Tikam Samurai Si Bungsu Episode 2.1

Episode II (Kedua) 

Tokyo, Kyoto dan Nagasaki atau kota manapun di Jepang saat ini, keadaannya sama saja. Dimana-mana tentara Amerika kelihatan mondar-mandir. Dimana-mana orang kelihatan dicekam rasa takut dan penuh ketergesaan.

Dan dimana-mana kelaparan dan kekacauan ekonomi merajalela. Itulah Jepang ditahun 50-an. Jepang yang ditaklukan sekutu dengan 2 bom atom di Nagasaki dan Hirosima.

Dan kini bulan November. Musim gugur sudah mendekati masa akhirnya. Desember salju akan turun.

Dalam musim gugur begini, semua orang kelihatan bergegas kemana-mana.

Daun-daun pada berguguran meski angin tak bertiup. Pohon-pohon kini pada gundul. Dahan dan ranting kelihatan seperti akar tercabut yang diletakkan terbalik menggapai langit.

Angin kencang yang bertiup seperti mengiris daging terasa dalam cuaca begini. Orang lebih baik tetap tinggal di rumah. Berlindung di bawah selimut. Jalan-jalan kelihatan sepi. Tokyo yang besar dan berpenduduk ramai itu juga sepi dalam cuaca musim gugur begini.

Di bahagian utara, masih dalam lingkungan kota Tokyo, ada sebuah taman yang terbengkalai. Namanya Asakusa. Rencananya taman itu akan dibuat besar dan indah. Tapi kekalahan dalam perang membuat rencana taman itu tak jadi dikerjakan.

Di sudut taman yang belum rampung itu berdiri sebuah bangunan tua tapi bersih. Bangunan itu semula adalah rumah penginapan bagi pekerja-pekerja yang akan membangun taman tersebut.

Karena tamannya tak jadi, maka rumah itu kini dijadikan penginapan. Namanya diambil dari nama daerah dan taman dimana dia berada. Yaitu penginapan Asakusa.

Diluar, penginapan itu kelihatan sepi.

Tamu-tamu tak seorangpun yang kelihatan di ruang depan. Pemilik penginapan sudah mulai bersiap- siap untuk mematikan lampu dan siap untuk tidur, ketika didepan penginapan itu terdengar suara mobil berhenti.

Kemudian disusul suara tawa dan pekik menghimbau. Setelah itu suara derap sepatu dan suara cekikikan perempuan. Pemilik penginapan itu segera bersinar wajahnya. Suara seperti itu pastilah pertanda uang masuk. Dia segera mendorong TO. Yaitu pintu yang bisa didorong kekiri dan ke kanan yang terbuat dari kertas berbingkai kayu.

Dan tiga orang serdadu Amerika dengan seragamnya yang mentereng segera saja masuk keruang tamu.

Bersama mereka terlihat tiga orang perempuan Jepang.

“Konbanwa…!” yang berpangkat Letnan memberi ucapan “Selamat malam” dalam bahasa Jepang beraksen kasar.

“Konbawa…!” jawab pemilik penginapan sambil berkali-kali membungkuk memberi hormat.

“Kami butuh tiga kamar….” Tentara Amerika itu berkata. Dan kembali pemilik penginapan Asakusa itu mengangguk-angguk.

Dia mengantar dua tentara ke dua buah kamar yang kebetulan kosong. Dan si Letnan dia antarkan ke kamar yang dekat taman.

Pemilik kediaman itu mengetuk pintu.

“Gomenkudasai….” Katanya keras menyuruh membuka pintu. Ketika pintu tak juga kunjung dibuka dari dalam, dia langsung mendorong pintu TO tersebut hingga terbuka.

Di dalamnya, seorang lelaki muda menggeliat dibawah selimut. “Maaf, keluar dahulu sebentar. Kamar ini akan dipakai…”

Lelaki muda itu tak memprotes. Sebab sejak tiga bulan tinggal di penginapan ini, kejadian seperti ini sudah sering terjadi.

Kamarnya dipakai sementara untuk berbuat mesum oleh tentara Amerika. Kemudian jika selesai, dia masuk lagi. Yaitu setelah tentara Amerika itu keluar.

Menjijikkan memang. Tapi begitulah cara hidup yang aman di Jepang saat itu. Persetan segala kejadian.

Berani melawan? Hmm, bisa ditangkap dengan tuduhan melawan tentara Amerika.

Buat saat ini, melawan tentara Amerika berkelahi misalnya, jauh lebih berbahaya daripada membunuh dua atau tiga orang Jepang.

Kalau membunuh dua atau tiga orang Jepang masih ada jalur hukum yang ditempuh. Kepengadilan, pengusutan dll. Tapi melawan tentara Amerika bisa ditembak ditempat. Tak peduli salah atau benar. Sadar akan hal inilah makanya anak muda itu lalu bangkit. Kemudian memakai pakaian seadanya. Lalu melangkah keluar kamar. Di pintu langkahnya tiba-tiba berhenti. Menatap pada gadis yang tegak dengan mata sembab bekas menangis disamping tentara Amerika.

Gadis itu amat cantik. Berambut hitam berhidung mancung dan bermata gemerlap. Tapi bukan kecantikannya itu yang membuat langkahnya terhenti.

Gadis itu pernah dia lihat dua hari yang lalu. Tapi ingatannya hanya sampai disana. Gadis itu telah ditarik oleh Letnan ke dalam. Dan pintu TO itu ditutupkan oleh pemilik penginapan.

Di dalam kamar, lelaki muda itu mendengar gadis tadi. Suara bergumul seperti orang berlarian didalam kamar tersebut.

Dia mengumpulkan ingatannya lagi.

Bukankah gadis itu yang dia temui dua hari yang lalu di jalan Ginza? Saat itu dia akan pergi ke Shibuya mencari temannya sekapal dulu.

Dia bingung harus naik apa. Ada kereta api, tapi dia tak tahu pasti apakah kereta itu akan ke Shibuya. Tengah dia kebingungan begitu, dia melihat seorang gadis lewat mengapit buku. Bergegas dia mendekati gadis itu dan membungkuk hormat.

“Sumimasen, kono densha wa Shibuya e ikimasu ka” (Numpang tanya, apakah kereta listrik ini pergi ke Shibuya). Tanyanya dalam bahasa Jepang yang terasa kaku.

Gadis itu menoleh. Dan selintas saja dia melihat betapa cantiknya gadis Jepang tersebut. Berumur paling banyak baru delapan belas. Berambut hitam panjang. Berhidung mancung dan bermata gemerlap dengan tubuh yang indah.

Tapi gadis itu segara saja melotot lalu meneruskan perjalanannya tanpa menjawab sepatahpun. Dia jadi malu. Dan kini, bukankah gadis itu yang ada dalam kamar bersama tentara Amerika itu?

Hmm, gadis cantik yang sombong. Ternyata jadi gula-gula tentara Amerika. Dia menarik nafas panjang. Duduk bersandar di kursi di lorong di depan kamarnya itu sambil berkelumun kain sarung.

Dari kamar-kamar yang lain dia dengar suara tawa cekikikan perempuan. Tapi dari kamarnya yang dia tinggalkan tadi, dia mendengar suara orang berggumul. Suara rintihan perempuan. Suara caci maki tentara Amerika itu. Suara kain robek.

“Oh jangan. Jangan….jangan!” suara gadis itu terdengar menghiba-hiba.

Dan tiba-tiba pula, lelaki yang duduk berkelumun kain sarung diluar itu, yang tak lain dari si Bungsu jadi tertegak!

Gadis itu jelas tak menyukai perlakukan tentara Amerika tersebut. Dia mendengar betapa sejak tadi sebenarnya gadis itu lebih banyak meronta, menghindar dari perbuataan buas serdadu itu.

Ketika dia dengar gadis itu kembali bermohon menghiba-hiba, Si Bungsu segera teringat pada kakaknya yang diperkosa Saburo Matsuyama. Dan tanpa dapat dia tahan, tiba-tiba pintu TO itu dia renggutkan dengan kasar.

Letnan Amerika itu terhenti. Si Bungsu melihat gadis itu terduduk lemah dengan pakaian yang compang camping di sudut ruangan. Sementara Letnan itu dengan tubuh yang hampir telanjang berusaha menyeretnya kembali ke atas kasur.

Tentara Amerika itu mendelik padanya. “Get Out!!” Letnan itu berteriak berang.

Namun Si Bungsu dengan mata yang menatap dingin, tetap tegak mengangkang di pintu. Menatap dengan wajah penuh benci pada tentara Amerika tersebut.

“Keluar, syetan!!” tentara Amerika itu kembali menghardik.

“Lebih baik anda yang keluar. Gadis ini tidak mau diperlakukan demikian. Cari saja perempuan yang lain….” Suara Si Bungsu terdengar datar.

Dengan suatu geraman seperti macan kelaparan, letnan bertubuh besar itu menerkam Si Bungsu. Rasa berkuasa sebagai tentara yang menang perang membuat tentara ini menganggap semua orang bisa dia makan.

Namun terkamannya terhenti separoh jalan. Si Bungsu menanti terkaman itu dengan suatu tendangan telak. Kakinya mendarat di kerampang letnan yang hanya bercelana kotok kecil itu.

Terdengar dia mengeluh. Matanya mendelik. Kemudian dengan sempoyongan sambil memaki panjang pendek, dia berjalan keunggukan pakaiannya. Dan tiba-tiba dia membalik dengan pistol ditangan.

Namun nasib tentara ini bernasib malang. Anak muda yang dia hadapi itu ternyata seorang yang sangat peka terhadap perkosaan. Di hatinya telah tergores luka dan dendam yang luar biasa akibat perkosaan yang dilakukan pada kakaknya bertahun-tahun yang lalu di Situjuh Ladang Laweh. Dan saat ini, naluri dendamnya itulah yang bicara. Begitu dia melihat letnan itu mengacungkan pistol ke arahnya, tanpa membuang waktu tubuhnya berguling di lantai. Lompat tupai!

Gerakan yang tersohor ini dia pergunakan sesaat sebelum pistol itu menyalak.

Letusan itu mengejutkan semua isi penginapan. Dan letusan itu menerkam pintu TO pada bingkainya.

Pintu tercampak.

Letnan itu berputar mengarahkan pistolnya pada lelaki yang kini berada di kanannya. Namun yang dia hadapi adalah seorang anak muda yang telah lolos dari ribuan maut yang pernah mengancam. Anak muda yang dia hadapi sebenarnya adalah sisa-sisa kebuasan perang dan kebuasan rimba raya yang jauh lebih dahsyat.

Kini anak muda itu tegak disisinya dengan sebuah tongkat ditangan kiri!. Dan begitu dia berniat menarik pelatuk pistolnya, saat itu pula tangan anak muda itu bergerak. Segaris cahaya putih yang sulit untuk diikuti kecepatannya, berkelabat.

Dan saat berikutnya adalah rasa perih yang sangat pada tangan si Letnan. Dan letnan itu terpekik takkala mengetahui bahwa tangannya yang berpistol itu telah putus sampai ke bahu!

Dia meraung. Tapi hanya sebentar sekali. Sebab begitu raungannya keluar, begitu tubuhnya belah jadi dua! Darah menyembur-nyembur. Dan sesaat, anak muda itu tegak dengan wajah dingin, tak berekspresi sedikitpun!

Di luar terdengar derap sepatu berlarian. Seseorang muncul di pintu dengan bedil ditangan. Dia adalah Sersan yang tadi datang bersama letnan yang mati itu.

