Tanah Semenanjung Bab 5 : Perkuburan

 
Bab 5 : Perkuburan

Mendung kelabu pekat menggantung di atas perkubuan Raung dan di atas sejauh mata memandang. Jangankan mentari, manusia tak satu pun yang berani keluar rumah atau pesanggrahan masing-masing. Takut pada petir yang tiada henti bercanda. Guruh dan guntur bersaut-sautan dengan geledek yang menggelegar seperti suara bumi terbelah. Hujan menerpa bumi seperti ditumpahkan dari langit.

Semua pekerja yang membuat dinding perbentengan sejak tadi diperintahkan istirahat. Semua ternak, bahkan burung pun tak berani keluar dari tempat masing-masing. Anak-anak gemetar dalam dekapan ibunya. Angin kencang menambah dinginnya udara di seluruh kawasan Pegunungan Raung. Dan pemuka Raung, Wilis juga tidak beranjak dari pendapa. Ia berdiri dekat perapian istimewa yang sengaja disediakan di pendapa itu.

Matanya memperhatikan jalur-jalur air yang jatuh dari ujung-ujung atap ilalang. Sesekali ia memang memperhatikan kilat yang membelah awan, seperti kembang api terbang di angkasa. Namun ia lebih sering memperhatikan tanah yang member-cak-bercak karena tetesan air. Kadang bibirnya sedikit bergetar karena udara dingin menusuk kulitnya. Dan tanpa dia sadari kulit itu telah mempersempit porinya, sehingga menjadi seperti kulit jeruk.

Kala itu Umbul Songo bersama Abrit, pengawalnya, masih memacu kudanya. Rasa takut akan geledek atau petir sudah musnah dari hatinya. Ia mendaki dan terus mendaki. Tubuh keduanya menggigil bukan hanya karena hujan. Tapi juga angin yang dingin. Sebentar- sebentar mereka menghapus air yang mengalir dari atas destar turun mengganggu mata. Kumis Umbul Songo yang tebal itu jatuh ke bawah menutup bibir sebelah atas yang kini berwarna ungu karena dingin. Namun semua itu tidak ia perhatikan. Ia hanya ingin segera sampai di pertapaan Raung. Bersua Baswit dan semua laskar pelarian. Ia merasa penting berbincang dengan mereka. Untung kudanya begitu terlatih sehingga membantu mempercepat perjalanannya. Kendati terus diguyur hujan.

Umbul Songo menghentikan kudan/a ketika sampai di luar dinding perkubuan yang belum selesai pembuatannya itu. Batu-batu yang sedianya akan disusun menyambung lainnya, bertumpuk di kiri-kanan dinding perkubuan itu. Dan mata Umbul Songo memantau keadaan sekitarnya. Agak jauh dari tempat itu ia melihat menara pengawas telah juga didirikan seperti di benteng-benteng milik Blambangan. Atau bahkan hampir seperti milik Surabaya di pantai Bangil.

Kehadirannya sudah diketahui.

Hatinya menjadi semakin ragu kala pandangannya menembus jauh ke dalam perkubuan. Gapura yang juga belum selesai pembangunannya, menganga lebar seperti mulut raksasa. Ah, mungkinkah di sini tempat Baswi?

Kalau betul kenapa ia bikin benteng? Benteng ini akan menjadi sangat kuat karena terlindung perbukitan.

Namun kenapa gardu penjagaan di balik gapura itu kosong? Mungkinkah benteng sebesar ini tanpa pengawal? Dan masih banyak pertanyaan memenuhi kepala Umbul Songo.

Namun petir menyambar seolah di punggungnya.

Dalam kejut Umbul Songo menyentuhkan kaki ke perut kudanya. Bagai anak panah kuda itu melompat masuk gapura dan langsung menuju tengah perkubuan. Kuda Abrit mengikut bagai bayangan. Naluri memerintahkan kedua orang itu menyiapkan senapannya masing- masing. Senapan berlaras panjang bikinan Portugis.

"Berhenti!" Tiba-tiba ada suara berteriak menusuk telinga Umbul Songo di sela suara air terhempas ke bumi. Mendadak ia menarik tali lesnya. Sehingga kudanya berhenti dengan kaki depan terangkat sejenak. Ia kemudian menajamkan mata.

Pesanggrahan! Terkejut dia. Kemudian dengan perlahan mereka mengembalikan senjata ke bawah sanggurdi. Sadar bahwa tiada guna melawan. Keduanya turun dan menuntun kuda mereka ke bawah pohon talok di dekat pendapa. Sebentar kemudian Umbul Songo sudah berdiri diambang pendapa.

"Permisi "

"Masuk!" Masih saja suara yang tadi menghentikannya.

Betapa tertegunnya, ketika Umbul Songo masuk melihat seorang yang masih sangat muda, berdiri dengan bedil teracung.

"Masuklah!" sekali lagi Wilis memerintah.

Umbul Songo bangkit dari ketertegunannya. Ia tahu di setiap rumah pasti sudah berdiri tiap orang dengan senjata siap menantikannya. Sadar akan hal itu maka ia berusaha meramahkan diri.

"Adakah di sini yang bernama Baswi?"

"Kau perwira tinggi Blambangan?" Pertanyaan yang tanpa penghormatan. Kembali Umbul Songo terkesiap. Ia tak biasa diperlakukan seperti itu. Apalagi dengan laras bedil yang masih tertuju padanya. "Betul? Kau perwira tinggi Blambangan?" Wilis bertanya lagi sambil menajamkan ingatannya. Rasanya ia pernah berjumpa dengan orang ini. Tubuh Umbul Songo menggigil karena pakaiannya yang basah membuatnya semakin kedinginan.

"Kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?" Umbul Songo berusaha menyabarkan diri.

"Kau hendak bertamu atau menjarah, maka tak mengenalkan diri lebih dulu."

"Oh " Umbul Songo berdesis. Hatinya juga ikut

berdesir

"Sekalipun perwira tinggi, tak boleh masuk daerah asing tanpa izin."

"Jagat Dewa!" Umbul Songo menyesal kenapa masuk tanpa pasukan, sehingga kini orang muda itu dapat memperlakukannya dengan tidak sopan. "Bukankah ini juga wilayah Blambangan?"

"Sejak Blambangan kalah oleh Gusti Panji Sakti dari Buleleng, Raung bukan lagi daerahnya. Karena Raung tak pernah kalah dari Buleleng."

"Dewa Bathara!" Umbul Songo menyebut lagi. "Kau berlidah brahmana, Nak. Akulah Umbul Songo, kau siapa?" Ia mengalah.

"Panglima pemadam kerusuhan yang tersohor itu?

Untuk apa mencari Baswi? Ditangkap?"

Umbul Songo mengeluh dalam hati. Raung sudah tahu ia diangkat menjadi panglima pembasmi kerusuhan. Bukan main! Begitu cepat berita itu menjalar ke perbukitan yang sepi ini. Ah, Umbul Songo bertimbang sambil memandang laras senapan Wilis. "Bukankah aku sudah mengenalkan diri?" Wilis tersipu dan tersenyum.

"Bebas dari hukuman mati, kini menggantung banyak orang. Hebat kau, Umbul Songo!"

"Hai..." Umbul Songo terkejut. "Kau tahu begitu banyak rahasia negara? Seperti Baginda sendiri "

"Pengetahuan bukan cuma milik Mas Nuwong. Yang lain pun boleh memilikinya. Juga rahasia negara."

"Jagat Dewa! Ya Bathara!" Umbul Songo melangkah maju. Ingatannya terbuka. Ada kemiripan wajah dengan Baginda. Anak inilah yang dicari ke seluruh penjuru Blambangan. Mas Sirna! Maka ia segera menjatuhkan dirinya.

"Ampunkan hamba, Pangeran. Hamba tidak bisa melihat sejak tadi. Sungguh Yang Maha Dewa telah baik pada hamba."

Kini Wilis tidak tahu harus berbuat apa. "Berdirilah!" Wilis kemudian berbalik masuk bilik.

Sesaat kemudian keluar lagi bersama-sama Baswi dan Andita. Umbul Songo tertegun sesaat. Namun segera pudar karena Baswi lebih dahulu melompat dan mencium kaki pamannya itu.

"Ampunilah hamba, Paman."

"Baswi? Ah kau menjadi demikian gagah dan

gempal?"

"Bagaimana keadaan Bibi?" lanjut Baswi. Sementara itu Wilis dan Andita memandangi mereka yang saling melepas rindu.

"Baik-baik. Berdirilah, Anakku!" "Mudah-mudahan Hyang Maha Dewa menganugerahi Bibi kekuatan lahir dan batin."

"Juga padamu dan Pangeran Mas Sirna." Umbul Songo melangkah mundur.

"Sendiri, Paman?"

"Dengan seorang pengawal."

"Cuma seorang?" Andita kagum dan bersamaan dengan itu ia memberi salam dan hormat.

Baswi segera menengok ke luar. Ia melambaikan tangan memberi tanda pada Abrit yang kedinginan itu untuk masuk. Hujan masih lebat. Abrit mengikat kuda pada pohon talok lebih dulu.

"Biarkan saja lepas!" perintah Umbul Songo yang juga menjulurkan kepala. Mendengar itu Abrit melepas lagi kudanya.

Segera Wilis memerintahkan agar mereka diberi pakaian baru dan makan. Setelah selesai semuanya baru mereka berbincang dalam kamar dekat pendapa itu.

Sedang Abrit menunggu di pendapa sambil bersirih. Ia sangat menyesal tidak bisa menangkap pembicaraan mereka karena kerasnya suara hujan. Sebagai pelarian ia sebentar-sebentar berdiri membetulkan letak kayu perapian. Atau mungkin menambahinya dengan kayu baru yang sudah tersedia agar api itu tidak padam.

"Apa kabar dari kerajaan, Yang Mulia?" Wilis memulai setelah mereka duduk di balai-balai. Dan sambil mengamati keadaan ruangan yang agak gelap itu Umbul Songo menerangkan sesuai yang ia ketahui.

"Ni Ayu Sudiarti? Selir Ayahanda anumerta itu juga diambilnya?" Wilis heran. "Ya," jawab Umbul Songo sambil menyusutkan air dari kumisnya. Ruangan itu cukup luas menurut pengamatan Umbul Songo. Ada beberapa balai-balai yang tersedia, tentunya bukan digunakan untuk tidur. Rupa-rupanya ruangan itu sengaja disediakan sebagai tempat pertemuan. Sementara itu seorang berjubah kuning memasuki ruangan, dan memerintahkan seorang muridnya menyalakan pelita. Semua berdiri menghormat. Tak terkecuali Umbul Songo.

"Beliau adalah Resi Wuni Pati, mahaguru di pertapaan Raung ini," Wilis memperkenalkan. Kemudian pada Resi ia berkata, "Ini Yang Mulia Umbul Songo, perwira tinggi Blambangan, yang pernah mengalahkan mati dan kini menjadi perwira dengan kekuasaan tertinggi."

"Hyang Maha Dewa mengasihi Yang Mulia," Resi membalas penghormatan Umbul Songo. Dan Umbul Songo merasa canggung berhadapan dengan mereka. Apalagi setelah melihat cara Wilis bicara. Nampak mempunyai banyak kelebihan dari kakaknya.

Dan sebelum ia sempat menjawab, Wilis sudah menceritakan apa yang ia dengar dari Umbul Songo tadi. Setelah menarik napas panjang Resi mengambil tempat duduk dekat mereka. Kemudian berkata, "Sekarang ini, di Blambangan bercokol banyak drubiksa. Pria atau wanita. Juga tak peduli dari kasta apa mereka itu.

Brahmana, satria, ataupun sudra bisa berubah menjadi drubiksa jika ternyata mereka tidak bisa memagari nafsu pribadinya. Nafsu pribadi yang kemudian memperdewakan keinginan semata. Mereka sebenarnya telah menginjak-injak catur satya satria (empat sumpah satria) yang diajarkan Patih Gajah Mada anumerta. Yang laki telah menjadi jalang dan kaum perempuan tidak kurang-kurang yang telah menjadi binal. Sama-sama mengingkari Suta Soma (buku tulisan Mpu Tantular) Pangeran, ini pelajaran pahit yang harus kita muntahkan!"

"Tapi belum semua manusia Blambangan berubah, Yang Suci," bantah Umbul Songo.

"Memang tidak banyak jumlah drubiksa di jagat ini.

Tapi yang sedikit itu bisa menjalar ke mana-mana. Apalagi jika drubiksa itu memegang kekuasaan. Mereka akan dengan mudahnya melahirkan drubiksa-drubiksa baru."

"Dewa Bathara! Yang Suci mengecilkan peranan yang masih baik?" Umbul Songo tersinggung.

"Keadaan telah menjadi compang-camping. ’Tak bisa diperbaiki lagi. Kecuali dengan menyingkirkan seluruh drubiksanya."

"Itu bukan pekerjaan mudah," Baswi menyambung. "Apalagi jika brahmana yang telah menjadi drubiksa ditambah dengan kekuasaan di tangan, maka ia akan mudah menjelma menjadi berlaksa-laksa."

