Tanah Semenanjung Bab 7 : Impian

 
Bab 7 : Impian

Dinding batu yang melingkari ibukota Blambangan itu telah gumpil di sana-sini. Lumut hijau bertempelan bicara bahwa usia dinding kota Lateng itu sudah terlalu tua.

Berulang dibersihkan. Berulang pula lumut itu tumbuh. Kali ini pun dibersihkan kembali.

Gerbang kota dihias dengan aneka ragam ukiran dan lukisan. Jalan-jalan raya yang telah lama menjadi jalan setapak pun diperbaiki kembali. Setiap beberapa depa dipasang umbul-umbul warna-warni. Lateng megah kembali. Seperti bunga layu yang tertimpa embun pagi.

Gamelan dibunyikan orang di setiap pedesaan. Di tiap asrama balatentara. Apalagi di tempat hiburan yang memang disediakan. Sebab hari itu adalah penobatan Wong Agung Wilis menjadi patih amangkubumi sang pratanda muka(perdana menteri atau pemimpin kabinet) Blambangan.

Berbagai bendera dari perwira tinggi Blambangan berkibar di alun-alun Lateng. Sebagai tanda mereka juga menghormati hadirnya kembali putra Prabu Danureja itu. Juga pendapat agung meriah dengan berbagai hiasan.

Yang dari janur, yang dari perak, dan yang dari emas.

Di balai agung permadani merah berseret kuning di tepinya dan bergambar kalacakra hitam di tengahnya, terhampar di depan singgasana. Di sebelah kanan singgasana terdapat tabung emas sebesar lengan setinggi setengah depa. Di atas tabung itu menyala api kehidupan. Api yang menyala selama raja berkuasa. Api itu dijaga oleh seorang biti perwara.

Seluruh menteri dan pembesar negeri telah duduk berderet waktu Wilis masuk. Juga para perwira tinggi. Juga para tamu dari Buleleng, Mengwi, Probolinggo, dan kerajaan tetangga. Matanya melirik ke seluruh ruangan, baru setelah itu ia duduk di tempat yang memang telah disediakan untuknya. Persis berhadapan dengan singgasana raja.

Wilis tersenyum dalam hati. Segala kemegahan dan kemewahan yang menelan banyak biaya dihamburkan sekadar untuk menyambut dirinya. Begitulah cara Mangkuningrat menyatakan kasihnya.

Beberapa bentar kemudian prajangkara berdiri, menjemput seseorang yang baru masuk. Orang itu dalam kawalan orang-orang lain. Wilis tahu bahwa yang mengawal tentulah barisan sandi. Jalannya tenang dan menyebarkan senyum pada siapa pun yang menghormatinya.

Wirata, demikian nama prajangkara itu, mendekati Wilis.

"Yang Maha Mulia Patih Cokorda Dewa Rake dari Mengwi..."

"Aku belum bertugas," tukas Wilis, membuat Wirata mundur.

Cokorda Dewa Rake mengambil tempat duduk yang telah disediakan oleh Wirata. Semua orang menghormati kepala pemerintah Mengwi itu. Tentu tidak semua memberi penghormatan tulus. Ada yang karena takut, ada yang karena terpaksa. Ada juga yang cari muka.

Beberapa saat setelah itu, Mangkuningrat keluar bersama Paramesywari dalam iringan para selir dan Dang Hyang Wena selaku pandita istana. Bunyi gemerincing terdengar disebabkan oleh beradunya binggal bergiring-giring para wanita yang mengiringi raja keluar. Langkah mereka perlahan, seperti meniti pelangi. Sekali lagi Wilis berdesah. Mangkuningrat mimpi menurut pendapatnya. Memperlihatkan kebesaran semu. Ia menghitung berapa harga pakaian kebesaran yang dikenakan Mangkuningrat maupun Paramesywari itu.

Aduhai, walau memeras keringat sampai kering sekalipun, orang Raung takkan mendapatkannya.

Jauh di lubuk hatinya Wilis mengakui, Paramesywari berwajah manis. Ia kagum pada pandang wanita itu.

Dalam pakaiannya seperti itu Paramesywari tak ubahnya bidadari yang turun dari surga. Senyum cerah selalu tersungging di bibir tipisnya.

Semua orang, kecuali Dewa Rake mengangkat sembah. Wirata menyerahkan tongkat kerajaan pada Raja. Bersamaan dengan itu pandita istana membunyikan giring-giring.

Mangkuningrat memegang tongkat kerajaan dengan tangan kiri. Tongkat yang berbentuk trisula pada ujungnya. Dan bagian atas berbentuk kepala ular dengan lidah menjulur keluar seperti nyala api. Tongkat emas yang telah tua. Lebih tua dari usia semua yang hadir.

Setua umur kerajaan.

"Selamat datang pada Yang Maha Mulia Dewa Rake, serta seluruh yang hadir," Wirata mulai. "Dirgahayu untuk semua. Upacara penobatan akan dimulai."

Ucapan Wirata selesai, terdengar lagi bunyi giring- giring. Setelahnya sunyi untuk sesaat. Wirata menyambung lagi,

"Atas anugerah Hyang Maha Ciwa, Pangeran Mas Sirna telah dikembalikan ke pangkuan Blambangan. Dan dihadapkan pada Sri Prabu, dan akan dipercaya untuk menjadi patih amangkubumi, sang pratanda muka Blambangan. Karena itu untuk beliau akan segera dibacakan mantra oleh Dang Hyang Wena."

Kembali giring-giring di tangan Wena berbunyi.

Jubahnya berwarna kuning dan mengenakan kalung panjang dengan medali emas bergambar teratai, bergantung lepas di lehernya, sebagai mana lazimnya brahmana Ciwa. Ia berdiri di sebelah kanan singgasana raja.

"Om kara..." Orang itu memulai, "om awighnam astu atas Yang Mulia Wong Agung Wilis..." dan seterusnya.

Semua yang hadir mengikuti mantra itu dalam hati.

Dengan hikmat. Walau di deretan tengah atau belakang ada juga yang tertunduk karena mengantuk. Bukan karena khusuk. Sebab ada di antara mereka yang memang tidak biasa mendoa secara berkepanjangan.

Doa selesai. Ada yang tergagap mendengar Wilis dipersilakan maju oleh Wirata. Sebelum masuk ke gambar lingkaran kalacakra di permadani yang terhampar di depan singgasana Raja itu, sekali lagi dibacakan mantra penolak bala. Selesai itu Wilis berjongkok dan menyembah. Dan Mangkuningrat mengangkat tangan kirinya menerima penyembahan itu. Tongkat berkilauan. Suaranya serak bersabda,

"Dengan atas nama Hyang Maha Ciwa engkau aku nobatkan sebagai patih amangkubumi sang pratanda muka Blambangan. Demi Hyang Durga, bersumpahlah!"

"Demi Hyang Durga Mahisa Sura Mardhini, hamba bersumpah," jawab Wilis, "di bawah kuasaNya segala darma dan karya buat Blambangan dan Raja."

"Terimalah cincin dan pusaka ini." Wilis mendekat. Kakak dan adik bertemu pandang. Sebagai kepala negara atau raja dan sebagai kepala pemerintahan atau pratanda muka. Wilis menerima tanda kebesaran itu.

"Dirgahayu!" ujar Sri Prabu. "Dirgahayu," balas Wilis.

Semua menyaksikan itu. Termasuk Paramesywari. Dari pandangan matanya yang bersinar itu, baik Dewa Rake maupun Paramesywari tahu bahwa Wilis memiliki kelebihan dari kakaknya. Paramesywari berkeinginan menjajagi Wilis bila ketikanya tiba.

Wirata kemudian membawa Wilis untuk berkenalan dengan tamu-tamu negara. Dan setelah itu seluruh pembesar negeri dipersilakan mengucapkan selamat dan berkenalan.

Yang pertama kali berkenalan dan mengucapkan selamat adalah menteri muka, merangkap ratu anggabaya, merangkap pimpinan laskar darat dan laut Blambangan, merangkap beberapa jabatan lagi, Arya Bendung.

Sesudahnya menteri pakira-kiran (lima orang yang membantu Raja untuk memutuskan sesuatu yang amat penting) menteri cadangan negara, dharmadjhaksa (jaksa agung) dan seterusnya seluruh menteri dan perwira tinggi. Wilis capek mengucapkan terima kasih dan dirgahayu sebagai balasan kepada mereka.

Setelah itu Wilis mendekati deretan putra-putri kerabatnya. Antara lain: Mas Ayu Ganuh, Mas Ayu Pandawijaya, Mas Ayu Tapti, Mas Alit, Mas Anom, dan masih banyak lagi. Semua mereka menunjukkan kegembiraan dapat bersua kembali dengan Wilis. Beberapa bentar kemudian upacara segera ditutup dengan doa oleh Dang Hyang

Wena. Dan seluruh tamu dipersilakan masuk taman untuk menikmati santap bersama. Selesai, ramah-tamah Wilis masih berkewajiban menghadap Raja dan Paramesywari dan Dewa Rake di bilik agung.

Bilik agung itu tak mengalami banyak perubahan.

Lambang Sonangkara atau gambar kepala anjing yang dilingkari dengan pedang emas, masih utuh terpatri di atas singgasana Raja. Delapan tiangnya juga masih seperti waktu ia masih kecil.

"Inilah, hamba Kanda Prabu," Wilis menyembah pada Mangkuningrat. Kemudian juga pada Paramesywari dan Dewa Rake. Dan dengan segeranya setelah menyampaikan ucapan selamat, Dewa Rake memberikan nasihat-nasihat dengan mengingatkan kembali isi kitab Pratigundala yang mengatur kawula di desa-desa. Kitab ini berlaku sejak zaman Majapahit, dan juga Raja Kapakapa sebagai kitab undang-undang dasar negara yang juga berlaku sejak Majapahit.

"Hamba akan perhatikan semua amanat Yang Maha Mulia," ujar Wilis sambil menembuskan pandang pada Dewa Rake. Demikian sebaliknya Dewa Rake dan Ayu Chandra sama-sama menembuskan pandangnya untuk melindas pandangan Wilis. Namun Wilis mengerti benar ia sedang dijajagi. Karena itu ia kumpulkan seluruh keberaniannya untuk menantang pandang mereka.

Sekejap, dua kejap, bahkan lebih mereka bertemu mata, maka mereka saling mengagumi. Baik Wilis mengagumi kedua orang itu, sebaliknya merekapun kagum padanya.

"Dewa Ratu... benarkah ini Mas Sirna itu?" Paramesywari hampir tak percaya. "Ya," Mangkuningrat menjawab cepat. "Kenapa?"

Dewa Rake juga memandang Paramesywari. "Dia memakai nama Wilis, sedang silsilah

menyebutkan dia bernama Mas Sirna. Apakah salah kalau kita curiga?"

"Keadaan bisa berkembang, suasana bisa berganti, nama juga boleh berganti. Walau manusianya tetap satu."

"Kenapa Adinda tak segera pulang supaya tak ketinggalan terhadap kemajuan di istana?"

"Hamba tahu, waktu itu hamba masih seorang dungu.

Apakah seorang kepala pemerintahan bisa bekerja di bawah pendapat orang lain? Untuk mengikuti kemajuan zaman orang tak perlu ada di i istana. Yang penting ia harus dapat mengikuti berita di mana pun ia berada.

Satria tanpa berita maka sebenarnya ia adalah sudra yang dungu."

"Dewa Bathara! Kau bicara seperti brahmana?" Paramesywari makin kagum. Bagi Dewa Rake itu memberikan petunjuk bahwa Wilis selama ini selalu mengikuti perkembangan istana.

"Apakah aku selama ini juga bekerja di bawah pendapat orang lain?" Mangkuningrat bertanya.

"Ampunkan hamba, Kanda Prabu, Kanda selama ini tidak pernah bekerja. Kanda cuma mendengar dan menerima pendapat."

"Dewa Bathara!" Ketiga orang itu kaget. Walau punya pendapat sendiri-sendiri, tapi Paramesywari dan Dewa Rake membenarkan pendapat Wilis itu dalam hati masing-masing. "Apakah menurut pendapat Wong Agung, ada yang tak beres di Blambangan ini?"

"Siapa yang tidak dengar itu kerusuhan-kerusuhan di setiap penjuru Blambangan? Siapa pula yang tak tahu bahwa banyak pembesar negeri yang memperdewakan diri sendiri sehingga memunggungi kepentingan kerajaan? Semua ini disebabkan wangsa Tawang Alun telah kehilangan cakrawarti-nya (kharisma) Blambangan telah kehilangan kembangnya."