Matanya terbeliak melihat darah dan tubuh yang pontong dilantai. Lalu tangannya yang berbedil stengun tersebut.

Tapi hanya sampai disana gerakannya. Sebab setelah itu gerakan anak muda dari Gunung Sago itu terlalu cepat untuk bisa diamati.

Tubuh Sersan itu melosoh ke lantai dengan dada dan perut belah. Mati dia!

Dan setelah itu yang terdengar adalah hiruk pikuk. Si Bungsu sadar bahwa maut mengancamnya. Dia menyambar bungkusan kecil miliknya di sudut ruangan.

Kemudian melompat ke belakang. Dan lenyap pada gelapnya malam.

Di penginapan suasana jadi sangat heboh. Sebab peluit dan sirena mobil tentara terdengar meraung-

raung.

Penginapan itu dikepung dalam waktu singkat. Tak seorangpun boleh keluar. Bahkan semutpun akan

diketahui bila keluar dari penginapan itu. Demikian rapat dan telitinya tentara Amerika mengepung penginapan itu dalam rangka mencari pembunuh kedua serdadunya.

Namun saat itu, Si Bungsu telah berada jauh sekali dari sana. Dia hapal jalan-jalan memintas dari penginapan ke berbagai arah. Sebab dia sudah tiga bulan menginap di sana. Dia tak berani naik taksi. Sebab ornag akan mengetahui kemana dia pergi.

Dia segera ingat, di daerah Ocha Nomizu dan Yotsuya ada terowongan bawah tanah. Terowongan ini pada awalnya adalah untuk riol air. Tapi dibuat sedemikian besarnya sehingga sebuah truk bisa masuk. Dan terowongan itu bersimpang siur di bawah tanah. Terbuat dari beton. Sementara di atasnya ada jalan raya, jalan kereta api atau bangunan.

Dan di zaman perang Asia Pasifik, dimana Jepang menerjunkan diri, malah bergabung dengan fasis Hitler di Eropah, terowongan bawah tanah itu ditingkatkan menjadi lobang perlindungan.

Yaitu menjaga kemungkinan sewaktu-waktu Tokyo diserbu tentara Sekutu. Terowongan itu bisa memuat ratusan ribu penduduk. Tapi ternyata terowongan itu tak pernah dimanfaatkan. Artinya tak pernah dimanfaatkan untuk perlindungan peperangan.

Sebab tentara Sekutu tak pernah menyerbu Tokyo. Mereka hanya menjatuhkan 2 buah Bom Atom, di Hirosima dan Nagasaki. Dan itu sudah cukup melumpuhkan seluruh Jepang. Sebab kedua kota ini adalah kota utama menghimpun kekuatan militer Jepang.

Di kedua kota inilah terutama Hirosima seluruh persenjataan balatentara Jepang dibuat. Kota ini adalah kota industri senjata. Dan begitu Bom meluluhkannya, maka lumpuhlah kekuatan Balatentara Jepang.

Kini tentara Amerika memang datang ke Tokyo. Tapi penduduk Tokyo tak perlu lagi bersembunyi ke dalam terowongan. Sebab tentara Amerika datang sebagai penguasa baru. Dan rakyat Jepang juga tak seorangpun yang mengangkat bedil melawan Amerika. Mereka menanti sebagai orang dikalahkan.

Si Bungsu berniat ke terowongan itu. ini. Tiga bulan di tokyo sejak kedatangannya dari Singapura, dia telah mengenal cukup banyak tentang kota

Dia tahu, di dalam terowongan itu kini berkumpul anak-anak dan orang-orang gembel. Berkumpul para perempuan lacur. Ya disanalah tempat yang aman bagi gembel dan pelacur murahan. Jumlah mereka ratusan orang.

Dimusim- musim tertentu jumlahnya bisa mencapai ribuan.

Tentara Amerika atau lelaki Jepang yang berhasrat tak usah payah-payah mecari hotel. Cukup masuk ke terowongan itu dan berbuat disana. Gembel-gembel serta anak-anak terlantar yang ayahnya mati dalam peperangan juga aman disini.

Apalagi di musim gugur seperti sekarang. Terowongan ini pasti penuh sesak. Orang mencari perlindungan dari udara dingin yang menyakitkan ke dalam terowongan tersebut.

Di dalam terowongan itu, udara panas. Dia sudah masuk ke terowongan itu tiga kali. Dia ikut teman sekapalnya bernama Kenji. Temannya ini ketika sampai di Tokyo mendapatkan kedua orang tuanya tak ada lagi. Menurut tetangga ayahnya meninggal karena TBC, ibunya meninggal ditabrak Jeep tentara Amerika.

Dan adik-adiknya yang berjumlah dua orang lenyap tak tentu rimbanya. Orang menyuruh Kenji untuk mencari adik-adiknya ke terowongan bawah tanah itu. Dan kesanalah mereka pergi. Namun adik-adik Kenji tak pernah bersua.

Mereka menjalani semua terowongan itu dari pagi hingga sore. Mendatangi kampung-kampung miskin ditepi kota Tokyo. Namun adik-adik Kenji tetap tak pernah bersua.

Dari Kenjilah Si Bungsu banyak mengenal kota ini. Dan dari Kenji pulalah, sahabat sekapalnya itu dia belajar bahasa Jepang.

Si Bungsu dengan langkah pasti menuju ke terowongan itu. Kemana dia menuju, keterowongan di daerah Ocha Nomizu atau terowongan di daerah Yotsuya kah?

Ocha Nomizu terlalu dekat ke daerah Asakusa. Kalau ada razia tentu Ocha Nomizu akan digeledah pertama kali. Lebih baik ke terowongan di daerah Yotsuya saja, pikirnya.

Dia melangkah dalam udara dingin sambil menjinjing bungkusan kecilnya. Bungkusan itulah penyambung nyawanya. Di sana ada perhiasan dan uang bekal yang dia bawa dari Bukittinggi. Yaitu perhiasan yang mereka peroleh bersama Mei-mei dari ruang bawah tanah rumah pelacuran tempat Mei-mei disekap di Payakumbuh.

Dia menyelusuri rel kereta api menuju ke daerah Yotsuya. Angin dingin bulan November terasa menampar dan mengiris kulitnya. Dingin dan pedih. Di Ocha Nomizu dia ditegur seorang perempuan. Tegur sapa itu diiringi tawa cekikikan halus. Dia segera mengetahui bahwa perempuan-perempuan itu adalah perempuan-perempuan malam yang mungkin mencari uang untuk menghidupi keluarganya dalam saat sulit seperti ini.

Dia berjalan terus. Tak lama kemudian dia sampai di daerah Yotsuya. Dia berjalan menuruni sebuah tebing kecil. Dan di bawahnya ada pintu terowowngan. Sambil berlari kecil, dia masuki terowongan itu.

Membelok ke kiri. Terus ke kanan, dan dia mendapati tubuh manusia bergelimpangan disepanjang pinggir terowongan. Tidur dengan menyelimuti segenap pakaian yang ada. Terowongan itu terang. Sebab pemerintah kota memberinya lampu listrik. Kini meski terowongan itu tak berguna lagi, namun pemerintah kota tetap memberikan penerangan lampu. Sebab pihak pemerintah kota nampaknya memaklumi, bahwa banyak warga kotanya yang melarat melindungkan diri dalam terowongan itu.

Dalam keadaan parah begini, dengan tetap menghidupkan lampu dalam terowongan, sekurang- kurangnya pemerintah kota telah membantu meringankan beban warganya.

Si Bungsu berjalan mencari tempat yang baik untuk merebahkan diri. Dia berjalan terus. Membelok kekiri, kenanan. Dia melihat perempuan-perempuan tidur berpagutan dengan lelaki. Dia melihat kanak-kanak juga berpagutan dengan ibunya. Melihat anak-anak miskin tidur dengan kain compang-camping. Dan diantara mereka tidur pula dua tiga anjing kurus.

Isi terowongan ini menggambarkan isi kota Tokyo yang sebenarnya. Jauh berbeda dari keadaan di atas mereka. Dimana dalam gedung-gedung bertingkat, hidup orang-orang kaya, para kolobolator dan penghianat- penghianat dengan tenteram dan mewah.

Isi terowongan ini, adalah lembaran hitam Kota Tokyo. Tapi inilah penduduk yang sebenarnya. Dia berhenti disuatu tempat. Ada tempat ketinggian. Dan tempat itu kosong.

Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Merasa aman lalu dia naik ke atas. Meletakkan bungkusan kecilnya disudut dan dia membaringkan diri. Namun belum begitu lama dia berbaring, dia merasakan seseorang naik ke tempatnya. Dia jadi waspada. Siapa ini? Pencuri? Pencuri bukan merupakan hal yang mustahil. Kanak-kanak, orang dewasa, lelaki atau perempuan, bisa saja jadi pencuri. Dan mereka tak pula dapat disalahkan. Keadaan memaksa mereka jadi begitu.

Siapa pencuri yang menginginkan pekerjaan jadi pencuri? Tak seorangpun. Mana pula ada orang yang ingin diburu rasa takut berkepanjangan. Mana ada orang yang mau menyambung nyawa hanya untuk sesuap nasi.

Tapi keadaan memaksa demikian. Daripada bertarung dengan rasa lapar, lebih baik bertarung dengan manusia. Orang yang naik itu membaringkan tubuhnya pula. Kemudian terdengar isaknnya perlahan. Menangis. Dan dari isaknya Si Bungsu tahu bahwa orang itu adalah seorang perempuan.

Namun tak lama isaknya lenyap. Dan suara nafasnya terdengar perlahan. Tertidur. Perempuan itu tertidur. Kelelahan membuat dia tertidur. Dan tidur adalah kenikmatan yang paling indah dalam segala penderitaan.

Dalam tidur buat sejenak orang dapat melupakan penderitaan dan sengsaranya. Dalam tidur buat sejenak orang melupakan rasa laparnya.

Bukankah lupa meski agak sejenak terhadap penderitaan, kemalaratan dan kesengsaraan sudah merupakan suatu “kemewahan”? dan Si Bungsu juga tertidur. Mereka tertidur saling membelakang.

--000--

Suara pertengkaran membangunkannya dari tidur. Perlahan dia bangkit. Dan tak jauh dari tempatnya berbaring dia lihat empat lelaki Jepang tengah membentak-bentak.

Memeriksa tas kain seorang lelaki. Kemudian mengambil jam tangan dari dalam tas itu. Demikian terus, keempat lelaki Jepang itu memeriksa orang-orang yang duduk atau berbaring dalam terowongan itu.

“Jakuza…” katanya perlahan.

Jakuza adalah nama suatu sindikat penjahat Jepang. Yang beroperasi mulai dari tingat paling bawah. Seperti halnya mengkoordinir tukang copet, meminta belasting seperti yang dilakukan sekarang, sampai pada mengkoordinir kejahatan tingkat atas.

Mengatur pelacuran. Mengatur perampokan, pembunuhan. Penderitaan rakyat Jepang saat itu selain oleh perang, ditambah lagi oleh kelompok yang menangguk di air keruh ini.

Alat negara sendiri kewalahan menghadapi kelompok Jakuza ini. Sebab mereka mempunyai kaki tangan yang amat banyak. Dan mempunyai kekuatan besar. Mereka umumnya beroperasi dengan senjata samurai. Dan dikalangan pejabat sendiri, mereka mempunyai beking.

