Tikam Samurai Si Bungsu Episode 2.4

Si Bungsu yang tegak tiga depa dari Michiko. Adalah orang pertama yang dapat melihat gerak tangan gadis itu. Dia melihat sesuatu yang mengkilap di tangannya yang ke luar dari keranjang kecil itu.

Dan tangan gadis itu menghujamkan ke dadanya. Nalurinya yang amat sensitif, yang dia bawa dari Gunung Sago, segera mengirimkan isyarat bahaya.

Dan dengan gerak yang hanya berdasarkan nalurinya saja, samurainya tersebut, dan dalam sebuah gulingan di lantai, dalam jurus Lompat Tupai, samurainya bekerja.

Samurai kecil di tangan Michiko kena dihantam samurainya. Samurai kecil itu terpental. Menancap di loteng kuil!

Michiko kaget. Semua pendeta juga kaget melihat kecepatan anak muda ini. Michiko menatap Si Bungsu. dan tiba-tiba dia memeluk anak muda itu!. ”Bungsu-san…..kenapa harus jadi begini?” isaknya.

Sementara itu Saburo sampai di sana. “Michiko-san….” Katanya perlahan.

Gadis itu menoleh pada ayahnya. Dan tiba-tiba dia berlari ke pelukan si ayah.

“Ayah, dialah pemuda yang kuceritakan itu. Dialah yang dua kali menyelamatkan nyawaku. Dialah yang…..yang…oh Tuhan….oh Tuhan….mengapa harus jadi begini. Biarlah aku mati…..biarlah aku mati ayah…..”

Gadis itu hampir-hampir histeris!

Saburo jadi kaget mendengar ucapan anaknya. Para pendeta yang semuanya juga telah mendengar cerita itu dari Saburo, juga jadi kaget.

Saburo menatap Si Bungsu. Kedua musuh berbuyutan ini saling pandang.

Dan kedua sama-sama terkejutnya mendapatkan kenyataan ini. Betapa tidak, Si Bungsu yang telah menolong Michiko sejak dari Tokyo, telah begitu akrab dengan gadis itu, yang secara jujur harus dia akui bahwa dia jatuh hati padanya. Ternyata gadis itu adalah anak musuh besarnya.

Anak dari seorang lelaki yang telah menista dan memusnahkan keluarganya. Seorang fasis yang telah merejam dan menista negerinya. Tanpa dapat dia tahan, bulu tengkuknya berdiri menerima kenyataan pahit ini.

Saburo Matsuyama demikian pula. Dia telah “cuci tangan” dari urusan-urusan duniawi. Dia ingin mencuci dosa yang dia perbuat selama perang dengan menjadi seorang pendeta.

Keyakinan, amal saleh dan kedermawanannya menyebabkan dia diangkat oleh dewan pendeta menjadi Kepala Pendeta di kuil Shimogamoini. Yaitu salah satu diantara tak banyak kuil yang berpengaruh tidak hanya di Kyoto, tetapi juga di kawasan Jepang bahagian Selatan!

Dua hari yang lalu dia demikian bahagia menerima kepulangan puteri tunggalnya dari Tokyo. Dia terkejut mendengar bencana yang hampir menimpa anaknya. Dia sangat berterimakasih atas bantuan pemuda yang belum dikenal itu.

Dia ingin mengadakan doa selamatan atas terhindarnya Michiko dari bencana tersebut. Dan dia telah merencanakan untuk datang hari ini selesai dia memimpin upacara keagamaan ke hotel anak muda itu.

Michiko berkata bahwa anak muda yang menolongnya itu berasal dari Indonesia. Tak sedikitpun hatinya berdetak, bahwa anak muda yang menolong anaknya itu adalah Si Bungsu yang mencarinya untuk membalas dendam.

Dan kini dia dihadapkan pada kenyataan yang alangkah pahitnya ini. Dia melepaskan pelukan anaknya.

Maju dua langkah ke hadapan Si Bungsu yang tegak memegang samurainya dengan wajah dingin. Saburo berlutut di lantai. Membungkuk dalam-dalam. Kemudian terdengar suaranya bergetar.

“Bungsu-san, terimakasih banyak atas pertolonganmu pada anak saya. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu. Saya tahu betapa pedihnya dendam yang kau simpan selama bertahun-tahun.

Kini, saya akan menerima pembalasanmu. Bertahun-tahun saya menghindar dari rasa takut atas dosa yang saya perbuat. Tapi akhirnya Tuhan menunjukkan bahwa cepat atau lambat pembalasan atas dosa yang diperbuat manusia atas manusia lain, pasti akan dibalaskan. Saya terima apapun pembalasan yang kau lakukan padaku…”

Si Bungsu maju setindak dan mencabut samurainya. Dan tindakan inilah yang mendatangkan bencana yang tak terhindarkan di kuil Shimogamo itu. Dia maju mencabut samurainya tidak dengan maksud menebas leher Saburo yang menunduk itu. Dia ingin menancapkan samurai itu lantai dihadapan lelaki itu. Dan setelah ditancapkan, dia ingin berkata:

“Kau lihatlah samurai ini Saburo. Putih berkilat, tapi berlumur darah dan berbau maut. Dengan samurai ini dahulu keluargaku kau habisi nyawanya, kini dengan samurai ini pula aku menuntut balas….!”

Itulah yang ingin dia perbuat dan ucapkan. Tapi para pendeta yang enam belas orang itu, yang berkumpul di sekeliling Si Bungsu, menyangka bahwa dia akan menghentakkan ujung samurainya ke tengkuk Obosan mereka.

Karena berfikir demikian, maka wajar saja mereka turun tangan membela. Dua orang diantaranya, yang tegak dekat sebuah kursi, segera menyambar kursi itu dan menghantamkannya pada Si Bungsu.

Anak muda ini mendengar desir angin kursi yang dihantamkan itu. Dan dia tahu bahwa dia diserang dari belakang.

Dia berbalik dengan cepat. Tangannya yang memegang samurai terhunus itu bekerja cepat sekali. Kursi yang terbuat dari kayu keras itu putus seperti batang pisang. Patahannya beserpihan.

Si Bungsu sebenarnya tak mau segera menurunkan tangan kejam terhadap para pendeta itu. Dia sudah akan menghentikan serangannya. Tapi para pendeta itu justru melanjutkan serangannya.

Mereka tetap menyangka anak muda ini akan membunuh Obosan mereka. Pendeta Gemuk yang memegang sisa kaki kursi yang runcing menghujamkannya kaki kursi itu ke rusuk Si Bungsu.

Si Bungsu yang telah menghentikan gerakannya, jadi terlambat mengetahui serangan ini. Tak ampun lagi, rusuknya robek! Darah mengalir. Dan kesalahan pengertian kecil itu, segera robek menjadi perkelahian maut.

Merasa dirinya dilukai, Si Bungsu sadar bahwa orang ini menghendaki nyawanya. Maka begitu kaki kursi yang runcing itu merobek rusuknya, samurainya bekerja dua kali sabetan ke belakang. Perut pendeta itu robek.

Temannya yang satu lagi melemparkan pula sisa kursinya pada Si Bungsu. Dan dia juga menerima bahagian yang mengerikan. Tangannya putus dan rusuknya robek menganga!

Terlalu cepat kejadian itu untuk segera dipahami Saburo. Dia masih menunduk ke lantai, siap menerima pembalasan Si Bungsu ketika tragedi berdarah itu berakhir.

Ketika mengangkat kepala, kedua pendeta itu sudah rubuh mandi darah dan mati. Rusuk Si Bungsu sudah terluka.

Dia kaget dan segera berdiri. Dan kekagetannya ini disalah tafsirkan oleh pendeta yang lain. Mereka menyangka Saburo tegak untuk menyerang Si Bungsu. padahal bekas perwira Jepang itu ingin menghentikan peratarungan tersebut. Begitu Saburo tegak, empat pendeta segera menghantam Si Bungsu. Para pendeta dalam kuil ini tak seorangpun yang bersenjata. Senjata hanya mereka pakai ketika latihan di Doyo.

Mereka lalu menyerang dengan jurus-jurus Kuntau, Kungfu atau Karate. Namun tangan kosong mereka, betapapun tangguhnya, menghadapi samurai Si Bungsu, benar-benar suatu hal yang patut dikasihani.

Kalau saja lawan mereka bukan Si Bungsu, mungkin mereka bisa menang. Tapi lawan mereka adalah Si Bungsu!

Untung saja anak muda ini tak mau turun tangan kejam pada penyerang-penyerang tangan kosong ini.

Betapapun jua, dia bukan tukang bantai. Dan dia memang menghindarkan pembantaian itu.

Dia bergulingan di lantai menghindarkan serangan itu. Ke empat pendeta itu maju terus.

“Tahan…!!!” Si Bungsu berkata sambil menjauh. Tapi saat itu nampaknya bencana yang lebih jauh besar sudah tak terhindarkan lagi.

Mendengar pekik Michiko dan bentakan-bentakan tadi, beberapa orang Sensei (instruktur) silat yang tegak di teras mengawasi pendeta yang berlatih jadi kaget.

Mereka segara masuk. Dan melihat betapa orang asing tadi berkelahi dengan pendeta-pendeta rekan mereka. Tentu saja mereka jadi marah dan bersamaan menghunus samurai!

Begitu empat orang sensei itu masuk, keempat pendeta bertangan kosong itu mundur. Dan keempat sensei itu mengurung Si Bungsu di tengah.

“Tahan…!” Si Bungsu masih coba menghindarkan pertumpahan darah.

“Semua mundur!” terdengar perintah Saburo. Tapi situasi kembali tak memberi peluang bagi pendeta untuk menjalankan seruan Si Bungsu atau perintah Saburo.

Ke empat sensei itu sudah menggebrak maju. Seiring dengan pekik Michiko, empat samurai menyerang Si Bungsu dari empat jurusan di empat tempat berbahaya dengan kecepatan yang terlatih!

Para pendeta kuil Shimogamo ini adalah para pendeta yang disegani di Kyoto. Mereka disegani selain karena punya pengaruh dan wibawa yang sangat dihormati, juga karena di kuil ini terdapat pendekar-pendekar tangguh. Dan sebenarnya, menghadapi keempat sensei ini, jarang ada orang yang bisa luput dari ancaman maut.

Dan itu juga sudah bisa diperhitungkan para pendeta tersebut. Termasuk Saburo.

Orang tua bekas Letnan Kolonel balatentara Jepang itu, segera maju menghalangi keempat anak buahnya. Dia tak ingin anak muda yang telah menolong puteri tunggalnya itu celaka.

Namun gerakannya terlambat jika dibandingkan dengan gerak samurai keempat anak buahnya itu. Tapi keempat samurai anak buahnya itu juga terlambat jika dibandingkan dengan gerak samurai Si Bungsu!

Si Bungsu, anak muda yang telah bertekad mati demi membalaskan dendam keluarganya itu adalah seperti malaikat maut yang luar biasa berbahanya.

Sudah bertahun dia melatih diri. Dan kini saatnya hasil latihan itu dipergunakan. Kalau selama di Bukittinggi, Pekanbaru atau di Tokyo dan terakhir di Gamagori melawan bandit-bandit Kumagaigumi, semata- mata untuk membela diri atau membela orang lain. Maka kini adalah tujuan daripada seluruh latihan yang bertahun dia jalani itu.

Dia telah hidup menderita penuh cobaan di Gunung Sago. Itu semua dengan tujuan membalas dendam pada Saburo.

Kalau di Bukittinggi dia diburu, kemudian membantu perjuangan kaum pejuang bawah tanah, itu semua juga dalam rangka mencari Saburo.

Kalau di Tokyo dia melawan tentara Amerika dan melawan Jakuza itu juga sekadar untuk mempertahankan dirinya agar tetap hidup untuk bisa bertemu Saburo!

