Tikam Samurai Si Bungsu Episode 4.3

Lagipula, apa yang dia takuti? Bukankah dia berada di pihak APRI dan anak muda ini di pihak PRRI? Dengan pikiran demikian, dia membuka kopelriem-nya. Ikat pinggang tentara besar dan berbesi-besi itu dia lecutkan pada Si Bungsu. Namun sekali lagi, tangan anak muda itu mengirimkan pukulan yang amat cepat, dan kuat, ke perut Nuad. Tubuh anggota OPR itu terlipat ke depan.

Lalu sebuah tendangan menghantam dadanya. Nuad tertegak lagi. Lalu sebuah pukulan telak dan kuat sekali, menghantam mulutnya. Darah merah mengucur deras ketika kepalanya terdongak ke belakang. Siapapun yang berada dalam ruangan itu merasa pasti, bahwa paling tidak delapan buah gigi Nuad, atas dan bawah, telah rontok oleh pukulan seperti palu besi itu. Dan kesombongan mata-mata APRI itupun runtuh.

Runtuh dengan rubuhnya tubuhnya yang besar itu. Tak ada kesombongan dan ketangguhannya yang tersisa. Semua telah tersikat habis. Dia jatuh dalam keadaan lebih nista daripada temannya yang bernama Siswoyo tadi. Tak ada arti silat harimau yang dia panggakkan itu. Tak ada lagi Nuad yang ditakuti. Tak ada Nuad mata-mata kesohor itu. Tak ada! Yang ada kini hanya seonggok tubuh tak bertenaga dengan mulut berdarah dengan banyak gigi yang rontok. OPR itu pingsan! Ketermanguan Si Bungsu setelah menghajar Nuad yang sombong itu dikejutkan oleh tepuk tangan. Dia menoleh. Yang bertepuk tangan adalah tentara-tentara yang tegak diseputar ruangan. Seorang Sersan malah maju, menyalami Si Bungsu.

”Kau hebat. Hebat… dan sportif. Selamat!”

Ucapnya jujur sambil mengguncang tangan Si Bungsu. Beberapa orang tentara maju pula menyalaminya. Ketiga temannya yang ada dalam sel ternganga ketika dia diantarkan Sersan yang siang tadi menangkapnya di rumah Kari Basa.

”Sanak menghajar si kafir itu?” tanya yang berbaju polisi. ”Siapa yang kafir?”

”OPR celaka itu. Dia orang komunis. Dia kafir!”

Jawab si baju polisi penuh semangat dan penuh kebencian. Si Bungsu menatapnya.

”Semua tentara yang menyerang negeri kita ini kafir. Semua komunis” ujar orang itu kembali dengan bersemangat. Si Bungsu menatapnya lagi.

”Dan semua orang yang memberontak di negeri ini adalah Islam?” tanyanya pelan. ”Ya. Kita semua Islam!”

”Termasuk yang merampok dan memperkosa perempuan di desa-desa sana?” Orang berbaju polisi itu tertegun. Ganti dia menatap Si Bungsu.

”Saya tak tahu siapa sanak. Ucapan sanak seperti mata-mata. Apakah sanak juga seorang kafir?” Tangan Si Bungsu melayang. Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Lelaki itu terjajar. Si Bungsu sudah berniat menghajar PRRI yang seorang ini. Namun tiba-tiba dia merasa kasihan. Kasihan pada kebodohan dan fanatisme irasional orang berbaju polisi itu. Lalu dia berkata perlahan:

”Saya cukup banyak melihat tentara PRRI yang tak pernah sembahyang. Apakah dia juga Islam? Saya cukup banyak mendengar tentara PRRI merampok dan memperkosa perempuan di kampung-kampung. Apakah juga dia orang Islam menurut ukuran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad? Sebaliknya saya cukup banyak melihat tentara APRI yang sembahyang, yang berbuat baik.

Apakah semuanya kafir? Apakah asal dia PRRI adalah Islam dan asal dia APRI adalah kafir?” Yang ditanya tak menjawab. Dia mengusap pipinya yang tadi kena tampar. Lalu menatap pada temannya yang berpakaian tentara. Lalu menatap pada lelaki yang seorang lagi, yang berpakaian rapi. Dia seperti meminta bantuan untuk menyokong pendiriannya. Untuk memperkuat pendapatnya tadi. Bahwa semua APRI yang menyerang ini adalah tentara kafir. Namun tak seorangpun yang bicara. Justru Si Bungsulah yang bicara.

”Harap dibedakan, antara tujuan politik dan agama. Jangan yang satu digunakan untuk menutupi maksud yang lain. Saya tak tahu kenapa saya ditangkap. Tapi yang jelas, saya sudah terlibat demikian jauh dalam urusan yang saya tak tahu ujung pangkalnya. Kalian berperang melawan tentara pusat adalah untuk menuntut pembangunan daerah yang lebih merata. Kenapa tiba-tiba harus dicap pusat adalah kafir?”

Ucapan ini diucapkan Si Bungsu perlahan saja. Seperti untuk dirinya sendiri. Karena diserang lelah, dia membaringkan diri di lantai. Dingin lantai itu sesungguhnya, namun dalam keletihan yang sangat, apalah artinya sebuah kedinginan dibanding dengan tubuh yang ingin istirahat. Dia tertidur. Sementara tiga lelaki lainnya dalam tahanan itu masih saling bertukar pandang. Menjelang subuh Si Bungsu terbangun. Ada yang menggoyangkan tangannya. Dia membuka mata. Tak seorangpun yang kelihatan dalam kegelapan di kamar tahanan itu. Namun dia yakin, seseorang telah membangunkannya. Lalu terasa lagi, tangan sebelaah kanannya ada yang menggoyang perlahan. Dia menahan nafas. Kemudian kembali terdengar suara bisikkan.

”Sanak…” Si Bungsu segera tahu, suara itu adalah suara salah seorang teman sekamarnya. ”Sanak…” kembali orang itu berbisik perlahan.

Dari suaranya Si Bungsu tahu, orang itu berbaring di sisinya. ”Sanak sudah bangun…?” orang itu menggoyangkan tangannya lagi. ”Ya…” jawab Si Bungsu pelan.

”Dengarlah, Sanak. Waktu saya tinggal sedikit…” ujar orang itu dengan suara yang ditekan serendah mungkin. Nampaknya dia khawatir akan didengar oleh orang lain dalam kamar itu.

”Nama saya Sunarto. Saya adalah tahanan yang memakai baju hijau tentara yang sanak lihat siang tadi. Saya dari pasukan Mobrig Batalyon Sadel Bereh. Saya tertangkap ketika saya akan mengambil surat dari seorang kurir di Pintu Kabun. Mereka sudah mengetahui siapa saya. Saya adalah mata-mata. Hukuman bagi orang semacam saya, setelah diperas semua pengakuannya, adalah hukuman tembak. Saya sudah beberapa hari ditahan. Saya rasa, pagi ini saya akan ditembak. Sudah ada gerak begitu di hati saya. Sanak, saya tak tahu siapa Sanak. Tapi hati kecil saya berkata, bahwa Sanak orang yang baik. Sanak orang bersih. Hal itu dapat saya baca sejak pertama Sanak masuk siang tadi. Dan semakin jelas ketika Sanak berbicara soal kafir dan Islam dengan teman saya yang berbaju polisi itu. Saya ingin minta tolong pada Sanak. Saya punya sedikit uang. Saya simpan di suatu tempat. Bukan uang rampasan. Tapi uang gaji saya. Saya tak pernah sempat mengirimkannya untuk keluarga saya….,” orang itu berhenti sebentar.

Udara dingin menusuk lewat lantai batu ke tubuh mereka. Kemudian orang itu menyambung lagi.

”Saya ingin Sanak mengambil uang itu. Saya mohon Sanak memberikannya pada keluarga saya. Pada isteri dan enam orang anak-anak saya. Katakan saja bahwa saya tengah berjuang. Minta mereka untuk pulang ke kampung. Nanti saya menyusul….” Orang itu berhenti lagi. Nafasnya terdengar memburu karena berbisik terlalu lama. Si Bungsu masih tak tahu apa-apa. Dia tak tahu siapa isteri orang ini. Tak tahu di mana tinggalnya. Dia menanti orang itu untuk menyampaikannya. Orang yang bernama Narto itu mulai menceritakan dimana uang itu dia simpan. Di dalam tanah dekat sebuah pohon di sebuah kampung di pinggir kota Bukittinggi.

”Isteri saya kini berada di Matur. Jauh memang. Tapi saya mohon Sanak menyampaikannya. Suruh mereka pulang…”

”Pulang kemana?” tanya Si Bungsu. ”Ke kampung…”

”Ke kampung mana?” ”Ke Semarang, di Jawa…”

”Semarang?” ”Ya..” ”Isteri saudara orang Jawa?”

