-->

Tikam Samurai Si Bungsu Episode 3.2

Namun akhirnya Salma berhasil juga ditenangkan. Dan dia menunjukkan dimana dia menyimpan dokumen tersebut. Ternyata dia cukup pandai menyimpan dokumen itu, karena dikatakan suaminya amat penting dia simpan dalam lemari yang tertanam ke dalam dinding. Dan di bahagian depan dinding yang menyimpan lemari itu, terletak kaca lebar.

Takkan ada orang yang menyangka bahwa dia menyimpan dokumen atau benda apapun dibelakang kaca itu. Bahkan kalaupun kaca itu dihancurkan, lemari dalam dinding itu tak pula segera kelihatan.

Salma sendiri mengetahui lemari itu ketika dahulu serah terima dengan penghuni sebelumnya. Nyonya rumah yang akan pindah itu, seorang nyonya Inggris, membawa Salma keliling kamar. Kemudian menunjukkan lemari rahasia tersebut.

Dan ternyata kinipun orang yang menggeledah rumahnya tak menemukan lemari rahasia tersebut. Dokumen dalam map biru yang dibungkus kertas minyak kuning itu masih utuh bersama beberapa dokumen lainnya berikut perhiasan-perhiasan Salma.

Tiba-tiba Si Bungsu tertegak. Salma merasa heran atas sikapnya itu. “Ada apa?”

“Tetaplah tenang disini. Pegang dokumen ini. Jangan pergi sebelum saya datang di sini. Tutup pintu kamar ini…” berkata demikian Si Bungsu lalu menyelinap. Namun berbalik lagi cepat.

“Ada telepon disini?”

“Ada” Salam bergegas ke kamar tengah. Di sana ada telepon yang diengkol untuk mempergunakannya.

Tapi tali telepon itu ternyata telah putus. Mereka bertatapan. “Kembali ke kamar tadi!” kata Si Bungsu.

Salma bergegas ke kamar tersebut. Dia tak tahu ada apa sebenarnya. Namun dari sikap Si Bungsu dia dapat merasakan bahwa ada bahaya.

Hanya bahaya apa sesiang ini hari?

Si Bungsu bergegas ke ruang depan dimana terbaring mayat polisi Singapura tadi. Dia memeriksa pinggangnya, namun ternyata senjata polisi itu telah lenyap. Dan telinganya yang tajam menangkap suatu gerak di depan. Dia menoleh, dan seorang Cina berambut pendek bertubuh gemuk kelihatan muncul. Di tangannya tergenggam sebuah senapan mesin.

Cina itu menyeringai pada Si Bungsu yang masih berjongkok dekat mayat polisi Singapura itu. Cina itu bicara dalam bahasa nenek moyangnya. Si Bungsu tak mengerti apa yang dibicarakannya. Namun dia tetap berjongkok. Cina itu berada di sebelah kananya dalam jarak empat depa. Cina itu mulai membentak. Si Bungsu tetap diam. Cina itu melihat Si Bungsu tak memiliki senjata. Dia lalu bergerak mendekat.

Saat itu Si Bungsu mendengar pekikan Salma dari kamar sebelah. Cina itu makin menyeringai. Dan saat itulah tangan kanan Si Bungsu bergerak. Tangannya terayun menyamping. Dan samurai kecil yang selalu diikatkannya secara khusus di lengan kanannya, dan tertutup oleh lengan bajunya, meluncur dengan cepat.

Cina itu tak menyangka sedikitpun. Samurai kecil itu menancap diantara dua matanya. Mulutnya masih memperlihatkan seringai buruk. Namun ada rasa heran dan sakit pada sinar matanya. Kedua bola matanya berputar. Lalu rubuh. Mati!

Dari kamar dimana Salma memekik tadi tak terdengar lagi suara apa-apa. Si Bungsu berjalan ke jendela.

Di luar kelihatan sebuah sedan.

Berapa orang mereka di rumah ini sekarang, pikirnya.

Dia lalu berjingkrat ke kamar dimana Salma tadi memekik. Mendorong pintunya, dan mengintai ke dalam. Dan saat itu dia melihat punggung Salma lenyap di pintu samping sana. Bersama seorang Melayu yang menyeret tangannya.

Ke samping!

Si Bungsu berlari ke samping. Masuk ke kamar yang menghubungkan dengan taman samping. Dan dia segera menyeret tangan Salma. Orang Melayu itu tertegak menatapnya. Tangan kanannya menodongkan pistol otomatis. Si Bungsu tetap tegak. Dia tak bersenjata sama sekali. Dan lelaki Melayu itu melihat hal tersebut.

“Hei, awak menelungkup di lantai!” perintah si Melayu itu.

Si Bungsu mematuhinya. Dia menunduk. Tangan kanannya bergetar perlahan. Samurai kecil yang diikatkan secara khusus menurut petunjuk Tokugawa dahulu jatuh dan turun ke telapak tangannya. Ketika tangan kanannya hampir mencecah lantai, dia menghayunkannya kuat-kuat ke depan.

Orang Melayu yang memegang tangan Salma itu tak menyangka apa-apa. Tapi tiba-tiba saja jantungnya terasa amat pedih. Dia mengangkat pistolnya. Tapi pistol otomatik yang biasa dia pergunakan itu terasa alangkah beratnya. Dia jatuh berlutut. Salma menjauh segera.

Mata si Melayu itu menatap heran pada Si Bungsu. Si Bungsu bangkit perlahan. Si Melayu itu menatap heran pada Si Bungsu. Si Bungsu itu jatuh terlentang. Pistol masih ditangannya. Matanya masih terbuka. Dari mulutnya ada keluhan perlahan. Dia lihat anak muda itu melangkah kearahnya. Membungkuk diatas tubuhnya. Dan mencabut samurai kecil yang tertancap di jantungnya. Si Melayu itu hanya bisa melihat sementara mulutnya terasa kering. Dan nafasnya akhirnya juga kering. Mengirap ke langit. Mati dengan mata masih terbuka, dengan wajah keheran-heranan.

Si Bungsu menghapuskan darah di samurai yang panjangnya tak lebih dari sejengkal itu ke lengan di balik lengan baju panjangnya.

Salma melihat di lengan kanan anak muda itu ada semacam kulit selebar tiga jari yang melilit tangannya.

Dan pada kulit hitam itu tersisip tiga buah samurai-samurai kecil dengan hulunya menghadap ke bawah. “Sulong, A Cong! Sudah selesai?” tiba-tiba terdengar suara dari kamar tamu. Suara itu jelas dengan aksen

India. Salma menatap Si Bungsu. Si Bungsu memegang tangan Salma kemudian membawanya lewat ke pintu belakang.

“Sulong, A…” suara India itu seperti terputus. Dan Si Bungsu dapat menduga, India itu pastilah menemui mayat Cina yang bernama Acong itu di kamar tengah dekat mayat polisi Singapura.

Dan memang benar. India itu berhasil menemui mayat temannya. Dia menyumpah-nyumpah dalam bahasa Urdu yang tak dimengerti oleh Si Bungsu maupun oleh Salma.

India itu mulai membuka pintu demi pintu, dia tertegun. Di tengah ruangan, terlihat temannya yang bernama Sulong itu tergolek dengan mata terbuka. Dia maju selangkah, dan saat itulah dari samping sebuah tendangan mendarat di kerampangnya. Tendangan itu amat kuat. Dilakukan oleh seorang anak muda yang telah melatih diri bertahun-tahun.

Ada suara tak sedap takkala punggung kaki Si Bungsu melanda kerampang India itu. India bertubuh tinggi besar itu tertegak disana. Matanya jadi juling. Senapan otomatiknya terjatuh. Kedua tangannya segera memegang instrumen di kerampangnya yang baru saja diterpa kaki Si Bungsu.

Dia melenguh. Dan nampaknya, ada beberapa instrumennya yang fatal kena tendang itu. Dia melosoh turun dengan mulut berbuih.

Pingsan!

Nah, kini tinggal membereskan sopir di halaman sana.

Tapi bagaimana caranya? Mereka harus keluar dari rumah ini secepat mungkin. Sopir sedan yang parkir jauh di halaman sana menanti dengan mata terkantuk-kantuk. Lalu dia mendengar suitan. Di pintu rumah besar itu dia lihat seorang perempuan tegak dengan leher ditekuk oleh temannya. Temannya yang tegak dibelakang perempuan itu melambaikan tangannya. Sopir Cina itu menjalankan mobil dan membawanya ke dekat rumah.

Tapi saat itu pula Si Bungsu melihat lain dibangku belakang sedan tersebut. Dia cepat menarik Salma ke dalam.

“Masih ada yang lain di dalam sedan itu. Tak ada jalan keluar yang lain?” tanya Si Bungsu. “Ada. Lewat belakang. Tapi harus meloncati pagar”

“Kita harus coba. Kemana jalan itu tembusnya?” “Ke jalan raya”

“Bagus. Ayo cepat”

Mereka berlarian sepanjang rumah. Sementara sedan terhenti di depan.

Mereka mencapai pintu belakang ketika yang seorang lagi dari komplotan yang tak diketahui siapa mereka oleh Si Bungsu itu turun.

Dengan pistol di tangan dia membuka pintu. Dan matanya terbelalak melihat mayat temannya si Cina yang bernama Acong.

