Tikam Samurai Si Bungsu Episode 6.4

Namun, betapapun Lok Ma merasa kagum sekaligus terkejut, melihat cara orang yang mereka buru ini menyelusup di dalam belantara. Jika bukan pencari jejak sekaliber dia, orang pasti takkan mampu menemukan jejak lelaki yang mereka buru ini. Sekarang saja jejak orang buruan mereka itu hanya terlihat di beberapa tempat. Setelah itu lenyap sama sekali, kendati tempat yang dilalui adalah tanah lembab. Tak ada bekas sama sekali. Lok Ma bisa terus memburu arah matahari terbit, hanya dengan keyakinan bahwa orang yang mereka buru ini menuju arah yang sama dengan para pelarian tentara Amerika itu. Yaitu sama-sama menuju ke danau luas dan angker di balik bukit-bukit batu sana.

Jarak antara Lok Ma dengan kopral yang seorang lagi ada sekitar sepuluh depa. Mereka bergerak dalam posisi sejajar. Setiap saat setelah melewati batu-batu atau pohon besar, mereka bisa saling mengawasi. Saat itu Lok Ma harus melewati sebuah pohon tumbang, sementara kopral di sebelah kirinya harus melewati sebuah batu yang tingginya tak lebih dari setinggi tegak lelaki dewasa. Lok Ma dengan cepat membungkuk di bawah kayu besar yang tumbang itu, kemudian melanjutkan pengejaran dengan langkah lebar. Dia menoleh ke arah kopral di bahagian kirinya, yang tadi akan melewati sebuah batu besar setinggi tegak. Si kopral belum kelihatan. Batu besar itu seperti penjaga hutan yang tegak patuh zaman demi zaman.

Lok Ma masih meneruskan langkahnya empat lima langkah lagi. Kemudian menoleh ke arah batu besar yang di lewati si kopral itu. Tetap tak kelihatan. Kopral itu tentu tidak di balik batu itu lagi, pasti sudah bergerak ke depan sekitar sebelas atau lima belas langkah. Sambil bergerak terus maju, Lok Ma memperhatikan belantara di bahagian kanan, yang sejajar dengan posisinya sekarang. Tak ada satupun benda yang bergerak. Dia memberi isyarat dengan siulan. Tak ada sahutan. Dia bersiul sekali lagi, agak panjang dari yang pertama. Tetap tak ada sahutan Lok Ma, tiba-tiba berhenti. Tiba-tiba dia sadar kopral itu pasti sudah celaka. Dia berlindung di balik sebuah batu besar, menatap ke arah batu besar di mana kopral itu dia lihat kali terakhir.

Lok Ma tak melihat gerakan apapun dari sekitar batu besar itu. Lalu kenapa kopral itu lenyap seperti ditelan bumi saat melintas di balik batu besar itu? Apakah di balik batu itu ada lobang yang amat dalam, sehingga si kopral terperosok ke dalamnya? Atau di balik batu itu orang yang mereka buru menunggu? Lok Ma benar-benar merasa curiga. Dia ditugaskan untuk memasang jebakan pada orang yang mengacau balaukan pasukan mereka. Tapi kini merekalah justru yang terjebak ke dalam jebakan. Lok Ma memutuskan untuk langsung saja ke arah batu besar tersebut. Apapun yang terjadi harus dia hadapi dan diselesaikan dengan segera.

Dia lalu memutar badan untuk melangkah ke arah lenyapnya si kopral. Namun saat dia memutar badan itu tiba-tiba jantungnya seperti akan copot. Ada orang berdiri hanya dalam jarak sehasta dari tempatnya. Orang itu tak memakai seragam militer manapun. Juga tak ada tanda-tanda pangkat atau tanda lain yang mengisyaratkan dia adalah seorang tentara. Juga bukan orang Amerika seperti yang dia duga. Kalau pun ada benda yang biasanya menjadi milik tentara pada orang itu, maka benda tersebut adalah sebuah bedil otomatis. Lok Ma segera mengenali senapan itu sebagai senapan kopral yang tadi menembak di balik pohon besar, kemudian lenyap begitu saja.

Bedil itu adalah bedil standar milik tentara Vietnam, yang sama bentuk dan kalibernya dengan senapan yang kini dia pegang. Orang yang berada sehasta dari tempatnya itu memegang bedil tersebut dengan tangan kirinya. Tak ada ancaman sama sekali. Ujung bedil di tangan orang tersebut mengarah ke tanah. Kalau orang ini akan menembak, harus mengangkat bedilnya setinggi pinggang, kemudian bersamaan dengan itu tangan kanannya bergerak pula ke arah popor. Lalu jari telunjuknya menyentuh pelatuk. Semua gerakan tersebut, sampai peluru pertama bisa ditembakkan, jika orang yang melakukannya demikian mahir, dibutuhkan waktu paling tidak dua atau tiga detik.

Lok Ma yang memegang bedil dengan kedua tangannya, dan telunjuk tetap siaga di pelatuk, yakin dia bisa menghujamkan peluru empat atau lima buah ke tubuh lelaki di depannya ini, saat orang itu baru akan menembak. Lok Ma sudah berniat melakukan hal tersebut, ketika tiba-tiba dia teringat bahwa teman-temannya yang terbunuh tidak hanya oleh peluru. Tetapi juga oleh samurai kecil atau baja tipis yang amat tajam. Ingat akan hal itu, Lok Ma mengurungkan niatnya menembak orang yang di depannya ini. Dia tahu, orang ini memiliki ketangguhan yang luar biasa. Jika orang ini mau, Lok Ma yakin dia sudah mati sejak tadi.

Orang ini sudah berada di belakangnya ketika tadi dia memutar gerak. Dan yang membuat bulu tengkuk Lok Ma merinding adalah kehebatan orang ini dalam mendekati dirinya. Dia adalah seorang andalan dalam mencari jejak dan memburu orang. Andalannya adalah firasat, penglihatan dan pendengaran. Ternyata, jangankan suara langkah, dia malah tak mendengar suara apapun saat orang ini mendekatinya. Lok Ma sadar, orang ini bukan lawannya. Tiba-tiba orang itu mengulurkan tangan kanannya. Seperti akan bersalaman. Lok Ma kaget. Dia sampai tersurut selangkah saking kagetnya melihat orang itu ingin menyalaminya. Namun tak ada niat apapun terlihat pada wajah orang tersebut, selain keikhlasan semata.

Dan orang itu tiba-tiba tersenyum. Lok Ma menjadi salah tingkah. Tapi tatapan mata orang itu, yang demikian bersih dan bersahabat, wajahnya yang demikian jernih, seperti magnet yang membuat Lok Ma tak kuasa untuk tidak menyambut uluran tangannya. Kedua orang yang sebelumnya saling mengintai dan saling memburu untuk saling berbunuhan, kini saling bersalaman dengan erat di tengah belantara Vietnam selatan tersebut. Lok Ma merasakan betapa genggam tangan orang asing di depannya itu demikian kukuh. Pertanda kekukuhan hati dan keramahan sikapnya.

“Anda bisa berbahasa Inggeris?” tiba-tiba orang itu yang masih menggenggam tangannya itu bertanya dalam bahasa Ingeris. Lok Ma mengangguk. “Inggeris dan Perancis…” jawab Lok Ma. “O, saya hanya bisa berbahasa Inggeris. Nama saya Bungsu…” “Nama saya Lok Ma…”

Si Bungsu, orang yang menggenggam tangan Lok Ma itu, melepaskan genggaman tangannya. Dalam posisi tegak tak sampai sedepa itu, mereka saling bertatapan. Sebagai anak suku yang hidup secara tradisional dan penuh acara-acara magis di pegunungan, Lok Ma merasa orang yang di depannya ini benar-benar bukan orang sembarangan. “Tuan dari Indonesia?” ujar Lok Ma.

Si Bungsu kaget. Buat pertama kali dalam hidupnya yang mengembara dari benua ke benua, dari negeri satu negeri lain, barulah sekali ini orang secara pasti menebak dan menyebut nama negerinya. Dia tatap tentara yang berpenampilan sederhana itu. “Kenapa Anda menyangka saya dari Indonesia?” “Ada dua bangsa yang saya kenal yang mampu mempelajari dan menguasai hal-hal supranatural dan metafisik. Bangsa India dan Indonesia. Anda memiliki kedua kekuatan ini. Saya sering bertemu orang India. Namun belum pernah bertemu orang Indonesia. Anda tidak memiliki spesifikasi khas orang India. Maka hanya ada satu pilihan, Anda adalah orang Indonesia…” Lok Ma dan Si Bungsu kembali saling menatap. “Apa suku Anda Aceh, Banten, Minang, Riau atau Dayak?”

Si Bungsu kaget atas pengetahuan Lok Ma terhadap suku-suku di Indonesia. Tapi di sisi lain dia tak mengerti kemana arah pertanyaan itu. “Kenapa Anda bertanya tentang suku?” “Sepanjang cerita yang saya dengar, hanya lima suku itu yang memiliki kemampuan mempelajari dan menguasai hal-hal metafisik dan supranatural….” Si Bungsu tersenyum. “Saya orang Minang. Namun untuk Anda ketahui, saya tak memiliki kekuatan supranatural atau metafisik sebagaimana yang Anda sebutkan itu….” Kini giliran Lok Ma yang tersenyum mendengar ucapan Si Bungsu.

“Kemampuan Anda mempergunakan senjata rahasia, kemampuan Anda menguasai belantara, naluri Anda yang demikian tajam, merupakan bukti yang tak bisa Anda mungkiri bahwa Anda menguasai hal-hal yang tak dikuasai manusia biasa itu…” “Saya menguasainya dengan berlatih secara fisik, bertahun-tahun. Bukan dengan doa dan jampi. Saya tak yakin ada orang yang bisa menguasai hal-hal dahsyat hanya dengan doa dan jampi. Selama ratusan tahun Belanda bermaha sirajalela, menjajah dan menganiaya bangsa kami, di mana kehebatan doa dan jampi itu?” Mereka kembali bertatapan.

“Di negeri Anda ini pun, Lok Ma, barangkali ada kepercayaan tentang hal-hal magis diiringi doa dan jampi itu. Tetapi, kenapa kalian tak bisa mengusir Perancis yang ratusan tahun menjajah negeri ini, kemudian tak bisa mengusir Amerika? Kenapa akhirnya perang belasan tahun dengan korban jutaan nyawa baru bisa menyelesaikannya?” Lok Ma terdiam mendengarkan cecaran bukti yang diuraikan Si Bungsu. Kembali mereka saling tatap.

“Kenapa Anda tidak membunuh saya?” tanya Lok Ma. “Perang ini bukan perang saya….” “Tapi Anda telah membunuhi banyak sekali tentara Vietnam….” “Ada saat di mana orang berubah pikiran Atau paling tidak dia merasa bosan membunuh….” “Yang mana yang merobah pikiran Anda. Karena bosan atau karena berubah fikiran?”

Si Bungsu tak menjawab. Lok Ma memang tak memerlukan jawaban. Dia tahu, lelaki di depan ini tak mau membunuhnya bukan karena bosan membunuh. Ada sesuatu di dalam hatinya, yang membuat fikiran berubah, tentang perang yang dimasukinya tanpa alasan yang jelas. “Jika merasa tak ada kaitannya dengan perang ini, kenapa Anda membebaskan tentara Amerika yang kami tawan….” “Karena salah seorang yang kalian tawan adalah perawat. Petugas yang oleh hukum perang harus dilindungi oleh pihak manapun.

Karena mereka akan merawat tidak hanya anggota pasukannya yang terluka, tetapi juga merawat pasukan musuh yang tertangkap dan memerlukan perawatan…” “Ada tiga perawat yang kami tawan. Yang mana yang Anda maksudkan?” “Yang bernama Roxy…” “Anak multimilyuner itu?” Si Bungsu mengangguk. “Kenapa tidak hanya dia yang Anda bebaskan?” “Tak ada hukum yang melarang saya membebaskan semuanya, bukan?” “Anda membebaskannya karena dia pacar Anda atau karena sebab-sebab lain?” “Karena saya dibayar oleh ayahnya….” “Anda pernah bertemu dengan ayahnya?” “Ya….” “Di mana?” “Di Amerika….” “Jadi, Anda datang ke belantara Vietnam ini langsung dari Amerika sana?” “Ya….”

Mereka sama-sama terdiam. Si Bungsu kemudian teringat dia harus segera menyusul teman-temannya. “Dua temanmu yang ingin membunuh saya, tidak kubunuh. Yang menembakku di tempat kalian menjebakku tadi dan senjatanya kubawa ini, hanya kubuat pingsan. Sekarang mungkin dia sudah sadar. Kopral di balik batu besar itu juga demikian.

Dia hanya kutotok. Engkau juga Sersan. Aku tak ingin ada korban berjatuhan lagi. Tidak di pihak kalian juga tidak di pihak pelarian itu. Beri mereka waktu untuk meninggalkan negeri kalian ini….”

Sehabis berkata tangan kanan Si Bungsu bergerak. Lok Ma tak dapat mengikuti gerakan yang demikian cepat. Dia hanya merasa tubuhnya tiba-tiba lemas dan tak mampu bergerak. Dia masih berada dalam keadaan sadar penuh. Namun totokan ke urat leher di bahagian kiri, membuat dia tak bisa menggerakkan bahagian manapun dari anggota tubuhnya. Bedilnya jatuh, dan saat giliran tubuhnya yang akan jatuh, tangannya disambar si Buyung. Kemudian perlahan disandarkan ke kayu besar tempat dia tadi berlindung. “Untuk beberapa saat engkau takkan pulih, Lok Ma. Begitu juga anak buahmu di balik batu besar itu. Saat itu saya harap tawanan Amerika yang melarikan diri tersebut sudah tak bisa lagi kalian kejar. Nah, barangkali kita masih akan bertemu di lain kesempatan, kawan…” ujar Si Bungsu sambil melangkah meninggalkan tempat itu.

Lok Ma hanya bisa menatap dengan diam kepergian orang tersebut. Aneh, dia justru merasa senang orang itu bisa pergi. Senang bukan semata-mata karena orang itu tak membunuhnya. Tapi karena hatinya diam-diam tertarik pada orang tersebut. Dia berharap orang itu bisa bebas dari buruan pasukannya. Aneh, diam-diam dia sungguh-sungguh berdoa, semoga orang Indonesia ini berikut orang-orang Amerika yang dibebaskannya, bisa lolos dengan selamat. Keanehan yang amat jarang terjadi dalam pertempuran, namun pernah terjadi!

Senja sudah hampir turun, ketika para pelarian yang kini berada di dekat danau alam itu mendengar suara deru pesawat helikopter. Kolonel MacMahon menyuruh dua anak buahnya untuk tegak ke padang lalang yang tak begitu luas, tak jauh dari bahagian tepi danau. Helikopter itu datang karena isyarat yang dipancarkan dari gelombang pendek di jam tangan Si Bungsu, yang dia berikan pada Sersan anggota SEAL yang pergi bersama Duc Thio. Isyarat itu ditangkap oleh kapal perang USS Alamo. Kapal yang ditompangi Ami Florence dan abangnya Le Duan, setelah lolos dalam perang laut bersama Si Bungsu. Ami lah yang memberikan jam tangan dengan berbagai kegunaan itu kepada Si Bungsu. Tapi gadis itu sudah tidak lagi berada di kapal ketika isyarat dari jam tangan tersebut ditangkap oleh radar USS Alamo. Ami Florence dan Le Duan dikirim ke Manila. Kemudian untuk sementara ditempatkan di sebuah hotel. Hanya setiap hari dia menelepon ke kapal besar tersebut dengan fasilitas khusus. Dia menelpon menanyakan apakah sudah ada isyarat dari Si Bungsu. Selama ini, yang dia terima selalu jawaban ‘zero’. Belum ada berita apapun dari Vietnam!

Siang tadi dia juga menelepon. Namun karena memang belum ada isyarat, perwira navigasi hanya bisa memberi jawaban yang sama padanya: ‘zero’! Ami bertekad belum akan meninggalkan Manila, menuju tempat adaptasi yang dia pilih, sebelum ada kabar tentang Si Bungsu. Dan sore itu, ketika perwira navigasi menerima pemberitahuan dari bintara bahagian radar ada sinyal dari daratan Vietnam, nakhoda kapal tersebut buru- buru ke ruang komando. Mereka melihat sinyal itu di layar komputer. “Pastikan koordinatnya, segera!” perintah nakhoda.

Enam orang perwira dan bintara yang biasanya mengolah data posisi di peta, segera sibuk dengan peralatannya masing-masing. Sebuah peta Vietnam segara muncul di kaca besar yang selalu stanby di ruang komando itu. “Munculkan di peta, cari desa terdekat segera!’ perintah nakhoda sambil menatap peta di kaca.

Semua kembali sibuk… menghitung dan menekan berbagai perangkat komputer. Hanya beberapa detik kemudian… “Isyarat itu berasal dari sebuah danau di tengah belantara. Sekitar 400 kilometer di selatan Kota Saigon, kota terdekat dengan belantara itu sekitar 100 kilometer, yaitu Kota Can Tho, Sir!” lapor perwira bahagian peta.

Nakhoda kapal tersebut memperhatikan peta di kaca bening tembus pandang. Semua posisi berdasarkan keterangan yang dilaporkan si perwira segera tampil di kaca besar dalam ruang komando tersebut. “Cari gugus pasukan kita dengan fasilitas helikopter terdekat dengan tempat itu!” ujar Nakhoda.

Peta di kaca itu diperbesar dan bahagian Laut Cina Selatan di penggal, lalu ditarik ke arah barat. Segera tampil di sana sebahagian peta Kamboja yang berbatasan dengan Vietnam bahagian selatan. Semua staf peta dan koordinat ini menghitung dan menganalisa. “Sir, menurut data, satu regu pasukan SEAL dengan kapal selam dan dua buah heli ada di salah satu tempat tersembunyi di Teluk Kompong Sam, di bahagian paling selatan Kamboja. Jarak dari posisi pasukan SEAL itu ke tempat isyarat yang dipancarkan hanya sekitar 100 kilometer. Hanya mereka yang terdekat dengan posisi isyarat yang dikirim itu, Sir….” “Hubungkan saya dengan pasukan itu!” ujar Nakhoda kepada perwira telekomunikasi. “Yes, Sir!”

Hanya beberapa detik, hubungan dengan kapal selam rahasia pasukan SEAL Amerika di tempat rahasia di Teluk Kom Pong Sam di selatan Kamboja itu segera didapat. “Sir, Mayor Murphy Black, komandan kapal selam SEAL di Teluk Kom Pong Sam, di telepon Anda….” Komandan USS Alamo segera menyambar telepon berwarna putih di depannya. “Laksamana Billy Yones Lee, Komandan USS Alamo di sini, Mayor Black?” “Yes, Sir! Mayor SEAL Murphy Black, Komandan kapal selam khusus di posisi khusus, saya menunggu perintah Anda, Laksamana!” “Anda memiliki dua helikopter di sana, Black?” “Siap, yes, Sir!” “Staf akan menyampaikan rincian yang lain kepada Anda. Tugas Anda menjemput sekarang juga orang kita di wilayah Vietnam, tak jauh dari tempat Anda!”

“Perintah diterima dan segera dilaksanakan, Sir! Rincian berikutnya kirim ke helikopter, yang segera saya terbangkan sendiri ke target yang ditentukan, Sir!” “Mayor Black!” “Yes, Sir….” “Perintah ini tidak pernah ada. Namun saya tak ingin mengusulkan ke Pentagon agar Anda dipecat karena Anda tak berhasil membawa orang-orang itu pulang dengan selamat…!” “Siap Sir! Perintah dan hubungan ini tidak pernah ada. Saya berusaha tak akan gagal. Laksamana…!” “Satu lagi, Black….” “Yes Sir….”

“Ada orang gila di antara yang akan Anda jemput itu. Namanya Si Bungsu. Jangan dia sampai tak ada dalam daftar orang-orang yang Anda selamatkan….” “Si Bungsu, siap Sir….!” “Good luck, Black!” “Good luck, Sir!” Laksamana Billy Yones Lee memerintahkan kepada perwira radio yang memberikan rincian tempat darimana datangnya isyarat yang diberikan Si Bungsu itu kepada Mayor Murphy Black. “Mayor Black….” “Yap, Mayor Black di sini….” “Mayor Aland Snow, perwira radio USS Alamo di sini. Anda siap menerima rincian koordinat yang Anda tuju….” “Ya, Saya sudah di helikopter. Silahkan rinciannya….” Aland Snow segera memberikan rincian yang dimaksud. Kemudian hubungan segera di putus. Mereka tak melihat apapun di layar

radar.

“Tak ada tanda-tanda helikopter atau pesawat apapun dari wilayah Teluk KomPong Sam, Laksamana….” ujar perwira radar. “Ya, kita takkan melihat tanda apapun. Pesawat yang digunakan SEAL itu dirancang khusus untuk tak terdeteksi oleh radar. Termasuk radar kita….” ujar Laksamana Lee perlahan. Suara helikopter yang tak terdeteksi radar itulah yang terdengar suaranya oleh rombongan Kolonel MachMahon di tepi danau besar di belantara Vietnam itu. Mayor Black yang segera sampai dengan pesawatnya ke kordinat yang diinformasikan dari USS Alamo, hanya melihat belantara, kemudian sedikit padang lalang di bawah sana. Dia segera mengarahkan heli yang dicat dengan warna hitam total tersebut ke padang lalang itu dan memerintahkan untuk siaga penuh.

Dua orang Sersan yang masing-masing memegang senapan mesin 12,7 siaga di kiri kanan pintu heli berukuran besar itu. Yang seorang lagi adalah orang yang setiap detik siap terjun ke bawah untuk memberikan bantuan darurat terhadap orang-orang yang akan naik ke heli. Namun sebelum heli tersebut sempat turun, pelarian yang berada di tepi danau itu tiba-tiba diserang dari segala penjuru oleh tentara Vietnam!

Hal yang semula memang tidak diperhitungkan oleh MacMahon dan Si Bungsu adalah bergabungnya sisa pasukan Vietnam yang siang tadi memburu mereka. Sebenarnya mereka tidak bergabung. Pasukan yang berada di barak itu dipencar ke lima penjuru. Masing-masing satu peleton, yaitu sekitar tiga puluh orang. Dua peleton di antaranya berhadapan dengan Si Bungsu dan MacMahon. Sisanya, hanya belasan orang melanjutkan memburu Duval dan Roxy serta Thi Binh yang disuruh duluan oleh Si Bungsu.

Yang tiga peleton lagi, ternyata sama-sama menjadikan danau besar di tengah belantara itu sebagai sasaran akhir pengejaran mereka. Kini, dalam waktu yang hampir bersamaan seluruh sisa pasukan Vietnam itu sampai di sana. Karena tentara yang datang dari arah kiri dan kanan danau, serta dari arah barak, para pelarian itu benar-benar terjepit. Namun MacMahon memerintahkan semua lelaki yang memegang bedil melindungi para wanita yang lari menuju helikopter.

Mayor Black menyumpah mendengar suara tembakan yang seolah-olah berdatangan dari segala penjuru. Dengan cepat dia menurunkan pesawatnya. Kedua Sersan yang memegang senapan mesin itu menghajar setiap sumber tembakan dengan peluru mereka. Mayor Black berteriak menyuruh wanita-wanita itu segera lari mendekati pesawatnya. Beberapa tembakan menghajar tubuh helikopter tersebut. Namun tembakan itu dibalas oleh kedua Sersan bersenapan mesin itu dengan tembakan gencar.

Di bawah hujan tembakan, wanita-wanita itu berlarian kearah helikopter. Roxy yang sudah akan berlari, melihat Thi Binh sedang membalas tembakan dari balik sebuah pohon, dia berbalik dan berlari kearah Thi Binh. Thi Binh masih membalas tembakan kearah tentara Vietnam di balik-balik hutan, yang makin lama menjepit posisi mereka. Setiap usai menembak, gadis itu melihat kearah bukit batu yang di tumbuhi pohon berdaun merah di selatan sana. Yaitu kearah dari mana tadi mereka datang, dia berharap Si Bungsu muncul. Namun orang yang diharapkan entah berada dimana. Tak terlihat bayangannya sama sekali.

“Thi-thi, ayo cepat…!” seru Roxy. Gadis Vietnam itu menoleh kearah Roxy, kemudian dia menggeleng. Matanya basah. Akhirnya Roxy tahu apa yang menjadi penyebab. Dia memeluk gadis itu. Matanya juga ikut basah. “Ikutlah dengan ku Thi-thi….” “Pergilah Roxy. Aku takkan pergi tanpa Si Bungsu…” Roxy menahan isaknya. “Aku juga ingin menantinya. Tapi ini kesempatan terakhir kita untuk selamat. Si Bungsu akan mudah mengurus dirinya tanpa kita. Yakinlah, dia akan selamat Thi-thi…”

Thi Binh menggeleng. Dan tiba-tiba tubuhnya tersentak. Darah menyembur di mulutnya. Roxy menyambar senapan yang hampir jatuh dari tangan gadis itu. Kemudian menyemburkan peluru kearah belakang ke tempat dari mana peluru yang menghantam Thi Binh berasal. Seorang tentara Vietnam yang menyembulkan kepalanya dari balik pohon, terjerangkang di hajar peluru Roxy. Tak ada kesempatan, Roxy memanggul Thi Binh yang berlumuran darah. Entah mati entah hidup. Dengan sisa tenaganya dia berlari menuju helikopter. Beberapa peluru mendesing di sekitar kepalanya. Anggota SEAL yang memegang senapan mesin di helikopter, dengan menyebut nama Tuhan segera melindungi wanita yang tiba-tiba muncul dari balik belantara itu dengan rentetan tembakan senapan mesinnya. “Cepat..cepaaat…!”serunya.

Dengan tertatih-tatih Roxy akhirnya mencapai pintu helikopter. Sementara itu dua tubuh tentara Amerika yang melarikan diri bersama MacMahon kelihatan tergeletak dihantam peluru Vietnam beberapa depa menjelang pintu helikopter. Duc Thio yang masih berada di balik pohon, segera berlari menyusul Roxy. Bersama roxy dia memanggul tubuh Thi Binh. Han Doi dan Kolonel MacMahon masih bertahan melindungi orang-orang yang berlarian kearah helikopter dari balik pohon besar di tepi danau. “Anda duluan kawan…..!” seru MacMahon pada Han Doi.

Han Doi segera berlari. Namun separuh jalan dia tersungkur. Anggota SEAL yang siap membantu itu segera terjun berlari sambil memberi tahu temannya yang memegang senapan mesin, agar melindungi dirinya. Dia berlari kearah Han Doi. Kemudian menyeretnya ke arah heli. Dia sengaja tidak memangkunya, karena kalau di pangku, dengan mudah mereka menjadi sasaran tembak. Dengan menunduk dan sesekali membalas menembak, dia menyeret tubuh Han Doi, sampai akhirnya dinaikkan ke heli.

Kini hanya Kolonel MacMahon yang belum naik, Kolonel ini ternyata sudah tertembak perutnya. Dia masih bertahan dengan membalas tembakan. Mayor Black yang sejak tadi sudah tahu, bahwa yang berada di hutan itu adalah Kolonel Mac mahon, salah satu komandan tertinggi di SEAL, segera arif kalau Kolonel itu terluka. Hal itu di tandai dari irama tembakan si Kolonel, yang satu-satu dan tak terkontrol. Dia menunggu beberapa saat. Kemudian terjun dan berlari dibawah lindungan tembakan senapan mesin untuk menolong komandannya itu.

“Oke, Kolonel, kini kita berangkat…” ujarnya ketika melihat tubuh Kolonel itu sudah mandi darah. “No, Anda berangkat. Tinggalkan saya, selamatkan semua yang masih hidup..” ujar si Kolonel. Namun Mayor tak peduli, dia pikul tubuh Kolonel itu. Kemudian dengan senapan menyemburkan tembakan kesegala arah di bantu tembakan gencar dari dua senapan mesin di helikopter, dia mulai bergerak kearah helinya. Namun berapa benarlah mereka menghadapi puluhan tentara Vietnam yang menyergap itu. Mayor Black akhirnya tertembak kakinya. Tiga tentara Vietnam segera memburu. Dan saat itulah, tiba-tiba dari arah selatan, terdengar rentetan tembakan. Ketiga tentara itu terhenti mendadak. Senapanya pada tercampak, akibat tangan mereka dihantam peluru!

Kolonel MacMahon yang merasa ajalnya segera menjemputnya. Segera tahu, kalau yang menembak ketiga tentara Vietnam itu, yang tembakannya dari arah bukit berpohon merah itu, adalah Si Bungsu. Namun dia tak sempat berkata, dua tentara yang di heli segera turun dan membawanya naik. Mayor Black segera duduk di belakang kemudi, dan meninggalkan tempat itu. Di bawah, suara tembakan dari arah selatan tetap bergema, menghantam posisi tentara Vietnam yang akan menyerang heli itu. Lalu mereka yang di heli tersebut melihat orang yang menolong mereka itu muncul ditengah padang lalang.

