Tunggul Bintoro Jilid 12

 
JILID XII

WAJAH PANGERAN PAMEGATSARI menjadi merah.  

“Sebenarnya aku datang mencari Sucitro.” Katanya dengan agak likat.

“Kukira kau ini adalah salah seorang dari anak buah atau anggota Sucitro, kemudian dengan sembrono aku terus menyerangnya. Hampir saja aku membuat kegagalan dalam sebuah urusan besar.... untung sekali Mintaraga hebat sekali, hingga dengan demikian kecelakaan dapat dicegah. Mengenai hal ini aku sangat menyesal sekali, harap kalian memberi maaf kepadaku ”

Setelah berkata ia lalu menganggukkan badannya menghadap kearah Mintaraga sebagai tanda pernyataan maaf dan minta maaf.

Sikap pangeran Pamegatsari membuat hati Mintaraga menjadi ragu- ragu. Kelakuan pemuda ini bagaikan kawan akan tetapi bukan kawan. Musuh bukannya musuh. Kalau menurut hitungan pangeran ini adalah seorang musuh besar keluarganya, bahkan keluarga mereka bertiga, akan tetapi kata-katanya kali ini merupakan perkataan seorang sahabat. Karena itulah ia lalu hanya berdiam diri saja, namun pikirannya terus bekerja dengan keras.

“Baiklah.” Kata Kembang Arum kemudian. “Kau telah mengatakan kalau kau tak hendak memusuhi kami, sekarang kami minta sebuah bukti untuk perkataanmu itu, misalnya ”

“Nona Kembang Arum, kau benar!” Seru pangeran Pamegatsari dengan tanpa menanti Kembang Arum menyelesaikan perkataannya tadi. Dan ia terus memotong :

“Aku berjanji kepada kalian, kalau aku hanya membantumu untuk merebut kembali Tunggul Tirto Ayu, setelah mendapatkan kembali Tunggul lambang kerajaan Demak Bintoro itu dari tangan Sucitro maka aku akan kembali ke Jipang Panolan. Aku berjanji tak nanti menunggu sampai berpaling pula pada kalian, setujukah kau?”

Ia lalu tertawa.

Pemuda itu adalah seorang putra pembesar, perkataannya demikian terus terang akan tetapi tetap saja ia tak dapat melenyapkan perasaan keragu-raguannya. Ia dapat melihat itu. Maka lagi-lagi pemuda pangeran itu tertawa.

“Teranglah sudah kalau kalian bertiga ini tak mempercayai perkataanku.” Katanya kemudian. “Kalau kau ingin mengetahui dengan sejujurnya, kedatanganku kemari ini memang untuk mencari Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang kejayaan dari kerajaan Demak Bintoro itu ”

“Habis mengapa kau tak merampasnya sendiri?” Tanya Kembang Arum. “Dan mengapa kau menyebutnya berulang-ulang bahwa kau hendak membantu kami?”

Pangeran dari Jipang Panolan ini terus kelihatan menghela napas panjang.

“Memang itu adalah niatku untuk mencari Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro.” Serunya dengan mengaku  

terus terang. “Akan tetapi dengan begitupun adalah menjadi minatku untuk

membereskan permusuhan antara empat buah keluarga.

Kalian tahu pernah aku bersumpah berat, bersumpah untuk melakukan sesuatu bagi keluarga Tumenggung Malangyudo, Tumenggung Sorohnyowo dan Tumenggung Kertoyudo. Sekarang aku mengetahui kalau kalian telah kehilangan Tunggul Tirto Ayu, inilah sebuah kesempatan yang baik yang telah dikaruniakan oleh Yang Maha Agung kepadaku untuk menghaturkan bantuan. Ki sanak sekalian, marilah kita bersama-sama dan biarkan aku memberikan sedikit tenagaku kepada kalian, hingga dengan demikian aku dapat menebus dosa dari leluhurku kepada leluhurmu. Bagaimanakah pendapatmu?”

Mendengar pengakuan dari pangeran Pamegatsari mau tak mau hati ketiga orang muda ini menjadi tergerak. Yah tergerak walaupun hanya sedikit.

“Baiklah pangeran.” Seru Kembang Arum yang terus memberikan persetujuannya. “Baiklah mari kita lihat.”

Akan tetapi Candra Wulan terus menentangnya.

“Walaupun kau bermaksud dengan sungguh-sungguh untuk membantu kami bertiga akan tetapi kau tetaplah bukannya seorang manusia baik-baik yang dapat segera kami percaya.”

Candra Wulan teringat terus akan kejadian di pulau Selarong, gadis ini benar-benar tak dapat melenyapkan perasaan penasarannya itu, maka itu tegurannya kali ini telah membuat kuping Pangeran Pamegatsari menjadi merah. Bahkan karena perkataan inilah maka pangeran muda ini tak dapat berkata-kata.

Mintaraga telah segera berpikir.

‘Apa boleh buat. Dimana sudah ternyata. Sucitro entah berada dimana, baiklah kuterima saja saran orang ini, untuk sekalian melihat bagaimana nanti akhirnya ’

Setelah mendapat pikiran yang demikian ia lalu segera membuka perkataannya :

“Pangeran Pamegatsari kau telah sudi membantu kami, untuk bantuanmu itu aku mengucapkan terima kasih sekali. Nah sekarang katakanlah dimana adanya ki Sucitro dan murid-muridnya berada? Silahkan kau pimpin kami untuk menemui tokoh yang sakti itu.”

Pangeran Pamegarsari menjadi girang sekali setelah mendengar perkataan Mintaraga ini.

“Kita berempat, dan merekapun berempat. Hingga dengan demikian kita akan dapat melayaninya satu-persatu.” Katanya. “Pasti dan tak boleh tidak akan memperoleh kemenangan. Ki Mintaraga pasti Tunggul Tirto Ayu yang hilang itu akan kembali lagi ketanganmu, dan ini aku berani memastikannya.”  

Setelah berkata demikian ia lalu mengulurkan tangannya.

“Bagus pangeran.” Jawab Mintaraga. “Kali ini kami benar-benar mengandalkan bantuanmu.” Dan tanpa ragu-ragu lagi Mintaraga lalu mengangsurkan tangannya untuk menjabat tangan pangeran Pamegatsari hingga dengan demikian maka kedua pemuda ini terus berjabat tangan dengan erat-erat.

“Ki sanak silahkan kau turut aku.” Kata Pangeran Pamegatsari dengan cepat. Dan pangeran muda ini segera memutar tubuh, untuk berjalan dimuka membimbing mereka yang berada dibelakangnya.

Pangeran Pamegatsari terus mengajak ketiga orang muda-mudi ini pergi keluar desa.

Kembang Arum menjadi heran ketika melihat tujuan itu.

“Pangeran.” Tanyanya. “Sucitro dan murid-muridnya tadi berdiam didalam warung tuak ini dan mereka sedang berpesta pora untuk kemenangannya dalam perebutan Tunggul Tirto Ayu itu. dan rasanya aku belum lama melihatnya sendiri, sekarang kau hendak membawa kami kemanakah?”

“Mereka telah meninggalkan warung tuak ini.” Jawab pangeran Pamegatsari dengan sabar. “Mereka sekarang telah berada didalam rimba sebelah sana. Nina kuminta supaya kau mempercayai segala perkataanku. Pangeran Pamegatsari tak biasa mengatakan putih menjadi hitam dan hitam dikatakan putih.”

Kembang Arum tetap bersangsi, karena itu ia tetap menjadi curiga, maka ia melirik kearah Mintaraga dan terus mengerdipkan mata.

Pemuda itu berlaku tenang-tenang saja. Ketika ia mengintai kedalam warung tuak itu, memang ia tak mendapatkan Sucitro dan para muridnya. Disana hanya terdapat tukang penjualnya yang sedang menghitung keuntungannya.

Ketika melihat kawannya itu hanya berdiam diri saja, Kembang Arum lalu ikut berdiam diri.

Mereka berempat berjalan terus hingga dihadapan mereka kelihatan sebuah rimba yang lebat. Ketika itu rembulan dan bintang telah guram, maka rimba itu kelihatan gelap, dan keadaan sunyi sekali. Tentu saja didalamnya tak terdapat sinar api, tak ada suara orang.....

“Adakah ini tempatnya?” Tanya Kembang Arum kemudian. Perkataan gadis ini benar merobek keheningan malam yang tenang.

“Jangan bersuara....” Seru Pangeran Pamegatsari dengan pelan sekali. “Disaat begini mungkin Sucitro tengah berlatih dengan ilmu silatnya atau mungkin lagi menikmati mustikanya, kalau itu tak semua maka orang tua ini mungkin sedang berembang menyanyikan lagu-lagu gending untuk hyang badra.....  

Setelah berkata demikian maka pangeran muda ini lalu melangkah maju

dengan berindap-indap, melihat ini Kembang Arum menjadi kagum, tindakan pemuda ini tak mengeluarkan suara akan tetapi cepat sekali.

‘Jika ia seorang yang berhati baik, maka dialah seorang rimba persilatan yang jarang tandingannya.’ Pikir Kembang Arum. ‘Teranglah kalau ilmu meringankan tubuhnya berada diatas kemampuanku sendiri. ’

Berjalan secara demikian tak ada halangannya bagi Mintaraga dan Kembang Arum, hanya malang untuk Candra Wulan, yang memaksa untuk menyusul hingga ia bernapas dengan tersenggal-senggal, karena ia harus mengempos semangat yang berlebih-lebihan. Ia memang telah mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi akan tetapi kalau dibandingkan dengan mereka masih kalah jauh. Hingga dengan demikian mau tak mau tindakan Candra Wulan ini telah menerbitkan suara.

Untuk orang biasa maka suara tindakan ini tak akan ada artinya, sebab suara ini sangat perlahan sekali. Namun bagi Sucitro si tokoh aneh, suara tindakan ini akan banyak sekali pengaruhnya. Apa lagi ditempat yang demikian sunyi dan mati. Pangeran Pamegatsari mendengar suara ini hingga dengan demikian pangeran muda ini lalu mengerutkan keningnya.

Pamegatsari lalu memperlambat langkahnya dan menantikan kedatangan gadis itu. Setelah berada dekat maka tanpa mengeluarkan perkataan apa-apa, ia lalu memegang tangan Candra Wulan untuk membantu.

Candra Wulan menjadi terkejut, ia malu dan mendongkol sekali. Hampir saja ia membuka mulut untuk menegur, untunglah gadis ini segera teringat kalau didalam saat yang demikian ini mereka sedang menghadapi musuh yang hebat, dengan terpaksa ia lalu membungkam mulutnya dan membiarkan pangeran muda yang sangat dibencinya ini membantu gerakannya.

Rimba itu benar-benar lebat dan pohon-pohonanpun sangat besar. Hanya ditempat-tempat tertentu saja sinar bulan dapat menerobos masuk kedalamnya, maka itu ada kalanya orang yang berada didepan tampak seperti bintik-bintik dari menjangan belang burik.....

Diantara empat orang ini, Mintaragalah yang mempunyai pandangan mata paling tajam. Segera ia melihat kalau disebelah depan mereka ada empat cahaya terang, seperti api yang kelap kelip mencorong, yang segera disusul dengan suara pekikan panjang, suara itu mirip dengan suara burung hantu, lalu empat cahaya itu bergerak mendatangi kearah mereka.

“Awas ada orang.” Seru Mintaraga memperingatkan kawan-kawannya  

itu.

Belum lama Mintaraga menutup mulutnya keempat buah sinar itu telah

sampai dihadapan mereka. Hingga dengan demikian sekarang dapat terlihat dengan tegas. Itu bukannya sinar mata manusia hanya sorot mata sepasang burung garuda yang besar dan luar biasa, paruhnya bengkong tajam

melengkung, matanya besar bagaikan obor sedangkan sayapnya dibuka lebar-lebar hingga panjangnya ada kalau hanya lima atau enam depa.

Karena garuda itu terbang dengan kencang maka daun-daun pohon kesikatnya menjadi bergerak dan banyak yang rontok.

“Awas.” Teriak Mintaraga. Karena ia segera diserang oleh kedua burung garuda ini, yang masing-masing terus mengarah kemata kiri dan kanan. Ketika ia mengelak dengan mendadak, ia terus menyambar kearah Candra Wulan yang berada dibelakangnya. Hingga bersama-sama dengan gadis itu ia jatuh bergulingan. Hanya dengan cara demikianlah ia melindungi gadis itu.  

Kembang Arum dan Pangeran Pamegatsaripun turut menjatuhkan diri sebab dengan kesebatan yang luar biasa, kedua burung itu berbalik kembali, hanya anehnya mereka itu hanya lewat saja, setelah itu ia terus menerjang Mintaraga lagi. Teranglah kalau yang dimusuhi hanya Mintaraga seorang.

Mintaraga tak berani melompat bangun, ia masih terus memeluk Candra Wulan, dan terus bergulingan diatas tanah. Sampai mereka diserang lagi. Sungguh hebat sekali sambaran burung garuda itu, akan tetapi hebat juga kelihatannya. Begitu ia dan Candra Wulan lolos, dibelakangnya ia mendengar suara nyaring, ialah dari sambaran kedua burung kepada tanah dimana barusan ia menggulingkan diri, empat kali binatang itu terus mencengkeram tanah, dalam dan keras.

Kedua burung itu tak dapat berdiam diatas udara kosong, keduanyapun tak mencelok diatas batang pohon, maka itu, setelah mengangkat tubuh, mereka terbang berputaran sambil memperdengarkan suara nyaring, suara dari penasaran.....

Inilah bangsa burung besar yang biasa hidup didaerah pegunungan atau dihutan-hutan yang lebat.

Besar tubuhnya dan besar pula tenaganya. Terbangnyapun sangat pesat sekali. Dan sepasang matanyapun sangat tajam sekali, awas memandang biarpun didalam malam yang gelap gulita. Makanan mereka adalah semut- semut dan kutu, akan tetapi kalau telah lapar tak segan-segan ia menyerang harimau yang ganas untuk dimangsa. Bahkan orangpun akan dilawannya pula. Selain itu burung garuda mempunyai kebiasaan yang sangat aneh, yaitu kalau dia menyerang sampai dua kali berturut-turut tak berhasil maka ia akan menjadi marah sekali.

Kembang Arum menjadi demikian herannya ketika ia menginsyafi kalau burung itu hanya memusuhi Mintaraga seorang, hingga dengan demikian anak muda itu tak sempat untuk bangun berdiri. Karena ingin menolong kekasihnya maka Kembang Arum lalu melepaskan empat buah golok terbangnya untuk menyerang kedua burung garuda yang sedang murka itu. Gadis itu benar-benar dibuat heran setelah melihat kalau kedua burung itu dapat menyamplok jatuh keempat buah golok terbangnya itu dengan

pukulan sayapnya yang kuat itu.

“Kakang Mintaraga.” Serunya. “Baiknya kau bunuh saja mereka itu, supaya kedua binatang laknat itu jangan lebih banyak bertingkah.”

Gadis itu benar-benar menjadi tak senang.

“Baiklah.” Jawab Mintaraga. Ia lalu melepaskan Candra Wulan dengan sebuah gerakan melentik yang amat baik dan manis sekali dipandang mata. Bersama dengan itu pedangnyapun lalu dihunus. Tepat ketika ia disambar lalu membarengi dengan sebuah tabasan kepada sepasang kaki burung yang berada didepan.

