Tikam Samurai Si Bungsu Episode 5.1

Episode V (Kelima) 

Si Bungsu tak menjawab. Selama di Indonesia dia memang tak tertarik sedikitpun soal Irian Barat itu. Masalah yang dia hadapi adalah masalah dimana dia berada secara langsung. Yaitu di tengah kecamuk pergolakan PRRI. Dia hanya mendengar soal Irian Barat itu dari siaran-siaran radio. Tapi begitu sampai di negeri orang, entah mengapa, ada saja suatu rasa yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata, betapa rasa solidaritas, rasa bangga terhadap tanah air, dan rasa amarah terhadap orang yang ingin meneruskan penjajahan, tiba-tiba saja meresap demikian dalamnya.

‘’Cukup banyak yang Anda ketahui, Fabian. Saya harap, saya dapat cerita yang cukup banyak pula..’’ ‘’Tentang negerimu, di sini tak ada yang dirahasiakan Bungsu. Semua terbeber tanpa ada yang disembunyikan sedikitpun. Dibeberkan oleh puluhan wartawan Barat dan Timur dalam berbagai bahasa. Namun saya kurang tahu apakah ada pasukan Belanda yang dikirim lewat Singapura atau tidak, itu memang dirahasiakan Belanda. Kini ada satu soal yang ingin saya katakan padamu….’’ Bekas Kapten Baret Hijau itu tak melanjutkan ucapannya. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan. Si Bungsu segera ingat bangunan itu. Hatinya berdegub kencang. Gedung itu adalah gedung Konsulat Indonesia. Dia pernah di sini beberapa tahun yang lalu. Atase Militer di Konsulat adalah sahabatnya, Overste Nurdin. Teman seperjuangannya ketika melawan Belanda di Pekanbaru. Lebih daripada itu, isteri atas militer itu adalah Salma. Gadis yang meninggalkan bekas amat dalam di hatinya. ‘’Ingat gedung ini?’’ tanya Fabian. ‘’Apakah mereka masih di sini?’’ Si Bungsu balik bertanya. Perlahan Fabian menjalankan mobilnya kembali. ‘’Tidak. Mereka telah pindah. Mereka kini di India. Overste Nurdin menjabat sebagai Atase Militer di New Delhi. ‘’Sudah lama mereka pindah?’’ ‘’Setahun yang lalu’’ ‘’Anda hadir di sini ketika dia pindah?’’ ‘’Sahabatmu adalah juga sahabat saya, Bungsu. Demikian juga mereka memperlakukan kami. Kami mereka anggap penggantimu.

Kami mereka undang dalam tiap acara resepsi yang diadakan Konsulat. Demikian pula ketika overste itu dipindahkan. Pada acara perpisahan dengannya, kami juga diundang..’’

Si Bungsu menarik nafas, membayangkan masa lalunya ketika di Bukitinggi. Mobil yang mereka kendarai meluncur terus di jalan-jalan kota Singapura yang kelihatan bersih dan teratur. Di suatu tempat, di daerah Petaling Jaya, mobil itu membelok ke sebuah pekarangan yang amat luas dan berpagar tinggi. Jauh di tengah pekarangan itu tegak sebuah rumah model Tahun 1800 yang antik.

Padang rumput pekarangan luas itu berwarna hijau bersih. Dan di tengah lapangan hijau itu, rumah antik tahun 1800 itu seperti muncul tiba-tiba. Berwarna putih kemerlap dengan lampu-lampu kristal. Putih bersih di tengah permadani hijau. Benar-benar pemandangan yang mempesona. Di depannya ada taman dengan pohon-pohon bonsai dan bambu cina.

‘’Ini rumahku. Di sini aku dan ibuku tinggal, Bungsu..’’ Fabian berkata sambil menghentikan mobilnya. Seekor anjing jenis pudel yang lucu berlari menyongsong. ‘’Ini bukan rumah, Fabian. Ini istana..’’ kata Si Bungsu tak habis-habisnya mengagumi rumah bertaman yang ditata dengan selera aristokrat itu. ‘’Mari kita menemui Ibu..’’

Si Bungsu melangkah menaiki tangga bersusun empat panjang-panjang. Nyaris sepanjang bahagian depan rumah tersebut. Dan di pintu, berdiri ibu Fabian. Perempuan tua itu kelihatan anggun dan berwajah ramah. Fabian mengenalkan Si Bungsu pada ibunya. Tak berapa lama mereka berada di rumah, sebuah mobil sedan lain muncul dan berhenti di halaman. Dari dalamnya keluar Tongky, Negro yang ahli menyamar itu. Mereka berkumpul di ruang samping. ‘’Siapa turis-turis itu sebenarnya?’’

Kapten Fabian memulai pembicaraan. Tongky tak segera menjawab. Dia menghirup jus dingin yang dia ambil dari lemari es. ‘’Ada enam puluh turis dari Belanda, Jerman dan Scotlandia. Sepuluh di antaranya perempuan. Tapi dari limapuluh lelaki yang mengaku turis itu, saya rasa empat puluh diantaranya adalah tentara reguler. Saya tak yakin mereka orang Scot, Jerman atau bangsa manapun, mereka itu orang Belanda. Saya berani bertaruh. Dan saya berhasil mendapatkan ini dari salah satu kantong mereka’’ Tongky memberikan sehelai kertas kepada Kapten Fabian. Kertas itu dikembangkan di atas meja. Si Bungsu melihat kertas itu tak lain daripada sebuah peta. Peta Singapura.

‘’Saya juga memiliki peta itu..’’ ujar Si Bungsu. Dia mengambil dari kantongnya sebuah peta yang nyaris sama. Peta itu adalah brosur pariwisata yang dapat diambil gratis di Airport Payalebar. ‘’Ini hanya peta pariwisata yang dibagikan gratis..’’ katanya. Peta itu memang mirip sekali. Di sana ditunjukan beberapa tempat wisata. Beberapa pulau dan teluk. Pelabuhan dan terminal taksi. Bank dan lapangan udara.

‘’Tidak, Bungsu. Ini memang mirip dengan milikmu. Tapi ini ada bedanya. Ini..’’ Fabian lalu menunjuk ke sebuah teluk di selatan Singapura. Tak begitu kentara, namun jelas ditandai dengan pinsil. Tanda yang tak begitu menyolok. Kemudian Fabian juga menunjuk beberapa titik di pelabuhan Singapura. Tanda beberapa kapal yang berlabuh. ‘’Ini adalah kapal-kapal dagang. Tapi ada bedanya. Di teluk ini, dengan tanda pensil bergambar garis bengkok ini, adalah semacam kode dalam kemiliteran, bahwa di sini ada kapal selam. Dan ini… kapal-kapal dagang yang ditandai ini, diantara puluhan kapal dagang di pelabuhan, ada lima kapal perang yang disulap seperti kapal dagang. Meriam-meriam dikamuflase sedemikian rupa, sehingga sepintas nampaknya seperti tumpukan peti barang..’’ papar Fabian.

Si Bungsu tak bisa bicara saking kagetnya. ‘’Mereka akan menyerang Indonesia..’’ akhirnya dia berkata. ‘’Barangkali tidak. Tetapi mereka akan membalas jika presidenmu yang condong ke komunis itu memerintahkan menyerang Irian Barat..’’ Si Bungsu menatap Fabian dan Tongky bergantian. ‘’Kalian mengetahui rahasia ini sejak lama?’’ ‘’Tidak. Saya juga baru mengetahuinya.

“Tidak, saya mengetahuinya sejak melihat peta ini. Harus saya akui Bungsu, bahwa saya mencium gerakan tentara Belanda secara diam-diam ingin menyelusup ke berbagai wilayah yang berbatasan dengan negri mu. Betapun juga di Irian barat masih terdapat ribuan orang belanda. Yang sewaktu-waktu harus mereka selamatkan nyawanya. Dan maaf diantara kita tak ada rahasia Bungsu. Saya orang inggris dan saya cenderung sependapat dengan politik pemerintah negeri saya, bahwa negerimu cenderung ke Komunis. Banyak peralatan perang yang didatangkan Soviet ke negerimu. Mulai dari karaben, pesawat jet, sampai ke kapal-kapal perang dan kapal selam. Di Asia Tenggara, negerimu lah yang terkuat dewasa ini…”sepi sesaat.

Si Bungsu menatap peta yang ditandai itu. Di mana terhadap kapal selam dan kapal-kapal perang yang di kamuflase sebagai kapal dagang. Apakah pihak konsulat RI di Singapura mencium juga hal ini? Artinya, apakah pihak Indonesia telah mengetahui bahwa Singapura secara sah atau tidak sah, kini telah dijadi kan semacam pangkalan perang asing untuk menyerang Indonesia.? Pertanyaan itu tetap di simpan dalam hati sampai esoknya. Mereka bertiga mengunjungi berbagai tempat di Singapura. Fabian membawanya kepelabuhan. Disana kelihatan puluhan kapal ditengah laut sedang buang jangkar.

“Beberapa buah di antaranya adalah kapal perang,Bungsu…”bisik Fabian. Si Bungsu mencoba meneliti. Tapi kapal-kapal itu berlabuh jauh di tengah teluk. Kalaupun ada yang berlabuh dekat, dia pasti takkan mengenal kapal yang di kamuflase tersebut. Dia tak paham tentang kapal-kapal perang. Ketika mereka berada dalam sebuah kedai kopi, Fabian yang tengah membawa sebuah majalah berseru pelan.

“Hei, perang telah mulai di negerimu, Bungsu. Perang di laut Aru. Seorang komodor Indonesia meninggal, baca ini….!” Fabian memberikan majalah terbitan inggris,The economist., yang tengah dia baca kepada Si Bungsu. Si Bungsu mengambilnya dan membaca dihalaman pertama tentang peperangan itu. Majalah terkemuka Inggris itu tidak menunjukan sikap berpihaknya dalam pemberitaan yang disiarkannya. Koran itu hanya mengutip beberapa keterangan tentang Perang Laut Aru itu.

Selain mengutip keterangan ALRI. Koran itu juga mengutip keterangan Mayjen Ahmad Yani selaku Panglima Operasi pembebasan Irian Barat. Juga mengutip keterangan pihak Belanda dan keterangan yang disiarkan radio Australia. The Economist memberitakan bahwa pertempuran antara kapal perang Indonesia dan kapal perang Belanda itu terjadi pada 15 Januari 1962 jam 21.00 waktu setempat. Artinya baru dua hari hal itu terjadi tatkala Si Bungsu membaca peristiwanya di Singapura.

Keterangan pihak ALRI adalah sebagai berikut, ”Kesatuan ALRI sedang mengadakan patroli di perairan Indonesia, di sekitar kepulauan pulau Aru ketika tiba-tiba di serang oleh kesatuan Angkatan laut Belanda dan juga dengan pesawat udara, Kesatuan ALRI yang di pimpin oleh Komodor Yos Sudarso terdiri dari beberapa kapal cepat Torpedo MTB-2 dalam serangan tersebut, satuan ALRI memberikan perlawanan yang gigih untuk mempertahankan diri. Pertempuran berlangsung selama satu jam..” Pengumuman ALRI itu tidak menyebutkan kerugian, baik di pihak lawan atau pun di pihak ALRI. Namun the economoist lebih lanjut menyiarkan pula keterangan Jendral A.Yani, selaku Panglima Operasi pembebasan Irian barat sebagai berikut : “Tidak benar Indonesia mencoba melakukan Invasi sebagaimana di tuduhkan Belanda. Tidak benar Indonesia bermaksud melakukan pendaratan di Irian, sebab tipe kapal yang dipakai adalah MTB-2 bukan imbangan kapal-kapal Belanda yang dikerahkan itu. Andaikata ALRI ingin menyerang, tentu kekuatan yang dikerahkan paling tidak mesti seimbang dengan kekuatan Belanda. Sebuah kapal cepat torpedo MTB-2 tenggelam dalam serangan itu…”

Pihak Belanda yang di kutip oleh the economist menyiarkan sebagai berikut : ”Komando Angkatan laut Belanda di Irian barat mengeluarkan sebuah pengumuman resmi tentang pertempuaran di laut Aru yang di siarkan di Den Haag hari senin malam, bahwa kapal-kapal perang Indonesia yang dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke Irian Barat telah melepaskan tembakan ke kapal-kapal Belanda. Dalam pertempuran yang kemudian terjadi, sebuah kapal torpedo cepat Indonesia terbakar dan kapal-kapal Belanda berhasil menangkap awak kapalnya yang mencoba menyelamatkan diri dalam sebuah sekoci karet. Jumlah prajurit Indonesia yang tertawan tersebut lebih besar jumlahnya dari awak yang di perlukan oleh sebuah kapal torpedo seperti yang tenggelam itu. Jumlah awak kapal MTB-2 yang normal adalah 20 sampai 30 orang. Tapi MTB-2 Indonesia itu mengangkut 70 sampai 90 orang. Hal ini menunjukan pihak Indonesia sedang berusaha melakukan pendaratan di pantai Irian barat…”

Di kutip pula oleh The Economist, siaran radio Australia, bahwa Belanda menawan 50 prajurit Indonesia dalam pertempuran di Laut Aru. Siapakah yang melepaskan tembakan? Belanda atau Indonesia? Kantor berita ’AFP’ mewartakan pula dari Holandia. ”Kapal-kapal Belanda mulai menembak ke suatu formasi kapal-kapal perusak Indonesia di perairan teritorial Belanda yang sedang bergerak ke arah pantai selatan Irian Barat…”

Kemudian kantor Berita ’DPA’ lebih lanjut menyiarkan bahwa di antara tawanan perang yang berada di tangan Belanda dalam peristiwa di Laut Aru itu, terdapat beberapa jenazah. Satu diantara jenazah itu adalah jenazah Deputy KSAL Yos Sudarso dan nakhoda RI Macan Tutul Wiratno. Mereka di makam kan di Kaimana, di bumi Irian Barat. Berita DPA itu mengutip siaran resmi departemen pertahanan Belanda. Si Bungsu meletakan majalah itu. Fabian dan tongky berdiam diri. Mereka bertukar pandang.

“Perang telah di mulai…”ujar Si Bungsu sambil menatap jauh kelaut. Ke kapal-kapal dagang dari puluhan negara di dunia yang kini buang jangkar di Teluk singapura. Yang mana diantara itu yang merupakan kapal perang Belanda? Tiba-tiba Si Bungsu berdiri. Berjalan kedepan rumah minum itu. Pada sebuah rak,dia meraih sebuah brosur parawisata Singapura. Membawa brosur itu kemeja dimana mereka duduk bersama. Membuka dan mengamatinya. “Dimana kapal selam menurut peta rahasia kemarin?”tanyanya pelan.

Fabian menunjuk sebuah teluk di bahagian selatan pulau itu. Di depan teluk itu ada sebuah pulau kecil. Nampaknya kalau benar kapal selam Belanda itu ada di sana, maka dia tersembunyi dari pandangan orang. Daerah daratan teluk itu memang tak berpenghuni. Teluk di situ, seperti umumnya teluk di sekitar pulau

Singapura, adalah teluk yang lautnya tak terbilang dalam. Namun dengan lindungan pepohonan, terutama pohon-pohon beringin dan bakau yang memang menjadi ciri khas pantai pulau tersebut, dua atau tiga buah kapal selam dengan aman dapat merapat ke pantai. Bersembunyi di bawah naungan dedaunan.

Bagi Singapura nampaknya tak pula ada alasan untuk menolak kehadiran kapal selam itu, Sebab Singapura adalah bahagian dari Malaysia, Negara Persemakmuran Inggeris. Dan mereka punya hubungan baik dengan Belanda. Si Bungsu menatap peta itu. Kemudian menatap ke laut.

