Tikam Samurai Si Bungsu Episode 6.2

Habiskan isi periuk? Itu menghina namanya. ”Tambahlah” saja sudah cukup menghina baginya, yang tadi menolak makan dengan alasan kenyang. Kini disuruh pula menghabiskan isi periuk itu. Si Bungsu tersinggung luar biasa. Tapi nikmatnya rasa bubur itu yang sedapnya juga luar biasa, membuat dia terpaksa menyimpn rasa tersinggungnya dalam kocek baju.

Dia tarik periuk itu ke dekatnya. Lalu dia salin isinya. Hampir melimpah mangkuk di depannya. Kemudian dia makan dengan lahap. Weleh..weleh..weleh! Si Bungsu akhirnya tersandar ke dinding. Yang tersisa hanya rasa lemah karena hampir seminggu tak makan apapun.

Ayahnya memperkenalkan Si Bungsu pada gadis itu. Gadis itu mula-mula merasa malu dan rendah diri akibat penyakitnya. Namun setelah ayahnya mengatakan, bahwa anak muda inilah yang memberinya obat sehingga cepat pulih, gadis itu menganggukkan kepala kepada Si Bungsu, memberi hormat.

Si Bungsu mendekat. Kemudian memegang kening gadis itu. Gadis itu tak mampu menahan tangisnya. Airmatanya mengalir di pipinya. “Engkau akan segera pulih, dik. Percayalah…” ujar Si Bungsu sambil mengusap kepala gadis itu. Gadis itu justru menangis terisak. “Tenanglah, Tuhan akan membalas orang-orang yang menjahanami ibumu, yang juga menjahanami dirimu, anakku. Yakinlah, Tuhan akan membalas mereka lebih pedih dari apa yang diterima ibumu, dan juga dirimu….” ujar Duc Thio perlahan dengan suara bergetar.

Maksud mereka akan menanyai gadis itu, tentang jalan mana yang harus di tempuh menuju tempat dia di sekap tentara Vietkong itu terpaksa diurungkan sementara. Di Ruang depan, Han Doi akhirnya menceritakan semua peristiwa yang menimpa keluarga pamannya. Dahulu pamannya adalah seorang pegawai perusahaan ekspor di kota pelabuhan Donghoi, di utara kota Da Nang. Namun ketika kota itu di rebut Vietkong. Mereka kemudian mengungsi jauh keselatan, ke kota Saigon.

Namun hanya dua bulan di kota itu, istri pamannya meninggal akibat infeksi yang di deritanya saat di perkosa. Dua abang Thin Binh, yang harus berhenti kuliah karena perang, terbunuh tatkala Saigon di hujani bom oleh artileri Vietkong. Pamannya memutuskan untuk menyingkir dulu ke desa yang amat jauh ini, sampai perang berakhir. Maksudnya menyingkir kemari adalah untuk menyelamatkan Thi Binh, yang wajahnya jelita dan tubuhnya sedang mekar. Anaknya kini pasti takkan selamat di Saigon, bila kota itu jatuh ketangan Vietkong. Jika keadaan sudah membaik, mereka akan kembali ke kota. Itu maksud pamannya. Namun baru sekitar delapan bulan menyingkir ke kampungnya yang jauh terpencil ini, tentara Vietkong justru memilih tempat ini sebagai kamp tahanan rahasia mereka untuk menyembunyikan tawanan perang Amerika. Dan anak gadisnya ternyata benar-benar tidak bisa di selamatkan. Menjelang tengah malam, ketika Thi Binh kembali minta makan, mereka menunggu gadis itu selesai. Setelah itu, ayahnya menceritakan bahwa Si Bungsu berniat menyelamatkan seorang gadis seorang juru rawat Amerika, yang di tawan di kamp di bukit-bukit batu sana.

“Apakah Thi-thi pernah melihat ada seorang wanita Amerika di sana…?” tanya ayahnya. Thi Binh yang sedang menatap Si Bungsu menggeleng. “Saya tak pernah melihatnya. Kamp tempat mereka mengurung kami jauh dari kamp para tentara itu. Tapi saya pernah mendengar tentara-tentara itu membicarakan seorang gadis Amerika yang sering ditiduri komandan mereka. Saya tak tahu, apakah dia juru rawat itu…” ujar Thi Binh perlahan dalam bahasa inggris yang fasih.

“Engkau pernah mendengar mereka menyebut nama wanita itu?” tanya Si Bungsu “Tuan datang dari Indonesia?” tiba-tiba gadis itu bertanya. Tidak hanya Si Bungsu, ayahnya dan Han Doi juga kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba tetapi amat tepat itu. Tapi dari mana gadis itu tahu nama ’Indonesia’? “Ya,kenapa?” jawab Si Bungsu perlahan. “Tuan.. Apakah Ninja?” kembali gadis itu mengajukan pertanyaan yang mengagetkan. “Tidak. Di Indonesia tidak ada Ninja…” Gadis itu menarik nafas. Wajahnya nampak kecewa. “Kalau begitu, bukan Tuan orangnya…” ujar gadis itu perlahan. Semua mereka saling bertukar pandang. Ucapan gadis itu menyebar teka-teki bagi mereka.

“Apa maksud mu, nak…?” tanya Duc Thio pada puterinya. Thi Binh kembali menatap nanap pada Si Bungsu. Kemudian pada ayahnya, lalu pada sepupunya Han Doi. Kemudian sambil menunduk dia berkata. “Di tempat penyekapan, malam-malam hari saat tidur setelah remuk diperkosa bergantian, saya beberapa kali didatangi mimpi. Mimpi yang sangat memberi harapan…”gadis itu berhenti sesaat. Kepalanya masih menunduk. “Apa isi mimpimu…?” tanya Han Doi. “Seorang Ninja datang menyelamatkan saya. Dia mengaku dari Indonesia…” gadis itu berhenti lagi. “Dia sebutkan namanya padamu dalam mimi itu, Nak?” tanya ayahnya. Gadis itu menggeleng lemah.

“Tapi wajahnya mirip Tuan ini. Tapi Tuan ini bukan ninja, jadi bukan dia yang datang dalam mimpi saya itu….” ujarnya lemah, dan kembali menunduk. “Dia sebutkan bahwa dirinya adalah Ninja?” tanya Han Doi. Gadis itu menggeleng. “Lalu, dari mana kamu tahu dia seorang Ninja?” “Dia membunuhi tentara Vietkong itu dengan senjata rahasia seperti yang lazim dipakai Ninja. Ada besi tipis, runcing-runcing, ada samurai kecil yang dia selipkan di balik lengan bajunya, dia…”

Suaranya terputus. Diputus oleh gerakan Han Doi yang tiba-tiba. Demikian tiba-tiba dan cepat, sehingga Si Bungsu sendiri tak sempat mencegah. Han Doi meraih tangan kanan Si Bungsu. Lalu dengan sebuah gerakan, lengan baju pemuda itu dia singkapkan. Mata Thi Binh terbelalak. Di lengan pemuda itu ada sebuah karet tipis. Pada ban karet itu tersisip beberapa samurai kecil dan beberapa lempengan besi tipis persegi enam, yang seginya merupakan sudut yang tajam.

“Senjata seperti ini yang dipakai orang didalam mimpimu itu, Thi Binh?” tanya Han Doi. Gadis itu terkesima. Begitu juga ayahnya. Wajahnya bergantian menatap antara senjata-senjata itu dengan wajah Si Bungsu. “Sejak tadi saya yakin. Tuanlah yang datang ke dalam mimpi saya itu. Kenapa lama benar Tuan datang untuk menyelamatkan saya?” ujar gadis itu lirih, dengan mata berkaca-kaca.

Si Bungsu tak menjawab. Ada rasa aneh, sekaligus rasa tersedak, yang membuat dia tak mampu bicara. Bagaimana kedatangannya kedesa itu bisa merasuk kemimpi gadis tersebut? “Tuhan yang mengirimmu kedalam mimpi saya Tuan. Tuhan yang mengirimmu! Dalam derita sepanjang hari di kamp sana saat saya di perkosa bergantian dengan biadab oleh belasan lelaki setiap hari. Saya berdoa agar Tuhan mengirimkan seseorang untuk membunuhi para jahanam itu, dan menyelamatkan diri saya. Dan Tuhan memberikan harapan pada saya dengan berkali-kali mengirmkan Tuan kedalam mimpi saya…” Tak seorangpun yang bicara setelah itu. Sepi, kecuali isak perlahan Thi Binh.

“Maaf jika saya datang terlambat. Namun barangkali bukan saya yang datang kedalam mimpimu, Dik..” ujar Si Bungsu perlahan. “Dari mana saya tahu nama negeri Tuan adalah Indonesia? Saya tak pernah mengetahui nama itu, baik di buku bacaan atau di sekolah. Terakhir, dua hari sebelum saya di bebaskan dari kamp karena penyakit kotor ini, Tuhan kembali mendatangkan Tuan ke dalam mimpi saya. Saat itu sipilis sudah menggerogoti diri saya dengan hebat. Tuanlah satu-satunya harapan saya untuk membalaskan dendam. Mimpi itu tak mampu saya ingat keseluruhannya. Di antara demam yang hebat, saya hanya melihat Tuan sepenggal- sepenggal. Kendati demikian, saya mengingatnya dengan baik…” gadis itu berhenti, dia minta minum.

Usai menghirup semangkok air putih matanya kembali menatap nanap pada Si Bungsu. “Dalam mimpi itu, saya melihat Tuan bertiga, seorang gadis indo yang cantik sekali dan seorang lelaki, mungkin abangnya. Di laut ada sebuah kapal perang, besar sekali. Gadis itu bersama abangnya naik kekapal, dia menangis karena tuan tak ikut naik. Tuan berlayar sendiri di kapal perang kecil, sambil berbisik pada saya, sabarlah Thi-thi… saya akan datang membantumu. Itu yang saya lihat dan dengar dalam mimpi saya. Jika apa yang saya lihat dalam mimpi saya yang terakhir tidak pernah dalam hidup tuan, artinya kapal perang yang besar itu, gadis indo yang cantik itu, tak ada kaitannya sama Tuan, maka benarlah bahwa buka Tuan orang yang dikirim Tuhan kedalam mimpi saya itu…”

Kini tak hanya Thi Binh, tapi juga Duc Thio dan Han Doi menatap Si Bungsu dengan nanap-nanap. Demi Tuhan Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui, Si Bungsu merasa dirinya menggigil dahsyat mendengar penuturan gadis itu. “Engkaukah yang dilihat Thi-thi di dalam mimpinya itu, Bungsu?” ujar Han Doi perlahan. Si Bungsu menatap pada Thi Binh. Gadis itu menatap padanya tak berkedip. “Andakah yang dikirim Tuhan ke dalam mimpi saya itu, Tuan..” desah Thi Binh. “Tuhan Maha Besar! Benar, sayalah yang engkau lihat dalam mimpimu itu, Dik. Saya tak tahu kenapa saya bisa menyelinap ke dalam mimpimu. Tapi, Ya Allah, semua yang engkau lihat dalam mimpi itu, kapal perang besar, seorang gadis Indo dan abangnya, semuanya benar…” ujar Si Bungsu dengan suara bergetar.

“Ada yang lupa saya ceritakan. Saat di dalam air, Tuan menekan-nekan jam tangan yang terletak di tangan kiri. Saat itu saya seperti membaca pikiran Tuan tentang jam itu. Jam itu memiliki berbagai kegunaan. Bisa mengeluarkan kawat baja halus, pisau dan mengirimkan sinyal. Jam itu bertali kulit hitam dengan plat berwarna biru..” Han Doi segera meraih tangan Si Bungsu sebelum anak pamannya itu selesai bicara. Menyingkapkan lengan baju pemuda itu, dan semua yang di ceritakan Thi Binh mengenai jam tangan dalam mimpinya, segera terlihat di lengan kiri anak muda itu. Si Bungsu benar-benar tak mampu bersuara. Dia bangkit dari duduknya. Kemudian mengulurkan tangan pada gadis belia itu. Namun gadis itu segera menghindar.

“Jangan sentuh saya. Tuan akan tertular penyakit sa….” Ucapannya terputus oleh jamahan lembut tangan Si Bungsu di pipinya, dia menatap lelaki yang sering datang dalam mimpinya itu. Si Bungsu memegang bahu gadis itu, kemudian merangkulnya. Merasa bahwa lelaki ini tidak jijik pada dirinya yang terjangkit sipilis, hati Thi Binh menjadi luluh. Sesaat gadis itu balas memeluk dengan erat,diantara air mata yang membasahi pipinya. “Mengapa lama benar engkau baru datang, Tuan..?” bisik Thi Binh dari dalam pelukan Si Bungsu. “Maafkan saya, Dik. Saya sungguh tak tahu, kalau Yang Maha Kuasa Mengatur telah menetapkan langkahku agar bertemu denganmu disini. Kalau saya tahu, takkan sedetik pun saya terlambat..” bisik Si Bungsu, dengan jantung yang berdetak keras, mengingat mimpi yag amat aneh yang menyelusup kedalam tidur gadis ini.

Gadis itu masih memeluknya. Sambil berlutut Si Bungsu memeluk gadis itu dan membelai rambutnya dengan perasaan iba. Beberapa saat kemudian, terbawa oleh kondisinya yang masih lemah,gadis itu tertidur dalam pelukan Si Bungsu. Setelah yakin gadis itu tertidur pulas, perlahan Si Bungsu membaringkannya ditikar beralaskan selimut kusam, ditempat mana selama empat hari ini dia tak sadarkan diri. Kudis sebesar benggol yang selama ini berair, yang terletak di sudut bibir Thi Binh, kini kelihatan sudah mengering.

Ketiga lelaki itu kemudian pindah ke ruangan sebelah. Meninggalkan Thi Binh tidur. Malam harinya Han Doi turun kehalaman. Dia tegak diam di dekat batang durian. Matanya mencoba menembus kegelapan malam, menatap kebahagian hulu dan hilir kampung, sembari memasang telinga. Sepi terasa mencekam. “Kita harus menyingkir dari pondok ini segera. Saya punya firasat, paling lama pagi ini, tentara Vietkong akan datang menangkap kita. Kita harus menyingkir ke hutan sebelum mereka datang…” ujar Si Bungsu ketika mereka bertiga duduk di ruang tengah.

“Bagaimana cara membawa Thi-thi..?” ujar Duc Thio, menghawatirkan anaknya. “Saya rasa, kalau dia bangun sebentar lagi, tenaganya akan pulih…” ujar Si Bungsu perlahan. “Bagaimana mungkin. Kondisinya begitu lemah. Sudah seminggu tak makan, kecuali bubur ayam tadi…”ujar Duc Thio. “Jika ramuan yang saya minumkan padanya mampu membuat dia sadar dan bisa makan, maka kini ramuan itu dalam proses memulihkan tenaganya…” ujar Si Bungsu perlahan.

Baik Duc Thio maupun Han Doi menatap Si Bungsu. Namun saat itu pula mereka mendengar ada yang bergerak di kamar sebelah. Duc Thio bergegas melangkah kekamar sebelah. Namun langkahnya terhenti dipintu tengah. Dia terhenti karena melihat anaknya sedang menuju ke dapur. “Saya lapar…” ujar remaja cantik itu sambil mengangkat tutup periuk. Karena periuk itu tak ada isinya, dia memasukkan tepung bubur, kemudian memotong ayam yang di salai di atas tungku, kemudian memasukkannya kedalam periuk. Lalu memasukan kayu ke tungku, kemudian menghidupkan api. Lalu menambahkan ramuan bubur itu dengan daun seledri dan garam.

“Saya lapar…” ujarnya malu-malu menatap pada ayahnya. Kemudian gadis itu melihat durian yang sudah terbelah, yang di letakkan di pinggir dinding, durian itu tadi tak habis oleh Si Bungsu. Lalu gadis itu melangkah kesana dan memakan durian itu di bawah tatapan ayahnya dan Han Doi. Dalam waktu singkat durian itu habis di lahapnya, sambil menjilati tangan nya yang di lumuri durian dia melangkah lagi ke dapur dan mengangkat tutup periuk yang isinya telah menggelegak. “Ada yang ingin makan?” ujarnya sambil mengambil mangkuk.

Duc Thio menoleh pada Si Bungsu. Si Bungsu tersenyum. Dengan langkah lebar dia melangkah kearah Si Bungsu duduk. Kemudian berlutut, kemudian menunduk dalam-dalam hingga keningnya hampir menyentuh lantai. “Terimakasih, Tuan telah menyelamatkan nyawa anak saya…” ujar lelaki separoh baya itu dengan suara serak. Si Bungsu memegang bahu Duc Thio. “Bangkitlah paman, saya hanya membantu apa yang dapat saya bantu…” “Terimakasih, saya berhutang satu nyawa pada Tuan…” ujar Duc Thio penuh haru. “Sementara Thi Binh makan, berkemaslah kita harus segera meninggalkan tempat ini…” ujar Si Bungsu.

Duc Thio berdiri dan melangkah ke ruang sebelah. Dia mengambil sebuah kantong kain lusuh, dan memasukkan beberapa helai pakaian dan barang-barang yang amat di perlukan. “Kita akan pergi…?” ujar Thi Binh sambil menelan bubur ayamnya. “Ya, kita harus pergi nak..” “Kita ke kamp itu untuk membunuh para jahanam itu bukan?” ujar gadis itu sambil menatap Si Bungsu.

Si Bungsu ingat cerita gadis itu tentang mimpinya. Bahwa dia datang menolong Thi Binh membunuhi tentara Vietkong dan menyelamatkan gadis itu. Ingat mimpi gadis itu, Si Bungsu mengangguk perlahan. Wajah Thi Binh berseri. Dia menelan sisa buburnya, kemudian bergegas kedekat pembaringan. Mengambil baju lusuhnya yang hanya dua helai, berikut sisir rambut, memasukkannya ke tas kain ayahnya.

“Kita berangkat sekarang?” ujar Han Doi sambil berdiri. Si Bungsu tak menjawab. “Kita berangkat…?” tanya Duc Thio yang sudah menyandang tasnya. Dan tegak di pintu dapur bersama anak gadisnya. “Terlambat. Ada yang sudah sampai. Letakkan bungkusan, dan pura-pura tidur. Segeralah..!” ujar Si Bungsu ketika melihat ketiga orang itu masih menatapnya heran.

Ketiga orang Vietnam Selatan itu dengan heran bercampur cemas menuruti perintah orang asing itu. Mereka baru beberapa detik membaringkan diri, ketika di bawah terdengar langkah-langkah mendekat. Si Bungsu bangkit perlahan. “Apapun yang terjadi, tetaplah diam disini, sampai saya kembali…” bisik Si Bungsu sambil berjalan kepintu dapur. “Tuan…” bisikan Thi Binh di pembaringan di putus Si Bungsu dengan meletakkan jari di bibirnya, kemudian dia menyelinap kedapur.

Persis dibelakang rumah itu ada pohon kayu yang besar, yang dahannya menjulai kejendela. Si Bungsu menyelinap dan dengan gerakan ringan melompat bergelantungan di dahan tersebut. Tanpa menimbulkan suara sedikitpun tubuhnya meluncur ketanah. Pakaiannya yang serba hitam membuat dirinya sempurna tak terlihat sedikitpun di kegelapan malam. Sementara kegelapan baginya sahabat yang dia kenal lekuk-likunya dan perangainya. Dia segera tahu di samping kanan rumah ada orang berdiri di bawah pohon durian yang diambil buahnya oleh Han Doi.

Sementara di samping kiri tegak pula seorang di bawah rumpun bambu kecil. Dibagian depan ada dua orang yang sedang bicara berbisik-bisik. Si Bungsu menyelinap kekanan. Dalam lima langkah lebar sambil menunduk, dia sampai dekat orang yang berdiri di bawah pohon durian itu. “Ssst…” bisiknya perlahan. Orang itu menoleh kekiri. “Ceng cong ceng….” bisik lelaki itu dalam bahasa Vietnam utara, yang tentu saja tidak di mengerti Si Bungsu artinya. Tapi dia memang tidak memerlukan tahu apa arti kata bisik lelaki itu.

Tentara Vietkong berpakaian preman namun membawa bedil berlaras panjang itu memang tak segera mengetahui siapa yang datang mengendap-ngendap di sisinya. Gelap yang kental membatasi pemandangan. Dia hanya merasakan ‘tepukan ramah’ di tengkuknya. Setelah itu matanya juling. Ada derak kecil. Tengkuknya bukan ditepuk ramah. Melainkan terpelintir karena rambut di kepalanya disentakan dan dagunya dihantam berlawan arah dengan sentakan di rambutnya.

Derak kecil yang terdengar sesaat sebelum matanya juling itu adalah derak tulang tengkuknya, yang patah akibat pelintir dengan teknik yang amat mahir. Tubuhnya melosoh. Si Bungsu menahan tubuh lelaki yang menjawab bisiknya dengan ucapan ‘ceng cong ceng’ yang tak dia pahami itu, agar tak jatuh terlalu keras. Perlahan dia baringkan lelaki itu. Kemudian mengendap ke bawah rumah, menuju posisi lelaki yang tegak di samping kiri rumah di dekat pohon bambu kecil. Lelaki di dekat pohon bambu kecil itu melihat ada yang menunduk di bawah rumah menuju dirinya. Karena arahnya dari sisi kanan rumah, dia menyangka yang datang adalah temannya sendiri. Ketika orang itu sudah dekat, dia berbisik. “Hek hok hek….”

Tentu saja dia memakai bahasa Vietnam Utara, yang tak dimengerti oleh Si Bungsu. Padahal orang itu bertanya ‘Mengapa meninggalkan posmu?” Si Bungsu mana peduli. Dia terus saja mendekat. Dan pura-pura ingin berbisik. Orang itu memiringkan kepala untuk mendengarkan apa yang akan dibisikkan ‘kawannya’ itu. Namun ketika jarak kepala mereka hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba dia terkejut. Orang yang ingin ‘berbisik’ dengannya itu ternyata bukan kawannya. Orang asing yang tak pernah dia kenal. Dia berusaha mengangkat ujung bedilnya.

Namun tangan Si Bungsu yang memegang samurai kecil sudah sampai di leher lelaki itu. Samurai kecil itu membenam di bawah jakun tentara Vietkong tersebut sampai ke gagangnya. Lelaki itu sebenarnya ingin berteriak. Namun mulutnya segera dibekap oleh Si Bungsu. Suaranya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya berkelojotan, dan perlahan dibaringkan Si Bungsu di tanah, di balik rumpun bambu. Masih dalam posisi berjongkok menaruh tubuh lelaki yang sudah mati itu, Si Bungsu menolehkan kepala karena mendengar suara tangga dinaiki. Dia melihat ke bahagian depan.

Kedua lelaki yang di depan rupanya naik beriringan ke rumah Duc Thio. Si Bungsu segera mengendap- ngendap ke depan. Dia mendengar suara perintah membuka pintu. Namun tak ada sahutan. Orang yang di kepala jenjang itu kembali mengetuk pintu agak keras dan bicara dalam bahasa Vietnam kepada yang berada di dalam rumah. Si Bungsu ikut naik tangga. Lelaki yang berada di anak tangga ketiga menoleh dan merasa jengkel. Dia menyangka yang ikut naik adalah salah seorang temannya yang disuruh menjaga di samping rumah. “Pim pommm… pommmm?” ujar orang itu sedikit menyergah kepada Si Bungsu.

Gelap yang kental menyebabkan dia tak tahu bahwa yang ditanyainya itu bukan temannya. Dia baru merasa kaget ketika orang yang di bawah itu menyentakkan kakinya. “Heei, ini pekerjaan mancirik namanya…!” Mungkin itulah serapah yang diucapkannya pada Si Bungsu. Namun karena bahasanya tak difahami Si Bungsu, maka Si Bungsu diam saja. Sambil menyentakkan kaki sehingga lelaki itu tergerajai, tangannya bekerja. Lelaki yang tergerajai dan terlempar ke bawah itu merasa hulu jantungnya amat linu. Dia meringis, dan berkelojotan, dan mati! Dia tak tahu apa benda yang menyebabkan jantungnya demikian linu yang membuat dia tak bisa bernafas. Dia tak tahu, jantungnya sudah ditembus sebuah pisau kecil yang amat tajam, yang ditusukkan oleh lelaki yang menariknya.

Bahkan dia juga tak tahu, bahwa bedil yang tadi dia pegang sudah berpindah ke tangan lelaki yang menariknya dengan sangat kuat lagi kasar, sehingga tubuhnya tergerajai dan jatuh terjelapak ke tanah. Kawannya yang sudah dua kali mengetuk pintu heran mendengar ada yang tergerajai dan jatuh. Dia menoleh ke belakang. “Cincong cincau cincai…?!” sergahnya.

Tentu saja dia bicara dalam bahasa Vietnam Utara, namun di telinga Si Bungsu yang tak mengerti bahasa langit itu, suara yang sampai yang seperti “cincong cincau, cincai” saja. Dalam kegelapan malam si Vietkong tak tahu bahwa bahaya mengancam dirinya. Sebelum pertanyaannya usai, Si Bungsu mengulurkan popor bedil kepada tentara yang ada di atas itu. Cuma cara mengulurkannya memang beda. Pangkal bedil itu dia ulurkan dengan amat kuat dan amat cepat, tidak ke tangan si tentara, melainkan ke selangkangannya. Terdengar suara berderuk, Vietkong di depan pintu itu melenguh.

Hantaman pangkal bedil itu teramat sangat kuatnya menghajar selangkangannya. Gelandutnya mungkin pecah. Tentara itu tidak hanya melenguh. Mulutnya kontan berbuih. Kedua tangannya segera bergerak ke selangkangannya, yang sakitnya bukan main. Namun gerakannya terhenti sampai di situ. Tubuhnya yang membungkuk langsung rubuh dan terjungkal ke bawah jenjang. Matanya juling dan lidahnya terjulur. Tentara itu sudah mati sebelum tubuhnya mencapai tanah. Si Bungsu menarik nafas. Dia menaiki tangga. Mengambil bedil yang tertinggal di depan pintu, kemudian memanggil Han Doi yang masih berbaring pura-pura tidur. “Kita harus segera berangkat…” ujar Si Bungsu sambil melangkah masuk.

Duc Thio dan Thi Binh sudah bangkit pula dari pura-pura tidurnya. Si Bungsu membagikan empat pucuk bedil otomatis yang dia rampas dari keempat Vietkong yang sudah mati di luar. Satu dia sandang sendiri, satu untuk Duc Thio, satu untuk Han Doi dan satu lagi dia berikan pada Thi Binh. “Mereka Tuan bunuh semua?” tanya Thi Binh saat menerima bedil itu, sambil matanya nanap menatap Si Bungsu. “Kita berangkat?” ujar Si Bungsu, setelah mengangguk mengiyakan pertanyaan Thi Binh. Duc Thio mendahului melangkah ke pintu depan, kemudian Han Doi, Thi Binh dan terakhir Si Bungsu. Mereka turun ke halaman.

Kentalnya gelap malam itu menyembunyikan pelarian mereka. Thi Binh masih sempat melihat dua tubuh tentara Vietkong yang terkapar di dekat tangga. Dari depan rumah, melalui jalan raya di tengah kampung, mereka dibawa Duc Thio ke hulu kampung. Kemudian mereka membelok ke kiri memasuki hutan dan mendaki sebuah bukit. Melangkah perlahan dalam gelap yang amat kental. Setelah beberapa jauh masuk ke hutan, Duc Thio menghidupkan senter. “Tunggu…” ujar Si Bungsu setelah beberapa lama mereka menerobos hutan. Rombongan kecil itu berhenti dan tegak saling ber dekatan. “Ada apa…?” bisik Han Doi. Si Bungsu tak menjawab. Dia menunduk dan tangannya meraba tanah lembab di bawah. Kemudian dia mengangkat kepala. Memejamkan mata dan hidungnya seperti mencoba mencium aroma belantara.

“Kalau tak salah, agak jauh di sebelah kiri ada rawa. Kita harus ke sana…” ujarnya Si Bungsu sambil berdiri. Han Doi, Duc Thio dan Thi Binh saling menatap. Mereka takjub pada tebakan orang asing ini. Memang di bahagian kanan mereka ada rawa yang sangat luas, tapi juga sangat berbahaya karena ada pasir apung, ular dan buaya.

