Tunggul Bintoro Jilid 13

 
JILID XIII

“BAIKLAH PATIH UDARA.” Seru Mintaraga yang tak melayani Candra Wulan, yang terus menatap kepadanya dengan pandangan mata penuh dengan tanda tanya. “Jika aku yang menang maka kau boleh beramai- ramai menuju Jipang, akan tetapi kalau sampai Mintaraga kalah, maka aku akan menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepadamu dengan kedua tanganku ini. bagaimana apakah kau setuju dengan usulku ini?”

Patih Udara tersenyum, orang agung dari Jipang ini lalu melirik kearah pangeran Pamegatsari.

“Baiklah.” Jawabnya dengan aras-arasan. “Pangeran Pamegatsari baiknya kau berdiri saja dipinggiran untuk menjadi Wasit.”

Pangeran Pamegatsari itu tertawa.

“Baik.” Jawabnya. “Aku yang rendah dan tak berkepandaian bersedia menerima tugas ini.”

Mintaraga diam-diam memperhatikan orang itu yang mau merendah kepada jago Jipang Panolan yang sakti itu. Karena itulah Mintaraga mengetahui dengan baik-baik kalau pangeran Pamegatsari ini sebenarnya berpihak kepada Patih Udara. Teranglah sudah kalau pangeran Pamegatsari mengambil bagian untuk mengusir Sucitro itu hanya sebagai sandiwara saja. Supaya dia bentrok dengan jago tua ini. Sudah umumlah para pemberontak selalu berusaha mengadu domba antara pihak lawan-lawan. Hingga dengan demikian maka pihak lawan akan terpecah belah menjadi kecil, dan Jipang akan dapat dengan mudah menumpas mereka.

Kembang Arumpun tahu seperti halnya Mintaraga itu, kalau pangeran Pamegatsari ini, terang sekali mengandung maksud yang buruk, karena itulah ia lalu turut berbicara. Sebelum mengucapkan perkataan terlebih dahulu ia tertawa.  

“Yang bertempur adalah sepasang, maka yang menjadi wasit juga tak

boleh kalau tak sepasang.” Katanya. “Begini saja bersama dengan pangeran Pamegatsari aku turut menjadi wasit. Selain dari pada itu, pertempuran juga harus dibatasi dengan hanya saling towel saja, barang siapa yang kena towel maka dia dianggap kalah. Tak baikkah kalau demikian?”

“Memang itu paling bagus.” Seru Mintaraga. Ia sengaja mendahului dan tak mau menanti pihak sana. Mintaraga tahu kalau dengan adanya yang mengawasi Pangeran Pamegatsari maka ia akan dapat bertempur dengan hati lega.

Setelah memberikan keterangannya ini maka Mintaraga lalu memandang kesekitarnya, terutama kearah rombongan Bagaspati. Hingga pemuda ini mendapat kenyataan kalau rombongan Bagaspati ini memandangnya dengan mata yang bersinar-sinar, wajahnya guram. Maka ia tahu dengan pasti, kalau mereka bertanding bergumal, lamat-lamat pengharapannya untuk memperoleh kemenangan. Jadi tepatlah sikapnya yang mendahului Patih Udara itu. Iapun tak mau berlaku dengan lambat lagi terus saja Mintaraga mencabut pedangnya.

“Sambutlah ini.” Serunya sambil menantang orang Jipang yang sakti itu.

Terus saja pedangnya digerakkan untuk membabat pinggang.

Melihat serangan ini Patih Udara melompat mundur sambil tertawa. “Kau hendak mengadu senjata?” Tanyanya. “Baiklah, mari kita

membuat suasana biar lebih ramai lagi.” Ia terus menggerakkan tangan kanannya, maka berkelebatlah sebuah senjata luar biasa. Sebuah pedang yang mengeluarkan sinar kehijau-hijauan teranglah kalau pedang ini sangat tajam sekali.

“Bagus.” Seru Mintaraga yang tercengang karenanya. Akan tetapi begitu mulutnya memuji senjata lawannya, senjatanya sendiri terus berkelebat. Namun disaat Mintaraga menjadi tercengang, patih Udara telah mempergunakan waktunya yang baik ini untuk menyerangnya. Rupa- rupanya tak cukup dengan senjatanya itu, tangan kirinya itupun lalu menyambar kearah dada Mintaraga untuk melancarkan sebuah pukulan.

“Bagus.” Kembali Mintaraga memuji lagi. Namun sekali ini ia memuji untuk kehebatan serangan lawannya ini, sambil berseru kedua kakinya menjejak keatas tanah, tubuhnya terus mencelat kebelakang hingga beberapa jangkah, dengan begitu ia menjadi bebas dari ancaman bahaya. Lebih dahulu dari itu, ia telah mengelakkan dari serangan pedang mustika lawannya itu.

Patih Udara tak berhenti disitu saja setelah melihat lawannya menyingkir. Patih luar Jipang Panolan ini terus melompat menyusul, dan segera mengulangi serangannya. Malahan ketika ia melihat musuhnya mengelak lagi, patih Udara terus menyerang dengan serangan berantai yang mempunyai jumlah jurus lima bagian. Serangan itu lima kali dan susul- menyusul. Patih Udara menyerang kekanan, kiri, depan, atas dan bawah.  

Untuk menghadapi desakan ini Mintaraga hanya dapat mengelakkan

saja. Mengelak untuk mengimbangi serangan-serangan lawannya dan pemuda ini masih tetap mempergunakan kelincahannya. Walaupun Mintaraga mempunyai kepandaian yang hebat, untuk sesaat itu, belum tahulah ia harus mempergunakan tipu apa dan jurus ilmu yang mana untuk menghadapi krida lawannya itu.

Kembang Arum menjadi terkesima dan heran sekali juga khawatir setelah menyaksikan kalau kakaknya ini terus saja berada dibawah angin setelah didesak terus-menerus oleh Patih Udara. Segera saja timbul keinginannya untuk melompat kedepan dan membantu kekasihnya ini. Akan tetapi gadis ini masih ingat akan hal-hal yang membahayakan kalau ia ikut turun tangan, sebab pihak Patih Udara juga dapat meluruk pula. Kembang Arum lalu melirik kearah Candra Wulan. Akan tetapi betapa herannya putri Woro Keshi ini ketika melihat kawannya hanya menonton dengan wajah tenang-tenang saja. Matanya terus dipakai untuk memandang dan memperhatikan dengan sepenuh-penuhnya.

Tiba-tiba saja terdengarlah sebuah suara nyaring dari patih Udara, sebuah suara yang menunjukkan kesombongan.

“Dahulu kakek gurumu saja telah menyerah kepadaku, apa lagi hanya kau seorang bocah yang berbau busuk.” Setelah berkata demikian ia lalu menyerang lagi dan terus mendesak dengan senjatanya yang tajam dan menyilaukan mata.

Mintaraga berlaku tenang, ia hanya tetap menangkis dan mengelak. Walaupun pemuda ini masih tetap didesak akan tetapi gerakannya kelihatan teratur dan baik sekali. Bahkan ada kalanya Mintaraga terus membalas serangan lawannya itu dengan serangan pula.

Dengan demikian maka dua sampai tiga puluh jurus telah dilalui dengan sangat cepat.

Bagaspati dan adik-adik angkatnya yang tergabung dalam dua puluh satu jago-jago Jipang Panolan menjadi girang sekali ketika melihat Patih Udara berada diatas angin.

Pertempuran itu berjalan terus, desakan patih Udara tak menjadi berkurang. Maka juga lagi selang beberapa lama, Mintaraga telah menjadi terkurung benar-benar, hingga pemuda ini tak sanggup melancarkan serangan lagi. Dan hanya dapat untuk membela diri saja. Sinar hijau dari pedang pusaka lawannya itu telah mengurung dirinya, namun tubuhnya telah ditutup rapat-rapat oleh sinar pedangnya sendiri.

Lagi tiga puluh jurus telah lewat, dan patih Udara kelihatan semakin gagah saja. Orang Jipang ini benar-benar telah menguasa medan tempur lawannya. Dilain pihak Mintaraga telah mandi keringat, ia seperti kehabisan daya sekalipun hanya untuk membela diri saja.  

Kembang Arum menjadi sangat cemas, sekali ia sampai berseru dengan

lantang :

“Kakang Mintaraga kau tenanglah, aku akan membantumu.” Tubuhnyapun segera melompat, namun mendadak ia berhenti. Lalu dengan bersungguh-sungguh mengawasi kearah kekasihnya. Agaknya ia teringat sesuatu.

‘Mengapa kakang Mintaraga segera saja kalah angin?’ Pikir Kembang Arum dengan keras. ‘Kelihatannya kakang Mintaraga kalah dalam hal tenaga dalam, akan tetapi ilmu silat mereka berimbang. Apakah mungkin kalau kakang Mintaraga sedang melancarkan sebuah siasat ?’

Ia terus memandang dengan tajam-tajam. Dan Kembang Arum segera melihat kalau sepasang alis kekasihnya itu berkerut, wajahnya tegang. Inilah bukannya sebuah wajah orang yang sedang menanti ketika. Kembang Arum menjadi heran, iapun khawatir, karena ini diam-diam ia menyiapkan lima buah golok terbangnya, golok terbang ini akan membantunya dimana perlu.

Lagi belasan jurus telah lewat, atau tampaklah segera saat yang memutuskannya. Justru hal itu terjadi diluar dugaan Kembang Arum, yang hatinya sedang tergoncang dengan keras sekali. Kembang Arum segera mendengar suara tawa keras dari Candra Wulan. Memang semenjak tadi ia sangat mengherankan sikap tenang dari kawannya itu.

“Kakang Mintaraga.” Seru Candra Wulan setelah tertawa terbahak- bahak itu. “Binatang itu telah mempergunakan siasat menerkam, menghajar dan menggelinding, mustahil kalau kau tak menginsyafi akan hal ini.”

Suara ini diucapkan dengan keras sekali, hingga demikian Mintaraga dapat mendengarnya dengan jelas sekali. Tiba-tiba ia bagaikan sadar dari impiannya, hingga sepasang alisnya yang mengkerut itu menjadi terbuka, wajahnya menjadi terang, tak muram lagi seperti tadi. Malahan ia lalu tertawa dengan lebar.

“Adi Candra Wulan, kau sungguh-sungguh manis sekali.” Serunya. “Aku sangat berterima kasih sekali kepadamu.”

Ketika Kembang Arum mendengar pembicaraan kedua orang kawannya ini, maka mau tak mau ia harus malu sekali kepada dirinya sendiri.

‘Inilah hebat.’ Pikirnya. ‘Aku tak menyangka sama sekali, kalau adi Candra Wulanlah yang membuka rahasia Patih Udara itu. Bukankah hal ini sangat aneh sekali?’

Dipihak lain, wajah yang gembira dan bernafsu inipun berubah seketika. Patih Udara melirik kearah Candra Wulan dan matanya mendelik tanda mendongkol, namun patih Udarapun menjadi heran sekali.

Sewaktu Patih Udara melirik kearah Candra Wulan dengan hati yang mendongkol, maka Mintaraga lalu memutar pedangnya dan berseru dengan nyaring, lalu pemuda ini menikam tenggorokan lawan, ketika itu lawannya mengelak dan hatinya terkesikap. Pedangnya menyambar pula kebahu kiri  

dan kanan dengan bergantian. Hingga ia menjadi repot untuk membebaskan

diri. Dia harus menangkis kekiri dan kekanan itu.

Setelah serangan berantainya yang sebanyak tiga kali itu, Mintaraga mendapat ketika untuk memperbaiki diri. Sekarang dialah yang membalas menyerang, kemudian dengan bersungguh-sungguh ia lalu mengeluarkan ilmu pedang dari padepokan Lawu. Hingga pedangnya itu memperdengarkan suara angin berkesiuran jadi berjalan dengan kencang, sebab juga Patih Udara tak memberikan dirinya balik diserang.

Bagaspati dan juga Pangeran Pemegatsari dan seluruhnya menjadi heran sekali ketika melihat perubahan yang secara mendadak ini saja, dan hal itu hanya disebabkan kerena teriakan Candra Wulan saja. Dengan sendirinya hati mereka menjadi tegang sedangkan tadinya mereka mengharapkan akan segera melihat, Mintaraga dirobohkan.

Patih Udara menjadi jago nomor satu karena ia mengandalkan ilmu silatnya yang bernama HARIMAU LAPAR, sebuah nama yang tak begitu dahsyat namun isinya hebat. Sebuah ilmu silat yang berpokok kepada tiga kata yang dikatakan oleh Candra Wulan tadi, yaitu menerkam, menghajar dan menggelinding. Dinamakan menerkam sebab disaat pertempuran mulai, ia harus merangsak hebat, untuk membuat lawannya kelabakan dan tak sempat melakukan perlawanan, supaya lawan kehilangan semangatnya. Itulah yang hebatnya bagaikan harimau lapar.

Setelah itu ia harus menghajar. Ia harus menurunkan tangan jahat, untuk merobohkan musuh, yang harus diserang anggota tubuhnya yang berbahaya. Hajaran ini harus dilakukan dengan cepat seperti terkaman harimau lapar yang sangat pesat itu. Atau kalau dapat harus bagaikan kilat.

Setelah itu, sesudah dengan serangannya ia lalu menggelinding. Ini artinya segera mundur dengan teratur. Dengan ilmu silat ini pula beberapa tahun yang lalu patih Udara telah mengalahkan Arya Panuju jago dari Banten itu.

Sekarang ia mempergunakan ilmu itu untuk menghadapi Mintaraga, agaknya ia berhasil. Apa mau dikata tiba-tiba saja terdengarlah suara Candra Wulan itu Patih Udara sangat mendongkol sekali kepada Candra Wulan sebab ketika ia hendak menurunkan tangan jahatnya untuk menjatuhkan lawannya, ada peringatan dari gadis itu. Hingga kini terpaksalah ia harus menghadapi sebuah pekerjaan yang cukup berat.

Pertarungan segera berjalan kembali, dan kali ini lebih ramai dari pada pertempuran yang sudah-sudah. Sebab pertarungan kali ini berjalan dengan seimbang. Dengan cepat pula mereka telah melewatkan lima puluhan jurus lagi. Pedang Mintaraga dan pedang pusaka Patih Udara terus bergemerlapan dengan tiada henti-hentinya.

Semua penonton menjadi tercengang setelah menyaksikan pertarungan yang amat seru ini. Hal ini benar-benar tak pernah mereka sangka, sebab tadi  

pada pertarungan yang pertama teranglah kalau Mintaraga telah terdesak

dengan hebat, dan patih Udara hanya tinggal merobohkan saja. Pangeran Pamegatsaripun diam-diam mengakui kalau kepandaiannya ini masih berada dibawah kepandaian Mintaraga. Maka diam-diam ia merasa geli juga ketika berada dipulau Selarong dulu itu, bukankah dahulu ia telah menantang Mintaraga untuk datang ke Jipang Panolan?

Juga patih Udara menjadi gentar hatinya.

‘Jika pemuda ini tak segera disingkirkan maka akan menjadikan sebuah bahaya besar dan ancaman yang hebat bagi perkembangan Jipang Panolan selanjutnya.’ Demikianlah pikir Patih Udara ini. Tentu saja patih luar Jipang Panolan ini menjadi berpikir dengan keras. Patih Udarapun harus juga memikirkan dengan jurus dan ilmu silat apakah ia harus mengalahkan pemuda ini. Patih Udara lalu telah mempergunakan tipu-tipu silatnya yang hebat dan termasuk jurus-jurus simpanannya yang jarang sekali dikeluarkan kalau tak menghadapi musuh yang tangguh. Sia-sia saja ia berpikir karena ia tak memperoleh hasil. Dengan cepat kembalilah lima puluh jurus telah berlalu.