"Hidup memang tak pernah surut dari kesulitan," Resi menambahkan. "Jadi kita tak boleh gentar."

"Tapi," kini Andita ikut bicara, "kesulitan bukan cuma untuk dibicarakan. Harus diatasi! Dan harus dengan perbuatan."

Semua orang menoleh padanya. Terutama Umbul Songo. Kecurigaan timbul dalam hatinya. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan dan direncanakan oleh orang-orang Raung ini. Maka ia memutuskan untuk mengadakan penjajagan.

Apalagi setelah Resi berkata, "Setiap perbuatan harus menyertakan perhitungan.

Perbuatan tanpa hitungan sama dengan ikan yang berenang di rawa sempit, yang tak tahu adanya bubu menganga di hadapannya."

Maka Umbul Songo sibuk menebak apa tujuan perkataan mereka. Sementara itu Wilis yang tidak bicara. Ia hanya mengamati semua suara dan gerak dari tiap yang ada. Baginya itu merupakan pelajaran tersendiri.

Sesaat ia perhatikan mereka semua terdiam. Suara hujan di luar kamar itu sudah tidak sekeras tadi.

Menandakan hujan mulai mereda. Kesempatan itu dipergunakan oleh Umbul Songo untuk kembali meneliti keadaan ruangan. Ada empat balai-balai bambu yang besar. Mungkin cukup untuk enam orang. Matanya mulai merambat ke dinding kayu yang tanpa ukiran atau hiasan lain. Ah, bahkan jauh lebih sederhana dibanding dinding rumahnya. Namun sebelum ia meneliti lebih lanjut, Wilis mengajukan pertanyaan dengan suara pelan,

"Apa kabar Pangeran Mas Alit?"

"Pangeran Alit sudah besar sekarang. Tentunya Pangeran akan lupa bila bersua nanti. Sayang beliau lemah dan rupa-rupanya malas belajar. Hampir tidak pernah berlatih apa-apa."

"Apakah sering sakit?"

Umbul Songo bercerita panjang-lebar lagi tentang keadaan istana, dengan suara pelan sehingga tetap menyulitkan Abrit yang ingin mendengar pembicaraan mereka. Wilis kian tak sabar.

"Blambangan telah menjadi sangat ringkih sekarang!" katanya.

"Blambangan sedang sakit!" Baswi berpendapat. "Yang ringkih bisa kita kuatkan. Yang sakit harus kita obati. Bila tertidur, kewajiban kita untuk membangunkannya!" Resi bicara lagi. Umbul Songo mengerutkan dahinya.

Sebentar kemudian matanya menuju pada Wilis. Pemuda yang jiwanya sedang mekar terbuka oleh kenyataan hidup. Melihat secara langsung penderitaan kawula, yang ternyata lebih pahit dari apa yang pernah dia dengar di istana dulu. Dan ini pula rupanya yang membuat Wilis lebih tertata lahir dan batinnya, melampaui Baginda di istana. Dan Umbul Songo tahu bahwa itu masih akan berkembang terus. Ini dibuktikan dari pertanyaannya. "Bukankah yang sakit itu ada dua kemungkinan, Yang Suci. ia bisa mati, dan bisa sembuh?"

Resi tergagap walau ia menjawab juga. "Hemh... benar, Pangeran. Tapi... kita memilih yang kedua untuk Blambangan." Wilis tersenyum.

"Paman istirahat di sini, bukan?" Baswi mengalihkan persoalan.

"Ya. Kudaku terlalu letih."

Hujan sudah reda. Tinggal titik-titik lamban. Kemudian Resi mempersilakan Umbul Songo istirahat. Dan setelah mengucapkan terima kasih pada semuanya Umbul Songo mengikut ke pesanggrahan Baswi.

"Wilis sudah tahu tentang aku. Tentunya kau juga. Karena itu tidak ada jeleknya bila aku minta bantuan pada kalian untuk menjinakkan mereka yang telah menjadi liar itu," katanya kala melewati gang-gang menuju bilik Baswi. "Bukankah sudah ada maklumat Menteri Muka yang menjinakkan mereka?"

Bukan main terkejut hati Umbul Songo. Baswi mengetahui setiap yang terjadi di Blambangan. Ah, tentunya Raung memiliki barisan sandi yang rapi. Diam- diam ia mengambil napas panjang.

"Bagaimanapun aku membutuhkan prajurit dan senjata. Aku tahu, kau dan Sardola membawa senjata- senjata berat’"

"Ya. Sebab kami khawatir senjata-senjata itu jatuh ke tangan drubiksa. Sama-sama senjata, Paman, di tangan mereka dan kita, mempunyai arti lain."

Umbul Songo mengangguk-angguk membenarkan. "Apalagi sekarang ini sebenarnya Paman memang

menghadapi masalah yang sulit. Terutama sekali Yang Mulia Haryo Dento. Mereka tidak akan bicara banyak tanpa kapal perang yang mampu membungkam meriam perompak. Ingat di laut mereka sukar dijinakkan. Bahkan mungkin lebih liar."

Umbul Songo semakin kagum. Namun belum sempat menyatakan mereka telah sampai di hadapan Sedah Lati. Baswi memperkenalkan istrinya.

"Inilah Paman Umbul Songo. Bersembahlah, Istriku!" Sedah Lati menjatuhkan diri kemudian menyembah. "Inilah hamba, Yang Mulia."

"Panggil aku Paman saja! Berdirilah! Oh, kau sudah mengandung?"

"Sudah, Paman." Sedah Lati menyembah lagi lalu berdiri. "Aku akan segera punya cucu. Dirgahayulah kau, Sedah Lati, agar dapat memelihara anakmu baik-baik."

"Hamba, Paman," jawab Sedah bahagia. "Wanita yang baik adalah wanita yang tahu arti

seorang anak. Anak adalah penyambung kehidupan. Penyambung cita, cinta, dan karsa."

"Hamba, Paman."

"Ibu yang baik adalah kehidupan bagi anak, dewa bagi anak. Juga pemberi pertimbangan bagi suami."

"Hamba, Paman."

0oo0

Kabut masih tebal sekali. Sinar mentari belum mampu menjamah bumi. Tertutup punggung gunung di sebelah timur. Wanita-wanita Raung baru saja selesai menyiapkan perapian di dapur.

Namun Andita, sudah menyiapkan laskar berkuda untuk dilatih. Wilis juga sudah, di atas punggung kudanya.

Sebagaimana biasa tiap pagi kuda itu berlari mengitari perkubuan bersama tuannya. Kaum muda mengagumi ketrampilan penunggangnya. Juga dalam hal kemampuan menggunakan senjata. Kaum mudi juga sering memperbincangkan kegagahannya.

Kini di belakang kuda Wilis menyusul pasukan berkuda. Tiba-tiba Wilis berdiri di punggung kudanya sambil merentangkan busur, dan meluncurkan anak panah. Sebuah sasaran yang sengaja dipasang tertembus anak panah itu. Itu sempat membuat gadis- gadis yang hendak mengambil air ke sungai berhenti untuk bersorak memujinya. Umbul Songo yang saat itu berdiri di tempat tinggi bersama Baswi, terbelalak. Kagum.

Bagi Umbul Songo bukan cuma Wilis yang mengagumkan. Tapi juga kuda-kuda pasukan itu. Dalam keadaan licin karena hujan kemarin sore, mampu melampaui beberapa rintangan dengan baik. Juga melompati kali-kali kecil dengan mudah dan tanpa cela sedikit pun. Kemudian ia melihat lima orang diperintahkan mengeroyok Wilis dari atas punggung kudanya. Mereka semua menggunakan pedang kayu.

Mula-mula Wilis tampak tersudut di tepian jurang. Namun ternyata anak muda itu dengan lincah dan tangkas, menghindarkan diri dari semua tusukan.

"Jagat Pramudita! Putra anugerah Hyang Durga sendiri!" Umbul Songo menggelengkan kepala berulang- ulang.

Baswi segera memberi isyarat pada Andita sebagai pemimpin latihan untuk mengubah gelar. Yaitu latihan bagaimana cara melindungi pimpinan mereka di tengah medan pertempuran. Andita dengan bala tentaranya menyerang dengan jajar perang Sapit Urang. Namun pengawal Wilis mampu menyelamatkan junjungannya, dengan jajar perang Garuda Nglayang. Begitulah latihan berjalan terus sampai mentari menampakkan diri secara utuh. Keringat mereka sudah bercucuran bagai orang mandi. Perang-perangan belum berhenti. Bahkan kini secara manis sekali mereka telah bergeser dari tempat yang terlindung bukit-bukit dan dibatasi jurang-jurang ke tempat yang lapang. Mungkin memang tempat yang sengaja diratakan untuk kepentingan latihan perang terbuka. Dan Umbul Songo makin terpesona mengikutinya. Walau ia makin tidak mengerti kenapa Baswi justru memamerkan kekuatan di hadapannya. Padahal Baswi adalah pelarian.

Bukan cuma pameran kekuatan. Tapi juga pameran ketangkasan. Ia lihat bagaimana Sardola memimpin pasukan meriam dan cetbang. Setiap perpindahan baik dalam keadaan menyerang maupun diserang mereka selalu mendapat perlindungan dari laskar wanita yang dipimpin oleh Yistyani. Wanita-wanita yang bersenjata bedil dan panah. Umbul Songo menghitung berapa kira- kira jumlah yang terlibat dalam latihan itu? Lebih dari tujuh ribu! Gila! Berapa cadangan makanan yang harus disediakan oleh Baswi untuk laskar sebanyak ini? Belum barisan sandi yang tentunya tidak akan dipertontonkan. Aku, yah, aku mungkin tak mampu menggaji laskar sebanyak itu.

Mungkinkah Resi Wuni Pati yang membiayai mereka? Untuk apa? Berontak? Kalau begitu Resi Wuni Pati juga brahmana rakus. Ah, orang yang penuh pengetahuan dan pendapat memang pandai menyembunyikan kerakusannya. Berarti sekarang Blambangan sedang terjepit oleh dua kekuatan. Kemudian Umbul Songo melayangkan pandangnya ke tempat jauh. Berbukit-bukit. Ia menangkap ada puluhan patung-patung jerami.

Tentulah itu sasaran latihan menembak atau memanah. Kalau benar demikian tentu harus diperlukan biaya banyak untuk menambah persediaan peluru. Dari mana uang sebanyak itu? Dan dari mana ia beli peluru itu?

Lewat pelabuhan atau bandar mana dia memasukkannya? Mungkinkah ia punya hubungan dengan semua perampok dan perompak di seluruh Blambangan ini? Ada baiknya ia menjajagi Baswi saja. "Kekuatanmu demikian hebat. Cukup untuk menggilas sebuah kadipaten seperti Prabalingga," Umbul Songo memulai.

"Belum tentu, Paman."

"Kenapa? Kau mampu. Sebuah kadipaten bawahan Blambangan tentu tidak memiliki laskar sebesar ini."

"Bukan laskar yang hamba takuti. Tapi kawula." "Kawula tak berani melawan senjatamu!"

"Karena mereka belum bangkit. Tapi jika mereka telah marah dan bangkit maka mereka tak ubahnya raksasa seribu! Lihat mereka itu!" Baswi menunjuk yang sedang berlatih. Merayap seperti kadal mendekati mangsa.

Umbul Songo mengikuti telunjuk Baswi. "Mereka adalah kawula Raung. Bukan satria! Sebagian kecil saja yang berasal dari laskar Blambangan. Mereka membangun perkubuan ini. Dan mereka bertani untuk menyediakan cadangan makanan mereka sendiri. Jika Paman juga bisa membangunkan kawula Blambangan yang tidur itu maka apa artinya para perusuh untuk Paman?"

"Hyang Bathara! Kau tidak memberi nafkah?" "Di sini tidak ada prajurit yang makan dari upeti." "Seperti tidak masuk akal. Aku belum pernah

mengetahui kehidupan yang demikian ini sebelumnya, Baswi."

"Di sini kami merasa satu penderitaan. Karena itu semuanya telah meleburkan diri menjadi kawula.

Karenanya kami mengerti nurani kawula. Kami bersenjata hanya untuk menjaga diri dari keganasan laskar Blambangan yang tak tahu diri."

"Raung melepas diri dari Blambangan." "Bukan Raung melepas diri. Tapi Blambangan tak mampu mengurusi daerahnya. Dan kami, memang tak bersedia mengabdi pada kaum drubiksa."

"Tapi Raung tak pernah membayar upeti." "Apalah yang bisa dipersembahkan oleh kawula

pegunungan? Bukannya mereka tidak mau. Tapi Kuwara Yana telah terlalu sibuk dengan, kekayaan pribadinya, selir-selirnya, maka tak mengurusi lagi kekayaan negara. Paman, kawula Raung menyadari sepenuhnya istana tak mungkin hidup terus tanpa upeti. Satria hidup dari kawula!"

"Juga aku, Baswi?"

