Tikam Samurai Si Bungsu Episode 2.2

Si Bungsu mengambil kain dan menyelimutkan ke tubuh gadis malang itu. Lalu mengangkatnya ke pembaringan. Gadis itu makin menjadi tangisnya.

“Nakanaide kudasai Hanako-san…nakanaide kudasai..” (Hanako, jangan menangis, jangan menangis..) katanya perlahan. Tapi gadis itu menangis terus.

Dia menelungkupkan wajahnya ke bantal.

“Mereka telah menodai saya Bungsu-san…mereka benar-benar jahanam…” “Tenanglah…..”

“Bungsu-san, apa jadinya diriku. Aku tak berharga lagi…apa artinya seorang gadis bila telah ternoda…?” “Tenanglah Hanako. Tuhan akan melindungimu. Tuhan menyayangi orang-orang yang teraniaya…” “Tetapi Tuhan tak menolong kami. Budha tak menolong kami. Budha membiarkan diriku tercemar,

Budha membiarkan abangku teraniaya. Mereka tak menolong kami dari kekejaman bangsa kami sendiri…” “Tenanglah Hanako-san. Bukan saya yang menolong kalian. Saya hanya penjalan takdir Tuhan. Tuhan

telah mengatur segalanya…tenanglah. Tabahkan hatimu. Saya akan membantu Kenji-san..” Gadis itu bangkit, duduk dan tiba-tiba memeluk Si Bungsu erat-erat.

“Terimakasih Bungsu-san. Kami tak lagi punya orang tua. Engkaulah kini tempat kami berlindung.

Engkau dan Kenji-san. Jangan tinggalkan kami…”

“Saya akan membantu kalian Hannako, percayalah…”

Hannako beberapa saat masih menangis dibahunya. Kemudian Si Bungsu membaringkannya kembali.

Gadis ini benar-benar patut dikasihani. Dia mendapat goncangan jiwa yang dahsyat.

Di ruang tengah Kenji tengah berusaha merawat lukanya. “Bagaimana adikku, Bungsu-san?”

“Dia tak apa-apa. Dia tengah istirahat….bagaimana lukamu Kenji-san..? “Mereka memakai samurai… dikamarku ada obat Bungsu-san…tolonglah…”

Dan mereka sibuk mengurus luka-luka Kenji. Mujur Naruito adik lelaki Kenji tak di rumah.

Selesai merawat luka Kenji, Si Bungsu memberesi ruang tengah yang berlumur darah itu. Dia mengintip keluar. Tak ada orang. Salju turun seperti kapas. Hari sudah sore.

“Kita buang kemana mayat ini Kenji-san?”

“Saya tak tahu harus dibuang kemana Bungsu-san. Saya tak sanggup berpikir. Nasib kami, saya serahkan padamu…” Kenji berkata dari pembaringan dengan lemah. Dia cukup banyak mengeluarkan darah.

Bungsu bertindak cepat. Orang tak boleh tahu tentang apa yang telah terjadi di rumah ini. Terutama adik lelaki Kenji yang kecil.

Bungsu mengangkat mayat itu satu persatu.

Di belakang rumah mereka ada parit besar sekali. Parit ini dalam musim dingin begini penuh airnya. Airnya tak membeku karena seluruh air yang masuk ke sana disaring lewat penutup riol. Seluruh air akan berkumpul disaluran yang besarnya ada tiga meter bundaran.

Dan saluran induk pembuang kotoran ini berada di belakang rumah mereka. Tanpa banyak pikiran Bungsu membuang mayat itu ke dalam riol besar tersebut. Tak peduli apakah mayatnya dihanyutkan atau tidak. Persetan.

Kemudian dia membersihkan darah yang bergelimang di lantai. Lalu mengepel lantai itu hingga kering. Ketika dia berhenti, dia melihat Hannako tegak di pintu. Gadis itu sejak tadi tegak di sana dengan tubuh lemah melihat Si Bungsu bekerja.

“Bungsu-san…” katanya perlahan.

Si Bungsu tersenyum. Mendekati gadis itu. Memegang bahunya. Dan tiba-tiba gadis itu kembali memeluknya. Menangis lagi dipundaknya. “Tenanglah Hanako, semuanya sudah lewat…” Hannako menggeleng.

“Belum ada yang lewat Bungsu-san. Ini baru permulaan. Jakuza tak pernah meninggalkan sisa bila ia membereskan suatu soal. Mereka akan datang lagi dalam jumlah yang lebih banyak. Dan mereka akan membunuh kita. Engkau pergilah jauh-jauh Bungsu-san. Selamatkan dirimu. Biarkan kami menyelesaikan soal ini sendiri. Ini persoalan kami Bungsu-san. Jangan libatkan dirimu terlalu jauh…”

“Tenanglah Hanako. Siapa bilang ini bukan urusanku. Bukankah aku justru yang memulai membuat soal dengan Jakuza. Yaitu takkala membunuh ke empat lelaki yang akan membawamu dari terowongan di daerah Yotsui dulu? Nah, akan kita lihat bagaimana akhirnya soal ini. Kita sudah memulai bersama, dan kita akan tetap berkumpul bersama sampai soal ini selesai..”

Hannako kembali menangis.

Dia baru menghentikan tangisnya ketika di luar terdengar suara anak-anak menyanyi. Naruito pulang dari sekolah.

Dia masuk dengan melompat gembira. Namun terhenti dan membungkuk dalam-dalam memberi hormat tatkala di pintu bilik dia lihat Si Bungsu tegak sambil tersenyum.

“Selamat sore Bungsu-san…” katanya.

“Selamat sore Naruito, kenapa sore baru pulang?

“Saya sudah bilang sama kakak tadi, bahwa ada acara di sekolah…mana kakak?”

Hanako mendengar adiknya pulang segera ke kamar mandi membersihkan diri. Dia tak ingin adiknya mengetahui bencana yang telah menimpa mereka siang ini.

“Kakakmu di kamar. Nah, letakkanlah buku. Sudah saatnya kita makan bukan?” “Haii…!” seru anak itu sambil berlari ke kamarnya.

Sementara itu Hannako muncul di kamar makan menyiapkan makanan adiknya. Mereka memang belum ada yang makan sejak siang tadi.

“Engkau bisa ikut makan bersama Kenji-san?”

Si Bungsu bertanya pada Kenji yang terbaring di tempat tidurnnya.

“Ya, saya akan ikut makan. Perut saya memang lapar. Tapi, apa jawab saya kalau Ito bertanya tentang luka ini?”

Mereka bertatapan. Tak ada yang bicara. “Katakan saja engkau cedera dalam latihan…”

“Mereka tahu, dalam latihan Karate dan Judo tak dipergunakan senjata tajam…”

“Bagaimana kalau dikatakan bahwa engkau mendapat kecelakaan mobil ketika ke pasar tadi?”

“Ya, itu lebih baik…” kata Kenji sambil bangkit. Dan ketika makan Naruito menanyakan luka Kenji.

Mereka menjawabnya sesuai rencana semula.

Lalu hari-hari setelah itu, mereka lalui penuh ketegangan.

Pagi, siang, sore, petang dan malam mereka menanti dengan tegang. Tak seorangpun yang bisa tidur dengan lelap.

Jakuza seperti akan tiba setiap saat. Mereka demikian tegangnya. Hingga Hannako jatuh demam. Meski demikian, Naruito tetap disuruh sekolah seperti biasa.

Anak itu akan tetap aman. Sebab mereka pergi dan pulang sekolah dijemput oleh bus sekolah yang dijaga oleh petugas keamanan.

Kepada kedua kanak-kanak itu kejadian yang menimpa mereka tetap dirahasiakan. Akhirnya suatu malam.

“Kenji-san….kita bisa gila menanti begini…” Si Bungsu berkata perlahan agar  tak membangunkan Hannako yang baru saja tidur. Saat itu sudah lewat tengah malam.

“Ya. Begini memang taktik Jakuza dalam menghancurkan mental lawan yang mereka anggap kuat Bungsu-san…”

“Mereka mengharap kita lengah. Atau menyerah. Atau mengharap kita pindah dan mereka menyikat kita di perjalanan…”

Si Bungsu menarik nafas panjang mendengar penjelasan Kenji.

Perbedaan antara menanti dan mendatangi adalah lama dan cepatnya pertarungan itu terjadi. Jika Jakuza ingin menyiksa mental mereka lebih lama, maka itu berarti penantian itu bisa sebulan, dua bulan atau lebih. Dalam saat penantian begitu, keseimbangan jiwa dan keteguhan mental benar-benar diuji. Mungkin dalam penantian itu mereka lengah. Menyangka Jakuza telah melupakan peristiwa itu. Dan disaat lengah itulah Jakuza beraksi.

Atau kalau tidak lengah, maka mereka yang menanti dengan tegang itu bisa pecah sarafnya. Hanya soalnya dia kini sendiri. Kalau saja Kenji tidak luka parah, maka dia yakin bisa berbuat lebih banyak jika pergi berdua.

Tapi kini Kenji luka parah. Dan kini masih belum pulih. Dia tak memberitahu Kenji akan niatnya itu. Yang jelas dia harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Betapapun jua, Kenji dan adik-adiknya harus dia bantu.

Dia berhutang budi banyak pada Kenji yang telah mengajarnya bahasa Jepang. Yang telah mengajarkan padanya tentang segala sesuatu kehidupan di negeri ini.

Dia datang kemari untuk membunuh orang Jepang. Dia datang karena orang Jepang telah melaknati negeri dan keluarganya. Dia datang sendiri, ternyata ada keluarga Jepang yang mau bersahabat dengannya. Yang mengajarkan padanya tentang tatacara kehidupan negeri asing ini. Kalau tak ada Kenji, dia tak tahu bagaimana dia hidup di Tokyo ini. Bayangkan, berada di suatu negeri yang asing sama sekali. Asing bahasa dan asing segala-galanya.

Dia datang hanya dengan modal dendam dihati, samurai ditangan dan keberanian di dada. Hanya itu modalnya. Dan di negeri ini modal itu ditambah oleh Kenji dan adik-adiknya.

Dan kini Kenji serta adik-adiknya terancam bahaya. Bukankah dia harus membelanya? Esoknya, sehabis makan pagi, dia berkata akan pergi ke stasiun kereta api.

Siang itu di rumah Kawabata ada rapat penting yang dihadiri oleh Tokugawa. Yaitu kepala Jakuza untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya.

Rapat itu dihadiri oleh dua puluh anggota pilihan. Ada pengangkatan kepala-kepala Cabang baru. Dalam organisasi Jakuza ada suatu wilayah tertentu yang dikepalai oleh pimpinan cabang.

Saat ini Tokyo dibagi dalam 12 cabang utama. Dan Tokyo merupakan kota kedua bagi organisasi Jakuza.

Kota pertamanya adalah Kyoto. Yaitu suatu kota yang terletak sekitar 500 kilometer di selatan Tokyo.

Wilayah Tokyo dan sekitarnya dipimpin oleh Tokugawa. Tokugawa adalah keluarga turunan samurai yang tersohor sejak zaman dahulu. Dari suku Tokugawa inilah lahir pahlawan-pahlawan samurai yang tersohor diseluruh Jepang. Dinasti Tokugawa terkenal dengan pemerintahannya yang bersih.

Dari suku mereka lahir perwira-perwiara yang tangguh. Prajurit-prajurit yang bersedia mati untuk kerajaannya. Dan kalapun ada Tokugawa yang hari ini menjadi seorang kepala begal seperti organisasi Jakuza ini, maka itu hanyalah sebagai kewajaran proses zaman saja.

