Tanah Semenanjung Bab 3 : Raung

 
Bab 3 : Raung

Andita memutar otak, sambil selalu memandangi Sirna. Ia tahu anak itu bakal mempunyai otak cerdas. Banyaknya pertanyaan merupakan tanda nyata. Apalagi setelah melihat panorama indah sepanjang perjalanan. Namun gejala yang lebih mengagumkan bagi Andita adalah perhatian Sirna. Lebih tertarik pada manusia dengan nasibnya daripada panorama yang seolah tiada habisnya itu.

"Aku belum pernah melihat Jember. Jauhkah itu, Paman?" Sirna menanya untuk kesekian kalinya. Andita tak ingat lagi itu pertanyaan yang keberapa.

"Jauh. Dengan melewati hutan belantara seperti sekarang ini, maka dua hari baru kita akan sampai."

"Betapa lamanya. Kalau kita ke sana, kita akan kehabisan cadangan makanan."

"Ya. Tapi kita akan bisa mencari lagi di perjalanan. Hutan sekitar ini banyak menjangan atau rusa besar- besar yang dapat kita buru."

"Menyenangkan. Laskar kita tidak akan kelaparan." "Pangeran mau ke Jember?"

"Ingin sekali. Siapa tahu musuh ada di sana?" "Kalau begitu kita perlu istirahat dahulu." "Kenapa?"

"Menghilangkan kelelahan kuda kita. Dan tentu saja mencari makanan segar bagi kita semua. Babi atau rusa? Mana Pangeran suka? Ah... hamba pikir mana yang dulu saja." Sirna menoleh ke belakang. Kemudian pada Andita.

Andita memandangnya tajam-tajam.

"Kalau kita bersantai-santai, musuh akan dengan mudah melintas ke Blambangan."

Andita tersenyum. Ia bertambah yakin akan apa yang ia perkirakan.

"Jika demikian halnya mereka akan segera ditahan oleh Yang Mulia Tumenggung Singamaya yang perkasa itu."

"Baiklah. Kita istirahat?"

"Ya. Di gerumbul hutan depan itu."

Mereka berpacu terus. Sampai di hutan yang ditunjuk Andita. Sesaat kemudian Sirna melihat laskar Lumajang yang mengawalnya itu berlompatan dari punggung kuda. Turun. Dengan cepat kudanya juga diurus oleh seorang prajurit, ditempatkan di daerah yang berumput.

Sedang Sirna dan Andita mengambil tempat duduk di bawah pohon rindang. Berhadap-hadapan. Kebetulan tidak ditumbuhi oleh rumput. Mungkin karena tanahnya tak pernah dijamah sinar mentari, atau mungkin hal lainnya. Sebagai kursinya akar besar yang muncul di atas tanah dan menjalar seperti ranting-rantingnya.

Sedang sebagian dari para prajurit langsung menyiapkan makanan. Ada juga yang meminumi kuda.

"Kenapa Paman tidak makan?" tanya Sirna. "Belum lapar."

Sirna diam lagi. Andita lebih banyak termangu-mangu.

Tidak seorang pun tahu apa yang sedang ia pikirkan. Andita lebih banyak terbenam dalam rencananya sendiri. Pergumulan sedang terjadi dalam dadanya. Berapa lama ia bisa menyimpan rahasia kematian Danureja terhadap Sirna. Toh sepanjang-panjang jalan raya masih panjang lidah manusia?

"Paman letih?" tanya Sirna mengejutkannya lagi. "Ya... Ya... mereka juga," gugup, sambil menunjuk

orang lain. Laskarnya. Bukan. Ia tidak sedang letih. Tapi sedang bertimbang. Mereka diam lagi.

Dan beberapa saat Sirna membuka pertanyaan lagi.

Lebih mengganggu. "Kita akan ke barat terus?" "Ya. Kita sudah tidak akan menuju ke utara lagi."

"Tapi kita akan mendaki gunung itu?" Sirna menunjuk ke arah gunung Raung.

"Siapa tahu musuh sembunyi di sana?" Andita menjawab cepat.

"Apa nama gunung itu?" "Gunung Raung."

"Yang sana itu?" Sirna menunjuk ke arah lain di dekat Gunung Raung.

"Oh... itu... Gunung Merapi."

"Apakah semuanya termasuk wilayah Blambangan?" "Ya. Blambangan."

"Berbahagianya daku bisa melihat bumi semenanjung yang elok ini. Lalu mengapa kita terlalu lama tinggal di istana? Yang aku lihat di istana cuma batu perbentengan, bunga, dan wanita."

"Tapi semua kehidupan di Blambangan diatur di dan dari istana. Lateng. Bukan dari gunung-gunung. Nanti Pangeran akan tahu pentingnya istana." Angin bertiup-tiup tiada. Menyegarkan mereka yang berteduh. Mentari sudah tegak di atas kepala. Beberapa kisaran lagi akan condong ke barat. Lama kemudian Mas Sirna terlena. Letih berkuda. Letih bicara. Letih berpikir. Andita tersenyum melihat itu. Ia juga merebahkan diri. cuma sekadarnya, karena ia lebih banyak menggunakan waktu untuk menata rencananya. Beberapa bentar kemudian rencananya telah matang. Ia gembira. Sampai mentari telah benar-benar condong ke barat. Sirna membangunkannya, yang II cuma pura-pura tidur.

"Hari sudah sore, Paman." "Oh... ya?"

"Kita lanjutkan perjalanan?"

"Ya... ya..." Kemudian Andita memberi aba-aba pada anak buahnya, yang sebenarnya sudah siap sejak tadi. Mereka berlompatan ke atas punggung kuda dengan sigapnya. Bergerak ke barat. Belukar makin lebat.

Mengurangi kecepatan kuda mereka. Tidak jarang mereka harus melompati kali-kali kecil. Atau juga menuruni jurang dan naik tebing. Sungguh kuda mereka telah terlatih dengan baik sekali.

"Tidak ingin pulang?" pancing Andita tiba-tiba. "Blambangan belum menang."

"Benarkah tekad itu?"

"Setiap putra raja adalah satria."

"Tapi tidak semua dapat melaksanakan kekesatriaannya."

"Maksud Paman tidak semua mematuhi ajaran-ajaran leluhur?"

"Betul." "Aku belum pernah menerima ajaran-ajaran itu. Dan Wena masih terlalu sayang pada Kanda Mas Nuwong."

Andita mengangguk-angguk. Namun ia percaya tiga empat tahun kemudian anak ini akan melebihi kakaknya.

"Karena Kakanda adalah Pangeran Pati." "Apakah pengetahuan cuma milik Pangeran Pati?

Bukankah aku juga seorang pangeran?"

"Tiga tahun kemudian Pangeran baru akan mendapatkannya. Itu pun tidak akan sama dengan yang didapat Pangeran Pati."

"Betapa tidak adilnya?"

"Itulah kehidupan. Tapi Pangeran tidak perlu khawatir.

Pengetahuan tidak hanya didapat dari Yang Tersuci. Tidak!"

"Maksud Paman aku dapat belajar dari brahmana lain?"

"Betul. Masih banyak brahmana yang lebih pandai dari Yang Tersuci Wena. Cuma mereka tidak tinggal di istana Blambangan. Tidak juga di istana para adipati. Tidak..."

"Hemm, aku ingin mendapatkannya," Sirna memotong cepat.

"Untuk itu Pangeran harus berpisah dengan Rama dan Bunda. Dengan kakak dan adik. Juga dengan segala yang ramai di Blambangan. Lebih dari itu harus rela tinggal di luar istana sampai ilmu itu Angger dapatkan."

"Apa beratnya berpisah dengan semua-mua itu?" "Benar?"

"Belum percaya? Bukankah itu sementara?" "Syukurlah! Semoga Hyang Maha Dewa akan segera mempertemukan Pangeran dengan seorang brahmana."

"Pertemukan aku! Akan kuisap semua ilmunya."

Warna merah bercampur kuning semburat di ufuk barat. Sinar mentari meremang. Sebentar lagi tenggelam di balik Gunung Raung yang tinggi besar dan kokoh. Dan bayang-bayang pun akan lenyap. Namun mereka masih saja memacu kuda. Kini mereka menemukan jalan setapak di tengah belantara. Kuda Andita maju mendahului kuda Sirna. Berendeng dalam jarak rapat.

"Kita tidak bisa bergerak malam, Pangeran." "Kenapa? Kuda-kuda lelah?"

"Kita harus menghemat tenaga prajurit kita yang cuma seratus orang ini."

"Perintahkan mereka berhenti."

"Tidak. Sekarang Pangeran yang memimpin kami." "Tak seorang kan mendengar daku."

"Bukankah Pangeran putra raja?"

"Di mana kita berhenti? Di sini tak ada perkampungan."

"Prajurit bisa bergerak dalam segala keadaan. Juga harus bisa istirahat di segala tempat. Dan harus bisa makan segala yang bisa dimakan."

"Begitu?"

"Ya."

"Aku juga mau jadi prajurit." Maka kemudian ia meneriakkan aba-aba. Semua menjadi agak geli. Namun ditahan oleh sorot mata Andita. Semua berhenti. Sebelum mentari benar-benar tiada mereka mengambil kesempatan mandi dan mempersiapkan api unggun. Bersama Andita Sirna juga mencari air bersih. Bukan cuma untuk mandi. Tentu juga mengisi bumbung persediaan air minum mereka.

"Apa tidak berbahaya kita menyulut api unggun?" "Ya. Tapi kita perlu mengatasi udara dingin dan

nyamuk hutan ini. Dan siapa tahu di sini banyak ular besar?"

Sirna diam. Kemudian ia mulai belajar makan bersama laskarnya. Tidur juga bersama. Mengitari api unggun.

Lelap oleh kepekatan malam. Sampai-sampai gigitan nyamuk tak terasa lagi.

Kabut telah terusir mentari. Kuda-kuda telah segar kembali. Mereka lari kencang sesuai kehendak penumpangnya. Kini mereka telah -sampai di kaki Gunung Raung. Dan terus mendaki. Mendaki lerengnya. Berbelok-belok, mencari kemudahan. Kuda terengah- engah. Kembali menerobos semak. Kadang menelusuri jurang padas.

"Kenapa kita kemari?" Sirna agak mengeluh. "Kita mencari musuh ke mana saja." "Perjalanan makin sulit, Paman."

"Setiap prajurit harus membiasakan diri mengatasi kesulitan. Juga setiap satria!"

0oo0

Sementara itu di Raung, Baswi dan kawan-kawannya sedang sibuk membangun rumah-rumah baru. Memang ada beberapa orang yang terpaksa istirahat karena belum terbiasa dengan udara dingin. Namun sebagian besar dari mereka malah giat bekerja untuk mengatasi kedinginan. Juga Sedah Lati dan teman-teman wanitanya. Bekerja sambil bercanda. Untuk melupakan kenangan lama. Sardola gembira melihat semua itu.

"Tumpak, kulihat pandanganmu tak pernah lepas dari pinggul Yistyani," Baswi menggoda pemuda di sampingnya.

"Ah... Tuan, ada-ada saja." Tumpak tersipu.

"Ya. Aku juga senang bila kau sedang mendekati dan bercakap dengannya." ’

"Jadi... Tuan memperhatikan?" Tumpak tambah malu. "Ya. Tapi sayang kau terlalu sering menunduk

menerima pandang matanya."

"Yah... baru kali ini berhadapan dengan orang cantik." "Hati-hati kau, Tumpak. Bukan untuk wanita cantik kau

datang kemari. Aku tidak melarang. Tapi hati-hatilah!" "Ya, Tuan, terima kasih. Ini dia datang. Tuan Sardola."

Baswi menoleh kemudian membalas senyuman mereka yang masih berjalan mendaki.

"Semua pesanggrahan hampir selesai didirikan," Baswi memberi tahu.

"Ladang jagung pun sudah dibuka," Sardola juga melapor. "Yistyani dan Sedah baru saja menengok ladang."

Kini pohon cemara di sekitar mereka berjuntai-juntai ditiup angin. Awan-awan putih di kejauhan tampaknya berjalan di bawah mereka. Sedah dan Yistyani nampak sangat gembira menikmati ciptaan Hyang Maha Dewa itu. "Tuan memilih tempat yang luar biasa bagus," Yistyani memuji. "Di samping itu prajurit Tuan juga rajin-rajin."