"Siapa pun yang tak pernah tertumpah keringatnya di atas bumi, dan tidak mengeluarkan pembelian atas harga makanannya, sebenarnya ia adalah pencuri."

"Jagat Dewa!" Umbul Songo makin tercengang, "Dari mana pengetahuan semacam itu? Bukankah kawula memang hidup untuk satria? Itu kehendak Dewata!"

"Itulah sebabnya jagat tidak pernah tenang. Karena satria selalu mengatasi segala. Ia ingin semua kehendaknya terjadi. Banyak satria yang bicara tidak dengan akal, tapi dengan penjara dan pedang. Dengan begitu kawula Blambangan hidup dalam ketakutan yang terus-menerus. Satria yang membuatnya begitu."

"Kau telah berubah." Umbul Songo menghela napas.

Matanya masih menatap yang sedang berlatih. "Sebaiknya kau jadi brahmana, Anakku!"

Diam sesaat. Baswi tidak menjawab.

"Tak setetes pun mengalir darah sudra dalam tubuh Pangeran Wilis. Tapi kini kalian menyembahnya." Umbul Songo bicara lagi. Baswi memandangnya perlahan. "Ia adalah satria yang menyudrakan diri. Bukan cuma itu, ia juga brahmana, ia juga prajurit."

"Itu cuma bisa dikerjakan oleh para dewa, Baswi." "Ia belajar mengenal Rg Weda, Yajur Weda, Sama

Weda, dan Atharwa Weda, karena itu ia brahmana. Ia belajar krida dan yuddha gama, maka ia prajurit. Tapi ia juga mencangkul dan menanam, karena itu ia adalah petani."

"Dewa Bathara! Apakah ia mumpuni?" "Pamanda melihat syakti (kuasa yang dapat

menghancurkan secara halus) dalam matanya?" "Ya, aku lihat matanya cukup berwibawa."

"Sejak kecilnya ia mendapat sidhi (kekuatan) dari para dewa. Ia juga mampu memperoleh pratyahara (ketenangan/bebas dari segala pengaruh) dalam semadinya. Itu yang membuat ingatannya tajam seperti matanya. Adakah kami tak harus bersembah padanya?"

"Apa perlunya Wilis jika kalian mengandalkan sudra?" "Kawula membutuhkan pimpinan. Seperti rombongan

gajah di hutan, monyet pun punya pimpinan, bahkan ikan-ikan di laut punya kepala rombongan. Tapi satria yang dibutuhkan bukanlah satria yang hanya mampu merampas dan membunuh."

"Dengan kata lain kalian tak membutuhkan Prabu Mangkuningrat?"

"Yang dibutuhkan Blambangan bukanlah raja yang rakus wanita dan harta. Tapi seorang yang mempunyai pendengaran tajam hingga dapat selalu mendengar rintihan kawulanya. Juga tidak hanya pandai mendengar diri sendiri. Mempunyai penglihatan sejauh cakrawala. Bukan cuma segitu, tapi menembus cakrawala itu. Sehingga tak satu pun peristiwa yang tidak diketahuinya. Sehingga. ia akan mempu menghitung apa yang sedang dan bakal terjadi."

"Menyamai dewa-dewa?"

"Hyang Bathara Erlangga yang mengatakan bahwa manusia bisa menjadi dewa bila ia punya karya dan darma seperti dewa."

"Jangan racuni dirimu dengan ajaran kaum Wisnu, Baswi!"

"Tidak, Paman! Bathara Hayam Wuruk Sorga telah membenarkan Bhineka Tunggal Ika-nya Mpu Tantular. Kenapa kita tidak memetik saja apa yang baik? Apakah itu dari kaum Wisnu, atau Hinayana, Tantrayana, maupun Mahayana."

"Baswi, kau telah menjadi brahmana." Umbul Songo sampai pada kesimpulan. Ia tahu Baswi tidak bisa ia lawan dengan kata-kata lagi. Dan ketika latihan selesai ia mengikuti langkah Baswi.

"Siapa nama pimpinan pasukan wanita tadi?" tanyanya sambil berjalan melewati hutan-hutan cemara. Udara sejuk sesekali menjamah mereka.

Bunga-bunga tumbuh dengan sendirinya, menyemarakkan perkampungan di depan mereka.

"Yistyani." Baswi menoleh pamannya.

"Hemh..." Umbul Songo meletakkan satu tangan kiri di atas pantat, sedang tangan kanannya mengelus kumisnya. Sambil menghembuskan napas ia menelan ludahnya. Buah lehernya naik-turun. Namun mereka berjalan terus mendekati pesanggrahan. "Kenapa?" Baswi mengerutkan dahi. "Cantik."

"Paman masih sempat mengagumi wanita cantik." Baswi tertawa. Tanpa sadar Umbul Songo pun terbahak- bahak. Giginya agak merah karena banyak bersirih.

Setelah itu diam beberapa bentar sampai terdengar Umbul Songo berkata lagi,

"Cukup hanya bibimu saja, Baswi."

Baswi tersenyum. Ia percaya. Pamannya tidak pernah memperbandingkan istrinya dengan seorang selir pun.

Dalam hati ia berjanji, cuma satu Sedah Lati saja selama hidupnya.

"Kau meniru benteng Surapati dan Sawunggaling?" "Ya." Baswi tegas.

"Sekarang keduanya telah diratakan dengan tanah oleh Belanda."

"Kami sudah dengar." Suara Baswi ringan.

Umbul Songo makin mengerti bahwa Baswi memasang telik di mana-mana. Karena itu ia makin percaya bahwa ia pasti berhasil dengan tuntas membasmi kerusuhan di Blambangan bila Baswi turun tangan. Karena itu ia segera mendesak Baswi untuk memberi bantuan tenaga terlatih padanya. Namun sebelum Baswi dapat menjawab mereka sudah sampai di pendapa pesanggrahan. Resi sudah siap menunggu mereka.

Setelah duduk di tempat yang disediakan, mereka bersama-sama makan sirih, pinang, dan kapur.

Percampuran ketiga bahan itu ternyata menimbulkan warna merah di bibir dan gigi. Apalagi bila digosok dengan tembakau. Suasana lengang beberapa saat.

"Paman bisa tinggal lebih lama di sini?" "Blambangan menantikan daku."

"Hamba tak bisa menjawab persoalan bantuan itu sekarang."

"Bukankah tinggal keputusanmu? Aku sudah lihat kekuatanmu. Sekali lagi, Baswi, Blambangan membutuhkan penanganan yang baik. Dan itu tak mungkin bisa dikerjakan hanya oleh kami berdua saja. Aku dan Yang Mulia Haryo Dento."

"Bukan hamba yang harus memutuskan."

"Oh, harus menunggu keputusan Pangeran kalau begitu?"

"Setidaknya kami harus bersidang lebih dulu. Dan ada baiknya bila Paman ikut dalam sidang itu. Supaya bisa langsung tahu keputusan kami."

Beberapa saat Resi Wuni Pati masih belum melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Seolah asyik dengan dunianya sendiri. Sekilas Umbul Songo meliriknya. Kali ini mengenakan jubah hitam. Rambutnya lepas ke bawah pundak dengan tanpa destar. Kalung emas dengan medali sebesar telapak tangan menggantung di lehernya. Medali bergambar Hyang Durga. Sedikit perasaan iri tersembul di dasar hati terdalam Umbul Songo. Wajah Resi itu tampak cerah.

Hampir tiada kerut di wajah itu, kendati usia sudah lanjut.

Rupanya Baswi tidak memberinya kesempatan lagi. Dia permisi meninggalkan Umbul Songo dan Resi Wuni Pati. Resi itu cukup mengangguk sebagai jawaban. Nah, kini mereka telah berdua, kata Umbul Songo dalam hati. Aku perlu mengadakan penelitian lanjutan. Kembali Umbul Songo memperhatikan Resi. Tangan kiri orang itu memegang tongkat bergiring-giring. Setiap gerakan tangan, membuat ujung lengan jubahnya berkibar dan mengeluarkan suara. Sementara itu tanpa sadar Umbul Songo membetulkan letak kerisnya. Perasaannya mulai tak sabar. Maka:

"Resi pemimpin mereka?" tanyanya. Resi tersenyum.

"Hamba seorang resi, Yang Mulia. Seorang pendeta."

"Resi bukan begawan. Satu ketika ia bisa berubah menjadi seorang satria di medan laga," Umbul Songo memancing.

"Untuk itu sudah ada Pangeran Wilis, Andita, dan Baswi."

"Mereka bukan brahmana."

"Jagat Pramudita! Yang Mulia memeriksa hamba?" "Maaf, Yang Suci. Blambangan dalam kesulitan. Di

satu pihak kami menghadapi perusuh, di lain pihak hamba melihat deretan meriam mulai, teracung ke dada kami. Memang baru sedikit."

"Dewa Bathara! Ya, Jagat Pramudita! Yang Mulia menuduh kami menyiapkan pemberontakan?"

"Demi keamanan Blambangan."

"Yang teracung ke Blambangan bukan meriam Raung.

Tapi milik Belanda, Mataram, mungkin juga Bali."

Umbul Songo diam. Ia pandang tajam-tajam Resi Wuni Pati. Tapi resi itu tidak menanggapi. "Kekacauan akan cepat mengundang mereka. Apalagi pemberontakan," Umbul Songo menerangkan.

"Justru kami sangat mengerti hal itu. Pemberontakan juga berarti merusakkan kehidupan kawula. Kami tak pernah berniat merusakkan mereka."

"Kalau demikian halnya, Yang Suci harus membantu atau setidaknya menyetujui permintaan hamba pada Baswi tadi."

"Baswi memberi tahu, bukan? Hamba tak berwenang.

Setidaknya Yang Mulia harus menunggu sidang." Umbul Songo menarik napas panjang.

"Sebaiknya Yang Mulia istirahat dulu. Hamba tak memiliki kekuasaan untuk menjawab permintaan Yang Mulia. Sama seperti Baswi, hamba pun tidak berhak."

Tidak bisa lain. Umbul Songo harus mengiakan. Dan Resi mengantar dia ke tempat Sedah Lati. Sedang Sedah Lati melayani pembesar itu dengan baik. Sebaik yang diperintahkan suaminya. Hingga pada sore hari Umbul Songo bersama Baswi yang sudah pulang dari sawah, berangkat ke persidangan istimewa pimpinan Raung.

Ternyata Wilis sudah duduk berjajar dengan Andita di sebelah kanannya. Yang dapat dikenali oleh Umbul Songo antara lain, Sardola, Tumpak yang duduk sebelah-menyebelah. Yistyani juga nampak hadir. Di samping Resi maka sebagian besar tak ia ketahui.

Kemudian Umbul Songo dipersilakan duduk di sebelah kanan Andita. Sedang Baswi duduk di sebelah kiri Wilis.

Beberapa bentar kemudian Baswi menerangkan maksud kedatangan Umbul Songo. Yaitu meminta laskar Blambangan yang dulu pernah bertempur di Surabaya, diharap bisa membantu tugas Umbul Songo menumpas gerombolan perusuh. Dan setelah Baswi selesai bicara satu-satu mereka diminta untuk memberikan pendapat. Umbul Songo mendengar semua pendapat itu dengan hati berdebar. Ada yang setuju. Ada yang tidak. Sampai pada saat Andita berdiri dan berkata,

"Yang Mulia Panglima dan Pangeran serta Saudara- saudara! Jika kita mendengar beberapa Saudara yang lebih dulu berbicara maka hamba sangat senang." Andita berhenti sebentar melihat Wilis. Ingin menjajagi hati pemuda itu. Namun kemudian,

"Kita harus melihat Blambangan adalah bumi persada tanah kelahiran tercinta. Memang saat ini Blambangan menjadi ajang kebejatan akhlak manusia. Upacara Maithuna (upacara disertai persetubuhan massal untuk memohon hujan sebagai sarana kesuburan tanah) yang sudah dihentikan oleh Mpu Tantular melalui karyanya Suta Soma itu, tetap dilakukan di Blambangan secara perorangan. Bukan untuk meminta kesuburan tanah, tapi untuk memuaskan nafsu drubiksa dalam diri mereka masing-masing. Namun kita tidak boleh sekadar mengutuk! Kita tahu bahwa di Lateng juga tinggal saudara-saudara kita. Sudra yang membutuhkan perlindungan dan pertolongan kita.

"Suatu dosa yang tiada terukur, bila kita membiarkan mereka dalam aniaya dan derita. Kelaparan, kedunguan, dan kesesatan. Jadi kita perlu mengirim bantuan ke Blambangan. Membantu Yang Mulia Umbul Songo menyelamatkan Blambangan dari genggaman drubiksa." Sampai di sini beberapa orang termasuk Sardola, bersorak menyetujui. Bahkan ada yang bertepuk tangan.

"Jangan menjadikan diri kita manusia yang terpisah dari negeri kita sendiri dengan cara bersikap masa bodoh atas keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan. Jangan menjadikan diri orang asing di negeri sendiri." Andita akhirnya menutup dengan permohonan maaf dan penghormatan. Tepuk tangan panjang mengiringnya ke tempat duduk.