Kini dia berkelahi di hadapan Saburo. Bukan dengan Saburo! Makanya dia juga harus tetap hidup untuk bisa melawan Saburo! Sumpah ayahnya sesaat sebelum mati, dengan samurai tertancap di dada, bahwa ayahnya akan membalas dendam pada Saburo, hari ini harus dia lakukan!

Dia harus hidup untuk bisa melaksanakan sumpah dan dendam turunan itu! Karenanya anak muda itu kini berubah menjadi singa luka yang alangkah berbahayanya!

Keempat samurai sensei itu dia tangkis dengan kecepatan yang luar biasa. Tangan para sensei itu tergetar dan pedih begitu samurai mereka beradu.

Mereka terkejut. Namun itulah saat mereka terkejut untuk terakhir kalinya. Sebab setelah itu, kecepatan samurai orang asing itu sudah tak bisa lagi mereka ikuti.

Tahu-tahu mereka mendapatkan diri mereka seperti dilumpuhkan. Ada yang merasa dadanya robek, ada yang merasakan jantungnya pecah. Ada yang merasakan perutnya ngilu. Lalu dunia mereka gelap! Mereka rubuh, mati!

Hanya dalam sekali gebrak. Keempat sensei kuil Shimogamo ini mati! Namun murid-muridnya yang latihan di luar sudah membanjir masuk. Dan kini dengan tongkat yang panjangnya satu setengah depa, besarnya selengan lebih, mereka menyerang Si Bungsu.

Si Bungsu melihat ini sebuah bencana besar. Betapapun tangguhnya dia, namun menghadapi tongkat panjang ini amat berbaya.

Dia tak bisa mendekati orang-orang itu. Itulah bahayanya. Lagipula, dia harus menghemat tenaga. Sebab setelah ini, lawan yang harus dia hadapi adalah Saburo!

Karena itu, begitu ada lowongan sedikit, dia lalu mempergunakan Lompat Tupai. Tubuhnya bergulingan di lantai. Tapi beberapa tongkat sempat menghajar tubuhnya. Sakitnya bukan main.

Dia menahan sakitnya dengan tetap bergulingan. Yang dia tuju adalah Michiko! Dan dalam gulingan terakhir dia mencapai diri Michiko yang terduduk lemah dan menangis!

Dia sambar tubuh gadis itu. Membawanya bergulingan di lantai. Sebelum orang-orang tahu dan sadar apa yang terjadi, dia sudah bangkit mengapit Michiko dengan melekatkan samurai itu ke leher gadis tersebut! “Majulah, dan gadis ini akan kupotong lehernya!” dia mendesis di antara nafasnya yang memburu.

Semua orang terpaku di tempatnya. Saburo terbelalak.

Michiko menggigil dan menangis.

“Perintahkan mereka mundur semua Saburo. Atau kau ingin anakmu ini terbunuh….?!” Suara Si Bungsu mengancam lagi seperti sayatan pisau cukur.

“Mundur….! Mundurlah semua!! “ kata Saburo.

Suaranya terdengar sangat bermohon. Dia sangat megkhawartirkan nasib puterinya. Belasan pendeta itu segera mundur. Dan ditengah ruangan kini tegak Si Bungsu mengepit Michiko. Lima depa didepannya tegak dengan tubuh lunglai Saburo Matsuyama. Si Bungsu menatap keliling.

Menatap pada pendeta-pendeta yang mengepungnya.

Kini seluruh pendeta yang di luar yang tadi latihan di altar Doyo, sudah masuk. Mereka memegang berbagai senjata. Tongkat kayu, samurai, rantai, double stick dan tombak.

Di tengah ruangan, selain Si Bungsu, Michiko dan Saburo, juga tergeletak empat mayat pendeta yang mati dimakan samurai Si Bungsu.

Para pendeta yang masih hidup termasuk Saburo, benar-benar terkejut melihat kehebatan orang asing ini mempergunakan samurai. Tak pernah terbayangkan di fikiran mereka bahwa ada seorang asing yang akan mampu mempergunakan samurai seperti itu.

Mereka kini tegak dengan diam.

“Kalian dengarlah!” Si Bungsu berkata dengan tetap mengancamkan samurainya pada leher Michiko. “Saya tak bermusuhan dengan kalian. Saya datang dari Indonesia mencari seorang lelaki yang telah

membunuh ayah saya dengan licik. Yang sampai hati membunuh ibu saya. Seorang perempuan yang tak berdaya. Lelaki itu juga memperkosa kakak saya. Kemudian, setelah dia puas, dia membunuhnya. Lelaki jahanam itu menghantam saya dengan samurainya. Saya rubuh. Kemudian lelaki itu, yang memimpin sebuah pasukan yang paling kejam, membakar kampung saya membunuhi para lelaki dan kanak-kanak. Memperkosa perempuannya.

Tuhan mentakdirkan saya tetap hidup. Saya bersumpah untuk mencari lelaki itu. Saya berlatih samurai. Dan bersumpah akan membunuh lelaki jahanam itu dengan samurai yang dia pergunakan membunuh keluarga saya.

Dari jauh saya datang, di sini saya temukan lelaki itu. Dialah Obosan Saburo Matsuyama!”

Si Bungsu menunjuk pada Saburo dengan ujung samurainya yang berlumur darah. Semua pendeta kuil Shimogamo itu tertegun. Mereka menatap pada obosan mereka. Suasana jadi amat sepi.

Saburo menjatuhkan diri. Berlutut di lantai. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Lalu terdengar suaranya serak :

“Benar. Semua yang diucapkan anak muda itu adalah suatu kebenaran. Hidup saya dimasa lalu dilumuri dosa dan darah. Apa yang dia katakan memang benar….saya pantas menerima pembalasan yang setimpal” suara Obosan itu mirip sebuah tangisan. Bergetar dan nyata bathinnya sangat terpukul.

Semua pendeta yang mendengar pengakuan itu seperti mendengar petir di siang hari. Mereka adalah orang-orang pencinta perdamaian. Kuil Shimogamo selain disegani karena pendekar-pendekarnya, karena Obosannya yang berwibawa juga disegani dan banyak pengikutnya karena kasih sayang yang disebarkannya.

Di Kyoto ini ada beberapa buah kuil besar. Kuil-kuil besar yang dihormati dan disegani orang itu adalah kuil Shimogamo, kuil Daitokuji dan kuil Kinkakuji. Keduanya terletak di daerah Kitaku. Kemudian kuil Kitano, kuil Myoshinji, kuil Koryuji, kuil Toji dan kuil Higashi Honganji.

Namun diantara kuil-kuil besar itu, maka kuil Shimogamo merupakan kuil yang paling dihormati dan disegani penduduk Kyoto.

Dan kini, ternyata Obosan mereka, Kepala Pendeta yang selama ini mereka hormati, yang selama ini mereka banggakan, dituduh sebagai seorang pembunuh, penyebar bencana, pemerkosa dan malah pembunuh kanak-kanak! Mereka hampir-hampir tak percaya.

Tapi betapa mereka takkan percaya, kalau Obosan sendiri mengakui hal itu?

Bagi Saburo, ini adalah pukulan terhebat selama hidupnya setelah kematian isterinya. Melihat Saburo yang berlutut di lantai itu, Si Bungsu berkata :

“Bagaimana kalau hari ini anakmu ini kuperkosa sebagai balasan atas yang engkau perlakukan pada kakakku, pada puluhan wanita Indonesia lainnya semasa engkau jadi perwira Kempetai?”

Kepala Saburo terangkat menatap pada Si Bungsu.

“Ampunkan saya, jangan sakiti anak saya. Engkau cencang dan bunuhlah saya, tapi jangan ganggu anak saya…”

Suaranya yang bermohon itu tambah menyakitkan hati Si Bungsu.

“Bukankah ketika engkau akan membunuh ayahku, ibuku datang menyembah kakimu, memohon belas kasihanmu agar jangan membunuh suaminya? Namun saat itu engkau tega membunuhnya. Sekarang aku akan bunuh anakmu…..!”

Sebenarnya tak ada niat Si Bungsu untuk menyakiti Michiko. Namun ingatan terhadap kematian ayah, ibu dan kakaknya, benar-benar melukai hati anak muda ini.

Dan tanpa dapat dia kuasai sepenuhnya, tangannya bergerak mendorong tubuh Michiko yang ada dalam dekapannya. sana. Gadis itu terpekik dan rubuh mandi darah! Pakaian tentang punggungnya robek. Darah mengalir dari

Saburo terlompat tegak.

“Michiko-sannnn…” Saburo benar-benar memekik dan menangis sambil menubruk tubuh anaknya itu. Gadis itu memang jantung hatinya. Anak tunggal yang sangat disayangi.

Melihat Si Bungsu sudah mencelakai Michiko dua orang pendeta yang menjadi instruktur Samurai maju serentak. Namun yang mereka hadapi saat ini, mungkin satu-satunya manusia yang tercepat mempergunakan samurai di seluruh tanah Jepang saat itu.

Hal itu segera terbukti, ketika dengan kecepatan yang tak terikutkan oleh mata, samurai ditangannya membabat samurai di tangan kedua sensei itu.

Kedua samurai pendeta itu hampir saja terpental ke udara saking kuat dan kukuhnya benturan samurai Si Bungsu.

Mereka kaget. Dan kekagetan itu adalah kelemahan mereka. Sebab waktu yang sedetik untuk kaget itu sudah terlalu panjang bagi Si Bungsu.

Samurainya bekerja lagi. Salah satu samurai di tangan pendeta itu terpental ke udara. Dan kedua pendeta itu rubuh dengan dada robek.

Si Bungsu berputar, dan samurainya memukul samurai yang terpental ke udara, yang saat itu sedang meluncur turun.

Terdengar suara besi beradu dan bunga api memercik. Kemudian samurai pendeta yang terpukul itu tertancap setengah jari dari tubuh Saburo Matsuyama yang tengah memeluk Michiko.

Kejadian beruntun itu amat cepat. Suasana tiba-tiba jadi sepi. Samurai yang tertancap di lantai itu bergoyang.

“Apakah engkau akan berlindung terus dibalik punggung murid-muridmu Saburo? Apakah engkau tak mengenal malu menyuruh pendeta yang tak berdosa ini untuk bertarung menyelamatkan nyawamu? Tegak dan pertahankan dirimu!

Aku bukan hewan seperti engkau yang sampai hati membunuh perempuan. Anakmu hanya terluka kulit”

Suara Si Bungsu terdengar dingin. Dan dia tegak dengan samurai berdarah di tangannya. Dengan kaki terpentang lebar.

Michiko memang tak cedera. Hanya kulit punggungnya luka sedikit. Luka tergores. Si Bungsu memang tak berniat menderainya. Dia hanya bermaksud memancing amarah Saburo untuk mau melawannya.

Dan kali ini, tak seorangpun diantara para pendeta yang puluhan banyaknya itu berani maju menyerang. Sudah delapan orang pendeta pendeta kuil mereka yang menemui ajal ditangan anak muda perkasa ini.

Dan kedelapan orang itu, semua adalah para sensei. Instruktur mereka. Kalau instruktur mereka saja dengan mudah dirubuhkan anak muda itu, apalagi diri mereka.

Kini mereka hanya tegak berkeliling menanti sikap obosan mereka. Saburo akhirnya tegak. Menatap pada Si Bungsu.

Dia akhirnya menyadari, bahwa anak muda ini tak berniat mencelakai diri Michiko. Dia akhirnya menyadari, bahwa dari jauh anak muda ini datang benar-benar dengan maksud mencari dan menghendaki nyawanya.

Dia sudah mengukur kemampuan anak muda ini dalam memakai samurai. Dalam Kempetai yang bertugas di Asia, dia termasuk salah seorang samurai yang tangguh.

