Tunggul Bintoro Jilid 01

 
JILID I

LAUT selatan adalah sebuah laut yang terkenal mempunyai gelombang besar. Bahkan konon kabarnya dilaut itulah bersemayam seorang ratu putri dari bangsa Iblis, Setan, Tetekan dan para lelembut yang terkenal dengan namanya NYAI LORO KIDUL.

Ditengah lautan lepas sebelah selatan pulau Jawa ini tampaklah sebuah perahu layar yang bertiang satu. Perahu kecil ini tampak sedang dipermainkan oleh ombak. Akan tetapi semua yang menjadi penumpangnya tetap tenang-tenang saja, bahkan delapan orang anak perahu itu masih tetap bekerja dengan keras mengurusi perahunya.

Disamping mereka itu tampaklah tiga orang yang paling menarik perhatian. Ketiga orang ini bahkan tampak tenang-tenang saja. Tenang memandang kearah permainan kakek lautan.

Seorang diantara ketiga orang ini adalah seorang kakek yang berusia telah lanjut. Mukanya lesu, akan tetapi tubuhnya sehat sekali. Kakek ini kira- kira baru berumur lima puluhan tahun.

Yang kedua adalah seorang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluhan tahun. Tubuhnya kekar, kulitnya hitam. Matanya bersinar tajam. Dia berdiri disisi kanan orang tua itu.

Sedangkan yang berdiri disisi kiri adalah seorang gadis yang bertubuh langsing, alisnya melengkung tajam, matanya hidup. Parasnya cantik. Gadis ini kira-kira baru berumur tujuh belasan tahun. Atau paling banyjak delapan belas tahun.

Mereka bertiga berdiri disebelah kanan perahu. Sambil sedakep mereka memandang kearah laut lepas. Mengawasi dan pulau besar dan pulau-pulau kecil yang tampak dihadapan mereka. Mereka tenang. Tak seorangpun di antara mereka yang mengeluarkan percakapan.

Ketika itu adalah musim penghujan, angin sangat kencang. Udara sangat panas sebelum hujan turun. Maka tak mengherankanlah kalau ketiga orang itu memakai pakaian yang tipis. Untuk menahan panas dikepalanya mereka bertiga memakai sebuah topi bambu (caping). Karena capingnya inilah maka mereka mirip sekali dengan nelayan-nelayan didaerah selatan situ. Hanya perbedaannya dengan para nelayan kebanyakan ialah mereka bertiga ini menyandang sebilah pedang.

Kakek tua itu tampak terpesona memandang keindahan dari panorama lautan. Sedangkan laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluhan tahun itu kadang-kadang kelihatan mendongakkan kepalanya keatas memandang   

kearah langit. Agaknya sedang memperhatikan perubahan udara itu.

Sedangkan gadis muda itu menutup rapat-rapat mulutnya yang mungil. Dari wajahnya ia tampak tak sabaran. Tampaklah kalau gadis itu sedang mengharap-harap salah seorang dari kawannya itu membuka percakapan dan mulai bicara. Memang gadis itu tak senang dengan keadaan yang membisu. Bisu bagaikan dalam kuburan.

Sesudah sekian lamanya mereka tetap tenang-tenang dan tak ada yang membuka suara. Hanya angin dan deru ombak gelombang saja yang terdengar. Gemercik kecil ombak-ombak yang memecah ditepian perahu mereka terdengar dengan jelas. Namun tiba-tiba saja kakek tua itu memecah kesunyian :

“Satu kali telah sampai kepulau Iblis. Maka itu adalah dunia mereka   ”

Demikianlah kata orang tua itu dengan pelan. Akan tetapi setiap kata- katanya diucapkan dengan jelas. Pulau Iblis sekarang terkenal namanya dengan pulau Nusakambangan.

Mendengar perkataan ini orang yang berusia kurang lebih empat puluhan tahun tampak berduka sekali. Ia sebenarnya ingin ikut bicara. Akan terapi tiba-tiba saja gadis itu mendahuluinya.

“Biar itu sarang mereka, kita toh akan memasukinya juga. Kita mesti bisa masuk dan keluar dengan merdeka.” Setelah berkata demikian gadis kecil ini lalu mencibirkan bibirnya dan kembali meneruskan perkataannya :

“Hendak kulihat siapakah yang berani menghina kita?”

Kata-kata ini disusul dengan tercabutnya sebilah pedang yang mengeluarkan sinar berkilau-kilauan. Pedang itu lalu diputar-putar dan dibacok-bacokkan keudara. Setelah melakukan gerakan demikian maka kembalilah gadis itu berseru :

“Siapakah berani mengganggu ayahku? Meskipun hanya mengganggu seujung rambutnya saja pasti akan kuajak ia berkelahi. Ia harus menghadapi pedangku ini.”

Tampaklah kalau kakek tua ini sangat menyayangi gadis itu. Maka begitu melihat tingkah laku gadis ini ia lalu tersenyum. Hatinya gembira dan bangga hingga kulit mukanya yang kisut menjadi merekah bersama dengan senyumannya, dan kakek itu lalu berkata :

“Nini.” katanya dengan sabar dan halus. “Tadi aku telah bilang jangan kau keluar. Kalau toh nanti kau melihat apa yang terjadi dan apa yang menimpa diriku maka kularang kau ikut turun tangan. Mengertikah kau?”

Gadis kecil itu bernama Candra Wulan. Begitu mendengar perkataan kakek itu ia lalu memasukkan pedangnya kedalam sarungnya. Gadis itu memang sangat patuh dan menurut kepada ayahnya. “Ayah aku akan mematuhi segala perkataanmu.” Katanya dengan pelan.   

Setelah menarik napas panjang maka kembali terdengar perkataan, gadis

kecil itu :

“Hanya mereka itu   ”

Akan tetapi tiba-tiba saja wajah orang tua itu berubah menjadi keras.

Keras penuh perbawa.

“Sudah..... sudahlah. Jangan kau bicara lebih jauh.” Bentaknya dengan keras.

Mulut gadis itu bergerak-gerak, agaknya ia tak puas. Laki-laki yang berusia kira-kira empat puluhan tahun itu melihat, dan segera ikut bicara :

“Adi Candra” katanya, dengan sungguh-sungguh. “Kali ini kau harus mendengar dan mematuhi perkataan ayahmu. Dalam sehari ini jangan kau menarik keluar pedangmu.”

Mendengar perkataan   ini   gadis   itu   lalu   mendelikkan   matanya.

Kemudian ia berkata dengan suara yang kaku. “Lalu kau?”

Lelaki yang ditanya itu tak menjawab, hanya mengawasi kepada kakek tua yang berada disampingnya.

Candra Wulan tertawa dingin, kemudian ia menutup mulutnya, dan matanya yang tajam ia lalu memandang kearah gelombang laut dan sambaran-sambaran naik turun dari burung laut. Burung-burung yang terbang tinggi rendah untuk mencari makan. Tapi rupa-rupanya otaknya diputar dengan keras, tak dapat ia menenangkan hatinya yang panas. Sekonyong-konyong gadis itu berteriak :

“Ayah, aku akan ikut kau mati.”

Setelah berkata demikian ia lalu menubruk kecuali ayahnya, menjatuhkan dirinya didalam rangkulan kakek tua itu. Dari mulutnya terdengarlah suara sedu sedan tangisannya.

Mata orang tua itupun berlinang-linang penuh dengan air mata. Ia memeluk putrinya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya dipakai untuk membelai-belai rambut yang panjang dan bagus itu. Kakek itu berduka, akan tetapi tertawa, tertawa mengandung kesedihan.

Mendengar suara tawa ayahnya ini, maka tampaklah kalau gadis kecil itu lalu mengangkat mukanya. Selama beberapa hari ini ayahnya tak pernah tertawa, dan inilah tawa yang pertama beberapa hari ini. Maka begitu mendengar suara tawa, bangkitlah harapannya.

“Ayah.” Katanya dengan perlahan. Setelah menyaksikan kalau perkataannya ini tak menimbulkan reaksi apa-apa maka ia lalu melanjutkan perkataannya :

“Perjalanan ini toh tak ada bahayanya bukan?!” Kembali orang tua itu tertawa, lalu katanya :

“Tidak!” Perkataan ini diucapkan dengan pelan, akan tetapi tegas sekali. Candra Wulan menjadi gembira, dengan begitu ia lalu menghentikan   

tangisnya.

“Ayah kalau demikian kau mesti berjanji kepadaku.” Katanya. “tidak, aku tak mau mengerti kalau ayah tak berjanji terlebih dahulu kepadaku ”

Orang tua itu menatap tajam-tajam kepada gadis itu, dan kemudian tampaklah, tangannya dijulurkan dan memegang dagu gadis itu untuk diangkat.

“Dia.... dia..... mirip sekali dengan  ibunya....” Katanya dengan  pelan.

Setelah berkata demikian ia lalu berbicara kepada anaknya ini :

“Nini lekaslah kau bicara, kalau ayahmu ini sanggup pasti aku akan meluluskan permintaanmu.”

Mendengar perkataan ayahnya ini maka gadis itu lalu berkata : “Ayah kau harus berjanji, bahwa... bahwa kau tak akan mati.”

Mendadak saja tubuh orang tua itu bergidik. Tangannya dilepaskan. Ia mengawasi anaknya itu dengan sinar mata yang tajam. Didalam hatinya ia berkata :

“Dengan perjalananku ini, aku pasti mati. Tahun ini adalah tahun yang keenam belas. Ah... aku pasti mengatakan peristiwa enam belas tahun yang lalu. Tak dapat aku merahasiakannya lagi. ”

Agak tetaplah hati orang tua itu, dan wajahnyapun menjadi bersungguh-sungguh.

“Nini Candra Wulan bukannya....” Baru kakek ini berkata demikian, tiba-tiba saja dipotong oleh lelaki yang berusia empat puluhan tahun itu.

“Guru lihat! Apakah itu?” Perkataan ini diucapkan dengan suara kaget dan wajahnyapun menjadi tegang.

Mendengar perkataan ini orang tua itu menunda perkataannya, kemudian ia melihat kearah muridnya yang masih menunjuk.

Jauh disebelah depan mereka tampak sebuah perahu layar yang berlayar kain hitam. Perahu layar itu bergerak maju dengan cept sekali mengikuti jalannya angin dan memecah gelombang. Pesat, bagaikan anak panah lepas dari busurnya.. Diantara layar hitam itu tampak pula sebuah bendera berbentuk segitiga dan didalamnya terdapat gambar Tengkorak.

Melihat ini muka orang pertengahan umur itu menjadi pucat. “Tengkorak Hitam. Pimpinan ketiga dari perkumpulan Tengkorak

Berdarah telah datang sendiri.” Serunya. Rupa-rupanya ia mengenal pertanda dari pemimpin ketiga dari Tengkorak Berdarah.

Mendengar perkataan muridnya ini kakek tua itu lalu mengangguk- anggukkan kepalanya.

“Jangan kalian bersuara.” Katanya. “Biar aku nanti yang bicara dan menghadapinya.” Semua orang yang berada didalam perahu kecil itu menjadi tegang.   

Mereka tahu   kalau   perahu   yang   berada   didepannya,   dan   yang   kini

mendatanginya itu adalah musuh-musuh yang tangguh.

Begitu melihat perahu layar itu, maka seorang nelayan lalu menurunkan setengah layarnya untuk memperlambat kemajuan perahunya. Akan tetapi perahu itu tetap maju terus.

Dengan cepat perahu berlayar hitam itu telah sampai dimukanya, jaraknya tinggal sepuluhan jangkah saja. Tiba-tiba saja dari dalam perahu itu terdengar pertanyaan yang nyaring :

“Perahu layar didepan ini dari golongan manakah?”

“Kami adalah perahu nelayan dari Karang Bolong.” Sahut kakek tua itu. “Siapakah orang yang berada diatas perahu?!” Kembali suara tadi

bertanya lagi.

“Aku adalah nelayan tua yang bernama Plompong.”

Orang tua yang berada diperahu yang berlayar hitam itu lalu tertawa berkakakan.

“Orang tua kau tidak menyalahi janji.” Serunya. “Baiklah, kalau demikian berilah kami sesuatu untuk tanda mata.”

Si orang tua lalu memasukkan tangannya kedalam saku, setelah itu tangan kanannya diayunkan, dan melesatlah sebuah benda yang berwarna putih dan bersinar keperak-perakan, yang melalui perahu dan menyambar kearah tiang perahu yang berlayar hitam. Dan terdengarlah suara nyaring. Inilah sebuah bintang tiga.

“Tengkorak hitam bagaimanakah?” Serunya setelah melemparkan bintang tiga yang terbuat dari perak.

Orang yang berada diperahu depan itu kembali tertawa dengan bergelak-gelak. Dan lalu katanya :

“Orang tua kau benar-benar hebat sekali, kau ikut kami.”

Tak peduli angin keras, perahu yang berada didepan itu terus memutar haluan. Sewaktu berputar tubuh perahu itu sampai miring, hingga tampaklah bagian perahu yang berlumut. Hal ini berjalan dengan cepat dan kembali perahu itu berlayar dengan arah tujuan yang baru. Akan tetapi tetap laju.

“Sungguh hebat!” Puji orang tua itu. Betapa tidak memuji kalau melihat kepandaian lawannya dalam memutar perahu yang masih mengapung diatas air. Ia segera menyuruh anak buahnya untuk memasang layarnya kembali. Begitu layar dipasang maka perahu orang tua itupun berlayar dengan laju dan mengikuti perahu yang berada didepannya.

Kali ini kedua perahu itu telah melintasi pulau-pulau kecil, sedangkan sepenanak nasi kemudian telah berlayar diluar teluk. Dan kembali kedua perahu itu berada dilautan lepas. Orang   tua    memandang    kemuka    dan    kemudian    menunjukkan    

telunjuknya kearah sebuah pulau yang besar. Pulau besar yang tak jauh dari

depannya.

“Nini Wulan, itulah pulau Iblis.” Ia memberi tahu kepada anaknya.

Mendengar ini terkesiaplah hati gadis itu, akan tetapi ia lalu berbicara dengan penuh semangat :

“Ayah jangan takut.” Demikianlah kata gadis itu. “Biarlah kita masuk dengan golok putih, akan tetapi nanti keluar dengan golok merah. Siapapun juga yang akan mengatakan ‘tidak’ ayah boleh menikamnya.”

Nelayan tua yang mengaku bernama Plompong itu menarik napas panjang.

“Aku tidak takut menghadapi mereka. Lebih-lebih aku tak takut mati.” katanya. Kemudian setelah menghentikan perkataannya itu kakek tua itu menyambungnya : “Hanya....” Ternyata sambungannya inipun tak diteruskan. Kembali suaranya terputus.

“Ayah berkatalah.” Seru gadis itu. “Ayah kau punya rahasia apakah? jangan takut kau beritahukanlah kepada anakmu ini.”

Nampaknya orang itu berpikir dengan keras.

“Nini Candra Wulan!” Katanya kemudian. Kali ini kedengaran kalau suaranya penuh dengan ketetapan. Setelah menarik napas panjang dan menenangkan hatinya kembali orang tua itu berkata :

“Selama enam belas tahun kita telah tinggal bersama-sama di Karang Bolong. Kau mencintai ayahmu, juga ayahmu mencintaimu. Bukankah begitu?”

Gadis kecil itu tertawa.

“Benar... benar bapa!” Sahutnya.

“Nini Candra Wulan....” Kembali kakek itu berkata, akan tetapi kali ini kembali kelihatan lesu. Namun setelah mengeraskan hatinya orang tua itu berkata dengan pelan, akan tetapi kedengaran jelas :

“Akan tetapi ketahuilah nini, kalau kau    kau ini bukannya anakku, dan

begitupun aku ini bukan ayahmu....” Setelah berkata demikian kembali kakek ini berhenti dan lalu berkata lagi :

“Hal ini seharusnya telah kuberi tahukan kepadamu dulu-dulu, cuma ”

Sekonyong-konyong saja perkataan orang tua ini terhenti. Karena diudara terdengar letupan keras yang sangat hebat. Ternyata suara ini timbul dari letupan guntur dan disusul dengan turunnya hujan lebat. Bersama dengan itu anginpun menyambar-nyambar, menderu-deru, dan kilat menari- nari diangkasa hitam. Semua ini terjadi diluar dugaan. Damparan angin itu menyebabkan perahunya miring, hampir terbalik kekiri. Barang-barang yang berada diatas perahu itu terguling-guling. Candra Wulan cepat menyambar tali yang berada dipinggiran perahu. 

Dengan cara inilah ia dapat mempertahankan dirinya. Ia berdiri terpaku,

bukan karena perubahan udara yang sangat mendadak itu. Melainkan karena mendengar perkataan orang tua itu tadi. Gadis itu merasakan kepalanya bagaikan menggelegar juga. Tubuhnya gemetar seperti tak tahu kalau guntur, kilat, badai dan hujan semua tengah menunjukkan angkara murkanya.

Mata gadis itu menatap kearah gelombang yang sedang mengamuk, dengan tiba-tiba ia teringat waktu enam belas tahun yang lalu. Ketika ayah dan anak hidup bersama-sama, mereka saling sayang menyayangi. Atau sekarang mendadak, ia bagaikan sebuah perahu kecil yang digempur gelombang dahsyat. Ia baru sadar ketika ombak mulai mendampar dan menampar perahunya. Hingga perahu itu terlempar beberapa jauh kemuka. Sedangkan mukanya disiram air laut yang dingin.

