh majikanmu?”  

Mendengar bentakan yang berupa sebuah titah, semua pahlawan lalu

mulai bergerak maju.

“Bagus.” Seru Candra Wulan yang semenjak tadi telah berjaga-jaga. Dan segera gadis ini menghunus pedangnya.

“Sabar.” Kembang Arum mencegah sambil menahan tangan kawannya. “Kita tunggu saja sampai kakang Mintaraga selesai menghajar mereka ”

Kembang Arum adalah seorang yang cerdik, segera saja ia dapat menerka kalau kakaknya ini sedang memainkan sebuah sandiwara, maka ia akan melihat kelanjutannya.

Mintaraga telah segera membentak :

“Apakah kalian hendak berkelahi?” Terus saja ia menerjang, kedua tangannya digerakkan, kekiri dan kekanan. Maka sebentar saja terdengarlah suara plak... plok.... plak... plok... dan bak... bukk... bak... bukk. Beberapa

orang telah dibuat terpental, roboh terbanting hingga kepala mereka menjadi pusing dan matanya berkunang-kunang.

Ateng Jagalawa sendiri memandangi barang-barang kuno yang menjadi rusak berantakan itu menjadi sedih dan panas sekali hatinya. Lalu ia melupakan diri dan bergerak menerjang kearah tetamunya yang dianggapnya angot itu......

“Kau telah membuat rusak barang-barang kesayanganku, kau harus menggantinya.” Demikianlah teriaknya dengan garang. “Lekas kau ganti, lekas !”

Mintaraga mendadak saja melompat keluar dari kepungan para pengawal atau yang disebut pahlawan-pahlawan oleh Ateng Jagalawa.

“Sudah jangan berkelahi terus.” Katanya. “sebentar nanti aku akan menggantinya.”

Seorang pahlawan yang sembrono maju sewaktu Mintaraga berhenti menyerang. Rupa-rupanya ia beranggapan kalau inilah sebuah ketika paling baik. Dengan sepenuh tenaganya ia memukul pinggang tetamunya itu.

Mintaraga tahu ada orang yang membokongnya, akan tetapi ia tetap berlagak pilon, ia hanya mengerahkan tenaga supaya punggungnya ini menjadi keras dan kuat.

Suara bergedebuk terdengar nyata, serangan pahlawan itu mengenai sasarannya dengan tepat, akan tetapi bersama dengan itu terdengarlah sebuah jeritan yang nyaring melengking-lengking. Bukan Mintaraga yang menjerit, akan tetapi si pahlawan itulah yang menjerit kesakitan dan tubuhnya terpental kebelakang. Ia merasakan tangannya sakit hingga keulu hatinya. Tangannya itu segera menjadi merah dan bengkak.

Ateng Jagalawa tak menyerang terlebih jauh, karena kini ia sadar kalau ia bukanlah tandingan Mintaraga. Kalau ia akan nekat melawan si pemuda sakti ini maka akan sia-sia sajalah perlawanannya, sebab pihaknya sendiri yang akan menderita kekalahan.  

“Berhenti.”   Serunya   kepada   bawahannya.   Setelah   itu   ia   segera

menghadapi tetamunya. Serunya kemudian :

“Kau tadi mengatakan kalau akan mengganti barang-barang kunoku, nah bagaimanakah caranya?”

Mintaraga mengucek-ucek matanya.

“Apakah kau menyangka kalau aku tak dapat mengganti?” Tanyanya dengan tertawa.

Ateng Jagalawa tak menjawab, ia hanya mengambil sisa-sisa barangnya yang telah rusak, kemudian meletakkannya diatas meja. Hatinya sakit bukan main.

“Oh... orang busuk.” Katanya dengan mendongkol. “Walaupun seluruh isi kerajaan Demak Bintoro kau pindahkan kemari, tak nanti sanggup mengganti semuanya ini.....” Ia menggigit bibirnya hingga pecah. Kalau bisa ingin dia merobek tubuh tetamunya itu.

Mintaraga memperlihatkan mukanya yang kecut. Kecut penuh kemarahan yang sangat.

“Biar aku seorang yang melarat, akan tetapi kalau hanya mengganti barang-barang rosokanmu itu aku tentu akan kuat menggantinya dengan sengit pula. Setelah berkata demikian ia berpaling kearah Baskara dan katanya :

“Baskara kemarilah.”

Mendengar panggilan ini Baskara segera menghampirinya. Ditangannya telah siap dengan sebuah bungkusan kuning.

“Hem...!” Ateng Jagalawa telah memperdengarkan suara ejekannya. Ia percaya kalau tamunya ini adalah seorang yang miskin dan tak akan sanggup menggantinya. Akan tetapi matanya terus mengawasi kearah bungkusan yang dibawa oleh Baskara.

“Ateng Jagalawa. Kau dengarlah.” Seru Mintaraga dengan nyaring dan mendenging-denging. “Baiklah kau ketahui kalau aku bukannya seorang yang suka merampas barang kepunyaan orang lain, memang kuakui kalau aku telah membuat rusak barang-barangmu akan tetapi ini adalah hasil dari tingkah polahmu itu. Kesalahanmu sendiri. Siapa yang menyuruh kau begini tebal muka, kau mempergunakan tuak yang telah kau campuri dengan obat bius, bukankah maksudmu kau akan merobohkan aku? Merobohkan kawan- kawanku?”

“Jangan kau hanya ngoceh saja.” Bentak Ateng Jagalawa. Karena saking marahnya maka timbullah keberaniannya. “Barang apakah itu yang berada dibungkusanmu?”

“Inilah Tunggul Tirto Ayu dari negaraku!” Jawab Mintaraga dengan amat sombong.

Mendengar ini maka semua orang menjadi kesiap hatinya.  

Baskara tertawa dengan melengeh, segera saja ia membuka bungkusan

itu. Segera saja tampak sebuah cahaya yang gemerlapan, putih bercampur hijau biru yang indah permai. Memang inilah Tunggul Tirto Ayu atau tepatnya kotak dari Tunggul Tirto Ayu. Kemudian Baskara mengangkat dan memberikan kepada Mintaraga. Sikapnya sangat hati-hati sekali.

“Tuan muda. benarkah Tuggul Tirto Ayu ini akan diberikan kepadanya?” Tanya Baskara dengan perlahan.

Mintaraga menjawab dengan perkataannya yang nyaring :

“Orang-orang dari rimba persilatan tentu akan menjunjung tinggi kata- katanya. Sekali mengatakan merah tetap merah, pantang untuk mengatakan putih.” Setelah berkata demikian ia lalu memandang kearah Ateng Jagalawa, lalu katanya menegaskan :

“Ateng Jagalawa, kau katakanlah, barang ini cukup atau tidak untuk mengganti rongsokan barang-barangmu itu?”

Muka Ateng Jagalawa menjadi merah, dengan bengong ia memandang kearah kotak Tunggul Tirto Ayu. Coba kalau musuhnya ini tak tangguh sekali maka ia tentu telah melompat untuk menerjang. Menerjang untuk merampasnya. Sekarang ia harus mengendalikan diri.

“Anak muda, bukankah kau tengah mempermainkan aku?” Tanyanya dengan suara gemetar.

Mintaraga tertawa keras, akan tetapi ia tak menjawab pertanyaan orang itu dengan pasti.

“Kau katakanlah barang ini cukup atau tidak untuk mengganti barang- barangmu itu?” Kembali ia menegaskan.

Kembang Arum dan Candra Wulan menjadi saling berpandangan. Merekapun menjadi heran. Bukankah Tunggul yang palsu itu telah dirusak di Jipang dan yang tulen berada di Banten, dan masih menanti mereka akan mengambilnya. Darimanakah datangnya Tunggul Tirto Ayu yang berada didalam kotak itu? Sebaliknya Baskara tampaknya sangat sombong dan angkuh sekali.

“Pasti ini kembali perbuatan bagus dari Baskara.” Kemudian Candra Wulan berbisik kearah kawannya.

Kembang Arum dan Wirapati berpikir sejenak, segera mereka mengerti.

Inilah akal muslihat dari Mintaraga.

Waktu Mintaraga memerintahkan kepada Baskara untuk membuat sebuah TUNGGUL TIRTO AYU yang palsu. Membuat dari kain kuning emas yang gemerlapan. Memang tak sangat mengherankan karena Baskara adalah pensiunan raja Pencopet maka ia mempunyai segala peralatan didalam kantong rahasianya. Tak terkecuali kain kuning emas palsu dan logam-logam yang dapat dibuat kotak palsu pula. Karena itu dengan sebat sekali ia dapat membuat Tunggul Tirto Ayu yang palsu dan begitupun dengan kotak yang palsu pula. Dengan pengalaman-pengalamannya ia dapat bekerja cepat luar  

biasa. Kalau saja Patih Udara yang licin dan licik itu dapat ditipu apa lagi

hanya Ateng Jagalawa.

“Cukup... cukup...” Akhirnya Ateng Jagalawa memperdengarkan suaranya. Iapun segera mengulurkan tangannya untuk mengambil atau tepatnya menerima Tunggul Tirto Ayu itu. Perasaannya waktu itu memang sangat girang sekali.

“Sabar dulu.” Jawab Mintaraga sambil tertawa dan tangannya diangkat tinggi-tinggi.

Ateng Jagalawa memandang dengan tajam-tajam, dan matanya melotot besar seakan-akan ingin dia menelan sekaligus diri Mintaraga.

“Apakah kau tak akan menggantinya?” Tanyanya dengan sengit.

“Pasti aku akan menggantinya.” Jawab Mintaraga. “Akan tetapi terlebih dahulu kaupun harus menerima sebuah syaratku pula.”

“Pasti aku akan menerimanya.” Jawab Ateng Jagalawa dengan cepat dan kedengaran tegas sekali.

Mintaraga memandang kearah wajah lawannya itu.

“Ateng Jagalawa.” Katanya. Kali ini perkataannya ini diucapkan dengan sabar. “Jika kau mempercayaiku, tolong kau undurkan dulu orang-orangmu ini. Aku ingin mendamaikan sebuah urusan penting dan rahasia denganmu.” “Kau bicaralah, tak ada yang menghalang-halangimu.” Seru Ateng

Jagalawa menjawab pertanyaan Mintaraga. “Semua sebawahanku ini gagu.” Mintaraga tetap memandang.

“Bagus.” Katanya. “Aku adalah Mintaraga, bukannya Mintanjawa seperti yang telah kuperkenalkan tadi. Kaupun sudah mengetahui akan hal ini akan tetapi kau tadi hanya berlagak pilon saja. Adakah kau mengandung maksud? Tak usah aku menyebutkan hal itu. Kita telah sama-sama mengerti sendiri.”

Mintaraga tak menegur langsung kepada tuan rumah, akan tetapi perkataannya ini telah cukup untuk membuat muka Ateng Jagalawa menjadi merah hingga kekuping-kupingnya. Mintaraga tak menunggu sampai Ateng Jagalawa memberi komentar, segera saja ia meneruskan perkataannya :

“Aku membawa bawa Tunggul Tirto Ayu akan tetapi aku tak berani bermain gila dan mondar-mandir di daerah Barat, sebab Jawa Barat pernah kudengar sebagai jala langit dan jaring bumi. Sampai begitu jauh aku tak kurang sesuatu apapun juga. Tak seorangpun yang mencuri Tunggul Tirto Ayuku. Maka itu Ateng Jagalawa, kau barulah sebuah ketua suku, apakah yang dapat kau perbuat atas diriku?”

“Siapakah yang hendak merampas Tunggul Tirto Ayumu itu?” Jawab Ateng Jagalawa membalikkan pertanyaan. “Toh kau sendiri yang menyatakan kalau kau akan sanggup mengganti kerugian kepadaku? Bukan aku yang minta paksa denganmu.”

Mintaraga tertawa lebar.  

“Air muka Ateng Jagalawa kembali berubah. Merah dan pucat. Bahkan

sangat pucat sekali. Seakan-akan darahnya berhenti mengalir.

“Kalau begitu kita......” Ia berseru. Tapi tiba-tiba saja berhenti ditengah jalan. Tiba-tiba saja ia merasakan kalau dadanya sakit dan sesak. Sebab diluar dugaannya telah disambar, dijambak oleh si anak muda yang menjadi tetamunya itu. “Apa?” Teriaknya kemudian. Lalu ia berusaha berontak akan tetapi sia-sia saja, malahan segera tubuhnya diangkat naik.

Semua pahlawannya menjadi kaget hingga mereka berseru. Mereka bermaksud maju menerjang untuk menolong ketua mereka.

“Diam.” Mintaraga membentak dengan suara yang menggeledek. Sikapnyapun sangat bengis sekali. “Kalau ada satu saja diantara kalian maju, terlebih dahulu aku akan membuat pemimpinmu ini menjadi seorang yang cacat. Kemudian barulah aku akan membunuhnya, aku akan melemparkan mayatnya ketengah-tengah hutan belukar supaya mayatnya nanti dimakan dan dikoyak-koyak oleh macan atau serigala lapar.”

