Tunggul Bintoro Jilid 04

 
JILID IV

MINTARAGA berlaku tenang.  

“Kita harus tidur dahulu untuk memelihara kesegaran kita.” Jawabnya.

“Nanti malam kita pergi mengacau perkumpulan Tengkorak Berdarah, dan juga menyelidikinya paling sedikit.”

Mendengar ini Candra Wulan menjadi terperanjat, terperanjat karena kegirangan.

“Bagus.” Serunya. “Kalau aku dapat mencari Tengkorak Biru, dengan sebilah tanganku akan kukirim nyawanya kedunia baka. Supaya nanti disana ditikam pula dengan pedang ayah.”

Lalu ia mengambil sebuah batu besar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia lalu melemparkan batu itu.

“Lalu dengan cara bagaimanakah disini ini kita akan dapat mencari kerbau atau kuda?” Katanya.

Mintaraga tertawa sambil memandangnya. Ia benar-benar tak tahu dalam sepuluh hari menerima ilmu itu sampai seberapa kemajuan yang diperoleh oleh adiknya ini. Lalu jawabnya :

“Di Karang Bolong sini, sekalipun kutu dan semut telah terbakar habis, tak sebuah lalatpun yang tinggal, akan tetapi kalau kau akan mencoba tenagamu tak usah kau mencari kerbau atau kuda. Kalau kau memang benar-benar ingin mencoba kehebatan tenagamu maka lemparkan saja ketubuhku.”

“Masih saja ia tertawa, agaknya pemuda ini benar-benar gembira, hingga ia bersedia memasang tubuhnya untuk menjadi bahan penguji kepandaian Candra Wulan.

“Baik.” Jawab gadis itu. “Kau memang mempunyai kepandaian seratus kali lebih tinggi dari pada kepandaianku.”

Tiba-tiba saja Candra Wulan menggerakkan tangan kirinya kedepan Mintaraga.

“Awas.” Katanya.

Mintaraga tahu kalau Candra Wulan sedang menggertaknya, sedikitpun ia tak mengambil peduli, atau mendadak ia merasakan perutnya panas sekali, tiba-tiba saja Candra Wulan menyusuli serangannya dengan tangan kanan, serangan ini sangat hebat.

Bukan kepalang kagetnya hati Mintaraga. Ia bukan saja heran atas perubahan tenaga gadis ini dan kesebatannya itu, iapun tak mengerti mengapa Candra Wulan menjadi demikian telengas sudah menyerang dengan demikian kejamnya......

Candra Wulan telah menyerang dengan ilmu pukulan Gundala Kurda yang paling hebat.

Pemuda itu insyaf, walaupun tenaga dalam gadis ini boleh tak diperhatikannya akan tetapi serangan Candra Wulan benar-benar bahaya sekali. Kalau saja ia membiarkannya saja maka banyak kemungkinan ia akan mendapat luka dalam yang cukup berat, karena itulah ia lalu menangkis  

dengan jurus Asap hujan diatas Lawu. Ia menangkis dengan pelan, akan

tetapi ketika kedua tangan itu bentrok, Candra Wulan merasakan tangannya sakit hingga ia menjadi kaget sampai ia hampir menjerit menangis.”

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Mintaraga yang segera menarik pulang tangannya.

“Kau ijinkan aku menyerang, akan tetapi kenapa kau membalas?” Tegurnya sambil memutar tubuhnya untuk mengambil langkah panjang. Candra Wulan menyingkir jauh-jauh dari pemuda itu. Disini barulah ia melepaskan tangisannya.

Mintaraga melongo.

‘Kelihatannya adi Candra Wulan ini mulai tersesat......’ Pikirnya. “Bagaimana sekarang. ?”

Mintaraga tak tahu, selama lima hari, Resi Giri Pragoto telah mewariskan ilmu pukulan yang kedua belas dari jurus Gundala Kurda. Jurus yang kedua belas ini diberi nama ‘Meneteskan darah menghancurkan hati’. Inilah pukulan yang paling jahat dari ilmu Gundala Kurda.

Sewaktu gadis itu menangis, Mintaraga masih tetap berdiam diri saja. Berdiri terpatung. Setelah gadis itu lama menangis maka Mintaraga menghampirinya.

“Ah... kau ini benar-benar keterlaluan sekali, tanganku sakit bekas pukulanmu akan tetapi mengapa kau sedikitpun tak melihatnya!” katanya dengan aleman.

Mintaraga memandang kewajah Candra Wulan. Melihat paras yang cantik dan memancarkan kejujuran ini maka pemuda itu lalu tersenyum akan tetapi sedikitpun juga ia tak membalas ocehan itu.

Candra Wulan masih memandang sebentar, lalu ia lari ketempat yang teduh dan merebahkan dirinya. Yah gadis ini ingin tidur. Entah berapa lama ia telah tertidur, akan tetapi segera ia bangun setelah hidungnya mencium bau sedap dari daging panggang.

Ketika ia membuka matanya segera Candra Wulan melompat bangun. Sebab ia melihat kalau Mintaraga mempunyai daging ayam hutan panggang, entah dari mana ayam hutan itu didapatkannya.

“Selama beberapa hari kita terus menerus makan ikan, hingga pencernaan kita hampir rusak karenanya.” Kata Mintaraga sambil tertawa. “Mari lekas makan daging ini.”

Ia berlaku gembira, seperti melupakan peristiwa diantara mereka itu. Candra Wulan segera menghampiri dan tanpa sungkan-sungkan lagi lalu menyikat daging panggang itu. Memanglah ia merasa sangat lapar sekali.

“Kau hebat.” Seru Mintaraga dengan tersenyum. Iapun ikut makan bersama Candra Wulan.

Tak lama setelah mereka makan haripun telah menjelang magrib. “Mari kita berangkat.” Ajak Mintaraga.  

“Baik.” Jawab Candra Wulan. “Kalau sebentar kita sampai ke Pulau lblis

pusat perkumpulan Tengkorak Berdarah, hari telah tengah malam.”

Mereka lalu menaiki perahu mereka, yah perahu itu sepuluh hari lamanya telah diperbaiki oleh Mintaraga. Benar perahu itu telah rusak akan tetapi dapat mereka pergunakan.

Ketika Candra Wulan menolak dengan batang bambunya, perahu itu menggeser dengan cepat dan pesat, sekali tolak saja ia telah melampaui dua puluh tombak lebih, melihat ini ia menjadi girang sendiri.

“Biasanya aku hanya dapat menolak sampai sepuluh tombak saja. Dan ternyata sekarang tenagaku berlipat ganda.” Katanya. “Kakang Mintaraga, apakah kau tak menjadi girang karena kemajuanku ini?!”

“Tenagamu itu telah bertambah ini sangat bagus.” Jawab Mintaraga dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hanya kulihat ilmu silatmu yang bernama Gundala Kurda itu kurang tepat.... Ah... sudahlah lebih baik kita tak membicarakan itu ”

Melihat kalau kakaknya ini menjadi ragu-ragu ia tak menjadi mendongkol sebaliknya ia malah tertawa bergelak-gelak.

“Kau memikirkan apa kakang Mintaraga?” Tanya Candra Wulan. “Bicaralah! Mustahil diantara kita masih terdapat apa-apa yang perlu disembunyikan lagi.”

Gadis ini bicara dengan sikap yang wajar, tak lagi ia aleman seperti tadi, juga tak menjadi kurang senang. Akan tetapi menghadapi sikap gadis ini, hati Mintaraga menjadi berdenyut, hingga ia menundukkan kepalanya, dari mulutnya terdengar perkataan yang tak jelas.

Melihat sikap pemuda itu, Candra Wulan menjadi kurang puas juga. “Ah... pantaslah disaat paling akhir barulah ayahmu mengatakan

kepadaku, “Candra Wulan orang yang teirdekat denganmu masih harus ditambah satu orang, yaitu Mintaraga.” Katanya dengan suara yang tak puas. “Ketika itu aku merasa heran sekali mengapa ia mengatakan demikian kepada anaknya sendiri, hem... kiranya demikianlah kelakuanmu. Kau ternyata tak memandangku sebagai saudaramu.”

Mintaraga menjadi terdesak pula, ia menjadi tak tega.

“Baiklah aku akan memberikan keterangan kepadamu.” Jawabnya. “Pukulanmu barusan tadi, bukanlah tipu ilmu silat yang disukai oleh kita dari golongan-golongan yang sadar. Yang kumaksudkan ialah dengan mempergunakan pukulan itu tadi maka akan mengakibatkan kesan-kesan yang tak baik bagi kaum dunia kependekaran. Kau mengerti atau tidak?”

Candra Wulan tercengang.

“Uwa guru mengajarkan ilmu ini kepadaku, dan aku mempelajarinya.” Jawabnya. “Akupun tak tahu apa yang dinamakan golongan sadar dan golongan tak sadar. Baiklah jika kau tak menyukainya, nanti aku akan menabas putus tangan kananku ini.”  

Gadis ini lalu menunjukkan slkap yang tak senang, hatinyapun menjadi

mendongkol sekali.

“Aku bukan mencelamu dan menyesalkan.” Segera Mintaraga mengatakan dengan cepat. “Aku hanya menginginkan lain kali kau harus berlaku hati-hati kalau mempergunakan ilmu tipu silat ini. Jangan sekali-kali kau melakukannya dengan sembrono. Kau harus insyaf.” Kemudian katanya lagi setelah menarik napas panjang. “Tak mudah seorang jago silat menciptakan ilmu silat macam pukulan Gundala Kurda ini, uwa gurumu ini pasti telah membuang banyak waktu dan memeras keringat untuk dapat menciptakan ilmu silat macam ini. Sekali-kali bukannya aku mengatakan kalau ilmu silat Gundala Kurda itu buruk, ini bukan! Dalam dunia kependekaran memang ada sejumlah manusia yang bertabiat aneh dan busuk. Terhadap golongan ini maka kau boleh mempergunakan ilmu silatmu itu, jika kau mempergunakannya kepada mereka yang jahat itu maka tak ada orang yang akan mencelamu. Akan tetapi kalau ilmu silatmu itu akan kau pergunakan untuk main-main, atau menghadapi lawan yang tergabung dari golongan putih maka perbuatanmu itu akan meninggalkan kesan yang tak baik.”

Mintaraga telah bicara dengan jelas dan penuh kesabaran, akan tetapi Candra Wulan tetap masih ragu-ragu.

“Bukankah inipun ada tipu silat yang hebat dari rimba persilatan, ada apa-apanya yang buruk?” Dia masih bertanya dengan ragu-ragu.

Mintaraga tak menjawab dengan langsung. Dengan wajah masygul, ia berkata :

“Sahabat-sahabat clari Indrakilo itu, diantara kaum dunia kependekaran, kedudukannya adalah sangat terpencil sekali. ”

“Eh... kau belum menjawab pertanyaanku.” Desak Candra Wulan dengan lantang.

“Aku akan menceritakan sebuah dongeng kepadamu, apakah kau suka mendengarkan ceritaku ini?” Tanya anak muda itu yang masih berusaha menyimpangkan perhatian Candra Wulan.

Selama ini tanpa terasa perahu mereka telah meninggalkan Karang Bolong daerah laut kidul sampai lima atau enam kilo. Candra Wulan masih tetap memegang kemudi dan layarnyapun tetap dipasang.

Mau atau tak mau terpaksa Candra Wulan harus memasang kupingnya. Gadis ini benar kewalahan sekali ketika melihat kebandelan anak muda yang menjadi kakak angkatnya.

“Dahulu ada dua orang saudara angkat.” Demikianlah Mintaraga memulai dongengannya. “Mereka itu sama-sama hidup dalam dunia kependekaran, selama belasan tahun mereka itu bertempur saling damping mendampingi menghadapi lawan-lawan mereka. Setiap waktu mereka saling bantu membantu. Bukanah sedikit usaha mereka yang menggemparkan.  

Akan tetapi kemudian tiba-tiba saja mereka menjadi renggang satu dengan

lainnya. Tahukah kau apakah sebab kerenggangan itu?”

Candra Wulan menggelengkan kepalanya. Sedikitpun tak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan anak muda itu.

“Kerenggangan itu disebabkan pada hal mereka itu dari lain perguruan.” Seru Mintaraga melanjutkan ceritanya. “Diantara mereka, saudara yang lebih tua usianya beradat sangat keras. Iapun dari golongan sadar. Karena itulah ia menjadi tak puas ketika melihat beberapa kali adik angkatnya itu berlaku telengas dan beberapa kali membunuh orang dengan sembarangan saja. Malahan untuk melatih dan meyakinkan ilmu silat yang luar biasa, ia menyukai seorang yang masih hidup untuk dijadikan sasaran untuk pengujinya. Begitulah, sebab tak bisa mengawasi saja, ia telah memberi nasehat kepada adik angkatnya itu.

Sungguh diluar dugaan kalau adik angkatnya ini tak sudi mendengarkan nasehatnya itu.

Candra Wulan terus memasang kupingnya.

“Kau tahu sendiri tentang orang-orang dari dunia persilatan.” Mintaraga melanjutkan perkataannya. “Diantara mereka sering ada ketika untuk satu sama lain mencoba kepandaiannya. Adalah umum kalau kita saling coba mencoba, kita bataskan dengan adanya saling towel-menowel saja. Dengan itu, adik angkatnya, kejadiannya benar-benar lain. Jika ia mencoba dan tak memperoleh kemenangan, tidak apa, akan tetapi sekali ia menang maka celakalah pihak lawannya. Lawannya akan terbinasa dengan seketika atau setidak-tidaknya akan terluka parah. Dengan luka parahpun tak dapat dikatakan luka parah biasa saja. Luka parah itu berarti, kalau lawannya tak musnah ilmu silatnya, ia tentu terluka dalam hingga tak dapat disembuhkan lagi, hingga orang sama saja dengan tapadaksa. Kakaknya khawatir, dan benar kekhawatirannya terbukti. Lama-lama gemparlah kaum dunia persilatan, lalu kegemparan itu mendatangkan akibat ”

“Apakah itu ?” Candra Wulan bertanya.

“Orang-orang dari dunia kependekaran telah mulai bertindak. Mereka telah mengadakan himpunan diatas gunung Ungaran.” Mintaraga menceritakan lebih lanjut.

Disana mereka itu telah bersumpah untuk mengambil keputusan untuk menghukum mati kepada adik angkat yang dianggap kejam itu. Untunglah kakak angkatnya dapat mengatasi keadaan yang hebat itu. Dia berhasil meredakan suasana. Sehingga sumpah dan keputusan itu batal untuk diwujudkan. Sejak itu kedua saudara itu menjadi berpisah. Tapi belum terlalu lama, mereka telah berkumpul pula. Berkumpulnya mereka itu disebabkan karena adanya sebuah tugas. Yah tugas yang diserahkan kepada mereka dari tetuanya. Mereka pasti akan berhasil dapat menyelesaikan tugasnya. Apakah urusan itu, yang dikatakan besar dan penting? Itu adalah  

mengenai sebuah benda berharga, yang luar biasa. Dalam hal memernahkan

barang itu, kedua saudara yang berlainan pendapatnya, sehingga karenanya, kembali mereka menjadi berselisih. Adik angkatnya itu ingin menyerahkan barang itu kepada kakak seperguruannya, sedangkan kakaknya tak setuju bahkan merintanginya. Kali ini mereka bentrok dengan hebat hingga terpaksa mengadu tenaga. Sang adik berlaku licik, selain menggunakan akal, diapun telah menggunakan ilmu silatnya yang jahat itu. Hingga dengan demikian kakaknya terluka.

