Tikam Samurai Si Bungsu Episode 6.3

Jarak dari tempat dia tegak ke pintu jerajak di depannya, di seberang lain dari tempat dia tegak, sekitar tiga meter. Sesaat kemudian dia melihat bahagian demi bahagian anggota tubuh perempuan yang bicara itu tersembul di antara jeruji besi dan tersorot cahaya damar. Yang pertama kelihatan adalah kedua tangannya yang berantai di pergelangan, berpegangan pada jeruji besi. Kemudian kedua kakinya, yang juga dirantai di bahagian pergelangan. Lalu wajahnya menyembul sedikit di antara jerajak pintu besi tersebut. “Engkau tidak orang Vietnam bukan?” tanya perempuan itu perlahan.

Si Bungsu menggeleng. Kemudian perlahan dia duduk. Saat itu dia mendengar suara gemercing rantai hampir dari seluruh pintu-pintu. Kemudian wajah-wajah kuyu muncul dari dalam kegelapan. Hampir seluruh manusia di terowongan itu rupanya tak tidur. Begitu mereka mendengar percakapan yang agak aneh, yaitu suara si perempuan yang mengingatkan Si Bungsu akan ranjau tadi, semuanya pada bangkit, dan berjalan ke pintu. Mereka ingin tahu, siapa yang datang. “Engkau tidak orang Vietnam bukan?” kembali perempuan itu bertanya.

Si Bungsu menggeleng sembari membuka jam tangannya. Kemudian menekan tombol. Kawat baja halus yang panjangnya semeter itu menyembul keluar dari samping jam tangannya. Dia lalu mencabut empat buah samurai kecil yang tersisip di tangannya. Belasan tawanan yang kini tegak di depan jeruji pintu masing-masing, menatap dengan diam ke arah orang asing di tengah terowongan itu.

Mereka tahu, lelaki asing itu berada di atas bom yang siap melumatkan tubuhnya begitu dia mengangkat kaki. Si Bungsu menyumpahi kebodohannya, kenapa tidak bisa menangkap keanehan tempat tentara Amerika ini disekap. Seharusnya dia tahu, tentulah ada yang tak beres jika tempat penyekapan ini tak ada pengawalnya seorang pun. Kini, kesadarannya sudah terlambat.

Dia harus mampu menyelamatkan diri dari ranjau darat yang kini dia injak. Ke empat samurai kecil itu dia tancapkan ke lantai batu. Karena mata samurai kecil itu terbuat dari baja yang amat tajam, ditambah lantai batu ini tidak begitu keras karena pengaruh udara lembab, maka dengan mudah samurai itu dia tancapkan hingga ke batas gagangnya.

Usai menancapkan keempat samurai kecil itu, dia mengambil sebuah samurai lagi. Perlahan dia mengikis pasir halus di sekitar sepatunya. Hanya beberapa saat, ujung samurainya membentur benda keras. Dia bersihkan terus, dan dia segera menemukan tutup ranjau berupa plat bundar, kira-kira sebesar asbak di bawah kaki kanannya. Dia menarik nafas. Perlahan dia mengikatkan ujung kawat baja dari jam tangannya ke salah satu gagang samurai yang di depan.

Selesai mengikat di samurai yang di depan, bahagian lainnya dari kawat halus itu dia lewatkan di bawah pantatnya. Tanpa mengangkat kaki, dia memutar duduk, menghadap ke belakang. Dia ikatkan lagi kawat baja itu ke gagang samurai yang satu lagi. Lalu hal yang sama dia lakukan ke samurai di kiri dan di kanan dengan cara menyilang. Kini di bawah kakinya ada silangan kawat baja. Dia kembali menguatkan tancapan samurai- samurai kecil itu di lantai.

Semua tawanan ternyata sudah pada tiarap di lantai ruangan masing-masing. Mereka mengamankan diri dari ranjau yang setiap saat bisa meledak. Mereka menatap ke arah lelaki asing itu dengan perasaan tegang dan diam. Mereka tiarap selain untuk menyelamatkan diri juga untuk melihat bagaimana ranjau itu meledak dan orang asing itu tercabik-cabik tubuhnya.

Mereka hakkul yakin lelaki itu tak bisa selamat dari ledakan ranjau yang kini diinjak. Mereka tak percaya karena semua mereka adalah tentara Amerika yang sudah kenyang dengan perang di negeri neraka jahanam ini. Dalam beberapa tahun berperang, sudah tak terhitung teman-teman mereka yang hanya pulang nama karena terinjak ranjau yang ditanam Vietkong.

Usahkan manusia, truk dan tank saja dibuat berkeping-keping oleh ranjau tersebut. Mereka kini menanti sambil menonton. Sebenarnya ada tiga hal yang membuat mereka heran. Pertama, siapa lelaki asing ini? Kedua, apa urusannya masuk ke tempat penyekapan ini? Ketiga, orang ini nampaknya demikian tenang, kendati dia sedang menginjak sesuatu yang tiap detik siap melemparkannya ke neraka.

Sementara itu, di bawah cahaya lampu damar Si Bungsu tengah menarik nafas, kemudian menghapus peluh di jidatnya. Dia merasa beruntung pernah diajar temannya dari pasukan Green Barret di Australia dahulu, tentang bagaimana sistem kerja sebuah ranjau darat. Jenis yang kini berada di bawah kakinya.

Ranjau yang ditanam di tanah, seperti mulut hiu yang menganga diam di dalam laut. Menanti mangsanya mendekat. Saat bahagian atas ranjau tertekan oleh berat minimal tertentu, klip pengaman pegas yang memicu ledakan ranjau yang semula tertekan akan itu lepas dan melenting. Melemparkan tutup ranjau ke atas, sekaligus memicu ledakan.

Dia memang belum pernah menginjak ranjau dan berpraktek mengamankannya. Namun, karena mengetahui sistem kerja ranjau itu, kini paling tidak dia bisa berusaha mengamankannya. Dia harus berusaha agar kawat baja yang dia ikatkan menyilang di atas tutup ranjau di bawah kakinya, paling tidak mampu menahan tutup ranjau itu agar tak melenting, yang bisa menyebabkan ledakan dahsyat.

Sekali lagi ditatapnya keempat samurai kecil tempat dia mengikatkan kawat baja dari jam tangannya. Dicobanya menarik kawat baja yang terentang di bawah kakinya. Tak bergeming, tegang dan keras. Kemudian, masih dalam posisi duduk mencangkung di atas ranjau itu, dia menoleh ke arah tawanan wanita yang tadi memperingatkan dirinya tentang ranjau itu. Perempuan itu juga tengah menatap padanya dalam posisi tiarap. “Anda bernama Roxy?” tanyanya perlahan. Tawanan itu terkejut. Namun dia segera mengangguk.

“Saya ada pesan untukmu ” ujar Si Bungsu sambil berdiri. “Jangan melangkah…” seru wanita itu, tatkala melihat lelaki asing itu mulai melangkah. Semua tawanan yang tiarap, termasuk Roxy Rogers, yang tengah menatap ke arahnya, pada menutup telinga dan merapatkan kening mereka rata dengan lantai goa. Mereka menanti dengan perasaan berdebar terjadinya ledakan dahsyat. Lalu tiba-tiba terdengar suara. “Nona saya membawa pesan dari ayah Nona…”

Roxy seperti akan copot jantungnya mendengar ucapan itu. Dengan masih menutup telinga dengan kedua tangannya, dia mengangkat kepala. Dan demi segala anak dan datuk tuyul, demi cucu dan cicit-cicit tuyul, dia hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat. Lelaki asing itu kini tengah duduk berjongkok, hanya berjarak sehasta dari dirinya. Jarak antara mereka hanya dipisahkan oleh jeruji besi!

Lewat samping tubuh lelaki tersebut, Roxy menatap ke arah tempat ranjau yang tadi terinjak oleh lelaki asing yang entah dari mana bisa mengenal namanya ini. Dia lihat empat benda kecil-kecil tertancap. Kemudian ada sesuatu yang mengkilat, nampaknya kawat halus, yang secara menyilang menghubungkan ke empat benda kecil itu.

Keheningan dalam goa itu dipecahkan oleh suara tepuk tangan dari ruangan-ruangan penyekap lain. Begitu mendengar suara orang bercakap-cakap, bukannya suara ledakan, belasan tawanan tentara Amerika yang tadi pada tiarap dan menutup telinga, segera membuka mata dan menatap ke arah tempat orang asing itu menginjak ranjau. Mereka melihat seperti yang dilihat Roxy.

Empat benda kecil tertancap dan ada kawat mengkilat menghubungkan ke empat benda kecil itu. Itulah yang membuat mereka bertepuk kagum. Sungguh di luar dugaan mereka ada orang yang bisa menyelamatkan diri dari ledakan setelah dia menginjak ranjau. Suara bising akibat gemercing rantai segera terdengar begitu tawanan-tawanan tersebut pada berdiri dan berusaha melihat ke arah tempat Roxy.

Sementara itu Roxy masih menelungkup. Kedua tangannya yang di rantai masih memegang jerajak besi pintu ruangan di mana selama bertahun-tahun dia disekap. Dia menatap dan memperhatikan lelaki asing itu dengan seksama. Ada dua hal yang membuat dia heran. Pertama dari mana lelaki ini mengenal namanya? Kedua, bagaimana mungkin dia bisa selamat dari ranjau?

Akan halnya Si Bungsu, yang sudah demikian hafal bentuk dan tanda-tanda wajah gadis yang bernama Roxy ini, yang fotonya selama berbulan-bulan dia bawa ke mana-mana, tak lagi ragu bahwa wanita yang ada di depannya ini adalah orang yang dia cari. Orang yang harus dia selamatkan nyawanya. Lebih dari itu, gadis ini harus dia bawa kembali kepada orang tuanya di Amerika sana. “Siapa engkau, darimana engkau mengenal namaku?” tanya Roxy, yang masih saja tiarap di lantai. “Saya orang bayaran ayahmu. Saya diminta untuk mengaduk-ngaduk belantara Vietnam untuk mencari, membebaskan serta membawa dirimu pulang ke Amerika…” ujar Si Bungsu perlahan.

Kemudian dia berdiri sambil mengeluarkan sebuah bungkusan plastik tipis dari dalam dompetnya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Menatap ke mulut terowongan dari mana dia tadi masuk. “Kapan biasanya orang- orang Vietnam itu datang?” tanya Si Bungsu. Buat sesaat Roxy tak segera menjawab pertanyaan tersebut.

Dia masih saja menatap lelaki itu dari ujung kaki ke ujung rambut. Dia baru menjawab setelah pertanyaan itu diucapkan Si Bungsu untuk kedua kalinya. “Tak ada jadwal yang tetap. Bahkan untuk mengantar makanan pun suka-suka mereka. Kadang-kadang tiap hari. Kadang-kadang sekali dua hari. Bisa dalam tiga hari mereka tak muncul. Kecuali….” “Kecuali untuk mengambil tawanan perempuan, guna memuaskan nafsu mereka?” potong Si Bungsu. “Engkau juga mengetahuinya?” tanya Roxy yang kini sudah duduk berlutut, dengan kedua tangannya masih ber pegangan ke terali besi. “Saya sampai kemari karena mengikuti dua wanita yang diantar tadi….” “Saya sudah menduga demikian…” gumam Roxy perlahan.

Si Bungsu kembali menatap ke arah kanan. Pendengarannya yang amat tajam mendengar tetes air di sebelah kanan sana. Dia berdiri dan menatap beberapa saat kepada Roxy. “Saya akan buka kunci pintu ini, berikut rantai yang mengikatmu…” ujarnya sambil melangkah ke kanan, ke arah dari mana dia mendengar suara air menetes. “Hei, hati-hati. Lantai goa ini di penuhi ranjau…” ujar Roxy mengingatkan. Ada beberapa belas meter Si Bungsu melangkah dengan hati-hati ke ujung kanan, kemudian melihat ada sebuah ceruk di bahagian kiri dinding. Di ceruk itu kelihatan air menetes dari atas. Dia membuka kantong plastik kecil yang tadi dia keluarkan dari dompetnya. Di dalam plastik itu terdapat semacam serbuk berwarna putih mengkilat. Tanpa mengeluarkan serbuk putih tersebut, yang jumlahnya barangkali hanya sekitar dua sendok teh, dia menampung tetesan air goa itu dengan kantong plastik. Air tersebut menyatu dengan serbuk di dalam plastik. Kelihatan asap tipis mengepul ketika air dingin itu melarutkan serbuk, dan saling menyatu di dalam kantong plastik.

Ketika kantong plastik itu hampir penuh, dia kembali ke tempat tentara-tentara itu disekap. Dia berhenti di ruangan di sebelah tempat Roxy. Di dalam ruangan kecil itu ada tiga tentara Amerika yang disekap. Ketiga orang itu, yang berdesak-desak di dekat terali, menatap padanya dengan heran.

Si Bungsu meneteskan air bercampur serbuk putih di kantong plastiknya ke gembok besar di jeruji besi itu. Begitu air menyentuh gembok besi besar itu, kelihatan asap mengepul. Hanya sekitar tiga tetes, ketika asap hilang, Si Bungsu memukul gembok itu dengan tangannya.

“Pletakk…!” gembok itu tidak hanya patah tapi berderai seperti kerupuk kena injak. Ketiga tentara yang kurus-kurus itu dan berambut sebahu ternganga. Mereka masih tegak dengan takjub ketika Si Bungsu membuka pintu. Kemudian Si Bungsu kembali meneteskan cairan di kantong itu ke rantai di pergelangan tangan ketiga tahanan itu. Dan ketika rantai itu mereka sentak kan, rantai itu putus seperti benang yang sudah lapuk. Mereka tidak hanya di rantai di tangan dan kaki, pinggangnya juga. Rantai di hubungkan ke sebuah cincin besar yang di paku kan ke dinding. Tatkala semua rantai itu putus, Si Bungsu meminta yang dua orang menjaga pintu masuk utama terowongan ini. Yang seorang lagi diminta mengikutinya.

“Yes, Sir…!” jawab kedua orang yang disuruh menjaga pintu itu. Kemudian tanpa banyak tanya mereka bergerak hati-hati ke mulut terowongan dari mana tadi Si Bungsu muncul. Mereka nampaknya sudah hafal bagian mana dari lantai terowongan itu yang bisa di injak. Hal itu tentu saja mereka perhatikan dari jalan yang ditempuh setiap tentara Vietnam masuk dan keluar dari tempat mereka saat mengambil mereka untuk diinterogasi. Dalam mengantar makanan, maupun mengambil satu dua tentara atau perawat wanita, untuk pemuas nafsu tentara-tentara Vietnam di barak di bawah bukit terjal ini.

Beberapa di antara mereka ada yang sudah di tahan selama lima tahun. Beberapa lagi menjelang perang usai akhir tahun lalu. Namun mereka dibawa ketempat terpencil ini baru lima bulan. Nampaknya mereka di bawa kesini untuk dua tujuan. Pertama, agar tempat mereka tak mudah diketahui Amerika, otomatis mereka tak bisa di bebaskan. Kedua, mereka jadi alat penekan dalam perundingan antara Vietnam dan Amerika.

Saat kedua tentara itu menuju ke mulut terowongan, tentara yang seorang lagi mengikuti Si Bungsu menuju ketempat Roxy. Kembali Si Bungsu menuangkan cairan di dalam plastik berukuran kira 5x5cm, ke gembok besar di pintu sel Roxy. Setelah pintu tebuka, dia meneteskan cairan itu ke rantai yang ada di tangan, kaki, dan pinggang Roxy.

Kemudian sekali sentak rantai-rantai itu hancur berserakan dilantai. Si Bungsu hampir pingsan membau sel-sel tahanan Roxy atau ketiga tentara tadi yang baunya memang amat luar biasa! Sudah bisa di bayangkan, kalau mereka mau buang air besar, kecil bahkan makan tetaplah di ruangan sempit ini. Pokoknya disitulah para tahanan melakukan aktifitas sehari-harinya. Ini adalah kekejaman lain dan tak kalah dahsyatnya dengan siksaan fisik. Dalam makna yang lain, tawanan wanita mungkin agak beruntung. Bagi mereka yang dibawa untuk menghibur Perwira atau tentara, tentulah lebih dahulu disuruh membersihkan diri. Mandi dan bersabun sampai bersih di sungai jernih di bawah situ.

Kemudian mereka juga di beri pakaian yang layak. Dan selain itu mereka juga bisa makan dan minum apa yang dimakan para tentara atau perwira tersebut. Nampaknya beberapa wanita yang sudah disiksa habis- habisan akhirnya menyerah dan terpaksa memenuhi selera para perwira tersebut. Selain dapat makan, minum dan pakaian. Mereka juga dapat membawakan ‘oleh-oleh’ untuk para tawanan teman satu sel mereka makanan dan minuman. Makanya mereka tidak di benci oleh tawanan lain, justru mereka dianggap pahlawan karena telah mengorbankan diri untuk menyelamatkan hidup kawan-kawan mereka.

“Tolong Helena…” ujar Roxy sambil menoleh kebagian dalam ruang tahanannya, ketika Si Bungsu memutuskan rantai-rantai di tubuhnya. “Kenapa dia tak bangun-bangun?” ujar Si Bungsu yang baru mengetahui kalau di ruangan sempit itu Roxy ternyata disekap berdua. “Dia tak bisa bangun karena sakit…” ujar Roxy.

Si Bungsu tahu dia tak perlu bertanya, kenapa tidak dilaporkan kepada tentara Vietnam. Di lapor sekalipun tak kan ada hasilnya. Dengan menahan bau menyengat, agar dia tak muntah, Si Bungsu menggendong tubuh wanita itu ke pintu, agar agak bebas dari bau yang menyengat itu. Wanita bernama Helena itu ternyata berpangkat Letnan. Itu terlihat dari pakaian dinasnya yang masih melekat di tubuhnya yang sudah kurus kering. Roxy tidak punya pangkat karena dia memang direkrut ke perang Vietnam ke dalam korp perawat. Setelah memutuskan rantai-rantai di tubuh Helena Si Bungsu kemudian menyerahkan kantong cairan itu kepada tentara yang tadi mengikutinya.

“Bebaskan teman-temanmu yang lain. Saya tak mempunyai persediaan lain cairan ini, selain yang tersisa ini. Usahakan airnya tak habis sebelum teman-temanmu bebas dari Neraka ini. Suruh semuanya berkumpul dimulut terowongan..” ujar Si Bungsu pada tentara yang tanda pangkat di kerah bajunya berpangkat Kapten. “Yes, Sir….!” ujar tentara yang berberewok itu sambil bergerak segera menuju ketempat teman-temannya di tawan. “Ayo kita ke mulut terowongan sebelum siang turun…” ujar Si Bungsu sambil memangku Helena yang baunya minta ampun dan penuh dengan daki. “Tunggu, siapa engkau dan siapa namamu?” ujar Roxy sambil memegang tangan Si Bungsu. “Sudah saya katakan, kalau saya orang yang di bayar ayahmu untuk membebaskanmu. Nama saya Bungsu…” ujarnya sambil berjalan keluar dari sel pengap itu.

Roxy mengikuti lelaki asing itu dengan seribu satu pertanyaan di kepalanya. Dia yakin. Ayahnya akan mempergunakan segala cara untuk membebaskannya. Dan dia yakin ayahnya juga mampu mengirim beberapa resimen tentara untuk mengundak-undak belantara Vietnam untuk mencari tempat dia di sekap. Namun tak pernah terlintas dikepalanya, kalau lelaki yang dikirim adalah seorang lelaki biasa atau “tidak punya apa-apa”, tak pula berotot baja, tak sangar dan tak ada tanda-tanda pernah menjadi salah satu pasukan elit, seperti yang datang membebaskannya ini. Si Bungsu membawa Helena ke ceruk goa dimana tadi dia menampung tetes air kekantong plastik tadi. Dia yakin, dibalik ceruk ini ada kolam. Sedangkan dibahagian bawah dari tempat air menetes itu, ada anak air mengalir.

“Kalian jaga sebentar. Aku akan mencari air untuk wanita ini…” ujar Si Bungsu tatkala dia lewat dekat dua tentara Amerika yang tadi dia bebaskan dan kini menjaga mulut terowongan. Kedua tentara itu, keduanya berpangkat Sersan Mayor, mengangkat dua jari mereka, telunjuk dan jari tengah yang di rapatkan, sebagai tanda memberi hormat. Kemudian mereka berdiri rapat kedinding, dan mengintai kecelah jalan menuju keterowongan itu, dari mana orang akan muncul jika masuk ketempat penyekapan ini.

Si Bungsu menaruh Helena di dekat ceruk air yang menetes tersebut. Kemudian dengan memperlihatkan lantai goa itu, dia mengambil sebuah obor yang di tancapkan didinding. Lalu dia menuju ceruk itu. Hanya berjarak dua meter kebawah dia menemukan sebuah kolam dua meter yang tak begitu dalam. Dia segera naik, dan segera memberitahu Roxy tentang kolam itu. Roxy menurut saja ketika Si Bungsu memangku tubuh Helena, kemudian bertiga mereka turun ke kolam itu.

“Kalian mandilah. Kalau sudah selesai panggil saya. Saya rasa kita masih punya waktu untuk mempersiapkan diri dalam pelarian ini…” ujar Si Bungsu pada Roxy, sambil meletakkan obor di sebuah batu, kemudian melangkah menaiki tanjakan goa itu. Akan halnya Roxy dan Helena, yang pertama mereka lakukan dalam kolam yang airnya jernih itu, adalah minum sepuas-puasnya. Mereka segera membuka semua pakaian yang baunya minta ampun itu. Untung saja kolam itu mempunyai saluran pembuangan yang menerobos dinding yang lenyap entah kemana, jadi semua kotoran dan daki-daki yang ada pada tubuh mereka itu hanyut kedalam dinding batu yang tegak tinggi tersebut.

Saat sampai di mulut terowongan Si Bungsu melihat semua tentara Amerika yang di tahan sudah berkumpul disana. Dia menghitung ada dua belas lelaki dan tiga orang wanita. Dua diantaranya adalah wanita yang mereka lihat di barak, bergumul dekat api unggun dengan tentara Vietnam di bawah bukit ini. Dia menatap wanita itu sekilas, yang penampilannya jauh dari yang lain, yang satunya kelihatan kotor seperti Roxy dan Helena, kedua wanita yang malam tadi dia lihat itu tubuhnya bersih sekali. Selain bersih ternyata bentuk tubuhnya memang menggiurkan.

Si Bungsu cepat-cepat memupus segala fikirannya tentang apa yang diperbuat kedua wanita ini tadi malam. Jika dihitung Roxy dan Helena yang sedang mandi, berarti jumlah semua tawanan ini ada 17 orang. Dua belas lelaki dan lima wanita. Mereka semua, kecuali kedua wanita itu, kelihatan amat kotor dan amat lelah. Dia tak yakin apakah mereka akan mampu berlari jauh, atau bertempur jika kepergok tentara Vietnam. “Siapa pangkatnya yang tertinggi di antara kalian?” tanya Si Bungsu.

Seorang lelaki mengangkat tangan kanannya dari dalam kerumunan tentara yang baru keluar dari sekapan itu. Dari tanda pangkat berwarna hijau gelap di krah baju loreng lelaki tersebut, Si Bungsu tahu lelaki itu berpangkat Kolonel. Si Kolonel nampaknya memang memiliki wibawa yang lebih dari yang lain. Para tentara yang potongannya kacau balau itu bersibak memberi jalan, ketika si Kolonel maju.

“Nama saya MacMahon. Eddie MacMahon. Senang bertemu Anda…” ujar Kolonel itu sambil mengulurkan tangan. “Bungsu. Nama saya Bungsu. Hanya nama pertama, tanpa nama kedua…” ujar Si Bungsu membalas jabatan tangan si Kolonel. Dia faham bahwa adalah aneh bagi orang barat, jika ada orang yang namanya hanya terdiri dari satu suku kata. Orang-orang barat selalu memiliki nama paling sedikit dengan dua suku kata. Tergantung nama keluarga dari pihak ayahnya. Kalau nama keluarga dan ayahnya hanya satu suku kata, maka nama seorang anak pasti dua suku kata. Kalau nama keluarga yang dipakai seorang ayah dua suku kata, maka nama anaknya pasti tiga suku kata.

Seperti Kolonel Eddie, nama MacMahon dipastikan nama ayahnya, atau nama kakeknya. Sebab sering juga orang memakai nama keluarga atau klan, bukan nama ayah. Yang memakai nama klan ini, misalnya, dapat dilihat pada keluarga Rockefeler. Turunannya ya anak, ya cucu, ya buyut, semuanya memakai nama Rockefeler di belakang nama mereka. “Senang bertemu Anda, Bungsu. Anda dari pasukan khusus mana?” ujar Kolonel MacMahon. “Saya seorang pengelana. Murni pengelana dan sipil. Murni sipil…” ujar Si Bungsu.

Baik Kolonel maupun tentara yang lain, menatap lelaki asing itu dengan tatapan tak percaya. Namun lelaki di depan mereka ini nampaknya sangat bisa dipercaya. Segala gerak dan tindakannya demikian menyakinkan. “Well, apa yang harus kami perbuat?” ujar si Kolonel pada Si Bungsu. Sebelum Si Bungsu sempat menjawab, sayup-sayup mereka mendengar suara Roxy memanggil. “Di bawah sana ada kolam yang airnya amat jernih dan bersih. Kita masih punya waktu, bagi yang ingin mandi silahkan. Sekalian menolong mengangkat Letnan Helena…” ujar Si Bungsu.

Yang pertama bergerak adalah ke tiga wanita itu. Mereka segera menemukan ceruk tempat air menetes tersebut, kemudian berpedoman pada suara Roxy, yang memanggil-manggil, mereka segera turun dan menemukan kolam jernih itu. Mereka segera saja pada menanggalkan pakaian dan ikut mandi. Setelah ke lima wanita itu muncul, lima tentara segera menuju ke tempat tersebut. Yang lainnya, termasuk si Kolonel dan kelima wanita itu, kini berada di depan Si Bungsu. Mereka pada berdiam diri, menatap pada lelaki asing yang tak mereka ketahui dari mana asalnya ini. Si Bungsu yang tahu isi fikiran orang-orang di hadapannya ini, dia berusaha menjelaskan secara singkat siapa dirinya, dan kenapa dia sampai terlempar ke tempat penyekapan ini.

“Well. Seperti saya katakan tadi, nama saya Bungsu. Saya sipil dan pengelana murni. Saya orang Indonesia. Setahun yang lalu saya datang ke Amerika menemui seorang teman. Kemudian saya berkenalan dengan, mmm… Tuan Rogers. Alfonso Rogers. Saya dimintanya untuk mencari tahu nasib anaknya yang hilang di Vietnam ini saat bertugas dalam pasukan Amerika bersama divisi kesehatan. Saya menolak, karena saya tahu tugas itu bukan tugas saya. Maksud saya, saya tak punya keahlian untuk mencari jejak dan bertarung dengan tentara Vietnam untuk membebaskan seorang tawanan. Namun karena dia membayar terlalu tinggi, dan saya memang memerlukan uang, saya terima tawarannya. Di Kota Da Nang saya bertemu seorang bekas tentara Vietnam Selatan, yang bertugas di bidang intelijen. Dari dialah saya mendapat kabar tentang tempat penyekapan ini, di mana diperkirakan Roxy disekap. Teman saya itu, Han Doi, yang menolong saya menemukan tempat ini, ada di bawah sana, berjaga-jaga kalau ada bahaya…” ujar Si Bungsu.