Angker sekali sikap pemuda ini, hingga ia dapat membuat para pahlawan dari Ateng Jagalawa ini menjadi berdiri menjublak. Tak tahu apa yang harus dikerjakan.

“Ateng Jagalawa.” Kata Mintaraga kepada ketua suku bangsa dari alas gunung Tangkuban Prau itu. “Jika kau menerima baik sebuah syaratku maka aku tak akan membuatmu susah, bahkan aku akan memberikan Tunggul Tirto Ayu itu kepadamu. Ia akan menjadi kepunyaanmu yang sah.

Mintaraga lalu menurunkan tawanannya itu, dan lalu membisiki kearah kuping kepala suku alas gunung Tangkuban Prau itu.

Kelihatan Ateng Jagalawa terperanjat dan berduka sekali. Kemudian kulit mukanya berubah menjadi merah, tak lama kemudian ia kelihatan seperti kegirangan. Maka dalam sekejap saja ia menjadi kelihatan berduka dan bergembira dengan saling bergantian.

Semua orang menjadi heran, mereka terus memandang kearah Ateng Jagalawa.

“Masih kau tak mau melepaskan tanganmu?” Tanya Ateng Jagalawa kemudian. “Aku menerima baik syaratmu itu.”

“Mintaraga tersenyum, dan segera ia melepaskan pegangannya.

“Inilah kepunyaanmu.” Katanya, yang segera menyerahkan sebuah benda yang gemerlapan cahayanya.

Ateng Jagalawa menjadi girang bukan main, hingga ia menjadi tertawa berkakakan. Dengan kedua tangannya ia lalu menyambut barang yang diserahkan kepadanya, barang itu bukan lain adalah Tunggul Tirto Ayu bersama kotaknya, benda itu terus diusap-usap dengan seperti ia tak mau melepaskannya lagi.

Candra Wulan tertawa, sekarang ia mengerti maksud kakaknya ini.  

“Ki Ateng Jagalawa, kau jangan terlalu kegirangan.” Katanya kepada

kepala suku dari alas gunung Tangkuban Prau itu. “Kau tahu hebatnya barang ini, siapa yang melanggar tentu akan celaka. Sebab di Jawa Tengah sendiri telah ada beberapa jiwa yang mengantarkan dengan sendirinya akibat barang itu. Baiknya segera saja kau simpan, dan jangan terlalu sering kau perlihatkan kepada orang-orang lain, apa lagi kepada orang-orang persilatan, sebab mungkin akan dapat menimbulkan rasa serik dan dengki.”

“Ya... ya...” Kata Ateng Jagalawa dengan cepat. “Kau benar sekali nona!”

Setelah menambahkan dengan maafnya maka ketua suku itu segera lari kedalam.

Mintaraga berlima tertawa didalam hatinya. Mereka membiarkan orang berlalu dengan gembira.

Semua pahlawan itu telah segera berubah sikapnya. Bukankah urusan telah beres dan mereka itu bukannya musuh lagi? Mereka segera membetulkan ruangan itu, akan mengatur meja pesta yang baru lagi. Akhirnya mereka mengundang seluruh tamunya untuk makan dan minum.

Tak antara lama kelihatanlah Ateng Jagalawa telah kembali dengan kosong.

“Apakah kau telah menyimpannya baik-baik?” Tanya Candra Wulan. “Pasti.” Jawab Ateng Jagalawa. “Misalnya kau robohkan gedung ini tak

nanti kau akan dapat mencarinya.”

Baskara tertawa bergelak-gelak didalam hatinya. Ialah orang yang sangat puas sekali. Sebab dia pula yang paling berjasa dalam hal ini.

‘Segala kotak dan Tunggul yang palsu, barang itu tak berharga untuk dijual sekeping perakpun.’ Katanya didalam hatinya.

“Ki Mintaraga kau kini perlu salin diri.” Kata Ateng Jagalawa kemudian. “Kapankah itu harus dilakukan?” Tanya Mintaraga. “Dimanakah harus

dilakukan?”

“Sebentar begitu waktu telah siang. Kalau matahari telah terpancang ditengah-tengah.” Jawab Ateng Jagalawa. “Tempatnya ialah dirumahku ini.”

Mintaraga menganggukan kepalanya. “Mari.” Ia mengajak.

Semua kawannya segera bangkit. Ketika Ateng Jagalawapun bangkit dan bertindak maka merekapun mengikutinya.

Perjamuan dilanjutkan tanpa tetamu, semuanya merasa heran, apakah yang akan dilakukan oleh ketuanya dan para tetamunya lakukan. Mereka itu tak dapat menebak syarat Mintaraga.

*

* *  

Tepat matahari telah terpacang ditengah-tengah, dimuka gedung Ateng

Jagalawa terlihat banyak kereta besar dan banyak gajah-gajah sebagai tunggangan khas dan kuda-kuda pilihan, bersama dengan itu tampak pula orang-orang yang bertubuh besar dan keren, mereka itu kebanyakan bersenjatakan golok dan tombak, senjata-senjata mereka itu saling beradu hingga menerbitkan suara nyaring dan berisik. Hingga dengan demikian maka ramailah suasana disitu.

Didalam gedung telah disiapkan sebuah pesta yang besar. Bahkan tidak hanya besar melainkan besar dan meriah sekali. Ateng Jagalawa duduk dikursi meja tengah. Disamping kiri kanannya terdapat dua buah kursi lainnya. Diatas semua meja telah tersedia panggang kambing, panggang ayam, susu, angsur, tuak sampai arak pun ada. Semua pahlawan-pahlawan yang dipimpin oleh Bereum menjadi repot sekali. Merekapun bertugas untuk melayani semua tamu. Yaitu kepala suku dari enam besar yang tinggal disekitar Gunung Tangkuban Prau. Mereka inilah yang tergabung dalam Barisan ‘SANGKURIANG SAKTI’. Gedung Ateng Jagalawa ini telah dipakai untuk rapat besar.

Tak lama kemudian Bereum kelihatan datang dengan memimpin seorang tamu yang bertubuh tinggi dan gemuk. Orang itu tak kalah dengan tingginya sendiri. Dia ini berjalan dengan tindakan lebar, ketika ia tertawa suaranya terdengar keras pekak bagaikan suara genta. Dia segera membuka suara :

“Ateng Jagalawa, sungguh panas..... sungguh panas    !”

Tanpa dipersilahkan lagi ia lalu mengambil tempat duduk dibagian kepala dan sebelah kiri. Setelah bercokol ia lalu mementang kembali mulutnya.

“Kipas..... kipas   !”

Tetamu ini membawa belasan orang pengiring, semuanya berwajah gagah, rupa-rupanya mereka itu semua adalah pahlawan-pahlawannya. Satu diantara mereka itu memegang kipas, lalu mereka itu mengipas dengan tak, henti-hentinya kearah orang tinggi gemuk itu.

Si gemuk itu lalu menyusuti peluh yang mengalir deras dimukanya. “Jagalawa, udara disini sungguh panas sekali. Bahkan luar biasa

panasnya.” Katanya. Agaknya tetamu ini kurang puas. “Dasar Langkir dari Tangkuban Prau Timur yang salah, bukannya mencari tempat yang adem sejuk malahan mencari tempat dimuara api, Hem !”

Lalu dengan tanpa sungkan-sungkan lagi ia mengambil secangkir anggur dan menegak habis isinya. Hingga minuman itu hanya lewat ditenggorokannya dan memperdengarkan suara yang gelogokan.

Wajah Ateng Jagalawa berubah guram, ia merasa sangat tak puas melihat kelakuan orang itu. Gedung ini terbuat secara istimewa, siapa masuk kedalamnya tentu akan sama saja dengan masuk kedalam gua es, hanya si  

gemuk ini sendiri yang ribut kepanasan. Tentu saja ia menjadi merasa malu

sekali.

“Ki Liman Karto.” Katanya. “Kau dipuncak gunung terus menerus turun pedut dan tak pernah melihat matahari dan keagungannya. Bahkan anak kambingpun dapat mati kedinginan kalau dolan ketempatmu. Rumput liar tak berani tumbuh. Hem... kaupun tak punya anggur yang lezat! Malahan untuk membakar kambing saja, kau harus menyiapkan barang yang memakan waktu lama. Pekerjaan yang sulit. Benar bukan?”

Si Gemuk dan bertubuh besar itu memang bernama Liman Karto, ia menjadi kepala suku dipuncak gunung Tangkuban Prau yang berudara sangat dingin sekali. Sudah tubuhnya gede dan berombak, adatnyapun keras dan galak. Begitu ia mendengar perkataan tuan rumah tadi ia lalu marah dan berjingkrak. Tanpa mempedulikan sesuatu ia lalu menepuk meja yang kemudian menjadikan biang gara-gara :

“Ateng Jagalawa, kau benar-benar menghinaku.” Teriaknya. “Marilah kita main-main.”

Tetamunya ini bukannya sembarangan menantang. Dia segera mengangkat cangkirnya dan meminum habis isinya, setelah itu ia lalu menyemprotkan anggur itu kemuka tuan rumah. Maka terlihatlah dengan tegas kalau anggur itu dapat meluncur dengan cepat.

Ateng Jagalawa telah segera menundukkan kepalanya, mengelak dari serangan itu. Ia mengelak sambil memperdengarkan suara ejekannya. “Hem...!”

Dibelakang Ateng Jagalawa berdiri seorang yang mukanya hitam bagaikan dicat, tubuhnya kate dan kecil, ketika ia melihat serangan anggur yang istimewa ini, ia lalu memuji :

“Bagus.”

Sambil berseru ia lalu mengibaskan tangannya yang memakai baju panjang dan geromboran, lalu anggur itu kembali kearah penyerang. Terpental karena adanya angin kuat yang menyambar.

Liman Karto menjadi terkejut.

“Apa?” Serunya. Ia rupanya tak berhasil menyemburkan anggur itu, hingga ia mementang bacotnya. Setelah membuka mulutnya maka anggur itu kembali masuk kedalam mulutnya dan tertelan. Keras tenaga balikan anggur itu, ia merasakan kalau tenggorokannya menjadi sakit, giginyapun panas. Dalam kagetnya ia lalu mengawasi orang yang bertubuh kate dan kecil itu.

“Kau... kau siapakah?” Tanyanya.

“Ketahuilah Liman Karto!” Ateng Jagalawa mewakili orang itu untuk menjawab pertanyaan Liman Karto. “Dia adalah seorang pahlawanku yang baru.”  

Liman Karto memperlihatkan muka yang kagum. Mendadak saja ia

melompat ketengah-tengah ruangan. Jangan saja orang hanya melihat tubuhnya yang besar seperti termomok itu, ternyata dia sangat hebat ilmu meringankan tubuhnya. Enteng ia melompat dan lincah gerakannya.

“Mari keluar, biar aku mencoba kepadamu.” Tantangnya.

Si hitam dan kate itu lalu tertawa perlahan, hendak ia menyambut tantangan itu, akan tetapi sebelum sampai ia melompat, seorang yang berada dibelakangnya dan bertubuh lebih besar dan tinggi menarik lengannya, maka terpaksa ia berdiam diri saja.

Liman Karto menjadi marah sekali karena tantangannya tak dihiraukan sama sekali.

“Budak, sungguh besar sekali keberanianmu!” Dampratnya dengan marah. “Aku memanggilmu mengapa kau tak mau datang?”

Sebenarnya ia hendak melompat menghampiri, akan tetapi niatnya segera dibatalkan sebab segera ia mendengar suara dingin disusul dengan perkataan :

“Tuan adalah kepala suku, akan tetapi mengapa kau tak tahu malu menantang seorang yang tak ternama?”

Segera disitu muncul seorang yang membuatnya heran, heran karena ilmu meringankan tubuhnya yang telah mencapai tingkat tinggi sekali. Kedatangannya ini bagaikan orang yang tak melihatnya. Suaranyapun dalam dan tajam, mirip dengan pekik hantu, hingga orang menjadi bergidik hatinya. Diapun mempunyai roman muka yang luar biasa sekali. Rambutnya riap-riap, kakinya telanjang, tubuhnya kurus jangkung, mukanya kering warna kulitnya kuning pucat seperti tak ada darahnya. Sebaliknya matanya berjilakan seperti menyinarkan sinar hijau dan tajam sekali. Maka dipandang seluruhnya, maka ia akan mirip dengan apa yang dinamakan Setan Penasaran.

Liman Karto terperanjat, tetapi ia segera memberi hormat dengan menganggukkan kepalanya.

“Kukira siapa, tak tahunya ketua dari Kalisari.” Katanya. “Silahkan duduk... silahkan duduk.”

Liman Karto angkuh dan garang, akan tetapi agaknya terhadap ketua orang-orang dukuh Kalisari ini ia jeri. Begitulah dengan sangat hormat ia menyilahkan orang itu duduk.