“Ayah kau dimanakah?!” Sekonyong-konyong gadis kecil itu berteriak tanpa melihat sekitarnya. Namun segera ia melihat kalau ayahnya ki Plompong sedang berdiri diatas kuda-kudanya dan memegangi tiang layar. Hingga bahunya yang kekar ini tampak menonjol dan mengagumkan.

“Ayah.” Kembali gadis itu memanggil dan segera lari mendapatkan laki- laki tua itu.

“Jangan lari, jangan bergerak!” Ki Plompong mencegah.

Bersama dengan seruan orang tua ini, kembali mereka dikejutkan karena perahunya dilemparkan gelombang hingga menjadi miring.

Waktu itu gadis kecil ini sadang berlari. Tiada pegangan untuknya. Dan tak ampun lagi tubuhnya rubuh terguling.

“Lekas bangun.” Seru Plompong. Setelah itu memerintahkan kepada anak buahnya bersiap-siap untuk melawan serangan badai.

Dengan pakaian basah kuyup anak perahu itu sudah bekerja lagi. Diantaranya ada juga yang menggunakan penggayuh. Didalam keadaan seperti ini layar mereka tak ada gunanya.

Candra Wulan telah menetapkan hatinya, ia meletakkan kedua tangannya kelantai perahu, untuk bangun berdiri lagi. Akan tetapi ketika ia hendak menarik tangannya, terasalah kalau tangan itu telah mengeras sebagai besi.

“Adi Candra Wulan, udara berubah secara hebat sekali. ” Iapun segera

mendengar suara yang halus dikupingnya. “Baiklah kau masuk kedalam untuk menyingkir dulu ”

Inilah suara lelaki pertengahan umur murid ki Plompong. Lelaki ini adalah kakak seperguruan dari Candra Wulan, dan namanya Tunggorono.

Gadis ini lalu berdiri, terus menarik tangannya.

“Apakah hanya kau seorang yang biasa menghadapi badai sebagai ini?

Katanya dengan tawar. “Hem   terima kasih atas kebaikanmu.” Tunggorono telah ketemu batunya. Akan tetapi ia tetap tertawa. Ia terus 

berdiam dan tak berbicara lagi. Hanya segera membantu para nelayan itu

untuk menguasai perahunya. Menguasai perahu untuk melawan bencana alam itu.

Didalam saat yang genting itu, tiba-tiba terdengar suatu suara yang nyaring, suara ini menembus guntur, kilat, angin dan hujan.

“Orang tua, angin badai sang naga telah datang, marilah kita berlomba.” Demikianlah suara tantangan ini.

Orang-orang yang berada didalam perahu ki Plompong adalah orang- orang yang telah berpengalaman. Mereka menjadi kaget ketika mendengar disebutnya : ‘angin badai naga’ itu. Demi mendengarnya nama badai ini maka muka mereka menjadi pucat pasi. Dengan tak terasa mereka saling berpandangan satu dengan lainnya. Mereka merasa kalau bulu kuduk mereka berdiri. Kemudian mereka semua menoleh kearah barat laut. Dari jauh tampaklah segulung sinar hitam yang, datang diantara kilat, yang masih terus didampingi oleh guntur. Benda hitam itu bagaikan seekor naga yang menuju kepermukaan laut.

“Naga... Naga...” Teriak para anak buah perahu itu.

“Tunggorono turunkan layar.” Teriak orang tua itu dengan lantang, dan tak lama kemudian terdengar kembali perkataannya :

“Cepat!”

Tunggorono cepat melakukan perintah gurunya. Segera ia menyambar tali layar. Tunggorono cepat menarik ketika angin meniup dengan keras. Biarpun ia telah memakai seluruh tenaganya akan tetapi tetap tak berhasil.

Candra Wulan segera memberi bantuan. Juga beberapa anak buahnya. Namun masih saja mereka tak berdaya. Kejadian telah begitu, tiba-tiba saja. Plompong melihat badai mendatangi dengan cepat sekali.

“Celaka...!” Keluhnya. Meskipun demikian ia toh melompat kedepan dan segera membantu.

“Patahkan saja tiangnya.” Teriak Tunggorono.

“Jangan.” Jawab orang tua itu dengan berteriak. Dengan mendadak, tubuhnya melompat, justru tepat dengan angin lewat. Dengan demikian tampaklah bajunya berkibar-kibar.

Melihat ini semua orang menjadi terkejut, sebab sekali orang tua ini terdampar maka tubuhnya akan tercebur kelaut.

“Ayah...!” Teriak Candra Wulan yang juga merasa khawatir karena melihat keras dan kencangnya angin yang bertiup waktu itu.

Akan tetapi Plompong menunjukkan keberaniannya, dan juga ketangkasannya. Biarpun angin kencang akan tetapi ia tetap pada kedudukannya dan tak terdampar olehnya. Dengan secepat kilat tangannya menyambar kearah tiang layar yang melintang. Karena ia tergantung maka tubuhnya terayun-ayun dipermainkan angin. Dengan demikian tubuh yang kekar itu bergantungan. Kakek itu memusatkan tenaganya. Lalu mengenjot 

diri, maka sampailah ia ketiang layar. Dengan tangan kirinya ia lalu

memeluk tiang itu, sedangkan tangan kanannya mencabut pedang, dengan pedang itu juga ia lantas membacoki kain layar perahu itu. Kemudian sambil mengempit pedangnya, lalu ia mengayunkan kepalannya untuk mematahkan tiang layar bagian atas. Begitu tiang layar patah maka layar itu turun dengan sendirinya. Naga.... Angin Badai Naga....! anak perahu berteriak kaget demi melihat gulung-gulung ombak setinggi rumah melanda perahu mereka.....

Setelah layar turun, masih saja ki Plompong tak mau berhenti. Dengan cepat orang tua itu mengayunkan pedangnya untuk menabas tali layar, bersama dengan terputusnya tali layar ini maka layar itu terbang dihembus badai yang sedang murka, hilang entah kemana.

Dengan hati lega, orang tua itu lalu melorot turun dari tiang layar. “Layar telah hilang, maka biarpun badai akan datang lagi kita tak usah

takut.” Katanya. Setelah berkata demikian maka orang tua itu lalu menengok kepada anak perahunya dan kembali ia membuka mulut :

“Kalian tenanglah ditempatmu masing-masing. Jangan hanya mondar- mandir. Berpeganganlah dengan keras. Lihatlah naga datang.” Benarlah kembali badai itu datang lagi. Bagaikan bergulung-gulung dan 

hebat sekali damparannya. Perahu itu sampai terangkat naik. Naik dan

kemudian dibanting, mengikuti ombak yang bergelombang tinggi.

Semua barang yang berada diperahu dan tidak diikat turut terbang dan hilang masuk kedalam. laut. Selagi badai menggulung maka dunia kelihatan gelap. Orang-orang itu merasa seperti diwaktu malam saja. Suara angin dan air memekakan telinga. Gunturpun selalu berdentum bersama dengan kilat yang berada di angkasa raya. Suara ini benar-benar telah membuat hati orang yang berada didalam perahu itu menjadi ciut.

Dalam saat yang hebat itu tiba-tiba saja terdengarlah jeritan Tunggorono

:

“Celaka.”

Seorang diri ia memegang kemudi, bahkan tidak hanya memegang

melainkan memeluk kemudi itu. Dengan mengerahkan tenaga lalu mulai mengendalikan perahu.. Kalau gelombang keras ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menjaga perahu itu. Akan tetapi tiba-tiba saja kemudi perahu itu patah. Saking kagetnya ia lalu menjerit.

“Sambar tali dan rantai!” teriak Plompong dengan keras.

Tunggorono memang mempunyai keberanian yang besar dan mengagumkan. Begitu mendengar perintah gurunya ia lalu melaksanakan.

“Mana adi Candra Wulan?” Tanyanya dengan masih ingat kepada adik seperguruannya. “Bagaimanakah dengan dia?!”

“Aku menyuruhnya ia berada didalam bilik perahu.” Jawab orang tua itu sambil memegang seuntai rantai, kemudian katanya lagi :

“Jangan kau cemaskan tentang dia. Kau jagalah dirimu baik-baik”. Oleh karena gangguan angin maka perahu itu berputar-putar.

Sambil memegang rantai dengan sebelah tangannya, ia lalu mengusap- usap air yang berada dimukanya. Dan ia mendongakkan mukanya kelangit, kemudian ia berkata dengan dirinya sendiri :

“Sama sekali tak akan kusangka kalau aku, bukan akan mati dibawah gerombolan Tengkorak Berdarah, namun aku justru mati ditengah laut...” Memanglah perahu kakek ini belum dapat melepaskan diri dari ancaman badai yang hebat itu. Ia melihat dengan jelas kalau perahunya telah rusak dan empat orang anak buahnya telah digulung oleh ombak. Sedangkan empat orang yang lain sibuk mengikat dirinya dengan tiang-tiang yang kuat didalam perahu itu. Dari kesekian banyak wajah, semuanya menunjukkan ketakutan yang amat hebat.

Tunggorono jongkok mendekam, tangannya memegang erat-erat pinggiran perahu. Orang inipun hanya diam saja.

“Ilmu memberatkan tubuh dari Tunggorono benar-benar tak dapat dicela.” Puji ki Plompong didalam hati. Sampai kesekian lamanya, masih saja perahu itu berputar-putar. Bahkan makin dipermainkan oleh angin. Namun 

syukurlah badai telah lewat. Kini tinggal angin biasa saja.

Badai dan taufan itu mengamuk kira-kira sepenanak nasi lamanya.

Kemudian setelah agak reda maka terdengarlah teriakan Tunggorono : “Sudah selamat... sudah selamat !”

Ki Plompong masih tetap pada kedudukannya. Karena ia telah tua maka sedikit menjadi pusing setelah dikocok dan diputar-putar oleh perahunya. Orang tua itu baru tersadar setelah mendengar teriakan dari muridnya itu. Dengan menguatkan hati ia lalu mulai memusatkan tenaga untuk melawan perasaan pusingnya. Setelah itu ia segera melihat kesekitarnya. Jauh didepan mata dekat dengan cakrawala tampak segulungan asap hitam yang makin lama makin menjauh. Itulah badai naga yang datang dengan mendadak dan pergi dengan cepat. Badai itu terkenal juga dengan nama Naga Gantung atau Naga Menghisap Air. Kalau diair ia akan membuat perahu-perahu banyak yang karam, akan tetapi kalau didarat ia akan mencabut pohon-pohon besar berikut akarnya. Itulah dia angin puyuh yang sangat menakutkan. Maka dapat dikatakan siapa saja yang berhadapan dengan angin ini maka jalan satu-satunya ialah menyerahkan nasib kepada yang membuat hidup.

Setelah angin benar-benar pergi dan keadaan kembali menjadi aman, sibuklah orang-orang yang berada didalam perahu itu untuk membetul- betulkan apa-apa yang rusak. Dan berusaha membuat perahu itu tetap dapat berlayar dan dipakai terus.

Candra Wulanpun segera keluar dari dalam bilik perahu. Tanpa diminta gadis ini lalu membantunya untuk memperbaiki kendaraannya itu. Kira-kira seperempat hari lamanya mereka membetulkan apa-apa yang rusak dan mengatur lagi muatannya setelah semuanya beres barulah hati mereka menjadi lega. Tentu saja mereka itu menjadi lelah, lapar dan haus.

“Huahh... celaka benar!” Maki salah seorang anak perahu. Ketika ia melihat bungkusan makanannya, makanan itu telah terendam air hingga menjadi asin. Dengan demikian makanan itu tak dapat dimakan lagi. Sedangkan air tawar yang mereka bawapun kini telah bercampur dengan air laut dan menjadi asin pula. Sambil menggerutu orang itu lalu melemparkan makanannya kedalam laut.

Dengan memeras otaknya maka kakek tua itu memandang kelangit dan mulai mempergunakan ilmunya tentang angin dan keadaan langit dapatlah ia menemukan arah mata angin. Dan ternyata angin badai tadi telah membuat perahunya kabur dari arah tujuan. Kini mereka berada disebelah tenggara pulau Iblis yang hendak mereka datangi.

“Ayah marilah kita kembali ke Karang Bolong saja.” Ajak gadis kecil itu. “Kita tak usah terus ke pulau Iblis.” “Mana dapat kita menghilangkan kepercayaan?” Jawab ayahnya. Dan 

kakek tua itu lalu memerintahkan kepada anak buahnya supaya memutar

haluan.

Kemudi yang patah itu kini telah ditukar dengan selembar papan yang dipakai untuk kemudi darurat. Sedangkan layar yang kini dipakai ialah kain baju yang mereka pakai tadi dan dijahit menjadi satu. Semuanya serba darurat.

Inilah keanehan dan kekuasaan alam. Ketika tadi badai datang maka laut menjadi kacau dan kini setelah angin puyuh itu pergi keadaan laut kembali menjadi tenang dan panorama yang indah telah muncul kembali menggantikan keseraman yang tadi selalu membayang diruang mata mereka.

Matahari yang merah itupun muncul diantara mega dan memancarkan sinarnya yang gemilang itu keempat penjuru jagat raya. Untuk pertama kali Tunggorono tertawa dengan terbahak-bahak dan tangannya menuding. Terus ia berkata dengan nyaring :

“Lihat itu disana! Bukankan itu perahu dari Tengkorak Hitam?!” “Tengkorak berdarah itu adalah sebuah gerombolan yang bersarang

dipulau Iblis. Juga perahu Tengkorak Hitam itu telah rusak tidak karuhan macamnya. Hilanglah sudah layarnya, jangkarnya, tiang layarnyapun telah patah.

Kembali Tunggorono tertawa lagi.

“Lihatlah Tengkorak Hitam juga telah menjadi buaya darat yang njedindil.” Katanya sambil menudingkan tangannya.

“Itu sudah selayaknya.” Jawab Candra Wulan dengan tersenyum.

Baru saja Candra Wulan mengatakan demikian, tiba-tiba saja dari arah perahu sana terdengar teriakan :

“Tolong... Tolong...”

“Bapa guru, kita tolongkah dia?” Tanya Tunggorono.

“Tolonglah dia.” Jawab Plompong dengan tanpa sangsi sedikitpun juga. Orang tua ini tak menjadi kegirangan, malah terbangunlah sifat kejantanannya dan timbul pula perikemanusiannya.

“Putar kemudi.” Perintah Tunggorono. “kekiri.”

Dengan cepat perahu ini menggeleser maju dengan lajunya menuju keperahu sebelah depan, perahu yang lebih kecil. Setelah jaraknya hanya tinggal beberapa langkah lagi maka Tunggorono lalu menggerakkan kakinya hingga tubuhnya mencelat kearah perahu itu, sikapnya bagaikan burung garuda terbang menyambar, indah dilihat.

Melihat ini Candra Wulan menjadi kagum, dan diam-diam didalam hatinya ia berkata : “Kakak seperguruanku   ini   sangat   menjemukan,   akan   tetapi   ilmu   

kepandaiannya telah mencapai tingkatan sempurna. Kalau dibandingkan

dengan aku...... ah.   berbeda sangat jauh!”

“Bagaimana ?” Tanya Plompong kepada muridnya.

“Hanya Tengkorak Hitam seorang saja.” Jawab muridnya. “Bagaimana dengan lukanya.” Kembali gurunya bertanya.

Setelah menarik napas panjang maka menjawablah Tunggorono dengan lantang :

“Lukanya agak berat.”

“Baiklah kau lempar dia kemari.”

Begitu mendengar perintah gurunya maka Tunggorono lalu melemparkan tubuh pemimpin ketiga dari perkumpulan Tengkorak Berdarah itu kearah gurunya.

“Sambutlah.” Teriaknya sambil melemparkan.

Tengkorak Hitam adalah seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar, akan tetapi karena Tunggorono mengerahkan seluruh tenaga dalamnya maka tubuh tinggi besar itu dapat dilemparkan bagaikan sebatang balok saja.

Plompong telah memasang kuda-kudanya, segera merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh yang dilemparkan kepadanya. Segera ia menotok jalan darah Tengkorak Hitam, hingga orang yang setengah pingsan itu menjadi tak ingat-ingat sama sekali.

Setelah meletakkan tubuh Tengkorak Hitam dilantai perahu, orang tua itu segera menggeledah tubuhnya dengan sangat teliti :

“Bagaimana?” Tanya Tunggorono yang telah melompat kembali. Tampaklah lelaki pertengahan umur itu tak sabar menantikan jawaban kakek tua yang menjadi gurunya.

“Ada?” Kembali Tunggorono bertanya.

Plompong bangkit dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampaklah mukanya menjadi lesu, bagaikan seorang yang putus asa.

“Habis bagaimana?” Kembali Tunggorono bertanya. “Mustikah ini berada ditangan Pendeta Baudenda?”

Plompong tampak sangat menyesal. Setelah sesaat orang tua termenung- menung maka terdengarlah perkataannya :

“Mungkin. !” Serunya dengan pelan.