Syukur kakaknya ini tangguh ilmu tenaga dalamnya. Walaupun ia kalah ia masih dapat ditolong, cuma karena itu, ia rebah dipembaringan beristirahat untuk beberapa bulan lamanya.”

“Kemudian setelah kakaknya benar-benar sembuh, dia lalu mencari adik angkatnya.” Mintaraga melanjutkan ceritanya. “kakaknya ini bertabiat keras, dia telah bersumpah untuk memotong kedua lengan adiknya, supaya habis kepandaian adiknya itu. Dia pergi kesegala tempat. Akhirnya, mereka bertemu juga satu dengan lainnya. Pertempuran kali ini hebat bukan main. Kakaknya berhasil membikin kutung lengan kiri adiknya. Sedangkan lengan kanan adik angkatnya ini tak dikutungi pula karena kakaknya ini mempunyai hati yang lemah. Ia menaruh kasihan kepada adik angkatnya. Sedangkan adiknya lari pulang kegunungnya, ternyata adik ini tak puas, setelah sembuh, dia kumpuli saudara-saudara seperguruannya, dia mengajak mereka pergi untuk menuntut balas. Maka sekali lagi terjadi pertempuran hebat dilain tempat. Walaupun si adik hanya tinggal sebelah tangannya, namun ia berkelahi dengan luar biasa hebatnya, dia mendesak terus kakaknya itu dengan tidak memberi kesempatan untuk membalas. Rupanya dia berkelahi itu untuk menentukan hidup atau mati. Hal ini membuat si kakak menjadi naik darah, maka kesudahannya, kakak itu membunuh adiknya. Sampai disitu tamatlah satu permusuhan yang sangat hebat sekali. Yang mana sampai pada tengah hari ini barulah dapat dikatakan habis betul-betul.”

Candra Wulan cerdas, segera ia mengerti dongeng si pemuda. Itu adalah permusuhan diantara ayah pemuda ini yaitu Darmakusuma, dengan ayahnya sendiri, Candraloka. Mendengar cerita itu ia menjadi sangat terharu, sehingga dia tenang saja.

“Cerita ini kudengar dari mulut paman gurumu, Jlontrot Boyo,” menerangkan Mintaraga selagi si nona membungkam. “Cerita dia ini pastilah tidak salah. Dilihat dari perkaranya, kedua kakak beradik itu mempunyai bahagiannya yang tidak benar.”

Masih Candra Wulan berdiam.

“Kalau dipikir pokoknya ilmu silat itu hebat dan sesat.” Kata Mintaraga pula.  

“Ya itu benar.” Akhirnya Candra Wulan berkata pula. “Kalau demikian

pada permulaannya mengapa kau ijinkan aku mempelajari ilmu silat dari perguruan uwa guruku?”

Ditanya demikian maka ia lalu tertawa berkakakan.

“Bukankah aku telah mengatakannya?” Jawabnya. “Ilmu silat yang sadar akan tetapi kalau dipakainya keliru, ilmu itu berbalik menjadi sebuah ilmu yang sesat. Sebaliknya ilmu dari golongan sesat akan tetapi kalau dipergunakan untuk kebaikan maka akan berubah menjadi sebuah ilmu yang sebat. Dalam kalangan orang-orang dunia persilatan banyak mempeributkan antara golongan sesat dan tidak sesat begitupun dengan ilmunya. Semuanya ini sebetulnya tergantung kepada orangnya masing-masing. Yah orang yang mempunyai ilmu silat itu. Misalnya ilmu Gundala Kurda itu digunakan untuk membunuh Tengkorak Biru maka orang-orang dunia kependekaran tak akan ada yang menyalahkannya.”

Candra Wulan dapat diberi pengertian. Setelah mendengar dengan jelas maka malulah ia kepada dirinya sendiri. Mendadak saja ia teringat akan sesuatu hal.

“Wirapati telah mengatakan kepadaku kalau ibuku telah dipaksa oleh ayahmu untuk bunuh diri dengan terjun kedalam sebuah lembah, akan tetapi kakang Tunggorono mengatakan sebaliknya. Sebenarnya bagaimanakah duduk perkaranya kejadian itu?!” Tanyanya.

“Tentang itu tak kutanyakan kepada paman gurumu.” Jawab Mintaraga. “Memang benar ibumu telah membunuh diri, akan tetapi sebab-sebabnya aku tak mengetahui.

“Diwaktu kau hendak turun gunung apakah gurumu tak memberi tahukan tentang hal ini?”

“Guruku tak mau memberitahukannya.” Jawab anak muda ini. Setelah, menarik napas maka kembalilah Mintaraga meneruskan perkataannya :

“Setelah kau menemui ayahmu maka segala urusan unik ini akan segera menjadi jelas. Akan tetapi siapa tahu kalau ayahku telah mendahului mangkat ditangan orang-orang jahat.”

“Hai... hampir aku lupa.” Seru gadis itu dengan tiba-tiba. “Kau lihat apakah ini?!”

Ia segera memberikan surat rahasia dari Tunggorono. Juga ia menyampaikan pesan orang tua itu.

Melihat barang peninggalan ayahnya ini maka Mintaraga menangis dan air matanya bercucuran turun dengan deras sekali.

Surat itu berbungkus rapat didalam sebuah kulit kambing dikulit ini sedikitpun tak ada tulisannya apa-apa    

“Adik Wulan, apakah kau mengerti ‘Cecak merayap’.”

Candra Wulan menggelengkan kepalanya, mukanya menjadi merah. Ia malu dengan sendirinya.

“Kalau demikian baiklah kau naik terlebih dahulu!” kata si anak muda, yang tanpa berkata sesuatu apalagi, tanpa mohon perkenan juga, terus menyamber pinggang kecil langsing si gadis, yang terus diangkat dan dilemparkan keatas lamping bukit itu! Hingga tubuh gadis itu bagaikan batu yang dipakai menimpuk...........

Seteiah itu, tanpa berkhayal sedikitpun, Mintaragapun sudah lantas mengeluarkan kepandaiannya ‘Cecak merayap’ itu, akan merayap naik dilamping bukit, kedua tangannya dan sepasang kakinya bekerja sama dengan gesit sekali, hingga sedetik kemudian, ia sudah sampai diatas gunung, berdampingan dengan si gadis.

Dari situ, mereka telah terpisah tak jauh lagi dari markas besar kawanan Tengkorak Berdarah itu, bahkan dari dalam markas sudah tampak cahaya lampu yang bergerak-gerak tak hentinya.

Dengan berlari-lari, dengan menggunakan ilmu mengentengkan tubuh, sepasang muda-mudi ini menghampiri markas itu. Sama sekali mereka tidak mendengar suara apapun. Baru setelah mereka sampai ditengah perjalanan mendadak mereka berpapasan dengan serombongan peronda yang sedang meronda, yang muncul dibelokan kiri rimba kecil. Mereka terkejut, mereka lalu menegur.

Mintaraga berlaku sangat hebat, belum lagi mereka itu menutup mulut ia sudah melompat diantara mereka, kedua tangannya sangat lincah, maka sesaat saja, semua peronda itu sudah mati kutunya. Mereka tertotok sehingga tak dapat membuka mulut dan tak mampu bergerak, Hanya mereka dapat membuka mata mengawasi dua orang itu, yang sedang melanjutkan perjalanannya.

Sebentar saja, sampailah kedua orang itu diluar markas besar. Mereka menghampiri tempat dimana tampak cahaya api disitu. Penjagaan disitu sangat keras, akan tetapi mereka dapat melewati setiap orang yang sedang meronda. Maka setelah menikung beberapa kali, keduanya sudah dapat melompat naik keatas genting. Mereka masih melewati beberapa undakan, untuk tiba ditempat yang apinya menyorot terang. Ternyata itu adalah ruang besar, dari Tengkorak Berdarah, rombongan Gigi hijau. Mereka mendekam diujung genting, untuk mengintai kebawah, Kedalam ruang besar itu.

Ruangan dalam keadaan terang sekali, disitu diatur sebuah meja perjamuan yang duduk dilingkari enam orang yang lagi bersantap. Yang bercokol di tengah-tengah adalah satu pendeta yang kepalanya bundar besar dan telinganya juga besar. Karena dialah Pendeta Baudenda atau lebih terkenal dengan nama Setan sayap satu. Dari wajahnya, nampak dia sedang  

murka. Yang empat lagi adalah pemimpin dari Tengkorak Berdarah itu. Tapi

orang yang kelima, yang mukanya panjang, dan panjang juga kumis jenggotnya, mengenali dia, jantungnya Mintaraga berdenyut, hingga ia memegang tangannya Candra Wulan, ia samber, diwaktu mana si gadis merasa tangannya bergetar.

“Kau mengapa?” tanya si gadis dengan berbisik. Ia heran.

Pemuda itu sadar bahwa ia telah berlaku lancang, lekas-lekas ia melepaskan pegangannya dan menarik kembali tangannya.

“Tidak apa-apa      ” ia menyahut, dengan pelan juga.

Candra Wulan belum pernah bentrok tangan dengan orang laki-laki, ia lalu dapat merasakan perasaan yang luar biasa, yang ia anggap suatu keanehan. Ia sodorkan pula tangannya, ia hendak mengatakan. “Kakang Mintaraga, kau pegang pula tanganku ” akan tetapi tiba-tiba ia merasakan

mukanya panas sendirinya, ia menjadi jengah, maka ia membatalkan niatnya yang telah dipikirnya.

Mintaragapun segera berbisik pula : “lihatlah!”

Si gadis mengangkat kepalanya, untuk melihat. Ia masih sempat melihat berkelebatnya satu tubuh kecil langsing, yang menghilang diujung genting. Ia segera saja menggeser tubuhnya.

“Jangan pedulikan dia!” Mintaraga mencegah dengan bisikannya. “Kau dengar, diruangan itu orang sedang berbicara!”

Memang juga Tengkorak Biru telah membuka mulutnya, suaranya lesu : “Barang itu telah lenyap pula........... ah! Ini dia yang berkata Malaikat Harta menghadapi pintu akan tetapi tidak memasukinya..... Sungguh sial, justru disaat penting seperti ini kita bertemu hantu itu!”

“Terang sudah binatang itu telah menguntit kita!” berkata Pendeta Baudenda dengan sengitnya. “Dia hitam memakan hitam! Lihat kalau Pendeta Baudenda kalau tidak bunuh mampus mereka semua!”

Pendeta ini berbicara sambil menepuk meja, hingga beberapa buah piring dan mangkok berlompatan dan terbalik, sehingga tumpahlah isinya keatas meja, sampai ada kuwa yang muncerat ketubuh lima orang lainnya!

“Bapak Pendeta benar!” kata salah seorang. “Sekarang ini saudara Jogosatru telah tiba disini, maka kalau kita kirimkan lagi orang keguruan selatan, untuk mengundang lagi beberapa kawan, nanti dapat kita serbu sarang mereka itu, untuk merampas kembali Tunggul Tirto Ayu itu!”

Dalam pembicaraan itu terdapat Tengkorak Hitam, pemimpin ketiga dari kawanan Tengkorak Berdarah itu, Dia telah dikutungi lengan kanannya oleh Darmakusuma, lukanya belum sembuh betul, maka dari itu mukanya masih kelihatan pucat pasi.

Candra Wulan sendiri terkejut tatkala mendengar orang menyebut ‘Jokosatru’.

“Pantas kakang Mintaraga menjadi tegang hatinya.” ia berpikir.  

Tapi salah seorang lainnya segera tertawa lebar.

“Apakah yang ditakuti oleh si tua bangka itu?” demikian suaranya dengan sombong. “Kita pihak Tengkorak Berdarah semuanya ada empat, maka dengan ditambah Bapak Pendeta beserta murid-muridnya yang pandai-pandai apakah jumlah kita masih belum cukup?”

Orang yang sombong itu adalah Tengkorak Putih yang tidak tahu bahwa. “Langit itu tinggi dan Bumi itu Tebal.” Pemimpin keempat dari Tengkorak Berdarah yang lengannya juga dibabat putung oleh Darmakusuma, hingga pada saat itu, mukanya juga masih tampak pucat pasi.

“Tidak dapat kita bicarakan secara demikian.” kata Tengkorak Ijo. Pemimpin yang kedua. Hantu itu memang sangat pandai! Katanya dia mempunyai semacam kepandaian yang tidak sembarang orang berani mendekat kepadanya. Lebih tepat lagi kalau kita menggunakan banyak tenaga untuk merebut kemenangan dari padanya.”

Tengkorak Putih, menyatakan tak setuju atas usul dari Tengkorak Ijo itu.

Karena itu, ruangan menjadi berisik.

Mereka telah terpecah menjadi dua rombongan. Karena itu, pengintai yang berada diatas genting tidak dapat mendengar dengan jelas tentang pembicaraannya lebih Ianjut.

‘Nyatalah penjahat itu telah ketemu ayah bangsatnya.....’ kata Mintaraga didalam hati kecilnya. Pendeta Baudenda dan Tengkorak Biru dengan susah payah teIah merampas Tunggul Tirto Ayu dari tangan kakang Tunggorono, sekarang Tunggul Tirto Ayu itu telah dapat dirampas oleh Patih Udara. Paling sedikit jumlah orang dalam dunia persilatan yang sanggup merampas barang dari tangan Pendekar Baudenda, hanya Patih Udara salah satu diantaranya, oleh karena Tunggul Tirto Ayu tidak ada disini, baiklah saya cari. Sialnya saja kawanan Tengkorak Berdarah ini, untuk membalaskan sakit hatinya ayahku.”

Pemuda ini lalu mengambil kesempatannya, ia bisikan kepada Candra Wulan, tiba-tiba tampak Jogosatru bangkit.

“Tuan-tuan, aku hendak berbicara sedikit,” katanya.

Tengkorak Biru segera mencegah Tengkorak Ijo dan Tengkorak Putih beradu mulut lebih lanjut.

“Silahkan saudara Jogosatru!” Ia mempersilahkan tamunya.

“Mayatnya kakakku telah diangkat oleh orang secara diam-diam dari dasar laut dan telah dikubur ditanjakan pegunungan di Karang Bolong, apakah kamu tahu tentang itu?” Jogosatru mengajukan pertanyaannya.

Semua hadirin yang ada didalam ruangan itu melongo, mereka semuanya mengatakan tidak tahu.

Juga mereka yang berada diatas genting turut terkejut dan heran. Tentang itu mereka telah mendengar dari mulut Jlontrot Boyo tetapi dia  

tidak memberitahukan tempat kuburan itu dan juga imam itu siapa orang

yang baik hati mau mengangkat mayat dan telah menguburnya, Dari keterangan Jlontrot Boyo, Mintaraga telah menyangka bahwa orang yang baik hati itu adalah Tunggorono, tetapi dugaan ini ternyata meleset sebab Tunggorono telah ditawan oleh Patih Udara. Keduanya lalu saling mengawasi.