“My God! Siapa orang itu?” seru Mayor Black. “Si Bungsu. Dia yang mengeluarkan kami dari tempat penyekapan. Turun dan jemput dia!” perintah Roxy. “My God! peluru kalian masih berapa?” seru Black pada anak buahnya yang memegang senapan mesin. “Hanya beberapa butir…”jawab keduanya serentak.

Serentetan peluru menghantam tubuh helikopter. Black sadar, jika dia turun sama artinya dengan menyerahkan semua personel di pesawat ke tangan elmaut! Dia teringat pesan Laksamana Billy Yones Lee, Komandan USS Alamo. Bahwa jangan sampai orang gila bernama Bungsu tak ada dalam daftar orang-orang yang akan diselamatkan. Namun dalam kondisi seperti ini, dia harus lolos dari lubang jarum, tidak memungkinkan dia menurunkan heli ketanah. Ketengah puluhan tentara Vietnam yang haus darah, untuk menjemput ’orang gila’ yang dipesan laksamana tersebut.

“Maaf kawan, saya harus menyelamatkan yang ada di pesawat ini. Saya akan datang lagi. Segera…!” ujar Black sambil dengan cepat memacu helinya kearah perbatasan kamboja. Dari atas mereka melihat sesuatu yang amat dramatis di bawah sana, yang membuat mereka terpaku dalam diam yang mencekam. Orang yang menolong mereka untuk bisa melarikan diri itu, nampak mencampakkan senapannya yang kehabisan peluru. Lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi keudara. Namun dalam keadaan mengangkat tangan tinggi-tinggi itu, tubuhnya masih dua tiga kali tersentak-sentak di hantam peluru. Lelaki itu masih tegak, dengan dua tangan mengacung keatas, seperti akan menggapai langit. Dalam waktu yang amat singkat, lelaki dari Indonesia itu sudah di kepung oleh lusinan tentara Vietkong.

Roxy yang melihat peristiwa itu merasa nyawanya ikut melayang. Dia tak mampu menahan perasaannya, gadis itu jatuh pingsan. MacMahon, Duc Thio, dan Han Doi menatap peristiwa itu dengan sendi- sendi dan otot-otot terasa copot. Mereka tak menyangka, lelaki perkasa itu akan berakhir seperti ini. Dia sudah menyelamatkan puluhan nyawa, mungkin ratusan. Namun kini lelaki itu seperti sengaja mengorbankan dirinya, agar pesawat heli yang mengangkut belasan tawanan perang melarikan diri dari lubang jarum! Tak seorangpun yang mampu bersuara. Tak seorangpun! Dan helikopter itu lenyap dalam langit senja yang merah. Dalam situasi yang demikian. Thi Binh yang masih masih tak sadarkan diri jauh lebih beruntung. Dia tak melihat bagaimana akhir nasib Si Bungsu, lelaki yang dia cintai sepenuh hati. Kalau saja dia masih dalam keadaan sadar, dan melihat apa yang terjadi di bawah sana, dia mungkin akan terjun dan tubuhnya akan remuk terhempas. Di pastikan dia akan memilih cara demikian, dari pada melihat Si Bungsu terbunuh oleh puluhan tentara Vietnam. Tentara Amerika yang di bebaskan Si Bungsu dari sekapan di goa itu, dengan mata basah

membuat tanda silang didada mereka.

Mereka bersyukur bisa selamat keluar dari Dalam Neraka Vietnam yang amat brutal ini. Namun tetap saja mereka tak mampu menerima kenyataan, bahwa orang yang menolong mereka menerima nasib tragis seperti ini. Saat dia membutuhkan pertolongan, tak satupun diantara mereka yang memberikannya. Padahal untuk menolong mereka, orang itu mempertaruhkan nyawanya, tiba-tiba mereka merasa seperti orang yang tak berbudi sekali. Orang yang mementingkan diri sendiri. Bertahun-tahun mereka di gelandang dari penyekapan yang satu ketempat penyekapan yang lain. Yang laki-laki disiksa dengan kejam dan wanita di perkosa ramai-ramai.

Tak ada tentara Amerika yang mampu menolong mereka. Usahkan menolong mereka, menemukan tempat mereka disekap saja tak ada yang bisa, sampai akhirnya lelaki dari Indonesia itu datang sendiri ke goa tersebut. Mempertaruhkan nyawa ketika menginjak ranjau yang di tanam tentara Vietkong. Orang itulah yang menyuruh sebagian mereka untuk lebih dulu melarikan diri kearah danau itu.

Duval, salah satu yang selamat itu, mengingat betapa dia disuruh menyusul MacMahon. Sementara dia sendirian bertahan di balik bebatuan sembari memberi waktu mereka untuk meloloskan diri. Duval adalah tentara yang sudah kenyang pahit getir pertempuran. Namun kali ini dia tak mampu menahan airmata yang membasahi pipi. Dia masih berusaha melihat kebawah sana, namun yang terlihat hanya noktah kecil. Dia menatap Roxy yang pingsan dan teman-temanya yang tertunduk dengan mata basah.

Suasana di heli itu sangat tak menentu. MacMahon mencoba menghitung sisa rombongannya yang selamat. Jika dihitung dengan Si Bungsu, Thi Binh, Duc Thio dan Han Doi, jumlah mereka 21 orang. Sebab, dia dan tentara Amerika lainnya diselamatkan Si Bungsu 17 orang. Kini di pesawat yang lolos dari Mulut Neraka itu hanya 13 orang. Kolonel itu memejamkan mata. Tiga anggota SEAL di helikopter itu kini berusaha menyelamatkan nyawa orang-orang yang tertembak kakinya sudah di kebat dengan perban. Yang parah adalah Kolonel Mac Mahon yang tertembak di perut. Thi Binh tertembak didada kanannya. Ketiga anggota SEAL itu mengerahkan segala kemampuan mereka untuk menyelamatkan kedua orang yang terluka parah tersebut. Sebelum matahari terbenam di balik kaki laut, Mayor Black sudah mendaratkan helinya di tepi Teluk Kom Pong Sam, diselatan Kamboja, di perairan teluk Siam.

Dengan cepat dia memerintahkan untuk mengevakuasi seluruh penumpang di heli itu ke kapal selam yang juga dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga tak satupun radar yang bisa mendeteksinya. Sedangkan dia segera pindah ke heli yang lebih kecil, dan yang di penuhi senapan mesin dan roket. Sebelum berangkat dia memerintahkan wakilnya yang berpangkat Kapten untuk mengantar semua penumpang kapal itu menuju ke arah Philipina. “Buka, hubungan dengan Laksaman Lee di USS Alamo, minta petunjuk kemana orang-orang itu harus diantar. Saya juga akan menghubunginya dengan radio saya. Saya harus menyelamatkan orang yang di Vietnam sana…”ujarnya.

Ketika Kapten yang kini menjadi komandan kapal selam itu masih dalam sikap memberi tabik untuk melaksanakan perintahnya, Mayor Black sudah menerbangkan helikopternya ke arah wilayah selatan Vietnam. Kepada empat anggota SEAL yang menyertainya, dia memberi perintah agar bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk sebentar lagi. Pesawat berwarna hitam legam itu diterbangkan dengan rendah di atas wilayah Vietnam oleh Mayor Black. Hanya beberapa belas meter di atas pucuk-pucuk belantara Vietnam. Sementara itu di kapal selam yang ukurannya sangat kecil, tapi bertenaga nuklir. Kapal yang hanya mampu memuat sekitar 30 personil dan penumpang itu segera menyelusup menuju mulut Teluk KomPong Sam. Ketika kapal itu sudah berada di perairan Teluk Siam, Kaptennya mengarahkan haluan ke Laut Cina Selatan. Kemudian membuka hubungan radio dengan USS Alamo, di salah satu tempat di perairan Philipina. “Laksamana, kontak dari Sea Devil…” ujar perwira radio di USS Alamo. Laksamana Billy Yones Lee segera

menyambar gagang telepon. “Laksamana Yones Lee di sini. Silahkan masuk…”

Kapten kapal selam SEAL itu segera memberitahukan identitasnya. Kemudian melaporkan dia membawa 13 orang di kapalnya untuk diselamatkan. Tiga orang di antaranya adalah orang Vietnam, sepuluh lainnya tentara Amerika yang berhasil dibebaskan. Kemudian si Kapten meminta petunjuk, kemana dia harus membawa ke 13 penumpang di kapalnya tersebut. “Ada orang Indonesia yang bernama Si Bungsu di antara yang tiga belas itu?” potong Laksamana Lee. Kapten tersebut gelagapan sesaat. Tanpa memberitahu lewat radio bahwa dia akan bertanya, dia membiarkan saja hubungan terbuka kemudian menanyakan kepada Kolonel MacMahon, apakah ada yang bernama Si Bungsu di antara orang yang berada di kapal itu. MacMahon menggeleng.

“Orang yang Anda maksud tidak berada di kapal ini, Laksamana…” lapor Lee. “Apa!? Mana Mayor Murphy Black?!” sergah Lakmasana Lee. Sergahan itu segera dijawab langsung oleh Mayor Murphy Black yang memonitor hubungan radio itu dari heli yang kembali menuju Vietnam. “Siap, Sir! Saya kembali menuju ke tempat sinyal yang dikirimkan dari Vietnam itu. Berusaha menjemput orang yang Anda pesankan harus ada dalam daftar yang saya selamatkan. Jika operasi penjemputan ini selesai, saya akan laporkan secara lengkap kepada Anda hasilnya, Sir!”

Laksamana Lee tertegun. Dia tak mengerti secara penuh apa yang sudah terjadi. Kenapa ada tiga belas orang yang sudah dievakuasi dari Vietnam, tetapi kini Mayor Black harus kembali menjemput Si Bungsu. Namun dia faham, hubungan radio ini tak bisa dilakukan berkepanjangan. Radio pelacak Vietnam bisa mengetahui percakapan mereka. Dengan isyarat-isyarat khusus dia memberikan perintah kepada Kapten yang sedang berada di kapal selamnya di Laut Cina Selatan itu. Dia meminta agar kapal selam itu membawa mereka ke suatu koordinat di perairan internasional, yang membentang luas antara Vietnam dengan kepulauan Philiphina. “Kami akan menjemput mereka di sana dengan pesawat khusus…” ujar Laksamana sambil menutup percakapan.

Di padang lalang dekat belantara dan rawa yang membentuk danau besar di mana pertempuran saat helikopter menjemput para pelarian itu tadinya berlangsung, Si Bungsu ternyata tiba terlambat. Dari jauh, tak berapa lama setelah dia meninggalkan Sersan Lok Ma yang dia totok hingga tak bisa bergerak, dia sudah mendengar rentetan tembakan. Dia segera berlari dan melihat tentara Vietnam sedang menembaki beberapa orang terakhir yang akan naik ke helikopter tersebut. Dia langsung terjun ke kancah peperangan. Dia tidak bersembunyi, melainkan menembak sambil menampakkan dirinya.

Dia sengaja berbuat hal itu, agar perhatian tentara Vietnam tersebut beralih kepadanya. Dengan demikian dia berharap helikopter dengan para bekas tawanan itu bisa lolos dengan selamat. Taktiknya berhasil. Beberapa orang Vietnam terjengkang karena tangan atau kaki mereka kena tembakan Si Bungsu. Kini belasan tentara Vietnam tersebut mengarahkan tembakan mereka padanya, karena dia berada di tempat terbuka, tubuhnya menjadi sasaran empuk tembakan. Sebuah peluru menghantam perutnya. Dia terbungkuk. Namun dia masih sempat menembak kaki seorang tentara, yang membuat tentara itu terjungkal. Pada saat yang sama dua tembakannya menghajar pula dua tentara Vietnam.

Yang seorang tercampak bedilnya karena tembakan Si Bungsu menghajar lengan kanannya yang memegang bedil. Yang seorang lagi langsung ambruk karena peluru menghajar pahanya. Namun sebuah tembakan lagi menghajar bahu kiri Si Bungsu. Dia tersentak ke belakang. Pada saat itu helikopter berhasil meloloskan diri, keluar dari jangkauan tembakan. Dan dari atas, Duval, Roxy serta Kolonel MacMahon melihat semua peristiwa yang terjadi di bawah sana. Melihat tubuh Si Bungsu tersentak-sentak dihajar peluru, kemudian lelaki itu mengangkat tangan setelah melemparkan bedilnya!

Saat dia mengangkat tangan, dua peluru lagi menghajar tubuhnya. Namun dia masih berdiri saat belasan tentara Vietnam tegak mengepung hanya dalam jarak dua tiga depa dari dirinya. Tubuh Si Bungsu yang masih berdiri seolah-olah nyala akibat cahaya merah matahari senja menerpa tubuhnya yang berlumur darah. Seorang tentara mengokang bedil dan menembak. Salah seorang di antara mereka, yang berpangkat Kapten, berteriak, untuk tidak menembak. Namun teriakan itu terlambat. Paling tidak ada tiga butir peluru sudah menyembur dari moncong bedil otomatis itu. Tetapi hanya beberapa detik sebelum pelatuk ditarik, Si Bungsu sudah tak mampu lagi bertahan.

Dia masih sempat melihat helikopter yang selamat itu, yang hanya merupakan sebuah titik kecil di langit sana, sesaat sebelum tubuhnya yang bermandi darah ambruk mencium bumi. Bibirnya masih sempat membayangkan sebuah senyum, mengetahui para pelarian itu selamat. Dia yakin, sudah tak ada harapan lagi baginya untuk hidup. Di sinilah, di belantara lebat dalam neraka perang Vietnam, takdir menjemputnya. Jauh dari kampung halaman, tak ada sanak famili. Tak ada yang menangisi. Takkan ada yang datang menjenguk.

Bahkan tubuhnya pun mungkin takkan dikuburkan. Dibiarkan tergeletak di padang lalang itu, dimakan ulat belatung. Ketiga peluru yang muntah dari mulut bedil tentara Vietnam tersebut menerpa tempat kosong. Sebab tubuh orang yang akan dijadikan sasaran yang tadi masih berdiri, kini sudah tergeletak di tanah. Bagi Si Bungsu sendiri semua menjadi gelap gulita ketika tubuhnya masih dalam proses tumbang dan terjerembab di padang lalang. Dalam udara senja dengan langit menyemburatkan warna merah itu, tubuh Si Bungsu yang tergeletak diam dan bermandi darah dari ujung rambut ke ujung kaki, ditatap dari jarak satu sampai dua meter oleh belasan tentara Vietnam sembari menodongkan bedil yang siap memuntahkan peluru. Tubuh yang terjerembab dalam posisi tertelentang tersebut, diam tanpa tanda-tanda kehidupan sedikit pun.

Kapten yang tadi berseru agar jangan menembak, membungkukkan tubuh. Anak buahnya siaga dengan bedil, siap mencecar tubuh yang tertelungkup itu jika sedikit saja ada tanda mencurigakan. Si Kapten merasa agak aneh. Orang ini tidak memakai seragam militer. Tak ada tanda-tanda kepangkatan atau identitas secuil pun bahwa dia tentara. Wajah lelaki ini bersimbah darah, yang mengalir dari luka akibat serempetan peluru di kepalanya. Saat itu beberapa tentara yang lain membawa dua tubuh tentara Amerika yang terbunuh sebelum kemunculan Si Bungsu dalam pertempuran tersebut. Kedua mayat tentara Amerika itu dilemparkan di sisi tubuh Si Bungsu.

Si Kapten memberi isyarat pada seorang tentara yang juga bertugas di bahagian kesehatan. Tentara berpangkat Sersan itu memeriksa satu demi satu denyut nadi di leher ke tiga sosok tubuh berlumur darah tersebut. Usai menekan dengan ujung jarinya urat nadi di leher, tentara itu mendekapkan telinga ke dada tubuh-tubuh tersebut. “Yang dua ini sudah mati. Yang ini, masih ada denyut lemah di jantungnya Kapten…” ujar si Sersan seraya menunjuk mana yang sudah mati dan mana yang masih berdetak jantungnya.

“Beri yang masih hidup itu obat atau kotoran apapun namanya, agar dia tetap hidup dan bisa diinterogasi. Kita harus tahu dari mana mereka masuk Vietnam, berapa jumlahnya. Di mana markas mereka, ke mana saja tim pembebas tawanan ini dikirim…” ujar si Kapten sambil menatap ke langit, ke arah helikopter itu menghilang.

Si Sersan menurunkan ransel bertanda palang merah yang tersandang di punggungnya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari plastik tebal. Dari kotak itu dia mengeluarkan sebuah jarum injeksi. Kemudian mengambil sebuah botol pendek sebesar ibu jari. Ujung jarum dia tusukkan ke sumbat botol, dan cairan bening di botol berpindah ke tabung injeksi. Masih di bawah tatapan mata belasan tentara yang lain, Sersan itu membuka lengan baju Si Bungsu. Semua mereka, termasuk si Kapten, pada tertegun ketika melihat di balik lengan baju lelaki itu terselip tiga batang samurai kecil, dan beberapa lempengan baja tipis, bundar dan amat amat tajam. “Yakuza…!?” desis beberapa tentara tersebut.

“Laksamana, apakah isyarat itu dari Si Bungsu?” ujar Florence di radio. “Nampaknya ya, Ami….” “Pesawat ini akan menjemputnya?” “Ya….” “Boleh saya ikut?” “Jika Anda memang tidak ingin menunggu di kapal….” “Boleh saya ikut…?” tanya Ami Florence kembali. “Silahkan…” jawab Laksamana Lee. “Harap Anda beritahu pilotnya?” ujar Ami Florence, kemudian memberikan radio itu kepada pilot. “Yes, Sir…” ujar pilot membuka percakapan. “Bawa Nona itu bersamamu….” “Yes, Sir!” “Kalian boleh berangkat sekarang” “Yes, Sir….”

Pilot itu kemudian menoleh kepada Ami Florence. “Kami mendapat kehormatan terbang bersama Anda, Mam….” “Terimakasih, saya juga mendapat kehormatan terbang bersama Anda, Mayor…” sahut Ami. Heli itu segera mengudara, membelah malam pekat dan dingin, dengan guruh menderam-deram di langit Philipina. “Kemana tujuan kita?” tanya Ami Florence kepada dokter Angkatan Laut yang menyertai misi itu, beberapa saat setelah pesawat itu terbang di atas lautan. “Ke sebuah titik di suatu koordinat di Laut Cina Selatan, Mam…” jawab dokter berpangkat Kapten itu. “Pulau atau kapal?” “Kapal, Mam….” “Kapal selam?” “Yes, Mam….” “Berapa orang yang dijemput.” “Tiga belas, Mam….”

Ami Florence menarik resleting jaket kulitnya secara penuh ke atas, menutupi leher di bawah dagunya. Mencegah hempasan angin yang menerpa masuk dari celah pintu heli tempur besar itu. “Apa di antara yang dijemput ada Si Bungsu?” “Kita tidak mendapat konfirmasi satu nama pun, Mam….” jawab pilot. “Saya harap dia ada di antara yang akan kita jemput. Saya, dan juga semua awak USS Alamo, ingin bertemu dengannya, Mam,” sambung si dokter.

Sebagaimana awak kapal USS Alamo lainnya, dokter itu juga mendapat cerita tentang kehebatan lelaki dari Indonesia bernama Si Bungsu itu, yang tersebar dari mulut ke mulut di USS Alamo. Ami Florence ingat coklat yang dia bawa dari hotel. Dia ambil coklat itu dari tasnya, kemudian mengulurkan dua buah kepada pilot dan co-pilot, dengan memukulkan coklat itu ke bahu kedua orang tersebut dari belakang. “Hai, terimakasih, Mam!” ujar pilot, demikian juga copilot, setelah mengambil coklat tersebut. Ami kemudian mengambil beberapa bungkus coklat lagi, lalu membagi-bagikannya kepada seluruh yang ada dalam heli tersebut. Semuanya menerima dengan senyum dan ucapan terima kasih. Lalu dalam deru pesawat yang membelah malam pekat itu mereka menikmati coklat pemberian Ami Florence.

Di kapal selam Sea Devil, Thi Binh sadar dari pingsannya. Saat dia membuka mata, hal pertama yang melintas dalam ingatannya adalah Si Bungsu. “Bungsu…” desisnya. Duc Thio yang memeluk kepala anaknya, menatap anak gadisnya itu dengan mata berlinang. Sebuah firasat yang amat buruk, yang amat tak dia ingini terjadi, menusuk hulu jantung Thi Binh tatkala melihat mata ayahnya yang berkaca-kaca. “Bungsu…?” desisnya lagi perlahan.

Matanya nanap memandang ayahnya. Duc Thio menunduk, kemudian menggeleng. Air mata mengalir di pipinya yang tua. Thi Binh tiba-tiba merasa ada yang menggenggam tangannya. Dia tahu siapa orangnya, sebelum dia melihat wajah orang yang menggenggam tangannya itu. Dia menolehkan kepala perlahan dan segera menampak wajah Roxy, yang juga bersimbah air mata. Tak mampu bicara sepatah pun. “Bungsu…?” desisnya.

Roxy menggigit bibir. Memejamkan mata sesaat sembari mempererat genggaman tangannya pada tangan Thi Binh. Han Doi melemparkan tatapannya ke langit-langit kapal selam. Apa yang akan dia berikan jawaban, kalau Thi Binh bertanya padanya tentang Si Bungsu? Thi Binh akhirnya berusaha duduk, kendati dadanya yang tertembak terasa amat sakit. Sakit sekali. Namun dia ingin duduk. Dia ingin menatap wajah orang yang di dalam kapal itu. Roxy lah akhirnya yang menolongnya untuk duduk. Dirangkulnya bahu Thi Binh. Kemudian diluruskannya posisi gadis itu perlahan.

Sebelum posisi tubuhnya duduk dengan baik, matanya menyapu semua yang berada dalam kapal selam itu. Tak ditemukannya wajah orang yang dia cari. Semua juga menatap padanya, kemudian pada menunduk. Kolonel MacMahon, Letnan Duval, para wanita yang dibebaskan Si Bungsu dari sekapan di goa itu. Mereka dicekam kebisuan yang menyesakkan dada. Dan akhirnya Thi Binh hanya mampu memeluk Roxy. Lalu menumpahkan tangisnya di pelukan gadis Amerika itu. Kolonel MacMahon yang tersandar dengan bahu dan paha berbalut perban, tiba-tiba merasa menjadi orang tak berguna. Merasa menjadi orang bodoh yang tak tahu berterima kasih.

Namun apa yang harus dia perbuat dalam posisi amat kritis seperti yang terjadi dalam pertempuran di padang lalang di ujung senja tadi? Dia memejamkan mata sesaat. Namun cepat-cepat matanya dia buka. Karena bayangan pertempuran di padang lalang itu tiba-tiba seperti menyergap seluruh isi kepalanya.

Bayangan saat dia membopong salah seorang wanita yang terluka kena tembakan. Bedilnya memuntahkan peluru menembak ke arah dua tentara Vietnam yang muncul tiba-tiba dari balik pohon. Dan saat itu dia rasa pedih yang amat sangat menghantam bahunya. Dia tahu dia tertembak. Namun dia tetap berlari mengerahkan sisa tenaganya, dengan tetap memikul tubuh perawat yang terluka, mendekati helikopter. Beberapa langkah lagi, tiba-tiba kakinya tertembak. Dia tersungkur, untunglah seorang tentara di dekat helikopter itu sempat menyangga tubuhnya dan mengambil alih tubuh perawat itu.

Dia masih berusaha memutar tegak dan menembakkan bedilnya. Namun yang terdengar hanya suara ‘klik’ beberapa kali. Dia kehabisan peluru! Lalu saat itu tubuhnya ditarik dengan kuat ke atas heli. Kemudian semuanya berjalan amat cepat. Heli mengapung, lalu suara tembakan. Samar-samar dia melihat sesosok tubuh muncul dari belukar di bahagian selatan. Orang itu menembak dan berlari ke tengah medan tempur. Dari pakaiannya dia segera tahu, orang itu adalah Si Bungsu. Orang yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk membebaskan mereka.

Lelaki tangguh dari Indonesia itu dia lihat berlari menyongsong arah peluru sembari menembakan bedilnya ke arah tentara Vietnam yang muncul di berbagai penjuru. Dia tahu, lelaki itu berusaha mengalihkan sasaran tembak dari heli kepada dirinya. Kemudian heli yang mereka naiki mulai mengudara dengan cepat, meloloskan diri dari lobang jarum. MacMahon mendengar pertanyaan pilot yang juga komandan penjemputan mereka, tentang beberapa jumlah peluru yang ada di dua senapan mesin yang ada di heli.

MacMahon mendengar jawaban kedua pemegang senapan mesin itu, bahwa peluru mereka masing- masing hanya tinggal beberapa butir. Pilot nampaknya berada dalam pilihan yang amat rumit, antara turun menjemput Si Bungsu dengan risiko 99,99 persen tertembak dan semua mereka terbunuh. Atau meloloskan diri, tapi dengan demikian berarti membiarkan lelaki yang telah menyelamatkan nyawa mereka itu menjadi sasaran tembak tentara Vietnam. MacMahon tak sempat berfikir, dia hanya tahu pilot kemudian memutuskan untuk menyelamatkan nyawa yang lebih banyak. Yaitu nyawa mereka yang ada di heli.

Turun ke tengah kancah pertempuran dengan peluru hanya beberapa butir, memang bukan pilihan yang berakal sehat. Tetapi juga bukanlah berakal sehat membiarkan orang yang sudah menolong mereka demikian banyak tinggal sendiri menghadapi cecaran peluru belasan tentara Vietnam. Lalu dari atas heli yang sudah semakin tinggi. MacMahon melihat Si Bungsu kehabisan peluru. Dia mencampakkan bedilnya, kemudian mengangkat tangan ke udara. Lalu tubuh lelaki itu tersentak-sentak beberapa kali.

MacMahon hapal benar sentakan lelaki dari Indonesia itu karena hantaman peluru. Dia merasa bulu tengkuknya berdiri tatkala tubuh lelaki itu masih tegak dengan kedua tangan masih mengacung keudara. Lalu….Padang lalang di bawah sana makin lama makin mengecil. Tentara Vietnam dan lelaki dari Indonesia itu terlihat seperti titik-titik kecil, sampai akhirnya lenyap sama sekali dari pandangan, dan dia sendiri terkulai akibat darah yang terlalu banyak mengalir dari luka di dada dan di pahanya. Itulah rekaman terakhir dari peristiwa itu, yang tak bisa lenyap dari fikiran MacMahon. Kini dia menatap hiba, pada Thi Binh yang kini terisak dalam pelukan Roxy. “Apakah…Apakah dia mati..?” bisik Thi Binh dalam pelukan Roxy.

Roxy tak segera menjawab. Lehernya terasa tersekat untuk mengeluarkan kata-kata. Fikirannya merayap perlahan ke medan pertempuran di padang lalang di Vietnam sana, tempat terakhir dia melihat Si Bungsu dari kejauhan. Saat dia membawa tubuh Thi Binh yang pingsan menerobos hujan peluru menuju heli. Saat heli mulai mengapung dia melihat Si Bungsu muncul dari arah selatan. Lalu melihat tubuh lelaki itu tersentak-sentak beberapa kali kena tembakan, lalu dia tak ingat apa-apa lagi karena jatuh pingsan.

Fikirannya juga merayap ke saat-saat terakhir berada dekat Si Bungsu. Yaitu di balik batu besar yang mereka jadikan pertahanan dari gempuran tentara Vietnam, seusai mereka menghancurkan barak tentara Vietnam tersebut. Saat di balik batu besar tersebut mereka yang menahan gempuran tentara Vietnam itu hanya berjumlah empat orang. Si Bungsu, dia, Thi Binh dan Duval. Lalu Si Bungsu menyuruh mereka duluan meninggalkan tempat itu, menyusul rombongan MacMahon.

Dialah yang pertama meninggalkan tempat itu bersama Duval. Namun baru bergerak beberapa meter, dia menyuruh Duval kesungai Dangkal yang akan mereka ikuti alurnya. Dia sendiri berbelok dan sembunyi di balik batu besar. Tak lama disana dia melihat Thi-thi lewat. Roxy segera meninggalkan tempat persembunyiannya. Kembali ke batu besar tempat tadi mereka bertahan. Di sana hanya tinggal Si Bungsu sendirian.

Dia melihat Si Bungsu menembak dengan senapan mesin ringan yang di tinggalkan Thi-thi. Dari belakang dia rangkul tubuh Si Bungsu. Si Bungsu kaget setengah mati. Namun Roxy tak memberi kesempatan. Di dekapnya lelaki dari Indonesia itu dengan erat. Kemudian bibirnya melumat bibir Si Bungsu. Sebelum Si Bungsu sadar apa yang teerjadi, Roxy sudah melepaskan pelukannya. Kemudian gadis itu berkata.