Ditengah-tengah pertandingan dahsyat ini tiba-tiba saja terdengar seruan Mintaraga :

“Bagus.”

Lalu dengan pandangan mata ia menyambut kedatangan pedang pusaka Patih Udara. Setelah pedang itu dekat dengan tubuhnya pemuda inipun lalu menggerakkan pedangnya.

Karena gerakan Mintaraga ini maka kedua pedang itu menjadi beradu ditengah udara. Dengan beradunya pedang-pedang ini maka keduanya sama-sama tersurut mundur. Setelah ini, masing-masing tak segera maju lagi hanya mereka berdua saling pandang memandang saja. Hingga dengan demikian sekarang sinar mata merekalah yang bentrok.

“Bocah yang baik.” Seru Patih Udara dengan tantangannya. “Orang tuamu masih mempunyai sebuah urusan penting yang patut diurus, karena itu kau majulah.”

Mintaraga telah menatap orang itu dengan berpikir. Mintaraga sedang memikirkan pokok ilmu silat lawannya yang disebut Harimau Lapar tadi. Mintaraga berpikir, kalau orang mengandalkan dasar menerkam, menghajar dan menggelinding, mengapa ia tak hendak mengubah itu menjadi menanti, menghajar dan menggelinding. Tidakkah dengan demikian ia akan dapat membalas untuk merobohkan lawannya itu? Tak lama ia berpikir, Mintaraga lalu telah mengambil keputusan.

“Baik.” Jawabnya, suaranya nyaring. “Apakah halangannya aku turun tangan terlebih dahulu? Mungkinkah aku takut kepadamu hai orang kurus?”  

Walaupun ia menerima tantangan itu, akan tetapi Mintaraga tak segera

melompat untuk menyerang. Sebaliknya ia memasukkan pedang kedalam sarung.

Melihat sikap Mintaraga itu, patih Udara menjadi heran. Sedikitpun ia tak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh anak muda ini.

‘Hem.... bocah ini sangat menghina orang.’ Serunya didalam hatinya. ‘Biar sebentar lagi aku akan membuka matanya dan menghajar adat kepada bocah sombong ini.’

Jago Jipang Panolan ini memang sangat mengagulkan dirinya sendiri. Maka sebagai seorang jago kawakan, tak sudilah ia mempergunakan senjata untuk melawan seorang lawan yang tak memakai senjata. Begitu ia lalu segera mencontoh perbuatan Mintaraga, senjata itu ditancapkan dibelakangnya. Karena Mintaraga telah bersiap, patih Udarapun lalu melintangkan kedua tangannya didepan dada. Matanya memandang dengan tajam-tajam. Orang Jipang inipun telah siap sedia menantikan datangnya serangan.

Mintaraga girang sekali melihat tingkah laku lawannya ini, segera saja ia menjejakkan kakinya ketanah dan bergerak maju untuk mulai menyerang.

Patih Udarapun tak diam saja, orang Jipang inipun telah bergerak maju.

Secara demikian maka kedua belah pihak telah datang dekat satu dengan lainnya, jarak mereka berdua hanya tinggal empat atau lima jangkah saja.  

“Sambutlah ini.” Teriak Mintaraga sambil memasang kuda-kudanya dan memajukan kedua tangannya, tangan ini dipergunakan untuk menolak dada lawan.

Patih Udara tak menangkis, ia hanya mengelak kesamping, maka lewatlah tenaga angin dorongan itu dipinggiran pinggangnya. Karena kesaktian patih Udara ini, maka begitu ia mengelak maka begitu pula ia menyerang. Kakinya bertindak maju dan disusul sebelah tangannya menyambar dari atas kebawah. Cepat luar biasa sekali ketika ia menaikkan tangannya.

Mintaraga tak memikirkan untuk melawan keras lawan keras, karena itulah ia tak mau menangkis serangan ini. Iapun bergerak dengan lincah sekali ketika ia menyingkir kekiri, karena dibelakangnya terdapat sebuah pohon cemara tua, pohon itulah yang menggantikan dirinya menjadi korban. Sungguh hebat sekali serangan orang Jipang ini, pohon itu roboh!

Para penonton menjadi kagum sekali, bahkan ada juga yang hatinya tercekat.

Segera setelah itu keduanya mulai bertarung lagi. Mintaraga merangsek setelah berhasil mengelakkan serangan lawannya yang barusan itu.

Setelah beberapa jurus maka diantara kedua orang musuh yang sedang bertempur ini kelihatan beberapa perbedaan. Patih Udara mempunyai tenaga dalam yang lebih sempurna, tubuhnya mantap, gerakan kedua tangannya

berat dan tetap.

Sedangkan Mintaraga yang menjadi musuhnya, memiliki kelincahan, akan tetapi sambil melayani, ia selalu memperhatikan gerak-gerik lawannya, sambil berbuat demikian otaknyapun bekerja. Sambil memainkan siasatnya, ubahan dari siasat lawannya itu, ia mencari kelemahan si lawan. Karena itu ia mulai menanti....

Patih Udata tak sabar dengan siasat musuhnya ini, kelihatan kalau Mintaraga hanya main elak saja, sedikitpun tak mau mengadu tangannya, karena itu ia menjadi memandang enteng. Patih Udara kelihatan tertawa lebar, terus saja ia memperhebat serangan-serangannya. Ingin dengan cepat dapat mendesak musuhnya.....

Hampir tanpa merasa, kedua pihak telah melewatkan pula seratus jurus. Namun sementara ini Mintaraga belum juga mendapat ketika yang baik. Patih Udara memang sangat pandai merapatkan diri, hingga sia-sia saja Mintaraga menantikan waktu yang luang.

‘Sudahlah, terpaksa aku mempergunakan ilmu pukulan Braholo Meta   ’

Pikirnya kemudian.

Sewaktu pemuda itu berpikir demikian, patih Udara justru menantang kepadanya :

“Mintaraga, beranikah kau menyambut sebuah jurusku?” Demikianlah pertanyaan yang diucapkan dengan bentakan. Bersama dengan itu, tanpa menunggu jawaban lagi Patih Udara terus berkelebat maju untuk melancarkan serangan. Ia menggunakan sebelah tangannya untuk membabat pinggang.

“Mengapa aku tak berani?” Jawab Mintaraga sambil tertawa. Ia mempergunakan tangan kirinya untuk menyamplok tangan penyerang lawan. Patih Udara bakal menarik dan membalikkan tangannya itu, untuk mengadu tangan mereka.

Nyata tepat sekali dugaan itu. Cepat luar biasa, orang Jipang itu memutar tangannya. Maka terjadilah sebuah bentrokan yang menerbitkan suara. Karena mereka keras lawan keras, karena itulah keduanya terus mundur tiga langkah kebelakang.

Mintaraga telah siap sedia, iapun telah memasang mata, bentrokan itu telah membuatnya melihat sebuah lowongan. Ia sebenarnya sudah melihat beberapa kali akan tetapi ini bagaikan tersadar.

Yaitu setiap kali Patih Udara membuka tangannya, orang itu biasa menggerakkan kelingkingnya dahulu, seperti orang yang diganggu perasaan gatal. Maka diam-diam Mintaraga menjadi girang, seketika itu pula ia menantikan sebuah ketika.

Setelah mundur kedua pihak lalu maju pula, untuk mengulangi pertempuran mereka. Akan tetapi kekuatan mereka itu tetaplah berimbang.  

Tak ada salah seorang yang mau mengalah dengan begitu saja. Patih Udara

tak dapat merangsak pula, untuk menyerbu lawannya hingga lawan menjadi kelabakan.

Oleh karena pertandingan telah berjalan dengan lama, ada penonton yang telah menerka kesudahannya bakal seri, kalau ini benar, diakhirnya pastilah mereka akan bertarung dengan bersama-sama, ialah kedua belah pihak orang-orangnya akan turun semua. Karena itulah kedua belah pihak telah bersiap sedia untuk turun kegelanggang.

Patih Udara mulai gelisah. Sudah beberapa ratus jurus lewat, mereka masih sama kuatnya. Sedangkan harapannya ialah segera dapat mengalahkannya.

Patih Udara terlalu percaya kepada ketangguhannya sendiri, akan tetapi sekarang ia tak dapat segera mempengaruhi lawannya. Diakhirnya orang tinggi kurus dari Jipang ini harus berpikir. Melainkan dengan cara keras ia tentu akan berhasil. Pikirnya ini adalah justru yang sangat diharapkan oleh Mintaraga.

Segera datang saatnya Patih Udara akan segera melaksanakan apa yang tengah dipikirkannya. Ia melihat sebuah ketika, segera ia bangkit lebih tinggi bersama dengan itu kedua tangannya diturunkan dengan bersama. Ia telah mengerahkan tenaga dalamnya dikedua tangannya itu, tangan kanannya menjurus kedahi, tangan kirinya mengarah kepundak kanan. Keduanya turun saling susul-menyusul.

‘Bagus.’ Kata Mintaraga didalam hatinya. Sedangkan matanya memandang ketangan lawannya, kearah jari. Maka begitu ia melihat tangan kiri lawannya bergerak lebih, lebih benar jari kelingkingnya, ia berseru. Ia tak mempedulikan serangan dahi, ia hanya lebih mengutamakan memasang kuda-kudanya yang lebih kuat lagi. Untuk memberatkan tubuhnya, kedua tangannya diangkat untuk menyambut tangan kiri yang menuju kepundak.

Tanpa dapat dielakkan lagi, bentrokan segera terjadi. Kuda-kuda Mintaraga adalah sebuah kuda-kuda yang disebut Paku Bumi, hingga kakinya bagaikan berakar dan menancap diatas tanah dengan kuat-kuat. Sedikitpun tubuhnya tak bergeming. Dilain pihak, Patih Udara harus terpental mundur. Adalah disaat itu, tanpa menunggu orang dapat bernapas lagi, Mintaraga melompat menyusul, tangan kanannya diulur. Jari tengahnya meluncur kedada dibagian jalan darah.

Didalam saat yang sangat mendesak itu Patih Udara tak sempat mengelak ataupun menangkis. Orang Jipang ini repot untuk menjaga diri, supaya tak sampai roboh terguling. Maka juga ketika serangan sampai, patih Udara segera menutup kedelapan belas jalan darahnya. Patih Udara percaya kalau dengan menutup jalan darahnya maka ia akan sanggup bertahan dari totokan itu. Karena itu patih Jipang Panolan ini menjadi terkejut sekali ketika ia merasakan jalan darahnya menjadi sakit sekali.  

“Apa? Kau....!” Serunya. Hanya begitu saja ia dapat berseru, segera ia

merasakan habis seluruh tenaganya, tak ampun lagi ia roboh mendeprok ditanah.

Mintaraga girang bukan buatan, girang separuh tercengang. Ia sendiri hampir tak mempercayai hasil totokannya itu.

Semua penonton turut menjidi heran, hingga mereka sampai tertegun. Kembang Arum dan Candra Wulanpun tak terkecuali. Bukankah Patih Udara itu adalah seorang tokoh besar dan telah menjagoi dunia kependekaran pada puluhan tahun yang lalu? Entah telah berapa ratus atau ribuan kali ia melakukan pertempuran-pertempuran besar dan kecil. Bahkan selamanya belum pernah dirinya ini dapat dikalahkan. Selain itu pernah pula Patih Udara ini mengalahkan pendeta Baudenda dalam seratus jurus dan Arya Panujupun menyerah kalah setelah bertanding dengannya. Bahkan Sucitro yang namanya telah menjulang tinggi kelangit itupun roboh tak berkutik dibawah kepandaian ki Patih Udara. Karena itu kesudahannya ini membuat orang tak mengerti. Semuanya berdiam diri hingga keadaan menjadi sunyi senyap.

Akhirnya Mintaragalah yang memecahkan keheningan itu, suara tawanya terus merobek-robek ketenangan. Setelah tertawa nyaring ia lalu berkata :

“Patih Udara.” Seru Mintaraga. :Kau biasa merobohkan orang dengan siasat menerkam, menghajar dan menggelinding. Maka apakah kau kira akupun tak dapat memakai siasatku, menanti, menghajar dan menggelinding?”

Patih Udara diam saja tak sempat ia membuka mulutnya. Wajahnya kelihatan pucat pasi, dari dahinya mengalir keringat dingin dengan deras sekali.

Totokan jari tangan itu memang terlalu hebat baginya. Selama hidupnya belum pernah ia merasakan hal yang sehebat ini. Patih Udara lebih memerlukan mengendalikan napasnya untuk menjalankan kembali jalan darahnya yang telah tertotok oleh kehebatan Mintaraga ini. Barulah ia merasa lega setelah berhasil menjalankan kembali jalan darahnya yang tertotok itu, namun untuk ini iapun harus mempergunakan waktu yang agak lama. Setelah berhasil membebaskan diri, ia lalu melompat bangun.

“Mintaraga, apakah kau telah mempergunakan.   ???” Tanyanya dengan

keras. “Itu ilmu pukulan Braholo Meta ??”

“Sedikitpun tak salah.” Jawab Mintaraga dengan terus terang, bahkan tersenyum. “Aku telah mempergunakan pukulan Braholo Meta. Bukankah kita telah membuat tuan-tuan pulang ke Jipang Panolan untuk beristirahat, aku yang rendah tak dapat menemani kalian lebih lama lagi....” Segera ia mengambil Tunggul Tirto Ayu yang tadi berada ditanah dan memasukkan kedalam saku bajunya.  

Bagaikan tersadar, tiba-tiba saja Bagaspati dan adik-adik angkatnya

terus melompat kedalam kalangan sambil mencabut senjatanya. Mereka semua menghalang-halangi maksud anak muda itu untuk menggeloyor pergi....

*

* *

“Bagaspati. Kau sungguh-sungguh seorang yang tak tahu malu.” Bentak Candra Wulan. “Tunggul Tirto Ayu ini memang kepunyaan kami. Apakah kau akan menjadi begal?”

“Budak busuk.” Maki Bagaspati. “Jangan kau banyak mementang bacot.” Bersama dengan perkataannya ini maka tangannya menyambar.

“Tahan.” Teriak Patih Udara.

Bagaspati tertegun, lalu terdiam untuk sekian lamanya. Sedikitpun ia tak berani membantah perkataan patih Udara. Selain kalah kuasa, kepandaiannyapun berada dibawah kepandaian patih luar dari Jipang Panolan ini.

“Mintaraga.” Katanya. “Gurumu telah memberimu pelajaran ilmu pukulan Braholo Meta, maka untuk selanjutnya kau akan dapat menjagoi dunia. Bahkan mungkin bukan ditanah Jawa saja, kaupun akan dapat menjagoi seluruh nusantara, mungkin dunia. Tak ada seorangpun yang akan sanggup melawanmu. Inilah yang menggirangkan sekali, dan kau patut diberi selamat. Nah kau bawalah Tunggul Tlrto Ayu yang menjadi lambang dari kemakmuran dan kejayaan kerajaan Demak Bintoro itu.”

Mendengar perkataan patih Udara ini kedua belah pihak menjadi heran. Hal ini benar-benar tak pernah mereka sangka sama sekali. Hanya pangeran Pamegatsari seorang saja yang terus memiringkan kepalanya kepada Mintaraga, karena ia menginsyafi benar-benar akan kelicikan orang Jipang ini. Karena itulah pangeran Pamegatsari tertawa didalam hatinya.

“Banjak-banyak terima kasih ki Udara.” Jawab Mintaraga. Lalu ia memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu.

“Tunggu.” Tiba-tiba saja patih Udara berseru. “Aku masih akan bicara sedikit denganmu.”