Setelah berhenti sejenak dia menyambung. “Kemudian, bersama saya sekarang juga ada dua orang Vietnam, anak beranak. Duc Thio dan anaknya Thi Binh. Mereka berada di suatu tempat, tak jauh dari sini…” Si Bungsu mengakhiri ceritanya, sembari menatap sesaat pada Roxy, kemudian pada si Kolonel. “Well, Kolonel. Kini komando berada di tangan Anda…” ujar Si Bungsu pada MacMahon. Kolonel itu menatap Si Bungsu nanap- nanap. Sebagai seorang yang kenyang dalam berbagai pertempuran, dia sangat faham lelaki dari Indonesia ini bukan sembarang orang. Hal itu, paling tidak, dibuktikan dengan berhasilnya dia menemukan tempat ini. Dia yakin, sudah cukup banyak pasukan-pasukan khusus Amerika, yang ditugaskan mencari mereka.

Pasukan itu terbagi dalam satuan-satuan kecil, yang mencoba mencari dan menemukan tempat ini, maupun tempat-tempat lain yang dipergunakan Vietnam Utara sebagai tempat penyekapan tentara Amerika yang mereka tawan. Yang sampai kemari, hanya orang Indonesia ini. Orang ini bukan sipil biasa, bisik hati MacMahon. Setelah berfikir beberapa saat, menatap Si Bungsu dan tawanan-tawanan sebangsanya yang sudah terpuruk di goa ini beberapa lama, Kolonel MacMahon berkata.

“Anda baru saja datang dari bawah sana, Tuan. Menurut Anda, mana yang lebih besar kemungkinan bagi kita, langsung meloloskan diri atau terlebih dahulu melakukan penyerangan untuk menghancurkan tentara Vietkong di bawah sana?” Si Bungsu segera teringat akan janjinya pada Thi Binh, bahwa dia akan memberi gadis itu kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada tentara Vietnam, yang telah memperkosanya selama berbualan-bulan.

“Gadis bernama Thi Binh yang membantu menunjukkan pada saya bahwa di bukit-bukit ini ada konsentrasi tentara dan tempat penyekapan Tuan-tuan, adalah salah seorang gadis yang dijadikan pamuas nafsu tentara Vietnam. Dia mau menceritakan tentang bukit-bukit ini dengan syarat bahwa dia diberi kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada tentara-tentara tersebut. Tanpa keterangannya, saya takkan pernah tahu di mana tempat penyekapan ini. Saya harus menepati janji saya padanya. Namun itu tak mengikat apapun terhadap Tuan-tuan. Jika Tuan-tuan memutuskan segera meloloskan diri, atau ingin menyerang kamp di bawah sana, putusan itu sepenuhnya berada di tangan Tuan-tuan…” ujar Si Bungsu perlahan. “Anda mengetahui gudang persenjataan mereka?”

Si Bungsu mengangguk. “Dari barak persenjataan mereka kami mengambil seransel peluru dan beberapa buah dinamit. Namun untuk mendekati barak itu siang hari amatlah berbahaya…” ujar Si Bungsu. Kolonel itu menatap anak buahnya. Lima orang di antara mereka, yang duduk tersandar di lantai karena setengah lumpuh akibat disiksa, juga menatap pada si Kolonel dengan diam.

“Well, kita sudah lama disekap dan disiksa di sini. Sudah lama tidak bertempur. Jumlah kita sangat kecil dibanding seratus tentara di bawah sana. Namun putusan kita barangkali adalah perang…!” ujar si Kolonel. Ucapannya segera disambut acungan kepalan tangan semua tawanan tersebut, tak kecuali mereka yang lumpuh akibat siksaan. Si Bungsu menatap pada Roxy. Gadis itu, yang duduk di dekat Helena, teman satu selnya yang tak bisa berdiri, juga tengah menatap padanya.

Hanya beberapa saat menatap gadis itu, tiba-tiba dia menoleh ke arah lorong darimana dia tadi masuk ke tempat penyekapan ini. Di sana masih bersandar dua orang tentara Amerika, menghadap pada Kolonel MacMahon. Kolonel ini nampaknya arif ada sesuatu yang tak beres dari cara Si Bungsu yang tiba-tiba menoleh ke terowongan itu. “Ada sesuatu yang tak beres?” “Nampaknya ada yang datang…” jawab Si Bungsu sambil matanya tetap memandang ke arah lorong tempat keluar masuk itu. Kolonel tersebut juga menatap ke arah mulut lorong yang di depannya tegak dua anggota pasukan Amerika itu. Mereka semua pada terdiam.

“Ada empat orang yang sedang naik kemari. Mereka sekitar lima puluh meter dari kita…” ujar Si Bungsu perlahan sambil memperhatikan lorong kecil tempat mereka kini berada. Tentara Amerika yang belasan orang itu, kendati kondisi mereka amat buruk, namun mereka adalah pasukan-pasukan elit Amerika. Beberapa di antaranya adalah pasukan Baret Hijau yang amat tersohor itu. Namun yang lebih terkenal lagi adalah Kolonel MacMahon, yang bersama empat orang anak buahnya kini ikut tertawan. Mereka berasal dari pasukan SEAL. Pasukan khusus Angkatan Laut Amerika yang amat terkenal itu.

Tapi, kendati sudah berkonsentrasi penuh mereka sungguh tak mendengar apapun. Orang Indonesia ini mengatakan ada empat tentara yang kini sedang naik. Kalau saja bukan orang ini yang bicara, MacMahon pasti mengatakan ucapan itu bual semata. Namun hatinya mengatakan lelaki ini bukan pembual, dan dia juga yakin, lelaki ini jauh lebih tangguh dari dirinya. Dia menatap pada Si Bungsu. Seolah-olah menyerahkan bagaimana langkah berikutnya pada orang Indonesia itu. Si Bungsu segera menyuruh bawa orang-orang yang sakit ke lekuk di mana tadi dia menemukan air. Kemudian di menyuruh tentara-tentara Amerika itu, termasuk si Kolonel, berjaga di terowongan besar. Dia sendiri menggantikan tempat kedua tentara yang berjaga di mulut terowongan.

“Saya takkan bisa berbuat banyak terhadap keempat tentara Vietnam itu. Yang lolos ke terowongan besar ini menjadi tugas Anda menyelesaikannya, Kolonel…” ujar Si Bungsu, sambil menyerahkan bedil yang dia bawa kepada si Kolonel. Kolonel itu menatap Si Bungsu sesaat setelah menerima senjata tersebut. Si Bungsu tahu, tatapan si Kolonel maupun anggotanya seperti mempertanyakan, apa yang akan dia perbuat menghadapi ke empat Vietnam yang sedang naik itu tanpa senjata. “Saya hanya akan mencoba mengalihkan perhatian mereka. Anda bertindak saat mereka memperhatikan saya…” ujar Si Bungsu perlahan. Pasukan kecil yang compang camping dan hanya memiliki sebuah senjata pinjaman dari Si Bungsu itu segera bergerak cepat mencari perlindungan. Dalam waktu singkat terowongan itu kosong. Antara terowongan tempat keluar masuk itu ke terowongan besar tempat penyekapan tentara Amerika ada jarak sekitar sepuluh meter. Siapapun yang datang menuju ke terowongan tempat penyekapan tentara Amerika ini, begitu keluar dari terowongan kecil akan berbelok ke kanan. Sementara dinding di mana Si Bungsu kini bersembunyi berada di sebelah kiri. Dia beruntung, karena di bahagian kiri itu ada sebuah lekuk yang bisa dia pergunakan sebagai tempat menyurukkan badannya. Hanya beberapa detik dari saat dia berdiri di lekuk itu, dia mendengar langkah kaki bersepatu hampir sampai ke mulut terowongan. Jumlah tentara Vietnam yang datang itu ternyata memang empat orang.

Kedatangan mereka bisa segera diketahui, karena sambil berjalan mereka juga berbicara, yang juga terdengar oleh Kolonel MacMahon dan lima anggotanya yang siaga di mulut terowongan besar. Mereka menanti dengan berdebar. Setelah bertahun-tahun disekap, inilah pertama kali mereka berada dalam situasi siap tempur. Suara tentara Vietnam yang sedang bicara itu terdengar semakin jelas ketika mereka semakin dekat ke mulut terowongan kecil.

Kini keempat mereka sudah keluar dari terowongan kecil tersebut. Karena tak pernah menduga bahwa terowongan itu sudah dimasuki orang lain, ke empat tentara itu segera berbelok ke kanan. Saat akan sampai ke mulut terowongan besar, tiba-tiba mereka mendengar suara, seperti siulan, dari arah belakang. Tanpa curiga apapun, karena menyangka suara itu hanya suara sesuatu yang tak perlu dicurigai, sambil tetap melangkah mereka menolehkan kepala ke belakang.

Untuk sesaat mereka masih melangkah selangkah lagi, sampai akhirnya langkah mereka terhenti tatkala menyadari kehadiran orang lain di dalam terowongan yang amat dirahasiakan ini. Celakanya, karena mereka demikian yakin akan keamanan terowongan ini, karena banyak sekali ranjau yang ditanam secara rahasia, ditambah lagi para tawanan Amerika itu disekap dengan rantai sebesar-besar lengan di kaki, tangan dan pinggang, maka mereka merasa tak perlu siaga dengan senjata yang mereka bawa.

Masing-masing mereka memang membawa senjata. Namun senjata itu mereka sandang di bahu. Begitu berhenti setelah melihat ada orang asing di belakang mereka, ke empat tentara Vietnam itu agak lega. Karena lelaki asing itu sama sekali tak membawa bedil sebuah pun. Itulah sebabnya mereka dengan tenang meraih bedil yang mereka sandang. Kemudian mengarahkan larasnya ke arah Si Bungsu.

Si Bungsu tetap tegak dengan dua kaki terpentang dengan kedua tangannya lurus di sisi kiri kanan tubuhnya. Salah seorang tentara Vietnam yang berpangkat Sersan, paham bahwa orang ini sudah mengetahui tempat yang amat dirahasiakan oleh induk pasukannya. Jika orang ini tak .. segera dihabisi, merekalah yang akan dihabisi komandan mereka. Dengan pikiran demikian, Sersan itu segera menarik pelatuk bedilnya.

Namun begitu, telunjuknya menyentuh pelatuk, begitu dia rasakan sesuatu yang amat pedih di antara dua alis matanya. Pedih dan sakit yang amat sangat! Penglihatannya tiba-tiba menjadi gelap. Amat gelap gulita. Dan hanya itu. Sebab setelah itu, tubuhnya jatuh tertelungkup. Berkelojotan beberapa saat dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Lalu diam. Mati!

Ketiga temannya tak sempat merasa terkejut. Mereka hanya sempat melihat sekilas, kedua tangan lelaki itu bergerak dengan amat cepat. Mereka tak melihat ada bedil atau pistol di tangan lelaki itu. Mereka juga tak melihat ada sesuatu yang meluncur dari tangan lelaki tersebut. Namun entah apa sebabnya, tubuh ketiga mereka tiba-tiba menjadi limbung. Ada rasa sakit yang menyergap diri mereka dengan amat sangat.

Tak seorang pun yang sempat menarik pelatuk bedil. Dua orang di antara mereka merasakan sesuatu yang amat pedih di hulu jantung. Ketika tangan mereka menggapai ke arah yang amat sakit itu, mereka menemukan sebuah benda kecil tertancap di sana. Lalu, mata mereka terbeliak, lalu tubuh mereka rubuh terhempas. Yang seorang lagi merasakan tenggorokannya seperti dimasuki duri yang amat tajam. Nafasnya seperti tersumbat, matanya mendelik. Dari mulutnya tiba-tiba menyembur darah segar. Sampai dia rubuh, menyusul ketiga temannya, dia tak pernah tahu bahwa tenggorokannya sudah ditembus sebuah samurai kecil yang teramat tajam, dan dilontarkan dengan cara yang teramat mahir, dengan kecepatan yang tak terikutkan mata, oleh lelaki asing yang tadi bersiul dari arah belakang mereka.

Tak seorang pun di antara keempat tentara Vietnam itu yang pernah membayangkan bahwa mereka akan menemui akhir perjalanan hidup seperti ini. Di kiri kanan terowongan besar, Kolonel MacMahon dan kelima anak buahnya menanti dengan perasaan tegang kemunculan tentara Vietnam itu. Beberapa saat yang lalu mereka sudah mendengar langkah keempat tentara Vietnam itu mendekat. Barangkali hanya tinggal dua atau tiga langkah lagi, mereka pasti muncul di terowongan besar di mana mereka menanti, dan mereka yakin ke empat tentara itu bisa mereka habisi.

Namun tiba-tiba saja langkah yang mendekat itu berhenti. Kemudian terdengar keluhan-keluhan pendek susul menyusul, diiringi suara bergedebuk seperti suara benda keras jatuh. Lalu sepi. Detik demi detik berlalu dalam kesunyian yang amat mencekam. Mereka sampai berkeringat menanti dengan kekhawatiran orang Indonesia itu sudah dihabisi. Si Kolonel memberanikan diri mengintai dengan mengacungkan bedil ke arah mulut terowongan kecil. Dan dia ternganga. Perlahan dia menurunkan bedil, kemudian dengan menenteng bedil itu dia keluar dari tempat persembunyiannya, melangkah ke arah pintu terowongan kecil itu.

Kelima anak buahnya yang sedang menempel ketat ke dinding, menatap heran pada si Kolonel. Mereka ikut kaget ketika si Kolonel melangkah ke arah suara serdadu Vietnam yang mereka dengar tadi. Karena tak ada suara tembakan apapun, mereka ikut-ikutan keluar dari persembunyian masing-masing. Melangkah ke arah mulut terowongan, dan seperti si Kolonel, tiba-tiba mereka pun dibuat hampir tak mempercayai apa yang mereka lihat.

Di depan mereka empat serdadu Vietnam terlihat pada bergelimpangan. Saat itu Si Bungsu tengah mencabuti samurai kecilnya yang terakhir, yang tertancap di tenggorokan salah seorang tentara Vietnam itu. Kini ke-17 orang Amerika tersebut sudah berkumpul di dekat Si Bungsu. Lelaki Indonesia itu tengah menyisipkan samurai-samurai kecil ke sabuk karet tipis di balik lengan bajunya, setelah dia menghapus darah yang lekat di samurai itu ke pakaian tentara Vietnam yang dia bunuh. “Ninja…” desis seorang letnan pasukan SEAL sambil nanap menatap Si Bungsu.

Semua menatap padanya, kemudian pada Si Bungsu. Sembari menutupkan lengan bajunya, sehingga semua samurai kecil di balik lengan baju itu lenyap dari penglihatan, Si Bungsu menatap ke arah letnan tersebut. “Saya memang belajar dari seorang Jepang. Namun di Jepang sana yang mahir mempergunakan samurai kecil-kecil seperti ini tidak hanya Ninja. Siapapun bisa melakukannya, asal mau berlatih keras…” ujar Si Bungsu perlahan.

Kendati semua tentara Amerika itu berasal dari pasukan elit, namun mereka tak dapat menyembunyikan perasaan heran bercampur takjub mereka pada kehebatan lelaki dari Indonesia tersebut dalam menghabisi keempat tentara Vietnam itu. Dengan takjub mereka memperhatikan luka kecil di tubuh ke empat tentara Vietnam itu. Semua luka terdapat di tempat yang mematikan. Di antara alis mata, tenggorokan dan di jantung. Yang membuat mereka takjub bukan bekas luka itu, tetapi orang yang menyebabkan luka tersebut.

Membidik tempat-tempat yang demikian mematikan bukanlah hal yang mudah. Dan menghujamkan pisau kecil dari jarak beberapa belas meter, dalam waktu yang amat cepat secara beruntun, sehingga tak satu bedilpun sempat meletus dari empat tentara itu, benar-benar suatu kemahiran yang sulit dicerna akal.

Sebahagian besar di antara mereka adalah ahli bela diri yang amat terlatih. Ahli pertempuran yang mahir mempergunakan senjata api maupun pisau komando. Namun, untuk membunuh empat tentara Vietnam sekaligus dengan pisau dalam waktu hanya hitungan detik, belum pernah mereka khayalkan. Karenanya, tidaklah berlebihan kalau mereka kini pada menatap pada orang Indonesia itu dengan kagum.

“Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Komandan mereka akan curiga jika keempat tentara yang mati ini tak muncul-muncul di barak di bawah sana. Lagipula, pagi nampaknya sebentar lagi akan turun…” ujar Si Bungsu setelah melihat jam tangannya. “Baik, Tuan yang mengenal jalan ini, karena baru saja masuk kemari. Tuan yang memimpin kami keluar dari tempat penyekapan ini…” ujar Kolonel MacMahon pada Si Bungsu.

Si Bungsu tak merasa perlu lagi berbasa-basi. Usai para tentara itu melucuti senjata, peluru dan bayonet milik ke empat tentara Vietnam yang mati tersebut, dia segera berjalan di depan, menuruni terowongan yang menurun tajam ke bawah sana. Mereka juga tak perlu menyembunyikan keempat mayat tentara Vietnam tersebut. Takkan ada yang harus disembunyikan lagi. Begitu tentara Vietnam naik kemari, mereka akan segera tahu bahwa semua tawanan sudah kabur. Helena yang tak bisa berjalan dipangku oleh seorang Sersan. Begitu juga tentara yang sakit, segera dipapah bersama. Mereka bergerak cepat menuruni terowongan terjal dan berliku itu. Tentara yang berasal dari anggota SEAL, pasukan khusus Angkatan Laut itu, segera menempatkan diri di belakang Si Bungsu.

Mereka bertugas memperhatikan jalan, mengawasi tanda-tanda adanya ranjau. Mereka memang sangat ahli dan paham dalam hal itu. Kini, kendati Si Bungsu berada di depan, mata mereka yang tajam meneliti setiap inci lantai terowongan yang akan dilewati. Beberapa saat menjelang sampai ke mulut terowongan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar, Si Bungsu menyuruh rombongan itu berhenti.

Dia minta mereka menanti, kecuali si Kolonel yang masih memegang senjata yang diberikan Si Bungsu dan dua anggotanya dari SEAL itu, yang masing-masing kini memegang senjata yang tadi diambil dari mayat tentara Vietnam di atas sana.

“Di luar sana, tak jauh dari mulut terowongan ini, tadi malam ada dua tentara yang menjaga. Saya rasa di sana tetap ada yang menjaga, kendati orangnya sudah diaplus…” ujar Si Bungsu pada Kolonel MacMahon. “Baik, kita selesaikan mereka…” ujar MacMahon. “Saya rasa sebaiknya tak ada letusan. Suara letusan akan terdengar sampai ke barak. Di sana berada seratus tentara Vietnam. Jumlah kita amat tak seimbang…” ujar Si Bungsu. “Anda benar. Kita akan selesaikan mereka tanpa sebuah letusan pun…” ujar si Kolonel, sambil memberi isyarat pada kedua anak buahnya yang dari SEAL itu.

Kedua tentara itu pun menyerahkan senjatanya pada temannya yang lain. Mereka menghunus bayonet yang tadi diambil dari tentara Vietnam itu. Kemudian segera bergerak cepat ke mulut terowongan. Di belakangnya menyusul Si Bungsu dan MacMahon. Ketika mereka sampai di mulut terowongan, yang seolah- olah tertutup oleh batu besar itu, kedua anggota SEAL tadi sudah tak terlihat lagi bayangannya. Si Bungsu sebenarnya khawatir, kedua anggota pasukan khusus angkatan laut Amerika itu takkan mampu menyelesaikan tugas sebagaimana diharapkan Kolonel MacMahon.

Bukan karena dia tak percaya pada ketangguhan pasukan elit itu, namun kedua orang itu sudah ditahan beberapa tahun. Betapa pun, kemahiran seorang yang amat terlatih akan menurun amat drastis, bila dia tak pernah latihan beberapa bulan saja. Apalagi kedua tentara itu, sebagaimana teman-temannya yang lain, kini kondisi kesehatan mereka amat buruk. Karena makan tak teratur dan mutu makanan yang masuk ke tubuh mereka amat rendah. Namun kalau dia cegah, dia khawatir Kolonel dan kedua tentara tersebut akan merasa dilecehkan.

Kini dia hanya tinggal berharap, mudah-mudahan kedua tentara itu bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Namun terus terang saja, hati Si Bungsu benar-benar tak sedap. Dia membawa Kolonel itu agar bergerak cepat. Di luar sana, kedua tentara Amerika tersebut mengendap-ngendap mendekati tempat dua tentara Vietnam yang sedang berjaga-jaga. Yang seorang memberi isyarat, agar mereka mendekati kedua tentara tersebut dari dua arah dengan membuat setengah lingkaran. Hal itu terpaksa di lakukan karena situasi lapangan yang terbuka, yang tidak memungkinkan mereka langsung mendekat tanpa diketahui kedua orang Vietnam tersebut.

Dalam pelukan udara pagi yang amat sejuk di kaki bukit batu terjal itu, mereka menerobos semak belukar. Berlindung dari pohon ke pohon. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di posisi sejajar. Jarak antara yang satu dengan yang lain di seberang sana ada sekitar dua puluh depa, dengan tentara Vietnam berada di tengah-tengah. Mereka berdua bisa saling lihat. Mereka cukup beruntung, kedua tentara Vietnam tersebut tak mengetahui sama sekali ada bahaya yang mengancam.

Yang di sebelah kanan memberi isyarat kepada temannya. Mereka akan merayap sedekat mungkin, kemudian maju merayap. Tidak mudah melakukan tindakan itu, karena harus melewati daerah terbuka sekitar lima balas depa. Amat besar resikonya untuk membunuh kedua tentara itu dengan lemparan bayonet. Barangkali lemparan akan mengenai sasaran, namun jarak yang jauh itu takkan bisa menancapkan bayonet cukup dalam.

Bukan hanya itu, arah lemparan bayonet sebenarnya juga bisa melenceng, jika ayunan saat melempar tidak dengan sepenuh tenaga. Kini kedua mereka mulai merayap maju. Apa yang mereka khawatirkan terjadi sudah. Kedua tentara Vietnam itu segera mengetahui kehadiran mereka. Mula-mula kedua Vietnam itu terkejut. Namun sesaat kemudian mereka sudah mengacungkan bedilnya.

Pada saat yang hampir bersamaan kedua anggota SEAL itu sudah tegak dan melambung ke depan. Ketika mereka yakin tubuh mereka takkan mencapai kedua tentara itu, mereka sama-sama melemparkan bayonetnya. Apa yang dikhawatirkan Si Bungsu, bahwa kemahiran akan merosot bila lama tak dilatih, memang jadi kenyataan. Kedua anggota SEAL itu memang bergerak pada saat yang tepat, namun gerakan mereka saat menghamburi kedua Vietnam itu sudah demikian lamban karena tenaga mereka memang jauh merosot.

Begitu juga lemparan bayonetnya. Melempar sasaran dalam posisi tubuh melambung bukanlah pekerjaan yang mudah. Kendati oleh orang terlatih sekalipun. Kini tindakan itu dilakukan oleh tentara yang kondisi tubuhnya cukup buruk. Lemparan mereka memang mencapai kedua tentara Vietnam itu. Namun bayonet yang dilemparkan tentara yang di kanan justru hulunya yang menghantam hidung si Vietnam. Sementara lemparan seorang lagi memang ujungnya, namun yang kena adalah tangan kanannya. Padahal tadinya mereka sama-sama membidik dada kedua Vietnam itu sebagai sasaran utama. Dada bahagian jantung, begitu selalu mereka dilatih.

Kendati demikian, kedua tentara Vietnam itu sama-sama tak bisa mempergunakan bedil mereka. Yang hidungnya kena hajar hulu bayonet memekik. Senjata di tangannya terlepas, karena kedua tangannya segera mendekap hidungnya yang remuk. Yang seorang lagi, yang lengan kanan kena hajar bayonet, juga memekik. Namun dia sadar, nyawa mereka berada di ujung tanduk.

Gagang bedil dengan gerakan cepat dia pindah dari tangan kanannya yang ditancapi bayonet ke tangan kiri. Dengan tangan kiri itu di mengangkat bedilnya dan menembak. Namun gerakannya terlambat. Tentara Amerika itu sudah sangat dekat. Bedilnya disentakkan, tubuhnya tertarik ke depan saat itu pukulan sisi tangan anggota SEAL itu mendarat di tenggorokannya.

Dia masih belum rubuh, sebuah tendangan menyusul ke selangkangannya. Dia jatuh berlutut, dan bayonet di ujung bedilnya yang sudah berpindah tangan segera menghujam ke jantungnya. Tapi, tentara Vietnam yang seorang lagi, yang tadi kena hajar hidungnya, juga segera menyadari maut mengancam nyawanya. Dengan menahan rasa sakit, dia segara berlutut dan meraih senjatanya yang jatuh. Saat itu tentara Amerika yang seorang lagi masih berada tiga depa dari dirinya, dan sedang melambung. Dia mengangkat bedilnya dan menarik pelatuk.

Saat itu tubuh tentara Amerika yang melambung itu jatuh tepat ke tentara Vietnam tersebut. Dia memutar kepala Vietnam itu, terdengar suara berderak. Tentara Vietnam itu mati seketika. Kedua kejadian itu, terjadi pada saat yang hampir bersamaan. Dan ketika tugas itu selesai, kedua anggota SEAL tersebut melucuti senjata dan peluru kedua tentara Vietnam itu. Saat itu pula Kolonel MacMahon muncul, disusul Si Bungsu. Kedua orang itu muncul dari balik belukar, sekitar sepuluh depa dari tempat MacMahon,

Kolonel itu memberi isyarat dengan suitan ke arah pintu goa, tak lama kemudian dari sana muncul para bekas tawanan yang lain, lalu berkumpul di sekitar mayat kedua tentara Vietnam itu. Si Bungsu berjalan ke arah salah satu terntara Vietnam tersebut. Saat dia membalikkan salah satu tubuh mayat itu, semua bekas tawanan Amerika pada memandang ke arahnya. Dia menunduk, mencabut samurai kecil yang tertancap di tengkuk mayat itu sampai ke hulunya.

Kolonel MacMahon dan tentara yang tadi melompat dan memetahkan leher orang Vietnam itu, saling bertatapan. MacMahon maupun tentara yang melompat itu teringat, saat tubuhnya masih di udara dalam sebuah lompatan dan masih berjarak tiga meter dari si Vietnam, tentara Vietnam itu sudah mengangkat bedil. Telunjuknya sudah berada di pelatuk bedil. Namun tak kunjung terdengar letusan. Dan orang Vietnam itu akhirnya mati.

Ternyata, penyebab tak kunjung terdengarnya letusan itu adalah samurai kecil tersebut. Si Bungsu menghapus darah di samurai kecil itu ke baju tentara yang mati itu. Kemudian dia menyelipkan samurai kecilnya ke balik lengan baju. Dia berbuat seolah-olah tak terjadi apapun. Si tentara yang tahu nyawanya diselamatkan segera mendekati Si Bungsu, persis saat Si Bungsu sudah berdiri. “Tuan, siapapun Tuan dan darimanapun Tuan berasal, saya berhutang nyawa pada Tuan. Terimakasih. Tuan telah menyelamatkan hidup saya. Nama saya William, Sersan Robert William. Saya takkan melupakan pertolongan Tuan…” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Si Bungsu menatap anggota pasukan istimewa Angkatan Laut Amerika itu dengan tenang. Kemudian menerima uluran tangan tentara tersebut. Selain Si Bungsu, yang memahami apa yang sudah terjadi hanya tiga orang. Yaitu kedua anggota SEAL itu dan si Kolonel. Yang lain hanya menatap dengan diam. Tapi, dari apa yang mereka lihat di goa tadi, betapa mahirnya lelaki dari Indonesia ini mempergunakan senjata Ninja-nya, mereka sudah dapat menduga, apa yang dimaksud ‘hutang nyawa’ oleh Sersan William. Situasi tak memungkinkan mereka bergerak lambat. Si Bungsu segera membawa pasukan kecil itu melintas sungai kecil yang dia lewati malam tadi. Kemudian menyelusup di antara batu-batu besar dan hutan lebat ke tempat di mana dia meninggalkan Han Doi. Mereka kini sudah memiliki tujuh bedil. Sebuah yang dibawa Si Bungsu, empat mereka rampas dari tentara Vietnam di dalam terowongan tadi, dan dua dari penjaga pintu terowongan.