“Aku menyayangi Thi-thi. Aku tahu dia mencintaimu. Aku tak peduli engkau mencintai dia atau tidak. Aku tahu apa yang aku lakukan ini tidak pantas, apalagi aku dan Thi-thi sudah saling mengakui bersaudara. Namun tak seorangpun yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi setelah ini. Sesal akan kubawa mati, jika aku tak menyampaikan padamu kalau aku mencintaimu. Mungkin terasa konyol dan bodoh. Kenalpun kita baru sehari tapi aku mencintai mu Bungsu….”

Demikian cepat kata-kata itu dia ucapkan, setelah itu dia berbalik badan dan berjalan menunduk- nunduk menuju sungai menyusul Duval dan Thi Binh. “Apakah Si Bungsu tertembak mati?” tiba-tiba Roxy di kejutkan dari lamunannya dengan bisikan Thi Binh yang ada dalam pelukannya. Roxy mengangkat kepala menatap orang-orang yang berada di kapal selam kecil itu. Semua pada menatap padanya dengan tatapan kosong. Diusapnya rambut Thi Binh kemudian berbisik.

“Kita tak tahu apakah dia sudah mati atau bagaimana, kita semua menginginkan dia masih hidup adikku. Namun selain tuhan, tak seorangpun diantara kita, yang tahu bagaimana nasibnya kini…” “Mengapa dia tidak ada diantara kita, apakah…?” “Keadaan waktu demikian kritisnya, Thi-thi. Demikian kritisnya. Si Bungsu menghadangkan dirinya pada tentara Vietnam untuk memberi kesempatan kita lolos..” “Dan kita semua selamat, karena dia mengorbankan dirinya…” bisik Thi Binh.

Roxy tak menjawab. Ada nada protes dalam pernyataan gadis itu. Dia ingin menjawab ’ya’, karena memang begitulah adanya. Tapi jawaban ’ya’ sekaligus akan mengungkapkan semua yang ada dalam kapal selam ini hanya mementingkan diri sendiri. Meninggalkan orang menyelamatkan mereka sendirian menghadapi maut, Dalam Neraka Vietnam di padang lalang itu. “Terima kasih Roxy, engkau telah menyelamatkan aku dengan membawa ke helikopter, setelah aku tertembak..” bisik Thi Binh, yang masih memeluk Roxy. Roxy tak menjawab. Dia membelai rambut Thi Binh.

“Dua kali engkau menyelamatkan nyawaku. Pertama di belantara saat kita bertempur melawan tentara Vietnam, tak jauh dari barak mereka yang kita hancurkan itu. Kemudian ketika aku tertembak di dekat danau, dalam pertempuran terakhir itu. Terimakasih, hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikanmu padaku Roxy. Aku juga berhutang nyawa pada Bungsu, dia juga yang telah menyembuhkan aku dari sipilis….” ujar Thi Binh perlahan.

“Kita semua berhutang nyawa dan mencintainya, adik ku…”ujar Roxy perlahan. “Kenapa tak kau biarkan saja aku tinggal, setelah tertembak. Agar aku bisa mati bersama dia..”ujar Thi Binh. “Aku tak ingin kau mati adikku…”jawab Roxy. “Tanpa Si Bungsu, Sebenarnya aku sudah mati…”Roxy menarik nafas. Di ciumnya kepala Thi Binh dengan lembut. “Kita akan kemana,Roxy?”tanya Thi Binh setelah beberapa saat sepi. “Menuju dunia bebas, Thi-thi…” “Amerika…?” “Ya, ke Amerika..!” “Apakah disana tak ada peperangan?” “Ada, tapi hanya peperangan antara polisi dengan para bandit dijalanan adikku…”

Thi Binh berdiam diri beberapa saat. Lalu dia meminta dirinya kembali dibaringkan di tempat tidur yang ditempelkan di dinding dengan engsel khusus. Roxy membaringkan tubuh gadis Vietnam cantik itu perlahan. Thi Binh menggenggam tangan Roxy. “Apakah engakau memang mau menjadi kakakku?” bisik Thi Binh perlahan. Roxy tak menjawab. Dia sangat terharu. Di ciumnya kening dan mata gadis berusia enam belas tahun itu dengan lembut. Kemudian dia duduk dan memandang lurus pada Thi Binh. “Di hutan Vietnam itu kita sudah berjanji untuk menjadi kakak adik yang saling mencintai. Kau ingat adikku…?” ujar Roxy. Thi Binh mengangguk. “Tak ada yang akan berubah dengan perjanjian kita itu, adikku..” ujar Roxy. Thi Binh tersenyum, kemudian dia memejamkan mata.

Kapal selam Sea Devil milik SEAL, pasukan khusus Angkatan laut Amerika itu bergerak dengan cepat membelah air, dibawah permukaan laut China selatan. Akan halnya Thi Binh, rasa lelah dan pengaruh bius yang di berikan padanya membuat dia terjatuh kedalam tidur yang pulas. Lelah dan kantuk juga menyerang Roxy dalam posisi duduk dekat pembaringan Thi Binh, dia menelungkupkan bagian atas tubuhnya disisi pembaringan, tak lama kemudian dia juga tertidur.

Ketika Sea Devil sedang berlayar di bawah laut luas, dan ketika Ami Florence dalam penerbangan dengan heli menuju titik pertemuan untuk melakukan embarkasi para tentara yang dibebaskan itu, Mayor Murphy Black yang semula gagal mengontak USS Alamo, akhirnya mendapat sambungan radio. Dengan permintaan maaf dan rasa menyesal yang amat mendalam, dia melaporkan tidak menemukan Si Bungsu di padang lalang Vietnam itu. Di mana pertempuran terakhir terjadi antara pasukan Vietnam dengan pelarian itu.

Black juga menuturkan kondisi kritis saat menentukan pilihan, antara turun menjemput Si Bungsu dengan peluru hanya beberapa butir, dan harus menghadapi gempuran belasan tentara Vietnam. Yang risikonya jelas semua awak heli maupun tentara yang sudah dibebaskan itu akan tertawan kembali, atau terlebih dahulu menyelamatkan belasan pelarian yang sebagian dalam keadaan terluka.

“Orang Indonesia itu nampaknya sengaja memancing tembakan ke arahnya, agar kami bisa lolos dari serangan maut. Saya sudah kembali ke lokasi itu, namun kami hanya menemukan dua mayat tentara Amerika dan beberapa mayat di padang lalang itu. Tak ada tanda-tanda sama sekali tentang nasib Si Bungsu. Menurut analisa saya, kendati tertembak beberapa kali, namun lelaki tangguh itu masih hidup. Paling tidak, tentara Vietnam akan berusaha menyelamatkan nyawanya untuk mengorek keterangan. Siapa saja dan dimana pasukan yang mencari anggota MIA saat ini berada. Saya rasa, dia sekarang berada di suatu tempat yang amat dirahasiakan dan dijaga dengan amat ketat untuk diinterogasi,” papar Mayor Black.

Laksamana Lee tak menjawab sepatah pun. Selain mengatakan ‘oke’ kemudian mematikan radio. Lama Laksamana ini terdiam sambil tangannya masih memegang handel radio. Matanya menatap ke arah layar komputer besar, yang memperlihatkan posisi kapal selam Sea Devil yang tengah membawa bekas tawanan yang selamat dan posisi helikopter yang akan menjemput mereka, yang di dalamnya terdapat Ami Florence. Salah seorang di antara tak banyak mata-mata kelas satu Amerika semasa perang Vietnam yang panjang itu, yang besar sekali jasanya untuk Amerika.

Laksamana Lee teringat pada Kolonel MacMahon, adik kelasnya semasa di West Point, Akademi Militer Amerika. Lenyapnya MacMahon, Komandan SEAL di Vietnam dalam pertempuran laut di lepas pantai Da Nang menyebabkan heboh di kalangan angkatan bersenjata Amerika. Kini Kolonel itu termasuk salah seorang yang berhasil dibebaskan Si Bungsu. Dia lalu meminta dihubungkan ke Sea Devil. “Komandan Sea Devil di sini, Sir!” ujar Kapten Callahan, begitu diberitahu perwira radio USS Alamo bahwa Laksamana Lee akan bicara. “Ada gangguan dalam pelayaran Anda, Callahan?” “No, Sir! Sejauh ini aman. Radar kami juga tidak menangkap adanya kapal perang Vietnam dalam jarak lima puluh kilometer dari posisi kami, Sir….” “Baik, saya harap juga begitu….” “Thanks, Sir….” “Apakah Kolonel MacMahon di kapal Anda, Callahan?” “Yes, Sir! Kolonel MacMahon ada di kapal ini…!” “Saya dengar dia tertembak. Kalau dia tidak sedang istirahat, saya ingin bicara dengannya, bisa?” “Yes, Sir! Saya bisa antarkan radio ke tempat tidurnya agar Anda bisa bicara langsung padanya. Harap Anda menunggu, Sir….”

Kapten menyuruh seorang letnan navigasi untuk menghantarkan radio kepada MacMahon. Kolonel itu sedang berbaring dan sejak tadi hanya diam menatap ke arah pembaringan Thi Binh dan Roxy di ujung sana, melihat seorang letnan SEAL mendatanginya. Letnan itu memberi hormat kepada komandan tertinggi mereka, yang sudah dua tahun lenyap dan baru saja dibebaskan. “Komandan USS Alamo ingin bicara dengan Anda, Sir…” ujar letnan itu sambil menyerahkan radio kecil tanpa tali. “Laksamana Lee…?” ujar MacMahon perlahan mengambil radio dari tangan si Kapten. Tak lama kemudian Laksamana Lee mendengar suara di radio. “MacMahon di sini, Laksamana…!” “Hei MacMahon, senang mendengar lagi suaramu…!” MacMahon tertawa renyah. “Senang juga mendengar suaramu, Lee….” “Bagaimana kondisimu, MacMahon?” “Agak membaik Lee….” “Luka di bahu dan dadamu membaik?” “Ya, agak lebih baik….” “Masih sempat bermain catur?”

MacMahon tertawa perlahan mendengar pertanyaan kakak kelasnya itu. Soalnya, ketika di West Point dulu, bahkan setelah sama-sama bertugas pun, mereka sering bertanding catur. “Saya harap bisa segera bertemu Anda, untuk main catur lagi, Lee….” “Ya saya harap juga begitu. MacMahon…!” “Ya…?” “Engkau kenal seorang lelaki Indonesia bernama Si Bungsu?” “Dia yang membebaskan kami, Lee….” “Apa yang terjadi dengan dia?” MacMahon tak segera bisa memberikan jawaban. Dia menatap ke pembaringan Thi Binh dan Roxy. Kedua gadis itu masih tidur pulas. “Dia tertinggal di medan tempur, Lee….” “Nampaknya keadaan demikian kritis, sehingga dia tak sempat kalian bawa bersama….” “Maaf Lee. Kondisi saat itu memang sangat kritis…. Engkau juga mengenalnya, Lee?” “Tidak. Sebulan yang lalu dia mengantarkan Ami Florence, kau ingat dia?” “Ya, orang kita yang di Da Nang….”

“Nah, setelah terlibat pertempuran yang amat tak seimbang dengan beberapa kapal patroli Vietnam, dia berhasil merebut sebuah kapal patroli. Kemudian mengantarkan Ami dan abangnya ke USS Alamo tapi dia tidak naik ke kapal saya. Begitu Ami turun dia langsung pergi. Lewat radar kami melihat dia menghancurkan tiga kapal patroli Vietnam lainnya. Dari Ami saya mendapat cerita, bahwa dia datang ke Vietnam atas permintaan milyader AR. Anda masih ingat AR, MacMahon?” “Alfonso Rogers, milyader yang ikut menyumbang pembelian kapal-kapal Angkatan Laut. Satu diantaranya kapal yang kini Anda komandani, Lee….”

“Anda benar, MacMahon. Anda ingat siapa nama anak tunggal milyader itu?” “Roxy Rogers. Dia ada bersama saya di kapal ini. Hanya saja saya baru tahu bahwa Roxy adalah anak Alfonso Rogers dari penjelasan Si Bungsu, saat membebaskan kami dari tahanan Vietnam. Kami beruntung berada satu tahanan dengan Roxy. Jika tidak, kami tentu belum akan bebas…” ujar MacMahon. “Well, berapa hari Anda mengenal Si Bungsu, Mac Mahon?” “Satu hari, Lee….” “Satu hari?” “Efektifnya hanya beberapa jam….” “Maksudmu?”

“Dia datang ke goa tempat kami disekap subuh hari. Kemudian membawa kami ke tempat tiga teman Vietnamnya yang menanti sekitar satu kilometer dari barak tentara Vietnam. Kemudian kami berbagi regu. Satu regu disuruhnya duluan bersama wanita-wanita yang bertugas di ketentaraan sebagai anggota palang merah dan bahagian logistik, untuk menuju ke danau dan membawa jam tangannya yang bisa memancarkan isyarat. Kemudian dia bersama tiga orang lainnya, Letnan Duval, Roxy dan seorang gadis Vietnam bernama Thi Binh menyelusup ke barak-barak Vietnam.

Mereka berhasil menghancurkan gudang senjata dan membunuh komandannya, seorang Kolonel. Saya sendiri bertugas mencegat Vietnam yang memburu rombongan pertama. Artinya, saya hanya mengenal lelaki dari Indonesia itu sekitar tiga atau empat jam, Lee…” tutur MacMahon. “Dia seorang yang amat perfect dalam pertempuran laut….” “Sama perfectnya dengan pertempuran darat, Lee. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana dia mempergunakan samurai kecilnya untuk membunuh seorang Vietnam dari jarak sepuluh meter. Sebelumnya, saat kami akan keluar dari goa, dia membunuh sekaligus empat tentara dengan samurai kecilnya itu. Kemudian juga saat dia menghadang tembakan belasan tentara Vietnam, dalam upaya agar heli yang kami tompangi bisa lolos. Barangkali ada delapan atau sembilan tentara Vietnam yang dia rubuhkan sebelum akhirnya senjatanya kehabisan peluru, dan dia mengangkat tangan….”

“Apakah Vietnam langsung menangkapnya?” “Tidak….” “Apa yang terjadi?” “Dari atas heli, kami melihat tubuhnya beberapa kali diterjang peluru. Setelah itu… dari ketinggian saya hanya melihat tubuh mereka seperti titik kecil di bawah. Saya rasa Vietnam menangkapnya. Jika dia masih hidup, untuk beberapa saat dia belum akan dibunuh, sampai Vietnam yakin tak ada rahasia apapun yang bisa dikorek dari mulutnya mengenai operasi yang dilakukan Amerika saat ini di Vietnam….” “Saya rasa dia juga tak akan segera dibunuh Vietnam…” ujar Laksamana Lee. Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. “MacMahon….” “Ya, Lee….”

“Saya harus mengabarkan pada Ami Florence bahwa Si Bungsu tak ada bersama kalian. Gadis itu kini berada dalam heli khusus yang saat ini sudah tak begitu jauh dari posisi kalian. Dia berharap lelaki dari Indonesia itu ada bersama kalian. Baiklah, kita bertemu di Subic kelak, MacMahon….” “Terima kasih, Lee. Dan saya benar-benar menyesal, tidak bisa membawa Si Bungsu bersama kami. Saya juga akan menyampaikan maaf saya pada Nona Ami….” Hubungan dan percakapan di antara kedua teman lama itupun putus. Ada beberapa saat Laksamana Lee tegak mematung di anjungan USS Alamo. Dia harus menghubungi segera Ami Florence, namun bagaimana dia akan memulai percakapan, untuk memberitakan bahwa Si Bungsu tak ada di antara orang-orang yang akan dia jemput itu? Kalau saja dia sudah mendapat laporan dari Mayor Black sebelum Ami ikut dengan heli itu tadi, barangkali dia bisa memberitahunya. Tapi sampai gadis itu naik ke pesawat, hubungan antara USS Alamo dengan Mayor Black sengaja diputus untuk beberapa saat.

“Hubungkan saya dengan helikopter…” ujarnya perlahan. “Yes, Sir…!” ujar perwira radio. “Kapten John Gregor Sir…!” ujar pilot heli di radio. “Kapten….” “Yes, Sir…!” “Sebentar lagi perwira navigasi akan memberikan koordinat di mana Anda harus melakukan embarkasi….” “Yes, siap Sir…!” “Bisa saya bicara dengan Nona Ami Florence?” “Siap, bisa Sir!”

Pilot menolehkan kepala ke belakang. Ke arah Ami yang sedang berpeluk tangan dan menatap ke langit gelap lewat kaca di sampingnya. “Nona Florence….” Ami tersentak. Menatap ke arah pilot yang memanggilnya. “Ya…?” “Silahkan Anda menggeser duduk ke mari. Laksamana di USS Alamo ingin bicara dengan Anda, Mam….” Ami Florence merasa jantungnya berdegup. Dia berjalan dengan menunduk di dalam heli itu, mendekat ke belakang tempat duduk pilot. Kemudian duduk di sebuah bantalan besar di sana. “Sir, ini Nona Florence…” ujar pilot.

Dia segera memberi isyarat pada copilotnya untuk membuka headphone di copilot agar menyerahkan head phonenya pada Florence. Ami memasang headphone itu ke kepalanya. Kemudian membetulkan letak kap radionya di telinga. “Yes, Laksamana…?” ujarnya membuka pembicaraan. “Florence…?” “Ya….” “Maaf, saya tidak tahu harus memulai dari mana….” Hati Florence makin berdebar. Firasat buruk merayapi hulu jantungnya. Ini pasti mengenai Si Bungsu, bisik hatinya. “Mengenai Bungsu…?” ujarnya antara terdengar dan tidak. “Sekali lagi maaf, Florence. Ya, mengenai Bungsu….”

Florence merasakan tubuhnya tiba-tiba menggigil dan berkeringat dingin. Dia tak mampu bicara sepatah pun. Dia seperti menanti vonis hukuman mati. “Florence…?” himbau Laksamana Lee. Tak ada sahutan! “Florence. Anda masih di sana, Mam…?” “Yy.. Ya… Laksamana….” “Dengan permintaan maaf saya harus menyampaikan pada Anda, Mam. Bahwa Si Bungsu tidak berada di Sea Devil, kapal selam yang kini sedang Anda tuju….”

Ami Florence tak bicara. Namun masih ada sedikit harapan, Si Bungsu dikatakan tidak berada di Sea Devil, tidak dikatakan sudah mati. Dia menunggu kepastian lebih lanjut. “Dia tidak berada di Sea Devil, berarti masih berada di suatu tempat, Laksamana?” “Ya, Mam. Dia masih berada di suatu tempat, di belantara Vietnam sana….” “Masih… masih….” “Ya Mam, dia masih hidup! Itu dipastikan oleh laporan Mayor Murphy Black, komandan gugus tugas khusus dari SEAL yang ditempatkan di Teluk Kompong Sam, yang menjemput dengan helikoptertawanan yang berhasil dibebaskan Si Bungsu….” Florence menghapus keringat di dahinya. Dia menarik nafas panjang. Kendati dia sangat kecewa orang yang dicintainya itu tidak berada di Sea Devil, namun dia bahagia lelaki itu kini masih hidup.

“Dia sendirian di Vietnam sana, Laksamana?” Laksamana Lee tak segera menjawab. “Laksamana?” “Maaf. Dia tertawan oleh Vietnam. Namun Mayor Black memastikan bahwa dia masih hidup. Tubuhnya tidak terdapat di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di padang lalang di mana pertempuran terakhir pecah saat mereka akan dijemput helikopter….” Sekali lagi Ami Florence menghapus peluh dingin di wajahnya. “Dia tertawan oleh Vietnam?” ujarnya perlahan. “Ya, Nak. Cerita lengkapnya bisa engkau tanya pada Kolonel MacMahon di Sea Devil, salah seorang dari 17 pasukan Amerika yang dibebaskan Si Bungsu, termasuk Roxy Rogers….” Ami Florence seperti tercekik sesuatu di kerongkongannya mendengar kabar dari Laksamana Lee. Dia masih terdiam sambil memegang radio yang hubungannya masih terbuka dengan USS Alamo. Lewat radio Laksamana Lee dapat mendengar gadis itu menarik nafas berat dan panjang. “Saya sangat menyesal, Nak. Sepanjang laporan yang saya peroleh, baik dari Kolonel MacMahon maupun Mayor Murphy Black, Komandan SEAL yang menjemputnya, lelaki dari Indonesia itu sengaja menjadikan dirinya umpan. Agar para tawanan bisa lolos.

Amerika tidak hanya berhutang budi padanya. Sekaligus benar-benar merasa malu, karena tak bisa mengeluarkan lelaki perkasa itu dari neraka Vietnam. Saya sangat menyesal….” Tak ada jawaban apapun dari Ami Florence. “Ami, Anda masih di situ, Nak?” “Ya….” “Saya sangat menyesal, Nak….” “Terimakasih, Laksamana…” ujar Ami nyaris tak terdengar, sembari memutuskan hubungan radio.

Kolonel MacMahon masih menanti beberapa saat. Dia tahu hubungan dengan Ami sudah diputus gadis itu. Dia benar-benar ikut menyesal. “Kapten Gregor…” ujarnya Laksamana Lee perlahan memanggil pilot heli tersebut. “Yes, Sir!” “Nona Florence masih di sana?” Pilot heli menolehkan kepalanya sedikit ke belakang melihat Ami masih menunduk sambil memegang radio yang tadi diberikan co-pilot kepadanya. “Ya, dia masih di sini, memegang radio, Sir!” “Baik, jangan ganggu dia. Gunakan radio pada Anda saja. Perwira navigasi akan memberi petunjuk di mana Anda harus menjemput para bekas tawanan itu….” “Yes, Sir!”

Namun saat itu Ami Florence mengulurkan radio di tangannya kepada co-pilot. “Terimakasih…” ujarnya pelan. “Yes, Mam…” jawab co-pilot. Ami masih duduk di belakang pilot. Tatapannya kosong. “Saya ikut menyesal mengenai Bungsu, Mam…” ujar pilot kepada Ami yang sejak tadi memang ikut mendengar percakapan antara Laksamana Lee dengan Ami Florence lewat headphone di kepalanya. Ami menatap ke arah pilot tersebut. “Terimakasih…” ujarnya perlahan.

Gadis itu berusaha untuk tersenyum. Namun dia tak mampu menahan air matanya untuk tidak mengalir. Dia dan abangnya, Le Duan, sebenarnya sudah harus menjalani program khusus di Amerika. Setelah mengikuti program khusus antara tiga sampai empat bulan itu, dia akan ditempatkan di salah satu negara bahagian Amerika atau bisa saja di suatu negara lain yang dia pilih. Program khusus itu antara lain menyangkut pekerjaan yang cocok, dan latihan di program tersebut.

Bisa saja dia ditempatkan di kemiliteran atau polisi. Atau menjadi intelijen di FBI atau CIA yang memang sudah amat dia kuasai. Namun dia sudah bertekad, begitu keluar Vietnam dia akan meninggalkan dunia spionase. Akan hidup sebagai dosen atau penerjemah atau mungkin sekretaris eksekutif. Masa program itu dia minta undur. Dia ingin jika dia pergi ke Amerika, atau ke ujung dunia manapun, Si Bungsu ada bersamanya. Atau lebih konkret lagi, dia ingin pergi kemana pun Si Bungsu pergi.

Dia sudah meminta agar abangnya pergi duluan ke Amerika untuk mengikuti program khusus itu. Kepada Le Duan dia katakan terus terang, bahwa dia hanya mau pergi kalau bersama Si Bungsu. Le Duan hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan adiknya. Dia tahu sikap adiknya yang bengal dan kadang-kadang bikin pusing. Susah sekali jatuh hati. Namun begitu ada lelaki yang mampu menaklukkan hatinya, maka jatuh hatinya separoh mampus. Kini saat itu nampaknya tiba. Hati adiknya kepincut separoh mampus kepada lelaki dari Indonesia itu.

“Kita akan pergi bersama, Ami. Saya akan menunggumu…” ujar Le Duan di salah satu hotel di Manila, saat Ami menawarkan dia pergi duluan ke Amerika. “Tapi, saya akan menunggu Si Bungsu….” “Ya, kita sama- sama menunggunya…” ujar Le Duan sambil tersenyum. Ami membalas senyumnya. “Ami….” “Ya…?” “Apakah kau yakin dia juga mencintaimu?” Ami tertegun. Tak bisa segera menjawab. “Kau yakin dia juga mencintaimu, seperti engkau mencintainya, Ami?” “Aku.. aku ingin menjawabnya ‘ya’, Le….” “Aku juga ingin seperti itu, Adikku. Aku ingin dia mencintaimu, seperti engkau mencintainya. Tapi apakah kau yakin?” “Menurutmu, Le?” “Aku tahu dia menyukaimu, Ami…” “Apakah dia mencintaiku?” Le Duan tak bisa menjawab. “Bagaimana, bagaimana kalau…” “Kalau dia tidak mencintaiku, Le?” “Ya, Ami….”

Ami tertunduk. Dia memang tak pernah memikirkan bagaimana jika Si Bungsu tidak mencintainya. Sementara dia mencintai lelaki itu sepenuh hati. “Le…” “Ya…?” “Apakah menurutmu, aku akan bunuh diri jika dia tidak mencintaiku?” Le Duan menatap adiknya. Ami Florence menatap abangnya. “Bagaimana menurutmu, Le…?” Le Duan menggeleng perlahan. “Kenapa kau yakin aku tak akan bunuh diri?” “Kau takkan bunuh diri, Ami….” “Kenapa…?” “Karena lelaki itu juga mencintaimu…!” Ami menatap abangnya. Le Duan mengangguk. Ami memeluk abangnya. Le Duan mendekap kepala adiknya. Membelainya perlahan. Ami tak mampu menahan air matanya. “Terimakasih, Le… terimakasih. Hanya engkau saudaraku satu-satunya yang tersisa dari perang panjang yang menghancurkan negeri kita…” bisik Ami. Le Duan tak mampu bicara sepatah pun, seluruh keluarga mereka memang sudah punah dimakan perang Vietnam yang tiga belas tahun itu. Kini hanya tinggal mereka berdua. Dia sangat menyayangi adiknya ini. Mereka berempat bersaudara. Hanya Ami yang wanita. Dua saudara lelaki mereka sudah meninggal. Juga orang tua mereka. “Saya akan menunggu kabar dari Si Bungsu, Le. Saya yakin dalam seminggu dua ini akan ada

kabar mengenai dirinya….” “Kita akan menunggunya bersama, Ami….” ujar Le Duan.

Lamunan Ami Florence terputus ketika dia mendengar suara ribut di sekitarnya. Dia segera mengetahui helikopter yang dia tompangi sudah mengapung cukup rendah di atas laut. Di bawah sana dia melihat sebuah benda hitam memanjang. Sebuah kapal selam yang tak begitu besar. Tak ada siapa pun di atas deknya yang mengapung. Sekitar setengah meter dari permukaan air helikopter diturunkan di dek tersebut. Kapten kapal dengan pilot heli saling berhubungan dengan radio. Begitu heli mendarat, petugas kesehatan dan petugas yang lain segera berhamburan turun.

Pada saat itu sebuah pintu dekat menara pendek di kapal selam itu terbuka. Lalu dua orang tentara Amerika dari kesatuan SEAL segera muncul. Mereka berdiri di tepi pintu keluar masuk ke kapal selam itu.

Di dalam kapal selam itu, bahagian radar mengawasi seluruh penjuru dengan seksama. Sementara dua orang letnan yang bertugas menjaga tombol-tombol penembak peluru kendali dan torpedo juga siaga di tempatnya. Siap menunggu perintah dari Kapten mereka. Di USS Alamo Laksamna Lee dan seluruh awak di ruang komando siaga. Bahagian radar menyapu lautan dalam radius 100 kilometer persegi dari kapal selam dan heli yang sedang memindahkan muatan itu.

Dari radar di ruang komando USS Alamo itu semua mereka bisa melihat, dalam radius lebih dari 100 kilometer, tak ada kapal perang sebuahpun di laut gelap tersebut. Dalam radius 100 kilometer persegi mereka hanya melihat dua titik yang berdempetan di layar monitor radar. Kedua titik kecil itu adalah kapal selam Sea Devil dan helikopter penjemput bekas tawanan. Namun beberapa saat kemudian perwira radar berseru sambil menunjuk sebuah titik di tenggara yang mendekat ke arah kedua titik pertama dengan cepat sekali.

“Torpedo…!” ujar perwira radar. “Empat buah torpedo…!” seru perwira radar tatkala melihat di monitor muncul tiga titik lagi seperti berbaris menuju ke dua titik tersebut. “Sea Devil…!” panggil Laksamana Lee. “Yes, Sir…!” “Kalian lihat sesuatu…?” “Yes, Sir! Saya dan Kapten Johan Gregor, pilot heli melihat empat buah torpedo datang dari jarak jauh, Sir…!” “Kalian bisa mengatasi?” “Siap… bisa, Sir!” “Pemindahan penumpang sudah selesai?” “Orang terakhir sudah naik ke helikopter, heli siap meninggalkan Sea Devil, Sir!” “Good luck!” “Thank you, Sir!”