“Siapakah orang itu yang keberaniannya demikian besar?” Begitu terdengar suatu pertanyaan didalam ruangan pesta.

“Panjang untuk membicarakan tentang hal itu,” jawab Jogosatru. “Ketika hari itu aku sedang lewat di pegunungan, aku mendengar orang menangis sedih sekali, suara tangisan itu datangnya dari dalam gombolan pepohonan. Aku menjadi heran, maka timbul keinginanku untuk datang ketempat lebat itu. Aku dapatkan seorang anak muda, yang kulitnya putih bersih. Dia tengah bersujud didepan sebuah kuburan baru. Dibatu nisan itu aku melihat tulisan yang diukir nyata nama kakakku. Aku menjadi heran, dan aku menjadi curiga, maka sambil membentak, aku bertanya kepada anak muda itu. Tapi dia kaget dan lalu lari kabur ”

“Mengapa tidak kau cekuk dia?” Bentak Pendeta Baudenda dengan murka.

Mukanya Jogosatru, sang murid, menjadi merah.

“Tak dapat aku melawan ilmunya mengentengkan tubuh,” ia menyahut dengan terpaksa.

Matanya Pendeta itu mendelik, dengan geram. “Begitu?” teriaknya. “Mungkinkah dia Mintaraga?”

Murid itu belum menyahut atau orang-orang Tengkorak Hitam sudah menyatakan mungkin, walaupun mereka itu tidak kenal dengan Mintaraga.

Jogosatru menggelengkan kepalanya.

“Bukan,” sahutnya. “Mintaraga mempunyai tahi lalat dibelakang kupingnya yang kiri, sedangkan binatang itu tidak”

“Habis siapakah dia itu?” tanya Pendeta Baudenda, yang suaranya tetap bengis.

Sebelum Jogosatru menjawab gurunya itu, orang-orang Tengkorak Berdarah sudah terdengar suaranya berisik sekali.

Mereka heran atas pemuda itu, yang telah berani mencuri mayatnya Darmakusuma, yang telah berani mundar-mandir didalam wilayah Tengkorak Berdarah tanpa ada orang yang memergokinya. Orang-orang menjadi terlebih heran lagi sebab dia lebih hebat dapat melebihi si Garuda Sakti.

“Sekarang ini baiklah jangan kita pedulikan dahulu dia siapa,” kemudian Jogosatru berkata pula. “Malam ini marilah kita tidur nyenyak, supaya besok pagi-pagi dapat kita berangkat. Paling dahulu kita pergi ke Pegunungan, untuk membongkar kuburan kakakku guna mengangkat  

mayatnya, supaya aku dapat menghajar dia dengan tigaratus kali tanganku

untuk membalas sakit hati yang dahulu dia lakukan dengan tangan jahat atas diriku, guna memenuhkan sumpahnya, setelah itu, akan kulemparkan tulang-tulangnya keempat penjuru tegalan, supaya dia mati tak tenang! Habis itu kita pergi ke si tua bangka, untuk menuntut balas terhadapnya! Disini ada guruku, tak usah kita repot-repot mencari bantuan kemana-mana.

Mintaraga dan Candra Wulan bergidik tubuhnya, bangun bulu romannya. Kaget mereka mendengar perkataan Jogosatru ini, yang hatinya demikian busuk, sehingga terhadap kakaknya sendiri dia, akan membalas demikian hebatnya.

Selagi dua pengintai itu giris hatinya, orang-orang Tengkorak Berdarah bersorak-sorak.

“Memang kita harus berbuat demikian seru mereka bersama-sama. Mintaraga mendengar kabar demikian itu dan tak disangka-sangkanya pula pikirannya menjadi berubah. Hendak dia menunda niatnya menuntut balas terhadap orang-orang Tengkorak Berdarah itu,

“Adik Wulan, marilah pulang dulu ke Karang Bolong,” ia mengajak sambil berbisik. Mereka mesti selalu berbicara dengan pelan :

“Aku akan mencari tempat makam ayahku, setelah memindahkan.

Jenasahnya, barulah aku akan menantikan mereka.”

Candra Wulan menyetujui usul Mintaraga, karena itu ia segera mengangguk.

Disaat kedua orang ini hendak berdiri dari persembunyiannya, sekonyong-konyong tampaklah sesosok bayangan dari tempat yang gelap dan arahnya berlawanan dengan tempatnya bersembunyi. Sekejap saja bayangan itu telah lenyap pula. Akan tetapi dalam sejenak itu, Candra Wulan masih sempat melihat muka orang itu, tanpa disadari ia telah kelepasan omongannya :

“Dia.... Dia.... Wirapati. !”

Mintaragapun melihat dan mengenalnya juga. Pikiran pemuda ini menjadi heran, akan tetapi ia harus menganggukkan kepalanya.

Munculnya Wirapati adalah sangat mengherankan dan diluar dugaan Mintaraga dan Candra Wulan. Kalau demikian, pasti pemuda yang dikatakan oleh Jagasatru itu pasti Wirapati. Mungkinkah Wirapati telah berubah pendiriannya? Benarkah ia telah menghapuskan nama Darmakusuma sebagai musuh besarnya?!

Mintaraga dan Candra Wulan saling berpandangan.

“Mari kita susul dia.” Kata Candra Wulan dengan menarik tangan pemuda itu untuk diajak berlari menyusul bayangan tadi.

“Mari.” Jawab Mintaraga. Malahan ia lalu menyambar pinggang Candra Wulan dengan tangan kanannya, kemudian melompat kearah dimana pemuda tadi menghilang.  

Luar biasa sikapnya bayangan itu. Dia disusul oleh Candra Wulan dan

Mintaraga dia tak mau menyingkir dari tempat perkumpulan Tengkorak Berdarah. Ia hanya lari putar-putar diatas genting markas besar Tengkorak Berdarah.

“Ki Wirapati.” Seru Mintaraga yang mencoba memanggil pemuda itu. “Kau telah mengubur jenasah ayahku, ah... sungguh budimu tak dapat kulupakan. Terimalah hormatku ”

Sambil berkata demikian Mintaraga menyusul terus dan mempercepat larinya.

Pemuda yang ada di depan itu ketika mendengar perkataan Mintaraga, agak memperlambat larinya. Ia seperti tertarik hatinya oleh panggilan itu. Ketika Mintaraga telah datang lebih dekat, tiba-tiba saja ia tertawa perlahan, lalu dengan tiba-tiba pula ia lari dengan sangat cepat. Teranglah kalau orang itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai tingkat tinggi. Hampir saja Mintaraga tak dapat menyusul karena pemuda itu masih membawa Candra Wulan dalam larinya.

Diatas genting mereka berlari-larian, tidak peduli tindakan mereka itu enteng dan menerbitkan suara perlahan, orang-orang Tengkorak Berdarah toh mendengarnya. Karena itulah mereka lalu berteriak-teriak dan memukul tambur bahaya.

“Tangkap orang jahat....... Tangkap pengacau      ”

Dari beberapa puluh rumah segera muncul ratusan orang, suara mereka sangat berisik. Bersama itu tampak pula banyak obor yang disulut nyala. Hingga dengan demikian seluruh kalangan Tengkorak Berdarah itu terang benderang.

Mintaraga tak mengambil peduli musuhnya menimbulkan banyak suara berisik. Hatinya sangat gembira ketika dapat menyusul ‘Wirapati’ dan didalam hatinya ia berkata :

‘Baiklah hendak kulihat kau hendak melarikan diri kemana?’

Pemuda ini lalu mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dari perguruan Lawu. Karena itu kalau semula ia telah ketinggalan jauh maka sekarang itu telah dapat memperpendek jaraknya.

“Ki Wirapati. Kau tunggulah aku.” Pemuda itu terus memanggilnya. “Aku hendak minta maaf kepadamu.”

Dengan tiba-tiba saja pemuda yang dikejarnya itu memalingkan mukanya.

“Kau tak bersalah apa-apa.” Katanya dengan tertawa.

Suara ini kedengaran halus hingga Mintaraga menjadi heran. “Kau kau siapakah?!” Tanyanya.

Orang yang berada dihadapannya itu, yang suaranya sangat halus merdu tubuhnya kecil dan langsing, karena gerakannya sangat gesit yang menandakan kalau mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi.  

Barulah sekarang Mintaraga mengetahui kalau yang dikejarnya itu

bukan WIRAPATI, walaupun potongan orang itu persis dengan potongan tubuh Wirapati. Karena itulah ia lalu bertambah heran.

Orang itu tak menghiraukan kalau pengejarnya itu menjadi heran. Ia lari terus dengan gerakan yang lincah. Gerakannya menarik untuk dipandang mata. Diwaktu berlari tampaklah kalau gerakannya sangat bebas. Lalu tiba- tiba saja ia melompat turun ketanah, terus ia lenyap pula.

“Dia benar-benar mempunyai kepandaian hebat. Entah siapakah dia?” Seru Mintaraga dengan menduga-duga.

“Dia bukan Wirapati, untuk apa kita mengurusi dia?” Tanya Candra Wulan.

“Dia itu benar-benar luar biasa, ingin aku melihat apakah sebenarnya yang dilakukannya disini ini.” Seru Mintaraga dengan penasaran.

Ketika itu orang-orang yang dari dalam ruangan telah keluar semuanya, “Sahabat diatas genting, lekaslah kau turun untuk menyerahkan

nyawamu kepada kami.”

Tengkorak Biru juga menimbrung :

“Siapakah yang berani datang kemari untuk main gila? Hem... sangat mengherankan kalau kau tak mengetahui bahwa tempat ini adalah tempat sarang perkumpulan Tengkorak Berdarah?!.”

Begitu suara Tengkorak Biru lenyap ditelan keheningan malam, dari sebuah pojok yang sangat gelap keluarlah seorang yang terus berkata :

“Yang manakah penjahat utama Garuda Sayap Satu?! Silahkan keluar!”

Disitu kelihatan ada cahaya api yang terang benderang, dari tempat persembunyiannya. Mintaraga dan Candra Wulan dapat melihat dengan tegas orang itu, ia berpakaian serba hitam, hingga tampak nyata sekali kulitnya yang putih. Ia benar-benar mirip sekali dengan Wirapati.

Pendeta Baudenda lalu tertawa dengan keras :

“Hai budak cilik, apakah kau hendak menuntut balas untuk orang gila yang bernama Darmakusuma?” Tanyanya. “Huahaaa... Huahaaa... Huaa.”

Dikatakan budak cilik maka merahlah muka pemuda itu hingga mirip seorang pesolek yang terlalu banyak memakai make up. Akan tetapi kemerahan wajahnya itu bertambahlah kecantikannya.

Mintaraga benar-benar tercengang ketika melihat perubahan muka orang yang dikaguminya itu.

“Apakah kau ini orangnya yang telah membunuh pamanku ki Darmakusuma? Tanyanya. “Kalau benar mengapa kau tak segera turun tangan untuk menghadapiku?”

Kembali Pendeta Baudenda tertawa.

“Budak cilik, jangan kau kesusu.” Jawab pendeta Baudenda dengan nada mengejek. “Baiknya sekarang kau lepaskan dahulu pakaian malammu itu dan lalu menyebutkan siapakah namamu dan siapa pula nama gurumu.  

Sampai waktu itu masih tetap belum terlambat untuk kita main-main

sebentar!”

Muka pemuda itu menjadi lebih merah lagi. Ternyata pemuda itu amat pemberani dan juga sangat jujur. Segera ia menarik penutup kepalanya hingga tampak rambutnya yang hitam mengkilat dan sangat panjang. Maka sekarang nyata benar kalau pemuda itu adalah seorang gadis cantik yang sangat elok rupanya.

Jogosatru segera mengenal pemuda ini, ternyata dia adalah seorang pemuda yang bermuka putih yang bersembahyang didepan kuburan kakaknya, ki Darmakusuma.

“Budak hina kebetulan sekali kau datang.” Serunya turut berkata dan menghina kepada gadis itu. “Aku hendak bertanya kepadamu, apakah kau yang telah mengangkat mayat kakakku yang keparat itu dari dasar lautan? Benarkah ini?!”

“Betul.“ Jawab gadis itu dengan tegas.

“Kau yang menguburnya dan membuat kuburannya bukan?!” Kembali Jogosatru bertanya.

“Sedikitpun tak salah.” Kembali gadis ini menjawab dengan tenang dan tegas sekali.

Kali ini Jogosatru tak menunggu sampai gadis itu menghentikan perkataannya, segera ia melompat, menyerang gadis itu dengan tipu menggempur gunung. Pukulan ini dipukulkan kearah kepala gadis cantik itu.  

Gadis ini benar-benar tak takut, malahan kelihatan ia tertawa. Sedikitpun gadis perkasa ini tak menangkis serangan yang kelihatannya hebat ini, dia hanya mengelak, maka tangan Jogosatru hanya lewat disampingnya saja.

“Kita tak mempunyai sangkut paut apa-apa mengapa kau menyerangku?.” Seru gadis itu menegur sambil tertawa. “Apakah kau tak malu?!”

Jogosatru mendapat gelar Garuda Iblis, akan tetapi karena ia tak senang dengan gelar ini maka mengubahnya menjadi Garuda Sakti. Hingga dengan demikian gelarnya sama dengan gelar kakaknya, ki Darmakusuma. Selama beberapa tahun ia berkecimpung dalam dunia kependekaran, rimba hijau ia jarang mendapat tandingan.

Karena itulah ia menjadi keras kepala dan sombong sekali. Ia bekerja sama dengan rombongan Tengkorak Berdarah, dengan mereka itu ia telah bersepakat untuk mengepung kakaknya, ki Darmakusuma. Hanya saja ia datang terlambat. Akan tetapi walaupun kakaknya, ki Darmakusuma atau ki Plompong telah meninggal, ia masih tetap penasaran. Belum juga ia puas. Dari itu niatnya ia hendak mengangkat jenasah kakaknya untuk dirusak tubuhnya. Hanya kembali ia datang terlambat, telah ada orang lain yang mendahuluinya. Karena itu ia menjadi sangat marah kepada gadis itu.

Setelah gagal serangannya yang pertama, sambil berteriak ia menyerang pula untuk yang kedua kalinya.

Kali ini Jogosatru menyerang dengan lebih hebat lagi. Serangan ini mempergunakan tenaga sepenuhnya dan memakai jurus memindah gunung menguruk lautan. Kali ini yang menjadi sasaran adalah dada gadis itu.

“Hem...” Gadis ini memperdengarkan ejekannya. Cepat ia mengelak, dan meloloskan diri dari bahaya. Akan tetapi sekarang ia menjadi sangat mendongkol sekali.

“Binatang, kau sangat tidak tahu aturan.” Tegurnya. “Siapakah kau lekas beritahukan namamu.”

Muka Jogosatru menjadi merah sekali, sebab dua kali serangannya gagal. Ia lalu menghunus pedangnya sambil membentak :

“Budak cilik, aku akan menghajarmu. Kalau tak dapat jangan kau sebut aku sebagai Garuda Sakti.” Bentakan ini disusul dengan lompatan tubuhnya dan disertai babatan pedang yang memakai jurus Harimau menerkam.

Dara perkasa ini sungguh pemberani, sungguh sebat sekali gerakannya. Sambil mundur sedikit ia membarengi menyamplok belakang pedangnya, hingga pedang itu mental.