”Ya. Saya juga. Ayah saya orang Semarang. Ibu saya orang Matur. Dahulu ayah saya datang kemari di zaman penjajah Belanda. Kawin dan punya anak. Isteri saya itu saya kawini ketika kami pulang ke Semarang…” Ada sesuatu yang terhunjam rasanya di jantung Si Bungsu tatkala mendapati kenyataan bahwa mata-

mata PRRI ini ayahnya adalah ”orang Jawa” sementara ibunya ”orang Matur”. ”Mereka tahu bapak orang Jawa?”

”Maksud sanak APRI?”

”Ya” ”Mereka tahu semuanya. Darimana saya mereka sudah tahu. Karena itu mereka lalu membujuk agar saya membocorkan rahasia yang saya ketahui. Tapi bagi saya kepatuhan pada atasan adalah sesuatu yang mulia. Begitu umumnya bagi kami orang Jawa. Sungguh mati, saya tak lagi merasa sebagai orang seberang. Saya merasa negeri inilah kampung halaman saya…”,

Lelaki itu berhenti lagi. Namun Si Bungsu merasa hatinya diiris. Dan lelaki itu bicara lagi.

”Karena saya merasa negeri ini adalah negeri saya, maka saya tak mau membuka rahasia. Mereka lalu menyiksa saya. Insya Allah, saya masih kuat menutup mulut. Saya yakin, mereka tak mau mengulur waktu. Saya akan mereka bunuh. Tak apa. Saya tak mau teman-teman ditangkapi kalau saya membocorkan rahasia. Nah, Sanak, itulah permohonan saya…” ”Bagaimana kalau uang itu justru saya pakai. Saya bisa saja tak menyampaikannya…” ujar Si Bungsu. ”Tadi saya telah katakan. Saya tahu Sanak orang yang baik. Sanak orang bersih. Kalaupun uang itu akhirnya Sanak yang memakai, saya tetap bahagia. Hanya tolong sampaikan pada anak dan istreri saya, bahwa saya masih bertugas. Sanak, ini tanda pengenal saya. Sebuah kalung kecil dengan bundaran timah sebesar ujung kelingking. Ambillah, tolong berikan pada isteri saya….”

Orang itu baru saja menyodorkan benda yang dia maksud ketika tiba-tiba pintu terbuka. Cahaya senter menerobos masuk.

”Tetaplah pura-pura tidur…” bisik lelaki bernama Sunarto itu setelah tanda pengenalnya berpindah ke tangan Si Bungsu. Terdengar suara derap sepatu memasuki kamar. ”Ini regu yang akan menjemput saya. Selamat tinggal….sanak…”

Terdengar suara diikuti tendangan kaki bersepatu ke paha Sunarto. ”Hei, Narto. Berdiri! Komandan ingin bertemu denganmu…”

Lelaki itu seperti terkejut. Pura-pura ketakutan. ”Ayo cepat!”

Lelaki itu bangkit. Sesaat, lewat matanya yang tak terpejam, Si Bungsu melihat lelaki itu menoleh padanya. Lelaki dari Jawa yang berjuang untuk tanah Minang. Sesaat mata mereka seperti bertatapan di bawah cahaya senter. Kemudian gelap. Yang terdengar kemudian adalah derap sepatu menjauh. Dan lelaki itu memang tak pernah lagi kembali ke tahanannya. Dari para penjaga dia mendapat keterangan bahwa Narto dipindahkan ke Padang. Namun Si Bungsu teringat bisikan lelaki itu.

”Tawanan seperti saya, Sanak, jika nanti Sanak dengar tak kembali kemari, lalu ada orang yang mengatakan bahwa saya sudah dipindahkan ke penjara lain, maka itu berarti saya sudah ditembak mati. Mungkin di Ngarai di hutan Gadut. Mungkin di Tambuo. Mungkin di Ngarai di belakang Rumah Sakit. Mungkin di Ngarai di belakang Bukit Cangang. Di sanalah saya akan dihabisi.

Bukan hanya saya, sudah puluhan jumlahnya para tawanan yang lenyap tak tentu rimbanya dengan alasan pindah tahanan. Saya tahu dengan pasti Sanak, sebab saya adalah perwira intelijen di pasukan saya…”

Hari-hari setelah itu, suara bisikan lelaki yang ayahnya dari Jawa dan ibunya dari Matur itu seperti mengiang kembali. Tapi di suatu malam, tiba giliran Si Bungsu yang dibangunkan. Persis seperti dulu Narto dipanggil. Komandan ingin bertemu, itu alasannya. Dia diangkut dengan sebuah jip.

Meluncur arah keluar kota. Dinginnya udara malam terasa mencucuk sumsum. Tangannya diborgol ke belakang. Matanya ditutup dengan sebuah benda yang mirip karung. Dia tak tahu kemana dibawa. Sesudah berapa lama, mobil itu terasa berhenti. Si Bungsu tak bisa berbuat apa-apa. Ya, apa yang harus dia perbuat? Dimana dia kini? Di salah satu Ngarai yang pernah disebutkan oleh Narto itukah? Di sinikah dia akan dihabisi? Dia teringat ketika berada di Jepang, di Singapura, di Australia. Di sana dia telah bertarung menghadapi peluru dan maut. Tapi masih hidup. Siapa sangka, malam ini dia mati justru di tangan bangsanya sendiri. Tapi, bukankah dia telah menjelaskan semuanya pada Komandan RTP II tentang siapa dirinya? Dia teringat, Komandan RTP II yang menanyainya itu adalah seorang Overste bernama Sabirin. Induk pasukannya adalah Brawijaya. Perwira itu mendengarkan ceritanya dengan seksama. Perwira itu tegas tetapi ramah dan simpatik.

Si Bungsu hanya menceritakan tentang kenapa dia membunuh OPR itu di Aur Kuning. Samasekali dia tak menceritakan bahwa dulu dia pernah berjasa membunuh puluhan tentara Jepang. Membunuh puluhan tentara Belanda dalam Agresi di Pekanbaru. Tidak, dia tak ingin mencari selamat dengan menceritakan sesuatu yang dia perbuat di masa lalu.

”Saya yakin, apa yang Saudara katakan adalah benar. Besok Saudara sudah bisa bebas…” ujar overste

itu.

Tapi belum enam jam perwira itu bicara, kini dia diangkut dengan sebuah jip entah kemana dengan mata

tertutup. Apakah ucapan perwira APRI itu sebuah kebohongan belaka, untuk menutupi hukuman tembak yang akan dia hadapi? Ah, rasanya seorang overste tak perlu berbohong begitu. Tak ada gunanya. Lamunannya terputus ketika jip berhenti dan dirinya dipapah turun.

Dibawa ke dalam sebuah rumah. Lalu tutup matanya dibuka. Dia jadi silau. Dia kini berada di suatu ruangan. Dalam ruangan itu ada beberapa tentara berbaret merah berbaju loreng, RPKAD! Dia kenal seragam mereka dengan segera. Inilah pasukan kebanggaan tentara Indonesia itu. Inilah pasukan yang ditakuti lawan dan kawan itu.

Mereka kini menatap padanya. Hm, siapa sangka, malam ini ternyata yang menembakku bukan sembarang tentara, melainkan RPKAD, bisik hati Si Bungsu. Seseorang memberi isyarat. Borgol tangannya dibuka. Seorang letnan maju. Tegak di depan Si Bungsu. Letnan itu tak begitu besar tubuhnya. Namun Si Bungsu segera tahu, bahwa orang ini tangguhnya luar biasa. Letnan itu memperkenalkan namanya tanpa bersalaman.

”Saya dengar tentang kehebatanmu, kawan. Dari orang itu…”

Kata tentara itu sambil menunjuk ke sudut. Si Bungsu segera melihat Nuad, OPR yang dia hajar itu tegak di sana.

”Kabarnya engkau hebat karate dan judo. Semua orang di markas mengetahui dan menyaksikan. Saya juga penggemar olahraga itu. Saya pernah belajar di Amerika. Latihan pasukan khusus. Untuk diketahui, tak ada yang bisa menandingi saya dalam pasukan, kecuali komandan saya, Overste Kaharuddin Nasution. Nah, kini saya ingin menguji kemahiran saya itu dengan kehebatan Saudara…”

Si Bungsu masih Belum mengerti apa yang dimaksud letnan ini, namun tentara itu mulai membuka baret merahnya. Kemudian membuka kopelriem. Membuka sepatu dinas. Membuka pistol yang menggantung di pinggangnya.

”Tak usah takut. Kami dari RPKAD tak pernah berlaku curang. Saya hanya menantangmu berkelahi. Jika engkau kalah, maka engkau akan kami kembalikan ke tahananmu.

