Tikam Samurai Si Bungsu Episode 3.3

Si Bungsu masih menanti beberapa saat. Kemudian setelah yakin rumah itu bakal dilahap api seluruhnya, dia lalu berjalan keluar dengan tenang. Membuka pintu pagar. Kemudian dia masih harus berjalan beberapa ratus meter baru sampai di jalan Gagak Selari Timur. Di jalan itu baru ada taksi lewat. Dia menyetop taksi. Kemudian kembali ke hotelnya.

Gadis Cina pemilik hotel Sam Kok di daerah Anting itu kaget melihat dia muncul. Dari kaget wajahnya berobah sangat gembira. Dia lantas meninggalkan buku dan tamunya yang akan menginap. Berjalan bergegas ke arah Si Bungsu. Tamunya dua orang dari Australia, menganga saja ditinggalkan gadis itu.

“Hei, kami bagaimana, ada kamar atau tidak..” kedua orang Australia itu berseru. Tanpa menoleh gadis cantik dengan lesung pipit di kedua pipinya itu balas pula berseru :

“A Bun! Layani orang itu…”

Dari belakang muncul seorang lelaki Cina yang lain. Dialah A Bun yang di panggil gadis itu.

“Tuan ingin menginap disini?” tanya A Bun. Tapi kedua orang Australia itu masih memandang pada gadis cantik yang telah meninggalkannya itu.

“Itu suaminya?” salah seorang bertanya sambil memonyongkan mulutnya ke arah Si Bungsu. A Bun menggeleng.

“Tunangannya?”

A Bun menggeleng. “Pacarnya…?” A Bun menggeleng.

“Apakah orang itu adalah orang yang menginap disini?” Kali ini A Bun mengangguk.

“Kalau demikian, nona itu harus melayani kami juga. Dia harus adil melayani tamu. Jangan berat sebelah…”

“Tuan mau menginap disini atau tidak..?” A Bun bertanya kesal. “Yes. Yeslah. Yeslah…”

A Bun lalu mencatat nama mereka. Tapi mata kedua orang Australia itu tak pernah lepas dari tubuh gadis Cina cantik itu. Pada pinggulnya yang sintal. Pada dadanya yang ranum. Pada lesung pipit dan senyumnya yang membuat kepala pusing tujuh keliling.

“Anda luka…” suara gadis itu terdengar perlahan begitu dia tegak di depannya. Si Bungsu menatap pada lukanya. Kemudian pada gadis itu. Lalu mengangguk perlahan.

“Anda berkelahi dengan mereka..?” Si Bungsu menggeleng.

“Lalu kenapa kaki dan tangan anda luka begini..?’ “Digigit kerbau…”

Gadis itu menatap heran pada Si Bungsu. Si Bungsu menatap pula padanya. Akhirnya gadis itu tersenyum. Manis sekali dengan lesung pipit di pipinya.

“Kenapa senyum. Ada yang lucu?” “Ya..”

“Apa..?”

“Tentang kerbau itu” “Apanya yang lucu?”

“Bukankah kerbau yang menanduk anda itu adalah kerbau yang datang kemari pagi tadi?”

Dia melangkah masuk. Gadis itu mengiringkan. Tapi sampai di loby, kedua lelaki Australia tadi memegang tangan gadis itu. Gadis itu menyentakkan tangannya.

“Hei, kamu harus menunjukkan mana kamar kami, nona..” “Ngomong ya ngomong. Tapi tangannya jangan getayangan ya!” “Oho-ho! Galak benar si cantik ini. Siapa namamu upik?”

Yang berjambang lebat dan bermata coklat berkata sambil mencowel pipi gadis itu tentang lesung pipitnya. Namun gadis itu mengelak. Dan orang Australia itu mencowel angin.

“Tuan kalau tidak sopan, silahkan meninggalkan hotel ini..” Kedua orang itu berpandangan. Kemudian tertawa.

“Ah, maafkan. Kami adalah orang yang paling sopan upik. Tentu kami berbaik-baik. Nah, kini tunjukkan dimana kamar kami…”

Gadis itu memberi tanda pada A Bun, dan A Bun membawa kunci berjalan ke belakang lewat gang yang dialas perlak berwarna merah. Kedua lelaki itu mengikuti sambil melemparkan senyum cengar-cengirnya pada gadis tersebut.

Gadis itu menoleh pada Si Bungsu. Tapi anak muda itu sudah tak ada lagi. Dia sudah sampai di kamarnya di lantai dua. Disana dia membuka pakaian. Kemudian dengan kelelahan yang tak tertanggungkan dia membaringkan diri setelah meletakkan dokumen tentang sindikat perdagangan wanita itu di dalam kopernya di lemari.

Sesaat setelah dia membaringkan diri, kepalanya terasa berdenyut. Lelah dan kantuk menyerang dengan hebat. Rasa sakit menghentak-hentak. Dan entah mana yang datang duluan, entah tidur entah pingsan. Yang jelas, sepuluh atau sebelas detik setelah dia meletakkan kepalanya di bantal diapun tak sadar diri.

Dan dalam tak sadar dirinya, Salma dan Mei-mei seperti datang merawatnya. Kemudian Hannako dan Michiko. Dia sangat gembira atas gadis-gadis itu. Namun itulah mimpi yang paling buruk seumur hidupnya.

Dia tersadar. Membuka mata perlahan. Yang membuat dia bangun adalah rasa lapar yang tak tertanggungkan. Kepalanya masih terasa berat. Ada bayangan samar-samar. Kemudian ketika dia membiasakan matanya dari cahaya terang. Dia jadi kaget melihat siapa yang di depannya. Dia berusaha bangkit. Namun tangan halus dari gadis yang duduk disisinya mencegahnya dengan halus. Dan gadis itu tersenyum. Dua lesung pipit segera saja membayang dipipinya yang montok.

“Anda harus banyak istirahat….tetaplah tenang…”

Si Bungsu menggelengkan kepala perlahan. Mencoba mengusir rasa pening dan bayangan mimpi yang tak menentu. Dia memandang ke jendela.

“Hari sudah sore…” katanya perlahan.

“Ya. Dua kali sore. Anda bermimpi banyak sekali…” gadis itu tersenyum lagi. Si Bungsu menarik nafas, kemudian ketika ingat pada lukanya, dia melihat ke pahanya. Namun pahanya tertutup selimut. Dia buka selimut tentang bahunya. Bahunya telah terbalut kain. 

“Obatnya telah diganti ayah saya. Ayah punya obat tradisional yang ampuh. Hari ini anda sudah bisa bangkit dan bisa ditanduk kerbau lagi. Lihatlah…!” berkata begitu, gadis tersebut menusuk luka di bahu Si Bungsu. Si Bungsu yang semula kaget, jadi terheran-heran. Bekas luka di bawah balutan kain itu tak merasa apa-apa lagi.

Dia menatap gadis itu.

“Ya. Sudah sembuh. Kami memiliki obat-obatan yang dibawa ayah dari daratan Tinggoan di Tiongkok. Kampung kami terkenal dengan tabib-tabib yang masyhur. Ayah saya termasuk salah seorang diantara tabib yang masyhur itu….nah, anda pasti lapar. Dua hari tak makan bukan?”

Si Bungsu akhirnya menyerahkan dirinya pada kehendak gadis itu. Dia disuapkan oleh gadis dengan bubur ayam yang bukan main nikmatnya terasa.

Pada sendokan kedua puluh empat, Si Bungsu berhenti. Dia menatap gadis itu tepat-tepat. “Ada apa? Ayo, tinggal lima atau enam sendok lagi…”

“Anda baik sekali nona. Kenapa anda mau bersusah-susah membantu saya?”

“Ah, sudah kewajiban saya membantu tamu yang menginap di hotel saya bukan? Anda tamu saya..” “Anda berbuat baik pada setiap tamu?”

“Ya. Harus begitu bukan?”

Si Bungsu mengangguk. Dia tersenyum.

“Kenapa tersenyum segala, ada yang lucu?” tanya gadis itu.

“Tidak. Hanya saya sedang memikirkan, alangkah repotnya anda waktu menyuapkan kedua tamu orang asing yang mencowel pipi anda tempo hari…”

Muka gadis itu bersemu merah. Dia menunduk malu. Benar-benar gadis yang cantik. “Apakah anda menyuapkan semua tamu anda?’ Si Bungsu menggoda lagi.

“Ya. Kami menyuapkan mereka semua. Tapi bukan saya yang bertugas. Untuk menyuapkan tamu-tamu yang lain, saya menyuruh a Bun, pembantu saya…”

Dan Si Bungsu tertawa mendengar gurau ini. Gadis itu juga tertawa. Aneh, mereka seperti sudah menjadi teman akrab.

