Tanah Semenanjung Bab 6 : Bunga Dan Bumi

 
Bab 6 : Bunga Dan Bumi

Bumi Blambangan seperti pegunungan kapur yang tertimpa hujan, kala para kawula mendengar perkawinan Mangkuningrat. Karena calon istrinya adalah Ni Mas Nawangsasi atau juga disebut Mas Ayu Chandra.

Seorang putri anugerah Cokorda Dewa Agung dari Mengwi. Dan itu-memang bukan sekadar berita burung. Karena dengan segeranya mereka mendengar dan menyaksikan upacara pernikahan rajanya. Sorak-sorai ada di mana-mana. Juga tari-tarian pemujaan bagi para dewa tidak hanya di pura-pura. Tapi di hampir setiap sudut Blambangan. Menunjukkan kegembiraan mewarnai kehidupan Blambangan.

Banyak harapan yang dibayangkan kawula Blambangan kala perkawinan itu mulai diumumkan. Karena rajanya telah menjadi salah satu kerabat Dewa Agung, tentunya Mengwi akan membebaskan mereka dari keharusan membayar upeti. Di samping itu antara Mengwi dan Blambangan akan ada persamaan hak.

Sederajat. Saling menghargai.

Selesai upacara Brahmacarya (upacara penutupan wadad suci yang dilakukan selama 40 hari. Artinya mempelai selama itu belum boleh bersetubuh. Dalam upacara itu mempelai melakukan persetubuhan di atas sontoh yang disediakan. Dan biasanya di atas permadani alas pembaringan masih dilapisi kapas untuk membuktikan apakah mempelai perempuan masih perawan) Paramesywari mengadakan peninjauan ke seluruh Lateng. Seluruh kawula, besar-kecil, tua-muda, berjejal di pinggir-pinggir jalan Lateng untuk menyaksikan wajah sang Paramesywari. Dan ternyata semua orang mengaguminya. Semua melambaikan tangan padanya. Dibalas dengan senyuman yang luar biasa indahnya.

Kulitnya agak coklat. Matanya bersinar dan bola mata berwarna hitam. Alisnya cukup tebal membentuk garis lengkung dan lancip pada dua bagian akhir yang berlawanan. Bulu mata lentik menambah pesona siapa saja yang memandangnya.

Bibirnya tipis, selalu menyebar senyum. Membentuk lengkung seperti busur. Di sebelah kanan atasnya dihiasi tahi lalat kecil hitam. Bicaranya lancar dengan suara merdu lincah. Lehernya yang jenjang dihiasi berbagai untaian kalung dan selendang sutra berwarna kuning tersampir di bahunya. Selendang itu terjulur ke bawah menutup ujung bukit sebelah kiri. Turun terus menutup pusarnya. Sedang bukit di dada kanannya dibiarkan terbuka menjadi tontonan kawula Lateng yang mengelu- elukannya. Bukit tegak, lambang bahwa Paramesywari memiliki kesuburan. Patut menjadi lambang kesuburan bagi kawulanya. Ketika ia membalas lambaian kawulanya, tampak jari-jemarinya yang runcing.

Paramesywari mengerti benar, bahwa jalan-jalan Ibukota baru saja dibenahi. Pagar-pagar yang runtuh di sana-sini dipugar kembali. Dan itu baru. Baru. Kenapa? Itulah pertanyaan. Baginya masih banyak hal yang mencurigakan. Namun ia menjawab kecurigaan hatinya dengan sebuah tuduhan bahwa pembantu-pembantu suaminya tidak becus bekerja. Apalagi melihat sebagian besar kawula Blambangan kurus-kurus. Dikema-nakan hasil sawah mereka? Tanah Blambangan begini suburnya? Nyiur, sawah, semua subur dan menghasilkan buah. Tapi kenapa kawula kurus?

Sekembali dari peninjauannya keliling Lateng, Paramesywari disambut oleh seluruh pembesar negeri di istana. Mereka diperkenankan menghaturkan penghormatan. Semua berhadapan dengannya dengan penilaian dan pengamatan masing-masing, sekalipun sikap mereka rata-rata hampir sama. Ramah dan hormat. Begitu pun sebaliknya. Paramesywari juga menilai dan mengamati mereka.

Umbul Songo juga punya penilaian. Betapa hebatnya wanita ini. Orang ini pasti berpengalaman tinggi, atau setidaknya terdidik untuk memimpin suatu laskar dalam peperangan. Mangkuningrat bukan bandingannya.

Sebentar lagi pastilah Blambangan akan berada dalam genggamannya.

"Ia adalah Panglima Umbul Songo," .kata Mangkuningrat mengenalkan, "dan sekarang sedang bekerja menumpas kaum perusuh."

Umbul Songo mengangkat sembah.

"Yang Mulia pernah bertempur di Surabaya?" Paramesywari bertanya sambil tersenyum.

"Hamba," jawab orang tua itu.

"Yang Maha Mulia Cokorda Dewa Agung telah berkenan membebaskan Yang Mulia dari hukuman mati. Juga pada Yang Mulia!" kata Paramesywari sambil menuding Haryo Dento.

Sambil menyembah kedua orang itu menatap Paramesywari. Namun wanita itu tak menunduk atau memalingkan muka.

"Mana yang bernama Mas Sirna, Kanda?" Pertanyaan yang mengejutkan semua orang. Umbul

Songo berdebar. Ia masih harus menutup sesuai pesan Wilis sendiri. Tapi Dang Hyang Wena yang segera memberikan jawaban, "Beliau sedang tak ada, Yang Mulia."

"Aku tak menanyakan pada Yang Suci," tukas Paramesywari. Wena agak tersinggung. Tapi ia harus menahan diri, sebab ia tahu persis, di belakang Paramesywari ada kekuasaan Meng-wi.

"Sedang tidak ada, atau memang tidak ada?" Tak ada lagi yang memberikan jawaban. Maka

Mangkuningrat yang menjawab,

"Yang Suci benar. Memang sejak lama ia tak ada di tempat. Dan ini adik Mas Sirna, Mas Alit serta Mas Anom."

Mas Ayu Chandra mengangguk untuk membalas sembah mereka. Selebihnya ia tak menoleh pada siapa pun. Bahkan pada Bagus Tuwi juga tidak.

"Bukankah ia calon patih amangkubumi Blambangan?"

"Paman, bersembahlah!" Mangkuningrat menoleh pada Bagus Tuwi. Orang tua itu berpikir sejenak.

"Tak seorang pun menemukan jejaknya."

"Baiklah! Bila dia hilang, maka bukan Mengwi yang kehilangan. Tapi Blambangan."

"Yang Mulia Singamaya pun telah berusaha. Tapi gagal. Sedangkan sekarang, kami tak bisa mengerahkan banyak tenaga untuk mencarinya. Karena Yang Mulia Umbul Songo tak ingin usahanya dicampuri Jebih dahulu."

"Kanda memaksudkan Yang Mulia Umbul Songo membatasi gerak orang-orang berlencana Sriti?" Terkesiap darah Umbul Songo mendengar itu. Mengwi telah mengetahui tindakannya selama ini?

"Tidak, Adinda! la sedang mengamati semua wilayah Blambangan. Dan ia telah membuat kaum perusuh tidak berdaya."

"Orang, hebat! Kerusuhan tidak mungkin ditumpas hanya oleh seorang. Tak masuk akal! Tapi baiklah.

Bagaimana dengan Lumajang? Mereka sedang bergolak?" Paramesywari mendesak.

"Yang ada perang saudara, Yang Mulia," bantah Bagus Tuwi.

"Betul, Kanda?"

"Aku sanggup menyelesaikan mereka. Jika perlu aku perintahkan Menteri Muka melindas mereka."

Ayu Chandra tahu Mangkuningrat mulai terbakar. Tapi ia tersenyum. "Aku tak ingin kekuasaan Kanda pudar karena pergolakan itu." Lagi ia menambahi senyumnya. Manis sekali.

Mangkuningrat memberikan isyarat pada pra-jangkara untuk membubarkan pertemuan itu. Kemudian ia menggandeng tangan Paramesywari masuk bilik agung. Biti-biti perwara istana mengiringi di belakang mereka.

Sampai di sentong kuning. Berdua bersantap siang.

0oo0

Berita yang terjadi di Lateng segera merambat sampai ke Pegunungan Raung. Walau dari kejauhan nampaknya cuma dungkul raksasa biru. Tenang tanpa gerak. Namun Raung mampu mengetahui semua yang terjadi seluruh belahan bumi Jawa bagian timur. Dan segera Baswi mengirim Tumpak untuk melaporkannya pada Wilis. Setelah dua hari berkuda maka Tumpak sudah menyusul mereka di wilayah Lumajang. Tumpak tidak menemukan banyak kesukaran. Sebab Wilis memang masih berhenti di sebelah timur kota Lumajang.

Wilis gembira menerima Tumpak. Rasanya ia seperti berhadapan sendiri dengan Baswi. Apalagi setelah Tumpak melapor seperti yang diperintahkan Baswi.

"Apa kita dapat mempercayai Umbul Songo?" tanya Wilis selesai laporan Tumpak.

"Beliau adalah panglima tua. Tua dalam pengalaman dan tua dalam usia, Pangeran."

"Baiklah, aku percaya. Tapi aku belum pikirkan Blambangan. Kau boleh balik ke Raung. Tapi sebelum kau kembali ke pesanggrahan sampaikan dulu pada Baswi, aku membutuhkan tambahan cadangan makanan."

"Di mana kami harus mengirimnya?"

"Di desa Gending. Atau utara timur kota Lumajang," Andita yang menyahut.

"Hamba akan kerjakan."

Setelah Tumpak pergi, Andita berunding dengan Wilis.

Ia mengatakan bahwa ia akan masuk kota Lumajang terlebih dahulu. Maka setelah mendapat persetujuan, ia berangkat dengan tanpa pengawal.

Suasana kota benar-benar lengang. Sawah dan ladang banyak yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Rumput dan ilalang tumbuh, bahkan berebut tinggi di jalan-jalan raya. Karena penghuninya takut.

Takut pada keganasan cetbang, yang sewaktu-waktu bisa meletus di mana-mana. Setelah puas berkeliling, Andita mendatangi rumah bekas sahabatnya. Seorang yang dulu hidup dari kulit harimau di samping bertani. Ternyata Mali, demikian namanya, tidak meninggalkan rumahnya. Namun yang mengherankan

Andita, rumah itu kelihatan sepi dan lebih tidak terurus.

"Mali...,” Andita menyapa sambil mengetuk pintu. "Siapa itu?" Suara tenang menyahut dari dalam. "Aku. Sahabatmu, Mali," Andita setengah berbisik.

Terdengar langkah kaki berat diseret. Beberapa bentar kemudian seorang berambut putih muncul di ambang pintu. Kumisnya dan jenggotnya juga putih. Badannya ceking.

"Andita... oh, Tuan?" Orang itu terkejut.

"Jagat Bathara... kau Mali ?" Andita tak percaya pada apa yang dilihatnya.

"Ya."

"Tampaknya tua sekali...?" "Ya... ya... mari, silakan masuk!"

Keduanya duduk di balai-balai lebar beralaskan tikar mendong. Walau delapan tahun telah berlalu mereka masih saja tak melupakan persahabatan masa lalu. Dan kini mereka bersirih bersama-sama

"Tuan masih saja seperti dulu."

"Rupanya keadaan kadipaten membawa pengaruh banyak bagi hidupmu," Andita tak ingin mengulas kata- kata temannya. "Betapa tidak. Letusan terdengar hampir tiap hari.

Juga pembunuhan terjadi setiap saat. Tanpa diketahui siapa pembunuhnya."

"Kenapa kau tidak pindah saja, seperti lainnya?" "Aku sudah tua. Tak guna lari dari kematian. Walau

sawah, ladang, dan semua milikku sudah dibinasakan cetbang "

"Ha... ha... ha... ha... kau putus asa, Sahabat?" "Tidak! Ada banyak orang yang diam di rumah sambil

menunggu kematian. Coba kau intip beberapa rumah. Aku tak mencari mati. Tapi aku tak pernah takut mati. Sebab siapakah yang bisa mengelakkan kematian?"

"Benar, kau, Mali. Tapi..." Andita ragu mengatakan. "Kenapa?" Mali mendesak.

"Kenapa kau kelihatan lebih tua dari usiamu? Itu berarti... kau menanggung duka besar dan berat."

Mali menghela napas. Ia pandang Andita sepuas- puasnya. Kini wajahnya kian mendung. Setelah beberapa bentar ia baru berkata, "Kehidupan memang semakin pahit," sambil menghela napas panjang lagi.

"Tuan Andita, selama ini tuan tidak pernah muncul di kadipaten. Juga di rumahku ini. Aku hitung delapan tahun jalan. Namun tak ada pengumuman apa-apa atas ketidakmunculanmu itu. Dan memang tidak terjadi apa- apa di Lumajang. Tahun pun berganti tahun. Suatu ketika, tiba-tiba saja Adipati Agung menobatkan seorang putri jelita menjadi putri mahkota. Ayu Sulih, nama putri itu."

"Apa katamu?" Andita terkejut. "Ya, tentu kau terkejut. Mendadak saja, seorang putri remaja menjadi anak Adipati Agung."

"Seingatku, beliau tak pernah berputra."

"Akhir-akhir ini sang Adipati sering memunculkan seorang selir rupawan. Berkulit putih, rambutnya seperti rambut jagung sedang matanya berwarna agak biru. Dan selir itu ternyata adalah ibu Ayu Sulih. Kemudian Menak Raditya tidak setuju atas penobatan Sulih. Raditya keluar persidangan dengan membawa serta sebagian laskar Lumajang. Ia mengumumkan Sulih tidak berhak atas tahta Lumajang. Dan kini kota sebelah barat ada di bawah pengawasan Raditya."

"Ke mana sang Adipati?"

"Semestinya masih menguasai daerah ini. Tapi sekarang tidak tahu."

"Apakah menurut Raditya dia berhak atas Lumajang?" "Ya. Karena sang Adipati tak berputra."

Andita mengangguk-angguk.

"Yang menderita tetap kawula," Mali meneruskan. "Hampir tiga tahun kami tak dapat bercocok tanam dengan baik." Diam sebentar untuk membuang ludahnya yang merah. Kemudian lanjutnya, "Tanaman selalu dirusak oleh perang. Belum lagi bila laskar Raditya di atas angin. Mereka menjarah apa saja milik kami.

Kerbau, sapi, kambing, itik, ayam, bahkan juga wanita." "Dewa Bathara!"

"Laskar selalu berbuat semau-maunya dalam keadaan begini. Akibatnya, kawula mengungsi, mencari tempat yang lebih aman."

"Mereka sering kemari?" "Hampir setiap hari. Dan kau tahu aku tak punya apa- apa lagi sekarang. Habis dirampok kecuali gubuk ini."

"Istri dan anakmu?" "Tentu "

"Jagat Bathara!"

"Sudra tak pernah mampu membela dirinya sendiri.

Apalagi miliknya."

"Keterlaluan!" Andita mengerutkan gigi. "Tak ada yang patut diherankan, Tuan."

"Kau ingin memperoleh kembali milikmu? Hakmu?"

"Untuk mempercepat kematianku?" Mali menjawab tenang.

"Kau akan hidup terus bersamaku. Dan kau akan memperoleh kembali apa yang hilang dari tanganmu."

"Sudra tak berdaya." Suara Mali lemah disertai gelengan.

"Seorang sudra memang tak berarti bagi prajurit. Tapi seratus sudra bukan tandingan seorang prajurit Raditya."

"Tuan jangan main-main. Adipati Agung tidak mampu.

Blambangan pun diam."

"Mari ikut aku! Kupertemukan kau dengan pemimpinku yang akan sanggup menghancurkan Raditya."

"Sungguh?" Mali tersentak. Matanya bernyala kembali. "Percayalah padaku, Mali. Tapi di hadapannya kau

boleh cerita segala, kecuali Sulih. Sementara biarkan dia mengerti sendiri."

"Baik. Aku ikut." Keduanya mengemasi barang-barang yang perlu dibawa Mali. Dan Mali tak tahu ke mana harus pergi. Pokoknya mengikut saja tiap langkah Andita. Bila orang itu sedang menyelinap di antara pepohonan, maka ia juga menyelinap. Bila Andita mengendap-endap ia juga ikut mengendap-endap. Jika Andita mengajaknya berlari ia ikut berlari. Dan betapa terkejutnya Mali kala dibawa masuk hutan sebelah timur Lumajang, karena di situ ia melihat banyak kemah yang terbuat dari dedaunan. Dan bertiang bambu. Lebih kaget lagi ketika melihat banyak laskar di situ.

Namun tak sempat ia bertanya ini-itu, segera dibawa masuk ke kemah Wilis. Wilis tersenyum menyambut mereka.

"Dirgahayu, Paman. Siapa dia?"

"Dirgahayu, Pangeran. Ini sahabat hamba, Mali." Kemudian pada Mali ia berkata, "Ini adalah pemimpin kami."

Mali tak habis mengerti. Bagaimana seorang perwira andalan Lumajang menyebut seorang pemuda sebagai pemimpinnya. Mungkinkah pemuda ini mampu menyingkirkan Andita? Tapi dengan hormat ia melihat Andita melaporkan semua hasil penyelidikannya.