Besok kau akan bebas seperti janji Komandan RTP. Jika engkau menang, maka engkau juga akan menerima kebebasanmu tanpa harus khawatir sedikitpun. Engkau hanya kami pinjam untuk membuktikan, apakah memang ada orang yang lebih tangguh dari seorang anggota pasukan RPKAD!”

Si Bungsu pun akhirnya menerima kenyataan yang aneh ini. Aneh karena tak pernah terfikirkan olehnya, bahwa akan ada peristiwa begini. Dia memasang kuda-kuda, letnan ini juga. Tiba-tiba si letnan membuka serangan dengan sebuah tendangan. Si Bungsu mengelak ke samping dan menyapu kaki letnan itu. Namun letnan itu tiba-tiba menghentikan gerak majunya.

Dia membalik separoh putaran dan tangannya memukul menyamping ke pangkal telinga Si Bungsu. Cepat dan kuat serta terarah sekali. Si Bungsu dapat menangkap gerak itu. Dia menunduk. Namun tak urung pelipisnya kena geser. Kendati hanya kena geser, pelipisnya terasa panas. Kini mereka berhadapan lagi. Letnan itu kembali menyerang dengan dua pukulan yang amat cepat. Si Bungsu mundur, dan ini kesalahannya yang pertama.

Diserang beruntun, orang tak boleh bergerak mundur, harus menyamping. Kesalahan itu harus dia tebus dengan sebuah hantaman di perutnya. Tak ampun, tubuhnya terjengkang. Namun letnan itu tak memburunya. Dia tetap menanti tegak. Si Bungsu tegak. Bersiap lagi. Letnan itu membentak dan menyerang dengan kombinasi tendangan dan pukulan. Si Bungsu mengelakkan tendangan pertama. Kemudian begitu pukulan letnan itu bergerak, dia mendahuluinya dengan pukulan yang lebih cepat.

Namun lebih cepat pula letnan itu menangkis dan balas menyerang dengan tendangan kedua! Si Bungsu bergerak ke samping, dari samping dia mengirimkan sebuah tendangan ke rusuk letnan itu! Kena! Letnan itu menyeringai. Namun dia segera bersiap dan menyerang cepat sekali. Ketika Si Bungsu menangkis, dengan cepat letnan itu bergerak menangkap ujung bajunya. Lalu dia berputar dan sebuah bantingan tiba-tiba menghadang Si Bungsu. Tubuhnya dia rasakan melayang di udara.”Jika engkau dibanting orang, Bungsu-san, usahakan berputar. Mungkin sulit, tapi usahakan agar posisi badanmu seperti menelungkup di udara. Setelah itu yang akan kau usahakan hanyalah mendahulukan kakimu turun ke tanah. Kau akan tetap jatuh tegak di atas kedua kakimu…”

Begitu dulu Kenji mengajar dan melatihnya ilmu judo dengan tekun. Kini ilmu itu dia pergunakan. Sesaat ketika letnan itu berputar untuk membanting, dia berusaha menanamkan kuda-kuda yang kukuh di lantai. Namun sentakkan tangan dan pukulan pinggul letnan itu telah lebih dahulu mematahkan keseimbangannya. Tubuhnya telah terangkat dan dibanting melayang. Maka kini usahanya hanyalah memutar tubuhnya yang tertelentang diudara itu.

Dia berhasil dan snap…! Tubuhnya jatuh dengan kaki duluan! Mereka kini tegak berhadapan. Tangannya masih dipegang oleh letnan itu yang untuk sesaat tertegun menyaksikan betapa anak muda itu tak bisa dibanting jatuh. Sesaat! Ya, hanya sesaat, tapi itu sudah cukup bagi Si Bungsu untuk balas menyentakkan tangan letnan yang memegang tangannya. Kini tubuhnya yang berputar, pinggulnya menghantam bahagian depan tubuh letnan itu.

Cepat sekali, sebuah bantingan lewat pinggang menyebabkan letnan itu terbanting di lantai! Ya, bantingan lewat pinggang. Hanya bantingan lewat pinggang yang bernama Uki-Goshi itulah yang tak bisa dicounter. Sebab selain tangan, maka pinggang yang dibanting dipeluk erat oleh yang membanting. Lain halnya dengan bantingan Soinage yaitu membanting orang lewat bahu seperti yang dilakukan letnan itu pada Si Bungsu tadi. Pada bantingan Soinage, yang dipegang hanya lengan baju atau sebelah tangan lawan. Sementara bahagian tubuh lainnya bebas.

Begitu terbanting, karena letnan itu tadi mengatakan bahwa dia pernah belajar judo ketika dalam pendidikan di Amerika, maka Si Bungsu melanjutkannya dengan mengunci leher letnan itu di lantai. Dia menunduk rapat di atas kepala si letnan. Sebuah kuncian yang menurut Kenji dahulu bernama Keshagatame. Letnan itu berusaha melepaskan kunciannya.

Namun pitingan lengan Si Bungsu seperti jepitan kepiting. Akhirnya si letnan menepuk punggung Si Bungsu tanda menyerah. Si Bungsu melepaskannya. Terdengar tepuk tangan meriah dari anggota RPKAD yang menonton. Si Bungsu mundur beberapa langkah. Letnan itu tegak.

”Tehnik mengcounter, membanting dan kuncianmu hampir sempurna, kawan. Saya ingin tahu sampai dimana silat Minangmu yang kesohor itu,” ujar si letnan yang nampaknya masih berminat.

Dia menyerang dengan pukulan-pukulan beruntun. Pukulan dan tendangan karate yang luar biasa cepatnya. Si Bungsu terpaksa main elak dan main mundur. Beberapa kali bibir dan jidatnya nyaris dihantam kepalan tangan si letnan yang hebat itu. Namun sepandai-pandai mengelak, kerugian berada di pihak yang bertahan. Dia tak sempat membalas. Sikap agresif menyerang nampaknya memang dilakukan bagi anggota- anggota RPKAD itu. Mereka memang diajar untuk mahir mempergunakan tangan dan kaki sama berbahayanya seperti senjata tajam. Dan Si Bungsu mendapat ”bagian” sampai tiga kali. Kali pertama sebuah pukulan yang mendarat di bibirnya.

Bibirnya yang belum sembuh benar dari tendangan Nuad beberapa hari yang lalu, kini menyemburkan darah lagi. Bagian kedua dia terima di sudu hatinya. Masih untung pukulan itu tak begitu mantap kenanya, dia masih sempat mengelak setengah langkah ketika pukulan yang amat cepat itu mendarat. Tapi akibatnya luar biasa, buat sesaat nafasnya seperti berhenti. Sambil mundur dia mengatur nafas, setelah beberapa jurus lagi kembali sebuah tendangan letnan itu masuk. Menghajar lengan kanannya, lengan kanannya itu serasa akan patah. Nah, dia kini hanya memiliki sebelah tangan yang utuh untuk berkelahi. Tangan sebelah kiri pula, dalam keadaan seperti itu dia harus melawan seorang perwira RPKAD yang pendidikan khusus di Amerika.!

Sedangkan dengan dua tangan saja dia sudah kewalahan, apalagi sebelah tangan saja. Dia segera menyadari kalau dia berada di pihak yang rugi kalau hanya main tangkis dan elak. Sadar akan hal itu, ketika letnan itu menyerang, dia melompat agak jauh kebelakang. Ketika letnan itu menggerakkan kaki akan maju dia pergunakan senjata lainnya yaitu lompat tupai yang kesohor itu. Yang biasanya dia pakai jika mempergunakan samurai.

Bergulingan kedepan, berputar di lantai dua atau tiga kali, lalu sambil bergerak bangkit di dekat musuhnya, samurai nya bekerja.! Kini gerakan itu digunakan tanpa samurai, dia bergulingan di lantai menyongsong serangan letnan itu. Sesaat letnan itu heran, kok tiba-tiba lawannya menjatuhkan diri.

Tapi dia sudah melangkah maju, lawannya sudah dekat. Ketika dia ingin mengelak sebuah tendangan Si Bungsu dari bawah meluncur keatas. Tendangan yang dilakukan sambil berbaring. Si letnan baru menyadari bahaya itu, namun terlambat selangkangannya digebrak oleh Si Bungsu! tubuh si letnan itu terangkat dua atau tiga centi, lalu tercampak kebelakang. Rubuh! yang menonton menahan napas. Si Bungsu melompat tegak. Ketika letnan itu sudah tegak pula Si Bungsu kembali menyerang dengan jurus yang sama, bergulingan di lantai. Kali ini letnan itu memasang perangkap, dia tahu sudah jurus andalan lawannya ini.

Dia pura-pura kaget, lalu menanti serangan yang menuju selangkangan nya! Dia akan melangkah kekanan selangkah begitu Si Bungsu menyerang, dari arah kanan dia mengirimkan tendangan kerusuk lawannya yang terbaring itu. Itulah senjata panangkalnya! Si Bungsu seperti tidak menyadari perangkap itu, dia meluncur kelantai, lalu mengirimkan sebuah serangan kaki! Tapi justru kali ini letnan RPKAD itu yang masuk perangkap. Si Bungsu sama sekali tidak menyerang dengan tendangan dari bawah ke atas, Tidak!