Baswi tersenyum. Kemudian menawarkan kesempatan pada lainnya. Namun tiada yang berdiri. Dan kesempatan diberikan pada pimpinan laskar wanita.

Yistyani berdiri di bawah sorot mata semua orang.

"Hamba cuma ingin menambah uraian panjang Tuan Andita tadi. Karena memang tiada alasan apa pun yang patut untuk membantahnya. Dalam salah satu bagian Decawarmana (judul lama (mungkin asli) Negara Kertagama) kita mengetahui bahwasanya pernah ada pemberontakan Kuti di Majapahit. Saat itu Prabu Jaya Negara diselamatkan oleh seorang yang kelak bergelar Gajah Mada yang oleh Sri Maha Ratu Tribuana Tungga Dewa diangkat menjadi Patih Amangkubumi di Majapahit. Saat itu Majapahit juga dikuasai drubiksa." Yistyani tersenyum. Semua orang merasa senyuman itu tertuju pada mereka. Sehingga tanpa sadar mereka juga ikut tersenyum.

"Sri Prabu sendiri kemudian mesanggrah di Bedander.

Tapi menyadari bahwa beliau adalah orang yang bertanggung jawab atas Majapahit, maka beliau mengirimkan laskar untuk menumpas drubiksa. Kita juga harus sadar bahwa Blambangan ini dibangun dengan darah suci leluhur kita. Perasaan bertanggung jawab adalah ciri satria yang baik." Sekali lagi Yistyani menarik napas panjang. Buah dadanya naik-turun seirama tarikan napas itu. Matanya berkeliling mengitari seluruh ruangan. Semua tercekam oleh suaranya yang merdu. Gadis itu kemudian menutup dengan ajakan ikut bertanggung jawab sambil melempar senyuman. Lesung pipit menghias pipinya yang mulus. Gigi hitam mengkilap berderet di sela bibir.

Umbul Songo makin kagum. Bukan cuma oleh kecantikannya. Tapi juga kecerahan otaknya. Wanita itu pasti membaca banyak lontar. Ah, tentunya ia bukan sudra. Kini ia melihat Baswi menoleh pada Pangeran Wilis. Dan pangeran itu berdiri.

"Aku tidak akan bicara panjang. Aku tahu kalian setuju!" Diam sesaat sambil tersenyum pada Umbul Songo. Sebentar kemudian orang muda itu melambaikan tangan pada hadirin sambil,

"Setuju?" "Setuju!!!"

"Yang Mulia telah dengar sendiri. Itulah keputusanku." Wilis duduk kembali.

Baswi kini mempersilakan Umbul Songo. Mentari di luar pendapa sudah hampir tenggelam. Maka Umbul Songo pun menyatakan terima kasih yang amat sangat.

"Kami membutuhkan seribu orang bala bantuan." "Seribu?" Wilis tersentak. "Jumlah yang luar biasa

banyaknya untuk suatu gerakan sandi."

"Para drubiksa mampu mengerahkan sepuluh ribu orang. Bahkan lebih. Tapi mereka sedang terkurung oleh maklumat Menteri Muka. Tentunya itu terbatas waktunya. Kita tak bisa mengandalkannya. Tapi kita juga tak bisa mengerahkan laskar secara besar-besaran. Sebab, bila sedikit saja Cokorda Dewa Agung curiga, maka selangkah saja ia akan sampai dengan pasukannya." "Mengapa kita takut pada raja Mengwi itu?"

"Sementara itu Blambangan kalah dalam segala hal oleh Bali. Keuangan, persenjataan, dan jumlah laskar. Maka kita harus mengalah."

Wilis diam. Memang Blambangan belum pulih dari luka perang saudara. Namun lamunan segera terhenti. Baswi sudah membubarkan pertemuan itu. Cuma beberapa orang saja yang diminta tinggal untuk membicarakan siasat selanjutnya. Tentu Baswi memesan pada mereka yang bubar itu agar tidak menyampaikan hasil persidangan pada bawahan mereka sebelum ada izin dari Wilis. Dan biasanya yang rahasia begitu tetap menjadi rahasia.

Kini Umbul Songo memberikan beberapa petunjuk yang harus dikerjakan. Yaitu mereka harus menuju Srawet. Di sana mereka harus berpakaian seperti laskar Blambangan supaya tidak mencurigakan. Dan Wilis setuju sepenuhnya. Dan. dia minta pada Baswi maupun Andita agar orang yang diberangkatkan adalah orang- orang pilihan dalam arti segala hal. Jangan sampai mereka akan bisa ketularan menjarah milik kawula.

"Setelah itu mereka akan kami tempatkan di tapal batas Ibukota," Umbul Songo melanjutkan.

"Baik untuk itu kami akan segera mengirim bahan makanan dan senjata, ke tempat yang telah Paman tentukan itu. Bukankah begitu, Pangeran?"

Wilis menoleh pada Yistyani. Gadis itu cepat menjawab dengan hormat, "Cadangan makanan kita berlebih, Pangeran." "Baik, kita akan kirim cadangan makanan itu. Tapi jangan ada satu meriam pun keluar dari perkubuan!" ujar Wilis yang segera mendapat persetujuan dari Sardola.

Umbul Songo memaklumi. Namun ia cukup puas.

Sebelum pertemuan ditutup Wilis terlebih dahulu meninggalkan tempat itu. Begitu pula Resi Wuni Pati. Mereka akan bersemadi. Atau mungkin Wilis akan membaca lontar. Sementara itu Umbul Songo mengusulkan pada Baswi dan Andita, supaya laskar yang dikirim nanti menggunakan gelang akar hitam pada lengan kirinya. Jika tidak ada maka mereka boleh memakai lawe hitam sebagai gelang.

"Kami bukan orang Budha!" Baswi terkejut. "Tidak apa," jawab Umbul Songo. "Dan jika kalian

sampai, maka pertanyaan pertama adalah, ’Jingga’ Maka kalian harus jawab dengan kata ’Bayu’(bisa berarti angin. Tapi di sini punya arti rakyat kecil atau kawula (sudra))."

"Yang lain?"

"Tidak ada. Nah, aku sudah cukup puas. Terima kasih,

Andita, Baswi, dan Sardola, juga

kau, Yistyani. Aku harus berangkat. Karena itu sampaikan hormatku pada Pangeran dan Resi."

"Hari sudah gelap," Andita mencegah. "Kudaku tidak akan terantuk."

Seseorang diperintah oleh Baswi untuk menjemput Abrit. Mereka semua saling berdiri, kemudian mengiringi Umbul Songo sampai di gerbang perkubuan.

Hari-hari merangkak lamban. Rasanya seperti enggan menjangkau esok. Namun sebenarnya tidaklah demikian yang terjadi. Waktu berlalu seperti melompat dari hari ke sehari. Akibatnya apa yang terjadi pada tahun silam masih seperti kemarin saja. Bahkan kelahiran demi kelahiran telah banyak terjadi di Raung. Melalui perkawinan demi perkawinan. Dan kian hari suasana kian menjadi baru.

Demikianlah Tumpak sekarang bukan hanya berani mengintip Yistyani pada waktu mandi saja. Keinginan yang besar untuk memetik kembang terindah di Raung itu mendorongnya untuk berani berkunjung ke rumah Yistyani. Tapi yang sering bersua dengannya justru bukan Yistyani. Karena gadis itu sering tidak ada di tempat.

Kali ini pun ia bergegas ke tempat Yistyani. Dalam hati ia telah menyiapkan beribu kata sanjungan dan rayuan untuk menyampaikan hasrat hatinya. Namun ia terpaksa’ harus puas kala sampai di sana Janean yang membuka pintu bahkan menemaninya berbincang serta makan sirih. Mulanya ia tidak berani menanyakan tentang Yistyani pada Jenean. Tapi akhirnya ia coba memancing karena takut gadis itu tersinggung.

"Sering sekali ia dipanggil Pangeran," Jenean menerangkan.

"Untuk apa?" "Membaca lontar."

"Ha?" Tumpak terkejut. Namun segera ia menutupinya dengan menoleh pada perapian, di sebelah kanan balai- balai yang mereka pakai sebagai tempat pertemuan itu. Kemudian matanya merambat keliling ruangan. Padahal ruangan itu tak pernah berubah. Setiap kali ia datang selalu saja ada kendi di pojok ruangan. Kayu palang pintu selalu juga tergeletak di samping pintu. Ada dua pelita yang ditaruh di sudut kiri dan kanan ruangan untuk membantu menerangi ruangan itu. Dinding kayu dikapur putih bersih, membedakan tempat itu dengan rumah- rumah lain di Raung. Mereka biasa tidur di tempat bersih kala tinggal di Lateng. Maka mereka selalu membersihkan tempat mereka.

"Ya. Pangeran belum mahir Sanskerta." "Yistyani?"

"Bahkan ia dapat bicara Sanskerta."

Tumpak tak habis mengerti. Gadis yang tak ia ketahui asal-usulnya itu bisa berbahasa milik dewa-dewa.

"Apakah kau juga bisa?" Ia menutupi kekagumannya. "Yistyani memberikan pelajaran. Tapi belum bisa."

Janean malu.

"Ah, aku sendiri tidak bisa, kok." Tumpak setengah mengeluh. "Menyesal, kenapa segala pengetahuan ditulis dalam bahasa yang tidak kukenal."

"Ya, aku juga tidak mengerti kenapa begitu."

"Apa kira-kira tidak ada hal lain, eh... maksudku antara Yistyani dengan Pangeran?"

"Kurang mengerti, Kakang." Jenean tersenyum sambil menatap wajah Tumpak.

Angin sayup meniup ke dalam ruangan. Membuat api pelita bergoyang seperti perawan menari.

"Tak pernah ia bicara apa-apa?" Tumpak tak bisa menahan perasaan.

"Tidak." Jenean masih tetap tersenyum. Tumpak menghela napas panjang. Jenean menjadi iba. Ia mengerti Tumpak kecewa. "Kau sering ke Lateng. Apa kabar di sana" Jenean mengalihkan persoalan.

"Tidak baik untuk diceritakan. Kau ingin kembali?" "Tidak." Jenean menunduk sambil memain-mainkan

jari kakinya. Tumpak memperhatikan betis wanita yang bersimpuh di hadapannya itu. Mereka duduk sebalai- balai. Nampak oleh Tumpak kuku Jenean tidak lagi berwarna merah jambu seperti waktu pertama kali datang. Sekarang kuning bercampur hitam. Namun itu tak membuat Jenean menjadi malu. Memang pada awalnya ada perasaan risi. Juga warna kakinya yang dulu kuning langsat, kini menjadi agak coklat dan mengkilat. Lumpur yang membuatnya begitu.

"Adakah kau merasa pahit di Lateng?"

"Tidak mesti. Kadang pahit kadang manis," Jenean menjawab cepat. "Itu pun tak baik untuk diceritakan."

Tumpak tertegun. Gadis itu berusaha menutup diri. Seperti dia menutup masalahnya pribadi. Mereka diam lagi. Seolah kehabisan bahan pembicaraan. Namun dalam diam di angan Tumpak muncul bayangan tentang apa yang ia harapkan. Harapan yang sedang goyah.

Tumpak mencurigai Yistyani. Wanita itu bukan sembarangan. Bukan sudra! Ah... ia berdesah dalam hati.

Jenean membiarkannya sibuk menebak-nebak. Ia mengunyah kinang. Membuat bibirnya merah seperti delima. Semerah itu pula warna ludahnya yang ia ludahkan ke dalam tempolong yang ia sediakan untuk keperluan itu.

"Yistyani pernah bercerita tentang asal-usulnya?" "Rupanya Kakang menaruh perhatian padanya?" Jenean membuat Tumpak kelabakan. Dan merasa menyesal agak kurang mampu menguasai diri.

"Ah, tidak...," ia menutupi. Jenean menjadi tersenyum. "Biasanya lelaki tak pintar menyembunyikan hatinya." "Aku... hem... tidak sembunyi."

"Kau hanya pintar berkelahi. Tak pintar membaca hati wanita."

"Apa maksudmu?"

"Wanita lebih pintar melihat hati lelaki." Jenean masih tersenyum. Dan ia sama sekali tak mau dibelokkan oleh pertanyaan.

"Aku semakin bingung."

"Aku mengerti hatimu. Juga Yistyani. Tapi tidak sebaliknya."

"Jadi kalian pernah memperbincangkan tentang aku?"

Cuma senyuman yang menjawab. Dan itu membuat muka Tumpak terasa panas. Wanita selalu memperbincangkan lelaki bila sedang berkerumun.

"Lalu apa kata Yistyani tentang aku?"

"Wanita tak biasa membuka rahasia wanita lainnya pada lelaki."

Kini Tumpak makin sadar, ia berhadapan dengan wanita-wanita yang tidak sama dengan wanita kebanyakannya. Tapi ia heran mereka mau bekerja seperti petani lainnya.