Tapi, kini melihat cara anak muda itu mempergunakan senjata tradisionil mereka itu, dia yakin jarang tandingannya di negeri ini. Anak muda ini bersilat samurai bukan dengan sistim dan ilmu samurai yang biasa.

Dia bersilat dengan hati dan istinknya! Inilah kelebihan anak muda itu. Kelebihan yang tak mungkin ditandingi.

Namun, meskipun dia sadar bahwa anak muda itu takkan terlawan, dia tak mau membuat anak muda itu kecewa. Dia harus melawannya. Anak muda itu tak mau membunuh Michiko. Itu saja sudah sebuah kebaikan yang takkan mungkin dia lupakan diakhir hayatnya ini.

“Baiklah. Saya akan melawanmu….” Katanya perlahan. Kemudian perlahan dia mencabut samurai yang terancap di lantai di sisi Michiko.

Dia tegak lurus-lurus menatap Si Bungsu. Lalu perlahan-lahan kepalanya berpaling kepada para pendeta anak buahnya yang tegak berkeliling.

“Jika dia keluar sebagai pemenang dalam perkelahian ini, biarkan dia keluar dengan selamat dari sini. Dia menang dalam suatu perkelahian yang terhormat. Karena itu dia berhak dihormati sebagai seorang samurai sejati…’ Sehabis berkata begini, dengan cepat kakinya menggeser dua langkah menghampiri Si Bungsu. Michiko sudah tak sadar diri. Dia tetap terlentang. Ketika Si Bungsu mengancamkan samurai kelehernya, dia ingin mati saja di tangan anak muda itu.

Dan ketika Si Bungsu akan membunuh atau memperkosanya, dia sudah tak sadar diri. Hatinya benar- benar sakit dan terluka mendengar ucapan anak muda yang diam-diam dia cintai itu. Kalau saat ini dia jatuh pingsan, maka dia pingsan bukan karena luka di pungggungnya. Melainkan karena luka dihatinya.

Dan saat itu Saburo Matsuyama sudah berhadapan dengan Si Bungsu!

Ketika Saburo maju menggeserkan kakinya di lantai, perlahan Si Bungsu menyarungkan kembali Samurainya. Samurainya itu dia pegang di tangan kiri. Tangan kanannya terkulai lemah. Dia menahan nafas.

Semua pendeta yang mengelilingi mereka jadi terheran-heran akan sikap demikian. Tadi anak ini yang menantang Obosan mereka. Tapi kini, ketika Obosan maju dengan samurai siap menyerang, tahu-tahu anak muda itu menyarungkan samurainya kembali.

Apakah anak muda ini merasa takut dan merobah niatnya? Pikir mereka.

Namun yang tak heran, malah terkejut melihat sikap anak muda itu adalah Saburo Matsuyama.

Tadi dia sudah menebak, bahwa anak muda ini bertarung dengan hati dan nalurinya. Tidak dengan sistim dan ilmu silat samurai biasa.

Dan begitu melihat samurai Si Bungsu menyisipkan samurai, dia segera tahu, bahwa anak muda ini benar-benar seorang yang tangguh. Seorang yang amat percaya pada diri dan kemampuannya.

Dan dia ingin mencoba.

Sebuah bentakan berikut suatu serangan tiga kali bacokan cepat dia lakukan pada Si Bungsu. serangannya amat cepat. Malah cepat sekali. Dia menyerang sambil pindah tempat dua kali. Serangan pertama ke arah leher dari depan. Serangan kedua dari kiri dengan memindahkan kaki kanannya ke samping menyerang pinggang. Serangan ketiga dari kanan dengan menggeserkan kaki kirinya menyerang lutut!

Namun tangan kanan Si Bungsu bergerak seperti bayang-bayang. Ketiga serangan itu dia tangkis tanpa menggeser tegak seincipun! Bunga api beberapa kali memercik ketika samurai mereka beradu!

Mereka kini tegak saling pandang. Saburo dengan kaki kiri di depan dengan samurai teracung setinggi dada. Si Bungsu tegak dengan kaki terpentang ke kiri dan ke kanan selebar bahu. Samurai sudah dalam sarung di tangan kiri!

Tiba-tiba kembali dengan gerakan cepat Saburo mengelilingi Si Bungsu, dan begitu dia berada di belakang, dia melancarkan serangan kilat memancung dari atas. Si Bungsu membelintangkan samurainya di atas kepala.

Tapi ternyata serangan itu hanya serangan tipuan. Serangan yang sebenarnya bukanlah dengan samurai.

Melainkan dengan tendangan! Tendangan Saburo menghantam punggung Si Bungsu!

Namun tipuan ternyata di balas dengan tipuan. Si Bungsu bukannya tak tahu bahwa gerakan itu adalah gerakan tipuan. Hal itu dia ketahui dari arah angin yang berpindah akibat serangan kaki Saburo!

Dia menarik samurainya yang membelintang di atas kepala dan kini samurai bersarung itu menghantam lutu Saburo!

“Prakkk!!” sarung samurainya mengebrak lutut Obosan itu. Saburo tersurut. Dia jadi pucat. Sebenarnya kalau Si Bungsu mau, maka dia tak perlu menangkis dengan samurai bersarung. Melainkan dengan samurai telanjang. Dan kalau itu sampai dilakukan anak muda itu, maka kini Saburo tidak lagi memeiliki kaki kanan dari lutut ke bawah!

Dia jadi ngeri. Namun sekali lagi dia menggebrak maju. Waktu itulah Michiko yang pignsan jadi sadar.

Melihat betapa ayahnya menyerang anak muida itu, dia memekik memanggil :

“Ayaaaah. Jangaaaaaannn!!!” dan gadis itu tidak hanya sekedar menjerit, dia langsung berdiri dan lompat ke tengah pertarungan!

Saat itu samurai Saburo telah melayang ke arah belikat Si Bungsu. samurai Si Bungsu menghantam dengan kekuatan penuh. Samurai Saburo terlempar ke udara. Persisi seperti terlemparnya samurai di tangan ayah Si Bungsu, Datuk Berbangsa di Situjuh Ladang Laweh beberapa tahun yang lalu.

Kini samurai itu meluncur turun. Sebenarnya dengan mudah Si Bungsu dapat menyudahi nyawa Saburo.

Namun Michiko telah memeluk ayahnya!

Tanpa sadar sedikitpun, samurai yang tadi melambung meluncur turun, persis tentang kedua anak beranak itu. Si Bungsu tertegun. Samurai itu pasti akan menancap di tengkuk Saburo yang memeluk anaknya!

Selintas dia teringat betapa pedihnya hidup tanpa ayah, tanpa ibu dan saudara. Oo, bertahun dia telah hidup demikian. Kini, ada seorang gadis yang telah kematian ibu, seorang anak tunggal, yang akan kematian ayahnya pula. Akan dia tambahkah jumlah kanak-kanak yang yatim piatu? Yang tersikasa oleh kesepian tanpa kasih sayang ayah dan bunda? Pantaskah dia membalaskan penderitaannya pada orang lain?

Pikiran itu demikian cepat menyelinapnya. Dan dengan sebuah gerakan lompat tupai yang sempurna, dia bergulingan di lantai. Dan sejari lagi samurai yang meluncur turun itu akan menancap di tengkuk Saburo, samurai Si Bungsu datang menghantamnya. Samurai itu terpukul dan menancap dilantai jauh dari Saburo!

Semua pendeta yang tadi sudah meramalkan kematian Obosan mereka, jadi terkesima oleh gerakan yang tak pernah mereka bayangkan akan sanggup dilakukan seorang manusia biasa itu!

Saburo selamat!

Saburo menyadari bahwa nyawanya telah diselamatkan lagi. Dai menatap heran pada Si Bungsu. Si Bungsu menatap pada Saburo tanpa berkedip. Michiko juga menatapnya diantara deraian airmata…

“Lelaki kejam. Lelaki yang tak berperasaan. Kau bunuhlah aku jika engkau mau membunuh ayahku!!” Michiko berkata diantara tangisnya.

Si Bungsu terdiam.

Perlahan sekali, dia menyarungkan kembali samurainya. Memandang pada Michiko. Memandang pada Saburo. Memandang keliling. Pada para pendeta kuil Shimogamo itu. Memandang pada mayat-mayat para pendeta. Dan tiba-tiba dia merasakan dirinya sebagai pembunuh.

Membunuh para pendeta di kuil mereka yang suci. Kenapa harus saling bunuh di kuil ini!

“Maafkan saya….” Katanya kepada para pendeta itu. Kemudian dia melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Para pendeta yang melingkar berkuak memberi jalan.

“Bungsu-san….”suara Michiko terdengar memanggil. Si Bungsu mendengarnya, tapi dia tak menoleh. “Bungsu-saaan…’ suara Michiko terdengar getir. Namun Si Bungsu sudah berada di luar. Angin musim

dingin menampar-nampar wajahnya.

Dan ketika dia melangkah di altar di depan Doyo dimana para pendeta muda itu tadi berlatih, dia dengar pekikan Michiko. Dia ingin berhenti, tapi buat apa?

Dia melangkah di jalan yang terbuat dari batu dalam taman di depan kuil Shimogamo itu. Kemudian ke luar ke jalan raya Shimogamo Hon. Dia melangkah ke mana saja kakinya membawa.

Di jalan raya, dia berbaur dengan tentara Amerika yang berseliweran. Berbaur dengan orang-orang Jepang yang juga berseliweran. Dia tak tahu ke mana kakinya membawa.

Dia tak ingin berhenti. Tapi juga tak ingin berjalan. Dia tak ingin berbuat apa-apa. Dia tak ingin, tak ingin…. Apa yang dia ingini kini?

Akhirnya dia mendapatkan dirinya terduduk di sebuah kursi kayu yang dingin di sebuah taman yang rasanya belum pernah dia jejak. Bila pula dia akan menjejak taman di kota ini, padahal baru tiga hari dia di Kyoto ini?

Tak ada orang di taman itu. Siapa pula orang yang akan berada di taman dalam musim dingin begini?

Dia duduk sendiri.

Duduk menyesali diri. Kenapa Saburo tak dia bunuh? Kenapa dia lepaskan setelah bertahun dia mencarinya. Kenapa dia biarkan jahanam itu hidup padahal ayahnya bersumpah akan membunuh jahanam itu sesaat sebelum dia menghentakkan nafasnya?

Apakah dia menjadi lemah karena Michiko? Apakah nyawa ayah dan ibunya, kehormatan dan nyawa kakaknya, dan kehormatan puluhan gadis serta nyawa puluhan orang kampungnya, penduduk Situjuh Ladang Laweh di kaki Gunung Sago di Minangkabau sana lebih rendahnya daripada nyawa Saburo? Apakah hanya karena sayang pada Michiko dia biarkan ayah, ibu dan kakak serta orang kampungnya mati tanpa ada yang menuntut balas?

Dia merasa pikirannya jadi buntu. Jadi tak menentu. Sampai suatu saat, di taman itu dia mendengar bunyi tabuh. Suara tabuh mengingatkan dia pada sholat.

Tabuh apakah itu? Pastilah gendang upacara agama Shinto. Dan dia teringat bahwa belum sholat. Dia sedang berniat bangkit ketika tiba-tiba dia mendengar suara azan!

Suara azan di Kyoto! Mungkinkah itu? Dia tegak tertegun sambil mempertajam pendengarannya. “Asyhaduala ila hailallaaaahh….”

Suara azan itu berkumandang dalam suara dingin. Tanpa dapat dia tahan, bulu tengkuknya merinding dan matanya basah mendengar azan itu.

Ya, pastilah beduk tadi dari sebuah mesjid atau langgar di sekitar taman ini. Dia coba mencari suara itu. Suara azan di Kyoto. Menyebabkan dia teringat pada kampung halamannya. Suara azan itu seperti suara azan dari mesjid di kampungnya. Menyelinap diantara dedaun pohon. Menembus udara dingin.

