Tunggul Bintoro Jilid 02

 
JILID II

“PENDETA Argo Bayu yang terkenal sebagai ahli silat terpandai dan tersakti didunia ini adalah guru dari Darmakusuma, sedangkan Pendeta Baudenda adalah adik seperguruan dari pendeta Argo Bayu, dan juga menjadi guru dari Jogosatru.”

Mendengar ini Candra Wulan menghela napas panjang.

“Ayah mengapa kau memancing begini banyak musuh?” Katanya dengan berduka.

Tapi Tunggorono meneruskan, kemudian katanya :

“Inilah sebabnya dari hatinya yang jujur dan keras. Dia melindungi rumah tangganya, akan tetapi juga membela negaranya.”

“Ngaco!” Bentak Pendeta Baudenda dengan marah.

“Eyang guru, sekalipun kau sendiri, aku berani mengatakan kalau kau ini bukannya orang baik-baik.” Teriak Tungorono. Tiba-tiba saja cucu murid keponakan dari Pendeta Baudenda ini mempunyai keberanian besar. Kemudian ia berpaling kepada adik seperguruannya dan berkata :

“Baiklah adi Candra Wulan, baiklah tentang budi dan penasaran pada enam belas tahun yang lalu itu, tidak selayaknya kusembunyikan lebih lama lagi terhadapmu. Adi kalau nanti aku telah selesai berbicara, segalanya terserah kepadamu. Boleh guruku itu kau anggap sebagai musuhmu, pun aku tak keberatan kalau kau masih menganggapnya sebagai ayahmu. Juga 

merupakan orang yang terdekat denganmu. Semuanya terserah kepadamu,

asal saja kau memutuskannya dengan hati nurani yang putih bersih. Tentang eyang guru, jika ia menjadi marah karenanya dan kalau akan menghajar mampus kepadaku, itupun terserah kepadanya.” Turunan dari tiga pahlawan Demak Bintoro telah menjadi musuh satu dengan lainnya. Hingga dengan demikian mereka saling berbunuhan satu sama lainnya. Ini semua ada sebab-sebabnya yang luar biasa. Inilah sebab-sebabnya :

Tunggorono menunda perkataannya dan berpikir sebentar. Setelah ia berdiam sejenak ia lalu berkata lagi :

“Sebenarnya sangat panjang untuk menceritakan semuanya.” Serunya sambil memulai ceritanya. “Pada tahun sesudah guruku memukul mundur pengurungan dari enam belas orang jahat, dia lalu menyembunyikan Tunggul Tirto Ayu ini. Ketika itu aku telah berkata kepada bapa guru. ‘Bapa lebih baik kita segera menyingkir saja dari sini supaya orang-orang tak usah mengganggu kita, bukankah dengan kedatangan orang-orang itu hanya akan membuat pusing kepala saja’ tapi Bapa guru menjawab :

“Tidak dapat kita berbuat begitu. Aku harus menanti datangnya beberapa orang saudaraku. Hal ini adalah kewajibanku untuk memenuhi pesan dan menjalankan pesan para leluhurnya.”

“Nyata sekali kalau setelah meninggal bapa guru telah meninggalkan pesan kekeluargaan.” lalu kembali Tunggorono menyambung. “bapa guru pesan anak cucunya supaya mau berjuang untuk menegakkan keadilan dan menegakkan kebenaran. Mereka harus segera memusuhi kerajaan Supit Urang dan Jipang yang telah berkhianat dan bermaksud menjajah kerajaan Demak Bintoro yang jaya dahulu itu. Dan ki Wiratsangka telah menambahkan sebuah pesan kekeluargaan itu, ialah menyuruh anak cucunya untuk pergi kelaut kidul untuk mencari Tunggul Tirto Ayu didasar laut.

Pada pesan itu ditambahkan keterangan, umpamanya kerajaan Demak Bintoro ada keturunannya, maka Tunggul Tirto Ayu itu harus diserahkan kepada kerajaan Demak Bintoro yang sah. Jika tidak maka Tunggul Tirto Ayu itu harus diserahkan kepada salah seorang pendekar besar yang sangat dipuja oleh rakyat. Maksudnya supaya pendekar besar itu dapat menindas kerajaan Supit Urang dan Jipang Panolan yang telah mulai menunjukkan taringnya untuk memberontak. Kemudian pendekar besar itu harus membangun kembali kerajaan Demak Bintoro yang telah berserakan setelah pangeran Trenggono wafat.

“Kemudian?” Tanya Candra Wulan.

“Selang beberapa hari maka datanglah saudara-saudaranya itu.” Jawab Tunggorono.

“Siapakah mereka itu?!” Kembali Candra Wulan bertanya. “Selain Jogosatru.” Jawab kakak seperguruannya. “Mereka adalah 

keturunan dari Tumenggung Kertoyudo dan Tumenggung Sorohnyowo.

Yang satu adalah Pandu Pregolo. Ki Pandu Pergolo ini sangat terkenal bahkan menjadi seorang tokoh yang malang melintang didaerah utara. Senjatanya berupa golok besar. Selain itu istrinyapun sangat terkenal sebagai seorang jago pedang. Malahan nyi Pandu Pergolo ini lebih sakti dari pada suaminya sendiri.

Yang kedua adalah ayahmu sendiri yang bernama Surokoco. Bersama ayahmu turut juga ibumu. Kalau ibumu tak mengerti akan ilmu silat. Sedangkan ayahmu sangatlah sakti. Nama gelar dari ayahmu adalah Tangan Sakti dari Juana. Didalam pertempuran ia tak memakai senjata. Ayahmu sangat mengandalkan tangan kosong. Beliau adalah murid dari Resi Ardha Pati digunung Indrakilo. Setibanya saudara-saudaranya ini, maka mereka berenam lalu mengeram didalam kamar. Selama tiga hari tiga malam mereka lalu berunding. Tak tahu aku apa yang mereka bicarakan. Cuma kudengar makin lama suara mereka menjadi semakin keras. Adapun sewaktu makan mereka semua menjadi bungkam. Sedikitpun tak ada yang mengeluarkan perkataan. Nampaknya mereka tak puas. Setelah tiga hari tiga malam itu pembicaraan mereka itu belum juga mendapatkan hasil. Sementara itu musuh telah tiba. Ya sangat hebat pertempuran itu, sampai-sampai gunung dan sungai bertukar rupa, sedangkan bulan dan matahari tak bersinar lagi...” “Bagaimana sebenarnya?” Tanya Candra Wulan dengan sangat

bernafsu. “Ceritakanlah.”

“Mereka itu belum selesai mengadu mulut, akan tetapi menghadapi pihak luar, mereka bersatu padu.” Jawab Tunggorono. “Mulanya aku tak tahu siapakah pihak musuh itu. Kemudian guru memberi keterangan kepadaku. Musuh itu datang menyerang dan memecah mereka menjadi dua golongan. Rombongan pertama adalah rombongan dari Jipang Panolan yang dipimpin oleh Adipati Ario Penangsang. Sedangkan rombongan kedua adalah manusia-manusia murtad dari berbagai partai persilatan ditanah Jawa sini. Aku tak ingat dari perguruan mana mereka itu, akan tetapi mereka itu berjumlah tiga sampai empat puluh orang. Dan semuanya kelihatan sakti. Rombongan guru lalu memecah diri dan menghadapi mereka. Ilmu silatku masih sangat rendah, karena itulah aku dilarang membantu hanya saja aku ditugaskan menjaga dan melindungi ibumu.”

“Benarkah itu?” Tanya Candra Wulan dengan tertawa. Sekarang berubah pula kesannya kepada kakak seperguruannya itu.

“Sudah kuterangkan kalau mereka berlima itu sangat hebat.” kata Tunggorono melanjutkan. “terutama sekali nyi Pandu Pergolo. Pendekar wanita itu dengan pedangnya telah dapat merobohkan lima atau enam orang jago-jago lawannya. Hingga dengan demikian mereka terus kabur meninggalkan gelanggang. Kepandaian guruku, ki Pandu Pergolo dan ayahmu itu hanya terpaut setingkat saja dari kepandaian nyi Pandu Pergolo. 

Mereka ini dapat melukai dan membinasakan beberapa musuh akan tetapi

lama kelamaan mereka menjadi lelah sendiri. Sedikit demi sedikit rombongan gagah itu mulai terdesak.

Disaat yang sangat berbahaya itu, sekonyong-konyong datanglah sebuah bintang penolong. Huahaaaa... Huahaaaa... Huahaaa... tahukah kau siapa adanya bintang penolong itu?”

Mendengar ini Candra Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘Beliau adalah seorang yang luar biasa sekali didalam dunia kependekaran.’ Pikirnya. “Tentunya dia adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi dan sakti. Benarkah ini kakang?!”

Mendengar ini Tunggorono tertawa dengan keras dan karena kerasnya ia sampai tergoyang-goyang dan melengak.

“Ilmu silatnya memang telah mencapai tingkat yang tinggi.” Jawab kakak seperguruannya itu. “Akan tetapi terkaanmu bahwa ia adalah seorang yang luar biasa adalah salah.”

“Apa?”

“Bintang penolong itu jika dikatakan dekat ia berada diujung langit, kalau dikatakan jauh agaknya ia berada didepan mata..... bintang penolong itu adalah dia!” Jawab Tunggorono menudingkan jari telunjuknya kearah pendeta Baudenda. “Dialah seorang pengkhinat yang paling kesohor didunia kependekaran.”

Setelah berkata demikian Tunggorono lalu tertawa bergelak-gelak.

Mendengar ini wajah Pendeta Baudenda menjadi pucat dan gelap.

“Binatang kau cari mampus?!” Bentaknya dan bersama dengan itu sebelah tangannya melayang, menyambar kearah cucu muridnya.

Candra Wulan kaget sekali, segera ia menggeserkan tangannya kepinggang dan siap menghunus senjatanya.

Akan tetapi Tunggorono tak takut sama sekali, bahkan wajahnyapun tak berubah barang sedikit juga. Dia malah tertawa bergelak-gelak.

“Bagus.” Katanya. “Apakah kau telah tak perlu barang itu lagi?” dengusnya.

Didepan mata pendeta Baudenda segera berkelebat suatu benda yang mengkilap cahayanya. Karena itulah maka pendeta ini lalu menarik kembali tangannya yang dipakai untuk menyerang.

Candra Wulan menjadi kagum, kalau orang tidak mempunyai kepandaian yang tinggi, maka tak nanti ia dapat menarik kembali serangan yang telah dilontarkan.

“Apakah kau tak apa-apa kakang?”. Tanya Candra Wulan kepada kakak seperguruannya.

“Tidak adi.” Jawab Tunggorono. Sebenarnya bajunya telah merasakan adanya angin samberan kepalan kakek pendeta tua itu. “Bahkan kalau kumaki ia sebagai babi atau anjing sekarang ini, tak mungkin ia berani 

membunuhku.”

Candra Wulan terdiam ia sedang, tenggelam dalam kesangsiannya. Kenapa Darmakusuma atau ki Plompong membunuh ayahnya? Berdasarkan keterangan kakak seperguruannya ini apakah mungkin ayahnya itu seorang jahat? Mungkinkah keturunan dari keluarga Kertoyudo dan Sorohnyowo itu jahat semua? Kalau pendeta Baudenda menjadi bintang penolong, kenapa kakak seperguruannya ini mendampratnya sedemikian rupa, hingga kelihatannya pendeta tua ini tak berharga sama sekali. Kenapa pendeta Baudenda akan membinasakan sendiri murid keponakannya itu? Adakah ini semua karena gara-gara Tunggul Tirto Ayu?

‘Ah... dapatkah aku mempercayai kakak seperguruanku ini?’ Kemudian ia mendapat pikiran lain. ‘Selama sepuluh hari aku mengenalnya, sama sekali ayah belum pernah mengatakan tentang dirinya. Dapatkah aku percaya kepadanya? Anehnya, setelah ayah membunuh ayahku kenapa ia merawat dan memeliharaku selama enam belas tahun?’

Kesangsiannya itu telah membuatnya menjadi pusing.

Tunggorono melihat kesangsian adik seperguruannya ini dari raut mukanya. Ingin rasanya ia hendak menghibur hati gadis kecil yang tengah berduka itu. Akan tetapi tiba-tiba saja terdengarlah suara bunyi terompet dikejauhan. Tiba-tiba saja terdengarlah perkataan juru mudi dan anak buah perahu-perahu itu.

“Ki lurah (pemimpin) orang-orang Nusabarung tengah mendatangi.”

Kecuali Pendeta Baudenda, ketiga orang yang berada didalam perahu menjadi kaget setengah mati. Segera mereka bangun berdiri. Dengan serta merta lalu memandang kearah tempat yang ditunjuk oleh anak buah perahu itu.

Dari jauh tampaklah sekelompok perahu-perahu layar kecil, perahu- perahu kecil itu tengah mendatangi kearah mereka dengan semua perahu itu melawan gelombang, semuanya dicat merah. Memanglah rombongan itu adalah bajak-bajak laut dari Nusabarung. Bajak-bajak laut Nusabarung ini adalah sisa-sisa dari laskar kerajaan Supit Urang yang tak mau menyerah kepada kerajaan Demak Bintoro yang sedang kacau itu. Mereka lebih senang menjadi bajak-bajak laut yang mengganggu perairan laut timur.

“Lekas putar kemudi.” Perintah Tengkorak Biru. “Jangan biarkan kawanan penyamun itu mengganggu perjalanan kita.”

Tunggorono tertawa dingin.

“Kita telah bertemu dengan mereka, apakah kita berdaya untuk meloloskan diri?!” Katanya sambil tersenyum- senyum penuh ejekan.

Rupa-rupanya Tengkorak Biru mengerti arti perkataan Tunggorono itu.

Diam-diam hatinya menjadi panas. “Baiklah.” Serunya. “Semuanya harus siap sedia. Kita lawan mereka 

dengan cara biasa.”

Pendeta Baudenda tertawa lebar ketika melihat gaya dan lagak ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah dan para anak buahnya itu. Kelihatanlah mereka itu menjadi repot.

“Hem... Tengkorak Berdarah yang malang melintang dilaut Selatan.” katanya.

Tengkorak Biru merasa tersinggung tak senang mendengar perkataan pendeta ini.

“Orang tua kau menertawakan aku?” K atanya masih belum terlalu terlambat rasakan bornya orang-orang Nusabarung itu.”

Pendeta Baudenda lalu tertawa dingin dan katanya :

“Bor itu apa sih?” Katanya dengan mencibirkan bibirnya yang tebal. “Untuk melayani beberapa bajak laut saja perlu apa dibuat repot dan tersipu- sipu, tak usah tergesa dan tak perlu gelisah. Duduklah yang tenang. Kalian lihat saja kepandaian Setan Sayap Satu.”

Perahu para bajak itu berjumlah kurang lebih empat puluhan. Bersama suara terompetnya, mereka tiba dengan cepat.

“Orang tua, apakah kau bisa berenang?” Tanya Tengkorak Biru kepada pendeta tua itu.

Masih saja pendeta tua itu tertawa-tawa. Sesaat kemudian terdengarlah perkataannya :

“Sedikitpun aku tak bisa. Kenapakah?!” Tanyanya.

Mendengar ini ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah itu mengerutkan keningnya, akan tetapi ia masih tetap diam.

Tunggorono tiba-tiba teringat sesuatu, dan segera ia membisiki adik seperguruannya. Sedangkan Candra Wulan memperlihatkan roman muka yang terang dan kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kawanan bajak dari Nusabarung itu memperdengarkan suaranya, dan terompetnyapun masih ditiup pula. Lalu perahu-perahu mereka tampak memutar. Ternyata penumpang perahu-perahu itu orang-orang yang bertubuh kekar dan keras. Tubuh mereka telanjang dan hanya memakai celana pendek sebatas lutut kebanyakan mereka itu menggigit sebuah pisau kecil dimulutnya. Dan dipingganya terselip sebuah kampak kecil.

“Hai apakah kalian mempunyai persembahan sesuatu?” Teriak salah seorang yang rupanya menjadi pemimpin mereka. Orang itu dapat berbicara dengan bahasa Jawa yang baik sekali.

Tengkorak Biru telah menurunkan layar dan perahunyapun telah diberhentikan.

“Aku adalah ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah dan namaku Tengkorak Biru.” Jawabnya. “Sekarang ini kami tengah berlayar untuk sebuah urusan. Lain kali saja kami akan mengirimkan barang-barang kepada 

kalian.”

Ketika pertama kali raden Patah menjadi raja di Demak Bintoro pernah mengirimkan sepasukan tentara untuk menyerbu kenegara Supit Urang, akan tetapi usahanya ini gagal. Bahkan dapat dikatakan gagal total karena serdadunya banyak yang mati kelaparan setelah lumbung-lumbung padinya dibakar oleh tentara Supit Urang. Karena itulah dapat dibayangkan betapa ulet dan gagahnya orang-orang Supit Urang itu, begitupun dengan bekas laskar kerajaan tersebut.

“Lain hari?!” Seru ketua dari bajak laut Nusabarung itu dengan tertawa lebar. “Siapa mau percaya akan omonganmu.”

Segera ia bersuit dan bersama dengan itu belasan perompak itu mencebur kedalam laut.