Mintaraga menghentikan langkahnya. “Bicaralah.” Jawabnya dengan tenang.

Patih Udara memandang kepada anak muda ini dengan tajam-tajam. “Ilmu pukulanmu yang disebut dengan nama Braholo Meta itu memang

benar-benar hebat sekali.” Katanya. “Akan tetapi, kepandaianku membebaskan diri dari totokanmu itu toh tak kecewa bukan?”

Mintaraga menganggukkan kepalanya.  

“Ilmumu memang hebat sekali ki patih. Aku sangat kagum sekali.”

Jawabnya. Dan jawaban ini memang dikeluarkan dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya. Ilmu pukulan Braholo Meta memang hebat, siapa yang terkena pukulan itu, entah enteng atau berat, dia pasti celaka dan mungkin sekali nyawanya akan melayang. Sekarang Patih Udara kena serangan ini, dan dengan waktu yang tak begitu lama telah dapat menolong dirinya, memang ini patut dikagumkan.

“Bagus-bagus.” Kata Patih Udara dengan nyaring. Iapun lalu tertawa. “Bukankan kekalahanku barusan ini karena aku telah memajukan kedua tanganku dengan bersama-sama?”

Wajah Mintaraga menjadi merah bersemu dadu. Ia benar-benar tak tahu patih Udara ini mengandung maksud apa dengan perkataannya ini. Akan tetapi ia benar-benar merasa jengah.

“Benar.” Jawabnya.

“Andaikan kita sama-sama siap, apakah kau berhasil memukulku terpental?” Tanya Patih Udara.

“Itu tak dapat kukatakan sekarang.” Jawab Mintaraga. “Lihat saja nanti dikemudian hari...”

Patih Udara menghela napas.

“Aku sudah tua...” Katanya. Bahkan perkataan ini diucapkan dengan perlahan. “Benarkah pepatah yang mengatakan kalau gelombang bengawan Solo yang dibelakang mendorong yang berada didepan. Dan orang gagah didunia kependekaran ini biasanya terjadi dari kalangan anak-anak muda. Dikemudian hari sudah teranglah kalau aku tak akan dapat melawanmu. Sekarang ini, bukannya aku sombong atau takebur, misalkan saja kakek gurumu tidak mencari pengapesanku untuk kalangan rimba persilatan dan orang-orang dari sungai telaga, pasti tidak ada orang yang dapat dengan gampang merobohkanku ”

“Kau tak tahu malu.” Teriak Candra Wulan dengan mengejek sebelum lawan Mintaraga itu menghentikan perkataannya. “Bukankah barusan ini kau telah kena dirobohkan oleh kakang Mintaraga?”

“Hem.” Seru Patih Udara sambil mengeluarkan perkataannya dari dalam hidungnya. Akan tetapi ia tak memperhatikan perkataan Candra Wulan ini, hanya terus saja memandang kearah Mintaraga.

“Benar. Eh... Mintaraga, dengan cara bagaimanakah kau dapat mengetahui akan kelemahanku itu? Apakah kau mempunyai ilmu hitung menghitungi?”

“Jika aku menjelaskan maka kau akan menyesal.” Jawab Mintaraga. Ia memang seorang pemuda yang jujur dan berkata tanpa dipikir lagi :

“Tadi sebelum kau menyerangku, kau telah menggerak-gerakkan jari kelingkingmu ”  

Patih Udara berdiri diam, kemudian ia mengeluarkan kedua tangannya,

setelah itu patih Udara lalu mengawasi jari kelingkingnya. Setelah dipandang dengan tajam-tajam, memang tampaklah jari keliking itu bergerak-gerak seperti gemetar.

“Baiklah. Mari kita berangkat.” Ajak Mintaraga kepada kawan- kawannya.

Patih Udara menyambut dengan tertawa. “Silahkan.” Serunya.

Mintaraga benar-benar tak menyangka kalau orang itu akan melepasnya dengan begitu saja, karena itulah ia lalu mengajak kedua orang kawannya itu.  

“Tunggu dulu.” Seru Candra Wulan tiba-tiba. Ia lalu menuding kearah pangeran Pamegatsari, dan bertanya kepada Mintaraga.

“Kakang Mintaraga, apakah kau kenal manusia itu?”

Mintaraga benar-benar tak menyangka kalau akan ditanya demikian oleh Candra Wulan, dan ia segera berpaling :

“Mengapa?” Jawabnya balik bertanya.

“Tidak, tak ada apa-apa.” Jawab Candra Wulan. “Manusia ini tadi malam begitu baik sekali kepadamu, bahkan berkali-kali menyebut saudara kepadamu. Akan tetapi sakarang ia telah memperlihatkan kulit anjingnya. Apakah perhitungan ini tak dibereskan sekali?”

Dengan nada tawar Mintaraga lalu berpaling dan memandang kearah pangeran Pamegatsari namun sedikitpun pemuda ini tak mengeluarkan perkataan apa-apa. Dengan masing-masing memegang tangan Kembang Arum dan Candra Wulan maka Mintaraga lalu mengajak mereka itu pergi.

“Hem.” Pangeran Pamegatsari segera mengeluarkan seruan dengan perlahan. Kemudian ia berpaling kepada Patih Udara dan berkata :

“Rekyana patih, dengan susah payah mereka telah kupancing kemari, akan tetapi setelah sampai disini mengapa kau membebaskan mereka dengan begitu saja?? Apakah artinya ini??”

Patih Udara tertawa.

“Biarlah mereka itu hidup terlebih lama lagi.” Jawab patih Udara dengan tersenyum. “Nanti akan datang saatnya kita tangkap mereka semuanya.”

“Apakah artinya ini ki patih?” Tanya pangeran Pamegatsari yang benar- benar menjadi bingung dan tak mengerti.

“Pangeran.” Kata Patih Udara. “Kau adalah keturunan dari panglima Sindhu Kencana, sangat mengherankan sekali kalau kau melupakan pesan terakhir dari Tumenggung Malangyudo dulu.”

Ditanya demikian mendadak saja Pangeran Pamegatsari menjadi sadar. Memang ia mengetahui pesan terakhir dari mendiang tumenggung Malangyudo itu, itulah kalau Tunggul Tirto Ayu telah didapatkan oleh keturunannya, Tunggul Tirto Ayu harus diserahkan kepada salah seorang

pendekar utama dijaman itu, supaya pendekar utama itu memimpin mereka untuk melawan orang-orang Jipang Panolan yang memberontak kepada Demak Bintoro dan mengacau pelataran Pajang yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. (Surat wasiat ini berada ditangan Mintaraga).

Untuk Patih Udara yang cerdik, tidak menjadi soal kehilangan Tunggul Tirto Ayu untuk sementara. Untuknya yang terpenting ialah menyingkirkan dahulu orang-orang yang menentang kerajaan Jipang Panolan. Ia telah dapat memastikan kalau Mintaraga, setelah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu tentunya akan mencari seorang pendekar besar yang dimaksudkan oleh Tumenggung Malangyudo. Maka rencana selanjutnya ialah mengintai Mintaraga, dan setelah Mintaraga mengumpulkan kawan-kawannya, ia akan menjaring mereka, untuk menyingkirkan mereka dalam segebrak saja. Dengan demikian ia akan berhasil menjalankan tipu dayanya, memanah dengan sebatang anak panah akan tetapi dapat membunuh mati macan dan gajah.

Pangeran Pamegatsari akhirnya tertawa dengan lebar.

“Ki patih, akalmu itu sungguh bagus sekali.” Puji pangeran muda ini dengan gembira.

“Akan tetapi ini tak berarti apa-apa.” Seru Rekyana Patih itu, sekarang sikapnya tak segembira tadi. “Apa yang kukhawatirkan adalah, apa bila sudah tiba saatnya, aku nanti tak sanggup melayani Mintaraga Ya,

sudahlah, biar nanti saja....” Akan tetapi ia segera menghadapi Bagaspati. Lalu katanya :

“Coba hunus golok pendekmu.”

Bagaspati membuka matanya lebar-lebar, ia benar-benar menjadi bingung sekali. Akan tetapi orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan inipun menurut.

Patih Udara melonjorkan kedua tangannya, dan membeberkan sepuluh jari tangannya.

“Kau kutungilah kedua jari kelingkingku.” Perintahnya. Kembali Bagaspati tercengang.

“Apa?” Tanyanya.

“Aku memerintahkan kepadamu untuk memenggal kedua buah jari kelingkingku ini.” Seru patih Udara. “Kau dengar tidak perintahku ini?”

Mendengar itu semua orang kaget dan heran. Air muka mereka sampai berubah.

Bagaspati adalah seorang tokoh kawakan, dan merupakan seorang algojo. Sanggup membunuh orang dengan mata tak berkedip. Bahkan sanggup membunuh dengan bersiul dan tersenyum. Akan tetapi sekarang setelah mendapat perintah untuk mengutungi jari kelingking atasannya ini ia menjadi ragu-ragu.  

“Ki patih... kau...!” Katanya dengan tertahan.

Patih Udara mengawasi dengan tajam-tajam. Kemudian serunya dengan nyaring :

“Untuk membinasakan Mintaraga, untuk melenyapkan keturunan tiga orang tumenggung gila itu (yang dimaksudkan adalah tumenggung Malangyudo, Sorohnyowo dan Kertoyudo) apakah kedua jari kelingkingku tak ada harganya untuk dikorbankan? Jika kau tak berani lekas kau serahkan golokmu itu kepadaku.”

Bagaspati tak mendapatkan jalan lain, ia lalu menabahkan hatinya. Dengan tangan yang tetap, dua kali jago nomor satu dari Jipang Panolan itu membacok.

“Apakah kau tak kenapa ki Patih?” Tanyanya setelah kedua buah jari kelingking atasannya itu pitus. Ia berwajah guram, dan suaranyapun perlahan.

Patih Udara mempermainkan napasnya, maka juga, meskipun kedua jarinya putus, darahnya tak mengalir keluar. Patih Udara lalu mengawasi kedua tangannya itu, lalu tertawa berkakakan.

“Mintaraga.“ Katanya seorang diri. Suaranya nyaring dan keras sekali. “Apakah lain kali kau masih dapat melihat kelemahanku ini?”

Sekonyong-konyong saja patih luar kerajaan Jipang Panolan ini menyabet kedepan, dimana terdapat sebuah pohon besar, maka ‘buk’ pohon itu roboh.

Kembali sekali lagi jago Jipang Panolan itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan para anggota jago-jago Jipang Panolan menjadi kagum dan tercengang.

Hanya pangeran Pamegatsari seorang saja yang sikapnya tetap tenang- tenang saja, malahan tawar. Didalam hati kecilnya ia tertawa dan berkata :

‘Patih Udara benar-benar hebat, pantas saja gusti Ario Penangsang sangat mempercayainya     Siapa bilang aksinya ini nanti ada gunanya untuk

menghadapi Mintaraga? Dia beraksi hanya untuk mengangkat dirinya saja didepan semua bawahannya. Bukankah ia hanya mencontoh perbuatan Palgunadi dihadapan hyang Durna yang menjadi gurunya itu? Huahaaaa...

Huahaaaa... Huahaaa... Bagaspati... Bagaspati... kau telah tua akan tetapi mengapa kau dapat dikelabuhi oleh sebuah akal bulus ini??’

Pangeran Pamegatsari tak mau berpikir lagi, kalau Bagaspati menginsyafi akan kelicinan orang-orang Jipang Panolan ini, maka teranglah Bagaspati tak mau menghambakan diri kepada Jipang Panolan.

“Ki patih, sekarang kau hendak pergi kemanakah?” Tanya Bagaspati kemudian.

“Telah berlarut-larut kita bertempur dengan lama sekali, akan tetapi Tunggul Tirto Ayu telah dapat dibawa pergi oleh anak busuk itu.” Jawab patih Udara. “Sekarang begini saja. Kalian semua secara diam-diam  

mengikuti Mintaraga, lihatlah kepada siapa ia menyerahkan Tunggul Tirto

Ayu itu. Aku sendiri akan menuju ke Utara bersama-sama dengan pangeran Pamegatsari, untuk menemui Julung Pujut, ingin aku mendengar laporannya bagaimana cara kerja si kantong nasi itu, maka ia membiarkan saja Tunggul Tirto Ayu ini dirampas oleh Sucitro.”

Patih Udara telah bertindak dengan cepat, dengan pendeta Baudenda ia telah berjanji untuk bertemu dikuil rusak itu, untuk menerima Tunggul Tirto Ayu. Setelah membuat perjanjian itu, lalu ia mendengar halnya tentang kedatangan Arya Panuju di Jawa Tengah. Karena itu ia lalu mengajak Bagaspati dan rombongannya untuk menyusul orang Banten itu. Oleh karena itulah ia lalu menyuruh Julung Pujut untuk mewakilinya pergi menemui Pendeta Baudenda. Namun Patih Udara tak berhasil mencari Arya Panuju, hanya secara kebetulan ia bertemu dengan Sucitro yang sedang kegirangan dan menuju ke selatan dengan membawa Tunggul Tirto Ayu. Ia lalu mengambil keputusan untuk segera menggempur Sucitro untuk merebut Tunggul. Tirto Ayu. Pikiran ini tak diwujudkan, karena pangeran Pamegatsari mengusulkan untuk mempergunakan sebuah akal. Pangeran Pamegatsari menduga, kalau dimunculnya Sucitro ini maka dapat dipastikan kalau Mintaraga berada disekitarnya. Ia mengatakan mengapa patih Udara tak mau membiarkan saja Sucitro bentrok dengan Mintaraga, dan mereka sendiri akan menjadi tukang ikan yang cerdik. Pula akan dibiarkan saja kalau sampai Sucitro dan Mintaraga bermusuhan dengan hebat.

Patih Udara menyetujui akan akal ini. Untuk mewujudkan maka Pangeran Pamegatsari mendapat tugas. Demikian ia menjalankan akalnya, hingga berkesudahan Sucitro gagal. Hanya diluar dugaan mereka, mereka sendiripun gagal ditangan Mintaraga yang berkepandaian tinggi itu. Hingga dengan demikian mereka pergi dengan tangan kosong.

Mintaraga bertiga melakukan perjalanan ke Selatan dengan gembira sekali, banyak yang mereka bicarakan ditengah perjalanan.

“Kakang, kepada siapakah Tunggul lambang kejayaan kerajaan Demak Bintoro ini akan kau serahkan?” Tanya Candra Wulan. “Apakah kau telah mempunyai pandangan kakang? pendekar manakah yang akan menerima Tunggul Tirto Ayu ini?”

“Didalam pandanganku telah terdapat seseorang.” Jawab Mintaraga. “Sekarang ini pasukannya masih sedikit, punggawa perangnya belum banyak akan tetapi dia sendiri telah berangan-angan besar, sampai begitu jauh dia telah dijunjung rakyat jelata. Dia bukan lain adalah. ”

“Dipandang dari mataku juga ada seorang.” Seru Candra Wulan memotong. “Diapun bercita-cita mulia, sudah tiga tahun lamanya ia mengangkat panji-panji untuk menentang orang-orang Jipang Panolan. Sekarang ini dia telah mempunyai angkatan perang sendiri yang terdiri dari beberapa ribu orang, dia telah menjagoi di beberapa daerah, mendengar  

namanya saja bangsa pemberontak Jipang itu telah kaget. Aku percaya dialah

orangnya yang akan bangun dikelak kemudian hari...” “Siapakah dia itu adi?” Tanya Mintaraga dengan tertawa. “Dia... dialah!”

Sekonyong-konyong Kembang Arum tertawa hingga perkataan Candra Wulan ini menjadi terhalang.

