Tikam Samurai Si Bungsu Episode 6.5 (Tamat)

Rambutnya gondrong, wajahnya pucat dan kotor sekali. Dari pakaian lorengnya yang sudah menguning karena lumpur, dia tahu orang ini adalah tawanan Amerika. Dia terbatuk tiba-tiba. Masih ada sisa air di dadanya saat dia jatuh tercebur. “Hei, selamat datang di neraka…” ujar orang yang dia tatap sambil melepaskan pegangan tangannya di dada Si Bungsu. Begitu tekanan tangannya dia lepas, tubuh Si Bungsu tiba-tiba melorot masuk ke air. Tentara itu menjambak rambut Si Bungsu, persis sebelum hidungnya masuk ke air. 

“Hei orang asing, itu kali terakhir aku menolongmu. Setelah itu kau harus menolong dirimu sendiri.

Sudah dua hari kau kupegangi agar tak mampus lemas…” ujar tentara itu menyumpah.

Si Bungsu memperkuat tegaknya di dalam air. Kemudian dia mengangguk, lalu jambakan pada rambutnya dilepaskan. Tubuhnya masih doyong dan jatuh berlutut, kepalanya segera tenggelam. Dia cepat menyesuaikan diri. Sesaat kepalanya muncul, dia kembali terbatuk. Kedua tentara Amerika yang sudah hampir dua hari memegangi ketiga orang itu hanya menatapnya dengan diam. Si Bungsu dengan susah payah melangkah di dalam air kuning kental yang hampir setinggi leher dan lumpurnya ternyata tebal sekali di dasar kurungan tersebut. Kemudian dia bersandar ke dinding tanah.

Cahaya matahari siang yang menerobos masuk dari celah dedaunan kering, yang selintas kelihatan hanya seperti timbunan sampah yang menutup bahagian atas kurungan itu, membantu Si Bungsu mengenali ‘rumah baru-‘nya tersebut. Sambil bersandar dia mengurut beberapa urat di tengkuknya. Kemudian di perutnya. Dalam waktu tak begitu lama, semua rasa sakit akibat hantaman popor itu lenyap. Kemudian dia menoleh pada mayat yang mengapung tertelungkup hanya semeter dari tempatnya tegak. Dia segera tahu, mayat itu adalah mayat tentara yang kena malaria tropikana itu.

Kemudian matanya menatap kepada dua tentara yang masih terkulai yang dipegang oleh dua temannya. Dia tahu, kedua tentara itu adalah yang sama-sama diangkut dengannya dengan truk. Dia juga tahu, kedua mereka pingsan akibat pukulan popor senapan di belakang kepalanya, seperti yang dia terima sebelum jatuh ke lobang ini. Si Bungsu melangkah ke arah mereka. Di bawah tatapan kedua tentara itu dia mengurut perlahan urat di belakang tengkuk dan pada bahagian tertentu dekat pusar kedua tentara yang masih pingsan tersebut. Tak lama kemudian kedua tentara yang pingsan itu terdengar mengerang. Kemudian nafas mereka mulai normal. Kemudian membuka mata. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Kedua tentara yang tadi

memegang mereka menyumpah dan menatap heran pada Si Bungsu.

“Pantat kurap! He.. orang asing, apakah kamu punya ilmu sihir makanya bisa membuat orang sembuh secepat itu?” ujar yang rambutnya hampir botak. “Terimakasih, kawan. Kalian sudah menyelamatkan nyawa saya dan orang-orang ini dengan memegang kami agar tak mati terbenam selama….. berapa lama tadi kau katakan?” ujar Si Bungsu. “Pantat kur….” Sumpah serapahnya terhenti karena disikut temannya yang seorang lagi. “Hei…. Hei..! Kenapa kau main sikut. Karena kau letnan dan aku Sersan, he? Tak kau lihat keanehan yang dia lakukan? Hanya dengan menjilat tengkuk dan pusat si kerempeng yang berdua ini, dia bisa membuat mereka bangkit dari liang kubur. Tak kau lihat keanehan itu…?”

Si rambut hampir botak itu benar-benar mencerocos seenak udelnya. Mengatakan Si Bungsu menjilat tengkuk dan pusar kedua orang itu. Padahal yang dilakukan Si Bungsu adalah mengurut dengan jari-jarinya. Kemudian dia mengatakan kedua orang yang baru ditolong Si Bungsu itu sebagai dua orang yang ‘kurus kerempeng’. Seolah-olah tubuhnya gemuk benar, padahal hanya tinggal tulang belulang. Si letnan, seorang Negro dengan bibir tebal dan rambut benar-benar kribo saking lamanya tak bertemu tukang pangkas, yang menyikut si Sersan hampir botak itu, tersenyum mendengar cerocos kawannya.

“Hai, kawan Anda bisa bahasa Inggris?” tanya letnan Negro tersebut dengan sikap sopan. Si Bungsu mengangguk. Kemudian menatap jerajak bambu yang di atasnya ditimbuni sampah, jauh di atas kepala mereka. Saat itu seekor cecak jatuh dari sela-sela timbunan dedaunan tersebut. Belum sampai sedetik tubuh cecak kecil itu terhempas ke air, Si Bungsu dibuat terkejut oleh apa yang dilakukan kedua tentara tersebut. Mereka hampir serentak, melompat ke arah jatuhnya cecak tadi dengan tangan terulur dan jari-jari terkembang siap menangkap cecak, itu. Ternyata si hampir botak lebih cepat. Si Bungsu dapat melihat dengan jelas tangan kanan Sersan itu menyambar cecak yang baru jatuh itu.

Namun si hampir botak tak segera berdiri. Dia justru langsung menyelam. Si letnan menarik nafas, kemudian melangkah lagi ke dinding. Lalu matanya menatap ke atas, ke arah bambu yang menjadi atap lobang seperti mengharapkan sesuatu jatuh lagi dari atas sana. Saat itulah si hampir botak timbul lagi dari menyelam. Si Bungsu merasa mual tatkala melihat ujung ekor cecak itu masih tersembul sedikit di antara bibir si hampir botak. Ekor cecak itu masih bergerak-gerak. Namun dengan cepat lidah si hampir botak terjulur keluar, mulutnya ternganga sedikit, dan ekor cecak itu lenyap!

Kemudian kelihatan si hampir botak menelan dengan luar biasa nikmatnya. Si letnan, dan dua tentara yang tadi datang bersama Si Bungsu hanya melihat dengan diam. Malah selera mereka seperti ikut terangsang melihat si hampir botak itu menikmati cecak sebesar telunjuk tersebut. Si Bungsu menahan rasa mualnya dengan menatap dinding kurungan yang seluruhnya terdiri dari tanah napal.

Nampaknya lumpur yang ada di bawah kaki mereka sengaja dimasukkan, begitu juga airnya. Sebab air yang      kedalamannya      hampir      mencapai      leher      mereka       itu,       kuning       dan       bau       sekali. Hal itu tentu berbeda kalau air ini berasal dari dalam tanah. Saat itu si Sersan yang tadi bertanya apakah Si Bungsu bisa berbahasa Inggris kembali bersuara.

“Saya tahu bangsa Amerika berasal dari berbagai suku bangsa. Anda dari tentara reguler atau wajib militer?” tanya letnan tersebut. Si Bungsu menatap letnan itu beberapa saat. Kemudian menatap Sersan yang hampir botak kepalanya itu. Lalu dua tentara lainnya, yang sama-sama diangkut bersama dia dengan truk. Keempat orang itu, semuanya berpakaian loreng yang sudah kehilangan bentuk, lusuh dan robek hampir di seluruh tempat, menatapnya dengan diam.

“Tidak, saya bukan dari ketentaraan Amerika…” jawab Si Bungsu perlahan. Si Letnan dan ketiga tentara lainnya terdiam sembari menatap Si Bungsu beberapa saat. “Well, kalau begitu Anda tentu bertugas sebagai mata-mata bayaran?” tanya si letnan, namun ucapannya segera disambar si kepala hampir botak. “Sudah kukatakan tadi, dia tukang sihir.…”

Namun si letnan dan kedua tentara yang lainnya tak ambil peduli dengan ucapan si Sersan. Begitu juga Si Bungsu. “Saya orang Indonesia. Saya tidak berkerja untuk dinas rahasia mana pun, termasuk yang tadi Anda sebutkan…” ujar Si Bungsu perlahan. “Pantat kudis! Kalau begitu dia ini mata-mata Vietnam, yang sengaja diselusupkan.…” Ucapannya terhenti lagi oleh tepukan tangan si letnan di tengkuknya. “Pantat! Kau tak percaya dia mata-mata Vietnam? Dia sudah mengatakan tidak bekerja untuk Amerika, lalu untuk siapa lagi dia bekerja, kalau bukan untuk Vietnam? Dia mengatakan orang In…. apa itu tadi? Mana ada negara yang dia sebutkan tadi…” ujar si Sersan, yang seumur hidup memang tidak pernah mendengar ada negara bernama Indonesia.

Si Bungsu kembali memperhatikan lobang besar tempat mereka dikurung, kemudian menatap ke atas. Dari semua yang dia perhatikan, dia yakin siapapun yang disekap di lobang ini, termasuk dirinya, takkan bisa melarikan diri tanpa bantuan orang yang berada di atas sana. Dia yakin, kalaupun mereka bisa mencapai bambu yang menutup lobang ini, misalnya dengan cara yang satu berdiri di bahu yang lain, agaknya tiga atau empat orang sambung bersambung, pintu bambu itu takkan bisa mereka buka. Dari bawah kelihatan tiga kayu sebesar manusia gemuk, dibelintangkan di “atap” bambu.

“Di mana Indonesia itu? Salah satu negara di Afrika atau Asia Tengah?” ujar si letnan yang seumur hidup juga belum pernah mendengar nama Indonesia. “Antara Singapura dengan Australia…” ujar Si Bungsu. “Oo… sebelah mana Bali…?” tanya si letnan. Si Bungsu balas menatap si letnan. “Anda pernah ke Bali…?” “Tidak, tapi negara itu kabarnya indah sekali. Sebuah sorga di laut Pacific, kata orang…” ujar letnan tersebut.

Si Bungsu menarik nafas. Bagi dia, yang hampir setahun berada di Amerika, menjelajahi belasan kota di sana, antara lain New York, Dallas, Los Angeles, Washington DC dan San Fransisco, ucapan si letnan bukanlah hal yang aneh. Sebagian besar orang yang dia kenal di Amerika memang tak pernah mengenal nama Indonesia. Sebagian kecil di antaranya hanya mengenal nama Bali. Bahkan beberapa di antara yang dia kenal justru pernah datang ke Bali. Tapi sebahagian dari mereka yang pernah ke Bali juga tak tahu bahwa Bali itu hanyalah sebuah pulau yang amat kecil di negara bernama Indonesia.

Dia tak tahu kenapa kejanggalan seperti itu, tak dikenalnya nama Indonesia oleh kebanyakan orang Amerika, bisa terjadi. “Bali itu adalah bahagian dari Indonesia…” ujar Si Bungsu perlahan sambil jari-jari kaki kanannya menggaruk betis kaki kirinya di dalam air, yang terasa gatal sekali. Matanya kembali menatap loteng bambu di atas sana. “Ingin mencoba lari…?” ujar si Letnan. Si Bungsu menatapnya. “Kami sudah lebih dari setahun di sini, kau lihat dinding itu?” ujar si letnan sambil menunjuk ke dinding yang berada di sebelah kanannya.

Si Bungsu menoleh ke arah yang ditunjuk letnan tersebut. Dinding itu, setinggi yang bisa dijangkau tangan, penuh goresan pendek-pendek. Nampaknya tiap sembilan goresan pendek ditutup dengan sebuah garis menyilang. Goresan menyilang di dinding itu menjadikan tiap satu ikat goresan tersebut genap sepuluh. Ada puluhan ikat goresan memenuhi dua dinding tanah napal tersebut.

“Satu goresan adalah satu hari. Kami berhenti pada goresan ke lima ratus. Semula pada setiap goresan kami memiliki harapan untuk bebas. Baik dibebaskan teman, dibebaskan karena perang usai dan kesepakatan penukaran tawanan perang diperoleh antara Amerika dan Vietkong, atau bebas karena melarikan diri. Namun, barangkali sudah beberapa bulan yang lalu kami berhenti menggores. Tak ada gunanya membuat goresan lagi. Kami berhenti berharap. Dahulu jumlah kami tujuh orang. Lihat dinding itu, ada tujuh nama di sana. Yang lima yang diberi tanda sudah mati di lobang ini. Yang terakhir mati adalah Sersan Matley, barangkali dua bulan yang lalu…” tutur si letnan perlahan.

Keadaan menjadi sunyi saat Si Bungsu menatap ke arah tujuh nama di dinding tersebut. Menatap lima tanda di ujung lima nama. Dari dua nama yang tertoreh di sana, yang belum diberi tanda, Si Bungsu menjadi tahu nama kedua orang yang masih hidup ini. Sebab di akhir tiap nama mereka dicantum kan pangkat yang bersangkutan. Si letnan ternyata bernama PL Cowie. Dia tak tahu apa kepanjangan PL tersebut. Kalau Cowie pasti nama klan atau nama ayah. Sementara si Sersan yang rambutnya hampir habis, sehingga kepalanya hampir botak, yang kalau bicara suka menyumpah dan memaki, bernama Tim Smith.

“Well, kalian yang berdua, apa pangkat kalian dan dari kesatuan mana kalian?” ujar si letnan kepada dua tentara Amerika yang datang bersama Si Bungsu. “Yes, Sir. Sersan Mike Clark dari Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, pasukan infrantri…” ujar yang seorang. “Kopral Jock Graham dari Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, bahagian radio…” ujar yang seorang lagi. “Dan Anda, Tuan?” ujar Letnan Cowie pada Si Bungsu. “Saya orang sipil, nama saya Bungsu….” Semua mata menatap ke arahnya.

“Maaf, saya sangat yakin Anda bukan mata-mata untuk siapa pun. Namun, sebohong apapun cerita yang akan Anda sampaikan, harap beritahu kami, kenapa Anda sampai ikut ditawan dan disekap bersama kami…” ujar Cowie. “Anda dari pasukan SEAL?” tanya Si Bungsu kepada letnan jangkung itu. Letnan itu menatap ke arahnya. Begitu juga yang lain. “Kenapa Anda menebak seperti itu?”

“Hanya firasat. Saya pernah bertemu beberapa anggota SEAL, dan Anda punya ciri seperti mereka…” ujar Si Bungsu perlahan. Keempat tentara Amerika itu menatap ke arahnya. “Siapa anggota SEAL yang Anda kenal?” tanya si letnan.

Si Bungsu ganti menatap letnan itu dengan tajam. Dia haqqul yakin, Cowie adalah anggota SEAL yang terkenal itu. Lalu berkata perlahan. “MacMahon….” “Kolonel MacMahon? Si Bungsu mengangguk, letnan tersebut tertegun. Begitu juga yang lain. “Anda mengenal Kolonel MacMahon…?” “Ya….” “Di mana?” “Di tempat dia disekap bersama tentara Amerika yang lain, di sebuah goa di bukit batu di daerah selatan. Tapi sekarang mereka sudah bebas.…” “Kolonel MacMahon bebas?” “Ya….!” “Pertukaran tawanan perang?” Si Bungsu menggeleng. “Melarikan diri?” Si Bungsu mengangguk. “Anda ada di sana saat dia melarikan diri…?”

Si Bungsu menarik nafas. Menatap sesaat kepada ke empat tentara Amerika yang tubuh mereka sudah mirip jailangkung karena kurusnya itu. “Ya… saya di sana.…” jawab Si Bungsu perlahan. Ke empat tawanan kurus seperti jailangkung itu tertegun. “Anda juga ikut tertawan dengannya?” ujar Letnan Cowie dengan penuh keingintahuan. “Tidak…”

Untuk sesaat letnan Negro berbibir tebal dan berambut kribo karena tak pernah bertemu tukang pangkas itu menatap Si Bungsu. Kemudian dia berkata perlahan. “Jika demikian. Anda pastilah salah seorang dari orang-orang yang membebaskan Kolonel MacMahon…” ujar Cowie perlahan. Jari-jari kaki kiri Si Bungsu ganti menggaruk betis kanannya di dalam air yang menjadi gatal pula. Kemudian tangannya menggaruk paha, lalu dada. Lalu punggung. Sekujur tubuhnya terasa gatal. Si rambut hampir botak tertawa terkekeh melihat Si Bungsu menggaruk kiri kanan, atas bawah. “Anda salah seorang yang membebaskan Kolonel MacMahon?” kembali Letnan Cowie bertanya. Si Bungsu akhirnya mengangguk perlahan. Kendati ada sedikit kesalahan dalam perkiraan tersebut. Dia bukan ‘salah seorang’ dari yang membebaskan MacMahon. Dia adalah satu- satunya orang yang membebaskan perwira tersebut bersama belasan yang lain. Tapi tak ada gunanya menjelaskan hal itu dalam kurungan dengan air berlendir seperti yang mereka huni sekarang. “Lalu Anda tak berhasil melarikan diri dan tertangkap?” ujar Cowie. Si Bungsu kembali mengangguk. “Fuck! Orang ini ternyata bisu. Dia hanya bisa mengangguk dan menggeleng…” Sersan Tim Smith, tentara yang rambutnya hampir botak itu, memaki sambil terkekeh.

Letnan Cowie menarik nafas panjang, tetapi matanya menatap tajam pada Si Bungsu. “Maaf, tadi Anda mengatakan bukan tentara mana pun. Saya yakin itu. Saya juga yakin Anda bukan mata-mata pihak mana pun. Namun kenapa Anda berada bersama pasukan yang membebaskan MacMahon? Anda penunjuk jalan bagi pasukan pembebas itu…?” ujar Cowie. “Tidak, saya datang ke sana karena harus membebaskan seseorang. Kebetulan di tempat dia ditawan ada MacMahon dan tawanan lainnya. Membebaskan seorang tawanan atau tujuh belas, saya rasa sama saja.…” “Maksudnya, Anda membebaskan ketujuh belas tawanan itu sendiri?” ujar Cowie.

Tidak hanya Letnan Cowie yang sangat ingin tahu jawaban orang Indonesia ini, tapi juga ketiga tawanan lainnya. Mereka menatap Si Bungsu nanap-nanap. “Tidak, kami berempat….” “Tiga lainnya adalah pasukan Amerika?” “Tidak, tiga lainnya adalah orang Vietnam….” “Tentara semua?” “Hanya satu. Itu pun bekas tentara. Yang dua lagi penduduk sipil. Yang satu seorang lelaki tua, sekitar 55 tahun. Yang seorang lagi anaknya, seorang gadis berusia sekitar 15 tahun….”

Terdengar umpat, sumpah dan gerutuan dari si hampir botak dan dua tentara lainnya. “Siapa yang Anda cari untuk dibebaskan itu?” ujar Cowie. “Roxy.…” “Oh Tuhan, Roxy Roger maksud Anda?” “Ya….” “Anda dibayar ayahnya untuk mencari dan membebaskan cewek itu?” “Rencananya ya….”

“Maksud anda…?” “Alfonso Rogers, Ayah Roxy, bersedia membayar saya berapa saja. Asal anak gadisnya bisa di cari dan di bebaskan..” “Lalu…” “Ya, sekarang uang bayarannya tak mungkin lagi saya minta. Anak itu sudah bebas, sedangkan saya di sini. Di antara mayat hiup dan mayat beneran. Kecuali kita bisa membuka Bank di lobang ini, dan ayah gadis itu bisa mengirimkan uang itu kesini…” ujar Si Bungsu sambil tersenyum.

Si rambut hampir botak kembali memaki-maki. Namun Letnan Cowie dan yang lainnya hanya nyengir mendengar guyonan orang Indonesia ini. “Barangkali anda bisa menolong kami keluar dari lobang berair ini Bungsu. Saya sudah tak peduli mati hari ini atau esok. Tapi, kalau mati saya memang akan protes dikuburkan dalam lobang ini..” ujar Cowie sambil meludah. “Hei,hei,hei! Apakah aku tak salah dengar, bahwa engkau mempercayai orang berkulit berwarna ini akan membebaskan kita?” ujar si rambut hampir botak. “Jangan dengarkan omomgannya. Jika ada orang yang tak di caci makinya mungkin ibu bapaknya, tapi aku juga kurang yakin akal hal itu…” Ucapan si Letnan belum berakhir. Sersan Tim Smith yang berambut hampi botak itu menerjangnya. Namun gerakan kakinya seperti film yang di putar lambat, slow motion kata orang. Letnan Cowie mengibaskan kaki kurus yang terangkat di air secara perlahan itu. Tim Smith segera terjengkang. Tubuhnya tak tenggelam karena cowie dengan cepat meraih leher bajunya yang compang-camping itu. “Fuck you! Fuck.. Fuck..!!!” maki Tim Smith bercarut-carut.

Dan ujung carutnya adalah batuk yang terkaing-kaing. Lidahnya sampai terjulur dan liurnya meleleh oleh batuk terkaing-kaing panjang itu. Si Bungsu baru benar-benar merasakan sebagian Dalam Neraka Vietnam. Selama tiga hari dia di dalam lobang itu tak sebutir nasipun atau sepotong makanan apapun yang di berikan tentara Vietnam kepada mereka. Namun yang benar-benar membuat mereka kehabisan tenaga adalah bau mayat. Mayat tentara Amerika yang kepalanya di popor waktu pertama kali datang di pinggir lobang ini tak pernah di angkat.

Mayat itu sudah menggembung besar. Baunya minta ampun. Dua tentara yang sama di campakkan ke lobang itu berkali-kali jatuh pingsan. Namun letnan Cowie dan Sersan Tim Smith berusaha agar dua orang yang sebentar pingsan itu tak tenggelam. Sebab, jika itu terjadi di pastikan dalam satu menit orang itu akan mati. Kedua orang itu, Cowie dan Smith, nampaknya sudah agak imun dengan bau mayat. Mereka memang ikut menderita dengan bau mayat itu tapi tak sampai pingsan.

Dalam waktu tiga hari dalam keadaan tak makan dan minum itu, Si Bungsu jadi tahu azab apa yang dialami Cowie, Smith dan teman-temannya. Mereka di beri makan apabila orang Vietnam itu merasa perlu untuk memberi. Kadang-kadang sekali sehari, kadang-kadang sampai dua atau tiga hari baru di beri makan. Makananya pun makanan yang sudah agak basi atau makanan yang sudah akan di buang. Benar-benar tak ada gunanya memikirkan konvensi perang tentang hak-hak tawanan perang.

Bahkan ketika bau busuk sudah tak tertahankan, Cowie mengingatkan tak ada gunanya memanggil penjaga. Teriakan memerlukan tenaga. Teriakan menguras energi. Tak ada gunanya, sekalipun sampai ke langit mereka berteriak, takkan ada yang peduli. Lebih baik menyimpan tenaga agar tak lebih menderita. Satu- satunya harapan mereka mengisi perut adalah ketika hujan. Dengan membuka baju dan menambung air hujan, mereka peras langsung ke mulut.

Air perasan baju itu, alangkah nikmatnya, untuk mengisi perut mereka juga memakan cecak yang jatuh ke lobang tersebut. “Apapun yang jatuh dari atas, cecak, lipan, keong, katak dan ular sekalipun pernah kami makan ketika ada ular sebasar tangan jatuh kesini, habis kami santap. Hal itu kami lakukan semata-mata demi pempertahankan hidup..”ujar Cowie perlahan.

“Saya punya firasat. Dan saya selalu yakin pada firasat saya, karena seringkali terbukti benar, bahwa siapapun diri anda Tuan, kami berharap anda bisa membantu kami keluar dari Dalam lubang Neraka ini..”ujar Cowie sambil menatap Si Bungsu. Kali ini Tim Smith yang tukang carut-carut dan induk cemooh itu, tak mengeluarkan kata sepatahpun. Semula dia menatap pada komandan kompinya yang bernama PL Cowie itu dengan tatapan heran mendengar ucapan yang sungguh-sungguh itu. Ketika dia lihat Cowie menatap lelaki asing itu, dia jadi sadar kalau lelaki itu bukan kroco sebagaimana yang dia duga. Cowie tak pernah memuji jika sesuatu yang dia yakini dan tak pantas di puji. Cowie juga tak pernah berharap, jika firasatnya mengatakan kalau tak ada harapan.

Lalu dia juga ikut menatap Si Bungsu. Si Bungsu hanya berdiam diri. Sesekali menggaruk paha, perut dan punggungnya yang gatal. Tiba-tiba Smith ingat sesuatu. Dia teringat perkataan Smith, Dua, tiga hari lalu yang di ucapkannya berkali-kali. “Ini orang yang kau sebutkan itu letnan?”ujar Smith perlahan. Cowie menatap pada Smith beberapa saat. Kemudian mengangguk. Si Bungsu dan kedua tentara lainnya hanya berdiam diri, tak mengerti apa yang di bicarakan kedua orang tersebut.

“Tapi…tapi saya tak melihatnya membawa samurai..” sambil mempelototi Si Bungsu. Mendengar ucapan itu, Si Bungsu lah yang tersentak. Dia menatap pada Smith, kemudian pada Cowie. Smith kembali bicara. “Cowie adalah, maaf, maksud saya, sebagaimana orang Amerika keturunan negro lainya, nenek moyang Cowie berasal dari afrika. Beberapa di antaranya masih mewarisi naluri,firasat atau pengetahuan metafisik, semacam ilmu dari dunia ghaib. Pasukan kami beberapa kali selamat karena firasat leluhurnya itu. Dan kami masuk ke lobang Neraka ini karena komandan kami tak mengikuti sarannya. Nah, beberapa kali Cowie berkata, bahwa dia melihat sebuah bayangan orang asia, berpedang samurai, yang akan datang membebaskan kami. Setahu saya, bangsa yang memakai samurai hanya bangsa Jepang.. Tapi..menurut dia sebentar ini, andalah yang beberapa kali dia lihat dalam bayangan metafisik itu. Apakah anda membawa samurai..?” ujar Smith.

Lama Si Bungsu terpana mendengar cerita tim Smith. Dia menatap PL Cowie, negro kurus berbibir tebal dan berambut kribo itu juga menatapnya. Si Bungsu segera menyakini cerita Tim Smith kalau ada seseuatu yang lain pada diri negro yang satu ini. Nalurinya membisikkan itu. Sebaliknya, sejak awal-awal kedatangan Si Bungsu, Cowie sudah merasakan bahwa lelaki itu bukan sembarang orang. Si Bungsu tiba-tiba teringat pada Thi Binh. Gadis itu juga pernah melihatnya dalam mimpi. Mimipi itu, menurut penuturan Thi Binh, datang berkali-kali saat dia di perkosa dan di paksa menjadi budak nafsu di barak pasukan Vietnam.

Kini ternyata mengalami hal yang sama. Bedanya, jika Thi Binh melalui mimpi, Cowie melihatnya dalam bayangan Metafisik. Semacam halusinasi dan bayang samar, saat orang tertentu berkonsentrasi dan menghubungkan diri dengan alam ghaib. “Anda pernah memiliki samurai ?” desak Smith. Si Bungsu menatap pada Cowie. Cowie juga tengah menatap padanya dengan tajam. Demikian juga Smith dan kedua orang lainnya. Akhirnya Si Bungsu mengangguk. Ketiga tentara itu pada terpana. “Oh,my god..! Anda akan mempergunakannya?”ujar Smith dengan suara bergetar.

Si Bungsu tak segera menjawab. Namun di depan Cowie tak seharusnya dia menutup-nutupi siapa dirinya. Lelaki ini memiliki pandangan yang menembus ruang dan waktu. Yang dalam ilmu pengetahuan di sebut alam metafisik, yang di warisi dia dari leluhurnya dari belatara Afrika sana. “Anda mahir mempergunakan samurai?” kembali smith bertanya. Keempat tentara dalam lobang itu kembali diingatkan kembali pada keaadaan mereka saat ini. Mereka juga menatap keliling, kemudian keatas. Ke Bambu yang silang menyilang yang di jadikan penutup lubang. Jerajak bambu yang di jadikan penutup lubang itu sebesar paha lelaki dewasa hanya sekitar empat meter di atas mereka.

Namun karena kukuhnya dan karena kondisi mereka seperti sekarang, tanpa alat apapun untuk bisa dipakai melarikan diri, atap bambu yang tingginya hanya empat meter itu terasa berada jauh di atas langit sana.

Kelima mereka hampir serentak memandang ke atas. Karena saat itu sayup-sayup mereka mendengar pekik wanita. Namun yang terlihat tetap saja bambu bersilang-silang empat segi, daun pepohonan yang ditimbunkan ke bambu itu, yang berfungsi sebagai kamuflase sekaligus atap lobang tempat mereka disekap. Tak ada satu pun yang terlihat. Yang sampai ke tempat mereka hanya suara pekik dan erangan perempuan. Suara pekik dan erangan itu memang berasal dari mulut seorang wanita, datang dari pondok penjagaan sekitar tiga depa dari mulut lobang tempat menyekap tawanan perang tersebut.

Karena dekatnya jarak antara mulut lobang dengan pondok itulah makanya mereka yang berada di dalam lobang tersebut tidak hanya mendengar pekik si wanita, tetapi juga erangannya. Bahkan sayup-sayup mereka menangkap suara nafas yang tersengal-sengal. Nafas memburu seperti berlari kencang yang keluar dari mulut lelaki, yang juga keluar dari mulut wanita. Mereka menatap nanap ke atas dengan mata hampir melotot. Seolah-olah ingin mengetahui apa sebenarnya yang tengah terjadi di atas sana. Di atas sana, di pondok penjagaan itu, memang sedang terjadi sesuatu.

