-->

Tikam Samurai Si Bungsu Episode 1.2

Sebagai Dai Tai Cho, Komandan Divisi dan Komandan balatentara Jepang di Pulau Sumatera, dia berhak mengambil putusan-putusan yang amat prinsipil. Dan itulah yang dia lakukan. Yaitu dengan menyuruh Eraito, seorang Mayor yang gagal untuk Harakiri. Kini dia mengambil langkah kedua dalam urusan peristiwa Si Bungsu ini. Dia memerintahkan pada Saburo yang saat itu sudah berpangkat Syo Sha ( Mayor ) dan menjabat sebagai Bu Tei Cho ( Komandan Batalyon ) di Batu Sangkar, untuk datang menghadapnya di Markas Besar. Saat Saburo Matsuyama datang dia dipaksa oleh Fujiyama untuk minta pensiun. Kemudian dipaksa untuk pulang ke Jepang. Putusan ini mengejutkan perwira-perwira Jepang. Sebab Saburo dikenal sebagai perwira yang cekatan. Namun itulah putusan Fujiyama.

”Saya punya keyakinan, kalau engkau masih di negeri ini, engkau akan bertemu dengan anak muda bersamurai yang bernama Si Bungsu itu. Dan kalau kalian bertemu, perkelahian tak terhindarkan. Saya tak dapat menerka bagaimana cara anak itu berkelahi, tapi saya punya firasat, engkau akan mati di tangannya. Karena itu pulanglah kekampungmu Syo Sha. Di sana engkau akan aman. Aman dari perbuatan memperkosa anak bini orang. Namun saya merasa pasti anak muda ini akan tetap mengejarmu kemanapun engkau pergi ..” Begitu Kolonel Fujiyama berkata pada Saburo, Saburo termenung.

” Apakah engkau punya anak ?” ” Ada Kolonel ..”

” Berapa orang ?”

” Seorang, dan perempuan ..” ” Dimana dia kini ?”

” Di Nagoya. Baru berumur enam belas ..”

” Dalam agama ada ajaran, bahwa setiap orang akan menerima balasan dari perbuatannya. Saya khawatir, suatu saat anakmu ketemu dengan anak muda ini. Dan kalau dia membalas dendam padanya, dapat kau bayangkan apa yang akan terjadi Saburo ? Saya tak menakut-nakutimu. Tapi berdoalah, agar anak muda itu melupakan.

Nah selamat jalan.. !”

Kata-kata ini masih terngiang di telinga Saburo dalam perjalanannya ke Singapura untuk terus pulang ke Jepang. Anaknya seorang gadis yang amat cantik. Yang telah kematian ibu ketika anak itu masih berumur sepuluh tahun. Dia terbayang pada pembunuhan yang dia lakukan di Situjuh Ladang Laweh. Pada gadis yang dia perkosa di rumah adat itu. Pada ayah dan ibunya yang dia bunuh. Pada pembunuhan gadis itu sendiri setelah dia perkosa. Dan pada anak lelakinya yang pengecut. Kini ternyata anak lelakinya itu memburunya dengan samurai di tangan. Dengan Samurai. Ya Tuhan, tiba-tiba Saburo Matsuyama tertegak. Seluruh bulu tubuhnya pada merinding. Anak muda itu mencarinya dengan samurai. Dan menurut cerita Fujiyama, anak muda itu amat lihai dan tangguh mempergunakan samurainya. Dia segera teringat pada sumpah Datuk Berbangsa sesaat sebelum mati dulu. Saat itu sebuah samurai menancap di dada Datuk itu.

”Saya akan menuntut balas atas perbuatanmu ini Saburo. Engkau takkan selamat. Saya bersumpah untuk membunuhmu dengan samurai dari negerimu sendiri. Kau ingat itu baik-baik ..”

Suara itu seperti bergema. Lelaki Minangkabau itu ternyata memang memburunya melalui anak kandungnya. Dulu dia menganggap hal-hal mistis ini sebagai nonsens. Tapi kini anak muda itu mencarinya dengan samurai. Bukankah itu merupakan suatu perwujudan dari sumpah Datuk itu ? Saburo mulai seperti dikejar bayang-bayang. Dia banyak mendengar tentang kesaktian orang-orang Minangkabau. Namun selama dia di negeri itu, tak satupun di antara kesaktian itu yang terbukti. Kabarnya orang Minang bisa membuat orang lain jadi gila, senewen memanjat-manjat dinding, namanya sijundai. Tapi dia dan pasukannya yang telah terlalu banyak berbuat maksiat di negeri itu, kenapa tak satupun di antara kesaktian itu yang mempan pada mereka

?.

Kabarnya ada pula semacam senjata rahasia yang berbahaya. Yang bisa membunuh orang dari jarak jauh. Konon bernama Gayung, Tinggam atau Permayo. Tapi kenapa tak satupun di antara pasukan Jepang yang terkena senjata rahasia itu ? Ataukah hanya mempan untuk sesama orang Minang saja ? Saburo termasuk orang praktis yang tak mempercayai segala macam bentuk mistik. Tapi kali ini, terhadap sumpah Datuk Berbangsa yang telah mati lebih dari dua tahun yang lalu, kenapa dia harus takut ? Dia ingin segera pulang ke kampungnya di Jepang sana. Dia ingin bersenang-senang barang sebulan dua di Singapura. Demikian putusan yang dia ambil dalam kapal ketika berlayar dari Dumai ke Singapura.

Tapi senja ini perempuan-perempuan di Lundang itu merasa surprise bercampur heran. Sebab kesana datang seorang anak muda. Meskipun wajahnya murung, namun tak dapat disangkal bahwa dia seorang yang gagah. Sinar matanya yang kuyu justru membuat perempuan-perempuan kembang di sana menjadi tertarik. Sejak senja tadi dia ”dikawal” oleh dua perempuan. Untuk ukuran disana, kedua perempuan itu adalah perempuan pilihan. Biasanya mereka hanya mau melayani opsir-opsir berpangkat tinggi. Paling rendah yang berpangkat Kapten. Tak sembarangan saja mereka mau melayani orang. Senja ini keduanya merasa perlu melayani anak muda itu. Soalnya belum pernah mereka dikunjungi urang awak, gagah pula. Mereka bercerita perlahan hilir mudik. Bercerita di bawah bayangan pohon cery. Minum teh manis dan makan pisang goreng. Anak muda itu kelihatannya bukan dari golongan orang berada. Pakaiannya sederhana saja. Pakai baju gunting Cina, celana Jawa dengan kain sarung menyilang dari bahu kiri ke kanan. Di tangannya ada sebuah tongkat kayu. Kalau saja dia pakai Saluak, maka orang akan percaya bahwa pastilah dia seorang penghulu. Gayanya memang mirip seorang kepala kaum.

”Nampaknya uda tengah menanti seseorang….”, perempuan yang bekulit hitam manis, berhidung mancung dengan mata yang gemerlap dan menarik, berkata. Dia memperhatikan anak muda itu beberapa kali melirik ke gerbang setiap ada orang yang datang.

”Ada teman yang akan datang?” perempuan itu bertanya lagi. ”Ya, saya menanti seseorang.”

”Perempuan?”

”Tidak, bukankah kalian sudah ada?”

”Ya. Tapi kenapa sejak tadi hanya duduk saja di sini? Ayolah ke rumah…”. Perempuan yang satu lagi, yang berkulit kuning dan dan bertubuh montok, berkata sambil menarik tangan anak muda itu. Umur kedua perempuan itu barangkali tak lebih dari 22 tahun. Masih terlalu muda.

”Tunggulah. Sebentar lagi mungkin dia datang. Tapi bagaimana saya akan ke rumah, kalian berdua.” ”Tak jadi soal. Bisa gantian toh Uda?” ujar perempuan hitam manis itu sambil mengerdipkan matanya

yang indah. Muka anak muda itu jadi merah. Dia melirik ke meja di seberang sana, pada beberapa serdadu dan opsir Jepang yang sedang minum. Rasanya dia mengenal dua orang diantara mereka. Dia coba mengingat-ingat. ”Bagaimana? Ayolah ke rumah!” Perempuan cantik berkulit kuning itu merengek lagi sambil menarik tangannya. Saat itulah salah seorang dari serdadu Jepang yang duduk tak jauh darinya berdiri. Berjalan menuju meja di mana mereka duduk. Tubuh Jepang itu berdegap. Dia menatap pada kedua perempuan yang ada di

samping anak muda itu.

”Hmmm…nona mari ikut aku…” katanya sambil memegang tangan si hitam manis. Perempuan itu menyentak tangannya.

”Maaf Kamura, saya sedang ada tamu…”, ujarnya mengelak. Jepang yang bernama Kamura dan berpangkat Gun Syo (Sersan Satu) itu menyeringai. Menatap pada tamu yang disebutkan si hitam manis tersebut. Ketika yang dia lihat tamunya itu hanyalah seorang lelaki tanggung, pribumi pula, dia tertawa. Memperlihatkan seringai yang memuakkan.

”Ha, kalian orang ada berdua. Ada si hitam ada si kuning. Kamu jangan serakah ya. Saya bawa yang hitam manis ini…” Jepang itu berkata sambil tetap menyeret tangan si hitam manis. Tak ada daya perempuan itu selain menuruti kehendak Kamura. Teman-temannya tertawa dan bertepuk tangan. Sementara itu si cantik berkulit kuning segera merapatkan duduknya dan memegang lengan anak muda itu erat-erat.

”Cepatlah kita ke bilik. Nanti datang yang lain membawa saya…”, perempuan itu merengek lagi. Anak muda itu, yang tak lain dari pada Si Bungsu tak mendengar ucapan si cantik ini. Pikirannya tengah melayang. Dia coba mengingat seringai buruk Gun Syo Kamura tadi. Dimana dia pernah melihatnya? Tiba-tiba kini dia ingat. Bukankah Jepang itu yang menghadangnya ketika dia akan mendekati ayah, ibu dan kakaknya sewaktu penyergapan di rumah mereka dulu? Dia ingat peristiwa itu. Ayah, kakak dan ibunya baru saja diperintahkan untuk keluar dari persembuyian di atas loteng oleh Kapten Saburo. Ketika mereka muncul di tangga rumah Gadang, Si Bungsu yang berada di antara kerumunan penduduk berlari ke depan sambil memanggil ayah dan ibunya. Tapi seorang serdadu Jepang bertubuh kurus menghadangnya. Dia berhenti, menatap pada serdadu kurus itu. Serdadu itu menyeringai. Dia tertegak ngeri di tempatnya. Nah, serdadu itulah tadi yang membawa si hitam manis ke atas. Dia tandai seringainya itu. Tadi dia lupa karena serdadu itu tubuhnya tidak lagi kurus seperti belasan purnama yang lalu. Kini tubuhnya besar berdegap. Senang nampaknya dia di Lima Puluh Kota ini.

”Kita masuk?” si cantik kuning itu gembira melihat dia tegak. Si Bungsu menatapnya.

”Ya. Kita masuk..” katanya. Dengan gembira si kuning itu memegang tangannya. Kemudian membimbingnya ke atas rumah di mana Kamura tadi juga masuk bersama kawannya si hitam manis. Di dalam kamar, si kuning cantik itu mendudukkan anak muda berwajah murung itu di tempat tidurnya yang beralaskan kain satin dan berbau harum.

”Duduklah. Mau minum apa?” tanyanya dengan manja. Si Bungsu menatap perempuan itu. Menatapnya diam-diam.

”Jangan memandang seperti itu Uda. Hatiku luluh uda buat….”, katanya manja sambil memegang kedua belah pipi Si Bungsu.

”Kulihat engkau mencari seseorang kemari…” perempuan itu berbisik. Si Bungsu masih duduk diam. ”Kulihat engkau mengenali dan menaruh dendam pada Jepang yang tadi membawa temanku si hitam itu….” perempuan itu berkata lagi perlahan.

Si Bungsu mengagumi ketajaman penglihatan perempuan ini.

”Di balik matamu yang sayu, di balik wajahmu yang murung, tersimpan lahar gunung berapi. Yang akan memusnahkan orang-orang yang kau benci. Sesuatu yang sangat dahsyat dalam hidupmu pastilah telah terjadi. Sehingga engkau menyimpan demikian besar gumpalan dendam di hatimu. Apakah keluargamu dilaknati oleh Jepang?”

Si Bungsu benar-benar terkejut mendengar ucapan perempuan ini. Dia menerkanya seperti membaca halaman sebuah buku.

”Upik, siapa namamu?” tanyanya sambil menatap perempuan cantik itu.

”Tak perlu engkau ketahui. Setiap lelaki yang datang kemari menanyakan namaku. Kemudian mereka akan melupakannya.”

”Katakanlah, siapa namamu!” ”Mariam…”

”Mariam?” ”Ya”

”Apakah itu namamu yang sebenarnya?”

”Tak ada yang harus kusembunyikan. Sedang kehormatan saja di sini diperjual belikan. Apalah artinya menyembunyikan sebuah nama.”

”Maaf. Tapi engkau menerka diriku seperti sudah demikian engkau kenali…”

”Bagi orang lain mungkin sulit buat menebak siapa dirimu. Tapi tidak bagiku. Aku kenal apa yang ada dalam hatimu, karena aku jaga mengalami hal yang sama…”

”Keluargamu dibunuh Jepang?” ”Tepatnya suamiku…” ”Suamimu?”

”Ya. Aku yatim piatu. Ibu dan ayah meninggal setelah aku menikah dan suamiku di bunuh Jepang karena tak mau ikut ke Logas.Kemudian diriku mereka nistai. Tak cukup hanya demikian, aku mereka seret kemari. Pernah kucoba untuk melarikan diri, tapi negeri ini tak cukup luas untuk lepas dari jangkauan tangan Kempetai. Akhirnya aku diseret lagi kemari untuk memuaskan nafsu mereka. Di sini aku…hidup dan menanti mati.”

Perempuan itu mulai terisak. Si Bungsu jadi luluh hatinya. Perempuan secantik ini, yang barangkali sama cantiknya dengan Renobulan, bekas tunangannya dulu. Atau dengan Saleha. Atau dengan Siti. Kini terdampar di Lundang ini. Penuh noda. Dibenci orang kampungnya. Namun tahukah mereka apa penyebabnya maka dia sampai kemari?

”Mariam. Dimana kampungmu…” tanyanya sambil memegang bahu perempuan itu. Perempuan itu menghapus air mata. Berusaha menahan tangis.

”Saya berasal dari Pekan Selasa…”, jawabnya perlahan.

”Engkau kenal siapa yang menistai dirimu dan yang membunuh suamimu, Mariam?” ”Jepang yang tadi membawa teman saya, yang berkulit hitam manis itu salah seorang di antara mereka….”

”Maksudmu Jepang yang tadi dipanggil dengan nama Kamura oleh temanmu itu?” Mariam mengangguk. ”Jahanam. Dia jugalah yang dulu ikut membantai kedua orang tua dan kakakku. Dia yang menerjangku

ketika aku lari ke arah ayahku…” desis Si Bungsu. ”Siapa lagi yang kau kenal Mariam?”

”Saya tak ingat. Tapi komandannya adalah Saburo…”

Si Bungsu tersentak. ”Saburo?” katanya mendesis tajam.

”Ya, Saburo!. Kenapa…?” Mariam tertegun kecut melihat sikap Si Bungsu.

”Dialah yang telah membunuh ayah, ibu dan memperkosa kakakku sebelum dia dibunuh. Kemudian dialah yang membabat punggungku dengan samurainya. Jahanam. Di mana dia kini…?!” Suara Si Bungsu hampir saja tak bisa di kontrol jika tidak cepat-cepat mulutnya ditutup dengan tangan oleh Mariam.

”Tenanglah. Kamura di sebelah. Saya tak tahu dimana Saburo. Sudah lama dia tak datang kemari. Padahal biasanya tiap malam dia pasti datang…”

”Mariam. Apakah engkau tak berniat untuk meninggalkan tempat ini?” ”Kemana?”

”Kemana saja. Asal jangan kembali ke tempat ini. Barangkali kau bisa hidup dengan tenang si suatu tempat. Dengan seorang suami….” Mariam mulai lagi terisak.

”Siapa yang tak menginginkan kehidupan yang tentram dengan seorang suami? Itulah dulu yang kuinginkan ketika kawin dengan pemuda yang kucintai sampai Saburo membunuhnya. Dan kini, siapa lagi lelaki yang mau menerimaku sebagai isterinya?”

”Tapi engkau juga tak mungkin di sini terus Mariam…” ”Lalu akan kemana aku?”

”Carilah suatu tempat yang jauh dari sini. Mungkin ada lelaki yang mencintaimu. Engkau masih muda dan …. cantik….”

”Takkan ada yang mau, apalagi bila mereka tahu siapa aku…” ”Engkau belum mencobanya. Jangan menyerah sebelum kau coba….”

”Baiklah, akan kucoba sekarang. Aku mau meninggalkan tempat ini. Aku mau pergi kalau kau menikahiku. Apakah kau bersedia menjadi suamiku?”

Si Bungsu tertegun. Dia tak menduga perempuan ini akan berkata begitu. Melihat dia tertegun, Mariam berkata lagi.

”Jangan coba mengelak dengan mengatakan bahwa engkau telah punya isteri. Saya mengenal lelaki yang telah kawin dengan yang masih bujangan. Nah, maukah engkau menikah denganku?” Perempuan itu menatap nanap padanya. Si Bungsu terdiam, peluh mulai membasai tubuhnya. Mula-mula dia masih bisa menatap Mariam. Tapi kemudian dia tertunduk. Mariam terisak. Menelungkup di tilam tipis di pembaringannya. Si Bungsu jadi serba salah. Perlahan dia pegang bahu perempuan itu, mendudukkannya, kemudian tiba-tiba Mariam memeluknya sambil menangis.

”Diamlah…jangan menangis..” ujarnya pelan. Ketika perempuan itu masih terisak, perlahan di pegang wajahnya. Entah apa yang mendorongnya, tahu-tahu pipi perempuan itu diciumnya. Lalu.. dengan lembut ciumannya pindah ke bibir perempuan itu. Perempuan itu sesaat masih terisak. Kemudian terdiam, lalu membalas ciuman Si Bungsu. Tapi kemudian tiba-tiba dia melepaskan bibirnya dari bibir Si Bungsu. Si Bungsu kaget dan malu. ”Aku perempuan pertama yang kau cium, Uda?” Mariam bertanya dengan suara gemetar. Si Bungsu ingin mengangguk. Namun anggukannya tak jadi. Ingin menggeleng, tapi dia tak bisa berdusta. Perasaan malu dan takut bercampur aduk.

”Terima kasih Uda. Engkau membuat aku bahagia. Akan kukenang ciuman ini,” Mariam berkata sambil menghapus air matanya. Si Bungsu menarik nafas lega, kemudian berkata pelan.

”Menghindarlah dari rumah ini Mariam. Akan terjadi huru-hara sebentar lagi…”

”Sudah lama aku memimpikan melihat seorang Minangkabau melawan Jepang. Membunuhnya, berkelahi dengan mereka. Mungkin mereka akan mati. Namun di hatiku, mereka tetap seorang pahlawan. Sudah lama aku ingin melihat hal itu terjadi. Betapa seorang lelaki Minangkabau tegak dengan perkasa menghadapi samurai Jepang yang zalim itu. Dan kini barangkali aku akan melihatnya. Kenapa aku harus pergi? Tidak, aku akan berada di sini sampai huru hara itu usai, Uda…”

Si Bungsu tak lagi bekata. Dia tegak dan melangkah. Kemudian membuka pintu. Berbelok ke kanan.

Menerjang pintu kamar dimana Kamura tadi masuk dengan perempuan berkulit hitam manis itu.

Kamura yang tadi membawa si Hitam Manis kini tengah bermandi peluh dalam kamar tersebut. Si Hitam Manis juga bermandi peluh. Tubuhnya yang tak berkain tertelentang. Sebelah kakinya terjuntai kebawah tempat tidur. Dan Kamura sedang duduk di lantai di antara kaki si Hitam Manis ketika tiba-tiba pintu kamarnya dihantam hingga terbuka. Kamura terlompat bangun. Si Hitam Manis hanya menelungkupkan tubuhnya. Dia menyangka yang masuk adalah kawan Kamura. Sebab sudah biasa Jepang-Jepang itu bergantian masuk kesebuah bilik bila temannya telah puas. Namun kini yang masuk bukanlah tentara Jepang, melainkan Si Bungsu. Kamura memaki berang melihat yang masuk ternyata seorang Melayu.

”Bagero !. Masuk siapa kemari yang kamu berani, he !? ” bentaknya terbalik-balik. Padahal yang ingin dia ucapkan adalah ”Siapa kamu yang berani masuk kemari, he”

Mata Si Bungsu menyipit. Mulutnya terkatup rapat. Kemudian dari sela bibirnya terdengar suara mendesis :

”Aku anak Datuk Berbangsa dari kampung Situjuh Ladang Laweh. Yang kalian bunuh dua tahun yang lalu. Dimana Saburo kini ? ”

Tanpa lebih dahulu memakai celananya. Kamura menerjang Si Bungsu. Namun Si Bungsu sudah siap. Dia mengelak. Tubuh Kamura yang telanjang bulat itu menerpa pintu. Kemudian terpelanting ke ruangan tengah. Si Hitam Manis terpekik. Di ruang tengah, dua orang serdadu Jepang yang tengah keluar jadi tertegun. Kemudian tertawa terbahak-bahak melihat Kamura yang telanjang bulat itu. Mereka menyangka Kamura mabuk. Namun Kamura dengan cepat menyentak samurai di pinggang seorang perwira, dan menerjang kembali masuk kekamar dimana tadi Si Bungsu tegak. Tapi tubuhnya segera tercampak lagi keluar kamar. Dan kali ini dengan tubuh hampir terpotong dua pada dadanya ! Perempuan-perempuan yang ada dalam rumah petak itu pada terpekik. Empat orang sedadu Jepang segera naik menghambur keatas. Di pintu bilik si Hitam Manis itu, tegak Si Bungsu dengan sebuah tongkat di tangannya. Dia tegak dengan tenang. Menatap pada enam Jepang yang kini tegak pula menatapnya. Mereka bertatapan. Dengan sudut matanya Si Bungsu melihat di sebelah kirinya, agak jauh di tepi dinding, tegak Mariam di antara beberapa temannya. Perempuan itu menatap padanya dengan sinar mata penuh kebanggaan. Salah seorang dari perwira Jepang itu segera saja mencabut pistol dan menembakkannya kearah Si Bungsu. Si Bungsu menggelinding di lantai. Gerakkan Lompat Tupai ! Peluru perwira itu menerpa tempat kosong. Dua kali menggelinding dengan cepat, akhirnya ketika dia tegak samurainya bekerja. Perwira itu terpekik. Tangannya yang tadi menembakkan pistol putus hingga siku. Sebelum pekiknya berakhir, samurai di tangan Si Bungsu bekerja lagi. Kepalanya belah dua ! Suasana tiba-tiba jadi sepi. Hening mencekam!. Si Bungsu tegak di depan kelima serdadu Jepang itu dengan wajah yang sedingin batu es.

”Saya Si Bungsu. Saya mencari Kapten Saburo. Dimana dia ? ” Suaranya terdengar tanpa emosi. Namun Jepang-Jepang itu terkenal sebagai orang yang tak mengenal takut sedikitpun. Dua orang segera maju dengan mempergunakan jurus-jurus karate. Namun Samurai Si Bungsu segera bekerja. Kedua mereka roboh dengan leher hampir putus. Empat yang mati dalam waktu tak sampai lima menit. ” Kempetai datang !! ” Mariam berteriak. Dan saat itulah ketiga serdadu Jepang yang masih hidup maju serentak sambil menghunus samurai mereka. Tapi yang mereka hadapi adalah Si Bungsu!. Seorang lelaki yang telah bersumpah untuk takkan mati sebelum dendam keluarganya terbalas. Begitu serangan datang, dengan kecepatan yang tak terikutkan oleh mata samurainya berkelebat. Dua kali sabetan mendatar, menyebabkan dua Jepang yang ada di depan dan di kirinya rubuh dengan perut menganga. Kemudian sambil berputar setengah lingkaran dia menikamkan samurainya ke belakang. Jepang yang terakhir, mati tersate tentang dada kirinya. Sebuah Tikam Samurai! Persis seperti yang dipergunakan oleh Datuk Berbangsa di halaman rumah gadangnya dahulu. Saat dia menyentak samurainya, Jepang itupun rubuh.

”Lewat pintu belakang !” dia dengar suara perempuan berseru. Dia segera mengenali suara itu sebagai suara Mariam. Suara sepatu Kempetai terdengar menjejak tangga di depan. Si Bingsu tegak. Kemudian menatap pada perempuan-perempuan itu. Dia segera menampak Mariam.

”Terima kasih Mariam. Saya akan balaskan dendammu.” dan Kempetai pertama muncul di pintu tengah.

Si Bungsu menyelinap kebelakang. Punggungnya kelihatan oleh Kempetai itu.

”Bagero ! Berhenti !” teriaknya sambil menembakkan pistol. Namun Si Bungsu telah lenyap. Tiga Kempetai segera memburu ke belakang. Di belakang mereka disambut oleh gelapnya malam. Jauh di bawah sana, deru arus Batang Agam terdengar menderu menegakkan bulu roma. Jepang-Jepang itu pada plengak- plenguk mencari kalau-kalau lelaki yang baru saja melarikan diri itu bersembunyi di sekitar tempat tersebut. Tapi Si Bungsu telah terjun dan lenyap dalam arus Batang Agam di bawah sana. Baginya berenang dan menyelam bukan lagi hal baru. Berenang di Batang Agam ini memang kegemarannya sewaktu masih muda dulu. Keenam Kempetai yang baru datang itu tertegun tatkala menyaksikan tubuh teman mereka terhantar malang melintang di dalam rumah itu. Dari bekas luka di tubuh mereka jelas kematiannya diakibatkan senjata tajam. Seperti samurai atau pedang. Namun Kamura dan beberapa temannya ini adalah seorang pesilat Samurai yang tangguh. Siapa yang telah melumpuhkan mereka ?.