“Tunggu dulu....!” Seru Kembang Arum. “Dimataku juga ada seorang dan sekarang ini dia sedang bergerak, meskipun begitu dibelakang hari tentu dia akan berhasil. Huahaaaa... Huahaaa... Huaaa... kita bertiga mempunyai pandangan yang berlainan. Kepada siapakah Tunggul Tirto Ayu ini harus diserahkan? mustahil kalau Tunggul Tirto Ayu ini harus dirobek menjadi tiga?!”

“Aku tak peduli Tunggul Tirto Ayu ini harus diberikan kepada siapa salah satu. Aku hanya ingin tahu kalau orang itu telah bersumpah untuk melawan para pemberontak dari Jipang Panolan.” Seru Mintaraga. “Pandangan kita agaknya berlainan, mungkin hanya berlainan jalannya saja... Candra Wulan coba kau sebutkan orang yang berada dimatamu itu, kalau dia cocok, Tunggul Tirto Ayu ini boleh diserahkan kepadanya.”

“Kelihatannya kau hanya mengalah kepadaku, ini sungguh tak adil.” Jawab Candra Wulan.

“Habis, bagaimanakah adilnya?” Tanya Mintaraga dengan tertawa.

Candra Wulan mengerutkan keningnya, kelihatanlah kalau gadis nakal yang cerdik ini sedang berpikir dengan keras.

“Begini saja.” Jawabnya kemudian. “Kita masing-masing menulis siapa adanya pendekar pilihan kita ini, asal ada dua nama saja yang menyebutkan kepadanya, maka suara yang terbanyak itulah yang akan menerima Tunggul Tirto Ayu. Misalkan kita memilih lain-lain orang maka kita akan mengundinya.”

“Suatu usul yang kurang tepat dan tak bagus!” Seru Mintaraga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tunggul Tirto Ayu ini akan menyangkut keselamatan rakyat, mana bisa kita memutuskannya dengan undian? Inilah sebuah keputusan yang terlalu gegabah. Bahkan sembrono.”

“Begini saja.” Seru Kembang Arum yang turut memberikan jalan pikirannya. “Misalkan pilihan kita ini berlainan, hingga tak dapat mengambil keputusan maka kita akan naik kepuncak Lawu untuk menemui eyang Argo Bayu untuk minta pertimbangan.”

Pikiran Kembang Arum ini mendapat persetujuan dari Candra Wulan dan Mintaraga.

Sampai disitu, mereka lalu memisahkan diri. Untuk alat tulisnya mereka memotong sebatang dahan kecil. Untuk kertasnja, mereka meratakan pasir.

Disitulah mereka menuliskan nama orang-orang yang menjadi pilihan mereka, ketiganya menulis dengan huruf yang besar.  

Setelah selesai menulis maka Mintaraga lalu menutup tulisannya itu

dengan tangannya. Lalu katanya dengan sungguh-sungguh :

“Keselamatan rakyat akan diputuskan disini. Kuharapkan pilihanku ini tak bakal keliru. Supaya kita tak menyia-nyiakan pengharapan para leluhur kita.” Setelah berkata demikian maka ia lalu membuka tangannya supaya kedua orang sahabatnya ini dapat segera membaca tulisannya itu.

Ternyata disitu tertulis :

‘NGAWONGGO PATI’

Membaca tulisan ini Candra Wulan yang jenaka dan nakal serta manja, terus saja tertawa :

“Kakang Mintaraga, dimatamu itu tetap saja kau memilih pendeta melarat itu. Huahaaaaa..... Huahaaaa.... Huahaaa....” Katanya. “Sebenarnya apakah keluar biasaan dari pendeta itu? Hingga kau demikian memujanya!”

“Tapi, apakah jeleknya dari dia maka kau agaknya membenci kepada Ngawonggo Pati?” Jawab Mintaraga balik bertanya.

“Selama di Karang Bolong pernah aku mendengar kakang Tunggorono bercerita tentang pendeta itu.” Jawab Candra Wulan. “Dia pernah menjadi bawahan Kamandaka. Kau ketahui sendiri kalau pendekar besar yang bernama Kamandaka itu penentang para pemberontak Jipang. Untuk dapat memanjat tinggi-tinggi ia tega menceraikan istrinya, lalu dia kawin dengan anak Kamandaka. Karena itu orang macam dia itu mana dapat menerima Tunggul Tirto Ayu?”

“Bukan hanya itu saja tindakannya.” Seru Mintaraga menambahkan dengan tertawa. “Kemudian dia juga telah membunuh putra Kamandaka itu, dan mengangkat dirinya sebagai penggantinya, untuk memimpin tentaranya. Kau mengetahui sendiri, sebagai pendekar sejati, dia tak lemah hatinya terhadap seorang wanita. Kita juga tak mengharapkan dia terus-menerus membaca doa saja, kita menghendaki dia bertindak dan menggempur pemberontak dari Jipang Panolan yang makin mendesak ini. Soal menceraikan seorang istrinya ini hanya soal kecil saja. Tak bolehlah karena soal kecil ini maka kita memendam kegagahannya.”

Candra Wulan menggelengkan kepalanya, tetap saja gadis ini tak setuju. “Orang semacam dia itu adalah seorang yang berhati kejam.” katanya. “Misalkan saja ia dapat menjadi raja, atau setidak-tidaknya menjadi bawahan dari Sultan Hadiwijaya, dia tak akan menjadikan rakyat menjadi aman

tentram dan damai.”

“Siapa hendak bekerja besar, dia harus bertangan besi dan berhati besar.” Seru Mintaraga pula. “Kita ingat saja Prabu Dasamuka dijaman pewayangan dulu. Untuk menyelamatkan negaranya dari serangan Prabu Harjuno Sosrobahu dari Maespati, dia lalu membunuh seorang gundiknya. Sang Prabu memaksa para prajuritnya makan daging gundiknya itu. Dengan demikian maka semangat dari rakyat Ngalengko menjadi terbangun, hingga  

Ngalengko Diraja dapat diselamatkan. Bukankah cara yang dipakai prabu

Dasamuka ini lebih kejam lagi?!”

Masih tetap saja Candra Wulan menggelengkan kepalanya.

“Sudah... sudahlah adi Candra Wulan.” Segera Kembang Arum memisah sama tengah. Coba katakan siapakah orang yang menjadi pilihanmu itu?”

“Kau saja yang mengatakan terlebih dahulu.” Seru Candra Wulan.

Kembang Arum mengangkat tangannya, tapi setelah itu ia lalu menghapus hurufnya yang ditulis diatas tanah tadi.

“Orang pilihanku masih kalah dengan Ngawonggo Pati, karena itu aku melepaskannya.” Katanya sambil tertawa.

Candra Wulan adalah seorang gadis yang sangat cerdik, lalu saja ia berkata didalam hatinya :

‘Aku tahu, kau pasti memilih kakang Mintaraga, apakah kau sangka aku sudi menjadi orang hina??’

Maka ia lalu membusak pula tulisannya.

“Baiklah.” Katanya. “Meskipun aku tak setuju, akan tetapi karena kita mengambil keputusan dari suara yang terbanyak, aku tak mempunyai perkataan lagi.”

Setelah itu ia lalu tersenyum kepada Kembang Arum. Kemudian katanya :

“Kalian berdua, baik perbuatan maupun perkataan, telah bersatu padu. Karena itu kalian harus cepat-cepat menikah.” Katanya dengan perlahan. “Namun kalian harus mengundangku supaya aku dapat mengikuti pesta perkawinanmu dan minum tuak kegirangan.”

Muka Kembang Arum menjadi merah.

“Budak iblis lihatlah tanganku!” Seru Kembang Arum sambil melayangkan tangannya.

Candra Wulan mengelak sambil terus lari, sambil lari gadis nakal ini terus tertawa geli.

Sedangkan Kembang Arum terus mengejar akan memukul. Mintaraga lari memburu, sambil lari ia tertawa dan berkata :

“Eh, sudahlah, jangan kau bergurau. Kita masih punya banyak urusan penting yang harus diurus,”

Kedua gadis itu tak mempedulikan, mereka masih tetap berkejar-kejaran terus. Candra Wulan kalah dalam hal ilmu lari cepat dan juga meringankan tubuhnya. Maka hampir terpegang, ia memutar tubuh, dan mengangkat tangannya.

“Awas Braholo Meta!”

Kembang Arum tertawa. Mendadak ia terus melesat. Dengan demikian serangan telunjuk lewat, iapun melewati tubuh Candra Wulan, hingga ia berada dibelakangnya.  

“Apakah artinya pukulan Braholo Meta? Lihat tanganku.” Serunya

sambil menjambak.

Candra Wulan terperanjat, hendak ia mengelak akan tetapi sia-sia, karena Kembang Arum telah berhasil menyambarnya, dan terus menyambar kearah ketiaknya.

“Budak iblis, hendak kulihat kau, kau masih berani menggodaku atau tidak.” Katanya.

Candra Wulan tertawa terkekeh-kekeh, tubuhnya terus menggeliat- geliat karena dikitik-kitik seperti itu, akan berontak akan tetapi tak dapat karena telah kehabisan tenaga.

“Sudah... sudah... ayu, aku telah tak berani lagi.” Seru Candra Wulan minta ampun.

Sampai disitu maka Kembang Arum lalu melepaskan pegangannya, dan dengan sendirinya berhenti pula kitik-kitikannya.

Mintaraga yang teringat akan sesuatu maka terus bertanya kepada Candra Wulan.

“Eh... adi Candra Wulan, kau tadi dapat memecahkan kelemahan patih Udara, apakah ada alasannya dari itu?”

Candra Wulan tertawa.

“Itulah eyang Argo Bayu yang memberi tahu kepadaku.” Jawabnya. “Eyang Argo Bayu telah mengatakan kepadaku, kalau didalam rimba persilatan ini orang yang paling sukar dikalahkan adalah patih Udara. Apa lagi kalau patih Udara telah mempergunakan ilmunya yang disebut Harimau Lapar. Sebab ilmu silat itu berpokok kepada menerjang, menghajar dan menggelinding. Maka sungguh lucu sekali kau malahan melawannya dengan menanti, menghajar dan menggelinding. Apakah itu juga termasuk pelajaran yang diberikan oleh eyang guru?”

Baru sekarang Mintaraga mengerti, karenanya ia berdiam saja. Pemuda itu hanya tertawa.

“Kakang Mintaraga.” Kemudian Kembang Arum berkata, iapun agaknya seperti baru saja dapat mengingat-ingatnya. “Tunggul Tirto Ayu itu telah kita dapatkan dengan menukar nyawa kita, apakah tidak lebih baik kalau sekarang kita melihat-lihat dahulu?”

“Tentu saja.” Jawab Mintaraga. Malahan pemuda ini segera mengeluarkan Tunggulnya dari dalam kantong.

Dibawah sinar matahari mereka melihat Tunggul Tirto Ayu itu. Kemudian Candra Wulan mengeluarkan kotaknya, kemudian gadis ini menyerahkan kepada kawannya.

“Kakang Mintaraga.” Katanya. “Baiklah Tunggul Tirto Ayu itu kau masukkan saja kedalam kotaknya ini. Sebab dahulu pernah kumendengar perkataan ki Sucitro, kalau ada Tunggulnya maka tak boleh tak ada  

kotaknya. Huahaaaa... Huahaaaa... Huahaa... sekarang kita telah mempunyai

dua-duanya. Disinilah kekecewaan Sucitro si tokoh tua dari selatan itu     ”

Sekonyong-konyong saja terdengar suara orang tertawa, hingga mereka bertiga menjadi terkejut.

“Aku juga kecewa, apa pula si Sucitro orang sinting itu...” Demikianlah susulan perkataan setelah suara tawa tadi menghilang. Suara ini datangnya dari samping.

Mintaraga bertiga berpaling dengan seketika. Lalu untuk herannya mereka segera melihat siapa adanya orang yang datang itu. Ternyata yang datang bukan lain adalah Arya Panuju. Entah kapan dan tak tahu dari mana orang Banten ini datang.

“Oh. kiranya kau.” Bentak Candra Wulan dengan mendongkol sekali.

Arya Panuju hanya tertawa.

“Apakah jalan besar ini jalanmu? Kepunyaanmu?” Tanyanya dengan lucu. “Aneh kalau kau melarangku melewati jalan ini.”

Mintaraga segera memasukkan kotak yang berisi Tunggul Tirto Ayu itu kedalam saku bajunya, akan tetapi tak lama kemudian lalu mengeluarkan lagi dan menyerahkan kepada Kembang Arum. Dan menyuruh gadis ini menghadapi Arya Panuju. Akan tetapi Kembang Arum menolak Tunggul itu, hingga terpaksa Mintaraga yang menyimpannya kembali.

“Oh.   paman.” Kau telah datang pula.” Katanya. “Paman kami sungguh

girang sekali, dialah Dyah Kembang Arum keturunan dari Pandu Pergolo. Silahkan berkenalan.” Setelah berkata demikian Candra Wulan lalu berpaling kearah Kembang Arum sambil berkata pula :

“Ini adalah tuan yang pernah kuberitahukan kepadamu, yaitu Arya Panuju jago nomor satu dari Banten.”

Mendengar perkataan Candra Wulan ini, Kembang Arum lalu menganggukkan kepalanya menghormat kepada orang Banten itu.

“Paman.” Katanya. “Misalnya sekarang ini kau ingin bertempur, kakang Mintaraga sekarang mempunyai banyak waktu, pasti ia akan dapat melayanimu ”

“Kembali kakang Mintaraga.” Kata orang Banten itu, agaknya orang ini sedang bergurau. “Huahaaa... Huahua... Huahaa anak baik sungguh kau ini

beruntung sekali.”

Arya Panuju ini bukannya menantang kepada Mintaraga, malahan ia lalu menjatuhkan diri, untuk duduk disebuah batu. Arya Panujupun lalu melepaskan sepatunya dan menggaruk-garuk telapak kakinya.

“Kembang Arum.” Katanya sambil mengawasi kepada gadis itu. “Melihat wajahmu, kau halus sekali, bahkan sabar. Maka kalau dibandingkan dengan budak busuk itu, kau sangat berbeda sekali. Aku bilang benar tidak?”  

Yang disebut ‘budak busuk’ ialah Candra Wulan, maka ia menjadi

mendongkol.

“Fui...” Candra Wulan terus berludah. “Kau jangan ngoceh tak karuhan, nanti kuhajar kau dengan ilmu pukulan Braholo Meta.”

Arya Panuju tertawa bergelak-gelak.

“Kalau terhadap Gagak Seto maka kau akan dapat mempergunakan pukulanmu itu.” Katanya. “Akan tetapi terhadap tulang-tulangku yang tua, barang kali tidak...!”

Mintaraga segera mendahului Candra Wulan, kemudian pemuda itu tertawa dan menghadapi jago tua ini.

“Bapa, rupa-rupanya kembali kau bersembunyi didalam rimba dan mencuri dengar apa yang aku percakapkan serta mengintai gerak-gerik kami?” Tanyanya. Ia sekarang merubah panggilan dari paman, menjadi bapa.

Arya Panuju tertawa.

“Kau memanggil bapa kepadaku, kau membuatku menjadi bertambah tua saja.” Katanya. “Huahaaaa... Huahaaa... Mintaraga menghajar Sucitro. Pangeran Pamegatsari datang menambah keramaian. Coba kau katakan, bukankah itu sangat lucu? Lalu ada lagi, Mintaraga si bocah busuk merobohkan patih Udara, mustikanya itu kena dirampas. Aku khawatir kena kebaikannya itu hanya ‘kosong’ karena itu sayanglah kalau kau telah mengeluarkah banyak peluh-peluhmu yang bau itu.

Kata-kata kosong itu memang diambilkan dari nama ‘UDARA’. Candra Wulan tertawa.

