-->

Tikam Samurai Si Bungsu Episode 4.1

Episode IV (Empat)

Pergolakan tengah membakar Minangkabau saat Si Bungsu meninggalkan Australia dan menjejakkan kakinya di Bukittinggi. Situasi amat rawan. Terlebih di kampung-kampung. Saling curiga, saling intai dan saling tuduh. Bahkan banyak orang yang ”hilang malam”. Dia sampai di kota itu ketika sore telah turun. Setelah melewati perjalanan jauh dan panjang: Australia-Jakarta-Padang-Bukittinggi. Dia ingin tidur karena lelah dan mengantuk. Namun, bertahun waktu telah berlalu sejak kepergiannya dari kota ini dahulu. Alangkah lamanya terasa.

Dalam waktu yang telah berlalu itu, ada rindu menusuk-nusuk hati. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian. Saat berganti pakaian itu dia mendengar suara lengking yang tinggi. Kemudian melemah. Sayup dan mendayu-dayu. Dia tertegak dengan baju belum terpasang. Suara itu amat dia kenal. Suara peluit kereta api! Ada rasa aneh menyelusup di hatinya. Rasa rindu dan haru yang membuncah. Dia tersenyum tipis, kendati matanya berkaca-kaca.

”Saya sudah di kampung …” bisik hatinya sambil meneruskan memakai baju. Hotel dimana dia menginap adalah Hotel Indonesia. Sebuah hotel terbilang besar di Bukittinggi saat itu. Terletak di kawasan depan Stasiun Kereta Api. Selesai bertukar pakaian, dia keluar kamar. Mengunci pintu. Kemudian menyerahkan kuncinya pada pegawai hotel di lobi.

”Kereta dari mana yang masuk sebentar ini?” tanyanya pada pegawai hotel. ”Dari Padangpanjang, Uda akan kemana?”

”Akan ke Payakumbuh…”

”Aha..! Kereta yang baru masuk itu memang akan ke sana. Sebentar lagi berangkat. Tapi lebih baik Uda bermalam dulu di sini. Kalau keadaan agak aman setiap tiga hari ada kereta ke Payakumbuh..”

”Terimakasih..”

Si Bungsu melangkahkan kakinya ke jalan. Begitu keluar dari pekarangan hotel dan menoleh ke kiri dia berhadapan dengan Stasiun Kereta Api itu. Di sebelah kanannya ada kedai nasi yang tengah ramai. Beberapa bendi kelihatan berhenti di depannya. Sebelum bergolak dulu, tiap hari ada puluhan bendi menunggu penompang yang turun dari kereta api, yang datang dari kota-kota lain. Tapi sejak bergolak jadwal kereta api jadi tidak menentu. Beberapa kusir tengah menikmati nasi ramas di atas bendi mereka. Lapau nasi itu hanya dipisahkan oleh jalan dengan Hotel Indonesia itu. Terletak agak di kiri, sekitar lima puluh meter dari hotel. Perlahan dia mengayunkan langkah ke sana. Dari balik kaca dia memandang ke arah makanan yang seperti dipamerkan. Ada goreng belut, dendeng, rebus daun ubi dan sambal lado. Perutnya terasa lapar. Dia memasuki lepau itu.

”Jo-a makan pak?” tanya seorang anak muda sambil meletakkan mangkuk berisi air cuci tangan dan segelas teh di meja di depan Si Bungsu.

”Nasi jo baluik, dendeng. Letakkan daun ubi jo samba lado” katanya. Ah, bahagia terasa. Bisa bicara dalam bahasa ibunya kembali. Seorang lelaki separoh baya, bertubuh segar yang tengah menyendukkan nasi bertanya.

”Ado patai jo jariang mudo. Nio ngku?”

Petai   dan   jengkol    muda.    Ah,    sudah    berapa    lama    dia    tak    mengecap    makanan    itu? ”Jadih, jariang mudo…” katanya.

Makanan yang dia inginkan itu diletakkan di depannya. Dia mengangguk pada beberapa orang yang duduk di sampingnya yang juga tengah makan dengan lahap. Kemudian mulai menyuap. Ah, nasi padi baru dan sayur-sayur yang segar. Dia makan dengan lahap. Bertambah sampai tiga kali. Menghabiskan dua piring sayur daun ubi. Sepiring sambal lado dan enam buah jengkol muda. Sepiring belut dan dua potong dendeng. Ludes senua, nah wajahnya berpeluh. Mulutnya terasa disengat pedas yang hebat. Berkali-kali dia menghapus peluh di wajahnya. Berkali-kali dia mengerang menahan pedas.

”Kopi ciek…” katanya.

Secangkir kopi manis segera diletakkan.

”Kapai ka Pikumbuah, Nak?” tanya seorang lelaki yang duduk di sisinya. Dia menoleh, seorang lelaki tua yang tengah menghirup kopi kelihatan menatapnya. Dia coba mengingat. Kalau-kalau dia kenal pada orang ini. Namun dia tak mengenalnya. Dia menggeleng. ”Indak Pak…” jawabnya.

Lelaki itu hanya tersenyum. Lalu menghirup kopinya. Selesai membayar makanannya, Si Bungsu melangkah ke luar. Orang ramai berkumpul di depan stasiun, yaitu mereka yang akan ke Payakumbuh, Baso, Biaro, Tanjung Alam, Piladang, Padang Tarok. Sambil berjalan dia memandangi orang-orang itu. Berharap kalau-kalau ada di antara mereka yang dia kenal. Namun dia telah jadi orang asing. Tak seorangpun yang dia kenal. Dan tak seorangpun yang mengenalnya.

Akhirnya dia tegak di taman kecil di bawah Jam Gadang. Tak lama setelah dia berdiri di bawahnya jam itu berdentang tiga kali. Gema Jam Gadang itu menegakkan bulu romanya. Dia tertegak diam.

Memandang ke Gunung Merapi yang bahagian kepundannya berwarna kemerah-merahan. Jauh di sana, di kaki sebelah kiri Gunung Merapi, dia melihat Gunung Sago. Ada debar di hatinya. Debar yang rindu. Debar yang sepi. Di kaki gunung itu terletak Situjuh Ladang Laweh.

Dia seperti bisa melihat susunan rumah dan letak mesjid di kaki gunung itu. Dia juga seperti melihat pandam pekuburan ayah, ibu dan kakaknya! Peluit kereta api mengejutkan dirinya dari lamunan. Di hadapannya, di bawah sana, di antara ladang jagung dan padi yang menguning di Kampung Tangah sawah, dia lihat kereta api menuju ke kampungnya, berlari perlahan di atas rel. Asap hitam mengepul dari lokonya yang berada di depan. Deru mesin dan gemertak rodanya ketika melindas rel baja disampaikan ke telinganya seperti bunyi seruling anak gembala.

Perlahan dia…….mengambil tempat duduk di sebuah kursi kayu yang dicacakkan ke tanah, tak jauh dari Jam Gadang. Memandang ke lembah Merapi dan Singgalang. Rasanya seperti bermimpi. Dahulu dimasa revolusi, di kiri sana tak jauh dari Jalan Syech Bantam, dia pernah minum kopi di sebuah lapau kecil menanti seorang kurir. Di lapau itu dia membunuh dua orang serdadu Jepang. Setelah serdadu itu membunuh kurir yang dia nanti. Dari sana dia melarikan diri.

Seorang pedagang di jalan Syech Bantam menyembunyikannya. Masuk ke ruang di bawah rumahnya. Kemudian keluar ke belakang. Turun ke jalan yang terletak jauh di bawah sana, di dekat Hotel Antokan. Dari sana, dengan menyelusur rel kereta api, dia berlari ke rumah Datuk Penghulu di Tarok, di mana dia menompang. Datuk itu seorang kusir bendi, yang juga seorang pejuang bawah tanah. Ketika dia sampai ke rumah Datuk itu, dia dapati rumah itu telah musnah jadi abu. Api tengah berkobar memakan sisa puingnya.

Kekasihnya yang bernama Mei-mei, seorang gadis Cina, terhantar tak sadar diri. Gadis itu luka parah dan habis dinista serdadu Jepang. Tidak hanya Mei-mei. Tapi Tek Ani, isteri Datuk itu serta si Upik, anak gadisnya yang berusia lima belas tahun juga diperkosa serdadu Jepang. Mulai saat itu, dia dan Datuk Penghulu menghajar Jepang-Jepang di kota ini. Menjebak dan membunuh mereka.

Mei-mei, gadis yang dia temukan di salah satu rumah di Payakumbuh, akhirnya meninggal di loteng sebuah masjid di Tarok. Meninggal sesaat sebelum mereka mengucapkan ijab kabul. Sesaat sebelum mereka disahkan menjadi suami isteri.