Burung itu sangat hebat, dia terus terbang, terbang tinggi-tinggi sedangkan kawannya terus menggantikan menyambar anak muda itu. Akan tetapi kali ini Mintaraga telah siap sedia. Ia tidak lagi memapaki dengan pedangnya, ia membiarkan matanya diarah, hanya begitu paruh burung itu hampir tiba, tangan kirinya menyambar dengan cepat sekali, menyambar sepasang kakinya, sambil menyambar iapun menyambar ketanah, maka dengan sebuah suara yang keras, burung itu terbanting dan tak bangun kembali.

Burung yang satunya ketika melihat kawannya roboh, dia menjadi sangat marah, sambil memperdengarkan suaranya yang nyaring, dia menyambar pula.

“Binatang bersayap kurang ajar.” Bentak Mintaraga sambil menyerang dengan kepalan kirinya. Ia tak menantikan sampai sambaran tiba, sebab ia lalu memakai pukulan Tangan Memukul Udara salah sebuah tipuan pukulan dari perguruan Lawu yang sangat terkenal. Sebelum pukulannya kena anginnya telah menyambar. Terkena pukulan ini, serangan burung garuda itu dapat dibatalkan, tubuhnya seperti tertolak mundur.

Melihat hasilnya ini maka Mintaraga lalu menyimpan pedangnya, maka dipakainya tangan kanannya untuk memukul burung itu dengan ilmu yang sama. Maka burung itu tak dapat menerjang, jangan lagi menerjang mendekat saja sangat sukar sekali. Malahan bulu burung itu banyak yang telah rontok kena pukulan Mintaraga.

Sewaktu burung itu kematian daya serang, tiba-tiba saja terdengarlah sebuah pujian yang dalam :

“Sungguh hebat. Sungguh tak kecewa kau menjadi seorang pewaris dari padepokan Lawu yang telah kondang kaonang-onang dijagat raya ini.”

Seruan itu disusul dengan sebuah tawa yang nyaring hingga seumpama kata dapat menggetarkan seluruh isi rimba itu.

Semua orang menjadi terkejut, terlebih-lebih Mintaraga, akan tetapi sebelum sempat ia berpaling dari arah mana suara itu datang, ia telah menggerahkan pula tangannya, untuk menghajar penghabisan kalinya  

supaya burung yang galak itu menjadi roboh. Mintaraga menganggap kalau

paling tepat menyingkirkan dahulu lawan dari udara yang juga hebat itu. “Jangan   kau   lukai   burungku.”   Terdengarlah   suara   tadi,   bersama

terdengarnya suara itu Mintaraga merasakan kalau ada sebuah tenaga yang menangkis pukulannya kepada burung garuda yang galak itu. Hingga dengan demikian gagallah maksudnya melukai burung garuda ini. Dan burung yang baru saja lepas dari bahaya maut itu terus terbang tinggi-tinggi dan kemudian hinggap diatas pundak orang yang tak dikenal itu.

Segera juga Mintaraga mendapatkan ia bukannya berhadapan dengan orang yang tak dikenal itu saja, sebab dalam sekejap saja, telah muncul lagi sembilan orang lainnya. Kesembilan orang itu mempunyai tubuh yang tak rata, ada yang tinggi akan tetapi ada pula yang kate. Malahan ada seorang yang mempunyai alis gombyok dan jenggotnya panjang. Yang matanya tajam, ia kenal sebab orang itu bukan lain adalah ki Bagaspati orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan. Segera saja ia membungkukkan badannya memberi hormat. 

“Bagaspati, sudah lama kita tak bertemu.” Katanya dengan nada yang sumbang.

Bagaspati membalas penghormatan orang itu, lalu katanya dengan tertawa :

“Ki Patih.” Katanya sambil berpaling. “Inilah ki Mintaraga yang namanya telah menggetarkan dunia kependekaran dan namanya telah sering kusebut-sebut dihadapan paduka.”

Mendengar perkataan Bagaspati yang menyebut orang itu sebagai ‘ki patih’ maka hati Mintaraga menjadi bergetar, hingga tanpa sesadarnya ia terus memandang kearah ki Bagaspati yang baru saja berkata itu.

‘Patih Udara.’ Katanya didalam hati. Mintaraga tahu kalau orang inilah yang tadinya menangkis serangannya yang terakhir kepada burung galak tadi. Hanya saja wajah orang itu tak sempat dilihatnya. Sekalipun sekarang ia hanya mengetahui kalau orang itu mempunyai tubuh yang kurus, orang yang dipanggil dengan sebutan ki patih ini sedang berjongkok untuk mengobati burungnya yang terluka. Sedangkan burung yang satunya tetap enak-enak nangkring diatas pundak ki patih. Walaupun ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh ki Bagaspati orang pertama dari jago- jago Jipang Pinolan akan tetapi ki patih tetap tekun mengurusi burungnya.

Sebenarnya burung itu tak mati, melainkan hanya pingsan saja. Maka setelah diurut dan diolah dengan sedemikian rupa oleh majikannya maka burung itu dapat sadar lagi, bahkan terus dapat berdiri. Setelah melihat orang yang menolongnya ia lalu memperdengarkan suaranya yang nyaring.

Orang itu mengusap-usap sayap burung itu sambil berkata, seolah-olah burung itu adalah manusia biasa :  

“Kau kini bertemu dengan Mintaraga, dan serangan-serangan yang kau

lancarkan tadi sungguh tak tepat... maka telah biasalah kalau kau terluka olehnya..... sekarang pergilah kau dan sebentar lagi aku akan membalaskan perasaan sakit hatimu itu.”

Halus suara orang itu bagaikan suara seorang ibu yang sedang menghibur anaknya. Burung itu mengerti apa yang dikatakan oleh orang itu, dan segera ia mengenjot tubuhnya, dan terus terbang, lalu diatas ia memperdengarkan suaranya untuk mengajak kawannya untuk terbang bersama-sama.

Orang itu memandang kearah burung itu hingga kedua binatang peliharaannya ini hilang dari pandangan mata, setelah itu barulah ia bangkit dengan malas dan memutar tubuhnya.

“Kau... kaukah Mintaraga?” Katanya. “Huahaaa... huahaaa... huahaaa... sudah sekian lama aku melihatmu. Ilmu silatmu memukul udara kosong sungguh tak mengecewakan. Kau benar-benar telah mewarisi kepandaian Pendeta Argo Bayu, pantas saja orang tua yang hampir mampus itu tak mau turun gunung, dia hanya mengutus kau berkelana didalam dunia kependekaran, bukankah kau disuruh malang melintang didunia kependekaran ini oleh gurumu anak muda?” Sambil berkata demikian orang itu menatap Mintaraga dengan tajam, akan tetapi didalam mulutnya tersungginglah sebuah senyum.

Mintaraga mendapatkan orang itu berumur kurang lebih empat puluhan tahun, mukanya panjang tanpa kumis ataupun jenggot, tubuhnya jangkung kurus, wajahnya seperti orang berpenyakitan. Ia menjadi heran karena orang itu tak memperlihatkan tanda-tanda yang luar biasa.

‘Benarkah orang ini yang merjadi jago Jipang Panolan, yang kepandaiannya hanya berada dibawah kepandaian Ario Penangsang?’ Mintaraga bertanya kepada dirinya sendiri. ‘Benarkah dia ini patih Udara yang namanya telah terkenal dan dapat merontokan keberanian orang-orang dunia kependekaran??’

Meskipun ia berpikir demikian akan tetapi pemuda itu terus menganggukkan kepalanya dan memberi hormat kepada orang itu, dan kemudian terdengarlah perkataannya :

“Ki sanak, apakah kau ini yang bernama Udara dan menjadi patih luar dari Jipang Panolan?” Tanyanya. Dan memang ia sengaja menyebut sebagai patih luar. Hal ini menunjukkan kalau Mintaraga tetap memandang enteng kepada orang itu, hal ini untuk membalas kesombongan orang itu sendiri.

Memang orang itu adalah patih Udara, patih luar dari Jipang Panolan. Dia adalah seorang tokoh aneh yang telah belasan tahun malang melintang didaerah utara dan selatan. Namanya seperti tak ada orang yang tak mengetahuinya. Akan tetapi gerak-gerik tokoh aneh ini sungguh sangat rahasia sekali, seperti tak punya bayangan. Andaikan patih Udara ini adalah  

seekor naga kelihatan kepalanya akan tetapi tak pernah kelihatan buntutnya.

Hanya beberapa orang dunia kependekaran saja yang beruntung dapat bertemu muka dengannya.

Meskipun ia telah tahu kalau tak dipandang sebelah mata oleh Mintaraga, patih Udara tak menjadi marah ataupun mendongkol, sedikitpun wajahnya tak berubah.

“Benar.” Jawabnya dengan tenang. “Aku adalah Udara, dan kebetulan sekali menjadi patih luar dari kerajaan Jipang Panolan. Kakek gurumu si pendeta Argo Bayu telah lama mengenalku. Menurut perkataan mereka ini, kau telah mewarisi kepandaian eyang gurumu itu. Disini tak ada tempat sunyi untuk dapat kita pakai sebagai pengukur kepandaian kita, baiknya kau turut saja denganku ”

Setelah berkata demikian dengan tanpa berkata ataupun melirik lagi kepada rombongannya ia lalu bertindak keluar dari rimba belantara itu.

Mintaraga tak menjawab, ia hanya memperdengarkan suaranya melalui hidung, “hem.” Ketika ia berpaling Candra Wulan dan Kembang Arum, kedua orang gadis ini tengah membuka matanya lebar-lebar untuk memandang kearah patih Udara yang namanya telah menggetarkan dunia ini. Wajah mereka itu menunjukkan kalau hatinya menjadi heran. Dan ketika ia berpaling kepada pangeran Pamegatsari ia mendapatkan pangeran Jipang Panolan ini bertindak dengan tertawa perlahan, huahaaa... huahaaa...

huahaaa...

“Orang Jipang itu sangat sombong.” Seru Candra Wulan dengan mendongkol. “Kakang Mintaraga pergilah dan beri hajaran kepadanya itu.”

“Masih ada seorang lagi yaitu Pamegatsari.” Seru Kembang Arum dengan sengit. “Seluruh mulutnya penuh dengan kata-kata persahabatan akan tetapi perbuatannya sangat rendah sekali. Bukankah dia dengan sengaja memancing kita supaya mendatangi tempat ini?”

Kembang Arum memang menduga dengan tepat sekali. Semenjak Patih Udara berangkat keselatan ini, pangeran Pamegatsari selalu mendampinginya. Memang dialah yang memancing Mintaraga bertiga, dengan demikian ia tengah menjalankan rencananya, rencana ini yang mengatur adalah dirinya sendiri dan dibantu dengan patih luar dari kerajaan Jipang Panolan.

Mintaraga dan Candra Wulan menjadi sadar setelah mendengar terkaan Kembang Arum itu. Maka sekarang insyaflah mereka bahwa mereka kena jebakan. Sudah tentu sekali mereka terkejut dan mendongkol sekali.

“Mintaraga, mari keluar sini.” Demikianlah suara patih Udara yang telah berada diluar rimba lebat itu. “Mari aku ingin bicara denganmu.”

Kembang Arum lalu membisiki kekasihnya :

“Kakang Mintaraga kulihat suasana tak baik, marilah kita pergi dari tempat busuk ini. ”  

Mintaraga berpikir lain. Ia telah mendengar suara patih Udara itu, suara

yang diucapkan tak keras akan tetapi nadanya tinggi, suatu tanda bahwa orang Jipang ini telah mempunyai ilmu tenaga dalam yang tinggi sekali. Bahkan dapat dikatakan sempurna. Kemudian pemuda inipun lalu menjawab tantangan itu dengan sama perlahannya :

“Kupikir lebih baik aku melawanmu, dari pada aku harus mencarimu dilain kesempatan, bukankah lebih baik kita menentukan saja disini siapa yang benar-benar jantan dan siapa pula yang betina.” Ia teringat akan perkataan Arya Panuju tentang jago Jipang ini. Dalam seratus jurus melawan patih Udara itu, Arya Panuju hanya kalah sejurus saja. Kalau dia dibandingin dengan Arya Panuju, ia memang setingkat, karena itulah ia percaya, bila dipadu dengan Patih Udara ini, ia tak lebih rendah terlalu banyak.....

Hanya dengan beberapa lompatan saja Mintaraga telah berada diluar rimba belantara itu. Dia lalu melihat sebuah tempat yang terbuka, sebuah tanah datar, yang tepat diperuntukan lapangan pertempuran. Disana tampaklah patih Udara telah menantikan dengan sebuah senyum yang tawar.

Kembang Arum dan Candra Wulan khawatir, maka mereka segera menyusul keluar, keduanya lalu mendampingi anak muda itu.

Patih Udara memandang, kemudian ia lalu tertawa dan berkata dengan nyaring :

Mintaraga, kalau seorang pemuda didampingi oleh seorang gadis, dia sudah bagus sekali peruntungannya, akan tetapi kalau sampai dua! Huahaaa.... Huahaaa.... Huahaaa.... peruntungan bagus darimu itu sungguh membuatku menjadi iri sekali.... gadis-gadismu ini siapakah yang menjadi putri dari Pandu Pergolo?” ia terus bertanya kepada kedua orang gadis itu.

Kembang Arum terus saja menjawab, dan setelah menjawab ia bertindak maju.

“Ki patih Udara, pernah aku mendengar namamu yang bagus.” katanya sambil tertawa. “Kiranya namamu itu adalah sebuah nama yang kosong belaka. Ternyata kau ini bukan seorang yang berarti didalam dunia kependekaran, karena itu kau membuatku menjadi sangat kecewa sekali.”

Walaupun ia telah diejek, patih Udara masih tetap tertawa.

“Kembang Arum, aku ingin bertanya apakah yang menyebabkan kau mengeluarkan perkataan yang seperti itu?” Tanyanya dengan tersenyum.

Belum lagi Kembang Arum menjawab, atau orang yang berada disampingnya telah melompat keluar.

“Patih Udara kau dengarlah aku.” Kata orang itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Candra Wulan.

Patih Udara tetap tertawa.

“Candra Wulan silahkan... silahkan...” Katanya dengan penuh kesabaran.  

Gadis ini menjadi tercengang.

“Eh... mengapa kau mengetahui namaku?” Tanyanya. “Bukankah aku belum pernah mengatakan kepadamu?”

“Gadis ini bernama Kembang Arum karena ia adalah anak dari Pandu Pergolo dan kau tentunya Candra Wulan anak dari ki Surokoco.” Jawab orang Jipang itu dengan tertawa. “Ayahmu si Tangan Sakti dari Juana itupun menjadi salah seorang sahabatku dan aku kenal dengannya ”

“Huhh...” Seru Candra Wulan, saking ia benci dan mendongkol kepada orang Jipang itu. “Patih Udara kau sangat tak tahu malu. Kau rendah sekali. Hem... jika kau hendak mencari kami, kau dapat menemukan kami disembarang tempat dan juga disembarang waktu akan tetapi mengapa kau menyuruh seorang bajingan yang bermuka tebal untuk memancing kami datang kemari! Kau tahu kalau bajingan tengik itu telah mengeluarkan segala macam ocehannya, seperti yang dikatakan kalau dia mengaku sahabat, dia mengatakan kalau akan membantu kami, dia mengatakan pula kalau akan menebus dosa-dosa yang dibuat oleh nenek moyangnya kepada keluarga kami.”