Pendeta Baudenda menjadi marah bukan main. Kemudian serunya dengan lantang :

“Aku Setan Sayap Satu berada disini, siapakah yang berani main gila dengan pendeta Baudenda!” Sambil berkata demikian tangannya lalu diayun, bersama dengan itu menyambarlah serangkum jarum-jarum senjata rahasia. Tujuh atau delapan orang perampok yang mencebur kedalam laut itu telah kena senjata rahasia yang dilepaskan oleh kakek pendeta sakti itu. Kena tepat pada jalan darahnya. Jarum itu memang dapat dipakai menyerang dalam jarak tiga tombak, bendanyapun halus, karena itulah amat sukar bagi orang yang hendak menyingkir dari serangannya. Apa lagi yang menyerangnya sekarang ini adalah seorang pendeta yang sakti.

Serangan ini membuat keberanian kawanan perompak itu menjadi bertambah susut. Mereka harus memperhitungkan untung ruginya untuk maju lebih dekat lagi. Akan tetapi tentu saja hal ini membuat pemimpin mereka menjadi gusar. Dia segera mengeluarkan terompetnya yang terbuat dari tanduk banteng, kemudian terdengar ditiup tiga kali beruntun.

Mendengar tiupan ini maka perahu-perahu perompak itu lalu mulai merangkak maju. Sedangkan hal ini menambah marahnya hati Pendeta Baudenda akan tetapi biarpun hatinya marah sekali mulutnya tetap tertawa berkakakan.

“Baiklah.” serunya. “Biar aku akan membuat kalian mampus didalam lautan.”

Kali ini pendeta Baudenda mengayunkan tangan kanannya, bahkan mempergunakan tipu silat hujan memenuhi langit. Maka kehebatan jarum- jarum senjata rahasianya ini benar-benar hebat. Persis hujan deras yang dicurahkan dari langit.

Akan tetapi kawanan perompak itu memang orang-orang yang cerdik. Untuk melindungi dirinya mereka segera memasang selembar kulit kerbau yang memang telah disediakan sewaktu mereka akan merompak. Karena itulah mereka tak mempedulikan  datangnya serangan jarum yang benar- 

benar hebat sebab mereka yakin kalau jarum-jarum itu toh tak nanti dapat

melukainya. Semua jarum yang dilepaskan oleh pendeta Baudenda menancap dilayar kulit kerbau.

Bersama itu dari dalam dasar perahu, terdengarlah suara membeletuk berulang-ulang.

“Inilah kepandaian mereka membobolkan dasar perahu.” Kata Tengkorak Biru, hati pemimpin pertama dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini menjadi gentar.

“Tunggorono, jika kau bekerja sama dengan kami, kita akan mendapat keuntungan bersama, akan tetapi jika tidak. Kalau kita memisahkan diri kita menjadi sendiri-sendiri, terang kalau kita akan mati secara bersama-sama. Bagaimana pendapatmu?!”

Tunggorono tertawa.

“Bagus.” Jawabnya. “Kita sudah biasa bersahabat dengan kawanan perompak itu. Mengapa kita mesti takut? Hanya yang sangat kita khawatirkan ialah bagaimana nanti kalau eyang guruku ini mendapat bagiannya, hingga Setan Sayap Satu itu akan menjadi bebek air yang pincang kakinya. Huahaaaa.... Huahaaa.... Huahaaaa ”

Pendeta Baudenda menjadi gusar, dengan cepat lalu menggerakkan tangannya kearah cucu muridnya.

“Jangan.” Cegah Tengkorak Biru. “Sekarang marilah kita bersama-sama menghadapi dahulu yang tangguh.”

Perkataan ini memang benar. Maka mau tak mau pendeta Baudenda lalu menahan kesabarannya.

“Nyebur.” Seru Tengkorak Biru, bersama dengan itu ia segera melompat masuk kedalam air.

Didalam perahu cepat itu terdapat enam buah anak perahu. Dengan cepat merekapun ikut menceburkan diri masuk kedalam air. Tak antara lama tampaklah didekat air diperahu itu muncul lima atau enam orang perompak. Candra Wulan dan Tunggorono telah bersiap sedia dengan senjata mereka. Begitu melihat musuh, mereka lalu membacok dan menusuk dengan berulang-ulang. Karena itulah maka air laut menjadi merah karena darah.

Air laut yang kehijau-hijauan itu berubah warnanya menjadi merah padam.

Melihat ini maka beberapa anggota perompak lalu menceburkan diri kedalam laut untuk menolong kawan-kawannya.

Panas hati Pendeta Baudenda melihat aksi kawanan perompak itu. Segera ia melompat kearah perahu musuhnya. Baru ia menggerakkan tangannya terlihatlah beberapa anak buah perompak jatuh terhajar kedalam air.

Pendeta itu tertawa berkakakan, kemudian melompat kelain perahu. Kembali ia menggunakan tangannya dan kembalilah terlihat beberapa anak buah perahu itu jatuh tersapu oleh pukulannya. Setelah itu kembali kakek 

pendeta yang sedang mabuk kemenangan ini melompat keperahu yang

satunya dan ia memperoleh kemenangan ini melompat keperahu yang satunya dan ia memperoleh kemenangan yang lebih gemilang lagi. Dengan gagahnya Pendeta Baudenda dapat mengobrak-abrik kurang lebih tiga puluhan buah perahu.

Melihat ini kepala bajak itu menjadi marah. Segera ia berteriak supaya anak buahnya melepaskan panah-panahnya. Maka dengan sekejap mata saja pendeta yang perkasa itu telah dihujani oleh ratusan anak panah. Akan tetapi tentu saja ia tak mau menyerah dengan begitu saja. Kedua tangannya dikibas-kibaskan berulang-ulang. Dengan cara inilah ia menyapu anak panah yang mengancam keselamatannya. Dengan amat marah pendeta Baudenda berlompatan dan kemudian melompat keperahu ketua bajak laut itu.

“Bajingan, akan kuperlihatkan kepadamu seberapa kesaktian dan kehebatan Setan Sayap Satu.” Bentaknya sambil terus menyerang.

Akan tetapi kepala perompak itupun bukan orang sembarangan. Dengan cepat ia membalas serangan itu dengan serangan pula hingga keduanya terlibat dalam sebuah pertempuran yang hebat. Ketua perompak ini telah mencabut golok dan kampaknya. Golok dan kampak inilah yang membuat kepala perompak dari Nusabarung ini menjadi disegani kawan dan ditakuti lawannya.

Mengetahui kalau kepalanya akan dipecah oleh kampak musuh, cepatlah Pendeta Baudenda melompat mundur. Bersama dengan itu tangan kanannya diangkat untuk menyambut tangan kanan lawannya.

Benar-benar cerdik seperti kancil kepala perompak itu. Segera ia menarik tangannya. Melihat ini pendeta Baudenda menjadi terkejut.

Hal ini tak pernah disangka-sangkanya. Sewaktu pendeta Baudenda sedang disangsang oleh perasaan herannya maka kesempatan ini dipakai oleh pemimpin perompak itu untuk menceburkan diri ke dalam laut. Byurr air muncrat sampai tinggi-tinggi.

Pendeta Baudenda tertawa bergelak-gelak. Akan tetapi hanya sebentar saja, karena tiba-tiba ia menjadi kaget sekali. Ia mendapatkan perahunya telah kosong dan ternyata anak buah perahu itupun telah ikut pemimpinnya untuk mencebur kedalam laut. Kemudian perahu yang ditumpanginya itu maju dengan pesat meninggalkan perahu-perahu lainnya. Hingga dengan demikian perahu itu terpisah dengan lain-lainnya.

Kawanan perompak itu telah menunjukkan kepandaiannya, dari dalam air mereka menjeret perahu itu untuk dipisahkan dengan perahu-perahu yang lainnya.

Pendeta Baudenda kaget bukan main, insyaflah kini kalau dirinya sedang berada didalam bahaya. Bahkan hatinya menjadi gigrig ketika mengingat kalau dirinya ini tak bisa berenang barang sedikitpun juga. Kalau tadi pendeta ini dapat bergerak dengan leluasa karena banyak perahu- 

perahu yang menempel dan berada didekat perahunya. Gerakannya bebas

untuk berlompatan dari sebuah perahu kelain perahu. Tapi sekarang? Kemana ia hendak melompat?

Sewaktu pendeta itu tercengang-cengang, tiba-tiba ia merasakan kalau kedua kakinya bergerak menjadi limbung. Cepat-cepat ia memasang kuda- kudanya. Kembali hatinya menjadi terkejut ketika mengetahui bahwa perahunya berputar-putar. Inilah sebabnya yang menjadikan kakek pendeta itu tak dapat berdiri dengan tegap. Ketika melihat kedalam air tampaklah bayangan orang-orang yang tak henti-hentinya bergerak. Pendeta Baudenda tahu kalau kawanan bajak laut ini sedang beraksi.

Justru karena itulah maka kepala bajak laut itu muncul dipermukaan air.

Pendeta Baudenda mendongkol sekali, kemudian dengan cepat kakek tua ini menyambarkan tangannya. Akan tetapi dengan cepat kepala perompak itu selulup kembali. Dan kembali badan perahunya bergerak- gerak.

Mau tak mau menghadapi bahaya yang demikian ini hati pendeta kejam ini menjadi jeri juga. Coba kalau ia bisa berenang.........

Dilain pihak Tengkorak Biru berada didalam air dan juga Tunggorono serta Candra Wulan yang berada diatas perahu, juga sedang melayani musuh-musuhnya.

Bajak Laut ini mempunyai kepandaian yang istimewa. Yaitu mereka kuat sekali menyelam didalam air dan dapat membor atau memahat perahu lawan hingga bocor. Didalam hal ini perahu besarpun dapat mereka karamkan. Asal perahu bocor dan air masuk kedalam maka akan celakalah perahu itu.

Tengkorak Biru yang mengetahui kepandaian lawannya ini maka mengajak kawan-kawannya untuk mencebur kedalam laut dan mengadakan perlawanan didalam air. Ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah itu berusaha mencegah kawanan bajak laut ini menenggelamkan perahunya. Karena Tengkorak Biru dan kawan-kawannya itupun setan air maka agak sukarlah bajak laut itu untuk melakukan tugasnya.

Didalam keadaan yang payah tiba-tiba Tunggorono melihat perahu yang ditumpangi oleh eyang gurunya terancam bahaya yang hebat. Perahu itu adalah kepunyaan perompak-perompak itu sendiri, akan tetapi perompak-perompak itu tak sanggup melawan kesaktian si pendeta Baudenda. Terpaksalah mereka memahat dan mengampaki perahu- perahunya sendiri itu. Hingga dengan demikian perhunya menjadi bocor dan air mulai masuk. Dengan begitu maka perahunya terancam ketenggelaman. Bahkan sedikit demi sedikit perahu itu telah mulai tenggelam. Melihat hal yang demikian itu Tunggorono hendak turun tangan untuk 

menolong eyang gurunya.

“Adi Candra Wulan, kau peganglah kemudi ini.” Teriaknya kepada adik seperguruannya. “Susul perahu itu.”

Masih saja Tunggorono ini khawatir kalau perahunya kurang laju, maka ia lalu membantunya dengan menggunakan dayung. Hingga dengan demikian Tunggorono hanya membela dirinya dengan tangan kiri saja.

Dipihak perompak mereka masih tetap mengejar. Bahkan tetap menggunakan anak panah untuk menyerang.

Candra Wulan menjadi repot, bahkan mesti menambah kewaspadaannya. Dengan sepasang pedangnya ia melindungi dirinya dari serangan-serangan anak panah lawan-lawannya. Bahkan ia masih tetap dapat melancarkan serangan balasan. Namun sayang sekali ia masih harus tetap memperhatikan kemudinya hingga dengan demikian pikirannya terpecah menjadi dua. Tujuan perahunya terus mengejar dan mendekati perahu yang ditumpangi oleh pendeta Baudenda.

Sewaktu perahunya   Tengkorak   Biru   muncul   dari   permukaan air.

Kemudian ia memegangi pinggiran perahunya.

“Tunggorono, apakah kau menginginkan perahumu ditenggelamkan sekali?!” Tanyanya.

Pertanyaan ini diajukan karena perahu yang ditumpangi oleh dua orang murid ki Plompong itu maju dengan pesat kedaerah musuh. Adalah sudah menjadi kebiasaan dalam pertempuran air kalau perahunya makin didekatkan maka pembelaan makin menjadi sulit. Musuh yang lebih banyak itu dapat memecahkan dirinya. Tak dapat orang berkelahi didalam air sambil mengikuti jalannya perahu.

“Habis apakah kita tak akan menolong eyang guruku?” Tanyanya.

Ketika itu air telah masuk kedalam perahu pendeta Baudenda telah masuk sedalam mata kaki, dan pendeta itu mulai repot. Hatinyapun memukul-mukul dengan keras karena khawatir sekali. Kakek ini baru mendapat harapan ketika perahu Tunggorono mendatanginya. Ia merasakan betapa jauhnya jarak antara kedua perahu itu. Akan tetapi ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melompat. Bersama dengan itu ia memberi tanda kepada Tunggorono.

“Adi Candra Wulan awas.” Seru Tunggorono memperingatkan adik seperguruannya.

Candra Wulan segera memegang kemudinya dengan cepat kemudi itu digerakkan dan berputarlah perahunya. Ini dimaksudkan, apa bila pendeta Baudenda telah naik keatas perahunya, perahu itupun telah putar haluan. Akan tetapi apa mau dikata, dugaan itu meleset sama sekali. Loncatan pendeta itu hanya kurang dua jengkal saja. Karena itulah tak ampun lagi tubuhnya tercebur kedalam air. “Celaka.” Seru Tunggorono dengan kaget sekali. Tanpa banyak cakap 

lagi ia lalu terjun kedalam air untuk menolongnya.

Pendeta itu memang sakti sekali, akan tetapi didalam air ia tak berdaya. Dengan sekuat tenaga ia lalu menggerakkan kaki dan tangannya untuk mencoba dirinya berenang. Disamping itu pendeta Baudendapun menutup mulut dan menahan napas, maksudnya supaya jangan kemasukan air. Ia tak pedulikan semua usahanya ini, rasanya sangat malu kalau harus mati tenggelam, sedangkan ombak terus mendampar-dampar tubuhnya yang kemudian hanyut tak berketentuan.

“Eyang guru, jangan takut.” Teriak Tunggorono. “Akan kutolong kau.”

Sambil berkata demikian Tunggorono menyambar pinggang orang tua itu. Ia menggunakan tangan kirinya untuk mengangkat tubuh pendeta itu, selagi ia berbuat demikian tangan kanannya meraba kedalam saku pendeta tua yang menjadi eyang gurunya itu. kemudian ditariknya keluar sebuah bungkusan kecil. Dengan kegirangan ia berkata didalam hatinya :

“Hem... untuk mengambil surat rahasia dari pendeta tua ini, tak bisa lain mesti aku menggunakan ketika ini. Biarlah orang mengatakan memancing diair keruh.”

Pendeta Baudenda masih menggerakkan kaki dan tangannya. Karena tubuhnya dipegang oleh Tunggorono maka ia menekan tubuh si penolongnya itu. Ia menggunakan tangan kanannya, apa mau dikata tubuh yang besar dan berat itu menekan kebawah hingga Tunggorono ikut tenggelam. Tak ada jalan lain terpaksa ia selulup untuk meringankan bebannya. Setelah ia timbul lagi, kemudian mengangkat tubuh eyang gurunya ini dan dinaikkan kedalam perahunya, sedangkan dia sendiri menyusul naik dengan jalan memegangi pinggiran perahunya.

Pendeta Baudenda tak minum air, setelah berada diatas perahu, ia lalu menjadi sakti lagi seperti biasa. Kebetulan ada sebuah perahu bajak laut yang mengejarnya. Sewaktu perahu itu datang mendekat, dengan gesit ia melompat keperahu musuh, kemudian menyerang dengan hebat.

Hampir bersama-sama enam atau tujuh orang anak buah perahu itu jatuh terjungkal masuk kedalam air.

Tengkorak Biru telah melompat naik kedalam perahunya. Setelah pendeta Baudenda berkuasa diatas perahu musuhnya, kakek tua itu lalu melompat lagi keperahu musuh yang lain dan hal ini telah diikuti oleh Tunggorono dan Candra Wulan. Mereka berbuat demikian karena mereka tahu kalau perahunya sendiri telah mulai kemasukan air.

Tunggorono memang cerdik, segera ia menguasai kemudi dan Tengkorak Biru dengan gigih menghalau musuh-musuh yang berani mendekat. Sayang sekali orang-orang dari perkumpulan Tengkorak Berdarah itu telah mati didalam pertempuran didalam air tadi. Maklumlah musuhnya jauh lebih banyak dari pada mereka sendiri. Dengan cepat perahunya itu 

berlayar menuju kebarat daya.

Pendeta Baudenda membantu untuk mendayung perahu. Kini sedikitpun ia tak mengeluarkan perkataan apa-apa. Bungkam seribu bahasa. Ia telah merasakan bagaimana hebat dan kalutnya orang terjun kedalam air kalau tak dapat berenang. Dari pengalamannya ini maka kakek pendeta yang sakti itu tak berani lagi membuka mulut besar untuk membual. Namun dengan itu ia membantu mendayung perahunya, hingga dengan demikian perahunya berlayar laju sekali. Bahkan dengan cepat perahunya ini dapat meninggalkan perahu-perahu perompak itu jauh dibelakangnya.

Baru saja mereka itu dapat melepaskan diri dan dapat pula dikatakan keluar dari lubang-lubang maut. Kini mereka telah mulai berselisih lagi.

“He... Tunggorono, kau hendak membawa perahu ini kemana?!” Teriak Tengkorak Biru ketika melihat tujuan perahu itu. “Apakah ini jalan untuk menuju ke Karang Bolong?”