Dan kakinya melangkah mencari sumber suara azan itu. Dimanakah dia kini?

Seorang tua terlihat berjalan cepat-cepat dengan sandal kayunya yang berbunyi berdetak-detak di jalan yang terbuat dari semen.

“Maaf, numpang tanya…”

“Hai….” Jawab orang tua itu sambil berhenti. “Dengar suara itu?”

“Anda maksud suara azan itu?” tanya lelaki tua itu.

“Ya, suara azan itu…” jawab Si Bungsu heran. Heran kenapa orang tua Jepang ini mengetahui kalau suara itu adalah suara azan.

“Apakah anda orang Kristen?” tanya orang tua itu. “Tidak, saya orang Islam…”

“Itu dari mesjid kami. Mesjid Okazaki….” Kata orang tua itu sambil mempercepat langkahnya. Si Bungsu mengikuti langkah orang tua itu. Setelah berbelok ke kiri dua kali, tiba-tiba dia melihat sebuah gedung tua yang ditengahnya ada kubah.

“Mesjid…!” katanya hampir-hampir tak percaya. Orang tua itu telah masuk.

Di kanan mesjid yang tak seberapa besar itu ada sebuah kolam yang airnya mengalir terus. Si Bungsu mengambil wudhuk di sana. Kemudian menaiki tangga mar-mar. Lalu dia berada di pintu sebuah ruangan yang bersih mengkilap.

“Assalamualaikum…” katanya.

“Waalaikumussalam…” belasan lelaki yang ada dalam ruangan itu menjawab tanpa menolehkan kepala. Jam dinding tua yang tergantung menunjukkan angka tiga romawi. Suara detaknya bergema perlahan.

Seorang Imam langsung tegak. Dan sembahyang berjemaah itupun mulai.

Si Bungsu tegak di saf kedua.

Bacaan ayat Imam tua itu terdengar lancar dan fasih sekali. Si Bungsu seperti sholat ketika di Bukittinggi bersama penduduk Tarok. Yaitu takkala dia hidup di kampung kecil itu bersama Mei-mei.

Ketika membaca doa, tiba-tiba dia rasa tenteram dan bahagia menyelimuti hatinya. Dia merasa suatu ketentraman karena tak membunuh Saburo.

Dia yakin, ayah, ibu dan kakaknya yang sudah almarhum juga menyetujui putusannya untuk tidak membunuh Saburo.

Bukankah melupakan dendam merupakan suatu pekerjaan mulia? Memang suatu pekerjaan yang alangkah sulitnya buat melupakan segala amarah. Menghapuskan dendam. Tapi bukankah Islam mengajarkan bahwa melupakan dendam itu merupakan bahagian dari keimanan?

Dia sendiri, sudah berapa nyawa yang dia cabut? Benar dia membela diri. Tapi bagaimana kalau anak dari orang-orang yang dia bunuh lalu mencari dirinya dan menuntut balas?

Dia terduduk lama sekali di mesjid kecil disudut taman Okazaki di daerah Higashiyama-ku. Yaitu suatu taman di seberang sungai Takano.

Dia merasa tenteram.

Kini tugasnya selesai. Dia harus kembali ke Indonesia. Begitu ingatan untuk kembali menyelusup dihatinya, dia segera teringat pada cincin jari manisnya.

Dia menatap cincin itu.

Cincin pemberian Salma di Bukittinggi. Sedang mengapa gadis itu kini? Sudah berlalu masa empat tahun sejak dia meninggalkan kota itu.

Apakah dia sudah menikah? Dia lalu berniat pulang ke hotelnya. Tapi kemana dia harus pergi?

Hari sudah senja. Tadi dia berjalan tanpa tujuan. Tak dinyana dia sudah sampai kemari. Jalan mana saja yang dia tempuh?

Dia keluar dari mesjid itu dengan perasaan benar-benar lapang dan lega. Ketika tiba di jalan besar, sebuah taksi tua lewat. Dia menyetopnya.

“Bisa mengantar saya ke hotel Kamo di daerah persimpangan Imadegawa?”

“Bisa, silakan naik….” Jawab sopir taksi tersebut. Dia lalu naik. Dan taksi tua itu melaju mengantarkannya ke hotel dimana dia menginap.

Hari telah senja benar ketika dia sampai di hotelnya. Dia tidur dengan lelap malam itu. Apalagi yang harus dia fikirkan? Selama ini dia selalu tak lelap tidur. Bagaimana dia akan tidur nyenyak kalau dihatinya selalu membara dendam yang amat dahsyat? Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun terakhir ini, dia bisa bernafas dengan lega. Dia tak lagi memikirkan bagaimana cara untuk mencari Saburo. Dan tak pula harus memikirkan bagaimana caranya berkelahi melawan bekas perwira itu. Fikirannya tak lagi dibebani ketakutan. Takut berhadapan dan takut dikalahkan.

Bukankah beban mental begini selalu dialami oleh orang-orang yang akan bertarung? Kekalahan adalah sesuatu yang amat ditakuti setiap orang yang akan bertanding.

Padahal dalam kalimat pertarungan hanya ada dua kemungkinan. Kalah atau menang. Keinginan untuk menang adalah hasrat terakhir dari setiap orang yang bertarung. Namun kekalahan adalah juga merupakan haknya.

Setiap yang meginginkan kemenangan harus sadar bahwa kekalahan juga mengintainya. Dan kini masa, memikul beban seperti itu sudah dia lalui.

Barangkali dia dianggap orang lemah. Bertahun mencari musuh. Dan ketika musuh itu dengan mudah bisa dibunuh, dia melepaskan begitu saja. Apakah itu suatu “kelemahan?” Atau itu juga suatu “Kekalahan?”

Kalau itu dianggap suatu kelemahan atau suatu kekalahan, maka dia dengan lapang hati menerima kenyataan itu. Yang jelas, dia merasa lega kini. Lega karena tak membunuh orang lebih banyak.

Pagi harinya dia jadi heran. Di jalan raya di depan hotelnya, kelihatan arak-arakan para pendeta menuju ke utara. Dari berbagai penjuru jalan, kelihatan barisan pendeta-pendeta Budha dan Shinto berbaris dengan wajah sedih.

“Ada apa?” tanyanya pada seorang pengurus hotel.

“Pendeta Besar kuil Shimogamo meninggal karena harakiri kemaren..” jawab pengurus hotel itu. Si Bungsu merasa dirinya terlambung. Dia tertegak kaku.

“Bunuh diri?” desisnya perlahan.

“Ya. Pagi kemaren, kabarnya seorang musuhnya datang ke sana untuk menuntut balas. Muridnya, para pendekar kuil Shimogamo yang tersohor pendekarnya itu, berusaha membantunya.

Namun kabarnya delapan orang di antara mereka mati dimakan samurai musuh Obosan itu. Menurut orang yang menyaksikan di kuil itu kemaren pagi, belum pernah ada manusia yang demikian cepatnya mempergunakan samurai di Jepang ini, seperti musuh Obosan itu.

Mungkin orang itu murid atau turunan dinasti Tokugawa. Pendekar Samurai yang tersohor itu…..” Pengurus hotel itu bicara terus.

Namun Si Bungsu tak mendengarkannya. Dia teringat pada pekikan Michiko kemaren sesaat dia akan meninggalkan kuil Shimogamo itu.

Apakah saat itu Saburo bunuh diri?

“Kini semua pendeta dari seluruh kuil yang ada di Kyoto ini…” pengurus hotel itu melanjutkan…” menuju ke sana. Untuk memberikan penghormatan pada Obosan itu. Obosan itu sangat disegani di kota ini. Sangat berpengaruh dan dihormati…”

Si Bungsu tak mendengarkannya. Dia justru tengah melangkah mengikuti palunan manusia menuju kuil Shimogamo!

Pikirannya yang malam tadi telah tenang, kini kembali mendapat beban lagi.

Kini beban itu justru makin berat. Dia sampai di altar kuil dimana kemaren dia melihat puluhan pendeta muda sedang berlatih beladiri.

Altar itu kini sudah penuh di kiri kanannya. Ada jalan selebar tiga meter di tengah untuk menuju ke tangga utama di kuil tersebut.

Dan di sana, di puncak anak tangga kuil yang belasan jumlahnya itu, terletak peti jenazah Obosan kuil Shimogamo. Diselimuti dengan kain beludru merah.

Jenjang kuil itu dialas seluruhnya dengan beludru kuning. Dan di samping peti yang diletakkan agak tinggi itu, kelihatan seorang gadis berbaju serba putih duduk berlutut. Tangannya menelungkup bersama wajahnya ke peti jenazah.

“Michiko….” Kata Si Bungsu perlahan. Di sekitar peti jenazah kelihatan puluhan lilin tengah dipasang. Dan berjejer di setiap anak tangga, kelihatan puluhan pendeta kuil Shimogamo berjubah merah dan kuning berguman membaca doa.

Jarak antara Si Bungsu dengan peti jenazah di mana Michiko menelungkup itu masih jauh. Si Bungsu berusaha mendekat lewat di antara jubelan manusia yang ribuan orang banyaknya itu.

Yang hadir dalam upacara tersebut ternyata tidak hanya pendeta dari kuil-kuil di kota Kyoto saja. Berita itu ternyata telah pecah dan menyelusup ke seluruh pelosok kota. Orang berdatangan ingin memberi penghormatan akhir pada Obosan itu. Selain itu, tentara Amerika juga berdatangan. Ada yang datang karena bersifat politis, ada yang datang karena ingin melihat upacara sakral itu dilangsungkan.

Gong tiba-tiba dipalu. Berdengung dan bersipongang. Menggetarkan hati setiap orang yang berada di sekitar kuil itu. Si Bungsu baru menyadari bahwa musuh bebuyutannya itu ternyata memang bukan orang sembarangan. Ternyata dia orang terhormat dan berpengaruh. Upacara dihari kematiannya ini membuktikan hal itu.

Begitu gong ketiga berakhir, utusan-utusan dari selusin kuil yang ada di kota Kyoto itu maju dalam barisan yang teratur. Dua orang tiap kuil. Mereka maju membawa semacam baki mendaki tangga upacara.

Michiko berdiri menerima penghormatan itu. Si Bungsu melihat betapa mata gadis itu bengkak bekas menangis. Wajahnya yang cantik kelihatan pucat sekali.

Dan saat itulah Michiko melihat Si Bungsu tegak di baris kedua dari jalan di tangga paling bawah. Mata mereka saling tatap.

Wajah Michiko tiba-tiba jadi keras. Dan tiba-tiba pula lilin ditangannya jatuh. Dia menatap lurus pada Si Bungsu.

Semua orang jadi kaget. Termasuk para pendeta, para biksu dari seluruh kuil yang hadir di sana.

“Michiko-san…” seorang pendeta tua wakil Saburo mengingatkan Michiko atas sikapnya itu. Namun Michiko sudah melangkah menuruni anak tangga. Menuju lurus-lurus ke arah Si Bungsu.

“Michiko-san…!” wakil Obosan itu kembali menegur Michiko yang meninggalkan altar upacara.

Namun Michiko sudah sampai di bawah. Melihat gadis itu datang padanya, Si Bungsu maju menyeruak di antara barisan pendeta. Dan kini berdiri di depan.

Semua mata menatap kedua anak muda ini. Selain para pendeta dari kuil Shimogamo, tak seorangpun yang mengenal anak muda asing itu.

“Saya menyampaikan rasa duka cita yang…” ucapan Si Bungsu sambil membungkuk dalam itu terhenti takkala tiba-tiba tangan Michiko secepat kilat menyambar samurai dari seorang pendeta yang tegak di dekatnya.

Dan samurai itu dengan kecepatan yang sulit diikuti mata pula, menghajar bahu Si Bungsu! Darah menyembur dari bekas luka yang menganga itu!