“Mereka lolos!!” teriak orang itu dalam bahasa Melayu.

Sopir Cina itu turun dan mengambil pistol dari laci sedannya. Berdua mereka lalu masuk hati-hati ke rumah besar tersebut. Menyelinap ke kamar demi kamar. Tapi rumah itu kosong!

“Ke belakang!” serunya. Mereka berlari ke belakang. Dan saat itu di pagar belakang Si Bungsu tengah menahan kaki Salma yang memanjat tembok.

“Berhenti!!” si Melayu itu berteriak. Saat itu Salma telah melompat ke jalan raya disebelah tembok. Dan kini tinggal Si Bungsu. Perlahan dia membalik. Dia melihat dua orang, satu Melayu dan satu lagi Cina tegak dengan bedil siap ditembakkan padanya.

“Kemari kau!!!” bentak si Melayu.

Yang melayu ini agak tenteram juga hatinya. Sebab ternyata lelaki di depannya ini tak bersenjata sama sekali. Si Bungsu melangkah menuruti perintah kedua orang itu.

Ketika telah dekat, si Melayu itu menghantamnya dengan sebuah pukulan. Kena mulutnya. Berdarah. Sebuah tendangan ke perut. Si Bungsu terbungkuk. Terputar. Dan saat berputar itu tangannya terayun ke belakang.

Dua bilah samurai kecil. Dengan keahlian yang sulit untuk dipercaya, meluncur dari balik lengan bajunya. Dan kedua samurai yang sejengkal panjangnya itu, menancap di leher kedua lelaki tersebut! Menancap hingga ke gagangnya!

Kedua lelaki itu tersentak. Melemparkan senjata ditangan mereka.

Sebelum kedua lelaki itu jatuh ke tanah. Si Bungsu berbalik. Kemudian memanjat tembok. Dan melompat ke sebelah. Salma menanti dengan wajah pucat.

Mereka menghentikan sebuah taksi.

Salma menyebutkan alamat konsulat. Taksi itu meluncur kesana. Di konsulat, Salma melaporkan pada Konsul tentang peristiwa yang dialami dirumahnya. Menceritakan tentang sopir konsulat yang mati terbunuh. Namun dia tak menceritakan tentang dokumen yang sekarang ada pada Si Bungsu. konsul segera saja menelpon pihak yang berwenang di Singapura. Menyampaikan protes keras atas lemahnya perlindungan

keamanan bagi anggota korp diplomatik Indonesia.

Pihak pemerintah kota Singapura minta maaf dan berjanji akan menyelidiki dan mengusut peristiwa itu sampai ke akar-akarnya.

---000---

Si Bungsu kini tidak lagi tinggal di konsulat. Meski Konsul berkeras menahannya untuk tetap tinggal disana, namun anak muda ini berkeras pula untuk pindah.

“Kenapa tidak disini saja Uda tinggal?”

Salma bertanya ketika Si Bungsu membenahi pakaiannya untuk pindah.

“Demi keamanan Nurdin dan kalian semua, Salma. Dokumen ini nampaknya mengundang bahaya. Kalau saya dan dokumen ini berada disini, saya bisa membayangkan bahwa akan ada saja orang yang akan berusaha mengambilnya dengan cara apapun. Saya tak mau kalian celaka karena ini. Biarkan saya mencari tempat lain. Dari sana saya bisa bebas bergerak”

“Kemana uda akan pindah?”

“Lebih baik engkau tak mengetahuinya Salma. Tapi percayalah, saya akan selalu kemari melihat kalian”.

Dia lalu melangkah ke pembaringan Nurdin. Overste itu sudah sadar dari dua hari yang lalu. Namun dia belum bisa bicara. Belum bisa mengingat apa-apa.

Memang benar apa yang dikatakan dokter dahulu. Bahwa diperlukan waktu yang amat panjang buat istirahat bagi Overste ini.

Si Bungsu menatap temannya itu dengan diam. Nurdin kelihatan menatap padanya. Namun tak ada tanda-tanda bahwa dia mengenal mereka. Si Bungsu memegang tangannya.

“Saya harus pindah dari sini Nurdin. Demi keselamatanmu. Saya tak banyak mengerti tentang tugas- tugas spionase. Tapi saya akan berusaha sekuat mungkin, sebisa saya, untuk membongkar komplotan jual beli wanita ini. Saya akan lanjutkan tugasmu” Si Bungsu berkat perlahan. Meskipun dia tahu, ucapannya barangkali takkan dimengerti oleh Nurdin.

Salma menangis terisak. Nurdin menatap Si Bungsu dengan diam.

Kemudian Si Bungsu memutar tegak. Memandang pada Salma yang menangis terisak disisi pembaringan suaminya. Sementara Eka, gadis kecil mereka tetap tegak menatap disamping ibunya.

Dia tatap wanita itu. Perempuan yang pernah dia cintai sepenuh hati. Dia pegang bahunya. “Tenangkan hatimu. Nurdin akan sembuh” lalu dia membungkuk. Mengangkat eka kegendongannya. “Eka jaga ayah baik-baik ya..”

“Paman akan kemana?”

“Paman akan pindah kerumah teman..” “Apakah kami tidak lagi teman paman?”

Jantung Si Bungsu berdegup mendengar tanya gadis kecil ini. “Kenapa tidak, Eka. Kita tetap berteman bukan?”

“Lalu, kenapa paman pergi?”

“Paman akan mencari orang yang menembak ayah Eka…”

Gadis kecil itu menoleh ke pembaringan ayahnya. Menatap ayahnya yang masih diam tak bergerak.

Ketika dia menoleh pada Si Bungsu, dimatanya kelihatan linangan air. “Ayah Eka orang baik kan Paman..?”

“Ya. Ayah Eka orang baik…”

“Lalu, kenapa ada orang yang melukainya?” “Yang melukai orang jahat..”

“Kenapa ayah tak membalas, bukankah ayah juga punya pistol?”

Si Bungsu hampir kehilangan jawab. Anak ini ternyata cerdas sekali.

“Ayah eka tak mau menyakiti orang, meskipun dia bisa berbuat begitu. Nah, karena orang itu jahat, biar paman yang mencarinya”

“Paman akan memukulnya?”

“Ya. Pasti. Paman pasti memukulnya” “Jangan dipukul paman”

“Kenapa?”

“Dia telah melukai ayah. Orang itu harus pamai lukai pula. Paman bunuh saja, ya paman…” “Ya…”

“Paman berjanji..?” “Ya, paman berjanji”

“Akan membunuh orang yang melukai ayah?” “Ya. Paman akan membunuhnya, percayalah”

Tanpa dia sadari, dia memang berjanji berbuat seperti yang diminta oleh gadis kecil itu.

“Terimakasih paman, terima kasih…” dan anak kecil itu mencium pipi Si Bungsu. Yang kiri. Kemudian yang kanan.

“Paman akan sering melihat kami kemari bukan?” “Ya, paman kan sering kemari” “Eka dan ibu akan sunyi kalau paman tak kemari…ayah sakit dan tak bisa bermain dengan Eka…sering kemari ya paman…?”

Si Bungsu mengangguk berkali-kali. Kemudian mencium pipi gadis kecil itu. Lalu memberikannya pada Salma. Dan diapun berlalu.

Dia menginap di Sam Kok Hotel di daerah pelabuhan Anting. Yaitu sekitar tempat dimana Nurdin kena berondong peluru tempo hari.

Seperti yang dia katakan, dia memang tak mengetahui sedikitpun tentang dunia spionase. Tak tahu. Benar-benar tak tahu dia akan dunia yang banyak belitnya itu. Namun dia memang bertekad untuk melanjutkan penyelidikan dan menjalankan pesan Nurdin sesaat setelah dia kena berondong peluru senapan mesin.

Meski tak punya pengetahuan tentang dunia spion itu, anak muda ini memiliki modal yang amat besar untuk menjadi seorang spion.

Yaitu memiliki daya ingat dan firasat yang tajam sekali. Firasatnya sudah merupakan indera keenam.

Yang hampir-hampir bisa memastikan setiap bahaya yang mengintai dirinya.

Dari firasatnya yang amat tajam itu pula yang mengisyaratkan padanya, bahwa sejak dia meninggalkan gedung konsulat, dia telah diikuti orang. Dalam perjalanan menuju ke hotel dia menoleh ke belakang. Tak ada yang mencurigakan. Banyak mobil yang seiring jalan dengan mereka. Selintas lihat segalanya wajar-wajar saja. Namun tidak demikian perasaan Si Bungsu.

Di antara puluhan mobil yang searah dengan taksi yang dia tumpangi, dia yakin ada satu mobil yang sengaja membuntuti taksi yang dia tompangi. Barangkali mobil berwarna merah darah yang berjalan persis setelah taksi ini. Atau barangkali taksi berwarna hitam di belakang mobil merah darah ini? Dia tak tahu dengan pasti. Namun dia ingin mengujinya.

“Berhenti dibawah pohon di depan sana…” katanya pada sopir taksi yang orang melayu. Mobil itu melambat. Kemudian berhenti.

