Tanah Semenanjung Bab 4 : Kemelut

 
Bab 4 : Kemelut

Tidak bisa tidak. Jalan-jalan rava ibukota Blambangan menjadi tidak terpelihara. Rerumputan dan ilalang tumbuh di mana-mana. Cuma jalan raya utama yang menghubungkan Lateng dengan pelabuhan Sumberwangi saja yang masih kelihatan dirawat. Para kawula terlalu sibuk bekerja untuk mencukupi macam- macam persembahan. Baik untuk para narapraja maupun laskar Mengwi yang masih tinggal. Juga untuk para brahmana di pura-pura.

Semua ini menyebabkan banyak orang yang tidak acuh lagi pada perkembangan negerinya. Istana tak pernah memberi perintah apa pun kecuali pemungutan pajak. Mangkuningrat tak pernah mengurusi pemerintahannya sendiri. Hampir setiap pemunculannya selalu diiringi oleh dayang-dayang terpilih. Ia tak pernah ambil pusing dengan cadangan negara yang kian menipis.

Atas mandat Cokorda Dewa Agung Mengwi, seluruh kendali pemerintahan ditangani oleh Bagus Tuwi. Tentu saja dia kemudian mengangkat menteri-menteri baru untuk mengukuhkan kedudukan. Demikian pun laskar Blambangan. Mereka bukan lagi pengaman bagi negeri sendiri. Kala harta benda kawula dirampas oleh laskar Mengwi, mereka tidak lagi mampu berbuat apa-apa.

Bahkan tidak kurang-kurang yang ikut terbahak-bahak melihat perawan Blambangan diseret untuk diperkosa oleh laskar pendudukan asing ini.

Suatu hari- laskar Bali itu tidak nampak lagi di pasar- pasar atau gardu-gardu penjagaan. Sepercik kegembiraan muncul di hati kawula Blambangan.

Ternyata Dewa Agung memutuskan menarik laskarnya. Ia merasa pasti Blambangan akan sepenuhnya tergantung pada Bali. Kawula Blambangan memang tak melihat mata yang lahap melihat perempuan-perempuan mereka. Para perawan sudah berani keluar rumah lagi. Seperti anak kecil yang baru lepas dari perasaan takut pada momok. Kawula menduga keadaan ini akan membaik. Dan terus lebih baik lagi.

Namun kenyataan tak selamanya sama dengan harapan. Dan tak seorang pun mampu menyingkir dari kenyataan. Kenyataan harus diterima, ditelan, dan dikunyah-kunyah. Pahit atau manis. Tiap sesuatu memang mempunyai berbagai sisi. Dari sisi yang satu kawula melihat betapa busuknya laskar Blambangan sekarang. Mereka telah diberi contoh busuk oleh laskar Bali. Merampas, memeras, dan memaksa.

Apa daya? Kawula tetap kawula! Prajurit yang telah mereka lahirkan telah menjadi semacam momok. Telah menginjak kepala ayah-bundanya sendiri. Sedang dari sisi lainnya, penguasa Blambangan melihat betapa rajin laskarnya mengadakan perondaan. Melaksanakan segala titah Raja. Menarik pajak.

Para penguasa bukannya tak melihat bahwa kawula telah menjadi miskin. Namun mereka menilai, penyebabnya kawula sendiri yang telah menjadi malas. Tapi selalu lapar, rakus, dan pelit bila mempersembahkan upeti. Begitu penguasanya berpikir, begitu pula kaum brahmananya berpendapat.

Haryo Dento dan Umbul Songo yang keluar dari penjara mengerti hal itu. Segala yang buruk dari Bali telah ditumpahkan ke Blambangan. Anehnya, kebanyakan orang tidak mengerti bahwa itu ampas kebudayaan Bali. Mereka lebih menyukai barang sisa pokoknya asing. Meriam yang tidak terpakai lagi di Mengwi dijual ke Blambangan. Begitupun kapal-kapal. Pakaian dan bahkan bahasa. Bicara juga mesti dicampur-campur dengan bahasa Bali, supaya kelihatan terhormat.

"Betapa sedihnya, Yang Mulia," ulas Umbul Songo suatu hari.

"Bukan saja menyedihkan. Tapi menyakitkan." "Apa kiranya yang bisa kita perbuat?"

"Ah... kita dalam pengawasan."

"Sebagian laskar Yang Mulia telah menjadi bajak laut.

Mereka merampas harta benda nelayan. Juga telor penyu dan sarang burung."

"Mereka terpaksa mengambil jalan yang salah itu. Juga laskar Yang Mulia. Tak sedikit yang salah jalan."

Umbul Songo menarik napas panjang. Awan menyelimuti wajahnya. Sehingga nampak semakin tua. Kemudian dia memandang sekelilingnya. Pohon kelapa di sebelah kiri-kanan jalan yang mereka lewati itu masih menunjukkan kesuburan bumi semenanjung Blambangan. Namun tidak masuk akalnya di atas bumi sesubur itu kawula Blambangan hidup dalam kemiskinan. Namun keduanya berjalan terus menyusuri jalan-jalan raya Blambangan. Sepi. Dan banyak jalan yang sudah menjadi jalan setapak kembali karena tidak pernah dilewati pedati ataupun kereta. Banyak yang menjadi rusak berat karena tidak menjadi jalan manusia lagi.

Lebih banyak digunakan oleh kerbau.

"Lihat Yang Mulia, betapa parahnya jalan-jalan ini. Lalu apa gunanya setiap waktu brahmana bertambah banyak yang dihasilkan oleh perguruan-perguruan yang ada? Keadaan tidak menjadi baik. Jalan yang dulunya bisa dilewati kereta dan pedati sekarang cuma bisa dilewati kerbau! Belum lagi rusaknya perniagaan. Lalu apa gunanya Blambangan melahirkan begitu banyak brahmana yang cerdik pandai itu kalau tidak bisa memperbaiki keadaan?" Umbul Songo menyesali sepanjang jalan.

"Ini kan memang imbalan dari kekeliruan. Berapa pun jumlah brahmana cerdik tidak akan berarti di bawah pemerintahan seorang bocah yang dungu. Kita tidak pernah bisa mencegah kekeliruan itu. Dulu kita melihat pun tidak mampu. Justru Baswi keponakan Yang Mulia itu tahu. Dan ambil sikap."

"Benar... Tapi akan selamanya kita diamkarjr keadaan ini? Lalu apa kata anak-cucu nanti?"

"Apa daya seorang laksamana tanpa armada?

Panglima tanpa pasukan? Rupanya Mangkuningrat ini memang lebih dungu dari bapanya."

"Yang Mulia!" Umbul Songo memperingatkan.

"Ya," Haryo Dento meneruskan. Sementara mereka meneruskan perjalanan mengelilingi kota Lateng di bagian selatan itu. "Bagus Tuwi dan Dang Hyang Wena telah menenggelamkan Mangkuningrat ke dalam lumpur ketidaktahuan. Juga Ar..."

"Yang Mulia!" Umbul Songo memperingatkan lagi. Haryo Dento tertawa ramah.

"Yang Mulia takut? Lihat tak ada orang lain!"

"Pohon-pohon kelapa ini bisa bicara! Bahkan debu yang menempel di kaki ini pun bisa melapor."

"Kita sudah tua. Apa pula yang kita takutkan? Bukankah Mengwi telah membebaskan kita? Dan melindungi kita?" "Yang Mulia keliru! Pembebasan kita ini adalah topeng indah Dewa Agung untuk membuat laskar pelarian yang kini di Mengwi tak menjadi duri dalam daging. Tapi sekali kita dipersalahkan? Dan dianggap membangkang?

Jangan tanya. Kepala kita jatuh ke bumi." "Topeng indah kata Yang Mulia?"

"Ya. Agar Baswi menjadi jinak bila mendengar hal ini. Juga untuk menimbulkan kesan bahwa Mengwi adalah kemaharajaan yang baik dan terbaik."

"Ha... ha... ha... ha..."

"Kenapa Yang Mulia terbahak?"

"Kebiasaan menghirup udara segar di gunung-gunung membuat Yang Mulia begitu cerah. Hamba belum berpikir sejauh itu."

"Hamba menilai kekacauan ini bukan dikarenakan kedunguan para penguasa. Tapi karena para penguasa Blambangan sudah tak memperhatikan prajagama (peraturan ketataprajaan). Semua lebih banyak mengurusi diri sendiri. Sebenarnya mereka tak pantas lagi mengurusi kerajaan." Umbul Songo membuat suaranya pelan. Sedang Haryo Dento mendengar sambil mehgangguk-angguk. Bersamaan dengan itu seorang punggawa datang dari arah berlawanan. Mereka memandang tajam ke arah punggawa yang kelihatan makin bergesa mendatangi mereka. Sekilas debar jantung kedua orang itu berubah. Namun dengan tanpa janji mereka memelankan langkah.

Setelah dekat sekali Haryo Dento berdesis, "Caraka?"

Dalam beberapa jarak caraka itu ngelesot di jalan kemudian menyembah.

"Ada sesuatu?" Haryo Dento bertanya lagi. "Para Yang Mulia diminta menghadap istana."

"Aku?" Umbul Songo terkejut. Juga Haryo Dento menanyakan yang sama. Karena sejak pulang dari penjara mereka tidak pernah di panggil ke istana.

"Hamba sudah sejak tadi mencari Yang Mulia berdua.

Kian kemari tidak bersua "

"Ada apa?" selidik Haryo Dento lagi. "Hamba kurang tahu, Yang Mulia." "Baik. Kami segera menghadap." "Hamba pergi, Yang Mulia?" "Pergilah!"

’Dengan perasaan sebal Umbul Songo mengawasi punggung caraka yang meninggalkan mereka. Sampai ia menghilang di belokan jalan.

"Gila! Sungguh keparat telik Blambangan. Mengintai kita berdua "

"Bukan! Paling-paling kita disuruh mendengar ocehan Arya Bendung yang itu-itu juga! Kalau tidak Bagus Tuwi," Haryo Dento menukas. Dan kemudian mereka melintas jalan terdekat ke istana. Terpaksa melintasi jalan yang ramai. Dan ternyata banyak orang yang masih menjatuhkan diri untuk menyembah waktu berpapasan jalan. Tak peduli apakah mereka pernah masuk penjara, mereka tetap perwira-perwira tinggi yang pernah menggentarkan bumi Blambangan. Keduanya membalas penghormatan mereka dengan lambaian tangan atau anggukan dan memberi tanda agar mereka segera berdiri kembali.

Keraguan menyelimuti Haryo Dento. Angan segera meniti masa lalunya. Dulu, anak buahnya selalu patuh. Karena hormat? Atau karena takut? Segan? Sebenarnyalah ia tak pernah ingin jadi momok. Tidak! Ia hanya ingin menunjukkan karya dan darma demi Blambangan tercinta.

"Melamun?" Umbul Songo mengejutkan.

Tergagap! Dan sebelum sempat menjawab mereka sudah sampai di alun-alun depan istana. Bahkan telah melewati dua pohon beringin di tengah alun-alun.

Kemudian dengan kebisuan mereka meniti naik ke pendapa agung. Ternyata telah duduk di situ Bagus Tuwi, Arya Bendung, para menteri, dan Tumenggung Singamaya serta para tumenggung lainnya. Setelah menghormat pada semuanya mereka mengambil tempat duduk di sebelah kanan Penjalu. Orang itu kini yang menggantikan Samodraksa Siung Laut. Ah, persidangan agung, pikir Umbul Songo.

Beberapa bentar kemudian Mangkuningrat keluar. Dalam iringan Hyang Wena serta dayang-dayang, dan berpakaian kebesaran terbuat dari emas dan permata. Bergaya seperti Sri Hayam Wuruk Sorga ia melambaikan tangan agar pengawal menjauh. Duduk di atas singgasana sambil menebar pandang.

"Para Yang Mulia," Bagus Tuwi memulai, "kali ini Sang Prabu berkenan memimpin langsung persidangan ini.

Karena itu beliau hendak segera menjatuhkan titah." Ia menghormat dan dibalas oleh Mangkuningrat.

"Para Yang Mulia, sejak ditariknya laskar Bali, kita melihat betapa parahnya keadaan Blambangan. Laporan menunjukkan betapa perampok dan perompak merampas di mana-mana. Bahkan juga milik kerajaan.

Adakah angkatan perang kita tak cukup kuat menumpas mereka?" Kata-kata pembukaan Mangkuningrat terdengar lancar. Kemudian ia pandang Arya Bendung.

"Ampun, Sri Prabu, pelakunya semua dari laskar yang sudah dibebaskan," Arya Bendung bersembah. "Dan yang terbesar, adalah dari bekas anak buah Yang Mulia Haryo Dento dan Umbul Songo," lanjutnya.