‘’Di mana kapal-kapal perang yang disulap seperti kapal dagang itu?’’ tanyanya pelan. Fabian dan Tongky menatap ke laut. Ke kapal besar kecil yang buang jangkar. ‘’Mereka berada diantara kapal-kapal yang banyak itu, Bungsu..’’ jawab Fabian. Si Bungsu berdiri. Melipat peta tersebut dan memasukannya ke kantongnya.

‘’Hei, akan kemana?’’ tanya Fabian begitu melihat Si Bungsu bergerak. ‘’Ini urusanku, kawan. Ada sedikit pekerjaan yang harus kulakukan’’ ‘’Hei sobat, kau tak dapat meninggalkan kami begitu saja. Apapun yang akan kau lakukan, terutama bila bersangkut paut dengan kapal selam dan kapal perang itu, kau tak dapat bekerja sendirian. Tenaga kami kau butuhkan’’ ujar Fabian sambil membayar minuman.

Si Bungsu tak berkata. Dia naik ke mobil, di susul Tongky dan Fabian. ‘’Kau akan menenggelamkan kapal selam itu bukan, kawan?’’ Fabian bertanya sambil menjalankan mobilnya. Si Bungsu menatap Kapten itu. Si Kapten bekas Baret Hijau tentara Inggeris itu ternyata cepat sekali menebak.

‘’Benar, bukan?’’ ‘’Saya tak tahu caranya’’ ‘’Makanya ku katakan, kau butuh kami’’ ‘’Tapi kalian tak menyenangi politik negaraku yang pro komunis’’ ‘’Benar. Soekarno akan membawa negerimu ke kemelaratan yang tak bertepi bila memilih komunis sebagai sahabatnya. Tapi dalam hal meledakan kapal selam Belanda itu, kami tak berniat membantu negaramu. Kami hanya ingin membantumu. Kita telah terikat dengan sumpah persahabatan. Ingat? Kami akan membantumu!’’ Sepi.

Si Bungsu tak tahu harus menjawab bagaimana. Mobil menuju ke suatu daerah di luar kota. Di sebuah perempatan mereka berhenti. Tongky melompat turun, menuju ke sebuah telepon umum. Menelepon beberapa saat. Lau naik kembali ke mobil. ‘’Siapa saja yang dapat kau hubungi?’’ tanya Fabian begitu Tongky duduk di bangku belakang. ‘’Sony, ahli peledak itu..’’ jawab Tongky.

Setengah jam kemudian, mereka sampai ke sebuah rumah yang terletak di tengah rerimbunan pohon. Si Bungsu segera ingat, di rumah ini dahulu mereka merencanakan penyerbuan terhadap kelompok penjual perempuan di kota ini. Tak lama setelah mereka berada di rumah itu datang Sony, bekas Sersan Green Barret yang ahli peledak itu. Dengan senyum lebar dia menyalami dan memeluk di Si Bungsu.

‘’Hei, akan ada pesta nampaknya..’’ katanya. ‘’Kau punya pengetahuan tentang kapal selam?’’ Fabian memburunya dengan pertanyaan. ‘’Tenang….tenang! Kenapa terburu amat. Saya masih ingin bercerita dengan orang Indonesia kita ini. Apa ada perang yang harus kita selesaikan segera?’’ Fabian segera meninggalkan mereka. Masuk ke kamar yang di kanan. Tak lama kemudian muncul lagi dengan beberapa batang dinamit serta beberapa kotak karton dan beberapa gulung kabel.

’Oke..oke, Kapten. Tapi jelaskan dulu, apa yang akan kita kerjakan..’’ ujar Sony. ‘’Si Bungsu akan menceritakannya padamu…’’ Sony menatap Si Bungsu. Si Bungsu membawa temannya itu ke luar. Mereka berjalan di pekarangan yang dipenuhi pepohonan. Si Bungsu menceritakan tentang kemelut Irian Barat. Termasuk terbunuhnya Komodor Yos Sudarso di Laut Arafuru. Kemudian tentang kapal selam yang ada di teluk itu. Sony mengangguk mengerti.

‘’Kau ingin kita berbuat sesuatu dengan kapal selam itu, bukan?’’ Si Bungsu mengangguk. Sony tersenyum, lalu masuk ke rumah. Di dalam, Fabian dan Tongky sudah mulai ‘meramu’ beberapa buah dinamit. ‘’Kapan kita ke teluk itu?’’ tanya Sony. ‘’Secepatnya. Kini Tongky harus ke sana. Teliti beberapa buah kapal selam di sana, berapa orang awaknya, berapa jauh dari tepi pantai, berada di atas air atau di dalam airkah, berapa orang yang menjaga di pantai dan tempat-tempat penjagaanya’’ ujar Fabian kepada Tongky.

Negro yang setia itu segera bangkit dan tanpa banyak bicara berjalan ke luar. Tak lama kemudian terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah itu. Fabian dan Sony meneruskan membuat persiapan. Si Bungsu yang tak mengerti sama sekali pada bahan-bahan peledak hanya menatap saja dengan diam kedua sahabatnya itu bekerja.

Hampir sejam pekerjaan itu. Selesai merakit dinamit, Sony mengeluarkan makanan dari lemari es. Ada daging dan telur serta beberapa jenis makanan kaleng. Sony memanggang daging itu di pemanggang di atas bara kayu. Kemudian membuat telur mata sapi. Lalu memotong roti. Dan mereka makan dengan lezat.

Selesai makan siang, mereka bertiga mempersiapkan peralatan untuk menyelam. Mulai dari skuba, yaitu tabung zat asam yang terbuat dari besi, masker kepala yang juga dari besi sampai pada pistol. Tak seorangpun yang bicara selama mempersiapkan peralatan itu. Kemudian ketika alat-alat itu selesai mereka siapkan, mereka duduk di ruangan depan. Fabian mengambil sebuah buku dari lemari kemudian membawanya ke ruang depan dimana Si Bungsu dan Sony tengah membaca koran-koran lama. ‘’Pernah membaca buku ini?’’

Si Bungsu menoleh. Melihat kulitnya saja dia tahu tak pernah mengenal buku itu sebelumnya. Dia menggeleng. Fabian mengambil tempat duduk di sisi Si Bungsu. ‘’Buku ini pantas kau baca. Bahkan bukan hanya Anda saja, tetapi barangkali juga pantas dibaca oleh semua pimpinan negaramu..’’ dia meletakan buku itu di meja.

Sebuah buku cukup tebal. Si Bungsu masih belum meraihnya. Namun dapat membaca judul dan pengarang buku tersebut. Buku itu karangan James Mossman, penulis asal Inggeris. Judul bukunya REBELS IN PARADISE (Indonesia’s Civil War). ‘’Buku itu bercerita banyak sekali tentang negerimu, Bungsu. Tentang Indonesia, dan lebih khusus lagi tentang Minangkabau. Yaitu cerita tentang PRRI. Cerita tentang kenapa mereka memberontak dan kenapa mereka kalah..’’

Fabian menceritakan isi buku itu sambil meneguk minuman kaleng yang diambil dari lemari es. Tak dapat tidak, Si Bungsu jadi tertarik jadinya. Dia memang tak mengerti sama sekali tentang politik. Dan dia tak mau ikut campur masalah itu. Dia seorang awam. Sekolahnya hanya sampai SMP. Kemudian terbengkalai.

Nasib telah menyeretnya ke dalam badai dan gelombang kehidupan yang tak kunjung menghempas ke pantai yang tentram. Nasib dan penderitaan jua yang telah menyeretnya sampai ke Jepang, ke Singapura dan Australia. Dan nasib serta kebetulan otaknya sedikit encer saja, makanya dia dapat belajar bahasa Jepang dan Inggeris. Barangkali kedua bahasa itu tak dia kuasai sebagaimana tamatan perguruan tinggi, namun sekedar untuk hidup, dia memahami kedua bahasa tersebut.

‘’Buku ini tak boleh masuk ke negerimu, Bungsu. Saya tahu beberapa orang pimpinan politik dan wartawan yang menyelusup kemari. Mereka kasak kusuk mencari buku-buku atau majalah yang menulis tentang negerimu, tentang pimpinan-pimpinan negaramu. Aneh juga bukan, orang terpaksa pergi jauh-jauh dari rumahnya, bertanya kepada orang lain tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam rumahnya sendiri.

Itu pertanda, di dalam rumahnya dilarang berbicara tentang kebenaran. Begitulah negerimu kini, sobat. Kau bisa baca buku ini. Barangkali tak semuanya benar, namun kau dapat menjadikannya sebagai pembanding. Kau tahu tentang rumahmu, kemudian kau dengar orang bercerita tentang rumahmu itu, maka kau akan ketahui mana yang benar mana yang tak benar…”

Si Bungsu meraih buku itu. Buku itu dicetak buat pertama kali di tahun 1961. kulitnya berwarna merah putih dan hitam. Sudah cetakkan kedua. Di kulit luar itu ada gambar sepotong tangan yang seperti menggapai, ada bercak-bercak darah dan lingkaran yang tak mengerti dia apa maksudnya. Nampaknya kulit buku itu dirancang dengan selera setengah pop. Warna hitam dan merah, selain ingin menggambarkan keseraman, juga ingin menimbulkan suasana misteri. Namun kesan tak menarik tak bisa disembunyikan dari ilustrasi itu. Kalau ada yang menarik barangkali adalah judulnya itu. Tentang pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia.

Lebih eksplisit, buku itu memang bercerita tentang PRRI. James Mossman melukiskan dalam bukunya itu saat-saat sebelum dan sesudah diproklamasikannya PRRI bulan februari 1958. Lalu diceritakannya juga tentang tentara APRI yang di pimpin oleh Kolonel Ahmad Yani ketika mendarat di Padang. Kemudian perkembangan berikutnya. Baik di Sumatera Barat maupun Indonesia pada umumnya. Si Bungsu membalik- balikan buku itu dan membacanya beberapa halaman. Dalam buku itu diterangkan bahwa James Mossman wawancara langsung dengan beberapa tokoh PRRI, dan dari sana dia menuliskan pandangan nya, antara lain : 1.Tokoh-tokoh PRRI ternyata menganggap rendah lawan-lawannya. Dalam hal ini adalah tentara pusat

dan Soekarno. Sikap inilah yang kelak menyebabkan PRRI lebih cepat di kalahkan. Dalam salah satu halaman, ada wawancara James Mossman sebagai berikut : Suatu hari Dia bertanya kepada Kolonel Simbolon : “Bagaimana Kolonel bisa menafsirkan kalau Soekarno tidak akan mengirimkan tentaranya untuk mendarat di Sumatera untuk menyerang anda disini?”

Simbolon yang posisinya adalah menteri Luar Negeri PRRI, cepat menjawab : “Soekarno tak punya keberanian untuk itu”. Dan Kolonel Dahlan Djambek di bukittinggi amat senada jawabannya dengan Simbolon ketika di tanya Mossman, katanya : ”Soekarno will never dare invade us here. (Soekarno tidak akan punya keberanian menyerang kami disini.)“. Padahal waktu itu semua orang tahu kalau APRI sudah menduduki Pekanbaru dan Rengat. Artinya untuk melangkah ke Sumatera Barat tinggal melangkahkan sebelah kaki saja dari dua tempat itu.

Lebih lanjut Mossman menuliskan, ”Kemudian ternyata tokoh-tokoh PRRI di buat amat kaget ketika mendengar soekarno memerintahkan APRI menyerbu ke Padang. Ketika serangan itu dilakukan, Pasukan Kolonel Ahmad yani mendarat di Tabing lewat Udara dan di pantai padang lewat kapal-kapal perang, ternyata tak sebutir peluru pun di tembakan PRRI sebagai perlawanan. Padahal yang mendarat dengan parasut di lapangan udara tabing amat mudah ditembaki dari bawah. Selain itu yang mendarat di pantai padang dengan mudah pula disapu. Karena pantai Padang memiliki benteng yang amat tangguh yang tegak dengan kukuh menghadap lautan.

Benteng itu dibuat oleh ahli-ahli perang Jepang untuk menghadapi Ekspansi sekutu di tahun 1943. Tapi benteng-benteng yang menghadap kelaut itu, yang bakal tak mampu di tembus oleh peluru meriam kapal-kapal perang APRI, betapun besarnya meriam kapal tersebut tak pernah di pergunakan PRRI karena tidak adanya koordinasi. James Mossman menuliskan itu karena dia berada di Padang tatkala tentara Ahmad Yani melakukan pendaratan.

2.Tokoh-tokoh PRRI bersikeras bahwa akhirnya merekalah yang akan menang. Mereka bersikeras karena berkeyakinan kalau Soekarno adalah pihak yang salah, mereka di pihak yang benar. Padahal peperangan bukan hanya masalah siapa yang salah atau pun benar. Tetapi juga meliputi juga masalah persenjataan, taktik dan strategi ! Banyak contoh bahwa yang benar diluluh lantakkan oleh yang salah, hanya karena yang benar itu tak menjalankan otaknya, sementara yang salah itu pintar orang nya. MR. Syafrudin Prawiranegara, Perdana Menteri PRRI yang di tanya Mossman di Padang Panjang tentang bagaimana perasaannya mengenai pasukan lawan yang saat itu mengepung Sumatera Tengah, menjawab : ”Mereka(APRI) tak dapat berbuat untuk menyakiti kami. Tuhan berada di pihak kami. God is our side..” dan tak lama setelah jawabannya ini (selang beberapa bulan) Syafrudin ternyata menyerah, yaitu pada 28 agustus 1961 di Padang Sidempuan.

Kemudian Mossman mewancarai Kolonel Ahmad Yani. Selaku komandan Operasi 17 Agustus di Padang. ”Apakah anda heran tidak ada perlawanan sama sekali dari PPRI?” Yani menjawab “Tidak begitu heran, Orang- orang minang ini anda tahu, mereka dihatinya adalah tukang-tukang kumango. Mereka adalah pedagang kaki lima(shop-keepers). Mereka bercakap terlalu banyak untuk menjadi prajurit yang baik…”

Di halaman lain, Si Bungsu membaca tulisan Mossman sebagai berikut: “Sejak hari-hari pertama perang saudara itu, Mossman mempunyai kesan yang pelik. Adapun Simbolon dan pemimpin militer yang lain, pendiri- pendiri sesungguhnya dari gerakan otonomi Sumatera Tengah, tidak pernah mengharapkan akan harus berkelahi sama sekali untuk kepercayaan-kepercayaan mereka. Mereka mengira akhirnya akan berunding di meja konferensi dengan Soekarno. Menurut Mossman pula, pasti Syafruddin tak pernah mengira akan terjadi segalanya itu. Yakni PRRI akan diserang dengan kekuatan tentara oleh Jakarta.

Sampai saat-saat akhir, dia percaya pada bantuan pasukan dan sekutu-sekutunya, prajurit-prajurit, politisi dan dunia barat. Kekalahan tak masuk akal baginya, karena dia percaya perjuangannya adalah benar. Ketika dilihatnya prajurit-prajurit PRRI tak mampu menghadapi serangan udara dan tak punya keinginan untuk menewaskan sesama orang Indonesia, atau dibunuh oleh mereka dalam suatu pertarungan untuk mana mereka tidak begitu aktif perasaan simpati mereka, maka dia jauh lebih terkejut daripada perwira-perwira yang mengangkatnya ke atas jabatan pemberontaknya. Itulah tulisan Mossman tentang Syafruddin Prawiranegara.

Selanjutnya, wartawan Inggeris itu mencerca Syafruddin dengan pedas. Dalam bukunya itu dia menulis

: ‘’Syafruddin seorang kerani, bernafsu, picik. Ia adalah kerani bank yang akhirnya lepas lalang dan merampok bank.’’ Tapi Mossman tak pernah menjelaskan kebenaran tuduhan pedasnya, Bank mana saja yang dirampok oleh Syafruddin. Di halaman lain, Si Bungsu membaca tentang PRRI itu sebagai berikut : ‘’Tokoh-tokoh PRRI tampaknya sangat mengandalkan bantuan Barat. Sebab PRRI berjuang antara lain untuk menghancurkan komunis di Indonesia. Namun ketika bantuan itu tak kunjung datang, atau kalaupun datang tapi tak menentu dan dalam jumlah yang nyaris tak ada arti untuk mempersenjatai beberapa resimen, sementara tentara APRI telah mendesak terus, mereka tak dapat berbuat lain, kecuali menyumpah dan amat kecewa.”