“Michiko-san!!!” wakil Saburo di kuil Shimogamo itu membentak seiring dengan teriakan-teriakan kaget dari seluruh pengunjung melihat kejadian itu.

Si Bungsu bukannya tak tahu bahwa ada bunyi senjata menyerangnya. Kalau dia mau, dia bisa mengelak.

Bahkan dia bisa mematahkan serangan itu.

Namun dia sengaja tak melakukannya! Bukankah hal yang sama juga dia lakukan dahulu ketika ayahnya mati ditangan Saburo? Bukankah waktu itu dia ingin berlari memeluk ayah dan ibunya tapi kemudian Saburo membabatnya dengan samurai?

Dan itulah penyebab kenapa dia bertahun-tahun mencari Saburo sampai kemari. Kini, kalau dia patahkan pula serangan Michiko. Gadis itu tentu akan mencarinya untuk membalas dendamnya!

Dia tak ingin hal itu terjadi. Dia ingin hal ini selesai disini. Makanya dia membiarkan dirinya dilukai. “Lelaki jahanam! Cabut samuraimu! Aku Michiko Matsuyama akan membalas dendam kematian ayahku!

Apakah engkau sangka engkau saja yang berhak membalas kematian ayah dan ibumu?”

Suara Michiko terdengar lantang dan bergetar. Dan hanya dalam waktu beberapa detik setelah ucapannya itu, semua orang yang hadir segera mengetahui, bahwa anak muda itulah rupanya yang telah mengalahkan Obosan kuil Shimogamo ini dan beberapa murid utamanya!

Semua mereka kini memperhatikan dengan seksama.

“Indonesia-Jin…. Indonesia-Jin….” (Orang Indonesia…orang Indonesia!) terdengar suara berbisik-bisik. Para pendeta kuil Shimogamo itu berlarian mengelilingi Michiko dan Si Bungsu.

Wakil Saburo di kuil itu, seorang pendeta tua gemuk dan berwibawa segera membungkuk hormat dan berkata perlahan :

“Mohon Michiko-san jangan menuruti hati marah. Obosan meninggal dengan terhormat. Dia mati dengan Harakiri. Bukan dibunuh oleh anak muda ini. Lagipula bukankah kemaren sebelum dia meninggal Obosan berpesan bahwa dia tak ingin ada dendam yang berlanjut antara kita dengan Bungsu-san…? Bukankah Obosan sudah menerima salah atas perbuatannya terhadap keluarga Bungsu-san? Mohon Michiko-san menyabarkan hati….”

Namun Michiko nampaknya sangat terpukul atas kematian ayahnya. Itu terbukti ketika dia berkata dengan lantang :

“Dengan pihak kuil Shimogamo boleh tak ada urusan. Tapi dengan diriku, huh, kenapa harus kalian larang? Apakah ada aturan yang melarang seorang anak menuntut balas kematian ayahnya?”

Pendeta itu tersurut mendengar ucapan yang kurang pantas ini. Si Bungsu masih tegak. Tangannya tergantung lemas. Bahu kirinya berlumur darah.

Namun dia tetap tegak dengan tenang. Dan dengan tenang pula dia menghadap pendeta-pendeta kuil Shimogamo, lalu berkata :

“Saya minta maaf atas kejadian kemaren. Dan saya ikut berduka atas kematian Obosan Saburo…” dia membungkuk dalam. Dua belas pendeta yang tegak mengitarinya membalas penghormatannya dengan membungkuk pula dalam-dalam.

“Terimakasih atas kunjunganmu kemari Bungsu-san. Kami menghargai sikap satria. Dan kami memuliakan kejujuran…” wakil obosan itu menjawab.

Ucapan mereka diputus oleh Michiko :

“Nah, kita lanjutkan persoalan antara kita yang belum selesai. Cabutlah samuraimu. Jangan kau kira engkau saja yang mampu mempergunakannya!”

Suara Michiko terdengar nyaring, getir dan bernada luka. Si Bungsu menatapnya. Dan dia dapat merasakan betapa hancurnya hati gadis itu.

Bukankah dia juga pernah menaruh dendam yang sama seperti yang dialami gadis ini? Dendam dan kebencian yang berkobar, yang menjalani segenap pembuluh darah dan segenap tulang belulang terhadap orang yang membunuh ayah, ibu dan kakaknya?

Dan itulah kini yang dialami Michiko.

Tidak, yang dialami Michiko sebenarnya bukan hanya kebencian dan dendam saja. Jika dibandingkan antara dia jutuh dan delapan tahun yang lalu, yaitu ketika ayah, ibu dan kakaknya dibunuh Saburo, maka keadaan gadis ini jauh lebih menyedihkan.

Perbedaannya terutama pada dua hal. Pertama, Si Bungsu adalah seorang lelaki. Betapapun sengsara yang menimpa dirinya, sebagai seorang lelaki dia masih tetap punya keteguhan.

Sementara Michiko adalah seorang wanita. Betapa perkasanya seorang perempuan, namun fitrahnya tetap saja seorang perempuan. Lengkap dengan kelemahan-kelemahannya.

Dan perbedaan yang kedua adalah soal perasaan. Si Bungsu mendendam dan membenci Saburo sebagai lawan yang benar-benar tegak berlain sisi dengan dirinya. Artinya, dia tak kenal Saburo. Dan dalam situasi itu, Saburo justru adalah lelaki yang harus dia bunuh. Sebab lelaki itu adalah tentara dari suatu negeri yang menjajah negerinya.

Jadi tak ada beban jiwa yang dipikul Si Bungsu dalam memusuhi Saburo.

Berlainan halnya dengan Michiko. Dia kini membenci dan memusuhi lelaki yang telah menyelamatkan kehormatan dan nyawanya. Dan lebih daripada sekedar hanya pertolongan itu, yang lebih parah adalah karena dia harus membenci dan mendendam pada lelaki yang dia cintai! Inilah beban yang paling berat yang harus dipikul gadis itu!

Sejak anak muda itu menyelamatkan dirinya dari perkosaan di hotel Asakusa di Tokyo dahulu, dia sudah tak bisa melupakannya. Dan peristiwa di kereta api ketika menuju ke Kyoto ini menyebabkan hatinya benar- benar tertambat pada pemuda Indonesia ini.

Sikap Si Bungsu yang lembut, tutur sapanya yang sopan dan tahu menempatkan diri, dan sudah tentu keperkasaannya, meruntuhkan hatinya.

Setiap yang dia pikirkan adalah bagaimana bisa bertemu dengan anak muda itu. Dia benar-benar merindukannya.

Dan dalam saat seperti itulah bencana itu terjadi. Si Bungsu ternyata mencari ayahnya untuk membalaskan dendam. Dan dalam pertarungan kemarin, Si Bungsu telah melukai punggungnya dan mengalahkan ayahnya. Meskipun ayahnya mati karena harakiri, namun hal itu takkan terjadi kalau tidak karena Si Bungsu.

Kematian ayahnya adalah kematian segala-galnya bagi gadis ini. Itulah sebabnya kenapa dia merasa benci dan berniat menuntut balas pada Si Bungsu. Membenci dan memusuhi orang yang sangat dicintai! Adakah hal lain yang lebih menyiksa dalam hidup ini selain yang dialami Michiko?

Dan Si Bungsu menyadari hal itu. Itulah sebabnya dia tak sampai hati melayani amarah gadis tersebut. Dan ketika Michiko kembali melontarkan tantangannya, Si Bungsu memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam, kemudian dengan tangan kanan tetap memegang luka yang mengalirkan darah di bahu kirinya, dia melangkah pergi.

Michiko yang perasaannya benar-benar terluka dan menderita, berteriak menahannya: “Lelaki pengecut, jangan pergi sebelum kau lunasi hutang nayawamu!!”

Sambil berkata begini, dia menghayunkan samurai di tangannya. Namun pendeta-pendeta kuil Shimogamo yang mengitarinya segera turun tangan mencegah. Para pendeta ini memang menghormati sikap Si Bungsu.

Dan secara kesatria pula, mereka mengagumi anak muda itu. Mereka memang menghormati Obosan mereka. Tapi kisah anak muda ini, bagaimana bertahun-tahun dia mencari Saburo yang telah jadi Obosan itu untuk membalaskan dendamnya, benar-benar membuat mereka jadi simpati!

Apalagi dari mulut Saburo sendiri sesaat sebelum meninggal mereka mengetahui bahwa anak muda itu telah menolong Michiko dari perkosaan tentara Amerika di Tokyo.

Michiko terkulai pingsan.

Bukan karena dendamnya tak kesampaian untuk membunuh Si Bungsu. Tidak. Dia pingsan karena pukulan bathin yang luar biasa.

Dia ingin Si Bungsu tak meninggalkan tempat itu. Dia ingin Si Bungsu menemaninya dalam saat dukanya ini. Dia ingin pemuda itu melindunginya dalam dekapan yang kukuh. Dia ingin pemuda itu membelai wajahnya. Menciumnya dengan penuh sayang. Dia ingin sekali semuanya.

Tapi disaat yang bersamaan, dia juga ingin anak muda itu mati ditangannya. Dia ingin anak muda itu tercencang tubuhnya oleh samurainya. Dia ingin membalaskan dendam kematian ayahnya. Dia ingin anak muda itu tak pernah ada di permukaan bumi ini.

Dan keinginan yang alangkah bertolak belakangnya ini, memukul bathinnya secara dahsyat. Itulah yang membuat dirinya tak sanggup tegak dan rubuh pingsan! Gadis ini benar-benar seorang yang patut dikasihani. Demikian berat cobaan yang mendera dirinya dalam usia yang belum cukup dua puluh tahun.

Si Bungsu tak mengetahui, bahwa di saat dia membelakang dan menjauhi tempat itu. Michiko rubuh pingsan.

Dia melanjutkan langkahnya meninggalkan altar tersebut. Meninggalkan kuil Shimogamo itu. Meninggalkan prosesi pemakaman Obosan Saburo Matsuyama. Lelaki yang pernah dia cari selama bertahun- tahun untuk membalaskan dendam keluarganya.

Dan hari ini, lelaki itu dikuburkan dengan upacara penuh kehormatan.

---000---

Sepuluh hari lamanya dia terbaring dalam musim dingin itu. Terbaring dihotelnya sambil mengobati luka bekas hantaman samurai Michiko.

Namun hari ke sepuluh nampaknya dia harus meninggalkan hotel itu. Sore harinya dia tengah duduk selesai minum sake ketika di luar dia dengar suara bertengkar.

Salah satu suar itu dikenalnya baik sebagai suara seorang pelayan hotel tersebut.

Kemudian didengarnya suara tamparan. Dan pintu kamarnya dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Dia menatap empat lelaki tegak dipintu kamarnya. Keempatnya memakai senjata.

Dua orang menggantungkan samurai di pinggangnya. Seorang memakai rantai sebesar ibu jari kaki yang digantungkan ke lehernya. Seorang lagi memaki trisula. Sejenis senjata seperti tombak yang mempunyai tiga cabang.

“Kami dari Kumagaigumi!” yang memegang tombak trisula itu berkata dengan suara serak. Dan ucapannya diiringi dengan hayunan tombak trisulanya ke arah Si Bungsu!

Si Bungsu sudah merasa sejak dia mendengar pertengkaran di luar tadi. Bahwa orang yang datang ini pastilah berniat tak baik.

Dan ketika lelaki itu menyebut Kumagaigumi, dia segera ingat pada organisasi bandit yang anggotanya pernah dia sudahi di depan stasiun kota Gamagori.

Yaitu ketika dia menyelamatkan Michiko dari gangguan dua orang anggota komplotan itu. Kemudian ternyata yang dua orang ini memanggil tiga temannya lagi. Salah seorang diantaranya ternyata adalah pimpinan Kumagaigumi di kota itu.