Milisi Vietnam, yaitu orang-orang sipil yang menjalani wajib militer, tidak hanya dikenakan pada kaum pria. Juga dikenakan kepada wanita. Itu pun tidak hanya kepada mereka yang dewasa, yang masih kanak-kanak pun demikian. Soalnya, sebelum pecah menjadi Vietnam Utara dan Selatan, negeri ini sudah menjalani peperangan yang sangat panjang. Sudah sejak zaman negeri ini dijajah Perancis selama 100 tahun. Dalam perang yang amat panjang untuk merdeka, yang meremukkan hampir seluruh sendi kehidupan Vietnam itu, negeri tersebut sudah mengorbankan ratusan ribu, jika tidak jutaan orang.

Itulah sebabnya hampir semua penduduk, lelaki wanita, tua maupun muda, dihimbau untuk angkat senjata melawan penjajahan, atau siapa saja yang mencoba mengekspansi negeri mereka. Yang terakhir, dalam upaya menyatukan negeri itu di bawah kekuasaan komunis, mereka berusaha merebut kembali Vietnam Selatan yang dibeking habis-habisan oleh Amerika. Namun mereka, orang-orang utara, yang sebelum dan semasa penjajahan Perancis sebenarnya bersatu dengan selatan, kini tidak hanya berhasil menyatukan kembali selatan dengan utara, tetapi juga mengusir tentara Amerika.

Mengusir tentara dari negara paling super dan paling ditakuti, karena memiliki peralatan perang paling canggih di dunia. Jika akhir peperangan itu mendatangkan rasa bangga yang luar biasa bagi rakyat Vietnam Utara yang komunis, karena berhasil mengalahkan tentara dari negara terkuat di dunia, maka bagi Amerika akhir perang Vietnam adalah sebuah aib besar, yang takkan mungkin terhapus dengan apapun sepanjang zaman. Wanita Vietnam yang ikut memanggul senapan tugasnya sama saja dengan pria. Dalam perang selama puluhan tahun, mereka sudah tertempa dengan berbagai kondisi.

Hari itu, saat kelima tawanan di dalam lobang sekapan mendengar suara jerit dan erang, adalah saat aplusan untuk menjaga lobang penyekapan tersebut. Saat Si Bungsu pertama tiba, yang menjaga adalah dua milisi pria, maka kini yang menggantikan adalah seorang milisi wanita dan seorang milisi pria. Para milisi ini berpakaian hitam-hitam, semuanya tanpa tanda pangkat. Perang, sebagaimana terjadi di belahan bumi manapun, ternyata tidak hanya mendatangkan bencana secara fisik kepada negeri tempat terjadinya perang, tetapi juga memporak-porandakan moral dan nilai-nilai.

Yang paling menderita adalah para wanita. Ya musuh, ya orang kampung sendiri, asal dia ikut berperang tiba-tiba saja fi’ilnya berubah menjadi beringas. Kaum wanitalah yang senantiasa paling banyak menjadi korban kebuasan perang. Kebuasan tentara penyerang, maupun tentara pihak bertahan.

Begitulah kebuasan sebuah perang. Kebuasan yang tak mengenal batas moral dan agama. Tak mengenal batas buruk dan baik. Bila keberingasan dan nafsu sudah memanjat ke ubun-ubun, semua batas pun runtuh. Dua milisi yang tegak berjaga di bawah pondok itu pun bersiap turun, manakala melihat penggantinya sudah tiba. Saat keduanya akan turun, tiba-tiba yang seorang matanya terpandang pada dada wanita milisi yang akan menggantikannya. Padahal baju seragam tentara berwarna hitam yang dikenakan wanita itu buahnya terkancing semua. Namun karena dada wanita itu memang demikian ranum dan sekal, ada celah terbuka di antara dua kancing bajunya. Dari celah baju yang tersingkap tak sampai seukuran kelingking itu, dia mengintip pangkal dada wanita tersebut. Putih dan memabukkan dan mengirimkan sentakan ke ubun-ubun. Anggota milisi yang akan turun itu mendagut liurnya. Lalu dengan kaki separoh menggigil menuruni tiga buah anak tangga pondok tersebut.

Sambil melangkahi tiap anak jenjang, matanya melotot ke dada wanita tersebut. Dia masih menahan diri. Tapi pikirannya merayap kemana-mana. Bukan, bukan kemana-mana. Pikirannya merayap hanya ke satu tempat, yaitu ke balik baju wanita itu. Kesela dadanya yang ranum dan sekal. Nafasnya memburu ketika dia sampai di bawah. Perempuan itu lalu naik. Si milisi menoleh ke belakang.

Dan… ampun, ketika perempuan itu naik, pinggulnya yang besar membayang jelas. Terbungkus oleh celana hitamnya yang ketat. Tubuhnya agak kurus. Namun dada dan pinggulnya yang amat sintal membuat lutut lelaki yang melihat goyah gemertak. Senyum dan tatap matanya amat mengundang selera buruk lelaki. Itulah yang terjadi begitu dia menaiki anak tangga di pondok pengawalan tersebut. Dia baru saja akan menghenyakkan pinggulnya di lantai beralas tikar, ketika anggota milisi yang baru turun itu tiba-tiba saja sudah berada di sisinya.

“Ada apa?” ujarnya kaget sambil menatap ke arah milisi tinggi kurus bermata juling yang tegak di depannya.

Perang panjang sering membuat manusia kehilangan akal sehat. Dan akal sehat itulah yang hilang dari tempurung kepala anggota milisi kurus tinggi di pondok penjagaan itu. Dia langsung saja menyergap wanita itu. Si wanita yang kaget bukan main, berusaha berontak dan berteriak. Namun teriaknya tersumbat di tenggorokan. Mulut milisi kurus itu sudah menyumpal mulut si wanita dengan rakus. Berontaknya hanya berupa gelinjang tanpa daya, karena si kurus sudah dikuasai nafsu. Satu-satunya harapan adalah dua milisi lelaki yang kini berada di bawah pondok.

Yang satu adalah yang sama-sama datang dengannya ke pondok ini untuk menggantikan tugas penjagaan. Yang satu lagi adalah teman si kurus, yang akan mereka gantikan. Namun reaksi kedua lelaki itu justru bertolak belakang dengan yang diinginkan si wanita. Kedua mereka justru mengawasi jalan setapak ke arah kampung. Melihat kalau-kalau ada yang datang. Tentu saja takkan ada yang datang. Tempat penyekapan itu terletak di tengah pepohonan dan hutan bambu. Jarak ke perkampungan ada sekitar 500 meter. Memekik kuat pun si wanita tetap takkan terdengar ke kampung. Apalagi pekiknya tertahan di tenggorokan.

Angin bertiup kencang. Atap penutup lobang penyekapan di depan pondok itu terkuak-kuak. Cahaya terang menerobos masuk ke lobang itu. Bau busuk segera menerobos ke atas. Para milisi tersebut segera pada menutup hidung mereka dengan kain. Salah seorang segera melemparkan tali yang tadi dia sandang di bahunya. Si wanita yang masih berpeluh hanya menatap dari tempat duduknya di atas pondok. Dia seperti kehabisan tenaga untuk bergerak.

“Ikat mayat itu dengan tali ini…” ujar pimpinan milisi Vietnam itu dalam bahasa Inggris.

Kendati bahasa Inggrisnya tak begitu baik, namun mereka yang berada dalam lobang sekapan itu faham apa yang disuruh. Letnan PL Cowie maju dan mengikatkan tali sebesar empu jari kaki itu ke pinggang mayat yang sudah tiga hari mengapung di dalam lobang itu. Tali itu segera ditarik. Masih untung mayat itu belum berulat. Udara dingin di dalam lobang tersebut membuat mayat itu tak cepat menjadi rusak. Lalu di bawah todongan bedil salah seorang milisi, dua milisi lain segera menarik mayat itu ke atas. Diperlukan kerja yang cukup menguras tenaga untuk menarik mayat gembung itu.

Si wanita yang masih duduk tersandar menutup hidungnya dan membuang pandangannya ke tempat lain. Betapapun sudah seringnya dia ikut dalam pertempuran dan menyaksikan mayat bergelimpangan, namun melihat mayat gembung yang baru saja diangkat itu tetap saja membuat perutnya mual. Setelah mayat diangkat, bambu-bambu kembali ditutupkan ke lobang tersebut. Kemudian semak-semak ditimbunkan kembali di atasnya. Setelah itu, mayat tersebut mereka bawa kearah hutan. Dan dikubur di sebuah lubang dangkal. Lalu ketiga milisi itu kembali ke perkampungan.

Kini di pondok penjagaan wanita itu hanya tinggal bersama seorang milisi lelaki. Di dalam lobang penyekapan, kelima lelaki yang terkurung di sana bisa agak bernafas lega. Kendati bau bangkai masih saja memenuhi lobang tersebut. Mereka bersandar dengan diam. Air dalam lobang itu nampaknya agak menyusut. Jika semula sebatas dada, kini sudah turun sedikit. Namun masalah mereka untuk bertahan hidup tidak hanya harus berjuang melawan lapar, tapi harus mampu berdiri terus menerus. Tidak satu pun batang atau ranting yang bisa dijadikan tempat berpegang.

Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah bersandar ke dinding. Penat bersandar mereka berjalan di dalam air berlumpur itu. Si Bungsu menjadi faham cerita Cowie, bahwa sebahagian dari tentara Amerika yang ditawan dalam lobang ini mati karena tak kuat berdiri. Mereka terbenam dan mati lemas. Ini adalah cara menyiksa yang luar biasa. Tentara Vietnam tak perlu rugi sebutir pelurupun untuk membunuh tawanannya. Satu persatu tawanan mati karena lapar, gila atau sakit, kemudian terbenam. Mereka harus berjuang untuk bisa tetap tegak, dengan kaki yang makin melemah. Semakin lama mereka mampu bertahan untuk berdiri, makin lama pula mereka bisa bertahan hidup. Siapa pun yang berada dalam lobang penyekapan itu pasti takkan pernah membayangkan apa yang mereka hadapi kini. Yaitu kala mereka hidup di kota di Amerika sana, saat mereka masih belum mendaftar menjadi tentara. Saat sebahagian dari mereka masih mengisi hidupnya dengan masuk bar keluar bar. Masuk nightclub yang satu ke nightclub yang lain. Menenggak bir atau wisky, melahap lezatnya hamburger atau sandwich, berjoget dan kemudian main perempuan.

Kini, dalam lobang neraka segi empat berair kuning dan berbau bangkai ini, mereka kembali mendengar cekikikan perempuan. Mereka pada memasang telinga. Suara cekikikan itu suara siapa lagi, kalau bukan suara milisi wanita bertubuh agak kurus tapi berdada dan berpinggul bahenol, yang bisa membuat mata lelaki jadi juling dan lemas kelelep itu. Dia memang sedang terlibat pembicaraan dengan teman lelakinya yang sama-sama menjaga di pondok pengawalan tersebut. Penempatan pengawalan di pondok itu nampaknya hanya sebagai sikap berjaga-jaga.

Lobang itu memang tak perlu diawasi benar. Sebab, hampir bisa dipastikan orang yang disekap di dalamnya, takkan bisa melarikan diri. Tapi begitulah, namanya saja tawanan perang. Kan aneh kalau tak ada yang menjaga tempat mereka ditawan. Itulah sebabnya setiap 12 jam pengawalan ditukar.

Perempuan itu sedang berada dalam posisi berbaring menelungkup di lantai pondok. Di bahagian depan, agak ke samping kanan, duduk temannya yang lelaki. Sesekali memandang ke arah timbunan semak belukar yang menutupi lobang penyekapan. Namun matanya lebih sering menatap bongkol pinggul perempuan yang menelungkup itu.

Atau ke dadanya yang seakan-akan mau pecah karena tertekan ke lantai. Nampaknya si lelaki sedang membicarakan peristiwa tadi, yang membuat wanita itu terpekik-pekik. Si wanita nampaknya memang centil, atau katakanlah dia termasuk wanita jongkek. Sebab tiap sebentar, bila ada yang agak lucu atau yang tak dapat dia komentari, tangannya mencubit paha lelaki tersebut. Akan halnya lelaki, yang masih berusaha bertahan duduk, nampaknya berprinsip “Bukan kaba sambarang kaba, kaba dibao mantiko muncak. Bukan saba sambarang saba, saba mananti kutiko rancak”.

Dan saat kutiko rancak itu tiba, yaitu saat darahnya sudah naik ke ubun-ubun, dia menjerembabkan diri ke atas tubuh perempuan jongkek yang sok-sok menelungkup itu. Perempuan itu terpekik kecil. Bukan pekik terkejut apalagi pekik marah. Dari pekiknya saja orang pasti bisa menebak dia memang jongkek. Sebab pekiknya hanya perlahan, diiringi erangan, entah apa yang dierangkannya. Pokoknya dia mengerang. Si lelaki yang juga bertubuh agak kurus, segera membuat pekerjaan tangan. Maksudnya tangannya bekerja ke bawah, ke atas. Meraba meremas.

Dan si perempuan nampaknya memang mengharap kan semua yang diperbuat si lelaki. Dia menelentangkan diri. Kemudian dia pula yang mendahului membuka baju si lelaki.

“Suara seperti itu pasti suara poyok…” ujar Tim Smith menggerendeng.

Ke empat lelaki lain dalam lobang sekapan itu hanya berdiam diri. Dari atas sana makin jelas terdengar suara wanita dan lelaki. Mengerang, mendesah. Makin lama makin keras, makin lama makin cepat. Kemudian suara pekik panjang perempuan, kemudian suara pekik panjang lelaki. Lalu diam.

“Ayo main tebak-tebakan. Kenapa mereka memekik?” tiba-tiba kesunyian di dalam lubang itu dipecahkan oleh suara Tim Smith, Sersan yang rambutnya hampir botak dan tukang carut itu.

Pertanyaan yang dia lontarkan mau tak mau membuat semua yang ada dalam lobang itu nyengir. Jarang sekali mereka bisa tersenyum. Hal itu disebabkan tak satupun yang bisa dianggap lucu, atau tak satupun bisa menghibur hati mereka selama berada dalam lobang terkutuk itu. Namun ucapan yang dilontarkan Tim Smith sebentar ini, ajakan untuk main tebak-tebakan kenapa kedua orang di atas sana memekik-mekik, benar-benar memaksa mereka untuk tersenyum.

Meski senyum yang lebih tepat disebut nyengir. Sebab, betapapun bentuk senyum yang tergurat di wajah orang-orang seperti mereka, yang kelihatan adalah guratan muram. Segala bentuk ekspresi, termasuk ekspresi marah, menjadi berbeda tampilnya di wajah, karena dirobah oleh ketegangan dan derita selama bertahun di dalam penyekapan.

“Ayo, siapa bisa menerka. Kenapa mereka memekik?” kembali Smith melontarkan pertanyaan.

Tak ada yang menjawab, selain senyum tergurat di wajah setiap orang dalam lobang itu, termasuk Si Bungsu. Sampai akhirnya Kopral Jock Graham, petugas bahagian radio yang sama-sama diangkut dengan truk bersama Si Bungsu, memberikan jawaban. Clark. “Mereka dicekik hantu…” ujarnya.

Jawaban itu membuat senyum semakin lebar di wajah kelima lelaki tersebut.

“Mereka bukan dicekik hantu, tapi pekik menyindir. Kau yang disindirnya, Smith…” ujar Sersan Mike

Mereka tersenyum lagi. Smith yang semula tertegun, tiba-tiba terkekeh.

“Bukan, bukan aku yang mereka sindir dengan pekiknya itu. Mereka menyindir kita semua…” ujar Smith. Mereka kemudian pada tertawa. Tetapi setelah itu, hari-hari mereka lalui dengan kesunyian dan derita panjang. Memang tak ada penyiksaan dalam bentuk pemukulan. Tapi apa yang mereka alami dalam lobang itu tak kalah dahsyatnya dari penyiksaan dalam bentuk sepak dan terjang. Akan halnya sepak, terjang atau cabut kuku, itu mereka alami di tahun pertama mereka tertangkap. Cowie misalnya, giginya copot dua buah akibat dihajar popor senapan.

Smith kalau berjalan pasti tak lurus. Tulang kering kaki kanannya patah dihajar, juga dengan popor bedil. Kini memang sudah sembuh, tapi tulang keringnya itu bertaut secara tak benar. Kalau dia berjalan, jalannya tak normal. Setelah Si Bungsu berada di hari kelima di dalam kurungan itu, barulah orang Vietnam memberi mereka makanan. Makanan berupa sisa yang terdiri dari rebus ubi kayu, keladi dan ikan asin itu dimasukkan ke dalam sejenis kambut. Kemudian dilempar begitu saja ke dalam lobang penyekapan tersebut. Cowie yang pangkatnya memang tertinggi, mengatur agar semua mereka tidak berebutan. Sebab pengalaman sudah mengajarkan, ketika bulan-bulan pertama disekap, sebahagian dari mereka babak belur saling pukul karena berebut makanan, yang selain tak memenuhi syarat, jumlahnya pun amat sedikit.

“Makanlah, karena mana tahu ini adalah makanan terakhir bagi salah seorang di antara kita…” ujar Cowie. Mereka makan dengan diam tapi dengan cepat. Hanya beberapa saat, makanan yang menjadi bahagian masing-masing itu habis. Smith malah menjilati tangannya, merasakan nikmatnya rasa asin ikan yang tertinggal di jari-jarinya. Kemudian mereka meminum air yang dikirim bersama makanan itu. Air mentah, tapi jernih, barangkali air sungai atau air sumur, yang dibungkus dengan kantong plastik. Cowie memberi jatah air dua teguk seorang, kemudian tempat air digantung pada sebuah ranting yang ditancapkan di dinding tanah napal itu.

Tak ada yang membantah aturan yang ditetapkan Cowie, karena aturan itu amat mereka perlukan. Mereka tak mungkin meminum air setinggi dada dalam lobang dimana mereka disekap. Selain airnya kuning dan kental karena lumpur, air itu juga sudah kotor dan bau sekali. Maklum, di lobang tersebut sudah lebih dari enam atau tujuh orang yang mati. Setiap ada yang mati, mayatnya tak segera diangkat orang Vietnam. Ada yang sehari, ada yang dua hari, malah seperti mayat terakhir baru pada hari ketiga diangkat. Namun makanan yang mereka terima itu ternyata tak bisa menolong Sersan Mike Clark.

Kondisi Sersan itu sudah demikian buruknya sebelum dipindahkan ke lobang laknat ini. Kondisi kesehatannya yang buruk itu diperburuk oleh bau mayat selama tiga hari di dalam lobang 4 x 4 meter itu. Tak lama setelah usai makan, dia diserang demam. Nampaknya dia terkena tularan kawannya dua minggu yang lalu. Dia menggigil dan mengigau. Tiap sebentar tubuhnya melorot dan terbenam ke dalam air. Cowie sudah berkali-kali menyangga badan temannya itu agar tak terbenam. Si Bungsu menyesal kehabisan ramuan tradisionalnya.

Kalau saja dia mendapat sedikit dedaunan atau lumut yang cocok untuk obat, dia yakin dia bisa menolong Mike Clark. Namun dalam kondisi seperti sekarang kemana dia harus mencari dedaunan atau lumut? Tubuh Sersan itu dipegangi Jock Graham. Mereka tak berusaha berteriak meminta bantuan kepada dua penjaga yang ada di atas. Teriakan atau panggilan dalam bentuk apa pun takkan pernah diacuhkan. Memanggil atau berteriak hanya akan menghabis-habiskan tenaga. Mereka sudah berkali-kali mengalami hal seperti itu.

Berkali-kali pula yang sakit di dalam lobang penyekapan ini harus menyerahkan nyawa mereka benar- benar pada takdir Tuhan. Hanya ada satu di antara dua kemungkinan yang harus mereka tunggu. Sembuh dengan sendirinya, atau mati. Untuk kemungkinan pertama, bukannya tak ada. Baik Cowie maupun Tim Smith pernah menderita demam berhari-hari. Namun karena demam mereka stadiumnya masih rendah, akhirnya mereka sembuh sendiri. Tetapi sebahagian besar lainnya, demam memang mengantar mereka ke pintu kubur. Sersan Mike Clark sudah benar-benar tak sadar pada dirinya. Tubuhnya menggigil terguncang-guncang.

Setiap satu jam mereka bergiliran memegang tubuh Sersan itu agar tak tenggelam. Dan menjelang larut malam, hanya sekitar enam jam setelah mereka mendapat jatah makanan, tubuh Sersan itu sudah tak bergerak. Kebetulan saat itu yang mendapat giliran untuk memegangi tubuh Sersan tersebut adalah Si Bungsu dan Tim Smith. Si Bungsu memegangi Clark pada bahagian kepala dan punggung, sementara Smith memegangi bahagian pinggul dan paha.

Dengan kedua tangan berada di bahagian bawah tubuh yang ditelentangkan itulah mereka menjaga agar si sakit tidak tenggelam. Sebenarnya, dengan bantuan air menahan tubuh orang agar tak tenggelam tidaklah begitu berat. Apalagi semua mereka di dalam lobang itu, kecuali Si Bungsu, badannya pada kurus kerempeng. Kalau saja dinaikkan ke timbangan, beratnya rata-rata mungkin hanya sekitar 40an kilogram. Dengan tubuh di atas 175 cm, berat badan sekian membuat mereka seperti kerangka hidup. Menjelang larut malam itu, Si Bungsu merasa tak ada gerakan apapun lagi pada tubuh Clark.

Perlahan tangannya yang memegang kepala Clark, meraba nadi di leher Sersan itu. Tak ada gerakan, tak ada denyut sehalus apa pun. Dia tak perlu meraba atau mendengarkan degup jantung Sersan itu untuk memastikan apakah dia benar-benar sudah mati atau masih hidup. Tidak, dia sudah belasan kali menghadapi orang yang berada dalam keadaan sakratul maut. Dari pengalaman itu dia sangat yakin Sersan ini sudah mati. Dan dia yakin, bagi mereka yang sudah bertahun dalam sekapan ini, kematian merupakan anugerah, dibanding harus mati setelah menderita dalam waktu yang amat panjang.

Si Bungsu kembali meluruskan badannya bersandar ke dinding. Dia menoleh ke arah Smith. Tak ada yang kelihatan, kendati jarak antara mereka berdua hanya sehasta. Kegelapan yang kental menyebabkan suasana di dalam lobang itu tenggelam dalam kelam yang tak terbayangkan.

Namun dia tahu Smith masih tegak di sisinya, juga bersandar ke dinding. Suara nafas lelaki itu dia dengar teratur. Dia juga tahu Smith sedang tidur. Hampir dua tahun disekap seperti ini, membuat tentara Amerika itu benar-benar terlatih dan tahu bagaimana tidur dalam segala kondisi.

Pendengarannya yang tajam juga menangkap dengkur perlahan Letnan Cowie dan Kopral Jock Graham. Perlahan dia berbisik, memanggil Smith yang tegak di sisinya. “Smith….” “Ya….” jawab Smith, juga berbisik tanpa membuka mata. “Orang ini sudah mati….” Tak ada jawaban. Dari kegelapan di atas sana sayup-sayup terdengar suara burung malam. “Apa…?” “Clark sudah mati….” Smith menarik nafas panjang. “Kau yakin?” “Ya…”

Tak ada jawaban dari Smith. Yang dia lakukan, justru melepaskan pegangan kedua tangannya di paha Mike Clark yang tubuhnya mengapung di permukaan air. “Lepaskan saja…” ujar Smith perlahan sambil menggeliat. Saat Si Bungsu melepaskan pegangannya pada punggung bahagian atas tubuh Clark, juga pegangan di bahagian kepala. Smith masih menggeliat panjang. Dia meregangkan kedua tangannya yang hampir kesemutan tinggi-tinggi ke atas. Lalu dia melemaskan jari-jarinya. Menarik jari itu bergantian satu demi satu, sehingga buku-buku jarinya memperdengarkan bunyi gemeletuk. Kemudian dia menguap panjang dan menegakkan tubuhnya yang bersandar hampir sepanjang malam. Lalu memutar badan bahagian atasnya, melemaskah pinggang dan otot-ototnya yang semua terasa kaku.

Si Bungsu juga melakukan hal yang sama. Meluruskan tegak dari posisi bersandar. Menggeliat dengan meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas. Lalu memutar tubuh bahagian atasnya ke kiri, ke kanan dan sedikit membungkuk. Mereka jelas tak bisa membungkuk benar, karena air di dalam lobang itu tingginya hampir mencapai leher mereka masing-masing. Dalam kegelapan yang kental tersebut, mayat Clark yang mengapung perlahan ke bahagian tengah lobang penyekapan itu, tak kelihatan sama sekali.

Bagi orang-orang di atas sana, bahkan bagi hampir separuh rakyat Amerika; perang Vietnam sudah berbulan-bulan usai. Namun bagi mereka yang berada dalam lobang penyekapan ini, dan bagi ratusan tawanan perang Amerika yang dinyatakan sebagai MIA, yang disekap di puluhan tempat rahasia, perang Vietnam benar- benar belum selesai. Memang tak ada peluru berdesingan atau bom yang menggelegar. Karena mereka yang tertawan dan disekap memang tak memiliki senjata dalam bentuk yang paling purba sekalipun. Tetapi, dalam peperangan ada kata-kata yang dihafal hampir seluruh prajurit yang maju ke medan tempur. Kata-kata nasehat sekaligus peringatan itu bermula dari saat latihan.

“Lebih baik bermandi keringat dalam latihan, daripada bermandi darah dalam pertempuran”. Kemudian jika mereka benar-benar sudah berada di medan tempur, ada kata-kata. “Peperangan hanyalah latihan. Menjadi tawanan musuh adalah pertempuran sesungguhnya”. Hanya bagi mereka yang pernah ditawan Vietnam, yang sangat memahami kebenaran kata-kata peringatan itu. Sebagaimana halnya dialami oleh mereka yang kini berada dalam lobang penyekapan bersama Si Bungsu, yang disekap di wilayah Vietnam yang mereka tak ketahui di mana lokasinya. Mendengar ada suara perlahan, Cowie yang juga sedang tidur berdiri, segera terbangun. Membuka mata atau tidak, dalam sergapan gelap seperti sekarang, bagi mereka sama saja. Yang kelihatan hanya hitam kelam. Bahkan mereka juga takkan melihat jari-jari mereka sendiri, kendati mereka meletakkan jari jari tangannya persis di depan mata.

“Smith…” imbau Cowie perlahan. “Yes, Sir….” “Clark mati?” “Yes, Sir! Si Bungsu memastikan hal itu….” “Bungsu….” “Ya, Letnan….” “Sudah berapa lama dia mati?” “Sekitar sepuluh menit yang lalu, Letnan….” Letnan Cowie, dan juga Kopral Jock Graham yang ikut terbangun dalam kegelapan yang kental itu, termenung. “Bungsu…” ujar Cowie perlahan, setelah mereka lama saling berdiam diri dalam kegelapan tersebut. “Ya, Letnan….” “Terimakasih, Anda telah ikut bersusah-susah memegangi Sersan Clark.…”

Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia merasa tak perlu mengomentari ucapan terimakasih Cowie. Fikirannya melayang, sampai kapan mereka berada dalam sekapan ini? Sampai nyawa mereka tercabut satu demi satu, seperti Clark dan yang mati pertama karena malaria itu? Dia tidak ingat sudah berapa belas hari dia berada di dalam lobang sekapan maut ini. Dia tak pernah menghitung. Tetapi ada juga pelajaran yang dia peroleh dari Cowie dan Smith, bagaimana cara melepaskan lelah dalam air berlumpur tersebut. Jika penat berdiri atau bersandar di dalam air yang hampir mencapai dada itu, mereka lalu mengapungkan diri.

Menelentang atau menelungkup di air. Karena airnya kental, berat jenis air itu lebih besar dari berat jenis air sungai yang jernih. Dengan berat jenis air yang lebih besar itu tubuh mereka yang memang sudah kurus dengan mudah mengapung lebih lama dibanding jika mereka mengapungkan diri di sungai. Jika ada yang melihat ke dalam lobang itu pada saat mereka “istirahat” di atas air, ke empat lelaki tersebut akan nampak seperti mayat yang berapungan di air. Mayat Clark ternyata lebih baik nasibnya dari mayat-mayat sebelumnya yang mati dalam lobang tersebut.

Sekitar pukul sepuluh esoknya, dua milisi Vietnam datang mengantar makanan untuk mereka. Seperti biasa, jatah mereka tetap saja nasi sisa dan sedikit basi. Di Tambah ikan asin dan rebus umbi keladi, lalu air minum yang di bungkus plastik. Cowie yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Vietnam, memberi tahu kedua milisi itu tentang kematian Clark. Karena sudah tiga hari tidak ada yang melihat ke lobang itu, Cowie mengatakan sudah tiga hari dia meninggal.

Kedua Vietnam itu menatap kepada mayat Clark. Kemudian menghilang, tanpa sepatah katapun. Tak lama setelah mereka selesai makan jatah mereka, kedua milisi tadi datang lagi bersama tiga orang tentara. “Telentangkan dia..”ujar seorang tentara Vietnam itu dalam bahasa Inggris yang cukup baik. Cowie menuruti perintah itu. Ketiga tentara di atas, yang tegak sambil menodongkan bedil, memperhatikan wajah Clark. Mayat itu memang sudah kaku. Mulutnya ternganga, kedua tangannya kaku dan membengkok keatas. Salah seorang dari tentara itu melemparkan tali nilon sebesar empat jari kaki. “Ikatkan tali itu di bagian lehernya…” ujar si tentara.