Dalam suatu wawancara antara Mossman dengan Simbolon di Mess Perwira Padang Panjang pada 15 April 1958 (Saat itu APRI telah maju cukup banyak) dia berkata : ‘’Kami memerlukan pesawat-pesawat pemburu. Hanya dua atau tiga pemburu jet. Satu malah dengan penerbang yang baik. Yang akan menghasilkan tipu muslihat. Kami akan mampu menahan majunya pasukan Nasution. Mengapa Barat tak melihat hal ini? Mengapa mereka tak mempunyai cukup kepercayaan buat mengirimkan beberapa pesawat pemburu, yang buruk sekalipun? Tak lama lagi, jika bantuan itu datang juga, keadaan sudah akan terlalu terlambat’’. Itu ucapan Simbolon.

Dalam buku itu juga Mossman memperjelas siapa yang dimaksud oleh tokoh-tokoh PRRI itu dengan “teman barat” itu. Mossman menunjukan peranan Central Intelligence (CIA) dari Amerika dalam kemelut perang saudara itu. Sebelum pecah perang saudara, beberapa tokoh PRRI bertemu dengan agen-agen CIA di Sumatera, dan di lain-lain tempat.

Hanya dia tak merinci tempat-tempat pertemuan itu. Tak menyebutkan kota dan tempat serta waktunya. Kemudian menurut Mossman, salah satu sebab kenapa PRRI berantakan dari dalam ialah karena diproklamirkannya Republik Persatuan Indonesia (RPI) di Bonjol tanggal 7 Februari 1960. Republik ini merupakan gabungan antara PRRI dengan pasukan Darul Islam (DI) di Aceh dan Sulawesi Selatan.

Adapun DI yang fanatik Islam amat tak berkenan di hati orang Permesta yang beragama Kristen seperi Vence Sumual, Alex Kawilarang, Simbolon dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Proklamasi PRRI itu adalah awal dari perpecahan di kubu PRRI dan Permesta. Pemberontakan itu dianggap selesai sejak Presiden Soekarno memberikan amnesti dan abolisi secara umum terhitung 5 Oktober 1961.

Si Bungsu meletakkan buku tebal itu di meja. Menatap pada kedua temannya bekas tentara Baret Hijau itu.‘’Buku itu tak ada di Indonesia bukan?’’ tanya Fabian. Si Bungsu menatap buku tersebut. Dia menggeleng. ‘’Saya tak tahu. Saya tak berminat pada masalah-masalah begini di sana. Saya bukan politisi, bukan militer, bukan cerdik pandai.

The Rebels

Saya tak tahu buku mana yang boleh beredar dan mana yang tidak di negeri saya itu. Lagipula, saya bukan orang terdidik yang menyukai buku,’’ ujarnya jujur tentang dirinya. ‘’Buku itu memang dilarang di negerimu, Bungsu. Sebab, meskipun sebahagian besar bicara tentang kelemahan PRRI, dia juga bicara tentang kelemahan dan kesalahan yang dibuat oleh Presidenmu, oleh para menteri dan pemimpin negeri kalian yang goblok, serakah dan pengecut!’’

Si Bungsu menatap wajah temannya itu. Mukanya jadi merah. Betapapun juga, rasa nasionalismenya jadi tersinggung. Dia tahu, tak semua pimpinan di negerinya sejelek yang diucapkan Fabian. Tapi bekas Kapten tentara Baret Hijau ini memaki mereka sama rata. Fabian segera menyadari jalan pikiran temannya itu. ‘’Sorry, kawan. Saya memang agak emosi. Soalnya negerimu itu amat condong ke komunis. Sebahagian besar rakyat kalian kini menjerit kelaparan. Sementara segelintir orang-orang berkuasa, atau yang dekat dengan penguasa, hidup mewah’’

Si Bungsu masih tetap diam dan masih menatap Fabian. Fabian bicara lagi. ‘’Negerimu itu sesungguhnya negeri yang amat kaya, kawan. Di sana, matahari bersinar sepanjang zaman. Negerimu negeri yang amat sangat dilimpahi Rahmat Tuhan. Apapun yang kalian tanam di sana hidup dan tumbuh dengan subur. Untuk kemudian menghasilkan panen yang melimpah. Di sana tak ada musim gugur, tak ada musim salju yang memunahkan seluruh jenis tetumbuhan. Tidak, negerimu panen bisa berlangsung sepanjang zaman. Tapi kenapa rakyatmu melarat? Kenapa kelaparan? Apa yang tak ada di sana? Sebutlah : emas, perak, minyak, batubara, timah, tembaga, lada, pala, beras, pisang dan seribu macam sayur mayur. Apalagi yang kalian butuhkan? Tapi rakyat kalian tak bisa turun ke sawah, ke ladang dengan aman, sebab banyak teror dan intimidasi politik.

Mereka tak dapat turun ke laut menangkap ikan yang melimpah, karena bajak laut sepertinya ada di mana-mana. Tidak hanya bajak laut dalam arti harafiah, tetapi pembajak dalam segala hal! Segelintir pemimpin kalian terlalu sewenang-wenang. Cobalah renungkan, di negeri yang kaya raya dan subur seperti itu, orang harus membeli beras dengan kupon, membeli minyak dan garam dengan kupon. Bukankah di kampungmu, di Minangkabau ada istilah ayam di lumbung mati kelaparan? Nah, itulah yang terjadi dengan rakyat Indonesia, kawan’’.

Tidak dapat tidak Si Bungsu kagum atas ucapan Fabian. Begitu banyak yang dia ketahui tentang Indonesia. Sesuatu yang dia sendiri tak begitu memahaminya. ‘’Banyak yang kau ketahui tentang negeriku, kawan..’’ katanya pelan sambil melempar pandangan keluar. ‘’Saya mengetahuinya lewat koran.’’ ‘’Apakah menurut dugaanmu semua yang ditulis koran itu benar?’’

‘’Koran di negeri ini berbeda dengan koran di negerimu, sobat. Wartawan di negeri ini, dan di negeri kami, berbeda dengan wartawan di negerimu. Wartawan di negeri kami menulis fakta. Dan mereka tak takut sedikitpun pada resiko yang ditimbulkan oleh fakta yang mereka ungkapkan. Itulah sebabnya kenapa kami menaruh kepercayaan kepada wartawan-wartawan kami. Percaya pada apa yang mereka tulis. Tidak seperti wartawan di negerimu. Yang menulis hanya demi periuk nasi. Memang ada wartawan jempolan di negerimu, yang tak mau kompromi dengan penguasa yang tak benar. Saya mengenal nama beberapa orang di antaranya, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar. Tapi mereka telah disikat penguasamu, masuk bui dan korannya dibredel. Selebihnya, wartawan-wartawan di sana kebanyakan adalah pelacur, atau tukang peras. Barangkali tak semua, masih cukup banyak yang baik. Namun lebih banyak yang tak baik. Mereka menulis apa yang menyenangkan hati para pimpinan saja. Bukankah di negerimu ada istilah ABS-isme? Asal Bapak Senang? Nah, kami memang mempercayai wartawan kami. Karena umumnya mereka bukan pelacur jurnalistik’’.

Si Bungsu terdiam. Tentang jurnalistik, dunia kewartawanan, dia benar-benar tak mahfum seujung kukupun. Fabian lalu bangkit, menuju ruang dalam. Dari lemari buku dia memilih beberapa saat. Kemudian membawa keluar sebuah buku. Duduk dan meletakan buku itu di depan Si Bungsu. Dia melihat dan membaca judul buku tersebut, “THE REBELS”. Di tulis oleh Brian Crozier. Nampaknya penulis ini juga orang Inggeris.

‘’Buku ini, kawan, adalah sebuah buku study tentang pemberontakan-pemberontakan yang terjadi setelah Perang Dunia II. Tidak hanya memuat tentang pemberontakan PRRI/Permesta di Indonesia, tetapi juga memuat dan menelaah pemberontakan Fidel Castro terhadap Batista di Cuba, Ho Chi Minh di Vietnam dan Ben Bella di Afrika, dua yang terakhir memberontak melawan Perancis. Lalu Uskup Besar Makarios di Pulau Kreta yang memberontak terhadap Inggeris. Agar engkau tak lelah, saya akan uraikan secara singkat isi buku ini, yaitu jika engkau berminat. Jadi engkau tak perlu membaca keseluruhan isinya…’’

Fabian menatap di Bungsu. Menanti jawabannya. Si Bungsu memang berminat, dia mengangguk. Memang lebih baik mendengar saja resume buku itu secara garis besar, daripada harus membacanya, yang menilik tebalnya mungkin harus dibaca selama sepekan. Barangkali banyak istilah dan bahasa yang tak dia ketahui. Dia hanya faham bahasa Inggeris untuk sehari-hari. Meski lancar tapi tak mendalam, sekadar “cukup untuk makan”.

Fabian kemudian membalik-balik buku The Rebels itu, seperti mencoba mengingat garis besar isinya. Sementara di Bungsu dan Sony menanti dengan diam. Kemudian Fabian memulai : ‘’Menurut Brian Crozier, pola pemberontakkan bersifat konsisten, melalui tiga tahap. Pertama, teror, kedua perang gerilya, ketiga perang besar-besaran. Tentu tidak semua pemberontakan diakhiri, tidak semuanya mencapai tahap kedua dan malah sedikit sekali yang sampai pada tahap ketiga. Hanya pemberontakan PRRI/Permesta yang sungguh luar biasa, karena dia tak memenuhi ketiga pola tadi. PRRI dimulai dimana pemberontakan harus diakhiri dan itupun kalau dia sudah berhasil yakin dengan proklamasi suatu pemerintah, dalam hal ini pemerintah yang diproklamasikan di Padang dalam bulan Februari 1958 oleh Syafruddin Prawiranegara. Ini dengan cepat disusul dengan taraf ketiga, yaitu perang besar-besaran, yaitu tatkala pemerintah pusat melancarkan offensifnya di Sumatera dan Sulawesi pada April dan Mei 1958. Kekalahan kaum PRRI/Permesta di taraf ketiga, mendesak mereka ke taraf kedua, yakni perang gerilya di hutan dan di gunung, melawan pasukan pemerintah Pusat. Tak lama kemudian tindakan mereka memasuki taraf pertama dalam bentuk yang lebih lunak berupa pembakaran kebun-kebun dan gudang-gudang karet. Barangkali karena urutannya yang terbalik itulah, maka pemberontakan anti-Sukarno dan anti-Komunis yang dilancarkan PRRI/Permesta menjadi gagal. Kemudian menurut Brian, sebab lain kegagalan PRRI itu adalah :

1. Tidak adanya persiapan yang cukup dalam bidang militer. 2. Tidak dilakukannya persiapan untuk kemungkinan kudeta di Jawa sebagai pusat kekuasaan. 3. Tidak adanya leadership, dalam arti tak adanya seorang tokoh yang merupakan tokoh nomor satu. 4. Tak adanya perahasiaan mutlak di pihak pemberontak tentang apa yang hendak mereka lakukan, dan mereka malah mencari publisitas seluas-luasya tentang apa yang bakal mereka kerjakan. Demikian sebab-sebab kegagalan pemberontakan kaum Kolonel dan kaum ekonom ini menurut Brian Crozier yang ditambahkannya pula, mereka kekurangan kekuatan dan dukungan rakyat, istimewa di Jawa, yang akan menjamin keberhasilan. Dan adalah perbuatan edan saat mereka memproklamirkan sebuah pemerintahan di bulan Februari 1958 di Padang. Dalam pada itu, menurut buku The Rebels ini, Presiden Soekarno tak bisa bebas dari tanggungjawabnya terhadap bangsa dan negara. Sesungguhnya pemberontakan PRRI/Permesta tak bakal terjadi jika ia berlaku sebagai negarawan yang mempunyai pandangan yang luas. Tapi ternyata dia tak mempunyainya dan tak mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menghindarkan pemberontakan itu. Soekarno bertanggungjawab pula atas memberi kesempatan amat luas bagi berkembangnya dengan pesat partai PKI.’’

Fabian berhenti bicara. Menatap pada Si Bungsu. Kemudian melanjutkan perlahan : ‘’Soekarno, Presidenmu itu, terlalu memberi hati pada Komunis. Itu kesalahan utamanya. Sebaliknya dia justru amat curiga pada Angkatan Perangnya, terutama Angkatan Darat. Itu kesalahannya kedua. Padahal, Angkatan Darat yang setia padanya, dapat dia gunakan menjadi alat stabilisator. Tapi sebaliknya, Angkatan Darat di negerimu, di bawah pimpinan Jenderal Nasution, terlalu lemah dalam menghadapi komunis. Lemah dalam pengertian terlalu ikut memberi hati. Padahal mereka, Komunis itu, telah menikam Angkatan Darat di Madiun pada Tahun 50. Banyak perwira TNI AD yang mereka bunuh. Seyogyanya, Angkatan Darat harus memerangi mereka habis-habisan. Namun negerimu adalah negeri yang aneh. Partai yang demikian jelas-jelas memerangi dan membunuhi sebuah angkatan, bisa hidup dan jadi besar bersama angkatan itu. Nah, kawan, itulah isi buku Brian Crozier ini. Apakah benar atau tidak, terserah engkau untuk menilainya. Kalau saja buku ini boleh beredar di Indonesia, barangkali akan besar manfaatnya sebagai kaca pembanding bagi pemimpin negerimu. Mungkin tak semua yang ditulis ini benar tapi bukankah orang luar bisa menilai lebih objektif, karena penulis buku ini tak terlibat langsung dalam sengketa dikedua pihak?’’

Si Bungsu tak memberikan komentar. Dia samasekali memang tak mengerti masalah politik. Segala yang dia dengar dan dia ketahui tentang negerinya lewat buku atau lewat ucapan Fabian di Singapura ini, hanya akan jadi sekedar pengetahuan saja. Lagipula dia tak tahu kapan dia akan kembali ke Indonesia. Entah akan kembali entah tidak. Negeri yang akan dia turut amatlah jauhnya. Dallas, ibukota negara bahagian Texas di Amerika Serikat sana. Dia tak tahu dimana negeri itu. Asing dan jauh. Dia harus kesana. Dia harus menemukan Michiko.

Mereka menyelusup di antara pepohonan. Samar-samar, di seberang sana kelihatan kapal selam itu berada di bawah naungan pohon beringin. Kapal itu muncul di permukaan laut, geladaknya sama rata dengan air. Dua orang marinir kelihatan mondar mandir di atas geladak itu.

Menara komando kapal itu kelihatan mencuat ke atas. Fabian berjongkok. Sekurang-kurangnya ada sebuah keuntungan bagi mereka kini. Tongky yang ahli menyamar dan menyelusup itu berhasil mendapat informasi, bahwa seluruh awak kapal saat ini berada di Konsulat Belanda. Yang tinggal di kapal hanya lima orang. Yaitu seorang melayani radio, seorang di kamar mesin, seorang perwira jaga dan dua orang marinir yang kelihatan mondar mandir di geladak dengan senapan mesin di tangan.

Si Bungsu menyelusup cepat dari balik-balik pohon, dan ikut berjongkok dekat Fabian. Demikian pula Tongky. Mereka hanya bertiga di pantai ini. Hal itu disengaja, sebab jumlah yang banyak bisa menimbulkan risiko yang lebih besar. Dengan personil yang sedikit, kebebasan bergerak lebih terjamin. Dalam keseluruhan operasi ini, mereka hanya berempat orang. Seorang lagi, yaitu Miquel Sancos, keturunan Spanyol-Amerika Latin, bertugas mengawasi rumah diplomat Belanda dimana tengah dilangsungkan resepsi dengan awak kapal selam itu.

