Tikam Samurai Si Bungsu Episode 3.5

Si Bungsu perlahan merangkak ke arah suara itu. Dalam jarak tiga depa, Si Bungsu merasa berada di pasar. Orang itu membuat kegaduhan yang tak tanggung-tanggung dalam penantiannya.

Dia menguap. Dan suara kuapnya sebenarnya cukup perlahan. Tapi ditelinga Si Bungsu, suara kuap seperti itu sama seperti mendengar suara teriakkan. Kemudian orang itu beberapa kali menyumpah-nyumpah. Dari logatnya, Si Bungsu segera tahu, orang ini adalah orang Keling.

Kini jaraknya hanya tinggal sedepa. Dan Si Bungsu segera dapat mencium bau tubuh Keling itu. Keling itu masih menyumpah-nyumpah karena muak menanti. Si Bungsu mengukur jarak. Jarak antara dirinya dengan orang Keling itu.

Orang itu berada agak diatasnya sekitar sehasta. Hanya karena kesal sajalah orang keling itu sampai tak melihat dirinya dalam jarak sedepa itu. Padahal orang itu menempati tempat yang strategis. Agak di atas tebing, Si Bungsu hanya dilindungi oleh gelapnya malam, dan sedikit semak-semak.

Perlahan Si Bungsu menoleh ke kiri. Dalam jarak empat depa, tegak pohon rimbun bercabang rendah.

Dan di pohon itulah Cina yang bercarut tadi bersembunyi.

Kalau sekarang di menyerang Keling ini, apakah Cina di atas pohon itu takkan mengetahui?

Dia mengangkat kepala sedikit. Antara tempat kaling itu berada dengan pohon si Cina ada pohon-pohon kecil. Tak dapat tidak, keling inilah yang harus diselesaikan dahulu.

Dia merayap lagi. Dan nampaknya keling itu baru menyadari ada sesuatu yang tak beres disekitarnya.

Dia terdiam. Si Bungsu juga menghentikan gerakkannya. Orang itu menatap tajam ke depan. Ke arah air rawa. Dia ingin memastikan apakah sesuatu yang bergerak disana.

Tak ada apa-apa.

Air rawa itu tetap pekat dan gelap. Tetap tak ada riak apa-apa. Tapi ketika dia menukikkan pandangannya agak kebawah, yaitu ke tebing yang terletak persis di bawah batang hidungnya, dia meliat sesuatu tergeletak. Terjulur dari dalam semak-semak yang setengah depa di depannya.

Hitam dan agak besar. Nampaknya seperti pohon kayu yang lapuk. Tapi, apakah tadi pohon kayu itu ada disitu?

Dia tak begitu yakin. Rasanya tidak. Atau salah mengingatkah dia? Masakan pohon itu begitu saja ada disana. Dia coba membuka matanya lebar-lebar. Berusaha menembus dinding gelap yang melingkup pinggir rawa itu.

Karena tak begitu yakin, dia lalu merangkak ke depan. Kepalanya dia julurkan, dan menatap. Lalu tiba- tiba di sadar bahwa itu bukan pohon, melainkan kaki manusia! Kaki yang lengkap dengan sepatu!

Kaget dan panik dalam waktu yang singkat melanda diri Keling itu. Dia menarik kepalanya dan mengangkat bedil. Namun segalanya terlambat sudah. Yang berada di depannya adalah Si Bungsu. sesaat sebelum kepalanya ditarik, samurai anak muda itu berkelabat. Masih dalam keadaan tiarap, mata samurai itu membuat lingkaran ke udara. Dan kepala orang Keling itu putus!

Kepalanya justru jatuh menimpa punggung Si Bungsu. Dan darah yang menyembur membasahi baju lorengnya! Tubuh keling yang tak berkepalanya itu menggelepar. Gelepar tubuhnya menimbulkan suara berisik di semak itu.

“Kani keni Pubo!! Kau tak bisa diam Keling jahanam?!” terdengar carut yang amat kasar dari mulut Cina diatas pohon itu. Si Bungsu menanti dengan tegang. Dia tak mungkin bergerak dalam situasi begitu. Posisinya berada dalam keadaan lemah. Cina itu bisa saja memuntahkan peluru kearahnya bila dia curiga.

Dia menanti diam. Tapi tubuh keling itu masih menggelepur. Persis seperti ayam yang disembelih. “Kalau kau tak bisa diam, kurengkahkan kepalamu dengan pistol ini….!” Cina itu nampaknya marah

benar. Dan hanya kebetulan saja yang menolong Si Bungsu. Tubuh keling itu kehabisan darah. Darahnya telah menyembur seperti air tumpah dari drom lewat lehernya yang putus.

Dan kini tubuh yang kehabisan darah itu terdiam.

“Kalau kau tak bisa menanti, lebih baik kau pulang saja ke markas….” Suara Cina itu terdengar lagi perlahan. Mayat keling itu diam. Tak menyahut. Ya, apa pula yang akan disahuti oleh sesosok mayat yang tak berkepala?

Si Bungsu merasa muak oleh darah yang membasahi pakaian dan punggungnya.

Dia ingin bergulingan masuk ke air rawa. Tapi itu adalah hal yang mustahil. Kalau akan masuk rawa, dia harus merangkak lagi enam depa ke kanan. Yaitu ketempatnya mula-mula muncul tadi. Sebab disanalah medannya yang penuh semak. Sementara dibawahnya ini, yaitu di depan sei Keling ini mengintip, sampai ke daerah Cina di atas pohon itu, tebing rawannya licin, tak berumput. Dan setiap benda yang bergerak akan mudah kelihatan.

Dan untuk surut ke belakang akan membuang waktu panjang. Kapten Fabian dengan pasukannya di seberang sana pasti tak sabar lagi menanti. Maka tak ada jalan lain baginya, selain membiarkan punggungnya berlumur darah, dan kini dia merayap ke atas. Bergulingan dan hop! Kini dia berada pada posisi si Keling tadi. Tubuh keling itu terbaring menelentang. Dan Si Bungsu berbaring disisinya.

Pada saat Cina tadi menyuruh Keling yang telah mati itu untuk diam, Donald dan Tongky pada saat yang hampir bersamaan terhenti. Mereka sebenarnya siap menyekap musuh mereka dari belakang. Tapi mendengar Cina itu memerintah si Keling, kedua lelaki yang akan mereka sekap itu berpaling. Sebenarnya kedua orang itu berpaling ke arah tempat si Keling. Yaitu di dua belas depa dari lelaki yang akan disekap Tongky dan delapan depa dari lelaki yang akan disekap Donald.

Kedua orang itu juga mendengar suar semak-semak terkuak akibat gesekan tubuh si Keling. Ke arah itulah mereka berpaling. Meskipun mereka tak dapat melihat karena gelapnya malam, namun mereka menoleh juga. Dan malangnya baik Donald maupun Tongky berada di arah yang toleh kedua orang itu.

Kedua orang itu semula hanya melihat bayangan gelap. Dan bagi Tongky maupun Donald hal begini mereka maklumi sangat sebagai suatu bahaya. Kalau saja sempat salah seorang diantara orang yang mereka sekap ini berteriak, maka tamatlah riwayat penyergapan mereka. Mungkin mereka masih akan bisa memenangkan pertarungan. Tapi korban akan berjatuhan. Sedangkan mereka tak ingin seorangpun korban yang jatuh di pihak mereka.

Dan yang lebih penting lagi, kalau sampai terdengar tembakan, maka kapal yang sedang membongkar muatan berupa perempuan-perempuan itu pasti akan melarikan diri.

Mengingat bahaya ini, Tongky segera menerkam lawannya yang orang Cina itu.

Dan Donald menerkam lawannya yang orang Melayu. Cara mereka memang cara khas pasukan komando. Terlatih, cepat dan mematikan. Dan yang lebih penting, tak menimbulkan suara!

Tongky menyergap lawannya dengan pisau komando. Sergapannya dibuat sedemikian rupa. Sehingga ujung pisau komando itu menerkam jantung Cina tersebut bersamaan dengan tangan kirinya yang menyekap mulut Cina itu.

Cina itu kaget separoh mampus. Bukan hanya separoh mampus, tapi dia kaget sampai mampus. Mula- mula tubuhnya akan berkelonjotan seperti tubuh Keling yang dipancung kepalanya itu. Tapi Tongky menekan tubuhnya rapat ke tanah. Dan menyekap mulutnya kuat-kuat. Menghujamkan pisaunya sampai tembus kehulu!

Cina itu menggigit jari Tongky. Sakitnya bukan main. Tapi Tongky membiarkan. Lebih baik jarinya digigit. Biar saja, asal mulutnya tak terbuka. Jari tangan Tongky berdarah. Tapi akhirnya Cina itu mampus!

Tongky menarik nafas. Perlahan tubuhnya bergulingan ke samping. Menelentang diam. Dan perlahan masih dalam berguling, mencabut pisau komandonya yang tertancap di jantung Cina itu. Cina berdegap itu beralih jadi mayat.

Akan hanya Donald, dia juga mempergunakan pisau Komando. Ya, keistimewaan pasukan Komando, sebagaimana jamaknya pasukan komando. Ya, keistimewaan pasukan Komando, sebagaimana jamaknya pasukan komando di negara manapun, adalah kemahirannya dalam bela diri. 

Dia menyerang dengan tusukan pisau komando. Serangan dengan pisau ini terutama ditujukan agar lawan tak bersuara. Dan serangan yang dilakukan juga tak menimbulkan suara. Namun orang Melayu yang dia serang ternyata punya reflek yang cepat.

Tikaman pisau komando itu berhasil dia tangkis. Meski lengannya jadi luka, tapi nyawanya selamat. Dia berusaha mengangkat bedil dan memberi ingat teman-temannya.

Tapi sergapan orang tak dikenalnya itu telah membungkam mulutnya. Tangan orang itu rapat sekali ke mulutnya.

Posisinya yang duduk menyusahkannya untuk bergerak bebas. Dia menggeliat. Tapi tangan kiri Donald benar-benar seperti melengket dimulutnya.

Donald sendiri, merasa serangan pisau komandonya luput, segera memiting leher orang itu dengan tangan kanannya. Dia berusaha menanamkan kedua lututnya di tanah. Orang itu menggelinjang, namun dia makin menekankan tubuhnya ke bawah. Dia tak ingin pergulatan ini menimbulkan suara. Suara harus dilenyapkan sedapat mungkin.

Jika suara tak bisa diredam, maka peyergapan bukan bernama penyergapan. Namanya sudah jadi pertempuran. Dan kalau pertempuran, maka nilainya sama saja dengan pasukan-pasukan biasa. Disitulah letak istimewanya pasukan komando.

Jika berperang dalam bentuk beregu atau Kompi, dia akan merupakan pasukan pemunah yang sangat tangguh, ditakuti dan berbahaya. Kalau berperang secara individu, maka dia merupakan ujung-ujung tombak yang amat berbisa.

Yang setiap goresannya merupakan maut.

Begitulah yang telah dibuktikan oleh Tongky. Dan kini Donald sedang berusaha menyelesaikan penyergapannya. Dia jadi malu kalau penyergapan ini ketahuan. Meskipun musuhnya ini bisa dia bunuh, namun suara yang ditimbulkan akan jadi cemooh nanti. Dengan tetap mendekap mulut orang Melayu itu, Donald memiting lehernya dengan kuat. Pitingannya makin menjepit. Dia memiting dengan sebuah pitingan Yudo yang tangguh. Tubuh orang Melayu itu mulai menggeletar. Dan suatu saat terdengar suara berderak. Kepala orang itu terkulai. Tulang lehernya ternyata patah!

Dalam usahanya mematahkan perlawanan orang Melayu itu, Donald mendekap mulutnya dengan tangan kiri dengan kuat. Kemudian memiting lehernya dengan lengan kanan. Yaitu setelah lengan kanannya gagal memasukkan pisau komando.

Dia memiting dengan segenap tenaga. Kemudian dengan segenap tenaganya pula, tangan kirinya yang masih mendekap mulut, dia tolakkan ke kanan. Akibatnya sungguh fatal bagi orang itu. Tulang lehernya patah!

Donald masih memiting leher orang itu beberapa saat. Bahkan tangan kirinya masih mendekap mulut orang itu. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Berusaha mendengar reaksi. Apakah pergumulannya ini terdengar tadi atau tidak?

