Tikam Samurai Si Bungsu Episode 6.1

Episode VI (Enam)

Dalam Neraka Vietnam bagian-533

Perwira Vietkong, yang mukanya merah karena pengaruh alkohol, merobek blus si gadis. Tanpa mempedulikan rontaan dan cakaran gadis pemilik bar tersebut, si perwira dengan amat biadabnya meremas- remas apa saja yang bisa dicapai tangannya pada tubuh si gadis. Bibir dan lidahnya dengan amat jahanamnya menjilati pula hilir mudik. Teman-temannya, terdiri dari seorang perwira muda dan empat prajurit, yang juga sedang menenggak minuman keras, tertawa cekikikan dan melototkan mata melihat adegan serta tubuh gadis ranum itu tersingkap-singkap di sana-sini. Di ruang bar itu ada dua orang abang gadis tersebut.

Keduanya bertubuh kekar dan bekerja sebagai bartender di bar yang tengah kedatangan tamu enam tentara Vietkong itu. Kendati yang sedang terancam kehormatannya adalah adik kandung mereka sendiri, namun keduanya takut untuk mencegah. Sebab tentara Vietkong kini selain amat berkuasa, juga amat bengis. Apalagi terhadap penduduk Vietnam blasteran Eropa seperti mereka. Tetapi akhirnya, karena kelakuan perwira itu semakin tak beradab, dan adiknya semakin diperlakukan amat tidak senonoh, abang yang tertua tak bisa lagi berdiam diri. Dia mendekat, maksudnya sekedar mencegah agar perlakuan biadab dan brutal terhadap adiknya itu dihentikan.

Namun itulah langkahnya yang terakhir. Dua langkah menjelang sampai ke tempat si perwira yang duduk sembari meremas dan menciumi bagian-bagian tertentu tubuh adiknya, perwira yang seorang lagi menarik pistol di pinggangnya. Menembak. Dor! Pemuda indo Vietnam-Perancis itu terjungkal dengan kening berlobang. Hanya sedikit darah yang meleleh dari lobang di jidatnya. Namun dari bahagian belakang kepalanya, cairan merah bercampur putih kelihatan merembes ke lantai, makin lama makin banyak. Dua pelayan wanita, keduanya orang Vietnam, yang berada di balik bar, menjerit-jerit. Abang si gadis yang seorang lagi, tertegak kaku. Si gadis yang berada dalam pelukan si perwira menjerit-jerit.

Tapi kelima tentara Vietkong yang sedang menikmati minuman dan tontonan merangsang itu malah pada bertepuk tangan dan tertawa cengengesan. Peristiwa ini terjadi di Kota Da Nang, kota terbesar kedua di Vietnam Selatan setelah Saigon. Saat itu tak ada lagi Vietnam Utara dan Selatan. Seluruh Vietnam Selatan baru saja sebulan jatuh ke tangan Vietnam Utara. Vietnam kini hanya ada satu, Vietnam Raya. Suara tembakan si perwira yang membunuh abang si gadis pemilik bar tersebut tak terdengar ke luar. Kendati di jalan di depan bar itu ratusan manusia hilir mudik. Pintu dan jendela besar-besar berkaca hitam yang tertutup rapat karena bar itu full AC, membuat suara letusan pistol hanya terdengar di luar seperti suara gelas jatuh.

Gadis di pangkuan si perwira sudah setengah telanjang. Saat itu tiba-tiba pintu bar terbuka. Di pintu, dalam sikap ragu-ragu, terlihat berdiri seorang lelaki yang posturnya agak semampai. Namun wajahnya terlihat asing. Kendati masih kentara wajah Asianya, namun dipastikan dia bukan dari ras Cina seperti Vietnam, Kamboja, Laos atau Taiwan. Tak ada yang memperhatikan, kecuali abang si gadis yang masih hidup, dan dua pelayan yang tegak menggigil di belakang meja kasir. Mereka heran kenapa lelaki asing itu muncul lagi. Padahal tadi, beberapa saat sebelum keenam tentara Vietnam ini masuk, lelaki yang tegak di pintu itu sudah mereka usir.

Lelaki asing itu berhenti sesaat di depan pintu. Melihat ke mayat yang terbujur, lalu menatap ke arah enam tentara yang tengah melanjutkan minum mereka. Keenam tentara itu bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu yang penting sedikit pun. Di berbagai kota bekas Vietnam Selatan yang baru saja ditaklukkan, seseorang yang ditembak mati tentara nampaknya sudah merupakan sesuatu yang lumrah. Tak perlu diusut apa sebab atau apa salahnya. Lelaki asing yang baru masuk itu menatap kepada si perwira yang mendekap gadis pemilik bar itu, yang mulutnya semakin ganas saja menjalar hilir mudik di bahagian depan tubuh si gadis, yang tak berdaya sedikit pun untuk membebaskan diri. “Lepaskanlah gadis itu…!”

Tiba-tiba gelak tawa kelima tentara Vietnam itu dan suara desah nafas si perwira yang tengah menjahanami gadis pemilik bar tersebut dipecah oleh suara lelaki asing di depan pintu itu. Suaranya terdengar perlahan namun dingin. Permintaan yang diucapkan dalam bahasa Inggeris itu memaksa semua tentara Vietnam di dalam bar tersebut menolehkan kepala. Mereka menyangka yang mengucapkan kata-kata itu adalah orang Eropah atau Amerika. Tetapi ketika mereka menoleh, mereka hampir tak percaya dengan yang mereka lihat. “Lepaskan dia, dan keluarlah dari sini baik-baik….”

Kembali terdengar suara lelaki di depan pintu itu. Suaranya sedingin subuh berkabut, setajam pisau cukur. Si perwira yang baru saja menembak kepala pemilik bar itu, berdiri dengan pistol yang masih tergenggam di tangannya. Lalu dia mengarahkan moncong pistolnya kepada lelaki asing tersebut. Lelaki itu usahkan berbedil, sepotong kayu yang paling kecil pun tak ada di tangannya untuk membela diri. Benar-benar sebuah sikap bunuh diri, berani-beraninya mengancam tentara Vietkong. “Sebutkan namamu! Sebelum kutanamkan timah panas ini di antara kedua matamu….” desis si perwira sambil mulai menekankan jarinya di pelatuk pistol. “Nama saya… Si Bungsu….” Dorr!!

Pistol di tangan si perwira menyalak. Asap tipis mengepul dari ujung laras pistolnya. Namun peluru yang muntah dari pistol si perwira itu ternyata menghantam loteng. Perwira itu masih tegak beberapa detik. Kemudin tubuhnya jatuh tergelantung ke atas meja yang dikelilingi lima rekan-rekannya. Menghantam dan memberantakkan gelas serta botol di meja tersebut. Kelima temannya dengan terkejut melihat sebuah pisau berbentuk samurai sebesar telunjuk, yang panjangnya mungkin hanya sejengkal, terbenam hampir ke hulunya. Merancap persis di antara kedua mata si perwira.

Hanya sesaat, empat prajurit yang duduk mengitari meja itu segera bangkit dari kursinya, meraih bedil yang mereka sangkutkan di sandaran kursi masing-masing. Lalu berbalik menghadap ke lelaki yang baru saja menyebutkan namanya “Si Bungsu” itu. Nama yang amat asing di telinga mereka. Mereka mengokang bedil, namun itulah gerakan terakhir yang dapat mereka lakukan. Sebab tangan lelaki asing itu kembali bergerak. Dari tangannya meluncur kilatan yang amat sulit diikuti pandangan mata. Keempat tentara itu segera rubuh malang melintang. Sebilah samurai kecil menghujam di salah satu bahagian yang mematikan di tubuh mereka.

Ada yang terhujam di jantung, ada yang di antara dua mata, ada yang di leher. Satu-satunya yang masih hidup adalah si perwira yang masih memeluk gadis pemilik bar yang sudah setengah telanjang itu. Sadar bahwa yang baru datang ini bukan sembarang orang, perwira itu bersikap amat hati-hati. Masih dalam posisi duduk dia segera mencabut pistol, kemudian dengan cepat menempelkan ujungnya ke pelipis si gadis. Setelah itu dengan cepat pula dia bangkit. Menghadap kepada orang asing itu dengan si gadis menjadi tameng di depan tubuhnya.

“Buang senjatamu, datang kemari dengan merangkak….” desisnya dalam bahasa Inggeris yang kelam kabut. Lelaki di pintu itu, yang memang tak lain dari Si Bungsu, tak bergerak seinci pun dari tempatnya. Kedua tangannya tergantung di sisi tubuhnya. Dia menatap dengan tatapan yang menegakkan bulu roma. “Lepaskan gadis itu….”desisnya lagi.

Melihat lelaki di pintu tak memegang senjata apapun, perwira Vietnam itu melepaskan ujung pistolnya dari pelipis si gadis, kemudian dengan cepat menembak orang yang telah membunuh rekannya itu. Namun pelurunya juga menghajar loteng. Dia meringis. Tanpa dapat dia tahan pistolnya terlepas dari genggaman, jatuh ke lantai. Tangan kanannya lumpuh total, akibat nadi utamanya yang terletak di lipatan sikunya putus dihantam samurai kecil lelaki tersebut. Kini samurai kecil itu masih tertancap di lengannya! Si gadis yang masih berada dalam pelukan si perwira meronta, dan lepas. Dengan susah payah dia berusaha menutupi bahagian atas badannya yang sudah tak bertutup apapun, dengan sobekan bajunya yang tergantung-gantung.

Gadis itu terkejut setelah melihat lebih teliti ke arah lelaki yang telah menyelamatkan kehormatannya, yang telah membalaskan kemarahannya. Lelaki itu ternyata lelaki yang tadi dia usir keluar dari barnya ini. Bukan apa-apa, bar ini sebagaimana umumnya bar-bar yang agak baik sampai bar kelas atas, dilarang melayani orang asing. Hanya boleh melayani tentara Vietnam atau orang Vietnam asli. Bagi tentara, polisi dan aparat harus diberikan korting 50 persen. Kini, lelaki yang dia usir itu ternyata telah menyelamatkan nyawanya. “Kalian akan digantung semua….”

Terdengar si perwira yang lumpuh tangan kananya itu mengancam. Melihat tak seorang pun yang bereaksi, dengan cepat dia meraih pistol yang berada dalam genggaman temannya yang mati terlentang di meja. Karena Si Bungsu terlindung oleh sebuah tiang, maka pistol itu diarahkan kepada si gadis pemilik bar. Namun pelurunya menghantam botol-botol di belakang kasir, setelah menyerempet pelipis si gadis. Dan setelah itu perwira tersebut tersungkur, hidungnya remuk menghantam jubin. Di tengkuknya tertancap sebuah samurai kecil. Sepi!

Gadis pemilik bar itu, sembari menghapus darah yang mengalir di pelipisnya yang diserempet peluru, kembali menatap orang yang untuk kedua kalinya menyelamatkan nyawanya.

“Maaf, saya terpaksa kembali kemari untuk menjemput ransel saya yang tertinggal,” ujar Si Bungsu perlahan, sembari melangkah ke arah kursi di mana tadi dia duduk.Diambilnya ransel yang tertinggal di bawah meja. Sembari menyandang ransel di bahu, Si Bungsu mendekati keenam mayat tentara Vietkong yang bergelimpangan malang melintang di dalam bar itu. Dicabutinya satu demi satu samurai kecil yang tertancap di tubuh mayat tentara tersebut. Setelah menghapus darah dari tiap samurai kecil itu kepakaian si tentara yang menjadi korban, dia lalu menyelipkan bilah-bilah samurai itu ke sabuk di balik lengan baju panjangnya. Sampai detik itu, gadis pemilik bar yang nyaris diperkosa dan abangnya yang masih hidup, berikut dua pelayan bar dekat meja kasir, tak seorang pun yang mampu bicara. Mereka hanya menatap dengan diam kepada lelaki asing bernama Si Bungsu itu. Tentara Vietkong yang sejak sebulan terakhir menjadi penguasa baru di wilayah selatan ini, teramat sangat berkuasa. Sebagai negeri yang baru saja usai diamuk perang, wilayah ini diperintah dengan hukum darurat perang.

Tentara Utara, yang sudah belasan tahun bertempur dan berhasil mengalahkan tentara Selatan dan sekaligus mengusir tentara Amerika, berhak menembak mati siapa saja yang dicurigai sebagai musuh dan mata-mata. Selama sebulan sejak Selatan jatuh ke tangan Utara, di Kota Da Nang ini saja sudah susah menghitung korban yang ditembak tentara.

Mereka menembak orang yang dicurigai di sembarang tempat. Di jalan, di toko, di rumah, di pasar. Tidak ada ukuran yang pasti, siapa yang bisa dikategorikan sebagai ‘orang yang dicurigai’. Yang jelas, siapa saja yang tak disenangi tentara bisa dianggap sebagai ‘orang yang dicurigai’. Karenanya nyawa mereka boleh dicabut dimana saja dan kapan pun diinginkan. Tak peduli di pasar, di restoran, di bus, di kereta api, termasuk di rumah mereka sendiri. Usai menyisipkan samurai-samurai kecilnya, Si Bungsu melangkah ke pintu.

Saat itulah si gadis pemilik bar menyadari bahwa dia harus berbuat sesuatu, atau paling tidak mengucapkan sesuatu kepada lelaki asing yang telah menyelamatkan kehormatan dan nyawanya. “Tunggu….” Si Bungsu berhenti. Gadis itu memberi isyarat kepada abangnya. Si abang berjalan ke pintu, membalikkan papan kecil yang tergantung di kaca pintu, yang ada tulisan dalam bahasa Chu Nom, yaitu bahasa Nasional Vietnam berdasarkan sistem tulisan Cina. Dia membalikkan papan kecil putih itu. Jika tadi tulisan ‘Buka’ menghadap ke luar, setelah papan dibalikkan, maka kini yang mengarah keluar adalah tulisan ‘Tutup’. Setelah itu dia berjalan ke luar. Dari luar, dengan pura-pura tak terjadi apa-apa, ditutupkan pula lapisan papan yang menjadi pelindung kaca-kaca pintu dan jendela. Kaca-kaca reben hitam dan lebar. Setelah mengunci pintu

papan dari dalam, dia masuk.

Gadis indo Vietnam-Perancis pemilik bar itu memberi isyarat kepada abangnya, kemudian kepada dua gadis pelayan lainnya. “Taruh dahulu mayat-mayat ini di ruang pendingin di belakang….” ujarnya pada si abang. “Kalian segera bersihkan bekas darah….” ujarnya pada kedua gadis pelayan. Setelah itu dia menatap pada Si Bungsu, sementara kedua tangannya masih berusaha memegangi sobekan blus dan roknya untuk menutupi beberapa bagian tubuhnya.

“Janganlah meninggalkan kami saat ini, saya mohon….” ujarnya perlahan dengan air mata mulai menggenang, tatkala dia lihat lelaki asing itu masih tegak berdiam diri. “Saya mohon maaf atas pengusiran Anda dari bar ini tadi….” ujarnya lagi. “Bersedialah ikut saya ke atas….” mohonnya sembari melangkah perlahan ka arah tangga. Dia berhenti dan menatap ke arah Si Bungsu, karena Si Bungsu masih saja belum bergerak setapak pun dari tegaknya. “Please….” ujarnya memohon. Si Bungsu yang baru saja tiba di Kota Da Nang ini akhirnya melangkah mengikuti gadis itu.

SEBENARNYA, apa asal muasal makanya dia terlibat dalam kasus di bar itu? Kenapa tadi dia sampai diusir? Si Bungsu masuk ke bar tersebut karena bar itulah yang terdekat saat dia turun dari taksi, yang membawanya dari lapangan udara. Dia ingin mencari penginapan. Namun rasa haus membuat dia memasuki bar pertama yang nampak oleh matanya di pusat Kota Da Nang ini. Setelah duduk, seorang pelayan, nampaknya gadis asal Vietnam, mendekatinya. Gadis itu bicara padanya. Dia tak mengerti bahasa yang diucapkan gadis cantik tersebut. Tapi dari nada ucapannya dan telunjuknya yang mengarah ke pintu, dia mengerti bahwa gadis pelayan itu menyuruhnya keluar.

“Saya hanya minta Cola Cola….” ujarnya perlahan. Ucapan dalam bahasa Inggeris yang baik itu sudah untuk kali ketiga dia ucapkan. Pelayan itu akhirnya bosan, mungkin juga muak dan marah. Dia berjalan ke arah bar, bicara dengan seorang gadis yang sejak tadi asyik mencatat-catat sesuatu di mejanya. Gadis itu, nampaknya pemilik bar, menoleh ke arah lelaki yang tak mau disuruh keluar itu. Dia menyelipkan ballpoin di tangan kirinya ke daun telinga kanan. Kemudian bersiul. Siulan pendek yang keluar dari sela bibirnya yang merah, menyebabkan dua lelaki kekar yang sedang membersihkan meja meninggalkan pekerjaan mereka. Lalu melangkah mengikuti si bos ke meja si lelaki yang masih saja duduk dan menatap ke manusia yang lalu-lalang di jalan, di luar restoran.

Vietnam saat itu masih berada dalam suasana mabuk kemenangan. Tak satu negara pun di dunia yang percaya Amerika yang memiliki ribuan pesawat tempur super moderen dan senjata tercanggih di dunia, akan mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Vietnam Utara yang hanya bermodal nekat. Tapi, beberapa bulan yang lalu ketidak percayaan itu menjadi kenyataan. Amerika harus menelan kekalahan teramat pahit dan amat memalukan. Kabur dari negeri itu setelah puluhan ribu tentaranya terbunuh. Belasan ribu lainnya dinyatakan hilang tak tahu rimbanya. Kekalahan yang benar-benar tak terbayangkan akan terjadi dalam sejarah negara super kuat itu.

Vietnam yang sebelumnya satu negara, kemudian terpecah menjadi dua. Utara yang berada di bawah pengaruh Cina komunis dan Selatan yang berada di bawah perlindungan Amerika. Kini, setelah Amerika berhasil diusir, dua Vietnam itu kembali menjadi satu negara berdaulat di bawah kekuasaan Partai Komunis. Lelaki yang disuruh keluar dari bar itu baru sadar, kalau sebuah tim yang “siap tempur” sudah mengepungnya, yaitu tatkala si pemilik restoran berdiri persis di hadapannya. Menghalangi tatapan matanya yang sejak tadi memandang ke luar.

Dia tak tahu bahwa gadis yang tegak di depannya itu adalah pemilik bar. Dia menyangka gadis itu hanya pelayan yang lain. Bedanya pelayan ini cantiknya melebihi kecantikan rata-rata gadis yang pernah dia temui di lobi hotel maupun di jalan-jalan Kota Da Nang yang penuh sesak oleh manusia. Mata si gadis tak begitu sipit, sebagaimana jamaknya mata gadis-gadis asli Vietnam. Matanya juga tidak hitam sebagaimana mata orang Asia, melainkan kebiru-biruan. Dengan mata seperti itu, ditambah hidung mancung, sekali lihat orang dengan mudah mengetahui bahwa dia lahir dari sebuah perkawinan campuran.

Mungkin gadis ini blasteran Perancis. Hal itu kentara dari tubuhnya yang mungil dan bahasanya yang rada sengau. Negeri ini dahulu memang menjadi jajahan Perancis. Wajar saja kalau kemudian di negeri ini banyak lahir anak-anak blasteran Perancis. Melihat gadis itu tegak di depannya, si lelaki kembali berkata dengan sopan. “Boleh saya pesan Coca Cola dengan es….?” “Tuan sudah diminta untuk keluar dari restoran ini….” ujar gadis itu dengan suara datar, dalam bahasa Inggeris dengan aksen Perancis tapi berlogat bahasa Vietnam dari rumpun An Nam Tinggi.

Si lelaki merasa heran bercampur terkejut. Dia ingin bertanya, namun tatapan si gadis membuat dia menoleh ke belakangnya. Dua lelaki kekar, keduanya punya wajah yang mirip dengan gadis yang di depannya, kelihatan tegak hanya beberapa jari dari tengkuknya. Menatap ke arahnya dengan tatapan setajam pisau cukur. “Bar ini hanya melayani orang Vietnam, tidak melayani orang asing….” ujar si gadis dengan suara datar. Lelaki asing itu terdiam mendengar suara yang demikian dingin dan tak bersahabat. Untuk sesaat dia masih duduk berdiam diri. “Tuan keluar baik-baik atau….” Lelaki itu memutus kalimat si pemilik restoran dengan mengangkat tangan kanannya. “Maaf saya salah masuk….” ujarnya sambil berdiri dan melangkah ke pintu, lalu meninggalkan tempat yang tak bersahabat itu.

Hanya belasan detik setelah dia meninggalkan kursinya, enam serdadu Vietkong, dua di antaranya berpangkat perwira, masuk dengan suara gaduh. Mereka nampaknya mencari minuman, kendati sebahagian sudah sempoyongan karena mabuk. “Ha… kita senang bisa minum lagi di restoran Madam… mmmm… siapa namanya? Mm… Amigo… mm.. Amiflorence… oh ya Ami… Ami…!” ujar salah seorang perwira sambil menarik kursi.

Jelas ucapan sindiran. Nampaknya orang-orang utara yang kini menguasai seluruh tanah Vietnam amat mencurigai, sekaligus membenci segala sesuatu yang berbau Eropah. Gadis pemilik bar ini, yang dia sebut bernama Amigo, amat ‘berbau’ Eropah. Baik bahasa apalagi wajahnya. Kedua lelaki bertubuh kekar yang tadi berdiri di belakang si lelaki asing yang keluar itu, buru-buru menarikkan kursi untuk keenam tentara tersebut. Akan halnya gadis pemilik bar yang baru disindir dengan sebutan madam, amigo dan amiflorence oleh si perwira, untuk sesaat memerah mukanya. Namun demi keselamatan dia harus bisa menyesuaikan situasi. Dia tersenyum dan berjalan ke bar.

“Kemari…! Kemari… Madam. Biarkan orang lain yang mengambilkan minuman untuk kami. Madam harus duduk di sini bersama kami, kecuali madam merasa tak sederajat dengan kami….” Gadis itu berhenti melangkah. Kemudian memberi isyarat kepada dua gadis asli Vietnam yang bertugas sebagai pelayan, agar menyediakan minuman.

“Tuan mau minum apa….?” tanya Ami. “Duduklah disini..” ujar perwira yang sudah merah mukanya karena kebanyakan minum itu, sambil menepuk pahanya. Menunjukan dimana gadis itu harus duduk. Karena dimeja itu, semua kursi sudah terisi oleh keenam tentara itu, Ami menarik kursi dari meja disampingnya. Namun niatnya itu tidak kesampaian, sebelum tangannya sempat menyampai sandaran kursi, pinggangnya tiba-tiba sudah diraih oleh si perwira. Kemudian sekali sentak pinggul sintal gadis itu sudah terhenyak di pangkuan si perwira. Selain karena dipengaruhi alkohol, rasa amat berkuasa karena baru saja menang perang, apalagi sudah lama tidak ’mencicipi’ gadis asing. Membuat si perwira ingin melampiaskan hasratnya. Tentang kemolekan dan ke montokan si gadis pemilik bar, seorang indo-prancis yang cantik dan bertubuh amat menggiurkan, sudah beredar dari mulut-kemulut para tentara yang bertugas di Kota Da Nang ini. Ketika si gadis menolak untuk dicium, dengan kesombongan seorang penguasa dan pemenang perang, perwira itu merobek blus gadis tersebut. Urutan selanjutnya adalah kemunculan Si Bungsu yang kembali untuk mengambil ransel yang berisi pakaian, yang tertinggal waktu dia diusir tadi.

Kini, setelah bar itu tutup, Si Bungsu di ajak gadis pemilik bar itu kelantai atas bar tersebut. Sebuah ruangan yang menjadi tempat tinggal si gadis bersama dengan kedua abangnya. Ruangan tamu dilantai atas itu sungguh mewah. Lantainya beralaskan permadani mahal. Ada tape deck, televisi serta Video serta sofa yang amat empuk, semua buatan Amerika. Ruangan sejuk oleh AC. Tak lama dia duduk sendiri, gadis itu muncul dari kamarnya. Dia sudah mengganti pakaiannya yang compang-camping tadi. Kemudian duduk di sofa persis di depan Si Bungsu. Pelipisnya yang sobek di sambar peluru sudah diperban.

“Saya buatkan minuman..?” tanya gadis itu, setelah menatap Si Bungsu beberapa saat. “Anda punya Coca Cola…?” gadis itu mengangguk. “Dengan es..” tambah Si Bungsu perlahan. Gadis itu berdiri dan berjalan ke bar kecil di sudut ruangan itu. Tak lama dia datang membawa dua gelas Coca Cola, dengan potongan-potongan kecil es didalamnya. Lalu sepi.

Gadis itu kemudian mengulurkan tangan. Si Bungsu menatapnya. Kemudian menyambut uluran tangan itu. “Nama saya Ami florence. Ibu saya orang Vietnam, dan Ayah saya seorang Insinyur dari Perancis. Keduanya sudah lama meninggal dunia…” ujar gadis itu memperkenalkan diri. “Nama saya Bungsu…” “Anda dari Philipina atau Malaysia?” “Indonesia…” “Ooo…Indonesia..” Sepi beberapa saat.

“Saya benar-benar mohon maaf, karena mengusir anda tadi. Dan..saya tidak tahu harus bagaimana mengatakan terima kasih atas bantuan yang anda berikan…”Ujar gadis itu, perlahan sambil menatap tepat- tepat pada Si Bungsu. Si Bungsu menghirup minuman di gelasnya. “Belum tentu saya membantu. Sebab masalah yang akan Anda hadapi lebih besar lagi. Semua tentara pasti dikerahkan untuk mencari keenam tentara yang sudah jadi mayat itu. Lambat atau cepat pasti diketahui kalau keenam tentara itu terakhir berada di bar ini, dan penyelidikan pasti sampai kesini…”

“Tanpa bantuan anda, apapun akibatnya pilihan hanya satu bagi kami, ternista seumur hidup. Diperkosa dihadapan Abang saya dan karyawan sendiri. Abang saya sudah mencoba menghentikan perbuatan opsir itu dan abang saya harus membayar dengan nyawa. Betapapun jua apa yang anda lakukan adalah salah satu hal terbaik yang menyelamatkan nyawa saya, yang takkan pernah saya bisa membalasnya…”

Sepi kembali menggantung diantara mereka berdua. Si Bungsu sudah berniat pamitan. Ketika gadis itu kembali membuka pembicaraan. “Anda nampaknya, baru sampai di Kota Da Nang ini..” Si Bungsu tak segera menjawab. Dia kembali mengangkat gelasnya, menghirup Coca Colanya. Kemudian dia mengangguk. “Agak aneh juga. Sementara semua orang-orang asing diseluruh Vietnam Selatan sudah angkat kaki. Anda justru datang kenegeri yang sedang dilanda teror ini..” Mereka bertatapan. Abang Ami Florence tiba-tiba muncul diruang atas bar tersebut. “Ada dua tentara menggedor pintu. Mereka menanyakan kemana enam teman mereka yang masuk ke bar ini. Saya katakan sudah pergi, bar tutup justru keenamnya pergi. Karena kita sedang mempersiapkan hari raya Thanh Minh, kita akan membersihkan kuburan orang tua sore ini…” “Lalu mereka pergi setelah penjelasan abang..?” “Ya…” “Mereka tidak menaruh curiga..?” “Nampaknya belum..” Abang gadis itu menatap pada Si Bungsu. Menghampirinya, mengulurkan tangan. “Saya Le Duan, abang Ami. Terimakasih atas bantuan Anda. Kami berhutang budi dan berhutang nyawa pada anda…”

Si Bungsu menyambut salam itu. Menyebutkan pula namanya. Kemudian Le Duan kembali turun, karena mengatur banyak hal lagi diruang bawah. “Apa yang saya katakan tadi, bahwa kalian akan dapat banyak masalah besar, sekarang sudah mulai nampak..” ujar Si Bungsu perlahan. “Apapun resikonya,kami sudah harus siap menghadapi. Peristiwa siang tadi bukan yang pertama saya alami. Dalam minggu ini saja sudah tiga kali. Dua orang pelayan sudah berhenti, karena diperkosa. Yang seorang di perkosa justru diruangan bar, dihadapan beberapa tentara yang lain…” tutur Ami. “Apa ada kaitannya dengan ras..?” “Tepatnya ada kebencian yang mendalam terhadap segala yang berbau barat. Apalagi keturunan seperti kami…” ujar Ami memotong ucapan Si Bungsu. Kemudian melanjutkan.