Tunggorono tertawa lebar.

“Letak Karang Bolong dibarat laut.” Jawabnya. “Aku sekarang tengah menuju kebarat daya. Dengan demikian kita sekarang ini mengambil jalan yang bertentangan.”

Ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah ini menjadi sangat mendongkol.

“Kau telah main gila seperti ini, apakah kau hendak menyangkal lagi?” teriaknya sambil berniat merampas kemudi perahu untuk dikuasainya.

Akan tetapi Tunggorono berlaku tenang.

“Orang-orang dari dunia kependekaran selamanya tetap memegang teguh pada janjinya. Sekali aku mengatakan putih tak nanti akan kukatakan hitam.” Jawabnya. “Cara bagaimana kau ketahui kalau aku hendak menyangkal?”

“Habis kemanakah kau hendak pergi?” Pendeta Baudendapun bertanya. “Ke Pulau Karang Songo.”

Mendengar ini Tengkorak Biru ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah menjadi semakin gusar.

“Ke pulau Karang Songo untuk apakah?!” Teriaknya.

“Tunggul Tirto Ayu berada disana, akan tetapi kalau kalian memang tak menghendaki barang itu maka marilah kita kembali ke Karang Bolong.” Jawabnya sambil melemparkan pandangannya kearah ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Setelah itu kembali ia berkata :

“Kawanan bajak laut itu sedang menderita kerugian yang besar, apakah kalian tak khawatir mereka bakal mengejar kita? Aku justru mengkhawatirkannya. Sekarang marilah kita mengambil jalan darat saja. Apakah ini tak lebih baik dari pada melalui air? Setelah sampai kedekat pulau itu barulah kita menyeberang lagi,” Tengkorak Biru lalu memutar otaknya. 

“Baiklah.” jawabnya kemudian. “Jika kau berani main gila, tak nanti

kalian dapat lolos dari tangan kami.”

Memanglah sebetulnya pulau Karang Songo itu berada disebelah barat daya pulau Jawa dan letaknya mepet dengan pulau Jawa, hingga dapat pula kalau dikatakan dataran yang menonjol dari tanah Jawa. Hingga untuk menuju kesana tak usah memakai perahupun bisa.

Akan tetapi Tunggorono ketika mendengar ancaman Tengkorak Biru itu tadi hanya tersenyum saja. Karena mereka melakukan perjalanan dengan cepat maka sebentar saja mereka telah sampai ketempat tujuan. Bahkan ketika sampai disana hari telah sore.

“Tunggul Tirto Ayu berada disini.” Katanya.

“Apakah kau tak bohong.” Tanya pendeta Baudenda, pandangannya yang tajam terus menatap cucu muridnya. Seakan-akan kakek pendeta tua ini tak mempercayai perkataan Tunggorono.

“Siapakah yang hendak membohongimu?” Katanya. “Hanya aku ingin bicara dahulu dengan adi Candra Wulan.”

“Lekas kau bicaralah.”

Segera Tunggorono memegang tangan Candra Wulan hingga sepintas saja seperti orang yang sedang bersalaman. Bersama dengan itu ia memberikan sebuah bungkusan kecil ketangan gadis itu.

“Adi Candra Wulan, dikemudian hari kita akan bertemu lagi.” Katanya dengan menatap wajah adik seperguruannya.

“Apa?!” Tanya gadis itu dengan terkejut.

“Apakah kau tak ingat perkataan guruku?” Jawab Tunggorono balas bertanya, dan ia memberi kesempatan kepada adik seperguruannya untuk mengingat-ingat. “Orang yang terdekat denganmu hanyalah Mintaraga dan Woro Keshi digunung Muria. Sedangkan Mintaraga tinggal diatas puncak gunung Lawu. Mungkin Mintaraga belum turun gunung. Adi Candra Wulan sekarang ini aku tak dapat menceritakan lebih terang lagi. Maka untuk sementara antara budi dan dendam penasaran itu boleh kau tanyakan saja kepada Mintaraga. Dan lagi asal barang itu kau sampaikan kepada Woro Keshi maka apa saja yang kau ingin ketahui ia akan dapat menerangkannya. Nah pergilah.”

Candra Wulan berpikir.

“Ayahku pernah mencarinya didalam tubuh Tengkorak Hitam, akan tetapi beliau tak memperoleh hasil. Akan tetapi kakak seperguruanku ini telah mendapatkannya dari dalam tubuh kakek pendeta Baudenda. Barang ini pasti sangat penting.”

Setelah dirasakan pada telapak tangannya ia merasakan kalau barang lunak itu tentunya sepucuk surat. Ia lalu memasukkan kedalam saku bajunya. “Bagaimana denganmu kakak.” Tanyanya. 

Tunggorono menyeringai dan tertawa dengan meringis.

“Guruku telah menutup mata, apakah kau kira aku akan dapat hidup sendirian didunia ini?” Jawabnya dengan perlahan.

Candra Wulan menjadi terkejut sekali. “Kau ” Katanya.

“Sudah... sudahlah... jangan kau bicara lebih banyak lagi.” Seru kakak seperguruannya mendadak berkata dengan keras. “sekarang kau pergilah.”

Tengkorak Biru tertawa dingin.

“Kau hendak pergi?” Katanya dengan seram. Dengan cepat ia mencabut serulingnya dan menghadangi gerakan gadis yang akan pergi itu. Akan tetapi tiba-tiba saja sinar hijau berkelebat. Inilah serangan senjata rahasia yang berupa jarum-jarum. Dan jarum-jarum ini menyibak ditengah-tengah Tengkorak Biru dan si gadis.

Sewaktu ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah itu melompat untuk menghindar. Candra Wulan yang cerdik itu mengambil kesempatan untuk melompat.

Tengkorak Biru hendak mengejar, tapi sekarang ia dirintangi oleh Tunggorono yang telah menghunus pedangnya.

“Binatang, bagus sekali kau tak memegang janjimu.” Tegur murid pertama dari ki Plompong. “mengenai Tunggul Tirto Ayu itu, kau tak punya hak apa-apa. Jika kau hendak mengajakku berkelahi akupun tak takut.” Sambil berkata demikian, Tunggorono lalu menikam.

Cepat Tengkorak Biru menangkis dengan keras. Hingga dengan demikian terdengar bunyi nyaring. Kedua-duanya sama-sama mundur dengan tubuh terhuyung-huyung. Hal ini disebabkan saking kerasnya peraduan senjata mereka. Setelah itu kembali Tunggorono menyerang maju.

Tengkorak Biru menjadi marah dan segera melayani. Ia telah merasa dipermainkan, hingga dengan cepat pertarungan telah berjalan sampai dua puluh jurus.

Sambil berkelahi Tunggorono tetap melirik dan memperhatikan dan memberi kesempatan kepada Candra Wulan yang sedang melarikan diri. Setelah ia melihat kalau adik seperguruannya itu telah lari sampai jauh ia melompat keluar dari kalangan pertempuran.

“Apakah kalian telah puas dengan permainanmu tadi?” Tanya Pendeta Baudenda sambil tertawa. Sejak tadi ia hanya berdiam diri saja. Setelah berkata demikian ia lalu berpaling kearah Tunggorono dan berkata :

“Tunggorono. Sekarang marilah kita cari Tunggul Tirto Ayu, dimanakah adanya Tunggul peninggalan itu?!”

Tunggorono hanya bersangsi sebentar. “Di Karang Bolong.” Jawabnya. Pendeta Baudenda melompat dan berjingkrak. “Apa?” teriaknya dengan 

marah sekali.

“Kau berani bergurau denganku?” Lalu sebelah tangannya melayang. Karena ia sangat mendongkol dan marah. Karena itulah ia mempergunakan tenaga dalamnya yang seberat seribu kati. Hingga dapatlah dikatakan kalau ini merupakan pukulan kematian, atau paling enteng akan membuat setengah mati....

Tunggorono sejak tadi memang telah waspada, dan selain itu gerakannyapun sangat lincah. Segera ia mengelakkan diri dari serangan yang dahsyat itu. Setelah itu ia menggerakkan pedangnya menyambar kearak muka pendeta itu. Yah pendeta yang menjadi eyang gurunya.

“Kau bunuhlah aku.” Teriaknya. “Jika aku mati, tentu ada orang yang akan membalaskan sakit hatiku. Dialah angger Mintaraga.”

Pendeta Baudenda menjadi tercengang.

Sementara itu Candra Wulan berlari-larian meninggalkan pulau Karang Songo, malam itu ia telah tak berada lagi ditempat itu. Gadis keras kepala ini terus lari kearah barat. Karena itulah sebentar saja ia telah sampai ke kota Cilacap. Tentu saja ia menjadi sangat letih dan lapar, juga menjadi ngantuk bukan main. Setelah masuk kedalam rumah makan, lalu memanggil kepada pelayan.

“Pelayan.” Serunya dengan keras.

Pelayan rumah makan itu menjadi heran ketika melihat tamunya ini hanyalah seorang gadis muda yang masih kekanak-kanakan.

“Kau mau apa nona kecil? Tanyanya. Akan tetapi ia memghampiri dengan cepat. Kemudian ia menyodorkan tarif makanannya.

Seumur hidupnya Candra Wulan belum pernah pergi dari Karang Bolong. Sejak kecil ia memang belum pernah berpisah dengan ayahnya. Oleh karena itu ia merasa sangat asing dengan pergaulan diluar.

‘Yang harganya lebih mahal tentunya rasanyapun lebih lezat....’ Pikinya sambil memperhatikan makanan itu, kemudian ia menunjuk kearah Ayam Panggang Goreng Istimewa.

“Aku ingin yang ini.” katanya.

Bukan main herannya pelayan rumah makan itu. Sejenak ia memandang kearah Candra Wulan.

“Oh. nona kecil.” Katanya sambil memandang kearah Candra Wulan.

“Ayam Goreng Istimewa ini tak akan habis dimakan oleh empat orang kuli, bagaimana kau hanya seorang diri saja akan menghabiskan makanan yang demikian banyaknya? Begini saja akan kuberi kau tiga macam makanan yang harganya lebih ringan juga lezat sekali. ” 

“Eh... kau begini banyak omong, dengan jalan bagaimanakah kau akan dapat berusaha?” Tegur Candra Wulan. Memang gadis ini menjadi tak senang. “Apakah kau anggap kalau aku tak mempunyai uang?” “Oh... tidak... tidak nona.” jawab pelayan itu sambil tertawa. Akan tetapi 

pelayan itu tak segera pergi kedapur untuk memenuhi pesanan nona kecil

ini.

Melihat ini tentu saja Candra Wulan menjadi gusar.

“Apakah kau tak membuatkan aku panggang ayam goreng istimewa.” Tanyanya.

“Nona.” kata pelayan itu yang telah menjadi curiga. “kuharapkan kau suka memaafkan kami. Aturan dirumah makan kami ini siapa yang hendak makan dia harus membayar terlebih dahulu.”

“Hem...” Candra Wulan memperdengarkan suara hidungnya. Gadis ini benar-benar mendongkol. Bersama dengan itu tangannya segera merogoh kedalam saku. Akan tetapi mendadak saja mukanya menjadi pucat. Didalam hatinya ia mengeluh :

“Celaka.”

Setelah itu menjadi merah. Merah saking malunya. Nyatalah kalau kantongnya itu hanya berisi senjata rahasia saja. Sejak ia keluar dari rumah memang tak membawa uang.

Pelayan itu hanya berdiam diri dan mengawasi wajah Candra Wulan yang sebentar kelihatan merah dilain saat kelihatan pucat. Melihat ini ia lalu tertawa dengan nada dingin.

“Nah apakah kataku?” Katanya. “Entah dari perahu nelayan yang manakah kau menggeloyor kemari? Sekarang lekaslah kau pulang dengan baik-baik. Ayahmu tentu menanti dan siap akan memakulmu.”

Didalam rumah makan itu terdapat beberapa orang tamu lainnya. Sejak tadi mereka itu mengawasi gerak-gerik Candra Wulan dan si pelayan. Dan mengetahui akan hal ini... “ger”... semuanya menjadi tertawa terbahak- bahak.

Candra Wulan lalu memalingkan kepala dan melihat beberapa orang tamu yang masih ketawa. Ia benar-benar menjadi malu dan juga mendongkol. Gadis ini sangat menyesal sekali karena tempat situ tak ada liang yang dapat dipakai untuk menyembunyikan mukanya...

Sewaktu begitu seorang tamu muda bangkit dari tempat duduknya. Dia memang habis makan dan kemudian merogohkan tangannya kedalam saku untuk mengeluarkan uang pembayar makanan yang dimakannya tadi. Anak muda itupun memandang kepadanya, bahkan tersenyum.

Sekonyong-konyong Candra Wulan ingat dan menjambak kepada pelayan itu sambil berteriak :

“Bagus betul perbuatanmu.” Bentaknya. “Kau berani mati menghina tetamu. Kau barusan bilang kalau orang yang hendak makan disini harus membayar terlebih dahulu, baru makanan itu disajikan. Kenapa tamu itu makan dahulu baru membayar?” Dan ia menunjuk kepada si pemuda itu.

Pelayan itu melengak. Akan tetapi ia tak kurang sebuah akalpun. “Kau punya uang atau tidak?” Katanya. “Kalau ada keluarkan.” 

“Aku belum makan, bagaimana kau bisa tahu kalau aku tak tak punya

uang?” jawab Candra Wulan yang tak mau kalah gertak. Ia lalu menolak pelayan itu hingga jatuh terjengkang.

Sewaktu pelayan itu belum sempat bangun, Candra Wulan melangkah keluar.

“Kau tunggulah aku hendak mengambil uang.” Katanya. “nanti aku masih hendak bicara denganmu.”

Baru saja gadis itu melangkah keluar, dari luar tampak ada orang yang masuk kedalam rumah makan itu, orang itu mengayunkan langkahnya dengan lebar. Kira-kira berumur empat puluhan tahun, mukanya persegi.

“Nini kau hendak makan?” Tegurnya sambil tertawa. “Mari aku yang mengundangmu dan nanti aku yang membayar makanan apa yang kau makan.”

Sebenarnya Candra Wulan sedang bingung. Ia lapar bukan main, hatinya panas dan malu. Karena itulah ia tak dapat berpikir lebih lanjut. Tanpa pikir lagi kalau ia tak mengenal orang laki-laki itu, ia kembali ke meja dan duduk di kursi.

Pelayan tadi telah mengganti haluannya, setelah melihat kalau tamunya tadi datang bersama tamu barunya ini. Ia menyambut dengan penuh penghormatan. Pelayanannya sangat manis, segera ia menyajikan masakan- masakan yang mahal.

Candra Wulan tak banyak pikir lagi. Segera ia menyikat makanan yang dihidangkan dihadapannya. Gadis ini sampai tak mempedulikan lagi orang yang mengundangnya itu menatap dirinya dengan pandangan mata yang tajam dan tersenyum.

Begitu selesai makan, maka gadis inipun lalu bangkit. Ia mengambil perhiasan rambutnya yang menghiasi rambutnya yang indah itu, barang itu lalu diletakkan diatas meja.

“Paman.” Katanya. “Kau mengundangku makan, dan aku akan menghadiahkan perhiasan rambutku ini kepadamu. Terima atas kebaikanmu paman.”

Setelah berkata demikian ia lalu memutar tubuhnya untuk segera melangkah pergi.

Heranlah orang itu ketika melihat perhiasan rambut yang bersinar hijau dan indah. Akan tetapi ia tak berdiam diri lagi. Rupa-rupanya ia tak sangsi, karena itu ia lalu mengangkat ceret teh. Bersama dengan itu dari luar melangkah masuk seorang yang bertubuh tinggi besar, karena orang itu melangkah dengan tergesa-gesa maka sampai bertubrukkan dengan Candra Wulan. Sedangkan Candra Wulan sendiri jalannya sangat cepat.

Mengetahuai akan hal ini Candra Wulan menjadi marah. “Hai kau ini jalan mengapa tanpa memakai mata.” Tegurnya. Orang yang bertubuh tinggi besar itu tak menjadi marah, malah 

sebaliknya ia tertawa dengan cekikikan.

“Nona manis kau terburu-buru, hendak pergi kemanakah?” Tanyanya. “Apakah kau hendak mencari kekasihmu? Huahaaaa... Huahaaa... Huahaa! Kenapa kau justru memaki aku?”

Sambil berkata demikian ia menjulurkan tangannya yang penuh dengan bulu untuk meraba muka Candra Wulan yang cantik dan berbentuk bulat telur. Halus dan putih kulitnya.

Bukan main mendongkolnya hati Candra Wulan.

“Kau pergilah.” Bentaknya sambil menggerakkan tangannya, dan angin pukulan itu menyambar kearah dada orang kurang ajar itu.

Orang bertubuh besar itu hanya tertawa saja.

“Ah...    hebat.” Katanya. “Seorang nona manis yang memukul suaminya ”

Ia segera mengangkat tangan kirinya untuk menangkis.

Candra Wulan tadinya hanya menggertak saja. Ia segera memutar tangannya untuk menangkap pergelangan tangan lawannya yang penuh dengan bulu itu. Akan tetapi sayang yang kena hanya dua buah jari saja, dan ketika ia mengerahkan tenaga dalamnya “krek” patahlah kedua jari itu.

“Aku hendak lihat, binatang! Apakah kau berani mempermainkan anak gadis orang atau tidak.” Bentaknya.

Orang itu menjadi kaget dan kesakitan, karena itulah ia menjadi marah.