Orang yang berwajah luar biasa itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Tunggu dulu.” Katanya dengan suara yang tak sedap. Ia terus menoleh kearah Ateng Jagalawa, sambil memberi hormat ia lalu berkata :

“Tuan Ateng Jagalawa, aku Rikmo Dowo memberi hormat kepadamu.” Ia tak menanti jawaban, hanya saja menepuk kedua tangannya.

Bersama dengan tepukan tangan itu, dari luar terlihat masuknya belasan orang yang semuanya beriap-riap rambutnya dan kakinya telanjang,  

wajahnya serupa dengan kepalanya itu. Mereka itu membawa beberapa

kotak yang kemudian mereka letakan ditengah-tengah ruangan. “Buka!” Perintah ki Rikmo Dowo.

Dengan tanpa menanti perintah yang kedua kalinya mereka lalu membuka kotak-kotak itu, dan begitu kotak tadi terbuka tutupnya, orang- orang menjadi kagum. Dari dalam kotak itu memancar sinar terang gemerlapan, ternyata dalam kotak itu berisikan batu-batu mulia.

Ateng Jagalawa telah segera bangkit, dengan tersipu-sipu ia membalas penghormatan itu.

“Ah... Rikmo Dowo......” Katanya. “Aku tak punya kebijaksanaan apa- apa, mana aku berani menerima hadiah sebesar ini??”

Ki Rikmo Dowo tertawa terkekeh-kekeh. Ia adalah ketua dari orang- orang yang tinggal didukuh Kalisari. Salah satu pedukuhan yang mempunyai adat istiadat sangat aneh. Pedukuhan itu jauh dari sana sini, hingga kehidupan mereka itu setengah wajar, namun biarpun roman muka mereka itu sangat aneh dan menakutkan, akan tetapi bicara mereka baik sekali. Demikianlah ia lalu berkata pula :

“Huahaaaa... Huahaaa.... Huahaa.... orang-orang alas Gunung Tangkuban Prau terkenal gagah-gagah dan ki Ateng Jagalawa sendiri adalah seorang gagah tulen yang jarang tandingannya. Karena itu kuharapkan ki Ateng Jagalawa suka menerima tanda penghargaan dariku, Rikmo Dowo.”

Ateng Jagalawa adalah memangnya seorang yang berhati serakah, hatinya girang bukan main, setelah merendah tadi maka hatinya tak ayal lagi untuk menerima semua pemberian itu.

Rikmo Dowo lalu memainkan matanya. Dari kiri ia melihat kekanan, ia memperhatikan lima orang pahlawan yang berdiri dibelakang Ateng Jagalawa. Hingga hati mereka menjadi berdebaran. Kemudian pikir mereka :

‘Liman Karto telah sakti, orang ini mustinya terlebih sakti lagi kalau dibandingkan dengan Liman Karto. Ah... benar-benar didaerah Tangkuban Prau ini banyak dengan manusia-manusia aneh. !’

Mereka itu  sebenarnya  adalah Mintaraga  berlima  dengan kawan- kawannya. Tadi yang mengibas dengan tangan bajunya adalah Kembang Arum, mereka bermaksud memberi hajaran kepada jago-jago  Jipang Panolan, untuk dapat menaklukkan orang-orang yang tinggal disekitar gunung Tangkuban Prau. Terutama sekali untuk mempergunakan siasatnya.

Ia menggunakan Tunggul Tirto Ayu yang palsu untuk menggoncangkan hati Ateng Jagalawa, dan sesudahnya Ateng Jagalawa dipengaruhi oleh kesombongan dan ketakutan, sudah memberikan kesanggupan untuk membantunya. Mereka sendiri sengaja menyamar sebagai pahlawan- pahlawan dari Ateng Jagalawa.  

“Marilah duduk.” Ajak Rikmo Dowo sambil menepuk pundak Ateng

Jagalawa. “Kita menantikan kumpulnya semua para tetamu, nanti barulah kita bicara.” Dia lalu tertawa terkekeh-kekeh.

Ateng Jagalawa merasa kalau orang ini menyindirnya, akan tetapi ia tak memperlihatkan aksi apa-apa, ia duduk dengan tak banyak mengeluarkan omongan.

Rikmo Dowo lalu mengambil tempat duduk yang berada dipojok, dan orang itu kelihatan menyendiri. Sedikitpun tak bergerak, mulutnyapun bungkam seribu bahasa.

Liman karto mempunyai niat untuk mempersilahkan orang itu duduk dikursi kehormatan, akan tetapi ketika melihat sikap tetamu itu, perkataannya tak dapat dikeluarkan dan terpaksa ditelan lagi. Ia menjadi tak bebas rasanya, dahinyapun mengeluarkan keringat. Ia celingukan berkali- kali memandang kearah Ateng Jagalawa dan kemudian kepada ki Rikmo Dowo. Kepala dukuh Kalisari.

Tak lama kemudian terdengarlah suara Marakacan yang mewartakan kalau kepala pedukuhan Tanah Abang datang.

Wajah Ateng Jagalawa menjadi berubah, rupa-rupanya ia terperanjat. Lalu ia berdiri dan menyambut keluar. Rikmo Dowo mengikuti dari belakang tanpa mengatakan sesuatu.

Mintaraga berpikir :

‘Tanah Abang adalah sebuah pedukuhan yang terbesar, memang pantas kalau Ateng Jagalawa keluar menyambutnya sendiri.’

Ia hanya heran mengapa Liman Karto masih tetap enak-enak duduk ditempatnya. Hanya air mukanya saja yang menyatakan kalau ia sangat mendongkol sekali. Pikirnya pula :

‘Inilah tak mengherankan karena sejak dahulu mereka berdua ini selalu bermusuhan.’

Tak lama kemudian telah tampak pula kalau Ateng Jagalawa dan ki Rikmo Dowo telah kembali lagi. Mereka ini menemani serombongan besar para tetamu, seorang diantaranya yang berjalan ditengah-tengah adalah seorang yang bermuka merah dan berewok. Hingga wajahnya jadi angker sekali. Dia mempergunakan baju yang disulam dan dilehernya tergantung kalung mutiara. Sepatu yang dipakai adalah sepatu dari kulit menjangan, sedangkan ditangannya memegang sebatang cambuk. Dia membuka matanya lebar-lebar dan matanya ditujukan lurus kedepan, sikapnya sangat angkuh, seakan-akan disitu tak ada seorangpun juga. Dialah Langkir kepala perdukuhan Tanah Abang.

Langkir menuju kebarisan kiri. Disini ia mendapatkan kalau kursi pertama yang seharusnya didudukinya telah diambil dan dipakai oleh Liman Karto, melihat ini segera saja air mukanya berubah. Segera ia berpaling kearah Ateng Jagalawa, kemudian katanya :  

“Ki Ateng Jagalawa, jika kau memang tak senang menyambutku,

baiklah aku mengundurkan diri saja.”

Mendengar teguran ini muka Ateng Jagalawa menjadi merah. Ia segera memandang kearah Liman Karto, ia melihat kalau orang itu masih tetap duduk dengan diam, bahkan kelihatan tenang-tenang saja. Kedua matanya dipentang lebar-lebar. Tetamunya itu terang kalau tak memandang mata kepadanya. Juga tidak terhadap Rikmo Dowo dan Langkir. Bahkan perkataan ketua dukuh Tanah Abang itu seperti tak didengarnya.

Terpaksa dengan menebalkan muka, Ateng Jagalawa memberi hormat kepada Liman Karto.

“Ki Liman Karto kumohon...” Katanya. Belum sempat perkataan itu dihabiskan sekonyong-konyong sesemprot anggur telah menyemprot kearahnya. Ateng Jagalawa tak menyangka, bahkan tak keburu pula untuk mengelak. Maka mandilah ia dengan cairan anggur itu.

Habis menyiram Liman Karto melompat bangun.

“Ateng Jagalawa.” Katanya dengan nyaring. “Dimatamu tak ada orang lain, marilah kita main-main.

Ateng Jagalawa menyeka mukanya. Iapun marah sekali. Tiba-tiba saja tangan kirinya menyambar kearah bahu kanan lawannya.

“Bagus.” Seru Liman Karto. Ia mengelak terus menyambar sebuah kursi untuk dipakai menyerang.

Dibelakang Liman Karto ada seorang pahlawan yang memegang kipas. Dialah jago nomor satu dari padukuhan Lemah Putih. Dia segera menutup kipasnya, terus melompat kearah Ateng Jagalawa dan menikam dadanya. Gerakan ini mirip dengan ilmu menotok jalan darah yang sangat tepat.

Inilah serangan yang tak diduga-duga oleh Ateng Jagalawa. Dialah yang ditegur oleh Liman Karto tetapi dengan tidak langsung, sebenarnya Liman Karto mendamprat Langkir. Hal ini diketahui oleh Langkir yang licik dan licin. Untuk wilayah gunung Tangkuban Prau dia memang orang tercerdik. Karena itulah air mukanya segera berubah. Ketika pahlawan dari Lemah Putih itu menotok, ia menyambar kipas lawan hingga Ateng Jagalawa menjadi tertolong.

“Kau berani kurang ajar?” Bentak Langkir. “Lekas mundur!”

Pahlawan itu menjadi terhuyung-huyung, kalau saja tak segera ditolong kawannya tentu ia akan jatuh terguling.

Kembang Arum dan Candra Wulan saling berpandangan. Ateng Jagalawa ini bukannya orang sembarangan saja, orang mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Siapa tahu sekarang ada Langkir yang terlebih sakti lagi. Mereka lalu berpikir, tentu akan sangat sulit sekali kalau Mintaraga harus mengalahkan mereka itu hanya dengan tenaga saja. Kemudian mereka lalu berpaling kearah kakak mereka, Sebaliknya Mintaraga tak memperlihatkan sikap yang aneh.  

Candra Wulan menjadi masygul. Didalam hatinya ia berkata :

‘Orang-orang dari Tangkuban Prau ini kebanyakan mempunyai kesaktian yang tak boleh diabaikan, kalau mereka ini sampai bekerja sama dengan jago-jago Jipang Panolan maka akan sangat sulitlah bagi kita untuk mengalahkannya. Tak bisa lain maka kecerdikanlah yang harus dipergunakan. Enam kelompok ini harus diadu satu dengan lainnya supaya mereka tak mempunyai persatuan dan kekuatannya menjadi lemah. Dengan demikian barulah dapat dilawan.’

Gunung Tangkuban Prau ini terpecah menjadi dua rombongan, Selatan dan Utara. Diselatan yang menjadi ketua Ateng Jagalawa. Dibagian utara mereka terpecah pula, bagian yang besar bernama Tanah Abang dan bagian inilah yang paling kuat. Lalu Lemah Putih dan Sunda Kecil.

Rombongan utara mempunyai tanah datar yang luas dan subur sekali. Kemajuannyapun sangat pesat kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Bahkan penduduknyapun paling banyak. Orang-orang Lemah Putih menduduki tempat paling banyak, akan tetapi dia bermusuhan dengan orang-orang Tanah Abang.

Liman Karto mempunyai cita-cita besar, hingga ia ingin merobohkan Langkir, supaya dia pula yang berkuasa dibagian Utara. Disamping dia, Langkirpun seorang yang licin dan cerdas sekali. Cita-citanya lebih besar dari pada Liman Karto. Karena itu tak sangat mengherankan kalau keduanya menjadi sering bentrok, tak pernah mereka mendapatkan kesesuaian paham. Diselatan tak ada kelompok lainnya, karena itu dengan wajarlah kalau Ateng Jagalawa lalu menganggap dirinya menjadi tetua dan sekalian

merangkap raja kecil didaerahnya itu.

Demikianlah bentrokan permulaan ini membuat pertemuan menjadi gaduh. Ksatria-ksatria dari ketiga kelompok itu Tanah Abang, Lemah Putih, Alas Gunung Tangkuban Prau, hendak membela ketuanya masing-masing. Bahkan ada yang telah mencabut senjatanya, selain itu bacotnya yang lebar dan berbau jengkolpun telah dipentang lebar-lebar.

Ateng Jagalawa yang bermandikan anggur hatinya menjadi panas bukan main. Dia sudah segera berkaok-kaok.

“Liman Karto anak haram, mari sini.” Tantangnya dengan menepuk- nepuk dadanya. “Mari kita main-main.”

“Bagus.” Jawab Liman Karto dengan tersenyum lebar. “Diantara kita memang harus ada kepastian, orang-orang Tangkuban Prau atau orang Lemah Putih yang lebih unggul. Mari, mari kita sebagai ketuanya yang harus memutuskan dengan jalan berkelahi.”

Dengan menerbitkan suara yang sangat nyaring Liman Karto telah mencabut goloknya. Malahan ia segera menabas terlebih dahulu.  

Ateng Jagalawa menggerakkan cambuknya yang panjang, cambuk ini

akan dipergunakan untuk menghalau tabasan lawan, setelah itu ia mulai membuat perlawanan yang sangat sengit.

Melihat pemimpin-pemimpin mereka itu telah mulai bentrok, orang- orang dari kedua belah pihakpun lalu segera ikut turun tangan, maka disitu terjadilah pertempuran kedua desa.