Candra Wulan menjadi heran ketika melihat kelakuan ayah dan kakak, seperguruannya itu. Akan tetapi disamping perasaan herannya iapun menjadi mendongkol sekali.

‘Bagus!’ Katanya didalam hati. ‘Ah... kiranya ayah mempunyai rahasia yang tak diberitahukan kepadaku. Sejak sepuluh hari yang lalu ketika kakak seperguruanku datang maka sikap ayah menjadi kaku. Seolah-olah aku ini bukan anaknya. Memang aku ini bukan anaknya, akan tetapi anak siapakah aku ini?? Siapakah ayah ibuku?’ Ia menjadi bingung. 

Kakak seperguruannya datang dari jauh, dan begitu bertemu maka guru

dan murid itu tampak bercakap-cakap dengan asyik sekali. Juga percakapan ini dilakukan dengan secara rahasia. Diluar sepengetahuan anak gadis ini. Dan selama percakapan itu, sepuluh hari, gadis ini merasa disia-siakan dan juga diasingkan. Yang hebat adalah kakak seperguruannya ini, pada suatu hari kakak seperguruannya ini memperlihatkan wajah yang keren, dia berlagak seperti derajatnya lebih tinggi.

Mengingat ini semua, gadis ini lalu mendelik dan memandang kearah kakak seperguruannya.

Tunggorono tak membalas memandang kearah gadis ini, dia hanya memandang jauh-jauh kelaut lepas. Mendadak ia berseru dengan keras :

“Ada lagi orang-orang perkumpulan Tengkorak Berdarah yang mendatangi.” demikianlah suaranya.

Memang benar, dari jauh tampaklah sebuah perahu yang menyusur dengan cepat menuju kearah mereka. Disamping layarnya terdapat pula sebuah bendera segitiga, akan tetapi kali ini bendera itu bukan terbuat dari kain hitam seperti kepunyaan Tengkorak Hitam, melainkan kain bendera itu terdapat dari kain putih dan digambar dengan gambar tengkorak.

“Itulah perahu dari Tengkorak Putih.” Kata Plompong yang terus menoleh dengan segera.

Mendengar ini tahulah Tunggorono kalau mereka sedang berhadapan dengan pemimpin keempat dari perkumpulan Tengkorak Berdarah.

Dengan cepat perahu kaum Tengkorak Berdarah itu lalu mendekat kearah perahu yang ditumpangi oleh Plompong, dan dari sana terdengar sebuah teriakan :

“Apakah perahu ini adalah perahu nelayan dari Karang Bolong?” Serunya dengan nyaring.

“Betul!” Jawab Plompong.

“Mana kakak kami?” Teriak Tengkorak Putih dengan lantang.

“Dia berada disini, perahunya telah rusak ketika diserang badai naga.” Jawab Plompong dengan tenang.

“Bagus.” Kata Tengkolak Putih. “Asal dia tak kurang suatu apa maka kami dari pihak Tengkorak Berdarah akan dapat membedakan antara budi dan dendam. Pasti kami akan berbuat yang akan menimbulkan kebaikan kalian. Mari lekas turut kami.”

Mendengar ini Plompong tak mengeluarkan kata-kata, hanya saja terdengar jengekannya dari dalam hidung “hmm”. Ia memerintahkan kepada anak buahnya supaya mendayung cepat lagi.

Biarpun perahunya telah rusak tak karuhan, kemudinya bejat, layarpun sangat jelek akan tetapi anak buahnya adalah pelaut-pelaut yang pandai dan mempunyai pengalaman henat, karena itulah masih dapat mereka mengikuti perjalanan perahu dari kaum Tengkorak Berdarah. Tak usahlah mereka 

khawatir kalau ketinggalan terlalu jauh.

Tak ada sepenanak nasi kemudian kedua perahu itu telah memasuki sebuah teluk yang lebar. Dibelakang teluk itu terdapat sebuah daratan dan rimba yang lebat. Ditengah rimba itu terdapat sebuah bangunan yang berwarna merah darah. Inilah pusat perkumpulan dari Tengkorak Berdarah.

Didalam teluk itu berlabuh banyak perahu-perahu, besar dan kecil. Akan tetapi semua tiang layar dicat dengan warna hitam. Tiang-tiang layar itu tampak berdiri tegak bagaikan pohon-pohon besar yang tumbuh dihutan belantara, semua layarnyapun bagaikan menutup lngit.

Sungguh-sungguh tempat yang rahasia dan mengerikan.

Candra Wulan memang pernah mendengar tentang Perkumpulan Tengkorak Berdarah, akan tetapi mendatangi pusat perkumpulan Tengkorak Berdarah ini baru sekali ini. Menghadapi saat yang tegang itu, mau tak mau hatinyapun menjadi tegang pula. Hingga tanpa sesadarnya ia lalu menghunus pedangnya.

Plompong yang melihat sikap putrinya menjadi tertawa.

“Aku sudah memesan kepadamu kalau hari ini kau kularang mencabut pedangmu. Akan tetapi mengapa kau tak mengindahkan pesan ayah?”

“Ayah...!” Katanya. Eh... aku harus memanggil apakah kepadamu? Ah tidak, lebih baik aku tetap memanggil ayah kepadamu. Ayah mustahilkah kalau hari ini kita akan menginjakkan kaki kita di pulau itu?!”

“Itu telah pasti. Tunggulah sebentar kau tentu akan mengetahuinya.

Lihat saja perkembangannya nanti.”

Gadis ini menjadi bimbang dan juga penasaran.

“Aneh ayah....!” Pikirnya. ‘Tidak karuh-karuhan, apakah ia hendak mengantarkan jiwanya... Akan tetapi mengapa beliau tak tampak akan menyingkirkan diri.... Bagaimanakah hebatnya perkumpulan Tengkorak Berdarah itu? Ayah adalah seorang sakti, mengherankankah kalau ayah takut kepada mereka?’

Candra Wulan tenggelam dalam alam pikirannya ini. Ia baru sadar ketika kupingnya mendengar seruan-seruan yang keras dan ramai, Ternyata mereka telah sampai ketepi muara. Ditempat-tempat yang dangkal tampaklah perahu-perahu yang berbaris dan memberi selamat datang kepada pemimpin keempat dari perkumpulan Tengkorak Berdarah itu. Akan tetapi kedua perahu ini tak memberi reaksi apa-apa.

‘Tidak, ayah tidak takut oleh segala macam perkumpulan Tengkorak Berdarah ini!’ Bantah gadis ini didalam hatinya. Sedikitpun ia tak menggubris teriakan-teriakan anak perahu itu yang berteriak-teriak dan menimbulkan suara berisik.

‘Jika beliau takut tak nanti beliau datang ke Karang Bolong untuk menangkap ikan. Kemarin malam ayah bilang kalau ada Pendeta Baudenda yang bergelar Setan Sayap Satu telah menyuruh ayahnya seorang diri datang 

ke pulau   Iblis   tempat   Tengkorak   Berdarah   berpusat.   Katanya   untuk

berbicara. Akan tetapi aneh, kelihatannya ayahnya ini sangat ngeri kepada kakek pendeta gundul itu. Buktinya malam tadi ayahnya tak dapat tidur dengan pulas, tak henti-hentinya orang tua itu berpikir, berulang kali ia menarik napas panjang dan pendek...’

Tiba-tiba saja gadis ini berhenti berpikir. Ia menjadi terkejut ketika mendengar suara yang berisik. Ternyata suara ini adalah suara dilemparnya jangkar kedalam air. Dan selain itu ternyata layarnya telah diturunkan, perahunyapun telah berhenti.

“Ayah, sanggupkah ayah melawan pendeta Baudenda yang bergelar Setan Sayap Satu itu?” Tiba-tiba anak ini bertanya.

Plompong menjadi tercengang ketika mendengar pertanyaan ini. Tiba- tiba saja orang tua ini teringat akan pengalamannya yang telah lalu. Kakek ini lalu mendengarkan suara yang tidak tegas.

“Nini Candra Wulan, aku hanya dapat mengucapkan sebuah perkataan kepadamu.” Setelah berkata demikian kakek ini lalu menarik napas panjang dan tak lama kemudian menyambung lagi perkataannya :

“Orang yang terdekat denganmu dan masih hidup sekarang ini, kecuali aku tinggalah Woro Keshi yang bertapa digunung Muria. Dan yang terang adalah kakak seperguruanmu ini. Kau ingatlah baik-baik perkataanku ini.”

Candra Wulan tampak menganggukkan kepalanya. Mendadak saja air matanya berlinang turun dengan deras sekali.

Plompong lantas berpaling kepada Tunggorono.

“Kuperintahkan kepadamu, kalau hari ini kaupun kularang mencabut golokmu.” Katanya. Setelah mengawasi wajah muridnya, dan tahu kalau diraut wajah itu tak menunjukan reaksi apa-apa kembali orang tua itu berkata :

“Mengertikah kau akan maksudku ini?”

Muridnya ini mengangguk-anggukkan kepalanya dan terdengar ia tertawa meringis.

“Bapa guru, apakah ini termasuk pesanmu?!”

Mendengar pertanyaan muridnya ini orang tua itu tak segera menjawab. Hanya saja tampak kakek ini membungkuk dan menotok jalan darah Tengkorak Hitam, setelah berbuat demikian barulah ia menjawab pertanyaan muridnya tadi. Akan tetapi perkataan ini dikatakan dengan amat pelan sekali

:

“Musuh telah datang, kita harus memperlihatkan semangat kita. Jangan sekali-kali kita memperlihatkan roman yang lesu !”

Memanglah segera tampak dua buah perahu kecil yang mendatangi perahunya. Perahu yang satu lantas dipakai untuk mengangkut Tengkorak Hitam dan yang lain ditumpangi oleh seorang laki-laki yang bertubuh besar dan tinggi.   Persis   seorang   tukang   pukul.   Tukang   pukul   itu   segera   

menganggukkan kepala dengan penuh menghormat dan berkata kepada

Plompong supaya suka pindah keperahunya untuk mendarat.

Perahu Plompongpun telah melepaskah jangkar, air telah sangat dangkal, kerena itulah umpama kalau perahu hendak dipinggirkan terang tak dapat. Maka sudah selayaknyalah kalau mereka itu dijemput oleh sebuah perahu kecil.

Seorang nelayan anak buah Plompong segera menurunkan layar dan memberikan pakaian Plompong dan Tunggorono yang segera memakainya. Setelah itu Ki Plompong lalu melompat pindah keperahu kecil yang telah disediakan. Baru saja ia berjalan dua tindak, mendadak ia mendapat peringatan.

“Dengan kedatanganku kemari ini, sembilan dari sepuluh bagian aku pasti akan mati. Karena itulah aku tak hendak memperlihatkan kepandaianku untuk mereka saksikan. Namun kalau keadaan memaksa maka aku akan memperlihatkan kepandaian, supaya mereka menjadi kagum biarpun untuk itu aku harus membayar dengan nyawa !”

Oleh karena ia mempunyai pikiran demikian ia lalu memandang kearah tukang pukul itu.

“Sahabat.” Katanya. “Kami kaum nelayan, sewaktu kami hendak berlabuh, kalau air dalam, perahu kami akan kami pinggirkan. Kalau air dangkal kami akan turun menerobos saja. Belum pernah kami melakukan pekerjaan yang tak ada gunanya. Maka terima kasih untuk kebaikanmu. Silahkan.”

Tukang pukul itu agak heran, hingga ia hanya dapat mengawasi saja. Tunggorono mengerti maksud gurunya.

“Bapa aku berangkat dahulu.” Katanya. Ia segera menyambar tali layar. sambil mengerahkan tenaga dalmnya. Tunggorono menjejakkan kedua kakinya, dan segera tubuhnya melayang naik, terapung tinggi melajang kearah darat ketika ia melepaskan tali layar ia telah berdiri ditepian dengan tanpa terhuyung-huyung.

“Bagus...!” Seru Tukang pukul-tukang pukul yang besar dan kecil yang berada didaratan.

Candra Wulan sangsi. Ia tahu, kalau dirinya tak tanggup untuk menirukan perbuatan kakak seperguruannya itu.

“Kau lompat saja...” Plompong berkata dengan pelan. “pergilah. !”

Mendengar perkataan ayahnya ini tanpa sangsi lagi maka Candra Wulan lalu melompat dengan sekuat tenaganya. Ia menjadi sangat terkejut ketika mengetahui kalau tubuhnya telah melayang turun. Ia tahu kalau sebelum sampai ketepi tubuhnya mesti akan kecebur. Ini hebat, dan ia akan mendapat malu....

Plompong lantas melompat mengikuti anaknya. “Pegang!” Serunya sambil menurunkan kaki kanannya. Untung didalam 

saat yang tegang itu Candra Wulan masih sadar. karena itulah tanpa

membuang waktu dan mengeluarkan perkataan apa-apa ia lalu memegang dan menyambar kaki ayahnya, hingga dengan demikian tubuhnya ikut terbang terbawa oleh ayahnya. Selanjutnya bersama dengan ayahnya ia mendarat di dekat Tunggorono.

“Bagus!” Kembali mereka memuji. Orang tua itu lebih hebat lagi, karena tadi ia melompat tanpa minta pertolongan tali layar.

Selagi mereka sedang ramai-ramai memuji, tiba-tiba saja seorang yang berumur empat puluhan tahun lalu melangkah maju menghampiri Plompong dan kedua orang muridnya itu. Dari kedua matanya yang tajam, tubuhnya yang kekar, teranglah kalau orang ini adalah orang dari dunia persilatan. Begitu datang ia lantas tertawa.

“Lihat... lihat, kakek tua ini telah mengumbar kebisaannya.” Serunya dan setelah berkata demikian ia lalu membungkukkan badannya dan kembali membuka suara :

“Aku menghaturkan terima kasih.”

Ternyata sambil membungkukkan badannya orang-itu telah mendorong tubuh Plompong dengan kekuatan angin yang tak kelihatan. Akan tetapi ki Plompong tetap tenang-tenang saja. Tetap berdiri tegak dan tak melayani dorongan itu. Hanya saja memperdengarkan suara dengusan dari dalam hidungnya.

Sebenarnya penyambut itu adalah Tengkorak Ijo, pemimpin kedua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Ia adalah seorang yang telah mempunyai nama didunia kependekaran. Melihat ketangguhan tetamunya ini, ia tak berani mencoba lebih jauh.

“Aku Tengkorak Ijo.” Katanya dengan memperkenalkan diri. “Atas perintah kakak kami pemimpin pertama, aku diharuskan menyambut kedatangan Ki Plompong.”

Barulah sekarang Plompong menjawab penghormatan itu. “Tengkorak Ijo, tolonglah antarkan kami!”

Senanglah hati Candra Wulan menyaksikan kalau percobaan pertama dari pemimpin kedua itu dapat digagalkan oleh ayahnya. Karena senangnya ia tertawa dengan terbahak-bahak.

“Apakah kau tak memanggil ayahku dengan sebutan si orang tua lagi?” katanya dengan tersenyum. “Selama enam belas tahun ayahku menjagoi daerah selatan ini dengan tanpa ada yang menandingi. Apa lagi baru kau.”

Mendengar pertanyaan ini muka Tengkorak Ijo menjadi merah padam.

Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar perkataan Plompong : “Nini Candra Wulan jangan bergurau kau!”

Tengkorak Ijo masih mendeliki Candra Wulan, akan tetapi segera memutar tubuhnya untuk mengantarkan ketiga tetamunya ini memasuki sekelompok pepohonan yang lebat, dan kemudian menuju kerumah yang 

menyerupai   istana.    Disepanjang    jalan    berbarislah    orang-orang    dari

perkumpulan Tengkorak Berdarah yang telah siap dengan golok dan anak panahnya. Sikap mereka seperti sedang menghadapi musuh. Akan tetapi bolehlah dibanggakan ketenangan dari Plompong bertiga.

Dihalaman depan telah menantikan Tengkorak Putih ketua keempat dari Tengkorak Berdarah. Begitu melihat rombongan ini ia lalu tertawa-tawa dan berkata lantang :

“Kakang Tengkorak Biru telah menantikan didalam.” Setelah berkata demikian ia lalu ikut menyambut dan memimpin masuk kedalam.

Yang dinamakan ruang dalam adalah sebuah ruangan yang lebar dan luas serta bagus. Tiang dan penglarinya diukir dengan indah. Disitu tampaklah seorang yang berusia lima puluhan tahun, tubuhnya besar. Dibelakangnya tampaklah Tengkorak Hitam yang kepalanya dibalut dengan kain putih. Orang yang bertubuh besar itu lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum sambil menganggukkan kepala :

“Syukurlah ki Plompong sekeluarga sudi menengok kami.” Katanya dengan masih tersenyum. “Aku Tengkorak Biru telah menanti dengan lama.” Ki Plompong tercekat hatinya. Ia melihat seorang beralis kasar dan bermata besar, mukanya penuh dengan berewok. Didalam hatinya ia berkata

:

‘Kiranya dia inilah pemimpin pertama dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Inilah orang yang telah terkenal dengan kelicikannya. Aku musti berhati-hati dan melihat suasana....” Pikirnya. Akan tetapi ia segera membalas penghormatan itu.