”Siapa itu orang tadi ?” tanya salah seorang kearah kerumunan perempuan-perempuan di ruangan tersebut.

”Seorang Jepang.” Terdengar suara dari kerumunan perempuan-perempuan itu. Dan yang bicara itu adalah Mariam. Dia mencubit teman di sampingnya sebagai isyarat. Cubitan yang tak kelihatan itu segera saja dimengerti oleh temannya. Lalu perempuan muda yang dicubit itu angkat bicara.

”Ya. Nampaknya seorang tentara yang berpakaian seperti penduduk sini. Tadi sebelum terjadi perkelahian, dia kelihatan bicara akrab dengan Kamura. Tapi tak lama setelah dia menyusul masuk, terjadilah perkelahian … ”.

Kempetai yang bertanya itu mengerutkan kening. Tadi dia memang melihat sesosok tubuh menyelinap kebelakang. Tapi tak jelas siapa orangnya. Mereka lalu menanyai perempuan-perempuan itu dengan gencar. Para perempuan itu, meskipun mereka hidup melacurkan diri namun memiliki rasa cinta Tanah Air yang luar biasa, yang barangkali tak seberapa dimiliki oleh perempuan-perempuan yang bukan pelacur. Mereka seperti sepakat, seiya sekata untuk membenarkan dan menuruti cerita bohong yang mula pertama diucapkan oleh Mariam. Dan para Kempetai serta pimpinan Jepang di Payakumbuh, tak bisa berbuat selain mempercayai hal itu. Sekurang-kurangnya buat sementara.

Sebab siapa diantara penduduk pribumi yang bisa memainkan Samurai hingga sanggup mengalahkan Kamura dan seorang perwira lainnya serta empat teman mereka? Tak mungkin ada pribumi yang bisa. Dan kalaupun bisa, takkan mungkin mempunyai keberanian untuk menyerang serdadu Jepang. Tak mungkin!. Sebab pada saat ini, gerakan-gerakan tentara Indonesia belum begitu gencar mengadakan perlawanan pada Jepang. Baru berupa tindakan-tindakan sporadis.

Jepang sendiri seperti tak punya kesempatan untuk mengusut peristiwa ini secara jelimet. Sebab dimana-mana, tidak hanya di Minangkabau, juga di seluruh Indonesia, mereka sedang sibuk membangun benteng pertahanan. Benteng-benteng pertahanan itu mereka bangun berupa lobang-lobang dari coran beton. Tersebar di seluruh kota, di tempat-tempat yang strategis, termasuk di sepanjang pantai. Musuh yang paling mereka khawatirkan untuk datang menyerang adalah Tentara Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mac Athur yang berkedudukan di Manila, Filipina.

Selain membuat benteng-benteng dalam bentuk lobang-lobang yang diperkukuh dengan beton cor yang tak mampu diruntuhkan dengan bom sekalipun, maka pusat suply senjata, dan benteng pertahanan secara besar-besaran mereka buat di Bukit Tinggi. Di kota ini, selain lobang-lobang pertahanan dari beton cor, mereka juga membuat terowongan yang silang siur di bawah kota. Terowongan yang sangat besar. Bisa dilalui Jeep masuk sampai jauh ke dalam. Untuk membuatnya mereka tinggal mengerahkan tentara Belanda yang tertawan yang disebut internir, dan para lelaki bangsa Indonesia. Ribuan orang dikerahkan membuat terowongan yang kelak dikenal sebagai terowongan maut.

Dia dinamai terowongan maut oleh karena seluruh pekerja yang ikut menggali terowongan itu tak satupun yang keluar hidup-hidup. Tak satupun!. Semua mati di dalam terowongan itu. Kematian mereka memang disengaja oleh Jepang demi menjaga kerahasiaan terowongan itu. Terowongan itu kabarnya melintas di atas bangunan-bangunan fital. Di samping itu juga mempunyai pintu tembus ke tempat-tempat strategis di dalam maupun jauh di luar kota. Menurut sementara cerita yang berasal dari tawanan yang tak sempat dibunuh, terowongan itu konon juga dibangun dari perut di bawah kota Bukittinggi tembus ke lapangan udara Gadut. Kemudian ke Balingka dan ke Anak Air. Terowongan sepanjang itu itu diperlukan Jepang untuk dua tujuan. Pertama, tempat menimbun berbagai macam logistik dan pertahanan Jepang di Sumatera untuk melawan tentara Sekutu. Setelah terowongan itu siap, pemusatan dan kedatangan persenjataan dari Sumatera Utara tak lagi melewati jalan biasa. Sampai di Gadut, perlengkapan itu lenyap begitu saja.

Menurut cerita dari sana langsung masuk terowongan dan dipusatkan disuatu tempat di perut bumi di bawah kota Bukittinggi. Dalam rencana strategisnya, jika Sekutu datang menyerang mereka akan bersembunyi di terowongan itu. Pada waktu tertentu mengadakan serangan mendadak ke kota. Di terowongan itu mereka mempunyai perbekalan baik makanan maupun persenjataan yang bisa menghidupi satu batalyon pasukan dengan kekuatan 1.000 orang selama setahun!

Suatu penimbunan dan pemusatan suplay yang tak tanggung-tanggung dalam sejarah Kemiliteran. Kedua, dalam keadaan sangat genting mereka bisa mempergunakan lapangan terbang gadut untuk melarikan diri dengan pesawat udara. Saat terowongan itu dibangun, pimpinan tertinggi balatentara Jepang di pulau Sumatera dipegang oleh Tei Sha (Kolonel) Fujiyama. Dia memilih menempatkan pusat komandonya di bekas kantor tentara Belanda beberapa puluh meter dari mulut terowongan yang sedang di bangun di Panorama. Pusat komando Fujiyama ini kelak dijadikan Museum ABRI di depan Tugu 17 Agustus di Panorama. Pintu terowongan juga dibangun di belakang kantornya. Dari sana, lewat terowongan yang berbelit dia bisa mencapai beberapa tempat di kota Bukittinggi. Seperti ke Jam Gadang, Benteng atau Kebun Binatang.

-000-

Malam itu terang bulan. Benar-benar bulan purnama. Kota Payakumbuh kelihatan ramai oleh orang- orang yang keluar. Tapi di salah satu sudut kota, di rumah seorang Cina di kamar belakang, kelihatan berkumpul tiga orang lelaki. Mereka duduk bersila di atas tikar rotan. Udara dalam ruangan dipenuhi oleh bau sake dan candu. Diantara keenam lelaki itu ada tiga perempuan. Satu keturunan Cina, yang dua lagi peranakan India. Mereka duduk sambil bersandar atau dipeluk oleh Jepang yang duduk di tikar rotan itu.

Seorang Cina bertubuh gemuk berkepala botak mendatangi kelompok jantan dan betina itu. Dia datang dengan sebuah tabung bambu yang panjangnya sejengkal. Saat dia duduk segera saja Jepang-Jepang itu duduk mengitarinya. Uang dikeluarkan, dan mereka mulai main dadu. Cina gemuk itu adalah pemilik rumah di mana kini mereka berada.

Kini dia bertindak sebagai bandar dalam judi dadu yang diadakan tersebut. Rumah Cina ini dikenal penduduk sebagai rumah kuning. Yaitu rumah pelacuran terselubung. Yang datang kemari khusus para perwira saja. Sebab di sini juga disediakan perempuan-perempuan pilihan. Salah satu dari perempuan itu adalah anak gadis Cina botak itu sendiri.

Anak gadisnya memang terkenal cantik dan bertubuh padat. Setiap perwira bisa memakainya dengan bayaran yang tak tanggung-tanggung tingginya. Selain tempat lacur dan tempat judi, pejuang-pejuang Indonesia juga sudah lama mencurigai rumah itu sebagai sebuah pusat mata-mata untuk pihak Jepang. Soalnya Cina itu sudah berdiam sejak lama di rumah tersebut. Ketika zaman penjajahan Belanda, dia sudah menjadi semacam kepercayaan orang Belanda pula. Kini ketika Jepang berkuasa, dia juga menjadi kepercayaan Jepang.

Pejuang-pejuang Indonesia sudah lama mengintai rumah tersebut. Namun kendati memiliki beberapa bukti, mereka tak dapat melakukan apapun. Apalagi kini dia mendapat perlindungan Jepang. Maka usaha pejuang-pejuang Indonesia untuk menangkap Cina ini tak pernah berhasil. Padahal beberapa orang pejuang yang tertangkap, diantaranya anak buah Mayor M yang berkedudukan di Piobang, disebabkan oleh Cina gemuk ini. Dia menyebar intelnya diantara penduduk pribumi dan perempuan-perempuan lacur. Bahkan tertangkapnya beberapa pejuang yang mencuri senjata di Kubu Gadang empat bulan yang lalu juga atas petunjuk Cina ini.

”Sudah datang dia ?” seorang perwira Jepang yang berpangkat Lettu (Chu-I), bertanya sambil menambah uang taruhannya.

”Belum, mungkin sebentar lagi”, jawab Babah gemuk tersebut.

Mereka meneruskan main dadu. Tiba-tiba Chu-I itu tegak. Menatap pada ketiga perempuan yang ada dalam ruangan itu.

”Hei, mana Amoy ..?” tanyanya.

Ketiga perempuan itu menatap pada si babah gepuk yang sedang duduk main dadu. Si gepuk main terus, meraih uang di tikar yang dimenanginya. ”Mana Amoy, gepuk?” tanya si Chu-I.

Si gepuk memberi isyarat dengan menggerakkan kepalanya ke arah kamar. Namun ketika Jepang itu akan tegak, si gepuk memberi isyarat meminta uang terlebih dahulu dengan menampungkan tangannya. Chu- I tersebut merogoh kantong dan menyerahkan beberapa lembar uang, kemudian melangkah kekamar yang dimaksud si babah gepuk.

Ketika dia baru sampai di depan pintu, pintu kamar itu terbuka, seorang Jepang yang juga berpangkat letnan keluar dengan menyeka peluh di lehernya. Mereka bertegur sapa sepatah dua. Sampai di dalam Jepang itu melihat Amoy anak babah gemuk itu sedang merapikan tempat tidur. Posisinya yang sedang membungkuk membelakangi pintu dengan handuk melilit tubuh, menampakkan pangkal pahanya dari belakang. Jantung Jepang itu berdebar kencang. Seperti orang kesurupan dia menyeruduk ke gadis bertubuh montok itu.

Di luar rumah Cina itu sejak tadi seorang lelaki kelihatan tegak. Dia seperti menanti sesuatu. Dan setelah lebih dari dua jam dia tegak di sana, barulah dia lihat dua orang lelaki mendekati rumah itu. Dia cepat-cepat melangkah mendekati kedua lelaki itu.

” Hei. Jumpa lagi kita ..! ” dia berkata pada kedua lelaki itu. Dan kedua lelaki itu berhenti. Menatap padanya. Dalam cahaya bulan, mereka segera mengenali orang yang menegur mereka itu.

” Hmm. Kau Bungsu ..!”

” Ya. Aku Si Bungsu. Sudah lebih dua tahun kita tak bertemu ya Baribeh ?”

Baribeh yang dulu pernah melanyau tubuhnya ketika mereka kalah berjudi di Surau bekas di kampungnya, tertawa menggerendeng.

”Tapi kudengar kau sudah mampus dihantam samurai Saburo.”

Baribeh yang pesilat itu berkata. Tubuh Si Bungsu seperti jadi kaku mendengar nama Saburo disebut.

Untung saja malam hari, hingga perobahan air mukanya tak kelihatan oleh Baribeh. ” Ah, itu cerita burung. Buktinya saya masih hidup.

Apa perlunya Jepang membunuh saya. Hmm, ini si Jul ya?” Si Bungsu tersenyum pada lelaki juling yang dia sebut sebagai si Jul itu.

” Kalera!!. Jangan ikut-ikutan waang memanggil saya dengan sebutan itu buyung. Kuremas mulut waang dengan cirik nanti ..!” ujar si Jul tersinggung. Sebab orang yang berani dan yang boleh memanggilnya dengan sebutan si Jul itu hanya pimpinannya, si Baribeh.

” Tenanglah Jul. Mungkin dia punya duit banyak seperti dulu. Hei Bungsu, apakah waang masih suka berjudi ?”

” Akhir-akhir ini tidak lagi. Tak ada yang mau bertaruh besar. Percuma saja main. Menghabiskan waktu

saja ”.

Baribeh menyikut si Jul perlahan. Si Jul tahu maksudnya, yaitu anak muda ini akan mereka jadikan

korban lagi.

” Ah, saya jera main dengan kalian. Menang kalian ingin menerima, kalah tak membayar. Kalau sekedar tak membayar saja tak apa. Ini diri saya kalian lanyau. Itu membuat saya ngeri ..” ujar Bungsu.

Baribeh tertawa, memperlihatkan giginya yang merah karena sirih dan runcing-runcing seperti gigi

tikus.

” Ahaaa .. jangan takut. Jangan takut. Di tempat ini aman. Ada orang Jepang dan Cina sebagai juri. Waang

aman percayalah. Ayo. Ayooo ..!”

Si Bungsu semula seperti ragu dan takut. Tapi karena tangannya ditarik oleh Baribeh, akhirnya dia menuruti juga. Padahal dia telah menunggu kesempatan ini sejak lama.

Bukankah dulu, saat dia sadar dari pingsannya setelah dilanyau Baribeh dan dua temannya, setelah semua uangnya mereka sikat di surau bekas itu dia, bersumpah akan menuntut balas? Kini kesempatan itu datang. Dia melangkah perlahan mengikuti Baribeh. Di belakangnya berjalan si Juling. Mereka memasuki rumah Babah gemuk itu. Babah yang kini tengah asyik bermain dadu dengan dua orang tentara Jepang yang anak gadisnya tengah dilanyau oleh tentara Jepang berpangkat Chu-i itu. Mereka melangkah terus ke dalam. Baribeh dan si Jul nampaknya sudah terlalu biasa di rumah ini. Mereka mengenal setiap penghuni dan sudut rumah itu. Ketika mereka muncul ditempat orang yang tengah berjudi dadu itu, si Babah berbisik pada salah seorang perwira Jepang didepannya :

” Ini mereka datang,” kemudian dia berseru pada Baribeh ” Hai Baribeh. Lama tak datang lagi. Mana saja ente pigi ?”

”We pigi jauh. We ada bawa kabar baik, dan ada bawa kawan baik. Ini kawan mau main dadu sama babah

”. Baribeh menjawab sambil menirukan gaya bicara babah gemuk itu. Babah gemuk itu menatap pada Si Bungsu. Demikian pula kedua serdadu Jepang itu. Kedua Jepang itu menatapnya dengan seksama.

Sementara Babah gemuk itu hanya menatap sebentar. Namun Si Bungsu, yang nyaris tiga tahun hidup di pinggang gunung Sago, bergaul dan mempelajari kehidupan mahluk yang ada di sana, terutama hewan buas agar tak mati dilapahnya, dapat menangkap pandangan yang ganjil maknanya dari tatapan mata si Babah yang sekejab itu. Dia tak dapat mengetahui dengan pasti, apa yang harus dia curigai dari tatapan si gemuk itu. Namun firasatnya yang tajam, yang dia bawa dari pengalaman hidup sekitar dua tahun di gunung Sago, memperingatkan bahwa kalau terjadi apa-apa, maka yang berbahaya dan harus diawasi adalah Babah gemuk yang kelihatan loyo itu.

Dengan pesan naluri demikian, dia lalu mengangguk kepada mereka. Kemudian duduk agak berjarak dari kedua Jepang tadi. Baribeh dan temannya si Juling itu juga mengambil tempat duduk menghadapi si Babah. Ketiga mereka yang baru datang itu belum segera bertaruh. Mereka hanya duduk memperhatikan permainan yang sedang berlangsung.

Si Baribeh merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah bungkusan. Kemudian mengeluarkan semacam tembakau, tapi agak kasar. Menggulungnya besar-besar, kemudian menghirupnya seperti mengisap cerutu. Kedua perwira Jepang yang tengah berjudi itu mengangkat kepala mencium bau asap yang dihembuskan oleh si Baribeh.

” Hmm. Candu. Candu nomor satu ” ujar yang seorang Salah seorang diantara mereka lalu meraih bungkusan si Baribeh. Menggulungnya besar-besar. Dan menghisapnya. Temannya juga ikut meniru. Kemudian si Juling. Mereka menghisap candu itu dengan ni’matnya.

”Siap ..?”

Babah gemuk itu bertanya pada kedua Jepang yang tengah kesedapan itu sambil mengangkat bambu di tangannya.

”Ayo kita main” ujar seorang Jepang pada Baribeh yang kemudian menggamit si Jul dan Bungsu untuk ikut memasang taruhan

”Mulailah ..”

Jepang yang berkepala botak dan bertubuh kurus berkata sambil tetap menghisap candunya. Si Bungsu melihat Babah gemuk itu mengambil tiga buah dadu dari piring yang tertelentang di tikar. Kemudian memasukkan kedalam bambu yang panjangnya lebih dari sejengkal itu.

Si Bungsu memperhatikan jari-jari tangan Babah. Aneh, Cina itu bertubuh gemuk dengan perut buncit.

Namun jari-jari tangannya tidak selaras dengan tubuhnya yang subur itu.

Biasanya orang-orang gemuk jari jemarinya pastilah bulat-bulat gemuk pula. Tapi jari-jari Babah ini kelihatan langsing dan panjang-panjang. Berbeda dengan Cina-Cina tua lainnya, yang biasanya membiarkan kukunya tak terawat, kuku Babah ini kelihatan dipepat bersih.

Kini dia tengah mengguncang bambu yang berisi dadu itu. Terdengar bunyi dadu saling berputar dan beradu dalam bambu tersebut. Empat kali putaran cepat, tiba-tiba bambu itu ditelungkupkannya di atas piring. Dalam waktu yang sangat singkat, terdengar ketiga buah dadu itu jatuh ke piring. Babah itu melepaskan tangannya dari bambu. Dan bambu itu tertegak di atas piring menutupi ketiga butir dadu di dalamnya.

Baribeh memasang taruhannya pada angka-angka dua, tiga dan empat. Dia memang bertaruh begitu. Main tebak dibanyak nomor. Biasanya salah satu pasti kena. Sementara Si Bungsu hanya memasang disatu nomor.

Dan dalam empat kali meletakkan taruhan tadi, dia tetap bertahan memasang disatu nomor saja.

Kinipun dia bermaksud begitu, mengambil uang dari kantongnya.

Kemudian meletakkan di angka satu. Si Juling memasang dinomor empat, yaitu diangka pasangan Baribeh. Babah gemuk itu mengangkat bambu yang menutupi dadu.

Satu !

Ya, ketiga dadu itu menunjukkan angka satu di atasnya. Baribeh tercengang. Juling tercengang. Perwira Jepang yang satu itu, yang kali ini tak ikut memasang taruhan juga tercengang. Si Bungsu ternyata menebak dengan tepat dan memenangkan taruhan. Babah gemuk itu tersenyum.

Kemudian membayar pada Si Bungsu sebanyak enam kali lipat dari taruhannya yang dipasang. Lambat- lambat dia memasukkan lagi buah dadunya. Kemudian memutar dadu dalam bambu itu. Setelah lima kali putaran cepat, bambu berisi dadu itu dengan cepat dia telungkupkan.

Kembali terdengar suara mengerincing ketika buah dadu jatuh di atas piring di bawah telungkupnya potongan bambu. Si Bungsu memasang teliganya. Kalau dulu sebelum ”mengungsi” selama dua tahun ke gunung dia selalu menang main dadu adalah berkat pandainya dia main curang, maka kini lain halnya. Dulu dialah yang memegang dadu. Dan selalu dadunya hanya sebuah.

Dia bisa memainkan dadu itu. Kini dengan tiga buah dadu, dia mengandalkan pendengarannya. Kalau saja dia tak pernah berlatih di gunung Sago, mungkin kini dia akan kalah terus. Sebab babah gemuk itu lihainya bukan main pula. Tapi kini dia dibekali dengan pendengaran setajam pendengaran macan tutul. Dengan jelas dia mendengar jatuhnya buah dadu itu kepiring. Dia juga bisa membedakan bunyi angin yang tertekan, tergantung dari banyak atau sedikitnya lobang pada dadu itu yang menghadap ke bawah.

Dadu yang keras bunyi jatuhnya, pastilah yang sedikit lobang yang menghadap ke bawah. Sebab pada lobang-lobang itu sedikit angin yang tertahan. Kalau lobang enam yang menghadap ke bawah, maka bunyinya akan lebih lunak dibandingkan dengan angka satu. Sebab dalam lobang-lobang dadu yang enam buah itu angin banyak tertahan dan membuat jatuhnya lebih pelan.

Hanya kini dibutuhkan kepandaian menerka tepat antara lobang enam dengan lobang lima. Untuk membedakannya dibutuhkan keahlian bertahun-tahun. Namun bagi Si Bungsu hal itu sudah merupakan kaji menurun. Dia memang seorang penjudi ulung sebelumnya.

Kini dengan pendengarannya yang tajam, dia segera dapat menebak. Kalau empat taruhan terdahulu dia hanya ingin coba-coba, maka kini dia bertaruh dengan penuh keyakinan.Semua uang kemenangannya tadi dia taruh di angka satu, empat dan enam. Baribeh menaruh uangnya di angka tiga dan lima. Perwira Jepang yang satu itu menaruh taruhannya di angka enam, Juling menaruh di angka satu.

”Sudah ..?” si Babah bertanya.

Tak ada yang menyahut. Mereka semua menatap diam pada piring itu. Babah gemuk itu mengangkat bambu. Dan kembali mereka terkejut. Ketiga buah dadu itu menunjukkan angka persis seperti taruhan Si Bungsu.

Yang muncul di atas adalah mata satu, empat dan enam. Dengan demikian dia kembali memenangkan taruhan. Perwira Jepang yang memasang di angka enam ikut bersorak gembira. Demikian pula si Juling yang menaruh uangnya di angka satu. Mereka menerima bayaran taruhannya.

Si Babah membayar dengan tenang. Matanya sesekali menatap pada Si Bungsu. Dan bulu tengkuk Si Bungsu merinding melihat kilatan mata Babah gendut itu. Namun dia tetap duduk diam di tempatnya. Tongkat samurainya dia letakkan di paha. Siap menanti segala kemungkinan.

Lagi pula apa yang harus dia takutkan ? Bukankah pertaruhan ini jujur ? Bukan dia yang jadi bandar. Dia hanya pemasang taruhan. Dalam perjudian, biasanya yang selalu curang adalah bandar. Dan kinipun kalau akan ada huru hara, maka itu hanyalah karena dua soal.

Pertama karena bandar curang, dan ini tak kelihatan tanda-tandanya. Dan kedua karena bandar atau salah satu pihak tak rela kalah. Dan inipun tak ada atau belum ada tanda-tandanya. Meski telah membayar cukup banyak dalam dua kali taruhan ini, tapi Babah gemuk itu membayar masih dengan tersenyum. Dia tampaknya memang cukong yang siap berjudi dengan siapapun dan dalam taruhan berapapun. Kini jari-jarinya yang panjang dan kurus itu mulai mengambil buah dadu. Memasukkan kedalam potongan bambu dan mengangkatnya tinggi. Si Bungsu kebetulan sedang menatapnya pula. Mereka saling pandang. Babah itu tersenyum. Dan kembali urat-urat darah di tubuh Si Bungsu mengencang melihat tatapan mata dan senyum Babah gemuk ini.

Lambat-lambat tangan si Babah mulai memutar bambu berisi dadu. Suara dadu terdengar bersentuhan dan berputar di dinding tabung bambu pendek itu. Mata Babah gemuk itu bergantian menatap Si Bungsu, Baribeh, perwira Jepang dan si Juling.

Menatap sambil tangannya tetap memutar tabung bambu berisi dadu tersebut. Si Bungsu tidak lagi menatap pada si Babah. Meskipun dia tahu Babah itu memandang padanya beberapa kali selama mengguncang dadu. Tapi kini dia menunduk. Telinganya dia pasang baik-baik. Pendengarannya dia pusatkan pada bijih dadu yang berputar itu.

Dan tiba-tiba Babah itu menghentikan putarannya. Berbeda dengan cara sebelumnya, kali ini dia tak langsung menelungkupkan tabung itu di atas piring. Melainkan memegangnya dulu. Buah dadu itu berkumpul di dasar tabung. Beberapa detik berlalu. Lalu tiba-tiba, dengan amat cepat tabung bambu itu di telungkupkan di piring di depannya. Tak ada suara buah dadu yang menyentuh piring. Sepi. Perwira Jepang itu, Baribeh dan si Juling jadi heran, sebab tak satupun terdengar buah dadu yang jatuh kepiring. Tak satupun.

Kepandaian Babah ini bukan main. Baribeh jadi kagum sebab selama ini Babah itu belum pernah melakukan hal itu. Kini buah dadu itu menyentuh piring tanpa terdengar sedikitpun suaranya.

” Pasanglah,” kata si Babah perlahan. Tangannya masih tetap memegang tabung yang tertelungkup itu. Perwira Jepang itu sejenak memandang pada Si Bungsu. Tapi karena Si Bungsu masih diam, dia segera memasang taruhannya di angka empat. Baribeh dengan ragu memasang taruhannya di angka lima dan satu. Si Juling memasang di angka dua. Si Bungsu masih diam. Babah gemuk itu menatap padanya.