Dan…. setelah itu dia bertualang. Dia ditangkap Jepang. Disiksa di dalam terowongan di bawah kota ini. Kemudian ketika lepas, dirawat oleh Salma di rumahnya yang terletak di kampung Atas Ngarai. Dari rumah gadis itulah kemudian dia berangkat ke Pekanbaru. Untuk kemudian terus ke Jepang mencari musuh besarnya, Saburo Matsuyama. Kini Salma berada di Singapura, menjadi isteri Overste Nurdin. Komandan pasukan di Pekanbaru yang berasal dari Buluh cina. Sebuah kampung kecil di tepian Sungai Kampar. Azan Asyar yang berkumandang dari Masjid Raya di Pasar Atas menyadarkan Si Bungsu dari lamunannya. Perlahan dia bangkit, melemparkan pandangannya sekali lagi ke Merapi. Jauh di sana nampak Gunung Sago diselimuti kabut tipis. Di sanalah kampung halamannya, Situjuh Ladang Laweh.

Dia melangkah meninggalkan Jam Gadang. Menyongsong suara azan. Lewat di jalan Minangkabau yang diapit dua deret toko. Di ujung jalan ini ada sebuah bioskop. Agak di depan bioskop itu ada sebuah masjid yang letaknya berdempetan dengan sederet kedai. Itulah Masjid Raya di Pasar Atas, dari mana azan itu berkumandang. Masjid itu didirikan oleh kaum Muhammadiyah di kota itu. Suara azan yang tadi dia dengar sayup-sayup sekali di dekat Jam Gadang, makin lama makin jelas. Dia masuk setelah mengambil uduk. Ikut sembahyang berjamaah. Makmumnya tak berapa orang, karena situasi pergolakan selalu membuat orang cemas.

Selesai sembahyang dia tak segera pergi. Beberapa saat dia masih duduk. Melihat kanak-kanak berdatangan. Ada yang membuka Kitab Ama, ada yang membuka Alquran. Mereka mulai mengaji.

Mereka mengaji sore hari, karena sejak bergolak malam hari biasanya semua toko dan kedai di Pasar Atas itu tutup. Si Bungsu duduk bersandar ke dinding papan yang nampaknya telah rapuh. Mendengarkan anak-anak itu mengaji. Dia teringat pada masa kanak-kanaknya di kampung dahulu. Dia sama-sama berangkat dengan teman-temannya mengaji ke sebuah surau kecil di pinggir kampung.

Ketika teman-temannya masuk ke surau, dia dan beberapa temannya yang lain, berkelok ke sebuah rumah kosong. Di sana mereka berjudi. Main koa, atau remi. Memang judi kecil-kecilan. Bertaruh karet gelang atau kotak rokok. Bertaruh penganan atau pensil. Namun lama-lama, judi itu berkembang jadi judi benaran. Persis seperti dirinya yang lama-lama berkembang jadi dewasa. Dan akhirnya pula, siapa yang tak kenal padanya di bidang judi? Kini dia melihat kanak-kanak mengaji. Lelaki dan perempuan. Dan membayangkan masa kecilnya yang tak terlalu indah di kampung dahulu.

”Alif di ateh a, alif di bawah i, alif di dapan u : A-I-U” Suara guru diikuti bersama. Berdengung dan serentak. ”Ba di ateh-ba, Ba di bawah-bi, Ba di depan-bu: Ba, Bi, Bu”

Suara murid-murid seperti koor yang kompak. Seperti sudah hafal akan setiap bunyinya. Si Bungsu bersandar diam. Beberapa murid mengaji, kanak-kanak berusia sekitar tiga sampai enam tahun, sesekali melirik padanya. Di antara suara A, I, U, Ba, Bi, Bu, Ta, Ti, Tu beberapa murid berbisik sesamanya. Kemudian menoleh selintas pada lelaki yang bersandar itu. Karena tolehan-tolehan itu, guru mengajinya juga menoleh. Guru mengaji itu, seorang gadis cantik berusia sekitar delapan belas tahun, juga melihat orang itu. Gadis itu segera mengetahui, bahwa orang yang tengah bersandar itu, adalah orang baru. Dia bisa mengatakan hal itu dengan pasti.

Sebab meskipun…… ke masjid ini yang datang bersembahyang adalah pedagang dan musafir yang singgah, tapi gadis itu mengenal mereka. Dia tahu cara dan lagaknya. Beberapa kali gadis itu menoleh. Murid- muridnya pada berbisik melihat ibu guru mereka beberapa kali mencuri pandang pada lelaki yang bersandar itu. Si Bungsu sama sekali tak mengetahui, bahwa ada murid mengaji yang mencuri pandang dan berbisik tentang dirinya. Si Bungsu juga tak tahu, bahwa guru mengaji anak-anak itu juga mencuri pandang padanya.

Dia tak mengetahui semuanya itu, sebab yang ada di masjid itu hanyalah tubuhnya. Sementara fikirannya tengah menikam jejak masa lalunya di kampung sana. Dia seperti melihat dirinya hadir dalam kelompok anak-anak mengaji itu. Ketika kanak-kanak itu pulang, beberapa lelaki masuk ke masjid tersebut. Guru mengaji itu masih duduk di tempatnya tadi. Hanya kini ada tiga orang wanita tua di dekatnya. Guru mengaji itu melirik ke arahnya persis di saat dia juga memandang pada gadis itu. Gadis itu menunduk dengan wajah bersemu merah.

Beberapa orang gadis kelihatan membuka Alquran. Mereka mengaji. Si Bungsu masih tetap duduk dan kembali bersandar ke dinding. Dulu dia juga pernah mengaji Alquran. Hanya tak sampai khatam. Tak pernah sampai tamat. Ketika rombongan sesama mengajinya berbaris berarak diiringi gendang dan rebana, berpakaian indah-indah keliling kampung dalam acara Khatam Quran, dia berada di bekas surau tempat masa kanak-kanaknya mengaji dulu. Surau itu telah ditinggal. Majid sudah pindah ke tengah kampung, di sanalah dia selalu berjudi.

Ya, ketika teman-temannya Khatam Quran, dia berjudi. Kadang-kadang siang, kadang-kadang malam. Dan selalu menang. Dia termenung dalam mesjid itu. Dia tak tahu bahwa gadis yang guru mengaji tadi, beberapa kali melirik padanya. Dia juga tak tahu, bahwa beberapa di antara gadis-gadis yang mengaji itu ikut melirik.

”Nampaknya dia orang baru…”

Salah seorang guru mengaji itu berbisik pada teman di sebelahnya. ”Baru darimana?” bisik temannya yang lain.

”Entahlah. Tapi yang jelas dia orang baru datang…”

”Tadi katamu dia sudah lama duduk di sana. Sudah sejak engkau mengajar surat Ama…” ”Ya, tadi dia duduk dekat tiang itu…”

Bisik-bisik mereka terputus ketika guru mengaji melecutkan rotan sebesar ibu jari dan panjangnya setengah meter, ke lantai.

”Simakkan kaji…! Simakkan kaji! Jangan bergunjing ketika temanmu membaca kaji!!” suara rotannya menimbulkan suara yang pedih menerpa lantai.

Kedua gadis yang berbisik-bisik itu cepat menunjuk ke Alquran. Seperti menyimak kaji yang tengah dibaca salah seorang teman mereka.

”Halaman berapa kini Emy?” guru mengaji itu bertanya.

”Halaman seratus dua belas, Engku…” ujar gadis cantik yang guru mengaji yang ditanya itu. ”Halaman berapa kini Siti?”

”Halaman seratus dua belas, Engku…” jawab temannya yang tadi berbisik dengannya. ”Hmm… Besok kalian harus menyalin seluruh ayat di halaman seratus dua belas itu seluruhnya. Bawa ketika mengaji besok. Halaman berapa yang tengah kau baca itu Rohani?” ”Halaman seratus dua puluh, Engku…” jawab gadis yang tengah membaca Alquran itu. ”Nah, kau dengar Emy, Siti? Sudah halaman seratus dua puluh…”

Muka kedua gadis itu merah seperti udang dibakar. Untung hari malam. Sehingga merah muka mereka tak kentara. Mereka menunduk dalam-dalam. Kemudian membalik halaman Alquran di hadapan mereka beberapa lembar. Sehingga akhirnya bertemu halaman yang tengah dibaca oleh teman mereka itu. Gadis cantik guru mengaji anak-anak itu, bersama teman-temannya yang lain, sudah beberapa kali Khatam Quran.

Artinya, mereka telah lebih dari dua atau tiga kali menamatkan Quran. Mereka masih tetap datang mengaji kemari karena demikianlah tradisi di kampung mereka ini. Khatam yang pertama biasanya ketika usia masih muda, hanya sekedar menghafal saja. Makin dewasa, pengajian dilanjutkan dengan mempelajari makna serta tajuid atau yang lainnya. Tiba-tiba temannya memberi isyarat. Gadis cantik guru mengaji kanak-kanak itu tak berani mengangkat kepala. Dia malu kalau dimarahi lagi oleh gurunya.