“Aku nelayan tua dari Karang Bolong yang bernama Plompong menjadi heran sekali mengapa bapa Pendeta Baudenda sudi memanggilku. Sengaja aku datang bersama muridku Tunggorono dan anakku Candra Wulan. Eh... dimanakah adanya pendeta Baudenda, dan bolehkah aku menjumpainya?!”

Tengkorak Biru tertawa :

“Pendeta Baudenda ada disini.” jawabnya. “Sebentar ia akan keluar menemuimu. Nah marilah kita minum-minum dahulu. Bukankah kalian masih lelah dan haus?”

Candra Wulan merasa lucu ketika melihat muka pemimpin dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini. Sebab mukanya tidak demikian menakutkan. Didalam pikirannya dulu, pemimpin dari perkumpulan yang telah terkenal sebagai Tengkorak Berdarah ini tentunya mirip dengan buaya- buaya darat umumnya. Akan tetapi....

“Aku orang tua dari Karang Bolong datang kemari memang hanya mempunyai keperluan dengan Pendeta Baudenda.” Jawab Plompong dengan tegas. “Kalau dia tak berada disini maka ijinkanlah aku mengundurkan diri. 

Tidak berani aku mengganggu...”

Ia lalu menganggukkan kepalanya dan memutar tubuhnya untuk segera berlalu dari situ. Akan tetapi kembali Tengkorak Biru tertawa dengan keras :

“Ki Plompong.” Katanya. “Kau telah mempunyai keberanian untuk datang kepulau Iblis ini maka mustahillah kalau kau tak berani minum teh yang kami suguhkan ini.”

Plompong segera menebarkan matanya kearah sekitarnya. Disitu ia tahu kalau ada Tengkorak Ijo, Tengkorak Putih, Tengkorak Hitam dan semuanya memegangi gagang senjatanya. Sedangkan raut mukanya bengis. Bahkan terlalu bengis dan memandang kearahnya. Melihat ini ia lalu berpikir.

“Orang-orang dari Tengkorak Berdarah siapakah yang takut terhadapmu.” Tiba-tiba terdengar suara Candra Wulan yang halus dan nyaring. Setelah itu ia lalu tersenyum dan kembali berkata :

“Lekas kau keluarkan air tehmu. Kalian akan segera melihat kami berani minum atau tidak.”

Lagi-lagi Tengkorak Biru tertawa dengan berkakakan :

“Kau barulah orang yang,berwatak jujur nini.” Katanya, dan segera ia memerintahkan kepada anak buahnya :

“Lekas keluarkan teh.”

“Tidak usah!” Seru Plompong mencegah. Ia lalu mengangkat kedua tangannya sambil berkata :

“Tengkorak Biru, kalau kau akan bicara lekaslah kau bicara.”

“Oh... tidak apa-apa.” Jawab ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah itu dengan suara yang yang taik seseram tadi. Setelah mengerling kearah kakek tua itu maka katanya :

“Kami ingin mencari orang yang bernama Darmakusuma.. Tahukah kau dimana ia kini berada?!”

Mendengar pertanyaan ini maka berobahlah wajah Plompong dan Tunggorono. Dengan cepat keduanya saling pandang memandang.

“Tengkorak Biru, kalau ini urusannya mengapa kau undang aku kemari?” tanya kakek tua itu dengan heran.

“Sedikitpun tak salah.” Jawab Tenggorak Biru. “Pertama-tama kau harus membereskan dulu urusan ini dengan kami. Setelah itu pendeta Baudendapun akan bicara denganmu.”

Sehabis berkata demikian maka ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini lalu menepukkan tangannya, dan dari dalam terdengar suara orang-orang yang membalasnya. Jawaban ini terdengar serentak dan datang dari arah empat penjuru mata angin. Dengan demikian mudahlah diketahui kalau tempat itu telah dikurung rapat oleh anggota Tengkorak Berdarah.

Mendengar ini Plompong tak berubah air mukanya. Sikapnya tetap tenang, akan tetapi dingin. “Aku orang tua tak pernah berhubung dengan kalian. Kita ini ibarat air 

sungai dan sumur yang tak pernah ganggu mengganggu.” Katanya dengan

suara nyaring. “Maka sekarang apakah yang akan kau perbuat? Cepat katakan”.

“Garuda Sakti” Seru Tengkorak Biru itu dengan nada penuh sindiran. “Walaupun kau mengaku dan menyebutmu dengan nama Plompong, akan tetapi kami telah tahu dengan baik-baik kalau kau adalah orang pelarian dari Demak Bintoro yang bernama Darmakusuma. Kau kini telah dikurung dengan rapat, beratus-ratus orang. Biarpun kau mengandalkan sebatang pedangmu itu tak mudah kiranya untuk lolos dari kepungan kami. Huahaaa... Huahaaaa... Huahaaa...!”

Perkataan ini kembali membuat wajah ki Plompong menjadi pucat. “Bagus!” Serunya dengan geram. “Jadi kau hendak membekuk aku

Garuda Sakti yang bernama Darmakusuma untuk kau persembahkan kepada orang-orang Jipang? Benarkah demikian?!”

Kata-kata ini diakhiri dengan dihunusnya pedang. Sedangkan kedua mata orang tua ini berapi-api memandang kearah mereka. Semua anggota perkumpulan Tengkorak Berdarah disapu dengan pandangan matanya.

Candra Wulan menjadi terkejut. Inilah untuk pertama kalinya ia mendengar nama dan gelar ayahnya. “Gelarnya Garuda Sakti.” Akan tetapi ia tak berdiam terlebih lama, iapun segera menghunus pedangnya.

“Tengkorak Biru, jangan kau terlalu memaksa orang.” Sentaknya dengan nyaring. “Bersama ayahku aku akan mengadu nyawa dengan orang- orang Tengkorak Berdarah.”

Ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini tertawa dengan keras.

Karena kerasnya hingga perutnya bergoyang-goyang.

“Dia ini ayahmu?!” Katanya dengan mengejek. “Heh bocah cilik nanti kuberi tahu, kalau orang tua ini mempunyai sedikit urusan dengan orang tuamu...”

“Awas” Teriak Plompoug sambil menusukkan pedangnya sebelum Tengkorak Biru ini menghabiskan perkataannya.

Rupa-rupnya Tengkorak Biru telah siap sedia. Gampang saja ia menghindarkan dari tusukan pedang itu.

“Kau masih akan menyerang terus?” Serunya dengan mengancam sambil tertawa lebar dan bernada dingin.

“Kau tahu, aku khawatir. Kau toh akhirnya menghentikan serangan itu.” “Benar-benar Plompong menghentikan serangannya.

“Tengkorak Biru.” Katanya dengan lantang. “Kalau kau mau bicara, bicaralah yang terang. Kau tentu mengetahui kalau aku orang tua tak dapat dipaksa.”

Kembali terdengar Tengkorak Biru tertawa.

“Baiklah.” Katanya dengan tetap dapat mengendalikan dirinya. “Sekarang aku mau memberitahukan kepadamu. Asal saja kau suka 

memberikan sebuah barang kepada kami. Kami akan memberi kemerdekaan

kepada kalian untuk selama-lamanya menangkap ikan di Karang Bolong dan kau boleh bernama Plompong. Atau kalau kau akan memakai nama Darmakusumapun aku tak keberatan.” Ia berhenti sebentar. Kemudian ia lalu meneruskan perkataannya dengan nada yang menyeramkan :

“Selain itu urusanmu enam belas tahun yang lalu hari ini juga akan menjadi beres. Dan aku Tengkorak Biru akan menjamin kalau tak akan ada orang yang berani mencarimu untuk menuntut balas ”

Terkesikap juga hati Plompong mendengar ini.

‘Hem... tak tahunya binatang ini mengetahui banyak urusan.’ Kemudian pikirnya. ‘Hari ini walaupun Pendeta Baudenda akan muncul, kelihatannya urusanku tak gampang diselesaikan.... baiklah aku menunggu perkataannya sampai jelas.’

Setelah mempunyai pikiran yang demikian ia lalu memasukkan pedangnya kedalam sarungnya kembali. Kemudian ia bertanya :

“Baik, apakah yang kau inginkan aku menyerahkan kepadamu?”

Dengan matanya yang tajam, sikapnya tetap dingin. Tengkorak Biru mengawai ketiga orang tamunya. Mengawasi satu demi satu dengan bergantian. Setelah itu ia mengerdipkan matanya kepada ketiga saudaranya. Juga hal ini ia lakukan dengan satu persatu. Setelah itu semua barulah ia berbicara :

“Syukurlah kalau kau begini baik hati.” Kemudian sambungnya. “Yang kukehendaki bukan barang lain, hanya saja sebuah tuggul berwarna kuning dan bergelombang bagaikan air ”

Sederhana sekali ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah ini berkata. Persis seperti wanita yang akan meminjam sebatok beras. Akan tetapi demi mendengar perkataan ini, muka Plompong menjadi pucat pasi. Sesaat kemudian menjadi merah padam. Ia menjadi heran kaget dan mendongkol. Hingga untuk sejenak ia berdiam diri.

Tengkorak Ijo lalu campur ikut berbicara, suaranyapun kedengaran sangat sabar :

“Kita orang-orang dunia persilatan, apa yang kita katakan satu tetap satu tak mungkin akan mengatakan dua.” Katanya. “Dari itu asal kau menganggukkan kepala tidak peduli apa yang pendeta Baudenda katakan, kami tak akan membiarkan dia ”

Tengkorak Hitam yang juga ikut campur bicara juga, sebaliknya, berseru dengan keras :

“Orang tua, orang-orang yang mencarimu dan hendak menuntut balas peristiwa enam belas tahun yang lalu masih tetap berkeliaran. Mereka masih berikhtiar untuk mendapatkanmu.” Demikianlah katanya. “Asal saja kami mengatakan kepadanya, Darmakusuma berada disini 

maka kesudahannya kau akan melihat sendiri. ”

Tengkorak Putih yang ketawa dingin inipun segera ikut berbicara : “Orang-orang Jipang mencarimu, begitupun dengan anak-anak dari

keluarga Barata dan keluarga Hardalika. Adikmu sendiri mencarimu, juga Setan Sayap Satupun mencarimu. Hm... biarpun bagaimana gagahmu akan tetapi aku yakin kalau kau tak akan segagah Prabu Rahwana Raja yang punya sepuluh nyawa dan kepala itu.”

Keempat pimpinan dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini berbicara dengan bergantian dan heraneka ragam. Pokoknya keempat orang bermaksud menakut-nakuti Plompong.

Candra Wulan mendengar semua perkataan ini, akan tetapi sedikitpun ia tak tahu maksudnya.

Ia terbenam dalam keheranan dan keragu-raguan. Candra Wulan adalah seorang yang yang cerdik, akan tetapi toh ia tak dapat menerka apa yang telah terjadi. Apakah urusan ayah ini? mengapa demikian banyak orang- orang yang mencari ayahnya?! Benarkah semuanya itu? Dalam kebingungannya ini ia lalu memegangi gagang pedangnya.

Plompong dapat memahami sikap putrinya itu. Akan tetapi dirinya sendiri sedang terombang-ambing dalam kesangsian. Kakek tua ini sangsi untuk mengambil langkah. Kalau saja ia menyerahkan barang yang diminta oleh gerombolan Tengkorak Berdarah ini, ia sangat malu kepada para leluhurnya. Jika ia tak menyerahkan maka didepan matanya akan terjadi pertempuran yang hebat antara mati dan hidup. Untuk dia sendiri memang tak takut. Ia telah mengenal baik akan watak ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini, Tengkorak Biru bersifat licik dan kejam. Karena itulah ia berkhawatir. Bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri melainkan kepada putrinya. Ayah anak ini mati tak karuhan, sedangkan ibunya mati bunuh diri mencebur kelaut. Dia adalah keturunan satu-satunya dari keluarga Barata. Yah keluarga Barata yang terkenal dan ternama pada waktu Demak Bintoro masih berdiri dengan megah. Mana mungkin ia mendiamkan gadis ini mati dengan begitu saja?

Waktu kakek tua itu bersangsi, tiba-tiba saja terdengar perkataan dari gadis itu :

“Ayah, biarpun bagaimana juga jangan kau terima permintaan mereka itu.” Serunya dengan lantang. “Mereka semuanya ini bukan manusia- manusia baik.”

“Bangsat budak hina.” Bentak Tengkorak Putih dengan marah. “Kita sedang bicara, mana ada haknya kau ikut nimbrung dalam persoalan ini?”

Akan tetapi gadis ini tidak takut, dia malah menjadi gusar. Segeralah ia melompat maju.

Tengkorak Putih, mari maju sini.” Tantangnya. Tengkorak Putih   atau   si   pemimpin   keempat   dari   perkumpulan   

Tengkorak Berdarah lalu ketawa dengan keras :

“Apakah kau melawanku bertanding?!” Tanyanya dengan tertawa. “Kau amat tak pantas menjadi tandinganku.” Setelah berkata demikian ia lalu menoleh kesamping, katanya kepada salah seorang anak buahnya :

“Glinding, kau wakili aku untuk menghajar kesopanan kepadanya.”

Orang yang dipanggil dengan nama Glinding, adalah seorang laki-laki yang bertubuh besar gemuk. Orang ini adalah orang yang sembrono sekali. Bersama dengan kesanggupannya ia lalu menubruk kemuka.

Plompong hendak mencegah, akan tetapi belum sempat ia membuka mulut. Dara yang keras kepala ini telah menyambut serangan Glinding dengan tusukan pedangnya. Bahkan tusukan ini dilakukan dengan memakai jurus memindahkan gunung untuk menguruk lautan. Dada Glinding adalah sasarannya.

Glinding mengayunkan tangan kirinya untuk menangkis, akan tetapi ternyata serangan tadi adalah sebuah tipuan yang boleh juga dikatakan sebuah gertakan saja. Glinding bermaksud supaya dara perkasa ini membatalkan tusukannya, bersama dengan itu tangan kanannya menyambar hebat sekali memukul kepada Candra Wulan. Glinding memang memandang rendah sekali kepada Candra Wulan itu, seorang gadis muda, dan memang sengajalah ia mengeluarkan ilmu simpanannya. Hal ini dimaksudkan supaya dengan sekali pukul saja ia telah dapat mengalahkan gadis itu.

Akan tetapi Candra Wulan telah lama ikut ayahnya, dan selama ini ia telah belajar ilmu silat pula dari ayahnya. Hingga dengan demikian Candra Wulan ini bukanlah seorang gadis sembarangan. Dengan sebat sekali ia dapat menghindarkan.

Namun Candra Wulan mengelak bukannya untuk menyingkir, akan tetapi justru untuk memperlihatkan kelincahannya. Tanpa berayal lagi ia lalu maju untuk mengirimkan serangan balasan. Kedua tangannya bergerak bersama dengan kakinya. Kedua tangannya itu menyerang keatas dan ketengah. Sewaktu Glinding menangkis kedua-duanya, mendadak kaki kananya bekerja.

“Awas bawah.” Teriak Tengkorak Putih memperingatkan.

Akan tetapi sayang sekali peringatan yang diberikan oleh Tengkorak Putih itu telah terlambat.

“Buk” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang nyaring. Ternyata tubuh Glinding telah benar-benar ngglinding ketanah.

Puaslah hati Candra Wulan yang dengan gampang dapat mengalahkan lawannya. Bibirnya terus tersenyum, senyum penuh kemenangan. Kemudian terdengar perkataannya : “Eh... Tengkorak Putih.” Serunya kepada pemimpin keempat dari 

perkumpulan Tengkorak Berdarah. “Kau tamparlah kupingmu tiga kali

supaya aku tak usah turun tangan kepadamu.”

Belum lagi Tengkorak Putih melayaninya, akan tetapi tiba-tiba saja Glinding telah melompat bangun. Ia merasa malu sekali dapat dikalahkan oleh seorang gadis dimuka orang banyak. Karena malunya inilah maka ia menjadi marah sekali dan terdengar bentakannya :

“Mampus kau!” Bersama dengan bentakkannya ini ia lalu menyerang kepada gadis itu. Dengan mempergunakan tangan kanannya ia lalu menyambar pinggang lawannya. Karena memang Glinding sedang marah maka tak mengherankanlah kalau ia mengerahkan seluruh tenaganya. Kali ini Glinding menggunakan jurus ilmu pukulan menebang pohon. Perasaannya yang geram dan penuh dendam itu meluap-luap hingga ia ingin melukai, bahkan kalau mungkin membunuh gadis itu.

Juga kali ini Candra Wulanpun sangat marah. Ia mendongkol sekali karena melihat kenekatan dari Glinding yang tak tahu malu itu. Terang- terangan ia telah kalah akan tetapi mengapa tetap membandel dan terus melakukan perlawanan. Dengan sebat dan secara diam-diam telah menyiapkan senjata-senjata rahasianya yang berupa jarum. Gadis ini pura- pura mengelak dari serangan yang dahsyat itu, bahkan dengan sengaja berteriak dengan perlahan, tangan kanannya diayunkan dan mencoba menangkis serangan. Tak tahunya dengan mengayunkan tangannya itu jarum-jarumnya telah dilempar dan menyebar luas menghantam seluruh tubuh lawan.