Miquel bertugas mengawasi dan melaporkan kalau-kalau ada diantara mereka yang tiba-tiba saja meninggalkan ruangan resepsi menuju ke daerah kapal. Hal mendadak begitu bisa saja terjadi. Sebab antara kapal selam dengan rumah diplomat itu dihubungkan dengan radio. Kalau orang di kapal merasa ada yang tak beres, ada bahaya mengancam, maka mereka bisa mengirim isyarat ke rumah sang diplomat. Dan orang-orang kapal itu akan segera meninggalkan rumah itu menuju kapal.

Bila itu terjadi, Miquel bertugas sendirian dengan cara apapun jua, mencegah orang-orang tersebut sampai ke kapal. Kalau tak bisa mencegah secara total, maka harus diusahakan sebuah ‘kecelakaan’ atau insiden untuk memperlambat mereka. Dan untuk keseluruhan operasi itu, baik yang di rumah si diplomat, maupun yang di kapal, telah disepakati untuk tak akan mengambil korban jiwa.

Persyaratan itu ditetapkan oleh Fabian pada Si Bungsu. Sebab betapapun jua, Fabian tak punya permusuhan dengan Belanda atau Indonesia. Secara etis, Fabian sebenarnya tak suka ikut campur. Namun rasa persahabatan, rasa saling setia kawan melebihi segalanya. Itulah yang menyebabkan Fabian dan kawan- kawannya membantu Si Bungsu.

Si Bungsu menyetujui persaratan tersebut. Sebab kehadiran kapal selam di perairan Indonesia bisa membahayakan angkatan laut Indonesia. Maka dia ingin memperkecil bahaya itu. ‘’Salah seorang diantara kita harus tetap menjaga di darat. Dua orang menyelam melekatkan dinamit ke dinding kapal. Yang di darat menunggu isyarat dari Miquel. Kau berada di darat, Bungsu..’’ ‘’Tidak, Kapten. Ini adalah perangku, aku yang harus menyelam. Kau di darat..’’ Fabian menatapnya.

‘’Baik. Saya di darat. Kau dan Tongky menyelam. Beri mereka kesempatan untuk bisa meninggalkan kapal itu. Nah, selamat..’’ Si Bungsu dan Tongky segera mengangkat skuba, peralatan mereka untuk menyelam. Menyelusup ke pantai. Lalu memakai alat tersebut. Pihak Angkatan Laut Belanda memang tak memasang pengawalan di pantai. Mereka demikian yakinnya, bahwa tempat ini amatlah amannya. Singapura memang negeri yang netral, dan malangnya mereka tak memiliki intelijen yang baik, sehingga tak mengetahui, kalau kenetralannya disalah-gunakan Belanda.

Tongky mengacungkan jempolnya pada Si Bungsu setelah mereka memakai skuba tersebut. Si Bungsu mengacungkan pula jempolnya. Dan perlahan mereka menyelam, lenyap ke dalam air. Namun ada satu hal yang di luar dugaan Fabian dan teman-temannya. Yaitu masalah radar. Sebagai seorang perwira baret hijau dari perang dunia kedua. Fabian tahu, bahwa tiap kapal selam dilengkapi dengan radar.

Tapi radar itu hanya berfungsi untuk kapal laut atau kapal selam dan benda-benda mekanis lainnya. Yang tak diketahui Fabian adalah, kapal selam jenis buru sergap yang kini dimiliki Belanda, dilengkapi dengan radar anti dinamit yang amat peka. Fabian tak mengetahui karena radar model itu memang baru diketemukan lima tahun terakhir.

Belum disiarkan dalam buletin Angkatan Laut manapun. Belanda yang menemukannya memang merahasiakan penemuan itu. Mereka takut kalau-kalau tercium oleh Uni Sovyet. Dan begitu Tongky dan Si Bungsu menyelam membawa masing-masing satu tas kecil dinamit, penjaga radio yang merangkap penjaga radar dalam kapal selam itu segera mengetahui ada bahaya yang mengancam. Dia melihat di layar radar dua buah titik yang mendekati amat perlahan dari garis pantai ke kapal. Petugas radar dan radio ini segera menekan tombol isyarat. Begitu tombol ditekan, kedua marinir yang ada di geladak kapal jadi tahu lewat transmiter kecil dalam kantong mereka yang mengeluarkan bunyi ‘’tuut…tuuut…tuut’’.

Mereka segera mengokang bedil dan waspada. Radio gelombang tinggi di rumah diplomat Belanda di kawasan Petaling Jaya juga menerima isyarat itu. Penjaga radio tersebut segera mengadakan hubungan, dan melakukan pembicaraan singkat. Kemudian dia bergegas menemui konsulnya di ruang resepsi. Membisikkan berita yang dia terima lewat radio. Konsul itu tersenyum, kemudian mendekati seseorang. Membisikan pula sesuatu pada seseorang, yang tak lain dari komandan kapal selam itu. Si komandan memberi isyarat. Dalam waktu singkat, sepuluh orang telah berkumpul di ruang belakang. Sementara yang lain tetap di ruang resepsi.

Kesepuluh orang itu segera menuju garasi di belakang. Membuka jas resepsi mereka, dan di balik jas dan dasi itu, segera kelihatan pakaian marinir. Dan dari dalam garasi itu mereka keluar dengan dua sedan limusin berwana hitam. Di dalam mobil itu telah tersedia senjata otomatis. Di ruang resepsi, awak kapal yang lain masih tetap melantai dengan tamu-tamu, dengan gadis-gadis pangggilan yang cantik dan menggiurkan yang sengaja didatangkan oleh sang diplomat untuk mereka.

Di kapal selam terjadi kesibukan yang luar biasa. Kedua marinir yang menjaga di atas meneliti ke laut. Mencoba menembus air lewat pandangan mereka untuk melihat benda yang mendekati kapal. Namun Tongky dan Si Bungsu sudah dipersiapkan untuk kemungkinan ini. Fabian memerintahkan mereka menyelam sedalam mungkin. Mereka tak terlihat sama sekali oleh kedua marinir itu. ‘’Hidupkan mesin, tarik tali..’’ opsir piket memberi perintah.

Mesin segera dihidupkan, dan kapal mulai bergerak. Namun tak bisa kemana-mana, sebab dua buah tali masih mengikat kapal itu pada dua pohon beringin besar di pulau tersebut. Fabian melihat kesibukan itu, dan segera mengetahui bahwa kedatangan mereka telah diketahui pihak Belanda. Kini dia hanya bisa menanti. Dia tak punya hubungan apa-apa dengan Si Bungsu atau Tongky yang tengah menyelam. Dia juga tak punya hubungan dengan Miquel yang bertugas mengawasi rumah diplomat Belanda dimana para awak kapal selam itu mengadakan resepsi. Mereka bertugas dengan perhitungan dan saling meyakini.

Fabian menanti dengan tenang. Tiba-tiba dia mendengar serentet tembakan dari kedua marinir di atas geladak itu. Kemudian keduanya kelihatan menaiki menara komando, lalu masuk ke dalam. Kapal itu mulai bergerak ke tengah sambil mulai menyelam. Fabian jadi tegang. Tembakan kepada siapa itu tadi? Apakah Tongky dan Si Bungsu tak mematuhi petunjuknya untuk menyelam sedalam mungkin, baru kemudian setelah tiba di bawah perut kapal naik melengketkan dinamit ke perut kapal, lalu menyelam lagi sedalam mungkin untuk menghindar dengan kedalaman yang sama waktu datang?

Kalaupun tembakan itu tak mengenai kedua mereka, maka baling-baling kapal bisa mencelakakan. Kedua orang itu akan tersedot ke dalam putaran turbin yang bisa memecahkan skuba, alat penyelam mereka, dan … maut! Tongky melihat kapal itu mulai bergerak tatkala beberapa meter lagi mereka akan mencapai kapal tersebut. Dia segera tahu, kehadiran mereka telah diketahui. Dia memberi isyarat pada Si Bungsu yang berenang sedikit di belakangnya. Si Bungsu mengangguk, karena dalam air laut yang jernih itu dia telah melihat kapal selam itu bergerak.

Tongky memberi isyarat untuk berenang dengan segenap tenaga. Mereka berdua mengerahkan tenaga. Sambil berenang Tongky mempersiapkan dinamit yang telah dipasang ke sebuah besi berani. Asal saja mereka bisa mendekati kapal itu, besi berani berdinamit itu hanya tinggal melekatkan saja. Dia akan lengket. Tongky menyetel jam di dinamit untuk waktu lima menit. Dia memberi isyarat pada Si Bungsu yang tengah mempersiapkan dinamitnya pula.

Si Bungsu melihat kelima jari kanan Tongky dikembangkan, sambil mendayungkan kakinya yang memakai telapak itik dari karet itu kuat-kuat, dia menyetel jam dinamit itu ke angka lima. Mereka berpacu mendekati. Dan saat itulah kedua marinir di atas menembakan bedil otomatisnya. Tembakan itu tak ditujukan kepada mereka sebab mereka tak kelihatan. Tembakan itu ditujukan pada tali yang menyangga kapal itu ke pohon beringin. Tak ada waktu lagi untuk membukanya baik-baik. Keduanya menembak saja tali yang terjuntai ke laut, putus!

Kapal itu bergerak ke tengah, sambil mulai menyelam. Tongky sampai duluan, sekali jangkau dinamit itu lekat. Namun bahaya lain mengancam kedua orang ini. Yaitu putaran baling-baling kapal! Di tempat lain, Miquel yang menjaga tak jauh dari rumah diplomat Belanda itu tiba-tiba melihat dua kendaraan keluar lewat pintu belakang. ‘’Ini dia..’’ bisik blasteran Spanyol-Amerika itu.

Dia membuang rokoknya. Memperhatikan arah mobil tersebut. Kemudian dia naik ke truk tua yang sejak tadi dia parkir di tempat tersembunyi. Dia segera tahu jalan mana yang akan ditempuh oleh kedua sedan yang baru keluar itu. Dengan tenang dia menjalankan truknya. Satu kilometer di pinggir kota, jalan jadi sempit. Kedua sedan yang masing-masing membawa lima marinir itu melaju dengan kecepatan penuh.

Namun ketika menikung ke kanan, tiba-tiba di depan ada truk merah yang berjalan lambat. Kedua sedan itu membunyikan tuter. Namun truk itu tetap saja tak beringsut. Jalannya lambat sekali. “Hei…! minggir….minggir!’’ seru salah seorang marinir sambil mengeluarkan kepala dari jendela. Tapi sopir truk itu seperti tak mendengar. Jalan truknya tetap seperti beringsut. Tak ada jalan untuk ke kiri atau ke kanan. Di kiri kanan jalan ada parit besar seperti riol pengaman air. Mau tak mau, mereka harus mengikut terus di belakang truk itu. Dan memaki-maki untuk mempercepat.

Karena truk itu tetap lambat, akhirnya si komandan kapal selam itu menembak ban truk itu. Dan itu memang yang ditunggu Miquel yang menyopir truk itu. Begitu dia mendengar tembakan dan merasa ban belakangnya pecah, dia seperti kaget. Stir dia banting ke kiri sedikit, lalu sekuat tenaga memasukan gigi satu, menekan gas sekuatnya. Mesin truk itu sudah distel demikian rupa. Begitu gas ditekan dalam persneling satu, truk tersebut seperti terlompat, dan Miquel membanting stir kuat-kuat ke kanan. Kendaraan yang dibelokkan tiba-tiba memang tak punya pilihan lain selain terbalik!

Truk itu terbalik menutup jalan kecil itu secara total! Miquel menggapai palang besi pengaman di depan stir. Kedua sedan di belakang berhenti mendadak. Ke sepuluh awaknya menyumpah dan memaki. Melompat turun! Begitu truk terbalik, Miquel memecahkan kantong plastik di balik kemejanya. Kantong plastik itu berisi cairan merah darah. Kantong itu pecah. Bajunya dibasahi cairan merah, mengalir ke tubuhnya, dan dia menelentangkan diri, mengerang, merintih. Saat itu bermunculan para marinir Belanda di sana. Memaki-maki. Menyumpah-nyumpah.

Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Si sopir kelihatan bergelimang darah. Tak sadar diri. Dua orang segera menyingkirkan tubuh Miquel keluar. Lalu bersama-sama mereka mencoba menyingkirkan truk yang menghalangi jalan itu. Menggeser sebuah truk yang terbalik bukanlah usaha yang mudah, apalagi hanya dengan tenaga sepuluh orang.

Setelah hampir setengah jam truk itu akhirnya tergeser. Kedua sedan itu bisa lewat. Mereka meninggalkan truk tersebut bersama Miquel yang masih terbaring diam. Setengah jam merupakan perpanjangan waktu yang tak sedikit bagi Fabian dan Si Bungsu. Begitu sedan itu menjauh, Miquel bangkit sambil tersenyum. ‘’Tugasku selesai, kawan. Terserah kalian acara berikutnya…. Dua setengah jam …’’ katanya sambil melirik jam tangan, lalu memasuki belukar, mengambil jalan pintas menuju kota.

Di dalam air, Si Bungsu dan Tongky sedang berusaha keluar dari kesulitan. Mereka baru saja selesai melekatkan dinamit ke dinding kapal itu. Mereka harus menghindar secepat dan sejauh mungkin. Kalau tidak, putaran baling-baling kapal akan menyedot mereka. Memecahkan tabung zat asam dan membunuh mereka.

Tongky yang lebih berpengalaman segera menukik menyelam lebih dalam ke bawah. Dia berharap Si Bungsu melihatnya dan meniru gerakannya. Si Bungsu memang melihatnya. Namun sudah terlambat baginya untuk meniru. Kapal itu digerakkan dengan kekuatan penuh untuk menghindarkan mereka memasang dinamit. Tongky terhindar dari putaran air. Si Bungsu justru terperangkap. Tubuhnya tiba-tiba tersedot dengan kuat. Dia berusaha untuk menghindar, namun kekuatan yang amat dahsyat terus menghisapnya. Dia tersedot. Putaran baling-baling kapal membuat segala benda yang melekat di tubuhnya pada bertanggalan. Mula-mula yang tanggal adalah kaca mata selam yang dia pakai. Kemudian tabung zat asam di punggungnya. Tali kulit yang mengikat tabung itu dengan tubuhnya putus. Tabung itu sendiri tertarik, menghantam baling-baling yang berputar kencang dan hancur berantakan.

Kini tubuh Si Bungsu tak berdaya, dia terhisap makin dekat. Maut menyeringai menantinya. Di dalam kapal, perwira piket tiba-tiba jadi pucat. Dia melihat sinyal merah melekat berdekatan. Tak bergerak secuilpun! Dan sirene lain yang panjang berbunyi. ‘’Dinamit!’’ seru opsir itu.

Semua jadi…bertatapan tegang. Diam. Beberapa detik berlalu. ‘’Matikan mesin. Tinggalkan kapal!’’ Perintah opsir itu segera diikuti dengan suasana sibuk. Kenop “off” pada mesin ditekan. Mesin kapal itu dihentikan mendadak untuk memberi kesempatan bagi awak kapal selam itu meninggalkan kapal. Dan saat itu tubuh Si Bungsu telah berada sehasta dari baling-baling, tatkala tiba-tiba putaran baling-baling itu menjadi perlahan karena mesin dimatikan. Dia bisa menjauh, nyawanya selamat. Tubuhnya tak jadi berkeping-keping. Tuhan menurunkan keajaiban untuk menyelamatkan nyawanya.

Namun dia sudah hampir kehabisan nafas. Dia berusaha mengapung ke atas. Sudah beberapa menitkah berlalu? Kapal ini hanya punya waktu lima menit, kemudian akan meledak berkeping-keping. Sambil membiarkan tubuhnya mengapung ke permukaan, dia mengayuhkan tangan dan kaki agar bisa menjauhi kapal tersebut.