"Ya. Itu memang kehidupan. Jadi kalau aku boleh katakan di Raung ini kami merasa bahagia," Jenean menerangkan lagi. "Di sini harga wanita lebih baik daripada di rumah Kuwara Yana. Sekalipun kami di sini harus mencebur lumpur setiap hari. Kaulihat wanita istri kawula Raung ini. Mereka berbagi suka dan duka dengan suaminya. Dengan anak di punggungnya, mereka membantu suami di ladang ataupun di sawah. Tapi di sana wanita tak lebih dari pemuas nafsu belaka."

"Maksudmu? Kaum satria itu tak tahu harga wanita?"

Malam kian merayap. Angin makin dingin. Jenean bangkit untuk menambah minyak kelapa pada pelita yang nyalanya tampak surut. Tumpak melihat lenggang Jenean. Gemulai juga. Wajahnya juga ayu. Tak sempat lama ia perhatikan, beberapa kutu busuk menyembul dari dalam tikar dan mengisap darahnya.

"Pengetahuan mereka bukan untuk menghargai wanita. Bukan pula untuk kebaikan. Karena sebenarnya mereka memang tak pernah berbuat sesuatu yang baik. Tapi segala yang baik dan segala yang benar harus dipersembahkan untuk mereka," Jenean berkata lagi sambil masih menuang minyak.

"Tapi kenapa banyak wanita yang senang dengan cuma diberi emas? Atau cuma ditinggali benih satria atau brahmana dalam perut mereka?"

"Barang siapa terlena dalam ketidaktahuan, ia akan bahagia dalam ketidaktahuannya." Jenean kembali bersimpuh di depan Tumpak yang juga bersila.

"Siapa yang mengajar kau bicara seperti itu?" "Pengalaman hidup."

"Pengalaman hidup?" "Pengalaman hidup adalah mahaguru yang paling tinggi. Pengalaman hidup dianugerahkan pada tiap pribadi oleh Hyang Maha Dewa secara tidak sama."

"Pengalaman hidup?" Tumpak masih belum memahami.

"Siapa yang mampu memanfaatkan pengalaman hidup, kemudian mengendapkannya dalam ingatan maka ia kan mudah menentukan pegangan bagi masa mendatangnya."

"Jagat Dewa! Kau bicara seperti Yistyani?"

"Tidak. Suaranya merdu, ia bicara seperti bidadari. Wajahnya juga cantik. Berbeda sekali dengan aku. Ia brahmani yang menjadi idaman setiap pria."

Hati lelaki muda itu tersentuh. Sesaat ia tercenung dalam keibaan.

"Wajah membawa harga tersendiri," tambah Jenean.

Seperti menyesali diri kenapa tidak secantik Yistyani. Perasaan Tumpak seperti diiris-iris.

"Tapi lelaki di sini kan tidak sama dengan satria di Lateng," dia berusaha menghibur.

"Itu disebabkan lingkungan kalian yang sempit saat ini.

Coba kalian menginjakkan kaki kembali di Ibukota? Belum tentu. Yang cantik di sini akan memuakkan di Lateng. Mereka yang kawin di sini akan mencampakkan perempuan mereka begitu mereka melihat perempuan- perempuan Lateng."

"Ah, perasaanmu yang bicara!"

"Justru ini keluar dari akal. Perasaan wanita selalu ingin dipuja. Ingin tiap lelaki menyanjungnya. Lebih dari itu tak ingin lakinya jatuh ke pelukan perempuan lain." "Yistyani juga berpendapat begitu?"

"Ia sudah punya sikap yang tegas. Ia tidak akan mencinta dan dicinta lagi!"

"Jagat Dewa!" Tumpak menjadi pucat. "Walau ada yang menginginkannya?"

Jenean tersenyum kembali. "Kau kecewa?" "Tidak. Tapi keputusannya yang sepihak itu..." "Ia telah menggunakan haknya sebagai pribadi.

Karena itu keputusan diambilnya secara pribadi. Dengan pertimbangan pribadi pula."

"Kalian punya jagat yang lain rupanya." Tumpak menghela napas panjang. Dan dengan membawa beberapa butir kekecewaan ia pulang. Jenean mengiringinya di ambang pintu. Selang beberapa bentar kemudian Yistyani mengetuk pintu. Jenean menyambutnya dengan senyuman.

"Kau makin cantik, Yis. Tubuhmu makin padat." "Kau merajuk." Yistyani melepaskan beberapa

perhiasannya. Wajahnya kelihatan mendung. Namun sinar pelita membuatnya tetap cantik.

"Yis, tadi si..." Jenean mendekati temannya itu. "Tumpak kemari?"

"Kau tahu?"

"Cuma kira-kira." Yistyani tersenyum sedikit. "Kau kelihatan sedih? Ada apa, Wong ayu"

Tanpa jawaban. Yistyani masuk biliknya. Jenean mengikut di belakangnya. Sejenak ia ingat, Wilis pernah juga masuk bilik itu. "Ah... kau tak tahu, Manis." Yistyani mengelus pipi Jenean seperti pada seorang adik.

"Rupanya ada sesuatu dengan Pangeran?"

"Waktu aku datang, Tuan Andita minta aku menunggu di luar. Karena Pangeran sedang berdoa. Lain dari biasanya. Kali ini berdoa istimewa, memperingati gugurnya pahlawan-pahlawan. Terutama Yang Mulia Jangrana serta Adipati Ngabehi Sawunggaling."

"Lalu?" Jenean memperhatikan Yistyani. Makin mendung. Setitik demi setitik air matanya meleleh.

"Kenapa kau menangis?"

Yistyani terdiam. Beberapa saat kemudian dia menghempaskan dirinya di balai-balai. Jenean juga duduk di sebelahnya.

"Kau tidak menangis untuk kedua pahlawan itu tentunya. Tapi untuk Pangeran," Jenean memancing.

"Hai..." Yistyani terkejut.

"Kenapa kaget? Karena aku meraba secara tepat?" "Tidak. Kau menebak-nebak."

Jenean tertawa lirih. Tapi ia memang mau mengungkap apa yang tersimpan di hati temannya itu.

"Apa maksudmu selalu menghubungkan aku dengan Pangeran?"

"Bukankah Pangeran Mas Nuwong dulu berjanji hendak membawamu ke istana?"

"Lalu apa hubungannya dengan Wilis?"

"Kau mengharapkan dia menggantikan kakaknya." Jenean tertawa lirih. "Jangan mengada-ada." Yistyani tersenyum.

"Bukankah kakaknya dulu berumur baru lima belas tahun sudah berani meniduri kau?"

"Ah..." Yistyani malu mengingat kejadian itu. "Kau samakan dia dengan kakaknya?" "Setidaknya kau berharap begitu."

Napas Yistyani terasa agak sesak. Air mata yang tidak keluar melalui jalan semestinya, mengganggu pernapasannya.

"Kenyataan memang sering tak seindah harapan." Suara Yistyani pilu. "Terlalu pahit untuk dirasakan."

Jenean mengerti benar arti kata-kata itu. Namun kini hatinya makin menebak-nebak. Yistyani ditolak? Atau yang lain? Makin lama Yistyani makin terbenam dalam kemasygulannya. Bahkan air matanya bertambah deras.

"Kau sendiri yang mengajar padaku, kesulitan bukan untuk ditangisi, tapi diatasi. Kenapa kau sekarang menangis? Mari ceritakanlah padaku. Kita berbagi suka, dan mari kita juga bagi derita yang kauhadapi itu."

Yistyani tersadar. Ia menghapus air matanya. Ia pandang Jenean. Mata wanita itu juga berkaca-kaca.

"Terima kasih, Jenean. Pergilah tidur!" kemudian ia menunduk lagi, dalam-dalam.

"Sudah kukatakan. Aku tak bisa melihat kau bersedih sendiri. Kau selalu memberi kegembiraan padaku.

Mengapa kita tak harus bersedih bersama?"

"Kesedihan bukan kegembiraan. Demi Hyang Dewa Ratu, ini tidak bisa dibagikan."

"Sahabat sejati adalah sahabat dalam suka dan duka." "Semboyan memang mudali dicetuskan dengan kata.

Tapi sukar dalam perbuatan."

"Hyang Dewa Ratu! Yistyani—" Jenean setengah berteriak. Ia terkejut. "Itu berarti kau tidak mempercayai aku? Tak pantas kauucapkan padaku, hai pemimpin laskar wanita!"

Yistyani tersentak dan bangkit. Matanya membelalak, bersinar kembali seperti bintang timur yang mengerjap- ngerjap.

"Jenean..." Bibirnya gemetar. Jenean sudah berdiri.

Diradang kemarahan. Yistyani segera meraih tangannya. Jenean merasakan betapa dingin tangan wanita itu.

"Duduk, duduklah kembali, Jenean!" "Pimpinan yang tidak menggunakan

kepemimpinannya adalah contoh yang paling buruk dari segala contoh. Juga brahmani yang tidak menggunakan kebrahmaniannya!"

"Maafkan aku, Jenean "

"Kau tak membutuhkan aku. Biarkan aku pergi!" "Lebih baik bunuh saja aku daripada mengucap

seperti itu. Ampunkanlah aku, Jenean," Yistyani meratap. Jenean memandangnya. Beberapa saat mereka saling berpandangan. Untuk kemudian saling berpelukan. Air mata mereka sama-sama berderai.

"Mari kita pergi tidur ," bisik Yistyani.

"Cerita dulu "

"Baiklah. Mari sambil kita berbaring."

Keduanya membasuh kaki masing-masing, di tempat penyimpanan air. Malam telah larut. Setelahnya mereka bersama-sama menuju pembaringan dan menggolekkan diri. Sebelah-menye-belah. Bilik kayu yang sederhana dan pembaringan yang terbuat dari bambu dan menimbulkan suara berderit tiap kali mereka bergerak, tidak membuat mereka mengeluh. Beberapa bentar kemudian, Yistyani mulai bercerita:

Semua pemuka Raung diundang ke pura. Semua kelihatan ada kecuali Tumpak. Sore itu memang panggilan mendadak. Tanpa rencana. Menurut Baswi mereka akan mengadakan pembacaan doa untuk menghormat arwah pahlawan besar dari Surabaya.

Putra-putra terbaik Nusantara, yaitu Tumenggung Jangrana, Arya Jaya Puspita, dan Adipati Ngabehi Sawunggaling dan satu lagi pahlawan besar Untung Surapati di Pasuruan.

Baswi mengerti benar ke mana Tumpak pergi. Ia berusaha agar Pangeran dan Andita tidak tahu. Namun Yistyani lebih mengerti dari Baswi. Ia cuma tersenyum dalam hati.

Mereka yang berada dalam pura itu mengheningkan cipta. Masuk alam darana (alam konsentrasi dalam meditasi) Resi Wuni Pati memimpin mereka dalam berdoa dan melakukan yoga semadi. Sunyi bagai mati keadaan dalam pura itu. Semua menegang napas. Tiada suara lain yang terdengar kecuali suara Resi.

Bau dupa, kayu setangi, dan kemenyan yang dibakar menusuk setiap hidung. Asapnya membuat tiap pasang mata merasa pedas. Seterusnya asap itu keluar dan membubung tinggi ke angkasa melalui tiap lubang yang ada.

Sebenarnya mereka melakukan ini sebagai balasan diam-diam yang terlambat terhadap misa syukur yang diadakan Belanda di gereja Batavia beberapa tahun silam. Misa syukur yang diadakan oleh gereka Batavia pada tanggal sepuluh Juli seribu tujuh ratus dua puluh tiga Masehi adalah atas perintah gubernur jenderal VOC.

Apakah misa itu diterima Tuhan? Kiranya tak ada Tuhan yang dapat diperintah oleh gubernur jenderal. Atau mungkin saja Tuhan menerima persembahan syukur yang atas perintah gubernur jenderal itu? Karena ia punya kekuasaan mutlak atas bumi jajahan?

Jangankan manusia. Kalau perlu Tuhan pun harus menuruti kehendaknya. Sejahat apa pun sang gubernur itu!

Berbeda dengan mereka yang sedang membakar kemenyan itu. Mereka hanya mengenal dewa. Dan mereka tak pernah mampu memaksa Tuhan mereka sendiri, seperti tuan gubernur jenderal di Batavia. Mereka hanya meratap dan memohon. Menyiksa diri dengan berpuasa. Mereka memang makhluk mengibakan!

Jadi, Tuhan sang gubernur jenderal itu memang pemurah. Senajis apa pun sang gubernur itu akan selalu dikabulkan. Tuhan orang Raung ternyata berbeda dengan Tuhan Belanda di Batavia.