Namun, baik Si Bungsu maupun Kolonel MacMahon tetap berpendapat bahwa mereka tak mungkin terlibat pertempuran terbuka dengan seratus lebih tentara Vietnam di barak-baraknya sana. Selain perbedaan jumlah personil dan jumlah senjata yang amat mencolok, kondisi kesehatan juga tak memungkinkan mereka untuk bergerak cepat dalam sebuah pertempuran terbuka.

Pagi sudah turun. Si Bungsu faham benar, bahwa bahaya semakin mendekati mereka. Kini komandan pasukan Vietnam itu tentu sudah mengirim pasukan menyusul empat tentara yang terbunuh di goa penyekapan tentara Amerika itu. Sebelum mereka memasuki goa, mereka tentu terlebih dahulu menemukan dua mayat temannya di bawah bukit itu. Pasukan yang dikirim itu akan dibagi dua. Satu atau dua orang dikirim memberikan laporan ke barak, dan selebihnya akan memasuki goa penyekap. Berharap kalau-kalau para tawanan masih belum sempat melarikan diri.

Namun, sebelum pasukan yang memeriksa goa tahanan itu kembali, berdasar laporan bahwa dua tentara yang menjaga di bawah bukit itu sudah mati terbunuh, maka seluruh pasukan Vietnam akan disiagakan. Tindakan tentara Vietnam setelah itu sudah bisa direka dengan pasti. Mereka akan menyisir seluruh belantara ini untuk mencari tawanan yang melarikan diri tersebut, berikut orang yang membebaskan mereka.

Tentara Vietnam akan segera dapat menyimpulkan bahwa pelarian itu dimungkinkan karena ada pihak luar yang membantu. Indikasinya akan mereka temukan pada rantai-rantai yang hancur seperti kaca di hantam batu. Kendati mereka belum mengenal zat apa yang digunakan untuk membuat rantai itu rapuh, namun mereka akan segera tahu, bahwa zat kimia berkekuatan dahsyat itu didatangkan dari luar. Zat itu mustahil bisa dibuat para tawanan. Dengan pikiran seperti itu, Si Bungsu segera bertindak cepat. Han Doi yang ditemukan masih tertidur, karena urat lehernya ditotok, terbangun dengan kaget ketika Si Bungsu kembali membuat dia sadar.

“Ayo berkemas, kita harus bergerak cepat…..” ujarnya pada Han Doi yang dia bebaskan dari totokan, yang menatap hampir tak percaya pada belasan tentara Amerika yang compang-camping tak jauh dari tempatnya tidur. Ketika mereka menyelinap di antara hutan dan bebatuan besar, dari kejauhan mereka mendengar deru mobil dan perintah-perintah para komandan tentara Vietnam di barak-baraknya. Ketika mereka sudah kembali berada dijalur yang mereka gunakan tadi malam, Si Bungsu menghentikan rombongan tersebut.

“Mereka akan menemukan jejak kita. Sebaiknya rombongan kita bagi dua. Han Doi jadi penunjuk jalan ketempat Duc Thio dan Thi Binh di bukit sana. Bawa wanita dan semua yang sakit kebukit itu. Delapan pucuk senjata yang ada termasuk punya Han Doi, kita bagi dua. Empat pucuk dibawa rombongan Han Doi, di sana ada dua pucuk lagi, empat lagi tinggal disini bersama empat sukarelawan yang masih bisa bertempur. Untuk mengalihkan pengejaran, kita akan memancing mereka kesebelah sana, sehingga rombongan yang membawa yang sakit bisa menyelamatkan diri sampai kebelakang rawa sana, Han Doi lihat peta ini….” ujar Si Bungsu sambil membuka peta yang diambilnya dari ransel.

“Di sini kita tadi berhenti, memakan durian dan memanggang rusa. Tetaplah disitu, bawa jam tangan ini. Jam ini akan memancarkan sinyal memanggil helikopter. Buat api unggun begitu kalian mendengar deru pesawat terbang, agar mereka melihat asapnya untuk turun menyelamatkan kalian. Kalian tak bisa melewati rawa tersebut. Selain rakitnya tak bisa menampung semuanya, rawa itu terlalu berbahaya untuk dilewati. Nah, kini kita berbagi peluru dan dinamit….” ujar Si Bungsu sambil menuangkan isi ranselnya yang di penuhi peluru dan dinamit itu di tanah.

Namun tiba-tiba Si Bungsu membalikkan badan, menatap kearah kanan. Gerakannya yang tiba-tiba itu mebuat semuanya terkejut dan segera mengarahkan senjata ke arah yang dilihat Si Bungsu. “Jangan tembak,!” ujar Si Bungsu setelah mengetahui yang muncul itu adalah Duc Thio dan Thin Binh. Thin Binh segera berlari memeluk Si Bungsu. “Kenapa begitu lama, kau tinggalkan aku….” ujarnya

Si Bungsu menatap gadis itu, kemudian mengenalkannya pada Kolonel MacMahon dan seluruh tawanan Amerika tersebut. “Ini Thi Binh yang kuceritakan tadi. Dia pernah disekap tentara Vietnam di barak-barak di bawah sana. Dialah yang menceritakan dimana lokasi ini. Duc Thio ini Kolonel MacMahon. Kolonel ini Duc Thio…” ujar Si Bungsu. Semuanya saling menatap memperhatikan, kemudian saling mengangkat tangan memberi salam. “Oh ya, Thi-thi, ini Roxy, yang ayahnya membayarku untuk membebaskannya…” ujar Si Bungsu mengenalkan perawat Amerika.

Thi Binh dan Roxy saling bertatapan. Kemudian saling mengangguk. Tak ada yang memulai untuk bersalaman. Mereka hanya saling berdiam diri dan saling pandang. Entah mengapa, Thi Binh tiba-tiba saja merasa hatinya di harubirukan oleh perasaan tak enak, tatkala melihat betapa jelitanya gadis itu. Sebenarnya tawanan Amerika itu juga terkejut akan kecantikan Thi Binh.

Mereka sudah tahu dan selama ini mengetahui kalau gadis-gadis Vietnam keturunan tersohor kecantikannya. Tapi Thi Binh bukanlah blasteran eropa-Vietnam tapi blasteran penduduk asli ras Cina. Kecantikannya benar-benar alami. “Baik, sekarang Duc Thio bisa memimpin semua wanita dan yang sakit menyelamatkan diri dari sini…” ujar Si Bungsu memutuskan keheningan.

Thi Binh menatap tajam pada Si Bungsu, sementara yang lain sedang berkemas untuk meninggalkan tempat tersebut. Si Bungsu hanya mengangguk, karena dia memahami bahwa gadis itu ingin membalaskan dendamnya pada tentara Vietnam yang berbulan-bulan menjadikan dirinya sebagai pemuas nafsu. Dia sudah menjanjikan berkali-kali pada Thi Binh, bahwa dia akan membantu membalaskan dendamnya. Dan kini Thi Binh menagih janji itu.

“Saya juga tetap tinggal dan ikut bertempur disini…” tiba-tiba terdengar suara dari salah satu tawanan Amerika berbicara dengan pasti. Semua menatap padanya, dia adalah Roxy. “Anda di bayarkan untuk membebaskan dan diantar sampai Amerika bukan?” ujar Roxy langsung ditujukan pada Si Bungsu. Si Bungsu tertegun sebentar kemudian mengangguk. “Jika saya tidak bersama anda, bagaimana anda bisa menepati janji untuk mengantarkan saya ke Amerika…?” ujar Roxy sambil menatap lurus-lurus pada Si Bungsu.

“Kita bisa bertemu di suatu tempat setelah kalian bebas..” ujar Si Bungsu. “Saya tetap disini…” “Yang tinggal disini harus bertempur dan kecil sekali kemungkinan selamat…” ujar Si Bungsu. “Saya sudah biasa bertempur dan disekap bertahun-tahun. Soal hidup atau mati, tidak lagi menjadi penting….” ujar Roxy. Thin Binh menatap Roxy dengan mata melotot. Ketika tidak menatap langsung, namun Roxy tahu kalau gadis Vietnam itu keki setelah dia mengatakan akan tinggal. Dan entah mengapa, dia justru senang membuat keki gadis itu. Semakin dongkol hati Thi Binh semakin senang hati Roxy.

Roxy tersenyum, dan dengan senyum itu dia menatap Si Bungsu, kemudian Thi Binh. Ooo, jengkelnya hati Thi Binh melihat senyum perempuan Amerika itu. Baginya, senyum itu adalah senyum perempuan gatal. Entah mengapa sakit saja hatinya melihat gadis Amerika yang satu ini. Apalagi melihat dia senyum-senyum pada Si Bungsu. Rombongan itu akhirnya terbagi dua. Yang satu nya ditemani beberapa orang yang sehat, bergerak kearah perbukitan, dengan Duc Thio sebagai penunjuk jalan. Jumlah yang bersama Si Bungsu kini ada 10 orang. Yang tiga orang adalah Si Bungsu, Han Doi, dan Thi Binh. Sementara di pihak bekas tawanan Amerika yaitu Kolonel MacMahon, Roxy, dua anggota SEAL dan tiga yang berasal dari baret hijau.

Bedil yang sepuluh mereka bagi dua, begitu juga dengan peluru dan dinamitnya. Dan Si Bungsu memberikan jam tangannya, yang bisa menyiarkan sinyal panggilan kepada kapal induk Amerika kepada letnan yang ikut bersama Duc Thio. Kendati dia tahu kalau letnan itu bisa memakai alat pada jam itu, tapi dia tetap meberikan petunjuk biar lebih meyakinkan. “Kini Komando ada di tangan anda Kolonel…” ujar Si Bungsu, beberapa saat setelah rombongan yang menyelamatkan diri itu hilang dari pandangan mereka.

Kolonel MacMahon yang memang dari tadi sudah memperhatikan situasi di mana mereka berada, segera mengatur rencana. Dia menyebar personel yang ada dalam radius tertentu. Dimana mereka masih bisa saling mengawasi. Namun Roxy menolak ketika ditempatkan disayap tengah. “Saya harus berada di dekat orang ini Kolonel. Karena sesuai janjinya pada ayah saya, dia bertanggung jawab atas hidup dan mati saya…” ujar gadis itu. Yang di maksud dengan ’orang ini’ siapa lagi kalau bukan Si Bungsu. Thi Binh kontan melototkan mata kearah Roxy begitu mendengar ucapan itu. Dan Roxy memang sedang menanti pandangan gadis itu dan begitu Thi Binh mempelototi nya dia balas dengan senyum simpul. Oo.. gondoknya hati Thi Binh, sedangkan Si Bungsu hanya diam. Apa boleh buat dia memang sudah berjanji pada ayah gadis itu. Dia lalu memaparkan rencananya pada Kolonel MacMahon. Dia akan meyerang barak tentara Vietnam bersama Thi Binh. Dijelaskannya bahwa gadis itu tak bisa menghapus dendamnya pada tentara Vietnam di bawah sana, akibat perkosaan dan dijadikan pemuas nafsu selama berbulan-bulan. Tanpa berniat dan menimbulkan kesan mengajari si Kolonel, Si Bungsu menjelaskan teori klasik perkelahian, bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Konkretnya, menyerang sepuluh kali lebih baik dari pada bertahan.

“Jika Anda setuju, Kolonel, saya akan menyusup menghancurkan gudang senjata mereka. Siapa tahu, kami bisa mencuri beberapa senjata dari gudang tersebut. Tapi, paling tidak, meledaknya gudang itu akan menyebabkan ditariknya sebagian pasukan yang memburu kita…” ujar Si Bungsu perlahan.

Kolonel MacMahon menyetujui rencana tersebut, namun dia mengusulkan agar Si Bungsu disertai salah seorang dari anak buahnya yang berasal dari pasukan SEAL. Saran itu segera disetujui Si Bungsu. Namun ketika dia akan berangkat bersama Thi Binh dan Sersan Mc Dowell, Roxy yang tidak bersenjata segera pula berdiri di samping Thi Binh. “Saya ikut bersamamu…” ujarnya sambil melemparkan senyum pada Thi Binh.

Saking jengkelnya, hampir saja Thi Binh menampar bibir mungil yang tersenyum itu. Sungguh mati, dia tak ingin perempuan yang dianggapnya gatal ini ikut-ikut pula bersama dia dan Si Bungsu. Namun sebelum dia sempat bereaksi, Si Bungsu sudah menyuruh pasukan kecil itu bergerak. Si Bungsu di depan, Mc Dowell menyilahkan Thi Binh dan Roxy bergerak duluan, dia menempati posisi paling belakang.

Namun, ketika Si Bungsu sudah bergerak cukup jauh, kedua gadis itu masih tegak dan saling pandang, seperti dua harimau yang akan saling terkam. Sudah dua kali Mc Dowell menyilakan mereka untuk maju, keduanya masih tegak dan saling pelotot. Penat saling tatap dan saling pelotot, akhirnya Roxy yang memang dalam usia jauh lebih tua dari Thi Binh segera mengambil inisiatif menyilahkan gadis itu melangkah duluan.

Namun Thi Binh masih tegak. Maka Roxy tak lagi peduli, dia segera berjalan mengejar Si Bungsu. Thi Binh seperti disengat lebah melihat Roxy yang dicapnya sebagai perempuan gatal itu tiba-tiba saja nyelonong duluan. Dia memegang bedilnya erat-erat, kemudian bergegas menyusul langkah Roxy. Menyelinap di antara belukar dan batu-batu besar. “Perempuan gatal, perempuan lont….” gerutu Thi Binh sambil berusaha mempercepat langkah.

Hatinya bertambah sakit, tatkala melihat jauh di depan sana, di antara palunan belukar, sekilas-sekilas dia melihat perempuan itu sudah berjalan beriringan dekat sekali dengan Si Bungsu. Oo, jengkel dan gondoknya dia. Kalau saja tak khawatir suaranya akan terdengar oleh tentara Vietnam, yang mungkin sudah ada di sekitar mereka, Thi Binh pasti akan berteriak menyuruh Si Bungsu berhenti menantinya.

Tapi maksudnya itu terpaksa dia urungkan, sebab dia tak tahu apakah tentara Vietnam yang memburu mereka sudah berada di sekitar tempat ini atau tidak. Kalau dia bersuara keras, pasti akan terdengar oleh orang yang memburunya itu. Kendati demikian, Thi Binh tak bisa menghapus jengkel dan gondok di hatinya begitu saja terhadap perempuan yang dicapnya gatal itu.

Sebenarnya, sumber rasa gondok dan jengkel itu, adalah rasa cemburu. Sungguh, dia demikian mencintai Si Bungsu. Dia tak ingin ada perempuan lain yang menyela di antara kehidupan mereka berdua. Usianya yang baru lima belas, meski tubuhnya seperti gadis 17 tahun, menyebabkan dia sulit mengontrol hatinya. Dia merasa Roxy adalah sumber gangguan yang amat potensial bagi hubungannya dengan Si Bungsu. Dia tak menginginkan itu.

Konyolnya, Roxy yang tahu benar bahwa gadis itu mencintai Si Bungsu, dan dia juga tahu bahwa gadis tersebut cemburu padanya, justru bersikap membakar-bakar. Seperti sikapnya memilih tinggal bersama Si Bungsu, bukannya ikut menyelamatkan diri bersama teman-temannya yang lain. Padahal, apalah urusannya berada bersama Si Bungsu. Dia tentu akan lebih aman bila menyingkir dari tempat ini bersama rombongan yang dipimpin Duc Thio.

Pertempuran pertama terjadi ternyata bukan melibatkan rombongan Si Bungsu atau MacMahon yang bertahan. Pertempuran itu justru terjadi pada rombongan orang-orang yang menyelamatkan diri bersama Duc Thio. Untung saja mereka tak masuk jebakan. Pertempuran pecah setelah letnan dari pasukan Baret Hijau yang menyertai Duc Thio, yang tadi menerima jam tangan sinyal dari Si Bungsu, melihat sekilas gerakan mencurigakan sekitar dua puluh depa di depan mereka.

Dia memberi isyarat ke rombongan di belakangnya. Rombongan itu berhenti tiba-tiba dan mencari perlindungan di balik batu atau kayu-kayu besar. Si Letnan membisikkan kepada Duc Thio bahwa dia melihat gerakan di depan sana. “Anda tunggu di sini. Senjata kita hanya dua pucuk…” bisik si letnan sambil memberi isyarat memanggil seorang Sersan pasukan Baret Hijau yang berada di bahagian belakang.

Sersan itu, yang tak memiliki bedil, segera mendekat pada si letnan. Mereka mengatur taktik untuk mengetahui berapa jumlah tentara Vietnam di depan sana, kemudian jika mungkin menjebak dan melumpuhkannya. Si letnan membuat gerakan melambung ke kiri, sementara si Sersan yang hanya berbekal bayonet melambung ke arah kanan. Keduanya lenyap dalam palunan belantara lebat. Duc Thio berjaga-jaga di tempat tersebut. Dia segera ingat senjata di tangannya. Dia melihat ada seorang kopral Baret Hijau yang duduk bersandar ke batang kayu besar sembari memeluk tubuh Helena, tentara wanita yang sakit dan tak mampu berjalan itu. Duc Thio bergerak ke belakang, ke arah kopral tersebut.

“Senjata ini akan jauh lebih bermanfaat jika Anda yang memegangnya. Biar saya yang menggantikan memapah dia…” bisik Duc Thio sambil menunjuk pada Helena. Kopral itu tentu saja menerima tawaran tersebut. Bagi tentara seperti dia, berada dalam pelarian tanpa senjata sama dengan lari bertelanjang. Perlahan dipindahkannya tubuh Helena ke pelukan Duc Thio, kemudian diambilnya senjata laras panjang hasil rampasan tersebut, dan segera bergerak ke bahagian depan. Letnan yang tadi menyelinap ke depan, tiba-tiba mendengar ada suara langkah di bahagian kanannya. Dengan cepat, nyaris tanpa menimbulkan suara dia bersembunyi ke balik rimbunan belukar.

Hanya beberapa detik setelah dia bersembunyi, di balik beberapa pohon besar di bahagian kanannya muncul dua orang tentara Vietnam. Kedua mereka menatap tanah, nampaknya mencoba melihat jejak yang ditinggalkan pelarian yang mereka kejar. Kedua tentara itu lewat hanya sekitar dua depa dari tempat persembunyian si letnan. Si letnan masih menanti beberapa saat, dia tak bisa gegabah. Dia tak tahu berapa orang sebenarnya tentara Vietnam yang memburu mereka ke arah ini.

Jika sekarang dia menembak, dia khawatir bahagian lain dari tentara yang memburu mereka akan berdatangan kemari. Namun usahanya untuk berdiam diri digagalkan oleh seekor ular daun yang sejak dia menyelusup ke belukar rimbun itu sudah mengintai. Ular hijau itu besarnya tak lebih dari sebesar jempol lelaki dewasa, dengan panjang sekitar satu depa. Namun tak seorang pun di antara tentara Amerika yang bertugas di belantara Asia yang tak tahu betapa mematikannya gigitan ular kecil tersebut.

Si letnan masih beruntung, saat dia menatap tajam ke arah dua tentara Vietnam di depannya, sudut matanya sekilas menangkap ada benda yang bergerak di bahagian atas kepalanya. Nalurinya yang tajam masih cepat bereaksi ketika kepala ular itu menyambar ke arah lehernya. Dia berguling menjatuhkan diri, dan menembak. Kepala ular tersebut hancur dihantam pelurunya. Dan si letnan dalam suatu gerakan berputar segera memuntahkan peluru ke arah dua tentara Vietnam yang terkejut mendengar letusan hanya empat depa di belakang mereka.

Semburan peluru dari bedil si letnan membuat kedua tentara Vietnam itu terjungkal mati. Namun setelah itu terdengar suara teriakan-teriakan. Dan tempat si letnan kemudian dihajar ratusan peluru dari balik- balik pepohonan. Dengan menyumpah si letnan bergulingan dari balik pohon ke pohon lain untuk menyelamatkan diri dari terkaman peluru. Sekitar lima puluh meter dari tempat si letnan, Duc Thio dan para pelarian wanita serta tentara yang sakit, mendengar suara letusan itu dengan berdebar.

Suara tembakan tiba-tiba berhenti. Si letnan tiarap di balik sebuah pohon besar. Dia tidak tahu ada berapa tentara Vietnam yang kini berada di hadapannya. Baik dirinya maupun pasukan yang mengejarnya sama-sama tak mengetahui berapa lawan yang mereka hadapi. Sersan yang tadi melambung ke bahagian kanan, yang hanya berbekal sebuah bayonet, begitu mendengar suara tembakan di bahagian kirinya, segera menyelusup mendekati tempat pertempuran tersebut. Dia tahu yang disirami tembakan itu adalah si letnan.

Dengan cara menyelusup yang kemahirannya masih dia miliki, kendati sudah tiga tahun dalam sekapan, dia sampai ke tempat pertempuran itu saat suara tembakan terhenti. Dia tak tahu si letnan berada di mana. Untuk itu si kopral bersiul. Siulnya amat susah dibedakan dengan suara burung. Kemahiran meniru suara burung atau suara hewan lainnya menjadi andalan bagi pasukan Baret Hijau dan pasukan SEAL Amerika, dalam perang di hutan belantara.

Si letnan, yang masih dalam posisi tiarap dan menanti, mendengar suara sejenis burung yang hidup dalam belantara Vietnam tersebut. Dia segera tahu, suara itu adalah suara si Sersan. Ada kode khusus di dalam tiruan suara burung itu, yang hanya diketahui oleh orang-orang yang memang mempelajari suara tersebut. Dia lalu menyahuti suara itu dengan meniru suara burung pula. Dari asal suara itu, si Sersan menjadi faham di mana letnan itu kini berada. Sekitar lima puluh depa di depannya. Kalau begitu, tentara Vietnam kini berada antara dia dengan si letnan.

Sersan itu mengambil sebuah dahan kering sebesar lengan yang tergeletak tak jauh dari tempatnya tegak. Setelah mengira-ngira, dia melemparkan dahan itu ke rimbunan semak di bahagian kanannya. Begitu suara desau dahan kering itu menerpa semak, serentetan tembakan menghajar semak tersebut. Dan si Sersan menandai sebuah pohon besar tempat asal tembakan yang terdekat dengannya. Pohon besar itu berada di depannya, agak ke kiri, hanya sekitar sepuluh depa. Dia melihat, tentara di balik pohon besar itu berada di posisi paling belakang dari empat temannya yang lain, yang tadi menghujani semak yang dilemparnya dengan dahan itu dengan siraman peluru. Sersan itu menarik nafas, mengingat kembali masa-masa terakhir pertempuran sebelum dia tertangkap.

Disiksa dengan amat sangat selama berbulan-bulan, dan dijebloskan ke tahanan di goa batu di bukit cadas itu. Hanya mereka yang memiliki ketahanan fisik dan kekuatan mental yang luar biasa saja yang mampu melewati masa penyiksaan tak terperikan itu dengan selamat. Yang tak kuat, seperti puluhan teman-temannya, mati atau paling tidak lumpuh. Sebagaimana terjadi pada beberapa orang di antara mereka, yang baru saja dibebaskan Si Bungsu dan kini sedang berupaya menyelamatkan diri.

Sersan berkulit hitam itu merasa urat-uratnya menegang saat dia mulai menyelinap dari pohon ke pohon, melata seperti seekor ular, mendekati kayu besar di mana salah seorang tentara Vietnam menyemburkan tembakannya barusan. Hampir tanpa suara dia sampai ke sebuah pohon sekitar lima depa dari pohon besar itu. Dari tempatnya kini dengan jelas dia dapat melihat tentara Vietnam yang sedang tiarap dan mengarahkan senjata ke belukar di mana letnan dari pasukan Baret Hijau Amerika itu bertahan.

Si Sersan kembali menarik nafas, menggenggam bayonet rampasannya dengan erat. Tak dia lihat tentara Vietnam yang lain. Mereka pastilah tersembunyi di balik-balik pohon yang lain. Hal itu paling tidak memberi kesempatan padanya untuk lebih leluasa bergerak. Dengan sekali lagi menarik nafas panjang, dengan gerakan yang masih cukup cepat dia tegak, kemudian memutari pohon tempat dia berada. Menyerbu ke arah tentara Vietnam yang sedang tiarap dengan posisi membelakanginya.

Tentara Vietnam yang sedang menatap ke arah belukar di mana tentara Amerika yang menembaki mereka tadi berada, tak tahu sama sekali bahwa bahaya mengintainya dari belakang. Dia memang sempat mendengar suara perlahan di belakangnya. Namun sudah sangat terlambat baginya untuk mengetahui suara apa itu gerangan. Karena tiba-tiba saja dagunya diraih dan ditarik ke atas dengan kuat. Dia hanya sempat terkejut dan terbelalak, namun hanya sampai di situ.

Dia bahkan tak sempat menjerit, karena bayonet di tangan tentara Negro Amerika itu sudah memotong lehernya. Terdorong oleh kebencian yang sangat akibat dendam bertahun-tahun disiksa, tentara Amerika itu tak sadar bahwa irisan bayonetnya sudah hampir memutuskan leher si Vietnam. Orang Vietnam itu bahkan tak sempat lagi berkelojotan. Hanya darah yang menyembur-nyembur dari lehernya yang hampir putus. Kalau saja si Negro berada di bahagian depan, tubuhnya pasti sudah basah kuyup oleh darah yang menyembur, seperti air bertekanan kuat yang muncrat dari pipa pecah. Tapi kini, karena dia berada di atas tubuh si Vietnam yang tiarap, yang terkena semburan darah adalah tangannya yang memegang bayonet. Kemudian tubuh Vietnam tersebut terkapar. Sersan Negro itu menghapuskan darah di mata bayonet itu ke baju korbannya. Menyisipkan bayonet itu ke pinggang, kemudian mengambil bedil si Vietnam.

Kemudian dia kembali bersiul menirukan suara burung. Dari isyarat yang dia beri, si letnan menjadi faham bahwa situasi dikuasai si Sersan. Letnan tersebut membuat gerakan di tempat persembunyiannya. Begitu dia membuat gerakan, begitu empat senjata dari empat tempat yang berbeda menyalak menyiramkan timah panas ke arah tempat si letnan. Dan kesempatan itu memang ditunggu Sersan Negro tersebut.

Kini dia menjadi tahu dimana posisi ke empat tentara Vietnam yang masih tersisa, setelah dua mati di tangan si letnan dan yang seorang mati di tangannya. Dia menuju ke rumpun pinang yang amat rimbun, enam depa di bahagian kanannya. Di sana dia mendapati seorang tentara yang masih berusia belasan tahun sedang menembak ke arah tempat persembunyian si letnan. Vietnam itu sama sekali tak tahu bahwa maut berada dekat sekali di belakangnya.

Dari balik kayu besar di mana kini dia berdiri, Sersan tersebut mengirimkan sebuah timah panas, ke kepala tentara Vietnam itu. Peluru menembus topi waja tentara tersebut, tembus ke kepalanya, dan keluar di kening dengan meninggalkan lobang besar yang memuncratkan benaknya. Tentara Vietnam yang sedang menembak dalam posisi berlutut di balik pohon tumbang itu langsung tertelungkup ke pohon tersebut. Nyawanya melayang sebelum kepalanya menyentuh pohon melintang di depannya.

Si Sersan mengambil senjata otomatis milik tentara Vietnam itu. Kemudian dia kembali bersiul, yang segera difahami oleh si letnan yang masih bersembunyi di balik belukar. Hanya beberapa detik setelah siulan itu, si letnan menghamburkan tembakan ke arah pohon-pohon di mana tadi dia melihat sumber tembakan itu, lalu dia melambungkan diri, bergulingan ke arah pohon besar yang terletak sekitar lima depa di kanannya.