"Apakah Adinda akan memulihkannya kembali?" Paramesywari menyelidik terus. Wilis tersenyum ramah.

"Blambangan ibarat kain yang telah terlalu tua.

Ditambal di satu bagian, koyak di bagian lain. Hamba cuma akan mampu mengulur waktu semata."

"Walau ada aku? Ada Mengwi?" Paramesywari tak sabar. Wilis tertawa ramah.

"Siapa yang dapat menghindari kematian? Leluhur kami telah membangunkan suatu kehidupan. Dan setiap yang ada ini akan berakhir. Kehidupan juga berakhir dengan kematian. Juga hamba, juga astana kita, juga seluruh yang ada di bumi."

Dewa Rake mengerutkan kening. Wilis kelak akan bisa menjadi ganjalan bagi Mengwi. Ini berbahaya. Maka pada perkembangan selanjutnya gerakan Wilis harus dibatasi. Setelah itu mereka berpisah. Dewa Rake kembali ke Bali beserta rombongan.

Setelah mengadakan penghormatan terakhir pada Dewa Rake, Wilis dan Mangkuningrat dan Paramesywari melihat-lihat tamansari. Para selir juga diperkenankan memandang wajah Wong Agung Wilis. "Ah, lebih tampan dan perkasa...," bisik salah seorang pada temannya.

"Bagian kita kan Mangkuningrat," yang lain menjawab. "Jangan kecewa."

"Sayang kenapa ketemu Mangkuningrat lebih dulu." Yang lain juga tertawa. Terkikik-kikik.

Taman itu memang mengalami banyak perubahan dibanding masa Bunda Suri tinggal di dalamnya. Wilis memperhatikan pahatan di dinding yang mengitari taman itu. Mulai dari ujung kiri bercerita tentang kisah Dewi Tari yang dihadiahkan pada Rahwana di Alengka oleh para dewa. Ia dihadiahkan sebagai paramesywari Alengka dengan tujuan agar Rahwana jinak dan tidak memberontak pada dewa-dewa.

Wilis berhenti membaca ukiran itu. Ia iba pada kakaknya. Tentu Mangkuningrat tidak mengerti makna yang terkandung dalam hiasan dinding tamansari.

Melihat mata Wilis terpatri pada pahatan itu, Paramesywari menjadi berdebar.

"Kenapa?" Ia mencoba bertanya dalam bahasa Jawa kuno.

Wilis tersenyum kecil.

"Dewa sendiri menciptakan manusia, kenapa takut pada manusia?" Wilis balik bertanya dalam bahasa yang sama. Sekilas ia melirik Mangkuningrat yang sedang menikmati keindahan bunga-bunga.

"Sebab manusia selalu menciptakan pengetahuan.

Manusia selalu menyempurnakan diri dengan pengetahuannya."

"Dewa Bathara!" Wilis menyebut. Dengan kata lain Cokorda Agung mencium adanya beberapa orang Blambangan yang ingin memulihkan kembali cakrawarti Blambangan.

"Dewa mempunyai kekuasaan untuk membatasi pengetahuan manusia."

"Turunnya Dewi Tari adalah salah satu usaha para dewa untuk membendung kerakusan manusia."

Wilis terdiam. Itu peringatan, bahwa Paramesywari punya tugas ganda. Maka kemudian berkata lagi,

"Mungkin semua pahatan ini bicara tentang diri Yang Mulia sendiri." Wilis melangkah. Ia memang tidak memerlukan jawaban. Paramesywari tersenyum. Wilis cerdik. Setelah mengunjungi pura tempat menyimpan abu ayah dan ibunya di tengah taman itu Wilis kembali ke gedung kepatihan. Itulah yang menjadi tempat kediamannya sekarang.

Ia perhatikan para pengawal rumahnya. Orang-orang berlencana Sriti. Bukankah mereka anak buah Teposono? Mengapa harus dikawal Teposono? Bah! Aku diawasi, gumam Wilis dalam hati. Semua untuk mempersulit diriku? Baik, tidak ada jalan lain kecuali harus mengadu kepintaran telik masing-masing.

Kala senja telah berlalu, tiba-tiba saja Wilis teringat pada gulungan sutra dari Satiari. Di bawah terang damar Wilis membuka gulungan itu. Penerangan ternyata lebih baik dari di Raung. Alas pembaringan pun terbuat dari permadani dan sutra. Bukan dari tikar pandan.

Satiari menulis dalam bahasa Blambangan.

Mengisahkan perjumpaannya dengan Wilis. Kemudian perjumpaan kedua, ketiga, dan seterusnya.

"Perjumpaan demi perjumpaan membuatku makin dekat dengannya," tulis Satiari. "Ia mempunyai banyak kelebihan dibanding Lingsang. Bukan cuma pandai menggunakan pedang tapi juga pandai menggunakan kata-kata. Bukan cuma satria tapi juga brahmana."

Hati muda Wilis berbangga membaca itu. Ah, kebanggaan bisa berkembang menjadi kepongahan, ia memperingatkan diri. Kemudian meneruskan membaca:

"Harus kuakui, aku pun jatuh hati pada Wilis. Namun aku tak mungkin ingkar dari janji yang pernah terjalin dengan seorang yang lain, —Lingsang. Kendati pun kini jiwaku terguncang oleh pandangan matanya, ingatannya... dan segalanya. Tapi aku tak berani menantang kutuk Hyang Maha Dewa. Karena sumpah kami terlahir di bawah saksi para dewa."

Wilis berhenti lagi. Sebelum berganti lembaran ia mengunyah kinang lebih dulu. Untuk menenangkan pikirannya maka ia bersirih.

"Hatiku melonjak waktu Andita mengabarkan bahwa Raditya jatuh di tangan Wilis, orang yang kucintai dan mencintai diriku. Ia telah siap mempersembahkan kemenangannya pada Ayahanda. Aku menyatakan kegembiraanku pada Lingsang. Aneh. Ia tak kelihatan gembira dengan kemenangan itu. Ia katakan ingin tahu orangnya. Mungkin selama ini ia telah menerima laporan dari teliknya, tentang hubunganku dengan Wilis. Ia juga kurang senang aku mengantar Wilis sampai batas desa Kelapa Sawit beberapa hari lalu. Tapi aku tak sempat mempersoalkannya, sebab Ayahanda mengajak kami segera berangkat."

Lembar berikutnya membuat Wilis menjadi malu sendiri.

"Di tengah pesta Wilis melamarku. Aduhai, betapa bahagia hati ini. Air serasa madu. Tapi... ah... Hyang Maha Dewa telah mempertemukan aku dengan Lingsang lebih dahulu. Maka dengan hati berat aku menolaknya.

Sebab wanita yang memperduakan cinta adalah seburuk-buruknya wanita. Aku tak mau menjadi wanita semacam itu.

"Tapi sungguh tidak kuduga sebelumnya. Orang seramah Wilis bisa marah sehebat itu. Brahmana yang berpengetahuan tinggi seperti dia tidak seharusnya marah seperti satria yang hanya tahu membunuh.

Mungkin dalam marahnya, Wilis kehilangan segala pengetahuan yang ada dalam ingatannya. Kala aku menerangkan pada Ayahanda, beliau menjadi ketakutan. Beliau tidak takut pada Wilis sebagai keponakannya.

Tapi takut pada Wong Agung Wilis atau Pangeran Mas Sirna. Orang semacam dia akan bisa menjadi sepuluh kali lebih kejam dari Raditya.

"Aku menangis. Tak berdaya. Serba salah.” "Malam itu juga dengan ditemani Tuan Andita kami

mencari Wilis. Aku akan bersujud minta ampun. Aku rela menyerahkan segala padanya, walau harus mengoyak- ngoyak janjiku sendiri. Tapi... ia telah pergi.—jauh sekali. Bersama kudanya yang hitam dan gagah. Pergi membawa serta kemarahannya.

"Yang lebih mengejutkan dan menakutkan lagi, waktu pagi-pagi buta, Lingsang sudah tak melihat seorang pun laskar Raung tersisa. Bahkan laskar wanita pun tiada.

Oh... betapa kejamnya kau, Kakang! Ibarat seorang baru sembuh dari sampar, kami membutuhkan penolong untuk membimbing kami berjalan. Tapi orang yang kami harapkan itu pergi. Bahkan laskarnya juga mendukung kemarahannya. Pergi dengan diam-diam. Tanpa pamit." Lembar berikutnya membuat hati Wilis bergetar.

Seolah kejadian itu terulang kembali.

"Sebelum aku mati, aku ingin kelak orang mengetahui kisah ini.

"Tengah malam buta aku tertidur-tidur tiada.

Tiba-tiba aku mendengar dentuman dahsyat. Aku mengira gunung Semeru meletus. Bumi seolah berguncang. Namun dentuman berulang kembali. Lagi, beberapa kali. Dan menjadi berpuluh-puluh kali.

"Ayahanda memerintahkan semua orang mengambil senjata masing-masing. Lingsang menjemput aku dalam taman. Ia mengajakku lari. Karena Wilis datang memberi hukuman, katanya.

"Mendengar itu seluruh persendianku lumpuh. Tak kuasa berlari. Biar! Aku takkan berlari! Rela menerima hukuman dari orang yang kupuja itu.. Tapi jangan kawula Lumajang ikut dihukum. Aku menolak ajakan Lingsang."

Lembar selanjutnya membuat mata Wilis berkaca- kaca. Karena ditulis dengan darah. Darah Satiari sendiri.

"Ayahanda berkata, ini bukan Wilis. Serangan datang dari pantai. Pasti perompak! Aku segera mengambil senjata. Lingsang berlari sambil meneriaki kami bahwa istana sudah terkepung. Lari adalah satu-satunya jalan. Aku tak mau. Para selir mengangkat senjata. Aku juga.

"Peluru merobek kulitku yang selama ini kurawat baik- baik. Bukan cuma satu... oh... mati menanti. Oh... Hyang Maha Dewa... temukan hamba dengan Wilis lebih dulu sebelum mati... Luka... semakin perih, pedih... Mati telah menanti..." Air mata Wilis meleleh, persendiannya lemah. Beribu penyesalan bertumpuk menjadi satu. Selaksa keluhan ia desahkan, tapi semua sia-sia.

Waktu bergesa terus. Menggeser bintang dan rembulan ke arah barat. Dan terus ke barat. Tiada henti, menjangkau pagi.

0oo0

Perintah penggantian pengawal istana kepatihan diturunkan oleh Umbul Songo. Pasukan istimewa menggantikan pasukan berlencana Sriti. Dengan terkejut Teposono mengurus apa alasan penggantian itu. Tapi dijawab oleh Umbul Songo bahwa itu atas perintah Wilis secara pribadi. Dan Teposono tidak bisa menggugat Wilis.

Wilis ingin selalu bebas berhubungan dengan Raung. Karena itu ia merasa perlu menyingkirkan orang-orang berlencana Sriti. Juga ia ingin lebih bebas melakukan perundingan-perundingan dengan Umbul Songo dan Haryo Dento. Hal itu membuat kedua perwira tinggi pengemban tugas pembasmi kerusuhan itu tidak pernah ragu lagi bertindak dalam segala hal.

Pagi itu mendung tebal berarak-arak dari arah tenggara. Udara lebih dingin dari biasanya. Orang malas keluar dari rumah. Namun Umbul Songo telah menguak kabut, menuju ke istana kepatihan. Sebagaimana biasa kepala pengawal langsung membawanya ke bilik tengah. "Ada sesuatu?" Wilis ramah. "Kami telah menangkap seorang wanita," Umbul Songo lirih.

"Wanita?" tanya Wilis dengan suara setengah berbisik. "Ya. Di pantai Sumberwangi. Ia akan menyeberang ke

Gilimanuk. Telah sejak lama telik kita mencurigainya. Ia terlalu sering pulang-balik Bali—Blambangan. Dalam pemeriksaan ia mengaku akan pergi ke Pura Rambut Ciwi di Gelgel. Pada purnama, bulan Sitra (antara bulan Maret & April) nanti, ia akan menjadi nayake (perempuan yang dipergunakan dalam upacara Maithuna atau upacara persetubuhan massal untuk minta kesuburan tanah) di sana. Namun dalam sanggulnya ternyata terdapat segulung lontar kecil. Sayang kami tidak dapat membacanya."

"Apakah lontar itu di bawa ke sini sekarang?"