Baru sekarang ia mendengar perkataan tajam dari nona ini, wajah patih luar dari Jipang Panolan ini berubah merah. Hingga ia menjadi terdiam. Bukankah ia seorang yang berkepala besar dan sombong sekali, serta sangat dihormati di Jipang Panolan? Bahkan didalam dunia kependekaran ia mengagungkan dirinya yang dianggap sebagai sesepuh dari kalangan muda, orang yang lebih tua tak mau menunjukkan kemarahannya dihadapan orang-orang muda. Akan tetapi patih luar ini tak berdiam diri terlalu lama.

“Baik.” Katanya kemudian. “Nini silahkan kalian mundur terlebih dahulu.”

“Tidak.” Seru Candra Wulan sambil memasang dirinya. “Kau suruhlah terlebih dahulu Pamegatsari itu maju untuk melayani kridaku ini.”

Baru saja gadis ini menutup perkataannya, tiba-tiba saja ada sebuah bayangan berkelebat, dan tahu-tahu disamping patih Udara telah berdiri seseorang, orang yang berdiri disisi patih Udara ini adalah Pangeran Pamegatsari. Dia lalu menghadapi Candra Wulan dengan tertawa-tawa.

“Candra Wulan janganlah kau selalu mengumbar mulut yang tak sedap didengar itu, maukah kau?” Tanyanya.

Sebagai seorang gadis yang tak mengenal takut, dan berwatak angin- anginan, Candra Wulan tak menghiraukan permintaan orang itu. Bahkan gadis ini bertambah mendongkul.

“Manusia tak tahu malu.” Katanya kemudian. “Bukankah ada sebuah ujar-ujar kuno yang mengatakan seorang laki-laki sejati tak akan melakukan sebuah perbuatan busuk? Mengapa kau justru berlaku hina? Binatang kecewalah kau mempunyai kepandaian tinggi, perbuatanmu rendah.”  

Pangeran Pamegatsari sabar luar biasa. Biarpun gadis ini telah mencaci

makinya habis-habisan akan tetapi ia hanya tersenyum dan tertawa-tawa saja.  

“Candra Wulan, sudah habiskah cacianmu itu kepadaku? Atau kau masih akan menambah lagi dengan perkataan-perkatan yang tak senonoh lagi?” Tanyanya sambil tertawa. “Hendak kutanyakan, apa yang pernah kuucapkan, yang mana yang tak benar?”

Candra Wulan mengawasi dengan bengis.

“Yang lain-lainnya tak pernah atau tak usah kukatakan, akan tetapi satu.” Jawabnya. “Kau mengatakan kalau kau akan mengajak kami mencari Sucitro, kau mengatakan kalau kau akan membantu kami, sekarang manakah buktinya?? Mana Sucitro????”

Pangeran Pamegatsari terus tertawa dengan bergelak-gelak.

“Bukankah Sucitro ada disini?” Katanya sambil terus berhenti tertawanya. “Kau lihat.” Serunya sambil menunjukkan tangannya.

Candra Wulan, Mintaraga dan juga Kembang Arum telah yakin kalau yang dikatakan oleh Pangeran Pamegatsari itu tentu sebuah kebohongan lagi, akan tetapi ketiganya terus menoleh kearah yang ditunjuk itu. Kesudahannya mereka menjadi tercengang.....

Entah kapan datangnya disana berdiri berjejer-jejer empat orang, ialah Sucitro dan ketiga orang muridnya. Mereka itu mengambil tempat disebelah barat, dengan demikian mereka itu menjadi berhadapan dengan Bagaspati dan kawan-kawannya.

Pangeran Pamegatsari melihat orang-orang itu menjadi terdiam, ia lalu tertawa bergelak-gelak.

“Paman Sucitro mau apakah kau datang kemari?” Kemudian pangeran muda dari Jipang Panolan ini bertanya kepada jago tua yang datang dari Selatan itu.

Sucitro menjawab pertanyaan itu, akan tetapi dari nada perkataannya jelas sekali kalau ia sangat mendongkol dan penasaran. Kemudian katanya :

“Ada orang yang hendak mencariku untuk merebut kembali Tunggul Tirto Ayu, jika aku tak menghajarnya sampai tulang-tulangnya patah maka jangan panggil aku sebagai Sucitro si tokoh aneh dari Selatan.”

“Siapakah yang menghendaki Tunggul Tirto Ayumu itu?” Kembali Pangeran Pamegatsari bertanya.

“Mereka itu adalah seorang bocah busuk yang bernama Mintaraga.” Jawab jago tua itu dengan keras-keras.

“Habis kau akan berbuat apakah?” Pangeran Pamegatsari bertanya pula. “Apakah kau akan menekuk ekormu dan akan melompat kabur?”

Sucitro menjadi bertambah gusar. “Tunggul Tirto Ayu itu sekarang berada disini.” Katanya dengan

nyaring. “Aku akan melihatnya, siapakah yang mempunyai keberanian dan kepandaian untuk merampasnya kembali.”

Sucitro lalu merogohkan tangannya kedalam saku dan mengeluarkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kejayaan dari kerajaan Demak Bintoro dan meletakkan dihadapannya.

Pangeran Pamegatsari tak menjawab perkataan orang tua itu, ia hanya berpaling.

“Mintaraga, Kembang Arum dan kau Candra Wulan.” Katanya. “Kalian telah mendengar perkataan ki Sucitro ini, nah siapakah yang menipumu? Siapakah yang memancing kau datang kemari?”

Pertanyaan pangeran Pamegatsari ini benar-benar membuat ketiga orang muda-mudi ini menjadi bungkam. Yah bungkam seribu bahasa. Segera timbul kesangsian dihati mereka. Mereka benar-benar tak tahu. Pangeran muda ini berdiri dipihak Patih Udara atau berdiri dipihaknya. Bukankah sekarang ia berdiri berdampingan dengan patih luar dari kerajaan Jipang? Benarkah dia akan turun tangan untuk membantu mengepung Sucitro? mengapa agaknya ia masih menghormati kepada ki Sucitro?

“Pangeran, bukankah kau berdiri dipihak kami?” Tanya Mintaraga setelah berpikir sejenak.

Pangeran Pamegatsari tak menjawab pertanyaan ini, ia berpaling kearah Sucitro.

“Paman Sucitro, marilah sekarang kita mulai bertempur.” pangeran muda itu segera menantang. “Dipihakmu ada empat orang dan juga dengan pihak kami, bukankah pertarungan kali ini akan berjalan dengan berimbang?”

“Apakah perkataanmu itu hanyalah kentut busuk belaka?” Tanya Sucitro sambil memperdengarkan ejekannya. “Sekarang masih belum terang, untuk apakah kita harus bertempur?”

Mendengar ini tiba-tiba saja Pangeran Pamegatsari terus tertawa dengan bergelak-gelak.

“Ya, aku benar linglung.” Serunya. Maka ia lalu menghadap kearah Mintaraga dan katanya :

“Ki Mintaraga, kalian bertiga silahkan melepaskan lelah dahulu untuk mengembalikan semangat dan tenagamu, untuk merampas Tunggul Tirto Ayu nantinya. Aku lupa memberitahukan kalian kalau ki Sucitro telah berjanji dengan kita bahwa pertempuran akan dilakukan besuk hari setelah matahari terbit. Jangan kalian khawatir sebab terang kalau kita akan memperoleh kemenangan.”

Mendengar perkataan orang itu maka Mintaraga dan kawan-kawannya menjadi bungkam. Mereka menjadi sangsi. Bukankah mereka itu harus menanti sampai pagi, mereka tetap terbenam dalam keragu-raguan.  

“Benarkah jahanam Pamegatsari ini kawan mereka? Bukankah ia sangat

erat hubungannya dengan Patih Udara? Apakah yang menyebabkan ia membantu kita dan ikut melawan ki Sucitro?”

Sementara itu patih Udara telah duduk bersila diatas tanah, bahkan terus bersemedi, untuk mengatur semangat, sama sekali tak mempedulikan pembicaraan Pangeran Pamegatsari, iapun tak mempedulikan jago-jago Jipang Panolan dan kepada Sucitro.

Pangeran Pamegatsari sementara itu, dengan sangat merdeka nampaknya, datang mendekat kepada Kembang Arum, terus duduk numprak disamping gadis itu. Kedua matanya dimeramkain. Memang pangeran muda ini bersemedi seperti apa yang dilakukan oleh patih Udara.

Sucitro serta murid-muridnyapun tidak melakukan apa-apa, mereka terus duduk ditempat dimana itu berdiri, untuk bersemedi juga.

Menyaksikan semua itu, Mintaraga bertiga terpaksa menuruti juga duduk beristirahat. Maka sesaat itu, sunyi senyaplah keadaan ditegalan diluar rimba itu. Sebab juga rombangan Bagaspati turut berdiam diri.

Mintaraga duduk berdiam diri bukannya tanpa berpikir, ia masih tetap mencurigai Pangeran Pamegatsari. Maka ia lalu mengambil keputusan akan bertindak sambil melihat gelagat. Karena itulah ia menjadi sia-sia saja ketika mencoba memusatkan pikiran. Bukankah ia sedang menghadapi musuh- musuh yang tangguh? Terpaksalah ia berusaha memikirkan daya upaya untuk menghadapi musuh-musuhnya itu.

Diam-diam ia melirik kearah pangeran Pamegatsari, ia mendapatkan orang itu sedang bersemedi dengan mata meram. Ketika ia berpaling kearah Candra Wulan, gadis inipun agaknya sedang bersemedi, hanya ketika ia melihat kearah Kembang Arum, kedua mata gadis ini tengah mengawasi dirinya dengan mata yang tajam. Tiba-tiba saja ia mendapat sebuah pikiran. Ia terus mengawasi Kembang Arum, setelah itu Mintaraga lalu mengerdipkan matanya. Setelah itu ia bangkit, bertindak dengan perlahan- lahan kedalam rimba.

Kembang Arum dapat menangkap maksud kekasihnya itu, iapun lalu berjalan dengan pelan-pelan untuk menghampiri Mintaraga. Dengan demikian maka keduanya lalu masuk kedalam hutan. Agaknya tak ada orang yang mengetahui kalau kedua orang muda-mudi ini telah pergi meninggalkan tegalan itu.

Didalam rimba itu, kedua anak muda itu masih tetap mencari tempat yang mereka anggap aman untuk berdiam berduaan saja. Ketika mereka bicara, merekapun seperti berbisik-bisik.

“Adi Kembang Arum, apakah kau percaya dengan perkataan pangeran Pamegatsari itu?” Tanya Mintaraga kepada kekasihnya ini. “Hanya hantu demit dan setan saja yang memperayai perkataannya itu kakang.” Jawab  

Kembang Arum. “Apa yang dikatakannya itu semua hanyalah ocehan

belaka. Mustahil kalau kau tak dapat melihatnya.”

“Memang aku mencurigainya.” Seru Mintaraga. “Hanya kita tak mempunyai bukti untuk membuka kecurigaan kita ini adi, untukku dia membantu kita atau tidak adalah urusan kedua. Aku juga tak takut kepada Sucitro. Aku hanya khawatir untuk menghadapi patih luar dari Jipang Panolan itu.

Kembang Arum menganggukkan kepalanya.

“Benar.” Katanya. “Kaau nanti kita sedang bertempur, dan dia menyerang sewaktu kita sibuk menghadapi musuh, maka itu akan sangat merugikan dan membahayakan kita ”

Mintaragapun menganggukkan kepalanya.

“Sekarang bagaimanakah adiku? Apakah yang harus kita perbuat?” Tanyanya.

Kembang Arum berdiam diri sejenak, lalu menjawab.

“Kalau menurut pendapatku maka lebih baik kita menyingkir saja dari mereka dengan secara diam-diam.” Katanya. “Tunggul Tirto Ayu berada disini, jangan kita khawatir kalau patih Udara dan Sucitro tak akan saling bergebrak. Baiklah kita nantikan saja sampai pertempuran mereka berakhir, kita lalu minta Tunggul lambang kerajaan Demak Bintoro itu kepada yang menang. Dengan cara demikian maka kita tak usah menghadapi dua musuh berat dengan bersama-sama ”

“Pikiranmu itu benar juga... hanya....” Kata Mintaraga yang masih bersangsi. “Tunggul Tirto Ayu itu berada disini mengapa kita tak mengambilnya, bagaimana kalau pihak pemenang segera membawa kabur Tunggul Tirto Ayu itu? Tidakkah kalau demikian maka urusan akan menjadi sulit? Kita tentunya harus mengejar-ngejar dan membuang-buang tempo? Disamping itu tentunya orang-orang dunia kependekaran akan menertawakan kita setelah mengetahui perbuatan kita ini. Bukankah perbuatan demikian itu bukannya perbuatan yang terhormat.... Aku pikir, apa boleh buat, mari kita kita hadapi dahulu Sucitro, setelah itu kita lihat perkembangannya terlebih jauh. ”

“Apakah kau telah merasa pasti kalau akan dapat mengalahkan si tokoh aneh itu?” Tanya Kembang Arum menegaskan. Gadis ini baru saja bertemu dengan kekasihnya, hingga ia tak mengetahui kalau pendeta Argo Bayu telah turun gunung dan memberi pelajaran ilmu pukulan Braholo Meta kepada muridnya yang terkasih ini. Selain itu Kembang Arum belum pernah melihat Sucitro melakukan pertempuran.

Mendengar pertanyaan kekasihnya ini Mintaraga lalu tertawa.

“Itu bukannya sebuah soal yang baku.” Jawabnya dengan seenaknya. “Aku mempunyai sebuah daya upaya untuk menjatuhkan tokoh aneh itu.”  

“Baiklah kalau demikian.” Seru Kembang Arum. “Hanya kupinta kau

harus tetap waspada, diwaktu kita melayani Sucitro, maka kau harus juga memasang mata dan telingga terhadap pangeran Pamegatsari yang mencurigakan ini. Hingga dengan demikian maka pangeran Jipang ini tak dapat main gila.”

Mintaraga menyatakan setuju.

“Sebentar kau katakanlah hal ini kepada adi Candra Wulan.” pesannya. “Sudah tentu kita juga harus berlaku waspada kepada patih Udara.”

Semenjak ia turun gunung. Mintaraga belum pernah menemukan lawan yang hebat seperti ini. Karena itulah ia lalu berlaku sangat hati-hati.

Mereka berdiam sekian lama sebelum mereka kembali keluar.

“Eh... adi Kembang Arum.” Kemudian Mintaraga bertanya. “bagaimanakah tentang perjalananmu ke Indrakilo? Dapatkah kau menceritakannya kepadaku?”

“Ceritaku itu panjang, nanti lain kali saja aku akan menceritakan kepadamu dengan pelan-pelan.” Jawab Kembang Arum.

“Mereka jemukah terhadapmu?” Tanya Mintaraga. Kembang Arum tertawa.