“Bagus.” Iapun berseru. “Benar saja kau adalah Jogosatru.” katanya.

Dara ini sangat marah dan sekarang ia balas menyerang. Dengan kedua tangannya ia mendesak pedang lawannya yang terpental itu. Ia menyabet sambil menonjok.

Heran sekali hati Jogosatru karena ia tak kenal kepada gadis ini, akan tetap ia telah merasakan kalau gadis ini mempunyai kepandaian yang tinggi. Tanpa ragu-ragu lagi ia mengeluarkan pedang perguruannya ialah ilmu pedang dari perguruan Lawu. Yah ilmu pedang ini dipergunakan untuk melayani lawannya dalam perkelahian ini.

Pertempuran ini memperlihatkan sepasang musuh yang saling serang- menyerang. Gadis cantik itu menang gesit, akan tetapi kalah tenaga. Apa lagi pada waktu itu gadis ini hanya melayani dengan tangan kosong, maka tak sangat mengherankan kalau sebentar saja ia telah berada dibawah angin. Selewatnya lima puluh jurus, ia mulai terdesak, agaknya sukar untuknya melindungi diri.

Mintaraga menonton pertarungan itu sekian lamanya. Segera ia mengambil keputusan untuk turun tangan. Ia hendak menuntut balas, tak dapat ia membiarkan gadis itu yang membalaskannya. Mintaragapun meihat kalau gadis ini sudah mulai terdesak. Disaat ia hendak melompat maju, ia justru mendengar gadis itu membentak :

“Jogosatru tahan. Aku hendak bicara denganmu.” Mendengar ini Jogosatru tertawa mengejek.  

“Apakah kau hendak minta ampun kepadaku?!” Katanya dengan

mengejek dan menyakitkan sekali. “Baiklah, paling dahulu kau harus menyembah kepadaku.”

Biarpun mulutnya berkata demikian akan tetapi ia tak menghentikan serangan-serangannya. Ia malahan mendesak lebih hebat lagi.

Pendeta Baudenda menjadi heran ketika melihat kesaktian gadis ini sedemikian hebatnya.

“Jogosatru tahan.” Segera ia membentak muridnya. “Dengar dulu apa yang hendak dikatakannya.”

Setelah mendengar perintah gurunya ini, barulah Jogosatru berhenti menyerang gadis itu.

“Nah kau bicaralah.” Bentaknya dengan tak puas.

“Sebenarnya aku tak akan bicara apa-apa.” Jawab gadis itu dengan tertawa. “Kau pandai sekali memperlakukan anak muda. Mentang-mentang kau telah tua. Karena itu akupun hendak melayanimu dengan pedang ditangan. Heh apakah kau berani menghadapi pedangku kinyuk?!”

Habis berkata demikian gadis itu lalu menggerakkan tangan kirinya, bersama dengan gerakannya ini maka tercabutlah pedangnya. Pedang itu tampak mengkilap sinarnya menyilaukan mata. Ketika ia menggerakkan tangan kirinya untuk mengebaskan pedangnya, hawa dingin terus menyambar kemuka Jogosatru. Sehingga ia menggigil.

“Oh... pedang yang bagus.” Serunya.

“Apakah kau takut menghadapi pedangku ini?” Ganti gadis ini yang mengejek. “Mau aku memberi ampun kepadamu. Lihat pedang. ”

Segera ujung pedang itu menjurus ketenggorokan Jogosatru.

Jogosatru segera menghindar, ia membalas serangan itu dengan serangan pula.

“Bagus.” Seru gadis ini memuji. Ia menangkis dan kembali menyerang kepada Jogosatru.

Lalu mereka bertempur dengan serunya sampai belasan jurus.

Mintaraga yang berada diatas genting, dan Pendeta Baudenda yang berdiri diatas tanah menjadi sangat kagum sekali. Didalam hatinya masing- masing mereka itu memuji akan ketangkasan dan kesaktian gadis ini. Hanya saja mereka itu tak tahu gadis ini bersilat dari cabang mana dan siapakah yang menjadi gurunya.

Gadis itu memang terus bersilat dengan tangan kirinya, tak pernah ia memindahkan pedangnya kedalam tangan kanan. Setelah pertempuran berjalan dua puluh jurus maka kelihatanlah kaau si gadis telah berada diatas angin. Dan ketambahan beberapa jurus lagi segera ia mengetahui kalau lawannya telah dikurung dengan rapat.  

“Binatang.” bentak   gadis   ini. “Sekarang aku musti menggunakan

kesempatan ini untuk mengirimkan nyawamu kepada hyang Yamadipati. Supaya disana nanti kau dapat dampratan dari paman Darmakusuma.”

Justru pedang Jogosatru menikam, dengan tangan kanannya, gadis itu menyamplok dan bersama dengan pedang musuhnya terpental, tangan kirinya menikam kejalan darah.

Jogosatru menjadi sangat kaget. Sedikitpun ia tak mempunyai waktu untuk menangkis. Maka terpaksa ia membuang diri, bergulingan ketanah dengan tipu trenggiling sakti masuk liang. Dengan cara begini barulah trenggiling berhasil menghindarkan diri dari bahaya maut.

Gadis itu tertawa, tertawa dengan perlahan. Senyumnya tak segera lenyap! Ia melompat akan segera menyusul musuhnya untuk menyerang terlebih jauh. Akan tetapi ini ia dirintangi oleh Pendeta Baudenda. Wajah pendeta itu tampak muram dan bengis.

“Hehh... budak cilik, pernah apakah kau dengan Woro Keshi?” Bentak pendeta Baudenda dengan memandangnya tajam-tajam.

Gadis itu tak mau menjawab.

“Kau mau minggir atau tidak.” Serunya dengan balas membentak. Dan sedikitpun ia tak merasa takut kepada pendeta Baudenda yang tampak bengis dan kejam itu.

Mendengar bentakan ini pendeta Baudenda menjadi sangat marah. Ia adalah seorang sakti dan lebih tua, anggapannya. Ia hendak mengumbar hawa amarahnya waktu Jogosatru, yang berdiri disampingnya, sudah didahuluinya.

“Jika aku tak dapat membikin mampus budak kecil ini maka aku buka Jogosatru lagi.” Demikian serunya dengan melompat maju. Memang ki Jogosatru ini menjadi sombong sekali.

Gadis itu menangkis, ia segera menyingkirkan ancaman itu.

“Sungguh berani mati kau masih memakai nama Jogosatru.” Ejeknya dengan tersenyum. “Darmakusuma tak mempunyai saudara seperti macammu itu hai kunyuk!” Juga Tumenggung Malangyudo tak mempunyai cucu macammu itu.”

Sambil menghina gadis itu balas menyerang. Ia mendesak. Kali ini ia mencari pelbagai jalan darah ki Jogosatru.

Pendeta Baudenda menjadi lebih heran lagi. Ia menjadi lebih curiga kepada gadis ini.

‘Bukankah ini ilrnu pedang Woro Keshi?’ Pikirnya. “Hem    kalau budak

cilik yang hina ini bukan muridnya maka tentu ia adalah anaknya.”

Pendeta ini kelihatan tak puas. Apa lagi sekarang ia melihat muridnya terdesak sampai napasnya memburu. Lagi beberapa jurus Jogosatru telah tak dapat membela diri lagi.  

Justru Jogosatru berada didalam bahaya itu, tiba-tiba saja kalangan

pertempuran itu bertambah dengan dua orang yang memegang senjata tajam yang mengkilat.

Itulah Tengkorak Biru dan Tengkorak Ijo yang maju menampilkan diri. Mereka sangat malu kepada Jogosatru, yang dianggap sebagai tetamunya. Mereka juga tak senang ketika melihat gadis ini banyak tingkah dan mengacau tempat serangannya.

“Ki Jogosatru silahkan duduk untuk melepaskan lelah.” Kata Tengkorak Biru itu sambil memutar serulingnya. “Biarlah kami yang akan menawannya nanti untuk kau hukum.”

Jogosatru telah mengetahui kalau ia telah kehabisan daya upaya, maka anjuran Tengkorak Biru itu jatuh kebetulan sekali baginya. Demikian setelah mengelak, ia melompat mundur, lalu ia membalikkan tubuhnya untuk menghampiri gurunya. Ketika baru saja memutar tubuh maka terasalah angin dingin menyambar dibelakangnya. Seperti ada benda yang mengenai pantatnya hingga ia menjadi heran sekali.

“Huahaaaa... kau hendak lari?” Demikianlah ia mendengar suara dingin dibelakangnya. Suara itu diiringi dengan tawa yang penuh ejekan. Ia menjadi kaget sekali, sebab ia kenal dengan suara itu, ialah suara gadis yang menjadi lawannya. Entah kapan gadis itu telah menyusul melompat dan tahu-tahu telah berada dibelakangnya. Bahkan mengancamnya dengan ujung pedang. Dalam kagetnya ia segera mengelak, terus melompat kedepan untuk menyingkir dari ancaman itu. Akan tetapi sungguh diluar perhitungannya, gadis itu terus mengikutinya dan pedangnya menempel dipantatnya.....

“Apakah kau tak mau memohon ampun kepadaku?” Terdengar suara gadis itu pula kemudian ia tertawa. Hayo kau harus menyembahku beberapa kali, barulah nanti kita bicara lagi.”

Kejadian itu membuat semua hadirin menjadi tercengang. Itulah kejadian yang sungguh-sungguh diluar dugaan. Tengkorak Biru dan Tengkorak Ijopun menjadi tergugu.

Melihat ini pendeta Baudenda menjadi berganti rupa air mukanya. Saking mendongkol, wajahnya menjadi matang biru. Lupalah ia dari pada kedudukannya sebagai orang dari golongan tua, untuk menolong muridnya, tangan kanannya lalu diayun. Ia telah memegang sebatang jarum yang diandalkan sebagai jarum senjata rahasia. Ia melemparkan kearah gadis itu, hingga diantara suara nyaring ‘trang’ pedang gadis itu terlepas dari pegangannya. Terus jatuh keatas tanah hingga menerbitkan suara yang keras.

Dengan menggunakan kesempatan baik itu Jogosatru lalu menjatuhkan diri keatas tanah dan bergulingan untuk menjauhkan diri. Setelah bergulingan beberapa kali ia lalu melompat bangun dan badannya penuh dengan peluh dingin. Ia benar-benar takut setengah mati.  

Tengkorak Biru sangat licik, iapun menggunakan ketika baik itu tanpa

memikirkan kehormatannya, ialah sewaktu gadis itu bergerak untuk mengambil pedangnya. Ia maju menyerang bersama-sama dengan Tengkorak Ijo. Hingga dengan demikian dua rupa senjata bersama-sama mengancam gadis itu.

Mintaraga telah melihat semua kejadian itu dengan tegas, melihat kecurangan ini ia menjadi marah sekali. Bukankah gadis ini datang kemari untuk menuntutkan dendam ayahnya? Bukankah gadis ini telah diserang dengan senjata rahasia dan sekarang akan dikeroyoknya? Maka sekarang ia tak dapat bersabar lagi, sambil membentak, ia melompat bangun, akan menangkis kedua senjata orang-orang Tengkorak Berdarah itu. Dengan menggunakan tangkisan Rajawali mementang sayap ia berhasil menangkis atau tepatnya menyamplok senjata-senjata itu hingga terpental.

“Orang-orang Perkumpulan Tengkorak Berdarah, kalian ini benar-benar tak tahu malu.” Bentaknya.

Tengkorak Biru heran, hingga ia melongo sebentar, habis itu, dengan hebat ia menyerang orang baru itu sambil membentak pula ia. “Binatang, siapa kau?”

Mintaraga menghalau serangan itu, ia tidak menghiraukan pertanyaan orang hanya sambil menoleh kepada si gadis, ia bertanya : “Apakah kau tidak kurang suatu apa nona?”

Si gadis itu memang tidak kurang suatu apapun. Malahan pedangnya, yang telah diambil, dimasukkan kembali kedalam sarungnya. Dengan tangan kirinya, ia menolak pinggang mengawasi musuhnya.

“Aku tidak apa-apa,” jawab gadis itu. “Kau tentunya kakang Mintaraga”.

“Benar,” sahut si anak muda ini membikin tercengang semua hadirin, malahan Tengkorak Biru lalu mengawasi dengan heran.

Jogosatru panas hatinya bukan main. Andaikan dia tak pernah menerima hajaran dari kakaknya. Sehingga separuh dari kepandaiannya dan juga tenaganya termusnah, dengan mudah saja ia dikalahkan oleh si gadis itu, sehingga ia memperoleh malu. Tapi sekarang mendengar nama Mintaraga, ia sangat terperanjat. Iapun melihat, Mintaraga lebih pandai bila dibandingkan dengan si gadis itu.

‘Pendekar Argo Bayu telah mendidik ia hingga menjadi demikian rupa, hm !’ katanya dalam hati. Ia penasaran bukan main.

Mintaraga sendiri, sesudah ia memukul mundur pada Tengkorak Biru dari jarak jauh, sesudah berlutut dihadapan Pendeta Baudenda untuk memberi hormat.

“Eyang, apakah eyang baik-baik saja?” Dia tanya adik seperguruan Pendeta Argo Bayu, gurunya.

Kedua mata Pendeta Baudenda seperti terbalik.  

“Cukup.” Katanya sambil mengangkat kedua tangannya. Agaknya ia

hendak mencegah anak muda itu memberi hormat kepadanya. “hem” ia memperdengarkan pula suaranya. Setelah itu kembali ia berkata :

“Kau toh Mintaraga! Mustahil kalau aku akan menghajar mampus kepadamu dengan sebelah tanganku.”

“Maaf eyang.” Kata Mintaraga pula. Pemuda ini masih tak kehilangan sikapnya untuk menghormat. Yah menghormat kepada orang yang terlebih tua dan tinggi derajadnta. Sekarang ia memberi hormat kepada pamannya yang bernama ki Jogosatru sambil berkata :

“Paman, sukakah kau menerima penghormatan keponakanmu?”

Akan tetapi Jogosatru tak menggubris dan mendiamkan saja perkataan anak muda itu.

Begitupun dengan Mintaraga, kemudian sambil tertawa ia berkata kepada Pendeta Baudenda :

“Eyang, gadis ini telah terkena jarummu, bolehkah aku menolong untuk mencabutnya?”

“Terserah kepadamu, lukukanlah kalau kau sanggup.” Seru Pendeta Baudenda.

Kembali Mintaraga tertawa, ia lalu berpaling kepada gadis itu. “Adi, coba kulihat tanganmu.” Serunya.

Gadis itu tertawa dan jawabnya :

“Kenapa sih kau memanggilku dengan hanya perkataan adi saja? Apakah kau tak dapat memanggil namaku? Bukankah kau tahu kalau namaku Dyah Kembang Arum?”

Mintaraga tak menjadi malu, sebaliknya ia tertawa. Pemuda ini benar- benar girang sekali.