Dan kini kelompok itu datang membalas dendam. Si Bungsu sudah waspada disaat orang itu menghayunkan tangannya menghujamkan tongkat trisula. Anak muda ini menggulingkan tubuh ke belakang. Dan tombak itu menghujam di kasurnya. Dan tanpa memberi waktu sedikitpun, ketiga lelaki lainnya segera mengepungnya dan menghantamnya dengan senjata di tangan mereka.

“Tahan….!” Si Bungsu berseru.

Anak muda ini sudah merasa jenuh dengan perkelahian. Dia sudah merasa seperti tukang bantai. Karena itu, dia tak ingin berlarut-larut.

Untungnya, keempat lelaki itu mau menahan serangan mereka.

“Kalian datang untuk membalaskan kematian lima teman kalian di stasiun Gamagori?”

Keempat lelaki itu menyeringai. Dan yang menjawab adalah yang memakai tombak trisula itu.

Nampaknya dia adalah pimpinan di antara keempat lelaki tersebut.

“Ya. Kami datang untuk menuntut balas kematiannya. Dan kini engkau bersiaplah menerima nasibmu…” “Tunggu! Untuk apa kita memperpanjang persengketaan ini? Saya tidak ingin mengatakan siapa yang

salah dan siapa yang benar dalam peristiwa itu, tapi apakah tak ada jalan lain untuk menyelesaikannya tanpa menumpahkan darah?”

Keempat lelaki itu saling pandang.

Dan malangnya, keempat mereka jadi salah duga terhadap maksud ucapan Si Bungsu. anak muda ini benar-benar tak ingin menumpahkan darah lagi. Dia sudah merasa penuh dosa.

Tapi keempat lelaki itu justru menafsirkan bahwa anak muda ini takut kepada mereka berempat. Dan inilah pangkal celaka itu. Kalau saja mereka mau sedikit berfikir agak waras, bahwa anak muda ini datang dari jauh tanpa bekal kecuali samurai dan dendam, mungkin mereka akan dapat mengerti.

Namun sudah dasarnya kaum rampok dan penyamun, yang ada pada mereka adalah keangkuhan. Sikap mengalah orang dia duga sebagai sikap takut.

“He…he…jangan menangis anak muda. Engkau barangkali bisa kami ampuni kalau engkau mau merangkak keliling kamar ini….:

Si Bungsu menatapnya. Keempat lelaki itu menyeringai.

“Ya, kalau kau mau merangkak dan minta ampun pada kami, maka kami akan pertimbangkan untuk tetap membiarkan engkau hidup…”

Si Bungsu masih menatap mereka. “Kalau kau mau, mulailah….”

Si Bungsu masih menatap dengan diam.

“Kau tak mau? Kami akan menguliti kepalamu dan engkau akan kami cencang…”

“Apakah persoalan memang bisa selesai dengan hanya merangkak dan minta ampun?” suara Si Bungsu terdengar perlahan.

Anak muda ini sebenarnya memang bersedia melakukan seperti yang diminta oleh bandit-bandit Kumagaigumi itu. Yaitu kalau persoalan itu memang bisa diselesaikan dengan cara demikian.

Tapi orang Kumagaigumi ini mana mau persoalan hanya sampai disana. Mereka datang memang untuk membalas dendam. Kemudian dengan pernyataan anak muda itu, mereka merasa di atas angin.

Mereka menduga anak muda itu takut. Karena itu, kesombongan mereka menjadi-jadi.

“Ya, merangkaklah. Dan kemudian menyembah minta ampun. Lalu tindakan berikutnya boleh kita pikirkan apakah engkau bisa bebas atau ditambah dengan acara lainnya…” kembali yang memakai tombak trisula itu bicara.

Si Bungsu menyadari, bahwa apapun yang dia lakukan, maka keempat orang ini hanya berniat satu. Yaitu menghendaki nyawanya.

Dia jadi menyesal. Menyesal karena tak bisa menghindarkan diri dari perkelahian. Kalau berkelahi, itu tak lain artinya adalah maut. Sampai bila dia harus jadi tukang bantai?

Dia menarik nafas panjang.

Dan karena dia tetap tak merangkak, tidak pula minta maaf atau menyembah seperti yang diminta, maka yang memakai rantai segera melecutkan rantainya ke arah Si Bungsu.

Anak muda ini kembali bergulingan di lantai dengan jurus lompat tupai itu. Dan dia luput dari hantaman rantai besar itu. Tiga orang lagi maju dengan senjata mereka. Si Bungsu menyambar samurainya yang terletak di tempat tidur.

Dan sebelum orang-orang Kumagaigumi itu sadar apa yang terjadi, terdengar mereka saling berseru

kaget. Dan mereka tersurut. Dada mereka keempatnya terasa perih. Ketika mereka menoleh, ternyata kimono mereka telah robek tentang dada. Melintang dari kanan ke kiri. Dan dari balik kimono yang robek itu darah mengalir perlahan.

Si Bungsu telah bergerak amat cepat,. Namun tetap saja anak muda ini tak menginginkan ada nyawa yang tercabut. Itulah sebabnya dia tak mau membunuh keempat lelaki itu. Meskipun kalau dia mau, dengan mudah bisa dia lakukan.

Kini dia tegak di atas tempat tidur dengan samurai sudah berada dalam sarungnya.

“Saya berharap hal ini bisa diselesaikan dengan baik-baik” kembali suaranya terdengar perlahan.

Namun keempat anggota Kumagaigumi itu bukannya merasa beruntung bahwa anak muda itu telah berlaku sabar. Mereka justru merasa terhina dan menjadi meluap amarahnya. Seperti dikomando, mereka lalu serentak maju menyerang.

Kembali samurai Si Bungsu berkelebat. Dia tak mau menjatuhkan tangan kejam.

Samurainya kembali hanya melukai kaki dan tangan mereka. Dia berharap dengan itu keempat mereka jadi jera. Namun karena tak mau mencederai, maka gerakannya jadi lambat. Suatu saat, rantai besar itu berhasil membelit samurainya. Dan disaat yang sama dua samurai yang lain membabat tangannya.

Benar-benar berbahaya.

Dan satu-satunya jalan untuk selamat adalah melepaskan samurai tersebut! Dan itulah yang dilakukan anak muda ini.

Dia melepaskan samurainya yang terbelit rantai. Dengan demikian tangannya selamat dari pancungan kedua samurai lawannya. Serangan tombak trisula yang datang menghujam rusuknya dia elakkan dengan melompat ke sisi.

Serangan berikutnya, yaitu hantaman rantai, terkaman mata samurai dan tikaman tombak, dia elakkan dengan bergulungan di lantai memakai lompat tupai yang terkenal itu.

Tapi sampai kapan dia dapat bertahan? Nafasnya memburu. Lawan yang dia hadapi bukan lawan sembarangan. Lawannya ini adalah pembunuh-pembunuh kelas satu di kota Kyoto. Pembunuh kelas satu dalam organisasi Kumagaigumi!

Maka dia hanya dapat bertahan dengan bergulingan beberapa saat saja. Sambil bergulingan dia mencari kemungkinan untuk lari keluar. Tapi keempat lelaki itu seperti menebak apa yang dia inginkan. Karena itu pintu mereka jaga dengan ketat!

Dan akhirnya Si Bungsu lelah diburu keempat senjata Kumagaigumi ini. Pada jurus keenam belas dari serangan mereka, rantai sebesar empu kaki dengan panjang dua meter itu menghajar perut Si Bungsu.

Sakitnya bukan main.

Dia bergulingan berusaha mencapai samurainya. Namun samurai itu ditendang oleh yang memakai tombak hingga terpental ke dekat pintu.

Dan kembali rantai itu menghajar punggungnya! Dia tersandar ke dinding. Tubuhnya lemah. Keempat anggota Kumagaigumi itu berhenti.

Menyeringai buruk.

Yang memakai samurai tiba-tiba bergerak. Dan tanpa ampun, kedua bilah samurai itu berkerja. Dada, perut, bahu dan paha Si Bungsu kena sabet oleh samurai itu. Luka menganga!

Si Bungsu berusaha untuk tak memekik meski sakitnya bukan main! Darah merembes terus. “Indonesia jin! Engkau telah lancang dan kurang ajar membunuh lima orang anggota kami di kota

Gamagori. Kini saatnya kau merasakan pembalasan kami…!”

Yang bicara ini adalah yang pakai tombak trisula. Dan kata-katanya diakhiri dengan meluncurnya tombak bercabang tiga di tangannya.

Si Bungsu yakin, betapapun dia coba mengelak, namun sudah tak ada gunanya lagi. Dia tak lagi punya tenaga. Dan tombak bercabang tiga itu menghujam dalam di pahanya!

Hanya Tuhan yang tahu betapa sakitnya paha Si Bungsu. Namun dia tak memekik sedikitpun! Bukankah azaban yang jauh lebih dahsyat, yaitu ketika kuku dan jarinya dicabut dan dipatahkan Jepang di terowongan bawah tanah Bukittinggi dulu jauh lebih hebat?

Dia hanya menatap diam pada keempat anggota Kumagaigumi itu. Keempat lelaki Jepang itu mau tak mau mengerenyitkan kening mereka. Dan saling pandang sesamanya. Ketabahan dan ketangguhan anak muda Indonesia ini benar-benar luar biasa bagi mereka!

“Kita sudahi saja cepat anak ini…” kata yang memakai samurai.

Dan keempat mereka nampaknya sepakat untuk “menyudahi” orang Indonesia itu. Si Bungsu sudah pasrah pada nasibnya. Tanpa dia sengaja, jari jemarinya meraba cincin bermata berlian di jari manisnya.

Cincin pemberian Salma. Sesaat dia teringat pada gadis itu. Teringat pada kampung halamannya. Pada Situjuh Ladang Laweh. Pada Gunung Sago dan Payakumbuh.

Tugasku selesai, aku rela mati di sini, hatinya berkata perlahan begitu keempat lelaki itu mengambil ancang-ancang untuk menyudahi nyawanya.

Dia menatap keempat anggota Beruang Gunung itu. Menatap dengan tak berkedip. Namun saat itu terdengar seseorang batuk di pintu.

Keempat anggota Kumagaigumi itu menghentikan gerakan mereka dan menoleh ke pintu. Si Bungsu juga menoleh ke pintu. Lewat keempat tubuh lelaki itu dia melihat seorang lelaki Jepang tegak di pintu. Lelaki yang baru muncul itu berambut sangat pendek. Hanya satu senti.

Tubuhnya agak gemuk. Memakai kimono berwarna coklat. Dia tegak dibalik pintu yang telah ditutupkan.

Rupanya tak seorangpun yang tahu kapan dia membuka pintu dan masuk kemudian menutupkan pintu.

Kini dia tegak dengan kepala menunduk.

“Siapa kau?” bentak yang memegang tombak. Lelaki itu masih menunduk.

Di tangannya dia memegang sebuah tongkat panjang. Dan Si Bungsu segera mengenali, bahwa tongkat di tangan lelaki itu mirip dengan “tongkat” yang selalu dia bawa.

Tongkat di tangan lelaki itu pasti samurai! Tapi berlainan dengan samurai yang dia miliki, samurai di tangan lelaki itu nampaknya lebih kecil ukurannya. Meski panjangnya sama, tapi lebarnya berbeda.

“Siapa kau!!” yang bertombak itu membentak lagi. Dengan masih menunduk, terdengar suara lelaki yang baru muncul itu perlahan:

“Hmmm… alangkahnya tak bermalunya. Ramai-ramai mengeroyok orang asing di kota ini”

Keempat lelaki itu saling pandang sesamanya. Mereka sungguh mati tak pernah mengenal lelaki ini. Si Bungsu juga heran.

Dia tak pernah mengenal lelaki ini sebelumnya. Mengapa lelaki tak dikenal ini tiba-tiba saja muncul dalam kamarnya?