"Jadi nasib sang Adipati belum diketahui?" "Belum."

"Baik, perintahkan pada Mali istirahat. Beri ia makanan! Aku belum memerlukannya sekarang."

Sore harinya, barulah Mali dipanggil oleh Wilis. Entah apa sebabnya ia berdebar. Ah, tak sepantasnya aku berdebar, kata Mali dalam hati. "Maafkan aku," Wilis memulai setelah Mali duduk. "Tentunya Bapa sudah diberi tahu tentang siapa aku, bukan? Nah, sekarang aku memerlukan bantuanmu. Bersedia?"

"Bersedia, Pimpinan."

"Terima kasih, Mali. Pertama, pandanglah aku sebagaimana sudra lainnya."

"Pimpinan tentunya adalah seorang yang dihargakan, di samping dipercaya."

"Baik. Tapi itu bukan permintaanku. Sekarang, apa yang kamu ketahui tentang desa Gending?"

"Sekarang menjadi desa kosong. Sejak tiga tahun lalu tak ditinggali oleh penghuninya. Demikian pun sekitarnya."

"Sudah musnahkah rumah-rumah di sana?" "Sebagian besar telah dilanda api." "Mungkinkah kami bersembunyi di sana?"

"Prajurit Raditya tak mungkin meronda tempat tanpa penghuni."

"Baik sekali! Sekarang apakah sang Adipati berada di Semeru?"

"Tak dapat hamba pastikan. Tapi memang sering ada pasukan yang menyerbu kedudukan Raditya dari arah Semeru. Namun tak jarang dari arah selatan."

"Tahukah kau siapa yang salah di antara mereka?" "Ampun, Pimpinan. Hamba tak tahu semua itu.”

Wilis mengangguk-angguk. Entah setelah anggukan keberapa ia berhenti dan memandang Mali lagi. "Bagus. Kau boleh pergi. Tolong, panggil Paman Andita kemari!"

Hati Wilis tak sabar menunggu masuknya Andita ke dalam kemahnya. Walau sebenarnya cuma selang beberapa saat saja dengan perginya Mali.

"Kita harus segera pindah ke Gending, Paman," ujarnya.

"Ya. Karena besok malam bantuan dari Tuan Baswi datang," Andita mengingatkan pula.

"Setelahnya kita harus mencari makan sendiri. Sebab jarak Raung—Lumajang cukup jauh. Kurasa kita akan agak lama di sini."

"Hamba setuju, Pimpinan."

"Jika demikian, aturlah! Kita akan bergerak nanti malam. Dan pesankan, jangan meninggalkan bekas sedikit pun di sini."

"Hamba."

Wilis juga menyiapkan diri. Menyiapkan kudanya. Dan keheranan Mali kian bertambah, waktu kegelapan turun, seratus ekor kuda tiba-tiba telah tersedia. Ditambah beberapa ekor kuda beban. Di mana tadi menyimpan kuda sebanyak itu. Ah, mereka begitu rapi. Sebelum ia banyak pikir, Andita membawa seekor kuda beban untuknya.

"Naiklah! Kita segera berangkat!"

Mali berangkat bersama Wilis. Setelahnya menyusul yang lain dengan jumlah tiga-tiga, dalam jarak agak jauh. Sedang Andita bergerak paling akhir bersama dua orang prajuritnya. Mereka semua tegang dalam kehati-hatian. Bergerak tanpa sinar apa pun. Kendati malam gulita karena awan tebal, mereka tetap dilarang menyalakan obor.

"Bayang-bayang pun tak nampak," desis Mali.

"Biar saja!" tukas Wilis. "Kudamu telah terbiasa. Dan kau juga akan terbiasa. Sedikit saja penerangan dari kita, pasti mengundang celaka."

Lamban memang perjalanan mereka. Namun sampai juga di desa Gending. Untung bagi Mali karena ia terbiasa melintasi hutan di malam hari ketika masih suka berburu harimau dulu. Jadi ia masih juga mampu menjadi penunjuk jalan waktu mereka sudah memasuki desa Gending.

Dalam kegelapan mereka menurunkan beban masing- masing. Juga perbekalan yang diangkut kuda-kuda beban. Malam itu juga tiap tiga orang ditempatkan dalam satu rumah. Dan malam itu mereka diperkenankan istirahat sepenuh-penuhnya. Sebab sudah dapat dipastikan bahwa laskar Raditya maupun lawannya pastilah belum mengetahui kehadiran mereka di Gending.

"Hutan di sekitar sini banyak rusanya," Mali memberi keterangan.

"Menyenangkan sekali! Kita akan memahirkan ilmu memanah atau melempar dengan tombak. Dan jangan sekali-kali menggunakan bedil!"

Andita mengiakan dan meneruskan perintah itu pada prajuritnya. Ia juga mengiakan bahwa kini saatnya Wilis yang masuk kota. Di samping Wilis, Andita masih mengirim beberapa orang lagi untuk mencari tahu di mana kekuatan senjata Raditya berpusat. Ada juga yang ditugaskan mencari tahu di mana anak dan istri Mali berada.

Wilis bergerak tanpa pengawal. Ia juga tak membawa senjata kecuali sebilah pisau. Kini ia melihat kenyataan. Apa yang dilaporkan Andita bukan cuma dongeng.

Lumajang porak-poranda. Tak layak lagi disebut kota kadipaten. Dari utara timur ia menuju ke barat melewati sebuah pasar. Pasar yang sama sekali tidak bisa dikatakan ramai. Pertanda bahwa perdagangan macet. Kawula hidup dalam kemiskinan yang amat sangat.

Kala melewati sebuah gardu penjagaan ia dihentikan.

Ia sadar bahwa telah melintasi wilayah Raditya. "Dari mana?" seorang penjaga mendekat.

"Dari Blambangan. Hamba hendak mencari kayu manis dan madu," jawab Wilis tenang.

"Dilarang masuk tanpa izin pemimpin tertinggi kami." "Hamba tak bisa menghadap beliau untuk mengurus

perizinan. Beliau terlalu sibuk." Wilis makin mendekat.

Dalam gardu itu ada empat orang yang menyanding senjata panah, tombak, dan pedang.

"Di daerah ini ada perang. Apa kau belum dengar, Anak muda?" tanya pemimpin mereka dengan suara serak. "Tak seorang asing pun boleh masuk."

"Walau dengan emas dan perak?" Wilis tersenyum sambil terus mendekat. "Bukankah dengan emas dan perak ini Tuan akan dapat bersenang-senang?"

Benda yang berkilau karena tertimpa mentari dan kini berada di tangan Wilis itu membuat hati mereka ragu- ragu. Melihat itu Wilis segera mempermainkan emas di tangannya dengan melempar-lempar sedikit ke atas. Mata bengis para penjaga kian pudar. Senyuman berkembang di bibir mereka. Pemimpinnya mendekat pada Wilis. "Lima keping cukup?" Wilis mendahului.

"Tambah lagi!" seru kepala pengawal. "Ini uang Blambangan Tuan. Bukankah uang Lumajang lebih rendah nilainya?"

"Dua lagi, kau boleh masuk."

"Baiklah!" Wilis mengulurkan tangannya. Setelah itu cepat ia meninggalkan gardu penjagaan. Terus masuk daerah kekuasaan Raditya. Ia mengumpat kecil dalam hati tanpa menoleh-noleh lagi.

Ternyata daerah Raditya pun tak lebih ramai. Kedai juga tak banyak dibuka orang. Di salah satu pasar ia masuk lagi. Semua mata memperhatikannya. Laki ataupun wanita. Ia tersenyum pada semuanya.

Kemudian menanyakan kayu manis dan kepada lainnya ia menanyakan madu.

"Oh... Tuan belum dengar?" seorang wanita balik bertanya.

"Tentang apa?"

"Madu, kayu manis, dan sarang burung?" "Belum." Wilis ingin tahu.

"Kawula dilarang memperdagangkannya." "Lantas, siapa yang boleh?"

"Orang-orang tertentu yang mendapat izin dari Gusti Patih. Kami tidak bisa."

"Gusti Patih? Siapa itu?" "Gusti Bagus Wangke." "O..." Wilis mengangguk-angguk. Kemudian diam sebentar.

"Kulihat juga tak ada kulit macan?" lanjutnya. "Sekarang tak ada yang menangkap macan lagi,"

jawab wanita itu. "Tuan baru datang dari mana?" "Blambangan."

"Mari singgah dulu."

"Terima kasih. Lain kali saja, karena aku masih akan mencari kebutuhan lain."

Wilis segera membalikkan badan. Wanita itu ternganga. Seperti tersadar dari mimpi. Sementara itu terdengar suara tawa wanita lainnya. Cekikikan. Dan Wilis mengerti apa yang mereka tertawakan. Walau tidak lama ia berada di pasar itu, ia cukup tahu bahwa tak ada wanita muda yang pergi belanja ataupun berjualan.

Memang perempuan-perempuan muda takut keluar rumah. Sebab tak kurang-kurang dari mereka yang menjadi umpan atau sasaran nafsu kebinatangan laskar Raditya. Kemudian Wilis menyusur terus untuk melihat kekuatan laskar Raditya. Kala mentari condong ke barat ia kembali ke Gending untuk melapor hasil penyelidikannya.

"Kawula Lumajang sekarang tak punya hak atas tanaman mereka sendiri. Karena itu, walau mereka menanam, mereka selalu lapar. Jika ingin kenyang maka mereka harus mencuri. Mencuri milik mereka sendiri.

Dan kalau ketahuan, maka aniaya adalah ganjaran yang harus mereka terima."

"Jagat Dewa!" Andita menyebut. "Seperti tidak masuk akal." "Seorang petani bercerita, ia harus menyerahkan separuh dari hasil panennya sebagai pajak."

"Jagat Bathara!" Andita lebih ngeri.

"Tapi mereka tak berani berbuat apa-apa. Bahkan memberitakan pengalaman mereka itu pun tak berani. Sebab jika sampai terdengar laskar Raditya, maka akan berarti siksaan bagi seluruh keluarganya juga. Jadi sekarang yang harus mereka kerjakan tak lebih dari mengucap syukur. Ya bersyukur atas aniaya itu."

"Lumajang jauh lebih jelek dari Blambangan," keluh Andita.

"Kita harus segera turun tangan. Jika tidak, maka kawula akan kian menderita. Blambangan belum mungkin turun tangan segera," Wilis mengulas lagi. "Kalau perlu maka kita akan gunakan kekerasan."

"Jika kita sudah berani berbuat seperti itu, maka kita harus siap pula menghadapi Blambangan."

"Bukankah kita memang sudah siap?"

"Tunggu dulu. Jika sejauh itu, maka perlu berunding dengan Tuan Baswi."

Wilis menghela napas panjang. Kali ini pun ia harus menerima nasihat Andita.

Keesokan harinya Wilis pergi lagi. Menyusuri desa- desa setengah bebas. Jauh dari kekuasaan Raditya. Meskipun kata beberapa orang yang ditanyainya sering juga dironda. Tapi mereka tidak berani menduduki karena di daerah itu laskar Adipati Agung sering mendapat kemenangan.

Sore harinya Wilis tak pulang. Sampai mentari benar- benar lenyap, Wilis tetap tak muncul. Andita menjadi resah. Bahkan esok pagi dan sore juga belum muncul. Hari ketiga pun Wilis tidak ia temukan. Karena itu Andita menahan orang-orang yang mengirimkan perbekalan dari Raung, untuk menambah kekuatan mereka. Sementara itu anak buahnya sendiri masih dikerahkan untuk mencari Wilis.

0oo0

Desa Pasirihan sudah ia lalui. Desa itu kini menjadi lebih ramai dari kota Lumajang sendiri. Kalau boleh ia akan berkata bahwa Lumajang telah berpindah ke Pasirihan. Walau desa itu kecil saja. Kedai-kedai lebih ramai dibanding Lumajang yang saat ini dikuasai Raditya. Dari situ Wilis tahu bahwa di sebelah selatan Pasirihan masih ada dua desa lagi. Terpencil di pantai selatan.

Seperti ada yang melambaikan tangan saja, ia meringankan langkah ke sana. Tapi sebelum sampai di desa itu, suara deburan ombak laut kidul lebih membuatnya terpesona. Semakin dekat, semakin dahsyat.

"Dewa Bathara! Tiada manusia yang mampu menyamai kekuasaan Hyang Maha Dewa," de-.sisnya.

Wilis menghentikan gerakan kakinya. Ia pandang laut kidul yang luas membiru. Pesona mengajaknya duduk di atas sebuah batu karang. Sejauh mata memandang, biru. Indah tapi menakutkan. Gulung-gemulung ombak sebesar-besar gunung menghantam tebing karang. Ah... belum pernah ia melihat panorama yang begini.

Kemudian perhatiannya tertuju pada dua buah batu karang di lepas pantai. Muncul-muncul tiada. Seperti dua manusia yang sedang bercanda dalam air. Terkadang nampak buih putih memuncrat ke atas. Karena dua batu karang itu tak mau menyelam waktu ombak datang. Keduanya seperti bergandengan tangan menantang. Sekali lagi Wilis menyebut dalam hati.

Betapa kokohnya karang itu. Adakah manusia sekokoh itu? tanyanya dalam hati. Tak takut ombak yang gulung-gemulung? Ah... begitulah seharusnya hidup. Tak boleh surut dari ombak dan gelombang kesukaran. Jagat Dewa! Karang yang kecil itu lebih kokoh dari ombak.

Panorama membuatnya lupa segala. Pengamatannya tak ia gunakan untuk memperhatikan angin laut yang mempermainkan rambutnya sehingga berjuntai-juntai seperti selendang seorang gadis menari gandrung.

Matanya tetap menatap jauh. Ke cakrawala. Pertemuan air dan langit. Juga tak diperhatikannya kehadiran seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dari belakang.

"Om Awighnam Astu, Jagat Dewa ya Jagat Pramudita!" akhirnya orang itu bersuara.

Wilis terkejut. Cepat ia membalikkan badan. Matanya menangkap seorang brahmana berjubah kuning, bertongkat kayu hitam. Sehitam kulit brahmana itu sendiri. Ia menyesal atas kelengahannya. Namun segera berdiri untuk memberikan penghormatan.

"Siapa kau, Anak muda?"

"Wilis. Dengan siapa hamba berhadapan?"

"Jagat Pramudita. Kau belum mengenal aku. Tentunya kau bukan anak sini."

"Hamba seorang pedagang dari Blambangan." "Baik. Aku Resi Nir Wulung." Orang itu melindaskan

pandangannya pada Wilis. Namun mata pemuda itu tak menunduk. "Untuk apa kau di sini?" "Untuk melihat kekuasaan Hyang Maha Dewa," Wilis menjawab sekenanya.

"Kau tak cukup membaca Weda? Bukankah di sana sudah disebut kekuasaan Hyang Maha Dewa itu?"

"Tak ada hak dan kemampuan hamba membaca Weda."

Serentetan kekaguman berbaris di hati Nir Wulung.

Cara bicara dan pandang mata Wilis menarik hatinya. Ia tahu orang seperti ini sedikitnya pasti pernah belajar yoga semadi".

"Wilis, mari singgah di pondokku. Di sana kita bisa berbincang banyak. Bukankah tak mungkin kau kembali ke Lateng sekarang? Hari hampir gelap."

Tanpa pikir panjang Wilis menerima tawaran itu. Ini penting untuk penyelidikan lebih lanjut, pikirnya. Ia kemudian berjalan di belakang Nir Wulung, membuatnya leluasa mengawasi resi itu. Ternyata orang itu cacat sebelah kakinya. Membuat gerakannya menjadi lamban dengan kepala sedikit bergoyang ke bawah. Kakinya kecil sebelah. Tubuhnya pendek, agak kekar. Giginya menonjol keluar dan besar-besar berwarna agak kuning. Bagi Wilis tidak berkesan sama sekali jika orang yang berwajah seperti itu adalah brahmana.

Walaupun demikian kaki itu tak menyulitkan Nir Wulung untuk menaiki tebing-tebing terjal. Bahkan melampaui batu-batu karang yang cukup berbahaya. Ah... kaki timpang itu tak menimbulkan kekurangan bagi hidupnya.

Ketika mentari hampir tenggelam di perut bumi sampailah mereka di sebuah perkampungan kecil. Rumahnya berjumlah kira-kira dua belas saja. Semua berpagar bambu. Wilis menduga pastilah itu rumah- rumah baru. Di sebuah pekarangan, yang letaknya paling tengah di antara rumah-rumah itu mereka berbelok.

Seorang wanita nampak sedang memasukkan kayu bakar ke bagian belakang rumah itu.

"Di sini kami berempat. Mari... masuk." Resi itu menyilakan.

"Terima kasih, Yang Suci. Oh... siapa dia?" terloncat dari bibir Wilis. Setelah sadar dia menjadi agak malu.

Barangkali itu istri brahmana ini, atau mungkin siapa.

"Oh... yang tadi memasukkan kayu?" Mereka terus masuk. "Dia cucuku," Nir Wulung menerangkan. "Satiari."