Begitu pembicaraan antara Komandan USS Alamo usai, terdengar panggilan dari pilot helikopter. “Roy…” panggil pilot pada Kapten Sea Devil. “Yap, John….” “Kami pergi. Engkau bisa menyelesaikan keempat cucut yang datang itu?” “Yap, berangkatlah….” “Good luck, Roy!” “Good luck, Callahan!”

Helikopter yang memang sudah mengapung sekitar sepuluh meter dari dek Sea Devil itu segera berputar dan melaju ke arah laut lepas dengan kecepatan penuh. Sementara Sea Devil membuka seluruh katup memasukkan air secara maksimal. Bersamaan dengan deru air masuk ke tanki dengan tambahan bobot secara drastis, kapal selam tersebut mulai menyelam.

Baik di layar radar Sea Devil maupun di layar radar USS Alamo dan di helikopter, melihat empat titik yang datang dari tenggara itu semakin dekat. Keempat torpedo itu nampaknya berasal dari kapal perang Vietnam yang berada di lepas pantai sekitar Saigon yang sudah berubah nama menjadi Kota Ho Chi Minh.

“Menyelam dengan kecepatan penuh!” seru Kapten Sea Devil sambil menarik tuas yang berfungsi menurunkan sirip kapal selamnya. Kapal itu menukik ke dasar samudera, kemudian membuat tikungan tajam ke kiri, ke arah selatan Vietnam. Awak kapal selam tersebut bersuit panjang sambil berpegangan agar tidak terjatuh dalam manuver kapal selam kecil bertenaga amat kuat itu. Di helikopter dan di USS Alamo orang-orang menatap layar radar tanpa seorang pun berani berkedip. Mereka melihat Sea Devil tiba-tiba lenyap dari radar. Sedetik kemudian keempat titik yang datang dari arah tenggara itu melintas di titik tersebut.

Mereka menunggu apakah ke empat titik itu juga lenyap pada titik pertama yang hilang tadi. Jika itu yang terjadi berarti Sea Devil hancur dihantam ke empat torpedo itu. Namun empat titik itu terus melaju ke arah utara. Makin lama makin jauh, sampai akhirnya lenyap. Mereka semua terdiam. Adalah Laksamana Lee yang pertama mencoba membuka hubungan radio dengan Sea Devil. “Kapten Callahan…!” “Yes, Sir!” Jawaban Kapten kapal selam itu segera disambut sorak gembira dan tepuk tangan semua awak USS Alamo yang ada di ruang komando, juga Laksamana Lee. Pilot helikopter juga tersenyum dan bersalaman dengan copilotnya. Mereka memacu heli itu dalam gelap dengan panduan kompas, menuju ke arah Filipina. “Anda ada di mana, Kapten?” “Siap, kami tak pergi jauh. Ada di dalam komputer Anda, Sir!” jawab Kapten Sea Devil. Jawabannya disambut gelak tawa awak USS Alamo. “Tapi Anda tak kelihatan di komputer ini, Kapten….” “Siap, apakah kami perlu menampakkan diri, Sir?”

Tawa riuh kembali pecah dalam ruang komando itu. Suara tawa riuh itu terdengar jelas oleh Kapten Sea Devil. “Baik, Anda menyelesaikan tugas dengan baik, Nak. Selamat berenang. Good luck!” “Terimakasih, Sir!” jawab Kapten Callahan. Lalu ketika dia mendengar nada ‘blip’ tanda hubungan radio diputus dari USS Alamo, dari kedalaman lima belas meter di Laut Cina Selatan itu dia juga mematikan hubungan radionya. Lalu memacu kapal selam itu kembali ke Teluk Kompong Sam, di mana kesatuan mereka, unit kecil pasukan SEAL yang tangguh itu, ditempatkan secara rahasia sejak setahun yang lalu.

Di salah satu ruangan VIP rumah sakit tentara di sebuah kota di Philipina, MacMahon menatap Ami Florence yang duduk di sisi pembaringannya dengan diam. Suasana sepi mencekam sejak dia usai menuturkan pertemuannya dengan Si Bungsu, dan bagaimana mereka terpisah dalam pertempuran terakhir itu. “Saya yakin dia masih hidup, Florence…” ujar MacMahon sambil memegang tangan Ami. “Sampai Vietnam tahu tak ada rahasia yang bisa dikorek dari mulutnya?” ujar Ami lirih.

MacMahon tak dapat memberi komentar. “Saya akan menemui gadis yang bernama Thi Binh itu…” ujar Ami sambil membetulkan selimut MacMahon, lalu bangkit. MacMahon memegang tangannya. “Dia masih anak- anak, Florence. Negeri kalian diamuk perang. Banyak keluarga yang remuk redam. Jika dia mencintai seseorang itu karena dia ingin dilindungi. Tidak lebih dari itu. Kau faham maksudku, Nak…?” ujar MacMahon. Ami Florence tertegak diam. Menatap si Kolonel yang memang sudah dia kenal cukup dekat saat perang masih berkecamuk di Vietnam.

“Terimakasih Mac…” ujarnya sambil membungkuk, kemudian mencium pipi MacMahon. Lalu dia melangkah perlahan keluar. Menutup pintu. Melangkah menelusuri koridor berudara sejuk masuk ke ruangan VIP yang lain. Thi Binh yang berada di pembaringan menatap kedatangannya dengan mata berbinar. “Hai, Thi- thi….” “Hai, Ami….”

Ami membungkuk, mencium kedua pipi gadis itu. Namun ketika dia akan bangkit, lehernya ditahan oleh kalungan kedua lengan Thi-thi. Mereka bertatapan dalam jarak yang tak sampai satu jengkal. “Ada apa?” ujar Ami dalam bahasa Vietnam sambil tersenyum dan menatap mata gadis itu nanap-nanap. “Menatapmu membuat rinduku pada Si Bungsu jadi terobati….” ujar Thi Binh. Dug!

Jantung Ami seperti akan copot mendengar ucapan itu. Mukanya segera saja berubah. Namun gadis itu masih tersenyum. Dia melepaskan kalungan tangannya di leher Ami. Namun kini ganti memegang tangannya, dan menariknya duduk di sisi pembaringannya. “Dari Bungsu, saya mendengar banyak sekali cerita tentang Kakak…” ujar Thi Binh. Dug! Lagi-lagi jantung Ami berdegup.

“Ya… saat pertama dia datang ke rumah kami, dia bercerita tentang Kakak. Bahkan ketika di perjalanan pun, saat melewati danau yang banyak buayanya, di rakit dia juga bercerita tentang Kakak…” ujar Thi Binh separoh membual. Ami terperangah. Dia tahu gadis centil yang cantik ini separoh membual. Namun dia tak kuasa mencegahnya. Dia dibuat geram, marah, gondok, jengkel, senang dan gemas. Semua campur aduk jadi satu. Namun dia memang datang untuk mencari cerita tentang keberadaan Si Bungsu di Vietnam setelah berpisah dengannya di USS Alamo. Ami Florence mengumpulkan semua cerita, menyimak dengan diam sambil menyimpan dalam memorinya segala data dan detil yang penting tentang Si Bungsu saat-saat terakhir lelaki yang dicintainya itu di Vietnam. Cerita tentang itu dia dapat dari tiga orang, yang memang berada bersama Si Bungsu pada saat-saat terakhir.

Ketiga mereka adalah Letnan Duval, Roxy dan Thi Binh. Sebab dengan ketiga orang inilah Si Bungsu bersama-sama bertempur tak jauh dari barak tentara Vietnam, sebelum dia menyuruh Duval, Roxy dan Tin Binh berangkat duluan menyusul rombongan Kolonel MacMahon. Kemudian Ami mencari informasi tentang pasukan SEAL di bawah pimpinan Mayor Murphy Black di Teluk Kompong Sam. Yaitu orang yang kali terakhir kembali ke tempat pertempuran guna mencari Si Bungsu. Namun dari seluruh cerita yang dia himpun, muaranya tetap satu. Si Bungsu hilang atau tertawan dalam pertempuran terakhir itu. Artinya lelaki itu masih hidup di salah satu tempat di belantara Vietnam di sana. Kini dia berada di sisi pembaringan Thi Binh. Dia ingin mendengar cerita yang lebih lengkap tentang Si Bungsu dari gadis kecil ini. Setelah lama saling menatap, akhirnya Thi Binh bicara perlahan kepada Ami Florence. “Sebenarnya, sayalah yang banyak bercerita dan bertanya tentangmu pada Si Bungsu, Ami….” “Kau bertanya tentang diriku kepada Si Bungsu? “Ya….” “Darimana engkau mengetahui aku mengenal Si Bungsu….” “Dari mimpiku….” Ami tersenyum. Merasa kena diakali oleh gadis kecil nakal ini.

“Ami, kau pernah merasa datang ke dalam mimpiku?” Ami Florence menggeleng. Thi Binh menatapnya. “Berbulan-bulan saya, juga belasan wanita Vietnam lainnya, dijadikan budak pemuas nafsu oleh puluhan tentara Vietkong. Suatu hari saya mulai diserang Vietnam Rose, sipilis! Saya demam dengan panas yang amat tinggi. Dalam sakit dan hampir mati itu, saya berdoa meminta Tuhan membantu saya, membunuh orang-orang yang memperkosa saya….” Thi Binh terhenti, air mata mengalir di pipinya. Ami Florence tertegun mendengar

derita dahsyat yang dialami gadis kecil ini.

“Suatu malam, dan malam-malam berikutnya, ke dalam mimpi saya datang seorang lelaki yang memakai senjata seperti ninja. Di malam yang lain, lelaki itu saya lihat lagi di dekat sebuah kapal perang yang besar bersama seorang gadis indo-Vietnam yang cantik dan abangnya. Gadis indo itu menangis tatkala pemuda ninja dari Indonesia itu tidak naik ke kapal perang besar itu bersamanya, melainkan pergi dengan boat kecil dan saat itu dia berkata ‘sabarlah Thi-thi… saya akan datang membantumu‘ Gadis indo di dalam mimpi saya itu adalah engkau Ami. Saya sudah meilhatmu dan abangmu dalam mimpi saya, Ami…” tutur Thi Binh.

Ami Florence ternganga mendengar cerita yang dahsyat itu. Dia hampir-hampir tak mempercayai pendengarannya. “Bukan hanya engkau yang tak percaya, Nona. Semula Si Bungsu pun tak percaya atas apa yang dituturkan Thi-thi tentang mimpinya. Tapi dari mana dia tahu tentang ninja, tentang Indonesia, tentang kapal perang besar, gadis indo yang cantik yang ternyata dirimu, jika mimpi itu tak pernah ada?” Ami menoleh ke arah suara di belakangnya. Ternyata tanpa diketahui sejak tadi di ruangan itu sudah ada Duc Tio dan Han Doi. “Aku tahu, engkau mencintainya. Aku juga….” Dug!

Hati Ami Florence bedegup mendengar pernyatan Thi Binh. “Dia memang patut mendapat cinta banyak orang, Thi-thi….” “Termasuk kita…?” “Termasuk kita…!” “Kau tidak marah aku mencintainya, Ami?” Ami Florence menggeleng. Kemudian memeluk gadis kecil itu. Air matanya merembes, mengingat entah bagaimana nasib lelaki yang sedang mereka bicarakan. Entah masih hidup, sedang disiksa, entah sudah mati.

Si Bungsu membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah dunia yang serba terbalik. Ada orang-orang, api unggun, rumah-rumah bambu semuanya berada dalam posisi terbalik. Selain itu ada rasa sakit…

Selain itu ada rasa sakit yang Si Bungsu rasakan di seluruh tubuhnya. Ada suara orang berbicara lambat- lambat. Masih dalam mata terpejam, dia akhirnya tahu kalau dia berada di tengah-tengah orang Vietnam. Karena pembicaraan yang sampai ke telinganya itu dalam bahasa Vietnam.

Perlahan dia membuka mata. Ada api unggun yang terbalik, sekitar sepuluh depa dari tempatnya dia berada. Saat membuka mata kedua kalinya inilah dia baru tahu kalau yang terbalik bukanlah orang-orang, api unggun atau rumah. Tapi dirinyalah yang terbalik, kepala kebawah kaki diatas. “Aku masih hidup..” bisik hatinya.

Dia kembali memejamkan mata. Untuk sementara tak ingin membuka mata. Biar orang-orang Vietnam itu menyangka kalau dia masih pingsan. Dari penglihatannya yang sepintas tadi, dia tahu kalau dia kini berada di daerah barak yang dia hancurkan tadi pagi. Pagi tadi? Apakah peristiwa itu tadi pagi, atau….? Si Bungsu mencoba kembali menyusun ingatannya.

Di mulai saat dia meninggalkan Lok Ma, Sersan pencari jejak Vietnam yang dia totok sehingga tak bisa bergerak tanpa menciderai orang tersebut. Dengan cepat dia melangkah kearah danau yang pernah dia tempuh, yang menurut rencana, akan mereka pakai tempat berkumpul untuk meloloskan diri. Dia harus dengan cepat menyusul rombongan MacMahon dan Duval yang datang kemudian bersama Roxy dan Thi Binh. Ada yang dia khawatirkan kalau-kalau regu pemburu yang lain mengejar dari arah danau itu. Dia yakin, bahaya menghadang rombongan MacMahon. Kekhawatirannya terbukti saat dia berada tak jauh dari danau tempat berkumpul pelarian itu. Masih di dalam belantara, dia sudah mendengar tembakan sahut bersahut. Saat sampai di pinggir padang lalang dia melihat heli yang sedang menaikan pelarian itu. Beberapa tentara dekat heli dia lihat terjungkal. Dia berlari dan menghamburkan tembakan kesegala penjuru, ke arah tentara Vietnam.

Dia tak berusaha berlindung, karena ingin mengalihkan semua perhatian tentara Vietnam itu kepadanya, agar heli itu bisa mengudara, menyelamatkan para pelarian. Beberapa tentara Vietnam yang mendekati heli itu terjungkal kena pelurunya. Taktiknya berhasil, belasan tentara Vietnam itu berbalik arah padanya, hingga mereka lupa kalau heli itu bisa lolos. Tapi mereka harus menembaki lelaki yang baru datang itu agar mereka tak kena tembakan dan mati konyol.

Dia makin merengsek kearah tengah padang itu. Dia menjadikan dirinya umpan peluru. Dan saat itu heli itu berhasil mengudara. Namun heli itu masih dalam jangkauan tembakan dan belum aman. Dan dia kembali berhasil menembak beberapa tentara Vietnam yang mencoba menembaki heli itu. Namun bahunya kena tembakan sebuah peluru, dia tersentak kebelakang. Tapi dia berusaha untuk tidak rubuh, dan kembali menembak.

Heli itu berhasil meloloskan diri, tapi kembali perutnya dihajar peluru. Dia tersentak lagi kebelakang dan masih berusaha untuk menembak, tapi ‘klik’ pelurunya habis. Dia melemparkan senjatanya dan mengangkat tangan tinggi-tinggi keudara, tapi perang kali ini Dalam Neraka Vietnam,yang sangat buas. Meski sudah menyerah tetap saja dua peluru menghantam perut dan bahunya, dia tersentak-sentak kebelakang.

Kepalanya terdongak kelangit dan sepintas dia melihat heli sudah jadi sebuah titik di langit merah bagian selatan sana. Lalu belasan tentara itu mengepungnya dengan senapan mengarah padanya. Dia masih manusia biasa, walau tadi beberapa peluru telah menghantam tubuhnya. Dia bisa bertahan mungkin karena dua hal.

Pertama, karena tubuhnya amat terlatih, kenyal dan liat. Kedua, dia tahu tawanan yang dia tolong membebaskannya itu lolos dari maut. Lalu setelah dia melihat heli itu lolos, daya tahan tubuhnya sampai ke batas, dia rubuh bagaikan batang pisang yang di tebang. Di sinilah dia kini, di suatu tempat yang tak pernah dia kenal sebelumnya, Dalam Neraka Vietnam.

Dia merasa kalau pasti ada sesuatu yang akan dilakukan tentara Vietnam itu terhadap dirinya sehingga dia masih di biarkan hidup. Jika tak salah ada empat atau lima peluru yang menghajar tubuhnya dalam pertempuran senja itu. Kendati tidak ada yang mengenai tempat mematikan, namun dia sebanarnya tak mungkin hidup. Mengingat begitu banyak peluru dan darah yang keluar. Dia yakin pasti tentara Vietnam itu menginginkan sesuatui dari dia. ’Sesuatu’ itu di pastikan informasi. Mereka pasti ingin mengorek informasi tentang tentara Amerika dari dia.

Mungkin mereka menyangka kalau dia di tugaskan untuk membebaskan tentara-tentara Amerika yang di tawan tentara Vietnam. Tapi ada untungnya juga dia diduga bagian dari tugas itu. Jika tidak, pasti dia sudah dihabisi, atau ditinggalkan saja bergelimpang di padang lalang tersebut. Dan akan mati kehabisan darah, kemudian akan jadi santapan harimau atau biawak di padang lalang dekat danau itu.

Dia tidak tahu, apakah lebih baik di makan harimau dan habis di santap belatung di padang lalang itu, atau tergantung disini. Sebab dia sudah mendengar akan kebuasan dan sadisnya tentara Vietnam melakukan tawanan mereka. Sehingga tentara Amerika yang berhasil dibebaskan, banyak yang mengalami cacat fisik dan cacat jiwa. Kini dia berada di tengah tentara Vietnam itu, yang tengah penuh amarah karena tawanan mereka berhasil meloloskan diri.

Hanya sejauh manakah pemahaman tentara Vietnam itu, kalau dia bukanlah bagian dari misi atau operasi pembebasan tentara Amerika. Dia tak tahu mana yang terbaik. Kalau tentara Vietnam itu mengetahui kalau dia bagian dari operasi itu atau datang sendirian, kalau orang-orang ini menyangka dia bagian dari operasi, pasti mereka akan mengorek informasi sebanyak mungkin. Untuk itu dia haqqul yakin kalau siksaan berat akan dia terima. Dan kalau mereka tahu dia datang sendirian, pasti amarah tentara-tentara Vietnam itu telah diubun-ubun. Karena melalui dua tangannyalah para tawanan itu berhasil meloloskan diri dan menghancurkan barak-barak mereka. Dan terbunuh juga Komandan mereka yang berpangkat Kolonel.

Sungguh sulit membayangkan siksaan seperti apa yang akan dia terima. Perlahan dia membuka mata, dan memandang kakinya yang terikat di sebuah kayu sebesar paha, dan kedua tangannya juga terikat terpentang kekiri dan kekanan yang diikatkan kedua buah pohon. Tali yang mengikatnya adalah tali dari kulit kayu khusus yang di pintal. Kukuh dan kenyal. Setiap dia menggerakkan kaki atau tangan, ikatannya kian mencengkam dan semakin menyakitkan. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat dia memejamkan mata dan tertidur. Lebih tepatnya dia pingsan lagi dari pada di bilang tidur. Sebab di gantung dengan posisi itu, mungkin tak seorangpun akan bisa tidur betapun lelahnya.

Si Bungsu tidak menyadari kalau darah sudah menetes dari hidung, telinga dan mulutnya. Panas yang menyengat dan suara burung yang bersahut-sahutan membuat dia kembali membuka matanya, tapi setelah matanya terbuka kembali dia memejamkannya karena tak tahan silau cahaya matahari.

Kaki dan tangannya telah menjadi mati rasa. Ketika dia kembali berusaha membuka matanya pelan- pelan, dia tak melihat apa-apa selain silau cahaya. Dia buka matanya agak lebar, ada sedikit bayangan rumah dan pohon, kemudian orang berjalan, namun amat samar-samar. Saat dia menarik nafas dia rasakan sesuatu di hidungnya. Saat itulah dia menyadari kalau ada yang melapisi selaput matanya, sehingga dia tak bisa melihat dengan jelas adalah darah yang mengalir dari hidungnya.

Di mulutnya dia rasakan sesuatu yang kental dan asin. Dia coba merasakannya dengan ujung lidah. Darah ternyata tidak hanya mengalir dari hidung, tetapi juga dari mulutnya. Si Bungsu menarik nafas. Dia menyadari siksaan yang dialaminya sekarang baru “tahap pembukaan”. Siksaan yang lebih dahsyat akan menantinya setelah ini. Dia yakin akan hal itu. Dia terbatuk, nafasnya sesak. Dan orang-orang Vietnam yang berada di rumah-rumah yang terbuat dari bambu, yang berada di sekitar tempat Si Bungsu digantung pada menoleh.

Mereka saling berbisik atau bicara, mengatakan tawanan itu sudah sadar. Tiga tentara berjalan ke arahnya. Dia tahu jumlahnya tiga orang karena pendengarannya masih berfungsi dengan amat baik. Jarak antara tempat dia digantung dengan ketiga orang yang melangkah itu sekitar dua puluh depa. Dua di antara yang datang itu memakai sepatu tentara. Yang satu lagi, memakai sepatu karet. Dia bisa menandai perbedaan dari geseran langkah ketiga orang tersebut. Dia menarik nafas, mensyukuri pendengarannya masih bisa diandalkan. Dibukanya mata, namun yang terlihat hanya bayangan yang amat kabur. Darah masih tetap menutupi kornea matanya.

Seseorang bicara kepadanya. Dia tak faham karena orang itu bicara dalam bahasa Vietnam. Sebenarnya orang itu tidak bicara, melainkan membentak. Dia mencoba untuk tersenyum. Apakah pula gunanya orang ini membentak dirinya, pikirnya. Orang itu nampaknya memang seperti sepakat dengan apa yang difikirkan Si Bungsu. Tak ada gunanya membentak, lebih baik menerjang! Si Bungsu mendengar desahan angin ke arah tubuhnya, sebelum tendangan sepatu tentara itu menghajar dadanya. Darah segar segera menyembur dari mulutnya akibat tendangan itu.

Dia tak tahu apakah ada tulang dadanya yang patah. Namun sakitnya luar biasa. Seseorang dia dengar berbicara, bukan orang yang menendangnya. Dia kenal suara itu. Suara Lok Ma! Orang yang menendangnya itu kemudian membentak lagi. Kali ini bentakkan bukan ke arahnya, melainkan pada Lok Ma. Lok Ma mendekat, menjambak rambutnya, lalu bicara padanya dalam bahasa Inggris. “Kawan, saya harus melakukan ini padamu. Jangan sebut namaku. Jangan sampai orang-orang ini mengetahui engkau mengenalku. Tetaplah pura-pura pingsan….”

Si Bungsu tiba-tiba merasa punya ‘teman’ dalam kondisi yang kritis itu. Dia tahu, Lok Ma bicara dalam bahasa Inggris tentu karena kedua orang lainnya itu tak mengerti bahasa Inggris. Dia membuka mata. Namun yang kelihatan hanya bayang-bayang kabur. Jika dia melihat dengan jelas wajah Lok Ma, bukan karena penglihatannya sudah menjadi terang, tetapi wajah lelaki itu menjadi jelas karena rekamannya ada dalam ingatannya.

“Tolong hapus darah di mataku…” ujarnya dengan suara bergetar menahan sakit. Lok Ma bercarut kesal. Orang ini disuruh agar terus pura-pura pingsan agar tidak disiksa, malah ngomong minta tolong. Namun Lok Ma merasa kasihan juga melihat darah yang mengalir dari hidung dan mulut lelaki tangguh ini. Dia berteriak ke arah barak. Bicara dalam bahasa Vietnam. Tak lama kemudian seorang kanak-kanak datang membawa sebuah panci alumunium putih yang biasanya dipakai tentara sebagai tempat ransum yang sudah penyok- penyok, berisi air dan sebuah kain lap yang sudah compang camping.

Lok Ma membasahkan kain lap compang camping itu ke air di tempurung kelapa tersebut. Kemudian dengan kain lap yang sudah dibasahi itu dia bersihkan darah yang mengalir dari hidung dan mulut Si Bungsu. Dengan hati-hati dia bersihkan darah yang menempel di mata lelaki tersebut. Beberapa saat kemudian Si Bungsu bisa melihat ketiga lelaki yang berada di depannya. Dari posisinya sekarang, ketiga lelaki itu dia lihat seperti anak-anak sedang dalam posisi senam standen di sekolah. Kaki di atas, kepala di bawah. Kendati dalam keadaan sekarat dan nyawanya di ujung tanduk, namun rasa geli melihat seolah-olah ketiga orang itu kakinya berada di bahagian atas, Si Bungsu tak dapat menahan senyumnya. Yang dia gelikan sebenarnya bukan ketiga orang itu, melainkan dirinya sendiri. Apa yang dikhawatirkan Lok Ma segera terjadi. Lelaki tinggi besar berpangkat Kapten, yang tadi menghantam dadanya, hingga dia muntah darah, kini menjadi berang melihat tawanan tersebut senyam-senyum segala.

Kaki kanannya yang besar itu terhayun. Lok Ma terpaksa memiringkan tubuhnya ke kanan, agar tak terkena tendangan si Kapten. Akibatnya bukan main, kaki bersepatu besar itu menghajar kepala Si Bungsu dari bawah. Seperti orang menendang bola yang sedang jatuh dari operan. Tendangan itu menghajar persis di ubun- ubun Si Bungsu. Saking kerasnya tendangan itu, seiring suara berderak, mungkin dari tulang leher, tubuh Si Bungsu yang tergantung terangkat sampai setengah meter.

Saat jatuh usai ditendang itu membuat cengkeraman tali pengikat kaki dan tangannya semakin mengencang. Tubuh Si Bungsu tak sempat berkelonjotan. Lok Ma melihat mata lelaki itu hanya tinggal putihnya. Wajahnya sudah seperti mayat. Lok Ma, Sersan pencari jejak itu merasa bulu tengkuknya merinding melihat demikian kuatnya tendangan si Kapten. Suara berderak akibat tendangan itu dipastikan dari salah satu sumber. Jika tidak tulang leher yang patah, pastilah tempurung kepala Si Bungsu yang pecah.

Yang manapun di antara kedua kemungkinan itu yang terjadi, akibatnya sama saja. Mati! Belasan tentara Vietnam yang sedang membersihkan senjata di depan pondok-pondok, maupun belasan penduduk sipil lelaki dan wanita serta anak-anak menyaksikan peristiwa itu. Mereka berdiam diri. Lok Ma menggertakkan gerahamnya. Dia berdiri menatap pada si Kapten dengan mata berapi dan berkata dengan nafas sesak.

“Kita diperintahkan untuk menjaga orang ini tetap hidup, agar komandan bisa menanyainya. Saya rasa dia sudah harus dikubur sekarang. Saya tak ikut bertanggung jawab!” ujar Lok Ma sambil meninggalkan tempat itu. “Binatang seperti ini tak boleh dibiarkan hidup. Lebih cepat dia mati lebih baik…” sergah si Kapten.

Nada suara perwira bertubuh tinggi besar itu terdengar memancarkan kepuasan setelah dia melihat tubuh lelaki yang sudah menimbulkan banyak sekali korban di pihaknya itu hanya terayun-ayun kecil, dan matanya hanya kelihatan bahagian putihnya. Kapten sadis yang tadi menendang dada Si Bungsu, sehingga dia muntah darah itu, dan yang sebentar ini menendang kepalanya sehingga dia semaput, adalah Kapten yang memburunya seusai dia bertahan bersama Letnan Duval, Roxy dan Thi Binh. Yang memerintahkan agar Lok Ma bersama dua orang lainnya membuat jebakan untuk membunuh Si Bungsu.

Usai pertempuran di padang lalang dekat rawa luas itu, di mana para pelarian lolos bersama helikopter karena Si Bungsu memberikan perlindungan, sisa pasukan Vietnam itu menyingkir jauh sekali. Mereka sungguh terkejut tatkala mendapati masih ada pasukan Amerika yang menusuk ke jantung Vietnam dan melibatkan diri dalam peperangan. Padahal negara ini kini sudah sepenuhnya milik Vietnam. Artinya, kehadiran tentara Amerika tanpa izin di wilayah tersebut merupakan suatu pelanggaran atas kedaulatan Vietnam. Apalagi jika mereka datang lagi memerangi Vietnam. Benar-benar sebuah pelanggaran hukum internasional yang amat berat.

Tapi karena mereka tidak memiliki radio, karena radio yang berada di barak sudah dihancurkan oleh Si Bungsu dan teman-temannya, diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa melaporkan kasus pelanggaran berat pihak Amerika itu ke ibukota. Ketika laporan itu akhirnya sampai ke kota Ho Chi Minh, nama baru untuk Hanoi, Amerika sudah mempunyai jawaban. Jawaban pihak Amerika justru membuat pemerintah Hanoi kebakaran jenggot. Pentagon, markas besar angkatan bersenjata Amerika, yang sudah dilapori oleh Laksamana Lee, Komandan USS Alamo, justru menyerang balik penguasa di Hanoi.