Tiba-tiba, dua depa di atasnya, lewat cahaya terang matahari yang menusuk ke tubuh laut, dia lihat beberapa tubuh beterjunan. Pastilah anak-anak kapal yang menyelamatkan diri, meninggalkan kapal tersebut sebelum meledak. Namun Si Bungsu sudah kehabisan tenaga. Lemas, dia tak berdaya lagi.

Jauh di bawah sana, Tongky menyadari Si Bungsu menghadapi bahaya serius. Begitu mengetahui mesin kapal berhenti mendadak, Tongky mengapung lagi. Dia melihat sesosok tubuh yang lemas. Dia segera mengetahui bahwa tubuh itu adalah di Bungsu. Cepat dia mendekat dan menarik tubuh tersebut. Membawanya kembali menyelam, menghindarkan diri dari kapal itu. Sambil menyelam, beberapa kali dia menanggalkan alat pernafasan dari mulutnya, kemudian mendekapkannya ke mulut Si Bungsu.

Begitu merasa ada alat pernafasan di mulutnya, Si Bungsu segera menghirup oksigen tersebut. Beberapa saat dia bernafas di sana, sambil tubuhnya tetap dipeluk Tongky sambil berenang di laut dalam itu. Mereka bergantian bernafas pada skuba milik Tongky. Dengan cara demikian, mereka akhirnya mendekati pantai dimana Fabian menanti.

Beberapa saat mencapai pantai, mereka merasa desakan dan getaran air yang kuat. Tongky segera tahu, kapal selam itu telah meledak. Dan ketika beberapa saat kemudian mereka muncul di permukaan air di dekat pantai, mereka tak lagi melihat kapal selam tersebut. Di laut mereka hanya melihat beberapa sosok tubuh yang berusaha berenang ke tepi. Mereka adalah awak kapal selam itu. Di sekitarnya terlihat berbagai barang mengapung di antara genangan minyak. Tongky menyeret tubuh Si Bungsu ke atas. ‘’Terima kasih, kawan. Anda menyelamatkan nyawa saya..’’ ujar Si Bungsu, begitu tubuhnya berada di pasir di bawah pohon-pohon yang rindang.

Saat itulah para awak kapal selam yang sedang terapung-apung di laut menampak mereka. Mereka saling berteriak. Namun jaraknya terlalu jauh untuk mengenali, apalagi untuk mendekati. Fabian berada di sana, di dekat Si Bungsu dan Tongky. ‘’Ayo cepat, teman-teman mereka barangkali tengah menuju kemari, demikian juga polisi. Ledakan ini mungkin terdengar sampai ke kota..’’ ujar mantan Kapten itu.

Mereka bergegas mengangkat alat-alat selamnya, menyeretnya ke semak-semak di mana mereka tadi meninggalkan jip Landrover. Lalu meninggalkan tempat itu. Mengambil jalan lain yang mereka ketahui karena telah mempelajari tempat tersebut dengan seksama. Pemerintah Malaya jadi heboh. Segera terungkap bahwa perairan Singapura, bahagian dari negara mereka, telah dipakai oleh pasukan Belanda sebagai pangkalan gelap kapal perang. Meledaknya kapal selam itu telah membuka kedok Konsulat Belanda di kota itu. Ribut antara Pemerintah Malaya dengan Belanda segera terjadi. Malaya memanggil Konsul Belanda di Singapura. Lalu mengusir, mempersona non garatakan, Konsul itu.

Dalam konflik Indonesia-Belanda, Malaya memang negara yang netral. Namun hadirnya sebuah kapal selam di perairannya, jelas tak disukai Indonesia yang tengah berperang dengan Belanda. Malaya tak ingin Indonesia mencapnya sebagai negara yang pro-Belanda. Berurusan dengan Indonesia jelas tak diingini oleh Malaya. Soalnya lagi, bukan karena takut dimusuhi Indonesia saja, melainkan kehadiran sebuah kapal perang tanpa setahu pemerintah setempat, memang bukan urusan yang sepele.

Awak kapal selam yang terbenam itu terpaksa diserahkan oleh pihak Konsulat Belanda kepada pemerintah Malaya. Mereka sempat dihukum masing-masing lima bulan. Barulah lewat saluran diplomatik yang ruwet, ke 45 orang awak kapal selam itu di pulangkan ke negeri Belanda.

Hanya saja, pihak Malaya tetap tak tahu, bahwa selain kapal selam yang meledak itu, masih ada kapal selam lain di perairannya. Bahkan ada empat atau lima kapal perang Belanda yang dikamuflase sebagai kapal dagang, yang berlabuh dengan tenang di antara ratusan kapal-kapal dagang lainnya di teluk Singapura!

Si Bungsu sebenarnya ingin sekali membongkar kedok Belanda itu. Dia menyelidiki kapal-kapal perang yang dipalsukan jadi kapal dagang itu, kemudian memberitahu pihak Malaya. Namun dia tak punya waktu lagi. Teman-temannya telah menyiapkan tiket untuk berangkat ke Dallas.

Apalagi tujuan utamanya adalah mencari Michiko, kekasihnya yang dibawa lari oleh seorang mantan pilot Amerika semasa Perang Dunia II, bernama Thomas. Pilot keturunan Inggeris-Spanyol. Sehari menjelang berangkat, mereka berkumpul di rumah Fabian, dimana Si Bungsu menginap selama di Singapura.

‘’Besok engkau akan berangkat dengan Japan Airlines, kawan. Dari sini menuju Hongkong. Dengan pesawat yang sama ke Dallas lewat Hawai. Engkau akan ditemani oleh Tongky. Dia kenal baik kota itu, karena dia tinggal di sana sebelum Perang Dunia II,” ujar Fabian. Fabian sendiri tak bisa ikut karena akan ke Inggeris mengantarkan ibunya. Namun setiap saat yang dibutuhkan, jika ternyata Si Bungsu dan Tongky menghadapi kesulitan di Dallas, mereka akan datang. ‘’Jangan ragu-ragu memanggil kami. Barangkali kalian di sana akan terbentur dengan dinding kejahatan hebat bernama Mafia, siapa tahu bukan? Jika itu terjadi, beritahu kami, kami akan datang..’’

Si Bungsu amat berterima kasih atas setia kawan teman-temannya ini. Sebenarnya Fabian berkeras agar Si Bungsu disertai teman-teman yang lain. Seperti Sony dan Miquel. Jadi mereka bisa berangkat berempat. Namun Si Bungsu khawatir keberangkatan berempat itu akan memakan biaya besar dan akan menyulitkan dia bergerak mencari jejak Michiko. Sebagai jalan tengah, akhirnya dia berangkat duluan dengan Tongky.

Pesawat yang mereka tompangi itu adalah pesawat DC 10. Sejenis pesawat jet yang terhitung baru kala itu. Bermuatan sekitar lima puluhan orang. Namun dalam trayek menuju Hongkong, hanya separoh tempat duduk yang terisi. Sebahagian besar adalah orang Hongkong, Singapura, Jepang dan beberapa orang Barat. Pintu pesawat hampir ditutup, ketika tiba-tiba seorang gadis berlarian. Nampaknya dia datang terlambat ke bandara.

‘’Maaf, pesawat saya baru mendarat dari Italia. Saya harus ke Amerika..’’ terdengar dia bicara pada pramugari dalam Bahasa Inggeris yang amat fasih. Gadis yang baru datang itu nampaknya adalah juga seorang pramugari. Pakainnya menunjukan hal itu. Nampaknya dia dari perusahaan penerbangan Al-Italia. Ketika dia masuk, hampir semua mata menatap kagum padanya.

Gadis itu luar biasa cantiknya. Tak pelak lagi, dia pastilah orang Italia. Kulitnya tak dapat dikatakan putih. Lebih tepat dikatakan coklat terang. Berhidung mancung dengan mata yang biru dan rambut hitam kelam. Gadis itu tersenyum ke kiri dan ke kanan. Sikapnya yang ramah sebagai pramugari tak bisa dia lepaskan, meski kini lagi tidak bertugas di pesawatnya. Gadis itu duduk berseberangan dengan Si Bungsu. Antara mereka berdua dibatasi oleh jalan di tengah pesawat. Tongky yang duduk di sebelah Si Bungsu menyikut lengan Si Bungsu sebagai isyarat. Si Bungsu menoleh dan tersenyum melihat kenakalan temannya itu. Harus dia akui, gadis di seberang jalan kecil itu memang alangkah cantiknya. Namun dia hanya sekilas memandang gadis itu, ketika si gadis akan duduk.

Gadis itu sendiri sempat menoleh padanya, melemparkan sebuah senyum yang meninggalkan lesung pipit di pipinya yang montok. Kemudian dia kelihatan sibuk dengan tas tangan yang dia bawa. Dari dalamnya dia mengeluarkan sebuah majalah, lalu tenggelam dalam bacaan begitu pesawat mulai bergerak.

Tapi lima belas menit kemudian, ketika pramugrasi Japan Air Lines itu mulai membagi-bagikan makanan, gadis itu meletakkan majalahnya. Membuka sabuk pinggang, kemudian berjalan ke depan. Di depan, dimana pramugari JAL itu tengah menyiapkan makanan, gadis itu nampaknya menawarkan jasa baiknya. Dan meski ditolak oleh pramugari pesawat, gadis itu tetap berkukuh. Dia mengambil nampan, kemudian menuju cokpit, dimana pilot dan copilot bertugas.

Cukup lama di dalam ruangan itu. Dan ketika muncul lagi di kabin, wajahnya tetap bersinar cerah. Dia membantu ketiga pramugari pesawat itu membagikan makanan dan minuman pada para penumpang. Kehadirannya demikian memikat. Betisnya yang indah berisi tak dibalut oleh kaus tipis seperti pramugari JAL itu.

Dia membagikan makanan dan minuman dengan senyum dan lesung pipitnya. Setelah itu, dia kembali duduk di tempatnya. Sibuk lagi membaca majalah yang tadi dia keluarkan dari tas tangannya. Nampaknya tak ada komunikasi sedikitpun antara dia dengan lelaki separoh baya yang duduk di sebelahnya. Lelaki separoh baya itu, barangkali seorang yang berasal dari negeri Amerika Latin, tak acuh sedikitpun atas kehadiran gadis cantik di sebelahnya. Dia tenggelam dalam keasyikannya sendiri, mendengar nyanyian lewat pesawat kecil yang dilekatkannya ke telinganya dan disambungkan pada mik ke langit-langit pesawat.

Di Hongkong, tiga jam kemudian, sebahagian dari penumpang turun. Kemudian sebagai gantinya masuk sekitar dua puluhan penumpang menuju Amerika. Dalam perjalanan menuju Honolulu di Lautan Teduh, dimana pesawat itu harus berhenti mengisi bahan bakar dan menurunkan/menaikan beberapa penumpang, gadis Itali yang pramugari itu kembali sibuk menolong pramugari JAL menghidangkan makanan dan minuman. Kali ini bantuan itu nampaknya memang diperlukan karena penumpang hampir penuh.

Si Bungsu tengah tertidur ketika bahunya disentuh dengan lembut. Ketika dia membuka mata, dia lihat gadis itu tegak di sisinya sambil mendorong makanan di kereta kecil. Gadis itu tersenyum, dengan lesung pipit yang indah dan gigi yang putih bersih, menyapanya : ‘’Tuan mau apa?’’ ‘’Oh, kopi saja..’’

Gadis itu meletakan kopi dalam gelas plastik di meja kecil di depan Si Bungsu. Kemudian melatakkan makan malam yang terdiri dari bistik dengan goreng ayam yang harum. Lalu segelas lagi air putih. ‘’Silahkan menikmati makan malam Tuan..’’ ‘’Terima kasih…’’ Gadis itu kemudian berlalu. Tongky kembali menyikut Si Bungsu.

‘’Ramah benar dia padamu, kawan..’’ kelakar Tongky sambil melahap ayam goreng dan meminum kopinya. Si Bungsu memperhatikan gadis Itali itu. Dan tiba-tiba saja, ada sesuatu perasaan ganjil menyelinap di hatinya. ‘’Di mana kita kini….?’’ tanyanya pelan, sambil menghirup kopi. ‘’Di atas Lautan Pacific’’ ‘’Kita akan singgah di Honolulu?’’ ‘’Ya, semua kita. Kalau tidak pesawat ini akan kecemplung di tengah laut kehabisan bahan bakar..’’ ‘’Berapa lama lagi kita akan sampai di sana?’’ ‘’Pagi lewat sedikit’’ Si Bungsu menoleh, heran.

‘’Pagi? Begitu jauh, dan pesawat ini sanggup terbang sepanjang malam tanpa mengisi bahan bakar?’’ ‘’Begitu teorinya. Tapi tak usah khawatir. Sebentar lagi, kita akan melewati batas malam dan pagi. Waktu di Indonesia, termasuk Singapura, berbeda nyaris 24 jam dari Amerika. Bila di negeri Anda jam sembilan pagi, itu artinya di Amerika sekitar jam sembilan malam. Nah, sebelum Honolulu, kita akan melewati batas malam itu. Jadi sebenarnya kita terbang melintasi jarak antara malam dengan siang. Kalau berada di tempat malam lamanya 12 jam, maka dalam penerbangan melintas jarak ini, malam hanya kita alami sekitar empat atau lima jam. Anda begitu khawatir nampaknya. Ada apa?’’

Si Bungsu tak segera menjawab. Dari gadis Itali yang tengah membagi-bagikan makanan itu matanya beralih pandang ke depan, lalu ke belakang. Kemudian tangannya meraih ayam goreng, sebelum mengunyah dia berkata pelan : ‘’Saya tak tahu dengan pasti, tapi saya merasa ada sesuatu yang ganjil…’’ “Yang ganjil adalah jantungmu, kawan. Kau sedang jatuh hati pada gadis itu, bukan? Kau harus berperang dengan empat puluh lelaki dalam pesawat ini untuk mendapatkannya. Kau lihat mata para lelaki itu memandang gadis tersebut? Seperti akan menelannya habis-habisan. Gadis itu memang luar biasa cantiknya. Lihat pinggulnya yang bulat, dadanya yang bukan main..’’

Tongky lalu tertawa bergumam sambil mengunyah makanannya. Si Bungsu menarik nafas. Matanya kembali menatap gadis bertubuh menggiurkan itu. Gadis itu memang amat cantik, amat menggiurkan. Namun ada firasat aneh menyelusup di hatinya. Dia tak tahu apa, tapi dia merasa bakal ada sesuatu yang hebat yang bakal terjadi.

Ah, kalau saja dia di rimba, barangkali dia cepat bisa membaca bahaya yang mengancam. Dia memang hidup dan dibesarkan di rimba, karenanya dia hafal benar akan hal-hal yang bakal terjadi. Dia seperti memiliki indra keenam. Tapi kini dia berada di pesawat udara, kecemasan apa yang menyelusup di hatinya? ‘’Saya rasa gadis itu bukan orang Itali, mungkin orang Mexico atau Cuba..’’ ujar Tongky lewat mulutnya yang penuh berisi. Karena Si Bungsu tak mengomentari, dia bicara lagi. ‘’Orang Itali, Mexico dan Cuba, banyak persamaannya. Sama-sama berdarah panas. Lebih-lebih perempuannya. Gadis ini kalau di tempat tidur, saya yakin akan seperti kuda gila, mengamuk dan panas menggelora seperti air yang mendidih. Beda orang Mexico dan Cuba dengan orang Italia hanya pada kulitnya. Orang Italia agak putih, tapi kalau mereka banyak berjemur matahari, maka warna kulit mereka akan susah dibedakan..’’