"Ya. Lontar dan tusuk kondenya sekaligus." Setelah menerima lontar itu Wilis segera membacanya. Dan membuatnya hampir tidak percaya. Berisikan sebuah laporan tentang dirinya kepada Cokorda Dewa Agung. Hampir semua kegiatannya dilaporkan. Dan segera ia menerangkan isi lontar itu pada Umbul Songo.

"Teruskan pemeriksaan," perintah Wilis. "Pemeriksaan dilakukan oleh Wituna," Umbul Songo

menjelaskan. "Di samping itu hamba mengusulkan pemeriksaan terhadap seluruh para dayang. Mungkin saja mereka juga barisan telik yang dipasang untuk memata-matai Yang Mulia. Bahkan mungkin suatu ketika mereka bisa bertugas membunuh Yang Mulia."

"Baik, akan kuperhatikan, Yang Mulia. Tapi hari ini ada tugas baru yang cukup penting.

Hadapkan Arya Bagus, syahbandar Sumberwangi itu padaku. Bawa serta Surendra, perwira tapal batas kota itu."

"Apakah Yang Mulia akan memeriksanya?" "Ya." Umbul Songo segera menuju ke asrama ketujuh, di tapal batas kota Lateng sebelah barat. Yang sebenarnya adalah laskar Raung yang diperbantukan pada Umbul Songo. Setelah menyampaikan perintah Wilis, maka bersama dua puluh lima pengawal berkuda serta Surendra, ia menuju ke asrama laskar pertama untuk menjumpai Wituna. Dan pada Wituna ia menerangkan bahwa isi lontar itu berupa laporan kegiatan Wilis dan situasi terakhir di Blambangan. Jelas wanita itu seorang telik. Maka Wituna diperintahkan meneruskan pemeriksaan dengan teliti. Disertai pesan supaya berhati- hati menghadapi telik wanita.

"Baik, Yang Mulia. Akan hamba perhatikan," sembah Wituna.

"Kembalikan tusuk konde ini." Umbul Songo menyerahkan konde itu, lalu pergi ke Sumberwangi. Suatu perjalanan yang tidak terlalu jauh bila ditempuh dengan berkuda. Karena jalan dari Lateng ke Sumberwangi termasuk jalan raya utama. Jalan yang cukup ramai, karena digunakan oleh para pedagang untuk mengangkut hasil bumi ke pelabuhan maupun barang-barang belian dari luar Jawa yang akan diperdagangkan di Lateng. Karenanya rombongan sering berjumpa dengan iring-iringan pedati atau kereta. Sawah- sawah masih tetap membentang di kiri-kanan jalan itu, dengan diselingi tanaman kelapa. Semua itu menggambarkan berapa suburnya wilayah Blambangan.

Rombongan tidak langsung mencari Arya Bagus tapi lebih dahulu mampir di kediaman Tumenggung Singamaya sebagai kepala daerah Sumberwangi. Umbul Songo melaporkan bahwa ia mendapat perintah dari Wilis untuk menghadapkan Syahbandar hari itu juga. Singamaya terkejut. Umbul Songo datang dengan pengawalan pasukan khusus. Ia lirik para pengawal Umbul Songo itu. Ketika melihat Surendra, hatinya dipenuhi tanda tanya. Ia merasa belum pernah kenal dengan perwira itu. Orangnya tegap, dadanya bidang, otot-ototnya menonjol. Bergelang akar hitam pada lengan kirinya. Kulitnya juga agak hitam. Namun Singamaya menahan keinginan hatinya untuk tahu siapa Surendra.

Dan segera ia perintahkan seorang pengawal menjemput Arya Bagus.

Arya Bagus dengan tergesa-gesa menghadap Singamaya. Umbul Songo melihat betapa mewah

.pakaian Syahbandar itu.

"Hamba sendiri akan menghadapkan Arya," Singamaya memberi tahu.

"Tidak bisa, Yang Mulia. Maafkan hamba. Ini perintah dari kepala pemerintahan Blambangan. Jadi bila Yang Mulia ingin tahu, Yang Mulia bisa berangkat bersama- sama kami. Silakan bertanya sendiri pada Yang Mulia Wilis “

Singamaya tahu itu bahasa lain dari penangkapan terhadap Arya Bagus, yang sebegitu jauh belum tahu persoalannya. Mereka terpaksa mengikuti Umbul Songo dengan damai. Kuda mereka melintasi jalan raya kembali dengan beriring. Surendra dan Umbul Songo tidak bercakap-cakap. Singamaya dan Arya Bagus berkuda di depan. Hati mereka sibuk menebak-nebak.

Ketika mentari telah condong ke barat mereka memasuki istana kepatihan. Di gerbang mereka semua turun dari kuda. Oleh kepala pengawal mereka langsung dibawa ke bilik tengah di mana menunggu Wong Agung Wilis dan Laksamana Har-yo Dento. Dan tempat duduk sudah diatur berderet sedemikian rupa, untuk Arya disediakan tempat duduk berhadapan dengan Wilis. Sedang untuk lainnya berderet di belakang Arya Bagus. Setelah mempersilakan semuanya duduk, Wilis segera memulai.

"Dirgahayu, Yang Mulia Adipati," sapa Wilis pada Singamaya.

"Dirgahayu."

"Maafkan, Yang Mulia, kalau kami terlalu merepotkan. Tapi kebetulan sekali Yang Mulia sudi melangkah kemari, supaya tahu apa yang sedang dikerjakan Arya selama ini."

Kemudian kepada Arya Bagus ia berkata, "Tak perlu terkejut atas panggilan ini. Sebagai patih atau kepala pemerintahan di Blambangan aku menghendaki semua pekerjaan di Blambangan berjalan rapi dan beres.

Termasuk pekerjaan Tuan sebagai syahbandar. Apakah sudah Tuan kerjakan sejak aku belum menjadi patih?"

"Demi Hyang Maha Dewa, hamba sudah kerjakan semuanya."

Wilis mengangguk-angguk. Setelah anggukannya habis Wilis menyambung dengan kata-kata lagi.

"Tiga perempat hasil bandar harus diserahkan pada Blambangan, seperempat untuk Sumberwangi. Begitu bukan seharusnya?"

"Hamba, Yang Mulia."

"Tuan tidak melakukan seperti itu setelah satu tahun memegang jabatan syahbandar. Tuan telah bersekongkol dengan Kuwara Yana untuk membagi hasil bandar seperti berikut: seperempat untuk Blambangan, seperempat untuk Sumberwangi, seperempat untuk Kuwara Yana, dan seperempat lagi untuk Tuan."

"Tidak!" Arya tersentak di tempat duduknya. Darahnya seperti berhenti berjalan. Wajahnya berubah mendadak. "Dewa Bathara! Itu laporan tidak betul."

Wilis tertawa. Bola matanya yang hitam tidak mau lepas dari tubuh Arya. "Jangan bicara seperti itu, Arya!" Wilis masih tertawa. "Aku cuma ingin tahu siapa sekongkolmu selain Kuwara Yana." Suara Wilis mantap. Mengejutkan semua orang. Umbul Songo maupun Singamaya sama-sama terkejut.

"Demi Hyang..."

"Tak perlu sumpah-serapah itu," Wilis memotong. "Kecantikan wanita dan gemerincingnya emas mampu menghancurkan semua sumpah."

"Hamba tak memerlukan semua itu, Yang Mulia. Ayah ham..."

"Kau akan bicara bahwa ayahmu meninggali warisan gunung emas sebelum mati?" Wilis tertawa lagi. "Sehingga kau bisa bikin kereta emas? Peraduan untuk dua puluh empat wanita cantik dalam kaputrenmu?

Singgasana emas dalam tamansarimu?"

Arya tak mampu berkata-kata. Badannya mulai gemetar. Ia tidak mengerti bagaimana pemuda ingusan itu tahu semuanya. Ah, jika tidak di hadapan banyak orang, ia akan menyelesaikan seperti halnya terhadap Mangkuningrat.

"Tidak benar," ia membela diri.

"Kau ingin mengatakan aku mereka-reka? Kau menghina seorang Patih! Kau telah memperbutakan junjunganmu, Yang Mulia Singamaya, orang yang paling disegani di seluruh Blambangan!"

Dada Singamaya terbakar mendengar itu. Bibirnya berkerut menahan marah. Tapi ia tidak berani berbuat apa-apa tanpa perkenan Wilis.

"Tanpa bukti!" Arya masih berusaha.

"Drubiksa!" Wilis membentak. "Perlukah kusuruh orang membawa barang-barangmu itu kemari? Dan haruskah kuhadapkan kepala armada dagangmu yang bernama Sawung itu?"

"Tapi itu kapal-kapal hamba sendiri " "Kapal-kapal itu tidak lahir bersamamu, Arya!

Semuanya adalah bekas kapal kerajaan yang telah berubah bendera. Milik kerajaan kau jadikan milikmu!"

Lagi Arya terdiam. Keringat dingin keluar dari telapak kaki dan tangannya. "Semua atas persetujuan Menteri Cadangan...," ia mengaku.

"Sebagai imbalan atas persembahanmu, seorang gadis bernama Yistyani? Dan persembahan lain lagi?"

"Betul," ia mengaku lagi.

"Di bandarmu perompak membongkar hasilnya." "Tidak, Yang Mulia. Tidak ada kapal perompak di

Sumberwangi. Yang ada cuma kapal perang Blambangan sendiri."

"Yang Mulia Haryo Dento, berikan keterangan!" Wilis meminta pada Haryo Dento.

"Dua puluh tiga nahkoda kapal pemburu beserta seluruh anak buahnya yang telah kami periksa mengakui, pernah merompak, atau setidaknya punya persekongkolan dengan perompak dan Arya Bagus. Semua membongkar barang hasil kejahatannya di Sumberwangi atas persetujuan Arya. Dia selalu melarang pemeriksaan kapal-kapal yang lolos dari pengejaran kami dan bersauh di bandar itu."

"Nah, kau mau membantah? Mulai hari ini kau tak diperkenankan pulang. Jabatan syahbandar Sumberwangi untuk sementara kuserahkan pada Yang Mulia Singamaya."

"Hyang Bathara! Itu wewenang Menteri Cadangan Negara."

"Hari ini juga ia sedang dibawa kemari. Nah, Surendra...!" Wilis tak melanjutkan kata-katanya. Tapi Surendra sudah mengerti tugasnya. Maka sejak saat itu Arya menjadi penghuni rumah tahanan laskar Surendra.

"Dalam menegakkan wibawa Blambangan kembali, aku perlu bantuan Yang Mulia."

"Demi Hyang Ciwa, hamba akan menyerahkan sisa usia buat Blambangan."

Sampai jauh malam mereka berunding. Dan keesokan harinya Kuwara Yana tak muncul di gedung pratanda di mana ia harus melapor tiap-tiap hari sebelum melakukan kegiatan. Sebab ia memang telah diambil oleh Umbul Songo dan langsung dibawa ke rumah penahanan laskar kesembilan yang dipimpin oleh Gandewa. Laskar ini berada dekat Srawet. Termasuk laskar istimewa yang dibentuk secara diam-diam oleh Umbul Songo.

Para menteri lainnya tidak pernah curiga atas ketidakmunculan Kuwara Yana. Sebab ia memang sering beranjangkarya. Tetapi lima belas hari kemudian para pembesar negeri menjadi geger dan panik. Karena ternyata istana Kuwara Yana disita oleh Umbul Songo dan menyerahkannya pada Patih melalui menteri muka yang dijabat Arya Bendung. Tapi para menteri tidak ada yang berani menggugat. Karena mereka tahu Umbul Songo menerima kuasa istimewa dari Raja.

Lebih mengguncangkan lagi ketika Wilis mengangkat seorang wanita yang bernama Yistyani, sebagai menteri cadangan negara. Memang sebagian orang sudah banyak tahu bahwa Yistyani adalah bekas selir Kuwara Yana. Tapi tak banyak tahu kenapa ia mendapat kepercayaan dari Wilis. Suasana membingungkan, banyak orang yang belum menyadari keadaan.

Termasuk Arya Bendung sendiri.

Lain halnya dengan Paramesywari. Sejak ia mendengar pergantian pengawal di istana Wilis, ia tahu bahwa kejadian itu akan berekor panjang. Maka ia memerintahkan Gede Wijaya, perwakilan Mengwi di Lateng untuk meneliti dan mengawasi Wilis. Bahkan pada Dan Hyang Wena dan Bagus Tuwi ia sudah memperundingkan perihal Wilis itu. Juga pada Mangkuningrat ia telah memperingatkan. Namun Mangkuningrat tidak menanggapinya. Wilis selalu bersikap ramah menurut pendapatnya. Tak pernah menunjukkan gejala pembangkangan. Tak bersikap kejam.