Amerika memasuki Vietnam untuk membebaskan tentara dan warga negaranya yang ditawan secara semena-mena dan tidak berkeperimanusiaan. Vietnam ternyata melakukan kebohongan besar, mengatakan mereka tidak menawan seorang pun tentara Amerika.

Kasus ini membuktikan secara amat konkret kebohongan Vietnam tersebut. Amerika tidak hanya melakukan protes keras, tetapi tetap akan melakukan segala tindakan yang diperlukan. Akan terus mencari, dan membebaskan tentara dan warga negaranya yang hilang selama peperangan, selama Vietnam tetap melakukan kebohongan seperti sekarang.

Dalam pernyataan berikutnya, diuraikan pengalaman tawanan perang tersebut, bersumber dari penuturan MacMahon dan kawan-kawannya, yang direkam di rumah sakit militer di pangkalan Subic. Sebuah cerita yang menegakkan bulu roma, tentang kekejian dan kebiadaban Vietnam menyiksa para tawanan, lelaki dan perempuan. Pernyataan di atas sebenarnya tidak disetujui oleh Kementerian Luar Negeri Amerika. Namun para jenderal tak peduli, terutama dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut.

Mereka yang belum habis marahnya akibat pukulan yang mereka terima di Vietnam itu, mengancam Kementerian Luar Negeri AS, agar mengirim pernyataan yang amat di luar kezaliman dan tatakrama diplomatik itu. Namun pernyataan itu pula yang menyebabkan penguasa Vietnam yang memang sengaja menyembunyikan ratusan tentara Amerika yang mereka tawan selama peperangan, segera memindahkan tempat-tempat tahanan dan memperketat penjagaan.

Bersamaan dengan itu, Kolonel MacMahon dan Laksamana Lee secara rahasia ditempatkan di Teluk Kompong Sam di selatan Kamboja untuk melakukan penerbangan dan operasi intensif mencari tempat disekapnya lelaki Indonesia bernama Si Bungsu itu. Mayor Black diperintahkan untuk berusaha maksimal membebaskan lelaki yang sudah membebaskan belasan tentara Amerika tersebut. Pada saat itu nyawa Si Bungsu seperti tergantung di sehelai benang yang amat rapuh. Luka yang belum sembuh akibat lima peluru yang bersarang di sekujur tubuhnya diakhiri dengan dua tendangan Kapten Vietnam bertubuh besar itu.

Terutama tendangan ke ubun-ubunnya benar-benar mengantarkan nyawa lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu ke bibir liang lahat. Dia tidak pernah sadar sejak dihantam tendangan maut Kapten Vietnam tersebut. Pada puncak kritis, dia mengalami mimpi atau mungkin sebuah halusinasi yang dahsyat. Yang kalau saja dialaminya ketika dia berada dalam kesadaran penuh, pasti akan mengguncang jiwanya. Dalam mimpi atau halusinasi itu, rasanya dia memasuki sebuah taman indah yang amat semerbak dan dihiasi bunga serba putih. Di taman itu ada ayah, ibu dan kakaknya. Ketiga mereka berpakaian sutera serba putih yang amat indah.

Ibunyalah yang pertama datang menyongsongnya dengan pelukan dan deraian air mata. Dipeluknya anak Bungsunya itu seperti takkan dia lepas. Ayah dan kakaknya menatap dia dengan senyum namun berdiam diri. “Lama benar engkau merantau dan menderita seorang diri, Bungsu anak Bunda. Sekarang, janganlah

pergi lagi dari ibu, ayah dan kakakmu, Nak. Di sinilah bersama kami. Di luar sana, di rantau-rantau yang jauh entah di ujung dunia mana, engkau berkelana seorang diri. Tanpa ibu dan ayah, tanpa kakak dan sanak saudara. Engkau anak seorang penghulu pucuk di kampungmu, keluargamu dihormati orang negeri. Namun lihatlah keadaanmu kini, Bungsu mata hatiku. Tak ada yang menanakkan nasi untukmu, tak ada yang akan mengurut kepalamu jika engkau pening dan demam. Tak ada yang menungguimu kala engkau sakit. Tak ada tempatmu mengadu, Anakku. Tetaplah disini bersama Bunda, Ayah dan Kakakmu, buyung buah hatiku…” ujar bundanya.

Si Bungsu tak mampu berbicara sepatah pun. ‘Pertemuan’ itu amatlah dahsyat baginya. Saat berada dalam pelukan bundanya, saat berada di antara ayah dan kakaknya, dia seperti mendapatkan kembali masa kecilnya yang hilang. Separoh lenyap karena perangainya sendiri. Sementara yang separoh lagi lenyap direnggut kekejian balatentara Jepang. Belasan tahun hidup sendiri, dia tak pernah tahu bagaimana rasanya meneteskan air mata. Air matanya seperti sudah kering dihisap gurun derita sepanjang jalan hidupnya yang sunyi.

Terpental dari suatu negeri ke negeri lain. Terhempas dari muara nasib yang satu ke muara nasib yang lain. Kini, dalam dekapan bundanya yang penuh kasih sayang, dia merasakan betapa air matanya merembes, membasahi lengan baju sutera bundanya. Tubuhnya terguncang menahan isak yang tak mampu dia bendung. Tangis haru dan bahagia yang belum pernah dia rasakan selama puluhan tahun. “Oo, betapa rindunya Bunda padamu Buyung sibiran tulang. Betapa rindunya kakak dan ayahmu, ingin bersua denganmu…” bisik bundanya dengan suara bergetar.

Kemahiranmu mempergunakan samurai, membuat Ayah bangga. Kendati tak pernah kuajar, kini engkau adalah pesilat tangguh, yang puluhan kali lebih hebat dari ayah. Kami bangga padamu, Nak…” bisik ayahnya dengan suara yang benar-benar menggambarkan rasa bangga dan bahagia.

Dengan mata basah Si Bungsu menatap wajah ayahnya. Yang menatapnya dengan senyum dan mata yang juga basah. “Jangan katakan bahwa Ayah tak pernah mengajar saya bersilat. Semua yang saya ketahui tentang samurai dan gerak silat yang hanya separoh-separoh, saya pelajari dari gerakan yang ayah lakukan tatkala ayah bertarung dengan Saburo Matsuyama. Semuanya. Ayahlah satu-satunya guru saya. Darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah Ayah…” ujar Si Bungsu. Ayahnya tertawa renyah. Suaranya yang bernada bariton, berat berwibawa, membuat Si Bungsu merasa sangat bangga dan terlindungi.

“Ternyata engkau tak hanya pandai bersilat dan bersamurai, tapi juga pandai membawa diri. Mandi di hilir-hilir, berkata di bawah-bawah, Buyung. Ayah bangga mempunyai anak seperti engkau…” ujar ayahnya sembari mengusap kepala Si Bungsu. Si Bungsu ingin menangis mendengar ucapan ayahnya. Namun dia tak ingin terlihat menjadi lemah. Dia tersenyum, kendati air mata membasahi pipinya. Kemudian dia bangkit, berjalan ke arah kakaknya. Dia duduk berlutut di depan kakaknya. Si kakak memeluk kepala adiknya.

“Ampuni adikmu ini, Kak. Yang tak bisa membelamu, ketika engkau dinistai serdadu Jepang itu…” bisiknya. “Apa yang telah engkau lakukan, Adikku, lebih dari segala-galanya. Tentang apa yang mereka lakukan pada Ayah, Ibu dan Kakak, kelak akan tiba saatnya masa perhitungan. Biarlah Hakim Yang Maha Agung menimbangnya dan menghukum. Karena Dia memang Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Adil dan Maha Menghukum. Kakak bangga mempunyai adik seperti engkau. Kini tetaplah bersama kami di sini…” bisik kakaknya, sembari mencium kepala adik kesayangannya itu. Bundanya mendekat. Kemudian kembali memeluk Si Bungsu. Lalu membawa anak lelakinya itu berdiri. “Marilah kita pergi bersama-sama…” ujar si ibu.

Si Bungsu dibimbing ibu dan kakaknya melangkah ke arah taman yang lain. Namun Ayahnya memanggil mereka perlahan. Mereka berhenti. Datuk Penghulu yang berwibawa itu menatap pada istri dan anak perempuannya. Dengan wajah yang amat jernih, perlahan dia memberi isyarat dengan gelengan kepala. “Belum saatnya dia bersama kita sekarang. Masih banyak hal yang harus dia selesaikan di tempat lain…” ujar ayahnya. “Tetapi…” ibunya ingin protes.

“Kita tak boleh melawan kodrat Yang Maha Pencipta. Kehadiran seseorang di suatu tempat dalam suatu peristiwa dan kejadian, sudah diatur ketika orang itu masih berada dalam rahim Bundanya. Dia harus menyelesaikan seluruh takdir yang sudah disuratkan untuknya. Mari kita antar dia ke gerbang darimana tadi dia datang…” ujar ayahnya perlahan dan dengan suara yang demikian teduh. Dengan berat hati si ibu membimbing anaknya ke gerbang darimana Si Bungsu tadi masuk ke taman yang amat indah itu.

“Di sini Bunda akan menantimu, Buyung sibiran tulang. Di sini Ayah dan Kakakmu menanti kedatanganmu kelak. Pergilah dengan doa dan kasih sayang yang tak bertepi dari kami. Terutama dari Bundamu ini, Buyung anakku… Pergilah. Jangan sekali-sekali engkau menoleh ke belakang… pergilah!” bisik bundanya, sembari untuk kali terakhir kembali mencium wajah anaknya, mencium kepalanya. Air matanya membasahi rambut, dan menyelusup ke ubun-ubun Si Bungsu.

Hal pertama yang dirasakan Si Bungsu saat siuman dari pingsannya yang panjang, dari masa kritisnya yang sudah berada di ambang maut, adalah rasa sejuk dan nyaman yang melenyapkan seluruh sakit di ubun- ubunnya yang kena tendangan itu. Air mata bundanya seperti menyelusup lewat ubun-ubunnya yang retak. Mengalir perlahan lewat pembuluh darah di otaknya. Mungkin tak banyak orang yang bisa percaya akan perjumpaan secara halusinasi seperti yang dia alami. Yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai saat-saat ‘transendental’.

Di alam metafisik itu secara ajaib dan amat luar biasa “air mata” seorang ibu mampu mengobati semua luka dan melenyapkan rasa sakit anaknya, yang sudah tak lagi punya harapan untuk hidup. Hanya beberapa orang, termasuk kaum sufi dan ulama, yang percaya bahwa hal-hal gaib seperti itu merupakan bahagian dari kebesaran Yang Maha Pencipta. Namun kendati kejadian seperti itu bukanlah sesuatu yang khayali, lalu dibelokkan untuk melakukan ziarah dan memuja kuburan. Kejadian itu adalah salah satu cara dari Yang Maha Pencipta menunjukkan kebesaran-Nya.

Bahwa apa yang musykil bagi manusia, hanya sesuatu yang teramat mudah bagi-Nya. Tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Karenanya, Allah menginginkan agar umat manusia lebih iman dan lebih tawakal. Selain rasa sejuk yang menjalar dari ubun-ubun ke seluruh pembuluh darahnya, hal lain yang pertama dirasakan Si Bungsu, yang siuman dari pingsan dari masa kritisnya yang mencekam, adalah bau yang amat busuk. Bau yang menusuk hidung. Dia dengar dengus yang menjijikkan. Ketika membuka mata, yang pertama tertatap oleh matanya adalah jerajak bambu sebesar-besar lengan.

Bambu yang seolah-olah menjadi loteng tempatnya berada dengan bermacam daun kering yang dijadikan atap. Ada beberapa saat dia membiarkan dirinya tertelentang diam. Kemudian matanya melirik ke kanan. Tak sampai sedepa di kanan, dia lihat jerajak batang bambu yang sama. Dia melirik ke kiri, ke bawah kakinya, jejarak bambu yang sama tetap terlihat. Aku berada dalam kurungan yang terbuat dari bambu, bisik hatinya, sembari bangkit untuk duduk. Begitu dia duduk, dia segera melihat bahwa dirinya dikurung dalam kurungan yang kukuh.

Kurungan yang ditaruh dalam kandang babi. Suara dengus dan pekik babi yang belasan ekor itulah yang terdengar olehnya sebelum dia membuka mata. Begitu juga bau busuk yang amat menusuk hidung, yang membuat dia ingin muntah. Bau apalagi kalau bukan bau taik, kencing dan makanan babi itu. Rasa dingin di punggungnya ternyata karena dia terbaring menelentang di atas lumpur di kandang babi itu. Babi-babi itu pada menjulurkan kepala dari sela-sela tiang bambu kurungannya. Menatap padanya, mungkin dengan perasaan heran. Sungguh suatu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya, dalam hidupnya dia akan mengalami penghinaan seperti ini. “Hei, kamu hidup kembali?”

Tiba-tiba sebuah suara serak dan lemah terdengar dari arah kanan. Dia menoleh, dan di kanannya, hanya berjarak sekitar tiga depa dari dia, ada lagi sebuah kandang bambu seperti yang dia tempati. Tidak, tidak sebuah, ada dua tiga buah. Masing-masing berisi seorang manusia. Dan semuanya jelas tentara Amerika. Itu dapat segera ditandai dari pakaian seragam compang-camping yang masih melekat di tubuh mereka. Bedanya antara tempat dia ditahan dengan orang-orang itu adalah tinggi rendahnya tempat tahanan. Kurungan yang dia tempati ditaruh di atas tanah kandang tersebut. Sementara kurungan yang lain nampaknya sengaja digali sedalam satu meter. Semua kotoran kandang babi itu dialirkan ke tempat tawanan tersebut. Hal itu menyebabkan mereka berendam sepanjang hari di dalam air kotoran babi yang ketinggiannya mencapai perut. Nampaknya untuk sementara kurungan yang dia tempati lebih lumayan. “Kami sangka kau takkan hidup. Kami dengar Kapten gorilla itu menendang dada dan kepalamu. Sudah belasan tawanan tentara Amerika yang mati disiksa gorilla haus darah itu…” ujar tentara kurus kerempeng dan pucat, dari kubangan di sebelah Si Bungsu. Ada beberapa saat dimana semua yang dia lihat, yang dia dengar dan dia rasakan lewat seperti bayang- bayang. Matanya melihat apa yang ada di hadapannya, telinganya mendengar semua suara, indera penciumannya mengendus semua bau. Namun hanya sampai di sana. Belum satupun yang masuk ke rekaman otaknya. Fikirannya masih berada di dalam impian dahsyat bertemu ayah, ibu dan kakaknya yang baru saja lewat. Impian itu demikian nyata dan demikian jelas. Perlahan dia raba kepalanya. Ada perban di sana, dililitkan dari ubun-ubun ke bawah dagunya. Saat itulah dia baru sadar sepenuhnya, bahwa apa yang dia alami sebentar ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang amat luar biasa. Dia yakin, sekali pun yang baru dia alami adalah mimpi,

namun dia amat bahagia.

Dia bisa bertemu kembali dengan ayah, ibu dan kakaknya. Meski hanya dalam mimpi, namun mimpi itu seolah demikian nyata. Dua hari setelah itu, dia melihat dua tentara Vietnam datang dari arah depan kandang babi itu ke tempatnya. Salah seorang di antara mereka nampak menjinjing sebuah ransel dengan tanda palang merah. Kedua tentara itu tak dapat menyimpan rasa kagetnya, ketika melihat lelaki yang biasanya secara rutin mereka beri obat dengan cara injeksi itu sudah duduk dan kelihatan demikian sehatnya. Padahal, hampir tak seorang pun yang meyakini bahwa lelaki ini akan bisa hidup. Kalaupun hidup, dia akan cacat seumur hidup. Beberapa langkah sebelum memasuki kandang mereka berhenti. Bicara sebentar. Kemudian yang seorang kembali ke arah barak. Yang membawa ransel dengan tanda palang merah masuk ke kandang setelah terlebih dahulu menutup hidung dan mulutnya dengan kain seperti yang dipakai para dokter ketika melakukan pembedahan di rumah sakit.

Tentara yang baru datang itu tak masuk ke kurungan penyekapan Si Bungsu. Dia hanya tegak menatap dari jarak sekitar dua depa dari kurungan. Beberapa ekor babi yang semula bertemperasan ketika dia masuk ke kandang itu, kini pada mendekat. Berseliweran di sekitar dirinya. Lalu saat itu datang empat orang tentara lainnya. Selain masing-masing membawa bedil, salah seorang dari mereka membawa sebuah tongkat pendek dan seutas tali.

Ketika mereka masuk, mereka menendangi dan memukul babi-babi yang mencoba mendekati mereka. Lalu yang seorang memerintahkan Si Bungsu untuk keluar, dengan menghardikkan satu-satunya kata dalam bahasa Inggris yang dia kuasai, yaitu kata “out!”. Di bawah tatapan mata empat sampai lima tawanan Amerika, yang berada dalam kurungan bambu dan berjejer dalam kandang babi itu, Si Bungsu berdiri perlahan. Dia merasa dirinya amat enteng dan sehat sekali. Sebenarnya, “mimpi dan air mata” ibu yang menyebabkan dia sadar, setelah puluhan hari berada dalam keadaan koma, secara ilmiah bisa ditelusuri.

Selama dia koma, tentara Vietnam tetap memberinya semacam obat agar dia tetap bertahan hidup untuk dikorek keterangannya. Obat-obat itu hari demi hari bekerja menyembuhkan bahagian-bahagian dalam tubuhnya yang cedera. Baik karena luka bekas tembakan peluru maupun bekas hantaman kaki Kapten gorilla itu. Hanya saja, semua obat yang diberikan dan diterima oleh tubuhnya, secara psikologis ternyata ditolak oleh jiwanya. Penolakan jiwa bawah sadar inilah yang membuat obat-obat kedokteran tidak berdaya. Secara kejiwaan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tubuh orang-orang sakit parah melakukan penolakan terhadap obat. Ada yang karena hidupnya tertekan berkepanjangan. Tergeletak sakit, atau mati sekalipun, merupakan istirahat atau pembebasan dirinya dari rasa tertekan.

Kesembuhan fisik baginya tak lain dari kembalinya dia ke dalam hidup yang penuh tekanan. Karenanya, kendati dia tetap diobati, diinjeksi, diinfus, proses kesembuhannya sangat lama. Karena jiwa dan bawah sadarnya memang tak menginginkan kesembuhan. Ada pula yang alam bawah sadarnya tidak menginginkan kehidupan, karena dia tak tahu untuk apa dia hidup. Orang dari kelompok ini bisa saja dari kalangan orang- orang berada, namun tak punya landasan agama yang kuat. Hari-hari dalam hidupnya berlalu tanpa manfaat untuk siapapun. Begitu dia jatuh sakit, dia merasa mendapat jalan keluar dari perasaan hidup tanpa guna. Makin lama dia tergeletak sakit, makin tenteram perasaannya. Karena sebagai orang sakit, dia merasa memang layak tak bisa mendatangkan manfaat untuk siapapun.

Ada yang alam bawah sadarnya melakukan penolakan terhadap obat, karena dia memang tak mampu lagi menahan rasa sakit berkepanjangan. Daripada menderita menjadi langganan rumah sakit terus, lebih baik mati. Akan meringankan beban keluarganya dan membebaskannya dari rasa menderita berkepanjangan. Akan halnya Si Bungsu entah ke kelompok mana dia masuk. Atau barangkali ada kelompok lain, yang memang beragam alasan, alam bawah sadar seseorang menolak obat-obat.

Hanya saja ketika alam bawah sadarnya berada di titik tertinggi penolakan, saat mana nyawanya berada di ujung tanduk, sebab jika masih terjadi penolakan maka kemungkinan yang terbuka baginya hanya satu, yaitu terhentinya semua sistem dan mekanisme kehidupan pada tubuhnya. Jika itu yang terjadi, manusia menyebutnya sebagai suatu kematian. Pada saat berada di titik kritis tertinggi itulah, mimpi yang hanya Tuhan yang tahu itu terjadi pada dirinya. Air mata sang ibu, merupakan ‘obat’ yang mendorong daya hidupnya kembali menyala.

‘Obat’ yang datang kepadanya dari alam metafisik, dari alam gaib. Pada orang-orang tertentu, mimpi bukan hanya sekedar permainan tidur. Banyak manusia yang mengalami mimpi sebagai isyarat bahkan petunjuk atas sesuatu. Hanya saja, bagi orang-orang yang beriman, isyarat dan petunjuk itu menjadikan dia semakin yakin akan kekuasaan Tuhan. Sementara, sebahagian lagi keyakinannya bukan pada Tuhan yang menciptakan semua denyut kehidupan di muka bumi, termasuk menciptakan mimpi itu. Yang dia yakini justru mimpi tersebut. Bagi orang-orang seperti ini, tidak jarang dia terperosok menjadi musyrik. Mengeramatkan dan minta perlindungan dan rezeki pada makam atau tempat-tempat keramat lainnya.

Akan halnya Si Bungsu, begitu keluar dari kerangkeng bambu berlumpur amat busuk itu, kayu sebesar lengan yang panjangnya sedepa yang tadi dibawa seorang tentara, segera diletakkan di bahunya. Kedua tangannya diikat, dengan posisi terbentang ke kiri dan ke kanan, ke kayu tersebut dengan erat. Kedua kakinya diikat pula dengan tali yang terbuat dari kulit kayu.

Tali dari kulit kayu yang mengikat tangan dan kakinya itu dalam keadaan basah. Teknik mengikat dengan kulit kayu khusus, yang liat dan kenyal seperti yang dilakukan pada Si Bungsu saat itu, adalah cara yang lazim dilakukan Vietkong. Kulit kayu basah itu semakin kering semakin mengencang cengkeramannya pada bahagian tubuh yang diikat. Ikatan pada kedua kaki tahanan, yang rentang talinya dibuat tak lebih dari sejengkal, membuat si tahanan benar-benar dalam kesulitan. Usahkan untuk melarikan diri, akibat amat pendeknya rentang tali yang mengikat kedua pergelangan kaki, untuk melangkah saja sangatlah sulitnya.

Ketika dia di dorong dibawah todongan senjata agar bergerak cepat, maka tak ada cara lain yang dilakukan Si Bungsu selain melompat-lompat dengan kedua kakinya bergerak sekaligus. Semua tentara Amerika yang berada dalam kerang di kandang babi itu menatap dengan diam pada tawanan tersebut. Mereka tak mendapat informasi apapun tentang lelaki tersebut. Semua tentara dan penduduk yang mendekat ke tempat mereka di sekap pada tutup mulut. Penduduk kampung disini adalah orang Vietnam Selatan yang pada masa perang berpihak pada Amerika.

Apapun yang terjadi pada tawanan mereka harus tutup mulut atau tak ikut campur. Mereka takut akan siksaan dari tentara Vietnam Utara itu, yang kini menguasai seluruh negeri mereka. Sudah pemandangan biasa bila ada Ayah, ibu dan seluruh anak-anaknya di tembaki, jika dicurigai telah berkhianat.

Kecurigaan pihak Vietkong pada penduduk tidak di perlukan bukti. Jika saja ada salah satu pihak vietkong yang merasa mencurigai satu orang atau satu keluarga melakukan pengkhianatan, dia menembaki orang atau keluarga itu. Dalam situasi ini, rasa suka atau tak suka amat menentukan kelangsungan hidup seseorang atau satu keluarga, bisa hidup atau harus di akhiri nyawanya. Itulah sebabnya pihak vietkong dengan leluasa memperkosa wanita-wanita dari pihak selatan. Tak peduli dia masih gadis atau sudah punya suami. Jika menolak, pasal penghianatan sudah bisa membinasakan seseorang atau satu keluarga.

Itulah sebabnya, setelah Vietkong memenangkan peperangan. Jutaan orang-orang selatan berbondong- bondong keluar dari Vietnam menuju perbatasan ke kamboja dengan melewati hutan belantara yang ganas, dan ada juga dengan kapal-kapal kecil mengarungi lautan untuk mencari negara yang mau menampung mereka. Itulah sebabnya mereka di sebut ’orang-orang perahu’

Si Bungsu memasuki sebuah rumah yang paling besar di kampung itu. Sekali pandang dia bisa mengetahui kalau desa itu adalah kampung yang di bangun oleh kelurga-keluarga petani yang mengungsi dari kota-kota yang sedang terjadi pertempuran. Namun perang dengan cepat berakhir, semua tanah Vietnam kini di kuasai Vietkong.

Setelah dia masuk, seorang tentara berpangkat Letnan Kolonel sedang duduk dengan beberapa orang perwira lainnya. Termasuk Kapten gorila itu dan Lok Ma. Ada sebuah kursi reot di depan mereka. Si Bungsu disuruh duduk disana. Di meja reot tanpa alas itu dia lihat beberapa benda yang dia kenal. Senjata-senjata kecil yang selama ini dia pakai dalam berbagai pertarungan. Beberapa bilah samurai kecil, beberapa lempengan baja tipis yang sangat tajam. Beberapa diantaranya ada yang sebesar uang logam yang disisinya ada gerigi yang sangat tajam.

Sebagiannya bundar biasa, dengan pinggiran yang setajam pisau cukur. Dia lihat ada lima buah samurai kecil dan enam buah besi bulat itu terletak diatas meja. Letnan Kolonel itu sepertinya sangat terpelajar, berbeda dengan si Kapten gorilla yang menghantam dadanya sampai dia muntah darah dan menendang ubun-ubun nya sampai dia koma.

“Ini punya mu Tuan…? ujar Overste itu membuka interogasi itu dengan bahasa inggris yang fasih. “Ya..Tuan..” jawab Si Bungsu. “Engkau salah seorang yang ikut membebaskan tawanan tentara Amerika yang kami tawan sembilan minggu yang lalu?” Si Bungsu tertegun. “Maksud tuan?” Letnan Kolonel itu menatapnya dengan tajam. Lok Ma berbisik kepada overste itu dengan bahasa Vietnam. Overste itu mengangguk pelan usai lok Ma berbisik.

“Dua bulan yang lalu, sekitar seratus meter dari sini, tujuh belas orang tentara Amerika di bebaskan teman-temannya. Apa anda termasuk salah seorangnya?” Si Bungsu menarik nafas panjang, berarti selama itu pula dia pingsan. “Saya bukan bagian yang membebaskan itu, tuan….” jawabnya pasti. Overste itu menatap dia dengan tajam, kemudian dia melanjutkan ucapannya.

“Saya ingin menjelaskan, kalau saya sendiri membebaskan mereka. Ada tiga orang Vietnam yang jadi penunjuk jalan. Jika mereka di hitung, maka yang membebaskan tawanan itu kami berempat. Namun sesungguhnya, selain sebagai penunjuk jalan, mereka tak berperan apapun. Pembebasan itu sepenuhnya tanggung jawab saya..” overste itu menatapnya dengan tajam. “Demikian hebatnya kau, sehingga bisa menghancurkan sepuluh tentara Vietnam…”desis overste itu.

Sebelum ucapanya selesai, dengan cepat tangannya menyambar salah satu samurai kecil Si Bungsu diatas meja. Dan dengan cepat dan mahirnya dia lemparkan kearah dada kanan Si Bungsu, dari arah lemparan dada sebelah kanan bukan sebelah kiri dimana jantungnya, Si Bungsu tahu overste itu hanya ingin menyiksanya. Dia terkejut dengan gerakan lemparan itu yang tiba-tiba dan amat cepat.

Namun saat itu pula tubuhnya seolah-olah menunduk ke meja, terdengar suara berdetak halus. Dan saat dia meluruskan badanya dan menengok kebelakang dia lihat samurai itu tertancap didinding tempat tangannya terikat. Semua yang ada di ruangan yang dindingnya terbuat dari bambu itu pada terdiam. Tak ada seorang pun yang tahu, termasuk overste itu kalau lemparan itu meleset karena kebetulan. Gerakan merunduk kemeja itu telah di perhitungkan Si Bungsu. Si Bungsu kembali duduk dengan lurus di kursinya. Overste itu menyuruh Lok Ma mencabut samurai kecil itu yang tertancap didinding tempat Si Bungsu diikat. Lok Ma melangkah kearah Si Bungsu mencabut samurai kecil tersebut. Dan kembali meletak di meja di depan letnan Kolonel tersebut.