“Rawa itu sangat berbahaya. Selain itu, jika kita ke sana, kita akan menempuh jalan memutar untuk sampai ke sekitar bukit batu tempat penyekapan tentara Amerika itu…” ujar Duc Thio, sambil mendahului melangkah ke arah rawa. “Siang tadi saya melihat jejak anjing yang cukup besar di tengah kampung. Saya yakin itu bukan anjing peliharaan penduduk. Itu pasti anjing pelacak milik tentara Vietnam. Ada berapa ekor anjing pelacak itu?” tanya Si Bungsu. Duc Thio kembali bertukar pandangan dengan Han Doi. Ketajaman penglihatan orang asing ini sehingga dapat membedakan jejak anjing pelacak dengan anjing kampung, sungguh luar biasa. “Kami hanya pernah melihat empat ekor. Kebetulan anjing itu tiba di desa dengan truk sore hari…” ujar

Duc Thio sambil menyeruak belukar untuk tempat lewat. “Di tanah daratan ini jejak kita akan mudah ditemukan anjing pelacak. Mereka tak berdaya kalau orang yang dia lacak masuk ke air, apalagi masuk ke rawa yang sangat besar. Itulah sebabnya kita harus melewati rawa itu agar tak mudah diburu anjing pelacak…” papar Si Bungsu.

Mereka berhenti, karena langkah Duc Thio terhambat oleh sebuah pohon besar yang tumbang. Han Doi mengarahkan cahaya senternya ke bahagian ujung. Cukup jauh. Lalu ke bahagian pangkal. Juga cukup jauh, pohon tumbang itu terlalu besar untuk dinaiki agar bisa melintas ke sebelah. “Boleh saya yang di depan?” tanya Si Bungsu. Duc Thio mengangguk, sambil menyerahkan senter. “Barangkali Tuan dan Thi Binh bisa memakai senter itu. Saya sudah terbiasa berjalan dalam belantara…” ujar Si Bungsu.

Dia mulai melangkah ke kanan, ke arah ujung kayu tumbang itu. Ketiga orang Vietnam anak beranak itu segera menemukan bukti atas ucapan orang asing di depan mereka ini, bahwa dia sudah ‘terbiasa’ berjalan dalam belantara. Lelaki muda itu, dalam gelap yang amat kental, dengan cepat menemukan lorong dan celah untuk melangkah cepat di antara rimbunan semak belukar. Ketika sampai ke bahagian ujung pohon tumbang itu, di mana tingginya pohon itu tinggal sebatas pinggang, Si Bungsu segera meloncat naik. “Ayo… kita seberangi pohon ini…” ujar Si Bungsu sambil mengulurkan tangan pada Han Doi.

Beberapa detik kemudian mereka sudah berada di sebelah pohon besar yang tumbang itu. Si Bungsu berhenti. Menunduk dan mendekapkan telinga kanannya ke tanah. Ketiga orang Vietnam itu menatapnya dengan diam. “Belum ada tanda-tanda bahwa kita sudah mulai dikejar. Kita harus cepat sampai ke rawa tersebut…” ujar Si Bungsu sambil berdiri. Kembali ketiga Vietnam itu hanya bisa saling menatap. Mereka pernah mendengar cerita, bahwa ada tentara yang ahli mendengarkan kedatangan musuh dengan mendekapkan telinga ke tanah. Tapi kini mereka tidak hanya sekedar mendengar cerita, tapi melihat sendiri buktinya. “Mari kita terus…” ujar Si Bungsu sambil melangkah duluan.

Mereka berjalan dalam jarak sejangkauan tangan. Bagi Si Bungsu aroma belantara berikut pepohonannya yang menjulang dan semak belukar adalah tempat yang dirindukannya. Bagi dia, dan juga bagi beberapa perimba, belantara di mana pun tempatnya, memiliki sifat yang hampir sama. Dia hafal akan hal tersebut. Dia seolah-olah “pulang ke rumah”. Dengan nalurinya yang amat tajam dengan mudah dia mencari jalan, kendati malam dipagut gelap yang amat kental. Dia menunjukkan ke mana harus melangkah, menghindari semak berduri atau pohon tumbang yang tak mudah dilewati. “Saya lelah, dapatkah kita istirahat sebentar?” tiba-tiba terdengar suara Thi Binh.

Gadis itu bicara dengan nafas sesak, sementara tangannya menjangkau ke depan, bergantung pada tangan Si Bungsu. Si Bungsu menghentikan langkahnya. Tiga orang lainnya juga berhenti. Ternyata nafas mereka juga pada sesak semua. Namun yang paling lelah tentu saja Thi Binh. Gadis itu belum pulih benar dari sakitnya. Si Bungsu duduk berlutut dengan lutut kiri di tanah. Kemudian kembali dia mendekatkan telinga ke bumi. Ada beberapa saat dia berlaku demikian. Kemudian dia mengangkat kepala. Lalu membersihkan dengan dedaunan kering, sehingga terlihat tanah dimana mereka berada.

Ke tanah itu Si Bungsu kembali mendekapkan telinganya. Sementara ketiga orang Vietnam itu menatap dengan diam. Lalu dia berdiri. Menatap kepada tiga orang temanya itu dengan diam. “Mereka sudah mulai memburu kita. Saya tak tahu berapa jumlahnya. Namun mereka membawa anjing pelacak. Masih cukup jauh, belum sampai ke pohon besar yang tumbang itu. Kita bisa istirahat sebentar, tapi setelah itu kita harus menambah kecepatan dua kali lipat….” “Tidak kita terus saja. Saya bisa berjalan…” ujar Thi Binh.

Si Bungsu menatap gadis itu. Jarak mereka hanya setengah depa. Kendati malam amat gelap. Namun dalam jarak yang demikian dekat, mereka bisa saling tatap. “Kita terus atau istirahat?” tanya Si Bungsu pada ayah Thi Binh dan Han Doi. “Sebaiknya kita terus…” ujar Han Doi. “Kalau terus, harus ada yang menggendong Thi Binh…” ujar Si Bungsu. Tak ada yang bersuara.

 “Saya bisa… berjalan…” ujar Thi Binh sambil mengencangkan pegangan tangannya ke lengan Si Bungsu. “Baik kita akan maju terus. Saya rasa rawa itu tak berapa jauh lagi.” “Itu suara salak anjing…” tiba-tiba suara Han Doi memutus ucapan Si Bungsu.

Mereka semua pada memasang telinga. Dan sayup-sayup terdengar salak anjing sahut bersahut. Suasana tegang segera saja menyergap ketiga orang Vietnam tersebut. “Kita harus berjalan cepat. Maukah engkau kugendong, Nona…?” ujar Si Bungsu pada Thi Binh.

Gadis itu tak menjawab, saking kagetnya. Bagaimana mungkin orang asing ini mau menggendong seorang yang jelas-jelas kena spilis, pikirnya. Namun, dia tak sempat berfikir banyak Si Bungsu bergerak cepat. Tiba-tiba gadis itu sudah berada dalam pangkuannya. Dan dia segera mulai melangkah.

Han Doi dan Duc Thio terpana melihat gerak lelaki dari Indonesia yang berjalan di depan mereka itu. Kendati memangku tubuh Thi Binh namun kecepatan geraknya tak berkurang sedikit pun dibanding saat dia tak membawa beban tadi. Thi Binh melingkarkan kedua tanganya ke leher Si Bungsu. Sementara kepalanya dia sandarkan ke dada lelaki tersebut. Kendati dia yakin bahwa suatu saat pasti bertemu dengan lelaki yang selalu datang ke dalam mimpinya ini, namun tak pernah terlintas dalam fikirannya bahwa dia juga akan berada dalam pelukan lelaki perkasa ini.

Apalagi lelaki ini tahu bahwa dia adalah penderita spilis. Ingat pada penyakitnya dan keikhlasan lelaki ini menggendong tubuhnya, tanpa dapat ditahan air matanya mengalir perlahan. “Jangan menangis, Thi Binh. Penyakitmu akan sembuh, dan kecantikanmu akan kembali seperti biasa…” bisik Si Bungsu sambil menyeruak belantara.

Thi Binh kaget separoh mati bagaimana lelaki ini tahu bahwa dia menangis? Dia menangis tanpa bersuara sedikit pun. Dan kagetnya semakin menjadi-jadi, tatkala Si Bungsu kembali berbisik. “Tak sulit untuk mengetahui bahwa engkau menangis Dik, kendati tak ada isak tangismu. Air matamu menembus baju, terasa hangat di dadaku….”

Thi Binh merasa terharu. Dia pererat pelukannya ke leher Si Bungsu, dan dipejamkannya matanya. Dia merasa amat tentram berada dalam pelukan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka sampai ke tepi rawa yang amat luas. Rawa itu, sebagaimana diceritakan Han Doi, selain amat luas, juga dipenuhi hutan belantara. Perlahan Si Bungsu menurunkan tubuh Thi Binh.

Dia meminta senter dari Duc Thio. Menyoroti rawa berwajah hitam itu beberapa saat kemudian melangkah memasuki air. Sekitar sedepa memasuki rawa, dia mematah kan sebuah kayu yang sebahagian daunnya yang berwarna merah terendam dalam air. Di pinggir rawa, dipetiknya belasan daun kayu berwarna merah itu, kemudian diremasnya beberapa saat. “Lumurkan getah daun ini ke sekujur tubuh kalian. Selain mampu menghangatkan tubuh, getahnya juga bisa menyelamatkan kita dari hisapan lintah dan nyamuk…” ujarnya sambil membagikan daun yang sudah diremas itu pada ketiga orang Vietnam tersebut. Tak seorang pun yang membantah. Mereka menuruti perintah Si Bungsu. Mengoleskan daun yang sudah diremas itu ke sekujur kaki, tangan dan bahagian tubuh lainnya. Saat mereka sedang mengoleskan daun ke tubuh masing-masing itu Si Bungsu menurunkan bedil yang disandangnya sejak tadi.

Sebuah tembakan menggelegar. Membuat semua mereka terkejut, terutama Thi Binh. Sebab peluru itu seolah-olah hanya berjarak seinci dari telinganya, artinya, tembakan itu seolah-olah memang diarahkan ke kepalanya. Gadis itu menatap pada Si Bungsu. Dan saat itu dia mendengar bunyi menggelosoh sedepa di belakangnya. Dia menoleh, tak ada apapun yang terlihat dalam gelap itu. Si Bungsu menghidupkan senter, menyorot ke belakang gadis itu.

Thi Binh terpekik dan melompat memeluk ayahnya tatkala melihat seekor ular belang merah hitam sebesar betis lelaki dewasa menggeliat-geliat meregang nyawa di tanah. Ular itu, sebelum peluru Si Bungsu menghabisi nyawanya, berada persis di dahan rendah sedepa di belakang Thi Binh!

“Engkau membawa parang?” tanya Si Bungsu pada Han Doi. Han Doi, yang juga seperti terbang semangatnya mendengar tembakan dan melihat ular yang panjangnya tak kurang dari lima depa itu, mengangguk.

“Bawa kemari…” ujar Si Bungsu. Han Doi mencabut parang yang dia sisipkan di bahagian belakang tubuhnya. Si Bungsu memberikan senter kepada Duc Thio. Di bawah sorotan cahaya senter, Si Bungsu memotong ular itu menjadi dua bahagian. Kemudian membelah tubuh ular tersebut.

“Han Doi, seret yang sepotong ini ke arah sana sekitar lima puluh meter, dan letakkan saja di tanah. Saya akan menyeret sisanya ini kebahagian sana…” ujar Si Bungsu. Dia sendiri segera menyeret bangkai ular itu ke arah yang berlawanan dari arah yang ditunjuknya untuk Han Doi. Sepanjang jalan yang ditempuh saat menarik bangkai ular itu, darah ular tersebut berserakan di dedaunan kering di tanah.

Tak lama kemudian mereka berkumpul lagi. Si Bungsu kembali menghidupkan senter. Menerawangi rawa itu sekali lagi beberapa saat kemudian. Saat gonggongan anjing pelacak mulai agak jelas terdengar, dia memberi isyarat kepada ketiga temannya.

Dengan Si Bungsu dibahagian depan, mereka mulai memasuki rawa tersebut. Mula-mula sekitar dua puluh meter dari tempat mereka masuk, airnya sebatas lutut. Ketika air mulai mencapai pinggang, Si Bungsu membawa rombongannya berbelok kebagian kiri, sejajar dengan tepi rawa.

Sekitar lima puluh meter, dia kembali berbelok kearah tengah rawa. Mereka memasuki air setinggi pinggang, makin ketengah makin dalam. Kemudian mencapai batas leher. Si Bungsu membawa rombongannya ke dalam sebuah palunan belukar.

Saat itulah mereka mendengar suara anjing menyalak sahut-sahutan ditepi rawa, disusul cahaya lima atau enam senter dengan cahaya yang amat terang, berseliweran menerangi beberapa pelosok rawa gelap tersebut. Suara tembakan Si Bungsu membunuh ular tadi mempercepat pencarian tentara Vietkong tersebut.

Di antara salak anjing dan terkaman cahaya senter kesetiap sudut, terdengar teriakan-teriakan tentara Vietkong itu. Kemudian salak anjing hilang seperti ditelan hantu. Yang tersisa adalah teriakan tentara dan cahaya senter yang simpang siur. “Mengapa anjing-anjing itu berhenti menyalak?” bisik Duc Thio yang tetap saja merasa was-was.

“Mereka sedang berpesta dengan daging ular tadi. Untuk sementara anjing itu tidak akan bergerak sebelum daging ular itu habis. Kita harus bergerak sejauh mungkin, sebelum anjing-anjing itu memburu. Tetaplah bergerak dijalan yang saya tempuh. Senjata jangan sampai basah. Di air berhati-hati terhadap batang yang bergerak mungkin saja itu buaya. Di pohon, hati-hati melihat dahan yang bergerak, bisa saja itu adalah ular….” ujar Si Bungsu mulai melangkah.

Di pinggir rawa yang baru saja mereka tinggalkan, sekitar dua lusin tentara Vietkong yang memburu pelarian itu tegak dengan tak sabar melihat anjing-anjing itu makan bangkai ular itu. Komandan mereka, yang merasa tak sabar, segera memerintahkan lima orang anggotanya untuk mengarungi rawa tersebut. Salah satu diantaranya di kenal mahir mencari jejak.

Kelima orang itu segera memasuki rawa yang airnya sebatas betis. Dengan pertolongan senter, dengan mudah mereka mengikuti jejak yang ditinggalkan Si Bungsu dan kawan-kawannya. “Nampaknya mereka tetap dalam satu kelompok, tidak berpencar. Dari sini mereka menuju ketengah rawa…” ujar si pencari jejak pada empat temannya yang lain. “Mereka menuju ketengah rawa…!” seru Sersan dalam rombongan beranggotakan lima orang dirawa itu kepada komandannya, yang masih tegak sekitar dua puluh meter di tepi rawa sana.

Beberapa tentara di tepi rawa tersebut, yang tegak didekat si komandan, menerangi kelima tentara di rawa itu dengan cahaya senter. Saat itu si pencari jejak merasa ada yang ganjil di air. Dia sorot sesuatu yang ganjil yang membuatnya tidak tentram. Di air rawa ada cairan lain yang tak senyawa. Dia raba cairan yang kehitam-hitaman di sekitar mereka tegak itu, yang berbeda dari air di bahagian lain.

Ketika air itu dia sauk dengan telapak tangan, kemudian membawanya keatas dan menyorotinya dengan cahaya senter, tiba-tiba bulu kuduknya merinding. “Darah…” Desisnya. Bagi keempat temannya yang lain, yang sama-sama berada di air setinggi paha mereka, ucapan si pencari jejak tak begitu menarik. “Darah apa…?” tanya Sersan yang tadi berteriak.

Namun si pencari jejak tak menjawab. Bulu tengkuknya merinding. Dia sudah pernah kerawa ini sekali. Dan dia tahu persis, rawa ini merupakan sarang buaya. Di dalam air, buaya mampu mencium kehadiran darah dari jarak ratusan meter. “Jebakan! ini sebuah Jebakan!” bisik hatinya dengan mata nyalang menatap semak- semak di sekitarnya. Si pencari jejak ini segera arif, bahwa salah satu dari empat orang yang mereka buru ini pastilah orang yang sangat mengenal hutan belantara, rawa dan seluruh penghuninya.

Itu bisa di buktikan, pertama jejak mereka yang sulit di cari di dalam hutan tadi. Jika tanpa bantuan anjing pelacak dan suara tembakan, belum tentu mereka sampai di tepi rawa ini. Mungkin mereka masih berputar-putar didalam hutan. Sebab jejak yang ditinggalkan pelarian itu sangat susah untuk di temukan. Kemudian cara orang ini menjebak anjing-anjing pelacak dengan daging ular yang amat gurih dan harum itu. Tak sembarang orang bisa mengetahui hanya dengan daging ular yang bisa menahan seekor anjing pelacak.

Kemudian darah dirawa ini. Dia yakin, darah ini bukan darah salah seorang pelarian. Ini adalah darah yang sengaja diserakkan untuk memancing kedatangan mereka. Dan darah ini disebar ditempat ini, bukan di pinggir rawa tentulah dengan maksud tertentu. Kalau di pinggir rawa, tak kan ada yang celaka. Sebab, orang bisa dengan mudah lari kedarat. Tapi tempat ini sudah sekitar dua puluh meter dari tepi rawa. Air sudah setinggi paha. Sudah tak mudah untuk berlari kencang.

Si pencari jejak yang faham bahwa mereka sedang di jebak menyorotkan senternya ke air. Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Di bahagian kirinya ada dua batang yang bergerak, makin lama makin cepat. “Awas, buaya! Lari…!!” serunya sambil ambil langkah seribu.

Namun terlambat sudah, tempat mereka berdiri sudah di kepung oleh lima atau enam buaya yang memang datang ketempat itu karena mencium darah. Pencari jejak itu tak bisa mengelak tatkala seekor buaya menyambar pahanya dengan cepat dan menariknya kedalam air.

Empat temannya yang tadi tak begitu terkejut, namun karena melihat si pencari jejak lenyap, mereka mulai panik. Sebelum mereka tahu penyebab si pencari jejak lenyap, giliran si Sersan yang tadi berteriak-teriak tiba-tiba tersentak tubuhnya, dia meraung. Tubuhnya di tarik ketengah rawa. “Tolooong… tembakkk…..!! Tembak buaya iniii..!!” pekik si Sersan.

Tangan kanannya yang berbedil menggapai-gapai. Bedil itu tak bisa dipergunakan. Tangan kirinya yang memegang senter yang masih menyala di pukul-pukulkan kekepala buaya besar yang mencengkram pahanya. Namun ketiga temannya hanya terlongo-longo. Mereka masih dicekam rasa kaget dan terkesima. Dan saat itu pula dua buaya menyambar dua tentara yang masih menatap ketubuh si Sersan, yang sedang timbul tenggelam di seret buaya ketengah rawa sana. Kedua mereka tadi sudah memegang bedil terkokang.

Begitu kakinya disambar buaya telunjuknya tertarik picu bedil. Rentetan tembakan diiringi lolong dan pekik panjang segera memecah kesunyian malam. Pekik dan tembakan itu menyebabkan belasan teman mereka yang masih berada di tepi rawa pada berkerumunan dan menatap ketengah rawa di mana mereka berada.

“Lari! lari! Ayo kembali kemari…!” ujar para tentara itu pada satu-satunya teman mereka yang masih tegak di tengah rawa tersebut. Si tentara yang seorang ini segera sadar, bencana yang menimpa teman- temannya segera bisa menimpa dirinya pula. Mendengar teriakan temannya, dia segera menghambur berlari kedalam air setinggi paha itu. Malangnya dia salah dalam memilih tempat menghambur. Dia memutar badan ke arah belakang, bermaksud lari ke arah dari mana mereka tadi datang. Tapi itulah kesalahannya. Sebab di belakangnya seekor buaya besar sudah sejak tadi menanti dengan mengangakan mulutnya lebar-lebar.

Si tentara yang sudah memutar badan, dan sudah mengayunkan langkah lebar untuk kabur, pada detik terakhir baru tahu bahwa di belakangnya ada neraka yang amat menakutkan. Padahal langkah sudah diayunkan sekuat tenaga untuk lari. Dia mencoba merubah arah ke kanan, agar langkahnya tak langsung menuju ke mulut buaya itu. Namun karena sudah dicekam takut kakinya yang berada di dalam air tergelincir. Dia kehilangan keseimbangan.

Tanpa ampun tubuhnya justru jatuh ke dalam mulut buaya yang sedang ternganga lebar itu. Mulut bergigi seperti gergaji itu segera terkatup dengan kepala si tentara persis berada di dalam! Dalam waktu sekejap rawa itu sepi. Ada tiga buah senter yang tenggelam ke dasar danau yang dangkal. Cahayanya nampak menari-nari dalam air yang bergelombang akibat pergumulan manusia dengan hewan.

Pergulatan kelima orang itu dengan buaya, disaksikan oleh komandannya dan belasan teman-temannya yang lain dari tepi rawa. Tak satu pun bantuan yang bisa mereka berikan. Mereka mahir menembak. Tapi ke arah mana tembakan harus diarahkan?

Sungguh suatu pemandangan yang tak bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya, tatkala melihat teman-teman sepasukan lenyap satu demi satu ke dalam air, diseret buaya untuk dijadikan santapannya!

Matinya si pencari jejak tersebut sangat menguntungkan pelarian Si Bungsu dan teman-temannya. Kalau mereka selamat, mereka pasti melaporkan kepada komandannya bahwa ada jebakan di dalam rawa tersebut.

Namun dengan matinya si pencari jejak bersama empat temannya yang lain di rawa maut itu, tidak hanya memudahkan pelarian mereka, tetapi sekaligus juga menyebabkan pemburuan diakhiri.

“Tak seorang pun yang bisa selamat memasuki rawa ini. Mereka yang kita buru itu juga pasti sudah terlebih dahulu menjadi santapan buaya atau ular…” ujar si komandan yang memimpin pengejaran itu, setelah menyenter permukaan rawa belantara tersebut beberapa saat.

Ketika subuh hampir turun, dia memerintahkan seluruh pasukan pemburu itu segera meninggalkan pinggir rawa, kembali ke markas mereka. Saat itu, di tengah rawa sana, hanya sekitar dua ratus meter dari tempat belasan tentara Vietnam itu menarik diri, para pelarian tersebut sedang berada di dahan kayu, sekitar semeter dari permukaan air. Namun mereka hanya bertiga.

Si Bungsu tak ada di sana. Rawa itu sudah mulai terang-terang tanggung oleh cahaya subuh yang mulai datang. Pandangan mereka hanya mampu menembus beberapa meter ke depan. Kabut akibat uap air nampak menggantung rendah di permukaan air rawa.

Mereka sungguh dibuat takjub oleh ramuan yang malam tadi disuruh Si Bungsu agar diusapkan ke tubuh mereka. Semula mereka menuruti perintah itu dengan perasaan antara percaya dan tidak. Ternyata apa yang dikatakan lelaki dari Indonesia itu benar belaka adanya. Usapan getah daun berwarna merah, yang diambil Si Bungsu dari dalam air rawa, yang kemudian diremasnya, ternyata tidak hanya menyebabkan mereka tak didekati nyamuk atau lintah, bahkan mereka tak merasa kedinginan sedikit pun.

Awalnya, ketika masih dalam perjalanan mengarungi danau, rombongan Si Bungsu dikejutkan oleh suara pekik dan tembakan dari pinggir danau. Si Bungsu berhenti sesaat, orang-orang di belakangnya juga berhenti. Dalam gelap dan suasana mencekam mereka menanti dengan diam. “Tadi, saat akan memutar arah, untuk apa Tuan melemparkan kepala ular yang terpotong lehernya itu ke dalam rawa?” bisik Thi Binh yang masih berada dalam bopongan Si Bungsu.

“Darah amat merangsang penciuman buaya. Mereka mampu mencium bau darah di dalam air dari jarak dua ratus sampai tiga ratus meter. Mereka pasti akan memburu ke sana. Dengan demikian, kita bisa aman bisa buat sementara, karena perhatian dan selera mereka tersedot ke arah darah dari kepala ular itu. Mudah- mudahan tentara yang memburu kita juga menuruti jejak kita tadi. Mereka ke tempat kepala ular itu, baru kemudian melihat arah kita berbelok. Jika itu yang terjadi, mereka sesungguhnya sedang memasuki sarang buaya…” bisik Si Bungsu.

“Apakah danau ini memang banyak buaya?” bisik Thi Binh. “Barangkali ada dua atau tiga ratus ekor…” ujar Si Bungsu. Thi Binh merasa merinding mendengar jawaban itu. Dia menyurukkan mukanya ke dada anak muda itu. Dalam cahaya senter Si Bungsu melihat tiga depa di kanan ada pohon bercabang banyak, yang dahannya sekitar semeter dari permukaan air. Dia memperhatikan pohon itu dengan seksama. “Tunggu di sini saya periksa pohon itu. Barangkali bisa tempat beristirahat sementara…” bisik Si Bungsu pada Thi Binh sambil akan menurunkan gadis itu. “Saya ikut…” ujar gadis itu. “Di sana ada ular….” bisik Si Bungsu. “Biarin….” ujar gadis itu. “Di sana ada buaya…” “Biarin, biariiin!! Pokoknya aku ikut kemana Tuan pergi…” ujar Thi Binh.

Namun ucapan itu disampaikan Thi Binh tetap dalam berbisik, dan tangannya tetap memeluk leher Si Bungsu. Si Bungsu mengalah. Dalam posisi membopong Thi Binh itu Si Bungsu beringsut perlahan mendekati pohon tersebut. Sesampainya di pohon, tangan kirinya meraba-raba dahan pohon itu. Memegang dahan itu beberapa saat, dan menatap ke rimbunan daun di atasnya.

“Oke, tempat ini aman. Kau naik ke atas…” ujar Si Bungsu. Sebelum Thi Binh faham benar apa yang dimaksud Si Bungsu, dia merasa pinggulnya ditekan oleh kedua tangan lelaki dari Indonesia itu. Detik berikutnya tubuhnya sudah terangkat dan didudukkan di dahan rendah itu. “Hei….!” protesnya. “Diam di sini bersama abang dan ayah mu…” bisik Si Bungsu, sambil memberi isyarat pada Duc Thio dan Han Doi agar mendekat. “Naik ke dahan itu. Pohon ini aman, tak ada ular atau binatang berbisa lainnya. Tunggu saya di sini….”

Sebelum kedua lelaki itu naik ke dahan, Si Bungsu sudah melangkah. Dia kembali mengikuti jejak darimana mereka tadi datang. Tak lama kemudian, sekitar lima puluh meter dari pohon yang mereka naiki, mereka mendengar pekikan dan rentetan tembakan dari tentara Vietnam yang disambar buaya itu. Si Bungsu tak berapa jauh dari sana. Setelah tentara yang memburu mereka balik kanan, dia kembali ke tempat kawan- kawannya. Dalam perjalanan menuju pohon di mana kawan-kawannya menunggu, dia mendengar desir dan kecipak air. Dia hafal, kecipak air itu muncul akibat buaya melahap mangsanya.

Dia bergegas. Mereka harus menjauhi tempat ini, sejauh yang bisa mereka lakukan. Sebab, buaya-buaya yang lain dari berbagai penjuru rawa kini sedang menuju ke daerah penjagalan tentara Vietnam itu. Mereka datang karena terangsang oleh bau darah yang membanjir di dalam rawa, yang tumpah dari tubuh beberapa manusia yang kini tengah dilahap buaya-buaya tersebut. “Naiklah ke dahan yang lebih tinggi…” ujarnya kepada Thi Binh dan Han Doi, sesampainya dia di pohon di mana teman-temanya itu menanti. Dia sendiri ikut naik dan duduk berjuntai di dahan sekitar dua meter di atas air. Akan halnya Thi Binh, begitu Si Bungsu duduk, dia segera meninggalkan cabang dimana dia berada. Dia duduk di belakang Si Bungsu, kemudian memeluk pinggang anak muda itu dari belakang.

Tak berapa menit kemudian, rawa itu sudah agak terang karena pagi sudah datang. Si Bungsu memberi isyarat kepada Duc Thio dan Han Doi. Dia menunjuk ke bawah, dimana tadi mereka berdiri. Air di bawah dahan dimana mereka kini berada mereka lihat bergerak. Dari gerigi yang muncul di permukaan air, mereka segera tahu, bahwa gerak air itu disebabkan buaya besar yang tengah menuju ke arah dimana malam tadi mereka datang.