Tapi setelah menerima laporan penangkapan Kuwara Yana, Mangkuningrat amat terkejut. Maka ia segera panggil adiknya itu. Ia ditemani Paramesywari dan Dang Hyang Wena serta Bagus Tuwi kala berhadapan dengan Wilis.

"Adinda, kudengar berita tentang ketidaktentraman kerja dalam pemerintahanmu. Benarkah itu?" Mangkuningrat memulai. "Ampun, Kanda, apakah yang dimaksud?" "Blambangan makin kacau?"

"Kekacauan telah lama terjadi dan bukankah Kanda menganggap Umbul Songo menjadi panglima untuk melindasnya?"

"Ya. Tapi apa maksud Dinda dengan penggantian Kuwara Yana? Juga penangkapan Syahbandar Sumberwangi?"

"Mereka telah merugikan kerajaan dengan menghamburkan cadangan negara bagi kepentingan pribadi. Lebih dari itu mereka bersekongkol dengan kaum perompak."

"Jagat Dewa! Benarkah itu?"

"Hamba akan segera membuktikan semua tuduhan pada mereka itu melalui pengadilan resmi. Hamba ingin hukum dan peraturan ditegakkan sebaik-baiknya di Blambangan ini."

Mangkuningrat diam. Tak tahu lagi apa yang harus dipersoalkan. Wilis tidak salah. Ia akan meluruskan hukum dan peraturan dalam pemerintahannya. Tapi Paramesywari tidak sabar melihat suaminya tidak lagi mampu berkata-kata.

"Bukankah itu bisa menyeretkan perniagaan. Bahkan mengguncang keadaan negeri?" ia mulai bertanya seperti burung berkicau.

"Ampun, Yang Mulia. Keguncangan bukan karena Wilis. Tapi kaum perusuh. Dan kami sedang melindas mereka." "Tapi kenapa justru pembantu Adinda sendiri ditangkap? Dan menggantikannya dengan orang lain? Yang mungkin kekasih Adinda sendiri?"

Memerah wajah Wilis. Suara Paramesywari memang merdu untuk didengar. Tapi menyakitkan bila dirasakan. Seluruh tenaga batinnya ia kerahkan. Dan ia berusaha menjawab sambil menahan getaran jiwanya. "Bukan orang lain, Yang Mulia. Ia adalah selir Kuwara Yana sendiri. Yang Mulia Arya Bendung, bahkan Yang Tersuci Wena dan Sri Prabu sudah mengenalnya."

Keempat orang itu tergagap. Tapi Wilis tak peduli. Ia tetap mempertemukan pandangnya dengan Paramesywari.

"Pergantian itu terlalu cepat. Sebab tuduhan itu belum tentu benar," Bagus Tuwi mengeluarkan pendapat.

"Kebenaran memang muncul di belakang. Karena itu hamba akan meminta Yang Mulia Umbul Songo mengadakan pemeriksaan dan hamba akan mempertanggungjawabkannya di hadapan duli Sri Prabu," jawab Wilis. "Hamba berjanji selambatnya dua pekan sudah melaporkan hal ini."

Setelah berkata demikian Wilis minta diri meninggalkan pertemuan itu. Dalam hati ia berkata, kalian satu per satu akan mendapat giliran sebagai imbalan dari karyamu, memperbodohkan kawula Blambangan selama ini.

Selang beberapa hari kemudian Umbul Songo membuka persidangan untuk memeriksa Kuwara Yana. Beberapa pembesar negeri, termasuk Wong Agung Wilis menghadiri persidangan. Persidangan itu diadakan di gedung dharmadhy-haksa (pengadilan agung) Di depan gedung itu berdiri patung Bathara Guru dan Ganesya. Semula Kuwara Yana menggugat, dengan mengatakan pemeriksaan atas dirinya itu tidak sah. Dia diangkat menjadi menteri sejak sebelum Wilis menjadi patih. Maka yang berhak mengadili adalah mereka yang ditunjuk oleh Sri Prabu. Tapi waktu itu Umbul Songo menunjukkan cincin yang dia terima dari istana, yang menunjukkan bahwa dia pengemban titah Sri Prabu.

Maka Pengadilan segera bisa dimulai setelah Umbul Songo dan Dbarmadhyaksa (jaksa agung) Suketi, disumpah oleh Wilis di depan patung Bathara Guru.

"Bukti-bukti telah ditangan kami, Yang Mulia. Tidak usah menyesal," kata Umbul Songo dalam pengadilan itu pada Kuwara Yana. "Sementara ini istana Yang Mulia kami serahkan pada selir Yang Mulia sendiri. Yistyani.

Masih ingat?"

"Jagat Bathara! Rumah itu telah hamba tempati sebelum hamba diangkat menjadi menteri. Itu pemberian ayah hamba."

"Uang yang kau hamburkan jauh lebih banyak dari warisan itu. Berapa hasil bandar yang kau pakai? Berapa pajak dari pedagang yang tidak masuk ke cadangan negara. Karena itu pula kau selalu menghalangi pembelian meriam baru. Pembuatan kapal perang baru juga kauhalangi dengan alasan menghamburkan cadangan negara. Juga pengerahan laskar untuk membasmi perampok dan.perompak, dengan alasan yang sama. Padahal uang negara kau hamburkan untuk kepentinganmu pribadi. Blambangan menjadi ringkih karena perbuatanmu," tuduh Dhyaksa Suketi.

"Demi keselamatan Blambangan hamba menyerahkan sebagian uang itu pada Yang Mulia Gede Wijaya sebagai perwakilan Mengwi di Blambangan. Juga pada Yang Mulia Teposono."

"Sungguh? Jangan menakut-nakuti kami," Umbul Songo menekan. "Mengwi sudah menerima upeti, kita tidak perlu lagi mempersembahkan pada perwakilannya yang ada di sini. Juga Teposono, dia sudah menerima gaji. Apa guna Yang Mulia menyisihkan cadangan negara untuk mereka? Untuk melindungi kepentingan Yang Mulia secara pribadi?"

Kuwara Yana makin gemetar. Wajahnya pucat.

Kumisnya jatuh ke bawah tidak terawat selama ia dalam rumah tahanan. Keangkuhannya selama ini musnah.

Akalnya musnah. "Demi Hyang..."

"Tidak pantas kau menyebut nama dewa!" Suketi membentak.

"Ampun... semua orang istana sudah pernah menerima..."

"Baik!" Umbul Songo memotong. "Kau melibatkan banyak orang istana. Mereka pun akan diminta keterangannya sepertimu. Sekarang, telah nyata segala salahmu, maka hukuman mati telah tersedia bagimu!" Umbul Songo menutup sidang itu.

"Ampun!! Ampunkan hamba. Hamba akan bayar kerugian negara!" Kuwara Yana menyembah.

"Sampai anak-cucumu pun kau tak akan bisa membayar dari hasil keringatmu. Bila kulepas kau pasti akan jadi perompak!"

Gandewa menuntun Kuwara ke penjaranya. Ia menangis memohon ampun pada patih Blambangan. Tapi permohonan itu sia-sia. Wilis malah memberi laporan di depan sidang pratanda bahwa Kuwara Yana telah membuat negara menjadi ringkih. Dan ia kini dijatuhi hukuman.

"Siapa saja yang dengan sengaja menjerumuskan Blambangan ke jurang keringkihan akan kami tindak," kata Wilis yang tak terlupakan oleh para menteri.

Selesai sidang itu ia mengajak Arya Bendung menghadap Raja. Mangkuningrat saat itu sedang duduk di balai agung bersama Paramesywari, Dang Hyang Wena, serta Bagus Tuwi. Dalam hati Wilis bertanya, apa saja kerja kedua orang ini maka tak pernah pergi dari istana? Dan ia juga sedikit mengeluh setiap kali bersua Paramesywari. Wanita itu selalu mencampuri urusan negara.

"Sembah buat Sri Prabu dan Paramesywari," Wilis menyapa.

"Para pembesar negeri selalu memperbincangkan ulahmu. Apa yang telah terjadi, Dinda?"

"Jika ada batu diceburkan kolam, bukankah airnya akan beriak?"

"Tapi ketakutan menjalar ke mana-mana," Ayu Chandra menyahut. Tapi Wilis cuma tersenyum.

"Ikan selalu takut pada apa saja yang tidak sejenis dengannya. Begitu juga yang bersalah pada negara, selalu takut pada orang-orang yang masih setia pada raja dan negara. Kuwara Yana dihentikan dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Itu laporan hamba hari ini." Wilis tersenyum lagi. Paramesywari diam. Ia sudah mendengar keputusan pengadilan itu. Juga yang lain sudah mengikuti jalannya sidang. Tapi senyum Wilis itu kini serasa menyakitkan hatinya.

"Jagat Pramudita! Yang Mulia menyalahi Yajur Weda karena melampaui kekuasaan Raja."

"Ternyata Yang Suci belum membaca Weda sepenuhnya. Bukankah hamba telah diberi kuasa sebagai patih? Kekuasaan mana yang hamba lampaui."

"Memecat seorang menteri tanpa persetujuan Raja." "Menteri adalah anggauta pratanda, hak patih untuk

mengangkat atau menghentikannya."

"Jagat Pramudita! Yang Mulia telah melanggar kebiasaan di Blambangan. Yang Mulia akan dikutuk oleh para dewa."

"Kalau begitu terkutuklah Yang Maha Mulia Patih Amangkubumi Sang Praneleng Kadatwang Pratanda Muka Ri Majapahit Gajah Mada, terkutuklah pula para patih di seluruh jagat." Wilis tertawa. "Maka Hyang Maha Dewa telah pula bersalah... mencipta segala hukum dan peraturan karena manusia harus hidup menurut kebiasaan dan bukan menurut hukum dan peraturan. Tak ada artinya pula Weda diturunkan ke bumi."

"Hyang Bathara! Hamba yang setiap hari mendekatkan diri padaNya tak berani menyalahkan.*’

"Yang mampu mendekatkan diri bukan cuma Yang Suci. Tapi setiap orang yang percaya dan mendapatkan ketenangan dalam semadinya, adalah orang yang berhasil menyatukan diri dengan Dewata."

"Kalau begitu Adinda membaca Atharwa Weda dan Shama Weda?" Paramesywari menyela lagi. "Karena hamba memerlukan, maka hamba membaca Yajur Weda, Reg Weda, Atharwa Weda, dan Shama Weda. Karena hamba memerlukan pengetahuan. Juga tiap orang memerlukannya. Maka mereka seharusnya membaca seluruh Weda."

"Yang Mulia menyalahi igama," Wena penasaran. "Zaman telah berubah. Igama tidak hanya boleh

diketahui oleh brahmana. Satria yang baik harus menguasai ugama (peraturan yang berlaku untuk sesama manusia) agama (peraturan yang berlaku untuk hubungan raja dan kawula) dan igama (peraturan untuk mengatur hubungan dewa dan manusia)”

Muka Wena memerah. Hatinya kian bergejolak. "Dengan kata lain Yang Mulia membenarkan satria

menjadi lebih pintar dari brahmana?"

"Karena memang tidak kurang brahmana yang cuma karena dalam dirinya mengalir darah brahmana semata. Dan setiap orang, harus menghormatinya. Dengan atas nama Hyang Maha Dewa, brahmana yang pandir sekalipun boleh memungut persembahan dari semua orang. Berupa apa pun. Harta maupun wanita!"

"Jagat Dewa!" Semua orang terkejut. "Pengetahuan hebat," puji Paramesywari.

Namun Wena masih ingin menggunakan wibawanya. "Itu memang kehendak Dewata!"

"Dewa menciptakan manusia sama," jawab Wilis. "Kemudian dibedakan dalam tugas, pengetahuan, dan kedudukan."

"Kalau begitu zaman sekarang tak memerlukan brahmana?" "Diperlukan untuk mengajar dan mencari rahasia alam dalam wujud pengetahuan. Sebab pengetahuan adalah sumber segala budaya. Dan kebudayaan merupakan titik pangkal dari perkembangan peradaban manusia.

Sekarang sudah waktunya brahmana yang ingkar dari kebrahmanaan-nya disingkirkan."

"Dewa Bathara." Semua orang menyebut berbareng. "Ingat! Brahmana tanpa pengetahuan adalah penjahat.

Tapi sudra yang penuh pengetahuan adalah brahmana."

"Jagat Pramudita!" Wena terkejut. Wilis makin berani. "Harga suatu kesalahan tak dapat dibayar dengan

cuma menyebut Hyang Maha Dewa!