Kemunculan dirinya segera disambut oleh tembakan gencar tentara Vietnam yang berada di tiga tempat. Dan itulah taktik yang sengaja dibuat si Sersan dan letnan tersebut. Ketiga sisa regu pemburu itu tak mengetahui bahwa salah seorang pelarian yang mereka kejar justru sudah menusuk ke garis belakang mereka. Begitu mereka menembak ke arah si letnan, Sersan itu segera bergerak cepat. Satu demi satu dia datangi tempat si penembak dari arah belakang, dan dengan mudah menghabisi nyawa mereka. Sepi!

Letnan dari pasukan Baret Hijau itu muncul dari balik persembunyiannya setelah kembali terdengar suara siulan si Sersan. Dia menatap ke arah tujuh mayat tentara Vietnam yang bergelimpangan. Dan ketika Sersan Negro itu muncul dari balik sebuah pohon besar, dia menyalaminya. Mereka kemudian bergegas ke arah rombongan yang tadi mereka tinggalkan di belakang. Dengan senjata rampasan dari tujuh tentara Vietnam itu, jumlah senjata mereka sudah sembilan pucuk. Itu berarti hanya seorang yang tak memiliki senjata. Dan tentu saja yang tak diberi bersenjata adalah Helena, teman seruangan dalam tahanan dengan Roxy. Usahkan untuk memegang senjata, untuk berjalan saja dia tak mampu.

“Mereka nampaknya dibagi dalam regu-regu kecil untuk memburu kita. Kita harus bergerak cepat. Suara tembakan tadi bisa mengundang kedatangan regu-regu pemburu yang lain kemari…” ujar si letnan. Duc Thio yang bertindak selaku penunjuk jalan segera membawa rombongan itu bergerak menuju ke arah danau yang masih cukup jauh. Dan apa yang dikatakan si letnan nampaknya memang benar. Kendati tempat mereka sudah cukup jauh dari barak tentara Vietnam itu, namun suara tembakan tadi tetap saja terdengar sayup-sayup. Baik oleh tentara Vietnam yang ada di barak, maupun oleh rombongan Kolonel MacMahon dan rombongan Si Bungsu.

Begitu mendengar tembakan, komandan pasukan Vietnam di barak itu segera memerintahkan suatu pasukan kecil yang terdiri dari dua puluh personil untuk memburu ke arah suara pertempuran tersebut. Kini di barak-barak itu hanya tinggal sekitar sepuluh tentara, termasuk komandannya, seorang Kolonel. Tak seorang pun di antara kesepuluh tentara Vietnam yang kini berada di lapangan di tengah lingkaran barak-barak tersebut yang menyadari bahwa hanya belasan meter dari tempat mereka kini berada, mengintip empat pasang mata.

Keempat orang itu adalah Si Bungsu, Sersan MacDowell, Thi Binh dan Roxy. Dari tempat mengintip mereka berempat melihat ke dua puluh tentara yang berangkat buru-buru ke arah asal tembakan tersebut. Pasukan itu nampaknya akan melewati tempat dimana Kolonel MacMahon memasang jebakan. Si Bungsu membisikkan pada ketiga anggota rombongannya agar menanti ke dua puluh tentara itu berlalu cukup jauh. Pada saat ke dua puluh pemburu itu terlibat pertempuran dengan pasukan MacMahon, mereka baru bergerak menyerang tentara di barak tersebut. “Ke arah mana pasukan yang lain perginya?” bisik Sersan MacDowell pada Si Bungsu, yang merasa khawatir pada nasib teman-temannya yang melarikan diri di bawah pimpinan Duc Thio. Jangan-jangan mereka sudah tewas semua. “Untuk memburu kita, nampaknya mereka dibagi dalam beberapa regu. Tiap regu menyisir arah yang berbeda….” jawab Si Bungsu.

Sementara itu, mata Thi Binh nanap menatap ke lapangan di tengah kumpulan barak di depan sana. Di sana, di lapangan tersebut, di dekat tiang bendera, sekitar sepuluh tentara sedang berdiri dengan senjata siap di tangan masing-masing. Di bahagian depan seorang Kolonel terlihat mondar-mandir. Sebentar dia berhenti, tegak dan menatap ke arah bukit-bukit batu, di mana malam tadi dia masih menawan tujuh belas tentara Amerika.

Kemudian dia membalikkan diri, berjalan lagi. Sepuluh langkah berjalan dia berhenti. Menatap ke arah darimana tadi terdengar sayup-sayup suara tembakan. Mata Thi Binh berkilat memancarkan dendam melihat Kolonel separoh baya tersebut. Dia teringat, ketika pertama dibawa ke barak-barak ini, dia ditaruh di barak bahagian tengah. Yaitu barak yang dihuni oleh si Kolonel. Tak lama setelah dia dimasukkan ke kamar, di pintu kamar yang dibiarkan terbuka tiba-tiba berdiri si Kolonel. Kolonel itu bertubuh besar, kepalanya yang tak bertopi kelihatan botak separoh bahagian depan. Si Kolonel menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki, seolah-olah akan menelannya. Lalu Kolonel itu melangkah dua langkah memasuki kamar.

Dengan kakinya dia tutupkan pintu di belakangnya. Kemudian, dengan mata nyalang menatap tubuh Thi Binh yang ranum, sambil membuka baju dinasnya. Thi Binh yang semula sudah menggigil di tempat tidur, menginsutkan dirinya ke sudut, dan makin ke sudut, sampai tubuhnya menempel ke dinding. Si Kolonel yang masih berdiri sekitar dua meter dari pembaringan, membuka sepatu dinasnya, kemudian celananya.

Kini dia tegak dengan celana kolor kecil. Setelah sekali lagi menatap dengan muka yang sudah memerah karena menahan nafsu, Kolonel itu mulai mendekati pembaringan. Thi Binh bertekad akan mempertahankan kehormatannya sampai mati. Begitu si Kolonel meraba tangannya, dia segera menggigit tangan Kolonel tersebut sekuat tenaga. Tidak hanya itu, saat giginya menggigit lengan Kolonel itu sekuat daya, kedua tangannya mencakar wajah Kolonel tersebut.

Laknatnya, si Kolonel tidak hanya membiarkan tangannya digigit terus dan mukanya dicakari, dia malah semakin terangsang oleh gigitan dan cakaran itu. Thi Binh baru melepaskan gigitannya setelah dia merasakan asinnya darah di mulutnya. Darah segar kelihatan meleleh di lengan si Kolonel akibat gigitan Thi Binh. Kolonel itu duduk berlutut di pembaringan.

Dia menatap ke lengannya. Darah menetes dari bekas gigitan ke alas tempat tidur. Perlahan diangkatnya lengannya yang berdarah itu ke dekat mulutnya. Gerakannya terhenti sesaat tatkala tertatap pada paha putih Thi Binh yang tersingkap lewat roknya yang tak karuan. Matanya menatap paha putih dan mulus itu dengan jalang. Thi Binh cepat-cepat manarik ujung roknya yang tersingkap, kembali menutup pahanya yang tersimbah separoh.

Kolonel itu tersenyum. Tangannya yang berdarah kembali dia dekatkan ke mulutnya. Lalu perlahan dia menjulurkan lidah. Dengan mata jalang menatap nanap ke dada Thi Binh yang ranum dan berombak akibat nafasnya yang sesak, si Kolonel menjilati darah yang menetes tersebut. Kemudian menelannya. Usai menjilati, dia mengulurkan tangan kirinya yang belum kena gigit. Seolah-olah meminta agar tangan kirinya itu juga digigit.

Bulu tengkuk Thi Binh benar-benar merinding. Ketika gadis itu tak bergerak, Kolonel itu mengingsutkan dirinya perlahan. Thi Binh memekik histeris dan tangannya kembali mencakar-cakar. Namun karena jaraknya masih agak jauh, cakaran tangannya hanya menerpa angin. Si Kolonel menghentikan gerakannya. Dari jarak tak sampai sedepa itu, dia menatap diam Thi Binh yang sedang memekik dan mencakar-cakar angin.

Dia seolah-olah menikmati tidak hanya darah di tangannya yang masih saja menetes, tapi dengan nafsu yang amat aneh dia juga menikmati gadis itu memekik dan gerakan mencakar-cakarnya. Kejadian itu berlangsung beberapa lama, sampai akhirnya Thi Binh kehabisan suara untuk memekik, dan kehabisan tenaga untuk mencakar. Gadis itu tersandar lemas ke dinding.

Kolonel itu kembali menatap ke dada ranum Thi Binh, yang berombak turun naik akibat nafasnya yang sesak. Menjilati paha gadis itu yang putih mulus dan tersimbah, dengan tatapan mata jalangnya. Sadar pahanya ditatap dengan rakus, dengan sisa-sisa tenaganya Thi Binh memperbaiki ujung roknya yang tersingkap, sehingga pahanya kembali tertutup.

Kemudian, ketika mata Kolonel itu nanap menatap dadanya yang ranum, gadis itu menutup dadanya dengan kedua belah tangannya. Si Kolonel mengingsut tubuhnya ke dekat Thi Binh. Gadis itu tak punya tempat lagi untuk surut. Tubuhnya sudah tersandar rapat ke dinding. Melihat tak ada reaksi, si Kolonel perlahan mengulurkan tangannya membelai rambut Thi Binh. Tak ada reaksi perlawanan. Tangan Kolonel itu turun ke pipi.

Nafas Thi Binh semakin sesak, namun tetap tak ada perlawanan. Tangan Kolonel itu beralih ke tengkuk Thi Binh. Membelainya dengan lembut. Namun ketika tangan itu baru bergeser dari pipi ke tengkuk, rasa takut yang amat sangat tiba-tiba membuat Thi Binh memekik lagi. Mencakar lagi. Menendang-nendang lagi. Lagi, lagi, lagi dan lagi! Namun akhirnya dia sampai ke batas kodratnya sebagai seorang wanita.

Seorang gadis kecil yang jolong besar. Seluruh tenaga dan dayanya terkuras sampai ke titik paling bawah. Itulah mula bencana, dan sekaligus laknat, yang menimpa diri Thi Binh. Lima belas hari berturut-turut dia direndam di kamar jahanam itu. Benar-benar dijadikan budak pemuas nafsu Kolonel celaka itu. Di hari kelima belas, ada gadis lain yang berhasil diculik pasukan si Kolonel. Kecantikan gadis itu sedang-sedang saja. Tapi bodinya bukan main. Pinggulnya luar biasa bahenol.

Sudah menjadi ketentuan, yang tak boleh dilanggar sedikit pun, bahwa setiap wanita yang didapat yang mencicipinya pertama kali haruslah sang komandan. Siapa lagi kalau bukan Kolonel gaek kurapan itu. Begitu pula dengan gadis berpinggul dan berpaha besar itu. Dia segera diserahkan kepada si Kolonel.

Thi Binh semula berharap dirinya akan segera tertolong dengan adanya korban baru tersebut. Dia berharap bisa segera dibebaskan dari neraka jahanam itu. Namun nasibnya ternyata sangat malang. Wakil komandan pasukan itu, seorang tentara buncit berpangkat Mayor, sudah sejak awal menaruh minat yang amat sangat pada Thi Binh. Semasa gadis itu masih dipakai si Kolonel, seringkali si Mayor diam-diam mengintip Thi Binh saat mandi di belakang barak.

Di belakang barak si Kolonel ada sebuah kamar mandi darurat yang airnya dialirkan dari bukit-bukit batu tak jauh dari belakang barak dengan slang bambu. Kamar mandi itu merupakan tempat para perwira mandi. Kalau prajurit yang lain mandinya ke sungai semua. Kamar mandi tersebut didinding dengan papan kasar. Jadilah dia dinding apa adanya.

Papan seperti itulah yang dibuat untuk dinding seluruh barak dan kamar mandi perwira. Tentu saja ada bahagian-bahagian yang tak begitu rapat. Dari celah dinding itulah si Mayor sering ngintip bila Thi Binh atau wanita-wanita lainnya mandi. Wanita-wanita itu, semuanya, termasuk Thi Binh, memang tak terbiasa memakai kain basahan ketika mandi. Hal itu amat membuat si Mayor bersuka cita.

Kini, setelah si Kolonel mendapat mainan baru, si besar pinggul yang baru datang itu, Thi Binh segera diantarkan seorang Sersan ke barak si Mayor. Di sini gadis itu harus menderita selama sepuluh hari. Saat si Kolonel selesai dengan gadis berpinggul besar itu, dia lalu menyerahkan pada si Mayor agak empat atau lima hari, kemudian ditempatkan di barak seorang Kapten.

Setelah para perwira menikmati tubuhnya, pada bulan kedua Thi Binh baru diantar ke barak dimana belasan wanita lain sudah sejak lama disekap. Thi Binh tak tahu, mana neraka yang lebih jahanam antara barak perwira atau di barak umum ini. Para prajurit datang silih berganti. Kadang-kadang sehari dia dipaksa melayani empat sampai tujuh prajurit. Dan tiga bulan di barak umum itu, akhirnya dia diserang sipilis. Di tubuhnya, termasuk di bibirnya, muncul kudis yang mengeluarkan nanah yang baunya amat menusuk. Dia segera dikembalikan kepada ayahnya di kampung, dan hanya beberapa hari di kampung, lelaki dari Indonesia yang bernama Bungsu itu muncul bersama Han Doi.

Si Bungsu terkejut melihat tubuh Thi Binh menggigil. Roxy yang tegak tak jauh dari Si Bungsu juga kaget melihat betapa tubuh gadis yang sering dibuatnya cemburu itu menggigil hebat, sementara matanya menatap lurus ke depan. Si Bungsu menoleh ke arah yang ditatap Thin Binh. Dia yakin, gadis itu menatap Kolonel yang mondar-mandir di depan belasan pasukannya di tengah lapangan, di depan barak-barak sana.

Si Bungsu melihat Thi Binh tiba-tiba mengangkat bedilnya. Namun sebelum bedil itu meledak, Si Bungsu perlahan memegang lengan gadis itu. Kemudian memegang bedilnya. Dia menggeleng, memberi isyarat agar jangan terburu-buru. “Belum sekarang Thi-thi. Kita semua akan terbunuh jika engkau meletuskan sebuah peluru saat ini. Lagi pula, peluru bedilmu takkan mencapai perwira di tengah lapangan sana. Kalaupun sampai pasti hanya sekedar melukai, takkan mematikan. Sabarlah, sebentar lagi.

Jika belasan tentara yang tadi berangkat sudah dihadang pasukan Kolonel MacMahon, kita akan menyerbu mereka yang di depan sana. Engkau boleh membunuh mereka. Membalas dendammu…” bisik Si Bungsu perlahan. Thi Binh menurunkan bedilnya. Matanya basah, dadanya berombak menahan bara dendam. Roxy yang tegak di samping kiri Si Bungsu kini bisa menerka apa yang sudah terjadi pada diri Thi Binh. Diam- diam dia tak hanya merasa menyesal membuat gadis itu keki, tapi juga merasa kasihan pada nasibnya. Perlahan dia menggeser tegak melewati Si Bungsu, mendekati Thi Binh.

Gadis yang didekati itu kembali mendelikkan mata melihat orang yang dianggapnya perempuan gatal ini mendekati dirinya. Hatinya sudah sejak tadi bengkak melihat si gatal ini lengket terus di dekat Si Bungsu. Kayak perangko dengan amplop saja. Akan halnya Roxy, yang memang jauh lebih dewasa dibanding Thi Binh yang berusia lima belas tahun itu, tak lagi berminat memperuncing suasana. Biasanya dipelototi seperti itu, dia akan membalas dengan cengar-cengir dan malah semakin mendekati Si Bungsu. Namun kali ini, dia mendekati ‘saingannya’ itu dengan wajah jernih.

“Maafkan jika tadi saya menyakiti hatimu. Nasib buruk yang menimpa dirimu terlebih dahulu menimpa diriku dan teman-temanku yang lain, yang mereka sekap dalam goa di bukit cadas itu. Bedanya, karena kalian anak negeri ini, kalian dipaksa menjadi pemuas nafsu mereka terus menerus. Sementara kami hanya dipakai saat-saat mereka perlukan. Kolonel laknat yang di depan sana, adalah orang yang menodai diriku untuk kali pertama. Kemudian bergantian perwira-perwira yang lain. Saya rasa hal itu juga engkau alami. Namun, nasib kita tak jauh berbeda adikku…” bisik Roxy perlahan sambil memegang bahu Thi Binh.

Mendengar cerita perawat Amerika yang semula amat dicemburuinya ini, yang mengalami nasib yang sama dengannya, hati Thi Binh tiba-tiba runtuh. Dia tak mampu menahan air mata dan menangis sesunggukan. Roxy memeluknya dengan lembut. Thi Binh menyandarkan kepalanya ke dada perawat itu, dan menumpahkan tangisnya di sana. Si Bungsu manarik nafas terharu dan gembira. Terharu mendengar nasib yang juga menimpa Roxy. Gembira karena kedua wanita yang semula saling bermusuhan seperti kucing dengan tikus itu kini sudah akur, malah saling peluk. Dia bukannya tak tahu, Thi Binh marah pada Roxy karena merasa cemburu. Cemburu karena Roxy sengaja berpura-pura mendekatinya.  “Saya rasa sebentar lagi pasukan tadi sudah akan sampai di tempat jebakan Kolonel MacMahon. Sebaiknya kita mendekati barak itu, serta mengatur strategi…” bisik Si Bungsu pada Letnan Rodney Duval, anggota SEAL Amerika yang menyertainya. “Anda yang memegang komando, Pak. Saya siap menerima perintah…” ujar Letnan Duval, yang diselamatkan nyawanya oleh Si Bungsu dalam pertarungan sekeluar dari goa sekapan pagi tadi.

Kata-kata yang dia ucapkan terjauh dari basa-basi. Sampai saat ini dia tak yakin lelaki ini bukan anggota tentara. Kemahiran yang dia miliki, melebihi pasukan SEAL, yang di Amerika sana sangat disegani oleh pasukan elit manapun. Diam-diam Duval yang saat di goa itu memang menganggap enteng lelaki Indonesia ini, kini berbalik mengaguminya.

Betapa dia takkan kagum, di goa itu saja lelaki ini sendirian menghabisi empat tentara Vietnam tanpa sebuah peluru pun. Padahal keempat tentara Vietnam itu memegang bedil yang siap memuntahkan peluru. “Barak yang di tengah itu adalah gudang senjata. Kita akan mendekati barak itu. Saya akan menyelusup ke dalam. Barangkali saya bisa mengambil dua buah senapan mesin ringan. Kalian bertiga berjaga-jaga di luar. Jika ada yang mencurigakan, jangan membuang waktu. Tembak saja. Sekarang kita berangkat…” bisik Bungsu. Namun dia terhenti saat teringat Thi Binh dan Roxy.

“Thi-thi, Roxy, ikut kami dari belakang. Hati-hati…” ujarnya. Kedua gadis itu sama-sama mengangguk. Lalu mereka segera menyelusup di balik lindungan belantara, mendekati barak-barak tersebut. Si Bugsu berada di depan, menyusul Thi Binh dan Roxy. Di belakang sekali berada Letnan Duval. “Kolonel itu bahagian saya. Dia harus merasakan pembalasan saya…” desis Thi Binh sambil menyelinap di balik sebatang pohon besar. “Ya, jika pun saya yang berhasil menangkapnya, dia akan saya serahkan padamu, Thi-thi…” bisik Roxy yang berada di sisinya. “Terimakasih, Roxy…” ujar Thi Binh dengan perasaan terharu, sambil menatap pada ‘bekas musuh’ nya itu.

Kendati kedua wanita itu bicara berbisik, namun Si Bungsu mendengarnya dengan jelas. Dia menarik nafas panjang, lega. Tiba-tiba hampir serentak langkah mereka terhenti dan masing-masing pada merunduk di tempat yang tersembunyi. Dari kejauhan mereka mendengar rentetan tembakan, sahut bersahut. Ke empat mereka tahu, suara tembakan itu berasal dari tempat di mana Kolonel MacMahon berada. Itu berarti pasukan Vietnam yang menyusul teman-teman mereka yang dihabisi rombongan Duc Thio, masuk perangkap MacMahon.

“Sekarang giliran kita…” bisik Si Bungsu sambil kembali bergerak maju, diikuti ke tiga anggota ‘pasukan’nya. Dia berhenti di balik sebuah batu besar yang ditumbuhi pohon jenis beringin yang rindang. Kemudian menatap ke lapangan di tengah deretan tentara Vietnam, yang kini jaraknya dari tempat mereka hanya sekitar dua puluh depa. Dia memberi isyarat pada Duval, bahwa dia akan memasuki salah satu barak itu dari belakang, dan minta Duval mengawasinya. Kemudian dia mendekati tempat Thi Binh dan Roxy.

Dengan berbisik dia minta agar mereka tetap di tempatnya masing-masing. Setelah sekali lagi memperhatikan si Kolonel di tengah lapangan sana, yang bersama belasan orang anggota pasukannya sedang menatap ke arah datangnya suara tembakan, Si Bungsu mulai mendekati barak senjata yang malam tadi dia masuki. Dia harus merayap ketika melintasi sungai kecil dan dangkal lima depa dari barak.

Di bawah tatapan mata ketiga orang yang dia tinggalkan di belukar di belakangnya, Si Bungsu segera mencapai barak tempat menyimpan senjata itu. Dia menyesal juga kenapa malam tadi tidak teringat mengambil senapan mesin ringan jenis bren yang di dalam barak itu ada tiga atau empat buah. Kini dia masuk dengan perasaan khawatir, kalau-kalau senapan mesin itu sudah diambil semua oleh tentara Vietnam dalam upaya memburu mereka.

Di bawah terik matahari dia segera membuka dua keping papan yang malam tadi memang sudah dia copot pakunya. Dia beruntung tak ada patroli. Sebahagian besar tentara Vietnam sudah disebar memburu mereka. Yang tinggal di barak tak menyangka sama sekali kalau orang yang mereka buru justru hanya berada beberapa depa di belakang barak mereka. Tambahan lagi kini perhatian mereka tertuju pada suara tembakan yang terdengar cukup jelas di perbukitan batu di bahagian barat sana. Ketika sudah berada di dalam barak, Si Bungsu merasa lega. Di sana masih ada dua senjata mesin jenis bren tersebut. Kemudian ada beberapa peluncur roket anti pesawat udara. Diambilnya kedua buah bren dengan peluru berantai itu. Pelurunya dia masukkan ke ransel. Kemudian dia ambil empat buah roket anti pesawat udara, berikut dua buah peluncur roket. Dia bergegas kebagian belakang. Kemudian keluar. Dia merasa tak perlu menutupkan kembali papan yang copot. Tak ada gunanya. Thi Binh menahan nafas ketika melihat tangan Si Bungsu mengulurkan senjata yang dia curi itu dari Dalam barak.

Dia khawatir tiba-tiba saja dan ada tentara Vietnam menuju kebelakang barak. Gadis itu, juga Roxy, baru menarik nafas panjang dan lega ketika Si Bungsu sudah berlari kearah mereka. Mereka tak tahu bahwa telunjuk Duval senantiasa berada di pelatuk bedil. Dengan menatap nanap menatap kearah apapun yang bergerak mendekati barak tersebut, baik dari depan maupun dari belakang.

Dia sudah merencanakan, jika ada yang bergerak kebarak, dia akan menembaknya. Kemudian sasaran berikutnya adalah sang Kolonel. Dia akan membunuh Kolonel tersebut, untuk menimbulkan kepanikan di antara pasukan tersebut. Tapi untunglah tak satupun, diantara belasan tentara Vietnam yang berada di lapangan depan barak itu yang mendekati barak yang di masuki Si Bungsu, kini Si Bungsu sudah di dekat mereka.

Suara tembakan dari kejauhan, dari tempat Kolonel MacMahon berada, masih terdengar secara sporadis. Tak lagi segencar yang pertama. Letnan Duval segera memasukan rantai peluru kedua bren yang dibawa Si Bungsu. Kemudian juga memasukkan masing-masing sebuah roket kedua buah tabung howitzer, yang dipakai sebagai senjata anti pesawat udara atau anti tank. Si Bungsu menatap Thi Binh. Kemudian berkata perlahan.

“Thi-thi, waktu kita sangat pendek. Kita tak mungkin menangkap Kolonel itu. Tapi, engkau tetap bisa membalaskan dendam mu. Dari sini, dengan howitzer ini engkau bisa membuat tubuhnya menjadi serpihan daging…” Mata Thi Binh berkilat. Kemudian dia menatap si Kolonel itu yang masih petentengan di tengah lapangan sana. Si Bungsu menatap pada Duval. “Letnan, kau tuntun dia menembakkan howitzer ini, agar apa yang dia ingin dia peroleh…” “Siap, pak…!” jawab Duval sambil mengangkat sebuah howitzer.

Dia memperagakan cara mempergunakan senjata berbentuk tabung itu. Senjata itu diletakkan di bahu, bahagian yang agak kecil di hadapkan kedepan. Lalu dia menunjukan pelatuknya. Pada saat yang sama Si Bungsu meletakkan sebuah bren diatas batu, lalu memberikan howitzer yang satu lagi kepada Roxy. “Bersamaan dengan isyarat Letnan Duval, Thi-thi menembak si Kolonel, anda menembak gudang senjata mereka. Saya akan menembaki tentara yang berkeliaran…” ujarnya.

Gadis itu menatap dengan mata berkilat pada Si Bungsu, kemudian mengangguk dan mengangkat howitzer ke bahunya. Dia tentu saja sudah paham mempergunakan senjata itu. Dia membidikkannya kearah barak persenjataan Vietnam, sekitar dua puluh depa di depan mereka. “Berapa lama peluru howitzer ini mencapai sasaran setelah di tembakkan?” tanya Si Bungsu pada letnan Duval. Duval memandang Kolonel itu, memperkirakan jarak mereka dengan si Kolonel. “Antara dua detik sampai tiga detik…” jawabnya. “Dengar Thi- thi, aku akan berteriak seolah-olah memanggil Kolonel itu. Dia akan menoleh kemari, aku akan melambai- lambaikan tangan. Dia tentu kaget dan heran, saat itu kau tarik pelatuk howitzer mu, saat dia melihat kemari, paham?” Thi Binh mengangguk. Letnan Duval tersenyum. “Bisa kita mulai?” “Bisa pak, anda panggilah sahabat anda itu, pak…” jawab Duval.

Si Bungsu lalu berteriak sekuat tenaga beberapa kali. Kolonel itu, serta dua orang tentara lainnya celingukan mencari-cari datangnya suara itu. Si Bungsu mengeluarkan handuk kecil dari sakunya, kemudian melambaikannya. Si Kolonel melihatnya, dan berbicara pada tentara di sampingnya. Saat itulah Duval menyuruh Thi Binh dan Roxy menarik pelatuk Howitzernya.

Terdengar suara mendesis tajam, ketika proyektil dari dua tabung di bahu Thi Binh dan Roxy meluncur keluar. Si Kolonel menjadi curiga karena sekilas dia seperti melihat asap tipis di bukit bebatuan itu. Namun kecurigaanya itu sudah terlambat, benar-benar terlambat. Jarak antara dia dengan asap tipis yang di lihat itu terlalu dekat bagi roket anti pesawat. Pada saat yang bersamaan, dua ledakan hebat terjadi. Ledakan pertama terjadi ketika roket Roxy menghantam gudang senjata. Sedetik kemudian wajah si Kolonel seperti ’menabrak’ sesuatu. Kemudian si Kolonel dan lima orang tentaranya seperti lenyap kedalam ledakan dasyat. Tubuh si Kolonel dan kelima anak buahnya benar-benar jadi serpihan daging.