"Kami menyadari, bahwa kami tak mungkin hidup tanpa kawula. Kehadiran kami disambut dengan baik oleh Resi Wuni Pati dan kawula di sini. Karenanya kami harus memberikan imbalan. Dan inilah salah satu darma kami, bekerja bersama mereka. Bukan menjadi beban mereka," Baswi menerangkan sambil mengajak mereka berjalan naik untuk kembali ke pesanggrahannya. "Ya.

Kami merasa juga. Resi Wuni Pati berbeda dengan kebanyakan brahmana."

Pesanggrahan Baswi tak ubahnya sebuah gubuk besar. Atapnya juga ilalang. Cuma yang istimewa, ukuran gubuk ini dua kali lipat lebih besar. Dindingnya terbuat dari papan pohon cemara. Demikian juga langit- langitnya. Ini membuat hangatnya hawa di rumah itu. 

Lumayan dibanding dengan dinding bambu. Lima kali sepuluh depa. Bukan ringan meratakan tanah pegunungan seluas itu. Lebih banyak tanah miring dari yang rata.

"Tumpak, sekarang kau harus menerangkan pada mereka apa yang kita ikrarkan sebagai prasetya kita," kata Baswi pada Tumpak, setelah mereka memasuki pesanggrahan Baswi. Semua orang menoleh padanya.

"Ah, Tuan... sebaiknya..." Tumpak agak gugup diberi kesempatan yang mendadak seperti itu, "prasetya kita itu dibicarakan ulang. Supaya kawan-kawan yang baru ini bisa memberikan pendapatnya."

"Anda betul...," Yistyani menyokong. Memberi kesegaran bagi jiwa Tumpak.

"Kenapa begitu?" Sardola bertanya. "Supaya kita tidak hanya menjadi pendengar," Yistyani menjawab segera.

Belum sempat yang lain mengeluarkan pendapat, tiba- tiba mereka dikejutkan oleh masuknya pangantilan, pengintai yang ditugaskan oleh Sardola. Gopah-gopoh.

"Pangantilan?"

"Sekelompok pasukan berkuda, bersenjata lengkap, datang kemari."

"Apa kauhilang?" Sardola tersentak. "Tenanglah, Sardola!" Baswi memperingatkan.

"Sekelompok pasukan..." pangantilan terengah-engah. "Orang Blambangan menyusul kemari."

"Mereka akan kita biarkan masuk. Dengan begitu mereka tidak akan bisa menembak," Baswi menerangkan.

"Mengapa kau memakai siasat setolol itu?" Sardola heran. "Banyakkah jumlah mereka?" tanyanya kemudian pada pangantilan.

"Belum kelihatan jumlahnya. Tapi kami perkirakan cukup banyak."

"Tumpak!" Baswi memerintah. "Naiklah ke menara pengawas. Lihat siapa mereka!"

Tumpak melaksanakan tugas. Kemudian dengan tenang Baswi memerintahkan pangantilan bersiap-siap.

"Ingat! Jangan menembak atau memanah sebelum ada perintah!" kata Baswi lagi.

Yistyani dan Sedah Lati belum pernah mengerti jajar perang. Mereka hanya menunggu kebijaksanaan Baswi. "Sardola, jangan gegabah. Pergilah menghadap Resi.

Biar aku menghadapi mereka." Baswi berusaha menjauhkan temannya itu. "Ingat meriam kita hanya untuk menghancurkan musuh. Bukan orang-orang yang belum jelas. Nah, pergilah, Sardola!"

Tumpak datang melapor.

"Tak ada meriam mereka bawa. Tak jelas apakah mereka orang Lateng atau Wijenan atau mungkin Panarukan."

"Siapkan laskar kita."

"Beri aku senjata," Yistyani meminta.

"Ikut Tumpak. Ingat-ingat pesanku! Nah, berangkat!"

Baswi berusaha agar semua orang terbebas dari ketegangan. Namun mendadak perkampungan baru itu menjadi amat sunyi. Semua orang menyusup belukar. Bergerak rapi. Mengawasi musuh yang baru datang.

Sementara itu pasukan berkuda semakin mendekat.

Semula Andita tak curiga sama sekali pada perkampungan baru di depannya.

"Paman, ada perkampungan. Baru pula rupa-nya." ujar Sirna.

"Ya."

"Naik terus?" "Ya. Naik terus."

"Ini jalan baru. Lihat! Apa tidak perlu siap?"

"Betul. Kita harus selalu siap. Prajurit harus siap segala waktu. Harus waspada."

Sirna memerintahkan pengawalnya untuk siap. Dan mereka berhenti sebelum masuk perkampungan.

"Ingat-ingat pesan ini!" Andita berkata keras. Suaranya menggema di lereng-lereng perbukitan. Dan didengar oleh mereka yang sedang bersembunyi dalam belukar.

"Jangan sehelai rambut pun milik kawula dirampas!

Berbuatlah baik pada kawula. Di mana dan kapan saja!!"

Sirna mengangguk-angguk tanda setuju. Kemudian pasukannya ia perintahkan bergerak kembali tanpa jajar perang. Tapi nampak jelas mereka sedang merenggangkan jarak dalam maju mereka. Kian maju kian renggang. Sehingga dengan demikian sewaktu- waktu mereka akan bisa bergerak dengan jajar perang Garuda Nglayang (menyusun gelar seperti burung yang terbang. Ada yang menempati sayap, paruh, cakar, namun mereka harus bergerak lincah, untuk dapat mengobrak abrik musuh dari segala arah)

Menurut Baswi, betapa gagah-gagahnya mereka itu.

Terutama pemimpin mereka, Sirna dan Andita. Sirna sangat menjadi perhatian mereka. Dengan gelang, pending, bara-bara, dan binggal yang semua berkilau tertimpa sinar mentari. Menandakan semua itu terbuat dari emas.

"Itu Tuan Andita!" desis Yistyani tertahan. “Perwira handal Lumajang."

Baswi terkejut, begitu juga Tumpak. "Anda mengenalnya?"

"Seluruh kawula Lumajang mengenalnya."

"Mereka tak memperlihatkan permusuhan. Bahkan perintah Tuan Andita, sangat mengesankan sekali." "Tapi jangan kehilangan kewaspadaan," Sedah Lati memperingatkan.

"Ya. Lihat, Pangeran Mas Sirna di antara mereka," Tumpak menambahkan.

Laskar Andita menjadi curiga demi memasuki perkampungan yang amat lengang. Tiada seorang pun yang nampak. Firasat Andita membuat dahinya berkerut.

"Kita berhenti!" Mas Sirna memerintah atas permintaan Andita. "Kita dalam kepungan," sambungnya.

Begitu kata-kata itu selesai, kecuali Sirna dan Andita, semua turun dari kudanya. Bersiap sebegitu rupa untuk melakukan gerakan kilat jajar Garuda Nglayang tanpa kuda.

Lagi, semua orang dalam belukar itu mengagumi Andita dan Mas Sirna. Dan dengan tanpa menunggu lama kini Andita berteriak, "Aku Andita! Datang untuk menghadap Resi Wuni Pati. Kami tak berniat bertempur dengan siapa pun."

Seperti terhenti darah Baswi mendengar itu. Tapi ia belum menjawab. Sibuk membunuh semut merah yang merubung kakinya. Banyak anak buahnya juga yang dengan sangat terpaksa menahan diri dari gigitan semut merah yang pedas itu untuk menjaga agar tidak menimbulkan gerakan yang bisa membuat laskar Andita memuntahkan peluru. Diam tapi meringis. Mengumpat pun cuma dalam hati. Sampai suara Andita kembali bergema, "Hai, segala orang yang di balik semak!

Kenapa semua laras bedil, panah, dan tombak tertuju ke dada kami?" Baswi dan Tumpak saling pandang. Juga Sedah dan Yistyani. Namun Baswi segera memutuskan. Menjawab, "Karena kalian terkepung, maka tidak dapat merampok."

"Tutup mulutmu!!" teriak Sirna nyaring. "Kalian kira kami tidak bisa lolos? Coba tembak!"

Kini sesaat suasana bisu lagi.

"Tak ada perampok menyasar gunung!" Andita menambahkan lagi. "Jangan menduga yang bukan- bukan! Kami pun siap bila kalian memaksa!"

Baswi muncul dari balik belukar. Diikuti Tumpak, Sedah, dan Yistyani. Keempatnya lega. Terbebas aniaya dalam semak. Tinggal yang lain. Andita masih waspada. Walau senjata Baswi tidak diarahkan ke dadanya.

Berempat jalan lambat-lambat.

Sebab otak mereka juga masih berpikir. Sirna dan Andita juga. Tanpa janji sorot mereka tajam mengawasi keempatnya.

"Selamat datang, Pangeran, selamat Yang Mulia."

Kini Andita mengernyitkan dahi. Baswi memberikan salam penyambutan dengan tanpa menyembah terlebih dahulu. Tidak pada Sirna. Juga tidak padanya. Bukan kebiasaan kawula Raung. Maka ia semakin waspada.

"Aku belum mengenal Anda," suara Andita dingin. "Tentu... karena memang kami bukan orang ternama,"

Baswi menjawab sambil tersenyum. "Hemh..." Andita mendengus.

"Blambangan atau pemberontak?" Sirna kehilangan sabar. "Blambangan! Kami adalah kawula Blambangan," Baswi menjawab cepat.

"Kenapa kami dikepung?" Andita meneruskan. "Oh... bukan maksud kami mengepung. Tapi

kedatangan Pangeran amat mengejutkan kami. Maafkan."

"Untuk apa kita kemari, Paman?" Kini Sirna memandang Andita. "Di sini tak ada laskar Gajah Binarong."

"Hamba hendak menghadap Resi Wuni Pati," Andita berusaha memecahkan kesulitan. "Bersabarlah!

Kemenangan tak bisa didapat hanya dengan jalan kekerasan saja. Tapi juga dengan akal dan kesabaran."

Sirna semakin tidak mengerti. Untuk kesekian kalinya ia mendengar perkataan yang asing untuk bisa ia terima. Juga bagi Baswi dan teman-temannya. Betapa sabar dan ramah kata-kata yang keluar dari bibir Andita. Namun betapa keras pandangan mata perwira muda andalan Lumajang itu.

"Baiklah, aku akan dengar setiap kata-katamu." "Nah..." Kini Andita menajamkan matanya pada Baswi. "Kami tidak berkepentingan dengan kalian. Biarlah

kami naik," katanya.

"Silakan! Tapi sebaiknya dengan tanpa pasukan." "Apa kata kalian?" Andita terbelalak. "Kalian tahan

kami? Laskar Lumajang yang saat ini mewakili Blambangan? Kalian tak lihat Pangeran?"

"Maafkan. Bukankah maksud Yang Mulia hanya akan menghadap Resi? Bukan untuk menangkapnya?" "Baiklah," Andita mulai membara, "katakan pada Resi, aku, Andita, bersama Pangeran Mas Sirna telah datang. Suruh ia menghadap!"

Baswi membeliakkan matanya. Kemudian mengerutkan dahi. Orang ini belum melihat kenyataan bahwa yang mereka hadapi adalah laskar pelarian. Yang telah melepaskan diri dari induk pasukan di Blambangan. Sementara itu laskar kedua belah pihak sudah tak sabar lagi. Tangan mereka mulai mengeluarkan keringat dingin. Apalagi yang di balik semak, bersama semut dan nyamuk.

"Resi adalah sesembahan kami," Baswi bertahan. "Apa?" Sirna dan Andita berteriak berbareng. "Kalian

tak menyembah junjungan Blambangan?" Sirna meneruskan sambil mendepak perut kudanya dengan tumit, sehingga kuda itu melangkah maju. Semua menjadi terkejut. Karena itu mengakibatkan juga laskar Lumajang berlompatan ke samping kiri dan kanan masing-masing mencari tempat berlindung. Begitu cepatnya gerakan itu sehingga menutup ruang tembak laskar Baswi.

"Sabar... Pangeran," Andita mendinginkan.

"Aku Pangeran Blambangan. Kalian tak dengar daku?" Sirna tak menghiraukan dalam marahnya. Dan seperti kilat saja gerakan Sirna, tiba-tiba senapan yang menempel di sebelah kanan sanggurdi sudah berpindah ke tangannya. Dan kini terarah ke dada Baswi.