Si Bungsu masih diam. Memakan penganan di depannya. Kemudian dengan firasat tak enak tetap bersarang di hati, dia akhirnya tertidur. Dia terbangun ketika dibangunkan Tongky. ‘’Hei, kita sudah berada di sebuah pagi’’ ujar kawannya itu. Lewat jendela Si Bungsu melihat sinar matahari yang terang benderang menyeruak masuk. Tak ada apapun yang terlihat di luar jendela sana, kecuali kekosongan. Kemudian sebuah pengumuman dari pramugari. Pesawat ini kami bajak dan di arah kan ke mexico dan kami juga menyandera menteri muda pertahanan Amerika, meminta Amerika membebaskan 10 orang teman kami yang di tahan..

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, kita kini berada di atas kepulauan Midway yang termasuk dalam wilayah Amerika Serikat. Sebentar lagi kita akan mendarat di Kota Oahu, salah satu dari kota di Honolulu untuk mengisi bahan bakar. Kemudian akan melanjutkan penerbangan ke New York, baru ke Dallas. Selama pengisian bahan bakar, tuan-tuan dan nyonya-nyonya tidak di perkenan kan turun ke pelabuhan udara. Pengisisan bahan bakar dan cek pesawat hanya sebentar. Kami persilakan anda mematikan api rokok dan mengenakan sabuk pengaman, terima kasih…”

Banyak di antara penumpang pesawat itu yang kecewa tak dapat turun di Honolulu. Namun pesawat ini nampaknya memang khusus di carter untuk trayek Hongkong-New York-Dallas. Sebab tak seorang pun penumpang yang turun di honolulu atau di Hawai. Padahal biasanya arus Penumpang ke hawaii bukan main ramainya. Kalau begitu di pesawat ini ada orang penting, pikir Si Bungsu. Demikian pentingnya hingga pesawat tidak perlu singgah di Hawaii.

Tak lama setelah pesawat melewati ke pulauan Hawaii di lautan Teduh menuju New York, pramugari yang duduk di seberang Si Bungsu itu bangkit. Ketika bangkit dia masih sempat melempar senyumnya yang memikat pada Si Bungsu Tongky kembali menyikutnya. Gadis itu berjalan kedepan dengan membawa tas di tangannya. Di depan dia bicara dengan pramugari. Lalu dengan masih tersenyum berjalan kedepan ke ruang pilot. Membuka pintu ruangan itu. Seorang lelaki yang duduk agak kedepan bangkit dan tegak menhadap kebelakang, dia memakai kaca mata, tersenyum tapi penuh ancaman.

Ditangan nya sebuah Granat dan pistol otomatis. Dia meraih mikropon yang biasanya di pakai pramugari untuk menyampaikan informasi dan pengumuman, lewat mik terdengar dia berbicara. “Pesawat ini kami bajak. Para penumpang harap tenang, tak seorang pun yang celaka kalau Tuan-tuan menuruti perintah kami. Jangan membuat gerakan yang tidak-tidak, jumlah kami enam orang di pesawat ini. Ada di setiap pintu dan tempat yang menentukan dengan sebuah granat dan dinamit yang siap mengirim kita semua keneraka, tetaplah tenang…” Lelaki itu memandang pada seorang lelaki yang duduk paling depan, tersenyum dan mengangguk pelan kepadanya. “Maaf, semua penumpang kami jadikan sandera..” katanya dengan sikap hormat

Si Bungsu dan Tongky saling pandang. Kemudian hampir bersamaan mereka melihat kebelakang. Ada empat lelaki, berkaca mata hitam semua, memegang senapan otomatis dan granat di tangan. Tegak dipintu darurat tengah dan di bahagian belakang. Yang didepan sana berbicara lagi.

“Kami terpaksa mengatur tempat duduk anda sebelum kami menerangkan sesuatu. Kami harap kalian semua berkumpul ditengah. Mengisi bangku yang masih kosong. Jadi tiga deret didepan dan empat deret di belakang harap di kosongkan. Kecuali tuan mentri, harap tetap duduk di deret nomor dua itu saja, sendiri. Yang lain dideretan nomor tiga. Kami akan memindahkan anda satu demi satu. Jangan membuat gerakan yang tidak- tidak. Barangkali ada di antara kalian yang membawa senjata api atau senjata tajam, tetapi sekali anda membuat gerakan yang mencurigakan, pesawat dan semua isinya menuju neraka. Nah, ikuti perintah saya baik- baik…” Orang itu mulai memberi petunjuk. Mula-mula yang diperintahkannya adalah para lelaki yang duduk didepan sekali dan yang nomor dua. Barangkali orang-orang penting. Tetapi yang dia sebut mentri itu di robah lagi tak jadi pindah. Sendirian di tinggalkan di kursi paling depan itu. Kemudian bahagian-bahagian lainnya di pindahkan juga.

Keruwetan terjadi saat akan memindah kan seorang perempuan tua. Mungkin karena kaget atau takut dia tak bisa berdiri. Perempuan itu akhirnya di suruh bantu oleh seorang anak muda. Tak dapat tidak, isi pesawat itu di liputi ketegangan. Kemudian lelaki yang berkaca hitam yang nampaknya adalah salah satu pimpinan dari teroris ini mulai menjelaskan identitas mereka.

“Kami dari kuba, kami kelompok Fidel castro. Kami menuntut sepuluh tahanan politik dan militer yang kini dalam penjara El Paso dan Al Catras, yang berhaluan Marxis-Leninisme yang di penjarakan Rezim Kennedy, segera di bebaskan. Kami akan menukarkan yang kesepuluh orang itu dengan Tuan Mentri muda Urusan Pertahanan Amerika Serikat yang ada di pesawat ini. Pesawat ini tengah di perintahkan pimpinan kami untuk menuju Mexico City, Ibukota Mexico. Kami menunggu pertukaran tahanan politik itu di Mexico. Selama tahanan itu belum muncul, tak seorangpun diantara Anda yang akan meninggalkan pesawat. Nah, kami kira semuanya cukup jelas. Jangan panik, yang ingin buang air dan sebagainya, disilahkan ke toilet seperti biasa. Asal jangan coba-coba berbuat yang tidak-tidak. Bahkan kalau Anda ingin kopi, teh atau makanan, Anda bisa menekan bel, dan pramugari akan kami perintahkan melayani Anda. Kami yakin Anda akan membantu kami demi tegaknya Komunisme Internasional. Terima kasih atas kerjasama Anda..’’

Dia meletakkan mik itu. Kemudian mengambil earphone, memencet tombol di dinding dekat pramugari yang masih duduk dan tak tahu harus berbuat apa. Dia bicara beberapa patah. Kemudian lelaki tersebut meminta ketiga pramugari yang masih duduk terbengong-bengong itu untuk pindah ke deretan kedua, di sisi yang berlainan dari Menteri Amerika Serikat tersebut.

Lelaki itu menuju ke cokpit. Mengentuk pintu dua kali. Ketika pintu terbuka, lelaki itu masuk. Tempatnya di dekat earphone tadi segera digantikan oleh pembajak lain yang berjambang lebat. Tak lama setelah lelaki pertama masuk, pintu ruang pilot terbuka. Dari sana muncul gadis Itali itu. Masih tersenyum ramah. Namun di tangannya ada sepucuk pistol.

Lelaki berjambang itu memberi hormat, serta bersikap takzim sekali pada gadis itu. Gadis itu tegak dan meraih mik yang tadi dipakai oleh si lelaki pertama, yang kini nampaknya bertugas mengawasi pilot dan copilot di depan sana. Lewat mik pramugari Itali itu bicara, suaranya merdu dan lembut : ‘’Selaku pimpinan dari regu pembebasan ini, saya mohon maaf atas terganggunya perjalanan Anda sekalian. Namun percayalah, pengorbanan Anda yang sedikit itu adalah demi kejayaan Komunisme..’’

Gadis itu berhenti. Melayangkan pandangan lewat matanya yang biru dan senyumnya yang memikat ke seantero ruangan pesawat. Tongky kembali menyikut Si Bungsu, berbisik : ‘’Anda ternyata benar, kawan. Maksud saya firasat Anda tadi. Anda punya indra keenam yang amat tajam. Tapi .. ngomong-ngomomg, pacar Anda ini rupanya punya pangkat yang lebih tinggi. Pimpinan regu pembebasan sepuluh orang tahanan politik dan militer. Hmm, dan harap ingat pula, perkiraanku juga benar, bahwa dia bukan orang Italia, meski dia bekerja di Air Italian. Dia orang Cuba. Perempuan Cuba, kalau dapat tidur dengannya, wouww!’’

Tongky tertawa sendiri. Suara tawanya membuat para pembajak itu menatap tajam. Salah seorang di antaranya, yang tegak tak begitu jauh dari tempat mereka, bertanya : ‘’Anda yang kribo, saya rasa Anda dari Afrika, apa yang membuat Anda gembira hingga tertawa begitu?’’ Ucapan orang itu sopan sekali, namun siapa pun dapat merasakan nada hinaan dalam kalimat ‘Afrika’ yang dia ucapkan. Namun Tongky sedikitpun tak merasa tersinggung, dengan senyum lebar dia menjawab :

‘’Terima kasih Anda punya pengetahuan dan rasa hormat yang dalam pada leluhur saya. Tentang kegembiraan, sehingga membuat saya tertawa, karena rute perjalanan yang dirobah ini..’’ Seluruh pembajak dalam pesawat itu menatapnya. ‘’Teruskan…kawan..’’ kata pembajak yang tadi bertanya. Mau tak mau beberapa penumpang ikut-ikutan menoleh pada Tongky. Kawan di Bungsu itu menyambung : ‘’Yang membuat saya gembira adalah diperpanjangnya perjalanan ini. Kami membayar hanya untuk Singapura-Dallas, kini siapa sangka, Tuan-tuan berbaik hati membawa kami ke Mexico. Mana tahu, kami bisa pula melihat Cuba. Ah, negeri tuan pasti bagus sekali….he..he..’’ Beberapa penumpang nyengir. Para pembajak itu saling pandang sesamanya. Gadis cantik pimpinan teroris itu ikut tersenyum. Tongky bicara dengan menghadap pada gadis itu. ‘’Kawan di sebelah saya ini orang Indonesia tulen. Dan maaf, dia amat tertarik pada Nona, sebagaimana halnya semua lelaki di pesawat ini..’’

Si Bungsu jadi merah mukanya. Tak kalah merahnya adalah wajah para pembajak. Salah seorang yang tegak di dekat mereka segera mendekati dan berniat memukul Tongky, namun gadis cantik itu memberi isyarat mencegah. Lelaki itu surut lagi ke tempatnya semula. Dengan masih tersenyum, gadis itu bertanya langsung pada Si Bungsu. “Apakah benar ucapan temanmu itu, Love?’’ Si Bungsu tak menjawab, yang menjawab justru Tongky. Dia menjawab dengan siulan nyaring tatkala gadis itu memanggil Si Bungsu dengan ’love’. ‘’Nona, Anda bisa menimbulkan perang dalam pesawat ini dengan hanya menyebut Love kepada kawanku ini saja. Anda harus adil..’’ ujar Tongky.

Penumpang lain semakin nyengir dalam situasi genting itu. Lelaki keparat dari mana pula ini, dalam keadaan gawat begini, di bawah todongan bedil dan granat pembajak Cuba, masih sempat berseloroh tak menentu, pikir mereka. Akan halnya gadis itu masih tetap tersenyum. Senyumnya baru lenyap tatkala dari loud speaker terdengar suara : ‘’Nona Yuanita, Yuanita Pablo, Pemerintah Amerika ingin bicara langsung dengan Nona di radio..’’

Itu adalah suara pilot pesawat tersebut. Aksen Jepangnya kentara sekali. Gadis itu, yang ternyata bernama Yuanita Pablo, segera meninggalkan tempatnya berjalan ke ruangan pilot. Suasana di dalam kabin kembali sepi. Orang saling pandang sesamanya. Tak lama kemudian pintu cokpit kembali terbuka, lelaki berkacamata yang bicara atas nama pembajak tadi yang beberapa saat berada di cokpit menggantikan Yuanita, kini muncul.

Dia langsung menuju Menteri Muda Pertahanan Amerika, yang duduk di barisan depan. Dengan pistolnya dia memberi isyarat untuk berdiri. Dua orang lelaki di deretan ketiga, yang tadi duduk di belakang menteri itu, kelihatan bergerak, lelaki yang berkaca mata hitam mengangkat granat di tangan krinya, dan berkata dingin ke arah mereka : ‘’Kami tahu, Anda dari CIA atau FBI, tapi jangan berlagak jagoan dalam pesawat ini. Kami juga tahu, kalian membawa senjata. Jangan sekali-kali mencoba, kalau tak ingin pesawat ini kami ledakan. Kalau tak ingin menteri ini kami bunuh’’. Sehabis berkata dia lalu memberi isyarat, menteri muda itu maju, namun dua lelaki di belakang sana, yang barangkali memang dari CIA atau FBI pengawal menteri itu, kelihatan kembali bergerak. Lelaki berkacamata itu berbalik, menembak!

Salah seorang dari anggota CIA itu terjungkal dengan dada berlobang. Mati! Orang pada memekik dan panik. Kemudian terdengar bentakan-bentakan menyuruh diam. Sepi. ‘’Saya peringatkan kalian, jangan main gila. Saya bisa menghabisi nyawa kalian semua. Itu tadi sebuah peringatan, bahwa kami tak main-main. Ini satu lagi sebagai bukti kami tidak main-main..’’ sehabis ucapannya dia berputar, mengarahkan pistol ke kepala menteri tersebut. Lalu menembak!

Menteri Muda Urusan Pertahanan Amerika Serikat itu terlonjak, demikian pula beberapa staf pengawalnya, mereka segera merogoh kantong, mencabut pistol. Namun kembali lelaki itu menembak dua kali ke arah penumpang. Dua lelaki terjungkal, mati! Ini adalah peperangan di udara! Penumpang semakin panik. Mereka menunduk dalam-dalam di kursi masing-masing. Tiga orang sudah mati dalam waktu singkat. Ketiga mereka memang dari CIA! Akan halnya Menteri Muda itu sendiri masih tetap tegak. Tembakan tadi hanya ditujukan ke telinganya. Dan telinga kanannya kini berdarah, separuh putus. Sepi.

‘’Kami ingin membuktikan bahwa kami tak main-main. Kami siap meledakan pesawat ini berikut seluruh isinya..’’ ujar lelaki itu. Tatapan matanya yang tajam diarahkan pada Si Bungsu dan Tongky. Dua lelaki yang dia lihat tak sedikitpun berusaha menyurukkan kepala, tatkala tadi dia menembak. Kali ini yang bicara adalah Menteri Amerika itu : ‘’Teror yang kalian lakukan takkan ada gunanya. Pemerintah kami takkan melayani permintaan kalian..’’ ‘’Itu berarti nyawamu dan nyawa stafmu jadi taruhan, Tuan Menteri..’’ ‘’Kami siap mati untuk negeri kami..’’ ujar menteri itu tegas.