Si Bungsu kembali memberi isyarat dengan telunjuk ke arah kanan dari pohon tempat mereka berada. Dengan terkejut Han Doi dan Duc Thio melihat betapa ada sekitar lima sampai tujuh ekor buaya sedang meluncur ke arah yang sama. “Ya Tuhan. Rawa ini ternyata memang sarang buaya…” ujar Han Doi. “Bagaimana kita meninggalkan tempat ini?” bisik Thi Binh dari belakang. “Kita tunggu berapa saat lagi. Mereka pasti memperebutkan bangkai tentara Vietnam yang terjebak tadi. Perebutan itu juga akan menyebabkan dua sampai empat ekor buaya itu akan mati berkelahi sesamanya. Mereka akan menyantap bangkai teman mereka sendiri. Itulah saatnya kita meninggalkan tempat ini. Dan dalam cuaca yang agak terang, kita bisa lebih bebas mencari jalan yang aman dalam rawa maut ini…” ujar Si Bungsu.

Bisikannya yang cukup keras itu tak hanya di dengar Thi Binh di belakangnya, tetapi juga didengar Han Doi dan Duc Thio. Mereka masih nanap melihat buaya-buaya yang meluncur cepat ke arah hilir sana. Tak lama kemudian, ketika tak ada lagi gerakan air di permukaan rawa, dan ketika rawa itu sudah cukup terang oleh terobosan cahaya matahari, Si Bungsu memperhatikan rawa tersebut dari utara ke barat, dari selatan ke timur. Semua mereka terpana melihat rawa dahsyat itu. Sesayup-sayup mata memandang kemana pun tatapan diarahkan, yang terlihat hanyalah air merah ke hitam-hitaman di antara belantara yang tegak mematung. Di permukaan air rawa, di sela-sela belukar maupun pohon-pohon raksasa yang tegak menjulang, mengapung kabut tipis.

Kabut itu seolah-olah ingin menutupi misteri yang tersembunyi di bawah permukaan air merah kehitam-hitaman tersebut. Air merah kehitam-hitaman itu nyaris tak bergerak, tak beriak sedikitpun. Air gelap itu baru beriak jika ada daun atau buah kayu yang jatuh. Setelah riak-riak bundar akibat sesuatu yang jatuh ke air itu, yang makin lama makin besar dan kemudian lenyap, air rawa itu akan kembali rata. Diam seolah-olah membeku, seperti lantai batu marmer berwarna gelap dan dingin. “Sampai kapan kita di sini?” tiba-tiba Thi Binh bertanya lagi.

Si Bungsu menoleh ke belakang. Kepada Thi Binh yang duduk dan masih saja memeluk tubuhnya. Gadis itu menatap padanya dari jarak hanya sekitar sejengkal. “Kalau lapar…” ujar Si Bungsu. Thi Binh menatap lelaki Indonesia itu beberapa jenak. Kemudian mengangguk. “Saya lapar sekali…” desah Thi Binh sambil menyandarkan wajahnya ke bahu Si Bungsu. Duc Thio segera membuka tas kerunjut kain yang dia sandang. Dari dalamnya dia mengeluarkan ayam yang biasanya digantung di atas tungku. Ayam itu setelah dipotong direbus, kemudian diberi bumbu, lalu dikeringkan di atas tungku.

Duc Thio menyayat daging ayam itu dengan pisau yang dia bawa. Kemudian menyerahkan sayatan terbesar kepada Thi Binh. Sayatan kedua diserahkannya kepada Si Bungsu. Lalu kepada Han Doi. Kemudian dia menyayatnya untuk dirinya sendiri. Sisanya dia masukkan kembali ke dalam tas kain, bercampur dengan dua potong pakaiannya dan pakaian Thi Binh. “Engkau tinggal di sini bersama ayahmu. Kami akan pergi mencari sesuatu untuk dijadikan sampan…” ujar Si Bungsu kepada Thi Binh. Gadis remaja itu menatap Si Bungsu sambil mengunyah dendeng ayamnya, kemudian mengangguk. Kemudian melepaskan pelukan tangan kirinya dari pinggang Si Bungsu. “Tetap sajalah di sini. Pergunakan senapan ini jika ada bahaya. Saya akan pergi bersama Han Doi…” ujar Si Bungsu kepada Duc Thio.

Dengan berbekal dua buah parang milik Duc Thio dan Han Doi, kemudian masing-masing sebuah bedil, Si Bungsu dan Han Doi turun dari kayu tersebut. Di dalam air setinggi dada, mereka bergerak perlahan ke arah utara, yaitu ke arah pinggir rawa. Namun Si Bungsu mengambil jalan memutar, yang berlawanan arah dengan tempat buaya-buaya memangsa tentara Vietkong itu. “Engkau pernah bertempur di rawa seperti ini, Han Doi?” tanya Si Bungsu, tatkala mereka berenang, karena rawa yang mereka lewati airnya sudah sangat dalam. “Tidak. Dahulu saya hanya bertugas di desa-desa sekitar Da Nang. Hanya dua tahun bertugas sebagai tentara saya direkrut untuk menjadi mata-mata oleh Ame…” suara Han Doi tersekat di tenggorokan, setelah dia menoleh ke belakang karena mendengar ada suara aneh di belakangnya.

Matanya mendelik. Dia lupa di tangannya ada bedil. Si Bungsu yang kemudian ikut menoleh ke belakang, segera membekap mulut Han Doi kuat-kuat. Bekapan itu menyebabkan pekik orang Vietnam itu tertahan di tenggorokan. “Jangan bersuara, jangan bergerak…” bisik Si Bungsu dengan suara hampir menggigil. Semula, tatkala berjarak sekitar dua puluh depa dari tepi rawa, mereka terhalang oleh sebuah batang kayu panjang, yang nampaknya sudah lama mati dan terendam di rawa tersebut.

Sambil tetap bercerita mereka melewati batang kayu yang mungkin besarnya sebesar paha lelaki dewasa, dan panjangnya sekitar belasan depa itu, dengan cara menyelam dan muncul di sebelahnya. Ternyata, kayu itu adalah seekor ular raksasa yang bahagian kepalanya melilit ke sebuah kayu besar. Mungkin ketika mereka menyelam di bawah tubuh ular itu, si ular merasa terusik, dan menggeliat bangun!

Ular raksasa itulah yang pertama tertatap oleh Han Doi saat menolehkan kepala ke belakang. Ujung ‘kayu’ itu seperti segi tiga pipih, yang lebarnya tak kurang sedepa. Dari mulutnya yang pipih lancip itu tiap sebentar menjulur lidahnya yang bercabang. Si Bungsu masih tetap membekap mulut Han Doi, dan tubuh mereka tetap mengapung diam mematung di permukaan air rawa. Menatap dengan jantung menggigil pada monster raksasa penunggu rawa dahsyat itu.

Setelah menggeliat, raksasa itu meluncur ke arah tengah rawa. Mereka masih tak mampu bergerak dari tempatnya, kendati bahagian ekor monster menakutkan itu sudah lama lenyap ke dalam kabut di bahagian tengah rawa. “Kita harus segera bergerak…” ujar Si Bungsu tanpa dapat menyembunyikan suaranya yang menggigil. “Iy… iya…” ujar Han Doi yang tak mampu menahan kencingnya untuk tak terpancar sesaat setelah melihat raksasa dahsyat itu tadi. Mereka bergerak cepat ke tepi rawa.

“Mencari apa kita kemari…” tanya Han Doi setelah mengikuti Si Bungsu berputar-putar beberapa saat di dalam hutan di pinggir rawa tersebut. “Mencari kayu itu…” ujar Si Bungsu sambil menunjuk batang kayu kuning keputih-putihan sebesar dua kali pelukan manusia dewasa. “Kayu ini besar daya apungnya di air. Bisa kita jadikan rakit untuk menerobos rawa ini ke hulunya,” ujar Si Bungsu tatkala mereka mulai menebang kayu besar tersebut.

Han Doi merasa takjub pada pengetahuan lelaki Indonesia ini tengah rimba belantara dan jenis kayu yang tumbuh di dalamnya. Sebab, ketika menebang kayu besar itu parangnya seperti memakan kayu gabus. Dalam waktu yang tak begitu lama, dan tanpa harus membuang tenaga banyak, kayu itu segera tumbang arah ke danau.

“Potong-potong sepanjang tiga depa, sebatang kayu ini bisa dapat tiga potong. Saya akan mencari sesuatu…” ujar Si Bungsu sambil meninggalkan Han Doi. “Hei, jangan tinggalkan saya. Nanti monster di rawa itu datang lagi kemari…” ujar Han Doi. “Kalau dia datang, suruh tunggu saya sebentar…” ujar Si Bungsu sambil menyelinap ke dalam hutan.

Han Doi menggerutu panjang pendek, sembari tiap sebentar menoleh ke arah rawa, di mana tadi dia baru saja melihat monster yang teramat dahsyat. Setelah kayu itu terpotong menjadi tiga bahagian, Han Doi mencari rotan dan mengapitnya dengan kayu sebesar-besar betis. Si Bungsu tiba dengan memikul nangka hutan, pisang dan empat buah durian.

“Hei dari kebun mana kau panen buah-buahan itu?” ujar Han Doi berseloroh. “Kau makanlah, saya akan merampungkan rakitmu ini…” ujar Si Bungsu. Dia mendekati rumpun bambu kuning yang tumbuh tak jauh dari tepi rawa. Memotongnya belasan batang. Kemudian dengan cepat mengikatnya menjadi lantai di bahagian atas rakit tersebut. Han Doi terkesima ketika melihat betapa bagusnya rakit itu kini. “Mari kita apungkan ke air…” ujar Si Bungsu.

Dengan mudah mereka berdua memikul rakit itu ke air. Ketika diletakkan di air, rakit itu mengapung dengan bagusnya. “Ayo ambil buah-buahan tadi, kita jemput Thi Binh dan ayahnya…” ujar Si Bungsu sambil membersihkan tiga batang bambu, masing-masing sepanjang sepuluh depa, untuk galah menjalankan rakit tersebut.

Mereka naik ke rakit itu. Kemudian perlahan Si Bungsu yang tegak di bahagian depan rakit menancapkan bambu panjang itu ke dasar rawa. Dengan menekan bambu tersebut Si Bungsu berjalan sepanjang pinggir rakit tiga meter itu ke belakang. Rakit itu segera meluncur di atas air.

Si Bungsu kemudian mencabut bambu itu, lalu berjalan ke depan. Menancapkan kembali, dan menekannya sambil berjalan ke belakang. Dengan cara demikian rakit itu meluncur cepat ke depan. Hanya sekitar lima belas menit bergalah, mereka sampai ke pohon yang dimana Thi Binh dan ayahnya menunggu. Kedua anak beranak itu tercengang melihat rakit berlantai bambu kuning, yang terlihat amat elok tersebut.

“Kita akan memulai perjalanan ke selatan. Kita akan bergantian bergalah. Saya duluan. Namun yang lain harus memperhatikan dengan seksama setiap dahan dan cabang yang menggantung, serta setiap pohon atau dahan yang mengapung di air. Dalam rawa angker ini, benda-benda itu bisa saja bukan cabang, dahan atau pohon melainkan ular, buaya atau makhluk berbahaya lainnya, yang mungkin belum pernah kita temui…” ujar Si Bungsu tatkala Thi Binh dan Duc Thio sudah berada di rakit tersebut.

Ketika Si Bungsu bergalah, dan rakit itu bergerak maju di antara pepohonan rakasa, Thi Binh melahap durian dan nangka hutan yang amat harum dan nikmat rasanya itu. Setelah beberapa saat bergalah, dan melihat Thi Binh masih saja memakan buah-buahan itu dengan nikmat, Si Bungsu tiba-tiba ikut merasa amat lapar. Dia menyerahkan galah kepada Han Doi.

“Hindari lewat di bawah cabang-cabang kayu, hindari menerobos belukar. Hindari kayu-kayu besar yang mengapung. Hindari kabut yang terlalu tebal. Tetaplah pertahankan posisi ke arah matahari terbenam,” ujar Si Bungsu pada Han Doi, saat dia akan duduk bersila di bahagian belakang rakit berhadap-hadapan dengan Thi Binh.

Si Bungsu segera ikut melahap durian yang isinya sebesar-besar lengannya itu. Dalam sebuah ruang hanya ada seulas atau sebuah isi durian. Bijinya tak sampai sebesar jempol tangan. Isi durian itu liat seperti ketan. Rasanya nikmat luar biasa. “Di Indonesia ada buah seperti ini?” tanya Thi Binh ketika melihat betapa Si Bungsu melahap buah yang kulitnya berduri itu seperti orang kalap.

Si Bungsu hanya mengangguk setelah menelan ulas ke empat, kemudian sendawa. Kemudian menatap ke     depan.     Han     Doi     yang     tegak     di     sisi      kanan     rakit     sedang      menancapkan     galahnya. Dari bahagian galah yang tersisa di bahagian atas, Si Bungsu tahu rakit mereka kini berada di tempat yang tak begitu dalam airnya. Paling-paling hanya sebatas paha. Sekitar lima depa di bahagian kiri mereka ada belukar lebat yang memanjang ke depan.

Di depan, sekitar sepuluh depa dari rakit mereka, terdapat kumpulan kabut tebal. Han Doi tengah menggalah rakit menuju arah kabut tersebut. Si Bungsu mencuci tangannya ke air rawa. Matanya nanap menatap kabut tebal yang mengapung di atas pepohonan di permukaan rawa di depan sana. Thi Binh yang sejak tadi menatap Si Bungsu melihat sikap aneh lelaki Indonesia tersebut. Kening lelaki itu berkerinyit. matanya disipitkan seolah-olah ingin menembus ketebalan kabut di depan sana, yang makin lama makin didekati rakit. “Ada apa?” tanya Thi Binh perlahan.

Si Bungsu menggeleng. Namun tatapan matanya yang tajam tetap diarahkan ke depan. Sesaat dia mengalihkan tatapannya ke kiri. Kemudian ke kanan, kemudian ke kabut tebal itu. Dia berdiri. “Berpegang erat- erat ke bambu lantai rakit…” ujarnya perlahan pada Thi Binh. Kemudian kepada Han Doi yang sedang bergalah dia berbisik. “Han Doi… Hentikan rakit….”

Han Doi tak perlu bertanya lagi kenapa rakit harus dihentikan. Dia yakin, bahwa Si Bungsu pasti mempunyai alasan yang kuat sekali untuk menyuruh menghentikan rakit. Dia lihat Si Bungsu mengambil bedil yang terletak di samping Thi Binh. Sementara Duc Thio segera pula paham, lelaki Indonesia ini mencium bahaya. Dia juga menyiapkan bedilnya serta matanya berusaha menatap keliling.

Si Bungsu menatap kepepohonan tinggi diatas kabut itu. Tak ada gerak apapun. Dia menatap ke kanan, dan disana ada beberapa burung di dahan. Ada kupu-kupu di permukaan rawa. Tapi di pohon-pohon di atas kabut itu, seperti tak ada kehidupan apapun.

Si Bungsu dengan cepat mencoba menaksir, berapa jauh sudah jarak yang mereka tempuh dari tempat mereka tersobok ular besar ketika akan membuat rakit tadi, dengan tempat mereka berada sekarang. Mungkin sudah jauh. Ular besar itu pun bergerak ketempat yang berlawanan dengan posisi mereka sekarang. Namun apa yang ada di balik kabut itu?

Dia yakin ada bahaya. Nalurinya membisikkan, bahaya itu adalah ular raksasa tadi. “Belokkan rakit kearah kanan.. perlahan…” bisik Si Bungsu kepada Han Doi. Han Doi mengangkat galahnya, menancapkannya kedasar rawa. Kemudian menekannya. Haluan rakit berputar beberapa derajat. Kemudian bergerak ke arah kanan, menjauhi kabut tebal yang tinggal hanya beberapa meter dari depan mereka. Dalam kesunyian yang amat mencekam rakit itu bergerak perlahan.

Si Bungsu berjongkok, kemudian menatap ke air rawa yang merah kehitam-hitaman itu. Ada beberapa daun kayu tua mengapung. Dia mencoba menemukan sesuatu di dalam air tersebut. Tidak ada yang dapat dilihat di karenakan kentalnya air. Si Bungsu kembali menatap ke arah pepohonan besar yang kini berada di sebelah kiri mereka, yang dipenuhi kabut.

“Han Doi, Duc thio, duduklah berjongkok… jangan berdiri….” bisik Si Bungsu sambil menatap tajam kedalam kabut. Han Doi dan Duc Thio kembali tak membantah. Perlahan mereka menurunkan tubuh, Duc thio tetap memegang bedilnya erat-erat. Tapi sebelum kedua orang itu sempurna berjongkok tiba-tiba bencana yang diduga Si Bungsu segera menampakkan wujud!

Dari balik kabut, sekitar dua depa dari air, dari palunan dedaunan yang tak terlihat dari rakit, tiba-tiba meluncur sebuah benda berbentuk pipih segi tiga dengan bahagian depan ternganga lebar dan memperlihatkan taring-taring besar dan lidah bercabang! Dengan suara mendesis tajam, kepala monster raksasa itu menyambar dengan tajam cepat ke arah rakit. “Tiarap….!!” teriak Si Bungsu.

Bersama dengan teriakan itu, bedil yang sudah ditangan kanannya memuntahkan peluru. Dalam detik yang sama pula, tangan kirinya merangkul tubuh Thi Binh saat dia menjatuhkan diri kelantai rakit.

Duc Thio dan Han Doi memekik histeris melihat besarnya kepala monster dengan panjang moncong lebih dari dua meter itu menyapu dengan cepat kearah mereka. Senjata Duc Thio juga menyalak. Namun pelurunya menghujam kedalam rawa, Duc Thio tanpa sadar menembak ketika dia sudah menelungkup dirakit. Namun kemudian kepala ular itu lenyap kembali masuk kedalam palunan dedaunan dua meter diatas permukaan air, yang memutih dipagut kabut tebal. Si Bungsu segera memuntahkan peluru kearah palunan

dedaunan ke mana makhluk itu lenyap.

Han Doi yang segera dapat menguasai diri juga memungut bedil, lalu ikut memuntahkan peluru ke arah yang sama. Demikian juga dengan Duc Thio. Sepi ! “Ada apa?” bisik Thi Binh yang terlungkup di bawah pelukan tangan kiri Si Bungsu di lantai rakit. Thi Binh sangat beruntung karena tak sempat melihat wujud monster yang menyerang rakit mereka sebentar ini. “Ada bahaya…” bisik Si Bungsu sambil matanya menatap ke dedaunan dalam arah kabut yang sudah mereka siram dengan peluru bedil itu. “Tetaplah menelungkup, pejamkan mata dan berpegang erat-erat, Thi Binh…” bisik Si Bungsu, kemudian berbisik ke arah Han Doi. “Han Doi… potong dua galahmu itu. Kayuh rakit ini terus, namun posisimu harus tetap menelungkup…” Han Doi tak perlu diberitahu sampai dua kali. Sambil tetap menelungkup dia memotong galahnya. Lalu potongan galah itu dia tancapkan ke air, dan menekannya. Rakit bergerak perlahan menjauhi kabut tersebut.

Si Bungsu bangkit. Dia berdiri dan menatap ke arah pepohonan berkabut itu sambil mengerenyitkan kening. Dia yakin monster itu masih menatap ke arah mereka dan menunggu kesempatan. Tak ada sesuatu yang bergerak di dalam kabut itu. Si Bungsu mengangkat bedil dan menembak. Namun baru peluru pertama yang menyembur, tiba-tiba kepala monster itu muncul secepat kilat dan mendesis dengan mulut menganga lebar, menyambar ke arah rakit.

Duc Thio menembak, namun gerakan melengkung kepala ular itu dari arah kanan ke kiri, seperti gerakan sabit, amat cepat. Bahkan Si Bungsu sendiri tak sempat beraksi. Pelurunya dan peluru dari bedil Duc Thio tak mengenai sasaran sebuah pun. Tragisnya, moncong ternganga dengan taring yang panjangnya hampir setengah meter itu kini menyapu ke arah Si Bungsu yang dalam posisi tegak. Si Bungsu tak sempat lagi menembak. Kepala monster yang menganga lebar itu, dengan dua biji mata merah sebesar tinju di kepalanya, hanya tinggal semeter di bahagian kanannya. Dengan gerakannya yang amat cepat, tubuh Si Bungsu hanya tinggal hitungan detik untuk masuk ke dalam moncong makhluk dahsyat itu.

Si Bungsu tidak menunduk, dia mencoba berkelit dengan memajukan kaki dan menundukkan badan. Namun sambaran kepala itu sampai sudah. Kendati dia tidak kena terkam, namun tubuhnya kena sabet ular dahsyat itu. Saat itu Si Bungsu melihat bahwa kepala ular besar ini memiliki dua tanduk yang panjang masing- masingnya sejengkal, tertancap tak jauh di atas kelompak matanya. Hanya itu yang sempat dia ingat. Sebab setelah itu tubuhnya tercampak amat jauh ke air akibat terkena senggolan kepala ular raksasa tersebut. Hanya dalam hitungan detik, kepala raksasa itu kemudian lenyap ke dalam kabut. “Kayuh rakit itu terus, Han Doi…!” pekiknya sesaat sebelum tubuhnya tercemplung ke air.

Han Doi berhenti mengayuh rakit itu. Dia menatap ke arah Si Bungsu yang tercampak sekitar sepuluh depa dari rakit. Thi Binh memekik. “Menjauh dari sini, Han Doi…!” teriak Si Bungsu, yang sudah tegak di dalam air sebatas pinggang. Namun saat itu pula kepala naga raksasa itu muncul. Kali ini kepalanya menyapu rendah di atas permukaan air, dengan tubuh yang nampaknya melilit ke kayu besar di dalam kabut, moncongnya yang menganga lebar menyabet seperti lengkung sabit ke arah tubuh Si Bungsu.

Kali ini Si Bungsu juga tetap tak bisa menembak. Waktunya sangat singkat, namun dengan tubuh tegak di dalam air, dia menghadap ke arah datangnya sambaran moncong kepala bertanduk yang amat menjijikkan, sekaligus mengerikan itu. Baik Duc Thio, Han Doi maupun Thi Binh hanya bisa menatap dengan terpaku di rakit mereka, melihat moncong ular besar itu menganga lebar menyambar ke arah Si Bungsu. Menjelang moncong ular besar itu sampai, Si Bungsu menegakkan posisi bedilnya lurus-lurus dan merentangkan tangan kanannya yang berbedil itu ke arah datangnya sambaran moncong ular itu.

Thi Binh terpekik, Duc Thio dan Han Doi merasa dilumpuhkan tatkala melihat tubuh Si Bungsu disambar ular itu dan terangkat tinggi ke udara. Namun hanya sesaat, tubuh Si Bungsu kemudian terlempar kembali ke air. Sementara kepala raksasa itu kelihatan meliuk di udara. Liukannya kemudian makin keras, menghempas dan membanting serta membuncah kabut, pohon dan dedaunan di mana tubuhnya melilit kukuh. Kini kabut di selingkar pohon kayu besar dimana tubuhnya melilit, terkuak. Ular besar itu tetap menghempas dan mulutnya tetap ternganga. Ternyata mulutnya tak bisa dikatupkan. Tersekang oleh bedil Si Bungsu.

Ternyata itulah jalan yang diambil Si Bungsu. Dia tak punya kesempatan untuk menembak. Kendati badannya demikian besar, namun gerakan makhluk raksasa ini demikian cepat. Satu-satunya yang terlintas di otak Si Bungsu adalah menyekang moncong ular itu dengan bedilnya.

Maka ketika moncong menganga lebar itu menyambar ke arahnya, dia menegakkan bedilnya. Dan siasat serta perangkapnya mengena. Moncong ular itu menyambar dengan cepat, sekaligus bedil di tangan Si Bungsu masuk ke moncongnya dan terhenti dengan posisi tegak pada bahagian pangkal moncongnya. Merasa tubuh Si Bungsu sudah berada di moncongnya, ular itu mengatupkan mulutnya, kemudian meliukkan kepala ke atas. Tubuh Si Bungsu ikut terangkat karena dia masih memegang bedilnya dengan kuat. Tubuhnya baru terlepas dan tercampak setelah kepala ular itu menghempas-hempas di udara.

Makhluk raksasa itu nampaknya menjadi berang karena tak bisa mengatupkan mulutnya. Tersekang oleh bedil yang masih tertegak di bahagian pangkal kerongkongannya. Dalam keadaan menghempas itu terdengar suara aneh keluar dari moncong makhluk raksasa itu. Perpaduan seperti suara pekik ayam jantan dan pekik monyet. Si Bungsu dengan cepat berenang kembali ke arah rakit. Duc Thio menolongnya naik. Begitu dia sampai di atas rakit, Thi Binh memeluknya dengan erat. Gadis itu menyurukkan mukanya di dada Si Bungsu sambil menangis terisak-isak. “Jangan tinggalkan aku… demi Tuhan, jangan tinggalkan aku…” bisiknya di antara isak tangis. Duc Thio menyemburkan peluru ke arah makhluk raksasa yang seolah-olah membuncah hutan belantara di dalam kabut sekitar dua puluh meter dari rakit mereka.

“Jangan habiskan peluru. Jika bedil di mulutnya tak terlepas, dia akan mati sendiri. Mungkin dalam sebulan, mungkin dalam dua bulan….” ujar Si Bungsu sambil meraih galah. “Han Doi ambil galah. Kita harus segera menyingkir dari sini. Raksasa ini bukan yang bertemu dengan kita tadi pagi. Ini yang jantannya, kepalanya bertanduk. Yang pagi tadi betinanya. Dia pasti tak jauh dari sini…” ujar Si Bungsu. “Thi Binh…. duduklah, ya. kita harus bergerak cepat…” ujar Si Bungsu membujuk gadis itu agar mau melepaskan pelukan dari tubuhnya.

Thi Binh memang melepaskan pelukannya namun tak jauh-jauh. Dia menyelosoh duduk di lantai rakit. Namun kedua tangannya masih memeluk kaki Si Bungsu. Si Bungsu dan Han Doi mulai menancapkan galah ke dasar rawa, kemudian menekannya sehingga rakit itu menjauhi neraka yang masih saja membuncah hutan di belakang mereka.

“Makhluk itu ada dua ekor…?” tanya Duc Thio yang masih berlutut di rakit sambil memegang bedil dan menatap kepala ular besar itu yang sebentar-bentar muncul dari dalam kabut. “Ya. Tadi pagi ketika akan membuat rakit ini saya dan Han Doi bertemu dengan yang betina dalam jarak yang amat dekat…” ujar Si Bungsu sambil menekan galah ke arah ke belakang kuat-kuat.

Dengan dua orang lelaki dewasa yang menggalah, rakit itu meluncur dengan cepat menyeruak di antara pepohonan besar, menembus kabut dan dedaunan, menjauh dan meninggalkan tempat yang amat menakutkan itu. Rawa ini sungguh-sungguh rawa maut. Nampaknya memang tak seorangpun yang pernah menerobosnya. Mungkin juga tidak pernah dijejak tentara Amerika atau Vietnam Utara maupun Selatan dalam pertempuran dahsyat selama belasan tahun.

“Han, arahkan rakit ke kayu besar itu…” ujar Si Bungsu tatkala menjelang sore dia melihat sebuah pohon yang sebahagian daunnya berwarna kuning dan sebahagian lagi berwarna merah di tengah rawa yang maha luas itu. Han Doi mengarahkan rakit tersebut ke arah kayu yang dimaksud Si Bungsu. Di bawah pohon yang tegak tinggi menjulang itu mereka berhenti. Si Bungsu menatap ke daun-daun kayu yang berserakan dan mengapung di permukaan air. Kemudian memperhatikan bahagian batangnya yang berada di permukaan air.

Batang pohon berwarna putih itu dipenuhi lumut, mulai semeter di atas air sampai ke bahagian bawah yang terendam ke air. Si Bungsu meraih beberapa lembar daun kayu yang mengapung di air itu. Kemudian mendekatkan rakit ke pohon. “Pinjam saya parangmu…” ujar pada Han Doi.

Dengan parang dia kikis lumut yang tumbuh di pohon tersebut sampai dua genggam. Kemudian dia tatap pohon itu dua kali. Dari bekas tetakan parang kelihatan mengalir getah berwarna kehijau-hijauan dan menyebarkan bau agak harum. Si Bungsu kembali mengambil lumut pohon itu, lalu mengapungkan lumut di genggamannya ke getah yang menetes perlahan. Setelah merasa cukup, dia menyuruh Han Doi kembali menjalankan rakit. Dia lalu duduk dan meremas-remas daun kayu yang tadi dia ambil dengan lumut yang sudah dilumur getah pohon tersebut. Semua perbuatannya dilihat dengan diam oleh Thi Binh dan Duc Thio.