Segera ia menghunus goloknya sambil mendamprat dan membacok.

Candra Wulan memang sedang mendongkol, segera ia melayaninya. Dengan pedangngnya ia lalu menangkis bacokan golok itu. Cepatlah mereka berdua itu lalu terlibat dalam sebuah pertarungan.

Akan tetapi baru beberapa jurus saja orang itu telah melompat keluar kalangan.

“Hai bocah... siapakah gurumu?!” Tanyanya. “Mengapa dia berani melepaskanmu seorang diri untuk berbuat kurang ajar?!”

Akan tetapi hati Candra Wulan masih mendongkol. Ia lalu menuruti hawa amarahnya. Tanpa mengenal takut, ia lalu mengumbar perasaan marahnya kepada orang kasar yang kurang ajar tadi.

“Guruku?” Tanyanya dengan sombong. “Jika kusebutkan namanya aku khawatir kau kaget setengah mampus!”

“Lekas kau bilang, lekas.” Bentak orang itu dengan menantang. “Aku Warigalit tak biasa membunuh seorang bocah yang tak bernama.”

“Dengarlah.” Jawab Candra Wulan dengan marah. “Aku Candra Wulan ayahku, dia ”

Tak dapat gadis itu menyebutkannya, karena didalam otaknya segera berkelebat tiga buah nama. Masing-masing yaitu Plompong, Darmakusuma, dan Surokoco. Akan tetapi orang itu tertawa berkakakan. 

“Kau Candra Wulan, ayahmu     ”

“Yah aku Candra Wulan dan ayahku bernama Surokoco dan bergelar Tangan Sakti dari Juana. Pernahkah kau mendengarnya?” Akan tetapi ia segera teringat kalau ayahnya telah meninggal. Karena itu ia khawatir kalau lawannya tak takut, maka ia menambahkan :

“Dan guruku adalah Ki Darmakusuma yang amat terkenal dengan nama julukannya Garuda Sakti. K.au tentu telah mendengarnya juga bukan? Huahaaaa... Huahaaaaa... Huahaaa apakah kau tak takut?!”

Mendengar perkataan gadis ini orang yang mengajaknya makan tadi itu menjadi terkejut sekali.

“Ah. !”

Tiba-tiba saja Candra Wulan mendengar suara disampingnya. Ketika ia berpaling, ia melihat anak muda tadi yang masih belum juga pergi. Malahan ia menyederkan tubuh pada tembok dan matanya menatap kearahnya. Parasnya luar biasa, romannya seperti heran dan girang. Akan tetapi ia tak mempedulikan anak muda itu, kembali ia menatap orang berada dihadapannya, kemudian ia berkata dengan keras :

“Kau bernama Warigalit dan bergelar Harimau Sakti, akan tetapi aku bernama Candra Wulan dan bergelar penghajar harimau. Nah kini kau majulah kita boleh mulai lagi.”

Orang itu berjingkrak.

“Bocah.” Katanya dengan suara yang seram. “Apakah kau tak bohong?!” Candra Wulan baru pertama kali muncul didunia kependekaran, bahkan belum tahulah ia akan sifat dunia. Terutama kaum dunia kependekaran.

Karena itu ia lalu menurut saja akan suara hatinya.

“Aku berjalan tak mengubah nama dan duduk tak mengubah diri, mengapa aku harus bohong kepadamu?” Katanya dengan nyaring....

Huahaa.... Huahaaa... Huahaa... rupa-rupanya kau telah mendengar nama besar ayah dan guruku bukan?!”

Orang yang mukanya persegi itu tertawa.

“Bocah, kau bilang belum pernah mengubah nama dan asal usul, akan tetapi bukankah kau pernah mengubahnya sekali? Benarkah ini?!”

Ia berbicara dengan sikap wajar, akan tetapi tiba-tiba saja tangannya menyambar dan terdengar seruannya :

“Tangkap.”

Candra Wulan tak menduga sama sekali, karena itulah ia menjadi terkejut. Celakanya iapun tak sempat mengelak. Karena itulah maka lengannya terpegang.

“Hei. kau mau apa?” Bentaknya.

“Sahabat kecil!” Katanya orang itu. “Kau baik-baiklah turut aku pergi ke Panolan. Dan tak usahlah kau banyak tanya-tanya.” Mendengar perkataan   ini   maka   tamu-tamu   lainnya   yang   berada   

dirumah makan   tadi   menjadi   terkejut.   Dengan   cepat   mereka   segera

meninggalkan rumah makan yang dianggapnya berbahaya bagi keselamatannya.

Mereka terkejut setelah mendengar nama Panolan. Panolan adalah ibu kota dari kerajaan Jipang yang tengah memberontak. Akan tetapi Candra Wulan menjadi mendongkol sekali.

“Tak ada waktu aku untuk mengikutimu.” Katanya. “Kau lepaskan tanganmu ini.”

Didalam hatinya orang bermuka persegi itu tertawa.

‘Kiranya anak Tangan Sakti Surokoco ini sedemikian tololnya.’ pikir orang itu.

Karena ia berpikir maka pegangannya menjadi mengendor, dan Candra Wulan merasakan hal ini. Dengan mendadak ia lalu berontak. Setelah itu dengan sekonyong-konyong ia menikam kearah Warigalit. Ia menganggap kalau yang jahat adalah Warigalit dan orang yang bermuka persegi ini hanya bergurau saja.

Warigalit cepat menangkis dan segera menyerang.

“Marilah kita mencoba kepandaian kita, jangan kau lari.” Kata Candra Wulan dengan sengit dan menyerang.

Dengan goloknya Warigalit mengadakan perlawanan. Segeralah pertarungan menjadi hebat. Candra Wulan belum berpengalaman, akan tetapi kepandaiannya sangat hebat, karena itulah ia dapat membuat Warigalit terdesak dan tak berdaya. Kira-kira tiga puluh jurus kemudian Warigalit telah tak dapat menyerang lagi. Gadis ini ketika melihat hasilnya ini menjadi puas sekali. Hingga ini ia tak menyerang dengan sungguh- sungguh dan hanya main-main saja.

Anak muda itu menjadi menggerutu dan mengeutkan alisnya ketika melihat kelakuan gadis itu. Ia telah melihat kalau diluar pintu telah berdiri belasan orang yang rata-rata mempunyai tubuh tinggi besar.

Dengan tanpa ayal lagi secara diam-diam ia menggeloyor keluar dari dalam rumah makan.

Gadis itu tak memperhatikan kelakuan orang itu. Ia menyangka anak muda itu tentunya menjadi takut. Warigalit akhirnya menjadi takut, segera ia bersuit. Dengan terdengarnya suitan ini maka belasan orang yang berada diluar rumah makan itu menerobos masuk.

“Bagus.” Seru Candra Wulan ketika melihat mereka menerobos masuk. Ia hanya tertawa. Kelihatanlah kalau gadis ini benar-benar tak mengenal takut. “Bagus, satu yang datang satu yang kubunuh dan kalau dua yang datang maka dua pula yang akan binasa.” Dengan menggerakkan pedangnya ia lalu menyambut mereka. Perkelahian lalu berjalan dengan seru dan berisik. Tetamu lainnya 

menjadi ketakutan. Semuanya segera pergi, juga yang punya rumah makan

itupun telah menyingkir pergi takut kalau kena hantaman senjata yang tak bermata.

Sebentar saja rumah makan itu telah menjadi kacau dan rusak. Kursi dan meja telah beterbangan dan jumpang balik. Piring dan gelas banyak yang pecah hingga menimbulkan suara yang gemersik.

Orang yang bermuka persegi itu rupa-rupanya menjadi sebal ketika melihat masuknya belasan orang-orangt itu sebab sedikitpun mereka tak dapat berbuat apa-apa kepada si gadis. Sampai beberapa kali ia memperdengarkan suara jengekan dari hidungnya.

“Hem... hem...”

“Warigalit mundur.” Kemudian serunya dengan lantang. “Biar aku yang membekuk pemberontak ini.”

Mendengar perintah ini maka Warigalit dan kawan-kawannya lalu melompat mundur.

“Kau... kau siapakah?” Tanya Candra Wulan dengan heran. “kau bermaksud menawanku?!”

Orang yang bermuka persegi itu tertawa aneh.

“Namaku Jangkar Bumi.” Jawabnya dengan sombong. “Akulah pahlawan nomor satu dari kerajaan Jipang Panolan. Pahlawan istana. Pernahkah kau mendengar namaku?!”

Belum pernah Candra Wulan mendengar nama Jangkar Bumi, akan tetapi Jipang Panolan ia telah mendengar dari gurunya atau ayah angkatnya, ki Darmakusuma. Akan tetapi mendengar kalau ia adalah pahlawan dari istana maka tahulah Candra Wulan kalau orang inilah yang telah mengambil banyak nyawa orang-orang yang mencintai kerajaan Demak Bintoro. Bahkan lelaki ini pula yang menjadi penghalang dan perintang dari kerajaan Supit Urang yang akan menjajah kerajaan Demak Bintoro. Sebab Jipang sendiri ingin menduduki bekas kerajaan Demak yang jaya.

Sekarang insyaflah Candra Wulan, kalau kini dirinya telah terjatuh ketangan musuh. Akan tetapi hatinya tetap tabah dan sedikitpun tak gentar.

“Bagus.” Katanya. “Akan kubunuh budak-budak dari kerajaan pengkhianat.”

Bukan main marahnya Jangkar Bumi ini. Segera ia mengeluarkan penggadanya dan segera memukulkan kearah ulu hati gadis cilik ini. Akan tetapi waktu itu Candra Wulan sedang marah, ia menyerang musuhnya dengan hebat. Akan tetapi sayang ia kalah sakti dan gagah. Setelah bertempur sebanyak tiga puluh jurus lamanya ia melihat kalau penggada lawannya telah mengurung ditempat sekitarnya. Dengan sendirinya hatinya menjadi ciut, akan tetapi ia tetap tak takut. ‘Biar aku akan mengadu nyawa, matipun aku akan mati terhormat dan menyusul nyawa orang yang kucinta.’ Pikirnya. Maka dengan nekad ia lalu melakukan perlawanan. Candra Wulan benar-benar tak mengenal takut melayani orang-orang yang menyerbu masuk, pertempuran segera menjadi makin kacau dan berisik.......

“Hem...” Dengus Jangkar Bumi ketika ia melihat cara berkelahi lawannya itu. Dengan mendadak ia mengubah cara berkelahinya. Ia segera melepaskan penggadanya dan mempergunakan tangan kosong untuk menghadapi lawannya. Gadis ini tampak sudah menjadi lelah, dan ingin ia menawannya secara hidup-hidup.

Ternyata dengan tangan kosong Jangkar Bumi menjadi lebih gagah dan tangguh. Ia bersilat dengan ilmu menaklukkan harimau. Kedua tangannya bergantian menyambar-nyambar kearah bagian tubuh yang berbahaya. Hingga dengan demikian membuat Candra Wulan menjadi repot untuk menangkis, dan juga untuk melindungi dirinya.

Setelah dua puluh jurus lagi, Candra Wulan menjadi mengeluh dan katanya didalam hati :

‘Ah... tak dapat aku memberikan tubuhku ditangkap dan dibinasakan oleh jahanam itu. Perkara enam belas tahun yang lalu masih belum terang bagiku. Jika aku binasa maka aku tak dapat mati dengan mata meram.’ Setelah berpikir demikian ia lalu menyerang lagi. Dengan menggunakan 

tipu-tipu simpanannya tiba-tiba saja ia dapat melompat dan mendesak lawan

dengan hebat. Dan setelah itu ia lalu memutar tubuh untuk melarikan diri.

Jangkar Bumi menjadi penasaran, dia adalah seorang tokoh yang terkenal sakti. Begitu melihat kalau lawannya hendak melarikan diri, ia melompat untuk mengejar. Gerakannya sangat gesit. Memanglah ia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai tingkat tinggi. Segera ia dapat memegang tangan gadis itu dan mulutnya berkata, mendengus.

Candra Wulan terkejut, ia menyabet kebelakang. Tapi yang kena sabet hanyalah tempat kosong saja. Sebaliknya tangan kanan Candra Wulan dilontarkan kedepan oleh Jangkar Bumi dan tangan kanannya lalu meraih pinggang anak gadis itu. Karena rabaan ini maka tubuh Candra Wulan menjadi kaku dan gerakannya tak setangkas tadi. Dan ternyata rabaan Jangkar Bumi tadi itu merupakan sebuah totokan pada pinggang. Dengan tak ampun lagi maka robohlah tubuh Candra Wulan menggeletak diatas tanah.

Melihat ini Jangkar Bumi tertawa bergelak-gelak. Ia melompat dan mengambil kembali senjatanya, setelah itu Jangkar Bumi menghampiri Candra Wulan dan mengangkat akan segera dibawa pergi.

“Mari... mari kita pulang ke Panolan untuk menerima hadiah dari gusti.” Katanya. Mendengar ini Warigalit menjadi heran dan katanya :

“Jadi kita tak jadi pergi ke Karang Bolong?”

“Menurut kabarnya Garuda Sakti si Darmakusuma itu sangat sakti, maka baiknya kita melihat suasana terlebih dahulu.” Jawab Jangkar Bumi. “Ini kita telah mendapatkan muridnya. Maka berarti kitapun telah berjasa besar.”

“Ya, diapun keturunan Tumenggung Kertoyudo.” Seru Warigalit dan kemudian katanya lagi. “Orangnyapun sangat manis ”

“Jangan ngaco.” Bentak Jangkar Bumi. “Mari berangkat.”

Setelah mengambil pedang Candra Wulan. Jangkar Bumi lalu bertindak dengan cepat meninggalkan rumah makan, terus ia melompat kearah kudanya.

Melihat kalau mereka akan pergi maka seorang pelayan lalu lari menghampiri Jangkar Bumi, sambil menunjuk kearah pecahan piring dan gelas ia lalu berkata :

“Ki sanak, kasihanilah kami.” Katanya. “Modal kami hanya sedikit dan kerusakan ini sangat hebat ”

Jangkar Bumi mengawasi dengan sejenak kemudian tertawa bergelak- gelak.

“Baiklah akan kuganti sedikit kepadamu.” Katanya sambil mengayunkan cambuknya. Sebuah suara yang nyaring terdengar bersama dengan teriakan ngeri 

dari pelayan itu, karena cambuk yang diayunkan oleh Jangkar Bumi tadi

telah tepat mengenai mukanya. Hingga dengan menutup mukanya ia lari dengan kesakitan dan kutakutan.

Jangkar Bumi ketawa lebar dan kemudian mengeprak kudanya untuk dipacu dengan cepat.

Candra Wulan menyadari akan dirinya, matanya menjadi merah karena menahan amarahnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, untuk berontak. Akan tetapi perempuan kecil itu sangat menyesal karena sedikitpun ia tak dapat berbuat apa-apa. Rupa-rupanya ilmu totokan dari musuhnya ini sangat hebat.

Dengan cepat mereka itu sampai kesebuah jalanan bukit yang sempit. Jangkar Bumi mencambuki kudanya supaya terus berlari dengan cepat. Perbuatannya ini diikuti oleh kawan-kawannya.

Sekonyong-konyong terdengarlah suara yang nyaring dan bersama dengan itu terdengar pula suara barang ambruk.

Jangkar Bumi terkejut bukan main. Bersama-sama dengan kawannya dan juga kudanya ia terperosok kedalam sebuah liang besar. Tak ada seorangpun dari kawanan ini yang dapat menahan larinya kudanya itu.

Bersama dengan masuknya kawanan orang-orang Jipang ini maka dari atas liang terdengar suara orang ketawa. Lalu disamping luangan itu muncul seorang. Dan dari dalam luangan itu hanya tampak kepalanya saja.

“Jangkar Bumi, mari naik keatas. Aku hendak bicara denganmu.” Demikianlah orang itu mulai berkata. Ia adalah seorang pemuda yang tampan, dan ternyata si pemuda yang dirumah makan tadi.

Jangkar Bumi jatuh, akan tetapi tak terluka. Ketika mendengar suara ini ia mendongakkan kepalanya keatas. Dalamnya lubang itu kira-kira sepuluh kaki, ia tak takut malahan tertawa.

“Berandal.” Katanya. “Inilah namanya yang dikatakan bangsat ketemu dengan ayahnya maling yang gagu. Baiklah kau menghendaki uang atau kuda?”

Anak muda itu mengawasi Candra Wulan dan tertawa.

“Pertama aku tak menginginkan uang, dan keduanya aku tak menginginkan kuda.” Jawabnya. “Aku hanya ingin menyuruhmu meninggalkan gadis kecil itu. Jika kau menyerahkannya maka aku akan memberimu umur yang panjang. ”

Jangkar Bumi tercengang dan kemudian tertawa dengan lebar.

“Baiklah, aku akan memberikannya kepadamu.” Katanya dengan nyaring. Bersama dengan itu tangan kanannya terayun dan senjata rahasianya yang mengandung racun menyambar keatas. Iapun melemparkan dengan kedua kakinya digerakkan untuk melayang keatas. Bersama dengan tipukan senjata rahasia itu kepala anak muda itu tadi 

hilang karena ia menghindar, akan tetapi ketika tubuh Jangkar Bumi melesat

naik tahu-tahu tangannya telah menghantam kedua bagian tubuh. Yang satu menyambar kejanggut dan yang lain menyambar kehidung.

Jangkar Bumi menjadi kaget. Didalam keadaan seperti itu ia tak berdaya. Akan tetapi ia memaksakan diri untuk menghindar juga. Berhasillah ia melindungi janggut akan tetapi hidungnya tetap kena. Maka dengan menggerang kesakitan kembali ia jatuh kedalam lubang.