Setelah membaca catatan sedikit tentang gugurnya Surapati di Bangil oleh pecahan granat, maka Resi menyerahkan segulungan lontar pada Wilis untuk dibaca. Isinya sebagai berikut:

Melalui caraka sandi dan para pedagang yang sampai di Wijenan(ibukota Blambangan waktu Macanapura masih berkuasa) Surabaya mengumumkan gugurnya Adipati Jangrana oleh suatu pembunuhan khianat di Kartasura. Pembunuhan terhadap adipati yang telah renta itu dicatat oleh Belanda sebagai tertanggal dua puluh enam Februari tahun seribu tujuh ratus sembilan Masehi, jam sembilan lima belas menit pagi hari, waktu Kartasura. Di tubuhnya terdapat sebanyak dua puluh lima luka tikaman. Antaranya tujuh pada paha kanannya saja. Dan pembunuhan terjadi di antara gapura pertama dan kedua keraton Kartasura. Waktu itu Adipati tak diperkenankan menghadap dengan pengawal dan senjata, kendatipun itu panggilan dari Susuhunan.

Memang Susuhunan sendiri bersama Panglima Knoll yang telah merencanakan pembunuhan atas putra terbaik Surabaya itu.

Karenanya, Adipati Ngabehi Jangrana III dan Arya Jaya Puspita yang menggantikannya, menolak mempersembahkan upeti bahkan juga menolak menghadap pada penghadapan agung Grebeg Maulud. Setelannya, atau lebih jelasnya lima tahun kemudian, Nusantara dikejutkan oleh perang besar yang diumumkan oleh Adipati Ngabehi Sawunggaling. Nama yang tak pernah dikenal sebelumnya. Namun perang lima tahun yang dipimpinnya, sungguh menggeletarkan bumi Jawa.

Sampai di sini Resi memerintahkan Wilis menghentikan pembacaannya. Waktu sudah larut malam. Dan kemudian mereka berdoa agar seluruh laskar Raung tetap terjaga semangatnya. Setelannya mereka diperintahkan kembali ke pesanggrahan masing- masing.

Namun sesampainya di depan pertapaan, sebuah tangan menggamit tangan Yistyani. Terkejut. Namun ternyata Wilis yang melakukannya. Tersenyum. Juga Wilis. Berdua meniti naik ke pendapa. Langkah Yistyani menimbulkan suara seperti kain sobek. Gontainya meruntuhkan iman. Beberapa bentar keduanya duduk di kursi batu yang tersedia di sudut pendapa. Masih membisu. Dalam keremangan sinar damar mereka masih beradu mata dan senyum.

"Di mana kesalahanku pada waktu membaca kidung Wijaya Krama, kemarin?"

Yistyani mengerutkan kening. Mengingat-ingat. Sesaat kemudian baru menjawab, "Tidak ada, pangeran."

"Benar?"

"Betul." Keduanya tersenyum lagi. Manis sekali. "Kalau aku menanyakan sesuatu di luar pelajaran

boleh?"

Hati Yistyani berdebar tiba-tiba. Namun mengangguk juga.

"Aku sudah dewasa?" Pertanyaan yang kian membingungkan. .

Semestinya ia ingin mengatakan bahwa Pangeran belum dewasa. Namun itu tidak mungkin ia katakan. Dan ia mencoba memandang dalam-dalam ke mata pangeran itu. Ingin tahu ke mana arah pertanyaan itu menuju. Tapi sukar juga. Maka sambil tetap senyum ia menjawab, "Pangeran sudah dewasa dalam arti kehidupan. Tapi belum dalam usia."

"Dengan kata lain aku cukup mempunyai pengetahuan dan pengertian? Bukankah pengertian itu sendiri berarti hidup?"

"Ya," sambil mengangguk. Bau harum membelai hidung Wilis dengan lembut. Angin malam membelai mereka berdua dengan leluasa. Sekitar mereka hanya kegelapan. Pelita juga dipermainkan oleh api. "Apakah seorang pemimpin bisa menentukan sikap berdasarkan pikirannya sendiri? Juga mengatur segala atas pikirannya sendiri?"

"Bukankah Pangeran di sini tidak pernah diharuskan menentukan sikap atas dasar pikiran orang lain?"

"Tapi aku tak bisa menyangkal keputusan kalian." "Seorang pemimpin yang biiak adalah pimpinan yang

mendengar suara kawula. Itu berarti tidak membutakan diri pada kenyataan dan kebenaran."

"Ya, tapi dalam..."

"Dalam keadaan tertentu saja, Pangeran." "Nah, itulah! Sudah pantaskah seandainya aku

menentukan sesuatu dengan pikiranku sendiri? Artinya dalam keadaan tertentu?"

"Sudah."

"Jika demikian tentunya kau juga akan mematuhi daku?"

"Bukankah hamba belum pernah membantah?" "Bagus." Wilis tersenyum. Lega. Sedang Yistyani

belum mengerti. Untuk kesekian kalinya mata mereka beradu.

"Sekarang ajarkan padaku, hal lain lagi. Yaitu tentang hidup yang sebenarnya. Aku membaca banyak lontar yang mengatakan bahwa hidup sukar dipisahkan dari cinta. Betulkah itu?"

"Cinta adalah sebagian dari hidup."

"Itulah sebabnya hidup tak bisa dipisah dari cinta?" "Cinta adalah impian yang indah dari setiap kehidupan! Dan kehidupan _selalu memburu impian. Apalagi impian yang indah."

"Setiap kehidupan?"

"Ya! Sebab itu adalah kodrat!"

"Jagat pramudita! Seindah sorgawikah cinta itu?" "Ya."

Wilis berhenti bertanya. Seorang murid Resi Wuni Pati lewat untuk menambah minyak pada pelita. Wilis memandangi orang itu. Yang dipandangi jadi segan.

Pergi dengan tanpa menoleh.

"Cinta memang sesuatu yang indah. Dan selalu diperindahkan oleh setiap orang yang sedang mabuk asmara. Biasanya, ia berlari bila diburu. Datang bila ditinggal. Bila menemukan saling pengertian bersama, barulah manusia memperoleh cinta yang seindah- indahnya."

"Kalau begitu masih memerlukan pengertian?" "Hidup berisikan pengertian itu sendiri. Pengertian

tentang kehidupan. Sedang kasih berisikan mencintai dan dicintai."

"Dalam cinta ada kerumitan?"

"Hakikatnya hidup adalah pahit dan manis. Suka dan duka. Karena itulah hidup berarti usaha untuk mengisi kehidupannya. Dan tiap kehidupan dibangunkan oleh dua hal yang berlainan. Itulah kuasa Hyang Maha Dewa, yang tak mungkin disamai oleh manusia."

"Ah... hebatnya kau! Aku ternyata terlalu bodoh untuk mengenal arti kasih. Bahkan untuk bercinta," Wilis berkata datar. Kemudian dia memandang ke luar. Kegelapan merajai alam. Tiada lagi terdengar suara anak-anak kecil bermain-main. Yang terdengar cuma suara jangkrik dan walang serta suara-suara binatang malam.

Sementara itu Yistyani masih saja berusaha menebak apa yang menjadi jalan pikiran Wilis. Namun agak lama mereka membisu. Masing-masing terbenam dalam alamnya sendiri. Yistyani tak sabar karena kegelapan malam makin mencekam. Maka ia memecah kesunyian lebih dahulu.

"Asmara adalah salah satu, yah... salah satu saja dari perwujudan kasih. Asmara yang sudah berkecamuk dalam jiwa manusia akan dapat menghentikan semua dan segala. Karena asmara tidak pandang usia, wajah, dan kasta. Karena asmara adalah anugerah yang suci dari Hyang Maha Dewa."

"Jagat Dewa! Hanya brahmana yang boleh bicara seperti itu," Wilis menyebut.

"Walau begitu, satria sering menyalahgunakan. Mereka tidak pernah mengenal arti asmara. Karena mereka hanya mampu merampas dan mem-perkosa. Juga memperkosa anugerah dari Hyang Maha Dewa. Dalam asmara tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada jual-beli. Sebab itu melanggar kesucian asmara itu sendiri. Yang berarti menentang kehendak Hyang Maha Dewa."

"Jagat Dewa!" Wilis terkejut. "Kau bicara dengan perasaan? Jengkel pada satria?"

"Tidak! Biarlah yang berlalu bagi hamba. Tapi hamba akan lanjutkan pembicaraan ini. Walau asmara tak memandang usia, tapi asmara memerlukan kematangan. Kekurangmatangan bisa menimbulkan kekurangmampuan memahami pengertian asmara itu."

Kini Wilis mengangguk-angguk. Ia pandang tajam- tajam wanita itu. Sampai terdengar lagi olehnya,

"Dan kematangan seseorang bukan ditentukan oleh usia. Tapi oleh pesangonnya."

"Betapa benarnya katamu itu," Wilis makin mengagumi. Tapi beberapa bentar mereka kembali diam. Dan untuk kesekian kalinya Wilis menghembuskan napas panjang. Itu sebabnya Yistyani hampir yakin, Wilis sedang menyimpan persoalan. Tiba-tiba Wilis mendapatkan ketenangannya kembali. Dan katanya,

"Tentunya tiap manusia membutuhkan asmara, bukan? Memerlukan cinta?" Wilis hati-hati memandang wajah Yistyani. Mendadak muka Yistyani merona.

Andaikan siang hari maka barangkali Wilis akan melihat wajahnya menjadi seperti kembang kapas yang masih muda.

"Termasuk kau!" Wilis menambahkan debar jantung Yistyani.

"Sebagai murid aku menghormatimu," Wilis meneruskan tanpa mempedulikan debar jantung Yistyani. "Tapi aku juga satria yang mewarisi kebusukan moyangku. Aku sadar ini. Sewaktu-waktu di saat aku suka, maka aku bisa paksa kau untuk menjadi istriku.

Dan kali lain aku bisa menjadikan kau budak yang hina- dina. Namun kali ini tidak! Tidak untuk kedua-duanya." Berhenti sebentar untuk memandang wajah Yistyani.

Gadis itu tertunduk. "Aku tahu banyak lelaki perkasa yang dengan hati tulus ingin mempersuntingmu.

Termasuk Tumpak dan Andita! Tapi keduanya tak berani melamarmu karena aku. Ya, aku!" Wilis diam sebentar. Menata napasnya. Menelan ludahnya. Sedang Yistyani masih menunduk. Beberapa saat lagi,

"Aku tidak tahu bagaimana membalas jasamu. Sungguh aku berutang terlalu banyak. Karena itu sebagai imbalan atas semua jasamu, aku anugerahkan padamu seorang suami. Suami perkasa dan tampan, putra seorang brahmana, Paman Andita!"

"Pangeran!" Hati Yistyani tersibak. Namun Wilis tak memberinya kesempatan.

"Kalian serasi sekali! Guru, pergilah! Aku tidak sanggup berbantah denganmu. Tapi ini perintahku! Perintah seorang yang kalian angkat menjadi pimpinan."

"Ampun, Pangeran...," Yistyani mengiba.

"Pergilah! Bukankah aku seorang pimpinan? Lidahmu sendiri mengatakan, aku layak memutuskan sesuatu dalam keadaan tertentu. Dan ingat, aku satria!"

Badan dan kaki Yistyani gemetar. Juga hatinya.

Hampir saja ia tidak kuat beranjak dari tempat duduknya. Namun ia kuatkan juga berdiri. Ia menahan air mata yang hendak membeludak keluar. Wilis membantu menarik tangannya. Bahkan memapahnya sampai di gerbang pertapaan. Dirasakan oleh Yistyani, tangan itu dingin.

Bergetar. Menahan getaran jiwa. Harapan selama ini telah menjadi pudar sama sekali.

Di gerbang mata mereka saling bertemu. Kendati gelap. Namun mata mereka saling bicara dalam bahasa yang tak dimengerti oleh orang lain. Lama sekali.

"Maafkan aku, Yis..."

Kata-kata Wilis terputus. Yistyani seperti mendapat kekuatan baru. Membalikkan tubuh tanpa bersembah. Beberapa helai rambutnya berjuntai menyentuh muka Wilis. Seperti patung Wilis cuma terpatri di atas bumi kala Yistyani melangkah pergi. Untuk kemudian hilang di kegelapan malam, bersama cintanya.

Jenean mendengar semua penuturan itu dengan sangat terharu. Tidak bisa lain, kecuali ia pun turut menangis. Jangankan membantu, nasihat pun tidak mampu.

Perkawinan Andita dan Ratna Ayu Yistyani tidak terhindarkan. Wilis menggunakan haknya sebagai penguasa di Raung. Maka tak seorang pun berani membantah. Namun demikian upacara perkawinan dilangsungkan dengan sangat sederhana. Perkawinan Sardola dengan Ni Ayu Sitra atau perkawinan Baswi dengan Sedah Lati jauh lebih meriah. Hal itu memang atas permintaan Yistyani sendiri. Dan terjadi jugalah kehendaknya.

Meskipun begitu kegembiraan kawula Raung tidak surut karenanya. Betapa tidak? Andita adalah putra Resi Wuni Pati. Guru sekaligus pengayom mereka. Sekarang ini punya menantu cantik jelita.