“Apa pangkat tuan di ketentaraan Amerika..” ujar Letkol itu. “Saya bukan tentara Amerika tuan, dan juga bukan warga negara Amerika…” Letnan Kolonel itu kembali menatapnya dengan tajam. Dia hampir tak yakin kalau orang yang punya kemahiran seperti lelaki ini bukan dari Pasukan Khusus Amerika. “Jika bukan kebangsaan Amerika, lalu apa kebangsaan tuan?” “Indonesia…” “Indoneesia?” “Ya, Indonesia..” “Engkau tentara Indonesia?” “Bukan,Tuan…”

Overste itu kembali menatap Si Bungsu. Tak ada tanda sedikit pun bahwa orang ini berdusta atas setiap kata yang diucapkannya, bisik hati si overste. “Engkau ke Vietnam bersama tentara PBB yang dari Indonesia?” Si Bungsu kini yang tertegun mendengar pertanyaan overste tersebut. Dia tidak tahu, bahwa sejak beberapa bulan yang lalu, ratusan tentara Indonesia memang sudah berada di Vietnam. Dia memang tak pernah mendengar bahwa dalam proses menciptakan perdamaian di Vietnam, setelah Amerika angkat kaki dalam perang belasan tahun yang melelahkan itu, Indonesia diminta menjadi salah satu negara yang mengirimkan pasukan perdamaian di bawah bendera PBB. Masuknya Indonesia menjadi anggota pasukan ICCS (International Commission of Control and Supervision) yang disepakati di Paris.

Kesepakatan itu ditanda tangani di Paris tanggal 23 Januari 1973. Masuknya Indonesia atas permintaan langsung pihak yang bertikai, yaitu Vietnam Utara dan Amerika Serikat. Ada tiga negara lainnya yang menjadi anggota ICCS, yaitu Kanada, Hongaria dan Polandia. Ada empat tugas utama yang dipercayakan ke pundak pasukan ICCS, yaitu :  Mengawasi/mencegah pelanggaran-pelanggaran dan menjaga status quo.  Mengawasi evakuasi pasukan.  Mengawasi evakuasi alat-alat perang dan  Mengawasi pertukaran tahanan perang.

Kontingen pasukan Indonesia pertama yang datang ke Vietnam diberi nama GARUDA IV. Garuda I sampai III ditugaskan di bawah bendera PBB ke berbagai negara yang dilanda kemelut sebelum perang Vietnam, seperti Kongo misalnya. Komandan Garuda IV ke Vietnam adalah Letjen HR. Dharsono. Jumlah pasukan Garuda IV adalah 290 orang, tiba di Vietnam pada 28 Januari 1973. Markas besar pasukan ICCS adalah Kota Hanoi, Ibukota Vietnam Utara. Di kota itu mereka semua bertugas. Bulan Juli tahun yang sama Garuda IV ditarik dari Vietnam digantikan oleh Garuda V.

Pada Juli 1975, setelah seluruh proses evakuasi dan pertukaran tawanan perang usai, dan seluruh Vietnam sepenuhnya berada di tangan Vietkong (Vietnam Utara), Indonesia menarik pasukan perdamaiannya dari Vietnam. “Maaf saya tak tahu apa yang Tuan maksud dengan pasukan Indonesia di Vietnam…” jawab Si Bungsu dengan polos. Kembali letkol itu menyelidik Si Bungsu dengan tatapan matanya yang tajam. “Apa pendidikan Anda?” “Maksud Tuan, sekolah?” “Ya, sekolah. Tamatan sekolah mana Tuan?” “Saya hanya tamat sekolah rakyat. Sewaktu muda saya lebih suka berjudi. Kemudian saya mengembara…” jawab Si Bungsu apa adanya tentang dirinya. “Darimana Tuan belajar bahasa Inggris, sehingga bisa berbicara demikian fasih?”

Si Bungsu menarik nafas. Bagaimana dia harus menjelaskan bahwa dia tak hanya fasih berbahasa Inggris, tapi juga Jepang. Dan itu tanpa menduduki sekolah formal. “Saya belajar dengan mendengar orang bicara, kemudian mencobanya. Barangkali ingatan saya sangat kuat terhadap kata-kata…” ujarnya dengan jujur. “Siapa yang memerintahkanmu untuk datang membebaskan para tawanan Amerika itu?” lanjut si Overste mengalihkan bahasan interogasi. “Saya tidak diperintah, melainkan dibayar oleh seseorang, Tuan….” “Maksudmu?”

“Di Dallas saya berkenalan dengan seorang milyader. Dengan bayaran tinggi dia meminta saya datang kemari, mencari anak gadisnya yang hilang dalam peperangan dua tahun yang lalu. Nama anak gadisnya itu adalah Roxy Rogers. Gadis itu ada di antara tawanan yang saya bebaskan itu….” “Engkau membunuh Kolonel Van Truang, komandan di barak yang kalian hancurkan itu?” “Tidak secara langsung, tapi kenyataannya dia memang mati setelah baraknya meledak.

Si Bungsu terdiam sesaat, namun akhirnya dia memutuskan bercerita apa adanya. Sudah tak akan membahayakan Thi Binh lagi. Gadis itu, ayahnya dan sepupunya tentu sudah berada di suatu tempat jauh dari Vietnam. Di suatu negara yang tak terjangkau oleh kekejaman negeri yang masih saja menggelegak seperti Dalam Neraka ini.

“Seorang gadis Vietnam asli, yang bernama Thi Binh yang menembak Kolonel itu dengan howitzer sehingga tubuhnya hancur berkeping. Saya memang berjanji padanya untuk memberi kesempatan untuk membalas dendam. Kolonel itulah yang memperkosanya pertama kali, dan selama dua minggu berturut-turut setelah itu, ketika dia di tangkap dan diseret ke barak-barak itu. Setelah Kolonel itu puas dia serahkan pada perwira-perwira bawahannya. Kemudian di jeblos kan ke barak yang di huni wanita-wanita penghibur. Dia harus melayani kebuasan lelaki tiap hari. Sampai akhirnya dia dipulangkan karena sakit sipilis. Untung saya bisa mengobatinya dengan dedaunan, seminggu setelah itu dia sembuh sama sekali, itulah yang terjadi,Tuan…” “Dan dia sembuh?” “Sembuh total, Tuan..” “Hanya dalam beberapa hari dia sembuh oleh ramuanmu?” “Seminggu, Tuan…” “Siapa kontakmu di negeri ini?” “Seorang Indo Vietnam-Perancis, bernama Ami Florence…” “Dimana dia Tuan temui…?” “Di sebuah bar, di kota Da Nang…” “Dia mata-mata Amerika?” “Ya, salah satu mata- mata yang sangat di andalkan….” “Dimana dia sekarang?” “Sudah melarikan diri dengan speedboat, bersama abangnya bernama Le Duan..” “Lari hanya dengan speedboat?” “Sebuah kapal perang Amerika menanti mereka di Laut China Selatan..”overste itu menatap Si Bungsu dengan tajam.

“Engkau tahu nama kapalnya..?” “USS Alamo…” “Dari mana kau tahu?” “Mereka melakukan kotak radio, dua hari sebelum melarikan diri..” “Dimana dia melakukan kontak radio?” “Disebuah terowongan bawah tanah. Pintu masuknya ada di lantai bar itu. Tapi bar itu sudah hancur oleh bom waktu yang mereka pasang..” “Tuan tahu semua detil pelarian itu?” “Tidak semua, hanya saat mereka melakukan kontak radio..” ujar Si Bungsu mencoba mengelak dari pertanyaan detil. “Tuan mengenal anggota pasukan saya ini?” tiba-tiba overste itu mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk Lok Ma.

Ada beberapa saat Si Bungsu ragu menjawab. Namun akhirnya dia memutuskan bicara apa adanya. Dia yakin, betapa genting dan ruwetnya situasi saat ini, dia tetap percaya pada nalurinya. Bahwa keterusterangaan akan lebih mudah menyelesaikan persoalan. “Ya,Sersan Lok Ma…” “Dimana anda mengenalnya?” “Didalam hutan, saat dia dan dua orang lainnya di tugaskan menjebak saya..” “Lalu apa yang terjadi..?” “Saya melumpuhkan mereka, ketiganya…” “Lok Ma adalah andalan kami dalam mencari jejak dan memburu orang. Bagaimana kamu bisa melumpuhkannya..?” “Bahwa Lok Ma adalah pencari jejak dan pemburu ulung saya akui kebenarannya. Namun hutan ibarat rumah bagi saya. Dan dalam Penyergapan yang di pasang Lok Ma, ternyata saya lebih beruntung…” “Engkau menyergap mereka dengan menodongkan bedil?” “Tidak, Tuan saya melumpuhkan mereka…” “Tuan melumpuhkannya dengan tangan kosong…?” tanya overstye itu, sambil meyelidik sampai dimana kemampuan lelaki ini. Si Bungsu menari “nafas. Menunduk sesaat kemudian berkata. “Saya lumpuhkan mereka dengan lemparan hulu samurai kecil ketempat yang melumpuhkan. kecuali

Lok Ma. Dai sedang mencari tahu keberadaan dua anak buahnya yang saya lumpuhkan, ketika saya menyelusup tegak setengah depa di belakangnya tanpa dia ketahui…” “Lalu dia melepaskan kamu pergi begitu saja..?” “Tidak. Jelas dia ingin membunuh saya. Tapi saya katakan padanya, setiap gerakan yang di buat sama dengan bunuh diri. Karena, maaf, gerakan saya lebih jauh cepat dari yang mampu dia lakukan. Dia lalu saya totok, sehingga tak bisa bergerak.,” “Kenapa ketiga orang itu tidak tuan bunuh?”

Si Bungsu kembali tak segera menjawab. Ada beberapa saat dia menatap Letnan Kolonel itu “Ini bukan perang saya, tuan. Negeri saya tak terlibat didalamnya. Maka saya pikir,tak pantas saya mengotori tangan saya dengan darah orang-orang Vietnam…” Letnan Kolonel itu mendahak. dahaknya yang kental dia semburkan dengan kecepatan yang luar biasa ke arah Si Bungsu. Si Bungsu tak bergerak sedikitpun. Dan dahak kental itu hanya sejari dari telinga Si Bungsu. Dia tak mengelak, karena dia tahu dahak itu tidak secara langsung bukan diarahkan padanya.

“Maaf, paru-paru tuan sangat parah, Ludah tuan berwarna kehitaman..” letnan Kolonel itu tertegun. Namun hanya sesaat. Kemudian ketika dia bicara, suaranya terdengar mendesis tajam. “Tak pantas melumuri tanganmu dengan darah orang Vietnam, katamu? Cis!, setelah belasan orang terbunuh di tangan mu, termasuk seorang Mayor dan enam orang terbunuh di timpa batu besar yang kau tembak beruntun dengan howitzer yang kau curi dari barak senjata kami? Itu yang kau maksud tak ingin melumuri tanganmu dengan darah orang Vietnam?”

“Belasan orang lainnya dipastikan sudah terbunuh, jika saya tidak berobah pendirian dalam belantara itu, saat dijebak oleh Lok Ma…” ujar Si Bungsu perlahan.

“Alangkah sombongnya…” desis overste tersebut.

“Selain Lok Ma dan dua anggotanya, barangkali juga ada dua belas sampai lima belas orang lainnya yang terlibat pertempuran di padang lalang itu, yang tak saya cabut nyawanya, kendati saya mampu. Mereka hanya saya tembak bahu atau tangannya, sekedar mereka tidak bisa menembak helikopter yang akan meloloskan diri itu. Termasuk Kapten bertubuh seperti gorilla di samping Tuan sekarang…” tutur Si Bungsu dengan datar dan tenang, tanpa ada kesombongan sedikit pun di dalam nada suaranya.

Kali ini overste itu benar-benar terdiam. Si Bungsu menoleh pada belasan tentara yang tegak di pinggir dinding. Beberapa di antaranya bahu dan tangan mereka terlihat masih terbalut perban. Kemudian dia menatap kembali pada overste tersebut. Overste itu, bersama tiga atau empat perwira lainnya, juga menatap padanya.

“Jika saya benar-benar haus darah, mereka takkan ada di sini saat ini. Barangkali mayat mereka sudah dirobek-robek binatang buas di tepi danau penuh buaya dimana pertempuran saat helikopter menjemput itu terjadi…” ujar Si Bungsu perlahan. Ketika semua orang masih terdiam, tatkala melihat Kapten bertubuh gorilla yang dua kali menghantamnya ketika dia masih tergantung dengan kepala ke bawah tempo hari, mendekatinya. Sebuah rencana separoh gila tiba-tiba melintas di kepala Si Bungsu. Dia menatap lurus kepada si Kapten bertubuh besar itu dan berkata.

“Seorang prajurit tangguh, tidak ditentukan oleh besarnya badan. Tetapi ditentukan oleh sejauh mana memiliki otak. Apalagi jika sudah menjadi perwira, haruslah memakai otaknya ketimbang otot. Amatlah mudah melumpuhkan orang bertubuh besar. Bahkan dengan tangan terikat sekali pun. Untuk membuktikannya, tentu saja jika ada orang bertubuh besar di ruang ini yang berani bertarung dengan saya dalam keadaan kedua tangan saya terikat seperti sekarang, saya bersedia melayaninya…” ujar Si Bungsu dalam nada perlahan, dengan sedikit senyum di bibirnya.

Bukan main hebatnya akibat ucapan Si Bungsu terakhir. Kapten bertubuh gorilla itu sampai menggeram dan menggigil menahan amuk. Namun beberapa prajurit Vietnam yang memang membenci Kapten pemberang dan amat suka melekatkan tangan bila sedikit saja tersinggung itu, merasa senang si Kapten diberi hajaran seperti itu di depan orang ramai. Kapten itu bicara separoh berbisik kepada si overste. Kendati dia bicara dengan suara yang ditekannya serendah mungkin, karena segan pada si overste, namun semua orang mengetahui bahwa Kapten itu emosinya nyaris tak bisa dia kendalikan. Sambil bicara matanya berkali-kali menatap penuh amarah kepada Si Bungsu.

“Apakah memang engkau mampu mengalahkan orang dalam perkelahian tangan kosong, dengan kedua tanganmu terikat seperti sekarang?” tanya overste itu. “Mampu! Tapi lawan saya harus yang bertubuh paling besar. Sebab hanya orang-orang bertubuh besar yang dengan mudah bisa dikalahkan. Kecuali jika dia penakut…” ujar Si Bungsu menambah bensin, mengompori si Kapten bertubuh besar itu. “Bagaimana jika Anda kalah?” ujar si overste. “Yang harus dibuat perjanjian adalah bagaimana kalau saya menang…” ujar Si Bungsu. “Engkau tawanan di sini! Kalah atau menang bagimu adalah mati!” sergah Kapten gorilla itu dengan penuh emosi.

“Kalau begitu siapa pun lawan saya harus mati. Agar bersama-sama ikut mati dengan saya…” ujar Si Bungsu dengan tenang dan menatap tepat-tepat ke mata si Kapten, yang juga sedang menatap kepadanya dengan tatapan mata seperti menyemburkan api. “Kau berani bertarung dengan Kapten Bunh Dhuang dalam keadaan kedua tanganmu terikat seperti sekarang?” tanya overste tersebut. “Tidak hanya tangan. Dengan kedua kaki saya yang juga diikat dengan jarak langkah hanya sejengkal, saya berani!” jawab Si Bungsu. “Kau berani melawannya dengan tangan dan kakimu terikat seperti sekarang?” ulang overste itu. “Sebaiknya Tuan tidak bertanya pada saya. Karena tadi saya yang mengajukan tantangan. Sebaiknya tanyakan pada Kapten itu, apakah dia benar-benar berani melawan saya…” ujar Si Bungsu, lagi-lagi dalam nada yang amat tenang, namun dengan ejekan yang hampir meledakkan paru-paru si Kapten saking berangnya.

Kapten itu langsung berdiri. Membuka sabuk pinggangnya yang berpistol dan berpisau. Menghempaskan pistol dan pisaunya itu di meja. Kemudian mendekati Si Bungsu yang masih duduk di kursinya. Selangkah dari kursi Si Bungsu, Kapten itu berdiri dengan tangan terkepal dan muka merah. “Tegak kau, monyet…!” desisnya sembari menendang kaki kursi.

Si Bungsu masih saja duduk dengan tenang. Barulah saat sepatu lars si Kapten sejari lagi dari kaki kursinya dia berdiri. Kaki kursi yang terbuat dari kayu sebesar lengan itu langsung patah, dan kursi itu tercampak ke belakang. Menghantam dinding dan menimbulkan suara berderak, lalu rontok ke lantai dalam keadaan porak poranda. Kini mereka tegak berhadapan dalam jarak tak sampai sedepa. Semua orang menatap tak berkedip. Mereka kenal benar kemahiran Kapten Bunh Dhuang dalam karate, judo dan jujitsu. Dalam seluruh resimen tak ada yang mampu menandinginya.

Dia jawara saat masih menjadi mahasiswa akademi militer Vietnam Utara. Kalau kini ada orang yang demikian besar mulut sanggup mengalahkan Kapten itu, sungguh akan menjadi mimpi buruk yang takkan pernah dilupakan oleh si penantang. Jika dia menyatakan mampu mengalahkan si Kapten dengan tangan dan kaki terikat, peristiwa ini tak hanya akan menjadi sekedar mimpi buruk, tetapi suatu tindakan bunuh diri. Atau apakah orang ini sengaja ingin bunuh diri karena tak tahan menderita selama di tahanan, dan lebih tak tahan lagi menghadapi siksaan di hari-hari berikutnya?

Jika itu yang dia inginkan, maka keinginannya itu pasti bisa dia dapat dalam waktu takkan kurang dari lima menit. Cara dia membuat si Kapten menjadi lahar amarah, memang jalan tersingkat menuju kematian. Kapten Bunh Dhuang yang amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, tak ingin membuang waktu sedikit pun. Sebenarnya, jika dapat dia ingin lelaki yang kini dalam posisi terikat kedua tangannya itu dia telan dengan rambut-rambutnya sekalian. Demikian marah dan bencinya dia pada lelaki tersebut. Usahanya untuk membunuh lelaki tersebut sebenarnya sudah dia lakukan dengan dua tendangan ketika si lelaki terikat dengan kepala ke bawah.

Tendangan pertama menghajar dadanya, yang menyebabkan lelaki itu muntah darah. Dia ingin saat itu lelaki yang sudah mengobrak-abrik markas mereka itu tidak hanya sekedar muntah darah. Dia berharap yang dimuntahkannya adalah jantung, hati dan parunya sekaligus! Mampus sekalian. Karena tendangan pertama ke dada hanya menyebabkan muntah darah, dia menendang lagi untuk kali kedua, dengan sepenuh kekuatan dan keahlian menendang yang dia miliki. Dengan tendangan kedua itu dia berharap otak lelaki tersebut berhamburan.

Dia ingat pada suatu hari yang amat kritis, di mana dia berserobok dengan seekor harimau yang akan menerkamnya. Dia tendang kepala harimau besar itu sekuat tenaga dan secepat kemampuannya. Akibatnya harimau itu mati dengan mulut, hidung dan telinga bersemburan darah. Itu bukan mengada-ngada. Kapten Bunh Dhuang memang memiliki keahlian beladiri yang nyaris tak ada tandingannya dalam pasukan Vietnam. Kini dia berhadapan kembali dengan lelaki yang hanya koma setelah dia tendang dua kali tempo hari.

Mereka tegak berhadapan. Dia lihat lelaki itu tegak menyamping padanya. He… he… dia coba-coba memasang kuda-kuda, pikir si Kapten yang merasa geli melihat usaha lelaki kurus itu. Matanya menatap kepada para perwira dan prajurit yang berada dalam ruangan berukuran sekitar 7 x 7 meter persegi itu. Tiba- tiba saja timbul niatnya untuk memberikan tontonan yang menarik, sekaligus mendemonstrasikan kemahiran beladirinya. Dia akan malu juga kalau orang ini mati, sementara tangan dan kakinya terikat. Dia pasti akan dicemooh memukuli orang yang dalam keadaan terikat.

“Buka ikatannya…” ujar si Kapten kepada Lok Ma. “Jangan, engkau takkan mampu menyentuh ujung bajuku sedikit pun, kalau ikatan ini dibuka, Kapten…” potong Si Bungsu sebelum Lok Ma sempat berdiri. Ucapan Si Bungsu itu, yang jelas-jelas mempermalukan dan sekaligus menganggap dirinya remeh, membuat amarah si Kapten benar-benar sampai di batas. Tanpa membuang waktu lagi dia mengirimkan sebuah pukulan lurus ke telinga lelaki yang sejak tadi menyombong terus itu. Si Bungsu tetap tegak dengan posisi agak menyamping. Pukulan yang lurus mengarah ke wajahnya itu dia biarkan mendekat. Dan dalam jarak yang sudah diperhitungkan, dia mengibaskan kayu yang melintang tempat kedua tangannya terikat. Terdengar suara berdetak.

Kapten Bunh Dhuang meringis. Kepalan tangannya yang memukul, persis di buku-buku jari, kena kibasan sudut kayu sebesar lengan yang tersandang di bahu lelaki tersebut. Ketika dia lihat dua buku jarinya, yaitu buku jari tengah dan buku jari telunjuk, kelihatan terkelupas dan darah meleleh dari sana! Orang-orang pada terbelalak diam. Si Kapten kembali melancarkan dua pukulan beruntun yang amat cepat. Namun hanya dengan merobah posisi kakinya sedikit, kedua pukulan itu lagi-lagi dikibas dan kena hantam, oleh kayu yang melintang di bahu Si Bungsu!

Kini kedua buku tangan si Kapten terkelupas dan berdarah. Kapten itu menggeram. Tetapi kekuatannya memang luar biasa. Kendati buku-buku kedua tangannya sudah terkelupas dan berlumuran darah, dengan pekik penuh marah dia kembali melakukan serangan cepat dan berkali-kali. Kaki Si Bungsu seperti mencengkam tanah. Bergeser sedikit ke kiri dan ke kanan. Sementara kayu sebesar lengan, yang panjangnya sekitar sedepa, yang melintang di bahunya dengan efektif sekali dia pergunakan untuk menangkis.

Tidak hanya menangkis, bahkan balik menyerang kedua kepalan si Kapten yang datang seperti baling- baling ke arah wajah, kepala dan bahunya. Kayu itu seperti bermata dan bernyawa, yang bisa memapas setiap pukulan si Kapten. Belasan kali Kapten Bunh Dhuang menyerang dengan bentakan-bentakan keras, dan belasan kali pula serangannya tidak hanya tak satu pun pukulannya yang berhasil “menyentuh ujung baju” Si Bungsu, malahan kedua tangannya yang memukul tetap saja kena sabet kayu di bahu lelaki itu. Sampai suatu ketika, terdengar suaranya demikian keras.

Orang tak tahu apakah suaranya masih bentakan atau pekikan. Jika pekik, orang juga tak tahu persis apakah pekik marah sembari melancarkan serangan dengan jurus maut, atau pekik itu karena kesakitan. Bentuk pekik keras Bhun Dhuang baru menjadi jelas tatkala dia terlompat mundur beberapa langkah. Orang- orang pada merinding melihat kedua kepalan tangan si Kapten, yang besarnya nyaris sebesar buah kelapa kuning, benar-benar berlumur darah. Tidak hanya itu, bulu tengkuk mereka merinding melihat kedua pergelangan tangan Kapten tersebut terkulai. Pada masing-masing pergelangannya kelihatan sebuah bengkak merah kebiru-biruan sebesar telur bebek. Yang membuat mereka hampir tak bisa mempercayai penglihatan mereka adalah posisi lelaki dari Indonesia yang kedua tangannya terikat itu. Diserang demikian dahsyat dari segala penjuru, tubuhnya ternyata tak pernah bergeser dari tempat berdirinya semula, di dekat kursi yang remuk kena tendang si Kapten. Bekas jejak kakinya di lantai tanah memperlihatkan bahwa dia hanya menggeser tegak di radius setengah meter.

Sekeras apapun si Kapten berusaha mendesaknya, paling-paling dia hanya menggeser kaki kanan ke samping, kemudian meliukkan atau memiringkan badan sebagai jurus mengelak yang amat tangguh. Begitu pukulan si Kapten hampir menerpa wajahnya, kayu sebesar lengan yang di bahunya memapas pukulan itu dengan keras. Setiap tangkisan atau papasan ujung kanan atau ujung kiri kayu itu, hampir bisa dipastikan selalu menghantam dua tempat secara persis. Jika tidak buku-buku jari yang terkepal, pastilah pergelangan tangannya.

Pekik keras terakhir ternyata disebabkan rasa sakit yang luar biasa, tatkala Si Bungsu menghantam secara keras dan telak kedua pergelangan tangan si Kapten. Menyebabkan persendian kedua pergelangan tangan itu retak dan lepas! Hanya sesaat Kapten Bunh Dhuang yang tubuhnya seperti gorilla itu tertegun. Saat berikutnya dia menyerang. Barangkali semula dia merasa tak perlu memakai kaki, dengan kedua kepala tangannya yang seperti martil itu, menurut dia, dia bisa meremukkan wajah dan rusuk lelaki dari Indonesia ini. Namun ternyata selain memang tidak bisa menyentuh tubuh lelaki tersebut sedikit pun, kedua tangannya justru dibuat lumpuh. Kini, kendati terlambat, dia menyerang dengan tendangan yang amat terlatih dan dengan kekuatan penuh. Namun orang yang dia hadapi benar-benar tidaklah takabur ketika mengatakan bahwa Kapten itu “takkan pernah mampu menyentuh ujung bajunya sekalipun”. Kini ucapannya yang semula terdengar takabur itu dibuktikan orang itu. Ketika kaki kanan si Kapten baru saja terangkat beberapa jari dari tanah, sebelum digerakkan ke depan dalam bentuk sebuah tendangan yang amat keras, tubuh Si Bungsu

berputar dua kali.

Tiba-tiba saja ujung kanan kayu tempat tangannya diikat, menempel di tenggorokan si Kapten. Kapten itu dengan terkejut membatalkan tendangannya. Dia menelan ludah dengan susah payah. Ujung kayu itu tidak disodokkan, hanya ditempelkan begitu saja persis ke jakunnya. Dia tidak tahu bagaimana orang ini bergerak dengan cepat dan menempelkan ujung kayu itu ke lehernya tanpa dapat dia ketahui sedikit pun! Ada beberapa saat mereka saling menatap. Kemudian Si Bungsu memutar tegak, dan ujung kayu itu lepas dari leher di bawah dagu si Kapten.

Dia membelakang bulat kepada si Kapten. Dan Kapten itu tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebuah tendangan menyamping dia arahkan ke tengkuk lelaki yang membelakanginya itu. Semua orang seperti terhenti bernafas. Namun hanya selisih sekian detik Si Bungsu memiringkan tegak dan kakinya bergeser mendekat si Kapten. Tendangan maut itu lewat hanya dalam ukuran sejari dari hidung Si Bungsu. Namun karena tubuhnya sudah mendekat ke arah si Kapten, ketika tendangannya ditarik kaki Kapten itu tersangkut di bahu Si Bungsu.

Pada saat yang sama, ketika sebelah kaki si Kapten tersangkut di bahu kanan Si Bungsu ujung kayunya menohok persis di bawah hidung si Kapten. Ujung kayu itu tertempel di bibirnya. Tiap kepalanya mencoba miring ujung kayu itu tak pernah lepas. Lengket seolah-olah ada lem di sana. Si Kapten tak bisa menggerakkan kepalanya terlalu jauh, karena sebelah kakinya masih tertahan di bahu Si Bungsu. Dia hanya berdiri dengan kaki kiri. Terjingkat-jingkat seperti orang bodoh. Lalu detik berikutnya, Si Bungsu melepaskan tekanan ujung kayu itu dari bawah hidung si Kapten.

Pada detik yang hampir bersamaan dia membungkuk. Kaki kanan Kapten itu terbebas. Namun dalam gerakan yang amat cepat, ujung kiri-kanan kayu di bahu Si Bungsu secara bergantian ‘menetak’ dengan cepat beberapa tempat di tubuh si Kapten. Mula-mula menusuk persis ke hulu hati di dadanya. Kemudian dia berputar, ujung kayu itu menetak pelipis kanan. Lalu dia berputar lagi, ganti kini ujung yang satu lagi menetak tengkuk. Sekali putar lagi, ujung yang satu menetak pelipis kiri. Lalu Si Bungsu menggeser kakinya dengan amat cepat. Kini dia tegak dengan kaki dan tubuh lurus dua depa di hadapan si Kapten.

Semua orang, termasuk si Kapten dan semua perwira yang menyaksikan peristiwa itu, dibuat tak bergerak sedikit pun. Semua orang tahu, sebuah tusukan ujung kayu ke hulu hati dan tiga tetakan ke pelipis kiri dan kanan serta ke tengkuk si Kapten, jika dilakukan dengan kekuatan penuh, tidak hanya ditempelkan sedikit seperti yang terjadi, pasti sudah mencabut nyawa si Kapten. Semua mereka tahu itu. Orang ini ternyata melakukan demonstrasi beladiri yang luar biasa hebatnya.