Glinding yang masih muda dan sembrono itu percaya penuh kalau kali ini dengan ilmu pukulannya ia pasti akan dapat mengalahkan lawannya. Akan tetapi ketika kedua tangan mereka hampir saling beradu, yang satu membabat dan yang lain pura-pura menangkis. Namun tiba-tiba saja ia menjerit dengan keras. Tubuhnya mencelat mundur dan tangannya mengeluarkan darah. Ternyata jarum-jarum itu telah banyak yang menancap didagingnya hingga menimbulkan perasaaa sakit dan perih.

“Manusia rendah.” Bentaknya dengan marah. Hatinya menjadi semakin marah ketika mengetahui sebab-sebab tangannya luka :

“Aku akan mengadu nyawa denganmu.” Serunya sambil maju. Akan tetapi gadis cilik yang periang ini hanya tertawa saja.

“Kau yang menyerangku, dan bukan aku yang menyerangmu.” Jawabnya. “Kau yang terluka kau yang marah. Apakah kau berani maju menyerang lagi?!”

Mulutnya berkata demikian, akan tetapi kaki dan tangannya terus bekerja. Terus melayani Glinding. Gerakannya diperlincah, dengan kaki kanannya ia menjejakkan kakinya kearah Glinding, kemudian di susul dengan dupakan kaki kiri. “Bruk” kembali tubuh Glinding rubuh. Kali ini ia mental dan tubuhnya 

jatuh terlentang. Karena itulah Glinding tak dapat segera bangun untuk

memberikan perlawanan lagi.

Melihat ini Candra Wulan lalu tertawa berkakakan. Gadis ini menjadi sangat girang, akan tetapi masih belum puas.

“Eh... Tengkorak Putih bagaimanakah dengan kau?!” Tanyanya kepada pemimpin perkumpulan Tengkorak Berdarah itu. “Apakah kau masih tak mau menampar congormu?!”

“Nini jangan kau terlalu tak tahu adat.” Segera Plompong menegur putrinya. “kau lekas mundurlah.”

Mendengar perkataan gadis itu Tengkorak Putih telah menjadi matang biru mukanya karena tak dapat menahan marahnya. Dengan perlahan ia bertindak maju. Untuk menghadapi gadis ini ia masih berani membuka mulutnya untuk tertawa :

“Gadis cilik hebat kepandaianmu.” Katanya.

“Bukankah kau telah menggunakan senjata rahasiamu yang berupa jarum? Itulah senjata Rahasia ki Plompong yang kenamaan.”

Kata-kata ini diucapkan dengan setengah ejekan. Candra Wulan telah siap untuk menghadapi musuh. Akan tetapi hatinya menjadi tercekat dan sampai lama harus berdiam diri ketika mendengar rintihan ki Glinding. Kini menyesallah mengapa ia terlalu cepat menggunakan senjata rahasianya.

Senjata rahasia itu bukanlah senjata rahasia sembarangan. Sebab inilah Jarum Penembus Angin, senjata rahasia yang sangat diandalkan oleh ki Plompong. Jarum ini halus sekali dan panjangnya hanya setengah dim. Kalau digunakan dan tepat pada sasarannya maka jarum ini akan menembus jalan darah dan ikut beredar bersama darah. Karena itulah untuk mencabutnya harus menggunakan besi berani, maka dapatlah dimaklumi bagaimana sakitnya si korban. Untuk mengobati lukanya ini orang akan membutuhkan waktu selama satu atau dua bulan. Dan... inilah yang pertama kalinya jarum itu digunakan oleh Candra Wulan. Hal ini sebelumnya tak pernah diketahui oleh Candra Wulan. Hingga begitu melihat hasil bidikannya maka ia menjadi menyesal.

“Tengkorak Putih, bolehkah aku membantumu?” Katanya yang kini nada telah berubah.

Tengkorak Putih, tertawa.

“Bagus... bagus.” Katanya. “Nini hatimu baik sekali.”

Candra Wulan merobek ujung bajunya, kemudian mendekat Glinding berjongkok dan monolong korbannya. Ia seorang yang belum berpengalaman, baru saja masuk kedalam dunia kependekaran. Karena itulah ia tak tahu buruk baiknya dunia persilatan. Baru saja ia berjongkok tampaklah seleret bayangan hitam yang terus menyambar kearahnya. Sedangkan kupingnya mendengar bentakan Tengkorak Putih : “Perempuan hina, akan kubikin kau mati tak wajar.” 

Dalam keadaan   seperti   itu   Candra   Wulan   tak   berdaya   untuk

menghadapinya, dan terdengarlah jeritannya. Akan tetapi ketika ia menunggu maut yang akan merenggutnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara bantingan didekatnya. Dan tampaklah Tengkorak Putih telah terbanting beberapa langkah didekatnya.

“Tengkorak Putih telah lama aku mengawasimu, sungguh tak tahu malu melawan anak kecil.” Inilah suara Plompong, memang orang tua ini yang membanting pimpinan keempat dari perkumpulan Tengkorak Berdarah.

Akan tetapi begitu tubuhnya terbanting, pemimpin keempat dari perkumpulan Tengkorak Berdarah, segera melompat berdiri dan siap menghadapi kakek tua itu.

“Darmakusuma, apakah kau datang kemari untuk memamerkan kepandaian?” Tegurnya. Tangan kanannya segera mencabut segenggam tembaga dan dengan cepat melompat maju menyerang.

Plompong masih mendongkol karena anaknya dibokong. Dengan cepat ia mencabut pedangnya dan menangkis semua serangan yang dilancarkan oleh lawannya. Kedua senjata itu beradu dengan keras, akan tetapi hebatlah kesudahannya. Tangan Tengkorak Putih sakit dan gemetar. Akan tetapi orang tua itu tak mau berhenti sampai disitu saja. Iapun maju dan membalas serangan itu dengan sebuah tusukan yang memakai jurus Garuda mementang sayap. Ujung pedang itu menyambar kearah jalan darah.

Walaupun tangannya sakit akan tetapi Tengkorak Putih masih tetap sempat menghindar. Akan tetapi Ki Plompong sangat tangkas, gagal tusukkannya yang pertama. Segera menyusul yang kedua, keduapun segera disusul dengan yang ketiga.

Diberondong hujan serangan yang demikian hebatnya ini maka pemimpin keempat dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini menjadi kelabakan. Ia menangkis dengan repot sekali. Ia segera mencari perlindungan dari kejaran maut.

Melihat ini terkesiaplah hati Tengkorak Biru.

‘Orang tua ini benar-benar gagah, namanya betul-betul besar dan tak kosong. Sungguh suatu lawan yang tangguh.’ Pikirnya. ‘Kalau adi Tengkorak Putih terdesak maka tak ada jalan lain dari pada kematian....’ Ia segera menarik keris dan sulingnya. Kemudian terdengarlah seruannya :

“Tahan.” Serunya sambil melompat ketengah-tengah, kerisnya dipakai menangkis dan membantu adik seperguruannya yang keempat itu. Maka punahlah tikaman yang memakai jurus naga naik kelangit dari tamunya.

‘Binatang ini benar-benar sakti.’ pikir Plompong. ‘Ternyata dia lebih tangguh dari pada yang disiarkan. Hem... kalau demikian aku bertemu dengan batunya.’ Ia menghentikan serangannya kepada Tengkorak Putih dan segera melintangkan pedangnya didepan dada, lalu berkata : “Tengkorak Biru, memang benar anakku ini tak tahu adat dan bandel 

akan tetapi pengajaran dari adik seperguruanmu yang keempat ini benar-

benar telah berlebih-lebihan. ”

Tengkorak Biru telah menarik kembali sulingnya, ia merasakan bagaimana beratnya pedang tetamunya itu. Ia mundur tiga tindak, ia memperdengarkan suara tawanya yang seram :

“Itu urusan kecil yang tak perlu diperhatikan.” Katanya dengan senyum yang penuh ejekan. “Garuda Sakti, kita adalah orang-orang yang berusia lanjut, maka marilah kita membicarakan perihal kita.”

“Bagaimana sekarang?” Tanya Plompong.

“Tidak apa-apa.” Sahut Tengkorak Biru. “Seperti telah aku katakan berulang-ulang, aku telah minta supaya kau menyerahkan barang itu. Dengan begitu bukankah aku telah berbuat baik kepadamu. Apakah kau benar-benar tak mengerti maksud baikku?”

Plompong mengerti maksud lawannya oleh karena itulah ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia tak akan mempan untuk dibujuk maupun diancam.

“Biarpun kepalaku terpenggal, akan tetapi menyesal sekali aku tak dapat meluluskan permintaan itu.” Jawabnya dengan pasti. Tidak hanya suaranya saja yang tetap akan tetapi wajahnyapun telah berubah menjadi membesi.

Mendengar ini Tengkorak Biru ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah memperdengarkan suara tawanya yang tak sedap didengar.

“Apakah kau telah benar-benar tak ingin tinggal tenang?” Serunya minta ketegasan. “Apakah kau hendak meneruskan kehidupanmu yang gelandangan dan tak karuhan itu?!”

Plompongpun bersikap keras.

“Tengkorak Biru, benarkah kau masih menghendaki barangku itu?!” Tanyanya menegaskan.

Inilah pertanyaan yang tak pernah disangka-sangka oleh ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Hingga ia menjadi tercengang. Mulutnya menggangga memandang dengan heran.

“Benar!” Jawabnya kemudian. “Mana barangmu itu?!” Mendengar ini Plompong tertawa dengan berkakakan.

“Dimana adanya barang itu, aku akan memberitahukan kepadamu.” Jawabnya dan sikapnya bebas.

“Barang itu berada didekat kota Cilacap. Atau tepatnya lagi ialah didasar laut Kidul. Jika kau benar-benar menghendakinya maka kalian pergilah kesana dan gerayangi seluruh permukaan Laut Kidul kutanggung pasti akan mendapatkan barang yang idam-idamkan itu.”

Mendengar perkataan Plompong ini, meluaplah hawa amarah Tengkorak Biru. “Bagus!” Serunya dengan marah. “Kalau kau tak diberi hajaran maka 

tak akan dapat membedakan mana putih dan mana yang merah. Mana hijau

mana kelabu. Mari adik-adikku maju semuanya.”

Didalam kemarahannya ketua Tengkorak Berdarah yang cerdik ini masih ingat untuk mengeroyok musuhnya yang tangguh. Mendengar ini keempat orang pemimpin Tengkorak Berdarah ini lalu mengambil sikap untuk mengepungnya. Dengan demikian ki Plompong berada ditengah- tengah.

“Garuda Sakti,” Seru Tengkorak Biru. “Kau sengaja hendak menentang kami, karena itulah maka hari ini adalah hari kematianmu.” Tengkorak Biru lalu menggerakkan serulingnya untuk mendahuluhi saudara-saudara seperguruannya.

Ki Plompong tidak menjadi gentar, bahkan kelihatan tenang-tenang saja.

Mulutnya tetap tersenyum dengan manis. Kemudian katanya :

“Aku telah berusia lanjut, maka kalau harus mati aku akan mati dengan tenang dan mata meram. Sekali-kali aku tak akan penasaran mati dibawah tangan kalian. Akan tetapi ketahuilah kalau aku orang tua dari Karang Bolong akan mati dengan nama yang harum.”

Setelah berkata demikian ia lalu menghindarkan terjangan suling tadi. Kakek tua ini sama sekali tak membalas serangan Tengkorak Biru, akan tetapi bersama dengan gerakan menghindarnya ini ia lalu melompat dan menerjang kearah Tengkorak Putih.

Melihat ini segera pemimpin keempat dari gerombolan Tengkorak Berdarah ini segera menangkis. Karena mereka yakin kalau maju berempat dan lagi berada disarangnya sendiri maka keberaniannya menjadi bertambah. Selain itu mereka maklum kalau tempat itu telah dipagari kuat oleh barisan orang-orang anak buahnya.

Tengkorak Ijo yang bersenjata golok dan bagian yang tajamnya berupa gergaji, bersama-sama dengan Tengkorak Hitam yang bersenjata tombak pendek, mereka lalu menerjang dari kiri kanan. Hingga dengan demikian Plompong benar-benar terkurung.

Dengan desakan tiga buah serangan ini, kakek tua itu lalu mendesak Tengkorak Putih. Setelah itu terus merangsek maju kearah Tengkorak Ijo. Bersama dengan itu terasalah kalau dirinya dibokong oleh orang. Tahulah dia kalau ada orang yang menyerangnya dari belakang. Tanpa menoleh terlebih dahulu ia lalu memutar tangannya, menangkis kebelakang dengan cepat. Dengan demikian pedangnya beradu dengan seruling Tengkorak Biru, dan dengan demikian pedangnya terpental kembali.

“Bagus.” Dengusnya. Akan tetapi Plompong tak menjadi jeri, bahkan pedangnya terus digerakkan menusuk kedada Tengkorak Hitam. Yang hebat ialah pedang itu mula-mula seperti diarahkan kepada Tengkorak Putih, sebab pedang itu mental kearah pemimpin keempat dari Tengkorak Berdarah.

Akan tetapi saking pandai dan cerdiknya ki Plompong, maka pedang yang meluncur kearah Tengkorak Putih itu dapat dienggokkan kearah dada Tengkorak Hitam yang sedikitpun tak akan menyangka kalau dirinya akan diserang.

Melihat ini Tengkorak Hitam menjadi terperanjat. Serangan ini benar- benar tak diduganya. Apa lagi waktu itu Tengkorak Hitam dalam keadaan tak bersiap-siap. Terpaksalah ia mengangkat tombaknya untuk menangkis. Menangkis melindungi dirinya.

“Lepaskan senjata.” Teriak Plompong sambil mengerahkan tenaganya.

Tengkorak Hitam sedang terluka, karena itulah ia tak sanggup melawan tenaga lawan dengan tenaga pula. Diluar kehendaknya sendiri tombak pendek yang dipegangnya itu menjadi terlepas dari tangannya. Senjatanya terlempar tinggi-tinggi keudara. “Aduh....” Tengkorak Hitam menjerit ngeri ketika lengannya tersabat pedang Ki Plompong......

Plompong yang melihat keadaan baik segera melompat dengan luar biasa cepatnya, maju sambil membabatkan pedangnya.

“Aduh...!” Teriak Tengkorak Hitam. Ternyata bersama dengan teriakannya ini jatuhlah lengan kanannya. Kutung kena tabasan pedang lawan. Karena   tak   kuat   menahan   sakitnya   maka   tubuhnyapun   jatuh   

bergedebukan diatas tanah. Ia terus menggerang-gerang dan menjerit-jerit

dengan keras dan menyeramkan.

Akan tetapi bersama dengan itu terdengar suara keras. Tubuh ki Plompong tampak terhuyung-huyung dan matanya menjadi berkunang- kunang. Hampir saja orang tua itu tak dapat mempertahankan diri untuk terus berdiri. Ternyata ketika ia sedang membabat Tengkorak Hitam dirinya sendiri kena dihajar oleh Tengkorak Biru. Malangnya Tengkorak Biru mempunyai tenaga yang kuat.

“Tahan.” Teriak Ki Plompong ketika matanya masih berkunang-kunang. “Tahan, aku hendak bicara.”

Akan tetapi kakek tua itu tak dapat bicara lebih lanjut karena tahu-tahu dari dalam mulutnya memuntahkan darah segar. Ternyata hebat pula pukulan curang dari Tengkorak Biru itu.

Senanglah hati orang-orang Tengkorak Berdarah ketika melihat keadaan musuhnya itu. Dengan segera mereka berhenti menyerang, mereka percaya kalau musuhnya pasti telah merobah sikapnya.

“Ki Plompong silahkan bicara.” Seru Tengkorak Biru dengan tertawa- tawa.

Ki Plompong lalu membersihkan darah yang masih berada dimulutnya. Setelah itu kakek ini menunjuk kearah Tunggorono dan Candra Wulan yang sejak tadi dipandangnya.

“Ketahuilah hai kalian semua.” Katanya dengan tenang. “Ketika pertama kali aku datang kemari, aku orang tua telah tak memikirkan lagi keselamatan jiwaku. Mulanya aku Plompong hendak mengajak kalian berempat untuk bersahabat. Akan tetapi bagaimana tuan-tuan yang budiman? Kesudahannya lain. Ki sanak, kalian adalah orang-orang dari dunia kependekaran, maka kalian tentunya tahu pula antara dendam dan budi. Bahwa semuanya ini tak akan ada sangkut pautnya, tak akan dapat dibawa-bawa. Maka ki sanak sekalian. Kalian hadapilah aku seorang, akan tetapi jangan kau tambah dengan dua jiwa lagi. ”

“Hem...” Dengus Tengkorak Biru yang telah mengetahui akan maksud lawannya itu. “Dalam hal ini baiklah kita lihat saja bagaimana peruntungan mereka. Bagus atau buruk. ”

Sekian lamanya Tunggorono tetap menutup mulut, dan telah lama pula ia tak menyabut senjatanya. Hal ini karena kepatuhannya kepada gurunya. Akan tetapi kini tak dapat ia membisu terus menerus :

“Bapa guru.” Serunya sambil memegang gagang pedangnya. Rupa- rupanya tak tega ia melihat gurunya yang terluka parah ini.

“Jangan bergerak.” Teriak Ki Plompong memperingatkan muridnya.