Si Bungsu mengetahui hal itu dari temannya Kenji. Dan itulah kenapa sebabnya ketika para Jakuza itu sampai pada dirinya, dia menyerahkan uang dikantongnya. Ada beberapa ratus Yen. Itu diserahkannya semua.

Keempat anggota Jakuza itu menatap padanya agak lama.

“Anata wa Tai-jin desu” (Anda orang Muangthai) salah seorang bertanya. “Watashi wa Indonesia-jin desu…” (Saya orang Indonesia) jawabnya perlahan. “Ooo… Anata wa Indonesia-jin desu….”(ooo, orang Indonesia he?)

“Hai..” (ya) jawabnya perlahan.

Dan keempat Jepang itu tak peduli. Di negeri mereka ini kini cukup banyak suku bangsa berdatangan. Ada orang Muangthai, Malaya, Philipina, Indonesia dan orang-orang Korea. Bagi mereka tak ada soal. Selama orang itu tak mendatangkan kesulitan bagi organisasi mereka, silahkan tinggal di Jepang.

Tapi sekali orang itu salah jalan, artinya berbuat tak baik menurut ukuran kelompok Jakuza, maka mereka tidak hanya sekedar diburu, tapi juga dibunuh.

“Anohito wa dare desu ka” (siapa ini) tanya anggota Jakuza itu sambil menunjuk tubuh yang berbaring disisi Si Bungsu.

Dan untuk pertama kalinya Si Bungsu menyadari bahwa tubuh ini datang ketika dia telah berbaring. Dan sejak saat itu, dia tak mengetahui dan tak peduli padanya. Mereka tidur saling membelakang.

Kinipun tubuh itu tidur membelakang padanya dengan kepala tertutup kain. “Saya tidak tahu…”

Kembali keempat lelaki itu menatapnya.

“Anata wa Nippon-go o hanasukoto ga dekimasu ka” (apakah anda bisa bicara dalam bahasa Jepang?) tanya lelaki yang nampaknya menjadi pemimpin diantara yang berempat itu.

“Hai, bisa sedikit” jawabnya. itu. “Nah bangunkan dia, dia harus bayar pajak” lelaki itu berkata sambil menunjuk pada tubuh yang tidur

“Maaf, saya tak mengenalnya. Dia datang ketika saya sedang tidur..”

“Bangunkan dia!” suara Jepang itu memerintah. Si Bungsu tak mau cari perkara. Dia sudah berniat menbangunkan orang itu ketika tubuh tersebut bergerak dan bangkit duduk.

Dan mereka semua, termasuk Si Bungsu jadi tertegun. Orang itu ternyata seorang gadis. Dia pastilah gadis yang cantik sekali. Sebab meski dalam keadaan pakaian yang tak menentu dan rambut kusut masai, keadaannya masih tetap memikat.

“Hannako…” Jepang yang bertindak jadi pimpinan itu berkata keheranan. Gadis itu menatap dengan dingin.

“Apakah kalian masih belum puas?” tiba-tiba gadis itu berkata. “Hannako, kenapa kau pergi dari rumah Kawabata?”

Gadis itu memandang muak pada keempat lelaki tersebut.

“Ayo kau ikut kami. Kalau kau tak senang di rumah Kawabata, kau boleh tinggal dirumahku…” lelaki yang bertindak sebagai pimpinan diantara yang berempat itu berkata lagi.

Gadis itu terkejut.

Namun dia tak diberi kesempatan. Tangannya ditarik dengan kuat. Dan saat berikutnya dia sudah dipangku oleh yang bertubuh besar itu keluar terowongan.

“Hmm, kau main gila dengan Hannako he…?” Jepang yang bertubuh pendek berkata. Dan sebelum Si Bungsu menyadari apa yang dimaksud si pendek itu, mukanya kena tampar tiga kali.

Dan ketiga Jepang itu menyusul pimpinannya yang memangku Hannako. Si Bungsu mendengar gadis itu berteriak dan menangis sambil memukuli punggung Jepang besar itu.

Namun perlawanan gadis itu tak ada artinya dibanding dengan Jepang yang memangkunya. Dalam waktu dekat, mereka telah sampai diluar terowongan. Mereka tidak mengambil jalan ke rel kereta api. Tapi mengambil jalan ke belakang.

Penghuni terowongan yang ratusan orang jumlahnya itu hanya menatap dengan diam. Mereka tak mau ikut campur. Sebab masalah mereka saja tak bisa mereka atasi. Apalagi harus berhadapan dengan komplotan Jakuza. Oi mak, minta ampunlah!

Keempat lelaki Jepang itu mulai melangkahi padang semak menuju jalan raya. Namun mereka segera terhenti ketika terdengar seseorang memanggil dari arah belakang.

Mereka menoleh. Dan jadi terheran-heran ketika melihat bahwa yang memanggil itu adalah si “Indonesia” tadi.

“Lepaskan gadis itu….” Suara si “Indonesia” yang tak lain daripada Si Bungsu itu terdengar dingin.

Keempat lelaki itu saling pandang. Kemudian tertawa meringis. Yang memangku tubuh Hannako itu memberi isyarat. Sementara dia sendiri lalu melanjutkan perjalanan. Ketiga anggota Jakuza itu lalu mengelilingi Si Bungsu.

“Hmm, kamu mau Hannako ya? Orang jajahan mau makan orang Jepang ha!?” yang pendek yang tadi menampar Si Bungsu berkata. Dan ketiga mereka lalu menyiapkan suatu hajaran buat si “Indonesia” ini.

Sementara itu yang tinggi besar tadi sudah berjalan agak sepuluh langkah dari tempat dimana Si Bungsu tadi menahan mereka.

Dia sudah akan melangkahi parit kecil ketika kembali terdengar suara menahannya dari belakang. Dia berhenti dan menoleh. Dan kali ini dia jadi kaget. Yang menahannya ternyata si “Indonesia” itu lagi.

Dia tak melihat seorangpun diantara ketiga temannya tadi. Kemana mereka? Dia coba melihat kebelakang. Dan jauh disana, dengan terkejut dia lihat ada tiga sosok tubuh terhantar di tanah tak bergerak!

Terdengar serapah dari mulutnya.

Dia lalu menjatuhkan tubuh Hannako. Gadis itu jatuh tertelungkup.

“Jahanam, berani waang melawan orang Jepang!” lelaki besar itu berkata sambil maju. Dan sebuah tendangan khas Karate dilayangkannya ketubuh Si Bungsu.

Namun anak muda ini telah awas. Sarung samurainya bergerak sambil menghindar dari tendangan itu. Tendangan si besar menerpa tempat kosong. Dan tiba-tiba kepalanya kena hantam sarung samurai. Suaranya berdetak dalam cuaca dingin dipagi hari itu.

Bukan main marahnya Jepang itu. Dia berputar dan kembali menyerang dengan pukulan-pukulan Karate. Sebenarnya dia bukan lawan Si Bungsu dalam hal begini. Anak muda ini tak sedikitpun mengetahui ilmu beladiri itu. Tapi dia memang tak berusaha melawan serangan maut itu. Dia hanya menghindar sebelum serangan itu tiba. Dan berkali-kali sarung samurainya dihantamkan ke kepala Jepang itu.

Suatu saat Jepang itu kelihatan kehabisan rasa sabarnya. Tahu-tahu ditangannya kini terpegang samurai pendek.

“Kubunuh kau!” desisnya sambil menyerang dengan kecepatan kilat dengan samurainya yang tersohor itu. Jakuza adalah kelompok bandit yang mahir dengan samurai.

Tapi kali ini, Jepang itu ketemu lawan yang tak pernah dia mimpikan untuk bertemu. Begitu dia mengayunkan samurainya, saat itu pula sebaris cahaya putih menyilang dada, perut dan lehernya.

Amat cepat, amat luar biasa. Amat tak pernah terbayangkan. Dan Jepang itu rubuh dengan perut, dada dan leher robek menyemburkan darah. Mati!

Dan hanya sepersepuluh detik setelah itu, Si Bungsu telah menyarungkan kembali samurainya. Ini adalah kali kedua dia mempergunakan samurainya sejak datang di Tokyo tiga bulan yang lalu. Malam tadi yang pertama ketika dia membunuh tiga tentara Amerika di penginapan Asakusa.

Angin bertiup perlahan. Dia menatap gadis itu. Dan gadis yang bernama Hannako itu juga menatapnya. “Arigato. Arigato. Domo arigato gozaimasu…” (Terimakasih… Terimakasih banyak) gadis itu berkata

diantara air matanya yang mengalir turun.

“Nakanaide kudasai…” (Jangan menangis…) katanya perlahan membujuk gadis itu.

Tapi gadis itu makin menangis. Dia memegang tangannya. Kemudian membawanya masuk kembali ke terowongan darimana mereka tadi datang.

“Tenang, jangan menangis. Engkau telah selamat dari mereka…”

“Terimakasih. Anda telah menyelamatkan nyawa saya. Mereka sangat kejam. Mereka bukan manusia…..mereka…”

“Tenanglah…”

Dan gadis itu menangis dipundaknya dalam terowongan itu. Lama gadis itu menangis. Sampai akhirnya dia tenang. Dan Si Bungsu teringat, bahwa mereka belum makan apa-apa sejak pagi.

Dia membawa gadis itu keluar terowongan. Ke arah yang berlawanan dari yang ditempuh keempat Jakuza tadi.

“Mereka akan mencari orang yang membunuh temannya….” Gadis itu berkata perlahan ketika mereka duduk dalam sebuah warung kecil di pinggir jalan.

“Mereka takkan menyangka saya yang membunuhnya. Mereka pasti menduga ada perkelahian sesama orang Jepang…” Si Bungsu berkata tenang.

Hannako menatapnya.

“Mari kita makan. Nani ni nasaimasu ka” (mau pesan apa?) tanyanya. Gadis itu menatapnya. “Anda fasih berbahasa Jepang…”

“Tidak, saya belajar sedikit dari seorang teman. Nah, saya pesan Sukiaki, anda pesan apa?”

“Watashi wa Tempura desu” (Saya pesan Tempura) jawab gadis itu dengan senyum dibibirnya. Si Bungsu lalu memesan kedua jenis makanan tersebut.

Sukiaki yang dia pesan adalah makanan yang terdiri dari daging, sayur dan kacang yang direbus. Sementara Tempura yang dipesan Hannako adalah makanan yang terdiri dari goreng udang, ayam, ikan yang dicampur tepung terigu dan sayuran. Sukiaki terutama dimakan orang dimusim dingin seperti sekarang.

Si Bungsu teringat pada gadis yang malam tadi dihotelnya di Asakusa. Kemana gadis itu kini? Malam tadi dia tak sempat menanyai dan menolong gadis itu lebih lanjut. Dia buru-buru menyelamatkan diri.

Gadis itu kini tentulah diinterogasi oleh Polisi Militer tentara Amerika. Menanyakan siapa yang telah membunuh kedua serdadu Amerika itu.

“Sumimasen, anata wa Indonesia-jin desu” (Maaf, apakah anda orang Indonesia) tiba-tiba dia dikejutkan oleh pertanyaan gadis itu.

“Hai….watashi wa Indonesia-jin desu” (Ya, saya orang Indonesia) jawabnya. “Sudah berapa lama di Jepang?”

“Baru tiga bulan” “Disini tinggal sendiri?” “Ya..”

Dan pembicaraan mereka terputus takala makanan yang mereka pesan diletakkan di atas meja. Mereka makan dengan lahap. Selesai makan, Si Bungsu membayar makanan tersebut. Dan mereka lalu keluar dari kedai kecil itu.