“Hei, nama saya telah anda ketahui. Tapi saya belum mengenal nama anda. Apakah anda punya nama?” Si Bungsu bertanya lagi setelah menelan bubur yang disendokkan gadis itu.

“Apakah itu perlu?”

“Tentu. Bagaimana saya akan memanggil nona. Apakah cukup dengan si lesung pipit saja?”

Gadis itu tersipu lagi. Menunduk, dan menatap pada Si Bungsu dengan matanya yang indah. Rasanya Si Bungsu ingin sakit seratus tahun lagi.

“Nama saya Mei-mei…” suara gadis itu terdengar perlahan.

Namun ditelinga Si Bungsu suara menyebutkan Mei-mei itu bukan main dahsyatnya. Dia terbatuk. Wajahnya jadi pucat. Gadis itu kaget. Memegang kepala Si Bungsu. Menyangka panas dan penyakit anak muda itu kambuh lagi. Ketika kepala anak muda itu tak apa-apa, dia mendekapkan telinganya kepada Si Bungsu yang tak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan saja gadis itu seperti dokter memeriksa pasiennya.

“Hei. Jantung anda tak normal. Terlalu kencang degupnya. Ada apa?”

Si Bungsu tak dapat menjawab sekalimatpun. Dia menatap gadis itu dengan tatapan tak menentu. Gadis itu bangkit. Mengambil sebuah tablet berwarna coklat di meja.

“Nah, minumlah ini, tablet ini bisa menenangkan anda. Degup jantung begitu bisa membuat anda sakit jantung…” gadis itu berkata sambil menoyongkan tablet itu kedekat mulut Si Bungsu.

Busyet!

Si Bungsu menggeleng.

“Saya memang telah sakit jantung nona. Kalimat-kalimat anda membuat saya putus-putus..” Gadis itu mengerutkan kening. Tersenyum. Dia tak mengerti apa yang diucapkan Si Bungsu. “Saya tak begitu mendengar anda menyebutkan nama anda tadi. Dapatkah nona ulangi kembali?” Si Bungsu meminta dengan harapan bahwa dia salah dengar.

“Nama saya Mei Ling. Tapi panggilan saya Mei-Mei..”

Si Bungsu terbatuk lagi. Kemudian matanya terpejam. Nafasnya memburu. Dan lagi-lagi gadis itu meraba kepalanya. Mendekapkan telinganya ke dada Si Bungsu. Waktu dia berbuat begitu, tubuhnya dibahagian atas menelungkup diatas tubuh Si Bungsu. Terang saja debur darah dan detak jantung Si Bungsu seperti deru lokomotif yang mendaki lembah Anai.

“Hei. Anda sakit jantung?”

“Tidak. Jantung saya tak sakit. Tapi sudah pecah!”

Gadis itu tertawa dan mencubit tangan Si Bungsu. Dan mau tak mau, anak muda itu terpaksa ikut nyengir.

“Nah, untuk merekat kembali jantung anda yang pecah itu, minumlah obat ini” gadis itu menyorongkan tablet itu lagi. Karena Si Bungsu tetap saja tak membuka mulut, maka tablet itu disumbatkannya ke bawah bibir Si Bungsu!

Si Bungsu seperti orang memakai sugi. Bibir atasnya membengkak. Dan dia merasa lucu. Mau tak mau dia tertawa lagi. Gadis itu juga ikut tertawa renyai. Kemudian meminumkan Si Bungsu air dari cawan putih.

“Bagaimana kalau saya memanggil dengan Mei Ling saja?” Si Bungsu menawarkan kemungkinan lain pada gadis itu. Sebab bagaimana dia akan bisa menyebut nama Mei-Mei sementara nama itu adalah gadis yang dia cintai buat pertama kalinya. Dan gadis itu mati sebelum mereka menikah di mesjid kecil di Tarok dahulu.

“Seharusnya orang memanggil saya dengan sebutan itu. Tapi karena sejak kecil saya dipanggil Mei-Mei, maka saya seperti tak mengenal lagi nama Mei Ling itu. Jadi kalau anda memanggil saya dengan nama itu, barangkali saya takkan menyahut”

Aduh mak, mati awak, Si Bungsu mengeluh.

“Apakah anda tak menyukai nama Mei-Mei?” tiba-tiba gadis itu bertanya. Dan pertanyaan ini terang saja membuat jantung Si Bungsu rengkah-rengkah. Seperti tanah sawah dihantam panas terik bertahun-tahun.

“Tidak. Ya. Eh, anu…suka. Suka, kenapa tidak. Mei-Mei…hmm, bukankah itu nama yang indah. Namanya indah, orangnya cantik…” Si Bungsu ngomong asal ngomong saja. Soalnya hatinya tak menentu.

Mei-Mei tersenyum lagi. Lalu tegak membereskan meja dan piring mangkuk bekas makan Si Bungsu. “Hei, anda banyak sekali memiliki Samurai. Ada yang besar dan enam buah yang kecil. Lalu ini, dalam

kopor anda ada enam buah lagi samurai kecil. Nampaknya anda seperti bersiap untuk sebuah pertempuran..”

Suara gadis itu mengejutkan Si Bungsu. Dia melihat tangan kiri dan kanannya. Dua hari yang lalu, ketika akan berbaring, dia lupa membuka ikatan samurai-samurai kecil di lengannya. Kini samurai itu tak ada lagi ditangannya. Dan tidak hanya itu, bajunya juga sudah ditukar. Pastilah gadis itu yang telah menukarkan bajunya, dan membuka samurai kecil-kecil itu.

“Dimana anda letakkan samurai kecil-kecil itu…?”

“Ada di bawah bantal. Saya rasa anda memerlukannya…” gadis itu kemudian meninggalkan kamar itu setelah melemparkan sebuah senyum.

Si Bungsu menarik nafas. Alangkah panjang dan berlikunya jalan yang dia tempuh. Mei-Mei!

Mei-Mei nama gadis itu. Mana mungkin ada orang yang serupa. Dan mana mungkin dia bisa ketemu lagi dengan orang yang memiliki nama yang sama dengan nama kekasihnya yang mati diperkosa Jepang itu?

Mei-Mei gadis cina yang nyaris kawin dengannya dahulu adalah gadis yang juga merawat luka-luka yang dia derita tatkala usai dari perkelahian dengan Jepang di sebuah rumah pelacuran di Payakumbuh.

Kini, Mei-Mei yang ini juga merawat luka-luka yang dia derita dari sebuah perkelahian. Ah, dia seperti berulang-ulang menikam lagi jejak yang telah dia lalui.

Perlahan dia coba untuk bangkit. Luka bekas tembakan di paha dan dilengannya tak terasa lagi. Namun ada yang terasa, yaitu rasa penat yang menyerang.

Dia ingin tidur, ingiin sekali. Namun diantara rasa kantuknya yang menyerang. Lambat-lambat dia mendengar suara langkah. Suara pintu ditutupkan. Kemudian suara bergumul. Dia tengah berbaring ketika pikirannya berjalan dan memikirkan apakah yang tengah terjadi. Suara apakah itu? Pikirnya.

Dan dirinya terserang oleh dua keinginan yang saling tindih. Antara keinginan untuk tidur dengan keinginan untuk mengetahui ada apa di luar. Tapi ini hotel, apa saja bisa terjadi, pikirnya pula sambil coba memicingkan mata.

Namun suara perempuan yang tertahan, seperti sedang disekap mulutnya, membuat Si Bungsu tertegak tiba-tiba. Suara Mei-Mei kah itu, pikirnya. Dan dengan pikiran demikian dia segera saja menuju ke luar. Pintu kamarnya dia buka. Memandang ke lorong di depan kamar-kamar yang berderet di tingkat dua hotel itu. Lengang!

Tak ada apa-apa. Namun suara apakah sebentar ini yang terdengar olehnya? Dia tatap lagi lorong di depan kamar-kamar hotel itu. Lengang!

Perlahan dia masuk lagi. Menutupkan pintu. Kemudian tegak dibalik pintu itu dengan diam. Dia berkonsentrasi. Kalau dahulu di rimba gunung Sago, dia selalu dapat mendengarkan bunyi ular yang menjalar sekitar dua puluh meter dalam hutan dari dirinya, mengapa kini konsentrasi yang sama tidak dia lakukan?

Beberapa detik setelah dia konsentrasi, dia segera saja dapat mendengar suara orang bergumul. Tiga kamar di sebelah kiri kamarnya memang tengah terjadi pergumulan. Dan yang bergumul adalah ketiga orang Australia yang menginap disana. Yang datang ketika Si Bungsu kembali dalam keadaan luka-luka tiga hari yang lalu.