Kemudian ketika rakit melewati sebuah pohon yang agak rendah, dia memetik sehelai daunnya yang lebar. Ramuan yang dia remas tadi dia letakkan di daun tersebut. Membuatnya merata di seluruh lebar daun, kemudian meletakkanya di bahagian belakang rakit. “Saya tak tahu apa nama pohon itu tadi. Namun pohon itu amat langka. Bahkan di negeri saya pun tak ada. Dari bentuk batang dan daun, dari bau yang disebarkannya, orang yang ahli meramu obat akan tahu bahwa bahagian-bahagian pohon itu amat bermanfaat untuk ramua obat, guna menyembuhkan berbagai bentuk penyakit dan luka…” paparnya sambil menatap pada Duc Thio.

Duc Thio dan Han Doi segera teringat pada ramuan yang diminumkan Si Bungsu kepada Thi Binh kemarin malam. Ingat pada ramuan yang diminumkan itu, baik Han Doi maupun Duc Thio menatap pada Thi Binh. Mereka baru menyadari, bahwa luka mirip kudis berair yang beberapa hari lalu muncul di sudut bibir Thi Binh, kini sudah lenyap sama sekali. Hanya tersisa sedikit seperti bekas luka yang sudah mengering. Dan kondisi Thi Binh sendiri kelihatan amat sehat. Wajahnya yang kemarin pucat, kini kembali bersemu merah. Kecantikannya seperti pulih. “Seperti obat yang diberikan pada Thi Binh?” tanya Han Doi sambil menancapkan galah didasar rawa. “Ya, tapi jauh lebih manjur…” ujar Si Bungsu. “Anda mempelajarinya di Indonesia?” tanya Duc Thio. “Mula-mula ya. Namun dalam bentuk yang amat sederhana. Pengetahuan yang paling berharga tentang flora yang amat manjur dibuat obat saya pelajari ketika saya di Jepang dan Amerika…” “Di Jepang dan Amerika?” tanya Duc Thio.

“Ya..” “Dari para dokter?” “Tidak, dari seorang Jepang yang bernama Zato Ichi dan Indian bernama Yoshua. Ilmu tentang tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat untuk obat-obatan ini sudah sulit di temukan. Orang-orang yang punya ilmu meramunya lebih sulit lagi di temukan…” tutur Si Bungsu. Dia lalu menuturkan tentang Kina, yang rasa getahnya amat pahit, yang tidak hanya bermanfaat menyembuhkan demam tetapi juga malaria. Obat yang berasal dari tetumbuhan di Indonesia itu kini sudah dikenal di seluruh dunia. “Bukankah tadi anda bilang, pohon tadi tak anda temukan di Indonesia?” kembali Duc Thio bertanya.

“Ya….” “Apakah tumbuhan itu Anda temukan di Jepang dan Amerika?” “Juga tidaak…” “Lalu, dimana kayu seperti itu pernah anda temui?” tanya duc Thio lagi. “Tidak pernah, baru di rawa ini…” “Baru dirawa ini?” “ya.” “Apakah anda yakin kayu tadi memang punya manfaat untuk menyembuhkan segala penyakit, termasuk luka?” “Ya…”

“Bagaimana anda mengetahuinya, padahal baru kali ini anda melihat pohon itu..?” Si Bungsu menarik napas. Dia duduk bersila di rakit. “Itulah yang saya maksud ilmu mengenal tumbuhan dan pohon yang bermanfaat untuk obat-obatan. Ada beberapa orang yang ahli untuk mengenal bentuk bentuk tetumbuhan dan pepohonan yang berkhasiat itu. Pertama dari baunya, bau pohon yang berkhasiat itu tidak berbau oleh hidung orang awam. Kalaupun mereka mencium bau dari pepohanan itu tapi tak tahu arti bau itu untuk obat-obatan. Mungkin mereka tahu pohon itu untuk obat tapi dengan apa diramu dan apa bahan peramunya..” papar Si Bungsu.

“Maaf. Anda baru pertama kali menemukan pohon itu. Katakan lah anda tahu pohon itu berkhasiat buat obat, dan anda juga tahu meramunya. Namun bagaimana anda tahu bahwa obat yang anda ramu itu ‘jauh lebih baik’ untuk berbagai bentuk penyakit, di banding obat yang anda berikan pada Thi Binh?” ujar Duc Thio.

Duc Thio sama sekali tidak meragukan kemampuan Si Bungsu dalam mengetahui pohon yang berkhasiat untuk obat dan cara untuk meramunya dia yakin benar anak muda ini mahir. Namun, karena Si Bungsu mengatakan baru pertama kali menemukan pohon itu dia memang ingin sekali mengetahui, apa ukuran jauh lebih manjur sebagaimana diucapkan Si Bungsu. Si Bungsu juga tahu, tak ada maksud Duc Thio meragukan apa yang dia jelaskan. Dia tahu, orang Vietnam ini bertanya karena didorong rasa ingin tahunya yang luar biasa.

“Pertama saya tak bisa menjelaskan apa yang menyebabkan saya begitu yakin. Barangkali karena naluri yang kuat tentang belantara dan penghuninya. Saya pernah hidup tanpa bekal di belantara lebat selama lebih dari dua tahun dalam keadaan luka parah. Secara alami hewan-hewan mengajarkan kepada saya. Melalui apa yang mereka lakukan dan saya perhatikan, tentang bagaimana harus bertahan di belantara yang ganas.Baik bertahan dari sergapan musuh yang lebih besar dan ganas, maupun bertahan hidup dari luka-luka yang mereka alami dalam perkelahian. Sejak itu hutan itu sudah menjadi rumah saya. Di hutan saya seperti mengenal setiap lekuk-likunya. Mengenai jaminan khasiat pohon yang baru pertama kali saya lihat itu, juga berdasarkan naluri…”

Si Bungsu kemudian mengambil parang yang terletak dekat Thi Binh. Sebelum ketiga orang Vietnam itu memperhatikannya dengan seksama itu paham apa yang akan dia lakukan dengan parang yang amat tajam itu, dengan cepat Si Bungsu menyayatkan parang itu kebetisnya!

Duc Thio dan Han Doi terkejut. Thi Binh terpekik. Darah mengalir dengan deras dari luka yang menganga yang panjangnya sekitar sepuluh senti di betis Si Bungsu. Si Bungsu meletakkan parang dan meraih ramuan obat yang dia taruh diatas daun yang berada di belakangnya.

Di ambilnya secubit daun dan lumut kayu yang sudah dicampur dengan getah pohon tersebut. Dia masukkan kedalam luka yang menganga. Kemudian diratakannya sampai menutupi semua bahagian yang luka. Tidak hanya ketiga orang Vietnam itu saja, Si Bungsu sendiri tercengang oleh akibat yang ditimbulkan oleh ramuan tersebut. Darah yang semula mengalir deras tiba-tiba berhenti. Dan yang lebih dahsyat lagi, ramuan tersebut seperti tersedot kedalam dagingnya. Kemudian luka yang menganga sekitar dua inchi itu perlahan menutup. Hanya dalam hitungan beberapa menit betis Si Bungsu kembali bertaut. Di bekas luka itu hanya garis putih memanjang.

“Ya Tuhan…. Ya Tuhan! Khasiat obat itu ternyata sepuluh kali lebih dahsyat dari dugaanku semula…” ujar Si Bungsu sambil menolehkan mata ke arah pohon yang dia ambil daun, lumut dan getahnya. Namun, mereka sudah terlalu jauh bergerak. Pohon itu sudah lenyap di balik ribuan pohon-pohon lain jauh di belakang sana. Ketiga orang Vietnam itu ternganga. Kalau saja mereka hanya mendengar orang bercerita tentang khasiat ramuan itu, mereka pasti akan menganggapnya sebagai bualan kosong belaka. Namun, bagaimana mereka bisa tak percaya, kalau kini mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri?

Ya, jika Si Bungsu saja yang mengenal amat banyak pohon yang berkhasiat tinggi sudah terkejut melihat demikian cepat reaksi penyembuhan ramuan dari pohon tersebut, tentu saja ketiga orang Vietnam itu jauh lebih terkejut lagi. Si Bungsu menatap keliling. Ke pohon-pohon yang memenuhi rawa tersebut. Ke airnya yang hitam kemerah-merahan. “Hutan di rawa ini sangat kaya dengan bahan obat-obatan. Mungkin suatu hari kelak, orang yang mendirikan pabrik obat akan mencari bahan bakunya kemari…” ujar Si Bungsu perlahan.

Si Bungsu terkejut ketika merasa air membasahi kakinya. Ketika dia menoleh, dia lihat Thi Binh menyauk air dari rawa dengan tangannya, kemudian membasuhkan darah di betis Si Bungsu, yang tadi mengalir dari luka yang menganga itu. “Hei, terimakasih…” ujar Si Bungsu sambil memegang tangan Thi Binh.

Kemudian dia mencelupkan kakinya ke rawa. Membersihkan sisa darah yang masih melekat di sana. Ketika malam hampir turun, Si Bungsu memetik dedaunan beberapa kayu yang tumbuh seperti semak di rawa tersebut. Kemudian membawa rakit ke tepi. Dia memilih tempat untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang, sekitar sepuluh depa dari tepi rawa. Ketiga orang Vietnam itu tak perlu bertanya apakah tempat itu aman atau tidak. Mereka yakin, nyawa mereka berada di bawah perlindungan lelaki asing yang luar biasa ini. “Kita istirahat di sini menjelang subuh datang…” ujar Si Bungsu.

Di bawah pohon rindang itu tanahnya datar dan bersih. Tak ada semak atau rumput yang tumbuh. Bersama Han Doi, dia menenteng rakit yang terbuat dari kayu gabus itu ke bawah pohon tersebut. “Lebih nyaman tidur di atas lantai bambu ini daripada di atas dedaunan kayu…” ujar Si Bungsu. Duc Thio dan Thi Binh ternganga heran melihat betapa ringannya rakit besar itu ditentang hilir mudik. Ukuran rakit itu memang cukup luas untuk tempat tidur bagi lima atau enam orang dewasa. Si Bungsu kemudian berjalan ke tepi rawa, membawa dedaunan yang tadi dia petik. Daun-daun itu dia remas, kemudian mencampurnya dengan sedikit lumpur yang dia ambil dari rawa. Kemudian dia kembali ke bawah pohon.

Dedaunan yang sudah diremas dengan sedikit lumpur itu dia tebarkan dua depa di sekeliling rakit. Kemudian dia menatap pada agas dan nyamuk yang semula bertebaran di bawah pohon itu. Hanya beberapa detik setelah ‘ramuan’ itu dia sebar, sebagian dari agas dan nyamuk itu berjatuhan menggelepar-gelepar mati. Sebagian besar lainnya pada berhamburan terbang menjauh. “Mujarab obat nyamuk tradisional ini kan?” ujar Si Bungsu sambil tersenyum.

Duc Thio dan Han Doi tak bisa berbuat lain, kecuali kagum. Mereka tak mengerti, kenapa nyamuk- nyamuk itu pada meregang nyawa. Padahal ramuan yang ditebar lelaki dari Indonesia ini baunya tidak seperti berbagai obat nyamuk yang mereka kenal. Ramuan basah yang disebar Si Bungsu justru berbau agak harum. Tapi bukan soal harum atau tak harumnya itu yang membuat mereka kagum. Yang membuat mereka tak habis pikir adalah bagaimana lelaki asing ini demikian hafalnya pada bentuk-bentuk semak dan pepohonan yang memiliki khasiat untuk obat atau racun. “Han Doi, kumpulkan dahan dan ranting kayu kering. Buat api unggun agar kita bisa memasak sesuatu untuk makan malam ini…” ujar Si Bungsu.

Dia meraih salah satu galah bambu yang panjangnya sekitar sepuluh depa itu. Kemudian berjalan ke rawa. Namun sebelum mencapai bibir rawa dia berhenti. Menoleh kepada Thi Binh, yang duduk di rakit dan juga sedang menatap ke arahnya. Sambil meruncingkan bahagian ujung bambu itu dia bertanya. “Hei, adik kecil, engkau suka makan ikan bakar?”

Thi Binh yang tak mengerti kemana arah pembicaraan itu hanya mengangguk. Si Bungsu melambaikan tangan. Menyuruh Thi Binh datang padanya. Gadis itu segera bangkit dan berjalan mendekati Si Bungsu. Sementara ayahnya dan Han Doi sedang mengumpulkan dahan-dahan dan ranting kering, sebagaimana tadi diminta Si Bungsu. Mereka menyusun dahan kering itu antara rakit dengan pohon besar yang rindang tersebut. “Engkau pernah menombak ikan?” tanya Si Bungsu yang baru selesai meruncingkan ujung galah bambu kepada Thi Binh yang sudah tegak di dekatnya. Thi Binh menggeleng. “Pernah makan ikan bakar?” Thi Binh mengangguk. “Suka?” Thi Binh mengangguk, bibirnya tersenyum. “Dari sungai di belakang rumah…” jawah gadis itu. “Berapa besar sungai itu?” “Cukup besar….” “Dalam?” “Tidak begitu dalam. Batu-batu besar banyak di sungai tersebut. Sungai itu baru dalam airnya jika musim hujan…. “Berapa besar ikan pernah didapat orang di

sana?” “Sebesar paha….” “Paha orang dewasa.. “Paha orang dewasa atau paha belalang?” Thi Binh tertawa dan mencubit lengan Si Bungsu. “Sebesar pahamu…” ujar gadis itu. “Haw, cukup besar. Ayo kita cari ikan sebesar itu…” ujar Si Bungsu sambil melangkah ke tepi rawa. Thi Binh mengikuti dari belakang. “Tunggu saja disini. Jangan ikut masuk ke air….” ujar Si Bungsu ketika akan melangkah memasuki air.

Senja sebenarnya belum turun utuh. Namun karena rawa itu dikepung belantara lebat, cuaca disana sudah cukup gelap. Dua depa melangkah ke air sudah setinggi betis Si Bungsu. Dia tegak sambil menatap ke air didepannya. Tangan kanannya mengangkat galah yang sudah diruncingkan itu setinggi bahu. Thi Binh menatap dengan tegang. Begitu juga dengan Han Doi dan Duc Thio di bawah pohon sana. Tiba-tiba Si Bungsu menghunjamkan galah bambu itu ke sebelah kanan. Galah itu meluncur sekitar empat depa, kemudian tertancap. Si Bungsu melangkah dua depa, meraih galah itu, dan mengangkatnya. Namun galah itu kosong!

“Waw, ikan-ikan itu malu padamu. Nona kecil…” ujar Si Bungsu pada Thi Binh. Gadis itu tersenyum, melepaskan nafas yang tadi tertahan. Dan saat itu tiba-tiba Si Bungsu menghunjamkan lagi galah yang runcing itu ke air, tetap kearah kanannya! Kali ini galah itu tidak di hunjamkannya sambil di lepaskan seperti tadi. Bahagian ujung galah yang sepuluh depa itu tetap dia pegang. Ujung galah itu kelihatan menggeletar. Dan ketika di angkat Si Bungsu, terlihat seekor ikan yang agak putih, besarnya tak kurang dari sebesar paha Thi Binh, beratnya barangkali sekitar 10 kilo, tersate, menggelepar-gelepar. “Dapat! Waw, dapat….!” teriak Thi Binh sambil melangkah ke air.

Si Bungsu menyerahkan galah itu padanya. Thi Binh lalu membawa ikan besar itu ke darat. “Tunggu. Ikan itu harus kita buang isi perutnya…” ujar Si Bungsu sambil mencabut parang yang dia sisipkan di pinggang. Thi Binh menyerahkan kembali galah itu kepada Si Bungsu. Si Bungsu mencabut ikan itu dari galah. Meletakkanya di tanah, kemudian membelah perutnya, mengeluarkan isi perut ikan itu dan melemparkannya ke rawa. “Hei, ikan ini bertelur… ujar Si Bungsu memperhatikan bagian di atas rongga perut ikan itu. Telurnya banyak sekali. “Pernah makan telur ikan?” tanya Si Bungsu. Thi Binh yang duduk mencangkung di samping Si Bungsu menggeleng. “Nah, nantikan rasakan betapa nikmatnya rasa telur ini..” ujar Si Bungsu sambil mencuci ikan itu di rawa.

Namun ketika mereka sampai ke bawah pohon di mana dahan-dahan kering sudah di susun bersilang, masalah segera muncul. “Tidak membawa korek api?” tanya Si Bungsu. Han Doi menggeleng. “Maafkan, saya lupa membawanya. Korek itu terletak di atas tungku…” ujar Duc Thio dalam nada bersalah. Thi Binh menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu mengerdipkan mata kepada gadis itu. “Anda membawa korek api kan?” ujar gadis itu tersenyum. Sambil membalas kerdipan Si Bungsu. Si Bungsu menggeleng.

“Anda bohong. Pasti ada…” ujar Thi Binh. “Sungguh mati, saya tidak merokok. Untuk apa saya membawa korek api?” ujar Si Bungsu sambil meyerahkan ikan besar itu pada Han Doi “Cari kayu hidup sekitar satu depa, runcingkan dan tusuk ikan ini dari ekor sampai mulutnya, agar mudah di bakar. Kita coba menghidupkan apinya..” ujar Si Bungsu.

Dia menatap keliling. Mencoba menembus kegelapan untuk melihat kalau-kalau di sekitar itu ada batu. Namun dari struktur tanah dan pepohonan rawa ini sebenarnya dia sudah tahu, tidak akan ada batu walau sebesar kelingking di areal ratusan meter di sekitar mereka. “Kau benar-benar ingin makan ikan besar itu?” ujar Si Bungsu pada Thi Binh. “Ya, saya lapar sekali. Tapi bukan karena lapar itu, saya ingin menikmati bagaimana benar enaknya telur ikan…” ujar Thi Binh. Si Bungsu menggelengkan kepala.

“Kenapa menggeleng?” “Ada keinginanmu yang lebih besar dari sekedar mencicipi rasa telur ikan itu..” ujar Si Bungsu. “Apa?” ujar Thi Binh. “Yang sangat kau ingin tahu, Nona kecil, adalah bagaimana cara aku membakar ikan itu tanpa korek api, bukan?” ujar Si Bungsu. Thi Binh ternganga. Sungguh, itulah yang memang paling di inginkannya. Perutnya memang lapar. Dia memang ingin sekali merasakan bagaimana enaknya telur ikan itu. Namun yang paling di inginkannya adalah bagaiman lelaki hebat yang selalu datang dalam mimpinya ini bisa menghidupkan api.

“Iya, kan?” tanya Si Bungsu. Thi Binh mencibir. Kemudian menggeleng dua kali. “Syukurlah kalau memang tidak. Kita makan daging ikan mentah saja…” Ucapan Si Bungsu belum berakhir, segera di potong oleh cubitan Thi Binh ke lengannya. “Lho, kok mencubit? Benar kan yang aku katakan..”

Thi Binh kembali mencibir, kemudian menggeleng. Namun cubitan tangannya semakin kuat ketika ia lihat Si Bungsu akan menjawab seperti tadi. “Baik, Baik.. kau memang tak ingin melihat. Aku yang ingin pamer bagaimana nenek moyang kita dulu menghidupkan api, bukan?”ujar Si Bungsu. “Ya, harus begitu…” ujar Thi Binh sambil kembali menguatkan cubitannya, sehingga Si Bungsu terpekik. Thi Binh mengikuti Si Bungsu ketika melangkah ke arah dahan-dahan kering yang sudah tersusun itu. Berjongkok dan mengambil sebuah dahan sebesar lengan yang cukup keras. Dengan parang dia potong dahan itu. Yang sepotong dia belah dua. Dari dahan yang terbelah dua itu, yang sebelah dia potong hingga panjangnya tinggal sejengkal.

Kemudian dia raut hingga sebesar jari, lalu ujungnya dia runcingkan. Yang sepotong lagi, yang masih utuh sebesar lengan, dia tetak, sehingga pada dahan itu itu tercipta lobang sebesar ibu jari dengan kedalaman sekitar tiga centimeter. Dahan kering sebesar lengan itu dia letakkan di tanah dekat dahan-dahan kering yang sudah tersusun rapi itu.

“Pegang ini..” ujar Si Bungsu menyerahkan kayu sebesar ibu jari yang ujungnya sudah agak runcing itu. Kemudian dia membuka jam tangannya. Menekan jam tangan itu beberapa kali. Tiba-tiba dari badan jam itu melenting kawat baja halus sepanjang lebih kurang satu meter. Kawat itu dia gelungkan dengan kuat beberapa kali ke kayu Thi Binh. Kemudian Si Bungsu mengumpulkan segenggam semak kering. Kemudian dia atur semak kering itu agak menutupi lobang di dahan yang dia buat tadi, kemudian berjalan kearh rakit dan mengambil sebuah handuk kecil dari tasnya.

“Baik, berdoalah, semoga api ini bisa hidup…” ujarnya sambil membelah handuk itu menjadi dua bahagian, masing-masing dia lilitkan ke tangannya. Kemudian dia ambil kayu kecil yang di pegang Thi Binh. “Saya akan memutar dahan kecil ini, jika saya beri tanda, terjadi gesekan ketika kayu ini berputar, anda yang menekannya, Nona kecil. Jika saya katakan keras, tekan dengan keras oke?” ujar Si Bungsu pada Thi Binh. Gadis itu mengangguk sambil meraih dahan yang dibelah Si Bungsu tadi.

Mereka berempat berlutut mengitari dahan kering berlobang yang ditutupi rumput kering halus itu. Si Bungsu memasukan ujung kayu runcing yang dia lilit dengan kawat baja tersebut ke lobang kecil itu. Kemudian dia mulai menarik kawat baja yang sebelah kanan dengan mengendurkan yang sebelah kiri. Hanya sesaat, kini giliran kawat sebelah kiri yang dia tarik dan sebelah kanan yang dia kendurkan. Dalam beberapa tarikan, kayu itu mulai berputar. Makin lama putarannya makin kencang seperti gasing. “Yap, tekan!!”ujar Si Bungsu perlahan ketika kayu kecil itu mulai berputar laju.

Thi Binh menekankan belahan kayu di tangannya kebahagian atas kayu yang berputar ligat itu. Terjadi gesekan antara ujung kayu yang agak runcing itu dengan tepi lobang di dahan kayu kering yang di bawahnya. “Agak keras…” ujar Si Bungsu. Thi Binh menekan agak keras. Gesekan kayu yang berputar kencang itu menimbulkan panas. Makin lama makin kencang. Makin lama gesekan itu meningkatkan panas di dua kayu yang bergesekan tersebut. Tiba-tiba asap mengepul sedikit dari gesekan kedua kayu kering itu. “Hidup…!” sorak Thi Binh sambil melepaskan tekanannya pada kayu itu.

Namun saat itu pula sorak gadis itu terhenti. Karena begitu tekanan dilepaskan Thi Binh, ujung kayu yang berputar itu terangkat dan lepas dari lobang kecil tersebut. Asap pun lenyap dan Si Bungsu menarik nafas. Wajahnya berpeluh. “Apanya yang hidup?”ujar Si Bungsu sambil tersenyum. Thi Binh terdiam. “Biar saya yang menekannya…”ujar Han Doi.

“Tidak, biar Thi Binh. Agar dia punya andil dan belajar bagaimana menghidupkan api. Anda dekatkan rumput-rumput halus itu ke lobang kayu jika berasap…” ujar Si Bungsu sambil kembali menarik-narik baja di dua tangannya. “Siap…?” ujarnya pada Thi Binh setelah kayu itu mulai berputar kencang. Thi Binh mengangguk. Si Bungsu kembali memutar ’gasing’ panjang itu. “Yap, tekan…!” ujarnya. Thi Binh menekan. Beberapa saat asap kembali kelihatan sedikit. Makin lama makin banyak. “Han Doi…rumputnya….!” ujar Si Bungsu. 

Han Doi mendekatkan rumput kering dan halus itu ke sekitar ujung kayu yang berputar ligat di permukaan lobang dahan kayu kering itu. Asap semakin banyak, Si Bungsu semakin kuat memutar kayu tersebut. Panas yang timbul akibat gesekan yang amat kuat antara dua kayu kering itu menimbulkan panas yang makin tinggi. Lalu, tiba-tiba ada percik api memakan rumput kering tersebut. Lalu lagi, api menyala kecil. Lalu lagi, Han Doi menambah rumput keringnya. Si Bungsu sampai berpeluh memutar kayu itu. Lalu. Wwwwussss! 

“Nyala…!” seru Thi Binh takjub. “Nyala…!” seru Duc Thio dan Han Doi hampir bersamaan. Si Bungsu terduduk di tanah bermandi peluh. Kemudian dia membuka gulungan kawat baja tersebut dari kayu kecil itu. Kemudian menekan tombol di jam tangannya. Wuuuut! Kawat baja itu segera tergulung dan masuk kebahagian bawah plat jam tersebut. Dengan mengeluarkan suara ’klik’ yang halus, sisi jam itu kembali menutup. Kawat baja halus itupun lenyap dari pandangan. Han Doi cepat menambahkan rumput dan dedaunan kering. Api pun menyala, makin lama makin besar. Duc Thio, menyusun hati-hati, ranting-ranting kecil ke api yang memakan ranting-ranting dan dedaunan kering. Api itu segera memakan ranting-ranting kering tersebut. Han Doi dan Duc Thio secara hati-hati memindahkan susunan dahan kering tadi ke atas api yang menyala itu. Hanya dalam waktu tak begitu lama, tempat mereka di bawah pohon besar itu sudah terang benderang oleh api unggun.

Si Bungsu berdiri, berjalan ke belukar sekitar sepuluh depa dari pohon itu. Memotong dua buah dahan kayu sebesar lengan. Menyisik ranting-rantingnya, meninggalkan sebuah cabang dan memotong cabang itu sekitar sejengkal. Dia kembali kedekat api unggun. Menancapkan kedua dahan itu masing-masing disisi yang berlawanan pada api unggun tersebut. “Taruh ikannya, Han…” ujar Si Bungsu.

Han Doi mengambil ikan yang sudah dia tusuk dengan kayu sebesar ibu jari kaki dan panjangnya hampir sedepa. Kemudian meletakkannya pada dua cabang pendek dan sudah tersedia di dahan yang tadi ditancap Si Bungsu. Kini ikan itu tepat berada di tengah api unggun yang semarak itu. Terdengar bunyi berdesis ketika lidah api menjilati tubuh ikan besar tersebut. “Han Doi cari dahan-dahan kayu kering yang lebih besar. Agar apinya tetap meyala sampai pagi. Nona kecil, kau jaga baik-baik ikan itu agar tak jadi arang. Nanti kau tak jadi menikmati telur ikanmu. Saya akan cari garam, agar ikan itu tak hambar..” ujar Si Bungsu sambil berdiri.

Dia mengambil sebuah puntung yang agak besar dan masih menyala. Kemudian melangkah ke rawa. Menyuluhi beberapa pohon perdu yang tumbuh di air sebatas paha itu. Kemudian mengambil lima sampai sepuluh lembar pucuk daun dari tiga pohon yang berbeda. Di lemparkannya suluh puntung menyala tersebut ke dalam air. Kemudian dengan kedua tangannya dia remas daun-daun tersebut, kemudian dia celupkan ke dalam air. Kemudian mencicipi air remasan tiga jenis pohon tersebut. “Hmmmm, masih banyak rasa asamnya…” ujarnya perlahan.

Kemudian dia melangkah lagi kesalah satu jenis pohon semak-semak yang salah satu daunnya yang dia ambil tadi. Kemudian dia kembali meremas dengan daun yang sudah dia ambil tadi, setelah itu dia kembali dia cicipi air remasan tersebut. “Lumayan…” bisiknya sambil melangkah ke darat. Di dekat api unggun Duc Thio dan Han Doi tengah memasukkan kayu-kayu kering ke api. Mereka yang sejak tadi sudah memperhatikan Si Bungsu di rawa, melihat anak muda itu membawa segenggam dedaunan. “Coba cicip, apa rasanya?” ujar Si Bungsu pada Duc Thio.

Duc Thio menadahkan telapak tangannya. Si Bungsu meremas daun itu perlahan. Air menetes ke telapak tangan lelaki tersebut. Han Doi yang ingin tahu juga berbuat hal yang sama. Thi Binh juga tak mau ketinggalan, menampungkan telapak tangannya. Mereka sama-sama mencicipi air perasan dedaunan tersebut dengan menjilati tangan masing-masing. Dan ketiga orang Vietnam itu merasa heran, kendati agak sepat-sepat sedikit, namun air remasan daun itu memang asin, sebagai mana jamaknya rasa garam. “Serasa garam..?” tanya Si Bungsu.