Mobil merah darah itu lewat. Di dalamnya ada tiga orang lelaki. Tak satupun yang menoleh ke arahnya. Kemudian taksi hitam gelap itu juga lewat. Di dalamnya ada seorang Cina bertubuh gemuk. Kegemukannya jelas kelihatan pada wajahnya yang membengkak dan lehernya yang sebesar leher gergasi.

Cina gepuk itu juga tak menoleh padanya. Kemudian dia menoleh ke belakang. Tak ada mobil yang berhenti. Hmm, dia tak yakin.

“Terus…” katanya pada sopir. Dan dia tetap berkeyakinan ada bahaya mengintainya. Taksi itu berhenti di depan hotel Sam Kok. Sebuah hotel bertingkat dua dengan bangunan beton yang kokoh bekas bangunan di zamannya Rafles berkuasa.

Seorang gadis Cina cantik menerimanya dibahagian penerimaan tamu. “Mau kamar tuan?” tanya gadis itu.

Si Bungsu mengangguk. Meletakkan koper kecilnya di atas meja resepsionis. Gadis Cina itu tersenyum manis padanya sambil mencatat dibuku tamunya. Senyumnya memperlihatkan dua buah lesung pipit di pipinya.

“Nah, mari saya antar. Kamar tuan di tingkat atas” gadis itu berkata sambil mengangkat koper Si Bungsu. “Tidak usah. Biar saya yang membawa koper ini…”

Gadis itu kembali tersenyum. Dan kembali lesung pipi dipipinya kelihatan. Dia melangkah mendahului Si Bungsu. Dan dia tetap juga dahulu ketika menaiki sebuah tangga batu menuju ke tingkat atas. Si Bungsu yang semula tak menyadari apa-apa karena fikirannya tengah melayang pada orang yang membuntutinya tadi, tak memperhatikan gadis itu.

Namun ketika dua tangga sudah terlangkahi tanpa sengaja dia menoleh ke atas. Gadis itu berada tiga anak tangga di depannya. Dan mukanya menjadi merah takkala terpandang pada betis dan paha gadis Cina itu.

Gadis bertubuh indah itu memakai rok yang tak begitu dalam. Si Bungsu cepat-cepat menundukkan kepala. Menatap anak tangga saja.

Dia seorang lelaki. Bujangan lagi. Betapapun imannya dia, namun dalam saat-saat tertentu, darahnya gemuruh juga melihat hal-hal demikian.

Namun tunduknya yang terus-terusan itu akhirnya membuat dirinya tambah jadi malu. Dia tak tahu gadis itu sudah berhenti. Dia masih melangkah. Gadis itu memutar tubuh menghadap. Dan saat itu Si Bungsu menabraknya.

Celakanya, wajahnya justru mengenai wajah gadis Cina yang cantik itu. Dia gelapapan.

“Faam, fa….eh maaf, maaf sorry. Maaf sorry” katanya gugup. Sungguh mati kejadian itu benar-benar tak dia sengaja. Gadis itu juga bersemu merah mukanya. Perlahan dia berbalik dan membuka pintu kamar.

“Silakan, ini kamar tuan” kata gadis itu sambil mendahului masuk. Si Bungsu menurut seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Gadis itu membuka jendela. Di depan sana, kelihatan laut membentang dan puluhan kapal berayun-ayun dimainkan ombak.

“Kalau panas, kipas angin ini bisa tuan hidupkan. Dan kalau tuan perlu sesuatu, tuan bisa menekan bel itu untuk memanggil pelayan. Untuk ke kamar mandi dan WC tuan terpkasa berjalan ke ujung gang di luar kamar. Tak ada kamar mandi khusus di dalam kamar di hotel ini…”

Gadis itu menatap Si Bungsu. Si Bungsu meletakkan koper kecilnya di tempat tidur. “Ada yang tuan perlukan?”

“Buat sementara tidak. Terimakasih”

Gadis itu mengangguk, kemudian melangkah keluar. Menutupkan pintu dan sesaat masih sempat menatap pada Si Bungsu yang juga tengah menatap padanya.

Kemudian gadis itu lenyap ketika pintu ditutupkan. Si Bungsu masih tetap tegak sesaat. Kemudian membuka sepatu. Membuka baju. Lalu berjalan ke jendela. Menatap ke laut. Menatap pelabuhan yang ramai dan hinggar bingar. Menatap kapal yang membuang sauh di kejauhan.

Kapal-kapal tak satupun yang merapat ke dermaga. Laut di sekitar dermaga nampaknya terlalu dangkal untuk dirapati. Karenanya kapal-kapal terpaksa buang jangkar sekitar setengah mil di teluk tersebut. Di bawah, dilihatnya jalan raya membentang dengan mobil yang berseliweran. Dan itu di sana, sekitar lima ratus meter dari hotelnya, dia lihat jalan ke daerah pelabuhan itu.

Di sanalah mobil mereka diberondong peluru. Ingat akan Nurdin yang terbaring di gedung konsulat itu, Si Bungsu ingat pula pada dokumen yang ada padanya. Dia membiarkan jendela tetap terbuka. Kemudian berjalan ke tempat tidur. Mengambil koper kecilnya. Dalam koper kecil itulah semua miliknya tersimpan. Mulai dari beberapa stel pakaian, termasuk dokumen yang mereka ambil dari rumah Nurdin di Brash Basah Road.

Dokumen itu dia letakkan di tempat tidur. Kemudian memasukkan kopernya ke lemari. Sebelum berbaring dia mengunci pintu kamar. Kemudian membuka samurai-samurai kecil yang terikat secara khusus di lengan kanannya.

Dan dia segera ingat pada Tokugawa. Bekas kepala Jakuza itulah yang mengajarnya mempergunakan samurai-samurai kecil ini.

“Ada saatnya kelak, dimana engkau tak mungkin membawa-bawa samurai panjang kemana engkau pergi Bungsu-san. Namun demikian, bukan berarti bahaya meninggalkan kita pula. Orang seperti engkau, akan tetap saja banyak musuh.

Saya yakin, permusuhan datangnya bukan dari dirimu. Tapi dari pihak orang lain. Mungkin karena niat jahatnya engkau halangi. Mungkin karena dia iri padamu. Tapi yang jelas, engkau akan tetap punya musuh. Sebab apa yang engkau jalani saat ini, telah kulalui ketika muda.

Nah, disaat seperti itu Bungsu-san, engkau memerlukan senjata khusus untuk membela dirimu. Ada berbagai cara orang membela dirinya. Ada yang belajar Karate dan Yudo, barangkali dinegerimu orang belajar silat. Ada pula yang memakai senjata api. Dan di tiongkok maupun di negeri Jepang ini, tak sedikit yang mempergunakan samurai-samurai kecil ini sebagai pelindung dirinya.

Samurai ini sangat efektif. Tak menimbulkan bunyi. Dan kalau dia diikatkan secara khusus di lengan, ditutup dengan lengan baju, maka tak seorangpun yang menyangka bahwa engkau memiliki senjata ampuh”

Dan Tokugawa memang mengajarkan Si Bungsu mempergunakan samurai yang panjangnya tak sampai sejengkal dengan besar sekitar sejari. Selain itu dari Kenji dia belajar dasar-dasar Yudo dan Karate.

Dia kurang tertarik pada Yudo dan Karate. Sebab dahulupun ketika ayahnya menyuruh belajar silat, dia juga sangat tak tertarik. Ternyata samurai-samurai kecil itu telah menolongnya sangat banyak ketika melawan komplotan penjual wanita beberapa hari yang lalu di jalan Brash Basah.

Samurai-samurai kecil itu dia letakkan diatas meja. Lalu dia berbaring. Membalik-balik dokumen itu. Untung saja dokumen itu tertulis dalam bahasa Indonesia. Dia melihat beberapa peta. Beberapa foto. Beberapa alamat dan nama-nama. Peta kota Singapura yang ditandai. Kemudian peta kota Jakarta yang juga ditandai di beberapa bahagian.

Dan saat itu pula pintu kamarnya terbuka dengan paksa. Dia terlonjak bangun. Namun pada saat yang sama, seorang lelaki yang lebih mirip babi gemuk, sudah tegak disisinya. Cina gemuk yang tadi berada dalam taksi hitam pekat! Aneh, segemuk ini tubuhnya, kenapa dia tak mendengar langkah Cina itu ketika naik. Dan lagi pula, buku- buku tangannya nampak membengkak. Tak pelak lagi, ketika tadi dia mendapatkan pintu kamar anak muda ini terkunci, dia telah mempergunakan buku tangannya memukul hancur pintu tersebut.

Sebelum Si Bungsu dapat berbuat lebih banyak, tangan Cina itu yang besarnya lebih kurang sebesar paha Si Bungsu, terayun. Si Bungsu menunduk. Namun tangan gemuk seperti perut babi itu alangkah cepatnya bergerak.

Kepala Si Bungsu kena gebrak. Anak muda itu segera terbanting. Pukulan itu bukan main dahsyatnya. Tubuh Si Bungsu terangkat, terlambung dan menabrak lemari. Kaca lemari hancur. Tubuh Si Bungsu terpuruk kedalamnya. Terlipat dan tak bergerak!