Beberapa tentara yang berdiri jauh dari si Kolonel dan lima atau enam tentara itu terkejut tatkala setelah suara ledakan tubuh mereka di landa serpihan kain, daging, tulang,dan cipratan darah. Mereka tak lagi melihat Kolonel dan teman-teman mereka. Semua lenyap bersama ledakan itu. Mereka seperti tak sempat di buat terkejut, sebab disaat yang bersamaan dengan ledakan yang menghantam sang Kolonel terjadi ledakan susul menyusul. Pertama ledakan yang menghancurkan gudang senjata, kedua ledakan mesiu dari ledakan gudang senjata itu menyebar kemana-mana menjadi bola liar yang menghantam tentara yang di barak maupun di luar. Kepanikan terjadi melanda beberapa tentara yang masih hidup. Mereka lari bertempasan, ada yang berlari mencari perlindungan. Dan ada yang lari mencari tempat untuk melakukan balasan dari serangan yang tak tahu berasal dari mana. Malangnya begitu mereka bergerak tubuh mereka di hajar muntahan senjata mesin Si Bungsu. Beberapa orang diantaranya rebah seperti pohon pisang di tebang parang tajam. Terjungkal berkuah darah dan mati. Hanya dua atau paling tiga yang selamat. Mereka tiarap ditanah seolah-olah sudah

mati dan sebagian memang sudah tak bernyawa lagi.

Si Bungsu menatap Thi Binh yang masih tegak tak bergerak, dengan howitzer di bahu, dan mata nanap memandang kearah sang Kolonel yang sudah lenyap itu. Perlahan dia ambil howitzer dari bahu gadis itu, sedangkan Thi Binh masih terus menatap ke areal barak dan seperti tak percaya kalau dialah yang mencabut nyawa si Kolonel. “Seluruh kepingan dagingmu akan langsung ke Neraka..” bisik hatinya, menyumpahi si Kolonel yang tubuhnya sudah hancur lebur dengan sepenuh dendam. “Dendam mu sudah terbalaskan, Thi- thi…” ujar Si Bungsu sambil memegang bahu si gadis. Thi Binh seperti baru sadar dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya, dia memeluk Si Bungsu dan menangis terisak-isak. “Terimakasih, Bungsu… Terimakasih…” ujarnya. Roxy menatap kedua orang itu dengan diam.

Di balik sebuah bukit, sekitar seratusan meter dari barak yang sedang mengalami kiamat kecil itu, ada beberapa barak panjang. Di barak itu dijejali belasan wanita Vietnam berusia diantara 14 sampai 20 tahun, yang rata-rata berwajah elok. Mereka dijadikan sebagai pemuas nafsu bagi ratusan tentara Vietnam di barak itu. Setiap tentara yang akan memuaskan nafsunya, harus menyerahkan sebuah kupon pada wanita tersebut.

Kupon itu dapat diambil pada perwira keuangan, yang mencatatnya, dan akan di potong langsung dari gaji mereka. Bagi wanita-wanita tersebut, pada saat mereka di lepas, biasanya karena jatuh sakit atau di anggap ”sudah ketinggalan seri”, mereka dapat menukarkan kupon yang mereka kumpulkan ke perwira keuangan, dengan nilai tertentu tiap kuponnya. Makin banyak tentara yang menyukai layanan mereka, makin banyak mereka mendapat kupon, itu berarti makin banyak pula mereka mendapat uang. Thi Binh tentu saja pernah mendapatkan kupon itu. Baik dari Kolonel gaek itu, dan jumlahnya banyak sekali, dari Mayor yang wakil komandan, maupun dari para prajurit. Namun tiap diserahkan tiap dirobeknya kupon tersebut.

Sampai akhirnya ada di antara wanita-wanita di barak itu yang meminta agar kupon itu jangan dirobek, tapi diberikan pada mereka. Mereka membutuhkan kupon itu, karena orang tua mereka adalah petani miskin. Jadi uang dari tukaran kupon amat berarti bagi mereka, untuk dibawa pulang ke kampung jika tiba saatnya dibebaskan. Saat gempuran melanda barak-barak, tak seorang pun tentara Vietnam yang berada di barak para wanita penghibur tersebut.

Sejak pagi tadi dibunyikan terompet bahaya. Semua personil segera berhamburan ke barak masing- masing. Memakai pakaian tempur dan mengambil senjata. Kemudian mereka segera dibagi dalam empat peleton besar, dan langsung menerima perintah memburu tawanan yang lolos itu ke empat penjuru. Sudah sejak pagi para wanita itu berada di bukit batu yang memisahkan barak mereka dengan barak yang dihuni para tentara.

Bukit itu biasanya tempat mereka menghibur diri bila sore hari. Karena dari sana bisa memandang ke arah barat dan bisa pula memandang ke bahagian belakang, ke sungai besar yang mengalirkan air amat jernih. Kini mereka menanti apa yang akan terjadi, kenapa para tentara tiba-tiba diperintahkan berkumpul seluruhnya? Mereka melihat para tentara itu bergegas menyusun barisan. Ada pula regu-regu kecil berkekuatan tujuh orang, yang menyisir wilayah hutan berbukit terjal di sekitar barak.

Saat terdengar suara tembakan dari kejauhan, wanita-wanita tersebut segera berlarian ke bukit batu di belakang barak mereka. Mereka melihat hanya belasan tentara yang berada di depan barak. Lalu juga melihat si Kolonel mondar mandir di depan pasukan yang belasan itu, persis kereta api lansir. Hampir semua wanita itu mengenal Kolonel gaek tersebut. Sebab hampir semua mereka dibawa ke kamp ini harus dipersembahkan terlebih dahulu kepada gaek kalera bernafsu badak itu.

Saat itulah tiba-tiba mereka mendengar sebuah ledakan, lalu tubuh Kolonel badak itu lenyap dari pandangan bersama gumpalan asap dan kilatan api. Lalu tentara-tentara yang lain pada bertumbangan, lalu salah sebuah barak meledak dan dilemparkan ke udara menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk. Para wanita itu ternganga, ada yang menggigil. Namun, hati mereka sungguh-sungguh amat bersuka cita.

Mereka tak peduli pihak mana yang membunuh Kolonel dan anak buahnya itu. Tak peduli apakah malaikat atau iblis. Yang penting semua tentara jahanam di barak ini mampus. Mereka sudah berbulan-bulan dijadikan budak pemuas nafsu tentara-tentara laknat tersebut. Bermacam perangai tentara itu yang harus mereka hadapi. Tak sedikit yang berpenyakit jiwa dalam memenuhi kebutuhannya terhadap perempuan.

Ada yang baru terpuaskan nafsunya setelah dia berhubungan sambil menyakiti si wanita. Meninju, menyepak, sampai tubuh si wanita babak belur. Ada yang lebih dari itu, yaitu yang suka menyayat-nyayat bahagian tertentu tubuh pasangannya dengan bayonet. Sayatannya memang tak dalam, sekedar luka bekas sayatan itu mengalirkan darah. Sambil berhubungan, si tentara akan menghisap dan menelan darah yang mengalir dari bahagian tubuh perempuan itu Ada pula yang sebaliknya, dia baru mencapai puncak kenikmatan bila dia yang disakiti. Dia akan meminta pada wanita pasangannya untuk mencambuknya dengan kopel, bahkan ada yang sengaja membawa potongan rotan sebesar empu kaki. Dia meminta si wanita memukuli punggung, pantat dan pahanya dengan rotan sampai lebam dan bilur-bilur. Dan semua pengalaman itu meninggalkan teror yang menyeramkan pada wanita-wanita yang dipaksa menjadi pemuas nafsu setan tentara-tentara Vietkong itu.

Kini, melihat Kolonel itu dan belasan anggotanya mampus, sebahagian dari wanita-wanita yang melihat dari bukit batu itu pada bergegas turun. Mereka pada mengemasi pakaian dan barang-barang mereka. Mereka merasa waktu pembebasan bagi mereka sudah tiba. Derita yang tak tertanggungkan itu sudah akan berakhir. Namun sebahagian lagi tetap saja terduduk diam di tempatnya.

Menatap dengan mata tak berkedip ke lapangan di tengah barak di bawah sana. Menatap ke arah mayat yang bergelimpangan, ke arah barak yang hancur lebur. Menatap ke arah api yang marak di bekas barak yang hancur lebur itu. Kendati ada jarak sekitar seratus sampai dua ratus meter tempat mereka berada dengan barak-barak di bawah sana, namun karena tak ada satu pun yang menghalangi pandangan, mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi.

Si Bungsu yang masih tegak di sebalik batu besar, tiba-tiba hatinya merasa tak enak. Dia amat yakin pada firasatnya. Dia menatap ke segala penjuru. Saat itu Duval juga sudah selesai menembaki tentara yang berada di lapangan di depan barak tersebut. Si Bungsu memberi isyarat agar mereka berdiam diri sesaat. Roxy, Duval dan Thi Binh lalu berjongkok di balik batu besar di dekat mereka.

Dengan bahasa isyarat Si Bungsu menyuruh Duval kembali mengisi kedua howitzer yang baru ditembakkan Roxy dan Thi Binh. Saat Letnan Duval mengisi roket ke howitzer itu, Si Bungsu berlutut dan mendekapkan telinganya ke tanah. Ketiga orang lainnya menatap dengan diam. Letnan Duval anggota SEAL yang juga ahli dalam peperangan belantara tahu bahwa lelaki dari Indonesia ini barangkali merasa ada pasukan lain mendekat mereka.

Dia yang juga punya keahlian untuk mendengar dan membedakan gerakan manusia dan hewan melalui tanah, segera ikut mendekapkan telinganya ke tanah. Namun dia tak mendengar ada gerakan kaki manusia. Dia memang mendengar gerakan halus, tapi dia yakin gerakan itu adalah langkah hewan, bukan manusia. Dengan keyakinan pada pendengarannya itu dia lalu duduk. Pada saat yang sama Si Bungsu juga telah duduk.

“Kau mendengar sesuatu, Duval?” bisik Si Bungsu. Duval menggeleng. Si Bungsu memberi isyarat pada Roxy dan Thi Binh, agar keduanya bergerak perlahan ke balik sebuah batu besar yang agak melengkung. Sehingga mereka aman dari tiga sisi. Kedua gadis itu, dengan membawa senapan masing-masing, bergerak dengan membungkuk-bungkuk ke tempat yang ditunjukkan Si Bungsu. Tempat itu hanya beberapa depa dari tempat Si Bungsu dan Duval. Jarak yang masih memungkinkan Si Bungsu berkomunikasi dengan berbisik kepada dua gadis tersebut. Si Bungsu kembali menatap pada Duval. Kemudian pada Roxy dan Thi Binh.

“Kita kini terkepung. Ada sekitar tiga puluh tentara Vietnam yang berpencar di sekitar kita dalam jarak antara lima puluh sampai tiga puluh meter…” bisik Si Bungsu. Duval ternganga. Kalau saja yang mengucapkan kata-kata itu bukan lelaki tangguh yang diam-diam dia kagumi ini, pasti dia takkan percaya. Bagaimana dia akan percaya, kalau dia yang juga dikenal sangat mahir melacak jejak dan mendengar gerakan di tanah dan tak mendengar apapun. Lalu tiba-tiba lelaki ini mengatakan ada tiga puluh tentara yang mengepung mereka?

“Engkau tak mendengar langkah mereka karena mereka memang tak sedang melangkah, Duval. Beberapa detik sebelum kita mendekapkan telinga ke tanah untuk mendengar langkah mereka, mereka sudah berhenti bergerak. Mereka sudah berada di posisi masing-masing. Dan menunggu saat kita bergerak dan lengah…” bisik Si Bungsu, sembari matanya seperti mata elang, menyambar ke kiri dan ke kanan, mengawasi tiap pohon dan bebatuan besar di depan dan di samping mereka.

Duval kembali merasa terkejut dengan kemampuan daya fikir lelaki di hadapannya ini. Yang mampu membaca fikirannya, bahwa dia tak mendengar apapun saat mendekapkan telinganya ke tanah. Namun fikiran dan keheningan belantara itu tiba-tiba dirobek oleh serentetan tembakan. Batu di dekat telinga Duval beserpihan diterkam peluru. Begitu pula pohon besar di dekat kepala Si Bungsu dihantam belasan peluru.

Si Bungsu menggeser diri ke arah kanan, sehingga dirinya benar-benar terlindung dari arah datangnya tembakan. Demikian juga Duval. Mujur bagi Roxy dan Thi Binh, mereka sudah berada di tempat yang benar- benar tak mampu ditembus peluru. Kalau saja mereka masih berada di tempatnya sebelum disuruh pindah oleh Si Bungsu, mereka pasti sudah menjadi mayat. Keempat mereka duduk di tanah, bersandar ke batu atau pohon di belakang mereka. Namun dari tempat masing-masing keempat mereka bisa saling mengawasi. Letnan Duval yang lewat sudut mata melihat gerakan di bahagian kirinya, tiba-tiba dengan posisi tetap duduk di tanah, sembari mengangkat bedil tubuhnya membalik cepat ke kiri, lalu bedilnya menyalak dua kali. Terdengar pekik pendek, kemudian disusul suara tubuh jatuh bergulingan, suara topi baja dan bedil tercampak dan berkelontangan di batu. Lalu sepi!

Duval menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu mengacungkan kepalan kepadanya. Duval membalas dengan mengacungkan kepalan tangannya pula. Sebuah isyarat ucapan selamat di antara sesama pasukan Amerika yang dipelajari Si Bungsu dari Han Doi. Kemudian Si Bungsu memberi petunjuk lewat bisikan sekaligus kepada Duval, Thi Binh dan Roxy. Dia paparkan rencananya, bahwa dia akan berlari ke batu yang letaknya sekitar sepuluh depa di kanannya sembari menembak ke suatu sasaran di kanan. Lalu dia beri petunjuk tempat-tempat yang harus dicecar Thi Binh, Roxy dan Duval dengan tembakan begitu dia mendapat tembakan balasan. Setelah menanti beberapa saat. Si Bungsu tiba-tiba berdiri, sembari berteriak keras dia berlari sambil menembak. Terdengar teriakan dua tentara diiringi semak yang terkuak oleh kelojotan tubuh manusia, dari bawah pohon besar yang baru dihajar oleh tembakan beruntun bedil Si Bungsu.

Namun pada saat itu, dari beberapa arah hampir serentak terdengar tembakan senapan otomatis yang ditujukan ke arah tubuh Si Bungsu. Namun lelaki yang sudah kenyang dengan kehidupan belantara itu, lari seperti seekor kijang yang amat gesit. Larinya meliuk-liuk dari pohon yang satu ke gundukan batu, dari gundukan satu ke pohon yang lain. Larinya yang meliuk-liuk itu, untuk sementara menyelamatkan nyawanya dari terkaman peluru.

Pada saat itulah, Letnan Duval bangkit dan kemudian menghajar tempat yang tadi ditunjuk Si Bungsu sebelum lari. Dari tempat itu memang terdengar rentetan peluru. Pada saat yang sama, Roxy juga bangkit dari duduknya, kemudian menembakkan senapan mesin di tangannya ke arah gundukan batu ke bahagian kiri, dari mana suara tembakan juga menggelegar diarahkan kepada Si Bungsu.

Akan halnya Thi Binh, untuk sesaat gadis itu masih tercekam oleh rasa takut dan khawatir atas keselamatan Si Bungsu. Dia hanya menatap dengan wajah penuh kecemasan. Lupa pada instruksi Si Bungsu, bahwa dia harus menembak ke arah kiri, ke bawah pohon berdaun merah. Barulah setelah mendengar tembakan Roxy dia tersadar. Dia bangkit dan menghujani tempat yang ditunjukkan Si Bungsu tadi dengan peluru senapannya.

Karena tentara-tentara Vietkong itu perhatiannya memang ditujukan pada lelaki yang jadi sasaran mereka, yaitu yang berlari meliuk-liuk dalam sasaran tembak itu, mereka menjadi abai dari kemungkinan datangnya tembakan dari tempat lain. Karenanya, begitu Duval, Roxy dan Thi Binh menghajar tempat persembunyian mereka dengan tembakan, segera terdengar pekik dan lolong tentara yang meregang nyawa.

Setelah menembak sampai peluru di magazin senjata mereka habis, Duval dan Roxy serta Thi Binh segera duduk dan mengganti magazin peluru. Semua tembakan terhenti tiba-tiba. Dari tempat perlindungannya yang baru, Si Bungsu kembali mengacungkan kepalan tangan ke arah Duval dan Roxy. Dan dibalas kedua orang itu dengan mengacungkan pula kepalan tangan mereka.

Si Bungsu memberi isyarat, bahwa dalam baku tembak barusan mereka telah membunuh tujuh tentara Vietnam. Si Bungsu mendapat dua nyawa. Duval tiga nyawa dan Roxy serta Thi Binh masing-masing satu nyawa. Duval tercengang pada kemampuan indera keenam lelaki Indonesia itu. Dalam posisi dihajar peluru seperti itu pun lelaki itu masih mampu menghitung berapa korban yang jatuh di pihak musuh. Mereka kini sama-sama terdiam. Baik pihak Si Bungsu maupun pihak tentara Vietnam yang mengepung mereka. Tak ada yang bergerak.

Namun naluri Si Bungsu berkata lain. Ada sesuatu yang sedang bergerak mendekati tempat mereka. Dan datangnya justru dari arah barak-barak! Dia menatap keliling. Dia yakin, sosok yang datang itu tidak menuju ke tempatnya. Bulu tengkuknya merinding, ketika mengetahui bahwa sosok yang datang itu justru sudah berada tak begitu jauh dari tempat Roxy dan Thi Binh! Dia segera memberi isyarat ke arah kedua gadis itu. Celaka, kedua orang itu justru sedang sibuk mengisi magazin senjata mereka. Si Bungsu tak melihat kemungkinan Duval yang berada agak dekat dengan kedua gadis itu untuk menolong.

Sebab tempat kedua gadis itu berlindung justru cukup tinggi, sementara tempat berlindung Duval lebih rendah. Artinya, jika orang menyerang dari belakang kedua gadis itu, Duval tak hanya tak dapat melihat, juga tak dapat memberikan bantuan. Dia ambil sebuah batu, dia lemparkan ke arah Thi Binh. Untung kedua mereka menoleh ke arahnya. Karena tempatnya sudah agak jauh dari kedua gadis itu, dia tak mungkin lagi berbisik.

Si Bungsu lalu memberi isyarat, bahwa ada bahaya mengancam dari belakang mereka. Namun terlambat sudah, saat itu dua orang tentara sudah muncul dari balik sebatang pohon, yang tak kelihatan dari tempat Si Bungsu. Kedua tentara itu adalah yang tadi selamat dari tembakan senapan mesin mereka saat berada di depan barak-barak sana. Tubuh mereka terlindung oleh barak lain yang tak hancur.

Saat peluru howitzer meluluh lantakkan barak, mereka tiarap diam di tanah. Lalu, tak lama kemudian ketika mereka mendengar suara pertempuran, mereka segera merayap ke belakang barak. Mereka memang datang dari arah yang tepat, yaitu dari belakang perlindungan Roxy dan Thi Binh. Kini keduanya muncul dengan senjata siap ditembakkan! Pada saat yang teramat kritis itu, untunglah Roxy cepat bereaksi.

Belum lagi isyarat Si Bungsu berakhir, dia sudah faham bahaya yang akan muncul. Dia menolehkan kepala ke belakang, persis saat kedua tentara Vietnam itu membidikkan bedilnya ke arah mereka. Roxy yang masih memegang senapan mesin ringan bergerak cepat. Karena tak mungkin mendorong tubuh Thi Binh untuk menyelamatkan gadis itu dari sasaran tembak, dia menghamburi saja tubuh gadis Vietnam itu sambil menembakkan pula senapan mesinnya!

Rentetan tembakan dari tiga bedil, dua bedil tentara Vietnam dan bedil di tangan Roxy, menyalak hanya dalam batasan sepersekian detik. Gerakan Roxy menghamburi tubuh Thi Binh yang sedang menghadap ke Si Bungsu dan membelakangi si penembak, memang tepat pada waktunya. Begitu juga tembakan senapan mesinnya. Thi Binh selamat dari terkaman peluru.

Kedua tentara Vietkong itu terjungkal dengan dada dan perut hancur diterkam peluru senapan mesin Roxy. Namun pada saat yang sama, tubuh Roxy juga terpental dihantam peluru! Thi Binh yang tadi tubuhnya ditubruk Roxy, jatuh, terpelanting sedepa ke kanan. Namun karena itulah nyawanya selamat. Sebagai gantinya, yang kena tembakan justru Roxy! Thi Binh yang sadar bahwa nyawanya diselamatkan ‘bekas musuh’ nya itu memekik.

Dia menghambur memeluk tubuh Roxy yang tertelungkup tak bergerak. Si Bungsu tak sempat lagi memberi isyarat kepada Duval untuk melindungi dirinya. Dia segera berlari meliuk-liuk ke tempat Roxy dan Thi Binh. Dirinya segera menjadi sasaran tembakan puluhan tentara Vietnam yang mengepung mereka. Namun, kendati tak diberi tahu, sebagai seorang prajurit Duval faham apa yang menjadi tugasnya.

Begitu melihat Si Bungsu lari ke arah berlindungnya Roxy, dia segera bangkit dan senapan mesinnya menyalak. Dia siram berbagai tempat yang tadi merupakan sumber tambakan tentara Vietnam. Tembakan senapan mesinnya membuat tentara-tentara Vietnam yang membidik Si Bungsu harus kembali menarik kepala mereka dari tempat pengintaian. Mereka membatalkan niat untuk menembak, dan Si Bungsu pun selamat sampai ke tempat Roxy dan Thi Binh. Thi Binh didapatinya sedang menangis dan memeluk kepala Roxy. Sementara perawat Amerika itu tubuhnya berlumur darah, dan matanya terpejam.

“O… Tuhan… tidak! Tidak, jangan ambil nyawanya…!” isak Thi Binh. Tubuh Roxy tidak lagi begerak. “Roxy… Roxy, bangunlah, please…!” isaknya sambil mengusap wajah Roxy berkali-kali. Si Bungsu tertegak tiga langkah dari tubuh kedua gadis itu. Matanya menatap dua tubuh tentara Vietnam yang terburai isi dadanya diterjang peluru Roxy. Dia menunduk. Thi Binh menatapnya sambil tetap memeluk kepala Roxy. “Oh Tuhan, dia jadikan dirinya tameng untuk menyelamatkan nyawaku. Hidupkan dia kembali Bungsu… hidupkan dia kembali!. Tolonglah…” ratap Thi Binh.

Sebelah tangannya meraih tangan Si Bungsu, sementara tangan yang sebelah lagi tetap memeluk kepala Roxy. Si Bungsu memegang pergelangan tangan Roxy beberapa saat. Kemudian meraba nadi lehernya. Membalikkan tubuh perawat itu. Melihat di punggungnya ada lobang berlumur darah sejajar dengan lobang di dadanya. Dia tahu, peluru menembus dada kanan gadis ini, tidak bersarang di dalam, sehingga tidak memerlukan operasi. Mungkin masih ada harapan, bisiknya sambil mengeluarkan dompetnya. Mengeluarkan plastik berisi serbuk yang pernah dia pergunakan untuk mengobati Thi Binh.

Celaka, isinya ternyata hanya tinggal sedikit. Tapi dia berharap cukup untuk sekadar mengobati luka Roxy. “Baringkan tubuhnya datar di tanah. Jika engkau ingin dia selamat Thi-thi, engkau harus menjaga kami dengan senapan mesinmu. Bantu Duval menghadang serangan yang bisa datang secara mendadak, sementara aku mencoba menyelamatkan nyawa Roxy…” ujar Si Bungsu. Thi Binh segera faham apa yang diinginkan Si Bungsu. Dia segera membaringkan tubuh Roxy tertelentang datar di tanah. Kemudian dia ambil senapan mesin yang tadi dipakai Roxy.

“Saya akan menjaga kalian, tapi berjanjilah bahwa engkau akan menyelamatkan nyawanya…” ujar Thi Binh dengan nada berharap sebelum berdiri. Si Bungsu tersenyum, lalu mengangguk. Thi Binh berdiri, meletakkan ke atas batu senapan mesin ringan yang tadi dipergunakan Roxy, kemudian menembaki beberapa sasaran di depan sana. Belukar yang terdapat di bawah sebuah pohon besar. Di balik-balik batu besar. Cecaran tembakannya ternyata menelan dua nyawa, seorang tentara Vietnam yang berada di bawah pohon besar itu bergerak akan pindah ke bahagian depan, ke tempat yang lebih dekat dengan orang yang mereka kepung.

Thi Binh sebenarnya tak menampak sosok tentara itu. Dia hanya menghajar beberapa tempat dengan tembakan membabi buta. Dua peluru bren yang ditembakkan Thi Binh menghajar dada dan lehernya. Tentara itu terjungkal dan mati tanpa sempat memekik. Yang seorang lagi adalah yang berada di balik sebuah batu besar. Sejak tadi dia sudah mengintai Letnan Duval. Dan kesempatan baginya terbuka saat Duval memandang ke arah batu di mana Roxy dan Thi Binh berada. Dia menoleh ke sana setelah Si Bungsu sampai ke tempat kedua gadis tersebut. Kesempatan saat dia menoleh itulah yang dimanfaatkan oleh tentara Vietnam di balik batu. Sekitar lima puluh meter dari tempat Duval. Dia mencogokkan kepalanya di atas batu, kemudian membidik. Namun saat itu pula peluru Thi Binh yang menerjang membabi buta menyiram batu tempat tentara itu berlindung.

Mula-mula yang dihajar peluru hanya bahagian bawah batu. Si tentara yang sudah menarik kepalanya karena khawatir kena tembak segera mencogokkan lagi wajahnya di atas batu tersebut. Namun saat itu pulalah ujung bedil senapan Thi Binh mengarah sedikit ke atas. Dan dua peluru menghajar jidat tentara tersebut, persis di bawah garis topi waja yang dia pakai. Kepala tentara itu seperti ditendang palu besar. Terdongak dan tubuhnya tercampak ke belakang.

Dua kawannya yang berlindung di balik batu yang sama, terkejut dan menyumpah melihat kawannya yang mati dengan kening berlobang itu. Thi Binh berhenti menembak setelah Duval berteriak agar menghemat peluru. Thi Binh menarik nafas. Kemudian menurunkan bedilnya dari bahu. Dia duduk di samping Si Bungsu yang tengah mengobati luka di dada Roxy. Baju perawat Amerika itu dirobek Si Bungsu di tentang luka.

Bubuk obatnya yang tinggal sedikit dia campur dengan mesiu. Untuk memperoleh mesiu, dia mengambil sebuah peluru dari bedilnya. Kemudian menggigit timah bercampur tembaga runcing di bahagian ujung peluru. Dia tanggalkan ujung peluru itu dari selosongnya yang berisi mesiu. Mesiu itu dia tuangkan ke sehelai daun. Kemudian dicampur dengan bubuk obat dari dompetnya yang tinggal sedikit.

Karena tak ada air, dia mengaduk bubuk obat dan bubuk mesiu itu dengan air ludahnya. Lalu dia masukkan ke luka di dada Roxy. Kemudian dia robek kedua lengan bajunya. Robekan dua lengan baju itu dia lilitkan ke bahagian atas pangkal dada Roxy yang luka. Dengan demikian luka itu selain sudah diobati sekaligus juga sudah diperban. Thi Binh menatap apa yang dilakukan Si Bungsu dengan diam. Setelah pekerjaan selesai, Si Bungsu menghapus peluh di wajahnya. Kemudian menatap Thi Binh. “Engkau ingin dia selamat, nah kini nyawanya sudah saya selamatkan….” ujar Si Bungsu perlahan.