Duc Thio menggangguk, Han Doi mengangguk. Hanya Thi Binh yang menggeleng sambil mencibirkan bibirnya. “Tidak asin?” tanya Si Bungsu pada gadis itu. Gadis itu menggeleng. “Lalu rasa apa, asam?” “Juga tidak… “Lalu rasa pahit?” “Tidak…” jawab Thi Binh. “Lalu rasa apa?” “Memang ada sedikit rasa asin. Tapi aku rasa bukan karena dedaunan itu. Rasa asin itu pasti dari keringat tangan mu…” ujar Thi Binh. Duc Thio ingin marah pada anaknya, yang dia anggap kelewatan. Tapi melihat Si Bungsu tersenyum, dan malah kemudian tertawa renyah atas kebandelan Thi Binh, dia ikut tersenyum.

“Han Doi, sayat-sayat ikan ini, agar tetesan air asin ini bisa merasuk ke dagingnya…” ujar Si Bungsu. Setelah ikan itu di sayat di beberapa bagian, Si Bungsu meneteskan air remasan kayu tersebut. “Putar ikannya Han Doi…” ujar Si Bungsu. Han Doi memutar kayu pemanggang ikan tersebut. Bahagian atas dia putar ke bawah, ke arah api yang menyala. Kemudian kembali menyayatkan mata parangnya yang amat tajam pada ikan tersebut. Si Bungsu kembali meneteskan remasan dedaunan tadi, bau harum segera merebak di bawah kayu yang rindang tersebut.

Ketika saatnya ikan tersebut akan diangkat, Si Bungsu meletakkan di atas beberapa daun lebar yang disatukan. Kemudian membelah perutnya. Mengeluarkan telur ikan tersebut, yang besarnya sekitar selengan lelaki dewasa. Kemudian kembali dia ambil daun yang tadi dia remas. Dia teteskan air remasan daun tersebut. Lalu di potong-potongnya, bagian terbesar dia berikan pada Thi Binh. “Ini untukmu, Nona kecil. Nikmatilah…!” Thi Binh meniup-niup telur ikan bakar tersebut, menghilangkan panasnya. Kemudian mencicipi sedikit. Kemudian sedikit lagi. Lalu di suapnya besar-besar. Mulutnya penuh sesak, matanya mendelik-delik saking enaknya.

“Enak…?” tanya Si Bungsu sambil mengunyah daging ikan tersebut. Thi Binh menggelengkan kepala. Duc Thio mendelikkan mata pada anaknya. “Kalau tak enak kenapa habis semua…” ujar Si Bungsu acuh tak acuh. “Karena saya lapar, karena tidak ada yang mau dimakan…” jawab Thi Binh tak mau kalah. “Rasa apa telur ikan itu?” “Sebenarnya enak, kalau saja…” dia sengaja menggantungkan kata-katanya.

Si Bungsu tahu sambungan kata -kata Thi Binh yang tak mau kalah tersebut. Dan dia pura-pura tidak tahu, dia tetap bertanya, karena dia ingin Thi Binh melanjutkan kedegilannya. “Kalau saja apa?” “Yah, kalau saja tak bercampur dengan air telapak tangan mu. Jadi air telapak tanganmu yang membuat telur ikan ini tidak enak…” ujar Thi Binh, ucapannya yang memang sudah diduga Si Bungsu akan di lontarkan gadis itu. Semua tertawa. Mereka memakan daging ikan sebesar paha orang dewasa itu, rasanya teramat sangat nikmatnya, sampai ludes. Kemudian dengan di terangi cahaya api unggun, mereka mempelajari peta daerah rawa tersebut. “Hei lihat! Tempat kita ini sebuah pulau di tengah danau, bahagian berlawanan dengan yang memburu

kita kemaren malam….” ujar Si Bungsu, sambil menunjuk sebuah titik kecil di peta. Duc Thio dan Han Doi memoloti peta itu. “Anda yakin tempat kita berada ini sebuah pulau…?” tanya Han Doi.

“Ya, saya yakin itu. Struktur tanah dan pepohonannya, struktur lumpur dalam air tadi, mengindikasikan secara kuat bahwa tempat kita ini sebuah pulau di tengah danau. Lagi pula, sebelum kita tadi menepi saya sudah menduga ini sebuah pulau. Ada bahagian daratan yang seolah-olah menghilang di ujung kanan sana, ini berarti bahagian ujung pulau ini. Jarak pulau ini ketepi kanan, kesisi kita di buru kemaren malam, menurut peta ini sekitar satu kilometer, jarak ketepi kiri hanya seratus meter….” ujar Si Bungsu, sambil menunjuk ke beberapa bagian di peta tersebut.

Mereka sama-sama terdiam setelah itu, sampai akhirnya Si Bungsu kembali bicara perlahan. “Dari peta ini, jika tetap memakai rakit, kita baru bisa mencapai ujungnya, yaitu tempat terdekat ke bukit-bukit batu ini, di mana para tawanan Amerika di sekap, sekitar sore besok….” ujar Si Bungsu menunjuk bukit-bukit di maksud, setelah memperhatikan peta itu dengan seksama.

Baik Duc Thio maupun Han Doi hanya diam mendengarkan. Mereka paham kemana arah ucapan si Bugsu. Thi Binh lah yang kemudian bicara. “Maksud tuan dengan jalan darat, setelah melintasi bagian danau yang seratus meter ini, tempat ini lebih cepat di capai?” Si Bungsu menatap gadis itu kemudian mengangguk.

“Maksud tuan, agar lebih cepat sampai di sana, Tuan seorang yang akan pergi, dan kami bertiga menanti di sini sampai Tuan membawa tawanan itu kemari?” Duc Thio dan Han Doi terkejut mendengar ucapan Thi Binh, namun Si Bungsu menatap gadis itu dengan nanap-nanap. “Engkau cerdas sekali, Adikku..” “Aku bukan adikmu,…..!” sergah Thi Binh. Sergahannya yang kuat itu membuat Duc Thio dan Han Doi kaget bukan mainnya. “Thi-thi….!” ujar ayahnya dengan nada menahan marah.

Namun kemarahan Duc Thio itu di lerai Si Bungsu dengan tatapan sambil menggelengkan kepala kepada Duc Thio. Si Bungsu menatap gadis itu tepat-tepat. Thi Binh balas menantang tatapan Si Bungsu. “Kau kira aku anak-anak?” kembali Thi Binh menyergah dengan suara tajam.

Dan untuk kesekian kalinya ayahnya serta sepupunya di buat kaget dan heran. Yang tak kaget dan heran adalah Si Bungsu. Dia faham benar apa yang ada di dalam hati gadis cantik di depannya ini. Namun dia tak ingin gadis ini terseret perasaan yang amat di luar kontrol fikiran warasnya.

“Engkau ingin tetap ikut, Thi-thi…?” ujarnya perlahan tanpa melepaskan tatapannya dari mata Thi Binh, yang juga masih saja nanap menatapnya. “Aku tak ingin belas kasihan mu…!” kembali gadis itu bersuara ketus. Si Bungsu mengulurkan tangannya bermaksud membelai kepala gadis itu. Namun gadis itu menepis tangan Si Bungsu dengan kasar. Namun, mana mau Si Bungsu di tepis begitu. Dengan gerakan yang amat cepat menyambar bahu Thi Binh. Kemudian merenggutkannya sehingga gadis itu jatuh di pelukannya.

Thi Binh meronta. Memukul dan mencakar. Namun Si Bungsu tak melepaskan dekapannya dari tubuh gadis itu, sembari memberi isyarat pada Duc Thio dan Han Doi agar tak bersuara. Dan akhirnya Thi Binh membalas memeluk Si Bungsu, kemudian terdengar tangisnya. “Aku tak mau kau tinggalkan, Bungsu. Aku akan bunuh diri jika kau tinggalkan..” ujarnya di antara tangis.

Han Doi ternganga mendengar ucapan adik sepupunya itu. Duc Thio seperti tak percaya dengan apa yang di dengarnya, untuk kemudian menunduk. Matanya berkaca-kaca. “Aku takkan meninggalkanmu, percayalah…” ujar Si Bungsu perlahan sambil membelai kepala gadis itu. “Engkau akan meninggalkan aku, karena diri ku terlalu kotor untukmu…” isak Thi Binh. “Jangan berkata begitu, Thi Binh, jangan berkata begitu…” ujar Si Bungsu. “Jangan panggil lagi aku ‘Adik’, aku seorang wanita…” bisik Thi Binh.

Duc Thio tiba-tiba merasa luluh melihat nasib anaknya. Dia faham benar,anak gadisnya yang baru berusia lima belas tahun ini belum pernah jatuh hati. Dia lalu teringat cara anak gadisnya itu menatap lelaki dari Indonesia ini sepanjang perjalanan di atas rakit. Bahkan ketika dia berada dalam pelukan Si Bungsu di belantara, saat awal melarikan diri. Duc Thio tiba-tiba arif, anak gadisnya jatuh hati pada lelaki dari Indonesia itu. Dia merasa sesuatu tersekat di tenggorokannya. Dia tak tahu harus berbuat apa.

“Baik, engkau akan pergi bersamaku, Thi-thi. Engkau akan bersama dengan ku ke bukit-bukit itu. Kita bersama-sama membebaskan tawanan itu, oke?” ujar Si Bungsu menghibur. Thi Binh mengangguk dalam pelukan Si Bungsu. Sementara Han Doi bangkit, dia memberi isyarat akan ke rakit. Si Bungsu mengangguk. Duc Thio memasukan dua potong kayu kering ke api unggun. Kemudian dia juga memberi isyarat pada Si Bungsu bahwa dia akan pergi ke rakit yang jaraknya hanya beberapa depa dari api unggun.

Si Bungsu menyandarkan punggungnya ke pohon besar itu, kemudian melunjurkan kaki. Lalu perlahan dia lepaskan pelukannya pada tubuh Thi Binh. Menatap ke mata gadis itu tepat-tepat. “Tidakkah engkau dapat menerima ku sebagai abangmu..?” bisiknya perlahan. Kendati dia berusaha agar ucapannya sangat perlahan, namun ucapannya itu tetap terdengar Duc Thio dan Han Doi, yang ternyata belum tidur. “Thi-thi, karena saya seusia dengan abangmu, anggap aku ini abangmu, oke?” Thi Binh menatap tepat-tepat kemata Si Bungsu. “

Engkau mencintai gadis yang di kapal perang itu?” ujar Thi Binh perlahan sambil menatap kemata Si Bungsu. Si Bungsu di buat kaget oleh pertanyaan itu. Dia tahu, yang di maksud Thi Binh pastilah Ami Florence, adik Le Duan. Ditatapnya mata Thi Binh, kemudian dia menggeleng. “Dia lebih cantik dari aku?” ujar Thi Binh. Bulu tengkuk Si Bungsu di buat merinding oleh pertanyaan ini. Dia menggeleng dan gelengannya memang jujur. “Engkau lebih menyukai dia dari aku, karena aku bekas diperkosa puluhan ten…” ujar Thi Binh terhenti. Di hentikan oleh tamparan Si Bungsu. Duc Thio mendengar ucapan anaknya. Han Doi mendengar ucapan sepupunya, mereka juga mendengar tamparan. Mereka yakin yang menampar Si Bungsu. Sebab,

bersamaan dengan suara tamparan itu kata-kata Thi Binh terputus.

Baik Duc Thio maupun Han Doi ingin bangkit dari berbaringnya. Namun mereka sama-sama tak melakukan hal itu. Mereka tetap berbaring diam. Sementara itu mereka kembali mendengar suara Thi Binh, yang diucapkan perlahan namun dengan nada mendesak.

“Katakan. Kau tak suka padaku karena aku….” gadis itu menghentikan ucapannya, karena dia lihat tangan Si Bungsu siap-siap menempelengnya. Mereka bertatapan seperti akan berbunuhan. Namun akhirnya Si Bungsu mengulurkan tangan. Dan Thi Binh kembali menyandarkan dirinya ke dada lelaki dari Indonesia itu. “Jangan pernah kau sebut lagi, engkau bekas di perkosa puluhan tentara Vietnam itu. Jika engkau sendiri

tak mau melupakannya, maka tak seorangpun yang bisa menolongmu untuk sembuh dari trauma itu. Engkau berusaha melupakannya, salah satu cara untuk itu adalah dengan tak lagi menyebut-nyebut peristiwa itu, mengerti engkau Thi Binh?” Gadis itu menangis terisak. Kemudian mengangguk. Dalam posisi berpelukan itu, mereka saling berdiam diri, lama sekali.

“Engkau mencintai gadis di kapal perang itu?” tiba-tiba Thi Binh mulai lagi. Si Bungsu menarik nafas panjang. Di ciumnya rambut gadis itu perlahan. Kemudian dia berbisik.

“Aku memang menyukainya, Thi Binh. Kami bertemu dan bersama-sama selama beberapa hari. Amatlah tidak wajar kalau orang bisa jatuh cinta padahal baru beberapa hari saling mengenal, bukan?” ujar Si Bungsu. “Yang kau maksud dirimu atau diriku?” ujar Thi Binh yang merasa tersindir oleh ucapan Si Bungsu. Si Bungsu tersenyum. Untung saja Thi Binh tidak sedang menatap padanya, sehingga gadis itu tak tahu kalau dia tersenyum. Si Bungsu tersenyum karena gadis itu ternyata peka dan tajam sekali perasaannya. Dia memang tak bermaksud menyindir, namun sekedar menasehati, bahwa amatlah tak baik kalau orang cepat jatuh hati.

“Kau menyindirku, bukan?” ujar Thi Binh perlahan, namun dengan nada menyerang. Si Bungsu di buat gelagapan. “Tidak menyindir, hanya menasehati. Umurku jauh lebih tua darimu, seusia abangmu. Wajar kalau aku memberi nasehat bukan?” “Ya, tapi kau bukan abangku….” ujar Thi Binh.

Si Bungsu kembali menarik nafas panjang. Dia belum pernah bertemu dengan gadis berhati keras seperti ini dan degilnya juga seperti ini. Dia tak habis pikir, kenapa gadis secantik Thi Binh ini juga mempunyai sikap sekenyal ini. “Betul engkau belum mencintai gadis Indo itu?”

Kembali Si Bungsu dikagetkan dan di buat jengkel dengan oleh serangan pertanyaan Thi Binh, yang masih saja menyandarkan kepala ke dadanya. Dia jadi jengkel atas ”belum” yang di ucapkan gadis ini. Kata yang sepatah itu pasti menyindirnya. “Apa maksud mu dengan kata ’belum’ itu? Kenapa pertanyaan mu tak berbunyi

: ‘betul engkau tidak mencintai gadis indo itu?’ Kenapa harus pakai ‘belum’?” cecar Si Bungsu.

Thi Binh tertawa renyah. Alamaak! jengkel hati Si Bungsu mendengar tawa renyah itu. Sebenarnya tawa itu sangat merdu, kalau saja mereka dalam kondisi dan situasi biasa. Tapi kini, kondisi dan situasi memang tidak biasa. Dia sedang berusaha agar gadis itu tidak tersesat mencintainya. Dan ketika dia berusaha seperti itu, dia di tertawakan. Oo, alangkah jengkelnya. “Apa yang kau tertawakan?” ujar Si Bungsu berusaha manahan sabar, dengan tetap memeluk bahu Thi Binh. “Yang mana yang harus ku jawab duluan? Pertanyaan yang pertama tadi atau kenapa aku tertawa..?” ujar Thi Binh sambil kembali memperdengarkan tawa renyahnya.

Alamaaak!. Pertanyaan dan tawa itu seperti menusuk-nusuk puncak kada Si Bungsu. Saking jengkelnya, tawa renyah yang indah dan menyenangkan yang keluar dari bibir gadis itu sampai ke telinga Si Bungsu seperti tertawa kuntilanak. Dengan bibirnya yang merah bak delima, yang bentuknya amat sensual, gadis itu mendesah perlahan. “Yang mana harus di jawab dulu, yang?”

Ketika dia dalam keadaan di puncak jengkel itu, tiba-tiba pula Thi Binh mengangkat kepala. Menatap dari jarak hanya sejengkal ke mata Si Bungsu. Mungkin gadis itu tahu benar hati Si Bungsu sedang di puncak jengkel. Tapi dia bukannya berusaha meredakan, malah makin menambah-nambah bensin. Alamaaaak oooooiiiiii!

Si Bungsu hampir terlambung saking kaget dan jengkel yang tak tertahankan, mendengar gadis itu menyebutnya dengan kata ‘yang’ dan bibirnya tersenyum pula. Tapi dia cepat sadar. Puncak kadanya sedang ditusuk-tusuk gadis ini. Dia memutuskan untuk membalas, tak mau berdiam diri lagi.

“Maksudmu dengan kata ‘yang’ itu adalah….” “Singkatan dari kata ‘sayang’ …” sergah Thi Binh dengan cepat. Alaaamak ooooiiii…! Sakitnya hati Si Bungsu. “Bukan, bukan singkatan ‘sayang’ tapi singkatan ‘Eyang’, bukan?” serang Si Bungsu, berusaha membalikkan serangan. “Eyang artinya adalah Mbah, dalam bahasa kampungku artinya inyiak atau datuk. Itu yang kau maksud kan?” sambung Si Bungsu. Thi Binh kembali menyandarkan kepalanya ke dada Si Bungsu. Mati kau, ujar Si Bungsu dalam hati, yang merasa kemenangan di pihaknya.

“Ooo, itu artinya di kampungmu. Di kampungku ini, Eyang itu artinya ‘kekasih tercinta’. Itu pula maksudku…” ujar Thi Binh perlahan.

Ondeh mak oiii!!

Suara perlahan gadis itu sampai ke telinga Si Bungsu seperti gergaji kayu memotong batu. Kata-kata Thi Binh yang membelok-belokkan arti kata, yang sekaligus membelokkan serangan menjadi berbalik pada Si Bungsu, membuat Si Bungsu merasa ingin berkentut-kentut saking jengkelnya.

Buat sesaat Si Bungsu kehilangan kata-kata untuk membalas balik. Dia kehilangan kata karena hatinya di balut rasa jengkel yang amat sangat, tersebabkan dikalahkan secara telak dalam perang kata-kata barusan ini. “Jika engkau ’belum’ mencintai gadis indo di kapal perang itu, tentunya engkau masih mencintai Michiko…!” Kalau saja petir menyambar kepalanya, Si Bungsu takkan kaget seperti ini. Suara Thi Binh masih perlahan, kepalanya masih menyandar. Namun ucapan gadis itu memang mendatangkan akibat yang luar biasa. Si Bungsu menjadi menggigil. Thi Binh mengangkat kepala. Menatap pada Si Bungsu.

“Ada apa?” tanyanya perlahan sembari jarinya meraba wajah Si Bungsu. “Upik, darimana kau mendapatkan nama Michiko itu?” tanya Si Bungsu perlahan tapi bernada tajam. “Beberapa kali dia juga datang ke dalam mimpiku…” ujar Thi Binh sembari kembali berniat menyandarkan kepalanya ke dada Si Bungsu. Namun Si Bungsu menahan bahunya agar bisa menatap gadis itu dengan jelas. “Tak pernah kau sebutkan sebelum ini tentang dia. Yang kau sebutkan hanya gadis di kapal perang itu…” ujar Si Bungsu dengan wajah berkeringat. 

“Saya baru menyebutkannya…” ujar Thi Binh sembari membalas menatap Si Bungsu. “Dia juga pernah datang ke dalam mimpimu…?” tanya Si Bungsu perlahan. Thi Binh mengangguk. “Dua kali. Pertama dua hari sebelum aku di keluarkan dari sekapan Vietnam. Kedua ketika engkau sudah datang kerumahku, dalam tidurku setelah aku di beri obat…” tutur Thi Binh perlahan. “Bagaimana rupanya orang yang bernama Michiko itu?” tanya Si Bungsu menyelidik. Penyelidikan yang tak diperlukan. Karena pertama, Thi Binh memang belum pernah mengenal Michiko, dan tak tahu hubungan orang-orang yang datang ke dalam mimpinya. Kedua, tak ada urusannya membuat-buat cerita yang tak dia mengerti. Thi Binh lalu menceritakan ciri-ciri Michiko yang datang ke dalam mimpinya.

“Dia mengatakan sesuatu padamu?” ujar Si Bungsu dengan persaan yang nyaris tak percaya bahwa orang-orang yang tidak saling mengenal bisa bertemu di dalam mimpi. “Dia bercerita panjang….” ujar Thi Binh. “Apa yang dia ceritakan?” ujar Si Bungsu mulai berkeringat. “Dia ceritakan bahwa engkau adalah lelaki yang sangat dia cintai. Bahkan sampai kini. Kendati dia menikah dengan lelaki lain di Amerika. Dia menikah karena putus asa, menyangka kalian tak akan pernah lagi bertemu. Dan dia berpesan, agar menjagamu baik-baik. Selain itu…” Thi Binh menghentikan ceritanya. Si Bungsu menatapnya dengan nanap-nanap. “Engkau ingin tahu apa yang dia katakan terakhir padaku?” ujar Thi Binh. “Katakanlah…” “Dia mengatakan.. dia mengatakan, bahwa dia yakin, aku bisa membahagiakan mu…” Mereka sama-sama berdiam diri. Si Bungsu tak habis pikir, bagaimana mungkin gadis ini melihat begitu banyak tentang dirinya di dalam mimpinya. Sementara Thi Binh berdiam diri menanti jawaban Si Bungsu atas ucapannya yang terakhir. “Tidak sepatah pun bohong terdapat dalam semua ucapan yang ku katakan menyangkut mimpiku itu, Bungsu…” ujar Thi Binh lirih. Si Bungsu menatapnya. Kemudian memeluk bahu gadis itu.

“Aku yakin, tak sepatah pun engkau berbohong, Thi-thi…” ujar Si Bungsu perlahan. “Engkau yakin akan semua yang ku katakan?” Si Bungsu mengangguk. Kendati Thi Binh tak melihat dia mengangguk, tapi dari dalam dekapan dia tahu Si Bungsu mengangguk. “Juga yakin aku juga bisa membahagiakan mu?” “Aku yakin, Thi-thi. Aku yakin engkau bisa membahagiakanku. Dengan menganggap aku abang atau pamanmu, aku akan sangat bahagia…” Thi Binh mengangkat kepala. Menatap pada Si Bungsu. “Tidakkah kau bisa menerima aku sebagai wanita, bukan sebagai anak-anak?”

Mereka bertatapan. Si Bungsu harus mengakui bahwa dia amat terpesona pada kecantikan gadis belia ini. Namun terpesona dan mengagumi, bukan berarti mencintai. Ada jarak yang amat jauh dan jelas antara mengagumi dengan mencintai. “Berapa usiamu kini, Thi-thi?” “Apakah usia menjadi hal yang penting untuk saling bisa mencintai?” Si Bungsu kembali menarik nafas. Dia tak tahu harus keluar dari benang kusut yang tiba-tiba muncul antara dia dengan keluarga Han Doi ini.

“Apakah setiap lelaki membenci setiap gadis yang telah ternoda…” ucap Thi Binh terhenti ketika dekapan tangan Si Bungsu di mulutnya. “Engkau harus melupakan itu, Thi-thi. Engkau seorang gadis yang cantik. Jika kelak kita bisa keluar dari belantara ini dengan selamat, akan banyak lelaki yang amat pantas, berpangkat dan kaya, yang bisa kau pilih untuk suamimu…” bisik Si Bungsu mencoba memberi pengertian kepada Thi Binh. “Apakah kau tak jadi menikah dengan Michiko karena tidak berpangkat dan kaya?” ujar Thi Binh memburu. Si Bungsu gelagapan. “Dalam kasus saya dengan Michiko ada faktor nasib yang bermuara dengan takdir yang amat luar biasa, yang tak mampu kami merubahnya…” ujar Si Bungsu.

Thi Binh mengungkai pelukan Si Bungsu dari bahunya. Dia menggeser diri kedekat api unggun. Kemudian kembali dia merebahkan kepalanya di dada Si Bungsu yang masih bersandar di pohon besar itu. “Dalam hubunganmu dengan Michiko, engkau baru menyerah setelah nasib jatuh menjadi takdir yang tak terelakkan, barulah Michiko meninggalkan dirimu, dan kau meninggalkan dia. Begitu Bungsu?” tanya Thi Binh dari dalam pelukan Si Bungsu. “Ya..Begitulah,..” jawab Si Bungsu perlahan.

“Aku juga ingin begitu, Bungsu! Aku mencintaimu sejak engkau memperlihatkan diri pertama kali dalam mimpiku. Dan aku takkan menyerah hanya karena nasib, aku akan berjuang untuk mendapatkan untuk mendapatkan kebahagian yang tak pernah ku peroleh. Kecuali engkau memang tak menginginkan diriku. Sekarang engkau yang harus memberikan jawaban, apakah engkau menginginkan diriku untuk menjadi kekasihmu atau tidak?” ujar Thi Binh sambil mengangkat wajah menatap Si Bungsu.

Si Bungsu sudah terlalu lelah. Dia juga tak ingin melukai perasaan gadis ini. Jika dia katakan ’tidak’ gadis ini akan remuk, bukan karena jawaban ’tidak’ yang dia berikan.Tetapi oleh aib besar yang menimpanya selama dalam sekapan tentara Vietkong. Hanya dia tak bisa mengerti, mengapa gadis ini begitu tajam perasaannya. Bagaimana mungkin dia tahu secara persis apa yang ada di pikiran orang lain? Namun sebelum dia menjawab, Thi Binh kembali menyambung perkataannya.

“Di negeri lain yang tak pernah atau tak lagi dilanda perang, anak-anak barangkali menjalani kehidupan mereka secara wajar. Di negeri kami ini, Bungsu, tak satupun yang bisa engkau harapkan secara wajar. Semua peristiwa di tentukan oleh kejadian sesaat. Benar, usia ku masih muda. Namun dalam usia semuda ini, saya sudah melihat tidak hanya demikian banyak orang terbunuh, saya bahkan jadi saksi mata kekejaman dan pembunuhan yang dialami abang dan ibu saya. Saya tak pernah memimpikan akan melihat begitu banyak peristiwa berdarah dan begitu banyak ketakutan, namun itulah takdir saya. Dalam usia yang begini belia, saya sudah harus jadi korban kebuasan seks banyak lelaki…” Thi Binh berhenti. Dia kembali menyandarkan kepalanya ke dada Si Bungsu.

“Kini jawab pertanyaanku, Bungsu. Apakah engkau tak ingin menjadi lelaki yang akan kukasihi, dan membagi kasihmu agak sedikit?” Ujung suara gadis itu tak hanya lirih tapi juga bergetar oleh isak. Si Bungsu menjadi benar-benar terharu. Di peluknya gadis itu dengan erat. “Jika engkau tak malu mencintai seorang lelaki yang jauh lebih tua darimu, jika engkau tahan hidup menderita, karena aku tak berpendidikan dan tak punya apa-apa, Thi Binh, aku berdoa semoga yang kau inginkan akan kau peroleh..” ujar Si Bungsu. Thi Binh mengangkat wajah. Menatap pada Si Bungsu. “Aku mencintaimu,Bungsu. Maukah engkau menciumku?”

Si Bungsu menarik nafas. Dia tak tahu apakah yang dia ucapkan tadi benar, dan apakah yang akan dia lakukan saat ini juga benar. Jauh di lubuk hatinya, dia tetap tak bisa menerima kenyataan betapa jauhnya jarak usia yang membedakan dirinya dengan gadis ini. Namun dia benar-benar tak mau melukai gadis di depannya ini, perlahan dengan lembut di raihnya wajah Thi Binh dengan kedua telapak tangannya. Kemudian dengan lembut di ciumnya mata gadis itu. Lalu di ciumnya keningnya, pipinya dan..bibirnya. Di ciumnya dengan lembut dan lama. Dan dirasakannya airmata gadis itu mengalir di pipinya. Di peluknya Thi Binh dengan erat-erat. “Jangan menangis…aku akan selalu menjagamu..” bisiknya perlahan. “Aku menangis karena baru kali ini mencintai dan dicintai seorang lelaki, aku sangat bahagia…” bisik Thi Binh sembari mempererat pelukannya di tubuh Si Bungsu.