Tubuhnya didorong ke dalam cokpit. Cokpit itu jadi sempit dengan empat orang di dalamnya. Si pramugari yang jadi pimpinan pembajak, pilot dan copilot, ditambah di lelaki berkaca mata, kini masuk lagi menteri muda itu. ‘’Presiden Kennedy ingin bicara dengan Anda..’’ ujar pilot Jepang itu sambil menyodorkan radio pada menteri muda tersebut. Menteri muda itu menekan tombol di radio dalam genggamannya. Dia menyebutkan namanya dan dari seberang sana, terdengar suara John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat : ‘’Anda sehat-sehat, Tuan Menteri?’’ ‘’Yes, Mr. President’’ ‘’Bagaimana situasi dalam pesawat Anda..’’ radio itu segera direbut oleh si pramugari dan bicara : ‘’Kami ingin mengingatkan Anda, Tuan Presiden, di dalam pesawat ini beberapa orang telah ditembak mati….’’ pramugari itu berhenti, sebab lelaki berkaca mata itu memberi isyarat dengan mengacungkan tiga jari, kemudian dia sambung lagi : ‘’Kini jumlah yang mati sudah bertambah dua lagi. Kami kira dia adalah orang CIA yang ikut bersama menterimu. Dan kami akan meledakan pesawat ini berikut seluruh isinya jika Tuan tak memenuhi tuntutan kami…’’

Tak ada jawaban. Sepi. Presiden Kennedy di Gedung Putih sana nampaknya kaget juga dengan perkembangan baru dalam pesawat itu. Cukup lama situasi sepi, sementara pesawat terbang terus menuju Mexico City, ibukota Negara Mexico. Tiba-tiba suara Kennedy kembali terdengar :

‘’Saya harap Anda, Nona Yuanita, atau siapapun nama Anda, merinci lagi tuntutan Anda..’’ ‘’Saya sudah menyampaikannya beberapa menit yang lalu, Tuan Presiden. Dan itu tak ada gunanya untuk diulangi. Kami akan mendarat di Mexico City. Kami beri Anda waktu 24 jam untuk mendatangkan tawanan yang kami minta, berikut sebuah pesawat jumbo jet yang siap diterbangkan kemana yang kami inginkan..’’ ‘’Saya memikirkan tuntutan Anda, Nona. Tapi ada baiknya Anda menghubungi lapangan udara Mexico City. Kami akan menghubungi Anda kembali..’’ Sepi.

Yuanita bertatapan dengan lelaki berkacamata hitam itu. Lalu menekan tombol penghubung kembali, namun tak ada tanda terima dari sana. ‘’Hubungi presiden babi itu. Kami tak peduli apakah dia main gila dengan meminta pemerintah Mexico untuk menolak kami mendarat. Kalau itu terjadi, maka pesawat ini akan diterbangkan langsung ke New York..’’ pramugari cantik itu mulai berkata dengan marah pada pilot.

Pilot Jepang itu berusaha beberapa kali, dan akhirnya hubungan tersambung lagi. Tapi suaranya putus- putus, ada gangguan cuaca. Pilot itu kembali mencoba dan berhasil. ‘’Tuan Presiden, nona ini ingin bicara..’’ ‘’Ya..’’ Yuanita merebut radio itu, dan bicara dengan nada dingin : ‘’Presiden, bila Anda coba meminta Pemerintah Mexico untuk menolak kami mendarat, maka pesawat ini, dengan enam puluh empat penumpangnya, dua puluh diantaranya wanita, enam orang anak-anak, akan kami terbangkan menuju New York. Akan kami tubrukan ke gedung PBB, atau kami langsung ke Washington, menubrukkan pesawat ini ke Gedung Putih. Kalau tak sampai, kami akan membiarkan pesawat ini meluncur jatuh kehabisan bahan bakar..’’

Yuanita memutuskan hubungan, memerintahkan menghubungi pelabuhan udara Mexico City. Dengan cepat pelabuhan udara yang memang telah disiagakan sejak terdengar pembajakan itu dapat dihubungi. ‘’Di sini DC 10 Japan Air Lines Nomor penerbangan….’’ pilot itu menjelaskan segala identias penerbangannya. Kemudian minta bicara dengan tower. Minta izin untuk mendarat. Namun petugas tower memberi jawaban : ‘’Maaf lapangan kami tertutup untuk Anda, harap mencari lapangan lain, roger…’’ Yuanita bertatapan dengan lelaki berkacamata hitam tadi. Lalu menyambar radio dari tangan pilot tersebut, kemudian dengan nada yang amat mengancam berkata : ‘’Kami akan tetap terbang menuju lapangan Anda. Jika Anda tidak mengosongkan lapangan, maka saya akan perintahkan pesawat tetap mendarat. Jika perlu dengan menabrak tower di mana Anda bertugas. Anda boleh sampaikan ini pada Presiden Anda agar dia menyampaikannya pada Presiden Kennedy yang meminta kalian untuk melarang kami mendarat di Mexico City! Setelah ini tak ada tanya jawab!’’ Dan radio itu dia sangkutkan. Pilot menatapnya. ‘’Kita berada dalam bahaya besar jika tak berhubungan dengan lapangan, Nona..’’ katanya pelan. Gadis bekas pramugari itu tersenyum. ‘’Apa artinya bahaya itu, di sini juga ada segudang bahaya…’’ katanya sambil memberi isyarat pada lelaki berkaca mata hitam yang menjadi wakilnya itu. Si lelaki segera mendorong Menteri Muda Amerika Serikat itu untuk keluar dari ruangan cokpit. ‘’Kita terus ke Mexico City?’’ pilot Jepang itu bertanya pada gadis yang masih saja mengacungkan pistolnya. “Ya. Terus..!’’ dan gadis itu meraih peta di sisi pilot, kemudian memperhatikannya. Lalu beralih memperhatikan instrumen pada pesawat DC 10 itu. Pilot dan copilot tersebut memang tak mungkin membohongi jalur penerbangan mereka.

Selain bisa membuat para pembajak ini marah, juga karena mantan pramugari ini demikian hapal dengan jalur penerbangan yang mereka tempuh. Pengalamannya sebagai pramugari senior membuat dia mengerti memakai instrumen yang ada di pesawat tersebut. Sekaligus juga bisa membaca dan memanfaatkan peta penerbangan.

Di ruang penumpang, Si Bungsu dan Tongky yang sejak beberapa saat terdiam, mulai menghitung-hitung kemungkinan. Tongky jelas membawa sebuah pistol merek Lucer buatan Jerman. Pistol otomatis yang mampu memuntahkan selusin peluru. Tapi, pembajak terpencar posisinya. Di cokpit kini justru jadi bertiga dengan lelaki yang menggantikan kedudukan si kaca mata.

Kemudian di tengah dua orang. Masing-masing tegak dekat pintu darurat kiri dan kanan. Lalu dua orang di belakang. Jadi jumlah pembajak ini tujuh orang. Jumlah yang tak dapat dikatakan kecil. Jika dia menembak yang di depan, maka yang di belakang dan di tengah akan menghujaninya dengan peluru. Itu masih mendingan, bagaimana kalau yang lain justru tidak membalas menembak, tetapi langsung melemparkan granat yang ada di tangan mereka?

Pesawat ini akan hancur berkeping-keping sebelum menyentuh bumi, atau letaklah mereka tak sempat melempar granat itu, namun bahaya tetap saja ada. Si Bungsu barangkali bisa membereskan yang dua di tengah ini. Dengan samurai-samurai kecil yang tersisip di lenganya Si Bungsu bisa membereskan kedua pembajak ini. Namun, granat di tangan mereka nampaknya dari jenis yang amat sensitif. Tak perlu mencabut pen untuk meledakannya.

Begitu jatuh, granat itu langsung meledak. Jadi begitu kena tembak atau kena serangan samurai, mereka tentu jatuh, mungkin menimpa lantai, mungkin menimpa tempat duduk. Dan… ‘’Tak mungkin kita bergerak dalam pesawat ini…’’ bisik Tongky. Si Bungsu mengangguk. Ya, mereka memang tak bisa berbuat apa-apa. Mereka terpaksa menanti pesawat ini mendarat di suatu tempat. Baru bertindak.

‘’Tapi cewekmu itu pintar juga..’’ tiba-tiba Tongky berbisik. Si Bungsu menoleh. Tongky memberi isyarat ke depan. Di depan sana, cewek yang dimaksud oleh Tongky tak lain dari pramugari Italian Air Servis itu. ‘’Kau ingat ketika mula berangkat dari Singapura? Dia dengan ramah membantu para pramugari pesawat ini. Dan dia berhasil menuju cokpit tanpa seorangpun mencurigainya. Dan saat yang paling menentukan, yaitu saat pembajakan dimulai, dia juga masuk cokpit dengan membawa makanan untuk pilot. Makanan bersama pistol. Rencana yang matang. Tapi..semua mereka lakukan demi apa yang mereka sebut sebagai “komunisme internasional”. Hmm, kau harus mendukung pembajakan ini kawan..’’ ucap Tongky.

Si Bungsu menoleh lagi pada Tongky. Dia tak mengerti kenapa dia harus mendukung pembajakan ini seperti      yang      diucapkan      Tongky.       Dan       kawannya       itu       segera       menjelaskan       : ‘’Maksudku, mereka ini berjuang demi kejayaan komunisme. Bukankah negerimu kini tengah menuju sistem komunis secara kongkrit? Kalau negerimu menganut faham komunis, maka mau tidak mau tentu kau harus membantu mereka lari, demi cinta pada nusa dan bangsa..’’Tongky nyengir. Bungsu juga nyengir. Di dalam pesawat itu kini nampak kesibukan menyingkirkan mayat-mayat yang tadi ditembak silelaki berkacamata hitam. Mayat-mayat orang CIA yang menjadi pengawal Menteri Muda Amerika itu. Betapapun jua, pembajakan ini adalah pembajakan yang luar biasa efeknya dalam percaturan politik internasional.

Komunis Cuba adalah front terdepan Uni Sovyet dalam menghadapi Amerika Serikat. Cuba persis di depan jantung Amerika Serikat. Atas permintaan Fidel Castro, Rusia telah mengirim tidak hanya persenjataannya ke sana, tetapi lengkap dengan ribuan tentara dan tenaga-tenaga ahli militer.

Bukan rahasia lagi, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy amat marah dengan tingkah laku Rusia di Cuba itu. Krisis hubungan diplomatik antara Amerika dengan Rusia memang tengah menuju titik paling nadir dalam sejarahnya, dengan campur tangannya Rusia di Cuba.

Amerika Serikat tidak peduli komunis ikut campur dalam negeri orang lain, itu sudah dia buktikan dengan membiarkan Komunis di Polandia. Negeri itu jauh sekali dengan Amerika. Dan negeri itu memang suka pada Komunis. Tapi Cuba, negeri yang hanya sejengkal dari Amerika itu, merupakan duri dalam daging bagi Amerika atas kehadiran Rusia di sana. Secara geografis, Rusia harus terbang melewati berbagai negara untuk mencapai Cuba, bahkan harus melangkahi Amerika Serikat. Jika pecah perang antara Amerika dan Rusia, maka Rusia tak perlu terbang jauh-jauh dari negerinya untuk memerangi Amerika. Dia cukup memerintahkan orang-orangnya yang ada di Cuba, yang hanya sehelaan nafas dari Amerika. Kalaupun Cuba hancur diserang Amerika, negeri Rusia tak rusak sedikitpun. Menurut Amerika, di sinilah letak liciknya Rusia. Dan Kennedy bukannya tak tahu taktik itu.

Untuk berperang dengan Rusia, Amerika harus menghadapi dua front. Yaitu Cuba serta Rusia. Maka tak ada jalan lain, Rusia harus membongkar pangkalan-pangkalan peluru kendalinya dari sana. Kini usaha itu tengah dilancarkan oleh Amerika. Kemarahan Amerika makin menjadi tatkala Cuba mempergunakan kedutaan-kedutaanya di beberapa negara bagian Amerika Serikat sebagai markas kegiatan mata-matanya.

Tanpa ampun, mereka ditangkapi dan dijebloskan ke penjara Alcatras. Yaitu salah satu penjara terkukuh di sebuah pulau di depan kota New York, dan dijaga amat ketat. Para spion Cuba itu terdiri dari diplomat- diplomat sipil maupun Atase Militer. Kini, merekalah yang dituntut oleh para pembajak ini untuk dibebaskan sebagai ganti tujuh puluh penumpang dan seorang Menteri Muda Amerika dalam pesawat Japan Air Lines ini. Pesawat yang dibajak dimana Si Bungsu dan Tongky ada di dalamnya!

Pesawat itu terus terbang menuju Mexico. Tak seorangpun diantara mereka yang ada di pesawat tahu apa yang tengah terjadi di daratan sana. Tak seorangpun yang tahu betapa sibuknya pemerintah Amerika dan pemerintah Mexico karena pembajakan ini. Mereka tak tahu, bahwa Presiden Kennedy telah bicara langsung dengan Presiden Cuba, Fidel Castro lewat telepon merah, telepon super penting yang baru kali ini dipergunakan dalam jalur Washington-Cuba. Celakanya Presiden Castro menolak memikul tanggungjawab atas pembajakan itu. Kennedy jadi berang mendengar jawaban Castro. Namun dia berusaha menekan amarahnya. ‘’Saya berharap Anda menempuh jalan wajar kalau memang ingin para tahanan politik bangsa Anda yang ditahan di Alcatras dibebaskan, Mr. Presiden..’’ kata Presiden Kennedy. ‘’Maaf, Tuan Presiden. Saya tak tahu siapa yang Tuan maksudkan telah membajak pesawat Jepang itu. Saya tak mengenal mereka, dan saya juga tak ingin atau tak punya niat untuk menuntut pada Tuan agar membebaskan tahanan politik yang tuan maksudkan itu. Maaf!’’

‘’Saya bisa beritahu pada Anda, siapa yang membajak pesawat itu. Jumlahnya tujuh orang. Satu diantaranya yang jadi pimpinan adalah seorang gadis bernama Yuanita. Berumur 24 tahun. Ayahnya orang Cuba asli, ibunya orang Mexico. Sejak sepuluh tahun yang lalu dia menjadi Warga Negara Italia. Dan itu memungkinkan dia bekerja di perusahaan Air Italian sebagai pramugari. Dia mendapat pendidikan sebagai teroris di negeri Anda, di Cuba, selama dua tahun. Dia masih belum menikah, kedua orangtuanya kini ada di Cuba, di negeri Anda. Seorang lagi yang bertindak sebagai wakil Yuanita, dikenal sebagai orang yang bernama Costra Niotas. Seorang yang pernah menjadi Sekretaris pada Kedutaan Besar Cuba di Rusia. Terakhir dia berada di Cuba sebulan yang lalu, kemudian terbang ke Hongkong dan datang lagi bersama pesawat yang dibajak itu…..’’

Presiden Kennedy yang sebenarnya ingin melanjutkan memberi informasi identitas ketujuh pembajak itu, namun dia berhenti bicara sebab mendengar tawa Fidel Castro. ‘’Maaf, saya mendengar Anda tertawa…’’

‘’Benar, Tuan Presiden. Saya tertawa karena badan intelijen Anda demikian pandainya membuat laporan palsu. Demikian detilnya mereka mengetahui kapan gadis itu berada di Cuba, kapan lelaki yang menurut Tuan bernama Costra Nitas itu berada terakhir di Cuba, kemudian berangkat ke Hongkong. Saya khawatir, negeri saya telah dipenuhi mata-mata dari CIA, sehingga tuan dapat tahu bila saya harus ke kamar kecil…hee..he..’’

Muka Kennedy jadi merah padam. Betapapun memang ada benarnya, dengan membeberkan semua keterangan tadi, Castro jadi tahu bahwa negerinya dimata-matai oleh CIA. Sebab darimana keterangan itu diperoleh kalau tidak lewat CIA? Namun cara Castro mempermainkannya benar-benar menyinggung perasaan Kennedy.

‘’Tuan benar-benar turunan teroris, Castro. Tuan akan menerima pembalasan dari rakyat Amerika. Kami akan membunuh semua pembajak dalam pesawat itu. Saya telah coba menempuh jalan yang baik, namun Anda tak menggubrisnya. Anda memang lebih suka banyak orang yang jadi korban demi komunis. Anda memang patut jadi pesuruh komunis, tuan Castro!’’ Sebelum Castro sempat membalas memaki, Kennedy menghempaskan gagang telepon itu. Dengan muka merah, dia menatap keliling kepada para menterinya yang hadir dalam Ruangan Oval, di ruang kerjanya. Para menterinya yang mendengar percakapan tadi pada terdiam. ‘’Di mana pesawat itu sekarang..?’’ tanya Kennedy. ‘’Tiga jam menjelang Mexcico City, Presiden’’. ‘’Pasukan khusus itu sudah disiapkan?’’