”Tidak ikut memasang ?” tanya si babah.

Si Bungsu menatap Cina itu. Mereka saling pandang. ”Tidak ikut bertaruh ..?” babah itu kembali bertanya.

Sementara yang lain, termasuk tiga orang perempuan cantik yang kini duduk dekat Baribeh, Juling dan perwira Jepang itu, menatap padanya dengan diam.

” Pasang saja taruhannya ”. Babah itu berkata lagi.

” Taruhan baru saya pasang kalau dadunya sudah jatuh di piring ” Si Bungsu berkata perlahan.

Perwira Jepang serta Baribeh saling pandang. Mereka jadi ragu atas ucapan anak muda ini. Apakah buah dadu itu memang belum jatuh ke piring ? Masakan belum. Mana bisa dadu itu tergantung atau tertahan di atas dalam tabung bambu itu. Mustahil.

”Jatuhkanlah buah dadu itu ke piring, baru saya memasang taruhan ”. Ujar Bungsu.

Babah itu tersenyum. Mau tak mau dia terpaksa harus memuji keunggulan pendengaran anak muda ini.

Anak muda yang luar biasa, pikirnya. Luar biasa lihainya berjudi.

Sebuah dencingan halus terdengar di dalam tabung itu. Sebuah dadu jatuh. Sepi setelah itu. Si Bungsu masih tetap menunduk. Memasang telinga. Sebuah dentingan lagi. Dan sepi. Babah itu mengangkat tangannya dari bambu tersebut. Perwira Jepang itu dan Baribeh kembali saling pandang.

” Baru dua buah yang jatuh ”. perwira itu berkata.

Babah itu tersenyum sambil menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu mengambil semua uang yang dia menangkan dalam taruhan tadi. Kemudian meletakkan semuanya pada nomor tiga dan lima. Kemudian sepi.

” Tak ada yang akan merobah letak taruhan ?”

Babah itu bertanya. Tak seorangpun yang menyahut. Babah itu kemudian mengangkat tabung bambu itu. Dan tiba-tiba semua orang, kecuali Si Bungsu, jadi tertegun.

Dua diantara tiga dadu itu memang menunjukkan angka-angka seperti yang ditebak Si Bungsu. Mata dadu yang muncul di atas adalah mata satu, lima dan tiga. Berarti dua taruhannya menebak tepat dan benar. Dia tak memasang taruhan pada angka satu, namun itu tak mempengaruhi kemenangannya.

Si Babah mulai berpeluh. Dia terpaksa tegak dan berjalan menuju biliknya. Tak lama dia muncul membawa sebuah kantong besar. Lalu duduk lagi di tempatnya tadi dan membuka kantong yang tadi dia bawa. Menatap ke uang taruhan Si Bungsu beberapa saat.

Kemudian mulai menghitung uang yang dia ambil dari dalam kantong. Dan meletakkannya pada uang taruhan Si Bungsu. Si Bungsu hanya menatap dengan diam. Dia tahu, meski Babah itu tak menghitung taruhannya, namun Babah itu tahu dengan pasti berapa harus membayar. Suatu keahlian yang jarang tersua. Menghitung uang dari jarak tertentu tanpa menyentuhnya.

Dari seratus penjudi lihai, barangkali ilmu ini hanya terdapat pada satu atau paling banyak dua pejudi. Dengan demikian, si Babah telah menunjukkan dua ilmu simpanannya. Pertama demontrasi tenaga dalam. Yaitu tatkala tadi dia menahan ketiga dadu itu di bahagian atas tabung bambu.

Perwira Jepang dan Baribeh menyangka bahwa dadu itu berada di piring. Tapi ternyata masih dia tahan melalui penyaluran tenaga dalamnya pada dinding tabung bambu itu. Dan ilmunya ini ternyata diketahui oleh Si Bungsu. Kedua adalah ilmu menghitung tanpa menyentuh duit sebentar ini. Dan Si Bungsu juga mengetahuinya. Oleh karena itu dia tak mau menghitung uang bayaran yang diberikan oleh Babah.

Uang itu dia kaut dan dia letakkan didepannya. Yang ikut beruntung adalah Baribeh. Taruhannya di angka lima juga mengena. Sementara taruhan perwira itu dan taruhan si Jul ditarik oleh si Babah. Si Babah masih tersenyum. Kemudian memungut bijih dadu di atas piring, kemudian memasukkannya ke dalam tabung bambu itu. Dia memutarnya. Kemudian terbatuk.

Saat itulah tiba-tiba saja ke ruangan itu berlompatan enam orang Kempetai dengan senjata terhunus. Mereka dikurung di tengah. Si Bungsu secara reflek segera meraih samurainya yang terletak di paha. Namun entah bagaimana caranya, tahu-tahu samurai itu terpental jauh kebelakang terkena tendangan si Babah. Sebelum Si Bungsu sadar apa yang terjadi, tendangan si Babah mendarat di dadanya. Dia terguling dan segera saja muntah darah. Kepalanya berkunang-kunang. Ketika dia coba untuk bangkit, rambutnya ditarik dengan keras. Dia terduduk. Dan segera saja empat buah sangkur terhunus ditekankan ke dada dan lehernya.

”Kalau kau melawan, kau kami bunuh disini ”. Kempetai yang memimpin penyergapan ini mendesis dengan tajam. Si Bungsu tak dapat bergerak sedikitpun. Dia melihat Babah tadi duduk dengan tenang. Begitu pula Baribeh dan si Juling. Semula dia menyangka bahwa penggerebekan ini adalah penggerebekan Kempetai terhadap tempat-tempat judi. Karena dia pernah mendengar bahwa tentara Jepang dilarang berjudi. Tapi kali ini rupanya penggerebekan itu memang sudah direncanakan. Si Bungsu tak menyadari sedikitpun, bahwa dia masuk perangkap. Sudah tiga hari ini dia memperhatikan rumah Babah ini. Dia mendapat informasi bahwa rumah Babah ini termasuk suatu tempat berkumpulnya para perwira untuk berjudi dan bersenang-senang dengan pelacur kelas tinggi.

Dia mengawasi rumah ini untuk mengetahui jejak Saburo. Dia berharap untuk bertemu dengan Kapten yang telah membantai keluarganya itu. Tanpa disadari selama dia mengawasi rumah ini dari kejauhan ada pula orang lain yang juga mengawasinya. Orang itu tak lain dari si Babah sendiri. Si Babah ini memang harus hati- hati. Dia tidak mau mati konyol. Oleh karena itu dia mengawasi setiap orang yang lewat di depan rumahnya.

Makanya tak heran kalau kehadiran Si Bungsu tiga hari berturut-turut tak jauh dari rumahnya menarik perhatiannya. Si Bungsu yang memata-matai rumah itu kini balik dimata-matai.

Suatu hari si Babah bertemu dengan Baribeh di pasar. Dia bawa Baribeh kesuatu tempat di mana dapat melihat Si Bungsu dengan aman. Tentu saja si Baribeh dan si Juling mengenal anak muda itu dengan baik. Tapi mereka tak mengetahui untuk apa Si Bungsu tegak di sana. Mereka hanya mengetahui bahwa Si Bungsu sudah mati ditebas Saburo dan anak buahnya sekitar dua tahun yang lalu. Apakah Si Bungsu menyangka bahwa kebocoran rahasia persembunyiaan Datuk Berbangsa dulu adalah andil Babah gemuk ini? Babah gemuk itu jadi was-was. Sebab rahasia bahwa di Situjuh Ladang Laweh ada orang yang menyusun kekuatan untuk melawan Jepang, memang Babah inilah yang memberitahukannya pada Kempetai. Si Babah pulalah yang membayar beberapa orang Minang dengan bayaran yang tinggi, untuk mengorek rahasia bahwa yang memimpin gerakan itu adalah Datuk Berbangsa dan Datuk Sati.

Babah ini memang menjadi semacam pusat informasi bagi balatentara Jepang. Dia sudah berada di Payakumbuh ini sejak puluhan tahun. Ketika Belanda berkuasa dia menjadi kaki tangan Belanda. Dan ketika Jepang datang dia menjadi cecunguk Jepang pula. Untuk mengetahui apa maksud pemuda ini, makanya Babah itu lalu memasang perangkap. Si Baribeh dan si Juling dibuat pura-pura terkejut kalau bertemu dengannya. Kemudian membujuknya untuk masuk berjudi ke dalam. Di dalam mereka akan menangkapnya.

Begitu ia masuk, seorang kurir yang dipasang tak jauh dari rumah itu segera melaporkan pada Kempetai akan adanya seorang mata-mata di rumah si Babah. Dan Si Bungsu masuk ke dalam perangkap yang dipasang itu. Dia masuk sebenarnya dengan maksud ingin mencari informasi tentang Saburo. Kini ternyata dia diringkus. Babah itu tersenyum menatapnya. Senyumnya persis seperti senyum ketika membayar taruhan tadi.

Kembali Si Bungsu merasa bergidik melihat senyum itu.

”Anak muda, coba terangkan apa maksudmu memata-matai rumahku ini,” Babah itu bertanya.

Si Bungsu tak menjawab.

”Jawab …! Jawablah apa maksud memata-matai rumahku ini! Kau ditugaskan oleh siapa untuk memata- mataiku? Ditugaskan oleh pejuang-pejuang yang akan melawan Jepang ya?”

Si Bungsu terdiam. Dia tidak mengerti ujud petanyaan itu.

”Jawablah Bungsu. Kalau tidak kau bisa susah ”. Kata Baribeh. Si Bungsu masih diam. ”Apakah Mahmud mengirim dia kemari? ” si Babah bertanya pada Baribeh.

”Tidak. Dia justru mengirimkan kurirnya ke Kubu Gadang. Mereka akan menyerang Kubu itu untuk merampas persenjataan ”.

”Kapan mereka merencanakan?” ”Dua malam lagi ”.

”Apakah tindakan lainnya ”.

”Kalau tak berhasil mereka akan membakar Kamp kita ”.

Si Bungsu menatap Babah dan Baribeh berganti-ganti. Menyimak pembicaraan kedua orang itu kini persoalan menjadi jelas baginya, bahwa Baribeh bekerja untuk Babah Cina itu. Babah itu bekerja untuk Jepang. Mereka memata-matai kegiatan pejuang-pejuang Indonesia. Si Bungsu tiba-tiba menjadi ingin muntah saking jijik dan mualnya melihat Baribeh, si Juling dan si Babah. Tapi sekaligus dia juga menjadi lega. Sebab dengan pertanyaan si Babah itu dia menjadi tahu, bahwa baik si Baribeh maupun pihak Jepang tak mengetahui sedikitpun bahwa dialah yang telah membunuh Jepang-Jepang itu dalam bulan-bulan terakhir ini. Ini berarti pembunuhan tiga orang Kempetai di kampungnya ketika akan menangkap Salim anak Imam dari Mesjid belum diketahui Jepang. Barangkali ketiga Jepang itu disangka melarikan diri atau lenyap begitu saja. Belum ada yang menyangka bahwa dia mati terbunuh. Itu juga berarti bahwa kematian Jepang-Jepang di kedai kopi Siti di kampung Tabing dulu juga masih disangka karena mereka saling berkelahi. Persis seperti yang direncanakan dulu. Dan itu juga berarti bahwa Kempetai ini belum mengetahui bahwa yang membunuh Jepang-Jepang di tempat pelacuran Lundang dulu itu adalah seorang pribumi. Si Bungsu menjadi agak tentram. Buat sementara dia masih aman. Kini tinggal hanya bagaimana melarikan diri dari rumah Babah celaka ini.

”Hei monyet, jawablah. Apakah maksudmu memata-matai rumahku?”

Babah itu memaki. Muka Si Bungsu jadi merah padam. Di negerinya sendiri ada Cina yang memakinya dengan sebutan monyet. Ada Cina yang selama puluhan tahun diterima dengan baik oleh bangsanya, diterima di tengah pergaulan dan mencari makan di bumi negerinya dan hidup dengan aman selama puluhan tahun itu, berani memaki dirinya. Memaki anak negeri dimana dia hidup menompang dengan sebutan monyet!

Alangkah jahanamnya. Dia tatap mata si Babah. Dan saat itu perwira yang tadi masuk ke bilik si Amoy anak si Babah, muncul di pintu. Dia mendengar bentakan, dan cepat-cepat menyudahi permainannya. Lalu memasang celana dan baju. Si Amoy dia tinggalkan terguling lelah di lantai.

”Ada apa ..?” tanya perwira yang bernama Ichi kepada Babah.

Si babah menceritakan tentang Si Bungsu yang mengintai rumahnya. Perwira itu menatap pada Si Bungsu.

”Paksa dia untuk bicara. Barangkali dia ikut ketika mencuri senjata di Kubu Gadang dulu ..” Kata Ichi sambil berjalan ke sudut ruangan mengambil minuman.

”Bicaralah ..!”

Kata si Babah pada Si Bungsu. Kali ini tangannya bergerak. Mengambil bijih dadu sebuah. Meletakkannya di antara ibu jari dan telunjuk kanannya. Kemudian ”menembakkan” buah dadu itu kearah Si Bungsu.

Tanpa dapat ditahan, Si Bungsu terpekik. Bijih dadu itu menghantam daun telinganya sampai robek. Darah mengucur dari sana. Namun Si Bungsu tak dapat bergerak. Sebab empat bayonet masih menekan dada dan lehernya. Dapat dibayangkan betapa tingginya ilmu Babah itu. Hanya dengan jentikan halus saja, dadu itu sanggup memecah telinga Si Bungsu. Tidak hanya berilmu tinggi, tapi sekaligus berhati sadis!

”Jawablah!! Kalau tidak engkau akan kubunuh seperti membunuh tikus ..” Kata si Babah dengan nada dingin.

”Saya mencari Saburo ”.

Akhirnya Si Bungsu berkata jujur. ”Saburo ..?”

”Ya ..”

”Tai-i Saburo Matsuyama?” ”Ya”.

”Untuk apa kau mencarinya? ”

”Ada persoalan yang harus kuselesaikan ” ”Persoalan apa?” ”Itu urusanku ..”

Mendengar jawaban ini, babah gemuk itu kembali mengambil sebutir dadu. Lalu kembali dia letakkan di antara ibu jari dan telunjuknya. Kemudian dia sentilkan kearah Si Bungsu. Kembali Si Bungsu terpekik.

Sebenarnya dia telah berusaha untuk menahan sakit. Dia menggertakkan gigi. Namun dadu itu menghantam keningnya. Namun Babah gemuk itu bukan main lihainya. Dadu itu menyerempet kening Si Bungsu sedemikian rupa. Mula pertama dadu itu menjitak dahi Si Bungsu. Sakitnya bukan main, kemudian melesat merobek kulit keningnya arah ke belakang. Kulitnya kepalanya robek empat jari. Darah mengucur.

Babah gemuk itu tertawa menyeringai. Demikian pula Baribeh dan si Juling. Air mata Si Bungsu merembes di pipinya. Dia tak menangis. Tapi air mata itu adalah air mata menahan sakit. Dia menyumpahi dirinya yang dengan mudah masuk ke dalam perangkap orang-orang sadis ini. Si Bungsu bersumpah, kalau dia kelak dapat membalas, maka Babah gemuk ini adalah orang pertama yang paling nista dia perbuat. Dia akan cincang perut gendutnya itu. Dia benar-benar bersumpah untuk itu. Tekadnya untuk hidup makin menyala.

”Nah, buyung. Katakanlah untuk apa lu mencari Tai-i Saburo ..!” Kata Cina gendut itu. Si Bungsu menghapus darah dikeningnya. Menghapus darah dari daun telinganya yang koyak. Pedih dan sakit dari kedua lukanya itu menyentak-nyentak.

”Bagaimana saya akan bicara kalau leher dan dada saya ditekan begini?” Katanya coba mencari kesempatan. Dia berharap dengan ucapannya itu bayonet yang ditekankan ke leher dan dadanya akan ditarik. Kalau saja dia punya kesempatan agak sedikit, dia bisa berguling dengan loncat tupai ke belakang menyambar samurainya.

Demi Tuhan, akan dia cincang semua lelaki yang ada dalam ruangan ini. Terutama Cina gemuk seperti babi ini. Namun Babah itu memang orang sadis. Di tangannya tiba-tiba telah berada pula sebuah bijih dadu. Meletakkan dadu itu kembali di antara ibu jari dan telunjuknya. Dadu itu siap lagi untuk dia sentilkan pada Si Bungsu.

”Dadu ini bisa menembus jantungmu. Engkau mati. Atau bisa menembus matamu. Engkau buta. Maka sebelum salah satu di antara kemungkinan itu terjadi, bicaralah yang benar. Tak peduli ada bayonet atau tidak di lehermu!”

Benar-benar sadis. Mau tak mau Si Bungsu memang harus buka mulut. ”Saya ingin menuntut balas kematian keluarga saya ..” katanya perlahan.

”Dengan apa akan kau tuntut? Dengan menembaknya? Atau dengan menyerang rumahnya bersama gerombolan Indonesia? Hmm ..? Katakan bagaimana caranya!!”

”Dengan cara saya sendiri ..” ”Bagaimana caramu!”

Si Bungsu terdiam. Babah gemuk itu bangkit. Kemudian mendekatinya. ”Katakan bagaimana caramu ..!” desis Babah itu.

Perwira-perwira Jepang yang lain menatap dengan diam. Si Bungsu jadi sadar, Cina ini nampaknya adalah salah seorang Perwira Intelijen Jepang, karena kelihatan sekali dia disegani perwira-perwira itu. Hanya saja jabatannya itu dia rangkap sebagai penjudi dan pengusaha rumah lacur. Demikian tak bermoralnya dia, sehingga demi pangkat dan karirnya di mata Jepang, dia rela mengorbankan anak gadisnya untuk memuaskan nafsu perwira-perwira Jepang tersebut. Karena Si Bungsu masih tetap diam, Babah itu menjitak kepalanya. Terdengar suara berdetak ketika lipatan jari babah itu menghantam keningnya. Keningnya segenap bengkak sebesar telur.

”Katakanlah dengan siapa kau akan pergi menyerang Tai-i Saburo, dan dimana kalian akan berkumpul, monyet!”

Kepalanya yang kena jitak amat sakit, tapi yang lebih sakit adalah hatinya. Benar-benar sakit hati Si Bungsu menerima perlakuan Babah gemuk ini. Pertama cara dia menekek atau menjitak kepalanya tadi. Benar- benar menyinggung hatinya. Kemudian ucapannya menyebut ”monyet” benar-benar menyakitkan. Saking sakit hatinya, anak muda itu lupa mengontrol diri. Tanpa dapat dia tahan, dia meludahi muka Babah gemuk itu. Ludahnya menghantam wajah si Babah. Anak muda ini benar-benar lupa diri saking marahnya. Dia tak sadar sama sekali, bahwa dengan perbuatannya ini dia bisa dibunuh si Babah seketika. Kalau itu terjadi, maka dendamnya pada Saburo takkan pernah terbalaskan.

Namun si Babah yang mukanya sudah seperti udang direbus itu benar-benar tak memberi ampun. Kakinya melayang. Si Bungsu yang memang tak pernah belajar silat itu kena hantam dadanya. Tubuhnya tercampak. Dan masih belum mencecah lantai, dia sudah muntah darah. Kemudian tubuhnya jatuh. Masih belum dia sadari apa yang terjadi, ketika sebuah tendangan kembali mendarat di rusuknya. Sakitnya bukan main. Dia mendengar tawa si Babah. Yang menendangnya barusan ini ternyata si Baribeh. Untung si Baribeh. Sebab kalau Cina itu yang menendang, dia yakin empat rusuknya akan patah. Tendangan Baribeh itu membuat dia terguling lagi. Dia tertelungkup diam. Kening, telinga, mulut dan hidungnya melelehkan darah.

”Anjing! Melayu anjing, berani kau meludahiku, kupotong lidahmu ” Sumpah si Babah dan mendekati tubuhnya. Si Bungsu benar-benar berada dalam keadaan kritis. Babah itu mengambil sebuah pisau dari atas meja. Dia nampaknya memang berniat melaksanakan sumpahnya untuk memotong lidah Si Bungsu. Namun saat itu Si Bungsu merasa ujung jarinya menyentuh sesuatu. Tanpa terlihat, masih dalam posisi tertelungkup, dia membuka mata. Tiba-tiba semangatnya timbul lagi. Yang berada di ujung jarinya itu adalah samurainya! Langkah si Babah makin mendekat. Makin dekat. Kaku berjongkok dan berniat memegang wajah anak muda itu untuk mengeluarkan lidahnya. Namun dengan gerakan yang hampir-hampir tak dapat dipercaya oleh semua orang yang ada dalam ruangan itu, Si Bungsu berguling dua kali kekanan. Dua kali kekiri. Dalam gulingan yang amat cepat dan ringan dia melompat berdiri. Secarik cahaya putih berkelebat amat cepat. Tiga orang serdadu Jepang yang tadi menekan leher dan dadanya dengan sangkur masih melongo tatkala kilatan cahaya itu menerpa wajah mereka. Mereka terpekik dan roboh.

Darah muncrat dari tubuh mereka. Kini Si Bungsu tegak di atas unggukan uangnya dengan sikap seperti seekor Rajawali yang siap menyambar mangsanya. Samurainya terhunus melintang di depan dada. Samurai itu berlumuran darah. Matanya menatap tajam pada Babah gemuk itu. ”Siapa saja yang bergerak mencabut senjata atau berniat lari atau memekik, akan kucabut nyawanya. Tegak saja di tempat kalian baik-baik!” Ujar anak muda itu perlahan. Suaranya dingin dan penuh ancaman. Perwira Ichi yang semula berniat mencabut pistol, jadi tertegun. Tangannya terhenti di gagang pistolnya. Ancaman anak muda ini menggetarkan jantungnya. Namun jarak antara dia dengan anak muda itu cukup jauh. Lagipula tubuhnya terlindung oleh tubuh seorang wanita. Dia pasti aman kalau mencabut pistol itu diam-diam kemudian menembaknya pada tengkuk anak muda pongah ini. Dia sudah berniat untuk melaksanakan maksudnya.

Tapi entah kenapa tiba-tiba dia jadi ragu. Karenanya dia memberi isyarat dengan mata pada si Baribeh.

Baribeh mengerti isyarat itu. Lelaki itu lalu bicara untuk mengalihkan perhatian Si Bungsu.

”Bungsu, jangan berbuat kekacauan di sini. Engkau tak akan bisa lolos lihatlah, rumah ini telah dikepung

..”

Dan waktu itulah pistol Ichi keluar dari sarungnya. Pistol itu sudah akan dia angkat. Malang dia tak

mengetahui bahwa anak muda ini tidak sama dengan kebanyakan anak muda Melayu lainnya. Anak muda yang satu ini telah melatih indranya di gunung selama dua tahun lebih. Dia telah lolos dari kehidupan liar yang membutuhkan perjuangan keras untuk bisa tetap bertahan. Dia mampu bertahan hidup di tengah ganasnya belantara yang amat liar. Hidup di tengah hukum rimba. Dimana hanya yang kuat yang berhak untuk hidup. Yang lemah harus mau menjadi tumbal untuk kelangsungan hidupnya yang kuat.

Dalam kehidupan di rimba belantara itu, kekuatan saja tidak menjadi jaminan untuk bisa memperpanjang nyawa. Kuat tanpa kecerdikan bisa konyol. Kuat dan cerdik saja juga belum tentu bisa selamat. Kewaspadaan dan ketajaman firasat serta pendengaran sangat dibutuhkan. Bagaimana caranya mengetahui seekor ular yang bergerak tanpa suara itu akan menyerang kita?

Bagaimana caranya mengetahui seekor harimau yang akan menerkam mangsanya, yang bergerak seringan kapas tanpa dilihat dan tanpa terdengar oleh mangsa yang akan diterkam. Makhluk di rimba raya memerlukan ketajaman firasat dan pendengarannya untuk bisa bertahan hidup. Inilah yang terpenting, bukan hanya kekuatan semata.

Burung, tupai atau kancil, adalah makhluk yang lemah tanpa daya. Namun mereka bisa hidup berkembang dan tak punah dalam belantara yang dipenuhi kebuasan itu berkat pendengaran dan firasat mereka yang tajam. Itu pulalah yang dipelajari Si Bungsu selama mengasingkan diri selama dua tahun di gunung Sago. Dia bertekad untuk tetap hidup sekurang-kurangnya sampai dendam keluarganya terbalaskan. Kalau burung atau kancil saja bisa hidup, kenapa dia sebagai manusia yang berakal tidak? Kalau mereka mempunyai ketajaman pendengaran, kenapa dia tak bisa menirunya? Maka hiduplah dia di rimba itu sambil menimba banyak sekali kearifan hidup dari hewan yang purbani.

Ternyata dia keluar sebagai pemenang. Tetap hidup sampai saat ini. Itu pula yang terjadi di rumah babah gendut itu. Disaat Ichi menarik pistolnya, telinga Si Bungsu yang mampu mendengar daun jatuh sekalipun saat di gunung sana, juga mendengar benda keras yang dicabut dari sarangnya. Firasatnya segera bekerja. Benda itu kalau tidak pisau pastilah pistol. Dalam waktu yang singkat sekali, dia menjatuhkan diri kebelakang. Punggungnya mencecah lantai. Kemudian kakinya bergulung keatas. Saat itu pistol meledak. Namun pelurunya menerpa tempat kosong. Dengan dua kali bergulingan amat cepat, Si Bungsu melewati perempuan yang tegak di depan Ichi.