Si Bungsu menarik nafas. Matanya menatap kearah rawa. Seperti mencoba menembus kegelapan kental ditengah rawa sana. Dia akhirnya memutuskan, selama dalam pelarian ini, dia akan mengasihi gadis itu. Dia yakin, jika kelak sampai di kota, dan gadis ini bisa kembali bersekolah serta hidup secara normal lagi, fikirannya pasti akan berubah. Dia yakin akan hal itu. Sekali lagi dia menikamkan tatapan matanya ketengah rawa sana. Tak ada apapun yang terlihat. Tak ada suara apapun yang terdengar, selain suara burung malam yang hilang timbul. Aneh, dia merasa ada sesuatu di tengah rawa sana, yang sedang menatap kearah mereka yang berada di depan api unggun ini.

Perlahan di rebahkannya tubuh Thi Binh di atas tumpukan dedaunan kering di bawah pohon tersebut. Perasaan aneh yang mencekam itu semakin kuat, merasuk kefikiran dan nalurinya. Setelah menyelimuti tubuh Thi Binh dengan sehelai kain, Si Bungsu mengambil sebuah ranting kecil.

Ranting itu dia jentikan ke tubuh Han Doi yang sudah tertidur disisi Duc Thio. Jentikan ranting itu demikian terarahnya, Han Doi segera terbangun. Begitu bangkit tangannya meraih bedil yang terletak disisinya. Kemudian menoleh arah Si Bungsu. Si Bungsu memberi isyarat agar Han Doi membangunkan Duc Thio. Han Doi mengguncang tubuh pamannya dengan perlahan.

Lelaki itu terbangun, dan begitu di beri isyarat oleh Han Doi agar tak bersuara, dia segera meraih senjata laras panjang yang terletak di sampingnya. Si Bungsu yang sudah duduk dekat api unggun, memberi isyarat agar kedua orang itu mendekat padanya. “Ada apa..?” bisik Duc Thio begitu duduk dekat api unggun. “Sejak setengah jam yang lalu, saya berasa ada sesuatu di tengah rawa sana, yang sedang mengamati kita. Dan apapun yang mengamat-amati itu, wujudnya adalah bahaya…” ujar Si Bungsu perlahan.

Duc Thio dan Han Doi menatap kearah rawa yang kelihatan hanya gelap yang amat kental. Sambil duduk memegang bedil, Si Bungsu menunduk dan memejamkan mata. Dia berusaha menangkap gerak sehalus apapun di tengah rawa itu, untuk di pelajari apa gerangan makhluk yang sedang mengamati mereka. Cukup lama dia berbuat seperti itu, kemudian membuka mata dan menatap ke arah puncak pepohonan di rawa. “Adakah kalian mendengar sesuatu…?” Han Doi dan Duc Thio mempertajam pendengaran. Kemudian menggeleng. “Kami tak mendengar apapun…” ujar Han Doi. “Saya juga…” ujar Duc Thio. “Juga tidak suara burung malam?” tanya Si Bungsu.

Kedua orang itu menatap ke arah rawa. Kemudian menggeleng. “Itu yang mendatangkan rasa aneh pada diriku. Sejak setengah jam yang lalu, ketika saya masih bicara dengan Thi Binh, tiba-tiba suara burung malam lenyap. Ada sesuatu yang dahsyat, yang membuat mereka takut dan terbang jauh, atau tetap di tempatnya, namun mereka berdiam diri…” ujar Si Bungsu. “Apakah yang di tengah rawa itu tentara Vietnam?” tanya Han Doi. Si Bungsu mengeleng.

“Tidak ada gerak menusia yang tak bisa kutangkap. Setangguh apapun dia menyelinap. Yang mengintai kita kini bukan manusia. Namun wujudnya aku tak tahu. Tapi yang jelas, dia nampaknya tak menyerang kita karena takut pada nyala api…” dan ucapannya yang terakhir mambuat Si Bungsu sadar. Dia bisa mencoba dengan api? Diambilnya sebuah puntung sebesar lengan, yang apinya menyala dengan marak. “Siapkan senjata kalian. Saya akan melemparkan obor ini ke rawa sana. Apapun yang bergerak, siram dengan tembakan…” ujar Si Bungsu. Han Doi dan Duc Thio memutar duduk. Dengan bertelekan di lutut kiri, mereka mengarahkan moncong bedil ketengah rawa. Si Bungsu perlahan membangunkan Thi Binh. Dia tak ingin gadis itu terkejut oleh suara tembakan. “Ssst. Ada bahaya mengancam kita dari rawa sana. Tetaplah berbaring dan diam…” bisik Si Bungsu. Si Bungsu perlahan berdiri. Kemudian memutar tegak menghadap ke rawa. Lalu tiba-tiba dia melemparkan puntung yang menyala di tangannya ke tengah rawa sana. Begitu puntung itu melayang, tiba tiba wujud makhluk yang mengintai mereka itu segera menjadi jelas. Hanya saja, makhluk itu ternyata bukannya di bahagian agak ke tengah rawa, melainkan sudah berada di pinggir, hanya sekitar empat depa dari tempat

mereka!

Makhluk itu tak lain dari seekor ular raksasa berwarna hitam. Puntung api yang masih menyala itu dilemparkan justru persis ketika ular raksasa itu sedang akan melakukan serangan ke arah kelompok manusia di bawah pohon tersebut. Bahagian tubuhnya sudah keluar dari air sepanjang lima depa, dan bahagian lehernya sudah melengkung ke belakang seperti busur panah.

Gerak berikutnya dari ular itu adalah meluncurkan kepalanya ke depan, dengan mempergunakan lengkungan tubuhnya sebagai pegas. Saat itulah puntung dilemparkan, dan dengan sangat terkejut Duc Thio dan Han Doi memuntahkan peluru dari bedil mereka. Tembakan yang paling telak adalah yang dimuntahkan dari mulut bedil Han Doi, yang memang bekas tentara.

Belasan peluru bedilnya langsung bersarang di atas tenggorokan ular raksasa itu, yang sedang meluncurkan ke arah mereka dalam keadaan ternganga lebar! Kemudian dengan suara mendesis, kepala ular raksasa itu jatuh sedepa dari tempat mereka. Tubuhnya yang panjang, sekitar dua puluh depa, menggeliat dan menggelepar ketika meregang nyawa. Beberapa pohon sebesar paha berderak patah dihantam libasannya.

Ular itu menggelepar beberapa saat, kemudian mati dengan matanya yang merah bak api mendelik menatap mereka. Thi Binh tak dapat menahan rasa ngeri dan terkejutnya, dia memekik dan memeluk Si Bungsu. Si Bungsu menghapus keringat dingin yang tiba-tiba membersit di wajahnya. Duc Thio dan Han Doi terhenyak lemas dan menggigil. Makhluk yang menyerang mereka ini benar-benar monster raksasa yang amat dahsyat. Kalau saja naluri Si Bungsu tidak menangkap isyarat adanya bahaya yang mengancam, sudah bisa dipastikan mereka akan berkubur di dalam perut ular yang mengerikan ini. “Ular ini betina, yang jantan adalah yang bertanduk yang kita bunuh siang tadi. Ular ini adalah yang bertemu oleh kita saat akan membuat rakit…” ujar Si Bungsu pada Han Doi dengan suara terputus-putus.

Han Doi hanya bisa mengangguk. Dia masih dicekam teror dan ketakutan yang dahasyat. Ular betina ini nampaknya ingin membalas dendam atas kematian pasangannya. Bagi makhluk berpenciuman amat tajam ini tidaklah sulit mencium jejak musuh yang dicarinya. Buktinya, dengan mudah dia bisa menemukan tempat para pembunuhnya bermalam. “Kita berangkat…” ujar Si Bungsu.

Dia memutuskan meninggalkan tempat itu karena tak ingin teman-temannya dicekam ketakutan berkepanjangan. Sebab kepala ular itu hanya sedepa dari mereka. Dan matanya masih mendelik, seolah-olah masih hidup. Selain itu, subuh nampaknya sudah turun. Mereka segera meninggalkan tempat ini. Duc Thio mengumpulkan parang dan bedil. Kemudian bersama Han Doi mengangkat rakit itu ke rawa agak ke utara, menjauhi bangkai ular yang tergeletak di tepian di mana kemarin mereka mendarat. “Kita berangkat, mari…” bisik Si Bungsu kepada Thi Binh.

Namun gadis itu masih menggigil dan menyurukkan wajahnya di dada Si Bungsu. Nampaknya tubuhnya menjadi lemas oleh ketakutan dahsyat tersebut, sehingga tak mampu bergerak. Si Bungsu berdiri, menyerahkan parang dan bedil kepada Duc Thio. Kemudian dibopongnya tubuh Thi Binh ke rakit. Han Doi mengumpulkan peta dan galah bambu yang berserakan di dekat api unggun. Kemudian cepat-cepat menyusul ke rakit. Mereka segera mengayuh rakit itu ke tengah dan dengan cepat menyelusup di dalam kabut, menyalip di antara pepohonan raksasa dan akar-akar rawa yang menjulai seperti kelambu dari dahan-dahan.

Tak seorang pun di antara mereka yang bicara. Karena hari masih gelap, yang menggalah rakit di depan adalah Si Bungsu. Dengan nalurinya yang tajam dan hafalnya dia pada struktur belantara, dia dengan mudah mencari jalan di antara pepohonan yang dipalun kabut itu.

Thi Binh tak mau jauh dari pemuda itu. Dia duduk di rakit sambil tangannya memeluk sebelah kaki Si Bungsu yang tegak menggalah. Han Doi menggalah di bahagian belakang rakit. Sementara Duc Thio berjaga di tengah rakit, dengan bedil siap memuntahkan peluru. Dengan sikap waspada penuh, mata mereka nyalang menatap ke segala penjuru ke tempat-tempat yang akan dan sedang mereka lewati.

Ketika subuh tiba dan sinar matahari menyinari bahagian-bahagian air rawa yang tak terlindung pepohonan, Si Bungsu melihat di sebelah kanan depan ada sebuah pohon berdahan banyak dan sela-sela daun bermunculan buahnya. Dia membelokkan rakit ke arah pohon besar tersebut, yang batangnya mencuat ke permukaan air.

“Kalian kenal pohon itu…?” tanyanya sambil menunjuk ke pohon yang buahnya mirip buah apel. Han Doi dan Duc Thio memperhatikan pohon itu dengan seksama, kemudian sama-sama menggeleng. “Saya juga tak mengenalnya. Namun dari daun dan warna pohonnya, buah itu nampaknya bisa dimakan…” ujar Si Bungsu. Ketika rakit itu sampai di bawah pohon, Si Bungsu menjuluk setangkai buah berwarna kuning. Tangkai dengan empat buah kayu itu jatuh ke rakit. Si Bungsu mengambilnya sebuah. Kemudian membasuhnya ke air. Menciumnya, lalu menggigit buah tersebut. Tih Binh, Han Doi dan Duc Thio memperhatikan dengan diam. Ada beberapa saat Si Bungsu mengunyah, lalu menelan. “Waw, manis dan gurih…” ujarnya sambil menggigit buah tersebut.

Ganti kini ketiga orang Vietnam itu yang mengambil buah tersebut, membasuhnya ke air, dan memakannya. Dan mereka nampaknya sepakat, bahwa itu memang nikmat. Si Bungsu menjuluk beberapa kali lagi. Setelah terkumpul sekitar tiga puluh buah, dia lalu mengayuh rakitnya kembali.

“Untuk sementara kita harus makan buah-buahan saja. Kita tak bisa lagi memakan daging atau ikan. Terlalu berbahaya menghidupkan api untuk membakarnya. Asap api akan menimbulkan kecurigaan tentara Vietkong,” ujar Si Bungsu. Namun belum berapa jauh mereka menggalah rakit dari pohon yang buahnya lezat tapi tak dikenal namanya itu, Si Bungsu tiba-tiba berhenti menggalah. Tidak hanya itu, dia menancapkan galahnya ke dasar rawa, yang kedalaman airnya sekitar lima depa, kemudian menghentikan rakit.

“Ada apa…?” ujar Thi Bingh yang sudah tak lagi memeluk kaki Si Bungsu, melainkan sudah duduk di tengah rakit tak jauh dari ayahnya yang tetap siap dengan bedil di tangan. Duc Thio dan Han Doi menatap pada Si Bungsu, kemudian mengamati rawa itu dengan tatapan mereka ke segala penjuru. “Ada apa?” ujar Han Doi setelah tatapan matanya tak menemukan hal-hal yang mencurigakan di sekitar mereka. “Jalan ke arah yang kita tuju nampaknya nyaris tertutup,” ujar Si Bungsu perlahan.

Ketiga orang Vietnam itu mencoba menatap ke depan, ke arah mata Si Bungsu nanap memandang. Namun tak ada sesuatu yang menimbulkan kecurigaan mereka. Di depan air rawa itu tetap diam tak bergerak. Seolah-olah batu mar-mar hitam kemerah-merahan. Diam, dingin dan mencekam. “Kenapa tertutup?” tanya Han Doi. “Ada bahaya pada satu-satunya jalur yang harus kita tempuh…” ujar Si Bungsu sambil tangannya tetap berpegang pada galah yang tertancap ke dasar rawa dan matanya nanap menatap ke depan.

Ketiga orang Vietnam itu kembali berusaha menatap permukaan air di depan sana, maupun di sekitar rakit mereka. Tapi sungguh tak ada satu hal pun yang patut ditakuti yang mereka lihat. Sekitar tiga puluh depa di depan sana, di antara belukar dan pepohonan berdahan dan berdaun rindang, kabut mengapung rendah di permukaan air. “Saya tak melihat apapun sebagai tanda-tanda adanya bahaya…” ujar Duc Thio perlahan. “Saya juga tidak…” ujar Han Doi.

Si Bungsu melemparkan pandangannya sekali lagi ke depan sana. Seolah-olah ingin menembus kabut tebal itu. Kemudian menatap ke bahagian kanan, lalu ke bahagian kiri. Kemudian kembali menatap ke arah kabut tebal yang menggantung rendah itu. “Di air yang tertutup oleh kabut itu ada belasan, mungkin puluhan ekor buaya. Rawa berkabut di sana nampaknya tempat mereka berkumpul…” ujar Si Bungsu. Baik Duc Thio maupun Han Doi dan Thi Binh segera saja memelototi kabut tebal yang menutup sebahagian besar wilayah rawa sekitar tiga puluh depa di depan mereka. Namun apalah yang akan nampak, kecuali kabut dan pohon yang mencuat di atasnya. Kabut tebal itu memang benar-benar berada di permukaan air, dengan ketebalan sekitar tiga atau empat meter. Di atas kabut itu pohon-pohon besar kelihatan seolah-olah tumbuh. “Mana peta…” ujarnya pada Han Doi sambil berjongkok.

Thi Binh segera meraih gulungan peta yang ada dalam tas kain ayahnya. Kemudian menyerahkannya pada Si Bungsu, yang kemudian membuka dan membentangkannya di atas rakit. Beberapa saat dia mempelajari rawa itu dan daerah sekitarnya yang tertera di peta. Kemudian dia melihat kompas yang ada di jam tangannya. Menekan sebuah tombol, kemudian memperhatikan posisi matahari yang sudah terbit.

“Nampaknya kita tidak punya pilihan lain. Memutar ke barat atau utara terlalu jauh. Satu-satunya jalan adalah menembus kabut itu, melewati barisan buaya yang sedang mengapung di sana…” ujarnya perlahan sambil menatap pada Thi Binh, Duc Thio dan Han Doi. Mereka juga menatap padanya dengan diam. Si Bungsu menarik nafas panjang.

“Baik. Dengarkan, jika saya tak salah hitung, kabut di depan sana merupakan dinding yang tebalnya hanya sekitar dua atau tiga meter. Setelah itu setiap jengkal air rawa yang akan kita lalui adalah sarang buaya. Jumlah buaya di balik kabut itu, seperti yang kukatakan, mungkin belasan, tapi saya punya firasat jumlahnya bisa puluhan. Mudah-mudahan saya salah…” dia berhenti sebentar. Dimintanya buah mirip jambu atau apel itu kepada Thi Binh. Gadis itu mengambil sebuah, mencucinya terlebih dahulu ke air rawa, kemudian memberikannya kepada Si Bungsu. Si Bungsu mengunyahnya perlahan sambil menatap Thi Binh.

“Kau masih ingin ikut?” tanyanya pada gadis itu. “Saya akan terjun di sini bila kau tinggalkan…” ujar Thi Binh perlahan. Si Bungsu mengusap kepala gadis itu. Kemudian menatap pada Duc Thio dan Han Doi. “Kemarin dan malam tadi kita diteror dua monster yang amat menakutkan. Tapi pagi ini kita akan memasuki neraka dalam arti yang sebenarnya. Tetaplah berada di tengah rakit. Bedil takkan ada gunanya. Sekali mereka menghantam rakit habislah kita, hanya ada satu cara untuk selamat. Bila salah satu dari buaya itu mulai menghantam rakit, berusahalah untuk melompat ke dahan kayu terdekat dan memanjat tinggi-tinggi. Kesempatan itu hanya satu di antara seratus ribu, tapi tak ada salahnya untuk mencoba…” Si Bungsu menghentikan penjelasannya.

Dia kembali mengunyah dan menelan buah di tangannya perlahan. Menarik nafas panjang dan menikmati telanan terakhir dari buah di mulutnya. “Biar saya yang menggalah sendiri…” ujarnya sambil mencabut galah yang dia tancapkan di rawa. Ketika dia berdiri, dia menatap pada Thi Binh. Gadis itu juga tengah menatap padanya. “Kemarilah Thi Binh. Duduk di dekatku…” ujarnya. Thi Binh berdiri. Melangkah perlahan ke arah Si Bungsu. Berdiri di depan pemuda itu dengan mata menatap dalam-dalam ke mata Si Bungsu. “Jika… jika aku harus mati, aku hanya rela mati dalam pelukanmu…” bisik gadis itu perlahan.

Si Bungsu memeluk gadis itu erat-erat. Duc Thio tak mampu menahan air mata. Derita panjang dan dahsyat yang dialami anak gadisnya yang masih belia itu membuat hatinya runtuh. Dan kini, ketika anak gadisnya itu jatuh hati pada seorang lelaki asing yang perkasa, dia tak berani berharap banyak. Bahkan untuk berdoa agar anaknya menikah dengan lelaki itu pun dia tak punya keberanian. Dia takut berharap terlalu besar. “Engkau sudah terlalu banyak menderita, Thi-thi. Kita akan keluar dengan selamat. Engkau akan kembali melihat kota, masuk sekolah, aku berjanji untuk membuktikan ucapanku ini padamu…” bisik Si Bungsu. Lalu

mereka berpelukan dalam diam.

“Duduklah, jangan jauh dariku. Aku tak ingin engkau tak berada di dekatku jika terjadi apa-apa…” ujar Si Bungsu. Thi Binh menatap lelaki dari Indonesia itu. Perlahan didekatkannya wajahnya. Kemudian mencium Si Bungsu. Lalu perlahan dia duduk di rakit, di samping kaki Si Bungsu. Si Bungsu menatap Duc Thio dan Han Doi. “Baik, kita berangkat…” ujarnya sambil mulai menggalah.

Hanya dalam waktu satu menit, rakit itu segera menyeruak kabut di depan mereka. Udara dingin terasa menyelusup ke dalam sela-sela pakaian, membuat tubuh mereka terasa dingin. Dan tak sampai semenit kemudian, rakit itu tiba-tiba saja sudah menerobos dinding kabut tersebut.

Persis seperti yang dikatakan Si Bungsu. Kabut itu hanya merupakan dinding setebal dua atau tiga meter. Setelah itu sebuah hamparan luas air rawa di antara pepohonan besar yang tumbuh amat jarang. Dan di depan mereka… ya Tuhan, ya Tuhan…! Bukan belasan, mungkin ada puluhan ekor buaya kelihatan mengapung di permukaan air di depan mereka. Anehnya, semua buaya itu seperti berbaris, semua kepalanya menghadap ke matahari terbit. Sesayup-sayup mata memandang, ke utara maupun ke barat, yang nampak adalah kepala dan punggung buaya yang mengapung, diam tak bergerak sedikit pun!

Han Doi dan Duc Thio ternganga dan menggigil melihat pemandangan yang amat dahsyat itu. Thi Binh memeluk paha Si Bungsu erat-erat dan menahan gigilannya di sana. Si Bungsu menghentikan rakit hanya sedepa dari buaya terdekat, yang besarnya lebih besar dari pohon kelapa. Mereka berhenti dalam kebisuan yang amat mencekam. “Jangan bersuara, jangan bergerak…” bisik Si Bungsu sambil mulai menarik galahnya.

Dengan sangat hati-hati dia memasukkan galah itu ke air, lalu perlahan menancapkan ke dasar rawa, dan perlahan pula dia menekan ke arah belakang. Rakit itu meluncur amat perlahan. Si Bungsu berusaha agar tak berbuat khilaf, yang bisa membuat arah meluncurnya rakit melenceng mendekati salah seekor buaya yang mengapung diam itu.

Satu saja dari buaya-buaya itu beraksi, maka dunia mereka akan kiamat. Dua hal yang dia jaga, pertama agar rakit itu tak menyentuh salah seekor buaya, kedua bagaimana rakit itu tetap bergerak dari pohon ke pohon. Maksudnya tak lain jika terjadi apa-apa, maka mereka bisa meloncat ke pohon tersebut.

Memilih alur seperti itu sungguh sulit. Jangankan Duc Thio, Han Doi dan Thi Binh, tubuh Si Bungsu saja dibasahi keringat dingin. Mereka dicekam rasa tegang dan takut yang luar biasa. Thi Binh yang duduk di rakit, di dekat Si Bungsu tegak, memeluk dan mencengkram paha Si Bungsu dengan erat. Dia sampai tak berani membuka mata, saking takutnya.

Rakit bergerak amat perlahan. Si Bungsu mencari celah di antara barisan buaya yang berlapis-lapis itu. Jarak antara buaya yang satu dengan yang di bahagian belakang ada sekitar empat atau lima depa. Sementara jarak baris pertama dengan baris kedua dan baris kedua dengan baris ke tiga ada sekitar dua atau tiga meter, begitu seterusnya.

Di sela-sela celah itulah Si Bungsu meluncurkan rakitnya dengan amat perlahan. Melewati baris pertama ke baris kedua, yang memakan waktu antara satu sampai dua menit, bagi mereka terasa seperti bertahun- tahun. Ada sepuluh jajaran yang harus mereka lewati. Tatkala sudah melewati baris ke tujuh, tiba-tiba buaya di baris ke sembilan menghantamkan ekornya. Air muncrat ke udara. Buaya-buaya di sekitarnya pada mengangakan mulut.

Si Bungsu menghentikan rakit dan mereka semua seperti merasa sudah berada di dalam mulut buaya. Buaya di baris ke sembilan itu melibaskan ekornya karena merasa terganggu oleh seekor bangau yang hinggap di punggungnya. Ada enam ekor buaya yang mengangkat mulutnya lebar-lebar. Semula kepala dengan moncong menganga lebar itu bergerak ke kiri dan kekanan, seperti parabola televisi.

Kemudian, masih dalam posisi menganga lebar, semua kepala itu kembali menghadap ke depan. Berada dalam posisi seperti itu dengan tubuh diam tak bergerak-gerak. Mereka berempat masih terdiam seperti membeku di atas rakit. Detik demi detik merangkak seperti bertahun-tahun. Buaya di bahagian kiri, kanan dan belakang rakit tetap mengapung diam. Ada satu dua menit rakit mereka tak bergerak. Si Bungsu menahan gerak rakit itu dengan bertahan dan memegang kuat-kuat galah yang dia pancangkan ke dasar rawa. “Kita akan bergerak maju. Tetaplah waspada…” bisik Si Bungsu sambil menekan galah arah ke belakang. Rakit itu bergerak perlahan ke depan. “Perhatikan dahan terdekat, bila terjadi sesuatu melompatlah ke sana…” kembali Si Bungsu berbisik. Diangkatnya galah, kemudian ditancapkannya perlahan ke bahagian depan. Lalu ditekannya, dan kini rakit mereka bergerak hanya sedepa dari dua ekor buaya yang mulutnya masih menganga lebar.

Ketika sedang melewati buaya pertama, tiba-tiba buaya di baris paling akhir memutar badan ke arah mereka. Si Bungsu terkesiap. Duc Thio dan Han Doi mengangkat bedil. “Jangan menembak…” ujar Si Bungsu yang berdiri di bahagian depan rakit. Dia mencari akal bagaimana bisa melewati rintangan terakhir ini dengan selamat. Celakanya, buaya terakhir ini lebih besar dari buaya-buaya yang sudah mereka lewati sebelumnya. Thi Binh yang mencoba membuka mata karena mendengar ucapan Si Bungsu ‘jangan menembak’ barusan, hampir saja terpekik melihat mulut buaya yang menganga sedepa di depan rakit yang berhenti.

Padahal, di belakang mereka buaya lain juga masih menganga mulutnya menghadap lurus ke depan. Si Bungsu membelokkan rakitnya perlahan ke kanan. Celaka! Buaya itu juga mengarahkan mulutnya yang terbuka lebar itu ke arah rakit mereka. Nampaknya buaya ini memang mengintai mereka. “Di belakang…!” ujar Duc Thio yang sudut matanya menangkap ada gerakan di belakang rakit mereka. Si Bungsu menoleh. Dan dengan terkejut melihat buaya yang menganga yang baru saja mereka lewati tadi kini juga memutar kepala ke arah mereka. “Di kanan…” ujar Duc Thio.

Si Bungsu dan Han Doi menoleh ke kanan mereka. Dan mereka melihat buaya yang di kanan mereka yang tadi hanya mengapung diam, kini bergerak mendekati rakit. “Tembak mulut buaya yang di depan!” perintah Si Bungsu sambil mencabut galah. Hanya sedetik kemudian rentetan peluru terdengar memecah kesunyian. Semburan belasan timah panas menghajar mulut buaya besar yang di depan mereka. Menghancurkan kepalanya. Akibat tembakan itu sungguh luar biasa. Hampir semua buaya yang mengapung diam itu tiba-tiba bergerak.

Buaya yang kena tembak itu menggelepar dan menghempas di dalam air. Mengejutkan buaya di kiri kanannya. Dan saat itulah Si Bungsu bertindak cepat dengan galahnya. Dia menancapkan galah, kemudian meluncurkan rakit di antara dua buaya yang sedang bergerak mendekati mereka. Duc Thio dan Han Doi menghantamkan popor bedil mereka masing-masing ke kiri dan ke kanan rakit, ke kepala buaya yang sudah sangat dekat ke rakit. Buaya yang kena hantam kepalanya itu menggelepar. Seekor buaya yang berada di bahagian kiri rakit kelihatan menyelam.

Si Bungsu tahu maksudnya. Buaya itu akan membalikkan rakit mereka dari bawah. Dia melihat buaya yang lain juga sedang memutar kepala ke arah mereka. Mereka benar-benar sudah berada di pintu neraka. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, Si Bungsu menghentakkan galah dengan cepat dan dengan cepat pula menekan galah itu sambil melangkah ke belakang, agar rakit itu bisa bergerak dengan cepat.

Namun dia lupa, saat bergerak melangkah ke belakang sambil menekan galah itu Thi Binh masih memeluk pahanya. Akibatnya sungguh mengejutkan. Pelukan tangan gadis itu di pahanya terlepas. Sementara akibat gerakan Si Bungsu yang cepat, membuat Thi Binh terseret dan… jatuh ke air. Kendati sebelah tangannya masih sempat menyambar kaki kanan Si Bungsu, yang dia sambar dalam keadaan kalut, namun seluruh tubuhnya sudah berada dalam rawa.

Celakanya, saat itu pula seekor buaya yang lain berada hanya sehasta dari tubuhnya yang berada di dalam air. Mulut buaya itu segera menganga dan dengan cepat meluncur ke arah Thi Binh. Gadis itu memekik- mekik dan berusaha dengan panik mengangkat dirinya kembali ke rakit. Saat itu pula mulut buaya itu menyambar betisnya yang menggapai gapai di air. Namun sebelum celaka menimpa Thi Binh, Si Bungsu segera menghantam ujung galah ke mulut buaya yang mengaga itu. Galah bambunya menghentak pangkal kerongkongan reptil besar itu, kemudian mendorongnya kuat-kuat. Pada saat yang bersamaan, tangan kirinya menyambar tubuh Thi Binh.