Ke tiga orang Australia itu, adalah bekas tentara Sekutu dalam perang Dunia ke II yang baru saja berakhir. Mereka bekas anggota Raider Divisi III yang bertugas di India ketika Kemerdekaan RI diproklamirkan. Dan sebagai bekas tentara, bekas raiders pula, mereka adalah orang-orang yang mahir dalam perkelahian.

Tadi ketika Mei-Mei berada dalam kamar Si Bungsu, mereka sudah mengintai di luar kamar. Dan begitu gadis itu keluar serta menutupkan pintu, merekapun menyergapnya. Menyeretnya ke kamar mereka. Gadis itu coba meronta. Menggigit. Menjerit. Namun mulutnya tak pernah bisa sempat untuk menjerit. Yang keluar hanyalah suara-suara tertahan. Dia langsung dibawa ke kamar ketiga bekas Raiders itu. Dibaringkan di tempat tidur.

Tangannya dipegangi. Mulutnya disekap. Dia meronta, dan akibatnya pakaiannya tersingkap hingga ke perut. Ketiga bekas tentara itu melotot matanya melihat paha dan perut Mei-Mei yang alangkah mulus dan putihnya.

Yang seorang tak sabar lagi. Dia menerkam mencium Mei-Mei. Gadis itu menerjangnya. Kena kepala. Dia terpental ke bawah tempat tidur. Lelaki itu menyeringai. Senang juga dia kena hantam jidatnya. Dia bangkit lagi.

Sementara kedua temannya yang lain sudah menggerayangi tubuh gadis itu dengan tangan mereka. Pakaian gadis itu sudah sempurna terbuka. Kini yang membalut tubuhnya hanya sehelai celana dalam yang amat kecil. Sementara tubuh bagian atasnya tak tertutup sedikitpun. Dan kesanalah tangan ketiga bekas serdadu perang dunia ke II itu menggerayang silih berganti.

Gadis Cina itu menerjang-nerjang. Mencakar-cakar. Dia tidak bisa bersuara. Karena mulutnya disekap oleh salah seorang diantara mereka. Namun terjang dan rontaan tubuhnya justru membuat menaiknya nafsu ketiga bekas serdadu Australia itu. Karena meronta ingin melepaskan diri, pinggul gadis itu naik turun. Menggeliat kekiri dan kekanan. Dan gerakkan itu merangsang ketiga lelaki tersebut.

Mereka tengah menikmati gerak merangsang pinggul gadis yang hanya tertutup celana kecil itu ketika pintu tiba-tiba terbuka. Ketiga bekas serdadu itu menoleh. Dan mereka melihat dipintu berdiri anak muda yang beberapa hari yang lalu dilayani dengan baik oleh gadis Cina itu.

“Hei! Giliranmu sudah cukup lama bukan? Engkau sudah cukup puas. Kini giliran kami. Nah, pergilah. Jangan mengganggu..” suara yang pakai brewok dan bermata coklat terdengar serak. Sementara tangannya tak pernah lepas dari dada gadis itu.

Si Bungsu, yang tegak di pintu itu, tiba-tiba merasa perutnya mual melihat tingkah ketiga orang ini. “Lepaskan dia…!” suaranya terdengar datar dengan wajah tenang seperti danau yang tak beriak.

Namun mama mau ketiga orang itu melaksanakan perintahnya. Mereka justru melanjutkan pekerjaan tangan mereka.

“Lepaskan dia. Atau kalian saya bunuh…!” ketiga lelaki itu benar-benar terhenti. Bukan karena takut dibunuh, tidak. Bagaimana mereka akan takut kena gertak meski gertak bunuh sekalipun? Ah, mereka sudah kenyang akan pembunuhan. Bukankah mereka bekas balatentara sekutu yang bergelimang elmaut di India? Ah, mereka tak pernah takut menghadapi maut.

Tapi mereka terpaksa berhenti karena nada suara anak muda itu. Nadanya dingin dan menegakkan bulu roma. Tidak besar mengguntur. Tidak pula diucapkan dengan nada marah. Namun dalam nada yang perlahan itu tersimpan bahaya yang alangkah mengerikannya. Dan itulah yang menyebabkan mereka berhenti.

Mereka tak mengenali siapa anak muda ini. Namun ada firasat yang membisiki diri mereka, bahwa yang mereka hadapi sekarang ini adalah bahaya yang luar biasa. Perlahan mereka melepaskan gadis itu. Perlahan mereka tegak. Perlahan mereka turun dari pembaringan. Namun ketika Mei-Mei akan berlari dari tempat tidur itu ke arah anak muda tersebut, yang brewok menamparnya keras sekali. Gadis itu terjerembab pingsan.

Namun lelaki brewok itu dengan perbuatannya itu telah menentukan saat kematiannya. Karena begitu selesai menampar Mei-Mei, dia lalu berputar menghadap pada Si Bungsu. Dan saat itu pula tangan Si Bungsu menyerang. Samurai dilengannya lepas, jatuh dan disambut oleh jari-jarinya. Kemudian dengan sebuah ayunan yang sangat cepat, samurai kecil itu terbang ke arah si Brewok.

Tak seorangpun yang tahu persis apa yang telah terjadi. Sebab tahu-tahu si brewok mengeluh. Kemudian jatuh terlentang ke lantai. Dan persis diantara kedua matanya yang coklat itu, tertancap hulu samurai kecil. Darah mengalir sedikit membasahi matanya yang terbuka. Mulutnya ternganga. Nyawanya terbang mengirap! Kedua temannya terbelalak. Menatap pada Si Bungsu. Anak muda itu masih tegak dengan diam dan menatap pada mereka dengan tatapan mata yang dingin. Kedua lelaki ini adalah tentara yang telah terbiasa dengan bahaya. Namun menghadapi ketenangan anak muda yang satu ini, dalam keadaan damai pula, mereka

tak bisa menyembunyikan rasa kaget dan takut.

Tapi itu hanya sesaat. Dan saat berikutnya, terdorong oleh rasa superior orang-orang barat, merasa diri mereka lebih mampu dan lebih kuat dari orang-orang Melayu yang dianggap ketinggalan dalam segala hal, yang bertubuh besar dengan otot kekar, mirip tukang jagal, maju menyerang Si Bungsu.

Dia menyerang dengan pukulan. Namun Si Bungsu sudah waspada. Dia mengelak tepat pada waktunya. Pukulan bekas tentara Australia itu menerpa pintu dimana tadi kepala Si Bungsu berada. Pintu itu berdebrak. Dan anjlok sebesar kepalan tangan orang itu!

Bekas tentara itu menarik tangannya kembali. Dan tanpa membayangkan rasa sakit sedikitpun, dia menyerang lagi!

Si Bungsu mengelak. Tapi orang Australia yang satu lagi, yang tadi hanya tegak diam, tiba-tiba mendorong Si Bungsu dari belakang. Akibatnya elakan Si Bungsu tak terkontrol. Pukulan maut itu mendarat di wajahnya! Prakk!! Ada rasa asin dimulutnya. Ada cairan hangat meleleh dihidungnya.

Dia membuka mata. Aneh, tiba-tiba saja dia mendapatkan dirinya diatas tempat tidur. Melingkar diujung sebelah ke dinding. Tiga depa dari bekas serdadu yang tadi memukulnya! Kalau demikian, ternyata dia telah terpental sejauh itu akibat pukulan tersebut. Dan Si Bungsu tak merasa heran. Dia memang yakin bahwa demikianlah kejadiannya, makanya dia sampai ke pembaringan ini!

Dia menggelengkan kepala. Merangkak di pembaringan.

“Babi, sok jago koe disini…!” yang memiliki kepalan seperti godam itu menyumpah sambil mendekat ketempat tidur. Dia menjangkaukan tangannya yang berotot besi bertulang kawat itu kearah tengkuk Si Bungsu. namun saat itu pula, Si Bungsu bertelekan ke kasur. Lalu kakinya menyorong kebawah perut, langsung ke dada bekas tentara itu.

Tendangan dengan jurus silat ini menerpa dada tentara tersebut.

Dan tubuhnya besar terjajar kedinding. Sebelum dia sadar sepenuhnya Si Bungsu melompat turun. Kini mereka tegak berhadapan. Bekas tentara itu maju lagi dan cepat mengirimkan sebuah pukulan beruntun ke kepala dan ke dada Si Bungsu.

Secara reflek, Si Bungsu menjatuhkan tangannya ke lantai. Dan secara reflek pula kaki kanannya menerjang ke belakang dalam bentuk sebuah cuek yang kuat sekali.

Orang Australia itu seperti dihantam kerbau besar. Perutnya kena sepak belakang yang telak. Matanya juling. Dia melosoh ke lantai. Yang satu lagi menyerang dari samping. Namun Si Bungsu menyambutnya dengan sebuah tendangan telak menyamping. Sebuah tendangan mirip-mirip Kekomi dari jurus karate. Bekas tentara itu tersentak kebelakang. Namun dia menyerang lagi dengan sebuah pukulan. Si Bungsu mengelak, dan saat berikutnya dia balas memukul dengan cepat. Kepalannya masuk ke bawah hidung tentara itu. Terdengar suara berderak. Hidung orang itu remuk. Darah mengucur.