Perwira itu terkejut melihat anak muda itu tiba-tiba saja sudah berada di depannya. Pistol dia arahkan padanya. Namun samurai Si Bungsu berkelebat. Tak ada pekikan. Perwira Jepang itu rubuh dengan bahu di dekat pangkal lehernya belah dua sampai ke dada. Bukan main. Benar-benar satu gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti mata.

Seorang serdadu yang tegak di sisi Ichi justru ternganga menatap tubuh perwiranya yang jatuh tergolek dengan tubuh hampir terbelah dua. Tapi nasibnya juga sial. Tengkuknya disambar samurai Si Bungsu. Kepalanya mengelinding ke bawah sebelum tubuhnya mencapai lantai. Mati.

Perempuan-perempuan pada terpekik. Si Bungsu tegak menghadap pada Babah gemuk itu. Si Babah terkejut melihat kecepatannya. Sementara si Baribeh dan si Juling tegak merapat kedinding belakang si Babah.Muka mereka pucat ketakutan. Tak pernah mereka bayangkan sedikitpun, bahwa anak muda yang pernah mereka lanyau di Surau ketika mereka kalah judi dahulu akan menjadi begini hebatnya.

”Hmm, lu jangan banyak lagag di depan we. Lu we bikin ayam potong”. Ujar Si Babah sambil menyeringai buruk. Si Bungsu memandangnya tak berkedip. Matanya yang biasa bersinar lembut kini membersitkan api amarah yang dahsyat. Samurainya membelintang di depan dada. Dia tegak dengan sikap gagah. Kemudian terdengar suarasuaranya bergema, dingin dan datar. ”Gendut, engkau telah hidup di negeriku ini sebelum aku dilahirkan. Bahkan mungkin kalian hidup sejak dari moyang kalian di sini. Di sini kalian hidup dan mencari nafkah. Pernah kalian diganggu anak negeri ini? Pernah kalian dihalangi untuk mencari nafkah? Tak pernah, kan? Bahkan kami menganggap kalian sebagian dari masyarakat kami. Kita sama-sama berhak hidup dan mencari kehidupan di negeri ini. Tapi apa kini yang kau perbuat untuk membalas kebaikan anak negeri ini? Yang telah berbaik hati menerima kalian hidup beberapa keturunan dengan damai di negeri ini?”

Dia berhenti sebentar, lalu :

”Ternyata kau khianati negeri ini pada Jepang. Engkau menjadi musuh dalam selimut bagi anak negeri yang telah puluhan tahun hidup bersamamu. Benar-benar sikap jahanam yang laknat. Demi uang engkau sudi berbuat apa saja. Tapi demi Tuhan, engkau harus mati malam ini. Harus, Gendut!”

Sumpah anak muda ini mau tak mau membuat bulu tengkuk Babah itu merinding. Si Baribeh dan si Juling tak berani berkutik. Tegak mematung dengan tubuh menggigil di tepi dinding. Kedua lelaki Minang ini sampai terkencing-kencing di celananya. Si Babah gendut itu nampaknya juga mengetahui bahwa anak muda di depannya ini tidak hanya menggertak sambal. Anak muda itu sanggup melaksanakannya. Karena itu dia mulai menyerang, tubuhnya seperti lenyap di bungkus sinar. Bukan main cepatnya dia bergerak. Si Bungsu buat sesaat jadi tertegun. Dia bukan pesilat, apa yang harus dia perbuat?

Suatu saat dia rasakan angin mengarah keperutnya. Dia tak melihat serangan. Tapi dia yakin angin itu berasal dari pukulan Gendut itu. Satu-satunya jalan yang bisa diambilnya adalah menghantamkan samurainya.

Bersamaan dengan itu tubuhnya berguling kesamping. Namun terlambat! Sebuah tikaman menghantam pahanya. Bukan main sakitnya, dia terpekik. Darah mengucur lagi! Si Babah memburu terus.

Untuk beberapa saat Si Bungsu terpaksa berguling dengan meniru loncat tupai itu. Untuk beberapa saat nampaknya dia teringat lagi pada perkelahiannya yang terakhir di gunung Sago melawan dua cindaku. Ya, kenapa dia tidak bertahan tegak saja sambil memejamkan mata? Bukankah dia bisa mengandalkan pendengarannya yang tajam itu.

Kalau dia mengelak terus begini, tenaganya akan habis. Gerakkannya akan lamban. Dan bila sudah begitu maka kesempatan untuk menangkis serangan juga tak ada lagi. Maka kini dia harus merobah taktik. Si Babah ini nampaknya memang seorang pesilat Cina yang tangguh.

Firasatnya yang mencurigai si Babah ketika mula-mula masuk tadi ternyata benar. Si Babah tidak hanya berilmu silat yang tinggi, tetapi juga seorang mata-mata yang amat berbahaya. Si Bungsu bergulingan menjauh. Saat berhasil menjauhi si Babah dia tegak kemudian memejamkan mata. Dia mendengar nafas memburu dan suara gigilan di belakangnya. Kemudian langkah menggeser.

Masih dalam keadaan memejamkan mata, dan masih dalam keadaan merasakan sakitnya telinganya yang koyak, keningnya yang luka dihantam dadu si Babah, dan paha yang luka kena tikam pisau, dia menghayunkan samurainya kebelakang. Si Baribeh dan si Juling yang berada di belakangnya, yang ingin menggeser tegak dari belakang anak muda itu, tiba-tiba terpekik. Bajunya robek dihantam samurai Si Bungsu. Dia tertegak diam dan merapat kembali kedinding.

”Engkau tak layak untuk hidup Baribeh. Selain penjudi, engkau ternyata menghianati negerimu. Orang semacam engkau tak layak mengaku sebagai anak Minangkabau.

Karenanya engkau juga tak layak hidup di negeri ini!”.

Suara Si Bungsu bergema perlahan. Tapi nadanya mengirimkan gigilan yang amat menakutkan ke jantung si Baribeh dan si Juling. Anak muda itu bicara dengan mata yang masih terkatub. Dia harus membagi inderanya antara mengawasi si Baribeh dan si Juling dengan gerakan si Babah gemuk.

”Yiy … ya! Ya benar. Saya memang tak layak untuk hidup di negeri ini. Karena itu mohonlah lepaskan saya. Saya akan berangkat meninggalkan negeri ini ..” si Baribeh berkata memohon terbata-bata. Terdengar gelak renyai dari mulut Si Bungsu.

”Hee .. he. Engkau akan pergi dari sini Baribeh?”

”Ya. Ya. Tapi kata waang saya layak hidup di negeri ini. Saya akan pergi jauh-jauh. Jauuuh sekali..” ”Hidup adalah sesuatu yang amat mulia untuk kau lumuri dengan dosa Baribeh. Kau tak berhak untuk hidup…..”

Baribeh terkejut dan hampir saja dia jatuh mendengar ucapan anak muda ini. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Meskipun tubuhnya menggigil dan celananya basah, dia angkat bicara lagi :

”Tet .. eh, tapi siapa yang menentukan bahwa saya tak berhak untuk hidup?” ”Saya!”

”Te .. eh. Tapi engkau bukan Tuhan!”

”Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam kehidupanmu yang kotor!” Sehabis bicara dia berputar. Dia harus bertindak cepat, sebab si Babah merupakan bahaya besar yang harus dia hadapi. Begitu dia berputar, tubuh Baribeh dan si Juling menggeliat dimakan samurainya. Dada mereka belah dan menyemburkan darah. Dua orang penghianat yang bekerja untuk seorang Cina yang memata-matai negerinya telah mati.

Mati di tangan anak muda yang pernah mereka lanyau. Kini Si Bungsu tinggal memusatkan perhatiannya pada si Babah gemuk itu. Namun saat itu di luar terdengar seruan dalam bahasa Jepang.. Kempetai! Ya, Kempetai telah mengepung rumah itu. Kempetai rupanya telah diberitahu oleh seorang mata-mata yang bertugas di luar.

Begitu mendengar pekikan, dia segera ke pos Kempetai. Kini Polisi Militer Jepang itu datang dengan kekuatan empat puluh orang. Si Bungsu berfikir cepat. Dia sudah bersumpah untuk membunuh Babah mata- mata jahanam ini. Kalau tidak maka lebih banyak lagi bencana yang akan ditimbulkan orang ini terhadap negerinya. Dia kini tegak membelakangi dinding dan mayat Baribeh. Sedepa di kanannya, terdapat pintu keruang depan. Dia melirik pintu itu besar dengan palang pengunci dari balok. Rumah ini model rumah-rumah Cina kuno yang kukuh.

Dengan bergerak cepat dia menghantam pintu itu sampai tertutup. Kemudian menyepak palangnya hingga jatuh dan mengunci pintu dari papan yang amat tebal itu. Namun saat itu pula si Babah menyerangnya dari belakang. Pisau Babah itu menancap di bahunya. Hampir saja mengenai jantung. Namun dengan menggertakkan gigi, anak muda ini melompat dan menghujamkan samurainya kebelakang. Dia merasa samurainya mengenai sesuatu. Kemudian dia menyentak samurai itu kembali. Lalu berputar. Di luar terdengar Kempetai berteriak dan memukul-mukul pintu. Si Bungsu membabatkan samurainya. Si Babah gendut yang telah tertusuk dadanya itu, coba menangkis dengan pisau pendek itu. Namun tangannya putus hingga pergelangan. Dia terpekik.

”Kubunuh kau mata-mata laknat!!”

Desis Si Bungsu sambil sekali lagi membabatkan samurainya. Babah itu mencoba mundur, tangannya yang pontong itu terangkat seperti akan menangkis. Namun tangannya itu dimakan samurai. Putus hingga siku, Babah itu untuk kedua kalinya terpekik.

Perempuan-perempuan sudah sejak tadi lenyap lewat pintu belakang. Babah itu hoyong. Samurai Si Bungsu bekerja lagi. Kaki si Babah putus di batas lutut. Kini si Babah tergolek. Si Bungsu memenuhi sumpahnya belum lama berselang. Bahwa dia akan mencencang perut buncit Cina ini atas penghianatannya. Enam kali samurainya bekerja. Membuat perut Babah Cina itu robek-robek seperti perut kerbau usai dipesiangi di rumah bantai. Darah bersemburan. Tubuh Si Bungsu sendiri dipenuhi darah.

Darah dirinya dan darah si Babah! Kempetai di luar mulai menembaki pintu. Namun dengan bedil panjang mereka, pintu kukuh itu tetap tak dapat dijebol. Peluru bedil mereka hanya mampu menembus sedikit saja papan pintu itu, namun tidak tembus. Babah gepuk itu memang membuat rumahnya sebagai benteng. Dia amat khawatir kalau suatu saat rahasianya sebagai mata-mata Belanda dan mata-mata Jepang diketahui orang. Karena itu, dia membangun rumahnya sebagai pos yang sulit untuk ditembus.

Siapa sangka, hari ini dia sendiri yang membawa pembunuhnya masuk. Dan dia terbunuh di dalam benteng yang dia buat. Sementara orang yang ingin membantunya terkurung di luar. Dihambat oleh pintu besar yang amat kukuh. Di dalam ruangan itu masih ada dua orang perwira Jepang teman Ichi yang mula pertama main judi tadi. Mereka memang datang kesana atas permintaan si Babah. Si Babah melaporkan bahwa ada mata-mata yang ditangkap. Tapi kini, melihat makan tangan orang yang disebut mata-mata itu, tubuh mereka jadi lumpuh. Mereka seperti tak berdaya untuk bergerak.

Ternyata tak semua perwira Jepang berhati baja. Ternyata mereka juga manusia biasa. Ada yang berhati baja, ada yang berhati seperti kerupuk jangek, amat rapuh. Mereka sebenarnya punya kesempatan yang banyak untuk balas menyerang. Mereka bisa mencabut pistol atau memungut bedil yang terletak di lantai. Dan menembakkannya ketika anak muda itu bertarung melawan si Babah. Namun mereka seperti disihir. Terdiam tak berkutik. Ada dua hal yang menyebabkan mereka begitu. Pertama rasa takut melihat sepak terjang anak muda itu. Amat cepat dan amat mengerikan. Dan yang kedua adalah perasaan takjub mereka. Betapa mereka takkan takjub, sebagai perwira-perwira, mereka termasuk mahir mempergunakan samurai.

Namun melihat cara anak muda ini mempergunakan samurai, mereka benar-benar terpukau. Caranya nampak sangat sembarangan. Tidak menurut aturan sebagaimana pesilat-pesilat samurai seperti mereka. Meski demikian, meski dengan metode yang tak benar, gerakan anak muda ini amat terlalu cepat. Ayunan dan tebasan samurainya amat kukuh, mantap dan secepat kilat. Mereka yakin, kalaupun mereka disuruh bertanding melawan anak muda ini, maka bagi mereka takkan ada harapan untuk menang sedikitpun! Kini, ketika Si Bungsu mencencang tubuh si Babah, tanpa dapat mereka tahan kedua perwira ini terpancar kencingnya. Mereka bukannya ngeri melihat tubuh si Babah yang cabik-cabik, tapi mereka membayangkan bahwa setelah ini tubuh merekalah yang akan menerima nasib seperti itu.

Si Bungsu melangkah mendekati mereka. Salah seorang mencabut pistol dengan tangan menggigil. Samurai Si Bungsu bekerja. Keduanya rubuh tanpa dapat melawan sedikitpun. Rumah itu berkuah darah. Potongan tubuh kelihatan tergeletak di sana sini. Ini benar-benar sebuah pembataian!

Si Bungsu memang tak bisa berbuat lain dari pada seperti itu. Dia dihadapkan pada dua pilihan. Dibunuh atau membunuh. Maka dia memilih yang kedua. Betapapun jahatnya suatu pembunuhan, namun jauh lebih baik hidup sebagai pembunuh dari pada mati sebagai orang yang dibunuh. Apa lagi kalau yang dibunuh itu adalah musuh bangsa! Cukup lama waktu berlalu ketika pintu besar itu berhasil didobrak oleh Kempetai. Yaitu setelah mendatangkan sebuah truk reok untuk menghantam pintu itu sampai jebol. Begitu jebol, Kempetai berlompatan masuk. Begitu berada di dalam, mereka pada berseru kaget. Bulu tengkuk mereka merinding tatkala melihat sisa penjagalan yang terjadi dalam rumah itu.

Mereka segera memeriksa setiap sudut rumah. Mencari anak muda yang dilaporkan sebagai mata-mata yang masuk perangkap di rumah ini. Namun Si Bungsu lenyap entah kemana. Mereka memeriksa semua bilik. Termasuk bilik enam perempuan yang tinggal di rumah itu. Termasuk juga bilik si Amoy semok anak si Babah yang baru berumur tujuh belas tahun itu. Tapi Si Bungsu tak ada. Dan semua perempuan itupun benar-benar tak mengetahui kemana anak muda itu pergi. Dia lenyap seperti hantu dalam cahaya bulan.

Pimpinan tentara Jepang di Payakumbuh Mayor Sin Ici Eraito mengumpulkan semua perempuan yang ada di rumah itu, termasuk semua serdadu yang menggerebek rumah tersebut. Kepada mereka diperintahkan untuk tetap tutup mulut. Tak seorangpun boleh membicarakan hal ini. Juga diperintahkan, agar setiap kematian tentara Jepang dalam serangan atau perkelahian dengan penduduk pribumi, harus dipeti-eskan. Jangan sampai menjalar ke luar. Sebab kalau berita itu bocor ke luar maka ada dua hal yang membahayakan kedudukan tentara Jepang. Pertama, penduduk pribumi yaitu bangsa Indonesia yang sudah berniat melawan Jepang, akan bertambah semangatnya. Sebab ternyata ada orang yang mampu membunuh tentara Jepang yang ditakuti itu. Dan hal ini bisa mempercepat timbulnya pemberontakan anti Jepang di Minangkabau. Kedua adalah soal prestise.

Tentara Jepang sudah tentu akan malu jika tersiar kabar bahwa tentara kaisar Tenno Heika dari negeri Matahari Terbit yang kesohor itu mati di tangan penduduk pribumi. Apalagi jika pecah kabar, bahwa tentara Jepang itu justru mati oleh sebuah Samurai. Tak terbayangkan geger yang akan timbul.

Sebagai komandan tertinggi yang membawahi Payakumbuh dan sekitarnya, Mayor Eraito tidak mau mengambil resiko d ihukum oleh Kolonel Fujiyama karena kematian perwira-perwiranya secara beruntun ini. Dia berusaha menutupi kejadian ini untuk tak bocor keatas. Sebab saat itu hukuman yang terkenal diantara perwira Jepang itu adalah hukuman Harakiri. Setiap perwira atau serdadu yang dinilai gagal total, kepadanya diberi ”kehormatan” untuk bunuh diri. Dia tak menginginkan hal itu terjadi. Itulah sebabnya dia memerintahkan untuk menutup berita pembantaian itu serapat mungkin.

Para tentara serta perempuan yang diperintahkan untuk tutup mulut itu memang melaksanakan tugas mereka dengan baik. Sebab bila membocorkan rahasia, mereka akan berhadapan dengan regu tembak. Mereka tahu, setiap orang yang ada di sekeliling mereka bisa saja menjelma jadi mata-mata Kempetai. Mereka tak dapat mempercayai seorangpun. Baik orang Cina maupun orang Melayu. Mereka bisa saja jadi mata-mata Jepang. Babah gemuk itu dan Baribeh serta si Juling menjadi contoh jelas tentang itu. Betapa Cina dan anak Minang sendiri rela menjadi mata-mata bagi penjajah negerinya.

Buat sementara, Si Bungsu aman. Sekurang-kurangnya tak begitu banyak tentara Jepang yang mengetahui, bahwa saat ini ada seorang anak Minang yang berkeliaran dengan samurai maut di tangannya. Yang telah membantai puluhan orang tentara Jepang dalam tahun ini. Namun perbuatan Mayor Sin Ichi Eraito, komandan tentara Jepang di Payakumbuh itu, yang menyembunyikan kematian anak buahnya pada Kolonel Fujiyama di Bukittinggi, yaitu Komandan Tertinggi Balatentara Jepang di Sumatera hanya bertahan beberapa bulan.

Terbongkarnya kematian itu bermula dari surat-surat tugas dari Markas Besar Tentara Jepang di Bukittinggi. Ada beberapa perwira yang ditarik ke Bukittinggi dari Payakumbuh. Nah diantara yang ditarik itu ada yang mati di tangan Si Bungsu. Semula masih akan ditutupi dengan menyebutkan bahwa perwira itu sakit keras, dan tengah dirawat. Beberapa hari kemudian dilaporkan perwira itu mati karena penyakitnya.

Ya. Untuk sementara peristiwa itu tak tercium. Tapi kemudian ada lagi perintah untuk kenaikan pangkat bagi dua orang perwira. Dan kedua perwira itu diharuskan melapor ke Markas Besar di Bukittinggi. Kembali Eraito memberi jawaban bahwa kedua perwira itu sakit. Kecurigaan mulai timbul di Markas Besar. Eraito meminta waktu agak sepekan untuk merawat perwira itu, kemudian mengirimkannya untuk upacara kenaikan pangkat di Bukittinggi.

Eraito berharap, waktu seminggu itu cukup baginya untuk alasan bahwa kedua perwira itu mati dalam perawatan. Dan kematiannya karena minum racun sebelum masuk rumah sakit. Penguburan seperti biasa bisa dilakukan sendiri tanpa dihadiri Kolonel Fujiyama. Sebab sudah biasa kematian amat banyak dalam pertempuran seperti tahun-tahun dalam amukan perang dunia ke II ini. Begitulah harapan Eraito. Kolonel Fujiyama belum mencium siasat ini. Namun Perwira Intelijen bawahan Fujiyama mencium sesuatu yang tak beres dalam laporan Eraito. Perwira Intelijen itu adalah Chu Sha (Letnan Kolonel) Fugirawa. Diam-diam Chu Sha ini mengirim dua orang Intelijennya ke Payakumbuh dihari d iterimanya laporan Eraito.

Kedua mata-mata itu langsung menuju rumah sakit. Memeriksa daftar pasien. Mereka tak menemui nama kedua perwira itu di sana. Mereka kemudian memeriksa markas dan daftar nama pada pos-pos komando di seluruh Luhak 50 Kota. Ternyata nama kedua perwira itu, dan beberapa nama lainnya, termasuk prajurit- prajurit Kempetai beberapa orang, telah lenyap. Kedua Intelijen ini menghentikan penyelidikannya. Langsung ke Bukittinggi dan melapor pada Chu Sha Fugirawa.

Letnan Kolonel Kepala Intelijen ini memberi laporan dan analisa staf pada Fujiyama. Fujiyama segera pula mencium sesuatu yang tak beres dalam laporan Eraito. Dia menulis surat pada Eraito, agar segera datang melapor ke Markas Besar. Dia harus datang bersama kedua perwira yang dia laporkan sakit. Bila keduanya sudah mati, maka dia harus datang bersama mayatnya.

Eraito menerima surat itu. Apa yang harus dia perbuat? Kedua perwira itu telah mati beberapa bulan yang lalu di tempat pelacuran di Lundang. Mati dibabat samurai orang tak dikenal. Akan datangkah dia ke Bukittinggi dengan terlebih dahulu menggali kuburan kedua perwira itu dan membawa mayatnya yang sudah busuk? Akhirnya dia membuka bungkusan kedua yang dikirim oleh Kolonel Fujiyama. Bungkusan itu berwarna kuning. Di dalamnya ada benda panjang dua jengkal berbungkus bendera Jepang bergambar matahari. Dia buka bungkusan bendera itu. Benda sepanjang dua jengkal itu persis seperti yang dia duga, samurai pendek! Dia mengangguk pada tiga orang Kapten yang membawa surat perintah itu. Ketiga Kapten itu memberi hormat padanya.

Eraito melilitkan bendera itu kekepalanya. Kemudian memberi hormat kearah matahari terbit. Ke arah kerajaan Kaisar Tenno Haika. Lalu dia duduk berlutut di lantai. Ketiga Kapten yang dikirim dari Bukit Tinggi itu juga berlutut.

”Tai-I Sambu .. ” Eraito memanggil. Yang dipanggil, seorang Tai-I (Kapten) masuk memberi hormat. Dia terkejut melihat keempat orang yang berlutut. Ketika matanya terpandang pada bendera yang melilit kepala komandannya, kemudian pada samurai di depan Eraito, Kapten itu segera sadar apa yang akan terjadi. Dia mengangguk memberi hormat. Kemudian duduk di hadapan komandannya.

”Setelah tugas saya selesai, serahkan seluruh berkas perkara kematian itu pada mereka ..” Eraito berkata. ”Hai ..!!” perwira itu mengangguk dalam-dalam.

Kemudian Eraito mengambil samurai itu. Membukanya. Mulutnya komat kamit. Kemudian menghujamkan samurai itu keperutnya. Dengan tekanan yang kukuh, samurai yang alangkah tajamnya itu, dia iriskan kekiri. Darah membersit. Dia masih berlutut dengan nafas terengah. Kemudian jatuh. Kepalanya mencecah lantai. Dia seperti orang Islam yang sujud kelantai. Dan perwira ini mati dalam keadaan begitu. Dia telah melakukan Seppuku, yang juga disebut Harakiri.

Segera setelah dia mati, Kapten wakilnya itu menyerahkan laporan berkas kematian perwira-perwira itu pada ketiga Kapten utusan Fujiyama. Berkas perkara itu disampulnya. Tak seorangpun yang berhak membacanya, kecuali Kolonel Fujiyama. Bahkan Letkol Fugirawa sendiripun, kendati jabatannya Kepala Intelijen, tetap tak berhak membaca laporan itu. Berkas itu dibawa ke Bukittinggi. Fujiyama membacanya dengan teliti. Laporan itu antara lain berisi:

”Ada seorang anak Minang yang berkeliaran dengan samurai maut di tangannya. Anak muda ini entah dari siapa belajar samurai, ilmu samurainya meskipun ngawur, namun amat tinggi. Diduga dia mencari seseorang untuk membalas dendam atas keluarganya. Mungkin yang dia cari adalah Tai-I Saburo, yang dulu menjabat sebagai Cho (Komandan Peleton) Kempetai di Payakumbuh. Saburo memang terkenal terlalu ganas di Payakumbuh. Itulah sebabnya dahulu dia diusulkan untuk pindah dari kota kecil ini. Kini ada yang menuntut balas kekejamannya. Diduga lebih dari dua puluh orang tentara Jepang, perwira dan prajurit, telah mati dimakan samurai anak Minang itu. Tapi rahasia ini dipegang teguh, penyelidikan tetap dijalankan. Usaha mencari dan membekuk anak muda yang kabarnya bernama Si Bungsu (anak paling kecil) dari Dusun Situjuh Ladang laweh itu tetap diusahakan dengan ketat. Namun sampai saat ini anak muda itu tak pernah bersua. Dia lenyap seperti burung elang yang terbang ke kaki langit. Semoga dengan restu Tenno Haika, demi kejayaannya, anak muda itu segera dapat ditangkap.”

Demikian bunyi dan akhir dari laporan Mayor Eraito yang berkedudukan sebagai Bu Tei Cho (Komandan Batalyon) balatentara Jepang di Payakumbuh. Dalam laporan itu dilampirkan nama-nama yang diduga mati di tangan Si Bungsu. Kolonel Fujuyama menarik nafas dan menutup laporan itu. Eraito telah menjalankan tugasnya dengan baik. Menutup rahasia itu rapat-rapat. Tapi dia memang harus mati, karena di puncak hidungnya sendiri anak buahnya banyak yang mati. Mati bukan dalam pertempuran. Hukuman bagi komandannya adalah tembak mati atau Harakiri. Eraito memilih yang kedua.