“Vietnam sudah ratusan tahun berada dibawah telapak kaki penjajahan perancis. Ketika merdeka terbelah dua, antara utara yang dikuasai komunis, dengan yang diselatan yang pro pada barat. Ketika akhirnya barat kalah dalam hal ini Amerika Serikat, maka dendam yang ratusan tahun itu ingin di balaskan seketika. Kami sebenarnya sudah diingatkan, agar ikut dievakuasi ke Amerika. Sebab, setelah rezim selatan yang ditopang Amerika kalah, bar saya ini memang tempat minum-minum tentara Amerika. Tentu saja kami dicap antek Imperialis..” Si Bungsu menghirup Coca Cola digelasnya. “Ingin tambah?” “Terimakasih. Terimakasih juga untuk minuman gratis anda. Sudah saatnya saya pergi. Saya mohon diri, saya harus mencari penginapan..” ujar Si Bungsu sambil meraih ranselnya. “Anda bisa menginap disini..” ujar gadis itu cepat. “Apakah bar ini juga berfungsi sebagai penginapan?” ujar Si Bungsu sambil memperhatikan ruangan diatas bar itu. “Tidak. Ini rumah pribadi. Namun saya sangat berterimakasih dan mendapat kehormatan jika anda mau menginap disini. Abang saya memiliki kamar dibawah. Di lantai atas ini ada tiga kamar tidur. Sebuah kamar saya, dua lagi kamar bargirl, para pelayan bar. Dahulu jumlahnya empat orang. Namun kini hanya tinggal dua orang. Kamar yang satu bisa Anda…” ucapannya terputus, karena Si Bungsu sudah melangkah pergi. “Terimakasih jamuan minumnya, Nona…” “Tidurlah disini, please..” Mereka bertatapan sama-sama terpaku dalam diam.

“Nona, Anda belum mengenal saya. Anda sudah melihat di bawah tadi. Betapa saya memiliki keahlian yang nyaris tak tertandingi dalam membunuh orang. Dengan mudah Anda dan saudara lelaki Anda bisa saya habisi dan harta kalian saya rampok….” “Anda takkan kembali ke bar setelah saya usir, jika Anda benar-benar tidak ingin menolong saya….” Si Bungsu menatap gadis itu. “Maksudmu….?” “Saya tahu, ransel Anda tidak tertinggal. Tetapi Anda tinggalkan dengan sengaja. Agar Anda mempunyai alasan untuk kembali….” Si Bungsu terdiam “Saya sarjana psikologi, dan saya mata-mata Amerika. Saya sudah terlatih untuk mengetahui mana yang wajar dan mana yang tidak….”

Mereka bertatapan. Si Bungsu heran dan menyimpan kejut di dalam hatinya mendengar gadis itu menebak dengan tepat apa yang ada dalam hatinya. Terkejut mendengar gadis itu mengaku terus terang bahwa dia mata-mata yang bekerja untuk tentara Amerika. “Maksudmu, saya sengaja meninggalkan ransel itu agar bisa kembali untuk bertemu denganmu? Konkritnya, saya sengaja meninggalkan ransel itu karena saya tertarik dengan kecantikan wajahmu, dengan tubuhmu yang menggiurkan?” tanya Si Bungsu. “Semula saya menyangka begitu. Saya sudah sering bertemu lelaki yang dalam pertemuan pertama sudah tergila-gila pada saya.

Tuhan menganugerahkan saya wajah indo yang cantik dengan tubuh hampir sempurna karena perkawinan silang Eropa-Asia. Namun dugaan saya salah, setelah melihat Anda menghabisi nyawa keenam tentara itu dengan pisau kecil dari balik lengan baju Anda. Saya segera tahu, Anda tinggalkan ransel karena Anda mempunyai indera keenam yang amat tajam. Yang mampu mencium bahaya yang bakal menimpa kami. Jika uraian saya tadi, yang didasarkan analisa keilmuan yang saya kuasai benar adanya, saya harap Anda menginap disini….” ujar Ami Florence. Mereka kembali bertatapan. Lama dan saling berdiam diri. “Bagaimana jika analisa Anda ternyata salah, Nona?” “Saya yakin apa yang saya simpulkan benar….” ujar Ami.

Mau tak mau Si Bungsu kagum pada ketajaman analisis gadis di depannya ini. Ketika diusir tadi, dia memang merasa ada yang aneh menjalari pembuluh darahnya. Perasan itu biasanya datang jika ada bahaya mendekat. Dia tatap orang-orang di dalam bar itu. Tak satu pun yang mengirimkan isyarat bahaya pada dirinya. Dia jadi maklum, bahaya justru akan menimpa orang-orang di hadapannya ini. Oleh karena itu dia langsung tegak dan sengaja meninggalkan ranselnya. Dia tak pergi jauh, hanya di seberang jalan. Tak lama dia tegak di sana, pembenaran firasatnya muncul saat enam tentara Vietkong dia lihat masuk ke bar itu. Dan terjadilah peristiwa itu.

Kini ditatapnya gadis itu, memikirkan tawaran menginap di sana. Dia baru dan asing di kota ini, tak tahu di mana hotel terdekat. “Sebaiknya Nona tunjukkan saja pada saya hotel terdekat dari sini….” Ami Florence menatapnya. “Beri saya kesempatan membalas budimu dengan menyediakan tempat menginap bagimu di sini, please….” Akhirnya Si Bungsu mengalah. Capek dan tak tahu harus kemana, membuat dia menerima tawaran gadis itu. Dia mengangguk. Ami tersenyum, ada lesung pipit di pipinya. Si Bungsu akhirnya juga tersenyum.

“Saya tunjukkan kamarmu….” ujar gadis itu, sembari membawa Si Bungsu melintasi lantai beralas permadani. Ada tiga kamar yang tersusun secara amat artistik. Ami membuka pintu salah satu kamar tersebut. Mengantarkan Si Bungsu masuk ke dalam. Masing-masing kamar ditata dengan isi yang mewah, seperti layaknya kamar hotel kelas menengah. Ada kamar mandi dengan bathup, ada telepon dan televisi. “Untuk saat ini, di seluruh Kota Da Nang Anda takkan mendapatkan tempat menginap sebaik ini. Semua hotel dan penginapan sudah diambil alih tentara. Saya akan ke bawah, Anda istirahatlah. Kita bertemu saat makan malam….” ujar Ami sambil melangkah ke pintu.

Di pintu gadis itu berhenti, memutar badan dan menatap ke arah Si Bungsu. “Saya tahu Anda terkejut ketika tadi saya mengatakan terus terang, bahwa saya adalah anggota spionase di pihak Amerika. Kenapa saya memilih bekerja untuk Amerika, lain kali bisa kita bicarakan. Namun saya punya alasan mengapa saya berani terus terang mengatakan bahwa saya bekerja untuk Amerika. Tak lain karena saya yakin Anda juga berada di pihak Amerika. Paling tidak Anda bersahabat dengan orang Amerika, khususnya dengan tentaranya….” Si Bungsu kembali merasa kaget atas apa yang diketahui gadis itu tentang dirinya. Namun dia kembali menyimpan saja rasa kagetnya dalam hati.

“Tidak ingin bertanya dari mana saya tahu Anda berada di pihak Amerika, atau berteman dengan tentara Amerika?” Si Bungsu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Dia masih tetap tegak denga ransel di bahu. “Ransel di bahu Anda itu. Bagi orang lain, bahkan bagi sebahagian besar orang Amerika sendiri, mungkin tak melihat perbedaan antara ransel yang Anda bawa dengan puluhan ribu ransel lainnya, yang dipakai tentara Amerika. Ribuan ransel kini bisa dibeli di pasar loak. Baik bekas tentara Perancis, Inggris, Amerika, Cina maupun Rusia.

“Namun ransel yang dibahu anda itu memiliki tanda-tanda khusus, yang hanya diketahui sedikit orang. Dan ransel itu hanya dimiliki oleh para perwira Amerika lulusan west point. Sungguh, ransel yang seperti Anda miliki itu memiliki nilai yang amat pribadi bagi pemiliknya. Anda takkan menemukannya di pasar loak di Da Nang maupun Saigon, yang kini sudah berganti nama menjadi Ho Chi Minh. Perwira yang memberikan itu tentulah merasa amat berhutang budi pada Anda. Sehingga dia memberikan benda yang amat bernilai amat pribadi itu pada Anda…” gadis itu menghentikan uraiannya yang panjang lebar.

Kali ini Si Bungsu tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada kecerdasan dan ketajaman penglihatan gadis tersebut. Namun kembali dia tak memberikan komentar apapun. Dia melangkah kesisi pembaringan, meletakkan ransel itu disana. Ketika gadis itu menutupkan pintu, Si Bungsu menghenyakkan pantatnya di tempat tidur. Membuka sepatu, membuka baju. Membuka ban karet yang disisipi Samurai kecil di pergelangan tangan kanannya. Kemudian membuka ban karet dilengan sebelah kirinya. Samurai-samurai kecil itu dia letakkan di meja kecil dalam ruangan tersebut.

Kemudian menghidupkan televisi. Menekan tombol pencari siaran. Hanya tiga chanel yang ada siaran. Ketiganya siaran resmi Vietnam dalam bahasa Inggris, Perancis,dan Vietnam. Dia memilih yang berbahasa Inggris. Dengan kaos singlet dia membaringkan diri di tempat tidur, mendengarkan siaran berita. Televisi menyiarkan, dalam perang yang baru saja berakhir serdadu Amerika yang berhasil dibunuh tentara Vietnam berjumlah 123 ribu orang. Dikabarkan pula, selain yang terbunuh, Amerika juga mengklaim 50 ribu tentaranya hilang selama peperangan. Amerika menuduh Vietnam menahan dan menyiksa tentaranya yang tertawan di ribuan tempat penahan yang terpencar di berbagai belantara.

Si Bungsu teringat McKinlay. Seorang temannya yang berpangkat Kolonel, Veteran Perang Vietnam, bercerita bahwa selama perang yang berakhir amat memalukan bagi Amerika itu negaranya kehilangan 56 ribu serdadu karena tewas. Sebanyak 18 ribu lainya hilang dan dinyatakan sebagai MIA (missing in action). Dia tak tahu darimana pemerintahan Vietnam mendapatkan angka tentara Amerika yang mati sebanyak 123 ribu, dan yang hilang 50 ribu orang itu. Jelas itu angka propanganda. Ingin memberikan kesan kepada rakyat betapa hebatnya tentara Vietnam. Sebab dalam berita itu tentara Vietnam yang gugur hanya dikatakan 100 ribu lebih sedikit dari tentara Amerika.

Padahal menurut McKinlay, jumlah tentara Vietnam yang mati dalam pertempuran selama lebih kurang

12 tahun itu tak kurang 500 ribu! Usai pembacaan berita, Presiden Vietnam Nguyen Huu Tho tampil menyampaikan pesan agar sekitar 200 ribu bekas tentara Vietnam Selatan yang masih belum menyerahkan diri segera melapor ke markas tentara-tentara terdekat. Batas waktu untuk di proses dengan hukum militer hanya sampai akhir Juni 1975. Selewat batas itu, semua tentara yang tak menyerahkan diri akan ditembak bila tertangkap.

Si Bungsu teringat keterangan Mc kinlay. Puluhan ribu tentara Vietnam Selatan yang tak sempat keluar dari selatan saat Vietnam jatuh, pada melepaskan pakaian seragam dan mencampakkan bedil mereka. Sebagaian besar masuk ke hutan, lari menuju perbatasan Kamboja atau Laos, berusaha untuk menyeberang ke perbatasan. Takkan ada mahkamah Militer seperti yang disebutkan presiden nguyen huu tho. Semua tentara yang menyerahkan diri akan ditembak mati. McKinlay juga mengatakan kalau Nguyen Huu Tho adalah presiden ketiga sejak kejatuhan Vietnam Selatan. Presiden pertama yang di ambil sumpahnya sesaat setelah Saigon jatuh pada 23 April, adalah Tramn Van Houng.

Beberapa hari sebelumnya Presiden Nguyen Van Thieu lari terbirit-birit ke Amerika. Tapi hanya beberapa hari duduk di kursi kepresidenan, Van Houng dicopot militer, digantikan oleh Duong Van Minh. Orang ini pun hanya beberapa hari memerintah. Masih bulan April itu juga, Nguyen Huu Tho naik ke pucuk kekuasaan. Dialah yang kini sedang berbicara dalam siaran televisi nasional. Mayat keenam tentara itu dikubur di ruang bawah tanah bar itu. Abang Ami juga di kubur disana tapi ditempat yang berbeda. Mayat keenam tentara itu disiram dengan sianida, sehingga menjadi hancur. Sementara kedua gadis pelayan bar disuruh pulang, mereka tak perlu dicurigai akan membocorkan rahasia. Sebab keduanya juga bahagian dari jaringan mata-mata Amerika. Yang direkrut jauh sebelum Amerika angkat kaki dari Vietnam. Penjelasan itu di dapat Si Bungsu dari penuturan Ami, tatkala mereka ngobrol diruang tengah, usai makan malam.

Peristiwa tadi siang nampaknya tak terlalu mengguncang Ami dan Abangnya yang masih hidup. Sebagai orang yang dengan sadar memilih dunia Spionase sebagai pekerjaan, pembunuhan atau teror sudah menjadi bagian kehidupan mereka selama bertahun-tahun. “Kini jelaskan kenapa anda sampai tersesat ke Neraka yang masih menggelegak ini, Bungsu..” ujar Ami Florence sambil menghirup kopi panas. “Pernah mendengar nama RR?” tanya Si Bungsu. “Roxy Rogers. Anak gadis milyader Alfonso Rogers, blasteran Inggris-spanyol. Ikut ke Vietnam dengan divisi kesehatan. Tahun 1973 dengan dua petugas kesehatan lainnya dinyatakan sebagai personil missing in action, hilang saat bertugas. Saat itu satuannya sedang merawat tentara dan penduduk yang terluka disebuah desa dekat pantai, di Teluk Tonkin, tak jauh dari kota Ha Tinh. Ayahnya sudah mengeluarkan uang jutaan dollar, membayar tiga tim ekspedisi untuk mencari anaknya. Namun jejak gadis itu hilang, tak berbekas..” papar Ami, sambil menatap lelaki didepannya, kemudian menyambung.

“Kedatangan Anda ke Neraka ini untuk mencarinya..?” “Ya….” “Anda tentu dibayar mahal Milyader Rogers..” “Seperti itulah…” “Maksudnya?” “Saya diberi dana tak terbatas sampai berhasil menemukan anak tersebut…” “Saat anda berada di belantara sana, karena amat besar kemungkinan disanalah gadis itu dan teman-temannya disekap, uang menjadi tak ada arti. Orang tak bisa keluar untuk membelanjakannya….” “Jika uang tak berarti, apa yang diperlukan untuk membebaskan para tawanan?” “Penciuman dan penglihatan setajam harimau afrika, naluri seperti ular cobra, kegigihan seperti tentara Vietkong, kemampuan membela diri dan ketangguhan seperti gajah luka…!” Demikian tangguhnya tentara Vietkong?”

Ami tak segera menjawab tapi mengirup kopinya, kemudian menatap lurus-lurus ke mata lelaki asing yang telah menyelamatkan nyawa dan kehormatannya itu. “Jawabannya bisa beragam. Pertama, secara kesatuan mereka memang tangguh buktinya ribuan tentara Amerika dipaksa angkat kaki, meninggalkan perangkat perang berserakan dimana-mana, dan akibat yang tak bisa ditaksir dengan uang adalah rasa malu. Kekalahan ini adalah malu yang takkan bisa dikikis di wajah sejarah Amerika selama dunia berkembang..” Ami berhenti sesaat.

“Kedua, ketangguhan mereka tidak hanya dari ideologi dan militer, tetapi juga tak mau menerima suap dari musuh. Cukup banyak tentara Vietkong mulai dari prajurit sampai Jenderal yang korup, begitu juga pejabat sipil. Namun mereka takkan begitu saja menerima uang, berapapun besarnya, jika datangnya dari Amerika. Apalagi tujuannya untuk membebaskan tawanan perang…..” Gadis itu kembali berhenti dan menghirup kopinya. Kemudian melanjutkan.

“Setahu saya, Rogers paling tidak sudah tiga kali mengadakan kontak tak resmi dengan pejabat Vietkong. Memohon anaknya dicari dan dibebaskan. Untuk itu dia sanggup membayar sangat tinggi. Tapi sudah dua tahun berlalu, anak itu tetap hilang tak berbekas….” Ami menyudahi penuturannya. Meletakkan cangkir kopi dimeja. Menarik nafas dan menatap pada Si Bungsu.

“Terimakasih penjelasan Anda. Sebenarnya saya masih ingin mendengar tentang Kota Ha Tinh di Teluk Tonkin itu, namun saya sudah mengantuk. Saya berharap besok Anda bersedia melanjutkan cerita….” “Siapa yang menyuruh Anda mengontak saya?” potong Ami.

Si Bungsu terdiam beberapa saat, menatap gadis itu nanap-nanap. “Seorang yang bernama McKinlay….” ujarnya membuka rahasia. “Jhon McKinlay. Dua kali terjun ke medan perang Vietnam. Kali pertama tahun 1965 bertugas di Da Nang, semasa masih berpangkat Kapten. Tahun 1967 ditarik karena cedera berat setelah kompi yang dia pimpin remuk redam digasak Vietkong di pegunungan perbatasan Laos. Namun dia juga berhasil menggasak batalyon Vietkong yang menyerangnya. Pangkatnya naik menjadi Mayor.

Tahun ’70 diterjunkan lagi ke Saigon, dengan pengalaman perangnya dia memenangkan berbagai pertempuran melawan Vietkong. Dia kehilangan kaki kanannya dalam pertempuran di Hamburger Hill. Tahun 1972 dia ditarik ke Pentagon, menjadi perwira perencanaan taktik dan strategi pertempuran hutan di Mabes Angkatan Bersenjata Amerika itu. Pangkatnya naik menjadi Kolonel….” “Otak Anda seperti kamus….” ujar Si Bungsu. “Terimakasih, itu pujian kesekian ribu yang pernah saya dengar diucapkan orang untuk otak saya. Tapi apa hubungannya McKinlay dengan Rogers?” “Tidak tercatat dalam kamus Anda?” tanya Si Bungsu. Ami tersenyum, menatap Si Bungsu dan menggeleng.

“Jika kasusnya tidak terjadi di sini, tak kan masuk dalam memori saya….” “Anda sedikit salah. Hubungan antara McKinlay dengan Rogers justru terjadi di sini….” “Maksudmu, McKinlay berpacaran dengan Roxy Rogers?” potong Ami Florence. “Bukan McKinlay, melainkan anaknya, McKinlay Junior. Dia dosen matematika di Universitas Los Angeles. Mereka bertunangan di sini, saat sama-sama bertugas ke Vietnam ini….” Itu hal baru bagi Ami. Bahwa Roxy Rogers adalah tunangan McKinlay Jr. “Hei, saya mengenal negerimu, saya sudah dua kali ke sana, tepatnya ke Bali. Kedatangan saya yang pertama sepuluh tahun yang lalu.

Dua hari saya di Bali, Partai Komunis melakukan kudeta di Jakarta. Saya hampir tak bisa pulang. Kedatangan saya yang kedua tahun 1970, Bali itu sungguh indah, engkau berasal dari sana?” “Dari Indonesia, bukan Bali. Tepatnya dari Sumatera Barat….” “Wow! Saya pernah ke sana. Sungguh, saya pernah. Ibukotanya Bukittinggi yang ada grand canyon bukan? Wow, itu negeri yang indah, terletak di pegunungan. Saya ke sana tahun 70, dari Jakarta naik pesawat terbang ke Padang….” “Ibukota provinsi adalah Padang, bukan Bukittinggi….” “Oh ya? Tak apalah. Tapi saya terpikat dengan kota mungil itu. Saya menginap semalam di sana. Esoknya kembali ke Padang, naik pesawat ke Medan, terus ke Singapura dan kembali kemari lewat Taiwan. Malamnya saya sempat makan jagung bakar yang dijual dekat jam besar tinggi dengan huruf-huruf Romawi itu….”

Si Bungsu menatap gadis itu bercerita dengan diam. “Di sana Anda lahir, Bungsu?” tanya Ami setelah beberapa saat mereka sama-sama terdiam. “Tidak, tapi di sebuah dusun kecil sekitar 70 kilometer dari kota tersebut….” “Lalu Anda datang untuk mencari Roxy Rogers. Ke mana gadis itu akan dicari?” “Barangkali Anda punya saran?” Ami menggeleng.

“Jika dia benar-benar diculik, maka harapan untuk mengetahui dimana tempat dia disekap amat sulit. Ada ratusan tentara Amerika yang dinyatakan hilang dalam bertugas. Seharusnya, dengan jumlah tawanan sebanyak itu, akan mudah dideteksi. Tetapi kenyataannya jejak mereka seperti lenyap ditelan kegelapan. Tak berbekas sama sekali…” “Apakah mereka dibunuh?” “Sebahagian, ya. Sebahagian dipelihara agar tetap hidup. Sebab suatu saat kelak para tahanan itu akan menjadi barang yang amat berharga untuk menekan Amerika dalam perundingan….” “Bagaimana kalau…” Si Bungsu tak melanjutkan ucapan nya. “Maksud Anda, kalau dua atau tiga orang tentara Vietkong ditangkap, lalu disiksa agar mau membuka suara?” Si Bungsu kembali terpana pada ketajaman fikiran gadis di depannya ini, yang bisa membaca jalan pikirannya. Dia mengangguk.

“Cara itu sudah kuno dan tak ada hasil. Sudah puluhan, mungkin ratusan kali dilaksanakan oleh tentara Amerika ketika masih berkuasa di sini. Tapi tak seorang pun di antara Vietkong yang disiksa yang dapat menunjukkan dimana tempat tawanan perang itu disekap. Bukannya mereka tak mau buka suara, siapa yang tahan pada siksaan? Tetapi, begitu tempat yang ditunjukkannya dilacak, tempat itu sudah kosong. Bangsa kami sudah kenyang dengan perang melawan Barat. Seratus tahun melawan Perancis, belasan tahun melawan Amerika. Tempat penyekapan tentara Amerika selalu dipindah-pindahkan untuk menghindari sergapan….” Buat sesaat mereka kembali sama-sama terdiam.

“Maaf, saya mengantuk…” ujar Si Bungsu akhirnya, sambil mengangguk hormat pada gadis tersebut. Kemudian berdiri dan berniat masuk ke kamarnya. Namun dia baru berjalan dua langkah ke arah kamarnya, ketika tiba-tiba dia menghentikan langkah. Tegak diam dengan mata mengecil. “Ada yang datang….” ujarnya perlahan sembari membalikkan badan dan menatap Ami Florence. Gadis itu juga menatapnya. “Maksudmu…?” “Paling tidak ada tiga puluhan tentara di luar sana, kini berada sekitar lima puluh meter dari sini. Mereka akan mendatangi tempatmu ini, Nona….” “Anda yakin…?”

Ucapannya belum berakhir, ketika abangnya muncul dari lantai bawah. Di bahunya tergantung sebuah handbag, mungkin berisi pakaian dan uang sekedarnya. Di tangannya ada sebuah bedil otomatis dan di pinggangnya tiga granat. Semua alat perang itu buatan Amerika. “Dragon menelepon, malam ini seregu tentara akan menggeledah bar ini dan akan menangkap kita….” ujar abang Ami. Ami Florence menatap pada Si Bungsu. “Anda mampu mendengar langkah mereka kendati mereka masih jauh?” tanya gadis itu, nyaris tak percaya. “Saya tak mendengar apapun….” “Tetapi…” “Naluri saya merasakan ada bahaya yang amat besar yang mengancam kita di rumah ini….” “Bagaimana….” “Tidak perlu kita bahas sekarang bagaimana saya dapat merasakan datangnya bahaya, Nona. Nampaknya kita harus menyingkir segera…” Gadis itu menatap Si Bungsu dengan tatapan separoh takjub. “Ya Tuhan, bencana itu ternyata datang lebih cepat….” itulah akhirnya yang

bisa diucapkan gadis tersebut sambil bergegas menuju ke kamarnya. Ketika dia kemudian muncul kembali, pakaiannya sudah bertukar dengan jeans dan kaos serta sebuah pistol. Saat itu serentetan tembakan terdengar di luar, di bahagian depan bar. “Mereka sudah mulai. Ambil barang Anda, Tuan….” ujar abang Ami Florence kepada Si Bungsu. Si Bungsu bergegas ke kamarnya, memakai sepatu, menyambar ransel. Kemudian bergabung di ruang tengah di lantai atas bar itu. Ami menuju ke dinding di belakang sofa. Di sana ada sebuah lukisan cat minyak, lukisan enam ekor kuda hitam dan seekor kuda putih di bahagian depan, tengah berlari di sungai yang dangkal. Air sungai tersibak tinggi ke kiri dan ke kanan akibat rancahan kaki kuda yang berlari kencang itu. Sebuah lukisan yang indah. Di balik lukisan itu ternyata ada sebuah tombol. Ami menekan tombol tersebut. Sebuah lampu merah sebesar ujung korek api menyala.

Lukisan dikembalikan ke posisi semula. Tombol dengan lampu merah itu tertutup kembali. Di bawah, sebuah ledakan granat membuat pintu bar hancur berkeping. Beberapa detik kemudian belasan tentara Vietnam menghambur masuk sembari memuntahkan peluru dari senapan otomatis merek Kalasinkov buatan Rusia. “Kita berangkat….” ujar Ami.

Didahului abang Ami Florence, mereka menuruni tangga. Ami di tengah dan Si Bungsu paling belakang. Hanya beberapa detik, mereka sudah sampai di lantai bawah. Menjelang sampai di lantai bawah, abang Ami mencabut sebuah paku di dinding. Lantai di depan tangga paling bawah kelihatan bergeser secara otomatis. Ada tangga menuju ruang bawah tanah. Mereka segera turun, dan lantai beton setebal lebih kurang setengah meter dengan ukuran satu meter persegi itu segera merapat kembali hanya dua detik setelah Si Bungsu masuk. Hanya dalam hitungan detik setelah lantai itu merapat, dua tentara Vietnam yang selesai mengobrak-

abrik isi bar itu sampai pula di tangga tersebut. Namun mereka tak melihat sesuatu yang ganjil di lantai. Lantai itu terbuat dari ubin yang nampaknya dibuat berpetak-petak besar sebagai kamuflase. Kalaupun orang melihat dengan cermat, takkan kentara bahwa salah satu dari petak-petak yang sama besar itu adalah pintu rahasia yang bisa dibuka dan ditutup. Kini pintu rahasia itu sudah mustahil dibuka, kecuali dengan bom. Sebab alatnya sudah dirusak.