Tak seluruh suku pahlawan akan melahirkan pahlawan. Ada juga diantaranya yang jadi pengkhianat. Sama halnya, tak semua penjahat melahirkan turunan penjahat. Ada pula yang melahirkan penegak hukum, ulama atu pendidik.

Mereka sedang mengangkat minuman sake atas selesainya pemilihan pimpinan cabang yang baru takkala seorang anak muda tiba-tiba saja sudah berada di ujung ruangan.

“Gomenkudasai…” katanya tenang.

Suaranya menyebabkan gelas-gelas yang diangkat untuk meminum sake itu pada terhenti. Dan dengan cawan masih terangkat, semua kepala menoleh ke ujung ruangan.

Semua mereka, tak terkecuali Kawabata, merasa heran atas kehadiran orang asing bertongkat ini. Tokugawa yang bermata tajam segera dapat mengetahui bahwa yang ditangan orang asing itu bukanlah tongkat biasa. Melainkan sebilah samurai! Perbedaan samurai biasa dengan samurai yang di tangan orang asing itu adalah pada hulu dan sarungnya.

Samurai anak muda ini sarungnya sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga jika mata tak terlalu tajam akan kelihatan seperti tongkat kayu biasa saja.

Namun Tokugawa memang seorang keturunan samurai.

Dia mengenal dengan baik puluhan jenis buatan samurai yang ada di seluruh Jepang. Dan sekali pandang saja, meluhat lengkung dan ukuran panjang samurai di tangan anak muda itu, dia segera tahu bahwa anak muda itu memegang samurai buatan kota Sakamoto. Yaitu sebuah kota kecil di tepi danau Biwa di Propinsi Chubu. Dan samurai dari negeri tepi danau Biwa itu adalah salah satu diantara tiga samurai terbaik yang dibuat oleh Jepang.

“Maafkan saya mengganggu…” lelaki asing itu, yang tak lain daripada Si Bungsu, berkata lagi.

Kawabata memberi isyarat pada dua orang lelaki untuk menyuruh orang itu keluar. Tapi Tokugawa memberi isyarat lain. Dia justru tertarik dengan kedatangan orang asing ini. “Siapa anda?” tanyanya sambil meletakkan cawan berisi sake yang belum diminum. Ke 20 orang pimpinan Jakuza daerah Tokyo itu ikut meletakkan cawan mereka seperti yang dilakukan Tokugawa.

“Watashi wa Indonesia-jin desu, Bungsu desu…” (nama saya Bungsu, saya ornag Indonesia..) katanya tenang.

“Aa, orang Indonesia, Selamat datang. Anda rupanya datang dari jauh, mari silakan minum bersama kami….” Tokugawa memberi isyarat pada pelayan.

Pelayan segera mengisi sebuah cawan dengan sake. Karena Si Bungsu tetap tak mendekat, maka Tokugawa menyuruh mengantarkan Sake itu padanya dekat pintu.

“Terimalah. Mari kita minum bersama. Kami baru saja mengangkat pimpinan-pimpinan cabang yang baru. Sekalian sambil mengucapkan selamat datang pada anda, mari kita minum sake…”

Tokugawa mengangkat cangkirnya. Ke 20 orang pemuka Jakuza Tokyo itu, termasuk Kawabata mengangkat cangkirnya.

Si Bungsu menerima cangkir sake tersebut. Dan ketika semua mengangkat cawan tinggi-tinggi, dia juga ikut mengangkatnya. Semua memandang padanya sebelum meminum sakenya. Kemudian serentak mereka meminum sake tersebut. Si Bungsu juga meminumnya.

Selama di Jepang ini, dia sudah terbiasa minum sake. Minuman ini memanaskan badan. Tak banyak bedanya dari air tapai di kampungnya. Hanya saja sake yang dia minum di Jepang ini, kwalitasnya lebih baik dan wangi serta lebih keras. Itu menyebabkan tubuh lebih cepat panas dalam cuaca dingin bersalju seperti sekarang.

Tokugawa meletakkan cangkirnya.

“Nah, anak muda dari Indonesia, apa yang bisa kami bantu? Patut anda ketahui, kami adalah kelompok Jakuza. Kau pernah dengar nama itu?”

“Di Indonesia saya tak pernah mendengarnya. Saya hanya merasakan kekejaman tentara Jepang di negeri saya itu. Saya baru mendengar nama Jakuza di Tokyo ini. Dan saya segera melihat bahwa kelompok tuan adalah kelompok penjahat yang benar-benar tak kenal peri kemanusiaan…”

Ke 20 anggota pilihan Jakuza wilayah Tokyo itu pada menahan nafas mendengar kekurang ajaran anak muda dari Indonesia itu. Mereka menahan nafas, karena yakin sebentar lagi anak muda ini akan disembelih oleh Tokugawa.

Namun suatu keanehan terjadi. Tokugawa justru tertawa menyeringai.

“Ya. Anda benar. Kelompok kami adalah kelompok bandit. Nah, kalau sudah mendengar bahwa kami adalah manusia yang tak berperi kemanusiaan, kenapa berani masuk kemari?’

Ucapan ini adalah semacam ancaman. Dan ke 20 anggota Jakuza itu pada diam tak bergerak.

“Saya datang mencari tuan Kawabata…” suara Si Bungsu terdengar perlahan. Matanya meneliti mencari mana lelaki yang bernama Kawabata itu.

Semua mata, kecuali mata Tokugawa, pada menoleh pada seorang lelaki berdegap yang duduk persisi di depan Tokugawa. Dan Si Bungsu segera mengetahui, dialah Kawabata!

Dan dengan cepat dia mengukur lelaki itu.

Dia yakin lelaki itu adalah lelaki tangguh. Tapi licik dan sadis.

Kawabata sendiri kaget mendengar bahwa dialah yang dicari anak muda ini. Dia benar-benar tak pernah mengenalnya.

“Hmm, ada perlu apa engkau mencari salah seorang pimpinan cabang Jakuza anak muda?” suara Tokugawa terdengar bergema.

“Saya mempunyai perhitungan dengan dia…” kembali semua mata menatap pada Kawabata.

“Saya tak mengenal… “ Kawabata coba memutus pembicaraan, tapi tangan Tokugawa yang terangkat membuat dia terdiam.

“Teruskan anak muda. Perhitungan apa yang ada diantara kalian berdua?” suara Tokugawa terdengar

lagi.

Si Bungsu segera mengerti, orang inilah pastilah pimpinan Jakuza yang disegani. Sebab semua hormat

sekali padanya.

“Saya telah membunuh lima orang anak buahnya” dan kali ini tak ada yang terdiam. Suara seperti lebah terdengar berdengung. Tak kurang dari Tokugawa sendiri juga jadi kaget.

“Siapa yang kau bunuh?”

“Empat orang Jakuza yang beroperasi di terowongan bawah tanah di daerah Yotsui. Saat itu mereka mencoba dengan kasar menangkap seorang gadis bernama Hannako. Saya telah memintanya untuk melepaskan gadis itu dengan baik-baik. Tapi mereka melakukan kekerasan. Maka saya terpaksa membunuhnya”

Kawabata jadi merah mukanya. Semua yang hadir di sana jadi berpandangan. Mereka sudah lama menyelidiki siapa yang membunuh keempat Jakuza itu. Mereka selama ini yakin bahwa yang membunuh keempat anggota mereka adalah seorang samurai Jepang. Sebab luka ditubuh anggota mereka jelas bekas samurai. Mana mereka pernah berfikir bahwa ada orang asing yang melebihi kemahiran anggoat Jakuza memakai samurai.

Kini rupanya anak muda inilah yang telah membunuh anggota mereka itu. Betapa mereka takkan kaget. “Setelah itu, mereka datang ke rumah kami di Uchibori Dori. Mereka memperkosa Hannako disana. Dan melukai kakaknya Kenji. Mereka datang bertiga. Yang satu mati ditangan Kenji. Yang satu saya yang membunuhnya, yang satu lagi saya suruh menyampaikan pesan kemari, pada Kawabata. Bahwa saya menanti

Jakuza di rumah itu. Pesan itu saya suruh sampaikan dengan memotong sebelah tangannya..”

Ruangan itu benar-benar sepi seperti di kuburan. Suara anak muda itu mengagetkan mereka. Ceritanya seperti tak bisa mereka percayai. Namun itulah yang terjadi. Mereka menatap anak muda itu dengan pandangan takjub.

Mungkinkah anak Indonesia ini sanggup melakukan seperti yang dia ceritakan? “Apakah gadis yang kau ceritakan itu, e…siapa namanya?’

“Hanako..”

“Ya, apakah Hanako itu adalah isteri atau kekasihmu?” Suara Tokugawa terdengar lagi. “Tidak”

“Lalu kenapa engkau membelanya?”

Si Bungsu lalu menceritakan pertemuannya dengan Hannako di terowongan di daerah Yotsui itu. Kemudian ternyata Hannako adalah adik Kenji. Teman sekapal yang telah mengajarnya bahasa dan tatacara kehidupan Jepang.

“Tapi terlepas dari masalah hubungan saya dengan Kenji, saya merasa perlakukan Kawabata atau Jakuza terhadap gadis itu sudah sangat keterlaluan. Terlalu biadab. Untuk itulah saya datang kemari. Mereka kini dicekam ketakutan di rumahnya. Mereka tak lagi punya ayah dan ibu. Setiap saat mereka merasa Jakuza yang ditakuti itu, yang bagi saya tak lain daripada bajingan busuk yang hanya berani menindas orang lemah, akan datang mencelakai mereka. Kini saya datang untuk membuat perhitungan..”

Tokugawa sampai berdiri mendengar ucapan anak muda ini. Yang lain juga pada tegak segera. Suara kursi bergeser terdengar bising sejenak. Mereka semua memakai kimono pelindung udara dingin.

Kini mereka membuat setengah lingkaran. Di ujung lingkaran yang setengah itu, tegak Si Bungsu! “Perhitungan bagaimana yang maksud akan kau buat dengan Kawabata?” Suara Tokugawa terdengar

berat dan mengandung amarah.

Si Bungsu tahu gelagat itu. Dia kini berada di sarang Harimau. Namun dia datang sendiri. Kalaupun dia mati, maka takkan ada seorang pun yang akan menangisinya di Minangkabau sana. Tak seorangpun!

“Maaf, bolehkah saya tahu siapa tuan?” suara Si Bungsu tetap tenang. Tangan kirinya memegang samurai dengan kukuh. Sementara tangan kanannya lemas tergantung. Seperti tak bertenaga. Namun Tokugawa arif bahwa tangan kanan anak muda ini siap menyebar maut, setiap detik.

Dia arif benar akan hal itu. Dan dia segera dapat mengetahui bahwa anak muda ini adalah seorang samurai yang otodidak. Seorang yang mahir karena belajar sendiri. Diam-diam dia merasa bangga. Bangga bahwa ada anak muda asing yang mahir mempergunakan samurai. Senjata kebanggan sukunya. Suku Tokugawa yang masyur turun temurun.

“Nama saya Tokugawa. Saya pimpinan bandit yang tak berperikemanusiaan, Jakuza, untuk daerah Tokyo dan sekitarnya….” Tokugawa memperkenalkan diri sambil mengulangi ucapan Si Bungsu tadi.