Laporan itu dimasukkan ke dalam penyimpanan dokumen paling rahasia oleh Kolonel Fujiyama. Kolonel Fujiyama terkenal sebagai seorang Perwira Senior yang kukuh pada tradisi Militer Jepang yang amat konvensional. Baginya, seorang tentara adalah seorang tentara. Seorang tentara berperang untuk negaranya. Bukan untuk diri pribadi. Seorang tentara hanya bermusuhan dengan tentara dari negara yang melawan negara Jepang. Lawan tentara Jepang hanyalah tentara negara tersebut, atau mata-mata dari tentara yang berasal dari orang sipil. Seorang tentara Kerajaan Tenno Haika tak layak melakukan kekejaman pada rakyat sipil. Kolonel ini terkenal sekali dengan sikap yang demikian. Dia adalah pemeluk agama Budha yang taat.

Sebagai Dai Tai Cho, Komandan Divisi dan Komandan balatentara Jepang di Pulau Sumatera, dia berhak mengambil putusan-putusan yang amat prinsipil. Dan itulah yang dia lakukan. Yaitu dengan menyuruh Eraito, seorang Mayor yang gagal untuk Harakiri. Kini dia mengambil langkah kedua dalam urusan peristiwa Si Bungsu ini. Dia memerintahkan pada Saburo yang saat itu sudah berpangkat Syo Sha (Mayor) dan menjabat sebagai Bu Tei Cho (Komandan Batalyon) di Batu Sangkar, untuk datang menghadapnya di Markas Besar. Saat Saburo Matsuyama datang dia dipaksa oleh Fujiyama untuk minta pensiun. Kemudian dipaksa untuk pulang ke Jepang. Putusan ini mengejutkan perwira-perwira Jepang. Sebab Saburo dikenal sebagai perwira yang cekatan. Namun itulah putusan Fujiyama.

”Saya punya keyakinan, kalau engkau masih di negeri ini, engkau akan bertemu dengan anak muda bersamurai yang bernama Si Bungsu itu. Dan kalau kalian bertemu, perkelahian tak terhindarkan. Saya tak dapat menerka bagaimana cara anak itu berkelahi, tapi saya punya firasat, engkau akan mati di tangannya. Karena itu pulanglah kekampungmu Syo Sha. Di sana engkau akan aman. Aman dari perbuatan memperkosa anak bini orang. Namun saya merasa pasti anak muda ini akan tetap mengejarmu kemanapun engkau pergi ..”

Begitu Kolonel Fujiyama berkata pada Saburo, Saburo termenung. ”Apakah engkau punya anak?”

”Ada Kolonel ..” ”Berapa orang?”

”Seorang, dan perempuan ..” ”Dimana dia kini?”

”Di Nagoya. Baru berumur enam belas ..”

”Dalam agama ada ajaran, bahwa setiap orang akan menerima balasan dari perbuatannya. Saya khawatir, suatu saat anakmu ketemu dengan anak muda ini. Dan kalau dia membalas dendam padanya, dapat kau bayangkan apa yang akan terjadi Saburo? Saya tak menakut-nakutimu. Tapi berdoalah, agar anak muda itu melupakan. Nah selamat jalan..!”

Kata-kata ini masih terngiang di telinga Saburo dalam perjalanannya ke Singapura untuk terus pulang ke Jepang. Anaknya seorang gadis yang amat cantik. Yang telah kematian ibu ketika anak itu masih berumur sepuluh tahun. Dia terbayang pada pembunuhan yang dia lakukan di Situjuh Ladang Laweh. Pada gadis yang dia perkosa di rumah adat itu. Pada ayah dan ibunya yang dia bunuh. Pada pembunuhan gadis itu sendiri setelah dia perkosa. Dan pada anak lelakinya yang pengecut. Kini ternyata anak lelakinya itu memburunya dengan samurai di tangan. Dengan Samurai. Ya Tuhan, tiba-tiba Saburo Matsuyama tertegak. Seluruh bulu tubuhnya pada merinding. Anak muda itu mencarinya dengan samurai. Dan menurut cerita Fujiyama, anak muda itu amatlihai dan tangguh mempergunakan samurainya. Dia segera teringat pada sumpah Datuk Berbangsa sesaat sebelum mati dulu. Saat itu sebuah samurai menancap di dada Datuk itu.

”Saya akan menuntut balas atas perbuatanmu ini Saburo. Engkau takkan selamat. Saya bersumpah untuk membunuhmu dengan samurai dari negerimu sendiri. Kau ingat itu baik–baik..” Suara itu seperti bergema. Lelaki Minangkabau itu ternyata memang memburunya melalui anak kandungnya. Dulu dia menganggap hal- hal mistis ini sebagai nonsens. Tapi kini anak muda itu mencarinya dengan samurai. Bukankah itu merupakan suatu perwujudan dari sumpah Datuk itu? Saburo mulai seperti dikejar bayang-bayang. Dia banyak mendengar tentang kesaktian orang-orang Minangkabau. Namun selama dia di negeri itu, tak satupun di antara kesaktian itu yang terbukti. Kabarnya orang Minang bisa membuat orang lain jadi gila, senewen memanjat-manjat dinding, namanya sijundai. Tapi dia dan pasukannya yang telah terlalu banyak berbuat maksiat di negeri itu, kenapa tak satupun di antara kesaktian itu yang mempan pada mereka?

Kabarnya ada pula semacam senjata rahasia yang berbahaya. Yang bisa membunuh orang dari jarak jauh. Konon bernama Gayung, Tinggam atau Permayo. Tapi kenapa tak satupun di antara pasukan Jepang yang terkena senjata rahasia itu? Ataukah hanya mempan untuk sesama orang Minang saja? Saburo termasuk orang praktis yang tak mempercayai segala macam bentuk mistik. Tapi kali ini, terhadap sumpah Datuk Berbangsa yang telah mati lebih dari dua tahun yang lalu, kenapa dia harus takut? Dia ingin segera pulang ke kampungnya di Jepang sana. Dia ingin bersenang-senang barang sebulan dua di Singapura. Demikian putusan yang dia ambil dalam kapal ketika berlayar dari Dumai ke Singapura. Demikian putusan yang dia ambil dalam kapal ketika berlayar dari Dumai ke Singapura. Kemana Si Bungsu? Kenapa dia bisa lenyap dari ruangan di mana dia membantai tentara Jepang dan Babah gemuk mata mata itu? Padahal rumah itu telah dikepung dengan ketat oleh Kempetai. Tambahan lagi dia mengalami luka di berbagai bahagian tubuhnya dalam perkelahian melawan si Babah itu. Kemana saja dia melarikan diri hingga tak bersua? Malam itu, sebenarnya Si Bungsu tak pernah meninggalkan rumah si Babah. Bahkan hari hari berikutnya dia masih tetap di rumah itu. Tapi kenapa sampai tak diketahui Kempetai? Kenapa sampai tak diketahui perempuan perempuan lacur yang tinggal di rumah itu? Malam itu, tatkala dia selesai membunuh dua perwira Jepang yang merupakan orang terakhir di dalam ruangan itu, pintu besar yang dia kunci dengan palang besar itu sudah hampir dijebol oleh Kempetai dengan truk reo. Suara reo telah terdengar olehnya memasuki rumah. Bahkan reo itu sudah berada di ruang depan. Dia harus menyelamatkan diri. Namun dia tahu, ruangan ini telah dikepung dengan ketat. Tapi bagaimana juga dia harus selamat. Harus tetap hidup sampai dendamnya pada Saburo terbalaskan. Dengan kaki pincang dia segera mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Dia tidak menuju ke belakang. Melainkan ke samping.

Baru tiga langkah dia berjalan, dia tertegak. Di depannya berdiri seorang perempuan. Tepatnya adalah seorang gadis cina. Sekali pandang dia dapat menebak, gadis ini paling paling baru berusia enam belas atau tujuh belas tahun. Gadis cantik bertubuh menggiurkan. Gadis berkulit kuning berambut lebat itu hanya mengenakan handuk di tubuhnya. Nampaknya dia sudah sejak tadi berdiri di sana. Dan Si Bungsu dapat memastikan bahwa gadis ini melihat semua perkelahian yang berlangsung di ruangan itu. Dia pasti melihat pembantaian itu. Mereka bertatapan. Pintu mulai didobrak.

“Masuk kemari ..”

Tiba tiba saja gadis itu menarik tangan Si Bungsu kedalam kamarnya. Si Bungsu seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dia menurut, sebab tak ada jalan lain. Dengan berada dalam kamar gadis ini, dia berharap bisa selamat. Atau dia bisa menjadikan gadis ini sebagai sandera. Kamar gadis itu bersih dan berbau harum.

“Masuk kemari ..” gadis itu berkata lagi sambil membuka sebuah katup di lantai.

Tanpa banyak cincong, Si Bungsu mendekat. Di bawah lantai yang menganga itu, dia melihat sebuah ruangan kecil.

“Masuklah cepat ..” gadis itu berkata lagi. Si Bungsu tak lagi sempat berfikir. Dia menurut dan mulai menuruni tangga ke bawah. Dia sampai ke dalam sebuah ruangan kecil dan gelap. Gadis itu lalu menutupkan lantai yang dia angkat tadi. Kemudian membetulkan tikar di atasnya. Lalu mengambil kain dan mulai melap bekas darah yang berceceran di lantai dari bekas luka di tubuh Si Bungsu. Kerjanya baru saja selesai ketika pintu berhasil di dobrak oleh truk reo tentara Jepang. Kamarnya ikut digeledah. Lemari pakaian, bawah kolong tempat tidur, loteng. Si Bungsu mendengar derap sepatu. Kempetai itu lalu lalang di atas kepalanya. Dia menanti dengan diam dalam kegelapan di ruang yang tak dikenalnya ini. Barangkali tentara Jepang masih berada di rumah itu. Sebab telah berlalu waktu beberapa jam, namun gadis itu belum kunjung muncul. Si Bungsu tak berani naik keatas. Dia tetap menanti. Dengan meraba raba dia berbaring di lantai yang rasanya di alas dengan tikar yang bersih.Dia terbangun dengan terkejut tatkala dirasakannya sebuah benda jatuh menimpa perutnya. Kemudian pintu di lantai ditutup lagi. Dia meraba dalam gelap itu. Yang dijatuhkan ternyata sebuah bungkusan. Dalam gelap dia membuka bungkusan itu. Meraba isinya. Pisang, ah, perutnya memang amat lapar. Segera saja empat buah pisang lenyap ke dalam perutnya.

Kemudian dia memeriksa isi bungkusan yang lain. Sebuah senter kecil. Dengan senter itu dia dapat memeriksa isi bungkusan itu. Ada perban dan plaster. Ada obat merah. Dia sangat berterima kasih pada gadis cina yang belum dia kenal itu. Apakah dia salah seorang dari pelacur yang disimpan dalam rumah ini? obat itu sebenarnya tak dia perlukan. Sebab untuk mengobati lukanya, dia masih mempunyai bubuk ramuan yang dia bawa dari gunung Sago. Obat itu amat manjur. Obat itulah dulu yang menyembuhkan dari luka akibat samurai Kapten Saburo. Dan obat tradisional itu pula yang menyembuhkan luka bekas dicakar harimau jadi-jadian ketika bulan terakhir dia akan turun gunung.

Dia ambil ramuan yang terdiri dari kulit dan daun kayu, lumut batu, lumut pohon dan daun tanaman melata yang sudah dikeringkan yang selalu dia simpan dalam kantongnya, dalam sumpik rokok daun enau, yang dulu memang berisi rokok daun enau. Ramuan itu dia tabur pada luka disekujur tubuhnya. Dengan menimbulkan rasa dingin lukanya dengan cepat mengering, merapat dengan cepat mengering. Dengan senter kecil yang dijatuhkan gadis itu, Si Bungsu mulai memeriksa ruangan di mana dia berada. Ruangan ini ternyata ruangan di bawah tanah. Memang dibuat untuk menghadapi keadaan darurat, seperti umumnya rumah-rumah turunan cina. Bedanya kalau ruangan bawah tanah di rumah-rumah cina yang lain digunakan untuk menyimpan bahan makanan atau tempat air, maka ruangan bawah tanah ini dipergunakan sebagai ruangan tempat tinggal.

Tak jauh dari tempat dia tidur di lantai ada sebuah pembaringan. Kalau saja dia bergerak dalam gelap itu agak empat langkah ke kanan, maka dia akan menemui tempat tidur empuk itu. Tapi mana pula dia akan menyangka hal itu. Di dekat tempat tidur itu, di bahagian kepalanya ada sebuah lemari kaca. Di dalamnya Si Bungsu mendapatkan tiga buah pistol dan dua buah bedil panjang. Lengkap dengan mesiunya. Ruangan bawah tanah ini nampak dijadikan semacam benteng oleh Babah gemuk itu. Dia tak menyentuh senjata tersebut. Di samping tak mengerti cara memakainya, juga menganggap tak ada gunanya untuk dibawa.

Pistol atau bedil menimbulkan suara bila membunuh orang. Dia lebih suka memakai samurai. Dengan samurai dia bisa bertindak diam diam. Karena lelah dia berbaring di tempat tidur. Dia tak tahu sudah berapa lama dia tertidur ketika tiba tiba terbangun lagi. Ada seseorang dirasakan hadir di kamar berdinding beton di bawah tanah itu. Dia membuka mata dan berusaha untuk bangkit.

Namun sebuah tangan halus menahannya. Dalam cahaya lampu dinding yang telah dipasang, dia lihat gadis cina yang telah menyelamatkannya itu. Gadis itu duduk di tepi pembaringan. Menatap padanya dengan pandangan lembut.

“Berbaringlah .. lukamu belum sembuh ..” suaranya terdengar lembut.

Bahasa Melayunya terdengar bersih. Si Bungsu tetap duduk. Gadis itu menatap pada matanya. “Terima kasih nona, nona telah menyelamatkan nyawaku. Apakah Jepang itu sudah pergi ?”

“Sudah. Tapi rumah ini tetap mereka awasi. Rumah ini sudah ditutup untuk tempat pelacuran. He,.. engkau tentu lapar. Sudah dua hari kau berada dalam lubang ini”

“.. Dua hari …?”

“Ya. Engkau masuk kemari tengah malam yang lalu. Kini hari kedua hampir sore, saya membawa makanan dengan gulai ikan, sambal lado dan petai. Suka sambal lado dan petai?”

Si Bungsu tak banyak bicara. Dia makan dengan lahap. Gadis itu ternyata juga belum makan. Mereka makan bersama.

“Engkau yang memasak makanan ini?” dia bertanya setelah selesai makan dengan bertambah sampai tiga kali.

“Bagaimana, enak ?”

“Hampir menyamai masakan ibuku …”

“Yang memasak etek Munah, pembantu kami …”

Si Bungsu kemudian teringat, bahwa dia harus segera pergi dari rumah ini. Tubuhnya meski belum segar, tapi dia rasa sudah kuat untuk melanjutkan perjalanan.

“Siapa namamu ..?” “Mei-mei…”

“Mei mei ?”

“Ya, dan namamu ?” “Bungsu …”

“Bungsu ? Engkau anak terkecil dalam keluargamu ?”

“Ya. Mei-mei.. Terima kasih atas bantuanmu. Saya tak bisa membalasnya. Saya harus pergi sekarang.” “Kemana engkau akan pergi?” Si Bungsu termenung.

Ya, kemana dia akan pergi ? Tak pernah ada tempat yang pasti dia tuju dalam setiap perjalananya. Tapi, bukankah dia mencari Saburo ? Ingatan ini membuatnya ingin menanyakan pada Mei-mei. Bukankah tempat ini tempat perjudian dan tempat bersenang senang para perwira ?

“Saya mencari seorang perwira Jepang bernama Saburo. Apakah engkau mengenalinya Mei-mei ?” “Saburo….., Saburo Matsuyama ?”

“Ya. Saburo Matsuyama Apakah engkau mengenalnya?” “Saya mengenal hampir semua perwira yang bertugas di Payakumbuh ini” “Di mana dia sekarang ?”

“Seingat saya sudah cukup lama dia tak kemari. Kabarnya dia pindah ke Batusangkar…” “Batusangkar…?”

“Ya …engkau akan ke sana, membalas dendammu padanya ?” “Ya. Darimana kau tahu Mei-mei ?”

“Saya melihat seluruh perkelahianmu dengan Jepang dan dengan Bapak dua hari yang lalu juga mendengar semua pembicaraan saat itu…”

“Bapak ?” Si Bungsu heran mendengar kata Bapak yang diucapkan Mei-mei. “Ya. Babah gemuk itu adalah ayah tiriku …”

Si Bungsu sampai tertegak mendengar pengakuan Mei-mei. Hampir hampir tak dapat dia percayai, bahwa si Babah yang telah dia cencang itu adalah ayah tiri gadis ini. Bukankah dia melihat bahwa dia telah mencencang si Babah itu ? Lantas kenapa gadis ini menolongnya dari cengkeraman Jepang? Mei-mei menatapnya.

“Ayahmu ..?”

Si Bungsu bertanya perlahan “Duduklah Bungsu. Dia ayah tiriku. Aku melihat engkau mencencang tubuhnya seperti di rumah bantai. Tapi engkau tak perlu menyesal. Dia memang harus mendapat perlakuan yang demikian. Atas apa yang dia perbuat pada bangsamu dan pada diriku ..”

Si Bungsu tak mengerti apa maksud ucapan Mei-mei.

“Dia menjadi mata mata Belanda. Menjadi mata mata Jepang. Dan lebih daripada itu dia adalah seorang Komunis ..”

“Komunis ..?” Si Bungsu tak mengerti.

Sebagai anak desa yang memang lugu dia tak pernah mendengar nama komunis. Nama itu teramat asing bagi telinga anak desa Situjuh Ladang Laweh di pinggang Gunung Sago ini.

“Ya, komunis. Engkau tak tahu ..?” Gadis itu lalu bangkit. “Ikutlah saya ..”

Si Bungsu mengikuti gadis itu, yang membawa lampu dinding dan berjalan ke sebuah gang. Lobang di bawah tanah ini nampaknya cukup besar. Mereka sampai ke sebuah kamar lain yang lebih besar dari kamar pertama. Di dalam kamar itu dindingnya dilapis kain merah. Di tengah, di depan sebuah meja, ada sebuah gambar cina dalam ukuran besar. Di bawahnya ada bendera merah dengan sebuah gambar kuning di tengahnya.

“Itu gambar pimpinan komunis cina. Mao TseTung. Dan bendera dengan gambar palu arit itu adalah lambang komunis …” Mei-mei menjelaskan.

Si Bungsu hanya menatap dengan melongo. Menatap bendera besar dengan gambar palu arit itu. Dia benar benar tak mengerti. Mei-mei tersenyum melihat kebingungannya. Dia duduk disebuah kursi, Si Bungsu duduk di depannya. Si Bungsu masih dikuasai perasaan herannya. Kenapa gadis ini menolongnya, padahal bapaknya dia yang membunuh. Didepan matanya pula.

“Tentang Babah yang engkau bunuh, dia memang pantas mendapat hukuman seperti itu. Dia telah meracuni ayahku. Kemudian mengawini ibu. Ibuku waktu itu hamil. Enam bulan setelah mereka kawin, akupun lahir. Dia memerlukan uang untuk membiayai Partai Komunis di negeri ini. Dan dia juga memerlukan pengaruh serta pangkat untuk berkuasa. Untuk kedua maksud itu dia mempergunakan tubuhku. Aku tak berdaya melawan. Dia seorang ayah tiri yang berhati bengis. Yang suka memukul dan menyiksa orang. Ibuku meninggal dunia karena dia dikurung selama enam hari tanpa diberi makan. Peristiwa itu terjadi ketika aku berumur delapan tahun. ibu dikurung dan mati dalam kamar ini …”

Gadis cina itu kemudian menanggis isak mengingat jalan hidupnya yang teramat pahit. Si Bungsu hanya bisa mengucap perlahan. Lama gadis itu menangis, sampai akhirnya Si Bungsu memegang bahunya.

“Tenanglah Mei-mei. Kurasa arwah ibumu sudah tenang di akhirat. Dendamnya telah kubalaskan”

“Ya, dendam ibu dan dendamku telah Koko balaskan. Terima kasih. Itulah sebabnya kenapa saya harus menyelamatkan Koko dari tangan Kempetai dua hari yang lalu…”

Si Bungsu terharu. Gadis itu memanggilnya dengan sebutan Koko. sebutan itu berarti abang dalam bahasa Indonesia. Sebagai sebutan terhadap adik perempuan adalah Moy-moy. Dia mengetahui itu dari beberapa temannya orang Tionghoa yang jadi temannya dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun gadis ini telah ternoda hidupnya, namun itu bukan atas kehendaknya sendiri. Dia pegang bahu Mei-mei, dan berkata lembut :

“Tenanglah Moy-moy. Aku akan melindungimu dari orang orang yang berniat mengganggumu” Mei-mei memang terdiam. Gadis cina yang cantik ini, berwajah bundar berhidung mancung dengan mata yang hitam berkilat, hampir hampir tak percaya bahwa anak muda yang dipanggilnya dengan Koko itu balas memanggilnya dengan sebutan Moy-moy. Dan ketika dia yakin bahwa memang anak muda itu berkata demikian, dia lalu tegak dan tiba tiba mereka telah berpelukan.

“Terima kasih Koko, terima kasih …” isaknya.

Si Bungsu memang seperti mendapatkan seorang adik. Dia pernah merasakan kasih sayang seorang kakak yang kemudian mati diperkosa Saburo. Kini dia seperti mendapatkan kembali tempat menumpahkan sayang yang telah hilang itu. Akan halnya Mei-mei, gadis Tionghoa malang yang berusia tujuh belas tahun itu adalah anak tunggal yang hidupnya selalu teraniaya. Lelaki yang diharapkannya menjadi pelindungnya adalah ayah tirinya. Tetapi lelaki itu, si Babah gemuk komunis itu, ternyata telah menjualnya dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Gadis yang tak pernah mendapatkan perlindungan dan kasih sayang itu kini ada dalam pelukan seorang pemuda Melayu yang telah membalaskan dendamnya, dan pemuda itu memanggilnya dengan sebutan adik, alangkah terlindungnya dia terasa.

“Apakah Koko akan pergi ke Batusangkar mencari Saburo ?” Mei-mei bertanya ketika mereka kembali ke ruangan pertama.

Si Bungsu menatapnya. “Kalau aku pergi, dengan siapa engkau tinggal di sini, Moy-moy?”

Gadis itu menunduk. Lama dia menatap jari-jari tangannya. Kemudian ketika dia mengangkat kepala, Si Bungsu melihat matanya basah. Gadis itu berkata perlahan :

“Di sini tak ada lagi orang tempatku berlindung. Kalau aku tidak akan mendatangkan kesusahan bagi koko, aku ikut dengan koko. Kemanapun koko pergi …” Air mata lambat lambat membasahi pipinya. Nyata sekali suaranya adalah suara gadis yang dirundung sepi. Suara gadis yang amat butuh perlindungan dan kasih sayang. Suara seorang gadis yang mulai menginjak usia remaja, yang selalu ingin dekat dengan orang yang disayangi. Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia benar benar menyayangi Mei-mei. Bukan karena gadis itu amat cantik bukan pula karena gadis itu telah menolong nyawanya. Tapi gadis itu dia sayangi karena si gadis memang harus disayangi. Harus dilindungi. Dalam kasih sayang, perbedaan kulit dan asal usul tak pernah menjadi hambatan. Sebab rasa sayang muncul dari dalam tidak dipermukaan.

“Apakah ada familimu di Batusangkar ?” Mei-mei menggeleng. “Di Bukittinggi?”

“Kalau di Bukittinggi ada. Adik jauh ibu. Tinggal di Kampung cina …”

Si Bungsu berfikir. Di akan mengantarkan gadis ini terlebih dahulu ke Bukittinggi. Di sana dia bisa tinggal di rumah saudara ibunya itu. Untuk dibawa kemana pergi memang akan menyusahkan. Bukan karena dia tak mau. Tapi yang akan dia hadapi adalah bahaya melulu. Dan dia tak mau membawa-bawa Mei Mei kedalam bahaya. Nanti kalau urusannya dengan Saburo di Batusangkar selesai, dia akan menjeputnya ke Bukittinggi.

“Baiklah. Kita akan pergi ke Bukittinggi bersama, kalau keadaan telah memungkinkan …” “Terima kasih koko, terima kasih”

Mei-mei melompat memeluk Si Bungsu. Dia sangat bahagia bisa pergi bersama anak muda itu. Belasan tahun dia hidup di rumah ini. Disekap tak boleh keluar. Dia hanya bisa keluar dikala Hari Raya Imlek. Itupun tidak bisa jauh jauh. Tugas berat selalu menantinya di rumah. Memuaskan nafsu perwira perwira Jepang. Kini dia bersumpah untuk meninggalkan semua pekerjaan laknat yang dipaksakan padanya itu. Dia akan tobat dan minta ampun pada Tuhan. Tapi mereka baru bisa meninggalkan rumah itu setelah masa dua minggu.