"Oh... jangan marah, Pangeran," Baswi berkata. "Saudara Baswi, jangan bersitegang!" Yistyani maju.

Semua orang memandangnya kecuali Sirna yang tak mau melepas sasarannya. Baswi. "Adakah jalan lain?" tanya Baswi.

"Kita harus tanyakan pada Resi. Apakah Pangeran kita sambut di sini. Ataukah beliau yang datang menghadap?"

"Tumpak!" Baswi berseru sambil masih memandang Pangeran. Ia tak mau Pangeran menjadi curiga dan menarik pelatuknya.

"Naiklah menghadap Resi."

Baik Andita maupun Baswi menarik napas panjang.

Keduanya tahu persis tak akan dapat memaksakan kehendak masing-masing. Mereka harus melihat kenyataan itu. Ia toleh anak buahnya yang siaga. Siap untuk menang atau mati.

"Jangan marah, Pangeran," kini Yistyani berkata lembut.

"Paman!" Sirna tak menghiraukan. "Kenapa tak kita tangkap mereka?"

"Dari balik gerumbul, telah terarah laras senapan ke dada kita."

"Drubiksa! Aku akan menarik pelatukku begitu ada letusan terdengar. Kita akan tumbang berbareng!"

"Jangan tergesa, Pangeran." Yistyani berusaha lagi.

Semakin maju.

"Berhenti kau!" Andita yang memerintah. "Siapa ini?" "Hamba Yistyani." Yistyani menghentikan langkah. Ia

tahu, Pangeran dan Andita tidak main-main. "Yistyani?" ulang Andita.

"Ya... Ratna Ayu Yistyani." "Kau bukan orang sini..." Andita berkata lirih, seperti pada diri sendiri. Namun siang itu terlalu lengang. Selirih apa pun suara Andita sampai juga ke telinga Yistyani.

"Yang Mulia benar. Hamba kawula Lumajang." "Dewa Bathara! Kenapa sampai kemari?"

Sebelum Yistyani menjawab, seorang berjubah kuning, berambut panjang tanpa destar tiba di tempat itu dalam kawalan Sardola dan Tumpak. Matanya nampak jernih. Mengesankan kejernihan kepalanya. Tidak begitu tinggi, dan juga tidak begitu gemuk. Hidungnya mancung, kumis dan jenggotnya tidak pernah dipotong. Angin pegunungan membuat rambut dan jubahnya berjuntai seperti cemara di tepian jalanan yang ia lalui.

"Hyang Bathara Widi Wasa, Jagat Pramudita. Anakku, Andita."

"Sembah untuk Ramanda Resi." Ucapan pembukaan Andita mengejutkan hatinya. Bahkan menghentikan langkahnya. Tidak biasa Andita berbuat seperti itu.

Andita tetap tidak turun dari kudanya. Sedang kini laskarnya tersusun rapi dalam gelar peperangan.

"Karena tanda-tanda pangkatkah maka kau tak suka menginjakkan kakimu di atas bumi kelahiranmu? Atau karena begitu lama kau tinggal di istana?" tanya Resi Wuni Pati dengan penuh kesabaran.

"Karena Raung telah berubah." Suara Andita tetap datar. Sirna kini memperhatikan dengan penuh keheranan. Andita anak Resi Wuni Pati? Maka dia bicara seperti brahmana. Tanpa sadar ia menyimpan kembali bedilnya yang berlaras panjang itu ke tempat semula.

Sedang yang lain pun terpana pada pembicaraan kedua brahmana itu. "Zaman juga berubah, Anakku. Tidakkah kau ingin menerimanya?"

"Ayahanda telah menjadi sesembahan. Adakah Raung telah terpisah dari Blambangan?"

Resi Wuni Pati melepas napas satu-satu sambil tersenyum. Tenang sekali. "Jagat Dewa, ya jagat Pramudita!" Orang tua itu menyebut. "Aku tak pernah menghendakinya."

"Tapi Ayahanda dalam kawalan, Apakah ini kawalan dalam arti lain?" Andita tetap menindas.

"Tentunya mereka melakukan bukan dalam arti lain. Untuk jelasnya, aku terangkan padamu, dia Baswi... kau dengar? Baswi perwira muda Blambangan yang..." katanya sambil menuding Baswi. Dan itu membuat Andita tertegun sesaat. Resi berhenti menerangkan untuk memperhatikan wajah anaknya. Sedang Mas Sirna tak kurang-kurang terkejutnya. Baswi yang sering disebut-sebut dalam persidangan istana.

"Dan yang di belakangku ini, Sardola. Sardola! Perwira muda yang gagah berani pula," lanjut Resi. "Mereka membutuhkan pengayoman. Di sini mereka merasa tentram dan damai."

"Ayahanda bermaksud mensejajari Sri Prabu?" "Tidak. Tapi Blambangan dalam kemelut sekarang ini.

Apalagi Sri Prabu telah gugur tiga hari lalu. Tidak dengar kau? Ya... belum dengar?"

"Apa kau bilang?" Sirna memekik. "Ramanda gugur?" Andita mendadak pucat dalam bingungnya. Namun

Resi tak mengerti apa yang ada dalam kepala anaknya. Maka, "Ya " Cepat sekali Sirna menarik tali lesnya. Sehingga kaki depan kudanya terangkat tinggi dalam kejutnya. Berputar untuk kemudian lari.

"Pangeran!" panggil Andita.

"Demi Hyang Maha Dewa! Blambangan atau mati!" Kuda Sirna tidak berhenti.

Dengan ketangkasan luar biasa, Andita melompat dari punggung kudanya, menubruk Sirna. Dan keduanya terjatuh dari punggung kuda, untuk kemudian bergulung- gulung di tanah. Bersamaan dengan itu terdengar jerit tertahan dua wanita yang sejak tadi mematung.

"Sabar... sabar... hendak ke mana?" Napas Andita memburu.

"Membela kejayaan Blambangan."

"Perang tak mungkin dimenangkan oleh Pangeran seorang. Orang Blambangan belum bersatu."

Sirna meronta. Napasnya berkejaran. Resi Wuni Pati mendekat. Dengan kasihnya ia membersihkan debu yang menempel di tubuh Sirna, yang masih dipeluk erat-erat oleh Andita. Yang lain pun mendekat. Sirna dalam kerumunan.

"Paman akan membiarkan Blambangan dalam genggaman musuh?"

"Tidak!" Resi Wuni Pati yang menjawab. "Tak seorang pun rela menyerahkan tanah airnya ke tangan drubiksa. Tapi bila seorang menuruti kata hatinya sendiri, maka ia akan menyerahkan diri pada kematian. Kematian yang sia-sia."

"Dubriksa!" Sirna mengumpat. "Aku tidak takut mati.

Tidak! Aku tidak takut mati! Lepaskan!" "Keberanian yang tidak disertai akal budi adalah kesia- siaan," Resi masih berusaha.

"Pangeran..." Andita sudah menata napasnya, "Kita akan sanggup menghancurkan musuh-musuh Blambangan. Tapi bukan sekarang."

"Kapan? Kapan?" sahut Sirna keras. "Bila Blambangan sudah menemukan putranya yang terbaik."

"Demi Hyang Maha Dewa aku bersumpah!"

"Tapi Blambangan sekarang belum siap. Blambangan masih tertidur. Dan ini adalah kesempatan sebaik- baiknya bagi putra Blambangan itu untuk belajar. Sedang Dang Hyang Wena bukanlah guru yang baik. Ingat, untuk menjadi putra terbaik tak cukup bermodalkan keberanian semata. Tapi memerlukan pengetahuan dan kebijaksanaan. Blambangan tidak kalah. Apa yang dirisaukan?"

Sirna sudah tak meronta lagi. Lambat laun pikirannya jadi tenang. "Baiklah... lepaskan aku."

"Menyenangkan sekali..." Andita gembira. Sambil memeluk makin erat ia berbisik, . "Pangeran akan menjadi orang paling bijak."

Sirna tidak berkata-kata buat sesaat. Tiba-tiba air mata meleleh dari kedua kelopak matanya.

"Ramanda... Ah... bagaimana dengan Ibunda?" "Segalanya sudah diatur oleh Hyang Tersuci dan

Pamanda Bagus Tuwi."

Diam lagi. Namun tangisnya belum reda waktu mereka berjalan ke pondok Resi Wuni Pati. Menggugah keharuan di hati Sedah dan Yistyani. "Seorang satria tak pernah menyesali suatu kematian.

Apalagi menangisinya," Andita menasihatinya lagi. "Aku bukan lagi satri..."

"Pangeran tetap putra raja Blambangan."

"Apalagikah bedanya aku dengan sudra? Aku juga menangis seperti mereka yang ditinggal mati bapa- ibunya. Aku tak dapat membela Ramanda anumerta. Tak lagi mampu membela semuanya " Sirna sangat sedih. "Tiada beda aku dengan anak luar istana, Paman."

Sampai di sebuah pondok besar tak seorang pun yang berkata-kata kecuali Andita dan Sirna. Beberapa jenak Sirna sempat memperhatikan bangunan itu. Atapnya terbuat dari ijuk, bukan sirap seperti istananya. Lantainya tanah pegunungan yang hampir seperti padas.

Dindingnya dari belahan kayu cemara. Pondok ini memiliki pendapa yang cukup lebar untuk ukuran rumah- rumah pegunungan.

"Sementara kita akan beristirahat dan menenangkan pikiran di sini."

"Terserah."

"Jangan putus asa " Resi Wuni Pati kini berusaha lagi. "Untuk memulihkan wibawa Blambangan diperlukan waktu, karya, dan darma. Tentu saja juga Hyang Maha Dewa."

"Betul itu? Bisa Hyang Maha Dewa mengabulkan?" "Selama ada karya di sana ada anugerah." "Sebaiknya kita istirahat dulu," Andita memotong

pembicaraan ayahnya, setelah ia selesai memberi tahu laskarnya di luar. pendapa. "Perjalanan yang jauh ini meletihkan raga dan akal kita." Baswi kemudian mengatur tempat peristirahatan bagi laskar Andita. Sedang untuk Sirna disediakan bilik terbaik di seluruh Raung. Bila hari telah malam maka dalam ruangan itu diberi penerangan lampu minyak kelapa.

Betapa jauhnya bila dibanding dengan istana. Namun kini Sirna mulai belajar menyadari keadaan. Ia dengan sadar melepas semua perhiasannya. Termasuk pending emas tanda kepangeranannya. Firasat mengatakan bahwa ia harus menyimpannya selama tinggal di Raung. Ia mengerti betul, kenyataan terlalu pahit untuk dikunyahnya. Namun ia berusaha menyimak apa yang dikatakan Resi Wuni Pati tadi. Juga dari Andita.

Tatkala bangun pagi, Andita segera menengok Pangeran. Ternyata Pangeran tidak tidur. Memang tidak mampu tidur semalam-malaman. Ia sedang duduk bersemadi. Andita geleng kepala. Sejak kecil Sirna sudah terlatih semadi semacam itu. Ibunya yang melatih. Bila sedang sedih ia selalu pasrahkan dirinya pada Hyang Durga. Dan mohon syaktinya untuk dapat keluar dari kesulitan yang sedang ia hadapi.

Itu membuat Resi tertarik padanya. Terlebih Resi melihat kecerdasannya. Waktu Sirna bangun dari semadinya, Resi segera menyambutnya.

"Mari, semua orang menunggu Pangeran " katanya sambil memandangi Sirna yang menyelipkan keris ke pinggangnya.

"Kabut masih mengurung padepokan, Bapa Resi." "Cuaca pegunungan memang begini."

"Mana Paman Andita?"

"Sudah menunggu di pendapa. Karena kita akan membicarakan sesuatu yang penting," Resi menjawab sambil memandangi Sirna. Yang memang sudah kelihatan agak berbeda dengan waktu datang kemarin. Kemudian mereka berjalan sebelah-menyebelah.

"Apa artinya daku mengikuti pembicaraan itu?"

"Setiap langkah yang dipikirkan lebih dahulu, pasti ada gunanya."