Keempat orang didalam lobang itu mengerti, kalau itu sikap berjaga jaga, kalau -kalau tentara itu hanya pura-pura mati. Cowie membuat jeratan di ujung tali itu, kemudian mengalungkannya ke leher Sersan Mike Clark. Ketiga tentara yang di atas menarik tubuh Clark sampai setengah lobang. Kemudian membiarkannya tergantung sambil di perhatikan dengan seksama, apakah tubuh yang di gantung itu ada sedikit gerakan.

Tentu saja tubuh itu tak bergerak, karena Clark memang sudah meninggal dari malam kemaren. Setelah beberapa lama memperhatikan, kalau mulut dan tangan mayat itu tak bergerak sedikitpun, barulah tentara yang bisa berbahasa inggris itu memerintahkan untuk menarik mayat itu sampai keatas. Setelah itu peristiwa yang rutin kembali mereka saksikan. Loteng bambu diatas kembali di tutup. Tiga kayu pemberat sebesar tiga kali tubuh manusia kembali di himpitkan di atasnya. Lalu semak dan dedaunan kembali di timbunkan.

Kemudian mereka kembali di cekam suasana sunyi. Si Bungsu menatap air yang seperti biasa disisakan Cowie untuk cadangan. Air itu berada di kantong plastik berbentuk tas kresek berwarna hitam. Sejak dia berada di dalam tahanan ini, entah sudah berapa belas hari, kalau dia tak salah sudah empat kali pengiriman makanan disertai minuman dengan tas plastik tersebut. Jika isinya sudah habis, tas itu dia buang begitu saja ke air, kemudian tenggelam perlahan dan lenyap. Sekali lagi Si Bungsu menatap tas plastik yang tergantung di dinding dekat Cowie.

Disangkutkan di ranting yang di tancapkan ke tanah dinding lobang tersebut. Tas yang masih menggelembung di bagian bawahnya. Tak ada air yang menetes, karena pori plastik itu demikian rapatnya. “Apakah mereka selalu mengirimkan makanan dan minuman dengan tas plastik itu?” tanya Si Bungsu pada Cowie dari tempatnya bersandar. Letnan PL Cowie yang tadi sedang menengadah keatas, mengalihkan tatapannya kepada Si Bungsu. Kemudian mengalihkan pandangannya pada tas plastik yang tergantung di dinding itu. Lalu menatap kembali pada Si Bungsu, kemudian mengangguk. “Mengapa..?”

Si Bungsu menggeleng. Namun dengan kakinya dia meraba-raba dasar lobang di sekitar tempatnya tegak. Tak begitu lama meraba-raba, hanya berapa kali mencungkil lumpur, jarinya tersentuh pada sebuah kantong kresek itu. Dengan jari-jari kakinya dia jepit plastik itu, kemudian mengangkatnya ke atas, kemudian tangannya masuk ke lumpur meraih plastik itu, lalu dia perhatikan plastik itu dengan seksama.

Di genggam dan di luruskannya sehingga membentuk sebuah tali yang panjangnya sekitar dua setengah jengkal. Lalu dia pegang kedua ujung nya, di tariknya perlahan. Dia tahu ’tali’ dari kantong plastik itu cukup kuat dan alot. Takkan putus ditarik. Namun dia tetap ingin mencoba. Ingin membuktikan sekuat apa ’tali’ itu. Ternyata liat sekali. Ditariknya dengan kuat, tetap tak putus. Cowie yang dari tadi memperhatikan, tiba-tiba tersadar. Dia faham benar apa yang dipikirkan Si Bungsu. “Anda benar…”desis Cowie sembari menatap dengan mata melotot ke arah ’tali’ plastik yang tengah di tarik sekuat tenaga oleh Si Bungsu.

Kopral Jock Graham dan Sersan Tim Smith juga terbelalak setelah mendengar ucapan Cowie, kemudian menatap kepada tali yang ada di tangan Si Bungsu. “Kumpulkan semua kantong plastik yang ada dalam lobang ini….” bisik Cowie kepada Sersan dan kopral itu. Dalam beberapa detik, ketiga tentara itu, yang sudah kering kerempeng tersebut segera saja lenyap dari pandangan Si Bungsu. Mereka menyelam dan tangan mereka gentayangan ke segala penjuru. Mengundak-ngundak lumpur di dasar lobang tempat penyekapan mereka, berusaha mendapatkan kantong plastik yang pernah mereka terima sebagai tempat minum. Dalam waktu singkat ketiganya segera mendapatkan empat belas kantong plastik. Mereka membersihkannya dari lumpur. Kemudian meluruskannya sehingga membentuk sebuah tali.

Sambil membersihkan kantong-kantong plastik itu, sesekali Cowie memandang ke atas. Seperti khawatir kalau-kalau tentara Vietnam yang mengintai apa yang sedang mereka kerjakan. Cowie menyumpahi kebodohan mereka, kenapa tak dari dahulu mereka punya pikiran bahwa kantong plastik itu di sambung- sambung menjadi tali. Mereka bekerja dengan diam. Tiap kantong yang mereka luruskan, mereka buhul di tengahnya. Kemudian mereka sambung-sambungkan. Tiba-tiba saja di tangan mereka kini terdapat tali yang kukuh dan liat.

Panjangnya sekitar tiga meter lebih. Mereka saling bertukar tatapan satu dengan yang lainnya. Kemudian ke bambu-bambu yang melintang jauh di atas mereka. Mata mereka pada berbinar. Untuk pertama kali selama bertahun-tahun, mereka menjadi gemetar dan gugup. Gemetar dan gugup membayangkan kemungkinan mereka bisa keluar dan melarikan diri dari lobang sekapan dan Dalam Neraka Vietnam ini!

“Ayo kita cari lagi. Saya rasa masih cukup banyak kantong seperti ini, yang sudah kita buang dan terbenam jauh di bawah lumpur…” bisik Cowie. Ke tiga tentara Amerika itu kembali menyelam. Begitu juga Si Bungsu. Yang pertama dia lakukan adalah menggulung kantong plastik itu sehingga menjadi gulungan kecil. Kemudian dia letakkan baik-baik di tepi dinding di dasar lobang. Ditimbunnya dengan dua kepal lumpur agar jangan mengapung ke permukaan. Lalu tangannya menggerayang lagi mengaduk-aduk lumpur. Beberapa kali mereka saling berbenturan kepala di dalam air kental tersebut, atau tangan mereka saling beradu saat mengaduk-aduk lumpur.

Ketika satu demi satu mereka muncul lagi dengan nafas tersengal-sengal, di tangan Cowie ada tiga kantong plastik. Smith mendapat enam, Graham dua buah dan Si Bungsu lima. Mereka pada bersandar terlebih dahulu di dinding lobang. Mengatur pernafasan. Namun tak seorang pun yang mengangkat kantong plastik yang mereka dapat kepermukaan. Mereka memegang kantong-kantong plastik tersebut di dalam air.

Semua mereka merasa perlu waspada. Kendati mereka yakin takkan ada seorang pun tentara atau milisi Vietnam yang akan mencoba melihat dari atas. Namun harapan untuk bebas yang tiba-tiba demikian besar membersit, membuat mereka berhati-hati. Mereka tak ingin ada Vietnam yang melihat bahwa mereka tengah mengumpulkan kantong plastik tersebut.

Sore sudah turun saat mereka menyelesaikan pekerjaan menyambung-nyambung tali dari kantong plastik itu. Kini mereka memiliki tali sepanjang lebih kurang lima depa. Cowie memberi isyarat agar menyembunyikan saja tali itu di dalam air. Tak usah dicoba menarik-narik untuk menguji kekuatannya. Cowie, dan mereka semua sepakat, agar bersikap lebih hati-hati. Jangan sampai ada mata yang mengintai apa yang mereka lakukan di dalam lobang ini. Fikiran dan kecurigaan seperti itu tak pernah muncul selama ini. Fikiran itu baru muncul setelah mereka memiliki alat untuk melarikan diri. Cahaya sore yang merah, membias ke dalam lobang di mana mereka berada. Ke tiga tentara Amerika itu, Letnan PL Cowie, Sersan Tim Smith dan Kopral Jock Graham, tiba-tiba saja seperti orang yang baru bangkit dari kubur. Wajah mereka membiaskan harapan untuk bebas amat besar. Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat.

Dimana wajah dan mata mereka kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana. Ketika gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan Si Bungsu segera mengatur ujicoba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Wajah mereka membiaskan harapan hidup yang amat besar. Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat. Dimana wajah dan mata mereka tetap kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana.

Ketika gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan Si Bungsu segera mengatur uji coba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Si Bungsu menyelam di tempat yang sudah dia beri tanda di mana dia menyimpan tali plastik yang lima depa itu. Tangannya mengaiskan lumpur yang dia jadikan sebagai pemberat, agar tali itu tidak mengapung. Setelah muncul dan tegak di sisi Cowie, dia menyerahkan ujung yang satu kepada letnan tersebut. Sementara ujung yang satu lagi tetap dia pegang. “Saya dengan Smith, Anda dengan Graham…” bisik Cowie. “Oke….” ujar Si Bungsu.

Kedua orang yang disebut Cowie, Smith dan Graham, yang juga tegak di dekat mereka, segera berbagi tegak. Smith mengikuti langkah Cowie ke dinding yang berseberangan dengan tempat tegak Si Bungsu. Sementara Graham mendekatkan tegaknya ke dekat Si Bungsu. Kini tali plastik itu mereka regang. Si Bungsu dan Graham di ujung yang satu, sementara Cowie dan Smith di ujung lainnya. “Siap….?” bisik Si Bungsu. “Yap…!” jawab Cowie.

Keempat mereka memegang masing-masing ujung tali itu kuat-kuat ketika Si Bungsu menghitung mundur dari tiga, dua, satu dan nol. Pada hitungan nol, mereka menarik tali itu sekuat mungkin. Namun yang terjadi bukannya tali yang putus, tapi Cowie dan Smith di ujung sana tertarik kuat ke depan. Mereka berdua sampai kehilangan keseimbangan dan kelelep di air. “Pantat kurap….” sumpah Smith diiringi sederet panjang makin lain.

Rupanya dia tak bisa menahan tarikan kuat Si Bungsu dan Graham, beberapa teguk air kental tertelan olehnya. Untuk beberapa saat dia kelam kabut menyemburkan air bekas mayat teman-temannya itu. Cowie tertawa, Graham tertawa. Smith akhirnya ikut tertawa. Cowie segera sadar, tenaga mereka amat tak berimbang dibanding tenaga orang Indonesia itu. Soalnya dia dan Smith memang sudah tak punya tenaga sedikit pun. Habis terhisap selama dalam lobang sekapan dengan makan amat minim selama lebih dari dua tahun. Sementara Si Bungsu masih segar bugar.

Si Bungsu juga menyadari perbedaan antara tenaga yang dia miliki dibanding tenaga ketiga teman satu tahanannya tersebut. Dia faham, bertahun-tahun di dalam sekapan, dengan makanan dan minum yang amat kurang, menyebabkan tubuh para tawanan menjadi seperti mayat hidup. Benar-benar hanya tinggal tulang belulang dibalut kulit. Dia sendiri tak yakin bisa bertahan hidup jika ditahan selama itu.

Mereka lalu kembali mengulangi percobaan dalam gelap gulita itu. Kali ini, Si Bungsu tegak sendirian, sementara Cowie, Smith dan Graham bergabung jadi satu di ujung yang lain. “Siap?” bisik Si Bungsu. “Yap…” ujar Cowie.

Si Bungsu kembali mengulang menghitung mundur. Pada saat dia menyebut angka nol, mereka semua mengerahkan tenaga. Menarik sekuat daya ujung tali pada bahagian masing-masing. Hanya beberapa saat, tiba- tiba semua mereka merasakan tali itu putus dan mereka pada tersandar dengan agak keras ke dinding di belakangnya. Nafas ketiga tentara Amerika itu pada memburu. “Cowie….?” bisik Si Bungsu. “Ya….” “Putus?” “Ya….” “Periksa bahagian ujung yang putus itu…..”

Cowie menghela tali plastik tersebut. Menggulungnya perlahan sampai ujung yang putus itu tiba di tangannya. Demikian juga Si Bungsu. “Bungsu….” bisik Cowie. “Ya…?” “Tak ada serpihan bekas putus di ujung tali ini….” “Ya, di ujung ini juga tidak…” jawab Si Bungsu. “Kalau demikian, tali ini tidak putus. Melainkan terlepas sambungannya…” ujar Cowie. “Ya, menurut saya juga begitu…” jawab Si Bungsu. “Kita uji lagi?” tanya Cowie. “Ya, kecuali kita ingin tetap berada di dalam lobang celaka ini selama-lamanya…” ujar Si Bungsu sambil melangkah di dalam air, mendekati tempat Cowie dan kawan-kawannya.

 “Kami sudah cukup lama di sini. Kalau ada yang harus tinggal lebih lama, lebih baik kau saja. Sebab pengalamanmu berada di dalam lobang seperti ini harus diperdalam. Makin lama engkau berada di sini makin banyak yang bisa kau pelajari…..” ujar Cowie, disambut tawa cekikikan Smith.

“Sebaiknya Smith atau Graham saja yang diperpanjang masa tugasnya di lobang ini, jangan saya. Saya orang asing, bukan orang Amerika. Jadi tak ada manfaatnya bagi Vietnam….” ujar Si Bungsu membalas guyonan Cowie. Smith bercarut marut diiringi tawa. Senang juga hatinya mendengar senda gurau orang Indonesia ini. Mereka lalu menyambung lagi ujung tali yang ikatannya terlepas itu. Kemudian pengujian kembali dilakukan dengan menarik sekuat mungkin. Beberapa kali mencoba, tali itu memang kenyal dan alot sekali. Tak bisa putus meski ditarik kuat-kuat oleh empat lelaki dewasa. Mereka kini benar-benar punya harapan untuk bisa membebaskan diri. Mereka tak tahu bagaimana caranya. Belum pula pernah merencanakan apapun. Jadi mereka sebenarnya tak tahu, apa yang akan mereka lakukan.

Bisa melarikan diri memang menjadi idaman setiap tawanan. Namun risikonya adalah nyawa. Kendati belum ada rencana apapun, belum tahu kapan saatnya melarikan diri, namun memiliki tali yang amat kukuh dengan panjang sekitar lima depa itu benar-benar memberi dorongan semangat pada mereka. Hidup bebas di luar merupakan bayangan yang amat indah. “Besok kita uji dengan bergantung di tali ini…” bisik Si Bungsu yang bersandar di sisi Cowie. “Saya yakin, engkau bisa membawa kami keluar dari lobang ini, Bungsu…” ujar Cowie perlahan, didengar dengan diam oleh Smith dan Graham.

“Saya tidak melihat bagaimana caranya. Lobang ini terlalu tinggi untuk dilompati. Kita tak memiliki senjata apapun…” ujar Si Bungsu. Kendati dia berkata perlahan, namun karena mereka berempat tegak berdekatan, semua bisa mendengar percakapan perlahan itu dengan cukup jelas. “Engkau sudah memulainya kawan. Gagasan membuat tali dari kantong plastik itu tak pernah terfikirkan oleh kami sebelumnya. Kini engkau ternyata melihat hal itu. Kita tunggu saat yang tepat serta merencanakannya sebaik mungkin…” ujar Cowie.

Kemudian mereka lebih banyak berdiam diri. Tak lama setelah itu, Si Bungsu memisahkan diri dari kelompok tersebut. Dia pergi ke bahagian lain dari dinding itu. Kemudian orang-orang hanya mendengar suara air bersibak. Cukup lama. “Hei, kau belajar berenang?” tanya Smith perlahan, diiringi suara tawanya separoh terkekeh.

Tak ada jawaban dari Si Bungsu. Suara air berkecipak itu tetap saja mereka dengar berkepanjangan. Akhirnya ketiga tentara itu hanya mendengar dengan diam. Mereka memang tak dapat melihat apapun di dalam lobang itu jika gelap sudah turun. Mungkin ada sekitar tiga atau empat jam suara air berkecipak itu mereka dengar. Setelah itu mereka dengar tarikan nafas, lalu sepi. Mereka lalu tertidur dalam pulas. Paginya semua pada tersentak terbangun mendengar carut marut Smith. Cowie yang membuka mata duluan menatap ke arah Smith, lalu Graham.

Smith ternyata sedang melototkan matanya ke arah Si Bungsu. Cowie dan Graham ikut memandang ke arah yang dipandang Smith. Dan mereka juga ikut melotot seperti Smith. Betapa mereka takkan melotot, kalau di seberang sana, mereka melihat lelaki asal Indonesia itu tidur menyandarkan diri. Tapi yang membuat mereka melotot bukannya tidur Si Bungsu, melainkan batas air yang terlihat di tubuh lelaki itu. Jika di tentang mereka ketinggian air tetap saja sebatas pangkal leher, di tentang Si Bungsu air ternyata hanya sebatas perutnya!

Tidaklah mungkin air di ruangan yang sama, dengan kedalaman lobang yang sama, bisa dangkal di suatu tempat dan dalam sangat di tempat yang lain. Mungkin atau tak mungkin, bukti yang kini mereka saksikan dengan mata kepala sendiri memang begitu. Ketiga mereka lalu perlahan ke arah tempat Si Bungsu, yang masih saja tidur pulas. Smithlah yang pertama terhenti langkahnya. Langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja tubuhnya kejeblos ketempat yang lebih dalam. Kepalanya tiba-tiba lenyap dari permukaan air. Dia kaget dan sempat kelelep sebelum akhirnya menggerapai mundur.

“Setan… pantat kurap! Apa-apaan ini?” rutuk Smith begitu kembali berdiri di tempat yang datar. Si Bungsu terbangun. Dia membuka mata dan segera tertawa sambil menatap kepada tiga teman-temannya yang kurus kerempeng itu. Ketiga mereka kini berada di tengah lobang, sekitar dua meter dari tempatnya. “Hai…” ujarnya sambil tersenyum.

Ketiga tentara Amerika itu masih melongo menatapnya, yang seolah-olah berada di atas air. Si Bungsu menggapaikan tangannya ke depan, ke bahagian bawah tempat duduk tersebut. Lalu memperagakannya pada ketiga tentara Amerika itu. Mereka masih terlongo, sebab yang diperagakan Si Bungsu hanyalah sekepal lumpur. Cowie yang pertama menyadari kenapa orang Indonesia itu kini seolah-olah berada di ketinggian. Hal itu berkaitan erat dengan apa yang dilakukan orang Indonesia itu tadi malam. Dia memang berada di posisi lebih tinggi dibanding posisi mereka kini. Tadi malam, kecipak air yang mereka dengar selama berjam-jam itu adalah akibat lelaki dari Indonesia ini bekerja keras. Menyelam mengumpulkan lumpur. Lalu menumpuknya di salah satu dinding tahanan. Berjam-jam melakukan penumpukan, tentu saja lumpur itu makin lama makin tinggi. Dan kini, dia tak perlu berdiri lagi. Pekerjaannya malam tadi menghasilkan sebuah ‘kursi’ yang terdiri dari unggukan lumpur. Di kursi itulah dia kini duduk, sehingga air seolah-olah sebatas perutnya. Ketiga tentara Amerika itu kemudian berdatangan ke ‘kursi’ Si Bungsu.

Lalu mereka menjadi seperti anak-anak yang mendapat permainan baru. Bergantian naik ke ‘kursi’ lumpur tersebut. Sersan Tim Smith kemudian tak mau kalah. Dia segera melangkah ke sisi dinding yang lain. Kemudian menyelam. Lalu dari kedalaman air itu dia meraup lumpur dengan tangannya. Mengungguk lumpur sedikit demi sedikit ke tepi dinding. Dia juga ingin membuat sebuah ‘kursi’ untuk tempatnya duduk. Malah kalau bisa, dia ingin membuat tempat tidur. Dengan demikian dia tak usah lagi harus berdiri. Dia berharap bisa berbaring-baring di tempat tidurnya yang baru itu. Cowie dan Kopral Jock Graham hanya menatap dengan diam. Namun lewat tengah hari, mereka dikejutkan dengan dibukanya penutup lobang tersebut. Empat tentara Vietnam dan dua milisi berjejer di atas dengan bedil ditodongkan ke bawah.

“Hei, Negro…” ujar salah seorang di antara tentara yang tidak menodongkan bedil, yang bersenjata pistol di pinggang, ke arah Cowie dalam bahasa Inggris. Cowie menatap dengan diam ke atas. “Sambut ini…” ujarnya sambil memperlihatkan sebuah gari. Sebelum habis ucapannya dia sudah melemparkan belenggu terbuka itu, yang disambut oleh Cowie. “Pasangkan pada kedua tangan orang itu…” ujar tentara tersebut sambil menunjuk pada Si Bungsu.

Cowie segera berjalan dalam air kental itu ke arah Si Bungsu. Dia faham benar tak ada gunanya memperlambat melaksanakan perintah tentara Vietnam tersebut, apalagi membantahnya. Cowie, dan siapapun tentara Amerika, yang pernah merasakan tertangkap oleh Vietnam tahu benar bahwa terhadap tawanan tentara Amerika tentara maupun milisi Vietnam tak memiliki kata iba, kasihan atau bentuk timbang rasa apapun. Mereka dengan segala senang hati akan menghamburkan peluru dengan sedikit alasan saja. Bahkan dengan alasan yang kadang-kadang tak masuk akal.

Itulah sebabnya ketika tentara Vietnam itu melempar kan gari ke arahnya, Cowie segera menyambutnya. Kemudian ketika diperintah untuk membelenggu Si Bungsu, Cowie segera mendekati orang Indonesia itu, untuk melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya. Si Bungsu juga faham bahwa tentara Vietnam tak suka dibantah. Maka ketika Cowie mendekatinya dengan belenggu di tangan, yang diperbuat Si Bungsu adalah menjulurkan kedua tangannya ke arah Cowie.

Dia bisa memahami dan bersyukur bahwa Cowie memasangkan pula gari itu dengan baik. Sebab, jika misalnya belenggu itu tidak terkunci dengan benar, maka kemungkinan yang terjadi setelah diperiksa di atas adalah Si Bungsu langsung ditembak. Atau yang ditembak justru Cowie. Bukannya hal yang mustahil pula bahwa yang ditembak bukan salah seorang di antara mereka, melainkan kedua mereka sekaligus. Mereka berusaha untuk tidak saling memandang ketika memasang belenggu itu, agar tidak ditafsirkan sebagai memberi isyarat atau apapun yang bisa diartikan sebagai usaha persiapan melarikan diri.

Usai belenggu dipasangkan, tali nilon sebesar empu jari kaki dilemparkan ke bawah. Tali tersebut adalah tali nilon yang biasanya dipergunakan untuk menarik mayat dari lobang sekapan itu ke atas. “Ikat kedua pergelangan tangannya yang dibelenggu itu…” ujar tentara Vietnam yang melemparkan belenggu ke pada Cowie. Cowie kembali mengambil ujung tali nilon tersebut. Lalu membuat jeratan, sebagaimana beberapa hari yang lalu dia juga membuat jeratan di ujung tali yang sama, untuk di kalungkan ke leher Sersan Mike Clark yang sudah mati. Jerat itu kemudian dia kalungkan ke tangan Si Bungsu yang dibelenggu. Setelah itu tali plastik tersebut dia lilitkan di tengahnya. Ikatan seperti itu mencegah tangan Si Bungsu tidak terluka atau terlalu sakit ketika tubuh Si Bungsu ditarik ke atas.

“Tarik…!” ujar tentara Vietnam yang berpistol, begitu melihat Cowie selesai mengikat kedua pergelangan tangan Si Bungsu. Tiga orang tentara Vietnam segera menarik dengan kasar tali tersebut. Tarikan kuat dan tiba- tiba itu membuat tubuh Si Bungsu terputar dan wajahnya menghantam dinding lobang. Hal itu terjadi sebelum dia sempat mengantisipasi dengan menekankan kakinya ke dinding. Benturan diikuti tarikan yang menyebabkan wajahnya tergesek dengan keras ke dinding, mengakibatkan hidung dan kening Si Bungsu berdarah. Sesampai tubuhnya di atas dia segera digelandang menuju ke perkampungan. Sementara dua tentara lainnya segera pula menutup lobang tempat menyekap para tawanan tersebut. Si Bungsu tiba-tiba merasa tubuhnya dijalari rasa hangat yang alangkah nikmatnya. Hal itu disebabkan cahaya matahari yang selama ini tak pernah menyentuh tubuhnya, kini hal itu langsung dia rasakan. Dia terkejut tatkala sambil melangkah dia melihat ke arah kakinya. Kakinya pucat bukan main. Selain pucat juga berkerut karena lama disekap dalam lobang tersebut. Barangkali sudah lebih dua bulan. Selama itu pula tubuhnya terendam. Dia menjadi semakin faham kenapa banyak tahanan yang mati perlahan dalam lobang sekapan itu.

Untunglah selama dalam penyekapan itu dia tetap menjaga kondisi dengan mengatur pernafasan, kemudian melakukan gerakan-gerakan seperti senam. Sehingga kendati kaki, pinggang dan tangannya mengkerut karena air, namun reaksi dan gerak bahagian-bahagian tubuhnya tersebut tetap normal. Apalagi kini tubuhnya mendapat cahaya panas matahari secara langsung. Keningnya berkerut tatkala terpandang pada kedua pergelangan tangannya yang digari. Lobang gari itu ternyata terlalu besar bagi tangannya yang sudah mengecil. 

Bahkan jikapun tangannya dia kepalkan, dia yakin kepalan tangannya itu tetap saja bisa lolos dari lobang gari tersebut. Rasa hiba terhadap dirinya, terhadap tawanan yang masih disekap dalam lobang, berangsur- angsur berobah menjadi marah. Dengan sedikit menggoyang tangan, gari di tangannya itu meluncur turun. Gari yang di tangan kanannya saat meluncur ke bawah dia tahan dengan telapak tangan. Digenggamnya erat-erat. Gari yang di tangan kiri terhenti di punggung buku-buku jarinya yang dia kepalkan. Dia mempelajari situasi di mana dia kini berada.

Jalan yang mereka tempuh ternyata melintasi hutan bambu. Lalu dia mempelajari jumlah tentara Vietnam yang menggiringnya. Hanya ada empat orang. Dua milisi yang tadi menodongkan bedil ke lobang saat dia akan ditarik, ternyata petugas yang menjaga di pondok dekat lobang penyekapan tersebut. Kini mereka tetap tinggal di sana. Dua orang tentara, termasuk si komandan yang berpistol, berjalan di depannya. Dua orang lagi di belakang.

Namun hatinya mulai bimbang. Masih tetap cepatkah reaksi tangan dan kakinya? Masih sekuat dulukah pukulan dan tendangannya? Dia mencoba mengepalkan tengannya kuat-kuat. Kepalan tangannya tetap terasa kuat dan kukuh. Urat-urat darahnya mengencang dan darahnya terasa berjalan normal. Langkahnya menjadi lambat saat dia terbatuk keras. Dia berjalan lagi, dan tiba-tiba batuk keras dan panjang kembali menyergapnya.

Langkahnya terhenti. Dia sampai terbungkuk dengan tangan menahan dadanya dan terasa sakit akibat batuk tersebut. Dua tentara yang di belakang dengan bedil tetap ditodongkan, terhenti pada jarak sedepa. Saat itulah gari yang sudah lepas dari pergelangannya dia hantamkan ke tentara terdekat.

Bersamaan dengan itu tangan kirinya menepis sekaligus merenggutkan ujung bedil tentara Vietnam tersebut. Belenggu berwarna putih itu menghantam bahagian belakang telinga si tentara. Dia rubuh pingsan bersamaan dengan berpindah tangannya bedil yang dia todongkan ke tangan Si Bungsu. Tentara yang seorang lagi belum sempat mengetahui apapun, ketika dadanya dihantam popor bedil yang dihentakkan oleh Si Bungsu dari posisi berlutut.

Tentara itu mengeluh, matanya mendelik. Lalu dia jatuh berlutut dan terlentang di jalan. Kejadian itu amat cepat, hanya dalam hitungan detik! Saking cepatnya peristiwa itu terjadi menyebabkan dua tentara yang berjalan di depan, yang menoleh ke belakang karena mendengar ada keluhan, tak segera bisa menyadari apa sesungguhnya yang sedang dan telah terjadi. Sesaat mereka hanya tertegun. Mereka tiba-tiba aja melihat tawanan yang mereka giring itu, yang kini masih dalam posisi berlutut di kaki kirinya, sudah menodongkan ujung bedil kepada mereka.

Dalam gerakan yang amat cepat, orang itu sudah melakukan dua gebrakan yang langsung melumpuhkan dua teman mereka berada di belakang. Padahal kedua teman mereka itu mengawal dengan telunjuk siaga di pelatuk bedil. Sungguh-sungguh tak pernah mereka bayangkan tawanan yang mereka giring ini bisa bergerak secepat dan setangguh itu. Kini semuanya terlambat sudah. “Taruh senjata kalian, di tanah. Letakkan perlahan. Saya sudah membunuh lebih dari seratus tentara, karenanya jangan bunuh diri dengan mencoba melakukan tindakan bodoh…” ujar Si Bungsu perlahan dalam bahasa Inggris.