Tak ada suara apa-apa. Perlahan dia membaringkan tubuh orang itu ke tanah. Kemudian dia menghapus peluh. Waktu yang termakan oleh mereka sejak mereka bersalaman tadi, sampai terbunuhnya ketiga orang itu adalah empat menit. Jadi jika dihitung sejak mereka mulai menyebrang rawa, yaitu sejak meninggalkan Kapten Fabian dan lima anggota lainnya di seberang sana, telah habis waktu selama enam belas menit.

Keadaan kini jadi sepi. Tak ada suara. Dan Si Bungsu yakin, sebagaimana Donald dan Tongky juga yakin, bahwa teman-temanya telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik.

Kini mereka menanti. Sementara Si Bungsu yang harus menyelesaikan Cina di atas pohon itu, tengah merangkak ke pohon tersebut.

Dia merangkak mendekati tempat itu dari arah belakang. Posisi ini menguntungkan dirinya. Sebab Cina itu pasti tetap memandang ke depan. Ke rawa yang airnya hitam dalam gelapnya malam itu.

Dia tengah merangkak, ketika dari seberang sana terdengar suara burung malam. Tak sembarang orang bisa mengetahui bahwa suara itu sebenarnya adalah suara manusia. Isyarat yang dikirimkan oleh regu Kapten Fabian.

Si Bungsu menangkap bunyi itu. Dia berhenti merangkak. Dan tiba-tiba dia dengar suara yang sama dari arah kanannya. Suara itu kalau tidak balasan dari Tongky pastilah balasan dari Donald. Jawabannya itu hanya sekali. Kemudian sepi.

Si Bungsu merangkak lagi. Makin dekat ke pohon rendah itu. Ah, soal merangkak dalam semak-semak tanpa menimbulkan bunyi, dia tak usah malu pada anggota Baret Hijau itu. Pekerjaan itu sudah merupakan mainannya ketika di Gunung Sago.

Bukankah ketika mengintai rusa atau kijang untuk persediaan makanan dia harus menanti atau merangkak mendekati hewan itu ketika mereka sedang minum di tebat kecil di rimba belantara itu? Nah, pekerjaan itu mula-mula amat susah benar dia lakukan. Dia masih ingat, selama sebulan dia berusaha mendekati rusa itu, tapi dari jarak seratus meter, rusa itu sudah tahu akan kehadirannya.

Tidak saja dia lupa memperhitungkan arah angin, sehingga bau tubuhnya tercium oleh binatang itu, tapi gerakan kakinya dia anggap sudah sangat hati-hati dan perlahan sekali, rupanya sangat hinggar binggar di telinga binatang-binatang itu.

Dari kesulitan hidup di belantara itu dia belajar. Akhirnya di bulan kedua dia berhasil mendekati tempat binatang tersebut tanpa diketahui.

Menginjak bulan purnama, dengan mudah dia menangkap kijang atau rusa yang tengah makan rumput.

Dia merayap dari balik alang-alang tanpa diketahui sedikitpun. Dan kini dia mengulangi lagi kaji lama itu.

Dengan mudah kini dia berada di bawah pohon tersebut. Menembus gelapnya malam dan rimbunan daun, dia berhasil melihat sesosok tubuh duduk dengan enaknya di sebuah cabang yang benar-benar strategis dan mirip kursi. Pantaslah Cina itu tak menimbulkan suara sedikitpun. Sebab dia tak usah susah-suah merubah posisi. Posisi duduknya sudah sedemikian enaknya. Dahan tempat duduknya lebar. Ada dahan lain dikiri kanan tempat kaki.

Dan dibelakangnya tegak batang pohon tersebut untuk bersandar. Hm, benar-benar tempat yang enak.

Kalaupun ada suara yang ditimbulkan oleh Cina itu, hanyalah dari mulutnya. Mulutnya mengunyah terus-terusan. Nampaknya dia seorang profesional benar.

Menanti musuh dengan senjata api siap memuntahkan peluru, dan sekantong makanan di dekatnya.

Makan itulah yang dikunyah dan dilahapnya terus selama penantian tersebut.

Pantas saja dia tak merasa bosan seperti teman-temannya yang lain. Cina itu merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah botol picak. Membuka tutupnya, lalu meneguk isinya. Si Bungsu yang tiarap setengah depa dari pangkal pohon itu segera dapat mencium bau minuman keras menyeruak dari mulut botol tersebut.

Dan saat itulah Si Bungsu menginsut tubuh. Dia tegak perlahan. Kalau sekedar ingin membunuh, maka Cina itu sudah kehilangan kepala dia buat. Ketika Si Bungsu tegak, Cina itu persis berada sama tinggi dengannya. Dia duduk di dahan yang tingginya hanya setengah meter dari tanah. Dan kini tanpa dia sadari sedikitpun, seseorang dengan sebilah samurai yang sudah terlalu banyak merenggut nyawa berada persis di balik pohon yang dia buat sebagai tempat sandaran tubuhnya.

“Psst….!” Cina itu mendengar isyarat di belakangnya. Tanpa curiga dia menoleh. Dan tiba-tiba saja sebuah benda panjang lagi dingin dan tajam, tertekan di lehernya.

“Jangan bersuara kalau engkau masih ingin tetap memilki kepalamu ini….” Terdengar suara bisikan perlahan dan bernada datar dirumpun telinganya.

Kalau ada seekor ular berbisa melilit tubuhnya saat itu, mungkin Cina tersebut takkan kaget dan takut seperti yang dialami saat ini. Betapa mungkin, seseorang mendekati tempatnya tanpa dia ketahui sedikitpun? Siapapun orang yang mengancamnya ini, meski tak dia ketahui, namun yang pasti, orang ini adalah seorang tangguh dan amat berbahaya. Dan ancamannya pastilah tidak main-main.

Cina itu menggeleng. Gelengannya tanda persetujuan bhawa dia takkan bersuara. Tanda pengakuan bhawa dia masih ingin memiliki kepala di atas lehernya.

“Engkau harus bicara bilamana ku perintahkan…” suara dingin dan datar itu kembali berbisik di pangkal telinganya. Cina itu menelan ludah. Lalu mengangguk.

“Dan apa yang akan kau katakan, haruslah menurut yang kuingini..” Cina itu tak segera mengangguk. Mata samurai menekan lehernya.

Dan dia segera merasakan bahwa mata benda yang ditekankan ke lehernya itu telah memakan daging lehernya. Terasa pedih. Dan sesuatu yang cair lagi panas mengalir di lehernya itu. Darah! Dengan wajah pucat dan ketakutan yang amat sangat, Cina itu mengangguk. Dia benar-benar hampir tak bernafas saking takutnya. “Nah bagus begitu! Berapa orang anggotamu yang menanti di sekitar ini?” suara Si Bungsu terdengar

lagi berbisik.

“Jangan bohong, sebab aku takkan pernah mengangkat mata samurai ini dari lehermu sebelum semua keteranganmu kuketahui benar adanya. Sekali engkau coba berbohong, maka engkau akan duduk disini tanpa kepala…”

“Ada delapan orang..”

Delapan orang. Berarti sembilan dengan Cina ini. Tiga sudah mati. Yang satu kini dia kuasai. Jadi empat telah dilumpuhkan. Tinggal kini lima orang. Pikiran Si Bungsu bekerja cepat.

“Suruh mereka berkumpul kemari semua..” Si Bungsu berbisik lagi. Dan Cina itu nampaknya memang pimpinan penyergapan itu. Dia segera memberikan perintah untuk berkumpul. Dan teman-temannya yang lain, karena merasa bosan menanti tanpa hasil sejak tadi, segera berdatangan.

Si Bungsu memberi isyarat dengan bunyi siulan yang mirip suara burung. Dan Donald serta Tongky yang masih tiarap dalam semak belukar mendengar siulan itu. Mereka segera mengerti maksudnya. Kedua orang ini segera menanti. Begitu anggota-anggota sindikat itu tegak dan berjalan dalam kegelapan menuju tempat Cina itu, mereka jua ikut berdiri. Dan ikut berkumpul dekat kayu tersebut.

Cahaya gelap membantu mereka. Tak ada yang tahu bahwa diantara yang berjalan menuju tempat berkumpul itu ada dua orang lain yang tak sama dengan mereka. Dan penyelusupan itu baru diketahui ketika mereka semua telah berkumpul.

“Jangan ada yang bergerak. Kami pasukan Baret Hijau. Jika ada yang melakukan sedikit saja gerakkan, akan kami siram dengan peluru” terdengar suara Tongky perlahan. Semua jadi kaget. Mereka menoleh. Dan dalam kegelapan itu ada dua orang yang tegak hanya setengah depa dari mereka. Mengacungkan bedil dan siap tembak.

Dalam jarak begitu dekat, mana ada harapan bagi mereka untuk melakukan sesuatu? Mereka hanya heran, mana tiga orang lagi teman mereka? Dan mana Cina yang memimpin mereka yang tadi menyuruh mereka berkumpul?

Si Bungsu membisikkan sesuatu ke pangkal telinga Cina itu. Dan terdengar suara Cina itu : “Menyerahlah. Kita sudah terkepung…..”

Terdengar sumpah serapah. Tongky dan Donald bertindak cepat. Mereka melucuti keempat orang itu.

Dan memaksanya tengkurap. “Beri isyarat pada Kapten Fabian….” Suara Si Bungsu terdengar perlahan. Tongky kemudian mengirim isyarat itu. Suara burung malam terdengar berbunyi tiga kali dari mulutnya.

Dari seberang terdengar pula sahutan sekali.

“Mereka berhasil. Mari kita menyeberang. Cepat!!” suara Kapten Fabian memerintahkan regunya. Dan keenam pasukan Baret Hijau ini segera memasuki rawa dan menyebranginya.

Memerlukan waktu lima menit bagi mereka untuk berjalan mengarungi rawa pekat itu.

Mereka segera saja sampai ke tempat ketiga orang itu meringkus lawannya. Keenam anggota sindikat yang semula bermaksud menyiksa mereka kini telah tertelungkup di tanah. Keenamnya dalam keadaan terikat tangannya kebelakang. Dan terikat kakinya satu dengan yang lainnya.

“Letnan” Bungsu menyerahkan tawanan itu pada Kapten Fabian. Dan menerangkan bahwa yang memimpin penyergapan ini adalah Cina yang tertelungkup paling kanan. Kapten tersebut menyalakan senter kecil. Menerangi wajah Cina itu.

“Kita tak punya waktu. Kita harus menyergap mereka yang ada dipelabuhan. Ayo cepat! Donald dan Miguel tinggal menjaga keenam orang ini di sini. Begitu mereka bergerak, sikat saja semua…”

Kapten itu mengeluarkan perintah.

Dan dipimpin oleh Tongky di depan sekali, mereka mulai mendekati markas sindikat tersebut. Sementara Donald dan Miguel tegak dua depa dari enam anggota sindikat yang tertelungkup itu. Keenam anggota sindikat itu benar-benar dibuat tak berkutik.

“Berteriaklah kalian, atau bangkitlah, agar kami bisa menyikat kalian semua….!” Suara Miguel terdengar mendesis perlahan. Keenam anggota sindikat itu tak bisa bicara. Dan kalaupun bisa, mereka takkan mau bicara. Mereka kenal benar dengan lawan mereka. Dalam dunia yang mereka cempungi ini, jika sudah tertangkap begitu lebih baik menyerah dan dia saja. Ikuti perintah lawan. Sebab sedikit saja membuat kekeliruan, nyawa imbalannya. Dan mereka lebih senang hidup daripada dianggap pahlawan oleh teman-teman sindikat lainnya. Pahlawan tapi sudah mati.

Tak ada yang bergerak. Namun Cina yang tadi diancam oleh Si Bungsu masih berusaha. Yang mengikat tangannya adalah Donald. Dan ikatan ditangannya sedikit longgar. Tubuhnya tetap tak bergerak di tanah. Tapi secara perlahan sekali, pergelangan tangannya dia putar. Terasa pedih, namun dia berusaha terus.

Di dalam sepatunya ada pistol kecil dan pisau belati. Mereka memang digeledah satu persatu setelah diikat tadi. Semua senjata mereka dilucuti.

Namun dua buah senjata yang ada dalam lars sepatunya luput dari pemeriksaan. Kini itulah yang tengah diusahakan untuk diambil oleh Cina itu. Namun sebelum bisa mengambil kedua senjata itu, dia harus membebaskan kedua tangannya terlebih dahulu.

Dia ingin minta bantuan temannya yang tertelungkup disamping kanannya. Tapi dia khawatir gerakannya akan mencurigakan kedua anggota Baret Hijau yang tetap mengawasi mereka. Satu-satunya jalan ialah berusaha sendiri. Dia putar terus pergelangan tangannya.