Semua yang sudah duduk di pendapa juga heran kala Sirna masuk ruangan itu tanpa destar. Rambutnya yang ikal terurai sampai ke pundak, agak kemerahan. Terlebih lagi Sirna juga tidak mengenakan perhiasan sama sekali. Kini Sirna membalas memandangi mereka.

Andita duduk berderet dengan Baswi dan Sardola. Di belakangnya Tumpak, pangantilan, dan beberapa pemimpin laskar pelarian. Semua berpakaian sederhana. Sedang laskar Lumajang masih berpakaian lengkap seperti kemarin. Dan di deretan lain adalah Ni Ayu Sitra, Sedah Lati, Yistyani, Ni Ayu Jenean, berjajar di sebelah kiri tempat duduk yang disediakan untuk Sirna. Dan sebelah kanan Sirna duduk Resi Wuni Pati. Semua memberi .penghormatan waktu mereka sudah akan duduk. Sederhana sekali. Tidak seperti di istana Blambangan.

"Bersabdalah, Pangeran," ujar Resi pada Sirna waktu sudah duduk. Sirna terheran-heran. Ia pandang tajam- tajam Resi itu. "Apa-apaan ini? Apa yang harus kukatakan pada mereka?"

"Raung untuk Pangeran."

"Dewa Bathara! Aku harus tinggal di Raung? Tidak di Blambangan?" Sirna terkejut bukan main.

Resi Wuni Pati tidak bisa menjawab. Ia menoleh Andita. Lalu katanya, "Bersembahlah, Anakku." "Kita akan kembali ke Blambangan bila Pangeran sudah matang."

"Hai, kenapa begitu?"

"Pangeran harus membekali diri. Di sini itu bisa Pangeran dapatkan. Bahkan hamba percaya akan lebih banyak dari yang didapat Pangeran Mas Nuwong." Andita tahu Sirna amat tertarik pada ilmu pengetahuan. "Pengetahuan bukan hanya didapat di istana. Dan yang pandai, sekali lagi, yang pandai bukan cuma pandita istana. Justru dari luar istana Pangeran dapat mengamati semua dan segala. Sebab belajar itu termasuk pengamatan pada tiap segi kehidupan."

"Baik, aku percaya sekarang. Kau memang berlidah brahmana. Katakan apa yang harus kukerjakan."

"Jadilah pemuka di Raung!"

"Itu kehendak kalian bersama?"

Untuk kesekian kalinya, semua tertegun. Pertanyaan yang ditujukan pada setiap orang. Mereka saling pandang. Terutama Baswi dan Andita. Keduanya mempunyai alasan tidak sama mengangkat Sirna. Yang satu untuk payung bagi pasukannya. Sedang Andita memang berkeinginan supaya Blambangan bisa diperintah oleh seorang yang mempunyai sikap kebrahmanaan. Namun tiba-tiba Resi minta pada Baswi untuk bersembah.

"Kami akan menyerahkan jiwa raga buat Pangeran dan Blambangan."

"Kau, Sardola?" Resi menggilir.

"Segala kemampuan buat Blambangan. Dan Pangeran Mas Sirna adalah junjungan kami." "Kau, Yistyani?" Sirna mengikuti gilir demi gilir yang ditunjuk Resi itu dengan pandangan, mata,

"Seluruh jiwa raga buat Pangeran."

"Paman Andita!" Suara Sirna menghentikan semua- mua. "Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat.

Berbincanglah dengan mereka."

Andita mengerutkan dahi. Sejenak ia pandang Sirna. Dua jenak kemudian ayahnya. Minta pertimbangan tanpa kata. Resi mengangguk kecil disertai kerjapan mata sebagai isyarat persetujuan. Kemudian ia berdiri, dan menghadap semua hadirin.

"Para Saudara..." Andita menyapukan pandang pada yang hadir. "Pertama aku ingin memberikan perintah pada laskar Lumajang yang bertugas mengawal Pangeran, agar semua melepas pakaian keprajuritan, untuk sementara. Artinya kita dalam penyamaran. Sama seperti yang telah dikerjakan Pangeran Sirna, begitu pula kalian harus berbuat. Di sini aku minta prajurit juga kawula, demikian pun sebaliknya kawula bisa menjadi prajurit."

Semua laskar Lumajang saling pandang. Berunding dengan tanpa kata. Namun mereka adalah prajurit yang tidak bisa berbuat lebih kecuali berhamba-hamba.

Apalagi setelah mendengar perintah lanjutan dari Andita,

"Semua laskar Lumajang supaya segera kembali ke tempat yang telah ditentukan. Laksanakan segera perintahku. Semua!! Sambil menunggu perintah lanjutan kalian diperkenankan istirahat."

Satu-satu mereka berdiri dan pergi. Mereka mengerti benar apa arti pembangkangan terhadap perintah Andita: terputusnya leher mereka! Pembantahan sedikit saja akan menggusarkan hati Andita. Itu pun berarti mengundang bahaya. Sekali lagi, mereka hanya mampu berhamba-hamba.

Sirna mengikuti kepergian mereka dengan pandangan mata. Juga waktu sebagian besar anak buah Baswi juga diperintahkan pergi. Sehingga dengan demikian yang tinggal di situ cuma sedikit. Jadi merekalah yang dianggap para pemimpin laskar pelarian di Raung ini.

"Apa yang harus kita kerjakan sekarang?" Andita membuka pertanyaan pada mereka yang tinggal itu.

"Kita harus memperkuat kedudukan kita di sini. Karena ketidakhadiran Pangeran di Lateng akan membuat heboh. Setidaknya Pangeran Pati akan memerintahkan orang untuk mencari Pangeran. Padahal kita yang menyimpannya di sini," Sardola angkat bicara.

"Satu pendapat yang bagus," memuji Resi Wuni Pati. "Ada yang lain?" Andita masih ingin menerima

pendapat.

"Ini adalah kesempatan baik untuk membebaskan semua teman-teman kita yang dipenjarakan. Terutama Yang Mulia Umbul Songo dan Laksamana Haryo Dento. Bukankah Blambangan dalam keadaan kalut?"

Semua yang hadir memandang Baswi yang bicara dengan menyala. Tak terkecuali Sirna.

"Yang lain lagi?" Andita mengalihkan ketegangan semua orang. "Barangkali Saudari..." Andita menunjuk Sedah.

"Hamba cuma dapat berhubungan dengan Tegal Delima. Dari sana kita akan mendapat padi atau bibit apa pun yang kita butuhkan." "Bagus, ada lagi?"

"Hamba?" Yistyani bertanya. Semua mata menolehnya.

"Oh... Silakan!" Andita tersenyum.

"Bukankah semua ini setiawan Blambangan?" Tiba- tiba suara Yistyani mengherankan hadirin.

"Kenapa Saudari bertanya seperti itu?" Andita mewakili semuanya.

"Perlu untuk kelanjutan kata-kata hamba."

"Demi Hyang Maha Dewa!" Sirna menyabarkan diri.

Yang lain juga mengikut.

"Baiklah, Demi Hyang Dewa Ratu, pencipta langit dan bumi Blambangan, hamba mengusulkan agar Raung ini dijadikan perkubuan. Sebab pernyataan seorang perwira seperti Tuan Sardola haruslah diperhatikan. Walau keinginan Tuan Baswi tak boleh diremehkan. Namun adalah suatu keharusan membangunkan kekuatan lebih dulu. Setelah kita kokoh barulah kita mengerjakan sesuatu yang lebih berbahaya."

"Dewa Bathara! Betapa benarnya pendapat itu," Resi kagum.

"Aku semakin tidak mengerti apa yang menjadi tujuan kalian sebenarnya berhimpun di sini. Kalau hanya untuk aku, apa pula perlunya mendirikan perkubuan? Harus menyerbu penjara-penjara. Sekarang aku menjadi tidak mengerti juga mengapa kalian menahan aku di sini?

Sebagai ganti Umbul Songo?"

Semua terkejut bukan main mendengar itu. Walau sebenarnya wajar Sirna punya naluri semacam itu.

Mendadak Andita jadi cemas. Mentari sudah menguak kabut. Bahkan sinarnya sudah mulai membelai dedaunan hijau di pegunungan itu. Namun hawa masih juga terasa dingin bagi mereka yang ada di dalam pendapa pedepo- kan. Terutama mereka yang dilanda kecemasan. Namun Yistyani segera membunuh suasana itu. Dengan lincah ia menjawab,

"Tidak! Tentu tidak ada tujuan Tuan Andita membawa Pangeran kemari untuk ganti Panglima Umbul Songo maupun Laksamana Haryo Dento. Tidak." Wanita itu tersenyum pada Sirna. "Kelak Pangeran akan tahu manfaatnya perkubuan ini. Juga perlunya Pangeran tinggal di sini."

"Sekarang tidak boleh tahu?"

"Akan tahu dengan sendirinya kelak. Tidak perlu seorang pun memberi tahu."

"Baiklah," Sirna menyerah.

"Aku sependapat dengan Saudari Yistyani," kini Andita berkata sambil menghempaskan napas kelegaan. "Kita bangun dulu perkubuan di Raung ini. Di samping itu kita harus menyiapkan bahan makanan secukupnya. Mari kita bahu-membahu dengan kawula. Kita datang bukan untuk membebani kawula. Bukan pula untuk membawa derita. Ingat, kita tidak bersiap untuk menghadapi Blambangan. Tapi justru musuh Blambangan. Termasuk Bali atau bahkan yang sedang mengintip saat ini, kompeni Belanda."

"Andita, hati-hatilah, Anakku. Prajurit yang kaubawa bukanlah kawula Raung." Resi menasehati anaknya.

Andita tersenyum, ia pandang ayahnya.

"Juga Ananda, juga Baswi dan Sardola. Semua adalah perwira-perwira..." "Dewa Bathara! Adakah kau sudah ingkar dari sumbermu?"

"Ayahanda, lingkungan membentuk watak. Lagi pula kawula Raung tak akan mampu menghadapi semua persoalan. Bukankah Raung takkan mampu menghadapi meriam musuh?"

"Kami tak pernah berpikir menghadapi perang," membantah Baswi.

"Kehadiran kalian di sini, dengan kekuatan seribu atau mungkin lebih dan bersenjata lengkap. Apa artinya ini?

Adakah nirneyana bisa diampuni?

"Itu bukan berarti mengundang perang."

"Oooo tidak ada perbuatan tanpa akibat." Andita tersenyum pada Baswi. Yang kemudian juga sadar bahwa sedang berhadapan dengan perwira handal Lumajang. Walau kecurigaannya belum lenyap, ia membenarkan pendapat Andita. Maka ia juga tersenyum.

"Aku sependapat dengan Tuan," Sardola bicara kini. Sesaat semua mata tertuju padanya Andita kemudian menunggu yang lain bicara. Namun sunyi.

"Baiklah," katanya kemudian, "kita kerjakan dulu yang kita sepakati sekarang ini. Mari kita memperkokoh persatuan."

Setelah sampai pada perumusan mereka bubar. Hari- hari berikutnya tampak Andita dan prajurit Lumajang sudah tidak mengenakan tanda-tanda kebesaran, dan turun ke ladang-ladang. Bersama-sama laskar pelarian dan kawula Raung mencipta sawah di tempat-tempat yang mungkin.

Sebagian menebang kayu di hutan untuk kayu bakar dan bangunan. Sebagian lagi mengangkut batu-batu yang dipersiapkan untuk dinding perkubuan. Mereka mencontoh perbentengan Untung Surapati di Bangil. Di gunung seperti itu, tidak terlalu susah bagi mereka mencari batu-batu. Sirna sendiri tak pernah ketinggalan dalam pembangunan itu. Walau awalnya memang berat. Tidak pernah bekerja badan. Di istana tidak mempunyai tugas selain berlatih perang dan membaca yang sudah diajarkan Dang Hyang Wena. Setelah itu makan. Tidur atau mengagumi tamansari.

Kini ia benar-benar belajar. Dan ia terus-menerus diberi tahu laporan dari para telik yang memata-matai Blambangan atau mana pun saja yang perlu dimata- matai. Karenanya ia juga mendengar berita tentang bundanya yang membakar diri bersama jenazah ayahandanya. Dan berita itu pula yang menyebabkan ia lebih sering menyendiri. Menghibur hati atau semadi.