Cina gemuk itu benar-benar yakin pada pukulannya. Dia tak acuh saja pada Si Bungsu. Dengan tenang dia mengumpulkan dokumen yang tadi di baca Si Bungsu yang kini berserakan di lantai. Ketika beberapa orang yang menginap di kamar sebelah menyebelah melihat ke kamar itu, Cina gemuk itu menoleh pada mereka. Tersenyum dan senyumnya memperlihatkan giginya yang kuning. Mungkin ada sekitar dua kilo taik gigi bersarang digiginya yang setengah gondrong itu.

“Tak ada apa-apa la. Hanya sikit gelut-gelut. We punya kawan bobok dalam lemali…he…he” Cina itu coba menjelaskan pada pengunjung di pintu kamar. Para pengunjung tak diundang itu cepat-cepat menarik diri. Masuk ke kamar mereka. Takut dibawa serta pula dalam “gelut-gelut” seperti yang dikatakan raksasa sipit itu. Dan takut kalau disuruh tidur pula dalam lemari. Hih!

Selesai membenahi dokumen, Cina gemuk itu pula berjalan kepintu tanpa menoleh pada tubuh Si Bungsu yang entah hidup entah sudah berpulang ke akhirat. Dia melangkah sambil mulutnya dimonyongkan. Lalu terdengar siulnya perlahan seperti bunyi peluit kapal pecah.

Dan mungkin karena siul maut itu pula Si Bungsu yang “tidur” dalam lemari itu mulai menggoyangkan kepala.

Cina gemuk itu turun ke jenjang. Si Bungsu keluar dari lemari. Bahunya luka dimakan kaca. Kepalanya berdenyut-denyut. Sempat dua kali aku dihantam Cina itu, maka akupun sampailah di jembatan Siratol Mustaqim, pikirnya.

Cina itu berpapasan dengan gadis yang tadi mengantar Si Bungsu ke kamarnya.

Ternyata dia mendengar suara ribut. Karena masih ada tamu, dia tak sempat ke atas. Kini baru bisa. Dan dia berpapasan dengan Cina gemuk itu. Cina gemuk itu menghentikan siulnya yang mirip kapal retak tersebut. Tersenyum, ah lebih tepat dikatakan nyengir, kepada gadis cantik itu.

“Ada apa ribut di atas?” tanya gadis itu sambil tetap melangkah ke atas. Namun tiba-tiba tubuhnya tersentak. Cina gemuk itu menyentakkan tangan si gadis, dan tubuh gadis itu jatuh kepelukannya. Si gemuk hanya memeluknya dengan sebelah tangan. Tangan kiri. Seperti memeluk boneka kecil dari plastik saja.

“Tak ada libut. Hanya sikit gelut-gelut..” sehabis berkata begini, si gemuk mengirimkan sebuah sun kepipi gadis cantik ini.

Bukan main murka dan berangnya gadis itu, dia meludahi muka si gemuk yang kayak babi itu. Ludahnya mendarat dihidung si Cina. Tapi cina gemuk itu tak berang. Malah tertawa senang. Dia lepaskan gadis itu. Kemudian menghapus ludah di hidungnya. Lalu menjilatnya. Gila!

Gadis itu berlari ke atas. Melihat pintu kamar anak muda tadi hancur. Lalu masuk, dan saat itu dia hanya melihat punggung anak muda itu saja ketika yang terakhir ini melompat dari jendela tingkat dua itu ke jalan di depan hotel di bawah sana!

Gadis itu memburu, melihat ke bawah kelihatan parkir taksi hitam pekat yang tadi ditompangi babi gemuk itu. Tapi anak muda yang baru melompat ke bawah itu tak dia lihat. Dia balik lagi ke bawah.

Sementara itu, si gemuk itu sudah sampai di Lobby hotel. Dengan gerakkan seperti babi bunting, dia menuju ke pintu. Di pintu ada tamu yang masuk dan berjalan ke arahnya. Dan tiba-tiba Cina itu tertegak. Dia mengernyitkan kening. Salah lihatkah dia?

Tamu yang baru masuk ini mirip sekali dengan anak muda yang tadi dia gelut-gelut dan dia suruh tidur dalam lemari. Salahkah dia?

Tamu itu tersenyum padanya. Dan tak salah lagi, memang anak muda tadi! Tapi demi perutnya yang gendut, kenapa anak muda itu bisa berada disini?

Dan saat itu gadis anak pemilik hotel itu sampai pula di sana. Dia menatap pada anak muda yang tegak menghadang di tengah pintu. Kedua orang itu mirip seperti perbandingan kerbau dengan kambing! Tapi nampaknya Cina gemuk itu memiliki saraf baja dan rasa humor yang tinggi juga. Dia segera saja mendahului menegur Si Bungsu.

“He, ketemu lagi! Tadi tidul dalam lemali. Cekalang cudah mangun. Haiyya, cincaila..”

Tumbung juga si gendut ini, sumpah Si Bungsu dalam hati. Dan si gendut itu berjalan ke arahnya.

Si Bungsu tiba-tiba menyerang. Dia tak ingin didahului oleh si gendut itu. Dia sudah merasakan akibatnya. Untung saja yang kena adalah dirinya. Yang sudah terlatih bertahun-tahun. Kalau orang lain, dia yakin sudah tiba di akhirat.

Makanya kini dia membuka serangan. Dia hantam perut gendut itu dengan pukulan karate yang dia pelajari dari Kenji. Hop! Mendarat persis tentang pusat. Cina itu tetap tegak. Malah tersenyum. Pukulannya seperti menerpa karet yang kenyal. Memantul kembali.

Sebuah lagi pukulan, kini menuju tempat yang mematikan. Yaitu tentang jantung. Bukankah menurut Kenji, dada bahagian jantung adalah tempat yang paling lemah dalam tubuh? Tempat itu bisa mematikan kalau dipukul dengan kuat dan dengan kecepatan yang penuh perhitungan.

Ah tentang kekuatan, cepat dan penuh perhitungan, dia tak usah malu. Dia sudah ahli. Maka pukulan itupun mendarat. Tepat di tentang jantung Cina gendut itu. Dan laknatnya, pukulannya memental lagi. Dan jahanamnya, Cina itu ngomong setelah kena pukul :

“Haaayaaa, jangan gelut-gelut dimuka olang lamailah kawaaan. Malu kita dilihat olaang. Masak sudah besal masih gelut-gelut”

Syetan. Benar-benar syetan Cina gemuk ini. Dia sudah memukul dengan jurus mematikan, dengan penuh perhitungan dan penuh kecepatan, ternyata dicemoohkan sebagai gelut-gelut saja. Muka Si Bungsu jadi merah padam. Dan Cina itu berjalan terus ke pintu.

Ketika Si Bungsu akan maju lagi, Cina itu mengibaskan tangan kanannya. Dan seperti tadi, Si Bungsu lagi- lagi terlambat menghindar. Tangan babi gemuk itu bukan main cepatnya. Tamparan sambil lalu itu mendarat di pipi Si Bungsu. Tubuh si Bungsu terangkat setengah jengkal dari lantai, kemudian terpental!

Dan dia terpental justru ke tubuh gadis yang tadi mengantarnya ke kamar. Kedua tubuh mereka terguling ke lantai. Untung Si Bungsu masih sadar. Dia segera memeluk tubuh gadis itu agar kepalanya tak membentur lantai. Dan gadis itu dalam kagetnya juga memeluk Si Bungsu erat-erat.

Cina gemuk itu sambil melangkah menoleh ke belakang. Langkahnya terhenti. Dia melihat kedua anak muda itu saling peluk di lantai.

“Haayyaaa! Kalau mau pole-pole jangan sinilah. Masuk kamal saja” Ya tuhan, ya Rabbi! Muka Si Bungsu jadi merah padam. Dia cepat bangkit dan menolong gadis Cina cantik itu bangkit. Kemudian melangkah ke depan.

“Tunggu!” katanya.

Cina gemuk itu berhenti melangkah. Kali ini Si Bungsu benar-benar menghadapi lawan yang tak tanggung-tanggung. Pimpinan sindikat perdagangan wanita ini memang tak tak salah pilih.

“Apa lagi kawan…. Mau gelut lagi?” Cina gemuk itu menyindir. Demi malaikat, Si Bungsu benar-benar mati kutu dibuat orang ini. Tapi sebuah pikiran lain masuk ke kepalanya. Karena itu, dia tak menjawab sindiran Cina gemuk itu. Dan Cina gemuk itu tahu benar akan ketangguhannya, dia melambaikan tangan :

“Bay-bay. Sampai ketemu lagi kawan..” katanya sambil cengar cengir. Dan kali ini, mau tak mau Si Bungsu terpaksa nyegir kuda.

Si gemuk itu memang memiliki rasa humor yang hebat. Hingga dia tak memilih tempat dan waktu untuk bergurau. Dan tak pula memilih lawan. Tak peduli sedang berkelahi atau sedang makan, nampaknya dia suka benar bergurau. Guraunya gurau kuda pula.

Si Gemuk itu masuk ke taksi hitam yang sejak tadi menanti di depan. “Dapat?” tanya Keling yang jadi sopirnya.

“Dapatlaah…” jawab si gemuk itu santai. “Tak ada perlawanan?”

“Ada. Tapi hanya sekedar coba-coba” “Lalu?”