“Engkau pemilik samurai ini orang asing?” lelaki itu bertanya perlahan. Dan di tangannya rupanya telah tergenggam samurai Si Bungsu yang tadi disepakkan ke dekat pintu oleh anggota Kumagaigumi itu.

“Ya….” Kata Si Bungsu perlahan.

“Nah, ambillah kembali…” lelaki asing yang baru datang itu berkata dan tiba-tiba melambungkan samurai itu tinggi-tinggi. Melewati kepala keempat anggota Kumagaigumi itu. Dan tanpa dapat dicegah jatuh tepat di depan Si Bungsu.

Sudah tentu Si Bungsu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan sisa tenaga, dia menyambar samurainya itu.

Keempat anggota Kumagaigumi itu bukan main berangnya. Mereka sesaat melupakan Si Bungsu yang tak berdaya. Serentak mereka menyerang orang lancang yang baru masuk itu.

Namun yang berada paling depan, yaitu yang memakai samurai, terpekik dan terguling rubuh. Dia mendekap mukanya yang berdarah.

Ketiga lelaki lainnya segera maju. Namun lagi-lagi mereka terpekik. Dan kali ini, dua diantaranya mati.

Yaitu yang memegang tombak bercabang tiga dan yang memekai rantai!

Si Bungsu sendiri kaget bukan main melihat kecepatan lelaki ini. Dia seperti tak melihat pada keempat anggota Kumagaigumi itu. Namun gerakannya demikian cepat. Samurainya berkelabat seperti kilat yang amat sulit diketahui.

Dua orang anggota Kumagaigumi yang masih hidup jadi kaget. Mereka kini terjepit antara dua lelaki yang kemahirannya bersamurai bukan main. Yaitu antara lelaki baru masuk itu di pintu, dengan orang Indonesia itu dibahagian dalam kamar.

“Sis…siapa engkau….?” Yang memakai tombak itu bertanya gugup.

Lelaki itu mengangkat wajahnya. Dan dengan kaget, baik Si Bungsu, terlebih lagi anggota Kumagaigumi itu mengetahui, bahwa lelaki ini ternyata buta!

“Zato Ichi….!” Suara anggota Kumagaigumi itu terdengar seperti tangisan. Lelaki yang buta itu menunduk. Dan yang tak tanggung-tanggung kagetnya adalah Si Bungsu. dia kaget mendengar nama Zato Ichi itu.

Siapa di antara orang di Jepang yang tak mengenal dan mendengar nama Zato Ichi? Nama itu sebuah legenda. Nama seorang pahlawan rakyat Jepang.

Seorang lelaki buta yang kecepatan samurainya hampir-hampir tak tertandingi. Dan dengan kemahiran bersamurai itu, meskipun buta, dia malang melintang di seluruh tanah Jepang. Berkelana dari satu negeri ke satu negeri menegakkan keadilan. Dia seperti malaikat penolong orang-orang teraniaya. Meskipun matanya buta, tapi hatinya sangat mulia. Orang Jepang mendewakan dia. Kaum penjahat sangat menakutinya.

Dan Si Bungsu mendengar kisah kepahlawanan Zato Ichi si pendekar buta ini. Dia mendengar cerita itu dari Kenji dan adik-adiknya.

Namun, bukankah masa Zato Ichi sudah lama sekali berlalu? Nama itu kini hanya terdengar sebagai suatu legenda. Seorang tokoh di masa lalu.

Dan kalau kini dia hadir dalam kamarnya, bukankah itu suatu keanehan? Dan keanehan itu juga terasa di hati anggota Kumagaigumi itu. Zato Ichi sudah lama lenyap. Bahkan banyak orang menyangka dia telah lama mati. Kini siapa yang tegak di pintu itu?

Dan suara lelaki buta itu seperti menjawab pertanyaan tersebut:

“Ya, saya Zato Ichi….”

Suaranya perlahan, lembut dan sabar sekali. “Tet….tet…tetapi engkau sudah lama mati…” Zato Ichi tertawa renyai. Dia menunduk.

“Ya, saya sudah lama mati. Dan yang ada kini adalah hantu yang akan memusnahkan kejahatan kalian….” Suaranya seperti bergurau, namun anggota Kumagaigumi itu takutnya bukan main.

Dia mundur, dan tiba-tiba tangannya yang bertombak itu menyerang Si Bungsu. Kalau orang ini benar Zato Ichi, maka dia harus berjuang keras untuk bisa hidup.

Dan jalan pertama yang dia tempuh adalah menyudahi orang Indonesia yang masih duduk terhenyak ke dinding itu.

Tombaknya terangkat. Namun Si Bungsu sudah waspada. Begitu tombak orang itu terayun, tangannya yang bersamurai juga terayun.

Tombak itu meluncur amat kencang. Tapi pada saat yang bersamaan, samurainya juga lepas terhayun menyerang anggota Kumagaigumi itu. Si Bungsu melontarkan samurainya sambil menggulingkan tubuhnya ke lantai.

Tombak bercabang tiga itu menghujam ke dinding, sejari dari leher Si Bungsu. dan lelaki anggota Kumagaigumi itu terlolong. Lontaran samurai Si Bungsu persis menerkam jantungnya.

Lelaki itu mendelik, menggelepar. Dan mati!

Kini hanya seorang anggota Kumagaigumi lagi. Yaitu yang tadi mukanya disabet dengan samurai hingga berlumur darah oleh Zato Ichi.

Lelaki itu mundur ketakutan. Dia mengambil rantainya dan menyerang Zato Ichi di pintu. Suara rantainya gemercing dan menimbulkan angin yang bersuit.

Namun dengan sebuah putaran tubuh yang cepat samurai Zato Ichi bekerja. Lelaki itu mati dengan bahu

belah!

Kamar itu kini berubah jadi kamar pembantaian. Darah membanjir dimana-mana. Dan empat mayat

melang melintang.

Kini yang hidup dalam kamar itu hanya mereka berdua. Si Bungsu dari Situjuh Ladang Laweh dan Zato Ichi, pahlawan samurai negeri Jepang!

Si Bungsu kembali duduk di sisi tombak bercabang tiga yang menancap dalam di dinding kamar. Dia belum mampu tegak. Sebab dada, perut, tangan dan pahanya luka parah. Yang terasa sangat sakit adalah luka dipahanya bekas dihujam tombak bercabang tiga itu.

Dia menatap pada Zato Ichi.

Zato Ichi bersandar ke pintu. Dan perlahan, tubuhnya yang bersandar itu meluncur turun lalu duduk dilantai dengan tetap bersandar.

Kepalanya terangkat. Dia seperti menatap pada Si Bungsu.

Dan untuk pertama kalinya Si Bungsu melihat bahwa lelaki yang bernama Zato Ichi ini sebenarnya sudah

tua. Kerut di wajahnya, serta rambutnya yang sudah memutih membuktikan ketuaannya itu. Namun, secara menyeluruh, lelaki itu kelihatan penyabar dan tenang. Sikapnya tidak hanya menimbulkan rasa kasihan, tapi juga menimbulkan rasa simpati.

“Domo arigato gozaimasu Ichi-san. Saya banyak mendengar kehebatan Zato Ichi-san…” dia berkata perlahan.

Zato Ichi menarik nafas panjang. Kemudian menunduk.

“Luar biasa. Benar-benar luar biasa. Seorang asing menjadi jagoan samurai yang ditakuti di negeri Jepang. Heh…heh..engkau benar-benar seorang yang luar biasa Bungsu-san…”

Zuara Zato Ichi bergema dari tempat duduknya di lantai dan bersandar ke pintu. Si Bungsu diam. Dia berusaha tegak. Namun dengan keluhan sakit, dia terduduk lagi.

“Hmmm, nampaknya engkau luka parah. Kamar ini terlalu bau bangkai, engkau harus keluar dari sini anak muda….” Zato Ichi berkata.

“Ya, saya rasa saya menang harus keluar. Tapi….” Suaranya terhenti.

“Saya bisa membantumu. Mari…..” Zato Ichi berdiri. Dan Si Bungsu melihat betapa lelaki itu tegak bertumpu dengan samurainya yang merangkap sebagai tongkat.

Kemudian dengan tongkat itu pula, dia melangkah tertatih-tatih mencari jalan. Bila ujung tongkatnya menyentuh mayat salah seorang anggota Kumagaigumi, dia lalu menghindarkan langkahnya dari sana.

Caranya berjalan sangat mengharukan. Dengan beberapa kali tersandung pada tubuh mayat-mayat itu, akhirnya Zato Ichi sampai ke dekat Si Bungsu.

Dia berjongkok. Meraba tangan, dada dan paha Si Bungsu. “Hmmm, mereka membantaimu Bungsu-san…” katanya perlahan. Dan dengan berpegang ke tangan Zato Ichi Si Bungsu berdiri.

Diam-diam Zato Ichi merasa kagum atas ketangguhan anak muda ini. Tangguh dalam bersamurai dan tangguh dalam menghadapi derita.

Dan senja itu, dia pindah dari hotel tersebut. Dengan sebuah taksi yang dipanggilkan oleh pelayan hotel dia dibawa Zato Ichi jauh ke luar kota. Ke sebuah kuil tua.

Di bahagian belakang kuil itu ada sebuah rumah kecil. Dan rupanya di rumah inilah Zato Ichi tinggal. Itu terbukti dengan bergantungan beberapa helai pakaian Zato Ichi.

“Nah, tenanglah. Kita akan coba mengobati luka-lukamu. Disini engkau aman. Takkan ada orang yang mencarimu kemari….” Kata Zato Ichi sambil berjalan ke meja.

Kamar ini nampaknya sudah dia kenali betul letak-letak barangnya. Sebab Si Bungsu melihat betapa dengan mudah dia melangkah ke segenap penjuru tanpa menabrak benda-benda dalam rumah kecil itu.

Sementara Zato Ichi merabut obat, Si Bungsu masih digeluti penasaran heran dan takjub. Heran kenapa lelaki yang jadi tokoh legenda itu bisa hadir di kamarnya tadi?

Takjub, apakah benar bahwa lelaki ini adalah Zato ichi, pahlawan samurai yang tersohor itu?

“Kota nampaknya semakin ramai….” Suara Zato Ichi terdengar perlahan. Si Bungsu yang terbaring di tempat tidur menolehkan kepala. Tak berniat memberikan komentar. Dia ingin mendengar lebih banyak tentang lelaki ini.

“Dahulu, tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya masih muda, Kyoto adalah kota yang tenang. Penduduknya memang ramai. Tapi mobilnya tak sebanyak sekarang. Hanya ada dua atau tiga mobil. Kini ribuan. Ah, orang buta seperti saya akan hancur digilasnya kalau sering ke kota….”

Si Bungsu tetap tak memberikan komentar. Zato Ichio meneruskan meramu obat. Dan Si Bungsu segera mengetahui, bahwa Zato Ichi ternyata juga seorang yang mahir dalam meramu obat tradisional. Hal itu segera dia ketahui ketika melihat lelaki itu mengeluarkan akar-akar dan beberapa jenis batu-batuan yang dia kikis.

“Negeri ini dahulu adalah negeri yang aman. Tapi tentara membuat seluruh jadi berobah. Keinginan untuk berkuasa di Asia merembet untuk berkuasa di dunia. Akhirnya menjerumuskan bangsa kedalam kancah peperangan yang menghancurkan diri sendiri….” Zato Ichi berkata terus sambil terus pula meramu obat.

“Nah, selesai….” Katanya sambil menuangkan obat dari tempat penggilingan ke dalam sebuah piring kecil. Lalu seperti orang yang bisa melihat sepenuhnya, dia melangkah ke pembaringan.

Dari dalam baskom yang diisi air panas dia mengeluarkan handuk kecil yang bersih. Lalu dengan handuk itu dia mencuci luka di sekujur tubuh Si Bungsu. Si Bungsu masih tak habis pikir, kenapa tokoh legendaris Jepang ini mau menolong dirinya.