Kesalahan pikiran apalagi kesalahan tindakan tak terampunkan. Masih ingatkah Yang Suci pada Ayahanda anumerta? Bukankah Yang Suci menasihatkan agar menghentikan perang dengan Belanda atas persekongkolan Yang Suci dengan Kuwara Yana? Dan apa akibatnya? Sekarang Yang Suci harus mempertanggungjawabkan di muka Hyang Bathara Guru. Yang Suci harus berhadapan dengan pengadilan sekarang."

"Itu tanggung jawab Arya Bendung, menteri muka!" Wilis menperdengarkan suara tawanya.

"Brahmana hanya pandai berkata-kata tapi tak pandai mempertanggungjawabkannya."

"Adinda!" Mangkuningrat terkejut. "Kau datang untuk melapor. Tapi kenapa begini jadinya?"

"Keadaan mengharuskan jadi begini. Hamba datang bersama Yang Mulia Arya Bendung. Bukan tak ada artinya. Bukankah sudah ada Paramesywari yang penuh pengetahuan untuk mendampingi Kanda? Sudah waktunya kita menegakkan wibawa Tawang Alun kembali."

"Istana memerlukan brahmana."

"Brahmana yang baik bukan brahmana yang hidup di segala zaman. Bukan pula yang menitikkan liur pada wanita dan harta!"

"Aku tak bisa... pulanglah kalian!" Tiba-tiba Mangkuningrat berdiri. Dengan terhuyung dia meninggalkan pertemuan. Paramesywari memburu.

"Aku takut, Wilis, kita akan kena. amarah Dewa....

Jangan tangkap Yang Suci!" Terdengar suaranya dari dalam. Tapi Wilis tak peduli. Diperintahkannya Arya Bendung membawa Wena kepada Umbul Songo untuk diperiksa.

Di peraduan Mangkuningrat berkata pada istrinya bahwa ia tidak mengerti maksud Wilis. Paramesywari jadi iba. Suaminya seorang dungu. "Wong Agung tak salah," katanya pelan sambil mencium pipi suaminya. "Setiap satria memang harus mampu menghadapi persoalan yang tindih-menindih ini. Kita harus belajar menjadi bijak tanpa Yang Suci. Nah, mari tenangkan pikiran." Ayu Chandra mencium Mangkuningrat lagi.

0oo0

Mangkuningrat masih saja sering duduk-duduk istirahat di taman. Lebih banyak mendengar laporan keadaan negeri lebih pusing. Wilis telah menciptakan begitu banyak perubahan bagi negerinya. Karena itu untuk sementara ia membiarkan Paramesywari mewakilinya. Ia melihat istrinya dengan tangkas memanggil para menteri pakira-kiran makabehan yang bertugas menjadi penasihat raja itu untuk berunding. Menteri pakira-kiran makabehan ini beranggotakan lima orang. Termasuk Bagus Tuwi.

Setelah pertemuan itu Paramesywari menjatuhkan perintah pada Wilis agar semua orang yang terlibat kerusuhan diadili sesuai dengan Kitab Kutaramanawa (buku undang-undang kejaksaan dan mahkamah agung yang berlaku sejak zaman majapahit).Sedang bagi brahmana yang terlibat harus diadili oleh dharmadhjaksa ring kacewan (pengadilan agama Ciwa yang khusus mengadili kaum brahmana Ciwa)

Bukan hanya itu, ia ingin melihat kerja Wilis secara langsung, bukan hanya menerima laporan. Sendiri ia beranjangkarya ke Sumberwangi, Muncar, dan beberapa daerah lagi. Pengawalan tidak terlalu istimewa. Bahkan ia berkuda sendiri. Tidak berkereta. Dan yang lebih mengejutkan, ia masuk ke asrama laskar darat dan laut secara mendadak.

Dari Teposono ia menerima laporan bahwa Wilis telah melantik beberapa dhjaksa baru di depan patung Bathara Guru dan Ganesya. Laporan juga menceritakan tentang beberapa ratus perwira dan bintara yang meringkuk di penjara-penjara rahasia menantikan pelaksanaan hukuman mati. Teposono memohon agar Paramesywari bisa tururt tangan untuk membebaskan mereka.

Satu lagi yang penting bagi Paramesywari. Wilis telah menunjuk seorang yang bernama Andita menjadi uppapati (penghubung raja dengan para di jaksa). Tidak banyak orang kenal Andita. Apalagi asal-muasalnya.

Teposono sebagai kepala Dinas rahasia pun tidak tahu. Ah... Wilis semakin sulit diamati. Namun ia harus mengakui secara jujur Perniagaan Blambangan kini jauh lebih maju dari sebelumnya. Walau masih baru, ternyata Yistyani mampu menjadikan diri seorang menteri yang disegani. Ia mampu menertibkan kembali perniagaan yang rusuh karena pedagang- pedagang besar sering menaikkan harga semau-mau.

Yistyani mampu mengendalikan harga-harga di pasaran seluruh Blambangan. Seperti Kuwara Yana ia sering anjangkarya. Tapi waktu begitu ia pergunakan untuk bertatap muka dengan para pedagang dan menerangkan apa yang dikehendaki kerajaan. Akhirnya semua sepak terjang Yistyani mendorong Paramesywari untuk tahu siapa Yistyani.

Di sudut lain Paramesywari merasakan suatu keganjilan baru. Setiap laporan yang ia kirimkan ke Bali tak pernah mendapatkan jawaban. Ia juga tak pernah menerima perintah baru dari Dewa Rake maupun Maha Raja. Di samping itu ia berpikir jauh tentang laporan Teposono yang terakhir. Bahwa Gede Wijaya, perwakilan Mengwi di Lateng telah hilang dari rumahnya. Rumahnya dirampok orang dan pengawalnya yang terdiri dari laskar Blambangan yang berlencana Sriti ditemukan dalam keadaan mati terbunuh.

Aneh. Pasukan sandi yang terlatih, orang-orang berlencana Sriti bisa mati terbunuh oleh perampok. Tidak masuk di akal Paramesywari. Ketika ia panggil Umbul Songo menjawab tidak tahu-menahu. Itu urusan Teposono. Dan tanggung jawab Teposono.

Kecemasan mulai merambati hatinya. Ia harus menemui Wilis. Sebelum orang itu mampu berbuat yang lebih jauh. Bukan tidak mungkin kelak Wilis akan memiliki kewibawaan melebihi dirinya. Sekarang ia bisa melihat betapa nama Wong Agung Wilis telah menjadi buah bibir di mana-mana. Baik, aku akan datang.

Kesejukan senja kali ini tidak ia pergunakan untuk bermesraan dengan Baginda. Ia ingin segera terjawabkan kecemasan hatinya. Ya... bukan tidak mungkin pula Wilis berdiri di belakang hilangnya Gede Wijaya. Karena mungkin saja Wilis sedang berusaha melepas diri dari pengawasan Bali. Karena itu untuk mengurusi suaminya ia perintahkan para selir.

Kewibawaan Mengwi lebih penting dari suaminya. Juga kewibawaannya pribadi.

Wilis terkejut, gopoh menyambut. Para dayang ia perintahkan untuk menyongsong kedatangan Paramesywari. Ternyata orang itu dalam kawalan Bagus Tuwi.

"Dirgahayu," Wilis menyembah. "Selamat datang," ujar Wilis kemudian dalam bahasa Sanskerta.

"Dirgahayu," balas perempuan itu juga dalam Sanskerta. Bagus Tuwi cuma menjadi penonton setelah Wilis juga memberi salam padanya. Ia juga membalas dalam bahasa Blambangan.

"Sungguh mengejutkan. Suatu kehormatan mendapat kunjungan Paramesywari," Wilis merendahkan diri.

Paramesywari tersenyum. Pintar sekali anak ini, pikirnya. Pintar menyenangkan hati orang. Tapi kemudian ia membalas,

"Akhir-akhir ini Blambangan penuh dengan kejutan." Sederetan gigi putih berbaris di sela bibir tipis Paramesywari. Seperti sederetan mutiara. Sebentar kemudian melirik para dayang. Semua masih segar.

Buah dadanya belum ada yang melorot. Wilis mengikuti lirikan itu. Hatinya berdebar. "Mana yang berkenan di hati Dinda?" Meluncur pertanyaan Paramesywari.

Wilis jadi kikuk. Diam tak menjawab. Tapi wanita itu mengulangi pertanyaannya. Wilis kehilangan keseimbangan untuk sementara. "Tiada...," jawabnya.

"Mereka orang-orang terpilih. Kenapa merasa hina bergaul dengan mereka?"

Kini Wilis mengernyitkan dahinya. Ia mulai menemukan diri. "Tidak. Tidak merasa hina."

"Kalau tidak kenapa Adinda tak mau menggauli mereka? Bukankah itu hak Adinda? Kurang cantikkah mereka?"

"Juga bukan karena kurang cantik. Ada beberapa alasan kenapa hamba tak mendekati mereka. Pertama hamba ingin mengubah kebiasaan para pangeran, yang selalu menjadikan para dayang juga budak nafsu mereka. Dan alasan kedua, mereka bukan dayang biasa. Tapi mereka mempunyai tugas rangkap. Seperti halnya pengawal berlencana Sriti. Mereka bekerja untuk Teposono bukan untuk keselamatan hamba. Sedang para dayang ini dipilih oleh istana dan bekerja juga untuk istana."

"Adinda menuduh kami memata-matai?"

"Kami punya bukti." Wilis kemudian memanggil seorang pengawal yang diperintahkannya untuk mengeluarkan seorang tawanan wanita.

Sebentar kemudian Ni Ayu Santi, seorang tawanan wanita dihadapkan pada mereka. Tubuhnya segar, rambutnya tersanggul rapi. Buah dadanya tak tertutup walau putiknya sudah menunduk. Kulitnya hitam manis, hidungnya mancung, dan bibirnya berwarna seperti kulit  manggis yang dibelah. Menarik hati setiap lelaki yang memandangnya. Bola matanya seperti bawang merah dihiasi bulu mata lentik. Ujung jarinya runcing senyumnya menawan. Wanita itu menyembah hormat pada kedua pembesar itu.

"Ni Ayu..." Suara Wilis sabar dalam bahasa Blambangan. "Aku berterima kasih atas semua pengakuanmu selama ini. Sekarang kau dihadapkan pada batu ujian. Tapi jangan khawatir. Aku melindungimu. Kau bukan lagi dayang istana. Dan di hadapanmu terbentang anugerah, kehidupan yang berbahagia dan bebas."

Tiada jawaban. Ia tidak kuasa menentang pandang Ayu Chandra.

"Jangan takut. Bukankah kau dalam kekuasaanku?

Bukan lagi di istana atau penjara?"

"Hamba, Yang Mulia." Mulai hilang takut Santi. Dan ia mulai memberikan kesaksian.

"Nah, Yang Mulia Paramesywari..."

"Apakah Santi punya bukti untuk pengakuannya itu?" "Tentu, Yang Mulia." Wilis kemudian mengambil

segulungan lontar kecil. Kemuclian sambungnya, "Tulisan dalam lontar ini memang terlalu kecil, Yang Mulia. Tentunya hanya bisa ditulis oleh seorang pandai. Saat ini di Blambangan tiada yang bisa menulisnya kecuali Yang Mulia sendiri. Mari kita baca!"

Paramesywari membaca tulisannya sendiri. Lama tak mampu berkata-kata, sampai Wilis menghadapkan lagi seorang saudagar yang bernama Branta. Ia mengaku berasal dari Sumberwangi. "Yang Mulia, Branta ini bebas masuk ke Mengwi, Buleleng, Gilimanuk, dan Sumberwangi, karena selain ia seorang saudagar, ia yang bertugas menyampaikan laporan Gede Wijaya pada Mengwi di samping juga perintah Gede Wijaya untuk Teposono. Sedang orang yang bertugas menghubungkan Gede Wijaya dengan Paramesywari ada dalam istana."

Lagi Paramesywari tersudut. Wilis tahu segala-gala. Sungguh cerdik dan berani anak ini. Menangkap mata- mata Mengwi.

"Kalau begitu Dinda tentu tahu ke mana Gede Wijaya sekarang?"

"Mustahil Kanda tidak mengetahuinya. Tentunya Yang Mulia sudah mendengar adanya perampokan di rumahnya. Hamba sudah mengirim Andita untuk memohon maaf kepada Yang Maha Mulia Dewa Rake.