Alat itu adalah paku yang tadi dicabut abang Ami saat akan turun. Seorang Kapten, pimpinan peleton yang melakukan penyergapan itu, segera memerintahkan tiga anak buahnya untuk naik ke lantai atas. Ketiga prajurit itu segera menghambur. Sesampai di atas, mereka menembaki kamar, tempat tidur dan sofa tamu. “Mereka tak ada disini….” lapor salah seorang dari yang naik bertiga tadi.

Si Kapten diiringi belasan tentara lainnya segera naik. Mereka memeriksa laci-laci, koper, lemari, merobek tilam dan bantal dengan sangkur dalam usaha mencari dokumen. Karena tak ada apapun yang ditemukan, si Kapten menatap dinding ruangan atas tersebut. Matanya yang sipit memperhatikan foto lukisan dan asesori lainnya yang bergantungan di dinding. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan semua yang tergantung itu. Ketika lukisan tujuh ekor kuda di belakang sofa diangkat, kelihatan sebuah tombol kecil berwarna merah.

Tentara yang menurunkan lukisan itu memanggil komandannya. Si komandan dan dua perwira bawahannya segera berkerubung ke sana. Mereka mengerutkan kening, memikirkan tombol apa itu gerangan. Si komandan meraba dinding di sekitar tombol kecil itu, hanya sesaat, tiba-tiba wajahnya berubah pucat. “Bom….!” teriaknya sambil melangkahi sofa untuk lari menghindar.

Namun itulah ucapannya yang terakhir. Sebuah letusan yang amat dahsyat segera terdengar. Gedung berlantai dua yang digunakan selama bertahun-tahun untuk bar itu, berikut sekitar 25-an tentara Vietnam yang ada di dalamnya, hancur lebur menjadi serpihan yang tak dikenal! Ami, abangnya serta Si Bungsu, yang berada hanya dua meter di bawah lantai bangunan tersebut, merasakan guncangan yang amat keras. Namun lantai di bawah tanah itu nampaknya memang dirancang khusus untuk perlindungan. Selain guncangan yang cukup keras, tak ada akibat lain bagi ruang bawah tanah tersebut. Sebuah lampu neon yang dihidupkan dengan aki menerangi ruang di mana mereka kini berada.

“Mereka semua, berapa orang pun jumlahnya di atas sana, sudah menjadi serpihan yang tak bisa dikenali….” ujar Ami perlahan. Mereka saling bertatapan. Si Bungsu menjadi faham, bahaya yang senantiasa mengancam, membuat rumah ini dilengkapi dengan ruang bawah tanah untuk bersembunyi dan sekaligus bom waktu yang juga tersembunyi di balik dinding atau mungkin di bawah tempat tidur, untuk menghancurkan siapa pun yang berniat mencelakai pemilik rumah ini. Si Bungsu juga yakin banyak rumah-rumah di kota ini, mungkin banyak rumah di seluruh kota-kota Vietnam, yang dipersiapkan oleh pemiliknya dengan bom waktu atau ranjau seperti rumah ini. Perang ganas yang amat panjang membuat orang harus tetap waspada setiap detik akan munculnya bahaya yang bisa merenggut nyawa mereka. “Kalian menjadi buronan sekarang. Kemana kalian akan pergi? Seluruh pelosok negeri ini dipenuhi oleh tentara. Dalam waktu singkat foto kalian tentu sudah akan disebarkan….” ujar Si Bungsu sambil menatap Ami Florence.

Gadis itu menarik nafas. Menatap pada abangnya. Kemudian menatap pada Si Bungsu. “Kemungkinan buruk seperti ini sudah dikaji akan terjadi. Karenanya, apa yang akan kami perbuat dan kemana kami akan pergi juga sudah diprogram….” ujar Ami perlahan. “Sebaiknya kita ke ruang kuning….” ujar abang Ami Florence. “Ya, saya rasa tak ada yang harus kita tunggu di sini. Mari pergi….” ujar Ami sambil menyandang ranselnya.

Abang Ami bernama Le Duan, yang di atas tadi memperkenalkan dirinya kepada Si Bungsu, segera melangkah duluan. Ruangan di mana kini mereka berada hanya ruangan kecil ukuran dua kali dua meter. Ada beberapa senter, tali temali, sekop, linggis, bedil, kotak-kotak peluru dan beberapa granat tangan. Le Duan mengambil sebuah senter, kemudian mulai melangkah. Di hadapan mereka ada dinding tanpa pintu. Ada beberapa paku tempat menggantungkan tali temali dan mantel. Le Duan mengambil tali nilon, kemudian menarik pakunya.

Dia berjalan ke sisi dinding yang di kanan. Di dinding itu ada beberapa lobang bekas paku yang sudah dicabut. Le Duan memasukan paku itu ke salah satu lobang tersebut. Tiba-tiba terdengar suara getaran lemah, lalu dinding di depan mereka, dimana tadi Le Duan mencabut paku, bergerak ke kiri. Dalam beberapa detik, pertemuan dua dinding di kanan mereka terlihat menjarak. Lalu dinding itu berhenti setelah bergeser sekitar satu meter. Persis untuk orang lewat. Le Duan menghidupkan senter, lalu melangkah ke ruang di balik kamar di mana kini mereka berada.

Ami menyuruh Si Bungsu berjalan duluan. Begitu mereka sampai di kamar sebelah, Ami menekan sebuah tombol di dinding. Pintu rahasia itu kembali tertutup. Suasana tiba-tiba menjadi gelap gulita. Ami menghidupkan senter, sementara abangnya sudah berjalan duluan di depan, menyelusuri lorong sempit bawah tanah itu. Kini Ami berjalan di depan, Si Bungsu mengikuti dari belakang. Ada dua tikungan yang mereka lewati, kemudian Si Bungsu melihat Le Duan kembali mencabut sebuah paku di dinding. Dinding di kanan mereka terkuak. Ada ruangan di baliknya.

Mereka masuk satu demi satu. Ami menekan sebuah tombol. Ruangan itu tiba-tiba diterangi lampu berkekuatan sepuluh watt. Si Bungsu segera tahu, kamar inilah yang tadi disebut Le Duan sebagai ruang kuning. Ruangan itu berukuran sekitar tiga kali dua meter. Ada meja kecil, ada tumpukan barang-barang militer, ada peta di dinding. “Saya akan memeriksa radio. Mengirim pesan, sekalian memeriksa speed boat….” ujar Le Duan. Tanpa menunggu jawaban adiknya, lelaki itu mulai menghidupkan senter saat dia melangkah keluar dari ruang tersebut.

Begitu dia tiba di luar, pintu kamar itu tertutup kembali. Ada celah kecil di bahagian atas kamar. Nampaknya berfungsi sebagai sirkulasi udara. Ketika Ami mulai membuka beberapa kantong parasut, Si Bungsu memperhatikan peta di dinding. Dia segera tahu peta itu adalah peta untuk kepentingan militer. Ada tiga peta di dinding. Peta Vietnam Utara yang digabung dengan Selatan, peta Kota Da Nang dan peta Kota Saigon.

Pada dua kota terakhir terlihat tanda-tanda di mana markas tentara Amerika sebelum diusir tentara Utara. “Well, malam ini kita tidur di sini dulu. Kita harus menunggu jawaban dari salah satu kapal perang Amerika yang berada di sekitar Kepuluan Natuna….” ujar Ami. Ucapan gadis itu mengejutkan Si Bungsu yang tengah memelototi peta di dinding. Dia mengalihkan tatapannya dari gadis itu ke lantai.

Di lantai sudah terbentang kasur tipis tentara yang dialas dengan terpal. Ada juga selimut pembagian tentara, dan bantal karet yang untuk menggelembungkannya harus ditiup dulu lewat sebuah pentin di sudutnya. “Anda tidak keberatan kita tidur berdekatan di sini, bukan?” ujar Ami.

Si Bungsu tiba-tiba merasa kampungan sekali mendengar pertanyaan gadis itu. Biasanya prialah yang harus bertanya seperti itu kepada wanita. Dia menatap Ami Florence, tapi tadis itu dengan cuek tengah bersalin pakaian, memasang baju tidur yang nampaknya dia bawa di dalam ranselnya. Si Bungsu terpaksa kembali menatap ke peta di dinding. “Kita akan tidur bertiga besama Le Duan di sini, bukan?” ujarnya. Usai mengucapkan kata-kata itu dia menyumpahi dirinya sendiri. “Tidak. Dia tidur di kamar radio. Tapi jangan khawatir, saya tidak akan memperkosamu….” ujar Ami.

Tumbung, eh tumbuang! Gadis ini benar-benar tumbuang, rutuk Si Bungsu di dalam hati. Dia meletakkan ranselnya. Kemudian membuka sepatu. Matanya memang sudah sangat mengantuk. Ketika dia akan berbaring, satu-satunya tempat berbaring di kamar kecil itu hanya ada di sebelah tubuh Ami. Gadis itu sudah duluan bergolek dan menutupi badannya dengan selimut tentara yang bergaris-garis seperti belang zebra. Akhirnya dia memang harus bergolek di sisi gadis itu, sembari ikut-ikutan menyuruk ke bawah selimut.

“Tidak takut kuperkosa?” bisik gadis itu. “Tumbuang, kalera!” rutuk Si Bungsu dalam hati. “Hei… Upik, hati-hati kalau ngomong. Saya ini durian, engkau mentimun. Cabik-cabik dirimu nanti. Jangan terlalu banyak siginyang…” ujarnya dengan suara mendesis.

Ami Florence mengerutkan kening mendengar ucapan yang tak dimengertinya itu. Dia memiringkan tubuh menghadap pada Si Bungsu. Tapi lelaki itu ternyata tidur miring membelakangi dirinya. Sekali rengkuh, tubuh Si Bungsu dibuatnya tertelentang. “Hei, mengapa ini. Kau….” Ucapannya belum selesai, tangan gadis itu kembali merengkuhnya. Dan rengkuhan ini membuat tubuh Si Bungsu hampir terpelintir.

Agar tidak terpelintir, dia terpaksa menurutkan rengkuhan itu. Tubuhnya kini menghadap pada Ami. Dan tiba-tiba dia mendapatkan hidung dan wajahnya hanya sejengkal dari hidung dan wajah gadis itu. Dia menarik kepalanya agak ke belakang, agar kepala mereka agak berjarak. Namun tangan gadis itu mencekal rambutnya, menariknya dengan agak kuat, sehingga hidung mereka beradu. “Kau seperti anak perawan saja. Bicara yang jelas, apa maksud kata-katamu tadi?” ujar Ami dengan geram, sementara tangannya masih mencekal rambut Si Bungsu.

Kalau ada yang membuat Si Bungsu marah, bukan karena cekalan tangan gadis itu di rambutnya. Melainkan kata-kata ‘kau seperti anak perawan saja’ itu. Oo, mengkalnya hati Si Bungsu. Tangannya segera menjambak pula rambut Ami. Menariknya kepala gadis itu sehingga hidung mereka hampir berlantak. “Sekali lagi kau ucapkan kata-kata ‘seperti anak perawan’ itu, ku patahkan lehermu, Upik….” desisnya dengan mata melotot.

Ami bukannya takut, dia balas memelototkan matanya. Kemudian tersenyum. Kemudian kepala Si Bungsu diraihnya. Dan sebelum pemuda itu sadar apa yang akan terjadi, ya ampuuun… bibir gadis itu sudah melumat bibirnya. Lama pula! “Oke, oke! Sekarang katakan padaku, apa arti kata-katamu tadi. Engkau durian aku mentimun, dan diriku akan cabik-cabik, dan agar aku jangan banyak siginyang. Apa artinya itu?”

Si Bungsu tak segera menjawab. Ada beberapa saat dia pergunakan waktu untuk menormalkan degup darahnya yang mengencang ketika gadis itu melumat bibirnya tadi. “Katakan, apa artinya ucapanmu tadi, please…” ujar Ami sambil menyurukkan wajahnya ke dada Si Bungsu, dan tangannya memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. Persis seperti anak kucing kedinginan, yang menyurukkan tubuh ke bawah perut induknya.

Si Bungsu menarik nafas. Dia arif, kedegilan gadis ini merupakan pelarian dari hidupnya yang keras. Sekuat-kuatnya manusia bertahan menjalani kehidupan dengan tegar, pasti ada ketika dimana dia seolah-olah terpuruk ke lobang tanpa dasar. Pada saat-saat seperti itu, orang membutuhkan tempat pelarian. Memerlukan teman yang bisa diajak bicara.

Bahkan tidak hanya tempat pelarian dan teman yang mendengar dan didengar, melainkan juga tempat berlindung! Orang pandai dan ulet bisa mengatasi persoalan pelik dalam kerja dan tugasnya. Namun ketika persoalan pelik itu justru datang dari dalam, bukan ancaman dari luar, orang sering merasa gamang. Perlahan didekapnya tubuh Ami Florence, dibelainya rambut gadis itu yang menebarkan aroma harum yang lembut. Kemudian dia paparkan apa arti ucapannya tadi. Arti kiasan yang sering dipakai di kampungnya, berkaitan dengan hubungan lelaki dan perempuan.

Gadis itu mengangkat wajah, menatap pada Si Bungsu, tatkala usai menceritakan arti kata-katanya itu. “Apakah di kampungmu wanita selalu berada dalam posisi seperti itu? Lemah dan harus dikasihani?” tanyanya perlahan. “Dalam teori tidak. Tapi dalam kenyataan, ya….” “Apa contohnya?” “Kampungku itu secara kultur disebut Minangkabau. Di Minang, dalam teori, wanitalah yang memegang kekuasaan. Baik dalam hal harta pusaka maupun dalam membentuk garis keturunan. Suku anak harus menurut suku ibu. Namun dalam praktek, wanita tetap saja menggantungkan hidupnya pada lelaki. Di manapun kondisi seperti itu berlaku. Bagaimana mungkin menerapkan persamaan hak dan kewajiban dalam kehidupan secara riil….” “Wanita selalu dalam posisi terjajah?” potong Ami. “Kadang-kadang ya. Namun sebenarnya mereka di lindungi, kaum lelaki punya kewajiban membuatkan rumah bagi istri dan anak anaknya….” Ami kembali menyurukkan wajahnya ke dada Si Bungsu. Lama mereka saling berdiam diri. Tangan Ami mempermainkan anak rambut di tengkuk Si Bungsu. “Bungsu….?” Si Bungsu tak menjawab “Engkau punya istri di kampungmu?” Si Bungsu masih tak menjawab. “Dia tentulah wanita cantik yang sangat beruntung….” Si Bungsu tak berkomentar sepatah kata pun “Berapa orang anakmu?”

Si Bungsu memejamkan mata. Tetap tak menjawab. Lama mereka sama sama berdiam diri. “Bungsu…?” “Ya…?” ”Maafkan kalau pertanyaanku….” “Tak ada yang harus dimaafkan, karena tidak ada yang harus dijawab….” “Maksudmu….?” “Aku tidak punya anak…” “Oh maafkan aku…” “Aku juga belum pernah menikah….”

Gadis itu mengangkat wajahnya yang tadi disurukkan ke dada Si Bungsu. Menatap wajah pemuda yang hanya berjarak setengah jengkal dari wajahnya. Lama diperhatikannya wajah pemuda tersebut. Kemudian dia kembali menjadi anak kucing yang kedinginan, menyurukkan wajahnya ke dada Si Bungsu. Sebagai seorang ahli ilmu jiwa, Ami segera bisa mengetahui bahwa lelaki yang dipeluknya dan yang memeluknya ini tidak berbohong sedikit pun. Lebih dari itu, dari sinar matanya Ami juga mengetahui bahwa lelaki ini seorang yang sering dikecewakan wanita. Bekasnya amat dalam menggurat pada sinar mata dan air mukanya. “Maafkan pertanyaanku tadi…” “Tidak apa-apa, jangan difikirkan….” “Bungsu…?” “Ya…” “Kau ke Vietnam ini disebabkan merasa hidup tak ada guna, karena dikecewakan seorang gadis?”

Si Bungsu ingin menampar gadis itu. Namun itu tak dia lakukan, karena apa yang dikatakan gadis ini 85,5 persen benar. Yang 14,5 persen lagi karena dia benar-benar ingin membantu Alfonso Rogers. Karenanya dia tetap berdiam diri. “Siapa pun gadis yang tega meninggalkan dirimu, orangnya sungguh keterlaluan…” bisiknya dari dalam dekapan Si Bungsu. Si Bungsu masih berdiam diri. “Sudah berapa lama engkau meninggalkan kampungmu?” “Tiga tahun…” “Selama itu engkau di Amerika?” “Ya…” Sepi setelah itu.

Si Bungsu menarik nafas, dia senang kalau gadis ini tak ngomong lagi. Apalagi omongannya terus- terusan menyucuk puncak kadanya. Dia sudah mulai memejamkan mata. Tetapi… “Bungsu…?” ”Hmmmmm…” “Kalau sudah tiga tahun engkau meninggalkan kampungmu, berarti gadis yang meninggalkan dirimu itu kini ada di Amerika, bukan?”

Si Bungsu merasa sakit perutnya, sakit jantungnya. Tapi tiba-tiba saja dia ingin tahu, sampai dimana hebatnya gadis ini bisa ‘menebak’ apa yang sudah terjadi pada dirinya. Dia lalu memutuskan berada pada posisi sebagai penyerang. “Ami…?” “Ya…?” “Di negeriku cewek seperti engkau punya gelar yang cukup hebat dan menarik….” “Gelar apa itu?” “Upik asteb dan Upik asngom….” “Gelar apa pula itu, sehingga disebut sebagai cukup hebat dan cukup menarik?” “Di Minang, Upik itu panggilan untuk seorang gadis secara umum. Butet kalau di Tapanuli, geulis kalau di Jawa Barat, nona kalau bahasa Indonesianya. Asteb itu singkatan dari katakan ‘asal tebak’, sementara asngom singkatan dari kata-kata ‘asal ngomong’…. Aduh!…duh. aduh mak, Ampuun….!”

Dia tak bisa menyelesaikan penjelasannya. Dia terpekik-pekik. Antara sakit dan geli, soalnya Ami Florence yang merasa diolok-olok dengan gemas mencubit dadanya. “Masih mau mengolok-ngolok?” ancam Ami sambil segera menempelkan mulutnya yang ternganga, dengan gigi siap menerkam ke dada Si Bungsu. “Tidak, tidak mak ooii! Ampunlah aku. Sebelas dengan kepala….!” ujarnya dengan bulu tengkuk merinding. Ami justru menjadi heran dengan kata-kata ‘sebelas dengan kepala’ itu. “Sebelas dengan kepala, kalimat aneh apa pula itu? Kenapa tidak sembilan, tujuh atau dua puluh lima?” ujarnya.

Meski bulu romanya merinding, karena mulut dan gigi gadis itu menempel terus di dadanya, seperti perangko nempel di amplop, Si Bungsu mau tak mau terpaksa tertawa juga mendengar pertanyaan gadis tersebut. Entah kenapa, tiba-tiba saja dalam berbicara dengan gadis ini dia banyak mengeluarkan kata-kata yang berasal dari rumpun bahasa kampungnya. Yang tentu saja tak dimengerti oleh Ami Florence, dan sekaligus mengusik keingintahuan gadis itu. “Oke, kuceritakan. Tapi mulut dan gigi drakulamu itu jangan ditempelkan terus ke dad…. Addow…!!

Dia terpekik lagi. Ami rupanya jadi jengkel giginya disebut gigi drakula. Dia lalu menggigit dada Si Bungsu, yang menyebabkan pemuda itu terpekik. “Sebut lagi gigiku gigi drakula….!” ujar Ami, sembari mengangkat kepala dan menyeringaikan giginya yang putih di hadapan wajah Si Bungsu. Tak cukup hanya sampai menyeringaikan gigi saja, gadis itu tiba-tiba mempergunakan giginya untuk menyambar bibir Si Bungsu, dan menggigitnya dengan gemas. Bibir Si Bungsu terkalayak, menjadi dower seperti bibir Mick Jager, penyanyi rock yang berbini cantik amat itu. “Amfun…amfuuun…!” ujarnya. “Ayo katakan apa arti sebelas dengan kepala itu….” perintah Ami.

‘Huu… alamaaak….!” keluh Si Bungsu tatkala Ami melepaskan gigi dari bibirnya. Kemudian menyurukkan lagi kepalanya ke dada Si Bungsu. Persis anak kucing kedinginan. “Bungsu….?” “Apa lagi, eh…ya….?” Si Bungsu cepat-cepat meralat suaranya yang semula bernada jengkel menjadi dilembut-lembutkan. “Ceritakan soal sebelas kepala itu….” Usai menarik nafas panjang, Si Bungsu lalu menuturkan apa artinya kata- kata tersebut. Bahwa orang biasanya minta ampun dengan merapatkan kedua telapak tangan yang berjari sepuluh, kemudian menundukkan kepala. Jari yang sepuluh dengan sebuah kepala, menjadi sebelas. “Ami….” “Ya… Aku mengantuk….” “Kita tidur, ya…?” ujar Si Bungsu gembira. “Jadi, selama tiga tahun engkau berada di Amerika?” tanya gadis itu. “Tapi sudah mengantuk….” ujar Si Bungsu. “Soal gadis yang mengecewakanmu itu belum selesai….” “Biarlah, kuanggap selesai saja….” “Bagiku belum….”

“Besok kita selesaikan….” “Besok kita justru akan berpisah….” Si Bungsu terdiam. “Bungsu….?” “Ya….?” “Kita berdua tak punya hari esok, bukan? Yang kita miliki hanya saat ini. Ceritalah sebelum ‘saat ini’ itu berakhir. Please….” ujar gadis itu sambil mempererat pelukannya.

Si Bungsu menarik nafas. Diciumnya rambut gadis itu. Dipereratnya pula pelukannya ke tubuh Ami. “Gadis itu ada di Amerika?” bisik gadis itu perlahan. “Ya….” ujar Si Bungsu. “Dia pastilah orang Asia….” Si Bungsu tertegun. Gadis ini ternyata tidak hanya ‘asteb’ dan ‘asngom’. Bagaimana dia bisa menyimpulkan, Michiko, gadis yang meninggalkannya itu, orang Asia? “Dia orang Asia, kan?” “Bagaimana engkau bisa menyimpulkan begitu…?” “Entahlah, barangkali naluri kewanitaanku….” Sepi sesaat. “Dia bukan gadis kampungmu, bahkan bukan gadis Indonesia, kan?” “Bukan..” ujar Si Bungsu dengan perasaan semakin mengagumi ketajaman naluri Ami. “Karena dia orang Asia, maka yang paling punya kaitan tentulah Jepang. Dia gadis Jepang, Bungsu…?”

Kali ini Si Bungsu meraih wajah Ami yang masih berlindung di pelukan dadanya. Ditengadahkannya wajah gadis tersebut sehingga mereka saling bertatapan. “Bagaimana engkau menebak setepat itu, Ami…? “Orang Asia yang pernah punya kaitan sejarah dengan kalian adalah Jepang. Alur logikanya adalah sebagai berikut. Pasukan Jepang pernah menjajah negeri kalian, barangkali ada dendam antara engkau dengan bangsa Jepang yang menjajah negeri kalian. Mungkin sanak keluargamu, atau mungkin ayah atau ibumu tersiksa atau terbunuh semasa penjajahan Jepang. Engkau lalu datang ke Jepang untuk menuntut balas. Di Jepang engkau bertemu dan jatuh hati dengan seorang gadis Jepang. Mungkin kau belajar mempergunakan samurai kecil itu dari dia, atau mungkin dari orang lain. Yang jelas, samurai kecil yang menjadi senjatamu, kemudian Jepang dan dirimu, lalu gadis itu dan kedatanganmu ke Amerika, saling kait berkait. Merupakan sebuah sebab akibat….”

Ami menatap dalam-dalam ke mata Si Bungsu. Si Bungsu juga menatap gadis yang amat cerdas itu dengan perasaan takjub. Kecuali dari siapa dia belajar mempergunakan samurai kecil itu, paparan Ami yang lain benar semuanya. Perlahan didekatnnya wajahnya ke wajah gadis itu. Perlahan didekatkannya bibirnya ke bibir gadis itu. Ami memejamkan mata, tangannya memeluk kepala Si Bungsu. Perlahan diciumnya bibir gadis itu dengan lembut. Setelah itu, perlahan dia tuturkan tentang Michiko secara garis besar. Dia ceritakan mana yang perlu-perlu saja.

Ami Florence mendengarkan dengan kepala tetap berada dalam pelukan Si Bungsu. Dengan tangan tetap memainkan rambut di tengkuk pemuda tersebut. Ketika Si Bungsu selesai bercerita, suasana menjadi sunyi. “Kau punya kekasih?” suara Si Bungsu memecah keheningan. Ami semula tak bereaksi. Namun setelah beberapa saat, dengan wajah masih berada di dada Si Bungsu, dia mengangguk. “Dulu tunanganku seorang perwira Vietnam Selatan. Tujuh tahun yang lalu dia dan dua tentara Amerika tertangkap oleh Vietkong.

Kemudian dinyatakan hilang. Saya sudah berusaha mencari jejaknya, namun tak ada bekas sama sekali. Sampai akhirnya dia ditemukan dalam keadaan gila di pinggiran Saigon. Kemudian bunuh diri. Sejak itu aku membenci tentara Utara dengan sepenuh kebencian. Lima tahun yang lalu aku menawarkan diri menjadi mata- mata Amerika. Itulah mula asalnya aku bertugas untuk Selatan dan Amerika….” Sepi beberapa saat. “Maafkan kalau aku membangkitkan kenangan lamamu, Ami….”

Gadis itu menjawab dengan mencium dada Si Bungsu. Kemudian wajahnya, kemudian bibirnya. Kemudian sepi. “Tadi kata abangmu akan menunggu jawaban radio dari salah satu kapal Angkatan Laut Amerika yang berlabuh di sekitar Natuna. Apa maksudnya…?” “Ya, Natuna di Laut Cina Selatan, yang berada di wilayah Kepulauan Riau, Indonesia. Hanya satu itu pulau bernama Natuna di dunia….” “Apakah Pemerintah Indonesia mengetahui perairannya dipakai oleh armada Amerika untuk kegiatan perang melawan Vietnam?” “Pasti tahu. Amerika bukan negera bodoh yang tak tahu hukum perairan Internasional. Militer dan pemerintah Indonesia juga bukan orang-orang tak bersekolah. Tentu ada pembicaraan diam-diam di tingkat paling tinggi. Perairan itu sudah lama sekali dimanfaatkan Amerika, sejak pecah Perang Teluk Tonkin tahun 63-an. Saat itu, Armada VII Amerika berada di perairan tersebut. Kini armada itu sudah ditarik. Tetapi beberapa buah kapal perangnya masih di sana. Menunggu perintah-perintah darurat. Misalnya untuk menyelamatkan dan mengungsikan orang-orang tertentu, jumlahnya mungkin masih ratusan di daratan Vietnam ini. Itu di luar orang yang dinyatakan sebagai yang hilang dalam bertugas….”

“Antara lain seperti engkau dan abangmu?” “Ya…” “Kalian akan diantarkan kemana?” “Terserah kemana kami inginkan. Bisa ke Inggris, Perancis, Philipina, ke Jepang atau Honolulu. Bisa langsung ke Amerika….” “Kalian akan hidup di penampungan?” “Yang bertugas khusus seperti kami, tidak. Kami akan diberi status warga negara Amerika. Diberi perumahan, mobil, biaya hidup untuk jangka tertentu. Lamanya bisa dua atau tiga tahun. Juga diberi pekerjaan sesuai keahlian yang dimiliki. Ah, kita bercerita terus. Dapatkah kita memanfaatkan sisa waktu kita yang sedikit ini tidak hanya dengan bercerita?” bisik Ami sembari mempererat pelukannya di tubuh Si Bungsu.