“Kemarin malam kau telah mengambil kertas kulit kambing kami yang berwarna kuning. Kau telah bersumpah akan pulang ke Banten.” Katanya. “Mengapa kau tak segera pulang, dan sekarang pergi kemari, malahan menggoda kami?”

“Ya, Arya Panuju, apakah kehendakmu?” Mintaraga turut bertanya. Walaupun ia tahu kalau orang Banten ini seperti orang linglung, akan tetapi ucapannya biasanya benar.

Arya Panuju memiringkan kepalanya dan melirik kearah Mintaraga.

Mulutnya masih tetap tersenyum.

“Apakah perkataanku kemarin?” Ia balik bertanya. “Apakah kau masih ingat?” Ia tertawa bergelak-gelak. Lalu menambahkan perkataannya itu :

“Pada waktu itu aku telah mengatakan kalau sandiwara itu sangat menarik hati untuk ditonton. Hanya sayang ada dua... ah tidak, mestinya tiga. Cuma sayang ada tiga orang tolol yang dengan kesembronoannya sudah naik keatas pentas, akan tetapi sampai pada akhirnya ia tak memperoleh apa-apa. Tangan mereka kosong! Tidakkah orang akan menjadi tertawa terpingkal-pingkal?”  

Dengan perkataan tiga tolol itu, tentu yang dimaksudkan adalah

Mintaraga, Kembang Arum dan Candra Wulan. Akan tetapi karena kemarin malam Kembang Arum tak ada bersamanya, ia menjadi tak mengerti apa yang telah terjadi antara Mintaraga, dengan orang Banten ini. Karena itulah kepalanya menjadi ditundukkan dan pikirannya mulai bekerja.

Arya Panuju tertawa pula, kemudian menambahkan perkataannya itu. “Perkataanku kemarin itu, untuk sekarang masih saja tetap tepat sekali.”

Demikian katanya. “Huahaaa... Huahaaa... Huahaa... Mintaraga kau boleh hebat dan sakti dalam hal ilmu silat, akan tetapi kau tetap saja kena diperdayakan oleh paman eyang gurumu itu.”

Mendengar perkataan Arya Panuju ini Kembang Arum menjadi sadar, bahkan gadis ini menjadi kaget setengah mati. Segera ia minta kepada Mintaraga untuk melihat kotak dan Tunggul Tirto Ayunya. Tunggul itu lalu diangkatnya tinggi-tinggi kearah matahari. Matanya sendiri terus mengawasi dengan tajam-tajam.

Tunggul Tirto Ayu itu terang sekali bergemerlapan, cahayanya kehijau- hijauan dengan sinar matahari menuju kearahnya. Hingga sinarnya menjadi menyilaukan mata, sinarnyapun terbayang bagaikan bertambah warnanya.

“Mungkinkah Tunggul Tirto Ayu ini palsu?” Katanya seorang diri. Kemudian gadis ini membalik-balik, ia melihat huruf yang terdapat didalam Tunggul itu kekal abadi. Huruf-huruf itu telah kelihatan agak rusak sedikit, mungkin karena dimakan umur. Terus saja ia balik-balik, mendadak saja ia berteriak :

“Celaka... celaka...”

Mintaraga dan Candra Wulan terkejut, hingga mereka berjingkrak. “Ada apa? Apakah yang terjadi???” Tanya mereka. “Mengapakah kau?”

Kembang Arum mambanting kakinya. Ia menjadi sangat masygul dan menyesal sekali.

“Tak salah apa yang dikatakan oleh paman ini.” Katanya kemudian sambil menunjuk kearah Arya Panuju. “Memang kita bertiga telah berlaku sembrono naik keatas pentas diakhirnya kita telah benar-benar mengeluarkan peluh dengan sia-sia belaka. Mustika tak kita dapatkan, akan tetapi kita telah ditipu orang lain...”

“Sebenarnya apakah maksudmu?” Tanya Mintaraga menegaskan. “Benarkah kalau Tunggul Tirto Ayu yang ada pada kita ini adalah sebuah barang palsu?”

“Hem.” Kembang Arum memperdengarkan suaranya, lalu Tunggul Tirto Ayu ini dibanting keatas tanah.

“Palsu... palsu.” Serunya dengan sengit. “Memang Tunggul Tirto Ayu ini benar-benar palsu...!”  

Mintaraga tercengang, begitu juga dengan Candra Wulan. Kemudian

mereka saling mengawasi, mereka memandang kearah Kembang Arum dan memandang kearah Tunggul lambang kerajaan Demak Bintoro ini.

Sebaliknya dari mereka bertiga ini, Arya Panuju tertawa, ia tersenyum- senyum, anehlah kelakuannya itu.

Sewaktu mata Kembang Arum mendelik dan berputar, sorotnya bengis, namun dilain saat Candra Wulan terus mengambil Tunggul Tirto Ayu itu dari atas tanah.

“Sebentar aku lihat dulu.” Katanya gadis ini memang sangat penasaran sekali, ingin ia memperoleh kepastian, maka lalu memeriksa dengan teliti.

Candra Wulan memang mempunyai pikiran yang cerdas, dan kecerdasannya ini tak berada disebelah bawah kecerdasan Kembang Arum, karena itu, belum lama ia memeriksa, lalu melompat berjingkrak.

“Bagus benar.” Candra Wulanpun berteriak. “Sucitro itu makhluk tua bangka, dia telah membuat Tunggul Tirto Ayu yang palsu. Marilah kita cari dia.”

“Sabarlah adi Candra Wulan.” Seru Mintaraga, yang masih belum mengerti. “Kau... kau katakanlah bagaimana kau dapat mengatakan kalau Tunggul Tirto Ayu ini adalah sebuah tunggul yang palsu?? Lalu bagaimanakah dengan yang asli?”

Candra Wulan memandang kearah anak muda itu, dari rambutnya, ia mencabut permainan sanggul. Lalu menunjukkan perhiasan itu.

“Kakang Mintaraga apakah ini?” Serunya bertanya sebelum ia memberi keterangan. “Darimanakah asalnya barang-barang ini?”

Ditanya demikian lalu Mintaraga menjadi sadar. Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya untuk merampas Tunggul Tirto Ayu dari tangan Candra Wulan dan memeriksanya. Ia tak membutuhkan banyak waktu untuk menjadi insyaf.

Pada tiga ujung bendera segitiga ini tak terdapat cacatnya. Yaitu cacat disobek sedikit. Maka teranglah kalau Tunggul Tirto Ayu ini adalah benda yang palsu.

Ketika dahulu hari tiga keluarga Malangyudo, Kertoyudo dan Sorohnyowo mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu, untuk memperingati jasa mereka, ujung kain itu telah disobek sedikit untuk kenang-kenangan dan kotaknya dipotong sedikit untuk dipakai membuat barang-barang peninggalan mereka itu, dan sekalian untuk menjodohkan keturunan mereka.

Karena itu Mintaraga menjadi sangat menyesal dan mendongkol. Ia masygul tak terkira, berulang kali ia mengedruk tanah. Bukankah untuk memperoleh itu ia sudah bekerja berat dan mempertaruhkan jiwanya.

Arya Panuju mengawasi orang-orang itu sambil tertawa.  

“Yang hebat adalah Agni Brasta.” Katanya pula. “Raja pencopet itu

sangat hebat sekali. Dia telah membuat barang palsu dengan demikian persisnya dan sempurna sekali. Hingga yang tulen dan yang palsu sangat sulit untuk dibedakan. Huahaaaa... Huahaaaa... Huahaaaa... apakah ini? Bukankah perhiasan ini hanya sebuah kaca biasa? Beling macam ini didaerahku sangat banyak sekali.” Sambil berkata demikian, ia mengambil Tuggul Tirto Ayu itu untuk diperiksa, setelah itu ia melemparkan pula. “Batu-batu perhiasan yang tak berharga.”

Mintaraga dapat menguasai dirinya, pemuda itu hanya menghela napas panjang.

“Arjy Panuju.” Tanyanya. “Apakah maksud kedatanganmu kemari ini hanya untuk memberitahu kepadaku bahwa Tunggul Tirto Ayu yang kubawa ini adalah sebuah barang palsu? Atau kau mengandung maksud lain??”

Arya Panuju tertawa.

“Kau merampas Tunggul Tirto Ayu dan aku menonton.” Jawabnya dengan lantang. “Maksud tujuanku tetap tak berubah. Kau tak berhak mencampurinya, bukan?” Ia berdiam sebentar, akan tetapi tak lama kemudian ia lalu berkata lagi :

“Anak yang baik, aku gembira sekali atas kebaikanmu yang telah menghadiahi sebuah kertas kuning dari kulit kambing itu. Anak muda sekarang begini saja. Aku akan turut kepadamu pergi mencari Agni Brasta untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang asli, setujukah kau??”

“Baik juga.” Jawab Mintaraga. “Hanya masih ada sabuah hal yang kurang kumengerti. Dengan cara bagaimana kau dapat mengetahui kalau Tunggul Tirto Ayu yang asli itu berada ditangan Agni Brasta?”

“Itu adalah sebuah hal yang sangat sederhana.” Jawab Arya Panuju. “Setelah Tunggul Tirto Ayu yang asli itu dapat diketemukan di Laut Kidul, pertama-tama berada ditangan pendeta Baudenda dan para bajak Tengkorak Berdarah. Setelah itu dengan kecerdikan dan kesebatan dapat dirampas oleh Sucitro. Sampai lama Tunggul Tirto Ayu itu dikakangi oleh Sucitro.

Pendeta Baudenda menjadi marah dan tak puas, dia lalu pergi mencari Agni Brasta si raja pencopet. Kemudian Agni Brasta diajak pergi ke Selatan. Disana dengan kepandaiannya Agni Brasta dapat menipu Sucitro dan mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu kembali. Pendeta Baudenda hendak mempersembahkan Tunggul lambang kejayaan kerajaan Demak Bintoro itu kehadapan Ario Penangsang, karena itu ia telah berjanji dengan Patih Udara untuk bertemu dikuil tua itu. Sebelum itu Agni Brasta, yang khawatir kalau Tunggul Tirto Ayu yang asli ini hilang lagi, maka ia lalu membuat yang palsu. Ia meniru dengan sempurna sekali. Lalu muncullah Sucitro... dan Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa... Sucitro datang untuk bertemu dengan Agni Brasta yang berkepandaian hebat itu... Pertama Sucitro mendapatkan  

Tunggul Tirto Ayu yang asli, kemudian setelah Agni Brasta menepuk-nepuk

pundaknya, yang tulen lalu ditukar dengan yang palsu. Dengan demikian terjadilah pertukaran Sucitro tak menginsyafi kalau Tunggul yang berada didalam saku bajunya itu adalah sebuah Tunggul Tirto Ayu yang palsu. Semua itu telah kusaksikan sendiri, maka juga sepak terjang Agni Brasta tidak lolos dari mataku.”

Mintaraga ingat kejadian yang telah berlalu itu, iapun dapat mengerti. “Baiklah.” Katanya setelah berpikir sebentar. Mari kita cari Agni Brasta,

hanya aku ingin mengemukakan disini, untuk terlebih dahulu bicara dengan tegas. Jika Tunggul Tirto Ayu yang asli itu telah didapatkan, pada waktu itu kau tetap tak mempunyai bagian untuk itu. Apakah kau setuju?”

Arya Panuju tertawa dengan lebar.

“Aku Arya Panuju, dikolong langit ini aku adalah manusia yang paling dapat dipercaya dan jujur.” Jawabnya kemudian. “Apakah artinya Tunggul Tirto Ayu itu? Sedikitpun benda itu tak terdapat didalam relung hatiku.”

Mintaraga segera menghaturkan terima kasih kepada orang Banten itu. Ia menduga, kalau nanti berhasil mencari Agni Brasta, maka tentunya bakal bertempur hebat, maka dengan adanya Arya Panuju bersamanya, orang Banten ini dapat memberi bantuan kepadanya. Inilah bagus sekali!

Lagi-lagi Arya Panuju tertawa.

“Jangan kau menghaturkan terima kasih kepadaku terlebih dahulu.” Katanya menampik penghaturan terima kasih Mintaraga itu. “Aku Arya Panuju tak biasa memberi bantuan secara gratis, akan tetapi dilain pihak akupun tak mau menerima bantuan orang dengan secara cuma-cuma ”

Mintaraga menjadi heran.

“Apakah artinya perkataanmu ini?” Tanya Mintaraga dengan tak mengerti.

“Kau hanya harus turut aku, janganlah kau banyak tanya-tanya.” Jawab Arya Panuju. Lalu tanpa mempedulikan keadaan Mintaraga atau kawan- kawannya ia lalu memutar tubuhnya, dia bertindak pergi sambil mengangkat kepalanya. Tujuannya adalah kearah Tenggara.

Mintaraga kenal baik watak orang aneh ini, ia memang suka sekali menurut, karena itulah ia lalu mengajak Candra Wulan dan Kembang Arum untuk mengikuti.

Baru saja empat orang ini pergi, tiba-tiba saja dari ujung rimba itu muncul lima atau enam orang lain, yang berjalan dimuka sambil memilin- milin jenggot dan kumisnya memperlihatkan wajah yang tersenyum- senyum. Orang itu tak lain tak bukan adalah Bagaspati orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan.

“Tuhan maha pengasih.” Serunya. “Maka tak sia-sialah perjalanan kita ini. Mari kita periksa.”  

Ketua jago-jago Jipang Panolan ini menjalankan tugasnya yang

diberikan oleh Patih Udara untuk mengikuti Mintaraga, karena ia mengetahui akan kehebatan Mintaraga itu, mereka mengikuti dari jauh tak berani terlalu dekat. Meskipun demikian mereka dapat melihat dengan tegas gerak-gerik orang itu, hanya suara pembicaraannya yang mereka tak dengar.

Mintaraga berlalu dengan tidak membusak lagi huruf-hurufnya yang tadi ditulis itu ‘NGAWONGGO PATI’ yang ditulis diatas pasir itu, Bagaspati dan saudara-saudara angkatnya ini dapat mencarinya.

“Hem.” Ejeknya ketua jago-jago Jipang Panolan itu. “Kiranya si pendeta melarat itu.”

Setelah itu mereka lalu memeriksa tulisan Candra Wulan, dengan samar-samar sekali ia dapat membaca tulisan ini ‘IRENG GALIH’. Melihat tulisan ini mereka menjadi terkejut.

‘Untunglah usul Candra Wulan tak diterima.’ Katanya didalam hati kecilnya. ‘Kalau tidak, dan kalau sampai Tunggul Tirto Ayu itu terjatuh ketangan Ireng Galih, sungguh sulit...”

Diakhir kerajaan Demak Bintoro itu, orang-orang menamakan dirinya itu sebagai pencinta negara telah bergerak disana-sini, masing-masing dalam wilayahnya sendiri-sendiri. Seperti Jaka Tingkir terus mempertahankan Pajang, Ario Penangsang yang berkedudukan di Jipang ingin sekali mengembangkan sayapnya menduduki semua bekas kerajaan Demak Bintoro. Begitupun dengan Ireng Galih dari Pesantren Silugonggo dia bergerak di Pajang membantu Jaka Tingkir. Jumlah tentaranya lebih dari puluhan ribu jiwa.

Kemudian Bagaspati memeriksa tulisan Kembang Arum, akan tetapi orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan ini tak mendapatkan apa-apa. Setelah itu ia mengambil Tunggul Tirto Ayu palsu yang ditinggal oleh Mintaraga. Ia lantas berpikir, ia memang cerdik dan berpengalaman.