“Anata no uchi wa doko ni arimasu ka” (Rumah anda dimana?) tanyanya pada Hannako. Gadis itu menunduk lemah.

“Saya tak punya rumah. Tak punya orang tua….” Jawabnya lirih.

“Jangan sedih. Mari kita pergi….” Si Bungsu cepat memutuskan kesedihan gadis itu.

“Saya belum tahu nama anda, nama saya Hanako” gadis itu berkata sambil bergegas mengikuti langkahnya.

“Hannako, hmm itu artinya Bunga dalam bahasa Jepang bukan?” “Hai. Tapi siapa nama anda?”

“Bungsu…” “Bungsu…?” “Hai..”

“Apakah itu nama bunga atau benda lain?”

“Tidak. Saya anak yang paling kecil dalam keluarga saya. Dan anak yang paling kecil dikampung saya disebut Bungsu”

Mereka berjalan menyelusuri jalan raya tanpa tujuan. Menjelang tengah hari, mereka berhenti di taman Korakuen. Korakuen adalah sebuah taman ditengah kota. Pohon-pohon dan bunga-bunga sudah gundul.

Mereka duduk di kursi kayu. Sedikit cahaya matahari di musim gugur ini membuat suasana cukup hangat.

Puluhan lelaki dan perempuan kelihatan duduk atau berjalan di taman itu. Ada yang duduk membaca.

Ada yang merajut sambil makan roti goreng.

Sambil duduk, Hannako menceritakan betapa dia melarikan diri dari Kawabata. Yaitu salah seorang anggota Jakuza di daerah Shinjuku. Suatu daerah dipinggir barat Tokyo.

Dia teringat ke dalam perlakuan yang tak senonoh takkala dia berusaha mencari makanan bagi adiknya. Kawabata yang baik itu membawanya ke rumahnya. Tapi di rumah itu yang dia terima bukan makanan. Melainkan obat bius yang membuat dia tertidur.

Dan begitu dia sadar dari bius, dia mendapati dirinya sudah tak suci lagi. Peristiwa itu berulang terus.

Sementara usahanya untuk mengetahui dimana adiknya berada tak pernah berhasil.

Dia tak diperkenankan untuk keluar. Dan disanalah dia, di rumah Kawabata, di daerah Shinjuku terkurung selama dua bulan. Dia dijadikan pemuas nafsu lelaki jahanam itu. Dan malam tadi dia berhasil melarikan diri takkala di rumah itu diadakan pesta semalam suntuk. Dikala isi rumah sedang mabuk kepayang, ada yang bergumul dengan perempuan-perempuan dalam kamar, Hannako mempergunakan kesempatan itu untuk kabur.

Tak dinyana dia bertemu lagi dengan teman-teman Kawabata di dalam terowongan di daerah Yotsuya pagi tadi.

“Untung saya tidur dekat Bungsu-san (Kak Bungsu) malam tadi…” kata gadis itu perlahan. Dan matanya memandang pada “tongkat” ditangan Si Bungsu. Dari tongkat itu, matanya menatap pada wajah anak muda tersebut.

“Bungsu-san sangat mahir mempergunakan samurai. Dimana Bungsu-san belajar? Apakah di Indonesia juga ada orang belajar samurai seperti di Jepang ini?”

Si Bungsu hanya tersenyum. Dia sudah akan bercerita ketika dari jauh dia lihat seseorang bersama dua kanak-kanak lelaki.

“Tunggu sebentar di sini…” katanya sambil berdiri dari duduk. “Kenjiii….Kenji-san…! Himbaunya. Lelaki yang dia panggil itu menoleh.

“Bungsu-san…” balasnya. Dan mereka saling berlarian melintas padang rumput. Kemudian saling peluk. “Bungsu-san, Bungsu-san saya telah temukan adik lelaki saya. Ini dia…” Kenji dengan terharu

memperkenalkan kanak-kanak itu pada Bungsu. Kanak-kanak itu membungkuk memberi hormat padanya.

Si Bungsu jadi terharu.

“Syukurlah kalian telah berkumpul. Bagaimana dengan adikmu yang besar?” Kenji menarik nafas berat. Wajahnya amat berduka.

“Saya tak tahu bagaimana nasibnya Bungsu-san. Barangkali dia telah jadi korban keganasan lelaki. Negeri ini telah berobah jadi neraka. Dahulu penduduk Jepang adalah orang-orang yang sopan santun. Tapi selama kita disini kau lihat sendiri, semua berobah jadi serigala… adik perempuanku itu…” Suaranya terputus ketika dari belakang Si Bungsu dia lihat seorang gadis tegak dari bangku yang tadi juga diduduki Si Bungsu.

Gadis itu berjalan dengan terkejut ke arah mereka.

“Hanako….Hanako…” suara Kenji mengambang. Si Bungsu menoleh. Dan dia melihat Hannako yang dia tolong itu berjalan mendekati mereka.

“Ani…”(Abang…) himbau gadis itu. “Imoto…” (abang….) himbau Kenji.

Dan tiba-tiba mereka saling peluk. Mereka berpelukan bertiga beradik. Saling peluk dalam tangis yang penuh haru.

Tanpa dapat ditahan, Si Bungsu merasa matanya basah. Merasa pipinya basah. Merasa hatinya basah. “Bungsu-san….inilah adik saya yang tua, Hanako…” Kenji berkata diantara air matanya yang mengalir

turun.

“Bungsu-san…inilah abang saya, dan ini adik-adik yang saya ceritakan tadi….” Hannako juga berkata.

Dan baik Kenji maupun Hannako saling heran. Kenji merasa heran, sebab kenapa adiknya ini bisa kenal dengan Bungsu. Sebaliknya Hannako juga heran, kenapa abangnya kenal pula dengan Si Bungsu?

Si Bungsu benar-benar tak bisa bersuara. Dia seperti berkumpul lagi dengan kakak dan keluarganya. Dia dapat merasakan kebahagian Kenji dan Hannako.

Karenanya dia hanya mengangguk berkali-kali. Menghapus airmatanya yang mengalir dipipi.

“Aku telah mengenal abangmu, Hanako. Kami telah berkenalan sejak di kapal. Dan aku telah mengenal adikmu, Kenji. Kami berkenalan malam tadi. Di terowongan di daerah Yotsuya…”

Mereka lalu mencari tempat duduk ditaman itu. Dan Hannako lalu menceritakan pada Kenji bagaimana nasibnya di rumah Kawabata. Dan bagaimana dia dibela Si Bungsu pagi tadi.

Kenji tiba-tiba berlutut didepan Si Bungsu. Dia bersujud ditanah seperti halnya kaum Yudoka memberi hormat. Di antara air mata dan isaknya yang tertahan, terdengar suaranya bergetar mengucapkan terimakasih.

“Domo arigato gozaimu Bungsu-san. Domo arigato gozaimasu…”

Si Bungsu jadi kaget melihat sikap Kenji ini. Dia cepat-cepat memegang bahu Kenji. Kemudian membawanya berdiri.

“Saya gembira kalian berkumpul Kenji. Saya gembira. Bersyukurlah pada Tuhan…” dia berkata penuh

haru.

--000--

Kenji adalah seorang pemuda Jepang di kapal Ichi Maru yang ditompangi Si Bungsu dari Singapura ke Tokyo. Kapal itu adalah kapal Jepang. Tapi orang Jepang yang bekerja disana hanya empat orang.

Tiga orang terdiri dari Nahkoda, Mualim I, kepala Bahagian Mesin. Sedangkan Kenji adalah Stirman II dibawah Mualim II. Selain mereka berempat, awak kapal yang lain terdiri dari orang Inggris, Amerika dan cina. Kapal Jepang itu dicarter oleh Perusahaan Inggris untuk mengangkut barang-barang dari Inggris ke

Jepang melalui Singapura setelah berakhirnya perang Dunia II. Di kapal itulah mereka berkenalan.

Kenji tahu bahwa tentara Jepang menjajah Indonesia.

“Tentara yang menjajah negerimu Bungsu-san. Bukan bangsa Jepang. Bangsa kami bukan bangsa Agresor. Saya berani bertaruh, semua penduduk Sipil Jepang tak setuju dengan ekspansi tentara Jepang ke negeri-negeri Asia. Tapi penduduk sipil tak punya daya apa-apa bila bedil dan mesiu telah berbunyi…”

Demikian Kenji pernah ngomong disuatu saat di kapal pada Si Bungsu. dia termasuk pemuda-pemuda Jepang yang secara diam-diam menentang penjajahan yang dilakukan pihak militer.

Si Bungsu hanya menarik nafas panjang. Kenji adalah perwira muda di kapal itu yang usianya tak jauh beda dengan Si Bungsu. Barangkali mereka sebaya.

Perkenalan mereka bermula ketika Si Bungsu mencari kamar di kapal itu. Karena kapal itu bukan kapal penumpang, melainkan kapal barang maka para penumpang biasanya menempati dek atau kalau akan menyewa kamar, mereka menyewa kamar para awak kapal.

Si Bungsu menempati sebuah kamar. Dan kamar itu adalah kamar Kenji.

Dia menyewa kamar tersebut pada Kenji. Sudah lazim bagi awak kapal menyewakan kamarnya kepada para penumpang untuk sekedar penambah uang rokok.

Persahabatan mereka terjalin secara perlahan tapi akrab. Dari Si Bungsu Kenji banyak mengenal Indonesia. Selain cerita tentang Indonesia, dia juga belajar bahasa Indonesia dari Si Bungsu. “Kapal kami sudah dua kali berlabuh di Priok dan sekali di Surabaya. Saya sulit turun ke darat karena tak mengerti bahasa Indonesia” kata Kenji.

Dia giat belajar selama pelayaran. Dan sebagai “tukarannya” Kenji mengajarkan pula bahasa Jepang pada Si Bungsu. Ternyata kedua mereka maju dengan pesat dalam pelajaran masing-masing.

“Untuk apa kau datang ke Jepang?” suatu saat ketika kapal mereka akan merapat di pelabuhan Tokyo, Kenji bertanya.

Si Bungsu menatap Kenji sesaat. Kemudian melemparkan pandangannya ke pulau Honshu yang kelihatan sayup-sayup dibalik kabut.

Pulau honshu adalah pulau terbesar diantara kepulauan di negara Jepang. Di pulau Honshu terletak kota-kota besar Jepang seperti Tokyo, Kyoto, Nagoya dan Osaka.

Pandangannya seperti menembus kabut. Wajahnya datar seperti danau tak beriak sedikitpun. Ada api yang marak di dadanya. Ada teluk dendam yang alangkah dalamnya dan alangkah berpiuhnya direlung hatinya. Namun semuanya tak berbekas keluar.

Dan Kenji seperti dapat merasakan semuanya. Seperti mengetahui ada sesuatu yang bergelora dan berbuih di hati sahabatnya ini. Dia merasakannya, meski tak tahu dengan pasti.

“Tak usah kau katakan Bungsu-san. Saya hanya mendoakan, agar apa yang kau cari, kau temui. Dan saya berdoa agar engkau bisa kembali ke negerimu dengan selamat dan dengan perasaan yang tenteram….” Kenji akhirnya berkata.

“Terimakasih. Kenji-san…” katanya perlahan. Dan apa maksud kedatangannya ke Jepang ini, semenjak pertanyaan pertama itu, tak lagi pernah diungkit oleh Kenji.