Kalau sudah begitu Andita ataupun Baswi cuma mengamati dari kejauhan. Sedang Yistyani berusaha mendekat. Demikian pun hari itu, kala Pangeran sedang menyendiri di dekat pancuran air yang mereka gunakan untuk minum ataupun mandi.

Mata Sirna tertuju pada batu-batu hitam besar yang dilewati aliran air. Lumut-lumut hijau sibuk bergerak- gerak didorong oleh air yang lincah bergerak. Terus bergerak turun untuk kemudian melewati jurang-jurang menuju ke Sungai Setail. Rumput-rumput menjalar di tepian pancuran yang airnya tidak kunjung habis itu.

Tiba-tiba ia menoleh mendengar suara ranting patah terinjak kaki.

"Ada apa mendekat?" tanyanya dengan suara parau. "Wajah Pangeran mendung. Kenapa?"

"Panggil aku Sirna!" "Pangeran adalah junjungan kami."

"Aku tidak tinggal di istana. Jadi sekarang aku sama dengan siapa saja. Termasuk kau." Suaranya masih parau.

"Dewa-dewa akan merusak seluruh jagat bila manusia telah ingkar dari agamanya (peraturan hubungan antar manusia yang diatur oleh Dewa)"

Sirna diam. Perhatiannya kembali tertuju pada air. Buih berkejaran. Kadang bergandengan satu dengan lainnya. Bercanda dan mengeluarkan suara gemercik. Menimbulkan tanya dalam hati Sirna, kapan aku bercanda kembali? Seperti waktu-waktu lalu? Dengan bunda dan adik-adiknya? Ah... masa itu tak akan kembali. Dan muka Sirna tampak mendung lagi.

"Ada yang merisaukan, Pangeran?" kembali suara Yistyani mengganggu.

Bola mata Sirna kembali memandang Yistyani. Ia menelusur dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Membuat Yistyani menunduk. Hatinya jadi berdebar.

"Yistyani..." Suara parau menandakan tangis yang ditahan. Yistyani mendekat tanpa sadar. Pelan-pelan. Seperti kucing yang mendekati tikus.

"Bunda telah tiada..." Hening sesaat. Angin gunung meniup dedaunan. Juga suara air merajai suasana.

"Bunda meninggalkan daku, mengikut Ramanda ke jagat Dewata. Alam leluhur."

"Pangeran..." Yistyani terharu. Tak sadar dua butir air mata mengintip di kelopak matanya. Untuk kemudian mengalir lamban.

"Pangeran, mari pulang." "Pergilah, Yistyani."

"Jangan bersedih sendiri, Pangeran. Mari..." Yistyani memberanikan diri menggandeng tangan

Pangeran. Sirna tak membantah. Seperti digandeng kakaknya sendiri. Besoknya seluruh Raung membacakan mantra-mantra untuk arwah kedua orang tua Sirna. Dan semua berhenti kerja. Berkabung.

0oo0

Bergumpal-gumpal mendung menyelimuti lereng Gunung Raung. Senja. Beberapa waktu lagi akan turun hujan. Susul-semusul guruh dan petir memekakkan telinga. Sebagaimana biasa dalam keadaan begitu orang membaca Lokananta. Namun petir itu tak pernah menggentarkan hati orang-orang Raung. Apalagi Andita dan Baswi. Yang mendebarkan hati mereka adalah laporan tentang naiknya seorang yang berkuda.

"Biarlah dia naik," ujar Baswi.

"Kelihatannya amat letih," Andita bergumam. Matanya tak mau lepas dari pengendara kuda itu. Dan setelah orang itu mendekat ke pendapa, Andita melompat dari tempat duduknya. Berlari menjemput. Sedang Sirna masih berdiri dekat Baswi.

"Gamparan...!" panggil Andita." Rupanya kau tidak istirahat."

"Berita penting, Tuanku."

"Mari! Mari naik!" kata Andita lega.

Gamparan turun dari kudanya. Masih muda. Berbadan gempal. Kulitnya sawo matang yang agak gelap. Lebih gelap dari kulit Baswi. Rambutnya lurus tertutup destar.

Dengan mata merah dan kaki tertutup debu ia naik, mengikut Andita bagai bayangan. Di sudut pendapa ia berhenti sebentar untuk minum air kendi yang memang selalu tersedia di situ.

"Hah..." ia berdesah lega setelah minum. Kemudian mendekat lagi pada Andita. Sirna tertawa melihat tingkah orang muda itu.

"Malam ini juga hamba harus balik ke Lateng," kata Gamparan.

"Kau bisa bermalam di sini," Andita memutuskan karena ia tahu persis Gamparan membutuhkan istirahat.

"Tidak Tuan. Ada janji." "Kau terlalu letih." "Tidak."

"Siapa dia, Paman?" Suara Sirna memotong bantahan Gamparan.

"Pembawa berita untuk kita! Gamparan." "Persilakan dia duduk. Aku juga mau dengar." Sirna

memandang terus dengan penuh perhatian.

"Bersembahlah, Gamparan!" Dan orang itu kemudian menghormat pada Sirna. Kemudian pada Baswi.

"Oh... Ya... ini Tuan Baswi?"

"Ya, ada apa?" Baswi tersenyum.

"Yang Maha Mulia Cokorda Dewa Agung Mengwi telah menjatuhkan pengampunan terhadap Yang Mulia Umbul Songo dan Haryo Dento."

"Apa kau bilang?"

"Sungguh! Bahkan perwira dan bintara dan prajurit yang terlibat dalam perang Surabaya. Para keluarga menyambut. Mereka dalam keadaan kurus-kurus. Tangis terdengar di mana-mana. Jalan-jalan raya penuh orang menyambut dan menyaksikan mayat-mayat hidup berjalan pulang."

"Hampir tak dapat dipercaya." Baswi penuh keheranan.

"Apa lagi?" Andita berusaha mengusir keharuan dalam hati. Di kepalanya terbayang penderitaan mereka selama disekap. Kekuasaan telah menindas mereka. Negeri yang mereka bela dengan darah dan air mata telah menjadi tempat untuk menindas mereka. Dan itu dikerjakan oleh satria yang memegang kekuasaan.

Kerongkongan Andita menjadi kering.

"Semua diberhentikan dari tugas dengan tanpa imbalan apa pun. Itu keputusan menteri muka, Arya Bendung. Khusus untuk Yang Mulia Haryo Dento dan Umbul Songo tidak dikenakan peraturan itu."

"Keduanya diberi jabatan kembali?"

"Ya. Tapi tanpa kekuasaan atas pasukan." "Apa kabar Kanda Mas Nuwong?" Sirna

menyempatkan.

"Beliau sekarang bergelar Prabu Mangkuningrat.

Diwisuda dengan upacara kebesaran. Tapi... maafkan hamba, Pangeran. Sri Prabu tak pernah tahu apa-apa. Semula segalanya diatur oleh Bali. Sebab Mengwi ternyata campur tangan untuk menumpas Gajah Binarong. Tapi sekarang, semua pengaturan dilakukan oleh Yang Mulia Bagus Tuwi dan Arya Bendung dan Dang Wena serta para menteri."

"Lalu apa kerjanya?" "Sibuk dengan selir-selir." "Drubiksa! Menyalahi ketataprajaan," Sirna mengumpat. "Mangkuningrat berarti, memegang seluruh keadilan. Kekuasan tanpa batas atas bumi. Kenapa cuma sibuk dengan wanita. Apa tidak lebih baik ia bergelar Mangku Wanita! Ha... ha... ha..." Sirna tertawa sendiri. Yang lain juga ikut.

"Tak ada lagi yang penting?" Andita meneruskan. "Telik dikerahkan ke segala penjuru untuk mencari

Pangeran Mas Sirna. Juga Tumenggung Singamaya mengerahkan orang-orang kepercayaannya."

"Betapa gelinya. Arya Bendung tahu aku pergi bersama Paman Adipati Agung. Kini seluruh orang mencari aku "

"Beban kawula semakin bertambah. Mereka harus menanggung biaya laskar pendudukan Mengwi yang membantu mengamankan Blambangan dari pemberontak Gajah Binarong."

"Itu pasti," Andita mengulas.

"Blambangan dilarang membangunkan laskar laut baru dan memperkuat laskar daratnya. Penguasaan bandar tetap Blambangan sendiri."

Baswi mendengus. Sirna menjadi geram. Andita jengkel. Kemudian Andita mengulas lagi, "Kita semua harus sadar dan menerima kenyataan ini. Gamparan, tidak ada lagi?"

"Laporan selesai. Hamba ingin kembali ke Lateng malam ini juga. Memang harus kembali malam ini juga."

"Tunggu, Gamparan. Aku tahu keperluanmu yang mendesak sekarang ini bukan lain untuk menemui Turah, janda " "Ampun, Tuan. Betul " Gamparan malu karena pimpinannya tahu persis. Ia kini tersenyum memandang Andita. Hatinya penuh harap agar pimpinannya itu bisa mengizinkan dia pergi malam ini juga. Namun...

"Ada yang lebih mendesak." Andita mengalihkan pandang. Tentu saja itu sangat mengecewakan hati Gamparan. Orang ini tak mengerti hati muda! desisnya dalam hati. Namun diam.

"Keadaan memaksakan kita mengubah nama Pangeran. Untuk mengelabuhi telik Blambangan."

"Aku setuju. Tapi nama apa yang baik?"

Semua berpikir. Beberapa jenak kemudian Baswi tersenyum lebih dulu. Lalu, "Wilis... Ya, Wilis," katanya.

"Wilis berarti hijau." Sirna tersenyum. "Tidak apa, aku tidak keberatan. Apa sih artinya nama? Bunglon juga boleh."

"Akan diumumkan secara beranting!" Andita memberi tahu.

"Nah, Gamparan..." katanya lagi, "jangan kecewa.

Berangkatlah esok pagi. Istirahatlah malam ini. Kau bisa menambahkan waktumu barang dua hari untuk bersua dengan Turahmu."

Kini senyum Gamparan muncul kembali. Merasa berdosa tergesa mengumpat Andita kendati cuma dalam hati. Sampai pergi ke tempat peristirahatannya ia masih tersenyum. Dan seribu bahasa ia susun dalam angannya. Persiapan berjumpa kekasih.

0oo0

Pembangunan perkubuan masih jauh dari selesai. Namun masa prihatin di Raung sudah ditutup dengan panenan jagung dan padi gogo yang melimpah. Kegembiraan kawula Raung tertumpah ruah saat upacara penutupan masa panen itu. Belum pernah mereka punya pengalaman seperti itu. Apalagi saat itu Baswi dan Sedah Lati melangsungkan upacara pernikahannya. Resi Wuni Pati memimpin upacara pernikahan mereka. Sedang Wilis dan Andita berkenan menjadi saksi. Upacara meriah di sela dinginnya udara gunung. Tanpa dihadiri oleh kedua orang tua masing- masing.

Langkah Baswi ternyata mendorong banyak pemuda atau pemudi gunung itu mengisi sela ruang hidupnya dengan cinta. Apakah sesama kawula Raung, atau dengan laskar pelarian. Baik dari Lateng maupun Lumajang. Sekali lagi, cinta tidak mengenal batasan.

Usia ataukah asal-muasal. Melihat itu, Resi Wuni Pati mengizinkan orang-orang mendirikan patung Kamajaya- Kamaratih, lambang percintaan.

Segala itu belum terpikir oleh Yistyani. Ia telah dibiasakan mengabdi pada waktu di Lateng. Jadi budak terhormat. Bekas selir Kuwara Yana itu tak terpengaruh oleh ombak muda-mudi. Walau ia sadar tidak sedikit pemuda yang mendekatinya.

"Baru mandi?" tanya seseorang waktu ia naik tebing kali suatu pagi.

"Oh, kau, Tumpak? Ya, aku baru mandi." Yistyani tak mengerti Tumpak menghadangnya sejak tadi. Dan ketidakmengertian itu membuat Tumpak mengeluh dalam hati. Ah... Yistyani tidak mengerti isi hatinya.

"Aku juga akan mandi." Tumpak mencari alasan. "Kau tak biasa mandi di Sungai Setail ini, kan?

Bukankah kau sering mandi di pancuran atas sana." Yistyani tersenyum.