”Dia telah pergi….” bisik temannya yang memberi isyarat itu.

Mendengar itu barulah gadis itu mengangkat kepala. Menoleh ke anak muda yang sejak tadi duduk bersandar itu. Anak muda itu telah lenyap dari sana. Dia menunduk lagi. Tapi hatinya entah kenapa tiba-tiba saja jadi resah. Lelaki itu telah pergi. Aneh, dia tak penah mengenal lelaki itu. Bahkan baru kali ini dia melihat wajahnya. Tapi karena wajahnya yang murung dan matanya yang sayu amat meninggalkan kesan di hatinya.

Ketika pulang dari mesjid, dia coba melirik ke kiri dan ke kanan. Berharap anak muda itu ada di pinggir jalan yang dilalui. Namun Si Bungsu memang tak terlihat puncak hidungnya. Gadis itu pulang ke rumahnya, di sebuah toko bertingkat dua di daerah pasar atas itu. Di bahagian bawah tempat ibu dan ayahnya berdagang emas. Di bahagian atas adalah rumah tempat tinggal mereka.

Sekeluarnya dari masjid itu Si Bungsu menuju ke pasar. Dia menuju Los Galuang, sebuah bangunan beratap setengah bundar, disana biasanya tempat orang berjualan tembakau atau selimut.

Di sana malam hari, selalu ada orang bersaluang. Kini orang bersaluang selesai asyar. Sebab mereka harus pulang sebelum malam turun. Dalam negeri bergolak berbahaya keluar malam. Ke sanalah anak muda itu pergi. Menjelang masuk ke los itu, dia membeli jagung bakar. Jagung muda yang ketika dibakar baunya sangat menerbitkan selera. Dengan mengunyah jagung bakar itu dia melangkah memasuki Los Galuang yang hanya mengandalkan cahaya matahari sore.

Tak jauh dari jalan mula masuk, dia melihat kerumunan orang ramai. Sesekali terdengar suara sorak. Dari tengah lingkaran orang ramai itu terdengar suara seorang wanita tengah berdendang. Sayup-sayup terdengar bunyi saluang mengiringi dendangnya. Dendang yang terkadang kocak mengundang tawa. Terkadang mengandung sindir yang membuat orang rasa digelitik. Tapi sebahagian besar dari lagu yang didendangkan bernada ratapan atas nasib yang malang atau tentang percintaan. Si Bungsu tertegak di luar kerumunan orang ramai itu. Siang tadi dia mendengar pekik peluit kereta api. Kemudian makan goreng belut dan dendeng. Mendengar dentang Jam Gadang, memandang ke lembah Merapi-Singgalang dan Gunung Sago.

Kini, dengan jagung bakar di tangan dan mendengar dendang orang bersalung, maka lengkaplah kenangan masa lalunya terhadap kampung halaman yang bertahun-tahun dia tinggalkan. Dendang wanita di tengah kerumunan orang ramai itu makin mendayu. Tanpa terasa, dia menyeruak perlahan di antara orang- orang yang tegak. Kemudian berada di baris depan sekali. Seorang lelaki tua kelihatan meniup saluang. Seorang lagi menggesek rebab tua. Seorang perempuan tengah menyanyi sambil menunduk. Di dekatnya seorang anak perempuan berusia sekitar setahun, kelihatan tidur berkelumun selimut usang. Mereka duduk di atas tikar pandan yang juga telah usang.

Di tengah lingkaran, ada sebuah lampu yang dibuat dari bekas kaleng sardencis. Sumbunya dari kain sebesar ibu jari. Api dari pelita minyak tanah itu sesekali bergoyang ke kiri atau ke kanan. Mengikuti hembusan angin yang lolos dari sela-sela sepuluhan lelaki yang mengelilingi kelompok saluang itu. Cahayanya redup melawan sinar matahari sore yang masih menerobos ke Los Galuang itu. Di sekitar lampu, terutama di depan wanita yang tengah berdendang sayu itu, terlihat beberapa keping uang logam dan beberapa lembar uang kertas. Uang itu dilemparkan oleh beberapa pengunjung yang meminta lagu atau yang merasa puas atas sebuah lagu. Dia menatap anak perempuan yang tidur bergulung dekat ibunya yang berdendang itu. Ada perasaan luluh menyelusup di hatinya.

Si perempuan berdendang mencari sesuap nasi untuk anaknya. Lelaki yang menggesek rebab itu barangkali suaminya. Gadis kecil itu terpaksa mengikuti ayah dan ibunya mencari makan. Barangkali kampung mereka tidak di sekitar kota Bukittinggi ini. Mungkin datang dari Pariaman atau Padang Panjang. Atau mungkin mereka dari Payakumbuh. Mereka mendatangi kota demi kota, kampung demi kampung, pasar demi pasar, untuk berdendang mencari makan. Kehidupan mereka tak lebih daripada mengharap belas kasihan orang yang mendengar. Bila orang merasa tertarik, maka mereka akan memberikan sedikit uang. Tak jarang uang yang mereka peroleh tak lebih dari hanya membeli sebungkus nasi. Nasi yang sebungkus itu biasanya mereka makan bersama. Empat orang!

Bahkan tak jarang mereka pulang dengan tangan hampa ke tempat mereka menginap. Uang yang didapat tak cukup meski untuk membeli sebungkus! Kalau hal itu terjadi, mereka biasanya membeli ubi goreng, atau apa yang bisa mengenyangkan. Mereka memberi anak kecil itu dahulu untuk makan. Bila ada sisanya, maka perempuan tukang dendang itulah yang mendapat bahagian. Kehidupan mereka hanya lebih baik sedikit dari kehidupan orang yang terlunta-lunta. Si Bungsu tahu benar akan hal itu. Sebab bukankah ketika masih di kampung dahulu dia sering mengikuti tukang saluang?

Dia merogoh kantong. Meletakkan tiga lembar uang kertas ke depan perempuan yang tengah berdendang dengan menunduk itu. Buat sesaat, setelah dia meletakkan uang kertas tersebut, dendang dan bunyi saluang masih terdengar wajar. Tapi seiring dengan bisik-bisik orang yang berkerumun, saluang dan dendang perempuan itu tiba-tiba terhenti. Perempuan itu menatap pada uang yang baru diletakkan di hadapannya. Lelaki tua tukang saluang itu menatap pada uang itu. Suami perempuan itu juga berhenti menggesek rebabnya. Menatap pada uang kertas baru yang terletak di depan isterinya. Dari uang kertas itu, maka mereka kemudian beralih pada orang yang memberikan uang itu.

Orang-orang yang mengelilingi kelompok saluang itu juga berusaha melihat kepada lelaki pemberi uang tersebut. Si Bungsu jadi heran atas sikap orang-orang yang pada memandang padanya. Dia juga menatap pada orang-orang itu. Pada perempuan yang sebenarnya cantik dan tukang dendang itu.

Pada lelaki tua…. peniup saluang dan pada tukang rebab. Akhirnya dia jadi tahu, orang-orang itu merasa kaget atas jumlah uang yang barusan dia letakkan ke depan perempuan itu. Dia juga menatap pada uang yang dia letakkan tadi.

Ya, uang itu ternyata terlalu banyak bagi ukuran orang-orang yang kini tengah mengelilingi tukang saluang itu. Uang rupiah yang masih baru benar. Jumlahnya itu yang membuat mereka kaget. Dengan uang itu ketiga tukang saluang itu, berempat bersama anak perempuan kecil itu, bisa hidup senang-senang selama satu bulan! Tiba-tiba pula, kini Si Bungsu yang dibuat kaget tatkala menatap wajah perempuan tukang dendang itu. Perempuan itu kelihatan kurus. Namun siapapun yang melihatnya, pasti mengatakan perempuan itu cantik!

Tapi perempuan itu sendiri nampaknya tak mengenal lelaki yang memberi uang itu. Ada beberapa saat dipergunakan oleh Si Bungsu untuk memastikan apakah perempuan itu memang perempuan yang dahulu dia kenal. Tatkala kepastian telah dia peroleh, masih dia perlukan beberapa saat lagi untuk menentramkan hatinya. Kemudian baru berkata perlahan.

”Nyanyikan dendang parantauan…”

Perempuan itu masih diam. Tukang saluang itu masih diam. Tukang rebab itu masih diam. Yang tak diam adalah pengunjung yang makin lama makin ramai. Mereka pada berbisik dan berdengung seperti lebah.

”Dendangkanlah…” kata Si Bungsu perlahan.