Namun kini, setelah dia bertemu dengan adiknya Hannako, setelah dia ketahui bahwa adiknya diselamatkan oleh Si Bungsu dengan samurai, Kenji kembali ingin mengetahui apa maksud kedatangan anak muda ini.

Mereka kini tinggal serumah. Kenji dengan ketiga adiknya. Dan Si Bungsu. Kenji mempunyai uang yang cukup banyak dari penghasilan menjadi Stirman di kapal Ichi Maru selama 5 tahun. Dengan uang itu, dia membeli sebuah rumah di jalan Uchibori. Rumah dengan taman dibelakangnya.

Rumah itu tak begitu besar. Namun untuk mereka rumah itu sudah lebih dari cukup. Di bahagian depan ada dua pohon Sakura yang kini tengah gundul. Dan untuk kamar Si Bungsu, Hannako memilihkan kamar depan yang bagus.

Namun Si Bungsu meminta kamar yang di belakang. Soal kamar ini sempat membuat Hannako jadi merajuk. Soalnya dia telah memilihkan dua kamar terbaik untuk kedua pemuda itu. Kamar pertama untuk abangnya Kenji. Berada di bahagian kanan jika mula masuk ke rumah tersebut.

Kamar kedua yang dia siapkan secara baik dan indah adalah kamar yang sebelah kiri. Berhadapan dengan kamar abangnya. Dan kamar itu dia atur khusus untuk Si Bungsu.

Begitu Si Bungsu menolak kamar itu dan justru meminta kamar yang di belakang, Hannako berlinang matanya. Si Bungsu jadi kaget. Kenji hanya bisa angkat bahu melihat perangai adiknya itu.

“Sumimasen Hanako-san, saya tak bermaksud melukai hatimu. Saya memilih kamar di belakang hanya karena ingin dekat dengan taman. Saya ingin keluar masuk ke taman tanpa mengganggu kalian”

Untunglah kejadian itu tak berlarut-larut. Hanako akhirnya memindahkan peralatan di kamar depan itu ke kamar yang diminta Si Bungsu.

“Dozo okamainaku Hanako-san” (Jangan terlalu bersusah payah Hanako) katanya takkala melihat betapa Hanako sibuk menyiapkan kamarnya. Hannako hanya tersenyum. Dan Si Bungsu harus mengakui bahwa Hannako adalah salah satu diantara gadis Jepang yang cantik. Dia teringat pada gadis Jepang sombong yang ditanyanya tak mau menjawab di daerah Ginza dahulu. Yang kemudian bertemu dengannya di penginapan Asakusa dibawa oleh tentara Amerika. Yang telah melibatkan dirinya dalam perkelahian dengan letnan tersebut.

Kemana gadis itu? Pikirnya. Apakah gadis itu selamat atau tidak? Dia memang tak mengetahui apa yang terjadi setelah itu.

---000--- Gadis itu seorang mahasiswi, malam itu diangkut ke pusat bala tentara Amerika dijalan Hibiya di pusat kota. Dia diinterogasi. Siapa yang telah membunuh kedua tentara Amerika itu. Gadis itu membayangkan kedua tentara Amerika. Gadis itu membayangkan lagi wajah anak muda tersebut. Mula pertama dia masuk ke hotel itu dia segera ingat anak muda itu adalah anak muda yang bertanya padanya di daerah Ginza dua hari sebelumnya.

Dan dia ingat betul, bahwa dia merasa benci pada anak muda asing itu. Anak muda itu pastilah orang Philipina atau Indonesia. Dan kedua bangsa itu dia benci karena perang dengan kedua bangsa itu telah memisahkan dia dengan ayahnya.

“Kau kenal siapa lelaki yang membunuh Letnan itu?” Polisi Militer Amerika itu bertanya kembali. Gadis itu mengangguk.

“Siapa dia?”

“Dia membunuhnya dengan samurai” gadis itu berkata pasti.

“Ya, kami tahu itu. Melihat luka tangan dan perut serta leher yang robek itu, pastilah karena samurai.

Hanya siapa lelaki itu?”

Gadis itu membayangkan lagi wajah anak muda tersebut. Seorang anak muda yang gagah sebenarnya.

Dan dia masih ingat betapa disaat terakhir dia akan diperkosa letnan itu, pintu terbuka.

Anak muda itu tegak dengan kaki terpentang dipintu. “Tolonglah saya…” katanya.

Anak muda itu menatap penuh kebencian pada tentara Amerika itu. Dan dia dapat melihat bahwa dibalik sikapnya yang diam dan lemah lembut itu, tersimpan api yang amat berbahaya.

Dan bahaya itu segera menampakkan diri takkala letnan itu menerkamnya. Kaki anak muda itu terangkat, dan letnan itu meliuk. Lalu terjadilah hal yang diluar dugaanya.

Ketika letnan itu mengangkat pistol, anak muda itu bergerak amat cepat. Tahu-tahu tubuh letnan itu telah cabik-cabik dimakan samurai! Dimakan samurai! Bayangkan, adakah lelaki asing yang mahir mempergunakan samurai?

“Katakan siapa lelaki itu!” Polisi Militer Amerika itu kembali bertanya.

“Dia seorang Jepang bertubuh gemuk dan pendek..” gadis itu akhirnya memberitahukan ciri-ciri orang yang membunuh letnan tersebut.

“Pendek dan gemuk?” ulang Polisi Militer itu. “Ya..”

Polisi Militer itu mencatat dengan steno keterangan tersebut. “Rambutnya?”

Gadis itu membayangkan rambut anak muda yang telah menolongnya. Lebat, hitam, berobak dan agak gondrong.

“Rambutnya digunting pendek..’ katanya. “Digunting pendek?”

“Ya, pendek sekali, seperti sikat sepatu…” katanya pasti. Dan Polisi Militer itu menulis lagi dalam proses verbalnya. Menulis dengan penuh bayangan keyakinan bahwa yang membantai kedua serdadu Amerika itu adalah seorang lelaki Jepang dengan tubuh gemuk, pendek, buncit, bermata sipit, berambut pendek seperti jamaknya kaum samurai yang berwajah bengis di negeri ini.

“Kau kenal siapa dia?”

Gadis itu menggeleng. Kali ini dia memang tak berdusta seperti keterangannya terdahulu. Dia memang tak kenal sedikitpun dengan pemuda yang menolongnya itu. Dan dia menyesal kenapa tak mengenal sebelumnya. Kemana dia sekarang? Pikirnya sambil membayangkan orang asing bersamurai itu.

“Waktu nona masuk, ada seorang anak muda asing dikamar itu. Nah, waktu kejadian ini dimana dia?” Gadis itu berdebar. Dia khawatir kalau-kalau anak muda itu tertangkap karena keterangannya.

“Saya tak tahu dimana dia. Tapi menurut hemat saya dia melarikan diri begitu mendengar tembakan…” “Ya. Ya. Cocok dengan keterangan pemilik penginapan. Anak muda itu pasti telah melarikan diri karena

takut..”

Dan pemeriksaan terhadap gadis itu berakhir.

Dia dilepas. Dan gadis itu kembali menjalani tempat dimana dia pernah bertemu dengan anak muda itu. Dia berharap bisa bertemu untuk mengucapkan terimakasih. Untuk mengucapkan maaf karena tak mengacuhkan pertanyaannya ketika di Ginza Dori itu.

Namun mencari seorang lelaki diantara jutaan manusia di kota Tokyo bukanlah suatu pekerjaan enteng.

Dia sia-sia mencarinya. ---000---

Di salah satu rumah di Uchibori Dori, dimalam yang sepi, seseorang kelihatan duduk di batu layah ditaman belakang.

Musim gugur dibulan-bulan Kugatsu, Jugatsu dan Juichigatsu (september, oktober dan nopember) telah berlalu. Kini negeri Jepang memasuki musim dingin di bulan Junigatsu (desember)

Salju sudah menyelimuti bumi. Musim dingin bersalju ini akan berakhir pada bulan februari. Makin lama udara makin dingin menusuk. Semua orang menggenakan pakaian tebal yang terbuat dari bulu atau wool. Atau memakai kimono yang berlapis.

Bagi pendatang baru ke negeri ini, musim gugur dan musim dingin adalah musim yang paling menyiksa.

Udara dingin benar-benar mencucuk ke tulang sum-sum. Namun tidak demikian halnya dengan Si Bungsu.

Kelaparan, pembantaian, udara dingin dan maut…ah dia telah melewatinya semua.

Pembantaian mana yang tidak dia alami selama dikampungnya? Bukankah tubuhnya penuh rajahan bekas dibantai Saburo ketika dia coba melarikan diri dari kampungnya sesaat setelah keluarganya dibantai perwira itu?

Bukankah jari jemarinya, dan tubuhnya juga dicencang oleh Kempetai di dalam terowongan rahasia di bawah Bukittinggi ketika dia ditangkap bersama seorang pejuang bawah tanah di kota itu?

Kelaparan dan udara dingin mana pula yang tak dia rasakan ketika bertarak di gunung Sago dahulu?

Memang tak ada salju disana. Tapi dinginnya udara bila musim hujan atau malam hari, lebih parah dari pada selusin musim salju.

Apalagi keadaannya waktu itu dalam sakit parah. Dan saat itu bukankah dia juga harus mempertahankan hidupnya dari dicabik-cabik binatang buas yang berkuasa mutlak di gunung yang tak pernah dijamah manusia itu?

Ternyata dia turun dari gunung itu dalam keadaan hidup. Justru itulah musim dingin di Jepang ini tak ada pengaruh terhadap dirinya.

Selain dirinya telah terlatih hidup dalam kesulitan yang paling parah sekalipun, dia juga menguasai ilmu pernafasan Silat Tuo yang diajarkan ayahnya dahulu. Dia memang tak mengerti silat, tapi cara pernafasannya dia kuasai setelah berlatih sendiri di gunung Sago.

Dia berlatih dengan mengingat-ingat petunjuk ayahnya dahulu. Berkat keras hati, dia ternyata berhasil.

Dan ilmu pernafasan itu ternyata sangat membantu dalam cuaca dingin begini.

Orang Jepang juga memiliki ilmu pernafasan yang bagus dalam ilmu beladirinya. Ilmu pernafasan itu bernama San Chin. Tapi ilmu pernafasan beladiri Jepang ini tak sebaik ilmu pernafasan Silek tuo yang diturunkan ayahnya.

Ilmu pernafasan San Chin hanyalah mengatur pernafasan agar tak cepat lelah. Agar kekuatan bisa disimpan dan digunakan secara efisien.

Sementara ilmu pernafasan Silek Tuo, selain berfungsi sama dengan San Chin, juga berfungsi untuk mempercepat aliran darah. Mempercepat aliran darah berarti membangkitkan daya bakar dalam tubuh. Membangkitkan daya bakar dalam tubuh berarti suatu pemanasan dari dalam.

Dengan mengatur pernafasan mengikuti petunjuk Silek tuo, tubuhnya bisa bertahan tetap panas dalam dingin dipenuhi salju itu!

Dan kini dimusim dingin bersalju ini, dimalam yang sepi, dia duduk diam mematung di atas batu layah dibelakang rumah.

Duduk dengan dada telanjang. Memejamkan mata. Membusungkan dada. Menghirup nafas panjang sekali. Lagi dan lagi. Sampai dadanya menggelembung dipenuhi udara. Kemudian dia keluarkan sedikit demi sedikit. Dia tahan separoh. Dia tarik lagi penuh-penuh.