Rumah itu beratap ilalang, berdinding dan tiang bambu. Tidak layak untuk tempat tinggal brahmana. Walau ukurannya lebih besar dari rumah sudra. Mereka kemudian duduk di balai-balai.

"Ya... Lumajang ada perang. Jadi tempat ini mungkin lebih tentram untuk kami." Nir Wulung rupanya mengerti apa yang sedang dipikirkan Wilis. Ia sendiri memang berpikir tempat itu tidak layak untuknya.

"Dengan kata lain perang tak pernah sampai kemari?" Wilis mulai memancing.

"Perang ada di mana-mana." Nir Wulung merasa berat menjawab. "Kedua belah prajurit sampai ke setiap penjuru Lumajang." Nir Wulung memandang Wilis tajam- tajam. "Api memang belum sampai ke Kelapa Sawit ini."

Kelapa Sawit? ulang Wilis dalam hati. Namun ia tahu Nir Wulung mulai curiga. Karena itu ia mengalihkan pertanyaan pada madu atau barang-barang dagangan. Tapi jawaban Resi sangat mengejutkan Wilis. "Perdagangan selalu membuat dunia ini tak mampu mempertahankan nilai-nilai kejujuran bagi manusia. Uang dan emas membuat orang lupa segala. Lupa Yoga, Yama, dan Gama. Sedang aku seorang brahmana.

Karena itu tak pernah punya sangkut paut dengan perdagangan."

"Brahmana tak membutuhkan uang?"

"Brahmana membutuhkan pengetahuan, ketenangan, dan kesucian."

"Jagat Bathara!" Wilis menyebut. "Jika soalnya ketidakjujuran, maka itu bukan karena pedagang. Tapi karena hati manusia. Ketidakjujuran bisa diperbuat oleh siapa saja, tergantung kepentingannya."

"Hampir semua ketidakjujuran bersumber pada uang." "Maaf, Yang Suci. Uang dibutuhkan semua. Manusia

tidak cukup hidup dengan cuma ditemani Kitab Suci. Manusia membutuhkan nasi, uang, dan Kitab Suci."

"Jagat Pramudita! Pengetahuan apa itu, Wilis?" "Pengetahuan hidup. Kehidupan adalah kenyataan

yang tidak pernah dapat dibantah oleh siapa pun."

"Begitukah pengetahuan kaum pedagang? Begitu yakin dengan hanya kenyataan semata? Kau tak pernah mengenal jagat Nirwana. Sebab itu hanya bisa dilihat oleh seseorang yang telah matang semadinya."

Wilis terdiam untuk beberapa bentar. Resi ini belum belajar sepenuhnya. Ah... kasian. Namun kala ia akan menjawab, seseorang berdiri di ambang pintu. Ketika itu kegelapan telah benar-benar menguasai ruangan. Wilis menoleh ke arah pintu. "Silakan, Angger," Resi berkata dengan tanpa beringsut.

"Dia pedagang muda dari Lateng." Nir Wulung memperkenalkan tamunya. Kemudian orang baru itu duduk di sebelah Nir Wulung. Sementara itu seorang gadis memasang pelita setelah memberi hormat pada orang yang duduk di sebelah Nir Wulung. Juga ibu anak itu. Dalam hati Wilis menyebut, betapa cantiknya kedua wanita itu. Ah... wanita tanpa cacat. Sampai beberapa kali ia ternganga karena pesona.

Dalam keremangan sinar pelita Wilis melihat betapa putih bersih kulit kedua wanita itu. Tidak seperti kulit wanita Lumajang atau Blambangan. Hidungnya mancung dan matanya agak biru. Ah... ini putri anugerah dewa- dewa! Bahasa Blambangannya lancar sekali.

"Sejak tadi ada tamu dari Blambangan. Sudahkah kalian kenal?"

"Ampunkan kami, Kanda. Terlalu sibuk di belakang." Sehabis ucapan itu mereka menghormat Wilis. Seperti layaknya wanita Hindu lainnya menghormat lelaki. Wilis tak habis-habis memuji kecantikan mereka dalam hati.

Dari pembicaraan selanjutnya Wilis tahu bahwa lelaki itu bernama Sita Pati, ayah Satiari. Dan kala malam telah larut Wilis dipersilakan istirahat di salah satu bilik. Namun ia tak mampu memejamkan matanya. Wajah Satiari mengganggu terus. Di samping itu pendengarannya menangkap semua suara.

Apalagi setelah ia mendengar suara orang membaca lontar. Sita Pati, istrinya, Satiari, dan Nir Wulung membaca berganti-ganti. Dan Nir Wulung lebih banyak memberikan petunjuk. Wilis benar-benar mengagumi suara mereka. Merdu. Namun bagi Wilis yang lebih banyak diperhatikan adalah isi lontar itu. Ia menjadi semakin tertarik ketika lontar itu menceritakan perjalanan utusan Blambangan, Sura Samodra. Ia adalah samodraksa Blambangan yang diutus berlayar ke Malaka oleh Sri Prabu Pati Udara. Blambangan mencoba membuka hubungan dengan Laksamana Alfonso d’Albuquerque sebagai perwakilan Portugis di Malaka.

Di bagian lain diceritakan kekecewaan Sri Maha Prabu Pati Udara terhadap sikap d’Albuquergue yang tidak bersahabat. Bantuan diberikannya dengan pamrih.

Sampai di sini Satiari berhenti. Wilis mengatur pernapasan. Kemudian terdengar suara Satiari lagi, "Yang ini sulit." Sita Pati juga menyuarakan keluhannya. Bahkan Nir Wulung pun mengeluh. "Mata hamba pun tak dapat melihat dengan jelas, Yang Mulia."

Wilis tersentak mendengar sebutan Yang Mulia.

Mendorongnya untuk bersikap lebih hati-hati.

"Baiklah, Yang Suci. Kita tutup dulu pelajaran ini." Suara Sita Pati lebih lirih dari tadi. Selanjutnya mereka berbisik-bisik dalam berbincang. Namun itu cukup menguak sunyi dan menjalar ke telinga Wilis.

"Ada rombongan bergerak ke desa Gending. Diduga membawa bahan makanan. Rupanya mereka dikawal oleh laskar yang berpakaian sudra."

"Dari mana?"

"Belum ada penyelidikan lanjutan. Untuk siapa dan dari mana sama sekali belum ada laporan."

"Apakah Lingsang Ireng belum tahu?" Satiari ikut berbisik. "Belum. Sebab ia bersama tiga puluh anak buahnya sedang menyerbu ke barat. Untuk sekadar mengganggu Raditya."

"Kalau begitu, kita harus segera berunding dengan para perwira kita," usul Satiari.

"Tamu kita?" tanya Nir Wulung.

"Biar diatur oleh Satiari. Kita akan kembali pagi-pagi benar."

Wilis gelisah dalam kamarnya. Ia tahu yang dimaksud adalah laskar Raung. Mereka menjauh. Sementara itu ia mendengar suara langkah mendekat biliknya. Tentu Satiari, pikirnya. Tapi menjauh lagi. Tentu pergi tidur. Ia berpikir harus segera pergi. Tapi tak mungkin tanpa alasan. Siapa tahu rumah-rumah di sekitar ini adalah barak-barak yang berisi laskar? Aku harus cari jalan.

Tiba-tiba hatinya tergoda untuk tahu isi lontar tadi. Ah... ada bagian yang tak terbaca. Siapa tahu aku bisa.

Keinginannya begitu keras. Dan semakin menarik tubuhnya untuk bangkit. Kemudian berjingkat ia mendekati kamar di mana tadi Satiari membaca lontar. Ternyata di ruangan depan. Dan gulungan lontar itu masih ada. Damar-damar pun belum dipadamkan.

Jantungnya berdebar. Berkali ia toleh pintu di mana Satiari tadi menghilang. Ah... ia mencoba duduk.

Tangannya gemetar membuka gulungan demi gulungan. Oh, gulungan pertama, kedua yang dibaca Satiari tadi.

Sampai pada gulungan yang kelima. Wilis tahu Satiari tidak salah baca.

Gulungan keenam yang tadi tak terbaca. Memang sudah buram sekali. Ia mencoba mengambil bubukan kapur yang tersedia dan menaburkannya di atas lontar itu. Ia mulai tersenyum-senyum. Namun seperti ada yang menyuruh, sebelum membaca ia menoleh lagi ke pintu. Dan... darahnya seperti tersibak. Satiari serta ibunya berdiri dengan tombak dan pedang terhunus. Wilis menenangkan hati sambil meletakkan kembali lontar yang dipegangnya. Kemudian senyum-senyum kecil yang dibuat-buat. Menggosok-gosok telapak tangan yang tidak gatal. Sebentar menunduk, sebentar senyum pada kedua orang itu.

"Hendak kau curi?" Suara Satiari bergetar.

Tiba-tiba Wilis ingin mempertemukan pandangnya.

Dalam keremangan sinar damar itu mata mereka bersuara Tapi Wilis tetap tersenyum.

"Aku bukan pencuri...," Wilis menjawab. "Hendak kau ambil itu?"

"Eh... ma... maaf, hanya ingin membaca."

"Lontar adalah bacaan brahmana!" Satiari melindas. "Ampuni hamba." Suara Wilis pelan tapi kini menjadi

mantap. "Itu memang benar zaman sebelum Ken Arok atau Sri Ranggah Rajasa Negara Sang Amurwa Bhumi. Sebelum itu bila ada sudra mengucap sepenggal saja kata-kata yang ada dalam Weda maka lidahnya akan dipotong. Dan bila mendengar brahmana membaca maka kupingnya akan dipotong. Bukankah sekarang lain adanya?"

Satiari terdiam. Juga ibunya. Wilis meneruskan, "Maha Dewa menganugerahkan indra yang sama bagi

manusia. Karenanya pengetahuan bukan hak brahmana semata. Tapi hak tiap orang yang memburu dan mengingininya." Mata Wilis kian lama kian menajam. Menembus dinding hati Satiari. Ia tertunduk. Dan, "Ibu...," keluhnya.

"Jika yang punya tak mengizinkan, sebaiknya aku pergi." Wilis mencoba keluar dari persoalan.

"Jangan coba-coba!" kini ibu Satiari yang bersuara. "Kami ingin tahu apakah kau benar mampu membaca atau hendak mencurinya. Jika kau tak mampu membaca maka kau pasti ingin mencuri!"

Wilis mengambil segulung. Dan membacanya persis Satiari tadi melagukannya "Jagat Dewa!" Satiari menyebut.

"Jangan yang itu! Kau meniru anakku membaca," Ibu Satiari mencegah. Tanpa menjawab Wilis mengambil gulungan yang tak terbaca tadi. Dan ia membaca:

Pupuh pertama menggambarkan penaklukan daerah- daerah timur termasuk Madura oleh Sultan Trenggono dari Demak. Sedang pupuh kedua menceritakan adanya penangkapan besar-besaran oleh Blambangan atas saudagar-saudagar dari Demak, Gersik di kota-kota Blambangan misalnya Wijenan, Lumajang, Sumberwangi, dan Keda-wung. Mereka dituduh melakukan pekerjaan ganda. Di samping dagang, mereka dituduh menjadi mata-mata Demak. Tuduhan lain ialah menghasut kawula Blambangan untuk masuk Islam.

Pupuh berikutnya ditulis oleh Dang Nir Arta. Antara lain mengungkapkan bahwa sebenarnya Demak semula adalah pangkalan laskar Cina, yang bertujuan untuk mengkoyak-koyak kebesaran Majapahit. Dan mereka berhasil menenggelamkan Nusantara tanpa mengerahkan laskarnya sendiri. Laksamana besar Cheng Ho atau Ma San Pao yang juga mendapat julukan Dampu Awang adalah penunjang masuknya Islam di Nusantara. Karena di balik itu Dampu Awang berkemauan keras agar Sri Maha Ratu Suhita mau mengakui kemaharajaan Cina. Diterangkan pula bahwa Nir Arta melarikan diri dari Majapahit ke Bali. Ia mendirikan sebuah pura dan kemudian meninggal di Gelgel. Puranya diberi nama pura Rambut Jiwi.

Pupuh ketujuh memuat tuduhan Sultan Treng-gono pada Blambangan sebagai melintasi perairan Gersik tanpa izin. Bahkan tuduhan lebih keras lagi, yaitu Blambangan dituduh akan merebut kembali bekas bandar Majapahit itu.

Pupuh selanjutnya menceritakan perjanjian keamanan bersama antara Blambangan dan Buleleng. Dan kedua negeri ini mendapatkan bantuan persenjataan dari Portugis di Malaka. Semula Aflonso d’Albuquerque memang setengah hati menyambut uluran persahabatan Blambangan itu. Tapi ia tidak suka pada Trenggono yang dianggap sebagai salah seorang penentang arus kehadiran Portugis di bumi timur. Dibuktikan dengan penyerangan yang gagal oleh Pangeran Sabrang Lor, kakak Trenggono.

Setelah itu Blambangan mengerahkan laskar lautnya secara besar-besaran di Selat Madura. Dan hampir lima puluh ribu laskar darat berjaga-jaga di Pasuruan.

Sementara itu Trenggono sudah mengumumkan perang. Dia berangkat dengan dibantu Cirebon serta adipati- adipati bawahannya. Artinya negara-negara jajahannya. Puluhan ribu laskar darat dan laut digerakkan ke timur.

Pupuh kesepuluh menyebutkan perang berakhir dengan kematian Trenggono di daerah Sapit Urang, Pasuruan. Laskar Demak cerai-berai, laskar lautnya yang kembali tak lebih dari separuh. Orang mencatat bahwa tahun itu adalah tahun seribu lima ratus empat puluh enam Masehi.

Pembacaan selesai. Satiari dan ibunya termangu- mangu. Sampai Wilis memberi tahu bahwa ia telah selesai. Keduanya tergagap. Satiari tersipu-sipu. Malu. Keduanya menyembah seperti layaknya pada seorang brahmana.

"Berdosalah hamba menerima penghormatan ini." Ia mengembalikan gulungan lontar dan minta izin istirahat.

0oo0

Kala pagi masih buta, Wilis sudah bangun untuk mengambil air. Ia cepat menemukan mata air di mana Satiari biasa mengambil air. Ketika tempat air yang tersedia semua sudah penuh Satiari serta ibunya terbangun. Wilis sudah menyiapkan kayu bakar di dekat dapur.

"Dewa Bathara! Itu bukan pekerjaan tamu, Kakang," suara Satiari lembut.

"Tidak apa-apa. Kali ini tamu yang ingin bersaudara," Wilis menjawab sambil memandang tiap lekuk tubuh Satiari. Pesona kian meradang.

"Matamu dapat melihat dalam gelap?" "Tidak, hanya mengira-ngira."

Kala Satiari menyiapkan makanan di dalam, mentari mulai menampakkan diri di ufuk timur. Tersenyum di balik perbukitan. Seolah menyenyumi Wilis. Hati mudamu mulai terpaut di sini. Tapi lihat! Laskarmu dimata-matai ayah Satiari! Wilis seperti tersadar dari mimpi. Sita Pati dan Nir Wulung pasti memerintahkan orang mematamatai laskarnya. Bahaya! Maka Wilis segera mengambil keputusan. Minta pamit.

"Bapa Resi akan menanyakan," Satiari berusaha mencegah.

"Hamba ada janji, harus sampai di Lateng hari ini.

Maklum perdagangan membutuhkan waktu cepat," Wilis menjawab sekenanya.

"Kalau begitu lain kali datang lagi! Bawakan oleh-oleh untuk Satiari!"

"Tentu."

Ingin Wilis berbincang lebih lama dengan gadis itu.

Namun keselamatan laskarnya yang terancam membuat ia kabur seperti awan terbang. Berlari ia masuk hutan.

Tak ia pedulikan kain celananya basah oleh embun yang hinggap di dedaunan atau rerumputan. Juga bunga- bunga rumput yang bertempelan di kakinya. Semakin lama ia melintas, semakin dekat ia dengan desa Gending. Semakin cepat larinya. Seolah ingin terbang.

Apalagi di daerah yang sudah ia hafal betul.

Andita bernapas lega kala melihat Wilis berlari mendatanginya. Ia peluk Pangeran dengan penuh kasih sayang. Seperti pada adiknya sendiri.

"Dari mana saja? Kami kebingungan mencari Pimpinan," Andita mengutarakan kecemasannya.

"Nanti aku akan memberikan laporan. Sekarang kita harus pindah dari tempat ini!" Wilis langsung menjatuhkan perintah sambil mengatur pernapasannya yang masih memburu.

"Ada apa?" "Jangan tanya dulu. Mana gua yang pernah Paman ceritakan dulu itu? Kita dalam keadaan bahaya!"

"Mali!" teriak Andita. Yang dipanggil tergopoh-gopoh. "Tunjukan Gua Singa!" kemudian pada Wilis.

"Kita harus hati-hati, Pimpinan."

"Tambahkan regu pengamat, supaya kita bisa bergerak lebih leluasa."

Andita memanggil kepala-kepala regu untuk mendengar Wilis menjatuhkan perintah sebelum mereka berangkat. Kepindahan ini membuat hati mereka menjadi lebih tegang. Karena jumlah mereka bertambah banyak dengan tambahan dari Raung yang mengawal perbekalan dan ditahan oleh Andita. Namun mereka bergerak dengan sangat hati-hati dan cermat sekali.