Kini Tumpak tambah gugup. Mungkin bicara lain soal tidak demikian halnya. Bicara soal peperangan lebih mudah. Tapi soal satu ini, cinta ini, Tumpak sukar untuk mengutarakan terus terang pada Yistyani.

"Ya... di... sana makin penuh saja." Ia menemukan kata-kata. Dan balas tersenyum. Namun tak berani memandang Yistyani.

"Oh, ya? Silakan, Tumpak! Silakan!" Yistyani kembali melempar senyum. Mengguncang jiwa Tumpak. Namun kemudian Yistyani siap hendak berlalu.

"Mengapa tergesa?" "Sudah terlalu lama."

Kini kaki Yistyani sudah melangkah. Guci tanah liat berisi air membebani kepalanya. Tumpak menawarkan diri menolong membawa air itu. Tapi sekali lagi, Yistyani mengucap terima kasih sambil menampakkan barisan gigi yang kecil-kecil. Hitam bagai bulu kumbang di sela bibirnya yang merekah indah.

Ternyata Tumpak tak mampu menghentikan langkah Yistyani yang kedua, ketiga, dan seterus-nva. Seribu bahasa yang ia susun sejak dinihari tadi tak satu pun yang keluar. Kini ia cuma dapat mengawasi langkah Yistyani dengan menelan ludah semata.

Hampir seratus langkah kemudian Yistyani melihat Wilis di atas punggung seekor kerbau. Hatinya sempat menilaikan: Wilis telah kembang menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Matanya menyinarkan wibawa yang membuat Yistyani membungkuk hormat waktu berpapasan. Ah... desah Yistyani dalam hati. Benar- benar berbeda dengan kakaknya. Pangeran Pati dalam usia yang cukup muda sudah doyan perempuan.

Sambil terus berjalan Yistyani mengingat kejadian tiga tahun lalu. Oleh Kuwara Yana ia pernah dipersembahkan pada Pangeran Pati. Bukan cuma sekali. Dalam bilik milik Kuwara Yana, yang terbuat dari kayu ulin tua ia sering bercanda dengan Pangeran Pati.

"Kau akan kubawa ke istanaku kelak," janji pangeran itu setelah mencoba kejantanannya yang pertama di atas tempat tidur Yistyani.

"Pangeran berbohong." Yistyani merajuk dalam senyumnya.

"Sungguh! Kau akan menjadi selirku. Turun-temurun, kau tidak akan terhinakan lagi." Angin surga keluar dari mulut bangsawan muda itu. Memang cukup membuat Yistyani melambung. Daripada setiap ada tamu agung mesti menjadi persembahan. Untung Pangeran memilih dia waktu melihatnya. Kalau yang lain, ia tak akan pernah mendengar janji seperti itu. Di istana akan tersedia segala. Apalagi setelah pertemuan kedua, Mas Nuwong dengan jelas meminta pada Kuwara supaya Yistyani hanya untuknya saja. Sekalipun ia masih tinggal di istana Kuwara Yana. Tidak ada seorang pun boleh menidurinya, termasuk Kuwara Yana sendiri.

Kini semua itu tak bakal terjadi. Ia lihat Wilis memang berlebih dari kakaknya. Dan ia diam-diam menjadi kagum. Bukan cuma ketampanannya. Tapi juga segalanya. Lamunan membuat ia sama sekali tidak sadar bahwa sedang berpapasan dengan Andita.

"Siang amat baru pulang mandi," tegur Andita. Angan Yistyani bubar oleh kejutan. Baru ia ingat bahwa orang itu selalu mengawasi Wilis dari kejauhan. Juga Baswi.

"Tu... Tuan ada di sini?" Yistyani gugup.

"Apa saja yang dilamun? Sampai akan menubruk jika tidak buru-buru ditegur tadi."

Wajah Yistyani memerah. Ia tahu Andita manusia cerdik.

"Tak ada apa-apa." "Kangen pada Kuwara?"

"Ah, jangan ucapkan itu lagi!" Yistyani menunduk.

Mata Andita begitu lahap menelusuri tubuhnya.

Sengaja ia berhenti sejenak di hadapan perwira Lumajang itu.

“Saudari suka tinggal di sini?"

“Udara perkubuan ini lebih segar dari Lumajang” “Tak adakah pikiran untuk kembali ke Lumajang?" "Tidak!"

"Kenapa?"

"Telik Blambangan akan menemukan hamba di sana.

Itu berbahaya, kan? Bukan cuma untuk hamba."

"Kecantikan akan menyelamatkan jiwamu." Secara tak langsung memujinya. Sekali lagi Yistyani berdebar.

Walau ia terlalu sering mendapat pujian dari lelaki.

"Belum tentu," ia membantah sambil senyum, "kadang kecantikan juga bisa mencelakakan. Baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Sebab manusia lebih banyak yang cuma tahu memaksa dan merampas. Kiranya hamba kan merasa lebih berbahagia jika memiliki wajah tak seperti ini. Dengan begitu hamba tak mungkin berpisah dengan Bunda. Yang terpaksa menjanda karena ulah lelaki pula."

"Hyang Maha Dewa tak akan salah mencipta manusia, juga memberi anugerah."

"Karena Tuan bukan wanita maka berkata tanpa landasan."

Andita terkejut mendengar itu. Namun sebelum ia bertanya lagi, Yistyani sudah permisi. Ia tak mencegah, karena kepala Yistyani sedang dibebani guci berisi air. Leher mulus dan jenjang itu terpaksa menyangga beban berat. Ia tersenyum pada diri sendiri. Padahal ia belum pernah menyatakan kekaguman pada wanita seperti tadi.

—Aku akan melamarmu! Putus Andita dalam hati. Tunggu saatnya! Andita sama sekali tidak peduli bahwa saat itu ada orang lain yang berpikiran sama dengannya. Bahkan tidak menyadari sama sekali Tumpak lama mengintai waktu ia bercakap-cakap dengan Yistyani.

"Tuan melamun?" Suara Baswi dari belakang.

Andita tidak menoleh. Tetap saja memandang goyang pinggul Yistyani. Sampai kemudian tertutup oleh tubuh Tumpak yang berjalan di belakang gadis itu. Sekali lagi Baswi bertanya.

"Tidak! Cuma sedang mengagumi sesuatu." "Gadis itu?"

"Segala-gala milik gadis itu."

"Ha... ha... ha... ha... Dia bisa membuat Tuan lupa pada tugas." "Mudah-mudahan tidak!" Kini ia memutar badan untuk menghadap Baswi sambil tersenyum. Tubuh Yistyani telah benar-benar lenyap ditelan belokan.

Yistyani bukan tidak mengerti apa yang tercermin dalam wajah Tumpak. Ia sedang bergumul dalam pertimbangannya. Dan waktu ia berbelok ke halaman pesanggrahannya, ia melihat Tumpak berlalu. Sengaja ia pura-pura tidak tahu. Cepat ia mencuci kakinya yang dipenuhi bunga-bunga rumput. Juga ujung kainnya.

Bahkan basah oleh embun yang menempel di rerumputan sepanjang perjalanan pulang tadi.

Laskar pelarian telah membangun pura kecil sederhana di depan pesanggrahan yang disediakan untuk Yistyani dan teman-teman wanitanya. Dulu juga Sedah ikut tinggal di situ. Mereka telah menjadi akrab. Seperti saudara sekandung saja.

"Kalian mandi bersama?" tanya Jenean yang sedang membersihkan halaman.

"Siapa maksudmu?" Yistyani mengerti bahwa sedang diledek. Karenanya ia tetap tersenyum.

"Kau dan Tumpak." "Jangan mengada-ada."

"Kulihat ia tertarik padamu," Sitra menimbrung dari dalam.

Yistyani tertawa lirih. Kemudian masuk. Jenean meletakkan sapunya lalu mengikut. Tak ada pekerjaan buat mereka hari itu. Jadi mereka akan beristirahat sampai esok.

"Makanan sudah matang, Sitra?" "Kenapa tidak bercerita tentang kekasih baru itu?

Pura-pura tanya makanan segala."

"Tidak adil!" Yistyani membalas cepat. "Kenapa bila Sitra lagi berdua-dua dengan Tuan Sardola tak diperbincangkan? Atau bila giliran Sitra mengambil air pasti Tuan Sardola yang memikul kemari. Kenapa kalian diam?"

Mereka tertawa bersama-sama. Seperti diatur, berkikik-kikik.

"Atau kau tolak dia?" Jenean meneruskan candanya. "Menunggu Pangeran barang satu-dua tahun lagi?"

Yistyani tahu bahwa teman-temannya menghubungkan sifat Wilis dengan kakaknya, Mas Nuwong. Karena dulu kamar mereka cuma dipisahkan oleh kain putih tebal. Jadi mereka tahu juga ia menerima tamu Pangeran Pati.

"Beruntung kau selalu mendapat perjaka suci. Awet muda kau, Yis!" Jenean tertawa lagi. Semua juga.

"Tapi ia sekarang bernama Wilis. Bukan Pangeran Mas Sirna. Apakah mungkin ia seperti kakaknya?"

"Apa arti perubahan nama itu? Orangnya tetap," Sitra menyahut. "Aku percaya ia tidak selamanya hijau seperti namanya."

Tatkala mentari telah tertutup oleh perbukitan sebelah barat, dengan tanpa diduga Andita dan Wilis memasuki pesanggrahan mereka. Tergopoh Jenean mempersilakan keduanya masuk. Sementara itu Yistyani dan Sitra sempat saling cubit-cubitan pinggul sebelum ikut menyambut bersama-sama. Jenean membukakan tikar pandan untuk duduk Pangeran dan Andita.

"Mari!" Wilis mengajak. "Kita duduk bersama." Bertiga kemudian bersimpuh di depan Wilis dan Andita.

"Seperti mendapat anugerah para Dewa," bertiga menyembah bersama-sama.

"Pangeran ingin mengetahui keadaan kalian," kata pembukaan Andita. "Perlakukan kami seperti teman sendiri. Sekali lagi, ingat telik Blambangan ada di mana- mana."

"Adakah yang perlu kami persembahkan?" Yistyani segera mewakili teman-temannya.

"Ya. Aku memerlukan ketiganya," jawab Wilis. "Kami telah bersedia, Pangeran."

"Katakan padaku, apa yang kalian ketahui tentang Kuwara Yana!"

"Ampun, Pangeran," Jenean berkata, "tak ada apa pun yang bisa kami persembahkan kecuali pengalaman kami sendiri."

"Ya... katakan saja!" Wilis menajamkan mata. Jenean tertunduk. Dalam hati ia mengakui kewibawaan Wilis.

Semuda itu memiliki suatu wibawa yang cukup menggentarkan. Hanya melalui pandangan mata. Tak heran Yistyani memuji.

Ketiganya menceritakan pengalaman masing-masing.

Mulai saat mereka diambil dari rumah masing-masing oleh tangan penjahat, sampai ke tangan Kuwara Yana. Andita dan Wilis mendengar dengan seksama. Apalagi pada giliran Yistyani menceritakan pertemuannya dengan Mas Nuwong. Hati Wilis tersibak. Tapi ia harus menerima kenyataan. Itulah kehidupan istana. Wanita, uang, dan kehormatan. Karena itu pula istana menjadi ajang pertikaian bangsawan. Dan Andita kini bebas menikmati tubuh ketiga gadis itu dengan matanya. Ketiganya masih segar. Segala bentuk tubuhnya belum susut. Sampai setelah Yistyani selesai memberi keterangan, barulah Andita menghentikan pekerjaannya. Kemudian berunding dengan Wilis dalam bisik. Wilis kelihatan mengangguk-angguk, tanda menyetujui sesuatu.

"Pengetahuan Saudari tentang banyak hal membuat aku harus bertanya lebih banyak," kata-kata Andita tertuju pada Yistyani. "Anda selalu membuat pengamatan terhadap lingkungan. Dengan kata lain kami berani mengatakan bahwa Anda seorang cerdik. Memang banyak wanita yang berpengetahuan luas seperti Sri Maha Ratu Suhita Sorga. Yang lain lagi pada umumnya bertugas ganda."

Yistyani mendongak lamban. Ia tahu apa maksud Andita. Karena itu ia coba memandang wajahnya. Orang muda itu mengerutkan dahi. Mata mereka beradu.