Si Bungsu membungkuk memberi hormat. Dan tanpa merasa rendah diri Tokugawa juga membungkuk dalam-dalam membalas penghormatan itu. Ke 20 anggota Jakuza disana menjadi heran bercampur kaget melihat sikap pimpinan mereka ini. Bahkan Gubernur atau Walikota sendiri tak pernah dia hormati seperti itu.

“Tokugawa..”

“Ya, saya Tokugawa. Kau pernah mendengar nama itu?”

“Maaf, saya banyak mendengar nama Tokugawa. Tapi yang saya dengar hanya tentang yang baik-baik saja. Tokugawa yang saya dengar adalah turunan pahlawan sejati. Turunan samurai yang tak ada duanya di seluruh Jepang. Tak pernah saya dengar seorang Tokugawa yang kepala bandit” Ke 20 Jakuza lainnya jadi menciut saking takutnya akan murka yang akan menyembur dari Tokugawa.

Anak muda ini benar-benar mencari penyakit, pikir mereka.

Tapi lagi-lagi mereka melihat suatu keanehan. Tokugawa bukannya murka. Malah tegak dengan diam dan menatap dengan tepat-tepat pada Si Bungsu.

“Terimakasih atas peringatanmu anak muda. Engkau membangkitkan kebanggaan saya terhadap keluarga Tokugawa. Akan saya ingat ucapanmu itu”

Semua orang terdiam. Si Bungsu sendiri kaget. Tak dia sangka orang tua ini sabarnya begitu hebat. “Nah, katakanlah, apa perhitungan yang akan kau buat dengan Kawabata…”

“Saya datang kemari untuk mengajukan dua hal. Pertama, hentikan mengganggu Hannako, Kenji dan adiknya. Kedua, kalau hal itu tak dapat dilakukan dengan baik-baik, saya mempertaruhkan jiwa saya agar Kawabata tidak menggangu gadis itu…”

Tokugawa diam. Kawabata diam. Ke 20 anggota pimpinan Jakuza Tokyo itu diam. Tantangan anak muda ini benar-benar luar biasa. Luar biasa beraninya. Luar biasa hebatnya.

“Apakah engkau mencintai Hannako?” suara Tokugawa terdengar lagi. Semua orang saling diam menunggu jawaban anak muda itu…

“Tidak…saya hanya menyayanginya….”

“Engkau mempertaruhkan nyawa bagi orang yang tak kau cintai. Lalu apa sebenarnya alasan pengorbananmu?

Si Bungsu menatap keliling. Menatap pada Tokugawa. Aneh, tiba-tiba dia merasa simpati pada orang tua gagah kepala rampok ini. Dan tiba-tiba dia teringat pada orang tuanya.

Tokugawa dan seluruh anggota Jakuza dalam ruangan itu jadi heran bercampur kaget takkala pipi anak muda itu basah oleh air mata.

“Saya datang kemari karena seluruh keluarga saya telah punah dibunuh. Tak usah saya katakan siapa yang membunuhnya. Saya merasa betapa pahitnya hidup tanpa ayah, tanpa ibu dan tanpa saudara. Dan Kenji serta adik-adiknya juga akan mengalami nasib seperti saya kalau Jakuza tak berhenti mencelakai mereka. Saya pertaruhkan nyawa saya untuk mereka, agar mereka tak mengalami nasib malang seperti saya…”

Tokugawa merasa jantungnya seperti ditikam mendengar ucapan anak muda asing ini. Di negerinya ada orang asing yang mau mengorbankan dirinya demi membela anak-anak Jepang dari penindasan. Dia adalah kepala bandit yang terkenal kejam. Namun mendengar apa yang dikatakan anak muda dari Indonesia ini, hatinya jadi luluh.

“Bagaimana engkau akan memaksakan Kawabata agar tak mengganggu Hanako?”

“Saya memang tak punya kekuatan untuk memaksanya. Tapi sebagai seorang lelaki, saya menantangnya untuk bertarung memakai samurai..”

Kembali terdengar suara berdengung dalam ruangan itu mendengar tantangan anak muda ini.

Semua orang pada berbisik. Pada menatapnya. Dan tiba-tiba mereka semua baru menyadari bahwa ditangan kiri anak muda itu sebenarnya tergenggam sebilah samurai. Bukan tongkat kayu seperti yang mereka duga semula.

Tokugawa menatap pada Kawabata. Menatap dengan sinar mata yang sulit diartikan. Kemudian dia berpaling pada Si Bungsu.

“Merupakan kehormatan bagi saya, bahwa engkau menantang Jakuza dengan samurai. Saya, Tokugawa, pimpinan Jakuza wilayah Tokyo sekitarnya, memberi jaminan padamu, bahwa setelah pertarunganmu dengan Kawabata, tak perduli engkau kalah atau menang, maka tak seorangpun anggota Jakuza yang akan mengganggu Hannako dan Kenji serta diknya”

Semua pimpinan Jakuza dalam ruangan itu pada terdiam.

“Domo arigato gozaimasu. Tapi, barangkali saya mati dalam pertarungan ini. Apakah bukti bahwa Tokugawa memegang janjinya untuk takkan mengganggu Kenji, Hanako dan adiknya” suara Si Bungsu terdengar lagi.

Tokugawa berjalan ke depan. Di samping Si Bungsu ada sebuah meja kecil dimana terletak sebuah kendi porselin putih.

Tokugawa menurunkan porselin itu. Kemudian tiba-tiba dari balik kimononya dia mengeluarkan sebilah samurai pendek. Dia memberi isyarat. Seorang pelayan bergegas membawa sehelai kain putih. Dia meletakkan tangan kirinya di atas kain putih itu. Lalu menghunus samurai pendeknya. Dia menatap pada Si Bungsu. Menatap pada 20 anggotanya yang memandang padanya dengan kaget. Ke 20 anggota pimpinan Jakuza itu tiba-tiba berlutut.

Si Bungsu tak mengerti apa yang akan diperbuat pimpinan Jakuza ini.

Dan tiba-tiba sekali, tangan Tokugawa bergerak cepat. Samurai ditangan kanannya memutus kelingking kirinya!

Kelingking yang putus itu dia bungkus dengan kain putih. Dan tangan kirinya segera dibalut dan diberi obat oleh pelayannya.

Tokugawa mengambil kelingkingnya yang telah putus yang terbungkus kain putih itu. Dia berjalan menghampiri Si Bungsu. Si Bungsu benar-benar kaget. Dia tak mengerti, bahwa yang dilakukan Tokugawa sebentar ini adalah sumpah seorang samurai.

Dalam hal-hal yang muskil, bila seorang samurai sejati bersumpah, sebagai tanda bahwa sumpahnya itu takkan pernah dimungkiri, maka mereka memotong kelingking.

Dan ke 20 pimpinan Jakuza di Tokyo yang hadir itu menjadi maklum, bahwa sumpah Tokugawa terhadap anak muda ini, untuk tidak mengganggu keluarga Hannako adalah sumpah yang tak boleh siapapun melanggarnya.

Dengan pemotongan kelingking itu, maka Hannako dan saudara-saudaranya, sepenuhnya berada di bawah lindungan Tokugawa. Siapapun yang mengganggu, tak peduli dia anggota Jakuza atau tentara Amerika sekalipun, maka Tokugawa akan tegak di depan sekali membelanya.

“Ini bahagian tubuhku, kuberikan padamu sebagai bukti bahwa janjiku adalah janji samurai. Siapapun yang mengganggu Hannako dan saudaranya akan berhadapan denganku…”

Tokugawa mengulurkan kain putih yang berdarah itu. Si Bungsu tertegun. Kaget, heran dan takjub bercampur baur dihatinya. Juga perasaan terharu.

“Jika aku mati sekalipun dalam pertarungan ini, saya takkan kecewa. Saya berterimakasih atas kebaikan hati Tokugawa bersedia melindungi Hannako dan saudara-saudaranya…”

Berkata begini, anak muda dari Gunung Sago di Minangkabau itu membungkuk dalam-dalam dan menerima kelingking yang telah putus itu. Dia memasukkannya ke kantong baju.

“Domo arigato gozaimasu…” katanya sambil sekali membungkuk dalam-dalam. Tokugawa membalas membungkuk.

Dan ketika mereka bertatapan, Si Bungsu melihat di sudut mata lelaki tua gagah kepala komplotan bandit itu, berlinang air mata.

Ada sesuatu yang membuat Tokugawa terharu atas sikap anak muda itu. Yaitu keinginannya untuk membela orang lain tanpa memperdulikan keselamatan dirinya.

Orang yang dia bela itu adalah orang Jepang yang dianiaya oleh orang Jepang sendiri.

Dan dia berani datang ke Jepang ke sarang harimau sendirian demi membela anak-anak Jepang yang teraniaya.

Usahkan memikirkan, malah orang-orang Jakuza yang menyebar bencana dan kesulitan di tengah orang- orang Jepang yang jelas telah sengsara.

Kini, ada orang lain, entah siapa dia, entah darimana datangnya, yang mau mengorbankan nyawanya demi membela anak-anak yang tertindas itu. Inilah yang membuat Tokugawa terharu.

Dia menitikkan air mata, sesuatu yang tak pernah dia lakukan selama hidupnya. Tokugawa lalu berbalik, berjalan ke arah tempat dia tegak tadi.

“Nah, dengan apa engkau akan menantang Kawabata?” tanya Tokugawa.

“Terimakasih atas kesempatan ini. Saya memiliki sebuah samurai dan mengetahui sedikit cara mempergunakannya. Saya dengar Jakuza mahir mempergunakan samurai. Maka saya berharap Kawabata mau memberi pelajaran pada saya dalam hal ini..”

Ucapan anak muda ini jelas merendahkan diri. Tapi hal itu justru mengundang rasa kaget dan kagum dihati Tokugawa dan seluruh pimpinan Jakuza Tokyo padanya. Seorang asing, anak muda yang berusia sekitar 28 tahun, menantang Kawabata yang kemahirannya bersamurai diantara anggota Jakuza Tokyo terkenal sangat tinggi.

Tokugawa menoleh pada Kawabata. Kemudian terdengar suaranya berbegu dingin :

“Sudah kukatakan beberapa kali pada kalian. Jangan mengganggu gadis Jepang. Jangan mengganggu anak-anak yatim. Ternyata kalian tak menjalankan perintahku. Kawabata, engkau harus melayani tantangan anak muda ini. Kalau engkau mati, maka persoalan selesai di sana. Tapi kalau engkau menang dan tetap hidup, maka peradilan organisasi terhadap kesalahanmu seperti yang dilaporkan anak muda ini akan dilanjutkan. Bersiaplah!”

Tak ada yang bisa diperbuat Kawabata selain membungkuk dalam-dalam memberi hormat. Tokugawa adalah pimpinan Jakuza yang disegani di seluruh Jepang. Dia memang tidak pimpinan Jakuza tertinggi. Dia menduduki rangking ke 2 dalam urutan kepemimpinan Jakuza.

Tapi meski di urutan ke 2, Tokugawa adalah orang yang tak bisa dilewatkan begitu saja dalam oragnisasi. Dia memimpin Jakuza Tokyo. Dan kota ini adalah kota ke 2 di Jepang setelah Kyoto. Kini sejak perang dunia ke 2 berakhir, maka Tokyo justru menjadi kota pertama di Jepang.

Posisinya ini, ditambah dengan wibawa dan kemahirannya serta nama besar keluarga Tokugawa, membuat dia seorang yang amat disegani. Malah dalam pemilihan pimpinan pusat di musim semi yang akan datang. Tokugawa disebut-sebut sebagai calon pimpinan yang tangguh.