Akan tetapi bersama dengan itu. Candra Wulan akan menggerakkan tubuhnya dan melompat maju. Namun untung Tunggorono dapat menangkap tangannya dan mencegah adik seperguruannya bergerak lebih 

lanjut.

“Dengar dulu perkataan ayahmu ” Katanya dengan pelan.

Mengetahui hal ini maka Candra Wulan lalu mengibaskan tangannya dan berkata dengan lantang :

“Pengecut”

Akan tetapi Tungorono tak menghiraukan sama sekali. Ia masih tetap berdiam diri. Lelaki ini memang tak suka banyak omong. Sementara itu pertempuran telah dimulai lagi.

“Tua bangka kau hendak berpesan apa lagikah?!” Teriak Tengkorak Ijo sambil mengejek. Bersama dengan itu ia lalu membacokkan golok gergajinya. Plompong tahu akibat dari pukulan Tengkorak Biru yang hebat itu.

Tubuhnya menjadi sakit-sakit dan seakan-akan tulang belulangnya menjadi copot-copot. Akan tetapi orang tua gagah ini tak dapat tinggal diam setelah sikap Tengkorak Ijo. Insyaflah orang tua itu kalau saat ini adalah merupakan pertempuran yang mati-matian. Lolos atau binasa. Maka dengan mengerahkan tenaganya, semangatnya, ia menangkis serangan Tengkorak Ijo, kemudian balas menyerang. Kakek tua ini mempertahankan diri dengan ilmu silat keturunannya. Ilmu silat keluarganya yang pernah menggoncangkan daerah selatan.

Tengkorak Biru menjadi kagum setelah menyaksikan kepandaian dan kegagahan dari ki Plompong.

‘Sudah kuhajar dia.... akan tetapi ia masih kuat sekali.’ Pikirnya. Namun pemimpin dari perkumpulan Tengkorak Berdarah ini tidak hanya berdiam diri saja. Tengkorak Biru segera berseru. Dengan seruan ini ia menganjurkan dua orang adik seperguruannya untuk mengurung lawannya. Maka tiga buah senjata menyerang dengan deras kearah tubuh Plompong dan datang bagaikan hujan lebat.

Dalam keadaan yang seperti itu ia masih dapat memainkan pedangnya dengan baik, hingga dengan demikian ki Plompong masih dapat melayani ketiga orang lawannya dengan baik. Berbagai-bagai senjata yang berkelebat dihadapannya dengan tiada henti-hentinya. Ini barulah suatu pertempuran antara hidup dan mati.

Melihat ini hati Candra Wulan tergoncang dengan keras. Gadis ini menganggap lawan-lawan ayahnya ini benar-benar keterlaluan. Beberapa kali ia hendak maju membantu ayahnja, akan tetapi setiap kali ia hendak maju kakak seperguruannya selalu menghalang-halanginya.

“Jangan khawatir, bapa guru belum keteter.” Seru kakak seperguruannya dengan menghibur.

“Jika ayah telah terdesak maka bagaimana kita dapat menolong?” Tanya gadis itu. Tunggorono tak menjawab. Akan tetapi tiba-tiba saja ia menundukkan 

kepalanya. Namun tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya lagi dan

berkata dengan bangga :

“Lihatlah itu tipu silat yang hebat dari bapa guru.”

Memang benar, dengan jurus tipu naga naik kelangit kakek tua yang mengaku bernama Plompong ini telah berhasil mendesak Tengkorak Biru mundur dua tindak. Sikutnya lalu menyodok kearah Tengkorak Putih dan pedangnya mengancam kearah Tengkorak Ijo.

Tengkorak Ijo menjadi kaget dan menjerit ketika mengetahui kalau lawannya telah mengeluarkan serangan yang hebat. Oleh karena tak ada jalan lain uutuk menghindar terpaksa ia melompat mundur dan bergulingan diatas tanah. Hingga dengan demikian ia dapat membebaskan dirinya dari ancaman serangan itu. Diam-diam didalam hatinya. Tengkorak Ijo mengakui kehebatan kakek tua ini.

Tengkorak Putih yang hanya disodok saja, ketika melihat Tengkorak Ijo diserang ia akan segera menolong. Akan tetapi begitu ia melompat maju terdengarlah teriakan Tengkorak Biru :

“Awas adi. !”

Ternyata ki Plompong sangat gesit, ketika ia melihat datangnya serangan lawan. Dan jurus yang dilontarkan belum habis ia lalu membabatkan pedangnya kearah musuh. Karena itulah terdengar teriakan ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Pemimpin keempat inipun berteriak kesakitan. Lengan kanannya telah terbabat oleh pedang lawannya hingga ia mengaduh-aduh kesakitan.

Candra Wulan yang tadinya khawatir menjadi bertepuk tangan dan bersorak-sorak dengan girang sekali.

“Ayah adalah seorang yang sakti, mana ia takut kepada kawanan anjing dan tikus!” Teriaknya dengan lantang.

Plompong sendiri menjadi tergugah semangatnya ketika mengetahui kalau dirinya masih sanggup menghajar seorang musuhnya lagi. Dengan begitu ia menjadi mendapat keringanan. Dengan mulut penuh dengan darah dan pedangnyapun telah menjadi merah pula ia lalu menghadapi Tengkorak Biru dan Tengkorak Ijo.

Ternyata Tengkorak Biru mempunyai kepandaian yang tinggi dan lagi dibantu dengan adiknya yaitu Tengkorak Ijo, maka kedua orang itu lalu mengepung lawannya. Mereka hanya dapat menyesal karena kelambatannya hingga tak dapat menolong Tengkorak Hitam dan Tengkorak Putih. Kini Tengkorak Ijopun bertempur dengan mantap mendampingi kakak seperguruannya.

Yang hebat adalah Plompong. Tidak peduli ia amat gagah perkasa. Kini ia telah terluka, berkelahi seorang diri dan waktunya telah lama sekali. Berapa lama ia akan dapat bertahan kalau kedua lawannya tetap tangguh? “Adi, jangan kau turunkan tangan jahat kepadanya.” Seru Tengkorak 

Biru dengan tersenyum. Senyum sinis penuh ejekan. “Tahukah kau?”

“Aku tahu.” Jawab Tengkorak Ijo dengan nyaring. Ia memang tahu akan maksud kakaknya ini.

Plompongpun dapat menerka maksud musuhnya ini.

“Tengkorak Biru, kau hendak menawanku hidup-hidup?” Katanya dengan tersenyum. “Jangan harap.”

Tengkorak Biru mengetahui kalau watak orang tua itu pasti keras dan berkepala batu. Ia tak mau melayaui untuk perang mulut. Sebaliknya ia menganjurkan kepada adik seperguruannya untuk bekerja lebih keras lagi. Mereka berharap supaya lekas-lekas dapat menahan musuh.

Tahulah ki Plompong kalau sebagian besar kemungkinan untuk mati amat banyak akan tetapi bagian untuk terus hidup sangatlah tipis. Karena itu ia lalu mempertahankan diri dengan mati-matian. Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mencoba merebut kemenangan. Yang hebat untuknya ialah kakek ini telah berusia lanjut akan tetapi tetap berkelahi dengan mati- matian sekian lamanya. Kali ini ia telah mengeluarkan semua kepandaiannya yang telah dipelajari dan dilatihnya selama empat puluhan tahun lamanya. Untuk tiga puluh jurus tadi ia masih dapat mendesak kedua orang musuhnya, akan tetapi kini ia hanya membela diri saja dari setiap terjangan lawannya.

Ketika dulu Pendeta Kisowosidi di gunung Lawu menciptakan ilmu pedang ‘Maruto Kurdo’ yang terdiri dari tiga puluh enam jurus. Disamping bagian penyerangan beliau juga mengatur bagian untuk mempertahankan diri. Pertahanan diri yang rapat sekali. Dengan ilmu silat inilah kakek pendeta Kisowosidi dapat mengangkat namanya tinggi-tinggi dan menjadi jago pedang nomor satu. Sekarang Plompong yang menjadi cucu muridnya mencoba membela diri dengan mengandalkan ilmu pedang yang kenamaan itu.

Setelah lewat beberapa jurus mendadak Plompong dapat menahan serangan seruling Tengkorak Biru dan menjamplok golok Tengkorak Ijo. Kembali kakek itu memperdengarkan suaranya :

“Tahan. Aku mau bicara.”

“Kau akan berpesan apa lagi?!” Bentak Tengkorak Biru bertanya dengan garang.

“Tengkorak Biru, apakah kau benar-benar menghendaki barang itu?” Tanya ki Plompong dengan tegas.

“Apakah kau sangka aku bicara sembarangan dan hanya bersendau gurau saja?!” Jawab Tengkorak Biru dengan sengit.

“Bagus.” Kata orang tua itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku dapat menyerahkan barang itu kepada kalian, asal kalianpun dapat memenuhi dua syaratku.” “Apakah itu? lekas kau bilang.” 

“Yang pertama-tama kalian harus menjamin keselamatan kedua orang

muridku ini.” Katanya dengan menatap tajam kepada Tengkorak Biru. Setelah memandang sejenak maka kembalilah kakek tua itu berkata :

“Maukah kalian berjanji?!”

Didalam hati Tengkorak Biru berkata :

‘Aku hanya menginginkan barangmu itu saja. Apakah perlunya mengambil nyawa kedua orang ini?’ Karena itulah ia mengangguk-anggukan kepala dengan tersenyum.

Melihat ini Plompong menarik napas lega, kemudian berpaling kepada Candra Wulan.

“Sekarang yang kedua.” Katanya sambil memandang kearah musuhnya. “Kalau kau menghendaki barang itu, maka sebagai orang-orang dunia persilatan maka mengambilnyapun dengan cara dunia kependekaran. Asal dalam seratus jurus kau dapat mengalahkan aku, maka barang itupun akan menjadi hak milikmu.”

Tengkorak Biru mengerutkan keningnya, ia tampak ragu-ragu. Kemudian katanya didalam hati. ‘Kau telah merasakan pukulan tanganku, masakan kau akan dapat bertahan lebih lama?. Akan tetapi ia memang sakti mungkinkah ia tak akan dapat kukalahkan dalam seratus jurus ’

Oleh karena itulah ia lalu segera mengasah otaknya. Dasar orang licik dan lekas mendapat akal. Segera ia tertawa besar dan berkakakan.

“Kau maksudkan supaya aku melayanimu bertempur?” Tanyanya untuk menegaskan. “Atau kau hendak mengajukan lain orang?”

Mendengar ini Plompong menjadi berpikir.

‘Didalam perkumpulan Tengkorak Berdarah siapa lagi yang lebih tinggi kepandaiannya dari pada kepandaian kalian?’ Begitu pikirnya. Karena itulah ia lalu segera menjawab :

“Siapapun juga boleh maju, asal dia orang perkumpulan Tengkorak Berdarah.”

Candra Wulan terkejut ketika mendengar jawaban ayahnya ini. Kebaikan ayahnya membuat Candra Wulan menjadi bersyukur. Bukankah ayahnya senantiasa melindungi kepentingannya? Gadis ini berniat untuk mencegah, akan tetapi tak keburu karena Tengkorak Biru telah mendahului dengan tertawa terbahak-bahak :

“Plompong.” Katanya sambil menarik kembali senjatanya. “Selain kau akan menyerahkan barang itu dengan baik-baik kau juga harus mematuhi peraturan adu kepandaian dalam dunia kependekaran.”

“Hal itu tak usah dibicarakan dengan banyak-banyak.” Jawab Plompong dengan tegas. “Akan kau bunuh atau kau cincang aku tak akan peduli, akan tetapi kalau bagianmu yang kalah akupun hendak bicara lagi.”

Tengkorak Biru menunjukkan sikap laki-lakinya. “Sudah pasti.” Jawabnya. “Segala peraturan kaum dunia kependekaran 

aku tak pernah melupakan.”

“Ayah, jangan kau dapat dikibuli. Jangan sampai bapa diperdayakan oleh mereka.” Kata Candra Wulan menyela.

“Apa?” Tanya Plompong dengan heran.

“Pendeta Baudenda.... Pendeta Baudenda....!” Jawab anak itu dengan terpatah-patah.

Kagetlah hati Plompong ketika mendengar perkataan anaknya ini, kupingnya menjadi kejang dan hampir-hampir ia jatuh pingsan. Teringatlah ia kepada pendeta itu. “Kalau saja barang ini terjatuh ketangan orang-orang Tengkorak Berdarah ini masih tak mengapa, akan tetapi kalau sampai terjatuh ketangan pendeta Baudenda, benar-benar hebat ”

Ia sangat menyesal sekali, akan tetapi sesalnya tak dapat mengalahkan janji yang telah diucapkannya tadi. Mana dapat Darmakusuma menyangkal kata-katanya? Ia tetap menjadi bimbang, pikirannya tidak karuhan. Memang kakek ini sangat menyesal.

Melihat ini Candra Wulan menjadi berduka. Selama enam belas tahun lamanya gadis ini ikut Plompong, akan tetapi selama itu belum pernah melihat ayahnya sedemikian berduka. Kemudian ia lalu menarik tangan kakak seperguruannya dan bertanya :

“Barang itu sebenarnya barang apakah? Kenapa ayah hendak menukar barang itu dengan nyawanya?!”

Akan tetapi Tunggorono menjawab apa yang tidak ditanyakan, memang kakak seperguruannya ini berusaha menyimpangkan percakapan ini :

“Kita datang untuk menemui Pendeta Baudenda. Siapa tahu mereka telah mengajukan permintaan ini. Terang sudah hahwa sebelumnya mereka tentu telah bersekutu. Adi Candra Wulan kalau sebentar lagi terjadi apa-apa dengan ayahmu, kau harus mendengar apa yang dikatakan oleh kakak seperguruanmu ini dengan demikian barulah jiwamu dapat terjamin....

Mendengar ini Candra Wulan menjadi mendongkol.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Serunya dengan lantang. Tunggorono segera menunjukkan wajah yang bersungguh-sungguh. “Kau tanya barang itu?” Katanya dengan perlahan. “Barang itu adalah

TUNGGUL TIRTO AYU.”

Candra Wulan menjadi kaget ketika mendengar nama TUNGGUL TIRTO AYU atau bendera kecil lambang kejayaan kerajaan Demak Bintoro dahulu yang kemudian terjatuh ketangan Ratu Kalinyamat. Sebab siapa saja yang dapat menemukan TUNGGUL TIRTO AYU ini, dialah yang berhak menduduki tahta kerajaan. Karena itulah Jaka Tingkir dan Ario Penangsang berlomba-lomba untuk mendapatkan TUNGGUL TIRTO AYU yang telah hilang dari tangan Ratu Kalinyamat. Ketika Candra Wulan mendengar nama ini ia lalu terdiam. Ki Plompong mendengar perkataan anak dan muridnya itu. Biarpun ia 

berada didalam ketegangan akan tetapi ia tetap memasang kuping dan mata

untuk mengawasi mereka. Karena itulah ia lalu teringat akan sesuatu : “Orang-orang Tengkorak Berdarah.” Katanya kepada Tengkorak Biru.

“aku hendak bicara. Akan tetapi kali ini bicara dengan anakku, bolehkah ini?!”

“Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa... aku tak khawatir kau akan terbang kabur dari sini.” Jawab ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah. Mendengar ini maka ki Plompong lalu mendekat kearah Candra Wulan dan gadis ini lalu ditariknya kepinggir.

“Masih ada perkataan yang akan kuucapkan kepadamu.” Katanya dengan pelan kepada anak gadis itu. “Kalau nanti aku telah meninggal dunia, orang yang terdekat denganmu didunia ini masih harus ditambah dengan seorang lagi yaitu MINTARAGA, jangan kau lupa!”

Mendengar ini Candra Wulan lalu menangis. “Ayah, benarkah kau akan menukar nyawamu?”

Ki Plompong tak menjawab, hanya sambil mencabut pedangnya kearah Selatan. Kemudian mengangkat kepalanya keatas dan berseru :

“Eyang... Bapa..... dulu kau dengan gagah telah mengorbankan nyawa demi kepentingan negara. Cucumu kini akan mengikuti jejakmu. Sekarang aku akan mulai dan mengikuti jejakmu eyang.... bapa ”

Ki Plompong ini sebenarnya bukan lain adalah ki Darmakusuma, beliau adalah cucu dari Tumenggung Malangyudo yang amat setia kepada kerajaan Demak Bintoro. Beliau gugur didalam penyerangan Demak kekerajaan Supit Urang.

Setelah berkata demikian maka dengan sebat Darmakusuma lalu mengayunkan pedangnya dan ditabaskan kearah lehernya sendiri.

“Ayah jangan......!”‘ Teriak Candra Wulan. Akan tetapi ia tak dapat berteriak terus, mendadak rasanya mulutnya seperti terkunci.

Juga Tengkorak Biru tak menyangka sama sekali akan kenekadan kakek sakti ini. Ia sendiri tak berdaya. Kaget dan sibuk tak karuhan.

Disaat yang tegang itu mendadak terdengarlah sebuah seruan dan disusul oleh berkelebatnya sebuah bayangan tubuh. Sebentar saja kakek tua yang hendak bunuh diri ini telah dapat dicegah. Ternyata pedangnya telah kena disamplok jatuh. Kemudian orang yang menggagalkan maksud Darmakusuma ini berkata dengan nada bengis :

“Hehh binatang, kau hendak bunuh diri?? Huhh tak segampang apa yang kau pikirkan.”