"Demi Hyang Dewa Ratu, tiada kebohongan," jawab Yistyani sambil menghela napas. "Hak seorang perwira mencurigai setiap orang."

"Tak ada sudra mengetahui segala." "Arok anumerta juga sudra."

"Jagat Dewa! Kau membaca lontar?" tanya Andita sambil terus menyimpulkan. Yistyani juga terkejut atas jawabannya. Ia telah terjebak. Ia mengakui kini kurang hati-hati berhadapan dengan orang cerdik seperti Andita. Ia terpaksa harus membuka apa yang selama ini ia simpan.

"Ampunkan hamba. Memang bunda hamba telah mengajar hamba membaca lontar." "Apa? Ibumu bisa membaca lontar? Kau juga?" Hati Wilis terlonjak karena terkejut. Dan ia kemudian menjadi ingat kata-kata Andita, bahwa bukan hanya di istana ada pengetahuan. Mungkin saja Yistyani bisa berbahasa Sanskerta. Atau Jawa kuno. Mungkin, dia banyak tahu apa yang Dang Hyang Wena tidak tahu. Diam-diam ia merasa bersyukur.

"Begitulah, Pangeran...," jawab Yistyani malas. "Dalam lontar banyak pengetahuan? Juga ajaran para

dewa, bukan? Dan banyak lontar tertulis dalam Sanskerta. Juga Jawa kuno. Dengan kata lain kau bisa berbahasa itu," Wilis mengambil alih penyelidikan.

"Hamba tak bermaksud..."

"Aku tak memerlukan bantahan!" potong Wilis.

Wanita itu diam. Juga yang lain. Andita sendiri terbenam dalam kekaguman. Ia bisa membaca lontar karena bapanya seorang brahmana. Itu pun tidak sempurna. Karena ia telah agak lama mensatriakan diri.

"Apa kerjamu tiap hari?" Wilis menguak kesunyian. "Tidak tentu. Di ladang, sawah, kadang juga

menganyam tikar," Yistyani menjawab sambil tunduk. Dalam lirikan yang cuma sekilas ia tahu Andita sedang terbenam dalam angannya sendiri. Sementara, Wilis sudah hampir pasti menyimpulkan, orang di hadapannya itu adalah brahmani. Wajahnya, hidungnya, bibirnya, semuanya, tidak menunjukkan tanda-tanda kesudraan.

"Mulai besok kau akan mendapat tugas baru sebagai tambahan. Menjadi salah satu guruku pula!" Ucapan Wilis mengejutkan semua-mua. Tapi semua juga tahu, kehendak Wilis tidak terbantahkan. "Bukankah sudah ada Resi Wuni Pati, Tuan Andita juga Tuan Baswi? Apa artinya seorang wanita seperti hamba?" Yistyani mencoba.

"Keberatan?" Wilis membunuh pertanyaan Yistyani.

Sekali lagi, Yistyani menyadari, itulah kekesatriaan. Yang berulang kali harus ia hadapi dalam hidupnya sebagai wanita. Kini ia diam. Mencabuti serabut pandan yang halus kecil di tikar yang ia duduki, sebagai pelarian dari ketidakmampuannya.

Sementara itu di luar, awan merah kekuning-kuningan telah ditarik masuk ke dalam perut bumi. Bayang-bayang telah tiada. Jenean minta permisi untuk menyulut pelita. Dan bersamaan dengan itu Wilis mengajak Andita pergi. Tanpa menunggu Yistyani mengiakan atau menolak perintahnya*.

Sebenarnyalah sepercik kegembiraan telah mengembang di sudut hati Yistyani yang terdalam. Dengan begitu ia akan selalu dapat berdekatan dengan orang yang ia kagumi. Dan ia tidak akan perlu lagi mencuri-curi pandang. Namun sepeninggal mereka berdua tak urung Yistyani menjadi bahan ledekan teman- temannya.

"Awas, Yis, jaga dirimu agar awet muda!" Jenean tertawa.

"Ah... itu kan anugerah, Jenean."

"Tapi kan tidak ada anugerah tanpa usaha?" Sitra cekikikan.

Wajah Yistyani memerah di bawah sorot pelita. Sambil menuju tempat pembaringan ia menjawab juga, "Aku akan menarik dia maksudmu?" Sebagai jawaban hanya suara tawa ria yang merdu dari kedua temannya. Sampai jauh malam mereka masih bergurau di atas pembaringan. Kadang saling cubit.

Sama-sama bersuka cita.

Di pagi hari yang telah ditentukan, Yistyani bersolek seperti ketika akan menjumpai Mas Nuwong. Tidak ketinggalan, wewangian bak kasturi.

Ia juga mengenakan semua perhiasan yang selama ini disisihkan dari kehidupannya. Kakinya berhiaskan binggal bergiring-giring melengkapi keindahan kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya, mulai pusar sampai mata kaki. Kain batik berwarna merah soga bersulam benang-benang emas yang siap memantulkan setiap sinar apa pun yang menimpanya. Juga gelangnya menghias kedua tangannya, subang di kedua lubang telinganya, semua terbuat dari emas.

Sebelum berangkat ia sempatkan bersirih lebih dulu.

Itu membuat bibirnya yang tipis mungil itu nampak merah menawan seperti warna kulit buah manggis yang dibelah. Kalung berantai panjang hadiah Kuwara Yana, melengkapi keindahan lehernya yang jenjang. Kain sutra putih, tipis dan halus terlilit di leher itu selalu berkibar ditiup angin. Kadang meriup-riup menutup buah dada yang dibiarkan terbuka seperti dua buah kates yang sudah masak.

Baik Andita, Baswi, maupun Resi Wuni Pati sendiri ternganga karena pesona waktu Yistyani naik pendapa. Mereka seperti melihat bidadari Ratih dari kahyangan turun ke pendapa itu. Yistyani memang bersinar dalam pakaiannya begitu.

"Silakan naik. Langsung menuju ke bilik Pangeran." Resi lebih dulu menguasai diri. Yistyani menghormat mereka dan tersenyum. Kemudian berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Resi Wuni Pati. Suara kain Yistyani mengikuti irama lenggangnya. Sekilas Resi memperhatikan anaknya, yang masih mengawasi Yistyani dengan tanpa berkedip. Iba.

Wilis belum bangun dari semadinya waktu Yistyani masuk. Dengan hati-hati ia kemudian ikut duduk bersimpuh di belakang pemuda itu. Beberapa jenak ia memperhatikan tubuh Wilis dari belakang. Warna kulit yang kuning langsat lebih menggambarkan bahwa pemuda itu bukan sudra. Rambutnya berombak, terurai sampai ke bawah pundaknya. Tiada bekas cacat pada kulit itu juga menunjukkan masa kecilnya terjaga rapi dalam asuhan para inang. Selanjutnya mata Yistyani menyapu isi ruangan.

Tidak berbeda jauh dengan biliknya sendiri. Tentu lebih luas sedepa barangkali. Keris yang bertahtakan permata pada tangkainya, tergeletak begitu saja di pembaringan yang tidak diatur. Juga pending emas, tergantung di dinding atas tempat tidur seperti tidak diperlukan lagi. Mungkin masih banyak lagi perhiasan yang tidak terpakai selama ini. Yistyani menjadi iba.

Satria yang saat ini sedang menyudrakan diri.

Wilis selalu melakukan yoga semadi sejak dini-hari sampai mentari terbit. Dan kala mentari terbit dia membuka jendela kamarnya yang kebetulan menghadap ke timur itu untuk melatih matanya dengan menatap mentari merah tanpa berkedip. Atau lebih sering ia melatih dengan menatap bintang timur dinihari.

Pengamatan Yistyani selesai. Bersamaan dengan itu Wilis juga selesai. Tentu saja Wilis kaget bukan kepalang. Begitu memutar tubuhnya, melihat bidadari sedang bersimpuh. "Kau, Yis?" "Hamba, Pangeran."

Perhatian Wilis berpindah-pindah pada seluruh bagian tubuh Yistyani. Segera ia bunuh debar jantung oleh bau wangi dan wajah ayu. Yistyani. Sungguh tidak seperti biasa. Tak heran banyak lelaki tergila-gila pada wanita satu ini. Termasuk Mas Nuwong, kakaknya. Mungkin juga ayahnya. Mungkin juga Dang Hyang Wena.

"Sudah lama?"

"Sudah," sambil tersenyum.

"Maafkan aku...," Wilis berdesis. Agak gemetar suaranya. Yistyani tahu itu. Namun ia tidak menjawab. Tidak juga ingin berkata-kata. Hanya ingin menatapkan matanya yang bening itu pada mata Wilis. Justru di saat bersua dengan tanpa saksi. Memang kenikmatan tersendiri bagi Yistyani.

Naluri yang terlatih cepat memperingatkan Wilis, bahwa Yistyani sedang berusaha menundukkannya. Karena itu segera ia tersenyum sambil menajamkan matanya.

"Sudah sedia kau?" Wilis menguasai diri kembali. "Inilah hamba, Pangeran." Yistyani menghela napas.

Buah dadanya naik-turun.

Wilis menyingkap tikar pembaringannya. Beberapa gulung lontar terlihat di bawahnya. Wilis mengambil segulung dan memberikannya pada Yistyani, seraya berkata, "Dalam bahasa apa tulisan ini?"

Yistyani membuka gulungan itu. Dan Wilis menyodorkan bubuk kapur. Setelah mengolesi lontar tersebut dengan bubukan kapur ia membaca perlahan. Kemudian katanya,

"Jawa."

"Kapan ditulis?"

"Zaman Majapahit," jawabnya cepat. "Bacalah!"

"Satya a Prabu," suara Yistyani merdu, "Tan-satrisna, Gineng Pratidina..."

"Bagus," Wilis memotong. "Kau tahu artinya?" "Hamba, Pangeran." Yistyani sadar ia sedang diuji. "Katakan!"

"Jujur dan patuh kepada Raja," berhenti sebentar sambil membuang senyum. "Tidak membeda-bedakan, berguna setiap hari."

"Apa yang dimaksud tidak membeda-bedakan? Atau juga berguna setiap hari?"

"Jika Pangeran membaca kelanjutannya, maka kita akan tahu bahwa yang dimaksud tidak membeda- bedakan ialah tidak selayaknya manusia dibedakan kasta-kasta dalam pergaulan sehari-hari. Karena pada kenyataannya tidak kurang sudra yang memiliki karya melebihi ksatria maupun brahmana. Bukankah Sri Maha Patih Gajah Mada sendiri seorang sudra? Tapi siapa yang dapat membandinginya sampai saat ini? Artinya kita harus selalu ingat bahwa setiap pribadi memiliki kemampuannya sendiri^Sedang yang dimaksud berguna setiap hari, artinya jangan kita membiarkan diri dalam kesia-siaan. Manusia yang hidup tanpa karya dan darma sebenarnya tinggal dalam kesia-siaan. Juga manusia yang selalu memungut persembahan dari sesamanya ia tidak pernah membuat dirinya berguna. Sebenarnyalah orang begitu sia-sia hidup di dunia."

"Dewa Bathara! Kau benar-benar brahmani, Yis "

"Ampun, Pangeran, di tempat ini hamba adalah sudra.

Jika kebetulan hamba bisa bersama dengan Pangeran dan membaca lontar kembali, maka itu sekadar mengenang bagian yang terindah dalam hidup ini. Dan keindahan yang hamba puja itu telah musnah dilanda kerakusan manusia bermodal. Satria yang memiliki kekuasaan dan uang. Segala yang terindah di dunia telah mereka rampok untuk dijadikan milik mereka."

"Kau mengumpat pada satria? Baik kita lupakan saja semua itu. Tapi siapakah yang menulis lontar ini?"

"Hamba tidak tahu. Tapi jelas itu disunting dari Sesanti Yang Maha Mulia Sang Praneleng Kadat-wang Amangkubumi Ri Majapahit, Sri Gajah Mada anumerta."

"Yistyani, apakah yang pantas kuberikan sebagai imbalan dari semua pengetahuan yang akan kau berikan padaku itu? Tak sepotong pun emas bisa kuberikan bagimu."

"Tidak apa, Pangeran. Segala pengabdian buat "

"Terima kasih! Satu lagi Yistyani yang ingin kuminta padamu untuk kau baca buatku." "Hamba, Pangeran."