Sebab selama jangka waktu itu, Kempetai tetap mengawasi rumah tersebut dengan ketat. Mei-mei terpaksa minta bantuan pembantunya, seorang wanita Minang, untuk membelikan keperluan mereka kepasar. Dan suatu malam, yaitu di saat mereka sudah merasa pasti untuk bisa melarikan diri, mereka lalu keluar dalam hujan lebat. Dengan membayar cukup tinggi, mereka bisa menompang sebuah bus yang akan berangkat ke Padang. Bagi mereka soal uang tak jadi halangan. Uang judi yang dimenangkan oleh Si Bungsu ternyata diselamatkan Mei-mei ketika dia membersihkan jejak Si Bungsu sesat sebelum Kempetai mendobrak pintu. Selain itu, mereka juga berhasil menemukan simpanan uang dan perhiasan emas milik ayah tiri Mei-mei. Jumlahnya bisa membuat mereka jadi orang kaya. Uang itu didapat si Babah dari hasil judi, hasil menjadi mata mata untuk Belanda dan Jepang, dan hasil menjadi germo bagi beberapa perempuan di rumahnya itu. Termasuk diri Mei-mei.

Di dalam bus itu hanya ada beberapa lelaki dan tiga orang perempuan. Perempuan yang dua separo baya, yang satu lagi adalah Mei-mei. Selain ketiga perempuan itu, penompang yang lainnya adalah enam orang lelaki. Dalam hujan lebat, bus itu melaju membelah jalan raya yang nampaknya seperti ular raksasa berwarna hitam. Memanjang dan meliuk liuk di tiap tikungan. Lima lelaki penompang bus itu tak pernah menoleh ke belakang ketempat Si Bungsu dan Mei-mei. Mereka hanya memandang sekali, yaitu ketika naik tadi. Setelah itu, kelima lelaki itu tetap memandang kedepan dalam kebisuan. Namun Si Bungsu yang telah hidup di rimba raya, yang kini memiliki indera yang amat tajam, dapat merasakan bahaya yang datang dari kelima lelaki itu. Meski lelaki lelaki itu berdiam diri saja, bahkan saling berbisikpun tidak, namun firasatnya yang tajam membisikkan akan adanya bahaya. Dia tetap diam. Sementara bus itu berlari sambil terguncang-guncang karena jalan yang berlobang lobang. Dalam diamnya dia mulai membuat perhitungan. Kenapa kelima lelaki ini sampai berniat tak baik pada mereka. Apakah itu hanya hayalannya saja? Tidak. dia tak pernah dibohongi oleh firasatnya.

Nah, mungkin ada tiga sebab kenapa mereka ingin berbuat tak baik. Pertama mungkin melihat Mei-mei yang cantik. Dizaman Jepang berkuasa, hampir tak pernah orang melihat perempuan cantik berada di luar rumah. Nah, mungkinkah lelaki lelaki ini menginginkan tubuh Mei-mei? Atau barangkali mereka telah mencium bahwa di dalam bungkusan yang dia bawa tersimpan uang dan perhiasan emas yang nilainya amat tinggi? Atau barangkali juga mereka mengetahui, bahwa Mei-mei berasal dari rumah bordil dimana si Babah menjadi mata- mata. Karena itu mereka menduga bahwa Mei-mei adalah mata mata Jepang pula. Kalau dugaan terakhir ini benar, maka Si Bungsu tak begitu khawatir. Sebab tentulah kelima lelaki itu dari pihak pejuang pejuang Indonesia. Atau para lelaki itu merasa curiga atas kehadiran mereka berdua, sepasang anak muda, yang satu cina dan yang satu Melayu?

Pikirannya masih belum rampung, ketika bus tiba tiba berhenti. Dari cahaya lampu bus, Si Bungsu segera mengetahui, bahwa mereka tidak lagi berada pada jalan utama menuju Bukittinggi. Nampaknya sebentar ini ketika dia melamun, bus telah dibelokkan kesuatu jalan kecil dimana dia kini berhenti. Si Bungsu mulai merasa bahwa firasatnya tadi akan terbukti. Kelima lelaki itu turun satu demi satu. Akhirnya tinggal kedua perempuan separoh baya tadi, Si Bungsu, sopir dan seorang lelaki yang bertubuh kurus dan Mei-mei.

“Turunlah sanak berdua sebentar” Seorang lelaki yang bertubuh kurus, saat akan turun berkata pada Si Bungsu. Si Bungsu menatap saat dia turun.

“Dimana kita sekarang ..?” Si Bungsu bertanya pada sopir. “Disinilah”, sopir itu menjawab seadanya.

Dari jawaban itu Si Bungsu tahu, bahwa sopir bus berada dipihak kelima lelaki itu.

“Mengapa kami harus turun ?” Si Bungsu bertanya pada si Kurus yang sudah menjejakkan kakinya di tanah. “Turun sajalah kalau sanak mau selamat …”

Si Kurus itu berkata dengan suara kering serak. Mei-mei merapatkan duduknya pada Si Bungsu. Tangannya memeluk tangan Si Bungsu erat erat.

“Jangan turun koko ..jangan turun ..” gadis itu berbisik ketakutan. “Diamlah Moy-moy …”

“Hei, waang yang ada di atas, turunlah bersama anak cina itu”

Tiba tiba terdengar bentakan dari bawah. Mei-mei makin mengeratkan pegangan tangannya pada Si Bungsu.

“Kenapa kita tak terus saja ?” Si Bungsu masih mencoba bertanya pada sopir.

“Lebih baik kau turun saja daripada tubuhmu dilanyau mereka ..” Sopir itu menjawab dingin.

Namun Si Bungsu tak beranjak dari tempat duduknya. Tempat dimana mereka duduk, kebetulan tak ada jendela di kiri kanannya Jadi mereka aman. Sebab dinding bus itu terbuat dari kayu tebal. Yang ditakutkan Si Bungsu adalah kalau kelima lelaki itu memiliki senjata api. Kalau ada, maka dia dan Mei-mei bisa celaka. Tapi kalau tidak dia merasa aman di atas bus ini.

“Kami beri waang kesempatan satu menit untuk turun. Kalau tidak. waang akan kami seret ke bawah ..” terdengar lagi bentakan

“Kenapa tak sanak katakan saja apa maksud sanak sebenarnya ?” Si Bungsu menjawab. “Turunlah. Jangan banyak cakap waang di sana …”

“Kalau sanak yang punya keperluan, silahkan naik lagi dan kita berunding di sini. Saya tak punya keperluan untuk turun” jawab Si Bungsu.

Terdengar sumpah serapah dan carut marut dari kelima lelaki di bawah itu. Namun Si Bungsu tetap duduk diam di tempatnya. Ketika mereka menyuruh turun lagi, Si Bungsu membisikkan sesuatu pada Mei-mei. Kemudian kedua anak muda ini bangkit dari tempat duduknya. Mereka seperti akan turun, tapi ternyata tidak. Si Bungsu hanya pindah tempat. Kini mereka duduk persis di belakang sopir. Melihat keras kepala anak muda ini, dua orang segera naik dengan maksud menyeretnya kebawah. Si Bungsu sampai saat itu masih belum mengetahui siapa mereka sebenarnya. Apakah orang yang berniat merampok saja atau dari pihak pejuang.

Dia tak mau salah turun tangan. Sebab dia sudah bersumpah takkan menurunkan tangan jahat pada pejuang pejuang Indonesia. Sama halnya seperti dia dilanyau oleh anak buah ayahnya di dekat Mesjid ketika mula pertama turun gunung dulu. Dia tak sedikitpun mau membalas pukulan pukulan mereka. Meskipun dengan mudah dia bisa membunuh orang orang itu. Kinipun, ketika kedua orang itu naik lagi keatas bus dengan wajah berang, dia berkata dengan tenang :

“Saya harap sanak mengatakan apa maksud sanak sebenarnya. Apa yang sanak inginkan dari kami ..” “Jangan banyak bicara waang. Anjing”

Lalu tangan orang itu dengan kasar merengutkan bahu Mei-mei. Gadis ini terpekik. Dan sampai di sini Si Bungsu mengambil kesimpulan, bahwa orang ini bukan dari pihak pejuang Indonesia. Dia kenal sikap pejuang pejuang bangsanya. Tak mau berlaku kasar dan kurang ajar. Tangannya bergerak. Dan lelaki yang tengah mencekal tangan Mei Mei itu terpekik. Dia merasa dada dan lengannya pedih. Cekalan pada tangan Mei-mei dia lepaskan. Dan dia lihat dada serta lengan yang tadi terasa pedih itu berdarah. Temannya yang satu lagi melompati bangku menerjang Si Bungsu. Namun dalam bus sempit itu, gerakan jadi terhalang. Dan kembali dia terpekik ketika samurai di tangan Si Bungsu bekerja.

Pahanya robek dan mengucurkan darah. Mendengar temannya terpekik, ketiga temannya yang di bawah melompat naik. Melihat kedua temannya itu luka, ketiga mereka lalu menghunus golok yang tersisip di pinggang. Tapi apalah artinya gerakan mereka dibandingkan dengan gerakan anak muda ini. Dua kali gerakan dengan masih tetap duduk dan sebelah tangan memeluk bahu Mei-mei, ketiga orang itu pada melolong panjang. Golok di tangan mereka terpental. Dan tangan serta wajah mereka robek. Masih untung bagi kelima orang ini, karena Si Bungsu tak menurunkan tangan kejam pada mereka.

Anak muda itu hanya sekedar melukainya saja. Tak berniat membunuh. Ketika kelima lelaki itu terperangah di tempat duduk mereka, Si Bungsu menekankan ujung samurainya pada sopir. inilah maksudnya pindah kebelakang sopir itu. Yaitu agar mudah mengancamnya untuk menjalankan bus. Dengan suara datar, dia berkata:

“Kalau kudukmu ini tak ingin kupotong, jalankan kembali bus ini…”

Sopir itu sudah sejak tadi pucat. Begitu terasa benda runcing dan dingin mencecah tengkuknya, tubuhnya segera menggigil. Seperti robot dia kembali menghidupkan mesin bus. Beberapa kali bus itu hidup mati mesinnya. Sebab sopir itu salah memasukkan gigi.

“Tenanglah, kalau tidak nyawamu kucabut dengan samurai ini” Si Bungsu berkata. “Ya .. ya pak Saya tenang .. saya tenang ..”

Sopir itu menjawab sambil menghapus peluh. Bus itu berjalan. Kembali memasuki jalan utama menuju Bukittinggi. Kembali merangkak terlonjak lonjak dijalan yang berlobang lobang. Deru mesinnya seperti batuk orang tua yang sudah sakit menahun. cukup lama bus itu berkuntal kuntil ketika tiba tiba sopir menginjak rem.

“Ada pemeriksaan oleh Kempetai        ” sopir berkata.

Mei-mei, menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu menyimpan samurainya. Kelima lelaki yang luka itu saling memandang.

“Mau kemana ..?” suatu suara serak bertanya dari bawah kepada sopir. Buat sesaat sopir itu tergagap tak tahu apa yang harus dijawab. Sebuah kepala menjulur kedalam. Memperhatikan isi bus tua itu. Memperhatikan wajah yang luka luka.

“Hmm, ada yang luka. Kenapa ?”

“Kami baru saja dirampok di bawah sana ..” Si Bungsu berkata. “Di mana ada rampok ?” Jepang itu balik bertanya.

“Di Padang Tarab ..” sopir menjawab cepat. “Siapa yang merampok ?”

“Orang Melayu ..” “Berapa orang ..?”

“Ada delapan orang. Mereka semua memakai pedang..” salah seorang yang luka itu menjawab. “Mereka tidak merampok perempuan ?”

Jepang itu bertanya lagi. Sementara matanya nanar menatap Mei-mei yang duduk memeluk Si Bungsu. “Semula mereka memang ingin. Tapi begitu dia ketahui bahwa gadis ini sakit lepra, mereka cepat cepat

menyingkir. Dan hanya uang kami yang mereka sikat …” jawab Si Bungsu. “Lepra ..?” Jepang itu bertanya kaget.

“Ya. Isteri saya ini sakit lepra .. akan dibawa kerumah sakit Bukit Tinggi ..” Si Bungsu menjawab lagi.

Kepala Jepang itu dengan cepat menghilang keluar. Kemudian terdengar perintah untuk cepat cepat jalan. Bus itu kemudian merayap lagi. Mereka semua menarik nafas lega. Kelima lelaki itu menjadi lega, karena mereka lepas dari tangan Kempetai. Sebab merekalah yang melakukan beberapa kali perampokan di sepanjang jalan Bukittinggi Payakumbuh. Dan bus ini salah satu alat mereka untuk itu. Si Bungsu tak mengetahui, bahwa yang dia lukai adalah perampok perampok. orang Minang yang mempergunakan kesempatan dalam kesempitan orang yang mengail di air keruh. Ketika penduduk sedang ketakutan dan menderita di bawah kuku penjajahan Jepang, mereka menambah penderitaan itu dengan merampok.

Padahal yang mereka rampok hanya orang-orang sebangsanya, mana berani mereka merampok tentara Jepang. Tapi malam ini mereka mendapat pelajaran pahit dari anak muda ini. Untung saja anak muda ini tak mengetahui sepak terjang mereka selama ini. Kalau saja Si Bungsu tahu, mungkin kelima lelaki ini sudah mampus semua. Bungsu merasa lega karena dia lepas dari pengawasan Kempetai. Kalau saja mereka tahu, bahwa dialah yang membunuhi Jepang di bulan-bulan terakhir ini, mungkin dia akan mati mereka tembak di dalam bus ini. Untung saja mereka tak tahu. Sementara itu Mei-mei menatap Si Bungsu dengan perasaan takjub. Dia merasa takjub, dan amat berdebar mendengar ucapan Si Bungsu yang terakhir pada Jepang itu :

“Isteri saya ini sakit lepra .. akan dibawa kerumah sakit”

Kata kata Isteri saya ini yang diucapkan Si Bungsu mengirimkan denyut amat kencang kejantungnya. oh, kalau saja benar bahwa anak muda ini menjadi suaminya, alangkah bahagiannya dia. Dia merasa aman dalam pelukannya. Merasa tentram dan terlindungi di sisinya. Si Bungsu merasa gadis itu tengah menatapnya. Dia balas menatap.

“Moy- moy ..” katanya sambil tersenyum.

“Koko..” “Sebentar lagi kita akan sampai di Bukittinggi ..” bisiknya.

Mei-mei hanya mengangguk. Kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Si Bungsu. Bus itu tadi dicegat lagi oleh Kempetai di pos penjagaan di Baso. Mereka memang tengah mendekati Bukittinggi. Kota itu mereka masuki hampir tengah malam.

“Antarkan saya kepenginapan ..” Si Bungsu berkata pada sopir.

“Ya .. ya..” sopir yang masih merasa ngeri pada samurai di tangan anak muda yang berada di belakangnya ini menjawab cepat.

Bus berhenti di sebuah penginapan di Aur Tajungkang. Sebelum turun, Si Bungsu menoleh kepada ke lima lelaki yang masih tersandar dan luka luka itu. “Saya tak pernah menyusahkan sanak sebelum ini. Saya tak mau kita berurusan lagi. Ingatlah itu..” katanya berlahan Kemudian dia membimbing tangan Mei-mei turun dari bus. Meninggalkan para rampok itu terperangah. Diam dan mati kutu. Dua orang perempuan separoh baya yang sejak tadi duduk ketakutan di belakang, ikut bergegas turun di penginapan itu. Mereka adalah dua orang perempuan yang berjualan kacang dan jagung dari Bukittnggi ke Payakumbuh dan Padang Panjang. Ketika mereka sama sama mendaftar di penginapan kecil itu, kedua perempuan itu menceritakan tentang perampokan yang beberapa kali pernah terjadi terhadap pedagang pedagang.

“Apakah kelima orang tadi adalah perampok itu ?” tanya Si Bungsu.

“Tak tahu kami. Kebetulan kami tak pernah mengalami nasib kena rampok. Tapi beberapa teman yang telah pernah mengalami mengatakan, bahwa perampok perampok itu memang orang awak jua. Dan caranya memang seperti tadi. Sama sama menompang bus. Kemudian berhenti di tempat sepi. Untung ada anak muda. Kalau tidak. pastilah kami yang kena rampok …”

Si Bungsu terdiam. Kemudian mereka masuk kekamar karena hari sudah larut malam. Karena semua kamar penuh, maka dia terpaksa satu kamar dengan Mei-mei. Untung dalam kamar itu ada dua tempat tidur.

“Tidurlah Moy- moy. Besok kita cari famili ibumu yang di Kampung cina..” katanya perlahan “Koko tidak tidur ?”

“Ya. Saya juga akan tidur. Tapi saya akan sembahyang dulu”

Dia lalu berganti pakain dengan kain sarung. Kemudian ke kamar mandi berudhuk. Mei-mei belum tertidur. Dia melihat anak muda itu sembahyang. Dia melihat tubuh anak muda yang semampai itu. Bermuka lembut atau lebih tepat dikatakan murung. Sinar matanya sayu. Ketika Si Bungsu selesai sembahyang Isa, ketika dia menoleh mengucapkan salam dia melihat Mei-mei belum juga tidur. Masih menatap padanya. Dia tersenyum pada gadis itu. “Belum tidur Moy-moy ?”

Mei-mei menggeleng. Kemudian duduk di sisi tempat tidur. Si Bungsu masih duduk di lantai yang beralas tikar. Mei-mei pindah duduk ke bawah, duduk tak jauh dari Si Bungsu. “Koko sembahyang apa ?”

“Isa ..”

“Kenapa orang Islam harus sembahyang lima kali sehari semalam ?” “Karena begitu suruhan Tuhan ..”

“Tidak melelahkan ?” Bungsu menatap Mei-mei. Dia tersenyum. Pertanyaan begitu pernah memenuhi tengkoraknya dulu. Ketika ayahnya selalu menyuruhnya sembahyang. Waktu itu dia bukan hanya sekedar bertanya, tapi malah membangkangi suruhan ayahnya. Tak mau sembahyang. Buat apa sembahyang, pikirnya. Kesempatan untuk bersuka ria adalah waktu muda. Kelak kalau sudah tua, barulah sembahyang.

Lagi pula, sembahyang lima kali sehari semalam, alangkah seringnya. Kenapa sembahyang itu tidak hanya sekali seminggu, atau paling tidak sekali dua hari misalnya. Itu mungkin lebih ringan

Namun ketika sendirian di Gunung Sago, ketika dia bersujud menyembah Allah di tengah belantara, dia merasakan betapa tentram hatinya saat dan setelah sembahyang. Dia merasakan betapa Tuhan melindunginya. Dia merasakan suatu kedamaian setiap selesai sembahyang. Dia merasakan seperti mendapat tenaga dan semangat baru selesai sholat. Ya, itulah intinya. Menemukan kedamaian dan ketentraman, menemukan semangat dan tenaga baru, setelah mengerjakan suruhan Tuhan. Perlahan dia menjawab pertanyaan Mei-mei, “Tidak ada pekerjaan yang melelahkan, bila pekerjaan itu dikerjakan dengan ikhlas. Apalagi kalau kita

mencintai pekerjaan itu Moy-moy” Mei-mei menatapnya.

“Engkau pernah sembahyang Moy-moy ?” Mei-mei menggeleng.

“Waktu kecil bersama ibu saya pernah sembahyang. Tapi semenjak ibu meninggal, saya tak lagi pernah melakukannya ..” ujar Gadis itu sembari menunduk.

“Nah, tidurlah Moy-moy. Koko juga mengantuk ..”

Namun mereka belum sempat membaringkan dirinya di tempat tidur, ketika terdengar suara heboh.

Suara heboh itu diikuti oleh suara menggedor pintu kamar mereka. “Hei beruk yang ada di dalam. Buka pintu ini cepat”

Suara berat terdengar memerintah. Dari suara yang berbahasa Minang itu, Si Bungsu segera tahu bahwa orang di luar adalah lelaki asal daerah ini. Dia menatap pada Mei-mei yang tertunduk di tepi pembaringan. Kemudian mengambil samurainya. Kemudian melangkah kepintu.

“Tenang saja di dalam Moy- moy. Jangan buka pintu kalau bukan saya yang menyuruhnya..” “Koko ..” gadis itu berlari memeluknya.

“Tenanglah ..”

“Jangan tinggalkan saya koko ..” “Tidak. Saya akan kembali ..”

“Saya akan bunuh diri kalau koko meninggalkan saya..” “Tenanglah. Nah kunci pintu ..”

Dia muncul di gang di luar kamarnya. Di depan pintu, orang lelaki berjambang kasar tegak berkacak pinggang. Begitu dia muncul, lelaki itu mencekal lengannya. Kemudian menariknya keruang tengah. Mendorongnya hingga Si Bungsu terjajar.

“Ini beruk yang waang katakan itu Pudin ?” orang bertubuh kasar itu berkata.

Si Bungsu menatap pada orang itu. Dan dia segera kembali mengenali kelima lelaki yang mencoba merampoknya tadi. Di sana juga ada sopir bus.

“Benar. Dialah orangnya Datuk ..” jawab si Kurus.

Orang bertubuh besar itu menggerendeng. Sementara penghuni penginapan yang lain tak berani menampakkan muka. Mereka lebih merasa aman berada rapat rapat di bawah selimut daripada mencampuri urusan orang yang satu ini.

“Waang telah melukai anak buah saya buyung. Itu hanya bisa dibayar dengan dua hal. Pertama dengan seluruh isi bungkusan yang waang bawa. Atau kalau waang keberatan, maka harus waang bayar dengan nyawa waang dan tubuh bini waang …” dan si Tinggi besar itu meludah.

Hampir saja dahaknya mengenai kepala Si Bungsu. Si Bungsu tegak dengan diam. Muaknya muncul melihat lelaki ini. Dia teringat lagi akan cerita kedua perempuan yang sama sama satu bus dengannya tadi. Cerita tentang perampokan yang dilakukan oleh orang Minang terhadap orang orang yang bepergian dengan bus. Dia lihat, selain si Besar tinggi ini, masih ada temannya yang lain. Jumlah mereka kini sembilan orang. Hanya yang menjadi heran di hatinya adalah keberanian penyamun penyamun ini muncul di tengah kota. Nampaknya mereka tak merasa gentar sedikitpun pada Kempetai Jepang.

Selama hidup beberapa bulan di Payakumbuh, Si Bungsu mengetahui, bahwa tentara pendudukan Jepang menjalankan roda pemerintahan dengan ketat. Mereka menangkapi para penjudi dan perampok. Kini sembilan lelaki ini berani muncul di tengah kota. Apakah mereka memang orang bagak. Yang pada Kempetai sekalipun mereka tak merasa takut? Atau barangkali karena hari sudah lewat tengah malam, mereka tahu bahwa bakal takkan ada patroli Kempetai. Atau barangkali mereka memang dilindungi oleh Jepang ?

Tapi dia tak sempat berfikir dan menyimpulkan pikirannya. Datuk bersisungut (berkumis) dan bertubuh besar itu telah memberi isyarat pada kedua anak buahnya. Dan kedua lelaki itu segera bertindak. Yang satu menangkap tengkuk Si Bungsu, yang satu lagi memegang tangannya. Si Bungsu menghantamkan samurainya yang masih bersarung itu. Kayu samurai tersebut menghantam leher dan kepala lelaki itu dengan keras. Kedua lelaki itu terpekik. Namun mereka maju lagi dengan berang. Namun itu sudah cukup. Di mana Mei-mei berada. Kedua lelaki itu berhenti sedepa di depan Si Bungsu. Sebuah kilatan cahaya putih yang amat cepat menahan gerakkan mereka. Mereka tertahan karena tiba tiba saja setelah kilat cahaya yang amat cepat itu, dada mereka merasakan terasa amat pedih. Dan ketika mereka lihat, pakaian mereka telah robek lebar dari pundak ke perut. Dari balik pakaian yang robek seperti disayat pisau silet itu, merembes darah segar. Mereka memang tidak rubuh. Karena Si Bungsu hanya sekedar melukai mereka saja.

“Hari telah larut malam. Saya tak bermusuhan dengan kalian. Saya harap jangan menganggu kami ..” ujar Si Bungsu datar.

Sementara samurainya telah masuk kesarungnya kembali. Di sudut lain, dua lelaki yang tadi berjalan ke kamar dimana Mei-mei berada, sekali mendobrak berhasil menghantam pintu kamar sehingga terbuka. Terdengar pekikan Mei-mei. Si Bungsu bergerak ke kamarnya. Namun Datuk yang tak diketahui namanya itu menghadangnya bersama empat temannya yang lain. Dan saat itu kedua lelaki yang masuk kamar tadi muncul dengan bungkusan mereka dan Mei-mei dalam ringkusan tangannya. Nyata sekali gadis itu menderita akibat cengkeraman tangan orang yang meringkus bahunya.

Koko .. rintihannya dengan air mata yang mengalir. Melihat hal itu Si Bungsu menatap Datuk bersungut itu dengan kemarahan besar. Datuk itu dapat membaca kemarahan itu. Dia menyeringai dan berkata :

“Hee .. waang beruntung buyung, bisa berbini cina. Tentu lamak(enak) ya ..? He .. he ..saya juga ingin mengicok (mencoba) sedikit. Kau boleh menonton ..”

Habis berkata Datuk buruk bersungut ini berbalik. Menarik tangan Mei-mei. Wajah Si Bungsu menegang. Dia sebenarnya tak ingin menurunkan tangan kejam lagi pada bangsanya sendiri. Dia tak bisa menghitung sudah berapa banyak nyawa yang telah dia rengut lewat samurainya. Namun dari sebanyak itu yang terbunuh, baru dua orang Minang yang jadi korban. Baribeh dan si Juling yang dia bunuh bersama si Babah mata mata itu. Kedua orang itu memang berhak mendapatkan kematian. Sebab mereka memata matai perjuangan bangsanya sendiri. Bekerja untuk cina yang jadi mata mata Jepang. cina yang menjadi penggerak Komunis. Tapi kini nampaknya dia terpaksa berlaku kejam lagi. Sejak tadi dia bersabar. Membiarkan dirinya dibekuk dan diseret dari depan kamar. Membiarkan dirinya dihina.