“Pertamanya mereka itu kelihatan galak-galak sekali.” Jawabnya. “Hanya kemudian setelah kita bertempur dan berbicara bertempur lagi, sikap mereka lalu berubah. Kuberitahukan kepadamu kakang Mintaraga kalau kesembilan orang-orang resi Indrakilo itu sebenarnya adalah orang- orang yang baik. Ketika ia mengetahui kalau kau tak turut datang, mereka menjadi sangat putus asa. Merekapun sangat kangen sekali kepada Candra Wulan. ”

Mintaraga memandang ketika Kembang Arum bercerita.

“Kakang Mintaraga, ada sebuah hal yang kuanggap aneh.” Seru Kembang Arum kemudian.

“Hal apakah itu adikku?” Tanya Mintaraga dengan segera.

“Yaitu hal mengenai Tunggul Tirto Ayu. Menurut perkataan mereka, mereka seperti telah mengetahui pasti dimana adanya itu. Mereka seperti tak memperhatikan dengan khusus tentang perebutan kita ini. Waktu aku turun gunung diam-diam aku memperhatikan mereka. Tadinya aku menyangka kalau mereka itu tentunya akan menguntit perjalananku, akan tetapi ternyata sangkaanku ini meleset. Menurut keadaan mereka sekarang ini. Tunggul Tirto Ayu telah berada ditangan Sucitro, jika benar mereka telah mengetahui itu, kenapa sampai sekarang mereka masih belum datang untuk menyusul kemari?”

Mintaraga menjadi teringat pembicaraannya dilaut kidul daerah Karang Bolong dulu itu. Yah pembicaraannya dengan Resi Jlontrot Boyo, resi itu pernah mengatakan dengan sikap yang sama dengan apa yang diterangkan Kembang Arum. Hanya waktu itu ia hanya menganggap kalau resi-resi itu  

sedang mengoceh saja. Mintaraga menganggap kalau   resi itu   sedang

membual dan sebenarnya tak tahu apa-apa.

“Adi Kembang Arum, baiknya kita jangan membicarakan lagi tentang sembilan orang resi gila itu.” Kata pemuda itu kemudian. “Mari kita keluar.” Kembang Arum sebenarnya tak memandang enteng hal ini seperti apa yang dipandang oleh Mintaraga. Akan tetapi mereka sendiri waktu ini sedang menghadapi bahaya, ia tak punya waktu untuk memahamkannya terlebih jauh, maka itu, iapun lalu tertawa. Ia tarik tangannya anak muda itu

untuk diajaknya keluar bersama-sama.

Diluar, orang dari semua pihak masih duduk diam saja. Bersemedi atau beristirahat, mereka itu ajaknya tenang-tenang saja menanti datangnya sang pagi.

Sampai waktu itu, Mintaraga dan Kembang Arum tidak mempunyai kegembiraan lagi untuk bersemedi. Mereka hanya terus berdiri berendeng, mata mereka keempat penjuru, sedangkan hati mereka terus bekerja. Bukankah semua pihak sana ada orang-orang yang tak dapat dipandang enteng? Dipihak Sucitro ada tiga orang muridnya yaitu Kalong Ireng, Gagak Seto dan Gemak Ijo. Dipihak Patih Udara selain ada Bagaspati, masih ada delapan orang anggota jago-jago Jipang Panolan, jadi jumlah mereka ada sepuluh orang. Dipihaknya sebaliknya hanya ada tiga orang. Sedangkan pangeran Pamegatsari itu tak masuk hitungan sama sekali. Sebab pangeran ini tak jelas berdiri dipihak mana, teranglah mereka bertiga akan menghadapi empat belas orang musuh. Dilain pihak, tak terlalu jauh dikuil rusak, masih ada rombongan Pendeta Baudenda dan Julung Pujut.....

Mau atau tidak mau pemuda dan pemudi ini lalu menghembuskan napas panjang untuk melegakan hati mereka.

Sang waktu sementara itu terus berjalan, tak ada seorangpun yang dapat menghalang-halangi jalannya sang waktu. Dengan tanpa terasa diujung langit sebelah timur telah muncul sinar terang kemerah-merahan bercampur warna keputih-putihan. Inilah tandanya sang fajar telah menyingsing.

Tertariklah hati Kembang Arum ketika memandang keindahan alam ini.

Hingga didalam hatinya ia berkata :

‘Coba sekarang kita tak sedang menghadapi musuh-musuh yang tangguh kita akan berjalan-jalan dan berpegangan tangan untuk menyambut kedatangan sang fajar, bukankah hal itu menggembirakan ?’

Akan tetapi ia tak dapat melamunkan diri terlalu lama. Sebentar lagi segera saja ia benseru dengan kegirangan.

Semua orang terkejut, rata-rata mereka membuka matanya dan berjingkrak bangun.

“Eh... bocah perempuan kau sedang berbuat apakah.” Seru beberapa orang pihak lawannya yang menegur.  

Kembang Arum tak menjadi kurang senang, dia hanya bertepuk tangan

saja.

“Matahari telah keluar.” Serunya.

Memang benar disaat itu hyang surya telah mulai muncul dan menyorotkan sinarnya yang gilang-gemilang. Waktu pagi itu matahari terbit dengan cahayanya yang lemah dan warnanyapun merah luar bias.

Keindahan alam ini menarik juga hati dan kegembiraan jago-jago dari Jipang Panolan, hingga mereka turut memuji dengan riangnya. Pokoknya orang-orang Jipang inipun menyambut kedatangan hyang surya dengan perasaan suka cita.

“Sungguh indah..... betapa indah nian.” Seru Candra Wulan dengan bersorak dan tak lupa bertepuk tangan. “Sayang sekali keindahan seperti ini tak kekal, tak bakal muncul pula. Kita bakal bertempur satu dengan lainnya hingga kepala pecah dan darah mengucur dengan deras ”

“Hem...” Sucitro memperdengarkan ejekannya. “Untuk apakah kau membuat berbisik tak karuhan? Mustahil kau belum pernah melihat matahari terbit. Kalau diselatan kami setiap hari melihat matahari terbit.”

Pangeran Pamegatsari tertawa melihat perkataan jago tua dari Selatan  

ini.

“Paman perkataanmu ini sungguh menghina orang saja.” Katanya

dengan lantang. “Didalam dunia ini matahari hanya satu, asal tak turun hujan dan malam saja dimanapun akan dapat melihat matahari. Mengapa hanya diselatan saja??”

“Setuju.” Bagaspati berseru. “Didalam dunia ini tak ada dua matahari. Seperti juga rakyat tak mempunyai dua raja yang harus memerintahnya.....

maka ”

“Maka juga...” Candra Wulan menyela, untuk melanjutkan perkataan Bagaspati, sedang kedua matanya dimendelikkan. “Aku Bagaspati orang Demak, hendak mencaplok peninggalan Demak, akan tetapi karena tak mempunyai pengaruh serta kekuasaan maka aku sanggup bekerja sama dengan Jipang dan rela pula menjadi budaknya.”

Dihina seperti itu merahlah muka orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan ini, akan tetapi ia segera menekan kemarahannya dan terus bersikap seperti biasa lagi. Tak mau ia menunjukan kemarahannya kepada seorang gadis yang dianggapnya masih bocah.

Kata-kata Candra Wulan ini membuat Mintaraga dan Sucitro serta semuanya menjadi tertawa. Bahkan mereka tertawa bergelak-gelak hingga keadaan menjadi riuh.

Pangeran Pamegatsari menyaksikan kejadian itu hanya menggeleng- gelengkan kepalanya saja.

“Tuak baik dipakai untuk bekal bepergian memuji matahari terbit, memang sangat bagus dan cocok sekali.” Katanya. “Kembang Arum biarpun hatimu tertarik dan mengagumi, sayang sekali mereka itu tak seperti kau...

mereka itu seharian suntuk pada okol-okolan untuk Tunggul Tirto Ayu   ”

Sucitro menjadi marah ketika mendengar perkataan pangeran muda dari Jipang Panolan ini.

“Eh... Pamegatsari.” Tegurnya, ‘kau menyebut ‘mereka’ siapakah yang kau maksudkan dengan mereka itu? Kau tak usah pura-pura menjadi sastrawan, asal-usulmu itu tak lebih baik dari pada asal usul kami.”

Didamprat begitu, Pangeran Pamegatsari tertawa tawar. Kemudian Pamegatsari kelihatan menyeringai.

“Paman.” Katanya dengan tenang. “Jika kau hendak bertempur tunggulah sebentar lagi. Sekarang ini maafkanlah kalau aku tak dapat melayanimu ”

“Memang siapakah yang menyuruhmu maju sekarang juga?” Bentak jago tua itu dengan gemas.

Patih Udara mengawasi kearah matahari yang telah mulai merangkak naik dengan perlahan-lahan. Terhadap pertengkaran itu, sedikitpun ia tak mengambil peduli. Hanya selang beberapa waktu kemudian ia kedengaran mengoceh sendirian :

“Kalau dari Jipang Panolan negeri kami, melihat munculnya hyang surya dari padang rumput barulah itu menakjubkan sekali. Kalau disini apakah yang menarik hati? Apanya yang dipandang. Kalau orang Demak mengatakan bahwa memandang matahari terbit dari sini adalah sebuah keindahan yang jarang ada dikolong langit, akan tetapi setelah kusaksikan sendiri..... ah.... apakah anehnya dan hanya begini saja..... Hem... inilah yang dinamakan. ”

“Inilah yang dinamakan seekor kerbau mendengarkan langgam gending-gending merdu.” Seru Candra Wulan melanjutkan perkataan patih Udara itu dengan nada yang sangat mengejek. Karena gadis ini menjadi mendongkol sekali setelah menyaksikan kesombongan patih luar Jipang Panolan itu. Kalau seekor kerbau mendengarkan langgam gending-gending yang berlagu merdu tentu saja tak akan menimbulkan perasaan apa-apa. Patih Udara, jika kau dapat menikmati keindahan matahari terbit ini maka benar-benar kau bukan orang Jipang yang picik dan tak tahu keindahan.”

Patih Udara menjadi bermuram durja ketika mendengar ejekan Candra Wulan ini. Perasaannya sangat sakit, sebab biasanya orang-orang akan selalu mendengarkan perkataannya dengan patuh sekali. Namun ia masih mencoba menenangkan dirinya.

“Habis bagaimana pendapatmu tentang kami orang-orang dari Jipang Panolan?” Tanyanya.

Terhadap orang Jipang, bahkan patihnya ini Candra Wulan sedikitpun tak mempunyai perasaan takut barang sedikitpun juga. Iapun masih sangat  

terpengaruh akan kebenciannya. Selain itu gadis ini memang mempunyai

watak yang polos.

“Aku mengatakan.” Katanya. “Orang Jipang Panolan hanya cocok untuk mengembala kerbau atau mengangon kuda dipadang rumput, mereka itu tak pantas memandangi terbitnya matahari yang demikian indah permainya ini. Juga Jipang tak pantas memerintah sebuah negara besar seperti bekas kerajaan Demak. Hanya Pajanglah yang pantas. Mungkin satu-satunya hanyalah Sultan Hadiwijaja yang pantas memerintah bekas kerajaan besar Demak Bintoro ini.”

“Bagaimanakah mestinya supaya pantas memerintah sebuah negara besar? Kau katakanlah.” Patih Udara bertanya pula. Dari nada suaranya ini jelaslah kalau orang Jipang ini sangat marah dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahannya.

Dalam kebenciannya ini Candra Wulan sangat senang untuk menggoda bendoro patih ini.

“Sejak jaman dahulu, purba kala, ada yang mengatakan.” Katanya. “Siapa saja yang menaklukkan orang dengan kebijaksanaan dialah raja, namun siapa saja yang menaklukkan dengan kekerasan maka dialah manusia LALIM! Kalian orang-orang Jipang telah mbalelo terhadap kerajaan Demak Bintoro, ini masih tak mengapa, akan tetapi diluar dugaan kalian telah berbuat sewenang-wenang kepada rakyat yang tunduk dengan Pajang. Kau telah mengangkat orang-orang Jipang berderajat tinggi, yang sebenarnya tak mempunyai derajat sama sekali. Kalian orang-orang Jipang ini sebenarnya tak mempunyai hak untuk ikut campur memerintah rakyat Pajang. Namun kalian hanya main paksa kepada rakyat jelata, karena itulah perbuatanmu itu sama saja dengan perbuatan seorang bajingan atau buaya darat yang memerintah rumah tangga orang lain dengan seenaknya. Kau mengatakan, apakah yang luar biasa dari Jipang. ?”

Mendengar caci makian ini habis sudah kesabaran maha patih Udara, tanpa menunggu Candra Wulan menutup mulut, tubuhnya bergerak, kedua tangannya menyambar. Iapun menerjang sambil berseru dengan marah.

Melihat perbuatan orang Jipang yang paling hebat ini, Mintaraga dan Sucitro melompat bersama-sama. Dengan bersama mereka menangkis seorang sebuah tangan dari jago Jipang ini. Adalah sangat luar biasa sekali gerakan mereka itu, mereka melompat bersama tanpa berjanji terlebih dahulu.

“Eh... rekyana patih, sabarlah.” Kata Mintaraga sambil tertawa dingin. “Tak baik untuk mengumbar kemarahan dengan begitu saja.”

Sucitropun berseru :

“Dengan bocah cilik ini belum lagi aku bertempur, jangan kau mendahului mengganggunya.”  

Patih Udara berdiam diri. Wajahnya merah saking malunya. Karena ia

menganggap Candra Wulan telah keterlaluan, ia sampai melupakan dirinya. Pantaskah ia yang disebut sebagai pepunden oleh orang-orang dunia kependekaran kini membokong seorang gadis secara demikian? Tidakkah ia bakal mendapat malu? Karena itu ia mengundurkan diri.

Sementara itu sang waktu berjalan terus, matahari mulai terang benderang. Dengan sendirinya semua orang merasakan ketegangan. Sebab sebentar lagi tentu terjadi pertempuran hebat.

Sucitro telah segera bertindak. Tunggul Tirto Ayu yang tadinya diletakkan dihadapanya, sekarang ia geserkan ketengah-tengah lapangan. Ia melakukan hal ini dengan sikap yang sangat menghormat. Lalu katanya dengan nyaring :

“Ki sanak sekalian, kalau dia itu bukan orang-orang dari dunia kependekaran yang telah mempunyai nama, dia adalah orang budiman yang terhormat dikolong langit ini. Karena itu dengan Tunggul Tirto Ayu diletakkan disini, bukankah tak ada yang akan mempergunakan ketika untuk berbuat yang kurang baik, mencurinya??”

Mendengar perkataan itu Candra Wulan tak dapat menahan suaranya.

Ia terus tertawa dengan cekikikan.

Patih Udara sebaliknya telah mementang kedua tangannya lebar-lebar, untuk mengundurkan Bagaspati dan saudara-saudaranya yang tergabung dalam jago-jago Jipang Panolan. Akan tetapi Bagaspati dan adik-adik angkatnya hanya mundur sampai sebatas tepian rimba. Tak lebih jauh, disitu mereka menonton sambil membuka telinganya.

Sucitro melirik kearah sekitarnya.

“Nah marilah.” Serunya sambil menepukkan tangannya itu. “Apa lagi yang hendak ditunggu? Dengan pertarungan kita ini maka kesudahannya nanti yang menang akan mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro dan yang kalah akan menjadi kura- kura.”