Tidak setitik pun bekas mereka tinggalkan. Untuk menyulitkan pelacakan yang pasti akan dilakukan oleh laskar Sita Pati.

Sesampai di gua yang dituju, dengan sangat cekatan Wilis memeriksa keadaannya. Bahkan hutan-hutan di sekitarnya pun ia periksa bersama Andita. Setelah ia merasa aman barulah ia perintahkan anak buahnya membongkar perbekalan. Dan langsung menyembunyikan perbekalan mereka. Semuanya juga dikerjakan dengan rapi di bawah pengawasan langsung Andita dan Wilis.

Setelah semuanya beres, barulah Wilis dan Andita berunding. Didahului oleh Andita yang melaporkan kedatangan bantuan dari Raung, kemudian Wilis melaporkan pertemuannya dengan Sita Pati. Dan laporan yang diterima Andita dari anak buahnya menyatakan bahwa Raditya banyak menerima bantuan dari laskar laut Blambangan yang membelot. Yang sudah menjelma menjadi perompak. Karena itu Raditya mempunyai cukup banyak cetbang.

"Dua ratus belum cukup mengimbangi kekuatan Raditya," desis Wilis. Andita diam. Namun beberapa bentar ia bertanya,

"Sudah siapkah Pimpinan bekerja untuk Blambangan?"

Wilis kaget. Namun kemudian ia merenungi pertanyaan Andita itu. Pertanyaan yang tepat. Munculnya Wilis di Lumajang akan menarik perhatian para pembesar Blambangan. Dan bukankah Blambangan sedang dalam kemelut? Kenapa ia tidak bertindak untuk menghapus kemelut negerinya sendiri? Menolong Lumajang baginya merupakan pekerjaan berat. Dan kemudian ternyata pekerjaan berat satu menyusul pekerjaan berat lainnya. Blambangan sekarang dalam cengkeraman Mengwi. Sanggupkah ia melawan?

Dengan laskar laut yang compang-camping? Tidak mungkin. Ah, ia menerima warisan dengan beban yang gunung-gemunung. Blambangan memang sedang ringkih!

Tapi bukankah ia harus menjadi patih? Kepala pemerintahan di Blambangan? Ia sadar orang yang ingin besar harus berhadapan dengan soal-soal yang besar pula. Namun di pihak lain sudut hatinya mulai terukir sebuah gambar kembang.

Kembang Lumajang. Memang hati Wilis sedang bergelut.—Bunga dan bumi. Sehingga, ia tak memperhatikan Andita yang masih di depannya.

"Hamba curiga, apakah Sita Pati itu bukan Adipati Agung? Andita tiba-tiba memudarkan lamunan Wilis. "Ya... ya... aku juga. Tapi aku memikirkan pertanyaanmu tadi. Siapkah aku bekerja untuk Blambangan."

"Kita sudah mulai bekerja untuk Blambangan.

Membebaskan Lumajang ini tentu bukan kepentingan Raung. Tapi Blambangan."

"Ah... benar juga. Aku sudah melangkah. Baiklah kita temui Sita Pati sekarang."

"Ya. Hamba ingin sekali bertemu beliau."

Andita memerintahkan seseorang menyiapkan kuda mereka. Di samping itu juga satu kuda beban yang membawa beberapa bungkus bahan makanan.

Sementara kepemimpinan diserahkan kepada Carang Kuning. Dan Mali tetap bertugas sebagai pembantunya.

Kuda mereka berlari kencang melewati sebelah timur kota dan terus menuju ke selatan.

"Tapi ada yang aneh, Paman. Jika Sita Pati memang Adipati Agung, kenapa ia punya seorang putri? Jika ia berputra setelah pulang dari Blambangan dulu tentunya tidak sebesar itu? Ini semua meragukan."

Keraguan Wilis menyulitkan Andita. Namun dalam hatinya Andita tersenyum. Mali menepati janjinya. Tak pernah bercerita tentang Ayu Sulik pada Wilis. Dengan tanpa membalas pertanyaan Wilis Andita memancing Wilis untuk berbicara hal lain,

"Perjalanan ini amat berbahaya. Karena kedua pihak bisa mencurigai kita. Karena itu kita sebisa mungkin menghindari laskar kedua belah pihak."

"Kalau begitu kita harus menerobos hutan yang sulit." "Lebih baik menempuh itu daripada harus tertangkap sebelum bersua Sita Pati."

"Kita harus berbelok ke kiri. Kita akan melewati Pasirihan."

"Pasirihan?"

"Jalan lain tak dapat dilewati kuda. Sebab hutannya berair. Malah akan memperlambat saja."

Mereka berbelok pada suatu tikungan. Kuda mereka terpaksa beriring. Kuda Wilis paling depan, disusul kuda beban, baru Andita paling belakang. Makin lama makin sempit dan rumit. Andita kagum, Wilis dalam waktu singkat mampu menemukan jalan-jalan tembus yang mungkin bagi orang Lumajang sendiri tak pernah dilaluinya. Hutan lebat penuh dengan onak dan duri, serta pohon-pohon penjalin yang menjalar merupakan rintangan pokok. Jurang atau sungai kecil bukan merupakan rintangan bagi kuda mereka yang memang sudah terlatih itu.

Sementara itu Sita Pati telah tiba kembali di Kelapa Sawit. Segera ibu Satiari melaporkan keberangkatan Wilis. Sita Pati amat terkejut.

Maka ia menegur Satiari. Namun gadis itu menjawab bahwa ia tak mampu menahannya. Sita Pati menyesal sekali karena tak bisa menahan Wilis. Sebab dalam hati ia curiga apakah anak muda itu bukan teliknya Raditya?

"Ia juga mampu membaca lontar," ibu Satiari menambah keterangannya. "Bahkan yang tak terbaca oleh kita pun ia mampu membacanya."

"Wilis? Mampu membaca lontar? Siapa anak itu, he?" Sita Pati berkata pada diri sendiri. "Seorang telik biasanya selalu berbuat baik dan pastilah bukan orang pandir."

"Hyang Dewa Ratu, apakah ia prajurit?" Satiari terkejut begitu pula ibunya dan Nir Wulung.

"Memang belum pasti begitu. Tapi tak ada jeleknya kita berhati-hati."

Satiari menyesal membiarkan Wilis berlalu damai. Ia buta karena tertutup oleh kekaguman. Tanpa sadar ia keluar dari ruangan. Pikirannya beterbangan ke sana kemari. Kenapa ia tak bunuh saja pemuda itu semalam? Jika benar Wilis seorang telik maka bahaya mengancam ayah, ibu, dan dirinya sendiri.

Tiba-tiba dadanya berdesir. Dari kejauhan terdengar derap kuda. Ia tajamkan pendengarannya. Kian mendekat. Waktu ia masuk, terlihat olehnya seorang pengintai sedang melapor pada ayahnya.

"Dua orang?" tanya Sita Pati.

"Ya. Seorang berbadan gempal. Gagah. Seorang lagi masih muda, semampai, dan rambutnya terurai ke bawah pundak."

"Membawa senjata?" "Tak terlihat, Yang Mulia."

"Bersiaplah kau! Biarkan dua orang itu masuk! Aku akan memberikan aba-aba bila ternyata orang itu membahayakan."

Sementara Sita Pati menyiapkan senapannya, Wilis sudah memasuki halaman. Ia turun dari kudanya, sementara Andita tetap berjaga di atas kudanya sambil memegang kendali kuda beban. Satiari menyambut mereka. "Selamat siang, Satiari," sapa Wilis. "Aku datang."

Diam tanpa jawab. Matanya menatap tajam sambil berdiri kaku, seperti harimau betina yang hendak menerkam mangsanya. Wilis terkejut mendapat penyambutan semacam itu. Apalagi waktu Satiari menghunus kerisnya. Menyerbu. Tak memberi kesempatan pada Wilis untuk bicara dan bertimbang. Andita terkejut. Tapi Wilis memberi isyarat agar tetap tenang.

"Kau telik sandi!" Napas Satiari memburu.

"Jangan gegabah! Jangan menuduh tanpa bukti." Wilis tersentak.

Sita Pati memperhatikan dari ambang pintu. Wilis cuma menghindar. Beberapa saat kemudian matanya beradu dengan mata Andita. Kira-kira sepuluh saat lamanya, keduanya tercenung. Tapi Andita tersadar lebih dahulu. Ia kemudian berteriak,

"Yang Mulia..." sambil melompat turun dari kudanya. "Anditakah ini?" tanya Sita Pati.

"Inilah hamba...," Andita menyembah.

Satiari terpatri melihat itu. Apalagi waktu terdengar Wilis juga berteriak, "Pamankah itu?"

"Tak salah, Pangeran," Andita memberi tahu. "Jagat Dewa!" Wilis menyebut kemudian berlari

menyembah.

"Anakku... kau sudah dewasa?"

"Ampunkan hamba. Membiarkan Paman dalam kesulitan."

"Ah... kalian orang-orang gagah. Mari kita masuk!" Mereka masuk. Ibu Satiari dan Nir Wulung menyambut dengan penuh kekaguman. Dan Wilis segera menceritakan pengalamannya. Setelah itu Satiari dan ibunya menyembah.

"Inilah hamba, Pangeran."

"Panggil saja aku ’kakang’. Enak didengar," kata Wilis, "Berdirilah, Bibi."

Sita Pati mendapat giliran menceritakan pengalamannya,

"Ketika aku pulang dari Blambangan, semasa bertempur melawan Gajah Binarong, di perjalanan aku bersua dengan ribuan pengungsi. Mereka ketakutan." Sita Pati berhenti sebentar untuk menelan ludahnya. "Waktu laskarku lelah, aku beristirahat di rumah kepala desa Puger. Ternyata di desa itu juga banyak menampung pengungsi. Salah satu di antara mereka adalah istri Yang Mulia Samodraksa Siung Laut anumerta. Karena kepala Desa Puger takut kalau Gajah Binarong menang maka putri itu akan mendatangkan bencana bagi desanya, maka ia mempersembahkan putri itu padaku. Aku cuma berpikir, istri orang besar itu harus selamat. Wunga Sari dan Ayu Sulih kubawa ke istana.

Ketakutan kepala desa itu memang beralasan. Karena putri itu berkulit putih dan bermata biru. Ia seorang putri yang berasal dari negeri Atas Angin. Dan bersua dengan Laksamana Siung Laut waktu kapalnya terdampar di pantai selatan Blambangan." Sita Pati mengakhiri ceritanya.

Wilis segera mengajak berunding tentang pemulihan kekuasaan Adipati Agung. Ia tidak ingin kehilangan waktu hanya untuk sekadar melepas rindu. Sita Pati menyatakan dengan jujur bahwa saat ini laskarnya belum mampu mengalahkan kekuatan Raditya secara keseluruhan. Karena mereka kalah persenjataan.

Andita mendesak Wilis untuk menambah jumlah pasukan dan menggempur Raditya secara mendadak. Wilis menyetujui. Karena ia sudah siap pula bekerja untuk Blambangan.

"Nah, sekarang ini kita harus sadar akan pentingnya suatu peperangan. Kita tidak bisa mematahkan Raditya hanya dengan kata-kata." Wilis memandang Sita Pati dan Nir Wulung.

Untuk kesekian kalinya Andita dan Wilis berunding hanya dengan bahasa mata. Setelahnya Wilis menerangkan bahwa ia harus segera pulang untuk mengatur siasat. Dia akan memberi isyarat pada Sita Pati bila waktunya ia menyerbu Raditya.

"Kenapa harus tergesa pulang?"

"Karena Paman memata-matai laskarku," jawab Wilis tersenyum.

Sita Pati dan Nir Wulung terkejut. "Kau tahu itu?"

Wilis tertawa ramah. Dan katanya, "Biarlah itu berjalan terus. Dan biarlah mereka tetap tidak tahu kehadiranku di tempat ini. Lebih baik mereka mengira aku adalah pedagang madu."

Raditya telah menurunkan perintah pada seluruh laskarnya untuk bergerak menguasai seluruh kota Lumajang. Ia merasa pasti bahwa kekuatannya lebih unggul. Di samping itu perhitungan Bagus Wangke, orang yang menjadi tulang punggung Raditya selama ini, memang tepat. Seluruh Lumajang sudah tanpa pengawalan. Karena itu tidak akan ada perlawanan yang berarti. Lumajang sedang mengambang tanpa pemerintahan.

Kekuatan Lingsang Ireng, seorang perwira kepercayaan Sita Pati yang berada di sebelah barat kota dapat dipatahkan dengan mudah. Jumlah mereka terlalu kecil. Sedang penyerbuan Raditya itu di luar dugaan mereka.

Mentari masih tertutup bukit kala Raditya dan putra- putranya bersama Bagus Wangke melangkahkan kaki ke halaman istana. Ia ingin segera menikmati kemenangannya. Namun matanya redup melihat kenyataan bahwa sebenarnya sudah agak lama istana ditinggal oleh penghuninya. Rerumputan tumbuh dengan liar di beberapa bagian istana. Lebih mengecewakan lagi, dalam penyerbuan yang mendadak itu ia tak dapat menjumpai Sita Pati. Sehingga tak dapat merampas selirnya yang jelita atau putrinya. Jika bisa tentunya mereka akan menjadi istrinya bila ia sudah menjadi adipati.

"Keindahan istana harus segera dipulihkan, Wangke," gumamnya.

"Itu bukan soal, Yang Mulia. Tapi kemantapan keamanan harus diutamakan."

Raditya mengangguk. Mereka melangkah terus memasuki pendapa. Debu mengotori semua dan segala.

"Istana masih utuh!" Raditya girang. Giginya merah muncul di sela kedua bibirnya. Dadanya yang bidang dan dihiasi bulu-bulu itu mengembang.

"Aswina, kau kelak menjadi raja." Ia menoleh pada anaknya. "Kita harus lepas dari Blambangan yang sedang lemah ini. Mereka tidur. Dan takkan bangun selamanya."

"Hamba, Rama."

"Bagus Wangke akan tetap setia membantumu. Ia adalah seorang bijak, Aswina." "Hamba, Rama."

Sorai prajurit Raditya yang berjejal di depan istana tiada henti. Seluruhnya gembira. Mereka sudah menang. Bersamaan dengan itu mentari bangun dari tidurnya.

Menyinari mayapada. Juga senjata-senjata laskar Raditya memantulkan sinar mentari itu. Menyilaukan. Mengerikan.

Pemeriksaan sampai di tamansari. Sekali lagi kekecewaan merambati hati Raditya. Tamansari bukan hanya kosong melompong. Ia melihat rumput dan bunga berebut tinggi. Raditya tak berkata-kata. Menyimpan kekecewaannya. Mukanya muram.

Sorakan makin mengguruh kala mereka keluar selesai pemeriksaan. Di ketinggian yang telah disediakan Raditya melambaikan tangan. Tanda agar sorakan berhenti. Dia akan bicara.

"Kalian sudah menang. Tapi bukan berarti pekerjaan selesai. Sebab Adipati Agung belum mati. Dia akan datang kembali bersama laskar Blambangan. Tapi jangan takut. Blambangan sedang ringkih. Mereka takkan menang melawan kita." Ia berhenti sebentar. Sementara sorakan mengguruh lagi.

"Setelah seluruh istana dan kota dibersihkan," lanjut Raditya, "kalian boleh istirahat sambil berpesta-pora.

Dudukilah asrama-asrama yang kosong! Persiapkan pesta di sana! Pendek kata seluruh Lumajang harus merayakan kemenangan kita! Berpestalah tujuh hari tujuh malam!" Yang berbaris segera dibubarkan setelah Raditya turun dari mimbar. Semua mengarah ke asrama yang ditunjuk.

"Kuserahkan padamu, Wangke. Siapkan pesta besar di istana."

Wangke menyembah. Tapi dalam hati ia berkata, betapa bodohnya Raditya. Bukankah ini berarti mengundang kelengahan? Dan kelengahan berarti malapetaka? Kehendak Raditya memang tak mungkin terbantahkan. Karena itu ia segera membentuk pasukan khusus yang bertugas mengawal kota selama pesta berlangsung.

Sementara itu Wilis dan Andita terperanjat dalam gua, ketika mendengar laporan tentang penyerbuan Raditya. Apalagi setelah kota itu jatuh.

"Penjagaan diperketat di seluruh kota," kata pelapor. "Perondaan merangkap penjarahan ternak penduduk bergerak ke mana-mana. Kawula diharuskan menyumbang pesta kemenangan mereka."

"Jagat Dewa!" Wilis menyebut.

"Seluruh penari dikumpulkan. Yang teristimewa dan tercantik akan menari di istana. Dan dalam waktu dekat Bagus Wangke akan membentuk pratanda (kabinet) Dia akan menjadi patih Lumajang."

"Itu berarti mereka akan melepas diri dari Blambangan? Memunggungi leluhur mereka sendiri?" Andita tak sabar.

"Nampaknya begitu, Paman." ujar Wilis setelah pelapor tiada. "Karenanya pula, tak mungkin Raditya dibiarkan menjadi mantap. Kita perlu bantuan lagi dari Raung. Dua ratus orang belum cukup." Wilis sudah dalam tekad yang bulat. "Karena itu pergilah sendiri ke Raung. Kita juga perlu beberapa meriam untuk melawan cetbang Raditya. Barangkali kita membutuhkan cuma lima ratus orang saja untuk menjatuhkan Raditya yang sedang mabuk itu."