Kedua tentara itu tak memiliki pilihan lain. Tatapan mata dan kata-kata yang keluar dari bibir tawanan di depan mereka menggambarkan sikap yang amat profesional. Mereka menuruti perintah Si Bungsu, meletakkan senjata di tanah. Dengan tangan kiri di pelatuk bedil, tangan kanan Si Bungsu meraih belenggu yang tergeletak di tanah. Kemudian melemparkannya dengan kuat dan cepat ke arah si komandan. Gari itu menetak kening si komandan, matanya juling. Tanpa sempat mengeluh, tentara itu rubuh, pingsan! Yang seorang lagi ternganga dan menggigil. Si Bungsu melangkah ke arahnya, kemudian tangannya bergerak. “Pletak!’ Si Bungsu mendaratkan ruas-ruas jari tengahnya lewat sebuah pukulan melingkar ke belakang telinga tentara yang tegak seperti kehilangan semangat itu. Pukulan tersebut menotok urat darahnya dan membuat dia rubuh dalam keadaan pingsan. Si Bungsu menyambar tali nilon sebesar empu jari kaki, yang tadi dipergunakan untuk menarik dirinya dari dalam sekapan.

Dia bergerak cepat, merampas bedil dan sebuah pistol milik ke empat tentara itu. Kemudian kembali ke lobang penyekapan. Menjelang sampai ke tempat penyekapannya dia masuk ke hutan bambu. Dan mendekati pondok penjagaan dari sisi kanan. Kedua milisi Vietnam itu ternyata sedang berjudi dengan kartu ceki. Dinding pondok kecil itu hanya dibuat sekitar tujuh puluh lima sentimeter. Dengan demikian, jikapun pengawal duduk, dia masih bisa melihat langsung ke lobang penyekapan yang terletak sekitar empat meter dari pondok. Selain itu, dengan dinding yang hanya separoh tersebut, mereka yang dipondok juga bisa mengawasi seluruh penjuru sekitar pondok itu.

Namun, jika sial lagi datang ada-ada saja kesalahan yang dibuat. Saat berjudi itu, mereka menyandarkan bedilnya ke dinding pondok. Tengah asyik memperhatikan kartu ceki di tangan, tiba-tiba saja ada bayangan orang tegak di depan tangga pondok yang tingginya hanya semeter dari tanah. Mereka menoleh, dan tiba-tiba muka mereka menjadi pucat. Mereka melihat di sana tegak tawanan yang tadi baru ditarik ke atas dari lobang penyekapan. Kini lelaki itu tegak menodongkan bedil kepada mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan perlawanan, bedil mereka tersandar di dinding.

Bedil itu memang bisa diraih, tapi telunjuk lelaki yang menodong itu siaga di pelatuk. Buat sesaat mereka menatap Si Bungsu dengan melongo. “Turun dan buka penutup lobang itu…” perintah Si Bungsu. Untuk sesaat mereka masih berdiam diri. Namun Si Bungsu segera menukar bedil dengan tali plastik besar itu. Sebelum kedua pengawal di pondok tersebut faham apa yang akan diperbuat Si Bungsu, tangan Si Bungsu bergerak. Di tangannya, tali plastik itu berubah menjadi senjata yang tangguh. Entah dengan cara bagaimana, kedua orang itu terpekik tatkala daun telinga mereka robek dan berdarah kena sabet cambuk tali nilon tersebut. Salah seorang yang bertubuh kurus, memanfaatkan waktu yang sesaat itu untuk menyambar bedil di kanannya.

Namun dia kalah cepat. Ujung cambut di tangan Si Bungsu menghajar lengannya. Lengan baju kain mereka yang berwarna hitam itu robek, dan daging lengannya juga ikut robek. Dia terpekik. “Turun dan buka tutup lobang itu cepat…!” perintah Si Bungsu.

Kini kedua orang Vietnam tersebut benar-benar tak berani untuk tidak mematuhi. Karena di tangan kiri orang yang memerintah mereka teracung bedil dengan telunjuk di pelatuk. Mereka bergerak turun dari pondok. Kemudian memindahkan kayu-kayu besar yang berfungsi sebagai penghimpit ‘pintu’ yang menutup lobang. Usai itu mereka segera membuka salah satu bahagian yang berfungsi sebagai ‘jendela’ tempat memasukkan atau mengeluarkan tawanan. Ketika pintu lobang itu terbuka, dengan tangan kanan menodongkan bedil, Si Bungsu melemparkan tali nilon ke dalam lobang tersebut.

Cowie, Smith dan Jock Graham yang semula merasa heran kenapa tutup lobang tahanan mereka dibuka, pada ternganga tatkala melihat ke atas. Di tepi lobang terlihat Si Bungsu tengah menodongkan bedil. “Tarik mereka satu demi satu ke atas…” perintah Si Bungsu. 

Kedua Vietnam itu kelihatan berusaha mencari celah untuk melakukan perlawanan. Namun melihat telunjuk kanan Si Bungsu bergerak menarik pelatuk, mereka cepat-cepat memegang ujung tali. Lalu menanti. Si Bungsu memberi isyarat pada Letnan PL Cowie. Letnan Negro itu segera menyambar ujung tali. Lalu tubuhnya ditarik ke atas. Dengan cepat dia menerima salah sebuah senjata yang diberikan Si Bungsu. Senjata yang baru saja dirampas dari keempat tentara yang tadi menggiringnya. Kini Cowie mengawasi kedua tentara Vietnam itu menarik Tim Smith. Smith juga menerima sepucuk senjata. Kemudian dia bergerak ke bahagian kanan, berlutut di dekat pohon kayu mengawasi jalan yang menuju ke arah kampung. Cowie memberi isyarat kepada Jock Graham, yang segera menyambar tali tersebut. Dia segera ditarik ke atas. Di atas Graham juga menerima sebuah bedil dari Si Bungsu.

“Masukkan mereka ke lobang….” ujar Si Bungsu kepada Cowie. Cowie dan Jock Graham memerintahkan kedua Vietnam itu membuka sepatu dan celana mereka. Kemudian dengan hanya berkolor dan berbaju, hampir secara bersamaan keduanya kena hantaman pada tengkuk oleh popor bedil di tangan Cowie dan Smith. Entah mati entah hidup, yang jelas keduanya tercebur dengan suara agak keras ke dalam air kuning berlumpur itu. Baik Cowie maupun Smith memang tidak menembak kedua milisi itu, karena suara tembakan akan mengundang tentara yang ada di perkampungan.“Kita berangkat…” ujar Si Bungsu. “Kemana?” tanya Cowie sambil memakai sepatu dan pakaian salah seorang tentara Vietnam itu.

Si Bungsu menunjuk ke arah belantara lebat di bahagian utara lobang tempat mereka disekap. Bagi Cowie, Smith dan Graham memang ke sana pilihan terbaik untuk lari. Mereka tak mungkin masuk ke kampung. Hutan adalah tempat yang aman, meski untuk sementara. Bagi Si Bungsu, hutan lebat itu menjadi pilihan karena hutan merupakan ‘rumah’nya. Cowie mengambil semua peluru dan dua bedil yang pemiliknya sudah terjun ke lobang penyekapan. Tanpa banyak membuang waktu, mereka segera menuju ke arah belantara yang terlihat tak begitu jauh.

Yang tak mendapat jatah pakaian adalah Tim Smith. Dia hanya mendapat sepatu. Karena sepatu itu kebesaran di kaki Jock Graham. Namun keempat mereka kini memiliki bedil dan peluru. Kendati jumlah peluru yang mereka miliki tak mencukupi untuk bertempur lama, namun bagi seorang pelarian memiliki bedil dan peluru merupakan sesuatu yang amat luar biasa harganya.

Mereka baru saja bergerak sekitar seratus langkah, ketika tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan dari tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Mereka terhenti, namun hanya sesaat. Kesadaran bahwa ledakan itu mengundang kedatangan tentara Vietnam menyebabkan mereka segera bergerak cepat. “Ledakan apa itu?” tanya Graham sambil melompati sebuah kayu besar yang melintang. “Granat…” ujar Cowie, sambil melompati pula kayu tersebut.

Si Bungsu menyumpah dalam hatinya. Dia menyesal tidak menyuruh tentara Vietnam itu membuka bajunya sebelum dimasukkan ke lobang penyekapan menggantikan mereka. Dia teringat, kantong baju salah seorang milisi Vietnam yang mereka ceburkan itu kelihatan menggembung. Dia yakin, granat yang ledakannya barusan mereka dengar berasal dari dari dalam kantong baju yang menggelembung itu. Dia tak curiga karena granat biasanya dicantelkan diikat pinggang. Tapi kenapa granat itu baru diledakkan setelah keempat pelarian itu bergerak cukup jauh?

Milisi Vietnam yang kantongnya menggelembung yang dilihat Si Bungsu, tak lama setelah diceburkan ke lobang segera mengeluarkan granat dari kantong bajunya begitu keempat pelarian tersebut lenyap dari pandangan mereka di atas lobang penyekapan itu. Dia sudah akan mencabut pin granat itu, namun temannya yang seorang lagi segera mencegah.

“Jangan sekarang…” ujarnya. “Kau mau bunuh diri? Mereka belum jauh. Begitu granat ini meledak, mereka akan kembali dan menembak kita… ”ujarnya. “Tapi, kita akan ditembak komandan kalau mereka sudah jauh dan berhasil meloloskan diri….” “Belum tentu kita ditembak oleh bangsa sendiri. Sebab, empat tentara yang tadi menggiring mereka, adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas lolosnya tawanan itu. Di bawah pengawalan mereka, orang itu lolos…”

Yang memegang granat dapat memahami penjelasan temanya. Dia urungkan mencabut pin granat tersebut. Lalu mereka sama-sama menanti. Menanti dengan cemas, apa hukuman yang akan mereka terima, jika nanti mereka diadili. Setelah merasa keempat tawanan itu lari cukup jauh, granat tersebut lalu dilemparkan ke atas dan meledak. Suara ledakan tersebut lalu membuat tentara yang berada di kampung yang tak jauh dari penyekapan itu tersentak. Dalam waktu yang amat singkat lima belas tentara segera memburu ke tempat tersebut lewat tiga jalur yang berbeda.

Regu pertama menuju ke lobang penyekapan itu dengan memutar dari kiri. Regu ke dua melambung dari arah kanan. Regu ke tiga mendatangi tempat tersebut dari jalan setapak yang biasa dilewati. Regu ketigalah yang menemukan ke empat teman-teman mereka pada tergeletak di jalan, tak berapa jauh dari kampung. Ke empat mereka masih dalam keadaan pingsan. Malang melintang di jalan kecil di antara hutan bambu tersebut. Komandan regu segera mengirim salah seorang anggotanya kembali ke markas di kampung. Memberitahu apa yang mereka temukan.

Setelah itu, yang empat orang lagi segera melanjutkan perjalanan menuju ke lobang di mana selama ini mereka menyekap tawanan perang tersebut. Regu pertama yang melambung dari arah kanan, segera sampai ke bahagian belakang pondok pengawalan beberapa meter dari lobang penyekapan.

Dari tempat mereka berada, sekitar sepuluh depa dari pondok, mereka melihat pondok pengawasan itu kosong. Regu yang melambung dari arah kiri juga segera tiba. Dari jarak belasan meter mereka melihat penutup lobang tempat penyekapan tawanan itu terbuka. Baik regu yang di kanan maupun yang di kiri, segera mengirim tiga orang anggota masing-masing mendekati lobang penyekapan. Ketiga orang itu merayap dalam hutan bambu tersebut, hampir tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Lalu akhirnya, mereka mendapatkan yang berada dalam lobang penyekapan itu adalah dua milisi yang seharusnya d pondok berjaga. Kedua milisi itu tak segera bisa di tarik naik. Sebab tali nilon yang biasa untuk menarik mayat tawanan yang mati, ternyata di bawa kabur oleh para tawanan tersebut.

Letnan yang bertanggung jawab atas tawanan itu segera memerintahkan anak buahnya melacak kearah larinya tawanan tersebut. Hanya di butuhkan beberapa saat,tiga orang yang di tugaskan melacak telah datang melapor. “Mereka ke arah hutan, jejak masih jelas…” lapor salah seorang dari yang bertiga itu. Si letnan menatap kearah hutan dan bukit yang di tunjuk oleh anak buahnya. “Mereka memasuki Neraka yang lebih berbahaya…”ujarnya.

Namun sebelum ke empat pelarian itu memasuki ’Neraka yang lebih berbahaya’ sebagaimana di ucapkan sang komandan, yang pertama memasuki Neraka adalah ke empat orang Vietnam yang terkait dengan empat pelarian itu. Neraka yang mereka tempati adalah Neraka yang biasa di tempati oleh para tawanan tentara Amerika. Ke dua milisi yang berjudi ceki itu tetap tak boleh keluar dari lobang penyekapan itu, mereka di tambah dengan empat tentara yang menggiring Si Bungsu sampai perkampungan.

Komandan yang bermarkas di desa itu berpangkat Mayor. Saking berangnya, muka sang Mayor sampai berubah-rubah seperti jadi-jadian. Sebentar merah padam, sebentar kemudian pucat, kemudian merah padam lagi. Ke empat tentara yang di lumpuhkan Si Bungsu itu di jebloskan saat mereka masih pening-pening lalat. Mula-mula mereka dingkat teman-teman nya. Mereka menyangka akan di rawat di bangsal kesehatan sebagaimana jika ada tentara yang sakit. Namun harapan itu sangat jauh panggang dari pada api. Tubuh mereka di lempar kedalam lobang penyekapan.

Baru beberapa saat dalam lobang berair kuning kental itu, keenam tentara Vietnam itu muntah kayak. Bau yang amat menusuk, bau bekas mayat dan bau kotoran manusia, yang bercampur aduk jadi satu membuat perut mereka benar-benar mual dan tak mampu bernafas. Namun lobang itu sudah di perintahkan si Mayor untuk di tutup. Setelah itu si Mayor memerintahkan seluruh tentara dan milisi di desa itu untuk berkumpul di dekat lobang penyekapan itu. Ada sekitar tiga puluh tentara reguler, kemudian dua puluh milisi berkumpul, sepuluh di antaranya wanita.

Si Mayor membagi kekuatan setengah kompi itu dalam tiga kelompok. Dua bagian harus menyisir hutan, memburu tawanan dari dua arah, yang sebagian lagi hanya sekitar sepuluh orang, siaga di markas mereka di desa itu. “Jangan kalian pulang jika tidak membawa empat orang itu. Saya tak peduli apakah yang kalian bawa pulang orangnya atau hanya kepalanya. Ingat itu, jangan pulang tanpa mereka..!!”hardik si Mayor kepada kedua kelompok itu.

Sementara di dalam lobang, dua dari enam orang yang di ‘cemplungkan’ karena membiarkan tawanan itu melarikan diri. Jatuh pingsan setelah isi perut mereka keluar semua. Namun si Mayor tak peduli. Setelah dua kelompok itu berangkat. Dia memerintahkan empat orang untuk menjaga di pondok pengawalan itu. ”Jangan ada yang berani memberi makan atau minum, dalam bentuk apapun tanpa perintah saya, jika kalian langgar, kalian saya tembak…” tukas si Mayor dengan suara serak saking menahan berangnya.

Tapi ke empat orang yang melarikan diri itu, ternyata memang menghadapi tantangan yang tak kecil. Tantangan pertama yang harus mereka hadapi adalah kondisi fisik mereka sendiri. Yang pertama ambruk sejak mereka keluar dari lobang itu adalah kopral Jack Graham. Kopral ini sama-sama di pindahkan bersama Si Bungsu dengan truk. Ternyata kondisinya sudah demikian buruk. Demam panas menyerang pula. Si Bungsu yang posisinya paling belakang, melihat kopral itu memeluk sebatang pohon besar dengan tubuh menggigil. Bedil di tangan nya hampir jatuh, Si Bungsu paham, kalau orang itu tak mungkin untuk terus berjalan. Kalau saja dia punya waktu untuk mengumpulkan dedaunan untuk ramuan. Ingatan itu segera menyadarkan Si Bungsu tentang apa yang harus dia lakukan.

“Tetaplah bertahan, Jock. Saya akan buatkan obat untukmu…” ujar Si Bungsu. Matanya coba meneliti beberapa dedaunan dan lumut yang bisa dibuat ramuan obat. Namun baru dua dari empat jenis daun yang harus diperoleh, pendengarannya yang amat tajam mendengar bunyi langkah tak jauh di belakang mereka. Sementara Smith dan Cowie sudah terpisah dari mereka oleh palunan hutan lebat tersebut. Cowie yang berjalan di bahagian depan sekali berhenti dan menoleh ke belakang. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres. Dia tidak melihat Jock Graham dan Si Bungsu.

“Jock…!!” serunya. Tak ada sahutan apapun. Sepi sekali. Hanya suara binatang hutan terdengar di mana- mana. “Bungsu….!!” serunya. Tetap tak ada sahutan apapun. Sepi dan amat mencekam. Smith yang nafasnya sudah sesak bersandar ke pohon besar. Matanya menatap jalan yang tadi mereka tempuh. Tak ada jalan sebenarnya, karena yang mereka tempuh saat ini adalah belantara lebat yang belum pernah dijejak manusia. Perang Vietnam-Amerika pun, yang berlangsung amat ganas dan bertahun-tahun, tak sampai menjamah daerah ini. Smith maupun Cowie hanya melihat hutan belantara yang maha lebat dan angker. Apa yang terjadi dengan Jock Graham dan Si Bungsu?

Mengapa mereka tak menyahuti panggilan Cowie? Saat Si Bungsu sedang memetik beberapa lembar daun untuk obat Jock Graham, kemudian mendengar suara langkah tak jauh di belakangnya, dia bergerak cepat ke tempat Jock Graham yang masih tegak bersandar seperti memeluk pohon besar itu. Dia menotok bahagian belakang leher tentara Amerika tersebut. Totokan yang amat terlatih itu membuat Jock Graham lumpuh. Si Bungsu memanggul tubuh yang sudah tak bertenaga itu. Kemudian dengan cepat membawanya pergi dari sana.

Dia membawa tubuh kurus kerempeng itu ke bawah sebuah pohon yang besarnya sekitar tiga pelukan lelaki dewasa. Letaknya sekitar dua puluh depa dari tempat Jock Graham tegak pertama. Urat kayu itu berbentuk pipih dan besar-besar. Urat-uratnya yang muncul di atas tanah menyebabkan bahagian bawah pohon besar itu memiliki sekat-sekat seperti kamar. Tiap urat pipih yang membentuk sekat itu bisa setinggi tegak lelaki dewasa. Dia dudukkan tentara yang tak sadar diri itu di antara sekat tersebut, persis saat salah satu regu Vietnam sampai ke tempat mereka tadi.

Belasan tentara Vietnam tersebut melihat bekas Jock Graham tegak. Namun setelah itu jejaknya hilang. Tapi saat itu pula mereka mendengar suara orang memanggil sampai dua kali. Suara yang didengar tentara Vietnam itu adalah suara Cowie yang memanggil Jock Graham dan Si Bungsu. Pimpinan regu memberi isyarat kepada anak buahnya dengan meletakkan telunjuk ke bibir. Kemudian dia membagi formasi anak buahnya untuk menyergap orang yang hanya kedengaran suaranya itu. Dia bagi anak buahnya dalam dua sayap, kiri dan kanan.

Mereka memang tak bisa melihat siapapun, karena belantara dimana kini mereka berada demikian lebat. Jarak pandang hanya bisa menembus antara tiga sampai empat meter. Selepas itu pandangan terhambat oleh pohon besar dan belukar yang rapat sekali. Pemburuan itu semakin dipersulit oleh sore yang sudah turun. Hutan yang sudah gelap itu dengan cepat menjadi semakin gelap. Mereka bergerak perlahan, namun cepat, ke arah sumber suara memanggil tadi. Sementara itu, usai mendudukkan Jock Graham Si Bungsu menekan urat di belakang leher tentara tersebut. Jock Graham mengeluh saat pertama sadar. Namun mulutnya dibekap oleh Si Bungsu. Dia berbisik di telinga tentara itu.

“Dengar Jock! Belasan tentara Vietnam berada hanya beberapa langkah dari tempat kita. Engkau akan cukup kuat untuk mengangkat bedil dan menembakkannya kalau keadaan terdesak. Saya akan membuatkan obat untukmu. Tapi sebelum itu kita harus bisa lolos diri dari buruan Vietnam itu….” Usai memberikan penjelasan Si Bungsu menyerahkan kembali bedil rampasan dari tentara Vietnam yang tadi nyaris lepas dari tangan Jock. Kemudia dia menotok dan mengurut dengan cepat beberapa urat di pusat, kening dan punggung tentara itu. Dengan perasaan takjub Jock Graham merasakan kondisi tubuhnya agak membaik.

“Terimakasih, kawan…” ujarnya perlahan. “Jangan bergerak. Tetap duduk seperti ini, pasang telinga dan matamu. Saya akan melihat apa yang masih bisa dilakukan. Maaf, saya belum sempat meramu obat untukmu. Tapi kunyah saja daun ini, telan airnya. Agak pahit bercampur asin rasanya, tapi itu obat. Usahakan agar tak tertelan ampas daunnya…” ujar Si Bungsu dalam kalimat cepat, sembari menyumpalkan tiga lembar daun selebar telapak tangan ke mulut Jock Graham, kemudian dia menyelinap dengan cepat meninggalkan tempat itu. Jock Graham mengunyah daun yang disumbatkan lelaki dari Indonesia itu ke mulutnya. Daun itu kesat sekali. Seperti kertas ampelas. Rasanya memang agak asin. Kalau saja bukan lelaki dari Indonesia itu yang menyumbatkan daun sialan tersebut, sudah sejak tadi dia muntahkan. Tapi dia yakin, orang Indonesia itu bukan sembarangan lelaki. Dia tidak hanya sekedar pandai meramu obat, juga tangguh luar biasa. Buktinya adalah kemampuan lelaki itu melumpuhkan empat tentara Vietnam yang menggiringnya. Dengan fikiran demikian dia meneruskan mengunyah daun rasa kentut tersebut. Kemudian menelan airnya yang juga rasa kentut.

Air getah daun yang dia telan itu sebagaimana tadi dijelaskan Si Bungsu, memang terasa agak asin dan agak pahit. Dia ingin meludah, namun tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang tentara Vietnam! Tentara itu sebenarnya tak tahu bahwa di balik ceruk akar pohon yang besar-besar itu bersembunyi orang yang mereka buru.

Dia datang ke tempat itu untuk memeriksa belukar lebat tak jauh dari pohon besar tersebut. Namun ketika dia melewati sebuah sisi akar kayu besar itu, tiba-tiba saja dia melihat seorang tawanan yang mereka buru ada di sana. Duduk bersandar ke pohon di antara dua urat kayu pipih lebar dan tinggi, sehingga tak kelihatan jika tidak berada di alur yang sama dengan celah urat kayu tersebut.

Orang itu dia pergoki sedang mengunyah-ngunyah. Namun pertemuan yang mendadak dan saling menatap itu membuat dia kaget dan tertegun. Lupa pada bedil di tangannya. Begitu juga halnya dengan Jock Graham. Kendati kedua mereka sama-sama memegang bedil yang sama-sama teracung ke arah lawannya masing-masing, namun belum satu letusan pun yang terdengar. Telunjuk masing-masing tetap dipelatuk bedil. Jock Graham masih terus mengunyah daun kayu di mulutnya. Mengunyah perlahan, namun tak lagi mampu menelan getah daun yang sudah terkumpul dalam mulutnya. Tapi kemudian, terjadi juga apa yang harus terjadi. Jock Graham ternyata lebih duluan menyadari situasi berbahaya itu. Telunjuknya bergerak.

“Klik….”Senjatanya macet!

Jock Graham menarik lagi pelatuk tersebut. Tak ada bunyi sama sekali. Bedil buatan Cina yang dikenal dengan nama Chung itu memang banyak mengundang celaka tentara yang memakainya. Suara ‘klik’ dari bedil pelarian tersebut membuat si Vietnam sadar. Telunjuknya segera bekerja. Namun tetap saja tak ada sebuah letusan pun yang terdengar. Yang terjadi adalah mendeliknya mata si Vietnam tersebut. Sesaat kemudian tubuhnya terjungkal ke depan. Jatuh tertelungkup sehasta di depan Jock Graham, yang sedetik lalu sudah pasrah menunggu maut.

Sebelum hilang rasa kejutnya, tiba-tiba Si Bungsu muncul. Tangannya memberi isyarat agar Jock Graham jangan bersuara. Saat itu Jock Graham baru bisa kembali menelan getah daun kayu yang dia kunyah. Kemudian daun yang sudah menjadi ampas itu dia ludahkan. Dia melihat ampas daun kayu itu berwarna merah. Dia terkejut, apakah dia muntah darah? Dia meludah, ludahnya juga merah. Dia menatap ke arah Si Bungsu.

Si Bungsu menggeleng perlahan, sebagai isyarat agar dia tak khawatir. Kemudian mata Si Bungsu kembali menatap tajam ke belantara gelap di depannya. Suasana benar-benar sepi. Sore sudah melakukan serah terima tugasnya menerangi bumi dengan senja. Gelap yang makin kental perlahan merayap menerkam rimba tersebut. Si Bungsu memang berharap agar malam cepat turun. Semakin gelap hari semakin terlindung mereka dari pengejaran. Hal yang sama juga diinginkan Letnan PL Cowie yang bersembunyi dalam sebuah palunan belukar lebat.

Tadi ketika usai dia memanggil Jock Graham dan Si Bungsu, tiba-tiba telinganya yang memang sudah terlatih dalam perang Vietnam yang bertahun-tahun, ternyata masih berfungsi dengan baik. Dia mendengar suara belukar disibakkan dan daun kayu diinjak kaki manusia. Dia segera memberi isyarat pada Smith untuk menghindar dengan cepat dari tempat itu. Dan latihan bagaimana bergerak di belantara dengan tak banyak meninggalkan jejak juga masih mereka kuasai dengan baik. Itu sebab pasukan Vietnam yang mahir melacak jejak dalam hutan sulit menemukan ke mana larinya buruan mereka.

Apalagi cahaya gelap yang sudah turun makin mempersulit mereka meneliti bekas injakan kaki di dedaunan. Senter bukannya tak bermanfaat dalam kondisi seperti itu. Namun mempergunakan senter sama halnya dengan memberi tahu kepada musuh di mana awak berada. Dan itu artinya adalah bunuh diri. Maka kini, mereka benar-benar hanya menyerahkan nasib dan nyawa mereka pada ketajaman pendengaran masing-masing. Hutan itu, dalam radius hanya sekitar lima ratus meter persegi, dipenuhi tak kurang dari 40 manusia. Mereka adalah tiga puluhan tentara Vietnam yang terbagi dalam dua regu, serta empat pelarian yang kurus kerempeng dan kelaparan. Hanya karena malam dan belantara itu amat lebat saja mereka tak saling melihat antara satu dengan yang lain.

Setelah cukup lama menanti, namun tak ada tanda-tanda gerakan apapun dari pelarian tersebut, kedua komandan regu tentara Vietnam itu sepakat mengambil insiatif untuk menggeledah saja belantara itu. Mereka berani mengambil inisiatif karena mereka lebih banyak dan kondisi tubuh mereka tentu saja lebih baik di banding kondisi tubuh orang yang mereka buru.

Kedua regu tentara itu segera membentuk formasi bersaf. Dengan formasi seperti itu mereka mulai begerak maju. Jarak seorang tentara dengan yang lain hanya sekitar lima depa. Maju selangkah demi selangkah, sambil tiap sebentar berhenti, mendengarkan kalau-kalau ada gerakan lain di sekitarnya. Tentu saja tak seorang pun yang mengetahui, bahwa di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu adalah ‘pangeran belantara’! Seorang yang benar-benar hafal bentuk dan struktur rimba raya. Seorang yang bisa berlari cepat di belantara lebat, kendati dalam suasana gelap gulita.

Seorang yang bisa membedakan apakah sebuah daun bergoyang karena angin atau karena sebab yang lain. Seorang yang bisa membedakan bau kayu atau daun yang sudah disentuh manusia dengan bau daun kayu yang belum disentuh apa pun. Tak seorang pun di antara tentara Vietnam itu yang tahu, bahwa ada orang dengan kualifikasi seperti itu di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu. Kalau saja mereka tahu, bahwa setiap saat, setiap detik, orang itu tiba-tiba bisa berada sejengkal di depan hidung mereka, tanpa diketahui dari mana datangnya, mereka takkan gegabah merancah hutan tersebut.

Namun bagi beberapa tentara Vietnam yang bernasib malang, waktu sudah terlambat. Seorang prajurit di bahagian kanan, ketika merunduk-runduk melewati sebuah dahan besar, tiba-tiba seutas tali menjerat lehernya. Dia ingin berteriak, tapi teriakannya tersangkut di tenggorokan yang dijerat semakin ketat oleh tali kasar itu. Dia berusaha menarik pelatuk bedilnya, namun jarinya tak bisa dia gerakkan. Tubuhnya telah dibuat lumpuh!

Ada yang mendengar suara bergedebuk agak lemah, disusul suara bergedebuk lebih keras. Kemudian sepi. Tak seorang pun yang menyangka, suara gedebuk pertama adalah suara jatuhnya senapan dari tangan kawan mereka yang lehernya kena jerat itu. Gedebuk kedua adalah suara jatuhnya tubuh si tentara ke tanah beralaskan dedaunan kering. Si Bungsu lalu turun, mengambil bedil yang jatuh tersebut. Kemudian berlutut di tanah. Lalu menembak ke arah kiri. Usai beberapa tembakan dia melompat cepat beberapa meter ke belakang. Dan memutar ujung bedil dan menembak ke arah kanan.

Saat dia menembak kekiri terdengar pekikan-pekikan. Begitu juga saat dia menembak ke kanan. Hanya sesaat setelah itu, semburan api dan rentetan peluru terdengar dari kiri dan kanan ke tempat dia memuntahkan peluru. Kemudian sepi!