“Jangan menyerang seorang lawan yang lihai dengan serangan yang sama berturu-turut sampai dua kali dalam waktu yang dekat, Bungsu-san. Mereka akan bisa menjebakmu. Kecuali kalau kau memang ingin menjebaknya. Pura-pura menyerang dengan serangan yang sama, kemudian ketika tiba saatnya, kau tukar serangan dengan yang lain….”

Begitu kenji sering berkata ketika dia belajar karate. Nasehat itu bisa diterapkan dengan ilmu bela diri manapun, termasuk Silat. Itulah yang dilakukan Si Bungsu, dia tidak menyerang seperti tadi dari atas kebawah, tetapi memakai kakinya untuk mengait dan menghantam kaki letnan itu dari bawah! Dia menyapunya dengan posisi berbaring.

Letnan itu kaget bukan main, tapi lagi-lagi dia terlambat. Kakinya terkait dan tersapu degan telak. Dia terlambung lebih dari setengah meter, jatuh dengan suara berdebum. Waktu itu Si Bungsu sudah tegak, ketika letnan itu berbalik menelentang untuk berdiri, tumit Si Bungsu tiba dekat dengan lehernya.!

“Inilah namanya jurus sapu tungganai dalam ilmu silat kami,letnan…” katanya perlahan sambil tetap meletakkan tumitnya sejari dari leher perwira RPKAD itu. Buat sesaat, dalam keadaan telentang, perwira itu termangu, kemudian dia tersenyum.

Si Bungsu melihat senyum itu, sesaat dia jadi lengah. Waktu yang sesaat itu sudah cukup bagi si letnan, cepat tubuhnya berguling kekanan dan seiring dengan itu tangannya menepiskan kaki Si Bungsu. Dalam gerak yang amat cepat tubuhnya melenting dan Si Bungsu yang masih belum konsentrasi, entah bagaimana caranya tahu-tahu saja dia sudah terbanting. Letnan RPKAD itu menggunakan gerak cepat dan tipuannya lihai sekali. Kini tiba-tiba Ketika dia berusaha menelentang Ujung sepatu si letnan sudah menyentuh tulang rusuk nya, sekali, dua kali, tiga kali!

Suasana hening, letnan itu tegak disamping Si Bungsu yang masih terbaring. Si Bungsu segera sadar, kalau saja letnan itu mau, maka dalam tiga tendangan itu tadi sudah empat atau lima buah tulang rusuknya yang patah.! Artinya, dia sudah dikalahkan letnan itu dengan telak! Kini gantian Si Bungsu yang tersenyum dari bawah, dari tempat dia terlentang. “Kau menang, letnan..” Ujarnya jujur.

Si letnan tersenyum dan mengulurkan tangannya, tangan itu di sambut Si Bungsu, si letnan membantunya tegak. Mereka masih berpegangan, suasana di pecahkan oleh tepuk tangan, yang bertepuk adalah anggota-anggota RPKAD yang tegak menonton ditepi ruangan. Mereka benar-benar baru saja menyaksikan suatu pertarungan beladiri yang sangat luar biasa.

Mereka telah lama mendengar bisik-bisik tentang kehebatan anak muda yang bernama Si Bungsu ini.

Malam ini, mereka menyaksikannya sendiri. ”Saya tak malu bila kalah di tanganmu, kawan…” ujar letnan pasukan elite Indonesia itu dengan jujur, sambil menggenggam tangan Si Bungsu dengan erat. Kemudian menyambung. ”Ternyata nama hebatmu yang kami dengar selama ini tidak hanya sekedar isapan jempol…”

Si Bungsu suka pada letnan yang rendah hati ini. Padahal dia tahu, dalam perkelahian sebentar ini, dia dikalahkan secara telak sekali.

”Terimakasih. Saya bangga berkenalan dengan …letnan…”. ”Fauzi, nama saya Fauzi..”

”Terimakasih Letnan Fauzi ..” Mereka sama-sama tersenyum.

”Kenalkan, ini Letnan Azhar..” ujar Letnan Fauzi memperkenalkan sahabatnya.

Beberapa anak buah si Letnan maju dan menyalami Si Bungsu. Letnan Fauzi tersenyum. Si Bungsu menghapus peluhnya. Dia menarik nafas lega. Bisa keluar dari dunia yang penuh keganjilan ini. Letnan ini memang seorang perwira yang pantas diteladani. Berani dengan jantan dan satria mengakui kelebihan orang lain. Ketika dia akan naik jip, tiba-tiba dia teringat pada perkataan ”meminjammu” yang diucapkan letnan itu. Dia berhenti. Menoleh pada Letnan Fauzi yang tegak dekat Letnan Azhar.

”Ada yang ingin kutanyakan, kalau boleh” katanya. ”Dengan segala senang hati”

”Berapa hari yang lalu, ada seorang anggota PRRI satu kamar tahanan dengan saya, yang dijemput malam-malam. Kemudian tak kembali. Kabarnya dipindahkan ke Padang. Apakah dia masih hidup?”

Letnan itu menatap Letnan Azhar, kemudian pada Si Bungsu. ”Dia temanmu?”

”Ya, teman sekamar di tahanan…”

”Begitu pentingkah berita tentang dia bagimu?”

”Ya. Agar bisa kusampaikan pada anak dan isterinya” Letnan itu menatap Si Bungsu lagi.

”Siapa namanya?’ ”Sunarto…” ”Hanya itu?”

”Ya, hanya itu. Saya tak tahu nama panjangnya. Tapi OPR yang bernama Nuad itu pasti kenal padanya.” Letnan itu membalik. Berjalan mendekati Nuad. Bicara beberapa saat. Lalu kembali pada Si Bungsu.

”Naiklah ke jip itu, kawan….” ujar si letnan tanpa menjawab pertanyaan Si Bungsu tadi.

Si Bungsu tak bisa berbuat apa-apa. Dia naik dan tangannya diborgol lagi. Dia menatap pada letnan itu.

Si letnan mendekat, memegang tangannya.

”Ini perang, kawan. Dalam peperangan, siapapun yang melibatkan diri di dalamnya, apakah itu karena keyakinan seperti PRRI, atau karena pengabdian dan karena tugas seperti kami, harus tahu resikonya. Yaitu kematian. Menyesal, temanmu itu tak mau buka rahasia dan dia sudah dieksekusi. Hanya itu yang dapat saya katakan padamu. Saya tak tahu dimana dan bila. Tapi yakinlah, dia sudah tidak ada di dunia ini….”

Mesin jip dihidupkan. Udara dingin menyelinap di malam yang alangkah larutnya itu.

”Terimakasih, Letnan. Terimakasih atas kehormatan yang kau berikan untuk bertanding melawanmu.

Suatu kehormatan yang takkan saya lupakan. Dan terimakasih atas kepastian atas nasib Narto….” ”Selamat bebas, kawan…” lalu jip itu menderu.

Jantung Si Bungsu juga menderu. Tubuhnya terasa dingin. Namun bukan karena angin yang menampar akibat jip yang berlari kencang. Tubuhnya terasa dingin ketika mengetahui kepastian nasib Narto. Anak Jawa yang berjuang untuk Minangkabau itu. Masih terngiang di telinganya betapa lelaki itu berbisik minta tolong padanya. Perlahan tangannya meraba rantai emas milik Narto yang dia gantungkan di lehernya. Malam semakin larut. Perang saudara itu masih belum diketahui kapan akan berakhir. Berapa banyak lagi korban yang akan jatuh. Hanya Tuhanlah yang tahu.

”Katakan aku masih hidup pada anak dan isteriku. Suruh mereka menantiku di Semarang…” suara Narto seperti terngiang lagi. Mata Si Bungsu terasa panas dan… basah!

Konvoi itu berhenti di Matur. Mereka berangkat pagi tadi dari Bukittinggi dengan pengawalan ketat. Jumlah truk tak kurang dari dua puluh buah. Begitu sampai, mereka segera menyebar. Kota kecil itu terlalu naif untuk disebut sebagai sebuah kota. Sebenarnya hanya sebuah kampung. Hanya tertata rapi karena di sana ada beberapa rumah yang dibangun oleh Belanda untuk opseternya. Sejak tiga hari yang lalu Matur berada di bawah kekuasaan APRI. Tapi biasanya, jika kekuatan APRI berkurang, maka kota ini akan pindah lagi ke tangan PRRI. Silih berganti penguasaan atas sebuah kota atau desa bukan hal yang ganjil. Terkadang kekuasaan itu bisa berganti setiap 12 jam. Dari jam enam pagi sampai jam enam senja yang berkuasa adalah APRI. Tapi dari jam enam senja sampai jam enam pagi, yang berkuasa adalah PRRI.