Demikian dia lakukan dengan teratur dan dengan tekun. Dan tubuhnya berpeluh. Tubuh atasnya yang telanjang berpeluh dalam siraman gerimis salju. Dan perlahan kelihatan asap tipis mengepul dari tubuhnya. Asap tipis yang berasal dari salju yang menguap begitu menyentuh tubuhnya yang berpeluh.

Benar-benar latihan pernafasan yang amat sempurna. Tanpa dia sadari, ada dua pasang mata yang diam- diam memperhatikan latihannya ditengah malam buta itu.

Yang pertama adalah mata Kenji. Pemuda ini makin hari makin ingin tahu, untuk apa Si Bungsu datang ke negerinya. Dia merasa ada seseorang yang dicari anak muda itu. Seseorang yang ingin dia temui untuk bunuh. Dia melihat dendam yang alangkah dahsyatnya terpendam dibalik matanya yang tenang dan sayu. Anak muda ini datang untuk membalas dendam. Dan pastilah dendam terhadap seorang tentara Jepang yang telah mencelakai keluarganya. Demikian pikiran Kenji terhadap sahabatnya ini.

Dia sudah merasa bersaudara dengan orang Indonesia yang satu ini. Dan dia merasa kagum akan ketahanan tubuh dan latihan khas yang dilakukan anak muda itu. Diam-diam dia memperhatikan terus latihan Si Bungsu dari kamarnya. Orang kedua yang memperhatikannya adalah Hannako. Adik Kenji. Gadis ini merasa berhutang budi pada pertolongan yang diberikan Si Bungsu.

Dan tanpa dapat dia cegah, diam-diam dia harus tunduk pada takdir, bahwa dia mencintai pemuda asing ini. Sikapnya yang pendiam, sikapnya yang jujur, rendah hati dan lemah lembut membuat hati Hannako benar- benar terpaut.

Namun dia adalah gadis Jepang yang umumnya amat pemalu. Amat menjunjung rasa kesopanan. Gadis- gadis Jepang tak begitu saja mau menunjukkan rasa sayang pada lelaki.

Dan keadaan dirinya yang tak lagi suci menyebabkan gadis ini “tahu diri”. Dia tahu setiap lelaki menginginkan kesucian calon isterinya. Dan Hannako akhirnya hanya bisa menghapus air mata jika teringat betapa dirinya telah ternoda berkali-kali oleh jahanam Kawabata anggota Jakuza terkutuk itu.

--000--

Kawabata, lelaki jahanam anggota Jakuza itu ternyata memang tak pernah melupakan Hannako. Gadis cantik itu sangat merangsang birahinya. Dan sejak gadis itu melarikan diri dari rumahnya, dia telah menyebar beberapa anak buahnya untuk mencari jejak gadis tersebut.

Dan bagi Jakuza tak sulit mencari jejak seseorang diseluruh Jepang. Negeri ini berada dalam cengkraman mereka. Mereka mempunyai jaringan di seluruh kota dan desa. Organisasi mereka benar-benar hebat. Mengalahkan organisasi Kepolisian Jepang.

Itulah sebabnya dalam waktu yang tak begitu lama jejak Hannako segera diketahui. Mereka mengetahui bahwa Hannako tinggal bersama abangnya. Bekas awak kapal Ichi Maru. Tinggal di sebuah rumah di jalan Uchibori. Dan mereka lalu mematai-matai rumah itu.

Siang itu Si Bungsu sedang duduk di beranda depan ketika dari seberang sana dia dengar suara-suara bentakan. Berkali-kali dan berulang-ulang.

Suara itu sudah beberapa hari ini dia dengar dan berasal dari sebuah gedung besar. Dia melihat banyak orang berdatangan. Umumnya anak-anak muda. Tapi selain anak muda juga orang-orang tua.

“Hanako-san, asoko ni nani ga arimasu ka” (dik Hanako, disana ada apa?) tanyanya pada Hannako sambil menunjuk ke rumah besar di seberang sana. Hannako menoleh ke arah yang ditunjuk Si Bungsu. Ke gedung besar jauh di seberang sana.

“Itu gedung Budokan…” “Budokan?”

“Ya”

“Tempat apa itu?”

“Disana tempat orang-orang berlatih Judo. Bang Kenji dahulu juga berlatih Judo disana” “dia belajar Judo disana?”

“Ya. Dia malah sudah menjadi Sensei dengan tingkat Dan III sebelum berangkat jadi pelaut” “Apa itu tingkat Dan III?”

“Pemegang Dan adalah Pemegang Sabuk Hitam. Dimulai dari Dan I setelah naik dari sabuk coklat” Si Bungsu manggut-manggut.

“Abang juga seorang Karateka tingkat Dan II, pergilah kesana, abang sedang latihan disana” Hannako berkata.

“Dia disana?”

“Ya, begitu katanya tadi”

Si Bungsu jadi tertarik. Dia sudah melihat betapa para serdadu Jepang di Minangkabau dahulu berkelahi dengan tangguh dengan mengandalkan Karate atau Judo. Dia sangat mengaguminya. Karenanya dia ingin melihat tempat latihan itu.

Dia pernah dengar nama Budokan. Yaitu pusat latihan Judo dan Karate di Tokyo. Kiranya inilah gedungnya. ini. tipis. “Akan ke sana?” Hanako bertanya. Si Bungsu mengangguk.

“Akan saya suruh Naruito mengantarkan. Oto-san antarkan Bungsu-san ke Budokan…”

Naruito muncul. Tersenyum pada Si Bungsu. Si Bungsu membalas senyum adik Kenji yang paling kecil Kemudian mereka berangkat. Melangkah dihalaman rumah mereka yang terbuat dari batu bulat-bulat

Kemudian menusuri jalan Uchibori. Lalu berbelok ke kanan. Melalui jalan selebar dua meter menuju ke gedung Budokan itu. Jalan yang terbuat dari semen.

“Budokan ini semacam gedung serba guna….” Naruito bercerita, ”disini sering diadakan pertandingan Judo, Karate atau pementasan besar lainnya. Ruang latihan Karate ada disamping kanan. Ruang latihan Judo disudut kiri. Nah, kita akan ke ruang utama…”

“Kenapa harus ke sana. Bukankah kita melihat Kenji?’

“Ya, Kenji-san pasti ada di ruang utama. Kini ada ujian kenaikan tingkat bagi pemegang Sabuk Hitam…”

Si Bungsu jadi sangat tertarik. Mereka memasuki gedung itu dari arah Selatan. Yaitu dari pintu utamanya.

Dan disaat mereka masuk, disaat itu pula nama Kenji dipanggil. Di ruang tengah kelihatan ada sekitar enam puluh Karateka pemegang Sabuk Hitam. Duduk berjejer dengan diam.

Di seberang mereka kelihatan benda-benda tersusun.

“Abang akan ujian memecah benda-benda keras…” Naruito bicara perlahan. Kenji nampak tegak di tengah. Membungkuk ke arah Utara, dimana disana ada seorang lelaki gemuk duduk di lantai Tatami dengan bendera Jepang besar dilatar belakangnya.

Terdengar aba-aba. Dan Kenji menuju ke susunan batu genteng setinggi pinggang.

Bungsu menatap dengan tegang. Kenji melakukan konsentrasi. Dan memukul genteng itu perlahan sekali. Lalu mengangkat tangannya. Ada tiga kali hal itu dia lakukan, seperti memukul tapi hanya meletakkan tangannya saja.

Kemudian dia mengangkat tangannya kembali kesisi pinggang. Dan seiring dengan teriakan yang mengguntur pukulannya meluncur keras ke bawah. Terdengar suara berderam. Dan genteng setinggi pinggang itu ambruk semua!

Si Bungsu kaget melihat kekuatan ini. Lalu disusul dengan ujian pemecahan benda keras lainnya.

Empat orang Karateka Sabuk Coklat maju. Di tangan mereka terpegang papan setebal dua jari dengan ukuran empat segi.

Mereka membuat lingkaran disekitar Kenji.

Kenji tegak ditengah dan kembali memusatkan konsentrasi. Ketika aba-aba “Hajime” (mulai) terdengar, dengan cepat sekali tangan dan kakinya bekerja menghantam keempat papan yang diatur dan dipegang oleh keempat karateka itu.

Yang pertama adalah pukulan tangan kanan lurus ke papan yang seukuran dada. Papan tebal itu pecah dua. Gerakan berikutnya adalah menendang melingkar ke papan yang ada di sebelah kiri yang ditaruh setinggi kepala.

Papan itu kena tendang dengan bantalan dipangkal jari kaki persis ditengah. Dan patah dua! Masih dalam gerakan yang sama, Kenji berputar menghantam papan ditangan Karateka yang ketiga. Papan itu dia hantam dengan ujung-ujung keempat jari kanannya. Persisi seperti orang menikam sesuatu.

Papan yang ditaruh setinggi dada itu anjlok! Pecah dua. Dan dengan pekikan kuat, tubuhnya melambung dan tendangan sambil melompat yang dia lakukan menghantam papan ke empat.

Papan keempat ini dipegang dengan kuat dan ditaruh jauh di atas kepala karateka yang keempat. Untuk mencapainya dengan tendangan, Kenji harus melompat terlebih dahulu.

Tapi papan itu kembali hancur dimakan kakinya.

Tak ada tepuk tangan. Ujian ini dianggap hal yang lumrah saja. Para Karateka yang puluhan jumlahnya itu yang kesemuanya bersabuk hitam, pada memandang dengan wajah tenang.

Kenji menarik nafas dan menghapus peluh.

Kini tiba gilirannya ujian Kumite bebas. Yaitu ujian perkelahian.

Karateka yang telah menempuh ujian terdahulu maju ke depan. Mereka saling berhadapan. Seorang Karatekan lain maju ke tengah. Nampaknya dia adalah salah seorang sensei (pelatih)nya.

Dia memerintahkan memberi hormat.

Kemudian memberi aba-aba untuk mulai. Mereka mencari posisi. Saling mengintai. Tiba-tiba lawan Kenji membuka serangan dengan mengirimkan sebuah tendangan kilat ke lambung Kenji. Kenji menyilangkan tangannya ke bawah. Sebuah tendangan Mae Geri ditangkis dengan tangkisan Gedan Juji Uke yang menyilang.

Namun disaat itu pula pukulan tangan kanan lawan Keji meluncur dengan cepat sekali.

“Waza ari Oui-tsuki!” instruktur itu memberi isyarat kemenangan ke arah lawan Kenji. Naruito adik Kenji menahan nafas.

Kedua orang itu saling intai lagi.

Saling maju, saling mundur, saling gertak. Suatu saat kaki kanan Kenji menyapu kaki kiri lawannya yang ada di depan. Teknik sapuan Ashi Barai yang sempurna.

Keseimbangan lawannya lenyap, tubuh lawannya miring ke kiri. Dan saat itulah pukulan kanan Kenji meluncur dengan cepat ke arah pelipis kiri lawannya.

Terdengar suara pukulan mendarat. Lawan Kenji terpekik dan tubuhnya terbanting ke lantai. Si Bungsu menarik nafas lega. Hampir saja dia bertepuk tangan. Namun di bawah sana terdengar bentakan guru besar yang duduk di depan bendera Jepang itu.

“Hansoku mate!” katanya sambil menunjuk pada Kenji. Kenji berlutut dan memberi hormat dalam- dalam. Lawannya yang tergolek dengan mulut berdarah itu digotong oleh karateka-karateka yang lain.

“Abang dihukum…” Naruito berkata perlahan. “Dihukum..?” tanya Si Bungsu kaget.