Susahnya adalah karena dia tertelungkup. Kedua tangannya yang terikat ke belakang itu kini justru dibahagian atas. Kalau banyak benar membuat gerakan, bisa-bisa menarik perhatian salah seorang dari pasukan yang menjaganya.

Karena itu meski ditolong oleh gelapnya malam, dia tepaksa memutar kedua pergelangannya dengan perlahan.

Sementara itu pasukan Kapten Fabian telah sampai ke markas sindikat itu. Mereka menyebar di keliling rumah tersebut. Tongky merayap mendekat. Melihat ke dalam. Lalu merayap lagi ke dekat Kapten Fabian.

“Hanya ada seorang di dalam sana….” “Kemana yang lain?”

“Saya rasa sudah dipelabuhan sana…’ Dari kejauhan terdengar suara ombak.

“Oke. Suruh Fred menyudahi orang itu. Kita menyergap mereka di pelabuhan…’

Perintah Kapten itu disampaikan secara berbisik pada Fred. Orang Inggris yang satu ini adalah ahli karate. Dia segera menyelusup mendekati markas itu begitu teman-temannya yang lain bergerak menuju pelabuhan.

Dia menyandarkan senjatanya di pintu luar. Kemudian mendorong pintu sampai terbuka perlahan. Orang yang di dalam itu adalah seorang kulit putih. Mungkin orang Itali. Bertubuh besar bertelanjang dada. Senjatanya sepucuk Mauser. Terletak di atas meja. Disudut ruangan ada satu set peralatan radio. Nampaknya orang ini adalah seorang telegrafis.

“Hallo frend…’ Fred menegur perlahan. Orang itu menoleh pula perlahan. Tapi gerakkan perlahannya segera berobah begitu menyadari bahaya. Dia tegak dan berusaha melangkah ke meja dimana bedilnya dia letakkan. Jarak antara dia duduk dengan meja dia meletakkan bedilnya sekitar dua meter.

Namun langkahnya terpotong oleh gerakkan Fred yang selincah musang. Sebuah pukulan menghantam rusuk orang itu.

Ada pepatah berbunyi: sepandai-panda tupat melompat, sekali waktu jatuh juga!

Dan itulah yang dialami Fred malam ini. Dia memang jago karate andalan dalam pasukannya. Tapi sebenarnya dia harus memperhitungkan waktu dan kecepatan. Dia tak boleh mengulur waktu.

Dan saat ini, kecepatan bicara banyak.

Rusuk orang itu memang kena dia hantam. Tapi orang itu punya antisipasi yang tangguh pula. Begitu jalannya dihadang, tangannya bergerak. Dan tangan kanannya menghantam hidung Fred. Rusuk orang itu memang kena gebrak kuat. Tapi tak cukup sampai mematahkan tulangnya seperti yang biasa diperbuat Fred terhadap lawan-lawannya.

Orang Itali itu hanya tersurut dengan wajah meringis. Tapi sebaliknya, Fred juga seperti ditendang mundur. Hidungnya pecah dan berdarah! Orang itu ternyata juga seorang karateka! Kini mereka tegak saling berhadapan.

Menyadari bahaya, tangan Fred bergerak ke arah pisau komandonya. Namun wajah orang itu tersenyum sinis. “Hallo boy. Beraninya hanya pakai pisau? Kenapa tak sekalian kau pakai senjataku di meja itu?”

Muka Fred jadi merah. Dia merasa dihina dengan ucapan itu. Orang itu menganggapnya takut berkelahi dengan tangan kosong. Dia tak jadi mencabut pisau komandonya. Dia menggeser tegak. Kini mereka berhadapan. Dari sikap tegak dan cara lelaki itu menempatkannya tangannya, Fred segera tahu, bahwa orang ini adalah karateka seperti dirinya.

Dan Fred lagi-lagi membuat kesalahan. Yaitu dengan membiarkan dirinya terpancing oleh ejekan lawan. Dia sedang berada dalam suatu pasukan. Berarti bukan hanya dirinya yang harus dia selamatkan. Tapi seperti tupai yang pandai melompat tadi, dia juga bisa “gawa”.

Kini mereka mengintai langkah lawan.

Fred mendahului menyerang dengan sebuah tendangan ke selangkangan orang itu. Orang itu bergerak cepat ke samping dan mengirimkan sebuah pukulan cepat ke wajah Fred.

Fred menarik tendangannya, kemudian berputar. Kali ini kakinya menyerang dalam bentuk berputar ke belakang.

Ternyata dia berhasil. Sepatunya menggebrak wajah Itali itu. Orang itu terpelanting ke dinding. Fred memburu. Namun seperti seekor musang. Orang yang terjajar itu tiba-tiba melompat tinggi. Dan sebelum Fred siap benar, sepatunya telah mendarat di dada Fred. Sebuah tendangan Mae Tobigeri yang sempurna!

Akibatnya juga sempurna. Jantung Fred pecah. Dan jatuhlah korban pertama dalam pasukan Baret Hijau malam itu. Fred mati!

Sungguh menyedihkan. Fred yang ahli karate itu, justru mati ditangan karateka lainnya. Kalau saja tadi dia tidak terlalu mengandalkan karatenya, yaitu begitu pertama hidungnya pecah, dia segera mempergunakan pisau komando, maka keadaan akan lain jadinya.

Orang Itali ini sudah bisa dia lumpuhkan. Namun dia terlalu percaya pada diri dan kemampuannya. Dan dia cepat panas kena sindir. Dia membiarkan dirinya terperangkap oleh ejekan orang ini. Tak tahunya orang ini juga seorang karateka yang justru lebih tangguh darinya.

Orang Itali itu menatap pada tubuh Fred yang terlentang di lantai. Mulutnya ternganga. Wajahnya membayangkan rasa sakit bercampur heran. Dari mulutnya darah mengalir. Tendangan sambil melompat dia lakukan ketika terdesak tadi sebenarnya tak begitu telak mengenai lelaki ini. Artinya, lelaki itu tak usah sampai terjajar lima depa ke belakang. Tersandar ke dinding. Itu sebenarnya hanya gerak tipu saja. Yaitu gerak mencari ruang dan waktu untuk mempersiapkan sebuah lompatan.

Dan Fred yang ingin segera menyudahi pertarungan itu, ternyata memakan umpan yang diulurkan lawan. Dia maju. Dan saat itulah Itali ini bertumpu dan melompat. Kaki kanannya terjulur lurus ke depan. Kaki kirinya terlipat di bawah paha kanan. Dan tubuhnya seperti duduk melunjurkan kaki kanan ke samping kanan di udara. Dalam posisi begitulah dia mendarat di dada Fred! Lelaki anggota sindikat ini segera sadar bahwa bahaya besar tengah mengancam dirinya dan teman- temannya. Seluruh pulau dijaga dengan ketat. Perangkap telah dipasang lewat rawa yang diduga pasti akan dilalui oleh musuh mereka. Kini ternyata orang ini bisa menerobos kemari tanpa diketahui oleh penyergap yang mereka pasang. Apakah yang telah terjadi dengan sembilan orang teman-temannya yang menanti dipinggir rawa?

Cepat dia menyambar Mausernya yang terletak di meja. Dia menanggalkan granat mauser itu dari ujung Junglenya. Lalu perlahan keluar dari pintu belakang. Gelap!

Dia bersuit. Suit isyaratnya membelah malam yang dingin. Suitnya terdengar oleh ke lima teman- temannya yang tertelungkup di bawah todongan bedil Donald dan Miguel. Kedua anggota Baret Hijau itu juga mendengar suit itu. Dan kedua mereka tahu bahwa suara suitan itu bukan kode dari teman mereka.

Kelima anggota sindikat itu sebenarnya ingin membalas isarat itu. Tapi bagaimana mereka bisa, kalau ujung bedil otomatik tetap diarahkan ketengkuk mereka? Makanya mereka memilih berdiam diri saja.

Dan orang Itali itu segera menangkap bahaya atas tak terjawabnya isarat yang dia berikan. Dia lalu menuju ke pelabuhan!

Di pelabuhan orang-orang tengah menurunkan sembilan orang perempuan. Perempuan terakhir, yaitu seorang perempuan dari Muangthai kelihatan dipapah turun. Kemudian dibawa ke rumah kecil dipinggir dermaga.

“Kalian telah kami kepung. Menyerahlah!!”

Tiba-tiba saja sebuah suara mengoyak kesepian. Dan suara itu datang dari pangkal dermaga! Mereka menoleh, dan disana, tegak seorang lelaki barat dalam pakaian loreng-loreng. Cahaya lampu di dermaga memantulkan kilat senjata otomatik ditangannya.

Orang itu kelihatan sendiri. Tapi enam orang lelaki di dermaga itu mengetahui bahwa lelaki itu pasti tak sendiri.

Dan dengan kehadiran lelaki berbaju loreng itu, mereka segera pula menyadari bahwa sembilan orang teman mereka yang memasang perangkap di tepi rawa sana telah dilumpuhkan.

“Jatuhkan senjata kalian. Semua!!” terdengar lagi perintah Kapten Fabian. Ke enam lelaki itu menjatuhkan bedil mereka. Perempuan-perempuan yang masih di dermaga itu jadi panik. Dan kesempatan itu dipergunakan oleh dua orang anggota sindikat tersebut yang masih ada di kapal.

Mereka mengangkat bedil.

Kemudian menembak ke arah Kapten Fabian yang tegak di kepala dermaga itu! Tapi dari pinggir kanan. Tongky dan dua orang temannya yang sejak tadi sudah merayap kesana, dan sejak tadi telah memperhatikan kapal itu, segera meledakkan senjata!

Serentetan tembakan terdengar dimalam yang hampir disambut subuh itu.

Kedua orang itu menggeliat. Lebih dari selusin peluru menerkam tubuh mereka. Wajah mereka cabik- cabik. Pekik perempuan terdengar. Dan pada saat yang sama, Kapten Fabian, terpekik dan terpental jatuh ke dermaga. Punggungnya dilanda peluru dari belakang!

Anggota pasukan Komando itu jadi kaget. Siapa yang di belakang? Dan saat itu perang terbuka tak terhindarkan. Keenam anggota sindikat yang tadi menjatuhkan senjata ke lantai dermaga, begitu perempuan- perempuan memekik, begitu Kapten Fabian yang menodong mereka jatuh dihantam peluru, mereka serentak menjatuhkan diri ke dekat senjata yang tadi mereka jatuhkan!

Dan begitu senjata-senjata berada di tangan mereka, para anggota sindikat penyeludup wanita ini mulai menembak membabi buta. Ya, mereka hanya bisa menembak membabi buta. Sebab selain Kapten Fabian yang tadi menodong mereka di tempat terbuka, maka lawan yang lain tak seorangpun yang kelihatan.

Jhonson, orang Inggris selatan yang ahli renang dan berkelahi dalam air, yang tegak tak jauh dari Kapten Fabian, begitu melihat komandannya kena tembak, segera jadi kalap.

Dia memuntahkan pelurunya ke arah belakang. Yaitu ke arah darimana peluru tadi menyambar punggung Kapten Fabian. Sehabis menembak ke belakang, dia menembaki anggota sindikat yang tiarap di lantai dermaga. Lalu dia berlari ke arah Kapten Fabian.

Tapi gerakannya yang terakhir ini membawa malapetaka. Yang menembak Kapten Fabian adalah orang Itali yang telah membunuh Fred Willianson dengan tendangan karate di markas mereka tadi.

Setelah dia menembak dia bersembunyi di balik bangunan tua tak jauh dari pangkal dermaga. Saat Jhonson menembak dia tetap bersembunyi. Tapi begitu Jhonson berlari ke arah Kapten Fabian orang Itali ini maju ke depan selangkah. Senapan otomatnya menyalak. Jhonson tersentak-sentak ditembus peluru. Dan tubuhnya jatuh mencebur laut di bawah dermaga! Melihat hal ini, tiga orang sisa pasukan komando di sekitar dermaga segera menyikat sindikat yang ada dan tiarap di dermaga.

Kontan saja mereka jadi bulan-bulanan. Sebab tak ada perlindungan. Anggota sindikat itu membalas membabi buta. Tiga orang mati segera dimakan peluru anak buah Katen Fabian. Namun tembakan yang dilepaskan anggota sindikat itu merenggut pula dua gadis yang ada di dermaga itu. Yang dalam paniknya berlarian tak tentu arah!

Sementara itu, orang Itali yang telah membunuh Fred Willianson dan menembak Kapten Fabian, mengintai sisa pasukan komando itu, dia mengintai dari mana arah tembakan. Kemudian membidikan senjata otomatiknya kesana.