Perpindahan kekuasaan itu ada yang melalui pertempuran, namun tak sedikit yang bertukar secara otomatis begitu saja. Seolah-olah sudah ada semacam ”perjanjian.” Kalau malam PRRI yang berkuasa. Tapi pagi- pagi harus angkat kaki. Kalau siang APRI yang berkuasa, bila malam tiba mereka harus meninggalkan desa. Jika ketentuan tak tertulis ini dilanggar, akibatnya adalah perang. Matur juga bernasib sama. Tapi hari ini APRI nampaknya ingin mempertahankan desa kecil itu dengan menambah kekuatan mereka di sana. Malam-malam memang masih sering diganggu serangan PRRI. Namun tak cukup kuat untuk mengambil alih kekuasaan. Salah seorang dari penompang konvoi itu adalah Si Bungsu.

”Sampai di sini tujuanmu, anak muda?” tanya seorang letnan dari pasukan Banteng Raiders, tatkala Si Bungsu turun dari truk bersama tentara lainnya.

”Ya, sampai di sini. Ini Matur, bukan?”

”Ya, inilah Matur. Kau akan kemana?”

”Mencari rumah seorang teman. Terimakasih atas tompangannya, Pak..”

Letnan itu tersenyum. Kemudian mengatur anak buahnya. Si Bungsu melangkah perlahan. Dia tegak dalam bayang-bayang tengah hari yang terik. Lalu mulai melangkah. Perutnya harus diisi. Terasa lapar sekali. Ada sebuah kedai nasi, kelihatannya sepi.

Dia melangkah ke sana. Seorang perempuan tua kelihatan menunggui warung itu. Di dalam seorang lelaki sedang makan. Si Bungsu melihat ada goreng dan gulai ikan. Ada dendeng. Ada sambal lado dengan jengkol muda. Ada rebus daun ubi. Laparnya menggigit melihat lauk pauk itu. Begitu nasi dihidangkan dia santap dengan lahap. Sesekali dia lihat perempuan pemilik kedai itu mencuri pandang padanya.

Dia tahu, kehadiran setiap orang baru di suatu desa, dalam keadaan bagaimanapun, apalagi dalam keadaan perang begini, pasti menimbulkan berbagai dugaan. Setelah kenyang makan dia memesan secangkir kopi panas. Di luar sana, tentara APRI kelihatan tengah menyusun barisan. Lelaki yang tadi tengah makan ketika dia masuk, kini membayar makanannya. Kemudian keluar. Namun Si Bungsu sempat menangkap betapa lelaki itu melirik ke arahnya sesaat sebelum dia melangkah ambang pintu menuju keluar. ”Ibu kenal dengan Narto?” tanya Si Bungsu dalam nada biasa sambil menghirup kopinya.

Perempuan itu menoleh. Lalu dengan wajah seperti tak ada apa-apa, dia menggeleng. ”Sunarto yang dulu pernah jadi Anggota Mobrig. Kemudian menjadi pasukan PRRI. Kabarnya isteri dan anaknya ada di sini. Apakah ibu kenal?”

Perempuan itu menggeleng lagi. Matanya melirik ke luar. ”Saya datang dengan pasukan itu. Saya harus menemui keluarganya…”

”Bapak… APRI?” ”Tidak. Tapi…” ”Bapak PRRI?”

”Tidak. Saya kebetulan datang dengan APRI. Saya kenal dengan Pak Narto. Saya harus menyampaikan pesan pada anak dan isterinya…”

Pemilik kedai itu menatap Si Bungsu tajam sekali.

”Barangkali anak dapat bertanya di bawah sana. Ke sebuah rumah sebelum pendakian…”

Si Bungsu mengucapkan terimakasih sambil membayar makanannya. Dia menuju ke penurunan yang tadi dia lewati bersama konvoi tentara itu. Seorang lelaki bertongkat, rambutnya sudah memutih, semua giginya sudah ompong, menunjuk ke reruntuhan sebuah rumah ketika Si Bungsu menanyakan rumah lelaki yang bernama Narto itu. Dia tertegun. Jantungnya seperti berhenti berdetak.

”Kenapa…?” tanyanya perlahan.

Lelaki tua itu berjalan ke sebuah pohon yang nampaknya rubuh kena mortir. Dia duduk di sana. Si Bungsu mengikuti dan tegak di depan orang tua tersebut.

”Rumah itu terletak di pendakian, dari rumah itu orang bisa melihat ke jalan di bawah sana. Semua kendaraan yang datang dari Bukitinggi segera terlihat dari jendela rumah tersebut….” orang tua itu bercerita, kemudian terbatuk, dan menyambung…”ketika APRI mula pertama menyerang, rumah itu dijadikan pos PRRI. Semacam pos pengintaian. Tapi ketika APRI berhasil menduduki Matur, ganti APRI lah yang mempergunakan rumah itu. Keluarga Narto yang tinggal di rumah itu luar biasa takutnya. Sebab semua orang tahu, dan APRI pasti tahu pula, bahwa Narto adalah pasukan Mobrig batalyon Sadel Bereh di Bukittinggi. Namun barangkali Tuhan masih melindungi sebagian keluarganya. Minah, anak gadisnya yang paling tua menikah dengan salah seorang Sersan pasukan BR. Seminggu setelah menikah, suaminya dapat cuti ke Jawa. Dia membawa serta Minah dan seorang adik lelakinya yang masih kecil.

Namun tiga hari setelah itu, PRRI datang menggempur, APRI dipaksa mundur. Dan terjadilah bencana itu. Kabarnya Narto tertangkap di Bukittinggi, dan berkhianat. Pengkhianatan itu tambah diperkuat dengan kawinnya anaknya dengan Sersan BR, lalu pulang ke Jawa. Pasukan PRRI membakar rumahnya. Menembak istrinya. Begitu juga dua orang anaknya. Adik Minah, gadis yang baru berusia lima belas tahun, diperkosa bergantian. Tapi isteri Narto tak mati. Kini dia dirawat di rumah itu…,” lelaki tua tersebut menunjuk ke sebuah pondok.

Si Bungsu jadi tegang mendengar kisah itu. Dan tatkala dia masuk ke pondok yang ditunjukkan itu, di balai-balai kelihatan seorang perempuan sepaoh baya terbaring. Di dekatnya ada dua orang kanak-kanak.

Pastilah anak Narto yang tersisa dari elmaut. Si Bungsu benar-benar tak percaya, bahwa hal ini bisa terjadi. Sunarto, seorang anak Jawa, yang bersedia ditembak mati demi menyelamatkan kawan-kawan PRRI- nya, keluarganya justru dibencanai oleh pasukan PRRI sendiri. ”Bagi kami orang Jawa, kepatuhan pada atasan adalah sesuatu yang mulia….karena saya merasa negeri ini adalah negeri saya, maka saya tak mau membuka rahasia. APRI lalu menyiksa saya. Insya Allah, saya masih bisa tutup mulut. Saya tak mau teman-teman yang sedang berjuang tertangkap karena saya terbujuk, atau tak tahan menderita. Saya bersedia mati demi negeri ini, demi teman-teman yang sedang berjuang….”

Bisikkan Narto seperti menggema menghancurkan selaput telinga Si Bungsu. Orang Jawa itu bersedia mati demi Minang, yang diakui sebagai negerinya, dan demi teman-temannya yang sedang berjuang, begitu katanya. Begitulah katanya! Oh Tuhan. Kenapa Engkau jadikan manusia seperti Narto. Orang yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk orang-orang yang justru menistai keluarganya.

”Bapak pasti membawa pesan dari suami saya, bukan?”

Tiba-tiba isteri Narto berkata tatkala melihat Si Bungsu tertegak di pintu. Si Bungsu tak dapat bicara.

Ada sesuatu yang terasa menggumpal di tenggorakannya. Di hatinya. Di matanya. Di jantungnya! ”Dimana dia….?” tanya perempuan itu.

”Dia…dia tengah berjuang…,” akhirnya pesan Narto itu dia sampaikan juga. Persis bunyinya. Tapi perempuan itu menggeleng. Matanya basah.

”Saya bertanya, dimana kuburannya. Bukan dimana dia kini. Jangan membohongi saya. Saya sebenarnya sudah lama mati. Tapi saya ingin mendengar kabar dari suami saya, itu sebab saya bertahan hidup. Malam tadi saya bermimpi, akan ada orang yang datang membawa pesan suami saya. Saya memang menanti Bapak. Dimana dia dikuburkan?”