Langkir menonton sambil menyeringai. Ia lalu duduk ditempat kursi Liman Karto tadi.

Candra Wulan menyikut Kembang Arum dengan perlahan.

“Bagus kalau mereka itu saling bunuh membunuh, maka kita akan dapat mengail diair yang keruh.” Katanya dengan perlahan.

Kembang Arum tak menjawab perkataan kawannya itu, sebaliknya ia berseru :

“Bagus.”

Candra Wulan menjadi heran, segera ia memandang kearah mana Kembang Arum melihat. Maka tampaklah kalau Rikmo Dowo berjalan mengitari diantara pertempuran yang berjalan dengan ramai itu. Setiap kali ia menggerakkan tangannya maka senjata-senjata lawannya dapat dirampas dan terus dilemparkan kelantai. Hingga dengan cepat orang kurus yang berwajah mengerikan ini berada didekat Ateng Jagalawa dan Liman Karto. Dengan suara nyaring ia lalu berseru :

“Ki sanak sekalian, sudahlah. Jangan kau bertempur terus.”

Dua orang sakti yang tengah bertempur, dan hati mereka itu sama-sama panas, mereka tentu saja tak mau mendengarkan cegahan itu. Terus saja mereka itu memainkan golok dan cambuk mereka. Bahkan makin memperhebat serangan-seramgannya.

Melihat kalau dirinya tak dihiraukan sama sekali maka Rikmo Dowo lalu tertawa dingin. Cepat sekali ia menggerakkan kedua tangannya, kekiri dan kekanan, maka dilain saat ia telah memegang gagang cambuk dan hulu golok, ketika ia menarik maka Liman Karto dan Ateng Jagalawa menjadi terhuyung-huyung.

Dengan suara dingin pula Rikmo Dowo lalu berkata :

“Orang-orang Jipang Panolan belum datang, akan tetapi mengapa sekarang kita telah gempur-gempuran sendiri? Apakah artinya ini?”

Liman Karto dan Ateng Jagalawa lalu menarik senjata-senjata mereka, lantas berhasil melepaskan senjatanya masing-masing. Ini disebabkan karena Rikmo Dowo tak mau berbuat keterlaluan. Orang yang berwajah menyeramkan dan berambut riap-riap itu sengaja melepaskannya.

Ateng Jagalawa dan Liman Karto mukanya menjadi merah. Semerah udang direbus. Bukankah orang itu telah dapat menangkap senjatanya dan mereka tak berdaya apa-apa. Dengan mata mendelik mereka menjadi saling  

memandang, lalu mereka melirik kearah kepala dukuh Kalisari. Dengan

tanpa mengatakan apa-apa mereka lalu kembali kekursinya masing-masing.

Rikmo Dowo tak mempedulikan sikap dan pandangan mereka itu kepadanya. Iapun tak mengambil pusing ketika ia melihat orang itu menjadi heran dan kagum karena kegagahannya. Setelah kedua orang itu duduk maka kembalilah ia kekursinya. Duduk membungkam sedikitpun tak mengeluarkan suara apa-apa.

Didalam hatinya, Mintaraga memuji kepandaian Rikmo Dowo : ‘Kelihatannya dia terlebih sakti kalau dibandingkan dengan Langkir.’

Pikirnya. ‘Sungguh tak kusangka kalau diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat ini aku akan menemui sekian banyak orang-orang sakti seperti ini...”

Ketika itu berulang-ulang Liman Karto memperdengarkan suaranya dari hidungnya. Sebab ia mendapat kenyataan kalau kursinya, kursi yang pertama diduduki tadi telah dipakai duduk oleh Langkir. Ia menjadi serba salah, kalau ia menyerang Langkir, maka ia malu kepada Rikmo Dowo, kalau ia hanya berdiam diri saja ia malu kepada dirinya sendiri. Bukankah lawannya itu telah menghinanya dengan terang-terangan dan ia tak berdaya apa-apa? Akhirnya saking terpaksanya ia lalu duduk pada kursi yang kedua.

Langkir sendiri tak mengambil pusing orang itu menjadi mendongkol. Ia tetap berlagak tak mengerti apa-apa.

Tak lama kemudian datanglah beberapa orang tamu lainnya, seperti Sulaiman dari Tegal Warna yang mukanya minyakan, wajahnya jenaka. Sebab ia selalu tersenyum kepada siapapun juga. Begitupun dengan kedatangan Sandung Lamur kepala Lampor Tugel. Sandung Lamur ini bertubuh kecil seperti orang kate, wajahnya halus seperti seorang terpelajar. Sungguh tak mirip kalau ia menjadi seorang ketua dari perkumpulan begal.

Waktu itu Ateng Jagalawa telah berganti pakaian. Ia menyambut kedatangan para tetamunya ini dengan wajah berseri-seri dan segera mengangkat cangkir tuaknya. Kemudian katanya dengan nyaring :

“Sungguh sukar sekali mencari waktu yang baik seperti ini. Ki sanak sekalian sudi datang kemari, hingga memberi muka terang kepadaku yang menjadi tuan rumah.” Setelah berkata demikian ia lalu meneruskan lagi. “Ki sanak sekalian marilah kita mencuci tangan.”

Setelah berkata demikian ia lalu memberi contoh menuangkan tuak itu ketangannya untuk mencuci tangannya.

Pada masa itu Agama Islam di Jawa Barat belum banyak tersebar, bahkan orang-orang masih menentangnya. Hingga Sunan Gunung Jati harus bekerja dengan giat untuk menunaikan tugasnya menyebarkan agamanya. Orang-orang ini belum lagi memeluk agama Islam.

Mereka itu menyangka kalau ketua orang-orang Alas Gunung Tangkuban Prau itu mengajaknya minum, akan tetapi tak tahunya tuak itu hanya dipakai untuk mencuci tangan, hingga mereka itu menjadi heran  

setengah mati. Kecuali Liman Karto semuanya menerima baik ajakan itu.

Sedangkan Liman Karto hanya duduk tenang-tenang saja dikursinya, sedikitpun ia tak mau mengambil pusing, melainkan terdengar saja suara dihidungnya.

*

* *

Ateng Jagalawa berlagak tak tahu, iapun tak mengambil pusing penghinaan Liman Karto itu. Ia lalu mengisi cangkirnya dan mengangkat tinggi-tinggi sambil berkata :

“Ki sanak sekalian, untuk tanda persahabatan orang-orang alas Gunung Tangkuban Prau kepada ki sanak sekalian, marilah kita mengeringkan cangkir ini.”

Semua hadirin menerima ajakan itu dan segera mereka itu lalu mengeringkan cangkir mereka.

Hanya Liman Karto saja yang membawa sikapnya sendiri. Sewaktu yang lain-lain minum araknya untuk tanda persahabatan mereka, maka Liman Karto lalu membanting cangkir araknya, karena itulah maka cangkir itu menjadi pecah berantakan. Kemudian barulah ia berkata :

“Ki sanak sekalian, aku mengusulkan supaya kita segera mengangkat ketua perserikatan, atau tepatnya ketua umum.”

Mendengar ini Sulaiman dari Tegal Warna tertawa lebar.

“Liman Karto untuk apakah kau mengungkat-ungkat soal lama?” katanya. “Bukankah karena urusan ketua umum maka kita telah bertempur berulang-ulang? Bukankah semenjak beberapa tahun urusan ini tak terpecahkan hingga sekarang? Aku menganggap sekarang ini bukan saatnya untuk membicarakan hal itu.”

Ateng Jagalawa senantiasa selalu menganggap kalau dirinya itu telah menjadi ketua umum, karena itulah ia lalu turut berbicara :

“Untuk melayani orang-orang Jipang Panolan?” Katanya. “Kalau mereka itu datang biarlah aku akan mewakili untuk bicara dengan mereka itu.”  

“Jangan kau bermimpi disiang hari bolong.” Seru Langkir dari Tanah Abang sambil tertawa dingin. “Kau tentunya tak mempunyai derajat untuk mewakili kita.”

Liman Karto rupa-rupanya menyetujui perkataan Langkir dari Tanah Abang itu, sekarang berulah ia membuka mulut :

“Benar... benar.” Katanya dengan suara nyaring. “Kita harus mengangkat dahulu ketua pusat, supaya Jipang Panolan tak memandang enteng kepada kita.” “Tunggu dulu.” Kata Sandung Lamur dari Lampor Tugel. “Orang-orang

Jipang Panolan hendak datang kemari, apakah yang akan dimaksudkan? Tolonglah ki Ateng Jagalawa menjelaskan biar aku yang bodoh menjadi terang.”

“Jipang Panolan telah mengirim utusan kepada kita.” Seru Ateng Jagalawa menjelaskan. “Utusannya itu ialah Patih Luar dari Jipang Panolan yang bernama ki Udara. Diapun membawa banyak sekali barang-barang hadiah, maksudnya ialah hendak bersahabat dengan kita, tak ada niatnya yang jahat.”

“Kita orang-orang alas Gunung Tangkuban Prau yang besar maupun yang masih kecil belum pernah dirugikan oleh orang-orang dari Jipang Panolan.” kata Sandung Lamur. “Akan tetapi dengan kedatangan Patih Udara itu aku khawatir kalau dia akan membawa maksud yang tak baik bagi kita. Kalau menurut pendapatku maka tak dapat aku kalau tidak berjaga- jaga.”

Diam-diam Mintaraga memuji ketua begal itu. Ia menganggap kalau pikiran orang itu sehat sekali. Diantara anak buahnya ada yang kasak-kusuk dan menyetujui pendapat ketuanya.

Sebelum orang itu memberi reaksi apa-apa. Sandung Lamur telah berkata pula. “Orang-orang Jipang Panolan mulai dari Pangeran Sedo Lepen generasi Ario Penangsang ini sering kali mengadakan penyerbuan- penyerbuan besar maupun kecil untuk menaklukkan kita. Dengan dalih membasmi perampok dan penjahat yang mengacau. Tak sedikit anak buahku yang gugur dalam palagan. Untunglah semenjak Pajang berdiri, Jipang Panolan menjadi agak suram, mereka tak sekuat dahulu. Namun kita harus ingat kalau Sunan Kudus guru Ario Penangsang itu sangat sakti, bahkan Untari istri Ario Penangsang itupun seorang wanita prajurit. Bak Srikadi kerajaan Pandawa dijaman pewayangan dulu. Kalau kini kita bersatu maka tak nanti ia akan dapat memperdayakan kita.”

Sulaiman tertawa.

“Sandung Lamur.” Katanya. “Kau masih belum mengetahui maksud Patih Udara, mengapa kau telah menduga yang tidak-tidak?”

“Habis, bagaimanakah pandanganmu tentang hal ini?” Sandung Lamur balik bertanya. “Untukku sampai begitu jauh aku tetap tak percaya kepada Jipang Panolan.”

“Akupun tak berani menduga-duga.” Jawab Sulaiman. “Hanya yang kulihat ialah orang-orang Jipang Panolan itu gagah-gagah dan pandai berperang. Nama mereka itu telah menggetarkan seluruh tanah Jawa, mereka itu hanya dapat dituruti saja akan tetapi tak dapat ditentang. Maka nanti apa bila Patih Udara datang, apa permintaannya kita hanya menuruti saja. Menerima dengan baik. Jika tidak, maka kita akan mengalami nasib yang kurang baik sendiri ”  

Orang Tegal Warna ini lalu menunjukkan pada kekejaman orang-orang

Jipang Panolan terhadap siapa saja yang membangkang perintahnya. Banyak kata-katanya. Semua orang yang mendengarkan berdiam diri saja, mereka hanya memasang kuping saja. Ia bicara sambil diam-diam mencuri wajah orang itu. Ia mendapat kenyataan hanya Ateng Jagalawa seorang yang dapat tersenyum. Didalam hatinya ia mengangguk-angguk.

Liman Karto berbeda wajahnya dari pada yang lain-lain, ia menunjukkan kekhawatiran ataupun tak tentram hatinya.

‘Dia tak punya pandangan, baiklah aku akan menggertaknya.’ Pikir Sulaiman. Ia lalu memandang kearah orang itu. Ia mendapat kenyataan kalau Sandung Lamur agak marah, sedangkan Langkir agaknya memandang enteng saja. Kemudian pikirnya pula :

‘Dua orang ini bisa merusak usahaku, aku harus mencari daya untuk melayaninya.’ Setelah berpikir demikian ia lalu memandang kearah ki Rikmo Dowo, ia melihat kalau orang dari Kalisari itu hanya duduk dengan diam saja. Wajahnya tak membayangkan apa-apa, rupa-rupanya orang ini tak mendengarkan pembicaraan yang baru saja ini.

Akhirnya Sulaiman mengertakan keningnya :

‘Benar-benar orang ini sangat sukar sekali dilayani.’ Pikirnya. Ia lalu membasahi tenggorokannya dengan lidahnya. Ia berniat untuk bicara.