Tapi tanpa dia sadari, si kekar besar yang tadi melosoh ke lantai bangkit diam-diam. Dan disuatu kesempatan, dia memiting leher Si Bungsu dari belakang secara tiba-tiba. Nafas Si Bungsu jadi sesak. Melihat anak muda ini tersekap begitu, yang kena hantam hidungnya tadi segera mendekat dan mengirimkan sebuah pukulan ke perut Si Bungsu. Si Bungsu merasa perutnya akan pecah. Namun ketika orang itu akan melancarkan pukulan kedua, kakinya dia hantamkan ke kerampang bekas tentara itu. Suara tak sedap terdengar dan bekas tentara itu melolong sambil kedua tangannya memegang kerampangnya. Dia meringkuk dan melingkar di lantai.

Pada saat itu pula, dengan menghimpun sisa tenaganya, Si Bungsu membungkuk dengan cepat. Karena tubuhnya membungkuk tiba-tiba itu, bekas serdadu yang memitingnya dari belakang jadi terangkat tubuhnya. Si Bungsu meneruskan gerakan itu. Dan tanpa dapat dikontrol, orang Australia bertubuh kekar itu terbanting ke lantai di depan Si Bungsu. Si Bungsu menarik nafas panjang. Mengatur lagi pernafasannya yang

seperti akan meledak dipiting tadi.

Lalu ketika orang itu tengah merangkak bangkit, dia menendang pelipisnya dengan kuat. Bekas tentara itu tercampak lagi ke lantai. Namun dia benar-benar ulet, dia merangkak lagi bangkit. Si Bungsu membiarkannya untuk coba bangkit. Ketika lelaki itu belum begitu sempurna tegaknya, dia menendang kerampang tentara Australia itu.

Terdengar suara berderak. Mata bekas tentara itu membelalak. Tangannya seperti tangan temannya tadi, memegang kerampangnya. Mulutnya mengeluh. Dan tubuhnya rubuh. Ketika dia rubuh, temannya yang kena tendang duluan tengah berusaha bangkit. Namun Si Bungsu menendang rusuknya. Dan lelaki ini rubuh lagi. Kini keduanya tak bergerak. Pingsan!

Si Bungsu tegak. Menghapus darah yang masih meleleh dari hidung dan bibirnya akibat pukulan tadi.

Lalu menoleh pada Mei-Mei yang masih terbaring pingsan. Tubuh gadis itu hampir telanjang. Dia mengambil selimut. Menutupkannya ke tubuh gadis itu. Kemudian mengangkatnya keluar.

Peritiwa itu segera saja membuat heboh. Polisi datang memeriksa. Mei-Mei dan beberapa saksi yang kebetulan mengintip ketika kejadian itu menceritakan bahwa bekas tentara Australia itu mati karena akan memperkosa Mei-Mei. Yang membunuhnya adalah seorang anak muda dari Indonesia.

Tapi ketika pintu kamar anak muda itu dibuka, dia tak ada lagi disana. Si Bungsu tahu bahwa pembunuhan di kota besar seperti Singapura ini tak akan didiamkan begitu saja. Makanya dia cepat-cepat menyingkir dari hotel Sam Kok itu. Di meja dia tinggalkan uang sewa penginapan.

Mei-Mei merasa matanya basah begitu mengetahui bahwa anak muda itu telah meninggalkan hotelnya.

Dan peritiwa itu ternyata dipeti-eskan. Sebab, bagi pejabat Singapura, adalah rumit juga menuntut kedua bekas tentara Sekutu yang masih hidup itu ke pengadilan.

Namun Si Bungsu tak pergi jauh. Hanya berjarak seratus meter di kiri hotel Sam Kok itu ada lagi hotel bernama International. Hotel itu kecil saja, meski mereknya International namun di dalamnya serba brengsek. Si Bungsu memilih hotel itu hanya karena letaknya yang strategis. Berada tepat di depan jalan yang menuju dermaga di pelabuhan.

Dari balik jendela kamarnya dia bisa langsung melihat ke dermaga. Melihat orang-orang yang lalu lalang. Melihat mobil yang keluar masuk. Dan di hotel International yang brengsek itulah dia mempelajari lagi dokumen tentang sindikat perdagangan wanita-wanita itu.

Dari dokumen itu dia melihat bahwa di Jakarta ada beberapa nama dengan jabatan-jabatan resmi di beberapa departemen. Ada pula beberapa nama yang kerjanya adalah pedagang. Overste Nurdin nampaknya telah menyelidiki hal ini sampai mendetail.

Hanya saja, ketika dia akan mulai bertindak tubuhnya diberondong peluru. Dan ingatan itu segera menyadarkan Si Bungsu pada keadaan Nurdin. Bagaimana temannya itu kini? Sudah beberapa hari ini dia tak datang ke gedung Konsulat untuk menengoknya.

Dia segera berkemas. Menyimpan dokumen itu dan mengunci kamar. Kemudian dengan sebuah taksi dia berangkat ke Konsulat.

Di Konsulat dia mendapatkan Nurdin masih terbaring diam. Tubuhnya masih dipenuhi balutan. Salma menemani disana. Duduk dengan diam disisi pembaringan suaminya. Sementara Eka, anak mereka, duduk dipangkuannya.

“Sudah banyak angsurannya?” Si Bungsu bertanya perlahan. Salma mengangguk. “Sudah bisa makan?”

Salma mengangguk. Kemudian mereka sama-sama terdiam.

“Paman, apakah paman telah menangkap orang yang melukai ayah?” tiba-tiba gadis kecil itu bertanya. Si Bungsu menatap gadis kecil itu.

“Sudah. Mereka telah paman bunuh…” “Betul?”

“Betul..”

“Paman bunuh pakai apa? Pakai pistol seperti punya ayah?” “Tidak”

“Lalu pakai apa?”

“Mereka…mereka..” Si Bungsu terhenti. Akankah dia ceritakan terus terang pada gadis kecil ini? Dan dia menoleh pada Salma.

Salma juga tengah menatap padanya. Dan Salma yakin bahwa Si Bungsu memang telah membunuh orang yang menembak suaminya itu. Dia yakin benar akan hal itu.

Dan dia tahu, Si Bungsu pasti lah membunuhnya dengan samurai kecil itu. Dan Salma juga tahu bahwa Si Bungsu kesulitan dalam menjawab pertanyaan anaknya itu.

“Dengan pisau” Si Bungsu berkata perlahan.

“Dengan pisau..?” gadis kecil itu mengerutkan keningnya. “Ya. Dengan pisau.”

“Apakah orang bisa mati karena pisau?” “Bisa”

“Ah. Tapi orang jahat itu matinya tentulah tak sesakit yang diderita ayah..” “Sakit. Malah dia jauh lebih menderita dari ayah Eka..” Si Bungsu menjelaskan. “Benar…?”

“Benar!”

Wajah anak itu berseri.

“Terimakasih paman. Eka akan ceritakan pada ayah kalau dia bangun nanti, bahwa orang jahat itu telah paman bunuh. Paman tidur disini saja malam ini ya? Kami selalu ketakutan. Malam tadi ada orang yang memanjat jendela. Ibu sampai berteriak ketika orang itu memecahkan jendela. Lihatlah, jendela itu masih pecah…” gadis kecil itu menunjuk ke jendela yang menghadap ke belakang.

Si Bungsu kaget mendengar cerita anak itu. Dia menoleh ke arah jendela yang disebutkan gadis kecil itu.

Dan benar saja, kaca jendela itu kelihatan ompong. Dia menatap pada Salma.

“Ya. Malam tadi ada orang masuk. Sekitar jam satu. Saya tak pernah tidur sebelum jam tiga. Saya duduk disini. Mendengar saya memekik, orang itu kaget sebentar. Kemudian nampaknya ingin masuk terus. Mungkin karena tahu saya sendirian disini. Tapi begitu penjaga yang berada di ruang sebelah masuk, dia lalu melompat lari.

Penjaga tak sempat memburunya. Orang itu melarikan diri dengan sebuah mobil yang tak sempat pula dikenali penjaga. Mobil itu parkir di lorong belakang konsulat ini..”

Salma mengakhiri ceritanya. Si Bungsu masih menatap dengan diam. Ada semacam ketegangan menjalar di pembuluh darah anak muda ini mendengar cerita itu.

“Barangkali orang itu berniat mencuri…” Salma berkata perlahan. Namun naluri Si Bungsu tak berkata demikian.