Thi Binh menatap wajah Roxy yang mulai merona kemerah-merahan. Lalu dihapuskannya keringat dingin yang memenuhi wajah perawat Amerika tersebut dengan telapak tangannya. “Berapa orang tentara yang kau bunuh dengan tembakanmu sebentar ini?” tanya Si Bungsu. “Tak seorangpun…” jawab Thi Binh perlahan. “Tembakanmu membunuh dua orang tentara Thi-thi…” ujar Si Bungsu sambil tersenyum. Thi Binh menatap tak percaya. Si Bungsu mengangguk. “Engkau tak mendengar teriakan mereka, karena pendengaranmu terhalang oleh bunyi tembakan…”

“Engkau yakin aku membunuh dua orang tentara?” tanya Thi Binh dalam nada tak percaya. Si Bungsu mengangguk. “Bagaimana engkau mengetahuinya?”

Si Bungsu hanya tersenyum. Dan Thi Binh segera menyadari bahwa lelaki ini memiliki indera keenam yang amat tajam. Indera keenam yang amat tajam itu pula yang kini menyebabkan Si Bungsu tiba-tiba mendongakkan kepala. Dia memandang keliling. Kemudian membungkuk, lalu mendekapkan kepala ke tanah. Wajahnya menjadi tegang. Namun ketika bangkit, wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun. Datar dan dingin.

Saat itu Roxy membuka mata. Matanya nanap menatap Thi Binh. Dan Thi Binh segera memeluknya. “Kudengar semua ucapanmu beberapa saat sebelum aku pingsan Thi-thi. Terimakasih engkau sangat mengkhawatirkan nyawaku…” ujarnya perlahan. “Thi-thi jaga dia. Saya akan ke tempat Duval…” ujar Si Bungsu. Ketika Si Bungsu beranjak. Thi Binh meraih senapan mesin ringan ke dekat dirinya. Kemudian dia menatap pada Roxy. “Maukah engkau menjadi kakakku?” bisiknya. Roxy menatap gadis Vietnam itu. Kemudian di antara air matanya yang mengalir, dipeluknya Thi Binh erat-erat. Thi Binh juga tak mampu menahan air matanya. “Aku tak punya saudara Thi-thi. Tidak ada abang dan tidak ada adik. Aku anak tunggal. Aku bahagia jika engkau mau jadi adikku, Thi-thi…” bisik Roxy. “Terimakasih, Kakak. Terimakasih…” ujar Thi-thi di antara isaknya, yang tak mampu dia tahan karena terharu dan bahagia.

Si Bungsu dengan cepat menyelinap ke tempat Duval. Dia bersandar ke sebuah batu, di antara bebatuan besar yang dijadikan Duval sebagai tempat bertahan. “Bagaimana Roxy?” tanya Duval saat lelaki dari Indonesia itu duduk di sampingnya, sambil matanya terus mengawasi tempat-tempat yang dipergunakan tentara Vietnam mengepung mereka. “Tertembak dadanya. Sudah saya obati. Sekarang sudah sadar. Kita harus segera menyingkir dari sini. Peleton lain sedang menuju kemari…” ujar Si Bungsu.

Letnan Duval menatap ke arahnya sejenak. Kemudian matanya kembali mengawasi semak pohon dan bebatuan antara lima puluh sampai seratus meter di depan sana. “Berapa orang mereka?” tanya Duval. “Antara sepuluh sampai dua puluh orang….” “Masih berapa jauh?” “Hanya sekitar sepuluh menit lagi…” Letnan Duval kembali menatap ke arah Si Bungsu. “Berapa besar kemungkinan kita bisa lolos?” ujarnya. “Seratus persen…” jawab Si Bungsu. Letnan dari SEAL itu menatap tepat-tepat kepada Si Bungsu.

“Engkau bawa Roxy dan Thi Binh melewati jalur kanan, tetap menempuh arah matahari terbit. Sekitar setengah jam kalian akan bertemu dengan Kolonel MacMahon. Saya akan menghadang mereka habis-habisan di sini…” “Saya membawa kedua gadis itu, dan engkau bertahan di sini sendirian?” desis Duval. “Engkau mempunyai gagasan yang lebih baik?” “Jauh lebih baik dari gagasanmu, Pak…” ujar Duval. “Ceritakanlah…” “Kita bertukar tempat…” “Maksudmu?”

“Aku yang bertahan di sini. Engkau yang membawa kedua gadis itu…” ujar Duval sambil menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu menarik nafas. Dia yakin, tawaran Duval bukan karena letnan itu tak yakin pada kemampuannya untuk bertahan. Tawaran itu semata-mata karena rasa tanggung jawab.

“Terima kasih, Anda yang berangkat. Saya yang bertahan…” “Pak…” “Ini perintah….” Duval menatap Si Bungsu, kemudian bangkit. Lalu dipeluknya laki-laki dari Indonesia itu tanpa mampu bicara sepatahpun. “Kini kita bergabung dengan dua gadis itu. Kita harus mereka lihat dalam suatu kelompok…” ujar Si Bungsu menjelaskan bagian dari rencananya.

Kemudian secara singkat dia jelaskan jalan yang harus ditempuh Duval, Duval mengangguk. Si Bungsu berdiri, kemudian melangkah kesamping. Lalu menembak kesalah satu tempat persembunyian tentara Vietnam. Setelah menembak tiga kali, dia segera berlari kearah dimana tadi dia meninggalkan Roxy dan Thi Binh. Segera saja tembakan beruntun kearah dirinya. Namun Duval tak tinggal diam. Dia mencecar tempat- tempat datangnya tembakan dengan peluru senapan mesinnya. Si Bungsu berhasil dengan selamat mencapai tempat Roxy dan Thi Binh. Kedua gadis itu sedang duduk bersandar ke batu. Kondisi Roxy sudah jauh lebih baik. Si Bungsu memberi isyarat ke Duval.

Giliran Duval menyusul dan Si Bungsu melindunginya dengan tembakan kearah tentara Vietnam. Tatkala Duval sudah bergabung, Si Bungsu menghentikan tembakannya. Dengan cepat Si Bungsu memaparkan apa yang akan terjadi dan apa rencana yang harus dilaksanakan untuk keluar dari kepungan ini. “Kalian harus menyelinap dengan cepat. Jalur kanan ini, searah matahari terbit adalah jalur aman sampai ketempat Kolonel MacMahon. Dengan bergerak cepat, dalam setengah jam paling lambat, kalian akan bergabung dengan MacMa…” “Saya tinggal bersamamu disini….” ujar Thi Bhinh, memutus pembicaraan Si Bungsu.

Si Bungsu terdiam dengan ucapan tersebut. Dia menatap pada Thi Binh. Dia faham dan sudah menduga sikap gadis itu akan rencananya. “Ada sekitar dua puluh tentara Vietnam yang dalam beberapa menit lagi akan sampai disini. Keselamatan kita tergantung seberapa cepat kita bergerak. Saya akan menahan mereka di sini. Dan jangan khawatirkan saya. Begitu kalian selamat, saya dengan mudah bisa meloloskan diri menyusul kalian…” ujar Si Bungsu. “Saya akan tinggal bersamamu…!” ujar Thi Binh berkukuh dengan mata mulai berkaca-kaca. Si Bungsu memeluk Thi Binh.

“Dengarkan, Thi-thi. Kemarin engkau juga saya tinggal ketika saya dan pamanmu pergi mencari tempat Roxy disekap. Saya janjikan bahwa saya akan bergabung kembali dengan kalian. Janji itu saya tepati bukan?” Thi Binh hanya berdiam diri sambil memeluk Si Bungsu erat-erat. Roxy menatap kedua orang itu dengan diam dari tempat dia bersandar.

“Aku juga menjanjikan padamu, bahwa engkau akan mendapat kesempatan membalaskan dendammu pada tentara Vietnam di barak-barak sana. Janji itu juga kutepati, bukan?” “Aku tinggal bersamamu…” bisik Thi Binh dari dalam pelukan Si Bungsu.

“Ini masalah hidup dan mati kita semua. Kalian harus berangkat. Jika tidak kita semua akan terbunuh. Termasuk ayah dan pamanmu. Oke, kalian hanya membawa sebuah senjata. Tinggalkan yang tiga buah di sini. Termasuk howitzer. Tapi sebelum berangkat, kita hujani mereka dengan tembakan sesaat. Oke, ambil posisi masing-masing…” ujar Si Bungsu. “Tidakkah aku boleh tinggal bersamamu?” bisik Thi Binh sesaat sebelum melepas pelukannya dari tubuh Si Bungsu.

“Untuk mencintaiku engkau harus tetap hidup Thi-thi. Dan untuk mencintaimu, aku juga harus tetap hidup. Untuk bisa hidup, kau ikuti petunjukku. Aku akan segera menyusulmu, oke…?” ucapannya diputus oleh ciuman Thi Binh di bibirnya. “Aku akan bunuh diri jika engkau tak kembali padaku…” ujar Thi Binh sambil menyambar senapan mesin yang tadi dipakai Roxy. Roxy yang sejak tadi hanya menatap dengan diam semua apa yang dilakukan Thi Binh, bangkit perlahan. Dia mengambil senapan mesin yang sebuah lagi. Lalu tegak mencari posisi. Begitu juga Duval. Mereka menanti beberapa saat. Ketika semua sudah siap dengan senjata masing-masing, Si Bungsu kembali memberikan petunjuk singkat.

“Duval, bawa senapan yang dipegang Roxy. Senapanmu dan juga senapan mesinmu Thi-thi, tinggalkan di batu di mana kini kalian berada. Jika saya beri isyarat, hentikan menembak, tinggalkan senapan kalian dan berangkat segera. Menyelusup secepat yang kalian bisa memudiki sungai di belakang pertahanan kita ini. Kini, tembak…!!” seru Si Bungsu.

Mereka lalu mencecar sasaran masing-masing dengan tembakan-tembakan beruntun pendek. Lalu Si Bungsu memberi isyarat, sambil bedilnya tetap memuntahkan peluru. Yang pertama bergerak adalah Duval. Setelah meletakkan senjatanya, dia menyambar senjata Roxy. Kemudian bergerak ke belakang batu. Orang kedua yang bergerak adalah Roxy. Kemudian Thi Binh. Namun gadis itu masih menyempatkan diri untuk memeluk Si Bungsu dengan erat dan menciumnya beberapa saat sebelum dia juga berlari mengikuti langkah Duval dan Roxy. Duval menanti di balik batu di tebing sungai

“Mana Roxy?” bisik Thi Binh sambil menuruni tebing sungai. “Dia sudah duluan…” jawab Duval. Padahal Roxy bersembunyi di balik batu tak jauh dari belakang Si Bungsu. Begitu Thi Binh lewat dan hilang di balik tikungan di dekat sungai. Roxy bergegas kembali ke tempat Si Bungsu yang saat itu sedang menembak dengan senapan mesin yang di tinggalkan Thi Binh. Dari belakang dirangkulnya tubuh Si Bungsu. Si Bungsu kaget separoh mati. Namun Roxy tak membari kesempatan.

Didekapnya lelaki dari Indonesia itu dengan erat. Kemudian bibirnya melumat bibir Si Bungsu. Sebelum Si Bungsu sadar apa yang terjadi. Roxy sudah melepaskan pelukannya. Kemudian gadis itu berkata cepat.

“Aku menyayangi Thi-thi. Aku tahu dia mencintaimu. Aku tak peduli engkau mencintainya atau tidak. Aku tahu apa yang kulakukan ini tak pantas, apalagi mengingat aku dan Thi-thi sudah saling mengakui sebagai saudara. Namun tak seorang pun yang bisa meramalkan apa nasib yang akan menimpa kita sebentar lagi. Sesal akan kubawa mati, jika aku tak menyampaikan padamu bahwa aku mencintaimu. Mungkin terdengar konyol dan bodoh. Kenal pun kita baru sehari. Tapi aku mencintaimu Bungsu…!”

Demikian cepat kata-kata itu dia ucapkan. Sehabis berkata dia segera berbalik. Kemudian bergegas menyelinap menyusul Duval dan Thi Binh. Sebuah tembakan yang mendesing dekat telinganya menyentakkan Si Bungsu dari rasa kaget dan keterpanaan atas apa yang baru saja terjadi. Dia cepat berbalik. Kemudian dia pindah di tempat dimana tadi Duval berada. Diambilnya senapan yang ditinggalkan letnan SEAL tersebut. Kemudian dia menembak ke arah tembakan yang nyaris saja menghantam telinganya.

Sebuah pekik terdengar dari balik sebuah pohon besar, sekitar lima puluh meter di depannya. Kemudian sepi. Si Bungsu beralih tegak ke tempat senapan mesin ringan yang ditinggalkan Thi Binh. Dia menembak ke tempat tempat yang firasatnya mengatakan ada Vietnam di baliknya. Dengan tembakan senapan yang berbeda dari tempat yang berbeda pula, Si Bungsu berhasil memperdaya tentara Vietnam yang mengepung itu. Mereka menyangka di balik batu itu tetap berada empat orang dengan senjata yang memiliki persediaan peluru yang lebih dari cukup. Tak seorang pun dari mereka yang berani bergerak mendekat. Padahal setelah menghitung peluru yang tersisa, Si Bungsu yakin hanya keajaiban yang bisa me nyelamatkan dirinya jika Vietnam-Vietnam itu menyerang serentak. Si Bungsu dan ketiga orang yang sudah menyingkir itu kebetulan mendapatkan tempat perlindungan yang amat tangguh.

Tempat itu berupa batu-batu besar yang tersusun sedemikian rupa, membentuk setengah lingkaran. Ada celah-celah kecil dan bahagian-bahagian yang agak rendah di antara ujung yang mencuat tinggi. Kini celah kecil dan tempat kerendahan itulah yang dipakai Si Bungsu sebagai tempat berlindung.

Peluru yang ditembakkan tentara Vietkong amat sulit untuk memasuki celah kecil itu. Satu-satunya tempat menyerang yang ampuh adalah dari belakang. Hal itu tadi sudah dicoba oleh dua tentara Vietkong yang datang dari barak, tapi keduanya mati ditembak Roxy. Si Bungsu kembali menghitung peluru yang ada di tiga senjata yang ditinggalkan untuknya. Dia menarik nafas. Jika dia bertempur terus, paling-paling dia hanya bisa bertahan sepuluh menit.

Semua pelurunya akan habis. Satu-satunya yang akan tinggal adalah dua peluru howitzer. Dia berharap bisa menipu tentara Vietkong itu dalam waktu cukup lama, agar Duval dan rombongannya bisa mencapai tempat Kolonel MacMahon. Dalam situasi seperti itu, detik demi detik terasa merangkak amat cepat. Seolah- olah tak ada waktu bagi Duval dan rombongannya untuk bisa bergerak cukup jauh.

Dia menatap unggukan batu besar yang seperti berlapis-lapis ke atas. Seolah-olah peti yang diletakkan bersusun setinggi lebih kurang sepuluh meter. Dia tatap batu besar yang memanjang sekitar lima puluh depa itu. Dia membidik ke salah satu celah pada batu tersebut. Menembakkan serentetan peluru senapan mesin. Dia yakini tembakannya tak mengenai siapapun di balik batu itu.

Diletakkannya senapan, lalu mendekapkan telinganya ke tanah. Memejamkan mata dan memasang indera secermat mungkin. Pendengarannya yang amat terlatih mengisyaratkan bahwa di balik batu besar itu paling tidak berlindung sepuluh tentara Vietnam. Tempat itu memang amat startegis. Dengan keyakinan demikian dia ambil howitzer, dia masukkan roket ke dalam tabungnya. Kemudian membidikkan senjata anti- tank yang kini ada di tangannya.

Matanya menatap ke arah susunan batu-batu besar yang tingkat bertingkat itu. Diletakkannya howitzer yang tadi sudah dibidikkan. Kemudian dia ambil howitzer yang sebuah lagi dan mengisikan roket terakhir ke howitzer tersebut.

Kini kedua senjata penghancur tank itu sudah terisi. Si Bungsu kembali membidik bahagian tengah batu bersusun itu. Lalu di tariknya pelatuk roket kecil itu. Dengan mendesis peluru howitzer itu meluncur. Hanya setengah detik setelah peluru meluncur, dia meletakkan howitzer kosong itu dan segera menyambar howitzer yang satu lagi. Dengan gerakan amat cepat, dia membidik tempat berdekatan dengan sasaran pertama. Dan kembali menembak! Dua peluru howitzer menghantam batu besar berlapis itu.

Akibatnya sungguh luar biasa. Batu besar itu seperti diterjang sepuluh gajah. Bahagian yang terkena hantaman roket howitzer berserpihan. Namun akibat dorongan roket itu menyebabkan batu-batu besar itu terdorong ke belakang dan… runtuh dengan dengan suara menggelegar ke bawah. Hal itu memang sesuatu yang amat di luar dugaan komandan pasukan Vietkong yang berlindung di bawah batu-batu besar tersebut.

Semula, dari balik celah batu perlindungan mereka hanya menatap dengan diam jejak asap memanjang ke arah batu-batu besar di atas perlindungan mereka. Mereka hanya sedikit terkejut mengetahui bahwa orang yang mereka kepung ternyata memiliki howitzer. Namun rasa terkejut yang sedikit itu segera berubah menjadi pekik histeris, tatkala mereka mendengar ada suara guruh di atas kepala mereka. Ketika mereka melihat ke atas, tak ada lagi kejut yang bisa digambarkan. Batu besar, yang jaraknya sekitar enam atau tujuh meter di atas kepala mereka, sudah berguling dan melayang ke bawah. Akibatnya sungguh mengerikan. Di bawah batu-batu besar itu berlindung empat belas tentara yang baru saja datang. Semua mereka ditimpa batu-batu besar yang diterjang peluru howitzer itu. Sebuah getaran dahsyat, seperti gempa, terdengar ketika batu itu menimpa tanah, meremukkan tubuh-tubuh manusia yang berlindung di bawahnya. Tak ada yang sempat memekik, apalagi menyelamatkan diri.

Keempat belas tentara itu lumat dan terkubur di sana. Sementara tentara Vietnam lainnya, yang berada tak jauh dari tempat celaka itu menatap dengan mata mendelik dan tubuh menggigil. Mereka sudah terbiasa dalam menyaksikan teman mereka yang mampus secara amat mengerikan, selama perang belasan tahun menghadapi tentara Amerika. Namun yang lumat seluruh tulang belulangnya, dan terkubur remuk seperti bubur di bawah himpitan batu seberat ratusan ribu ton, baru sekali ini mereka saksikan Neraka ini. Baru kali ini! Saking ngerinya, beberapa di antara mereka sampai terkencing-kencing di celana.

Setelah beberapa saat terdiam dicekam rasa kejut yang dahsyat, seorang Kapten memerintahkan agar mereka menyerbu tentara Amerika yang sudah sejak tadi mereka kepung itu. Demikianlah, rasa takut dan kejut yang dahsyat menimbulkan amarah yang dahsyat pula. Mereka segera membuat formasi melingkari batu besar dari mana tembakan howitzer itu datang. Dengan formasi tapak kuda mereka mendekati pertahanan Si Bungsu. Makin lama kepungan dengan formasi tapak kuda itu semakin merapat. Dengan berlari dari satu perlindungan ke perlindungan yang ada di depan.

Sekitar dua puluh tentara Vietnam yang masih tersisa dalam pertempuran itu maju dengan bedil siap ditembakkan. Si Kapten memberi isyarat pada enam anak buahnya untuk melingkar semakin jauh ke belakang tempat pertahanan tentara Amerika itu. Ketika ke enam tentara itu mulai bergerak, si Kapten memberi isyarat untuk menembak secara serentak.

Tembakan gencar dari belasan orang itu dimaksudkannya sebagai pengalihan perhatian tentara Amerika yang sudah terkepung itu. Perhatian mereka pasti sudah tertuju kepada tembakan.

Ke enam tentara yang melambung ke bahagian belakang pertahanan Si Bungsu sudah mencapai tepi sungai. Di bawah tembakan kamuflase teman-temannya, mereka segera merangsek maju. Mereka segera tiba persis di bahagian belakang pertahanan tentara Amerika tersebut. Yaitu tempat di mana tadi Si Bungsu menembakkan dua peluru howitzer. Tempat di mana dua tentara Vietnam yang datang dari barak membokong Roxy dan Thi Binh, tapi keduanya ditembak mati oleh Roxy. Sambil maju tentara Vietnam itu menghujani perlindungan tersebut dengan tembakan gencar.

Mereka pun sampai ke tempat howitzer itu ditembakkan dan menyebabkan dua batu besar seberat puluhan ton di atas perlindungan teman-teman mereka tadi runtuh. Namun mereka hanya menemukan dua buah tabung howitzer, sebuah senapan mesin dan dua buah senapan semi otomatis yang mirip dengan yang mereka pergunakan. Tak ada seorang pun di sana. Salah seorang di antara mereka segera memperhatikan jejak yang menuju ke sungai di belakang batu besar itu. Dia segera tahu, ada empat orang di sini tadinya. Kini ke empat mereka sudah meloloskan diri lewat sungai.

Dia lalu memberi isyarat kepada si Kapten. Tembakan segera dihentikan. Dalam waktu singkat semua sisa tentara Vietnam itu sudah berkumpul di sana. “Mereka belum sampai sepuluh menit meninggalkan tempat ini. Buru mereka…!” perintah si Kapten. Perintah itu tak perlu diulang sampai dua kali. Mereka segera berlarian menyusuri tebing sungai. Beberapa orang di antaranya masuk ke sungai itu, untuk melacak jejak. Dari jejak yang tertinggal menunjukkan bahwa ke empat orang Amerika itu, atau siapa pun mereka, memang menuju langsung ke arah hulu sungai dangkal berbatu ini. Jejak mereka jelas terlihat pada batu-batu besar yang mencuat di permukaan air. Si Bungsu memang mempergunakan kesempatan terkejutnya tentara Vietnam atas runtuhnya batu besar tersebut untuk meloloskan diri.

Semua senjata yang tinggal, kecuali senapan mesin ringan itu, sudah habis pelurunya. Senapan mesin ringan itu pun pelurunya hanya sekitar enam puluh buah, yang tersusun dalam bentuk rantai. Tadinya rantai peluru itu cukup panjang. Namun karena sudah dipakai terus, rantai peluru itu sudah demikian pendeknya. Tak sampai semeter. Jika ingin selamat dia harus menghindar cepat dari sana. Tentu saja dia ingin selamat. Paling tidak dia ingin memastikan Thi Binh, Roxy dan tentara Amerika lainnya itu lolos. Namun Si Bungsu hanya menuruti alur sungai tersebut sekitar dua ratus meter.

Setelah itu dia masuk ke hutan. Kemudian bergerak cepat searah matahari terbit. Dia harus cepat menyusul MacMahon. Ketika pertama menyelidiki barak tentara tadi, dia memperkirakan jumlah tentara di sana sekitar 100 orang. Pasukan itu disebar pagi tadi untuk mengejar mereka ke berbagai arah. Namun hari sudah hampir sore. Kini pasukan yang mengejar itu tentu sudah dalam perjalanan pulang ke barak. Semua tentara yang kembali ke barak dipastikan akan ditugaskan memburu mereka. Ada perasaan tak sedap menjalar dalam hati Si Bungsu saat menyelinap di hutan ke tempat di mana MacMahon bertahan.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan kelompok MacMahon yang berjumlah enam orang itu? Ketika pertama kali Si Bungsu, Duval, Thi Binh dan Roxy sampai di belakang barak, mereka melihat seregu tentara Vietnam menuju arah datangnya tembakan. Mereka di pastikan akan melintasi hutan tempat Kolonel MacMahon menunggu dengan jebakannya. Si Bungsu mengatakan pada Duval agar menunggu regu yang berangkat itu masuk dulu kedalam jebakan MacMahon.

Kemudian baru mereka menyerang pasukan yang ada di barak. Masuknya tentara yang memburu itu kedalam jebakan bisa ditandai dari suara tembakan yang pasti sampai ketempat mereka ini. Menjelang suara tembakan itu terdengar, Si Bungsu menyelinap kedalam barak penyimpanan senjata. Mengambil dua buah howitzer, dua buah bren dan peluru secukupnya. Dan begitu suara tembakan terdengar sayup-sayup dari dari arah pertahanan MacMahon, mereka juga memulai serangan terhadap barak tersebut.

Salah seorang dari tentara baret hijau yang di tugaskan oleh MacMahon untuk mengambil posisi paling ujung dari jebakan yang di pasang, memberi isyarat dengan tiruan bunyi burung. Tentara Baret Hijau itu melihat dua orang tentara Vietnam berjalan dengan cepat menuju hutan tersebut, sekitar lima meter dari persembunyiannya. Sekitar sepuluh meter di belakang kedua tentara itu, yang nampaknya bertindak sebagai pemantau di bahagian depan, terlihat tiga tentara lagi dengan jarak tiga-tiga depa.

Dari cara mereka bergerak, tentara baret hijau itu tahu. Bahwa tentara Vietnam ini sedikitpun tidak tahu kalau buruan mereka ada di depan mereka. Hal itu di sebabkan perhatian mereka tertuju pada suara tembakan yang berasal dari barak, suara yang mereka dengar itu adalah pertempuran dengan pasukan yang duluan menyelamatkan diri, dengan Duc Thio sebagai penunjuk jalan. Kini tentara yang akan memberikan bantuan itu, masuk kedalam jebakan MacMahon. Anggota Baret Hijau Amerika yang jadi pengintai di bahagian ujung jebakan itu, membiarkan tentara Vietnam itu masuk sampai sepuluh depa di depannya. Dari tempat persembunyiannya dia menatap diam waktu tiga tentara Vietnam berikutnya lewat, kemudian lima, kemudian tiga, lalu delapan, terakhir dua orang. Mereka bergerak dengan formasi berpencar. Jumlah semuanya dua puluh orang. Dua tentara paling depan lewat di dekat persembunyian Kolonel MacMahon.

Kolonel ini juga membiarkan mereka lewat satu persatu. Begitu semua tentara Vietnam itu berada dalam garis jebakan, Kolonel MacMahon menembak tiga orang tentara yang ada dalam jarak bidiknya.Tiga tembakan beruntun itu sebagai isyarat pembuka serangan. Tiga tentara yang di tembak itu hanya dua yang mati, seorang lagi hanya kena bahunya. Dan tentara yang terluka itu masih sempat mencari tempat perlindungan.

Tembakan dari lima anggota Kolonel MacMahon itu termasuk Han Doi menghajar kedua puluh orang tentara Vietnam itu. Pertempuran itu boleh dikatakan cukup singkat. Sebab jebakan yang mereka buat memang amat jitu. Kecil peluang bagi yang masukan jebakan untuk selamat. Namun dengan demikian, tentara Vietnam itu masih bisa membuat tentara baret hijau yang memberi isyarat tadi mati dengan kepala tertembus peluru.

Dia satu-satunya yang mati di antara kelima anggota MacMahon.Tetapi sebelum mati, tentara baret hijau ini juga masih sempat menembak mati tiga orang tentara Vietnam. Tak berapa lama setelah pertempuran usai, saat mereka menggali lobang untuk menguburkan tentara baret hijau itu, Kolonel MacMahon dan ke empat anggota pasukan kecilnya itu mendengar dua suara ledakan beruntun. Ketika mereka menoleh kearah barak tentara Vietnam, jauh di bawah sana, mereka melihat lidah api dan asap menyemburat ke udara. “Mereka berhasil menghancurkan gudang senjata itu…” ujar Kolonel MacMahon.

Ke empat anggotanya termasuk Han Doi hanya mendengarkan dengan diam, dan menatap asap yang membumbung dari pucuk belantara itu di kejauhan sana. Upacara pemakaman tentara baret hijau itu berlangsung dengan singkat. Tak ada lagi label yang terbuat dari plat almunium tipis, yang menerangkan nama tanggal lahir dan kesatuan si pemakai yang biasanya di kalungkan dengan rantai aluminium di setiap leher tentara yang di terjunkan ke medan perang.