Kembali Candra Wulan tertawa.

“Kalau demikian maka kau pasti akan menjadi kura-kura.” Katanya dengan jenaka.

Sucitro tak mengambil pusing ejekan gadis nakal ini.

“Mintaraga.” Katanya. “Kita masing-masing sekarang ada empat orang dan kekuatan kita seimbang, tak ada yang lebih, tak ada yang kurang, maka katakanlah kita akan bertempur sekaligus atau bertempur satu-persatu? Artinya satu lawan satu.”

Mintaraga menganggukkan kepalannya untuk menghormat tokoh tua dari selatan itu.

“Paman.” Katanya. “Didalam hal ilmu silat mungkin kami tak akan kalah, hanya didalam tingkat dan derajat, teranglah kami berada dibawah  

tingkatan paman, oleh karena itu maka silahkanlah paman saja yang

menentukan, kami orang-orang muda akan selalu taat menuruti segala macam perintahmu paman. ”

Mendengar jawaban Mintaraga ini Sucitro menjadi tertawa terbahak- bahak.

“Janganlah kau timbul-timbulkan soal tingkat dan derajat.” Kata tokoh tua itu. “Siapa yang menyuruh kau menghendaki dan akan merebut Tunggul Tirto Ayu? Kalau dilain hari pendeta Argo Bayu tua itu menanyakan aku, apakah yang harus kujawab ?”

Mendengar perkataan tokoh aneh dari Selatan ini maka Mintaraga tahu kalau tokoh ini sangat mengagumi dan tak berani main-main dengan eyang gurunya. Hal ini tentu saja membuatnya menjadi bertambah lega.

“Baiklah.” Katanya. “Nah marilah kita bertanding beramai-ramai.

Mintaraga menginsyafi kelemahan Candra Wulan, apa bila mereka bertempur satu lawan satu, ia khawatir kalau gadis ini nanti akan membuat golongannya menjadi rugi, akan tetapi sebaliknya kalau mereka itu bertempur secara bersama-sama, ia atau Kembang Arum tentunya akan dapat bertempur sambil melindungi Candra Wulan itu. Karena itulah ia lalu bertempur dengan bersama-sama.

“Bagus.” Sucitro yang terus menyetujui dengan cara yang dipilih Mintaraga ini.

Baru jago tua ini menutup mulutnya atau Kalong Ireng yang berada disisinya sudah menerjang kearah Mintaraga. Ia tak mempedulikan segala apa lagi. Dengan segera ia telah mempergunakan cengkeram burung elang ilmu simpanannya. Memang Kalong Ireng memilih menyerang Mintaraga, karena ia sangat membenci kepada pemuda ini setelah dikalahkannya didaerah Bajak Laut Bondopati itu dulu. Didaerah itu Kalong Ireng telah berhasil menjagoi, hingga ia tak memandang mata kepada mereka yang tergabung dalam Bajak Laut Bondopati, akan tetapi siapa tahu ia telah dihalang-halangi oleh pemuda yang bernama Mintaraga ini. Sampai obatnya yang sangat manjur itupun hilang. Karena kekalahaanya dan lenyaplah obat yang mustajab itu, ketika ia pulang kegunung, ia lalu didamprat oleh gurunya. Terutama akan kehilangan obatnya itu. Karena itu sekarang dihadapan gurunya ia hendak merampas kembali muka terang dan nama baik dari pemuda yang telah mengalahkannya dan mengambil obatnya itu. Ia percaya kali ini kalau ia berlaku dengan waspada maka pihaknya tak bakal kalah. ”

Hebat serangan yang mirip dengan bokongan dari Kalong Ireng ini. Ia menyerang dengan tangan kanannya, tangan kirinya disiapkan untuk membela diri, tangan kirinya dipernahkan disisi pinggangnya.

Mintaraga senantiasa berlaku waspada. Ia dapat melihat datangnya serangan yang mendadak ini. Mengenai ilmu cengkeraman dari Kalong Ireng  

ini ia telah mengenal dengan baik, karena itulah maka Mintaraga tak menjadi

gugup. Ia tahu kalau serangan yang diarahkan kepada dada itu sebenarnya yang dituju adalah perutnya. Karena itulah ia lalu menggerakkan tangan kirinya kebawah untuk menjaga.

Kalong Ireng sangat licin. Serangannya yang dilakukan dengan tangan kanan itu sebenarnya hanyalah sebuah gertakan belaka. Begitu ia menyerang bukannya terus ia hanya terus mengibaskan tangannya itu, namun dilain pihak tangan kirinya terus menerobos kepinggang lawannya. Kedua-dua gerakannya itu cepat sekali.

Mintaraga telah siap sedia, ia tak mengambil peduli akan serangan itu. Pemuda ini segera menggerakkan tangan kanannya, nampaknya ia hendak menangkis, tak tahunya sewaktu lawan mengibas ia meneruskannya mengarah ketenggorokan Kalong Ireng itu, untuk menotok. Mintaraga bergerak belakangan akan tatapi sampainya terlebih dahulu.

Kalong Ireng menjadi terkejut sekali, hingga ia membatalkan serangannya. Dengan terpaksa ia menjejak dengan kedua kakinya untuk melompat mundur. Hal ini dilakukan demi keselamatan dirinya.

Mintaraga juga berlaku sangat sebat, sewaktu orang melompat, ia menancapkan kaki kirinya dan mengayunkan kaki kanannya untuk menyapu.

“Hati-hati muridku.” Teriak Sucitro yang melihat muridnya terancam bahaya. Kakek tua ini berniat menolong akan tetapi tak keburu. Sia-sia saja peringatan itu, sebab muridnya telah dapat merasakan kaki lawannya, yang tadi dibokongnya. Hingga tubuhnya terlempar beberapa tindak dan jatuh terbanting ditanah pada bokongnya, kedua kaki dan kedua tangannya terlonjor kelangit.

“Bagus.” Berseru Pangeran Pamegatsari dengan pujiannya menyusul robohnya Kalong Ireng itu. Bersama dengan ini, tubuhnyapun melesat maju, dengan niatnya menghalang-halangi Sucitro, sebab menyusul seruannya kepada muridnya, jago tua itu telah melompat maju. 

Akan tetapi belum lagi ia bergerak, atau seorang yang terus berkelebat menghadang dihadapannya. Ketika ia melihatnya, ia menjadi jengah sendiri. Orang itu adalah Kembang Arum, ilmu meringankan tubuh Kembang Arum membuatnya menjadi kagum dan malu sendiri.

‘Dia gesit melebihiku, entahlah ilmu pedangnya    ’ Ia jadi berpikir.

Sucitro marah sekali sebab ia dirintangi ketika akan menghampiri Mintaraga.

“Kau mau minggir atau tidak?” Bentaknya kepada Kembang Arum, dan bersama dengan bentakannya itu kedua tangannya bergerak mendorong. Dia telah biasa mengagulkan dirinya sendiri, karena itu ia merasa terhina kalau harus bertarung dengan perempuan. Karena Sucitro menganggap kalau tak  

akan kondang kalau hanya menang terhadap seorang perempuan. Bentakan

ini dilakukan dengan bengis, dan tolakannyapun hebat.

Kembang Arum mengetahui kalau lawannya ini mempunyai tenaga yang besar, karena itu ia tak mau melawan keras dengan keras. Kembang Arum lalu mengelak dengan memutar tubuhnya, hingga ia menjadi berada dibelakang dari jago tua itu. Setelah itu tangan kanannya lalu dipakai untuk menepuk pundak jago tua ini dari belakang.

Sucitro menjadi terkejut ketika mendengar sambaran angin dari belakangnya. Memang maksudnya untuk mengundurkan gadis ini, namun sedikitpun ia tak pernah menyangka kalau gadis ini malahan berani melakukan serangan terhadapnya. Dengan terpaksa Sucitro lalu mengelak.

Kembang Arum merangsek.

“Sucitro, takutkah kau.” Tanyanya dengan gaya dan nada menantang. “Orang hina, lihatlah tanganku.” Serunya karena sangat mendongkol

sekali. Ketika serangannya datang, ia menyambut untuk menangkis. Sucitro lalu mengulurkan tangannya yang kanan, tulangnya terdengar gemeretek. Akan tetapi ia menjadi gagal karena tak dapat membentur tangan Kembang Arum.

Kembang Arum terlalu cerdik untuk tak mengadu tangannya. Karena gadis ini mengetahui kalau tenaganya terang kalah besar.

Mintaraga memajukan diri tanpa berayal lagi. Ia tahu gadis itu hebat sekali ilmu silatnya dengan bersenjata, namun ilmu silat tangan kosongnya belum sempurna, karena itu ia menjadi khawatir kalau gadis ini akan menjadi korban dari jago tua ini. Karena itu ia memisah ditengah-tengah.

“Paman.” Katanya. “Marilah kita mengadu senjata dahulu baru nanti main-main dengan tangan kosong.”

Segera ia menghunus pedangnya dan kemudian melintangkan didepan dadanya untuk menanti serangan dari lawannya.

Melihat hal ini Sucitro menjadi marah sekali.

“Aku ini orang macam apakah?” Serunya. “Sangat mengherankan dan memalukan sekali kalau aku sampai mempergunakan senjata untuk melawanmu.”

Sucitro masih tetap berlaku sombong, terus saja ia menggerakkan kedua tangannya untuk menyerang pemuda ini.

Melihat perkembangan yang demikian itu terpaksalah Kembang Arum mengundurkan diri. Ia sangat menyesal. Kalau saja barusan ia maju mendahului pangeran Pamegatsari, adalah maksudnya untuk melayani jago tua ini selama lima atau enam puluh jurus, selama itu Mintaraga akan mendapat ketika untuk menghajar tiga orang murid Sucitro, setelah itu barulah membekuk guruya. Dengan demikian kemenangan pasti berada dipihak mereka. Sayang Mintaraga berpikir lain dan tak dapat menangkap siasatnya. Tetapi iapun tak dapat menonton saja. Segera ia melihat gerakan  

tiga orang murid Sucitro yang berpakaian secara berwarna-warni. Hijau

putih dan hitam.

Kalong Ireng tak puas kena dirobohkan oleh Mintaraga dalam beberapa gebrak saja, sambil menghunus senjatanya, ia mengajak kedua saudara seperguruannya maju. Tentu saja mereka itu menghadapi Kembang Arum.

Kembang Arum mengawasi sambil tertawa.

“Bagus, kalian majulah.” Katanya. Segera ia menggerakkan kedua tangannya, tangan kirinya menghunus pedangnya pemberian Woro Keshi yang menjadi ibunya, tangan kanannya mengeluarkan golok emas warisan ayahnya. Dengan cepat ia menggerakkan kedua senjatanya hingga sinarnya terus berkelebat-kelebat merintangi majunya Kalong Ireng bersama saudaranya.

Kalong Ireng tak sudi menyerah, maka bersama dua orang saudaranya, ia lalu mengurung gadis itu.

Menyaksikan semua itu, pangeran Pamegatsari berkata didalam hatinya  

:

“Aku telah berkata hendak membantu mereka, mana dapat aku

berpeluk tangan saja dari pinggiran?” Maka ia terus menjejak tanah, untuk nielompat maju.

“Kembang Arum aku akan membantumu.” Katanya.

Kembang Arum benar-benar tak pernah menduga kalau akan niendapat bantuan dari pangeran muda dari Jipang Panolan ini. Yang sangat diharapkan ialah kedatangan Candra Wulan. Setelah melayani Kalong Ireng beberapa jurus, ia merasa kalau akan dapat bertahan sampai seratusan jurus, misalnya Candra Wulan segera membantunya, dengan segera pihaknya akan mendapat kemenangan. Tak tahu yang datang adalah pemuda ceriwis ini.

“Pangeran.” Katanya. “Cukup aku sendiri saja yang melayaninya, tak berani aku menyuruhmu berkelahi hingga nanti akan membuatmu menjadi lelah saja.”

Kembang Arum tetap mencurigai pangeran muda ini, gadis ini khawatir kalau pemuda ini akan membuat hal-hal yang akan dapat merugikan pihaknya.

Pangeran Pamegatsari tertawa.

“Jika kau khawatir kalau aku menggangu gerakan tangan dan kakimu itu maka silahkan kau mengundurkan diri dahulu.” Katanya dengan nyaring. “Biarlah aku yang rendah nanti akan mempersembahkan sebuah jasa yang kecil kepada kalian. !”

“Mana dapat begitu?” Tegur Kembang Arum dengan tak enak. “Diantara orang sendiri tak usah kita berlaku sungkan-sungkanan.”

Jawab Pangeran Pamegatsari dengan tertawa. Kalong Ireng yang mendengar pembicaraan ini jadi mendongkol, hingga

napasnya bertiup dengan keras, kedua matanya terbuka lebar-lebar dan kumisnya bergerak-gerak.

“Pangeran Pamegatsari, marilah kau maju bersama-sama.” Tantangnya dengan bernafsu. “Siapakah yang takut kepadamu?”

Pangeran Pamegatsari tetap tertawa.

“Nah inilah kesempatan yang paling bagus.” Katanya. “Kau lihatlah aku akan maju.”

Pemuda ini memang hendak memperlihatkan kepandaiannya didepan Kembang Arum, meskipun ia tnasih tetap bersikap amat tenang. Terlebih dahulu ia membetulkan bajunya, baru bertindak maju. Kelihatannya pangeran muda ini bertindak perlahan, akan tetapi kenyataannya sangat sebat sekali. Sebentar saja ia telah berada ditengah-tengah kalangan. Ini disebabkan oleh keumuman orang dunia kependekaran yang hebat, ia mengerti ilmu kegesitan yang disebut Branjangan Teku. Inilah ilmu kegesitan yang sama gayanya dengan ilmu gaib dari Begawan Anoman dijaman pewayangan dahulu kala. Atau ilmunya raden Harya Werkudoro yang disebut ilmu meringkas tanah, yaitu jarak yang jauh diringkas menjadi dekat.....

“Mengapa kau tak mengeluarkan senjatamu?” Tegur Kalong Ireng dengan marah. Ia melihat pemuda itu datang dengan tangan kosong. Meskipun demikian ia telah segera menyerang dengan senjata istimewanya.

Pangeran Pamegatsari tertawa.

“Inilah senjataku. Kau berhati-hatilah menghadapinya.” Jawab pangeran muda ini dengan tersenyum. “Awas.” setelah memperingatkan maka segera mengibaskan tangan dan lengan bajunya, untuk menyambar dan melilit senjata lawannya.

Kalong Ireng menjadi kaget bukan main. Untunglah kepandaian dari murid ki Sucitro ini tak rendah, karena itu ia masih sempat meloloskan senjatanya yang kena dilibat itu. Hanya sebentar saja mereka itu saling tarik menarik......

Pangeran Pamegatsari menarik kembali senjatanya.

“Bagaimanakah Kalong Ireng tentang senjataku ini?” Tanyanya dengan nada mengejek. Akan tetapi ia segera maju untuk menyerang dengan berulang-ulang.

Kalong Ireng menjadi repot, dengan cepat ia kena dipengaruhi oleh ujung baju lawannya. Sebab ujung bajunya ini seperti mengurung padanya. Sia-sia saja ia mencoba membalas menyerang. Karena itu ia kelihatan seperti seekor kera yang dituntun dengan rantai oleh majikannya....