Pertanyaan itu ditujukan pada Direktur CIA. ‘’Sudah, Presiden’’. ‘’Pasukan yang dimana yang Anda rekrut?’’. ‘’Pasukan yang di El Paso. Kota terdekat di negara bahagian Texas yang berbatasan dengan Mexico’’. “Kenapa tidak pasukan Marinir?’’ ‘’Untuk menerbangkan Marinir ke Mexico dibutuhkan waktu enam jam. Artinya tiga jam setelah pesawat yang dibajak itu mendarat di Mexico City. Tak seorangpun diantara kita yang tahu apa yang terjadi selama waktu itu. Sementara kalau pasukan perbatasan yang di El Paso itu hanya membutuhkan waktu satu setengah jam mencapai Mexico City. Artinya mereka sudah bisa ada di lapangan udara mempersiapkan segala kemungkinan jauh sebelum pesawat yang dibajak itu mendarat. Lagi pula, pasukan khusus yang di El Paso itu adalah pasukan pilihan.’’

Sepi setelah Direktur CIA itu memberikan penjelasan. Jam dinding berdetak terus perlahan, tetapi pasti. ‘’Tuan-tuan, apakah diantara tuan-tuan punya pendapat lain untuk menjawab tuntutan para pembajak itu?’’ Kennedy akhirnya bertanya. Tak ada jawaban.

‘’Saya minta pendapat tuan-tuan’’ Seseorang mengangkat tangan. Kennedy tahu orang itu adalah Direktur FBI. Badan Intelijen untuk urusan dalam negeri. ‘’Ya, bagaimana pendapat Anda’’ ‘’Sesuai dengan pendapat semula, Tuan Presiden, para teroris jangan diberi hati. Jika kita hari ini mengabulkan permintaan mereka, maka setelah itu tiap hari pesawat Amerika akan dibajak, atau pesawat asing yang ada penumpang Amerika, dan mereka akan meminta yang bukan-bukan. Barangkali juga meminta agar tuan meletakan jabatan’’ ‘’Bagi saya, jika itu mungkin untuk menyelamatkan penumpang, saya bersedia meletakan jabatan’’ ‘’Tapi ini bukan hanya masalah keselamatan puluhan penumpang, Tuan Presiden. Ini masalah terorisme dan kehormatan bangsa..’’ ‘’Ya, saya mengerti. Ada lagi pendapat lain?’’ Tak ada jawaban

‘’Bagaimana hubungan dengan pemerintah Mexico, apakah kita dibolehkan mengirim pasukan khusus ke sana?’’ ‘’Mereka mengizinkannya, Tuan Presiden’’ jawab Menteri Perhubungan. ‘’Apakah kita diizinkan mengambil tindakan polisionil di daerah mereka?’’ ‘’Presiden Mexico mengizinkan, Tuan..’’ Sepi sejenak.

Presiden Kennedy memandang pada Menteri Luar Negeri. ‘’Tolong Anda uraikan kembali tentang efek politis dan efek internasionalnya kalau kita menempuh jalan kekerasan dalam membebaskan para sandera, jika ternyata usaha kita gagal dan pesawat itu berikut isinya memang diledakkan oleh para teroris..’’

Menteri Luar Negeri itu mendehem dua kali. Memperbaiki letak kaca matanya yang tebal, kemudian bicara : ‘’Pemerintah Jepang yang memiliki pesawat yang dibajak itu tak keberatan pesawat mereka hancur tetapi berharap para sandera, termasuk pilot dan pramugarinya diselamatkan. Jepang barangkali takkan banyak mengajukan protes kalaupun pesawat berikut pilot dan pramugarinya mati semua. Jepang masih terikat banyak sekali kepentingan dengan negara kita. Pihak Mexico diduga akan mengeluarkan statemen bahwa pasukan yang menyebabkan kegagalan hingga seluruh sandera meninggal adalah pasukan khusus Amerika. Dan mereka diduga juga akan cuci tangan dengan mengumumkan bahwa penggunaan tindak polisionil itu adalah atas desakan kita. Namun statemen Mexico itu tidak akan merugikan kita. Itu sudah diatur oleh Kedudataan Besar kita di sana…’’

Dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat itu menguraikan efek internasional yang mungkin ditimbulkan oleh tindakan keras yang mereka lakukan atas para teroris yang membajak pesawat itu. Setelah uraian itu selesai, dan seluruh Kabinet Presiden Kennedy menyetujui untuk tidak menyerah pada tuntutan pembajak, Presiden Amerika itu lalu menandatangani perintah untuk menggerakan tidak hanya pasukan khusus yang terdapat di El Paso, tetapi juga sekaligus mensiagakan seluruh pasukan Angkatan Perang Amerika Serikat.

Tindakan itu diperlukan kalau-kalau Cuba dan Uni Sovyet berbuat yang tidak-tidak pada Amerika, karena membunuh para pembajak tersebut. Dan mekanisme operasi CIA, organisasi yang katanya paling rapi di dunia itu, segera digerakkan. Begitu perintah diturunkan dari Washington DC, tempat kedudukan Presiden Amerika, maka segala organ berjalan secara otomatis. Pasukan khusus yang ada di El Paso, adalah pasukan khusus yang hampir menyamai pasukan Camp David. Pasukan khusus Camp David tidak dikenal secara umum. Tersembunyi penuh kerahasiaan. Itu karena Camp David merupakan tempat peristirahatan Presiden Amerika. Tempat itu adalah belantara di pegunungan hanya bisa dicapai dengan helikopter. Satu-satunya jalan darat, sulit dan dijaga amat ketat.

Dan pasukan yang ditempatkan di sana adalah pasukan pilihan dari tiga angkatan, laut, darat dan udara. Mereka, pasukan pilihan itu, dilatih secara istimewa dan memiliki peralatan paling mutakhir. Namun pasukan yang ditempatkan di El Paso, seperti dikatakan Kepala CIA, adalah pasukan pilihan yang tak jauh beda mutunya dari pasukan Camp David.

Pasukan khusus di El Paso jumlahnya hanya dua batalyon yang terdiri dari dua ribuan orang. Pasukan ini ditempat di sana dalam kerangka berjaga-jaga terhadap serangan Cuba. Pasukan ini telah sering menyusup ke berbagai penjuru dunia untuk tugas-tugas yang sangat dirahasiakan. El Paso, kota terakhir Amerika Serikat yang berbatasan dengan negara-negara Amerika Latin. Negara-negara ini sering bergolak, situasi keamanan serta perimbangan politiknya sering tak menentu.

Itu sebab pasukan khusus itu ditempatkan di El Paso sebagai benteng pertama untuk mempertahankan diri atau untuk tugas menyelusup ke negeri manapun di Amerika Latin. Demikianlah peristiwanya menjelang akhir Tahun 1962 itu. Pasukan khusus diberangkatkan diam-diam ke Mexico City sebanyak seratus orang. Mereka terdiri dari ahli-ahli segala bidang. Ahli bahan peledak, ahli menembak tepat, ahli menyelusup, ahli beladiri.

Pesawat yang membawa pasukan khusus itu tiba di lapangan Mexico City sekitar satu jam sebelum pesawat Japan Air Lines yang dibajak sampai. Lapangan udara Mexico City sudah dikosongkan dari lalu lintas pesawat itu. Para teroris menolak ketika diminta mendarat di lapangan udara militer. Mereka berkeras mendarat di lapangan udara sipil. Maka pemerintah Mexico terpaksa mengalihkan seluruh pesawat sipil yang akan mendarat ke lapangan udara militer. Lapangan udara sipil itu kini sepi. Ada beberapa pesawat sedang parkir di avron.

Begitu pasukan khusus tiba, mereka dijemput oleh Panglima Angkatan Darat Mexico, kemudian Kepala Staf Angkatan Darat Amerika yang telah duluan tiba di sana bersama Direktur CIA dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Pasukan khusus itu berpakaian coklat tua. Pakai topi pet, mirip pakaian petugas pelabuhan udara Mexico City. Kemiripan pakaian ini memang diatur dalam waktu yang amat singkat oleh bahagian logistik tentara Amerika.

Mereka menyamar dalam pakaian petugas lapangan. Namun di balik pakaian petugas lapangan itu, mereka memakai pakaian loreng. Begitu sampai, mereka segera disebar ke berbagai tempat di sekitar lapangan. Ada yang menempati menara lapangan, ada yang bertugas di mobil tangki yang akan mengisi minyak, ada pula di bahagian pemadam kebakaran.

Di dalam pesawat ketegangan berlanjut terus. Si Bungsu dan Tongky memang tak bisa berbuat banyak. Kalau saja mereka bisa duduk dekat beberapa orang anggota CIA yang ada di depan, barangkali mereka bisa saling berbisik, menyerang dari tempat mereka masing-masing secara serentak ke pada tujuh pembajak itu.

Namun bahaya yang menghadang adalah kekhawatiran meledaknya granat di tangan keenam pembajak lelaki itu. Granat itu tak pelak lagi adalah buatan khusus Uni Sovyet. Kalau mereka bergerak ketika pesawat masih di udara, maka pesawat itu akan hancur berkeping. Kalaupun mereka sampai di darat, mereka juga harus berpikir sepuluh kali untuk bertindak. Pembajak itu memegang enam granat tangan.

Keenam granat itu bisa membuat pesawat menjadi serpihan halus berikut para penumpangnya, jika meledak bersamaan. Di dalam pesawat itu tegang dan sepi. Para pembajak nampaknya telah meminum semacam obat. Mereka tak pernah lelah meski berdiri selama berjam-jam dalam penerbangan itu sambil tetap pula mengancungkan pistolnya terus menerus.

Mereka memperlihatkan kepatuhan yang luar biasa. Beberapa penumpang justru ada yang sudah tertidur. Tiba-tiba lampu tanda dilarang merokok dihidupkan. Lalu sebuah pengumuman yang berasal dari ruangan pilot. Suaranya tak lain dari suara pramugari Italia, pembajak cantik itu. Suaranya terdengar jernih, tenang dan merdu.

‘’Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, beberapa menit lagi kita akan mendarat di lapangan terbang Mexico City. Silahkan mengenakan ikat pinggang Anda, mematikan rokok dan…tetaplah tenang di tempat Anda masing-masing, sebelum ada perintah bergerak dari kami. Ingat, jangan bergerak, jangan bangkit jika tak kami suruh. Keselamatan seluruh isi pesawat ini tergantung pada gerakan setiap individu Anda. Mulai detik ini, jika seorang saja dari Anda berbuat yang tidak-tidak, maka kami akan meledakan seluruh isi pesawat ini. Tetaplah tenang…’’ Suaranya terhenti sebentar. Kemudian dia menyambung lagi : ‘’Kami ingin memberi petunjuk pada Anda semua. Jika tuntutan kami kepada kepada Pemerintah Amerika Serikat dikabulkan, yaitu membebaskan teman- teman kami yang kini berada di penjara Alcatras, maka sebahagian dari tuan-tuan akan kami bebaskan. Tapi sebahagian lagi akan tetap bersama kami dalam pesawat lain, atau mungkin tetap memakai pesawat ini, sebagai jaminan sampai kami tiba di tujuan. Siapa yang akan tetap bersama kami nanti kita tentukan. Kami berharap tak ada hal-hal luar biasa di lapangan udara nanti, namun jika ada tembakan-tembakan, Anda tetaplah berada ditempat. Sebaiknya menunduk dalam-dalam. Nah… kita sudah mulai terbang merendah….’’

Pesawat itu memang terbang makin rendah. Mereka telah berada di atas kota Mexico City yang luas itu. Pilot mengadakan kontak terus menerus dengan pemandu di tower. Mereka merasa lega, bahwa jalur pendaratan telah disediakan.

Sementara itu, di Washington DC, Presiden Amerika terus berunding dengan anggota kabinetnya. Mereka mencari upaya untuk keluar dari kemelut ini. Menteri Luar Negeri dan Panglima Angkatan Darat serta Direktur CIA telah diberi wewenang untuk mencari jalan keluar. Tugas utama mereka yang berada di Mexico City itu adalah mengulur waktu sepanjang mungkin.

Pesawat itupun mendarat. Namun ketika pasukan khusus Amerika yang berpakaian petugas lapangan berniat mendekat dengan mengendarai mobil tangki, berpura-berpura akan mengisi bahan bakar, dari pesawat terdengar tembakan. Mobil tangki itu meledak dahsyat!

Jaraknya dari pesawat yang parkir di tengah lapangan sekitar dua ratus meter! Semua orang terkejut hebat. Menteri Luar Negeri Amerika dan teman-temannya yang ada di menara kontrol ternganga sesaat. Untung lapangan itu sudah dikosongkan. Hingga ledakan itu tak menimbulkan korban yang lebih parah. Akibat meledaknya mobil tangki itu, lima orang tentara Amerika yang ada di mobil tersebut mati dengan tubuh berkeping-keping. Mobil pemadam kebakaran segera meraung-raung mendekati tangki yang meledak itu. Dan menyemprotkan airnya ke sana.

Mereka semua, sepuluh orang, adalah pasukan khusus Amerika yang menyamar. Tapi mereka adalah juga pekerja-pekerja yang mahir dalam segala bidang. Mereka mengerjakan pekerjaan pemadam kebakaran dengan amat sempurna. ‘’Tuhanku, mereka adalah orang-orang gila..’’ ucapan ini keluar dari mulut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang ada di tower, yang sejak tadi terdiam menyaksikan tragedi itu.

Jelas yang dia maksud sebagai orang gila adalah para pembajak itu. Lewat teropong di tangannya, seorang petugas tower mengetahui, bahwa tembakan itu dilepaskan dari balik kaca dekat pintu tengah. Artinya, tembakan itu dilakukan dari dalam pesawat. Pelurunya terlebih dahulu memecah kaca yang dua lapis itu, kemudian menghantam mobil tangki. Tiba-tiba ada suara di radio menara kontrol. ‘’Ya, menara kontrol..’’ jawab petugas.

Semua yang ada di ruang menara itu mendengarkan dengan diam. Jumlah mereka sekitar dua belas orang. Menteri Luar Negeri Amerika, Panglima Angkatan Darat Amerika, Direktur CIA, dua orang pasukan khusus Amerika, Panglima Angkatan Darat Mexico, Panglima Angkatan Udara Mexico serta petugas-petugas menara. ‘’Menara kontrol…?’’ terdengar suara wanita di radio. ‘’Ya, menara kontrol’’

‘’Dengarkan baik-baik, kami tahu Anda tidak sendirian di sana, pasti ada wakil pemerintah Anda, ada wakil pemerintah Amerika Serikat. Kami tahu itu. Nah, kami ingin bicara dengan orang Amerika itu…’’

Petugas tower memberikan radio tersebut kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Menteri itu mengambil mik, dan bicara : ‘’Saya wakil pemerintah Amerika Serikat’’ ‘’Terangkan nama dan jabatan Anda’’ Menteri Luar Negeri itu segera menjelaskan nama dan jabatannya secara terus terang.

‘’Baiklah, Tuan Menteri. Tembakan terhadap mobil tangki itu sebuah peringatan bagi Anda..’’ ‘’Anda berlaku brutal dengan membunuh petugas lapangan Mexico yang tak berdosa..’’ ‘’Kami tak usah Anda bohongi, Tuan Menteri. Kami tahu, diantara petugas Mexico itu ada orang orang-orang Amerika. Atau barangkali semua mereka adalah tentara Amerika yang menyamar dan menggantikan tugas orang-orang Mexico. Kami ingin mengingatkan Tuan dan pemerintah Tuan, tak ada seorangpun yang boleh mendekati pesawat ini, tidak petugas Mexico, apalagi petugas Tuan. Jika ada yang mendekat, tak peduli apapun kendaraanya, jika tidak seizin kami, akan kami ledakkan. Jika kendaraan itu tak bisa kami ledakkan, maka kami akan meledakkan pesawat ini. Kami hanya akan bicara dengan Tuan jika sudah ada berita tentang tuntutan kami..’’