Tembakan balasan dari belasan tentara Vietnam itu menerpa tempat kosong. Sebab begitu bedilnya usai memuntahkan peluru, disusul pekikan tentara yang diterkam timah panas itu, Si Bungsu segera bergerak secepat yang bisa dia lakukan. Menghindar dari lokasi tersebut. Cowie dan Tim Smith mendengar rentetan tembakan itu dengan tegang.

Namun hanya beberapa saat setelah tembakan balasan terdengar, dalam suasana sepi yang mencekam, Cowie dan Tim Smith tiba-tiba dibuat sangat terkejut oleh suara yang hanya berjarak sedepa dari tempat mereka. Mereka sudah siap menarik pelatuk bedil bersamaan, tatkala tiba-tiba mereka mendengar suara Si Bungsu berbisik. “Jangan tembak, ini saya dan Jock….”

Mengetahui yang datang adalah Si Bungsu, Cowie menarik nafas, Smith bercarut-carut. Dalam gelap yang kental itu mereka mendengar erangan Jock Graham. “Kenapa dia?” tanya Cowie. “Demam… tapi sudah agak baikan….” “Anda yang menembak tadi?” “Ya….” “Saya kira ada tiga atau empat orang mereka yang terbunuh….” “Mereka hanya saya lumpuhkan. Jumlah mereka sangat banyak. Kita harus memecah rombongan…” ujar Si Bungsu. “Maksudmu?” “Anda bisa mencari jalan dalam gelap ini untuk menghindar sejauh mungkin. Letnah Cowie?” “Jika tidak dikepung, barangkali bisa….” “Baik. Saya akan mengalihkan perhatian mereka ke arah lain. Kalian larilah sejauh yang kalian bisa hingga pagi tiba. Saya akan menyusul….”

“Sebaiknya saya tinggal berdua dengan Anda, sehingga yang meloloskan diri pertama adalah Smith dengan membawa Jock. Atau yang tinggal Smith, saya membawa Jock…” bisik Cowie. “Akan sulit bila hanya seorang yang memapah Jock. Memapah sambil mencari jalan dalam gelap bukan pekerjaan yang mudah….” “Tetapi, sendirian menghadapi puluhan Vietnam itu bukan juga pekerjaan yang mudah…” bisik Cowie. “Cowie, hutan adalah rumahku. Aku hafal setiap lekuk likunya. Aku mustahil bisa bertempur frontal dengan mereka. Aku hanya akan memancing perhatian mereka ke tempat lain, sehingga kalian bisa melarikan diri sejauh mungkin…” bisik Si Bungsu. Akhirnya Cowie memahami penjelasan dan rencana Si Bungsu.

“Untuk mengalihkan perhatian dan memancing mereka ke arah lain, saya memerlukan peluru lebih banyak…” ujar Si Bungsu. Cowie lalu membuka magazin senjata Jock Graham. Kemudian dia membuka magazin senjata yang ada padanya. Mengeluarkan separoh isinya. Begitu juga peluru di magazin senjatanya sendiri. Kemudian diisikannya peluru tersebut ke magazin senjata Jock Graham. Ketika magazin itu penuh, masih ada beberapa peluru lagi. “Kemarikan magazin senjatamu. Masih ada beberapa peluru. Ini magazin yang sudah penuh…” ujar Cowie sambil menyerahkan magazin yang sudah berisi penuh itu kepada Si Bungsu.

Si Bungsu membuka magazin senjata di tangannya. Kemudian menyerahkan pada Cowie, sembari menerima dan memasangkan magazin yang diserahkan Cowie ke senjata nya. Cowie memasukkan sisa peluru di tangannya ke magazin yang diserahkan Si Bungsu. Kemudian memberikan magazin yang juga akhirnya menjadi penuh oleh peluru tersebut kepada orang Indonesia itu.

“Saya akan meninggalkan kalian. Saya mengetahui tempat mereka berada. Mereka membentuk formasi lurus dalam jarak emat sampai lima depa. Saya akan menembaki mereka. Bergeraklah saat kalian mendengar tembakan balasan dari mereka…” ujar Si Bungsu. Ketika dia akan bergerak meninggalkan tempat itu, terdengar Jock Graham berkata.

“Kawan, jika tidak engkau tolong, saya sudah terbunuh di luar sana, atau dilemparkan kembali ke lobang jahanam itu. Terimakasih juga pada obatmu….” “Jaga dirimu, Jock…” ujar Si Bungsu. Ketika dia akan pergi, Letnan PL Cowie memegang tangannya. “Kawan, kami tidak tahu siapa engkau sebenarnya. Namun kami berhutang nyawa padamu. Kendati pun pelarian ini gagal dan kami mati semua, namun keluarga kami, dan juga Amerika, berhutang padamu. Saya tak tahu apakah kita masih akan bertemu atau tidak. Karenanya saya perlu menyampaikan, terimakasih atas segala yang kau lakukan untuk kami, kawan….”

Si Bungsu menggenggam tangan Cowie. Demikian juga tangan Smith dan Jock Graham, yang dalam gelap gulita itu juga mengulurkan tangan pada Si Bungsu.

“Cowie, setelah ini dengan atau tanpa saya, saya yakin engkau bisa membawa teman-temanmu keluar dengan selamat dari neraka ini. Kalian adalah orang-orang hebat dan tangguh. Jika kalian bergerak, usahakan agar bergerak ke arah barat. Ke arah barat Cowie, karena arah itu menuju ke perbatasan Kamboja. Beberapa bulan yang lalu, saya melihat helikopter tempur Amerika yang menjemput Kolonel MacMahon bergerak ke arah itu. Barangkali di sana ada gugus tugas pasukan Amerika. Ingat, ke arah barat, Cowie….!”

“Tunggu, bagaimana kami tahu bahwa yang menembak pertama adalah engkau, sehingga kami yakin bahwa tembakan setelah itu merupakan tembakan balasan dari tentara Vietnam? Bisa saja merekalah yang pertama kali menembakmu…” ujar Cowie. Si Bungsu terdiam. Benar juga ucapan orang ini, fikirnya.

“Baik, tembakan pertama akan saya arahkan ke tempat kalian ini. Kemudian baru ke arah mereka. Nah kawan, saya pergi.…” Si Bungsu lalu bergerak cepat. Baik Cowie maupun Jock Graham dan Smith, nyaris tak mendengar suara apapun ketika lelaki itu menjauh dari mereka. Padahal lelaki itu bergerak di antara belukar yang amat lebat. Dia bergerak seolah-olah tak menyentuh sehelai daun pun. Cowie menarik nafas panjang.

“Lelaki yang luar biasa. Hanya saya tak mengerti, untuk apa dia berada di Vietnam ini….” Tak ada yang mengomentari ucapannya. Malam terasa merangkak amat perlahan dalam belantara yang ditelan kegelapan kental itu. Ada suara burung hantu di kejauhan. Ada suara desir angin di pucuk-pucuk pohon, jauh di ketinggian belantara. Sesekali ada bunyi kepak sayap kelelawar, yang terbang melintas dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Dalam kegelapan yang mencekam tersebut terdengar Tim Smith yang memiliki banyak sekali perbendaharaan sumpah serapah dan carut marut itu, berkata perlahan. Perkataan yang seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri.

“Saya tak faham ucapannya. Orang itu sungguh penuh misteri. Dia mengatakan melihat helikopter tempur menjemput Kolonel MacMahon dari arah perbatasan Kamboja. Dia tentu berada di sana ketika MacMahon dijemput helikopter tersebut. Mengapa dia ada di sana? Kalau dia berada di pihak Amerika, dia tentu pergi meninggalkan Vietnam bersama MacMahon. Ternyata dia tak pergi. Itu berarti dia berada di pihak Vietnam. Tetapi, jika dia di pihak Vietnam kenapa dia disekap bersama kita dalam neraka berlumpur itu?” Tak segera ada yang mengomentari ucapan Smith. Cowie bertanya pada Jock Graham. “Engkau datang bersamanya Jock. Apakah engkau tahu kenapa dia ditangkap Vietnam?” “Saya bertemu dengan dia ketika sudah di atas truk yang akan mengangkut kami ke tempat kalian. Selama di truk tak ada pembicaraan. Mata kami saja ditutup dengan kain….”

Cowie dan Smith mendengar jawaban Jock Graham yang singkat itu dengan berdiam diri, sampai tiba- tiba mereka mendengar suara tembakan. Dan peluru tembakan pertama itu mereka dengar menghantam sebuah dahan kayu di atas mereka. Detik berikutnya mereka dengar tembakan beruntun, tapi mereka bisa menandai bahwa tembakan beruntun itu berasal dari bedil yang sama dengan suara tembakan pertama tadi,Lalu sepi…

Hanya sesaat, lalu terdengar tembakan balasan dari belasan bedil yang lain. Demikian ramainya, seolah- solah akan merobek belantara tersebut.

“Kita pergi, sekarang…!” ujar Cowie sambil bangkit memapah Jock Graham. “Saya bisa berjalan. Kondisi saya sudah jauh lebih baik…” ujar Jock Graham yang memang merasakan kondisinya tubuhnya lebih memadai setelah menelan dedaunan yang diberikan Si Bungsu. “Kalau begitu kita pergi. Jangan terpisah terlalu jauh. Go! Go….!” bisik Cowie.

Dengan merunduk dia menyelusup diiringi Jock dan Smith di bahagian belakang sekali. Mereka keluar dari belukar lebat tempat mereka bersembunyi sejak senja tadi. Dari belakang mereka masih terus mendengar tembakan beruntun. Kemudian disusul tembakan balasan satu-satu. Tidaklah diperlukan pengalaman perang yang berlebihan untuk mengetahui bahwa tembakan dari belasan bedil itu berlawanan arah dengan tempat mereka. Artinya, Si Bungsu telah mengatur posisi mengalihkan perhatian tentara Vietnam ke arah yang berlawanan dari ke tiga tentara Amerika yang melarikan diri itu.

Ketiga tentara Amerika tersebut tahu bahwa tembakan salvo, tembakan satu-satu dari dua bedil yang dibawa Si Bungsu ganti berganti, adalah upaya orang Indonesia itu untuk mengecoh tentara Vietnam. Dengan tembakan salvo dari dua bedil tersebut, ada dua hal yang difahami Cowie. Pertama, orang-orang Vietnam tersebut tahu bahwa tembakan salvo itu dalam upaya para pelarian menghemat peluru. Kedua, dua bedil itu memberikan kesan, bahwa ke empat orang tersebut masih berkelompok. Dugaan Cowie itulah yang memang termakan oleh komandan pasukan Vietnam tersebut.

Dia memang menduga ke empat pelarian tersebut masih mengelompok. Cowie mendengar tembakan salvo Si Bungsu mau pun tembakan balasan dari lima sampai enam bedil orang-orang Vietnam itu secara bergantian, semakin lama semakin jauh dari posisi mereka. Cowie tahu, hal itu disebabkan dua hal. Pertama, mereka memang sedang bergerak menjauhi tempat mereka terkepung tadi. Kedua, Si Bungsu berhasil memancing tentara Vietnam tersebut memburu dirinya yang semakin ke arah timur. Ke arah yang berlawanan dengan arah larinya Cowie dan dua temannya.

Si Bungsu sebenarnya dengan mudah bisa berputar dan tiba-tiba berada di belakang salah seorang para pemburunya. Dia mengenal belantara seperti mengenal garis di telapak tangannya. Namun dia tak melakukan hal itu. Karena tujuannya hanya ingin memperjauh jarak antara tentara Vietnam ini dengan Cowie, Smith dan Jock Graham. Tujuannya bukan untuk membunuh. Kemudian beberapa tembakan balasan menghajar kayu besar tempatnya berlindung, Si Bungsu memekik. Kemudian diam.

“Mereka kena…!” desis komandan regu Vietnam kepada Sersan di sebelahnya. “Sudah dua yang kena…” ujar Sersan tersebut. Sebab tadi dia juga mendengar pekik kesakitan dalam kecamuk tembakan. “Tinggal dua lagi. Saya yakin dua orang yang kena tembak itu segera mati. Kondisi mereka sudah amat buruk saat di lobang penyekapan…” ujar si komandan.

Melalui perintah beranting, dari mulut ke mulut, dia menyuruh cek berapa pasukannya yang tertembak. Tak berapa lama, pesan beranting itu sampai kembali kepada si komandan. Ada dua anak buahnya yang tak diketahui nasibnya dan sembilan orang mereka yang tertembak. Namun sembilan yang tertembak itu nampaknya bernasib baik. Tak seorang pun yang mati.

“Siapa kedua orang yang tak bertemu itu?” tanya si komandan. Sersan yang berada di sebelahnya menyebut dua nama. Tak seorang pun di antara mereka yang tahu, bahwa kedua teman mereka itu tergeletak lumpuh kena totok. Pengejaran dan pengepungan ini amat melelahkan. Ke empat tentara Amerika yang mereka buru seperti tahu saja di mana posisi mereka. Tembakan ke empat orang itu hampir bisa dipastikan selalu memakan korban.

Si komandan melihat jam tangannya. Kegelapan yang mencekam yang angka-angka dan jarumnya memakai radium, yang menyebabkan angka dan jarum jam tersebut bersinar hijau dalam kegelapan. Semakin gelap hari, semakin jelas cahaya yang dipancarkan radium pada angka dan jarum jam tersebut. “Sudah pukul empat lewat…” ujarnya.

Dia lalu kembali memberi perintah beranting untuk memperkecil jepitan pengepungan dengan sistem tapal kuda. Dia memerintahkan ada yang ditangkap hidup-hidup untuk diinterogasi. Kini tugas utama adalah memperkecil jepitan kepungan, kemudian tunggu matahari terbit. Baru disergap. Menjelang itu, bertahan sambil berjaga agar tak ada yang lolos. Bisik berisi perintah itu diteruskan si Sersan secara berantai. Orang pertama yang mendengar pesan itu segera merayap atau berjalan membungkuk-bungkuk lima atau enam depa ke sampingnya, sampai bertemu dengan temannya yang lain.

Lalu menyampaikan pesan si komandan. Saat pesan kedua bergerak ke kanan atau ke kiri untuk menyampaikan pesan pada orang berikutnya, yang menyampaikan pesan pertama kembali ke posisi semula.

Demikian cara menyampaikan pesan beranting dalam pertempuran dimana tak ada radio atau isyarat lain yang bisa di lihat. Ketika si komandan merasa isyaratnya sampai kesayap kiri maupun ke sayap kanan, dia melakukan uji coba untuk mengetahui apakah buruan mereka masih berada di titik sasaran yang mereka perkirakan. Dia memuntahkan beberapa tembakan ke arah yang mereka perkirakan itu.

Kemudian mereka menanti. Tak berapa lama, dua tembakan balasan terdengar menggema. Dan si komandan bercarut marut dengan wajah pucat, karena salah satu peluru nyaris menyambar pipinya. Tapi dia merasa lega. Orang yang mereka buru masih berada di depan sana.

“Sebentar lagi! Tunggulah sebentar lagi! Begitu cahaya pagi turun kau ku bekuk. Dan kau harus menjilat pantatku. Harus! Jika tidak, akan ku sayat daging pipi, paha dan betismu. Akan ku patahkan jari kakak dan jari tanganmu satu persatu. Akan ku cabuti gigimu satu demi satu…” desis si komandan dengan kebencian memenuhi hampir seluruh pembuluh darahnya.

Betapa dia takkan dendam, dia sudah bisa menebak hukuman atau paling tidak cemooh yang akan dia terima sekembalinya ke markas besok. Memburu empat pelarian yang kurus kerempeng, sakit-sakitan dan kelaparan, ada sembilan anak buahnya yang luka tertembak. Yang dua lagi mungkin sudah mati, cemooh semakin tak bisa di bayangkan. Masih untung kalau dia hanya mendapat cemooh bisa-bisa turun pangkat dan tak di beri jabatan apapun. Dia bersandar di pohon besar sambil memejamkan mata.

Dia yakin buruan mereka takkan lolos. Dia yakin anak buahnya sudah melakukan kepungan yang ketat. Tak mudah orang bisa meloloskan diri. Dia yakin itu, karena mereka sudah sangat terlatih bertempur, mengepung dan menjebak tentara Amerika dalam pertempuran belantara begini. Baik siang maupun malam hari. Sudah belasan kali mereka melewati peperangan di belantara seperti ini. Malah kali ini sebenarnya sungguh sebuah pertempuran yang sangat ringan.

Biasanya, dalam setiap pertempuran mereka selalu di hujani peluru mortir atau peluru senapan mesin. Lagi pula, biasanya musuh mereka jumlahnya selalu lebih banyak! Kini, yang mereka hadapi hanya empat orang. Itupun keadaannya hanya compang-camping. Usahkan mortir ataupun senapan mesin senapan semi otomatis yang mereka miliki pun nampaknya sudah kehabisan peluru. Itu di buktikan dari beberapa kali tembakan balasan yang terdengar dari orang yang mereka kejar. Malah ketika dia perintahkan pasukannya tidak menembak, tetap tak ada tembakan balasan.

Waktu merangkak perlahan. Si komandan tersentak saat si Sersan mencowel bahunya. Rupanya dia tertidur. Sayup-sayup terdengar kokok ayam hutan. Dia melihat jam tangannya. Sudah pukul lima lewat, namun hutan itu masih sangat gelap. Di menoleh kearah di mana pelarian itu di duga sudah mereka ’kunci’. Tak ada yang kelihatan, masih sangat gelap. Di luar belantara cahaya sudah cukup terang. Dia mengambil sebuah ranting kecil. Mematahkannya jadi dua potong, masing-masing sepanjang dua jengkal. Yang satu di bagikan kepada Sersan yang di kiri, satunya kepada yang kanan.

Tanpa sepatah katapun, karena sudah memahami yang di inginkan sang komandan, kedua Sersan itu merayap. Yang kiri ke arah kiri, yang kanan ke arah kanan. Setelah merayap beberapa jauh mereka bertemu dengan teman mereka, mereka serahkan ranting tersebut. Seperti meneruskan pesan lisan berantai sebelumnya, terutama saat terkepung maupun mengepung. Saling membangunkan dan atau untuk mengontrol. Mengontrol apakah jumlah personel masih lengkap atau tidak. Memakan waktu hanya setengah jam,

kedua ranting itu kebali ke tangan sang komandan. Si letnan mengambil penples air di pinggangnya. Dia memang sudah menyuruh bagian dapur untuk selalu mengisi penplesnya itu dengan kopi yang di beri gula sedikit. Di teguk kopi itu dengan nikmat. Kedua Sersan yang ada di kiri kanan nya berbuat hal yang sama. Hari sudah pukul enam lewat saat sang komandan memberi perintah dengan suara tembakan, untuk memulai penyerangan ke arah pelarian yang sejak semalam sudah mereka ”kunci”. Hanya beberapa detik setelah tembakan pertama si letnan, kesunyian belantara itu di robek oleh dengan suara-suara letusan bedil. Dalam cahaya pagi yang sudah mulai terang-terang tanah, mereka melihat tempat yang di jadikan pelarian tentara Amerika itu adalah sebuah pohon besar yang tumbang melintang panjang.

Bukan main, rupanya mereka mendapat tempat perlindungan yang kokoh. Si letnan membari perintah agar pasukannya yang berada di belakang pohon tersebut segera merengsek maju, sementara dia dan belasan tentara lainnya melindungi dari tempat mereka, demikian cara demikian tak ada lagi celah bagi pelarian itu untuk lolos. Dari arah kiri dan kanan delapan tentara Vietnam itu merengsek maju ke tempat perlindungan tentara Amerika tersebut.

Saat kedelapan tentara itu mendapatkan posisi yang baik, ganti ujung lainnya yang maju dan mereka pula yang melindungi. Karena belantara sudah cukup terang, dengan cepat mereka bisa maju. Dalam tiga kali bergerak tiap ujung yang menjepit itu, mereka kini sampai ke dekat pohon itu. Salah satu tentara yang maju itu melihat sebuah ujung bedil di balik pohon besar itu.

Tentu saja dia tahu kalau di ujung pangkal bedil itu pasti ada orangnya. Dengan gerakan yang cepat dia melangkah kearah kanan sambil melepaskan tembakan gencar ke arah semak ujung pangkal bedil itu. Mereka juga bergerak cepat dengan menghujani tembakan ke arah persembunyian pelarian itu, tapi mereka lupa pesan komandannya tadi malam kalau salah satu dari pelarian itu harus di biarkan hidup.

Mereka berfikir, daripada orang yang mereka buru lolos, atau malah balas menembak, sehingga nyawa mereka pula yang terancam, lebih baik membunuh saja keempat pelarian itu! Usai rentetan tembakan yang panjang itu tiba-tiba suasana menjadi sepi! Mereka menunggu. Tak ada reaksi atau balasan apapun dari keempat pelarian tersebut. Usah kan balasan tembakan, gerakan saja pun tak terlihat dari arah sekitar bedil tersebut. Kedua bedil itu sudah terpental ketika kena hajaran peluru. Mereka lalu menyergap dengan bedil terhunus ke tempat itu. Dan…

Mereka semua, sekitar dua belas tentara Vietnam yang merangsek maju ke dekat pohon tumbang itu, pada tertegak kaku! Si Komandan,yang memperhatikan dari jarak sekitar dua puluh depa, menatap dengan tegang ke arah anak buahnya tersebut. Dia menjadi agak heran juga, melihat belasan anak buahnya itu tiba- tiba tertegak diam di seberang pohon besar yang tumbang itu. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya, menanyakan apakah keadaan aman. Anak buahnya yang berada dekat pohon tumbang itu memberi isyarat aman.

Si letnan segera melangkah ke lokasi yang sudah dikepung belasan prajuritnya. Dia faham sudah, ke empat pelarian itu sudah jadi mayat. Tak apalah. Yang penting perburuan yang melelahkan ini selesai sudah. Walau pun dia tak bisa mewujudkan niatnya, tak apalah. Yang jelas dia bisa kembali dengan membawa kepala ke empat pelarian itu. Kepalanya saja! Bikin apa membawa-bawa tubuh mereka. Menambah-nambah beban saja. Bukankah komandan mereka sudah memerintahkan agar membawa kepala para pelarian itu ke markas?

Si letnan pun sampai ke tempat tersebut. Dia melompat naik ke kayu besar yang tumbang itu. Dari sana dia menatap ke bawah, ke arah tempat yang sudah dikerumuni belasan pasukannya. Dan, sebagaimana anak buahnya, dia juga ikut tertegun tatkala melihat tempat yang dikepung itu. Kecuali dua buah bedil yang sudah sompeng popornya dimakan peluru, tak ada siapa pun di sana! Jangankan empat pelarian yang mereka buru, kentut pelarian itu pun tak lagi terlihat! Dia hampir tak mempercayai penglihatannya. Di tempat itu memang ada belasan selongsong peluru, dan bekas orang tiarap.

Memang tak ada kentut, tapi yang membuat sakit hati si komandan adalah ketika melihat di antara bekas belasan selongsong peluru itu, orang yang mereka buru ternyata meninggalkan embahnya kentut. Sungguh mati, di sana mereka melihat seonggok tahi manusia! Benar-benar tahi manusia! Dan onggokan tahi itu ternyata sudah cerai berai oleh hajaran peluru anak buahnya. Ooo, sakitnya hati si letnan. Ooo remuk redam jantungnya terasa. Dulu dia dikhianati pacarnya. Sakiiiiit.. sekali. Tapi, apa yang dia lihat sekarang, sakitnya seribu eh.. sejuta kali lebih sakit dari dikhianati pacarnya dulu. Sakiiiit sekali!

Dengan muka sebentar merah dan sebentar hijau, lalu sebentar kebiru-biruan, si letnan menatap hilir mudik. Ke arah pangkal kayu besar itu, kemudian ke arah ujungnya. Berharap di salah satu tempat yang dia lihat ada kepala atau telinga salah seorang pelarian tersebut. Agak seorang jadilah. Tapi, dia memang lagi sial. Apa yang sudah dia bayangkan, pulang membawa empat kepala pelarian itu, habis terbenam dalam tahi yang sudah kocar-kacir oleh peluru anak buahnya. Tak ada seorang pun pelarian itu di sana.

Bahkan jejaknya, kecuali tahi dan selongsong peluru itu, lenyap seperti ditelan hantu rimba. Tubuh si letnan menggigil. Mungkin menahan marah, mungkin menahan malu. Matanya melirik ke kanan, ada air mengalir sedalam lebih kurang setengah meter dengan lebar aliran satu meter. Dia menyumpah dalam hatinya. Orang yang mereka buru itu nampaknya sengaja meninggalkan “induk kentut”nya. Sebab, lazimnya orang akan buang air besar di air yang mengalir. Sekalian bisa membersihkan dirinya usai buang hajat. Tapi orang ini nampaknya sengaja buang air di darat.

Agak jauh dari air yang mengalir, dengan maksud mempermalukan para pemburunya. Oo sakitnya hulu jantung si letnan. “Buru mereka….!!” hardiknya dengan muka merah padam. Salah seorang pasukannya, seorang berpangkat Sersan yang ahli pencari jejak, menghampirinya. Bicara perlahan. Letnan itu mendelik. Bicara beberapa patah. Si Sersan memberikan penjelasan, sambil menunjuk ke satu arah. Si letnan menoleh ke arah yang ditunjuk. Puluhan anak buahnya menanti.

“Apakah waang tidak salah?” hardiknya berang. “Tidak, Let! Saya sudah periksa semua penjuru dengan sangat teliti. Jejak orang itu hilang di batang besar ini. Hanya ada dua kemungkinan kenapa hal itu bisa terjadi. Pertama punya sayap, sehingga bisa terbang….”

Ucapannya terhenti karena sebuah tempelengan dari letnan itu mendarat di pipinya. Bibir Sersan pencari jejak tersebut pecah dan darah merembes perlahan. Dia dianggap berolok-olok dalam situasi gawat dan memalukan itu, dengan mengatakan ada manusia bersayap dan bisa terbang. Si Sersan memahami kekeliruannya. Dia mengambil sikap sempurna. Kemudian meminta maaf, lalu melanjutkan penjelasan

“Saya bisa memastikan yang berada di sini malam tadi hanya seorang di antara empat pelarian itu, Letnan. Dia sengaja memancing kita memburu dirinya, sehingga tiga temannya yang lain punya kesempatan lolos dari pengejaran. Dan orang yang seorang ini adalah orang yang sangat mengenal belantara. Demikian mahirnya dia, sehingga kami tak bisa melihat sebuah tempat pun di sini, bekas yang diinjaknya, kecuali tempat dia bertahan, kemudian buang air besar itu….”

Si Sersan mengakhiri penjelasannya. Letnan tersebut menoleh kepada seorang kopral, anggota pencari jejak yang satunya lagi. Di pasukannya itu memang ada dua pencari jejak. Namun yang amat mahir adalah si Sersan yang barusan melapor. Si kopral mengangguk, membenarkan uraian Sersan tadi. “Kalian tak menemukan jejaknya sedikit pun…?”

“Jejaknya tidak, Letnan. Tapi saya bisa menduga, dia kembali ke tempat awal di mana kita pertama membuat formasi berbanjar untuk mengejar mereka senja kemarin. Di sana dia berpisah dengan teman- temannya. Dia sengaja memancing kita dengan membawa dua bedil dan peluru yang memadai, sehingga kita menyangka mereka masih tetap empat orang. Pada saat kita mengejarnya ke arah ini, teman-temannya punya kesempatan melarikan diri ke arah yang berlawanan.

Saya rasa mereka sudah sangat jauh. Mengenai orang yang tadi malam bertahan di sini, melihat ke mahirannya memancing kita kemari, dan kemahirannya mengenal setiap lekuk liku belantara ini, saya rasa sudah hampir mencapai ketiga orang lainnya itu. Dengan kemahirannya dia pasti bisa berjalan dengan cepat sekali dalam belantara lebat ini…” ujar si Sersan mengkhiri penjelasannya.

Bukan main sakitnya hati si letnan. Bukan mendengar uraian pencari jejak tersebut. Melainkan pada kebodohan dirinya, yang mudah saja dikecoh. Tadi pun, sebelum si Sersan bertutur, dia sudah menduga-duga seperti itu. Namun dalam hal mencari jejak di belantara, dia memang mengandalkan si Sersan. Kini dia benar- benar tak tahu apa yang harus dia lakukan. Bagaimana mungkin dia bisa kembali ke markas mereka? Kembali dengan membawa cerita bahwa di akhir pengepungan mereka hanya berhasil menemukan seungguk induk kentut?

Letnan itu memutuskan meneruskan pengejaran. Dia tahu, pengejaran harus dia lakukan. Sebab dia sudah mendengar perintah komandannya, sebelum berhasil menangkap ke empat pelarian itu mereka tak dibolehkan pulang ke markas!

Letnan Cowie memutuskan istirahat di balik sebuah jeram air terjun. Belantara yang sudah mereka lewati sepanjang dua hari dua malam ini nampaknya benar-benar belum pernah disentuh kaki manusia. Dia dengan teguh menuruti petunjuk Si Bungsu, agar menjaga arah pelarian, tetap menuju ke arah barat. Kendati medan yang harus mereka tempuh semakin berat, namun dia tetap mengarahkan jalan ke arah matahari terbenam. Di hari ketiga, menjelang tengah hari mereka sudah meninggalkan belantara yang datar dan berawa. Dari kejauhan mereka melihat bukit-bukit yang menjulang.

Ketika menemui sebuah sungai yang cukup besar dan berair jernih, mereka mengikuti alur sungai itu ke arah hulu. Semakin jauh ke hulu semakin sulit medan yang harus mereka tempuh. Mendaki bukit batu cadas terjal dan menuruni tebing curam. Namun mereka semua yakin, apa yang diucapkan lelaki Indonesia itu tentang helikopter tempur yang menjemput Kolonel MacMahon. Helikopter itu datang dan pergi ke arah barat, ke arah perbatasan Kamboja.