Meski kerjanya memimpin komplotan bandit, namun Tokugawa orangnya sportif dan berbudi. Aturan organisasi dia jalankan dengan ketat. Tak sembarang anggota boleh membunuh atau memeras atau maling sesukanya. Ada aturan.

Dan kalaupun ada anak buahnya yang melakukan semua hal itu, seperti Kawabata memperkosa Hanako, atau seperti Kawabata yang memeras di terowongan bawah tanah, maka itu adalah semacam ekses daripada ketidak disiplinan pimpinan bawahannya seperti Kawabata.

Untuk melawan Tokugawa? Amboi mak, minta ampunlah. Semua anggota Jakuza sangat kenal siapa Tokugawa ini. Namanya saja sudah Tokugawa. Suatu klan yang melahirkan jago-jago samurai di seluruh tanah Jepang. Suatu klan keluarga yang mula pertama memperkenalkan senjata tradisional Jepang itu kepada manusia ribuan tahun yang lalu.

Dan Tokugawa ini termasuk seorang dari empat atau lima belas orang pemakai samurai tersohor di Jepang saat ini. Itulah kenapa sebabnya Kawabata atau dedengkot-dedengkot Jakuza lainnya tak berani membangkang terhadap putusan Tokugawa.

Dan itu pula sebab kenapa Kawabata terpaksa harus melayani tantangan Si Bungsu. Meskipun sebenarnya dia ingin anak buahnya saja yang menyudahi Si Bungsu. Namun dia juga bersykur bahwa dia yang diperintah untuk menghadapi anak muda asing ini.

Dengan demikian dia bisa membalaskan sakit hatinya pada anak muda yang telah membunuh lima anggotanya dan mencelakai seorang dengan memutus tangannya.

Dia segera maju ke tengah rumah setelah menghormat pada Tokugawa. Yang lain pada membuat lingkaran di sekitar dinding. Bagian tengah rumah besar itu kini terluang.

Kawabata membuat semacam acara tradisional di tengah ruangan. Kemudian seorang pembantunya mengantarkan padanya sebilah samurai.

Samurai itu sebilah samurai panjang. Bergagang coklat seperti dari kulit kelas satu.

Dipangkal gagangnya ada jumbai kuning keemasan. Sarungnya di ujung dan di pangkalnya dibalut ukiran kuning keemasan pula. Bukan kuning keemasan, balut sarung samurainya itu yaitu balut ujung dan pangkalnya memang terbuat dari loyang emas murni.

“Nah, anak muda bersiaplah…: Tokugawa memperingatkan. Kawabata telah menghunus samurainya. Si Bungsu sendiri memperhatikan upacara yang dibuat Kawabata tanpa berkedip. Tanpa emosi dan tanpa ekspresi.

Aneh, dia melihat segalanya sebagai sebuah hal yang lumrah. Sebagai sesuatu yang tak patut untuk diherankan apalagi untuk ditakuti. Bukankah dia sendiri yang datang dan menghendaki peristiwa ini?

Dan Kawabata kini mulai melangkah perlahan. Merendah sambil memegang samurai dengan kedua tangannya. Langkah bergeser di lantai. Dan tiba-tiba Si Bungsu teringat pada perkelahiannya dengan Letnan Kolonel Akiyama di Bukittinggi dahulu.

Langkah kaki Kawabata persis langkah Akiyama. Bergeser perlahan dengan kuda-kuda lebar. Mata lurus menatap pada lawannya. Tangan kukuh memegang samurai.

Tokugawa menatap dengan tenang pada kedua orang ini. Terutama perhatiannya tertuju pada Si Bungsu. Ke 19 orang pimpinan Jakuza daerah Tokyo dan sekitarnya itu juga memandang anak muda itu. Mereka mulai ragu. Apakah anak muda ini benar-benar pandai mempergunakan samurai atau memang benar-benar ingin belajar seperti yang dia katakan tadi?

Kalau dia ingin belajar, maka pelajaran yang akan dia terima dari Kawabata sesungguhnyalah pelajaran yang paling akhir dan paling pahit. Yaitu kehilangan kepala dan nyawa. Jarak mereka hanya tinggal sedepa setengah. Dalam jarak begini sebuah serangan kilat sudah bisa mematikan lawan. Kawabat sudah benar-benar dalam keadaan sempurna siaga. Tapi anak muda itu masih tegak dengan santai.

Matanya saja yang nanap melihat Kawabata. Tapi selain matanya yang mirip mata elang itu, tak ada tanda-tanda bahwa dia akan bertempur.

Kakinya masih terpentang lebar menghadap lurus ke depan.

Tangan kirinya masih tergantung biasa memegang “tongkat” usangnya itu. Tangan kanannya masih tergantung lemah seperti tak bertenaga. Tubuhnya diam tak bergerak. Malah yang bermata tajam dapat melihat bahwa dia sebenarnya tak bernafas sejak Kawabata melangkah mendekatinya tadi. Dia telah menghirup nafas panjang perlahan, menahannya di rongga dada. Mengeluarkan sedikit. Kini menahannya penuh.

Yang kaget bukan main melihat situasi ini adalah Tokugawa. Dia kaget luar biasa. Dia sudah bisa dengan pasti mengatakan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam pertarungan ini. Pasti sudah!

Dan dia ingin melihat kekalahan dan kemenangan itu berlangsung dengan pasti. Akan dia perhatikan setiap gerak kedua orang ini dengan cermat.

Dan saat itulah Kawabata melakukan serangan yang amat cepat. Serangannya tertuju pada dua arah dengan dua kali hayunan cepat.

Yang pertama menghantam kaki yang tegak sejajar itu. Ada dua kemungkinan. Kalau anak muda itu cepat, maka dia akan melompat tinggi. Dan saat itulah Kawabata akan menyerang bahagian kepalanya. Yaitu di saat dia melompat tersebut. Ini adalah tipuan yang berbahaya. Dan Kawabata tersohor dengan serangan tipuannya ini diantara para samurai.

Namun anak muda itu tak menggerakkan kakinya sedikitpun untuk melompat. Tahu-tahu samurai Kawabata membentur samurai Si Bungsu di bawah. Bunga api memercik!

Kawabata melanjutkan serangannya yang kedua, membabat kepala. Serangannya bukan main cepat.

Namun Si Bungsu adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi seorang samurai yang mahir karena nasib.

Begitu tangan Kawabata membabat ke atas, kaki kanannya melangkah ke depan. Tubuhnya merendah dengan cepat dan samurainya memintas di bawah rusuk Kawabata.

Cresss!

Kawabata tersurut. Kejadian itu amat cepat. Tak seorangpun yang melihat bagaimana anak muda itu menyerang. Mereka hanya melihat anak muda itu menjatuhkan dirinya di atas lutut kiri. Hanya itu!

Dan tiba-tiba mereka berseru kaget, karena mereka melihat darah menetes ke lantai dari rusuk kanan Kawabata! Kawabata sendiri bukan main kagetnya. Dia menatap anak muda itu. Dan anak muda itu sudah tegak lagi seperti tadi dan samurainya entah sejak kapan sudah tersarung lagi dalam sarangnya.

Dia tegak dengan tangan kiri memegang samurai dan tangan kanan kosong melompong. Mereka semua seperti berhenti bernafas takkala Kawabata maju lagi.

Darah terus mengalir dari lukanya yang cukup lebar. Tiba-tiba Kawabata memekik dan menyerang bertubi-tubi ke arah anak muda itu.

Anak muda itu tiba-tiba berputar dan ketika berbalik, samurainya bekerja.

Tiga babatan di bahagian atas. Kawabata berusaha menangkis. Tiga babatan di atas, di tengah dan di bawah! Kawabata berusaha menangkis dan mengelak.

Benar-benar luar biasa. Kawabata yang tadi menyerang kini dipaksa untuk bertahan dan bergerak mundur. Sebuah sabetan cepat ke tengah. Kawabata melompat dua tindak ke belakang! Nafasnya terengah!

Dan di ujung sana, Si Bungsu tegak seperti posisinya tadi. Persisi! Tak berobah sedikitpun. Tegak dengan kaki terpentang, tangan kiri memegang samurai yang tersarung dalam sarungnya, dan tangan kanan kosong serta merta menatap lurus ke depan!

Peluh tidak hanya membasahi punggung Kawabata. Tapi juga membasahi tubuh ke 19 anggota Jakuza yang lain. Mereka belum pernah melihat pertarungan samurai sehebat dan seaneh ini.

Orang asing ini jelas bergerak tanpa mepergunakan kuda-kuda samurai. Tapi gerakannya hanya malaikat saja yang tahu betapa cepatnya.

Dan diantara semua orang itu, hanya ada tiga orang yang tahu dengan persis, bahwa sebenarnya Kawabata sudah sejak tadi harus mati. Tapi dia sengaja dipermainkan. Ketiga orang yang tahu dengan pasti itu adalah Si Bungsu yang sengaja mempermainkan Kawabata. Kemudian Tokugawa dan Kawabata sendiri. Si Bungsu sudah dapat menaksir sampai dimana kecepatan orang ini. Karena itu dia ingin menghajarnya atas perbuatan yang dia lakukan atas diri Hannako.

Sebenarnya dalam gebrakan pertama tadi, dia sudah bisa membunuh Kawabata.

Tiba-tiba Kawabata menggeram dan maju lagi. Dan kali ini, Si Bungsu bergerak cepat.

Ketika Kawabata maju, dia bergulungan di lantai. Lompat tupai. Kawabata menghindar kekiri sambil membacok rendah. Namun anak muda itu melenting tegak tiba-tiba. Dan sret!!!

Kimono Kwabata di bahagian punggung belah dua! Punggungnya tersingkap dan belah mengalirkan darah! Terdengar seruan tertahan dari para anggota pimpinan Jakuza itu.

Tokugawa memandang tak berkedip. Bagaimana bisa seorang yang memegang samurai amat panjang bergulingan di lantai, kemudian menyerang? Bergulingan dengan memegang samurai itu saja sudah suatu pekerjaan yang amat berbahaya.

Salah-salah mata samurai itu bisa melukai muka atau perut ketika bergulingan. Gerak atau jurus seperti itu tak pernah dikenal oleh para samurai Jepang bahkan nenek moyang Tokugawa sendiripun!

Kawabata menyerang lagi. Tapi tiga buah sabetan cepat menantinya. Pahanya terbusai. Tangannya yang memegang samurai putus hingga siku. Dan perutnya robek!

Kawabata jatuh berlutut. Si Bungsu tegak didepannya dengan samurai telah masuk ke sarungnya! Suasana benar-benar sepi. Di luar salju turun seperti kapas. Di dalam darah mengalir seperti kran yang terbuka sumbatnya.

Ke 19 anggota Jakuza Tokyo yang ada dalam ruangan itu jadi pucat melihat kejadian tersebut. Andainya Tokugawa tak berjanji untuk melindungi Hannako, maka mereka sendiripun kini takkan mau ambil resiko mengganggu gadis itu.

Dengan anak muda yang kecepatan samurainya seperti iblis ini yang melindungi Hannako, siapa yang bakal berani mengganggu? Bah, lebih baik cari kerjaan lain daripada mendekati orang begini, pikir mereka kecut.

“Bunuhlah saya…” Kawabata berkata perlahan dengan suara yang melemah. “Saya bukan pembunuh…” Si Bungsu menjawab.

“Tetapi…engkau telah membunuh lima orang anak buah saya…” Kawabata menyanggah.

“Kematian terlalu enak buatmu Kawabata….” Si Bungsu berkata lagi. Tapi tiba-tiba ucapannya terhenti.