Tapi setiap sesuatu tentu ada yang berlawanan. Jika sebahagian besar kawula Raung bersuka-suka maka Tumpak tidak ada di tengah mereka. Bahkan mengucapkan selamat pada mempelai pun tidak. Hal itu membuat Baswi curiga. Ia khawatir anak muda itu akan berbuat yang dapat merugikan kelompok pelarian secara keseluruhan. Maka ia memutuskan untuk segera mencarinya ke pesanggrahannya. Tidak ada. Baswi berdebar.

Sendiri ia mencari. Jangan sampai Pangeran atau Andita mengetahuinya. Bahkan kalau bisa jangan ada satu kawula Raung pun yang tahu. Pesanggrahan Tumpak tertutup rapat-rapat. Tiada suara apa pun di dalam. Ah, barangkali ia ke rumah Yistyani. Aku lihat beberapa bulan lalu ia bercakap-cakap dengan Jenean, kata Baswi dalam hati. Maka ia segera mengendap- endap mendekati rumah Jenean. Kosong. Jenean tentu menemani Yistyani malam ini. Sementara Andita masih berbincang dengan kawula Raung yang sengaja datang mengucapkan selamat. Lalu ke mana anak ini? Ia suka melamun di pancuran sambil mengintip Yistyani mandi. Tapi itu kan pagi atau sore hari. Apa yang dibuatnya malam-malam begini? Tapi siapa tahu ia di sana menghibur diri. Ah, bagaimana menghibur diri dengan menyerahkan darah dihisap nyamuk? Sungguh tidak masuk akal. Tapi Baswi melangkah juga ke pancuran itu. Purnama menerangi jalan-jalan di Raung, memudahkan Baswi menjangkau tempat pemandian umum itu.

Dengan hati-hati ia mendekati pemuda yang sedang melamun di atas sebuah batu besar itu. Begitu asyik Tumpak memandangi rembulan.

Dan barangkali hatinya sedang bercakap-cakap dengan sang dewi malam itu. Menumpahkan segala kepahitan hati. Dalam beberapa jarak yang sudah cukup dekat Baswi menyapa,

"Tumpak, pahlawan perkasa! Apa kerjamu di sini?

Tumpak melompat dalam kejutnya. Kemudian menghadapi Baswi.

"Ha... ha... ha... sungguh tangkas kau! Tapi sayang terlambat. Jika ada orang yang akan membunuhmu, maka kau sudah jadi bangkai. Ha... ha... ha "

Tumpak menjadi malu diejek oleh Baswi sebegitu rupa. Tapi ia tidak marah. Karena memang ia sedang lengah. Barangkali saja pemimpinnya itu sudah mengintipnya sejak tadi.

"Kucari kau ke marta-mana. Ke rumahmu, juga ke rumah Jenean. Tapi rupanya kau sedang merenungi nasibmu di sini. Tak baik seorang prajurit pilihan berbuat seperti ini."

"Ampunkan hamba, Tuan. Tapi memang dua hari ini hamba cari kesempatan untuk mencari Tuan," Tumpak pun tak berbasa-basi. Memang hanya pada Baswi ia berani menumpahkan isi hatinya.

"Tentu ada sesuatu yang penting. Dan itu tentu soal Yistyani atau mungkin soal Pangeran," Baswi terus mengarahkan.

"Ya."

"Mari kita pulang. Jangan bicara di sini. Yang tidak mengerti akan menuduh kau dan aku merencanakan kebusukan."

Mereka berjalan pulang. Ke rumah Tumpak. Sambil berjalan di antara pohon-pohon cemara pegunungan mereka meneruskan pembicaraan.

"Ya, yang mana? Yang terdahulu atau yang kedua?" "Kedua-duanya," Tumpak menjawab lagi. Kadang

mereka harus melangkahi batu-batu yang agak besar. Tapi kerikil-kerikil tidak lagi mempengaruhi kaki mereka. Karena memang mereka sudah terlatih sejak masa kecilnya, tanpa kasut kaki.

"Kau mencintai Yistyani? Dan tidak menyetujui keputusan itu?" Tumpak terdiam beberapa saat. Kemudian ia menumpahkan kejengkelannya, "Keputusan yang tidak bijak! Ia mulai sombong, tidak mau tahu hati kawulanya!"

"Kau mengumpat, Tumpak." Baswi tersenyum. "Bukan menyatakan kesalahan Pangeran."

"Tuan ingin mengatakan bahwa ia benar? Tidak! Ia tidak pantas menjadi junjungan kita!" Tumpak berapi-api.

"Hati-hati kau bicara!" Baswi memperingatkan dengan sabar. Tumpak mengerutkan dahi.

"Demi kawula ia berlaku sangat bijak," Baswi meneruskan. "Ia selalu minta pertimbangan semua."

"Tapi kali ini? Ia tidak tahu..." Tumpak terhenti menahan perasaannya.

"Teruskan, Tumpak! Katakan ia tidak tahu isi hatimu?" Tumpak terdiam lagi. Baswi juga tersenyum kembali. "Bukannya ia tidak tahu hatimu. Bukan! Ia pernah

bicara padaku. Tapi ada pertimbangan yang tidak pernah kauperkirakan barangkali, yang membuatnya tidak menganugerahkan Yistyani padamu. Kau tahu Yistyani seorang brahmani yang jelita. Untuk menyuntingnya kamu harus membayar mahal sekali. Menurut Pangeran daripada Tumpak dan Yistyani masing-masing tidak bahagia di belakang hari maka lebih baik dari sekarang kau merasakan sakit. Pangeran tidak mengecilkan kau.

Tidak! Tapi justru mengasihi kamu. Yistyani mengetahui banyak tentang apa yang tidak pernah kaupikirkan. Nah, kalau jadi maka kalian akan merupakan pasangan yang tidak imbang. Dan itu membahayakan bagi suatu perkawinan."

Tumpak tersudut. Mengakui kebenaran itu. "Yang lain, yang merupakan pertimbangannya, ialah karena kau tidak pernah melamar secara terang- terangan pada Yistyani atau melalui perantara lain.

Tidak! Pangeran khawatir, kau akan menjadi suami yang tidak bertanggung jawab di kemudian hari. Andita, setidaknya memang menyatakan isi hatinya pada Pangeran. Bahkan ia berani terang-terangan menyatakan kekagumannya pada Yistyani. Nah, maka ia lebih beruntung dari kau."

Tumpak menyesal. Mengeluh dalam hati. Mereka masih saja melangkahi jalan yang naik-turun. Beberapa bentar lagi memasuki pertapaan.

"Tapi..." Kemudian Tumpak menemukan bahan, "apakah menurut pengamatan Tuan, Yistyani mencintai Tuan Andita?"

"Tidak. Ia mencintai Pangeran. Tapi, sekali lagi.

Yistyani seorang cerdik. Ia sadar tak mungkin menjadi istri Pangeran. Bukan karena kurang cantik. Tapi usia! Baginya Tuan Andita sekadar teman hidup untuk melaksanakan kodrat Dewata."

"Hyang Bathara! Begitu kejam?"

"Ada kalanya wanita lebih kejam dari lelaki.

Tergantung. Ya, tergantung keadaannya. Karena itu siapa yang tidak menghargai wanita, ia meremehkan Dewa."

Tumpak tertunduk lagi. Seperti sedang menghitung langkahnya. Kemudian bertanya lagi, "Apakah Pangeran juga cinta dia?"

"Pangeran mencintai dia sebagai guru, juga sebagai kekasih."

"Padahal... dia lebih muda " "Pangeran sedang kembang dalam kepemudaannya.

Dan dia tidak pernah dekat dengan gadis lain kecuali Yistyani."

Tumpak kini menghempaskan napas dalam. Beberapa langkah lagi mereka sampai di rumah Tumpak. Baswi masih saja bicara.

"Sebenarnya bukan cuma kau yang sakit. Pangeran lebih sakit darimu. Menyerahkan seorang kekasih pada orang lain. Apakah ini kurang bijak? Nah, kau tadi hampir kehilangan pertimbanganmu yang bening sebagai prajurit. Jangan melihat sesuatu dari diri sendiri."

"Memang membingungkan."

"Hidup memang membingungkan.. Namun manusia harus mengatasinya. Karena itu manusia perlu melatih keseimbangan tubuh dan ingatannya. Sebenarnya seorang berani adalah seorang yang juga berani memerangi diri sendiri. Mengalahkan hatinya sendiri. Dan itu kulihat ada dalam tubuh Wilis saat ini. Bagaimana dengan kau, Tumpak?"

Tiada jawaban. Namun Tumpak kini menjadi iba pada Pangeran.

"Jangan langsung masuk rumah, Tumpak. Mari ke pura. Untuk mendapatkan keyakinan. Biar Hyang Maha Dewa sendiri memberimu keten-traman dan kedamaian."

Tumpak membenarkan. Maka ia mengikuti langkah Baswi. Tak bisa tidak! Ia harus menerima kepahitan sebagai kenyataan dalam hidupnya.

0oo0

Perang saudara di Lumajang tak terelakkan. Beritanya merambat ke mana-mana. Sampai di lereng Gunung Raung. Sedang saat itu laskar Blambangan belum menguasai keadaan. Laskar Raditya sudah di atas angin. Seluruh keluarga istana Lumajang diungsikan. Sukar diketahui di mana Adipati Agung berada. Tembak- menembak berlangsung terus setiap hari. Semua laporan yang masuk membuat Andita sulit menentukan sikap.

Akhirnya Andita menyimpulkan bahwa ia sendiri harus berangkat untuk mengadakan penyelidikan langsung. Wilis juga akan berangkat bersama seratus laskar Lumajang yang semula mengawalnya.

"Kanda akan serta?" tanya Yistyani pada suaminya. "Ya." Andita tersenyum.

"Bukankah Pangeran akan berangkat sendiri?

Bukankah sudah ada seratus pengawal dari Lumajang itu?"

"Tapi Pangeran belum berpengalaman, Adinda," jawab Andita lagi sambil memandang wajah istrinya.

"Kanda..." suara Yistyani mesra. "Aku akan menyiapkan laskar."

Yistyani maju. Mencium pipi suaminya. Sebagai tanda kesetiaan. Andita meriap gembira dalam hatinya. Walau ia tahu Yistyani tidak pernah mencintainya secara tulus. Namun perempuan itu tidak pernah melawan. Bahwa sejak upacara pernikahan sampai sekarang selalu menyajikan wajah yang manis.

"Pangeran juga akan berangkat sekarang?" Yistyani bertanya dalam bisik dekat telinga Andita.

"Ya." Andita tahu persis, Yistyani ingin minta izin mengucapkan perpisahan pada Wilis. Dan ia tidak akan bisa mencegah. Seperti jika wanita itu sedang pergi mengajar dalam bilik Pangeran. Maka dengan senyum ia melepaskan pelukannya. Dan pergi meninggalkan bilik istrinya.

Setelahnya, dengan gontai Yistyani bergesa ke bilik lain. Setidaknya ia memang merasa berkewajiban mengucapkan selamat jalan pada Pangeran. Sementara itu Wilis sudah sejak tadi menyiapkan diri. Bahkan kudanya sudah menunggu di pelataran. Ketika melihat kuda hitam yang gagah itu, hati Yistyani menjadi berdebar. Namun ia melangkah terus ke bilik Pangeran.

Ketika ia masuk, Pangeran sedang menyelipkan keris ke pinggang. Dan mengenakan juga pending serta binggal emasnya. Wilis telah menjadi satria yang berkilau-kilau busananya. Yistyani tercengang buat sesaat. Pangeran begitu tampan. Sempat dilihatnya Pangeran memasukkan beberapa gulungan lontar ke dalam sebuah bumbung. Ia maju perlahan. Dan...

"Pangeran..." Suaranya merdu berbisik di punggung Pangeran. "Inilah hamba."

Wilis memutar tubuhnya. Tapi Yistyani sudah terlalu dekat sehingga buah dada wanita itu menyentuh dadanya.

"Kau...?" desis Wilis. Hatinya terguncang.

Dipandangnya wanita itu tajam-tajam.

"Akan pergi?" Yistyani tidak memberi kesempatan. "Ya. Lumajang memerlukan kita."

"Di sana ada perang." Yistyani bicara Sanskerta.

"Aku ingin melihatnya." Wilis membalas dalam bahasa yang sama. "Mengapa membawa laskar?" Yistyani mulai memeluk Wilis. Pemuda itu merona. Tergagap. Tapi Yistyani mengelus dadanya.

"Untuk menghentikannya, Guru."

"Panggil namaku! Aku bukan guru lagi!" pinta Yistyani. Dan Wilis makin bingung. Kembali ia dikejutkan. Yistyani menjatuhkan kepalanya ke atas dadanya. Sambil berkata lirih,

"Perundingan adalah jalan yang lebih baik dari perang."

"Betul, Gu..." Sebelum kata-kata itu habis Yistyani segera menutupkan telunjuknya ke mulut Wilis:

"Pangeran bukan anak kecil! Jangan sampai Yistyani mengulangi permintaannya."

Wilis menjadi salah tingkah terus. Namun segera ia menemukan dirinya kembali.

"Baik, Yistyani, aku mau berangkat." Ia pegang pundak wanita itu. "Aku memang bukan anak kecil lagi! Karena itu aku akan memadamkan perang. Setidaknya aku akan bicara atas nama Blambangan."