Lewat tengah hari, mereka tiba-tiba menemukan sebuah air terjun dua tingkat yang selain tinggi dan terjal, juga sangat indah. Di bahagian bawah, di mana air terjun itu terhempas, tercipta sebuah danau selebar lapangan bola volli. Di seluruh tepinya adalah hamparan pasir putih yang landai. Sedikit bahagian yang terjal dan berbatu-batu besar ada di bahagian air itu menghujam dari ketinggian sekitar lima puluh meter. Di bahagian itu pula tercipta pelangi yang melengkung dari sisi kanan ke sisi kiri. Seolah-olah sebuah jembatan yang terbuat dari selendang. Sungguh-sungguh teramat indah.

Baik di danau kecil tempat air itu menghujam maupun di sungai yang dalamnya hanya sekitar dua meter, yang mengalirkan air yang amat jernih ke arah danau berpelangi itu, terlihat dengan jelas ikan-ikan mulai dari sebesar telapak tangan sampai sebesar paha lelaki dewasa hilir mudik. Jumlahnya ratusan!

“Ya Tuhan, saya hampir tak yakin bahwa ada tempat yang begini indah di tengah belantara yang belum pernah ditempuh manusia ini…” desis Cowie sembari menatap dengan mulut separuh ternganga ke arah air terjun tersebut. Lalu ketiga mereka, termasuk Jock Graham yang demamnya sudah benar-benar sembuh, segera mencebur ke sungai dengan dasar pasir yang amat putih itu. Minum air tawar sepuas hati mereka, sembari mencoba menangkap ikan yang kelihatannya seperti jinak-jinak merpati. Smith yang gagal menangkap ikan, segera kumat lagi penyakit bercarut-carut dan sumpah serapahnya. Semua sumpah serapah yang sudah beberapa hari istirahat dari mulutnya, kini berhamburan. Dimakinya ikan-ikan sebesar betis yang lepas dan lepas lagi, padahal sudah tersentuh oleh tangannya.

Makian dan sumpah serapahnya sungguh teramat lengkap. Mulai dari ikan berpantat kurap, ikan kena sipilis, ikan pukimak, ikan impoten, ikan panau, ikan mirip beruk, monyet-gorila. Hampir delapan tahun bertugas bersama Smith, Cowie tahu makian anak buahnya itu hanya asbun, asal bunyi. Kegembiraan yang sangat, bebas dari buruan dan berada di tempat yang seolah-olah sebuah sudut sorga di atas dunia ini, menyebabkan mereka semua melupakan segala rasa penat dan rasa takut. Apalagi di bahagian kanan air terjun itu ada hutan pisang emas dan beberapa pohon durian yang buahnya sedang ranum.

Tuhan nampaknya memang melimpahi sepenggal wilayah jauh di tengah belantara Vietnam Selatan itu dengan rahmat yang amat luar biasa. Sebagai tentara yang sudah malang melintang dalam berbagai medan tempur, yang sudah menjelajahi banyak sekali wilayah, Cowie yakin di balik tirai air terjun itu pasti ada tempat yang aman untuk berteduh. Dia segera melangkah ke sana. Dari sisi sebelah timur dia menyelinap di antara air terjun dengan dinding batu. Benar!

Di belakang air terjun itu ada sebuah goa berbentuk ruangan sekitar tiga kali tiga meter. Lantainya memang tak begitu datar, namun tempat itu merupakan tempat yang luar biasa indah dan nyaman untuk tempat tinggal. Ruangan di balik air terjun itu tak kelihatan dari luar. Tertutup oleh curahan air terjun yang tak putus-putusnya, yang lebarnya sekitar enam meter. Namun dari dalam goa kecil itu pemandangan bisa menembus air terjun tersebut. Semua yang ada di bahagian depan, hamparan pasir empat meter di kiri dan empat meter di kanan sungai kecil tersebut, sejauh lima puluh meter ke hilir sungai kelihatan dengan jelas. Menemukan sorga di tengah belantara itu, ketiga pelarian tentara Amerika tersebut benar-benar bergembira, memekik-mekik seperti kanak-kanak yang mendapat permainan baru.

“Saya akan membangun istana di sini. Akan cari cewek Vietnam untuk isteri…” ujar Smith. “Saya akan jadi nelayan. Ikan-ikan ini akan saya kembangbiakan, untuk dijual ke Washington…” ujar Jock Graham. “Kalau begitu saya akan menjadi eksportir pisang dan durian. Saya akan menjual pisang dan durian ini ke New York dan Hollywood. Agar bintang-bintang film Hollywood tak berkurap pantatnya. Hei, Cowie! Apakah ada bintang Hollywood yang tak berkurap pantatnya…?”

Cowie yang sedang berbaring di pasir putih itu hanya tersenyum. Namun semua kegembiraan itu lenyap tiba-tiba, menguap seperti kabut pagi disergap terik matahari. Begitu Tim Smith usai dengan sumpah serapahnya, tiga tembakan menghajar sekitar tempat mereka. Cowie sampai terlambung saking kagetnya, Tim Smith ternganga dan menggigil di dalam air. Durian di mulutnya sampai terlompat keluar. Jock Graham yang sedang menyusun-nyusun kayu kering untuk perapian membakar ikan, langsung melompat ke balik pohon pisang, tak jauh dari tempatnya tadi menyusun kayu perapian. Smith tak berani bergerak dari dalam air. Kepalanya saja yang nongol di permukaan air. Matanya liar menatap ke kiri dan kanan. Dia merasa tak ada gunanya lari ke darat, sudah terlambat. Jika dia bangkit, dia akan menjadi sasaran tembak. Cowie berlindung di balik sebatang kayu, tak jauh dari Jock Graham. Suasana tiba-tiba dicekam sepi yang mencekik. Cowie merasa heran, arah tembakan itu rasanya berasal dari goa di balik air terjun. Yaitu tempat di mana mereka meninggalkan dua buah bedil rampasan yang mereka bawa dalam pelarian selama dua hari ini. Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah air terjun tersebut. “Hallo…..”

Semua masih terdiam karena terguncang oleh ketakutan yang sangat tiba-tiba. Lalu… di balik tirai air itu, kelihatan seseorang muncul memegang bedil. Begitu melihat orang yang baru menembak mereka itu, yang tak lain dari Si Bungsu, terdengar makian Tim Smith bertubi-tubi. “Pukimak! Sundal! Sipilis! Monyet kurap! Pantat kurap….!”

Cowie dan Jock Graham juga menyumpah panjang pendek. Namun Cowie segera sadar, apa yang dilakukan orang itu adalah peringatan halus pada mereka. Bahwa adalah suatu pekerjaan sia-sia berada di hutan liar ini tanpa bedil. Apalagi meninggalkan bedil di tempat yang jauh dari mereka. Mereka berdiri dan berjalan menyongsong Si Bungsu dengan senyum lebar karena lega. Tidak demikian halnya dengan Smith. Dia menyelam, kemudian muncul dengan sengenggam pasir. Pasir itu dia lemparkan ke arah Si Bungsu. Berkali- kali dia lakukan hal itu, sambil mulutnya tetap saja bercarut panjang pendek.

Bahkan, dia tetap saja melempari Si Bungsu dengan pasir, tatkala Cowie dan Jock Graham memeluk Si Bungsu. Ketiga orang tersebut dibuatnya mandi pasir. Tapi akhirnya dia juga tak mau ketinggalan. Dia melompati ketiga orang yang tengah berpelukan itu. Kendati tubuhnya kurus kerempeng, namun akibat terpaan loncatan tersebut semua mereka jatuh saling tindih dan berguling-guling di pasir putih dan landai tersebut, diiringi gelak tawa berderai. Sungguh ini pertemuan yang luar biasa. Mereka tak menyangka akan bisa disusul dan ditemukan Si Bungsu secepat itu.

Namun, sebagaimana sudah dijanjikan Si Bungsu, dia akan segera menyusul dan menemukan mereka, hal itu bisa dibuktikan kini. Baik Cowie, Smith maupun Jock Graham tak bisa lain dari pada mengakui bahwa orang Indonesia yang sepintas kelihatan “biasa-biasa saja” ini sesungguhnya adalah seorang yang amat luar biasa. Mereka bisa lolos tanpa hadangan sedikit pun dari puluhan tentara Vietnam malam itu benar-benar berkat keahlian orang Indonesia ini mengecoh para pemburu tersebut. Ketika baru berangkat, mereka mendengar tembakan sahut bersahut di belakang mereka.

Cowie mengajak kedua temannya untuk berdoa bagi keselamatan lelaki dari Indonesia itu. Sesaat mereka berhenti dalam kegelapan. Kemudian membaca doa untuk keselamatan orang yang menolong mereka itu, yang kini sedang dihujani tembakan, dan menutup doa dengan tangan mereka membuat tanda salib di kening dada masing-masing. Setelah itu tanpa menoleh lagi, mereka segera merunduk-runduk. Menghindar dari tempat itu secepat dan sejauh mungkin!

Kini keempat mereka sudah berkumpul. Ketika ditanya mengapa secepat itu dia bisa menyusul, Si Bungsu bercerita ala kadarnya. Semula, beberapa saat setelah dia menyuruh ketiga orang itu melarikan diri arah ke barat, dia bertahan di balik sebuah pohon besar yang tumbang. Dari sana dia menembaki tentara Vietnam, untuk mengalihkan perhatian mereka. Saat akan pergi dari kayu besar tempat dia bertahan itu, tiba- tiba saja perutnya memilin-milin. Kalau saja sabut dimasukkan ke perutnya yang memilin-milin itu, hampir bisa dipastikan akan dihasilkan tali yang alot, saking kuatnya perutnya memilin. Di antara tembakan yang dar…dor… der… darrrr…. dia teringat baru saja memakan buah rukam yang ranum. Rukam yang batangnya penuh duri itu buahnya persis buah anggur.

Hanya bedanya, jika anggur manis, maka rasa buah rukam berbaur antara sepat, asam dan manis. Yang paling mendominasi di antara ketiga rasa itu tentu saja sepat dan asam. Manisnya hanya sedikit, sekedar pelepas tanya. Karena lapar, apalagi semasa di Gunung Sago dulu buah rukam adalah menu makanannya setiap hari, maka dia segera saja memetik belasan buah tersebut. Sambil berlindung dari incaran tentara Vietnam, dia menikmati buah rukam itu. Eh, akibat terlalu banyak makan buah rukam perutnya menjadi memilin-milin. Dia sudah akan melangkah ke batang kayu besar tempat dia berlindung. Namun pilin perutnya sungguh kalera. Tak mau kompromi. Perutnya seolah-olah berpihak pada tentara Vietnam. Apa boleh buat, sambil membalas tembakan dua kali ke sembarang tempat. Dia lalu melorotkan celana. Lalu mencongkong. Ketika ada balasan tembakan. Dia merunduk di balik batang tumbang itu. Diangkatnya bedilnya ke atas kayu, sambil menunduk dua tiga kali. Kemudian kedua bedil yang sudah habis pelurunya itu dia sandarkan ke kayu besar tersebut. Lalu dia pergi ke sungai kecil itu, cebok di sana.

Di antara cecaran tembakan dari tentara Vietnam, dia kembali memakai celananya. Lalu, dalam kegelapan tersebut dia naik ke kayu besar yang tumbang itu. Dengan amat mudah dia berjalan ke bahagian ujung. Di sana ada sebuah pohon besar, dengan beberapa akar besar menjulai ke bawah. Ditariknya akar itu, dia memejamkan mata. Lalu tiba-tiba dengan bergantung di akar besar itu, tubuhnya melayang ke arah barat, melewati sela-sela batang kayu yang tumbuh rapat sekali di belantara tersebut. Beberapa orang tentara Vietnam mendengar suara mendesis di atas kepala mereka. “Kelelawar atau enggang…” bisik hati mereka.

Padahal, kalau saja hari sedikit terang, mereka mungkin akan ternganga. Sebab suara mendesis itu bukan enggang, apalagi kelelawar. Yang melintas di atas batok kepala mereka justru salah seorang dari empat pelarian yang mereka buru! Si Bungsu mirip tarzan yang berayun dari pohon ke pohon dengan mempergunakan akar, yang lazimnya disebut sebagai akar angin. Kendati hanya sekali bisa memanfaatkan akar kayu itu, namun akar kayu itu telah membawanya keluar dari kepungan tersebut. Dia meninggalkan kepungan dengan sekaligus meninggalkan seungguk “induk kentut” yang esoknya membuat komandan Vietnam yang melakukan pengepungan menjadi murka.

Dengan pengalamannya selama bertahun-tahun hidup di belantara Gunung Sago, dia tahu kapan ayunan akar kayu itu akan berhenti. Ketika ayunan akar itu dia rasa melemah, tangan kirinya masih memegang akar itu agar tubuhnya tak jatuh seperti goni buruk ke tanah. Sementara tangan kanannya menggapai ke sisi, mencari dahan atau pohon yang bisa dipegang. Tangannya menangkap dahan yang lumayan besar. Tubuhnya bertahan di sana. Untuk sesaat tubuhnya masih berada di dahan yang baru dia pegang. Lalu akar pohon yang baru dia pergunakan untuk meloloskan diri itu dia ikatkan ke dahan di mana tangan kanannya kini berpegang. Dengan demikian, akar itu tak kembali ke tempat awal. Hal itu perlu, sebab kalau akar itu kembali ke tempat semula, pencari jejak andal yang biasanya dimiliki tiap pasukan Vietnam, dengan mudah bisa melacak bagaimana dan kemana dia meloloskan diri. Dalam kegelapan dia naik dan menelungkup di dahan yang besarnya sebesar betis lekaki dewasa tersebut.

Bertahan dengan diam dan memusatkan konsentrasi. Dia mendengar tentara yang gelisah diserang nyamuk jauh di utara sana. Jarak antara dia dengan tentara terdekat dia perkirakan sekitar dua puluh meter. Itu berarti ayunan akar kayu itu sudah mengantarnya ketempat lain sejauh lebih kurang tiga puluh meter, kemudian dia mencari jalan untuk segera turun. Setelah itu mulai melangkah meninggalkan tempat tersebut. Dalam waktu tak begitu lama dia berhasil menemukan tempat di mana dia meninggalkan Cowie, Jock dan Smith. Dia bisa menemukan setiap jejak yang di tinggalkan ketiga orang tersebut. Menjelang siang dia memanjat sebuah pohon besar dan tinggi. Dari pohon itu dia memandang ke arah dari mana dia datang. Melihat kalau-kalau tentara Vietnam itu menyusul. Ada sekitar satu jam dia di pohon besar dan rindang itu, namun tak ada gerakan apapun yang dia lihat.

Tentara Vietnam memang meneruskan pemburuannya. Namun mereka terpaksa bergerak amat lambat, karena sulit menemukan jejak para pelarian. Kesulitan itu muncul karena sebahagian besar hutan itu adalah hutan dengan rawa yang dalam. Jejak yang ditinggalkan pelarian dapat dilihat dengan jelas.

Namun untuk memburu orang-orang itu di dalam rawa, yang kadang-kadang kedalamannya mencapai setinggi kepala itu, menyebabkan gerak maju mereka sangat lamban. Hardik dan berang si letnan, agar pasukan bergerak cepat tak ada gunanya. Cowie Smith dan Jock Graham tertawa terkekeh-kekeh mendengar penuturan Si Bungsu. Terutama saat Si Bungsu menceritakan betapa dia terpaksa membalas tembakan tentara Vietnam sambil jongkok berlindung sekaligus terberak-berak di balik kayu besar, akibat perutnya memilin-milin karena kebanyakan memakan buah rukam tersebut.

Mereka memutuskan untuk beristirahat satu atau dua hari di goa di balik air terjun itu guna memulihkan tenaga yang benar-benar berada di bawah titik nol akibat dikurung sekian lama di lobang berair busuk tersebut. Mereka tak usah takut kelaparan. Tak lama setelah mereka bertemu, Si Bungsu memungut beberapa kerikil. Kemudian tegak di tepi sungai yang airnya amat jernih itu. Menatap ikan-ikan besar berlalu lalang seperti di dalam akuarium saja. Ketiga tentara Amerika itu tak faham apa yang akan diperbuat Si Bungsu dengan batu-batu kerikil sebesar ibu jari tersebut.

Sampai suatu saat Si Bungsu melemparkan batunya ke air. Tak lama kemudian, dua depa ke bahagian hilir, mereka melihat seekor ikan baung sebesar betis lelaki dewasa mengapung dengan kepala pecah. Sekali lagi Si Bungsu melemparkan batu kerikil di tangannya. Namun lemparan itu nampaknya luput. Dia melempar sekali lagi, dan kali ini yang mengapung adalah seekor ikan lele yang besarnya yang sama dengan ikan baung pertama. Ketiga tentara Amerika itu ternganga melihat keahlian yang belum pernah mereka temukan seumur hidup itu.

Bagaimana mungkin orang memiliki keahlian dan tenaga yang demikian besar. Yang kekuatan lemparannya tetap tak berkurang setelah menembus air, dan mampu mengenai serta membunuh seekor ikan? “Pukimak! Pantat orang ini pasti berkurap banyak. Kalau tak berkurap dia takkan punya kepandaian demikian tinggi…” ujar Smith menyumpah panjang pendek. Sumpah-serapahnya yang tak berketentuan itu tidak hanya membuat Cowie dan Jock yang tertawa, tapi juga Si Bungsu. Si Bungsu membuka celananya. Kemudian menungging ke arah Smith. Lalu terjun ke air diiringi tawa Cowie dan Jock Graham. “Banyak kurap di pantatnya, Smith…?” ujar Cowie yang sampai berair matanya karena tertawa melihat Smith ditunggingi Si Bungsu. “Tidak hanya kurap, tapi juga sipilis. Orang ini rupanya kena induk sipilis…” ujar Smith yang merasa jengkel ditunggingi oleh Si Bungsu.

Si Bungsu yang sudah berenang dan melempar bajunya ke pasir, tak dapat menahan tawanya. Dia mengacungkan jari tengahnya ke arah Smith. Sebuah tindakan yang bagi orang Amerika dianggap memaki dengan kasar. Smith tetap saja masih menggerutu dia memunguti dua ekor ikan yang terbunuh oleh lemparan Si Bungsu. Kemudian melemparkannya kepada Jock Graham. “Hei koki pantat kurap, masak ikan ini! Jenderalmu ini sudah lapar….” ujarnya kepada Jock Graham. “Jenderal emaknya sipilis…” ujar Jock Graham sambil memunguti ikan tersebut. “Bukan aku yang induk sipilis. Itu Si Bungsu itu. Saya lihat pantatnya tadi penuh ulat. Kita jangan ikut-ikut mandi di sungai ini. Sungai ini sudah tertular virus sipilis…” ujar Tim Smith.

Usai berkata begitu, Smith melangkah ke arah dua buah durian yang tadi mereka ambil. Lalu membelahnya dengan bayonet. Lalu memakan isinya dengan lahap. Atas pertanyaan Cowie, Si Bungsu memastikan tentara Vietnam yang memburu mereka takkan sampai kemari.

“Saya dua kali mengintai mereka. Terakhir mereka kehilangan jejak setelah melewati rawa besar dan dalam yang kalian lewati itu. Untung rawa itu airnya mengalir, sehingga jejak yang kalian tinggalkan lenyap bersama arus. Dua orang pencari jejak di pasukan itu kebingungan menentukan ke mana harus melanjutkan pengejaran. Jika mereka tak menemukan jejak kalian di seberang rawa, untuk memutuskan kembali ke jejak awal di rawa dangkal sebelum kalian memasuki rawa dalam itu, mereka memerlukan paling tidak waktu empat atau lima hari…” tutur Si Bungsu. Persoalan muncul ketika membakar ikan tersebut. Dengan apa ikan itu dibakar. Mereka tak punya korek api. Cowie mencoba menghidupkan api dengan menggesekkan dengan kuat buah buah batu.

Namun api tak kunjung menyala. Pukulan dan gesekan batu itu tak menimbulkan percik api sedikitpun. Si Bungsu memilih sebuah dahan yang sudah sangat kering. Lalu mengambil serat batang pisang, serat batang pisang itu dia belah sehingga membentuk sebuah tali. Kayu kering itu dia lobangi sedikit dengan bayonet. Kemudian sebuah dahan yang lebih kecil dia runcingkan.

Dahan runcing itu dia lilitkan beberapa kali lilitan dengan serat batang pisang tersebut. Kayu yang dia lobangi dia letakkan di pasir. Kemudian kayu runcing sebesar pena itu dia masukkan ke lobang kecil di kayu itu. Dia suruh Cowie memegang kayu yang di pasir. Smith dia suruh mencari rumput kering dan meletakkannya di sekitar lobang kayu tersebut. Ujung kayu yang dia runcingkan dia suruh tekan oleh Jock. Lalu tali serat pisang yang melilit kayu runcing itu, dia tarik ke kiri dan ke kanan. Kayu itu terputar sedikit. Dia tarik lagi ke kiri dan ke kanan, makin lama putaran kayu itu makin laju.

Mula-mula gesekan kayu yang runcing di lobang itu menimbulkan asap. Si Bungsu semakin mempercepat tarikan di kedua ujung tali pisang tersebut. Percik api mulai memakan rumput kering itu. Smith sampai berteriak saking kagumnya, lalu menambahkan rumput kering dengan jumlah banyak dan Jock Graham meletakkan beberapa ranting kecil.

Si Bungsu menarik nafas. Dia teringat ketika membuat api dengan cara yang sama ketika di tepi rawa bersama Thi Binh, Duc Thio dan Han Doi. Kini api menyala besar karena kayu-kayu kering di tambah terus oleh Jock Graham dan Smith. Di api yangg menyala itu mereka membakar ikan. Harum nya ikan bakar itu sangat kuat. Si Bungsu lalu berjalan ke dalam hutan tak jauh dari sungai itu. Dia memilih beberapa daun. Kemudian dia remas di sungai. Air remasan itu dia teteskan ke ikan yang sedang di bakar api unggun.

“Hei, apa itu mariyuana?” asal Smith asal nyerocos. Si Bungsu tak menyahut. “Hei, kau akan meracuni kami ya..” ujar Smith. Si Bungsu masih tak menyahut, dia tetap memeras daun itu dan meneteskannya ke ikan yang di bakar. “Hei, itu pasti racun, kau pasti mata-mata Vietnam yang pura-pura baik sama kami, lalu sekarang kamu meracuni kami, begitu ya..” gerutu Smith. Cowie dan Jock graham terkekeh mendengar kicauan Smith. Si Bungsu mau tak mau, ikut nyengir. Tentara yang satu itu memang tak bisa bernafas sebelum mengusilin orang. “Daun itu mengandung zat garam…” ketika duduk dekat Cowie. Apa yang di katakan Si Bungsu dapat mereka rasakan ketika memakan ikan bakar tersebut. Rasanya nikmat sekali, rasanya tak hambar seperti tanpa garam. “Ikan bakar ini enak bukan karena daun itu, tapi karena kencing. Kau kencingi ikan itu tadi ya, Jock..” kata Smith yang kembali kumat, sifat usilnya. “Tapi enak kan air kencing ku,..” ujar Jock, membalas olokan

Smith. “Enak kepalamu…!” ujar Smith.

Si Bungsu harus mengakui, kehadiran Smith di dalam lobang penyekapan itu cukup membuat suasana meriah. Bagi ketiga tawanan Amerika itu, itulah makanan ternikmat yang mereka rasakan sejak setahun berada dalam lobang itu. Tak heran begitu makan selesai mereka segera tertidur bermandi kan cahaya matahari. Mereka tidur pulas sekali.

Hari kedua Si Bungsu melihat jejak rusa tak jauh dari tempat itu. Dia membawa Smith berburu. Tempat itu mereka datangi dengan berenang perlahan di sungai, baru kemudian merayap ke darat. “Hei, apa-apaan ini, rusanya entah ada-entah ..” protes Smith terhenti ketika melihat isyarat Si Bungsu yang berada di depan.

Smith merayap cepat, dan tiba dekat padang dia melongok dan dia tertegun, melihat tak jauh di depannya terlihat tak kurang sepuluh ekor rusa sedang merumput. “Ya Tuhan, apakah tempat ini kebun binatang..?” desisnya. “Tempat ini tak pernah di tempuh manusia. Makanya mereka datang mencari makan kesini siang hari. Di tempat yang sudah di tempuh manusia, biasanya rusa mencari makan malam hari…” bisik Si Bungsu. “Sialan, mengapa kita tak membawa senapan….!” rutuk Smith.

Si Bungsu memperlihatkan kepada Smith dua buah batu yang besar hampir sebesar jempol jari kaki. “Untuk apa itu?” “Pengganti senapan….” Smith sudah hampir mengatakan orang di depannya itu gila. Namun ketika tiba-tiba dia teringat selama dua hari ini Si Bungsu ‘menangkap’ ikan hanya dengan lemparan batu, dia mengurungkan niatnya mengatakan Si Bungsu gila. “Anda juga bisa menangkap rusa dengan batu?” “Saya tak yakin, tapi tak ada salahnya dicoba bukan?” “Pantat kurap! Cobalah, saya ingin melihat…” rutuk Smith.

Si Bungsu mengangkat kepalanya perlahan. Smith ikut-ikutan mengangkat kepala. Di hadapan mereka kesepuluh ekor rusa itu kelihatan memamah rumput dengan lahap. Untung arah angin tidak datang dari arah mereka berada maupun dari arah air terjun. Kalau itu yang terjadi, rusa-rusa yang penciumannya amat tajam itu pasti sudah pada melarikan diri, karena mencium bau manusia, bau yang tak lazim bagi mereka.

Tiba-tiba Si Bungsu bangkit. Rusa-rusa itu terkejut dan menoleh. Binatang itu tertegak. Mungkin merasa aneh melihat makhluk yang tak pernah mereka lihat seumur hidup. Namun hanya dua atau tiga detik mereka tertegun. Dengan lengking pendek rusa jantan yang paling besar sebagai peringatan adanya bahaya, semua rusa itu tiba-tiba melompat cepat melarikan diri. Namun salah seekor, yang nampaknya masih berusia sekitar dua tahun, tiba-tiba terdongak. Lalu jatuh. Lenyap dalam palunan rumput tebal tersebut. Rusa yang lain dalam waktu singkat berhasil melintasi padang rumput luas itu. Kemudian lenyap ke dalam belantara lebat di belakang sana.

Si Bungsu, diikuti Smith memeriksa dan mendapati rusa itu sudah mati. Tengkoraknya, sedikit di bawah telinga, kelihatan remuk. Bahagian itulah yang dihantam oleh lemparan Si Bungsu. Smith mendecak dan menggelengkan kepala. Sukar baginya memahami bagaimana Si Bungsu yang selalu dia maki dengan kata-kata ‘pantat kurap’ atau ‘induk sipilis’ ini bisa memiliki kemahiran seperti itu. Menangkap ikan dan rusa hanya dengan lemparan batu. Rusa itu kemudian mereka seret ke dekat air terjun. Cowie dan Jock Graham ternganga mendengar cerita bagaimana Si Bungsu “menembak” rusa tersebut.

“Hati-hati dengan orang ini. Dia bukan manusia. Dia dukun. Mana ada manusia yang bisa menangkap ikan dan rusa hanya dengan lemparan batu. Pantat kurap dan induk sipilis ini dukun yang berbahaya…” rutuk Smith panjang pendek sambil menguliti rusa itu bersama Jock Graham dengan bayonet.

Si Bungsu hanya tersenyum mendengar dendang dan rutuk Tim Smith. Saat Jock dan Smith mengerjakan rusa itu, Cowie beranjak ke tepi hutan. Mengumpulkan kayu-kayu kering sebanyak mungkin untuk membuaut api unggun guna memanggang rusa tersebut. Sore itu mereka pesta pora menikmati panggang daging rusa. Kepada ketiga tentara Amerika itu Si Bungsu menunjukkan jenis daun kayu yang dia jadikan sebagai pengganti garam saat membakar ikan kemarin. Dia juga menunjukkan pada mereka jenis-jenis daun dan lumut, yang bisa diramu secara sederhana untuk obat malaria. Dengan takaran yang berbeda, bahagian tumbuhan itu bisa pula diramu menjadi obat luka yang manjur. Ketika malam turun, dan kebetulan bulan sabit muncul di langit yang bersih, mereka membuat api unggun di tepi sungai itu sambil berbaring di pasir yang putih bersih. Tempat itu demikian tenang. Berada di tempat amat tenang dengan suara desah air terjun itu, orang sudah mengalami atau paling tidak melihat puing neraka perang Vietnam, takkan percaya bahwa ada tempat seperti itu di Vietnam. Negeri yang selama belasan tahun dicabik-cabik oleh perang yang kekejamannya tiada tara.

Kekejaman perang Vietnam tercatat dalam sejarah peperangan mana pun yang pernah dikenal umat manusia di permukaan bumi ini. Kekejaman balatentara Jepang saat perang Pacific jadi tidak berati dibanding kekejaman perang Vietnam. Tempat mereka berada sekarang seolah-olah berada di negeri lain, yang jauh sekali dari negeri yang bernama Vietnam.

“Kenapa engkau tak ikut dengan heli tempur yang menjemput Kolonel MacMahon?” tiba-tiba saja Cowie mengajukan pertanyaan pada Si Bungsu, saat mereka berbaring di dekat api unggun di pasir putih di tepi sungai tersebut. Pertanyaan yang sejak awal sudah mengusik perasaan Cowie. Si Bungsu tak segera menjawab. Sambil menelentang dia menatap bulan sabit di langit yang bersih. Jock Graham dan Smith merobah posisi tidurnya. Jika sebelumnya mereka menelentang kini pada memiringkan tubuh menghadap ke arah Si Bungsu. Mereka memang ingin tahu, kenapa lelaki Indonesia itu bertemu dengan MacMahon di tempat Kolonel itu disekap. Dan kenapa dia tak ikut pergi atau tak ikut dibawa bersama helikopter tersebut.