Namun tiba-tiba saja dari luar terdengar suara tambur dan terompet. Mendengar itu maka Ateng Jagalawa tergesa-gesa. Kepala orang-orang dari alas Gunung Tangkuban Prau ini segera bangkit :

“Ki sanak, utusan dari Jipang Panolan telah datang.” Katanya. Sesaat itu juga keadaan berubah menjadi tegang.

Ateng Jagalawa bersama Langkir sudah mengajak para pengiringnya masing-masing pergi menyambut utusan dari Jipang Panolan, Sandung Lamur tak bergerak dari kursinya, ia tetap duduk diam, akan tetapi hatinya sangat mendongkol sekali.

Mintaraga lalu berpikir :

‘Orang-orang Lampor Tugel ini hanya mempunyai daerah yang kecil serta lemah, akan tetapi sungguh tak disangka kalau diantara orang-orang lemah dan berdaerah sempit ini muncul seorang pemimpin yang gagah berani dan bertulang keras.’

Juga Rikmo Dowo duduk diam saja, dibelakangnya berdiri delapan orang pengawalnya. Atau lebih tepat kalau dikatakan sebagai pahlawan- pahlawannya.

Melihat ketua orang-orang dari Kalisari ini Mintaraga segera berpikir : ‘Dia ini sangat sakti, jika aku dapat memperoleh bantuannya maka apa

yang kutakutkan kalau sampai bentrok dengan jago-jago Jipang Panolan. Bahkan aku akan tak takut melawan Patih Udara ’  

Tak antara lama terdengarlah suara tawa lebar dari Patih Udara, dengan

diiringi Ateng Jagalawa semua. Ia membuka tindakan lebar, dibelakangnya tampak anggota-anggota lainnya dari jago-jago Jipang Panolan yang dipimpin oleh Bagaspati.

Segera mereka itu semua mengambil tempat duduk, dengan urutan masing-masing. Tempat duduk mereka itu ialah disebelah kiri.

Ateng Jagalawa dengan tampang yang berseri-seri lalu melayani para tetamunya semua.

“Sungguh beruntung sekali, ki Patih sudi datang ketempatku ini. Inilah yang namanya sebuah kehormatan besar sekali bagiku.” Katanya dengan tertawa. “Silahkan duduk... silahkan duduk...”

Benarlah Patih Udara dipersilahkan duduk dikursi kiri bagian pertama, dia duduk menemani dikursi kanan, dengan demikian maka mereka duduk berendeng ditengah-tengah atau dikepala meja.

Patih Udara menunjukkan sikap yang sangat angkuh dan sombong. Ia melihat kesekitarnya, akan tetapi ia tak melihat Mintaraga dan para rombongannya. Walaupun mereka itu berada didekatnya hanya berjarak beberapa meter saja.

Dengan diam-diam Mintaraga membentur Kembang Arum dengan sikunya. Ia seperti mau berkata :

“Akhirnya Patih Udara datang juga. Sekarang kita lihatlah apa yang akan dikatakannya.”

Patih Udara kembali memandang keseluruh hadirin, sekarang memandang dengan penuh perhatian, paling belakang pandangannya berhenti pada Sandung Lamur dan Rikmo Dowo.

“Ateng Jagalawa, siapakah kedua orang ki sanak ini?” Tanyanya dengan suara yang sangat dingin.

Dengan cara yang hormat sekali, Ateng Jagalawa lalu memperkenalkan kedua orang tetamunya itu.

Segera saja Patih Udara berkata, wajahnya kini berbeda, dengan agak keras ia berkata :

“Aku yang rendah ini benar-benar tak mempunyai guna, akan tetapi toh menjadi wakil dari sebuah negara besar yang makmur. Karena itu mengapa tampaknya ki Rikmo Dowo dan ki Sandung Lamur ini tak senang melihat kedatanganku?”

Perkataannya ini ditujukan kepada Ateng Jagalawa, dan diucapkan dengan sangat sombong sekali, terhadap kedua orang itu sedikitpun ia tak memandang sebelah mata.

Ateng Jagalawa menjadi terkejut dan hatinya sangat cemas. Ia sebenarnya hendak mengucapkan sesuatu, maksudnya untuk meredakan suasana, akan tetapi ia telah didahului oleh salah seorang pahlawan Sandung Lamur. Dia itu lalu mengangkat dada dan berkata :  

“Patih Udara perkataanmu barusan ini, sebenarnya merendah bukan,

menegur bukan, karena itu aku mohon tanya sebenarnya kau ini mempunyai maksud apakah?”

Bagaspati yang duduk belum lagi enak, teka berjingkrak bangun.

“Kau tahu siapakah adanya ki patih Udara itu?” Tegurnya. “Eh... binatang kau ini bicara lancang sekali, kau benar-benar tak kenal perbedaan derajat tinggi dan rendah.”

Pahlawan itu benar-benar mempunyai keberanian yang sangat besar, dia segera tertawa dingin.

“Bagaspati.” Katanya. Dia rupa-rupanya telah kenal dengan orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan itu. “Kau maksudkan majikanmu itu sangat mulia dan agung, dan budak itu sangat rendah dan hina. Benarkah begitu? Sangat sayang sekali, justru aku tak sudi mengatakan kalau diriku ini sama dengan budak. Biarpun majikanmu itu sangat agung, terpaksa aku melanggar dia.”

Hebat sekali perkataan ini. Itulah perkataan yang sangat menghina dan sekaligus mengatakan kalau Bagaspati itu adalah begundalnya Patih Udara dari Jipang Panolan. Karena itu muka Bagaspati menjadi merah, sampai lama ia tak dapat membuka mulutnya.

‘Bagus... bagus....’ Mintaraga diam-diam memuji. ‘Inilah yang dinamakan dibawah panglima yang gagah perkasa tentunya tak ada prajurit yang lemah. Sandung Lamur pandai bicara, dapat berdebat, dia juga bercita- cita besar.

Ateng Jagalawa dan Sulaiman menjadi terkejut mendengar suara pahlawannya itu. Mereka justru merasa khawatir sekali kalau disangka kurang hormat dalam melayani utusan orang-orang Jipang Panolan itu.

Bagaspati segera bertindak keluar dari antara saudara-saudaranya, sambil berpikir dengan keras :

‘Jika mereka tak diberi pengertian serta dibuka matanya, mungkin perjalanan kita ini akan sia-sia belaka.’ Ia lalu menggeprak meja dengan tangan kirinya, begitu diantara suara nyaring maka ujung meja itu menjadi sempal. Sambil berbuat demikian ia lalu berkata dengan nyaring :

“Pahlawan Lampor Tugel ingin aku belajar kenal denganmu. Siapakah kau perampok yang tak tahu adat?”

Hajaran kepada meja itu membuat semua orang menjadi kaget dan heran, tapi pahlawan yang berani itu, yang ditantang, tidak berubah air mukanya, bahkan sambil berludah ia lalu berseru :

“Budak!” Dia lalu balik ketempatnya dengan tindakan yang lebar.

Bagaspati menjadi heran, mukanya menjadi semakin merah. Ia sampai berdiri bengong saja.

Pendeta Panca Loka menjadi gusar sekali, segera saja ia bertindak keluar  

: “Eh... telur busuk, kemarilah kau!” Bentaknya dengan menantang dan

tangannya menggapai. “Biar aku Panca Loka menghajar adat kepadamu.” Pahlawan itu berpaling untuk memandang.

“Tepatkah kau?” Tanyanya dengan sinis penuh nada ejekan.

“Kami adalah utusan sebuah negara besar, mengapa tidak tepat kalau hanya melayanimu?” Bentak Bagaspati sambil mendelik.

“Hendak kubertanya denganmu.” Kata pahlawan itu. “Udara itu adalah pahlawan nomor satu didaerahmu bukan? Bukankah Udara itu orang kepercayaan Ario Penangsang?”

Bagaspati tak senang akan tetapi terus menganggukkan kepala. Ia tak senang sebab orang itu dengan begitu saja memanggil Udara dan bahkan berani memanggil raja gustinya hanya dengan sebutan Ario Penangsang saja.

Pahlawan itu tersenyum tawar.

“Kalian dua puluh satu jago-jago Jipang Panolan inikan hanya orang- orang pandai sebawahan Udara. Bukankah demikian pula?”

Mendengar perkataan ‘orang-orang pandai’ cepat bagaikan kilat Pendeta Panca Loka menganggukkan kepalanya. Bahkan ia kelihatan tersenyum sombong.

“Benar tak salah barang sedikitpun juga.” Jawabnya.

“Nah itulah sebabnya.” Seru ksatrya itu. “Raja Jipang adalah seorang agung untuk negaranya. Demikian juga ketua kami. Dia adalah termulia dalam lingkungan kami. Dengan demikian maka mereka berdua sama tinggi derajatnya. Sedangkan Udara adalah orang nomor satu dari Jipang Panolan, sedangkan aku yang bodoh adalah pahlawan nomor satu dari gerombolan Lampor Tugel. Dengan demikian maka kedudukanku dengan Udara sederajat dan setingkat. Maka jika kau hendak menantang maka dialah yang harusnya menantangku. Tentang kalian semua ini? ah... hanya merupkan angin busuk saja. Bahkan kentut!”

Kata-kata itu benar-benar menurunkan derajat Patih Udara dan bersama dengan merendahkan kehormatan jago-jago Jipang Panolan. Memang kalau dilihat sepintas lalu saja maka perbandingan mereka itu tepat. Bagaspati dan Pendeta Panca Loka menjadi berdiri bengong dan hanya saling berpandangan saja.

Mintaraga yang memasang kupingnya dengan baik-baik segera berkata : ‘Tepat... tepat sekali perkataanmu itu ki sanak!’

Bagaspati menjadi sangat malu sekali, tak dapat ia turun dari pentas.....

Pahlawan yang berdiri dibelakang Sandung Lamur itu masih tertawa terbahak-bahak akan tetapi kelihatan jelas kalau suara tawa ini dikeluarkan dengan nada yang sangat dingin.

Semua pahlawan lainnya bergerak dengan bebas.

‘Baiklah, terlebih dahulu aku harus menundukan orang dari gerombolan Lampor Tugel ini.’ Pikir Bagaspati sambil berpaling kearah Patih Udara.  

Akan tetapi betapa terkejutnya hati jago pertama dari jago-jago Jipang

Panolan itu setelah melihat sikap Patih Udara yang hanya tenang-tenang saja itu.  

“Baiklah.” Bagaspati lalu memperdengarkan suaranya. “Pahlawan nomor satu dari Gerombolan Lampor Tugel, silahkan kau ajukan seorang yang kedudukannya sederajat denganku. Aku Bagaspati menantangmu kalau kau berani.”

“Bagus.” Demikianlah seruan diantara orang-orang banyak itu.

Pahlawan itu sendiri memandang kearah Sandung Lamur untuk menantikan titah selanjutnya.

Patih Udara hanya berdiam diri saja, ia merasakan kalau bentrokan ini akan menambah kesulitan yang ia hadapi dalam menjalankan tugasnya itu. Bukankah mereka itu belum lagi bicara?”

Ateng Jagalawapun merasa tak enak sekali. Dia teringat akan budi dari orang-orang Jipang Panolan. Dia hendak membantu orang itu. Begitu ia segera bangkit. Akan tetapi belum sempat lagi ia membuka mulut dari belakangnya ada orang yang membisiki :

“Ateng Jagalawa, lekaslah kau duduk kembali.”

Mendengar suara ini ia bagaikan seorang yang menerima titah, Ateng Jagalawa segera duduk kembali. Inilah suara Mintaraga, yang dengan dua rupa barangnya hendak mempengaruhi orang-orang alas gunung Tangkuban Prau itu. Karena itulah Ateng Jagalawa lalu memperindahhan perkataan itu.

Sandung Lamur sangat benci sekali kepada orang-orang Jipang Panolan, karena itu ia segera bertepuk tangan. Atas itu muncullah seorang pahlawannya, yang segera membuka suara :

“Aku adalah pahlawan bawahan Blorong Lodro, Bagaspati marilah kita main-main sebentar.”

Tantangan ini bukannya merupakan tantangan belaka, tantangan ini telah disusul dangan tendangan yang dikerahkan dengan sekuat tenaga.

“Bagus.” Seru Bagaspati yang segera mengangkat kedua tangannya. Akan tetapi ia segera didahului oleh Pendeta Panca Loka. Pendeta itu berkata

:

“Untuk menyembelih ayam mengapa harus memakai golok? Bukankah golok itu hanya untuk menyembelih kerbau? Kakang kau tunggulah sebentar biar aku yang melayaninya.”

Ia lalu membuka kedua tangannya, untuk memusnahkan serangan musuh sambil membentak :

“Orang liar kau beritahukan dahulu namamu. Aku Panca Loka tak biasa membunuh orang-orang yang tak bernama.”

“Aku Kurantisesa Wijaya Kusuma Bangsa.” Jawab Pahlawan itu dan belum lagi ia berhenti semua hadirin telah tertawa. Pendeta Panca Loka menjadi melengak.

“Apa?” Tanyanya. “Apa namamu?” Tak hafal ia sekali dengar nama yang begitu panjang.