Candra Wulan tak dapat bergerak, akan tetapi ia tetap bisa melihat. Ia menjadi kagum melihat kesabaran pemuda itu.

“Bagus.” Serunya memuji.

Kembali muka pemuda itu muncul lagi dipinggiran lubang dan dibibirnya tersungging sabuah senyuman, bahkan lalu tertawa lebar.

“Sahabat kecil terima kasih.” Serunya dengan manis.

Jangkar Bumi menjadi sangat mendongkol sekali. Ia segera melompat lagi, akan tetapi kali ini ia menggunakan akalnya yang cerdik. Yaitu sebelum kepalanya melompat keluar penggadanya telah dikeluarkan terlebih dahulu. Kemudian penggada itu dipakai untuk menyerang muka si pemuda itu. Memanglah waktu itu si pemuda masih melongokkan kepalanya kedalam liang. Dengan demikian pemuda itu lalu menghindar, dan memang kesempatan inilah yang dikehendaki oleh Jangkar Bumi. Segera ia melompat naik keatas. Akan tetapi cepat, sewaktu kakinya hendak mendarat terasalah kalau perutnya menjadi sakit. Hingga kembali ia terjatuh didalam lubang. Memanglah hal ini karena dupakan anak muda yang sakti itu telah mampir keperut Jangkar Bumi. Bahkan kali ini ia jatuh terbanting. (Lihat gambar kulit)

“Bagaimana?” Tanya pemuda itu dengan tertawa. “Jika kau menyerahkan gadis itu kepadaku maka urusan akan menjadi beres dan kau tak perlu lagi menjaga mulut lubang ini. Akan tetapi kalau tidak aku akan tetap menjaga diatas lubang ini. Siapapun juga tak akan ada yang dapat naik keatas. Kalian boleh mati dengan jengkel dan haus serta lapar.”

Jangkar Bumi mendongkol setengah mati. Seumur hidupnya ia belum pernah berputus asa. Anak muda itu terang mempunyai kepandaian yang hebat dan berada didalam kedudukan yang bagus. Apa daya? Ancaman lawannya inipun benar sekali, tanpa bisa naik ia dan kawan-kawannya akan mati kelaparan dan kehausan.....

“Bagaimana?” Tanya pemuda itu menegas. Bertanya sambil tersenyum mengejek.

Jangkar Bumi mengumbar kemarahannya.

“Jika kau adalah seorang laki-laki sejati mari turun dan kita bertempur sampai salah seorang diantara kita menggeletak tak bernyawa.” Tantangnya.

Pemuda itu hanya tertawa saja. “Tak ada niat dalam hatiku untuk melayani permainanmu.” Jawabnya 

dengan sederhana.

Mendengar jawaban ini Jangkar Bumi berdiam diri, akan tetapi hatinya tetap berkata :

‘Baik aku tak akan mengambil peduli kepadamu, hendak kulihat apakah kau akan bisa membuatku celaka atau tidak. ’ Setelah itu ia memegang urat

nadi gadis cilik itu, kemudian duduk.

Muka si pemuda itu lenyap dari lubang liang yang mengurung mereka. Suasana menjadi sunyi karena tak ada yang berbicara. Anak buah Jangkar Bumipun bungkam tak ada yang mengeluarkan omongan. Mereka sedang terbenam dalam kekhawatiran.

Jangkar Bumi tak tahu lawannya akan berbuat apa. Ia terus berdiam diri. Akan tetapi setelah beberapa lama ia berdiam diri, Jangkar Bumi menjadi kaget karena ia harus mengelak. Karena dengan tiba-tiba saja ada sebuah benda hitam yang jatuh kedalam lubang. Untuk kekagetan dan keheranannya, ia mendapat kenyataan, inilah delapan anak buahnya yang tadi menyusul belakangan, yang tadi tak turut terjeblos bersama-sama.

Lubang itu tak besar, sedangkan jumlah mereka ada belasan orang, dengan demikian maka mereka menjadi berdesak-desak. Yang mengherankan ialah orang-orang ini tak dapat bergerak, mereka rebah bagaikan mayat. Ketika Jangkar Bumi memeriksa keadaannya, ternyata mereka itu adalah korban-korban dari totokan.

Setelah kejadian itu maka si pemuda itu lalu muncul lagi ditepi lubang. Kali ini kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, dan kedua tangannya ini memegang sebuah batu besar.

“Kuberi waktu kepadamu.” Kata pemuda itu dengan nyaring, “Akan kuhitung, akan tetapi kalau kau tetap menolak untuk memberikan gadis itu kepadaku maka aku akan melemparkan batu ini turun kebawah. Kemudian katanya pula :

“Satu... Dua... Tiga ” Ketika menghitung sampai delapan, semua orang-

orang Jangkar Bumi mendekam dibawah kuda-kuda mereka, semuanya menjadi sangat ketakutan.

“Tahan.” Teriak Jangkar Bumi.

“Kau hendak menyerahkan gadis itu atau tidak?” Tanya pemuda itu.

Jangkar Bumi menurunkan Candra Wulan, akan tetapi bersama itu golok terbangnya menyambar keatas. Ia percaya kalau dengan bokongannya ini tentu pemuda itu tak akan dapat meloloskan diri. Tapi ia menjadi kaget dan penantiannya sia-sia saja untuk mendengarkan jeritan atau robohnya pemuda itu. Ketika ia mendongakkan kepalanya ia menjadi kaget sekali karena pemuda itu masih tetap berdiri ditepi lubang kedua tangannya masih tetap memegangi batu besar tadi. Hanya saja sekarang mulut pemuda itu mengigit sebuah golok, itulah golok terbangnya tadi. Sekonyong-konyong pemuda itu menyemburkan golok, yang berada 

dimulutnya.

“Aduh.” Jerit Warigalit. Ternyata lelaki ini telah termakan oleh golok terbang yang disemburkan oleh pemuda tadi dan akibatnya roboh ketanah.

“Jangkar Bumi.” Katanya. Jika kau tetap hendak bertempur denganku, sudah tentu kau akan kalah. Maka sekarang kau masih punya daya apakah?”

Jangkar Bumi berpikir.

“Beranikah kau melemparkan batu itu turun kebawah?” Tanyanya dan kemudian tersenyum, kembali ia berkata : “Kau menginginkan gadis ini atau mayatnya? Kau menginginkan gadis ini sudah gepeng atau masih bernyawa?!”

Pemuda itu memperdengarlah suara dari hidungnya dan nadanya terang menghina. “Hm...”

“Gadis?!” Siapakah yang membutuhkannya. Jawabnya dengan datar dan nadanya sinis. “Aku hanya membutuhkan seorang pahlawan besar dari Jipang Panolan yang tubuhnya telah menjadi gepeng.” Perkataan ini diakhiri dengan gerakan yang akan melepaskan batu besar yang dipegangnya itu.

“Tunggu.” Seru Jangkar Bumi. ”Nah ini kuserahhan gadis ini kepadamu.”

“Lemparkan dia keatas.” Katanya.

Jangkar Bumi menjadi heran ketika melihat sikap anak muda itu. Ia memusuhinya akan tetapi terang tak akan mengambil jiwanya. Ia seperti sedang dikasihinya. Kalau pemuda itu mau maka tak sukarlah untuk membunuhnya, atau setidak-tidaknya melukainya.

Tadinya ia menyangka kalau orang yang datang ini adalah salah seorang keturunan dari tiga pahlawan Demak Bintoro yang datang untuk menolong gadis ini, akan tetapi setelah mendengar perkataannya ia menjadi berpikir dengan keras.

‘Ah... jangan-jangan ia adalah seorang tukang penggangu wanita.’ Pikirnya. ‘Baiklah, terlebih dahulu kuserahkan gadis manis ini kepadanya, dan nanti pelan-pelan aku akan memintanya kembali...”

Setelah mendapat pikiran yang demikian maka Jangkar Bumi lalu mengambil keputusan. Ia memegang tubuh gadis itu dan segera melemparkan keatas.

Luar biasa sikap pemuda itu, ia bukannya menangkap sewaktu tubuh Candra Wulan terapung, akan tetapi ia menotok dengan sebat sekali. Karena itulah sebelum Candra Wulan jatuh atau menginjak tanah, gadis itu telah terbebas jalan darahnya. Hingga dengan demikian ia dapat mengatur jatuhnya dan berdiri dengan bebas.

‘Hebat kepandaiannya....’ Pujinya didalam hati. ‘sayangnya ia berbatin busuk...’ Lalu tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan menyerang sambil memaki.

“Bangsat perusak wanita.” Teriaknya sambil menyerang. Pemuda itu terkejut dan segera mengelak, akan tetapi hanya sesaat saja 

ia terheran-heran, segera ia telah dapat tertawa.

“Benarkah perkataanmu itu?” Tanyanya. “Kau lihatlah baik kepadaku.”

Tanpa menunggu jawaban ia melompat turun kedalam lubang, dan tanpa banyak perkataan ia menerjang anak buah Jangkar Bumi hingga kalang kabut. Bahkan menggunakan sikut dan kakinya, hingga orang-orang itu menjadi roboh sambil menjerit kesakitan dan juga ada yang patah tulangnya. Ada pula yang kepalanya mengeluarkan darah.

“Hai.... kau akan berbuat apakah?” Bentak Jangkar Bumi yang telah sadar dari keheranannya.

Pemuda itu tak menjawab, hanya tangannya saja yang menyambar. Jangkar Bumi adalah seorang pahlawan besar dari kerajaan Jipang

Panolan. Maka kesaktiannyapun telah banyak dikenal orang. Maka sambil memasang kuda-kuda tangan kanannya membacok lengan lawannya.

Pemuda itu tersenyum sinis, tangannya itu lalu ditarik kembali. Setelah itu ia balas menyerang. Karena Jangkar Bumi melawan terus, maka mereka lalu bertempur didalam lubang. Hanya sebentar saja Jangkar Bumi telah terdesak dengan hebat kepinggir dinding lubang.

“Hei bocah siapakah kau ini?” Teriak Jangkar Bumi. Memanglah orang ini telah merasa kalau tak mungkin dapat melawan terus. “Hem... dengan alasan apakah kau berani memusuhiku?”

Pemuda itu tak menjawab, hanya tangan kirinya saja yang bergerak menyilang. Gerakan ini dilakukan dengan sangat cepat dan hebat.

Jangkar Bumi tak berani menangkis, ia segera menghindar.

“Duk” demikianlah terdengar suara keras yang kemudian disusul dengan gempurnya dinding tanah bercampur batu. Sebab kepalan pemuda itu mengenai dinding.

Jangkar Bumi kaget bukan main. Ketika ia melihat dinding itu telah berlubang. Coba kalau tadi tubuhnya yang kena serangan itu? Segera saja ia bergerak lebih jauh. Yah menjauh dari pemuda itu. Akan tetapi sebelum sempat ia mengangkat kakinya yang belakang, ia merasakan kalau tangan kanannya telah dipegang dengan keras-keras. Dan sia-sia saja ketika ia hendak berontak. Akhirnya dia menyerah tak melawan.

Pemuda itu tertawa terbahak-bahak, segera ia menotok jalan darah Jangkar Bumi. Setelah itu ia lalu melemparkan tubuh Jangkar Bumi keatas.

Ternyata pemuda itu tadi telah mempergunakan tipu daya. Ia menggertak dengan tangan kirinya. Ia menduga walaupun serangannya hebat, Jangkar Bumi pasti dapat menghindar. Maka pemuda itu menunggu sampai pendekar Jipang itu menghindar, ia membarengi dengan tangan kanannya. Cepat bagaikan kilat ia berkelebat. Dan. berhasillah serangan ini.

Setelah melemparkan tubuh lawannya, pemuda itupun lalu mengenjot tubuhnya melayang keatas. “Sahabat kecil?” ia menyapa sambil tertawa. “Eh... keliru seharusnya 

aku memanggilmu dengan sebutan adi. Binatang ini telah menghinamu,

maka sekarang terserahlah kau kalau hendak membalasnya.”

Candra Wulan menjadi heran ketika pemuda itu memanggilnya dengan sebutan adik. Akan tetapi ketika ia hendak minta penjelasan mendadak Jangkar Bumi berseru :

“Aku telah rubuh, matipun aku tak puas. Eh... binatang, siapakah sebetulnya kau ini?”

Teguran atau dampratan ini ditujukan kepada pemuda itu.

“Baiklah aku akan memperkenalkan diriku.” Jawab pemuda itu dengan suara nyaring. “Hendak kubikin, supaya kalau kau mampus dineraka nanti kau akan mati dengan mata meram. Kakekku ini disebut Tumenggung Sorohnyowo, beliau adalah seorang tumenggung yang setia, dan tentunya kau mengenal kakekku itu. Dan ayahku bergelar Golok Emas. Karena itu siapa adanya aku kau tentunya dapat menerka!”

Jangkar Bumi kaget, akan tetapi dari kagetnya ini berbalik menjadi sebuah kemarahan.

“Hem... kiranya kau ini bangsat kecil Wirapati!” Dampratnya. “Hem... ternyata kaupun seorang buronan dari Jipang Panolan, pantaslah kalau kau bersungguh-sungguh dalam menolongnya.”

Gadis itupun terkejut, akan tetapi terkejut untuk sadar. Bukankah keluarga Tumenggung Sorohnyowo, Tumenggung Kertoyudo dan Tumengguig Malangyudo telah mengangkat saudara. Maka sudahlah sepantasnya kalau Wirapati memanggilnya sebagai adik.

“Bagaimana adi?” Kembali Wirapati bertanya.

Candra Wulan masih berdiam diri. Ia masih malu dan bingung sekali.

Melihat ini Wirapati menjadi tertawa.

“Bagaimana jika aku yang menyarankan?” Tanyanya.

“Kau hendak membunuhnya?” Akhirnya Candra Wulan membuka suara.

“Binatang ini memang sudah sepatutnya dibunuh.” Jawah Wirapati. “Akan tetapi untuk membunuhnya disini bukan tempatnya, dan lagi bukan waktunya...”

Setelah berkata demikian pemuda itu lalu menghunus goloknya. Sebuah golok emas peninggalan ayahnya. Sekali golok emas itu berkelebat maka hilanglah sebuah kuping dari Jangkar Bumi. Dan pahlawan Jipang ini menjerit kesakitan.

“Setelah sepenanak nasi lagi barulah jalan darahmu akan pulih dengan sendirinya.” Wirapati memberitahu. “Nah sampai bertemu dilain waktu.”

Setelah berkata demikian ia lalu meninggalkan pendekar pilihan dari Jipang itu dan mengambil dua ekor kuda. “Mari adi.” Ajaknya kepada Candra Wulan. Bersama dengan itu, 

Wirapati menyerahkan seekor kuda kepada Candra Wulan dan ia sendiri

melompat kepunggung kudanya sendiri.

“Adi, hendak kemanakah kau? Marilah kuantarkan. Tapi aku tak dapat lama-lama karena masih ada urusan penting.”

Candra Wulan ragu-ragu. Tak berani ia menceritakan apa yang telah terjadi. Dan lagi ia tak menceritakan kalau akan pergi ke gunung Lawu.”

“Kau hendak melakukan apa?!” Jawabnya balas bertanya. “Sudikah kau memberitahu kepadaku, dan urusan apakah yang akan kau kerjakan?”

Wirapatipun ragu-ragu. Hingga dengan tak sadar ia telah menundukkan kepalanya. Akan tetapi ini berjalan cuma sebentar. Ia segera mengangkat kepalanya dan matanya bentrok dengan mata Candra Wulan. Memanglah sejak tadi Candra Wulan selalu mengawasinya, mulutnyapun tersenyum kecil. Maka tergeraklah hatinya.

“Adi” Katanya kemudian. “Kita baru saja saling bertemu, untuk apakah kita saling bertanya-tanya? Baik disini kita berpisah. Gunung hijau tetap ada, air birupun tetap mengalir. Karena itulah biar lain kali saja kita bertemu lagi. ”

Segera pemuda itu mengangkat cambuknya untuk membedalkan kuda yang ditumpanginya.

Candra Wulan tak menyangka sama sekali akan keputusan anak muda itu, karena itulah ia menjadi tercengang. Ia menjadi terkejut dan sadar.

“Kakang Wirapati.” Serunya memanggil. “Aku hendak mohon suatu keterangan. ”

Wirapati lalu menunda keberangkatannya itu. Dan menurunkan cambuknya, hingga kudanya tak jadi lari meninggalkan tempat itu.

“Hal apakah itu adi?!” Tanyanya. Didalam hatinya sendiri ia berkata : ‘Ah. dia telah memanggil kakang kepadaku.”

“Ada seorang yang dipanggil sebagai Woro Keshi yang menurut berita tinggal dipuncak gunung Muria dan lain dari pada itu ada pula seorang yang dipanggil dengan nama Mintaraga, apakah kau pernah mendengar nama mereka itu?” Tanya Candra Wulan. Mulai hilanglah keragu-raguannya terhadap pemuda itu.

Hati Wirapati terkesiap agak heran.

“Kau telah bersama-sama dengan gurumu enam belas tahun lamanya.” Katanya. “Mustahil kalau kau belum mengetahui dengan jelas tentang kedua orang itu?!” Jawabnya dengan balas bertanya.

Tak puaslah hati Candra Wulan mendapat pertanyaan seperti itu. “Jika aku tahu, tak perlu aku menanyakan lagi kepadamu.” Katanya.