“Ada puluhan tentara Vietnam saat itu…” ujar Si Bungsu perlahan. “Mengepung heli tersebut?” ujar Cowie. “Ya. Sekaligus menembakinya….” “Engkau bersama MacMahon saat itu?” “Persisnya tidak. Setelah MacMahon dan beberapa tentara Amerika lainnya saya bebaskan dari tempat penyekapan, kami membagi kelompok menjadi tiga bahagian.

Dua kelompok kemudian bergabung setelah kami membumi hanguskan kamp tentara Vietnam. Saya memilih tinggal di belakang, menahan dua regu Vietnam yang memburu kami. Ketika saya berhasil menahan para pengejar dan tiba di tempat penjemputan, saya lihat keadaan amat kritis. Kalau heli itu tidak berangkat segera, mereka semua akan terbunuh. Saya yang masih berada belasan meter dari heli itu, mencoba mengalihkan serangan tentara Vietnam dari heli dengan menembaki tentara Vietnam tersebut.

Heli itu, berikut MacMahon dan beberapa tentara Amerika berhasil lolos. Dan saya tertangkap. Itulah sebabnya kita bertemu…” ujar Si Bungsu menuturkan secara sederhana kenapa dia kini berada di antara ke tiga tawanan Amerika itu. “Engkau pernah belajar taktik perang, kawan…?” tanya Cowie. Si Bungsu tersenyum. “Saya hanya belajar membunuh dan menyelamatkan diri dari orang yang ingin membunuh saya, Cowie…” ujar Si Bungsu. Sepi setelah itu. Tak ada yang berkata, bahkan tak seorang pun di antara ke empat orang itu yang bergerak. Masing-masing tenggelam dalam fikiran mereka sendiri. “Sudah berapa banyak orang yang kau bunuh, kawan?” tiba-tiba Smith yang induk carut itu bertanya perlahan. Si Bungsu menarik nafas. Cowie tersenyum mendengar si kepala hampir botak yang induk carut itu memanggil Si Bungsu dengan sebutan ‘kawan’. Padahal biasanya dia memanggil dengan ‘pantat kurap’ atau induk sipilis.

Dia merasa senang, sikap dan ketangguhan Si Bungsu ternyata berhasil menundukkan perilaku anak buahnya yang isi kepalanya ibarat tong segala carut itu. “Berapa orang yang sudah kau bunuh dalam peperangan di Vietnam ini, Smith…?” Si Bungsu balik bertanya, dengan suara yang juga perlahan. Smith menelentangkan tubuhnya. Menatap awan tipis yang bergerak perlahan melewati bulan sabit di atas sana. Terdengar dia menarik nafas panjang dan berat, seperti keluhan. “Barangkali delapan sampai dua belas orang…” jawab Tim Smith perlahan, sembari membayangkan beberapa perang di mana dia menembak mati tentara Vietnam. “Sudah berapa orang yang kau bunuh, Bungsu?” kembali Smith bertanya karena Si Bungsu masih berdiam diri. “Saya rasa takkan kurang seratus orang, Smith…” jawab Si Bungsu dengan suara seperti menggigil. Jawaban itu tak hanya membuat Smith dan Jock Graham yang terkejut.

Melainkan juga Letnan PL Cowie. Ketiga orang itu duduk dan menatap ke arah Si Bungsu yang tengah memandangi langit dan bulan sabit. Mereka tak merasa perlu bertanya apakah Si Bungsu bergurau dengan jawabannya itu. Mereka yakin, jawaban itu adalah jawaban yang penuh kejujuran. Mereka juga tak menangkap sedikit pun nada bangga dalam ucapan lelaki itu. Cowie malah seperti mendengar suara lelaki itu seperti sebuah tangisan. “Oh my God…!” desis Cowie dan Smith hampir bersamaan. Si Bungsu ikut duduk.

Kemudian memeluk kedua lututnya. “Ya, jumlah orang yang kubunuh demikian banyak, kawan. Sehingga aku tak lagi bisa menghitung. Akhirnya aku sendiri tak tahu, apakah aku membunuh benar-benar dengan alasan membela diri, atau membunuh sudah merupakan candu bagiku. Itulah sebabnya keempat tentara Vietnam yang menggiringku dari lobang penyekapan dan ke dua orang yang menjaga di pondok dekat lobang kita disekap, dan beberapa lagi di hutan yang memburu kita, tak seorang pun yang mati.

Mereka hanya sekedar kubuat lumpuh…” tutur Si Bungsu perlahan sambil matanya menatap kosong ke lidah api yang menjilat kayu unggun, sekitar dua meter dari tempat mereka duduk. “Engkau membunuh musuhmu dengan senjata api?” Yang bertanya ini adalah Jock Graham, yang tak tahan untuk tidak mengetahui lebih banyak tentang orang Indonesia yang berhasil mengeluarkan mereka dari lobang jahanam tahanan Vietnam itu. “Sebagian besar tidak….” “Dengan tangan?” “Dengan samurai….” “Samurai…?” tanya Jock Graham dengan perasaan heran. Cowie dan Smith juga kembali menatap pada Si Bungsu dengan perasaan semakin heran. “Ya, Jock. Barangkali saya adalah satu dari sedikit sekali orang yang amat mahir menggunakan samurai. Bahkan dibanding dengan orang-orang Jepang yang paling mahir sekali pun. Baik samurai panjang, maupun samurai-samurai kecil yang dilemparkan dari jarak belasan meter…” ujar Si Bungsu sambil melemparkan segenggam pasir ke air sungai yang mengalir perlahan. Ketiga tentara Amerika itu terdiam.

Mereka percaya pada semua yang diucapkan orang Indonesia ini. Kendati mereka tak tahu bagaimana orang ini mempergunakan samurai itu. Mereka hanya membayangkan beberapa film samurai Jepang yang pernah mereka tonton. Misalnya film Zato Ichi, yang pernah cukup laris di Amerika sebelum mereka terjun ke perang Vietnam. “Engkau punya isteri dan anak…?” Pertanyaan ini Cowie yang mengajukan.

Si Bungsu menggeleng. “Saya punya isteri dan dua anak. Wanita keduanya. Yang besar sekarang sudah berumur tiga belas tahun. Yang kecil enam tahun. Mereka tinggal di Chicago…” ujar Cowie perlahan. “Saya juga punya isteri, dulu, ketika empat tahun yang lalu saya cuti dan pulang ke Illionis, isteri saya ternyata berselingkuh dengan teman sekantornya. Dia bekerja di sebuah biro perjalanan. Saya sudah tiga hari di rumah, ketika saya datang ke sebuah hotel untuk mengantar titipan salah seorang teman yang tak cuti karena mendapat hukuman. Saat itulah saya melihat isteri saya datang dengan seorang lelaki, kemudian masuk ke sebuah kamar yang sudah mereka pesan. Buat sesaat saya tertegun. Kemudian pintu kamar mereka saya tendang hingga jebol. Mereka, yang sama-sama sudah telanjang bulat dan sedang bergumul di karpet, menatap saya seperti melihat setan…” Yang bercerita ini adalah Tim Smith.

Dia berhenti sejenak dengan nafas sesak. Cerita itu tentu saja baru bagi Si Bungsu dan Jock Graham. Jock Graham memang baru mengenal Smith setelah dijebloskan bersama Si Bungsu di lobang yang sudah dihuni duluan oleh Cowie dan Smith. Mereka berlainan pasukan. Namun bagi Cowie, cerita Smith itu memang sudah dia dengar langsung dari anak buahnya itu. Lalu terdengar Smith menyambung ceritanya. “Sialnya ada peraturan, bahwa tentara yang pulang cuti tidak dibolehkan membawa senjata. Kalau saja saya membawa senjata, keduanya pasti sudah tak ada lagi sekarang….”

Sebenarnya, kalau pun dia membawa senjata, belum tentu apa yang dia ucapkan akan terjadi. Bahwa dia akan menembak mati lelaki yang menyerongi isterinya itu. Sebab, saat dia menangkap basah kedua orang itu, Smith tak sempat menghajar lelaki yang meniduri isterinya di kamar hotel tersebut. Dia hanya tertegak mematung. Dia tak yakin bahwa isterinya akan berselingkuh seperti itu. Dia masih tegak mematung di pintu kamar yang jebol dia tendang sampai polisi militer datang. Dia, isterinya dan lelaki teman sekantor isterinya itu dibawa ke kantor polisi militer.

Dari pengakuan isteri dan teman kencannya itu kepada polisi militer, terungkap bahwa perbuatan tak senonoh itu sudah mereka lakukan tiga kali seminggu selama dua tahun. Hampir selama Smith berada di kancah perang Vietnam. Mendengar pengakuan kedua orang itu, Smith merasa sangat terpukul. Ketika dia menyabung nyawa di medan perang, dalam belantara yang amat ganas di Vietnam, isterinya hampir setiap malam menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki lain. Saat dia dihujani peluru, atau sedang diburu tentara Vietnam, isterinya ternyata tengah mengumbar nafsu. Ketika dia berada di antara mayat rekan- rekannya yang bertumbangan satu demi satu, di Amerika isterinya sedang bermandi keringat mendengus- dengus dalam dekapan lelaki lain. Padahal, kemana pun dia pergi, foto mereka bertiga, dia-isteri-anaknya, selalu setia dalam dompetnya

Hampir setiap hari dia melihat foto tersebut dengan sepenuh rindu. Siapa menduga, pada saat-saat seperti itu, isterinya ternyata menikmati hari-harinya dengan gejolak birahi tak terkendali. Smith merasa dunianya benar-benar tenggelam. Dia tak mampu berkata sepatahpun. Bahkan ketika polisi militer bertanya apakah dia akan menuntut atau tidak, dia hanya menunduk lemah. Kemudian berdiri. Menatap sesaat pada lelaki yang telah ratusan kali menyebadani isterinya itu. Lelaki itu menunduk. Tak berani menatapnya. Kemudian ditatapnya isterinya yang sedang menangis terisak-isak. Hanya sesaat dia tatap. Kemudian dia melangkah keluar. Tawaran polisi militer untuk mengantarkannya pulang ditolaknya. Dia pulang naik taksi. Di rumah dikemasinya pakaiannya dan pakaian anak lelakinya yang berusia tiga tahun.

Kemudian dia pergi. Dia pulang ke rumah orang tuanya. Dititipkannya anaknya itu di sana. Ketika ibu dan ayahnya bertanya apa yang terjadi, dia hanya menarik nafas. Menatap penuh perasaan hiba kepada anaknya. Kemudian menjawab pertanyaan si ibu sekadarnya, bahwa perkawinannya sudah berakhir. Dia tak menceritakan sepatah pun apa yang telah dilakukan isterinya. Kemudian dia menghabisi hari-harinya di bar. Minum sampai mabuk, tidur di jalanan. Suatu malam dia dirampok segerombolan pemuda. Ada tujuh orang jumlahnya. Ketika dia tak mau menyerahkan dompet, jam dan cincin kawin yang masih dia pakai, ketujuh pemuda itu menghajarnya sampai babak belur. Aneh, kendati dia bisa melawan, namun dia tak melawan sedikit pun. Sebagai tentara aktif yang baru seminggu dari medan perang Vietnam, dia masih memiliki naluri seperti hewan liar dan kemampuan tarung individual yang tak bisa dikatakan rendah. Namun Smith seperti membiarkan dirinya dihajar. Hidung, mulut dan matanya berdarah. Semua uang, jam dan cincinya disikat. Dia sadar di rumah sakit.

Sekeluar dari rumah sakit, dia ke markas minta cutinya diakhiri dan segera minta dikirim kembali ke Vietnam. Dia bertemu dengan PL Cowie, yang saat itu masih berpangkat Sersan dan menjabat komandan regunya. Mereka bertemu di markas sehari sebelum diberangkatkan kembali ke Vietnam. Ketika Cowie bertanya apa yang terjadi, Smith hanya menatap kosong, seperti orang yang tak punya semangat untuk hidup. Kemudian dia meninggalkan Cowie. Cowie mendengar apa yang menimpa Smith dari perawat di rumah sakit. Esoknya Cowie mendatangi rumah Smith. Namun di rumah itu yang ada hanya isteri Smith yang sedang duduk menangis. Dan perempuan itu, yang kesadarannya datang sangat terlambat, mengatakan bahwa dia sudah berpisah dengan Smith. Hanya itu. Dia tak bercerita apa penyebabnya.

Ketika Cowie datang ke markas, dia mendapat kabar bahwa paginya Smith sudah berangkat ke Vietnam, bersama pasukan yang mendapat giliran tugas di sana. Sersan Negro itu menemui dua anak buahnya yang sama-sama masih dalam cuti dengannya. Dia ceritakan apa yang dialami Smith. Kemudian mereka mulai mencari dimana peristiwa itu terjadi. Tak begitu sulit bagi mereka menemukan gerombolan tujuh anak-anak muda berusia antara dua puluh sampai tiga puluhan itu. Seorang anak muda yang menjadi saksi mata saat perampokan itu memberitahu mereka pada suatu malam, bahwa ketujuh anak muda itu berada di sebuah bar. Mereka masuk duluan ke bar yang penuh oleh pengunjung itu. Tak lama kemudian anak muda yang jadi saksi itu, memberi isyarat dengan sudut mata ke sebuah meja.

Di sana ada tujuh anak muda berambut panjang dan pakaian semaunya, bersama empat cewek yang nyaris tanpa pakaian. Cowie dan ke dua anak buahnya mendatangi meja itu. “Halo….” sapa Cowie. Ke tujuh anah muda itu melihat yang menyapa mereka seorang Negro berambut pendek. Kemudian ada dua lelaki kulit putih yang juga berambut pendek. “Niger, apa maumu…?” ujar salah seorang yang bertubuh kekar. Salah seorang anak buah Cowie berpangkat kopral hampir saja memulai menghajar lelaki itu. Namun Cowie memberi isyarat untuk jangan memulai dulu

. “Kami mencari seorang rekan. Kabarnya kalian pernah bertemu dengan dia seminggu yang lalu…” ujar Cowie. “He Niger! Enyah segera dari sini, aku tak tahan baumu yang busuk. Kau pergi atau kuhancurkan hidungmu…” ujar anak muda itu petentengan. Kemudian seusai bicara, dengan brutal dia mengecup dada montok cewek di pangkuannya. Demikian bernafsunya dia, sehingga ketika mulutnya beranjak dari dada wanita itu, di pangkal dada yang putih dan membukit tersebut kelihatan warna merah ke hitam-hitaman. Cowie mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Kemudian mengeluarkan foto Smith berpakaian dinas ukuran 4 x 6. “Kalian mengenal teman kami ini?” ujar Cowie menyodorkan foto itu ke meja. Si lelaki kekar, tanpa menatap foto itu segera saja menancapkan sebuah pisau besar ke foto yang baru beberapa detik diletakkan Cowie di meja. Dan itu adalah awal keributan. Lelaki itu jelas lebih besar dari Cowie. Namun tangan kiri Cowie segera menjambak rambutnya. Lalu tangan kanannya menghajar mulut dan hidung lelaki itu dengan pukulan berkali- kali. Enam bajingan lainnya belum sempat berdiri, ketika mereka disikat habis-habisan oleh teman Cowie.

Bar itu segera berubah menjadi kancah baku tinju antara sesama pengunjung. Akhirnya sepuluh polisi militer datang. Tentu saja mereka segera mengenal Cowie. Karena Cowie memang dikenal secara luas di antara tentara di kota itu. Cowie menceritakan secara singkat kenapa keributan itu terjadi. Ke tujuh pemuda itu, yang semuanya sudah babak belur, digelandang ke kamp polisi militer.

Pada si lelaki kekar yang hidungnya remuk dan giginya copot tiga buah dihajar Cowie, ditemukan dompet dan jam Smith. Mereka lalu dihajar habis-habisan oleh polisi militer. Kemudian semua bajingan tengik itu dijebloskan ke sel tentara. Setelah masa cutinya habis dan kembali bertugas ke Vietnam, Cowie tak bercerita apapun pada Smith. Kedua teman Smith yang ikut menghajar ketujuh orang itulah yang bercerita. Semula tak ada reaksi apapun dari Smith. Dia berubah jadi sangat pendiam. Namun ketika nyawanya diselamatkan Cowie dari ledakan granat dalam suatu pertempuran, Smith akhirnya tunduk. Dia mendatangi komandannya itu menyampaikan terimakasih.

Kisah tentang isteri Smith itu dituturkan Cowie pada larut malam, tatkala Smith sedang tidur mendengkur. Si Bungsu menarik nafas panjang mendengar cerita tersebut. Jock Graham yang ikut mendengar cerita itu hanya termangu. Perang Vietnam memang tidak hanya merobek-robek negeri dan bangsa Vietnam. Perang dahsyat itu juga menimbulkan berbagai krisis di Amerika. Baik di pemerintahan, maupun di kalangan rakyatnya. Di kalangan pemerintahan bukannya rahasia lagi, kalau tak semua mereka yang di Gedung Putih setuju Amerika terlibat dalam perang di Vietnam. Di kalangan rakyatnya, terutama di kalangan para prajurit yang dikirim ke Vietnam, berbagai masalah juga timbul. Masalah hancurnya rumah tangga ratusan prajurit, sebagaimana dialami Smith, adalah persoalan yang tak mudah dicarikan jalan keluarnya. Belum lagi soal pengangguran. Sebahagian besar tentara yang dikirim ke Vietnam adalah anak-anak muda yang terkena wajib militer.

Persoalan timbul setelah mereka kembali dari Vietnam, kemudian masa dinas wajib militernya berakhir. Amat sedikit sekali jumlah wajib militer yang bisa diterima menjadi tentara reguler setelah masa wajib dinasnya usai. Mereka yang selamat keluar dari perang Vietnam umumnya mengalami sindroma pasca perang. Kekerasan di medan perang dalam bentuk sikap “dibunuh atau membunuh” dalam menghadapi ancaman, menyebabkan mereka tak segera bisa menerima perlakuan tak adil di tengah masyarakat. Para bekas wajib militer ini sebahagian menjadi penganggur, sebahagian menjadi buruh kasar, sebahagian mencoba berusaha apa saja. Sebahagian lagi justru ada yang menjadi bandit.

Namun secara umum, para veteran Perang Vietnam menganggap mereka diperlakukan pemerintah dengan sikap ‘habis manis sepah dibuang’. Untuk memperlihatkan bahwa Amerika adalah negara superkuat, polisi dunia dan berbagai simbol kehebatan lainnya, pemerintah mewajibkan seluruh pemuda yang sudah dewasa untuk mengikuti wajib militer. Sebelum diterjunkan ke medan perang mereka diindoktrinasi. Kepada mereka ditanamkan keyakinan bahwa Vietnam Utara yang mereka perangi adalah komunis yang bukan hanya musuh Amerika, tetapi juga musuh dunia. Itu berarti tentara Amerika tidak hanya menyelamatkan Amerika, tetapi sekaligus menjadi pahlawan bagi bangsa-bangsa sedunia. Belasan ribu tentara Amerika terbunuh dalam perang panjang yang amat kejam dan keji itu. Sebahagian besar di antaranya adalah anak-anak muda berusia tujuh belasan sampai 20-an tahun. Sebahagian lagi pulang membawa cacat tubuh permanen, yang takkan bisa baik seumur hidup, betapapun canggih dan tingginya ilmu dan teknologi Amerika.

Mereka, termasuk sebahagian lagi yang selamat fisik namun pulang dengan tekanan mental, mendapatkan diri mereka tak dihargai sama sekali. Baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah yang semula menyanjung-nyanjung mereka. Mereka benar-benar merasa diperlakukan sebagai tebu, yang habis manis sepah dibuang. Lama keadaan menjadi sunyi di dalam goa di balik air terjun itu, usai Cowie menuturkan apa yang dialami Smith. Si Bungsu menatap air terjun yang seperti selendang yang seolah-olah menjadi tirai menutupi pintu goa di mana kini mereka berbaring. Goa itu terasa panas, karena Cowie membawa bara api unggun yang sore tadi mereka buat di luar sana. Bara api itu kemudian mereka tambah dengan dahan-dahan kering. Lama-lama kayu itu ikut terbakar.

Dengan cara seperti itu, goa itu tidak hanya menjadi terasa hangat tetapi juga tak bernyamuk. Di bara yang menyala itu Smith dan Jock Graham membakar daging rusa. Kendati sudah dua hari mereka makan daging rusa yang ditimpuk Si Bungsu itu, ternyata masih saja banyak yang tersisa. Selain itu, Cowie menebang tiga batang pisang emas yang buahnya sudah masak. Kemudian mengumpulkan sekitar sepuluh buah durian besar- besar. Sebelum tidur mereka duduk atau berbaring di sekeliling api unggun. Bercerita sambil mengunyah daging rusa panggang.

Kemudian memakan cuci mulut berupa pisang atau durian. Jika memerlukan air minum, mereka melangkah ke air terjun. Lalu mengangakan mulut lebar-lebar. Dalam waktu beberapa detik air jernih dan bersih akan masuk satu atau dua drum ke dalam perut mereka. Waw, nikmatnya bukan main! Bagi mereka tak ada lagi soal akan kena penyakit disentri atau menceret karena minum air mentah. Tubuh mereka sudah kebal terhadap hal seperti itu. Ketika berada di lobang sekapan maut itu dulu, sekali dua mereka sempat meminum air bercampur lumpur, kotoran dan bekas mayat mengapung. Jika sekarang mereka meminum air terjun yang mengalir dari pengunungan, tentu saja air itu bersih bukan main, dibanding yang mereka minum di lobang penyekapan dulu. Begitulah mereka melewatkan hari-hari di “sorga” dekat air terjun itu.

Suatu hari, malam sudah agak larut. Smith masih terdengar dengkurnya. Jock Graham, Cowie dan Si Bungsu masih terlibat dalam pembicaraan berbagai hal. Namun yang banyak bicara adalah Cowie dan Si Bungsu. Jock Graham lebih banyak berbaring mendengarkan. “Engkau sudah punya isteri, Bungsu…?” tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh pertanyaan Cowie. Si Bungsu yang tengah menatap tirai air terjun sekitar lima depa dari tempat mereka berbaring agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Padahal sudah dia jelaskan kemarin atau dua hari yang lalu. “Belum…” jawab Si Bungsu perlahan setelah berdiam diri beberapa saat. “Dengan kemahiran beladiri yang amat tangguh seperti engkau, kawan, apa sebenarnya yang kau cari…?” tanya Cowie pelahan.

Lama Si Bungsu tak bisa menjawab pertanyaan Cowie. Sebab pertanyaan seperti itu tak pernah dia fikirkan sebelumnya. Dan kini, tatkala ada yang bertanya dia sungguh-sungguh tak bisa menjawab. Ya, apa yang dia cari? Dengan atau tanpa ilmu beladiri, apa yang dia cari dengan menghabiskan waktu dan umur berkelana dari satu ke tempat yang lain, dari sebuah negara ke negara lain? Bayangan Reno Bulan, bekas tunangannya yang kini menjadi isteri Sutan Pilihan, yang sebelumnya hidup sebagai tukang salung, kini bertoko kain batik di Bukittinggi, datang membayang.

Mei-mei yang meninggal diperkosa Jepang di Bukittinggi, sesaat sebelum mereka menikah. Salma, orang yang dia kasihi yang kemudian menjadi isteri Overste Nurdin sahabatnya. Hanako, adik Kenji yang menjadi menantu Tokugawa, bekas kepala Yakuza Tokyo. Michiko yang dia cari sampai ke Dallas dan ternyata menikah dengan Thomas MacKenzie. Angela, polisi Dallas yang membantunya membalas dendam pada geng iblis Klu Klux Klan. Ami Florence, mata-mata Amerika di Kota Da Nang. Thi Binh, gadis desa yang cantik dan Roxy Rogers, anak milyarder Alfonso Rogers yang dia bebaskan dari goa di bukit cadas Vitenam. Semua melintas seperti berlarian dalam fikirannya.

“Awalnya saya hanya mencari orang yang pembunuh keluarga saya…” “Untuk membalas dendam?” “Ya….” “Kau berhasil?” “Ya dan tidak…” “Kenapa ya, kenapa tidak?” “Ya, karena dia saya kalahkan dalam pertarungan samurai. Tidak, karena meski dia saya kalahkan tapi dia tidak saya cederai sedikit pun. Namun hanya beberapa saat setelah saya tinggalkan, dia bunuh diri. Di Jepang disebut seppuku, harakiri….” “Setelah itu..?” “Setelah itu… di sinilah saya sekarang….” “Pernah menikah sebelum atau sesudahnya…?” “Tidak….” “Kenapa…? “Karena mungkin ada kutukan atas diri saya….” “Apa penyebab kutukan itu?” “Sewaktu masih amat remaja, saya melemparkan cincin pertunangan di depan keluarga tunangan saya….” “Jangan percaya soal tahayul, tak ada kutukan begitu….”

“Buktinya, perempuan-perempuan yang pernah saya cintai, menikah dengan lelaki lain, atau meninggal dunia…” “Itu bukan karena kutukan, tapi karena engkau gentayangan terus ke segala penjuru. Tidak menetap di suatu tempat. Kalau mengembara terus-terusan, jangankan menikah, untuk memakai celana pun kau tak sempat…” ujar Cowie kesal, di iringi tawa terkekeh Jock Graham. Tapi setelah itu mereka terdiam. Yang terdengar hanya curahan air terjun dan dengkur Smith. Sampai akhirnya Cowie bertanya sebelum menguap lebar.

“Saya heran, meski kau katakan kesini untuk membebaskan Roxy rogers, lalu terlibat berperang, tapi apa urusannya dengan hidupmu kawan..?” Ya, usahanya membebaskan tawanan dan terlibat peperangan, apa urusannya dengan hidup nya? Si Bungsu terdiam sesaat, lama baru dia menjawab.

“Paling tidak, saya ke Vietnam ini menolong seorang ayah untuk menemukan kembali putrinya. Engkau sendiri, untuk apa kau berperang di Vietnam ini, Cowie…? Cowie terkejut dengan serangan ’balik’ Si Bungsu. “Untuk negeri saya Amerika…” “Apakah Vietnam menyerang negeri kalian..?” Cowie terdiam beberapa saat. “Kami membela Vietnam Selatan atas jajahan Vietnam Utara…” “Berhasilkah pembelaan kalian itu, Cowie…?”

Cowie tak menjawab, karena dia tahu Bungsu tak butuh jawaban dari pertanyaan itu, dunia juga tahu. Jangankan untuk ”membela Vietnam Selatan” seperti yang di koar-koarkan, justru Amerika yang di bikin terbirit-birit oleh negeri yang katanya ‘sangat terbelakang’ ini. Kekalahan tidak hanya memalukan, tetapi juga harus di bayar mahal dengan ribuan korban, yang semuanya hampir generasi muda Amerika, yang terenggut di berbagai kota di Dalam Neraka Vietnam ini. Sebagian lagi pulang ke Amerika dengan membawa cacat tubuh atau cacat mental permanen. Si Bungsu yang juga mengantuk memang tidak memerlukan jawaban Cowie atas ‘serangan balik‘nya tadi. Dalam keheningan malam yang makin larut akhirnya mereka tertidur di dalam goa di balik air terjun. ---000---

Hari itu ada sesuatu yang tidak biasa di kapal perang USS Alamo yang sedang buang jangkar di lepas pantai salah satu pulau milik Philipana, tapi posisinya cukup dekat ke natuna, kalimantan dan pantai bagian selatan Vietnam selatan. Sebagian besar pasukan sedang naik ke darat. Di kapal itu hanya ada beberapa orang perwira, awak radar dan komputer serta komandan kapal Laksamana Billy Jones Lee. Menjelang tengah hari sebuah heli mendarat di helipad kapal itu, dan Laksaman Lee langsung menyambut orang-orang yang sedang turun dari heli itu.

Mereka langsung ke ruang komando dimana terdapat komputer canggih dan layar kaca bening berukuran 2×2 meter dengan tampilan peta wilayah Vietnam selatan. Sesaat setelah tamu-tamu itu berada diruangan komando, dalam posisi sama-sama berdiri, Laksamana Lee saling memperkenalkan tamunya.

“Senang bertemu dengan tuan-tuan dan anda, Lady. Baik, walau sudah ada yang sudah saling kenal, saya kenalkan Lady ini adalah Ami Florence, mata-mata Amerika Di Vietnam selatan yang banyak sekali jasanya kepada Amerika, ini Abang nya Tuan Le Duan. Sama seperti adiknya, adalah mata-mata Amerika. Ini Tuan Alfonso Rogers, donatur yang banyak menyumbang angkatan laut Amerika, termasuk Kapal USS Alamo dimana kini kita sedang berada. Ini Tuan McKinlay, Kolonel perang Veteran dan pahlawan dari Hamburger Hill, dia kehilangan sebelah kaki di sana. Ini tuan Eddie MacMahon, Kolonel SEAL yang di bebaskan seoarang Indonesia bersama Roxy, putri Tuan Alfonso. Ini Tuan Thomas MacKenzie, mantan pilot tempur perang dunia II. Nah, lengkap sudah.