“Oh... kiranya kau ini benar-benar adi Dyah Kembang Arum adik dari ki Wirapati?” Katanya dengan gembira. “Sejak tadi aku telah merasa curiga akan tetapi adi Candra Wulan mengatakan bukan. ”

Semua orang menjadi terkejut setelah mengetahui kalau gadis ini adalah Dyah Kembang Arum, yah Kembang Arum adalah putri dari Pandu Pregolo dan adik dari Wirapati. Mereka juga heran mengapa gadis ini hendak menuntutkan balas untuk Darmakusuma. Ini artinya permusuhan antara ki Pandu Pergolo dan Darmakusuma telah habis, hingga Kembang Arum kini justru hendak membalaskan perasaan sakit hati Darmakusuma.

Kembang Arum mengangsurkan tangan kirinya, sambil berbuat begitu, dia lalu bertanya :

“Kau barusan menyebut adik Candra Wulan siapakah dia?”

Belum sampai Kembang Arum menutup mulutnya, tiba-tiba saja terlihat sebuah bayangan yang melompat turun kearah mereka. Bayangan itu telah memperdengarkan suara tawanya dan berkata :

“Dia adalah aku. Aku anak Tangan Sakti Surokoco.”  

Kembang Arum tertawa.

“Bagus.” Serunya. “Kita kaum muda dari tiga keluarga Darmakusuma, Pandu Pregolo dan Surokoco telah datang masing-masing satu. Kita jangan bicarakan lagi tentang permusuhan leluhur kita dulu. Akan tetapi perasaan sakit hati paman Darmakusuma tak dapat tidak dibalaskan.”

“Akan tetapi adi.” Tiba-tiba saja Mintaraga menyela. “Aku hendak mencabut senjata rahasia kakek itu yang menancap ditanganmu.”

Walaupun ia berkata demikian, sebetulnya Mintaraga mempunyai maksud agar supaya gadis ini tak usah menyebut-nyebut persoalan ini didepan kakek gurunya. Karena itu bersama dengan itu ia mengedipkan matanya kepada Kembang Arum.

Rupa-rupanya Kembang Arum mengerti dan segera ia menutup mulutnya.

Mintaraga memeriksa tangan Kembang Arum.

“Sungguh hebat kepandaian kakek guruku.” Katanya sambil tertawa lebar. “Jarum ini telah masuk kedalam jalan darah.”

Kembang Arum heran. Ia telah kena diserang jarum rahasia, tidak saja ia tak merasakan sakit, darahnyapun tak keluar, karena itulah ia tak memikirkannya. Akan tetapi sekarang setelah mendengar perkataan Mintaraga, ia menjadi terkejut sekali. Ia tahu kalau siapa saja yang terkena senjata halus seperti jarum ini maka pertolongannya harus memakai besi berani, kalau tidak sekali masuk kehati atau jantung, pertolongan sukar didapatkan. Penderita itu akan terbinasa dengan seketika. Atau paling sedikit akan terluka parah.

“Apakah kau membawa besi berani?!” Tanya Kembang Arum kepada Mintaraga.

“Tidak” Jawab Mintaraga. “Tak perlu kita mempergunakan besi berani segala.”

Anak muda ini memakai tangan kirinya, lalu menahan belakang lengan, lalu dengan tangan kanannya, ialah dua jari telunjuk dan tengah, ia menekan daging gadis itu bagaikan jepitan, sambil menekan ia mengerahkan tenaga dalamnya. Sekali saja ia menekan, jarum itu telah muncul sedikit. Ketika ia mengulangi pijatan itu, jarum tersebut terloncat keluar, jatuh ketanah. Setelah itu cepat-cepat Mintaraga, mengusap lengan Kembang Arum yang terluka.

“Tidak apa-apa.” katanya kemudian sambil tertawa-tawa.

Pendeta Baudenda dan Ki Jogosatru menjadi terkejut sekali ketika melihat kepandaian Mintaraga. Guru dan murid ini benar-benar telah menjadi heran hingga untuk sejenak mereka tak dapat berkata-kata.

‘Aku sendiri tak mempunyai kepandaian untuk mencabut jarum itu.’ Pikir Jogosatru. ‘Bocah ini demikian saktinya, kalau aku tak segera  

menyingkirkannya maka dibelakang hari akan membahayakan

kedudukanku ”

Tengkorak Biru juga berdiam diri, akan tetapi ketika ia teringat sesuatu maka melompat berjingkrak.

“Apakah maksudnya tiga bocah ini datang kemari?” Demikian tanyanya dengan nyaring. “Mereka ini hendak menuntut balas saja ataukah hendak mencari Tunggul Tirto Ayu?”

Dengan sengaja ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini menyebutkan ‘Tunggul Tirto Ayu’ dengan keras untuk mencari perhatian semua kawannya, dan terutama sekali bagi Pendeta Baudenda yang benar- benar sakti.

“Dua-duanya.” Jawab Kembang Arum. Yah gadis ini telah menjawab mendahului Mintaraga. Memang gadis ini tak mengenal takut dan perkataannya selalu dikatakan dengan terus terang.

Tengkorak Biru tertawa dingin.

“Pendeta Baudenda kau dengar atau tidak?” Tanyanya kepada pendeta itu, yah maksudnya hendak mencari siasat ‘membangunkan harimau tidur’. “Mereka itu adalah kaum muda-muda dari perguruanmu ki Pendeta maka bagaimana sekarang perkataanmu?!”

Hasutan ini ternyata sangat mempan sekali, karena dengan tiba-tiba saja Pendeta Baudenda telah mengubah jalan pikirannya. Hingga hasutan ini persis minyak menyulut api. Sejak tadi ia telah mempunyai pikiran untuk menyingkirkan kedua orang muda mudi ini, kalau saja kakek pendeta ini menjadi ragu-ragu, maka disebabkan karena ia selalu teringat akan kedudukannya sebagai seorang dari golongan tua. Bahkan mungkin dibelakang hari akan ada ekornya yang hebat. Sekarang Kembang Arum menyebut Tunggul Tirto Ayu, semangatnya menjadi seperti terbangun. Keinginannya bagaikan menyala-nyala pula.

“Hei... bagus sekali kau manusia-manusia hina.” Bentaknya. “Bagaimana kau berani mencampuri urusanku? Mari kesini kau!”

Kembang Arum menurut sambil menjawab, gadis ini maju kedepan dan sedikitpun tak memperlihatkan muka atau perasaan takut. Iapun berkata dengan sombong sekali :

“Aku bukannya keturunan paman Darmakusuma atau Tumenggung Malangyudo, juga aku bukannya anak murid dari perguruan Lawu dari perguruanmu. Karena itu aku dan kau tak ada sangkut pautnya apa-apa. Apa yang kuinginkan akan itulah yang akan kuperbuat.”

Pendeta Baudenda menjadi sangat marah, hingga bersama dengan melesatnya tubuhnya itu, tangannya menyambar.

“Eyang, tahan.” Seru Mintaraga. Akan tetapi pemuda ini bukannya hanya memperdengarkan teriakannya saja, iapun telah melompat menghadang didepan Kembang Arum.  

Pendeta Baudenda sedang marah sekali, ia tak mempedulikan lagi kalau

Mintaraga adalah cucu keponakan muridnya atau murid dari kakak seperguruannya, iapun lalu meneruskan serangan itu kepundak Mintaraga.

“Kau mencari mampus?” Bentaknya dengan keras.

Mintaraga tak berani menggerakkan tangannya untuk menangkis eyang gurunya, akan tetapi iapun tak sudi menyingkir dari hadapan Kembang Arum, karena itu ia memasang pundaknya untuk menerima pukulan itu.

Demikianlah sebuah suara keras segera terdengar, dari mulut anak muda itu keluar sebuah jeritan “aduh” tubuhnya terhuyung-huyung akan tetapi ia tak roboh terguling, malahan kedua kakinya bagaikan terpaku, tertancap teguh hingga tubuhnya tak berkisar barang selangkahpun juga.

Kembang Arum dan Candra Wulan menjadi kaget sekali, mereka melihat bagaimana baju dipundak anak muda itu robek hancur dan beterbangan bagaikan kupu-kupu yang sedang melayang-layang......

Pendeta Baudenda juga amat terkejut ketika melihat kalau Mintaraga tak roboh setelah kena hajarannya.

‘Dia ini bukannya hanya mewarisi kepandaian kakang Pendeta Argo Bayu, malahan dia telah melebihinya.’ Pikir Pendeta Baudenda. ‘Jika kita bertempur dengan sungguh-sungguh maka aku bukanlah tandingannya ’

Dihati Pendeta Baudenda memikirkan demikian karena terpengaruh oleh ketelengasannya. Sudah biasa untuknya, karena kekejamannya, sering ia melakukan serangan dengan maksud membunuh ketika pihak lawannya belum bersedia. Begitupun dengan kejadian kali ini biarpun ia menjadi sangat heran akan tetapi segera melancarkan pukulan yang selanjutnya. Tenaga yang dlikerahkannyapun berlipat ganda, ingin rasanya ia membinasakan anak muda ini........

Mintaraga melihat gerakan eyang gurunya ini, sekarang ia tak berani menghadapinya lagi, maka sebelum serangan ini datang, ia mendahului bergerak kebelakang, untuk menyingkir.

“Eyang, sukakah kau mendengarkan perkataanku?!” Katanya sambil menghindarkan pukulan.

“Siapakah yang sudi mendengarkan ocehanmu!” Pendeta Baudenda melompat untuk menyusul, malahan kali ini tangannya bergerak saling susul-menyusul. Rupa-rupanya ia mengerti. kalau dengan sebuah serangan saja ia tak berhasil.

Mintaraga mengelak dan kekiri dan kekanan, masih saja ia tak melayani. ‘Eyang guru begini kejam, mungkin ia tak bakal mau berhenti sampai disini saja.’ Pikir Mintaraga. ‘Tak takut aku untuk melawannya. Akan tetapi aku khawatir karena ini, maka permusuhan akan bertambah hebat. Dengan begitu maka aku berarti menyia-nyiakan pesan guruku. Bagaimana baiknya

sekarang. ??”  

Karena itulah sambil terus menghindarkan diri Mintaraga memutar

otaknya. Hingga ia mendapatkan pikiran baru. Segera saja pemuda itu berkata dengan lantang :

“Eyang kau telah memukul ayahku hingga mati, itu adalah permusuhanmu dengan ayahku atau tepatnya tersangkut urusan dahulu. Karena itu aku yang muda tak berani menuntut balas kepadamu. Akan tetapi perkumpulan Tengkorak Berdarah adalah lain halnya, kenapa perkumpulan Tengkorak Berdarah berani mengurung ayahku, maka perasaan sakit hati ini tak dapat kalau tak dibalaskan. Maka itu eyang guru, mengapa malam ini kami yang muda datang kemari. Apakah perkataan eyang guru dalam hal ini?!”

Mintaraga memang sengaja tak menyebut-nyebut tentang Tunggul Tirto Ayu, ia sengaja menyebutkan persoalan pribadi, yah tepatnya tentang perasaan sakit hati ayahnya itu. Tentu saja ia bicara dari hal yang pantas sekali, maka ketika mendengar perkataan pemuda ini kemarahan Pendeta Baudenda menjadi mengendor. Memang terhadap perkumpulan Tengkorak Berdarah pendeta ini tak mencintai, kalau toh mereka itu melakukan kerja sama hal ini hanya disebabkan karena adanya Tunggul Tirto Ayu saja.

“Bagaimana eyang guru?” Kembali Mintaraga bertanya. Ia terus mendesak halus. “Aku yang muda mohon petunjukmu eyang guru.”

Sebelum Pendeta Baudenda menjawab, tiba-tiba saja terdengar teriakan Tengkorak Biru yang telah mementang mulutnya.

“Pendeta Baudenda, jangan kau dengarkan ocehan bocah setan ini,” demikian teriakannya. “Sekarang marilah kita pergi mencari iblis tua itu untuk menghajarnya.”

“Aku justru hendak mencarimu.” Sela Mintaraga. Pemuda ini tak ingin kalau siasatnya ini dikacau oleh ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Mintaraga benar-benar maklum akan kecerdikan atau kelicikan dari Tengkorak Biru. “Tengkorak Biru, sekarang ini selama hidupmu jangan kau harapkan dapat mengganggu orang lain.”

Mintaraga segera menghunus pedangnya, dengan menyingkir dari hadapan Pendeta Baudenda ia lalu menghadapi Tengkorak Biru.

“Baiklah mari kita bertempur.” Seru ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah itu. Tengkorak Biru ini benar-benar licik sekali, dengan mengatakan ‘kita’ itu sebenarnya mengartikan kami. Maka lainnyapun segera menyambut dengan teriakan-teriakan. Mereka itu adalah Tengkorak Ijo bersama Tengkorak Hitam dan Tengkorak Putih sudah lantas menghunus senjatanya dan maju mengurung. Hingga sekejap saja pemuda itu telah dikurung empat orang.

Pendeta Baudenda, ketika menyaksikan itu, didalam hatinya ia berkata :  

‘Jika mereka ini berhasil membunuh mati kepadanya, lain waktu jika

kakang pendeta Argo Bayu menegurku, tak dapat ia mempersalahkan aku...’ karena itulah ia lalu berdiam diri saja. Ia hanya berdiri menonton....

Melihat kalau eyang gurunya ini hanya menonton dan sedikitpun tak turun tangan maka Mintaraga menjadi girang sekali. Ia lalu mempergunakan siasatnya dengan memakai jurus ilmu pedang yang hebat yaitu sebuah pedang diputar hingga merupakan perisai yang hebat. Ia terus mengambil sikap bertahan membela diri untuk mempelajari ilmu silat lawannya dan mencari dimana kelemahan-kelemahan mereka. Mintaraga memanglah seorang pemuda yang teliti sekali.

Tengkorak Biru juga berpikir didalam hati kecilnya.

‘Ayahmu telah binasa ditangan kami, maka kau sekarang bocah yang masih hijau datang kemari seorang diri apakah artinya?!’

Ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini memang belum pernah bertempur melawan Mintaraga, karena itu tak tahulah ia akan kesaktian pemuda ini. Sekarang ketika ia melihat kalau Mintaraga hanya membela diri saja, ia menganggap cuma sedemikian kepandaian pemuda ini. Sedikitpun tak mempedulikan ketika melihat kalau Mintaraga sanggup menerima pukulan Pendeta Baudenda tadi.

“Mari.” Ia berteriak untuk menganjurkan kepada saudara-saudaranya sedangkan dengan sulingnya ia lalu mendesak dan merangsek lawannya yang masih muda itu.

Candra Wulan sangat benci kepada orang-orang dari perkumpulan Tengkorak Berdarah, ia menjadi amat mendongkol ketika menyaksikan Mintaraga dikepung musuh.

“Kakang Mintaraga kau harus menghabiskan mereka ini.” Teriaknya dengan lantang.

Beda dengan Kembang Arum, adik Wirapati ini menonton pertempuran sambil tersenyum-senyum. Ia memperhatikan cara Mintaraga bertempur.

Mintaraga sendiri tahu setelah beberapa jurus melayani mereka. Kecuali Tengkorak Biru, tiga orang musuh lainnya itu hanya mempunyai kepandaian biasa saja. Maka kemudian ia menjawab perkataan Candra Wulan :

“Adi Candra Wulan benar apa yang kau katakan itu. Kau lihatlah saja aku akan menyapu mereka.”

Kata-kata ini segera disusul dengan sebuah perubahan, yang dimulai dengan gerakan burung merak mementang sayap, hebat sekali perubahan gerakan ini. Akan tetapi Mintaraga tak segera menyerang mereka. Ia hanya menyabat senjata-senjata musuhnya saja.