"Jika Tuan Baswi tidak keberatan, hamba akan mengerahkan seribu orang bersama beberapa meriam dan cetbang."

"Pergilah cepat. Dan mereka harus bergerak cepat agar jangan melampaui hari ketujuh. Aku percaya, sesudah hari itu, tentunya Wangke sudah mampu menyusun kekuasaannya."

"Hamba, Pangeran." Dan Andita sendiri pergi ke Raung untuk dapat meyakinkan Baswi dengan kawan- kawannya. Semula mereka memang keberatan tapi kemudian’mereka mempertimbangkan itu perlu untuk menaikkan Wilis ke pemerintahan Blambangan.

Sepeninggal Andita, Wilis memerintahkan te-liknya menyebar ke seluruh Lumajang. Seluruh perwira penting dibayangi. Apalagi Bagus Wangke. Maksud Wilis agar tak satu pun dari mereka mampu lolos waktu ia mengadakan penyerbuan nanti. Sedang ia sendiri dengan pakaian petani menyusup ke Kelapa Sawit.

Yang pertama menyambutnya adalah Satiari. "Kakang, oh... Kakang. Kau sudah dengar?" "Raditya mengangkat diri sebagai penguasa

Lumajang. Seluruh kota sudah diduduki. Mana Paman Sita Pati?"

"Masih mengadakan persidangan di Pasirihan." Mereka masuk. Ibu Satiari juga menyambutnya. "Kita terdesak terus. Tapi Resi akan mengadakan perundingan dengan Raditya. Kami akan menempuh jalan damai."

"Hamba tak percaya jalan itu akan berhasil. Raditya sudah menang. Karenanya emoh menggunakan kata- kata."

"Lalu bagaimana dengan kami?" Satiari bertanya. "Kita harus rebut dengan kekuatan. Bukan kata-kata." Beberapa waktu kemudian Sita Pati bersama Nir

Wulung datang. Dengan segera Wilis mengajaknya berunding. Nir Wulung, Wunga Sari, serta Satiari juga ikut berunding.

"Bagaimana, Paman?, Sudah matang?" "Belum. Kami sedang menyiapkan diri untuk

mengadakan perundingan."

"Itu menunjukkan ketidakmampuan laskar Paman.

Karenanya akau akan bertindak atas nama Blambangan."

Nir Wulung gugup mendengar itu.

"Pangeran akan mengerahkan laskar Blambangan?" tanyanya.

"Ya."

"Beri kesempatan kami menyelesaikannya." "Cukup lama kesempatan kalian sebelum ini. Tapi

kalian malah terdesak. Lumajang wilayah Blambangan. Tindakan Raditya adalah pembelotan. Maka hak Blambangan menjatuhkan hukuman atas Raditya."

"Kami sedang terpecah-pecah. Kami akan bertindak setelah kekuatan kami pulih," Sita Pati mengusulkan. "Kapan itu terjadi? Paman tidak bisa mengandalkan laskar Paman. Sebab ada kemungkinan mereka bekerja untuk kedua belah pihak. Karena itu Paman harus menghimpun juga kawula untuk melawan Raditya. Tapi itu membutuhkan waktu yang lama."

"Jagat Dewa! Nanda tidak percaya pada laskarku?" "Dalam keadaan terdesak mereka bisa ingkar dari

sumpahnya. Mereka adalah manusia yang membutuhkan pangkat dan uang."

"Tapi kawula adalah makhluk tak berdaya." "Lemah jika seorang dua. Bila seluruh Lumajang

bergabung mereka adalah raksasa, yang mampu menumbangkan Semeru sekalipun."

"Kodratnya mereka tidak disuruh berperang. Mereka diturunkan untuk mengabdi."

"Bila Paman berputar pada pikiran yang lapuk itu, maka Hamba tak tahu lagi jalan yang harus ditempuh. Paman tidak akan pernah melangkah."

Sita Pati terdiam. Suasana menjadi hening. Dan Satiari merasa betapa benarnya pendapat Wilis. Namun ia tak berani menyatakan. Perasaan kagum pada Wilis makin menjadi-jadi. Muda, tampan, dan mempunyai pikiran yang cerah.

Pada akhirnya Sita Pati pun mengakui betapa benarnya Wilis. Ia merasa bersalah karena ia tidak berpegang sebagaimana seharusnya satria bertindak. Berbelit pada timbang rasa. Kala Wilis minta diri maka ia tidak keberatan lagi jika Wilis memang akan mengerahkan laskarnya.

Hati Wilis menjadi kembang. Perjalanannya yang penuh bahaya itu tidak sia-sia. Satiari mengantarkannya sampai di batas desa. Dan pasti Wilis tidak akan dapat melupakan senyum gadis itu. Segala tingkahnya yang lincah menawan. Ah, adakah anak ini memberikan sambutan padaku? Kini aku sedang berjuang untuk mendapatkan kembali bumi Lumajang dari Raditya. Di samping itu aku juga ingin mendapat kembang Lumajang ini.

Satiari berhenti di batas desa. Namun suaranya, tawanya, serasa terus mengikuti perjalanannya.

Pesta-pora di seluruh Lumajang telah berjalan tiga hari tiga malam. Mali dengan selamat dapat menjumpai anaknya. Bapak dan anak saling berpelukan. Bertangis- tangisan.

"Kau telah hamil, Anakku?" "Ya, Bapa... ini bakal cucumu."

"Ya... apa pun dia adalah cucuku. Pokoknya kau selamat." Suara Mali hampir tak dapat keluar.

"Mari kita duduk dulu, Bapa. Aku senang kau bisa masuk kemari. Lagi pula kau sudah tidak sekurus dulu."

"Berkat Hyang Maha Dewa." "Di mana Emak?"

"Itulah yang hendak kucari. Aku yakin kau dibawa oleh suamimu. Tapi sampai kini emakmu belum lagi ketemu."

"Bapa suamiku tak pernah menyayangi aku. Ia selalu ingin aku melayaninya saja. Kemenangan ini membuat mereka semakin gila. Sekarang pun mereka sedang bermabuk-mabukan."

"Sudahlah, Anakku, nasi telah menjadi bubur. Tak perlu menyesali keadaan. Yang penting bagaimana caranya kau keluar dari penderitaanmu." Kala Aswina datang ia disembunyikan oleh anaknya. Namun menantu Mali itu pulang dengan mulut berbuih karena mabuk. Juga seluruh pengawalnya. Mabuk.

Keesokan harinya Mali didatangi oleh seorang telik Wilis untuk menyampaikan keadaan menantunya. Keraguan merayapi hatinya. Karena memang sampai hari itu ia belum melaksanakan perintah Wilis. Yaitu membawa keluar anaknya. Namun ia menyampaikan pula laporannya lewat telik yang dikirim Wilis. Setelah itu ia membulatkan tekad untuk berterus terang pada anaknya.

"Kau bahagia tinggal di sini?" pancingnya mula-mula. "Dalam neraka ini? Bagaimana bisa bahagia?" "Dengan kata lain kau mau kuajak keluar?"

"Ssstt, bicara apa kau, Bapa? Kau mampu membawa aku?"

"Asal kau mau. Dan rela tinggalkan ayah anak ini."

Perempuan muda itu ragu. Ia berpikir jika Aswina dapat menangkapnya kembali, pastilah siksaan akan ia terima. Bahkan mungkin bapanya bisa dibunuh.

"Kau masih cantik sekarang maka kau menjadi istrinya. Aku khawatir bila nanti sudah peot dan susumu sudah melorot, kau akan jadi budaknya. Lebih dari itu kau harus membesarkan anakmu, memberinya makan, tapi kau tak pernah memilikinya. Ia akan diambil ayahnya untuk menjadi prajurit. Aswina tetaplah perampok." Mali memberanikan diri.

"Bapa..."

"Demi Hyang Maha Dewa, kau harus menikmati kebahagiaan, Anakku. Kebebasan!" "Mungkinkah itu?"

"Segala sesuatu mungkin." "Bilakah itu?"

"Bila kau telah merelakan nyawa suamimu."

"Ia calon putra mahkota Lumajang. Siapa berani padanya?"

"Nanti akan ada yang berani. Hyang Maha Dewa telah menyediakan orangnya."

"Baiklah, Bapa... bila itu memang membahagiakan kita, aku menurut."

Hampir Mali melonjak. Tapi ia tahan. Ia cium anaknya.

Sekilas ia ingat perkataan Wilis beberapa waktu lalu. Mali, anakmu sedang mengandung. Tapi demi Blambangan, demi Hyang Maha Dewa, aku meminta nyawa menantumu. Dan Mali mengiakan di bawah mata Carang Kuning sebagai saksi. Setelah itu Wilis juga memberi tahu bahwa istrinya ada di asrama laskar Raditya yang pertama. Ia harus melayani seorang perwira tua yang bernama Tamak. Mali memandang Wilis dengan penuh kekaguman. Pemuda itu bicara seperti Dewa. Kemudian Wilis memerintahkannya masuk ke rumah Aswina dengan diatur oleh seorang telik. Dan setelah urusannya dengan anaknya beres, ia memberi tahu telik yang siap menunggu laporannya.

"Katakan aku menunggu perintah lanjutan dari Pimpinan."

"Baik, tunggu saja."

Hari kelima datang seorang kepala regu laskar Wilis.

Orang itu bernama Jalitang. Bersama regunya ia mendatangi rumah Aswina.

"Siapa kalian?" tanya kepala pengawal yang setengah mengantuk dan mabuk. "Kami adalah regu lima laskar ketiga," jawab Jalitang.

"Kami akan menggantikan kalian. Sambil terus menikmati pesta, kalian mendapat giliran istirahat."

Tanpa banyak bicara kepala pengawal itu mengajak anak buahnya pergi. Dan setelah mempelajari keadaan Jalitang memberi laporan pada Wilis bahwa penjagaan sudah di tangannya. Kepada Mali ia minta supaya segera meninggalkan tempat itu. Anak Mali yang tak mengerti apa-apa itu pun harus meninggalkan suaminya. Meski begitu air matanya sempat meleleh. Mali menghiburnya, "Berbahagialah kau bila anakmu tak sempat melihat ayahnya. Karena ia juga tak sempat melihat dosa- dosanya. Bukankah kau tak pernah mencintainya, Anakku?"

Wanita itu diam. Ia tak menyesali nasib suaminya yang sekarang sedang dicincang oleh laskar Wilis. Ia toh tak melihatnya sendiri. Yang ia tahu sekarang mengikut ayahnya. Kemana? Tentu ia tidak tahu.

0oo0

Laskar Raung dibariskan mengepung Lumajang. Malam itu mereka bergerak terus bagai rombongan serigala yang mencari mangsa di malam hari. Sedepa demi sedepa mereka merayap. Lumajang kian terkepung.

Setiap gardu penjagaan di batas kota telah berpindah ke tangan laskar Wilis dengan tanpa setetes pun menumpahkan darah. Semua dikerjakan cuma dengan kata-kata, "Kami menggantikan kalian, dan kalian diperintahkan istirahat."

Itu semua membuat tidak adanya laporan pada Bagus Wangke bahwa laskarnya telah terkepung. Dan memang sejauh itu Wangke belum mengerti keadaan. Kota masih terlalu sibuk dengan pesta-pora. Semua laskar menjadi tak terkendali. Ini membuatnya penasaran.

"Drubiksa! Di mana letak kewaspadaan kalian?" Ia berteriak kepada perwira yang sedang menari di antara wanita.

Sementara itu Wilis bergerak kian maju. Bahkan sudah memasuki kota. Sardola pun telah menghadapkan meriam-meriamnya ke perbentengan sebelah barat kota. Baswi dan Andita bangga melihat kecerdikan Wilis. Ia sendiri belum pernah memakai siasat seperti ini dalam berperang. Ternyata Baswi mengerahkan tidak kurang dari dua ribu laskar Raung. Seratus orang di antaranya adalah laskar wanita yang dipimpin langsung oleh Yistyani dan Jenean.

Oleh Wilis laskar Raung dibagi dalam beberapa sap.

Seperti gelombang di malam hari. Tenang, tiada sorakan, namun susul-semusul mereka telah mengepung tiap asrama laskar Raditya di seluruh bagian kota. Laskar yang mabuk itu tak sempat melakukan perlawanan yang berarti. Bahkan dengan tiada disadari oleh Bagus Wangke istana telah dalam kepungan.

Kepala Dinas Sandi Lumajang terkejut melihat keanehan di kotanya. Ia segera mengajak anak buahnya yang tidak mabuk untuk mengadakan pengamatan. Ia kian merasa keganjilan itu. Maka segera ia melapor pada Bagus Wangke.

"Apa katamu? Laskar lain bergerak?" "Ya, Yang Mulia," orang itu ketakutan. "Adipati Agung apa Blambangan?"

"Mu... mu... musuh." Orang itu gugup dibentak-bentak. "Dari mana?"

"Kurang jelas." Perwira itu merasa salah karena ketidaktelitiannya

"Goblookkk!" Wangke marah sambil melompat dari kursinya. "Pergi pada Pangeran Aswina!" perintahnya pada perwira itu.

Sepeninggal orang itu seorang utusan ia perintahkan memukul bende, tanda bahaya. Beberapa perwira yang belum mabuk ia panggil.

"Kalian semua telah menjadi gila! Bermabuk-mabukan semau-mau! Pertahankan kemenangan kita! Musuh telah masuk kota."

Semua orang menjadi sibuk mendengar suara bende bertalu-talu. Raditya sedang tak sadar waktu Wangke memasuki biliknya hendak memberikan laporan. Tidur dengan mulut ternganga. Giginya menonjol keluar. Dari mulut keluar busa. Bau arak memenuhi seluruh ruangan. Di sebelah Raditya tergolek seorang perempuan penari. Wangke membalikkan diri sambil mengumpat.

Kala ia ke pendapa berpapasan dengan seorang penari cantik yang dikawal oleh beberapa perwira mabuk. Darah Bagus mendidih. Ia cabut kerisnya, dengan garang ia menikam wanita itu. Jerit melengking disusul jatuhnya tubuh wanita itu ke lantai. Darahnya muncrat.

Salah seorang perwira pengawalnya menjadi marah melihat itu. Sambil menarik pedangnya ia mengumpat, "Gila!" Dengan terhuyung ia menerjang Wangke dengan membabatkan pedangnya. Bagus Wangke semakin marah. Ia menghindar, kemudian dengan tanpa ampun ia menusukkan kerisnya ke lambung perwiranya sendiri. "Pergilah ke neraka!!" Bau anyir keluar bersama muncratnya darah perwira itu. Sedang bau tuak keluar bersama muntahan dari mulut orang itu. Roboh dan mati.

"Siapa lagi?" teriak Wangke. Semua menjauh ketakutan. Obor segera menyala di setiap sudut kota. Namun pertempuran tidak imbang telah terjadi di mana- mana. Antara laskar mabuk dengan laskar Raung yang segar-bugar.

Orang-orang dalam benteng bingung. Mereka dengar suara bende memerintah siap tempur. Bahkan perintah menyerang juga sudah dibunyikan. Tapi keadaan terlalu gelap. Dan kawan-kawan mereka sendiri ada dalam kota. Tak mungkin mereka menembakkan cetbang.

Belum lagi mereka mendapat keputusan dalam bertimbang, sebuah dentuman meriam meruntuhkan sebagian dinding benteng sebelah utara. Disusul oleh dentuman lain dari selatan dan timur. Hiruk-pikuk terjadi. Yang mabuk tak mampu menghindar. Mati tertimbun puing dinding. Yang masih segar terpaksa melarikan diri melalui pintu sebelah barat. Tembakan meriam mereka rasakan begitu hebatnya. Bagai sambaran berlaksa halilintar. Tak memberi kesempatan pada mereka untuk memasang peluru cetbang. Itu sebabnya mereka memutuskan melarikan diri. Menyelamatkan jiwa masing- masing. Semua laskar Raditya akhirnya bingung dalam kepungan. Gerak mereka menyempit.

Ayam jantan telah berkokok. Bintang-bintang juga telah memucat. Semua laskar Raditya menjadi kian letih. Letih berpesta, letih berjaga, letih bertempur. Mereka tidak bisa bertempur di luar asrama. Karena sebagian besar sudah terkurung. Bagus Wangke menjadi kalap, kala mendengar dentuman meriam. Ia tahu bahwa musuhnya bukan Adipati Agung. Tapi Blambangan. Ia menyesal laskarnya belum sempat memiliki meriam. Ia belum sempat mendapatkannya. Karena Lumajang sejak dulu tak pernah dipersenjatai meriam oleh Blambangan.

Kini terdengar suara dari kejauhan di antara letusan bedil. "Raditya, kami dari Blambangan. Hanya ada dua pilihan. Menyerah atau mati!"

Bagus Wangke sadar, istana terkepung. Tapi yang membuatnya terkejut justru para pengawal istana sendiri. Mengarahkan laras senjata mereka ke istana. Melalui corong yang terbuat dari tanduk ia berteriak, "Lawan mereka!"