“Lalu ya lalu. We gertak dia. Keluar dia punya kentuk. We tempeleng dia, keluar dia punya taik. Kini dia sedang belak, we pigi”

Orang Keling yang pegang stir itu tertawa seperti burung gagak. Kemudian sedan itu berangkat meninggalkan hotel tersebut.

Taksi itu melaju membelah jalan-jalan di kota Singa tersebut. Dengan rangkaian kejadian itu, bahkan sejak perkelahian di rumah Nurdin dengan sindikat perdagangan wanita beberapa hari yang lalu, Si Bungsu telah terlibat langsung dalam lingkaran kontra sindikat itu. Namanya segera saja masuk dalam daftar orang-orang yang harus dilenyapkan.

Dan si Cina gemuk yang meninggalkan Si Bungsu dalam keadaan hidup di hotel Sam Kok itu ternyata telah membuat kekeliruan. Dan kekeliruan itu segera harus dia bayar begitu sampai di markasnya.

Markas mereka terletak di sebuah taman yang mirip hutan yang bernama Bukit Merah. Sebuah rumah yang terletak lima puluh meter dari jalan Henderson, kelihatan angker. Dari jalan rumah itu tak kelihatan. Hanya nampak sebuah jalan masuk yang dipenuhi pohon-pohon serta pinang merah. Berpagar tinggi. Kesanalah taksi hitam leham itu meluncur.

Sedan tersebut berhenti persis di teras di depan rumah berwarna putih itu. Seekor anjing herder hampir sebesar harimau menggonggong dua kali. Lalu ketika Cina gemuk itu keluar dari mobil, anjing itu terdiam. Mengibaskan ekornya ke bawah perut, lalu duduk diam-diam. Cina dan orang keling itu masuk.

Di ruang tamu mereka segera saja membungkuk memberi hormat pada seorang bule berambut merah yang duduk dengan dada telanjang.

“Beres?” tanyanya dengan suara sengau.

“Beles bos” jawab si Cina. Sambil menyerahkan dokumen yang tadi dia rampas dari Si Bungsu. Bule itu menerima dokumen tersebut. Namun dia tak segera membukanya.

“Apakah dia kau bereskan?”

“Dia bukan apa-apa bos. Anak kemalin yang menangis kena geltak”

“Saya tidak bertanya apakah dia anak kemaren atau anak besok. Yang saya tanya apakah dia telah kau bunuh”

Cina itu ragu-ragu. Temannya yang Keling itu menunduk diam. Nampaknya orang Inggris yang berdada telanjang itu cukup berkuasa. Di belakangnya tegak seorang bule lain, yang bertubuh atletis. Si Bule yang satu ini tetap saja tegak.

Diam tak bergerak.

“Jawab pertanyaan saya, babi gemuk!” orang Inggris itu membentak.

“Ya. Ya, saya segera akan membereskannya bos” si gemuk itu menjawab dengan lemah. Orang Inggris itu mengerutkan kening.

“Engkau memang babi. Engkau terlalu membanggakan kekuatanmu. Tapi hari ini engkau telah meninggalkan jejak. Dan ini bukan kali yang pertama engkau berbuat kesalahan. Engkau boleh mengukur sampai dimana kehebatanmu”

Sehabis berkata, orang Inggris itu memberi kode ke belakangnya dengan goyangan telunjuk kanannya. Dan orang Belanda yang tadi tegak diam seperti patung maju. Si Gemuk itu kaget. Namun dia kelihatannya tak begitu takut. Sebab dalam organisasi ini, bila dia menang dalam perkelahian maka kesalahannya akan diampuni. Tapi bila dia kalah, maka nyawanya memang takkan pernah tertolong.

Ruang tamu dimana mereka berada itu cukup luas. Si Belanda besar itu mengirimkan sebuah pukulan swing yang amat cepat. Namun lebih cepat lagi Cina gemuk itu menangkap tangannya. Dan segera saja Cina itu memutar tangan yang tertangkap itu disertai sebuah bentakkan. Itu adalah gerakan Yui Yit Su yang amat mahir. Mematahkan dan membanting sekaligus.

Tubuh Belanda itu segara saja terputar diudara. Namun ketika tubuhnya persis berada di atas, menjelang gerakan jatuh ke lantai, tangan kirinya meluncur turun dalam bentuk pukulan. Dan Cina gemuk itu tentu saja tak pernah menduga akan adanya serangan ini.

Tak ampun lagi, jidatnya kena hantam. Pletakk!!

Cina itu terpekik. Pegangannya lepas. Dan tubuh Belanda itu berputaran di udara. Membentuk gerakkan salto dua kali. Dan turun dengan ringan di atas kedua kakinya!

Kening Cina gemuk itu benjol sebesar buah mangga. Bengkaknya merah kehitam-hitaman. Ini adalah pertarungan yang bukan main. Dia melangkah perlahan dengan mata berapi mendekati Belanda itu.

Kembali Belanda itu mengirimkan sebuah pukulan cepat ke rusuk. Dan disusul lagi dengan sebuah pukulan dari bawah ke kerusuk. Namun kali ini Cina itu sudah sangat waspada. Dia mengelak dengan memiringkan tubuh. Benar-benar patut dikagumi, dengan tubuhnya yang gemuk tambun seperti kerbau bunting itu Cina ini masih dapat bergerak amat lincah. Sambil mengelak ke samping tangannya mengirimkan sebuah tusukkan dengan dua jari tangannya ke leher Belanda itu.

Serangannya amat cepat. Dan Belanda itu nampaknya anggap enteng.

Barangkali karena serangan itu adalah serangan hanya dengan jari-jari tangan, makanya Belanda itu tak begitu mengacuhkannya. Namun dia segera saja menyadari kekeliruannya ketika ketiga jari Cina gemuk itu menyentuh tenggorokkannya. Serangan itu ternyata bukan sembarangan serangan. Melainkan serangan seorang ahli Kuntau!

Leher Belanda itu, “dimakan” ketiga jari Cina tersebut. Mata Belanda itu medelik. Wajahnya segera saja jadi pucat. Dari lehernya darah mengalir! Ada tiga bekas luka di lehernya! Dia tersurut. Tapi serangan itu nampaknya tak mematikan. Belanda itu memang punya otot dan daya tahan yang luar biasa. Itulah sebabnya tadi dia anggap enteng saja.

Kini ternyata dia berhasil dilukai. Namun Cina itu juga kaget. Biasanya serangan tiga jarinya itu, tak pernah tidak merenggut nyawa. Tapi kini, Belanda itu kelihatan masih tegak. Justru dengan wajah beringas berang dan siap untuk balas menyerang.

Mereka berhadapan.

Saling pandang dan saling intai. Anjing Helder diluar menggonggong. Sekali, kemudian diam.

Belanda itu maju dengan kedua tangan terkepal. Cina itu berputar dengan kedua tangan terbuka. Si Keling dan si Inggris yang jadi Bos di rumah itu melihat dengan diam. Tapi diamnya bos itu berlainan dengan diamnya si Keliang. Si Bos diam dengan suatu kenikmatan melihat pertarungan itu. Sementara si Keling dia dengan peluh bercucuran. Dia berharap agar si Gemuk itu keluar sebagai pemenang.

Sebab, dia termasuk dalam rangkaian tugas untuk melenyapkan anak Indonesia di hotel Sam Kok itu.

Meski dia tak ditugaskan untuk turun tangan langsung, namun dia ikut bertanggungjawab. Maka kalau si gemuk itu kalah nanti, dia akan ikut jadi korban. Harapannya tinggal satu kini, yaitu agar si gendut itu menang.

Perkelahian berlanjut lagi. Suatu saat si gemuk berhasil mendekap tubuh Belanda itu. Dia dekap dengan kuat ke tubuhnya seperti memeluk kekasih. Dengan kedua tangannya yang masih bebas. Belanda besar itu menghantam pelipis dan pangkal telinga Cina itu. Namun dia jadi kaget. Cina itu tak mengubris serangan itu samasekali.

Dan kini tubuhnya dipiting dengan kuat oleh Cina gendut itu keperutnya yang besar. Dengan perlahan, tapi pasti, Belanda itu mulai kehabisan nafas. Dekapan Cina itu alangkah luar biasa kuatnya. Muka Cina itu mulai merah dan berpeluh karena dia mengerahkan tenaganya. Belanda itu berusaha meronta untuk membebaskan diri. Namun pagutan Cina itu seperti pagutan gurita raksasa. Tak tergoyahkan.

Belanda itu mengangkat tangannya kembali. Memukulnya dengan kuat ke pelipis Cina itu. Cina itu menyeringai. Pukulan itu seperti tak dia rasakan. Belanda itu sudah pucat. Nafasnya sudah sejak tadi tertahan oleh kepitan raksasa itu.

Dan tiba-tiba matanya terpandang pada mata sipit Cina gemuk itu. Ya, mata Cina ini adalah bahagian terlemah yang tak terlindung. Cuma apakah bahagian matanya juga kebal? Belanda itu akhirnya menyerang dengan harapan terakhir. Dia memang tak pernah belajar tusuk menusuk dengan jari. Dia hanya tahu main boksen dan gulat. Tapi kini kedua ilmunya itu punah.