Wirapati benar-benar heran, hingga sampai lama ia berdiam diri saja.

Kemudian ia memandang kearah gadis itu. “Adi, untuk apakah kau menanyakan mereka itu?” Tanyanya kemudian 

dengan pelan dan halus.

Ditanya demikian maka berlinanglah air mata Candra Wulan.

“Sebab sekarang didunia ini hanya merekalah orang-orang yang terdekat denganku ” Jawabnya dengan berduka.

Kembali Wirapati menjadi heran. Kedua biji matanya dipakai untuk memandang kearah gadis yang berada dihadapannya.

“Siapakah yang memberi tahukan hal itu kepadamu?” Kembali pemuda itu bertanya.

Candra Wulan lalu menyusut air matanya. Kembali ia tak puas dengan pertanyaan semacam ini.

“Jika kau tak mau memberitahukan, sudahlah. Tak usah kau menanyakan yang lain-lain.” Jawabnya dan ia lalu menepuk punggung kudanya, mengayunkan cambuknya hingga kudanya terus lari kedepan dengan pesat sekali. Hingga dengan demikian Wirapati tinggal seorang diri dan mengawasi belakangnya. Ia hanya dapat mendelong saja......

*

* *

Candra Wulan terus melarikan kudanya. Akan tetapi iapun segera berpikir dengan keras. Urusannya ini telah membuatnya berpikir dengan keras akan tetapi tetap saja ia tak dapat memecahkannya. Ia telah melarikan kudanya kurang lebih tiga atau empat kilo, akan tetapi tiba-tiba saja dari belakangnya terdengar suara kuda yang lari mengejarnya.

“Adi, perlahanlah sedikit. Aku hendak bicara.” Demikianlah sebuah suara memanggil. Inilah suara dari Wirapati. Jadi pemuda ini telah menyusulnya. Dengan adanya peristiwa-peristiwa yang dialaminya ini maka sedikit banyak gadis inipun telah mempunyai pengalaman-pengalaman. Ia telah menyaksikan sendiri kematian ayah angkatnya yang secara mengenaskan dan bagaimana pula ia berpisah dengan kakak seperguruannya. Semuanya ini menjadikan hatinya yang jujur menjadi berubah. Hatinya memang suci murni, akan tetapi hati yang jujur itu telah dinodai oleh beberapa kejadian yang disebabkan oleh orang-orang dari dunia kependekaran. Hingga dengan demikian ia tak menghentikan atau memperlambat jalannya kudanya, ketika ia mendengar panggilan dari Wirapati.

“Bicara?” Tanyanya sambil menoleh kebelakang. Akan tetapi sedikitpun kudanya tak dipelankan. “Hem tadi kau tak mau bicara, sekarang mengapa

kau hendak bicara?” Wirapati melihat dengan jelas kalau Candra Wulan tetap mengaburkan 

kudanya, namun   iapun   tetap   mengejar.   Bahkan   kini   ia   lalu   makin

mempercepat kudanya untuk mengejar kuda gadis itu.

Rupa-rupanya Candra Wulanpun tahu kalau Wirapati berusaha mengejarnya. Hingga dengan demikian ia lalu makin mempercepat kudanya, bahkan tak jarang mencambuki kuda yang ditungganginya. Binatang itu terus lari dengan kencang sambil menahan sakit.

‘Hem... kau sangka aku tak dapat mengejarmu.’ Pikir Wirapati didalam hatinya.

Sambil menggeprak kudanya, kakinya terus menggepit perut kudanya hingga karena sakitnya maka binatang itu makin mempercepat larinya. Dengan begitu keduanya menjadi saling kejar mengejar. Akan tetapi tak lama kemudian dari jarak jauh menjadi semakin dekat. 

Candra Wulan tahu kalau kudanya bakal disalib karena itulah ia lalu menahan les kudanya, maksudnya ia hendak memberhentikan kendaraannya. Akan tetapi tak tahunya binatang itu telah larat dan bahkan kabur menjadi semakin cepat. Didalam menunggang kuda gadis ini tak punya pengalaman, pandainya hanya berenang. Ketika kudanya ngambek ini maka ia lalu kehabisan akal. Yang hebat ialah, karena lesnya ditarik dengan kencang maka kudanya itu kehilangan tujuan. Maka kagetlah gadis ini ketika dihadapannya menghadang sebuah pohon besar. Kalau saja pohon itu kena ditabrak............

Tak ada lain jalan. Candra Wulan lalu menarik tali lesnya sekuat- kuatnya, dengan demikian ia mengharapkan kudanya akan dapat ditahan. Akan tetapi lenyap pula harapannya. Saking kuatnya ia menarik dan saking kuatnya kuda itu lari maka lesnyapun putus !

Bukan main takutnya gadis ini, mukanya berubah menjadi pucat. Kudanya itu lari terus. Bahkan kini bertambah cepat, sebab kuda itu telah tak terkendalikan lagi. Sedangkan Candra Wulanpun tak berani berkaok-kaok minta tolong, karena ia telah malu kepada pemuda itu.

Wirapati telah ketinggalan, akan tetapi pemuda itupun segera mengeprak kudanya untuk menyusul. Dari jauh ia dapat melihat keadaan Candra Wulan. Hal ini telah menjadikan pemuda itu menjadi khawatir sekali. Karena itulah Wirapati lalu memaksa kudanya untuk berlari lebih cepat lagi. Setelah kira-kira kurang tujuh atau delapan langkah lagi, ia lalu melepaskan golok terbangnya sambil berseru :

“Adi Wulan, jangan kau takut. Pegangi saja bulu suri kuda itu kuat-kuat dan jangan sampai kau dijatuhkannya.” Bersama dengan itu golok terbang yang dilemparkannya itu menancap dipupu kempol kuda.

Karena kaget dan sakitnya maka kuda itupun lalu berjingkrak dan berdiri dengan kedua kaki didepan. Melihat hal ini Candra Wulan menjadi kaget dan kepalanya pusing dengan seketika. Dengan sekuat tenaga ia lalu berpegangan keras-keras pada bulu suri kuda dan kakinya menjepit keras- 

keras diperut kudanya.

Kuda itu menurunkan kedua kakinya, kemudian ganti berjingkrak dengan kaki belakangnya dan. setelah itu roboh tak berkutik.

Tentu saja karena itu pula maka Candra Wulan ikut roboh, akan tetapi ia dapat melompat turun ketika kuda itu mulai roboh. Gadis ini tak sampai tertindih, akan tetapi hanya terguling saja.

Waktu itu Wirapati telah sampai disitu pula, lalu melompat turun dan membantu gadis kecil ini untuk berdiri.

“Kau tak apa-apa adi?” Tanyanya dengan pelan.

Candra Wulan lalu mengusap keringatnya, dan setelah menenangkan hatinya barulah ia menjawab pertanyaan Wirapati.

“Tidak apa-apa.” Katanya. “Terima kasih.” Serunya dengan pelan sekali. Wirapati melihat kearah sekitarnya. Ternyata mereka berdua sedang berada disebuah lembah  diantara pepohonan  yang  rungkut  dan  rumput- rumput yang tumbuh dengan liar akan tetapi semuanya kelihatan berdaun hijau. Suasana benar-benar sunyi. Ia telah dapat memastikan kalau permainan kejar-kejaran tadi itu telah berjalan kurang lebih dua atau tiga

puluhan kilo.

Gadis itu tampak menghembuskan napasnya karena perasaannya yang telah lega.

“Kau hendak bicara, lekaslah bicara.” Katanya. “Aku hendak segera melanjutkan perjalananku.”

Wirapati memandang kearah gadis itu. “Kemana?” Tanyanya.

Candra Wulan melihat keragu-raguan wajah pemuda itu, kembali timbul perasaan tak puasnya.

“Baiklah kita omong terus terang saja.” Katanya. “Kalau tidak, aku tak mempedulikannya lagi. Hem... kalau kutanyakan juga, apakah itu kelakuannya seorang laki-laki sejati? Ditanya belum menjawab akan tetapi telah balas bertanya. Benar-benar kau ini laki-laki macam apa.”

“Baiklah aku akan memberitahukan kepadamu.” Katanya dengan sungguh-sungguh. “Coba, kau terka aku hendak pergi kemana sekarang?”

“Siapa tahu?!” Jawab gadis itu dengan getas.

Pada saat itu Wirapati memperlihatkan wajah yang serius dan tampak angker serta gagah.

“Aku hendak pergi membunuh ayah angkatmu. Membunuh si Garuda Sakti Darmakusuma.” Katanya.

“Kau percaya atau tidak?!” Sambungnya.

Karena kagetnya, maka dengan tanpa sesadarnya ia lalu mencelat.

Melompat keatas sambil memandang kearah pemuda itu. “Apa?” Teriaknya. “Siapakah kau sebenarnya ini?!” Air muka pemuda itu tak berobah barang sedikitpun juga. Ia masih tetap 

bersikap gagah.

“Sudah tentu aku adalah Wirapati. Aku adalah putra dari mendiang Pandu Pregolo.”

“Habis kena apakah kau hendak membunuh ayah angkatku?!” Tanya Candra Wulan dengan penuh selidik.

Wirapati tak menjawab. Akan tetapi segera mendongak mengawasi mega-mega putih yang berkeliaran diangkasa raya. Akan tetapi sesaat kemudian ia telah memandang kearah gadis itu lagi.

“Adi, kuminta kau berkata dengan sejujurnya.” Katanya. “Bila dibanding dengan ayah angkatmu itu, bagaimanakah dengan kepandaianku ini? Sekali lagi aku minta jawabanmu yang sejujur-jujurnya.”

“Siapa tahu?!” Jawab gadis ini yang terus saja merasa tak senang dengan pemuda itu.

Wirapati tak menghiraukan sama sekali kalau orang yang diajaknya bercakap-cakap itu mendongkol sekali. Sebaliknya ia malah tertawa lebar.

“Jika dengan tanganku sendiri aku dapat membunuh Garuda Sakti Darmakusuma itu, maka tak sia-sialah aku mempelajari ilmu diutara. Hem..... jerih payahnya tak akan sia-sia. Aku telah menyiksa diri selama enam belas tahun lamanya.” Katanya.

Tiba-tiba saja dengan mendadak ia melompat kearah pohon yang berada dihadapannya. Kedua tangannya digerakkan. Digerakkan untuk memukul pohon itu, tiba-tiba saja pohon cemara itu bergoyang-goyang dan buah serta daunnya rontok semua.

“Bagaimana?” Tanyanya pula. Ia bertanya dengan menunjukkan kalau wajahnya puas bukan main.

Setelah Candra Wulan mendengar dari orang-orang perkumpulan Tengkorak Berdarah kalau musuh ayah angkatnya, ki Darmakusuma, itu sangat banyak sekali. Malahan ada juga keluarganya sendiri yang memusuhinya maka tak heranlah kalau sekarang Wirapati putra dari saudara angkat ayahnya itupun memusuhinya pula. Hal ini dilakukan untuk menyelesaikan permusuhannya selama enam belas tahun yang lalu. Sekarang ia justru berada didekat Wirapati orang yang sedang mencari dan memusuhi ayah angkatnya. Akan tetapi ia benar-benar tak tahu mengapa ia sendiri tak senang melihat tingkah laku pemuda yang memusuhi ayah angkatnya itu.

“Kalau dibandingkan dengan ayah angkatku, maka kepandaiannya masih berbeda jauh sekali.” Katanya dengan tawar. “Kecewalah kau kalau mengatakan hendak membunuh Garuda Sakti, ki Darmakusuma.”

Wirapati menjadi tercengang. Heran ketika mendengar jawaban itu.

Tampaklah sikapnya tak memberikan sebuah kesan yang baik. “Adi, jangan   kau   menyebutkan   demikian.”   Katanya   kemudian.   

“Mustahil kalau kau tak mengerti, bahwa kalau aku berhasil membunuh

ayah angkatmu maka berarti akupun telah membalaskan perasaan sakit hatimu juga.!”

Candra Wulan baru sadar dan segera berlaku hati-hati, kini ia tak mau mengatakan sesuatu dengan tanpa dipikir. Ia percaya kalau anak dari Ki Pandu Pregolo maka setidak-tidaknya ia tahu pula bagaimana asal mula permusuhan enam belas tahun silam. Karena itulah ia lalu berpikir untuk memancingnya. Kalau berhasil bukankah dirinyapun akan tahu?! Karena itulah ia lalu pura-pura heran dan terkejut.

“Apa?” Katanya. “Apakah kau tak sedang angot?!” Tanyanya dengan berlagak mendirikan alisnya.

“Jika kau membicarakan tentang hal gala, maka ayah angkatmu itulah yang sedang angor.”

Mendengar ini muka Candra Wulan menjadi mengkerut dan hatinya benar-benar heran.

“Bagaimana?” Tanyanya.

Wirapati menghela napas panjang.

“Sebenarnya panjang sekali untuk menceritakan semuanya.” Katanya. “Dahulu, ayah angkatmu karena Tunggul Tirto Ayu, telah membunuh saudara angkatnya yaitu ayahmu ki Surokoco yang bergelar Tangan Sakti dari Juana. Kepada ayahmu itu aku harus memanggilnya sebagai paman. Sedangkan ayah angkatmu itupun telah membunuh ayahku sendiri yang bernama Pandu Pregolo dan bergelar sebagai Golok Emas. Setelah itu ia lalu melukai adik kandungnya sendiri yang bernama ki Jogosatru. Dengan adanya peristiwa ini maka ibumu lalu bunuh diri. Dan terpaksalah keluarga paman Surokoco meninggalkan seorang anak yatim piatu, dan anak itu adalah. kau sendiri.”

Mendengar cerita ini mau tak mau jantung Candra Wulan memukul dengan keras.

“Bagaimana, lalu bagaimana?” Tanyanya dengan cepat dan tak sabar lagi. Wirapati hanya tertawa.

“Jangan terburu-buru! Bukankah aku sedang bercerita?!” Katanya dengan tersenyum. “Hanya yang kuketahui juga tak banyak...... baiklah aku akan menceritakan semua apa yang kuketahui. Ayah angkatmu itu khawatir kalau setelah kau dewasa, kau nanti akan membalas dendam kepadanya. Karena itulah ia lalu membawamu dan mendidik serta merawat seperti anak kandungnya sendiri. Oleh karena ia mempunyai banyak musuh maka ia lalu melarikan diri dan menyamar sebagai nelayan dilaut kidul. Karena itulah tak banyak orang-orang yang mengetahuinya. Akan tetapi apa yang busuk akhirnya berbau juga. Demikianpun dengan 

ayah angkatmu itu. Akhir-akhir ini ia diketahui oleh Tengkorak Hitam salah

seorang pemimpin dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Karena Tengkorak Hitam itu kenal baik sekali dengan Pendeta Baudenda yang menjadi guru ki Jogosatru atau adik dari ki Darmakusuma ayah angkatmu itu. Diam-diam Tengkorak Hitam membuka rahasianya kepada Pendeta Baudenda. Hal ini dimaksudkan supaya pendeta Baudenda ini pergi menuntut balas atas muridnya dulu itu. Entah bagaimana, niat Tengkorak Hitam dan pendeta Baudenda telah bocor, ayah angkatmu itu lalu menukar namanya dengan memakai nama samaran yaitu ki Plompong. Akan tetapi biarpun bagaimana ia tetap ketahuan. Begitu aku datang untuk mencarinya, orang-orang Jipang Panolanpun datang untuk mencarinya. Kau tahu bahwa Jangkar Bumi ini adalah seorang pendekar besar dari Jipang Panolan. Jika kau tak menyebutkan namamu maka aku tak tahu bahwa kau ini sebetulnya adalah adi Candra Wulan.”

Mendengar keterangan ini Candra Wulan berpikir.

‘Pantas selama dirumah makan ia tak mau segera pergi.... syukurlah ia dapat mengalahkan Jangkar Bumi. Kalau tidak maka bagaimana aku ini, mati hidupnyapun belum karuhan.’

Karena inilah ia lalu menjadi ragu-ragu dan berpikir dengan keras. Wirapati segera melanjutkan keterangannya :

“Karena ayah angkatmu itu telah membunuh ayahku maka sudahlah sewajarnya kalau aku akan membunuhnya, yah membunuh untuk membalaskan dendam ayahku. Kuterangkan juga, bahwa waktu itu ayahku mati dengan sangat menyedihkan sekali, oleh ibuku aku lalu dikirim ke utara untuk belajar kepada bapa guru Wiku Ekalaya. Ketika itu aku baru berumur delapan tahun, disana aku belajar silat selama enam belas tahun lamanya.”

“Ilmu golokku memang belum sempurna, akan tetapi kiranya telah cukup kalau hanya untuk melayani ki Darmakusuma yang bergelar sebagai Garuda Sakti. Telah lama aku ingin sekali turun gunung untuk membalaskan dendam ayahku itu, akan tetapi berulang kali bapa Wiku mencegahku. Akan tetapi setelah aku mengetahui dimana adanya musuhku tak tahu mengapa hatiku tak tahan lagi. Huahaaaa... Huaahaaaa... Huahaaa... kau tahu kalau aku telah turun gunung secara diam-diam. Aku telah memikirkan kalau nanti urusan telah beres dan pembalasan dendam telah terlaksana. Aku hendak kembali keperguruan dan minta maaf kepada bapa Wiku.”

“Bagaimana dengan ibumu?” Tanya Candra Wulan, dengan sendirinya hatinya menjadi tertarik. “Kabarnya ibumu itu sangat tinggi ilmu silatnya. Benarkah itu?!”