"Tidak!" jawab kepala pengawal. "Tugas kami adalah menjaga agar kalian tidak kabur! Bukan melawan pemimpin kami."

"Gila! Siapa pemimpin kalian?"

"Pangeran Wilis, putra Blambangan. Tuan telah salah lihat. Kami telah menggantikan pengawal Tuan sejak senja. Istana dan Tuan ada dalam kekuasaan kami."

Bibir dan tangan Wangke gemetar menahan marah.

Sementara itu suara Wilis makin jelas.

Bahkan sorakan pun telah terdengar. "Raditya, menyerahlah!"

"Blambangan curang!" teriak Wangke putus asa.

Bersamaan dengan itu kepala pengawal memberikan aba-aba. Sepuluh orang maju, mengepung Wangke. Wangke sadar. Tiada guna melawan.

"Aku menyerah...," katanya lemah. Demikian pun seluruh perwiranya. Menyerah tanpa syarat. Yang lain juga membuang senjata mereka di halaman istana.

Wilis memerintahkan Andita menjemput Adipati Agung, sekaligus memberi tahu kemenangan itu. Seluruh kawula Lumajang diperkenankan ke alun-alun untuk menyaksikan dan berkenalan dengan laskar yang menang. Setiap penjuru kota dijaga oleh Laskar Raung. Namun sekarang tiada bentakan atau hardikan. Itu dirasa sangat berbeda oleh kawula Lumajang. Penjaga-penjaga baru ini sangat ramah bila hendak memeriksa. Tidak jalang bila bersua wanita. Perasaan gembira segera menjalar ke seluruh Lumajang.

Laskar wanita paling mendapat perhatian. Yistyani memulai berkenalan dengan para wanita yang menonton di pinggir lapangan. Tentu saja itu disusul oleh seluruh anak buahnya. Bahkan Jenean dan Yistyani senang bercakap-cakap dengan para wanita itu sambil menunggu Wilis keluar. Tiba-tiba Yistyani terkejut. Ada suara yang memanggilnya. Seperti sudah dikenalnya suara itu.

"Kau dengar itu, Yis?" tanya Jenean.

"Ya... siapa ya? Sepertinya sudah kukenal." Yistyani menajamkan telinganya.

"Kak, Kakak Yistyani." Lagi terdengar dari kerumunan orang. Hati Yistyani tersibak. Ia toleh dan cari sumber suara itu. Seorang perempuan yang masih sangat muda menguak gerumbul manusia. "Itu kakakku. Beri aku jalan!" pinta wanita itu. Setelah dekat, Yistyani berseru kaget,

"Hyang Dewa Ratu! Tantrini, kau Tantrini adikku?" Keduanya segera berpelukan. "Kau selamat, Kak?"

Jenean melongo. Dua wanita cantik seperti pinang dibelah dua. Lama mereka bertangisan. Sendu sekali.

"Anugerah Hyang Maha Dewa! Bagaimana dengan Bunda?"

"Ah... mari cari tempat duduk, aku akan bercerita."

Yistyani menuruti kehendak Tantrini. Sebelumnya ia mengenalkan Jenean lebih dulu. Tantrini kemudian menghormat pada Jenean. Dan dibalas ramah oleh Jenean. Setelahnya mereka duduk di rerumputan yang baru saja dipangkas oleh orang-orang Raditya. Mereka bersimpuh. Tantrini menghapus air matanya sebelum bercerita.

"Sepeninggalmu Bunda jatuh sakit. Dan tidak pernah sembuh. Beliau selalu teringat padamu. Berganti tahun berganti pula keadaan. Bunda yakin kau tak akan balik. Beliau mengajakku meninggalkan Semeru dan menuju ke barat. Kami tinggal di desa Gelingan. Dengan tujuan meninggalkan kerusuhan. Tapi perhitungan Bunda meleset. Suatu malam, ketika aku sedang membaca lontar, terdengar ramai-ramai di luar. Dari celah dinding aku melihat orang merampok ternak kawula. Oh,., kerusuhan terjadi di mana-mana. Bunda juga mengintip. Aku terkejut kala mengamati Bunda gemetar. Tiba-tiba... Yah... Dewa Ratu... pintu kami diketuk orang. Aku takut. Bunda terjatuh dengan tiba-tiba saja. Seketika itu Bunda pulang ke alam leluhur."

"Dewa Ratu!" Yistyani terpekik. "Bunda tiada?"

Tantrini mengangguk. Tanpa sadar Jenean menitikkan air mata. Yistyani merah padam. Bibirnya gemetar menahan marah. Tantrini melanjutkan, "Aku menjerit kala kupeluk Bunda. Kemudian, entah bagaimana caranya, tiba-tiba beberapa lelaki telah berada di belakangku. Semuanya bersenjata terhunus. Terasa tanganku ditarik kasar. Dewa Ratu! Pemimpin mereka seorang pemuda tinggi besar berkulit coklat dengan bulu-bulu di tangan dan dadanya. Ia putra Raditya. Ia terbahak-bahak. Menakutkan. Memuakkan. Aku menangis. Menutup muka dengan kedua telapak tanganku. Kala ia berkata-kata kututup telingaku agar tidak mendengar.

"Tiba-tiba saja tangan berbulu itu meraih dan memondongku. Aku meronta. Jijik dan benci. Hari-hari selanjutnya aku dikurung dalam istananya. Ia adalah Swangsa." Tantrini berhenti sebentar. Menyeka air mata kembali.

"Berhari aku menangis di pembaringan. Tapi tangis itu tidak dapat menolongku. Aku tak mampu menolak kemauannya. Dan sejak saat itu aku merasa, diriku, seorang brahmana yang diperhinakan oleh satria.

Berbulan aku mendoa. Berbulan aku dalam aniaya. Namun Hyang Maha Dewa akhirnya mendengar doa yang tak putus-putus kupanjatkan itu. Tadi malam perbentengan sebelah barat kota itu dihujani tembakan meriam. Mungkin dia tertimbun dinding. Kakak... sekarang aku ikut kau, ya... jangan tinggalkan aku."

"Tenanglah, Tantrini, jika kau mau, mari, masuklah dalam barisan kami." Setelahnya Yistyani pun berkisah. Mereka bertangisan lagi. Namun beberapa saat kemudian terdengar suara keras Sardola memberikan aba-aba. Mereka berdiri dan masuk dalam barisan.

Tantrini melirik perut kakaknya. Berbadan dua.

Jenean diperintahkan mewakili Yistyani di depan. "Siapa itu?" Tantrini bertanya kala Wilis naik mimbar. "Pemimpin kami."

"Masih muda, ya?"

"Ya. Cakap lagi seperti Hyang Kamajaya." Tantrini mengangguk. Mereka melihat Wilis dalam busana kepangeranannya. Lengkap dengan kalung binggal, pending, semua berkilau ditimpa mentari.

"Dirgahayu," suara Wilis keras. "Dirgahayu," saut semua orang. "Dirgahayu, seluruh kawula Lumajang!!"

Sekarang jawaban lebih gemuruh dari yang tadi.

"Terima kasih!" Wilis melirik Baswi sekilas. Orang itu mengangguk sebagai isyarat agar Wilis meneruskan.

"Aku Wilis, putra Blambangan. Datang untuk membebaskan Lumajang dari para drubiksa. Raditya telah ingkar dari Blambangan dan leluhur dan Hyang Maha Dewa. Ia telah memeras dan merampasi kawula. Ia telah merajakan diri sendiri. Karena itu akan aku jatuhi hukuman." Wilis berhenti memberi isyarat agar Raditya dihadapkan. Tepuk tangan gemuruh. Wilis tersenyum sebagai imbalan dari sambutan kawula itu.

Beberapa saat, Raditya, Bagus Wangke, dan enam saudaranya digiring dihadapkan pada kawula Lumajang. Semuanya dengan tangan terikat di depan. Lebih dari dua puluh lima perwira juga digiring di belakang mereka. Itu membuat suasana menjadi gaduh. Terpaksa laskar Raung memperketat penjagaan. Karena ribuan orang mendesak maju. Ingin membalas dendam. "Diam!!" Sardola berteriak keras. Orang-orang itu seperti siput mendengar langkah manusia. Namun wajah Wilis yang ceria membuat mereka tidak ketakutan.

"Selain mereka masih banyak yang ditahan di asrama- asrama," Wilis berkata lagi. "Tapi kami akan mengadili mereka. Sekalipun aku akan menyerahkan kembali Lumajang pada Adipati Agung, tapi hukuman terhadap mereka akan tetap di tangan kami. Sebab mereka telah melakukan pembangkangan terhadap Blambangan."

Raditya dan orang-orangnya tertunduk. Mereka dimasukkan kembali. Orang-orang belum puas.

Berteriak-teriak. Tapi Wilis tidak menjawab. Memandang mereka dengan mata tajam. Kemudian lanjutnya,

"Kembalilah ke rumah masing-masing. Kami ingin istirahat. Ingat, jangan mencoba berbuat tidak baik pada kami. Jangan mencoba mengada-adakan persoalan.

Karena kami ingin selalu berbuat baik pada siapa pun. Aku memperingatkan, sementara ini kami adalah penguasa di Blambangan."

Wilis turun dan terus masuk. Semua perintahnya harus jadi. Pembangkangan akan berarti hukuman.

Tengah hari kawula Lumajang dikejutkan lagi oleh masuknya laskar Adipati Agung. Mereka bersenjata lengkap. Tapi pengawal dari Raung tak mengusik mereka. Bahkan semua perwira Raung dibariskan di alun-alun. Termasuk Yistyani dan Jenean.

Namun Sita Pati dan rombongan menjadi terkejut melihat Wilis dalam pakaian lengkap sebagai pangeran. Andita pun tak kurang terkejutnya. Karena itu mereka berdua segera menjatuhkan diri menyembah di kaki Wilis. "Sembah untuk Yang Mulia Wong Agung Wilis," Andita mendahului. Wilis meminta mereka segera berdiri.

Kemudian ia pandangi semua perwira di barisan Sita Pati. Nir Wulung ikut dalam barisan mereka. Demikian juga sederetan wanita istri-istri Sita Pati. Tidak ketinggalan Satiari di dalamnya. Tapi mata Wilis memperhatikan seorang perwira muda yang duduknya agak istimewa. Perawakannya sama dengannya, rambutnya juga berombak, hidungnya cukup mancung, kulitnya juga kuning seperti dia. Matanya bersinar dan mukanya merah karena tertimpa mentari. Di sudut kelopak matanya mulai dihiasi sungut siput. Menandakan usianya lebih tua dari Wilis. Dan yang agak mengecewakan ia kurang berani beradu pandang. Wilis beranggapan, tentunya perwira muda ini kurang berani menghadapi pertempuran yang benar-benar menuntut nyawanya.

"Inilah hamba yang menunggu titah Yang Mulia," Sita Pati bersuara pula.

"Istana dan Lumajang kukembalikan. Segera persiapkan sidang untuk mengadili Raditya. Istirahatkan laskarmu. Suruh mereka kembali ke barak-barak semula!"

Setelah mengiakan dan membubarkan pasukannya, Sita Pati diperkenankan mengadakan pemeriksaan atas istana dan seluruh isinya. Kepada putri-putri dipersilakan masuk tamansari.

"Termasuk hamba, Yang Mulia?" Satiari memberanikan diri.

"Ya." Wilis tersenyum.

Selesai pemeriksaan maka Sita Pati dibantu Baswi mempersiapkan persidangan. Yang mula-mula dihadapkan adalah Raditya. Sita Pati menggertakkan gigi. Tapi ia tak punya kuasa. Baswi menyampaikan tuduhan pada Raditya. Selanjutnya menyerahkannya pada Wilis.

"Atas nama Blambangan yang suci, kuputuskan semua pengkhianat mati di atas tiang gantungan!"

"Ampun, Yang Mulia!" teriak Raditya. "Pengkhianatan tak pernah terampunkan," Wilis

menegaskan.

"Hyang Bathara, jagat Pramudita!" Nir Wulung menyebut. Seolah dirinya sendiri yang terhukum. Namun perintah Wilis telah dijatuhkan agar Sardola segera melaksanakan hukuman itu. Dengan begitu semua anak- anak Raditya, juga Bagus Wangke serta seluruh perwiranya harus menjalani hukuman mati.

Keesokan harinya diadakan serah terima kekuasaan. Adipati Agung kembali duduk di atas singgasananya. Di kiri singgasana itu duduk Wunga Sari yang bertindak sebagai paramesywari, sedang di sebelah kanan api kehidupan duduk Ayu Sulih.

Di pihak lain duduk Wilis, bersama Andita, Sardola, dan Baswi serta Yistyani dan Jenean. Nir Wulung melakukan upacara sebagaimana yang dilakukan pandita istana pada umumnya.

"Atas anugerah Hyang Ciwa, Blambangan telah menurunkan putranya, Wong AgUng Wilis untuk menumpas Raditya." Kemudian masih banyak lagi yang diucapkan Nir Wulung. Setelah itu Sita Pati mengucapkan terima kasihnya pada Wilis serta seluruh bala tentaranya. Wilis cuma tersenyum mendengar itu. Perhatiannya, pandangannya, tidak kepada Sita Pati. Tapi ke Ayu Sulih.

"Melamun?" Andita berbisik. Ia tahu apa yang dipikir Wilis. Sebagai jawabnya cuma senyuman.

"Ah... seperti bidadari," ujar Wilis.

Baswi menoleh juga padanya. Namun terdengar lagi Sita Pati bicara.

"Jabatan ratu anggabaya dulu di tangan Raditya, sekarang aku serahkan pada Lingsang Ireng." Dan kemudian orang yang disebut namanya itu dipersilakan maju untuk diwisuda. Bagi Andita maupun Baswi tidak ada kesan tentang pemuda itu. Tapi Wilis cukup terkejut. Pemuda yang dia amati tadi. Ternyata inilah yang bernama Lingsang Ireng? Apalagi waktu Lingsang menerima keris sebagai tanda jabatan. "Kau banteng Lumajang! Kau satria."

Dewa Bathara! Wilis menyebut dalam hati. Banteng tak mampu membebaskan negerinya dari tangan Raditya? Satria? Memangnya selama ini ia bukan satria?

Lingsang menyembah. Wajahnya cerah.

Pengabdiannya selama ini mendapat imbalan. Nir Wulung menetesinya dengan air suci. Jabatan ratu anggabaya tentu memberinya harapan lebih besar. Semua mata tertuju padanya dengan pikiran masing- masing.

Malam harinya diadakan acara hiburan untuk seluruh kawula di alun-alun. Sedang untuk pejabat negeri di istana. Penjagaan tetap diperketat oleh laskar Raung.

Wilis berpendapat pada kesempatan seperti itu justru sering digunakan oleh penjahat untuk mencuri dan merampok. Dan malam itu Wilis mengatakan pada Sita Pati, bahwa ia akan segera meninggalkan Lumajang. Sita Pati menyatakan keberatannya. Dan meminta agar Wilis dengan pasukannya tinggal dan sementara melindungi Lumajang.

"Maafkan aku, Paman. Laskar pendudukan akan menimbulkan ketakutan di mana-mana. Lagi pula kawula Lumajang tidak akan mampu menanggungkan beban mereka. Mereka baru sembuh dari lukanya. Tak mungkin membiayai laskarku."

"Kami membutuhkan meriam." Lingsang ikut bicara.

Wilis menoleh pada Andita. Maka Andita menjawab,

"Lumajang di bawah perlindungan Blambangan.

Lumajang tak memerlukan meriam."

"Tanpa laskar yang kuat sebuah kadipaten adalah makanan empuk bagi para perompak."

"Untuk memotong ayam tak diperlukan pedang," Baswi yang menjawab. Wilis dan Andita tertawa mendengar jawaban itu.

Sita Pati kemudian mengusulkan sebuah perundingan yang matang untuk membahas persoalan ini. Wilis menyetujui, tapi ia menunjuk Baswi untuk mewakilinya. Sedang ia sendiri ingin istirahat. Maka Sita Pati segera menyuruh Ayu Sulih mendampinginya. Sebagai putri mahkota ia harus belajar. Belajar mengurusi segala.

Termasuk tamu agung. Tapi saat ini ia bertugas khusus untuk melemahkan Wilis. Jika tidak meninggalkan pasukan setidaknya Wilis supaya meninggalkan sebagian dari meriamnya. Namun ia tahu bahwa Wilis bukan orang pandir. Karenanya ia merasa kecil.

Sekalipun di sebelah kanan Wilis duduk Lingsang Ireng yang sengaja dipasang untuk menemaninya. Seorang penari mempersembahkan kebolehannya di hadapan Wilis. Cantik. Lemah gemulai. Gerakannya indah. Namun perhatian Wilis tidak pada penari itu.

Perhatiannya menyeberang ke tempat duduk Yistyani dan perwira-perwira Raung lainnya. Ia tahu persis mata Yistyani sering mencuri pandang padanya. Bahkan juga sering mata mereka beradu. Itu membuat pikiran Wilis bertarung. Antara Yistyani dan wanita yang sedang duduk di sebelahnya. Kembang kota Lumajang.

"Adakah Kakang tak berniat memberi harapan?" Ayu Sulih mengusik.

"Apa artinya?" Wilis tersenyum.