Label itu telah disita tentara Vietnam begitu mereka di tangkap. Mereka, tentara Amerika yang tertangkap di beri nomor dan kode khusus. Sebagai tawanan, mereka tak lagi bernama dan berpangkat. Mereka hanya sederatan nomor dan kode, yang bila tak di perlukan lagi dapat di hapus dari daftar. Hanya para komandan berpangkat Kolonel keatas yang berada di wilayah tempat mereka di tawan, yang menyimpan daftar nama, pangkat, kesatuan dan tanggal lahir tawanan. Namun tentara Amerika tidak ada yang mengetahui hal tersebut. Kalau saja mereka tahu, bahwa daftar nama mereka disimpan oleh seorang komandan berpangkat Kolonel, MacMahon pasti menugaskan pasukannya untuk mencari daftar itu di barak di bawah sana. Sebab mereka tahu, komandan barak yang menawan mereka berpangkat Kolonel. Hanya mereka tak tahu, si Kolonel sudah jadi serpihan daging tak berbentuk, dihantam roket howitzer yang ditembakkan Thi Binh, yang lidah api dan asapnya baru saja mereka lihat membubung ke udara di kejauhan.

Ketika lobang kuburan usai ditimbun, dua potong kayu sebesar lengan kemudian diikat membentuk salib, ditancapkan di bahagian kepala. Tak ada pembacaan doa. Si Kolonel dan anggotanya membuat tanda salib dengan gerakan tangan pada tubuh mereka sebagaimana jamaknya dilakukan orang-orang Katolik. Sekali lagi si Kolonel memandang ke arah asap yang membubung di bawah sana. Mereka mendengar suara tembakan sayup-sayup. Mereka tahu, di sana sedang terjadi pertempuran.

“Kita berangkat menyusul rombongan pertama tadi…” ujar si Kolonel sambil menatap pada Han Doi. “Apakah kita tidak menunggu mereka yang di bawah sana?” tanya Han Doi. “Kita tinggalkan pesan melalui tanda-tanda di pohon…” jawab si Kolonel. Han Doi masih tegak dengan ragu. “Sudah berapa lama Anda mengenal lelaki dari Indonesia itu?” tanya MacMahon pada Han Doi. “Baru sekitar satu bulan….”

“Apakah engkau yakin dia akan mampu memenangkan pertempuran di bawah sana?”

Han Doi tak segera bisa menjawab. Karenanya MacMahon melanjutkan. “Saya baru mengenal tadi malam, saat dia muncul di goa tempat kami disekap. Kendati baru mengenalnya satu hari satu malam, namun saya yakin, lelaki tangguh itu akan memenangkan pertempuran di bawah sana. Dan dia akan membawa Letnan Duval dan kedua gadis itu menyusul kita…”

Han Doi menarik nafas. Dia juga yakin bahwa Si Bungsu akan mampu memenangkan pertempuran itu. Mereka kemudian mengganti persenjataan dengan senjata otomatis milik dua puluh tentara Vietnam yang mati malang melintang di sekitar mereka. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Pada tempat-tempat tertentu, anggota SEAL yang ada di rombongan MacMahon membuat tanda-tanda khusus. Mereka menelusuri jalan yang tadi ditempuh rombongan Duc Thio. Yaitu rombongan pertama yang berjumlah 11 orang, empat di antaranya wanita, termasuk Helena. Anggota pasukan logistik yang sudah lama sakit di dalam tempat penyekapannya di goa sana.

Thi Binh, Roxy dan Duval yang sedang menerobos belantara, setelah keluar dari sungai dangkal yang mereka mudiki sekitar seperempat jam, tiba-tiba pada terhenti. Mereka tegak mematung dengan perasaan tegang, terutama Thi Binh dan Roxy. Langkah mereka mendadak sontak terhenti karena mendengar dua ledakan dahsyat beruntun, disusul suara menggelar di bumi. “Ledakan apa itu, granat?” desis Thi Binh dengan air mata mulai mengalir di pipinya.

Dia membayangkan tubuh Si Bungsu hancur berkeping karena ledakan granat yang dilemparkan tentara Vietnam ke tempat pertahanan Si Bungsu. “Tidak. Itu ledakan peluru howitzer…” ujar Duval. “Siapa yang menembak, siapa yang tertembak?” suara Thi Binh kembali mendesis dan menggigil. “Si Bungsu yang menembak….” “Tidak, tidak mungkin….” “Dalam operasi di hutan, tentara tidak membawa peluncur roket, Nona….”

Duval yang faham benar seluk-beluk peperangan mencoba menjelaskan kepada Thi Binh. Penjelasannya bukan sekedar bujukan. Dia tahu benar, tentara Vietnam yang memburu mereka takkan membawa-bawa howitzer. Tank mana pula yang harus dihancurkan dengan howitzer di dalam belantara lebat ini? Thi Binh menatap letnan dan pasukan SEAL Amerika itu. “Anda boleh yakin kepada penjelasan saya, Nona. Saya sudah terjun ke kancah peperangan selama lima belas tahun. Anda juga boleh yakin kepada saya, bahwa orang Indonesia itu terlalu tangguh untuk dikalahkan tentara Vietnam yang mengepung kita tadi…” tutur Duval.

Hati Thi Binh sedikit terhibur. Dia menatap pada Roxy. Roxy mendekat dan memeluk bahunya. Thi Binh balas memeluk perawat Amerika tersebut. “Engkau sengaja bersembunyi, kemudian menemuinya sendirian, ketika kita mulai berangkat tadi, bukankah begitu, Kak?” bisik Thi Binh saat berada dalam pelukan Roxy. Dug! Jantung Roxy rasa mau copot mendengar pertanyaan yang amat tiba-tiba dan sangat tepat itu. Dia tak segera bisa memberikan jawaban. Dia sungguh tak tega melukai hati Thi Binh. Namun dia juga tak ingin berbohong. “Engkau juga mencintainya, bukan?” kembali Thi Binh berbisik perlahan. Dug lagi!

Jantung Roxy kembali hampir copot oleh pertanyaan yang amat langsung, amat terus terang dan amat tepat itu. Ibarat bermain catur, dia benar-benar mati langkah akibat pertanyaan-pertayaan yang dilontarkan Thi Binh. Thi Binh melepaskan pelukannya, kemudian menatap pada Roxy. Perawat Amerika itu tak bisa menjawab, bahkan hampir saja dia tak berani membalas tatapan mata Thi Binh.

“Dia memang lelaki yang pantas dicintai siapa saja…” ujar Thi Binh perlahan. Suaranya demikian jernih, demikian datar dan demikian bersahabat. Tak ada nada menyindir sedikit pun. Tiba-tiba saja Roxy merasa demikian kecil di hadapan gadis kecil ini. Dia raih kembali gadis itu ke dalam pelukannya.

“Ya, aku bersembunyi ketika engkau lewat. Kemudian menemuinya sendirian. Aku khawatir tak lagi akan bertemu dengannya. Aku… aku memang mencintainya. Maafkan aku, Adikku…” bisik Roxy terbata. Sesaat Thi Binh mempererat pelukannya pada tubuh Roxy. Kemudian melepaskannya perlahan. Kemudian menatapnya tepat-tepat. Kemudian bibirnya mengukir senyum. “Engkau menciumnya?” Lagi-lagi, dug!

Pertanyaan yang di ajukan dengan lembut dan dengan bibir tersenyum itu justru membuat Roxy kepanasan dan salah tingkah. Namun senyum gadis itu demikian lugu. Roxy akhirnya terpaksa mengangguk. “Curang, kenapa tidak mengajakku?” ujar Thi Binh sambil mencubit pipi Roxy. Roxy gelagapan. Thi Binh tertawa kecil. Akhirnya roxy tersenyum lalu ikut tertawa renyah. Mereka lupa bahwa mereka sedang di buru. Bahwa nyawa mereka di tentukan oleh secepat apa mereka bisa bergerak menyusul Kolonel MacMahon.

“Kalau perundingan kalian sudah selesai, kita harus bergerak cepat menyusul MacMahon…” ujar Duval yang sejak tadi terpaksa memasang telinga dan mata, menjaga kedua gadis itu, sekaligus berwaspada terhadap kemungkinan munculnya secara tiba-tiba pasukan Vietnam.

Roxy dan Thi Binh yang tersadar bahwa mereka sedang dalam upaya menyelamatkan diri. Mereka sama- sama tersenyum dan segera mengikuti Duval yang mulai bergerak cepat menerobos belantara. Saat mereka mulai bergerak menuju tempat MacMahon, Kolonel yang mereka tuju itu sudah bergerak pula meninggalkan tempatnya. Dan ketika Duval, Thi Binh dan Roxy sampai ketempat MacMahon memasang jebakan, mereka bertiga tertegak diam. Yang mereka temukan hanyalah belasan mayat tentara Vietnam, terserak di berbagai tempat di areal yang tak begitu luas.

“Mereka tertangkap atau meloloskan diri?”desis Roxy.

Tak ada yang menjawab. Duval berusaha meneliti dan mencari sesuatu di beberapa tempat. Dia yakin, MacMahon pasti meninggalkan isyarat buatnya. Isyarat itu segera dia temukan dalam waktu yang cukup singkat. Dari sebuah batu dan ranting yang patah, yang hanya tentara Amerika yang mengenal isyarat itu, dia tahu MacMahon selamat. Dia bersama rombongannya sudah meninggalkan tempat itu. Dan dari isyarat itu Duval tahu kemana arah MacMahon dan rombongan bergerak.

Namun baik Duval maupun Roxy dan Thi Binh tak tahu, bahwa salah seorang tentara Baret Hijau yang berada dalam rombongan MacMahon mati tertembak. Mereka tak melihat kuburan tentara baret hijau itu,yang letaknya memang terlindung dari tempat mereka berada oleh sebuah batu besar. Duval bergegas membawa Roxy dan Thi Binh menyusul rombongan MacMahon. “Apakah kita tak menunggu Bungsu?” tanya Thi Binh.

Roxy juga sepakat dengan Thi Binh, sebaiknya mereka menunggu Si Bungsu lebih dulu. Namun Duval berpendapat lain. “Saya baru mengenal lelaki itu baru sehari ini. Namun saya yakin, dia mengenal belantara seperti mengenal halaman rumahnya sendiri. Dia bisa bergerak cepat sekali. Kalau kita menunggu disini, geraknya akan menjadi lambat. Karena gerakan kita tidak secepat dia. Jika kita bergerak lebih dulu, dia bisa bergerak cepat, dan segera pula bisa menyusul kita. Membantu diri kita agar bisa jauh dari tentara yang mengejar adalah juga membantu Si Bungsu…” tutur Duval

Kedua gadis itu tak membantah. Mereka memahami dan menerima kebenaran yang diucapkan Duval. Mereka bertiga lalu meninggalkan tempat dipakai sebagai jebakan oleh Kolonel MacMahon. Duval di depan, matanya tajam menatap tanda-tanda yang ditinggalkan MacMahon. Sebentar dia menunduk, melihat bekas jejak kaki di tanah. Pada saat lain dia menatap dedaunan yang secara sepintas kelihatan biasa-biasa saja. Namun mata Duval yang terlatih dapat mengetahui daun yang sudah bergeser dengan tubuh manusia dengan daun yang belum tersentuh apapun.

Akan halnya Si Bungsu, yang berusaha meloloskan diri setelah menembakkan dua roket dari howitzer, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia mendekapkan telinga ke tanah. Dia tak tahu secara persis berapa tentara yang memburunya. Namun dari inderanya yang sangat terlatih dia memperkirakan jumlah tentara yang mengejarnya paling tidak ada belasan orang. Dia menghitung sisa peluru bren yang dia bawa masih ada sekitar 20 buah. Dia sadar, tak mungkin dia menuju ke tempat MacMahon dan rombongan yang lain.

Kalau dia langsung menuju ke arah orang-orang tersebut sama artinya dengan membawa tentara Vietnam ini ke tempat mereka. Dia harus berusaha menjauhkan para pemburu ini dari rombongan MacMahon. Dengan fikiran demikian, dia berbalik arah. Tadinya, dengan kemahiran yang jarang dimiliki tentara manapun, dia nyaris tak meninggalkan jejak di tanah. Hal itu menyebabkan tentara Vietnam kebingungan menentukan arah, kemana harus dikejar.

Namun, jika jejak Si Bungsu tak berhasil mereka temukan, mereka justru dengan mudah menemukan jejak Duval, Roxy dan Thi Binh. Pemimpin pasukan Vietnam itu segera diberitahu anak buahnya yang ahli melacak jejak. Bahwa dari empat orang yang tadi menembaki mereka, kini hanya ada tiga jejak. Si komandan berhenti sejenak, demikian juga semua anak buahnya. Dia menatap bekas jejak kaki di tanah. Melemparkan pandangan ke depan. Kemudian menatap pencari jejak tersebut tepat-tepat. “Sejak di mana engkau ketahui bahwa jejak yang kita buru ini hanya jejak tiga orang?” tanyanya menyelidik. “Sejak naik dari sungai tadi….”

Si Komandan kembali menatap ke arah tempat mereka mengepung tentara Amerika itu tadi, yang sudah jauh mereka tinggalkan. Dia mencoba mengingat tembakan-tembakan yang menghujani mereka sebelum dan setelah dua peluru howitzer menghantam dan meruntuhkan batu besar itu. Dia lalu duduk, menatap jejak di tanah. Tiba-tiba dia menyumpah. Dia baru sadar sekarang, bahwa tadi sesungguhnya mereka ditipu.

“Mereka hanya empat orang. Tiga orang terlebih dahulu menyelamatkan diri. Yang seorang….” Si komandan menghentikan ucapannya. Dia melangkah dua depa ke kanan, menatap jejak yang tertinggal di sana. Kemudian menatap ke depan, lalu melangkah lagi. Menatap lagi jejak di sana. Ada beberapa saat dia membandingkan jejak-jejak yang membekas di tanah dalam jarak beberapa depa itu.

“Yang tiga ini, satu lelaki dan dua wanita. Merekalah yang disuruh duluan lari menyelamatkan diri. Yang seorang lagi, tetap bertahan dan menembaki kita dengan tiga bedil yang ditinggalkan. Setelah itu, baru yang seorang itu menembakkan howitzer yang dicuri dari gudang senjata kita. Sesaat setelah menembakkan howitzer, dia melarikan diri….” si komandan berhenti sejenak.

Matanya menyambar ke bahagian kanan, ke kayu-kayu besar yang tegak mematung sejak ratusan tahun yang lalu. Kemudian ke bahagian kiri. Ke arah segerombolan pinang merah yang rimbun. Beberapa anak buahnya ikut menatap dengan tajam ke arah yang ditatap si komandan.

“Siapa pun orangnya yang menembakkan howitzer itu, yang kini tak kita temukan jejaknya, dia adalah tentara yang luar biasa. Dia pasti salah seorang yang sangat ahli dalam peperangan, ahli mencari dan menghilangkan jejak. Kita tidak tahu di mana dia kini, apakah di depan atau di belakang kita. Dia bisa saja menyerang dengan sangat tiba-tiba. Siapa pun dia, dia adalah lawan yang sangat tangguh. Kita akan bergerak cepat memburu ke tiga orang yang jejaknya bisa dilacak ini. Tapi waspadalah…” ujar si komandan sambil berdiri dari jongkoknya.

Belasan anak buahnya yang mendengar tidak hanya menjadi sangat waspada, namun sekaligus juga dicengkeram ketegangan. Tiba-tiba saja mereka pada menoleh dengan perasaan penuh khawatir ke pohon- pohon besar, ke belukar dan semak-semak di sekitar mereka. Tentara Amerika tangguh yang disebut si komandan itu seolah-olah sudah berada di sana, mengarahkan bedilnya dengan telunjuk di pelatuk, ke arah kepala mereka. Orang itu seolah-olah sudah berada persis di depan atau di belakang mereka.

Si Komandan memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang memang ahli melacak jejak. Kedua orang itu segera melangkah duluan. Mereka bergerak cepat. Hanya sesekali membungkukkan badan, melihat ke arah mana jejak kaki yang mereka ikuti itu berbelok. Setelah mengetahui kemana arahnya, mereka segera bergerak dengan cepat. Si komandan dan belasan anak buahnya tinggal mengikuti kedua pencari jejak itu saja.

Kedua pencari jejak itu direkrut dari satu atau paling banyak tiga suku pengunungan di utara Vietnam. Suku-suku di pegunungan itu merupakan suku yang instingnya luar biasa. Mereka selalu diandalkan bila pasukan berusaha meloloskan diri dari kejaran Amerika. Sebaliknya, mereka juga diandalkan untuk mencari jejak dan pertahanan Amerika yang tersembunyi di belantara selama berkecamuknya perang Vietnam yang belasan tahun itu.

Orang-orang pencari jejak ini amat dilindungi dan diistimewakan pula. Tentara Amerika sangat pula mengintai mereka. Mereka merupakan sasaran utama dalam peperangan. Sebab, sudah tak terhitung nyawa tentara Amerika yang melayang akibat kemahiran para pencari jejak ini. Hampir tak ada tempat persembunyian yang tak mereka temukan!

Kedua pencari jejak itu pula yang punya firasat tak sedap, tatkala mereka mulai melangkahkan kaki saat si komandan jongkok dekat jejak ketiga orang yang mereka buru. Mereka tak tahu apa wujud perasaan tak sedap itu secara pasti. Yang jelas mereka merasa ada bahaya mengancam di setiap langkah yang mereka ayunkan. Jika tadi mereka memburu dengan cepat, kini langkah mereka agak tertahan. Tiap sebentar mereka menatap pohon besar di depan dan di samping mereka dengan penuh curiga. Pasukan Vietnam yang melakukan pengejaran itu bergerak dalam formasi ‘V’ terbalik atau bentuk ujung panah. Si pencari jejak di depan sekali dan si komandan di belakang mereka.

Kemudian pasukan yang lain membentuk sayap dikiri kanan dalam jarak yang satu dengan yang lain antara dua sampai lima depa. Mereka bergerak dari pohon ke pohon, dari palunan belukar yang satu ke palunan berikut di depannya.

Tentara yang berada di posisi paling ujung di bahagian kanan menyelusup dari balik pohon besar ke sebuah palunan semak dengan senjata siap ditembakkan. Begitu dia memasuki palunan semak itu tiba-tiba saja sebuah tangan membekap mulutnya dari samping. Dia terkejut separoh mati, namun itulah kesempatan terakhir baginya untuk merasakan bagaimana terkejut semasa hidup. Sebab setelah itu, tangan orang yang membekap mulutnya, yang tak lain dari Si Bungsu, menyentakkan tangannya yang membekap mulut si tentara itu dengan teknik yang amat khusus, yang hanya mampu dilakukan oleh ahli beladiri yang sangat terlatih. Begitu kepalanya diputar dengan teknik khusus itu, terdengar suara yang berderak dari dalam leher tentara Vietnam tersebut.

Matanya mendelik, dan kini benar-benar mati penuh. Tak ada kesempatan si tentara untuk berteriak memberi tahu teman-temannya. Padahal jarak temannya hanya sekitar lima depa didepannya. Apalagi untuk mempergunakan bedil. Padahal, tangan yang membekapnya tidaklah kukuh besar. Hanya gerakannya demikian terlatih dan demikian cepat. Tubuhnya sudah tak bernyawa tatkala dibaringkan Si Bungsu perlahan di tanah. Pada saat itu, tentara yang lain bergerak maju.

Si Bungsu menunggu beberapa saat, kemudian dengan gerakan cepat dia bergerak pula dari palunan belukar itu ke balik pohon besar sekitar enam depa di depannya. Orang ke dua di ujung sayap kanan itu menoleh ke kiri, ke kawannya yang berada di bahagian paling ujung sayap tersebut. Dia tak melihat ada gerakan di bahagian ujung itu. Sambil melangkah maju ke arah sebuah pohon besar di depannya, dia bersiul kecil ke arah temannya itu. Tak ada jawaban dan tak ada yang bergerak maju.

Dia masih belum curiga saat tubuhnya mencapai pohon besar tersebut. Dia masih menolehkan kepala ke bahagian kiri, berharap melihat teman yang dia siuli tadi. Ketika tak ada gerakan dari arah kanannya, dia berniat memberi tahu temannya yang lain, yang berada di posisi kirinya. Namun matanya melotot, tatkala menolehkan kepala ke kanan. Seorang lelaki tegak di bawah pohon yang sama dengannya.

Jantungnya hampir copot saking kagetnya. Dia sama sekali tak mendengar suara apa pun saat lelaki itu mendekati tempatnya. Ataukah lelaki ini sudah ada di bawah pohon itu saat dia datang? Kalau ya, kenapa dia tak melihatnya? Tapi apa pedulinya dengan bagaimana cara lelaki itu berada di bawah pohon tersebut. Jarak antara dia dengan lelaki itu hanya sejengkal. Mereka berada rapat di bawah pohon besar yang sama. Dia segera teringat pada ucapan komandannya tadi.

“Siapapun orangnya yang menembakkan howitzer itu, yang kini tak kita temukan jejaknya, dia adalah tentara yang luar biasa. Dia pasti salah seorang yang sangat ahli dalam peperangan, ahli mencari dan menghilangkan jejak. Kita tidak tahu di mana dia kini, apakah dia di depan atau di belakang kita. Dia bisa saja menyerang dengan sangat tiba-tiba. Siapa pun dia, dia adalah lawan yang sangat tangguh. Kita akan bergerak cepat memburu ketiga orang yang jejaknya bisa dilacak ini. Tapi waspadalah….”

Tentara itu yakin inilah orang yang dimaksud si komandan. Ternyata orang itu bukan orang Amerika. Paling tidak bukan bule dan bukan pula Negro, sebagaimana lazimnya tentara Amerika yang selama ini mereka hadapi. Mungkin orang Vietnam dari salah satu suku di selatan. Orang ini juga tidak berseragam tentara. Atau barangkali orang ini orang Kamboja, pikir tentara Vietnam itu. Tapi peduli setan dan darimana asal usulnya, yang jelas inilah orang yang tadi dikatakan ‘amat berbahaya’ tersebut.

Si tentara yang belum habis rasa kagetnya itu segera membuka mulut, dia ingin berteriak memberitahu kawan-kawannya. Namun, sebelum mulutnya terbuka, tangan Si Bungsu bergerak. Sebuah pukulan dari kepalan yang digenggam erat, yang ruas jari tengahnya menonjol dari ruas jari-jari yang lain, menghantam leher tentara itu persis di bahagian jakunnya. Terdengar suara berderak lemah, seperti suara kerupuk terinjak. Tulang rawan jakun-jakun lelaki itu remuk kena hantam ruas jari tengah Si Bungsu. Matanya mendelik.

Dari mulutnya perlahan meleleh darah, kemudian dari hidungnya. Kemudian dia mati. Namun kendati si tentara tak sempat berteriak, temannya yang berada di balik pohon sekitar enam depa dari tempat itu, melihat senjata si tentara yang kena pukul tersebut jatuh. Tentara itu semula merasa heran. Dia tak jadi bergerak ke depan, melainkan menatap dengan seksama, dengan bedil siap tembak.

Hanya beberapa detik kemudian, tubuh temannya itu melorot dan terkapar di bawah pohon besar tersebut. Si tentara sadar, ada sesuatu yang amat tak beres. Dia mengangkat bedil, kemudian melangkah perlahan mendekati pohon tersebut. Saat itu Si Bungsu tiba-tiba muncul dari balik pohon besar itu. Tentara itu ternganga. Si Bungsu tak memberi kesempatan, tangannya bergerak.

Sebuah samurai kecil meluncur dengan kecepatan tak terikutkan oleh mata. Melesak masuk ke mulut tentara yang sedang ternganga itu. Menancap di lehernya bagian dalam, tembus ke tengkuk! Tentara itu harusnya bisa memekik, namun karena di dalam mulutnya ada samurai kecil yang menembus lehernya, suara yang keluar hanya seperti suara kerbau disembelih. Saperti suara air mendidih. Lalu tumbang. Namun saat tumbang tangannya masih di pelatuk bedil, tak sengaja pelatuk bedil itu tertarik. Bedil meletus, pelurunya menembus tanah. Dia rubuh. Lalu mati!

Suara tembakan tunggal dari bedil lelaki itu merobek kesunyian belantara. Si komandan yang berada sekitar lima puluh depa di depan, begitu juga belasan tentara lain, pada terkejut dan secara reflek mencari pohon terdekat untuk berlindung kemudian menjatuhkan diri di tanah. “Darimana asal tembakan itu?” ujar si komandan pada kedua pancari jejak di sampingnya. “Dari ujung sayap kanan…” jawab salah seorang pencari jejak yang ditanya.

Si komandan memberi isyarat agar lima anggota pasukannya yang terdekat segera memeriksa ke tempat letusan itu. Kelima mereka segera bergerak cepat dengan merayap ke arah yang ditunjukkan si pencari jejak. Mereka merayap dengan posisi menyebar. Hanya dalam beberapa saat, mereka segera melihat tubuh temannya yang bedilnya meledak itu tertelungkup di tanah. Kedua tangannya terhimpit di bawah tubuhnya, namun masih dalam posisi memegang dan menghimpit bedil yang tadi meletus.

Kelima mereka memeriksa dengan tatapan penuh selidik situasi hutan di sekitar mayat itu terkapar. Setelah yakin tak ada bahaya, komandan regu memerintahkan dua anggotanya untuk memeriksa mayat tersebut. Yang tiga orang tiarap dengan bedil siap tembak dan sikap penuh waspada, berjaga-jaga dari tempat mereka tiarap. Kedua tentara yang merayap itu sampai ke tubuh temannya. Yang seorang segera bangkit berjongkok, kemudian membalikkan tubuh temannya yang mati itu.

Namun saat itu pula ada sosok muncul dari balik kayu besar sekitar empat depa dari mereka. Sosok itu tak lain dari Si Bungsu. Dia muncul mendadak sambil menembak dua tentara di dekat mayat tersebut. Kedua orang itu terkejut namun tak sempat berbuat apapun. Yang jongkok dan akan membalikkan tubuh temannya itu kena hajar kepalanya oleh peluru dari bedil rampasan Si Bungsu. Sementara yang tiarap sekitar dua depa dari mayat itu, kena hajar persis di jidatnya.

Sebab, begitu dia melihat ada sosok yang muncul dari balik pohon, dia mengangkat kepala dan siap menarik pelatuk bedilnya. Bedilnya memang meletus, namun pelurunya melenceng. Sebab jidatnya ditembus peluru! Sesudah itu sepi. Hutan itu dicekam kesepian yang menakutkan. Namun hanya sesaat. Setelah itu beberapa tentara menghambur serentak ke arah pohon besar dimana Si Bungsu berlindung. Mereka maju sambil berteriak seperti orang histeris, sembari bedilnya memuntahkan peluru.

Dalam jarak sekitar lima sampai sepuluh depa, semua mereka berhenti mendadak. Ada yang berlindung di balik pohon, ada yang tiarap di tanah, ada yang jongkok dengan bedil diangkat setinggi dagu, siap ditembakkan. Pohon di mana tadi Si Bungsu muncul terkelupas diterkam peluru di berbagai tempat setinggi lelaki dewasa. Si komandan juga sudah berada di antara anak buahnya. Dia memberi isyarat. Lima orang segera menyiram sisi kiri dan kanan pohon besar itu dengan tembakan gencar.

Semut pun tak bisa selamat jika dia berada di sisi kiri atau kanan pohon itu sampai jarak satu atau dua meter. Demikian rapat tembakan tersebut. Bersamaan dengan payung tembakan itu, empat orang diperintahkan si komandan untuk membuat lingkaran, dari kiri dan kanan, mendekati pohon besar tersebut. Namun tak seorang pun di sana. Tembakan dihentikan secara mendadak. Mereka saling menatap. Si komandan masih jongkok di balik pohon perdu rindang setinggi setengah meter.