Pada saat Jhonson, anggota Baret Hijau dari Inggris yang mati tertembak dan jatuh ke bawah dermaga, Si Bungsu segera menyadari bahaya yang datang dari belakang mereka.

Firasatnya mengatakan, bahwa Fred yang ditinggal dan disuruh menyelesaikan lawannya di markas itu telah celaka. Dan kini lawannya itulah yang menembak Kapten Fabian dan Jhonson. Sadar akan bahaya ini, anak muda dari gunung Sago itu segera meninggalkan posisinya. Seperti siluman dia menyelinap menuju tempat tembakan yang berasal dari bedil orang Itali itu.

Dan saat itu, orang Itali itu tengah membidik ke arah salah seorang anggota Baret Hijau. Namun orang Itali ini nampaknya punya firasat yang tajam juga. Dia seperti merasa ada orang dekatnya. Dia menoleh ke kiri. Kosong. Ke kanan. Kosong. Namun hatinya tetap tak sedap. Dia melihat ke belakang. Dan darahnya seperti berhenti mengalir. Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Di belakangnya, entah kapan datangnya, entah darimana asal muasalnya, telah berdiri saja seorang anggota Baret Hijau. Dan orang yang membuat dia kaget itu tak lain dan tak bukan daripada Si Bungsu.

Namun Itali ini segera jadi lega. Sebab ditangan orang itu tak tergenggam sepucuk senjata apapun. Ditangannya hanya ada sebuah tongkat kecil. Dia segera berbalik sambil menembakkan bedilnya setinggi pinggang ke arah Si Bungsu.

Tapi bedilnya tak pernah menyalak. Tangannya yang memegang bedil itu terasa lumpuh. Sakit dan pedih bukan main. Dan ketika menoleh, dilihatnya tangan kanannya telah putus!

Dia hampir tak percaya. Namun Si Bungsu juga tak memberi kesempatan pada orang Itali yang telah membunuh Fred Willianson itu untuk percaya. Samurai ditangannya segera melibas lagi. Dan mata samurai itu menyelusup antara dagu dan pangkal leher si Itali.

Darah segera menyembur dari luka yang menganga membelah jakun orang itu. Tubuhnya mengelupur- gelupur, mati seperti babi disembelih. Dan ketika Si Bungsu menoleh ke dermaga, pertempuran telah selesai. Semua anggota sindikat yang ada di dermaga itu, kecuali satu orang mati semua.

Ya, kecuali satu orang. Yang satu orang ini adalah orang Cina. Dan dia belum mati. Dia belum mati karena berlindung dibalik tubuh seorang gadis Indonesia. Ditangannya cina itu memegang sebuah pistol. Pistol itu lopnya ditekankan rapat-rapat ke pelipis gadis Indonesia itu. Sementara tangan kirinya memiting leher gadis itu dari belakang dengan kuat.

“Jangan menembak! Kalau kalian menembak, gadis ini kubunuh. Gadis ini kupecahkan kepalanya…!” Cina itu menggertak. Ketiga pasukan Baret Hijau disekitar dermaga itu tertegun. Si Bungsu juga tertegun. Subuh tiba-tiba datang menguak malam yang gulita. Cahaya subuh yang kemerah-merahan. Dermaga itu sendiri telah berkuah darah.

Dengan Si Bungsu, maka pasukan Baret Hijau di sekitar dermaga itu hanya tinggal empat orang. Jumlah mereka semua sembilan orang, dua orang yaitu Donald dan Miguel menjaga tawanan dekat rawa. Fred Williamson gugur. Jhonson dan Kapten Fabian juga tertembak. 

Cina berperut gendut bertubuh gemuk itu mulai menyeret gadis yang dia jadikan tameng itu ke ujung dermaga. Ke arah kapal! Dia bergerak mundur dengan gadis itu di depannya.

Keempat anggota Baret Hijau itu tertegun di tempat mereka masing-masing.

Di dermaga, ada sekitar tiga orang gadis yang barangkali mati terkena peluru nyasar. Apakah akan ditambah lagi dengan kematian gadis yang dijadikan tameng itu?

Ditempatnya tegak, Si Bungsu menoleh ke tempat Sony. Anggota Baret Hijau dari yang berasal dari Inggris dan ahli menembak dan ahli bahan-bahan peledak itu juga tengah memandang pada Si Bungsu. Setelah kematian Kapten Fabian, maka komando kini dipegang oleh “Letnan” itu. Dia memang ahli menembak tepat. Tapi menembak Cina itu dari jarak sejauh ini, dengan mulut pistol yang ditekankan rapat ke pelipis gadis itu, Sony jadi khawatir juga. Makanya dia menoleh ke arah Si Bungsu meminta pendapat.

Si Bungsu mengangguk. Dan isyarat itu sudah cukup bagi Sony. Isyarat itu adalah perintah untuk menembak. Sudah tentu dia berusaha melumpuhkan Cina itu tanpa membuat gadis yang disanderanya jadi cidera. Tapi kalaupun akhirnya gadis itu cidera, maka dia takkan dipersalahkan. Sebab perintah langsung dari pimpinan pasukan.

Anak Inggris yang masih muda itu perlahan mengangkat bedilnya. Sepucuk Jenggel semi otomatik. Dia membidik. Dari tempatnya tegak, Cina yang tengah mundur itu kelihatan tubuhnya sedikit dibalik tubuh gadis yang dia jadikan sandera itu.

Cina itu nampaknya salah seorang dari pimpinan sindikat penyelundupan ini. Dan ia cukup cerdik. Dia tetap melindungkan dirinya rapat-rapat ke tubuh gadis itu. Demikian pula kepalanya dia letakkan rapat-rapat di belakang kepala si gadis. Dengan demikian dia memunahkan kemungkinan untuk kena tembak.

Sony juga menyadari betapa sulitnya membidik sasaran bergerak dan dalam posisi terlindung begitu. Namun dia sudah dikenal sebagai penembak jitu yang jarang tandingannya dalam pasukannya dan salah satu modal untuk bisa menembak jitu adalah ketenangan dan kesabaran yang luar biasa.

Tangan kirinya yang menopang laras Jenggel itu seperti dipakukan. Tak bergerak sedikitpun. Telunjuk kanannya rapat menempel di pelatuk bedil itu. Popor bedil itu menekan bahunya dan menempel rapat dipipi kanannya. Mata kirinya terpicing. Dan dia bernafas lewat mulut dalam jarak waktu yang teratur. Sistim pernafasan begitu membuat dadanya tak begitu berombak ketika bernafas.

Dan dengan demikian, tubuhnya juga tak banyak bergoyang jika dibandingkan dengan kalau dia bernafas lewat hidung seperti biasa.

Cina gemuk itu akhirnya sampai ke tepi dermaga. Nah, dia nampaknya menemui kesulitan. Untuk masuk ke kapal, dia harus menuruni sebuah anak tangga.

Sony membidik. Yang dia bidik bukan kepala atau bagian tubuh yang lain. Yang dia bidik justru siku kanan lelaki itu. Siku kananya menyembur keluar. Hal itu disebabkan karena tangan kanannya memegang pistol yang ujungnya ditekankan ke pelipis gadis itu.

Kalau saja dia bisa menembak dengan tepat, maka telunjuk kanan Cina itu pasti takkan mampu menarik pelatuk karena sikunya remuk. Urat pengatur gerakkan jari berada pada siku dan lipatan siku. Kalau siku itu bisa dia remukkan, maka urat-urat jari itu otomatis lumpuh. Pistol ditangan lelaki itu akan jatuh dengan sendirinya.

Cina itu mundur, setapak kaki kanannya turun ke bawah anak tangga di bawah dermaga. Dan saat itulah letusan bergegar dari loop senjata Sony. Terdengar pekik gebalau dari dermaga. Perempuan itu memekik. Cina itu juga memekik.

Persis seperti perhitungan Sony. Dia berhasil menembak dua jari dari siku Cina itu. Sikunya remuk. Dan menghancurkan sistim kerja seluruh jari kanannya. Pistolnya jatuh tanpa meledak. Dalam takut dan rasa sakit yang luar biasa, dia coba menarik gadis Indonesia itu dengan tangan kirinya. Namun sebuah lagi tembakkan bergegar. Dan siku kiri Cina itu hancur pula dimakan peluru Sony.

Cina itu meraung dan terjatuh ke belakang. Untung jatuhnya ke dalam kapal dan menimpa tubuh anak buahnya yang tadi telah mati ketika akan menembak Kapten Fabian, tapi didahului oleh pasukan Kapten itu.

Gadis itu sendiri jatuh tertelungkup. Separoh tubuhnya sudah menjulur ke bawah dermaga. Namun dia berusaha menggapai ke atas. Tongky, si Negro yang berada tak jauh dari salah satu tepi dermaga segera melompat dan berlari menolong gadis itu. Untung dia datang tepat pada waktunya. Gadis itu hampir tercebur ke bawah, ketika tangannya yang menggapai disaat terakhir disambar oleh Tongky.

Ada beberapa saat tubuhnya terayun di awang-awang. Baru Tongky bisa mengangkatnya keatas dengan sebuah tarikan kuat. Gadis itu menangis. Dan rubuh ke dalam pelukan Tongky. Dia jatuh pingsan.

Sony masih tetap tegak. Jenggel mautnya tetap pada posisi siap tembak seperti tadi. Ujung bedilnya kini dia arahkan ke kapal.

Cina gemuk yang memimpin sindikat penyelundupan wanita-wanita di Asia Tenggara itu tergolek kesakitan di lantai kapal. Mulutnya menyumpah-nyumpah. Kemudian perlahan dia bangkit.

Merangkak. Tapi rubuh lagi, kedua tangannya tak lagi bisa dipakai. Dengan menyumpah dan bercarut marut, dia bangkit. Dan saat itu pula, ketika dia tengah tegak, bedil Sony menyalak lagi. Senapan semi otomatik itu memuntahkan empat peluru berturut-turut dalam jarak dua detik-dua detik.

Tubuh Cina gemuk itu seperti ditendang-tendang gergasi. Terpental-pental. Dan ketika akhirnya tubuh gemuknya itu kecebur ke laut, kepalanya telah rengkah berserak-serak. Lalu sepi. Perlahan Sony menurunkan bedilnya. Menoleh lagi pada Si Bungsu. “Letnan” itu tersenyum dan mengangkat jempol. Sony membalas senyumnya dan melambai.

Mereka berjalan ke arah tubuh Kapten Fabian yang tertelungkup mandi darah. “Tongky, ambil tubuh Jhonson di bawah…!” Si Bungsu berkata.

“Siap, Let!”

Mereka melangkah ke dermaga. Tapi langkah mereka terhenti ketika dari belakang terdengar derap sepatu. Ketika mereka menoleh, kelihatan Miguel dan Donald menggiring keenam tawanannya yang mereka tinggalkan di pinggir rawa tadi.

Dua orang diantara tawanan itu menggotong tubuh Fred Williamson. Rupanya Donald dan Miguel mendengar tembakan-tembakan pertempuran. Mereka segera menyuruh tawanan itu bangkit. Lalu menggiring mereka ke arah markas. Ketika Donald masuk, dia terkejut melihat mayat Fred terlantar. Dari mulut temannya itu mengalir darah segar.

Dari markas itu terdengar suara tembakkan dua kali. Suara tembakan itu adalah suara tembakan Sony yang menghantam siku Cina gemuk yang menyandera gadis Indonesia itu. Mereka memerintahkan dua orang diantara tawanan itu untuk menggotong mayat Fred. Dan dengan menodong mereka dari belakang, kedua anggota Baret Hijau itu membawa tawanan tersebut ke dermaga.

Mayat Fred dan mayat Jhonson segera di baringkan di dermaga. Ketika tubuh Kapten Fabian akan diangkat, terdengar keluhan lemah.

“Dia masih hidup!” Si Bungsu berseru. Semua anggota Baret Hijau itu berlarian ke arahnya. Kecuali Miguel yang tetap menodong para tawanannya yang menelungkup di tanah.

Kapten Fabian ternyata memang masih bernafas. Meski denyut jantungnya sudah melemah, tapi dia masih hidup. Itu yang penting.

“Bob, lekas….!” Donald memanggil temannya Bob Hansen orang Irlandia yang ahli dalam obat-obatan. Sersan itu segera membuka ransel kecil di punggungnya, mengeluarkan obat-obatan.