Segulung lagi dia serahkan. Dan seperti yang tadi. Kini Yistyani membaca pula dengan mengkidungkannya sebagai tembang:

Pravrittim cha nivrittim cha Jana na vidur asurah

na saucham na pi cha charo na satyam teshu vidyate

Artinya:

orang jahat tidak tahu apa yang boleh dikerjakan, dan apa yang dilarang.

Juga tidak ada kesucian dalam mereka apalagi kelakuan baik dan kebenaran. "Yang kau baca tadi Sanskerta?" "Betul, Pangeran."

"Dewa Bathara! Dari mana bacaan itu diambil?"

"Percakapan keenam belas pupuh ketujuh dari Bhagavadgita. Apa masih ada lagi yang harus dibaca?" Kembali Yistyani melempar senyum. Membangunkan Pangeran dari kekagumannya.

"Cukup. Yis, sungguh Maha Dewa tahu pengabdianmu ini. Aku tidak berdaya untuk membalaskannya. Nah, saatnya aku berlatih bersama Paman Baswi dan Andita telah tiba. Pergilah. Lain ketika kita bertemu lagi."

"Hamba, Pangeran."

Wilis membantu Yistyani berdiri dengan menarik tangan secara lembut. Halus tangan itu. Mengantarnya sampai pendapa. Setelannya ia cuma mengawasi lenggang Yistyani dari jauh.

Berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Bayang- bayang Yistyani seperti tidak mau pergi dari hadapannya. Senyumnya, suaranya, kecerdasannya, kelincahannya.

Terlebih kala Yistyani secara tidak terang-terangan menyatakan kekecewaan atas apa yang pernah dialaminya. Dengan apa ia harus mengembalikan kepercayaan Yistyani pada satria? Sementara itu Tumpak telah lama menunggu Yistyani di belokan jalan. Ia tahu sewaktu tadi Yistyani naik pendapa dengan busana yang istimewa.

"Dari mana?" ia memberanikan diri bertanya. "Dari sana!" Yistyani menuding arah padepokan.

Kemudian berjalan seiring. Ia tak perlu tanya dari mana Tumpak, karena ia tahu waktu begitu-pemuda Raung pasti baru selesai berlatih keprajuritan. Apalagi melihat kaki Tumpak berdebu.

"Dari bilik Tuan Andita?"

Yistyani tersenyum. Tumpak cemburu. Karena itu ia berbohong, "Dipanggil Sedah Lati."

"Berbahagia orang yang mendapat anugerah seperti Tuan Baswi. Adakah kau tak ingin seperti Sedah Lati?"

Langkah mereka pendek-pendek. Seperti ingin menirukan siput berjalan. Sekali lagi Yistyani tersenyum. Ia memahami ke mana arah larinya kata-kata Tumpak. Dan ia mengerti benar bahwa Tumpak sedang memuaskan matanya, memandangi seluruh bagian tubuhnya. Seperti tak puas-puasnya.

"Ingin," Yistyani menegaskan.

Dan Tumpak mengalihkan sorot matanya ke depan. "Hemh... aku juga ingin seperti Tuan Baswi." "Dalam hal ini keinginan manusia sejagat sama.

Brahmana ataupun satria dan sudra."

"Tapi sudra selamanya tak pernah bahagia. Tidak seperti brahmana atau satria." "Siapa bilang? Hyang Maha Ciwa menciptakan mentari untuk segala makhluk. Juga anugerah. Cuma takaran orang perorangan tidak sama."

"Tapi satria tak pernah puas dengan satu anugerah saja. Mereka rakus!"

"Berbahagialah orang yang tak pernah puas dalam hidupnya. Sebab dengan begitu mereka tak pernah berhenti melangkah. Barang siapa mandeg tak akan pernah mendapatkan apa-apa lagi dalam hidupnya."

"Kau membenarkan mereka, karena kebiasaanmu mengabdi. Kau tak pernah jernih, Yistyani."

Yistyani mengerutkan dahi. Namun gerakan yang mendekatkan kedua barisan alis itu semakin membuat wajahnya kelihatan manis. Apalagi ditambah senyuman. Jiwa Tumpak seperti hanyut dalam lautan.

"Aku biasa membenarkan apa yang memang benar.

Apakah itu dari satria atau dari siapa pun."

Kini pasanggrahan Yistyani tinggal beberapa langkah lagi. Tumpak merasa kecewa.

"Sebenarnya aku ingin bercakap-cakap lebih lama.

Kau menyenangkan sekali."

"Kalau ada waktu, mampirlah." Yistyani membuka kesempatan.

Namun Tumpak belum punya keberanian memanfaatkannya.

"Lain kali saja, Yis."

"Bukankah hari ini tak ada pekerjaan di sawah?" "Yang lain menanti. Di sini pekerjaan tak ada

putusnya." Mereka berpisah sambil saling melempar senyum.

Saling melambaikan tangan. Saling bertatap mata.

Keesokan harinya Yistyani dan teman-temannya mandi lebih pagi dari biasanya. Kala Tumpak akan mengambil kesempatan menemui waktu pagi itu Yistyani sudah pulang. Tumpak menunggu dan menunggu di atas tebing. Namun yang dinantikan tiada kunjung muncul.

Ditengoknya di kali. Sepi. Pulang dengan segenggam kekesalan. Sengaja ia melewati depan rumah Yistyani. Juga sepft Ingin bertamu. Tapi tak pantas bertamu waktu setiap orang Raung mempersiapkan diri berangkat ke pekerjaan masing-masing. Namun ia ingin melihat saja. Walau sejenak. Wajah yang kemarin itu terus memburunya semalam. Dan mimpi pun dipenuhi senyum wanita itu. Karenanya ia terus mencari. Dalam rombongan wanita gunung yang sedang mengerumuni Ni Ayu Sitra, tak ia lihat Yistyani. Sekali lagi ia perhatikan dengan cermat kerumunan wanita yang sedang menganyam tikar. Tetap tiada. Kemudian ia tertarik lewat di depan padepokan. Kalau-kalau Yistyani ada di sana seperti kemarin. Tapi ia cuma melihat Andita, Baswi, dan Sardola sedang bercakap-cakap.

"Tumpak!" panggil Baswi mengejutkannya. Ia menoleh.

Kejengkelan meradang di hatinya kala Baswi melambaikan tangan. Ia ingin berjumpa Yistyani, bukan mereka. Ingin berlari saja. Namun suara Baswi yang berwibawa itu kembali berkumandang. Dan membelokkan langkahnya ke pendapa.

"Masuklah!" perintah Andita.

"Ada sesuatu?" tanyanya setelah memberi penghormatan. "Adakah kau masih setia pada kami?" Suara Baswi datar.

Mendadak wajah Tumpak berubah. Seirama dengan debar jantungnya yang juga berubah. Namun tetap menyembunyikan kekesalan. Ia melihat mereka bertiga mengamatinya. Apa pula maksud mereka saat ini?.Mungkinkah akan mempersoalkan perihalnya dengan Yistyani? Ia sadar memang Baswi pernah meraba-raba hatinya. Dan waktu itu ia belum berani berterus terang.

"Apa maksud Tuan?"

"Kau tahu untuk apa kita datang kemari?" Pertanyaan itu makin membingungkan. Juga mata Andita dan Sardola makin tajam menusuk pendalaman hatinya. Ia tertunduk.

"Masih adakah keberanianmu?" lagi suara Baswi. "Benar-benar memusingkan, Tuan. Sebaiknya

kepadaku diberikan tugas untuk mati daripada harus berpikir seperti ini."

"Berpikir berarti mengasah ketajaman otak. Ketajaman otak tak bisa dilawan dengan ketajaman pedang," jawab Baswi.

"Aku memang terlalu dungu."

"Baiklah, Tumpak. Masihkah kau memandang aku?" "Hamba telah mengikut sampai kemari."

"Berani kau melintasi daerah lawan sekarang?"

"Ke Blambangan? Ya... Ke Blambangan maksud Tuan?" "Sssstt... jangan keras-keras! Aku tak mau pembicaraan ini didengar orang lain."

"Delapan mata bukan rahasia."

"Bukan rahasia buat kita. Tak boleh lebih." "Apakah yang harus kukerjakan?"

"Berikan jawaban pada kami! Apakah kami bisa mempercayakan tugas berat padamu?"

"Hyang Maha Dewa!" Tumpak menyebut. "Tuan tidak pernah percaya?"

"Jangan gusar, Tumpak. Kami mempercayaimu. Tapi tidak pada semua soal," Andita kini yang menerangkan. "Dalam keadaan tertentu tidak tiap soal dapat dipercayakan pada hanya seorang saja."

"Aku berjanji, Tuan." Tumpak menghela napas. "Nyawamu sebagai taruhan," ujar Baswi. "Memulai pertempuran?"

"Sabar, Tumpak." Baswi memandang kedua temannya. Mereka mengangguk. Baswi meneruskan. "Kini tugasmu adalah menghadap Paman Umbul Songo. Sampaikan salamku."

"Tak ada surat-surat?"

"Tidak perlu. Lihat kesehatannya! Dan katakan padanya bahwa aku di sini. Jangan katakan lebih dari itu."

"Kapan harus berangkat?"

"Terserah! Tapi ingat, cuma kau seorang!" "Demi Hyang Maha Dewa." "Baiklah! Mari kita ke pura Hyang Durga untuk mengucapkan janji."

Mereka berempat pergi ke pura. Setelah mendengar Tumpak mengucap janji, mereka berpisah. Sampai di rumah perasaan kecewa kembali menghimpit dadanya. Karena ia tak bisa bersua Yistyani.

"Bawalah dua saga emas ini untuk bekal," kata Andita ketika mengantarnya kembali ke rumah.

"Aku tak memerlukannya."

"Di pegunungan ini memang tidak. Tapi di Blambangan kehidupan lain coraknya. Terimalah!"

"Tapi itu terlalu banyak." "Tidak. Terimalah saja."

Tumpak mengawasi punggung orang itu waktu meninggalkannya. Bidang. Dan Andita tak menoleh lagi. Dan pada sore hari ia sempatkan pergi ke rumah Yistyani. Yistyani harus tahu aku pergi, kata hatinya.

Namun Jenean yang mempersilakannya masuk. "Mengejutkan sekali kedatangan Saudara." "Pernah mendapat perkenan dari Yistyani."

"Kalau begitu kedatangan Saudara hanya untuk Yistyani?"

"Tidak..." Tumpak menjawab cepat untuk menutupi kegugupan hatinya. "Sesekali aku memang pingin datang ke sini." *

"Yang di rumah cuma aku dan Sitra. Yistyani baru saja keluar. Dipanggil Pangeran." Jenean tersenyum.

"Untuk apa?" Tumpak terkejut. Namun memaksakan diri masuk ke ruangan rumah itu. Duduk di tikar pandan. "Cuma dia dan Pangeran yang tahu." "Apa dia tak pernah bercerita?"

"Tidak! Dan kami pun tidak pernah bertanya." Jenean menemaninya duduk.

"Kenapa?"

"Tak ada perlunya mengetahui urusan lain orang.” "Dia sahabat Saudari bukan? Kenapa tak diacuhkan?" "Dia bukan kanak-kanak. Dia mampu bertimbang

sendiri."

"Kalau begitu Yistyani bisa tidak jujur di hadapan Anda. Atau berbuat semau-mau."

"Jagat memang tidak pernah jujur. Buktinya selalu ada mengalahkan dan dikalahkan. Ketidakadilan merajainya. Karenanya kami telah memilih jalan sendiri-sendiri."

Tumpak bingung melihat kehidupan bekas selir-selir Kuwara Yana itu. Yang lebih membingungkannya ialah kenapa Wilis memanggil Yistyani? Untuk apa? Mungkin saja sedang berdua-dua dengan Wilis. Dalam bilik yang sudah menjelang gelap.

Tak sempat ia berpikir jauh. Karena Jenean menyuguhkan sirih. Dan ia bersirih sambil mengulur waktu menunggu Yistyani. Namun di hari %ang telah petang benar, gadis itu belum juga muncul. Padahal ia harus berangkat bersama kegelapan malam yang baru turun agar tidak menarik perhatian orang. Karena itu ia segera permisi. Sekalipun sudah berjalan meninggalkan Raung, hatinya tetap dirayapi kekecewaan.