Dalam surat kami menerangkan bahwa itu kelalaian Teposono sebagai seorang kepala Dinas Rahasia yang bertanggung jawab atas keamanan Gede Wijaya. Maka kami juga telah perintahkan orang menangkapnya dan memeriksa. Apa yang kami tahu Teposono, Dang Hyang Wena, dan Kuwara Yana bersekongkol dengan kaum perusuh. Karenanya kerusuhan sulit dibasmi sebab dilindungi para pejabat yang berkuasa."

"Dewa Bathara!" ’

"Dan menurut penyelidikan kami, yang sudah kami laporkan dan diterima baik oleh patih Mengwi Dewa Rake, bahwa Gede Wijaya pun punya persekongkolan dengan mereka. Ia justru punya andil menciutkan upeti Blambangan pada Mengwi, karena dia menerima banyak persembahan dari Kuwara Yana. Dan sudah pula di turunkan perintah pada kami melalui Andita untuk mengusut Gede Wijaya bila orang itu ditemukan kembali."

"Tidak bisa! Dinda semua ini telah Dinda putar balikkan! Dinda pasti berdiri di belakang perampokan rumah Gede Wijaya!" Paramesywari tidak tahan lagi. "Dinda harus ditangkap!"

Wilis tertawa. "Perampokan bisa terjadi karena di antara mereka sendiri saling berebut rejeki. Memang Gede Wijaya terlalu rakus selama di Blambangan ini. Dan sayang sekali... keputusan untuk menangkap hamba itu sudah terlambat. Hamba juga sudah mengirimkan Yang Mulia Umbul Songo menghadap Sri Maha Prabu Cokorda Agung, dan beliau merestui segala langkah kami demi tertibnya pemerintahan di Blambangan."

"Dewa Ratu!" Paramesywari berdiri. Mukanya merah padam. Namun kegusaran itu! membuat wajahnya makin cantik di mata Wilis. Wanita itu kini melangkah ke luar.

Malu bercampur marah berkecamuk dalam dadanya. Waktu naik kereta ia sempat memperingatkan Wilis yang mengantarnya sampai ke gerbang itu.

"Dinda berpikirlah seratus kali lagi sebelum melangkah." Namun sebagai jawaban Wilis malah ganti memperingatkannya.

"Ingat-ingatlah, Yang Mulia sekarang ini adalah Paramesywari Blambangan. Bukan lagi orang Mengwi. Karena itu cintailah Blambangan sebagaimana mestinya. Blambangan membutuhkan uluran tangan kasih Paramesywari. Blambangan tidak membutuhkan impian kosong."

"Jadi selama ini Dinda menuduh kami sedang dalam impian?" "Ya. Semua telah bersandiwara. Bukankah itu seperti impian? Yang Mulia sendiri bersandiwara; Yang Mulia tidak pernah mencintai Kanda Mangkuningrat. Yang Mulia sekadar melaksanakan tugas. Nah... selamat "

Kereta bergerak pelan-pelan. Wilis memandangnya sampai kereta itu lenyap dari pandangnya.

Di istana Ayu Chandra gelisah. Sebentar ia tengok Mangkuningrat yang terlelap dalam buaian para selir. Sebentar ia balik ke peraduannya. Pikirannya menjadi sibuk memikirkan Wilis yang masih muda itu. Cerdas, tangkas. Mangkuningrat bukan tandingannya. Dan jika dibiarkan terus maka sebentar lagi pasti Blambangan ada dalam genggaman pemuda itu. Mampukah aku mengatasinya? Lalu kekuatan mana yang akan kuhadapkan padanya?

Tidak mungkin ia berdiri sendiri. Setidaknya ia menyatu dengan Umbul Songo dan Haryo Dento yang mendapat dukungan luas dari laskar Blambangan itu. Arya Bendung pastilah tidak kuasa melawannya.

Paramesywari sibuk menebak-nebak. Mungkin juga Wilis mempunyai laskar tersembunyi yang bisa saja ia gerakan mengatasi Blambangan bila diperlukan. Buktinya dengan penculikan Gede Wijaya. Sedungu-dungu perampok, atau katakanlah memiliki keberanian luar biasa, tentunya tidak berani melawan pasukan istimewa berlencana Sriti. Apalagi Gede Wijaya sendiri seorang perwira sandi yang terlatih. Tidak! Aku tidak percaya perampok biasa yang melakukannya. Ah Hyang Ganesya menganugerahi

aku akal. Aku harus juga mengalahkannya dengan akal.

Suatu sore ketika Mangkuningrat baru sembuh ia mengajak Paramesywari duduk-duduk di taman sambil menikmati pemandangan indah. Tapi secara mendadak Wong Agung Wilis menghadap. Yang mengejutkan baik Paramesywari maupun Mangkuningrat adalah isi laporan Wilis. Wilis mengatakan bahwa ibukota Mengwi sedang terkepung oleh laskar Buleleng dan Klungkung. Mereka bersekutu untuk merobohkan kemaharajaan Cokorda Agung Mengwi. Banyak kerajaan yang mengambil kesempatan ini untuk melepaskan diri dari Mengwi.

Misalnya Lombok. Walau sebenarnya Lombok juga menantu dari Mengwi.

"Lalu sikap apa yang harus kita ambil?" tanya Mangkuningrat yang masih lemah itu. Dengan hati berdebar Paramesywari memperhatikan Wilis. Sikap Blambangan sekarang pasti menentukan nasibnya kemudian hari. Suasana Mengwi yang sibuk ini rupanya yang membuat Wilis berani onengambil tindakan terhadap Gede Wijaya. Dan Sri Maha Prabu Cokorda Dewa Agung tak banyak pikir merestui tindakan Wilis.

Lebih dari itu berani memperingatkannya supaya mencintai Blambangan. Ia mengumpat dalam hati.

Kenapa tidak ada pemberitahuan padanya tentang pemberontakan ini dari Mengwi? Atau memang penghubung tidak mampu menembus kepungan laskar Buleleng atau mungkin tidak mampu lolos dari sergapan orang-orang Wilis? Jika demikian Wilis telah membuatnya jadi dungu. Sebenarnyalah seorang bijak tanpa berita akan menjadi dungu. Dan kalau saja... ya, kalau saja Mengwi kalah, pastilah Wilis akan menyeretnya ke pengadilan.

"Kita tidak akan seperti Lombok," tiba-tiba suara Wilis memecah kesunyian.

"Jadi?" Paramesywari tidak percaya pada pendengarannya. "Ya. Kami harus membantu Mengwi. Bukankah Paramesywari putri Mengwi?"

Wajah Paramesywari berubah ceria. "Tapi bagaimana bila Buleleng yang menang? Bukankah Buleleng juga akan menyerbu kemari?"

Wilis tersenyum.

"Kami sudah mengadakan perundingan dengan semua pimpinan laskar darat dan laut. Kami siap menghadapi Buleleng."

"Jagat Dewa!" Mangkuningrat menyebut. "Dari mana biaya perang akan Dinda dapatkan? Laskar laut kita lebih sedikit dari Buleleng, dan mana senjata kita?"

"Cadangan negara sekarang lebih banyak dari waktu dipegang Kuwara Yana. Jadi jika Buleleng menang maka kita justru akan menyerbunya dan membebaskan diri dari Bali. Jika ia menang maka ia akan membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan uang untuk membiayai peperangan dengan kita. Tapi kita akan lebih siap.

Setelah peperangan dengan Mengwi kita lebih kuat dari Buleleng. Jangan khawatir. Tapi jika kita membantu Mengwi sekarang maka kita akan tetap untung jika Mengwi menang. Karena Yang Mulia Umbul Songo telah pulang dari Mengwi dengan membawa seberkas perjanjian dan surat pribadi untuk hamba, jika Mengwi menang kita tetap harus mengakui kemaharajaan Mengwi, tapi bebas upeti. Bukankah ini menggembirakan?"

"Dewa Bathara! Adinda, aku setuju. Kau memang cerdik," ujar Mangkuningrat memuji.

"Jika demikian sesegera mungkin hamba akan mendaratkan laskar Blambangan di Bali. Tidak banyak. Cuma Laskar Wituna dan Surendra serta satu armada laut kita yang akan dipimpin langsung oleh Laksamana Penjalu. Kita akan pukul Buleleng dari belakang. Dengan demikian biaya kita lebih kecil dari perang sendiri menghadapi Buleleng."

Setelah mendapat persetujuan Wilis meninggalkan mereka. Sore itu juga ia kumpulkan seluruh pimpinan laskar laut dan darat di gedung kepatihan. Pada mereka diperintahkan bergerak malam itu juga untuk menggempur kedudukan Buleleng dari belakang. Setelah itu seluruh pimpinan termasuk Wilis bersiap di pantai Sumberwangi untuk mempercepat penerimaan laporan dari medan pertempuran.

Tiga malam dan tiga hari berlalu resah. Paramesywari tak menerima laporan jalannya peperangan. Ia tak bisa tanya pada Teposono seperti dulu lagi. Sebab orang itu kini tentu sudah meringkuk dalam penjara. Atau mungkin sekali orang itu sudah dipenggal kepalanya. Satu- satunya orang yang menguasai situasi adalah Wilis.

Maka malam itu juga ia mengenakan pakaian keprajuritan, dan memerintahkan pengawal menyiapkan kudanya. Kepada suaminya ia mengatakan ingin memeriksa sendiri persiapan perang yang dilakukan oleh Wilis dan para panglimanya. Ia juga ingin mendengar laporan peperangan. Dan Mangkuningrat tidak bisa mencegahnya. Karena ia menyadari benar istrinya gelisah memikirkan nasib Mengwi.

Dalam kawalan dua belas orang berkuda, ia berkuda mengelilingi Ibukota Lateng. Ternyata laskar Blambangan dalam keadaan siaga tempur. Berlapis-lapis. Semua dalam jajar perang. Ia tidak habis mengerti, bagaimana suaminya sebagai raja bisa tidur tenang dalam keadaan seperti ini? Malam kian merangkak. Ia terus berkuda ke Pantai Ketapang. Barisan meriam dan cetbang berderet di balik batu dan pepohonan. Ah, Wilis benar-benar siap. Semua orang yang melihat kedatangannya langsung memberinya hormat. Menggembirakan hatinya. Orang- orang yang taat pada Wilis itu masih tetap menghormatinya.

Sampai di pantai Sumberwangi ia makin kagum. Ia tidak menduga Wilis mampu mempersiapkan senjata sedemikian banyak. Lalu berapa yang ia daratkan di Bali? Lalu berapa cadangan makanan yang harus ia sediakan? Ah, mungkin saja benar ia telah mampu memulihkan perniagaan Blambangan dan mendatangkan cadangan negara yang cukup. Bukan laporan kosong.

Beribu pertanyaan berkecamuk dalam dadanya. Jadi kalau demikian Wilis merupakan bahaya, bukan saja bagi dirinya sendiri. Tapi juga bagi Mengwi.

Embun malam mulai membasahi kulitnya. Malam telah larut benar. Secara mengejutkan sekali Tumenggung Singamaya tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.

"Selamat malam, Yang Mulia. Gembira sekali menerima pemeriksaan langsung dari Paramesywari."

"Selamat malam, mana yang lain?" .tanyanya untuk menutup keterkejutannya.

"Ada di pesanggrahan. Mari, Yang Mulia."

Kuda Paramesywari berjalan lambat di belakang Singamaya. Dari belakang ia kagum. Orang setua itu masih tegak dan gagah. Rupanya Singamaya seorang yang rajin merawat diri. Tubuhnya masih kekar.

Kumisnya lebat sekalipun sudah punya dua warna. Mungkin waktu mudanya lebih gagah lagi. Semua yang sedang berunding di pesanggrahan berdiri menyambut kehadirannya. Menyembah dengan penuh hormat. Dan dugaan Paramesywari tidak meleset. Setelah semua duduk ia segera mengambil tempat di samping Wilis. Pengawalnya semua menunggu di luar pesanggrahan.

"Bagaimana?" tanyanya sambil menumpangkan telapak tangannya di paha Wilis. Rasa hangat segera menjalar ke seluruh tubuh Wilis. Tapi ia segera membunuh perasaan itu.

"Baik. Buleleng menyerah."

"Hyang Dewa Ratu!" Ayu Chandra melonjak girang. "Kenapa tidak lapor?"

"Hamba menunggu Laksamana Penjalu. Dan pelarian yang barangkali mendarat di sini. Hamba dengar Eyang Gajah Binarong ikut pemberontak. Sebenarnya hamba mau berdamai dengan beliau asal tidak lagi mempersoalkan kekuasaan yang ada."