Donald dengan hati-hati merobek baju Kapten itu tentang luka dipunggungnya. Ada dua peluru bersarang di pundak Kapten Itu. Untung yang kena adalah pundak belakang bahagian kanan. Kalau bahagian kiri, Kapten itu takkan tertolong lagi.

Bob Hansen mencuci luka di bahu Kapten itu dengan cairan steril dari botol kecil di dalam ranselnya.

Kemudian kelihatan lubang peluru di pundak Kapten itu dua buah sebesar ibu jari.

“Pelurunya tertahan oleh tulang belikat. Kita memerlukan pisau yang tajam untuk operasi..” Bob Hansen berkata.

Semua anggota pasukan itu segera saja menoleh pada Si Bungsu. Memandang pada samurai ditangannya.

“Ya, saya memiliki pisau yang tajam…” Si Bungsu yang jongkok di dekat mereka berkata.

Dan tiba-tiba saja tangan kanannya mengulurkan sebuah samurai kecil. Tak seorangpun melihat darimana Letnan itu mengambil samurai yang panjangnya sekitar sejengkal itu.

Tak ada diantara mereka yang tahu bahwa ada enam samurai semua yang tersimpan dibalik lengan baju loreng Si Bungsu. Dan sebentar ini ketika Bob Hansen mengatakan memerlukan sebuah pisau tajam, dia menggoyangkan tangan kanannya. Salah satu samurai kecil dilengannya itu meluncur turun. Disambut oleh telapak tangannya.

Bob Hansen yang tak sempat heran karena pikirannya tercurah ke luka Kapten Fabian menerima samurai itu. Baru ketika samurai itu berada ditangannya, dia menatap pisau itu dengan heran.

Dia raba matanya. Dengan kaget dia merasakan betapa kulit ibu jarinya dimakan samurai itu. Bukan main tajamnya. Padahal dia hanya menggeser sedikit saja untuk merasakan apakah pisau itu tajam atau tidak. Tajam dan sangat runcing.

Dia menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu mengangguk memberi isyarat agar cepat mengeluarkan peluru di dalam daging Kapten Fabian. Bob Hansen segera mencuci samurai itu dengan cairan steril yang tadi dia pergunakan untuk mencuci luka Kapten itu.

Kemudian dia menyuruh teman-temannya memegang tangan dan tubuh Kapten itu.

Lalu dia mulai membelah kedua luka itu. Memperbesar lobangnya. Dan dengan sebuah jepitan kecil, dia mengeluarkan kedua peluru itu. Memberikan kedua ujung peluru itu kepada Si Bungsu. kemudian kembali membersihkan luka tersebut. Dari salah satu botol kecil dia mengeluarkan spiritus. Menyiramkannya ke luka yang menganga. Lalu tangannya merogoh kantong.

“ini akan sangat sakit. Tapi peganglah kuat-kuat. Hanya ini cara yang tercepat untuk menghindarkan infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. Lukanya akan kita bakar..” Mereka kemudian memegangi tubuh Kapten itu bersama-sama. Bob Hansen menyulut korek api, melekatkannya ke luka. Spiritus itu menyambar api. Dan terdengar Kapten itu mengerang. Bau daging terbakar tercium hangit. Si Bungsu memperhatikan dengan seksama cara pengobatan militer ini.

Begitu api padam. Sersan itu mengeluarkan perban dan semacam obat penempel. Membalut luka itu dengan seksama.

Dan selesailah sudah!

Si Bungsu lalu memerintahkan anak buahnya masuk ke kapal. Tawanan-tawanan diikat satu dengan yang lain. Di kapal mereka ditempatkan didepan sekali. Diikatkan ke tempat putaran sauh. Mayat Fred Williamson dan Jhonson atas persepakatan bersama dikubur dipulau Pesek itu.

Bagi anggota pasukan Baret Hijau itu tak susah untuk menjalankan kapal tersebut. Dalam cahaya pagi yang cerah mereka meninggalkan pulau. Meninggalkan mayat-mayat anggota sindikat itu bergelimpangan di pulau tersebut.

Satu jam berlayar, mereka memasuki lagi sungai kecil dimana malam kemaren mereka meninggalkan

Jeep.

Tawanan-tawanan mereka biarkan tetap terikat di kapal. Mereka naik ke Jeep. Dan dalam waktu dekat Jeep itu meluncur lagi ke Markas mereka. Donald hapal benar jalan mana yang harus mereka tempuh menuju markas agar tak bertemu dengan orang banyak.

Di markas mereka segera saja menelpon Polisi Singapura. Melaporkan tentang ditemukannya sarang penyelundupan wanita di Pulau Pesek. Mereka memberikan detail dari penangkapan. Dimana polisi bisa menemui enam orang anggota sindikat itu yang terikat di kapal. Dan menyertakan beberapa dokumentasi. Ketika polisi menanyakan siapa yang melaporkan, Tongky yang menelpon meletakkan teleponnya.

“Nah, Letnan. Kini anda pegang komando. Apa lagi yang akan kita lakukan?” Donald berkata pada Si Bungsu yang sejak tadi duduk menatap pada Kapten Fabian yang masih belum sadar.

“Sebaiknya kita tukar pakaian dulu. Kemudian mengantar Kapten Fabian ke rumah sakit..”

“Ya. Ya. Saya rasa itu jalan terbaik yang harus kita ambil saat ini…” Miguel berkata. Dan mereka semua lantas bertukar pakaian. Kembali memakai pakaian sipil seperti sebelum mereka berangkat sore kemarin.

Sebuah taksi yang lewat mereka stop. Kemudian mereka menelpon Ambulan. Kapten Fabian dibawa dengan ambulans. Sementara mereka naik taksi. Yang berada di Ambulans adalah Si Bungsu, Donald dan Tongky.

Dalam Ambulan itulah Kapten Fabian mulai sadar. Dia melihat keliling. Terpandang pada Donald, Tongky dan Si Bungsu.

“Bagaimana….?” Suaranya bertanya perlahan. Si Bungsu memegang tangan Kapten itu.

“Mereka kita ringkus semua, Kapten….” Lalu dia menceritakan secara singkat pertempuran di pelabuhan pulau Pesek itu setelah si Kapten rubuh kena tembak. Dia menceritakan tentang Fred Williamson yang mati dan Jhonson yang kena tembak. Lalu menceritakan pula tentang pemberitahuan kepada polisi Singapura tentang sindikat tersebut.

Kapten Fabian menarik nafas.

“Terimakasih Bungsu. Anda telah menyelamatkan pasukan kami. Kalau anda tak mencegah kami menyebrang kemaren di rawa itu, maka korban pasti akan lebih banyak. Mungkin semua kita sudah mati.

“Itu tugas saya Kapten. Bukankah saya adalah bagian dari pasukan anda?” Kapten Fabian menggenggam tangan Si Bungsu.

“Betapaun jua, terimakasih, kawan. Anda sangat layak menjadi seorang anggota Baret Hijau. Kami bangga anda berada satu pasukan dengan kami..”

“Terimakasih. Saya benar-benar mendapat kehormatan memakai Baret Hijau itu…”

Kapten Fabian memejamkan mata. Nyata dia masih lelah akibat terlalu banyak kehilangan darah. Kalau saja pertempuran itu berjalan lebih lama lagi, dan pertolongan terlambat sedikit saja diberikan padanya, maka nyawanya tak tertolong.

“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan…” bisik Kapten Fabian perlahan.

“Ini mengenai Letnan robert. Saya tak mungkin bisa menyertai jenazahnya ke Australia. Saya ingin engkau mengiringkan jenazah itu bersama donald kesana…’ Kapten Fabian berhenti, mengatur nafasnya yang sesak. Si Bungsu kaget mendengar permintaan ini. Namun dia tetap berdiam diri. Donald dan Tongky juga diam mendengarkannya. Kapten itu membuka matanya kembali.

“Pergilah. Dia punya seorang ibu dan seorang tunangan. Sedianya dia akan menikah akhir bulan ini. Dia butuh sedikit uang untuk perongkosan pernikahannya. Uang itu telah kami dapatkan. Sayang dia keburu mati. Engkaulah menggantikan diri saya menyampaikan hal ini pada ibunya, pada tunangannya…”

Kapten itu berhenti lagi bicara, Donald, Tongky dan Si Bungsu bertukar pandang.

“Jangan menolak Bungsu. Tongky dan Donald akan mengatur perjalanan ini. Engkau dan Donald bawakan pula uang untuk pernikahan itu. Serahkan pada ibunya separoh, pada tunangannya separoh…’

“Tongky…’

“Saya Kapten…”

“Jika Bungsu sudah siap, urus perjalanannya dengan Donald dan pengiriman jenazah Robert, jika bisa besok atau lusa…’

“Saya akan menyiapkannya, Kapten…” “Bungsu…”

“Saya, Kapten…”

“Saya tidak memaksamu untuk ikut terus bergabung dengan kami dalam pasukan veteran ini. Tapi untuk mengantarkan jenazah Robert, kumintakan benar bantuanmu…”

Tak ada alasan bagi Si Bungsu untuk menolaknya. Dia ingat bahwa Robert mati karena menyelamatkan nyawanya. Kalau saja tidak didorong oleh Robert hingga dia jatuh di jalan di depan hotelnya dulu, maka dirinyalah yang kena sasaran peluru otomatik itu. Bukan Letnan Robert. Sudah sepantasnya dia mengiringkan jenazah Robert dan menyampaikan duka pada keluarganya.

“Saya mendapat kehormatan untuk mengiringkan jenazahnya ke Australia, Kapten…” dia berkata perlahan.

Kapten itu menarik nafas lega. Benar-benar lega.

“Letnan, setelah engkau kembali dari Australia, engkau bisa langsung ke Jakarta. Kemudian ke kampungmu. Atau kemana saja engkau suka. Jika engkau mau ke Singapura ini, bergabung dengan kami, maka kami benar-benar mendapat kehormatan atas hal itu. Kami yakin, banyak tugas besar yang bisa kita selesaikan jika engkau berada dalam pasukan kami. Kita akan menghantam kaum penghianat, penculik, penipu dan bandit-bandit di seluruh dunia. Kami punya rencana ke Amerika setelah ini.

Namun jika engkau tak lagi kembali pada kami, kami mengaturkan banyak terimakasih atas bantuanmu. Jika engkau memerlukan bantuan kami, dimanapun engkau berada, dan bilapun saatnya, selagi kami masih hidup, meski agak seseorang, kami akan datang membantu. Kirim saja telegram. Meski diujung dunia sekalipun, kami akan datang membantu. Alamat kami di eropah, di Amerika, di Afrika, di Singapura ini, dapat kau terima dari donald. Kami akan merasa bahagia kalau engkau mengirim kabar pada kami…”

Si Bungsu menunduk. Diam. Perkenalannya dengan bekas pasukan Baret Hijau Inggris yang tersohor ini benar-benar luar biasa baginya.

---000---

Siang itu Overste Nurdin yang tengah duduk disertai isteri dan anaknya kedatangan seorang tamu. Staf Konsulat memberitahukan kedatangan tamu itu ke kamarnya di tingkat atas gedung konsulat.

“Ada tamu untuk bapak dan ibu…” staf itu berkata. “Tamu…?”

“Ya..”

“Silahkan masuk..”

Staf konsulat itu berjalan ke sebelah. Cukup lama Nurdin dan isterinya menanti. Kemudian pintu terbuka perlahan-lahan. Dan di pintu, dengan keheranan baik Nurdin maupun Salma menatap, seorang gadis cantik tegak disana. Mirip gadis Jepang.

“Selamat siang, apakah saya berhadapan dengan tuan Overste Nurdin..?” gadis itu bicara dalam bahasa Indonesia yang fasih.

“Ya. Sayalah orangnya. Silahkan masuk. Ini isteri saya. Maaf, saya tak bisa bangkit…”

Gadis itu melangkah masuk. Salma berdiri menyambutnya. Kedua perempuan cantik itu bersalaman dan saling pandang.

Gadis itu mengambil tempat duduk di depan Salma.

“Nampaknya anda baru dari Indonesia. Apakah yang bisa saya perbuat?” Nurdin bertanya. Gadis cantik itu sekali lagi melayangkan pandangannya pada Salma. Kemudian pada Overste Nurdin. “Tidak. Saya tidak dari Indonesia. Saya dari Kyoto, Jepang” suara gadis itu bergetar perlahan. Ada rasa

heran dan kaget menyelinap dihati Nurdin dan Salma.

“O, alangkah jauhnya perjalanan nona, adakah yang bisa saya bantu?”