“Ya, dia melakukan kesalahan yang berat. Mencederai lawannya” “Mencederai? Bukankah pukulannya masuk dengan telak?”

“Ya. Telak dan tak terkontrol. Itu terlarang dalam karate. Setiap karateka harus mampu mengontrol pukulannya. Kontrol pukulan sebagai simbol dari kontrol diri. Orang yang tak bisa mengontrol pukulan, tandanya tak mampu pula mengontrol diri di luaran. Orang yang begini berbahaya bila tak diawasi. Sebab di negeri ini ada peraturan, setiap pemegang sabuk hitam Karateka disamakan dengan seseorang yang memakai senjata tajam…”

Si Bungsu tak dapat mengerti keseluruhan ucapan Naruito. Dan ketika di pintu keluar dia bertemu dengan Kenji, dia lihat temannya itu tersenyum kecut.

“Saya kurang latihan….” Kenji berkata sambil menghapus peluh diwajahnya.

“Tapi engkau sanggup memecah genteng, memecah empat papan penguji, dan memukul roboh lawanmu Kenji-san” Si Bungsu berkata mengerti.

“Ya, saya lulus dalam ujian memecah benda-benda keras. Tapi tak lulus dalam ujian Kumite. Kau ingat peristiwa saya dipukul penumpang di bawah kerek di kapal dulu Bungsu-san?”

Si Bungsu tentu segera saja ingat peristiwa itu. “Ya, saya ingat, kenapa?”

“Kau tahu Bungsu-san, kalau saya mau, waktu itu saya bisa menghancurkan kepalanya. Dengan sekali genjot tidak hanya giginya yang rontok, tapi nyawanya juga bisa rontok. Namun saya telah diajar di perguruan untuk tidak melakukan kekerasan begitu Bungsu-san. Percuma saya belajar dan membaca sumpah perguruan selama bertahun-tahun kalau saya tak bisa menguasai diri saya…”

“Tapi orang itu terlalu kurang ajar…”

“Ya. Dan apakah kekurang ajarannya itu harus saya pergunakan untuk menghancurkan dirinya? Orang memang menghendaki saya melakukan kekerasan. Tapi perguruan tak menghendaki demikian Bungsu-san…” “Saya tak mengerti apa tujuan perguruanmu Kenji-san. Kalau untuk membela diri saja kepandaian yang

kita miliki tak bisa digunakan saya rasa percuma saja belajar payah-payah..”

“Ya pendapatmu tak salah Bungsu-san. Bahkan diantara murid-murid Karate dan Judo sendiripun pendapat begitu cukup banyak terdapat. Tapi, percayalah ada hal-hal yang tak dapat saya tuturkan dengan kalimat. Betapa sumpah perguruan itu mengikat kami para senior. Ada hal-hal yang mendasar dan sangat hakiki, yang saya tak bisa mengutarakannya. Terkadang hal itu juga menyiksa saya. Saya toh manusia biasa juga bukan?

Sekali saat saya juga ingin menghantam lawan saya. Dan kalau itu sampai terjadi, lawan seperti yang di kapal itu, mungkin sekedar enam atau tujuh orang bisa saya libas semua. Namun hidup ini rupanya tidak hanya sekedar untuk memuaskan hati saja…ah, sudahlah Bungsu-san…”

Dan Si Bungsu memang jengkel untuk memikirkannya. Kenji ternyata memiliki kepandaian yang tak tanggung-tanggung. Tapi kenapa dia tak mau membalas kekasaran yang ditujukan padanya?

Dan tadi dalam ujian kenaikan tingkat, jelas pukulannya bisa merobohkan lawannya, lalu kenapa dia tak dinyatakan lulus. Malah dinyatakan dihukum? Bah, dia jadi malas memikirkannya. --000--

Bandit-bandit Jakuza bawahan Kawabata akhirnya mendapat kesempatan yang elok untuk membawa Hannako kembali ke rumah Kawabata.

Kesempatan itu datang ketika di rumahnya tinggal Hannako sendiri. Hannako memang dilarang Kenji untuk sering keluar. Dia tahu bahwa Jakuza adalah bandit-bandit yang tak kenal kasihan.

Hari itu kedua adiknya yang lelaki sedang pergi sekolah. Kenji pergi latihan ke Budokan. Sementara Si Bungsu telah lebih dahulu pergi ketempat yang tak dia sebutkan. Hannako tengah menyediakan makan tengah hari ketika pintu depan diketuk orang.

“Gomenkudasai…”(Assalamualaikum)

Hannako meletakkan piring, kemudian bergegas ke depan.

“Haai, Donata desu ka…”(ya, siapa?) katanya sambil membuka pintu.

Dan pintu itu didorong dengan kasar. Tiba-tiba saja tiga lelaki telah ada dalam rumah.

“Hmmm, Hanako. Kawabata mencarimu. Dia rindu sekali” salah seorang yang bertubuh gemuk bicara. Sementara matanya seperti akan menerkam tubuh Hannako. Hannako benar-benar kecut. Dia kenal tampang para lelaki ini.

“Jangan ganggu saya…” katanya sambil berusaha lari ke belakang.

Tapi seorang anggota Jakuza yang lain menghadangnya. Hannako sampai menubruk tubuh orang itu karena gugupnya. Dan orang itu memeluknya sambil tertawa menyeringai. Temannya yang dua lagi ikut tertawa.

Hannako meronta dan berhasil melepaskan diri.

“Ayo ikut kami baik-baik. Kawabata ingin bicara denganmu….”

“Jangan ganggu saya….” Hannako mulai menangis. Ketika anggota Jakuza itu saling pandang. Mata mereka seperti akan menjilati tubuh Hannako yang padat berisi. Kemudian mata mereka juga meneliti rumah itu.

“Hmmm, kalau kau tak mau pergi segera, kita boleh main-main dulu disini…”

Hannako kembali bermohon agar ketiga lelaki itu pergi. Dia khawatir kalau-kalau abangnya atau Si Bungsu kembali. Dia tahu lelaki-lelaki ini adalah orang yang tak kenal belas kasihan.

Namun dia salah duga kalau menyangka ketiga lelaki itu akan pergi begitu saja.

Yang seorang lalu menangkap tangan Hannako. Kemudian menyeretnya ke kamar Kenji. Hannako berteriak-teriak.

Musim salju di Tokyo adalah musim yang sepi. Namun demikian, daerah Uchibori Dori dimana rumah mereka berada tetap saja daerah yang cukup ramai.

Ada orang-orang yang lalu lalang di jalan. Dan mereka mendengar teriakan Hannako. Tapi Tokyo saat itu adalah Tokyo yang depresi. Tokyo yang kalut setelah kalah perang.

Orang lebih suka mengurus diri sendiri daripada mengurus urusan orang lain. Itulah sebabnya kenapa tak seorangpun yang datang melihat apa yang terjadi dirumah itu.

Beberapa orang menolehkan kepala. Tapi cepat-cepat melanjutkan perjalanan mereka. Mereka tak mau berurusan dengan Jakuza atau tentara Amerika. Bagi mereka, kedua badan itu sama saja menakutkannya.

Hannako memang bernasib malang. Lelaki yang menyeretnya ke kamar itu telah merobek pakaiannya.

Dan menampar Hannako berkali-kali hingga gadis itu terkulai lemah.

Dan dalam keadaan begitulah dia memuaskan nafsu jahanamnya! Cukup lama dia berbuat demikian.

Kemudian keluar kamar sambil menghapus peluh.

“Giliranku….” Kata yang bertubuh pendek sambil berjalan ke kamar. Dan saat itu di luar terdengar orang bernyanyi menuju ke rumah.

Suaranya terdengar berat dengan nada barito. “Watashi o wasurenaide kudasai…

Nakanaide kuda-sai

Ame ga futtemo ikimasu” (Jangan lupan saya Jangan menangis

Meskipun hujan turun, saya akan pergi)

Nyanyian itu adalah nyanyian pelaut-pelaut yang berangkat meninggalkan pelabuhan. Yang menyanyi adalah Kenji abang Hannako. Dia tiba di pintu depan yang tertutup.

Berhenti sejenak   di   bawah   teras   depan.   Membuka   mantel   tebalnya   yang   dipenuhi   salju.

Mengipaskannya.

“Hanako-saaan……” panggilnya sambil menyangkutkan mantelnya di paku di tiang depan. Kemudian dengan menjinjing Judoki (pakaian Judo) nya dia membuka pintu. Dia membuka pintu sambil hidungnya mencium bau harum masakan Hannako yang terletak di meja.

Siulnya berhenti. Dua lelaki berpotongan kasar yang tak dia kenal kelihatan duduk di meja dan di kursi.

Duduk dengan sikap yang benar-benar kurang ajar.

Kedua orang itu memandang padanya dengan sikap cengar cengir dan anggap enteng.

Kenji masih akan bersikap sopan bertanya siapa mereka, tapi pertanyaan itu dia lulur cepat takkala dari pintu yang terbuka dia lihat Hannako terlentang tanpa pakaian. Dan disampingnya berdiri seorang lelaki yang tengah menanggalkan celana.

“Hanako………!” serunya sambil menghambur. Namun secepat itu pula kedua lelaki itu memegangnya.

Dia meronta.

“Diamlah anak baik. Adikmu tak apa-apa. Dia justru tengah merasakan nikmatnya hidup….”

Kenji menggertakkan gigi. Dan tiba-tiba dengan sebuah bentakan nyaring, orang yang memegang tangan kanannya dia renggutkan. Dan dengan sebuah bantingan yang telak orang itu terhempas ke lantai.

Tak hanya berhenti disitu, tangan kanannya bergerak cepat pula. Dan yang tegak di kirinya kena bogem mentah yang tak tanggung-tanggung. Sebuah pukulan karate bernama Cudan tsuki menghajar gigi lelaki itu hingga rontok enam buah! Lelaki itu terlolong.

Lelaki yang dikamar mengurungkan niatnya. Menghambur ke luar kamar dan di tangannya memegang samurai pendek.

“Hai! Berani kau melawan Jakuza…” katanya sambil mengayunkan samurai pendek itu. Namun Kenji yang telah kalap melihat adiknya diperkosa menghantam tangan lelaki itu dengan sebuah tendangan Mae Geri yang telak.

Tangan orang itu berderak. Sikunya kena tendangan Kenji. Samurainya terlempar ke atas dan menancap di loteng. Dan serangan berikutnya merupakan sebuah tendangan Kikomi. Tendangan menyamping yang menghajar dada lelaki itu.

Dia tersurut dengan mata mendelik. Jantungnya pecah kena tendang. Dan maut merenggutnya segera! Namun saat itu pula sebuah tikaman samurai dari lelaki yang tadi dia banting tak bisa dihindarkan.

Lelaki itu, setelah merasakan sakit yang amat sangat, merangkak bangkit dan menghunus samurainya.

Dan ketika Kenji memusatkan amarah dan konsentrasinya pada lelaki yang keluar dari kamar adiknya itu saat itu pula tikaman tiba.

Rusuknya terasa pedih begitu samurai merobek kimono dan pakaian dalamnya. Darah menyembur.

Tikaman samurai itu cukup dalam dan memanjang.

Dia berbalik, dan samurai itu kembali menghajar perutnya. Dia terpekik. Perutnya robek dan darah menyembur lagi. Dia jatuh terduduk. Dan saat itu pintu terbuka.

Di pintu tegak Si Bungsu!