"Kenapa senyum?" Sulih tidak enak. Namun Wilis tak menjawab. Malah memperhatikan penari berikutnya.

Sulih terpaksa mengikuti pandang Wilis. "Cantik," pujinya.

"Tapi kau lebih cantik!" tiba-tiba Wilis nyeletuk lirih.

Hampir tak terdengar. Pendengaran Lingsang tak dapat menangkap suara itu karena riuhnya suara tabuhan.

Sementara itu Sulih merona. Ia juga ingin memuji ketampanan Wilis. Bukan cuma itu. Tapi juga kepandaiannya, dan segalanya. Sulih berjuang menindas gejolak hatinya.

"Kakang, kami memerlukan kekuatanmu. Setidaknya tinggalkanlah sebagian meriammu," Sulih berusaha. Wilis berdebar. Ia tahu ini akal Sita Pati.

"Kau mampu menundukkan musuhmu tanpa meriam." Ia tertawa lirih. Lingsang menoleh. Ikut tertawa walau ia tak tahu apa yang sedang ditertawakan. Gamelan tetap riuh. "Tak mungkin suatu negeri dipertahankan dengan tanpa kekuatan."

"Karena kau aku menghancurkan Raditya."

Sulih mengerti arti kata-kata itu. Ia tersentak. Menoleh pada Wilis. Kini berhadapan, mata dengan mata. Mata biru dan hitam. Sama-sama bersinar.

"Benarkah itu, Kakang? Bukankah kau datang bersama laskarmu sebelum kenal Sulih?"

"Aku datang cuma dengan seratus orang. Dan hanya karena kenal denganmu maka aku mendatangkan dua ribu orang untuk menumpas Raditya. Aku tak ingin kau jatuh ke tangan Raditya."

"Hyang Dewa Ratu."

"Aku tahu, laskarmu, laskar Sita Pati tak akan mampu melawan Raditya. Juga mempertahankanmu. Raditya mungkin saja mau berdamai dengan Paman Sita Pati seperti pikiran Resi Nir Wulung. Tapi ia ingin tahta Lumajang. Dan karena itu putri mahkota harus dikawinkan dengannya. Itu sarat yang pasti diajukannya untuk menerima tawaran damai. Mampu kau menolak?"

Sulih merasa betapa benarnya kata-kata Wilis.

Mungkin saja tanpa Wilis ia menjadi istri Raditya. Tak seorang pun mampu mempertahankannya. Sita Pati tidak. Lingsang Ireng pun pasti tidak. Namun sayang, kedatangan Wilis terlambat. Terlambat. Walau ia mengakui bahwa hatinya memang jatuh ke tangan Wilis. 

Namun ia telah berjanji, untuk mendampingi Lingsang kelak kemudian hari. Dan itu sudah direstui oleh Sita Pati. Ah... mungkinkah ia berterus terang pada Wilis?

Tapi ia takut. Wilis mempunyai modal, kekuatan, dan kekuasaan. Jika ia takut, maka berarti ia melakukan dosa besar. Ingkar terhadap janjinya.

"Kakang bersungguh-sungguh?" Ia pandang Wilis. "Demi Hyang Maha Dewa. Kau rembulan di hatiku.

Kaulah segala harapanku."

"Hyang Dewa Ratu!" Tanpa sadar Sulih memegang tangan Wilis. Gemetar tangannya.

"Kakang...," bisiknya, "perasaan kita sama. Tapi..." "Kenapa tetapi?"

"Tapi, itu tak mungkin terlaksana." Sulih meremas telapak tangan Wilis. Kemudian menarik napas panjang sebentar. Hatinya berdebar. "Aku akan tetap menjadi putra pamanmu. Tetap! Menjadi adikmu. Tak mungkin menjadi istrimu. Sebab aku sudah berjanji pada seorang pemuda yang tidak kecil pengabdiannya buat Lumajang. Kakang... aku akan menjadi istri Lingsang "

"Dewa Bathara!" Suara Wilis agak keras. Menunjukkan betapa keras hatinya terguncang. Dan itu terdengar oleh Andita di kiri Sulih serta Lingsang Ireng di kanan Wilis.

Sulih pucat. Gelisah.

"Dewa Bathara!" Lagi Wilis menyebut lirih. Kemudian menghembuskan napas panjang.

"Ampunkan aku, Kakang," pinta Sulih.

Tapi Wilis tak mendengar itu. Ia tak mampu berb incang. Pikirannya kacau.

"Kakang menyesal? Pengorbananmu tidak sia-sia.

Untuk pamanmu, adikmu, dan seluruh kawula Lumajang." Masih saja Wilis tak menjawab. Ia tak memerlukan khotbah. Tak memerlukan nasihat Sulih. Tangannya mengepal-ngepal. Ingin meremas kepala Lingsang Ireng. Dadanya membara. Kepalanya makin berdenyut-denyut. Napasnya memburu. Tiada tertahankan, ia berdiri. .

Sulih tersentak. Ia pegang erat tangan Wilis. "Ke mana, Kakang?"

Membisu. Ia lempar tangan Sulih. Kasar. Dan pergi.

"Kakang..." Suara Sulih tak tertahan. Andita terkejut. Ia melihat gelagat Wilis sedang marah. Dikejarnya Wilis dengan hati-hati agar tidak terlihat oleh yang sedang berpesta.

"Ada apa?", Lingsang bertanya. Gadis itu tak menjawab. Tangisnya berderai. Kemudian menguak para dayang, berlari masuk taman. Ia bantingkan dirinya di pembaringan.

"Oh... Dewa Ratu, Dewa Ratu " Penyesalan

tertimbun dalam hatinya. "Kakang kenapa tiada maaf?"

Sementara itu Wilis berlalu sambil melambaikan tangan pada Baswi. Namun Baswi tak memperhatikannya. Sebab perhatiannya sedang tertuju pada Sita Pati. Jengkel sekali hati Wilis. Kemudian berlari ke.kegelapan. Bergesa meninggalkan keramaian menuju ke penginapannya. Cepat mengambil barang-barangnya dan menuju ke tempat kudanya. Kuda itu meringkik menyambut tuannya.

Andita bingung. Wilis bergerak sangat cepat. Ia cari kepenginapan, ke kandang kuda, ke tempat di mana biasa menyendiri. Tiada. Anak muda itu sudah kabur. Segera ia mengambil keputusan untuk bertanya pada Ayu Sulih. Di istana Lingsang Ireng langsung bertanya padanya, "Ada apa dengan Pangeran?"

"Tanya Tuan Putri saja." "Beliau sudah masuk taman."

"Kalau begitu aku menghadap Adipati."

Ratu anggabaya mengiringinya. Sita Pati kaget.

Perundingannya dengan Baswi belum mendapat kesepakatan, Wilis sudah tiada. Maka, "Panggil Sulih!"

Seorang utusan segera berlari. Para dayang dan ibu Sulih mengiringi Sulih yang masih menangis itu menghadap ayahnya.

"Apa yang sudah terjadi?"

"Ampunkan hamba, Rama. Hamba tak mampu melaksanakan tugas itu," Sulih menyembah sambil masih terus menangis.

"Aku tak marah, Putriku. Ceritakan apa yang terjadi dengan Pangeran! Jangan takut!"

Dengan terisak Sulih menceritakan semuanya. Andita mengeluh mendengar itu. Sita Pati berdebar. Pikirannya segera menebak-nebak, apa yang sedang diperbuat Wilis? Mungkin ia sedang menyiapkan pasukannya di barak-barak untuk memusnahkan Lumajang.

"Kita cari!" katanya tiba-tiba. "Malam ini juga Sulih harus minta maaf. Lingsang, relakan kekasihmu demi Lumajang. Ingat andai tanpa dia mungkin kita menjadi tawanan Raditya. Dan Sulih mungkin saja akan menjadi milik Raditya. Nah, relakan."

"Hamba, Yang Mulia." Pemuda itu menyembah. "Demi Lumajang, Sulih, seharusnya kau tak menolak. Nah, kita cari dia! Lewat belakang agar tak bikin onar."

Keempat orang itu berkuda. Mencari Pangeran. Pada kesempatan itu Lingsang mendekatkan kudanya pada Sulih.

"Maafkan aku...," Sulih mendahului. "Perjodohan adalah ketentuan Hyang Ciwa sendiri."

"Kau tak mencintaiku?"

"Tuan putri adalah permata di hati " "Hyang Dewa Ratu."

Tiap asrama mereka masuki. Tiap kepala pengawal mereka tanyai. Jawab yang mereka peroleh di mana- mana sama. Tidak tahu. Keringat dingin mulai mengucur dari tiap lubang halus di seluruh tubuh Sita Pati. Ia takut Wilis pulang ke Blambangan, dan menggunakan kekuasaannya. Sepenuh-penuhnya sebagai satria seperti Mangkuningrat. Andita tak kurang gelisahnya.

"Belum pernah pangeran semarah ini...," keluhnya. "Ampunkan hamba, Ayahanda " Kembali Sulih

menangis.

"Aku tak tahu apa yang akan terjadi, Sulih." Adipati lemas. Mereka pulang ke istana. Keramaian sudah bubar. Baswi segera diberi tahu di penginapannya.

"Hal ini tak membahayakan Lumajang," Baswi menyimpulkan.

"Tuan lupa bahwa ia masih terlalu muda? Mungkin akan menggunakan laskar Blambangan untuk menghancurkan Lumajang." Pemuka Raung segera bersidang malam itu juga.

Sebagian besar mengkhawatirkan kemarahan Wilis itu akan berkembang menjadi dendam. Bagaimanapun Wilis tetap seorang satria. Dan semuanya sadar bahwa dia adalah calon patih amangkubhumi yang akan memimpin jalannya pemerintahan di Blambangan.

"Hamba menganggap ini siasat Pangeran," Baswi tetap pada pendiriannya. "Karena Pangeran tak ingin meriam kita ditinggal satu pun di sini. Sedang untuk menolak kita sukar memberikan alasan. Dan pangeran mendapatkan alasan itu dengan mempertautkannya pada masalah pribadi. Percayalah. Hamba akan menyusul Pangeran."

"Jika begitu," Yistyani memberikan usul, "kita harus sejalan dengan pikiran Pangeran. Sementara orang- orang Lumajang terlena dalam keletihannya, kita menyusul Pangeran diam-diam. Seperti halnya kita datang ke sini dengan diam-diam."

Andita tidak bisa berbuat banyak untuk membela kepentingan Lumajang. Istrinya tidak mau tinggal di Lumajang. Memilih hidup di Raung. Maka ia juga menurut. Baswi segera memerintahkan Sardola untuk menarik seluruh laskar Raung dari Lumajang.

Sebagaimana mereka datang seperti pencuri, kini mereka meninggalkan Lumajang juga dengan diam-diam. Malam itu Lumajang segera menjadi sunyi.

0oo0

Laporan telik laskar laut Blambangan tentang kemenangan Raditya menggegerkan pratanda Blambangan. Apalagi setelah dilaporkan bahwa Raditya mengeluarkan pernyataan resmi tidak mengakui bergabung di bawah kerajaan Blambangan. Semua menteri dan semua perwira darat dan laut yang berkedudukan penting segera dipanggil untuk bersidang. Dengan hati berat Umbul Songo terpaksa membebaskan Teposono untuk juga ikut menghadiri persidangan.

"Ini penghinaan!" Mangkuningrat marah. "Jelas pemberontakan. Yang Mulia Umbul Songo dan Arya Bendung, mereka harus dihukum."

"Kita bisa mengerahkan laskar?"

"Aku akan bertanggung jawab ke bawah duli Sri Maha Prabu Cokorda Dewa Agung Mengwi. Ini adalah rongrongan terhadap kewibawaan Blambangan."

Umbul Songo menjatuhkan perintah untuk menghancurlumatkan Raditya. Ia secara pribadi tersinggung atas tindakan Raditya itu. Juga Arya Bendung menyetujui tindakan itu. Maka diperintahkan Haryo Dento memimpin laskar laut untuk menggempur Lumajang dari pantai. Sedang laskar darat dipimpin’ Parandana dan Teposono.

Tiga hari setelah keberangkatan itu Umbul Songo sudah menerima laporan tentang jalannya pertempuran. Namun hari berikutnya telik yang ia kirimkan memberikan laporan bahwa seorang bernama Wong Agung Wilis telah menjatuhkan Raditya atas nama Blambangan.

Bahkan pemuda itu telah menjatuhkan hukuman mati atas Raditya dengan seluruh perwiranya.

"Dewa Bathara! Siapa orang muda itu?" Mangkuningrat heran. Umbul Songo berdebar.

"Ia mengenakan pakaian kebesaran seorang pangeran Blambangan," kata pelapor itu.

"Mungkin beliau Pangeran Mas Sirna," Singamaya berteriak girang. Bagus Tuwi menyangkal. Orang yang lenyap begitu lama tak mungkin punya kemampuan hidup. Apalagi memiliki laskar.

"Kalau hamba tak salah dengar, waktu hamba di penjara dulu, Pangeran pergi bersama Adipati Agung." Umbul Songo memperoleh jalan untuk menerangkan. "Mereka menyongsong laskar Gajah Binarong. Apa yang mustahil bila sekarang ini beliau kembali jadi pemuda perkasa dan memimpin laskar yang kuat?"

"Ya " Singamaya mendukung. "Aku ingat betul beliau pergi bersama Adipati Agung."

"Jemput dia! Hentikan gerakan laskar kita!" Mangkuningrat memerintah segera.

"Hamba akan jemput beliau," Umbul Songo menyanggupkan diri.

"Bawalah dia, Yang Mulia! Jika ia adikku, ia harus tinggal di Blambangan. Jika bukan maka harus dipenggal kepalanya karena berani menggunakan nama Blambangan."

"Hamba, Sri Prabu."

Umbul Songo membawa sebagian laskar berkuda.

Namun ia tidak langsung ke Lumajang. Dengan segera ia berbelok ke Raung. Ia tahu bahwa gerakan Wilis adalah gerakan Raung.

Terik mentari membakar bumi. Kulit bumi menjadi kerak. Angin bertiup kencang membawa debu. Di saat begitu orang pegunungan sibuk menabung air. Tabung- tabung bambu disediakan di setiap rumah penduduk Raung. Setetes air seperti intan.

Sawah-sawah kering tanpa air. Rerumputan untuk makanan kerbau dan kambing harus dicari jauh. Jauh ke dalam hutan. Kembang pun layu. Dedaunan rontok. Jika malam datang hawa menjadi amat dingin, menusuk tulang. Embun pagi jatuh bagai titik-titik es.

Namun semua itu tak menjadi perhatian Wilis. Begitu tiba di Raung ia terus mendekam dalam bilik. Resi menduga Wilis sangat letih. Maka tak perlu didekati.

Cuma yang menjadi pertanyaan dalam hatinya, kenapa Wilis pulang sendiri? Mukanya muram tanpa senyum? Padahal kabar kemenangannya sudah menjadi buah bibir kawula Raung.

Lebih heran lagi kala seorang pengintai datang melapor ada pasukan berkuda naik, Wilis menjawab, "Biarkan!" Resi gelisah. Ia merasa ada yang tak beres dalam hati Wilis.

Umbul Songo tak perlu menoleh orang-orang di belakangnya yang bermandi keringat dan debu. Ia hanya memperhatikan jalan yang kian mendaki. Dan terus mendaki. Cuma tiupan angin yang menyambutnya.

Perkubuan sepi kendati hari siang. Untuk menghindari kesalahpahaman, ia memerintahkan pasukannya berhenti di depan gerbang. Tapi Andita maupun Baswi tidak keluar menyambutnya. Hatinya berdesir. Mereka masih di Lumajang. Ah, jangan-jangan berhadapan dengan laskar Blambangan. Sendiri ia naik ke pertapaan. Sampai di depan pendapa Resi Wuni Pati menyambutnya dengan ramah.

"Dirgahayu, Yang Mulia."

"Maafkan kami, Yang Suci. Kami ingin segera bertemu dengan Pangeran."

"Baik, mari silakan duduk di pendapa ini, Yang Mulia." Resi Wuni Pati menyampaikan keinginan Umbul Songo pada Pangeran Wilis. Dan Wilis tidak keluar dari bilik. Ia menjawab bahwa Umbul Songo disuruh menunggu lebih dulu. Ia akan ke pura lebih dulu untuk bersemadi. Dan Umbul Songo harus menuruti kehendak Pangeran. Karena itu Resi minta supaya laskar Umbul Songo diperintahkan istirahat dulu.

Wilis merasa terusik dengan hadirnya Umbul Songo. Pikirannya masih kacau. Tapi ia tahu itu tak mungkin ia turuti terus. Maka ia perlu semadi untuk menjernihkan kembali hatinya. Lunglai ia berjalan ke pura dengan muka tertunduk. Semangatnya punah direnggut dara jelita Ayu Sulih. Kenapa Sulih menolak aku? Apa Lingsang lebih tampan? Tidak! Ia sudah bercermin kala masuk bilik. Aku lebih muda. Lebih pintar. Dan... Ah, mungkin saja ia satria baru. Sita Pati mensatriakan Lingsang, hanya untuk diambil menantu. Apa jasa dia dibanding aku? Keparat!!! Satiari tak pernah mencintaiku. Ia cuma mengagumi aku. Bah, tak perlu kuingat lagi.