"Kau berjiwa besar. Tapi mari, Dinda, Sri Prabu menunggu."

"Malam telah larut begini?" "Beliau resah menunggu laporan."

Wilis tak bisa menolak lagi. Maka segera ia menyerahkan pada Arya Bendung dan Umbul Songo serta pemimpin lainnya. Wilis menolak pengawalan yang akan diberikan Umbul Songo. Ia tahu Paramesywari tidak akan berbuat sesuatu yang buruk terhadapnya.

"Wong Agung..." Ayu Chandra memulai lagi setelah pengawalnya ada dalam beberapa jarak. Suaranya tak mungkin terdengar oleh mereka dan debu pasti mengaburkan pandangan mereka. "Aku sudah kalah. Kau boleh melakukan apa saja atas diriku. Sekarang atau nanti." Ayu Chandra mendekatkan kudanya pada kuda Wilis.

"Jagat Bathara!" Wilis menyebut. "Yang Mulia adalah Paramesywari. Istri Kakanda Mangkuningrat."

Kini Ayu Chandra menatapkan matanya yang bening.

Memantulkan sinar rembulan secara samar. Wilis berdebar. Seperti bintang kejora.

"Sekali lagi, Wong Agung, kau sudah baca ukiran di taman, bukan? Nah, tentu kau tahu maknanya. Jangan ragu. Aku rela mati asal di tanganmu."

Wong Agung Wilis mengalihkan pandangnya ke bulan pucat di tanggal tua itu. Menahan getaran jiwa mudanya. Ingin ia menerima penyerahan wanita cantik ini. Ingin ia membopongnya dan membawanya ke gedung kepatihan. Ah, hati mudanya tak menentu. Bisu. Derap kuda saja yang memecah kesunyian.

"Sebenarnyalah sekarang Blambangan dalam kuasamu. Kawula mencintaimu. Baginda tak pernah memerintah sejak aku menjadi istrinya. Jadi apa yang kau takutkan lagi?" Suara merdu itu mengganggu lagi.

Masih diam. Hatinya meriup-riup seperti rambut Gusti Ayu Chandra yang dihembus angin malam. Ia toleh wanita itu. Menunduk. Tubuhnya bergoyang-goyang karena langkah kudanya. Air matanya tampak membasahi pipinya. Dan pengakuan jujur meluncur dari bibir mungilnya. Suaranya menggigil.

"Wong Agung, seharusnyalah aku di sampingmu."

Hati Wilis lebih berguncang lagi. Kini langkah kuda mereka tak terdengar oleh telinga mereka sendiri.

Tenggelam dalam pertimbangan masing-masing. Wilis menghembuskan napas panjang. Ia berkali menoleh Paramesywari. Tapi berulang ia melihat wajah Mangkuningrat dalam angannya. Sekilas teringat Yistyani. Sekilas pula teringat Satiari.

"Wong Agung menolak aku?" Ayu Chandra memandang Wilis dengan penuh harap.

Wilis menoleh ke belakang. Pada para pengawal.

Sebentar kemudian pada Gusti Ayu Chandra. Ah, makin cantik saja.

"Mereka tak mendengar. Tak mengerti." Paramesywari tersenyum.

"Tidak, Yang Mulia. Mereka memang tidak mendengar." Wilis seperti tersadar dari mimpi indah. Napasnya terengah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh yang berdebu.

"Siapa yang mampu menolak anugerah luar biasa ini? Hamba tidak kuasa untuk menolaknya. Tapi... siapakah hamba ini maka berani menerima anugerah itu.

Menyadari keadaan hamba maka sebaiknya hamba menjalankan Cawala Brahmacarya (hanya melakukan perkawinan satu kali dalam hidupnya. Dan tak akan kawin lagi bila istrinya mati. Semua dianggap godaan dan cobaan hidup, yang patut diatasi lahir-batin.

Mengutamakan Ketuhanan dan kemasyarakatan, dengan meniadakan kepentingan pribadi). Dan tepatlah jadi paramesywari Blambangan. Ampunkan hamba, Yang Mulia, cintailah Blambangan, Kanda Mangkuningrat, dan para kawula Blambangan."

"Wong Agung..." suara Ayu Chandra lirih.

"Hamba tak mampu membantah kenyataan ini. Hamba memang satria, tapi biarlah hamba juga brachmacarin (orang yang menjalankan Brahmacarya). Nah... kita sudah sampai di istana."

0oo0

Bathara Kala bekerja terus. Menambah usia. Membuat jarak satu masa dengan masa yang lain. Menghasilkan waktu. Juga menimbulkan apa yang dinamakan kekinian. Semua dikerjakan dengan sedikit saja melibatkan perasaan dan kesadaran manusia. Dan tahu-tahu sudah sampai pada kekinian.

Blambangan pun tidak sadar waktu telah berlalu cepat. Bathara Kala berlari. Terus berlari tanpa henti. Membawa setiap orang pada ketuaan masing-masing. Tetapi tetap sedikit saja orang yang menyadari.

Kesibukan Blambangan membenahi diri, memperpanjang hidup, bahkan juga memperpanjang impian, melupakan semua dan segala.

Juga Wong Agung Wilis. Dia mendengar waktu Yistyani melahirkan anak laki-laki. Tapi ia sama sekali tidak dapat menyempatkan diri untuk menengok barang sebentar saja. Apa pun yang terjadi memelihara memang lebih berat dari membangunnya. Kemajuan hubungan Blambangan dan Mengwi adalah hasil kerja Wilis yang oleh kawula dianggap terbaik. Para pemimpin Blambangan juga berpendapat seperti itu. Tapi Wilis tahu hal itu takkan kekal. Mengwi tak selamanya rela melepas Blambangan menjadi negeri bawahan yang tidak membayar upeti. Walau setiap enam bulan sekali Wilis atau Mangkuningrat menghadap sebagai bukti tunduk ke bawah duli Cokorda Dewa Agung Mengwi. Sebab itu Wilis merasa perlu menjaga hati Mengwi agar tidak mencari gara-gara untuk memukul Blambangan yang menyebabkan bisa mempersembahkan upeti kembali. Lima tahun telah berlalu saat Yistyani mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan satu kehidupan baru. Jiwa baru. Sakit memang. Tapi Yistyani menyadari bahwa itu adalah imbalan dari kenikmatan yang ia terima kala benih itu dijatuhkan ke dalam rahimnya. Ia makin menyadari sebenarnya hidup tak bisa lepas dari hukum timbal balik. Barang siapa memberi ia akan menerima, demikian juga barang siapa menerima pada saatnya ia harus juga memberi.

Ia tahu benar Andita merasa bahagia dengan kelahiran anak itu. Andita merasa mendapat anugerah yang tiada ternilai harganya. Baginya anak merupakan piala dalam memenangkan perlombaan memperebutkan cinta. Ah... anak itu seperti ibunya. Rambutnya, hidungnya, kulitnya... hampir semua mirip ibunya.

Bagi Yistyani anak ini merupakan sambungan bagi hidupnya sendiri. Penerus cinta, cita, dan karsa. Karena itu siapa yang menerima anugerah berupa anak, ia memiliki hakikat dari hidup itu sendiri. Dan ia ingin menjadikan anaknya itu menjadi anak zaman. Anak Blambangan, anak Raung, pendek kata anak tanah semenanjung ini, katanya pada suaminya.

Andita tertawa. Ia tahu, anak itu membawa Yistyani pada impian-impian baru. Itu pula yang menyebabkan Yistyani memberi nama anak itu: Wilis.

"Kenapa bernama Wilis?" tanya Andita.

"Biar seperti Wong Agung Wilis, junjungan kita. Jika perlu malah melebihinya. Bisa mengembalikan Blambangan seperti zaman Prabu Pati Udara."

"Adinda mimpi " Andita tertawa. "Atau barangkali

biar nama itu tak pernah mati dalam hati Adinda?" "Suaminda cemburu?" Yistyani membunuh suara tawanya. Hatinya berdesir. Istrinya tersinggung.

Belum pernah Yistyani mengeluarkan ucapan seperti itu. Andita segera menyadari keadaan. Buru-buru ia tersenyum.

"Tentunya juga biar hidup terus dalam hatiku dan hati seluruh orang yang mencintainya."

Yistyani turut tersenyum. Ia cium pipi suaminya. "Suaminda bijak."

Suasana pagi itu makin ceria. Menyeret keduanya dalam pelukan bahagia. Sesaat memang. Tiada berapa lama terdengar derap kuda mendekati istana mereka.

Tidak cuma seekor. Andita sigap bersiap. Seorang pengawal menghadap.

"Ada apa?" Yistyani bertanya lebih dahulu. "Yang Mulia Patih datang "

Yistyani berlari ke halaman. Disusul Andita dan pengawalnya. Dan Wilis masih duduk di atas punggung kuda kala Yistyani menyembah. Kemudian segera melompat turun.

"Dirgahayu! Maafkan aku, baru sekarang sempat menengok anakmu. Tentunya sudah besar, bukan? Bukan lagi bayi merah "

"Kami menunggu," Andita menyembah.

Mereka mempersilakan Wilis masuk. Istana bekas milik Kuwara Yana. Sambil berjalan Wilis berkata:

"Aku dengar kau memberi nama anakmu, ’Wilis’, tanpa perkenanku?" "Hamba, Yang Mulia. Salah? Hamba bersedia menerima hukuman asal nama itu boleh terus disandang oleh anak hamba."

Wilis tertawa lebar. Ia pandang seluruh tubuh Yistyani, beberapa saat. Dan mereka sudah sampai di ruangan depan istana itu. Permadani merah bikinan Mesir terhampar di lantainya. Ini juga warisan Kuwara Yana.

Tempat duduk terbuat dari kayu Timanga hitam yang diukir-ukir pada bagian sisi-sisinya juga warisan Kuwara Yana. Yistyani berhak memilikinya, gumam Wilis.

"Kalau anak itu bernama Wilis maka ia harus juga tinggal di Benteng Bayu. Ia harus dilatih oleh Paman Baswi dan Resi Wuni Pati."

"Tentu, Wong Agung. Ia adalah pewaris di Raung.

Tentu Ayahanda akan senang," Andita menjelaskan "Kau, Yistyani?"

"Sedang kami pikirkan. Ia harus sama dengan Yang Mulia."

"Karena itu ia harus menjadi junjungan di Raung. Sudah kalian perundingkan dengan Paman Baswi?"

"Baswi sendiri sudah mengatakan seperti itu. Tapi tentu saja harus seizin Yang Mulia. Kami tidak ingin memunggungi Blambangan," Yistyani yang menjawab.

Wilis terdiam. Harus menunggu keputusanku?

Kenapa? Tak ingin memunggungi Blambangan tentu bukan alasannya. Mungkin saja karena ia anakku, jadi Yistyani menunggu keputusanku. Ah, masih mengalir darah Tawang Alun dalam tubuhnya. Berbagai pertanyaan berdentuman dalam hatinya. Bagaimana rupa anak itu?  Ingin rasanya aku melihat wajahnya. Ingin menggendongnya. Ingin aku memberi sesuatu untuk anak itu. Yah... Agung Wilis berdesah dalam hempasan napas. Yistyani terus memandangnya.

"Kenapa, Yang Mulia?" Andita bertanya heran. "Tidak apa-apa. Mana anak itu sekarang?" "Bermain, atau barangkali belajar membaca lontar di

taman."

"Jagat Dewa! Sudah belajar lontar? Seberapa besar anak itu?" Wong Agung Wilis bangkit. "Boleh aku menengoknya di taman?"

Sebelum menerima jawaban Wilis sudah melangkah ke taman. Bunga-bunga, kumbang-kum-bang, juga kupu- kupu seakan menyambut kehadirannya di taman itu. Tapi tak ia perhatikan. Matanya sibuk mencari. Di mana Wilis kecil sedang bermain. Atau barangkali sedang belajar.

Tak sabar rasanya Wilis mengelilingi luas taman. Ia ingin menjadi seorang sakti seperti Sukrosono, tokoh wayang purwa yang mampu meraup Taman Sri Wedari dalam genggamannya. Tapi ia tidak bisa. Ia mempercepat langkahnya.

Di tengah-tengah bunga-bunga itu ternyata Wilis kecil sedang berlari-lari mengejar seseorang. Rupanya pengasuh anak itu. Wong Agung tak sadar, maka,

"Wilis!" panggilnya.

Anak kecil itu menghentikan larinya. Menoleh. Seperti kena ilmu sihir. Dan Wong Agung mendekati. Ia angkat dan ia cium sepuas hati.