Kedua lelaki anggota Jakuza itu menoleh. Si Bungsu tegak dengan mulut terpaut rapat. Matanya bersinar seperti api yang siap membakar.

“Siapa kau!” desis lelaki yang memegang samurai itu. Si Bungsu menyapu ruangan itu dengan pandangan mata. Dan sekilas dia dapat menerka apa yang terjadi.

Teman anggota Jakuza yang pernah dia bunuh ketika menolong Hannako di terowongan daerah Yotsui dulu, kini datang lagi mencari Hannako.

Dan dari pintu kamar Kenji yang terbuka, dia melihat kaki sebatas paha Hannako terkulai ke bawah tempat tidur.

“Siapa kau!” Jepang bersamurai pendek dan bertubuh besar itu menggeram takkala melihat orang asing yang baru masuk itu tak mengindahkan pertanyaan pertamanya.

“Saya malaikat maut…..” desis Si Bungsu sambil maju perlahan. Di tangan kirinya samurainya terpegang kukuh. Sementara tangan kanannya tergantung lemah.

Anggota Jakuza itu ingin segera menyudahi pekerjaannya. Dia maju menyongsong Si Bungsu. “Bungsu-san…..larilah. selamatkan dirimu. Mereka anggota Jakuza….” Suara Kenji terdengar lemah memperingatkan. Namun peringatannya sudah terlambat. Karena saat itu anggota Jakuza itu telah menghayunkan samurainya membabat perut Si Bungsu.

Anggota Jakuza adalah bandit-bandit yang mahir dalam beladiri. Karate, Judo dan Aikido mereka kuasai dengan baik. Hanya saja tadi mereka dilumpuhkan oleh Kenji karena tingkatan kemahiran Kenji jauh lebih di atas mereka.

Tapi selain beladiri tangan kosong, mereka juga menguasai dengan sangat baik teknik samurai!

Dan samurai adalah sesuatu yang tak dipahami oleh Kenji. Dan kini anggota Jakuza itu tengah memancungkan samurai pendeknya ke perut Si Bungsu.

Namun seperti kecepatan cahaya, selarik sinar putih panjang memintas gerak samurai pendek itu. Gerak samurai Jakuza itu terhenti. Ada rasa perih yang melumpuhkan terasa. Dan dengan terkejut bercampur heran dia menatap dadanya berdarah. Memandang ke kiri ke kanan.

Dan dia berusaha melanjutkan gerak samurainya. Bukankah dia termasuk seorang yang mahir dalam samurai? Tapi kembali sinar putih yang amat cepat itu memintas. Dan kini tangannya yang memegang samurai itu putus.

Potongan itu jatuh ke lantai berikut samurai pendeknya. Kepala Jepang itu berpaling heran dan takjub. “Saya adalah malaikat maut….” Si Bungsu mengulangi kata-katanya tadi. Dan seiring dengan itu

samurainya bekerja lagi. Kepala anggota Jakuza itu terdongak ke belakang. Lehernya hampir putus! Dia rubuh dan mati dengan darah menyembur-nyembur dari leher dan tangan serta dadanya.

Anggota Jakuza yang seorang lagi, termasuk Kenji, ternganga melihat kejadian itu. Benar-benar takjub dan kaget.

Perlahan Si Bungsu memalingkan tegak menghadap pada anggota Jakuza yang gemuk pendek itu. Anggota Jakuza itu sudah hancur mentalnya. Dia menggigil. Dia memang pintar memainkan samurai. Tapi melihat lelaki asing ini mempergunakan samurainya, dia merasa beraknya hampir keluar.

“Ini bukan orang, ini syetan. Hanya syetan yang bisa mempergunakan samurai secepat itu…” hati lelaki itu berbisik kecut.

“Engkau saya ampuni. Dan sampaikan pada pimpinanmu, disini Kenji-san dan saya Si Bungsu dari Gunung Sago Indonesia, menanti kalian. Datanglah, dan akan kami nanti dengan samurai ditangan. Sebagai bukti bahwa kami menantang Jakuza yang telah menodai Hannako, bawa pesan berdarah ini…!!

Seiring ucapannya, samurai keluar lagi dalam kecepatan kilat. Dan sebelum Kenji atau lelaki Jakuza itu tahu apa yang dimaksud oleh Si Bungsu dengan “Pesan Berdarah” itu, anggota Jakuza itu terlolong. Tangan kananya putus hingga bahu!

Darah menyembur-nyembur dari bahu yang putus itu. Namun lelaki itu tak berani bergerak. Sebab ujung samurai Si Bungsu melekat di lehernya.

“Katakan pada pimpinanmu, atau siapa saja di antara anggota Jakuza jahanam itu, jika mereka berani mengganggu Hannako, Kenji atau adik-adiknya, mereka akan menerima nasib seperti temanmu ini. Kini tinggalkan tempat ini segera!”

Dan lelaki itu tak usah diperintah untuk kedua kalinya. Lepas saja dari “syetan samurai” itu sudah mujur baginya. Dia segera angkat kaki seribu. Persetan dengan dua bangkai temannya yang tergeletak dalam rumah itu.

Dan lelaki itu tak mau melapor ke rumah Kawabata. Bikin apa dia kesana. Kalau dia datang kesana, dia pasti disuruh menunjukkan rumah Hannako. Dan itu berarti harus berhadapan dengan anak muda dari Indonesia itu kembali.

Ai mak, berhadapan dengannya? Minta ampun.

Daripada berhadapan dengannya lebih baik bunuh diri pikirnya. Dan dengan pikiran begitu, dia lalu berlari ke rumah sakit.

Selesai mengobati tangannya yang pontong itu, dia naik kereta api. Pulang ke kampungnya di mudik sana. Persetan dengan Jakuza. Kalau mereka mau, biar berhadapan sendiri dengan anak muda itu, pikirnya. Dan selama perjalanan menuju kampung, lelaki gemuk pendek bekas bandit itu tak henti-hentinya mensyukuri nikmat Dewa yang telah memanjangkan umurnya.

Kalau anak muda itu silap sedikit saja, dan samurainya dihadapkan ke jantungnya, iiii! Dan dia berniat untuk potong ayam sebagai tanda sukur bila sampai ke kampungnya.

Isteri dan anak-anak serta mertuanya pasti akan kaget dan menangis melihat tangannya putus. Tapi dia akan berduta, bahwa tangannya putus karena terjepit kendaraan bermotor. Dan kalau mereka tak percaya, dia akan ceritakan bahwa masih untung hanya kehilangan sebelah tangan. Bagaimana kalau dia kehilangan kepala? Dalam perjalanan dengan kereta api itu, anggota Jakuza ini kembali membayangkan wajah anak muda Indonesia itu. Berwajah tampan, pendiam tapi di dalamnya seperti ada kawah berapi yang siap memuntahkan laharnya setiap saat.

Bulu tengkunya merinding bila mengingat betapa cepatnya anak muda itu mempergunakan samurai. Dia telah melihat beberapa orang Jepang yang mahir samuirai. Misalnya Kawabata, gurunya sendiri. Tapi manakah yang lebih cepat? Ah, persetan pikirnya.

--000--

Tapi orang gemuk pendek ini hanya dua hari hidup dengan tentram dikampungnya.

Hari ketiga, datang ke kampung itu empat orang lelaki. Meski dia tak kenal, tapi dari caranya, dia tahu bahwa orang ini pastilah suruhan Kawabata, anggota Jakuza dari wilayah lain.

Memang begitu aturan permainan yang berlaku dalam Jakuza. Bila seorang anggota membelot misalnya, maka yang akan membereskan si belot itu adalah anggota dari wilayah lain.

Dan si gemuk pendek ini yakin bahwa Kawabata pasti menyuruh menyudahi nyawanya.

“Hmm, gemuk. Kenapa kau pergi saja tanpa melapor pada Kawabata-san….” Yang memimpin utusan itu bicara dengan suara baritonnya.

“Si gemuk” itu hanya tersenyum. Dia yakin orang ini pasti tak begitu saja mau menyudahi nyawanya.

Mereka ingin tahu lebih dahulu persoalan Hannako dan kedua temannya yang mati.

“Saya masih ada urusan lain yang penting. Nanti saya menghadap pada Kawabata-san….” Dia menjawab. “Sekarang saja jelaskan. Kawabata-san sedang ke Hokkaido…”

“Biar saya yang menjelaskan sendiri padanya…” “Jelaskan pada kami….”

“Apakah kalian ingin kekerasan?” si gemuk yang bertangan pontong itu menggertak. Tapi dia salah duga.

Keempat lelaki ini memang sudah diperintahkan untuk menyudahinya bila dia banyak tingkah.

Salah seorang segera saja maju memukulinya. Tapi berbareng dengan itu, si gemuk ini juga sudah siap dengan samurainya.

Begitu lelaki itu akan memukul si gemuk menghantamnya dengan samurai. Tak ampun lagi orang itu terjungkal dengan dada tembus.

Tapi itu pulalah pembelannya yang terakhir. Sebab yang tiga orang lagi segera menikamnya dengan samurai.

Tiga bilah samurai segera melumpuhkannya. Si Gemuk itu rubuh. Dia menyeringai kesakitan.

“Jahanam kalian….kalian akan disudahi oleh orang Indonesia itu….percayalah, saya berdoa untuk itu…” dan dia mati.

Ketiga lelaki anggota Jakuza itu saling pandang. “Dia menyebut Indonesia….” Salah seorang bicara. “Apa yang dia maksud…?”

Tak ada yang mengerti. Dan mereka lalu pergi meninggalkan rumah itu persis ketika isteri si gemuk itu pulang dari pasar bersama anaknya.

Ketika mereka naik taksi, mereka mendengar perempuan itu memekik.

Dalam kekacauan setelah perang berakhir di negeri ini, kerusuhan demi kerusuhan timbul terus hari demi hari.

Kerusuhan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang ingin menangguk di air keruh. Untuk itu korban berjatuhan. Mereka tak peduli apakah mereka akan membunuh orang lain, ataupun saling bunuh sesama bangsanya sendiri. Yang dituju organisasi ini adalah kekayaan untuk diri pribadi mereka.

---000---

Ketika perkelahian itu usai, ketika si gemuk itu melarikan diri dengan tangannya yang putus sebelah, Si Bungsu menghampiri Kenji.

“Bungsu-san…engkau benar-benar luar biasa….Terimakasih, engkau kembali menyelamatkan kami…..” “Tenanglah Kenji-san…”

“Tolong lihat bagaimana keadaan Hannako, dia…dia.. ya, Tuhan, tolonglah adikku itu Bungsu-san…”

Bungsu segera teringat Hannako. Dia tegak dan masuk ke kamar, Hannako tengah duduk di sudut pembaringan dengan kain asal membalut tubuhnya saja.

Matanya berair menatap hampa ke depan. “Hanako-san…”

Gadis itu tersentak. Dia makin menghindar ke sudut. “Engkau tak apa-apa Hanako…?”

“Pergi, jangan dekati aku….pergi!” Gadis itu berteriak.

“Tenanglah Hanako….” Si Bungsu berusaha mendekat. Namun gadis itu melompat ke bawah dan berusaha untuk lari. Si Bungsu mencegatnya di pintu.

“Pergi! Jangan dekati aku….pergilah….!”

Gadis itu memukul bahu Si Bungsu hingga kain yang menutupi tubuhnya jatuh lagi.

“Tenanglah Hanako, mereka yang mencemarkan dirimu telah kubunuh…tenanglah..” dan tiba-tiba gadis itu memeluk Si Bungsu. Menangis didadanya.