Si Bungsu tak mau menangis. Demi Tuhan, demi para Nabi dan para Rasul. Tidak! Bukankah air matanya telah lama kering. Air matanya telah kering ketika menangisi kematian ayah, ibu dan kakaknya di Situjuh Ladang Laweh dahulu. Tidak, dia kini tak lagi bisa menangis. Namun, ya Tuhan, bagaimana dia takkan menangis melihat tragedi di depan matanya ini? Bagaimana? Beberapa puluh hari yang lalu, seorang lelaki membisikkan padanya, agar dia menemui keluarganya di sini, di Matur ini.

Menyampaikan uang gajinya. Menyampaikan pesan, agar isteri dan anak-anaknya itu pulang ke Jawa. Si Bungsu terduduk lemah. Perempuan itu telah mengetahui segalanya. Seperti membaca isi buku pada lembaran yang terbuka. Akankah dia mampu berbohong? Anak muda yang telah luluh oleh penderitaan itu terduduk di lantai tanah. Jatuh di atas kedua lututnya. Matanya basah, pipinya basah.

”Maafkan saya, Kak. Saya memang berdusta…” katanya perlahan di depan wanita yang dadanya terluka dan tubuhnya yang kurus itu.

”Dimana dia dikuburkan…? ulang wanita itu”.

”Maafkan saya, saya tak tahu Kak. Dia sebenarnya berpesan agar saya mengatakan dia masih hidup. Saya telah melanggar janji. Dia ingin Kakak pulang ke Semarang. Dia akan menyusul…” ”Tak perlu lagi….., tak perlu lagi. Dia takkan pernah pulang ke Semarang. Saya juga. Begitu pula dua anak-anak kami yang telah terkubur di belakang pondok ini. Kalau begitu, dia benar-benar telah mati tanpa tahu dimana kuburnya, bukan?”

Si Bungsu mengangguk dan menghapus air matanya. Kemudian tangannya meraih kalung di lehernya.

Menanggalkan kalung berliontin timah hitam bundar itu.

”Dia berpesan, agar saya memberikan kalung ini pada Kakak…”.

Lemah dan menggigil tangan perempuan itu menggapai. Menerima kalung berliontin itu. Kemudian membawa ke dadanya. ”Ya, dia telah mati. Liontin ini pemberianku. Dan dia pernah bersumpah, bahwa liontin ini hanya akan dia buka kalau dia telah mati….Terimakasih, Bapak telah bersusah-susah datang kemari, untuk menyampaikan pesan itu….”

Si Bungsu mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebungkus uang. ”Dia menyuruh sampaikan uang ini pada Kakak. Uang gajinya yang tak sempat dia kirimkan….”. Perempuan itu menoleh pada kedua anak- anaknya yang masih kecil. Memegang kepala mereka. ”Nak, berat ibu akan meninggalkan kalian. Kalian masih kecil. Tapi, ibu tak tahan lebih lama lagi tersiksa.

Jika Bapak ini berbaik hati, kalian akan ditolongnya untuk pulang ke Jawa. Ke rumah nenek kalian di sana…,” dan perempuan itu menoleh pada Si Bungsu…”mereka tak punya siapa-siapa, Pak. Barangkali ada tentara APRI yang akan pulang ke Jawa. Tolong Bapak titipkan anak saya ini pada mereka. Di Jawa ada neneknya. Ada kakaknya dua orang….Berikan uang itu pada mereka….” suara perempuan itu sudah terputus- putus….”tapi saya ingin kepastian, suami saya tak pernah mengkhianati PRRI, bukan Pak?”

Si Bungsu menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia hanya mampu menggeleng. Menggeleng beberapa kali.

”Syukurlah…..syukurlah. Negeri indah ini telah memberi kami kehidupan selama puluhan tahun. Negeri ini telah membesarkan anak-anak kami. Kami hidup dengan berlandas kasihan orang disini. Kami tak mau orang Minang menganggap kami tak tahu membalas budi, dengan mengkhianati mereka….syukurlah…”

Si Bungsu tak dapat menahan tangisnya tatkala perempuan itu meninggal. Kedua anak-anaknya terdiam. Tak ada tangis mereka yang terdengar. Mereka sudah terlalu lelah menangis. Mereka hanya menatap pada mayat ibu mereka dengan diam dan tatapan kosong. Ucapan perempuan itu seperti menikam-nikam jantung Si Bungsu. Ucapan itu memang bukan untuk menyindir siapa-siapa. Namun, Si Bungsu merasa, ucapan perempuan itu menyindir jantung Minangkabau! Siapakah sesungguhnya yang tak tahu membalas budi? Narto dan keluarganyakah, atau anak-anakmu yang merejam mereka ini, Minangkabau, siapa?

Ketika kuburan perempuan itu ditutup oleh beberapa tentara APRI, yang membantu menggali lahat dengan sekop mereka, hujanpun turun. Tentara itu juga yang memimpin doa. Kemudian Si Bungsu menancapkan sepohon kemboja yang dia patahkan dari pusara lama. Hujanpun makin lebat. Menyiram dan membasahi bumi Minangkabau yang berlumur darah. Azan Magrib berkumandang, malampun mengirimkan sunyi dan gelapnya ke permukaan bumi.

Esok paginya, setelah menitipkan kedua anak Narto ke komandan peleton yang akan cuti ke Jawa beberapa hari lagi, dan memberi anak-anak itu uang yang masih ada padanya, Si Bungsu kembali ke Bukittinggi. Dia kembali menginap di Hotel Indonesia, di depan Stasiun Kereta Api. Dia memilih tempat itu agar lebih dekat ke stasiun, bisa sewaktu-waktu membeli karcis bila akan pulang ke kampungnya, Situjuh Ladang Laweh. Kereta api memang tidak sampai ke sana, hanya hingga Kota Payakumbuh. Tapi menginap dekat stasiun membuat dia bisa dengan mudah bertanya kapan kereta ke Payakumbuh berangkat, dan bisa pula dengan mudah membeli karcis.

Dalam situasi daerah bergolak seperti sekarang, tak setiap hari kereta api bisa berangkat. Baik ke Payakumbuh, Padangpanjang, Solok maupun Padang. Kadang-kadang dalam seminggu baru ada kereta ke salah satu kota itu. Itupun dengan mendapat pengawalan aparat kepolisisan atau tentara. Sabotase, entah dari pihak mana, bisa saja terjadi di suatu tempat. Setelah menanti tiga hari, akhirnya dia mendapat kabar kereta ke Payakumbuh akan berangkat besok dengan pengawalan beberapa polisi.

Besok dia akan pulang ke kampungnya. Ke Situjuh Ladang Laweh. Rasa rindunya terasa menusuk jantung. Dahulu dia sering dibawa ayahnya naik kereta api kalau ke Bukittinggi ini. Ah, melihat sawah dan desa- desa, mencium asap kereta api, merupakan kerinduan tersendiri. Sambil berbaring di tempat tidurnya, di Hotel Indonesia dekat stasiun itu, dia segera ingat peristiwa yang dialaminya saat di Jepang. Peristiwa ketika dia menuju Kyoto dari Tokyo. Di kereta api cepat dia bertemu dengan seorang gadis yang pernah dia tolong di Tokyo. Gadis itu adalah Michiko. Anak Saburo Matsuyama. Gadis yang dia tolong yang kemudian membenci dan memusuhinya setelah kematian Saburo di Kuil Shimogamo. Dia tak bisa melupakan betapa gadis itu pernah melukainya ketika upacara pemakaman ayahnya. Gadis itu bersumpah akan mencari dan membunuhnya.

Michiko ternyata memang mencarinya! Mencarinya sampai ke Bukittinggi! Pagi itu, saat dia akan melangkah menaiki kereta api di stasiun, ketika dia dengar sebuah suara memanggil. Dia tak jadi naik, menoleh ke belakang. Di antara palunan orang ramai, dia melihat seorang gadis tegak dengan sebilah samurai di tangan! Michiko! Dia tertegun. Palunan manusia yang ada di stasiun itu terkuak. Hingga tercipta sebuah lorong yang lapang antara gadis Jepang yang cantik itu dengan dirinya. Orang-orang menatap heran.

”Michiko…?” katanya perlahan menahan kejut.

”Ya. Engkau rupanya belum lupa pada saya, Bungsu….”

Suara gadis itu terdengar lantang. Seperti bersipongang di peron stasiun itu. ”Selamat datang…di kampungku, Michiko san….” ujarnya sambil coba tersenyum. Padahal hatinya mulai tak sedap melihat sikap gadis itu yang tak bersahabat sedikitpun.

”Terimakasih. Saya memang melihat kampungmu indah, Bungsu san. Tapi saya datang bukan untuk menikmati keindahannya. Saya datang dari Jepang mencarimu ke mari untuk menuntut balas. Ingat persoalan yang ada di antara kita?”