“Aku bernama Kurantisesa...”

Kembali para hadirin menjadi tertawa bergelak-gelak, malahan dengan riuh sekali. Hingga pinggang-pinggang mereka melengkung ketika terus menerus tertawa.

Ada pula yang terus menunjuk-nunjuk kearah pendeta Panca Loka.

Panaslah hati Pendeta Panca Loka. Mengertilah sekarang kalau lawannya ini telah mempermainkannya. Ia lalu mencabut pedangnya dan segera mendamprat :

“Hai kawanan orang liar, cara bagaimanakah kau berani main gila didepanku?”

Pendeta Panca Loka ini terkenal dengan nama julukannya sebagai Pedang Pengejar Sukma, ilmu pedangnya sangat hebat dan segera saja ia menyerang orang itu.

Orang yang diserang itu tampaknya terkejut, ia segera mengeluarkan serenteng rantai kuningan, dengan senjata rantai ia lalu membuat perlawanan yang cukup sengit.

Sulaiman yang melihat gelagat buruk terus melompat keluar. “Tahan.” Serunya.

“Sulaiman. !” Seru pahlawan itu.

Akan tetapi baru saja ia mengucapkan demikian, mendadak ia merasakan pandangannya menjadi berkunang-kunang, tahu-tahu dadanya telah kena dijambak, setelah itu tubuhnya diangkat, dilemparkan kearah Sandung Lamur.

“Sandung Lamur, bukankah kau dengan sengaja hendak mengacau pertemuan?” Tegurnya dengan garang.

Sulaiman ini memang berkepala gede dan kupingnya sangat besar. Wajahnya minyakan, tampaknya dia seorang yang jenaka, akan tetapi tenaganya sangat besar dan gerakannyapun sangat gesit.

Sandung Lamur hanya tersenyum terus menyambut pahlawannya itu.

Tampak jelas sekali kalau ia sangat sabar.

“Sulaiman.” Katanya. “Kau hendak menyambut tuan majikanmu, akan tetapi aku tidak, kulit mukaku tak setebal kulit mukamu.”

Sulaiman telah diejek akan tetapi ia seperti tak mendengar ejekan itu, bahkan lalu tertawa hahaha hihihi....

“Asal kau tak bermaksud jahat bolehlah kau mencaciku sesuka hatimu.

Makilah sampai kau bosan sendiri.” Jawabnya.

“Sulaiman.” Seru Blorong Lodro yang ikut campur bicara. Dialah kesatrya gagah nomor satu dari Gerombolan Lampor Tugel. “Kau ini dahulu memang anak buah Jipang Panolan, dan ayahmu dulu seorang prajurit  

Jipang Panolan yang mati ditangan Pajang maka tak sangat mengherankan

kalau sekarang Jipang datang maka kau seperti kedatangan saudara atau kawanmu sendiri. Kau ini menyambutnya dengan manis, padahal mereka itu terang kalau datang dengan sebuah maksud, maka aku yakin kalau kau ini diam-diam menyimpan sebuah rahasia. Kau adalah salah seorang pengkhianat untuk persatuan SANGKURIANG SAKTI kami. ”

Benar-benar sangat mengagumkan sekali kesabaran Sulaiman ini. Terang kalau rahasianya telah dibeber oleh Blorong Lodro akan tetapi ia masih tetap tenang-tenang dan tersenyum simpul. Bahkan ia bersikap bagaikan seorang yang tuli. Kepada Sandung Lamur ia berkata dengan tenang.

“Ki Sandung Lamur, kau harap dapat menjaga anak buahmu dengan baik-baik.”

Habis itu, sambil tersenyum kembali kekursinya.

Sampai disitu para hadirin terus kasak-kusuk satu dengan lainnya. Umumnya mereka itu menganggap pihak Lampor Tugel terlalu galak. Sedangkan pihak Tegal Warna terlalu lemah. Sebab mereka diam-diam saja dan sudah terang mereka itu dihina habis-habisan. Maka kalau Tegal Warna mau turun tangan terang banyak yang simpati kepadanya. Bahkan telah ada yang terus memaki Sandung Lamur.

Patih Udara menantikan sampai ruangan menjadi tenang. Setelah ruangan menjadi tenang barulah ia menghadap Ateng Jagalawa.

“Ki Ateng Jagalawa.” Katanya dengan nada tetap sombong dan angkuh sekali. “Kau adalah tuan rumah dan aku adalah tetamu, marilah kita mencari pengertian. Dengan tak mempedulikan perjalanan jauh, aku telah datang kemari, maksudku ialah ingin membuat sebuah pertemuan dengan ki sanak sekalian. Maksud kami ialah akan mengubah dan memperbarui hubungan antara Jipang Panolan dengan kawan-kawan disini. Karena itu kalau aku tak diterima dengan senang hati lebih baik aku mengundurkan diri saja.”

Ateng Jagalawa segera menjawab dengan cepat.

“Agar ki sanak jangan salah mengerti, ki Patih.” Katanya. “Tentu saja kita menyambut kedatanganmu dengan hati yang sangat girang sekali. Malahan kedatangan ki Patih ini merupakan sebuah kehormatan bagiku.”

Tidak lagi Ateng Jagalawa berani menyebutkan dirinya sebagai kami. Sebab telah ada bukti dihadapan matanya ada beberapa kelompok yang berlainan pendapat dengannya karena itu ia lalu menganggap lebih baik ia tak memandang dirinya sebagai ketua umum.

Patih Udara tertawa dingin terus saja ia memandang kearah Langkir. “Nah bagaimanakah dengan kepala-kepala dari Tangkuban Prau

sebelah utara?” Ia bertanya kepada rombongan yang datang dari utara.

Dari lima buah kepala dukuh diutara itu, empat orang telah berdiri lalu Langkir bersama dengan Sulaiman telah berseru dengan lantang :  

“Kami dari daerah Utara Tangkuban Prau telah menyambutmu dengan

hati lapang dan tangan terbuka.”

Akan tetapi Sandung Lamur lain lagi :

“Kami tak SENANG menyambutmu!” Katanya dengan mendengus. Patih Udara tak menjadi marah, sebaliknya dia malahan tertawa lebar. “Nampaknya.” Katanya. Dari Tangkuban Prau sebelah utara hanya

orang-orang Lampor Tugel tak menyambut uluran tangan dari kami orang- orang Jipang Panolan. Huahaaa... Huahaa.... Huahaa...... sekarang hendak aku bertanya, bagaimanakah harus kuperbuat supaya kami ini diterima dengan baik oleh kalian?”

Suara tawa dan tak sedap didengar oleh telinga waras.

Sandung Lamur berpaling memandang kearah ki Rikmo Dowo. Dia mendapatkan kalau orang dari Kalisari ini memandang kearah lain. Ia melihat juga kepada yang lain-lain, mereka kelihatan acuh tak acuh. Maka tahulah dia kalau sekarang ini ia sedang berdiri sendirian. Berdiri tanpa kawan.”

Patih Udara yang melihat suasana itu menjadi agak puas. Masih tetap saja ia bersikap tenang walaupun ia mengetahui tanpa menunjukkan kepandaian dan kekerasan, sulitlah usahanya untuk meminjam tentara orang-orang itu. Begitulah ia lalu bertindak keluar dengan perlahan-lahan, kemudian dengan sepasang matanya yang tajam ia memandang kearah Blorong Lodro.

“Ksatrya nomor satu dari Lampor Tugel, perkataanmu tadi itu ternyata benar juga.” Katanya dengan sabar. “Kita berdua ini memang sama tingkat dan derajatnya. Marilah kau keluar untuk mencoba kepandaian kita. Kita main-main untuk mengetahui manakah yang lebih gagah dan ulet. Bangsa kerajaan atau bangsa perampok.”

‘Manusia licin.’ Seru Candra Wulan didalam hatinya. Gadis ini sangat sebal dan muak ketika melihat kelicinan orang itu.

Sungguh tak pernah disangkanya sama sekali kalau orang yang bernama Blorong Lodro itu mempunyai sebuah keberanian yang sangat besar dan mengagumkan sekali.

“Baiklah.” Ia menyambut sambil melompat maju, senjatanyapun segera dihunus. Ia telah siap menggenggam goloknya.

Bagaspati tak puas ketika melihat sikap Patih Udara. Dia toh seorang utusan dari kerajaan besar. Bahkan nama kerajaannya saja telah cukup untuk menjadikan jaminan bagi siapa saja yang menolak untuk diberantas. Mengapa ia harus menurunkan derajat dan martabat untuk menantang seorang kecil? Karena itu ia lalu berteriak :

“Ki patih... aku...!”

Patih Udara pura-pura tak mendengar suara kawannya itu, atau lebih tepat kalau dikatakan bawahannya ini.  

“Blorong Lodro.” katanya kepada pahlawan Lampor Tugel itu. “Aku

sangat mengagumi keberanianmu. Kau ini mempunyai tipu silat apakah? Carilah ilmu-ilmumu yang tersakti dan kumpulkan sekarang juga. Supaya dengan demikian kau dapat memperlihatkan kepadaku. Kepada Patih Udara utusan Jipang Panolan. Perlihatkanlah kepandaianmu itu pahlawan Lampor Tugel!”

Blorong Lodro menjadi marah. Ia tahu kalau lawannya ini sedang mempermainkannya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia melompat maju sambil membacok.

Patih Udara tak mengelak ataupun menangkis, sebaliknya ketika golok itu tiba, ia lalu mengulurkan tangan kirinya untuk menyambar gagang golok itu.  

Blorong Lodro adalah seorang pahlawan nomor satu, kepandaiannya hanya beberapa tingkat dibawah kepalanya, karena itu sudah dapat ditebak kalau ia mempunyai kepandaian yang tinggi. Untuk membebaskan goloknya ia lalu memutar tangannya, lalu sambil maju satu tindak tangan kirinya diulur kepinggang untuk menyambar sambil berseru :

“Roboh!”

Seruan ini dibarengi dengan pengerahan tenaga yang dikerahkan, sebab ia tengah mempergunakan ilmu khasnya. Yaitu ilmu gulat yang telah dicampur dengan ilmu Yudo.

Patih Udara membawa aksinya yang sangat sombong. Ia membiarkan saja pinggangnya dipegang lawan. Ia tak mengelak atau berontak. Ia hanya mengumpulkan tenaga untuk menancapkan kuda-kudanya, untuk membuat tubuhnya menjadi berat seribu kati.

Blorong Lodro menjadi terkejut sekali. Ia terkejut setelah mengetahui kalau percobaannya ini gagal total. Karena itu ia lalu melepaskan pegangannya dan melompat mundur.

“Ha... kau hendak lari?” Tegur Patih Udara. Patih ini gerakannya sangat gesit sekali, dengan sekali mencelat, ia sudah menyusul lawannya. Sebelah tangannya terus diayun. Tanpa ampun lagi maka jago dari Lampor Tugel itu roboh jatuh.

Patih Udara tertawa mengejek sambil berkata :

“Blorong Lodro ilmu gulat dan yudomu itu bukannya jelek, hanya saja dengan ilmu-ilmu itu kau tak akan dapat memenangkan orang-orang Jipang Panolan. Kulihat lebih baik kalau kau mempergunakan golokmu itu supaya tak semua orang menertawakanmu.”

Sengaja Patih Udara ini menjatuhkan lawannyanya ini dengan ilmu gulat dan ilmu yudo pula. Dengan begitu ia akan menunjukkan kalau kepandaiannya ini masih menang sepuluh kali lipat kalau dibandingkan dengan kepandaian Blorong Lodro itu. Dengan begini pula ia akan mendapat kesan    baik    dari    para    hadirin,    hingga    rata-rata    orang-orang    akan

mengawasinya dengan perasaan sangat kagum sekali.

Mintaraga menggelengkan kepalanya.

‘Tak mengherankan kalau mereka itu dijatuhkan dengan ilmu gulat dan ilmu yudo, sebab patih Udara itupun pernah menjadi murid dari perompak- perompak Jepang yang telah mengajarnya ilmu gulat dan ilmu yudo. Dia itu adalah murid dari Jakamura si perampok ganas yang terkenal sakti.’ Pikirnya.

Blorong Lodro melompat bangun, mukanya menjadi sangat merah karena malu bercampur marah. Dengan tanpa mengatakan apa-apa ia lalu kembali ketempat asalnya tadi.

Memang ini adalah aturan dari orang-orang Sangkuriang, kalau bertempur dan kalah buktinya kena dirobohkan dia harus mengaku kalah. Tak ada ketika untuk mencoba lagi.

Patih Udara memandang orang itu dengan tersenyum. Ia sebenarnya berniat menantang Sandung Lamur, akan tetapi pahlawan yang tadi ia kalahkan dan dilemparkan itu telah maju lagi dan menentangnya. Kini pahlawan itu telah memegang goloknya.

“Patih Udara kau hunuslah senjatamu.” Katanya. Ia telah sadar dan melihat kalau lawannya ini ternyata mempunyai ilmu gulat dan ilmu yudo yang mengagumkan karena itu ia akan mempergunakan senjatanya untuk merebut kembali pamornya yang telah dijatuhkan tadi.