Ada angin bersuit ke arahnya.

Anak muda ini seorang yang memiliki indera yang sangat terlatih. Samurainya bekerja lagi dan membabat ke samping.

Mata samurai itu beradu dengan sebuah benda tipis yang melayang amat cepat. Benda itu terpukul dan mental lalu menancap di loteng! Sebilah samurai pendek! Semua orang menoleh pada lelaki yang melemparkan samurai gelap itu.

Dan dia adalah Tokugawa!

Si Bungsu juga menghadap padanya. Tokugawa tersenyum.

“Sempurna! Seorang samurai yang sempurna. Memiliki kecepatan dan ketajaman penglihatan. Memiliki ketajaman firasat. Engkau adalah seorang samurai yang sempurna yang pernah ditemui Tokugawa, anak muda. Kecuali gerak kakimu yang tak bisa kami mengerti, maka engkau memang seorang hebat…” Tokugawa berkata dengan nada jujur.

Dan sementara itu, Kawabata terjatuh di lantai. Dia mengerang. Mengelupur. Orang jadi ngeri melihat lelaki itu mengakhiri nyawanya. Sangat sakit dan menggenaskan.

Tangan Tokugawa bergerak lagi. Kali ini sebilah samurai kecil, tak lebih dari sejengkal, melayang dari tangannya. Samurai itu menancap persis di jantung Kawabata. Kawabata mati saat itu. Berakhirlah penderitaannya.

Gedung tua itu sepi. Tak ada yang bergerak. Si Bungsu yang tegak dengan kaki terpentang dekat mayat Kawabata juga tegak diam.

Ketika dia merasa sudah cukup, maka dia menarik nafas panjang. Dan bernafas biasa kembali.

“Sudah saatnya saya pergi. Terimakasih saya yang tak tehingga pada Tokugawa….” Berkata begini dia membungkuk memberi hormat pada lelaki tua gagah itu.

Lelaki itu membalas penghomatannya. Kemudian Si Bungsu melangkah keluar. Di luar, angin dingin dan salju yang turun seperti kapas, menyambutnya.

Dia melangkah melintasi taman Shinjuku yang seperti lapangan kapas itu. Di rumah besar itu, Tokugawa dan 19 anggota pimpinan Jakuza lainnya menatap kepergiannya dengan diam. Dia sampai ke depan rumah ketika hari telah sore. Hannako berlari ke depan begitu dia muncul. “Bungsu-san, kami khawatir engkau tak kembali…”

“Saya sudah kembali bukan? Nah, bagaimana Kenji-san?’

“Dia sudah agak baik. Kini tengah melatih diri. Jakuza suatu saat, cepat atau lambat pasti datang lagi kemari. Dan Kenji-san tak mau engkau sendiri yang menghadapinya…”

Si Bungsu masuk. Dia melihat Kenji tengah melatih tangan kananya yang luka. Kenji terus melakukan gerakkan-gerakan Karate. Begitu dia melihat Bungsu masuk, dia menghentikan latihannya.

“Kami khawatir engkau pergi terlalu lama Bungsu-san. Negeri ini sangat buas terhadap orang-orang asing” Bungsu tersenyum. Dia mengeluarkan bungkusan kain putih itu.

Memberikannya pada Kenji yang menatapnya dengan heran. “Apa ini Bungsu-san…?

“Bukalah. Hadiah untuk engkau dan Hannako..”

Kenji membuka kain itu. Dan tiba-tiba matanya terbelalak melihat kelingking yang putus itu. Hannako menjerit kecil.

“Sumpah samurai…” Kenji yang mengetahui sumpah pemotongan kelingking itu bicara perlahan. “Ya. Sumpah seorang samurai…”

“Kelingking siapa ini…?” tanya Kenji. “Kelingking Tokugawa..”

“Tokugawa?”

“Ya. Tokugawa keturunan pahlawan samurai itu. Dia salah seorang diantara mereka menjadi pimpinan Jakuza wilayah Tokyo. Kelingkingnya lah itu…”

Kenji dan Hannako tak mengerti. Lalu Si Bungsu menceritakan tentang perjanjian itu. Menceritakan sedikit tentang perkelahiannya dengan Kawabata. Menceritakan bahwa Kawabata telah mati. Dan menceritakan tentang janji Tokugawa.

Hannako tak dapat menahan rasa harunya. Dia memeluk dan mencium Si Bungsu. Akan halnya Kenji beberapa kali berlutut memberi hormat dan mengucapkan terimakasih pada Si Bungsu.

---000---

Namun persoalan tidak selesai sampai disitu. Diantara anak buah Tokugawa, yaitu salah seorang pimpinan cabangnya, ternyata mata-mata tentara pendudukan Amerika.

Dia hadir ketika pertarungan antara Kawabata dengan Si Bungsu.

Ketika mendengar pengakuan anak muda itu, bahwa dialah yang membunuh kelima anggota Jakuza itu, dan melihat bagaimana mahirnya dia mempergunakan samurai, maka dia teringat pada pembunuhan dua orang tentara Amerika di penginapan Asakusa.

Dia tahu sampai saat ini pembunuhan kedua tentara Amerika itu belum terungkap. Tentara Amerika berkeyakinan bahwa yang membunuh anggota mereka itu adalah orang Jepang.

Tapi penyelidikan menemui jalan buntu. Dan pimpinan cabang Jakuza itu kini melihat suatu kemungkinan. Apakah tak mungkin bahwa yang membunuh tentara Amerika itu adalah orang asing ini?

Dia tahu, Tokugawa sduah menjamin dengan sumpah seorang samurai bahwa Jakuza takkan mengganggu Hannako dan saudara-saudaranya.

Tapi kalau yang diganggu itu adalah orang asing ini, bukankah tak ada soal? Yang dijamin dibawah perlindungan Tokugawa adalah Hannako dan saudaranya. Tidak Si Bungsu anak Indonesia itu!

Pimpinan cabang wilayah pelabuhan Tokyo itu tersenyum. Betapapun juga dia merasa benci pada anak Indonesia itu. Bukankah Indonesia adalah negeri di lautan Hindia yang direbut Jepang dari Belanda kemudian menyatakan diri merdeka setelah Bom Atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki?

Anaknya seorang tentara Jepang, mati di Indonesia. Karenanya dia merasa benci pada orang Indonesia itu. Untuk menghadapi sendiri atau menyuruh anak buahnya anggota Jakuza menyikat anak muda itu, terang dia tak berani. Usahkan anak buahnya, sedang Kawabata saja, seorang jagoan samurai diantara mereka, dibuat tak berkutik sedikitpun.

Lagipula, bukankah Tokugawa sendiri telah memuji anak muda itu sesaat setelah selesai pertarungan dengan ucapan : Samurai yang sempurna!

Kalau Tokugawa saja, tokoh samurai diantara mereka sampai memuji demikian, bukankah itu sudah merupakan suatu bahaya yang luar biasa kalau dihadapi sendiri? Pimpinan cabang pelabuhan Tokyo itu, seorang Jepang dari keluarga Kawasaki. Dia mempergunakan otaknya yang licik. Untuk menghadapi orang Indonesia itu, dia mempergunakan tangan Polisi Militer Amerika. Seminggu setelah peristiwa perkelahian Kawabata dengan Si Bungsu, dihadapan rumah Kenji di jalan

Uchibori berhenti sebuah Jeep putih Polisi Militer. Dibelakangnya berhenti sebuah truk penuh tentara.

Mereka berlompatan dan segera mengepung rumah itu.

Musim dingin sudah hampir berakhir. Salju tak turun lagi. Yang berada di bumi atau di pohon sudah mulai mencair.

Saat itu sudah di akhir bulan Nigatsu. Dimana salju berhenti turun. Tak lama lagi, musim bunga akan segera menyusul. Tapi perpindahan musim yang indah itu justru perpindahan nasib yang malang bagi Si Bungsu.

Dia tengah sholat lohor ketika pintu diketuk dari luar. Hannako membuka pintu dan merasa heran bercampur kaget dengan kemunculan tentara Amerika dirumah mereka.

Merasa bahwa tentara Amerika itu salah alamat, dia membuka pintu lebar-lebar. “Selamat siang” sapa Polisi Militer itu dengan sikap tertib.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Hanako.

Sementara itu Kenji juga keluar. Dia juga ikut merasa heran atas kunjungan tentara Amerika itu. Mereka merasa heran sebab selama ini Si Bungsu tak pernah menceritakan peristiwa di penginapan

Asakusa itu. Peristiwa itu tetap disembunyikan Si Bungsu agar mereka tak ikut panik memikirkannya.

Sikap waspada tentara Amerika itu mengundang perasaan tak sedap pada hati Kenji. Dan ketika dia menoleh ke belakang, dengan terkejut dia mendapati bahwa rumah mereka telah dikepung oleh seregu tentara Amerika bersenjata lengkap.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Kenji.

Sementara itu Si Bungsu sudah mengucap salam akhir dari sholatnya di kamar. Telinganya amat tajam menangkap desah sepatu menginjak salju. Dan telinganya juga menangkap percakapan Kenji dan Hannako di luar.

Dia segera tahu, tentara Amerika telah mencium jejaknya. Perlahan dia menyelesaikan membaca doa. “Apakah disini tinggal seorang Indonesia?” Kapten yang memimpin penangkapan itu bertanya dengan

sikap hormat.

Hannako bertukar pandangan dengan Kenji.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Hanako. Dan hal itu sudah cukup bagi Kapten itu untuk mengetahui bahwa mereka memang tak salah alamat.

Dia mengeluarkan sepucuk surat.

“Markas besar memerintahkan kami menangkap orang Indonesia bernama..” dia melihat surat perintah penangkapan itu, “ bernama Bungsu. Dia dituduh telah membunuh dua tentara Amerika di penginapan Asakusa beberapa bulan yang lalu…” Kapten itu berkata dengan sikap hormat sambil memberikan surat itu pada Kenji.

Kenji tak menerimanya. Mereka bertatapan. Tapi saat itulah Si Bungsu muncul. Dia merasa kalaupun dia berniat melarikan diri, usahanya itu akan sia-sia. Sebab lebih dari selusin tentara mengepung rumah itu.

“Sayalah yang tuan cari….” Katanya perlahan. Kapten itu memandang keluar. “Andakah yang bernama Bungsu?”

“Ya, sayalah orangnya…”

“Maafkan kami. Kami diperintahkan untuk menangkap anda dengan tuduhan membunuh dua orang serdadu kami di penginapan Asakusa beberapa bulan yang lalu. Kami harap saudara bisa mengikuti kami…”

Kapten itu memberi hormat sambil memperlihatkan surat perintah penangkapan. “Ya, saya ikut…”

“Bungsu-san…” Hanako berteriak. Tangisnya segera pecah. Dan dia berlari sambil memeluk Si Bungsu.

Kenji tertegak diam.

“Tenanglah Hanako-san. Saya harus pergi”

“Tidak…tidak, oh jangan tinggalkan kami Bungsu-san….jangan tinggalkan kami…” tangis gadis itu tak terbendung lagi. Kapten Amerika itu tetap tegak di luar dengan sikap hormat.

Si Bungsu menatap pada Kenji. Air mata Kenji berlinang. Tuduhan membunuh pendudukan adalah tuduhan yang tak ada ampunannya. Bila terbukti, maka satu-satunya hukuman adalah hukuman mati.