Suara gadis itu makin lantang. Orang-orang pada diam tak bergerak. Si Bungsu jadi serba tak sedap. Dia menyesal telah membawa samurainya saat itu. Kenapa tadi tak dia masukkan saja ke dalam buntalan kainnya? Kini samurainya terpegang di tangan kiri. Gadis itu juga memegang samurai di tangan kiri. Dia jadi serba salah. Akankah dia melayani kehendak gadis ini kalau dia menantangnya untuk berkelahi? Akankah dia membunuh gadis itu, atau justru dia yang terbunuh di sini? Ketika dia berfikir demikian, gadis itu memandang ke palunan orang ramai di stasiun. Lalu terdngar suaranya :

”Saya Michiko, anak bekas serdadu Jepang yang pernah membunuh beberapa lelaki dan perempuan di Minangkabau ini. Ayah saya sudah mati. Dibunuh oleh lelaki ini…” dan tangannya menunjuk pada Si Bungsu.

”Ketika menjadi tentara ayah saya membunuh ibu, ayah dan kakaknya. Dia lalu datang ke Jepang sana, lalu membunuh ayah saya dengan alasan menuntut balas. Kini dari Jepang saya datang kemari, untuk menuntut balas pula atas kematian ayah saya itu. Bukankah adil, kalau setiap anak menuntut balas kematian ayahnya?”

Orang pada terpana. Si Bungsu merasa dirinya berpeluh.

”Tidak benar demikian, Michiko-san. Ayahmu tidak mati di tangan saya. Saya tak pernah membunuhnya. Ayahmu mati karena harakiri, seppuku!. Dia mati terhormat….” ujar Si Bungsu mencoba memberikan pengertian kepada orang ramai, sekaligus melunakkan hati gadis itu.

”Bohong! Tak ada kematian terhormat dalam hal yang terjadi atas ayahku. Dia memang mati harakiri. Tetapi      dia      harakiri      karena      malu      atas      perlakuanmu      pada      dirinya!”      ”Michiko…!?” ”Apakah engkau menjadi pengecut, Bungsu? Engkau telah membunuhi puluhan orang Jepang dalam petualanganmu di negeri saya itu. Dan engkau merasa jadi pahlawan. Kini cabut samuraimu!” gadis itu membentak sambil mendahului mencabut samurainya.

Si Bungsu berharap petugas keamanan atau tentara muncul di sana. Kalau ada petugas keamanan atau tentara, dia yakin mereka bisa bertindak mencegah. Tapi tak seorangpun petugas yang hadir. Tak seorangpun tentara atau polisi yang menampakkan puncak hidungnya. Para petugas itu seperti telah bersekongkol dengan gadis ini untuk memberinya kesempatan membalas dendam. Tiba-tiba bayangan di stasiun kecil Gamagori melintas di kepalanya.

Bukankah dahulu dia juga pernah berkelahi melawan komplotan Kumagaigumi di stasiun kecil di Gamagori? Bandit-bandit Kumaigaigumi itu akan mengganggu Michiko. Namun dia ada disana untuk membelanya. Lima orang anggota Kumagaigumi berhasil dia bunuh. Bergelimpangan di stasiun kecil itu. Kemudian dia naik lagi ke kereta api. Menemui Michiko yang menangis karena menyangka dirinya telah mati. Di kereta api menuju Nagoya itu, dia memeluk bahu Michiko.

Gadis itu menyandarkan kepalanya lalu tertidur di bahunya. Dan sesaat sebelum gadis itu tertidur, dia menyanyi sebuah lagu Jepang. Lagu yang selalu dinyanyikan pelaut-pelaut yang rindu pada kampung halaman. Rindu pada kekasih, anak dan isteri. Dia coba mengingat bait lagu Jepang itu. Namun amat susah. Dia coba memikirkannya. Dalam kalut dia tak ingat bait bahasa Jepang. Yang ingat cuma bait bahasa Indonesianya.

”Jangan menangis. Jangan sedih. Meskipun hujan turun lebat Saya akan tetap pergi

Selamat tinggal

Lagu itu dia pelajari dari Kenji. Temannya sekapal saat menuju Tokyo dari Singapura. Lamunannya jadi terputus ketika dia dengar suara orang memekik memberi ingat. Sesaat nalurinya bereaksi cepat. Dia menjatuhkan diri ke lantai stasiun. Namun tak urung bahunya disabet oleh ujung samurai Michiko! Memang hanya luka gores. Tapi darah merembes. Dia bergulingan. Kemudian melompat tegak. Michiko tegak dua depa di depannya dengan kaki terpentang dan mata nyalang menatapnya.

”Cabut samuraimu…Bungsu! Jangan kau sangka bahwa dirimu saja yang hebat memainkan samurai….” bentak gadis itu.

Si Bungsu tak melihat jalan lain. Gadis ini memang menghendaki nyawanya. ”Ini kampung saya, Michiko. Saya tak ingin darahmu tertumpah di kampung saya ini…” ”Sombong kau! Tak setetespun darahku akan tertumpah di sini! Kau dengar itu, pembunuh! Tak setetespun! Jika engkau sanggup melukai diriku segores saja, maka aku akan menjilat telapak kakikmu! Percuma aku jadi murid Zato Ichi!”

Si Bungsu kaget, dia ingat Zato Ichi. Gadis ini bukan main jumawanya! Benarkah sudah demikian hebatnya dia memainkan samurai, sehingga dia sanggup berkata setakabur itu pada Si Bungsu yang kesohor itu? Atau apakah gadis ini hanya ingin memancing amarah Si Bungsu saja? Tak ada yang sempat memikirkan hal itu. Sebab saat berikutnya gadis itu telah menyerang. Si Bungsu mencabut samurai dengan sikap ”apa boleh buat”.

Ya, dia harus mempertahankan dirinya bukan? Orang hanya melihat dua sinar berkelebat. Kemudian bunga api memercik tatkala dua baja tajam itu berbenturan! Terdengar suara gemercing. Si Bungsu tersurut selangkah. Michiko masih tetap tegak di tempatnya. Si Bungsu jadi kaget. Kekuatan gadis itu ternyata luar biasa sekali. Getaran benturan samurai mereka terasa ke tulang tangannya.

Michiko menyerang lagi. Sebuah pancungan ke kepala. Si Bungsu menunduk. Sebuah pancungan ke pinggang. Si Bungsu menangkisnya dengan menegakkan samurainya di sisi badan. Dua baja samurai yang alot itu bertemu lagi. Suara berdentang. Bunga api memercik! Dan Si Bungsu dengan kaget tepaksa melompat ke Belakang empat langkah! Samurainya hampir saja terpental karena benturan dahsyat itu.

Kalau itu terjadi, maka pinggangnya akan putus dua! Dia menatap dengan wajah pucat. Gadis itu selain cepat, tenaganya juga luar biasa sekali. Zato Ichi benar-benar menurunkan seluruh ilmunya pada gadis ini. Michiko tersenyum sinis. Orang-orang menatap dengan diam pada perkelahian sepasang anak muda yang mengagumkan itu.

”Keluarkan kepandaianmu, Bungsu! Takkan pernah ada bangsa lain yang melebihi kemahiran orang Jepang bersamurai! Kau sangka kemahiran samuraimu sudah hebat, setelah engkau mengalahkan beberapa jagoan di Jepang sana. Setelah engkau mendapat pengakuan Zato Ichi? Hmm, yang kau peroleh baru kulitnya. Bungsu! Engkau ingin tahu bagaimana bermain samurai yang betul? Ini…!” dan gadis itu menyerang lagi!

Kali ini Si Bungsu tak mau main-main. Dia memusatkan konsentrasi. Nafsu membunuhnya yang dia bawa dari rimba di pinggang Gunung Sago seketika mengalir kencang. Mulutnya terkatup rapat. Tangannya melemas. Begitu Michiko menyerang, dengan seluruh kepandaian, dengan seluruh kemahiran, dengan seluruh konsentrasi yang penah dia miliki, dengan seluruh kecepatan yang pernah dia pelajari, dia kerahkan! Tak sampai dalam hitungan dua detik, benar-benar cepat, hanya para malaikat yang tahu betapa cepatnya kedua samurai itu dahulu mendahului! Namun, sekali lagi, dan mungkin untuk kali yang terakhir, Si Bungsu dari Situjuh Ladang Laweh itu menjadi kaget.

Michiko jauh lebih cepat. Tidak hanya sekali, tetapi Michiko berkali-kali lebih cepat dari kecepatan yang pernah dia miliki. Tak sia-sia Zato Ichi menurunkan ilmu padanya. Samurainya belum sempurna tercabut, ketika dia rasakan rusuknya belah. Dia melanjutkan mencabut samurainya dengan kecepatan penuh. Saat itu sabetan kedua samurai Michiko telah membelah dada kirinya! Tembus!

Darah memancur ketika samurai itu disentakkan dengan cepat. Samurai di tangannya sendiri baru terayun ke arah Michiko ketika kedua serangan mematikan itu telah selesai dilakukan gadis itu. Samurainya menyerang kepala Michiko, menetak dari atas ke bawah. Namun samurai Michiko menanti ayunan samurainya. Kembali bunga api memercik.