Di atas sana embun sudah sejak tadi turun mendekap bumi. Namun di reruntuhan bangunan yang diledakkan dengan bom waktu, ada lusinan tentara Vietkong sedang bekerja. Mereka mengais tiap kepingan puing. Mengumpulkan serpihan tubuh tentaranya yang bercerai-berai oleh bom. Yang lain memblokir areal seluas dua hektar di belakang dan di kiri kanan bar itu. Memeriksa setiap rumah dan lorong dalam usaha mencari pemilik bar itu. Sebab, dari serpihan tubuh yang mereka kumpulkan, tak ditemukan serpihan tubuh wanita. Tak ada juga serpihan tubuh lelaki dengan pakaian sipil. Berarti ketiga pemilik bar ini, blasteran Vietnam-Perancis yang amat dicurigai itu, selamat dari ledakan bom. Artinya lagi, mereka sudah lebih dahulu menyingkir, sebelum bom meledak.

Setiap yang bergerak di tempat-tempat yang dicurigai pasti diperiksa oleh tentara Vietnam dengan ketat. Seringkali yang bergerak dan dicurigai itu hanya kucing atau anjing. Seekor kucing berwarna hitam bertubuh besar, yang muncul dari sela-sela semak di bawah dua batang pohon palem, hampir saja ditembak.

Kucing besar itu terkejut ketika matanya disorot senter. Dia melompat ke antara dua pohon palem lain yang di bawahnya ditumbuhi rerumputan lebat. Tentara Vietnam yang tadi terkejut mengarahkan senternya ke bawah pohon palem itu. Mungkin karena situasi dalam perang, pemilik pohon palem tak sempat mengurus tamannya. Selain rumputnya lebat karena tak disiangi, warna rumput itu menjadi pirang. Mungkin karena tak pernah disiram.

Dua tentara Vietnam mendekat ke pohon palem itu. Tubuh kucing hitam besar yang bersembunyi di rerumputan tebal dan pirang itu menegang. Seolah-olah membaca bahaya yang mengancamnya. Saat kritis itu dia melihat sebuah lobang kecil di depannya. Kucing itu segera masuk ke lobang tersebut. Semula agak sempit. Tapi karena dia berusaha terus untuk menerobos, akhirnya seluruh tubuhnya amblas ke dalam.

Di dalam juga sempit. Namun dibanding udara dingin berselimut embun di luar, di dalam ini terasa amat hangat. Dia tak tahu bahwa dua tentara Vietnam yang tadi memburunya melihat saat dia masuk ke dalam lobang kecil. Baru saja dia berada di dalam lobang kecil yang hangat itu, tiba-tiba kedua tentara Vietnam tersebut mengangkat sebuah kardus. “Dia di dalam, ayo kita kerjain…” ujar yang seorang.

Seperti kekurangan pekerjaan, kedua tentara itu mengguncang dan membanting-banting kardus tempat kucing itu sembunyi. Kucing itu merasa tubuhnya tergencet, terlambung keatas, terbanting kebawah. Di pelintir. Dia berusaha bertahan. Dengan tetap menegangkan badannya agar tak remuk. Entah berapa lama peristiwa itu terjadi, kucing itu tetap bertahan agar tak tercampak keluar, atau tak muntah. Kendati dari mulutnya sudah meleleh buih keputih-putihan karena dihajar kedua orang tentara itu. “Hei, kalian mengapa disana…!”

Sebuah bentakan menghentikan kedajalan kedua tentara Vietnam tersebut. Mereka menyampakkan kardus yang didalamnya masih berada kucing hitam itu. Kemudian melangkah cepat-cepat kearah komandan yang menghardiknya. Kucing itu merasa tulang-belulangnya seperti akan remuk. Sesaat sebelum tubuhnya lunglai dan diam tak bergerak, moncongnya memuntahkan buih. “Apa yang kalian dapat?” hardik Sersan kepada dua tentara Vietkong itu. “Kami kira disela salem palem itu ada yang bersembunyi, pak..” jawab yang seorang dalam sikap sempurna. “Lalu..?” “Ternyata hanya dua kucing besar yang bersembunyi di dalam kardus bekas..”

Plak! Plak! Plak! Kedua prajurit itu dapat dua tempeleng, masing-masing tiga kali dipipi. Mana berani kedua prajurit itu membantah. Ketika diperintahkan untuk memeriksa lorong dari rumah yang lain, keduanya segera berlalu dengan cepat setelah memberi hormat. Sementara. Esok paginya Ami Florence sudah selesai memasak kopi dengan kompor listrik diruangan kecil itu. Si Bungsu terbangun tatkala hidungnya mencium aroma kopi yang harum. “Hei, engkau buka restoran di dalam goa ini?” ujarnya sambil bangkit. “Ya, barangkali kawan-kawan vietkong diatas sana berminat ikut ngopi…” “Mana Le?” “Sedang mempersiapkan boat karet. Sorry, tak ada kamar mandi. Tapi disudut itu ada wastafel untuk cuci muka…” “Jam berapa sekarang?” tanya Si Bungsu setelah dia menemukan jam di tangannya. Mungkin terlepas ketika tidur malam tadi. “Jam sepuluh….”

Si Bungsu menoleh kepada Ami. Gadis itu mengangkat alis dan menganggukkan kepala. Jam sepuluh, memangnya mengapa saja aku malam tadi maka sampai bangun jam sepuluh, pikir Si Bungsu sambil mencuci muka dan menggosok gigi dengan sikat gigi yang dia ambil dari ranselnya. Ketika dia duduk untuk sarapan di meja kecil ternyata Ami sudah menyediakan secangkir kopi dan roti bakar. ‘Hei, sebaiknya Le ikut sarapan bersama kita…” ujarnya.

“Dia yang membangunkan saya. Sarapannya sudah saya antar keruang radio…” jawab Ami. Sambil sarapan gadis itu mengambil sebuah peta kecil dari ransel. Kemudian mengembangkannya dimeja didepan Si Bungsu. “Ini peta terowongan bawah tanah di kota ini. Bahwa dikota ini ada terowongan hampir semua penduduk tahu. Tapi ada diantara terowongan itu yang dijadikan tempat-tempat rahasia, hanya kalangan terbatas yang tahu. Intelijen Amerika dan intelijen tentara Vietnam selatan melakukan penambahan terowongan selama bertahun-tahun, secara diam-diam dibawah tanah ini….” Ami berhenti sejenak, menghirup kopinya. Kemudian mengunyah roti bakarnya, kemudian melanjutkan keterangannya.

“Mereka membangun beberapa terowongan rahasia, tanpa merusak terowongan lama, yang berfungsi sebagai tempat pembuangan air kota. Perhatikan titik merah ini. Ini adalah posisi paku khusus. Alat pembuka pintu rahasia keterowongan rahasia dari terowongan biasa. Diantara dua atau tiga didinding, ada satu yang berkepala pipih. Paku ini tidak begitu kentara diantara paku-paku itu..” Ami berhenti lagi. Dia menatap pada Si Bungsu yang juga sedang menatap padanya. Ami menghirup kopinya.

“Well, cabut saja paku berkepala pipih itu. Perhatikan sekitar setengah meter kebawah, atau kekiri atau kekanan. Tak lebih dari setengah meter. Pasti ada lobang seolah-olah bekas paku yang dicabut. Masukan paku yang dicabut itu kesana. Pintu rahasia itu akan terbuka. Bila kau sudah masuk maka akan tertutup lagi. Kau sudah melihat tadi malam ketika kita melewati dua pintu…” papar Ami. Kemudian mengunyah roti bakarnya.

“Bungsu, perhatikan titik warna hijau, itu adalah jalan menuju keluar terowongan. Ada belasan titik, tersebar di berbagai penjuru kota, dimana engkau bisa keluar. Engkau bisa saja keluar di sebuah gudang kosong, dibelakang pasar, dibalik pohon besar, dibengkel tua, atau dibahagian belakang gedung olah raga……”

Ami memasang rokok Dunhill-nya. Mengisap dan mengepulkan asapnya dengan nikmat. “Bila engkau berada di bahagian luar sana, dan ingin masuk ke terowongan rahasia, perhatikan warna merah. Itu adalah tanda pengumpil. Mungkin terlihat hanya sebagai sebuah besi tua, mungkin berbentuk tong sampah, mungkin berbentuk tiang bendera. Benda-benda itu harus engkau putar setengah putaran. Pintu rahasia berada setengah meter dari pengumpil itu. Mungkin di tanah, mungkin di dinding rumah, mungkin di dasar parit besar. Well, semua yang kau perlukan telah kupaparkan…” ujar Ami mengakhiri uraiannya.

Ketika itu pintu terbuka. Le Duan, abang Ami Florence masuk ke ruangan. Di ikut duduk di samping Si Bungsu setelah terlebih dahulu menyapa dan menyalami anak muda tersebut dengan ramah. Ami menuangkan secangkir kopi untuk abangnya itu. Kemudian mengoles kan selai ke roti yang sudah dibakar. Memberikannya kepada Le Duan. “Nampaknya ada sesuatu yang penting…?” tanya Ami pada abangnya.

Le Duan mengunyah roti di mulutnya, menelannya. Kemudian menghirup kopi. Lalu menatap pada Si Bungsu, kemudian pada Ami. “Kita terpaksa merubah rencana. Kita tidak bisa pergi memakai speed boat karet. Komandan kapal USS Alamo sudah lama meninggalkan perairan Natuna dan kini siaga sekitar 200 mill dari Pulau Hainan mengabarkan perairan Teluk Tonkin sudah dipenuhi puluhan kapal perang Vietnam Utara….” papar Le Duan sambil berhenti sejenak, mengunyah kepingan roti bakar ditangannya. Usai menghabiskan roti bakar dia menyambung lagi.

“Tiga kapal dan dua speed boat yang dipakai orang-orang Vietnam untuk melarikan diri mereka tangkap. Resiko tertangkap dengan memakai boat adalah sembilan ber banding satu. Karenanya, untuk mencapai USS Alamo kita amat disarankan memakai balon udara. Masalahnya, balon tergantung dari arah hembusan angin. Angin hanya berhembus ke arah laut di siang hari. Malam hari angin berhembus dari darat ke laut. Gravitasi alam menyebabkan hal itu terjadi sejak dunia berkembang….” Le Duan berhenti lagi, kemudian menatap adiknya. “Melarikan diri dengan balon di siang hari sama dengan menyerahkan leher ke tiang gantungan. Dengan senang hati tentara Vietnam akan menjadikan kita sasaran tembak meriam-meriam penangkis udara mereka, bukan?” ujar Ami Florence. Le Duan menghirup sisa kopinya yang terakhir. Dia tak perlu mengomentari ucapan adiknya dengan menggeleng atau mengangguk. Tak seorang pun yang bicara setelah itu. Mereka saling bertatapan dalam diam.

“Saya rasa, menyelinap dalam kegelapan malam dengan speed boat berkecepatan tinggi jauh lebih punya kemungkinan untuk lolos dari pada memakai balon di siang hari…” ujar Si Bungsu. “Tetapi perairan yang akan dilalui penuh kapal-kapal perang yang juga berkecepatan tinggi…” ujar Le Duan. Mereka kembali saling menatap dengan diam. “Berapa lama USS Alamo bisa menanti?” tanya Si Bungsu.

Kapal-kapal perang Amerika secara bergantian akan bertahan di perairan internasional itu dalam setahun ini…” ujar Ami. “Jika saat ini risiko melarikan diri amat tinggi, maka alternatif yang tersisa tetap bertahan di terowongan bawah tanah ini, sampai keadaan memungkinkan untuk pergi. Untuk itu, setiap hari kontak tetap dilakukan dengan USS Alamo. Mereka bisa memonitor keadaan laut dengan radar mereka. Minta mereka mengabarkan jika mereka melihat ada kesempatan untuk pergi…” ujar Si Bungsu. Le Duan menatap anak muda di sampingnya itu. Kemudian menatap adiknya. Mereka sama-sama tersenyum.

“Anda benar. Kenapa harus cepat-cepat menghadang maut, kalau di sini masih tersedia makanan untuk dua atau tiga bulan. Siang hari kita tidur, malam hari kita gentayangan di luar. Siapa tahu ada hal-hal lain yang bisa kita perbuat di luar sana. Saya rasa, saya harus menyampaikan saran Anda ke Komandan USS Alamo…” ujar Le Duan sambil menyalami Si Bungsu, kemudian bangkit dan keluar dari kamar tersebut. “Well, kita nampaknya harus mencari catur, agar bisa bertahan dan betah di bawah terowongan ini…” ujar Ami. 

Si Bungsu tersenyum. Dia meraih dan memperhatikan peta yang penuh tanda-tanda rahasia yang tadi diberikan Ami. “Anda akan keluar ke atas sana?” ujar Ami. “Sesegeranya…” jawab Si Bungsu. Gadis itu tertegun. “Maksudmu…?”

Si Bungsu menatap gadis itu. Ami Florence menatap Si Bungsu, seperti menanti sesuatu yang tidak diharapkannya. “Engkau harus menjalankan tugasmu, saya harus menjalankan tugas saya, bukan?” “Engkau akan segera pergi untuk mencari Roxy Roger?” Si Bungsu mengangguk. Ami Florence merasa sesak nafasnya. “Tidakkah….” dia tak jadi melanjutkan ucapannya.

Tiba-tiba saja gadis yang terbiasa menghadang maut itu, yang mahir menggunakan senjata dan mampu membunuh tanpa berkedip, kini berubah dan kembali ke fitrahnya sebagai seorang wanita yang membutuhkan kasih sayang dan perlindungan. “Hei, apa yang salah…?”ujar Si Bungsu kaget, tatkala melihat mata gadis cantik itu berkaca-kaca. Ami Florence menggelengkan kepala. Membuang pandangan ke tempat lain. Dia berusaha untuk tidak menjadi sentimentil. Namun usahanya gagal. Matanya basah. “Hei…hei…..ada apa…?” ujar Si Bungsu lagi, sambil memegang tangan Ami Florence. Gadis itu menggeleng.

“Kapan engkau akan pergi, Bungsu…?” ujarnya sambil mencoba untuk tersenyum. Namun senyumnya lenyap ketika akan mulai. Dia menunduk. Tak berani menatap pada Si Bungsu. “Hei, ada se….”

Si Bungsu menghentikan ucapannya. Sebagai seorang lelaki yang sudah malang melintang dalam berbagai kemelut hidup, tiba-tiba dia jadi arif. Ucapannya tadi, yang menyatakan bahwa dia akan segera pergi menjadi penyebab gadis ini tiba-tiba menjadi murung. Ditatapnya gadis itu. Lama sekali. Ami semula hanya menunduk. Namun merasa ditatap terus, perlahan dia mengangkat wajah. Menatap Si Bungsu dengan mata basah.

“Malam nanti kita coba keluar, oke?” ujar Si Bungsu sambil mengenggam tangan Ami Florence. Wajah gadis itu tiba-tiba berubah ceria. Ajakan ‘keluar’ itu berarti Si Bungsu takkan segera pergi. Paling tidak masih ada waktu baginya untuk tetap bersama-sama semalam lagi. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Lalu malamnya, saat Si Bungsu menunggu Ami bertukar pakaian di ruangan dimana tadi mereka ngobrol, tiba-tiba pintu terbuka. Sesosok lelaki muncul dari kamar di mana Ami bertukar pakaian tadi. Si Bungsu menatap nanap pada lelaki berambut pendek, berkumis tipis, muda dan tampan yang kini tegak di depannya. Lelaki itu tersenyum padanya.

Kemudian dengan lagak kegenit-genitan dia mendekati Si Bungsu. Lalu tanpa ba tanpa bu, lelaki itu memeluknya. Membelai pipinya. Si Bungsu merinding. Kemudian lelaki muda itu berbuat lebih jauh lagi. Tiba- tiba saja dia merengkuh kepala Si Bungsu sembari mendekatkan bibir. Si Bungsu berusaha mengelak. Namun lelaki itu nampaknya sudah amat bernafsu, dan… cup! Bibir Si Bungsu kena terkam bibir lelaki itu. Semakin keras Si Bungsu menolakkan tubuh lelaki itu. Semakin keras pula lelaki tampan berkumis pendek itu memeluk dan melumat bibirnya. Sampai nafasnya sesak. Setelah puas, lelaki itu melepaskan bibirnya dari bibirnya Si Bungsu, tapi tidak pelukannya. Kemudian lelaki muda itu cengar-cengir. Menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya yang merah. “Asyik juga jadi homo, ya?” ujarnya sambil tersenyum.

Si Bungsu tak bisa menahan mukanya untuk tidak menjadi merah. “Ini muka menjadi merah tentu karena nafsu atau karena malu. Pasti bukan karena marah. Iyakan, ya kan?” ujar lelaki berkumis itu sambil tersenyum dan tangannya malah dengan ramahnya mencubit pipi Si Bungsu. “Ini orang gila…” rutuk Si Bungsu. Lelaki tampan itu tertawa cengengesan. Kemudian melepaskan pelukannya dari pinggang Si Bungsu.

Kemudian memutar diri, mematut pakaian model komprang berwarna hitam, sebagaimana lazimnya dipakai orang-orang Cina. “Persis lelaki kan?” tanya lelaki tampan itu.

Si Bungsu memang harus mengakui, pakaian bersahaja dengan kumis tipis dan rambut dipotong sangat pendek itu merupakan penyamaran yang amat sempurna. Kalau saja dia bertemu orang ini di tempat lain, bukan di dalam ruang bawah tanah ini, dia pasti takkan menyangka bahwa lelaki ini sebenarnya adalah Ami Florence. Gadis blasteran Vietnam-Perancis yang cantik itu. Yang agak susah disembunyikan adalah warna matanya yang biru dan alisnya yang lentik. Tapi bentuk fisiknya yang lain tersembunyi secara total di balik penyamaran yang sempurna. Dadanya yang montok pun kelihatan datar. Di bahagian dalam dia memakai baju kaos model T-Shirt, baru di luarnya ditutup dengan baju model Cina berwarna hitam dengan dasar kain kepar. Untuk menutupi matanya yang biru dan alisnya yang lentik, agar tak menarik perhatian orang-orang secara mencolok, Ami memakai sebuah topi pet berwarna abu-abu. Lidah topi itu ditekankan agak ke bawah, sehingga matanya terlindung di bawah bayang-bayang ujung lidah topi tersebut. Kemudian dia menyisipkan sebuah pistol kecil pada sebuah ban karet yang dikalungkan di betis kirinya. Pistol itu tersembunyi dengan aman dibalik pipa celananya yang lebar. “Kita keluar sekarang?” tanya Ami setelah puas mematut diri, sambil

kembali memeluk pinggang Si Bungsu. “Kita beritahu abangmu…” ujar Si Bungsu.

Mereka lalu keluar dari kamar berukuran kecil itu. Setelah dua kali membelok dalam gang kecil di bawah tanah tersebut Ami menekan sebuah tombol. Dinding di depan mereka bergerak perlahan. Mereka masuk, si Bungsu melihat di kamar berukuran dua kali dua meter itu ada seperangkat alat-alat radio. Beberapa buah peti, pistol dan senapan otomatis di dinding. Ada sebuah velbed militer. Le Duan menyapa Si Bungsu dengan melambaikan tangan, dibalas Si Bungsu dengan senyum. Le Duan tersenyum melihat adiknya dalam pakaian samaran itu.

“Kami akan keluar. Nonton, lalu ke nightclub, dansa dan minum es krim campur sedikit soda…” ujar Ami pada abangnya. “Bawakan aku hamburger…” ujar Le Duan menimpali guyonan adiknya. “Masih ada kontak dengan kapal Amerika?” ujar Si Bungsu. “Kita berhubungan terus setiap tiga jam sekali. Subuh tadi kapal patroli Vietnam menyergap dua kapal ikan yang dipenuhi pengungsi.

Karena posisi mereka jauh sekali di Laut Cina Selatan, kapal Amerika itu tak bisa berbuat apa-apa, tatkala salah satu kapal nelayan yang berisi penuh sesak oleh sekitar dua ratus pengungsi. Lelaki dan perempuan, dari bayi sampai orang-orang tua ditembaki dan tenggelam karena berusaha terus melarikan diri dalam kabut subuh…” tutur Le Duan. “Mereka mati semua?” tanya Si Bungsu dengan dada terasa ngilu membayangkan kanak-kanak dan para wanita mengakhiri hidupnya di laut yang dingin.

“Ya, kapal Vietnam memang mendekati tempat kapal nelayan itu tenggelam. Bukan untuk menolong, melainkan memastikan tak ada sepotongpun papan yang bisa dijadikan tempat bergantung oleh para pelarian tersebut. Setelah menembaki semua yang bergantungan di pecahan kapal, kapal perang Vietnam itu segera berlalu….” “Darimana kita bisa mendapatkan sebuah kapal nelayan untuk melarikan diri?” tanya Si Bungsu. Le Duan bertukar pandang dengan adiknya. Kemudian menatap kepada Si Bungsu. Tiba-tiba saja bulu tengkuk Le Duan dan Ami Florence merinding membayangkan maksud lelaki dari Indonesia ini. “Maksudmu…”

“Perang adalah antara tentara dengan tentara. Bukan antara tentara dengan rakyat. Hanya iblis yang tega menembaki atau membiarkan para wanita dan anak-anak mati dalam kedinginan laut, menjadi santapan ikan-ikan hiu. Iblis seperti itu harus dilawan dan dihancurkan. Jika tentara di kapal perang Amerika itu tak berminat melakukannya, saya akan melakukannya sebisa saya. Apapun caranya…” desis Si Bungsu memotong pertanyaan Ami Florence. Kedua kakak beradik itu tak bisa berkata sepatahpun. Jika kapal perang Amerika saja, yang lengkap dengan meriam dan torpedo tidak berani menghadang kapal perang Vietkong itu, apa pula yang bisa dilakukan anak muda ini? “Amerika tak mau dicap melanggar teritorial negara lain. Mereka tak mau terperosok lagi dalam pertempuran dengan Vietnam.

Mereka tak mau menolong hanya karena masalah teritorial dan pertimbangan politik. Jika saya yang terjun ke sana, tak ada masalah teritorial. Kendati saya orang Indonesia, namun saya tak memiliki kartu penduduk. Tak satu pun negara yang dituding mendalangi saya. Dimana saya bisa mendapatkan kapal nelayan itu…?”

Kedua adik beradik itu belum mampu bicara sepatah pun, ketika tiba-tiba Si Bungsu teringat speed boat karet yang semula akan dipergunakan kedua adik-beradik ini untuk melarikan diri. “Kalian punya speed boat karet, bukan?” tanyanya. “Engkau sungguh-sungguh, sobat?” tanya Le Duan. “Kita akan jalan-jalan keluar, bukan?” ujar Ami sebelum Si Bungsu menjawab pertanyaan abangnya. “Saya sungguh-sungguh, Le…” jawab Si Bungsu tanpa menghiraukan pertanyaan Ami Florence. “Saya ikut…” ujar Ami. Le Duan menatap adiknya nanap-nanap. ”Kita ikut berdua…” ujar Le Duan. “Hei, hei… tunggu dulu! Saya tidak pernah mengajak kalian, bukan? Dan ke laut sana tidak pergi darmawisata…” ujar Si Bungsu.

Namun Le Duan tak peduli. Dia mengadakan hubungan dengan kapal perang USS Alamo. Mengatakan bahwa malam ini mereka akan menerobos barikade laut. Selain dia ada salah seorang lelaki lain yang juga ikut. Perwira USS Alamo kembali mencegah sembari mengingatkan bahaya yang mengancam di Laut. Terutama di perairan laut Tonkin yang dipenuhi kapal-kapal perang dan kapal-kapal patroli berkecepatan tinggi milik Vietkong. ”Nanti malam kami kontak ketika kami akan berangkat…” ujar Le Duan tanpa memperdulikan peringatan perwira tersebut, kemudian mematikan radio.

Ami membawa Si Bungsu dari ruangan itu terlebih dahulu. Mereka kembali kekamar dimana tadi mereka tidur. Le Duan keluar tak lama setelah kedua orang itu berlalu. Jika Ami dan Si Bungsu berbelok ke kanan, dengan senter dia justru menelusuri lorong lurus kedepan.

“Engkau sungguh-sungguh ingin melaut dengan speedboat malam ini?” tanya Ami pada Si Bungsu, ketika mereka sudah berada dikamar yang sempit itu.

”Kenapa tidak?”

“Bagaimana pencarian Roxy?” “Bisa dilanjutkan besok lusa…”

Ami menatap lelaki didepannya. Belum pernah dia bertemu dengan lelaki yang mempunyai keyakinan pada dirinya yang begitu kuat.

“Engkau yakin bisa kembali kedaratan ini dalam keadaan selamat?” “Maksudmu, aku orang yang takabur..?”

“Tidak, tetapi…”

“Ini sebuah perbuatan nekad atau gila?” potong Si Bungsu.

Ami Florence tidak mengangguk juga tidak menggeleng. Dia menatap Si Bungsu dalam-dalam.

“Saya tak dapat membayangkan betapa ada tentara yang kejam melebihi iblis, yang tega menembak kapal yang di tumpangi wanita dan anak-anak, membiarkan mereka lemas dan terbenam secara amat menyakitkan. Padahal wanita dan anak-anak itu adalah anak bangsanya sendiri..”

“Tetapi negeri ini diamuk perang….”

“Siapa yang berperang, tentara bukan ?”

“Tidak Bungsu. Semua rakyat ini ikut dalam peperangan. Langsung maupun tidak…”

“Artinya, engkau tidak peduli pada wanita dan anak-anak yang mati terbenam jadi santapan Hiu di laut sana Ami?”

“Siapa yang tak peduli?” “Lalu?”

“Hanya saja…”

“Kita takkan mampu melawan mereka, begitu maksudmu?” “Mereka bersenjata lengkap, Bungsu..”

“Kita takkan mampu melawan mereka secara frontal, Ami. Itu perbuatan gila….”

“Bagaimana tidak akan bertempur secara frontal? Jika nanti dilaut sana kita dipergoki, mereka buru dan mereka tembaki…” “Mereka hanya akan memburu jika kita lari dan melawan bukan?”

“Lalu. Kita akan kelaut. Kemudian kita cari kapal mereka, lalu kita serahkan diri, begitu maksudmu?” “Tidak sepenuhnya begitu, Ami. Tidak sepenuhnya begitu…”

Malam itu dilaut gerimis turun perlahan. Mereka sudah memacu speed boat bermesin ganda itu sekitar satu jam. Jauh di utara sana adalah Pulau Hainan. Mereka sudah melewati garis pantai pulau itu, ketika gemerlap air memperlihatkan beberapa sosok mayat mengapung.

“Tuhanku, ini pasti mayat dari kapal nelayan tadi malam, yang dikabarkan USS Alamo sore tadi…” ujar Le Duan yang berada di kemudi.

Ami Florence dan Si Bungsu, yang duduk berlindung dibalik kaca bening pelindung angin setinggi setengah meter dengan lebar satu setengah meter dibagian haluan, menatap kelaut. Mula-mula ada sosok lelaki di sebelah kanan. Lalu sosok seorang wanita muda yang masih menggendong bayinya. Kemudian sosok gadis kecil, seorang lagi… seorang lagi, lagi!

Si Bungsu membuang pandangan jauh kedepan. Ami Florence menyandarkan kepalanya kedada lelaki tersebut. Sejak tadi dia berdoa, agar mereka tidak ditemukan kapal Vietkong. Agar mereka bisa mencapa kapal USS Alamo, yang kata Kaptennya akan mendekatkan kapal mereka ke perairan Teluk Tonkin. Akan berada di Laut Cina Selatan, tak jauh dari wilayah teluk tersebut, agar bisa membantu mereka.