Seperti disambar petir rasanya kedua orang yang namanya disebut belakangan oleh Arya Bendung itu. Apalagi Haryo Dento. Giginya terdengar bergeretak. Matanya menyala. Gila! Apa lagi ulah orang ini? Namun ia segera menahan hatinya. Kembali membuat sandiwara untuk memasukkan aku ke penjara. Baik! katanya dalam hati sambil bersiap pikiran.

"Lalu? Laskar kita tak kuat menghadapi mereka?" "Setelah ada larangan dari Yang Maha Mulia Dewa

Agung untuk menambah jumlah laskar baru Blambangan, maka tentu saja kita tak punva kekuatan menindas mereka," Arya Bendung menandaskan.

"Betulkah itu, Yang Mulia Penjalu?" Ia kemudian menoleh pada Samodraksa.

"Tidak salah, Sri Prabu."

"Yang Tersuci..." Mangkuningrat menoleh ke kanan. Orang yang berjubah kuning berkembang benang emas, dan tangannya memegang tongkat hitam bergiring-giring emas itu maju di dekatnya.

"Para Yang Mulia telah mempersembahkan dengan penuh kebenaran. Kini Blambangan dalam kemelut kabut gelap. Namun kita tak boleh lagi mengundang Mengwi.

Sebab itu akan mengundang petaka yang lebih besar."

"Kalau begitu, siapa yang harus mengatasi? Kemelut ini bukan hanya diderita oleh kawula. Tapi juga aku! Dalam keadaan begini roh Ramanda akan terus menuntut aku untuk mencari Mas Sirna calon patih amangkubumi Blambangan itu. Bukankah sampai sekarang belum ditemukan?"

Bagus Tuwi mengangguk saja dari tempat duduknya.

Kemudian menunjuk Singamaya agar memberikan laporan tentang tugas yang dibebankan padanya. Dari laporan itu Mangkuningrat tahu bahwa usaha pencarian Mas Sirna sia-sia semata.

"Jagat Dewa! Apakah tak diperintahkan pada kepala telik untuk melakukan pencarian secara teliti?"

"Ampun, Sri Prabu, sudah," Arya Bendung menjawab lagi.

Mangkuningrat mulai bingung. Bagus Tuwi segera mengambil langkah.

"Semuanya akan dikerjakan satu-satu. Harus juga dikirim caraka ke Lumajang untuk menanyakan langsung pada Kanda Adipati Agung. Mungkin selama ini Pangeran ada di sana.""

"Tidak mungkin, Yang Mulia," bantah Aiya Bendung. "Lumajang juga lebih keruh."

"Dari mana Yang Mulia tahu?"

"Kepala Dinas Rahasia telah mempersembahkannya." "Sekarang bersembahlah. Biar aku mendengar

langsung!" Sri Prabu memerintah langsung. Semua kepala memaling pada Teposono. Juga Umbul Songo. Ia merasa heran, betapa bekas wakilnya itu kini mendapat kedudukan yang begitu tinggi. Seakan lidahnya dapat mengeluarkan api. Ia telah hidup di atas ketakutan semua orang. "Lumajang menghadapi suatu bencana. Perang saudara akan segera berkobar. Antara Yang Mulia Adipati Agung melawan Raditya."

"Jagat Dewa! Kenapa baru sekarang dipersembahkan? Apakah berita ini benar?" Mangkuningrat terkejut. Bagus Tuwi dan Yang Tersuci Wena tak kalah terkejutnya.

"Keterlambatan ini disebabkan tiada laporan dari Lumajang. Juga karena sang Adipati sendiri tidak meminta bantuan"

"Bagaimana, Paman?" Mangkuningrat memandang Bagus Tuwi lagi. Dan orang itu segera menanya pada Teposono,

"Adakah Yang Mulia bisa mengutarakan sebab-sebab pertikaian kedua saudara itu?"

"Ampun, Yang Mulia."

"Kenapa tidak?" Bagus Tuwi mengerutkan dahi. "Telik yang kami kirim belum kembali." "Pertikaian belum lagi berkembang. Api belum

menyala. Karena itu kita pergunakan kesempatan ini untuk menyelesaikan persoalan pertama. Kerusuhan dalam negeri."

Mangkuningrat mengangguk. Kemudian ia mulai menoleh pada Umbul Songo dan Haryo Dento. Berganti- ganti ia pandangi dua perwira tinggi itu. Namun kepalanya tambah berdenyut-denyut. Tak biasa ia bicara begitu panjang di dalam suatu perundingan. Apalagi turut berpikir. Untung Bagus Tuwi bicara lagi.

"Yang Mulia..." Suaranya kini menjadi datar, "negara sedang rusuh. Bukankah Yang Mulia berdua sudah mendengar titah Baginda tadi? Maksud kami, Baginda sudah berkenan membebaskan Yang Mulia berdua. Dan kini Blambangan membutuhkan imbalan dari Yang Mulia."

Dengan tenang Umbul Songo tersenyum ramah.

Kemudian menjawab, "Hamba memang lebih suka mati untuk Blambangan."

"Bagus "

"Tapi apa yang harus kami kerjakan?"

"Sri Prabu ingin Yang Mulia mempanglimai pembasmian para perusuh. Dan Yang Mulia Laksamana menghancurkan para perompak. Kami tahu tak ada pilihan lain yang mampu."

"Ampun, Yang Mulia!" Haryo Dento membantah. "Apa arti hamba tanpa armada?"

"Laksamana membawahi mereka masa lalu. Sekarang pun harus bisa."

"Tak sebutir pun peluru pada kami." Haryo Dento membeliakkan mata. "Juga tak ada uang, emas atau perak semenir pun."

"Yang Mulia tak sanggup?" Bagus Tuwi mulai tak sabar.

"Apa arti harimau tanpa taring?"

"Yang Mulia!" Bagus Tuwi tersentak. "Menyindir kami?

Sebenarnya Yang Mulia ingin mengatakan bahwa Blambangan sekarang telah rapuh?"

"Sejak lama Blambangan rapuh. Kini kita berdiri di bawah telapak kaki Bali. Kita memang bukan hidup pada zaman Bhree Wirabhumi anumerta, juga bukan zaman Yang Maha Mulia Pati Udara Sorga " "Dewa Bathara!" Bagus Tuwi dan Dang Hyang Wena menyebut berbareng. Haryo Dento tetap keras seperti dulu. Bahkan mungkin lebih keras lagi. Pendengar lainnya menjadi gelisah. Udara menjadi gerah. Walau semua yang hadir kecuali Dang Hyang Wena telanjang dada. Mungkin karena suasana dalam ruangan terbuka itu makin panas atau mungkin karena mentari memancar tepat di atas atap. Tidak tahu alasan yang pasti, namun hampir semua orang merasa kegerahan. Justru kini Haryo Dento tersenyum.

"Kekalahan menunjukkan betapa lemahnya suatu negeri. Dan^itu mengartikan betapa lemahnya laskar Blambangan. Sampai-sampai tak secuil pun bumi yang dapat dipertahankan."

"Jagat Pramudita!" Arya Bendung tersinggung. "Dalam keadaan begini Blambangan memang tak

membutuhkan lontar. Tak membutuhkan pandita!" Haryo Dento makin meluap-luap. "Yang dibutuhkan adalah bedil, kawula, emasKlan perak."

"Kekuatan tanpa akal dan para dewa tak mungkin. Karena itu diperlukan dewa dan pandita. Kalau tidak, maka Blambangan akan dikutuk oleh para dewa," bantah Hyang Wena.

"Pandita yang dibutuhkan bukanlah yang menitikkan air liur pada emas dan wanita! Bukan pula pandita yang membangun kehormatan pribadi. Tapi sepenuhnya mengabdi pada Hyang Maha Dewa dan kemanusiaan."

"Jagat Pramudita! Yang Mulia menghina brahmana dan pandita." Dang Hyang Wena menggertakkan gigi.

"Tidak semua jelek, memang." Haryo Dento tersenyum. Sama sekali telah kehilangan takutnya. "Yang Mulia!" Arya Bendung menengahi. "Ingat! Kami tak ingin perselisihan ini terjadi kembali. Pengalaman cukup pahit akibat perselisihan. Yang Mulia tak pernah menyadari kita ini sekadar menerima warisan. Dan nirneyana yang terjadi tak pernah Yang Mulia cegah. Itu sebabnya Blambangan makin lemah."

"Dibicarakan untuk dipelajari agar tak terulang kembali. Dan pembangkangan terjadi bukan karena hamba. Tak juga karena Umbul Songo. Pembangkangan terjadi karena ketidaktahuan Yang Mulia sendiri. Mereka tahu apa yang bakal terjadi. Yaitu penangkapan dan pembunuhan atas mereka. Sedang Yang Mulia dan Yang Tersuci berusaha menggenggam Blambangan. Yang Mulia mengenyampingkan akal dan kenyataan. Karena itu Yang Mulia telah berpendapat, berbuat, dan bekerja dengan kehendak Yang Mulia sendiri."

"Dewa Bathara! Yang Mulia tak menyadari keadaan Yang Mulia?" Suara Arya Bendung mengeras. "Bukankah kami tak sedang memeriksa?"

"Sepenuhnya kami menyadari. Kami adalah domba di tengah kerumunan serigala rakus!"

"Drubiksa!" Arya Bendung gemetar menahan marah. "Tiada kesanggupan Yang Mulia berdua?"

Mangkuningrat menengahi. Ia telah menjadi pusing mendengar semua itu.

"Tak ada laskar pada kami," Umbul Songo yang menjawab.

"Atas namaku Yang Mulia boleh menggunakan semua laskar." Mangkuningrat sudah kehilangan pertimbangan.

"Akan hamba timbang, Sri Prabu." "Kenapa?" "Laskar Blambangan sekarang menyedihkan. Mereka tak pandai berperang seperti dulu. Mereka sekarang pandai menakut-nakuti, menjarah, dan memperkosa "

"Yang Mulia!" Arya Bendung memotong. "Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri."

"Selama ini kami tidak bersama mereka." "Jagat Dewa!" Bagus Tuwi juga menyebut. "Demi Hyang Maha Dewa, kami tak sudi

mempertanggungjawabkan perbuatan mereka!" Umbul Songo makin berani juga.

"Kami tak menanyakan itu. Kami membutuhkan kesanggupan Yang Mulia!" Bagus Tuwi menekan.

"Hamba tak berjanji. Barang sehari dua kami akan bersembah pada Sri Prabu."

Mangkuningrat kian pusing. Ia tahu Blambangan tak boleh mengerahkan armada tanpa izin Mengwi. Padahal perompak tak bisa dibasmi dengan tanpa mengerahkan armada. Sedang menurut Wena mereka hanya bisa dihentikan oleh suara Umbul Songo dan Haryo Dento.

Padahal kedua orang itu kini tak mau bersumpah. Tak mau mengiakan. Ia merasa kewibawaan keluarganya telah gempil. Tapi tak pernah ia sadari apa sebabnya. Yang paling menyedihkan ialah karena ia juga tak tahu sama sekali bahwa sebenarnya banyak perompak yang justru menggunakan kapal perang Blambangan sendiri. Juga Laksamana Penjalu tak mengerti akan hal ini.

Ternyata keadaan di laut tidak berbeda banyak dengan di darat.

Sedang persoalan Lumajang tak mungkin didiamkan terus jika ia tak mau kehilangan wilayah itu. Di pihak lain patih amangkubumi Blambangan belum juga tiba. Apakah akan digantikan oleh Mas Alit, saudara tirinya itu? Ah... tak mungkin ia berani melanggar wasiat Ramanda anumerta.

Tentu saja ia belum percaya sas-sus kematian Sirna di Asem Bagus. Menurut penelitian yang dilakukan Singamaya tidak terdapat tanda-tanda adanya mayat Sirna di tengah tumpukan mayat di hutan itu. Tiba-tiba ia mengambil keputusan,

"Yang Mulia Haryo Dento dan Umbul Songo, aku menunggu selambat-lambatnya dua hari lagi. Jika tak ada jawaban maka kepala Yang Mulia berdua akan jatuh ke bumi! Dan Paman, bubarkan pertemuan ini!"

"Hamba, Sri Prabu," jawab semua orang.