“Apakah engkau memang melakukannya Bungsu-san?” Kenji bertanya dengan suara gugup. Si Bungsu tak segera menjawabnya. Ada beberapa saat dia terdiam. Matanya menatap pada Kenji. Kemudian menatap pada Hanako pada Kenji. Kemudian menatap pada Hanako. Mereka semua pada terdiam. Kemudian terdengar suara Si Bungsu perlahan, tapi pasti.

“Benar Kenji-san. Malam itu seorang letnan Amerika memakai kamar saya. Dia membawa seorang gadis Jepang yang tak pernah saya kenal. Saya dengar gadis itu menangis dan menolak untuk dinodai si Letnan

Saya tak bisa melihat orang lain dianiaya. Saya minta letnan itu secara baik-baik untuk membebaskan gadis itu. Tapi dia justru menghantam dan berniat membunuh saya. Maka tak ada jalan lain bagi saya, saya harus membela diri bukan?

Begitu dia terbunuh temannya dari kamar sebelah datang dengan bedil di tangan. Dan saya kembali harus mempertahankan nyawa saya. Keduanya mati karen samurai saya.

Malam itu saya melarikan diri dari penginapan Asakusa. Berlindung dari udara dingin di terowongan bawah tanah di Yotsui. Tak lama setelah saya berbaring, seseorang datang dan tidur pula disisi saya. Dan paginya saya ketahui, teman baru itu adalah Hanako-san”

Hanako merasa dirinya runtuh.

“Kalau tak ada lagi yang akan dibicarakan, kami ingin tuan mengikuti kami…” Kapten dari Polisi Militer tentara Amerika itu bicara dengan tetap dalam nada yang sopan dan sikap hormat.

“Ya, saya sudah siap…nah, Kenji-san saya banyak belajar tentang hidup di Jepang darimu. Terimakasih untuk segalanya, sahabat. Saya takkan melupakanmu. Saya takkan melupakan kalian. Jaga adik-adikmu baik- baik. Barangkali kita takkan bertemu lagi, selamat tinggal…”

Kenji tak dapat menahan airmatanya yang runtuh. Si Bungsu baginya tidak hanya seorang sahabat, tapi juga seorang saudara yang telah melindungi mereka. Dan dia tahu, Hanako adiknya mencintai pemuda itu. Dia suka kalau mereka menikah. Tapi dia tak pernah mau memulai pembicaraan ke arah itu.

Dia tahu, Si Bungsu mempunyai tugas yang amat besar datang kemari. Dia tak punya waktu memikirkan

jodoh.

Kini ketika anak muda itu pergi, dia merasa suatu kehilangan yang alangkah pedihnya. Si Bungsu

menyalaminya. Kemudian memegang bahu Hanako. Gadis itu tak berani menatap mukanya. “Baik-baik di rumah Hannako-san. Saya akan selalu mengingat budi baikmu….”

Dan dia berbalik. Kapten Polisi Militer itu melekatkan belenggu ke tangannya. Kemudian semua barang- barangnya diambil. Samurai, bungkusan dan pakaiannya dimasukkan ke dalam sebuah kantong sebagai barang bukti.

Hanako terduduk di depan pintu begitu Jeep Polisi Militer meninggalkan jalan Uchibori di depan rumah mereka.

“Kenji-san…dia telah pergi meninggalkan kita…” katanya lirih. Kenji tiba-tiba teringat pada sesuatu.

“Tenanglah Hanako. Kita akan berusaha membebaskannya. Dia telah menolong kita banyak sekali. Kita harus menolongnya. Tak ada orang lain yang akan menolongnya kalau tidak kita. Dia tak punya siapa-siapa di negeri ini….”

“Tapi bagaimana kita akan menolongnya…?”

“Tenanglah Hanako. Kita akan mengusahakannya…” namun bagaimana Hanako akan bisa tenang? Pemuda Indonesia itu telah mencuri separuh hatinya. Kini pemuda itu pergi, dirinya tiba-tiba terasa amat sepi.

---000---

Tokugawa sedang menerima laporan dari berbagai cabang Jakuza. Dia berkantor di Nikko Hotel di jalan Ginza di bilangan pusat kota Tokyo. Dia mencarter lima buah ruangan utama di tingkat paling atas dari hotel tersebut.

Tak seorangpun yang akan menyangka bahwa lantai teratas dari Nikko Hotel itu adalah pusat dari suatu organisasi yang selalu mengacau di kota Tokyo.

Teror terhadap individu atau orang ramai yang dibuat oleh Jakuza, diatur dari hotel ini. Orang takkan pernah menyangka, karena tak ada lift ke tingkat itu.

Ada sebuah lift yang sampai ke tingkat atas. Tapi lift itu tak boleh digunakan oleh umum. Di pintu lift tertulis kalimat : Khusus Untuk Staff

Tak dijelaskan Staff apa yang boleh naik itu. Hanya di pintu lift yang satu itu, selalu ada penjaga dengan pakaian sopan dan sikap ramah menolak dan menyilahkan orang naik ke lift lain yang sama kunonya dengan lift yang satu itu. Orang-orang di hotel itu tak pernah memperdulikan akan orang yang turun naik ke tingkat atas. Sebab di tingkat lain, ada juga beberapa ruangan yang dipakai untuk kantor.

Di hotel itu ada kantor Perusahaan Honda. Kantor perusahaan pembangunan dan kantor perusahaan penerbangan. Dan tak seorangpun yang pernah menduga bahwa pelayan lift yang sopan dan ramah itu, sewaktu-waktu bisa berobah menjadi pembunuh yang berdarah dingin.

Tak ada yang tahu bahwa pelayan itu sebenarnya seorang ahli karate, judo dan samurai.

Ketika Tokugawa sedang memberi beberapa instruksi seseorang masuk. Membungkuk memberi hormat. Kemudian berbisik dan menyerahkan sesuatu.

Tokugawa menerima pemberian itu. Membuka bungkusnya. Dan segera dia mengenal bahwa yang dikirim padanya itu adalah kain putih bekas pembungkus potongan kelingkingnya dahulu.

“Dimana dia?” “Di bawah”

“Antarkan dia kemari” “Hai…”

“Rapat ini saya skor sementara. Saya menerima tamu. Seorang anak lindungan”

Tak lama mereka menanti, Kenji yang membawa bungkusan kain putih berdarah bekas potongan kelingking Tokugawa itu masuk diantarkan penjaga tadi.

Tokugawa bangkit dari duduknya. Demikian pula tiga orang “staf” Jakuza lainnya yang hadir disana. “Anda pastilah Kenji-san. Kakak Hannako dan sahabat Bungsu-san orang Indonesia itu…” katanya ramah

menyambut Kenji.

“Selamat siang tuan Tokugawa….saya…”

“Saya senang dapat membantu anda dan adik-adik anda. Maafkan atas kejadian yang lalu. Kawabata telah mendapat balasan yang setimpal atas dosanya. Bungsu-san benar-benar seorang yang mahir mempergunakan samurai. Nah, apa yang bisa saya bantu…?”

“Saya…saya…”

“Jangan gugup. Mari, silakan duduk. Kita sahabat bukan? Nah, ceritakan apa yang terjadi. Ada yang mengganggu Hannako?”

“Tidak. Terimakasih, Tokugawa telah melindungi kami. Tapi… ini mengenai Bungsu-san…” “Ya, bagaimana dengan dia?”

Kenji terdiam. Dia tak tahu dari mana harus mulai. Tokugawa memberinya minum sake. Begitu pula teman-temannya yang ada di kantor itu. Mereka minum bersama.

Setelah agak tenang. Kenji bercerita tentang nasib yang menimpa Bungsu-san. Tokugawa terdiam. “Itulah yang terjadi tuan Tokugawa. Saya mohon tuan bisa membantunya keluar dari tahanan. Kalau

tidak, hukuman mati menantinya di sana…”

“Maafkan saya Kenji-san. Kalau yang menangkap Bungsu-san adalah Polisi Jepang, maka saya bisa menjamin untuk mengeluarkannya. Tapi yang menahannya adalah tentara Amerika. Kami tak bisa berbuat apa- apa. Maafkan kami….”

Kenji berlutut lantai. Membungkuk memberi hormat.

“Tolonglah dia tuan. Dia membunuh tentara Amerika itu karena ingin menolong seorang gadis Jepang yang tak dia ketahui siapa orangnya. Tentara itu akan menodai gadis itu. Pemilik penginapan Asakusa itu sendiri orang Jepang, tapi dia tak berniat menolong gadis Jepang malang itu. Malah dialah yang memberi tempat untuk menodai gadis itu. Bungsu-san lah justru yang turun tangan menolongnya.

Orang asing yang tak punya kepentingan apa-apa dengan negeri kita, bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk membela seorang gadis yang tak dia kenal. Apakah kita tak patut membantu orang yang begini?”

“Engkau benar Kenji-san. Tapi percayalah, melawan tentara Amerika berarti punahnya organisasi kami.

Kami tak bisa berbuat apa-apa…”

Sekali lagi Kenji bersujud dilantai dan memohon :

“Maafkan saya kalau terlalu menyusahkan Tokugawa. Tapi, kami ikhlas Tokugawa mencabut perlindungannya pada kami adik beradik asalkan Tokugawa mau membebaskan Bungsu-san. Tolonglah dia….” Tokugawa dan ketiga pimpinan Jakuza yang ada disana jadi tertegun mendengar permohonan ini.

Tokugawa tak hanya tertegun. Tapi hatinya jadi sangat terharu melihat kesetia-kawanan Kenji adik beradik dengan orang Indonesia ini.

Mereka bersedia tidak dilindungi. Artinya bersedia diganggu dan dianiaya oleh Jakuza atau kelompok lain asal dapat membantu sahabatnya. Kepala penjahat ini benar-benar diberi pelajaran tentang setia-kawan dan rasa saling menyayang sesama makhluk.

“Bangkitlah anak muda. Rupanya dunia semakin tua. Kesetiaan kalian bersahabat sangat mengharukan hati saya. Pertama saya mendapatkan betapa Bungsu-san, seorang asing mau mengorbankan dirinya bertarung dengan orang-orang Jakuza untuk menyelamatkan kalian. Kini engkau datang, rela untuk tak dilindungi asal sahabatmu itu dibebaskan. Ah, kami selama ini tak pernah berpikir tentang adanya persahabatan yang demikian mulia. Yang tak memandang suku dan bangsa. Yang rela mengorbankan nyawa demi membela sahabat…. Kami selama ini hanya berfikir, bahwa persahabatan hanya diikat atas dasar laba rugi.

Baiklah, saya mendapat suatu pelajaran yang sangat berharga. Pulanglah, sampaikan pada adik-adikmu, bahwa Tokugawa bersumpah akan membebaskan Bungsu-san…”

Kenji bersujud di lantai. Lama sekali. Tubuhnya terguncang menahan tangis.

“Domo arigato gozaimasu. Domo arigato…. Terimakasih banyak tuan Tokugawa….terimakasih banyak…” suaranya tersendat dalam sujud itu.

Tokugawa memegang bahunya. Membawanya bangkit.

“Tenanglah, tak ada yang tak bisa kita atur. Kenapa kita harus takut pada Amerika di negeri kita ini? Ini negeri kita bukan? Tenanglah nak…”

Kenji diantar pulang dengan sedan milik Tokugawa. Dia menceritakan janji Tokugawa pada Hannako. Siang itu juga mereka lalu pergi ke candi Gokokuji. Sebuah candi jauh dipinggir kota. Mereka sembahyang bersyukur dan memohonkan keselamatan Si Bungsu.