Pangeran Pamegatsari hanya memperlihatkan kepandaiannya itu, pemuda ini tak mau segera menurunkan tangan kejamnya untuk membunuh atau mencelakai Kalong Ireng.  

Kembang Arum sementara itu melayani kedua orang musuh lainnya,

Gagak Seto dan Gemak Ijo. Pedang dan goloknya telah membuat kedua orang musuhnya itu menjadi kelabakan setengah mati. Hingga dengan demikian maka Kembang Arum berada diatas angin. Karena serangan- serangan dari pedang dan golok itu maka Gemak Ijo dan Gagak Seto serba salah dan kewalahan. Sebab maju tak dapat dan mundurpun tak mungkin.....

maka nasib kedua lawannya ini benar-benar terjepit bagaikan keadaan Kalong Ireng yang menjadi kakak seperguruannya.

Biarpun bagaimana tetap saja Kembang Arum maupun Pangeran Pamegatsari tak dapat merobohkan musuhnya dengan segera, sebab Kalong Ireng bertiga bukanlah orang-orang sembarangan. Bukankah Kalong Ireng pernah menjagoi kalangan Bajak Laut Bondopati?

Tiba-tiba saja terdengar suara tawa dari Pangeran Pamegatsari, yang terus menanya kepada Kembang Arum.

“Kembang Arum bagaimanakah pendapatmu, bisa atau tidakkah aku merobohkan si muka arang hitam ini dalam waktu sepuluh jurus?”

“Kau coba saja.” Jawabnya dengan singkat.

Sementara itu Candra Wulan telah kehabisan kesabaran, tangannya telah gatal kalau hanya berdiri menonton saja. Karena itu ia lalu menghunus pedangnya.

“Candra Wulan.” Kata Pangeran Pamegatsari dengan tertawa. “Aku mau merobohkan orang yang berkulit hitam seperti arang ini dalam waktu sepuluh jurus, karena itu silahkan kau bantu saja saudaramu si Kembang Arum itu.”

Candra Wulan menjadi marah setelah dipanggil dengan begitu saja. “Enak benar kau memanggil namaku.” Bentaknya. “Kau memanggil

dengan begitu saja, apakah kau tak malu.” Setelah berkata demikian ia lalu maju, menghampiri Gagak Seto, sewaktu murid Sucitro itu mencoba maju menerjang kearah Kembang Arum. Ia segera menikam.

Gagak Seto menjadi marah, lalu ia menyerang dengan bengis.

Dengan terpisahnya Gagak Seto maka keadaan Gemak Ijo menjadi semakin payah, sedangkan tadi bersama-sama dengan saudara seperguruannya ia telah payah untuk menghadapi Kembang Arum, apa lagi sekarang satu lawn satu.....

Kembang Arum terus tertawa, dan gadis ini lalu berkata kepada pangeran Pamegatsari :

“Pangeran, kalau kau akan merobohkan lawanmu dalam waktu sepuluh jurus maka apakah keanehannya? Kau lihatlah aku akan merobohkan si muka hijau ini dalam waktu lima jurus saja.”

Mendengar ini Candra Wulan tertarik hatinya, karena itu gadis nakal ini lalu turut berkata :  

“Kalian ini kelihatannya bergembira sekali, apakah kau sangka aku tak

akan mengambil bagian?” Katanya. “Aku akan mengambil jalanku sendiri. Kalian lihat saja bisa atau tidak aku akan merobohkan kunyuk ini dalam waktu tujuh setengah jurus.”

Mendengar perkataan mereka ini maka Kalong Ireng dan adik-adik seperguruannya merasakan kalau dadanya hampir meledak. Mereka itu benar-benar marah ketika menjadi sasaran dari senda gurau dan lelucon lawannya.

“Baik.” Seru Kalong Ireng. “Kalau, kalian benar-benar mempunyai kepandaian maka keluarkanlah kepandaianmu itu.” Setelah berkata demikian maka tangannya bergerak membacok kearah lawannya.

Pangeran Pamegatsari tak mengelak atau melompat walaupun ia tahu kalau bacokan itu amat berbahaya, sebaliknya ia menghalau dengan sebuah tangkisan. Lalu setelah menangkis sambil tertawa bertanya kepada Candra Wulan :

“Candra Wulan kau tadi bilang tujuh setengah jurus, bolehkan aku bertanya, bagaimanakah rupanya yang setengah jurus itu? Apakah artinya?”

Pangeran muda ini memang membandel sekali, walaupun ia tahu kalau dirinya ini tak mendapat perhatian dari Candra Wulan. Hal ini disebabkan karena ia tahu kalau kepandaian gadis itu biasa saja. Bukankah selama berada didaerah Bajak Laut Bondopati ia pernah mempermainkannya? Ia menganggap kalau gadis ini hanya berimbang saja kepandaiannya dengan Gagak Seto. Karena itulah ia menjadi tak puas setelah mendengar omongan yang sombong ini. Pangeran Pemegatsari hanya sedikit heran ketika mendengar nada perkataan Candra Wulan, yang agaknya telah memastikan kalau kemenangan selalu akan berada dipihaknya dan hanya dalam tujuh setengah jurus.... Karena itulah sambil bergurau lalu pangeran muda ini mengajukan pertanyaan.

Candra Wulan tak puas dengan pertanyaan orang yang dibencinya ini, akan tetapi gadis ini tetap mengendalikan perasaannya, sewaktu ia melayani Gagak Seto lalu menjawab pula :

“Pangeran Pamegatsari seberapa banyakkah pengetahuanmu? Kau tunggu saja setelah kububuti bulu-bulu dari gagak putih ini baru nanti kuberi penjelasan kepadamu.”

Pangeran Pamegatsari tertawa dengan terbahak-bahak.

“Baiklah, mari kita mulai turun tangan.” Jawabnya. “Mari kita bergerak dengan bersama supaya menjadi adil. Dengarlah satu..... dua.....

Candra Wulan menjadi panas hatinya, sedikitpun gadis ini tak suka ketika mendengar pertanda dari pemuda ini.

“Tiga.....” Candra Wulan terus mendahuluinya. “Mulailah.” Bersama dengan itu iapun membuyarkan sebuah serangan Gagak Seto yang  

menerjang disaat ia bicara. “Nah ini jurus yang pertama. Lalu menikam

dengan jurusnya yang berbahaya.

Gagak Seto mengelak dari serangan yang mengarah kepada mukanya. Ia mengelak dengan jalan menundukkan kepalanya.

“Inilah yang kedua.” Seru Candra Wulan sambil mengulangi serangannya yang gagal.

Pangeran Pamegatsari tak memperhatikan Candra Wulan ini, ia hanya memasang mata kepada Kembang Arum, ingin ia mengetahui dengan jurus keberapa gadis ini merobohkan musuhnya.

Didalam hati kecilnya ia berkata :

‘Aku mengatakan sepuluh jurus, akan tetapi mereka itu menyebutkan dengan jurus yang lebih sedikit. Mana boleh aku menunjukkan kelemahan didepan mereka?’

Oleh karena berpikir demikian, pangeran Pamegatsari mulai dengan serangannya yang hebat-hebat. Mulanya ia menyerang untuk menempel goloknya Kalong Ireng, menyusul itu sebelah tangannya yang lain menyambar kepada musuh.

Kalong Ireng adalah murid pertama dari Sucitro, ia mempunyai kepandaian yang lebih hebat dari pada kedua seperguruannya. Karena senjatanya ditempel maka ia lalu melawan dengan tangan, ia malah mendahului, belum sampai tangan lawannya kena didada, tangannya sendiri telah menyambar kepinggang lawan. Inipun menyerang dengan sebuah jurus dari ilmu cengkeramannya.

Pangeran Pamegatsari pernah mendengar tentang ilmu Cengkeraman burung Wulung yang sangat hebat dari ki Sucitro, memang kepandaian ini adalah termasuk simpanan dari perguruan tokoh sakti dari Selatan itu. Sebegitu jauh ia belum pernah menyaksikannya. Malahan belum pernah menempurnya sendiri, maka terkejutlah ia ketika merasakan angin menyambar kepinggangnya selagi tangannya musuh belum tiba keanggota tubuhnya itu.

Ia lalu teringat kepada ilmu cengkeraman burung garuda atau burung rajawali. Karena itu ia membatalkan serangannya dengan tangan kosong, tangan itu ia putar guna memotong tangan Kalong Ireng. Jadinya ia bukan menangkis hanya membalas serangan itu dengan serangan pula.

Kalong Ireng tahu kalau tenaga dalam lawannya lebih hebat dari pada tenaga dalamnya sendiri, karena itu ia tak mau kalau lengan tangannya dipotong, karena itu dengan gerakan yang sebat ia lalu menarik kembali tangannya, bersama dengan itu iapun lalu melepaskan goloknya dari tempelan lawan, untuk membacok kepala musuh.

Pangeran Pamegatsari mengelak untuk menghindarkan bacokan itu. Sekarang barulah ia mengerti kalau murid ki Sucitro ini benar-benar hebat  

dan mempunyai kepandaian tinggi. Karena itulah ia lalu tak mau berlaku

sembarangan.

Kalong Ireng tertawa ketika ia mendapat kenyataan lawannya ini agak jeri terhadap tangan kosongnya. Hingga dengan tak ayal lagi Kalong Ireng lalu mengeroyok dengan golok ditangan kanan dan tangan kirinya, dengan beruntun ia menyerang hingga tiga kali.

Pangeran Pamegatsari hindarkan diri dari ketiga serangan itu setiap kalinya ia melakukan pembalasan, maka tanpa merasa, ia sudah menyia- nyiakan lima jurus, kupingnya mendengar suara senjata beradu dengan keras, lalu ia mendapat lihat goloknya Gemak Ijo telah jatuh terpental seterah dihajar oleh Kembang Arum, gadis itu terus berseru..... ‘kena’.....

Sebab ini tak sudi menyia-nyiakan temponya yang baik itu, sambil berseru ia menikam dengar tangan kirinya yang memegang pedang. Tikaman itu tepat mengenai jalan darah. Hingga tanpa ampun lagi Gemak Ijo roboh tak berkutik lagi.

Hanya tikaman itu tak sampai menyebabkan dia mengeluarkan darah, sebab sebenarnya itu bukannya sebuah tikaman akan tetapi hanya merupakan totokan saja.

Kembang Arum tertawa lebar.

“Tepat lima jurus, tak lebih dan tak kurang.” Katanya dengan gembira. “Pangeran Pamegatsari, kau percaya atau tidak? Kalau tidak kau boleh menanyakan kepada yang bersangkutan itu.” Sambil berkata demikian ia lalu menudingkan tangannya menunjuk kearah Gemak Ijo.

Tidak ada waktu untuk Pamegatsari menanyakan keterangan Gemak Ijo itu, karena ia, setelah lima jurus, tengah memperlihatkan ilmu silat cengkeraman dari lawannya sendiri.

Ia beda dengan Kembang Arum. Ia merasa asing benar-benar dengan ilmu silat ciptaan ki Sucitro ini, tidak demikian dengan Kembang Arum yang semenjak didalam daerah Bajak Laut Bondopati itu dulu ia telah melihat cara Kalong Ireng bertempur dan sekaligus melihat ilmunya, sedangkan dipihak lain, lawannya, Kalong Ireng, adalah jauh lebih hebat dari pada Gemak Ijo. Didalam rombongan yang satunya pula, Candra Wulan telah menyerang sebanyak lima jurus akan tetapi belum juga ada hasilnya.

Hanya disamping Gagak Seto menjadi kewalahan. Gagak Seto juga sangat mendongkol hatinya sebab gadis yang jahil, tak henti-hentinya mengejeknya, mengatakan ia sebagai burung putih yang akan dibubuti bulunya, hingga matanya menjadi merah sekali, sampai ia berteriak :

“Budak busuk, masih ada dua setengah jurusmu! Dengan cara bagaimana kau bisa pukul roboh eyangmu ini!” Memang sengaja ia menyebut dirinya sebagai eyang untuk membalas ejekan Candra Wulan.

Candra Wulan tak gusar, ia malah tertawa.  

“Binatang putih, jangan sibuk!” Katanya, tetap menggoda. “Lihat segera

akan tiba saatnya.” Habis berkata demikian, bukannya ia menerjang, ia justru memasukkan pedangnya kedalam sarungnya maka ia lalu melompat mundur. Ia berdiri diam, mengawasi sambil tertawa geli. Gagak Seto menjadi heran sekali.

“Apa? Apakah kita berhenti bertempur?” Tanyanya.

Dia menjadi besar hatinya. Setelah lima jurus ia bertempur dengan Candra Wulan, ia telah tahu bahwa kepandaian Candra Wulan berimbang dengannya maka ia percaya didalam waktu tujuh setengah jurus, tak nanti ia kena dirobohkan, akan tetapi hatinya tetap panas.

“Jikalau ingin mampus, kau harus tunggu saatnya untuk itu.” kata Candra Wulan dengan sabar, lagu dan nada suaranya tetap mengejek. “Kau harus menunggu kakak seperguruanmu si orang hitam itu mati terlebih dahulu ditangan Pangeran Pamegatsari. Habis itu barulah datang giliranmu ”

Adalah disaat itu Pangeran Pamegatsari yang cerdas, mulai dapat meraba-raba ilmu silat lawannya, karena itu ia lalu mendapatkan jalan untuk merobohkan lawannya. Maka, waktu ia mendengar perkataan Candra Wulan, ia tertawa. Lalu katanya kepada gadis itu : “Candra Wulan aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadamu. Sekarang katakanlah kau menghendaki dia mati atau hidup? Asal kau menginginkan dia mati maka dia pasti akan mampus.”

Biarpun bagaimana, Candra Wulan tetap membenci Pangeran Pamegatsari itu.

“Huh tak usah kau banyak mementang bacot.” Katanya dengan sengit. “Kalau kau memang mempunyai kepandaian yang hebat maka sudah selayaknya kalau kau membunuhnya dalam lima jurus lagi. Apakah kau belum menyaksikan kepandain kakang mbok Kembang Arum yang barusan diperlihatkan itu.”

Pangeran Pamegatsari tak menjadi marah setelah didamprat oleh gadis itu. Malahan pangeran muda ini tertawa terbahak-bahak.

“Baiklah.” Katanya. “Aku akan merbohkannya dalam sejurus saja. Akan tetapi dengan memandang kepadamu, aku tak akan membunuhnya ”

Kalong Ireng tak mengambil pusing pembicaraan kedua orang lawannya ini, namun yang membuat hatinya bertambah marah dan panas ialah ketika orang yang bernama Pamegatsari ini mengatakan bahwa ia akan merobohkan dalam waktu sejurus saja. Terang sekali kalau ia tak dipandang mata oleh anak muda ini.

Dalam kemarahannya ini mendadak saja ia melompat untuk menerjang. Akan tetapi bersama dengan itu, dengan mendadak saja matanya juga kabur, lalu tubuhnya menjadi lemas seluruhnya, terus saja ia tak dapat  

menggerakkan tubuhnya itu. Bukan main kagetnya, insyaflah ia kalau

dirinya ini telah didahului oleh lawannya.