"Aku akan beristirahat." katanya seraya berdiri. Ia serahkan tongkat kerajaan pada prajang-kara. Kemudian melintas lewat kanan api kehidupan untuk masuk:

Para dayang tergopoh-gopoh mencuci kaki Mangkuningrat ketika ia akan masuk ke sentong tengen (kamar peraduan sebelah kanan). Sesaat ia menyempatkan diri menoleh ke sentong kiwa (kamar peraduan sebelah kiri). Tempat di mana ia dan Sirna pernah tinggal masa kecil dulu. Setelahnya ia terus masuk ke sentong tengen. Dengan bantuan biti-biti perwara istana ia tanggalkan mahkota dan semua perhiasan yang memberati tubuhnya. Tinggal sebuah kalung, sepasang gelang, dan binggal.

Sendiri ia bersantap siang. Setelahnya berjalan-jalan di tamansari. Para selir memperhatikannya dari kejauhan. Tak ingin ia mendekati mereka. Sirna menerawang di alun ingatannya. Anak itu memang anak kesayangan bundanya. Ia melangkah terus. Makin pelan langkahnya. Seolah ia takut bumi yang dipijaknya akan merekah. Bunga- bunga tak sedap baginya. Bahkan kupu-kupu yang lalu- lalang, atau juga belalang yang berlompatan di tanah, atau kadang kadal yang lari cepat ke dalam gerumbul perdu waktu ia lewat, semuanya juga tidak menjadi perhatiannya. Perasaan jemu merasuki pikirannya. Angin segar di taman tak memberikan hiburan apa-apa. Ia balik ke sentong kuning. Untuk kemudian merebahkan diri.

Melepas lelah.

Ia memang tidak menderita lelah tubuhnya. Tidak! Tapi ia letih pada kepalanya. Dan barang siapa letih ingatannya, akan letih pula seluruh tubuhnya.

Karenanya ia selalu resah. Sebentar kemudian ia bangkit lagi. Menengok bilik Paramesywari. Kosong! Hari telah sore. Masih duduk melamun. Kini para dayang memperhatikannya dari kejauhan. Angin senja telah memasuki juga sentong kuning itu. Tiba-tiba ia bangkit lagi. Membuka tirai jendela sentong kuning yang terbuat dari kain sutra kuning buatan Cina itu. Ia melihat para dayang berkerumun di kejauhan. Ia memanggil seorang di antara mereka. Ia perintahkan orang itu memanggil Ni Ayu Sudiarti, bekas selir ayahnya anumerta.

Wanita yang dimaksud segera duduk bersimpuh sambil menyembah. Dalam hati siap diusir. Bukankah yang berkuasa sekarang bukan suaminya? Namun ia melihat Mangkuningrat melambaikan tangan memberi tanda para dayang agar menjauh.

"Ah... Baginda seperti bapaknya...," bisik seorang pada temannya setelah menyembah dan pergi.

"Sssttt... hati-hati kau bicara. Ingin kau menderita?" yang lain memperingatkan. "Itu kan punya bapanya. Tak segan pula dijadikan selir," masih saja ia bicara dengan suara yang lebih lirih.

"Biar saja! Itu kan anugerahnya," jawab temannya dalam ketakutan. Ia ingat salah seorang temannya menjadi santapan budak-budak, karena kesalahan menolak Mangkuningrat.

"Beruntung wanita cantik tak terusir seperti yang sudah peot."

Tak berani mereka menoleh. Sebab itu berarti mengundang bahaya. Bukankah raja bisa berbuat segala? Raja memiliki segala termasuk diri mereka. Bahkan raja juga yang menentukan hukum di Blambangan. Kemudian mereka menghilang di belokan.

Beberapa bentar Mangkuningrat memandang Sudiarti yang masih bersimpuh di lantai beralas permadani.

Matanya menelusuri tiap lembah di tubuh Sudiarti. Kulit di atas pusarnya masih mulus dan segar, menunjukkan bahwa wanita ini belum pernah mengandung. Buah dadanya belum melorot, menunjukkan betapa rajin merawat tubuhnya. Mungkin juga masih rajin berlatih menari. Bukankah semua keindahan yang dimilikinya itu merupakan lambang kesuburan bagi diri dan pribadinya. Alisnya tebal hitam menghias muka dan memperindah mata yang mengerjap seperti bintang timur.

"Berdirilah... Mari... temani aku bersantap." Suara Raja mengejutkan Sudiarti. Memang lirih tapi di luar dugaannya. Sudiarti mendongak lamban. Matanya yang bening kini menjadi sayu menatap Baginda.

"Ampun, Baginda, hamba bukan paramesywari." "Adinda menolak aku?" Sudiarti tersentak dalam kejutnya. Adinda? ulangnya dalam hati. Ia mengerti ucapan Mangkuningrat mengandung ancaman.

"Ampun, Baginda." Ia terpaksa berdiri. Mengiringkan raja yang masih belia itu.

"Hyang Maha Dewa telah mewariskan dikau padaku," Mangkuningrat mulai merayu.

"Ampun... bukankah hamba selir Ramanda anumerta?" Sudiarti makin gugup.

"Itu telah berlalu. Kekuasaan Blambangan di tanganku kini."

"Hamba, Sri Prabu."

"Tiadakah kau berbahagia hari ini mewakili Paramesywari ?’’

Tiada jawaban keluar dari bibir tipis Sudiarti. Mereka sampai di ruang makan sebelah sentong kuning. Lampu- lampu sudah dinyalahkan sejak tadi. Mungkin oleh dayang yang memanggil Ni Ayu tadi. Menandakan kegelapan malam mulai turun.

"Tak seorang pun diperbolehkan masuk sentong kuning ini, kecuali Raja dan Paramesywari. Karena itu berbahagialah kau malam ini, Adinda."

Dengan tangan gemetaran Sudiarti melayani Baginda bersantap malam. Dan ia tahu Baginda tak habis- habisnya memandang. Ah... suatu babak baru bagi Sudiarti. Ia ingin menolak, tapi tentu akan berhadapan dengan bencana.

Bagi Mangkuningrat sendiri segera dapat melupakan semua persoalan yang cukup memusingkannya tadi siang. Lupa Sirna, lupa Lumajang. Setelah itu ia berdiri sambil memapah Sudiarti masuk sentong kuning.

"Mari... Adinda, naiklah...," kata Mangkuningrat di depan peraduan.

"Jangan, Sri Prabu "

"Kau tolak aku?" kembali Mangkuningrat mengancam walau sambil senyum.

Sudiarti diam. Sadar. Ia mengiakan semua yang dimaukan Raja. Dan ia harus membasuh kaki raja itu dengan air bunga. Ia harus mempersembahkan seperti pada Danureja anumerta. Tak peduli, apakah ia anak suaminya sendiri. Demi hidup.

"Adinda... tak salah Ramanda membawamu kemari.

Kau rembulan... kau permata, Adinda." "Ampunkan hamba, Sri Prabu," balasnya lirih.

"Panggil aku Kanda!" bisik Mangkuningrat, yang kini mencium lehernya. Pipi. Kemudian menenggelamkan mukanya di kedua gunung kembarnya. Gunung lambang kesuburan, lambang keindahan dan lambang keagungan tiap wanita Ciwa.

"Kanda...," desis Sudiarti pasrah.

0oo0

Hari itu mentari malas menampakkan diri. Bumi Blambangan nampak sayu. Mentari lebih suka tidur berkemul mendung. Cuma sebentar-sebentar menguak awan, mengintip jagat. Semua orang menantikannya.

Juga bunga, daun-daun, pepohonan, unggas. Kecuali nyamuk, yang lebih suka pada kemuraman jagat. Atau barangkali binatang yang biasa mencari mangsa di malam hari. Umbul Songo juga malas keluar dari kediamannya. Dengan ditemani istrinya, Nyi Ken Sumba, ia menanti mentari pagi. Wanita itu merasa bahwa ia adalah wanita yang paling bahagia di Blambangan. Karena hidupnya tak pernah diperbandingkan dengan seorang selir pun. Walau ia tahu di masa tua ini nasib tidak mau diajak berdamai.

Tak seorang pun anak yang dia peroleh dari perkawinannya dengan Umbol Songo. Entah karena suaminya yang tak berbenih atau ia sendiri yang tak subur. Namun Umbul Songo tak pernah mempersoalkan. Cukup dengan mengambil Baswi sebagai anak angkat mereka. Dan anak angkatnya itu kini tiada. Entah ke mana perginya. Baswi tak pernah berkabar. Tapi Umbul Songo selalu menyuruh istrinya diam. Tenang menghadapi ombak kehidupan yang demikian itu.

Keputusan persidangan pratanda (kabinet) sedikit- banyak mengganggu Umbul Songo. Ia harus memadamkan seluruh perampokan. Sedang Haryo Dento harus memanggil kembali anak buahnya. Sulit memang. Mereka tak mungkin mengerahkan laskar dalam jumlah besar. Apalagi laskar laut. Karena itu bisa dianggap menyiapkan pemberontakan oleh Mengwi. Ia pasti tak ingin memancing kehadiran laskar Bali.

Setelah merenung-renung dengan ditemani oleh istrinya di pendapa, ia ingin berjalan-jalan di sepanjang pelataran rumahnya. Namun tiba-tiba saja ia menjadi terkejut waktu berjalan-jalan. Orang banyak berkerumun di jalan depan rumahnya. Bergesa ia memeriksa. Dan orang banyak itu menyibak memberi jalan pada Umbul Songo untuk masuk ke tengah kerumunan. Wanita dan lelaki semua menghormat dan menyembah melihat dia datang. "Ada apa ini?"

"Pemuda ini terlalu letih, Yang Mulia," seorang menjawab. Umbul Songo memperhatikan wajah pemuda itu.

"Penjual kayu manis?"

"Bukan!" jawab orang tadi. "Hanya memikulkan milik Bandara (sebutan untuk seorang saudagar.Kelak kata- kata ini berkembang menjadi bendahara) Suta."

"Akan dibawa ke Sumberwangi?"

Tak ada yang menjawab. Pemuda itu sendiri juga tak menjawab. Masih saja terduduk lemah. Seperti bunga yang terkulai layu. Maka Umbul Songo memanggil pengawalnya. Dan ia perintahkan mereka menggotong anak muda itu ke pendapa rumahnya. Kemudian ia memerintahkan orang-orang lain bubar. Sedang pada para pengawal ia memerintahkan agar mereka kembali ke gardu penjagaan di ujung pelataran rumahnya.

"Ada apa, Kanda?" tanya Nyi Ken Sumba yang segera mengikut suaminya naik ke pendapa, setelah ia keluar dari dalam, menengok dayang-dayang yang sedang bekerja.

"Lihat!" Umbul Songo menunjuk pemuda yang tergeletak di pendapa. Nyi Ken terkejut. Seorang pemuda yang pucat dan lesu.

"Hyang Dewa Ratu!" ia menyebut. "Apa yang harus hamba lakukan, Kanda?"

Suaminya memerintahkannya untuk mengambil air minum kemudian dicampur dengan ramuan obat.

Sementara itu ia menoleh ke jalanan, sebentar kemudian para penjaga di gardu penjagaan. Tak ada yang mencurigakan. Sekali lagi ia pandang pemuda itu tajam- tajam. —Curiga!

"Siapa kau, Anak muda?" "Tumpak."

"Tumpak?" "Ya "

Umbul Songo mengerutkan dahi. Mengingat-ingat.

Kemudian sekali lagi ekor matanya mengadakan pengamatan. Tetap sunyi. Di pelataran banyak tumbuh pohon kelapa, lalu lapisan terdekat dengan pendapa ada deretan bunga mawar dan melati. Sampai istrinya tiba kembali ia ternyata belum mampu mengingat, siapa pemuda yang di hadapannya itu.

"Berikan minuman itu!" perintah Nyi Ken Sumba pada seorang dayang. <

"Minumlah, Anak muda!" perintah Umbul Songo pula. "Terima kasih, Yang Mulia."

"Dari mana kau?" "Tegal Delima."

Umbul Songo mengangguk-angguk. Ia rasa seperti ada yang mencurigakan dalam jawaban Tumpak. Ia segera ingat pada Baswi yang pernah menjadi anak angkat lurah Tegal Delima. Ternyata Nyi Ken Sumba pun punya naluri yang sama dengan suaminya. Karena itu ia perhatikan tajam-tajam Tumpak. Kulitnya coklat kehitam- hitaman, hidungnya pesek, bibirnya agak tebal. Pendek kata semua tanda-tanda sudra ada pada tubuh Tumpak.

"Hamba telah sehat, Yang Mulia," kata Tumpak yang selesai dioles ramu-ramuan obat oleh seorang dayang. "Kau perlu istirahat dulu beberapa bentar," jawab Llmbul Songo datar. "Kau sudah makan pagi?"

"Sudah. Terima kasih, Yang Mulia." ,

"Baiklah " Umbul Songo kemudian menoleh pada

istrinya. Sedang Nyi Ken sama sekali tak mengerti apa arti pandangan suaminya itu. Dan suaminya kemudian melambaikan tangan, memerintahkannya pergi.