Lalu pengamatannya tertuju pada Umbul Songo. Pasti orang itu menjemputnya. Mangkuningrat sudah menerima laporan tentang dirinya di Lumajang. Pasti.

Siapkah aku membenahi Blambangan? Ah, menyesal aku, karena Satiari aku menumpas Raditya, dan kini aku menghadapi pekerjaan lebih besar di Blambangan.

Kesalahan harus kubayar dengan mahal sekali! Aku harus, ya harus kembali ke Blambangan, walau dalam anganku masih terus bergunjing: bunga dan bumi.

Di depan pura seseorang menyapanya, "Pimpinan." "Mandrawa? Kau di sini"

"Ya, kapan datang.?"

"Tadi pagi. Parwaka juga di sini?" "Hamba Pimpinan. Ingin bersemadi bersama Kakang Mandrawa. Sebab Hamba sudah lama sukar bersemadi. Banyak gangguan."

Wilis memaksakan diri tersenyum pada keduanya.

Namun dalam keremangan senja itu Mandrawa menangkap kemuraman Wilis. Ia menjadi takut. Sama- sama belajar di Raung dan pada Resi Wuni Pati, tapi ia tak pernah belajar berperang.

"Suara sorakan," Parwaka berdesis. "Laskar Blambangan?"

"Umbul Songo tidak setolol itu. Andita dan kawan- kawan tiba. Parwaka, siapkan penyambutan atas mereka!" Wilis memerintah. Dan Parwaka tidak jadi bersemadi.

Setelah Parwaka pergi Wilis mengajak Man-drawa duduk di serambi pura. Bagi Wilis Mandrawa punya kesan sendiri, sekalipun wajahnya yang tidak cakap membuat dia dijauhi oleh beberapa gadis. Badannya kekar agak hitam, rambutnya lurus kaku. Matanya agak lebar dan bulat, giginya besar-besar, menonjol keluar. Bertentangan dengan hidungnya yang pesek.

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Mandrawa, jawablah dengan seluruh kejujuran yang kau miliki. Mau kau?"

"Senang sekali, Pimpinan."

"Apakah terlintas dalam anganmu, untuk kemudian hari kau mengambil istri? Jangan tersinggung, Mandrawa."

Mandrawa menoleh karena kejutnya.

"Kenapa kau kaget? Salahkah pertanyaanku? Atau mungkin tidak pada tempatnya?" "Bukankah hamba masih belajar?" "Apakah dalam belajar dilarang bercinta?" Mandrawa diam.

"Kau ragu terhadap dirimu sendiri, Mandrawa.

Kebanyakan brahmana bersikap begitu. Padahal ia memiliki pengetahuan sebagai sesuatu hal yang tertinggi. Tapi ia tak pernah mantap dengan diri sendiri."

"Sebab pengetahuan itu seluas semesta alam. Sedang hamba tak lebih dari debu dari apa yang dinamakan kehidupan."

"Lalu dengan apa kita bisa menyimpulkan sesuatu? Kapan? Menunggu kalau kita telah menguasai seluruh pengetahuan yang tanpa batas itu?"

"Ampun, Pimpinan. Hamba kalah dalam hal ini." Mandrawa menarik napas panjang sebentar. Beberapa saat ia berkata lagi,

"Setiap lelaki membutuhkan wanita dalam hidupnya.

Sebagai teman dan pertimbangan dalam hidup." "Apakah lelaki tak bisa hidup tanpa wanita?"

"Lelaki dilahirkan, disusui oleh wanita. Ia dipuaskan.

Ia punya anak juga dari wanita. Wanita adalah kesuburan di bumi. Ia juga mahligai, juga intan. Wanita adalah segala-gala."

"Jagat Bathara!" Wilis menyebut. Setelannya untuk beberapa bentar mereka tidak berkata-kata. Sampai Mandrawa menyambung lagi, "Ia juga mampu menghancurkan semangat seorang satria. Dan barang siapa kehilangan semangatnya maka sebenarnya ia sudah tiada arti lagi bagi hidupnya. Dan jika seorang Panglima telah terbunuh semangatnya itu sama dengan terbunuhnya seluruh laskar yang dipimpinnya."

"Jagat Pramudita!" Wilis tersadar dari keadaannya.

Mandrawa seperti mengetahui isi hatinya. "Apakah kau pernah bercinta?"

"Pasti tidak banyak orang tahu. Sebab setiap gadis yang bersilang pandang pasti menjauh dari hamba. Tapi hamba mendapat kedamaian dengan keadaan itu."

"Kau tahu itu? Sadar akan keadaan itu?"

"Hamba diharuskan bersahabat dengan wajah yang jelek ini. Maka juga harus berdamai dengan keadaan. Walau banyak orang berkata bahwa wajah menggambarkan tabiat seseorang, tak apa. Mereka lupa di Lateng para satria, para putri seperti deretan dewa- dewi, tapi apakah tabiat mereka sebaik wajah yang mereka miliki?"

"Aku juga satria, Mandrawa. Apakah aku sama seperti mereka?"

"Hamba tidak tahu. Tapi yang jelas, segala yang di seputar kita amat berpengaruh untuk membentuk watak kita."

"Dengan kata lain, bila sejak kecil aku di istana, maka aku akan sama dengan Mangkuningrat?"

"Hamba tak berani memastikan. Sangat tergantung pada kemauan dan cita-cita pribadi masing-masing."

Kini Wilis mengerutkan dahi. Ia membiarkan suasana menjadi hening beberapa jenak. Ia memperhatikan geseran bintang-bintang yang mulai muncul satu-dua.

"Seperti ada yang menyelubungi hati Pangeran," Mandrawa memberanikan diri. "Ya," kata Wilis terus terang. Dan tanpa diminta oleh Mandrawa ia juga menceritakan kejadian yang dialaminya dengan terus terang pula.

"Apakah aku salah, Mandrawa?" Muka Wilis kembali berawan.

"Pimpinan tidak salah. Satiari pun tidak," Mandrawa mengeluarkan pendapatnya. "Sama-sama berhak." Diam sebentar.

"Seorang berpengetahuan tinggi harus menerima kenyataan sebagai kehidupan. Membantah kenyataan sama dengan memperkosa kebenaran. Cinta tak boleh dipandang dari segi timbal-balik. Cinta adalah hak yang paling hakiki, nurani yang terdalam dan harus dihargai. Karena itu ia harus direlakan menjadi milik Lingsang.

Karena memang ia telah menentukan pilihan yang menjadi hak hakikinya."

"Dengan membiarkan derita mengindap dalam dada?" "Yang mencintai diri sendiri memang akan

menganggapnya sebagai aniaya. Karena ia ingin setiap orang mengiakan kemauannya. Bagi Pimpinan sebaiknya menerima yang baru. Memikirkan soal-soal baru. Dan menerima Yang Mulia Umbul Songo yang mungkin saja dalam keadaan sulit."

"Mandrawa, aku ditolak oleh seorang anak bupati?" "Apa bedanya dengan Pimpinan? Ia juga ciptaan

Hyang,Maha Dewa. lila tak menerima ini berarti Pimpinan ingkar dari pengetahuan yang selama ini kita pelajari bersama."

"Jagat Bathara! Mandrawa, kau benar. Terima kasih." Wilis mengusap mukanya. Seolah mengusap noda yang menempel di muka itu. Kemudian ia masuk pura bersama Mandrawa. Dalam hati bertekad akan segera menjumpai Umbul Songo.

Sementara itu Baswi memacu kudanya mendahului laskarnya. Hatinya tak sabar lagi. Setiap kali kudanya mengendurkan langkah maka ia menyentuhkan tumitnya ke perut kuda itu. Sehingga kuda itu melompat lagi seperti terbang.

Sedah Lati, Resi, dan Parwaka menyambutnya di pertapaan. Turun dari punggung kuda segera ia menanyakan apa Pangeran sudah tiba. Dijawab oleh Resi Wuni Pati bahwa Wilis sudah bersemadi di pura. Baswi lega.

"Selamat datang, Kanda." Sedah Lati langsung menggandeng tangan suaminya. "Paman Umbul Songo juga datang. Beliau menunggu di pesanggrahan."

"Ya? Tentunya ada sesuatu yang penting."

"Ingin berunding dengan Pangeran. Tapi beliau masih di pura."

"Mana Andita?" Resi juga bertanya.

"Baru tiba besok sore. Laskar berkuda yang sudah terdengar sorakannya itu."

Kala Baswi menjumpai Umbul Songo di pa- sanggrahan, Wilis juga sudah selesai bersemadi. Dan segera Baswi merangkul Pangeran. "Dirgahayu,

Pangeran." *

"Dirgahayu." Wilis sudah menghilangkan beban di kepalanya. "Ada apa, Panglima? Sesuatu yang penting?" Ia menoleh Umbul Songo.

Umbul Songo kemudian menceritakan bahwa Mangkuningrat memerintahkannya membawa Wilis menghadap. Baik Baswi maupun Resi Wuni Pati tidak keberatan. Karena memang sudah waktunya Pangeran bekerja untuk Blambangan. Setelah sudah ada persetujuan Umbul Songo juga menceritakan adanya penyerangan besar-besaran oleh laskar Blambangan ke Lumajang;

"Tidak salah ucap, Yang Mulia?" Wilis tersentak. "Ampun, Pangeran. Semuanya benar!"

"Harus dicegah!" Wilis melompat masuk biliknya. Dan keluar lagi dengan pakaian kebesaran. Semua heran.

"Aku akan menghentikan perang! Yang Mulia, mari! Selamat, Baswi, Resi, Selamat tinggal!" Wilis berlari ke kandang kuda. Ia bawa keluar kudanya. Dan melompat untuk kabur ke Lumajang. Umbul Songo tidak kalah tangkas. Segera melompat ke punggung kudanya dan mengejar. Kemudian berteriak ke arah pasukannya!

"Segera ikuti kami!" perintahnya. Dan laskar itu bertebaran melompati kuda masing-masing. Seperti pacuan kuda.

"Yang Mulia susul aku! Mari ikut aku!" Wilis berteriak- teriak sepanjang jalan. Ia pacu kudanya seperti terbang. Kemudian mengambil jalan melintas untuk menghindari pertemuan dengan laskar Andita. Dua ratus laskar Blambangan mengikut ke mana pun kuda Wilis berlari. Yang di belakang pengap karena debu. Sampai senja hari tiba, baru Umbul Songo mengusulkan istirahat.

Sementara laskar Blambangan dan kudanya istirahat, Wilis menjadi amat gelisah. Ingin ia melecut waktu agar cepat berlalu. Ingin pula ia mencengkeram jarak yang memisahkan dirinya dengan Lumajang itu. Namun kuda mereka membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Makan yang cukup pula. Barulah setelah itu dapat dilarikan lagi. Dan ia harus tetap berlari walau malam telah turun. Peluh bercampur embun dan debu menyatu di tubuh kuda-kuda itu seperti halnya pada penunggangnya sendiri.

Janji mentari itu pasti. Ia tetap berkisar mengatur perubahan waktu. Senja telah berganti malam, dan malam juga berlalu. Keremangan pagi pun tiba. Di saat itu Wilis dapat melihat dengan jelas, api yang dimuntahkan oleh peluru cetbang laskar laut Blambangan berkobar di sepanjang pantai dan di balik perbukitan.

"Dewa Bathara! Kita terlambat," Wilis mengeluh.

Umbul Songo tak menjawab. Jantungnya tak menentu. Penuh kekhawatiran.

Tapal batas kota yang indah runtuh. Rata dengan bumi. Kuda Wilis dihentikan di atas puing-puing. Ia menyiapkan senapan dan panahnya.

"Jagat Pramudita! Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Yang mulia, Lumajang musnah!"

"Menteri... Muka," Umbul Songo gugup.

"Perang telah berhenti," Wilis menghentakkan kaki ke perut kudanya. Dan kuda itu melangkah gagah sambil meringkik. Melangkahi bangkai demi bangkai. Ada yang tertusuk tombak, panah, pedang, peluru, dan yang berkeping karena peluru meriam.

"Perang merenggut segala," kembali Wilis berdesis.

Umbul Songo tetap tak berahi menjawab. Abu beterbangan, menjatuhkan titik-titik hitam ke atas kulit mereka. Ketika Wilis melangkah semakin jauh memasuki kota, Umbul Songo melambaikan tangan pada pembawa bendera Blambangan supaya mendekat. Dengan begitu ia ingin agar laskar Blambangan yang sedang bersembunyi melihatnya.

"Ke mana, Pangeran?" Umbul Songo mencoba bertanya.

"Ke istana."

"Sedang termakan api." "Ya."

Gegap gempita sorakan laskar Blambangan yang sedang mengepung istana. Seperti anak-anak kecil yang riang mengelilingi api unggun.

"Dewa Bathara! Yang Mulia hentikan mereka!" seru Wilis.

Suara sorakan senyap seketika dilindas suara tembakan. Entah lima belas atau dua puluh senapan meletus berbareng ke udara atas perintah Umbul Songo. Suasana sunyi. Hanya suara letusan-letusan dari dalam api yang mulai meredup terdengar merajai suasana.

"Dengar! Inilah aku. Panglima Umbul Songo yang datang bersama Yang Mulia Wong Agung Wilis."

Semua orang membalikkan badan. Pemegang sangkakala meneruskan perintah Umbul Songo dengan tiupan. Seperti auman keras.

"Umbul Songo yang memerintah kini! Lumajang kalah!

Penjarahan terhadap istana dipersalahkan!"

Seorang perwira tinggi maju ke depan dengan kudanya.

"Siapa yang memerintah begitu?" Sebelum Umbul Songo menjawab, Wilis sudah menyahut,

"Aku. Siapa kau?"

"Parandana. Atas perintah Menteri Muka kami bertindak!"

"Diam kau, Parandana!" Umbul Songo membentak. "Tak lihat? Benderaku berkibar?" "Aku panglima las..."

"Drubiksa!" Wilis mencabut senjatanya. Parandana terjungkir bersama dengan bunyi letusan. Umbul Songo terkejut.

"Pangeran!!"

"Mulutnya harus ditutup!" Wilis memandang semua orang.

"Siapa lagi yang tak mendengar aku? Akan punah bersama ketuliannya."

Seorang perwira berlencana Sriti pada kalungnya mencoba membuat gerakan. Namun sebelum tombak lemparnya sempat lepas dari tangannya, bagai kilat anak panah Wilis menembus dadanya. Orang itu terpekik.

Wilis sudah siap dengan anak panah berikutnya. "Siapa lagi?" tantangnya.

Tak seorang pun menjawab. Bahkan menolong perwira yang sekarat itu pun tak ada yang berani.

Wilis berkesempatan mengisi senapannya lagi. Kemudian larasnya tertuju pada Haryo Dento yang memimpin pendaratan dari laut. Orang itu tak berkutik. Namun Lumajang telah hancur dengan serangan darat dan laut. Mayat bertumpuk di sepanjang pagar istana. Tak sedikit yang masih merintih. Bahkan ada yang bergerak-gerak mengantar nyawanya menghadap Hyang Maha Ciwa. Maha Perusak!

Wilis mengelilingi istana. Juga reruntuhan dinding perbentengan bagian dalam. Hati Wilis berguncang. Sita Pati tertelungkup dengan bedil di tangan.

"Dewa Bathara!" Wilis membalikkan mayat itu.

Diperintahkannya seorang prajurit mengurusi mayat itu.

"Hyang Ciwa telah menjatuhkan kehendak-Nya.

Musnah Lumajang, punah juga dikau "

Wilis melangkah lagi. Lamban.

"Yang Mulia," katanya pada Umbul Songo, "kadangkala satria bisa mati menggelepar seperti anjing kurap."

Umbul Songo tidak berani menjawab. Mereka berbelok ke kiri. Beberapa depa kemudian Wilis melihat tubuh wanita terhalang sebuah batu besar.

"Satiari " Wilis berlari dalam kejutnya. Wanita itu

masih merintih. Beberapa anak panah berhamburan di sekitarnya. Terdengar lagi Satiari merintih. Menyayat kalbu.

Wilis mengangkat tubuh yang terkulai lemah itu. Darah telah terlalu banyak keluar dari kulit yang terobek-robek peluru. Satiari membuka mata perlahan.

"Oh... Kakang "

"Satiari, maafkan aku. Aku terlambat."

"Kakang tidak salah ," suara Satiari terpatah-patah.

"Bukan laskarku yang menyerbu, Satiari, tapi " Wilis

membawa tubuh itu berlari ke kudanya. "Hamba tahu, Kakang, oh... Kakang, hamba tak kuat...

Di... bawah... batu itu... ada tulisan... hamba..." "Satiari!!"

"Dan juga... ah..."

"Satiari... Satiari..."

Tak ada lagi jawaban. Hembusan napas pun tiada. Yang ada cuma tetesan darah Satiari yang semakin sedikit. Dan Wilis masih menggendongnya seperti boneka. Tak peduli darah melumuri tubuhnya.

Satiari telah pergi. Bersama terbitnya mentari.

Pergunjingan pun mati. Tiada lagi bunga dan bumi. Blambangan menanti. Walau penuh sesal hati. Umbul Songo menitikkan air mata.