“Kecepatan penuh Le…” seru Ami kepada abangnya. “Kedua mesin ini sudah pada kecepatan penuh. Kita sedang meluncur dengan kecepatan 150 mil perjam. Kita…” seruan Le Duan dari kemudi terhenti tiba-tiba tatkala matanya tertatap sinar lampu sorot berkekuatan sangat tinggi di kejauhan “Mereka menemukan kita..!” seru Le Duan. “Ya Tuhan, mereka menemukan kita…” desis Ami Florence sambil menatap dengan gugup kearah datangnya cahaya lampu sorot yang terang benderang itu.

“Mereka menemukan kita…” ujar Ami kepada Si Bungsu. Namun Si Bungsu tetap bersandar dengan diam kebantalan karet pinggir speed boat tersebut. Dia samasekali tidak mencoba untuk melihat kearah lampu sorot itu. “Berapa lama lagi mereka mencapai kita?” tanya Ami pada abangnya, dengan nada cemas yang tak dapat disembunyikan. “Sekitar sepuluh menit. Mereka nampaknya datang dari arah Quang Nai. Mereka memberi isyarat untuk mematikan mesin, bagaimana sekarang?” ujar Le Duan.

Quang Nai adalah kota diselatan Da Nang. “Perlahan saja, jangan dimatikan..” ujar Si Bungsu perlahan dengan tetap duduk bersandar dengan tenang. Jika dia tetap bersandar dengan tenang, tidak begitu halnya dengan Ami Florence. Gadis ini bisa kuat dan tidak takut menghadapi bahaya apabila berada di darat. Namun kini dia berada di laut. Mereka tak punya tempat agak sejengkal untuk bersembunyi, apalagi tempat melarikan diri. Tidak sejengkalpun! Dia memeluk Si Bungsu.

“Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku Bungsu! Jangan tinggalkan aku. Bahkan di penjara sekalipun, please..” ujarnya mulai terisak. Si Bungsu memegang pipi Ami yang masih berpakaian penyamaran lelaki. “Dengarkan, Ami. Kau harus menuruti apa yang aku katakan sebelum berangkat tadi. Engkau dan Abangmu tetap di Boat ini. Berbuat seolah-olah kalian pelarian biasa. Mereka takkan membunuh kalian sebelum diketemukan dengan pimpinan mereka. Peralatan Amerika yang kalian bawa ini merupakan sesuatu yang harus mereka selidiki dari mana asalnya, apakah ada yang lain, berapa jumlahnya dan banyak lagi pertanyaan. Mereka memerlukan informasi itu. Kalian hanya harus memperlambat naik kekapal, selebihnya serahkan padaku, oke?”

Ami Florence mengangguk. Kemudian membenamkan dirinya kedalam pelukan lelaki dari Indonesia itu. “Aku tak takut pada mereka, Bungsu. Aku hanya takut berpisah dengan mu…” bisiknya. Si Bungsu seolah-olah tak mendengarkan ucapan tersebut. Dia menunggu isyarat dari Le Duan. Speed Boat mereka tetap masih di dalam cengkraman lampu sorot lampu kapal yang semakin dekat ini. Le Duan memberi isyarat dengan bersuit sekali. Si Bungsu memasang kaca mata selamnya. Saat dia akan memasang alat pernapasan kecil yang hanya perlu di taruh di mulut, tanpa tabung gas. Ami menciumnya. “Betapapun, kembalilah padaku…” bisik Ami.

Suara menyuruh berhenti, dalam bahasa inggris yang cukup lancar, terdengar lewat pengeras suara dari kapal Vietnam itu. “Buru sergap, 12 orang…” ujar Le Duan pada Si Bungsu, setelah mengetahui kapal yang mendekat pada mereka. Dan saat Le Duan mengencangkan mesin speed boatnya, membuat sebuah tikungan tajam kekanan. Menyebabkan bahagian kiri speed boat, yaitu bahagian dari arah datangnya lampu sorot kapal patroli itu, terangkat sekitar setengah meter.

Pada saat itulah, saat bahagian kiri yang terangkat itu melindungi bahagian kanan dari sorot lampu, Si Bungsu menggelindingkan diri. Hanya ada waktu lima detik, dia sudah berada dalam laut, menyelam agak dalam. Speed Boat itu mendatar lagi posisinya dan melaju perlahan kedepan. Meninggalkan Si Bungsu dibelakang.

Kapal patroli mendekati speed boat tersebut. Melintas tak jauh dari tempat Si Bungsu tadi menceburkan diri. Le Duan menghentikan speed boatnya tatkala dia memperkirakan posisi Si Bungsu sudah berada di bahagian belakang kapal patroli itu. “Stop, matikan mesin..!!” Terdengar bentakan dari kapal dalam bahasa inggris beraksen Vietnam. Le Duan menghentikan mesin. “Berdiri dan angkat tangan…!” Le Duan mengangkat tangannya sambil berusaha menjaga keseimbangan dari goyangan ombak.

“Yang satu lagi itu, berdiri cepat..! atau kami tembak…” “Adik saya sakit keras…” jawab Le Duan. Kapal patroli itu nampaknya tetap menjaga jarak sekitar lima meter dari speed boat. Menjaga hal-hal yang tak diingini. Kendati tak dapat melihat mereka yang ada di kapal, namun Le Duan dan Ami memastikan, hampir semua awak kapal patroli itu tengah berdiri didek kapal, menodongkan senapan otomatis kepada mereka. Selain, seorang lagi berada di senapan mesin jenis 12,7 yang menjadi andalan kapal patroli jenis ini. 

“Tegakkan dia, atau kami tembak sekarang…!” perintah kapal patroli itu. “Baik,, baik jangan tembak…” ujar Le Duan dengan bahasa Vietnam, sambil melangkah kebahagian depan mendekati Ami yang berpura-pura sakit. “Lemparkan selimutnya…! sergah Kapten kapal.

Nampaknya dia khawatir kalau dibalik selimut itu ada bedil, yang tiba-tiba bisa ditembakkan kepada mereka. Le Duan mengambil selimut yang menutupi tubuh Ami. Kemudian melemparkanya ke laut. Lalu dengan bersusah payah di mendudukkan Ami. Patroli kapal itu melihat seorang lelaki berkumis bertubuh kurus dan bertopi. Dan dikapal mereka juga melihat tak ada benda lain selain dari sebuah tas pakaian.

“Lemparkan tas itu kelaut…!!” kembali terdengar perintah dari atas kapal. Le Duan mengambil tas itu dan melemparkannya ke laut. Saat itu sebuat tali di lemparkan ke arah mereka. “Ikatkan…!!” perintah Kapten lewat pengeras suara.

Le Duan yang masih duduk dengan tangan sebelah menyangga tubuh Ami, segera mengambil tali yang sebesar jempol kaki itu. Melepaskan tangannya dari punggung Ami. Lalu mengikatkan ujung tali itu di gelang- gelang almunium yang berjejer di pinggir speed boat. Setelah tali itu diikatkan, speed boat mereka di tarik hingga merapat ke kapal.

Saat itu Si Bungsu sudah berhasil naik dari buritan kapal patroli tersebut. Mereka sudah memperhitungkan skenario ini dengan matang. Perhatian awak kapal pasti diarah seluruhnya ke speed boat itu. Kesempatan itulah yang di pergunakan Si Bungsu untuk muncul ke permukaan air di belakang kapal lalu merayap naik keatas kapal.

Semula dia mempersiapkan dengan tali kenyal, yang ujungnya diberi cangkok aluminium berlapis karet, tali itu di persipkan jika kapal terlalu tinggi, di lemparkan dari air dan berharap tali itu menyangkut di terali atau tiang di pinggir kapal, atau benda apapun. Karena di bungkus dengan karet yang cukup tebal, cangkoknya pasti tidak akan berbunyi walau mengenai besi di kapal.

Tapi tali cangkok itu tidak jadi di gunakan Si Bungsu. Buritan kapal jenis buru sergap itu hanya setengah meter dari air. Dengan sekali menjangkaukan tangan dia berhasil mencapai besi melengkung di belakang kapal.

Hanya dua meter dari buritan kapal itu ada sebuah senapan mesin yang di jaga seorang tentara. Tapi saat itu tentara itu sedang mengarahkan senapan itu kearah speed boat sebagaimana senapan mesin 12,7 yang ada di depan. Si Bungsu yang sudah naik dan sedang mendekati penjaga itu untuk menghabisinya, tiba-tiba mengundurkan niatnya. Sebuah kapal patroli yang lain tiba-tiba muncul dan mengarahkan lampu sorot yang terang itu kearah kapal yang berhenti. Hampir saja tubuhnya di terkam cahaya lampu itu kalau dia tidak cepat- cepat berlindung di bawah menara rendah dekat senapan mesin itu.

Dari sana dia menggulingkan diri untuk kembali melosohkan dirinya kembali kelaut. Dia berlindung di balik bayang-bayang gelap kapal patroli. Dan saat itu terjadi dialog saling tanya antara Kapten kapal dengan kapal yang baru datang. Menurut skenario yang mereka rancang tadi sebelum berangkat, untuk memberikan kesempatan pada Si Bungsu dengan Le Duan pura-pura jatuh kelaut karena kehilangan keseimbangan karena memapah Ami, namun le Duan membatalkannya saat-saat terakhir.

Karena dia berpendapat, kalau dia jatuh ke laut sekarang pasti akan memperlama kapal patroli yang baru datang itu dekat kapal yang mereka naiki. Itu berbahaya. Lawan mereka jadi bertambah banyak, namun Ami berpendapat lain. Karena belum terjadi apa-apa dengan kapal yang akan mereka naiki, dia berpikri Si Bungsu belum berhasil naik. Dia berbisik pada abangnya untuk menjatuhkan diri kelaut, namun abangnya tetap berpikir sebaliknya. Ketika abang adik ini saling bberbisik berbeda pendapat itulah kapal patroli yang satunya melanjutkan perjalanan.

Ami segera melaksanakan niatnya, berpura-pura kalau dia kehilangan keseimbangan karena perahu karetnya di goyang ombak yang ditimbulkan oleh kapal yang baru berangkat itu. Dengan mendorong abangnya. Untung perhatian sebagian awak kapal itu terbagi dengan kapal yang baru berangkat itu, sehingga pura-pura kehilangan keseimbangan itu tidak diketahui. Mereka hanya melihat kedua lelaki di perahu karet itu tercebur kelaut, sebagian menyumpah, dan malah ada yang tertawa. Tali dilemparkan kearah mereka, dan mereka meraihnya. Dan tali yang mengikat perahu mereka di alihkan mengikatnya ke belakang kapal.

Kapal patroli itu dijalankan dengan perlahan. Saat tubuh Ami dan Le Duan masih bergelantungan dan berusaha untuk naik. Seluruh awak kapal patroli itu berjumlah sebelas orang. Satu oarang masih menjaga senapan mesin dibelakang dan satu di depan dekat senapan mesin 12,7, dan satunya di anjungan dekat juru mudi, menjaga mesin kapal agar tetap hidup. Dari delapan awak yang tadi berkerumun di terali, melihat pelarian yang mereka sergap itu, tiga diantaranya tetap menodongkan senjata ke arah Ami dan Le Duan, yang saat itu sudah mencapai bibir dek kapal.

Lima yang lain kempali pada pos masing-masing. Komandan kapal patroli buru sergap itu adalah tentara berpangkat Kapten, segera menuju ruang kemudi. Setelah memberi perintah pada wakilnya yang berpangkat letnan, untuk mengikat kedua pelarian itu. Untuk sementara nampaknya mereka belum mau mengintrogasi apakah ada kapal karet lain yang ikut malam itu menyebrangi laut untuk lari. Kapal meeka segera di pacu kearah selatan. Ami Florence yang pertama kali merangkak di atas dek itu dagu di hajar dengan sebuah tendangan.

Gadis itu tercampak di dek. Nampaknya itu salah satu cara tentara itu penyambut para pelarian yang berhasil mereka tangkap. Kemalangan Ami tak hanya sampai disitu, demikian kerasnya tendangan didagunya, membuat kumis palsunya tercampak. Ketika lampu sorot di arahkan padanya, ketiga tentara itu terbelalak melihat lelaki yang tendang itu tidak berkumis lagi. Tentu saja mereka kaget, belum ada kejadian satu kali tendangan bisa mencampakkan kumis orang. Setelah mereka perhatikan, baru mereka sadar kalau pelarian itu adalah lelaki dalam penyamaran.

Wajahnya yang putih dan halus, dan bulu mata yang terlalu lentik untuk seorang lelaki, di tambah dadanya yang ber’bukit’. Karena bajunya basah kuyup jatuh kelaut, tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya. Salah seorang tentara yang melihat keganjilan itu, mendekat dan tiba-tiba breet! Baju Ami tentang dadanya robek besar.

Gadis itu tak berbuat apa-apa, matanya hanya terpejam. Gadis itu bukannya membiarkan apa yang dilakukan tentara itu, tapi memang dia dalam keadaan pingsan. Sebuah tendangan keras tadi telah membuat dia pingsan.

Dalam keadaan begitulah dia digerayangi oleh tentara itu. Le Duan yng sudah mencapai bibir dek, melihat bahaya yang mengancam adiknya segera bangkit, namun sebelum dia melangkah jauh sebuah popor menghajar tengkuknya hingga tersungkur. Dua tentara lagi, yang melihat temannya yang sedang melakukan pekerjaan tangan di tubuh itu juga tak dapat menahan diri.

Dengan mata mendelik dan liur meleleh mereka mendekat. Mungkin, karena saking nafsunya salah seorang terpeleset. Kawannya yang seorang lagi, begitu sampai menunduk menolak kawannya yang sedang asyik meraba sana-sini sampai terjengkang. Tangannya segera terulur untuk meraba dada Ami yang terbuka lebar itu.

Namun tiba-tiba dia merasa kepalanya seperti dihantam martil yang sangat besar, seolah-olah hantaman itu mencampakkan kepalanya dari lehernya. Terdengar suara berderak. Tentara itu tak lagi sempat marah, karena matanya sudah mendelik dan lehernya patah. Dia juga tak sempat tahu kalau temannya, yang tadi terpleset itu dan temannya yang terjengkang tadi karena dia dorong.

Dia tak tahu, kalau kedua temannya yang jatuh tadi karena dihantam tengkuknya oleh samurai kecil. Bahkan dia tak sempat tahu kalau yang menghantam kepalanya adalah Le Duan. Lelaki yang tadi dia hantam dengan popor. Le Duan Memang tidak kena telak, dia memang cepat menjatuhkan diri pura-pura pingsan agar tak di hajar bertubi-tubi.

Ketika dia terbaring pura-pura pingsan, dia merasakan sebuah tubuh menghimpitnya, dan dia yakin kalau Si Bungsu sudah mulai beraksi. Dia segera menyingkirkan tubuh tentara yang terjengkang kearahnya tadi dengan perlahan. Dan saat itu dia lihat tentara yang mengerayangi adiknya terjengkak dan melihat sebuah benda mengkilat diantara pelipisnya. Dia segera bangkit. Dan sebagai orang yang ahli bela diri, kakinya menghajar pelipis tentara yang ketiga saat tangannya mulai turun mau menjamah adiknya. Dia menoleh kebelakang, dan dia lihat Si Bungsu sudah ada disana sambil memberi isyarat dengan menunjuk kearah senjata mesin 12,7 yang ada berada didepan. Sementara dia bertugas untuk meyelesaikan dua tentara yang berada di ruang kemudi. Juru mudi dan Kapten kapal. Le Duan memungut sebuah bedil yang tergeletak di lantai, kemudian merayap kearah depan.

Si Bungsu merayap sampai pintu ruang kemudi dan memberi isyarat pada Le Duan untuk bertindak setelah dia beri aba-aba. Le Duan yang yakin kalau tentara yang lain sudah dibereskan Si Bungsu, mengangguk. Kemudian menanti, dia tahu kalau anak muda dari Indonesia itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.

Kapten kapal itu masih sedang bicara di radio. Mungkin dengan kapal patroli yang lain, atau dengan markas besar mereka di darat sana. Kalau dia serang sekarang pasti kapal-kapal patroli yang lain akan di beritahu dan akan memburu kapal ini, itu yang tak diinginkan Si Bungsu.

Untung pembicaraan itu tak terlalu lama, dia mematikan radio dan mematikan hubungan. Kemudian d bicara dengan juru mudi. Saat itu Si Bungsu bersiul kecil, siulan itu didengar Le Duan. Tanpa menoleh Le Duan bangkit dan berjalan kebelakang menuju penjaga senjata mitraliyur 12,7. “Hei, kamu…!” ujarnya.

Tentara yang berpangkat kopral itu menoleh, dia terkejut ketika melihat pelarian yang tadi jatuh kelaut itu sedang mengarahkan senapan uzi buatan Rusia yang menjadi senjata standar tentara Vietnam itu ke arahnya. Dia belum sempat berbuat apa-apa ketika kilatan cahaya putih kemerah-merahan. Kemudian tubuhnya tersentak-sentak ketika tubuhnya di tembus timah panas. Lalu diam. Yang tak diam adalah Kapten kapal dan juru mudi. Mereka melihat peristiwa itu. Mereka melihat pelarian itu menyemburkan timah panas dari senjata uzi buatan Rusia itu.

Melihat jelas penjaga M12,7 tersentak-sentak dan terkapar di tempat duduknya dibelakang senapan mesin yang dia jaga di depan sana. Komandan kapal patroli itu mencabut pistol, namun gerakannya terhenti ketika di ruangan yang tak seberapa besar itu dia melihat kehadiran orang lain. Nalurinya mengatakan kalau orang ini adalah bahagian dari komplotan pelarian yang memegang uzi di luar.

Dia segera mengarahkan pistolnya kearah orang itu. Namun orang itu, yang tak lain adalah Si Bungsu segera mengantisipasi. Dalam dua langkah panjang dan cepat, dia sudah berada di sejangkauan tangan di depan Kapten itu. Si Kapten tiba-tiba merasakan tangannya yang memegang pistol itu telah di cengkram orang tersebut.

Demikian keras cengkraman itu, seolah-olah di jepit ragum besi. Jari-jemarinya terdengar berderak. Dan tak ada yang bisa dia lakukan selain berteriak karena remasan tangan yang sangat kuat. Jurumudi kapal itu, yang baru menyadari ada orang lain diruangan itu setelah Kaptennya meraung, segera meraih pistolnya di pinggang. Namun sambil mencengkram tangan si Kapten, Si Bungsu menghantam belakang kepala jurumudi itu dengan sebuah pukulan. Jurumudi itu tertelungkup diatas kemudinya.

Kapten kapal patroli itu bahu kanannya sampai miring dan kepalanya ikut miring karena tangannya yang memegang pistol itu masih di cengkram Si Bungsu. Sebagai perwira yang ahli beladiri, tidak biasanya dia dengan mudah di perlakukan seperti ini. Dia bermaksud mempergunakan tangan kirinya yang bebas, atau kakinya untuk menendang. Namun entah mengapa, saat tangan kanannya di cengkram lelaki ini, semua anggota tubuhnya yang lain tak bisa di gerakkan

Apapun gerakan yang dibuatnya, yang terasa adalah rasa sakit di hulu jantungnya. Semua gerakan yang dia lakukan berakhir dengan seringai sakit. Si Bungsu menghantamkan tangan kirinya kewajah Kapten yang sedang menyeringai itu. Hidung Kapten itu kontan remuk, enam giginya berderak copot dihantam oleh lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu.

Pistolnya segera beralih ketangan Si Bungsu. Dan si Kapten terhantar di lantai dengan kesadaran tinggal separuh. Saat itu Le Duan memapah adiknya keruang kemudi. Tak lama kemudian dalam ruang kemudi itu Ami mulai berangsur sadar dari pingsannya. “Hei, sudah bangun?” sapa Si Bungsu.

Gadis itu untuk sementara mengejap-ngejap mata. Menatap pada Si Bungsu, pada abangnya. Kemudian bergerak perlahan kearah Si Bungsu sembari menutupi dadanya yang terbuka dengan bajunya yang robek. “Aku ingin cepat keluar dari mimpi buruk ini, Bungsu…” bisiknya sambil memeluk Si Bungsu erat-erat dari samping. “Kita lanjutkan rencana kita. Hanya tinggal dua babak menjelang babak akhir…” ujar Si Bungsu. Le Duan sudah mengambil alih kemudi. “Bisa dicari posisi kapal patroli yang lain dengan radar?” tanya Si Bungsu. “Ya, saya sedang memantaunya. Ada tiga kapal disekitar kita. Yang terdekat sekitar dua mil, yang terjauh sekitar sepuluh mil…” jawab Le Duan. Sambil merperhatikan layar radar yang ada di dekat kemudi. “Baik, sekarang kita cari mayat-mayat pengungsi tadi…” ujar Si Bungsu.

Le Duan segera memutar kapal itu kearah mereka datang tadi. Dia menyetel lampu sehingga cahayanya menyapu laut di depan mereka. Dengan memutar tuas yang ada di ruang kemudi. Si Bungsu yang tubuhnya masih di gelayuti Ami, mengarahkan lampu sorot kekiri-kekanan.

Saat itu Kapten kapal itu siuman, disusul juru mudinya. Ami melepaskan pelukannya dan menendang Kapten itu, si Kapten melenguh pendek dan pingsan lagi. Jurumudinya di hajar dengan tumit tentang dadanya. Mata jurumudi itu terbelalak dan kembali terjengkang. “Hei, jangan bunuh mereka…” ujar Si Bungsu. “Mereka hanya tidur sebentar….” ujar Ami. Sekitar lima menit berlayar, lewat lampu sorot mereka melihat dua tubuh mengapung di laut. “Lambatkan mesin…” ujar Si Bungsu.

Le Duan memperlambat mesin kapal. Posisi dua mayat itu, mayat wanita yang masih memeluk bayi lelakinya, terlihat mengapung dekat lambung bagian kanan. Ketika mayat itu berjarak tiga atau empat meter dari lambung kapal, Si Bungsu menyuruh menghentikan kapal. Kemudian dia menatap Ami yang masih saja bergelayutan di tubuhnya. “Bisa kau bangunkan sahabatmu yang tidur itu, Ami..?” ujar Si Bungsu perlahan.

Ami menatap lemari di dinding belakang ruang kemudi itu. Membukanya. Dan disana ada termos dan roti. Dia ambil termos itu. Ketika dibuka tercium aroma kopi yang cukup harum. “Mereka butuh kopi saat udara dingin begini…” ujar Ami sambil berjalan kearah tubuh Kapten dan juru mudinya.

Lalu tanpa bicara, dia menyiramkan kopi panas itu kewajah kedua tentara Vietnam itu. Keduanya sontak kaget tersadar dari pingsannya. Mereka memekik akibat siraman kopi panas itu. Si Bungsu melepaskan tuas lampu sorot, menguncinya. Dimana cahaya lampu sorot itu terarah ke dua tubuh mayat yang mengapung di laut. Kemudian dia mencekal leher si Kapten. Membawanya berdiri. Le Duan menyeret jurumudi. Mereka membawa kedua orang itu keluar ruang kemudi, lalu menuju dek bahagian kanan kapal. “Kalian lihat dua mayat itu?” ujar Si Bungsu, yang cepat diterjemahkan Le Duan ke bahasa Vietnam.

Mata kedua tentara itu bukanya melihat kearah kedua mayat itu. Melainkan menatap kelaut luas. Berharap kapal patroli yang lain datang membantu. Namun sejauh mata memandang yang terlihat hanya kegelapan. “Sudah tak terhitung jumlah orang-orang yang kalian biarkan mati di tengah laut. Kini giliran kalian bagaimana rasanya mati seperti itu. Untuk semetara untuk bisa mengapung, kalian harus minta tolong kedua mayat itu. Tubuhnya terpaksa kalian jadikan pelampung. Kini turunlah…!” perintah Si Bungsu.

Belum habis takut dan kecut hati kedua orang itu, tiba-tiba tubuh mereka sudah melayang ke laut, semeteran dari mayat yang terapung-apung itu. Kapten itu memekik sambil memohon-mohon minta belas kasihan. Demikian juga jurumudinya. Mereka menggapaikan tangan ke kapal berusaha mencari pegangan. Namun bibir dek kapal terlalu jauh untuk mereka jangkau. Ombak yang deras membawa mereka menjauh dari kapal. Mendekati mayat yang mengapung dengan diam. Si Bungsu dan Le Duan menatap dingin kerah kedua tentara Vietnam itu. “Jalankan kapal…” ujar si Bungs

Le Duan memasuki kamar kemudi. Menambah gas kemudian kapal itu meluncur. Meninggalkan tentara itu dengan ketakutan yang luar biasa itu. Si Jurumudi kemudian berenang memdekati mayat yang mengapung itu. Dia sungguh takut. Namun ucapan lelaki asing itu ada benarnya, walau jijik dan ketakutan mayat ini bisa dijadikan pelampung. Lalu menggantung disana. Benar, karena mayatnya sudah berlobang porinya dan di penuhi air bisa dijadikan pelampung darurat. Dan berusaha menggerak-gerakan kakinya biar bisa mengapung. Dengan cara itu pula si Kapten berusaha mendekati si jurumudi. Yang bergelayut di mayat yang kapalnya ditenggelamkan kapal mereka. Namun si jurumudi tampaknya tak mau di ganggu. Untuk menahan tubuhnya saja mayat itu sudah tak begitu kuat. Apalagi harus berdua dengan Kapten itu. Diam-diam dia mengayuh kakinya agar menjauh dari jangkauan sang Kapten. Sedangkan si Kapten berusaha juga untuk mencapai mayat

itu.

Semakin kuat dia berenang, tambah kuat juga dia menjauh, si Kapten akhirnya tahu perbuatan jurumudinya. “Hei, kau jangan menjauh terus. Tolong aku….!” serunya. Tapi Sersan itu tak peduli. Dengan masih menatap si Kapten kakinya tetap mengayuh, makin lama jarak mereka bertambah jauh. “Sersan keparat!! dengarkan ucapanku, kayuhkan dirimu kemari… itu perintah, cepaat…!” hardik si Kapten dengan suara terengah-engah lemah menahan marah.

“Ke Neraka lah, perintah laknatmu itu Kapten….” ujar si Sersan masih berusaha menjauh. “Sebentar.. glk… lagi kapal patroli.. glk.. datang. Kau akan dii..glk.. hukum tembak bila melanggar pe.. glk.. rintah…”ujar si Kapten yang sudah timbul tenggelam. “Panggillah kapal patroli jahanammu itu. Kau boleh menembak mukamu sendiri..” desis si Sersan sambil menggelantung di tubuh mayat wanita tersebut. Dan tetap mengayuhkan kakinya di dalam air agar tetap menjauh. “Jahanam.. glk..glk.. kau… glk.. akan diadili.. glk..glk.. di mahh.. kamah.. glk.. sebagai.. penjah..glk- glk..perr...”ujar si Kapten yang sudah kehilangan tenaga.

Namun azab Tuhan padanya tidak hanya sampai disitu. Si Bungsu mungkin benar tentang ucapannya, bahwa tentara yang membunuh rakyat harus di hukum dengan sekerasnya. Hal itu kini menimpa si Kapten. Sebab jika dia berharap akan mati agar tidak terlalu lama menderita, tiba-tiba sebuah sayatan yang menimbulkan sakit yang amat sangat menyergap kaki kanannya.

Dia meraung. Tubuhnya terlonjak di atas permukaan air. Si jurumudi yang sudah hilang didalam kegelapan, mendengar pekik itu. Sekali lagi, dan sekali lagi! Bulu tengkuk si jurumudi merinding. Tubuh si Kapten ternyata sedang di rancah ikan hiu.!