Dia menatap anak buahnya yang berada dalam jarak tiga atau empat meter di sekitarnya. Dari anak buahnya dia menatap ke pohon-pohon besar disekitarnya. Ke dahan-dahan dan dedaunan yang rimbun di atas mereka. Tak ada sesuatu yang bergerak. Bahkan angin pun seperti berhenti bertiup. Si Komandan memberi isyarat dengan gerak tangan, agar anak buahnya bergerak ke berbagai arah dalam jarak sekitar dua puluh lima meter untuk mencari orang yang mereka buru. “Orang itu masih berada di sekitar ini…” ujarnya melalui isyarat tangan.

Anak buahnya segera maju dengan menunduk-nunduk, menatap dengan seksama setiap pohon dan setiap semak-semak. Si komandan bersama dua pencari jejak yang juga penembak mahir, tetap berada di tempatnya. Siaga dengan bedil, siap memuntahkan peluru. Antara dia dengan kedua penembak mahir di sebelah kanannya, hanya dibatas jarak tiga meter. Kedua orang itu berada di balik dua pohon besar yang tumbuh sangat rapat. Seorang tentara yang berada di bahagian kiri, sekitar sepuluh meter di depan si komandan, tiba-tiba terkejut karena ada yang bergerak di balik semak dua depa di depannya. Dia, dan dua temannya di kiri kanannya, segera menghamburkan peluru ke arah semak tersebut. Sepi!

Mereka kembali menghujani semak itu dengan peluru sambil berlari mendekat. Saat sampai di semak itu mereka tertegak diam. Di balik semak itu, tergeletak sosok bersimbah darah, tanpa nyawa. Anak rusa! Tubuh anak rusa itu seolah-olah tak ada yang tidak ditembus peluru. Salah seorang di antara mereka surut, dan menoleh ke arah si komandan. Lalu memberi isyarat dengan tangan, bahwa yang berada di balik semak itu hanya seekor anak rusa. Namun tangan si tentara belum turun setelah memberi isyarat, tubuhnya tiba-tiba mengejang, matanya mendelik. Teman-temannya menatap dengan kaget, juga si komandan.

Lalu, tubuh tentara itu rubuh tertelungkup. Padahal tak ada suara tembakan satu pun! Dua tentara lagi, yang berada di dekat tentara yang rubuh itu, segera menjatuhkan diri, tiarap. Yang seorang, yang berada di kanan mayat yang terhantar itu, menatap dengan heran bercampur takut ke arah temannya yang tiba-tiba saja rubuh tanpa sebab tersebut. Matanya membesar, tatkala melihat ada benda kecil menancap di leher temannya yang rubuh itu.

Dia merayap dengan cepat mendekati mayat tersebut. Menatap dengan nanap benda kecil yang menancap itu. Lalu mencabutnya. Benda itu ternyata sebuah samurai dalam ukuran tak lebih dari sepanjang jari, namun runcing dan kedua sisinya tajam bukan main. Panjang samurai kecil itu sekitar sejengkal. Gagangnya terbuat dari sejenis gading. Samurai itu menancap sampai sebatas gagangnya. Dengan masih dalam posisi tiarap, dia mengangkat bahagian dadanya dari tanah untuk menoleh ke arah si komandan.

Komandan tentara Vietnam yang berada dalam jarak sekitar lima belas depa dari tentara yang memegang samurai kecil itu, dapat melihat si tentara di antara sela-sela pohon besar antara dia dengan si prajurit. Si prajurit mengangkat samurai kecil itu, memperlihatkannya pada si komandan. Si komandan mengerenyitkan keningnya. Dari kejauhan dia menatap senjata kecil itu nanap-nanap. Si komandan segera mengetahui benda yang membunuh anak buahnya itu ternyata sebuah miniatur samurai.

Sebagai seorang yang juga lahir dari puak Cina, si komandan tahu bahwa senjata itu merupakan senjata rahasia kelompok penjahat atau pesilat Cina atau Jepang. Dia mengenal hal itu tidak hanya dari cerita-cerita. Tapi pernah melihat demonstrasi kemahiran mempergunakan senjata sejenis itu, yang oleh orang Cina disebut sebagai ‘piaw’ atau senjata rahasia. Piaw biasanya berbentuk pisau kecil, bukan miniatur samurai sebagaimana tadi diperlihatkan padanya.

Dia mulai merasa curiga terhadap orang yang sejak tadi mereka buru, dan kini balik ‘memburu’ mereka. Hampir bisa diyakini, orang yang mempergunakan senjata dalam bentuk samurai kecil itu bukanlah orang Amerika. Juga bukan orang Eropah manapun. Dia mulai menduga-duga. Orang itu pasti dibayar oleh Amerika untuk mencari dan membebaskan sandera. Jika Amerika menyerahkan tugas seperti itu kepadanya, maka orang itu tentulah bukan sembarangan orang. Tapi, siapa dia?

Dia mencoba mencari kemungkinan di antara orang-orang Jepang, Cina dan Vietnam, atau orang Kamboja. Sebab, sepanjang yang dia ketahui, hanya orang-orang dari puak itulah yang memiliki kepandaian menerobos belantara dan sekaligus mahir mempergunakan senjata rahasia. Di Jepang mereka mengenal kelompok Jakuza. Kelompok penjahat yang amat ditakuti. Juga mereka mengenal kelompok Ninja. Kedua kelompok inilah yang biasanya amat mahir mempergunakan senjata rahasia.

Ninja! Apakah benar orang yang mereka buru ini adalah anggota Ninja? Benar atau tidak, yang jelas kini mereka sudah saling memburu, tanpa ada kepastian siapa memburu siapa. Si komandan menatap keliling. Kemudian bersiul kecil memberi isyarat kepada anak buahnya agar siap-siap untuk melakukan gerakan mendadak. Tugas mereka semula, yaitu memburu tawanan yang melarikan diri, ternyata tersendat di sini. Mereka harus melayani satu atau mungkin paling banyak tiga orang.

Kini orang itu tengah mengendap entah di pohon yang mana, entah di semak mana. Tapi yang pasti, orang itu masih berada di sekitar mereka. Orang itu pasti belum pergi dari sekitar sini. Nalurinya sebagai prajurit yang sudah kenyang berperang dalam rimba membisikkan hal itu. Kini harus dia akui, orang yang mereka buru itu posisinya jauh lebih beruntung dari mereka. Orang itu tahu di mana posisi mereka, sedangkan dia dan pasukannya tak tahu di mana orang itu menyurukkan tubuhnya.

Si komandan berfikir, sudah sampai di mana tawanan, yang di antaranya ada para wanita itu, kini berada. Dia yakin, para pelarian itu pasti belum jauh benar. Untuk keluar dari belantara ini diperlukan pesawat udara. Dan pesawat udara yang bisa menjemput pelarian hanyalah helikopter. Sebab, di hutan perawan yang luas ini tak ada lapangan dimana pesawat terbang bisa mendarat. Helikopter yang menjemput tawanan tak perlu mendarat.

Pilotnya cukup menahan pesawatnya di atas pucuk belantara. Kemudian menurunkan tangga dari tali. Orang bisa naik melalui tangga itu. Itulah satu-satunya cara untuk melarikan diri. Tetapi, dia tak khawatir para pelarian itu akan dijemput helikopter. Helikopter mana pula yang berani melintasi wilayah Vietnam ini, yang setiap saat udaranya dijaga oleh pesawat tempur? Dengan fikiran demikian, dia lalu memutuskan untuk segera menyergap orang yang telah membunuh beberapa anggota pasukannya itu.

Cuma, putusan untuk menyergap orang yang sudah menyebar maut di tengah pasukannya itu dihadang oleh sebuah pertanyaan. Berapa sebenarnya jumlah orang yang kini mereka buru, atau yang tengah “memburu” mereka? Namun pertanyaan itupun tak memerlukan jawaban. Yang pasti orang itu merupakan ancaman yang serius. Kini, dia harus membuat jebakan, agar orang itu bisa dihabisi. Untuk menghabisi orang tersebut, dia mengandalkan pencari jejak yang berada di dekatnya.

“Sersan, engkau bersamaku dan sebahagian pasukan akan pura-pura melanjutkan pemburuan terhadap tawanan yang lari. Sementara Lok Ma dan dua tentara yang lain tetap di sini,menjaga bahagian belakang kami, sekaligus memasang jebakan terhadap orang yang kini sedang mengintai kita…” bisik si komandan kepada dua pencari jejak di sampingnya. Sersan bernama Lok Ma itu segera merayap ke bahagian kanan, ke arah seorang kopral yang berlindung di balik sebuah pohon besar.

Dia membisikkan rencana yang dipaparkan si komandan. Kemudian dia memberi isyarat pada seorang prajurit yang berada sekitar sepuluh depa dari tempatnya. Si Prajurit mengangguk, memahami isyarat yang disampaikan padanya. Si Sersan lalu memberi isyarat kepada komandannya. Setelah itu dia merayap ke suatu tempat yang dijadikan sebagai tempat pengintaian.

Si Kapten lalu memberi isyarat kepada seluruh anak buahnya. Mereka kemudian bergerak meninggalkan lokasi tersebut, kecuali Sersan Lok Ma dan dua tentara lainnya, yang ditugaskan tinggal untuk menjebak orang yang sudah membunuh beberapa dari mereka, yang sampai saat ini tak mereka ketahui bentuk dan kesatuannya itu. Belasan tentara Vietnam itu bergerak cepat dari balik pohon yang satu ke balik pohon yang lain. Mereka menuju danau besar yang memang menjadi tujuan tentara Amerika tersebut. Baik yang dahuluan bersama Duc Thio, termasuk para wanita, maupun yang kemudian bersama MacMahon dan terakhir diikuti Duval, Thi Binh dan Roxy. Sersan Lok Ma menatap dengan perasaan heran kepada prajurit yang tadi memperlihatkan kepada si komandan samurai kecil yang dia cabut dari leher teman mereka yang mati itu. Tentara itu masih tetap tiarap, tak bergerak sedikit pun. Yang membuat dia heran, wajah si tentara membenam ke dedaunan kering di bawah tubuhnya.

Lok Ma segera menyimpulkan bahwa tentara itu sudah mati. Dia segera teringat, sesaat setelah memperlihatkan samurai kecil itu kepada si komandan, prajurit itu segera tiarap. Namun gerakannya tidak seperti biasa. Tubuhnya jatuh ke tanah seperti tanpa tenaga sedikit pun. Lok Ma merasa tak perlu datang memeriksa. Dia yakin tentara itu juga mati dihantam senjata rahasia. Senjata rahasia itu bisa saja berbentuk samurai kecil seperti yang dia perlihatkan kepada si komandan, bisa saja dalam bentuk yang lain.

Lok Ma juga tahu, orang yang ahli mempergunakan senjata tajam bisa saja memiliki lebih dari satu bentuk senjata rahasia. Dugaan Lok Ma bahwa tentara yang ‘tiarap’ itu sudah mati memang benar. Si Bungsu yang berada sekitar sepuluh depa dari tempat si tentara yang sedang memperlihatkan samurai kecilnya itu, segera memanfaatkan peluang tersebut. Dia menunggu si tentara selesai memperlihatkan samurai itu. Saat tentara itu menggerakkan badan akan menurunkan bahagian atas tubuhnya untuk tiarap, tangan kanannya bergerak.

Sebuah besi baja pipih dengan beberapa bahagiannya yang amat runcing, meluncur dengan kecepatan penuh dan menancap di urat besar pada bahagian kanan leher tentara tersebut. Urat besar itu, berikut beberapa urat saraf ke kepala, langsung putus ketika lempengan besi pipih sebesar jari itu menancap hampir separohnya, tiga jari di bawah telinga tentara tersebut. Wajahnya langsung membenam ke tumpukan daun kering di tanah.

Dia memang tak sempat menggelepar, karena saraf-saraf yang menghubungkan pusat gerak di otak ke berbagai bahagian tubuh sudah terputus. Itu pula sebabnya si komandan dan teman-temannya tak tahu, bahwa nyawanya sudah melayang, beberapa detik sebelum tubuhnya yang akan tiarap itu sempurna mencapai tanah. Si Bungsu ternyata masih berada di tempat darimana dia tadi melemparkan besi pipih kecil dan tajam, yang merenggut nyawa tentara Vietnam itu.

Dari tempatnya berada dia bisa mengawasi sebahagian lokasi di sekitarnya. Dia memang tak dapat melihat di mana komandan tentara Vietnam itu berada. Namun dia dapat melihat ketika hampir semua pasukan itu bergerak meninggalkan tempat masing-masing. Semua menuju ke arah yang sama. Dan Si Bungsu tahu, mereka sedang menuju ke arah danau besar di balik bukit-bukit sana. Memburu para pelarian tentara Amerika itu. Si Bungsu juga tahu, tidak semua tentara Vietnam itu meninggalkan lokasi ini. Beberapa di antara mereka tetap tinggal.

Mereka yang tinggal bertugas memasang jebakan untuknya. Hanya dia tak tahu dengan pasti, berapa orang tentara yang ditinggal untuk menjebaknya itu. Lebih celaka lagi, dia juga tidak tahu di mana saja orang- orang yang ditinggalkan itu menunggunya. Si Bungsu tahu, di antara tentara Vietnam itu ada pencari jejak yang mahir. Dia sudah mendapat cerita dari beberapa pensiunan tentara Amerika, ketika dia masih di Dallas maupun saat bepergian bersama Alfonso Rogers dan Yoshua ke Los Angeles dan New York, tentang beberapa warga suku pegunungan di bahagian utara Vietnam, yang menjadi pencari jejak yang tangguh di dalam hutan belantara.

Dia tak boleh gegabah. Untuk sementara, menjelang dia mengetahui berapa orang yang tinggal dan di mana posisi bertahan, dia harus memaksa mereka yang duluan membuat gerakan. Dengan fikiran demikian, perlahan dia merobah posisi. Jika tadi dia berjongkok, kini perlahan dia duduk di tanah. Lalu menengadah dan menarik nafas panjang. Menatap ke daun pohon-pohon raksasa yang membatasi pandangannya ke langit di atas sana. Beberapa ekor burung serindit berwarna indah, kuning tentang dada dan hijau di bahagian tubuh yang lain, kelihatan terbang dan hinggap dari dahan ke dahan.

Menatap burung-burung itu hinggap dari dahan ke dahan, Si Bungsu tiba-tiba terperangah. Dia tertunduk tatkala perasaan galau menjalar perlahan ke hulu jantungnya. Jika burung saja memiliki dahan untuk hinggap, bagaimana dengan dirinya? Diibaratkan dirinya adalah seekor burung, ke dahan mana dia akan hinggap? Bertahun-tahun sudah meninggalkan kampung halamannya, Situjuh Ladang Laweh, di kaki Gunung Sago di Luhak 50 sana. Di sana darahnya tertumpah ketika dilahirkan ke dunia. Di sana ayah bunda dan kakaknya berkubur, mati dibunuh dan dianiaya balatentara Jepang di bawah komando Saburo Matsuyama.

Jika burung saja memiliki dahan untuk hinggap, kampung dan negeri mana yang bisa dia jadikan sebagai ‘dahan’ untuk hinggap? Situjuh Ladang Laweh, adakah anak negeri itu masih ingat padanya, dagang yang larat di rantau ini? Di kampung nya, pengakuan terhadap seseorang diukur dari harta dan pusaka yang dimiliki. Di Minangkabau ada bidal : Hilang rono dek cahayo, hilang bangso dek harato. Dia faham benar makna bidal itu, yang berlaku secara umum di tanah Minangkabau. Sejak dahulu, sampai kini.

Seseorang tak lagi di pandang karena ilmu dan budinya, tapi di hitung ada jika dia memiliki harta, lagi pula, kini di minangkabau tempat orang berunding dan meminta kata putus tidak lagi ninik mamak. Bahkan gelar datuk, sutan, bagindo, sidi dan gelar lainnya, tak lagi memerlukan keabsahan ranji dan garis keturunan. Uang bisa menciptakan ranji dan garis keturunan, sesuai dengan keinginan pembeli. Dengan uang bisa di suruh membuat ranji baru. Maka dengan ranji tersebut dia bisa mendapat gelar datuk, rajo, sidi, sutan atau bagindo. Hutan, tanah ulayat, dan tanah kaum bukan lagi hanya di bawah kendali ninik mamak kepala kaum.

Dengan uang kendali atas hutan dapat berpindah pada cina misalnya, pindahnya itu bisa karena ninik mamak telah mendapat uang, bisa pula karena yang mendapatkan uang dari orang-orang di pemerintahan, yang putusannya harus di patuhi oleh ninik mamak di desa-desa.

Ranji dan marwah adat begitu kusut masai. Tak tahu apakah penyebabnya terlalu jauh memasuki wilayah kekuasaan adat atau ninik mamak begitu mudah tergiur uang yang di tawarkan, atau gabungan keduanya .Yang jelas, yang bernasib malang adalah anak kemanakan. Sebagian besar di antara mereka tak tahu siapa sebenarnya yang menjadi nahkoda di biduk adat mereka, dan ke pulau mana biduknya itu dilayarkan.

Karena takut atau kerana uang mereka terpaksa patuh pada penghulu adat mereka, kendati penghulu adat itu menjual ulayat mereka. Padahal terhadap ulayat ada hukum adat yang tertera dalam bidal : “Gadai tak makan pagang-Jua tak makan bali”. Maknanya adalah, ulayat tak boleh di perjual belikan. Kecuali untuk yang tertera juga di bidal ”mayik tabujua di tangah rumah, gadih gadang alun balaki“. Meski tak semua adat di kampungnya kusut masai oleh perangai ninik mamak, namun sebagian besar itulah yang terjadi.

Pikiran Si Bungsu akhirnya menerawang kepada tentara Vietnam yang kini tengah memasang jebakan untuknya. Dia tahu, tentara itu juga menanti dengan diam. Sama dengan dirinya, mereka juga nyaris tak bergerak. Si Bungsu tahu, lawan yang kini mengintai dirinya adalah orang-orang yang masih mampu bertahan dan lolos dari maut yang ribuan kali mengintai lewat ribuan kali pertempuran, besar maupun kecil, melawan tentara Amerika.

Hanya saja, mereka yang memenangkan peperangan dan menguasai Vietnam sekarang adalah tentara yang amat kejam dan sadis. Dia sebenarnya akan menaruh hormat, kalau saja Vietkong adalah tentara yang melindungi rakyat, tapi justru perbuatan tentara Vietkong tidak bisa di terima akal sehat.

Mereka mengumpulkan wanita-wanita cantik dari kota maupun desa-desa, kemudian di giring ke kamp- kamp untuk di jadikan pemuas nafsu tentara-tentaranya. Sebagaimana di negeri komunis lainnya di Vietnam selatan pun di berlakukan undang-undang yang sama dengan utara. Ribuan orang yang diduga terlibat membantu Amerika di tangkap dan di bunuh atau lenyap tanpa kabar berita.

Siapapun tahu kalau mereka di bunuh di hutan-hutan atau ladang-ladang yang jauh terpencil, lalu di kubur secara masal. Kendati perang sudah berakhir, namun tentara Vietnam yang seluruhnya adalah tentara utara, masih tetap melakukan pembersihan di kalangan rakyat. Semua mereka dilucuti dan di sebar keratusan penjara dengan pengawalan ketat.

Pada minggu-minggu pertama kejatuhan selatan, data intelijen Amerika mencatat, belasan ribu dari sekitar sejuta tentara selatan tak sampai ke penjara. Mereka dibunuh sepanjang jalan, kemudian sebagian lagi mati setelah disiksa di kamp-kamp tawanan. Dimana pun didunia ini, tentara yang menang akan membalas dendam kepada tentara yang kalah, kendati tak satupun hukum didunia yang membenarkannya. Namun, balas dendam yang dilakukan tentara utara terhadap tentara selatan luar biasa kejamnya. Sulit membedakannya dengan yang dilakukan rezim Pol Pot di Kamboja.

Pikiran Si Bungsu terus menerawang sembari matanya menatap ke beberapa burung yang hinggap di dahan-dahan kayu di atasnya. Terawang pikirannya terhenti ketika melihat seekor burung terbang dari dahan yang agak rendah ke pohon yang lain yang lebih jauh. Bagi orang lain mungkin tak ada yang aneh atas terbangnya burung itu. Namun bagi Si Bungsu yang sudah hafal pada tingkah laku belantara dan segenap yang menghuninya, langsung arif bahwa ada sesuatu yang tak wajar pada cara burung itu terbang dari tempatnya.

Dia tahu, ada sesuatu yang membuat burung itu terbang lebih cepat dari semestinya. Sesuatu adalah yang tak lazim di belantara. Dia berbaring diam. Inderanya yang amat tajam mengetahui ada yang bergerak di bahagian kanannya. Jaraknya paling jauh hanya sekitar sepuluh depa. Gerakan itulah yang menyebabkan burung tadi terkejut dan terbang lebih cepat dari semestinya. Si Bungsu tahu, salah seorang dari tentara yang memasang jebakan untuknya yang sampai kini belum dia ketahui berapa jumlahnya, kini semakin mendekati tempatnya.

Dia memejamkan mata. Meletakkan lengan kanan menutup matanya tersebut. Lewat pendengaran yang amat tajam, Si Bungsu tahu orang yang ingin menyergapnya itu kini masih berada dalam jarak sekitar sepuluh depa dari dia. Dia mendengar suara di geser di tanah. Lalu suara bedil diangkat. Lalu suara tangan begeser di besi menuju pelatuk bedil. Bahkan dia bisa mendengar saat orang itu menarik dan menghembuskan nafasnya. Dari cara orang itu menggerakkan kaki dan menarik nafas, Si Bungsu tahu, orang tersebut sedikit gugup.

Tiba-tiba saja, entah mengapa. Dia kehilangan nafsu untuk membunuh. Dia menjadi bimbang, untuk apa dia membunuh tentara Vietnam selama beberapa hari ini? Perang ini bukan perang negerinya dengan Vietnam. Dia tak ada sangkut pautnya dengan perang ini. Lalu dia mendengar suara telunjuk menarik pelatuk bedil. Dia bergulingan ke kiri, tangan kanannya bergerak. Sebuah letusan menggema. Pelurunya menghujam persis ke tempat dimana tadi tubuhnya berada. Kalau dia masih berbaring menelentang di sana, peluru itu akan menghujam persis di dadanya.

Namun dia sudah berguling ke kanan. Peluru menghujam tanah. Pada saat bergulingan itu tangan kanannya yang tadi disilangkan menutup mata, bergerak. Samurai kecilnya meluncur. Beruntung tentara Vietnam tersebut, karena Si Bungsu memutuskan tidak lagi membunuh seorangpun tentara negeri ini. Samurai yang meluncur itu hulunya lebih dahulu. Sebelum si tentara sempat menarik pelatuk bedil untuk kali kedua, hulu samurai kecil tersebut menghantam bahagian tengah dadanya, persis di hulu. Karena yang melempar adalah seorang yang amat mahir. Hentakkan hulu samurai kecil tersebut membuat tentara berhenti bernafas sesaat, tubuhnya langsung limbung, dan ambruk ke tanah. Pingsan!

Si Bungsu tak bangkit sedikitpun. Dari posisinya yang menelungkup, dia menoleh ke arah datangnya suara tembakan. Beberapa pohon langsung menghalangi pandangannya kearah orang yang menembaknya. Namun pada bahagian kanan dari pohon yang menghalangi, dia lihat sebuah bedil tergeletak. Pada bahagian kanan dari pohon yang menghalangi, dia lihat sebuah kaki tertekuk. Popor bedil itu menghadap kekaki yang tertekuk tak bergerak itu. Dia tahu kalau lemparan dia telah membuat orang itu jatuh pingsan. Setelah itu sepi!.

Sersan Lok Ma menanti dengan diam di tempat perlindungannya, di balik sebuah pohon besar. Beberapa saat sebelumnya kopral yang berada sekitar lima belas depa dari tempatnya, bergerak, kemudian memberi isyarat, bahwa dia telah melihat tempat persembunyian orang yang mereka buru. Lok Ma memberi isyarat agar si kopral jangan terlalu mendekati tempat orang tersebut. Namun ada dua hal yang mendorong si kopral untuk meringsek ke dekat tempat persembunyian Si Bungsu. Pertama, rasa ingin menjadi hero. Kedua keinginan agar tembakannya tidak meleset. Dari tempat dia berada saat memberi isyarat kepada Sersan Lok Ma, dia hanya melihat bahagian kaki orang yang mereka buru.

Dengan kedua alasan yang saling atas mengatasi itu, si kopral menggeser tegak inci demi inci. Kemudian berlarian dengan cepat ke pohon kembar sekitar tiga depa di depannya, dengan jarak sepuluh depa dari tempat Si Bungsu. Saat itulah seekor burung serindit yang berada di salah satu dahan di pohon kembar itu terkejut. Lalu terbang menjauh. Dan terbangnya burung itulah yang menjadi isyarat bagi Si Bungsu, bahwa di bawah pohon dari mana burung itu terbang ada sesuatu yang tak biasa. Di bawah pohon itu pasti ada sesuatu yang menyebabkan burung itu terkejut dan terbang menjauh. Dugaan Si Bungsu ternyata benar.

Kemudian, dari tempatnya tegak si kopral menembak. Hanya sebuah tembakan tunggal. Dan setelah itu Sersan Lok Ma maupun kopral yang seorang lagi, tak mendengar apapun dari mana arah tempat si kopral melepaskan tembakan. Tak mendengar apapun dan tak melihat apapun! Mereka sama-sama menanti dalam diam. Ada beberapa saat dipergunakan Si Bungsu untuk menunggu reaksi dari kelompok yang menyerangnya. Karena tak ada reaksi apapun, dia lalu bergerak.

Dia merayap hampir tanpa suara kearah tentara yang pingsan dihantam hulu samurai kecil yang dia lemparkan tadi. Pertama yang dia lakukan setelah sampai ke dekat tubuh prajurit yang terkapar pingsan itu adalah mengambil samurai kecilnya, yang tergeletak dekat topi wajah si prajurit. Dia sisipkan kembali ke sabuk karet tipis di balik lengan bajunya. Setelah itu, masih dalam posisi tiarap dia mengelupas kulit kayu besar yang tadi dijadikan si prajurit sebagai tempat berlindung. Serat kulit kayu itu kenyal dan dan alot sekali. Kedua tangan tentara yang masih tak sadar diri itu dia ikat ke belakang dengan kulit kayu yang tak mungkin diungkai. Usai mengikat si tentara, dengan membawa bedil prajurit pingsan yang magazinnya masih penuh dengan peluru, dia bergerak menjauhi tempat tersebut. Dia sengaja mengambil jalan melambung, menuju ke arah danau menyusul Kolonel MacMahon dan teman-temannya yang lain. Seperti sudah dia duga, langkahnya pasti ada yang menyusul. Dan yang menyusul adalah Sersan Lok Ma dan seorang kopral lainnya. Ke dua orang itu tak lagi melihat temannya yang tadi melepaskan temabakan ke arah orang yang dia buru. Mereka sudah merasa yakin, bahwa orang yang mereka buru ini telah menghabisi teman mereka. Sebab teman mereka itu tak bersua atau tak memberi isyarat apapun usai menembak tadi.

Lok Ma baru menyadari orang yang mereka buru sudah pergi, setelah melihat beberapa burung di pohon-pohon yang agak jauh pada berterbangan dari dahan yang ada di bawah, pindah ke dahan yang di atas. Dia lalu memberi isyarat pada kopral yang berada sekitar sepuluh depa di kirinya. Mereka berdua kemudian bergerak menyusul Si Bungsu. Benar saja, sekitar beberapa menit melacak dalam belantara itu, Lok Ma menemukan jejak orang yang mereka uber. Jejak itu hanya terlihat amat samar di tumpukan dedaunan kering yang menutupi tanah.

Ada beberapa helai daun pada beberapa tempat dalam jarak yang hampir sama, yang bergeser letaknya. Sebagai pencari jejak yang sangat andal, Lok Ma tahu beberapa helai dedaunan kering itu bergeser karena tekanan kaki manusia.