Pangeran Pamegatsari telah menunjukkan kehebatannya, tepat sekali ia mempergunakan ketikanya. Ketika ia diterjang, ia mengelak kesamping, sambil mengelak tangannya diulur lalu dipakai menotok jalan darah dari lawannya itu. Inilah Kalong Ireng tak pernah menyangka, ia kalah gesit, ia menjadi korban.

Lalu pangeran Pamegatsari tertawa terbahak-bahak.

“Candra Wulan, bagaimanakah dengan ilmu menotok jalan darahku itu?” Tanyanya. “Apakah ada harganya untuk diperlihatkan? Apakah salah kalau aku mengatakan bahwa ia kurobohkan dalam sejurus?!”

Waktu itu, Kalong Ireng mendamprat kalang kabut pada musuhnya itu. Ia telah kena ditotok, memang tubuhnya tak dapat digerakkan, akan tetapi ia masih sadar, mulutnyapun merdek sekali, sudah matanya mendelik, dan wajahnya sangat bengis.

Candra Wulan sebaliknya malahan menertawakan pangeran muda ini. “Pamegatsari, kecewa saja kau herani mementang bacotmu yang besar

itu.” Katanya.

“Delapan ditambah satu jadi sembilan. Kau mendapatkan kemenangan dijurus yang kesembilan, maka untuk apakah mengagulkan dirimu? Kau lihatlah baik-baik.”

Gadis itu tak menantikan jawaban, ia membiarkan pemuda pangeran itu tercengang. Ia hanya memandang kearah Gagak Seto. Terus saja ia membuka perkataannya : “Eh burung putih, bukankah kita tadi baru bertempur lima jurus?” Gagak Seto membungkam.

Ia merasa sangat berduka mendapatkan kedua orang saudaranya roboh dengan bergantian didalam tangan musuhnya masing-masing.

“Burung putih, jangan kau menjadi tawar. Tabahkanlah hatimu.” Kata gadis ini dengan tetap mengejek.

“Aku melainkan hanya main-main denganmu! Kau yang menang atau aku yang menang, semua itu tidak ada artinya ”

Orang-orang menjadi heran ketika mendengar perkataan Candra Wulan ini. Bahkan Kembang Arumpun tak mengerti. Candra Wulan sendiri tak mempunyai maksud lain kecuali hanya ingin melegakan hatinya sendiri, karena dia tengah memikirkan daya upaya untuk merobohkan lawannya dalam waktu dua setengah jurus saja.

“Orang tua marilah.” Kata Candra Wulan dengan tertawa lebar. “Bukankah kita masih mempunyai kesempatan untuk main-main dalam dua setengah jurus lagi? Silahkan aku menantimu.” Lalu dengan sembarangan saja ia menanti serangan dan memasang kuda-kudanya.

Gagak Seto menjadi marah.  

‘Kepandaian kita toh seimbang, mengapa kau berani mempermainkan

kami dengan sedemikian rupa?’ Katanya dalam hati yang sedang bergolak itu. Ia lalu maju dengan mengayunkan goloknya untuk membacok. Iapun mendamprat : “Budak busuk. ” Mendadak saja ia menutup mulutnya. Sebab

dengan sekonyong-konyong gadis itu telah lenyap dari hadapannya. “Binatang   putih,   aku   berada   disini.”   Tiba-tiba   saja   terdengarlah

perkataan Candra Wulan yang telah berada dibelakangnya.

Sebab dengan mengandalkan kelincahannya, gadis ini memutar tubuhnya dan mencelat kebelakang.

Gagak Seto membalikkan tubuhnya dengan cepat, maka ia melihat kalau gadis ini meletakkan tangannya dimukanya, lidahnya dijulurkan panjang untuk menggodanya. Hingga dengan demikian kelihatan luculah tingkah laku Candra Wulan. Sedangkan Gagak Seto saking marahnya menjerit keras, dengan kedua tangannya, golok dan tangan kosong, ia menyerang sambil melompat.

Gadis itu tertawa.

“Aku akan pergi kebelakangmu nanti! Hati-hatilah.” Katanya. Ia lalu menggerakan kedua kakinya, agaknya hendak melompat kearah kiri lawannya itu. Secara mendadak saja Gagak Seto mengubah jalan pikirannya.

‘Kau sangat licik hantu wanita cilik.’ Pikirnya.

“Lihat aku akan mencegatmu.” Ia melihat kalau gadis ini akan melompat kekiri, dari sana ia pasti akan pergi kekanan. Maka itu, ia mengertak menyerang kekiri, setelah itu ia meneruskan bergerak kekanan. Candra Wulan benar-benar cerdik, ia dapat menerka maksud lawannya ini, karena itu iapun berpura-pura hendak melompat kekiri pula akan tetapi disaat orang hendak memutar tubuhnya, ia meneruskan kekanan musuhnya itu, maka sekali lagi ia berada dibelakang musuhnya ini.

“Eh... binatang putih aku berada disini sekarang.” Katanya sambil tertawa.

‘Celaka.’ Seru Gagak Seto didalam hatinya. Ia sangat khawatir kalau nanti akan dibokong oleh gadis ini, yang suaranya datang dari arah belakangnya. Maka sambil memutar tubuh ia menyiapkan goloknya. Ketika Gagak Seto membalikkan tubuhnya, maka tampaklah kalau Candra Wulan sedang tertawa dan menghadap kearah pangeran Pamegatsari, gadis itu lalu bertanya :

“Pangeran dua kali aku telah mempermainkannya, apakah permainan ini masuk kedalam hitungan atau tidak?”

Pangeran Pamegatsari tertawa pemuda ini menganggap kalau kepandaian Candra Wulan ini hanya biasa saja, namun gadis ini mempunyai banyak akal dan tipu muslihat yang licin.

“Aku tak dapat mengatakan sesuatu apa.” Jawabnya. “Toh bukan aku yang tengah bertarung denganmu? Kau tanyakan saja kepadanya!”  

“Mengapa tak masuk hitungan?” Seru Gagak Seto.

“Lima ditambah dua toh ada tujuh? Berarti kita telah bertanding tujuh jurus. Karena itu kesempatanmu hanya tinggal setengah jurus lagi. Huahuaaa.... Huiahaaaa... Huahaa.... jika kau benar-benar dengan setengah jurus lagi dapat memukul robohku, nanti aku akan memintakan kepada guruku supaya beliau memberikan Tunggul Tirto Ayu itu kepadamu dan

akan diberikan dengan kedua belah tangan yang terbuka   ”

Candra Wulan menghela napas panjang, tampak dengan jelas sekali ia menjadi lesu.

“Baiklah aku mengalah kepadamu....” Katanya. Tapi segera ia menambahkan. “Gagak Seto..... kau lihatlah gurumu itu ”

“Mengapakah dengan guruku itu?” Tanya Gagak Seto dengan menyeringai dan nadanya dingin. Ia lalu berpaling kearah gurunya. Ia mendapatkan gurunya sedang bertempur dengan Mintaraga, gurunya itu tak kurang sesuatu apa, maka ia balik bertanya lagi.

Adalah disaat orang berpaling, Candra Wulan bergerak dengan gerakan yang sangat gesit.

“Kena.” Iapun berseru, sebab jari tengah dari tangannya yang kanan sudah segera dipakai untuk menotok, dan sasaran yang diarah ialah dada lawannya.

Gagak   Seto   terkejut.   Darahnya   meluap   dengan   seketika   :   “Oh...

perempuan hina.” Makinya dengan sengit. “Kau berani membokongku?” Ia lalu mengerahkan tenaga dalamnya, sebab untuk menangkis terang tak ada waktu. Ia menganggap kalau dengan lawan yang berkepandaian seperti itu, berimbang, maka totokannya itu tak akan mempengaruhi apa-apa kepadanya.

Atau kalau kena sekalipun juga tak akan membahayakan keselamatannya. Tentu saja dugaannya ini meleset. Tiba-tiba Gagak Seto merasakan dadanya sangat sakit, dan terus kedua kakinya kehilangan tenaga, bagaikan sebatang balok besar tubuhnya terus jatuh terbanting keatas tanah dengan memperdengarkan suara yang keras dan berisik. Ia masih sadar, maka mencoba untuk mencelat bangun namun apa mau dikata kepalanya masih terasa pusing, sepasang matanya berkunang-kunang.

Karena itu sekali lagi ia lalu roboh keatas tanah. Candra Wulan tertawa bergelak-gelak.

“Apakah kau jatuh?” Tanyanya. “Kau menyerah atau tidak?” Kedua mata Gagak Seto mencilak putih, dia rebah jengkar bagaikan mayat, tak dapat ia menjawab pertanyaan itu. Kejadian ini membuat semua orang menjadi heran, tak terkecuali Candra Wulan sendiri, ia sendiri tak menyangka akan demikian hebatnya akibat serangannya itu. Ia tadinya menyangka kalau Mintaraga membantunya dengan secara diam-diam, waktu ia mengawasi anak muda kawannya, Miniaraga itu lagi asyik  

melayani Sucitro. Dengan sendirinya gadis ini menghela napas. Ia menjadi

kagum bukan terhadap ilmu pukulan Braholo Meta ini. Tapi baru sekarang ini ia menginsyafinya. Ketika tadi ia membuka mulut besar untuk mengumbar kesombongnnya, hendak menjatuhkan lawannya dalam tujuh setengah jurus ia benar-benar mengoceh tak karuhan. Candra Wulan juga mempunyai sedikit juga tak mempunyai kepastian untuk perkataannya itu.

Setelah jurus kelima ia menjadi cemas bukan main, hatinya menjadi gelisah. Karena itu ia menjadi berpikir keras untuk mencari akal.

Baru setelah ia melihat kalau pangeran Pamegatsari telah mengalahkan Kalong Ireng, maka Candra Wulanpun segera mendapatkan jalannya. Itulah kecepatan bagaikan kilat yang diperoleh oleh Pamegatsari untuk memperoleh kemenangan. Karena itu Candra Wulan mempergunakan akal ini pula. Hanya untuknya, Candra Wulan telah dibantu dengan kealpaan Gagak Seto. Sebab Gagak Seto sangat percaya kalau gadis ini tentunya tak akan sanggup mengalahkannya dalam waktu tujuh setengah jurus saja. Karena itu hatinya menjadi besar setelah melihat tujuh jurus serangan gadis ini dapat digagalkan.

Karena kegembiraannya ini maka Gagak Seto menjadi kurang waspada. Sedikitpun tak pernah disangka kalau Candra Wulan mengerti akan ilmu pukulan Braholo Meta yang sangat dahsyat dan menjadi ilmu simpanan dari Pendeta Argo Bayu pendiri padepokan Lawu.

Kembang Arumpun tak tahu kalau kawannya telah mempelajari ilmu pukulan Braholo Meta, karena itu ia heran bukan main. Tentu saja ia menjadi girang sekali. Kemudian katanya didalam hati kecilnya :

‘Entah dari mana adi Candra Wulan mendapatkan kepandaian yang sedemikian hebatnya. Hal ini tentu saja akan menambah kekuatan kita dan keberuntungan yang sangat bagus bagi kami keturunan keluarga tiga Tumenggung Malangyudo, Kertoyudo, Sorohnyowo ’

Pangeran Pamegatsari menjadi terkejut, ia benar-benar heran bersama masygul. Sedikitpun tak pernah disangkanya kalau gadis ini demikian pesatnya kemajuannya. Pangeran Pamegatsaripun tak mengetahui apa nama ilmu silat dari Candra Wulan itu. Tentu saja ia menjadi masygul, karena dengan hebatnya mereka bertiga, menjadi semakin sukar untuk menyingkirkan mereka itu. Sewaktu mereka terdiam tiba-tiba saja terdengar suara Candra Wulan.

“Eh... pangeran, bagaimanakah?” Tanya Candra Wulan sambil tertawa. “Apakah jurusku yang baru saja kulakukan ini ada harganya untuk kau lihat? Apakah aku ingkar kalau dalam tujuh setengah jurus dapat merobohkannya?”

Pangeran Pamegatsari menjadi tertawa bergelak-gelak. Dasar ia seorang pemuda cerdik, segera saja dapat menenangkan hati serta dirinya.  

“Kepandaianmu itu sungguh sangat hebat sekali Candra Wulan.”

Jawabnya. “Hanya mungkin kau keliru mengenai perkataan tujuh setengah jurus.... benar bukan?” Candra Wulanpun tertawa dan memasukan pedangnya kedalam sarungnya kembali.

“Aku mengatakan kalau kau ini memang tak mempunyai pengetahuan barang sedikitpun juga. Inilah buktinya yang membenarkan perkataanku tadi.” Serunya.

“Dalam pertempuran mempergunakan senjata tajam, satu jurus tetap satu jurus, akan tetapi melepaskan pedangku dan mengganti dengan tangan kosong, apakah itu bukan berarti setengah jurus? Aku toh telah mengalah kepadanya? Ah... dasar kau tak mengerti. Kau ini memang seorang manusia yang tak berguna dan hidup hanya untuk makan saja.”

Mendengar perkataan Candra Wulan ini maka Kembang Arum lalu tertawa sambil menutupi mulutnya.

Pangeran Pamegatsari tahu kalau Candra Wulan ini adalah seorang perempuan nakal yang sukanya menggoda orang, dan sedikitpun gadis ini tak mau memakai aturan, karena itu ia tak sudi melayani dan hanya ikut tertawa saja.

“Baik... sudahlah.” Katanya. “Kita semua telah menjatuhkan masing- masing lawan kita. Dengan sejurus atau setengah jurus sama saja. Sekarang marilah kita lihat ki Mintaraga ...”

Pangeran Pamegatsari belum menghentikan perkataannya itu dan tiba- tiba mereka bertiga mendengar sebuah pekikan panjang dan nyaring. Suara ini benar-benar menyeramkan sekali dan disusul dengan berkelebatnya sesuatu yang berwarna merah bergelempang, dan sambaran anginnyapun terasa. Itulah serangan mendadak kepada Candra Wulan. Kembang Arum terkejut tetapi gadis ini tetap tabah, maka melupakan ancaman bahaya, ia lalu mencelat kemuka kawannya itu. Kembang Arum menghadang didepan Candra Wulan, ia lalu membuka kedua tangannya untuk membuyarkan serangan mendadak itu.

Sucitro telah menyaksikan kalau tiga orang muridnya telah roboh, karena itu hatinya menjadi panas bukan main, maka dengan cepat ia meninggalkan Mintaraga dan melompat kearah Candra Wulan yang langsung diserangnya. Akan tetapi ia dirintangi oleh Kembang Arum.

“Siapa yang melakukan gerakan ini... siapakah yang meritangiku   ”

Teriaknya dengan menegur terus-menerus. Dalam kemarahannya yang telah memuncak ini maka orang tua itu berkata dengan asal keluar saja.

Walaupun sebenarnya ia mengetahui kalau ketiga orang muridnya itu dikalahkan oleh tiga orang itu pula. Kemudian kakek tua yang sakti ini mengawasi Kembang Arum, Candra Wulan dan pangeran Pamegatsari dengan berganti-ganti. Roman mukanya menunjukkan kebengisan yang luar  

biasa sekali. Waktu itu dengan sebuah lompatan Mintaraga telah menyusul

musuhnya.

Ia lalu tertawa dan kemudian berkata : “Paman kita telah bertempur lebih dari lima ratus jurus, apakah kita berhenti sampai disini saja?” Candra Wulan heran bukan main.