Dipunahkan oleh kekuatan Cina yang luar biasa ini. Dengan menggertakkan gigi dan mengerahkan sisa tenaganya, dia menusukkan kedua jari telunjuk dan jari jari tengahnya yang kanan ke mata Cina tersebut. Cina itu sebenarnya sudah akan meremukkan tulang belulang si Belanda. Tapi tiba-tiba matanya jadi gelap. Pedih. Dan sakit bukan main. Dia meraung. Lalu menghempaskan tubuh Belanda itu ke lantai!

Belanda itu meraung pula begitu tubuhnya tercampak. Dia seorang pegulat, jatuh terhempas merupakan hal kecil. Tapi kali ini, dengan hempasan Cina gemuk ini, sakitnya terasa amat melinukan jantung.

Cina itu menutup matanya dengan tangan. Matanya berdarah. Tusukkan jari tangan Belanda itu bukan main kuatnya. Untung saja matanya tak copot keluar. Tapi meski tak copot keluar, tusukan itu cukup membuat matanya tak bisa melihat.

Dan Cina itu tahu, bahaya tengah mengintainya. Karena itu, begitu dia mendengar lawannya memekik di lantai, dia segera maju kesana. Dia hanya memakai perkiraan saja, dan kakinya terangkat. Lalu dia hujamkan kebawah. Ketempat dimana kepala belanda itu dia perkirakan terletak. Perkiraannya tak meleset, hanya perhitungannya agak meleset. Belanda itu sudah menelentang. Begitu dia lihat Cina itu menghantamkan kakinya ke bawah, dia berguling menyelamatkan nyawa.

Lalu sambil tegak dia putar kakinya dalam bentuk sapuan yang amat kuat ke kaki Cina itu. Cina yang tak melihat apa-apa itu tersapu kakinya. Tubuhnya jatuh berdembum ke lantai. Saat berikutnya adalah peristiwa yang mengerikan. Belanda yang bertubuh besar kekar itu melambung tinggi. Dan dalam suatu gerakan gulat profesional tubuhnya meluncur turun dengan kedua kaki menghujam ke arah dada Cina yang terbaring menelentang itu.

Terdengar suara tulang patah. Cina itu meraung lagi. Darah menyembur dari mulut dan hidungnya. Merasa masih belum puas, Belanda itu mengalihkan tegak. Lalu kakinya terayun dalam bentuk sebuah tendangan yang amat kuat. Tendangan mendarat di selangkang Cina itu. Cina itu tak lagi meraung. Mulutnya ternganga. Mukanya berkerut. Tangannya yang tadi mendekap mata, dalam gerak perlahan sekali berusaha memegang selangkangnya. Namun gerakkannya terhenti setengah jalan. Gerakkan itu tak sampai. Karena nyawanya sudah terbang. Cina itu segara saja beralih status dari seorang manusia gemuk menjadi seorang almarhum.

Belanda itu berhenti dengan nafas terengah. Menatap pada bosnya dengan peluh membanjiri muka. Bosnya tersenyum. Baginya sama saja siapa yang menang atau siapa yang kalah. Tak peduli dia. Bos ini menoleh pada si keling yang tegak dengan lutut gemetar. Lalu memberi isyarat dengan gerakkan kepala. Dan si keling jadi ngerti. Dia berjalan ke arah almarhum gemuk itu. Memegang tangannya, dan menyeretnya. Tapi malang, tubuh Cina bukan main beratnya. Tak bergerak di tarik, meski Keling itu tubuhnya juga berdegap besar.

Dia beranjak dari arah tangan. Berjalan ke arah kaki. Kini dia pegang kaki Cina itu. Lalu menariknya. Tak bergerak!

Cina ini nampaknya bukan hanya karena gemuknya saja, tapi karena dosanya juga maka tubuhnya berat setelah dia mati. Menurut orang meski seseorang bertubuh besar, tapi kalau dia banyak beramal dan baik, maka kalau dia mati, tubuhnya jadi ringan. Dan kata orang pula, kalau banyak dosa, meski badan kurus kerempeng, maka mayatnya akan terasa amat berat.

Nah, Cina yang satu ini, sudahlah tubuhnya kayak kerbau bunting dua puluh bulan, ditambah dosanya yang sudah delapan belas gerobak, kini tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun ditarik kawannya. Dan yang menderita adalah temannya ini. Dengan ketakutan, keling itu coba lagi menarik mayat temannya. Tapi sungguh mati, mayat itu tak bergerak. Sedang untuk mengangkat sebelah kakinya saja, Keling besar itu harus mengerahkan seluruh tenaganya?

“Tak bisa?” Bos yang orang Inggris itu bertanya. Keling itu menunduk dengan putus asa. “Lalu mengapa saja kau yang bisa?”

Keling itu menunduk dengan wajah yang patut dikasihani. Dia menatap mayat temannya. Dan dia merasakan kini, temannya ini justru lebih beruntung dari dirinya. Sekurang-kurangnya, mayat ini sekarang tak lagi merasakan ketakutan, pikirnya.

Perlahan tangan bos itu bergerak ke meja. Menyingkirkan koran dan majalah dengan gambar telanjang di depannya. Dan dibawah majalah dengan gambar wanita-wanita cantik bertelanjang itu, dia mengambil sepucuk pistol otomatis.

“Mau ini?” tanyanya. Keling itu mengangkat kepala. Menatap pada moncong pistol yang mengarah ke arahnya. Dia mengangguk perlahan. Tapi pada saat yang sama dia menyadari, bahwa bosnya itu bukan mau memberikan pistol itu padanya, melainkan mau memberikan timah panasnya. Makanya dia cepat menggeleng dan berkata.

“Nehi. Nehilah bos. Kita orang nehi maulah..”

Bosnya menatap dengan mata dingin. Mengangkat pistol setinggi kepala si Keling. Keling itu mengangkat tangannya seperti menutup wajahnya dari mulut pistol yang seperti menyeringai kearahnya itu.

“Nehi. Nehii…” katanya sambil mundur. Dan pistol itu memang tak menyalak. Bos yang orang Inggris itu menatap ke arah si Keling. Si Keling yang merasa nyawanya selamat, memandang pada bosnya yang kelihatan memandang padanya dengan heran.

Keling itu juga jadi heran. Dan ikut-ikutan mengerutkan kening. Lalu melihat ke belakang, dan dia jadi kaget. Ternyata bosnya memandang kebelakangnya. Bukan pada dirinya. Di belakangnya, entah kapan datangnya, telah tegak seorang lelaki asing. Di tangan kirinya terpegang sebuah tongkat panjang. Orang asing itu masih muda. Dan keling ini bisa menerka, orang itu pastilah orang Melayu atau orang Indonesia. Dia menyingkir dari tempat tegaknya. Memberikan keleluasaan pada bosnya untuk menatap orang itu.

Keling itu bersukur atas kehadiran orang asing itu. Sebab dengan kehadirannya, nyawanya telah selamat. Meskipun untuk sementara. Dan orang asing itu tak lain daripada Si Bungsu.

Kenapa dia bisa hadir disana, dikandang singa itu? Padahal tadi dia berada di penginapan Sam Kok setelah ditempeleng dan jatuh bergulingan bersama gadis cantik anak pemilik hotel itu?

Ceritanya.

Semula dia ingin membuat perhitungan disana juga. Dia ingin membabat habis si gendut itu. Dia yakin, sekali dia mengayunkan tangan, ketiga samurai kecil itu akan melayang dan menyudahi nyawa si gendut. Tapi secara tiba-tiba ketika si gendut itu melambai dan mengucapkan bai-bai padanya di pintu hotel, sebuah pikiran lain menyelinap di kepalanya.

Kalau dia babat di hotel, maka dia takkan tahu dimana markas mereka. Lagipula dia takkan tahu siapa- siapa di belakang sindikat jual beli perempuan ini. Makanya Si Bungsu mengikuti si gendut dengan taksi.

Taksi Si Bungsu berhenti di luar. Si Bungsu membayar sewanya. Dia sendiri lalu mencari jalan untuk bisa masuk. Rumah ini ternyata berpagar tinggi. Si Bungsu terpaksa memanjat pohon mahoni lalu melompat ke pagar, baru terjun ke halaman. Untung saja pengalaman di gunung Sago dahulu memudahkan pekerjaannya sekarang ini.

Dia lalu mengendap-endap ke dekat rumah tersebut. Sedan hitam itu dia lihat parkir di depan teras. Dan dari dalam terdenar suara orang bicara perlahan. Ketika dia akan mendekati lagi, dia dikejutkan oleh salak anjing. Ketika dia menoleh, anjing besar itu siap untuk menerkamnya. Tak ada jalan lain bagi anak muda ini selain mengayunkan tangan. Dan dua buah samurai kecil terbang dengan kecepatan kilat. Lalu menancap di leher anjing besar itu. Dan anjing itupun tamatlah riwayatnya. Gonggongannya yang dua kali itu sebenarnya adalah gonggong yang tadi terdengar oleh orang-orang yang ada dalam rumah tersebut.