Si Bungsu tegak dengan diam, dengan sikap yag amat tenang. Tak ada ekspresi kelelahan mau pun kesommbongan sedikitpun. Gerakannya yang demikian cepat sejak menangkis pukulan si Kapten sampai gerakan terakhir, seperti tak meninggalkan bekas lelah sedikit pun pada dirinya. Sementara si Kapten tegak dengan nafas memburu. Mereka berdua saling menatap. Akhirnya overste yang menjadi komandan di pasukan itulah yang memecahkan kesunyian dengan bertepuk tangan. Diikuti para perwira, kemudian oleh semua tentara Vietnam yang ada di rumah besar itu.

Mereka benar-benar belum pernah menyaksikan pertarungan dengan ketangguhan individu demikian hebat. Si Kapten, untuk pertama kali dalam hidupnya, merasa benar-benar merasa ditaklukkan. Pada tusukan pertama saja, tatkala ujung kayu itu ditusukkan ke hulu jantungnya, lelaki itu sudah bisa membunuhnya. Ujung kayu itu tidak hanya menyentuh sebuah titik kematian di tubuh si Kapten, tetapi empat titik dalam jarak waktu yang hanya hitungan detik.

Jika dia memiliki empat nyawa, maka sebenarnya kini empat nyawa nya itu telah melayang di ujung kayu lelaki tangguh itu. Orang-orang pada berhenti bertepuk tangan, tatkala si Kapten merapatkan kedua kakinya, berdiri lurus menatap Si Bungsu. Kemudian membungkukkan badan, memberi hormat sebagaimana layaknya karateka atau judoka bersikap kepada orang yang mereka hormati. Lalu dia berbicara dengan bahasa Vietnam yang di tujukan pada Si Bungsu.

“Anda benar-benar tangguh. Terimakasih anda sudah mengajar saya bagaimana seharusnya bersikap satria. Terimakasih, anda telah mengampuni nyawa saya…” Si Bungsu tertegun. Tak di sangka Kapten itu akan berbuat dan berkata begitu. Dia balas sikap Kapten itu juga dengan tegak lurus, kemudian dengan tangan yang masih terikat di kayu itu, dia membungkukkan badan membalas penghormatan yang di berikan padanya. Dengan kejujuran kemudian dia berkata dengan bahasa Inggris, yang di terjemahkan Lok Ma untuk si Kapten, dan untuk semua yang hadir di rumah tersebut.

“Andalah yang telah menyelamatkan nyawa saya. Ketika saya di gantung dengan kepala kebawah. Anda bisa saja membunuh saya dengan peluru atau pisau. Namun hal itu tidak anda lakukan. Terimakasih atas kemurahan hati anda Kapten…” Kapten itu membalas penghormatan itu beberapa kali dan kemudian menghadap pada si overste yang jadi komandannya. Bicara dalam bahasa Vietnam. Tak satupun ucapan si Kapten di terjemahkan Lok Ma. Overste itu menanyakan sesuatu. Kemudian overste itu bicara pada Si Bungsu. Tadi anda katakan, bahwa anda bisa menyembuhkan penyakit sipilis dengan ramuan hanya dalam seminggu. Apakah anda masih mempunyai obat itu…” “Tidak, tetapi saya bisa membuatnya dengan dedaunan yang ada disini…”

Overste itu kembali berbicara dengan si Kapten. Kemudian kepada Lok Ma. Sersan Lok Ma akhirnya mendekati Si Bungsu. Memutus kedua tali yang mengikat tangannya, begitu juga yang mengikat kakinya. “Anda menjadi tamu kami, tuan. Sampai beberapa tentara sembuh, setelah itu kami akan mengantarkan tuan ke da Nang atau hanoi..” ujar si overste, sembari memberi perintah pada Lok Ma.

Yang pertama dilakukan Si Bungsu adalah mandi di sungai sepuas-puasnya, di sungai besar dan deras yang terletak tak jauh dari rumah besar tempat dia di interogasi tersebut. Untuk pergi kesungai dia di kawal oleh dua orang tentara bersenjata. Lok Ma memberi dia sepasang pakaian, lengkap dengan sepatu. Di sungai beberapa orang lelaki dan perempuan terlihat sedang mandi atau mencuci. Mereka pada berhenti sebentar, menatap padanya dengan pandangan heran. Tapi begitu tertatap pada dua orang tentara yang tegak menjaga, dengan bedil siap tembak di tebing, mereka dengan cepat mengalihkan pandangan dari Si Bungsu. Mereka melanjutkan mandi atau mencuci. Kendati sama-sama orang Vietnam, namun penduduk demikian takut pada tentara.

Usai mandi, dari batu yang bermunculan di tepi sungai, Si Bungsu memilih segenggam lumut yang warna hijaunya sudah kehitam-hitaman kerena sudah belasan tahun ada disana. Kemudian di jalan kecil antara sungai itu dan perkampungan kecil itu, dia memetik beberapa helai daun. Lumut dan pucuk-pucuk rimba itu dia bungkus dengan daun pisang dan di bawa kebarak. Dia di tempatkan di sebuah barak kecil.

Ada selembar tikar yang dianyam dari bilah-bilah bambu dan sehelai selimut yang bergaris-garis, seperti selimut yang lazim di pakai di rumah sakit. Bedanya, selimut itu sudah compang-camping. Dua orang tentara mengantarkan nasi ransum dengan sedikit daging ikan. Si Bungsu jadi tahu kalau disini menu utamanya adalah ikan. Saat makan, tentara yang mengantarkan makanan itu berbicara dengan pelan, namun karena tentara itu memakai bahasa Vietnam, jadi dia tak mengerti apa yang dimaksud tentara itu.

Tentara itu membuka baju, dan memperlihatkan lengannya yang masih berbalut perban. Lalu si tentara menunjuk bedil, menunjuk Si Bungsu. Si Bungsu jadi mengerti kalau kedua tentara itu ikut dalam pertempuran di padang lalang itu saat heli datang menjemput tawanan itu. Kedua tentara itu memberi hormat dan mengulurkan tangan. Si Bungsu menatap mereka sejenak, kemudian menyambut uluran tangan tersebut. “Terimakasih anda tidak membunuh saya, kalau tidak ibu saya akan sangat sedih sekali. Saya anak tunggal…” ujar tentara itu. Si Bungsu hanya mengerti ucapan kata-kata terimakasihnya saja, karena dia pernah diajarkan oleh Ami Florence. ”Terima kasih kembali..” ujarnya dengan bahasa Vietnam. Setelah itu tentara yang satu nya lagi yang mengulurkan tangan. “Terimakasih…”katanya sambil membungkuk kan badan sampai dua kali.

Si Bungsu kembali menjawab ”terimakasih kembali’ seperti yang pernah diajarkan Thi Binh. Sambil membungkuk kan badan sambil duduk, kemudian kedua tentara itu meninggalkan pondok. Si Bungsu yang tinggal sendiri, segera menyantap nasi dan ikan panggang tersebut dengan lahap. Nampaknya, dimanapun, ikan segar yang dibakar dan di beri sedikit garam sangat nikmat. Kendati nasi nya dikit, karena ikan bakarnya lumayan besar jadi perut nya kenyang juga, selesai makan dia mengamparkan selimut bergaris itu diatas tikar bambu tersebut.

Kemudian membaringkan badan, sambil pikiran nya melayang pada tentara yang menahannya di barak ini. Lewat ciri mata dan bintik di wajah tentara yang ada di rumah besar tadi juga dua tentara yang mengantar nasi tadi, Si Bungsu tahu mereka terkena penyakit Vietnam Rose, sebutan lain dari penyakit sipilis. Dia bertekad untuk menolong mereka semampunya. Akhirnya karena didera kelelahan dan kekenyangan dia tertidur pulas sekali.

Hari sudah senja, ketika dia di bangunkan oleh Lok Ma. Dia datang dengan ditemanin seorang prajurit, yang tetap siap sedia dengan bedil nya. Lok Ma mengatakan kalau overste ingin bertemu dengannya malam nanti setelah makan malam. Lok Ma bercerita waktu berjalan ke sungai, kalau sembilan tentara Amerika yang di tawan disini telah di pindahkan, termasuk tawanan yang di kandang babi di sebelah kurungan Si Bungsu. “Belasan? Saya hanya melihat sekitar lima orang. Dimana yang lain di tahan ?” “Mereka dikurung di sungai di belakang kandang babi tersebut. Kurungan mereka jauh lebih parah. Mereka berminggu-minggu di rendam sebatas leher. Makanan di masukan kedalam plastik kemudian di ulurkan dengan tali. Mereka hanya menikmati di daratan ketika di interogasi….” tutur Lok Ma.

“Kemana mereka dipindahkan?” tanya Si Bungsu. Namun begitu pertanyaan itu di ucapkan, dia segera sadar kalau tak ada jawaban dari pertanyaan itu. “Tidak ada yang mengetahui, kapan para tawanan di pindahkan dan kemana mereka akan di pindahkan. Hanya komandan yang tahu. Perintah pemindahan di berikan secara lisan pada seseorang…” Si Bungsu hanya mendengar tentang penuturan pemindahan tawanan Amerika itu dengan diam. Beberapa lelaki dan wanita terlihat di hulu maupun di hilir sungai.

Sungai cukup besar, airnya amat jernih. “Apakah penduduk di sini suka ikan sungai?” tanya Si Bungsu pada Lok Ma, yang bersama prajurit berbedil itu mengawasinya dari atas tebing.

“Ikan memang makanan utama mereka bersama nasi. Babi biasanya dijual kepada tentara. Atau di bawa ke desa terdekat, biasanya dua sampai tiga hari perjalanan, untuk dijual. Dibawa pakai gerobak dua atau tiga ekor….” “Dengan apa mereka menangkap ikan?” “Biasanya dengan kail….” “Anda keberatan kalau saya memberi beberapa ekor ikan segar kepada mereka?” tanya Si Bungsu sambil menunjuk pada beberapa wanita dan anak- anak sekitar dua puluh meter di hilir tempatnya.

Lok Ma menatap ke hilir. Beberapa wanita berada di sana. Sesekali mencuri pandang ke arah Si Bungsu maupun ke arah Lok Ma. “Mereka akan senang sekali. Tapi bagaimana engkau memperoleh ikan segar itu?” ujar Sersan tersebut sambil menatap pada Si Bungsu yang berendam dalam air setinggi dada. Si Bungsu menyelam. Hanya beberapa detik, kemudian dia muncul lagi. Dia memperagakan beberapa butir batu sebesar ibu jari kepada Lok Ma. “Pernah belajar menangkap ikan dengan batu-batu seperti ini…?” Lok Ma menggeleng. “Apa bisa?” ujarnya. “Bisa…!”

Lok Ma menoleh pada prajurit yang menemaninya. Kemudian bicara dalam bahasa Vietnam. Menceritakan bahwa Si Bungsu bisa menangkap ikan dengan batu-batu di tangannya itu. Si prajurit menatap ke arah Si Bungsu dengan tatapan tak percaya. Si Bungsu berdiri dan menatap tajam ke air jernih di sekitarnya. Batu-batu kecil itu dia pindahkan ke tangan kirinya. Hanya sebuah yang berada di tangan kanannya. Tiba-tiba dia menyambitkan batu tersebut ke air sekitar dua depa di depannya. Si Bungsu menanti, Lok Ma dan prajurit berbedil itu juga menanti.

“Tak ada yang kena…” ujar Si Bungsu sambil tetap mengawasi air di sekitarnya. Beberapa saat kemudian dia kembali menyambitkan batu ke arah hilir. “Kena! Suruh mereka yang di hilir itu mengambilnya…” ujar Si Bungsu ke arah Lok Ma. Lok Ma menatap dengan diam ke air. Tak ada apapun yang terlihat. Namun hanya beberapa detik kemudian, dia melihat seekor ikan sebesar betisnya mengapung dengan perut ke atas. “Hei, ambil ikan itu! Itu ada ikan yang baru kena lempar batu. Ikan itu untuk kalian, ambil… ambil…!” seru Lok Ma. Para wanita di hilir hanya termangu, tak mengerti. Sementara itu Si Bungsu kembali menyambitkan beberapa batu lagi ke air. Para wanita itu baru ribut dan berceburan ke air setelah melihat dua tiga ekor ikan mengapung di permukaan sungai. Mereka berebut memunguti ikan yang kepalanya pada pecah itu. Lok Ma ternganga, ketika wanita-wanita itu dengan tertawa mengangkat ikan-ikan yang berhasil mereka kumpulkan. Besarnya tak kurang dari sebesar betis lelaki dewasa.

Beberapa lelaki dan wanita yang berada belasan meter di bahagian hulu segera berenang ke hilir. Mereka sampai ke tempat Si Bungsu. Si Bungsu kembali menyelam memunguti beberapa batu. Lalu tangannya menyambit dan menyambit lagi. Enam, sampai tujuh ekor ikan sebesar lengan maupun betis pada mati dan berapungan. Penduduk memunguti ikan tersebut. “Hei, bisa kupinjam pisaumu?” ujar Si Bungsu mengejutkan Lok Ma.

Tanpa pikir panjang Lok Ma mencabut pisau di pinggangnya. Kemudian melemparkannya kepada Si Bungsu. Si Bungsu menyambut pisau itu. Lalu kembali memperhatikan sungai di sekitarnya. Beberapa saat kemudian dia menyelam. Semua pada terdiam. Namun dari atas tebing, baik Lok Ma maupun prajurit berbedil itu dapat melihat bayang-bayang tubuh Si Bungsu di dalam air sungai yang jernih tersebut. Mereka menatap dengan diam dan penuh tanda tanya, apa yang akan dilakukan lelaki tersebut dengan pisau tajam itu.

Cukup lama Lok Ma melihat Si Bungsu menyelam hilir mudik di dalam air. Suatu saat tubuhnya nampak berdiam diri dengan berpegangan pada sebuah batu besar di dalam sungai. Kemudian tiba-tiba tubuh lelaki tersebut meluncur ke hilir dengan cepat. Tak lama kemudian kepalanya muncul, kedua tangannya terangkat. Lok Ma yang semula duduk mencangkung, sampai tertegak tatkala melihat di kedua tangan lelaki tersebut terpegang seekor ikan yang besarnya tak kurang dari paha lelaki dewasa, pisau komando tentara Amerika milik Lok Ma tertancap di bahagian dada ikan tersebut!

“Wuaw…!” seru Lok Ma. “Wuaw…..!” seru prajurit yang memegang bedil di sampingnya. Penduduk menatap lelaki asing itu dengan tercengang. Usahkan melihat, mendengar saja mereka belum pernah. Tentang orang yang mampu menangkap ikan hanya dengan lemparan batu atau menyelam dengan pisau. Apa yang mereka lihat senja ini adalah suatu hal yang amat menakjubkan. “Apakah komandanmu suka ikan sungai?” tanya Si Bungsu tatkala berjalan pulang dari sungai. “Dia tak begitu suka ikan. Dia suka daging babi. Tapi semua tentara di sini menyukai ikan. Kita bisa pesta ikan bakar malam ini…” ujar Lok Ma.

Beberapa wanita yang tadi berada di hilir, kemudian berpapasan dengan mereka di jalan menuju kampung, pada mengangguk dengan hormat sembari mengucapkan terimakasih pada Si Bungsu. Si Bungsu membalas ucapan terimakasih yang sangat dia hafal itu dengan ucapan “terimakasih kembali” sembari membungkukkan badan. Wanita-wanita itu tertawa bergumam senang mendengar balasan terimakasih mereka yang diucapkan lelaki asing tersebut dalam bahasa ibu mereka. Beberapa lelaki kampung pada berbisik, kemudian mengangguk kepada Si Bungsu.

Mereka, terutama kanak-kanak, pada berbaris mengikuti Lok Ma, Si Bungsu dan prajurit yang membawa ikan sebesar paha itu. Ikan itu diikat dengan tali moncongnya lewat insangnya. Kemudian sebuah kayu panjang sedepa diambil dari tepi sungai. Dengan kayu itu, ikan besar tersebut dipikul oleh Lok Ma dan si prajurit. Cara aneh yang dilakukan Si Bungsu menangkap ikan di sungai tersebut segera diketahui seisi kampung. Mereka ramai-ramai ke depan rumah besar yang dijadikan markas komandan tentara di desa ini. Sebelas ikan sebesar betis yang dibawa oleh para wanita dibawa ke markas tersebut.

Si overste yang mendengar ramai-ramai segera keluar. Dia terheran-heran melihat semua penduduk berkumpul di depan markasnya. Dan semakin heran melihat ikan demikian banyak dan yang seekor alangkah besarnya. Lok Ma segera menceritakan bagaimana ikan-ikan itu didapat.

Kemudian seorang lelaki tua, pimpinan desa itu maju. Dia bicara kepada si komandan. Si Komandan mendengar pembicaraan pimpinan desa itu dengan seksama. Kemudian dia mengangguk. Lalu bicara pada masyarakat dan belasan tentara yang ada di depan rumah besar itu.

Semua mereka bertepuk tangan usai si komandan berbicara. Di dalam rumah, kepada Si Bungsu si overste bercerita, besok kebetulan Hari Raya Tet. Salah satu hari raya besar di antara belasan hari raya orang Vietnam tiap tahunnya. Penduduk ingin merayakannya dengan mengadakan hiburan sambil makan-makan bersama. Selain seluruh ikan yang baru diperoleh itu, juga akan dipanggang dua ekor babi sumbangan penduduk.

“Tuan suka babi…?” tanya overste tersebut. Si Bungsu menggeleng. “Saya seorang muslim…” ujarnya menjelaskan. “Oo, moslem. Islam… ya agama Islam melarang makan babi…” ujar overste itu mengingat pelajarannya di Akademi Militer. “Siang tadi Tuan mengatakan saya menderita penyakit paru-paru yang sudah berat. Dari mana Tuan tahu?” “Dari wajah dan warna ludah Anda, Overste…” jawab Si Bungsu perlahan sambil menatap wajah letnan Kolonel itu. Overste itu menatap Si Bungsu beberapa saat, tanpa berkata sepatah pun. Kemudian menunduk. Dan tiba-tiba matanya basah. Dia berusaha menghapusnya. Seperti tak ingin dilihat menangis di depan orang. Namun betapapun dia tak mampu menahan agar matanya tak basah.

“Saya telah membunuh anak-anak saya yang paling saya cintai dengan menularkan penyakit celaka ini. Usia mereka masih terlalu muda untuk mampu bertahan…” ujarnya perlahan dengan suara terdengar bergetar. “Saya ikut berduka…” ujar Si Bungsu perlahan. “Saya sudah berobat kemana-mana. Tetapi, rokok, minuman keras, heroin dan perang celaka ini tidak hanya menghancurkan hidup saya, juga anak-anak saya yang tertular…” ujar si overste.

“Saya pernah belajar membuat ramuan obat, tatkala saya sendirian selama dua tahun dalam belantara di kampung saya. Semula ramuan obat itu saya buat asal-asalan, untuk mempertahankan hidup. Namun setelah mencoba berbagai jenis daun, kulit, akar, getah kayu rumput dan lumut yang ternyata berkhasiat untuk obat. Lalu ketika saya di Amerika, seorang Indian menambah banyak sekali pengetahuan saya tentang ramuan obat dari lumut, rumput, akar, daun dan getah beberapa jenis kayu lagi. Jika Anda mau mencoba Overste, di sungai tadi saya telah mengumpulkan lumut yang baik sekali untuk obat, berikut beberapa jenis rumput dan daun kayu….” “Berapa lama ramuan itu bisa se…” pertanyaan overste itu terhenti oleh sedakan batuk yang mula- mula ringan.

Namun batuknya makin lama makin keras dan membuat dia sulit bernafas. Si Bungsu tahu, jika siang hari orang yang menderita penyakit seperti overste ini takkan begitu merasakan penyakit yang menggerogotinya. Sebab siang hari udara panas. Namun begitu malam mulai turun, seperti sekarang, penyakit itu kambuh. Makin dingin hari, makin dahsyat serangannya. “Saya akan kembali ke pondok saya, akan saya buatkan ramuan itu segera…” ujar Si Bungsu sambil berdiri

Overste itu hanya mampu mengangguk, sementara batuknya kemudian menyerang berkali-kali. Lok Ma yang ada dalam rumah itu segera membantu komandannya. Mengambilkan sebaskom air panas dari periuk di tungku, kemudian sebuah handuk kecil yang bersih. Di luar rumah, Si Bungsu melihat kesibukan penduduk dan tentara mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan Hari Raya Tet malam nanti. Mereka membuat dua perapian untuk membakar ikan dan babi. Kemudian sebuah lagi untuk menanak nasi. Melihat Si Bungsu muncul, beberapa lelaki datang menyalaminya.

Beberapa wanita saling berbisik. Para tentara menatapnya dengan diam. Dia masuk ke pondoknya. Mengambil lumut dan beberapa jenis daun yang dia bungkus dengan daun pisang senja tadi. Di daun pisang itu bahan-bahan tersebut dia remas menjadi satu. Saat dia keluar kebetulan Lok Ma datang. Kepada Lok Ma dia minta dicarikan air kelapa muda. Kemudian anak pisang. Dalam waktu yang tak begitu lama bahan-bahan itu diantarkan Lok Ma kepadanya. Dia meminta sebuah baskom alumunium, atau periuk kecil. Ramuan itu dia masukkan ke periuk kecil

Bersama anak pisang yang dicencang halus, ramuan itu dia rebus dengan air kelapa, sampai airnya tinggal sedikit sekali. Ramuan yang sudah direbus itu diletakkannya ke selimut rombeng yang diberikan Lok Ma untuk selimut tidurnya. Karena dia merebus ramuan itu di luar pondok, banyak penduduk dan tentara yang melihat apa yang dia lakukan.

“Sekarang carikan sebuah mangkuk…” ujarnya pada Lok Ma, sembari menyisihkan umbut anak pisang ke sebuah piring. Lok Ma bicara pada seorang gadis. Gadis itu segera berlari-lari kecil ke rumahnya. Kemudian datang lagi membawa sebuah mangkuk porselen yang sudah sumbing di beberapa tempat. Si Bungsu meremas ramuan itu, memasukkan pati remasannya ke dalam mangkuk porselen. Hasilnya didapat hampir semangkuk penuh.

“Mari kita ke komandanmu. Mudah-mudahan ramuan ini tepat campurannya…” ujar Si Bungsu pada Lok Ma. Ketika mereka masuk ke rumah besar berlantai tanah yang dijadikan sebagai markas tentara itu, si overste ternyata sudah terbaring lemah. Tubuhnya memanas, wajahnya pucat. Dia ditunggui oleh Kapten Bhun Dhuang, yang duduk di sebuah kursi di dekat pembaringannya. “Dua bulan yang lalu, ketika saya di Da Nang, dokter mengatakan nyawa saya hanya bisa bertahan selama lima bulan. Menurut dia, paru-paru saya sudah tak berfungsi…” tutur overste itu ketika Si Bungsu dan Lok Ma duduk di sisi pembaringannya. “Dia mengatakan apa penyakit Tuan, Overste…?” tanya Si Bungsu. “Seperti yang Tuan katakan, paru-paru….” “Maaf, paru-paru Tuan digerogoti kanker, Overste…” ujar Si Bungsu perlahan.

Overste itu, si Kapten dan Lok Ma, tertegun dan pada menatap Si Bungsu. “Maaf, saya hanya ingin Tuan mengetahui apa penyakit yang menggerogoti Tuan, Overste…” sambung Si Bungsu. “Apakah Anda seorang dokter?” tanya si overste. Si Bungsu menggeleng. “Lalu bagaimana Anda bisa menebak bahwa penyakit saya adalah kanker…?”

“Guratan hijau halus di mata Tuan, kuku Tuan yang juga menghijau, kendati amat samar-samar, adalah tanda yang amat jelas bahwa paru-paru Tuan diserang kanker. Saya belajar tentang itu dari Indian tua di Amerika, sebagaimana pernah saya ceritakan pada Tuan…” tutur Si Bungsu, seraya meminta Lok Ma menyediakan segelas air putih. “Kapten Bhun, kamu yang memimpin perayaan Tet di luar. Saya tak mungkin bisa berdiri…” ujar overste itu dengan suara mulai menggigil.

“Pertama Tuan harus memakan habis anak pisang ini. Kemudian Tuan minum cairan ini setengah gelas. Obat ini hanya untuk tiga hari. Namun untuk melihat apakah ramuannya tepat atau tidak. Tuan tidak perlu menunggu sampai tiga hari. Reaksi pertama setelah Tuan memakan habis rebusan anak pisang dan meminum cairan ini, panas tubuh Tuan akan turun. Lalu Tuan akan tertidur. Jika Tuan merasa lebih segar saat bangun berarti obat ini bisa diharap menyembuhkan penyakit Tuan. Sembuhnya bisa berbulan-bulan, namun asal Tuan bisa istirahat total, nyawa Tuan ada harapan bisa tertolong…” tutur Si Bungsu perlahan.

Overste itu tersenyum lemah. Mungkin karena memang makan atau tak makan obat itu sama saja baginya, dia pasrah saja. Dikunyahnya rebus anak pisang itu. Mula-mula dia meringis, merasakan betapa tak sedap dan kelatnya rebus anak pisang itu. Karena susah menelannya, beberapa kali dia dorong untuk meneguk sedikit cairan di dalam gelas tersebut. Tiap meneguk cairan itu dia kembali meringis.

“Saya rasa yang Anda berikan ini bukan obat, tapi racun…” rutuk overste itu dengan muka masam, sembari terus mengunyah dan menelan sisa rebus anak pisang di mulutnya. “Racun yang kadarnya di atas cianyda sedikit…” ujar Si Bungsu, yang disambut dengan senyum si overste, juga Sersan Lok Ma dan Kapten Bunh Dhuang. Setelah itu perwira tersebut kembali berbaring. Beberapa kali dia menguap. Lok Ma meraba tangan Overste itu. “Panasnya turun drastis…” ujar Lok Ma takjub.

Kapten Bhun Dhuang ikut-ikutan meraba tangan si Overste, dan dengan heran dia menatap pada Si Bungsu. “Obat Anda amat manjur. Cepat sekali…” ujarnya. “Masih harus kita buktikan beberapa jam lagi, apakah dia bisa bangun atau langsung mati…” ujar Si Bungsu, yang kembali disambut dengan senyum masam oleh overste yang sudah mulai mengantuk itu.

Mereka lalu meninggalkan perwira itu sendirian di kamarnya. Si Bungsu diantarkan Lok Ma ke pondoknya. Namun ketika akan keluar dari rumah besar itu, Si Bungsu menoleh pada Kapten Bhun Dhuang. Dia lihat kedua tangan Kapten itu, mulai dari pergelangan hingga seluruh jari-jarinya dibalut dengan perban. “Maaf saya sudah mencederai Anda, Kapten…” ujarnya. Si Kapten menjawabnya dengan senyum.

“Saya tidak tahu, apakah obat yang Anda pakai di balik perban itu cukup manjur atau tidak. Jika Anda tak keberatan, saya punya ramuan di pondok…” ujar Si Bungsu. Kapten itu menatap kedua tangannya yang berbalut perban mirip orang akan bertanding tinju. “Saya berminat juga mencoba obat Anda, dokter…” ujar Bhun Dhuang, sambil mengikuti Si Bungsu dan Lok Ma ke pondoknya.

Di luar, di halaman yang cukup luas untuk berkumpul seratus orang, yang merupakan alun-alun di desa tersebut, orang semakin sibuk mempersiapkan tempat perayaan Hari Raya Tet. Tentara bekerja membuat meja panjang dan kursi darurat. Karena desa itu memang berada jauh di tengah hutan belantara, dengan mudah mereka mendapatkan pohon-pohon yang diperlukan untuk dijadikan tiang meja dan kursi. Untuk alas tempat duduk dan daun meja, mereka memotong bambu, yang disusun menjadi bidang luas. Beberapa lelaki kelihatan tengah membersihkan dua ekor babi.

Kedua hewan itu dibunuh dengan terlebih dahulu mengikat kedua kakinya. Lalu digantung dengan kepala menghadap ke bawah. Lehernya ditusuk dengan sebilah pisau yang amat runcing dan tajam. Darah yang mengalir dari leher babi itu ditampung dengan sebuah tong kayu yang cukup besar. Darah tersebut dicampur dengan semacam asam sehingga mengental mirip hati. Darah beku yang digoreng atau dibakar merupakan makanan yang luar biasa nikmatnya bagi orang-orang Vietnam. “Bisa minta air yang agak panas?” ujar Si Bungsu pada Lok Ma, saat mereka akan masuk ke pondoknya bersama Kapten Bhun Dhuang. Lok Ma segera mengambil baskom tempat Si Bungsu meremas ramuan obat tadi. Kemudian memanggil seorang wanita. Menyuruh bersihkan baskom tersebut dan mengisi nya dengan air panas. Ketika wanita itu kembali dengan air panas, dia menatap Si Bungsu. “Assalamualaikum…” sapa wanita itu perlahan.