"Apa yang kauinginkan masuk Lateng ini, Tumpak?" Umbul Songo mulai memeriksa. "Bukankah desamu cukup subur?"

"Am ampun, Yang Mulia." Tumpak tak lagi berbaring.

Dalam duduknya ia mengawasi sekitarnya dengan ekor mata.

"Seperti prajurit? Ya, kau prajurit!" desis Umbul Songo menggugupkan Tumpak. "Berkatalah!"

"Hamba cuma menerima perintah "

"Untuk membunuh aku? Perintah siapa?" Umbul Songo terbelalak. Namun suaranya tetap pelan.

Bersamaan dengan penahanan suaranya, Umbul Songo juga menahan hatinya yang tersibak.

"Ampun, Yang Mulia, tidak! Hamba menerima perintah dari Tuan Baswi."

"Apa katamu?" Umbul Songo makin terkejut. "Benar, Yang Mulia. Ini perintah Tuan Baswi." "Apa katanya."

"Hamba disuruh menyampaikan berita bahwa Tuan Baswi ada di Raung."

"Yang lain?" "Dilarang bicara lebih dari itu."

"Hem..." Umbul Songo menghembuskan napas panjang. Matanya menembus makin dalam. Ingin mengorek apa yang di kepala Tumpak. "Ada kau bawa tanda-tanda?" lanjutnya. .

Tumpak tergagap. Sama sekali ia tak membawa tanda-tanda. Namun ia segera ingat dua saga emas yang diberikan Andita. Dan ia menyerahkan emas itu pada Umbul Songo.

"Dari Lumajang?" Umbul Songo berkata sambil mengembalikan uang emas itu pada Tumpak. "Kau memerlukan istirahat?"

"Tidak, Yang Mulia. Hamba harus segera berlalu." "Baik. Berhati-hatilah! Telik Blambangan di mana-

mana."

Tumpak pergi setelah menyembah. Tetap memikul kayu manis. Kembali Umbul Songo terpekur dalam kesendiriannya. Pikirannya beranjangsana ke mana- mana. Apa Baswi bergabung dengan Lumajang? Kalau tidak kenapa Tumpak membawa uang Lumajang?

Sepercik perasaan menyesal memuncrat dalam dadanya, kenapa ia tidak menahan Tumpak. Ia merasa kurang berlaku cermat, melepas Tumpak pergi.

Bukankah mungkin sekali Tumpak telik istana. Tapi... kemudian ia sadar, menangkap mata-mata istana, berarti bencana akan segera datang.

Sesaat kemudian ingat ancaman yang diturunkan oleh Mangkuningrat. Kalau ia tak sanggup menyelesaikan masalah Blambangan yang ruwet ini, maka kepalanya akan dipenggal. Karenanya ia tidak anggap sepele ancaman itu. Keluar dari mulut Raja. Oleh karena itu ia  berpikir juga akan mengusulkan membangun armada dan laskar baru secara diam-diam. Tapi itu berarti akan memberikan beban berat bagi kawula Blambangan.

Bukankah pembangunan itu memerlukan biaya? Bukankah laskar makan gaji dari pajak atas kawula? Tidak! Aku tidak akan membangun laskar baru. Ia berbantah sendiri dalam hati.

Tiba-tiba saja, entah apa yang mendorong, ia berdiri dan bertepuk memanggil kepala pengawal. Yang dipanggil mendekat.

"Siapkan kudaku!" perintahnya. "Ke mana, Yang Mulia?"

"Istana. Siapkan tujuh anak buahmu untuk mengikut daku!"

"Sekarang?"

"Ya, sekarang juga." Suara Umbul Songo dingin dan datar.

Umbul Songo masuk bilik untuk mengenakan pakaian tempur. Segala tanda kebesaran juga ia pakai. Nyi Ken menjadi terkejut. "Ada penghadapan agung, Kanda?"

"Tidak, Istriku. Hari ini adalah batas terakhir untuk memberikan jawaban pada Sri Prabu."

"Kanda..."

"Tabahkanlah hatimu, Dinda. Seperti kala kau menunggu kematianku dulu. Ingat, hari tak selamanya mendung. Juga tak selamanya bulan itu indah."

"Kanda..."

"Sudahlah! Kita sudah cukup tua. Cukup cicipi asin, manis, dan pahit bersama-sama. Satria tak mengeluh waktu mengunyah yang pahit. Sama halnya dengan waktu mengunyah yang manis."

Nyi Ken Sumba tak bisa berbuat apa-apa. Umbul Songo sudah memunggunginya dan berjalan menuju pendapa. Bersama para dayang ia mengikut dari belakang. Dan ia sempat mencium kaki suaminya kala orang itu akan melompat ke punggung kuda. Tangkas! Seperti masih muda dulu! gumam Nyi Ken Sumba dalam hati. Juga para pengawal menyiapkan diri di atas kuda masing-masing.

"Istriku!" kata Umbul Songo di atas kuda. "Jika kita berpisah dalam waktu yang agak lama, jangan resah! Inilah kehidupan. Setiap perjumpaan selalu bertepikan perpisahan. Pergilah saja ke pura! Bacakan Lokananta untukku! Untuk kita semua! Kau dan aku!" Suara Umbul Songo terdengar parau, menahan haru.

"Berperang lagikah, Kanda?" suara tersendat Nyi Ken. "Perang adalah tugas satria! Mati di medan laga

adalah semulia-mulianya kematian."

Tatkala Nyi Ken turun ke pelataran, Umbul Songo menyentuh perut kudanya dengan tumit. Nyi Ken kecewa melihat tindakan suaminya.

"Kanda!" Nyi Ken setengah berteriak, "Perang memusnahkan segala-gala. Bukan cuma jiwa dan harta benda. Tapi juga segala yang baik dan suci. Terlebih akhlak manusia!"

"Dengan tanpa perang suatu kekuasaan tak bisa dikokohkan. Hanya dengan perang peperangan dapat dihentikan. Hanya dengan perang keten-traman suatu negeri dapat dijaga. Nyi Ken, kau dan aku adalah satria. Dan lagi senja sudah datang, kita tak usah takut derita. Selamat tinggal, Istriku!"

"Kanda..."

Suaranya ditelan derap kaki kuda. Beberapa bentar kemudian mereka lenyap dari pandang Nyi Ken Sumba, ditelan gulung-gemulung debu. Orang-orang yang berpapasan jalan pada menyimpang sambil menutup lubang hidung dengan telapak tangan. Juga mereka memejamkan mata. Namun tak seorang pun berani mengumpat. Kendati Umbul Songo dan rombongan berpacu sangat cepat.

Di alun-alun mereka berhenti. Umbul Songo segera melapor pada ratu anggabaya(Raja Kembar dan itu hanya pernah ada di Tumapel. Artinya istilah ratu anggabaya hanya dipakai di Tumapel. Jadi di sini artinya sekretaris negara) yang saat itu dirangkap oleh Arya Bendung. Dan setelah mendapat perkenan maka ia menemui prajangkara. Orang itu menemaninya ke gedong kuning, di mana Mangkuningrat sudah menunggu. Sekilas hatinya berdesir kala menginjak permadani merah buatan Mesir yang melambari lantai gedong kuning.

"Inilah hamba. Menunggu perintah menghancurkan kaum perusuh," Umbul Songo menyembah.

"Yang Mulia bersungguh-sungguh?" Mangkuningrat menegaskan.

"Inilah hamba." Umbul Songo sedikit melirik Arya Bendung yang duduk di sampingnya. Orang itu memperhatikannya. Sekilas juga ia sempatkan memperhatikan pilar-pilar besar penyangga atap gedong kuning. Ada dua pedang emas ditata bersilang menempel dinding. Di atasnya tertempel pula lukisan kepala anjing hitam lambang Sonangkara.

"Pilihlah laskar terbaik menurut Yang Mulia."

"Hamba akan berangkat sekarang juga! Walau dengan tujuh orang pengawal saja."

"Dewa Bathara!" Arya Bendung tak kuasa membendung hatinya. "Dengan tujuh orang?"

"Hamba tak sempat memilih. Laskar Blambangan yang ada sekarang ini sebagian besar terbentuk waktu kami sedang di penjara. Karenanya sulit mempercayai mereka."

"Yang Mulia tak mempercayai kami?" Arya Bendung tersinggung.

"Prajurit yang tak pernah mancal bertempur, biasanya hanya pandai menakut-nakuti kawula. Demi Hyang Maha Dewa, hamba akan padamkan seluruh kerusuhan ini."

"Kegagalan berarti kematian," ancam Arya.

"Mati dengan pengabdian pada Prabu, negeri, dan kawula, adalah semulia-mulianya kematian. Karena itu Sri Prabu, hamba mohon tanda, bahwa hamba saat ini senapati atau panglima yang mengemban kuasa dan titah Sri Prabu untuk menumpas kerusuhan. Sehingga dengan demikian tak seorang pun boleh membantah keputusan hamba dalam penumpasan ini."

Sesaat Mangkuningrat bingung. Apa arti kata-kata Umbul Songo. Namun sebelum ia sempat bertimbang dengan Arya Bendung tangannya sudah menarik cincin tanda kerajaan dan memberikannya pada Umbul Songo.

"Atas namaku, berangkatlah!" Dengan sangat terkejut dan khawatir Arya Bendung mengawasi kepergian Umbul Songo. Benci! Ingin ia memasukkan kembali orang itu ke penjara. Tapi hari ini terlambat.

Karena itu segera ia memberi tahu Teposono, semua yang telah terjadi. Dan mereka berusaha mencari titik lemah Umbul Songo. Tak ayal Teposono pun segera memerintahkan dua anak buahnya untuk membayangi setiap gerak Umbul Songo. Dengan tanpa sadar Umbul Songo bergerak, mengadakan perondaan atas Ibukota, Lateng. Setelah berputar-putar, mendadak ia berhenti di depan istana Kuwara Yana. Istana itu kian indah saja, dan tambah hari kian mendapat pengawalan ketat.

Tamu-tamu yang masuk pada umumnya para saudagar dalam dan luar negeri.

"Selamat datang, Yang Mulia!" Kuwara Yana segera mengadakan penyambutan. Ia telah diberi tahu oleh Teposono tentang Umbul Songo. Karena itu ia harus sangat berhati-hati.

Umbul Songo mengangguk sambil .memperhatikan pengawal Kuwara Yana yang ikut menyambutnya.

Demikian ketatnya. Sehingga semut pun sukar mendekati orang itu. Ah... Kuwara Yana takut mati. Seorang panglima pun tak mendapat pengawalan seketat itu.

"Terima kasih, Yang Mulia Menteri. Sungguh seperti memasuki istana dewa-dewa!"

Kuwara Yana berbangga mendapat basa-basi Umbul Songo.

"Yang Mulia sungguh mengejutkan kami." "Kami sedang mengamankan negeri. Menyelusuri jejak perampok."

"Oh Sungguh tugas mulia. Mengamankan negeri!"

Kuwara Yana pura-pura terkejut. Geleng-geleng kepala seolah kagum. "Tapi tak pernah ada perampok menyasar dalam gedung ini."

"Syukur. Hamba cuma ingin mendapat gambaran tentang daerah mana yang paling sering mengalami gangguan. Bukankah ini menyangkut lancar tidaknya perniagaan?"

"Yang Mulia memeriksa hamba?" Kuwara berdebar. "Jangan salah duga! Kami sedang mencari sarang

mereka."

"Oh... baiklah, Cluring, Grajagan Wijenan, Plaosan,

Sembulungan... dan "

"Artinya hampir seluruh Blambangan tak aman?" "Ya."

"Di mana kami bisa mendapatkan makanan dalam keadaan mendesak?"

"Maksud Yang Mulia?"

"Cadangan makanan buat penumpas yang akan kami gerakkan."

"Kenapa tanya hamba? Bukankah itu urusan Menteri Muka?"

"Gerakan ini untuk seluruh Blambangan. Juga demi keselamatan cadangan Negara. Hamba tak mau laskar hamba jadi perampok."

"Kalau begitu " Kuwara Yana ragu, "bukankah kawula

telah menyediakannya." "Baik. Dengan begitu Yang Mulia membenarkan penjarahan milik kawula." Suara Umbul Songo dingin. Lalu pergi dengan keinginan membawa Kuwara ke tiang gantungan. Bukan sekarang, tapi nanti!

Sekembalinya mengadakan perondaan ke seluruh Blambangan ia minta pada Menteri Muka untuk menurunkan perintah pada kepala-kepala pasukan agar mengasramakan laskarnya. Barang siapa keluar tanpa izin Umbul Songo akan ditangkap. Yang melanggar akan disamakan dengan perusuh.