Mula-mula betisnya di sambar. Kemudian pahanya. Dia meraung. Kemudian perutnya. Dia kembali meraung. Entah kenapa dia tidak segera mati. Tangannya menggapai. Tiba-tiba tangannya tergapai sesuatu yang mengapung di air. Dia peluk erat-erat tubuhnya agak timbul karena ada gantungan itu. Namun hidungnya membau yang amat menusuk. Tangannya meraba hilir mudik. Dan tiba-tiba dia menyadari bahwa yang dia peluk tempat untuk bergantung agar tak tenggelam ternyata adalah sesosok mayat wanita!

“Oh Tuhan, ampuni dosaku.. ampuni dosa kuu..” raungnya tanpa dapat menahan tangis akibat rasa berdosa yang amat sangat. Selama dua bulan ini, dalam tugasnya memburu para pelarian yang ingin mengungsi dari Vietnam, sudah puluhan bahkan mungkin ratusan nyawa yang dia kirim kedasar laut. Sebahagian besar adalah orang-orang yang takut pada pembalasan Vietnam Utara. Yang wanita umumnya mereka tangkap, lalu mereka di perkosa. Sebagian yang di perkosa itu dibawa kedarat untuk diinterogasi. Tapi sebagian lagi di tenggelamkan begitu saja ke laut, bahkan dalam keadaan bugil! Bagi tawanan laki-laki yang tua umumnya ditenggelamkan saja. Mereka dianggap tidak berguna. Yang muda dan dewasa di tahan dan diinterogasi.

Mereka disiksa dengan seribu macam siksaan, agar mengatakan siapa saja orang selatan yang melarikan diri atau kaki tangan Amerika. Kini, seolah-olah Tuhan menghukumnya dengan mengirimkan sesosok mayat wanita ini kepadanya. Dia tetap tak mau melepaskan mayat wanita itu. Dia berharap bisa bertahan sampai ada kapal patroli ada yang lewat atau mendapat keping lain yang bisa menyelamatkannya.

Namun Tuhan memang sedang marah padanya. Baru berapa saat dia bergelantungan di mayat wanita itu, yang kapalnya mereka tenggelamkan kemaren, sebuah sentakan kembali terasa di pahanya. Sakitnya bukan main. Pahanya terbosai separuh. Bau darah menyebabkan selusin-an ikan hiu memburu kesana. Dalam malam bergerimis itu seakan diruntuhkan oleh pekikan si Kapten yang tubuhnya dicabik keping demi keping oleh harimau laut itu. Tatkala pekiknya seperti menggantung di udara malam, kini giliran si jurumudi yang terpekik. Sebuah hantaman yang kuat menghujam di betisnya. Dia merasa sakit yang luar biasa. Dia tak tahu di dalam air, kakinya hingga lutut telah lenyap dalam mulut hiu. Rupanya setelah selesai merancah tubuh si Kapten, rombongan ikan ganas itu menemukan tempat si jurumudi.

Kini disana lagi ikan ganas itu berpesta-pora. Tubuh si Sersan menerima nasib yang sama dengan Kapten-nya. Di rancah ikan hiu berkeping-keping! Nasib yang lebih buruk dari temannya sesama tentara pemburu yang mati diatas kapal. Tubuh mereka memang dilemparkan juga oleh Si Bungsu ke laut. Namun karena sudah tewas jadi mereka tak merasakan apa yang dirasakan si Kapten dan jurumudi yang menahan sakit luar biasa di rancah gerombolan ikan hiu lapar dan ganas! Gerimis di laut kini telah berubah menjadi hujan lebat.

Kapal patroli yang kini sudah diambil alih Si Bungsu, Le Duan, Ami Florence melaju kearah kapal patroli yang lain. “Kapal ini punya torpedo?” tanya Si Bungsu. “Ada dua buah, yang disamping lambung kiri dan kanan..” jawab Le Duan, yang nampaknya amat memahami soal kapal. “Bisa kita pergunakan?” Le Duan menjawab dengan menekan dua tombol hijau disebelah kanan. Tombol itu hidup.Le Duan menekan lagi sebuah tombol merah dibawah tombol hijau itu. Tombol itu juga menyala.

“Keduanya masih baik, dapat kita pergunakan..”jawab Le Duan. “Berapa jauh jarak yang bisa di jangkau…?” “Tiga mil…” “Kita bisa mendekat sampai dua mil?” “Bisa..” “Baik, kita mendekat sampai dua mil. Kemudian kita hancurkan mereka..” ucapan Si Bungsu baru berakhir ketika terdengar suara di radio. “Naga Merah, cucut Laut memanggil, over…!” “Naga Merah silahkan masuk, Cucut Laut memanggil, over.….” “Mereka memanggil lagi…” ujar Le Duan. “Berapa jauh jarak mereka kini?” Le Duan mempelototi radar. “Dua setengah mil…” “Jawab, katakan radio kita rusak, dan kita tetap menuju mereka minta perbaikan…” Le Dua mengambil radio tersebut, dan mendekatkannya ke mulut.

“Cucut laut, Naga Merah stand by over… Cucut Laut, naga Merah standby..over “ jawab Le Duan sambil memukulkan radio itu ke alat penerima. “Naga merah, kenapa meninggalkan wilayah operasi.. over.. Naga merah mengapa meninggalkan wilayah operasi..over..!” Le Duan menatap Si Bungsu. “Berapa lagi jarak mereka?” “Dua mil…” ”Minta mereka mendekati kita, kemudian hantam dengan Torpedo..” ujar Si Bungsu. “Naga Merah mengalami kerusakan mesin dan radio, kami terpaksa bergabung. Harap Cucut Laut membantu Naga Merah…Ov…” Le Duan sengaja memutus-mutuskan suaranya. Kemudian mematikan alat komunikasi itu. Dia sekaligus memperlambat mesin. Kapal itu kini seperti berlayar perlahan dengan haluan mengarah ke Pulau Hainan. “Mereka mendekat… ” ujar Le Duan sambil memperhatikan titik hijau di layar radar.

“Berapa jauh sekarang?” “Sekitar satu setengah mil…” “Siapkan sebuah Torpedo..” Le Duan kembali menekan tombol hijau di meja kemudi yang tadi sudah diujicobanya. Sebuah lampu hijau segera menyala. Kemudian dia menekankan tombol merah yang di kanan. Lampu merah segera menyala. Saat itu tiba-tiba kapal di mana mereka berada masuk kedalam sorot lampu kapal patroli Cucut Laut yang tadi berkomunikasi dengan mereka.

“Berapa jaraknya kini?” tanya Si Bungsu. Sementara Ami yang mulai cemas kembali bergelayutan di bahu Si Bungsu. “Sekitar satu mil, mereka datang dengan kecepatan penuh…” “Ya, sekarang tembakkan torpedo….!” ujar Si Bungsu. Le Duan kemudian menekan tombol merah yang sudah menyala tadi. Kemudian terdengar suara mendesis yang amat bising disamping kanan kapal ketika torpedo dibagian itu lepas dari tabungnya. Torpedo itu masuk sekitar sepuluh meter didepan kapal, kemudian dengan cepat dan dengan kedalaman sekitar satu meter dari permukaan air, tabung maut sepanjang dua meter itu meluncur kearah Cucut Laut.

“Ada kemungkinan meleset..?” tanya Si Bungsu. “Mungkin kalau mereka cepat melihat di radarnya. Mereka bisa membuat manuver, menghindar dengan cepat…” “Siapkan torpedo yang satunya. Dan siapkan juga kapal dengan kecepatan penuh. Kalau kedua torpedo itu gagal, kita harus lari secepat mungkin ke laut lepas mencari USS Alamo…”

Di kapal patroli Cucut Laut hampir semua awak sedang mengarahkankan perhatian mereka ke Naga Merah,yang kini sudah berada dalam sorotan lampu mereka. Ada sedikit kilatan api. Mereka menduga ada letusan. Namun ketika tidak ada letusan, seorang Sersan merasa aneh. “Coba hidupkan radar. Ada yang aneh dengan kapal itu tadi. Ada kilatan seperti melepas torpedo..” ujarnya. Jurumudi segera menghidupkan radar. Dan tiba-tiba mulutnya ternganga. Kejut yang luar biasa membuat dia tak bisa berkata atau berbuat apapun untuk beberapa detik. “Tot..torrpedooo….!” sambil menambahkan kecepatan dan berusaha menghindar dengan membelokkan kapal.

Demikian tiba-tibanya manuver kapal itu dilakukan, menyebabkan tiga tentara yang berdiri di pagar dek kapal terpental kelaut. Kapal itu oleng kekiri karena belokan tajam yang dibuat. Suasana panik kerena rasa terkejut membuat mereka hampir terpaku ditempat masing-masing. Saat itulah torpedo yang ditembakkan Naga Merah menghajar Cucut Laut persis di lambung tengahnya! Kapal itu meledak.

Kepingannya terlontar sampai belasan meter keudara, diiringi ledakan yang amat dahsyat. Ledakan itu tambah dahsyat karena dua torpedo di kapal itu ikut meledakkan ‘tuannya’ sendiri! Cahaya akibat ledakan itu terangnya sampai ke Naga Merah. “Wow.. mereka jadi abu…” ujar Le Duan. “Baik dua sudah cukup. Sebentar lagi laut ini akan di penuhi kapal perang Vietnam. Sekarang putar haluan dan usahakan mengontak USS Alamo, tuju kekapal itu dengan kecepatan penuh…” ujar Si Bungsu. “Yes, Sirr..!” ujar Le Duan yang merasa amat bangga dengan operasi yang mereka lakukan malam ini.

Betapa dia takkan bangga, dari niat hanya melarikan diri, itu pun belum tentu selamat. Kini mereka justru berada di pihak yang menyerang. Tak tanggung-tanggung, sekali pukul mereka bisa menghancurkan sebuah kapal musuh dan merampas sebuah lagi. Le Duan memacu kapal itu dengan kecepatan penuh kearah timur. Di tempat mana di perkirakan USS Alamo berada. Dia menyetel radio berusaha mendapatkan kontak dengan USS Alamo.

Hanya beberapa saat, setelah berada di frekuensi yang sudah ditetapkan, Le Duan berhasil mendapatkan hubungan dengan kapal perang Amerika tersebut. “Benteng tua, Benteng tua…. Tiang bambu memanggil, over..” ujar Le Duan beberapa kali. “Tiang bambu, benteng tua standby. Kami mengikuti seluruh manuver anda, Bravo. Benteng tua berada pada kordinat x, sekitar dua loncatan dari Tiang bambu, Benteng tua menunggu, sekali lagi Bravo…” ujar Komandan kapal USS Alamo. “Coba kembali ke frekuensi kapal Vietnam, dengarkan apa yang mereka perbincangkan..” ujar Si Bungsu.

Le Duan mengembalikan posisi frekuensi radio kapal pemburu itu pada posisi semula. Terdengar suara sahut menyahut antara dua sampai tiga kapal. Sebuah kapal yang sudah mendekati posisi Cucut laut meledak melaporkan menemukan keping-keping kapal yang dipastikan kapal patroli Vietnam.

Namun mereka tidak bisa memastikan yang mana yang meledak, Naga Merah atau Cucut Laut. Mereka juga belum bisa memastikan apa yang meledakkannya. Kemudian radio memanggil-manggil Naga Merah dan Cucut Laut. Berkali-kali panggilan itu dilakukan, namun tak ada sahutan. Dalam percakapan itu juga di sebutkan sebuah kapal yang menuju laut lepas yang mereka lihat melalui radar. Lalu terdengar perintah dari Kapal Perang ”Gunung Api” yang berada di lepas pantai Pantai Da Nang untuk memburu kapal yang melaju kelaut lepas itu.

“Apakah mereka bisa menyusul kita…?” tanya Si Bungsu. “Rasanya tak mungkin…” jawab Le Duan. Sambil menatap lurus kedepan kedalam kegelapan laut. Hanya beberapa menit kemudian, mereka melihat sinyal lampu yang dipancarkan dari kapal USS Alamo. Sementara Ami membalas sinyal itu dengan lampu sorot di kapal yang mereka rampas, Le Duan mengarahkan kapal patroli itu lurus-lurus kearah datangnya sinyal tersebut. Tiba-tiba ada panggilan di radio. Panggilan itu ternyata dari USS Alamo.

“Tiang bambu,.. Benteng tua memanggil over..” “Benteng Tua,.. Tiang bambu standby, masuk.. over..” “Pari Runcing tengah mengejar anda, posisinya tinggal lima mil. Ulangi, Pari Runcing mengejar anda dalam posisi lima mil,…over…” “Benteng Tua, Tiang Bambu memonitor. Tiang Bambu segera berada disisi Benteng Tua.. over..”

Namun belum beberapa detik Le Duan mengakhiri ucapannya, tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat menyebabkan semburan air menjulang hanya beberapa meter disisi lambung kanan kapal yang mereka larikan dengan kencang. Kembali terdengar suara di radio, yang berasal dari USS Alamo. “Tiang Bambu, meluncur di pegunungan Benteng Tua mengirimkan kado untuk Pari Runcing… over…”

Jika tadi Le Duan memacu kapal lururs-lurus ke arah USS Alamo, kini sesuai petunjuk Kapten USS Alamo untuk ’meluncur kepegunugan’ dia lalu membuat belok-belokan tajam. Belok-belokan itu ternyata menyelamatkan nyawa mereka. Hanya beberapa detik kemudian, dua ledakan menggelegar di sebahagian kiri dan bahagian kanan kapal, dalam jarak sepuluh hingga lima belas meter. Lalu mereka mendengar suara desingan tajam, beberapa detik kemudian terdengar suara gelegar jauh di belakang sana, disusul lidah api yang muncrat ke angkasa. Lalu sepi. Tak ada lagi ledakan disisi kapal mereka. Kemudian suara di radio.

“Tiang Bambu, Benteng Tua memanggil over..” “Benteng Tua masuk over….” “Kini boleh meluncur lurus, Pari Runcing sudah menyelam dalam-dalam..over…” “Bravo, terimakasih over…“ “Bravo Benteng Tua standby...over..” jawab Le Duan sambil meletakkan radio, kemudian ia menyambung bicaranya. “Mereka sudah menenggelamkan kapal yang mengejar kita itu…” Beberapa lama kemudian terlihat sebuah ‘gunung’ yang tegak menjulang di laut. “USS Alamo…” ujar Ami Florence. Lampu sorot kapal perang Amerika itu tiba-tiba menyorot kearah mereka. Setelah beberapa saat, lampu itu dipadamkan kemudian dua lampu merah panjang muncul di haluan. Memberi arah kepada mereka kemana kapal rampasan itu harus merapat.

Mereka disuruh merapat kelambung kiri. Ketika sampai disana, sebuah tangga terlihat sudah dijulurkan kebawah dari dek atas. Yang pertama naik adalah Ami Florence kemudian Le Duan. Di tengah pendakian pada tangga tersebut dia berhenti. Melihat kearah Si Bungsu masih berdiri di dek depan. “Selamat jalan kawan…” ujar Si Bungsu. Le Duan tiba-tiba berubah air mukanya dan segera turun.

“Jangan..jangan pergi dulu kawan…” ujar Le Duan dari anak tangga terakhir, karena Si Bungsu sudah menggerakkan kapal patroli rampasan itu menjarak dari USS Alamo. “Saya masih mempunyai tugas Le Duan…” “Demi Ami..”ucapan Le Duan terhenti. Diputus oleh panggilan Ami Florence yang sudah sampai di dek USS Alamo. Le Duan dan Si Bungsu melihat keatas. Gadis itu memekik ketika dilihatnya kapal patroli yang ada Si Bungsu di atas bergerak menjauh. Dia tak hanya memekik tapi segera berlari menuruni tangga, namun kapal patroli itu telah menjauh. “Jaga adikmu baik-baik Le Duan…” seru Si Bungsu. “Dia menginginkan kau sebagai pelindungnya kawan..” ujar Le Duan.

“Aku juga menginginkannya. Tapi aku berhutang janji menyelamatkan seseorang…” “Terimakasih atas bantuan mu pada kami. Terima kasih atas segala-galanya…” ujar Le Duan ketika dia maklum bahwa lelaki dari Indonesia itu tak bisa dicegah untuk pergi. Ketika akhirnya Ami Florence tiba di anak tangga terakhir tempat abangnya berdiri, kapal yang di naiki Si Bungsu itu sudah berpuluh depa dari USS Alamo. “Oh Tuhan, jangan tinggalkan aku.. jangan tinggalkan aku..” ujarnya separoh berteriak, sambil menatap kebawah bayang-bayang Si Bungsu di ruang kemudi kapal patroli tersebut. Le Duan memeluk tubuh adiknya.

“Kenapa dia meninggalkan aku….” isak Ami. “Dia masih punya tugas yang lain, Ami..” “Aku ingin ikut dengannya..” Le Duan tak mampu memberi jawaban. “Bahkan mengucapkan selamat tinggal pun dia tidak…” isak Ami sambil menatap ke laut gelap. “Dia mengucapkan itu melalui aku, Ami. Dia menyuruh aku menjagamu baik-baik. Dia pasti kembali menemuimu…” bisik Le Duan. “Dia meninggalkan aku… dia meninggalkan aku begitu saja Le…” isaknya. Ami akhirnya menumpahkan tangis di dada Abangnya. “Hujan makin lebat, Ami mari kita naik…” ujar Le Duan sambil membimbing adiknya menaiki tangga, di bawah tatapan puluhan marinir yang berdiri di atas dek sana. Di dalam ruang Komando USS Alamo terjadi ketegangan, tatkala Kaptennya melihat ke layar radar, dia melihat enam titik sedang menuju ke arah satu titik. Dan titik yang dituju itu juga mengarah langsung kearah salah satu dari titik yang enam itu. “Gila! Orang ini benar-benar gila. Dia langsung terjun ke mulut hiu atau Neraka…!” ujar Kapten USS Alamo itu. Mereka tahu, yang satu titik itu adalah kapal patroli yang baru saja meninggalkan USS Alamo. Sementara enam titik itu pastilah kapal perang Vietnam, yang dikerahkan untuk merebut kapal patroli yang dirampas itu.

Kini, dengan perasaan tegang delapan opsir kapal perang Amerika ini menatap dengan diam kearah titik- titik di layar radar mereka. Ami yang juga hadir di ruangan itu bersama abangnya menatap monitor radar dengan tubuh menggigil. “Oh Tuhan, tidakkah ada sesuatu yang bisa kita lakukan?” ujarnya dengan suara bergetar. Kapten itu menatap kearah Ami Florence. “Dengan sepenuh maaf, Nona. Tidak satupun yang bisa kita lakukan sekarang. Kapal ini sudah memutar haluan dan berlayar dengan kecepatan penuh kearah Pulau Luzon, Philipina. Tembakan yang menghancurkan kapal perang Vietnam yang mengejar kalian tadi, segera akan menyulut skandal Internasional. Amerika akan di cerca sebagai agresor. Kita tidak boleh memperparah situasi. Amerika sudah kalah dan dipermalukan. Anda tahu, kita tidak boleh menambah insiden yang bisa memperburuk situasi, bukan..?” ujar Kapten kapal itu perlahan.

Kemudian mereka kembali menatap ke monitor. Titik-titik dilayar monitor, terutama titik yang tadi datang dari USS Alamo, semakin dekat kearah salah satu titik dari enam titik yang datang dari arah pantai Vietnam. Titik yang dari Alamo itu langsung menuju ke titik yang paling kanan. “Tidakkah kita bisa menghubunginya dengan radio?” ujar Ami dengan air mata yang sudah dipipi. “Sudah sejak tadi hubungan kita coba di frekuensi khusus, Nona. Namun nampaknya dia tidak menghidupkan radionya…” jawab Perwira radio, yang terus menekan-nekan sinyal untuk memanggil kapal yang di kemudikan Si Bungsu. Ami yang sangat gelisah, menoleh kepada Le Duan, kemudian kepada Kapten kapal yang berpangkat Laksamana Muda itu. Laksamana itu nampaknya paham apa yang ada di hati tamunya, di pegangnya bahu Ami Florence kemudian dia berkata.

“Kita tidak boleh mempergunakan frekuensi umum, apalagi frekuensi yang di pakai kapal-kapal Vietnam untuk bicara. Tembakan tadi pasti mereka ketahui dari kapal Amerika. Namun mereka tidak tahu, kapal yang mana dan apa nama nya. Jika kita bicara di frekuensi mereka, mereka akan melacak dan akan mendapatkan data kapal ini. Kehadiran kita disini memang perintah dari Pentagon, namun operasi ini tidak termasuk operasi manapun diangkatan Laut Amerika. Sebagai seorang intelijen yang sudah lama bertugas, Anda tentu mengerti semua prosedur ini, Nona..” ujar Laksamana itu perlahan. “Kapal itu berdempet…!” seruan Perwira Navigasi menyebabkan semua mereka mengarahkan tatapan ke layar monitor radar yang posisinya agak tinggi.

Titik yang tadi datang dari USS Alamo kelihatan berdempet rapat dengan titik yang paling kanan dari enam titik. Beberapa saat kemudian titik yang datang dari USS Alamo itu hilang dari layar. Ami merasa dadanya sesak. “Mesin kapal yang dibawa orang Indonesia itu nampaknya di matikan..” ujar perwira Navigasi. “Dia ditangkap.. ya Tuhan dia di tangkap!” ujar Ami diantara isaknya, dan merebahkan kepalanya ke dada Abangnya. “Akses langsung ke pusat informasi Pentagon, minta data tentang Si Bungsu…” ujar komandan USS Alamo.

Perwira bagian komputer segera memerintahkan seorang letnan melaksanakan perintah komandan tersebut. Komputer data segera di aktifkan. Melalui hubungan satelit, kontak tersambung dengan biro data rahasia di pentagon. Markas Besar Angkatan Bersenjata Amerika. Si letnan mengetikkan beberapa kode di keyboard komputernya, di layar monitor segera muncul permintaan nomor akses. Si Letnan lalu berdiri dari kursinya, menyilakan si Kapten. Kapten kapal itu segera duduk didepan komputer, dia membuka buah baju bahagian atas. Segera kelihatan sebuah kalung perak.

Di Kalung itu tergantung dua keping logam tipis, yang lazim dipakai semua tentara Amerika ke medan tempur. Kemudian ada sebuah kunci dari emas. Dia buka kalung dari lehernya. Kemudian kunci emas itu dia masukkan ke salah satu lubang khusus yang berada di bahagian atas komputer. Setelah memutar dua kali, di layar monitor muncul tulisan “akses utama”. Si Kapten mengetik sebuah nomor di keyboard, lampu merah segera menyala pada sebuah box yang terletak dikanan komputer, nyalanya sebentar terang, sebentar redup. Si Kapten menekankan telapak tangannya dengan jari-jari rata ke kaca box tersebut.

Sidik telapak tangan kanannya itulah sebagai ”akses utama” sebagaimana di minta komputer. Sidik telapak tangannya itu segera terekam dan terkirim melalui gelombang radio ke pusat rahasia pentagon. Mencocokkannya dengan sidik telapak tangan yang ada di pusat data rahasia itu. Tidak sembarangan jenderal atau staf Gedung Putih memiliki akses langsung ke pusat rahasia Pentagon tersebut. Hanya orang dengan klasifikasi tertentu saja. Pejabat lain yang menginginkan data, harus memintanya melalui jalur resmi, yang bisa memakan waktu satu atau dua hari.

Setelah beberapa detik berlalu, di layar komputer muncul jawaban “akses diterima”. Si Kapten berdiri, tempatnya kembali digantikan letnan yang segera mengetikkan beberapa nomor kode lagi. Di layar Komputer muncul kata ‘entry’. Si letnan mengetik kata ‘Bungsu’, beberapa saat muncul kata ‘tunggu’ Mereka kemudian menanti.

Data dasar mencatatat nama, tahun lahir, pendidikan, kampung tempat lahir, provinsi, dan sekaligus negaranya. Kemudian data spesialisasi orang tersebut, berikut prestasi-prestasi puncak yang mereka capai. Jika dia Veteran, tercatat pertempuran di mana saja yang bersangkutan terlibat. Selain prestasi positif data juga mencatat semua ‘prestasi’ negatif orang yang ada dalam file tersebut.

Semua yang hadir dalam di dalam ruang komando kapal USS Alamo itu pada ternganga melihat data ‘kemampuan’ Si Bungsu yang ditampilkan dalam layar komputer. Di sana tertera bahwa secara individual lelaki Indonesia ini adalah salah satu dari sedikit sekali orang-orang yang memiliki kemampuan beladiri yang amat luar biasa.

Dalam waktu relatif singkat lelaki ini memiliki kemampuan menghabisi nyawa lima sampai sepuluh orang yang menjadi musuhnya. Dengan senjata spesifiknya berupa samurai kecil, paku atau besi pipih runcing yang lazim dipakai oleh Ninja dari Jepang, orang ini mampu menghabisi sepuluh sampai dua puluh lawan dalam waktu singkat.

Bila dia memiliki senapan maka kemampuan membunuhnya setara dengan satu kompi pasukan khusus bersenjata lengkap. Orang ini adalah satu dari sedikit manusia di dunia yang berpredikat sebagai “mesin pembunuh paling berbahaya”. Kemampuan beladirinya tercipta secara alamiah. Salah satu faktor pendukung yang menyebabkan dia mampu mengalahkan lawan dalam jumlah yang banyak, adalah karena naluri atau indra keenamnya yang amat luar biasa tajamnya. Instingnya sepuluh kali lebih tajam dibanding ular kobra, macan tutul bahkan dibanding puma, harimau paling ganas dan paling tajam inderanya di padang prairi Amerika sekalipun.

Tingkat ‘bahaya’ individu seperti orang ini, bernilai 100 bila berada di kota. Nilai tertinggi bagi seseorang yang memiliki kemampuan sebagai ‘mesin pembunuh’. Tetapi bila dia berada di belukar atau belantara, tingkat bahaya itu melonjak menjadi 250. Padang gurun, belukar dan belantara ibarat rumah baginya yang amat dia hafal lekuk lekuknya, yang amat dia kenal setiap denyut dan perangainya. Dalam daftar itu juga tertera ‘prestasi’ berupa korban yang berjatuhan di tangan Si Bungsu. Mulai dari tentara Jepang di Payakumbuh, bandit-bandit Yakuza, Kumagaigumi dan tentara Amerika yang memperkosa wanita di Jepang, bandit-bandit Cina di Singapura, bandit-bandit di Australia, tentara PRRI, APRI sampai bandit-bandit Mafia di Dallas, dalam kasus terbunuhnya Presiden Keneddy.

Keterangan di layar komputer itu ditutup dengan kalimat yang amat intimidatif, namun bisa diyakini kebenarannya: “Orang ini benar-benar tidak memihak kepada siapa atau negara manapun, kecuali kepada kebenaran. Jika Anda beruntung bisa ‘memakai’-nya, jangan sekali-kali berbuat curang atau berlaku tak benar. Orang ini akan segera mengetahuinya, sepandai apapun Anda menyembunyikan kecurangan itu. Begitu dia mengetahui kecurangan tersebut, satu-satu-nya jalan bagi Anda untuk selamat dari pembalasannya hanyalah bunuh diri!”

Semua yang berada di ruang komando kapal itu pada tertegun dan saling bertukar pandang. Tak seorang pun di antara mereka yang menganggap data yang diberikan komputer itu sebagai senda gurau, apalagi omong kosong. Informasi mengenai orang-orang berkualifikasi khusus, yang masuk ke dalam pusat informasi rahasia Pentagon, akurasi datanya nyaris tak sebuah pun yang bisa dimasukkan ke dalam klasifikasi ‘tidak bisa dipercaya’.