Si Bungsu, Lok Ma dan Bhun Dhuang menatap pada wanita itu. Jika kedua Vietnam itu menatap dengan heran, Si Bungsu justru terkejut. “Wa’alaikummussalam…” ujar Si Bungsu perlahan, sambil menatap hampir tak percaya pada wanita itu. “Ana anta Islam…” ujar wanita separoh baya itu dalam bahasa Arab yang ala kadarnya. Si Bungsu ternganga. Dia menoleh pada Lok Ma. “Suruh dia masuk dan duduk. Tanyakan padanya darimana di tahu saya seorang Islam…” ujar Si Bungsu dalam bahasa Inggris pada Lok Ma.

Sersan itu menyuruh si wanita masuk dan duduk di tikar bambu di depan Si Bungsu dan Bhun Dhuang. Dengan takut-takut dia mendekat, namun tetap berdiri. Dia baru duduk dengan amat sopan setelah Kapten Bhun Dhuang ikut menyuruh dia duduk. Lok Ma kemudian menanyakan darimana dia tahu Si Bungsu seorang Islam. “Saya melihatnya ketika dia sembahyang Asyhar setelah mandi sore tadi di tepi sungai…” ujar wanita itu, yang diteruskan oleh Lok Ma kepada Si Bungsu.

“Sampeyan tiang Jawi…?” tiba-tiba wanita itu kembali mengejutkan Si Bungsu, tatkala dia bertanya dalam bahasa Jawa apakah Si Bungsu orang Jawa. Tentu saja Lok Ma dan Bhun Dhuang tak faham apa arti pertanyaan wanita tersebut. Si Bungsu sampai dibuat ternganga. Buat sesaat dia tak bisa bicara sepatah pun. “Ibu dari Jawa?’ ujarnya dalam bahasa Indonesia.

Kali ini wanita itu yang ternganga. “Ja… uwa… ya, Ja uwa…” ujarnya mencoba mengeja. Si Bungsu menoleh pada Lok Ma, kemudian dia berkata. “Ibu ini nampaknya turunan dari Jawa, salah satu pulau di Indonesia. Tolong tanyakan padanya, tentang asal usulnya, juga tentang keluarganya di sini. Barangkali ayah atau ibunya berasal dari Indonesia…”ujar Si Bungsu.

Namun sebelum Lok ma menanyai wanita itu, Si Bungsu teringat, bahwa dia harus mengobati tangan Kapten Bhun Dhuang. Dia minta maaf pada si Kapten, dan menyuruh Lok Ma mengundurkan pertanyaannya. Namun Kapten itu menyuruh agar pembicaraan itu dilanjutkan, sementara dia membersihkan tangannya dengan air suam-suam kuku yang tadi dibawakan wanita tersebut. Lok Ma lalu menyampaikan pertanyaan Si Bungsu kepada wanita itu. Dan bertuturlah wanita tersebut. Kakeknya adalah seorang pelaut yang lahir dari perkawinan campuran, ibu Madura dan ayah Jawa.

Sekitar tujuh puluh tahun yang lalu, kakek buyutnya itu merantau ke Thailand. Kemudian berdagang ke Vietnam Selatan, yang juga beberapa pedagang asal Indonesia dan Malaya. Di Vietnam ini lelaki itu tertarik pada seorang gadis setempat dari keluarga muslim. Mereka menikah dan menetap di Vietnam. Pasangan ini melahirkan dua anak lelaki dan seorang anak perempuan. Dia adalah anak perempuan itu. Dia tak bisa berbahasa Indonesia karena ayahnya jarang sekali berbahasa Indonesia. Apalagi ayahnya sudah meninggal sekitar lima belas tahun yang silam.

Dia hanya hafal beberapa potong bahasa Jawa yang pernah diajarkan ayahnya ketika dia masih berusia belasan tahun. Namun karena tak pernah dipergunakan lagi, bahasa itu berangsur-angsur lenyap dari ingatannya. Si Bungsu menyalami wanita itu, setelah ceritanya dalam bahasa Vietnam itu diterjemahkan Lok ma ke dalam bahasa Inggris. Wanita berusia separoh baya itu menyambut uluran tangan Si Bungsu dengan mata berkaca-kaca. Sambil meramu obat, mereka lalu terlibat pembicaraan yang diterjemahkan oleh Lok Ma. Lok Ma menjadi penerjemah untuk kedua orang itu.

Jika wanita itu yang bicara Lok Ma menerjemahkan bahasa Vietnam itu untuk Si Bungsu ke dalam bahasa Inggeris. Sebaliknya Si Bungsu yang bicara dalam bahasa Inggeris kemudian diterjemahkan untuk wanita itu oleh Lok Ma ke dalam bahasa Vietnam.

“Menurut kakek saya, Kota Jawa itu besar sekali, penduduknya juga amat ramai…” ujar wanita tersebut. “Jawa itu nama pulau, Bu. Ada ratusan kota di sana. Jawa itu bahagian dari negeri yang bernama Indonesia. Ada ribuan pulau besar kecil di negeri itu….” “Tuan juga berasal dari Jawa?” “Tidak. Saya dari pulau Sumatera.…” “Jauh dari Jawa?” “Tidak juga….” “Tuan pernah ke Jawa?” “Pernah, ke Jakarta….” “Jauh Kakarta itu dari Jawa?”

“Jakarta itu ibukota Indonesia, seperti Saigon ibukota Vietnam Selatan dulu. Jakarta itu terletak di Pulau Jawa…” ujar Si Bungsu sambil mengoleskan ramuannya yang sudah selesai dibuat ke pergelangan tangan dan buku-buku jari Kapten Bhun Dhuang. “Ada berapa keluarga muslim di kampung ini…?” “Ada lima keluarga.…” “Berapa keluarga di sini semuanya?” “Kira-kira lima puluh keluarga….” “Saya bahagia sekali bisa bertemu dengan orang seagama dan dengan orang yang sekampung dengan ayah saya. Saya ingin sekali datang ke Jawa. Mungkin suatu hari kelak, saya akan datang ke sana bersama anak-anak saya…” ujar wanita itu dengan mata berlinang.

Lalu dia membungkukkan badan, memberi hormat. Kemudian minta izin meninggalkan pondok itu. Si Bungsu berdiri, menyalami wanita tersebut. Dia mengantarkannya ke pintu. “Saya doakan niat Ibu untuk datang ke Jawa disampaikan Tuhan. Saya senang di sini bisa bertemu dengan keturunan orang Indonesia…” ujar Si Bungsu.

Si Bungsu lama berdiri di pintu. Menatap wanita itu berbaur dengan penduduk lainnya di halaman rumah besar di ujung sana. Dari kejauhan dia lihat wanita itu dikerubungi beberapa wanita dan anak-anak. Nampaknya dia bercerita tentang pertemuan mereka sebentar ini. Kemudian bersama Lok Ma yang tadi menjadi juru bahasanya dia kembali masuk ke pondok. Melihat tangan si Kapten yang sudah dia olesi ramuan obat.

“Terimakasih, kawan, ramuan obatmu manjur sekali…” ujar Kapten Bhun Dhuang ketika melihat Si Bungsu masuk bersama Lok Ma. Si Bungsu memeriksa kedua kepalan tangan perwira tersebut. Bengkaknya sudah jauh menyusut. Warna merah kehitam-hitaman yang tadi terlihat dari pergelangan tangan sampai ke batas siku, kini sudah lenyap sama sekali. Kedua pergelangan tangan yang retak dan membengkak sebesar telur ayam, kini sudah hilang bengkaknya. Si Bungsu lalu meminta perban kepada Lok Ma. Lalu membalut kedua tangan si Kapten mulai dari pergelangan tangannya ampai ke ujung lima jarinya.

“Maaf, untuk sementara bila lapar Anda terpaksa disuapkan. Tapi, jika obat ini manjur besok pagi Anda bisa memegang sendok. Hanya saya kurang yakin…” ujar Si Bungsu. “Bila Anda kurang yakin saya justru sangat yakin…” ujar si Kapten sambil tersenyum.

Namun besok yang diucapkan Si Bungsu merupakan hari yang tak pernah terbayangkan sedikitpun, baik oleh Si Bungsu maupun oleh semua tentara Vietnam yang bermarkas di kampung tersebut. Subuh sekali, tatkala malam perayaan Hari Raya Tet baru saja usai, dan hampir semua penduduk serta tentara pada bergelimpangan tidur karena kenyang dan lelah menari, dua peleton pasukan khusus tentara Vietnam, ditambah tiga perwira dari korp polisi militer, yang dikirim langsung dari Kota Ben Hoa, menyelusup masuk.

Tanpa banyak bicara mereka mengambil alih tawanan. Termasuk Si Bungsu, yang karena lelah sedang tidur lelap. Dia tersentak bangun ketika merasa ada yang menindih tubuhnya yang sedang menelungkup. Dia tak sempat bergerak banyak karena dua orang ternyata sudah menginjak tengkuk dan pinggangnya. Lalu dia merasa tangannya kembali diikat ke sebuah kayu pendek yang disandangkan ke bahunya. Nasib seperti siang kemarin ternyata kembali terulang. Sebuah kayu diletakkan di bahunya. Kedua tangannya diikat ke kayu sebesar lengan lelaki dewasa itu.

Subuh belum bersambut dengan pagi, pasukan khusus itu kemudian menggelandang tawanannya. Si Bungsu baru tahu, ternyata masih ada tiga orang tentara Amerika yang disekap di desa tersebut. Dia tak tahu di mana mereka disekap.

Namun melihat tubuh mereka, dia menduga mereka di sekap dalam kerangkeng dalam air. Atau mereka di sekap dalam rawa atau di dalam sungai.Itu dapat dilihat di kaki mereka yang pucat dan berkerut. Ada kudis dan lintah di beberapa bagian kaki mereka. Mata mereka amat cekung, wajahnya amat pucat.

Tentara dan penduduk desa yang tersentak bangun oleh kedatangan pasukan khusus itu, hanya tegak termangu melihat para tawanan diikat, kemudian di gelandang di bawah todongan bedil bersangkur. Beberapa orang diantaranya termasuk Si Bungsu, tanpa sebab yang jelas di hajar dengan popor senjata. Overste yang jadi komandan pasukan di desa itu, mendapat penjelasan pendek dari salah seorang polisi militer itu yang berpangkat Kapten. Si Overste sebenarnya keberatan Si Bungsu di bawa.

Tapi dia terpaksa berdiam diri melihat ketiga polisi militer itu, berikut Mayor yang mengomandani pasukan khusus itu, menatap padanya dengan tajam. Baik dari cara polisi militer itu berbicara pada overste, juga sikap overste yang hanya berdiam diri, dapat di tebak bahwa pasukan khusus yang datang ini membawa wewenang dari politbiro partai komunis dan dengan kekuasaan yang tak bisa di bantah siapapun. Dalam sebuah negara yang kacau, juga di sebuah negara otoriter, hukum dan kekuasaan di tentukan oleh ujung bedil. Fakta itu tak bisa di bantahkan.

Bukanlah hal yang aneh, di kalangan sesama tentara juga terjadi persaingan dan pamer kekuasaan. Namun, di negara manapun dan dalam kondisi apapun, perang atau damai, polisi militer dan pasukan khusus tetap saja merupakan pasukan yang amat di segani. Bahkan dalam keadaan tertentu, di takuti oleh tentara, apapun pangkatnya. Si Overste terpaksa berdiam diri, karena menurut komandan polisi militer yang datang, perintah pemindahan tawanan perintah langsung dari komite sentral partai komunis Vietnam yang berkedudukan di hanoi, ibukota Vietnam.

Laporan tentang lolosnya tawanan Amerika dan terbantainya pasukan yang menjaganya, berikut Kolonel yang menjadi komandannya, ternyata sudah tersebar luas di Vietnam. Dan laporan yang di sampaikan ke Hanoi memang tidak di sebut-sebut nama Si Bungsu sebagai penyebab lolosnya tentara Amerika, tapi salah seorangnya berpangkat Kolonel dari SEAL. Yang disebut menyebabkan lolosnya tentara Amerika dan infiltrasi dari beberapa helikopter tempur yang canggih.

Kendati yang menyerang hanya satu heli, itu sudah cukup bagi mereka untuk ‘memperbanyak’ jumlah heli yang menyerang. Para jendral Vietnam tentu takkan bisa menerima kalau yang menyapu bersih satu pasukan hanya 17 orang pelarian dan satu orang sipil yang belum pernah latihan militer. Pemalsuan berita itu sudah di mulai dari tingkat paling bawah. Dan hal itu tentu menyelamatkan Si Bungsu, paling tidak untuk sementara. Dia hanya di kenal salah seorang mata-mata yang ikut dalam penyerangan oleh helikopter Amerika yang di sebut sampai enam buah. Polisi militer itu bukan PM biasa. Mereka di rekrut dari kader pilihan partai komunis. Mereka tidak memakai helm putih, sebagaimana jamak di negara lain. Tanda mereka sebagai polisi militer adalah ban merah yang di ikat di lengan kanan bertuliskan aksara Vietnam.

Mereka bukan tentara biasa, mereka adalah pilihan dari komite partai sentral. Tentara tak bisa melakukan apapun tanpa persetujuan partai. Anggaran untuk partai juga di tentukan oleh partai. Dan siapa- siapa yang naik pangkat juga di tentukan partai. Kekuasaan tertinggi berada di tangan partai, bukan di tangan presiden atau panglima-panglima tentara. Partai komunis dimanapun di dunia, mengontrol semua yang berlaku di negara bersangkutan. Baik pemerintahan militer, politik, sosial kemasyarakatan, juga seni dan budaya.

Semua sistem harus mendukung, membesarkan partai. Karena itu, polisi militer itu selain di benci juga di takuti tentara reguler yang bukan berasal dari partai. Kendati mereka sama-sama komunis. Pimpinan komunis di Hanoi nampaknya kuatir, tentara Amerika melakukan operasi besar-besaran memebebaskan tentara mereka yang di tawan di Dalam Neraka Vietnam. Dari laporan mengenai helikopter Amerika datang dari arah barat dan kembali kearah itu, para petinggi militer segera bisa menebak.

Bahwa pasukan rahasia Amerika, mungkin dalam unit-unit kecil, membuat markas tersembunyi di Kamboja. Oleh karena itu para tawanan di pindahkan ke tempat rahasia yang berdekatan dengan perbatasan kamboja, agar sesegeranya di pindahkan dari arah itu. Mereka harus di pindahkan ketempat rahasia di wilayah yang cukup jauh dari lokasi semula.

Partai mengerahkan pasukan khusus yang terpercaya untuk mengambil dan membawa para tawanan ke berbagai tempat. Kemudian meyekap mereka di tempat-tempat yang sudah di tentukan. Para tawanan itu tidak pernah di beritakan penangkapan mereka apalagi identitas mereka. Itu sebabnya disebut (Missing In action) MIA personel yang hilang di peperangan. Bagi Vietnam, semakin lama mereka menahanan tentara Amerika, yang mereka tawan dalam peperangan semakin baik.

Karena tawanan itu bisa menjadi alat penekan bagi mereka di setiap perundingan. Amerika sendiri tak bisa menekan Vietnam, bahwa mereka tak punya bukti kalau para tentaranya di tawan Vietnam. Jadi pasukan khusus yang berusaha sekuat tenaga mencari MIA itu bertindak secara individu-individu. Hanya tentu sangat di rahasiakan. Ada dua alasan kenapa Amerika masih mempertahankan dan membiayai unit-unit kecil untuk membebaskan MIA di Vietnam.

Pertama, karena masalah harga diri. Amatlah memalukan bagi negara sehebat Amerika ternyata meninggalkan ribuan tentaranya di peperangan di belantara Vietnam tanpa mengetahui bagaimana nasib mereka. Kedua, karena desakan keluarga tentara-tentara yang hilang itu. Yang didukung belasan organisasi anti perang di Amerika. Mereka menuduh Amerika ikut campur urusan negara lain dengan mengorbankan ribuan anak-anak muda Amerika yang tak berdosa. Ikut campurnya Amerika di berbagai pertempuran di berbagai belahn bumi, tak seluruh rakyat Amerika yang mendukung.

Ada berbagai lapisan kelompok masyarakat, umumnya intelektual, yang menganggap campur tangan Amerika di negara lain adalah tindakan yang sudah kelewat batas. Ambisi pemerintah Amerika untuk menjadi polisi dunia, menyebabkan mereka ditentang oleh segolongan rakyatnya sendiri. Mengirim pasukan ke negara lain, yang sudah tentu memerlukan biaya yang amat tinggi, tidak hanya menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak jelas, tetapi sekaligus juga mengorbankan nyawa anak-anak muda Amerika.

Sebagian dari mereka yang dikirim ke medan perang adalah anak-anak muda yang harus ikut dalam program wajib militer. Dengan dukungan Undang-Undang, program ini memang sudah dilaksanakan sejak meletusnya Perang Dunia II. Dan sejak itu pula, sudah ratusan ribu pemuda Amerika gugur. Hancur bersama pesawatnya yang tertembak di udara, berkeping oleh ranjau, remuk ditembaki artileri, hilang di belantara, atau terkubur di lautan.

Si Bungsu dan ketiga tentara Amerika yang kini berada di bawah kekuasaan pasukan khusus dan Polisi Militer Vietnam itu benar-benar tak pernah membayangkan nasib buruk yang tengah menanti mereka. Dalam posisi kedua tangan terikat ke kayu yang disandangkan ke bahu, mata mereka ditutup dengan kain tebal ketika akan meninggalkan kampung tersebut. Selain itu, kaki mereka dirantai dan dihubungkan antara yang satu dengan yang lain. Membawa tawanan dengan cara seperti itu sudah menunjukkan bahwa tawanan tersebut tidak saja dinilai penting, tetapi juga berbahaya.

Mereka digelandang naik sebuah truk tua buatan Rusia. Di truk itu, rantai yang mengikat kaki mereka dikuncikan ke beberapa gelang yang sengaja dibuat dan ditempelkan pada dinding truk dengan mur dan baut yang menembus dinding truk itu. Gelang itu terbuat dari besi sebesar ibu jari. Mereka disuruh tiarap. Lalu truk itu berjalan. Suara mesinnya ribut bukan main. Jalan yang ditempuh luar biasa rusaknya. Selama dalam perjalanan yang alangkah lama dan jauhnya, melewati jalan tanah berlumpur, keempat tawanan yang tiarap di lantai truk dengan mata tertutup itu sengsara bukan main.

Truk tua buatan Rusia tersebut tidak hanya oleng dan terguncang-guncang, tetapi juga terlambung- lambung. Ada kesan bahwa truk ini dilarikan dengan kencang untuk mengejar waktu yang sudah ditetapkan. Beberapa kali kedua truk itu terpaksa berhenti karena terperosok ke dalam lumpur. Ke empat tawanan tetap dijaga di atas truk dalam keadaan tertelungkup. Sesekali seorang tentara memeriksa tutup mata mereka. Truk yang terpuruk itu kemudian ditarik mempergunakan wing baja, yang memang tersedia pada hampir semua truk perang.

Kawat baja yang panjangnya sekitar dua puluh meter, yang digulungkan pada sebuah silinder besi di bahagian depan truk, direntang ulur dengan menghidupkan mesin. Ujungnya yang dipasang kait besi besar dililitkan ke pohon terdekat. Lalu mesin dihidupkan untuk menggulung kembali kawat baja tersebur. Kawat yang diikatkan ke pohon itu menjadi tegang, dan putaran mesin yang menggulung kawat itu menyebabkan truk tertarik keluar dari lumpur, yang terkadang dalamnya membenamkan seluruh roda-roda besar truk tersebut.

Dengan kedua tangan masih terikat ke kayu di bahu, dengan mata tertutup dan kaki terantai satu sama lain, yang dikuncikan lagi ke cincin besi di dinding truk, bagi Si Bungsu maupun ketiga tawanan Amerika itu benar-benar tak ada kemungkinan untuk melarikan diri. Ketiga tentara Amerika tersebut nampaknya benar- benar parah. Yang seorang, yang lintah masih lekat di pahanya, nampaknya dalam kondisi paling buruk. Dia diserang demam malaria tropikana. Yang dua lagi, kendati tubuh mereka sudah seperti mayat hidup, kurus dan pucat, namun tidak separah yang diserang malaria itu.

Celana dan baju loreng yang mereka kenakan sudah benar-benar compang-camping. Ketiganya tidak mamakai sepatu. Kudis menggerogoti sebahagian besar tubuh mereka, terutama sebatas dada ke bawah. Pada batas dada ke atas kentara sekali bedanya. Bahagian dada ke bawah pucat dan keriput, bahagian dada ke atas agak mendingan. Batas dan keriput itu tercipta karena selama berbulan-bulan mereka direndam dalam kurungan yang dibuat di dalam sungai atau rawa yang airnya bercampur lumpur. Tempat menyekap tawanan Amerika dengan kondisi seperti itu merupakan hal yang lazim bagi Vietnam.

Jumlahnya bisa puluhan, mungkin ratusan buah di seluruh Vietnam. Selain siksaan yang nyaris tak bisa dibayangkan, kurungan model itu jelas dimaksudkan untuk meruntuhkan moral tentara yang mereka tawan. Ketiga tentara Amerika itu nampaknya sudah menyerahkan nasib mereka bulat-bulat ke tangan takdir. Hampir sehari penuh tersiksa di atas truk, akhirnya konvoi yang hanya terdiri dari dua truk bermuatan penuh oleh pasukan khusus Vietnam itu berhenti di suatu desa kecil dan terpencil. Si Bungsu mendengar suara kokok ayam. Kemudian mendengar suara orang bicara.

Suara tentara melompat turun dari truk. Kemudian suara langkah mendekat. Lalu ada pembicaraan dalam bahasa Vietnam, yang tentu saja tak dimengerti baik oleh Si Bungsu maupun oleh ketiga tawanan Amerika itu. Kemudian mereka mendengar perintah untuk turun dalam bahasa Inggris yang cukup baik, diiringi sentakan keras pada kaki mereka. Karena kaki-kaki mereka saling dihubungkan dengan rantai, hanya dengan amat susah payah mereka baru bisa turun dari truk tersebut. Kain yang diikatkan erat-erat penutup mata mereka sesampai di bawah kembali diperiksa. Kemudian tentara Vietnam itu kembali menggiring ke empat tawanan tersebut dengan mendorong- dorong tubuh mereka. Ada sekitar sepuluh menit berjalan dengan saling terantuk-antuk, baru mereka disuruh berhenti. Si Bungsu mendengar ada suara riak air di bawah. Dari arah riak air itu dia mendengar ada suara nafas manusia. Rantai di kaki mereka dibuka. Tapi sebelum mereka sempat berfikir apapun, kepala mereka dihantam dengan popor bedil. Si Bungsu adalah yang pertama kali menerima hantaman itu. Persis di bahagian belakang kepalanya.

Dia tak sempat berbuat apapun. Usahkan berbuat sesuatu, merasakan sakit kena hantam popor senjata itu pun dia hampir tak sempat. Hanya amat sesaat, sekitar dua atau tiga detik. Rasa sakit yang amat sangat itu sudah lenyap bersamaan dengan lenyapnya semua rasa apapun, saat tubuhnya jatuh dan tercebur ke dalam air berlumpur. Saat itu semua menjadi gelap gulita baginya. Setelah dia, berturut-turut ketiga tawanan Amerika lainnya mendapat giliran. Setelah keempat mereka tercebur, dua orang tentara milisi menutup pintu kurungan yang terbuat dari batang-batang bambu.

Milisi adalah pasukan yang direkrut dari kader partai komunis di desa-desa dan tidak memiliki seragam militer kecuali bedil. Usai pintu kurungan itu ditutup, seperti menutup sebuah peti, tiga batang kayu berdiameter hampir satu meter digelindingkan ke atas pintu bambu itu. Jarak kayu yang satu dengan yang lain diatur sedemikian rupa. Sehingga tak mungkin ditolak dari bawah. Sebenarnya, tanpa kayu besar itu pun sudah hampir mustahil bagi yang terkurung di lobang itu untuk keluar. Keempat sisi dinding kurungan itu bukannya terbuat dari bambu melainkan tanah.

Kurungan ini nampaknya dibuat lain dari yang lain. Di sebidang tanah tanah keras dibuat lobang empat persegi, sedalam empat kali empat meter. Bahagian atasnya tiga per empat dilantai dengan bambu hampir sebesar betis lelaki dewasa. Yang seperempat lagi dibuat sebagai pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Tawanan dilemparkan begitu saja ke dalam lobang 4 x 4 m itu. Dengan kedalaman 4 meter, dengan air bercampur lumpur sebatas dada, adalah mustahil bagi orang untuk ‘terbang’ agar bisa bebas. Namun bagi Vietnam berjaga-jaga itu tentu saja amat perlu.

Makanya di atas bambu-bambu yang diikat dengan kukuh itu, yang berfungsi sebagai ‘atap’ kurungan, masih dipalang lagi dengan tiga batang kayu besar. Lobang yang berfungsi sebagai kurungan itu di dalamnya sudah berisi dua tawanan, tentu saja juga tentara Amerika. Kedua tentara itulah yang kemudian berusaha menolong agar empat tawanan yang baru saja dilemparkan masuk ke lobang itu tidak langsung mati terbenam. Mereka segera berusaha agar bahagian kepala para pendatang baru itu tetap mengapung agar bisa bernafas.

Mereka diupayakan bisa duduk dan disandarkan ke dinding. Namun salah seorang di antaranya, yaitu yang kena demam malaria tropikana, ternyata sudah tak tertolong lagi. Hantaman popor bedil di kepalanya mengakhiri derita panjang yang dia alami. “Hei, orang ini sudah mati…” ujar tentara yang berusaha memberikan pertolongan. Namun pasukan khusus Vietnam yang berada di atas hanya menatap dengan diam dengan tatapan dingin.

“Orang ini sudah mati, tolong angkat dan kuburkan dia…” ujar si tentara kurus yang tadi berusaha memberikan pertolongan. Usahkan pertolongan, sepatah jawaban pun tak terdengar. Mereka justru meninggalkan tempat itu, dengan sikap tak peduli. Kini di sana hanya tinggal dua orang milisi yang tadi menutupkan pintu kurungan tersebut. Kedua mereka juga menatap dengan tatapan dingin. Kemudian beranjak, mengambil dedaunan yang sudah agak mengering. Dedaunan itu ditimbunkan ke atas pintu kurungan. Nampaknya hal itu disengaja, agar orang menyangka bahwa di daerah itu hanya semak belukar. Usai menutup lobang besar itu dengan dedaunan, kedua milisi itu naik ke sebuah pondok kecil.

Pondok itu berada sekitar lima meter dari lobang penyekapan. Pondok sengaja dibuat agak tinggi, khusus untuk tempat mengawasi lobang di mana para tawanan disekap. Di pondok kecil tersebut ada sebuah bren, sejenis senapan mesin ringan dengan peluru berantai. Dengan kurungan hanya beberapa meter dari pondok penjagaan, ditambah dua penjaga yang siaga dengan bedil, ditambah sebuah senapan mesin ringan, kalaupun yang dikurung di dalam lobang besar itu adalah semut, maka semut itu pun takkan mungkin bisa meloloskan diri.

Kedua tawanan Amerika yang kedatangan empat ‘tamu’ baru itu saling menatap dalam diam. Yang memegang tentara yang mati tersebut akhirnya melepaskan mayat di tangannya. Kemudian mereka berdua dengan susah payah membuka ikatan tangan ke tiga orang yang masih hidup. Mereka berdua nampaknya tak begitu kaget. Hal-hal luar biasa sudah menjadi bahagian dari kehidupan mereka. Malah sebenarnya di dalam hati mereka merasa gembira dengan datangnya tawanan baru. Sudah beberapa bulan ini mereka hanya berdua di kurungan tersebut. Kini ada tambahan teman baru.

Paling tidak mereka kini memiliki tambahan teman bicara. Kedua orang itu, yang kondisi tubuhnya juga sudah demikian buruk, harus berusaha sekuat tenaga agar ketiga orang yang baru diterjun bebaskan ke tempat mereka itu tidak mati lemas, terbenam dalam air berlumpur tersebut. Begitulah, dengan menyandarkan ketiga orang tersebut ke dinding lobang, dengan menekan dadanya sehingga kepalanya tidak terbenam ke air dan lumpur, mereka bisa memperlambat datangnya elmaut. Si Bungsu siuman pertama. Itu karena dialah yang paling sehat tubuhnya.

Yang satu jelas sudah mati, sementara yang dua lagi sudah demikian lenyai. Dia membuka mata karena merasa sangat kedinginan. Yang pertama dia rasakan selain rasa dingin, adalah kepalanya yang berdenyut- denyut. Kemudian rasa lapar luar biasa. Kemudian rasa tekanan pada dadanya. Saat matanya terbuka kepalanya masih tunduk terkulai. Dia melihat sebuah tangan pucat dan berbulu menahan dadanya. Ketika dia membuka mata dan menolehkan kepala ke arah pangkal tangan yang menahan dadanya itu, dia segera menampak sebuah wajah berjambang lebat.