Kita semua berkumpul disini karena sangat berkepentingan atas keselamatan seorang Indonesia, bernama Bungsu. Dia masuk ke Vietnam sekitar enam bulan yang lalu. Semula atas permintaan tuan Rogers yang minta di carikan putrinya, Roxy Rogers yang hilang di Vietnam sekitar tiga tahun yang lalu. Sebelum dia mencari Roxy, dia terlebih dahulu menyelamatkan Ami Florence dan Lee Duan, menghancurkan tiga speedboat perang Vietnam, kemudian mencari dan  membebaskan 15 tawanan Amerika, lima wanita Amerika, dan sepuluh lelaki. Termasuk Roxy dan MacMahon..” ujar Lee. Tiba-tiba Alfonso Rogers maju selangkah lalu bicara. “Maaf, ada yang harus saya katakan tentang orang ini, saya memang membayarnya dengan sangat mahal,

asal putri saya bisa bebas. Itu sudah saya lakukan dua tiga tim tapi semuanya gagal. Namun orang ini, tak satu dolarpun uang saya dia terima. Bahkan tiket pesawat yang saya berikan melalui Yoshua, sahabatnya yang orang Indian. Saat melibas anggota Klu Klux Klan, tidak dia pakai. Saya tidak tahu bagaimana harus menyampaikan terimakasih saya…” Semua orang terdiam mendengar penjelasan itu. Seorang letnan wanita bagian komputer datang membawakan minuman. Masing-masing mereka memegang gelas Coca Cola, Anggur atau Lemon. Lalu terdengar lagi Laksaman Lee bicara.

“Dengan satu atau lain sebab orang itu kini berada dalam Neraka Vietnam yang apinya masih menyala besar. Tidak hanya Tuan-tuan dan Anda Ami, yang menginginkan lelaki itu di bebaskan, saya juga. Apapun caranya! Sudah berbulan-bulan ini kita kehilangan kontak dengannya, sejak dia mengalihkan serangan yang di tujukan ke heli yang di naiki Kolonel MacMahon, Roxy dan kawan-kawan. Sekarang silahkan Ami…” Ami Florence maju, meletakkan gelasnya di meja kecil. Mendekati kaca bening 2×2 meter dimata tergambar peta Vietnam Selatan itu. Lalu bicara.

“Lewat jalur informasi yang rumit, saya mendapat info dari ’dragon’ di daratan Vietnam. Si Bungsu terakhir berada di desa ini..” ujar Ami sambil menunjuk sebuah titik dekat sebuah sungai di peta di kaca bening tersebut. Lalu dia melanjutkan. “Dia menyembuhkan kanker paru stadium empat Kolonel yang menjadi komandan garnizun Vietkong. Dia juga menyelamatkan nyawa Sersan Lok Ma, pencari jejak handal vietkong, saat memburu rombongan Roxy dan MacMahon. Namun keadaan berubah drastis saat Politbiro komunis di kota Da Nang yang mengirm tentara pasukan dan milisi PKI. Si Bungsu di sekap di sebuah lobang tanah bersama tiga tentara Amerika yang sudah lebih awal di sekap. Beberapa minggu di tahan, mereka bisa melarikan diri. Di buru satu peleton tentara, namun tak pernah tertangkap. Jejak mereka lenyap di rawa di daerah ini, namun Lok Ma menduga mereka menuju arah barat, ke arah heli yang pernah menjemput Roxy dan MacMahon…” ujar Ami Florence sambil menunjuk peta.

“Mereka memburu sesuai petunjuk Lok Ma?” tanya MacKenzie suami Michiko. “Tidak…” “Kenapa?” “Dia bersama Kolonel yang di obat Si Bungsu kanker parunya, mencari jalan mengabarkan hal itu pada pihak Amerika. Mereka berdua merasa berhutang nyawa pada Si Bungsu. Dragon mendapatkan bocoran itu, dan mengirimkan kabar pada kami…” ujar Ami. Mereka saling bertukar pandang. Mereka semua mempunyai kaitan langsung maupun tidak dengan Si Bungsu. “Well. Anak saya meminta saya melakukakan apa saja menjemput lelaki itu. Lebih dari pada itu, setelah anak saya dia bebaskan. Saya bersedia bertukar nyawa dengan dia…” ujar ALfonso Rogers.

“Jika Amerika merasa tak berhutang apapun padanya, saya dengan empat belas anak buah saya yang di sekap selama tiga tahun, takkan pernah bisa membayar hutang atas apa yang dia lakukan buat membebaskan kami…”ujar Kolonel MacMahon. “Oke, sekarang kita mari ke komputer besar itu. Letnan anda tunjukan apa yang anda peroleh dari satelit mata-mata…” ujar Laksaman lee pada perwira wanita yang tadi membawakan minuman. “Yes, Sir….”Lalu mereka mengambil posisi di belakang perwira itu, yang telah menghidupkan komputernya.

“Kami berhasil dan menelusuri dan menemukan wilayah yang informasinya di peroleh nona Ami Florence dari Dragon dengan memakai pencitraan satelit mata-mata Amerika. Satelit hanya bisa melacak jika di lokasi itu ada panas yang di picu oleh pembakaran Amunisi. Konkritnya jika di tempat itu terjadi tembak menembak. Satelit menemukan dan merekamnya. Satelit merekam terjadinya pertempuran sepeleton pasukan dengan satu orang. Satelit juga menemukan tiga orang lainnya bergerak ke barat, menjauh areal tembak- menembak. Informasi dari Dragon tampaknya sesuai dengan di lapangan. Si Bungsu dan tiga tentara Amerika lainnya lari di kejar pasukan Vietkong. Satelit juga berhasil melacak keempat pelarian itu kini berada di sini, sekitar air terjun ini…” papar letnan wanita itu sambil menunjuk layar komputer. Semua mereka yang di ruangan itu mempelototi layar komputer tersebut.

“Apakah ini di rekam?” tanya Ami. “Maksudnya..?” “Kalau di rekam tolong di rewind ke saat pertempuran. Saya ingin mengetahui siapa yang menahan tentara Vietkong itu…” ujar Ami. Letnan bagian komputer USS Alamo itu menoleh kearah Laksamana Lee, Laksamana itu mengangguk. “Yes, Mam…!” ujarnya pada Ami Florence. Letnan itu menekan tombol di komputer, lalu memutar ulang video itu. Malam terlalu gelap, apalagi di dalam belantara. Tidak ada manusia yang kelihatan hanya kilat-kilatan peluru.

Namun dalam rekaman selanjutnya, nampaknya hari telah siang, kelihatan sesosok berlari di antara belantara dan sekilas-sekilas menjadi jelas saat dia melewati rawa yang tidak ditutupi daun kayu. “Itu Si Bungsu…!” serua Ami. “Ya, itu Si Bungsu..! “ ujar Kolonel MacMahon. Mereka yang di ruangan itu saling berpandangan. “Peristiwa di padang lalang saat heli menjemput kami, dan kami dihujani tentara Vietkong dengan tembakan, kini terulang lagi. Dia kembali menjadikan dirinya umpan perluru, demi membebaskan tiga tawanan lainnya. Oh Tuhan…!” ujar Kolonel MacMahon dengan suara bergetar.

Ami Florence tak mampu menahan isak tangisnya. “Selamatkan dia, tolong selamatkan dia, please….” ujarnya. “Ya… kita semua hadir di sini karena ingin menyelamatkannya. Karena tidak hanya kita, Amerika berhutang amat besar padanya…” ujar multi-milyuner Alfonso Rogers. “Tidak hanya kita, tiga atau empat tentara Vietkong itu sendiri, seorang di antaranya berpangkat Kolonel, yang ditolong oleh Si Bungsu, diam- diam menginginkan kebebasannya. Itu informasi yang disampaikan Dragon…” ujar Le Duan. Laksamana Billi Yones Lee, Komandan USS Alamo kemudian bicara.

“Well, baiklah! Berbeda dengan operasi pencarian MIA atau operasi penyelamatan lainnya selama ini yang dilakukan Amerika, tetapi jika terjadi sesuatu Amerika akan mengatakan ‘tidak tahu!’ Kemarin pagi saya diinformasikan akan kedatangan Tuan-tuan di bawah koordinasi Tuan Rogers. Setelah itu dari Pentagon ada perintah langsung dari Kepala Staf Panglima Gabungan, jemput Si Bungsu, Amerika akan menghadapi apapun risiko politiknya. Apapun! Saya yakin, perintah dan sikap Amerika seperti itu hanya di mungkinan karena tekanan Tuan-Tuan dan Anda, Lady. Terutama Tuan Alfonso Rogers dan Kolonel MacMahon dan Jhon McKinlay…”

“Anda terlalu merendah, Laksamana. Saya berada di Pentagon ketika Anda membentak-bentak seorang jenderal di sana. Menyuruh mereka memasang telinga saat Anda menceritakan apa yang dilakukan Si Bungsu untuk membebaskan 17 tentara Amerika, dan menghancurkan beberapa boat perang Vietkong menyelamatkan Ami Florence dan Le Duan…” ujar Alfonso Rogers memotong. Laksamana itu tersipu.

“Ya, apa yang dilakukan orang asing itu belum tentu mampu dilakukan satu kompi pasukan kita yang amat tangguh sekalipun. Di atas segalanya, kesediaannya menjadikan dirinya umpan peluru untuk menyelamatkan heli dan para tawanan Amerika, membuat saya tak tidur berhari-hari. Dia sendirian di padang lalang itu, ditembaki dan ditangkap…” ujarnya. Semua tertunduk mengingat peristiwa tersebut. Lalu Laksamana itu menyambung.

“Kita sudah sediakan tiga heli tempur. Sebuah untuk mengambil mereka di dekat air terjun itu, dua buah untuk mengawal. Perintahnya amat jelas, bawa mereka pulang, terutama Si Bungsu, apapun risikonya….!” “Saya telah mendapatkan persetujuan Pentagon untuk memiloti heli penjemputan….” ujar Thomas MacKenzie, suami Michiko yang mantan pilot udara Perang Dunia II itu.

“Ya, saya sudah diberitahu. Terimakasih, kami memang amat membutuhkan pilot yang berpengalaman. Dua pilot lain siap mengawal Anda…” ujar Laksamana Lee. “Saya ikut heli yang menjemput…?” tiba-tiba Ami Florence menyela. “Maaf, Lady. Kali ini usulan Anda terpaksa saya tolak. Demi kesuksesan operasi yang harus amat cepat ini. Dia tiap heli, selain pilot masing-masing hanya ada dua penembak yang menjaga di mitraliur. Satu di kiri, satu di kanan. Oke, masukkan koordinat wilayah air mancur itu ke komputer di tiap heli. Sekarang jam tiga, ada waktu sekitar empat jam mencapai tempat itu. Anda hanya bisa memakai lampu sorot setelah dekat air terjun itu, MacKenzie. Waktu untuk Tuan mempersiapkan diri ada lima menit, McKenzie….” “Yes, Sir!” ujar veteran Perang Dunia II itu, sambil bergegas keluar menuju heli yang menanti dalam keadaan mesin sudah dihidupkan.

Mereka menatap keberangkatan tiga helikopter itu dari anjungan komando. Menatapnya hingga jauh, hingga hanya kelihatan seperti seekor burung kecil, kemudian seperti titik. Saat ketiga heli itu lenyap di kaki langit, Ami dikejutkan oleh ucapan letnan di komputer tadi. “Mam, ada yang ingin bicara padamu di telpon….” “Saya?” “Siapa?” “Nona Roxy….” Ami menoleh pada Alfonso Rogers, ayah gadis yang ingin bicara melalui telepon dengannya. Lelaki tua itu tersenyum. “Hallo, Roxy..” sapanya setelah memegang telpon. “Hai, Ami. Senang dapat lagi bicara dengan Anda. Saya diberitahu ayah, Anda akan bertemu dengannya di USS Alamo….” “Ya, Ayahmu ada di sini sekarang. Anda dimana, Roxy?” “New York. Sudah berangkat penjemputan untuk Si Bungsu…?” Ami tertegun. Dia menatap pada ayah Roxy yang sedang ngobrol perlahan dengan Laksamana Lee.

“Anda sudah tahu adanya operasi penjemputan itu…?” “Saya mendesak Ayah untuk mempergunakan pengaruhnya. Kita semua berhutang nyawa padanya, kan? Sudah berangkat yang menjemput Si Bungsu, Ami…?” “Y..Ya! Sudah….” “Kita doakan bersama mudah-mudahan tak ada halangan. Apalagi Thomas MacKenzie yang menjemput adalah pilot pesawat tempur yang amat bisa diandalkan….” “Ya, kita bersama mendoakan.. Roxy….” Adalah Cowie pertama tersentak bangun dari tidurnya yang nyenyak karena mendengar suara aneh di antara suara air terjun. Dia membangunkan kawan-kawannya yang bergelimpang di dalam goa di balik air terjun itu.

“Suara heli…!” bisik Si Bungsu. Mereka bangkit dan bergegas ke tabir air terjun yang menutup goa persembunyian mereka. Tiba-tiba sorot lampu heli menerangi air terjun itu. Lalu lampu sorot itu dimatikan. Kemudian dihidupkan. Mati, hidup lagi terputus-putus. “Morse! Itu heli Amerika menjemput kita…!” seru Kopral Jock Graham setelah mengartikan kerdipan lampu yang dipergunakan seperti morse bagi kapal-kapal di laut.

Mereka keluar dari balik air terjun itu, di bawah sorot lampu heli menuruni bukit batu tersebut dengan cepat. Heli itu mengapung rendah di hamparan pasir lebar di tepi sungai di bawah air terjun itu. Mereka berempat berlarian ke sana. Letnan Cowie yang Negro itu pertama sampai di dekat heli. Namun dia tak segera naik, dia menunggu yang lain. Yang pertama naik adalah Kopral Jock Graham, kemudian Sersan Tim Smith, kemudian Si Bungsu. Baru dia menyusul. “Lengkap! Go.. go.. go…!!” seru Sersan penjaga mitraliur di bagian kanan setelah semuanya naik. Seiring dengan melambungnya heli itu dengan cepat ke atas, terdengar suara. “Hallo, Bungsu. Welcome home…!”

Si Bungsu kaget mendegar panggilan itu. Dia menoleh ke arah orang yang menyapanya, yang tak lain dari pilot heli itu. Meski dia memakai helm pilot, namun Si Bungsu mengenalnya dengan baik. “MacKenzie…” seru Si Bungsu sambil mengulurkan tangan, disambut dengan salaman yang kukuh dan hangat oleh suami Michiko itu.

Kemudian mereka menumpahkan perhatian pada pelarian itu. Sebab, sesaat setelah mereka bersalaman, mereka mendengar tembakan dan melihat peluru seperti kembang api menyembur-nyembur dari dua heli yang lain ke arah depan mereka. Saat itu keempat pelarian itu baru menyadari bahwa selain heli yang mereka naiki masih ada dua heli lain yang mengawal. “Sir, ada empat pesawat tempur memburu kita…” ujar co-pilot yang mendampingi MacKenzie. “Yap, kita layani!” ujar MacKenzie sambil membuat manuver tajam ke kanan menghindari terkaman peluru yang amat jelas kelihatan datangnya dalam kegelapan malam.

Tak jelas apa jenis pesawat yang memburu mereka. Tapi kini ketiga heli itu saling sama-sama menyerang, menghindar dan melindungi. Mereka tak lagi memperdulikan kemana arah mereka. Yang penting mereka menghindar, atau balas menembak sambil terbang berputar atau melambung ke kiri, ke kanan, berbalik ke belakang. Sampai suatu saat sebuah ledakan dan bola api besar terlihat di samping kanan mereka. “Cobra kena, hancur…!” ujar co-pilot MacKenzie. Namun pada saat yang bersamaan, dua buah pesawat tempur yang sedang menyembur-nyemburkan peluru ke arah mereka, yang berada di bahagian depan kiri dan kanan mereka, terlihat menjadi bola api. Yang satu ditembak MacKenzie, yang satu lagi ditembak heli pengawal yang tersisa. MacKenzie menembak sambil meliuk-liukkan terbang helinya. “Shit, kita kena…!” ujar MacKenzie

setelah terasa sebuah guncangan kecil. “Ya, kita kena…!” seru copilot.

Sekilas keempat pelarian itu melihat asap putih menyembur dari bahagian bawah hidung heli. Namun setelah itu tak ada serangan apapun. Kedua pesawat Vietkong yang tersisa lenyap dari udara. “Mereka menghindar     karena     tadi     kita     bertempur     di     atas     wilayah     Kamboja…”     ujar      MacKenzie. “Kita juga harus menghindar, Sir…” ujar copilot. “Tenang, Panglima AU-nya junior saya waktu di West Point…” ujar MacKenzie.

Belum habis ucapannya di radio terdengar perintah untuk menjelaskan identitas mereka dari pesawat Angkatan Udara Kamboja. Hanya selang beberapa saat, dua pesawat pemburu Kamboja sudah berada di bahagian kiri kanan mereka. MacKenzie menjelaskan mereka AU Amerika, dan sebelum dialog berlanjut dia langsung saja menyapa Panglima AU Kamboja, sambil menjelaskan siapa dirinya dan posisi rumitnya saat ini karena pesawatnya kena tembak. Hal itu dia lakukan karena dia yakin Panglima itu sedang memonitor pembicaraan antar-pilot pesawat tempur yang sedang di udara itu.

Hal itu dipastikan, karena negara manapun yang dimasuki pesawat tempur asing tanpa konfirmasi pasti dilaporkan langsung kepada Panglima AU-nya. Panglima AU Kamboja yang empat tingkat di bawahnya saat di West Point, kalang kabut dan membuat rencana kilat untuk membantu. Dia memberi petunjuk agar MacKenzie mendaratkan pesawatnya di sebuah bekas lapangan Angkatan Udara negara yang bernama asli Kampuchea itu. Dia segera mengirim teknisi dan mobil tangki bahan bakar. Kerja kilat sepuluh teknisi dan mengisi bahan bakar itu selesai menjelang subuh.

Saat kedua heli itu kembali mengudara, tiga pesawat tempur Kamboja mengiringi seolah-olah “mengusir” heli Amerika itu dari wilayahnya. Dalam waktu singkat lima pesawat itu lenyap dalam kabut subuh. Heli itu terlebih dahulu digiring ke arah selatan, ke arah Teluk Siam. Setiba di atas Laut Cina Selatan lalu melambung ke kiri, ke arah Philipina. Di perairan internasional baru kedua heli itu “dilepas”, namun tetap diawasi kalau-kalau disergap pesawat tempur Vietkong. Setelah dirasa aman, barulah pesawat tempur kamboja balik ke pangkalannya. Usailah skenario yang “dirancang” Panglima AU Kamboja itu dengan Thomas MacKenzie, senior yang dia hormati saat di Akademi Militer Amerika dulu. Ketika mereka turun di helipad, tempat pendaratan heli di USS Alamo, mereka benar-benar disambut dengan upacara yang istimewa. Si Bungsu heran, karena orang-orang yang dia kenal ada di kapal perang itu. Ada Alfonso Roger, multimilyuner yang “membayarnya” untuk mencari anaknya Roxy Rogers. Ada Jhon McKinlay, pahlawan Hamburger Hill teman Alfonso. Ada Kolonel Eddie MacMahon, perwira SEAL yang dia bebaskan bersama Roxy. Ada Le Duan dan… Ami Florence! “Hai, Ami. Senang bertemu kembali denganmu…” ujar Si Bungsu saat mereka tegak bertatapan dalam jarak sedepa.

Tak ada jawaban apapun dari bibir Ami Florence. Mereka masih bertatapan dalam diam. Lalu… gadis itu menghambur memeluk Si Bungsu, memeluknya erat-erat dalam isak tangis bahagia. Mereka berpelukan dalam tatapan haru semua yang ada di helipad itu. “Jangan lagi kau tinggalkan aku, Bungsu. Jangan lagi, please..!” ujar Ami dalam isak tangisnya.

Hari itu juga mereka di antar dengan helikopter dari USS Alamo ke sebuah hotel mewah di Manila, ibukota Filipina. Malam harinya mereka berkumpul di restoran hotel yang sengaja di pesan untuk acara pertemuan malam itu. Pertemuan sebagai rasa syukur atas pembebasan dan ucapan terimakasih kepada Si Bungsu. Ketika mereka memegang gelas minuman, sementara Ami Florence bergayut di tangan Si Bungsu, seseorang menepuk pundak Ami.

“Sorry, aku pinjam orang ini sebentar…” ujar sebuah suara sambil meraih tangan Si Bungsu sebelum Ami Florence sempat menoleh. “Thi-thi..!” seru Ami Florence dan Si Bungsu hampir bersamaan tatkala mengetahui siapa yang berkata. Gadis itu terpaksa melepaskan tangan Si Bungsu, karena dia segera di peluk Ami Florence. Mereka berpelukan saling melepaskan rindu. Habis itu Thi Binh merenggangkan pelukannya lalu kembali bicara. “Boleh ku pinjam orang asing ini sebentar?” ujarnya sambil kembali memegang tangan Si Bungsu. ”Boleh asal jangan kau bunuh dia..” ujar Ami Florence.

Si Bungsu terpaksa menuruti Thi Binh tatkala gadis itu menariknya keluar dari lingkaran orang banyak itu. Tapi dia hanya membawa Si Bungsu ”menghindar” beberapa langkah. “Waw, cantiknya kau, Thi-thi…” ujar Si Bungsu saat tegak berhadapan saling menatap. “Aku sudah minta izin pada Ami…” ujar gadis itu, lalu tanpa memberi kesempatan pada Si Bungsu untuk memikirkan ucapannya, masih dalam tatapan semua yang hadir, termasuk Ami Florence, gadis itu memeluknya, menciumnya. Lama sekali.

Si Bungsu terengah ketika ciuman itu selesai. Orang-orang pada bertepuk, termasuk Ami! “Aku akan tetap mencintaimu…” ujar Thi Binh tertahan. Lalu dia kembali memegang tangan Si Bungsu membawanya kembali ke lingkaran orang banyak. Dan ”menyerahkan” kepada Ami Florence. Dia masih memegang tangan Si Bungsu, saat Ami memeluk lengan lelaki itu yang sebelah lagi. Yang hadir kembali bertepuk tangan.

Mereka kembali tenggelam dengan cerita ”masa lalu”. Saat tengah berbincang itu MacKennedy berbisik kepada Si Bungsu. Mengatakan ada telepon untuknya. “Telepon? Dari siapa…?” Pikir Si Bungsu heran. Dia lalu pamit pada Ami lalu menuju ke telepon. “Halo..siapa ini?” “Bungsu-san…” Dug!

Jantung Si Bungsu berdegup. “M..Michiko…?” Sepi beberapa saat. Di antara ke sepian itu Si Bungsu mendengar suara isak Michiko di telepon. “Kau baik-baik saja, Michiko-san…?” Tak ada jawaban selain isak tangis. “Kau dimana Michiko..?” “Los Angeles…” jawab Michiko pelan setelah lama terdiam. “Michiko- san…..terimakasih kau telah meminta suamimu menyelamatkan diriku. Aku berhutang budi padamu dan pada MacKenzie, terimakasih..” “Bungsu-san…” “Ya…?” Sepi.

Si Bungsu hanya mendengar suara terisak tertahan Michiko. “Michiko-san…” Sepi. “Bungsu-san..” “Ya…?” “Jaga dirimu baik-baik…” “Kau juga, Michiko…” Sepi.. Lama.

Lalu Si Bungsu mendengar gagang telepon di letakkan. Hubungan telepon itu terputus. Si Bungsu menarik nafas, berusaha menenangkan hatinya yang terguncang. Kemudian berjalan ke westafel di toilet. Mencuci mukanya. Lalu kembali bergabung dengan Ami Florence, Le Duan, Laksamana Jones dan Alfonso Rogers. Saat mereka bicara, seorang datang berbisik ke pada Ami. Mengatakan ada telepon.

“Dari siapa?” tanya Ami yang masih bergelantungan ke tangan Si Bungsu. “Roxy Rogers, Mam…” ujar orang itu. “Oh,Roxy!”ujar Ami sambil menoleh pada Alfonso Rogers, ayah Roxy. Alfonso Rogers mengangguk sopan. “Ada pesan untuk Roxy?” tanya Ami pada Si Bungsu. “Sampaikan salam ku padanya…” ujar Si Bungsu. Ami menuju ke tempat telepon dan mengangkat gagang telepon. “Hai..Roxy…”sapa Ami memulai bicara. “Sudah selesai penjemputan?” “Ya..ya! Terimakasih.. Anda dimana?” “Los Angeles. Sudah kau sampaikan terimakasihku pada Bungsu?” “Sudah. Tapi ayahmu lebih duluan menyampaikannya…” “Dia baik-baik? Maksudku Si Bungsu?” “Ya, dia baik-baik..” “Ami…” “Ya…?” “Ada yang ingin bicara denganmu…” “Oya, siapa?” “Tanya saja namanya pada yang bersangkutan secara langsung…” jawab Roxy. Ami Florence menanti dengan heran. “Halo, Ami…”

Ami Florence mengerutkan kening. Dia mencoba mengingat, suara siapa di seberang sana? Thi Binh? Tak mungkin. Yang pasti suara perempuan. “Eh..ya. Ya, saya Ami Florence! Maaf, dengan siapa saya bicara?” “Kita memang belum pernah bertemu. Namun cerita tentangmu banyak ku dengar dari Roxy. Suami saya sekarang ada bersamamu dan ayah Roxy, Tuan Rogers…” Ami menatap keliling. Melihat Si Bungsu, laksamana Lee, Alfonso Rogers, Eddie MacMahon, Jhon MacKinlay dan abangnya sendiri Le Duan.

“Thomas MacKenzie, dia suami saya….” ujar suara di telepon mengejutkan Ami yang sedang memikir- mikir siapa suami perempuan yang meneleponnya ini. “Ooo..suami anda yang menjemput Si Bungsu dan tiga tawanan lainnya..” “Ya, selain saya yang meminta, dia juga bertekad melakukan hal itu…” “Si Bungsu dan suami anda bersahabat?” “Tidak, saya yang pernah jadi sahabatnya…” Ami tertegun. “Maaf Anda…?” “Michiko. Nama saya Michiko. Anda pasti belum pernah mendengar nama saya, Nona Ami…” Dug!

Jantung Ami berdegup kencang, hampir saja telepon yang di pegangnya terjatuh mendengar nama itu. “Michiko Matsuyama…” desisnya perlahan.

Dug!.

Kini justru jantung Michiko yyang berdegup kencang, saat Ami Florence menyebut namanya secara lengkap, kendati terdengar amat perlahan. “Anda…?” “Ya, Si Bungsu sering bercerita tentang anda, Mam…” Dug! Kini telepon di tangan Michiko lah yang hampr jatuh, mendengar ucapan Ami Florence barusan. “Dd..Dia..” “Dia bercerita betapa dia dan anda saling mencintai, Mam. Dia mencari Anda Sampai Ke Dallas, namun…” Mereka sama-sama terdiam. Sampai akhirnya terdengar suara Michiko lirih.

“Nasiblah yang memisahkan kami…” “No, Mam! Bukan karena nasib. Nasib bisa di robah dengan usaha. Apapun yang terjadi sehabis usaha dan doa manusia, namanya takdir. Bila sudah takdir, tak seorangpun manusia yang bisa merubahnya. Apa yang terjadi diantara kalian adalah takdir, karena kalian sudah berusaha sekuat daya untuk dapat bersama. Anda sendiri datang dari Jepang mencarinya ke Indonesia. Usaha yang amat luar biasa. Dia mencari anda ke Dallas, namun takdir kalian berkata lain, Mam….” Sepi.

“Apa..apakah dia masih…” “Dia tidak hanya masih ”mengingatmu” Mam! Dia justru masih mencintaimu! Namun dia orang yang sangat tahu diri dan faham benar bahwa di antara kalian ada garis yang tak boleh dia langkahi. Dia mencintaimu bukan karena hanya ingin memilikimu, tapi ingin membuatmu bahagia. Dia takkan menikah kalau orang yang dinikahinya sengsara bersamanya. Kendati dia amat mencintai wanita itu. Dia ikut bahagia, kalau wanita yang dia cintai bahagia, kendati bukan bersamanya…” Sepi lagi.

“Anda mencintainya, Ami?” Dug lagi! Sepi sesaat, sampai akhirnya terdengar suara Ami. “Yas, Mam…” Sepi sampai terdengar suara Michiko perlahan. “Dia mencintaimu,Ami…?” Sepi. Lalu terdengar suara Ami lirih. “No,.. Mam. Dia mencintaimu. Malam-malam terkadang dia menggigau menyebut namamu, dan tersentak bangun…” jawab Ami dengan amat jujur dan dengan suara amat tersendat. Sepi.

Michiko mendengar Ami Florence terisak. Ami Florence mendengar Michiko terisak. Kedua perempuan yang di pisahkan ribuan kilo meter, dipisahkan laut dan benua. Kedua mereka masih sama-sama memegang telepon dengan diam. “Ami…” “Yes, Mam…” “Maukah kau menjaganya, untuk kebahagianmu dan demi aku…?” “Mam..??” “Ami, please…“ “Sepi amat menekan. Terdengar suara Michiko kembali memanggil. “Ami…:” “Yes, Mam…” “I love you…” “I love you too..Michiko-san!”

Saat bergabung kembali dalam kelompok Si Bungsu dan yang lain-lain, meski dia tersenyum namun Si Bungsu melihat ada bekas air mata di pipi gadis itu. “Michiko yang menelponmu, Ami?” tanya Si Bungsu lembut. Ami menatapnya. “Tadi dia juga meneleponmu, Dear?” Si Bungsu mengangguk. Ami Florence tak dapat menahan harunya. Tanpa dapat di tahan dia terisak. Si Bungsu memeluknya. Dia menumpahkan tangisnya di pelukan lelaki dari Indonesia itu. “I love you. I love you…!” bisik Ami Florence dalam pelukan erat Si Bungsu.

Tamat.