Wirapati memandang gadis yang berada didepannya. Sejenak ia merenung. Kemudian barulah ia menjawab. Menjawab untuk meneruskan ceritanya : “Setelah ibu mengantarku ke Utara.” Demikian katanya. “Ibu lalu pergi 

merantau dan mengajak adikku Dyah Kembang Arum. Entah mengapa aku

tak tahu ibuku lalu menjadi pertapa. Sejak saat itu ibuku tak pernah kelihatan didunia kependekaran.”

Mendengar keterangan ini hati Candra Wulan menjadi terkesiap. Tiba- tiba ia teringat akan sesuatu.

“Dimanakah ibumu itu bertapa?” Tanyanya. “Bolehkah aku mengetahuinya?!”

“Boleh. Boleh sekali.” Jawab Wirapati dengan wajar. “Nanti saja setelah aku berhasil menuntut balas. Nah marilah sekarang kita lanjutkan perjalanan kita. Kalau kau memang senang berjalan bersamaku marilah kita sama-sama mencari Darmakusuma untuk membuat perhitungan dengan pembunuh orang tua kita.” Sejenak ia berhenti, akan tetapi segera meneruskan perkataannya :

“Adi apakah kau percaya kepadaku, dan hatimu kuat untuk menerjang orang yang selama ini kau anggap sebagai ayahmu sendiri?”

Candra Wulan tak segera menjawab. Ia tampak menundukkan wajahnya dan berpikir sejenak.

“Eh... tahukah kau mengapa ayah angkatku itu membunuh mereka?” tanyanya dengan tiba-tiba. “Tahukah kau apa sebab-sebabnya?!”

Wirapati menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku tak tahu dengan jelas.” Jawabnya. “Hanya kutahu kalau ayah angkatmu itu bukan orang baik-baik.”

Candra Wulan menjadi putus asa. Tentang permusuhan tiga keluarga keturunan Tiga Pahlawan Demak Bintoro itu  ia tahu dari  kakak seperguruannya, akan tetapi sebab-sebabnya kakak seperguruannya belum menceritakan. Justru sebab-sebabnya itulah yang ingin diketahuinya. Ia mengharapkan Wirapati mengetahui, akan tetapi tak tahunya pemuda inipun hanya menggeleng-gelengkan  kepalanya ketika ditanya tentang sebab-sebabnya. Karena itulah ia menundukkan kepalanya, dan berdiam diri. Wirapati menyangka kalau gadis itu tentunya tak percaya kepadanya.

Segera ia mengeluarkan sebuah tusuk konde perhiasan rambut dan sepotong anting-anting dari batu kumala.

“Kau lihat dua barang ini.” Katanya dengan keras. “Setelah melihat barang ini tak dapat kau tak mempencayai perkataanku lagi.”

Candra Wulan segera mengenal perhiasan rambut yang berada ditangan pemuda itu, dan segera ia menjawab.

“Apakah kau telah mengambil perhiasan rambutku itu dari tangan Jangkar Bumi?” Tanyanya.

Wirapati mengangguk. “Benar.” Jawabnya. “Coba kau tengok ujung perhiasan rambutmu ini. 

Ada tulisan apakah? Hem... barang begini berharga kau telah gampang-

gampang memberikan kepada orang lain.”

Candra Wulan lalu memeriksa perhiasan rambutnya itu dan diujungnya terdapat sebuah ukiran yang menulis huruf Wirapati. Tulisan ini sangat halus hingga kalau tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh tulisan ini tak akan terlihat.

Setelah itu Wirapati lalu mengangsurkan sebuah anting-antingnya tadi kepada gadis itu. Dan katanya :

“Disinipun terdapat sebuah ukiran huruf yang halus, kau dapat melihatnya atau tidak?!”

Setelah menerima maka Candra Wulan mengawasi anting-anting itu, dan ternyata didalamnya terdapat tulisan yang amat lembut sekali dan menuliskan namanya sendiri. “Candra Wulan”

“Apakah artinya ini?” Tanyanya dengan heran. “Mungkin kepunyaanmu dan kepunyaanku telah tertukar...?”

“Tahukah kau asal-usul dari perhiasan ini?” Tanya Wirapati sambil memandang gadis yang berada dihadapannya itu.

“Ini adalah tanda mata dari leluhur kita. Empat orang keturunan keluarga masing-masing mempunyai sebiuah benda perhiasan semacam ini.”

Candra Wulan heran bukan main, akan tetapi segera menjadi tertarik. “Bagaimanakah asal-usulnya benda itu?” Tanyanya.

“Persoalannya begini.” Wirapati lalu mulai bercerita. “Ketika ketiga keluarga kita telah berhasil bekerja sama mendapatkan Tunggul Tirto Ayu, untuk membuatnya tanda peringatan, maka mereka lalu membuat empat potong perhiasan, yaitu dua buah perhiasan rambut dan dua buah anting- anting. Masing-masing diujungnya diukir nama anak-anaknya. Empat buah perhiasan itu dihadiahkan kepada empat orang keturunannya. Dan menyuruhnya menyimpan untuk selama-lamanya. Perhiasan rambut diberikan oleh anak-anak perempuan, ialah kau dan adikku Dyah Kembang Arum. Sedangkan anting-anting itu diberikan kepadaku dan anak dari ayah angkatmu.”

Candra Wulan mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menyimpan kembali perhiasan rambutnya.

“Siapakah anak ayah angkatku itu?” 'Tanyanya kemudian. “Kenapa aku belum pernah bertemu muka dengan anak ayahku itu?”

Wirapati tertawa secara aneh sekali, ia menjadi geli karena melihat sesuatu kelucuan.

“Sekarang ini lebih baik kau tak segera mengetahuinya.” Katanya. “Ayah angkatmu itu banyak sekali musuhnya. Setiap hari ayah angkatmu itu selalu sibuk, tak tahu dimana ia akan menerima kematiannya, karena itulah tak mau ia membawa-bawa anaknya disampingnya. Tentu saja Darmakusuma tak   mau   kalau   harus   memutuskan   keturunannya   dari   

permukaan bumi ini. Oleh karena itu ia lalu mengirimkan anaknya ke

gunung Lawu, musuh besar kita itu telah memohon kepada gurunya yang bernama pendeta Argo Bayu untuk melindungi anaknya. Pendeta itu didalam ilmu silat memang menjadi seorang tokoh tersakti didunia ini, maka setelah anak itu belajar selama sepuluh tahun ia tentu akan mempunyai kepandaian yang berarti. Dikemudian hari apa bila kita bertemu dengannya maka kita harus berhati-hati.”

Dimata Wirapati ini, bukan hanya Garuda Sakti Darmakusuma saja yang menjadi musuh besarnya, akan tetapi juga anaknya.

Sekonyong-konyong Candra Wulan ingat akan pesan ayah angkatnya sebelum meninggal dunia. Bahwa orang yang terdekat dengannya harus ditambah lagi seorang, yaitu Mintaraga. Karena kecerdasannya ia lalu dapat berpikir. Ia percaya kalau Mintaraga ini tentu anak sejati dari ayah angkatnya ini. Mereka berdua ayah dan anak ini tentunya keturunan dari Tumenggung Malangyudo. Nama putra ayah angkatnya ini adalah Mintaraga. Mintaraga berarti keprihatinan. Dengan demikian ayah angkatnya ini memperingatkan kepada anaknya supaya berprihatin.

Mengingat demikian ini maka Candra Wulan lalu tertawa :

“Kakang Wirapati.” Katanya. “Biarpun kau pandai sekali memainkan teka-teki akan tetapi tak dapat memperdayakan aku. Aku tahu anak ayah angkatku ini tentunya bernama Mintaraga.

Mendengar ini Wirapati menjadi tercengang. Hal ini tak pernah disangka-sangkanya. Tentu saja ia ingin sekali menanyakan mengapa gadis ini dapat menerka dengan begitu tepat. Akan tetapi belum sempat ia membuka mulut, akan tetapi tiba-tiba saja dari belakangnya terdengar suara orang yang tertawa dengan nyaring sekali kemudian disusul dengan perkataannya :

“Adi Wulan dugaanmu itu memang tepat sekali, sedangkan ki Wirapati ini sedang mencariku untuk membalas dendamnya, bukankah demikian? Nah silahkan pergi kelaut Kidul. Aku akan menunggu di Karang Bolong.”

Wirapati dan Candra Wulan menjadi kaget. Suara ini datangnya terlalu mendadak. Hampir bersama mereka itu melompat dan memutar tubuhnya untuk melihat siapakah yang datang itu. Akan tetapi mereka tidak dapat melihat orang itu, hanya saja mereka melihat sebuah bayangan yang melesat dengan cepat dan menghilang dibalik pepohonan yang rungkut. Jaraknya ada kalau tiga puluhan langkah dengan mereka.

“Mintaraga.” Teriak Wirapati, ia tak melihat dengan tegas.

Terdengarlah sebuah suara yang tenang akan tetapi tegas, suara ini terang diucapkan dari kejauhan.

“Benar, aku adalah Mintaraga. Mari kita pergi kelaut kidul, dan aku akan menantikanmu di Karang Bolong ” Beda dengan suara yang pertama kali, suara ini terdengar berirama dan 

menyedapkan telinga, biarpun orangnya jauh akan tetapi seperti berdekatan

saja. Bahkan benar-benar bagaikan Mintaraga berkata dihadapan mereka dengan bahasa yang sedap dan indah didengar.

Wirapati menjadi terkesiap hatinya.

‘Terang sudah kalau ia telah mempunyai tenaga dalam yang hebat.’ Pikirnya. Sedangkan orangnyapun lenyap dalam sekelebatan saja. Maka ia lalu berkata kepada Candra Wulan :

“Adi, marilah kita susul dia.”

Mendengar suara Mintaraga ini, Candra Wulan mendapat kesan yang luar biasa. Hingga ia berdiri terpaku dan tercengang. Suara itu telah membuatnya membenci akan tetapi bukan membenci, dan suka akan tetapi bukannya menyukai....... ia tak menjawab ajakan Wirapati. Akan tetapi tiba- tiba saja ia mengejar oranng yang telah tak tampak itu.

Wirapati memang mengajak gadis ini untuk mengejar maka begitu melihat gadis itu telah lari iapun mengangkat kakinya untuk mengejar.

Sewaktu berlari, tiba-tiba saja pemuda itu mendengar panggilan nyaring dari Candra Wulan.

“Kakang Mintaraga, kembalilah kau.” Akan tetapi panggilan itu tidak memperoleh jawaban, sedangkan bayangannya saja tak kembali. Dan ketika mereka mengejar sampai diluar kelompok pepohonan, mereka cuma dapat mencium harumnya bunga dan kicauan burung-burung, akan tetapi Mintaraga telah lenyap bersama bayangannya.

Bukan main tergeraknya hati Candra Wulan, hingga ia berteriak lagi : “Kakang kau kembalilah kakang. Percuma saja kau pergi ke Karang

Bolong atau ke laut Kidul. Kembalilah kakang, apakah kau tak mendengar suaraku?!”

Wirapati menjadi heran ketika mendengar teriakan Candra Wulan itu. “Apakah arti katamu itu adi?!” Tanyanya.

Akan tetapi Candra Wulan tak menjawab, ia hanya menangis dengan sedih.

Namun setelah didesak terus oleh Wirapati, akhirnya gadis itu mau membuka mulutnya.

“Ayah angkatku telah meninggal dunia.” Jawabnya sambil menangis.

Mendengar perkataan Candra Wulan ini Wirapati menjadi sangat terkejut sekali.

“Apa? Apa kau bilang?!” Teriaknya dengan keras.

Candra Wulan tak dapat menguasai dirinya lagi, ia menangis dengan sesambatan hingga rimba kecil itu terasa bergetar oleh suara sedu-sedan Candra Wulan.

Biarpun bagaimanapun juga, mereka berdua telah hidup bersama-sama skala enam belas tahun. Dan enam belas tahun ini bukannya waktu yang singkat saja. Mereka benar-benar telah menjadi seorang ayah dan anak yang 

sejati. Karena itulah maka Candra Wulan tak segera terpengaruh dengan

keterangan yang mengatakan bahwa ayahnya telah mati dibunuh oleh ayah angkatnya yang selama ini hidup bersamanya dengan perasaan penuh kasih sayang.

Wirapati berdiri melongo, tak tahu ia harus berbuat bagaimana. Dengan begitu ia lalu membiarkan saja gadis itu menangis dengan sepuas-puasnya. Akan tetapi setelah kesekian lamanya barulah ia membuka mulutnya :

“Sebetulnya bagaimanakah duduknya persoalan itu?” Demikian tanyanya. “Adi Candra Wulan lekaslah kau beritahukan kepadaku.”

Candra Wulan mencoba menenangkan hatinya.

“Nanti akan kuberitahukan.” Jawabnya sambil berusaha menghentikan suara tangisannya. Dengan cepat ia menguatkan hatinya, maka ia menceritakan perihal yang menimpa Darmakusuma, yang kemudian memakai nama sebagai ki Plompong yang sudah meninggal dunia. Sebabnya Darmakusuma telah dengan berani memenuhi undangan Pendeta Baudenda, untuk mencari paman gurunya di pulau iblis pusat perkumpulan orang- orang Tengkorak Berdarah. Hingga dengan demikian ki Plompong terpaksa meninggal ditangan paman gurunya sendiri. Ia menceritakan juga bagaimana mereka bertempur dengan kawanan perompak, dan setelah kakak seperguruannya menegur eyang gurunya ia lalu disuruh pergi.

Wirapati berdiam diri setelah mendengar habis penuturan gadis itu.

Kemudian hatinya menjadi tawar.

“Sia-sia saja aku mencuri turun gunung.....!” Katanya dengan sangat menyesal. Kembali ia berdiam diri lagi. Ia masih memikirkan keterangan gadis yang berada dihadapannya itu. Suatu keterangan yang sangat ruwet sekali.

Akan tetapi selang beberapa lama kembali Candra Wulan membuka mulutnya lagi :

“Kau bilang kalau ayah angkatku itu jahat, akan tetapi sebaliknya kakak seperguruanku mengatakan kalau ayah angkatku itu adalah seorang yang baik budi.” Demikianlah katanya kepada Wirapati. “Biarpun bagaimana juga aku tak dapat segera percaya akan perkataanmu.”

“Baik begini saja.” Jawab Wirapati. “Marilah kita pergi ke Laut Kidul dan menuju ke Karang Bolong. Disana kita akan menemui Mintaraga, untuk berbicara dengannya. Kemudian kau boleh menimbang keterangan yang betul antara keteranganku dan keterangan kakak seperguruanmu. Permusuhan antara ayah kita ini rupa-rupanya tak gampang-gampang dipecahkan. ”

“Baik” Jawah Candra Wulan dengan setuju. Ia dapat memikir dengan cepat. Jenasah ayah angkatku itu tenggelam di laut Timur, hal ini tentu harus kuberitahukan kepada kakang Mintaraga supaya ia berusaha untuk mencari 

dan mengangkatnya. Hanya...”

Lalu ia seperti berkata dengan dirinya sendiri. Suaranyapun kedengaran sangat pelan.

“Kalau kakang Mintaraga tetap membawa sikap yang demikian, seperti seekor naga sakti yang mau menampakkan kepalanya akan tetapi tak mau memperlihatkan ekornya, tak mau ia menemui kita. Habis bagaimana? Tidak lain aku harus pergi kegunung Muria untuk menemui Woro Keshi untuk mohon keterangan perihal permusuhan enam belas tahun yang lalu.

Dengan ada maksudnya, Wirapati lalu menatap tajam-tajam kearah gadis yang berada didepannya itu. Akan tetapi ia tetap berdiam diri saja. Kemudian barulah ia menuntun kudanya yang hanya tinggal satu.

“Adi, kau naiklah.” Katanya. “Marilah kita pergi ke Laut Kidul dan terus ke Karang Bolong.”

Candra Wulan berbicara kepada dirinya sendiri untuk memancing supaya kawannja itu mau bercakap-cakap tentang diri Woro Keshi. Akan tetapi ternyata harapannya ini gagal. Wirapati tetap menutup mulutnya, terpaksalah ia tak dapat mencari keterangan yang lebih jauh dan segera melompat keatas pelana kuda itu.

“Kakang Wirapati, kau juga naik.” Ajaknya.

Gadis ini sama sekali tak malu-malu, ia tak akan malu untuk berdekatan dengan seorang pemuda, karena untuknya itu tak akan ada artinya. Sebagai nelayan ia pergi menangkap ikan dengan nelayan-nelayan lelaki. Karena itulah perkataannya inipun diucapkan dengan wajar. Tidak demikian dengan Wirapati, mukanya menjadi merah sampa ketelinga.

“Kau naiki saja, dan aku akan mengikutimu.” Jawab Wirapati. Candra Wulan segera menarik les kekang kudanya. Kemudian menjalankan kudanya, akan tetapi kali ini tidak cepat namun juga tidak lambat.

Wirapati lantas mengikutnya, ia menggunakan ilmu lari cepatnya dengan begitu ia dapat mengikuti jalannya kuda yang ditumpaki oleh Candra Wulan. Setelah beberapa lama mereka mengadakan perjalanannya tiba-tiba saja mereka menghentikan langkah dan menarik les kekang kudanya karena mereka mendengar kalau dihadapan mereka terdengar suara peraduan senjata, terang kalau ada orang yang sedang bertempur.

“Mari kita lihat.” Seru Candra Wulan yang terus melompat turun dari atas kudanya dan segera menghunus pedangnya. Setelah itu ia lalu lari keatas tanjakan.