‘Teranglah mereka sekarang ini pergi bersama-sama untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang tulen.’ Pikirnya. ‘Begitu? Huahaaa... Huahaa..... Huahaa..... baik aku bertindak begini, mereka tentu bakal terperdaya..... sekarang aku harus pulang dulu, untuk mencari gusti patih dan berunding dengannya.”

Dengan gembira sekali kepala jago-jago Jipang Panolan ini lalu mengajak rombongannya ini untuk kembali keutara. Dilain Mintaraga bertiga lalu mengikuti Arya Panuju. Pemuda ini heran ketika mengetahui kalau orang Banten ini mengajaknya pergi ke Tenggara.

Karena tujuannya ketenggara ini maka mereka bertiga menjadi curiga. “Paman, sebenarnya kau ini akan menuju kemanakah?” Akhirnya

mereka bertanya.

“Arya Panuju menoleh, dan setelah memandang sejenak lalu tertawa.  

“Kita akan pergi untuk menemui sembilan orang resi gila diatas puncak

Indrakilo.” Jawabnya. “Apa? Mungkinkah kau takut terhadap mereka?”

Mintaraga bertiga menjadi heran hingga tanpa sesadarnya mereka itu lalu menghentikan langkahnya.

“Paman, jangan kau mempermainkan kami. Kalau akan bergurau janganlah bergurau dengan sedemikian hebatnya.” Katanya. “Kita ikut denganmu karena akan mencari Tunggul Tirto Ayu. Akan tetapi mengapa kau sekarang mengajak kami naik kepuncak Indrakilo untuk menemui sembilan orang resi gila itu?”

Arya Panuju tetap saja memandang kearah mereka dan kembali terdengar suara tawanya.

“Memang kita harus pergi ke puncak Indrakilo.” Jawabnya dengan suara yang tetap. “Kau harus mengetahui kalau Tunggul Tirto Ayu yang asli itu memang berada ditangan kesembilan orang resi gila itu. Hal itu telah kuketahui dengan pasti, karena itu mau tak mau kau harus percaya kepadaku.”

Arya Panuju mengatakan perkataan ini dengan lagak yang sangat lucu sekali. Akan tetapi karena keadaan demikian gawat dan penting maka Candra Wulan yang biasanya berwatak jenaka itu tetap tak dapat tertawa.

Mintaraga sendiri berdiri dengan diam, pemuda ini benar-benar menjadi bingung sekali. Benar-benar Arya Panuju ini aneh sekali. Dia pula yang mengatakan kalau Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangan Agni Brasta dan mereka diajak mencari raja pencopet itu, akan tetapi sekarang mengapa mendadak sontak saja mereka ini diajak untuk naik keatas puncak gunung Indrakilo untuk mencari kesembilan orang resi gila ini? Bahkan orang dari Banten ini mengatakan kalau Tunggul Tirto Ayu yang asli ini berada ditangan kesembilan paman-paman guru Candra Wulan itu. Bukankah hal ini aneh sekali??”

Mau tak mau Mintaraga harus kasak-kusuk dengan kedua orang kawannya itu. Terutama sekali ia menanyakan kepada Kembang Arum tentang pengalamannya diatas puncak Indrakilo sewaktu ia menemui sembilan resi gila itu. Akan tetapi kasuk-kusuk ini tak memberikan hasil apa- apa. Keterangan Kembang Arum tak ada sangkut pautnya.

Dilihat dari wajahnya, Arya Panuju tak nanti akan membohongi mereka. Hanya mereka itu merasa tak puas kalau sampai dapat dipermainkan oleh orang asing ini. Tentu saja Mintaraga dan kedua orang kawannya ini akan sangat kecewa sekali kalau sampai Tunggul Tirto Ayu yang asli itu berada ditangan pendeta Baudenda atau Agni Brasta dan orang itu mendapat kemerdekaan bersama Tunggul Tirto Ayunya.

Diakhirnya Mintaraga mengambil sebuah keputusan.

“Paman.” Katanya kepada orang Banten itu. “Apa yang kau katakan itu benar atau tidak, tak sempat kami mengatahuinya, karena itu kami ingin  

menegaskan, asal kau tak main gila, kami akan terus ikut kepadamu.

Misalnya kau tak mau memberi keterangan yang jelas baiklah kita bertemu lagi saja nanti. Tak dapat kami membiarkan demikian saja kau menuntun hidung kami. ”

“Ha... anak yang baik.” Kata Arya Panuju sambil mencelat bangun. Wajahnyapun berubah. “Apakah benar-benar kau ini telah tak mempercayai perkataanku??”

“Kami menantikan keteranganmu yang jelas.” Jawab Mintaraga.

Arya Panuju memandang tajam-tajam kearah mereka bertiga, akan tetapi sebaliknya mereka bertiga inipun memandatagnya dengan padangan mata yang sangat tajam. Bahkan tajam sekali.

“Tunggul Tirto Ayu yang tulen itu benar-benar berada ditangan sembilan orang resi gila itu. Memang berada diatas puncak gunung Indrakilo.” Katanya dengan nyaring. “Inilah keteranganku yang sejujur- jujurnya. Kau harus percaya keteranganku ini. Arya Panuju selalu mengatakan satu tetap satu. Tak nanti mengatakan merah lalu berbalik menjadi hijau. Selamanya belum pernah aku menipu orang.

“Bolehlah kalau kau akan membuat kami menjadi percaya. Nah jelaskanlah kami percaya kepadamu.” Desak Mintaraga dengan tersenyum. “Kau ceritakanlah semuanya itu paman yang baik.”

“Tunggul Tirto Ayu yang asli itu berada diatas puncak gunung Indrakilo dan berada dibawah kangkangan sembilan orang resi gila itu.” Teriak Arya Panuju. “Apa lagikah yang harus kuberitahukan kepadamu??”

Mintaraga memandang tajam-tajam. Semakin Arya Panuju berteriak- teriak, maka semakin curigalah pemuda itu.

“Mengapa??” Tanyanya. “Mengapa Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari tahta kerajaan Demak Bintoro itu mendadak sontak berada diatas gunung Indrakilo?? Mungkinkah Agni Brasta dan pendeta Baudenda tak memberikan Tunggul itu kepada orang-orang Jipang Panolan dan mendadak mempersembahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepada sembilan resi Indrakilo itu??”

“Sudahlah... buat apa kau ngoceh saja. Teriak Arya Panuju. “Mari kita pergi ke Indrakilo. Asal saja kita dapat merobohkan sembilan orang resi sombong yang tak tahu diri itu maka hal yang sebenarnya akan terbukti. Kau akan mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang asli dari mereka. Eeh...

sebenarnya kau ini percaya atau tidak kepadaku??

“Sekarang jawab dulu pertanyaanku.” Jawab Mintaraga dengan berlaku tenang sekali. “Agni Brasta beramai-ramai sekarang ini berada dimana??”

“Tentu saja mereka itu berada didalam kuil rusak.” Jawab Arya Panuju. “Dan pada saat ini mungkin mereka tengah berbicara dengan patih Udara.

Mintaraga tertawa terbahak-bahak.  

“Arya Panuju, kau ini benar-benar pandai mempermainkan kami.” Kata

pemuda ini nyaring. “Bagaimanakah Agni Brasta berada didalam kuil rusak itu? Bukankah kuil itu berada diutara? Apakah bisa dengan mendadak kuil rusak itu terbang keselatan? Berada di Indrakilo? Huahaaaa... Huahaaaa... Huahaa nah sampai ketemu lagi.”

Mintaraga lalu memutar tubuhnya untuk berjalan pergi.

Melihat hal ini Arya Panuju seperti kalap, sambil melompat ia lalu melayang kedepan pemuda itu.

“Aku melarangmu pergi.” Bentaknya. “Aku hanya mengijinkan kau mengikutiku.”

“Mintaraga juga menjadi kehabisan kesabaran, karena itu ia lalu menggerakkan kedua tangannya untuk menolak tubuh orang itu. Pemuda itu lala berseru :

“Sudah setengah harian kau mempermainkan kami. Sebenarnya apa lagi yang akan kau kehendaki?”

Arya Panuju mengelak.

“Jika kau tak mempercayai perkataanku, maka kau adalah seorang musuhku??”

Mau tak mau Mintaraga menjadi tertawa.

“Itu adalah aturanmu sendiri. Aku tak akan mempedulikan segala aturanmu yang aneh itu.” Katanya dengan tetap sabar sekali.

“Akan tetapi Arya Panuju telah marah sekali, dia lalu menarik keluar rantainya.

“Sebenarnya kau ini mau apa?” Bentaknya, dia bertanya dengan tegas- tegas. “Apakah kau akan mengingkari lagi ucapanmu itu?”

“Paman.” Jawab Mintaraga dengan sabar. “Kami telah berjanji akan mengikuti perjalanmu kalau untuk mencari Tunggul Tirto Ayu yang asli, akan tetapi bukannya untuk bergurau. Nah silahkan kau memberi jalan kepadaku. Bukankah kau sudi memberi jalan kepada kami paman yang baik??”

Kedua mata Arya Panuju menjadi bersorot merah. Merah saking marahnya. Sampai-sampai ia tak dapat membuka mulutnya.

“Mintaraga, baiklah kau ikut aku pergi keselatan.” Katanya kemudian. Sekarang dapat juga ia menyabarkan diri. “Dengan pergi keutara maka kau tak akan memperoleh apa-apa ”

Mintaraga tak menjawab.

“Mari.” Pemuda itu lalu mengajak kedua orang kawannya.

Arya Panuju mementang kedua lengan tangannya untuk menghadang didepannya.

“Tunggu dulu.” Katanya. “Apakah kau tak dapat menanti sampai aku mengeluarkan lagi beberapa buah perkataan?”

“Silahkan.” Jawab Mintaraga.  

Arya Panuju berpikir sejenak, lalu ia menarik napas panjang dan dalam-

dalam.

“Baiklah.” Katanya. “Karena kau tak mempercayai lagi perkataanku. Nah sampai ketemu lagi. Hanya ada sebuah hal yang hendak kutegaskan kepadamu. Dikemudian hari aku yakin kau pasti akan sangat menyesal sekali. Waktu itu misalkan kau akan mencariku, kau harus menerjang rimba golok, kota neraka dan lautan tombak (artinya jalan yang sangat berbahaya sekali. Datan disebut jalmo moro jalmo mati, satu moro satu mati). Kau ingat tempat itu bukannya tempat yang boleh dibuat main-main saja...”

Mintaraga menjadi heran bukan main. Ia hendak menyangka kalau orang Banten ini telah angot. Tanpa berpikir lagi ia lalu memberikan jawabannya :

“Aku hendak mewujudkan pesan dari para leluhurku.” Katanya dengan tenang. “Untuk itu aku tak segan-segan untuk berkorban nyawa yang tak ada harganya ini. Bahkan tak ada penyesalan bagiku. Kalau kau tak menggangguku terlalu lama itulah bagus sekali, karena itu nanti kita akan bertemu kembali. Untuk itu lihat saja peruntunganmu.”

Arya Panuju menjadi sangat menyesal, dan orang Banten inipun menjadi sangat lesu sekali.

“Baiklah.” Katanya. “Sekarang juga aku akan pulang ke Banten, disini segala apapun juga tak ada yang menarik hati. Nah kau pergilah untuk mencari Tunggul Tirto Ayumu itu, aku telah segan memperhatikanmu lagi...”

Setelah berkata demikian ia lalu melilitkan rantainya kembali kepinggangnya. Lalu tanpa berpaling lagi, ia memutar tubuhnya. Berjalan menuju kearah barat. Sesaat kemudian orang Banten ini telah tak kelihatan bayangannya lagi.....

*

* *

Dengan berdiri termenung Mintaraga bertiga mengawasi kepergian orang Banten itu. Kemudian Mintaraga menjadi menyesal sekali. Ia menyesal karena terhadap seorang yang luar biasa seperti Arya Panuju itu ia telah berkata dengan keras. Namun dilain pihak ia tetap tak dapat mempercayai orang Banten itu. Siapakah yang percaya kalau Tunggul Tirto Ayu itu sekarang pindah keselatan dan berada ditangan sembilan resi sakti itu? Sama sekali tak ada sekelumit pikiran untuk berpendapat bahwa Arya Panuju adalah seorang penting dalam hal pencariannya terhadap Tunggul Tirto Ayu yang asli itu.......

Segera setelah itu, Mintaraga mengajak kedua orang kawannya berangkat ke Utara. Ditengah jalan, masih saja pemuda ini kehilangan  

kegembiraannya. Diwaktu sore mereka telah tiba disebuah desa yang tak

diketahui namanya. Sepi sekali, sedangkan penduduknya hanya terdiri dari empat atau lima buah rumah saja. Tentu saja disitu tak terdapat warung atau tempat penginapan.

Candra Wulan menjadi mengerutkan keningnya.

“Kakang Mintaraga.” Katanya dengan masygul. “Dari pada kita mencari tempat pemondokan, lebih baik kita pergi keatas bukit untuk merasakan kenyamanan sang malam ”

“Begitupun baik.” Jawab Mintaraga, yang lalu memandang kearah sekitarnya ia melihat sebuah bukit disebelah timur. Pemuda ini lalu menunjukkan telunjuknya kebukit itu.

“Baik kita pergi kesana.” Katanya.

“Tetapi kita harus pergi mencari barang makanan terlebih dahulu.” Kembang Arum memperingatkan. “Mungkin ada ayam atau bebek didalam kampung ini, biarlah nanti aku pergi membelinya.”

“Jangan kau membuat kaget penduduk.” Pesan Mintaraga. “Kau tangkaplah saja beberapa ekor, lalu tinggalkan uangnya, kita akan menunggu disini.”

Setelah menjawab Kembang Arum lalu melesat pergi. Dengan cepat ia menghampiri sebuah rumah, segera saja gadis itu masuk kedalam pekarangan belakang. Untuk itu Kembang Arum harus berlaku hati-hati sekali.

‘Ah... disini tak ada kambing yang gemuk, kalau dua atau tiga ekor bebek atau ayam mungkin. ’ Ia pikir.

Maka terus saja ia menuju kekandang. Kebetulan sekali untuknya, ia mendapatkan tiga ekor bebek lagi tidur dengan pulas. Kembang Arum menjadi girang sekali. Hanya sesaat ia mengulurkan tangannya untuk menyambar leher bebek itu, akan tetapi tiba-tiba saja ia mendengar pintu dibuka, lalu kelihatanlah dua orang keluar dengan membawa lentera. Untuk membuat orang itu tak menjadi kaget maka Kembang Arum lalu melompat kepojokan yang gelap dan bersembunyi.

Yang membuka pintu itu adalah seorang wanita dan yang lainnya adalah seorang lelaki. Kedua-duanya telah berusia tinggi sekali. Yang lelaki lalu menuju kekandang bebek itu dan dari mulutnya terdengar gerutuan, sedangkan nenek wanita itu berkata.

“Kita ini sangat melarat, pakaianpun tak punya. Mana mungkin kita dapat menyediakan apa-apa untuk mereka itu? Eh... tua bangka lebih baik kita pergi untuk mencari kematian saja ”

Kakek tua yang memegang lentera itu, tangannya kelihatan gemetar keras sekali.  

“Jangan    bicara    keras...”    Katanya    dengan    perlahan,    suaranya

menandakan kalau kakek itu ketakutan sekali. “Jika mereka mendengar maka kita akan dihajar pula...”

“Kembang Arum mengawasi. Ia melihat muka kakek itu bengkak- bengkak dan matang biru, Teranglah kalau mereka itu habis dianiaya, hanya gadis ini tak tahu siapakah yang begitu kejam menganiaya seorang kakek yang telah sangat tua.