Ternyata yang mencegah perbuatan nekat dari kakek sakti Darmakusuma ini adalah seorang pendeta tua yang berusia kurang lebih tujuh puluhan tahun, akan tetapi mempunyai wajah bengis. Matanya tajam sekali, malah Candra Wulan yang berkeberanian besar menjadi terkesikap 

ketika melihat pendeta itu.

“Pendeta Baudenda, bagus kau datang.” Kata Tengkorak Biru yang telah menunjukkan wajah cerah dan gembira.

Karena pendeta itu memangnya bukan lain adalah pendeta Baudenda. Pendeta yang biasa malang melintang didaerah Selatan dan Utara sungai besar. Kekejamannya telah terkenal diseluruh penjuru dunia persilatan hingga baik kaum putih maupun golongan hitam tak ada yang berani main- main terhadapnya. Akan tetapi akhir-akhir ini karena ia dikeroyok puluhan orang maka ia berhasil dilukai tangan kirinya, hingga dengan demikian orang menyebutnya sebagai Setan Sayap Satu.

Plompong terkejut sekali, akan tetapi segera ia mundur beberapa tindak. Kedua tangannya turun dan kemudian menganggukan badannya untuk menghormat dan katanya :

“Paman.”

Pendeta Iblis ini tertawa dingin.

“Binatang.” Kata pendeta itu dengan bengis. “Sudah enam belas tahun kau menyembunyikan diri di Karang Bolong, kau kira dengan begitu kau akan dapat menyingkir dariku. Hem... kini akhirnya akupun dapat mencarimu. Jaring keadilan rapat sekali, tak bocor. Apakah yang hendak kau katakan sekarang?!”

Ki Plompong masih tetap berdiri dengan tegak. Mendengar perkataan ini mulut kakek tua itu masih tetap membungkam. Melihat keadaan yang demikian ini Tunggorono menjadi kehilangan kesabaran.

“Eyang.” Katanya dengan nyaring. “Kejadian saling bunuh-membunuh dulu itu bukan kesalahan guruku. Eyang telah mendesak guruku ini, sampai bapa guru tak mendapatkan tempat untuk menyembunyikan dirinya, apakah itu masih belum cukup?”

Pendeta Baudenda menjadi marah sekali. Entah bagaimana caranya tiba- tiba saja ia menggerakkan tangannya. Tahu-tahu Tunggorono sudah terjungkal dan berjumpalitan.

“Paman.” Seru Ki Plompong. “Aku ingin bicara.”

“Kau bicaralah.” Jawab pendeta itu. Biarpun menghadapi keponakan muridnya sendiri kakek pendeta itu masih menunjukkan roman muka yang bengis sekali.

Plompong telah berlaku dengan tenang. Ia tidak lagi memikirkan nasibnya sendiri.

“Paman datang kemari ini bukankah untuk mencari Tunggul Tirto Ayu bukan?” Tanyanya kepada paman gurunya.

Mendengar pertanyaan ini muka pendeta Baudenda menjadi merah. Benar-benar ki Plompong telah dapat menangkap isi hatinya dengan sedemikian tepatnya. Kakek pendeta tua itu lalu merogohkan tangannya kedalam saku bajunya, dan tak lama kemudian tampaklah kakek pendeta ini 

mengeluarkan sebuah   tongkat   yang   terbuat   dari   emas   murni   dan

mengangkatnya tinggi. Terdengarlah suaranya yang lantang dan mengguntur :

“Berlutut.” Serunya dengan tegas.

Akan tetapi Ki Plompong masih tetap berdiri dengan tegak. Kemudian terdengarlah perkataannya :

“Dalam hal perguruan aku menghormatmu dan memanggilmu sebagai paman guru.” Jawabnya. “Akan tetapi berbicara mengenai negara aku akan memaki dan mendampratmu karena kau adalah seorang pengkhianat. Hari ini kalau kau mau boleh saja kau membunuhku, akan bersumpah kalau aku tak akan memberi perlawanan. Akan tetapi kalau kau perintahkan aku berlutut, itu jangan kau harapkan.”

Bukan kepalang marahnya pendeta yang menjadi paman gurunya itu. Ia sangat malu karena ia sendiri telah tak dapat mempengaruhi murid keponakannya sendiri.

Mukanya yang pucat pasi dan merah padam itu kelihatan silih berganti. Karena marahnya ia lalu melompat kearah ki Plompong untuk menghajar murid keponakannya itu.

“Duduk.” Tiba-tiba terdengar suara Pendeta Baudenda dengan keras. Bersama dengan itu tubuh ki Plompong terpelanting, biarpun ia telah berusaha untuk menguatkan diri dan memasang kuda-kuda. Tentu saja hal ini menambah beratkan luka yang diderita atas pukulan Tengkorak Biru tadi. Kakek tua ini merasa kalau matanya menjadi gelap. Tubuhnya menggigil, ia merasa kalau tak dapat berdiri lebih lama lagi dan kedua kakinya menjadi lemas. Bruk. rubuhlah ia diatas tanah.

Kedua orang muridnya, Tunggorono dan Candra Wulan menjadi kaget.

Dengan serempak mereka menjerit dan maju memeluk gurunya.

“Aku akan mengadu jiwa kepadamu.” Teriaknya dengan bersama. Mereka telah lupa akan segalanya, dengan marah mereka hendak menyerang pendeta Baudenda.

Plompong rubuh tak berdaya akan tetapi pikirannya masih tetap sadar. Hingga dengan demikian ia dapat mendengar dan melihat apa yang terjadi disekitarnya.

“Apakah kalian telah lupa kepada pesanku tadi.” Tegurnya kepada putri dan muridnya.

Mendengar teguran ini tersadarlah Tunggorono, segera ia menyambar tangan adik seperguruannya yang telah bagaikan orang kalap itu, ia segera menariknya kepinggir.

Tengkorak Biru yang melihat semua peristiwa menjadi tertawa geli. “Plompong lekas kau bangun.” Tantangnya. Hal ini tentu saja hanya

merupakan ejekan belaka. “Mari kita bertempur sampai seratus jurus.” Serunya dengan tertawa. 

“Apakah kata-katamu tadi itu masih berlaku?!”

Waktu itu Plompong, sedang merayap bangun. Akan tetapi ketika ia mendengar ejekan itu tubuhnya terus mencelat bangun dan tangannya terus menyambar kearah batok kepala ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah. Entah dari mana datangnya kekuatan yang mendadak itu, walaupun ia telah terluka parah, masih dapat ia mengenjot tubuhnya itu dan mengerahkan tenaganya.

Tengkorak Biru sangat terkejut sekali melihat serangan itu. Ia telah maklum dan tahu akan kekuatan musuhnya. Tanpa ajal lagi ia lalu bergerak menghindar, akan tak urung terbentur juga sedikit. Hingga dengan begitu tubuhnya terpelanting. Hampir saja tubuh ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah ini terguling.

“Bruk” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang menyusuli serangan itu. Semua orang melihat kalau Plompong terguling dua kali, lalu kakinya berkelejotan dan kemudian tubuhnya terdiam. Ternyata Ki Plompong yang gagah perkasa itu telah menghembuskan napas terakhir.

Ternyata jago tua ini tadi telah menggunakan sisa tenaganya untuk melompat dan menyerang kearah Tengkorak Biru. Hingga dengan demikian ketika serangannya gagal ia telah tak dapat menguasai tubuhnya lagi. Tenaganya habis dan ia rubuh diatas tanah.

Dengan matinya ki Darmakusuma maka bertambahlah kematian seorang gagah perkasa keturunan seorang keturunan Tumenggung setia yang mati secara kecewa dan penasaran disebuah pulau. Pulau Iblis.

Candra Wulan menjadi kaget dan menjerit sambil menubruk kearah mayat ayahnya. Karena pukulan jiwanya maka ia jatuh pingsan pada pelukan mayat ki Darmakusuma. Akan tetapi tak lama kemudian ia sadar kembali, dan ketika membuka matanya ia melihat kakak seperguruannya ki Tunggorono, telah menggendong tubuh gurunya. Dan kakak seperguruannya ini tampak mengawasinya.

“Adi Candra Wulan marilah kita pergi.” Serunya ketika melihat adik seperguruannya telah sadar.

Sebetulnya Candra Wulan merasa jemu kepada kakak seperguruannya itu, akan tetapi tampak tadi ia membela gurunya atau ayahnya dengan tanpa melihat keselamatannya sendiri melawan eyang gurunya maka buyarlah kesan-kesan yang buruk itu.

“Kita pergi kemana?” Tanyanya sambil menangis.

“Pulang...” Jawab Tunggorono. Ia lalu berpaling kepada Tengkorak Biru lalu berkata :

“Aku hendak pergi sekarang. Marilah.”

Ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah ini hanya tertawa besar saja. “Tunggorono, kau adalah  seorang laki-laki.” Katanya. “Baik, marilah 

kita pergi.” Kemudian Tengkorak Biru lalu menoleh kepada Pendeta

Baudenda dan katanya :

“Pendeta Baudenda, harap kau menanti sebentar. Aku akan mengambil Tunggul Tirto Ayu, sebentar aku tentu kembali.”

Candra Wulan ketika mendengar ini menjadi terkejut. “Kakang.” Serunya kepada Tunggorono.

Kakak seperguruannya itu memandang kearah Candra Wulan dan tampak kalau pandangannya tenang-tenang saja.

“Adi Candra Wulan.” Katanya dengan sabar. “Kita adalah orang-orang dunia kependekaran maka sekali bilang satu tetaplah satu. Tak nanti kita bilang dua. Biarlah Tunggul Tirto Ayu kita serahkan kepada mereka supaya dapat dibuat main-main. Dengan demikian kita tak usah khawatir kalau Tunggul Tirto Ayu itu akan terbang menghilang.”

Candra Wulan masih muda dan kurang pengalaman. Akan tetapi ia sangat cerdas. Ia telah menyaksikan karena ‘Tunggul Tirto Ayu’ itu ayahnya telah mengorbankan jiwanya.

Karena membela ‘Tunggul Tirto Ayu” itu tadi hampir saja ayahnya membunuh diri. Teranglah kalau Tunggul Tirto Ayu itu sangat penting artinya. Maka sekarang ketika mendengar perkataan kakak seperguruannya itu semangatnya menjadi terbangun.

“Apa sih kaum kependekaran itu?” Katanya dengan sengit. “Menghadapi segala manusia macam begini, perlu apa memakai aturan dunia kependekaran? Kita harus menyangkal peraturan itu. Tentu tak dapat dibantah lagi dua jiwa kitapun akan dijadikan korban. Aku hendak lihat kemana perginya manusia-manusia tak tahu malu untuk mencari Tunggul Tirto Ayu?”

Candra Wulan seperti telah lupa segala-galanya. Hingga ia tak menghargai lagi Pendeta Baudenda dan kawan-kawannya. Tak peduli muka menjadi merah saking marahnya. Akan tetapi mereka harus memupus kemarahannya tanpa dapat berbuat apa-apa. Bukankah mereka menghendaki Tunggul Tirto Ayu? Bukankah Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangan Tunggorono dan entah dimana disimpannya?

Tunggorono menghela nafas. Ia tidak menjawab perkataan Candra Wulan. Hanya menarik tangan adik seperguruannya.

“Marilah.” ajaknya.

Candra Wulan mengibaskan tangannya. Hatinya masih penasaran. Ia masih mendongkol hingga untuk sesaat itu lenyap lagi kesan baik terhadap kakak seperguruannya.

Ketiga orang itu lalu bertindak menuju ketepi muara. Tak ada seorangpun yang membuka suara. Mereka masing-masing telah berpikir sendiri-sendiri. Tunggorono telah berpikir dengan secara jauh. Ia berpikir melebihi gurunya. Tunggorono telah mendapatkan sebuah daya upaya. Daya 

upaya ini dianggapnya baik sekali. Karena itulah daya upaya ini akan

diwujudkan.

Tengkorak Biru memikirkan Tunggul Tirto Ayu. Kalau ia telah mendapatkan benda ini maka Tengkorak Biru akan terbang tinggi-tinggi. Ia akan menjadi panglima, atau Tumenggung. bahkan besar kemungkinannya

untuk menjadi raja... pokoknya salah satu dari itu pasti akan mudah dicapainya kalau Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangannya.

Candra Wulan sebaliknya. Ia memikirkan kejadian-kejadian yang menimpa ayahnya. Biarpun ayahnya itu berkata kalau ia bukan anaknya sendiri. dan hal ini sangat menyedihkan hatinya. Bahkan air matanya masih

mengucur dengan deras. Apa yang telah terjadi ini sangat memukul hatinya. Sedangkan ia masih muda dan belum berpengalaman..... ia merasa kaget, heran, berduka. Semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Setelah tiba dimuara maka Tunggorono lalu memasukkan jarinya kedalam mulut dan mulai bersuit. Tiba-tiba saja terdengar suitan balasan dari para nelayan yang berada didalam perahunya.

“Mari naik keperahu.” Katanya mengajak kepada Tengkorak Biru naik kedalam perahunya. “Aku akan mengantarkan untuk mencari Tunggul Tirto Ayu.”

Tengkorak Biru adalah seorang yang berwatak licin dan cerdas. Segera ia tertawa dengan keras dan nadanya dingin.

“Silahkan disini.” Katanya sambil melepaskan sebuah anak panah kearah sebuah perahu yang sedang berlayar dengan laju.

“Hem kau khawatir kalau aku main gila didalam perahuku?”

“Ah... Bukan... Bukan...” Jawab Tengkorak Biru dengan tertawa. “Aku hanya mengkhawatirkan perahumu itu terlalu lambat jalannya. Dan nanti kita tak sampai ke Karang Bolong sebelum matahari turun. ”

Tunggorono tak bilang apa-apa lagi, ia segera melompat kearah perahu musuhnya. Ketika keduanya telah masuk kedalam perahu maka dua orang murid ki Plompong itu menjadi kaget bukan main.

Ternyata didalam perahu itu terdapat seorang pendeta tua, dan pendeta ini bukan lain adalah Setan Sayap Satu si Pendeta Baudenda.

Tengkorak Biru juga ikut terkejut. Iapun tak tahu kapan kakek pendeta tua ini telah masuk kedalam perahunya. Akan tetapi ia menabahkan hatinya dan terus tertawa :

“Eh. kaupun juga ikut?!” Katanya dengan manis.

Sepasang mata yang tajam luar biasa dari pendeta itu tampak berputar- putar.

“Hari ini udara sangat panas.” Katanya. “Maka kupikir dengan naik perahu kita akan mendapatkan hawa yang nyaman dan kipasan angin laut yang lemah gemulai.” “Benar.” Jawab   Tengkorak   Biru   dengan   mengangguk-anggukkan   

kepalanya. Akan tetapi sebenarnya didalam hati ia berkata :

“Kau sangat licin kakek pendeta.”

Ketua perkumpulan Tengkorak Berdarah ini segera memerintahkan supaya perahunya ini segera diberangkatkan.

“Sulit...!” Keluh Tunggorono dalam hatinya. “Dengan ikutnya hantu tua itu didalam perahu ini maka akan berabe...”

Ia telah membayangkan kalau tipu muslihatnya ini bakal mendapat rintangan. Karena itulah ia harus berpikir lebih jauh lagi. Terutama Tunggorono harus bertindak dengan sabar dan hati-hati.

Perahu cepat itu menggunakan layar, karena itulah maka kecepatannya menjadi berlipat ganda. Sebentar saja mulut muara telah mereka lalui.

“Gampar, kau bawalah perahu itu pulang ke Karang Bolong.” teriak Tunggorono kepada anak buahnya. Perahu itu memang mengikutinya.

Orang yang dipanggil dengan nama Gampar itu menjawab : “Baik... eeh... mana ki Plompong?!”

“Ki Plompong telah meninggal dunia......!” Jawab Tunggorono dengan sedih.

Mayat ki Plompong telah diletakkan digeladak perahu dan Tunggorono lalu melepaskan bajunya, untuk menutupi wajah gurunya yang tercinta.

Sekelebat tampaklah wajah ayahnya ini. Candra Wulan melihat seraut wajah yang tenang. Kedua matanya ditutup rapat-rapat. Ia tak tahu mengapa ayahnya ini mati dengan sedemikian tentramnya, sedangkan kematiannya tak wajar. Dalam keadaan marah dan penasaran. Hatinya panas bukan main ketika melihat musuh-musuhnya berada dihadapannya. Menurut keinginannya ingin rasanya ia menghajar mereka itu sampai mampus....

Perahu yang mereka tumpangi itu benar-benar patut kalau dikatakan perahu cepat. Karena jalannya sangat laju. Belum ada sepenanak nasi lamanya mereka telah berada ditengah laut lepas. Kalau perahu itu laju dengan tanpa berisik, maka keempat penumpangnya inipun sangat tenang, sepi. Tak seorangpun yang mengeluarkan perkataan. Mereka hanya memasang kuping dan mendengarkan gelombang air yang memecah ditepian perahunya.

Candra Wulan tak biasa melakukan perlayaran yang demikian ini. Juga ia merasa kesepian karena semua penumpangnya berdiam diri saja. Akan tetapi ia sendiri sungkan untuk mulai membuka percakapan, karena itulah gadis cilik ini hanya membuka mulut untuk menarik napas saja.