Tak hanya sekedar menolong menyelamatkan nyawanya dari pembantaian anggota Kumagaigumi, tapi juga menolong merawat dirinya. Dia tak menemukan jawaban apa sebenarnya. Sementara Zato Ichi yang telah tua itu, tapi gerakannya masih kukuh dan lincah, selesai membersihkan seluruh luka di tubuhnya.’

“Nah, kini saatnya obat ini saya tuangkan ke luka di tubuhmu. Obat ini sangat manjur. Dalam tiga hari akan sembuh lukamu. Tapi pedihnya memang tak tertahankan. Pedih dan memilukan. Saya pernah diobat dengan ramuan ini. Dan untuk itu seluruh tangan dan kaki saya diikat ke pembaringan. Saya rasa ada baiknya kakimu dan tanganmu juga diikat Bungsu-san…”

“Tidak….tak apa. Barangkali saya bisa tahan…” “Engkau sungguh-sungguh?”

“Saya coba…”

Tangan kanan Zato Ichi mengangkat piring berisi obat itu. Tangan kirinya meraba bekas luka di tubuh Si Bungsu.

Dan obat itu dia teteskan ke luka di dada. Mula-mula rasa panas menyengat. Kemudian sakit dan pedih yang menggigilkan jantung. Namun Si Bungsu segera membandingkannya dengan rasa sakit ketika dia diazab dalam terowongan Jepang di Bukittinggi. Yaitu ketika kukunya dicabut dan jarinya dipatahkan satu demi satu. Siksaan itu jauh lebih sakit daripada yang sekarang. Karena itu, dia hanya memejamkan mata. Dan Zato

Ichi kembali terkejut melihat daya tahan anak muda ini.

Demikianlah, obat itu disiramkan ke seluruh luka di tubuh Si Bungsu. kemudian ditempel dengan sejenis daun kayu yang telah didiang panas ke api. Peluh Si Bungsu meleleh membasahi tubuhnya ketika pengobatan itu selesai.

“Benar-benar luar biasa. Engkau benar-benar lelaki tangguh Bungsu-san….” Kata Zato Ichi. Namun suaranya tak didengar lagi oleh Si Bungsu.

Anak muda itu sudah tertidur. Obat tradisional itu memang bercampur dengan sejenis candu. Candu yang kadar biusnya amat besar. Zat bius itu mengalir di pembuluh darahnya lewat luka yang ditaburi obat tersebut.

Demikian besarnya zat rekat candu dan zat bius dalam obat itu, sehingga Si Bungsu serta merta jadi tertidur sebelum pengobatan itu selesai.

Zato Ichi menarik nafas panjang. Dia lalu membereskan peralatan obat-obatannya. Setiap pagi selama tiga hari berturut-turut obat itu harus dia ganti.

Dan obat itu memang amat mujarab. Obat tradisional Jepang yang kesohor untuk mengobati luka yang betapa parahnya sekalipun.

Selesai mengemasi peralatan. Zato Ichi menuju ke Kuil Tua di depan rumah kecil dimana Si Bungsu terbaring itu.

Di Kuil itu dia sembahyang dan berdoa. Kemudian dilantai depan kuil itu, yang terbuat dari kayu keras dan licin mengkilat, dia terbaring.

Angin bertiup dari danau di depannya. Membuat rasa lelahnya lenyap. Dan dia juga tertidur di sana. Tak jauh dari tempatnya berbaring, di pohon-pohon sakura, malam itu burung-burung malam menggigil kedinginan.

---000---

Musim dingin tahun ini telah berjalan beberapa hari. Makin lama udaranya masih menusuk. Di Kuil tua itu nampaknya tak ada orang lain. Dan kuil itu juga tak membutuhkan lampu. Sebab satu-satunya orang yang ada di sana juga tak membutuhkan penerangan.

Apa gunanya penerangan bagi Zato Ichi yang buta? Zato Ichi, siapa yang tak mengenal nama itu di Jepang? Dia adalah tokoh samurai penolong rakyat miskin.

Samurainya selalu menebas kezaliman. Puluhan tahun yang lalu, dia muncul di setiap ada kezaliman. Menolong orang yang tertindas. Kemudian pergi tanpa bekas bila pertolongannya tak lagi dibutuhkan orang.

Tapi saat itu, orang Jepang sendiri sudah melupakan Zato Ichi. Bukan karena kepahlawanannya sudah ada yang menandingi. Tidak. Tapi dia dilupakan karena zaman Zato Ichi sudah lama berlalu.

Perang samurai sudah digantikan dengan gemuruhnya bunyi bedil dan pesawat udara. Pahlawan- pahlawan dalam peperangan di Asia Raya lebih populer. Demikian pula pahlawan-pahlawan udara seperti Saburo yang legendaris. Siapa yang tak mengenal dan tak membicarakan nama pilot dan pahlawan Kamikaze yang bernama Saburo itu? Dia dengan pesawat jenis Kamikazenya itu muncul di atas Armada Perang Amerika. Menyapu kapal-kapal perang itu dengan mitraliyur dan bomnya. Menenggelamkan sebahagian besar kapal kapal perang tersebut.

Kemudian merontokkan pesawat pesawat udara Amerika yang coba mencegat atau mengepungnya. Lalu dia pulang kepangkalan dengan tubuh pesawat yang robek atau bolong oleh terkaman peluru musuh.

Tapi esoknya, dengan tubuh pesawat seperti tapisan kelapa itu, Saburo mengudara lagi. Menenggelamkan lagi kapal kapal perang dan merontokkan pesawat udara. Begitu terus. Hingga dia menjadi pahlawan Jepang yang kesohor.

Dan itulah kenapa sebabnya Zato Ichi terlupakan. Siapa nyana, justru saat angkatan perang Jepang itu runtuh di bawah kaki Sekutu, saat itu pula pahlawan samurai itu muncul.

Suatu kemunculan yang tak seorangpun pernah menduga. Generasi Zato Ichi, umumnya sudah berkubur. Kalaupun ada orang yang mengenalnya, itu hanya dari cerita dan dongeng saja. Siapa sangka, ternyata lelaki jagoan samurai itu, saat ini masih sehat walafiat dan kini menolong seorang “jagoan” samurai lainnya yang berasal dari Indonesia, Si Bungsu!

Kehadiran Zato Ichi memang merupakan suatu “keajaiban”. Lelaki ini ternyata hidup dengan hati tenteram. Di saat orang menyangka bahwa dia sudah mati, di saat itu pula sebenarnya dia tengah berkelana dari sebuah pengunungan ke pengunungan lainnya.

Memakan buah-buahan dan daun-daun berkhasiat. Itulah salah satu penyebanya, kenapa dia kelihatan masih utuh. Tidak segera jadi tua renta seperti jamaknya manusia di kota bila mencapai usia seperti dia.

Lalu kenapa hari ini dia muncul tiba tiba? Dan kenapa kemunculannya justru di kamar hotel Si Bungsu di saat anak muda itu diancam maut? Apakah itu suatu kebetulan atau memang ada yang mengatur? Hal ini memang masih merupakan suatu misteri.

---000---

Persis tiga hari. Ya, persis seperti yang dikatakan Zato Ichi ketika mengobati Si Bungsu. Bahwa dalam tiga hari lukanya akan sembuh.

Dan tiga hari setelah itu, luka disekujur tubuh Si Bungsu memang sembuh. Yang terlihat kini hanya bekas memutih di tentang luka itu.

Si Bungsu jadi takjub. Dia sudah banyak mengenal obat tradisional. Bahkan dia juga tukang ramu obat seperti itu ketika masih di gunung Sago. Tapi dengan luka yang demikian parah, dan pengobatannya demikian cepat, memang diluar jangkauan pengetahuannya.

Dan ketika dia tanyakan pada Zato Ichi apa yang menyebabkan demikian cepat daya sembuh obat itu, Zato Ichi menjelaskan.

Pendekar samurai itu menunjukkan pada Si Bungsu akar dan kulit kulit kayu yang dipakai untuk meramu. Tentang akar dan kulit kayu itu Si Bungsu tak heran. Dia sudah mengetahui cukup banyak.

Dari melihat batang dan jenis daunnya saja seorang peramu obat yang ahli akan segara dapat mengetahui mana pohon yang bisa jadi obat.

“semua akar, daun dan kulit kayu ini direbus dengan batu Giok ini….” Kata Zato Ichi sambil memperlihatkan tiga macam batu-batuan.

Si Bungsu jadi heran melihat batu tersebut. Batu Giok adalah semacam batu mar-mar yang indah dari daratan Tiongkok. Dia sebenarnya hanya mirip mar-mar. tapi batu ini banyak dibuat perhiasan oleh orang.

Ketiga batu Giok itu berwarna lumut, merah darah dan kuning.

“Ketiga macam batu ini akan mengeluarkan getah bila direbus bersamaan dengan akar dan kulit kayu tadi….” Zato Ichi menjelaskan.

Tapi kedua mereka tiba-tiba sama terdiam. Si Bungsu melihat betapa Zato Ichi mendongakkan kepala.

Nampaknya dia tengah mendengarkan sesuatu.

“Ada orang datang…..” kata lelaki Jepang itu perlahan.

“Ya. Dan mereka mengitari rumah ini” jawab Si Bungsu perlahan.

Kedua lelaki ini adalah lelaki-lelaki yang memiliki indera yang amat tajam.

Mereka dapat mendengarkan langkah beberapa orang di luar sana. Padahal saat itu angin musim dingin tengah bersuit kencang. Namun diantara suitan angin itu, masih saja telinga mereka dapat membedakan bunyi langkah kaki manusia.

“Berapa orang mereka?” tanya Zato Ichi. “Lebih dari lima orang….” Kata Si Bungsu.

Zato Ichi tersenyum. Lagi-lagi dia mengagumi anak muda ini. “Inderamu sangat hebat Bungsu-san….” Katanya. Si Bungsu hanya diam.

“Mari kita ke luar, kita sambut kedatangan mereka….” Kata Zato Ichi sambil tertatih-tatih melangkah ke luar rumah.

Dengan memegang samurainya di tangan kiri. Si Bungsu mengikuti langkah Zato Ichi. Dan tiba-tiba mereka berdiri di halaman belakang kuil tua itu. Angin dingin yang bertiup pagi itu menampar-nampar wajah mereka.

Dan begitu mereka berdiri di luar, enam lelaki dalam pakaian kimono hitam tegak membuat setengah lingkaran.

“Zato Ichi…!” terdengar bisik-bisik di antara mereka takkala melihat pada lelaki buta itu. Bisik bisik itu berbaur dengan rasa terkejut.

“Hmmm, sudah lama kuil ini sepi. Apakah tuan-tuan datang untuk bersembahyang…?” terdengar suara Zato Ichi bergema mengatasi suitan angin kencang.

Keenam lelaki yang baru datang itu saling pandang. Salah seorang diantaranya, yang berkumis tebal, yaitu yang tertua diantara mereka, maju dua tindak.

Suara terompa kayunya terdengar berdetak di atas semen di halaman belakang kuil itu. “Kami dari organisasi Kumagaigumi. Kami datang….”

“Hmm, Kumagaigumi, kelompok biruang gunung yang sejak dahulu hanya mengacau….’ Suara Zato Ichi memutus ucapan lelaki itu.

“Itu urusan kami. Kami tak pernah mencampuri urusan Zato Ichi. Harap jangan ikut campur urusan kami…” lelaki itu membentak.

Terdengar suara tawa Zato Ichi perlahan.

“Bagaimana aku takkan ikut campur, kalau urusan kalian itu justru merampok dan memperkosa wanita- wanita Jepang? Apa tak lebih baik kalian memperkosa ibu kalian sendiri?”

Muka lelaki yang baru datang itu jadi merah padam.