Hatinya mulai tak sedap melihat situasi yang mencekam ini. Lelaki peniup saluang itu meletakkan bambu ujung saluang ke bibirnya. Kemudian terdengar suara saluangnya. Mula-mula agak sumbang. Lalu lancar. Lelaki penggesek rebab itu menegakkan rebab kecilnya. Lalu menggesek rebab mengikuti bunyi salung. Tak lama setelah itu, terdengar dendang si perempuan. Mendendangkan lagu tentang seorang yang menderita di kampung halamannya karena hidupnya yang melarat, tanpa harta, tanpa sanak famili yang mengacuhkan.

Kemudian dia pergi merantau. Di rantau, nasib malang ternyata masih mengikutinya. Terlunta-lunta, sampai akhirnya dengan perjuangan keras dia jadi orang kaya. Lalu pulang ke kampung. Di kampung, dimana berita tentang kesuksesannya telah tersebar, kepulangannya di sambut dengan meriah. Sanak familinya tiba- tiba saja jadi banyak. Bahkan dia tak mengenal beberapa orang yang hari itu mengaku jadi familinya. Namun karena dia baru pulang, dan membawa sedikit harta, maka dia menerima kunjungan sanak familinya dengan hati senang.

Dia memberi mereka oleh-oleh. Tak lama, hasil pencahariannya di rantau pun habis. Ketika tiba-tiba dia jatuh sakit, tak seorangpun diantara sanak familinya atau yang kemarin mengaku sebagai sanak familinya yang datang menjenguk. Dan akhirnya, dengan kekerasan hatinya saja, meski dalam keadaan sakit, dia kembali pergi merantau. Tuhan juga yang mentakdirkan dia kembali sukses di rantau. Namun dia telah bersumpah untuk tak kembali lagi ke kampung halamannya.

Syair lagu ”Dendang Parantauan” ini terdengar terlalu mengada-ada. Bombastic dan klise. Sesuatu yang banyak terdapat dalam film India. Tujuannya hanya satu, menguras air mata pendengar. Terutama kaum ibu. Namun demikian, lagu itu tetap populer. Biasanya para pengunjung yang datang mendengarkan lagu saluang itu juga ikut terharu. Dan tanpa setahu mereka yang tengah hanyut dalam emosi bersama dendang perantauan itu, ketika lagu itu berakhir, mereka tiba-tiba tak lagi melihat orang yang tadi meminta lagu itu. Peniup saluang itu berhenti. Demikian pula penggesek rebab.

Mereka mencari di antara orang-orang yang duduk bersila di depan mereka. Di antara orang-orang yang tegak berkerumun. Tapi lelaki muda yang tadi memberikan uang kertas baru itu tak kelihatan. Dia telah pergi entah kemana. Orang-orang lainpun tiba-tiba teringat lagi pada lelaki itu. Mereka saling pandang sesamanya. Berharap melihat lelaki itu di antara mereka. Namun Si Bungsu memang telah pergi. Dia tak pergi jauh.

Tadi, ketika Dendang Perantauan itu tengah mendayu-dayu, di antara orang yang makin mendesak ke depan untuk mendengarkan dan melihat perempuan cantik tukang dendang itu, Si Bungsu perlahan menggeser tegak ke belakang. Kini anak muda itu sebenarnya berada tak jauh dari tempat tukang saluang itu. Dia tegak di tempat yang samar-samar. Menjelang malam turun mereka usai. Orang-orang yang mendengarkan sudah pulang. Hanya tinggal dua tiga orang saja.

”Magrib akan turun, kita pulang…” kata lelaki yang menggesek rebab.

”Ya, sebaiknya kita cepat pulang…” ujar yang perempuan sambil membetulkan selimut anaknya. Lelaki tua peniup saluang membungkus saluangnya dengan kain. Penggesek rebab itu juga membungkus rebabnya dengan kain baik-baik. Yang perempuan mengumpulkan uang yang di depannya. Tangannya terhenti lagi ketika memegang uang baru yang tadi diletakkan lelaki aneh yang meminta lagu ”Dendang Parantauan” itu. Tangannya terhenti tatkala mendengar sebuah suara menggeram.

”Uang itu uang palsu….”

Perempuan itu, suaminya yang menggesek rebab, dan lelaki tua peniup saluang tadi kaget dan menatap pada orang yang berkata tersebut. Yang berkata ternyata seorang lelaki bertubuh besar yang sejak tadi duduk di baris depan ketika melihat mereka bersalung.

”Ya. Uang itu palsu. Berikan pada saya…” katanya mengulurkan tangan. Namun perempuan itu memegang uang tersebut erat-erat.

”Meskipun uang itu uang palsu, kami akan menyimpannya. Karena uang itu pemberian orang pada kami…” suami perempuan itu menjawab.

Terdengar tawa bernada tak sedap dari mulut lelaki besar itu. Dua temannya yang duduk di kiri kanannya juga tertawa bergumam.

”Engkau akan ditangkap dan dihukum masuk bui, buyung. Bukankah pada lembaran uang dituliskan, barangsiapa meniru, mengedarkan atau menyimpan uang palsu akan ditangkap dan dihukum? Nah, berikan saja uang itu pada saya. Saya intelijen…”

Lelaki besar itu tegak sehabis berkata demikian. Kedua temannya juga ikut tegak dan memang kiri kanan dengan tangan meraba pinggang. Ada tiga atau empat lelaki lagi di sana. Tadi mereka juga ikut tertarik mendengar uang itu uang palsu. Ada yang makin mendekatkan tegaknya. Namun begitu mendengar kata-kata ”tangkap” dan ”intelijen” dari mulut lelaki besar itu, mereka segera menjauh. Berlalu dari Los Galuang itu cepat- cepat. Seperti takut akan terbawa-bawa dan ditangkap.

Perempuan tukang dendang itu pucat. Dalam suasana bergolak sekarang ”intelijen” dan ”tangkap” merupakan dua kalimat yang teramat ditakuti. Namun lelaki tua peniup saluang itu tak yakin bahwa lelaki besar itu adalah benar-benar intelijen.

Dari tampangnya dan tampang kedua temannya yang tegak itu, tak sedikitpun menggambarkan mereka adalah alat negara. Paling-paling mereka hanya tukang peras. Mencatut nama intelijen untuk memeras orang lain.

”Saya harap sanak tak mengganggu kami. Kami akan pulang…” ujar lelaki itu perlahan. Si perempuan memangku anaknya. Memasukkan uang ke sela kutangnya. Mereka lalu tegak. Bersiap untuk segera meninggalkan tempat itu,”Serahkan uang itu pada saya!!” lelaki besar itu membentak.

Namun ketiga orang tukang saluang itu tak mau melayani ucapannya. Mereka berjalan menyamping. Pergi ke arah lain. Kedua orang teman si tinggi besar mencegat mereka. Di tangan mereka tergenggam pisau belati. Namun kedua lelaki pemain saluang itu bukan pula lelaki yang tak berisi. Mereka segera mempertahankan diri. Yang muda menghantam pergelangan tangan lelaki yang di dekatnya dengan sebuah tendangan. Tangan lelaki itu berhasil dia tendang dengan cueknya. Namun tendangannya tak cukup kuat untuk melemparkan pisau lelaki itu dari pegangan lelaki tersebut.

Mereka berdua terlibat dalam perkelahian terbuka. Peniup saluang yang tua itu juga mempertahankan diri dengan menendang ke arah kerampang orang yang mengancamnya dengan pisau. Lelaki berpisau itu terpekik dan mundur. Namun dia maju lagi. Saat itu tiba-tiba lampu togok yang masih menyala dan terletak di lantai padam ditiup orang. Cahaya matahari senja tak cukup masuk menerobos ke dalam los itu. Menyebabkan los itu mulai agak gelap. Hanya beberapa saat setelah lampu itu padam, perempuan pedendang itu terdengar memekik. Terdengar suara seperti orang bergumul.

Suaminya terdengar memanggil-manggil. Perempuan itu seperti disekap mulutnya. Kemudian terdengar suara ada yang jatuh. Lalu suara anak menangis. Perempuan itu memburu anaknya yang jatuh dan menangis. Lelaki tua peniup saluang kelihatan tersandar dengan bahu luka. Sementara lelaki penggesek rebab tertegak diam. Lelaki bertubuh besar itu juga tertegak. Mereka semua menatap ke arah pelita. Dekat pelita itu jongkok seorang lelaki. Kelompok saluang itu segera mengenali lelaki itu sebagai orang yang tadi memberikan uang yang kini jadi rebutan itu. Lelaki itu bangkit dan menatap pada lelaki tinggi besar itu.

”Kenapa engkau mengganggu mereka?” suaranya terdengar perlahan. Lelaki besar itu tersenyum. Senyumnya lebih tepat disebut seringai.