Ada sesuatu yang tak beres di gedung konsulat ini. Ucapan Nurdin seperti melintas lagi ketika overste itu baru kena tembak :

“Saya harap engkau meminta dokumen itu pada Salma. Bawa ke Jakarta. Jangan sampai tahu orang di konsulat bahwa dokumen itu ada padamu Bungsu. Bukannya saya tak percaya pada rekan-rekan di konsulat. Tapi….tapi…saya lebih suka dokumen itu berada padamu…”

Ada misteri dan rahasia yang terpendam dalam ucapan Ocerste Nurdin itu. Kenapa dia tak mempercayai dokumen itu pada seseorang di konsulat ini? Apakah ada diantara orang di konsulat yang ikut terlibat dalam sindikat perdagangan wanita internasional itu?

Tak ada petunjuk tentang hal itu dalam dokumen tersebut. Si Bungsu mengulangi membaca dokumen itu berkali-kali di hotelnya. Dia coba mencari petunjuk meski amat kecil sekalipun tentang keterlibatan orang di konsulat itu. Namun usahanya sia-sia.

Dalam dokumen itu hanya ada beberapa nama orang Melayu, Inggris, Keling dan Cina. Namun alamat mereka tak tertera jelas. Empat orang diantara mereka telah mati. Yaitu Cina gemuk seperti kerbau dan orang Inggris yang mati dimarkasnya empat hari yang lalu.

Lelah mencari petunjuk itu, Si Bungsu akhirnya memutuskan untuk mengintai gedung konsulat Indonesia itu malam ini. Siapa tahu, malam ini ada lagi orang yang berniat datang ke sana seperti malam sebelumnya.

Tak begitu sulit baginya untuk menemukan lorong di belakang gedung konsulat itu.

Di mulut lorong itu dia melihat seorang Melayu tengah menyapu jalan. Orang itu memakai topi lebar dari bambu, dengan baju dinas berwarna biru. Si Bungsu melewati orang itu.

Berjalan terus ke lorong yang cukup untuk dilewati sebuah sedan. Tiba-tiba dia melihat sebuah gudang kosong. Dia masuk kesana. Lalu bersiul panjang. Tukang sapu itu menoleh. Si Bungsu melambainya. Tukang sapu itu datang.

“Encik mau apak…?” tanyanya.

“Di dalam sana ada perempuan cantik tidur..” Si Bungsu berkata sambil menunjuk ke dalam. Tukang sapu itu mengerutkan kening. Kemudian berjalan ke arah yang ditunjukkan Si Bungsu.

Sampai di dalam dia mencari-cari. Tapi tak seorangpun yang dia lihat. Usahkan perempuan cantik, cacingpun tak ada yang tidur disana. Merasa dipermainkan, dia lalu menoleh pada Si Bungsu.

“Hei, encik jangan main-main ya. Mana perempuan cantek yang encik katakan itu…” Si Bungsu yang tegak sedepa darinya hanya tersenyum.

“Jangan senyum-senyumlah…” bentaknya berang.

Namun berangnya hanya sampai disitu. Sebab sebuah pukulan dengan sisi tangan tiba-tiba mendarat di tengkuknya. Tukang sapu itu melosoh jatuh.

“Maaf kawan. Saya ingin meminjam pakaianmu. Jadi engkau harus jadi perempuan cantik itu. Tidur disini…” Si Bungsu berguman sendiri sambil membukai pakaian dinas tukang sapu itu.

Kemudian tukang sapu itu dia ikat. Nah, kini dia mirip tukang sapu dengan segenap peralatannya. Dengan pakaian itu, dia bebas berada di lorong tersebut. Dia berjalan terus hingga melewati belakang gedung konsulat. Dia melihat jendela yang pecah itu kini telah diganti kacanya.

Dan dia melihat pula, bahwa gedung itu memang mudah untuk dipanjat dari belakang ini. Modelnya yang kuno, yang banyak variasi jendelanya, banyak bendul dan bahagian-bahagian yang menonjol membuat gedung itu mudah untuk dinaiki tanpa tangga pembantu. Artinya mudah bagi kaum pencuri.

Si Bungsu meneruskan langkahnya sambil sekali-sekali melayangkan sapunya ke sampah yang ada dilorong itu.

Seratus meter dari gedung konsulat itu lorong tadi tembus ke jalan besar. Jadi dari ujung dia masuk tadi ada jarak lima puluh meter baru sampai ke konsulat. Kemudian seratus meter dari konsulat sampai pula ke jalan besar.

Lorong ini merupakan jalan pintas dan bahagian belakang dari gedung-gedung besar lagi kuno yang ada di daerah itu. Merasa sudah cukup mengenal situasi. Si Bungsu balik lagi ke gedung kosong dimana tukang sapu tadi dia pukul sampai pingsan.

Tukang sapu itu masih meringkuk dengan kaki dan tangan terikat.

Tapi ternyata orang ini tidak pingsan lagi. Hal itu segera diketahui oleh Si Bungsu lewat suara dengkurnya yang berirama.

Ternyata pingsannya dia sambung dengan tidur lelap. Mungkin karena lelah bekerja, makanya tukang sapu ini tertidur.

Di luar gedung, hari berangkat gelap. Begitu lampu-lampu mulai menyala, Si Bungsu segera keluar gedung itu.

Dia memperhatikan lorong belakang itu dari ujung ke ujung sepi.

Apakah akan ada orang datang malam ini? Firasatnya mengatakan ada! Cuma dia ragu, apakah orang itu akan datang lewat pintu belakang ini atau lewat…

Dia seperti tersentak. Lewat pintu depan, pikirnya. Ya, kalau benar ada orang konsulat yang terlibat dalam sindikat ini, maka bukannya tak mustahil bahwa orang yang akan membunuh Overste Nurdin itu masuk dari pintu depan.

Karena bukankah orang dalam, yaitu pegawai konsulat takkan dicurigai untuk masuk?

Dia mendekati dinding belakang itu. Kemudian tak begitu sulit baginya untuk memanjat dinding itu ketingkat dua dimana Nurdin masih terbaring.

Dia sampai ke jendela ditingkat dua itu. Mengintip ke dalam. Di dalam di bawah penerangan lampu neon kelihatan Salma duduk menyuapi suaminya. Disisinya, diatas sebuah kursi, duduk Eka, gadis kecil mereka. Sebelah tangan Nurdin membelai kepala anaknya itu. Sementara mulutnya tetap melulur perlahan bubur yang disuapkan oleh isterinya.

Dia masih menunggu sesaat ketika tiba-tiba dia lihat Salma menoleh ke pintu. Nampaknya ada yang mengetuk pintu. Sebelum Salma berdiri, pintu kamar itu terbuka. Dan tiba-tiba saja muncul dua orang lelaki.

Yang satu tak lain daripada Polisi Singapura yang siang tadi bertugas menjaga di depan konsulat. Dan polisi ini menodongkan pistolnya ke arah Overste Nurdin yang terbaring itu begitu dia masuk ke kamar tersebut. Disamping Polisi ini, adalah seorang lelaki yang dikenal Si Bungsu sebagai seorang staf konsulat! Ya, dia adalah orang Indonesia yang menduduki tempat penting pada staf konsulat itu.

Lelaki itu tersenyum. Kedua tangannya berada dalam kantong. Senyumnya lebih mirip seringai.

“Tetap sajalah duduk di sana tenang-tenang nyonya…” lelaki itu bicara sopan dan masih tersenyum pada Salma yang akan bangkit. Suaranya terdengar perlahan ketelinga Si Bungsu.

Salma bukan main kagetnya melihat kejadian ini. Sebab dia tahu benar lelaki ini Staf Konsulat, teman sejawat suaminya.

Akan halnya Nurdin yang terbaring sakit itu tetap saja bersikap tenang. Dia mengunyah makanan dalam mulutnya perlahan.

“Selamat malam Overste…” lelaki itu berkata dengan senyum tetap menghias bibirnya. “Selamat malam…” jawab Nurdin.

“Hmm, nampaknya anda tak terkejut dengan kehadiran saya….” Staf konsulat itu berkata. Nurdin tak segera menjawab. Dia meminta air pada isterinya. Minum beberapa teguk. Lalu kembali menatap pada rekannya itu.

“Kenapa saya harus terkejut. Saya sudah menduga anda terlibat dalam sindikat ini. Lagipula dalam sebuah negeri penghianat-penghianat merupakan kejadian yang lumrah…”

Muka lelaki itu jadi merah. Senyumnya lenyap. Namun dia masih tetap tegak di tempatnya. “Saya datang untuk menawarkan kerjasama Overste…”

“Hmm, menarik juga. Kerjasama bagaimana…?”