“Nama saya Michiko. Saya mencari seseorang yang barangkali tuan dan nyonya mengenalnya”

Salma dan Nurdin bertukar pandang. Hati Salma berdetak. Jantungnya berdegup kencang. Si Bungsu, pikirnya. Pastilah gadis cantik ini mencari Si Bungsu. hati perempuannya berbisik. Dia tatap gadis itu. O, alangkah cantiknya.

“Saya mencari,…seorang lelaki bernama Bungsu. Apakah saya bisa menemuinya?”

Overste Nurdin tercengang benar. Dia menatap pada isterinya. Namun saat itu Salma masih menatap pada Michiko. Sadar bahwa nyonya Overste itu menatap terus padanya, Michiko menoleh pula. Kedua wanita itu kembali saling pandang. O, inikah perempuan yang memberikan cincin pada Bungsu-san itu? Alangkah cantiknya, pikir Michiko. Namun hatinya sedikit lega. Sebab ternyata perempuan cantik itu telah menikah. Ya, pastilah nyonya ini yang bernama Salma, bisik hati Michiko pula.

Akhirnya Nurdin bicara :

“Ya. Kami mengenalnya. Anak muda itu adalah sahabat saya. Sahabat keluarga kami. Dahulu dia tinggal bersama kami ketika kami masih di Brash Basah. Tapi kini tidak lagi. Kalau kami boleh tahu, apakah anda temannya ketika dia ke Jepang dahulu?”

“Ya. Saya adalah bekas sahabatnya…” Nurdin mengerutkan kening.

“Maaf, saya kurang mengerti dengan ucapan nona. Kenapa harus memakai kalimat “bekas” sahabatnya?...apakah…”

“Ya…saya memang bekas sahabatnya dalam arti sesungguhnya. Saya malah banyak berhutang budi padanya. Dia telah menolong saya dari cemar dan aib yang tak terhingga….’

Nurdin menatap pada isterinya. Salma menatap pula padanya.

“Lalu, kalau kini nona tidak bersahabat lagi dengannya, ada keperluan apakah kiranya, hingga jauh-jauh mencarinya. Atau barangkali anda kebetulan singgah di kota ini?”

“Tidak. Saya memang datang dari Jepang khusus untuk mencarinya. Jika dia tak disini, saya akan mencarinya sampai bertemu….”

“Alangkah pentingnya urusan itu. Tapi, baiklah, itu urusan anda nona. Hanya sayang, anda datang terlambat…”

Michiko menatap Overste itu. Terlambat, apa maksudnya, pikir gadis itu. “Maksud tuan?”

“Dia tak di kota ini lagi…” “Tak di kota ini?”

“Tidak. Dia sudah berangkat seminggu yang lalu…”

Wajah Michiko tiba-tiba jadi sangat murung. Dia kelihatan sangat kecewa. Dan perobahan air mukanya diperhatikan dengan seksama oleh Salma.

Hati wanitanya mulai menghitung dan mereka-reka. Hubungan apakah sebenarnya yang terjalin antara Si Bungsu dengan gadis cantik ini, pikirnya. Apakah mereka telah bertunangan, atau baru berkasih-kasihan, lalu Si Bungsu pergi, dan gadis ini mencarinya untuk menikah? Semuanya mungkin saja, pikir Salma.

“Saya mendengar tuan adalah sahabat Si Bungsu. Begitu pula dengan nyonya…”

“Hmm. Darimana anda tahu. Bukankah anda baru tiba di kota ini?” Nurdin bertanya heran. “Saya mendapat informasi dari staf konsulat…”

“Hmm begitu. Ya. Kami adalah sahabatnya. Tapi apa yang saya sampaikan pada nona adalah hal yang sebenarnya. Dia telah pergi seminggu yang lalu…’

“Dia kembali ke kampungnya? Ke Situjuh Ladang Laweh di kaki Gunung Sago itu?” Salma dan Nurdin bertukar pandang.

Situjuh Ladang Laweh!

Gadis Jepang ini tahu dengan pasti tentang Situjuh Ladang Laweh. Alangkah banyaknya yang diketahuinya tentang Si Bungsu.

Nurdin kemudian menatap pada Michiko. Alangkah cantiknya gadis Jepang ini, pikirnya. Dan sebagai seorang lelaki, dia juga punya dugaan, bahwa antara Si Bungsu dengan gadis cantik ini pastilah ada hubungan selain sekedar teman biasa.

“Tidak nona. Dia tak kembali ke sana” “Lalu, kemana dia? Apakah ke Jakarta?” “Juga tidak..”

“Maksud tuan?” “Dia ke Australia” “Ke Australia?” “Ya. Ke Australia”

“Alangkah jauhnya. Saya tak mengerti kenapa dia harus pergi sejauh itu…’ “Dia mengantarkan mayat seseorang”

“Mayat?”

“Ya. Mayat seorang sahabatnya..”

Michiko masih tak mengerti. Dia menatap pada Salma. Salma masih tetap menatap pada Michiko. Dia tengah mematut-matut. Sejauh mana hubungan antara Si Bungsu dengan gadis Jepang ini?

Pastilah ada sesuatu yang istimewa dalam hubungan itu. Jika tak ada yang istimewa, mustahil gadis ini akan mencarinya sejauh itu.

“Ada seorang anak muda Australia…” suara Overste Nurdin mengejutkan Michiko yang tengah bertatapan dengan Salma, “ dia berteman dengan Si Bungsu. Dan anak Australia itu mati tertembak.

Dia minta agar jenazahnya diantarkan pada ibunya di Australia. Nah, itulah yang dilakukan oleh Si Bungsu. mengantarkan jenazah temannya itu kesana…”

“Apakah dia lama disana?” Overste Nurdin menarik nafas.

“Kami tak tahu nona. Tak ada yang bisa menebak apakah dia akan berada lama disuatu tempat atau tidak. Barangkali nona tahu bahwa dia adalah seorang pengembara. Seorang lelaki sunyi dan hidup sebatang kara…”

“Ya. Saya tahu….” Suara Michiko terdengar perlahan.

“Dan dia pergi dari suatu kota ke kota lain untuk membunuh rasa sepinya…” “Ya…..” suara Michiko makin perlahan.

Setelah ucapan Michiko yang terakhir itu, suasana lalu jadi sepi. Michiko menunduk. Salma masih menatapnya. Begitu pula Overste Nurdin. Mereka sama-sama diam. Lalu :

“Apakah dia mengatakan kemana dia akan pergi setelah mengantarkan jenazah temannya itu?” Michiko masih berusaha untuk mengetahui rencana perjalanan Si Bungsu.

Kali ini tidak Nurdin yang bicara. Dia memberi isyarat pada isterinya untuk menjelaskan.

“Ada. Dia memang mengatakan kemana dia akan pergi. Yaitu kalau dia bisa cepat meninggalkan Australia. Katanya dia ingin pulang ke kampungnya…’

“Ke kampungnya?”

“Ya. Ke Situjuh Ladang Laweh. Ke kaki Gunung Sago di Payakumbuh seperti yang nona katakan tadi…” Salma berkata dan tersenyum lembut. Wajah Michiko jadi berseri. Dan itu semua tak luput dari amatan Salma.

Tapi tiba-tiba wajah Michiko jadi murung lagi.

“Apakah…apakah disana ada….” Dia terhenti. Nurdin dan Salma saling pandang dan menanti apa yang ingin ditanyakan gadis itu. Tapi Michiko tak kunjung mengucapkan apa yang tersirat dihatinya. Salma segera saja bisa menebak.

“Nona maksudkan, apakah dikampungnya dia punya seorang kekasih atau tunangan…?’

Wajah Michiko terangkat cepat. Separoh kaget. Namun begitu matanya bertemu dengan tatapan Salma, cepat-cepat dia menundukkan kepala. Wajahnya segera menjadi murung.

“Ya. Bukankah dia mempunyai seorang kekasih disana?” gadis itu akhirnya berkata setelah lama berdiam diri.

“Tidak. Dia tak punya siapa-siapa dikampungnya itu….” Salma menjelaskan.

“Ah, kalau begitu nyonya belum mengenal Si Bungsu seperti saya mengenalnya….” Suara Michiko terdengar perlahan. Muka Salma jadi berona merah. Entah kenapa, hatinya jadi tak sedap dikatakan gadis Jepang ini “belum mengenal Si Bungsu sebagaimana Michiko mengenalnya..!.” ini keterlaluan. Sampai dimana benar gadis Jepang ini mengenalnya, pikir Salma.

Namun dia ingin tahu juga, makanya dia memancing.

“Barangkali kami memang tak begitu mengenalnya. Apakah nona mengetahui ada seorang gadis yang menantinya di kampung?” Michiko mengangguk. Salma dan Nurdin berpandangan. “Ini baru berita. Ini berita baru…” Nurdin berkata dengan jujur dan takjub. Sebab dia memang tak pernah mengetahui akan hal itu.

Michiko memandang padanya separoh heran.

“Benar, ini berita baru bagi kami nona. Siapa gadis yang menantinya itu?” Nurdin bertanya antusias. Sebab dia tahu dengan pasti, atau katakanlah, bahwa dia hanya tahu Si Bungsu hanya mencintai Salma, yang secara tak diduga menjadi isterinya. Bila kini ada orang lain yang mengatakan bahwa ada kekasih Si Bungsu dikampungnya, bukankah itu berita menarik baginya?

Sedang bagi Salma sendiri berita itu tak kurang mengejutkannya.

Sebab dia sendiri selama ini tahu dan menduga bahwa anak muda yang pernah dia cintai itu, hanya punya seorang kekasih. Dan gadis itu, yang jadi kekasih Si Bungsu itu, juga membalas cinta Si Bungsu dengan sepenuh hati. Gadis itu adalah dirinya sendiri. Tapi itu dulu.

Lalu kini ada saja gadis lain, yang dia duga punya hubungan dengan Si Bungsu, yang mengatakan bahwa ada lagi gadis lain dihati Si Bungsu. Nah, diam-diam perasaan cemburunya muncul.

Perasaan bahwa selama ini dia dibohongi Si Bungsu.

“Ya…” kata Michiko menyambung penjelasannya.. ”Saya tahu hal itu dengan pasti. Karena dia menceritakannya pada saya…”

“Apakah dia sebutkan nama gadis itu pada nona?” Overste Nurdin bertanya ingin tahu.

“Ya. Dia sebutkan….namanya, kalau saya tak salah adalah Salma….” Jantung Salma seperti akan meledak.

Dia menunduk. Malu, bangga dan khawatir berbaur menjadi satu.

Dia kawatir akan perasaan suaminya yang akan jadi tersinggung. Namun Overste itu tersenyum. Bahkan dari mulutnya kemudian terdengar tertawa renyai.

“Kenapa tuan jadi tertawa?” Michiko heran. Salma makin menunduk.

“Apakah benar itu gadis yang jadi kekasih Si Bungsu, yang menantinya dikampungnya?” “Ya. Itulah nama yang dia sebutkan…”

“Nona, kalau begitu nona tak usah khawatir. Kekasihnya itu sudah menikah…” kata Nurdin sambil tersenyum. Michiko heran dan menatapnya dengan perasaan ingin tahu.

“Ya. Gadis yang nona sebutkan itu telah menikah. Apakah tadi nona tak mendengarkan ketika saya memperkenalkan nama isteri saya ini…?”

Michiko menatap makin heran.

“Saya mendengarnya. Nama nyonya ini…Salma..” “Ya. Namanya Salma…”

“Apa hubungannya dengan Salma yang saya sebutkan tadi?” Michiko balas bertanya heran.

Nurdin dan Salma saling pandang. Tapi Nurdin masih coba tersenyum.

“Nona, jangan khawatir. Tak ada seorang gadispun yang menanti Si Bungsu dikampungnya. Salma yang dia sebut pada anda itu adalah isteri saya ini…”

Michiko terngangak. Menatap pada Nurdin dan Salma bergantian. Bermain-mainkah orang ini, pikirnya. Namun kedua orang itu memang tak sedikitpun bermain-main. Mereka memang bersungguh-sungguh. Dan Michiko dapat membaca kesungguhan mereka itu.

Dan kalau tadi Michiko menatap Salma, dia hanya merasa betapa cantiknya isteri Overste itu. Dan dia membandingkan, adakah Salma kekasih Si Bungsu itu secantik Salma ini pula? Sama sekali tak terlintas dalam kepalanya bahwa inilah Salma yang kekasih Si Bungsu itu.