”Engkau mengedarkan uang palsu, buyung. Saya akan menangkapmu…” katanya menggertak. ”Tuan dari instansi mana…”

”Saya intelijen…” ”Intelijen darimana…”

”Jangan banyak tanya kau! Di sini orang banyak tanya banyak pula celakanya.” ”Intelijen tak biasanya menyombongkan diri. Tak pula mau menganiaya rakyat kecil. Kalau tuan benar seorang intelijen, maka tuan adalah intelijen keparat…”

”Ee..bacirik muncuang ang mah! Iko nan kalamak dek waaang!” ujar si tinggi besar menggeram, seraya menendang menggebu-gebu.

Lelaki itu, yang tak lain dari Si Bungsu, tak berniat melayani orang ini. Dia baru tiba di kampungnya. Tidak pada tempatnya harus berkelahi di hari pertama dia menjejakkan kakinya di kampungnya ini. Dia hanya mengelak.

”Kalau tuan bisa memperlihatkan tanda pengenal bahwa tuan memang seorang intelijen, dan kalau benar uang itu palsu, saya akan serahkan uang itu beberapa lembar lagi,….” ujar Si Bungsu sambil tegak beberapa depa dari lelaki yang mengaku intelijen itu.

”Saya akan memperlihatkan padamu tanda pengenal yang asli, buyung…”

Sehabis berkata, dia memberi isyarat pada kedua temannya. Kedua temannya yang masih memegang pisau segera mengepung Si Bungsu. Lelaki tinggi besar itu sendiri mencabut pula pisau dari pinggangnya. Mereka mengepung makin ketat. Si Bungsu mundur. Sampai akhirnya punggungnya tersandar ke dinding Los Galuang itu.

”Nah, serahkan semua uangmu, buyung. Atau kau tak sempat lagi bernafas…” ujar lelaki besar itu mengancam, sambil memainkan pisaunya di hadapan hidung Si Bungsu. ”Intelijen biasanya memakai pistol. Tak memakai pisau belati seperti tuan. Yang memakai belati hanya tukang bantai atau kaum penyamun…” ujar Si Bungsu tenang. Muka ketiga orang itu jadi merah padam kena sindir.

“Tak peduli apa pekerjaan kami.Yang jelas serahkan uangmu..!”

“Hm, akhirnya terbukti bahwa kalian hanya ingin merampok, bukan?” Lelaki besar itu jadi berang. Dia memberi isyarat dan kedua anak buahnya segera maju. Namun kaki Si Bungsu bergerak cepat sekali. Lelaki didepannya menyangka bahwa Si Bungsu akan menendang tangannya, maka dia menghadapkan mata pisaunya kebawah. Berharap kaki Si Bungsu akan menendang ujung pisau yang runcing itu.

Namun dia salah kira, Si Bungsu ternyata menendang tempurung lututnya. Demikian dan telaknya tendangan itu, kaki lelaki itu lemas dan tempurungnya bergeser. Tegaknya jadi goyah. Tapi dia coba untuk melangkah, namun kakinya terlalu sakit. Dia jatuh berlutut dengan mengeluh, jatuhnya kedepan. Hingga kepalanya sangat dekat dengan kaki Si Bungsu. Kalau saja Si Bungsu mau, dengan mudah dia bisa menendang pelipis lelaki itu.

Namun dia tak berniat menjatuhkan tangan jahat. Lelaki yang satu lagi, yang menyerang dia dari sebelah kanannya segera dinanti dengan sebuah tinju.Tinju itu mendarat di hidungnya, lelaki itu terdongak. Untuk sesaat seperti ada sejuta kunang-kunang dimatanya. Sebelum dia sadar sepenuhnya apa yang terjadi, sebuah tendangan mendarat diperutnya.Tubuhnya berlipat dan jatuh menerpa lelaki besar yang tadi memberikan komando! Dalam gebrakan yang pendek kedua lelaki itu dilumpuhkan.

“Oooo..pandeka waang rupanya,ya? Hmm..Boleh, boleh! Mari saya beri waang pelajaran. Waang akan selalu ingat pelajaran dari Datuak Hitam….” Tangan kirinya mencabut sebuah belati yang sebuah lagi. Kini tangan kiri dan kanan Datuk Hitam memegang belati berkilat. Lelaki tua peniup saluang dan suami pedendang itu jadi kaget mendengar lelaki besar itu menyebut namanya, Datuak Hitam! Siapa yang tak kenal dengan nama itu? Seorang begal berhati kejam. Seorang kepala rampok dan kepala copet yang baru pulang dari Betawi. Kini di Minangkabau dia mengepalai puluhan pencopet dan perampok. Markasnya tak diketahui dengan pasti. Entah di Padang atau Bukititnggi, entah di Padang Panjang. Namun dalam aksi-aksi pencopetan, perampokan, baik ditoko atau rumah penduduk bahkan pembunuhan, selalu dikaitkan dengan namanya!

Dia memang terkenal amat Bagak, amat kejam dan amat pendekar. Kabarnya dia di Betawi membuka sasaran silat. Di Betawi sana dia juga mengepalai puluhan garong, Datuk Hitam siapa yang tak kenal namanya? Mendengar namanya saja sudah bisa membuat orang terkencing-kencing.

Kini, datuk yang terkenal itu berdiri dihadapan Si Bungsu memegang dua bilah belati. Sebuah serangan dilakukannya dan Si Bungsu menunduk, namun Datuk itu seperti bisa membaca gerakannya. Begitu menunduk sebuah tendangan menanti. Hampir saja dagu Si Bungsu hancur kena tendangan kakinya yang besar.

Masih untung anak muda itu bisa mengelak cepat dengan menjatuhkan dirinya ke kanan. Dia berguling dilantai los galuang itu. Namun Datuk itu memburunya dengan injakan-injakan yang kuat, membuat Si Bungsu menggelindingkan badannya jauh-jauh. “Hm..Boleh juga…”ujar si datuk memuji.

Anak muda itu bergulingan dilantai dengan cepat. Itu membuat nya kagum. Kini mereka telah tegak berhadapan lagi. Si datuk menyerang dengan ayunan tangan kanannya. Si Bungsu mundur, si datuk menyepak, Si Bungsu mundur lagi, dan akhirnya dia terpepet kedinding. “Nah, bergerak kemana lagi kau buyung, serahkan saja uang mu, he..he…”ujar datuk itu.

Si Bungsu tersenyum melihat si datuk memainkan belatinya dengan bersilang di depannya. Bagaimana dia harus menghajar lelaki ini? Dia tak ingin membunuh. Bukankah dia telah kembali berada di Minangkabau. Kenapa dia harus membunuh orang kampungnya sendiri? Terasa tak sedap dihati, namun si datuk itu makin mendesaknya.

“Hmm, tak mau? Baiklah.Saya akan ambil uangmu setelah perutmu terbusai…”

Sehabis berkata begitu kedua pisaunya secapat kilat menghujam. Si Bungsu menjatuhkan dirinya selurus dinding. Begitu kakinya mencecah lantai, kaki kananya terangkat. Menghantam kerampang datuk itu dengan telak. Tubuh datuk itu terangkat dari lantai sejari. Kemudian dengan mata mendelik jatuh terlutut kelantai.

“Onde, maaak. onde-onde den waang gili. eh waang sipak. Aduh maak...!”

Datuk itu merintih-rintih, kedua pisaunya lepas, kini tangan nya memegang onde-onde yang dia sebutkan itu.Yang sakitnya bukan main, yang mencucuk ke ulu hati. Menghentak ke benak kecil. Dalam keadaan begitulah dia ditinggalkan oleh Si Bungsu dan rombongan tukang saluang. Luka peniup salung itu tak begitu parah.

Mereka menuruni janjang ampek puluah, tak jauh dari los galuang itu. Tak jauh dari janjang ampek puluah itu mereka memasuki rumah yang berdinding tadia, dinding bambu yang dianyam. Dan beratap seng yang sudah merah dimakan usia.

“Masuklah, disinilah kami menompang tinggal…”ujar lelaki penggesek rebab itu.

Perempuan tukang dendang itu bergegas masuk, menyiapkan air hangat dan kopi. Kemudian mereka duduk minum kopi.Perempuan itu juga menyertai ketiga lelaki itu minum kopi. Dua orang anak-anak tidur beralaskan tikar pandan kasar berselimut selimut lusuh.

“Itu anak kami..”ujar si penggesek rebab.

Beberapa kali dia melirik istri penggesek rebab itu.

“Maafkan saya. Saya rasanya kenal dengan istri sanak…”ujarnya sambil menatap pada istri tukang rebab

itu.

Perempuan yang ditatap itu heran. Dia mengangkat kepala. Menatap pada lelaki yang didepannya itu.

Menatap lama-lama, tapi dia tetap tak mengenalnya. ”Ya, saya dari sana…” kata Si Bungsu perlahan.