“Anda ikut dalam sindikat kami. Dan anda akan mendapat perlindungan berikut seluruh keluarga anda. Itu dari segi keamanan. Dari segi materi anda dapat memiliki apa saja. Dari segi jabatan, anda bisa kami angkat menjadi Panglima Tentara di Indonesia..”

“Tawaran yang menarik. Tapi anda mempergunakan kalimat “kami”. Siapa yang lainnya?” “Itu akan overste ketahui kelak”

“Bagaimana kalau saya tak mau..”

“Tak soal. Anda bisa memilih. Dan kami tinggal melaksanakan pilihan anda itu. Kalau anda menerima, maka serahkan dokumen yang anda susun itu pada kami, dan anda akan menerima imbalan sesuai dengan yang saya ucapkan tadi. Kalau anda tak mau menerima, maka anda tak perlu susah-susah lagi bekerja. Kami datang untuk menyudahi hidup anda..”

Salma jadi pucat. Dia memeluk anaknya. Pembicaraan kedua lelaki itu nampaknya biasa-biasa saja. Namun siapapun bisa mengetahui, bahwa pembicaraan mereka adalah mengenai soal hidup atau mati. Soal sebuah sindikat dan sebuah negara.

Si Bungsu masih tetap diam bergelantungan di luar jendela. Dia ingin tahu apa kelanjutannya. Kini jelas olehnya “orang dalam” yang terlibat dalam sindikat perdagangan wanita ini. Hanya dia ingin melihat bagaimana Nurdin keluar dari saat yang genting ini. Sementara Polisi Singapura itu tetap saja menodongkan pistolnya ke arah Nurdin.

Sementara itu Nurdin bicara lagi.

“Kalaupun saya anda bunuh, namun anda takkan pernah mendapatkan dokumen itu. Dan anda takkan pernah selamat. Saya sudah mengirimkan nama anda ke Jakarta….”

Lelaki itu tertawa perlahan.

“Apa artinya bagi saya pengiriman nama itu ke Jakarta. Di Jakarta laporan anda itu akan diterima oleh teman saya. Dan kalaupun jatuh ketangan orang lain, saya juga tak usah khawatir. Saya tak perlu kembali ke Indonesia. Seluruh keluarga saya…”

“Sudah di Tiongkok…” overste Nurdin memutus ucapannya. “Hmm, anda mempunyai pengamatan yang tajam juga…”

“Ah. Siapapun akan bisa menebak, bahwa anda adalah orang Komunis. Setelah gagal dengan pemberontakan Madiun kalian menyelusup ke seluruh departemen…”

Lelaki itu tertawa lagi.

“Bukankah itu suatu bukti, bahwa pemerintah berada di pihak kami? Buktinya, meski kami telah memberontak, kami diterima lagi Departemen-departemen. Bahkan menduduki posisi kunci. Nah, kita tak usah berpanjang lebar lagi Overste… kini serahkan dokumen itu dan bekerja sama dengan kami, atau kalian bertiga kami sudahi di sini..”

Lelaki itu mengeluarkan tangannya yang sejak tadi tersimpan dalam kantong celananya. Dan kalau tadi dia selalu tersenyum ramah, kini wajah aslinya kelihatan. Mukanya berkerut masam. “Tak satupun yang akan anda peroleh…” jawab overste itu tenang. Sementara tangan kanannya tetap membelai kepala anaknya yang berada dipangkuan isterinya.

“Kami tidak main-main Overste…” berkata begini, tangannya segera merenggutkan  tangan  Salma.

Perempuan itu tertegak oleh renggutan kasar itu.

“Hajar dia..!” kata lelaki itu pada Polisi Singapura yang nampaknya merupakan bahagian dari sindikat

itu.

Polisi itu maju setapak dan bersiap menarik picu pistolnya. Si Bungsu sudah menggebrak kaca jendela,

ketika tiba-tiba terdengar letusan. Terlambat, pikirnya. Dan seiring dengan letusan itu tubuhnya menghantam kaca jendela. Hanya beberapa detik, dia sudah tegak dalam kamar itu. Dan tangannya yang telah menggenggam dua samurai kecil terayun.

Namun gerakannya terhenti. Dia melihat Polisi Singapura itu rubuh dengan dada berlumur darah. Sementara staf konsulat yang tadi menyentakkan tangan Salma tegak kaget memandang ke jendela dan juga pada Overste Nurdin.

Lalu tiba-tiba tangannya bergerak ke balik jasnya. Sepucuk pistol kecil muncul dan sebuah letusan lagi bergema. Gema letusan itu berasal dari bawah selimut overste Nurdin. Staf konsulat itu terputar. Bahunya dihantam peluru. Dan ketika Nurdin mengeluarkan tangan kirinya, dia menggenggam sebuah revolver enam silinder.

Si Bungsu masih tetap tegak diam. Nurdin teranyata berhasil keluar dari saat kritis itu dengan baik. Nurdin dan Si Bungsu bertatapan. Kemudian overste itu tersenyum.

“Terimakasih. Anda telah menjaga diriku dari balik jendela kaca itu…” kata Nurdin sambil tersenyum.

Si Bungsu tak sempat menjawab, sebab Salma dan gadis kecilnya telah memeluk Nurdin. Lalu saat itu pintu terbuka. Dan dipintu tegak Konsul Indonesia bersama tiga orang petugas keamanan.

“Saya dilaporkan ada tembakan disini…” kata konsul itu.

“Ya. Dan yang kena tembak adalah dia. Yang menembak saya…” Nurdin berkata sambil menunjuk pada staf konsulat yang saat itu tengah duduk dilantai. Bersandar kedinding sambil memegang bahunya mengalirkan darah.

Konsul itu menatap pada stafnya itu. Lalu menatap pula pada Nurdin. “Ya. Dialah orangnya…” kata Nurdin.

Konsul itu melihat pada staf seniornya itu dengan berang.

“Komunis jahanam! Kau akan mendapat ganjaran, laknat!” kemudian memerintahkan untuk mengangkat mayat polisi singapura itu. Menyerahkannya pada pihak penguasa disertai laporan lengkap tentang sindikat perdagangan wanita tersebut. Sementara staf senior konsulat Indonesia itu dijebloskan ke dalam tahanan.

Nampaknya Nurdin telah melaporkan soal sindikat itu pada Konsul. Namun satu hal yang pasti. Nurdin tetap tak pernah mengatakan soal dokumen yang ada pada Si Bungsu.

“Engkau harus ke Jakarta Bungsu. Saya punya firasat bahwa apa yang dikatakan staf senior konsulat itu memang benar. Bahwa setiap laporan tentang sindikat yang saya kirim ke Jakarta, jatuh ketangan komplotan itu sendiri. Artinya, di departemen yang menangani kasus ini juga terdapat orang-orang Komunis yang menjadi dalang sindikat ini di Indonesia.

Karena itu engkau berangkat ke sana. Meski pun saya sembuh, namun saya tak bisa bertindak drastis. Ada peraturan yang harus saya taati sebagai seorang militer. Tapi sebaliknya saya tak ingin mengampuni sindikat perdagangan wanita ini. Dan saya tak mau toleransi pada Komunis. Keduanya, sindikat dan Komunis itu sama jahanamnya. Mereka telah gagal dalam pemberontakan di Madiun. Namun saya yakin, suatu saat nanti, cepat atau lambat, mereka akan memberontak lagi. Mungkin korban yang jatuh akan lebih banyak. Bagi mereka menjual wanita, membunuh orang tak ada artinya sama sekali. Mereka tak mengenal Tuhan.

Saya ingin mereka dibunuh saja semua. Bayangkan betapa menderitanya sanak famili dari perempuan- perempuan yang dijual oleh sindikat itu. Saya tak tahu dengan pasti berapa orang sudah perempuan dari Indonesia yang berhasil mereka bujuk dan mereka jual sampai ke Eropah sana untuk dijadikan penghuni rumah lacur. Namun menurut catatan selama saya bertugas disini, tak kurang dari seratus wanita telah dibawa dari Indonesia.

Sindikat ini harus digulung. Anggotanya harus dibunuh. Ya, itu hukuman yang patut buat mereka. Namun saya tak bisa melaksanakan itu. Makanya engkau yang saya minta Bungsu…”

Si Bungsu duduk dengan diam disisi pembaringan Nurdin. Mendengarkan ucapan Overste itu dengan tenang. Pembicaraan itu sepekan setelah penembakan terhadap staf senior konsulat itu. Si Bungsu tak segera bisa memberikan jawab atas permintaan Nurdin. Sebab dihatinya semula telah ada rencana untuk pulang ke kampungnya. Dia terlalu rindu pada harumnya bau padi dan bunga jagung. Dia rindu pada kesejukan angin yang bertiup dari kaki Gunung Sago.