Gadis itu tak berhasil dia sambar tangannya. Yang tersambar hanya bajunya. Namun itu usaha terakhir Si Bungsu untuk menyelamatkan nyawa Thi Binh yang sudah berada di ujung tanduk. Sekali betis atau kaki gadis itu kena sambar buaya, tubuh gadis itu pasti disentakkan dan di bawa jauh ke dalam air. Dan maut jelas menantinya.

Dengan sekuat tenaga pakaian di bahagian punggung Thi Binh yang berhasil dia sambar itu di sentaknya kuat-kuat. Pakaian gadis itu robek di bahagian punggungnya. Namun sentakan itu menyebabkan tubuh Thi Binh terangkat dari air, dan mereka berdua jatuh bergulingan di rakit.

Untunglah rakit itu sedang meluncur cepat ke pinggir rawa, akibat dorongan Si Bungsu pada tenggorokan buaya yang akan menyambar Thi Binh tadi.

Duc Thio menyemburkan peluru di bedilnya ke arah tiga buaya lain yang datang memburu. Demikian pula puluhan buaya yang lain pada meluncur ke arah rakit tersebut. Rakit itu tiba-tiba tersampang di akar pohon di pinggir rawa. Dua ekor buaya sudah mendekat. Duc Thio dan Han Doi kembali menembak. “Meloncat ke darat…!!” ujar Si Bungsu sambil membawa tubuh Thi Binh berdiri.

Han Doi dan Duc Thio segera melompat ke akar-akar kayu besar di tepi rawa. Hanya beberapa detik kemudian Si Bungsu dengan memanggul Thi Binh di bahunya juga melompat. Begitu sampai di daratan. Si Bungsu meletak kan Thi Binh di tanah “Ayo kita selamatkan rakit…” ujar Si Bungsu sambil bergegas kembali ke akar-akar kayu yang besar itu.

Duc Thio dan Han Doi faham, kendati mereka bisa selamat dari kejaran tentara Vietnam kelak, mereka harus tetap memiliki rakit untuk melintasi rawa maut ini. Mereka segera berlari ke arah rawa. Dan menariknya pada saat yang benar-benar kritis. Sebab begitu rakit itu disentakkan ke atas, libasan ekor salah satu buaya menghantam tempat itu Kalau saja rakit tersebut masih di sana, bisa dipastikan sudah bercerai berai menjadi kepingan tak berguna. Sementara di rawa sana, suatu kejadian dahsyat sedang berlangsung. Beberapa ekor buaya yang tadi mati ditembak Duc Thio dan Han Doi jadi rebutan belasan buaya yang hidup. Membuat rawa itu menggelegak dan berbuih oleh libasan belasan ekor buaya yang saling rebut, bahkan saling bunuh untuk mendapatkan makanan.

Bau darah yang menyebar di dalam air rawa tersebut merangsang mereka menjadi amat buas. Ada beberapa saat ketiga lelaki tersebut menatap kejadian ke tengah rawa itu dengan tegak mematung. Degan perasaan ngeri yang luar biasa, membayangkan bagaimana jadinya jika tadi mereka terbalik di rawa itu.

“Mari kita simpan rakit ini…” ujar Si Bungsu perlahan, sambil memutar badan dan melangkah ke darat. Mereka menyembunyikan rakit tersebut di antara pepohonan yang rindang. Kemudian Si Bungsu membuka peta, memberi tanda di mana rakit itu diletakkan pada peta tersebut. Mereka lalu menyandang senapan masing-masing. Kemudian mulai menerobos hutan. Mendaki sebuah perbukitan kecil tak jauh dari rawa tersebut. Dari puncak bukit batu yang memanjang itu mereka dapat melihat cukup jauh. Di depan sana, terlihat bukit-bukit batu menjulang tinggi.

“Itu, bukit yang ada pohon kayu berdaun merah itu. Di bawah bukit itu ada belasan wanita lainnya disekap untuk dijadikan pemuas nafsu. Aku kenal daun-daun merah itu, karena setiap akan pergi ke sungai kecil untuk mandi, aku selalu menatap ke puncak bukit tersebut…” ujar Thi Binh dengan suara menggigil.

Si Bungsu menatap gadis itu. Kemudian memeluk bahunya dengan lembut. “Akan kuberi engkau kesempatan untuk membalaskan dendammu, Thi-thi. Percayalah, akan tiba saatnya engkau membalaskan dendammu…” ujar Si Bungsu perlahan.

Dia tak mengatakan, bahwa dia tahu, jalan ke bukit merah itu takkan mudah. Paling tidak jarak dari bukit rendah ini ke bukit batu yang ditumbuhi pohon berdaun merah itu harus ditempuh dalam setengah hari. Namun itu ada baiknya. Mereka bisa sampai di sana ketika malam sudah turun. Si Bungsu memutuskan untuk beristirahat di puncak bukit itu beberapa saat, sembari memulihkan mental dari cengkeraman rasa takut atas teror buaya di rawa yang baru mereka tinggalkan.

“Tinggallah di sini sebentar. Saya akan kembali ke pinggir rawa sana, mencari buah-buahan untuk dimakan…” ujar Si Bungsu. Ternyata Si Bungsu pergi cukup lama. Tidak hanya Thi Binh yang merasa amat gelisah, Duc Thio dan Han Doi juga merasa cemas. Kegelisahan itu baru sirna tatkala dua jam kemudian Si Bungsu muncul. “Hai, agak terlambat ya…” ujarnya sambil meletakkan pikulan yang di ujung depan ada pisang, rambutan dan durian dan di bagian belakang ada anak rusa yang sudah matang.

Thi Binh segera melompat dan menghambur memeluknya sebelum Si Bungsu menurunkan pikulannya. “Kenapa engkau tinggalkan saya begitu lama?” bisiknya sambil terisak. Si Bungsu menjadi rikuh ditatap Duc Thio dan Han Doi. Namun dia berusaha menenangkan Thi Binh. “Baik, lain kali saya tak akan meninggalkanmu…” bisiknya. “Saya temukan anak rusa ini. Sudah saya bakar. Tak cukup kenyang kalau hanya memakan buah-buahan melulu. Membakar di dekat rawa sana lebih aman, asapnya tak kelihatan…” ujar Si Bungsu pada Duc Thio dan Han Doi.

Mereka segera melahap panggang anak rusa itu sampai ludes. Panggang daging itu ludes bukan hanya karena perut mereka lapar, tapi terutama karena rasanya memang lezat sekali. Usai makan daging panggang itu, mereka masih sempat memakan beberapa buah rambutan. Tapi, kecuali Si Bungsu, tak seorang pun di antara ketiga orang Vietnam itu yang mampu untuk menambah makan pencuci mulut dengan rambutan, apalagi durian. Ketiga orang itu sudah pada tersandar, benar-benar kekenyangan. Malah Han Doi dan Duc Thio sudah mencari tempat berbaring.

Lelah dan kenyang, menyebabkan mereka cepat tertidur. Tidak demikian halnya dengan Thi Binh dan Si Bungsu. Thi Binh kendati diserang kantuk dan lelah dan kekenyangan, namun dia tak bisa tidur begitu saja, karena cemas Si Bungsu akan meninggalkan dirinya. Sementara Si Bungsu yang sudah terbiasa dan kebal diserang lelah sedahsyat apapun, tidak mengantuk bukan karena tak mau tidur.

Melainkan karena dia ingin makan durian yang sudah dua kali dia nikmati kelezatannya itu. Dengan dua kali menghayunkan parang tajam milik Duc Thio, sebuah durian besar segera terbuka. Isinya kuning seperti kunyit. Baunya sangat harum, jika tak dia tahan, air liurnya pasti sudah tumpah bergelas-gelas saking ngilernya. “Hei, mau durian…?” ujarnya pada Thi Binh yang duduk di sisinya. Gadis itu menggeleng. “Saya kenyang

sekali…” ujarnya. “Tidak mengantuk…?” ujar Si Bungsu sambil memasukkan isi durian ke mulutnya. Thi Binh menggeleng. Si Bungsu tersenyum.

“Kenapa tersenyum?” “Duriannya enak sekali…” “Kau tersenyum bukan karena durian…” ujar Thi Binh.

Si Bungsu mengangguk. “Kenapa tersenyum?” desak Thi Binh. “Kau sebenarnya mengantuk, tapi hatimu yang keras menyebabkan engkau tak mau tidur…” ujar Si Bungsu dengan suara yang tak begitu jelas karena mulutnya dipenuhi durian. Thi Binh tak beraksi. Si Bungsu tersenyum lagi. Thi Binh menjadi jengkel. “Kenapa kau tersenyum lagi?” tanyanya. “Kerena aku senang. Senang ada yang tak tidur. Jadi aku punya teman.…” Si Bungsu tak sempat menghabiskan ucapannya, dia terpekik, karena dicubit Thi Binh.

“Kenapa kau mencubit?” ujar Si Bungsu sambil memasukkan isi durian ketiga ke mulutnya, yang besarnya sebesar lengan anak-anak. “Senyummu sebenarnya menertawakan diriku…” ujar Thi Binh, sambil tangannya tetap mencubit lengan Si Bungsu. Si Bungsu tersenyum. 

“Apa yang kau senyumkan?” tanya Thi Binh lagi. “Dirimu…” ujar Si Bungsu jujur. “Mengapa diriku?” “Kau tak mau tidur karena takut, bukan?” “Takut pada apa?” “Takut aku tinggalkan…” ujar Si Bungsu sambil menelan durian di mulutnya. Kali ini Thi Binh terdiam. Dia menatap Si Bungsu yang kembali memasukkan isi durian ke empat ke dalam mulutnya.

“Kau tahu aku takut kau tinggalkan?” ujarnya. Si Bungsu mengangguk. “Apakah kau memang akan meninggalkan diriku?” Si Bungsu menggeleng.

“Tidurlah. Aku takkan meninggalkan dirimu. Percayalah…” ujar Si Bungsu sambil menelan isi durian yang memenuhi rongga mulutnya. Thi Binh menggeleng. Si Bungsu mengelap tangannya. Kemudian membuang kulit durian jauh-jauh. Lalu dia membaringkan tubuhnya di bawah pohon rindang di mana kini mereka berada. “Tidurlah. Kita perlu memulihkan tenaga. Untuk bisa bergerak cepat ke bukit merah itu…” ujar Si Bungsu sambil menguap. Thi Binh menggeser dirinya ke dekat Si Bungsu. “Saya tidur bersamamu di sini, boleh?”

ujarnya perlahan.

Si Bungsu menarik nafas. Betapapun gadis itu masih sangat kanak-kanak, yang tak seharusnya menerima cobaan yang demikian berat. Menjadi korban perkosaan dan pemuas nafsu puluhan tentara selama berbulan-bulan. Dia mengangguk sambil mengulurkan tangan ke bahu Thi Binh. Gadis itu merebahkan dirinya di sebelah tubuh Si Bungsu. Mereka berbaring berhadapan. Saling menatap. Si Bungsu membelai wajah gadis itu dengan lembut. Menyibakkan anak rambut di dahinya.

Kemudian perlahan mencium keningnya, matanya, pipinya. Kemudian mengecup bibirnya perlahan. Thi Binh merasakan semua yang dilakukan Si Bungsu dengan sepenuh hati. Merasakan betapa bulu-bulu roma di tubuhnya berdiri, merasakan betapa bahagianya dia diperlakukan begitu oleh lelaki pertama yang dia cintai. “Tidurlah…” bisik Si Bungsu sambil memeluk tubuh gadis itu, dan menggeser dirinya, ke dekat tubuh Thi Binh. Gadis itu memeluk Si Bungsu.

“Kau takkan meninggalkan diriku, dikala aku tertidur bukan?” bisik Thi Binh sambil menatap dalam- dalam ke mata Si Bungsu, yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Si Bungsu menggeleng. “Saya tak pernah mungkir janji, Thi-thi. Saya sudah berjanji padamu, tak akan meninggalkan dirimu. Akan membawamu keluar dengan selamat dari belantara ini ke kota. Insya Allah, Tuhan akan mengabulkan janji saya…” ujar Si Bungsu perlahan sambil memainkan anak rambut Thi Binh.

“Terimakasih…” ujar Thi Binh, perlahan di antara matanya yang basah. Si Bungsu kembali membelai rambut dan wajah gadis cantik itu, kemudian mengecup bibirnya dengan lembut. Mereka berdua pun akhirnya segera tertidur berselimut angin semilir, di bawah pohon rindang di puncak bukit tersebut.

Malam sudah merangkak cukup larut ketika keempat orang itu sampai di kaki bukit berkayu merah, yang siang tadi mereka lihat dari puncak bukit di mana mereka makan dan tidur. Tatkala sampai di sebuah tempat ketinggian, tiba-tiba Thi Binh terdengar merintih.

Si Bungsu yang berada di sisinya segera berpaling, khawatir kalau-kalau gadis itu disengat binatang berbisa atau digigit ular. Thi Binh menggigil dan bibirnya bergerak-gerak, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Si Bungsu meraba dahi gadis itu. Merasakan kalau-kalau diserang demam.

Suhu badannya normal. Dia meraba nadi di pergelangan tangan Thi Binh. Denyut darah gadis itu memang terasa sangat kencang. Si Bungsu berjongkok, meraba seluruh kaki Thi Binh yang terbungkus oleh pantalon tebal. Memeriksa kalau-kalau ada kalajengking yang menyengat atau digigit ular. Namun tak ada apapun yang dikhawatirkan.

“Ada apa..?” bisik Si Bungsu, sementara Duc Thio dan Han Doi siaga dengan bedil mereka di depan. Thi Binh menunjuk ke sebuah arah di bawah bukit, bibirnya kembali bergerak seakan-akan ingin bicara. Namun suaranya seperti tersendat di kerongkongan. Si Bungsu menatap ke arah yang ditunjuk Thi Binh. Dia melihat kerlip obor di bawah sana. Ada belasan obor dipasang di depan beberapa barak panjang. Di antara cahaya obor itu, samar-samar kelihatan beberapa tentara lalu lalang. Dan tiba-tiba Si Bungsu menjadi arif, apa yang membuat gadis itu terpekik dan menggigil. “Itu barak di mana engkau dahulu pernah disekap, Thi-thi?” bisik Si Bungsu.

Gadis itu menangis, kemudian mengangguk, kemudian memeluk Si Bungsu erat-erat. Bayangan betapa dia melewatkan hari-hari penuh jahanam, di neraka di bawah sana, kembali melintas dalam fikirannya. Itulah yang membuat dia menjadi terguncang. Si Bungsu menarik nafas. Dia memeluk dan membelai punggung Thi Binh, sembari menatap pada Duc Thio dan Han Doi yang tegak berlindung di balik-balik kayu, sekitar tiga depa di depan mereka. Kedua orang itu juga tengah menatap padanya.

“Jika engkau memang benar-benar ingin membalaskan dendammu Thi Binh, engkau harus kuat…” bisik Si Bungsu. Thi Binh masih terisak beberapa saat. Kemudian dia mengangguk. Kemudian dia menghapus air mata. Kemudian menatap tepat-tepat pada Si Bungsu. “Aku kuat…!” bisik gadis itu pendek, sambil kembali mengangkat bedilnya.

Si Bungsu menarik nafas. Kemudian memberi isyarat kepada Han Doi dan Duc Thio untuk berkumpul. Si Bungsu mencari tempat yang dia rasa paling aman, selain untuk tempat mengawasi lembah di bawah sana, juga untuk mereka berunding. “Tunggu di sini, saya akan memeriksa apakah ada tentara Vietnam menjaga bukit di mana kita sekarang berada…” bisik Si Bungsu sambil bergerak untuk pergi.

Namun langkahnya tertahan oleh pegangan Thi Binh pada lengannya. Dia berhenti dan menatap gadis itu. Gadis itu juga tengah menatap padanya. Si Bungsu segera ingat janjinya, bahwa dia takkan pernah lagi meninggalkan Thi Binh meski agak sesaat. “Baik, mari kita memeriksa bukit ini…” ujarnya.

Thi Binh tersenyum. Dengan bedil di tangan kanan, dan tangan kiri memegang tangan Si Bungsu, dia segera mengikuti lelaki Indonesia itu menyelusup belantara gelap tersebut. Sementara Duc Thio dan Han Doi memperhatikan setiap gerak yang terjadi jauh di bawah sana, di lembah yang dipenuhi barak penghibur dan tentara Vietnam.

Sayup-sayup angin membawa ke telinga mereka suara gelak tentara dan pekik serta tertawa cekikan wanita. Sebagai bekas tentara dan intelijen, Han Doi memperkirakan paling tidak di bawah sana ada sekitar tiga puluh sampai lima puluh tentara. Jumlah itu tak seluruhnya. Sebab, menurut penuturan Thi Binh, barak para wanita penghibur itu terpisah dengan barak tentara.

Sementara itu Si Bungsu dan Thi Binh yang sudah memeriksa sekitar bukit itu, berhenti di sisi lain dari tempat Han Doi dan Duc Thio berada. Dari tempat mereka sekarang dengan jelas terlihat lokasi kedua barak di bawah sana. Barak pertama terdiri dari lima barang yang panjang masing-masingnya sekitar sepuluh meter. Itulah barak wanita penghibur yang tadi mereka lihat pertama kali.

Sekitar dua puluh meter dari barak itu kelihatan sebuah bukit, di baliknya terlihat lima barak panjang masing-masingnya juga sekitar sepuluh meter. Kelima barak di bangun seperti tapal kuda. Ditengahnya ada lapangan. Dari silhuet api unggun di bawah sana, Si Bungsu tahu paling tidak ada dua mitraliyur 12,7 di lapangan tersebut. Tentara berkeliaran di depan barak-barak di dua lokasi itu.

Si Bungsu memperkirakan paling tidak di bawah sana ada sekompi tentara Vietkong. Itu berarti ada sekitar 100 orang tentara Vietkong di sana. Ada lima sampai enam bukit batu yang tegak menjulang, termasuk bukit di mana kini mereka berada. Bukit mana yang memiliki goa, yang di jadikan tempat menyekap tawanan Amerika? Dia mencowel Thi Binh. Gadis itu duduk di sebuah batu besar pipih.

“Dengar Thi-thi. Agak sulit memilih mana yang di dahulukan, antara pembalasan dendammu dengan tugas saya membebaskan perawat Amerika itu. Jumlah kita yang berempat di banding dengan seratus tentara di bawah sana, sangat tidak sebanding. Jika pembebasan tawanan dan pembalasan dendammu dilakukan serentak, itu berarti kekuatan kita harus di pecah. Yang membebaskan tawanan itu dua orang, yang ikut membalaskan dendammu dua orang. Kalaupun kita bergabung berempat, kita masih belum tentu bisa berbuat banyak melawan mereka, apalagi harus di bagi dua…” ujar Si Bungsu. Di tatapnya gadis itu. Thi Binh menunduk. Dia merasakan apa yang di ucapkan Si Bungsu benar adanya. Dia menatap lelaki dari Indonesia itu.

“Jika saya memilih, antara membalaskan dendam dengan berada disisimu, maka saya akan memilih di sisimu kendati saya tak pernah bisa membalas dendam pada tentara yang sudah menodai diri saya…” ujarnya sambil menunduk. Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia peluk gadis itu erat-erat. “Terimakasih Thi-thi. Terimakasih. Percayalah, saya akan berusaha agar engkau bisa membalaskan noda yang telah kau alami. Beberapa di antara tentara Vietkong itu harus menerima pembalasan darimu. Percayalah, saya akan usahakan itu…” ujar Si Bungsu perlahan. Dia kemudian mengajak gadis itu kembali bergabung ketempat dimana Duc Thio dan Han Doi berada. Saat mereka berempat sudah berkumpul. Si Bungsu menyalakan senter yang ada pada Duc Thio. Cahaya senter itu di hadapkan ketanah, dan sekelilingnya di tutup agar cahaya tak kelihatan dari jauh.

Si Bungsu kemudian mengatur siasat. Dia menyatakan amat mengandalkan Han Doi, yang pernah menjadi tentara aktif dan intelijen. “Senjata yang kita miliki sekarang tidak memadai untuk beraksi. Coba hitung berapa peluru yang ada di bedil masing-masing?” ujar Si Bungsu sambil mengeluarkan magazin senapannya. Ketika orang Vietnam yang lainnya itu pun berbuat hal yang sama. Thi Binh di bantu oleh ayahnya mengeluarkan magazin dan menghitung peluru.

“Saya masih memiliki 14 peluru…” ujar Si Bungsu setelah menghitung sisa peluru di magazin bedilnya. “Saya hanya tinggal lima…” ujar Han Doi. “Di bedil saya tiga peluru. Dan di bedil Thi Binh dua puluh lima…” ujar duc Thio. “Baik, sekarang kita bagi sama banyak..” ujar Si Bungsu. Mereka kemudian meletakkan semua peluru itu diatas batu pipih yang mereka duduki. Kemudian, Si Bungsu membagi rata ke 52 peluru tersebut. Tiap orang memperoleh 13 butir peluru. Lalu mereka memasukan kembali peluru itu kedalam magazin senjata masing- masing.

“Dengan peluru yang ada sekarang, kita mustahil berperang melawan tentara di bawah sana. Untuk itu, kita harus berusaha mencuri senjata mereka, barangkali salah satu barak persenjataan mereka ada dinamit. Namun sebanyak apapun persenjataan yang dimiliki, kita tetap saja tak mungkin berperang melawan mereka. Kita harus menggunakan taktik tembak dan lari…” ujar Si Bungsu sambil menatap ketiga anggota rombongannya itu. Karena ketiga mereka berdiam diri, Si Bungsu menjelaskan rencana berikutnya.

“Duc Thio dan Thi Binh menunggu disini. Saya dan Han Doi akan menyelusup mendekati barak di bawah sana, untuk mencari senapan mesin atau dinamit. Kita harus bergerak cepat, sebelum siang turun…” ujarnya. Kemudian dia menatap Thi Binh. Dan gadis itu juga menatapnya. Dia ingin janjinya, bahwa dia takkan meninggalkan gadis itu, kendati agak sesaat. Dia sudah berniat mengatakan bahwa dia akan pergi bersama gadis itu, tatkala Thi Binh dahuluan berkata. “Saya akan tinggal disini bersama ayah. Tapi, berjanjilah bahwa engkau akan kembali kemari. Saya akan bunuh diri jika engkau tak kembali kemari…” ujarnya. Si Bungsu menatap gadis itu. Kemudian menatap Duc Thio dan Han Doi. Kedua lelaki itu hanya tercenung. Si Bungsu kemudian memeluk gadis itu. “Percayalah, saya akan kembali padamu disini…” ujarnya.

Sesaat setelah itu, dia dan Han Doi bergerak menuruni bukit tersebut. Mereka tetap menjaga saat menyelusup mendekati barak-barak tentara Vietnam itu gerakan mereka tetap terlindung di balik hutan belukar. Hanya sekita sepuluh menit kemudian, Si Bungsu dan Han Doi sampai di bahagian belakang barak yang membelakangi bukit. Mereka berada di sisi utara, sekitar sepuluh meter dari barak terdekat. Bersembunyi di balik bebatuan, persis di bawah bukit. “Han, kita cari barak persenjataan. Kau periksa dua barak yang dikiri, saya dua barak yang di kanan. Setelah itu kita bertemu lagi disini…” bisik Si Bungsu.

Han Doi mengangguk. Setelah memperhatikan situasi, dengan berlindung di dalam kegelapan yang kental, mereka berdua kemudian bergerak mendekati barak yang jadi tujuan masing-masing. Jauh di atas bukit, Thi Binh tengah nanap memandang ke bawah sana. Dia berharap bisa melihat Si Bungsu dan Han Doi sepupunya. Namun jelas saja dia tidak bisa melihat mereka, selain belasan tentara yang hilir mudik, atau yang sedang duduk di sekitar api unggun yang menyala sepanjang malam.

“Engkau benar-benar mencintainya?” tiba-tiba Thi Binh di kejutkan oleh pertanyaan ayahnya. Kemudian perlahan pula dia mengangguk. Duc Thio menarik nafas panjang. “Ayah keberatan?” katanya setelah ayahnya tak memberikan komentar apapun tentang angguknya barusan. Duc Thio Menggeleng. “Dia adalah lelaki yang tidak saja hebat, tetapi amat berbudi…” Thi Binh ucapan ayahnya belum selesai. Dia menanti. “Dia seorang pengembara..” ujar ayahnya perlahan. Thi Binh masih menanti kelanjutan ucapan ayahnya . “Kemaren dia di Amerika, sebelumnya di Jepang, kini bersama kita disini…” Thi Binh masih menatap pada ayahnya dengan diam. Lama tak ada yang bersuara diantara mereka.

“Kita tak tahu, kemana dia akan pergi setelah ini Thi-thi…” Thi Binh menjadi arif kemana tujuan ucapan ayahnya. “Saya akan ikut kemana dia pergi…!” ujarnya perlahan. Tak ada komentar dari ayahnya. “Ayah mengizinkan kalau saya ikut dengannya…?” Tak ada jawaban dari ayahnya. Thi Binh masih menanti. “Ayah ikut bahagia, kalau engkau bahagia menikah dengannya. Thi Binh… tapi apakah itu mungkin…?”

Duc Thio benar-benar tak mau mematahkan semangat anaknya. Dia amat tak keberatan kalau anaknya yang berusia muda belia itu, mencintai Si Bungsu. Kepahitan hidup membuat anaknya itu, dan ribuan anak- anak dalam kecamuk perang lainnya, menjadi jauh lebih dari dewasa dari usia mereka sebenarnya. Dia sungguh berbahagia kalau anaknya benar-benar bisa menikah dengan lelaki dari Indonesia itu. Dia hanya ingin anaknya menyadari, untuk mencintai lelaki seperti Si Bungsu bukanlah hal yang sulit, namun untuk hidup dengan lelaki pengembara seperti dia, merupakan hal yang sangat pelik dan nyaris mustahil. Duc Thio ingin anaknya memahami hal itu dengan baik. Agar kelak ketika dia memang menemukan apa yang dikhawatirkan itu, dia bisa memahami dan siap mental. Thi Binh sendiri memahami apa yang ada di fikiran ayahnya. “Ayah tak keberatan saya mencintainya?” Duc Thio menggeleng. “Ayah mengizinkan kalau suatu saat saya menikah dengannya?” Duc Thio kembali mengangguk. Thi Binh memeluk ayahnya. Matanya basah. “Terima kasih ayah. Saya mencintai dia. Saya tak tahu kenapa saya bisa mencintainya. Kendati saya hanya melihat dia dalam mimpi. Terimakasih ayah mengizinkan saya mencintainya. Tentang menikah, biarlah Tuhan yang menentukan kelak…” ujarnya perlahan.

Duc Thio membelai kepala anak gadisnya. Matanya juga basah. Dia amat bersyukur karena Si Bungsu demikian cepat dapat memulihkan tidak hanya kondisi fisik anaknya, tetapi juga kondisi jiwanya. Dia semula amat khawatir trauma atas perkosaan panjang yang dialami anaknya di barak-barak tentara Vietkong itu akan menghancurkan hidup anaknya sepanjang hayat. Kini ke khawatiran itu telah lenyap sudah.

Jauh di bawah sana, Si Bungsu dan Han Doi sudah berkumpul di balik batu-batu besar di kaki bukit tempat mereka mengatur penyelusupan. “Dua barak yang saya periksa hanya tempat tentara tidur…” ujar Si Bungsu sambil bersandar di batu besar di belakangnya. “Saya menemukannya. Di barak yang di tengah sana adalah tempat penyimpanan senjata, amunisi dan dinamit…” ujar Han Doi. Si Bungsu menjulurkan kepala di sela batu, memperhatikan barak yang dilihat Han Doi tempat penyimpanan amunisi dan bahan peledak tersebut. Barak itu memang lebih kecil sedikit di banding barak yang lain. Letak barak itu di tengah, di depannya terlihat beberapa tentara duduk mengelilingi api unggun, sambil menengak minuman keras. “Ada penjagaan di bahagian depan …?” tanya Si Bungsu. “Tidak. Nampaknya mereka sangat yakin tempat ini takkan pernah di jejak orang lain. Tak satupun barak yang di jaga, termasuk barak amunisi itu…”ujar Han Doi.

“Baik. Waktu kita sangat pendek. Semakin cepat kita meninggalkan tempat ini semakin baik, sebelum di ketahui dan diburu. Untuk itu, pertama kita harus mengambil peluru seperlunya, dan beberapa dinamit dan usahakan mereka tak curiga jika memeriksa kotak penyimpanan peluru dan dinamit. Dan kemudian kita akan mencari dimana tawanan Amerika itu disekap. Kini kita harus bergeser ke arah barak senjata itu…” ujar Si Bungsu.