Orang laki-laki itu lalu menangkap seekor bebek dengan tangannya yang telah keriputan dan gemetar. Lalu ia mengusap-usap kepada binatang peliharaannya itu. Agaknya kakek ini sangat berat untuk mengorbankan binatang peliharaannya ini. Ada pula anakan bebek disitu dan binatang itu menjadi kaget, terus saja ia berbunyi wekkk... weekkk... weeekkk...

Si kakek tua itu menghela napas, lalu menyodorkan bebek itu kepada wanita tua tadi. Yang terang bahwa wanita itu tentu istrinya. Dan nenek ini lalu membawa bebek itu kedalam dapur dan menyembeleh bebek tadi untuk dimasak.

Kembang Arum yang menyaksikan semuanya ini, bangkitlah hati kependekarannya. Memang gadis ini berwatak sangat mulia.

“Bagus benar.” Katanya didalam hati. “Entah orang jahat darimana yang telah datang mengganggu kakek dan nenek yang telah tua ini. Mengganggu rakyat jelata yang miskin. Baiklah aku akan melihat mereka dan akan menghajar adat kepadanya.”

Gadis ini percaya kalau ia akan menghadapi seorang kepala perampok atau hartawan yang galak dan setidak-tidaknya orang jahat. Setelah kakek dan nenek itu berlalu, ia lalu cepat-cepat bertindak mendekati rumah itu. Setelah ia mengintai dari jendela ruang depan yang telah pecah disana sini. Ketika mamandang kedalam, Kembang Arum menjadi tercengang.

Didalam ruangan itu terdapat sebuah ublik (pelita kecil, sebangsa lilin) yang tersorot menyalakan sebuah api, dari penerangan ini kelihatanlah sebuah wajah yang telah tua dan bersemu merah. Melihat wajah ini Kembang Arum menjadi terperanjat, adalah sangat diluar dugaannya, orang jahat yang disangkanya bangsa perampok itu kiranya adalah pendeta Baudenda, yang sedang rebah dan bersama pendeta itu adalah kawan- kawannya yaitu Jogosatru, Julung Pujut, Mandaraka dan yang lain-lainnya. Sedangkan orang yang berjalan mondar-mandir tiada henti-hentinya itu, dan yang mulutnya selalu mengoceh.

“Perutku lapar... lapar... perutku lapar...” Adalah si Agni Brasta raja pencopet.

Kembang Arum menjadi kaget bercampur girang sekali.

“Bagus.” Katanya didalam hati. “Sukar kami mencarimu, akan tetapi siapakah yang menyuruhmu berada disini.”  

Wajah pendeta Baudenda dan semuanya kelihatan kalau tegang dan

cemas, agaknya mereka semua telah kehabisan kesabaran menantikan kedatangan seseorang.

Kembang Arum yang matanya tajam, dapat melihat tubuh Agni Brasta yang menonjol. Apakah itu bukannya Tunggul Tirto Ayu yang asli? Maka kembali gadis ini menjadi bertambah girang.

“Baiknya aku tak ikut. Arya Panuju...’ Katanya didalam hati kecilnya. “Bukankah dia telah mengatakan kalau Tunggul Tirto Ayu yang juga disebut-sebut sebagai Tunggul Bintoro itu berada diatas puncak gunung Indrakilo? Huahaaaaa... Huahaa... Huahaa... Tampaknya disini tak terdapat orang sakti, mungkin kami bertiga dapat berpesta pora terhadap mereka ”

Justru itu terdengar Jogosatru berkata dengan nyaring.

“Lucu sekali Sucitro si tua bangka yang sangat sembrono itu. Demikian katanya. “Dia pergi dengan kegirangan, akan tetapi sebenarnya mereka itu pergi dengan membawa sebuah Tunggul Tirto Ayu yang palsu. Disaat ini dia tentunya sedang bermimpi disiang hari bolong kalau akan menjadi raja, seorang yang dipertuan.... eh... Julung Pujut, mengapa gusti patih Udara belum juga datang?”

“Entahlah.” Jawab orang Jipang ini yang terus menunjukkan jempolnya. Dan kemudian berkata menambahkan. “Nama raja pencopet memang bukannya sebuah nama yang kosong melompong saja. Tunggul Tirto Ayu yang palsu ditukar dengan Tunggul Tirto Ayu yang tulen, akan tetapi Sucitro dengan kegirangan. Dia tak merasa. Sekarang ini sahabat, baiknya jangan kau kekapi saja Tunggul Tirto Ayu itu. Coba kau keluarkan, kami akan melihat, hingga kami akan menambah kekaguman kami atas pekerjaanmu itu.”  

“Sebelum gusti patih Udara datang, maaf tak dapat aku menurutkan perintahmu.” Jawab Agni Brasta dengan tertawa.

Tak senang hati Julung Pujut ketika mendengar jawaban itu.

“Mustahil kalau aku tak berhak untuk melihat Tunggul Tirto Ayu itu.” Serunya dengan bengis sekali.

“Maaf.” Jawab Agni Brasta yang kukuh dengan pikirannya itu.

“Apakah benar kalau aku tak berhak?” Teriaknya pula. Bahkan kali ini bertambah bengis.

Lalu kedua orang itu berselisih omong.

“Agni Brasta, kau luluskanlah permintaannya itu.” Tiba-tiba saja pendeta Baudenda membuka mulutnya.

Setelah mendengar suara pendeta Baudenda ini maka raja pencopet itu tak berkukuh lebih lama lagi. Ia lalu mengeluarkan Tunggul Tirto Ayu itu dari dalam kantongnya dan meletakkan diatas meja.

“Boleh melihat, akan tetapi tak boleh memegang.” Katanya. “Kalau mustika ini. ” Belum lagi habis ia mengucapkan perkataannya, ia sudah ditolak

mundur oleh Julung Pujut dan yang lain-lain, yang lalu merubungi meja itu. Semua mulut menjadi kagum dan memuji.

“Semenjak kerajaan Majapahit runtuh dan Raden Patah Sultan Demak Bintoro yang pertama menduduki tahta maka beliau lalu membuat lambang ini. Dan turun temurun Tunggul ini dipakai untuk lambang ketahtaan, sebab siapa yang memegang Tunggul Bintoro ini akan dapat memegang tapuk pemerintahan kerajaan Demak Bintoro. Namun setelah Tunggul Bintoro ini dipegang oleh Ratu Kalinyamat maka orang menyebutnya sebagai Tunggul Tirto Ayu, dan kemudian hilang dari percaturan dunia setelah Demak Bintoro runtuh. Tunggul Tirto Ayu dinyatakan hilang setelah dibuang kelaut kidul, akan tetapi Huahaaaaaa.... Huahaaaa..... Huahaa.... akhirnya Tunggul Tirto Ayu ini toh didapatkan kembali. Pendeta Baudenda dengan demikian jasamu sangat besar sekali.”

“Walaupun Pendeta Baudenda telah dipuji-puji oleh orang-orang Jipang ini bagaikan mereka itu menjanjikan sebuah hadiah besar, namun pendeta ini menunjukkan wajah yang sangat berduka sekali. Ia seperti tak tertarik oleh suara pujian-pujian ini.

“Agni Brasta, simpanlah Tunggul Tirto Ayu itu.” Katanya kepada raja pencopet itu dengan nada yang tawar.

Agni Brasta menurut, dan dengan sebat ia menyambar Tunggul Tirto Ayu itu untuk disimpan kembali.

Kembang Arum yang berada diluar jendela merasakan seperti kedua matanya ini menjadi kabur. Ia sangat menyesal karena tak dapat menyerbu masuk kedalam rumah itu untuk merampas Tunggul Tirto Ayu.

Julung Pujut tertawa lebar ketika menyaksikan kemasygulan si pendeta Baudenda.

“Pendeta Baudenda.” Katanya dengan nyaring. “Mengapakah hari ini kau memperlihatkan wajah yang berduka? Kita telah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu ini, dan kami menanggung keselamatannya, dari itu saja telah selayaknya kalau kau gembira.”

Pendeta Baudenda tetap masygul.

“Sucitro telah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang palsu, tentang orang aneh itu bukannya sebuah soal.” Jawabnya dengan perlahan. “Akan tetapi tidak demikian dengan Mintaraga, murid keponakanku itu. Dia akan terus mencari kepadaku. Mintaraga terang akan dapat mengalahkan Sucitro, karenanyalah dia itu pasti akan dapat merampas Tunggul Tirto Ayu yang palsu. Bukankah kalian telah belajar kenal sendiri dengannya? Jika ia sampai mengetahui kalau Tunggul Tirto Ayu itu adalah sebuah barang tiruannya saja, selanjutnya kita pasti bakal banyak sekali. ”

Julung Pujut tak menginsyafi perkataan pendeta Baudenda ini, ia justru tertawa bergelak-gelak.  

“Kalau demikian, mengapa kau berpura-pura baik hati?” tanyanya.

“Bukankah dikuil rusak itu kita dapat bekerja sama untuk menghajarnya sampai mampus?”

“Gampang saja kau bicara.” Jawab Pendeta Baudenda. “Dikolong langit ini siapakah yang dapat mengalahkannya? Hanya Patih Udara sendiri yang dapat menjadi lawannya. Coba waktu kita bergebrak, sudah terang kalau kita yang akan menjadi rusak. Hem... coba aku tak bersandiwara menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepadanya, aku khawatir sekarang ini kau tak bakal ada ditempat ini dan berbicara seperti ini.”

Julung Pujut tertawa bergelak-gelak.

“Ya, sandiwaramu itu bagus sekali.” Serunya dengan mengejek dan terang kalau sinis sekali. “Kau membuat keponakan muridmu itu menjadi terharu sekali hingga melinangkan air matanya dan rela memanggilmu sebagai paman eyang guru !”

Pendeta Baudenda tetap masygul.

“Janganlah kau goda aku.” Katanya dengan nada yang sangat tawar. “Ah. mengapa gusti patih masih juga belum datang kemari??”

Mendengar ini Kembang Arum tertawa didalam hatinya.

‘Patih Udara jagomu itu telah kena dirobohkan oleh kakang Mintaraga, kekasihku.’ Katanya didalam hati kecilnya. ‘Sekarang ini mungkin dia telah tiba di Jipang Panolan untuk mohon bantuan. Hem... Pendeta Baudenda, bagus benar perbuatanmu, kau pandai sekali berpura-pura, akhirnya kau tetap menjadi anjing orang-orang Jipang Panolan.’

Sampai disitu Julung Pujut tak menggoda lebih jauh lagi.

“Eh....” Katanya. “Kabarnya Tunggorono akan segera menjalankan hukumannya, tentang itu apakah kalian telah mendengar kabarnya atau tidak?”

Kembang Arum menjadi kaget sekali, hingga ia tak mendengar jawaban orang itu. Ketika ia ingat untuk memasang kupingnya, ia mendapatkan Agni Brasta memperdengarkan suaranya :

“Ah... orang desa ini benar-benar gila, nanti aku akan melihat kepadanya. Jika benar mereka itu tak rela menyerahkan bebek mereka, maka hati-hatilah nanti. ”

Habis bertindak demikian maka ia lalu bertindak kebelakang.

Kembang Arum yang cerdik segera mendapatkan sebuah pikiran. Iapun lalu bertindak kebelakang. Gadis itupun masuk kedalam ruang dalam, hingga ia dapat menyusul raja pencopet tadi. Kemudian katanya didalam hati :

‘Jika tak sekarang juga aku turun tangan maka akan tunggu sampai kapan lagi?’ Lalu dengan luar biasa gesitnya, ia melompat memburu.

Agni Brasta tidak sadar kalau ia terancam bahaya. Tahu-tahu ia telah kena ditotok, tubuhnya terus roboh. Kembang Arum mengerti pentingnya  

urusan, paling penting ia lalu merogoh kedalam saku baju raja pencopet itu,

setelah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu ia lalu melompat pergi berlalu dari rumah orang desa itu.

Malam itu rembulan guram dan bintang hanya sedikit yang muncul diangkasa raya. Sedangkan sang bayu meniup dengan sepoi-sepoi basah. Hingga menambah nyaman dan romantisnya malam itu. Tak ada orang lain yang berada disekitar situ. Maka dengan ilmu meringankan tubuhnya. Tanpa membuang banyak waktu lagi, ia telah kembali kedepan Mintaraga yang sedang menantinya bersama-sama dengan Candra Wulan.

“Kakang Mintaraga, kau lihatlah ini apa?” Katanya sambil mengulapkan tangannya yang memegang Tunggul Tirto Ayu. Ia berkata begitu tetapi ia tak menanti jawaban anak muda itu, dengan pelan akan tetapi cepat, ia lalu menambahkan :

“Marilah, ada urusan penting yang akan kuberitahukan kepadamu.” Sebenarnya Mintaraga dan Candra Wulan telah tak sabar lagi karena

Kembang Arum terlalu lama, mereka berniat menyusul. Justru baru mereka hendak pergi menyusul gadis ini telah tiba. Mereka heran karena Kembang Arum tak membawa ayam ataupun bebek, sebaliknya malahan membawa Tunggul Tirto Ayu, hingga karena herannya maka ia menjadi terdiam. Tengah mereka berdiam, mereka mendengar perkataan orang yang ternyata adalah Kembang Arum. Keduanya menduga kepada urusan penting, mereka lantas saja mengikuti Kembang Arum.

Sekarang ini Kembang Arum berjalan sambil memeriksa Tunggul Tirto Ayunya. Kegirangannya semakin bertambah-tambah ketika ia mengetahui kalau pinggiran ketiga sudut bendera yang berbentuk segitiga ini semplok semuanya. Inilah tandanya kalau Tunggul Tirto Ayu yang dibawanya adalah Tunggul Tirto Ayu yang asli. Karena itulah ia girang bukan buatan. Bukankah Tunggul Tirto Ayu dapat diketahui dengan secara kebetulan?? Bahkan didapatkan dengan secara gampang sekali?? Bukankah bersama itu iapun mendapat sebuah kabar penting dari mulut Julung Pujut tentang Tunggorono??

“Coba kau lihat kakang Mintaraga, Tunggul Tirto Ayu ini benar-benar yang asli atau yang palsu lagi?” Katanya kemudian sambil memberikan Tunggul Tirto Ayu itu kedalam tangan Mintaraga.

Mintaraga memeriksa dengan teliti.

“Inilah yang asli.” Katanya dengan girang sekali. “Dari mana kau memperoleh Tunggul Tirto Ayu ini adi? Apakah kau mendapatkan dari tangan Agni Brasta??”

Pemuda ini segera teringat kepada si raja pencopet yang dikabarkan membawa Tunggul Tirto Ayu yang asli.

Sambil menyerahkan kotak Tunggul Tirto Ayu, Kembang Arum menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya.  

Kabar itu diterima dengan girang bersama dengan kaget. Kaget sebab

ketika mereka mendengar berita kalau Tunggorono akan menjalani hukuman mati. Karena kekagetannya ini Candra Wulan sampai menangis.

“Kakang Mintaraga, urusan memberikan Tunggul Tirto Ayu ini adalah sebuah urusan lain.” Katanya. “Sekarang marilah kita segera menolong kakang Tunggorono.”

Mintaragapun tahu akan pentingnya urusan ini. Sambil memasukkan Tunggul Tirto Ayu ini kedalam kotaknya, ia lalu berkata :

“Pandanganmu kurang tepat, adi Candra Wulan. Sekarang ini justru gerakan menentang pemberontakan dari Jipang Panolan adalah yang terpenting. Bukankah disana-sini orang-orang tengah mengerek bendera? Maka dengan mengandalkan Tunggul Tirto Ayu ini kita dapat mengumpulkan dan mempersatukan mereka, supaya mereka dapat menjadi sebuah angkatan perang yang besar. Kita harus bekerja dengan cepat, tak dapat kita berbuat lambat lagi. Jadi soal mati hidupnya seorang atau perseorangan tidak dapat dibuat menjadi sebab dari kegagalan urusan membangun sebuah negara.”