Dia tak menduga karena masih berfikir pola Jepang. Di Jepang memang tak sedikit orang yang senama. Yang senama dengannya, yaitu nama Michiko, di Universitas Tokyo dimana dia kuliah dulu, ada sekitar seratus orang. Tapi nama depan tak jadi soal disana. Seorang lebih dikenal dengan nama keluarganya. Seperti dirinya adalah anak Saburo Matsuyama. Maka dia lebih dikenal dengan sebutan nona Matsuyama. Persamaan nama dinegerinya tak ada persoalan. Dan bukan hal yang aneh.

Nah, tadipun ketika Nurdin mengenalkan Salma padanya, dia hanya menyangka bahwa Salma yang senama dengan Salma yang kekasih Si Bungsu. Siapa nyana, bahwa Salma yang kekasih Si Bungsu dengan Salma yang ini orangnya adalah satu.

“Oh, maaf. Saya tak tahu. Maaf…” katanya gugup.

“Tak ada yang harus dimaafkan nona. Saya sendiri ketika menikah dahulu, tak tahu sama sekali bahwa calon isteri saya ini adalah kekasih teman saya. Dan isteri saya juga tak pernah menduga bahwa calon suaminya adalah sahabat kekasihnya. Semua baru jadi jelas tatkala Si Bungsu muncul di kota ini lima bulan yang lalu. Dan tak seorang pun diantara kami yang harus dipersalahkan. Nasib yang diatur oleh Yang Maha Kuasa telah menyebabkan hal ini. Begitu bukan?”

Michiko mengangguk perlahan. Dan Salma dapat membaca pada air muka gadis itu bahwa gadis Jepang ini jadi lega hatinya.

Ketika tak ada lagi yang akan dibicarakan, dan Minchiko sudah merasa cukup mendapat informasi, dia lalu pamitan.

Dia diantar ke ruang bawah oleh Salma.

Dan di ruang bawah, kesempatan bagi Salma untuk bicara dengan Michiko. Mereka berhenti, dan saling pandang. Seperti ada persepakatan antara kedua perempuan cantik itu untuk saling bertanya. Salma lah yang terlebih dahulu membuka suara :

“Apakah Si Bungsu bercerita tentang hubungan kami…?” Michiko menatap Salma. Kemudian mengangguk.

“Dia memang tak bercerita banyak tentang nyonya…’

“Panggil saja nama saya, Salma. Tak usah pakai sebutan nyonya…”

“Ya, dia hanya bercerita tentang seorang gadis yang dia cintai. Tapi dia mengatakan bahwa gadis itu, maksud saya anda, mencintai dirinya. Saya melihat cincin dijarinya. Dan ketika saya tanyakan dia akui cincin itu pemberian anda…”

Salma menarik nafas. Ada kebahagian menyelundup dihatinya. Si Bungsu bercerita pada gadis secantik ini, bahwa dia mencintai dirinya. Oh….alangkah!

“Apakah anda mencintainya?” tiba-tiba Michiko dikagetkan oleh pertanyaan Salma. Dia tatap nyonya atase militer itu. Dia ingin menyelidik, apakah dalam pertanyaan itu ada nada cemburu. Namun mata perempuan itu alangkah beningnya. Dan yang terlihat didalam pancaran matanya hanyalah keikhlasan.

“Saya tak tahu….”

“Tak tahu? Alangkah ganjilnya. Engkau telah menurutnya sekian jauh. Mencarinya kemana-mana, tanpa engkau ketahui apakah engkau mencintainya atau tidak. Jika bukan karena cinta untuk apa engkau mencarinya sejauh ini, Michiko?”

“Dia berhutang padaku….” Suara Michiko perlahan. Kepalanya menunduk. Salma mengerutkan kening. “Hutang?”

“Ya. Dia berhutang padaku…!”

“Alangkah ganjilnya terasa. Engkau mencarinya hanya untuk meminta piutang saja. Berapa kah piutang yang dia buat sehingga engkau menghabiskan waktu dan biaya sebesar ini..”

“Terlalu besar untuk disebutkan…”

“Maaf. Saya masih tak bisa mengerti, hutang yang telah dia perbuat padamu…” “Hutang nyawa…” suara Michiko masih perlahan dan kepalanya masih menunduk.

Salma yang jadi kaget. Terkejut bukan main. Demikian kagetnya dia, hingga buat sesaat dia tak bisa buka

suara.

“Ya, untuk itulah dia saya cari, Salma. Dia telah membunuh ayah saya. Meski secara tak langsung. Tapi

dialah penyebabnya. Dan saya akan menuntut kematian itu padanya…”

Buat sesaat Salma masih belum bisa bicara. Lama kemudian, ketika Michiko masih menunduk, Salma kembali bertanya.

“Hutang nyawa secara tak langsung. Apa yang anda maksud Michiko?” Michiko menatap pada Salma. Sudut matanya basah.

“Apakah dahulu Bungsu-san tak pernah bercerita pada anda untuk apa dia datang ke Jepang?”

Salma mengalihkan pandangan ke luar. Ke pohon-pohon Akasia yang berjajar disepanjang tepi jalan. Dan ingatannya surut kembali kemasa lalunya. Kewaktu dia masih merawat Si Bungsu di Panorama Bukittinggi. Dan suatu hari, ketika lukanya telah sembuh, Si Bungsu pernah mengatakan padanya bahwa dia akan ke Jepang. “Saya akan mencari opsir yang telah membunuh ayah dan ibu saya. Yang telah menodai dan sekaligus

juga membunuh kakak saya. Perjalanan saya mungkin akan jauh dan lama sekali, Salma..” Bayangan itu melintas. Kemudian dia menatap pada Michiko.

“Ya. Saya ingat, Michiko. Dia kenegrimu untuk mencari seorang opsir yang membunuh keluarganya…” Michiko menarik nafas panjang. Kemudian menunduk lagi. Lalu suaranya trdengar perlahan.

“Ya, itulah persoalannya Salma. Ah, saya sudah terlalu lama mengganggu anda. Saya harus pergi…’ Salma tertegun, dia ingin mendengar banyak tentang Si Bungsu dari gadis cantik ini.

“Kenapa buru-buru…?”

“Saya, saya harus kembali ke penginapan…” “Anda sendirian…” Michiko mengangguk.

“Si Bungsu berjanji pada kami, bahwa dia akan menyurati kami bila dia telah kembali dari Australia. Barangkali engkau bisa menanti. Bila suratnya datang nanti, engkau akan mengetahui dengan jelas dimana dia berada. Apakah dia telah kembali ke kampungnya atau belum…”

Michiko menatap Salma. Ada benarnya juga pendapat nyonya ini, pikirnya.

“Ya, saya rasa juga demikian yang baik. Tak mungkin saya menurutnya ke Australia. Terlalu jauh…” “Kalau anda tak keberatan, saya ingin menemani anda selama di kota ini…” Salma menawarkan jasa

baiknya. Wajah Michiko berseri. “Benar?”

“Ya. Kenapa tidak…’

“Ah, saya amat berterimakasih sekali jika anda mau menemani saya…’ “Saya juga akan merasa gembira dapat menemani anda Michiko…” “Terimakasih, saya memang merasa asing dan sepi di kota ini..’

---ooo---

Dan esok sorenya, Salma memang datang ke hotel dimana Michiko menginap. Tak lama kemudian, kedua wanita itu sudah berada dalam taksi.

“Anda pernah makan sate?” Salma bertanya ketika mereka telah duduk dalam taksi. “Sate?”

“Ya, makanan spesifik Indonesia. Tapi di kampung kami makanan itu lebih terkenal lagi karena pedas dan enak. Anda suka makanan pedas?”

Michiko mengangguk dan tersenyum.

“Negeri kami setiap tahun ada musim dingin dan setiap musim dingin, jika lelaki suka minuman keras, maka kami kaum perempuan membuat makanan yang pedas-pedas…”

“Kalau begitu anda pasti suka makan sate. Disini ada orang jual Sate Pariaman….” “Sate Pariaman?”

“Ya. Pariaman nama sebuah negeri dan sekaligus nama sebuah kota kecil dinegeri kami. Orang-orang dinegeri itu pembuat sate yang gurih rasanya…”

Salma lau meminta pada sopir taksi menuju ke Taman Wonderland Amusemen yang terletak dipinggir pantai. Taksi segera berlari kencang ke taman itu. Taman itu dahulunya adalah sebuah teluk. Karena kekurangan tanah makin lama makin mendesak, maka pemerintah kota Singapura, yang saat itu masih berada dalam bahagian dari Negara Malaya, mengambil prakarsa untuk menimbun teluk yang penuh lumpur itu.

Sebagai gantinya, kini teluk itu telah berobah jadi taman yang sangat indah. Dihadapan taman itu, diseberang sungai, disebuah tanah yang menjorok ke laut, berdiri patung kepala singa dengan ekor ikan sebagai lambang kota Singapura.

Patung itu berwarna putih setinggi lebih kurang tiga meter. Menghadap ke laut lepas. Seperti mengucapkan selamat datang pada kapal-kapal yang memasuki pelabuhan Singapura. Atau seperti penjaga yang mengawasi laut sepanjang selat.

Taman itu kini setiap sore ramai dikunjungi orang.

Disana, mereka menikmati matahari tenggelam. Melihat kapal-kapal membuang sauh. Dan bila malam, cahaya lampu dari kapal-kapal itu mirip lampu dari sebuah kota terapung. Atau seperti sejuta kunang-kunang yang berkelap-kelip. Cahayanya terpantul kelaut yang biasanya sangat tenang dimalam hari.

Ditaman itu, disepanjang pinggir pantai yang dibeton, dibuat kursi-kursi batu. Dan, dibawah pohon- pohon mahoni berderet penjual bermacam makanan. Orang bisa membeli makanan hampir segala macam bangsa disana. Mulai dari sate Padang seperti yang dipesan Salma, sampai pada goreng ular kesukaan orang Jepang dan Cina.

Dan disanalah sore itu Salma duduk bersama Michiko.

Salma adalah “tuan rumah”, maka dialah yang banyak bercerita. Dialah yang mulai setiap pembicaraan.

Ketika mereka sedang bicara, pesanan sate yang diminta oleh Salma diantarkan. “Nah, silahkan coba…” kata Salma mengambil setusuk sate. “Daging apa ini?” “Kerbau..”

“Hmm…enak sekali” Michiko berkata dan mulai makan porsi yang tersedia untuknya. Dan dia memang tak hanya sekedar berbasa-basi untuk menyenangkan hati Salma saja makanya dia mengatakan sate itu enak. Dia memang menikmati penganan khas Pariaman itu dengan nikmat.

Ketika mereka selesai menikmati makanan itu, Salma lalu membawa Michiko duduk di kursi batu yang menghadap ke laut. Bagi Salma, ada sesuatu yang “belum selesai” terasa dalam pembicaraan kemaren di gedung konsulta. Yang masalah “hutang nyawa” yang dikatakan Michiko itu.

Dan kini, pada kesempatan duduk di pantai itu, Salma hati-hati kembali menanyakan persoalan itu. Michiko belum menjawab. Terlebih dahulu dia menatap pada Salma. Lama sekali. Kemudian dia menunduk. Lalu ketika dia bicara, ucapannya membuat salma keget :

“Ternyata engkau juga tak bisa melupakannya, bukan?” suara gadis itu perlahan saja. Namun cukup mengirimkan getar yang gemuruh ke dada Salma. Kini Salma pula yang tak bisa segera menjawab. Michiko menatapnya. Salma coba untuk tersenyum.

“Barangkali engkau benar, Michiko. Saya tak bisa melupakannya. Dia tetap berada dihati saya, namun demikian, dia kini tak lagi saya kenang seperti dahulu. Seperti saat-saat saya merindukannya. Tidak. Kini dia tinggal dalam hati saya sebagai seorang adik mengenang abangnya. Saya sudah bersuami. Sudah punya seorang puteri. Kedua mereka telah menggantikannya dalam hati saya”

Michiko menatap Salma. Dan dia harus mengakui, bahwa wanita cantik didepannya itu tak berkata bohong.

“Engkau membencinya. Tapi sekaligus mencintainya, Michiko. Yang manakah diantara kedua hal itu yang lebih kuat dalam hatimu?”

Michiko menunduk. Salma menebak amat tepat.

“Aku tak usah menjawab Salma. Engkau tahu yang mana lebih kuat dalam hatiku. Tentang maksudnya ke Jepang itu, seperti yang engkau katakan kemaren, dia memang pergi mencari opsir yang membunuh keluarganya…”

“Ya. Apakah dia menceritakan padamu? Maksud saya, apakah dia bertemu dengan opsir itu?” “Ya. Dia bertemu dengannya”

“Oh. Dulu dia bersumpah akan menjalankan sumpah ayahnya sesaat sebelum mati. Ayahnya bersumpah, dan sumpah itu didengar oleh opsir itu. Bahwa Datuk Berbangsa itu, ayah Si Bungsu, akan menuntut balas atas perbuatan opsir itu. Dia bersumpah akan membunuh opsir itu dengan senjatanya sendiri. Dan sumpah itu didengar oleh Si Bungsu. Apakah dia berhasil membunuh opsir itu?”