Tangannya terasa pedih, tenaga gadis itu amat luar biasa. Samurainya terpental ke udara! Terdengar orang memekik melihat darah menyembur dari tulang rusuk dan jantungnya. Dia masih tegak. Gadis itu juga masih tegak di depannya, dengan kegagahan yang mengagumkan. Si Bungsu jadi lemah. Kakinya gemetar. Namun dia tak mengeluh. Mulutnya tersenyum. Ketika kakinya terasa tak kuat lagi menahan berat badannya, dia jatuh di atas kedua lututnya.

”Bunuh….bunuhlah saya….” katanya perlahan.

Michiko masih tetap tegak. Menatap padanya dengan pandangan dingin. ”Engkau memang benar-benar hebat Michiko san. Benar-benar pesilat samurai yang paling hebat…ayahmu pasti bangga…” dia masih berusaha berkata.

Darah menyembur dari mulutnya. Jantungnya telah ditembus samurai. Peluit kereta api tiba-tiba memekik. Sayu dan bersipongang. Kereta akan berangkat. Dia menoleh ke kereta yang akan berangkat menuju Payakumbuh itu. Pakaiannya telah ada di atas kereta. Kereta tak mungkin diundurkan keberangkatannya. Saat sakratul maut itu menjemput, peristiwa stasiun Gamagori melintas lagi. Stasiun kecil itu! Bukankah dia membunuh lima orang anggota Kumagaigumi di sana? Ah, stasiun Gamagori, kini dia terkapar di stasiun kecil Bukittinggi! Peluit kereta berbunyi lagi. Tuit…tuiiiit! pilu dan merawankan hati. Kereta itu akan ke Payakumbuh. Akan mati di sinikah dia? Kereta itu akan ke Payakumbuh. Kenapa dia tak naik saja ke kereta? Tubuhnya akan dibawa kereta ke Payakumbuh. Kalau mayatnya sampai, orang akan membawa mayatnya ke Situjuh Ladang Laweh.

”Sampaikan…pada orang-orang….kampung saya di Situjuh Ladang Laweh… saya. ..ingin berkubur…. di sana…di samping pusara ayah, ibu dan…kakak saya…” katanya perlahan.

Dia yakin, suaranya terdengar oleh Michiko. Gadis itu masih tegak diam. Tapi Si Bungsu melihat, betapa mata gadis itu basah. Pipinya juga basah. Si Bungsu ingin mati di atas kereta api. Agar mayatnya bisa tiba di Payakumbuh dan dibawa ke Situjuh Ladang Laweh. Tapi karena tak ada yang menolong, dia merangkak menuju kereta api. Dengan sisa tenaga dia coba merangkak naik ke gerbong. Tak mungkin! Tenaganya habis! Tapi dia harus! Bukankah kereta ini menuju ke Payakumbuh? Dia merangkak lagi, berjuang untuk naik. Berhasil, tubuhnya berada sebahagian di atas kereta yang bergerak perlahan itu. Darah dari lukanya terus menetes.

Tapi tubuhnya melosoh lagi. Kereta mulai bergerak cepat. Ada beberapa lelaki tegak jauh dari tempatnya. Menatap dengan diam. Dia menoleh pada mereka. Bibirnya bergerak. Ingin mengucapkan ”Tolonglah saya…naikkanlah saya ke gerbong. Saya ingin mati di kereta. Tolonglah naikkan saya”. Tapi tak ada suaranya yang keluar. Tak ada! Tak ada suaranya! Yang keluar justru air matanya. Air mata sedih. Sedih kalau dia mati seperti maling di stasiun ini. Dia ingin tubuhnya dibaringkan di gerbong. Sekali lagi dia menatap pada para lelaki itu. Dia kumpulkan tenaganya. Akhirnya, terdengar suaranya bermohon.

”Sanak…tolonglah saya. Saya ingin dibaringkan di kereta itu…..Kereta itu akan ke kampung saya…tolonglah….” namun kedua lelaki itu tak bergerak.

”Di kantong saya ada uang. Cukup banyak….ambillah uang itu sebagai upah sanak menaikkan diri saya…Tolonglah saya, sanak…” Kedua lelaki itu benar-benar jahanam. Jahanam benar. Mereka tak bergerak sedikitpun! Akhirnya Si Bungsu harus berusaha sendiri. Akan begitukah nasib seorang lelaki yang semasa hidupnya pernah sangat perkasa ini? Dia merangkak. Kereta mulai berjalan perlahan. Dia menggantungkan tangan di bibir pintu gerbong yang memuat pisang. Yang memuat lobak. Yang memuat kayu api. Tubuhnya ikut terseret di sepanjang lantai stasiun! Darahnya menetes.

”Tuhanku, tolonglah aku naik. Tolong hambamu ini, ya Tuhan. Aku hanya ingin mati di atas kereta ini.

Agar mayatku sampai ke kampungku. Tolong aku, ya Tuhan….” rintihnya perlahan.

Tapi Tuhanpun seperti tak mendengarkan permohonannya. Tuhanpun tak menolongnya. Tuhanpun tak mendengarkan doa orang yang akan mati itu. Tuhanpun tak kasihan padanya. Tuhanpun seperti belum akan mengakhiri deritanya di situ.

Tangannya lemah berpegang ke bibir pintu gerbong. Dan akhirnya, ketika peluit panjang kembali berbunyi, tangannya tak kuat lagi bergantung. Kereta itu semakin melaju. Lalu lelaki itu, Si Bungsu yang pernah hidup malang melintang di Jepang itu, yang banyak menolong manusia itu, di akhir hayatnya tak seorangpun yang mau meolongnya! Tak seorangpun! Ketika pegangannya terlepas tubuhnya jatuh dari gerbong. Terdengar suara berdembam! Kepalanya terhempas ke lantai. Rasa sakit akibat kepalanya terhempas membuat dia tersentak bangun dan terlompat tegak!

”Nauzubillah. Ya Rabbi….! Mimpi kiranya” dia mengucap.

Peluh membasahi tubuhnya. Dia menatap keliling, dia masih di biliknya di Hotel Indonesia dekat stasiun. Dia baru saja bermimpi yang alangkah dahsyatnya. Tiba-tiba terdengar pekik peluit kereta api dari stasiun yang tak jauh dari hotel dimana dia menginap

Dia menarik napas dan kembali beristighfar. Meraba dada dan rusuk yang dalam mimpi tadi di tembus samurai michiko.

Utuh, ya tubuhnya masih utuh, dia duduk di pembaringan, mengatur pernafasannya yang sesak. Kemudian tegak menuangkan air putih di ceret ke dalam gelas, air itu sangat dingin karena udara kota yang amat sejuk. Dia reguk air itu dua tiga teguk, dadanya terasa agak lega. Dia turun di pembaringan dan membuka pintu, sudah pagi. Dia pergi kekamar mandi, sesekali menoleh kebelakang. Khawatir kalau-kalau ada michiko. Kemudian di kamar mandi dia berwudhu dan kembali kekamar sembahyang dan kembali duduk di sisi pembaringan. Dia kembali menghapus peluh yang tetap membasahi wajah dan tubuhnya, terlalu dasyat mimpinya barusan. Dia baru teringat, malam tadi dia tengah berpikir tentang kereta api. Tentang stasiun gamagori, dia kembali berbaring sambil memikirkan bahwa michiko pernah melukainya, bahwa michiko pernah akan membunuhnya. Pikiran itu tak meninggalkan benaknya sampai dia tertidur, rupanya pikiran

itulah menjadi mimpi yang dasyat itu.

Dia kembali meraba dada dan rusuknya, utuh. Rupanya tuhan belum berniat mencabut nyawanya. Dia menarik napas panjang kemudian melepaskannya. seperti melepaskan beban yang alangkah beratnya. Matanya menoleh kepembaringan dan samurainya terletak disana. Padahal tadi samurai itu dia letakan dibawah bantal. Kini karena bantalnya telah jatuh, jadi samurai itu berada di atas seprei putih.

Untung dia bermimpi tidak sambil mencabut samurai. Bayangkan kalau dia mimpi sambil mencabut samurainya. Dan memancung-mancungkan nya kiri kanan, Hiii..Dia jadi ngeri sendiri.! lalu dia memungut bantal di lantai, meletakkannya diatas samurai, hingga samurai itu tertutup.

Dia ingin tegak, tapi ingatannya kepada Michiko membuat dia kembali duduk. Suara kereta terdengar lagi...seorang pelayan lewat didepan pintunya yang terbuka.

“Selamat pagi, sudah sembahyang pak?” kata pelayan itu sambil melongokkan kepalanya di pintu. Si Bungsu mengangguk sambil mencoba tersenyum.