Tapi ketika si Datuk kalera itu merobek baju Mei-mei dan gadis itu terpekik, saat itu pula samurainya di tangannya bekerja. Tiga lelaki yang tegak tak jauh darinya, yang tadi ikut bersamanya dalam bus dan berusaha merampok mereka, terpekik dan rubuh dengan dada belah. Mati. Datuk itu tertegun. Teman temannya yang lain kaget.

“Ohooo ..jual lagak waang pada saya ya ? Waang sangka saya takut dengan permainan samurai waang

itu he”

Sehabis ucapkannya tangannya bergerak menyentak kain Mei-mei. Pakaian gadis itu robek lebar. Dan

dengan jahanam sekali, tangan Datuk itu meremas dada gadis itu. Mei-mei terpekik. Dengan cepat setelah mencabik baju Mei-mei Datuk itu berbalik menerjang kearah Si Bungsu. Bukan main cepatnya kejadian itu berlangsung. Mulai dari menyobek baju hingga menyerang, hanya berlalu beberapa detik. Si Bungsu masih tertegun ketika serangan datuk itu datang. Dia berusaha mengelak. Namun Datuk ini seorang pesilat yang tangguh.

Terjangannya mendarat di pusat Si Bungsu. Anak muda itu terjajar menghantam dinding di belakangnya. Kemudian tubuhnya melosoh turun. Matanya berkunang-kunang. Dia ingin bangkit. Tapi Datuk itu datang lagi menerjang. Dan kali ini rusuknya kena. Rusuk kiri. Terdengar suara berderak. Tanpa dapat ditahan Si Bungsu terpekik. Dua tulang rusuknya kupak. Datuk itu menerjang lagi dengan seringai buruk di bibirnya. Tubuh Si Bungsu tercampak dari kaki penyamun yang satu ke kaki penyamun yang lain. Itulah malangnya karena tadi dia masih tenggang menenggang. Tak segera bersikap tegas kepada lelaki lelaki ini.

Padahal dia sudah diberitahu oleh kedua perempuan yang satu bus dengannya dari Payakumbuh itu. Bahwa lelaki lelaki itu adalah penyamun-penyamun yang sering merampok pedagang yang dalam perjalanan ke Bukittinggi dari Payakumbuh atau dari Padang Panjang. Dia terlalu menenggang. Dia hanya ingin membunuh Jepang yang membunuh keluarganya. Yang menjajah negerinya. Dia tak ingin membunuh bangsanya sendiri. Ternyata belas kasihannya memakan dirinya sendiri. Mei-mei memekik mekik melihat tubuh Si Bungsu tercampak dari satu kaki ke kaki yang lain.

“Jangan siksa dia Jangan siksa diaaa. Kuserahkan apa yang kalian minta. Jangan siksa dia … Koko …Koko” Mei Mei menatap memohon. Lambat lambat di antara rasa sakit dan terguling guling di lanyau cuek itu, Si Bungsu mendengar suara Mei-mei. Hatinya luluh ketika mendengar betapa gadis itu bersedia memberikan apa saja, termasuk dirinya, asal lelaki lelaki itu berhenti menganiaya dirinya. Dia coba menyusun ingatannya kembali. Coba mengingat dimana samurai nya terjatuh. Lalu, tiba tiba sekali, dengan sisa sisa tenaga tubuhnya bergulingan amat cepat. Dengan mengandalkan pendengarannya yang amat tajam, telinganya menangkap suara samurainya yang tersentuh kaki salah seorang lelaki itu.

Seperti magnit, ke sanalah tubuhnya bergulingan amat cepat. Para lelaki itu masih berusaha mengejarnya. Masih belum mengetahui dengan sepenuhnya bahwa tubuh anak muda itu bergulingan bukan lagi karena tendangan mereka. Ketika mereka memburu lagi, saat itulah tangan Si Bungsu berhasil meraih samurainya. Dia tak bisa tegak sempurna. Rusuknya yang patah di sebelah kiri menghalangi gerakannya. Namun dengan berlutut tiba tiba samurainya bekerja. Dalam tiga kali gerakan pertama, tiga lelaki dimakan samurainya.

Perut mereka robek. Ada yang dadanya belah. Menggelepar dan mati. Datuk itu kaget. Tapi dia memang seorang pesilat tangguh. Dia menendang cepat sekali. Wajah Si Bungsu berubah keras seperti baja. Ketika kaki Datuk itu menendang ke wajahnya, samurainya bekerja. Dan amat cepat sekali, kaki datuk itu buntung sebatas lutut. Yang seorang lagi, yang menyerang dengan keris dia pancung tentang pinggangnya. Pinggang lelaki itu hampir putus.

Datuk itu terpekik, namun Si Bungsu menggeser tubuh. Dan samurainya kembali bekerja. Kaki kiri Datuk itu putus sebatas betis. Datuk itu terguling. Samurai Si Bungsu bekerja lagi. Kedua tangan Datuk jahanam itu putus hingga siku. Anak buahnya yang satu lagi, yang masih selamat, menggigil. celananya segera basah. Dan tiba tiba dia balik kanan. Lari kedalam kegelapan. Dialah satu satunya yang selamat. Datuk itu menggelepar gelepar. Memekik mekik. Minta ampun. Kaki dan tangannya putus semua

“Bunuhlah saya. Tolonglah. Jangan biarkan saya menderita … oh tolonglah ..” dia meratap. Bungsu menatapnya dengan wajah datar. Kemudian dia berkata dengan suara tanpa emosi.

“Engkau takkan mati Datuk. Darahmu akan kuhentikan alirannya agar kau tak mati kehabisan darah. Kematian terlalu mulia bagimu. Engkau akan tetap hidup dengan tubuh seperti sekarang. cukup banyak orang sengsara olehmu. Mulai hari ini, kau akan merasakan kesengsaraan yang lebih hebat dari itu. Ini adalah balasan dari kejahatan selama ini. Engkau seorang datuk seorang penghulu, seorang kepala suku. Yang seharusnya membimbing anak kemenakanmu. Yang seharusnya meluruskan yang bengkok, menyambung yang singkat menyayangi yang muda, melindungi yang lemah. Tapi ternyata gelar yang engkau sandang engkau laknati sendiri …”

“Ampun saya anak muda … tolonglah saya. Jangan biarkan diri saya hina begini. Bunuhlah saya .. bunuhlah saya ..” ratap datuk yang sudah lenyap seluruh kepongahannya Si Bungsu hanya menatapnya dengan dingin sambil menekan beberapa bahagian di tempat tubuhnya yang putus, darah tiba-tiba berhenti mengalir. Kemudian menatap ketujuh mayat yang bergelimpangan dalam kamar tunggu penginapan itu. Lalu lambat lambat dia berbalik. Menghadap pada Mei-mei. Gadis itu berlari memeluknya.

“Koko ..”

“Mari kita pergi Moy-moy ..”

Dan malam itu, mereka meninggalkan penginapan tersebut. Si Bungsu tahu dalam waktu singkat, Kempetai akan memenuhi penginapan itu. Dan dia tak mau ditangkap. Dengan sebuah bendi yang berada di depan penginapan itu, mereka pergi membelah malam yang dingin. Malam yang hampir bersahut dengan subuh.

“Ke mana kita koko ..?” “Saya tak tahu Moy-moy. Saya tak punya kenalan di sini. Jangan ke rumah famili ibumu di Kampung cina, berbahaya bagi keluarganya.

” “Kita kepenginapan lain koko ?” “Tidak. Semua penginapan akan digeledah Kempetai…”

Kusir bendi, seorang lelaki tua, yang tadi mengintip perkelahian dalam penginapan itu mendengarkan saja percakapan kedua anak muda tersebut. Dari pembicaraan mereka, dia mengetahui, bahwa kedua anak muda ini bukan suami istri. Dia mengetahui sedikit banyaknya bahasa cina. Sebab dia bersahabat dengan sebuah keluarga Tionghoa yang tinggal di daerah Tembok. yang berdekatan dengan Kampung cina. Kedua anak muda ini, kalau tidak sepasang kekasih, pastilah dua orang bersahabat. Kusir tua itu juga mengetahui, bahwa Datuk basunguik buruk dan teman temannya yang dibantai anak muda ini adalah penyamun yang ditakuti. Markas Datuk itu dan anak buahnya terletak di dalam rimba buluh di Tambuo. Suatu tempat angker di dekat kampung Tigobaleh di tepi Kota Bukittinggi. Banyak orang yang mengetahui bahwa rimba buluh Tambuo itu adalah markas dan sekaligus tempat persembunyian para perampok. Namun tak ada yang berani mengadukan pada Jepang. Apalagi bertindak sendiri menangkap mereka. Datuk ini terkenal bengis. Hal itu hampir saja terbukti kalau anak muda ini tak cepat dengan samurai nya tadi.

Kini kusir bendi itu dapat menangkap dari pembicaraan kedua penompangnya ini, bahwa mereka kesulitan tempat menginap. Hatinya jadi hiba.

“Seluruh kota akan segera diperiksa oleh Kempetai ..” kusir itu berkata perlahan. Si Bungsu menoleh padanya.

“Apakah orang orang itu dilindungi oleh Jepang ? “ tanyanya ingin tahu.

“Tidak. Tapi Jepang akan mencari setiap pembunuh. Apalagi yang kau bunuh malam ini tujuh orang. Suatu jumlah yang tak sedikit Jepang membiarkan gerombolan Datuk itu merajalela untuk kepentingan mereka secara tak langsung. Dalam setiap kekacauan, mereka memetik untungnya …” Si Bungsu menarik nafas panjang. Mereka sama sama terdiam. Yang terdengar memecah sunyi adalah suara ladam kuda yang beradu dengan aspal. Membelah malam yang telah jauh menikam larut. Si Bungsu tak menyadari kemana bendi itu tengah menuju. Rusuknya yang patah membuat dirinya letih tak terkira. Makan kaki lelaki lelaki di penginapan tadi benar benar meluluhkan tubuhnya. Mei-meilah yang pertama menyadari, bahwa bendi itu makin jauh dan makin masuk kepalunan gelap. Dia menggoyang tubuh Si Bungsu yang bersandar ke dirinya. Si Bungsu tak

bergerak.

“Koko .. Koko …” panggilnya perlahan dekat telinga Si Bungsu. Si Bungsu mengeluh pendek. Tak bisa menjawab, tapi keluhan itu sebagai tanda bahwa dia mendengarkan panggilan Mei-mei.

“Kemana kita Koko ?” ada nada cemas dalam suara gadis itu. “Kemana …?” Si Bungsu balas bertanya perlahan.

“Lihatlah, kita dibawa kepalunan rimba …” bisik Memei. Masih dalam keadaan menyandarkan kepalanya yang terasa amat berat, tanpa membuka mata, Si Bungsu bertanya perlahan.

“Akan bapak bawa kemana kami ?”

“Kalian tak punya tempat untuk menginap di kota anak muda ..” “Ya. Tapi kini kami akan bapak bawa kemana ?”

“Ke rumah saya …” “Ke rumah bapak …?”

“Ya. Di rumah saya kalian akan aman. Hais ck ck ..” kusir itu mendecah kudanya. Terasa goncangan agak keras ketika bendi itu mulai meninggalkan jalan beraspal dan memasuki jalan kecil yang tak datar. Mei-mei memeluk bahu Si Bungsu agar jangan sampai melosoh turun.

“Kerumah bapak …?” Si Bungsu mengulangi tanyanya perlahan.

Dan setelah itu dia tak sadar diri. Mei-mei tak bisa berbuat apa apa. Kalaupun dia berniat melawan, dan bisa melarikan diri, namun dia tak akan melakukannya. Dia tak mau meninggalkan anak muda yang telah menolongnya ini. Kalaupun bencana akan menimpa dirinya, dia ingin tetap berada di dekat Si Bungsu.

“Haissy ck … ck Haissy …” kusir bendi tersebut mendecah kudanya lagi. Kuda itu seperti berjalan dalam cahaya terang. Berlari seenaknya. Melangkahi lobang dan batu sebesar-besar tinju. Dia hafal jalan itu. Meski malam yang hampir disambut subuh itu amat kental gelapnya. Mei-mei coba memperhatikan jalan dan belantara yang mereka lalui.

Jalan itu di kiri kanannya penuh oleh pohon pohon. Seperti hutan saja layaknya. Tapi yang paling banyak di antara pohon pohon itu adalah pohon bambu. Besar dan tinggi seperti akan menjangkau langit. Dahulu waktu kecil, dia pernah tinggal di kota ini. Tapi saat itu dia masih kecil, kemudian si Babah, ayah tirinya itu, membawa mereka pindah ke Payakumbuh. Waktu kecil itu, dia tak pernah sampai kemari. Paling paling hanya ke rumah tetangga di kampung cina. Tiba tiba bendi itu berhenti. Kusir berseru, kemudian dia berjalan ke belakang. Ke tempat Si Bungsu dan Mei-mei duduk.

“Mari kutolong menurunkannya …” kata kusir tua itu lagi sambil memegang tangan Si Bungsu. Lalu tiba tiba, dalam gerakannya yang amat cepat tubuh Si Bungsu telah berada di bahunya. Pintu pondok terbuka. Seorang perempuan separoh baya muncul dengan lampu togok di tangannya. Mei-mei turun dari bendi dan mengikuti kusir itu. Saat akan masuk kepondok perempuan paroh baya itu tertegun menatap Mei-mei. Tapi hanya sebentar. Kemudian menghindar dari pintu memberi jalan pada Mei-mei..

“Masuklah ..” katanya.

Suaranya lembut. Mei-mei melangkah masuk. Pondok itu cukup besar. Berdinding bambu, berlantai tanah beratap rumbia. Seorang anak perempuan muncul. Barangkali usianya sekitar dua belas tahun. Namun tubuhnya kelihatan segar. Kusir bendi itu meletakkan tubuh Si Bungsu di sebuah kamar di atas balai balai bambu. Mei-mei tegak di sisi pembaringan.

“Biarkan dia tidur …” kata kusir itu sambil melangkah ke luar kamar.

Dia minta istrinya untuk membuat kopi. Mei-mei duduk termenung di tepi pembaringan dekat tubuh Si Bungsu. Anak muda itu tergolek tak sadar diri. Gadis itu meraba wajahnya. Terasa dingin dan berpeluh. Dia tegak dan berjalan kepintu.

“Pak. dia berpeluh dan tubuhnya dingin …” katanya pada kusir yang kini tengah membuka kekang kudanya.

“Biarkan saja. Dia takkan apa apa. Dia memiliki tubuh yang kuat. Sebentar lagi dia akan sembuh. Nona istirahatlah di dalam …” kata kusir itu.

Suaranya terdengar berat tapi ramah dan bersahabat. Kekawatiran yang sejak tadi bersarang di hati Mei- mei lenyap ketika mendengar suara kusir itu. Dia lalu berbalik ke kamar. Duduk di sebuah bangku kecil dekat dinding. Menatap diam diam pada Si Bungsu yang masih saja tak sadar. Tak lama kemudian, terdengar suara azan dari kejauhan. Kusir itu sembahyang subuh dengan istri dan gadis kecilnya. Tak selang berapa lama setelah sembahyang subuh itu, Mei-mei mendengar suara orang datang. Dia mendengar kusir itu berjalan ke luar. Kemudian sepi. Tapi hanya sebentar. Tak lama antaranya, dia dengar suara tanah berdentam dan suara seperti orang berkelahi.

Mei-mei tertegak. Takutnya muncul. Siapa orang yang baru datang itu ? Dia tegak dan berjalan ketempat tidur di mana Si Bungsu masih terbaring. Dia ingin membangunkan anak muda itu. Tapi dia tak sampai hati. Anak muda itu tidak tidur, melainkan tak sadar karena letih dikeroyok. Kini dia terbaring diam. Suara perkelahian di luar masih terdengar. Dengan perlahan Mei-mei berjalan kejendela. Dia mengintip dari lobang kecil yang terdapat di pinggir jendela. Di luar sana, dalam cahaya subuh, dia lihat orang tua yang jadi kusir bendi yang mereka tumpangi tadi, sedang berkelahi dengan seorang anak muda.

Anak muda itu kelihatan amat gesit. Namun kusir itu juga gesit. Tubuh tuanya yang malam tadi dibungkus dengan kain dan sebuah sebo, kini kelihatan terbuka. Hanya memakai celana panjang hitam tanpa baju. Tubuhnya kelihatan biasa saja, namun di balik tubuh yang biasa itu jelas terbaca tenaga yang tangguh.

“Sampai di sini dulu, Kini kau upik ..” kusir itu berkata menunjuk gadis kecil yang dia temui malam tadi. Dari lobang kecil itu dia melihat gadis kecil anak kusir itu maju ke tengah lapangan kecil di belakang rumah itu. Gadis berusia dua belas tahun itu berpakaian seperti lelaki. Bercelana dan berbaju longgar. Dari caranya bersiap. Mei-mei segera menarik nafas lega. orang itu ternyata hanya latihan silat. Dia jadi tertarik.

Ingin melihat gadis kecil itu bersilat. Gadis itu mulai membuka serangan setelah memberi hormat. “Jangan memukul ketika menarik nafas ..” kusir itu berkata memberi petunjuk.

Gadis itu menarik lagi pukulannya yang tengah dia lancarkan. Memulai lagi langkah dari awal. Kemudian beruntun mengirimkan pukulan dan tendangan ke arah ayahnya. Gerakan gadis itu cukup cepat. Namun dengan mudah kusir itu mengelak dan memberi petunjuk terus. Tiba tiba lelaki tua itu berhenti, lalu menghadap kepondoknya.

“Hei, Nona Jangan mengintip di situ. Kalau ingin belajar silat, datang kemari..” Seru lelaki itu.

Mei-mei cepat cepat menarik kepalanya dari lobang yang tak sampai sebesar jari itu. Dia kaget pada ketajaman firasat kusir itu. Dia duduk kembali di pembaringan dekat Si Bungsu yang masih tertidur. Sesekali matanya memandang juga ke lobang kecil di tepi jendela di mana tadi dia mengintip. Suara kusir yang menyuruhnya keluar itu seperti memanggil manggilnya. Dia tatap wajah Si Bungsu, hatinya jadi lega. Sebab kini wajah anak muda itu tak lagi meringis seperti tadi. Kini dia seperti benar benar tidur. Wajahnya tak lagi menahan sakit.

Nampaknya dia memang tengah tertidur lelap. Mei-mei menarik nafas lega. Di luar dia dengar lagi orang latihan bersilat. Lambat lambat dia melangkah keluar. Berjalan ke belakang. Dan tiba di pinggir lapangan berpasir yang luasnya tak sampai lima depa persegi. Di tengah lapangan Upik anak kusir itu tengah bersilat dengan lelaki muda yang tadi dia lihat bersilat dengan kusir. Kusir itu tengah tegak dengan kaki terpentang menatap ke tengah sasaran.

Mei-mei duduk di bangku bambu yang terletak di pinggir sasaran. Tak lama kemudian kedua orang itu selesai berlatih. Si Upik dengan tersenyum ramah mendekati Mei-mei. Gadis kecil itu mengulurkan tangan bersalaman. Mei-mei ikut tersenyum melihat keramahannya dan menyambut uluran tangannya.

“Nama saya Upik. Siapa nama kakak ?” tanyanya dengan suara bersahabat.

Mei-mei terharu, jarang sekali sikap bersahabat begini datang dari orang Melayu terhadap orang Tionghoa. Biasanya dia merasa diasingkan di tengah orang orang Melayu. Tapi gadis kecil ini, demikian juga ayahnya yang kusir itu, seperti telah mengenalnya dengan baik selama bertahun tahun. Sebenarnya jarak usia kedua gadis itu hanya sekitar lima tahun. Suatu jarak yang tak seberapa jauh. Si Upik benar benar gadis desa yang polos dan manja. Sementara Mei-mei adalah gadis muda yang dalam usianya yang belum seberapa itu, telah menapaki kehidupan manusia dewasa yang alangkah pahitnya dan alangkah hitamnya.

“Nama saya Mei-mei ..” katanya sambil tersenyum.

Ketika Mei-mei melihat kusir itu menatapnya, dia segera mendatanginya. Kemudian dengan sikap hormat menyalami orang tua itu.

“Terima kasih atas bantuan Bapak kepada kami ..” katanya. Kusir tua itu tersenyum.

“Nama saya Datuk Penghulu Basa. Kau boleh panggil saya dengan sebutan bapak atau pak Datuk. Tinggallah di sini buat sementara. Menjelang kokomu sehat. Saya rasa rusuknya ada yang patah. Berbahaya kalau dia berada di kota dalam keadaan seperti itu. Teman teman Datuk yang dia pancung semalam dan juga Kempetai pasti mencari. Siapa nama kokomu itu?” “Bungsu. Kami baru datang dari Payakumbuh..”

“Ya. Saya ada di depan penginapan itu ketika kalian turun dari bus ..”

Datuk Penghulu Basa lalu menceritakan tentang siapa yang dibunuh oleh Si Bungsu di penginapan itu.

Tentang kawanan penyamun yang bermarkas di rimba buluh di lembah Tambuo itu. “Hei, kenalkan, muridku si Salim …..”

Datuk Penghulu memperkenalkan anak muda yang tadi berlatih dengannya kepada Mei-mei. Gadis itu menyambut salam tersebut. Salim merasakan hatinya berdebar ketika menyalami tangan gadis Tionghoa yang cantik itu. Hari hari setelah itu Si Bungsu dirawat oleh Datuk Penghulu di rumahnya. Dia terpaksa berbaring selama tiga puluh hari di tempat tidur. Rusuknya patah tidak hanya dua buah. Melainkan ada tiga yang kupak dimakan kaki Datuk penyamun dan anak buahnya itu.

Selama itu pula Mei-mei juga tinggal di sana. Dia sebilik dengan upik. Tiap hari Datuk Penghulu Basa tetap mencari nafkah dengan bendinya. Dia menceritakan pada Mei-mei dan Si Bungsu. Jepang sebenarnya berterima kasih pada orang yang tak dikenal yang telah membunuh kawanan penyamun itu. Namun selain berterima kasih Jepang juga tetap mencari Si Bungsu. Sebab betapapun jua, si pembunuh harus didengar keterangannya tentang peristiwa itu. Datuk kepala penyamun yang buntung tangan dan kakinya itu dirawat di rumah sakit. Dia masih tetap hidup. Kempetai berhasil mengorek keterangan dari mulut kepala penyamun ini tentang markas mereka di Tambuo. Jepang lalu menggerebek markas mereka dalam rimba bambu itu. Tujuh orang lagi berhasil diringkus dari sana.

Kini, orang tak merasa khawatir lagi lewat di penurunan Tambuo seperti masa masa sebelumnya. Kalau dulu, untuk ke Bukittinggi dari Tigobaleh dan sekitarnya, orang harus memutar jalan ke Simpang Limau. Atau berputar ke Banu Hampu terus ke Jambu Air. Mereka tak pernah aman lewat di penurunan Tambuo itu. Tak jarang orang menemui mayat di Batang Tambuo yang berair deras itu. Tapi kini masa seperti itu sudah lewat. Suatu hari ketika Si Bungsu merasa agak baik, dia coba untuk berdiri. Sudah berlalu masa dua puluh hari sejak dia dibawa ke rumah ini.

Tiga tulang rusuknya yang patah sudah agak terasa nyaman, itu karena rawatan datuk itu anak beranak. Mei-mei dengan tambahan ramuan kering yang dia bawa dari gunung Sago. Pagi itu dia terbangun karena kicau burung dan suara bentakan bentakan di luar rumah. Dia buka jendela dan menghirup udara pagi segar yang menerobos masuk. Dilihatnya kopi sudah terletak di atas meja kecil di dalam kamar itu. Dalam sebuah gelas terletak beberapa bunga bunga kobra bunga mawar.

Pastilah Mei-mei yang meletakkannya. Seperti kebiasaan gadis itu setiap pagi selama di rumah ini. Datuk Penghulu pasti belum kembali. Sebab malam tadi dia berkata, bahwa malam ini mereka ada perlu. Kabarnya ada pertemuan pejuang di Bukit Ambacang. Datuk itu termasuk salah seorang dari pejuang itu. Ketika dia menoleh ke arah belakang, dia tertegun. Di lapangan kecil di belakang rumah itu, dilihatnya orang sedang bersilat. Yang satu pastilah si Salim. Kemenakan Datuk Penghulu. Dia kenal pemuda itu selama berada di rumah ini. Pemuda baik dan rendah hati dan berbudi.

Yang dia hampir hampir tak percaya atas penglihatannya adalah lawan si Salim bersilat itu. Lawannya adalah seorang perempuan. Seorang gadis. Berpakaian serba hitam dan rambutnya yang panjang diikat tinggi tinggi. Pakaian yang hitam sangat kontras dengan kulitnya kuning bersih. Jurus silat yang dia bawakan amat berlawanan dengan tubuhnya yang lemah lembut, dan wajahnya yang cantik. Mei-mei. Mei-mei belajar silat. Ini benar benar suatu yang luar biasa. Di tepi lapangan, si Upik anak Datuk Penghulu Basa melihat dengan penuh perhatian. Sesekali gadis kecil itu bersorak bila tendangan atau pukulan Mei-mei mengenai tubuh Salim. Atau sesekali gadis itu berseru berang bila kebetulan pemuda itu mengenai tubuh Mei-mei. Si Bungsu benar benar terpesona. Dia tak mengerti silat. Tapi melihat gerakan Mei-mei, dia yakin gadis itu sudah mulai cepat dengan kaki dan tangannya. Padahal baru dua puluh hari dia belajar.