Sementara itu isterinya yang tengah menatap pada Si Bungsu, tiba-tiba jadi pucat. ”Uda…, uda Bungsu…?” katanya seperti bermimpi.

”Ya. Sayalah ini, Reno…” jawab Si Bungsu.

Perempuan tukang dendang itu, yang tak lain dari Reno Bulan yang pernah bertunangan dengan Si Bungsu ketika remaja, tiba-tiba menangis. Kedua lelaki yang ada di sana hanya menatap tak mengerti.

”Dimana ayah dan ibumu, Reno?” tanya Si Bungsu perlahan. Sesaat Reno masih menangis, yang menjawab adalah suaminya. ”Amak dan abak telah meninggal. Sudah enam tahun yang lalu.” ”Inalilahi wainnailahi rojiun…” ”Saudara kenal dengan beliau?”

”Saya masih terhitung kemenakan oleh ayahnya…” jawab Si Bungsu sambil menatap pada suami perempuan itu.

”Sudah berapa lama sanak mencari nafkah dengan bersaluang ini?” Lelaki itu menatap pada ayahnya yang meniup saluang.

”Sudah empat tahun. Kami tak bersekolah, tak punya sawah atau ladang. Saya baru enam tahun menikah dengan Reno. Yaitu setelah suaminya yang pertama meninggal dalam suatu kecelakaan…” Si Bungsu tertunduk. Masa lalunya saat dia remaja seperti berlarian datang membayang. Ke masa dia dipertunangkan dengan Reno. Gadis tercantik di Situjuh Ladang Laweh. Dia tak tahu, apakah dia mencintai Reno waktu itu atau tidak. Dia juga tak perduli, apakah Reno mencintainya atau juga tidak. Waktu itu dia terlalu sibuk berjudi ke mana-mana, tak sempat memikirkan soal cinta atau soal pertunangan.

Dia sibuk dengan judi yang telah mencandu. Namun jauh di lubuk hatinya ketika itu, dia merasa bangga juga bertunangan dengan Reno Bulan. Betapa takkan bangga, Reno gadis paling cantik di kampungnya itu merupakan pujaan setiap anak muda. Ada pedagang dan saudagar dari Payakumbuh datang melamarnya dengan membawa uang dan emas dalam jumlah banyak sekali. Tapi Reno menolak.

Ketika mereka dipertunangkan, kampung itu jadi gempar. Gempar bukan karena mereka tak sebanding. Betapa mereka takkan sebanding, Reno gadis tercantik di seluruh desa yang berada di kaki Gunung Sago. Gadis alim dan digelari puti saking cantiknya. Sementara Si Bungsu, kendati bermata sayu –kata orang tanda-tanda mati muda– namun gagah dan semampai. Pasangan yang membuat banyak orang mendecak kagum.

Namun kegemparan dipicu oleh perangai Si Bungsu. Pejudi Allahurobbi, tak pernah Katam Alquran, dan tak pernah menjejak masjid untuk Jumat, Subuh atau Isa. Preman tuak yang dibenci kaum ibu di mana-mana, preman tapi tak tahu silat selangkahpun. Itulah sumbu kegemparan saat mereka dipertunangkan. Perbedaan mereka bak badak jo tukak. Reno adalah bedak yang harum semerbak, Si Bungsu adalah tukak yang membuat orang muntah kayak. Sebenarnya sudah berkali-kali pihak keluarga Reno meminta agar calon mantu mereka itu merobah perangainya. Permintaan itu tentu saja disampaikan lewat ayah dan ibu Si Bungsu. Ayah dan ibunya sendiri telah berusaha keras agar anak mereka jadi orang. Tapi Si Bungsu tak perduli. Bahkan dia tetap tak perduli ketika akhirnya, setelah semua usaha menyadarkannya jadi gagal, keluarga Reno datang mengembalikan tanda pertunangan. Dia benar-benar tak perduli. Malah dia melemparkan cincin pertunangan yang dia pakai pada perempuan separoh baya yang datang berunding ke rumahnya.

Perbuatan yang mendatangkan aib dan murka ayahnya. Itulah semua kisah tragedi itu. Betapa dia takkan kenal pada perempuan di hadapannya ini? Kini perempuan yang bernama Reno Bulan itu menunduk, menangis. Tubuhnya kurus tak terurus. Namun bayangan kecantikannya masih jelas. Itulah salah satu sebab kenapa orang banyak datang melihat bila mereka main saluang. Orang ingin menatap wajahnya yang lembut dan matanya yang indah.

Siapa sangka, gadis cantik bunga kampungnya dulu itu akhirnya akan jadi pendendang saluang. Yang hidup dengan menjual suara disepanjang malam yang dingin dan lembab. Yang mencari nafkah dari belas kasihan orang banyak. Namun itu juga suatu perjuangan hidup. Mereka masih mau berusaha, tidak sekedar menampungkan tangan minta sedekah. Mereka juga pedagang. Meski yang diperdagangkan adalah suara.

”Kata orang….Uda telah meninggal di Pekanbaru….”

Si Bungsu dikagetkan oleh suara Reno. Dia mengangkat kepala.

”Meninggal?” ”Ya. Banyak orang berkata begitu. Berita itu dibawa oleh panggaleh dari Pekanbaru. Uda ikut bergerilya di sana. Sampai akhirnya tertembak dan…meninggal di sebuah kampung bernama Buluh Cina…”

Ya, itulah cerita yang didengar oleh Reno ketika masih gadis. Semula dia sangat sedih ketika diberitahu orang tuanya bahwa pertunangannya dengan si pejudi telah diputuskan. Dia lalu dicarikan calon suami. Seorang kaya dan masih ada pertalian darah dengan keluarganya. Namun gadis cantik itu menolak. Dia mencintai Si Bungsu, teman sesama mengajinya itu. Mereka memang tak pernah bicara soal cinta. Namun beberapa kali bertemu, di surau tempat mengaji, di pasar atau di jalan, mereka sempat saling beradu pandang. Saling mengerling dan bertukar senyum. Itu sangat membahagiakannya. Dia tak perduli Si Bungsu itu pejudi.

Ketika huru-hara selama pendudukan Jepang berlangsung, dia dan keluarganya mengungsi ke Painan. Tempat yang jauh dari jangkauan balatentara Jepang. Di sana dia selalu berharap untuk dapat bertemu dengan Si Bungsu. Dia ingin mengatakan pada anak muda itu, bahwa dia mencintainya. Bahwa dia akan tetap menantinya. Dia yakin anak muda itu juga mencintainya. Meski Si Bungsu tak pernah berkata begitu, tapi hati perempuannya yang paling dalam mengatakan bahwa anak muda itu juga menaruh rasa suka padanya. Bertahun-tahun lewat, dia telah dibawa pindah kemana-mana. Dia tetap menolak untuk dinikahkan dengan lelaki lain. Dia tak mengatakan pada orang tuanya alasan penolakannya. Pokoknya dia menolak. Sampai suatu hari dia ditanya oleh ibunya.

”Engkau masih menanti Si Bungsu, Reno?”

Reno kaget, dia tatap ibunya. Perempuan tua itu juga menatapnya. Ibu selamanya adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti akan isi hati anaknya. Ibu selamanya adalah perempuan yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Reno menangis dan memeluk ibunya yang tua.

”Maafkan Reno, Mak…” katanya lirih.

”Katakanlah. Apakah engkau mencintainya, dan masih menantinya?”

Lama sunyi, sampai akhirnya Reno mengangguk dan menangis dalam pelukan amaknya. Ya, kemana lagi dia harus mengadu. Si ibu berlinang air matanya. Sejak saat itu si ibu berusaha keras mencari kabar tentang Si Bungsu.

”Ke ujung langit pun dia, saya akan mencarinya. Saya akan melamarnya kembali untuk Reno…” ujar si ibu suatu malam, saat dia bertengkar lagi dengan suaminya.

”Membuat malu! Bangsat itu penjudi! Dahulu pejudi itu telah memutuskan hubungannya dengan melemparkan cincin pertunangannya bukan? Apakah anakmu tak laku, sehingga tak ada lelaki yang mau jadi suaminya? Reno cukup mengangguk saja, maka sepuluh lelaki kaya atau yang berpangkat akan datang melamarnya! Katakan begitu pada anakmu yang gila itu! Pada gadis tuamu itu! Apakah dia tetap takkan berlaki sampai tua, sampai jadi nenek-nenek. Apakah dia ingin marando tagang?” sergah suaminya dengan berang. Tapi isterinya juga jadi naiak suga.

”Tuan lelaki busuk! Hanya memikirkan diri Tuan saja. Tuan tak pernah memikirkan bagaimana hati anak Tuan. Biar dia kawin dengan rampok sekalipun, asal dia mencintainya dan bahagia…!”