Sejenak saja ramailah suara terdengarnya bentroknya senjata-senjata, senjata-senjata mereka itu ada yang terlepas dari tangan akan tetapi banyak pula yang kutung. Suara ini dibarengi dengan meletiknya bunga api. Akibatnya yang lain adalah musuh-musuhnya menjadi sangat terkejut sekali.  

Tengkorak Putih bersenjatakan tongkat kuningan, akan tetapi kini

tongkat itu tinggal pendek saja, sedangkan yang lainnya telah jatuh ketanah. Tombak bercagak dari Tengkorak Hitam telah kutung menjadi dua potong. Golok besar yang bergerigi seperti gergaji dari Tengkorak Ijo telah rusak pinggirannya. Sedangkan suling Tengkorak Biru kini tinggal separoh saja.

“Bagus.” Seru Candra Wulan dan Kembang Arum dengan serempak.

Tengkorak Biru menjadi panas hatinya, hingga matanya mendelik karena menahan marahnya.

“Maju.” Serunya sambil memulai menyerang dengan serangan-serangan yang hebat sekali. Ia berusaha untuk mendesak lawannya.

Mintaraga menyambut teriakan itu dengan sebuah tawa yang nyaring lagi pula panjang. Pemnda ini tak melangkah mundur, akan tetapi sebaliknya malahan maju untuk mendahuluinya. Ia memutar pedangnya dan mulai menyapu semua senjata musuh-musuhnya, hingga empat macam senjata itu dapat tersamplok mental. Maka sebentar saja ia telah menang diatas angin. Dengan ini ia memperlihatkan kehebatan ilmu pedangnya.

“Adi Candra Wulan kau sambutlah ini.” Tiba-tiba saja Mintaraga berseru, tangan kirinya segera tampak diayunkan. Dan bersama dengan itu tubuh Tengkorak Putih telah melayang tepat kedepan Candra Wulan.

“Cis” Candra Wulan berludah. Mana sudi ia menyambut tubuh seorang lelaki, apa lagi tubuh musuhnya. Maka segera ia bersiap menyambut dengan sebelah tangan kedada Tengkorak Putih.

Ketika tersamber oleh Mintaraga ini tadi Tengkorak Putih telah setengah mati, ia telah pingsan, sekarang dipapaki oleh serangan Candra Wulan yang juga tak sempat ditangkis, belum lagi tubuhnya roboh ditanah, jiwanya telah melayang. Tubuh itu jatuh diatas tanah dengan tak berkutik dan menimbulkan suara yang bergedebukan.

Candra Wulan sangat terperanjat sekali, sedikitpun ia tak menyangka kalau serangannya ini akan dapat membinasakan lawannya. Karena itu ia menjadi tercengang.

“Bagus... bagus...” Sebaliknya Mintaraga malah bersorak memujinya. Akan tetapi ia tak hanya bersorak saja, dengan gesit ia menyambar tangan kiri Tengkorak Hitam, sehingga sesaat kemudian, Tengkorak Hitam telah menjadi seorang yang tak bertangan. Dia kesakitan bukan main, ia roboh bergulingan dan akhirnya jatuh pingsan.

Mintaraga telah membulatkan tekadnya untuk menyapu bersih orang- orang perkumpulan Tengkorak Berdarah ini, hal ini supaya daerah Laut Kidul menjadi bersih dari gangguan para perompak, agar penduduk disitu tak terganggu ketentramannya, karena itulah ia mengesampingkan persoalan pribadinya untuk menuntut balaskan perasaan sakit hati ayahnya. Dan hal ini menjadi soal yang kedua.  

Demikianlah ia lalu mendesak Tengkorak Biru dengan hebat, hingga

ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah ini mundur terus jika tak ingin mengalami nasib seperti kedua orang saudaranya tadi.

Disaat pemimpin perkumpulan Tengkorak Berdarah ini sangat terancam Pendeta Baudenda melompat kedalam kalangan pertempuran, dari dalam mulutnya keluarlah sebuah seruan. Ia maju justru tiga senjata lagi diarahkan satu kepada lain, maka dengan sendirinya tiga rupa senjata itu menjadi ditujukan kearahnya. Akan tetapi ia sangat hebat, waktu ia mengibaskan tangannya maka ketiga senjata itu terpentaI sendiri-sendiri. Pedang Mintaraga terpental keluar pintu Suling Tengkorak Biru hampir terlepas dari tangannya, dan golok Tengkorak Ijo balik menghajar keningnya sendiri, hingga kening itu menjadi benjol.

Tangkisan kakek pendeta ini adalah salah sebuah gerak tipuan dari perguruan Lawu yang terkenal hebat dan menjadi ilmu kebanggaan. Inilah jurus yang dinamakan ‘Membelah Bumi mengejar Bulan”.

Setelah itu tangannya bergerak pula, untung Mintaraga telah bersiap sedia.

“Eh... Mintaraga.” Tiba-tiba saja pendeta itu menegur. “Apakah kau menghendaki Tunggul Tirto Ayu?”

Ditanya dengan demikian mendadak, maka Mintaraga tak dapat segera memberikan jawaban. Akan tetapi Tengkorak Biru yang licin, sudah segera memberi isyarat dengan tangan supaya pendeta itu jangan bicara terus.

“Mintaraga tahukah kau kalau Tunggul Tirto Ayu itu telah dirampas orang, dan siapakah yang merampas itu?” Masih saja Pendeta Baudenda terus bertanya.

“Patih Udara” Jawab Mintaraga dengan singkat. “Pendeta Baudenda tertawa bergelak-gelak.

“Apakah Patih Udara mempunyai kepandaian seperti itu hingga ia mampu merampas Tunggul Tirto Ayu?!”

Mintaraga menjadi heran.

“Kecuali Sucitro si tua bangka itu, siapa lagikah yang akan dapat merampas barang itu dari tanganku?” Jawab Pendeta Baudenda.

Mintaraga segera dapat menduga, rupa-rupanya setelah Tunggorono tak sanggup melawan Pendeta Baudenda, dia terpaksa menyerahkan Tunggul Tirto Ayu ini kepada eyang gurunya ini. Hanya diluar dugaan kalau Sucitro tokoh tua yang aneh itulah yang merampas Tunggul Tirto Ayu.”

“Oh... begitukah?” Katanya.

“Mintaraga.” Kembali Pendeta Baudenda ini bertanya. “Kau ini takut kepadaku atau tidak?!”

“Kau adalah eyang guruku, yah tepatnya adik dari eyang guruku maka aku sangat menghormatimu.” Jawab Mintaraga.  

“Baik.” Kata Pendeta itu. “Sekarang marilah kita bekerja sama untuk

melayani Sucitro, untnk merampas kembali Tunggul Tirto Ayu. Jika kau menolak ajakanku ini aku khawatir kalau kau malam ini tak akan dapat lolos dari pulau Iblis ini dengan nyawa masih tetap mengeram didalam tubuhmu. Maka tak usah kau bicara dari hal niatmu melawan kaum perkumpulan Tengkorak Berdarah....

Kata-kata itu benar-benar merupakan ancaman dan kisikan yang diam- diam, tentu saja Mintaraga telah menginsyafinya. Hanya untuknya itu sangatlah sukar untuk memberikan jawaban. Jika ia menolak, mungkin Pendeta Baudenda akan membuktikan ancamannya, ini sangat bahaya untuk pihaknya.

Ia tak mengkhawatirkan dirinya ataupun si Kembang Arum, hanya ia merasa memberatkan keselamatan Candra Wulan. Gadis ini tentunya akan mengalami banyak kesukaran untuk dapatnya meloloskan diri dari ancaman Pendeta Baudenda yang sakti. Jika ia menerima baik, cita-citanya tak akan bakal terwujud. Sekali Tunggul Tirto Ayu jatuh ketangan Pendeta Baudenda, dibelakang hari tentu ada ancaman bahaya lain....

“Bagaimanakah jika aku menolak....?” Dia lalu bertanya kepada paman kakek gurunya ini. Memanglah Mintaraga hendak mengetahui pikiran orang itu.  

Kedua mata pendeta itu membelalak.

“Tak usah kau banyak cakap lagi.” Katanya dengan bengis. “Walaupun kau hebat, pasti kau tak akan dapat melepaskan diri dari pulau Iblis ini. Bukankah perkataanku ini benar Tengkorak Biru?!”

“Benar... benar...” Jawab Tengkorak Biru dengan cepat, lalu dengan cepat pula tangannya yang kanan diayun keatas, hingga sebatang anak panah melesat keudara sambil memperdengarkan suara. Bersama dengan terlepasnya tanda rahasia ini maka beribu-ribu anggota Tengkorak Berdarah berteriak bersama-sama, hingga suasana menjadi sangat bergemuruh.

Mintaraga berlaku sangat tenang, sedikitpun parasnya tak berubah. “Jika aku menerima baik, bagaimanakah dengan Tunggul Tirto Ayu

itu?!” Tanyanya pula.

Kini Pendeta Baudenda memperdengarkan suara tawannya yang keras, tampaklah kakek ini tertawa sampai terpingkal-pingkal.

“Dengan begitu, karena kita adalah orang-orang sendiri, ada urusan apakah yang tak dapat didamaikan?” Jawabnya. “Apakah benar kau suka bekerja sama denganku?”

Kembali Mintaraga menjadi ragu-ragu, maka tak segera ia memberikan jawaban.

Justru itu Candra Wulan menjadi tertawa. Gadis ini telah mendapat pikiran, ia lalu berkata : “Benar kita adalah orang-orang sendiri, mengapa kita harus berpanas

kepala dan menegangkan urat saraf? Kakang Mintaraga kau terimalah saja ajakan eyang gurumu ini.”

Kembang Arumpun rupa-rupanya telah mendapatkan akal dan tipu daya pula, hingga iapun lalu berkata :

“Ki Mintaraga kita terima saja ajakan mereka itu.”

Mendengar kalau kedua orang kawannya ini mengucapkan demikian maka Mintaraga lalu menganggukkan kepala.

Pendeta Baudenda tertawa dan memperlihatkan wajah yang tercengang.

Akan tetapi tak lama kemudian terdengarlah perkataannya :

“Baguslah angger Mintaraga, cucu keponakanku yang baik.” Katanya dengan tertawa. “Nah sekarang kau bunuhlah dahulu itu orang yang bernama Tengkorak Biru.”

Mendengar perkataan pendeta Baudenda ini Tengkorak Biru menjadi kaget bukan main, hingga ia merasakan kupingnya bagaikan orang tuli.

“Apa.” Tanyanya.

“Eh... Mintaraga, apakah kau tak mendengar perkataanku tadi?” Pendeta Baudenda bertanya kepada cucu keponakan ini tanpa mempedulikan pertanyaan Tengkorak Biru.

Mintaraga menjadi mengerutkan keningnya. Didalam hatinya ia berkata  

:

‘Bagus betul, kau khawatir kalau pihak Tengkorak Berdarah akan

mendapatkan bagian. Sekarang kau hendak membunuhnya dengan meminjam tangan orang lain. Baiklah akupun juga tahu akan tugasku.’

Memang tepat sekali dugaan Mintaraga itu tentang keadaan hati kakek pendeta yang menjadi eyang gurunya ini. Pendeta ini ingin mengakangi Tunggul Tirto Ayu, untuknya kurang seorang saingan adalah sangat baik sekali. Karena itu ia lalu mempergunakan siasat tanpa mempedulikan lagi pelbagai pertimbangan.

Wajah Tengkorak Biru menjadi pucat dan merah, ia benar-benar menjadi mendongkol sekali.

“Bagus.” Serunya. “Kepala botak kau ternyata sangat kejam sekali. Kau melewati jembatan dan membongkar papannya.

Setelah berkata demikian ia lalu melepaskan dua batang anak panahnya.

Hingga suara kedua anak panah itu mengaung-ngaung diudara.

“Mari kita mengadu jiwa disini.” Katanya dengan menjerit. “Jika bukan aku yang mati, tentu kau yang akan menggeletak mampus bagaikan anjing.”

Dengan mengayun serulingnya, ia terus menyerang Pendeta Baudenda.

Tengkorak Ijopun telah mengerahkan anak buahnya untuk menyerbu.

Candra Wulan dan Kembang Arumpun terpaksa turun tangan untuk menyambut datangnya serangan ini. Tengkorak Ijo tahu kalau Kembang Arum adalah seorang dara yang

mempunyai kesaktian tinggi, karena itu ia lalu menerjang kearah Candra Wulan. Ia lalu memainkan goloknya dengan jurus harimau iblis mengamuk.

Candra Wulan telah mendapat warisan dari Giri Pragolo, maka tenaganyapun telah bertambah dengan tak sedikit. Begitu goloknya tiba ia lalu mengelak, tangan kirinya menyamplok, hingga golok itu mental, lalu tangan kanannya membarengi menyambar kedada musuh. 

Hal ini sedikitpun tak disangka oleh Tengkorak Ijo, ia menjadi sangat kaget dan ketika goloknya terpental tangannya menjadi sakit sekali. Sakit sampai keulu hati. Ia lalu berteriak “celaka” ia segera melompat mundur. Dengan begini ia lolos dari tangan kanan Candra Wulan.

Kembang Arum menjadi girang sekali ketika melihat kawannya inipun mempunyai tenaga yang tangguh.

“Adi Candra Wulan, marilah kita bergabung untuk melayani mereka.” Serunya mengajak.

“Baik.” Seru Candra Wulan. Gadis ini terus menggerakkan kedua tangannya semua dengan ilmu pukulan Gundala Kurda. Maka kemana tangannya melayang, disana pasti terdapat orang yang roboh mati kena sasarannya.

Kembang Arum telah berumur dua puluhan tahun, kalau dibandingkan dengan Candra Wulan ia masih lebih tua kurang lebih tiga atau empat tahunan. Ketika ia menyaksikan Candra Wulan demikian telengas, keningnya menjadi mengkerut. Akan tetapi mereka tengah menghadapi bahaya. Karena itu ia tak bilang apa-apa iapun lalu memainkan pedangnya. Yah menggerakkan senjatanya untuk melayani musuh. Setiap kali ia menotok musuh, maka orang yang menjadi korbannya, dia cuma roboh dengan tubuh lemas saja. Sedikitpun tak dapat berkutik lagi, jiwanya tak terancam bahaya kematian.

Sebentar saja kedua orang gadis perkasa ini telah merobohkan kurang lebih enam puluhan orang-orang Tengkorak Berdarah. Melihat kejadian ini maka Tengkorak Ijo tak berani mendekati kedua gadis ini. Ia berteriak-teriak mengomando dari tempat yang jauh. Karena ini, meskipun mereka sukar untuk Candra Wulan dan Kembang Arum untuk dapat menggempur kepungan itu.

Dilain pihak, Tengkorak Biru telah bertempur pula dengan Mintaraga. Dia itu sebenarnya menyerang Pendeta Baudenda, yang sangat dibencinya. Akan tetapi Mintaraga yang hendak menuntut balas kematian orang tuanya lalu mewakili eyang gurunya untuk menghadapi Tengkorak Biru.