“Tapi Raung mencintai Pangeran."

"Kau ingin bicara lainnya. Aku tahu hatimu. Demikian pula hatiku. Aku mencintai semua yang mencintai diriku. Termasuk kamu."

"Pangeran..." Yistyani memeluk lebih erat. "Begitu besar anugerah Hyang Maha Dewa!" Ia merasakan lubang-lubang halus di dada Wilis itu mengeluarkan keringat. Dingin sekali.

"Mari..." Pangeran membimbingnya ke sebuah bangku. Yistyani merasakan kelembutan. "Pangeran...," desisnya perlahan. Ia cium pemuda itu.

"Paman Andita sangat mencintaimu!" Wilis memberi tahu.

"Oh..." Yistyani tersentak.

"Aku tak mungkin mengabaikannya. Ialah yang merenggut aku pada awalnya dari ketidaktahuan."

"Dan aku dianugerahkan padanya? Aku dijadikan korban?"

"Tidak! Ia seorang tulus. Karena itu cintailah dia." "Pangeran..." Yistyani menahan gejolak jiwanya. Air

mata mengalir lamban di luar sadarnya.

"Tenanglah, Yistyani." Wilis memegang dagu Yistyani.

Didekatkannya dagu itu ke mukanya. "Aku adalah milikmu, tapi kau adalah milik Andita."

"Pangeran!"

"Diamlah, Yis. Masih banyak pekerjaan," Pangeran berbisik di telinga Yistyani. "Nah, selamatlah."

"Tapi, Pangeran, anak ini?" Yistyani menunjuk perutnya.

"Jagat Dewa! Kau mengandung?" Wilis terkejut. Yistyani mengangguk lemah. Wilis sadar itu benihnya.

Setidaknya ia ikut menabur. Maka untuk sesaat ia berguncang. Tapi kemudian jawabnya,

"Anakmu, anak Paman Andita... juga anakku!"

Ia menghela napas panjang. "Kau dengar derap kuda itu?" Wilis melepas pelukannya. "Tenanglah hatimu!" sambungnya lagi. "Bacalah Lokananta untukku. Juga untuk suamimu!" Yistyani mengekor bagai bayangan waktu Wilis menuju pelataran pertapaan. Sampai di titian ia berhenti dan melihat Wilis melompat dengan tangkasnya.

"Tak ada yang ketinggalan, Kekasih?" tanyanya. "Tidak ada."

Ketika Andita dan rombongan tiba, air mata Yistyani sudah kering. Senyumnya merekah kembali.

"Mari, Pangeran," Andita mengajak. "Mari, Paman." Setelah memeriksa barisan, Wilis memandang kawula

Raung yang berjejal ingin mengucap selamat jalan padanya.

"Berpamitlah pada istrimu!" perintahnya pada Andita. "Selamat tinggal, Istriku." Laki-laki itu bersuara dari

punggung kudanya. "Selamat jalan, Suamiku."

Baswi melepas mereka bersama seluruh pemuka Raung. Resi tidak ketinggalan berderet bersama pemuka Raung lainnya.

"Selamat tinggal semua!" seru Wilis.

Semua bersorak. Melambaikan tangan kanan. "Bapa Guru! Bacakan Lokananta buat kami!" pinta

Wilis.

"Hyang Maha Dewa bersama Pangeran!" jawab Resi. Kemudian Wilis memandang Yistyani penuh arti. "Selamat tinggal!" teriaknya. "Selamat jalan "

Aba-aba telah keluar dari mulut Wilis. Tiap kuda mulai melangkah lamban. Berlari, makin lama makin cepat. Sepanjang jalan Wilis melambaikan tangan untuk membalas lambaian tangan seluruh kawula Raung. Sementara itu Yistyani masih belum beranjak dari tempatnya. Walau semua orang sudah masuk. Ia masih terpana oleh kepergian mereka. Kepergian seorang suami dan seorang lagi, kekasih.

Tiba-tiba saja angannya meloncat pada waktu lalu.

Beberapa hari sebelum ia naik pelaminan bersama Andita. Saat itu ia merasa hidupnya sudah pupus. Harapannya untuk bersanding dengan pemuda idaman ditolak. Sebagai gantinya ia harus melayani seorang yang tidak dicintainya. Inikah yang dinamakan nasib?

Sungguh kejam nasib itu!

Walau keputusan seorang junjungan tidak bisa dibantah, apa jeleknya bila ia mencoba sekali lagi. Ah, aku harus jumpai Pangeran sekali lagi. Hatinya bertekad. Dan pada keesokan harinya, ia tidak pergi mandi. Tidak mengambil air sehingga bisa berjumpa Wilis atau Andita dan Baswi, bahkan mungkin juga Tumpak. Teman- temannya sudah mengerti bahwa Yistyani sedang gundah mendekati hari perkawinnya. Jadi tidak seorang pun berani menegur sekalipun ia tidak berangkat bekerja. Namun begitu rumahnya sudah kosong, Yistyani segera bersolek. Cantik sekali. Juga menggunakan wewangian.

Ia bersiap menghadap Wilis setelah ia perkirakan anak muda itu selesai berlatih bersama Andita dan Baswi.

Namun ketidakmunculannya di sungai yang menyimpang dari kebiasaan itu menjadi perhatian Wilis. Itu sebabnya Wilis berulang kali memutar kudanya dekat pancuran.

Barangkali Yistyani ada di sana. Baik Andita maupun Baswi sama sekali tidak mengerti apa yang sedang berkecamuk di benaknya. Wilis bukan tidak mengerti apa yang berkecamuk dalam hati wanita muda itu. Namun sambil berlatih ia berputar mengelilingi wilayah perkubuan. Bahkan juga di sawah-sawah atau hutan sekitar perkubuan. Barangkali Yistyani ada di sana. Tidak terlihat. Aku harus mencarinya! Wilis khawatir terjadi sesuatu yang di luar dugaan atas wanita itu. Siapa tahu ia nekat bunuh diri? Pikiran itu mendorongnya melangkahkan kaki ke pesanggrahan Yistyani sesudah ia selesai latihan dan makan pagi. Waktunya orang bekerja di ladang. Begitu juga dirinya sendiri, seharusnya pergi ke ladang. Kali ini tidak. Ia harus menyelesaikan persoalan Yistyani.

Setelah berulang kali mengamati keadaan dan menoleh kebelakang, takut kalau-kalau ada orang yang mengikutinya, Wilis melangkah perlahan ke pekarangan rumah Yistyani. Matahari masih condong ke timur.

Namun suasana nampak lengang benar. Gemerisik dedaunan yang tertiup angin mengiringi langkahnya.

Pelan sekali ia membuka pintu depan rumah Yistyani tanpa mengetuknya lebih dulu. Secukupnya saja pintu itu terbuka dan setelah seluruh tubuhnya masuk, ia menutup kembali sepelan kala ia membukanya. Berhenti sebentar di dekat pintu untuk menyesuaikan penglihatannya di kegelapan. Rumah tanpa jendela. Setelahnya melangkah lamban ke bilik yang diperkirakan tempat tidur Yistyani.

Semakin dekat dengan bilik itu Wilis semakin berdebar. Walau ia memang sering berdua dalam satu bilik dengan wanita itu, namun ia tidak mengerti mengapa sekarang ia menjadi berdebar. Keraguan menghambat langkahnya. Ia menempelkan diri pada dinding bilik. Dari celah-celah anyaman bambu ia mencoba mengawasi suasana dalam bilik. Benar juga dugaannya. Yistyani ada dalam biliknya. Tergolek seperti sebuah boneka. Wilis agak heran juga kenapa wanita itu berbusana indah. Mungkinkah Yistyani akan melarikan diri? Dua buah bukit kembar di dada Yistyani naik-turun seirama dengan jalan napasnya. Dan hati Wilis kian berdesir kala memperhatikan mata Yistyani yang menengadah ke langit-langit itu tiada henti- henti mengalirkan air mata. Rupanya telah sejak tadi ia menangis. Dan dalam tangisnya Yistyani telah kehilangan segala pertimbangannya. Pikirannya menjadi hampa.

Yistyani menjadi lupa segala. Sehingga ia tidak mampu mengamati lingkungannya. Telinganya tidak mampu menangkap suara apa pun. Ia sedang bergumul dengan angannya sendiri. Dan Yistyani tidak tahu bagaimana mulanya tiba-tiba sebuah « tangan mengusap air matanya yang mengalir di atas kedua belah pipinya yang montok halus itu. Hampir saja ia terpekik karena kaget tahu-tahu Wilis sudah duduk di pembaringannya. Dalam kejutnya ia bangkit hendak turun dari pembaringan dan menyembah. Namun tangan Wilis yang perkasa itu cepat mencegahnya. Kedua bahunya ditangkap dan didorong kembali ke pembaringan.

"Aku tidak ingin menerima persembahan seorang yang sedang sakit," Wilis mendahului berkata-kata.

"Ampun, Pangeran," Yistyani berbisik perlahan, "hamba tidak tahu. Hamba tidak sakit "

"Engkau tidak kerja. Apa artinya ini?" Wilis memandangnya tajam. Yistyani tidak mampu menjawab. Air matanya mengalir bertambah deras. Namun ia bertahan untuk tidak terisak. Namun isaknya memaksa keluar. Karena itu ia telungkup dan membenamkan mukanya ke bantal. Beberapa saat Wilis terdiam. Tidak lama memang. Sebab ia telah bertekad menyelesaikan setiap persoalan sebelum perkawinan Andita.

"Diamlah, Guru! Semua masalah akan segera dapat diatasi asalkan kita mau menanah keinginan hati kita di bawah pikiran yang jernih."

Yistyani masih terisak. Tiada menjawab. Hati Wilis kian berguncang.

"Ampuni aku, Yistyani. Aku salah," suara Wilis pelan.

Guncangan punggung yang menahan isak sebagai jawabnya.

"Dengarlah daku, Yistyani." Tanpa sadar Wilis mengelus punggung wanita muda itu. Perlahan. Seirama dengan dorongan perasaan iba. Elusan yang tanpa sadar, yang dilakukan karena iba, namun tiba-tiba mampu mengalurkan sesuatu keajaiban antara kedua manusia muda itu. Namun Yistyani berusaha menahan hatinya. Isaknya mereda. Wilis bahkan membelai rambutnya. Dan kesunyian, wewangian dan... macam- macam lagi alasan telah mengombang-ambingkan Wilis pada perasaan aneh yang belum pernah ia bayangkan semula. Apalagi kala Yistyani membalikkan tubuhnya, kainnya tersingkap dan paha mulusnya menarik perhatian Wilis. Wilis menarik napas, panjang. Mata Yistyani masih berkaca-kaca kala berkata,

"Tidak ada yang hamba tangisi memang kecuali hancurnya sebuah impian. Hamba sudah senang mempersembahkan segalanya pada Pangeran. Tapi Pangeran menolak."

"Engkau sudah mempersembahkan yang terbaik bagiku." "Cinta adalah yang terbaik dari semua." "Ah..." Wilis mengeluh.

"Pangeran juga punya perasaan yang sama dengan hamba. Tapi kenapa Pangeran mengingkari perasaan suci dari nurani sendiri? Apakah Pangeran mampu bertahan dalam kepalsuan ini?"

Wilis menarik napas panjang. Yistyani makin berani menatap matanya. Bahkan wanita itu kini bangkit. Tubuh mereka menjadi dekat sekali. Napas Yistyani berhembus, mengelus muka Wilis.

"Yistyani... kau benar. Tapi inilah memang kehidupan.

Aku sudah belajar banyak tentang liku kehidupan. Dan ternyata tiap liku kehidupan mengandungkan juga kepalsuan. Di mana-mana ada kepalsuan. Rupanya kepalsuan adalah sebagian dari hidup itu sendiri.

Yistyani, sadarlah. Aku tak mungkin menarik keputusanku. Pahit, bukan? Barangkali cuma kepalsuan yang mampu menolong kita." Sehabis kata-kata, dengan tangan bergetar Wilis memberanikan diri memeluk Yistyani.

Yistyani tak mampu berbuat sesuatu. Tapi ia balas memeluk pemuda itu, bahkan merebahkan kepalanya di dada Wilis. Pertemuan antara guru dan murid yang terlalu sering itu telah menyatukan hati mereka.

"Tolonglah aku!" bisik Wilis. "Kawinlah dengan Andita!" Wilis meminta perlahan, "biarlah aku cuma menjadi seorang kekasih bagimu! Demi kewibawaanku "

Yistyani mencium Wilis. Air matanya berderai lagi. Tiba-tiba Yistyani tersentak. Seorang menyentuhnya.

Bahkan membimbingnya masuk pesanggrahan. Ia toleh. Ternyata Jenean, sahabatnya. Hari memang sudah larut malam. Sambil dipapah temannya ia mengelus perutnya. Anak Wilis atau Andita? Ia sendiri tidak jelas. Sama- sama mungkin.