”Kalian sama-sama gila!”

Reno yang mendengarkan pertengkaran itu hanya menangis di kamarnya. Lalu,… suatu hari datanglah kabar itu. Kabar tentang kematian Si Bungsu di Desa Buluhcina. Sebuah desa 25 kilometer dari kota Pekanbaru. Reno merasa dirinya runtuh mendengar berita kematian itu. ”Tak mungkin. Tak mungkin…” desahnya berkali- kali.

Berbulan-bulan dia tetap tak mempercayai berita itu. Namun itulah berita terakhir yang didengarnya tentang lelaki yang dia cintai itu. Dan akhirnya, dia menyerah pada kehendak kedua orang tuanya. Terutama kehendak ayahnya. Agar dia segera menikah. Dia lalu menikah. Meski dalam usia yang sudah sangat terlambat menurut ukuran saat itu. Dia menikah dengan seorang pedagang kaya. Namun hanya beberapa tahun. Pedagang itu dirampok. Tokonya dibakar. Hartanya ludes. Dan suaminya sendiri mati dalam suatu kecelakaan. Reno yang telah kematian ayah dan ibu, jadi hilang kemudi.

Untunglah ada seorang lelaki, pemain rabab yang ikut kelompok saluang yang menikahinya. Dia tak punya pilihan. Makanya dia menerima dikawini lelaki itu. Daripada hidup dalam godaan. Daripada sesat. Begitulah sejarahnya. Dan kini, di hadapannya, duduk lelaki yang pernah dia nanti bertahun-tahun. Lelaki yang dicintainya sepenuh hati. Kalau malam tadi dia tak mengenal Si Bungsu, itu memang bukan salahnya. Anak muda itu kelihatan terlalu gagah dengan tubuh berisi. Lagipula mana berani Reno menatap lelaki lama-lama.

Karena dia tahu terlalu banyak lelaki usil yang selalu berdatangan ke tempat mereka bersalung. Tak perduli dia telah bersuami, dan suaminya ada pula di dekatnya! Kalaupun mungkin ada hatinya berdetak, namun bagaimana dia akan meyakini bahwa lelaki itu adalah Si Bungsu? Yang telah dikatakan meninggal dunia. Dia tak mau ditipu oleh mata. Dia tak mau ditipu oleh harapan yang telah punah.

”Apakah engkau tak pernah pulang ke kampung, Reno?” Si Bungsu bertanya perlahan. Dia ingin sekali mendengar cerita tentang kampung halamannya. Tentang Situjuh Ladang Laweh. Reno menggeleng.

”Sudah lama sekali saya tak ke sana. Sudah berbilang tahun. Apa yang harus saya jenguk ke sana? Tak ada lagi ayah dan ibu, tidak juga sanak tak ada famili. Kalaupun ada famili jauh, famili sesuku, mereka takkan mengacuhkan karena kami miskin. Sudah demikian adat di kampung kita. Orang yang dipandang dan didatangi, bila pulang dari rantau, adalah orang-orang yang pulang membawa harta. Orang-orang yang berhasil di perantauan…” Reno menjawab dengan getir.

Si Bungsu tertunduk diam.

”Apakah kalian tak mungkin berdagang?” tanyanya. Suami Reno tertawa perlahan.

”Bukankah kami kini berdagang? Kami berdagang suara. Hanya itu yang bisa kami perdagangkan. Karena hanya itu pula modal kami. Untuk berdagang yang lain, dibutuhkan modal yang lain pula. Apalagi pergolakan ini membuat keadaan tidak menentu..” Tapi, kendati situasi keamanan masih belum menentu, Si Bungsu menyuruh mereka agar benar-benar berdagang. Dia memberinya modal dari uang yang dia bawa pulang. Keluarga pesalung itu semula menolak. Tapi Si Bungsu memaksa mereka untuk menerima modal itu. Dia punya alasan untuk berbuat demikian. Dia punya uang yang cukup. Tapi untuk apa uangnya kini? Dia tak punya siapa-siapa. Dia anak yang Bungsu. Tak beradik. Ada seorang kakaknya, tapi kakaknya itupun telah meninggal.

Dia ingin Reno berobah nasibnya. Lagipula Reno adalah anak mamaknya. Dengan uang itu suami Reno membeli sebuah kedai di Los Galuang. Kemudian membeli kain batik ke Padang.

Mereka berjualan kain panjang dan selimut tebal. Selain itu, masih banyak kelebihan uang dan mereka membeli sebuah rumah cukup besar di Jangkak, Mandiangin. Malam itu, selesai Magrib dan makan malam mereka duduk di ruang tengah.

”Reno, Sutan Pilihan, besok saya akan ke pergi. Mungkin ke Payakumbuh. Tapi perjalanan hidup tak bisa kita terka. Yang jelas besok saya akan pergi. Sutan sudah tahu apa hubungan saya dengan isteri Sutan di masa lalu. Saya yakin Sutan akan menjaga Reno baik-baik. Reno, nasib ditentukan oleh Tuhan. Nasiblah yang membuat kita tercerai berai. Kini sayangi dan jaga anak dan suamimu. Aku menyayangimu sebagai adikku, kenanglah aku sebagai mengenang saudara lelakimu. Aku akan bahagia bila mendengar kabar kalian hidup bahagia…” Reno tenggelam dalam tangis terisak-isak. Sutan Pilihan tak mampu membendung air matanya.

”Demi Allah, Uda Bungsu, saya akan menjaga Reno sebagaimana Uda pesankan. Dia ibu dari anak saya, dan saya mencintainya. Saya tak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih atas semua bantuan Uda pada kami, hanya Tuhan yang akan membalasnya….” ujar Sutan Pilihan perlahan.

Besoknya, ketika Si Bungsu akan keluar rumah, Reno tak dapat menahan rasa kehilangannya. Dia peluk lelaki itu di depan suaminya. Sutan Pilihan menjadi sangat terharu. ”Jangan lupakan kami Uda. Jangan lupakan kami..” ujar perempuan itu dalam rasa hibanya yang sangat. Si Bungsu balas memeluknya.

”Reno Adikku, jaga suamimu, jaga anakmu..”

”Jaga juga diri Uda baik-baik…” ujar Reno diantara isaknya.

Itulah puncak pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu, perpisahan! Semasa bertunangan mereka tak pernah berpelukan. Jangankan berpeluk, berpegangan tangan saja tak pernah. Kini, setelah zaman berlalu, saat Reno menjadi isteri lelaki lain dan Si Bungsu menjadi pengembara yang tak tahu dimana akan mengakhiri pengembaraannya, mereka berpelukan sebagai dua orang adik beradik di depan suami Reno. Sutan Pilihan, suami Reno, menatap perpisahan itu dengan hati yang amat hiba. Dia ingin Si Bungsu tetap berada di antara mereka. Budi dan keihlasan anak muda itu amat mengikat hatinya.

Saat itu pergolakan sedang berada di puncaknya. Pagi itu Jam Gadang di pusat kota berdentang lemah delapan kali. Matahari sudah sejak tadi terbit. Namun meski telah sesiang itu, tak seorangpun penduduk yang kelihatan berada di luar rumah. Kota itu seperti kota mati. Beberapa belas mayat berlumur darah kelihatan tergeletak di depan Jam Gadang. Jam itu seperti saksi bisu, menatap mayat-mayat di bawahnya. Malam tadi PRRI menyerang APRI yang berkedudukan di kota. Kontak senjata tak terhindarkan. Sebagaimana jamaknya perang kota di mana-mana, dibahagian manapun di dunia ini, yang paling menderita bukanlah pihak yang berperang. Melainkan penduduk! Itulah yang terjadi atas penduduk kota Bukittinggi. Rentetan tembakan yang terdengar malam tadi, masih bersambung sampai pagi. Hari itu adalah hari yang paling hitam dan paling berlumur darah bagi kota yang indah dan sejuk itu. Bahkan di zaman penjajahan Belanda dan di zaman fasis Jepangpun, maut tak pernah menyebar bencana sedahsyat seperti yang terjadi hari itu. Kota itu benar-benar sunyi. Bahkan suara burung-burungpun, yang biasanya terdengar riuh seperti nyanyian kanak-kanak yang gembira, pagi itu sepi. Bau mesiu dan seringai maut, berbaur dengan anyirnya darah. Tercium di setiap pelosok kota. Sesekali masih terdengar suara tembakan. Sesekali kebisuan yang mencekam itu dirobek oleh derap sepatu berlarian, atau suara truk reot yang mengangkut mayat-mayat. Rumah Sakit makin siang makin dipenuhi oleh mayat yang berdatangan. Dari Tarok, dari Jalan Melati. Dari Simpang Aurkuning, dari Birugo, dari Mandiangin, dari Lambau, dari Atas ngarai.