Sewaktu ketiga orang muda mudi itu dikurung. Pendeta Baudenda dan Jogosatru berdiri disalah satu tempat, menonton saja sambil memperlihatkan senyuman mereka.  

Pendeta Baudenda yang mengajurkan Mintaraga membunuh Tengkorak

Biru, akan tetapi ia sendiri tak turun tangan untuk membantu barang sedikitpun juga.

Tiba-tiba saja Mintaraga mendengar Candra Wulan menjerit, hingga ia menjadi kaget dan segera berpaling. Ternyata gadis ini telah dapat merobohkan banyak sekali musuh, namun dirinya sendiri telah kena sebuah bacokan.

Sewaktu Mintaraga berpaling, Tengkorak Biru mengirimkan sebuah tusukan, tusukan ini adalah sebuah tipu yang mematikan lawan, Tengkorak Biru menganggap ini adalah sebuah ketika yang baik sekali. Karena itulah ketika menusuk ia mengerahkan seluruh tenaganya.

Mintaraga ternyata sangat waspada sekali, walaupun ia sedang menengok, ia tidak lupa memasang kuping dan mata. Karena itu ketika tikaman tiba, ia menolong dirinya bukan dengan jalan melompat kesamping ataupun mundur, hanya dengan mengepeskan dada. Bersama dengan itu ia menyambar seruling musuh untuk digentak.

Tengkorak Biru menjadi kaget, ia merasakan tangannya sakit sekali. Meskipun jiwa Tengkorak Biru telah berada ditangannya, akan tetapi

Mintaraga mempunyai pikiran lain. Didalam hati kecilnya, pemuda itu berkata :

‘Kau menonton saja dari pinggiran, hem... kau hendak enak dan menang sendiri, kau menghendaki aku membunuh Tengkorak Biru tetapi kau tak ingin melakukannya.’

Oleh karena pikirannya ini. Mintaraga lalu menyerang Tengkorak Biru dengan membuat tubuh ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah ini terpental kearah Pendeta Baudenda. Seruling musuhnya itu ia lemparkan, setelah itu dengan menggerakkan kedua tangannya, ia melompat kearah Candra Wulan untuk menolong gadis itu.

Hebat sekali Tengkorak Biru merasakan pukulan Mintaraga itu, kepalanya menjadi pusing, matanya berkunang-kunang. Ia merasakan sakit akan tetapi tubuhnya tak terluka, cuma walaupun ia mencoba menggerakkan tenaganya, untuk mempertahankan diri, tidak urung tubuhnya itu terpental juga sehingga kedepan Pendeta Baudenda.

Pendeta Baudenda memperdengarkan suara dihidung “hem” sambil mengulurkan tangannya untuk menyambar tengkuknya, akan tetapi ternyata pentalan Tengkorak Biru itu luar biasa kerasnya, ia sampai mesti bertahan beberapa tindak barulah dapat menancapkan kuda-kudanya.

Tengkorak Biru menjadi kaget sekali apa bila ia mendapat kenyataan orang didepannya, yang beroman bengis itu adalah pendeta Baudenda. Bersama dengan itu timbul pula kemarahannya. Maka tak sempat lagi ia menggerakkan tangannya sambil berteriak.

“Bangsat, aku akan mengadu jiwa denganmu.”  

Pendeta Baudendapun sangat marah ketika ia didamprat, belum lagi

tubuh Tengkorak Biru tiba, ia telah mengulurkan tangan untuk menotok bersama dengan itu pendeta licin inipun mendapat pikiran.

‘Biar bagaimana juga bangsat ini adalah temanku, jika aku yang membunuhnya, orang-orang dunia kependekaran akan menertawakan aku. Hem... Mintaraga kunyuk cilik, kau sungguh-sungguh licin.’

Maka batallah ia untuk membunuh ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah itu, ia lalu melemparkan tubuh Tengkorak Biru kembali kearah Mintaraga.

Anak muda itu sendiri yang telah berhasil merobohkan beberapa musuh sudah lantas berada didekat Candra Wulan.

“Kau kena apa?” Tanyanya.

Candra Wulan terbacok pundak kirinya, karena itu ia mandi darah. Akan tetapi dengan tangan kanannya ia masih tetap dapat manghajar musuhnya dengan hebat. Seakan-akan luka dipundak kirinya ini tak diperhatikan sama sekali.

“Aku hanya terluka sedikit, dan lagi ini hanya merupakan luka luar saja. Tak apa.” Demikianlah jawaban gadis itu. “Apakah kau telah dapat membinasakan Tengkorak Biru?!”

Mintaraga tak segera menjawab, hanya dengan serangan-serangannya ia lalu menolak musuh-musuh yang berada didekatnya. Dengan jalan ini ia mendapat ketika untuk melindungi gadis itu.

“Kau balut lukamu itu, balutlah supaya tak banyak mengeluarkan darah.” Katanya.

Candra Wulan merobek ujung lengan bajunya, kemudian membalut pundaknya yang berdarah.

“Eh... Tengkorak Biru datang.” Serunya dengan tiba-tiba. “Nanti kusambutnya dia.”

Dan gadis itu segera melompat dengan mempergunakan pukulan Gundala Kurda yang didapatkan dari resi Giri Pragoto.

“Jangan terlalu repot.” Seru Mintaraga sambil melompat mendahului menyambar Tengkorak Biru pada belakang lehernya, setelah itu tanpa menunggu tubuh orang itu turun diatas tanah, ia melemparkan pula kearah Pendeta Baudenda sambil berkata :

“Eyang guru, aku telah membekuk penjahat ini, maka sekarang silahkan eyang guru menghukumnya.”

Benar saja setelah perkataan itu lenyap maka tubuh Tengkorak Biru itu melayang kembali kearah si kakek pendeta yang berkepala gundul itu.

“Bagus.” Candra Wulan memuji. Ia kagum sekali ketika melihat kesaktian Mintaraga ini. Iapun segera membalut lukanya, setelah itu ia lalu berkata pula :  

“Kakang Mintaraga, mengapa kau tak membunuh Tengkorak Biru?”

Akan tetapi belum lagi ia menutup mulutnya dengan rapat mulutnya kembali berteriak :

“Tengkorak Biru kembali.”

Mintaraga tahu kalau adik seperguruan gurunya ini telah menunjukkan kelicinannya. Karena itu hatinyapun telah mengambil keputusan yang lebih teguh lagi, ialah tak mau ia menghajar Tengkorak Berdarah hingga mampus, ketika tubuh ketua Tengkorak Berdarah ini tiba ia menyambutnya. Terus melemparkan kembali kepada pendeta yang menjadi eyang gurunya. Hingga dengan demikian tubuh Tengkorak Biru itu hanya seperti batu yang dilemparkan kesana kemari saja.

Candra Wulan tak mengerti mengapa mereka berdua itu sama-sama tak mau membunuh ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah itu. Akan tetapi pada saat itu tak sempat ia menanyakan hal itu kepada mereka. Karena itu ia lalu menunduk.

“Kakang Mintaraga, ayu Kembang Arum berada disana, mari kita kesana.” ajaknya.

“Baik.” Jawab Mintaraga.

Baru dua tindak mereka itu berjalan, akan tetapi tubuh Tengkorak Biru telah melayang lagi kearah Mintaraga. Candra Wulan menjadi kehabisan kesabarannya, hingga ia berseru dengan keras :

“Kalau kau tak mau membunuhnya, biarlah aku yang akan membunuhnya.”

“Jangan adi Candra Wulan.” Cegah Mintaraga. Ia tahu dengan beberapa lemparan lagi, Tengkorak Biru akan menghembuskan napas terakhirnya sendiri. “Dengan membunuh anjing ini maka berarti kau akan mengotorkan tanganmu saja.”

Sambil mengucapkan demikian Mintaraga lalu menyambut datangnya tubuh Tengkorak Biru. Hanya kali ini ia tak menyambar kearah belakang leher akan tetapi memapaki dengan pukulan kearah tubuh, begitu keras, hingga tubuh itu terpental balik kearah si pendeta.

“Heh anak yang baik.” Seru Pendeta Baudenda yang melihat dengan tegas kelakuan anak itu. “Kau sambarlah tubuh Tengkorak Biru ini dan bunuhlah saja.” Dan iapun lalu menirukan perbuatan Mintaraga mengangkat tangannya untuk memukul tubuh Tengkorak Biru dengan pukulan jarak jauhnya hingga tubuh itu kembali terpental.

“Bagus.” Seru Mintaraga. Ia lalu mengerahkan tenaganya untuk menyambut tubuh Tengkorak Biru. Sekarang tak lagi ia memukulnya, hanya setelah dipegang tubuh itu, barulah ia melemparkan dengan keras. Kembali ia melemparkan kearah pendeta itu.  

Pendeta Baudenda menjadi sangat marah, kembali ia membuat tubuh itu

terpental membalik kearah Mintaraga. Pendeta itu tetap tak mau memukul mampus ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah.

Mintaragapun tak sudi dirinya ditipu oleh eyang gurunya yang jahat ini, kembali ia menolak. Dengan begitu bagaikan bola. Tubuh Tengkorak Biru memental bolak-balik ditengah udara. Sedikitpun tubuh itu tak jatuh diatas tanah.

Melihat cara bertempur yang demikian ini maka pertempuran yang berada disekitarnya menjadi terhenti. Semuanya mengawasi kearah Pendeta Baudenda dan Mintaraga dengan wajah menunjukkan kekaguman. Inilah ilmu pukulan yang hebat dari perguruan Lawu dan bernama ‘Pukulan Udara’. Sebuah ilmu yang hebat sekali.

Jogosatru menjadi sangat kagum, didalam hatinya ia berkata.

‘Hebat sekali bocah ini, dia masih begini muda akan tetapi telah mempunyai kesaktian yang berarti juga. Biarpun ayahnya dahulu termasuk seorang sakti, akan tetapi sewaktu tenar-tenarnya tidak sesakti Mintaraga ini...’

Semua anak buah perkumpulan Tengkorak Berdarah mengawasi tubuh Tengkorak Biru dengan tanpa berkedip. Tubuh itu kelihatan mental balik terus-menerus. Tubuh itu terpental kembali setelah tertolak angin pukulan tangan Pendeta Baudenda atau tangan Mintaraga. Mereka sampai melupakan pertempuran mereka sendiri.

Segera saja Pendeta Baudenda menjadi mandi keringat, jubah yang dipakainya menjadi basah kuyup.

Juga demikian dengan Mintaraga, keringatnya keluar dengan deras. Dia menutup rapat kedua baris giginya, kemudian ia tampak mundur setindak demi setindak, sedikit demi sedikit.

Diantara penonton itu hanya Kembang Arum dan Jogosatru yang mengetahui apa artinya tindakan mundur dari anak muda itu. Teranglah kalau ia kalah latihan dengan pendeta Baudenda ini, maka lama-lama ia menjadi keteter hingga dengan demikian kakek tua itu menjadi menang angin. Melulu sebab anak muda ini memaksakan dirinya bertahan terus, ia tak dapat segera dikalahkan.

Kembang Arum menjadi sangat berkhawatir sekali.

“Jika pertandingan ini berjalan dengan lebih lama lagi, misalnya kakang Mintaraga ini tak kalah, dia akan mendapatkan luka dalam yang cukup berat!” Demikianlah pikirnya. Inilah yang membuat hatinya menjadi kecil.

Muka Mintaraga sekarang berubah menjadi merah, urat-urat yang biru kelihatan tegas sekali, gerakan tangannyapun menjadi sangat lambat, kedua kakinya tetap tergeser mundur dengan pelan-pelan. Teranglah kalau dia telah memaksakan tenaga dan ambekannya untuk tetap melayani paman eyang gurunya ini.  

Kembang Arumpun mengerti ilmu semacam ‘Pukulan Udara’ ini, hanya

ia kurang kuat tenaga dalamnya saja, juga latihannya belum sempurna. Tak berani ia melawan Pendeta Baudenda. Akan tetapi ia cerdik, disaat yang genting itu ia mencoba menggunakan akal.

“Hai... kalian berdua ini sungguh terlalu sekali.” Demikianlah serunya. “Tengkorak Biru telah mampus ditangan kalian apakah perlunya kalian masih tetap mengadu tenaga!”

Diwaktu sunyi sebagai itu, suara itu terdengar nyaring sekali.

Jogosatrupun hendak menolong gurunya, dengan cepat ia menyambung perkataan Kembang Arum itu.

“Benar, kenapa kita tidak segera mencari Tunggul Tirto Ayu?!” serunya dengan lantang. “Mengapa kita harus berdiam lebih lama lagi disini?!”

Kedua orang itu, Pendeta Baudenda dan Mintaraga tergerak hatinya ketika mendengar perkataan kedua orang itu tadi. Pendeta Baudenda menjadi menyesal karena telah adu tenaga, dan tak pernah disangkanya kalau anak muda ini mempunyai tenaga demikian besarnya. 

Tanpa berjanji terlebih dahulu, tetapi dengan bersama, kedua orang yang sedang mengadu tenaga itu sama-sama menarik kembali tenaganya. Maka tak ada lagi tenaga yang menyangga tubuh Tengkorak Biru, dan segera saja tubuh itu meluncur kebawah dengan deras. Rebah diatas tanah dengan kaku. Ternyata benar-benar tubuh Tengkorak Biru telah berubah menjadi mayat.

Semua orang menjadi tercengang sampai sekian lama, pertama kali mereka melihat kalau pemimpin mereka itu telah mampus, mereka menjadi terkejut, serentak mereka sadar, lalu masing-masing berteriak sambil mengangkat senjatanya.

Mintaraga mengawasi semua anak buah atau anggota perkumpulan Tengkorak Berdarah ini. Ia memandang sambil mengatur pernapasannya.

“Ki sanak sekalian dari perkumpulan Tengkorak Berdarah, ketahuilah kalau ketua kalian telah meninggal dunia. Memang kematiannya ini adalah atas perbuatannya sendiri.” Kata Mintaraga dengan lantang. “Sekarang siapakah diantara kalian yang membela pati kepada pemimpinmu itu, silahkan maju.”

Gagah sekali sikap si pemuda itu, suaranya terdengar keras, mendengung sampai jauh, besar sekali pengaruhnya. Maka kembali semua orang yang tergabung dalam perkumpulan Tengkorak Berdarah ini menjadi tercengang. Mereka itu tak tahu hantu darimana ini yang telah membinasakan pemimpin mereka itu. Mereka telah menyaksikan dari keempat pemimpin mereka itu dua telah tewas dengan secara hebat dan satu kehilangan kedua tangannya. Sedangkan Tengkorak Ijo entah kemana perginya, pemimpin kedua ini telah hilang dari hadapan mereka. Hingga keadaan mereka itu seperti ular tanpa kepala hingga tak dapat berjalan.  

Mereka itu saling berpandangan dengan kawan-kawannya. Beberapa orang

hendak bergerak maju akan tetapi kembali mereka mundur lagi. Kebanyakan mereka itu merasa takut dan jerih kepada Mintaraga.

Akhirnya salah seorang dari anggota perkumpulan Tengkorak Berdarah ini memberanikan diri untuk maju dan berkata :

“Pendekar-pendekar yang gagah, pemimpin kami telah mati, kita tak punya andalan lagi karena itulah maka kami menyerahkan nasib kami kepada kalian semua.” Demikianlah katanya dengan lantang.