Dalam ratusan peristiwa yang data awalnya terekam di pusat informasi rahasia Pentagon, akurasi data dan analisanya minimal 95 persen. “Lihat Kapal Vietnam itu meledak…” seruan Wakil Komandan USS Alamo, yang sempat melirik monitor radar, membuat semua yang hadir kaget dan terpana.

Di layar terlihat satu titik dari enam titik putih yang menunjukkan kapal-kapal Vietnam yang didempeti kapal patroli yang dilayarkan Si Bungsu, berubah menjadi merah. Kemudian secara perlahan titik merah itu hilang dari layar monitor. Di layar itu kini hanya ada lima titik putih. Dan kelima titik putih itu kelihatan segera mendekat ke arah titik merah yang lenyap dari layar monitor itu. “My God! Dia meledakkan kapal itu. Dan kini kelima kapal perang Vietnam yang ada di laut menuju ke arah kapal yang meledak itu…” desis Komandan Kapal USS Alamo. Laksamana itu menatap pada Ami dan Le Duan. “Kalian sangat beruntung bertemu dengan salah seorang manusia yang memiliki kemahiran beladiri dan kemampuan yang langka ini. Kami ingin sekali berkenalan dengannya. Sayang dia tak sempat naik ke kapal ini…” ujar Komandan USS Alamo tersebut. Ami masih menatap ke monitor radar. Hatinya semakin buncah. Kapal itu meledak atau diledakkan, siapapun yang melakukannya, apakah Si Bungsu atau orang Vietnam itu sendiri, yang jadi pikirannya adalah keselamatan lelaki Indonesia itu. Kalau kapal itu meledak, bagaimana nasib Si Bungsu? Apa sesungguhnya yang telah terjadi atas dirinya? Ya, apa sesungguhnya yang terjadi atas diri lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu? Siapa yang meledakkan kapal perang Vietnam tersebut?

Beberapa saat setelah meninggalkan USS Alamo, Si Bungsu mengetahui kedatangan kapal kapal Vietnam itu dari radar di meja. Setelah menemukan alat penyelam di kapal itu, dia segera mengarahkan kapalnya ke salah satu kapal Vietnam tersebut dengan memperkirakan kapal terdekat dengan posisinya. Beberapa puluh meter menjelang sampai ke kapal yang dia tuju, kapalnya segera diterangi cahaya lampu sorot dari kapal tersebut. Saat kapalnya masuk ke dalam terkaman cahaya lampu sorot, dengan pakaian selam dia sudah bergelantungan di bahagian belakang kapal.

Ketika kapal yang sengaja dia perlambat mesinnya itu merapat ke kapal patoli yang datang, yang ternyata jauh lebih besar dari yang mereka rampas, Si Bungsu sudah menyelam. Di bawah sikap siaga penuh dengan todongan belasan senjata, tiga orang serdadu Vietnam segera melompat ke kapal yang merapat itu. Mereka menyebar memeriksa kapal dengan senjata siap memuntahkan peluru. Di bawah sorot lampu yang amat terang benderang dan di bawah pengawalan yang amat siaga, tak ada sudut atau ruang yang luput dari pemeriksaan ketiga orang ini. “Kapal ini kosong…” ujar salah seorang tentara Vietkong setelah berkeliling di kapal tersebut.

Komandan kapal patroli yang baru datang itu memberi isyarat kepada tiga anggota marinirnya untuk segera memakai alat selam. Sementara ketiga tentara yang tadi naik ke kapal yang ditinggalkan Si Bungsu tetap di posisinya. Komandan kapal itu lalu memerintahkan untuk menambatkan kapal tak berawak itu ke kapalnya. Tiga marinir yang sudah berpakaian selam, dengan senjata khusus berupa tombak dengan alat tembak berkekuatan tinggi segera mencebur ke laut. Kapal patroli itu sendiri berlayar perlahan dengan membuat lingkaran berdiameter sekitar 50 meter, dan dengan lampu sorot yang menjelajahi setiap sentimeter laut di sekitarnya.

Sekitar satu jam menyelam, akhirnya ketiga marinir itu muncul sekitar tiga puluh meter dari kapal. Salah seorang pemberi isyarat kepada komandannya di kapal, bahwa mereka tak menemukan seorang pun di dalam laut. Dengan tanda tanya besar komandan kapal itu menyuruh jurumudi mengarahkan kapal untuk menjemput ketiga orang marinir tersebut. Si komandan tak bisa mempercayai begitu saja bahwa kapal patroli yang kini tertambat di belakang kapalnya ini datang sendirian, tanpa seorangpun yang mengemudikannya. Tiba tiba dia teringat sesuatu.

“Periksa scuba dikapal itu…” serunya kepada tiga tentara yang masih berada di kapal yang tadi ditinggalkan Si Bungsu. Ketiga tentara itu segera memeriksa peti besi di ruang kemudi, tempat di mana biasanya dua pasang alat selam tersimpan. Mereka segera mendapatkan bahwa di dalam peti itu kini hanya ada sepasang alat selam. Dan kelihatan pula bahwa yang sepasang lagi baru saja diambil dari peti ini. “Kalian jaga di sini, saya akan melapor ke komandan…” ujar salah seorang dari tentara yang bertiga di kapal itu.

Usai berkata, dia segera menarik tali kapal, sehingga merapat ke kapal yang satu lagi. Kemudian dia melompat, naik ke kapal di mana komandannya berada. Lalu dia melaporkan apa yang mereka temukan di peti penyimpan alat selam itu kepada komandan mereka. “Siapapun yang memakai alat selam itu kini, pastilah dia seorang musuh yang sangat berbahaya. Pertama, dialah yang merampas kapal yang kini tertambat di belakang kapal kita ini, yang kemudian menghancurkan kapal patroli yang sebuah lagi. Dia pasti tak pergi jauh, dan akan muncul di kapal ini. Periksa dan jaga setiap jengkal pinggir kapal ini…” ujarnya.

Kapal itu memiliki dua puluh lima awak. Kini mereka menyebar tegak berbaris di kedua sisi kapal, mulai dari haluan sampai ke belakang. Mereka tegak dengan senjata terhunus, siap untuk memuntahkan peluru. Tak ada tempat bagi seorangpun untuk bisa naik ke kapal itu, meski agak satu sentimeter, tanpa diketahui oleh awak kapal yang dua puluh lima orang itu, di luar si Kapten.

Namun Si Bungsu, yang sejak tadi sengaja menjauh dari kapal yang berlayar berputar-putar itu, sama sekali memang tak merasa perlu untuk naik ke kapal tersebut. Dari kejauhan pula dia melihat tiga marinir melompat terjun ke laut. Dia memunculkan kepalanya sedikit di permukaan air, saat cahaya sorot lampu baru meninggalkan lokasi di mana dia menyelam. Bila sorot lampu itu mengarah ke tempatnya, perlahan dia menyelam sekitar satu meter. Dari dalam laut dia melihat ke atas, menanti cahaya terang pada air akibat sorot lampu menghilang. Setelah itu dia kembali muncul.

Dari tempatnya mengapung, dia perhatikan pula ketiga marinir itu kembali naik ke kapal. Kemudian dia melihat pula si komandan memerintahkan anak buahnya yang di kapal untuk memeriksa peti penyimpanan alat-alat selam. Dia juga melihat si komandan memberi perintah, disusul bersebarnya semua awak membuat pagar betis di pinggiran kapal dari haluan sampai ke buritan.

Setelah anak buahnya tegak berbaris, si komandan memerintahkan jurumudi untuk segera meninggalkan tempat itu dengan kecepatan penuh. Namun saat itu pula Si Bungsu muncul di permukaan air, sekitar dua puluh lima meter dari haluan kapal dengan posisi agak ke kiri. Yang pertama melihat kemunculannya adalah seorang tentara yang tegak di sisi mitraliyur di haluan. Yaitu saat jurumudi kapal menambah kekuatan mesin untuk meluncur kencang, dan lampu menyorot ke bahagian depan. “Itu dia! Di depan, di sebelah kiri…!” serunya sambil menarik pelatuk bedil.

Namun sebelum jarinya sempat menarik pelatuk bedil, Si Bungsu yang di kapal tadi mengambil pistol sinar, yaitu pistol berpeluru besar yang dipergunakan untuk isyarat. Kini pistol itu dia tembakan. Sebuah garis sinar yang amat terang berwarna merah jambu, segera meluncur ke arah kapal.

Saat itu peluru si tentara yang melihatnya pertama tadi muntah dari mulut bedilnya. Menyusul kemudian muntahan peluru dari mitraliyur yang ada di depan. Namun semua tembakan itu terlambat sudah. Tidak hanya karena Si Bungsu sudah menyelam amat dalam, tapi juga karena tembakan Si Bungsu dengan pistol sinar berpeluru tunggal, yang pelurunya hampir sebesar lengan anak kecil itu sudah menghantam bahagian depan tabung torpedo yang berada di bahagian kiri dek.

Bahagian depan tabung torpedo itu terbuat dari plat besi, dan hanya bisa terbuka secara otomatis jika tombol untuk menembakkan torpedo di ruang kemudi ditekan. Namun peluru pistol sinar yang amat besar itu setelah menghantam tutup tabung yang besarnya sekitar paha lelaki dewasa, menancap di sana.

Kapal patroli besar itu menjadi terang benderang oleh cahaya. Peluru yang menancap itu membuat tutup tabung menjadi merah. Hanya berjarak tiga jari dari tutup tabung terletak hulu ledak torpedo. Panas yang luar biasa dari peluru sinar yang menancap di tutup tabung tersebut, yang membuat tutup tabung itu merah menyala, tentu saja mengirimkan panas yang amat sangat ke hulu ledak torpedo.

Tembakan dari hampir semua tentara di bahagian kiri kapal itu masih membahana sambung bersambung, ketika Kapten di kapal patroli itu menyadari bahaya yang mengancam mereka, yang berasal dari peluru pistol sinar yang menyala di tutup tabung torpedo. “Tinggalkan kap…..”

Perintahnya terlambat sudah. Sebuah ledakan yang amat dahsyat, akibat meledaknya torpedo di bahagian kiri kapal itu, tidak hanya menelan suara si Kapten, tapi sekaligus menelan kapal berikut nyawa semua awaknya. Bersamaan dengan suara ledakan yang menggelegar, hampir semua bahagian kapal berikut dua puluh lima tentara di atasnya hancur berkeping.

Bahkan kapal yang tadi dibawa Si Bungsu, yang ditambatkan di belakang, tak luput dari terkaman ledakan torpedo yang dahsyat itu. Kepingannya disemburkan ke udara belasan meter bersama nyala api yang amat marak. Kemudian satu persatu kepingan itu runtuh berderai ke laut yang gelap. Kemudian laut pun ditelan sepi.

Beberapa saat kemudian Si Bungsu muncul ke permukaan air. Yang kelihatan hanya gelap yang mencekam. Beberapa keping kayu dan fiberglass mengapung di sekitar Si Bungsu. Namun kegelapan yang sunyi itu hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu, dari kejauhan dia melihat cahaya lampu sorot bermunculan. Dari kiri, dari kanan dan dari belakangnya. Sayup-sayup dia menangkap suara mesin kapal mendekat.

Dia segera tahu, suara kapal itu adalah suara lima kapal patroli yang ketika masih di kapal tadi dia lihat di monitor radar. “Mudah-mudahan saya bisa menumpang dengan salah satu di antaranya…” bisik hati Si Bungsu. Dia memperhatikan salah satu kapal yang agak dekat, lalu sebelum cahaya lampu sorot sampai ke tempatnya mengapung dia pun menyelam perlahan beberapa meter. Sambil menyelam dia mengambil tali gulungan nilon sebesar kelingking, yang tersedia di pakaian renang yang dia pakai.

Pada ujung tali nilon itu ada cangkok seperti mata kail, yang terbuat dari bahan aluminium dilapis plastik. Panjang keseluruhan tali itu sekitar lima belas meter. Kini dia harus mengarahkan pikiran bagaimana agar dia bisa ‘menompang’ di salah satu dari ke lima kapal tersebut.

Dia tak mungkin mengaitkan kait tali nilon ke bahagian belakang salah satu kapal patroli itu, untuk kemudian bergelantungan dalam laut mengikuti kapal yang berlari kencang. Awak kapal tentu akan ronda hilir mudik di kapal itu. Dan dengan mudah cangkokan tali nilonnya akan ditemukan.

Dia harus cepat bertindak. Jika terlambat, kapal-kapal itu akan berangkat meninggalkan lokasi ini. Jika itu yang terjadi, maka dia akan mati sendiri. Bila persediaan oksigen di tabung gas yang terletak di punggungnya habis, dia tentu takkan bisa lagi menyelam. Jika tak bisa menyelam, maka jika dia masih hidup, lambat atau cepat, salah satu kapal patroli Vietnam pasti akan menemukannya. Jikapun tak ditemukan kapal patroli Vietnam, maka kematian tetap akan menjemput lewat rasa lapar dan haus yang sangat di tengah laut tak bertepi ini, atau dimangsa ikan hiu yang terkenal ganas itu.

Dengan fikiran tak ingin mati konyol itu dia lalu kembali mengapungkan diri di bawah kepingan kapal patroli yang hancur itu. Memperhatikan cahaya sorot lampu berseliweran. Ketika daerah di atasnya menjadi gelap, dengan cepat dia memperhatikan sekitarnya. Kemudian menyelam lagi dengan cepat pula ketika sorot lampu menyambar ke arah tempatnya berada.

“Kau lihat sesuatu di dekat kepingan kayu itu?” ujar nakhoda di salah satu kapal patroli, yang merasa cahaya lampu sorotnya sebentar ini seolah-olah menangkap suatu bayangan. “Tidak….” jawab tentara di samping si Komandan. “Arahkan lagi sorot lampu ke sana…”

Lampu lalu disorotkan kearah kepingan papan yang di maksud si Komandan. Tak ada apapun, kecuali gelombang bergulung akibat ombak besar. Padahal yang dilihat si Komandan tadi memang kepala si Bungsu. Untungnya sorot lampu cepat berpindah, dan saat itu kepalanya tinggal sebahagian kecil yang diatas permukaan air. Sebab saat itu dia memang tengah berusaha menyelam dengan cepat.

Si Bungsu justru menuju ke kapal si Kapten yang seolah-olah melihat ‘sesuatu’ itu. Dia langsung menuju kebawah perut kapal. Berusaha mencari sesuatu di sana, untuk menambatkan tali nilonnya, agar dia bisa ikut bergelantungan disaat kapal itu bertolak.

Tempat gantungan yang dia cari itu akhirnya ditemukannya di bahagian depan kapal. Di bawah lunas, sekitar dua puluh sentimeter dari permukaan air, ada sebuah gelang-gelang besi besar, yang biasanya di pergunakan bila kapal naik dok. Agar mudah memperbaiki bahagian perut kapal, cangkok besi dari penderek di kaitkan ke gelang-gelang itu bahagian depan kapal.

Lalu kapal itu di gerek, sehingga bahagian haluannya naik dalam ukuran yang di perlukan, dengan mudah tukang bisa bekerja memperbaiki bahagian perut kapal yang bocor atau keropos. Kesanalah Si Bungsu mengikatkan tali nilonnya, untuk tempat dia bergantung. Tubuhnya sendiri menelentang rapat ke perut kapal.

Saat kapal berlayar dengan kecepatan tinggi, tubuhnya tidak begitu mendapat tekanan arus air. Dengan cara begitulah dia ‘menompang’ pada kapal tersebut menuju pantai Vietnam, yang jaraknya masih puluhan mil dari tempatnya berada.

Dia berharap isi tabung gas di punggungnya masih tersedia dalam jumlah yang cukup, menjelang kapal patroli ini sampai ke pelabuhan. Jika kapal itu berputar-putar dulu di laut, merondai wilayah Laut Cina Selatan yang luas itu, habislah dia.

Gugusan kapal patroli Vietnam yang lima buah itu pun akhirnya meninggalkan perairan tersebut, setelah tak satupun awak dari kapal yang meledak itu bisa mereka selamatkan. Di perut kapal, di dalam air, Si Bungsu melihat jam tangannya. Hari sudah menunjukan pukul 05.00 subuh. Dia berharap kapal itu menuju pelabuhan.

Namun ketika dia melihat ke jam di tangan kirinya itu, dia teringat pada Ami Florence. Jam yang di pakai ini adalah pemberian gadis itu, beberapa saat sebelum keberangkatan mereka dengan Boat karet malam tadi. Ami yang memasangkan jam itu ke tangannya, sembari memberi penjelasan bahwa jam itu memiliki beberapa fungsi, selain sebagai petunjuk waktu.

Pada jam itu ada kompas, ada pisau kecil yang amat tajam yang bila sebuah tombol kecil ditekan akan keluar seperti sayap di bahagian sisi tengah jam. Kemudian ada kawat baja halus bergulung sepanjang satu meter. Lalu ada pemancar super mini.

“Bila suatu saat engkau menghadapi masalah, tombol kecil ini merupakan kunci untuk mempergunakan semua fasilitas yang ada pada jam khusus ini. Bila tombol ini di tekan sekali, yang keluar ada pisau kecil, di tekan dua kali akan keluar kawat baja. Jika suatu saat engkau tersesat, mungkin di laut, di hutan atau di gurun, maka untuk memfungsikan Kompas maka tekan tiga kali. Engkau akan tahu mana Barat, timur, selatan, utara. Jika engkau menekan empat kali sinyal akan dikirim ke pusat-pusat radar tentara Amerika, yang menunjukan di mana posisimu. Dan bila engkau menekan tombol yang satu lagi ini dengan sistem morse, maka engkau bisa mengirim berita singkat yang kau perlukan ke pusat radar pasukan Amerika...” papar Ami malam tadi.

Si Bungsu menarik nafas. Dia menekan tombol kecil merah di bahagian kiri jam itu tiga kali. Plat jam itu berubah menjadi hitam. Kemudian ada empat titik berwarna putih menyala, dengan pangkal huruf-huruf yang menunjukan utara (N) barat (W) selatan (S) dan Timur (E). Kemudian ada sebuah panah kecil. Dari arah yang di tunjuk panah kecil itu, dia segera tahu, kapal ini sedang menuju arah barat. “Alhamdulillah, mereka menuju ke pantai…” bisik hati Si Bungsu, sambil menekan tombol itu sekali agak lama. Plat jam tangan itu kembali normal, menampilkan jam tangan biasa. Namun beberapa saat kemudian, dia segera teringat kembali pada tombol jam di tangannya itu. sehingga Ami mengetahui bahwa dia masih hidup?.

Untuk apa dia beritahu? Setelah lama bergulat dengan pikirannya, dia mengalah. Betapun dia tahu, Ami pasti tengah merisaukannya, entah hidup atau mati, dengan berpikiran demikian dia menekan tombol di sisi jam itu empat kali.

“Lihat, ada isyarat dari salah satu kapal patroli Vietnam itu…!” seru perwira navigasi di USS Alamo, yang masih mengamati gerak kapal-kapal Vietnam itu. Kendati mereka sudah amat jauh dari posisi di mana tadi mereka menaikkan Le Duan dan Ami Florence.

Kapal itu tengah berlayar menuju Pulau Busu-Angsa, pulau terbesar dari gugusan kepulauan Kalamian, Filipina. Kepulauan itu persis terletak di atas pulau Palawan dan di bawah pulau Mindoro, keduanya pulau- pulau dalam wilayah Filipina. Semua yang masih hadir di ruang komando kapal perang besar itu segera mengerubungi layar radar. Dan paling merasa tegang adalah Ami Florence.

“Bungsu! Itu isyarat dari tangan Si Bungsu….” ujar gadis itu, yang segera saja tak mampu membendung air mata haru dan bahagianya, mengetahui bahwa pemuda Indonesia itu masih hidup. “Dia mengirimkan isyarat…..” ujar perwira navigasi, tatkala melihat titik di layar radar itu berkedip-kedip.

Semua membelalakkan mata ke titik kecil di layar radar, yang secara pasti nampak bergerak kearah barat. Perwira Navigasi mengeja isyarat morse yang di pancarkan dari jam tangan Si Bungsu. “Saya,.. selamat. Di bawah perut kapal…. Le, ingat pesanku… Jaga Ami baik-baik. Saya akan membunuhmu kalau kau tidak menjaganya. Hormat saya untuk Laksamana dan awak kapal USS Alamo…”

Semua awak kapal bertepuk tangan dan menyalami komandan mereka. Sementara Ami memeluk Abangnya, menangis terisak-isak saking bahagia mendengar pesan untuk dirinya itu. “Dia bukan manusia. Kalau bukan malaikat ya hantu. Hanya itu yang bisa selamat dari bahaya seperti yang dia hadapi sekarang ini…” gerutu nakhoda Alamo dalam nada amat takjub.

Ucapan itu di sambut tawa awak kapal yang tetap saja membelalakkan mata menatap titik kecil di layar radar, yang masih saja bergerak kearah barat itu. Mereka memang tidak bisa membalas pesan itu, karena jam tangan Si Bungsu tak di lengkapi terminal penerima.

Beberapa saat setelah sinyalnya di baca oleh awak USS Alamo, Si Bungsu mengirimkan sinyal penutup. “Saya akan mematikan sinyal ini. Salam…” Dan di layar radar yang kelihatan hanya tinggal titik yang berasal dari kapal patroli Vietnam itu. Sementara titik yang berasal dari sinyal jam tangan itu lenyap dari layar radar.

“Ayo, kita istirahat…” ujar Le Duan kepada Ami. “Ya, saya rasa kalian harus istirahat, nanti sesampai di Philipina, akan kita atur perjalanan kalian selanjutnya….” ujar Nakhoda USS Alamo kepada dua adik beradik itu.

Desa kecil berpenduduk sekitar dua ratus orang itu tak tercatat Dalam peta. Desa itu terletak jauh di pinggir wilayah Khe Sanh. Berada di salah satu wilayah Vietnam selatan yang memiliki belantara dahsyat. Perang Vietnam Selatan di bantu Amerika melawan Vietnam Utara telah merubah setiap jengkal bumi Vietnam Selatan menjadi kancah peperangan paling dahsyat di dunia. Beberapa wilayah diantaranya merupakan tempat yang menjadi Neraka pertempuran paling dahsyat, yang pernah di kenal umat manusia.

Yang paling terkenal diantara wilayah-wilayah yang menjadi Neraka pertempuran itu yang menyebabkan ribuan tentara Amerika, Vietsel dan Vietkong tercabut nyawanya adalah bukit yang di beri kode Bukit 937. Namun seusai pertempuran dahsyat pada bulan mei 1969, bukit itu di kenal dunia sebagai ’Hamburger Hill‘, bukit Daging Cincang.

Pada mei 1994, di bukit yang direbut Vietkong ini, tatkala Amerika menerjunkan pasukan Divisi Udara ke 101 untuk merebut kembali tempat strategis tersebut, terjadi kecamuk perang selama 11 hari 11 malam. Kedua belah pihak hanya beristirahat saat mengisi mesiu di bedil mereka yang sudah ditembakkan.

Dalam kecamuk yang dahsyat itu, dan perang ini merupakan perang terbesar paling akhir bagi tentara Amerika di Vietnam. Sebanyak 44 tentara Amerika tewas, 29 orang lainnya luka-luka. Tidak ada dokumen yang mencatat berapa tentara Vietkong yang mati dan luka-luka. Namun paling tidak lima atau enam kali lebih banyak dari yang diderita Amerika.

Neraka lainnya dalam perang Vietnam adalah medan tempur Dak To di bahagian utara Vietnam Selatan. Pertempuran disana terjadi sebelum pembantaian hamburger hill, yaitu bulan november 1967. Pasukan Vietkong menyerbu untuk merebut beberapa daerah yang diduduki pasukan istimewa Amerika. Jika berhasil di rebut, jalan ini akan digunakan sebagai jalur ofensif vietkong ke seluruh wilayah selatan.

Pasukan istimewa Amerika, yang kewalahan oleh tekanan serangan belasan ribu tentara Vietkong, mendapat bantuan dari Divisi IV dan Brigade ke 173. Ketika akhirnya Amerika berhasil mematahkan serangan itu, sekaligus mengakhiri Neraka yang mengerikan tersebut, Vietkong meninggalkan 1.639 mayat tentaranya, sementara tentara Amerika tercatat 289 orang.

Neraka yang lain adalah Cen Thien. Sebelum menusuk Dak To pada November 1967 artileri Vietkong membombardir Cen Thien. Wilayah ini di kuasai marinir Amerika, dengan gempuran yang dahsyat setiap hari selama september dan Oktober tahun yang sama. Puluhan ribu roket di muntahkan untuk memporak- porandakan pertahanan Amerika.

Tujuan Vietkong merebut CenThien adalah untuk mengancam posisi Amerika di sebelah timur, sepanjang pantai Vietnam Selatan. Ketika bombar-demen selesai, kendati Cen Thien dapat di pertahankan, namun Amerika kehilangan 196 marinir yang tewas dan 1971 lainnya luka-luka.

Vietkong jelas tak kehilangan pasukan, sebab itu memang bukan perang frontal di mana pasukan berhadapan dengan pasukan, individu melawan individu. Tapi Vietkong mengirimkan ’tentara’ berbentuk roket dari jarak puluhan kilo meter.

Neraka lainnya adalah Lembah La Drang. Lembah yang terletak di dataran tinggi tengah ini berbatasan dengan Kamboja. Wilayah ini yang menjadi basis pasukan Vietnam Selatan dari kesatuan Pleimei Special Forces, digempur habis-habisan itu, Amerika menerjunkan Divisi Kavaleri Udara I, yang baru sebulan tiba di Vietnam.

Sebenarnya divisi yang Mayoritas beranggota generasi muda Amerika ini, belum berpengalaman menghadapi Perang Vietnam yang ganas. Tapi komando Amerika ingin mencoba pasukan yang punya mobilitas tinggi itu. Tentara Vietkong memang dapat di halau ke perbatasan Kamboja. Korban Neraka ini adalah tewas

1.500 Vietkong dan 217 tentara Amerika. Amerika masih mencatat 232 korban luka-luka.

Terakhir adalah Neraka Khe Sanh. Korban disini sebenarnya lebih besar dari hamburger hill yang terkenal keseluruh dunia itu. Gempuran sporadis Vietkong terhadap Khe Sanh yang dikuasai Vietsel dan Amerika, sebenarnya sudah di lakukan mulai tahun1966 dengan menghujani wilayah itu dengan roket artileri. Pada Tahun 1968, tiba-tiba Vietkong melipat gandakan serangannya. Tak kurang dari 77 hari hujan mortir dan roket artileri merancah setiap jengkal wilayah Khe Sanh, yang di pertahankan marinir Amerika. Inilah gempuran arteleri Vietkong yang dicatat paling dahsyat dalam pertempuran Amerika-Vietnam Utara.

Akhirnya tentara Amerika tidak hanya berhasil mempertahankan Khe sanh. Dengan bantuan angkatan udaranya sekaligus mereka juga berhasil menyerang balik. Namun demikian, inilah pertempuran paling berdarah begi kedua belah pihak. Jika di Hamburger Hill tentara Amerika yang tewas ‘hanya’ 44 orang, di Khe Sanh ini mereka harus kehilangan 300 tentara. Sementara Vietkong kehilangan 1.500 tentara. Bayangkan dahsyatnya.

Kini setelah Vietnam di kuasai Utara. Khe Sanh ternyata tidak hanya meninggalkan bekas gempuran yang dahsyat. Bagi Vietnam Utara wilayah itu konon di jadikan tempat rahasia, untuk menyembunyikan sebahagian tentara Amerika yang di nyatakan hilang dalam pertempuran.