Segera Lateng menjadi sunyi seperti kota mati.

Sementara itu yang tampak mondar-mandir cuma Umbul Songo dengan ketujuh pengawalnya. Mereka dipersenjatai tombak lempar, pedang, panah, bahkan juga bedil. Umbul Songo mengatur gerakannya dengan amat rapi. Tak ingin diketahui oleh siapa pun termasuk Teposono. Dan perusuh segera menyingkir melihat langkah Umbul Songo itu. Kabar perondaan yang mereka dengar dari mulut ke mulut telah mengagetkan dan menggentarkan hati mereka.

Ternyata nama Umbul Songo masih ditakuti di seluruh bumi Blambangan. Kawula dan saudagar mengelu- elukannya di mana-mana. Bahkan di Wijenan, orang pada menabur bunga di jalan yang akan dilalui Umbul Songo. Gerakannya didukung di mana-mana.

Suatu malam Umbul Songo mengajak rombongannya untuk beristirahat di selatan kota Lateng. Mereka baru saja meronda di Grajagan. Setelah semua turun dari kudanya Umbul Songo mengumpulkan mereka di tempat tersembunyi. Sebuah gardu penjagaan yang terlindung gerum-bul perdu dan bambu. "Kalian lihat ada orang bergerak di belakang kita tadi?" tanya Umbul Songo dalam bisik. Namun mereka tak menjawab. Umbul Songo menatap mereka di bawah sinar rembulan yang redup. Ia curiga. Dan penasaran karena tiada jawaban.

"Kenapa tak menjawab? Janti? Wulung?" Mata Umbul Songo berkilat, kumisnya yang tebal pun seolah berdiri.

"A... a... ada kami lihat tadi...," jawab keduanya. "Kenapa tidak lapor, tadi?" geram Umbul Songo. "Ampun, Yang Mulia, kami takut."

"Kalian lihat mereka berlencana Sriti, maka takut?" "Be... Betul... Yang Mulia."

Umbul Songo mendengus. Lalu memerintahkan mereka istirahat sampai tengah malam. Umbul Songo pun tidur di antara mereka. Sampai tengah malam tiba, maka mereka harus berangkat dengan tanpa mengeluh. Kuda mereka pun tidak mengeluh. Umbul Songo tidak menyertai mereka.

Beberapa saat kemudian dua penunggang kuda lain menyusul mereka. Nampak sekali kedua penunggang kuda itu berusaha menjaga jarak. Namun tidak lama antaranya sebuah tombak lempar membuat seorang dari mereka jatuh tersungkur. Orang itu mengaduh keras waktu darah tersembur dari sobekan kulitnya. Temannya terkejut. Langsung menghentikan kudanya setelah kuda temannya berhenti lebih dahulu. Kuda itu menunggu tuannya yang sedang menggelepar untuk kemudian mati dengan tanpa ampun.

"Gila!" Yang masih hidup berteriak. "Drubiksa! Tak lihat lencana Sriti?" Tak ada jawaban kecuali ringkik kudanya sendiri.

"Perampok gila, keluar kau!" Matanya liar menatap gerumbul gelap. Sekali lagi, hanya kegelisahan kudanya yang menjawab. Hatinya menjadi berdesir. Bulu romanya meremang dan mulai bangkit berdiri. Dan ia memberanikan diri berteriak lagi.

"Drubiksa! Kalau kau tak keluar, besok akan digantung oleh Yang Mulia Teposono."

Sebuah letusan bedil menjawabnya. Dan ia terjungkal dari punggung kudanya, tanpa dapat mengumpat untuk selama-lamanya. Sementara itu, para pengawal Umbul Songo mendengar sayup suara letusan. Cuma sekali!

Mereka memperlambat langkah kuda mereka. Mereka menunggu letusan kedua. Tapi tiada. Hati mereka bertambah tegang kala derap kuda menyusul.

Mungkinkah justru Umbul Songo yang tertembak? Kalau demikian halnya, maka tak ayal besok mereka akan naik tiang gantungan bersama-sama. Derap kuda itu makin mendekat. Hampir bersamaan mereka menoleh ke belakang. Bukan untuk melihat siapa yang berkuda.

Mereka lebih banyak ingin melihat bagaimana nasib mereka besok. Ternyata, secara samar mereka melihat cuma seorang. Sedang dua ekor kuda di belakang orang, itu membawa beban yang pastilah mayat dua orang.

Mereka bernapas lega.

Apalagi setelah Umbul Songo akhirnya mendahului mereka. Tanpa tanya. Dan saat itu kepercayaan diri para pengawal timbul kembali. Kekaguman mereka terhadap Umbul Songo menambah keberanian mereka. Dan dengan gagah mereka berkuda di belakang pemimpinnya. Seperti pahlawan yang menang perang.

Sayang saat begitu tidak ada istri mereka yang melihat. Jangankan istri, kawula Lateng pun sedang terlelap. Jika ada yang mendengar derap kuda itu, pastilah mereka tidak akan berani mengintip.

Namun demikian kebanggaan itu segera berlalu. Sebagai gantinya adalah tanda tanya besar kenapa Umbul Songo justru memberhentikan mereka tepat di depan kediaman Teposono yang juga sebagai asrama laskar berlencana Sriti. Kepala pos penjagaan rumah itu terkejut.

"Di mana Yang Mulia Teposono?" Umbul Songo bertanya sambil masih duduk di atas pelana.

"Masih beradu." Kepala pengawal itu maju. "Bangunkan!"

"Kami takut, Yang Mulia!"

"Atas nama Sri Prabu. Aku perintahkan! Bangunkan!" "Ampun... Yang..."

"Bangunkan!!!!" Umbul Songo menindas tegas. "Lihat bangkai kedua temanmu ini!" Obor yang menerangi pelataran itu meriup-riup ditiup angin. Sementara kepala pengawal itu memandang Umbul Songo dengan terheran-heran, mata Umbul Songo melirik ke segala penjuru pelataran. Cukup luas. Sedang di belakang gedung rumah Teposono ini terdapat satu gedung lagi yang digunakan oleh Teposono untuk ruang kerjanya. Di situ ia menerima laporan dari seluruh telik yang ia sebar ke mana-mana. Sesaat kemudian Umbul Songo berkata lagi dengan suara datar,

"Haruskah peluru kami bicara?"

Kepala pengawal itu segera beranjak, dengan sangat gugup. Ia tahu Umbul Songo tidak main-main. Rumput-rumput juga tampak gemetar ditiup angin.

Kembali Umbul Songo menembuskan pandang ke halaman belakang. Ia tahu di sana berbaris kereta-kereta yang biasa ditarik kerbau. Kereta itu dibikin sedemikian rupa kuat dan tertutup dan itu digunakan untuk mengangkut para tahanan yang akan diperiksa. Belum puas penelitiannya, saat itu Teposono keluar dengan pedang di tangan kiri. Pakaiannya tidak teratur, demikian pula rambutnya terurai kusut.

"Selamat malam, Yang Mulia!" Umbul Songo membuka.

"Ada sesuatu?" suara Teposono setelah menjawab salam Umbul Songo. Dan Panglima itu tersenyum.

Teposono belum menyadari keadaan. Maka katanya dengan masih di atas punggung kuda,

"Yang Mulia tahu siapa hamba?"

"Dulu panglima. Tapi sekarang hamba kepala sandi Blambangan." Ia mengerutkan kening. Heran.

"Hamba tidak menanya masa lalu. Tapi hari ini!"

Lagi! Teposono tersinggung dilindas seperti itu. "Apa maksud Yang Mulia?"

"Yang Mulia menghendaki hamba gagal?" tuduh Umbul Songo.

"Tidak."

"Dua orang berlencana Sriti membayangi kami." Umbul Songo memerintahkan anak buahnya membawa dua kuda pembawa mayat itu ke depan Teposono.

Terkejut. Membeliakkan mata sambil menggertakkan gigi. "Berani membunuh anggota kami?" "Yang Mulia tidak mendengar maklumat Menteri Muka?"

"Yang Mulia menyudutkan kami? Hamba bisa membawa Yang Mulia kembali ke penjara. Juga ke depan merta lutut!"

Pengawal-pengawal Umbul Songo bergidik mendengar itu. Namun Umbul Songo terbahak-bahak di kesunyian malam.

"Menyesal sekali, Yang Mulia. Itu bisa dilaksanakan kemarin. Hari ini tidak! Esok juga tidak! Umbul Songo sekarang adalah penguasa atas titah Baginda. Ia berkuasa atas keamanan atau apa saja yang ada di Blambangan. Semua perniagaan, semua gerakan laskar darat maupun laut, semua menteri, dalam pengawasan Umbol Songo. Kemarin ludah Yang Mulia bisa menjadi api. Tapi sekarang? Jangan main-main! Api Yang Mulia telah pudar sama sekali. Dan hamba datang sekarang untuk membikin perhitungan. Lihat orang itu!" Umbol Songo menunjuk kedua mayat. "Bukan kehendak kami membinasakan mereka. Tapi tugas membuat kami harus menyingkirkan siapa saja yang menghalangi perondaan kami. Yang Mulialah yang harus mempertanggungjawabkan kematian mereka."

"Dewa Bathara! Drubiksa mana yang telah merasuki Yang Mulia? Pembunuh mencuci tangan?"

"Jawabannya ada di kepala Yang Mulia sendiri! Yang Mulia pembunuh berdarah dingin! Sekarang kita telah berhadapan. Sebagai kepala sandi Yang Mulia ada di bawah hamba! Dengar? Tak seorang pun laskar boleh keluar tanpa izin hamba!"

Teposono benar-benar terpojok. Tidak mampu menjawab. Bibirnya komat-kamit menahan marah. Tapi ia harus menerima kenyataan ini. Sampai kapan? Esok? Lusa? Atau melawan saja? Tidak mungkin. Ia tahu persis Umbol Songo sudah benar-benar siap. Sedang ia masih baru bangun tidur. Demikian pun pengawalnya. Kata Umbol Songo lebih menyakitkan lagi,

"Hamba sekarang yang bisa menyeret siapa pun ke penjara. Mereka yang tak mendengar maklumat Menteri Muka, dan yang melindungi perusuh, pasti akan punah. Dengar? Hai dengar, Yang Mulia?" Teposono terpatri tanpa suara. Diperhinakan di depan anak buahnya sendiri. Dan Umbol Songo segera mengambil keputusan.

"Hai kalian, Para pengawal! Dengar! Mulai kini, kalian bukan cuma pengawal rumah Yang Mulia. Tapi juga Yang Mulia sendiri. Ia tak diperkenankan keluar halaman rumahnya tanpa perkenanku! Dengar?"

Semua membisu memandang Teposono.

"Kepala regu!" Umbol Songo menindas dengan suara keras.

"Yang... Yang... Mulia menahan... ham... hamba?" Teposono bergetar tanpa wibawa.

"Yang Mulia telah mencoba membokong!" "Bukankah tak satu pun kejadian boleh lepas dari

pengamatan hamba."

"Kini hamba tak terikat peraturan itu. Hamba penguasa hukum di Blambangan saat ini."

Umbul Songo menyentuh perut kudanya. Tak ingin mendengar ketidakterimaan Teposono. Pengawalnya mengikuti.

"Hai, Orang-orang berlencana Sriti!" teriakan Umbol Songo menggelegar lagi. "Jangan melangkah ke luar, walau cuma sebelah kaki saja! Ingat! Kami adalah orang- orang yang pernah bertempur di Surabaya. Awas, panah dan bedil kami mampu bicara di segala tempat dan saat."

Kuda mereka kemudian bergerak lebih cepat meninggalkan tempat itu. Sementara Teposono masih termangu-mangu. Ia pandang mereka yang sebentar kemudian lenyap ditelan kegelapan. Sulit ia mengerti, kenapa dalam waktu sekejap Umbol Songo mampu memulihkan kembali kewibawaannya. Ia tahu bila tak terbendung maka selangkah lagi Blambangan akan digenggam Umbul Songo. Kepalanya menjadi amat pening. Marah dan malu menyatu. Ia toleh kepala regu pengawalnya. Kemudian menunjuk kedua mayat anak buahnya. Kembali ke kamar. Yang lain mengerti tugasnya. Teposono menjatuhkan diri di pembaringan dengan tanpa daya.

0oo0

Semua laskar gelisah dalam asrama masing-masing.

Tak peduli apakah perwira tinggi atau tamtama. Ketegangan melanda seluruh Blambangan. Umbul Songo meneliti setiap sudut Blambangan. Asrama- asrama pun tak terkecuali. Kali ini ia sudah sampai di depan asrama laskar pertama pasukan penempur.