Tapi karena saat itu si Belanda tengah bertarung dengan Cina gendut itu, maka gonggongan tersebut tak diacuhkan. Kalau saja mereka memperhatikan gonggongannya, dan melihat keluar, mungkin Si Bungsu takkan sempat masuk rumah. Dan Si Bungsu masih sempat mengintai perkelahian seru antara si Belanda dengan si Cina lewat kaca jendela. Dia merasa ngeri juga melihat pertarungan itu berlangsung. Kalau saja dia yang dipagut Cina gendut itu, maka dia yakin nyawanya sudah melayang dengan seluruh tulang ditubuhnya patah-patah. Dan bulu tengkuknya berdiri semua melihat Belanda itu menyudahi nyawa si Cina gendut.

Hih, ini memang bukan pekerjaan main-main pikirnya. Dan dia masuk ketika si Keling kena ancam dikala tak berhasil menyeret mayat Cina gendut itu. Dan kini, orang Inggris yang tak berbaju itu melihat kedatangan anak muda tersebut dengan heran. Kenapa orang asing ini bisa masuk, kemana si Bleki, anjing besar itu, pikirnya.

Dia bersiul. Siulnya melengking tinggi. Siulnya memanggil anjingnya. Namun anjing itu memang sudah mati kok. Tentu saja tak pernah datang.

Bos itu memberi isyarat pada si Keling. Dan seperti seekor anjing pula, si Keling itu berlalri ke luar. Dan di halaman, dekat pohon pinang merah, dia melihat anjing itu ditidurkan malaikat maut. Darah mengenang dekat lehernya. Dia berlari lagi masuk.

“Mati…” katanya.

Orang inggris itu menatap pada Si Bungsu.

“Kamu bunuh anjing itu he?” suara sengau seperti suara kepinding terdengar dari mulut orang Inggirs

itu.

“Tidak. Saya tak minta izin padanya untuk masuk kemari. Dia lalu bunuh diri…” Si Bungsu menjawab

seenaknya.

Inggris itu mengeluarkan suara menggeram. Namun dia suka juga mendengar guyon anak muda ini “Nah, kalau begitu, engkau harus minta izin pada anjing yang satu ini….” Inggris itu menunjuk pada si

Keling.

Dan bagi si Keling, ini adalah perintah untuknya. Perintah untuk menyudahi nyawa anak muda itu. Dan perintah itu sekaligus juga sebagai keringanan hukuman baginya. Artinya, kalau saja dia bisa menyudahi anak muda ini, maka nyawanya akan bisa pula selamat. 

Nah, diapun bersiaplah. Dia bersiap dengan suatu keyakinan bahwa dia bisa menyudahi anak ingusan ini. Bukankah temannya, Cina gendut yang telah mati itu tadi berkata, bahwa anak muda ini terberak-berak ketika digertak?

Keling itu maju. Si Bungsu tegak dengan diam. Dia tak tahu apa kepandaian orang yang satu ini. Kalau si gendut Cina itu mahir Kuntau dan Yiu Yit Su, dan si Belanda mahir dengan boksen dan gulat, maka apa pula kemahiran si Keling ini?

Dia coba mengingat-ngingat, apa kemahiran orang India dalam berkelahi. Seingatnya tak pernah ada yang menonjol. Orang India seingatnya hanya mahir bermain suling untuk menjinakkan ular atau mahir menyanyi dalam film-film. Apakah Keling ini akan memainkan sulung atau akan menyanyi, pikirnya.

Tapi Keling yang satu ini bukan sembarang orang pula. Memang tak sembarang orang bisa masuk jadi anggota sindikat Internasional penjual wanita di kota Singa ini. Keling itu mengayunkan kakinya. Kakinya panjang seperti umumnya orang keling yang lain. Ayunan kakinya berisi juga. Namun Si Bungsu tak usah banyak bergerak kalau hanya sekedar menghindarkan tendangan model demikian.

Samurainya dia ayunkan kebawah. Pletok!! Sarung samurai itu menggetok lutut orang keling itu. Keling itu menyeringai. Matanya juling seketika. Namun dia tak mau kalah. Sebab kekalahan baginya berarti maut. Ini adalah kesempatan akhir baginya untuk menyelamatkan nyawa yang tinggal diujung tanduk. 

Dengan memekik ala kingkong mabuk dia menyerang dengan sebuah tinju. Tinjunya mirip tinju dalam film koboi. Dan Si Bungsu kembali menghantamkan samurainya. Kena tepat disiku Keling itu. Keling itu juling lagi matanya. Sakit menyerang hulu hatinya. Namun dia tak pernah mau mundur. Bukankah ini kesempatan terakhir baginya? Dia maju, dan kali ini ditangannya ada sebuah belati!

Kali ini Si Bungsu tak mau main-main. Begitu tangan si Keling terayun, tangannya juga terayun. Si Bungsu ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cepat. Betapapun, dia harus kembali jadi tukang bantai. Menjual wanita! Bukankah itu sebuah pekerjaan yang alangkah jahanamnya/ apalagi yang diperjualbelikan adalah wanita-wanita dari Indonesia.

Dalam dokumen yang sempat dia baca sebelum Cina gemuk itu datang ke hotel Sam Kok, dia ketahui, bahwa banyak diantara gadis-gadis Indonesia yang ditipu. Anggota-anggota sindikat datang kebeberapa rumah, dikampung-kampung. Mencari gadis atau janda, bahkan isteri orang yang cantik untuk ditawari pekerjaan ringan bergaji besar. Yang mau segera dibawa. Yang tak mau dibujuk dengan berbagai cara. Dan jika sudah berhasil, lalu dibawa ke kantor atau ke tempat pekerjaan yang mereka harapkan.

Mereka langsung dibawa ke kapal. Dan disekap dalam ruangan bawah. Jika jumlah yang dikehendaki sudah terpenuhi, maka kapalpun berangkat. Langsung ke Singapura. Kaum sindikat ini tak pernah khawatir akan kepergok dengan patroli lautan dari pihak Indonesia. Ada tiga penyebab kenapa mereka tak takut.

Pertama, kapal patroli Indonesia saat itu memang tak berapa buah. Kedua, kalaupun kepergok, mereka cukup mengatakan bahwa mereka membawa getah. Kalau diperiksa, mereka cukup memberikan sejumlah uang. Biasanya dengan uang segalanya jadi beres. Tentang uang mereka tak usah cemas. Cukup banyak uang tersedia guna menjalankan operasi itu. Ada uang dollar ada uang rupiah. Tapi yang terbanyak adalah rupiah palsu. Namun dimata aparat Indonesia, perbedaan uang palsu dengan yang tak palsu tak mereka ketahui. Dan ditahun-tahun lima puluhan ini, uang palsu bukan main banyaknya beredar di Indonesia.

Itu baru dua hal kenapa mereka tak takut menghadapi aparat hukum di Indonesia. Kalaupun kedua hal itu gagal, artinya kalau kepergok kapal patroli, lalu aparatnya disogok, tapi masih tetap gagal karena mental dan pengabdian aparatnya kukuh, meski biasanya mental aparat Indonesia yang bertugas di laut saat itu kebanyakan bobrok, tapi mereka tetap saja tak kehilangan akal.

Akal ketiga adalah Bedil!

Ya, mereka memiliki bedil. Mulai dari pistol sampai ke mitraliur ukuran ringan. Senjata-senjata itu tersimpan dengan rapi, namun bisa diambil dan dipergunakan setiap saat diperlukan.

Dalam dokumen yang dibuat Overste Nurdin itu juga Si Bungsu membaca bahwa di kapal saja perempuan itu sudah dijadikan pemuas nafsu binatang para awaknya. Dan jangan lupa, masih dalam dokumen yang sama tertulis bahwa awak kapal dan anggota sindikat yang di Jakarta, adalah orang Indonesia asli!

Tapi untuk uang, persamaan Bangsa dan Tanah Air ternyata tak berguna dalam menyelamatkan kehormatan seseorang. Dan Si Bungsu memang berniat menebas seluruh anggota sindikat yang dia jumpai!

Dan Keling itu memang malang. Dia tak tahu apa yang menyebabkan dirinya lumpuh. Jatuh. Dan mati. Si Bungsu kini memandang tepat-tepat pada orang Inggris yang masih memegang pistol itu.

Bayangan sepuluh hari yang lalu melintas lagi di kepalanya. Yaitu ketika dia bersama Nurdin akan keluar dengan taksi dari daerah Pelabuhan di Anting. Sesaat sebelum taksi mereka dimakan peluru, ia menoleh ke belakang. Di belakangnya sebuah taksi mendekat. 

Di depannya kelihatan duduk dua orang asing. Yaitu satu memegang kemudi. Yang satu kelihatan memegang sebuah tongkat. Ketika hampir mendekati taksi mereka, orang asing yang memegang tongkat itu mengeluarkan tongkatnya makin panjang. Dan dia melihat tongkat itu adalah moncong senjata. Kemudian dia menunduk. Terdengar tembakan. Nurdin terkulai. Namun wajah orang asing itu tak pernah lekang dari ingatannya. Dia ingat benar. Berambut pirang dengan mata biru.

Dan kini, dihadapannya, orang asing yang menembak Nurdin itu, duduk di depannya tanpa baju. Di tangannya terpegang sebuah pistol otomatik. Dan Si Bungsu seperti mendengar suara anak Nurdin sesaat sebelum dia meninggalkan gedung Konsulat untuk pindah ke Hotel Sam Kok.

“Dia telah melukai ayah. Orang itu harus paman lukai pula. Paman bunuh saja. Ya paman? Paman mau berjanji akan membunuh orang yang melukai ayah…?’