Wirapati melompat untuk mengikuti Candra Wulan.

Ternyata didepan mereka ada sebuah lembah, dan dilembah inilah Wirapati menghajar Jangkar Bumi dengan secara hebat. Disitu tampak ada serombongan orang yang sedang mengepung anak muda, dan pertempuran mereka itu berjalan dengan hebat sekali. Panaslah hati Candra Wulan ketika melihat orang-orang itu main 

keroyok.

“Puluhan orang mengeroyok seorang anak muda, apakah ditempat ini telah tak ada aturan-aturan dari kaum persilatan?” Katanya dengan sengit. Lalu sambil berseru demikian ia melompat maju untuk menyerbu. Ia sama sekali tak mau tahu, siapa mereka dan mengapa mereka mengadu nyawa ditempat itu.

“Hee... tunggu dulu!” Cegah Wirapati sambil menarik lengan Candra Wulan. Kemudian ia berkata dengan pelan :

“Kita mesti melihat dahulu dengan tegas, jangan sembrono menurunkan tangan.”

Ternyata para pengeroyok itu ada tiga puluhan orang. Diantara mereka itu terdapat pula Jangkar Bumi dan kawan-kawannya.

“Aku tahu mereka siapa.” Kata Wirapati kemudian. Mereka adalah jago- jago pilihan dari kerajaan Jipang Panolan.”

Sedangkan anak muda yang dikeroyok itupun belum tua. Wajahnya cakap, gerak-geriknya lincah, umurnya kurang lebih baru dua puluh tujuhan tahun.

Paras muka pemuda yang dikeroyok oleh orang Jipang itu mirip dengan Ki Plompong atau ki Darmakusuma.

‘Mungkinkah dia?’ Kata Candra Wulan didalam hatinya. Rupa pemuda ini mirip sekali dengan Garuda Sakti. Ia ragu-ragu akan tetapi jantungnya memukul dengan keras. Meskipun begitu ia menuruti apa yang dikatakan oleh Wirapati. Ia membatalkan gerakannya untuk melompat maju, sebaliknya bersama-sama bersembunyi dibalik pohon besar.

Anak muda itu kelihatan gagah sekali, biarpun dikepung oleh puluhan musuh, akan tetapi gerakan pedangnya masih tetap bebas dan leluasa seperti tak menghiraukan jumlah musuhnya yang besar itu. Mereka mengurung, merangsek dan membuat senjata-senjatanya sering beradu dengan senjata- senjata kawan-kawannya.

Seorang bermuka merah, yang mempunyai tubuh besar. Rupa-rupanya orang itulah yang mengepalai rombongan itu. Orang itu tampak tak puas melihat kalau anak buahnya ini tak dapat segera membekuk pemuda itu. Ia mendongkol dan hatinya menjadi panas. Tak ayal lagi ia lalu dan berseru :

“Jika aku tak dapat menangkap bocah ini maka jangan panggil aku Kolo Maruto.” Lalu menerjang dengan goloknya yang besar menyerang pemuda ini.

Pemuda itu tertawa pelan, akan tetapi tidak menangkis. Hanya sambil mengelak sedikit kesamping, dengan cepat ia menusuk lengan lawannya.

Kolo Maruto terkejut dan cepat-cepat menarik kembali tangannya. Biarpun ia sangat cepat akan tetapi gerakan pemuda itu ternyata lebih cepat lagi. Dan ketika sinar hijau dati pedng itu berkelebat maka lengan knannya 

kena ditikam.

Kolo Maruto merasa sakit, akan tetapi ia tak berteriak. Karena tangannya terasa sakit, ia lalu memindahkan goloknya ketangan kiri.

“Jika kita tak dapat menangkap anak muda ini mana kita punya muka untuk menghadap kedepan junjungan kita sang adipati Ario Jipang. Demikian serunya. Ia menggertak giginya dan terus menyerang pula dengan sengit. Ternyata Kolo Maruto ini dibantu dengan anak buahnya yang terus menjadi semangat setelah medengar perkataan ARIO JIPANG. Mereka itu seperti menghujani pucuk-pucuk senjata kearah lawannya.

Masih saja pemuda ini tak takut sama sekali, bahkan ia lalu melawan dengan tak kalah hebatnya. Hanya setelah melindungi dirinya dengan ilmu pedang penahan serangan, ia mencoba menahan serangan-serangan lawan sambil tertawa :

“Mana ARIO PENANGSANG? Kalau kalian dapat menunjukkan dan membawanya kesini maka aku akan memberi ampun kepada kalian.”

Kolo Maruto menjadi heran dan penasaran ketika melihat sikap itu. Kelihatan kalau pemuda itu sedikitpun tak takut melihat kurungan yang mengurung dirinya itu. Karena herannya ia sampai tak dapat membuka mulutnya.

“Baiklah.” Kata pemuda itu ketika melihat lawannya tak menjawab. “Kalian tak akan bicara, maka akupun tak berdaya, akan tetapi aku khawatir kalau kalian semua tak akan dapat meloloskan diri dari lembah ini.”

Setelah berkata demikian maka pemuda itu lalu menggerakkan pedangnya dengan lebih cepat lagi. Menyerang ketimur-kebarat, selatan dan utara. Beberapa kali ia menggunakan tipuan, mengertak dan menyerang. Krena gerakannya ini sukar duduga-duga maka musuh-musuhnya menjadi repot. Apa lagi setiap kali senjata mereka bentrok dengan pedang pemuda itu maka senjatanya menjadi kutung.

“Bagaimana?” tanya pemuda itu. “Kalian mau bicara atau tidak?!”

Jangkar Bumi menjadi sangat marah. Sambil menggerakkan penggadanya ia berseru kepada kawan-kawannya :

“Kakang Kolo Maruto, mari maju. Jangan sampai kita orang-orang kepercayaan kerajaan Jipang Panolan menjadi kehilangan muka.”

Memanglah bagi rakyat atau orang-orang yang memihak kepada Jipang telah mengatakan kalau kadipaten Jipang Panolan ini sebagai kerajaan. Walaupun waktu itu masih menjadi kerajaan kecil yang telah mbalelo kepada kerajaan Demak.

Dan selain itu di Jipang ada dua puluh satu orang yang dianggap sebagai jago-jago pilihan. Mereka ini adalah jago-jago yang mempunyai kepandaian istimewa. Sedangkan Kolo Maruto ini adalah jago yang ke Tujuh belas. Sedangkan Jangkar Bumi adalah jago yang terakhir. Yaitu jago yang kedua puluh satu. Karena dialah yang ilmu silatnya paling lemah dan 

rendah. Akan tetapi ketika dilihat bagaimana mempermainkan Candra

Wulan, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian yang lain- lainnya.

Kolo Maruto menyambut seruan Jangkar Bumi, ia segera menyerang dengan hebat. Ia membarengi serangan yang sedang dilancarkan oleh Jangkar Bumi.

Tampaklah pemuda itu berpikir, tanpa mempergunakan kepandaiannya tak mungkin ia membuktikan kalau dua puluh satu jago Jipang ini tak ada tandingannya didunia kependekaran. Maka sewaktu ia menggunakan tangan kirinya untuk menyamplok golok besar Kolo Maruto, dengan tangan kanannya ia memukul penggada Jangkar Bumi dengan pedangnya. Hingga dengan demikian hati Jangkar Bumi merasa tergetar. Bagaimanapun juga. Jangkar Bumi tak dapat menarik kembali penggadanya.

“Hayo gunakan tenagamu.” Seru pemuda itu dengan tertawa. “K.au tak mempunyai tenaga sama sekali mana mungkin dapat digolongkan dengan dua puluh satu jago Jipang Panolan?!”

Ketika pemuda itu sedang berbicara Kolo Maruto menyerangnya dengan sebuah bacokan yang dahsyat. Kali ini ia mempergunakan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan tenaganya.

Pemuda itu ketika melihat datangnya serangan ia lalu melompat menghindar. Sambil menghindar ia lalu berjumpalitan dan menyambar golok musuhnya.

Kolo Maruto menjadi kaget setengah mati. Ia menjadi heran ketika goloknya dapat dipegang oleh lawannya, akan tetapi ketika ia berusaha menarik golok itu ternyata usahanya ini sia-sia belaka. Terlebih-lebih ketika ia merasakan bahwa goloknya terlepas dari tangannya. Justru golok itu menyambar kearahnya sendiri.

“Celaka.” Jeritnya, mengelak. Akan tetapi ia tak berhasil mengelakkan diri. Malahan ia menjerit lagi, sebab belakang goloknya telah menyambar kearah batuknya. Hingga dengan demikian batuk itu menjadi bengkak. Bengkak matang biru. Karena sakitnya ia lalu terhuyung-huyung dan jatuh tak sadarkan diri.

Melihat pemimpinnya roboh, kawanan jago Jipang itu berteriak-teriak maju untuk memberi bantuan.

Akan tetapi pemuda itu tak takut sama sekali, bahkan ia tampak menyerbu ketengah-tengah barisan orang-orang yang mengeroyoknya. Gerakannya sangat gesit bagaikan seekor kupu-kupu yang beterbangan diantara bunga-bungaan. Akan tetapi yang paling takut adalah Jangkar Bumi, penggadanya menempel dengan pedang lawan tak dapat dilepaskan lagi, karena itulah ia kena tarik sana tarik sini. Dua orang muda- mudi yang mengintai dibalik pohon itu menjadi 

kagum bukan main. Dimata mereka pemuda itu sakti luar biasa. Yang paling

hebat adalah sesaat kemudian rombongan orang-orang yang mengeroyoknya itu menjadi kaget, heran dan bingung dengan sendirinya. Sebab senjata mereka, tanpa diketahuinya, telah dirampas oleh musuhnya. Semuanya dilemparkan hingga turun ketanah bagaikan hujan saja....

Saking kagumnya Candra Wulan lupa akan dirinya sendiri. “Bagus... Bagus ” Serunya sambil bertepuk tangan.

Tentu saja pemuda itu dapat mendengar pujian dan tepukan tangan gadis itu.

“Siapa?” Tanyanya.

Baru sekarang gadis itu insyaf bahwa ia telah berbuat salah. Sambil menutup mulut, ia menyembunyikan diri dibelakang tubuh Wirapati.

Sampai disitu pertempuranpun telah berakhir. Semua pengurungnya menjadi takut, lalu mereka memutar tubuh dan meninggalkan gelanggang.

“Ah. kalian akan kabur?” Seru pemuda itui. “Jangan harap.”

Dengan tangan kiri pemuda itu menyambar seorang musuh yang terdekat. Kemudian ia pakai untuk melempar musuh yang berada didepannya. Hingga mereka roboh terguling bagaikan batu bersama musuh yang dipakai untuk melempar.

Pemuda itu tak berhenti disitu saja, ia lalu menyerang lebih jauh kepada musuh-musuhnya. Hingga mereka kebanyakan tak berani melarikan diri lagi. Luar biasa sekali gerakan kaki dan tangan pemuda itu. Sambil berlompatan ia lalu menotok jalan darah musuhnya hingga rubuh tak berkutik. Semuanya mengelakkan diri, malahan banyak yang memperdengarkan suara rintihan menahan perasaan sakitnya.

Tiba-tiba saja terdengar teriakan nyaring :

“Hei... bocah, siapakah kau ini!” Dan bersama dengan itu muncullah seorang tua yang mukanya kasar bekas terserang penyakit cacar begitu berkelebat dan berada didepan anak muda itu ia lalu menyerang untuk menghanam batok kepala si pemuda.

Inilah sebuah serangan cepat dan berat, bagaikan gunung runtuh mengguruk laut.

Pemuda itu melihat bahaya mengancam dirinya, ketika orang tua itu berseru dan muncul, ia memang telah berpaling. Dengan sebat dan luar biasa ia lalu mengelak kesamping.

Orang tua yang sakti itu menyerang lagi. Begitu melihat serangan pertamanya gagal ia lalu menyerang untuk yang kedua kalinya.

Melihat ini pemuda itu terkesiap juga, sambil mengelak ia menarik kembali pedangnya. Lalu dengan tangan kirinya ia menyambut serangan itu untuk menangkis. Menangkis keras lawan keras. Akan tetapi mendadak orang tua itu melompat kesamping. Pemuda itu tak kenal siapa adanya orang sakti itu, yang sebenarnya 

adalah ki Paku Waja orang keenam dari jago-jago kerajaan Jipang Panolan.

Kakek tua ini bersenjata sebuah tongkat pendek karena ia adalah seorang ahli dalam tenaga kasar. Selain itu ia adalah paman guru dari Jangkar Bumi. Karena mukanya yang kasar dan bopeng itu, maka orang-orang dunia persilatan memanggilnya sebagai si Bopeng. Ternyata kedatangannya ini ialah hendak menolong murid keponakannya. Akan tetapi apa lacur? Ia kalah gesit dengan pemuda itu, biarpun ia telah melompat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh disebut Burung Sriti Menyambar Gelombang. Kakek ini melompat sambil berusaha menghindarkan bentrokan dengan tangan kiri lawannya. Akan tetapi ia ketinggalan. Pemuda ini setelah gagal mengadu kekuatan dengan kakek tua itu, lalu mendupak kearah Jangkar Bumi hingga dengan demikian jago terakhir dari Jipang itu terjungkal jatuh.

Bukan main gusarnya kakek Bopeng itu. “Bocah, beritahukan namamu.” Bentaknya. “Hai... bocah, siapa kau ini?!

Tiba-tiba muncullah seorang tua menyerang untuk menghantam batok kepala pemuda itu......

Pemuda itu mengawasi sambil tertawa lebar. Setelah tersenyum-senyum ia lalu menjawab : “Kau   tentunya   si   Bopeng   yang   bernama   Paku   Waja.”   Katanya.

“Bukankah kedatanganmu kemari ini karena hendak mencari ayahku? Maka sekarang lebih dahulu kau coba kepandaian putranya.”

Memang sebenarnya pemuda itu adalah Mintaraga putra dari ki Darmakusuma yang bergelar sebagai Garuda Sakti. Pemuda ini telah turun gunung untuk menengok keadaan ayahnya. Selain itu juga untuk memberi bantuan kepada ayahnya, karena ia mendengar kabar kalau ada orang yang ingin mencari ayahnya dan akan dibuat susah. Selama ia tinggal diatas puncak Lawu, pemuda ini telah mendapat gemblengan yang sempurna dari gurunya, pendeta Argo Bayu. Karena kecerdasannya maka ia lalu dapat menerima segala pelajaran yang diberikan oleh gurunya itu. Untung juga baginya, karena selain cerdas dan rajin iapun terkenal sebagai seorang yang ulet. Juga suatu kebetulan sekali bagi Mintaraga, kalau sebelum turun gunung ia juga telah mempelajari ilmu yang khusus dipakai untuk menghadapi jago-jago dari kerajaan Jipang Panolan yang akan mengganggu ayahnya.”

“Ha.... benar dia!” Kata Wirapati dan Candra Wulan yang bersembunyi dibelakang pohon. Kalau Wirapati menjadi tercekat, Candra Wulan menjadi sebaliknya menjadi girang sekali dan segera berkata :

“Hebat sekali kepandaianmu kakang Mintaraga, pantas saja ayah angkatku dapat mati dengan meram, tak tahunya mempunyai seorang putra yang demikian gagahnya.”

Wirapati menjadi tercekat ketika mengetahui kehebatan pemuda ini. ‘Mintaraga begini gagah, bagaimanakah nanti aku dapat melawannya?’

Maka hatinya menjadi dingin sendiri. Kemudian pikirnya. ‘Candra Wulan bakal jadi kepunyaanku, akan tetapi ia tak sanggup untuk melawan seorang seperti Jangkar Bumi. Mana ia sepadan untukku? Ah... aku harus minta kepada ibu supaya ia menggemblengnya terlebih dahulu...”

Wirapati baru bertemu dengan Candra Wulan mengapa telah berpikir demikian? Apakah sebab-sebab dari jodoh mereka?!

Tapi mereka itu tak sempat berpikir lebih banyak lagi. Di medan pertempuran ki Paku Waja telah tertawa dengan lebar :

“Bagus.” Katanya dengan kegirangan. “Lebih dahulu makan anaknya baru nanti makan biangnya. Inilah yang dikatakan sekali tepuk dua nyawa.” Ia lalu mengeluarkan tongkatnya yang hitam mengkilat kemudian dengan ini ia terus menyerang.

Mintaraga lalu menyimpan pedangnya dan melawan kakek sakti ini dengan mempergunakan tangan kosong. Karena gerakan mereka itu sangat cepat maka sepuluh jurus telah dilalui dengan cepat. Selama itu Paku Waja telah memperlihatkan kegagahannya. Ia benar-benar berbeda jauh sekali kalau dibandingkan dengan Jangkar Bumi. Senjatanyapun sangat hebat.  

Setelah keduanya bertempur lagi selama delapan jurus, tiba-tiba mereka

mendengar suara orang tertawa dengan pelan dan berkata dengan seenaknya

:  

“Heh Paku Waja, mengapa untuk melayani seorang bocah yang belum hilang kuncungnya saja mukamu telah menjadi merah? Apakah kau mendadak sakit?!”

Mintaraga segera mendesak mundur ki Paku Waja, setelah itu ia lalu berpaling untuk melihat siapa adanya orang yang datang itu. Ia yakin kalau ada orang yang berani berkata seenaknya saja kepada Paku Waja maka orang itu tentunya mempunyai kepandaian yang tinggi........