Tunggorono sering mengerling kearah adik seperguruannya.

“Adi Candra Wulan.” Katanya. “Aku ingin menceritakan sebuah dongeng kepadamu. Sukakah kau mendengarkannya?”

Sebenarnya gadis ini tak gembira mendengarkan cerita, akan tetapi ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. “Kau hendak menceritakan apa?” Tanyanya. Ia merasa lebih baik kalau 

salah seorang dari mereka bercakap-cakap dari pada membisu seribu bahasa.

Bungkam bagai mayat hidup....

“Dongeng tentang tiga pahlawan Demak Bintoro.” Jawab kakak seperguruannya.

“Ah...!” Desah Candra Wulan. Ia merasa heran dari manakah kakak seperguruannya ini mendapatkan sebuah cerita yang sebagus itu.

Tunggorono mendongakkan kepalanya mengawasi mega-mega yang sedang melayang-layang diatasnya. Otaknya terus bekerja. Akan tetapi tak lama kemudian ia telah mulai mendongeng.

“Setelah kerajaan Demak Bintoro mulai suram, Sorohnyowo, Kertoyudo dan Malangyudo adalah tiga orang tumenggung yang setia kepada kerajaan Demak Bintoro. Mereka ini dengan gigih ikut berjuang melawan para pemberontak dari Jipang Panolan.

“Sudah Kakang.” Potong Candra Wulan setelah mendengar kalau ceritanya sampai kesitu. “Aku telah mendengar cerita itu, apakah kau tak punya cerita lainnya?!”

“Siapakah yang menceritakan cerita ini kepadamu?!” Kini balik Tunggorono yang bertanya.

“Ayahku.”

Begitu menyebut ayah, mata gadis itu menjadi merah. Tanpa sesadarnya ia lalu menoleh ketubuh Plompong yang telah tak bergerak sama sekali. Ia mengerling beberapa kali.

“Dongeng yang ayah ceritakan kepadaku sangat menarik hati dan juga amat banyak jumlahnya.” Kemudian katanya lagi. “Tiga pahlawan Demak Bintoro dan pengorbanannya. Tentang Tumenggung Kertoyudo yang bersekongkol dengan musuh dan kemudian menjual negaranya. Kertoyudo inilah yang menjual Tunggul Tirto Ayu kepada raja Supit Urang. Karena kemarahan para pejuang maka Tunggul Tirto Ayu itu dibuang kelaut selatan. Semuanya ini telah aku dengar dari ayah. Ketika ayah bercerita tentang Tumenggung Malangyudo, matanya menjadi mcrah. Aku tak tahu sebabnya. Ayahpun tak hendak menjelaskan. Ayahku adalah seorang yang ramah, akan tetapi siapa tahu kalau sekarang ia mati ditangan orang-orang jahat.

Setelah berkata demikian gadis kecil ini lalu mengerling kearah pendeta Baudenda dan Tengkorak Biru. Ia melirik sambil mendelik. Diam-diam kedua orang itu mendongkol, tetapi mereka tetap berdiam diri. Pendeta Baudenda dan Tengkorak Biru memang bermaksud berbuat baik kepada Tunggorono. Karena itulah mereka tak mau mengganggu gadis kecil yang menjadi adik seperguruan dari Tunggorono.

Didalam hati kecilnya Tunggorono berkata :

‘Ayahmu ini adalah cucu sejati dari mendiang Tumenggung Malangyudo. Sayangnya kau tak mengetahuinya ’ Segera ia melanjutkan ceritanya : 

“Tumenggung Kertoyudo  itu benar-benar menjemukan  sekali. Dialah

yang menyebabkan keruntuhan kerajaan Demak Bintoro. Dia menganggap kalau jasanya telah sangat besar dan luar biasa, lalu disebuah batu di Karang Bolong dia mengukir peringatan pahalanya. Bunyi batu bertulis itu ialah : Tumenggung Kertoyudo adalah seorang gagah perkasa yang telah banyak membela negara akan tetapi ia juga yang menyebabkan keruntuhan kerajaan Demak Bintoro.

“Aku adalah seorang dari Selatan maka aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri.” Kata Tunggorono.

Sekonyong-konyong pendeta Baudenda ikut bercampur mulut. “Pergilah hajar dia. Pergilah jika kau berani.”

Akan tetapi Tunggorono tak menggubris sama sekali perkataan pendeta yang juga menjadi eyang gurunya itu.

“Akhirnya Tumenggung Kertoyudo itu tak terima kematiannya.” Kemudian terusnya. “Namun bukan saja raja Supit Urang itu menaikkan pangkatnya, malahan disuatu malam ia dimusuhi oleh orang Supit Urang dan dibunuh mati.”

“Benarkah itu?” Candra Wulan memotong. Tunggorono menjawab akan tetapi tidak langsung.

“Ketika raja Supit Urang mulai membangun kerajaannya mereka tak punya tanda kebesaran. Yah tanda kebesaran yang akan diturunkan kepada keturunan-keturunannya. Negara Supit Urang merasa malu dan akan ditertawakan kepada negara-negara lain kalau tak punya suatu tanda kebanggaan. Sebab semua negara tentu mempunyai tunggul sebagai lambang negara.

Karena ia tak punya tunggul maka negara Supit Urang mulai berani menyalahi kerajaan Demak Bintoro dan bermaksud mengambil Tunggul yang telah diberikan kepada ratu Kalinyamat. Tunggul itu adalah Tunggul Tirto Ayu. Yang berarti Tunggul yang bergelombang seperti air dan kepunyaan seorang ratu putri yang cantik jelita. Dan Tunggul Tirto Ayu ini adalah perlambang dari pada kejayaan negara Demak Bintoro. Namun sayang Kertoyudo telah menjual Tunggul ini kepada kerajaan kerajaan Supit Urang.

Akan tetapi untung sekali para pendekar mendengar perihal ini dan dengan diam-diam lalu mencuri Tunggul Tirto Ayu dari kerajaan Supit Urang. Karena itulah maka Tumenggung Kertoyudo yang tadinya terkenal sebagai patriotik ini menjadi dicap sebagai pengkhianat.

“Memang.” Seru Candra Wulan yang segera ikut campur berbicara. “Tunggul Tirto Ayu lalu dibuang kelaut kidul.” Dengan begitu saja kita dapat memastikan kalau tak akan ada orang yang dapat mencarinya. “Kakak Tunggorono, pernah aku mendengar cerita bahwa siapa saja 

yang dapat menemukan Tunggul Tirto Ayu ini akan dianggap sebagai

pewaris kerajaan Demak Bintoro yang sah. Ini menurut perkataan Sultan Trenggono yang mangkat dipeperangan Supit Urang. Dan selain itu pemegang Tunggul Tirto Ayu ini akan menjadi raja selama-lamanya. Benarkah ini kakang?!”

Tengkorak Biru dan Pendeta. Baudenda tercekat hatinya ketika mendengar perkataan Candra Wulan itu. Akan tetapi mereka tetap berdiam diri saja, karena masing-masing mempunyai jalan pikiran sendiri-sendiri.

Tunggorono sebaliknya menjawab pertanyaan adik seperguruannya ini dengan berteriak :

“Kalau aku yang mengatakan, maka siapa saja yang mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu akan celaka.”

Mendengar perkataan ini Pendeta Baudenda dan Tengkorak Biru menjadi terkejut bukan main. Hati kedua orang jahat ini benar-benar kaget.

“Apa?” Tanya Candra Wulan sambil mementang matanya lebar. “Apakah kau tahu tentang riwayat Tunggul Tirto Ayu itu?!” Jawab

Tunggorono balik bertanya kepada adik seperguruannya. “Ketika dulu Kerajaan Demak Bintoro masih jaya, kerajaan Demak lalu mempersatukan negara-negara taklukannya. Waktu itu yang memerintah adalah Sultan Patah, atau yang lebih terkenal dengan nama Raden Patah. Raja Demak pertama ini bercita-cita untuk menurunkan kerajaannya ini kepada anak cucunya. Untuk itu Raden Patah lalu menyuruh Sunan Bonang untuk membuat sebuah tunggul tanda persatuan Demak Bintoro dan para jajahannya semua. Tanda ini bukan berarti untuk persatuan saja, melainkan juga untuk kemakmuran, dan kekuatan Demak Bintoro. Karena menurut Sunan Bonang lambang yang dipakai dan paling tepat adalah air, sebab waktu itu kerajaan Demak Bintoro terkenal sebagai negara yang mempunyai angkatan laut yang kuat. Hingga dengan demikian tunggul itu dinamakan Tunggul Tirto. Akan tetapi karena turun temurun Tunggul itu diserahkan oleh setiap permaisuri Raja Demak maka Tunggul itu diberi tambahan nama dengan Ayu yang berarti wanita. Hingga sampai sekarang terkenal Tunggul Tirto Ayu.”

Tertarik juga hati Candra Wulan ketika mendengar cerita ini.

‘Kiranya kakang mengetahui berbagai hal-hal penting.’ Serunya didalam hati. Dan kembalilah Tunggorono mendapat kesan baik dari adik seperguruannya.

Pendeta Baudenda dan ketua dari perkumpulan Tengkorak Berdarah menjadi mendelu. Beberapa kali mereka itu mengeluarkan gerutuannya.

“Hem... hem...”

“Adi Candra Wulan kau tadi bilang kalau Tunggul yang telah dibuang ke Laut Kidul itu tak dapat dicari oleh seseorang itu ternyata tidak benar. Aku mengetahui seseorang. Ia adalah seorang nelayan. Pada enam belas 

tahun yang lalu ketika nelayan itu sedang menangkap ikan dilautan kidul,

dia beruntung mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu. Karena ia adalah seorang nelayan yang tak tahu apa-apa maka ia tak tahu apa itu yang ditemukan. Akan tetapi tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang pendekar besar. Rupa-rupanya orang gagah itu kasihan kepadanya, hal ini dapat dinyatakan karena pendekar itu memberinya uang dan memberi pelajaran membaca. Tak lama kemudian pendekar yang baik hati itu melihat Tunggul Tirto Ayu itu, melihat ini pendekar besar itu sangat girang dan sampai menangis. Ternyata ia adalah keturunan dari Tumenggung Malangyudo dan kedatangannya kelaut Kidul ini karena akan mencari Tunggul Tirto Ayu ini. Begitulah maka Tunggul Tirto Ayu itu terjatuh ketangan pendekar besar tadi. Dan semenjak saat itu si nelayan diberinya pelajaran ilmu silat.”

Tiba-tiba saja terdengar suara Candra Wulan menyela :

“Nelayan itu adalah kau dan pendekar besar itu adalah ayahku.

Betulkah demikian kakang?!”

“Benar.” Jawab Tunggurono mengakuinya. “Hanya setelah Tunggul Tirto Ayu itu dapat diketemukan, entah bagaimana terus saja tersebar kabarnya dengan luas. Hingga dengan demikian dunia kependekaran menjadi gempar. Kesudahannya menjadi hebat. Setiap hari laut kidul selalu kedatangan orang-orang yang bertubuh kekar dan menyandang tombak atau pedang. Hingga dengan demikian daerah laut kidul menjadi penuh dengan para tetamu yang mengandung maksud. Mereka lalu saling bertempur dengan hebat, maklumlah karena saling curiga mencurigai. Ayahmu tak mau meladeni mereka, hanya saja kadang-kadang ia memberi hajaran kepada mereka hingga sedikit demi sedikit mereka dapat diusir dari daerah situ. Akan tetapi belakangan ini datang seorang sakti. Ah... belum pernah aku menyaksikan pertempuran seperti mereka ”

“Siapakah mereka itu ?” Tanya Candra Wulan dengan tertarik.

“Mereka adalah orang-orang dari kerajaan.” Jawab Tunggorono. Orang- orang sakti dari delapan penjuru mata angin dan golongan. Bahkan ada pula keturunan dari Tumenggung Kertoyudo.

“Diantara mereka itu juga terdapat ayahmu yang sejati...!” Sela Tengkorak Biru si kepala perkumpulan Tengkorak Berdarah. Memang sejak tadi orang ini hanya berdiam diri saja, atau paling-paling hanya mengeluarkan suara : ‘hem... hem...” saja. “Sayang sekali ayahmu yang sejati itu telah mati ditangan ayahmu yang palsu ”

Kata-kata ini bagaikan samberan geledek bagi Candra Wulan.

Kembali Tengkorak Biru memainkan mulutnya. Hem... Hem...” Tak lama kemudian mengeluarkan perkataan yang benar-benar menyakitkan telinga : “Aku mengatakan kalau ayahmn yang sesungguhnya telah dibinasakan 

oleh ayahmu yang palsu yaitu Darmakusuma ini. Ayahmu mati dibawah

pedangnya. Jika kau tak percaya maka bertanya kepadanya.” Kata Tengkorak Biru sambil menunjukkan telunjuknya kepada Tunggorono.

Tunggorono segera memandang kearah adik sepeguruannya. Akan tetapi tatapannya kali ini lain dari pada yang lain, matanya menyala bagaikan api.

“Apa yang dikatakannya sedikitpun tak salah.” Kata Tunggorono. Kembali ia memandang kearah adik seperguruannya. “Ayahmu sebenarnya adalah anak dari Tumenggung Kertoyudo, pada enam belas tahun yang lalu ayahmu itu dibunuh oleh guruku ini, ki Darmakusuma yang kemudian mengambilmu sebagai anaknya.”

Mendengar ini kepala Candra Wulan menjadi pusing. Telinganya mengiang-ngiang, hampir saja ia roboh pingsan. Sejenak ia tak dapat mengucapkan sebuah perkataanpun. Bukankah selama enam belas tahun ini ia dan ayahnya telah hidup bersama-sama? Bukankah ayahnya sangat menyayanginya? Dia dipelihara, dididik dan belum pernah sekalipun diperlakukan dengan bengis. Orang semacam ayah ini mana mungkin dapat membunuh ayahnya yang sejati? Benarkah ia menjadi musuhnya?

Pendeta Baudenda yang semenjak tadi hanya berdiam diri tak ikut campur bicara tiba-tiba saja tertawa dengan nada mengejek dan kemudian terdengar perkataannya :

“Eh... Candra Wulan, apakah kau masih mengingat-ingat budi kebaikan binatang ini?” Demikian katanya. “Kuberitahukan kepadamu kalau ayahmu itu bernama Candraloka. Dia anak dari Tumenggung Kertoyudo. Dulu tiga pahlawan besar itu telah berjanji untuk berjuang bersama dan mati bersama. Turunan mereka juga mengangkat saudara satu sama lainnya. Eratnya hubungan mereka itu melebihi saudaranya sendiri. Akan tetapi akhirnya binatang ini, dia telah membunuh adik angkatnya, yaitu Candraloka. Sudah begitu masih terjadi yang hal yang hebat pula. Dia ini berhati serigala, bahkan berparu-paru anjing. Bersama dengan itu Darmakusuma telah melukai saudara kandungnya, Jogosatru. Karena lukanya itu maka sampai dua tahun Jogosatru tak dapat bangkit dari tempat tidurnya dan harus berobat. Maka katakanlah kalau aku menggunakan alasan aturan rumah tangga untuk menghukumnya ini pantas atau tidak?”

Candra Wulan menjadi bingung bukan main. Makin didengar urusan makin aneh. Tiga mulut yang mengatakan, apakah dia tak akan percaya?

Gadis ini segera mengawasi mayat yang membujur dihadapannya. Inilah mayat orang yang paling disayanginya... itu juga yang menjadi musuh besarnya... ia adalah seorang gadis yang polos. Dengan cara bagaimanakah ia dapat menghadapi pukulan batin yang demikian hebatnya?

Tiba-tiba gadis ini menubruk mayat itu dan mendekapnya. “Ayah!” Serunya. “katakanlah bahwa bukan kau orangnya yang telah 

membunuh ayahku. Ayah. !”

Ia menangis dengan tersedu-sedu, lama tak berhenti-henti.

Pendeta Baudenda menjadi kehilangan kesabarannya. Ia melompat kepada gadis itu dan menjambak lalu diangkat.

“Bocah tenanglah kau.” Bentaknya.

Candra Wulan berontak untuk membebaskan jambakan itu. Setelah bebas ia menyusut air matanya. dan menatap tajam-tajam kepada pendeta kejam itu.

“Siapa kau?!”

Pendeta Baudenda itu tertawa.

“Aku?!” Katanya. “aku adalah gurunya Jogosatru. Aku adalah paman guru dari Darmakusuma. Jika binatang ini ayahmu, maka kau harus memanggilku sebagai eyang guru.

Tumenggung Malangyudo meninggal dengan menurunkan seorang putra. Yaitu pendekar Besar Wiratsangka. Dia ini telah membunuh Candraloka. Akan tetapi pada saat itu juga ia kena jebak dan terbunuh karenanya. Pendekar itu meninggal dunia dengan meninggalkan dua orang putra. Mereka adalah Darmakusuma dan Jogosatru. Dua orang saudara ini masing-masing telah berpisah untuk belajar silat kepada dua orang tokoh perguruan Lawu yaitu Pendeta Argo Bayu dan Baudenda...