Saat itu, ketika Salim berniat menangkap pukulan tangan Mei-mei, gadis itu membiarkannya. Ketika Salim berniat menguasai tangan tersebut, di luar dugaan, kaki kiri Mei-mei yang berada di belakang kaki kanannya, menendang kedepan dengan kuat dan cepat sekali. Tendangan itu demikian telaknya. Salim baru menyadari bahaya tendangan itu ketika sudah terlambat.

Tendangan itu masuk keperutnya Tak ada ampun. Tubuhnya terlipat dan terguling ketanah. Si Upik bersorak gembira. Mei-mei tertegun melihat akibat tendangannya. Salim meringis dan merangkak bangun. Mei-mei membantunya tegak dengan wajah penuh penyesalan.

“Maaf… maafkan saya tak sengaja …” Salim tegak tapi tersenyum.

“Benar benar jurus cuek Sadapo yang sempurna. Saya tak pernah berhasil sebaik itu dalam mempergunakan jurus tersebut…”

Salim berkata jujur sambil menghapus peluhnya. Mereka terkejut tatkala mendengar tepuk tangan dari rumah. Ketika mereka menoleh, mereka melihat Si Bungsu tegak dengan senyum di dekat jendela. Mei-mei menghambur gembira melihat anak muda itu sudah bisa berdiri.

“Koko ..” serunya tersendat.

“Moy-moy. Selamatlah. Engkau telah menjadi seorang pesilat..” suara Si Bungsu terdengar bernada gembira dan bangga.

Mei-mei menatap anak muda itu. Dan tiba tiba dia memeluk anak muda itu dengan isak tertahan. Gadis ini sangat merisaukan kesehatan Si Bungsu, itu sebabnya ketika kini dia melihatnya telah mampu berdiri, hatinya sangat bersyukur. Dia menangis karena bahagia. Hanya Si Bungsu yang jadi terheran heran, tatkala mengetahui.

“Mei-mei menangis. Hei, ada apa Mei-mei ..?”

“Saya bahagia, koko telah sembuh. Saya sangat khawatir koko tak sembuh sembuh. Saya sangat hawatir

…..”

“Orang kalau gembira pasti tertawa. Ini gembira kok menangis. Hei Salim, bagaimana ini. Pesilat tak

boleh menangis bukan ?” Salim hanya tersenyum, si Upik berlari pada Mei-mei. “Jangan menagis, Uni…” katanya.

Mei-mei melepaskan pelukannya dari Si Bungsu, kemudian menghapus air matanya. Kemudian menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu tersenyum.

“Teruslah berlatih. Saya bangga melihatmu jadi seorang pesilat ..”

“Kami sudah selesai. Hanya tinggal menutup dengan pernafasan ..” terdengar suara Salim.

“Ayolah kita tutup latihan ini Uni. Kesehatan bisa rusak bila tak diakhiri dengan latihan pernafasan itu

..” Ujar Upik membujuk Mei-mei. Gadis itu kemudian melangkah lagi ke lapangan kecil di belakang rumah tersebut. Lalu mengatur pernafasan sebagai penutup latihan.

Si Bungsu mengenal latihan ini. Pernafasan mempertajam pendengaran dan mengatur tenaga yang telah terpaksa. Latihan begitu tiap hari dia lakukan ketika di gunung Sago dahulu. Mei-mei memang telah mulai latihan silat sejak dua hari kedatangannya kerumah Datuk Penghulu ini. Dia tertarik melihat si Upik berlatih.

Karena itu ketika Datuk Penghulu Basa menawarkan untuk ikut, tanpa malu malu diapun ikut. Dengan cepat ternyata dia bisa menguasai pelajaran yang diberikan. Sebenarnya Datuk Penghulu bukan sekedar menawarkan latihan saja pada Mei-mei. Dia punya alasan yang kuat. sebagai guru gadang aliran Silek Tuo yang berasal dari Pariangan Padangpanjang, yaitu aliran silat yang merupakan induk dari silat silat yang ada di Minangkabau, seperti silat Lintau, Kumango, Pangian dan lain lain, dia dapat melihat tulang seorang pesilat pada tubuh orang. Mula pertama melihat Mei-mei, hatinya berdetak keras. Susunan tulang Mei-mei merupakan susunan yang hampir hampir sempurna bagi seorang pesilat. Dia yakin gadis ini mempunyai bakat silat yang luar biasa.

Itulah sebabnya dia menawarkan gadis itu untuk belajar. Dan ketajaman penglihatannya itu segera saja terbukti. Ketika dalam waktu tak sampai satu bulan, Mei-mei telah melalap dan memahami dengan baik pelajaran pelajaran pokok dan kunci kunci serangan yang diberikan Datuk Penghulu Basa. Tak seorangpun yang mengetahui, bahkan Mei-mei sendiri, bahwa gadis itu sebenarnya adalah turunan seorang pesilat tangguh. Ayah dari kakek Mei-mei berasal dari Tinggoan di daratan Tlongkok sana. Dan ayah kakeknya ini adalah seorang Tiang Bujin, atau dedengkot silat aliran Siau Lim Pay yang sangat tersohor. Ayah dari kakeknya bergelar Bu Beng Tay Hiap. Si Pendekar Pedang Tak Bernama. Setiap pesilat di daratan tiongkok pasti menaruh segan pada pendekar itu. Dan ternyata bakat dan susunan tulangnya menurun pada buyutnya yang dilahirkan di Indonesia, yaitu Mei-mei. Tak seorangpun yang mengetahui hal ini. Dan itu pulalah sebabnya, kenapa ketika ditawarkan untuk belajar silat oleh Datuk Penghulu gadis itu menerima dengan rasa gembira. Tentu saja dia gembira, sebab darah pesilat di dalam tubuhnya mendorong-dorong. Hanya saja selama ini tak pernah mendapat penyaluran Pelajaran silat yang diberikan padanya, segera saja dapat dia terima secara sempurna. Di samping merasa bangga dan gembira, Datuk Penghulu juga merasa kaget pada kemajuan yang dicapai gadis itu. Si Upik yang telah setahun belajar, kini justru diajar oleh Mei-mei. Dan kini kalau Datuk itu tak di rumah, Salimlah yang membimbing Mei-mei.

Salim memberikan pelajaran yang telah dia terima selama tiga tahun ini. Baik pelajaran yang telah dia kuasai. Maupun pelajaran dalam taraf dilatih. Ternyata pelajaran Mei-mei maju dengan sangat cepat. Malah kini dia sangat sukar menundukkan gadis itu. Dalam rimba persilatan, memang terdapat apa yang disebut anak anak ajaib. Di Tiongkok, yaitu tempat asal muasal silat yang ada di seluruh dunia, anak ajaib di kalangan persilatan ini lahir satu atau dua orang dalam seratus tahun.

Itupun sangat sulit menemukannya. Kalau ada, maka sejak lahirnya anak itu senantiasa menjadi rebutan kalangan persilatan. Sebab bisa diduga, siapa saja yang berhasil menjadikannya murid, pastilah perguruannya akan menjadi perguruan yang disegani. itu pulalah yang terjadi pada ayah dari kakek Mei-mei. Bu Beng Kiam Hiap dari Tinggoan yang terkenal itu. Ayah kakeknya ini, lahir di biara Budha. Biara itu milik perguruan Bu Tong Pay. Kala itu Biksu Bu Tong Pay yang melihat pertama kalinya sangat terkejut. Diam diam dia memelihara anak itu. Namun Biksu itu membuat suatu kesalahan. Dalam rangka mengamankan anak itu agar tak sampai jatuh ke tangan perguruan lain, dia sampai sampai tak membenarkan ayah ibunya menemui si anak.

Ini sudah keterlaluan. Suatu malam anak itu diculik oleh ayahnya sendiri. Dan si ayah hampir mati di tangan si Biksu. Namun saat itu muncul seorang pendekar dari perguruan Siaw Lim Pay, yang menolong ayah dan ibu anak itu dari kematian. Membawa ketiga beranak itu ke perguruannya. Dan tentu kehadiran anak itu disambut dengan kaget dan gembira oleh guru guru besar perguruan tersebut. Akhirnya ayah kakek Mei-mei menjadi pesilat yang kesohor. Kesohor karena dia selalu muncul di saat saat genting.

Dimana ada penindasan dari yang kuat pada yang lemah, di sana dia muncul dan turun tangan menolong. Siapa sangka, cucu buyutnya yang lahir di Indonesia juga mempunyai susunan tulang seperti dia. Dan kini menjadi murid dari Perguruan Silat Tuo di Minangkabau. Datuk Penghulu tak memiliki banyak murid. Bukannya tak ada orang yang ingin berguru padanya. Cukup banyak orang yang datang. Tapi dia selalu menolak dengan halus. Kini muridnya hanya tiga orang. Si Upik anaknya, Salim kemenakannya dan Mei-mei. Hanya tiga orang. Namun dia merasa puas dengan ketiga muridnya ini. Salim dan Mei-mei menjadi dua sahabat. Kehadiran Mei-mei di rumah Datuk Penghulu tak banyak diketahui orang. Pertama karena rumah Datuk itu terletak di tengah kebun yang luas, selain itu dikelilingi pula oleh hutan bambu di daerah Padang Gamuak. Di daerah itu hanya ada beberapa rumah.

Mei-mei juga sangat menyayangi Upik. Gadis kecil ini tak punya abang dan tak punya kakak. Itulah kenapa dia memanggil Mei-mei dengan sebutan Uni. Mei-mei senang punya adik seperti dia. Baik Datuk Penghulu maupun istrinya, sangat menyayangi Mei-mei. Gadis itu sangat pandai membawa diri. Dia sudah bisa bertanak dan menggulai. Pandai merendang dan membuat dendeng.

Mei-mei gadis yang tak segan bekerja keras membantu istri Datuk Penghulu. Hari ini, selesai latihan Salim mengawani Si Bungsu. Dia ingin membawa anak muda itu berjalan jalan keliling rumah untuk melatih kakinya. Mereka berjalan di bawah pohon bambu. Kemudian tengah hari mereka kembali kerumah. Si Bungsu duduk di bawah pohon jambu di depan rumah tersebut, dikawani oleh Salim. Salim menceritakan kemajuan kemajuan yang dicapai oleh Mei-mei dalam latihan silat.

“Saya dengar mak Datuk bercerita tentang perkelahian engkau dengan penyamun penyamun di Penginapan itu ..” Salim berkata setelah dia bercerita tentang kemajuan Mei-mei dalam silat.

“Oh ya ..?”

“Ya. Saya ingin sekali belajar mempergunakan samurai itu. Apakah sulit belajarnya ..?” Si Bungsu tersenyum.

“Ilmu silatmu cukup tinggi. Saya pernah mencoba belajar. Namun tak pernah bisa. Saya memang tak ada jodoh untuk jadi pesilat. Mempergunakan samurai inipun hanya karena takdir saja. Kekerasan tekad untuk membalas dendam”.

Dia lalu menceritakan nasib keluarganya. Nasib yang menimpa diri mereka. cerita itu pernah dia Ceritakan pada Datuk Penghulu Basa dan istrinya ketika lima belas hari dia terbaring. Dia juga menceritakan nasib yang menimpa diri Mei-mei kepada kedua suami istri itu. Itulah sebabnya kenapa suami istri kusir bendi itu merasa sayang pada Mei-mei. Mereka menganggap Mei-mei sebagai kakak si Upik. Dan kini Si Bungsu menceritakan perihal dirinya pada Salim.

“Saya tak menyangka demikian pahitnya hidupmu Bungsu ..” kata Salim, setelah Si Bungsu selesai bercerita.

Si Bungsu menarik nafas panjang, ketika Salim permisi sembahyang ke Mesjid di tepi jalan besar di luar hutan bambu ini, Si Bungsu tegak dan berjalan perlahan dengan dibantu sebuah tongkat kerumah. Di ruang tengah dia melewati istri Datuk Penghulu yang tengah sembahyang. Dia ingat belum sembahyang lohor. Tapi dalam keadaan sakit begini apakah dia mungkin untuk sujud? Sembahyang duduk sajakah? Dia mencari kain sarungnya. Mungkin dijemur. Dia kembali lewat di ruang tengah. Akan ke belakang mencari Mei-mei untuk mengambil sarungnya. Namun di pintu ruang tengah dia tertegak seperti patung.

Dia tertegak diam melihat pada perempuan sembahyang yang tadi dia sangka istri Datuk Penghulu itu. Perempuan itu nampaknya baru selesai sembahyang. Kini dia tengah menampungkan tangannya membaca doa. Dan ketika dia benar benar selesai sembahyang, dia menoleh pada Si Bungsu. Si Bungsu benar-benar terkesima. Dia ingin bicara, namun lidahnya terasa kelu.

“Koko ..” akhirnya perempuan itulah yang bicara perlahan.

Masih dalam keadaan terpukau, Si Bungsu melangkah kembali ke ruang tengah. Perlahan dia duduk di depan perempuan itu. Perempuan yang baru saja selesai sembahyang itu tak lain daripada Mei-mei.

“Koko .. sebentar ini aku berdoa untuk arwah ibu dan ayahku. Dan aku berdoa untukmu. Untuk kesembuhanmu. Untuk keselamatanmu ..”

“Mei-mei kau ..?” hanya itu kalimat yang terucap Si Bungsu.

Ada perasaan yang amat luar biasa menyelusup ke hatinya melihat gadis itu sembahyang Lohor. “Ya, koko. Telah saya pikirkan. Dan saya memilih islam sebagai agama saya ..”

“Tapi …”

“Saya merasa tentram dan damai setelah sholat. Bukankah koko yang mengatakan itu dipenginapan dulu?” Si Bungsu masih tak kuasa bicara.

“Masih ingatkah koko waktu saya bertanya, apakah tak meletihkan sembahyang lima kali sehari semalam? Koko katakan, bahwa diri koko merasa tentram dan damai setiap selesai sembahyang. Diri koko merasa mendapatkan tenaga dan semangat baru setiap selesai sholat. Itulah yang mendorongku untuk masuk Islam. Tak ada yang membujuk. Tak ada yang memaksaku. Di rumah ini kulihat mereka sembahyang semua. Dan mereka bahagia, damai, sabar. Meskipun mereka miskin. Bukankah kedamaian dan kebahagian itu yang dicari orang? Kusampaikan niatku itu pada Pak Datuk. Kusampaikan pada istrinya Mak Ani. Mereka membawaku ke Mesjid. Mak Ani memandikanku. Dan Imam yang ada di mesjid itu membacakan dua Kalimah Shahadat, dan kuikuti. Pak Datuk dan Salim serta Mak Ani sebagai saksi. Sejak hari itu, dua pekan yang lalu, aku telah menjadi seorang muslimah. Dan aku memang mendapatkan kedamaian, ketentraman, semangat baru setiap selesai sholat .. aku bahagia memilih Islam menjadi agamaku …”

Tanpa dapat ditahan, mata si Bungsi jadi basah. Mei-mei menatap matanya yang basah. Dan pelan pelan, mata gadis itu ikut basah. Dan tiba tiba mereka berpelukan.

“Koko, engkau sedih aku masuk Islam ?”

“Tidak Moy-moy. Tidak. Aku hanya akan sedih kalau kau masuk Islam hanya karena ingin menyenangkan hatiku. Percayalah, tanpa masuk Islam pun engkau, aku tetap kusayang padamu. Engkau tetap adikku ..”

“Tidak koko. Aku masuk Islam bukan karena engkau. Aku masuk Islam karena takdir Tuhan. Bukankah takdir manusia di tangan Tuhan Yang Satu? Tuhan mentakdirkan aku bertemu denganmu. Tuhan pula yang mentakdirkan aku masuk Islam. Aku bahagia menerima takdir itu koko. Sama seperti aku juga bahagia berada di dekatmu…”

“Terima kasih Moy-moy. Terima kasih adikku ..”

Peristiwa itu dilihat oleh Datuk Penghulu yang baru pulang. juga dilihat dan didengar oleh Mak Ani, ibu si Upik yang tegak di ruang tengah. Karenanya mereka pada mengusap matanya yang basah. Terharu melihat persaudaraan kedua anak muda yang berlainan bangsa ini. Yang satu kehilangan seluruh familinya di tangan Jepang. Yang satu kehilangan kehormatannya di tangan Jepang. Nasib mempertemukan mereka. Persis seperti diucapkan oleh Mei-mei sebentar ini. Bahwa mereka dipertemukan oleh Takdir yang telah diatur oleh Yang Satu. -000-

Tanpa terasa setahun telah berlalu. Selama setahun itu Mei-mei dan Si Bungsu tetap tinggal di rumah Datuk Penghulu di kampung Padang Gamuak Tarok. Mereka seperti tinggal di rumah orangtua sendiri. Datuk Penghulu dan istrinya menerima mereka dengan tangan terbuka. Datuk Penghulu ternyata seorang pejuang yang menghubungi anggota Gyugun, yaitu tentara Jepang yang berasal dari pemuda pemuda Indonesia. Dia menginventarisir senjata yang berhasil dicuri, juga logistik, dikumpulkan untuk mempersiapkan bila terjadi perang kelak. Dia juga mencatat nama nama para anggota Gyugun yang bersedia menjadi tentara Peta yaitu pasukan Pembela Tanah Air. Kesibukan Datuk Penghulu akhir akhir ini memang makin meningkat.

Sementara itu, kemahiran Mei-mei dalam persilatan setahun ini maju dengan amat pesat. Salim yang selama ini bertindak sebagai pembantu Datuk Penghulu untuk mengajar Mei-mei, kini sudah tercecer jauh sekali. Bahkan dalam beberapa kali latihan, Mei-mei berhasil mengalahkan Datuk Penghulu. Datuk Penghulu jadi sangat bangga dan bahagia mempunyai murid seperti dia. Berbeda dengan guru guru silat pada umumnya, yang merasa terhina bila muridnya berhasil mengalahkannya. Datuk Penghulu justru merasa karena tak ada lagi ilmu yang bisa dia turunkan kepada Mei-mei.

Sedangkan Si Bungsu juga melatih samurainya. Dia tak ikut belajar silat. Meskipun Datuk Penghulu pernah menawarkan padanya untuk ikut namun dia merasa sudah terlambat. Keinginannya kini hanya satu, membalaskan dendam keluarganya membunuh Saburo dengan samurainya. Ayahnya telah bersumpah sesaat sebelum mati, bahwa dia akan menuntut balas membunuh Saburo dengan samurai. Dia saksi langsung saat sumpah itu diucapkan. Adalah kewajibannya untuk melaksanakan. Karena itu, selama setahun di rumah Datuk dia melatih kecepatan samurainya dalam hutan bambu yang ada di sana.

Dia mengulangi lagi cara latihannya seperti di gunung Sago dahulu. Mencabut dan memasukkan samurai secepat yang mampu dia laksanakan. Memancungkannya keempat penjuru. Berkali kali hal serupa itu dia ulangi. setelah kecepatannya kembali normal, lalu dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi. Mengerahkan tenaga untuk mendengarkan geseran yang paling halus sekalipun ketika angin berhembus.

Beberapa daun bambu jatuh. Dia menanti, ketika daun bambu itu tinggal sedepa dari permukaan tanah dia mencabut samurainya, secepat kilat. Kemudian dengan masih tetap memejamkan mata, dia bergerak dua langkah kekanan. Menyabetkan samurainya dua kali. Dua helai daun bambu terbelah.

Kemudian berguling cepat kekiri, menyabetkan samurainya dua kali, sehelai daun bambu belah dua. Dan sehelai lagi luput dari tebasan samurainya. Dia mengulangi latihan begitu terus menerus. Hingga akhirnya kecepatan dan kemahirannya bertambah dari yang sudah sudah. Selama setahun itu mereka tetap tinggal bersama Datuk Penghulu dan Tek Ani. Dengan uang yang mereka bawa dari Payakumbuh, ditambah perhiasan yang mereka peroleh dari rumah Babah gemuk pimpinan komunis itu, Mei-mei dan Si Bungsu dapat membantu kehidupan Datuk itu. Bahkan Mei-mei menyuruh si Upik sekolah terus dengan biayanya. Malam itu, ketika Datuk Penghulu dan Si Bungsu tak di rumah, Mei-mei tengah membaca Al Quran, Tek Ani dan Upik menyimaknya. Suaranya yang halus lembut seperti membelah hutan bambu. Menyelusup di antara pohon pohon dan daunnya yang hijau. Di rumah Datuk itu hanya mereka bertiga kini.

Datuk Penghulu entah berada dimana. Kegiatannya sangat memuncak. Sebab waktu itu adalah penghujung bulan Juli 1945. Yaitu dua pekan lagi sebelum Proklamasi dibacakan di Pengangsaan Timur Jakarta. Pejuang pejuang Indonesia saling mengadakan kontak dengan tokoh tokoh pergerakan. Datuk Penghulu pimpinan dari delapan kurir utama kaum pejuang yang berpusat di Bukittinggi. Dialah yang menghubungkan kontak antara Mayor Dakhlan Jambek yang saat itu bertugas dalam Gyugun dan bermarkas di Pasaman dengan Mayor Makkimuddin di Payakumbuh.

Kepada mereka disampaikan pesan pesan dari Engku Syafei. Tokoh pejoang di bawah tanah yang bermarkas di Kayu Tanam. Kontak itu juga menghubungkan mereka dengan encik Rahmah El Yunussiyah. Seorang pejuang wanita yang mendirikan sekolah Diniyah Puteri di Padangpanjang. Menjelang hari Proklamasi, kesibukan para pejuang sangat meningkat. sebaliknya, Kempetai yang merupakan Polisi Militer Jepang, memperketat pula pengawasan mereka.

Sudah tentu anggota anggota Gyugun yang berasal dari pemuda Indonesia berada dalam pengawasan utama dan sangat ketat. Gerak gerik mereka diawasi secara rahasia. Dari pengawasan dan penyelidikan itulah bocor rahasia tentang diri Datuk Penghulu ayah si Upik di Padang Gamuak itu. Dari penyelidikan diketahui bahwa kusir bendi hanya dibuat sebagai kedok saja dari tugas mata matanya. Kempetai menyiapkan suatu penyerangan ke rumahnya.

Dan malam itu lima orang Kempetai pilihan datang kerumah mereka. Namun seperti telah diutarakan di atas, saat itu Datuk tersebut tak ada di rumah. Yang ada hanyalah istri Datuk itu, Mei-mei dan si Upik. Perempuan ketiganya. Si Bungsu sendiripun tak ada di rumah tersebut. Dia tengah menggantikan tugas Datuk Penghulu membawa bendinya. Ada berita penting yang sedang dia nanti di kota. Yaitu tentang diri Saburo. Untuk itu dia menyamar sebagai kusir untuk menemui kurir di kota. Tek Ani, si Upik dan Mei-mei kaget dan terhenti mengaji tatkala pintu didobrak oleh Kempetai.

“Mana Datuk Penghulu ..”

Seorang Kempetai bertanya dengan senjata terhunus. Sementara yang seorang lagi mengawasi setiap sudut rumah. Mata mereka merah dan nyalang. Waspada terhadap segala kemungkinan. Ketika pernyataan itu diulangi, barulah tek Ani menjawab, bahwa suaminya memang tak ada. Orang yang menggeledah itu kemudian berbisik bisik dengan Komandannya yang berpangkat Djun-i (Pembantu Letnan) yang memimpin penggerebekan itu. Djun-i itu menatap Mei-mei dengan mata berkilat. Ketika dia mengangguk, yang berbisik tadi lalu keluar. Lalu terdengar suaranya menyuruh jaga sekitar rumah itu. Dari jawaban di luar, Mei-mei segera tahu bahwa di luar ada tiga orang lagi tentara Jepang.

“Hei, kamu sini ikut. Saya mau periksa ..” Ujar Djun-i itu kepada Mei-mei.

Si Upik mulai menangis. Tapi dia terdiam begitu dibentak oleh Kempetai yang seorang lagi. Perlahan Mei-mei bangkit. Mei-mei itu menelan ludahnya melihat tubuh montok gadis cina itu. Segera saja dia menyeret tangan Mei-mei ke bilik yang biasanya ditempati Si Bungsu.

Kemudian pintu dia tutup, Si Upik memeluk ibunya dengan wajah pucat. Sementara serdadu yang satu lagi menatap mereka dengan seringai buruk. Dari dalam kamar terdengar suara gelosok posoh tak menentu. Dan Kempetai yang di ruang tengah itu menelan ludahnya beberapa kali. Membayangkan kenikmatan yang sedang dikenyam oleh komandannya di dalam bilik itu bersama gadis montok tadi. Dia jadi tak sabaran menunggu giliran, cukup lama dia menanti, dan tiba tiba pintu kamar terbuka. Mei-mei muncul dengan senyum di bibir. Dia memberi isyarat pada Kempetai yang ada di ruang tengah itu. Kempetai itu bergegas.

Tak peduli komandannya tadi belum keluar, yang jelas dia harus cepat mendapat giliran. Dia masuk kamar itu. Didapatinya komandannya masih terbaring dalam pakaian lengkap. Tapi yang menjadikannya heran adalah karena komandannya itu terbaring tidak di tempat tidur. Melainkan di lantai. Pertanyaan belum menjawab, ketika dia berpaling pada gadis itu, tangan gadis itu bergerak cepat sekali. Pukulan dengan sisi tangannya mendarat di tengkuk Kempetai itu. Kempetai tersebut bukanlah orang lemah. Sebagai seorang Kempetai, dia belajar karate dan Yudo. Pukulan pertama dia tangkis dengan tangannya. Namun meleset. Pukulan gadis itu amat cepat. Tapi pukulan itu belum merubuhkannya. Dalam keadaan heran dan kaget Kempetai itu coba memeluk gadis tersebut.