Menjelang tengah hari, jumlah mayat tak lagi bisa dihitung, melebihi angka seratus. Menurut kalangan resmi, mayat-mayat itu adalah mayat anggota PRRI. Tapi banyak yang mengenali bahwa sebahagian besar dari mayat itu adalah mayat penduduk kota yang mungkin tak ada sangkut pautnya dengan pasukan PRRI yang menyerang malam tadi. Di Simpang Aurkuning, di bahagian Timur kota, sepasukan OPR yang tengah berjaga tiba-tiba melihat seseorang berjalan dari arah Tigobaleh.

”Mata-mata…” bisik salah seorang. ”Kita tembak saja…” kata yang lain. ”Jangan, hari sudah siang…”

”Apa peduli kita. Siang atau tak siang…”

”Jangan. Penduduk pasti mengintai dari balik dinding rumah mereka..”

Suara berbisik mereka terhenti, ketika lelaki yang mereka lihat itu tiba-tiba berhenti dekat tiga atau empat mayat yang tengah menanti truk untuk diangkut. Lelaki itu berhenti karena dia dengar rintihan lemah. Ketika dia menoleh, salah satu di antara sosok tubuh yang dianggap telah jadi mayat itu kelihatan bergerak.

”Tolong saya, saya bukan PRRI…,” rintih orang yang berlumur darah itu lemah. ”Hei, kau kemari!” bentak OPR itu sambil mengokang bedil. Tapi lelaki itu tetap menunduk mengamati lelaki yang merintih tadi. Kemudian berkata.

”Orang ini masih hidup, Pak. Dia bukan PRRI…”

Kemudian dia mengulurkan tangan. Orang yang luka itu berusaha bangkit. Ketika tangan mereka hampir berpegangan, suara letusan bergema. Lelaki yang luka itu tercampak. Kepalanya pecah, mati! Orang yang menolong itu tertegun. Matanya menatap mayat yang sebentar ini masih bergerak. Terdengar suara OPR itu menghardik.

”Kemari kau, gerombolan!” Perlahan lelaki itu menoleh.

”Orang ini bukan PRRI…” katanya lambat.

”Bicara kau sekali lagi, kutembak kepalamu!” bentak OPR itu garang. Kemudian separuh berlari dia mendekati lelaki asing yang tak di kenal itu. Tapi langkah OPR itu tiba-tiba seperti terhenti. Lelaki asing itu menatapnya. Yang membuat OPR itu terhenti adalah tatapan mata lelaki tersebut. Tatapan matanya setajam pisau cukur. OPR itu jadi ragu-ragu. Bedilnya yang dikokang masih di tangannya. Dia menatap lelaki asing itu. Berbaju gunting cina berwarna putih. Bercelana pantolan dan sebuah tongkat kayu di tangan kirinya. Rambutnya agak panjang, tapi rapi. Usianya paling lewat sedikit dari tiga puluh. Seorang lelaki yang gagah tapi berwajah murung. Namun tatapan mata lelaki itu membuat jantung si OPR seperti berhenti berdetak. Tiba-tiba tedengar suara temannya berseru dari belakang.

”Hei, Kudun! Bawa orang itu kemari!”

Seruan itu mendatangkan semangat bagi si OPR. Dia maju beberapa langkah lagi. Di belakangnya dia dengar langkah dua tiga temannya mendekat.

”Kau anjing! Banyak bicara! Gerombolan busuk!” bentaknya sambil menghantamkan ujung bedilnya pada lelaki asing itu.

Aneh, lelaki itu sama sekali tak berusaha untuk mengelak. Dia tetap tegak dan menerima pukulan itu dengan diam. Suara berderak terdengar ketika ujung bedil dari besi padu itu menerpa keningnya. Keningnya robek. Darah mengalir membasahi mukanya. Membasahi baju gunting cinanya. Membasahi tongkat kayu di tangan kirinya!

“Ayo ikut kami!!” bentak OPR itu.

”Orang itu bukan PRRI…” lelaki itu masih bicara perlahan.

”Jangan kau coba membelanya. Dia kami tembak ketika berusaha melarikan diri pagi tadi. Dia membawa bedil!” suara OPR itu terdengar keras menjelaskan.

”Dia takkan pernah ikut berperang…” ujar lelaki itu perlahan.

Matanya menatap pada mayat yang tadi akan dia tolong, yang ditembak saat tangannya tengah menggapai. OPR yang tiga orang itu juga menatap pada mayat yang pecah kepalanya itu. Tiba-tiba mereka melihat sesuatu. Sesuatu yang memberikan alasan bagi lelaki asing itu untuk mengatakan bahwa yang baru mati itu bukan PRRI. Mayat itu ternyata buntung kaki kirinya.

Itu jelas terlihat dari kaki celananya yang diikat sampai di atas lutut! Lelaki itu cacat! Bagaimana mungkin seorang yang kakinya hanya sebelah bisa ikut menyerbu kota. Bisa melarikan diri dengan teman- temannya seperti yang dituduhkan OPR sebentar ini? Ketika mereka menatap lelaki asing itu, jantung mereka merasa bergetar. Tatapan matanya yang tajam itu seperti akan menikam mereka. Namun ini adalah perang. Lelaki asing itu tak membawa bedil. Sementara mereka membawa bedil. Dan bedil membuat orang jadi berani. Bedil di tangan orang zalim pasti mendatangkan bencana. OPR yang tadi menembaki lelaki buntung itu mengokang bedilnya. Dialah yang tadi mengusulkan agar lelaki yang baru muncul itu ditembak saja. Kini dia berniat melaksanakan niatnya itu. Niat pertamanya menghantam kepala lelaki itu hingga berdarah sudah kesampaian. Kini niat berikutnya, menembaknya sampai mampus!

Dalam negara SOB begini, takkan ada yang bakal berani menuntut! Apalagi mereka OPR, sayap resmi tentara Pusat! Begitu bedil dia kokang, begitu loopnya dia arahkan ke dada lelaki itu. Namun entah setan darimana yang menyambar, sebelum pelatuk bedil panjang itu sempat dia tarik, OPR itu melihat tangan lelaki itu bergerak. Lalu pukulannya yang telak sekali menghajar wajahnya! Terdengar suara berderak. Gigi OPR itu rontok tiga buah! Dia tersurut. Teman-temannya yang lain ternganga kaget. Kejadian itu begitu cepatnya. Kembali lelaki asing itu bergerak. Kali ini kakinya. OPR yang menembak orang cacat itu merasa perutnya diseruduk kerbau. Tubuhnya terlipat dan tercampak sedepa ke belakang!

Kedua temannya masih menatap kaget. Belum pernah ada orang yang demikian berani mampus melawan OPR. Lelaki itu masih tegak. Kepalanya berlumur darah. Tangannya memegang tongkat. Matanya masih menatap tajam! Setelah hampir muntah, OPR yang tercampak kena tendang itu bangkit. Merasa malu dihajar di depan temannya, dia lalu kembali mengacungkan bedil. Saat itulah tongkat lelaki itu bergerak. Selarik sinar putih, yang alangkah cepatnya, kelihatan muncul membentuk setengah lingkaran. OPR itu tak sempat memekik. Dadanya belah dan dia rubuh dengan mata terheran-heran atas kejadian yang tak dia mengerti.

Darah menyembur-nyembur dari dadanya yang menganga. Teman-temannya yang tegak di dekatnya, tersembur oleh darah yang muncrat itu. OPR itu menggelepar seperti ayam disembelih.

Empat orang tentara yang tegak tak jauh dari sana menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh lelaki asing itu. Dengan bedil terkokang mereka mendekat. Tapi saat itu pula lelaki asing itu bertindak. Dia mencekal leher seorang OPR didekatnya. Kemudian menekankan tongkatnya yang telanjang. Yang tak lain dari samurai, yang dingin dan tajam itu keleher OPR itu. Ke tiga tentara yang sedang berlari itu tertegun. OPR yang tengah disendera itu pucat dan menggigil.

“Menyerahlah dengan baik-baik. Kalau tidak kami tembak..!”ujar seorang Sersan sambil menodongkan pistolnya. Tapi lelaki bersamurai itu melindungkan diri dibalik badan OPR yang disanderanya.

“Saya tak percaya pada ucapanmu, Sersan…!”ujarnya dingin.

“Kalian, para pemberontak. Takkan mungkin menang, sekarang menyerahlah..!”

“Saya bukan pemberontak, Sersan. Tak ada urusan saya dengan PRRI. Seperti tak ada urusan saya juga dengan kalian. Saya sama dengan lelaki buntung itu. Bukan PRRI, saya hanya tak suka melihat OPR ini bertindak buas. Kalian boleh saling tembak sesama tentara. Tetapi jangan membunuh rakyat yang tak tahu apa-apa…”