Ah, siapa yang takkan rindu pada kampung halamannya? Siapa yang takkan rindu pada kampung dimana mereka berlarian mengejar layang-layang sewaktu kecil. Mengendap-endap mengintai burung balam. Bermain dan berlari di jalan yang membelah kampung. Meskipun jalan kampung tak pernah diaspal, namun kerinduan padanya tak pernah padam.

Kini akan kemanakah dia? Pulang ke kampung dahulu baru kemudian ke Jakarta. Atau ke Jakarta dahulu baru ke kampung setelah tugasnya selesai?

Keduanya mempunyai resiko.

Kalau dia ke Jakarta dahulu, lalau baru pulang ke kampung, apakah dia akan selamat dalam tugasnya itu. Kalau tidak, maka kampungnya takkan pernah dia pijak lagi. Dia tahu, sindikat ini adalah sindikat yang berbahaya. Memiliki tukang bunuh bayaran. Memiliki manusia-manusia yang siap mengerjakan apa saja demi uang.

Tapi kalau dia pulang dulu ke kampung, itu berarti memberi kesempatan bagi sindikat itu untuk beroperasi terus. Selama ia berada di kampung, berapa orang gadis dan perempuan akan jadi korban pula.

Lama Si Bungsu memikirkan kedua kemungkinan ini di hotelnya. Dia tak menyangka bahwa dirinya akan terlibat dalam urusan serius seperti ini.

Dia tengah tegak menatap ke pelabuhan lewat jendela kaca di hotelnya itu ketika dia lihat di depan hotel sebuah sedan berhenti.

Dari dalamnya turun dua orang Barat. Kedua orang itu langsung masuk ke hotel. Si Bungsu tak begitu memperhatikan kedua orang itu. Pikirannya tengah melayang. Memikirkan kemungkinan untuk pulang ke kampung atau langsung ke Jakarta.

Kalau saja pikirannya tak tengah menerawang, dia pasti segera mengenali kedua orang Barat itu. Mereka tak lain dari bekas tentara Australia yang terlibat baku hantam dengannya di hotel Sam Kok sebulan yang lalu. Mereka baku hantam karena soal Mei-Mei. Anak gadis pemilik hotel itu. Bekas tentara sekutu berkebangsaan Australia itu semula berjumlah tiga orang. Dan mereka berniat memperkosa Mei-Mei. Si Bungsu

yang datang sesaat sebelum gadis itu dinistai, berhasil membunuh salah seorang diantaranya.

Si Bungsu masih tegak di depan jendela ketika kedua orang Australia itu sampai di depan pintu kamarnya. Dia baru sadar ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia mengalihkan pandangannya dari kapal- kapal di tengah laut ke pintu kamar.

“Siapa…?”

“Saya, pelayan…”

Tanpa curiga dia berjalan ke pintu. Membukanya. Pintu itu baru saja terbuka sedikit, ketika tiba-tiba ditendang dengan keras dari luar.

Pelayan yang diminta mengetukkan pintu itu kaget. Dia tak menyangka bahwa tamu ini akan main tendang. Padahal mereka tadi minta tolong tunjukkan kamar orang Indonesia ini dengan sikap yang sopan. Kok sekarang pakai tendang segala.

Dia sebenarnya ingin marah. Sebab pintu hotelnya ditendang. Induk semangnya bisa berang. Namun bekas tentara Australia itu telah mengirimkan sebuah bogem mentah ke kepala Si Bungsu. Anak muda itu terpental ketempat tidur.

Dan melihat keadaan gawat begini, pelayan yang orang Cina itu cepat-cepat berlalu.

“Awas jangan lu telepon Polisi…!” ancam orang Australia yang satu lagi padanya. Pelayan itu menggeleng sambil angkat langkah seribu.

Mereka lalu masuk ke kamar Si Bungsu. Menutupkan pintu!

Si Bungsu yang tadi terlempar ke tempat tidur kena pukul, kini mulai bangkit. Karena kedua orang itu telah berada dalam biliknya, dia terpaksa tegak di atas tempat tidur.

Kedua lelaki itu menatap padanya dengan wajah sadis. Dan dipinggang mereka tersembul gagang pisau komando.

Rupanya mereka masih ingat bahwa salah seorang teman mereka mati ditangan anak muda ini karena lemparan sebuah pisau kecil. Makanya kini mereka membawa pisau komando. Yaitu pisau pengganti sangkur yang sangat mahir mereka mempergunakannya ketika dalam perang dunia ke II dahulu. Betapa mereka takkan mahir, sebab mereka berada dalam pasukan Green Barets. Pasukan Komando tentara Inggris yang tersohor itu.

“Monyet, dulu kau mempergunakan pisau kecilmu untuk membunuh teman kami. Sekarang mari kita coba siapa yang lebih cepat melemparkan pisau…”

Salah seorang diantara kedua lelaki itu, yang memakai kaos oblong berwarna merah darah buka suara. Dan pisau komando yang kuning, runcing berkilat itu telah berada ditangannya. Tergantung ke bawah dengan ujung yang runcing terjepit diantara telunjuk dan jarinya.

Pisau itu siap untuk dilemparkan.

Si Bungsu masih tegak diam di atas kasur. Kedua tangannya juga terjuntai kebawah. Ada enam samurai tersisip di kedua tangannya. Tersembunyi dibalik lengan bajunya yang panjang.

Dia yakin, melihat gerakan kedua lelaki ini ketika mengambil pisau, kemudian melihat caranya memegang ujung pisau komando itu, kemudian menggantungnya dengan tangan lemas disisi badan, kedua orang ini adalah pelempar pisau yang tangguh.

Tapi apakah dia akan melayani mereka? Dia terlibat perkelahian dengan kedua orang ini hanya soal Mei- Mei. Mereka akan memperkosa anak pemilik hotel Sam Kok itu. Dan dia datang menolong. Hanya soal itu mereka berkelahi. Sudah jatuh korban nyawa. Apakah masih perlu ditambah?

Kalau saja kedua orang ini adalah bahagian dari sindikat perdagangan wanita itu, maka dia pasti sudah membereskannya sejak dahulu. Tapi karena mereka bukan anggota sindikat yang dia benci itu, makanya kedua orang ini tak dia bunuh dahulu. Hanya dia tendang kerampangnya sekdar untuk melumpuhkan.

Tak dinyana, kedua orang ini ternyata menaruh denadam. Dendam karena teman mereka dibunuh. Dan dendam karena kerampang mereka kena tendang.

Kedua lelaki itu memencar. Yang satu berada dibahagian kiri. Yang satu dibahagian kanan. Jarak antara mereka ada sekitar empat depa. Dan jarak masing-masing mereka dengan Si Bungsu yang masih tegak di tempat tidur itu sekitar tiga depa lebih.

Dengan demikian mereka menghindarkan diri dari kena serangan yang amat cepat. Mereka bukannya tak yakin bahwa anak muda ini seorang pelempar yang cepat. Itu sudah dibuktikan dengan kematian teman mereka di hotel dulu.

Demikian cepatnya kejadian itu. Mereka tak melihat bagaimana anak muda itu mencabut dan melemparkan samurainya. Itulah sebabnya kini mereka bertindak hati-hati. Dan dengan tegak agak terpisah satu dengan yang lain dalam jarak yang empat depa itu, mereka yakin akan susah diserang sekaligus.

Anak muda itu harus membuat dua gerakan. Dan harus berputar untuk menyerang mereka berdua.

Sementara itu, Si Bungsu yang mendengar tantangan lelaki Australia itu, menarik nafas. Lalu suaranya terdengar perlahan.

“Saya rasa tak ada gunanya perkelahian ini…”

“Babi! Tak ada gunanya katamu, setelah teman kami engkau bunuh, setelah perlakuanmu terhadap diri kami di hotel itu?”

“Saya berharap hal itu bisa berakhir. Dan saya bersedia minta maaf pada tuan-tuan…”

Kedua orang Australia itu berpandangan. Namun mereka tetap tegak dengan kaki terpentang dan tangan memegang ujung pisau komando.

“Apakah engkau takut melihat pisau kami anak muda?”

Si Bungsu tersenyum lembut. Menatap ke pisau di tangan kedua bekas pasukan Komando itu.

“Ambillah pisaumu. Mari kita pertahankan nyawa kita sebagai seorang jantan…” suara tentara Asutralia itu kembali terdengar menantang.

“Maafkan saya. Saya tak bermaksud meremehkan kalian berdua. Saya yakin tuan-tuan sangat cepat mempergunakan pisau Komando itu. Cepat menurut ukuran tentara…”

Kedua bekas tentara sekutu itu tak begitu faham dengan ucapan Si Bungsu. Namun mereka tetap tegak dengan waspada.

“Saya menantang anda untuk mempertahankan nyawa dengan kecepatan melemparkan pisau anak muda…” lelaki yang berada di sebelah kanannya berkata.