‘Diantara kita bertiga tak ada yang bertempur lebih dari sepuluh jurus, akan tetapi mengapa mereka itu telah bertempur lebih dari lima ratus jurus?’ Katanya dalam hati. Sucitro tak mempedulikan pertanyaan anak muda itu, ia lalu meninggalkan Kembang Arum dan Candra Wulan, lalu menghampiri Kalong Ireng untuk membebaskan totokannya yang mempengaruhi muridnya ini.

“Inilah ilmu totokan jalan darah dari perguruan Kendeng.” Seru jago tua ini dengan nada dingin.

“Pamegatsari, apakah ini perbuatanmu.” Siapakah orang yang menjadi gurumu?”

Pertanyaan ini membuat Mintaraga tahu kalau pangeran Pamegatsari ini adalah murid dari perguruan Kendeng, karena itu orang yang menjadi gurunya tentu seorang Panembahan. Pangeran Pamegatsari tertawa dengan terbahak-bahak dan kemudian ia menjawab :

“Guruku adalah panembahan Kunti Baja. Guruku itu pernah mengatakan kalau beliau ini sangat mengagumi ilmu silat paman.”

“Hm... siapakah yang mengharapkan pujian itu?” Seru Sucitro yang terus menolong Gemak Ijo, setelah itu ia berkata : “Ini adalah buah dari ilmu silat perguruan Muria. Kembang Arum ilmumu ini belum sempurna, maka besuk kau panggilah ibumu itu supaya datang sendiri kemari. Kecewalah hatinya kalau nanti kau roboh dalam dunia kependekaran ini.”

Sebenarnya jago tua ini telah keliru. Ia tak tahu kalau Kembang Arum telah berlaku murah hati terhadap muridnya, hingga gadis ini tak menghajar dengan sesungguhnya.

Kembang Arum sabar sekali, sedikitpun ia tak menjawab perkataan jago tua yang sombong ini. Melainkan hanya tertawa dengan terbahak-bahak saja.

Setelah itu segera Sucitro menghampiri Gagak Seto.

Begitu ia telah mendekat maka orang sakti dari Selatan ini tahu kalau muridnya tak kena totokan, akan tetapi muridnya ini toh roboh kaku bagaikan mayat. Karena itu ia menjadi kaget sekali. Dengan memperdengarkan suara yang tak jelas, ia mulai berjongkok dan meraba- raba kening muridnya. Segera ia terkejut dan tergetar hatinya. Kening itu dingin bagaikan es.

Maka cepat-cepat ia membungkuk, untuk memeriksa hidung muridnya ini, namun ia mendapatkan kalau muridnya ini masih bernapas.  

“Siapakah yang melakukan ini?” Tanyanya dengan berteriak. Akan

tetapi ia terus memeriksa tubuh muridnya itu. Sesaat kemudian ia berjingkrak bangun, untuk menghadapi Mintaraga.

“Mintaraga anak busuk, bagus betul perbuatanmu ini.” Serunya dengan menggerung. Mintaraga heran.

“Paman apakah arti perkataanmu itu?” Tanyanya.

Sucitro telah tak menjawab, hanya ia mengangkat kepalanya dan memperdengarkan tantangannya yang nyaring : “Pendeta Argo Bayu... pendeta Busuk, lekas kau keluar. Seorang laki-laki tak akan berbuat dengan sehina ini. Kau telah mempergunakan Braholo Meta untuk melukai muridku. Hem... kau ini sebenarnya orang gagah dari kalangan manakah??”

Tantangan ini diulangi sampai tiga kali, namun sedikitpun juga tak terdengar jawabannya.

Maka jago tua ini menjadi marah sekali dan mukanya menjadi merah padam. Terpaksa ia berpaling kearah Mintaraga.

“Mintaraga, apakah benar kalau kakek gurumu tak disini?” Tanyanya menegaskan.

Baru sekarang Mintaraga mengerti, maka ia lalu melirik kearah Candra Wulan. Dan iapun lalu tertawa dengan terbahak-bahak.

“Sekarang ini guruku pasti telah kembali kegunung Lawu.” Jawabnya. “Paman, ada urusan apakah kau mencari guruku?”

Jago tua ini tertawa dingin.

“Jangan kau berpura-pura tak mengerti.” Bentaknya. “Sangat mengherankan sekali kalau kau tak mengetahui bahwa muridku ini terkena serangan pukulan Braholo Meta hingga anggota tubuhnya bagian dalam menjadi terluka. Kalau ia tak istirahat empat puluh sembilan hari maka ia tak akan dapat sembuh.”

Mendengar perkataan itu baik Pangeren Pamegatsari, Kembang Arum dan Candra Wulan sendiri menjadi heran dan kaget sekali. Pangeran Pamegatsari dan Kembang Arum menjadi kaget setelah mengetahui kalau Candra Wulan dapat mempergunakan ilmu pukulan Braholo Meta, dan Candra Wulan menjadi heran ketika mengetahui betapa hebatnya akibat dari totokan tangannya ini. Kehebatannya melebihi apa yang dipikirkannya.

Sucitro tetap menghadapi Mintaraga.

“Mintaraga.” Tanyanya pula. Memang kemarahannya tak dapat diukur lagi, namun kakek tua ini masih tetap berusaha mengendalikannya. “Siapakah yang melakukan ini? Lekas kau katakan.”

Anak muda itu tertawa didalam hatinya :

“Kau yang berlagak tak tahu atau aku?” Ia lalu tertawa.

“Kau pikirlah sendiri.” Jawabnya dengan serampangan. “Kecuali gadis ini siapa lagi?”  

Dan Mintaraga menunjukkan jari tangannya kearah Candra Wulan. Ia

menjadi girang sekali setelah melihat kawannya ini dapat merobohkan seorang musuh tangguh. Biarpun hal ini untuk pertama kalinya.

Mintaraga lalu mengawasi gadis itu dan tersenyum serta mengangguk- anggukkan kepalanya.

Sucitro melihat tingkah polah pemuda ini, ia kemudian berpaling kearah Candra Wulan. Sucitro berpikir sesaat sebelum membuka mulutnya.

“Mintaraga, diakah yang kau maksudkan?” Tanyanya menegaskan sambil menunjuk kearah Candra Wulan.

“Jika kau tak mengerti maka kau tanyakan saja sendiri kepada muridmu itu.” Jawab Mintaraga. Mintaraga tetap bersikap tenang.

Sucitro berpikir. Kembang Arum dan Pangeran Pamegatsari telah menjatuhkan lawannya masing-masing, maka kecuali Candra Wulan lalu siapa lagi? Dia sangat heran hingga matanya berputar-putar.

“Candra Wulan.” Akhirnya ia berteriak kepada gadis yang berada dihadapannya itu. “Kau bicara, kau bicaralah.” Candra Wulan tersenyum terhadap jago tua ini.

“Paman.” Jawabnya dengan hormat dan sikapnya tenang serta sabar sekali. “Apakah yang perlu diherankan kalau aku dapat menghajar dan merobohkan binatang berbulu putih ini?” Mengapa paman membuatnya pusing.?” Inilah sebuah jawaban yang tak langsung juga merupakan sebuah hinaan.

Dalam kemarahannya Sucitro telah mencelat kearah Candra Wulan dan sebelah tangannya telah diulur untuk menjambak serta mencengkeram Candra Wulan.

Mintaraga yang melihat gelagat tak baik ini segera melompat untuk menangkis tangan jago tua yang mengancam keselamatan Candra Wulan putri angkat dari ayahnya itu.

“Paman.” Katanya sambil tertawa. “Masih banyak jurus yang belum kita selesaikan, perlu apakah menanam lebih banyak musuh-musuh tangguh?”

Memang pemuda ini sengaja menyebutkan Candra Wulan dengan sebutan ‘masuh tangguh’. Hal ini membuat hati Jago Tua itu bergolak, marah tak dapat, tertawapun tak mungkin. Dia juga menjadi heran sekali.

Dia tahu kalau Candra Wulan ini kepandaiannya tak seberapa tinggi, akan tetapi mengapa kini tiba-tiba saja telah dapat mempergunakan jurus pukulan Braholo Meta? Sebenarnya dia mencoba kekuatan namun apa mau dikata kalau Mintaraga menghalang-halanginya. Karena itu ia menjadi berdiam diri.

“Bagaimana paman?” Tegur Mintaraga sambil tertawa-tawa. “Kita melanjutkan pertarungan kita ini atau tidak?” Sucitro tetap berdiam diri, memang kakek ini sedang berpikir dengan keras. Ia berpikir dengan cepat sekali.  

‘Ketiga muridku telah jatuh semuanya.’ Demikianlah pikirannya. ‘Aku

sendiri belum tentu memenangkan Mintaraga ini, maka kalau sampai mereka mengeroyok berempat, maka mana aku sanggup melayani mereka? Gagak Seto juga terluka hebat sekali... ah... biarlah kali ini aku menyerah kalah, baiknya aku pulang dulu untuk mengurusi murid-muridku. Aku percaya kalau dikemudian hari akan ada ketika untuk membalas dendam ini...”

Segera jago tua ini mengambil keputusannya. Ia lalu menghampiri pula muridnya, dan mengangkatnya untuk dipanggul, setelah itu membalikkan diri dan menggeloyor pergi. Cepat sekali tindakannya dan kedua orang muridnya menggeloyor mengikutinya dari belakang...

Bukan kepalang senangnya hati Candra Wulan ketika mengetahui akan hal ini, ia tertawa terbahak-bahak.

“Paman.” Tanyanya. “Apakah kau tak menghendaki Tunggul Tirto Ayu itu? Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa... sungguh-sungguh mulia sekali hatimu. Nah terima kasih paman.”

Sucitro sebenarnya tak rela meninggalkan Tunggul Tirto Ayu itu, ia juga merasa sangat mendongkol sekali dengan pertanyaan Candra Wulan ini, akan tetapi ia terus menulikan kupingnya, ia berjalan terus hingga dilain saat Sucitro dan murid-muridnya lenyap dari pandangan mata.

Candra Wulan berjingkrak dalam kegirangannya itu ia lalu tertawa lebar.

“Tunggul Tirto Ayu, oh... telah lama aku kepingini lambang itu.” Serunya. Dengan sebuah lompatan ia lalu telah tiba ditengah kalangan, tangannya terus diulur untuk mengambil Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro. Mustika itu bersinar terang berkeredepan.

“Tahan.” Tiba-tiba terdengar suara nyaring dikuping gadis itu. Suara ini datangnya dari sampingnya.

“Kakang Mintaraga, ayu Kembang Arum.” Katanya sambil tertawa. “Banyak sudah penderitaan kita untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu ini, dan baru sekarang kita mendapatkannya. Marilah lekas kau lihat ini...”

“Tahan.” Kembali suara nyaring dari samping itu terdengar lagi... “Kau jangan bergembira dahulu. Letakkan barang itu ditempatnya. Kau dengar atau tidak?”

“Hem.” Seru Candra Wulan, dan kali ini ia berpaling. Maka disampingnya itu tampak berdiri seseorang, dan orang itu bukan lain adalah Patih Udara si penguasa dari kepatihan Jipang Panolan yang diutus oleh Ario Penangsang untuk merebut Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang ketahtaan. Karena itu ia menjadi sangat mendongkol.

“Apa?” Tegurnya. “Kamilah yang menghajar kabur Sucitro, kau ini hendak main enak saja.”  

Patih Udara berlaku tenang. Ia tak menjawab perkataan gadis ini, hanya

mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang memegang segumpal daging segar, sambil berbuat demikian ia lalu bersiul dengan nyaring. Dari atas udara kelihatan dua bayangan hitam yang terus meluncur turun serta terdengar pula sayap burung berdebakan.

Itulah dua ekor burung garudanya, yang terbang turun atas panggilannya. Kedua ekor burung itu sudah segera hinggap diatas tanah.

Tampaknya mereka itu melebihi tinggi orang biasa.

Dengan tenang-tenang saja patih Udara memelihara burung-burungnya itu. Barulah sekarang sambil tertawa ia berkata : “Candra Wulan.” Katanya. “Aku hendak bicara terus terang kepadamu. Kulihat lebih baik kau meletakkan saja barag itu. Lalu kau segera menyingkir jauh-jauh dari sini untuk menolong jiwamu dari pada kematian... Candra Wulan tak takut, malahan tertawa dingin.

“Patih Udara, berapa tinggikah kepandaianmu itu?” Tanyanya dengan lantang. “Apakah kau tak melihat contoh itu si kakek sakti yang bernama Sucitro?”

Patih Udara lalu memberikan dagingnya itu kepada burung-burungnya dan kemudian mangusap-usap burung itu.

“Pergilah.” Katanya kepada kedua binatang peliharaannya itu. “Kalian gemar akan daging busuk, sebentar akan kuberikan kepadamu tiga buah bangkai. Aku akan menanggung bahwa kalian tentu akan berpesta besar.”

Candra Wulan mengkerik ketika mendengar perkataan terakhir ini, sedangkan Mintaraga dan Kembang Arum segera lari ketengah arena, untuk mendekati kawannya. Patih Udara yang melihat kedatangan kawan-kawan Candra Wulan ini lalu tertawa. “Hem.”

Kedua matanyapun mencilak. Sekarang tak lagi ia menghadapi Candra Wulan hanya si anak muda.

“Mintaraga.” Katanya dengan suara yang seram. “Budak perempuan ini adalah seorang bocah, karena itu aku tak mempunyai niat untuk mencelakainya. Maka marilah kau saja yang maju. Kau menghendaki bertempur beramai-ramai atau satu lawan satu?”

“Kakang Mintaraga jangan kau layani dia.” Potong Candra Wulan. “Yang muda tak tahu tebalnya bumi dan tingginya langit. Karena pihak

kita yang telah mengalahkan Sucitro maka barang itupun seharusnya kepunyaan kita. Marilah kita bawa barang itu pergi dari tempat laknat ini.”

Setelah berkata demikian ia lalu memasukkan Tunggul Tirto Ayu lambang dari tahta dan kebesaran kerajaan Demak ini dimasukkan kedalam sakunya, lalu ia putar tubuh untuk berlalu.

Disaat itu Bagaspati dan semua adik-adik angkatnya telah berdiri baris dihadapan Candra Wulan.  

“Kau hendak pergi?” Tanya Bagaspati dengan suara dingin. “Jangan kau

kira akan dapat pergi dengan sedemikian gampangnya Candra Wulan.” “Habis apakah yang akan kalian perbuat?” Bentak Candra Wulan

dengan marah. Ia melompat dan tangannya melayang. Akan tetapi dari belakangnya Candra Wulan merasakan kalau ada tenaga yang menarik tangannya. Ketika ia berpaling maka Candra Wulan melihat Mintaraga.

Pemuda ini tahu, kalau untuk menghajar Gagak Seto, Candra Wulan cukup tangguh. Akan tetapi kalau anak angkat ayahnya ini melawan Bagaspati maka mirip dengan mengantarkan nyawa saja.

Disamping itu iapun insyaf, meskipun Tunggul Tirto Ayu sudah berada ditangan mereka, untuk membawa itu dengan aman kepada Ngawonggo Pati, bahaya belum lagi lewat, ia harus memecahkan dahulu pelbagai lapisan kekuatan.....