Patih Udara mengangguk sambit tersenyum.

“Kau majulah saja.” Katanya dengan tenang, akan tetapi kelihatan jelas kalau ia sangat takabur. “Tak biasa aku membekal senjata.”

Mendengar perkataan ini panasiah hati Candra Wulan.

‘Manusia tak tahu malu!’ Katanya didalam hati. ‘Kau mengatakan kalau biasa tak membekal senjata, nah apakah senjatamu dulu itu?’

Pahlawan itu tak banyak cakap lagi, ia segera menyerang dan membacok pinggang lawannya.

Hampir tak dapat dilihat Patih Udara telah mengelak dan membawa dirinya kebelakang orang itu.

“Bacokanmu itu sungguh tak tepat.” Katanya dengan tertawa. “Kau bacoklah lagi.”

Pahlawan itu berdiam diri, akan tetapi ia segera membabat kebelakang tanpa memutar tubuhnya.

Patih Udara mengelak pula, kali ini ia menjadi berada didepan orang. “Nah inilah terlebih baik.” Ia menggoda pula. “Coba lagi sekali.”

Pahlawan itu terus membacok terus menerus, keleher kedada keperut dan juga kepaha.  

Masih tetap saja Patih Udara tak mengambil pusing serangan-serangan

hebat itu, sambil mengelak setiap kali ia memberi petunjuk bahwa lawannya itu salah membacok dan mestinya dan begitu.

Sekarang pahlawan ini menjadi mendongkol bersama terkesiap hatinya, jangan kata mengenai tubuh lawan, ujung bajunya saja tak pernah terlanggar. Ia mirip seorang murid yang sedang dilatih oleh gurunya. Karena itu ia menjadi kalap dan menyerang dengan sejadi-jadinya.

Akhirnya Sandung Lamur membentak :

“Berhenti.   kau telah mampus ribuan kali, mengapa kau masih tetap tak

mau mundur?”

Pahlawan itu menjadi terperanjat, ia menjadi malu sekali, lekas-lekas ia melompat mundur.

Patih Udara berlaku manis budi, ia lalu berkata :

“Permainan golokmu itu cukup baik, jika kau pergi ke Jawa Tengah, kau akan menjadi seorang gagah. Huahaa..... Huahaa... Huahaa bagaimanakah

dengan majikanmu?”

Kata-kata yang belakangan ini dikeluarkan dengan keras dan nadanya sangat menghina sekali.

Kembang Arum, Candra Wulan dan Mintaraga menjadi saling berpandangan. Mereka ini dapat menangkap maksud dari perkataan orang Jipang Panolan ini.

Pertama-tama jahanam ini hendak mengambil hati orang. Kedua diam- diam ia menganjurkan agar orang-orang Tangkuban Prau ini merembes ke Jawa Tengah. Dan ketiga kalinya ia mendesak supaya Sandung Lamur turun tangan sendiri.

Mereka mengetahui akan kesaktian Patih Udara, mereka itu belum tahu seberapa kesaktian dari Sandung Lamur.

Mendengar perkataan ki Patih Udara ini maka muka Sandung Lamur menjadi gelap dan terus saja ia melompat maju.

“Udara kita main-main dengan cara apakah?” Tanyanya dengan suara yang keras dan menggeledek. “Mengadu tenaga dalam, alat senjata atau yang lain-lainnya  ?”

Semua mata memandang ketengah gelanggang. Bukan sebuah hal yang biasa kepala orang-orang Lampor Tugel itu mau turun tangan sendiri. Mereka semuanya itu menjadi berdiam diri.

Patih Udara telah segera berpikir :

‘Melihat caranya tadi ketika ia menyambut pahlawannya maka dapat dipastikan kalau orang ini tentunya mempunyai kesaktian yang amat hebat. Baiklah aku menyuruh Bagaspati saja yang akan merobohkannya.’

Karena itu ia lalu menganggukkan kepalanya dan berkata dengan manis.  

“Ki ketua, aku datang kemari ini dengan bersahabat. Sama sekali aku ini

tak mengandung maksud yang jahat, karena itu marilah kita duduk-duduk sambil memasang omongan. Inilah sebuah cara yang paling baik.” Sambil berkata demikian ia lalu melirik kearah Bagaspati dan mengerdipkan matanya kearah jago Jipang Panolan yang nomor satu itu.

Sandung Lamur tak mau mengerti.

“Kalau begitu mengapa kau menantang aku?” Tanyanya. “Hem... jangan kau pandang kami orang-orang Lampor Tugel bangsa yang tuli dan buta.”

Patih Udara telah segera berpikir dan dengan cepat.

‘Kalau orang ini tak disingkirkan maka bahaya akan sangat besar sekali dibelakang hari nanti.’ Demikianlah pikirnya. Lalu ia tertawa dan berkata :

“Ki Ketua, karena kau begini gembira, baiklah aku akan melayanimu dalam beberapa jurus.”

Sandung Lamur mau banyak omong lagi. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya dengan bersama. Terdengarlah desiran angin ketika tinjunya itu meluncur kearah dada.

Patih Udara mengeluarkan tangannya yang kiri, untuk menjaga diri sekalian mengukur tenaga si penyerang.

‘Hm...!’ Seru Sandung Lamur didalam hatinya. ‘Kau hendak mengujiku.’ Ia lalu menyerang pula, sekarang ia menyerang dengan tenaga tiga kali lipat.

Patih Udara menyambut. Sungguh diluar dugaan kalau ia kena dibuat mundur lima tindak.

‘Ah... dia ini benar-benar sakti. Bahkan lebih sakti dari pada Bagaspati. Untung saja aku tak ceroboh dan menyuruh Bagaspati maju hingga ia akan kehilangan muka didepan umum.’ Pikirnya.

Tepuk tangan dan sorak-sorai orang terus menggema setelah melihat bentrokan itu, terutama sekali orang-orang Gunung Tangkuban Prau mereka ini mengharapkan semoga orang Jipanglah yang runtuh. Sebab dengan kedatangannya inilah menyebabkan mereka telah tak bersatu lagi.

“Ki Sandung Lamur sungguh hebat sekali.” Seru Patih Udara yang tak mempedulikan sikap orang-orang itu.

Akan tetapi Sandung Lamur tak mengatakan apa-apa, ia terus saja menyerang lagi. Tangan kirinya terbuka diangsurkan dan tangan kanannyapun terbuka menghadang ditengah jalan, dan tiba-tiba saja tangan terbuka ini berubah menjadi kepalan.

Ia tahu kalau musuhnya ini bukanlah sembarangan musuh, maka ia mempergunakan ilmu pukulan yang dinamakan ‘Kuda Sembrani menerjang Mega’.

Patih Udara adalah seorang sakti, maka ia dapat menduga maksud lawannya itu. Sedikitpun ia tak memperhatikan tangan kiri lawannya yang terbuka, hanya ketika kepalan tangan kanannya meluncur terus ia lalu menyambut dengan totokan kearah jalan darah.  

Jika serangan Sandung Lamur diteruskan maka akan celakalah dia.

‘Sungguh berbahaya.’ Serunya didalam hati sambil membatalkan serangannya itu, tangannyapun segera ditarik pulang.

Patih Udara telah menduga tindakan lawannya itu. Justru orang itu membatalkan serangannya, maka ia lalu meneruskan serangannya. Ia menyerang dengan kedua tangannya saling susul-menyusul.

Inilah yang tak pernah disangka-sangka oleh Sandung Lamur. Karena itu ia menjadi repot sekali. Sejenak saja ia telah kena didesak. Dengan terpaksa ia lalu melayani dengan sebisa-bisanya. Dari penyerang ia lalu berganti menjadi si pembela diri.

Penyerangan patih Udara menjadi bertambah hebat, mereka menyerang sejurus demi sejurus. Sebentar kemudian lawannya telah menjadi kewalahan. Sandung Lamur tak sanggup membalas sekalipun juga. Dapat membela diri saja ia telah sangat beruntung sekali. Selama itu pertempuran baru berjalan belasan jurus.

Semua penonton berdiam diri, mereka itu saling mengawasi dengan bengong. Mereka itu memang tahu kalau Patih Udara itu seorang tokoh yang sakti mandraguna akan tetapi pikirannya tak secepat itu akan dapat mendesak Sandung Lamur.

Hanya Sulaiman saja yang memperdengarkan suara tawanya yang keras dan terang kalau hatinya merasa puas sekali. Langkir dan Liman Karto memang tak menyukai Sandung Lamur, merekapun lalu menjadi puas sekali. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada wajah mereka.

Melainkan hanya ki Rikmo Dowo saja yang terus membungkam, ia terus memperhatikan gerak-gerik Patih Udara.

Berselang lagi sejenak, tampak kalau patih Udara sedang memperhebat serangan-serangannya. Dan sekarang Sandung Lamur benar-benar terdesak sekali. Hingga dengan demikian maka ia lalu berkelahi dengan sekenanya saja. Pokok asal menghantam dan. ngawur sekali.

“Lekas kau tolong dia.” Seru Candra Wulan kepada Mintaraga, ia berkata dengan pelan sambil membenturkan sikutnya.

“Sekarang ini Patih Udara baru permulaan saja, sebentar lagi masih ada waktu untuk maju.” Jawab Mintaraga kepada Candra Wulan.

Patih Udara menjadi terkenal karena dapat mengalahkan jago-jago di Jawa Tengah. Untuk mengalahkan para jago-jago itu ia telah mempergunakan ilmunya yang disebut ilmu silat Harimau Lapar. Ilmu silat itu membutuhkan tiga rintisan yang saling susul-menyusul. Yaitu pertama mematahkan, keduanya kejam dan ketiganya mengelinding. Desakan pertama dan kedua dipakai untuk merepotkan musuhnya, mendesak musuh dan yang ketiga kemudian melompat mundur teratur untuk melihat kesempatan. Dengan kepandaiannya ini dia belum pernah dikalahkan oleh lawan, hanya sekali ia dikalahkan oleh Mintaraga. (Baca bundel Tunggul  

Bintoro pada jilid-jilid pertengahan). Karena itu ia berani mendatangi Jawa

Barat dengan hanya membawa dua puluh satu jago-jago Jipang Panolan.

Pertempuran berjalan lagi sepuluh jurus. Sandung Lamur telah bermandikan keringat. Ia telah mengeluarkan semua kepandaiannya. Namun masih tetap saja ia tak dapat membebaskan diri dari kurungan Patih Udara yang sakti itu.

Kembang Arum dan Candra Wulan menjadi gelisah. Mereka itu mengharapkan supaya orang Lampor Tugel itu tak roboh, akan tetapi Mintaraga masih tetap tak mau turun tangan...... Mereka itu hanya mendapatkan kakaknya itu memandang kearah Patih Udara dengan menjublak. Entah apa yang membuatnya menjadi heran.

“Kakang Mintaraga kau kena apakah?” Tanya Kembang Arum dengan heran.

Pemuda itu tak menjawab, agaknya ia sedang berpikir dengan keras. Otaknya diperas dan dikerahkan untuk memecahkan sesuatu yang sedang menganggu pikirannya.

Masygullah hati Kembang Arum ketika melihat hal ini, segera ia memandang kearah Patih Udara. Untuk keheranannya ia melihat kalau jago dari Jipang ini ternyata telah lenyap kedua buah kelingkingnya. Kutung tandas. Entah dipotong sendiri atau terpapas sewaktu bertempur. Karena itu ia menjadi bertambah masygul. Tahulah sekarang mengapa Mintaraga menjadi tercengang. Sebab lenyapnya kedua jari kelingking patih Udara itu bukannya menjadikan kebaikan bagi kakaknya itu.

‘Sebenarnya kalau kakang Mintaraga bertempur dengannya dan patih Udara itu telah tak mempunyai kelingking maka akan sangat sulitlah baginya untuk mengalahkan patih yang sakti itu !’ Pikirnya.

Memang pada waktu itu Mintaraga tengah memikirkan kelingking lawannya itu. Sekarang ia sedang mengasah otaknya dengan jalan bagaimana ia harus merebut kemenangan kalau lawannya ini tak mempunyai jari kelingking.

Patih Udara rupa-rupanya merasa pasti kalau akan memperoleh kemenangan. Ia bertempur sambil tertawa lebar, ketika tiba pada jurus yang keempat puluh ia lalu bertanya kepada lawannya :

“Ki Sandung Lamur, apakah kita harus meneruskan pertempuran ini?”

Sandung Lamur melihat kalau Patih Udara ini masih kelihatan segar bugar sebagai semula, dahi atau tubuhnya tak mengeluarkan peluh barang sedikitpun juga. Sebaliknya Sandung Lamur yang napasnya sendiri telah mengorong keras, dan wajahnya sangat kucal.

“Ki lurah..... kau....!” Seru Blorong Lodro dengan tiba-tiba. Dia lalu menunjuk kearah baju orang.