Si Bungsu menggerakkan tangan kananya perlahan. Suatu gerakan yang benar-benar tak mencurigakan kedua bekas tentara sekutu itu. Demikian pula tangan kirinya. Sistim menjepitkan samurai di kedua tangannya itu dibuat sedemikian rupa menurut petunjuk Tokugawa. Sehingga ikatannya seperti bersatu dengan saraf. Bisa diatur kapan meluncur turun meski dengan gerakkan yang amat halus. Sebaliknya, meski dengan gerakan kuat seperti memukul misalnya, jika tidak dikehendaki, samurai itu takkan lepas. Sistim ini sulit diuraikan menurut ilmu logika atau menurut sistim simpul buhul. Namun bagi orang- orang yang mahir mempergunakan pisau, semacam senjata rahasia di Tiongkok, atau samurai kecil di Jepang, sistim itu mudah dimengerti. Meski tak mudah mempergunakannya. Sebab untuk mempergunakannya diperlukan latihan dan kemahiran yang jarang orang bisa mencapainya.

Si Bungsu masuk yang beruntung dan menguasai pada taraf sangat mahir.

Kini, tanpa diketahui oleh kedua bekas tentara sekutu itu, anak muda itu telah memegang dua buah samurai. Masing-masing ditiap tangannya. Dan kedua bilah samurai itu terlindung dari penglihatan kedua tentara sekutu itu oleh punggung tangannya. Hulunya berada di pergelangan, sementara ujungnya terjepit antara jari tengah dan jari telunjuk.

“Bagaimana caranya tuan menghendaki pertarungan ini berlangsung?” Si Bungsu bertanya perlahan. “Engkau dapat melempar pisaumu pada kami setiap saat engkau suka, dan kami akan menandinginginya

dengan kecepatan…”

Demikian yakinnya kedua tentara itu akan kemahiran mereka. Mereka memang mendapat brefet pelempar pisau komando. Dan kini mereka mempraktekkannya pada anak muda ini.

“Setiap saat saya suka?” tanya Si Bungsu.

“Ya. Setiap saat…” yang dikiri Si Bungsu berkata sambil matanya waspada melihat tangan Si Bungsu. Si Bungsu mengangkat kedua tangannya. Kedua tentara itu jadi tegang dan amat waspada. Tapi Si Bungsu ternyata hanya menyisir rambutnya dengan kesepuluh jari tangannya. Lalu menurunkan tangannya kembali.

Kedua bekas tentara itu menatap tajam pada Si Bungsu. Ada suara berdetak perlahan disisi mereka. Namun mereka tak mau menoleh. Sebab tak mau kehilangan pengawasan dari anak muda yang masih tegak di pembaringan itu.

“Mulailah..” suara orang Autralia yang dikanan bergema. Sementara pisau komandonya sudah siap sejak tadi. “Maafkan saya. Anda telah kalah…” kata Si Bungsu. Kedua tentara itu menatap tajam padanya. “Apa yang anda maksudkan bahwa kami telah kalah?”

“Ya. Kalau saya mau, tuan berdua sudah mati seperti teman tuan di hotel itu. Mati dengan samurai menancap di antara dua mata, atau menancap persis di jantung…” Kedua tentara itu tersenyum tipis.

“Anda punya mental yang cukup tangguh anak muda. Tapi kalau anda bermaksud menggertak, maka bukan kami orangnya…”

“Saya tidak menggertak. Lihatlah ke lantai. Di antara kedua sepatu tuan…”

Tanpa dapat ditahan, kedua mereka melihat ke bawah. Dan demi Yesus yang mereka agungkan, mereka hampir tak percaya.

Betapa mereka akan percaya, kalau diantara kedua kaki mereka kini tertancap sebilah samurai kecil hingga hampir separoh tertanam di lantai?

Mereka tak melihat bila anak muda itu melemparkannya. Apakah sudah sejak tadi samurai itu ada di sana, dan mereka tak melihatnya? Mustahil. Mereka melihat lagi pada Si Bungsu.

Dan saat itu tangan anak muda itu bergerak perlahan.

“Kini ada dua samurai diantara kaki tuan…” katanya perlahan. Dan kedua mereka melihat lagi. Dan demi Tuhan, ya Nabi dan ya Malaikat! Memang benar ada dua samurai kecil diantara kaki mereka!

Mereka menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu mengangkat tangan kanannya. Membuka lengan bajunya.

Dan disana nampak sebuah samurai tersisip.

“Jika saya mau, tak terlalu sulit untuk membunuh tuan. Tapi apakah itu ada gunanya?”

Si Bungsu berkata perlahan. Dan kedua bekas tentara itu segera sadar, bahwa mereka berhadapan dengan seorang lelaki yang ketangguhannya melempar pisau ada puluhan, barangkali ratusan lebih cepat dan lebih mahir dari diri mereka yang sudah termasuk jagoan di pasukan komando dahulu.

Anak muda ini tidak membual ketika berkata bahwa dia sanggup membunuh mereka dengan mudah. Buktinya, sama sekali mereka tidak melihat bagaimana caranya anak muda ini melemparkan pisaunya. Tahu- tahu telah tertancap saja!

Mereka berpandangan satu dengan yang lain. Muka mereka jelas sebentar pucat sebentar merah.

Kini anak muda itu tegak menatap pada mereka dengan tenang. Dengan kedua tangan tergantung disisi tubuhnya. Dan tangan itu, kalau dia mau, memang sanggup menyebar maut. Diam-diam kedua bekas tentara Australia itu pada merinding bulu tengkuknya.

Tapi, yang seorang lagi, yang berdiri di bahagian kiri Si Bungsu, tetap saja merasa kurang puas. Dia bergerak ke arah meja. Di meja itu terletak gelas, piring dan bekas kaleng minuman. Dia memungut kaleng minuman yang telah kosong itu. Lalu berjalan ke sudut ruangan. Menyeret sebuah kursi kesana. Kemudian meletakkan kaleng bekas itu di kursi tersebut.

Dan dia tegak lagi ketempatnya semula. Si Bungsu menatap saja dengan diam.

“Nah, anak muda. Kini kita buktikan siapa yang lebih cepat mempergunakan pisau. Engkau atau kami. Jarak antara kaleng itu dengan ketiga kita, sama-sama sekitar empat depa. Pisau saya bertanda merah. Pisau teman saya kuning hulunya. Dan samurai kecilmu jelas berbeda dengan milik kami. Saya akan melemparkan kotak korek api ke atas. Begitu kotak itu jatuh di lantai, kita lempar kaleng itu dengan pisau. Yang dituju adalah lingkaran huruf O yang ada di tengah kaleng itu. Dengan demikian kita akan ketahui siapa yang cepat..”

Bekas tentara itu memandang pada temannya. Temannya mengangguk. Kemudian mereka sama-sama memandang pada Si Bungsu. Si Bungsu masih diam. Dia bukannya tak tahu, banyak orang-orang yang licik.

Apakah tak mungkin ini adalah suatu jebakan? Apakah tak mungkin, disaat dia melemparkan kaleng bekas minumannya itu dengan pisau, saat itu pula kedua bekas tentara itu melemparkan pisaunya. Tapi bukan ke arah kaleng, melainkan kearah dirinya!

Itulah sebabnya dia memandang saja dengan diam dan tak segera menjawab tantangan itu. Dan barangkali kedua bekas tentara itu mengerti jalan pikirannya.

“Jangan khawatir anak muda. Kami takkan berbuat curang. Yang punya sifat curang biasanya adalah kalian, orang-orang Melayu. Kami menjunjung tinggi nilai-nilai sportif. Kami tahu engkau cepat dengan pisaumu. Dan kalau kau mau, kau bisa menghabisi kami sejak tadi. Nah, kami menghargai sikapmu itu. Kini kami ingin menguji sampai dimana ketangguhan kami sebagai bekas tentara komando. Yang amat mahir mempergunakan pisau. Kami ingin membandingkan dengan dirimu…”

Kembali Si Bungsu menarik nafas panjang.

“Baiklah, kalau itu yang tuan-tuan kehendaki” akhirnya dia berkata.

Yang meletakkan kaleng bekas minuman tadi segera merogoh kantong dengan tangan kirinya. Dari dalam kantongnya dia mengeluarkan kotak korek api.

“Siap?” tanyanya. Temannya mengangguk. Si Bungsu juga mengangguk perlahan. Kedua bekas serdadu itu bersiap. Tangan kanan mereka yang memegang hulu pisau komando itu tadi mengeras. Sementara tangan Si Bungsu melemas. Sebuah gerakkan kecil lengan kanannya membuat samurai terakhir di sebelah kanan itu meluncur turun.

Korek api itu dilambungkan keatas. Ujung-ujung jari Si Bungsu menjepit ujung samurai kecil yang meluncur dari lengannya.