"Wilis... Wilis... kau..." Anak itu mengawasinya sebentar. Demi dilihatnya ia tidak pernah mengenal orang yang menggendongnya itu ia meronta. Tapi Wong Agung tidak ingin melepasnya.

Dan menangislah anak itu.

Mendengar tangis Wilis kecil sang pengasuh yang bersembunyi segera balik ke tempat itu. Demi melihat Wong Agung pengasuh itu menjatuhkan diri dan menyembah.

"Jagat Bathara!" Wong Agung menyebut sambil menurunkan Wilis kecil. Ia pandangi pengasuh itu. Mulai ujung kaki sampai ujung rambut. Tak percaya pada penglihatannya sendiri. Berulang ia menyeka matanya. Sementara itu Wilis kecil lari ke gendongan sang pengasuh.

Tantrini pun gugup. Untuk pertama kali ia berhadapan dengan sepasang mata setajam itu. Segera ia melindas keguncangan hatinya. Menunduk. Namun setelah ia menemukan dirinya kembali ia berdiri. Walau tetap bersikap sopan. Ia sadar sedang berhadapan dengan penguasa.

Sementara itu Wong Agung Wilis masih saja terpatri di atas bumi. Mungkinkah Yistyani mendapat syakti dari Hyang Maha Ciwa sehingga bisa memecah diri menjadi dua? Kini wanita muda itu tersenyum. Manis seperti Yistyani.

"Jagat Bathara!" Sekali lagi Wilis menyebut. "Kau mendapat syakti Sang Ardana Reswari (Durga atau Ciwa dalam bentuk wanita) Yistyani, maka kau dapat memecah dirimu menjadi dua," Wilis berkata-kata dalam Jawa Kuno. "Ampun Wong Agung, hamba bukan Yistyani. Hamba Tantrini, adiknya," jawab wanita itu juga dalam Jawa Kuno.

"Jagat Dewa!" Wilis malu. "Maafkan aku." Bersamaan dengan itu Yistyani dan Andita datang. "Kenapa tak kau beritahukan anakmu dijaga seorang

bidadari?" Wilis menegur Andita.

"Ampun, Yang Mulia tergesa-gesa." Andita tersenyum.

Juga Yistyani. Senang adiknya dipuji. Tantrini merona. Wilis kecil kini berlari pada ibunya.

"Bersembahlah, Anakku! Beliau adalah Yang Mulia Wong Agung Wilis, patih amangkubumi Blambangan."

Wilis kecil menurut. Dan tidak sadar, air mata keharuan membasahi mata Wong Agung.

Tenggorokannya seperti tersumbat. Ia mendekati anak itu. Kembali mengangkatnya.

"Kau anak perkasa. Aku akan berikan padamu sebuah pending, sebagai tanda bahwa kau seorang pangeran dan kau akan menjadi penguasa di Raung."

"Dirgahayu!" Yistyani bersorak. Ia tahu dalam hati Wilis mengakui anaknya sebagai anaknya pula. "Kau anak zaman. Anak tanah semenanjung!"

"Terima kasih, Yang Mulia!" Andita tak kalah girangnya.

Dan sebelum pergi Wilis berpesan lagi. Seolah anak itu sudah mengerti bahasa orang dewasa.

"Jika aku tiada maka kaulah yang harus membangun kembali Blambangan. Kau satria, kau juga brahmana."

Mereka mengantar Wilis sampai ke gerbang. "Mata anakmu seperti Wong Agung," Tantrini menggoda kakaknya dalam bisik.

"Kau mengada-ada."

"Sungguh, lihat rambutnya juga, kulitnya juga." . "Ah... kau dengar tadi beliau menyebutmu? Kau

mengerti?"

"Ya. Aneh orang itu mampu bicara bahasa Jawa Kuno."

"Beliau juga bisa berbahasa Sanskerta, Tantrini.

Karena itu kuharap kau mau jadi istrinya."

"Hyang Dewa Ratu! Aku seorang brahmani akan kau kawinkan dengan satria?"

"Pandanganmu lapuk, Adikku. Apa bedanya? Ia juga berpengetahuan seperti kita."

"Aku jera terhadap satria. Mereka tak lain adalah pembunuh dan perampok. Hidup di atas upeti. Bukan dari keringat sendiri."

"Membunuh mengandungkan banyak maksud. Ia membunuh untuk menghancurkan Raditya. Sekarang pun ia membunuh. Untuk membangunkan Blambangan dari keruntuhan."

Beberapa lama Tantrini terdiam. Masa lalunya menerawang. Pahit. Keperawanannya, ibunya, kesuciannya, dan semua yang indah miliknya musnah dirampas oleh satria. Dungu, kasar, sombong. Tapi kemudian ia sadar, ia tak mampu mempertahankan semua miliknya. Dewa-dewa pun tak mau menolongnya, kendati ia telah berseru kuat-kuat. Kini datang lagi satria. Tak bodoh, kasar atau sombong. Tapi sorot matanya itu menunjukkan ia satria berhati batu. Tak segan membunuh.

"Kau ragu, Tantrini?" Suara Yistyani memudarkan angan-angannya.

"Ya," ia menjawab cepat. "Aku ingin kedamaian, ketentraman. Tak ingin melihat kengerian yang timbul karena bedil, tombak, ataupun pedang."

"Hyang Dewa Ratu! Bukankah kau telah membaca Bhagawat Gita? Kedamaian tak pernah tercipta selama ada kejahatan. Kejahatan tak pernah habis jika akar kejahatan dalam tubuh manusia ini tidak dimusnahkan. Tantrini, tidak akan pernah ada damai di dunia ini, selama ada orang yang didera setiap saat untuk mempersembahkan upeti. Dan ingat, selama masih ada manusia yang tidak membayar harga makanannya sendiri."

Kembali diam. Tantrini sadar tak mampu membantah kakaknya. Ia kembali mengingat Bhagawat Gita.

Sebenarnyalah manusia sekadar alat untuk melaksanakan kehendak Hyang Maha Ciwa.

Wilis sendiri masih tercekam rasa berdosa atas tewasnya Satiari. Apakah sekarang ia harus mengulangi melamar Tantrini? Apa akal? Ia tidak bisa menipu diri sendiri. Ia membutuhkan teman hidup. Teman bertimbang. Teman di tempat tidur. Ternyata tidak banyak manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian.

Hari-hari semakin merupakan aniaya. Dan ia tak mau terus begitu. Tiap malam dibayangi wajah Tantrini.

Karena itu ia segera berterus terang pada Yistyani dan Andita. Jawaban yang ia terima dari keduanya sama. "Sebaiknya Pangeran mendekatinya sendiri." Bisa saja ia memaksa seperti halnya Ametung pada Dedes. Tapi tak pantas jika itu dilakukan oleh seorang yang memiliki pengetahuan tinggi. Pemaksaan hanya milik orang tak beradab. Perkawinan adalah hak terindah dari umat manusia.

Setelah menerima banyak keterangan dari Yistyani, ia jumpai Tantrini.

"Perkawinan adalah impian yang manis. Karenanya aku tak ingin melihat pembunuh. Tidak juga ingin melihat kekejaman dalam impian itu."

"Dewa Bathara!" Wilis tahu itu penolakan. Tapi ia akan berusaha. "Inikah jawaban seorang brahmani yang biasa bijak itu?"

Tantrini diam. Ia tahu bahwa jawabannya memang tidak benar. Dan Wilis berkata lagi,

"Brahmani memang harus bertimbang sebelum memutuskan. Impian memang membuai. Tapi bukankah tidak selamanya kita terbuai dalam mimpi? Ada saatnya kita terbangun. Jika tiba waktunya mungkinkah kita mengatakan: ’Pergilah! Aku hendak mengulur impianku?’ Tidak! Kita harus bangun dan segera melupakan impian itu. Kemudian membangunkan kenyataan baru. Astana baru."

Masih belum menjawab. Tantrini ingat ucapan Yistyani beberapa hari lalu. Wilis tidak lebih bodoh dari Mandrawa atau deretan brahmana lainnya. Juga tidak lebih bodoh dari Yistyani atau Andita. Sampai terdengar suara Wilis berkata lagi.

"Lalu apa gunanya aku berhadapan dengan seorang brahmani yang membisu seperti ini?" Kejengkelan mulai timbul dihatinya. "Tidak berbeda dengan seorang pandir yang tak pandai berkata-kata. Atau barangkali karena aku satria tak pantas bersanding dengan seorang brahmani? Atau harus Sri Prabu dan Paramesywari yang datang melamarmu?"

"Hyang Dewa Ratu," Tantrini menyebut. Ucapan Wilis mengandung banyak arti. Merendah, mengancam atau...? Ia mendongak lamban. Mata mereka saling bersua. Perasaan mereka bergetar.

Wilis melangkah pelan. Ia ulurkan tangan. Ia bimbing Tantrini perlahan. Berdua melangkah meninggalkan taman. Menuju tempat Andita dan Yistyani menunggu dengan hati berdebar.

"Kita masuki impian itu," ujar Wilis yang dijawab dengan anggukan.

0oo0

Semula kawula Blambangan bingung menanggapi berita resmi yang dikeluarkan kerajaan bahwa Dang Hyang Wena dihukum mati. Orang yang dianggap terpandai di bumi Blambangan itu telah diadili dengan tuduhan berkomplot dengan Kuwara Yana dan para saudagar asing dari Demak dan Gresik. Lebih lagi banyak menerima sogok dari saudagar-saudagar Cina yang mulai banyak masuk.

Sebagai ekor penghukuman itu, kerajaan telah merampasi kembali tanah-tanah kerajaan yang dijual oleh Arya Bagus pada saudagar-saudagar itu. Tanah- tanah sawah dan kebun kelapa sudah mulai mereka tanami tebu.

"Modal bukan sekadar tumpukan emas dan perak," ujar Wilis di sidang pratanda yang dihadiri oleh Sri Prabu dan Paramesywari. "Sebenarnya modal adalah awal dari sebuah kekuatan dan jika kita biarkan akan berkembang menjadi kekuasaan. Pemilik modal raksasa pada hakikatnya adalah raja yang tidak pernah dinobatkan.

Dengan tanpa perang mereka semua akan meletakkan Sri Prabu dan kita semua ke bawah telapak kakinya.

Bukankah kita dapat melihat tingkah para saudagar itu. Mereka mulai mengenyampingkan satria. Bahkan brahmana!"

Ucapan Wilis disambut hangat oleh anggota sidang. Juga Paramesywari yang sering tersinggung terhadap sikap kaum saudagar itu. Bahkan kawula Blambangan pun mendukung sikap Wilis itu. Mereka menilai kaum pedagang umumnya telah menjadi sombong. Mereka memperlakukan orang Hindu dengan pandangan menghina. Dengan uang mereka telah memiliki segala yang terbaik, di bumi Blambangan. Termasuk wanita- wanita cantik. Sungguh menyakitkan. Ini semua sisa dari persekongkolan mereka dengan Kuwara Yana. Mereka menguasai lebih dari dua pertiga perniagaan Blambangan.

Penyogokan atas Tumenggung Singamaya telah gagal. Orang itu terlalu patuh terhadap peraturan dan hukum. Namun Paramesywari melihat betapa setianya orang itu pada Wilis. Itu sebabnya ia mendesak suaminya untuk belajar banyak. Seorang raja tidak boleh terlalu tergantung pada patihnya, katanya suatu hari.

Sejak itu Mangkuningrat rajin belajar. Ia tidak malu bertanya pada Paramesywari tentang tata negara, Yajur Weda, dan berbagai macam pengetahuan lainnya.

Dalam hati ia bertekad harus dapat mengatasi pengetahuan Wilis.

Namun Wong Agung Wilis bertindak lebih cepat. Ia menangkap Arya Bendung dengan tuduhan seperti halnya Wena. Tindakan itu disusul dengan pengangkatan Umbul Songo sebagai menteri muka, dan Andita sebagai kepala Dinas Rahasia Blambangan. Tindakan itu semakin menaikkan pamor Wilis di mata kawula Blambangan serta laskar darat dan laut. Paramesywari sadar Wilis semakin memantapkan dirinya.

Hal itu menggelisahkan Bagus Tuwi. Ia telah kehilangan hampir semua teman-temannya. Namun kegelisahannya segera padam. Ternyata Wilis mengusulkan supaya ia diangkat menjadi ratu anggabaya untuk menggantikan Arya Bendung. Dan Mangkuningrat menyetujui usul Wilis itu.

Semua langkah yang diambil Wilis telah membuat Blambangan makin mantap dan terus melaju menuju impiannya.