Wituna, pemimpin laskar itu, segera menyongsongnya dengan tergopoh-gopoh.

"Selamat malam, Yang Mulia," katanya sambil menyembah.

"Wituna?" Umbul Songo tidak turun dari kudanya. "Hamba, Yang Mulia."

"Lengkapkah anak buahmu?" Kudanya tetap bergerak perlahan memasuki pelataran asrama. Pelataran yang sangat luas. Karena di situ juga mereka biasa berlatih. Di dalam perbentengan asrama laskar pertama itu terdapat tujuh barak.

"Tak seorang pun melanggar perintah." "Berapa orang-semuanya?"

"Tujuh ratus." Wituna mengikuti langkah kuda Umbul Songo dengan kakinya. Sementara itu dengan lambaian tangan Umbul Songo memerintahkan pengawalnya mengadakan perondaan ke barak-barak.

"Kau berani bertempur, Wituna?" "Hamba, Yang Mulia."

"Kenapa tak kau lindas kerusuhan yang terjadi?" "Ampun, Yang Mulia. Belum ada perintah."

"Atau kau menerima suap dari orangmu yang terlibat?" "Ampun, Yang Mulia..."

"Kau tahu aku panglima penumpas kerusuhan?" "Hamba, Yang Mulia."

"Kau tahu berapa orangmu yang terlibat dalam perampasan harta benda kawula?" Kini Umbul Songo berhenti. Tepat di halaman barak para perwira. Namun tetap saja perwira tinggi itu tidak turun dari kudanya.

Dengan pedang tergantung di pinggang kiri, serta kumis lebat di bawah hidungnya Umbul Songo kelihatan gagah. Pandangan matanya seperti burung hantu, membuat Wituna gemetar.

"Ampun, Yang Mulia..."

"Atau kau sendiri juga melakukan perampasan?" "Ampun Yang Mulia, hamba juga sudra. Anak petani tidak mungkin berbuat demikian pada sudra sendiri."

"Wituna!" Umbul Songo membentak. Mengejutkan semua perwira yang masih tidur dalam barak. "Kau telah menerima pendidikan laskar asing yang rakus. Belum tentu sudra berbakti pada bapanya sendiri. Sudra yang mensatriakan diri seperti kau ini bisa menjadi banaspati (Setan penghisap darah melalui ubun-ubun) dari bapamu sendiri!"

"Hyang Maha Dewa tak akan pernah mengampuni orang semacam itu, Yang Mulia."

"Kau ingin mengatakan aku salah? Awas jika aku kelak mengetahui kau punya simpanan kerbau, lembu, atau apa pun di kawula. Ingat! Mereka yang tertumpah keringatnya itulah yang membayar semua yang kalian makan dan kalian gunakan untuk berfoya-foya."

"Hamba berjanji, Yang Mulia!"

"Di hadapan Hyang Durga Bathara Istri?" "Hamba, Yang Mulia," Wituna meyakinkan diri.

"Aku tidak menyalahkan kalian memiliki harta benda. Yang aku persoalkan adalah perampasan ternak kawula oleh beratus-ratus laskar, dan kemudian menyuruh kawula tersebut memelihara ternak itu atas nama laskar yang telah merampasnya."

Sementara itu yang meronda barak-barak telah kembali. Wulung maju melapor.

"Semua ada, kecuali lima orang, Yang Mulia."

Di bawah sinar obor Wituna melihat dahi Umbul Songo berkerut. Kemudian menoleh padanya. Buru-buru ia menunduk untuk menghindari pandangan Umbul Songo. "Kumpulkan semua perwiramu!" Suara dingin terlontar setelah dengusan napas. Dan segera para perwira yang memang mendengar kata-kata Umbul Songo dari balik dinding sambil mengintip gemetar. Satu-satu mereka keluar dari pintu seperti tikus tersiram air untuk kemudian berbaris di belakang Wituna. Ketakutan.

"Ke mana mereka Wituna?" "Ampun... tak ada ..."

"Ini pelanggaran! Penggal kepala mereka besok! Mau kau?" geram Umbul Songo.

"Ham... hamba, Yang Mulia."

"Dengar, Semua perwira! Setiap mereka yang melanggar dikenakan hukuman. Tak boleh ada anugerah lain kecuali kepala mereka yang dungu itu dipisahkan dari tubuh mereka! Dengar?"

Para perwira itu mengangkat sembah bersama-sama. "Satu lagi, Wituna! Asrama terdekat dengan kediaman

Teposono, adalah asramamu. Dari menara pengawasanmu itu," Umbul Songo menunjuk menara di sudut kanan perbentengan asrama Wituna, "kalian harus mengawasi rumah Teposono. Siapkan kuda-kuda terbaik kalian di depan pintu perbentengan kalian. Sehingga bila ada seorang saja keluar dari halaman rumah Teposono, kejar dan binasakan! Ini perintah! Dengar kau, Wituna?"

"Tapi..."

"Perintahku adalah titah Sri Prabu!" Umbul Songo memotong. "Teposono telah dikenakan penahanan rumah! Ingat, setiap pembangkangan adalah kematian."

"Kami sendiri tidak kuasa keluar asrama?" "Untuk keperluan itu, boleh. Kalian tidak akan dipersalahkan. Orang-orangku bisa tahu."

"Hamba, Yang Mulia."

Setelah Umbul Songo pergi, Wituna memanggil tamtama jaga menara. Disampaikanlah perintah Umbul Songo. Dengan pesan untuk menyampaikan pesan itu p«ia pada penggantinya. Dan ia tak mengerti makna perintah itu. Namun tamtama tetaplah tamtama. Mengerti atapun tidak ia harus mengerjakan perintah.

Pagi harinya Wituna segera membicarakan tuduhan Umbul Songo dengan para perwira bawahannya di ruang pertemuan barak perwira. Ruangan itu terletak di tengah- tengah barak. Di setiap dindingnya dihias dengan dua pedang bersilang dengan perisai di tengahnya. Salah satu dinding dipasang lambang Sonangkara kepala anjing itu. Kain merah darah melatarbelakangi lambang negara mereka. Dan tampak Wituna duduk persis di bawah lambang itu. Sedang anak buahnya mengitari.

"Beliau telah tahu segalanya," Wituna memulai. "Dan seperti kalian ketahui kita dituduh melindungi kaum perusuh. Bagaimana dengan lima tamtama kita ini?"

"Kita laporkan saja bahwa kita sudah menghukum mereka," jawab seorang di antara mereka. "Toh Yang Mulia Umbul Songo tak tahu jelas siapa orang kita yang terlibat itu."

"Tapi kita sudah bersumpah di hadapan Hyang Durga. Lagi pula bagaimana jika nanti malam beliau datang lagi dan menanyakan buktinya?" Yang lain lagi memberikan pendapat.

"Kalau begitu," Wutungan, wakil Wituna memberi pendapat, "kita harus laksanakan dengan seksama perintah itu. Bukankah pembangkangan dalam keadaan damai begini menggambarkan betapa kotornya jiwa mereka. Mereka telah liar seperti serigala. Mencuri dan merampas harta benda penduduk. Memperkosa saudara setanah air."

"Kau tahu sendiri?" Wituna tersentak.

"Apakah ini rahasia? Kau tak pernah pulang ke desamu," Wutungan menjelaskan, "maka kau tak pernah dengar tangis ibu-bapamu karena tingkah anak buah kita."

"Tapi mereka adalah teman kita," seorang lagi berusaha mencegah.

"Teman yang selalu mementingkan diri sendiri, akan menyeret kita ke dalam kecelakaan. Kau dengar maklumat Menteri Muka? Mereka berani membangkang. Bukankah membiarkan mereka sama dengan memelihara borok dalam tubuh kita?"

"Seperti usul semula tadi, buat laporan " "Betapa dangkalnya kepalamu. Atau mungkin kau

menghendaki kepala kita berguguran berbareng? Seorang panglima seperti Yang Mulia Umbul Songo itu memiliki mata yang berlaksa-laksa. Sebanyak itu pula tangannya," Wutungan menerangkan lagi.

"Segala kehendaknya harus terjadi?" perwira lain heran.

"Dalam asrama seperti ini tak satu pun yang bisa bersembunyi dari penglihatannya," kini Wituna menjelaskan. Yang lain terdiam. Akhirnya diambil keputusan bersama—penggal kepala mereka!

Seorang pengawal diperintahkan memanggil orang- orang tersebut. Dan satu-satu mereka dibawa masuk. Tamtama Wingi yang pertama kali dihadapkan pada para pemeriksa.

"Apa hasilmu semalam, Wingi?" Wituna bertanya sambil mengamati anak buahnya itu.

"Hamba mengunjungi ayah hamba."

Wituna mendengus. Menirukan gaya Umbul Songo. "Berapa banyak kerbaumu?"

"Cuma dua." Wingi mulai berdebar.

"Dua puluh berapa, hai Wingi?" tiba-tiba Wituna membentak geram.

"Empat..." Wingi bingung.

"Dua puluh empat?" Wituna heran. "Kalian dengar?" tanya Wituna memalingkan wajahnya pada perwira- perwira lain. Kemudian menoleh lagi pada Wingi.

"Seorang perwira pun tak punya sebanyak itu, Wingi. Kau telah menyalahgunakan senjata dan pakaian yang diberikan kepadamu."

"Tidak, Pimpinan."

"Siapa yang perintahkan kau keluar semalam?" "Tidak ada "

"Siapa?" Wutungan yang membentak.

"Bintara... Wangkit " Tamtama itu tambah gugup.

Seperti ayam yang berada dalam kepungan serigala.

"Gila! Wangkit yang begitu kaya itu? Kau yang mempersembahkan gadis Setail itu?" Wituna bertanya lagi.

"Benar, Pimpinan." "Juga temanmu yang empat itu, merampok semua tadi malam?".

"Ti... ti... tidak."

"Tidak? Kau bohong! Mendurhakai Hyang Yama. Di mana kau merampok tadi malam?" Wituna lebih memojokkannya.

"Di Sungai Setail."

"Demi keagungan Hyang Yama, katakan siapa saja yang pernah kau suap?" tanya seorang perwira yang duduk di sebelah Wutungan. Membuat Wingi semakin gemetar. Ia kini menyadari sedang menghadapi pemeriksaan oleh suatu sidang. Sementara ia terdiam, terdengar lagi yang lain berkata,

"Kau perlu dihadapkan pada Hyang Bathara Guru, karena memunggungi Hyang Yama." "Ampun, Pemimpin."

"Pemimpinmu bukan Wituna tapi Wangkit," Wutungan membentak lagi.

"Siapa saja yang kau suap?" yang lain ikut membentak.

"Ampun..."

"Siapa?" Wituna menggeram.

Wingi putus asa. Ia menyebut beberapa nama.

Sepuluh bintara, beberapa puluh lagi tamtama. Juga beberapa orang berlencana Sriti.

"Mulai hari ini, kau tak diperkenankan masuk barakmu. Pengawal!" seru Wituna. "Bawa dia masuk ke dalam bilik penahanan!" "Nasibmu di tangan Yang Mulia Umbul Songo," Wutungan menambahkan. Semua orang yang disebut oleh Wingi juga dimasukkan ke bilik penahanan. Pakaian mereka segera ditanggalkan seketika itu juga.

Beberapa bentar kemudian Wangkit dibawa masuk ke ruang sidang perwira. Semua pemeriksa menajamkan mata. Wangkit ternyata mempunyai banyak emas untuk membikin tanda-tanda kebesarannya sendiri. Tak heran tanda-tanda kebesarannya berkilau. Walau masih belum begitu berumur, Wangkit tergolong gemuk. Perutnya menonjol keluar. Terlalu banyak makan rupanya.

Dadanya berbulu. Giginya agak menonjol keluar, sedang hidungnya boleh dibilang pesek. Di atas bibirnya yang tebal itu ditumbuhi kumis yang kurang teratur. Matanya terlihat agak sipit karena pipinya yang gemuk. Orang itu memberi peng^ hormatan pada Wituna. Dan dibalas dengan anggukan.

Wangkit kemudian duduk dengan angkuh setelah diperintah.

"Kau tahu keadaan negeri kita akhir-akhir ini?" Wituna menyabarkan diri.

"Ya. Kerusuhan di mana-mana."

"Tepat sekali. Kau tahu siapa perusuh-perusuh itu?" "Mereka yang telah diberhentikan dari kelaskaran." "Wutungan, periksa dia!" Wituna menyerahkan. "Aku diperiksa?" Wangkit terkejut.

"Ya. Atas perintah Yang Mulia Umbul Songo," Wutungan menjawab.