Pagi itu, sebuah mobil terseok-seok memasuki sebuah desa kecil yang jauh di luar kota Khe Sanh, yang masih diselimuti kabut yang merayap dari belantara gelap di sekitarnya. Ketika truk itu berhenti, asap putih tebal mengepul dari radiatornya, kemudian menyemburat keluar melalui kap depan diiringi suara mendesis yang keras. Sopirnya, seorang lelaki separoh baya berjambang kasar, menghambur turun. Dari mulutnya menyembur sumpah serapah.

“Hei turun semua, ini ujung perjalanan kalian..!” hardiknya kearah bak belakang. Dari bak belakang truk reot itu kemudian turun empat lelaki dan dua perempuan. Di sebelah barat kampung tersebut menjulang bukit- bukit batu terjal, namun berhutan lebat. Bahagian lainnya, utara, selatan dan timur di kepung oleh belantara perawan. Khusus bahagian utara, belantaranya dilengkapi dengan rawa yang seolah-olah tak bertepi.

Berbagai reptil berbahaya seperti ular, kalajengking dan buaya siap membunuh apa saja makhluk bernyawa yang masuk ke rawa tersebut. Belum lagi pasir apung yang bentuk dan letaknya sulit di deteksi, namun apapun yang terperosok kepermukaannya akan di lulur dan lenyap tak berbekas.

“Kita sampai di desa itu….” bisik seorang lelaki pada temannya yang lebih muda, yang sama-sama turun dari truk dengannya. Dia berbicara dalam bahasa inggris. Kedua orang itu memakai caping, topi lebar dari bambu tipis berwarna hitam, yang bahagian depannya menutupi wajah. Caping seperti itu merupakan topi yang lazim di pakai oleh semua petani Vietnam. Dengan memakai caping yang menutupi wajah itu, sulit bagi orang lain mengenali pemakainya. “Kita menginap dimana?” bisik yang lebih muda, yang tak lain dari si Bungsu, juga dalam bahasa inggris. “Ada rumah saudara ku, ayo kita kesana…” ujar yang pertama bicara, sambil mengangkat bungkusan kain miliknya yang terletak di truk, kemudian menyandangnya di bahu.

Si Bungsu juga mengangkat buntalan kain kecil miliknya. Dia sudah diingatkan, untuk membawa peralatan seperti pakaian atau benda-benda pribadi lainnya dengan buntalan kain, sebagai mana lazimnya petani Vietnam. Membawa ransel, apalagi buatan Amerika, betapapun banyak ransel itu di pasar loak, tetap saja akan menarik perhatian orang. Khususnya mata-mata, yang berseliweran hampir setiap penjuru kota dan desa.

Desa kecil itu terletak memanjang di pinggir jalan. Dan desa ini adalah tujuan terakhir dari jalan yang membelah hutan belantara dan perbukitan, yang jaraknya dari kota Bien Hoa sekitar 150 kilometer.

Ini ujung perjalanan. Mobil datang kemari paling-paling sekali sebulan. Umumnya kendaraan yang datang hanya truk militer. Sesekali diselingi truk reot seperti yang baru datang ini. Truk-truk yang datang setelah menginap sehari dua hari, kembali ke Bien Hoa.

Di tempat truk ini berhentilah semua truk-truk itu memutar haluan kembali kota Bien Hoa, kota yang terdekat dari desa ini. Bien Hoa terletak 100 kilometer dari Saigon, dulu ibukota Vietnam selatan yang sejak dikuasai Vietkon sudah di ganti menjadi Ho Chi Minh.

Jarak 150 kilometer antara Bin Hoa kedesa ini harus mereka tempuh dalam perjalanan yang memakan waktu dua setengah hari, di jalan yang na’uzubillah buruknya. Tak ada pemeriksaan apapun, bahkan tak terlihat seorang pun tentara Vietkong berkeliaran di desa itu. Ini tentu berbeda dengan desa-desa lainnya di Vietnam yang di penuhi tentara.

Namun Si Bungsu sudah mendapat penjelasan panjang lebar tentang desa ini dari informan yang kini menemaninya, yang harus dia bayar cukup tinggi. Desa ini, menurut Han Doi, informan yang kini menjadi penunjuk jalannya. Memang tidak dijaga tentara. Dari segi militer, seolah-olah desa ini amat tak berguna sama sekali. Tak masuk hitungan. Tetapi, sesungguhnya itu adalah semata-mata kamuflase.

Tentara tetap berkeliaran, hanya saja mereka memakai pakaian dinas. Kamusflase itu diperlengkap dengan tak adanya pemeriksaan terhadap siapa saja yang datang kedesa ini. Padahal, setiap apapun yang bergerak didesa ini, takkan pernah luput dari pengamatan mata-mata tentara, bahkan tentara reguler, yang hadir di desa itu dalam pakaian sebagaimana jamaknya penduduk desa.

“Jika masuk kesana, apalagi untuk membebaskan tawanan perang asal Amerika, sama artinya dengan memasuki kandang singa. Untuk keluar kita tak mungkin mempergunakan jalan umum. Satu-satunya jalan pintas, yang bisa mencapai wilayah pantai adalah menerobos rawa yang harus kita terobos…” papar Han Doi sebelum mereka meninggalkan Bien Hoa.

“Saya rasa lebih ganas tentara Vietkong. Sebaiknya kita menerobos rawa saja. Berapa hari di perkirakan kita bisa menerobos rawa itu?” tanya Si Bungsu. “Saya tak menerobosnya. Tapi jarak yang harus kita tempuh takkan kurang dari 50 kilometer..” jawab Han Doi. “Tak ada sungai?” “Saya tak tahu, mungkin ada…” “Sedalam apa rawa itu?” “Pada bahagian tertentu, kapal bisa berlayar disana, saking dalam dan luasnya. Namun kapal tentu tak bisa bergerak, karena rawa luas dan dalam itu menyatu dengan belantara perawan. Pada bahagian tertentu, rawa itu merupakan bentangan belukar yang amat luas, pada sebahagian lagi kayu-kayu tumbuh sebesar pelukan lelaki dewasa…” “Saya rasa, rawa itu jalan yang harus kita tempuh….” ujar Si Bungsu dengan nada pasti.

Kini mereka sampai di depan sebuah rumah. Rumah-rumah di desa itu menggambarkan kondisi kehidupan warganya. Terbuat dari papan dan bertiang cukup tinggi, hampir semua rumah beratap daun. Dibahagian bawah dua tiga rumah berkeliaran ternak seperti ayam, babi atau kambing dan kerbau. Si Bungsu tahu berapa pasang menatap langkah mereka.

Baik dari balik celah dinding rumah maupun dari balik jendela yang dari luar kelihatan sepi sekali. Dari depan tangga, Hand Doi memanggil sebuah nama. Mereka menanti. Han Doi kembali memanggil dengan suara tak begitu keras. Tak lama kemudian, pintu rumah itu berderit dan terbuka. Sebuah wajah munjul di pintu.

“Paman Duc saya membawakan rokok dan kopi untuk mu…” ujar Han Doi sambil mengangkat buntalan kainnya. Lelaki separoh baya yang di panggil Han Doi paman itu menatap sesaat kepada Si Bungsu. Hanya sesaat, setelah itu dia membukakan pintu lebar-lebar. “Naiklah….” ujarnya dalam nada parau.

Han Doi mendahului menaiki tangga, disusul Si Bungsu. Ketika usai menaiki enam anak tangga dan berada di rumah, Si Bungsu baru dapat melihat bahwa penduduk kampung ini jauh lebih miskin dari gambaran yang diperlihatkan kondisi rumah-rumah mereka.

Rumah itu terbagi dua dengan pembatas papan. Ruang depan merangkap sebagai ruang tamu dan ruang makan. Ruang disebelahnya, yaitu bahagian belakang, adalah ruangan tidur keluarga, yang diujungnya terdapat dapur. Ruang depan dimana kini mereka berada hanya dialas dengan tikar rotan yang sudah compang-camping saking tuanya. Pada dinding yang menjadi pembatas dengan ruang tidur, tersangkut sebuah caping tua dan beberapa potong baju.

“Kenalkan ini temanku. Namanya Bungsu. Dia berbahasa inggris. Bungsu ini pamanku, Duc Thio…” ujar Han Doi sambil meletakkan dan membuka buntalan kainnya. Si Bungsu membuka caping di kepalanya, kemudian mengulurkan tangan. Duc Thio, paman Han Doi, yang tadinya menatap sekilas saat akan membukakan pintu, menyambut uluran tangannya.

“Senang bertemu dengan anda…” ujar lelaki itu, yang kefasihan bahasa inggrisnya membuat Si Bungsu terkejut. Han Doi menyerahkan sebungkus kopi dan tiga slop rokok buatan Amerika, yang diterima pamannya dengan wajah berseri. Dia mencium rokok tersebut sambil memejamkan mata.

“Mana Thi Binh?” tanya Han Doi pada pamannya. Duc Thio menatap ponakannya itu sesaat, wajahnya berubah murung. “Dia sakit…” ujarnya perlahan. “Sakit, dimana?”. Duc Thio melangkah ke ruang sebelah diikuti Han Doi. Dari kamar sebelah Si Bungsu mendengar pembicaraan dua orang itu. “Kenapa dia ?” tanya Han Doi. “Sipilis..” Lama tak terdengar suara.

“Ya Tuhan, badannya panas sekali, kenapa..?” “Dia di paksa melayani nafsu binatang tentara Vietkong di kamp…” Si Bungsu mendengar suara paman Ham Doi bergetar. “Apakah tak ada dokter di kamp itu yang bisa membantunya..?” “Di kamp itu, tak ada obat yang boleh di pergunakan. Kecuali tentara Vietkong. Siapa yang sakit, tawanan Amerika atau pun orang Vietnam Selatan, harus meramu obat sendiri. Jika tak ada obat, silahkan menanti ajal…”

Si Bungsu melangkah perlahan kebatas kamar. Dikamar sebelah itu dia melihat sesosok tubuh terbaring. “Maaf, barangkali saya bisa membantu. Boleh…?” ujarnya perlahan. Kedua orang lelaki di kamar itu menoleh padanya. “Anda seorang dokter..?” tanya Han Doi heran. “Tidak. Tapi, untuk penyakit tertentu mungkin aku bisa membantu. Boleh saya coba?” ujar Si Bungsu.

Dari tempat duduknya Han Doi menatap pamannya. Lelaki itu menatap Si Bungsu kemudian dengan penuh harap dia mengangguk. Si Bungsu mendekat. Melihat seorang gadis amat belia, barangkali baru berusia lima belas tahun. Wajahnya yang pucat pasi dan bibirnya yang berkudis akibat spilis. Tak mampu menyembunyikan wajahnya yang jelita.

“Nampaknya dia sudah empat hari diserang demam panas dan tak bangkit dari pembaringan ini…” ujar Si Bungsu perlahan, setelah memperhatikan wajah gadis itu, tanpa menyentuhnya sedikitpun. “Ya, persis empat hari dengan hari ini…” ujar ayah gadis itu. Setelah ucapannya itu dia segera sadar dan menjadi heran, sembari menatap Si Bungsu dia berfikir, bagaimana orang ini bisa secara persis mengetahui kondisi anaknya, padahal dia bukan dokter?

Han Doi juga tak kurang herannya. Dia menatap pamannya, seperti pamannya, apakah memang sudah empat hari Thi Binh menderita demam dan tak bisa bangkit dari pembaringan. Pamannya, yang faham atas tatapan itu, mengangguk.

“Kita memerlukan air hangat, agak semangkuk…” ujar Si Bungsu. Duc Thio bergegas melangkah kearah tungku di ujung ruangan tersebut. Di sana memang sedang terjarang sebuah periuk berisi air yang sedang mengepulkan asap. Lelaki separuh baya itu mengambil sebuah mangkuk dari kayu. Kemudian mengangkat periuk, lalu menuangkang isinya ke dalam mangkuk tersebut. Mangkuk berisi air panas itu dia bawa kedepan Si Bungsu.

“Ada kain pembersih, sapu tangan misalnya?” tanya Si Bungsu. Duc Thio kembali bergerak kesebuah lemari kayu setinggi satu meter yang terletak di tepi dinding dekat kepala anaknya. Membukanya, mengambil sebuah handuk kecil. Lalu memberikannya pada Si Bungsu.

Si Bungsu menuangkan serbuk berwarna kuning kehijau-hijauan dari bungkusan kecil yang dia keluarkan dari dompetnya itu kesendok. Jumlah yang dia tuangkan hanya sedikit, mungkin secubitan anak- anak. Lalu dua jari, jari tengah dan telunjuk tangan dia tuangkan ke air di mangkuk. Kemudian air yang melekat pada jarinya itu dia teteskan ke bubuk yang disendok. Sekitar empat tetes air air turun membasahi serbuk itu. Bubuk tersebut kemudian larut dalam air yang beberapa tetes di sendok. Perlahan, dengan tangan kanannya dia bukakan mulut gadis itu yang terbaring diserang sipilis. Kemudian air larutan bubuk obatnya di

tuangkan kemulut gadis itu, lalu mulutnya di katupkan lagi.

Si Bungsu kemudian membasahi handuk di tangannya dengan air hangat di dalam mangkuk. Memerasnya perlahan, kemudian melap wajah gadis itu, yang sejak tadi di penuhi keringat dingin. “Jika tuhan mengizinkan, anak bapak akan sembuh dalam seminggu-dua minggu…” ujar Si Bungsu pada Duc Thio. “Terimakasih…” ujar Duc Thio penuh harap, meski amat ragu. Dari Paman Han Doi siang itu Si Bungsu dapat penjelasan lebih jelas dan rinci tentang adanya tawanan Amerika yang tempat penyekapannya amat di rahasiakan Vietkong di sekitar desa kecil ini. Duc Thio bercerita setelah ponakannya menuturkan bahwa Si Bungsu datang kemari untuk membebaskan seorang perawat Amerika, yang tertangkap ketika perang berkecamuk.

Saat Duc Thio bercerita, Han Doi bersandar ke dinding yang ada celahnya. Setiap sebentar dia mengintip lewat celah itu, kalau-kalau ada orang yang mendekat. Dia tak hanya mengintip lewat celah dinding, tetapi tiap sebentar juga mengintip lewat celah lantai. Memastikan bahwa tak ada siapa-siapa yang menyelinap kekolong rumah untuk mendengarkan pembicaraan pamannya dengan Si Bungsu.

“Mereka disekap, dalam goa-goa batu yang berada di bukit yang terjal di sebelah utara sana…” ujar Duc Thio. “Maaf, disana pula Thi Binh dulu disekap?” tanya Si Bungsu mengenai anak gadis Duc Thio. “Tidak di goa itu. Vietkong mendirikan kamp dibawah bukit terjal itu. Anakku, dan beberapa wanita lainnya yang mereka sekap untuk melayani nafsu mereka, juga ditempatkan di balik bukit yang dijaga sekitar sepuluh sampai dua belas tentara…..” ujar Duc Thio sambil berhenti sejenak. Setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan ceritanya.

“Tentara yang ingin memuaskan hasratnya datang bergiliran ke kamp wanita-wanita tersebut. Jadi, Thi Binh maupun wanita-wanita yang lain tak tahu di mana letak kamp tersebut. Hanya orang-orang yang terlatih mendaki yang bisa mencapai goa tempat tentara Amerika itu disekap. Namun selain bahaya di tembaki Vietkong, hampir setiap jengkal bukit itu ditanam ranjau. Yang tahu jalan naiknya, hanya beberapa Komandan pasukan…” “Berapa tentara Vietkong disana…?”

“Tidak ada yang tahu. Mereka datang kesini setahun yang lalu. Pagi harinya penduduk di kumpulkan. Lalu di giring ke lembah sekitar setangah kilometer dari sini. Malam harinya, kami hanya mendengar suara deru truk-truk yang yang datang. Hampir sepanjang malam. Hampir sepanjang malam itulah kami juga tak boleh meninggalkan tempat berkumpul di lembah sana. Subuh-subuh truk-truk itu berangkat, baru siangnya kami dikembalikan ke desa….”

“Penduduk disini bebas pergi kemana saja?” “Yang masuk kesini ya, sedangkan yang keluar tak boleh sama sekali, kecuali untuk ke ladang atau kebun dekat-dekat desa..” “Bagaimana penduduk mencukupi kebutuhannya?” “Sekali dua minggu ada tentara ada Bin Hoa yang membawa keperluan hidup sehari-sehari. Mereka melakukan barter hasil pertanian dan perkebunan. Dengan kebutuhan sehari-hari penduduk, sedangkan alat-alat pertanian mereka bagikan dengan cuma-cuma. Sedang…”

Cerita Duc Thio terputus ketika dari kamar sebelah terdengar erangan halus. Lelaki separoh baya itu segera berdiri. Bergegas kekamar sebelah dimana anak gadisnya terbaring. “Ayah, saya lapar….” rintih gadis itu perlahan. Duc Thio untuk sesaat terpana. Seperti tak percaya anaknya bicara. Sudah empat hari ini anaknya tak sadarkan diri. Kini tiba-tiba anaknya membuka mata dan mengatakan lapar. “Ayah masakkan bubur untukmu, nak….” ujarnya terbata-bata. Airmata lelaki itu berlinang. Menjelang menuju dapur dia membelokkan langkah keruang tengah menatap Si Bungsu.

“Terimakasih…Terimakasih anda telah mengobati anak saya…” ujar lelaki itu sembari membungkukkan badan dalam-dalam beberapa kali. Si Bungsu mengangguk dan tersenyum lembut. Han Doi sendiri berdiri meninggalkan tempat duduknya, berjalan ketempat anak pamannya itu. Melihat gadis itu sudah membuka mata dan menatapnya. Wajah gadis itu, yang tadi pucat pasi, kini sudah berona agak kemerah-merahan.

Duc Thio dengan cepat membesarkan api. Memasukan tepung kedalam panci kecil, kemudian memberi air. Lalu menjerangnya di tungku. Setelah itu dia mengambil pisau, seekor ayam yang sudah di kuliti, dan sudah lama di gantung diatas tungku, dia potong dadanya. Selanjutnya dia sayat-sayat tipis-tipis, lalu dia masukkan ke panci yang terjerang itu.

Kemudian dia memasukkan bawang prai dan daun seledri, garam halus serta merica. Tak lama kemudian bubur itu menggelegak. Duc Thio mengambil sebuah mangkuk, menyalin bubur yang harum itu kedalam mangkuk. Setelah itu dia bergegas kepembaringan anaknya, lalu menyuapi anak gadisnya itu sendok demi sendok.

“Han Doi, masak bubur untuk makan kita siang ini…” ujar Duc Thio sambil tetap menyuapi anaknya. Han Doi segera bangkit, dan mengambil sebuah periuk, memasukkan gandum, memotong-motong ayam, kemudian memasukan rempah, memberi air dan menjerangnya diatas tungku. Dia mengambil lagi beberapa potong kayu di samping tungku itu, dan menyorongkannya ke tungku. Setelah itu dia menutup periuk tersebut dan menoleh pada Si Bungsu yang lagi memandang keluar. Si Bungsu memang tengah menoleh ke luar jendela menatap belantara dan perbukitan batu terjal. Mendengarkan kicau suara burung dan pekik siamang, yang sayup-sayup sampai ketelinganya. Tiba-tiba bayangan Situjuh Ladang Laweh, dikaki Gunung Sago, kampung halamannya nun jauh diseberang laut sana.

Desa ini tak jauh beda dengan desanya dulu. Di Lingkar hutan dan perbukitan serta berudara sejuk. Hanya saja, hutan disini sangatlah perawan. Sementara hutan yang mengelilingi situjuh ladang laweh, sebahagian sudah dijadikan kebun dan ladang. Dia menarik nafas panjang dan berat. Tak ada siapun yang menantinya di kampung. Dia tak lagi punya sanak famili dekat. Semua sudah pupus. Ada yang tewas dalam perang kemerdekaan, ada pula yang terbunuh dalam pergolakan PRRI. Bagaimana bentuk kampungnya itu kini?

Dia teringat masa kecilnya dikampung dulu. Ketika bermain judi dengan orang-orang yang jauh lebih tua darinya. Mereka berjudi dari kampung ke kampung. Tak ada penjudi besar disekitar Gunung Sago sampai ke Payakumbuh yang tak ditantangnya. Dia sering kalah, namun lebih sering pula menang. Jika kalah dan tak punya uang, biasanya dia pergi mencuri kambing, bahkan kerbau dan sapi. Menjualnya ke kampung lain atau ke pasar. Uang nya untuk apalagi kalau bukan berjudi.

“Hei, kau suka durian…” tiba-tiba lamunannya di putus suara Han Doi. Dia menoleh. Ya, sejak masuk kampung tadi pagi dia sudah mencium bau durian. Suara gedebuk di luar, membuatnya kembali menoleh keluar lewat jendela. Tak jauh dari rumah ini, rupanya ada dua batang pohon durian yang berbuah lebat.

Si Bungsu baru ingat, sejak duduk di tempatnya tadi, kalau tidak salah tiga atau empat kali dia mendengar suara gedebak-gedebuk di luar sana. Rupanya itu adalah suara durian jatuh dari pohonnya. Dia melihat, betapa besarnya buah-buah durian yang menggantung di dahan itu. Kemudian dia menoleh lagi pada Han Doi, mengangguk sambil tersenyum.

“Tunggu disini, saya ambilkan kebawah…” ujar Han Doi sambil melangkah ke pintu. Pemuda Vietnam itu turun ke halaman. Tak lama kemudian naik lagi membawa dua buah durian besar. Si Bungsu agak kecewa. Kenapa hanya dua buah? Baginya, kalau hanya dua, tiga buah sebesar itu, hanya sekedar kumur-kumur. “Ayo kita makan. Saya tak begitu suka. Tapi sekedar sebuah jadilah…” ujar Han Doi setelah mengambil parang di dapur, serta mangkuk besar untuk cuci tangan.

Han Doi membuka salah satu durian yang kulitnya berwarna hijau itu. Ketika yang sebuah telah terbelah dua,dia membuka yang sebelah lagi. Isi durian itu seperti warna kunyit. “Ayo makanlah, jika anda memang suka….” ujar Han Doi sambil mencuci tangan dan mengambil setengah ulas isi durian itu. Si Bungsu masih terpana kaget mendengar suara Han Doi. Soalnya, dia tengah terpana melihat isi durian itu. Sebelum mengambil durian itu, dia menekan belahan durian itu, membuka ruangannya semua. Dan apa yang dia lihat makin membuat dia terpana.

Berbeda dengan isi durian di kampungnya, yang setiap ruang biasanya berisi dua, atau tiga biji. Tapi durian di hadapannya ini, setiap ruangnya, hanya berisi satu biji. Memanjang dari ujung ke pangkal. Besar isinya hampir sebesar lengannya. Itulah sebabnya, Han Doi hanya mengambil setengah ulas saja dari isi durian tersebut.

Dia ambil sebuah, panjang seperti lemang. Di makannya sedikit. Alamak, durian ini seperti gelamai. Legit dan nikmat sekali. Dia makan lagi dan lagi. Dan terakhir baru dia temukan biji durian tersebut, tak sampai sebesar kelingking. Habis yang di tangannya dia ambil lagi sebuah, dan sebuah lagi. Lalu dia tersadar. Dia baru memakan tiga setengah ulas. Namun perutnya sudah terasa sesak. Durian yang sebuah itu, yang isinya sudah diambil Han Doi setengah ulas. Dan Si Bungsu tiga setengah ulas. Kini tinggal dua ulas lagi. Sementara durian yang satu lagi, masih ternganga, belum disentuh sedikitpun.

Si Bungsu menjadi kalap. Di raihnya yang seulas lagi. Masak durian dua buah saja tak terhabiskan. Sedangkan di kampungnya dulu, ketika dia masih kecil pula, dua tiga buah durian baru sekedar buat cuci mulut. Lima atau tujuh baru agak puas.

Namun sehabis durian yang satu ulas itu, Si Bungsu benar-benar tak bisa bernapas. Mati den… bisik hatinya dengan bersandar ke dinding. Ini durian gergasi namanya barangkali, pikirnya sambil sendewa dua kali. Di Kampungnya tak pernah dia bersua durian seperti ini. Yang seruangnya hanya berisi satu biji, di semua ruang durian tersebut.

Durian di kampungnya, kalau disebuah ruang ada yang tiga isinya, sudah hebat. Seringkali di sebuah ruangnya berisi sepuluh sampai lima belas isinya. Bijinya besar-besar, isinya setipis kulit ari. Durian Tumbuang namanya. Kalau saja durian Vietnam ini di jual di payakumbuh, pasti mahal sekali harganya.

Dia memejamkan matanya, membayangkan dirinya jadi saudagar durian. Dari Vietnam ini dia bawa durian agak lima kapal. Kapal itu tentu harus ke Pekan baru dulu. Di kota itu dia jual dua kapal, yang tiga kapal itu di bawa truk ke Payakumbuh. Lamunannya terputus oleh pertanyaan Han Doi. “Mana yang lebih enak, durian ini dengan durian di kampungmu?” “Apa..?” “Mana yang lebih enak durian ini dari pada durian di kampungmu..” “Enak durian dikampungku sedikit..” ujarnya sambil memejamkan matanya dan kembali menyandarkan kepalanya ke dinding, lalu menyambung perkataannya tadi dalam hati. Dan durianmu ini enak banyak...

“Ya, saya rasa juga begitu. Soalnya durian yang bagus-bagus itu ada di bukit sana. Durian yang di kampung ini, jarang orang suka memakannya. Itu sebabnya mana yang jatuh dibiarkan begitu saja..” ujar Han Doi. “Kalera...” rutuk hati Si Bungsu tanpa membuka matanya yang terpejam.

Pantas dia makan setengah ulas, rupanya durian ini durian yang kurang sedap dan jarang di makan orang di kampungnya. Yang tak sedap bagi mereka, sudah juling mataku saking keenakannya. Bagaimana pula bentuk durian yang enak bagi mereka itu?

Si Bungsu jadi malu sendiri, bila diingatnya. Bahwa dia melahap semua isi durian yang sebesar lengan itu. Padahal dia mengatakan lebih enak durian di kampungnya dari durian ini. “Tak enak, tapi kok banyak juga Anda makan, ya?” tiba-tiba di sentakan lagi oleh pertanyaan Han Doi.

Matanya terbuka membelalak. Untunglah saat itu Han Doi sedang melangkah kearah tungku, yang menjerang bubur yang telah menggelegak. Harum bubur itu menyebar bersama asap tipis yang keluar dari sela-sela tutup periuk. Bubur itu pasti sangat enak. Baunya saja sudah menunjukan betapa akan sedap rasanya. Tapi aku takkan memakan bubur itu. Kukatakan saja perut ku kenyang makan durian. Nanti dia tanya lagi, mana yang enak bubur itu atau bubur di kampungnya. Lama-lama kutempeleng juga orang ini, Si Bungsu menyumpah- nyumpah dalam hati.

Tapi, kendati mula-mula sudah menolak dengan alasan kenyang, namun begitu melihat Han Doi dengan lahap dan dengan suara berkecipak melahap bubur itu, Si Bungsu akhirnya menyerah. Dengan mengubur rasa malu dalam-dalam, dia mengambil mangkuk yang tadi sudah di letakkan didepannya.

Dia isi mangkuknya itu separoh saja, agar tak kelihat rakus. Lalu dia makan. Wualah.. Mak, sedapnya bukan main. Dia sudah berusaha makan pelan-pelan, agar tak kelihatan congok. Namun dalam beberapa suap, isi mangkuknya licin tandas. “Tambahlah, Habiskan saja isi priuk itu. Malam ini kita akan berjalan jauh bukan?” ujar Han Doi.