Lalu mereka memperhatikan situasi. Kemudian keduanya mulai bergerak membungkuk. Menyelinap diantara pepohonan dan batu-batu besar kearah belakang barak amunisi tersebut. Di belakang barak itu, sekitar berjarak lima belas meter, mereka bersembunyi beberapa saat. Memang tak ada penjagaan dan malam begitu kental gelapnya. Namun mereka tetap harus ekstra hati-hati. Ketika keadaan dirasa aman, Si Bungsu memberi isyarat. Mereka merayap kebahagian belakang barak yang ternyata tak memiliki jendela. Si Bungsu memberi kode agar han Doi ke bahagian pinggir kanan barak. Mengawasi kalau-kalau ada yang datang sementara dia berusaha mencongkel agak dua keping papan dinding, sebagai jalan masuk. Han Doi merayap menyelusuri dinding. Mengintip ke bahagian depan barak. Dia melihat tiga tentara Vietnam yang duduk di bahagian kanan api unggun. Mereka sedang bicara dan tertawa kecil. Dua tentara lainnya telah tertidur. Hanya itu yang dapat di lihatnya dari tempatnya.

Beberapa orang yang duduk di dekat api unggun, di sebelah kiri tak terlihat olehnya. Pandangannya terhalang oleh dinding barak itu. Dia memberi isyarat. Si Bungsu segera beraksi. Dengan samurai kecilnya dia mencungkil papan dinding. Namun ternyata tak mudah. Ada beberapa kali dia berusaha, barulah bisa satu papan di congkelnya. Lobang dari sehelai papan itu masih belum bisa untuk meloloskan diri kedalam. Dia berusaha menanggalkan sekeping lagi. Namun saat itu dia mendengar isyarat dari Han Doi. “Ada yang mendekat kemari…” bisik han Doi.

Si Bungsu duduk di tanah dan bersandar kedinding, bersiaga dengan bedilnya. Kemudian menanti dengan perasaan tegang. Han Doi menarik kepalanya sedikit. Mengintai seorang tentara Vietnam yang tegak dari api unggun, dan berjalan sempoyongan ke arahnya. Han Doi meletakkan bedil. Kemudian mencabut pisau dari punggungnya. Dia rasa lebih aman membunuh tentara yang satu ini dengan pisau di banding bedilnya. Mereka bisa membunuhya diam-diam, dan bergerak cepat meninggalkan tempat ini. Jika dengan tembakan pasti akan membangunkan semua tentara dan memburu mereka.

Tapi tentara Vietnam yang bangun sempoyongan itu hanya mau kencing, sekitar lima depa dari sudut barak tempat Han Doi menanti, dia berhenti. Di dekat dia tegak ada tiga buah tong. Dia membuka celananya, kemudian sambil menggumamkan sebuah senandung, dia pun kencing. Kemudian melangkah kembali ke arah api unggun.

Karena mabuk dia lupa mengancingkan buah celananya yang tadi dia buka saat kencing, Han doi memberi isyarat kalau keadaan sudah aman. Si Bungsu kembali berusaha mencongkel papan dinding barak itu. Tak lama usahanya itu berhasil. Dia memberi isyarat agar han Doi tetap mengawasi dua sisi rumah itu. Sementara dia akan masuk ke gudang amunisi itu untuk mengambil apa yang di perlukan. Setelah Han Doi membalas dengan kode kalau dia mengerti, Si Bungsu segera menyelinap masuk. Barak itu di terangi sebuah lampu dinding. Meski samar-samar, tapi dia bisa bergerak bebas. Dia mengambil sebuah ransel. Lalu mencari peti peluru yang sama dengan senapan mereka. Saat dia mengaut peluru dari peti itu dan memasukkannya ke ransel, dia dengar ketukan halus di dinding belakang. Si Bungsu menghentikan gerakan.

Kembali dia dengar ketukan pendek. Dia segera tahu Han Doi tengah mengetuk dengan memakai sandi morse. Meski agak samar-samar dia segera tahu, ada dua tentara bergerak ke arah Han Doi. Han Doi berdebar. Kedua tentara itu ternyata membawa senter. Dia menoleh kearah Si Bungsu masuk. Ternyata papan yang tadi tempat Si Bungsu masuk, sudah ditutup kembali. Sebagai bekas tentara Vietnam selatan yang cukup kenyang pertempuran, dan bekas intelijen pula, Han Doi tahu apa yang harus di lakukannya. Dengan cepat dia membuka baju yang dia pakai. Lalu menghapus jejak mereka tadi di tanah. Dia kembali mengetuk, perlahan beberapa kali pada dinding. Kemudian dengan cepat menyelinap ke hutan dan bebatuan sekitar sepuluh meter di belakang barak.

Si Bungsu yang mendengar ketukan itu tahu kalau Han Doi bersembunyi di balik bebatuan di belakang barak. Dia menanti dengan dia di dalam barak itu. Kedua tentara yang tadi berjalan kearah Han Doi itu, menyenteri arah kanan belakang barak itu. Kemudian kearah belakang barak amunisi. Firasat Han Doi yang mengatakan kalau kedua tentara itu akan memeriksa ternyata benar. Untung saja Si Bungsu kembali menutup dinding yang dia congkel tadi. Sehingga dalam jarak tempat tentara itu menyenter tak terlihat sesuatu yang ganjil di dinding barak itu.

Si Bungsu mendengar langkah kedua tentara Vietkong itu di belakang barak. Dia duduk bertopang dagu diantara peti-peti senjata itu. Melihat senapan-sanapan mesin dan peluncur proyektil anti tank. Ketika dia dengar lagi ketukan didinding, kembali dia mengisi ranselnya dengan peluru.

Dia ingin mengambil peluncur proyektil anti tank, atau sebuah senapan mesin ringan. Namun jika itu dia lakukan, tentara Vietnam akan segera mengetahuinya. Mereka akan siaga, melakukan penyisiran di seluruh hutan dan bukit, dan bisa saja mereka segera memindahkan tawanan. Dia tak ingin hal itu terjadi. Jika yang diambil hanya sebuah ransel, peluru dan beberapa batang dinamit, kehadiran mereka takkan segera diketahui.

Sebab ada puluhan ransel, berpeti-peti peluru dan dinamit. Tak mungkin mereka menghitung peluru butir demi butir dan dinamit batang demi batang. Beda halnya jika yang diambil senapan mesin atau peluncur proyektil anti tank. Jumlahnya yang tak seberapa menyebabkan kekurangan sebuah saja akan segera diketahui. Setelah merasa cukup, dia melangkah dengan hati-hati ke bahagian belakang barak.

Sebelum membuka dua keping papan yang tadi dia tutupkan, dia mengetuk dinding dengan halus. Dia mendengar ketukan yang menyatakan aman dari luar. Ditanggalkannya kedua keping papan itu kembali, kemudian merayap keluar. Di luar kembali dia memasang kedua papan itu, serta memakunya dengan cara khusus, sehingga jika tak diperhatikan dengan seksama, orang takkan tahu bahwa papan itu pernah dibuka secara paksa, dan peluru dan dinamit dari dalam barak tersebut telah dicuri. Dia memberi isyarat pada Han Doi yang berjaga-jaga di sudut barak tersebut. Kemudian mereka bergerak mundur, sambil menghapus jejak yang ditinggalkan di belakang barak amunisi itu. Di sebalik batu besar dimana mereka tadi mengatur siasat, mereka berhenti sebentar.

“Masih ada sisa waktu, untuk kita mencari goa yang dikatakan Thi Binh sebagai tempat menyekap tawanan Amerika itu…” bisik Si Bungsu. “Barangkali kita tak perlu susah-susah mencari…” bisik Han Doi, yang masih tegak dan menatap ke arah barak. Si Bungsu menatap temannya itu. Dia tak faham apa yang dimaksud Han Doi. Orang Vietnam itu memberi isyarat agar Si Bungsu berdiri. Dia menunjuk ke sela antara dua barak yang baru mereka tinggalkan. Di depan sana, di sela bukit-bukit batu yang tegak menjulang, kelihatan empat orang sedang berjalan menuju ke barak yang terdapat persis di sebelah barak amunisi yang tadi dimasuki Si Bungsu.

Di bawah pantulan cahaya api unggun dengan jelas kelihatan bahwa dua di antara orang yang sedang berjalan itu adalah wanita. Dua lagi lelaki. Kedua lelaki itu tak disangsikan lagi adalah tentara Vietnam. Hanya anehnya, kedua lelaki itu tak membawa bedil. Mereka berempat berjalan seolah-olah baru pulang dari pasar saja laiknya. Dua orang lagi, kendati memakai celana panjang dan kemeja lengan panjang model tentara, bisa dipastikan wanita. Itu terlihat dari rambut mereka yang tak mengenakan topi. Dan warna rambut itu yang memastikan mereka bukan orang Vietnam. Rambut kedua wanita itu pirang.

Wanita Amerika di barak tentara Vietnam! Bisa dipastikan bahwa mereka adalah tawanan. Namun yang terasa ganjil di hati Si Bungsu dan Han Doi, dalam perjalanan dari sela-sela bukit ke barak, kedua wanita itu terdengar saling ngobrol dengan kedua tentara Vietnam yang mengiringi mereka. Malah pembicaraan mereka di sela dengan tertawa renyah si wanita. Kedua wanita berambut pirang dan bicara dalam bahasa Inggeris itu diantar ke barak yang berada di kiri barak amunisi. Mereka masuk ke dalam, dan kedua tentara yang mengiringkannya ikut bergabung dengan teman-temannya di sekeliling api unggun. Si Bungsu ternganga melihat kenyataan itu. Dia menggelengkan kepala, seolah-olah tak bisa mempercayai penglihatannya. Dia tak tahu apakah salah seorang di antara kedua wanita berambut pirang itu adalah gadis yang bernama Roxy Rogers, anak tunggal multi milyuner Amerika bernama Alfonso Rogers, yang sedang dia cari untuk dibebaskan dan dikirim kembali kepada ayahnya di Amerika sana. “Well, bagaimana?” suara Han Doi mengejutkan Si Bungsu. “Kita harus menyelidiki, apakah di antara kedua wanita tadi ada yang bernama Roxy Rogers…” bisik Si Bungsu. “Coba saya lihat fotonya sekali lagi…” ujar Han Doi.

Si Bungsu mengambil dompet dari kantong belakang celananya. Mengeluarkan foto berwarna ukuran 4 x 6 cm, yang dibuat secara khusus dengan campuran plastik. Kendati berlipat-lipat atau kena air, foto itu tetap selamat. Han Doi berjongkok, kemudian menyorot foto itu dengan senter sesaat. Lalu mematikan senternya dan mengembalikan foto tersebut kepada Si Bungsu. Meski sebenarnya dia sudah dua tiga kali melihat foto itu, dia harus mengakui bahwa gadis yang bernama Roxy itu adalah seorang gadis cantik dan menggiurkan. Kecantikan itu pasti akibat kawin campuran. Karena dia lahir dari blasteran, ayahnya yang Amerika turunan Spanyol dan ibunya yang Amerika asal Irlandia Utara. “Kita mencoba mencari tahu ke barak itu?” tanya Han Doi.

Si Bungsu mengangguk sambil meletakkan ransel berisi peluru dan dinamit di sela batu. Sesaat mereka memperhatikan keadaan sekeliling, kemudian mulai menyelusup ke arah barak yang dimasuki kedua wanita berambut pirang dan berbahasa Inggris tadi. Kedua mereka, selain ingin memastikan apakah salah seorang dari kedua wanita itu adalah Roxy, juga ingin tahu apa yang mereka perbuat di barak tentara pada malam selarut ini. Begitu sampai di belakang barak, Si Bungsu memberi isyarat aga mereka mengambil tempat di sudut menyudut barak itu. Si Bungsu di sudut kiri, Han Doi di sudut kanan. Posisi itu menyebabkan mereka bisa mengawasi bahagian kiri dan kanan barak tersebut, kalau-kalau ada tentara yang bergerak menuju belakang barak untuk terkencing atau patroli. Si Bungsu segera mencari celah pada dinding, untuk mengintip ke dalam. Dia menemukan sebuah lobang kecil, dan mendekatkan mata. Namun yang terlihat hanya cahaya suram lampu dinding dan pandangan selebihnya terhalang oleh sebuah mantel hujan yang digantungkan pada sebuah paku. Han Doi lebih beruntung. Dia segera menemukan sebuah celah pada papan yang besarnya sekitar dua jari dan panjangnya sekitar lima sentimeter. Dari tempatnya dia melihat salah seorang wanita berambut pirang tadi. Dia segera memastikan wanita itu bukan Roxy, sebagaimana fotonya yang barusan diperlihatkan Si Bungsu. Dia segera pula memastikan bahwa wanita itu memang orang Amerika, atau Inggris. Dia mencoba mencari tahu di mana wanita yang seorang lagi. Namun barak ini nampaknya khusus untuk para perwira. Itu dapat dilihat dari tempat yang sedang dia intip. Tempat itu disekat-sekat setinggi dua meter dari lantai,

sehingga membentuk sebuah kamar berukuran 2 x 3 meter.

Wanita itu tegak sesaat di depan pintu kamar. Menatap ke tempat tidur. Dekat tempat tidur berdiri seorang perwira Vietnam, yang usianya sekitar 30-an tahun, berbadan tinggi dan agak kurus, hanya memakai handuk sebatas pinggang. Mereka bertatapan. Dan tiba-tiba sama-sama maju, dan berpelukan, lalu berciuman dengan sama-sama penuh nafsu. Han Doi kaget melihat peristiwa itu. Sepanjang cerita yang dia dengar selama ini, wanita Amerika yang ditangkap Vietnam selalu saja menjadi korban perkosaan. Artinya, mereka sungguh- sungguh melawan ketika tentara menjahili mereka. Mereka terpaksa melayani nafsu setan tentara Vietnam Utara karena mereka tak mampu melawan. Ada yang dipukuli sampai pingsan, ada yang diikat ada yang diberi obat bius, sebelum mereka akhirnya diperkosa.

Namun yang dia lihat kini, sama sekali bertolak belakang, ketika orang di dalam kamar berukuran kecil itu, dalam posisi masih sama-sama berdiri, saling melucuti pakaian. Saling memeluk, bergumul, mendesah dan saling meremas dengan rakus. Di sisi lain dari barak itu, di tempat Si Bungsu mengintai ke dalam mula-mula dia melihat seorang wanita Eropah memasuki sebuah kamar.

Wanita itu kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Dan Si Bungsu baru mengetahui bahwa di tempat tidur itu sedang berbaring seorang perwira Vietnam. Usia perwira itu barangkali sekitar 45 tahun. Nampaknya dia sedang memegang botol minuman keras. Begitu wanita Eropah tersebut duduk, si perwira memberikan botol minuman itu padanya. Si wanita menerima botol pipih kecil tersebut.

Kemudian menenggak minuman itu, beberapa teguk. Di bawah sinar lampu dinding, wajahnya segera terlihat bersemu merah usai menenggak beberapa teguk minuman keras tersebut. Sambil menatap nanap pada si perwira, wanita itu kemudian duduk berlutut di pembaringan. Perlahan dia membuka pakaiannya satu persatu, sampai lembar terakhir. Si Bungsu meninggalkan celah tempat mengintip tersebut, setelah memastikan bahwa wanita itu bukan Roxy, anak milyuner Amerika yang sedang dia cari.

Han Doi menoleh ketika mendengar isyarat dari arah kirinya. Dia melihat siluet sosok Si Bungsu. Lelaki Indonesia itu kembali memberi isyarat agar mereka segera meninggalkan barak tersebut. Mereka kemudian menuju ke arah belukar berbatu-batu besar di mana tadi mereka mening galkan ransel.

“Apakah wanita yang engkau lihat itu Roxy?” tanya Si Bungsu, begitu mereka sampai ke bebatuan besar tempat mereka bersembunyi tadi. “Tidak…” jawab Han Doi. “Kalau begitu dia masih disekap di goa yang diceritakan Thi Binh…” ujar Si Bungsu sambil mengangkat ransel. “Kita berangkat…” ujar Si Bungsu. “Akan kemana kita?” “Kita cari goa tersebut…” “Tapi, jalan ke arah goa itu dipenuhi ranjau…” “Kita tunggu di bawah bukit sana…” ujar Si Bungsu menunjuk ke arah bukit dari mana kedua wanita itu tadi muncul. “Kedua wanita itu akan kembali di antar ke goa tempat penyekapan mereka, setelah mereka selesai memuaskan tentara di barak tadi. Kita tunggu mereka, dan kita jadikan sebagai penunjuk jalan…” tutur Si Bungsu.

Mereka kemudian mengawasi barak yang terletak sekitar seratus meter di depan tempat mereka berada sekarang. Han Doi memang sangat mengantuk. Sangat sekali. Dia meraba-raba ketika menemukan tempat yang agak datar di dekat sebuah batu besar, dia segera melonjorkan kaki dan menyandarkan diri. Tak lama kemudian dia tertidur.

Mendengar dengkur halus Han Doi Si Bungsu mendekati kawannya itu. Dia meraba urat di dekat leher bekas tentara Vietnam tersebut. Menjentiknya perlahan. Dengkurnya hilang, dan akibat jentikan di urat pada tengkuknya itu, Han Doi kini tak hanya tertidur pulas, tapi sekaligus berada dalam keadaan tak sadar secara penuh.

“Maaf kawan. Saya rasa engkau istirahat di sini dulu. Saya akan pergi sendiri, nanti kau kubangunkan lagi…” guman Si Bungsu perlahan sambil meletakkan bedil dan ransel berisi peluru dan dinamit yang dia sandang di dekat tubuh Han Doi.

Si Bungsu memperhatikan bukit di dekat mereka berada. Dia tak yakin bukit ini tempat menyekap tentara Amerika. Dia kemudian menelusuri kaki bukit arah ke barat. Di balik bukit itu dia melihat ada bukit lain yang amat terjal sekitar seratus meter dari tempatnya berada. Dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi. Sayup-sayup dia mendengar suara beberapa orang bicara dari arah kaki bukit di depannya.

Si Bungsu segera bergerak cepat, menerobos belukar, menyeberangi sebuah anak sungai dangkal dan masuk ke belukar berikutnya di seberang sungai kecil tersebut. Sekitar sepuluh menit mengendap-ngendap dari pohon ke pohon, dari balik batu yang satu ke batu yang lain, akhirnya dia menemukan tempat asal suara yang tadi dia dengar. Ada api unggun kecil di balik dua batu besar, tak jauh dari sebuah bukit yang menjulang terjal.

Di sekitar api unggun itu hanya ada dua tentara sedang bersandar ke batu, dengan bedil di tangan, sedang ngobrol perlahan. Si Bungsu memperhatikan dengan seksama tempat kedua orang itu berbaring. Dia harus berusaha agar sekitar seratusan tentara Vietnam di tempat penyekapan tawanan Amerika ini tak mengetahui kehadirannya, sebelum dia berhasil membebaskan Roxy. Tugas pertamanya sekarang tentu saja harus mencari di mana goa tempat penyekapan itu. Pasti di bukit yang dijaga ini, tapi di mana?

Dia menatap bukit tersebut. Kegelapan malam yang kental menyebabkan dia hanya melihat sosok bukit cadas tinggi menjulang. Tak melihat pepohonan apalagi goa di tebing bukit batu terjal tersebut. Saat dia kembali memperhatikan kedua tentara di dekat api unggun itu, terdengar suara tawa renyah mendekat.

Kedua tentara di dekat api unggun itu berdiri. Hanya beberapa saat kemudian, kedua wanita Eropah yang tadi datang menjadi pemuas nafsu perwira di salah satu barak, yang diintip sesaat oleh Si Bungsu dan Han Doi, kelihatan muncul. Sebagaimana saat Si Bungsu melihat kedua wanita itu ketika muncul dari daerah perbukitan ke areal terbuka di depan barak, yaitu diiringi dua tentara Vietnam, kini juga begitu. Kedua wanita itu muncul di dekat api unggun juga dengan dua tentara yang tadi mengantar mereka ke barak tersebut. Si Bungsu melihat hal yang hampir membuat dia muntah didekat api unggun yang hanya sekitar sepuluh depa dari tempat dia bersembunyi.

Begitu kedua wanita itu muncul dekat perapian, begitu kedua tentara yang menunggu itu tegak. Seperti sudah ada kesepakatan sebelumnya, kedua wanita itu segera saja menyerahkan diri mereka ke dalam pelukan kedua tentara yang menanti. Dan mereka merebahkan diri dan bergumul di dekat api unggun, sementara dua tentara yang tadi mengantar kedua wanita itu duduk menatap perbuatan kedua temannya. Hanya dalam waktu sekejap, pakaian keempat manusia yang bergumul itu sudah tercampak kemana-mana. Si Bungsu menyandarkan diri, membelakangi keempat manusia yang sudah tak lagi mengenal batas-batas adab itu.

Cukup lama dia duduk bersandar, ketika dia dengar suara cekikikan, dan menoleh ke arah api unggun. Nauzubillah, dia lihat dua tentara yang tadi hanya menonton, kini mendapat giliran. Jika mau, ini adalah kesempatan yang amat baik bagi Si Bungsu untuk menghabisi ke empat tentara tersebut. Namun dia harus berfikiran taktis. Tugas utamanya bukan untuk membunuhi tentara Vietnam, melainkan untuk membebaskan Roxy.

Akan jauh lebih baik andainya dia bisa membawa wanita itu tanpa harus berperang. Karenanya, dia terpaksa menanti ke empat tentara Vietnam di dekat api unggun itu menyelesaikan permainan setan mereka bersama kedua wanita tersebut. Sialnya, permainan itu tak segera bisa mereka akhiri. Usai tentara yang dua, yang dua pertama terjun lagi. Usai mereka, yang mengantar wanita itu menggantikan. Laknatnya, kedua wanita itu kelihatan melayani mereka dengan suka cita.

Si Bungsu menyumpah panjang pendek. Ketika perbuatan yang beronde-ronde itu usai. Kedua wanita tersebut ternyata tak segera kembali ke goa dimana mereka disekap. Mereka terkapar di dekat api unggun, dalam keadaan tak berkain secabik pun, di antara ke empat tubuh tentara Vietnam. Setelah terdengar lolong panjang anjing hutan, salah seorang dari tentara itu bangkit. Memakai celana dan baju, kemudian membangunkan kawannya, lalu membangunkan pula kedua wanita tersebut.

Orang-orang yang dibangunkan itu segera memakai pakaiannya masing-masing. Lalu mereka mulai bergerak arah ke bukit terjal tak jauh dari tempat mereka berada. Si Bungsu menyelinap dengan cepat di dalam belantara tersebut, menyusul langkah ke empat orang yang menuju ke bukit itu. Ketika hampir sampai ke kaki bukit batu terjal itu, inderanya yang amat tajam mengisyaratkan bahaya yang mengancam.

Dia yakin pada cerita Thi-thi bahwa jalan ke tempat penyekapan tentara Amerika ini dipenuhi ranjau. Keempat orang yang dibuntutinya itu lenyap ke balik dua batu besar di kaki bukit. Dalam waktu singkat dia tiba di sana, dan masih sempat melihat cahaya senter dari salah seorang tentara Vietnam yang akan masuk ke sebuah goa. Goa itu benar-benar tersembunyi di balik pepohonan dan ada batu besar di depannya.

Jika tidak pernah menempuh jalan tersebut, kendati berdiri semeter di depannya, orang pasti takkan tahu bahwa itu adalah mulut sebuah goa. Si Bungsu menyelinap masuk, dan tetap menjaga jarak dengan ke empat orang itu agar kehadirannya tak diketahui. Goa itu ternyata memiliki terowongan bercabang-cabang. Si Bungsu menggeleng. Kendati sudah berada di dalam, sungguh tak mudah bagi orang untuk mencari mana jalan yang harus ditempuh di antara sekian cabang terowongan itu.

Bahagian dasar terowongan utama yang sedang dia lewati sekarang adalah lantai goa yang tidak rata. Selain batu-batu besar bersumburan, terowongan ini juga memiliki celah-celah yang dalam. Jika tak hati-hati orang bisa terperosok. Setelah melewati empat cabang terowongan, ke empat orang di depan sana dia lihat masuk ke terowongan sebelah kanan. Ketika dia sampai ke terowongan itu, dia hampir kehilangan jejak. Hanya lima meter ke dalam terowongan itu ternyata bercabang tiga.

Ada yang lurus, ada yang ke kiri dan ada yang ke kanan. Hanya dengan mengandalkan pendengarannya yang tajam dia bisa mengetahui bahwa keempat orang itu menempuh jalan yang ke kiri. Terowongan itu ternyata merupakan sebuah anak tangga berkelok-kelok dan mendaki amat terjal ke atas. Dia memperkirakan sudah mendaki sekitar dua puluh meter, ketika tiba-tiba dia sampai ke sebuah terowongan yang lebih besar dan mendatar.

Di terowongan yang agak besar dan datar ini ada penerangan berupa damar atau mungkin juga karet, yang diikatkan di ujung kayu, kemudian dibakar. Ada sekitar lima damar yang ditancapkan dalam jarak beberapa meter di sepanjang terowongan itu. Tiba-tiba dia mendengar pintu besi berdenyit dibuka, kemudian ditutupkan. Lalu suara rantai bergerincing, lalu suara anak kunci dikatupkan. Kemudian suara langkah mendekat.

Si Bungsu segera menyeberangi terowongan datar itu, dan mencari tempat bersembunyi. Sesaat dia menyelinapkan diri ke salah satu ceruk di dinding terowongan itu, dia melihat kedua tentara Vietnam tersebut muncul. Mereka menempuh terowongan kecil dari mana mereka tadi masuk. Dia masih menanti beberapa saat, untuk kemudian dengan hati-hati melangkah ke luar.

Dia berdiri di terowongan yang diterangi lampu damar tersebut, menatap sepanjang lorong. Ada beberapa terowongan ke kiri dan ke kanan. Dia yakin, terowongan itu adalah terowongan buntu, yang dipakai sebagai tempat menyekap tawanan. Dari denyit pintu besar dan gemercing rantai, dia yakin pula, tiap terowongan tempat penyekapan ditutup dengan pintu besi. Udara di dalam terowongan ini terasa dingin. Dia menoleh ke belakang. Hanya ada jarak sekitar tiga meter menjelang dinding batu tebal. Dia tak tahu, yang mana dinding yang menghadap ke arah barak-barak tentara Vietnam di bawah sana.

Dengan sikap penuh waspada, Si Bungsu mulai melangkah mendekati salah satu terowongan yang berfungsi sebagai kamar penyekapan. Di depan sebuah terowongan dia menghentikan langkah. Dia melihat pintu jeruji besi sebesar-besar ibu jari kaki, kemudian lilitan rantai yang juga besarnya sebesar itu dengan kunci gembok besar. Dia tak bisa melihat apa yang ada di balik pintu jeruji besi itu. Keadaan demikian gelap. Dia melangkah ke arah sebuah damar yang ditancapkan di dinding.

Sesaat sebelum tangannya mencabut damar itu, firasatnya mengatakan ada yang tak beres dengan tangkai damar tersebut. Dia mengurungkan niatnya mengambil damar itu. Kemudian menatap dengan teliti lobang dinding tempat damar itu di tancapkan disana. Tapi, kenapa firasatnya mengatakan bahwa dia berada dimulut bahaya? Dia melihat ke bawah. Hanya lantai batu dengan sedikit pasir. Juga tak ada yang…!. Diperhatikannya dengan seksama bahagian lantai yang dia pijak. Hatinya tercekat. Dia berusaha agar pijakannya di lantai tidak bergeser. Pasir halus di lantai goa ini membuat dia amat curiga.

Dia segera ingat, keempat orang yang tadi dia buntuti tetap mengambil jalan di bahagian tengah terowongan. Tak seorangpun yang berjalan di bahagian pinggir. Malah dia melihat, mereka berjalan satu-satu. Si Bungsu yakin sudah, dia telah menginjak sebuah perangkap yang mematikan. “Engkau berada di atas ranjau…” tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seorang perempuan dalam bahasa Inggeris, dari arah terowongan yang baru saja dia lihat.

Dia menoleh, namun tetap tak melihat orang yang bicara. Kamar tempat penyekapan itu tak ada penerangan sama sekali. Kemudian terdengar suara gemercing rantai. Lalu suara langkah yang diseret di lantai batu. Bulu tengkuk Si Bungsu merinding. Para tawanan ini rupanya tidak hanya disekap di tempat yang amat tersembunyi, tapi juga dirantai di dalam tempat penyekapannya.