Michiko tak segera menjawab. Dia membayangkan lagi pertemuannya dengan anak muda itu di kereta api. Dan dia membayangkan lagi pertemuan anak muda itu dengan ayahnya di kuil Shimogamo.

“Kedua orang itu, Si Bungsu dan opsir itu memang bertemu. Dan mereka berkelahi. Opsir itu dikalahkan oleh Si Bungsu. Tapi dia tak membunuhnya…”

“Tak membunuhnya?”

“Ya. Namun opsir itu memang mati oleh senjatanya sendiri. Persis seperti sumpah ayah Si Bungsu.

Sumpah itu nampkanya memang makbul….”suara Michiko terdengar getir.

“Makbul? Bagaimana sumpah itu bisa makbul kalau Si Bungsu tidak membunuhnya?” “Opsir itu bunuh diri. Disana disebut Harakiri..”

“Bunuh diri?”

“Ya. Justru disitulah letak makbulnya sumpah ayah Si Bungsu. Bukankah tadi engkau katakan bahwa Datuk Berbangsa itu bersumpah bahwa opsir itu akan mati oleh senjatanya sendiri?”

“Ya. Tapi menurut hemat saya sumpah itu bermaksud bahwa opsir itu akan dibunuh oleh samurai yang dia tinggalkan tertancap di dada Datuk Berbangsa itu…”

“Tidak mutlak harus begitu. Yang jelas opsir itu mati karena senjatanya sendiri. Dan itulah yang benar akan takwil sumpah itu…” Michiko menjelaskan dengan kepala tetap menunduk. Salma menarik nafas. Kemudian teringat pada diri Michiko.

“Tadi engkau katakan, bahwa di kuil Shimogamo itu terjadi perkelahian antara beberapa pendeta dengan Si Bungsu. Si Bungsu berhasil membunuh beberapa orang diantaranya sebelum dia mengalahkan opsir…siapa namanya opsir itu?”

“Saburo. Saburo Matsuyama” suara Michiko masih perlahan.

“Ya. Dia telah membunuh beberapa orang pendeta sebelum mengalahkan Saburo Matsuyama. Apakah ayahmu yang meninggal itu adalah seorang diantara para pendeta yang mati itu?” Michiko menggeleng.

“Lalu, dalam peritiwa mana ayahmu meninggal oleh Si Bungsu?” “Dalam peristiwa itu juga…”

Salma mengerutkan kening. Sulit baginya untuk mencari logika cerita gadis cantik ini. “Ya, ayah saya mati dalam peristiwa itulah…”

“Saya tak bisa mengerti. Apakah ada orang lain yang terbunuh selain para pendeta itu?” “Ada. Ayah saya…”

“Kenapa ayahmu bisa berada disana?”

“Karena ayah saya adalah Saburo Matsuyama…”

Kalau saja ada petir, barangkali Salma takkan terkejut benar. Tapi kali ini, dia memang tertegun.

Wajahnya jadi pucat. Lama dia terdiam. Akhirnya Michiko memandangnya.

“Maafkan saya, Michiko. Kenyataan itu benar-benar luar biasa bagi saya. Saya tak tahu harus mengatakan apa padamu…” Salma memegang bahu gadis itu.

“Memang pahit bagi saya, Salma. Saya bertemu dengannya di kota Tokyo. Suatu hari ketika saya baru masuk kuliah di Universitas, ketika akan pulang, seorang asing menanyakan jalan ke stasiun pada saya….” Michiko terhenti.

Dia mengumpulkan kenangan masa lalunya kembali.

“Saya tak menjawabnya dengan baik. Karena pakaiannya yang kumal, saya memandangnya dengan pandangan tak bersahabat. Kemudian meninggalkannya dengan hati terpukul tanpa menjawab pertanyaannya sepatahpun. Saya rasa saat itu dia baru tiba di Kota Tokyo yang ganas itu.

Tiga hari kemudian, dia saya jumpai lagi di sebuah penginapan kecil di daerah Asakusa. Saya tengah menuju rumah seorang teman untuk belajar, ketika sebuah jeep tentara Amerika berhenti dan menyeret saya ke atasnya. Kemudian membawa saya ke hotel Asakusa itu.

Di dalam hotel, pemiliknya terpaksa menyuruh seorang penginap untuk keluar, sebab kamar yang lain penuh, maka kamarnya dipakai dulu untuk keperluan tentara Amerika yang membawa saya.

Saya berusaha minta tolong. Tapi, pemilik hotel itu sendiri, orang Jepang tulen, hanya tersenyum mendengar permohonan saya. Lelaki yang menempati kamar dimana saya akan diperkosa itu keluar. Dan dipintu kami bertatapan, dialah Si Bungsu yang bertanya pada saya tiga hari yang lalu di daerah Ginza. Saya tak bisa berfikir banyak. Sebab Letnan Amerika itu telah menyeret saya masuk. Kemudian pakaian saya mulai dia tanggalkan. Saya telah bermohon-mohon, agar saya tak dia perkosa. Saya katakan bahwa saya mahasiswi. Tapi dia tak perduli. Ketika pertahanan saya sudah habis, ketika noda hampir mencemarkan hidup saya, tiba-tiba pintu terbuka.

Dan di pintu, berdiri anak muda itu. Dia menyelamatkan saya dengan membunuh Letnan itu. Kemudian membunuh seorang lagi Sersan yang datang membantu.

Setelah itu dia lenyap. Berhari-hari saya mencarinya. Saya ingin mengucapkan terimakasih atas bantuannya, saya ingin meminta maaf atas perlakuan kasar saya tatkala tak menjawab pertanyaannya di Ginza. Tapi anak muda itu lenyap seperti ditelan bumi.

Akhirnya dia saya temukan lagi dikota kecil Gamagori. Yaitu ketika saya akan menuju Kyoto. Ke tempat ayah saya.

Pertemuan itu nampaknya ditakdirkan Tuhan memberatkan saya. Artinya, saat itu saya kembali harus menerima budi baiknya. Saya diganggu oleh kawanan bajingan yang menamakan dirinya Kumagaigumi. Saya hampir lagi diperkosa, ketika tiba-tiba saja, seperti malaikat dari langit, dia membantu saya. Di kota kecil itu dia lagi-lagi harus menyambung nyawa untuk membela saya. Kumagaigumi bukannya sembarang komplotan. Mereka mempunyai tukang sembelih dan ahli-ahli samurai.

Michiko berhenti bercerita. Dia menunduk. Seperti mengumpulkan kembali kenangan masa lalunya. Salma mendengar dengan diam. Menanti lanjutan cerita Michiko dengan diam saja.

Michiko menolehkan pandangannya ke laut. Di laut, malam telah turun. Cahaya lampu kapal, seperti sejuta kunang-kunang bertebaran. Cahayanya dibiaskan oleh laut yang tenang. Malam itu benar-benar malam yang romantis. Tapi tidak bagi kedua wanita cantik yang duduk ditepi taman tersebut.

“Tapi…” Michiko melanjutkan lagi ceritanya…’ dia kembali memenangkan perkelahian itu. Saya demikian takut kehilangannya…. Saya akhirnya tahu, bahwa saya mencintainya. Saya tak ingin kehilangan dirinya. Oh, alangkah janggalnya terasa bukan? Namun itulah yang saya rasakan. Kami sampai di Kyoto. Saya ingin memperkenalkannya dengan ayah saya. Ayah saya menjanjikan suatu malam sukuran dengan mengundangnya. Saya begitu bahagia. Ayah tahu, meskipun tak pernah saya ucapkan padanya, bahwa saya mencintai anak muda itu. Oh, engkau tentu pernah merasakan bahagia seperti yang saya rasakan itu, Salma. Namun, segalanya lenyap begitu cepat. Begitu memilukan. Begitu menyakitkan.

Saya tak perlu mengenalkan dirinya pada ayah saya. Suatu hari dia datang sendiri ke kuil Shimogamo. Yaitu kuil dimana ayah saya menjadi pimpinan para pendeta. Dan mereka berhadapan. Dan tahukah engkau Salma, musuh besar yang dia cari itu, yang telah membunuh keluarganya, yang bernama Saburo Matsuyama itu, adalah ayah saya. Ayah kandung saya.

Ayahku. Ayahkulah yang telah memperkosa kakaknya. Yang telah membunuh ayah dan ibunya. Dan….dan mereka lalu bertarung…” Michiko berhenti. Dadanya sangat sesak. Dia menangis terisak. Salma memegang bahunya.

“Sebenarnya dia dengan mudah membunuh ayah. Tapi itu tak dilakukannya. Dia meninggalkan ayah demikian saja. Yaitu disaat dia hanya tinggal menghentakkan samurainya saja. Tak seorangpun diantara pendekar-pendekar samurai yang ada di kuil itu yang mampu menolong kalau dia mau membunuh ayah. Semuanya dia kalahkan. Bahkan enam orang telah dia bunuh ketika mereka berniat menolong ayah. Dan, ayah bunuh diri dengan harakiri….” Dia menangis.

Tanpa dapat ditahan, Salma juga menitikkan air mata. Dia dapat merasakan, betapa hancurnya hati Michiko. Michiko menyandarkan kepalanya ke bahu Salma.

“Dan esoknya, ketika pemakaman ayah, dia hadir. Saya menantangnya untuk berkelahi. Dia tetap berdiam diri. Saya melukainya. Dia tetap diam. Dan berbulan-bulan setelah itu, saya berlatih samurai. Saya tahu, dia adalah seorang samurai yang tak ada duanya saat ini. Siapa pula orang di Jepang sana yang mampu mengalahkan ayah, seorang samurai tersohor dari keluarga Matsuyama yang disegani? Dan diatas segalanya itu, siapa pula yang sanggup melawan Zato Ichi. Pendekar legendaris dari masa lalu yang dipuja itu? Hanya dia. Ya, hanya Si Bungsu yang sanggup melakukannya.

Dengan Zato Ichi dia memang tak pernah berkelahi secara langsung. Namun pendekar buta itu sendiri mengakui, bahwa dia takkan menang kalau berkelahi melawan Si Bungsu. Namun saya harus menghadapinya. Harus!

Kalau dia berhak mencari pembunuh ayah dan ibunya sampai ke Jepang, apakah saya tak berhak mencari pembunuh ayah saya sampai ke Indonesia?

Baginya, atau bagi semua orang, kematian ayah saya barangkali memang sudah begitu. Mati karena dosanya. Tapi tidak bagi saya, bagi saya kematian ayah saya harus saya tuntut. Kalau tidak, bukankah saya menjadi anak yang tak membalas guna?

Betapa besarpun dosa yang telah diperbuat ayah kepada orang lain, tapi kepada saya dia sangat sayang.

Dia tetap ayah saya. Dan sebagai seorang anak, kewajiban saya membelanya.

Michiko berhenti bercerita. Berhenti menangis. Kemudian mengangkat wajahnya dari dada Salma.

Menatap Salma dengan pandangan menyelidik.

Lalu bertanya :

“Engkau adalah orang yang pernah mencintainya. Apakah saya bersalah kalau saya mencarinya untuk membalas dendam padanya?”

Salma menggeleng perlahan.

Dan geleng kepalanya membuat Michiko menangis lagi.

“Saya mencintainya, Salma. Saya tahu, engkau juga mencintainya….”

“Tidak, Michiko. Barangkali saya memang benar mencintainya. Tapi cinta saya hanya sebagai sahabat. Sebagai seorang adik kepada kakak. Saya telah bersuami. Telah punya anak. Merekalah yang saya cintai kini…” “Ya. Saya tahu. Dan itu pulalah yang saya alami, Salma. Saya memang masih mencintainya. Tapi cinta

saya hanya sebagai bekas seorang kekasih. Sementara cinta yang dahulu telah bertukar dengan dendam. Saya…saya ingin membunuhnya….”

Salma tak berkata. Dia tak yakin bahwa gadis itu akan membunuh Si Bungsu. namun dia tak menyatakannya.

“Hari sudah malam. Bagaimana kalau kita pulang?”

Michiko tersadar. Perlahan menghapus airmatanya. Kemudian mereka bersiap untuk pulang.