"Aku di barak waktu perondaan tadi malam." Wangkit membela diri. Namun hatinya mulai berdebar. "Apa yang kau peroleh dari Wingi?" Wutungan tidak menggubris pembelaan dirinya. Wangkit terhenyak dalam duduknya.

"Tidak ada." Ia berusaha menenangkan diri kembali. "Nah... Saudara-saudara," Wutungan bicara pada

teman-temannya, "inilah gambaran manusia yang mengingkari yama (hukum. Hyang Yama= dewa yang mengatur hukum-hukum) dan gama (peraturan)"

"Tuan Wutungan! Apa maksud Tuan?" Wang-kit tidak terima pada perlakuan yang diberikan Wutungan.

"Kau memperbutakan kami selama ini. Sudra yang tidak pernah mendengar jeritan sudra sendiri. Bangga dengan tujuh istrimu itu? Dan beberapa ratus kerbaumu? Lumbung padimu? Pohon kelapamu? Yang semuanya hasil rampasan milik kawula!"

"Warisan..."

"Warisan nenek moyangmu?" Wutungan mematahkan.

"Demi Hyang Maha Dewa."

"Drubiksa! Berani kamu menyebut. Dewa untuk ikut mempertanggungjawabkan perbuatanmu? Perlu kudatangkan saksi? Lepaskan tanda pangkatnya!"

Wangkit menolak waktu seorang perwira akan melepaskan sabuk kebesaran dan kerisnya. Namun sebuah kepalan dari perwira lainnya mendarat di mukanya. Lagi seorang menggocohkan bogemnya ke dekat mata Wangkit. Sehingga ia tidak berdaya waktu sabuk emas dan kerisnya dilucuti. Matanya menjadi bengkak dan warna biru menandai bekas pukulan.

"Tapi..." Wangkit berusaha. "Tak ada tetapi! Ayahmu, kakekmu, moyangmu, sudra seperti kami," Wutungan menekan terus.

"Seorang perwira tinggi pun tak punya kekayaan seperti kau!" Wituna menyela pemeriksaan Wutungan.

"Kalian iri!" Wangkit memberanikan diri. "Aku dianugerahi kekayaan oleh Hyang Kuwera (dewa pemberi berkat kekayaan).."

"Bagus, semakin banyak dosamu! Semakin kau melibatkan Dewa untuk menyucikan kejahatanmu! Tahu kau, Wingi telah mengakui semuanya."

Wangkit lunglai tanpa wibawa. Bibirnya yang tebal menganga pucat. Ia meronta waktu digiring ke bilik penahanan. Tapi kembali beberapa pukulan menjinakkannya. Setelannya sepuluh bintara lainnya mendapat pemeriksaan bergilir, juga dua orang perwira serta puluhan tamtama lainnya. Semua menghadapi persidangan kilat. Wituna segera menghadap Umbul Songo setelah pemeriksaan selesai. Dan Umbul Songo tak ingin mengulur waktu untuk mematahkan mata rantai kejahatan yang sedang berkecamuk di Blambangan itu. Maka keputusannya ialah: "Laksanakan segera hukuman mati!"

Hal itu terjadi juga di asrama-asrama lain. Umbul Songo juga menandatangi beberapa kampung untuk memeriksa kebenaran berita bahwa banyak anggota laskar Blambangan yang punya harta rampasan dititipkan pada penduduk. Puas memperoleh keterangan, Umbul Songo kembali ke Lateng. Kemudian memerintahkan anak buahnya istirahat dan mempersiapkan bahan makanan. Setelah itu ia masuk ke ruang kerja para perwira tinggi laskar darat Blambangan. Sepi-sepi saja.

Banyak di antara mereka yang tinggal bersama anak buahnya di asrama-asrama. Arya Bendung sedang duduk bersama beberapa perwira tinggi. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Karena pembicaraan mereka memang berkisar tentang sepak terjang Umbul Songo. Lain tidak. Maka mereka menjadi terdiam kala Umbul Songo meniti hamparan batu naik ke ruangan kerja yang terletak sebelah kanan perbentengan istana Blambangan.

Ruangan itu hampir tidak berbeda dengan ruangan perwira-perwira pemimpin laskar Blambangan di asrama- asrama. Cuma di sini lebih luas dan lantainya dihampari permadani. Juga dihiasi patung-patung Bathara Indra di setiap sudutnya. Seperti kebanyakan bangunan kerajaan yang terbuat dari kayu ulin, demikian pula halnya dengan bangunan ini. Dindingnya terbuat dari kayu ulin tua yang diukir-ukir dengan berbagai lukisan. Di atas tempat duduk Arya Bendung terpampang gambar Sonangkara.

Umbul Songo langsung menuju para perwira tinggi di sekitar Arya Bendung. Gagah sekali langkahnya. Sesuai dengan tubuhnya yang gempal. Waktu berjalan terdengar gesekan pedang di pinggangnya dengan sabuk atau bara-bara. Bahkan kadang kedua binggalnya pun beradu.

"Yang Mulia kelihatan letih," Arya Bendung berbasa- basi setelah Umbul Songo menyembah dan mengambil tempat duduk.

"Ada yang ingin hamba sampaikan." Umbul Songo tak acuhkan basa-basi Arya.

"Silakan." ,

"Yang Mulia Teposono telah melakukan pelanggaran. Ia telah mengirim dua orang untuk membayangi kami," Umbul Songo memancing Arya Bendung. "Lalu?"

"Kami telah bungkam mereka untuk selama-lamanya." "Yang Mulia membunuh mereka?"

"Demi kewibawaan maklumat Yang Mulia sendiri, demi Sri Prabu, demi Hyang Yama." "Jagat Dewa."

"Hamba juga telah mengenakan penahanan rumah pada Yang Mulia Teposono dan seluruh orang berlencana Sriti." ’

"Dewa Bathara!"

"Sebagian besar dari mereka terlibat pemerasan dan perampasan."

"Kenapa justru laskar sendiri Yang Mulia periksa?" "Setiap perbaikan harus diawali dari diri sendiri. Orang

yang bertangan kotor tak mungkin membersihkan sesuatu."

"Kami tak pernah sekotor mereka."

"Benar! Tapi bila anak-anak kita melakukan pendurhakaan, bukankah itu berarti memuncratkan lumpur ke dahi kita."

"Ah... barangkali Yang Mulia kali ini terlalu letih." Arya Bendung menghindarkan pembicaraan lebih lanjut.

Sedang para perwira tinggi lainnya cuma diam sambil memperhatikan. "

"Masih ada hari esok. Istirahatlah dulu, Yang Mulia." "Hamba tak ingin kehilangan waktu. Hamba akan

segera ke luar kota. Setelah para pengawal itu cukup istirahat." "Cuma dengan tujuh orang ke luar kota? Sarang- sarang mereka?"

"Tidak! Hamba akan mohon tambahan tujuh orang lagi dari laskar berkuda. Dan mohon dipersenjatai lengkap.

Ingat, Yang Mulia, tiap gerakan besar laskar Blambangan mengundang kecurigaan Mengwi."

Arya Bendung mengangguk-angguk. Hatinya mengakui kecerdikan Umbul Songo. Blambangan memang seperti telur di ujung tanduk. Karena itu ia perintahkan seorang caraka menyiapkan apa yang diminta Umbul Songo. Walau ia sebenarnya belum mengerti siasat yang akan diambil Umbul Songo.

Ketika mentari tepat di atas kepala, Umbul Songo meninggalkan gedung pertemuan para perwira tinggi itu. Empat belas prajurit pilihan mengiringinya. Tak ayal, dari balik dinding-dinding batu, kawula mengintip gerakan Umbul Songo. Tidak sedikit dari mereka yang diam-diam berdoa untuk keselamatan Umbul Songo. Dan gerakan ini dibicarakan dari desa ke desa. Kota ke kota.

Hampir tidak masuk akal, seperti ada perjanjian saja kaum perusuh menyingkir semua. Mereka takut pada seorang panglima perkasa yang pernah mengalahkan mati itu. Jadi Umbul Songo hampir tidak mendapat perlawanan yang berarti. Kalau ada maka mereka itu sebenarnya adalah perampok-perampok picisan yang tidak tahu keadaan. Dan setiap ketidaktahuan itu harus mereka bayar mahal. Umbul Songo tidak segan memenggal kepala mereka di depan mata kawula.

Suatu hari iring-iringan Umbul Songo itu berhenti di depan rumah Haryo Dento. Semua orang turun, dan Haryo Dento melihat Umbul Songo memasuki pelataran rumahnya yang luas itu. Sedang pengawalnya ditinggalkan di jalanan. Sampai di gardu penjagaan rumah itu Umbul Songo mendapat penghormatan dari laskar laut yang sedang menjaga rumah Haryo Dento. Cara mereka menghormat agak berbeda dengan laskar darat. Pedang mereka yang lebih panjang dari milik laskar darat itu mereka cium lebih dulu baru mereka angkat di atas kepala lalu menjatuhkan ke samping kanan dengan ujung pedang menghadap ke tanah.

Tubuh mereka sendiri lurus dan kaku seperti patung. Umbul Songo pun membalas penghormatan itu dengan sikap gagah. Selesai penghormatan itu baru Haryo Dento turun dari pendapa untuk kemudian berlari menjemput temannya.

"Dirgahayu...!"

"Dirgahayu, Yang Mulia...," balas Umbul Songo.

Keduanya sama-sama gagah. Berjalan sebelah - menyebelah. Seperti dua tokoh wayang purwa Antareja dan Gatotkaca sedang berjalan bersama-sama.

Tanaman sekeliling rumah besar itu tidak berubah. Pohon kelapa, berderet sepanjang pagar. Daunnya melambai ditiup angin seolah memberi salam pada Umbul Songo.

Pendapa rumah perwira tinggi laskar laut itu juga tidak ada perubahan. Kerang-kerang laut sebagai hiasan masih saja tergantung di bambu petung berjajar tiga dan tertempel pada dinding kayu di sebelah kanan balai-balai besar yang disediakan untuk tempat duduk bagi para tamu, terdapat ukiran patung Antaboga(ular raksasa yang menjadi dewa penguasa bumi dan samudra karena itu ular ini digambarkan bermahkota. Wujudnya tetap ular yang besar) sebesar tubuh manusia, terbuat dari kayu timanga hitam. Sedang di sebelah kiri ada sebuah bendera segitiga merah dengan gambar ikan cucut kuning di tengahnya. Disulam dengan benang emas. Lambang kebesaran seorang laksamana Blambangan.

"Hebat, Yang Mulia begitu cepat mengubah keadaan," puji Haryo Dento sesaat setelah masing-masing duduk.

"Tapi masih rapuh!" Umbul Songo menjawab sambil masih saja memandangi seputarnya. Haryo Dento mengerti ke mana arah larinya pikiran Umbul Songo itu. Maka dengan isyarat ia mengatakan bahwa rumah itu aman.

"Mereka tak berarti apa-apa tanpa laskar dan Teposono."

"Mereka masih punya Mangkuningrat."

"Ya... kita tak mungkin menyingkirkannya " "Hamba tak mampu menghadapi mereka sendiri.

Terutama di laut. Karenanya perlu segera Yang Mulia pun turun ke laut."

"Tapi hamba..."

"Tidak ada tetapi, Yang Mulia." Umbul Songo menatap tajam pada temannya itu. "Justru dari laut ini hamba melihat mereka akan mampu mencairkan maklumat Menteri Muka. Itu bahaya! Dengan terkurungnya mereka dalam asrama masing-masing, berarti kekuatan mereka sedang terbelah-belah. Dan kita harus menggunakan kesempatan ini."

"Kalau begitu hamba harus menghadapi perompak- perompak dengan armada yang compang-camping?"

"Ya. Hamba sudah menghadap Samodraksa. Dan beliau tidak keberatan Yang Mulia memilih kapal dan laskar yang akan Yang Mulia bawa. Hamba mencurigai adanya kapal perang Blambangan yang merompak di mana-mana. Karena itu Yang Mulia sendiri yang harus memadamkannya. Samodraksa Laksamana Penjalu setuju dengan gerakan kita ini."

"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba akan kerjakan hari ini juga. Yang Mulia telah mengambil prakasa yang lebih pintar dari siapa pun. Hamba percaya Penjalu telah menyediakan kapal yang terbaru dan terbaik untuk hamba. Terima kasih."

"Hamba juga berterima kasih, yang Mulia. Demi Hyang Maha Dewa, kita hanya berdua. Karena itu mari saling membantu. Ingat, Yang Mulia. Kita hanya berdua di tengah para drubiksa! Nah, selamat bekerja! Dirgahayu, Yang Mulia!"

"Dirgahayu!" balas Haiyo Dento mengiringi temannya. Umbul Songo meneruskan perjalanan ke arah barat.