Sandung Lamur menundukkan kepalanya untuk melihat .... dan betapa kaget hatinya itu setelah melihat kalau bajunya telah robek-robek disana sini.  

Lurah dari gerombolan Lampor Tugel itu memakai baju sulam luarnya,

sungguh diluar dugaan sewaktu mereka itu bertempur. Patih Udara telah menghajarnya dengan berulang-ulang. Perlahan-lahan akan tetapi dengan berhasil baik sekali. Sama sekali ia tak merasakan itu karena itu setelah mengetahui maka mukanya menjadi merah padam.

“Mari.” Serunya kepada pahlawannya itu yang terus diajak pergi.

Bukan main girangnya hati Patih Udara itu ketika mendengar perkataan lawannya itu, akan tetapi perasaan hatinya ini tak diperlihatkan pada raut mukanya. Ia yakin dan percaya betul kalau dengan kemenangannya ini maka ia akan dapat meminjam bala tentara lawan, atau pasukan raksasa itu. Ia yakin kalau yang lain-lain itu meluluskan maka orang Lampor Tugelpun tentunya akan menerimanya pula.

Sewaktu Patih Udara itu kegirangan, Kembang Arum menjadi gelisah sekali, hingga ia lalu menolak tubuh Mintaraga untuk meminta kakaknya ini segera maju ketengah gelanggang, agar Patih Udara tak dibiarkan begitu saja.  

Pada waktu itu Rikmo Dowo, lurah dari Kalisari yang semenjak tadi diam saja, mendadak tertawa berkakakan.

“Eh Sandung Lamur.” Katanya. “Kau tak dapat menangkan lawanmu, apakah karena itu maka kau dapat lari dengan terkencing-kencing seperti pencuri kesiangan? Kau duduklah saja disana.”

Aneh tapi benar, Sandung Lamur yang telah bertindak sampai diluar ruangan, ketika mendengar perkataan Rikmo Dowo ini terus kembali kekursinya. Sesaatpun ia tak berpikir lagi.

Setelah itu Rikmo Dowo lalu bangkit dengan aras-arasen.

“Ki sanak sekalian.” Katanya kepada para hadirin. “Aku mempunyai beberapa kata-kata yang akan kuucapkan? akan tetapi entah ki sanak sekalian ini sudi mendengarkan atau tidak.”

Suara Rikmo Dowo ini seperti pekikan seekor lutung yang kesakitan. Kalau melihat mukanya maka ia mirip sekali dengan Iblis Laknat dari dasaring Neraka jahanam. Sampai-sampai Patih Udara sendiri ketika mendengar dan melihat menjadi terkesiap.

Para hadirin telah segera memberi jawaban dengan serempak :

“Ki Rikmo Dowo, silahkan tuan bicara saja. Jangan sungkan-sungkan bukankah kita ini orang-orang sendiri?”

Rikmo Dowo lalu menganggukkan kepalanya.

“Ki sanak sekalian telah mendengar sendiri perkataan ki Patih Udara utusan dari Jipang Panolan itu.” Katanya. “Dia mengatakan kalau kedatangannya kemari ini adalah untuk persahabatan dan maksudnya sangat baik. Sekarang aku hendak bertanya kepada ki sanak sekalian, bagaimanakah sikap Jipang Panolan kepada negara tetangganya sendiri, pernahkah mereka itu mempunyai maksud persahabatan dan kebaikan-

kebaikan?”

“Tidak!”

Itulah teriakan Sandung Lamur, kepala perampok dari perkumpulan Lampor Tugel.

“Maka itu.” Kata Rikmo Dowo meneruskan perkataannya. “Dengan kedatangannya ini kemari, aku yakin kalau ia tentunya mengandung maksud lain dibalik perkataannya yang manis-manis itu. Kita ini adalah orang-orang terhormat. Patih Udara aku minta kau segera menguraikan perkataanmu hingga kita menjadi jelas. Jangan sekali-kali kau mempertunjukkan kegagahanmu. Jangan sekali-kali kau melakukan usahamu dengan secara diam-diam.”

Jelas dan terang perkataan ini, bahkan diucapkan dengan tanpa aling- aling. Karena itu tak mengherankan kalau Patih Udara menjadi kaget didalam hatinya. Dia telah menganggapnya sebagai utusan dari negara besar, dengan mengandalkan pengaruh negaranya yang tangguh, dia akan menundukkan orang-orang sekitar gunung Tangkuban Prau, sungguh tak disangka kalau baru-baru ini dia telah bentrok dengan Sandung Lamur, lalu sekarang rahasianya dibeber Rikmo Dowo. Karena itu ia menjadi tak puas sekali. Segera saja ia berpikir dengan cepat.

“Ki Rikmo Dowo, kuharapkan kau suka berhati-hati kalau mengeluarkan perkataan.” Katanya dengan menyabarkan diri. “Raja kami sampai begitu jauh sangat akur dan bersahabat dengan negara-negara tetangganya. Tanpa alasan pasti kita tak mau mengangkat senjata dan mengerahkan pasukan untuk perang dengan negara-negara lain. Memang kedatanganku kemari ini bukannya hanya untuk melancong saja. Sebenarnya aku membawa tugas untuk mendirikan perserikatan oleh karenanya asal ki sanak tak mengambil sikap bermusuhan... hem... negara Jipang Panolan yang agung ingin membuat perserikatan dengan ki sanak sekalian, supaya kita menjadi negara yang kakak beradik...!”

Omongan terus terang ini membuat semua lurah-lurah dari padukuhan itu menjadi tergerak hatinya. Mereka masih teringat ketika dulu pangeran Sedo Lepen malang melintang maka mereka itu kehilangan hak kemerdekaannya. Bahkan dapat dikatakan kalau mereka itu menjadi budakpun tak dapat. Memang sekarang ini orang-orang Jipang Panolan tak sekuat dulu, akan tetapi masih ada sisa-siaa pengaruhnya, karena itu apakah bukannya sebuah kehormatan untuk berserikat dengan mereka itu?

“Bagus... bagus...” Jawab Sulaiman dengan gembira sekali. Ialah orang pertama yang memberikan keputusan.

“Patih Udara, aku menjadi bersyukur sekali kalau rajamu itu bersikap baik sekali kepada kami.” Jawab Ateng Jagalawa. “Sekarang ceritakanlah apa langkah yang harus diambil untuk perserikatan itu?”  

Diam-diam Patih Udara menjadi girang sekali. Bukankah kebanyakan

suara telah condong kepadanya? Karena itu ia lalu merogoh kedalam saku bajunya, mengeluarkan sekotak emas. Dengan hati-hati sekali ia membuka kotak itu, kemudian dari dalamnya ia mengeluarkan sehelai kertas kulit kambing.

“Inilah aturan yang dikeluarkan oleh rajaku untuk berserikat.” Ia berkata sambil tertawa. “Silahkan tuan-tuan melihatnya.”

Ia memperlihatkan rencana perserikatan itu mulai dari Ateng Jagalawa, lalu lain ke yang lainnya. Sampai kepada Rikmo Dowo. Ketika Ateng Jagalawa membaca itu, ia berlaku ayal-ayalan. Maka itu Mintaraga berlima dapat ikut membaca bersama-sama.

Sama sekali perjanjian itu terdiri dari sepuluh pasal akan tetapi artinya kosong melompong. Kecuali satu yaitu bagian semua pihak harus saling bantu membantu.

Maka berpikirlah Mintaraga :

‘Bagus betul, kiranya hanya begini saja perserikatan yang didesakkan itu. Orang-orang Jipang kau tengah menghadapi banyak sekali urusan penting, siapakah yang kau kehendaki untuk membantu? Tidakkah jelas maksudmu?’

Diam-diam Mintaraga memperhatikan wajah-wajah semua suku itu, Ateng Jagalawa dan Sulaiman telah segera mengangguk-anggukkan kepalanya. Langkir dan Liman Karto menanyakan beberapa hal, setelah diberi penjelasan, mereka tampak puas sekali. Sandung Lamur tanpa membaca ia lalu memberi jawaban dengan nyaring :

“Kalau aku pasti tak sudi bersahabat dengan orang-orang Jipang Panolan yang terkenal licik-licik dan kejam-kejam.

Langkir dan yang lain-lain lalu memperdengarkan suaranya yang mengandung ejekan. Mereka lalu memandang kearah Sandung Lamur dengan wajah yang kelihatan membenci. Akan tetapi mereka itu tak berani mengatakan apa-apa.

Rikmo Dowopun tertawa terkekeh-kekeh. Ia berkata pula : “Patih Udara kau tak usah bertanya kepadaku.”

Rikmo Dowo ini adalah seorang yang buta huruf, walaupun rencana itu telah dibuat dalam tiga bahasa, yaitu Jawa, Melayu dan Sunda ia tak mengerti sepatah katapun juga. Ateng Jagalawa kenal kepada rekannya ini, dia lalu menolong membacakan. Rikmo Dowo mengerti lalu menundukkan mukanya tak memberikan komentar apa-apa.

Mintaraga menantikan dengan hati berdebar-debar. Ia ingin sekali mengerti sikap orang aneh ini. Berhasil atau gagalnya perserikatan ini tergantung kepada orang aneh itu.  

Masih   selang   beberapa   saat,   barulah   Rikmo   Dowo   memberikan

keterangannya. Suaranya parau bagaikan burung hantu ditengah malam buta :

“Patih Udara... hahahaha... hehehehe. ”

Demikianlah suara itu dengan ringkas. Lalu ia berdiam diri pula. Semua hadirin menjadi heran.

“Aku melihat setan.” Seru Patih Udara dengan nyaring.

Mintaragapun menduga keliru. Ia menerka Rikmo Dowo akan menentangi, tidak tahunya suara yang hanya hahaha heheheh itu adalah suara menganut biung?

Patih Udarapun berpikir didalam hatinya :

‘Baiklah hendak kulihat kau sampai pada akhirnya.’ Ia lalu berkata. “Ki sanak sekalian, kalian telah melihat isi perjanjian ini. Bagaimanakah sikap kalian sekarang? Jika kau merasa puas, marilah kita membubuhkan tanda tangan kita, dan kita mengadakan penukaran nota.”

Ia lalu merogoh pula kedalam sakunya, ia lalu mengeluarkan enam helai lainnya dari surat perjanjian yang serupa. Hingga dengan demikian jumlahnya bertambah menjadi tujuh helai. Semua surat itu telah dibubuhi tanda tangan Ario Penangsang. Hingga kini hanya tinggal diteken oleh para pesertanya saja.

Ateng Jagalawa adalah orang yang pertama memberikan tanda tangannya. Dia memang pandai sekali berbahasa Jawa, dia lalu menggunakan potlot.

Langkir berkata didalam hatinya.

‘Untuk kami apakah halangannya perjanjian itu?’ Ia melemparkan potlotnya itu sambil tertawa. “Aku tak dapat mempergunakan ini.” Ia lalu menekankan cap jempolnya.

Patih Udara mengawasi dan ia diam-diam menjadi kagum sekali ketika melihat cara ketua Tanah Abang itu menekankan jempolnya. Kalau ia menekan keras maka kertas itu akan pecah, akan tetapi kalau ia menekan terlalu lemah tak akan dapat. Namun ia menekan dengan seenaknya saja telah terlihat gambar cap jempolnya dengan nyata sekali. Ia bukan memakai jempoi melainkan hanya kukunya saja.

Liman Karto lain lagi, ia memperdengarkan suaranya.... “Hem...” lalu dengan tak memakai tinta lagi, ia menindih kertas perjanjian itu dengan jempolnya. Ia menindih dengan perlahan akan tetapi segera terlihat gambar jempolnya.

Sulaiman jangan dibicarakan lagi, dia adalah anteknya Jipang Panolan dengan gampang saja ia memberikan tanda tangannya.

Ketika tiba giliran Sandung Lamut, dia lalu mengambil surat itu dia lalu melemparkan kepada ketua orang-orang Kalisari.  

“Rikmo Dowo, jika kau ini benar-benar seorang laki-laki maka kau

tekanlah kertas ini.”

Rikmo Dowo tak menjawab, ia hanya meniup surat-surat itu hingga semuanya tujuh lembar terbang kembali kearah Patih Udara. Setelah itu barulah ia memperdengarkan suaranya yang keras :

“Aku tak kenal mata surat, harap ki patih tak menjadi kecil hati.”

Wajah Patih Udara, menjadi merah. Baru saja hendak membuka mulut, namun tiba-tiba saja telah didahului oleh Sulaiman.

“Rikmo Dowo, sebenarnya bagaimanakah kau ini?” Tegurnya. “Kita adalah perkumpulan Sangkuriang Sakti, apakah yang telah kita ucapkan bersama itu?”

“Didalam bentrokan didalam kita memutuskan dengan kekerasan.” Jawab Ki Rikmo Dowo. “Terhadap peperangan dengan luar kita harus bersatu padu.”

“Tepat sekali.” Seru Sulaiman. “Nah mengapa sekarang kalian berdua melanggar perjanjian kita??”......