“Bukankah keberanian kalian kini telah rontok?” Kembali Mintaraga berseru. “Tahukah kalian kalau kini hanya tinggal ada tiga jalan bagi kalian semua.”

Dengan serentak mereka semua para anggota Tengkorak Berdarah ini minta supaya Mintaraga menerangkan :

“Silahkan sebutkan.” Seru mereka dengan serempak.

“Yang pertama yaitu.” Mulailah Mintaraga menerangkan perkataannya tadi kepada para anggota perkumpulan Tengkorak Berdarah ini, “ada serombongan yang mendendam kepada kami, atau tepatnya bersakit hati. Yang berniat membinasakan kita, supaya mereka dapat lagi menjagoi laut Selatan ini. Yang kedua adalah rombongan mereka yang menghendaki perkumpulan Tengkorak Berdarah bubar, supaya mereka selanjutnya hidup bagaikan nelayan-nelayan yang hidup dari usahanya menangkap ikan. Yang ketiga adalah mereka yang tak memikirkan apa-apa juga, dan hanya memikirkan mendapat uang, supaya dengan begitu mereka jadi punya uang untuk belanja atau pulang kekampung halamannya sendiri-sendiri untuk bertani. Nah ki sanak sekalian benar atau tidak perkataanku ini?” Seru Mintaraga dengan bertanya.

Untuk sejenak mereka semua para anggota perkumpulan Tengkorak Berdarah ini menjadi terdiam, kemudian terdengarlah mereka itu saling berkasak-kusuk satu dengan lainnya. Mereka itu menjadi tercengang sekali karena pikiran mereka itu dapat diterka dengan baiknya oleh Mintaraga. Akhirnya mereka menjawab :

“Benar.”

Mendengar ini Mintaraga tertawa keras.

“Baiklah.” Katanya pula. Kemudian kembali ia berkata kepada para bekas anggota perkumpulan Tengkorak Berdarah. “Terhadap kalian kami tak akan menjatuhkan hukuman. Kami hanya bermusuhan dengan Tengkorak Biru, kami tak hendak membuatmu menjadi susah. Sekarang apa saja yang kalian kehendaki, boleh kalian lakukan, kami tak akan mengurusi atau merintanginya. Nah siapa dari rombongan ketiga, kalian boleh berkumpul disebelah kiri. Sedangkan kalian yang berada dirombongan kedua boleh berkumpul disebelah kanan. Sedangkan mereka yang terdiri dari rombongan pertama boleh berdiri tetap disitu, sedikitpun jangan bergerak.”  

Begitu habis Mintaraga berkata, segera saja kira-kira dua ribu orang

perkumpulan Tengkorak Berdarah mulai bergerak menuju kekiri dan kekanan. Sesudahnya mereka yang tetap tinggal ditengah-tengah itu hanya tinggal beberapa ratus saja. Mereka itu adalah kawan-kawan sehidup semati dengan keempat pemimpin mereka.

Mintaraga mengawasi ketiga rombongan itu, setelah itu ia berkata kepada kawan-kawannya :

“Tengkorak Biru pekerjaannya membajak para orang-orang kaya yang lewat disini maka kukira tak sedikitlah harta simpanannya. Adi Kembang Arum coba kau ajak beberapa orang ini untuk memeriksanya.” Kemudian katanya kepada orang-orang jahat itu. “Siapakah diantara kalian yang mengetahui dimana pemimpinmu itu menyimpan harta benda hasil rampokannya itu? tolong majulah kedepan.”

Mendengar perkataan Mintaraga ini maka Kembang Arum menjadi tertawa keras :

“Untuk apa menyia-nyiakan waktu seperti ini?” Katanya sambil melompat kesebuah pojok yang gelap.

Orang-orang tak tahu apakah yang akan dilakukan oleh Kembang Arum, sewaktu mereka menduga-duga, mereka mendengar suara tangan dan kaki yang sedang bekerja dipojok yang gelap itu. Suara ini dicampuri dengan suara bentakan-bentakan, akan tetapi sesaat kemudian terdengarlah jeritan yang hebat. Akhirnya gadis itu muncul dengan membawa seseorang......

O

O O

“Jika kita menyuruh jahanam ini yang menunjukkan dimana harta benda itu disimpan bukankah lebih baik lagi, dari pada kita mencari sendiri dengan meraba-raba?” Kata Kembang Arum dengan tertawa lebar.

Sekarang mereka melihat dengan tegas, bahwa tawanan itu adalah pemimpin kedua dari gerombolan Tengkorak Berdarah, Tengkorak Ijo.

Tengkorak Ijo pemimpin kedua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini melihat kalau pihaknya sudah habis harapannya setelah menyaksikan kebinasaan Tengkorak Biru secara demikian hebat. Untuk melindungi dirinya, diam-diam ia mengundurkan diri. Ia berniat bersembunyi dahulu, kemudian ia hendak mencari perahu untuk melarikan diri. Akan tetapi apa lancur sebelum maksudnya itu berhasil, Kembang Arum telah melihat kemana tadi ia menyingkir.

“Tengkorak Ijo.” Bentak Kembang Arum dengan lantang, “aku telah menotokmu jalan darah didekat ulu hati dan inilah jalan darah kematian. Setelah sehari maka kau akan mampus dengan hebat. Tulang belulangmu  

pecah dan sambungan-sambungannya menjadi copot. Karena itu sekarang

kau harus segera menyerahkan hasil rampokanmu itu, kalau kau menyerahkan maka aku akan membebaskan totokan itu dan memberimu ampun.

Tengkorak Ijo menjadi benar-benar ketakutan, dan ia percaya penuh dengan perkataan gadis ini, maka ia tak berani membangkang lagi. Ia terus mengajak belasan anak buahnya masuk kedalam markas, didalam tak memakan waktu lebih lama lagi, segera tampaklah mereka keluar dengan membawa tujuh buah peti yang digotong keluar.

“Semua emas, perak dan permata berada disini.” Kata pemimpin yang pengecut itu. “Sekarang silahkan kau membuka totokanku ini sahabatku yang baik.”

Kembang Arum tertawa.

“Kau tunggu dulu sampai kita habis membagi-bagikan, bukankah demikian belum juga terlambat.” Jawabnya dengan keras.

Tujuh buah peti itu dikunci, untuk membukanya Kembang Arum tak perlu memakai kunci ataupun senjata tajam. Cukup dengan sebuah gempuran tangannya saja maka pintu lemari itu telah dapat dibuka. Dari dalam peti itu terlihatlah cahaya terang bergemerlapan. Jumlahnya emas, perak dan barang-barang permata itu seperti tak ternilai harganya, karena banyaknya permata itu maka mata yang memandang kesana menjadi sangat silau.

Kembang Arum menghela napas.

“Belasan tahun Tengkorak Biru mengganas di laut Kidul, ternyata selama ia menjadi momok disini tak sedikit pula hasilnya.” Katanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mintaraga bagaimana kita membaginya?!”

Mintaraga tertawa, ia berpaliag kepada Candra Wulan :

“Adi Candra Wulan, kaulah yang mesti memberikan pikiran untuk ini.” Katanya.

“Sama sekali tak sukar.” Gadis ini menjawab dengan tenang. Bahkan dimulutnya tersungging sebuah senyuman. “Kita bagi rata saja diantara mereka anggota Tengkorak Berdarah ini. Siapa yang suka tinggal tetap disini ada rumah-rumah dan sawah-sawah serta kebun. Mereka ini boleh diberi satu bagian. Siapa yang hendak pergi ketempat lain, bagiannya boleh ditambah lagi sedikit. Bagi mereka yang berpikiran untuk menuntut balas, kita jangan memberinya apa-apa, kita harus menghadiahi sebuah tamparan supaya mereka itu menjadi insyaf. Kami sendiri adalah orang-orang luar, kami sedikitpun tak menginginkan barang sedikit saja. Sedangkan Tengkorak Ijo telah beruntung karena telah mendapatkan kembali nyawanya, maka ia tak usah diberi apa-apa. Lihat apakah pendapatku ini tidak adil?!”  

Mintaraga mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.

“Sangat adil.” Serunya. Sedangkan orang-orang perkumpulan Tengkorak Berdarah menyambutnya dengan bertepuk tangan. Sedangkan mereka berdiri ditengah-tengah dan termasuk golongan pertama lalu lari serabutan kearah kiri dan kanan. Sambil berlari-lari mereka itu berteriak- teriak :

“Kami juga tak berani menuntut balas.”

Melihat kejadian ini maka Candra Wulan lalu tertawa terbahak-bahak karena kegirangan.

Sedangkan Pendeta Baudenda menjadi terdiam diri saja untuk kesekian lamanya. Ia tak menyangka sama sekali kalau harta benda yang dikumpulkan oleh Tengkorak Biru ini telah sedemikian banyaknya. Matanya telah menjadi merah, diam-diam ia mengambil jarum rahasianya, ia hendak menyerang kearah tiga orang muda-mudi ini. Supaya dengan sekali serang saja mereka bertiga roboh. Dan kalau mereka telah roboh ia akan dapat mengakangi sendiri harta benda yang sedemikian banyaknya ini.

Jogosatru adalah seorang yang sangat licik, dia lebih licin dari pada pendeta Baudenda, gurunya. Ketika ia melihat gerak-gerik gurunya segera ia menarik lengannya. Ia pasti kalau ketiga orang muda-mudi yang diserang dengan secara menggelap, penyerangan ini akan dapat membangkitkan rasa amarah orang-orang dari Tengkorak Berdarah. Kalau saja mereka semua ini turun tangan maka kedua guru dan murid ini akan menghadapi bahaya yang sangat besar. Selain itu juga belum tentu ketiga anak muda ini dapat dirobohkan dengan sekali serang.

Pembagian harta itu segera dilakukan dengan secara cepat, belum terIalu lama maka selesailah ia. Sebagai penutup, semua orang yang tadinya tergabung dalam perkumpulan Tengkorak Berdarah itu bersorak riuh. Wajah mereka itu tersungging seyuman.

Sementara itu pagi telah menyingsing dengan tak terasa, maka tak ada waktu lagi. Orang-orang itupun lalu berpisahan untuk segera berangkat. Sedangkan mereka yang akan tinggal menetap juga segera pulang kerumahnya masing-masing. Hingga disitu hanya tinggal rombongan Mintaraga dan rombongan pendeta Baudenda yang terdiri dari dua orang itu. Juga masih terdapat Tengkorak Ijo.

“Kembang Arum, bukankah sekarang telah tiba waktunya kau membebaskan totokanku ini?” Tengkorak Ijo berkata kepada Kembang Arum dengan nada memohon.

Mendengar ini Kembang Arum menjadi tertawa terbahak-bahak. “Siapakah yang menotokmu pada jalan darah kematian?” Katanya.

“Aku hanya menotok jalan darahmu yang biasa saja. Tenaga yang kupakaipun hanya tiga bagian saja. Pertama memang kau akan merasakan sangat sakit, habis itu perasaan sakitnya akan hilang dengan sendirinya.  

Mendengar keterangan Kembang Arum ini bangkitlah kemarahan yang

bercampur dengan kemendongkolan hati Tengkorak Ijo.

“Aku Tengkorak Ijo telah terjatuh kedalam tanganmu.” Katanya dengan nada sengit. “Kau hendak bunuh atau menyiksa, terserah kepadamu. Maka kenapa kau menghinaku sampai begini macam?!”

Dia benar-benar panas hatinya, segera saja ia mengayunkan tangannya untuk menyerang Kembang Arum.

Mintaraga telah memegangi sebuah kerikil, dengan batu kerikil ini menipuk tepat mengenai lengan pemimpin kedua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah, hingga dengan demikian gagalah serangannya kepada Kembang Arum.

“Eh... Tengkorak Ijo.” Tegur Mintaraga dengan mata mendelik. Diantara keempat saudaramu yang jahat itu kini tinggal kau seorang. Kepadamu aku tak akan membalaskan dendam ayahku. Ini boleh kau anggap kalau dirimu ini beruntung. Maka kenapa kau kini berani kurang ajar lagi kepada kami? Apakah yang sebenarnya kau kehendaki?”

Tengkorak Ijo merasakan kalau lengannya merasa sakit sekali. Ketika ia perhatikan maka tampaklah kalau lengan itu merah membengkak. Ia masih tetap marah, akan tetapi masih terbenam dalam kesangsian.

Ia telah mengetahui kesaktian anak muda ini. Tak dapat ia melawannya, akan tetapi sekarang ia merasa sangat dihina. Apakah ia sekarang harus diam saja? Ketika ia melirik kearah Pendeta Baudenda ia lalu mengangkat kepalanya, memandang kearah langit, sedikitpun pendeta itu tak memperhatiannya. Maka akhirnya ia menarik napas panjang.

“Baiklah aku Tengkorak Ijo mengaku kalah kepadamu.....” Katanya lalu tanpa berpaling ia menggeloyor pergi.

“Diantara keempat orang-orang Tengkorak Berdarah ia adalah yang paling baik sendiri. Jadi pantas kalau ia masih diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi.” Seru Candra Wulan.

“Benar....” Jawab Mintaraga yang terus berpaling kepada pendeta Baudenda dan Jogosatru, dan kemudian terdengarlah perkataannya :

“Eyang guru kita harus berangkat sakarang juga.”

Pendeta Baudenda tak berkata apa-apa, dia hanya memutar tubuh dan terus berjalan.

Jogosatru segera mengikuti gurunya.

“Kita pergi kemana sekarang?!” Tanya Candra Wulan selagi ia dan kedua kawannyapun mengikuti.

“Kita pergi mencari orang tua aneh si Sucitro.” Jawab Mintaraga. “benarkah kau tak mengetahuinya?!”

“Sucitro, siapakah dia itu?!” Tanya Candra Wulan menegas.

“Lima hari kemudian kau akan mengetahuinya sendiri?!” Jawab Mintaraga.  

“Lima hari kemudian?!” Kembali Candra Wulan menegas.

“Kau biasa hidup dilaut dan kau tahu tepat dan cepatnya perahu.” Seru Mintaraga menjawab. Ia menjawab bukan kepada yang ditanyakan. “Dan kita yang biasa menaiki kuda, kita juga tahu tentang perjalanan didarat. Sekarang kita menuju ke selatan jika kita jalan terus siang dan malam, lima hari lagi kita akan sampai disana. Bukankah demikian?!”

“Keselatan?” Candra Wulan masih bertanya. Malahan ia bertanya dengan heran.

Mintaraga tertawa.

“Adikku yang cantik, dapatkah kau tak usah bertanya-tanya terus?!” Pinta Mintaraga kepada Candra Wulan.

“Anehlah kalau bertanya saja tak boleh.” Sambung Kembang Arum dengan keras. “Adikku, biarlah nanti aku yang memberi keterangan kepadamu. Ketahuilah kalau Sucitro ini adalah orang yang paling aneh didunia ini, juga ia sangat aneh segala sepak terjangnya. Orang tua aneh itu tinggal diselatan. Kakak kita ini sekarang hendak menuju kesana. Yah tepatnya mencari orang aneh itu.”

“Eh... mengapa kau mengetahui tentang dia?” Sekarang Candra Wulan ganti bertanya kepada Kembang Arum..........