“Ya, paman akan membunuhnya. Percayalah…”

Dan perjanjiannya dengan anak sahabatnya itu seperti menyentak jantungnya. “Hmmm, kamu mau berlagak di depan saya he? Ayo maju koe kemari anjing!” dan sambil berkata begitu orang Inggris itu melepaskan sebuah peluru. Peluru itu menerpa pelipis Si Bungsu. memutus puluhan helai rambutnya. Sebuah tembakan yang amat terlatih. Tak melukai kulit sedikitpun.

“Majulah kemari anjing! Kalau tidak, peluru ini akan menyudahi nyawamu…” Inggris itu ngomong lagi. Si Bungsu masih tegak dengan diam. Semburan peluru ketika di daerah pelabuhan dahulu masih membayang dikepalanya.

Namun saat itu orang Inggris tersebut memang membuktikan ucapannya. Pistol di tangannya menyalak dan peluru diarahkan ke jantung Si Bungsu. Namun mata Si Bungsu yang waspada melihat gerak jarinya ketika akan menarik pelatuk. Sebelum dentuman berbunyi, dia melemparkan tubuhnya ke samping. Seiring dengan itu, samurai panjangnya melayang dalam kecepatan kilat!

Samurai itu menancap di sandaran kursi si Inggris. Persis di tentang jantungnya! Namun orang Inggris itu ternyata juga sudah matang dalam perkelahian begini. Kalau tidak, mustahil dia menduduki tempat yang cukup tinggi dalam sindikat. Karena begitu samurai Si Bungsu menancap di kursinya, dia tak lagi ada disana! Dia sudah duluan menghindar. Si Bungsu segera tegak. Dan jadi kaget melihat samurainya hanya menerkam sandaran kursi. Dan lebih kaget lagi dia, ketika menoleh kesamping. Orang Inggris itu tegak di sana dengan sikap petenteng-petentengan. Memandang padanya dengan sikap seorang jagoan menatap penjahat kelas teri! “Hmm, ayolah berlagak lagi kau monyet…!” suaranya mendesis. Si Bungsu tegak lurus. Menatap diam ke

arah orang Inggris yang sejak tadi sudah memakinya sebagai anjing dan monyet ini.

Sebuah letusan bergema. Dan pelurunya menerkam paha Si Bungsu. anak muda itu terpental ke belakang. Terguling di lantai.

“Ayo, bangkitlah. Coba berlagak jagoan padaku…!” dan sebuah letusan bergema lagi. Pelurunya menerkam lengan kanan Si Bungsu.

Anak muda itu terguling untuk kedua kalinya. Empat kali tembakan. Berarti kini masih tersisa satu peluru lagi.

“Bangkitlah. Kau seorang jagoan bukan? Dan seorang jagoan biasanya sok perkasa. Kalau akan ditembak suka tegak lurus dan menantang dengan dada terbuka dengan mata menatap tegas seperti mata anjing. Kau tegaklah dan cobakanlah sikap gagah perkasa konyolmu itu…! Kalau tidak kepalamu akan keremukkan ketika menelungkup itu….”

Orang itu nampaknya memang tak main-main. Dan Si Bungsu memang berusaha untuk tegak. Darah sudah berceceran di lantai. Dia menggigit bibir. Kepalanya mulai pusing. Kebanyakan mengeluarkan darah bisa membahayakan dirinya. Dia tahu benar akan hal itu. Namun dia teringat lagi pada permintaan Eka, gadis kecil Overste Nurdin.

“Paman berjanji akan membunuh orang yang melukai ayah, ya paman?” “Ya, paman berjanji..”

Dan dia bangkit. Tegak dengan tangan tergantung lemah keduanya. Lengan kanan dan paha kirinya telah berlumur darah. Sakitnya hanya Tuhan yang tahu.

“Nah, kini kau datang kesini sambil merangkak. Cepaat..!” perintah orang Inggris itu menggeledek. Si Bungsu menurut. Dia membungkuk. Tangan kirinya bergoyang. Dua buah samurai kecil yang diikat di lengan kirinya itu melosoh turun. Disambut jari-jarinya. Terlindung dari penglihatan si Inggris oleh punggung tangannya.

Dan kini terpaksa mempergunakan samurai yang dilengan kiri. Sebab tangan kananya sudah lumpuh. Ini adalah kesempatannya yang terakhir. Kalau kesempatan ini tak dia pergunakan, maka tamatlah riwayatnya. Dia membungkuk terus untuk memenuhi perintah si Inggris agar dia merangkak. Tapi begitu tubuhnya membungkuk itu, tubuhnya berputar. Dia pikir orang itu pening dan akan jatuh ke lantai.

Namun Si Bungsu berputar sambil melemparkan kedua samurai kecil itu di tangan kirinya. Dan kedua samurai itu menancap di tenggorokkan si Inggris. Masuk hingga hulu samurai itu hanya nampak satu senti. Yang satu menancap di leher si Belanda yang tadi mengalahkan Cina gendut itu. Samurai yang satu itu hanya menancap separohnya. Namun Belanda itu seperti orang dicekik setan. Matanya juling dan lidah terjulur. Dia berusaha untuk mencabut samurai itu dari lehernya.

Namun usahanya itu alangkah sulitnya dia lakukan. Darah meleleh di sela batang samurai kecil itu. Akhirnya yang mampu dia lakukan adalah jatuh. Belum mati. Yang sudah mati adalah si Inggris yang memegang pistol otomatik itu. Ujung samurai kecil itu menyembul sedikit di tengkuknya. Dia merasakan nafasnya sesak. Jantungnya seperti akan pecah. Dia mengangkat pistol. Berusaha menarik pelatuknya.

Namun itulah usahanya yang terakhir. Pelatuk pistol itu tak pernah mampu di tarik. Yang tertarik justru pelatuk nyawanya. Dan nyawanya melompat ke luar dari tubuhnya yang laknat itu. Nyawanya melayang justru ketika tubuhnya masih tegak.

Dan tubuh yang tak bernyawa itu, jatuh dengan bunyi bergedubrak ke atas tubuh Cina gemuk yang tadi ketika mereka masih sama-sama hidup adalah anak buahnya. Kini setelah mereka mati, maka tak ada perbedaan mana yang bos dan mana yang buruh. Ketika sudah mati, yang buruh dan yang majikan jasadnya sama-sama jadi bangkai!

Si Belanda itu masih mengejang-ngejang ketika bosnya sudah mati. Tubuhnya meregang-regang. Suaranya gemuruh seperti kerbau disembelih. Lalu tiba-tiba diam. Matanya memandang pada Si Bungsu dan juga sekaligus memandang pada bosnya. Kenapa bisa begitu? Memang begitulah, karena matanya jadi juling!

Si Bungsu juga jatuh terduduk. Darah sudah cukup banyak mengalir dari dua luka di paha dan di lengan kanannya.

Dia terduduk dengan lemah. Matanya memandang ke meja. Ada surat kabar dan ada majalah dengan gambar wanita-wanita telanjang. Dan ada dokumen yang tadi dirampas oleh Cina gendut itu darinya di hotel Sam kok.

Dia bangkit dengan susah payah. Untung saja di rumah ini hanya empat orang itu saja yang ada. Kalau ada seorang lagi, maka tamatlah riwayatnya. Bagaimana dia akan melawan dengan tubuh luka demikian?

Dia lalu memunguti dokumen itu. Memasukkan ke balik baju di sebelah kiri. Kemudian mengitari kamar- kamar di rumah itu dalam usahanya mencari kotak obat-obatan. Dan kotak obat itu dia temukan di ruang makan. Dia buka tutupnya. Mengambil sejenis alkohol. Menyiramkannya ke kapas. Lalu dia merobek kaki celana dan lengan bajunya di tentang luka tertembak tadi. Untung kedua peluru itu menembus langsung kaki dan tangannya. Dengan demikian dia tak begitu menderita.

Yodium itu dihapuskan ke lukanya. Pedihnya bukan main. Namun dengan teguh dia bersihkan terus. Setelah itu dia mengambil sejenis obat lalu membalutkan ke lukanya. Dia masih belum pergi dari rumah itu. Sidik jarinya bertebaran di rumah ini. Polisi Singapura bisa dengan mudah membekuknya dengan alasan pembunuhan. Sebab sidik jarinya diambil ketika dia mula pertama mendarat di lapangan udara.

Pembunuhan anggota sindikat itu di rumah Nurdin yang terletak di jalan Brash Basah memang tak diusut sebagai sebuah pembunuhan. Karena pihak Konsulat Indonesia melakukan protes dan menyatakan sindikat-sindikat itu datang dengan niat merampok.

Maka untuk menghilangkan jejak, Si Bungsu lalu mengambil derigen minyak yang dia temukan di garasi.

Lalu dia siramkan ke luruh ruangan.

Nah, kini tinggal mengambil korek api. Dan benda itu ada di atas meja. Dekat majalah dengan gambar perempuan telanjang. Dia mengambil korek api. Lalu membakar majalah dan koran di meja itu. Api menyala. Koran dan majalah itu dia lemparkan ke minyak yang tadi telah dia siramkan. Dan api segera menjilat dan membakar keseluruhan ruangan.