--000--

Tokugawa memang seorang lelaki turunan Samurai yang memegang teguh janjinya. Begitu Kenji meninggalkan kantornya, dia mengangkat telepon di mejanya.

“Coba selidiki sebab musabab seorang lelaki Indonesia bernama Bungsu yang ditangkap Polisi Militer Amerika dua hari yang lalu…”

Dia bicara di telepon itu. Tak diketahui pada siapa dan kemana dia bicara. Tapi Jakuza mempunyai jaringan hampir di seluruh kantor di Tokyo.

Dua hari kemudian, laporan itu masuk. Tokugawa membacanya. Mengerutkan kening. Dari kantornya yang tinggi itu dia menatap keluar melewati jendela kaca. Memandang kesibukan kota yang bergerak di bawah sana.

Lama dia memandang keluar. Nampak bahwa dalam pikirannya bergulat pertarungan yang luar biasa.

Meski wajahnya tetap kelihatan tenang, namun matanya tak demikian.

Akhirnya dia berjalan kembali ke meja besarnya di sudut ruangan. Menekan sebuah tombol. Tak selang berapa detik., dinding di sebelah kanannya terbuka. Nampaknya dinding itu semacam pintu rahasia.

Seorang lelaki bertubuh sedang berwajah tampan muncul dan membungkuk memberi hormat. “Kawasaki…” katanya perlahan.

“Hai….” Jawab lelaki itu.

Tokugawa menarik laci mejanya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil sepanjang dua jengkal berwarna merah.

Menyerahkan pada lelaki tampan itu.

Lelaki itu membungkuk lagi memberi hormat. Kemudian menghilang ke balik dinding rahasia tadi. Dinding itu menutup kembali. Persis seperti tadi. Disana tergantung sebuah lukisan candi besar. Tak ada tanda- tanda bahwa sebenarnya ruang Tokugawa itu dihubungkan oleh pintu rahasia ke empat jurusan.

Kawasaki, pimpinan Jakuza cabang pelabuhan itu tinggal di seberang taman Hamarikyu di tepai sungai Sumida yang besar di pinggir kota Tokyo.

Rumahnya indah dengan pekarangan luas. Dia tinggal dirumah itu bersama isteri mudanya. Seorang gadis Jepang bekas Sri Panggung di Kabukiza Theater.

Gadis itu cantik. Bertubuh padat. Isteri pertamanya sudah terlalu gembrot. Meski belum begitu tua, tapi Kawasaki sudah menceraikannya.

Saat itu dia tengah istirahat di ruangan tengah ketika sebuah kendaraan berhenti jauh di jalan di depan rumahnya.

Dari pintu yang terbuka lebar, dia segera mengenal bahwa mobil yang berhenti itu adalah mobil dari “markas besar” Jakuza.

“Ada pesan penting nampaknya,….” Katanya sambil berdiri. “Masuklah ke dalam. Ada tamu penting….” Katanya pada isterinya yang sedang membaca koran pagi.

Perempuan cantik itu tegak. Berjalan ke kamar dengan lenggang pingulnya yang meransang.

Dua orang lelaki kelihatan memasuki pintu pekarangannya. Kemudian melangkah di taman. Semacam perasaan tak sedap menyelinap di hati Kawasaki. Kedua lelaki ini dia ketahui sebagai pembawa pesan “amat khusus”. Dan keduanya adalah pembunuh-pembunuh berdarah dingin. Dua orang spesialis yang langsung berada di bawah perintah Pimpinan Wilayah, Tokugawa.

“Gomenkudasai…” salah seorang diantaranya bicara sopan di luar pintu.

“Hai, dozo ohairi kudasai…” jawabnya menyilahkan kedua tamu khusus itu masuk

Kedua tamu itu membuka sepatu. Kemudian mereka masuk ke ruang tengah itu. Duduk membelakangi pintu di lantai.

“Ogenki desu ka..” (apa kabar apa?) tanya Kawasaki sopan, setelah ikut duduk berlutut dua depa di hadapan kedua tamunya ini.

“Kami disuruh menyampaikan pesan ini….” Jawab yang bertubuh kurus berwajah dingin seperti burung

gagak.

Dia mengangsurkan sebuah surat beramplop panjang ke hadapan Kawasaki. Dengan perasaan tak sedap,

Kawasaki mengambil surat itu. Dan darahnya serasa seperti berhenti mengalir takkala melihat surat dalam amplop itu tertulis di kertas merah.

Itu berarti perintah bunuh diri!

Dia berusaha menguatkan hatinya. Kemudian membaca surat merah itu.

“Tuan hadir dalam rapat di Shinjuku di rumah Kawabata. Saya telah menjamin dengan sumpah putus jari dihadapan seorang Indonesia untuk keselamatan Hannako bersaudara. Saya telah membiarkan Indonesia-jin itu pergi. Suatu pertanda bahwa saya juga menjamin keselamatannya. Seorang Tokugawa tak mau melanggar sumpah. Dan lebih tak mau lagi kalau ada orang yang menodai sumpah itu. Indonesia-jin (orang Indonesia) itu kini ditangkap tentara Amerika atas penghianatan tuan.

Bersama ini saya kirimkan untuk tuan sebuah peti merah. “Tokugawa”

Begitu selesai membaca, lelaki yang tadi masuk ke kamar Tokugawa, segera mengeluarkan kotak kecil berwarna merah yang diberikan Tokugawa. Kotak kecil yang dia ambil dari dalam laci mejanya.

Dengan sikap sangat hormat, lelaki tampan ini meletakkan kotak ramping itu di lantai. Kemudian dengan kedua tangannya dia menyorongkan kotak itu ke depan Kawasaki.

Kawasaki jadi pucat.

“Ini tidak betul. Saya menghadap sendiri ke Pimpinan….” Katanya gugup. Namun kedua lelaki itu menatap padanya dengan pandangan dingin.

“Saya bisa membebaskan Indonesia-jin itu…” dan ucapannya terhenti. Dengan berkata begitu jadi jelas bahwa memang dia yang “mengatur” agar Si Bungsu tertangkap.

“Saya akan menelpon….” Suaranya terhenti. Kedua lelaki itu menggeleng perlahan. Dengan isyarat halus, keduanya menunjuk pada kotak merah kecil itu.

Namun Kawasaki tegak.

“Saya akan menemui pimpinan….” Suaranya lebih mirip orang takut dan putus asa. Dia bergegas memutari kedua lelaki itu dalam jarak yang jauh menuju pintu.

Kedua lelaki itu tetap duduk tak memutar sedikitpun. Kawasaki sudah sampai di pintu. Tiba-tiba kedua lelaki itu bergerak sangat cepat. Mereka berbalik serentak setelah mengambil sesuatu dari balik jas mereka.

Demikian cepat gerakan kedua orang itu, sehingga tak diketahui siapa yang lebih dahulu bergerak. Yang jelas, begitu mereka berbalik. Kawasaki merasa dada dan rusuknya perih dan linu sekali.

Dia berpaling, tapi tubuhnya tak kuat tegak. Dia rubuh di atas kedua lututnya. Tangannya jadi lumpuh. Pada dada dan rusuknya yang terasa linu dan menyebabkan kelumpuhan itu, tertancap dua bilah samurai pendek. Tak lebih dari sejengkal.

“Pimpinan menghendaki tuan harakiri. Mati sebagai Jakuza yang terhormat. Tapi tuan lebih menginginkan mati secara begini. Maafkan kami….”

Kedua lelaki itu, yang kini duduk berlutut di depan Kawasaki yang terhenyak tak bisa bergerak, berkata perlahan. Aneh, tak sedikitpun wajah mereka menunjukkan emosi. Tak terlihat mereka marah atau menyesal, apalagi takut. Mereka bicara seperti sedang bicara dengan orang biasa saja. Padahal Kawasaki sedang berjuang dengan sakratul maut. Mulut Kawasaki bergerak. Namun tak ada suara yang keluar.

“Maafkan, kami mohon diri….” Kata yang berwajah tampan. Kedua mereka segera membungkuk dalam- dalam ke lantai. Kemudian tegak. Yang satu berjalan ke tengah ruangan. Mengambil surat yang tadi dibaca Kawasaki. Kemudian mereka melangkah pergi. Melangkahi tubuh Kawasaki yang terbelintang di tengah pintu.

Kawasaki hanya bisa menatap kepergian orang itu dengan gerak matanya yang makin melayu. Kedua orang itu berjalan di batu di tamannya. Suara sepatu mereka berdetak satu-satu. Jantung Kawasaki juga berdetak satu-satu.

Kedua orang itu membuka pintu mobil, lalu masuk. Menghidupkan mesin. Lalu pergi. Suara mesin mobilnya makin jauh makin lenyap. Dan ketika suara deru mobil itu lenyap sama sekali, nyawa Kawasaki juga lenyap.

Aneh terdengar. Seorang Tokugawa membunuh tokoh Jakuza bawahannya. Dia bunuh hanya karena Kawasaki membocorkan rahasia pada Amerika bahwa yang membunuh tentara Amerika di Asakusa adalah Si Bungsu. Karenanya anak muda itu tertangkap.

Namun seperti bunyi suratnya pada Kawasaki, dia membiarkan anak muda itu bebas keluar dari rumah Kawabata setelah memenangkan perkelahian hari itu, adalah sebagai tanda, bahwa dia juga menjamin keselamatan anak muda itu.

Dan keanehan-keanehan memang banyak terjadi di dunia para penjahat ini. Meski mereka kumpulan pembunuh, pemeras, penodong, penjambret, namun mereka mengenal kesetiaan, keperwiraan, kejujuran dan kasih sayang.

--000--

Si Bungsu mengakui seluruh tuduhan yang diajukan padanya. Memang dia yang membunuh seorang letnan dan seorang Sersan di penginapan Asakusa.

Meskipun dia membela orang lain, namun tentara pendudukan selalu berkuasa. Tentara yang dalam perang selalu mendahulukan kepentingan para prajuritnya ketimbang ketentuan hukum.

Lagipula, terhadap kasus Si Bungsu, tak ada ketentuan hukum yang harus dipertimbangkan. Di Jepang tak ada konsulat Indonesia saat itu. Karenanya, tak ada perlindungan diplomatik.

Amerika tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia sepanjang menyangkut hak-hak kewargaannya di negeri Jepang. Maka sesuai undang-undang yang berlaku, Si Bungsu diperlakukan dengan hukum perang.

Meskipun belum disidangkan oleh Mahkamah Militer, namun kepadanya telah disampaikan kira-kira hukuman apa yang bakal dia dapatkan.

Hukuman tembak mati!

Si Bungsu tak menyesal. Dia malah berharap agar gadis yang dia tolong itu selamat.

Sebulan dia dalam tahanan, persidangannya segera dibuka. Agak aneh juga, ternyata pengadilan terhadap dirinya dipercepat.

Di gedung pengadilan, tiba-tiba dia bertemu dengan Kenji dan Hannako serta adiknya.

“Bungsu-san….” Terdengar suar halus ketika dia turun dari mobil tahanan. Dia menoleh, dan melihat Hannako bersama Kenji.

Hannako memeluknya. “Bungsu-san…” katanya lirih.

“Hanako, Kenji….terimakasih, kalian datang menegokku, domo arigati gozaimasu…” katanya perlahan. Hannako menyerahkan ke tangannya setangkai bunga Sakura yang berwarna merah jambu. “Sekarang sudah musim bunga Bungsu-san …”katanya perlahan.