Candra Wulan menangis terus.

“Siapakah yang suka mendengar perundinganmu yang panjang lebar ini?” Katanya. “Tanpa menolong kakang Tunggorono, apakah kau masih mempunyai muka untuk menghadap ayah dialam baka nanti? Jika kau tak mau pergi menolong, maka biarlah aku akan pergi sendiri untuk menolong kakang Tunggorono. Paling-paling aku akan mati bersama kakang Tunggorono.”

Kembali Candra Wulan lalu menangis. Bahkan mengguguk dalam tangisannya ini.

Mintaraga mengawasi, lalu pemuda ini tertawa dengan berkakakan. “Jangan kau menangis.” Katanya. “Kau belum terlambat untuk

mendengarkan perkataanku sampai habis. Aku telah memikirkan sebuah daya upaya dengan dua kebaikan. Kita bertiga memecah diri menjadi dua rombongan Jipang adalah sarang para pemberontak kesana aku akan pergi seorang diri, kalian pergilah membawa Tunggul Tirto Ayu ini dan berikan kepada Ngawonggo Pati. Sekarang kalian harus membantunya mempersatukan pelbagai gerakan kemerdekaan yang sekarang masih bergerak sendiri-sendiri. Setelah aku menolong kakang Tunggorono, aku akan menyusulmu. Setujukah kau dengan daya upayaku ini?”

Daya itu memang ada dua kebaikkannya, akan tetapi kedua orang gadis itu menentangnya.

“Aku telah dirawat dan dididik oleh ayah Darmakusuma.” Kata Candra Wulan. “Dengan demikian maka murid ayah itu adalah saudaraku sendiri. Dia sekarang sedang menghadapi bahaya maut dengan cara bagaimanakah  

aku tak pergi sendiri untuk menolongnya? Tidak kakang Mintaraga, biarpun

bagaimana aku tetap akan turut kau membebaskan kakang Tunggorono.” Mintaraga segera berpikir.

Mendengar itu Candra Wulan menghentikan tangisannya itu. Bahkan gadis ini lalu tertawa dengan gembira.

“Bagaimanakah ini bisa terjadi?” Kata Kembang Arum. “Dengan kita pergi berdua mencari Ngawonggo Pati, kita masih belum leluasa, habis sekarang aku hendak ditinggal sendirian? Dengan sendirian saja, sebatang kara, mana dapat?”

Mintaraga berpikir pula.

Memang sangat tak leluasa untuk membiarkan Kembang Arum pergi sendirian untuk menemui Ngawonggo Pati, untuk memperbincangkan urusan negara. Lagi pula sangat sulit untuk membuat insyaf atau menaklukkan banyak orang-orang sakti.

“Sekarang begini saja.” Katanya kemudian. “Kalian berdua pergilah ke Jipang Panolan, aku sendiri akan pergi menemui Ngawonggo Pati. Setujukah kalian??”

Kedua gadis ini harus berpikir lagi. Juga dengan cara demikian ini tak dapat mereka menyetujui. Bukan dayanya yang kurang sempurna, hanya mereka merasa berat untuk berpencaran. Lain dari pada itu sudah tak ada jalannya........

“Kalau demikian kakang Mintaraga..... baiklah.....” Jawab mereka dengan terpaksa sekali.

Sampai disitu selesailah sudah pembicaraan mereka. Dengan menjabat tangan kedua gadis itu, Mintaraga lalu berangkat seorang diri. Ia membawa Tunggul Tirto Ayu itu bersamanya. Biar bagaimanapun juga ia merasakan kurang gembira. Bukankah sudah semenjak lama mereka selalu melakukan perjalanan bertiga??

Sementara itu dirumah orang tani tadi, setelah Kembang Arum berlalu, lalu terdengar suara tawa orang yang sangat bergembira sekali.

“Bagaspati. Bagus benar tipu dayamu itu.” Kata seorang dengan suara yang nyaring. Dialah yang tertawa dengan terbahak-bahak. “Huahaaaa...

Huahaaaa... Huahaa   hanya kau saja yang dapat berpikir sampai kesini.”

Orang itu bukan lain adalah patih Udara.

“Gusti patih.” katanya. “Bagaimanakah tindakan kita selanjutnya??” Tanya orang yang sedang dipuji-puji ini dengan tertawa lebar.

“Coba terka, mereka itu akan mengambil tindakan apa??” Tanya Patih Udara dengan gembira.

“Pasti sekali kalau mereka itu akan memencarkan diri.” Jawab Bagaspati. “Kita harus mempergunakan saat mereka berpencaran ini, k:ta menyerang mereka.”

Kembali Patih Udara tertawa.  

“Benar.” Katanya. “Kitapun harus membuat pelbagai kawan mereka

berkumpul semua, untuk menumpas habis kekuatan mereka.”

Kembali Patih Udara tertawa, tanda kalau orang Jipang ini merasa girang bukan buatan.

Memang Bagaspati telah menduga dengan pasti Mintaraga tentunya akan pergi keutara, untuk mencari Patih Udara. Patih Udara sendiri, bersama dengan pangeran Pamegatsari beramai-ramai, sudah berkumpul dengan rombongan pendeta Baudenda. Mereka itu telah mengetahui kalau Tunggul Tirto Ayu yang palsu buatan Agni Brasta. Karena itu Bagaspati lalu mengatur tipu dayanya. Patih Udara menyetujui, akal itu lalu segera mereka menjalankannya.

Telah diduga kalau Mintaraga akan lewat ditempat mana, maka ia lalu berkumpul dirumah orang desa yang telah tua itu. Tengah Kembang Arum mengintai, Patih Udara dan yang lain-lain sedang mengintai didalam kamar. Sedangkan Pendeta Baudenda memasang omongan dengan Julung Pujut, juga dengan Agni Brasta.

Setelah itu maka Agni Brasta disuruh pergi kebelakang, dengan alasan menyusul si petani, supaya Tunggul Tirto Ayunya dirampas. Ternyata akal mereka itu berjalan dengan lancar dan baik sekali. Kata-kata mereka tentang Tunggorono yang akan dihukum mati itu hanyalah sebuah ocehan belaka.

Sampai disitu Patih Udara juga harus mengatur orang-orangnya yang harus dipecah menjadi dua. Satu bagian untuk menyusul ke Utara, yang serombongan lagi pergi ke Selatan.

Patih Udara berkata pula :

“Mintaraga telah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu, dia tentu akan menyerahkan kepada Ngawonggo Pati, untuk mengumpulkan kaum pemberontak terhadap kita orang-orang Jipang Panolan. Inilah bagus, kita menjadi mendapat ketika untuk menyapu mereka sekali pukul. Karena urusan ini sangat penting, biarlah aku akan pergi sendiri. Untuk pergi ke Jipang aku minta pangeran Pamegatsari saja.”

“Sungguh bagus sekali kalau Pendeta Baudenda mau berjalan bersamaku.” Kata pangeran Pamegatsari sambil tertawa-tawa. Ia menerima tugas untuk memilih kawan.

“Baik.” Patih Udara menyatakan kesetujuannya. “Ki pendeta Baudenda telah bekerja dengan baik sekali. Jasanya banyak dan pangkat telah menantinya. Kalau sekarang Mintaraga dapat dibekuk, pasti jasanya akan bertambah lebih besar lagi.”

“Apakah kau telah merasakan kepastian kalau Mintaraga akan pergi ke Jipang Panolan?” Tanya Pangeran Pamegatsari menegaskan.

Patih Udara tertawa dan segera menjawab :  

“Biar bagaimana saja, pasti diantara mereka bertiga ada yang akan

menuju ke Utara. Siapa saja, Kembang Arum, Candra Wulan ataupun Mintaraga semua sama saja.”

Pangeran Pamegatsari tertawa.

“Kalau yang pergi kesana itu Kembang Arum maka itu akan lebih baik lagi.” Katanya. Sejak pertemuannya dipulau Selarong dulu itu, ia selalu teringat kepada Kembang Arum, ia telah berpikir yang tidak-tidak tentang gadis itu.

Patih Udara tak mengambil peduli, tentang apa yang dikatakan oleh pangeran Pamegatsari itu. Ia menganggap kalau urusan ini adalah sebuah urusan yang sangat penting. Lalu ia mengajak semua anggota jago-jago Jipang Panolan untuk berangkat mencari Ngawonggo Pati. Ia ingin sekali menumpas semua rombongan pemberontak kerajaan Jipang itu. Oleh karena ia khawatir tenaganya sendiri tak cukup, ia lalu minta bantuan pasukan Jipang, untuk itu ia menyuruh Julung Pujut dan Mandaraka untuk menyampaikan suratnya ini kepada pembesar setempat.

Pangeran Pamegatsari dilain pihak, bersama dengan rombongan Pendeta Baudenda telah tak mau berlaku ayal-ayalan lagi, dengan cepat mereka itu menuju keutara, untuk mengatur perangkap buat menawan pihak lawan.

Kembang Arum dan Candra Wulan telah melakukan perjalanan dengan cepat sekali. Pada suatu hari tibalah mereka itu di Jipang Panolan. Bahkan tepat di ibu kota Jipang. Memang untuk mereka berdua kota ini adalah sebuah kota asing. Mereka mendapatkan sebuah kota yang padat dengan rumah-rumah dan penuh dengan toko-toko. Dijalan-jalan besar mereka mendapatkan orang-orang yang sedang berbelanja dengan berjubel-jubel.

Dipintu kota itu dijaga dengan keras, untuk menjaga supaya orang jahat tak dapat menyelusup masuk. Karena itulah diwaktu mereka akan masuk pintu gerbang kota, Candra Wulan dan Kembang Arum menyamar sebagai perempuan-perempuan desa.

“Bagaimana sekarang?” Kedunnya saling bertanya. Jangan kata penjara dimana Tunggorono ditawan, istana Ario Penangsangpun mereka tak mengetahui letaknya. Karena itu terlebih dahulu mereka akan mencari rumah penginapan dijalan yang sepi. Kemudian disitulah mereka akan berunding.

Untuk mencapai pintu gerbang sebelah timur, mereka harus melintasi jalan yang sangat berliku-liku.

“Ayu, marilah kita mampir dirumah makan itu dulu, untuk mengisi perut kita yang kosong ini.” Ajak Candra Wulan sambil menunjuk kesebuah rumah makan.

Kembang Arum memandang kearah rumah makan itu.  

“Baiklah.” Jawab Kembang Arum. Memang ini adalah rumah makan

yang sederhana tak kecil akan tetapi juga belum dapat kalau dikatakan rumah makan besar.

Keduanya lalu menghampiri rumah makan itu dan masuk kedalam. Memilih tempat duduk yang baik. Para pelayan dan pembantu rumah makan ini tampaknya sedang repot membersihkan meja, mereka menulis nama barang masakan dan menimbang daging. Namun justru tak ada tamu lainnya kecuali mereka berdua. Mereka telah duduk dengan lama akan tetapi tak ada yang menghampirinya ataupun menyapa mereka.

Candra Wulan menjadi kehabisan kesabaran.

“Manakah orang rumah makan ini??” Tanyanya sambil menepuk meja.

Seorang pelayan berpaling, lalu dengan tindakan yang ayal-ayalan menghampiri kedua orang gadis ini.

“Apakah kau memanggilku?” Tanyanya. “Menyesal sekali rumah makan kami tak menerima tamu ”

“Aku tak peduli.” Jawab Candra Wulan. “Perut kami telah lapar, kami ingin makan. Kau sediakanlah barang makanan apa saja.”

Pelayan itu mengawasi, akan tetapi sedikitpun tak memandang mata kepada mereka. Ia melihat hanya dua orang perempuan desa saja.

“Aku telah mengatakan kalau hari ini tak menerima tamu, itu artinya TIDAK!” Katanya dengan keras. “Kuminta kalian suka pergi meninggalkan rumah makan ini, carilah lain rumah makan saja.”

“Aneh.” Seru Candra Wulan dengan mendelik. “Kalian ini tak menerima tetamu akan tetapi mengapa pintumu kau pentang lebar-lebar??”

“Sebenrnya tak sempat kami melayanimu....” Kata pelayan itu dengan sungguh-sungguh.

“Sudahlah.” Seru Kembang Arum yang memisah. “Disini tak ada barang makanan, maka sangat mengherankan kalau kita tak dapat mencari ditempat yang lain.”

Candra Wulan tak mau mengerti, ia lalu mementang mulutnya lebar- lebar hingga pemilik rumah makan itu datang menghampirinya.

“Nona berdua, harap maafkah kami.” Katanya dengan manis sambil tertawa. “Memang sebenarnya hari ini kami tak mempunyai barang hidangan yang dapat disuguhkan kepada kalian. ”

Candra Wulan lalu menuding kearah daging yang sedang ditimbangi itu dan katanya :

“Apakah itu? Cepat katakan!”

“Semua daging itu telah ada yang memesan.” Jawab pemilik rumah makan itu dengan ramah sekali.

“Dia memberi uang atau tidak?” Tanya Candra Wulan yang masih sangat mendongkol sekali.  

“Tentu saja.” Jawab pemilik rumah makan itu. “Disini adalah sebuah ibu

kota, siapakah yang berani makan dengan tak membayar??”

Candra Wulan merogoh saku bajunya, ia lalu mengeluarkan sebuah uang perak yang terus diletakkan diatas meja.

“Kalau dia punya uang, maka akupun punya.” Katanya dengan keras. “Apakah uangku ini palsu? Hem... kau tahulah diri sedikit saja, lekas kau sajikan kepada kami barang beberapa makanan saja.”

Pemilik rumah makan itu kalah desak.

“Belum pernah aku menemukan wanita yang sedemikian galakknya...” Serunya menggerutu. Lalu dengan terpaksa ia memotong dagingnya, untuk melayani kedua orang tamunya ini.

Bersama dengan itu, dari luar datanglah seorang yang memiliki tubuh besar dan kekar.

“Pemilik rumah makan, bagus sekali perbuatanmu itu.” Tegurnya, suaranya keras, sikapnya garang, dan begitu sudah dekat ia lalu menggaplok pemilik rumah makan itu hingga orang itu merasa sakit dan kepalanya menjadi pusing dengan seketika.

“Mengapa kau tak mendengar pesan tuan besarmu?? Sungguh besar keberanianmu ini.”

“Hamba tak berani.” Kata pemilik rumah makan itu, dengan memegangi pipinya :

“Kedua orang gadis ini memaksa untuk membeli makanan, terpaksalah aku membagi sedikit kepadanya. Tentang pesanan tuan besar, sedikitpun aku tak berani menguranginya...”

“Hem.” Bersuara pula orang itu, sambil melototkan matanya kepada kedua orang gadis itu.

“Setelah mahgrib kedua belas meja dan barang-barang masakan harus telah tersedia semuanya. Kau dengar atau tidak??”

“Hamba mendengar.” Jawab pemilik rumah makan itu.

Setelah berkata demikian maka orang kasar itu lain menyambar segumpal daging yang telah matang, kemudian memasukkan kedalam mulutnya. Ia terus menggerogoti sambil berjalan keluar. Tepat ketika berada diambang pintu ia lalu berpaling dan berkata :

“Asal daging ini kurang sedikit saja, kau harus tahu sendiri. Mungkin kulitmu akan dibeset untuk dipakai mengganti kekurangannya. Kau dengar ini??”

“Ya... ya...” Jawab pemilik rumah makan ini dengan mengangguk- anggukkan kepalanya. Ia lalu mengaturkan orang itu pergi dan menambahkan perkataannya :

“Hamba mendengar ”