Orang yang berada di belakangnya mengibarkan umbul- umbul Jingga dengan gambar kepala sona (anjing.

Bendera perang laskar darat Blambangan berwarna merah dengan gambar kepala srigala di tengahnya). Tanpa sorakan seperti laiknya bila laskar Blambangan mancal bertempur. Kuda mereka berlari kencang. Debu beterbangan mengejar mereka. Bahkan sudah menggumuli orang yang di belakang. Sesudah mereka menempuh beberapa jarak jauhnya, Umbul Songo membelokkan kudanya ke kiri. Ke selatan. Masih saja mereka belum mengurangi kecepatan. Mereka sedikit lega karena jalanan yang mereka lalui kini berumput. Di kiri-kanan jalan itu masih merupakan hutan cukup lebat. Bahkan kadang mereka melihat di depan mereka kawanan kijang berlarian masuk belukar dengan ketakutan mendengar derap kaki kuda. Atau kawanan monyet di pohon-pohon menonton sambil berteriak-teriak seperti layaknya manusia menonton balapan kuda. Namun pengawal Umbul Songo tak sempat marah. Mereka takut ketinggalan kawan-kawannya. Dan itu akan berarti membangkitkan kemarahan Umbul Songo. Jadi mereka harus menerima kenyataan. Menjadi tontonan monyet.

Beberapa lama lagi Umbul Songo mulai mengajak mereka memasuki lereng bukit Srawet. Dan memang berita yang didengar Umbul Songo tidak salah. Di sini berdiri sebuah perkampungan baru di luar sepengetahuan para bekel dan demang apalagi Tumenggung. Dari jauh Umbul Songo sudah melihat perkampungan baru itu dibangun dengan sederhana. Puluhan rumah. Dibangun dengan ukuran yang lebih kecil dibanding rumah-rumah di Ibukota. Lateng. Semua dinding terbuat dari bambu yang dianyam. Dan semua atap dari ilalang. Belum ada pohon kelapa satu pun.

Namun kala Umbul Songo memasuki perkampungan itu telah sepi.

Melihat kenyataan itu Umbul Songo menyiapkan diri. Laskarnya siap dengan bedil di tangan. Perlahan-lahan mereka memasuki perkampungan dengan tanpa turun dari kuda. Ternyata tidak semua orang bersembunyi.

Seorang anak kecil tersisa, bahkan menonton dari balik pagar di pinggir jalan. Dengan imbalan uang perak anak kecil itu menunjukkan di mana rumah kepala kampung berada.

Ngore, nama kepala kampung itu. Ia tergopoh-gopoh keluar dari persembunyiannya. Ia tak ingin melihat akibat buruk menimpa penduduknya. Kemudian ia dihadapkan pada Umbul Songo yang masih duduk di atas punggung kudanya.

"Ngore?" Umbul Songo menyapa dalam keheranannya. "Hamba, Yang Mulia," Ngore menyembah.

"Kau mesanggrah di sini?" Umbul Songo masih memperhatikan wajah bekas perwiranya itu. Kelihatan lebih kurus dan kulitnya agak keriput. Otot-ototnya kelihatannya menonjol. Walaupun usianya masih empat puluhan. Ternyata alam tidak mau berdamai dengannya. Alam selalu mengadakan pemilihan, siapa yang mampu bertahan terhadap keganasan pemilihan itu maka ia akan berhak tinggal.

"Hamba tinggal. Bukan mesanggrah," Ngore memberanikan diri.

"Berapa anak buahmu?" Umbul Songo mulai menyelidiki.

Sementara Ngore terdiam. Ia mengerutkan dahi.

Namun mata bekas pemimpinnya itu makin menajam. Sedang sepanjang jalan di kampungnya berjajar para pengawal pilihan dengan bedil di tangan.

"Lima puluh." Ia terpaksa menjawab. Umbul Songo kaget. Ia geleng kepala perlahan-lahan. Namun...

"Kau sedang berhadapan dengan Umbul Songo. Kau lihat! Orangku siap dalam jajar perang."

"Hamba." Ngore masih teringat kecerdikan orang ini.

Ia tidak begitu gentar menghadapi empat belas pengawal itu. Tapi ia khawatir akan barisan lapis kedua yang lebih kuat dari ini.

"Aku datang bukan untuk membinasakan kalian," suara Umbul Songo sabar. "Tapi untuk meluruskan jalan kalian. Merampok bukan jalan untuk menjangkau tujuan. Juga bukan cara bagus untuk membenahi kehidupan."

"Kami... di sini... bukan perampok," Ngore membela diri. "Hyang Maha Dewa tak membenarkan kebohongan!" "Ampun Yang Mulia, hamba tak pernah..."

"Tak ada sawah di sekitar perkampunganmu. Cuma hutan melulu. Sedang kau tahu, Ngore, tak ada beras turun begitu saja dari langit. Tiap butir padi, tiap suap nasi adalah tetesan keringat. Keringat kawula. Keringat sudra."

Ngore terdiam lagi. Umbul Songo mendesak terus. "Kumpulkan anak buahmu! Aku akan bicara langsung

dengan mereka. Aku akan istirahat di sini bersamamu." "Mereka masih bekerja di ladang."

"Ini sudah senja. Dan kalian tak memiliki ladang. Bila kuaniaya anak ini atau kau, mereka akan keluar dari balik gerumbul. Dan bila aku bukan panglimamu, yang masih mencintai kalian, itu sudah kulakukan sejak tadi. Dan begitu mereka keluar, peluru kami yang bicara. Dengar kau, Ngore?"

Untuk kesekian kalinya Ngore tergagap. Tak mampu berjawab.

"Tak percaya?" Sekali lagi Umbul Songo memaksa. Kemudian sambil mendongak lamban, Ngore menjawab dengan suara berat.

"Ampun, Yang Mulia, tak seorang pun yang berdiri di barisan musuh boleh diper..."

"Dewa Bathara! Kau telah memusuhi Blambangan? Bukan memperbaiki? Kau telah sama dengan drubiksa Mengwi atau Mataram? Manusia yang telah menjadi drubiksa!" Umbul Songo marah. "Jika demikian halnya tak ada keberatanku menumpas kalian. Orang yang menjadi lintah bagi temannya sendiri!" "Bukan begitu Yang..."

"Tidak bisa tidak!" Suara Umbul Songo makin keras. "Kau telah rampas padi kawula yang tak berdaya! Kau curi ternak petani. Juga uang pedagang kecil! Kau tak pernah menyadari betapa mahalnya mereka membayar hidup mereka. Kerja kalian? Cuma menjadi beban kawula! Momok! Bukan cuma itu. Kalian telah menjadi serigala atas bapa kalian sendiri!"

"Ampun, Yang Mulia."

"Setiap kejahatan takkan berumur panjang. Karena itu kerjakan perintahku! Ingat, jangan cuma berbangga dengan pengalaman perang di Surabaya! Pengetahuan semakin berkembang maju. Juga dalam kelaskaran.

Siapa yang menolak pengetahuan, ia buta akan kenyataan."

"Benar-benarkah Yang Mulia bukan hendak menangkap kami?"

"Jangan membuatku makin marah, Ngore! Aku hendak menginap di rumahmu malam ini."

Ngore tertunduk. Mengawasi batu-batu bercampur tanah di bawah kakinya. Juga kerikil-kerikil tajam tanah perbukitan Srawet itu. Namun sesaat kemudian ia memberi hormat dan terima kasihnya. Umbul Songo dan para pengawalnya berlompatan turun dan masuk ke pendapa kecil rumah Ngore, yang sebenarnya lebih tepat dinamakan gubuk. Karena bangunannya tidak kokoh.

Sementara itu Ngore memukul kentongan.

Mereka yang bersembunyi terheran-heran. Tapi tidak bisa tidak, mereka harus keluar. Mereka terbiasa patuh sejak dalam kelaskaran dulu. Karena itu baik laki-laki maupun wanita dan anak-anak satu-satu memasuki pelataran depan pendapa rumah Ngore. Umbul Songo memperhatikan mereka dari tempat yang agak tinggi di titian pendapa itu. Kakinya renggang dan tangannya bersilang di depan dada. Sikap itu membuat setiap orang yang bertemu pandang dengannya tertunduk. Tetapi Umbul Songo tidak menggubris itu. Ia sedang mengingat- ingat tiap wajah yang rasanya banyak yang pernah dikenalnya. Namun tidak sedikit yang ia sudah lupa sama sekali. Bersamaan dengan itu kegelapan pun turunlah.

Umbul Songo masih saja diam. Menunggu suara mereka yang seperti lebah pindah sarang itu berhenti. Sesaat kemudian,

"Dirgahayu!" serunya sambil mengangkat tangan kanannya.

"Dirgahayu!!!" jawab mereka serentak. Umbul Songo tersenyum, wajahnya kembali cerah.

Sekali lagi ia ucapkan dirgahayu. Dan sekali lagi mereka menjawab serentak.

"Adakah kalian memusuhi Blambangan?" Ia bertanya pada semua. "Inilah aku! Bunuh aku sekarang juga! Aku tidak melawan. Sungguh! Aku tak akan melawan."

"Tidak! Demi kejayaan Blambangan panjang umurlah Panglima," jawab mereka bersaut-sautan.

"Aku bukan perampok!" Umbul Songo menekan mereka.

"Kami pun."

"Dengar kalau begitu! Mulai hari ini, hentikan perampokan atas kawula!"

"Tapi kami dirampok oleh tamtama." "Kami telah ambil tindakan pada mereka semua! Dan akan terus dibersihkan. Kalian harus membantu kami!

Dengar? Kita bernasib sama. Nah, sekarang kalian harus membuka sawah dan ladang. Jangan biasakan diri dengan segala bentuk perampasan. Sekarang kalian disingkirkan. Pada ketikanya kalian dibutuhkan. Dengar?"

"Dengar! Dengar!"

"Akulah panglimamu yang juga disingkirkan. Sekarang aku dibutuhkan, untuk menumpas kalian. Tapi esok mungkin kepalaku dipenggal."

"Kalau begitu, Panglima bersama kami saja. Di sini." "Itu mempercepat kematian kita sendiri."

"Kami akan bela pati untuk Panglima!" "Sungguh?"

"Akur..." Gemuruh. Membanggakan hati Umbul Songo.

Senyuman menghias bibirnya.

"Terima kasih. Itulah sebabnya aku tidak tumpas kalian. Pembuat keonaran sebenarnya bukan kawula. Sudra tak pernah merencanakan kebusukan, bila tak diracuni lebih dahulu oleh para drubiksa. Nah, sekarang bila kau dirampok, lawanlah! Berani?"

"Berani! Sanggup!" Laki-perempuan bersuara berbareng.

Dengan hati gembira dan dengan suasana damai Umbul Songo membubarkan. Bersamaan dengan

keluarnya mereka dari pelataran Ngore itu Umbul Songo memerintahkan laskarnya membagikan uang perak yang mereka dapat dari Kuwara Yana. Suatu sikap yang tak pernah dilakukan oleh laskar Blambangan sebelumnya.

Esok harinya Umbul Songo mengajak laskarnya untuk memimpin penebangan hutan sebelah timur bukit Srawet yang masih dataran rendah itu. Berat karena tak terbiasa. Namun tak menggerutu. Bahkan malam hari kala sudah lelah mereka masih dipanggil untuk pembagian tugas esok harinya Lagi. Mereka diperintahkan kerja terus untuk membantu anak buah Ngore.

"Jangan tinggalkan tempat ini sebelum aku datang.

Kita belajar menaklukkan mereka dengan tanpa perang. Sementara aku pergi, Bader ku tunjuk sebagai pimpinan rombongan."

"Hamba, Yang Mulia," jawab orang yang disebut namanya.

"Sedang kau, Cili, pergilah ke Lateng. Menghadap Menteri Kuwara Yana untuk minta uang dan perbekalan makanan. Ini lontarku."

"Hamba, Yang Mulia," Qili juga menjawab.

"Kepada yang lain tidak perlu tahu ke mana aku pergi.

Tapi kerjakan semua perintahku. Siapa yang berani bernirneyana akan kuburu dan kupenggal kepalanya."

"Hamba, Yang Mulia," jawab semua laskar Umbul Songo.

"Dan kau Abrit, ikut aku. Jangan tanya ke mana dan jangan ceritakan apa yang kau lihat pada siapa pun.

Juga apa yang kamu alami selama mengikut aku ini. Kepalamu sebagai jaminan."

"Hamba berjanji, Yang Mulia."

"Ngore, Aku pergi dulu. Tapi jangan merampok lagi." "Hamba."

"Abrit, siapkan kudaku. Kita berangkat sekarang!