“Arigato…”

“Lihatlah, dimana-mana bunga Sakura pada mekar. Engkau akan bebas Bungsu-san….”tambah Hannako. Si Bungsu benar-benar terharu. Gadis itu memakai baju dari sutera berwarna biru berkembang-

kembang. Wajahnya cantik. Dia tersenyum menatapnya.

Dan ketika persidangan dimulai, seorang ahli Hukum terkenal di Tokyo saat itu, tuan Yasuaki Yamada muncul sebagai pembela Si Bungsu.

Tentara pendudukan Amerika seperti ditekan oleh pihak lain yang punya kekuatan terselubung untuk mengadili orang Indonesia itu secara terbuka. Semula tentara Amerika akan mengadilinya secara penjahat perang. Ada alasannya, membunuh tentara Amerika yang sedang bertugas di negeri taklukan. Bukankah itu sama dengan kejahatan perang?

Namun “kekuatan terselubung” yang meminta agar perkara itu diadili secara terbuka, nampaknya punya kekuatan yang benar-benar tak dapat diabaikan.

Tentara pendudukan Amerika terpaksa menyetujui permintaan yang diajukan lewat ahli hukum Yasuaki Yamada itu.

Dalam persidangan terjadi debat yang amat sengit antara Jaksa Militer dengan pembela Si Bungsu. “Pembelaan terhadap terdakwa tak bisa diakui secara hukum. Terdakwa bukan warganegara Jepang.

Dan pembunuhan terhadap tentara Amerika yang sedang bertugas haruslah diadili oleh mahkamah perang” Demikian oditur militer Amerika menuntut pembatalan persidangan secara terbuka ini.

Ruang sidang itu sendiri penuh sesak. Ada sekitar lima ratus orang hadir. Terdiri dari tentara Amerika dan penduduk sipil Jepang.

Yamada, pembela dan ahli hukum terkenal itu segera bangkit.

“Terdakwa memang bukan orang Jepang. Tapi di membunuh tentara Amerika karena membela seorang warganegara Jepang. Maka selayaknyalah kami orang Jepang membelanya”

Ucapannya mendapat tepuk tangan yang gemuruh dari pengunjung yang penduduk Jepang. “Meski demikian, dia membunuh 2 tentara Amerika yang sedang bertugas….”

“Apa tugasnya? Memperkosa seorang gadis Jepang?” potong Yamada. Tepuk tangan gemuruh lagi. Muka oditur Militer yang berpangkat Mayor itu jadi merah.

“Tak ada bukti yang menguatkan bahwa kedua tentara itu akan memperkosa seorang gadis Jepang. Mana buktinya. Buktinya haruslah gadis yang akan diperkosa itu sendiri….kami minta gadis itu diajukan sebagai saksi!”

Yamada benar-benar jadi terdiam. Semua isi pengadilan itu juga terdiam. Inilah kartu mati bagi Yamada. Dalam sebulan ini dia telah berusaha mencari tahu siapa gadis yang ditolong di hotel Asakusa. Namun usahanya sia-sia.

Gadis itu tak pernah ditemui. Dan kini, kelemahannya itu dijadikan sebagai truf oleh Oditur untuk membatalkan persidangan ini.

Pemilik penginapan yang diajukan sebagai saksi, hanya mengatakan bahwa kedua tentara itu datang membawa dua gadis. Sebenarnya mereka bertiga. Dan setelah mereka masuk kamar, dia tak tahu lagi apa yang terjadi. Dia hanya mendengar serentetan tembakan dan ketika dia muncul di kamar itu, kedua tentara itu telah mati.

Orang Indonesia yang menginap disana sudah lenyap entah kemana. Itulah kesaksian yang bisa dia berikan. Dia tak mengenal siapa gadis yang dibawa letnan Amerika itu.

Yamada sudah menyangka bahwa dia akan menghadapi kesulitan ini. Namun Tokugawa yang berdiri dibalik pembelaan terhadap Si Bungsu ini, membayarnya amat tinggi untuk membela anak muda tersebut.

“Bela dia sampai bebas. Sekurang-kurangnya hanya dihukum setahun dua. Tentang biaya jangan tuan pikirkan. Saya yang menjamin….” Kata Tokugawa.

--000--

Persidangan diundur untuk memberi kesempatan pada Yamada mencari saksi. Tokugawa tak berani memasang iklan untuk memanggil gadis itu.

Pihak lain bisa saja menjegal gadis tersebut di perjalanan. Terutama pihak Amerika yang ingin persidangan itu dilakukan secara Militer.

Tokugawa menyebar mata-matanya ke seluruh pelosok untuk mencari gadis itu. Ciri-cirinya ditanyakan pada Si Bungsu dan pemilik penginapan. Si Bungsu teringat, bahwa sebelum lama berdarah itu dia pernah bertemu dengan gadis itu di daerah Ginza.

Maka Tokugawa menyapu seluruh toko, kantor, tempat-tempat mandi uap dan rumah-rumah pelacuran atau rumah-rumah pribadi dalam usaha mencari gadis tersebut.

Tapi mencari seorang gadis cantik di Tokyo dengan ciri-ciri yang samar-samar alangkah sulitnya. Di Tokyo ada ratusan ribu gadis cantik. Dan hampir semua punya ciri tubuh seperti gadis yang dikatakan Si Bungsu. Bagaimana menandainya? Sepekan setelah itu persidangan dibuka lagi.

“Kami berpendapat, percuma sidang ini diadakan kalau tak ada saksi utama. Tak ada yang melihat atau mendengar bahwa ada perkosaan kecuali tertuduh. Dan tertuduh tak bisa diminta keterangannya sebagai saksi. Hukuman mati patut dijatuhkan padanya…” Oditur Militer itu berkata tegas setelah bertegang urat leher dengan Yamada.

Yamada bangkit. Dia memandang keliling. Kemudian memandang pada Hakim Militer yang mengadili perkara ini.

“Amerika sudah cukup banyak membunuh orang di negeri ini. Hitunglah yang mati di kancah peperangan. Terakhir hitung pula mereka yang mati tanpa dosa di Hiroshima dan Nagasaki. Dimakan Bom Atom laknat itu. Apakah kalian masih akan menambah angka kematian itu lagi?”

Tubuh Yamada sampai menggigil mengucapkan kalimat ini. Dia mengucapkan itu memang dengan penuh kebencian. Tapi juga dengan penuh tantangan. Dia bisa diseret sebagai menghina tentara Amerika!

Beberapa pejabat kota Tokyo pada duduk dengan pucat. Meskipun yang diucapkan pembela itu adalah isi hati mereka, namun mereka menilai Yamada terlalu berani dengan ucapannya ini.

Ruangan pengadilan itu jadi sepi.

Semua pada terdiam dan gugup. Yamada sendiri tetap tegak ditempatnya yang mirip api yang membakar sumbu dinamit. Yang bisa meledakkan seluruh Jepang dalam peperangan yang lebih dahsyat.

Seperti dikatakan, hampir seluruh balatentara Jepang tak menghendaki menyerah pada sekutu. Semua mereka siap untuk berperang sampai tetes darah terakhir. Itulah kenapa ribuan di antara mereka yang memilih mati bunuh diri dengan harakiri ketika Tennoheika tetap menyuruh mereka menyerah.

Dan kini, masalah bom atom di Nagasaki dan Hiroshima itu merupakan sesuatu yang tak pernah dibicarakan orang. Sesuatu yang amat sensitif.

Akhirnya Hakim menarik nafas. Menjilat bibirnya. Kemudian bicara, suaranya terdengar tenang berwibawa :

“Anda benar tuan Yamada. Kami tak dapat lagi untuk menambah korban. Oleh karena itu peperangan harus dihentikan. Pengadilan ini akan berjalan terus. Tak ada korban yang boleh jatuh dengan sia-saia. Kedua tentara Amerika itu menurut file pemeriksaan sebelum tuan jadi pembela, membuktikan bahwa mereka memang membawa gadis ke penginapan itu.

Saya undurkan sidang ini 15 hari untuk memberi kesempatan pada anda tuan untuk mencari saksi utama itu. Saya juga akan memerintahkan Polisi Militer Amerika untuk mencari gadis itu. Demi kemurnian hukum”

Dan dia mengetukkan palunya. Semua pengunjung di pengadilan bertepuk menyambut putusan Hakim yang luar biasa itu. Yamada sendiri sampai berpeluh karena tak yakin akan putusan itu.

Orang-orang pada berdatangan memberi salam padanya. Rasa simpati makin hari makin mengalir pada Si Bungsu. Orang jadi tahu, bahwa pemuda asing dari negeri bekas jajahan Jepang ini diadili karena membela seorang gadis Jepang. Dan terungkap pula, pemuda itu juga telah menyambung nyawanya melawan komplotan Jakuza dalam membela Hannako dan saudara-saudaranya.

Sebuah badan sosial mengumpulkan dana untuk membiayai pembelaan Si Bungsu. semuanya berjalan tanpa diketahui oleh anak muda itu. Dia tetap berada dalam kamar tahanannya. Dan sama sekali tak terpengaruh oleh jalannya sidang.

Baginya, bebas ya syukur. Dengan demikian bisa melanjutkan pencariannya terhadap saburo Matsuyama. Perwira Jepang yang membunuh keluarganya.

Kalau tak bebas dan dihukum mati, dia juga tak keberatan. Dia sudah pasrah pada Tuhan. Apakah lagi yang paling pokok dalam kehidupan ini selain daripada pasrah pada kehendak Tuhan?

Orang yang telah berusaha, kemudian memasrahkan dirinya pada kehendak Tuhan YME, adalah orang yang paling bahagia. Tenteram dan tenang hidupnya. Kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan hidup tidak terletak pada harta atau kekayaan. Tapi terletak pada hati.

Itulah yang dilakukan Si Bungsu. Memasrahkan dirinya pada kehendak Yang Satu!

--000--

Yamada tengah mempelajari berkas perkara itu di kantornya di daerah Ginza ketika tiga orang berpakaian parlente masuk.

“Kami dari Yayasan Universitas Tokyo. Ingin menyumbangkan pada tuan sedikit uang untuk membiayai pembelaan terhadap Si Bungsu…” kata salah seorang diantara mereka. Yamada menatap mereka. Pengacara terkenal dan termahal bayarannya ini kemudian tersenyum.

“Terimakasih. Semula saya memang menerima bayaran dari seseorang untuk membela pemuda itu. Tapi, semakin saya pelajari kasus ini, semakin saya malu pada diri saya. Kenapa saya harus menerima bayaran untuk membela orang ini?

Yang saya bela ini bukan seorang Indonesia. Lebih dari itu. Yang sedang diadili ini adalah harga diri dan moral orang Jepang.

Selama bertahun-tahun di negeri ini, terjadi erosi terhadap harga diri. Terjadi erosi terhadap moral bangsa. Selama perang dunia berakhir, di negeri ini kota-kota berobah jadi neraka bagi penduduk.

Kita tak lagi terharu melihat orang-orang yang teraniaya. Kita tak lagi prihatin mendengar berita perkosaan terhadap perempuan-perempuan kita. Kita tak lagi peduli terhadap penderitaaan orang lain.

Padahal sebelum tentara Amerika menduduki negeri kita ini, kita terkenal sebagai bangsa yang berbudi halus. Terkenal sebagai masyarakat yang paling homogen di dunia.

Kita cepat menaruh perhatian dan membantu penderitaan orang lain. Kini kemana semuanya itu? Kita kini saling menyelamatkan diri sendiri. Kita malah menjauh dari penderitaan orang lain. Takut kalau-kalau kita terserang pula oleh penderitaan itu.